Pendekar Latah Bagian 03

Mode Malam
 
Bagian 03

"Oh, jadi perempuan itulah yang kau maksud?"

"Ya, bukankah kau sudah sekongkol sama dia untuk mempermainkan sandiwara ini?"

Cin Long-giok ikut menimbrung: "Buka matamu lebar-2, apakah kau masih kenal aku?"

"Kenal." sahut Pakkiong Ou tertawa getir, "Nona jangan kau salahkan aku, aku di tugaskan untuk membekuk kau, tidak bisa tidak aku harus bekerja menurut perintah."

"Bukan aku hendak cari perhitungan lama dengan kau, aku hanya ingin tanya kejadian hari itu, apakah kau sekongkol dengan Lian Ceng-poh."

Pakkiong Ou mengeluh, katanya." Kalau demikian Lian Ceng-poh kan orang kalian sendiri, kenapa diputar balik menuduh aku bersekongkol dengan dia ? Dosa-ku memang besar, namun aku mohon jangan disiksa, ditambah satu dosa lagi tidak menjadi soal, tapi terus terang aku tidak tahu menahu siapa itu Lian Ceng-poh."

Hong-lay-mo-li mengerut kening, ia cukup mengerti bahwa Pakkiong Ou takkan berani membual dihadapannya, jadi jawabannya ini memang bukan pura2 Tapi San San tak mau percaya, timbrungnya: "Siocia, dia tidak mau bicara sejujurnya, gunakan lagi cara kompes!" "Kalau demikian, kalian paksa aku untuk mengarang cerita bohong!" sahut Pakkiong Ou tertawa getir.

"San San, tidak usah memaksanya." ujar Hong-lay-mo-li, "Didalam hal ini pasti ada latar-belakangnya, terang dia sendiripun dikelabui oleh siluman perempuan itu." Baiklah, persoalan siluman rase itu boleh dikesampingkan dulu, kelak pasti dapat kita selidiki sendiri siapa dia sebenarnya. Pakkiong Ou, sekarang hendak kutanya seorang lain, orang ini tentunya kau kenal baik."

"Siapa?"

"Bu-lim-thian-kiau!"

Agaknya Pakkiong Ou amat kaget, "Bu-lim-thian-kiau? Kau hendak tanya dia?"

"Ya, aku ingin tahu, aku ingin tahu siapa she dan nama aslinya, bagaimana pula asal usulnya?"

Sekali lagi Pakkiong Ou unjuk sikap hambar dari melamun gumamnya: "Bu-lim-thian-kiau? Bu-lim-thian-kiau!"

"Kenapa? Memangnya kau tidak pernah mendengar namanya?" desak Hong-lay-mo-li.

"Nama besar Bu-lim-thian-kiau laksana geledek menggelegar dipinggir telinga, tapi aku tak tahu dari mana aku harus mulai bicara? Hm, Bu-lim-thian-kiau, Bu-lim-thian- kiau! Siau-go-kan-kun!" tiba2 dia sejajarkan nama Bu-lim- thian-kiau dengan Siau-go-kan-kun.

Keruan Hong-lay-mo-li ter-heran2, katanya: "Apa pula hubungan Bu-lim-thian-kiau dengan Siau-go-kan-kun? Mereka kan bukan orang dari segolongan!"

"Aku tahu mereka bukan segolongan, cuma sepak terjang mereka rada mirip satu sama lain, Maksudku supaya kan bisa gampang memahaminya." "Baik, coba kau jelaskan dimana titik persamaan mereka?

Asal kau bicara sejujurnya, jiwamu boleh kuampuni!"

Terbangkit semangat Pakkiong Ou, katanya: "Dalam kalangan orang Han kalian, bukankah Siau-go-kan-kun dipandang sebagai jago silat nomor satu?"

San San segera mendengus hidung, sikapnya tawar dan acuh tak acuh.

"Benar," sela Hong-lay-mo-li, "kepandaiannya lebih tinggi dari aku, tidak perlu kau menyanjungku, asal kau bicara sejujurnya, aku amat senang."

Lega hati Pakkiong Ou, katanya lebih lanjut: "Ku-dengar beberapa tahun terakhir, nama Siau-go-kan-kun amat tenar, seluruh jago2 silat di Tionggoan pernah dengar nama besar- nya, amat kagum segan dan tunduk kepadanya, namun tiada orang yang tahu pasti siapa she dan nama aslinya, benar tidak?"

"Benar, tapi apa hubungannya dengan Bu-lim-thian-kiau?" "Begitu pula keadaan Bu-lim-thian-kiau, para Bu-su di

negeri Kim sama pandang dia sebagai tokoh kosen nomor satu dinegerinya, semua orang sama hormat dan gentar menghadapinya, namun tiada orang yang tahu nama dan asal usulnya!"

"O, jadi dalam hal inilah mereka punya persamaan" ujar Hong-lay-mo-li. Betapapun hatinya masih ke-cewa, sedemikian jauh dia masih belum tahu nama asli Bu-lim-thian-kiau.

San San mendengus pula, jengeknya: Kalau begini obrolanmu ini kan sisa2 belaka."

"Nama tidak begitu penting, kau tidak tahu ya sudah. Tapi Teman2 sejawatmu tentunya sering memperbincangkan tentang Bu-lim-thian-kiau, sedikit atau banyak tentu kau pernah mendengar sesuatu mengenai dirinya, bagaimana pula asal usulnya?" "Yang mereka bicarakan kebanyakan mengenai ilmu silat Bu-lim-thian-kiau yang mujijat, mengenai asal usulnya, tiada yang jelas!"

San San uring2an, semprotnya: "Tidak jelas lagi, memangnya apa yang jelas yang kau ketahui?"

"Ya, berapa banyak yang kau ketahui, katakan seluruhnya!" Hong-lay-mo-li menambahkan.

"Aku hanya tahu sedikit, Bu-lim-thian-kiau adalah orang yang... paling dibenci oleh Hong... oleh Wanyen Liang."

Hong-lay-mo-li melengak heran, tanyanya: "Darimana kau bisa tahu?"

"Kenapa Wanyen Liang membencinya, sebabnya aku tidak tahu. Tapi aku tahu Wanyen Liang beberapa kali mengutus anak buahnya yang amat diandalkan untuk membunuh Bu- lim-thian-kiau."

"Ada kejadian itu?" tanya Hong-lay-mo-li heran.

"Para Busu darri negeri Kim umumnya sama kagum dan segan terhadap Bu-lim-thian-kiau, siapapun tak mau bentrok sama dia, namun perintah sang raja tidak berani dibangkang, terpaksa mereka harus berangkat juga. Menurut apa yang kuketahui sudah tiga rombongan yang pergi, namun aneh kalau dikatakan, ketiga rombongan orang2 itu pergi tanpa kabar berita seperti ditelan bumi tanpa jejak dan tidak pernah kembali.

