Pendekar Latah Bagian 09

Mode Malam
 
Bagian 09

Se-konyong2 sampan kecil ini seperti terlempar keatas dan berputar seratus delapan puluh derajat, hampir saja perahu ditelan gelombang besar, Kiranya tukang perahu yang membuat gara2, disaat gelombang besar datang, dia sanggah sampannya lalu mendorongnya sekuatnya sehingga ber-putar.

Sudah tentu jurus serangan kebutan Hong-lay-mo-li seketika kehilangan arah, "Brak" dinding papan perahu tersapu brantakan.

Nyonya itu menjengek dingin: "Kalau kau mampu boleh kau bikin hancur perahu ini!"

Mencelos hati Hong-lay-mo-li, maklumlah dia sendiri tak bisa berenang, ditengah sungai besar seperti ini, paling penting harus melindungi kapal, kedua harus ada orang yang pegang kemudi, Maka Hong-Iay-mo-li tak berani kerahkan tenaga dan tak bisa kembangkan jurus2 lihay yang biasa dia mainkan diatas daratan.

Kepala Hong-lay-mo-li terasa sedikit pening, lekas dengan tekanan berat ia pasang kuda2 sehingga perahu tidak goncang terlalu keras.

Dengan bersenjata cakar trisula nyonya itu menyerang gencar, Hong-lay-mo-li berdiri sekokoh gunung tanpa bergeming, pedang dan kebutannya dengan mudah mematahkan setiap serangan orang, Kepandaian nyonya itu jauh lebih tinggi dari suaminya, namun dibanding Hong-lay- mo-li masih terlalu jauh tingkatannya, soalnya Hong-lay-mo-li masih membutuhkan tenaga orang, kalau tidak masakah dia kuat bertahan sepuluh jurus.

Sepuluh jurus kemudian nyonya itu tiba2 tertawa, katanya: "Bagus, diatas perahu anggap kepandaianmu memang hebat, maaf aku minta diri saja!"

"Lari kemana?" bentak Hong-lay-mo-li. "Tang" ia tabas kutung sebuah gigi cakar trisulanya, dengan mengembangkan Ginkangnya, sekali In-sing-hoan-wi, tahu2 ia sudah mengadang jalan mundur si nyonya, sehingga orang tak mampu terjun keair.

Ginkang Hong-lay-mo-li sudah tiada taranya, meski diatas sampan yang sempit, ia masih dapat bergerak dengan leluasa, sekali melayang dan berkelebat, selalu setindak lebih dulu menghadang didepan nyonya itu, bahwasanya lawan tak kuasa lolos dari pengawasannya.

Tapi karena mengembangkan kelincahan badannya, Hong- laynmoli tak sempat lagi menggunakan tekanan kekuatannya untuk kendalikan sampan, disamping gelombang sungai memang besar, laki2 jambang bauk tadipun sengaja main dibawah air, maka sampan kecil itu menjadi terayun turun naik dan oleng. Tukang perahu brewok itu menongolkan kepala-nya, teriaknya: "Hayolah turun saja, kenapa berebut kemenangan diatas sampan sama dia?"

Hong-lay-mo-li tertawa dingin, ejeknya: "Masakah begitu gampang kubiarkan kau berlalu?" kebutannya dimainkan pula, "Wut" sebuah garuk trisula si nyonya yang ketinggalanpun kena dilucuti pula, dimana kebutannya berputar, hampir saja dia sudah berhasil menggubat pergelangan tangan orang, se- konyong2 terasa punggungnya dingin basah, kiranya Iaki2 brewok itu memukul air sampai muncrat membasahi badannya.

Maklumlah Honglay-mo-li belum pernah berkelahi diatas air, begitu punggung terasa dingin basah, di-kiranya ada orang menyergap dari belakang, secara re-flek sebelah tangannya lantas menolak kebelakang, seketika tangannya ikut basah kuyup dan pukulannya mengenai tempat kosong.

Begitu ia sadar dan menyusun dengan jurus serangan lain kepada si Nyonya, orang sudah sempat menerjang dinding papan terus terjun kedalam air.

Ditengah gelombang sungai yang timbul tenggelam nyonya itu berenang celentang, tangannya malah me-lambai kepada Hong-lay-mo-li, teriaknya dengan tertawa cekikikan: "Kau tanya aku punya kemampuan apa, sekarang biar saksikan sendiri. Kalau kau mampu, ayolah turun keair, lawan aku tiga ratus jurus!"

Saking gusar serasa panca indra Hong-lay-mo-li mengepulkan uap, tapi orang sudah lolos, ia tak bisa berbuat apa2. Kejap lain kedua suami istri itu selulup kedalam air, entah kemana.

Segala peralatan dalam sampan ini boleh dikata sudah rusak dan tak kena dipakai lagi, seumpama segalanya tersediapun Hong-lay-mo-li tak mampu meng-gunakannya. Gelombang besar kembali mendampar tiba, sehingga sampan terhanjut oleng, baru saja Hong-lay-mo-li kerahkan tenaga untuk menekan perahu, se-ko-nyong2 gelombang besar yang lain menerjang tiba pula dari arah yang berlawanan, sampan kembali oleng kearah lain, begitulah kekanan kiri dan depan belakang Hong-lay-mo-li berusaha dan bekerja keras untuk menahan keseimbangan perahu.

Sayang betapapun tinggi Lwekangnya masakah kuasa melawan kekuatan gelombang air besar, sehingga badannya terbawa perahu terombang ambing kian kemari, selintas pandang terasa air melulu tak kelihatan ujung pangkalnya, Diam2 ia mengeluh dalam hati: "Bagaimana baiknya? Masakah Liu Jing-yau bakal mampus menjadi umpan ikan sungai?"

Ditengah deburan gelombang yang riuh rendah, tiba2 terdengar suara tak tok yang ramai seperti sesuatu membentur papan, Hong-lay-mo-li kaget, waktu ia memeriksa, tampak dasar sampan tahu2 sudah pecah berlobang besar, air sungai mengalir deras kedalam sampan.

Hong-lay-mo-li amat murka, damratnya: "Bangsat rendah, tak berani berhadapan secara terang2an, main bokong menggunakan cara yang hina dan rendah,"

Tukang perahu menongolkan kepalanya pula dengan gelak tertawa, serunya: "Kau ingin perang tanding secara terang2an? Silakan turun, kami sama mengembangkan kepandaian masing2, kepadaianmu sendiri tidak becus, kenapa salahkan orang."

Tegak alis Hong-lay-mo-li saking gusar, tiba2 ia tu-dingkan kebutannya dengan mengerahkan tenaga dalamnya, beberapa utas benang melesat bagai panah, sayang gelombang badai ditengah sungai amat besar, tukang perahu cukup cerdik pula, begitu melihat orang menggerakan kebutannya, lekas ia selulup pula kedalam air, namun demikian seutas benang. masih sempat menusuk lobang sebelah kupingnya, lekas tukang perahu menymgkir jauh sambil kaok2 kesakitan, terus selulup tak menampakan diri lagi.

Suami istri bekerja lebih keras melobangi sampan, air semakin membanjir kedalam, sebentar saja sampan ini sudah setengah tenggelam, saking marah Hong-lay-mo-li kertak gigi, kebetulan sebuah gelombang besar mendampar datang pula, sebat sekali Hong-lay-mo-li memutar badan sambil kerahkan segala tenaganya meminjam kekuatan gelombang lagi sehingga sampan terhanyut pergi dan berputar2 menyingkir dari tempat semula.

