Pendekar Latah Bagian 12

Mode Malam
 
Bagian 12

Tapi pertempuran Hong-lay-mo-li melawan Liu Goan-ka berjalan amat seru, beberapa orang yang merasa kepandaian cukup tinggi saling merubung di-kalangan terdepan, bersiap siaga tanpa berani bertindak, diantara mereka Lamkiong Cau yang sudah si-uman dari pingsannya, demikian pula Ong Ih- ting dan beberapa Thocu sama bersorak memberi semangat kepada jago mereka, Liu Goan-ka.

Lama kelamaan Hong-lay-mo-li merasa tenaga semakin lemah dan takkan kuat bertahan lebih lama lagi, apalagi Ong Ih-ting dan lain2 merubung disekeliling gelanggang, setiap saat siap turun tangan mengeroyok dirinya, mau tidak mau hatinya menjadi gugup.

Disaat hatinya kebat kebit, tiba2 didengarnya gelak tawa panjang Hoa Kok-ham kumandang, terdengar oleh Hong-lay- mo-li perkataan lirih yang seperti berbisik dipinggir kupingnya: "Liu Lihiap, pancinglah bangsat tua itu ketempat lain, sebentar aku menyusul datang!"

Dengan saluran Lwekang Hoa Kok-ham bergelak tertawa untuk mengganggu konsentrasi lawan, berbareng ia gunakan suara gelombang panjang untuk bicara pula dengan Hong-lay- mo-li, betapa hebat dan murni Lwekangnya ini, sungguh jarang ada bandingannya dijagat ini, Hong-lay-mo-li sendiripun mengakui keunggulan orang.

Tapi Liu Goan-ka tidak gampang dikelabui, Menggunakan suara gelombang panjang, kedua pihak harus mempunyai bekal Lwekang yang kira2 hampir setingkat baru orang yang diajak bicara bisa mendengar, Lwekang Liu Goan-ka kira2 hampir setingkat dengan Hoa Kok-ham, sedikit lebih tinggi dari Hong-lay-mo-li, kalau Hong-lay-mo-li bisa mendengar, sudah tentu Liu Goan-ka-pun mendengar pula.

Oleh karena itu, baru saja Hong-lay-mo-li hendak kembangkan Ginkangnya, Liu Goan-ka sudah tahu maksudnya, dimana lengan bajunya beterbarun, beruntun empat kali ia lontarkan pukulannya kearah barat selatan timur dan utara, damparan angin pukulannya bagai gugur gunung, serempak menerjang tiba dari empat penjuru, jalan mundur Hong lay-mo-li dirintangi dan buntu, meski Hong-lay-mo-li tidak sampai kalah, tapi dia tak berani kembangkan Gmkang lagi.

Hong-lay-mo-li putar kebutannya untuk punahkan tekanan pukulan Liu Goan-ka, sementara pedangnya merangsak dengan gencar, "Creng" Liu Goan-ka sempat menyentak pedangnya, tiba2 ia kerahkan hawa murni menggunakan pula suara gelombang panjang bertanya kepada Hong-lay-mo-li: "Siapa namamu?"

Ketenaran Hong-lay-mo-li sudah menggetarkan selatan dan utara sungai besar, namun yang benar2 tahu nama aslinya tidak banyak, kalau sedikit toh ada juga yang tahu, Pihak teman2nya tak perlu dipersoalkan pihak musuh, termasuk Giok-bin yau-hou Lian Ceng-poh dan Pakk-ong Ou yang sudah mampus itu, sama tahu nama aslinya, pertempuran sedang memuncak tiba2 Liu Goan-ka bertanya nama asiinya, keruan heran dan tak mengerti Hong-lay-mo-li dibuat-nya. Tapi pertempuran sedang sengit, tak sempat ia buka suara menjawab, pedang dan kebut malah dia mainkan semakin gencar dan menyerang seperti hujan badai.

Hoa Kok-ham menengadah bergelak tawa tiga kaIi, satu persatu suaranya semakin lantang dan berisi, pada gelak tawanya yang ketiga, tiba2 Liong-in Taysu memekik keras, langkahnya sempoyongan, hidung dan kupingnye mengalirkan darah segar, "Bluk" badannya terkapar roboh!

Ternyata gelak tawa Hoa Kok-ham bikin urat syarafnya sungsang sumbel dan pecal, hawa murnipun bubar, apalagi pukulan Bu-siang-ciang-lat-nya yang terakhir kena diritul balik, sehingga badannya seperti dipukul sendiri dengan martil, kontan badannya tergetar roboh.

Kim Cau-gak kaget, bukan kepalang, cepat sekali, Hoa Kok- ham sudah mengebas kipas pula meritul balik Im-yang-ji-khi yang dia lontarkan "Wut, wut, wut" beruntun melontarkan tiga rangkai pukulan dengan seluruh kekuatannya, Krni Cau-gak sudah kehilangan pembantu yang diandalkan, sudah tentu ia tak kuat bertahan dan terdesak mundur berulang2.

Dengan bersiul panjang tiba2 Hoa Kok-ham jejakkan kaki, laksana burung rajawali menerobos keda-lam hutan badannya melambung tinggi melampaui beberapa bukit2an, langsung menubruk kearah Liu Goan-ka, kira2 jarak masih sepuluhan tombak, se-konyong2 dari bawah salah sebuah bukit2an muncul tujuh laki2.

Mereka membentak bersama: "Hoa Kok-ham, kemana kau hendak pergi? Kau ingin menempur guru kita, hadapi dulu, rintangan kami bertujuh!"

Ketujuh laki2 ini adalah murid Liu Goan-ka, masing2 menggunakan gaman yang berbeda, golok, tombak, ruyung, pedang, Lian-cu-tui (bandulan), Boan-koan-pit, dan Hou-jiu- kou (gantolan pelindung tangan), dari tujuh jurusan yang berbeda serempak mereka merangsak hebat kepada Hoa Kok- ham.

Lwekang mereka jauh ketinggalan dibanding Hoa Kok-ham, tapi kekuatan gabungan mereka, terutama setelah membentuk barisan Chit-sat-tin, ternyata cukup ampuh dan lihay.

Hoa Kok-ham ingin pertempuran lekas selesai, tapi dia tidak ingin melukai jiwa banyak orang, dimana kipas lempitnya menuding, kskiri menutuk Hi-pui kekanan menutuk Jing-co, maksudnya hendak menutuk dua orang dengan sergapan kilat dan menjebol kepungan musuh, Tapi baru saja ia bergerak, sekonyong2 samberan angin tajam sudah menerjang tiba dipunggungnya, sebat sekali Hoa Kok-ham menggeser langkah berkelit kesamping, sementara kipas lempitnya tetap menutuk kedua orang yang diincarnya, gerakkannya teramat cepat, tapi karena kakinya menggeser kesamping itu, betapapun gerakannya sudah sedikit merandek dan terganggu, dalam sekilas itulah, kedua laki2 yang diincarnya itu sudah sempat berputar kedua samping, sebatang Pot-lot mendadak malah memapak dirinya dari depan, sehingga serangan tutukan kipasnya dipatahkan.

Cepat sekali tahu2 sebuah bandulan melayang datang disusul sepasang gantolan menyobek dari kanan kiri, sementara pedang dibelakang punggung terasa dingin, hampir saya mendempel kuiit punggungnya, Di cecar dan dirangsak dari berbagai penjuru, sontak gusar hati Hoa Kok-ham, dimana kipasnya terayun.