Entah mereka terbunuh oleh Bu-lim-thian-kiau, atau tak mau bentrok dengan Bu-lim-thian-kiau, maka mereka melarikan diri ketempat yang jauh menyembunyikan diri, Koksu negeri Kim yang sekarang Kiu-lo Siangjinpun mengutus dua sutenya diantara ketiga rombongan itu, namun merekapun ikut menghilang. Kiu-lo Siangjin bukan bangsa Nuchen, karena kehilangan kedua sutenya itu, dia amat benci dan dendam kepada Bu-lim- thian-kiau. Maka dia sendiri mohon idzin kepada raja untuk memburu jejak Bu-lim-thian-kiau. Kiu-lo Siangjin amat membanggakan kepandaiannya sendiri, namun para Busu negeri Kim tiada yang kagum kepadanya, banyak orang bilang kepandaiannya bila dibanding dengan Bu-lim-thian-kiau, seperti sinar bintang dibandingkan dengan cahaya rembulan atau matahari, tidak tahu diri!"

Pakkiong Ou sudah mengudal seluruh apa yang dia ketahui, namun apa yang dia tuturkan ini sudah diketahui oleh Hong- lay-mo-li, sedemikian jauh, tetap ia tak berhasil mengetahui asal usul dan nama asli Bu-lim-thian-kiau.

Disaat ia menerawang soal apa pula yang hendak dia ajukan, se-konyong2 terdengar sebuah lengking suitan panjang, mengalun diangkasa seperti pekikan nega, Hong-lay- mo-li kaget, batinnya: "Siapakah dia? Masakah Siiau-go-kan- kun?" tapi dengan cermat ia perhatikan pula, meski nada suitan itu cukup tinggi Lwekangnya, namun dibanding pendekar latah Hoa Kok-ham, masih terpaut cukup jauh beda- nya.

Tengah me-nimang2, seorang serdadu datang melapor, katanya seseorang mohon bertemu dengan Khing Ciau, belum selesai serdadu ini melaporkan, tampak seorang menunggang kuda sudah memburu datang, kiranya Tang hay-liong Tangwan Bong. lekas Tangwan-Bong melompat turun serta menyapa lebih dulu : Ternyata Liu Lihiap berada disini, itulah lebih baik."

Diam2 Khing Ciau mendelu, pikirnya. "Selama ini aku belum kenal dia, buat apa dia mencari diriku?" -Hong-lay-mo-li Liu Jing-yaupun merasakan kata2nya ini punya maksud tertentu, berbareng mereka berdua balas menyapa: "Tangwan Cianpwe!" Tengah mereka hendak tanyak maksud kedatangannya, Tang-hay-liong (naga laut timur) tiba2 membentak: "Angkat kepalamu!" Sudah tentu Khing Ciau tertegun, sebaliknya Hong lay-mo-li tahu bentakannya ditujukan kepada Pakkiong Ou, pikirnya "Kebetulan kau datang, aku sendiri sedang bingung cara bagaimana menghukum Pakkiong Ou, biarlah kuserahkan kepadanya."

Ternyata selama hidupnya Pakkiong Ou paling takut terhadap Toakonya ini, begitu melihat kedatangan Tang-hay- liong, lekas ia tundukan kepalanya dan mengkeret disamping, namun masih konangan juga oleh pandangan tajam Tang- hay-liong, terpaksa ia angkat kepala, suaranya gemetar dan tersendat sapa-nya: "Toako."

Membesi hijau muka Tang-hay-liong, jengeknya setelah mendengus hidung: "Siapa Toakomu, masih ada muka kau berhadapan dengan aku?"

"Toako mohon ampun!" gemetar sekujur badannya, Maki Tang-hay-liong sambil menudingnya: "segala tindak tandukmu belakangan ini sudah kuketahui semua, Tahukah kau orang poyoki apa terhadap kau? Orang memanggilmu Pak-bong-kau (anjing buduk utara)! Dianggapnya kau sebagai anjing penjaga pintu negeri Kim! Memang bukan sembarang orang bisa menjadi Enghiong atau pendekar, akupun tidak mengharap kau jadi pendekar atau Enghiong, tapi benar dan salah harus bisa kau bedakan, seorang laki2 harus punya pambek dan jiwa ksatria, kau tidak takut membikin malu dan menghina nama leluhur, suka rela menjadi antek bangsa lain, aku sebagai orang yang kau pandang sebagai Toako, kulit mukaku ikut kau kupas, bikin malu saja!"

Tertunduk kepala Pakkiong Ou, rona mukanya berubah merah, hijau dan pucat, desisnya ketakutan: "Toako, aku tahu bersalah!"

Tang-hay-liong memakinya pula: "Aku pernah tulis surat kepadamu, kubujuk kau lekas berpaling dan bertobat, kupesan teman2 untuk membujukmu pula, kau agaknya sudah kelelap akan harta dan pangkat, terjeblos semakin dalam! Kau tahu apa? Hm, kali ini kau sekongkol dengan Thio Ting-kok, membunuh Khing ciangkun lagi, sungguh kau sudah gila, dosamu takkan terampun lagi oleh Thian!" semakin damprat semakin memuncak amarah Tang-hay-liong saking sengit tiba2 tapak tangannya terayun, "prak" batok kepala Pakkiong Ou remuk seketika. Terlambat Hong-lay-mo-li hendak mencegahnya.

Sebetulnya Hong lay-mo-li masih ingin bertanya kepada Pakkiong Ou, namun apa boleh buat segera ia suruh serdadu angkat jenazah Pakkiong Ou, kembali mereka saling memberi hormat kepada Tanghay-liong, serta tanya maksud kedatangannya.

"Kali ini aku diminta Hoa Tayhiap Hoa Kok-ham untuk mengantar surat." kata Tangwian Bong.

Tempo hari dengan susah payah Hong-lay-mo-li pernah mengejar jejak orang, hasilnya nihil, tak nyana hari ini mendadak bertemu dengan Tang-hay-liong yang membawa suratnya, segera ia bertanya: "Dimana Hoa Tayhiap ? Kapan kalian berpisah ? Untuk siapa surat yang kau bawa?"

"Hoa Tayhiap sudah menuju ke Kanglam."

"O, untuk urusan apa dia pergi ke Kanglam, apa Cianpwe tahu?"

"Ditengah jalan Hoa Tayhiap mendapat sebuah berita rahasia yang teramat penting, Kabarnya maha raja negeri Kim Wanyen Liang sudah mulai kerahkan pasukannya hendak menyerbu negeri Song, dengan sesumbar dia berkata hendak mengadakan perayaan Tiongchiu di Ling-an."

"Kapan kabar ini diketahui?" tanya Hong lay-mo-li. "Tanggal empat belas bulan yang lalu, waktu itu aku menginap di Giok-hong-koan dipuncak Thaysan bersama dia, Thay-ceng Totiang ketua Giok-hong-koan adalah sahabatku, malam itu aku mengobrol berduaan semalam suntuk, Hoa Tayhiap seorang diri pergi ke puncak Giok-hong-ting menikmati bulan purnama.