Meminjam kesempatan yang baik ini, Hong-lay-mo-li kerahkan sepuluh bagian tenaganya memukul kepermukaan air. Air seketika menyibak keras dan muncrat setinggi rumah, terdengar suara gerungan didalam air, ternyata tukang perahu berada dibawah kapal, belum lagi menyadari apa yang terja- di, tahu2 badannya tertekan dan tergetar oleh pukulan Hong- lay-mo-li, seketika ia semaput didalam air.

Lekas si nyonya seret suaminya menjauhi kapal, setelah jarak cukup jauh baru dia berani menongol keatas dan mencaci maki kepada Hong-lay-mo-li: "Terhitung kau iblis perempuan ini cukup ganas, silakan kau tempur ikan2 dalam sungai! Menguntungkan kau saja, tidak usah beli peti mati segala!"

Kalau sampan semakin tenggelam, cuaca ternyata semakin baik, cahaya matahari mulai menerangi jagat raya. sekejap saja hembusan angin mereda, gelombangpun mengalun enteng tenang, Sampan sudah penuh air, pelan2 dari kaki terus sampai kepinggang Hong lay-mo-li.

Dingin hati Hong-lay-mo li, pikirnya: "Memangnya aku harus menyerah menunggu ajal begini saja?"

Tengah ia celingukan mencari daya upaya, tiba2 dilihatnya dari aliran atas sana sedang berlayar mendatangi sebuah kapal besar, Bagai kafilah yang terkepung ditengah gurun pasir, tiba2 melihat rombongan unta lewat, sungguh girang Hong-lay-mo-li bukan main, lekas ia menarik napas dan kerahkan suara gelombang jarak jauh: "Lekas kemari, tolong!" selama hidup pertama kali ini dia minta tolong, sungguh rasanya mendelu, senang dan menyesal pula.

Kapal besar itu semakin dekat, tapi jarak masih kira2 dua tiga puluh tombak tiba2 berhenti, tampak istri tukang perahu sambil menyeret suaminya sudah berenang sampai dipmggir perahu, diatas kapal ada orang ter-loroh2, serunya: "Han- sam-niocu, kenapa kalian suami istri begini runyam jadinya?"

Sigap sekali nyonya itu lompat naik keatas kapal dan merebahkan suaminya, lalu ia tuding kearah sampan dimana Hong-lay-mo-li hampir tenggelam, serunya sambil terbahak2: "Meski suamiku kena dirugikan, betapapun kita sudah berhasil bikin Hong-lay-mo li yang kenamaan terjungkal."

Kembali mencelos hati Hong-Iay-mo-li, sungguh tak kira olehnya bahwa orang2 dikapal besar ini ternyata sejalan dengan mereka suami istri, harapan untuk hidup semakin menipis.

Diujung kapal berdiri seorang laki2 pertengahan umur, sinar matanya tajam, maka keadaan Hong-lay mo-li yang runyam dapat dilihatnya jelas, katanya sambil bergelak tawa dengan mengelus jenggot: "Jiko memang pandai dan bisa meramal, perempuan iblis ini ternyata masuk jaring sendiri. Kalian kena sedikit dirugikan tak menjadi soal, coba lihat perempuan iblis itu jauh lebih runyam dari kalian!"

"Thocu, "kata si nyonya, "Kapalmu ini jangan terlalu dekat, perempuan iblis itu cukup lihay."

"Han-sam-niocu," ujar laki2 baju kuning itu, "Ka-lian suami istri terhitung jagoan di Tiangkang, kenapa menghadapi perempuan iblis sudah pecah nyalinya? Aku sih ingin jajal sampai dimana kepandaian perempuan iblis ini?" Setelah memperhitungkan jarak satu sama lain, laki2 baju kuning suruh majukan kapal sampai beberapa tombak, katanya bergelak tertawa: "Liu Jing-yau, kau tak perlu takut, setelah kau kenyang minum air sungai, aku pasti akan menolongmu." seruannya seketika mendapat sambutan sorak gembira anak buahnya.

Seketika amarah Hong-lay-mo-li berkobar, diraihnya kutungan galah besi terus dilempar sekuatnya sambil memaki: "Ada bangsat anjing rendah seperti kalian dalam kalangan Kangouw, cuma bikin malu pamor orang2 persilatan belaka, kalau berani ayolah maju, biar kubrantas kalian satu persatu."

Jarak kedua pihak kira2 dua puluhan tombak, kutungan galah besi itu tak mampu terlempar sejauh itu, Byuur! tepat jatuh dipmggir kapal sehingga memercikkan air keras, maka basah kuyup seluruh badan laki2 baju kuning kecipratan.

Saking gusar kepala perampok baju kuning ini malah ter- loroh2: "Hong-lay-mo-li, kau seumpama ikan didalam jaring, masih berani petingkah? Kau kira kau ini setimpal menjadi Bulim Bengcu lima propinsi daerah utara? Kalau kau mampu hayolah terbang ke-mari." 

Sampan yang ditumpangi Hong-lay-mo li sudah kelelap, dengan mengembangkan Ginkang terpaksa Hong-lay-mo-li berdiri diatap ruang kapal, mendengar kata2 orang seketika tergerak hatinya, secara tak langsung ucapan orang seperti menyadarkan Hong-lay-mo-li, sekilas ia mengerut kening, tiba2 tersimpul suatu akal dalam benaknya.

"Brak" tahu2 Hong-lay-mo-li pukul hancur dinding papan, diambilnya tujuh delapan pecahan papan yang cukup besar, mendadak ia enjot badannya melambung keatas. Karena tenaga tekanan kakinya, sampan itu tenggelam semakin cepat dan sekejap saja sudah tenggelam. Kepala rampok itu tertawa mengejek: "Apa kau ingin lekas2 menjadi umpan ikan? Aku takkan membiarkan kau mampus begini gampang." jarak dua puluhan tombak, dalam bayangannya tak mungkin orang bisa melesat terbang sejauh itu meski memiliki Gin-kang tinggi, maka tindakan Hong-lay- mo-li disangkanya hendak bunuh diri.

Tak nyana belum lenyap suaranya, tampak ditengah udara badan Hong-lay-mo-li berputar jumpalitan tangannya berbareng lemparkan selembar papan, waktu badannya meluncur turun tepat kakinya menutul diatas papan, meminjam sedikit tenaga tutulan ini kembali badannya melambung kedepan pula, betapa hebat dan tinggi ilmu entengi badannya sungguh luar biasa.

Baru sekarang kepala rampok baju kuning benar2 terkejut, cepat ia membentak: "Lepas panah!" kembali Hong-lay-mo-li berputar jumpalitan ditengah uda-ra, sebelah tangan mengayun kebutan, hujan panah disampuknya jatuh semua, kembali tangan yang lain melempar sebuah papan pula, gerakan menyampuk panah, melempar papan dan melayang turun se-olah2 dilaksanakan secara serempak, namun dengan tepat ujung kakinya kembali menutul diatas papan yang mengembang dipermukaan air, kembali badannya melesat terbang kedepan seenteng kecapung menutul air.