"Tang" bandulan ia sampuk kesamping terayun melingkar satu bundaran dengan telak membentur gan-to!an sebelah kiri, sehingga gantolan itu ikut tertolak pergi, membalik sebelah tangan dengan jari menjentik dlberengi mulut Hoa Kok-ham membentak: "Lepaskan." selentikan jarinya tepat mengenai punggung pedang sampai bergetar mendengung keras menusuk telinga, laki2 yang bersenjata pedang tergetar mundur tiga tapak, tapi orangnya tidak sampai terjungkal pedangnyapun tidak terlepas.

Ternyata dua orang Su-hengtenya berbareng ulur sebelah tangannya menahan pundaknya, dengan kekuatan mereka bertiga, sekaligus memunahkan tenaga selentikan jari Hoa Kok-ham.

Memang Lwekang ketujuh murid Liu Goan-ka ini jauh dibanding Hoa Kok-ham, tapi merekapun bukan kaum keroco, paling sedikit asor dibanding Lamkiong Cau dan Liong-in Taysu, apalagi mereka menggunakan tujuh macam senjata yang berlainan, berarti sekaligus dalam setiap gebrak Hoa Kok-ham harus melajani tujuh macam serangan ilmu senjata yang berbeda pula, sudah tentu jauh lebih membuang tenaga dan memeras pikirannya.

Beberapa jurus sudah berlalu, namun Hoa Kok-ham tak berhasil menjebol kepungan, sementara Chit-sat-tin sudah terbentuk, golok, tombak, ruyung dan pedang, menari dan beterbangan merabu kepada dirinya, sepasang potlot mengincar dari bawah, bandulan melayang berputer2 diatas kepala, sementara sepasang gantolan naik turun menyergap lobang keiemahan, tujuh macam gaman pulang pergi, seperti kepala dan ekor saling kerja sama dengan ketat dan rapi, se- olah2 hujan badaipun takkan tembus, lama kelamaan mereka sudah kembangkan wibawa dan kekuatan Chit-sat-tin sampai puncak kehebatannya, Hoa Kok-ham terkepung ditengah dan semakin sempit ruang geraknya.

Kalau disini Hoa Kok-ham terkepung dalam barisan, disebelah sana Hong-lay-mo-;i pun tak mampu membebaskan diri dari libatan Liu Goan-ka.

Disebelah sini Kim Cau-gak memburu tiba hendak menghadapi Hoa Kok-ham pula, sementara Lamkiong Cau, Ong Ih-ting dan Hoan Thong serta lain2 ikut menggeser langkah mengelilingi Hong-lay-mo-li.

Lama kelamaan Hong-lay-mo-li mengeluh, maklumlah menghadapi Liu Goan-ka seorang saja dia sudah cukup berat dan kepayahan, kalau orang2 itu sama mengeroyoknya, sungguh punya sayappun takkan bisa terbang.

Akhirnya Hong-lay-mo-li bertekad gugur bersama musuh, begitu ia kerahkan tenaga membuat ke-butnya keras terus mengetuk kepada Liu Goan-ka, Ceng-kong-kiam ditangan kananpun membarengi menusuk kelambung, ia insaf Lwekang Liu Goan-ka lebih tinggi, kedua jurus serangannya ini belum tentu bisa melukai Liu Goan-ka, bukan mustahil karena dirinya terlalu bernafsu merangsak dengan sepenuh tenaga, celaka bila dirinya balas diserang lantaran penjagaan rada kendor.

Tapi urusan sudah terlanjur, iapun tak sempat pikirkan segala tetek bengek ini.

Sudab tentu Liu Goan-ka takkan bisa kena ditusuknya, disaat2 gawat itulah, iapun memperlihatkan kepandaian silatnya yang sejati, "Creng" ia selentik ujung Ceng-kong-kiam Hong-lay-mo-li, berbareng lengan bajunya yang longgar melambai, benang kebutan Hong-lay-mo-li sampai dikebasnya buyar melambai2. Karena itu Hong-lay-mo-lr yang menggunakan kebutan untuk menutuk sebagai potlot menjadi punah ditengah jalan.

Karena terburu nafsu menyerang pula, badannya sampai terjerembab kedepan, dangan sendirinya ketiak kirinya menunjukan lobang, kalau Liu Goan-ka menggerakan telapak tangan menghantam, kalau tidak mampus tentu Hong-lay-mo- li terluka parah, Tapi kejadian justru terbalik, tidak maju Liu Goan-ka malah menyurut mundur, ia pura2 seperti tergetar oleh tekanan tutukan lawan, kakinya terhuyung tiga langkah kesamping, tangan terus ditarik balik melindungi dada sen-diri, sengaja dia biarkan peluang yang bagus tadi. Mereka sama serang menyerang dengan ilmu silat tingkat tinggi, kecepatannya laksana kilat dan susah diikuti dengan mata telanjang, orang lain hanya tahu Liu Goan-ka kena sedikit dirugikan, keruan Ong Ih-ting, Lam-san-hou dan Lain2 serempak memburu maju.

Hong-lay-mo-li sendiri cukup mengerti, keruan ia heran dibuatnya, "Kenapa bangsat tua ini sengaja beri kesempatan supaya aku melarikan diri?" keadaan memang cukup gawat, tiada tempo ia peras otak memikirkan tetek bengek, begitu Liu Goan-ka terhuyung mundur, dengan gaya burung bangau menjulang kelangit, badannya segera mencelat tinggi terbang kepinggir.

ditengah udara bersalto sekali lagi, kaki kebetulan tancap dipuncak bukit.

Dari depan ia disongsong oleh Lam-san-hou dan Hoan Thong, kepada Hoan Thong Hong-lay-mo-li menyeringai dingin: "Hoan-thocu, kuberi selamat kau terlindung jiwamu setelah tertawan oleh pasukan Kim, apa hari ini kau kemari atas perintah mereka?"

Hoan Thong amat malu dan menyesal pula, keruan merah padam selebar mukanya, tanpa berani banyak tingkah, cepat ia jutar badan tinggal lari, sebaliknya Lan san-hou lontarkan kepalannya menjotos Hong-lay-mo-li mencacinya:

"Kaupun setimpal mengagulkan diri sebagai Lam-san-hou (harimau gunung selatan)? Kau tidak lebih cuma seekor anjing penjaga pintu pemerintah Kim." dimana kebutnya terayun, tahu2 pergelanga tangan orang sudah terbelit, sedikit disendal lagi, Lam-san-hou terjungkal roboh celentang pula, Lam-san- hou tergetar luka oleh tenaga ritulan Hoa Kok-ham, kesehatannya belum pulih, luka ditambah luka pula, seketika darah menyembur dari mulutnya.

Hong-lay-mo-li tertawa dingin: "Untuk mencabut nyawamu segampang membalikan telapak tanganku, tapi hari ini kuampuni jiwamu, ada orang lain yang akan menuntut balas kepadamu!" sekali tendang ia bikin Lam-san-hou ter-guling2, kejap lain dia sudah lompat naik keatas tembok.

Tatkala ilu Hoa Kok-ham masih terkepung didalam Chit-sat- tin, setengah sulutan dupa sudah berlalu, dasar otaknya encer, dalam waktu sependek itu, diam2 sudah berhasil ia selami letak rahasia dari kunci pemecahan Chit-sat-tin ini.