Di-saat kami mengobrol itulah Hoa Tayhiap pulang ter- gesa2, segera ia desak aku turun gunung, katanya kalau terlambat atau tetap tinggal disini, mungkin bisa membawa kesulitan, terpaksa aku menurut saja turun gunung.

Setiba dikaki gunung baru dia menyelaskan, kiranya raja negeri Kim Wanyen Liang juga berada di-atas gunung, jago2 pengawalnya yang kosen cukup banyak, walau tidak takut, tapi kalau sampai bentrok, Thay-ceng Totiang yang akan tertimpa getahnya, terpaksa kami harus menyingkir saja." setelah menuturkan pengalamannya Tang-hay-liong merasa heran pula melihat sikap Hong-lay-mo-li tidak menunjukkan rasa heran dan prihatin.

Ternyata diiuar tahunya bahwa Hong-lay-mo-li pada waktu yang bersamaanpun pernah memergoki kehadiran Wanyen Liang di puncak Thaysan itu.

Pada tanggal lima belas bulan yang lalu, karena mengejar jejak pendekar Latah Hoa Kok-ham, secara kebetulan Hong- lay-mo-li memergoki Wanyen liang bersama jago2nya sedang menikmati bulan purnama sambil senandung dan menciptakan syair2 baru, secara langsung karena disanjung puji para menterinya, Wanyen Liang keluarkan isi hatinya.

Mendengar rencana orang, seketika timbul pikiran Hong- lay-mo-li untuk membunuhnya terlebih dulu, sebelum musuh bangsa Han ini berhasil dengan rencananya.

Dengan menghardik keras: "Raja anjing, lihat pedang!" Hong-lay-mo-li melompat turun dari pucuk pohon tempat sembunyinya, sinar pedangnya bagaikan seutas rantai panjang, langsung menusuk ketenggorokan Wanyen Liang.

Sudah tentu Wanyen Liang amat kaget, namun serta melihat jelas orang yang berada dihadapannya adalah perempuan cantik molek, seketika ia bersorak kegirangan, serunya: "Buat apa harus cari cewek ayu ke Kanglam, perempuan ini jauh lebih cantik dari dewi bulan! Lekas kalian ringkus dia, jangan sampai melukainya!"

Para pengawal Wanyen Liang adalah jago2 kosen yang berkepandaian tinggi, sudah tentu mereka tidak tinggal diam menghadapi aksi Hong-lay-mo-li, dengan mati2an mereka merintangi dan mengadang dihadapannya.

Tangan kiri Hong-lay-mo-li mainkan kebutannya, sementara tangan kanan dengan sebatang pedang sekaligus mengombinasikan permainan Thian-lo-hud-tim-cap-pwe-sek dan Yo-hun-kiam-hoat, didalam kepungan jago2 pengawal itu, ia tuding timur hantam barat, incar selatan pukul utara, para Busu ini tidak berani melukai dia, sudah tentu jauh lebih menguntungkan Hong-lay-mo-li malah.

"Trang" beruntun beberapa kali, senjata2 kawanan Busu tergulung lepas oleh kebutannya, disusul dengan samberan kilat pedangnya, seorang Busu tahu2 terjengkang roboh dengan tenggorokan berlobang. Melihat kelihayannya, kawanan Busu baru insaf akan kepandaiannya dan jeri. Tapi untuk menjebol kepungan jago2 pengawal yang sedemikian banyaknya, bukan soal sepele bagi Hong-lay-mo-li.

Se-konyong2 salah satu Busu itu berteriak: "Aku kenal dia, hati2 saudara2, kita sedang menghadapi Hong-lay-mo-li Liu Jing-yau."

Terdengar Wanyen Liang bergelak tertawa diluar kalangan, serunya: "Jelas dia ini patut dinamakan Hong-lay-sian-cu, kenapa dipanggil Hong-lay-mo-li?" Busu tadi mundur keluar kalangan, sehingga tekanan serangan Hong-lay-mo-Ii tidak sampai mengenai dirinya, katanya: "Ucapan Cukong memang tidak salah, semula perempuan ini memang dijuluki Hong-lay-sian-cu, soalnya dia bertangan gapah berhati kejam, maka kawan2 Kangouw mengubah nama julukannya."

Wanyen Liang ter-kekeh2, serunya: "Tim tidak takut dia kejam atau telengas, asal kalian membekuknya hidup2, Tim akan beri hadiah besar kepada kalian!"

Hong-lay-mo-Ii gusar, kebetulan wakil komandan Gi-lim- kun yang bergelar San-tian-sin-chio (tombak kilat sakti) itu berada dibelakangnya, sebat sekali mendadak ia menerjang kebelakang dengan punggungnya.

Wakil komandan ini sedang menyerang dengan tusukan tombaknya, mimpipun ia tidak menduga Hong-lay-mo-li bakal menggunakan permainannya yang aneh ini, keruan hatinya mencelos, soalnya junjungannya sudah berpesan melarang melukai seujung rambut perempuan yaug dipenujuinya ini, kalau tusukan tombaknya diteruskan, bukankah jiwa orang bakal melayang diujung tombaknya?

Namun memang tidak malu dia dijuluki tombak sakti, dalam waktu yang gawat itu tombak panjangnya secepat kilat tahu2 sudah ditarik mundur. Diluar tahunya bahwa Hong-lay-mo-Ii memang mengharap demikian.

Baru saja wakil komandan itu hendak mengubah tutukan menjadi menjungkit tungkak kaki Hong-lay-mo-li untuk menyengkelit orang, tak nyana gerakan Hong-lay-mo-Ii jauh lebih cepat dari tombak kilatnya, "sret" tahu2 Hong-lay-mo-li membalikan pedang, sementara kaki masih melangkah mundur seperti meluncur dipermukaan salju, tanpa berpaling ujung pedangnya menyelonong keluar dari bawah ketiaknya, menusuk kebelakang, telak sekali menghujam ketenggorokan wakil komandan ini.

Karena kematian wakil komandan ini kepungan menjadi berlobang, lekas dua Busu mengisi kekosongan ini, namun kepandaian kedua orang ini jauh lebih rendah dari wakil komandannya, pedang Hong-lay-mo-li ditarikan bagai kitiran, Sret, sret, dalam kilasan pedangnya, dua Busu roboh binasa pula, tiba2 badannya melambung tinggi laksana burung raksasa, ditengah udara ia kembangkan sejurus To-kian-cu- lian (menggantung kerai mutiara), berbareng kebutan ditangan kiri, tahu2 mengepruk kebatok kepala seorang Busu tercekat.

Serasa copot arwah si Busu, lekas ia lecutkan cambuk panjangnya menjadi bundaran besar kecil ber-lapis2 berkisar hebat laksana gelombang samudra, maka terdengar "Byar!" tipu hebat dari serangan balasan lawan ini seketika dipatahkan oleh kebutan Hong-lay-mo-li.