Hong-lay-mo-li siapkan tujuh lembar papan, hanya lima saja yang dia gunakan, badannya sudah terbang sejauh dua puluhan tombak, secepat anak panah menerjang naik keatas kapal besar.

Diujung kapal berdiri empat laki2, dua bergaman golok tunggal, seorang menggunakan sepasang ganco, seorang lagi memegang tambang besi, serempak mereka membacok, menggantol dan menyapu.

Hong lay mo-li membentak: "Turunlah jadi umpan ikan!" terdengar "Trang" dua kali, dimana kebatannya menarik dan menuntun, tambang besi membelit golok besar, sepasang ganco itupun terlepas terbang, kedua orang sama terjungkal jatuh, sementara satu diantara laki2 yang menggunakan golok tunggal tertendang roboh dan seorang lagi tersapu kebutan dadanya, empat laki2 dalam satu gebrak kena dirobohkan terjungkal kedalam sungai semua.

Laki2 baju kuning menghardik, kekuatan pukulan tapak tangannya segera membrondong tiba sebelum Hong-lay-mo-li sempat berdiri, pikirnya hendak pukul orang jatuh keair.

"Serangan bagus!" bentak Hong-lay-mo-li, kebutannya segera mengepruk kebatok kepala orang, berbareng pedang panjang ditangan kiri menyerang dengan tipu Giok-li-toh-so, tusukan mengarah dengkul lawan, serangan ini memaksa lawan menolong diri lebih dulu, lekas laki2 baju kuning menyurut mundur dan berkelit kesamping.

Sementara Hong-lay-mo-li sudah tancapkan kakinya diatas kapal dan berdiri tegak, kembali kebutannya bekerja, dua orang terpukul remuk dadanya oleh kebutannya, menyusul temannya masuk kedalam air.

"Krak", pukulan dahsyat kepala rampok itu ternyata mematahkan tiang kapal, layar kuncup dan melayang jatuh, karena terhembus angin kencang kapal menjadi miring kesebelah.

Pikir kepala rampok itu hendak menyergap Hong-lay-mo-li dengan pukulan Gun-goan-ciang-lat disaat orang masih terapung ditengah udara, tapi usahanya sia2 karena seujung rambut orangpun tak berhasil disentuhnya, malah dalam segebrak saja, dirinya terdesak mundur masuk keka-bin, lebih kuncup pula hatinya.

Cepat sekali begitu Hong-lay-mo-li sempat hinggap diatas geladak, gerakan badannya seperti bayangan mengejar wujudnya, sebat sekali ia mengejar masuk. "Bagus, biar kapal ini hancur, aku akan adu jiwa dengan kau!" bentak kepala rampok itu, kembali ia lontarkan pukulan pula dinding papan dalam kabin seketika jebol dan pecah berantakan angin sudah mereda dipermukaan sungai, tapi dibawah goncangan angin pukulan yang dasyat, kapal ini jadi terombang-ambing seperti meronta2 ditengah gelombang samudra.

"Bagus sekali, kalau kau ingin adu jiwa, mari biar kulayani kau!" jengek Hong-lay-mo-li, mendapat pelajaran diatas sampan tadi, kini Hong-lay-mo-li bergerak tak kenal kasihan lagi, tanpa pikirkan bagaimana akibatnya nanti, dia bertekad dan nekad, seluruh tenaga dan kemampuannya dia kembangkan, setiap jurus serangannya cukup bikin jiwa musuh melayang bila terkena dengan telak.

Ditengah samberan pedang dan damparan angin pukulan, diselingi pula suara gaduh dari segala perabot yang ada didalam kabin dan dinding papan yang pecah berantakan.

Diatas kapal sebenarnya ada dua puluhan anak buah perampok, melihat pertempuran dahsyat ini mereka jadi ketakutan dan pecah nyalinya, siapa berani maju membantu, satu persatu mereka terjun keair menyelamatkan diri, yang terjun terlambat, kalau tidak terluka oleh tusukan pedang Hong-lay-mo-li, tentu, tersabet kebutannya, sehingga air sungai bersemu merah tercampur darah segar.

Tukang perahu itu saat mana sudah siuman, bersama istrinya berbareng mereka berseru: "Thocu, marilah tinggal pergi saja."

Kepala rampok baju kuning itu menjawab: "Pergi kau undang bala bantuan, sebelum ajal aku takkan berhenti melawan gembong iblis perempuan ini." mulutnya berkata gagah, bahwasanya hatinyapun sudah ciut, soalnya dia sudah terkurung oleh bayangan kebutan Hong-lay-mo-li, bila putar badan untuk terjun keair, badannya bisa tersamber luka dalam yang pa-rah, terpaksa dia harus melawan sekuat tenaga sambil menunggu bala bantuan tiba, untuk melarikan diri jelas takkan mungkin.

Dengan gerakan Ih-sing-hoan-wi kebutan Hong-lay-mo-li tetap mengurung gerak gerik kepala rampok baju kuning, tiba2 "Sret" pedangnya putar balik menusuk kearah si Nyonya, lekas sinyonya gunakan garuk trisulanya menangkis, kali ini Hong-lay-mo-li menyerang dengan setaker tenaganya, mana si nyonya kuat bertahan, "pletak" senjata garuknya seketika ter-ketuk patah.

Cepat sekali tukang perahu menarik mundur istrinya, "Byur!" keduanya sama jatuh keda-lam sungai, Tujuan Hong- lay-mo-li adalah kepala perampok ini, begitu tusukannya tidak mengenai sasaran, ia tidak sempat merangsak lebih lanjut.

Begitu tukang perahu suami istri merat, kapal sebesar ini tinggal Hong-lay-mo-li dengan kepala rampok baju kuning yang masih berhantam dengan sengit.

Hong-lay-mo-li kembangkan kepandaian silatnya, jurus pedangnya semakin gencar, kanan kiri seperti selulup timbul dirumpun kembang, sinar pedangnya laksana bianglala, jalan mundur kekanan kiri depan" dan belakang musuh terbendung rapat, sementara kebutannya tetap membayangi gerak gerik musuh, suatu kesempatan Hong-lay-mo-li membentak:

"Siapa kau? Kau sudah tahu namaku Liu Jing-yau, kenapa masih berani main kekerasan dan mempersulit aku? Kau tahu kelihayanku belum? Lekas menyerah, kuampuni jiwamu."

Kalau hati rada jeri, tapi sebagai penguasa tinggi dalam wilayah perairan Tiangkang ini, betapapun tak mau unjuk kelemahan, katanya bergelak tertawar "Kau angkat diri didaerah utara, aku sendiripun bukan kaum keroco di sungai Tiangkang ini, kau kira aku ini rampok kecil yang tidak punya pambek bernyali kecil? Masakah sudi aku menyerah kepada kau? jangan kau takabur, kau kira kau pasti dapat mengalahkan aku, memangnya aku tidak punya kepandaian simpananku yang lihay?"

"Sret" Hong-lay-mo-li menabas kutung secuil lengan baju lawan, bentaknya: "Tidak lekas kau laporkan namamu untuk terima kematian?"