Ternyata Chit-sat-tin menirukan kedudukan Pat-kwa, dimana terbagi delapan pintu, Diantaranya Le-bun adalah pintu hidup, sementara Cin-bun adalah pintu mati, ketujuh laki2 ini masing2 menduduki tujuh pintu yang lain, sedang pintu mati dituangkan diduduki Hoa Kok-ham.

Laki2 yang berdiri dipintu hidup merupakan poros dan sentral dari pada gerakan barisan ini, segala perubahan dari barisan ini mendengar petunjuk dan aba2mya, bagaimanapun mereka bergerak berlompatan, Hoa Kok-ham tetap terkepung didalam pintu mati itu, setelah berhasil menyelami seluk beluk ini, sekonyong2 Hoa Kok-ham bergelak tawa kepada laki2 yang berdiri dipintu hidup, keruan serasa pecah jantung laki2 itu, kakinya seketika sempoyongan, dengan setaker tenaga Hoa Kok-ham segera menyerang kepadanya, disamping ia kerahkan Hou-deh-sin-kang untuk melindungi badan, dia biarkan ruyung baja musuh yang menyerang dari kiri mengenai badannya, sudah tentu laki2 di pintu hidup itu tak kuat menahan rangsakan dahsyatnya, seperti bola ditendang badannya seketika terguling2 jauh, sebat sekali Hoa Kok-ham merebut kedudukan pintu hidup ini.

Baru saja dia hendak menjebol kurungan, tiba2 terasa angin keras dingin seperti badai salju menerjang dirinya, cepat Hoa Kok-ham kebutkan kipasnya, tampak Kim Cau-gak sudah menambal maju menduduki pintu hidup yang kosong tadi, terdengar orang terloroh2, serunya: "Siau-go-kan-kun memangnya hebat, kini seperti ikan dalam jala, ingin kulihat sampai kapan kau bisa mengumbar kecongkakanmu?" Ternyata Kim Cau-gak memang sudah siaga diluar barisan, soalnya bila Chit-sat-tin sedang berputar, lalat-pun jangan harap bisa terbang masuk, maka disaat Hoa Kok-ham memukul jatuh laki2 yang satu tadi, segera ia maju menambal kekosongan.

Tujuan Kim Cau-gak memang memberantas bibit2 yang mungkin membawa bencana bagi dirinya, kebetulan malah hari ini dia bisa pinjam kekuatan Chit-sat-tin ini untuk mengurung Hoa Kok-ham, dia cukup maklum kesempatan jangan di-sia2kan, maka tanpa biraukan gengsi dan kedudukan sebagai Koksu negeri Kim segala, dia rela merendahkan derajat terima kerja sama dengan murid2 Liu Goan-ka, bergabung mengeroyok Hoa Koh-ham.

Musuh bertambah tangguh, seketika membangkitkan gairah tempur Hoa Kok-ham. Kepandaian Kim Cau-gak sepuluh lipat lebih tinggi dari kepandaian laki2 tadi, dengan dia yang menduduk kekosongan ini, lebih sukar Hoa Kok-ham hendak menerjang keluar.

Disebelah sana Hong-lay-mo-li sudah tancap kakinya dipagar tembok, baru saja ia hendak lompat keluar, terdengar Ong Ih-ting membentak: Datang dari jauh kenapa pergi ter- gesa2, silakan turun sebentar!" segenggam Bwe-hoa-ciam segera ia timpukan, timpukan jarum sakti menusuk Hiat-to kepandaiannya merupakan ilmu tunggal yang tiada keduanya di Bulim, jarum sekecil dan selembut itu mampu dia timpukan sepuluhan tombak jauhnya, meski dalam malam gelap, sasaran Hiat-to yang diincarpun takkan luput.

Hong-lay-mo-li juga tidak berpaling, kebut diayun membalik kebelakang, sahutnya: "Terima kasih maksud baik Ong-cecu, kelak kalau ada jodoh, biar aku berkunjung ke Thay-ouw saja!" dalam bicara ia kerahkan Lwekang, puluhan benang kebutnya dia lempar kebelakang. Begitu kecil dan halus benang2 kebutannya itu sampai sukar dilihat dengan mata biasa, bentuknya lebih panjang tapi lebih kecil dari Bwe-hoa-ciam. Kini Hong-lay-mo-li menggunakannya sebagai sambitan senjata rahasia, sungguh tak bersuara dan sukar dijaga.

Untung Ong Ih-ting adalah tokoh senjata rahasia yang paling menonjol dan nomer satu di Kanglam, kepandaian mendengar angin membedakan senjatapun sudah dilatihnya sempurna, betapapun luncuran benang2 kebut yang menerjang udara mengeluarkan suara mendesis lirih, segera Ong Ih-ting mendengar, puluhan benang kebut itu terbagi empat jurusan, yang melesat mengarak dirinya ada puluhan batang, terbagi dua sayap membendung gerak geriknya, entah kekanan atau kekiri berkelit pasti Hiat-tonya bisa tersambit dengan telak.

Keruan kejutnya bukan main, segera ia berkata lantang: "Hadiahmu ini aku tak berani terima, terima kasih!" kaki ditutul badan melambung ke-udara dengan gaya burung bangau menjulang kelangit, dari tempat tiga tombak tingginya itu ia rubah dengan gaya mementang sayap jumpalitan didalam mega, kembali badanya salto tujuh tombak jauhnya baru ia berhasil meluputkan diri dari timpukan benang2 kebut Hong-lay-mo-li.

Kalau Ong Ih-ting masih mampu menghindar diri boleh dimaklumi, celaka adalah orang2 lain yang ikut2-an memburu datang, Beruntun terdengarlah jeritan saling susul, para Thocu dan Cecu serta lain yang mengintil dibelakang Ong Ih-ting semua terjungkal roboh tertutuk Hiat-tonya.

Hong-lay-mo-li bergelak tawa, katanya lantang:

"Satu jam lagi, Hiat-to kalian akan punah sendiri. Maaf aku tidak menemani terlalu lama!" ditengar kumandang tawanya bayangannya sudah melesat keluar kebalik tembok sebelah sama. "Wut" tiba2 bayangan Liu Goan-ka melesat tinggi laksana burung elang mengejar kelinci, sekejap saja tahu2 sudah mengudak dibelakang Hong-lay-mo-li dan lenyap dibalik pagar tembok sebelah luar.

Sudah tentu hal ini diluar dugaan Hong-lay-mo-li, kaget dan tak mengerti hatinya tiba2 didengarnya pula Hoa Kok-ham bicara dengan suara gelombang panjang kepadanya: "Peduli apapun yang dibicarakan bangsat tua ini kepadamu, jangan kau percaya kepadanya !"

Hong-lay-mo-li semakin tak mengerti, dilihatnya Liu Goan- ka sudah mengudak sampai dibelakangnya.

Hong-lay-mo-li tak sempat menyelami makna dari ucapan Hoa Kok-ham, segera ia kerahkan tenaga tancap gas mengembangkan Ginkang berlari kencang, sekejap saja bagai angin mengejar mega, ia sudah jauh meninggalkan Jian-liu- cheng.

Melihat Liu Goan-ka mengejar keluar, sementara diri sendiri belum mampu menjebol kepungan, keruan gelisah hati Hoa Kok-ham. Tapi dia cukup pengalaman menghadapi berbagai pertempuran setelah dia perhatikan dengan seksama, meski hati gugup tapi gerakan dan hatinya tidak menjadi kacau, malah timbul suatu akal dalam benaknya.