Seketika Busu itu rasakan pergelangan tangan seperti tertusuk jarum, jari2nya tak kuasa pegang cambuknya lagi, lekas ia jatuhkan diri terus menggelundung sambil memeluk kepala, terdengar suara mendesis, ternyata Hong-lay-mo-li kerahkan Lwe-kangnya keujung kebutannya sehingga benang2nya berkembang laksana ribuan ujung jarum2 tajam, seketika pakaian si Busu berlobahg tak terhitung banyaknya.

Untunglah tipu cambuknya tadi sedikit banyak mengurangi tenaga Iawan, disamping gerakan menggelundung tadi teramat tangkas, meski badannya tertusuk luka puluhan tempat, jiwa masih bisa dipertahankan.

Hong lay-mo-li pikir bunuh Wanyen Liang lebih penting, tanpa bertindak lebih jauh kepada si Busu, kembali ia tutul ujung kakinya, seketika badannya melejit tinggi, bagai burung menyusup kedalam hutan, seperti burung walet melesat diatas gelombang samudra, luncuran tubuhnya cepat bagai kilat membawa samberan selarik sinar pedang, langsung menusuk kearah Wanyen Liang yang sedang berdiri dibawah sebuah pohon besar. Busu2 pengawal itu sama berkaok memburu dibelakang, mana mereka bisa menandingi kecekatan gerak badan Hong-lay-mo-li.

Terdengarlah jeritan keras yang menyayatkan hati, seketika para Busu pengawal itu terbelalak pucat, sementara Hong-lay- mo-lipun berseru heran, damprat-nya: "Raja anjing yang licin, kemana kau bisa lari?" - ternyata karena tidak bisa melarikan diri, lekas Wanyen Liang tarik seorang pengawal pribadinya yang berdiri disamping terus didorong kedepan menyongsong kedatangan pedang Hong-lay-mo-li. Keruan dadanya tembus dan jiwa melayang seketika.

Betapa cepat gerakan Hong-lay-mo-li, seperti bayangan mengikuti wujudnya, sebat sekali ia mengudak kepada Wanyen Liang, kembali pedangnya berkelebat menusuk.

Disaat rangkaian serangan pedang Hong-lay-mo-li dilancarkan se-konyong2 terdengar hardikan keras bagai guntur menggelegar: "jangan lukai Cukong-ku!" dari samping melayang tiba segumpal awan merah menghadang didepan Wanyen Liang, maka tusukan pedang Hong-lay-mo-li seketika menerbitkan suara gemerantang yang ramai, sehingga kuping semua hadirin terasa pekak.

Ternyata dalam waktu yang gawat itu, seorang Lama berkasa merah tiba2 menerobos keluar dari samping Wanyen Liang, dia kembangkan sepasang kecernya sekaligus menangkis tusukan pedang Hong-lay-mo-li.

Ternyata lama berkasa merah ini adalah Sute dari ketua Miciong di Tibet, gelarannya Kiu-lo Hoatsu, tingkat kepandaiannya sudah tiada tandingan di daerah Se-sk, Wanyen Liang mengundangnya serta mengangkatnya jadi Koksu (iman negara), setiap melakukan inspeksi melindungi jiwa Wanyen Liang lagi, disaat para Busu mengepung Hong- lay-mo-li ia tetap berpeluk tangan mendampingi junjungannya, Walau berhasil mematahkan serangan Hong-lay-mo-li tak urung Kiu-lo Hoatsu sendiri mengucurkan keringat dingin, Kecepatan gerak badan dan serangan kilat pedang Hong-lay- mo-li barusan sungguh jauh berada diluar perhitungannya. untunglah Wanyen Liang keburu menarik pengawalnya, namun Kiu-lo toh sudah terlambat setindak Maka terdengarlah suara ting-ting-tang-tang yang ramai, dalam sekejap mata, pedang Hong-lay-mo-li sudah beradu puluhan kali dengan sepasang kecer Kiu-lo Hoatsu.

Kiu-lo kembangkan sepasang kecernya melindungi seluruh badan sedemikian rapatnya, dalam waktu dekat Hong-lay-mo- li tak berhasil menjebol pertahanan lawan, Kiu-lo Hoatsu sendiripun tak mampu balas menyerang.

Sementara kawanan Busu itu sudah memburu datang, mereka kepung Hong-lay-mo-li di tengah lingkaran pula, Sejak malang melintang di kalangan Kang-ouw Hong-lay-mo-li tak pernah kalah menghadapi musuhnya, hari ini baru pertama menghadapi musuh tangguh, semangat tempurnya seketika bergairah, pedang panjang ditarikan sedemikian lincah dan kebat, meski dirinya terkepung, namun dia menyerang lebih banyak dari pada berahan, Lama kelamaan kawanan Busu itu menjadi jeri sendiri.

Badan Wanyen Liang berlepotan darah, namun dia sendiri tidak terluka apa2, saking kagetnya tadi serasa arwahnya sudah melayang keluar. Tiba2 dilihatnya sesosok bayangan orang meluncur turun disampingnya, belum lagi hatinya tenang, seketika ia menjerit kaget dan ketakutan.

Lekas orang itu bersuara: "Hamba datang terlambat membuat Cukong kaget saja!" baru sekarang Wanyen liang lega, ternyata orang ini adalah komandan Gi-lim-kun Tam To- ceng adanya. Tadi Tam To-ceng ikut mengerubut Hong-lay- mo-li, setelah Kiu-lo Hoatsu menerjunkan diri, lekas dia menggantikan kedudukan Kiu-lo Siangjin melindungi junjungannya.

Semula Wanyen Liang kepincut oleh paras cantik Hong-lay- mo-li, kini setelah jiwanya hampir saja terbunuh, dengan berat hati terpaksa ia ubah keputusannya. Lekas Tam To-ceng disuruh mengubah pengumumannya.

Wanyen Liang kira kepandaian Kiu-lo Siangjin tiada tandingan, setelah perintahnya dikeluarkan Hong-lay-mo-li pasti dapat dibereskan dengan gampang, siapa tahu setelah ia saksikan jalannya pertempuran beberapa kejap lagi, dilihatnya Hong-lay-mo-li semakin gagah dan perkasa.

Kiu-lo Siangjin hanya mampu membela diri tak bisa balas menyerang, Kawanan Bu-su itupun kocar kacir tak berani maju mendekat di-luar kalangan.

Rasa sayang Wanyen Liang seketika berubah menjadi kaget, gelisah dan kuatir.

Kiranya walau kepandaian Kiu-lo Siangjin amat tinggi, betapapun setingkat masih lebih rendah dibanding Hong-lay- mo-li. Waktu itu Hong-lay-mo-li sudah membunuh lima Busu, melukai berat Busu bersenjata cambuk yang bernama Pakkiong Ou pula, sementara Tam To-ceng harus mengundurkan diri mendampingi sang junjungan.

Oleh karena itu kekuatan yang mengepung Hong-lay-mo-li, meski kutambah tenaga Kiu-lo Siangjin, namun dikurangi dua jagoan kosen dan kematian lima Busu, terang kekuatan sekarang bukan bertambah kuat malah jauh lebih lemah.