"Baik pasang kupingmu dan dengarkan dengan jelas!" disaat gerakan pedang Hong-lay-mo-h rada me-rendek, tiba2 kedua lengannya terkembang dengan jurus Elang raksasa mengembangkan sayap, sasarannya adalah mencengkram pergelangan tangan Hong-lay-mo-li, jurus Kim-na-jiu ini dilontarkan dengan menempuh bahaya, tapi cukup ganas pula, Hong-lay-mo-li sedang pasang kuping," hampir saja dia kena diselomoti, untunglah langkahnya enteng gerak geriknya lincah, gerakan refleknya cukup cepat pula, begitu terasa gelagat jelek sebat sekali ia putar badan, terdengar "Bret" disusul "Sret", lengan baju Hong-lay-mo-li tercakar robek, sementara lengan kiri kepala rampok tergores luka panjang lima dim, betapapun kepala rampok itu menderita rugi lebih besar, tapi karena hampir saja terbokong musuh, amarah Hong-lay-mo-li semakin berkobar, bentaknya dingin:

"Pedangku tak membunuh kaum kroco, hari ini biar ku- langgar pantanganku."

Bahwa dirinya dianggap kaum kroco dan jiwanya hendak dibunuh, kepala rampok itupun naik pitam, dampratnya: "Hong-lay-mo-li, kematianmu sudah didepan mata berani kau petingkah? setelah kubacakan doa mengantar arwahmu nanti baru kuberitahu na-maku."

"Baik, biar kulihat betapa lihay kepandaianmu." ejek Hong- lay-mo-li. Dengan mempertaruhkan jiwa serangannya semakin gencar, sehingga kepala rampok itu dicecarnya mundur ber- ulang2 tak mampu balas menyerang, Tapi ditengah pertempuran sengit ini Hong-lay-mo-li masih sempat pasang kuping, dikiranya anak buah musuh kembali selulup kedalam air hendak melobangi kapal.

Diluar tahunya bahwa bangunan kapal ini cukup kokoh dan kuat, untuk membikin lobang atau merusak dasar kapal dibawah air, sedikitnya memakan waktu satu hari lamanya, sudah tentu kawanan perampok itu tak pernah memikirkan cara yang menyulitkan ini.

Ditengah pertempuran sengit kepala rampok baju kuning kembali terkena samberan kebutan Hong-lay-mo-li, meski dia ada meyakinkan Kim-cong-coh (ilmu kebal), kulit dadanya yang hitam berbulu itu dihiasi beberapa jalur merah berdarah, disaat jiwanya hampir melayang dibawah samberan pedang Hong-lay-mo-li, se-konyong2 terdengar suara trompet ditiup panjang dan nyaring.

Ditengah Tiangkang tiba2 muncul puluhan kapal besar, bendera yang berkibar dipucuk tiang jelas menandakan bahwa kapal2 ini adalah pasukan air negeri Kim.

Dari kejauhan puluhan kapal pasukan air pemerintah Kim ini mengepung kapal ini, tapi tak berani mendekat. Terdengar suara merdu cekikikan berseru: "Hong-lay-mo-li, kau tidak ingin mandi air sungai bukan? Tidak lekas kau buang pedang menyerah saja?" ternyata Giok-bin-yau-hou berada diatas kapal pasukan air negeri Kim."

Hong-lay-mo-li gusar, damratnya: "Jadi kau antek kerajaan Kim!"

"Sret" pedangnya, bekerja hendak tamatkan jiwa kepala rampok itu, tiba2 didengarnya suara menderu ramai dari kapal musuh panah melesat bagai hujan derasnya, Hong-lay-mo-li ayun kebutannya menangkis rontok anak panah yang menerjang kearah punggungnya, tiba2 kepala rampok gigit pecah lidah sendiri menyemburkan darah, kiranya orang menggunakan Thian-mo-hay-deh-tay-hoat, tenaga pukulannya bertambah satu lipat, disamping harus menyampuk jatuh panah2 yang menyamber tiba, sudah tentu tenaga gerak pedang Hong-lay-mo-li jadi rada kendor, sebaliknya kekuatan kepala rampok baju kuning bertambah lipat ganda, ujung pedang Hong-lay-mo-li terpukul miring kesamping.

Cepat sekali kepala rampok ini sudah mundur dan lolos dari kepungan sinar pedangnya "Byuurr!" terjun kedalam air, untung kebutan Hong-lay-mo-li masih sempat terayun dan "plak" sebelum badan orang masuk keair punggungnya dengan telak terketuk sampai baju pecah kulit terluka, namun kepala rampok tetap berhasil lolos menyelam keair.

Setelah agak jauh baru kepala rampok menandakan diri dipermukaan air, tampak tenaganya sudah lemah, katanya menghela napas: "Han-sam-niocu, kau bikin aku celaka!" beberapa orang pasukan air pihak musuh lekas menyusul datang menolongnya, kepala rampok menggentafean kedua lengannya, sambil membentak:

"Minggir, tak perlu kalian tolong aku!" tapi luka2 dipunggungnya tidak ringan, hatinya sedang marah lagi, setelah meronta2 tenaganya semakin habis, tak lama kemudian dia digusur naik keatas kapal musuh.

Seorang panglima diatas kapal musuh bergelak tertawa, serunya: "Jilian-cuncu, semua ini berkat jasa2-mu, disamping melenyapkan Hong-lay-mo-li, berhasil membekuk buaya Tiangkang lagi, Hahaha, sekali panah dua burung!"

Sementara kedua biji mata kepala rampok baju kuning sudah terbalik, jatuh semaput.

Kata Lian Ceng-poh: "Suruh orang merawatnya baik2, orang ini amat berguna bagi kita."

Hong-lay-mo-li merasa diluar dugaan, kalau kepala rampok ini bukan membantu musuh, kenapa orang mencari permusuhan dengan dirinya? Tapi hujan panah masih terus menyerang dirinya, tak sempat Hong-lay-mo-li putar otak memikirkannya, tapi cukup dengan pedang dan kebutan Hong-lay-mo-li bikin runtuh semua anak panah yang menyerang dirinya, dalam waktu dekat musuh takkan bisa apa2 terhadap dirinya. Tapi lama kelamaan dirinya akal konyol juga dalam keadaan terdesak terus menerus seperti ini.

Disaat hatinya bimbang dan mencari daya, tiba2 didengarnya panglima musuh membentak: "Lepaskan api bakar kapal itu, masakah iblis perempuan ini punya tiga kepala enam tangan?" puluhan panah berapi seketika meluncur datang, sebatang diantaranya kebetulan jatuh diatas tumpukan layar yang melorot jatuh tadi, angin besar lagi, seketika layar itu berkobar semakin besar, tak lama kemudian papan2 perahupun ikut terjilat api.

Kobaran api yang terbesar adalah tiang dan layarnya, lekas Hong-lay-mo-li memotong putus tiang layar menjadi dua potong terus diungkit naik dilempar kedalam air, tapi lengan bajunya ikut terjilat api, untung kerjanya cukup cekatan sehingga pakaian dan badannya tidak kurang suatu apa.

Sementara haluan dan buritan kepal beruntun sudah terbakar pula, seorang diri Hong-lay-mo-li sempat memadamkan yang sini, api sudah berkobar pula disebelah lain, mana mungkin dia memadamkan seluruhnya? apalagi hujan panah musuh masih tetap berlangsung.