Ternyata meski kepandaian Kim Cau-gak jauh lebih tinggi, tapi dia sendiri masih belum tahu seluk beluk Chit-sat-tin ini, sebagai orang yang menduduki posisi pintu hidup, seharusnya dia yang pegang inisiatif dan harus apal segala perubahan dan memberi petunjuk kepada laki2 yang lain.

Terpaksa keenam laki2 yang-lain bekerja sendiri dan menuruti segala perubahan saja, semula Kim Cau-gak masih mampu kerja sama dan menyesuaikan diri, tapi lama kelamaan titik kelemahannya sudah terpegang oleh Hoa Kok- ham. Maka timbul akalnya, mendadak badannya berputar, sengaja ia pancing dua laki2 yang menduduki pintu hidup dan pintu samping menyerang dirinya, sementara telapak tangannya malah melontarkan serangan kepada Kim Cau-gak, pukulan ini isi atau kosong sukar diraba, lekas Kim Cau-gak gerakan kedua telapak tangannya membundar lalu disurung kedepan, Gerakan-nya ini tujuannya untuk mematahkan serangan Hoa Kok-ham, tapi dia tidak tahu seluk beluk perubahan barisan, tanpa disadari dia sendiri sudah menggeser kedudukan keluar dari posisi pintu hidup, maka terdengarlah "Blang, Bluk!" pukulannya telak sekali beradu dengan kedua laki2 yang serempak menyerang Hoa Kok-ham, sudah tentu kedua laki2 ini takkan kuat melawan pukulan Lui- sin-ciang dan Siu-lo-im-sat-kang, seketika mereka menjerit keras dan terbanting jatuh.

Karena itu sudah tentu gerakan keseluruhan dari Chit-sat- tin menjadi terganggu, gerak putaran langkah saudara2nya yang lain dengan sendirinya kacau, seperti tersandung batu, kontan mereka saling tumbuk dan jatuh saling tindih, kalau tidak tersungkur tentu terbentur oleh pukulan Kim Cau-gak.

Tanpa Hoa Kok-ham turun tangan, Chit-sat-tin sudah dia bikin porak peronda, akhirnya tinggal Kim Cau-gak seorang saja yang tidak terluka.

Hoa Kok-ham ber-gelak tawa, setelah lolos dari kepungan, tanpa hiraukan Kim Cau-gak lekas ia kem-bangkan Ginkang mengejar kearah larinya Hong-Iay-mo-Ii. Sudah kecundang kembali dirinya kena diingusi, kini tinggal dirinya sendiri, sudah tentu Kim Cau-gak tak berani merintangi Hoa Kok-ham.

Sementara itu Hong-lay-mo-li masih kejar2an dengan Liu Goan-ka, bicara soal Gin-kang, kepandaian mereka kira2 setanding, soalnya Hong-lay-mo-li lari lebih dulu, sedikitnya masih lebih untung, tapi tenaga Liu Goan-ka lebih panjang, lambat laun jarak keduanya sudah ditarik pendek, sepuluhan li kemudian jarak mereka tinggal beberapa langkah saja.

Hong-lay-mo-li insaf dirinya takkan bisa lolos, akhirnya ia kertak gigi, "Sret" tiba2 ia balikan pedang menusuk, tapi tusukannya mengenai tempat kosong, karena Liu Goan-ka tidak menyambut serangannya "Sret!" bayangan orang malah melesat lewat dari samping badannya.

Kaget Hong-lay-mo-li dibuatnya, kuatir orang balas merangsak, gerakkan pedangnya dipercepat, dengan jurus Heng-hun-toan-hong (awan mengembang memotong gunung) lebih dulu ia lindungi badan sendiri baru menyerang musuh, Tapi Liu Goan-ka tetap tak turun tangan, dia gunakan Ih-sing- hoan-wi (merubah bentuk ganti kedudukan) ilmu Ginkang tingkat tinggi, tahu2 orang sudah berkelebat di-hadapan dan merintangi jalan larinya.

"Tahan sebentar!" bentak Liu Goan-ka, "Aku hanya tanya dua patah kata kepadamu." Pedang melintang, kebutan ditangan kiri menari dengan kencang dan gemelai, dalam sekejap mata dia sudah lontarkan tiga jurus mematikan dari Thian-lo-hud-tim-hoat, selangkahpun Liu Goan-ka tidak bergeming dari kedudukan kakinya, lengan bajunya yang lebar beterbaran, satu persatu dia patahkan semua serangan kebut Hong-lay-mo-li.

Malah Liu Goan-ka sempat mencuri kesempatan menepukan telapak tangannya, sehingga Hong-lay-mo-li didesaknya mundur selangkah, disaat orang belum sempat balas menyerang segera ia bertanya: "Apakah kau bernama Liu Jing-yau?"

Hong-lay-mo-li ingat akan peringatan Hoa Kok-ham, tapi ia tidak perlu heran karena nama aslinya sudah bukan rahasia lagi, malah ingin dia mendengar perkataan yang lainnya, Segera pedang dan kebut kerja bersama, ia balas desak Liu Goan-ka mundur setapak, baru dengan angkuh Hong-lay-mo-li berkata: "Benar, aku adalah Liu Jing-yau, kau tahu namaku, memangnya kenapa?"

"Bagus, biar kutanya lebih lanjut, bukankah tanggal kelahiranmu adalah Kakcu, Tinghao Sinhay dan Gengcun?"

Laksana bunyi guntur meledak diatas kepala Hong-lay-mo-li mendengar pertanyaan ini, darahnya tersirap, batinnya: "Darimana dia bisa tahu rahasia tanggal kelahiranku?"

Maklum sejak kecil sebagai bayi buangan Hong-lay-mo-li dipelihara oleh Kongsun In, ibu bapaknya hanya meninggalkan secarik kertas, dimana ada ditulis nama dan tanggal kelahirannya, Karena itu kecuali ayah bundanya sendiri, tak mungkin orang lain bisa mengetahui.

Dari Hoa Kok-ham dulu diapun pernah mendapat tahu tanggal kelahirannya ini, dan untuk memecahkan teka teki inilah sengaja dia meluruk ke Kanglam untuk minta penjelasan kepada Hoa Kok-ham.

Kini dari mulut Liu Goan-ka tiba2 ia mendengar nama dan tanggal lahirnya, Liu Goan-ka satu marga pula dengan dirinya (sama2 she "Liu"), saking kejutnya Hong-lay-mo-li sampai menjublek, "Mungkin, mungkin, dia, dia adalah " hatinya

kesal, risau dan pikiran pun kalut, tak berani ia pikirkan lebih lanjut

Liu Goan-ka tiba2 menghela napas panjang, kata-nya: "Jing-yau, masa kau belum tahu siapa aku ini? Thian memang maha pengasih, kita ayah beranak mendapat berkahnya untuk bertemu disini!"

Laksana bunyi guntur yang menggelegar mendadak, sanubari Hong-lay-mo-li mengalami pukulan berat, hatinya seketika hambar dan bingung, entah kenyataan atau kayalan belaka, entah senang atau harus berduka? Orang yang barusan dimakinya sebagai bangsat, ternyata adalah bapaknya sendiri, sungguh kejadian yang sukar dibayangkan, disaat pikiran Hong-lay-mo-li tak tenang tulah, tiba2 Liu Goan-ka menutuk Hiat-tonya dengan gerakan secepat kilat

Tepat pada saat itu pula sebuah siulan panjang kumandang, disusul gelak tawa dan senandung Hoa Kok-ham. Mulut Hong-lay-mo-li tak bisa bersuara, tapi hatinya cukup paham, bahwa Hoa Kok-ham menyusul datang dan minta dia bersuara supaya dia dapat mengetahui jejaknya.