Lwekang Kiu-lo Siangjin terpaut tidak jauh dibanding Hong- lay-mo-li, namun Ginkangnya terang ketinggalan jauh, serangan Hong-lay-mo-li laksana kilat cepatnya, setiap tipu serangannya ganas dan mematikan lagi.

Kedua kecer Kiu-lo Siangjin cukup mampu untuk menjaga diri saja, untuk melindungi sesama teman terang tidak mungkin, Suatu ketika Hong-lay-mo-li melihat suatu peluang, sebat sekali ia gunakan Ih-sing-hoan-wi, mendadak ia menerobos kearah timur laut, dua Busu yang berjaga disini lebih jauh dari teman2 yang lain melihat musuh justru menubruk kearah mereka, belum lagi sempat angkat senjata, satu persatu jiwa mereka sudah dihabisi.

Lekas Kiu-lo Siangjin memburu maju, secepat kilat Hong- lay-mo-li sudah bunuh dua Busu, tiba2 ia menyebir bibir bersiul panjang tangkas sekali dia sudah membalik badan memapak kedatangan Kiu-lo Siangjin.

Melihat kehebatan orang, semakin jeri hati kawanan Busu, dalam sekejap kembali tiga orang kena terbunuh oleh kebutan Hong-lay-mo-li.

Jelas sebentar lagi kekuatan kepungan ini bakal kocar kacir, Kiu-lo Siangjin kertak gigi melawan mati2-an. Se-konyong2 ujung pedang Hong-lay-mo-li menukik kebelakang, beberapa Busu dibelakangnya ia desak mundur, mendadak mulutnya menghardik: "Kena!" berbareng kakinya menjejak bumi badan melambung ketengah udara, dimana kebutannya terkembang ia kepruk batok kepala Kiu-lo Siangjin yang gundul kelimis.

Kepandaian Kiu-lo Siangjin memang tidak rendah, lekas ia gunakan Hong-tiam-thau, berbareng sebelah kecernya dia lempar keatas udara menangkis kebutan Hong lay-mo-li.

Tangkas sekali Hong lay-mo-li menekuk kedua kakinya, badan jumpalitan me!uncur- turun kesamping, berbareng ia tarik kebutannya, beberapa ujung kebutannya kebetulan menyapu lewat menyerempet batok kepala Kiu-lo Siangjin, membuat beberapa jalur luka2 berdarah, untung kebutan Hong-lay-mo-li sebelumnya tertolak oleh kecernya, kepalanya hanya keserempet sisa tenaganya saja, kalau tidak tentu batok kepalanya sudah bocor dan mengucurkan kecap. Walau berhasil melindung jiwanya, tapi sebuah kecer Kiu-lo Siangjin terpental jauh, maka pertahanan kepungannya semakin kendor.

Tam Toceng berjaga disamping Wanyen Liang, tapak tangannya yang menyoreng pedang sudah berkeringat dingin, sebetulnya kalau dia bergabung dengan Kiu-lo Siangjin, sedikitnya bisa menandingi Hong-lay-mo-li. tapi dia kuatir, apakah Hong-lay-mo-li punya kamrat tidak, ingin dia maju membantu, kuatir Wanyen Liang menghadapi bahaya pula, hatinya jadi hebat kebit, susah dia mengambil keputusan.

Tiba2 Wanyen Liang menghela napas, gumamnya: "Sayang orang itu tiada, Kalau orang itu disini, tak usah kuatir perempuan ini takkan bisa dibekuk!"

Hong-lay-mo-li menyeringai dingin, jengeknya-"Kematian didepan matamu, kau bermimpi hendak menawanku?"

"Sret, sret" kembali ia melukai dua Busu.

Teriak Wanyen Liang: "Tim berikan separo dari negeri kekuasaanku ini kepadamu, kau sudah puas belum? Hm Hm, kau memang terlalu pongah!"

"Aku hanya ingin jiwa anjingmu, persetan dengan negerimu!" Hong-lay-mo-li kira kata2 Wanyen liang ini ditujukan kepada dirinya, setelah dipikir lebih cermat terasa janggal, sekilas ia melirik, dilihatnya Wanyen Liang menengadah, mulutnya menggumam sendiri, se-olah2 sedang bicara dan minta bantuan kepada orang lain.

Meski sedang menghadapi kerubutan musuh2nya, namun mata dan kuping Hong-lay-mo-li selalu perhatikan keadaan sekelilingnya, kecuali Tam To-ceng yang menjaga Wanyen Liang, tiada Busu lain disamping Wanyen Liang, mengandal ketajaman kupingnya, Hong-lay-mo-li yakin tiada seseorang yang sembunyi disekitar gelanggang. Cepat ia kembangkan serangan lebih ganas, kebutannya berkelebat didepan mata Kiu-lo Siangjin memancing sorot pandangan orang, cepat sekali pedangnya membarengi menusuk kekiri dimana tempat kelemahan orang yang terbuka, Kecer Kiu-lo Siangjin tinggal sebuah, mana mampu bertahan, tahu2 pundaknya tertusuk berlobang, terpaut satu dim saja, hampir tulang pundaknya tembus.

Karena darah bercucuran dan rasa sakit merangsang ulu hati, lekas Kiu-lo Siangjin mundur beberapa langkah, Dengan berhasil menjebol kepungan, Hong-lay-mo-li kembangkan pedangnya secepat angin puyu, kekiri menyendal, ke-kanan mengetuk, sebentar saja, ia sudah menerjang keluar dari kepungan.

Baru saja Hong-lay-mo-li hendak menerjang kea-rah Wanyen Liang, se-konyong2 kupingnya seperti mendengar seseorang berbisik dipinggir telinganya: "Hong-lay-mo-li, ilmu silatmu memang hebat, tapi jangan harap kau bisa membunuh maha raja negeri Kim!"

Sekilas Hong-lay-mo-li tertegun merandek oleh suara ini, sementara Kiu-lo Siangjin sudah jemput sebuah kecernya yang jatuh tadi, mundur kesamping Wanyen Liang.

Segumpal awan kebetulan terhembus angin sehingga menutupi sinar rembulan, kembali Hong-lay-mo-li desak mundur kawanan Busu, baru saja ia hendak melayang kesana, suara tadi kembali terkiang di-pinggir telingannya: "Kau masih belum lepas tangan? Baik, biar aku jajal kepandaianmu!" se- konyong2 terasa angin berkesiur, lekas Hong-lay-mo-li kembangkan kebutannya menjaga badan, "Ting" tusuk kundai kemala diatas sanggul kepalanya tahu2 terpukul jatuh oleh samberan Am-gi.

Selama hidupnya Hong-lay-mo-li belum pernah kecundang sedemikian rupa, keruan kaget dan gusar pula, didengarnya suara itu berkata pula dengan tertawa: "Bagaimana, kau berani adu kepandaian dengan aku?" dari datangnya suara Hong-lay-mo-li menentukan arah, sambil mengayun kebutan untuk melindungi tubuh, badannya meluncur kesana sambil menusukkan pedang.