Api berkobar semakin besar, asappun semakin te-bal, napas Hong-lay-mo-li menjadi sesak, batuk2 dan matapun pedas, air mata bercucuran.

Giok-bin-yau-hou ter-loroh2 kesenangan, serunya: "Hong- lay-mo-li, pernahka terpikir olehmu akan hari ini?"

Bukan kepalang marah hati Hong-lay-mo-li, pikir-nya: "Aku pantang terjatuh ketangan musuh, palagi dihina oleh mereka!" disaat ia bertekad hendak bunuh diri, tiba2 terdengar gembreng dan tambur ber-talu2 riuh ramai memekak telinga, ditengah gelombang besar ditengah Tiangkang, sebarisan kapal2 besar tampak berlaju datang dengan cepat, sebuah diantaranya yang terbesar ditengah2 tampak mengerek bendera negeri Song, disebelah bawahnya ditiang yang lain terkerek pula sebuah bendera lain yang rada kecilan dan tersulam huruf "Loh" yang besar menyolok!

Seketika terbangkit semangat Hong-lay-mo-li, Hong lay-mo- li tidak tahu strategi-peperangan, namun melihat formasi dari pasukan kapal perang ini begitu gagah dan berani, pasukan kapal kerajaan Kim sudah terkepung dari kanan kiri, jarak semakin dekat, keruan kacau balau pasukan kapal kerajaan Kim.

Gelak tawa panglima Kim itu seketika sirap, mukanya mengunjuk rasa gusar dan takut, damratnya: "Loh Ing-bun bocah keparat itu selalu mencari gara2 terhadap kita." begitu aba2 dikeluarkan panah berapi kembali melesat menghujani kapal besar yang ditumpangi Loh Ing-bun itu.

Hong-lay-mo-li berpikir: "Loh Ing-bun Ciangkun cukup menggetarkan nyali musuh, tentunya bukan kaum keroeo, tapi panah berapi musuh memang lihay, cara bagaimana dia menghadapi hujan panah ini?" dengan sisa air minum yang masih ketinggalan diatas kapal Hong-lay-mo-li menyiram api yang merambat kedekatnya, sementara dia masih kuat bertahan beberapa kejap lagi, dengan mendelong ia memandang kearah kapal Loh Ing-bun yang mendatangi.

Tampak seorang panglima berdiri gagah di ujung kapal, berusia tiga puluhan, mukanya putih halus bersih tak berjenggot sikapnya seperti sastrawan umum-nya, tersenyum wajar dan tenang, melihat panah2 api itu memberondong tiba, dengan tertawa segera ia memberi aba2: "Hayo saudara2 perlihatkan kepandaian kalian, biar anjing Kim tahu betapa lihay dan tinggi kepandaian ahli bidik kita!" seketika dari kapal bersusun dua ini, panah bersuitan memapak kedepan.

Panah yang dibidikan pasukan Song ini menggunakan tenaga manusia, sudah tentu kekuatan dan jarak tempuhnya tidak unggul dari Sin-pit-kiong musuh yang menggunakan alat pegas sebagai daya kekuatan-nya. Tapi tepat dan telak sekali, setiap batang panah membentur sebatang panah berapi musuh, semua panah berapi bidikan pasukan Kim boleh dikata dipukul runtuh ditengah jalan dan kecemplung kedalam sungai.

Panglima Kim amat gusar, bentaknya: "Berikan padaku, lihat panah!" seorang anak buahnya mengangsurkan sebatang busur besar, "Ser" ia bidikan sebatang panah, sebagai pahlawan kuat dari negeri Kim yang kenamaan, sudah tentu kekuatan tarikan busur panahnya luar biasa besarnya, jauh berlipat ganda dari kekuatan Sin-pit-kiong, dua batang panah bidikan tentara Song membenturnya ditengah jalan, tapi tak berhasil meruntuhkannya, malah daya luncurannya masih amat kuat, sasarannya masih tepat mengarah keteng-gorokan Loh Ing-bun.

Dari samping Loh Ing-bun mendadak tampil seorang perwira muda, pedang terlolos dan terayun "krak" ia papas kutung samberan panah bidikan panglima Kim itu. sekenanya perwira ini menarik sebatang busur besi, bentaknya: "Anjing Kim, kaupun sambut panahku!" suaranya bagai beledek, bidikan panahnya laksana bintang jatuh, "ser" bidikannya tepat kearah kapal besar yang ditumpangi panglima Kim.

Kaget dan girang hati Hong-lay-mo-li, ternyata perwira muda ini bukan lain adalah Kheng Ciau, dari Siang Ceng-hong yang menaruh hati kepadanya, Kheng Ciau berhasil ditipu untuk mempelajari Tay-yan-pat-sek dari keluarga Siang, betapa kuat tenaganya, luncuran panahnya lapat2 seperti membawa deru angin yang menggelegar, sudah tentu kekuatannya jelas lebih unggul dari bidikan panah panglima Kim itu.

Keruan panglima Kim amat kejut, baru saja ia hendak cabut pedang untuk menangkis, tiba2 didengarnya suara sesuatu yang pecah dan patah, ternyata bidikan panah Kheng Ciau mengarah tiang bendera, kontan tiang patah dan benderanya melayang jatuh, Cepat sekali, disaat Panglima Kim sedang kaget dan melongo, bidikan panah Kheng Ciau yang kedua sudah mengincar tenggerorokannya.

Tapi entah kenapa, disaat ia menarik busur sekencangnya dan sebelum dilepaskan tiba2 mulutnya bersuara aneh, dengan sendirinya jarinya kurang tenang, maka bidikan panahnya meluncur jatuh keair ditengah jalan, Ternyata sekilas itu diujung matanya seperti melihat bayangan Giok-bin- yau-hou Lian Ceng-poh berada dikapal musuh karena kaget, maka bidikannya menjadi luput.

Loh Ing-bun segera memberi perintah untuk menggempur, pasukan air pimpinan Loh Ing-bun dilengkapi dengan persenjataan meriam batu, dengan tenaga manusia batu2 segede babi bisa disambitkan dalam jarak yang cukup jauh dengan peralatan yang sederhana, tapi bisa membawa akibat yang fatal bagi sasaran yang diserang.

"Blang" sebuah batu besar tepat sekali jatuh diatas kapal musuh sampai papan jebol dan atap bolong, dua batu yang lain jatuh disisi kapal menimbulkan gelombang besar, Keruan Panglima Kim jadi kelabakan lekas ia berteriak:

"Cepat mundur!" segera bunyi tambur dibunyikan, pertanda perintah untuk mundur, Mendapat angin pasukan Loh Ing-bun segera menerjang dengan gagah berani, sehingga pasukan kapal musuh diterjang kocar kacir, ada kapal yang tenggelam, ada yang tertawan, tapi kapal yang ditumpangi Giok-bin-yau- hou sempat melarikan diri.

Tatkala itu, kapal yang ditumpangi Hong-lay-mo-li sudah terjilat api seluruhnya, dengan persediaan air yang ada diatas kapal, Hong-lay-mo-li bekerja keras berusaha memadamkan api, beberapa kaki disekelilingnya air sudah tergenang sampai setengah lutut, dalam sementara waktu api takkan menjilat ke-arahnya, tapi kobaran api terlalu besar, usahanya tetap sia2 belaka, dalam waktu dekat dasar kapal yang terbuat dari papan juga sudah terjilat api, air mulai merembes masuk dan kapal pe!an2 mulai tergenang air dan tenggelam sedikit demi sedikit Hong-lay-mo-li menghela napas dan tak bisa berbuat apa2 pula, pikirnya:

"Aku bisa saksikan pasukan kita berhasil menggempur musuh, matipun setimpal."