Liu Goan-ka jinjing badan Hong-lay-mo-li dengan sebelah tangannya terus menyelinap kedalam sebuah lekukkan gunung, kejap lain tampak jubah Hoa Kok-ham melambai2, dengan mengembangkan Pat-pou-kan-sian sedang melesat terbang seperti tidak menyentuh tanah dijalan raya, sembari lari mu!utnya- berkaok2: "Liu Lihiap, Liu Lihiap! Kau dengar suaraku bukan? ingat, jangan kau percaya dan tertipu oleh bangsat tua itu!"

Liu Goan-ka tiba2 menubruk keluar dari tempatnya sembunyi, bentaknya: "Kurangajar! Hoa Kok-ham sudah kau membuat onar di Jian-liu-cheng, sekarang berani kau mengadu domba antara darah dagingku sendiri!" hilang suaranya orangnyapun tiba, "Wut" ia menyerang lebih dulu dari tempat ketinggian kebatok kepala Hoa Kok-ham.

Hong-lay-mo-li tertutuk Hiat-to penidurnya oleh Liu Goan- ka, umumnya bila Hiat-to ini tertutuk, seketika akan jatuh pingsan dan tak ingat diri. soalnya Lwekang Hong-lay-mo-li cukup ampuh, dalam waktu dekat kesadarannya masih belum hilang seluruhnya diantara sadar tak sadar itu, hatinya masih sempat membatin:

"Berulang kali Hoa Kok-ham berpesan kepadaku, sebetulnya dia benar2 ayahku atau bukan?" lapat2 didengarnya pula benturan keras, tahu2 Liu Goan-ka sudah bergebrak melawan Hoa Kok-ham. Hong-lay-mo-li dikempit dibawah ketiaknya, karena getaran tenaga benturan ini, tutukan Hiat-to Liu Goan-ka seketika bekerja lebih cepat, akhirnya dia benar2 kelelap dalam tidurnya, tapi sebelum lelap sayup2 masih didengarnya Hoa Kok-ham sedang adu mulut dan berdebat seru dengan Liu Goan-ka, tapi sudah tidak jelas lagi apa yang mereka perdebatkan.

Dengan hanya sebelah tangan menghadapi Hoa Kok-ham, sudah tentu Liu Goan-ka makin terdesak, tapi dia mengempit Hong-lay-mo-li, dalam pertempuran sengit itu, Hoa Kok-ham sendiri kuatir pukulannya salah melukainya, maka setiap serangannya mau tak mau harus dia perhitungkan dengan cermat, maka jurus2 permainan yang lihay tak berani dia lancarkan.

Oleh karena itu keadaan yang sebetulnya tidak menguntungkan Liu Goan-ka kini bisa dia manfaatkan untuk mendesak Hoa Kok-ham malah.

Dengan mengkombinasikan Tay-kim-na-jiu dengan Siau- thian-sing-ciang-lat, beruntun Liu Goan-ka punahkan tujuh jurus serangan Hoa Kok-ham, pada jurus kedelapan tiba2 sengaja ia menunjukan lobang kelemahan cepat sekali jari2 Hoa Kok-ham menggantol balik, telapak tangannya menabas dengan deras, sasarannya adalah ketiak kiri Liu Goan-ka yang terbuka, jurus serangan ini merupakan tipu keji yang amat aneh dan menakjupkan, tak nyana tiba2 Liu Goan-ka berkisar dengan Boan-liong-sau-pou, serta merta badannya berputar arah, demikian pula Hong-lay-mo-li yang dikempitnya pindah posisi, batok kepalanya tepat memapaki tabasan telapak tangan Hoa Kok-ham, kalau tabasan ini mengenai telak, batok, kepala Hong-lay-mo-li pasti terkepruk hancur!

Keruan kejut Hoa Kok-ham bukan matti, cepat ia tarik mundur serangannya, baru saja ia hendak rubah dengan tipu lain menyerang bagian bawah musuh, tahu2 pukulan Liu Goan-ka sudah mendarat diatas badannya.

Sedikit perhatian terpecah akibatnya amat fatal bagi tokoh2 kosen yang sedang bertempur Liu dan Hoa kira2 setanding Lwekangnya, terpautnya tidak ba-nyak, kini Liu Goan-ka sudah menempatkan diri dalam posisi yang menguntungkan, begitu pukulannya berhasil mengenai sasarannya, apa lagi pukulannya ini merupakan tumpuan latihan puluhan tahun dari Lwekang-nya yang hebat, betapapun keras dan kuat Hoa Kok- ham, seketika badannya terpental terbang seperti di-lompa-r ketengah udara jatuh beberapa tombak jauhnya.

Hebat memang kepandaian Hoa Kok-ham ditengah udara badannya salto beberapa kali dengan gaya burung dara jumpalitan, dengan ringan kakinya menancap ditanah tanpa terbanting jatuh, Tapi meski mengandal Hou-deh-sih-kang dia berhasil melindungi badannya sehingga tidak mengakibatkan cidra apapun, tapi hawa murninya sudah terkuras tidak sedikit

Dengan gelak tawa besar secepat terbang Liu Goat-ka berlari pergi bagai terbang sambil memanggul Hong-lay-mo-li. Waktu Hoa Kok-ham berdiri tegak dan berpaling kebelakang, Liu Goan-ka sudah menghilang tak keruan parannya.

Hoa Kok-ham memaki dengan gusar: "Biar kau bangsat tua ini takabur, akhirnya akan datang seseorang yang bakal membuat perhitungan dengan kau."

Saat itu Liu Goan-ka sudah satu li jauhnya, mendengar caci maki Hoa Kok-ham, mencelos hatinya: "Hebat benar Lwekang Siau-go-kan-kun, sedikitpun dia tidak cidra karena pukulanku tadi, siapakah yang dia maksudkan hendak menuntut balas kepadaku? usianya paling baru dua puluhan, masakah dia tahu rahasia kejadian dulu? Em, mungkin dia hendak undang guru atau angkatan tuanya untuk menuntut balas kepadaku, buat apa aku sembarang mereka."

Setelah berhasil membekuk Hong-lay-mo-li, Liu Goan-ka tidak sempat urus kepada Hoa Kok-ham lagi, Pikirnya: "Secara kebetulan aku mendapat pulang Jing-yau anakku yang hilang sekian lamanya, biar kelak aku berusaha untuk menghadapi Siau-go-kan-kun itu!"

Hong-lay-mo-li se-olah mengalami mimpi buruk, ditengah mimpinya itu seperti melihat bayang2an hitam yang berkelebatan didepan matanya. Lama kelamaan kesadarannya berangsur pulih, waktu ia membuka mata dilihatnya Liu Goan- ka sedang berdiri dengan tersenyum mengawasi dirinya, ingin rasanya Hong-lay-mo-li berteriak: "Apa betul kau ini ayahku?" tapi suaranya tak bisa keluar.

Se-konyong2 dilihatnya senyuman manis Liu Goan-ka berubah seringai sadis, tangannya menyekal sebatang belati sedang menusuk kedadanya, seketika Hong-lay-mo-li menjerit ngeri, "Blang-" tiba2 terasa sebuah tangan menekan rebah badannya sehingga tidak sampai berjingkrak bangun.