Tusukan mengenai tempat kosong, rembulan kembali menongol keluar, Hong-lay-mo-li sudah mengejar keluar hutan, bayangan orangpun Hong-lay-mo-li tidak melihatnya, bentaknya: "Main sembunyi dan membokong pula, terhitung orang gagah macam apa? Kalau berani keluar dan lawan aku!" suara itu tertawa, sahutnya:

"Kalau berani kau kejar aku!" dari suaranya sedikitnya sudah terpaut dua tiga li.

Hong-lay-mo-li membatin: "Ada tokoh sedemikian kosen diam2 melindungi raja anjing itu, agaknya tujuanku malam ini tak dapat terlaksana. Baik, biar aku lihat tokoh macam apa keparat ini, berani permainkan aku." segera ia kembangkan Ginkang mengejar kedepan,

Agaknya orang itu tahu bahwa dirinya tengah dikejar, tak perlu memancing dengan suara tawanya, lambat laun suaranya jauh dan sirap.

Begitulah Hong lay-mo-li melanjutkan pengejaran sampai di Ngo-toa-hu-siong, keluar dari Tiong-thian-bun tiba di Kwi-hwe- sam-li. Naik lagi keatas tiba di Seng-sian-hong dan Tio-yang- tong, semakin naik semakin tinggi, jalan gunungpun semakin berbahaya, akhirnya ia tiba dijalan yang diapit dinding gunung yang tinggi, inilah Lam-thian-bun, daerah paling berbahaya di gunung Thaysan.

Dengan hati kebat kebit Hong-lay-mo-li maju terus dengan waspada kuatir di-bokong musuh, namun setelah dia keluar dari jalan sempit yang berputar2 itu, sesuatupun tidak terjadi, barulah Hong-lay-mo-li menghela napas lega. Setiba diatas Lam-thian-bun keadaan disini rada datar, pandangan bisa menjelajahi ke segala penjuru, sesaat Hong- lay-mo-li sampai terpesona melihat pemandangan alam dibulan purnama dipuncak Thaysan ini, kebetulan angin datang menghembus, pohon2 raksasa itu segera menggoyang melambai mengeluarkan suaranya, seketika Hong-lay-mo-li tersentak sadar, "Aku sedang mengejar musuh, kenapa sampai terpesona oleh pemandangan seindah ini."

Se-konyong2 didengarnya suara harpa dipetik mengalun dari dalam hutan dipinggir sana, Hong-lay-mo-li pelan2 menghampiri kesana, dilihatnya seorang laki2 mengenakan mantel kulit rase duduk dibawah pohon menopang sebuah harpa diatas lututnya.

Begitu asyik orang ini memetik harpanya, mendadak ia menengadah sambil bersenandung dengan suara lantang dan gagah, Hong-lay-mo-li sampai menjublek dan kesi-ma, "creng" tiba2 snar harpa putus. Tiba2 orang itu angkat harpanya terus dibanting, lalu peluk kepala tangis gerung2.

Hong-lay-mo-li tersentak kaget, tanyanya: "He, siapa kau?

Kenapa nangis disini?"

"Aku nangis, apa sangkut pautnya dengan kau? Siapa pula kau?"

"Aku rakyat Song raya, apa maksudmu?" "Kau tahu siapa aku?"

"Agaknya kau memang pikun? Kalau aku tahu buat apa aku tanya?"

sambil berlinang air mata, tiba2 orang itu ter-loroh2 tawa, "Apa pula yang kau tertawakan?" tanya Hong-lay-mo-li.

"Aku tertawa melihat kegabahanmu, kami belum saling kenal, kau belum tahu siapa aku? Kenapa kau perhatikan diriku? sehingga aku tak bisa nangis se-puasnya." "Cis, siapa perdulikan kau? Mau nangis silakan, sampai matipun aku tidak peduli."

Orang itu melongo, mulutnya menggumam: "Nangis sampai mati tiada orang yang pedulikan diriku, Haha, betapa besar dunia ini, kiranya tiada satu orangpun yang perhatikan diriku." lenyap tawanya, kembali ia menangis sesenggukan.

"Memangnya orang gila!" batin Hong-lay-mo-li dalam hati ia merasa sayang melihat harpa yang terbanting hancur itu, tak terasa mulutpun mendesis pelahan :"Sayang, sayang."

Mendadak orang itu ter-bahak2 pula, serunya lantang: "Apanya sayang, hanya sebuah harpa kuno saja apanya yang dibuat sayang? Haha, kukira kau ini perempuan ksatria besar, ternyata begini kikir, Baiklah, barangmu biar kukembalikan saja."

Tengah Hong-lay-mo-li melengak heran, tiba2 didengarnya suara samberan senjata rahasia, selarik sinar perak berkelebat sebuah benda tahu2 meluncur kearah dirinya, Keki hati Hong- lay-mo-li, ia kira dirinya diserang senjata rahasia, segera ia kembangkan cara meraih senjata rahasia, cukup ia gape sebelah ta-ngan, tahu2 benda itu sudah terjepit oleh kedua jarinya. Terasa tangan sedikit bergetar kemeng, ternyata sambitan orang ini amat kuat.

Setelah melihat tegas benda yang terjepit dikedua jarinya, seketika Hong-lay-mo-li kaget gusar dan heran pula, kiranya benda itu adalah tusuk kondai diatas sanggulnya yang tertimpuk jatuh tadi, Baru sekarang ia paham seluruhnya, jadi laki2 inilah yang secara diam2 membantu dan melindungi Wanyen Liang.

"Bagus, jadi kau kiranya! Kenapa kau bantu raja anjing itu?" bentak Hong-lay-mo-li.

Orang itu menjengek dingin: "Raja Song-kau memangnya juga baik?" "Sekarang jelas sudah bagiku, kau adalah antek anjing dari raja anjing itu."

"Siapa aku, tak perlu kau tahu. Matamu tak pandang lain orang, aku tak senang melihat tindak tandukmu."

Saking gusar hampir saja Hong-lay-mo-li melabrak musuh, namun ia tahan dan mendadak tertawa lebar sambil menengadah.

"Apa pula yang kau tertawakan?" tanya orang itu. "Aku geli melihat kau tak bisa membedakan hitam dan

putih, baik buruk, pintarmu cuma menyalahkan orang lain,

Ketahuilah Wanyen Liang adalah raja anjing yang paling lalim dalam dunia ini, dia hendak kerahkan pasukannya mencaplok Kanglam, dia sangka Song raya tiada orang pandai, maka perlu aku bikin dia melek matanya, Wanyen Liang anak serigala berhati buas, membuat kehidupan rakyat seluruh duni menderita dan sengsara, kau tidak membencinya, malah memakiku, kecuali kau ini memang budaknya, kalau tidak sampai hati kau membelanya?"

Orang itu menjadi rawan, tiba2 menghela napas, katanya: "Song dan Kim bertentangan bentrokan besar takkan mungkin dicegah, Aku atau kau takkan kuasa meredakan peperangan ini. Tadi aku nangis lantaran ini. Kau hendak membunuh Wanyen Liang aku tidak salahkan kau, tapi dihadapanku jangan harap keinginanmu bisa terlaksana."