Disaat2 ia menunggu ajal, tiba2 dilihatnya sebuah sampan yang terbuat dari kulit kerbau dikayuh mendatang menempuh gelombang sungai, diatas sampan cuma Kheng Ciau seorang, teriaknya keras:

"Liu Lihiap, sambutlah!"

"Wut" ia lemparkan rantai besi beberapa tombak panjangnya, Hong-lay-mo-li menangkap ujung rantai, sekali sendal dan enjot badan, seperti berayun ditengah udara badannya mencelat keluar dari tengah kobaran api, lekas Kheng Ciau membarengi tarik rantai itu, ditengah udara badan Hong-lay-mo-li bersalto dengan ringan meluncur turun diatas sampan kulit Kheng Ciau.

Ternyata Kheng Ciau melihat bayangan Hong-lay-mo-li diatas kapal yang terbakar ini, lekas ia turunkan sampan dan datang menolong.

Terhindar dari kematian, sungguh lega dan girang hati Hong-lay-mo-li, katanya, "Untung bertemu Kau, mana Sin- ciangkun?"

"Sin-toako berada di Ling-an menunggu panggilan raja untuk menghadap. Pasukan gerilya mendapat perintah untuk bercokol di Kianglam, Disini adalah pasukan Loh Ing-bun Ciangkun yang berpangkalan di Jay-ciok-ki."

"Kenapa tidak bersama pasukan rakyat, kau malah berada dipasukan Lok Ing-bun?" "Aku mendapat tugas bersama sebarisan kawan2 untuk belajar perang air kepada Loh-ciangkun, pasukan rakyat hanya pandai bertempur didaratan, jikalau tidak secepatnya belajar perang di air, kelak cara bagaimana bisa membendung musuh menyeberangi Tiangkang?" 

Merah muka Hong-lay-mo-li, katanya. "Benar, hari ini aku terjungkal habis2an lantaran tidak bisa main diair, selanjutnya akupun akan belajar dengan baik."

Liu lihiap" kata Kheng Tiau, "Cara bagaimana kau kepergok dengan kapal milik Jau-hay-kiau Hoan Tiong perampok terkenal diperairan Tiangkang?"

"Aku sendiri sedang heran, Orang macam apa Hoan Thong itu? Apa dia ada sekongkol dengan pemerintah Kim?"

"Kukira tidak, Mereka adalah gerombolan perampok terbesar di Tiangkang, Thocuoya bernama Jau-hay-kiau Hoan Tliong, Hu-thocu adalah Hoan-kang-hou Li Po, sasaran mereka hanyalah kapal pedagang, bila kebentur pasukan air negeri Song atau Kim merasa tenaga kalah kuat segera menyingkir.

Belakangan ini kehidupan mereka mungkin sudah mengalami jalan buntu lantaran bentrokan langsung dari kedua pasukan pemerintah yang bermusuhan, karena terpaksa tidak heran bila mereka menyerah kepada musuh."

Tengah percakapan, sampan kulit mendapat hembusan angin sehingga meluncur lebih cepat menyandak kapal besar Loh Ing-bun. Dilain saat mereka sudah naik keatas kapal.

Loh Ing-bun amat senang, sapanya: "Liu-lihiap, sudah lama kudengar nama besarmu, beruntung hari ini bertemu, Memang kau tidak bernama kosong."

Dalam pertempuran kali ini, pasukan air Loh Ing-bun berhasil menenggelamkan lima buah kapal besar musuh, melukai dan menewaskan ratusan tentara Kim. Maka malam itu Loh Ing-bun segera mengadakan perjamuan sekadarnya untuk merayakan kemenangan ini, sekaligus untuk menyambut kedatangan Hong-lay-mo-li.

Hari kedua Hong-lay-mo-li lantas mohon diri kepada Loh Ing bun, tahu bahwa orang amat akrab dengan Kheng Cau, maka Loh Ing-bun minta Kheng Ciau mengantarnya, tak lupa diapun suruh orang menyiapkan ransum serta surat jalan seperlunya.

Ditengah jalan Hong-lay-mo-li sempat menanyakan pengalaman Kheng Ciau selama ini, tak lupa Hong-iay-mo- lipun tuturkan kejadian yang dia alami, setelah sepuluhan li baru mereka berpisah, Hong-lay-mo-li melanjutkan perjalanan, Kheng Ciau kembali kepangkalan Loh Ing-bun.

Dengan membawa surat jalan pemberian Loh Ing-bun, perjalanan Hong-lay-mo-li lebih leluasa, sepanjang jalan tak pernah mengalami kesulitan, Beberapa hari kemudian, dia sudah masuk kepedalaman, Panorama di Kanglam memang laksana sorga dunia, disini Hong-lay-mo-li bisa jelajahkan pandangannya sepuas hatinya menikmati pemandangan yang tak pernah dilihatnya didaerah utara.

Hari itu dia sedang berjalan dijalan raya, tiba2 didengarnya kelintingan berbunyi, waktu ia berpaling, dilihatnya dua ekor kuda berlari mendatangi, dua laki2 bertubuh tegap dan gagah bercokol dipunggung kuda.

Melihat dandanan Hong-lay-mo-li yang aneh, kedua laki2 ini menjadi heran, tiba2 salah seorang mencebirkan bibir bersuit nyaring, keduanya segera ke-prak kuda mencongklang pesat kedepan, Jalan raya disini tidak begitu lebar meski rada sepi kuda biasanya dilarikan pelan2, tapi kedua orang ini seperti sengaja hendak menumbuk Hong-lay-mo-li.

Keruan Hong-lay-mo-li gusar: "Kurangajar, masakah begini cara menunggang kuda?" cepat sekali kedua kuda itu sudah menerjang tiba, "Sret" kedua orang penunggangnya berbareng ayun cambuk seraya membentak: "Minggir"

Sudah tentu Hong-lay-mo-li tidak gampang kecundang, sungguh hampir meledak hatinya saking gusar, kebutan segera dilolos dan mengerahkan Lwekang, sekali ayun beberapa utas belangnya mele'sai bagai anak panah, tepat melukai pantat kedua ekor kuda tunggangan itu, Sudah tentu tertusuk benang setajam jarum lembut kedua ekor kuda kesakitan dan berjingkrak2 menyelonong turun kesawah ladang, meski kedua orang ini punya kepandaian menunggang kuda tak urung hampir saja mereka terperosok jatuh dan badan kotor berlepotan lumpur.

Hong-lay-mo-li ter-tawa2, serunya: "Hebat benar cara kalian menunggang kuda, sampai terperosok masuk sawah."

Kedua orang itu tahu bahwa kuda mereka ter-bokong oleh Hong-lay-mo-li, cuma dengan cara apa, ini tidak diketahui oleh mereka, karena kaget dan jeri tanpa berani banyak mulut lagi lekas mereka bedal kuda masing2 tinggal pergi.