"Yau-ji (anak Yau)," itulah suara Liu Goan-ka. "Syukurlah, akhirnya kau sudah siuman."

Sorot matahari menyilaukan mata, bayangan2 hitam yang menakutkan tadipun sirna, Hong-lay-mo-li sadar dari mimpi buruknya, tapi keadaan yang dia lihat mirip benar dengan dalam mimpinya, cuma yang terpegang ditangan Liu Goan-ka bukan belati tapi adalah sebuah kotak emas, kotak emas pemberian Hoa Kok-ham kepada dirinya itu.

Didapati pula oleh Hong-lay-mo-li dirinya sedang rebah diatas ranjang, dalam kamar ini hanya Liu Goan-ka dan dirinya berduaan, agaknya Liu Goan-ka sudah membawanya pulang ke Jian-liu-cheng, semalam sudah berselang.

Hong-lay-mo:li coba kerahkan hawa murninya, Lwekangnya tetap kuat tidak menunjukkan gejala2 yang tidak normal.

Pelan2 ia bangun duduk, hatinya ham-bar, dengan terlongong ia awasi Liu Goan-ka, tidak tahu apa yang harus dia ucapkan?

Siapakah laki2 dihadapannya ini, apa betul ayah kandungku sendiri? Masih belum berani dia bertanya, "Ayah" diapun belum berani semberono memanggilnya. Pelan2 dengan hati2 Liu Goan-ka membuka kotak emas itu, tanyanya: "Siapa yang berikan ini kepadamu?"

"Hoa Kok-ham!" sahutnya pendek.

Gemetar sekujur badan Liu Goan-ka, mimik wajahnya amat aneh, agaknya rada heran, tapi juga mengandung rasa takut dan kaget, dari dalam kotak ia keluarkan secarik kain dimana tertulis hari tanggal dan jam lahir, dengan tajam ia awasi Honglay-mo-li, katanya dingin: "Jadi kau sendiri sudah jelas mengenai hari lahir dan asal usulmu?"

"Apapun aku tidak tahu." sahut Hong-Iay-mo-li, menyinggung riwayat hidup tak tahan air mata berka-ca2 dikelopak matanya.

Liu Goan-ka menghela napas, sorot mata yang tajam sedingin es tadi kini berubah welas asih dan kasih sayang, dengan lengan bajunya dia menyeka airmata Hong-Iay-mo-li katanya lembut: "Apa pula yang pernah Hoa Kok-ham katakan kepadamu?"

"Dia suruhan orang mengantar kotak emas ini, aku sendiri belum sempat tanya kepadanya."

Liu Goan-ka jadi lega hati, katanya tersenyum. "Untunglah, kau belum sampai tertipu oleh Hoa Kok-ham."

Tak tahan dengan ragu2 akhirnya Hong-Iay-mo-li bertanya: "Liu, Liu-chengcu, kau, darimana kau bisa tahu tanggal dan hari kelahiranku?"

"Kau panggil apa kepadaku? O, jadi kau masih belum mau percaya bahwa aku ini adalah ayah kandungmu sendiri?" lalu dari dalam kotak ia keluarkan pula secarik kain kunyal lainnya yang berlepotan darah, katanya:

"Dulu aku meninggalkan kau dlpinggir jalan, aku gunakan sobekan jubah panjangku untuk membungkus badanmu, memang kain kunyal ini sengaja kutinggalkan sebagai tanda pengenal kelak, darah yang berlepotan disini adalah noda luka2 badanku dulu. Tak nyana kain ini berhasil dicuri oleh Hoa Kok-ham. Tapi menurut dugaanku, jubah panjang itu tentu masih kau simpan bukan? pernahkah kau mencocokan satu sama lain? Yau-ji, memangnya kau masih tidak mau mengakui aku ini sebagai ayahmu?"

Bukti2 yang dikemukakan Liu Goan-ka memang kenyataan, tiada alasan Hong-lay-mo-li untuk menyangkalnya lagi, sejak lama memang dia sudah merindukan kasih sayang orang tua, seketika meledaklah rasa haru dan gembira hatinya, segera ia menubruk kedalam perakan Liu Goan-ka dengan air mata bercucuran, "Ayah! Ayah!"

Liu Goan-ka menyeka air mata Hong-lay-mo-li, katanya lembut: "Tentu kau salahkan aku kenapa dulu aku membuangmu dlpinggir jalan bukan? Hal ini harus kututurkan dari kejadian dua puluhan tahun yang lalu, waktu itu kau masih orok kecil yang belum putus minum tetek ibumu, bersama ibumu, kita sekeluarga tiga orang tinggal disebuah desa di Hu-gu-san di Holam, dengan kepandaian pengobatanku kami bertahan hidup, meski kehidupan tidak terlalu berkelebihan, tapi cukup tentram dan merupakan kehidupan yang menyenangkan selama hidupku ini."

Hong-lay-mo-li tiba2 menyeletuk: "Hu-gu-san di Holam, bukankah daerah kekuasaan pemerintah Kim?"

"Benar, asalnya kita memang bukan orang di Kanglam, usaha dan perkampungan ini adalah hasil jerih payahku selama beberapa tahun setelah aku hijrah kesini, Setelah kututurkan lebih lanjut, kau akan paham seluruhnya."

Liu Goan-ka minum seteguk teh, lalu melanjutkan per- lahan2: "Sayang kehidupan bahagia yang kita kecap bertiga tidak lama berlangsung, suatu hari, terjadilah suatu peristiwa besar yang tak terduga sebelumnya, kejadian itu merubah seluruh kehidupanku, karena peristiwa itu pula kita sekeluarga lantas berantakan.

Raja Tatcu dari negeri Kim keluarkan mak-lumat, mencari tokoh2 parsilatan yang kenamaan dan para tabib pandai masuk kekota raja, ilmu silat dan ilmu ketabibanku memang cukup dikenal didaerah sekitarnya, sudah tentu akupun menerima undangan itu."

"Kau terima undangan dan pergi tidak?" tanya Hong-lay- mo-li.

"Sudah tentu harus pergi!"

Berubah muka muka Hong-lay-mo-li, suaranya gemetar: "Kenapa kau tidak melarikan diri saja?"

"lbumu tidak bisa main silat, kau sendiri baru saja lahir." "Jadi demi keselamatan kami ibu beranak, terpaksa kau

tidak hiraukan gengsi dan ketenaran pribadimu sendiri?"

"ltu salah satu sebab, tapi bukan sebab yang utama, bicara terus terang, aku sendiri yang ingm menerima undangan itu."

"Kau sendiri ingin pergi? Karena kemaruk harta dan kedudukan? Atau lantaran takut mati?"

"Bukan semuanya, memang banyak orang yang menerima undangan itu karena kemaruk harta dan kedudukan, ada pula yang takut mati, tapi aku bukan lantaran sebab2 ini."

"Lalu apa pula tujuanmu?" tanya Hong-lay-mo-li bingung. "Karena aku sudah mendapat tahu sebab musabab dan

tujuan raja Tatcu itu mengundang sekian banyak orang, Tahun dimana peristiwa itu terjadi, kebetulan genap sepuluh tahun sejak peristiwa Jeng-khong yang memalukan itu, apa kau tahu peristiwa Jeng-khong yang memalukan itu?"

"Ya, suatu peristiwa yang paling menghina nusa dan bangsa kita yang paling besar, kenapa aku tidak tahu? Tahun itu penjajah bangsa Nuchen menggempur pecah Kiang-king (ibu kota dynasti Song utara), menawan Hwie-khim Jite, karena itulah dynasti Song hijrah keselalan dan bercokol di Kanglam."