Mendengar komentar orang, bertambah rasa bermusuhan Hong-lay-mo-li terhadap orang ini. Segera ia meraba pedang dan berkata: "Kalau demikian, kau sudah berkeputusan hendak menjual jiwa bagai Wanyen Liang?"

Orang itu tertawa dingm, katanya: "Dalam kolong langit ini siapapun tak kuasa menyuruh aku menjual jiwa bagi dia, aku hanya mengejar ketenangan dan ketentraman hati belaka, Kau dan aku baru kali ini bertemu dan berkenalan, isi hatiku tak bisa kujelaskan kepada kau!"

"Siapa tahu apa isi hatimu? Yang jelas bahwa kau berdiri dipihak musuhku, itu sudah cukup! Tak perlu cerewet lagi, lihat pedang!"

"Nanti dulu!" seru orang itu mundur selangkah. "Apa pula yang hendak kau katakan?"

"Bagaimana kalau kuajukan pertaruhan kepada kau?" "Apa?"

"Jikalau kau mengalahkan aku, terserah kalau kau hendak membunuh Wanyen Liang, aku tak mau tahu lagi. Tapi bagaimana kalau kau yang kalah?"

"Kecuali kau bunuh aku, kalau tidak setiap ada kesempatan, aku akan tetap membunuh dia." tukas Hong-lay- mo-li. "Sebagai rakyat Song yang setia kepada negerinya, aku bersumpah takkan berjajar dengan raja anjing dari negeri Kim itu, Aku tidak sudi bertaruh segala dengan kau!!"

Sekilas bertaut alis orang itu, kejap lain mendadak ia ter- bahak2, serunya: "Begitupun baik, Biarlah kami tak usah bertaruh, kami atur saja menurut aturan Kangouw yang biasa berlaku, Akan kubuat kau tahu, dalam kolong langit ini kecuali kau dan Siau-go-kan-kun pendekar Latah Hoa Koh-ham bukannya tiada tokoh lain yang sejajar!"

Tergerak hati Hong-lay-mo-li mendengar orang menyinggung Hoa Kok-ham pendekar Latah, terasa semakin misterius asal usul orang ini. Tanpa banyak pikir segera ia angkat kebutannya dan mengayun pedang, tantangnya: "Keluarkan senjatamu!"

"Tidak usah sungkan, kau sebagai tamu, silakan kau menyerang dulu!" Hong-lay-mo-li gusar, damratnya: "Kau hendak bertangan kosong melawanku ?"

Orang itu mengeluarkan sebatang seruling, katanya tertawa: "Kau tidak sudi melawan tangan kosong-ku, biarlah kutiupkan sebuah lagu kepadamu." Beruntun dua kali ia tiup serulingnya dengan suara merdu mengalun jernih, enteng laksana mega beralun, tapi tiba2 ia turunkan pula serulingnya dan berkata: "Lagu untuk menyambut tamu sudah kutiup, kau tamu agung ini kenapa tidak lekas mulai ?"

Hong-lay-mo-li naik pitam, tanpa banyak bicara aturan Kangouw segala, segera ia mendahului menubruk maju,

Thian-lo-tim-hoat segera dia kembangkan, dengan sejurus To- kian-sing-ho, setiap ujung benang kebutannya seruncing jarum, ribuan jumlahnya bagai kan ujung tombak besar, yang diarah adalah batok kepala orang itu.

Jurus To-kian-sing-ho ini merupakan salah satu jurus yang lihay dan keji dari Thian-lo-hud-tim-koat yang mempunyai tiga puluh enam jalan dan variasi, begitu benang2 kebutan berkembang, bayangan orang itu seketika terkurung dalam lingkungan sambaran kebutannya, untuk berkelitpun tak bisa lagi.

Tapi dalam keadaan terdesak yang berbahaya ini, ternyata orang itu masih adem ayem seperti tidak menghadapi apa2, pelan2 ia tempelkan pula seruling kedepan bibirnya, kembali meniupkan lagunya.

Bergetar hati Hong-lay-mo-li se-konyong2 terasa segulung hawa hangat menghembus datang dari depan, benang2 kebutannya seketika terhempas bubar bertaburan Sudah tentu kejut Hong-lay-mo-li bukan main, batinnya: "Ternyata orang ini sudah berhasil meyakinkan Lwekang tingkat tinggi dari aliran Sia-pay." kiranya seruling itu kosong bagian tengahnya, dari batang seruling yang kosong ini orang itu meniup keluar segulung hawa murni yang bersuhu hangat, sehingga benang kebutan Hong-lay-mo-li terhembus bubar. Orang itu masih tertawa serunya: "Lagu menyambut tamu agungku ini belum selesai Lho!" segera ia meniup serulingnya pula, Hong-lay-mo-li mengerut kening, lekas ia tusukan pedangnya, Sret, seketika ia bikin suara lagu lawan terganggu

"Sayang! Sayang!" seru orang itu, lekas ia gunakan serulingnya menyampuk, suara benturan kedua senjata amat nyaring memekakkan telinga, entah terbuat dan bahan apa seruling ini, Ceng-kong-kiam ditangan Hong-lay-mo-li ternyata tergentak miring, tapak tanganpun terasa linu kemeng, sebaliknya seruling itu tidak kurang suatu apa.

Pedang Hong-lay-mo-li memang bukan benda mestika, namun dilandasi Lwekangnya, jangan kata sebilah pedang tajam, seumpama sebatang pohon, diapun bisa bikin batu keras pecah berantakan dengan sekali ketuk.

Tapi seruling orang ini malah menyampuk miring pedangnya, Terang Lwekang orang ini agaknya lebih tinggi dari dirinya.

Baru pertama kali ini Hong-lay-mo-li menghadapi lawan yang benar2 tangguh, seketika semangat tempurnya semakin me-nyala2, Ceng-kong-kiam terayun melingkar diudara, seketika terciptalah bayangan sinar pedang kemilau yang ceplok2 seperti kuntum bunga, laksana sinar bintang yang beterbaran diangkasa, beribu berlaksa jumlahnya, semuanya meluncur turun bersama meluruk kearah lawan, dalam sejurus, beruntun ia incar tiga puluh enam Hiat-to besar dibadan musuh.

"ilmu pedang bagus!" seru orang itu memuji, kembali terdengar suara Trang tring ber-ulang2 yang gencar, didalam kilasan bentrokan sejurus ini, seruling orang itu sudah saling bentur tiga belas kali dengan pedang panjang Hong-lay-mo-li.

Berputar tajam pedang Hong-lay-mo-li, sementara kebutan ditangan kiri lagi2 mengebas datang, kali ini ia kerahkan tenaganya sehingga benang2 kebutannya tergulung dalam satu untaian maka ia gunakan kebutan sebagai Boan-koan-pit, sasarannya adalah Thay-yang-hiat orang itu, sementara pedang bergerak menggunakan daya lengket, pikirnya hendak menuntun seruling lawan kelingkaran luar.