Tengah Hong-lay-mo-li kesenangan dan puas, tiba2 ia berseru heran pula, tampak seekor kuda, lari mencongklang pula dari belakang, penunggangnya adalah seorang laki2 pertengahan umur, pakaiannya seperti laki2 di Kanglam umumnya, namun perawakannya kekar mirip orang utara.

Hong-lay-mo-li kira orang inipun ugal2an seperti kedua laki2 yang terdahulu, maka sengaja dia mengadang ditengah jalan, diluar dugaan laki2 ini tahu sopan santun, kuda diperlambat dan akhirnya berhenti beberapa tombak dihadapan Hong-lay-mo-li.

Dengan nanar ia awasi Hong-lay-mo-li tanpa berkesip, Sudah tentu Hong-lay-mo-li jadi rikuh, pelan2 ia menggeser kesamping, Tapi laki2 penunggang kuda waktu tiba disampingnya tiba-tiba melompat turun dan menyapa dengan sikap hormati "Nona ini she apa dan siapa... namamu, sudikah memberitahu?"

Logat orang ini kaku dan keras kasar menusuk telinga.

Hong-lay-mo-li merasa sebal katanya dingin sambil melerok. "Jalan selebar ini, silahkan kau lewat, bukan sanak bukan kadang, buat apa kau tanya namaku?"

"Dari logat nona jelas kau bukan penduduk Kang-lam, tentunya. kau datang dari sebrang sana." ia tuding kearah utara.

"Peduli amat aku datang darimana?"

"Dalam suasana genting yang tak aman ini, nona menyebrang seorang diri, kagum sungguh kagum!"

"Cerewet kau, hai minggir!"

"Kepandaian nona hebat juga, benang kebutan menusuk kuda tadi, membuat mataku terbuka lebar."

Mencelos hati Hong-lay-mo-li, jengeknya: "Kalau tak berkepandaian bukankah aku sudah dipermainkan oleh bangsat anjing itu? Hai, kau orang darimana, bicaralah terus terang."

"Terus terang akupun punya teman disebrang sana, mungkin nona ada mengenalnya, maka aku memberanikan diri bertanya kepadamu."

"Temanmu siapa?"

"Tam-kongcu Tam Ih-tiong."

Hong-lay-mo-li melengak, "Tam Ih-tiong apa? Tak pernah dengar."

Laki2 itu unjuk rasa kecewa, kelihatan rada menyesal pula, katanya: "Kalau nona tidak kenal, maaf akan kecerobohanku barusan, Aku mohon diri." Tiba2 tergerak hati Hong-lay-mo-li, tanyanya: "Tunggu sebentar, apa maksud kedatanganmu kemari?"

"Menuju ketujuan masing2, bukan sanak bukan kadang, buat apa nona tanya kemauanku?"

"Tar!" ia lecut cambuknya membedal kuda. "Berhenti!" hardik Hong-lay-mo-li, dimana kebutannya

terayun, kembali ia timpukan benang kebutan-nya laksana

Bwe-hoa-ciam, namun sasarannya kali ini adalah penunggangnya, Ternyata Hong-lay-mo-li curiga bahwa laki2 ini adalah mata2 bangsa Nuchen yang menyelundup ke Kanglam, maka ia lontarkan kepandaian menutuk hiat-to dengan benang kebutan-nya hendak menawan musuh,

Benang kebutan ini meluncur secepat kilat tanpa bersuara, tapi belakang kepala laki2 itu seperti tumbuh mata, tiba2 tapak tangannya menepuk kebelakang, puluhan jalur benang kebutan itu seketika buyar terhembus angin.

Tapi Hong-lay-mo-li sempat menjemput batu terus diremasnya menjadi beberapa butir, secara beruntun dengan cepat ia timpukan kearah orang itu.

Batu krikil sudah tentu lebih berat dari benang, daya luncurannya juga lebih keras, sampai menderu memecah kesunyian, Sudah tentu kaget Iaki2 itu, cepat sekali tiga batu meluncur datang bersama, kepandaian menunggang kuda laki2 ini ternyata memang hebat, tahu2 badannya membresot turun, batu pertama dihindari, batu kedua kena diraih tangannya, namun tapak tangan terasa linu kemeng, maka batu ketiga ia tak berani menyambuti, dengan Hong-lam-thau ia berkelit, siapa tahu cara timpukan batu Hong-lay-mo-li lain dari yang lain, dalam menimpuk dia gunakan dua saluran tenaga yang berbeda, begitu batu ketiga meluncur sampai diatas kepala laki2 itu, tiba2 menukik kebawah, meski laki2 itu sudah menunduk, "plak" topi rumputnya yang lebar itu kena tertimpuk jatuh, untung dia menunduk cepat, kalau tidak batok kepalanya tentu bocor keluar kecap,

Dalam sedetik itu, Hong-lay-mo-li sendiripun dibikin melongo, ternyata begitu topi lebar orang itu tertimpuk jatuh, kelihatan kepala orang itu masih mengenakan topi kulit yang sempit dan pas2an membungkus kepala, Topi semacam itu, Hong-lay-mo-li cukup jelas biasa dipakai para penggembala untuk menahan terik matahari dan hujan pasir.

"Bagus ya, ternyata kau mata2 bangsa Nuchen" bentak Hong-lay-mo-li, rombongan batinnya yang kedua dan ketiga kembali ia timpukan, laki2 -itu segera berteriak: "Kau, kau adalah Hong-lay-mo-li? Tahan, tahan sebentar!" tapi batu2 Hong-lay-mo-li sudah memberondong tiba, terpaksa laki2 ini harus selamatkan diri, lekas ia kempit perut kuda sekerasnya, kuda pilihan yang berlari seribu li sehari ini segera membedal bagai terbang.

Betapapun tinggi Ginkang Hong-lay-moli, meski dia sudah kerahkan setaker tenaganya, hanya sebutir diantara batu2 timpukannya yang mengenai punggung orang, yang lain sama berjatuhan ditengah jalan, tapi karena jarak teramat jauh tenaga timpukan batu itu sudah lemah, maka batu itupun kena disampuk jatuh dengan cambuk orang.

Karena tak berhasil menyandak orang dengan tunggangan yang pilihan, terpaksa Hong-lay-mo-li memperlambat kakinya, setelah pikiran jernih baru dia sadar dan menduga2: "Tam Ih- tiong yang dikatakan tadi, bukan mustahil nama asli Bu-lim- thian-kiau?"

Begitulah dengan penuh tanda tanya Hong-lay-mo-li melanjutkan kedepan, hari amat panas, setelah berlari sekian lamanya, mulut terasa kering, kebetulan tak jauh didepan dipinggir jalan terdapat sebuah kedai minum, Hong-lay-mo-li lantas masuk minta minuman sekaligus untuk istirahat. Penjual teh adalah seorang kakek dibantu cucunya, nona cilik berusia tiga belasan, pinggang menyoreng pedang, dipunggung menggemblok kebutan dengan langkah lebar Hong-lay-mo-li masuk kedalam kedai, nona cilik itu mengawasinya dengan mendelong, kakek tua itupun ter-sipu2 maju menyambut, meja dilap dulu lalu menuang secangkir teh disuguhkan.