"Bukan saja penjajah Kim menawan raja Hwi-khim, malah seluruh harta pusaka didalam gudang keratonpun disapunya bersih, yang lain2 tidak perlu dibicarakan diantaranya terdapat dua benda pusaka negara yang tak ternilai harganya, satu adalah Hiat-to-tong-jin, patung manusia terbuat dari baja ini terukir jelas sekali letak dari semua Hiat-to dan urat nadi manusia, segala buku catatan ilmu silat dan pertabiban yang terdapat dikalangan Kangouw tiada satupun yang selengkap dan semendalam seperti apa yang termuat didalam Hiat-to- tong-jin ini, oleh karena itu Hiat-to-tong-jin ini amat berharga bagi kaum persilatan dan ilmu pengobatan. Kaum persilatan dan para tabib kenamaan tiada seorangpun yang tidak mengim-pikan untuk memperolehnya."

"Jadi kau ketarik kesana lantaran Hiat-to-tong jin itu?"

"Biar kuberitahu sebuah pusaka negara yang lainnya. Song- thay-co Tio Khong-in bukan saja cikal bakal pendiri dynasti yang sekarang, diapun seorang tokoh silat yang tiada taranya, ini tentunya kau sendiripun sudah tahu?"

"Thay-co tiang-kun dan Ji-seng-pang amat populer didaerah utara, para Busu dari Tatcu juga mempelajarinya secara umum," Thay-co-tiang-kun merupakan ilmu silat kepandaian Tio Khong-in yang amat dibanggakan untuk menjagoi Kangouw pada masa jayanya dulu, soal Ji-sang-pang dalam hal ini termasuk pula adik Tio Khong-in yang bernama Tio Khong-gi, mereka kedua kakak beradik sama pandai menggunakan ruyung, belakangan Tio Khong-gi mewarisi kedudukan abangnya, dengan gelar Song Thay-cong, oleh karena itu ilmu ruyung itu bersama Tio Khong-in dinamakan "ji-seng", Liu Goan-ka manggut2, katanya lebih lanjut: "Bukan saja Song-thay-co ahli memainkan pukulan dan ruyung, malah LWekangnyapun teramat tinggi."

"Kepandaian silat Song-thay-co mendapat ajaran dari Hoa- san-in-su Tan Pok, Tan Pok pada jaman itu dipandang sebagai tokoh laksana dewa, bahwasanya diapun manusia biasa, tapi karena jiwanya luhur, bajik, bijaksana dan berpandangan luas, mengasingkan diri dari kotoran duniawi, pula punya hubungan dan ikatan yang erat dengan Thay-co, oleh karena itu mendapat puji sanjung dan di puja2 oleh rakyat jelata umumnya, ilmu Lwekang ciptaan Tan Pok ada ditulis didalam sejilid buku yang dia namakan Ci-goan-bian, dimana ada tertatat pula ilmu pukulan, ilmu pedang dan segala ilmu silat tingkat tinggi, seluruh hasil karyanya dia turunkan kepada Song-thay-co."

"Jadi pusaka negara kedua yang kau maksudkan adalah tentang buku pelajaran silat dan Lwekang ini?"

"Benar, Sayang sekali setelah Song-thay-cong wafat, para raja yang mewarisi kedudukan kerajaan, semua kelalap didalam kehidupan mewah dan foya2, tiada seorangpun yang tekun mempelajari ilmu silat, maka buku pelajaran silat itu akhirnya disimpan didalam gudang keraton, dianggapnya sebagai buku buangan yang tak berguna.

Tapi menguntungkan penjajah Kim malah, setelah menduduki Kiang-king, seluruh harta kekayaan keraton yang tersimpan didalam gudang dikuras habis, sudah tentu buah Karya dari busu pelajaran silat dan Lwekang serta Hiat-to- tong-jin itu kalut diboyong semua kenegeri Kim."

Sampai disini Liu Goan-ka menghela napas, katanya lebih lanjut: "Aku tidak tega melihat kedua pusaka ini terjatuh ketangan musuh, maka aku rela merendahkan derajat, gengsi dan nama baik, pura2 dengan suka rela menjadi manusia rendah budi menerima undangan raja Kim itu masuk kekeraton!"

"Apa pula sangkut paut undangan raja Kim itu dengan kedua pusaka itu?"

"Hiat-to-tong-jin amat rumit dan mendalam, mencakup bidang yang teramat luas, jikalau bisa diselidiki dan diselami secara menyeluruh, banyak manfaatnya untuk mengobatan dengan tusuk jarum, pula amat berguna bagi penggunaan cara menutuk Hiat-to dalam bidang ilmu silat. Tentunya bangsa Nuchen cukup tahu akan manfaat yang tak terbatas ini, tapi setelah sepuluh tahun sejak mendapat kedua pusaka ini, mereka sudah kumpulkan seluruh cerdik cendekiawan diseluruh negerinya, dengan segala daya upaya dan menyelidikinya siang dan malam, sedemikian jauh mereka belum memperoleh intisari yang benar2 murni dari ilmu sesungguhnya yang terkandung didalam Hiat-to-tong-jin itu.

Dan lagi ilmu silat terutama ajakan Lwekang ciptaan Tan Pok yang termuat didalam Ci-goan-bian itupun teramat mendalam dan sukar dijajagi, merekapun tak berhasil menyelami secara menyeluruh. Oleh karena itu secara rahasia raja Kim menyebar undangan, peduli bangsa Han, Nuchen, orang Sehe atau orang Liau, asal dia seorang tokoh silat yang lihay dan kenamaan, tabib yang tinggi ilmunya, semuanya dijaring dan dikumpulkan.

Tujuan-nya supaya orang2 ini ikut bantu mereka menyelidik dan menyelami ilmu2 itu demi kepentingan mereka pula."

"Masakah raja Tatcu itu berani begitu saja mempercayai kalian?"

"Sudah tentu dia mempunyai caranya sendiri yang cukup keji dan culas, setelah kita masuk keraton, satu sama lain dipisahkan, setiap orang selalu dijaga dan diawasi oleh jago2 kosen dari istana, Dan lagi dia tidak memperlihatkan ilmu silat dan ajaran Lwekang itu keseluruhannya kepada kami, tentang Hiat-to-tong-jin melihat atau merabapun kita dilarangnya."

"Tong-jin dilarang meraba, ilmu silat tak oleh melihat, cara bagaimana kalian harus mempelajari dan menyelidik dan menyalaminya?"

"Mereka memang cukup pintar, Hiat-totong-jin itu mereka gambar menjadi lukisan yang terpecah2, masing2 terbagi dua belas gambar urat dan lima belas nadi, seluruhnya dua puluh tujuh posisi menjadi dua puluh tujuh gambar lukisan, setiap orang hanya memperoleh satu diantara kedua puluh tujuh gambar lukisan pecahan itu.

Demikian juga pelajaran silat dan Lwekang itu dipecah untuk dipelajari menjadi delapan bagian, sementara ajaran Lwekang yang tercantum didalam Ci-goan-bian itu, karena satu sama lain bertautan dan tak mungkin dipelajari atau diselami secara petil2, terpaksa cuma di bagi dua bagian, masing2 dibuatkan catatan duplikatnya dibagikan kepada beberapa orang pula.