Hong-lay-mo-li langsung menenggaknya habis, terasa wangi dan menyegarkan tak terasa dia berseru memuji: "Teh bagus!" lalu diambilnya kue2, ternyata enak juga rasanya, Melihat nona cilik itu masih mengawasinya dengan rasa takut2, dengan geli Hong-lay-mo-li menggape tangan supaya orang maju kedepan-nya, lama kelamaan baru nona ini hilang rasa takutnya.

Tanya Hong-lay-mo-li: "Nona cilik, siapa namamu?" "Namaku Siau Bi!" sahut nona cilik.

"Baik sekali namamu, teh yang dijual dalam kedai ini juga enak rasanya, apakah nama kue ini?"

Sikap nona cilik kembali lincah dan nyerocos: "lnilah manisan buah tho, ini roti sari kembang dan ini kembang gula teratai, teh itu adalah Liong-kin-teh. Kedai kami kecil tak bisa menyediakan makan2an mahal yang lebih enak."

Kakek tua itu ikut menimbrung dengan sikap ter-gopoh2: "Kedai kami memang tidak menyediakan makanan enak, jikalau kau senang, legalah hatiku."

Disaat mereka ber-cakap2 itu, tampak dua Busu menunggang kuda kebetulan lewat, didepan kedai mereka berhenti dan melongok kedalam, melihat kehadiran Hong-lay- mo-li mereka rada melengak, namun tidak turun dari punggung kuda. Lekas kakek tua memburu keluar menyilakan masuk, salah seorang Busu berkata: "Kami ada tugas penting harus menempuh perjalanan jauh, lekas kau isi Houlo ini sepenuhnya." seorang yang lain menambahkan "Sediakan pula dua dos manisan buah tho."

Kakek tua itu mengiakan dan lekas menyediakan apa yang diminta, tapi dia membawa keluar empat manisan buah tho, katanya: "lnilah Liong-kin-teh, empat dos manisan ini anggap saja sebagai persembahan kami untuk melepaskan lelah dijalan."

"Sudah tahu, tak usah cerewet!" omel kedua Busu itu, sekilas mereka lirik kepada Hong-lay-mo-li terus keprak kuda tinggal pergi,

"Eh, kenapa mereka tidak bayar terus tinggal pergi?

Modalmu kecil apa tidak rugi digares secara gratis?" tanya Hong-lay-mo-li keheranan. La!u dia bangkit dan menambahkan: "Akupun harus berangkat, berapa duit semuanya?"

"Biar kubungkus beberapa kue2 dan manisan untuk bekal dijalanan." kata sikakek.

"Baiklah, hitung seluruhnya, berapa harus kubayar? Eh, kenapa tidak kau total jumlahnya?"

"Nona kau hanya bergurau saja, mana berani aku terima uangmu? Anggap saja sebagai persembahan kami."

Hong-lay-mo-li tertawa, katanya: "Aku bukan perampok, kenapa kalian harus memberi kepadaku. Kalau kepada setiap orang kau persembahkan daganganmu, kedai kecilmu ini masa takkan bangkrut."

Semakin gelisah si kakek, apalagi melihat Hong-lay-mo-li sudah merogoh uang, cepat ia menambahkan: "Kau adalah "tamu Jian-liu-cheng, mana berani aku terima uangmu, bila Chengcu tahu, aku bisa disalahkan."

Hong-lay-mo-li tertegun, tanyanya: "Jian-liu-cheng apa? selamanya aku belum pernah dengar." Kakek itupun melongo, katanya: "Benarkah kau bukan tamu yang hendak pergi ke Jian-liu-cheng?"

"Sudah tentu bukan." karena si kakek tak berani terima, terpasa Hong-lay-mo-li sesalkan uangnya ke-kantong nona cilik, katanya tertawa: "Selebihnya kuberikan kepada adik cilik untuk beli jajan, Apa yang terjadi akan Jian-liu-cheng? Kenapa tamu2 Jian-liu-cheng yang mampir kesini kau layani secara gratis?"

Kakek tua megap2 tak bisa bicara, sikapnya ta-kut2. "Bibi," ujar nona cilik itu, "Kau orang baik, biar kujelaskan

Chengcu Jian-liu-cheng bernama Liu Goan-ka, salah ladang puluhan hektar disekitar pedusunan sini adalah miliknya. Dia punya ratusan anak buah yang buas dan galak seperti serigala."

Seketika si kakek ketakutan sampai pucat mukanya, katanya: "Sst, Siau Bi, jangan kau sembarang omong."

"Takut apa, bibi ini bukan orang mereka, Bibi begini baik terhadap kami, kami harus beritahu kepadanya supaya hati2."

"Lotiang tak usah takut," bujuk Hong-lay-mo-li, "Aku orang dari luar daerah, tidak kenal dengan orang2 Jian-liu-cheng.

Jaman geger seperti ini, memang harus hati2 dalam perjalanan, adik cilik hendak beritahu apa kepadaku, katakan, Aku amat berterima-kasih kepadamu."

Baru sekarang kakek tua berani bersuara: "Siau Bi, pergi kau jaga diluar gardu, hati2 awasi setiap orang yang mondar mandir, kalau ada orang cepat kau bersuara, Nona silakan duduk dulu, biar kujelaskan." dari sikap hati2 dan takut sikakek, Hong-lay-mo-li berkesimpulan bahwa Chengcu dari Jian-liu-cheng se-hari2nya tentu terlalu se-wenang2.

Tutur si kakek: "Hari ini adalah ulang tahun ke-enam puluh Liu Goan-ka, Jian-liu-cheng hendak merayakan tiga hari tiga malam secara besar2an, banyak orang2 dari berbagai penjuru angin sama datang hendak memberi selamat kepadanya."

"Paling2 dia seorang tuan tanah kampungan, kenapa orang2 dari berbagai kalangan sudi datang memberi selamat kepadanya?" tanya Hong-lay-mo-li tak mengerti.

Si Kakek merendahkan suaranya, tuturnya lebih lanjut: "Konon Liu Goan-ka semula adalah begal besar, diluar dia berhasil mengeduk keuntungan besar, sekembali lalu beli sawah ladang. Nona kau seorang diri, meski pandai main silat, juga harus hati2. Nona, kau..."

"Lotiang, tentunya kau heran dan curiga melihat dandananku ini, Ayahku menjadi komandan tertinggi yang berkuasa disepanjang sungai besar, aku pernah belajar silat, kali ini aku dapat perintah ayah pulang untuk menjemput ibu. Oh, ya, apa Liu Goan-ka melarang kau menerima bayaran?"

"Kasir Jian-liu-cheng yang keluarkan perintah, katanya dalam tiga hari ini, siapa saja asal dia berpakaian Busu, berlogat luar daerah, kami harus melayani dengan baik dan dilarang menerima bayaran, Berapa jumlah dari nota yang kami keluarkan supaya menagih kerumahnya, Tapi siapa yang berani menagih kerugian ini?"

"Keparat, keterlaluan benar!" maki Hong-lay-mo-li, segera ia keluarkan sekeping uang perak, katanya: "Modalmu kecil, masa harus dirugikan begini saja. Terima kasih akan petunjukmu, kami boleh bersahabat..."

Dengan haru dan penuh rasa terima kasih, terpaksa si kakek terima pemberiannya Katanya: "Nona, ingat petunjukku, tempuhlah jalan kecil diarah barat."
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 09"

Post a Comment

close