Karena aku ahli dalam dua bidang, ilmu silat dan ilmu pengobatan beruntung memperoleh bagian pertama dari Ci- goan-bian, sebagian dari ilmu pukulan dan gambar lukisan tentang Siau-yang-keng-meh dari sebagian Hiat-to-tong-jin, apa yang kudapatkan jauh lebih banyak dan luas dari orang2 lain yang sama2 berada didalam tembaga penyelidikan ini, tapi apa yang kuperoleh toh tiada satu sepersepuluh dari keseluruhannya.

Setiap orang terpisah, satu sama lain tak boleh berhubungan setiap orang dibawah pengawasan jago2 kosen istana, sudah tentu merekapun kuatir dan ber-jaga2 supaya kita satu sama lain tidak saling memberi info dan menggelapkan." "Begitu ketat penjagaan dan pengawasan mereka, bukankah rencanamu akan sia2 belaka?" tanya Hong-lay-mo- li.

Liu Goan-ka tertawa, ujarnya: "Ya, mereka mempunyai cara2 mereka sendiri, tapi kitapun punya cara kita pula untuk mengatasi berbagai kesulitan. Aku punya beberapa teman yang sehaluan dan se-cita2, jadi mereka punya tujuan yang sama menerima undangan raja negeri Kim ini. setelah masuk keraton, meski keadaan serba keras dan seperti tawanan belaka yang di-pisah2 satu sama lain, sulit sekali untuk bertemu, betapapun suatu ketika pasti ada kesempatan satu dua kali, umpamanya didalam suatu upacara perayaan dan sebagainya, kita berkesempatan bertemu. Kita masing2 sudah punya persiapan, setiap gambar lukisan yang kami terima kita berusaha membuat duplikatnya yang lain, kita sembunyikan secara rahasia pada satu tempat ditaman, umpamanya dibawah batu2 bukit2an tiruan, didalam lobang dahan pohon dan diberi tanda2 tertentu yang tak dimengerti orang lain.

Diwaktu beberapa teman mendapat kesempatan bertemu, cukup asal dengan ucapan biasa seperti orang mengobrol umumnya, orang lain takkan curiga, cuma kita saja yang tahu rahasianya, dengan cara itulah kita masing2 saling tukar apa yang berhasil kita curi dan kita selama sedapat mungkin kita berbuat pura2 amat setia dan bekerja sungguh2 bagi penjajah Kim, seluruh hasil dari penyelidikan kita, setengah benar setengah ngawur, kami tulis dan dilaporkan, sekaligus untuk menipu kepercayaan mereka. Karena hasil kerjaku teramat baik, belakangan mereka memberi pula tiga gambar lukisan dari Ci-goan-bian yang selama ini tak bisa kudapatkan.

Begitulah dengan hati2 dan tahan sabar aku menetap didalam istana, kecuali beberapa teman semula aku berkenalan pula dengan beberapa kawan baru, semula kami hanya tukar pikiran." Setelah tahu maksud masing2, baru menggunakan hubungan cara rahasia itu untuk saling tukar duplikat gambar yang kita dapatkan masing2, pada akhir tahun,, tiga belas gambar lukisan dari Hiat-to-tong-jin itu sudah berhasil kutangani, tiga bagian ilmu silat dan satu bagian ajaran Lwekang, Dan saat itulah jago2 pengawal yang selalu mengawasi kita itu, agaknya sudah mulai sadar, jelas bahwa mereka sudah mulai curiga terhadap kita."

Meski tahu bahwa belakangan Liu Goan-ka berhasil lolos, tapi mendengar sampai disini, tak urung hati Hong-lay-mo-li ikut gelisah, tanyanya: "Lalu bagaimana kalian?"

"Beberapa teman2 kita itu terpaksa bergerak lebih cepat dari rencana yang ditentukan, pada suatu malam hujan deras, kita bunuh teman2 sejawat yang terima bekerja sepenuh hati bagi kepentingan penjajah Kim, kita rebut pula hasil karya dan gambar duplikat mereka menerjang keluar dari istana, Ai, betapapun jumlah kita terlalu sedikit, didalam kepungan jago2 istana yang begitu banyak dan berkepandaian tinggi itu, satu persatu teman2 yang ikut menerjang keluar bersama aku itu kena tertawan atau terbunuh oleh mereka, akhirnya tinggal aku seorang, setelah berhasil membunuh delapan belas jago2 istana, beruntung aku dapat meloloskan diri."

Ber-kaca2 air mata Hong-lay-mo-li, girang dan sedih pula hatinya, tanpa terasa ia mendekati ayahnya, katanya sesenggukan "Ayah, ternyata kau punya tujuan luhur dan berjerih payah sedemikian rupa, putrimu memang salah dan keterlaluan kepadamu!"

Terbuka alis tebal Liu Goan-ka yang berkerut tadi mendengar panggilan "ayah" yang kedua kali ini, katanya lembut sambil mengelus rambut Hong-lay-mo-li "Putriku yang baik, cukup asal kau dapat memaklumi jerih payah ayahmu, derita yang kualami beberapa tahun ini rasanya cukup setimpal." "Sejak aku lari dari Taytoh, siang malam aku menempuh perjalanan, langsung pulang kekampung halaman, untung kalian ibu beranak masih tetap sehat walafiat, kalian sedang mengharap2 aku pulang dirumah.

"Setelah aku terima undangan dan masuk istana, pengawasan penguasa setempat dari pemerintah Kim, terhadap keluarga kita sedikitpun tidak kendor, malam hari itu juga jejakku konangan oleh mereka.

Dengan menggendong kau aku menerjang kepungan mereka, malam itu juga melarikan diri, maksudku hendak menyebrang sungai lari kenegara asal, Tapi ibumu tak bisa main silat, tak mungkin dia mengikuti langkahku, perjalanan ribuan li yang serba sengsara itu, sudah tentu tak mungkin dia tahan.

"Dengan menyeret istri menggendong anak, sepanjang jalan selalu aku mengalami sergapan musuh dan dikejar2, kubunuh serombongan datang pula rombongan yang lain, kira2 setengah bulan lamanya, aku baru sampai diperbatasan Soatang, sebelum tiba di Thaysan, ibumu sudah terluka sekujur badannya, terserang penyakit demam lagi, dia tidak tega membebani aku, pada suatu hari kami tiba dipinggir sungai, mendadak dia lantas terjun ke air bunuh diri!"

Mendengar sampai disini tak tertahan lagi pecah tangis Hong-lay-mo-Ii dengan sesambatan pilu: "Bu, sengsara benar kau ini, putrimuIah yang membuatmu menemui ajalnya!"

Melihat orang nangis Liu Goan-ka tertegun malah, mendadak iapun sadar dan ingat, dirinyapun perlu perlihatkan rasa sedih, lekas ia usap2 mata memeras beberapa titik air mata, begitulah mereka ayah beranak sama bertangisan sekian lamanya.

Sesaat lamanya baru Liu Goan-ka bicara lagi: "Untunglah hari ini kami ayah beranak jumpa kembali, dialam baka ibumu tentu bisa meram dengan tentram."  

Apakah Hong-lay-mo-Ii termakan oleh cerita bohong Liu Goan-ka dan benar2 tunduk akan perintahnya?

Tugas apa pula dibalik kunjungan Bu-Iim-thian-kiau dengan gadis bergaman seruling dirumah Liu Goan-ka? Dapatkah Bun Yat-hoan menandingi Bu-Iim-thian-kiau?

(Bersambung ke bagian 13)
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 12"

Post a Comment

close