Kembali orang itu menghela napas, ujarnya: "Kami cukup saling sentuh saja, bukankah lebih baik? Apa benar kau hendak adu jiwa kepadaku?" mulut bicara kaki tangan tidak menjadi kendor, serulingnya dia jungkit keatas dengan jurus Ki-hwe-liau-thian, kembali ia sampuk miring kebutan lawan, sebat sekali ia robah pula dengan gerakan melintang, begitu membentur pedang panjang kembali serulingnya ia puntir dan disendal, sekaligus ia punahkan tekanan daya lengket Hong- lay-mo-li.

Sekaligus Hcng-lay-mo-li menggunakan dua macam gaman, satu lemas yang lain kaku, sekali tempo bisa dibuat lunak bisa digunakan secara kekerasan pula, bahwasanya kombinasi ilmu yang hebat ini merupakan inti pelajaran silat tingkat tinggi yang sukar dipelajari orang sembarangan, tak nyana lawan dengan mudah dapat mematahkan setiap rangsakan kedua senjatanya ini, mau tidak mau Hong-lay-mo-li merasa masgul dan hambar.

"Nah, sekarang tiba saatnya, silakan siocia sambut beberapa jurusku." dimana serulingnya terayun, terbayanglah bayangan seruling beribu lapis, sekaligus ia lancarkan enam jurus serangan, beruntun menutuk tiga puluh enam Hiat-to Hong-lay-mo-li.

Dengan kebutan melindungi badan, pedang Hong-lay-mo-li menyerang musuh, ia tumplek seluruh kemampuan latihan silatnya, satu persatu enam jurus rangsakan lawan ia patahkan.

Orang itu berseru memuji: "Bagus, Hong-lay-mo-li memang tidak bernama kosong!" sebaliknya Hong-lay-mo-li sendiri amat mendelu, maklumlah orang melawan serangannya dengan adem ayem, sebaliknya dia harus kerahkan seluruh kemahirannya baru bisa punahkan enam jurus serangannya.

Timbul rasa ingin menang dalam benak Hong-lay-mo-li, segera ia kembangkan Thian-lo-hud-tim-sha-cap-lak-sek dan Yo-hun-kiamhoat, entah berkembang atau terikat kencang kebutannya, sementara pedangnya tegak atau mengiris miring, permainannya amat serasi dan kompak antara kedua gaman yang berlainan ini, gerak langkahnya enteng laksana air mengalir selincah kupu menari diatas kuntum kembang, setiap ujung pedangnya meluncur mengeluarkan desiran suara tajam.

Kedua macam ilmu tunggal antara positip dan negatip dikembangkan bersama, sungguh hebat iluar biasa perbawanya, Hanya bertahan dengan serulingnya lambat laun orang itu mulai terdesak, sebentar lagi, Hong-lay-mo-li sudah mendesak lawannya dari bertahan balik menyerang.

Tiba2 orang itu bersiul panjang, serunya: "Baik, sekarang akupun harus bertindaklah!" seruling melintang melindungi dada, se-konyong2 tapak tangan kirinya menepuk kedepan, kelihatannya tapak tangannya menepuk sewajarnya saja, tapi tenaganya menerpa kedepan dengan dahsyat, se-olah2 mengandung damparan gelombang yang tak kelihatan melandai kedada Hong-lay-mo-li, lekas Hong-lay-mo-li gunakan gerakan Jian-kin-tui (berat seribu kati), tak urung badan masih ter-geliat

Merasa Lwekang lawan lebih unggul dari dirinya, lekas Hong-lay-mo-li robah permainan pedangnya, dari Yo-hun- kiam-hoat menjadi Tui-hong-kiam-sek, dikombinasikan dengan kebutannya ia merangsak lebh gencar lagi, kedua senjata sama menggunakan tenaga kasar, jurus tipunyapun semakin ganas dan keji.

Tapi pukulan tapak tangan lawanpun tak kalah gencarnya, dari satu disusul yang iain, angin pukulannya menderu keras, sehingga kebutan Hong-lay-mo-li terhembus buyar melambai- lambai, sinar pedang pecah berhamburan. Meski Hong-lay-mo- li sudah mencecar dengan rangsakan membadai, namun tak kuasa mendesak lawan.

Semakin tempur semakin cepat dan sengit, sehingga dahan dan daon pohon rontok berhamburan, burung2 dipucuk pohon terkejut terbang kian kemari, begitulah mereka bergerak selulup timbul naik turun mengadu kelincahan dan ketangkasan pula, tanpa terasa seratus jurus sudah dicapai Hong-lay-mo-li merasa tenaga dalamnya takkan kuat bertahan lama lagi, diam2 ia mengeluh dalm hati, terpaksa ia pergencar serangannya, sebaliknya orang itu kembali bersikap adem ayem dan tak gentar sedikitpun, kembali ia tempelkan seruling kebibirnya dan berkata tertawa:

"Tiada perjamuan yang tak bubar dalam dunia ini, kalau tadi kutiup lagu selamat datang, biar sekarang kuan-tar dengan lagu selamat berpisah." irama yang bernada sedih memilukan seketika mengalun dari batang serulingnya.

Begitu rawan dan sedih lagu serulingnya ini, se-olah2 menyayangkan perkenalan singkat dengan seorang teman baru yang belum lama dikenalnya harus berpisah kembali, sementara dirinya selanjutnya seperti mega mengembang yang mendadak dihembus angin dibawa kian kemari tak menentu arah, empat lautan menjadi rumahnya.

Semula Hong-1ay-mo-li masih punya rasa permusuhan, tapi serta mendengar irama serulingnya yang memilukan ini, mau tidak mau ia terbawa kealam pikiran yang mengetuk kalbu.

Hong-lay-mo-li tersentak sadar dari buaian irama seruling yang sedih ini, segera ia kertak gigi, Sret, pedangnya segera menusuk, Orang itu sedang meniup lagunya sampai ritme2 terakhir, agaknya dia sendiripun sedang tenggelam dalam buaian kepedihan irama serulingnya sendiri, karena rangsakan pedang Hong-lay-mo-li yang gencar ini, tanpa sadar ia mundur ke-pinggir jurang. Betapa cepat gerak serangan pedang Hong-lay-mo-li, kebetulan disaat lagunya habis belum lagi orang itu gerakan serulingnya untuk melawan, ujung pedang lawan tahu2 sudah mengancam ulu hatinya, tenaga tepukan tapak tanganpun tak kuasa menyampuk miring tusukan telak pedang lawan.

Tahu2 kaki orang itu menginjak tempat kosong, seketika badannya terjungkal jatuh kedalam jurang melayang seperti layang2 putus benang, Semula Hong-lay-mo-li amat getol hendak membunuh orang, mimpipun tak terpikir olehnya kemenangan dicapainya sedemikian mudah, keruan hatinya amat kaget dan terasa hambar, hampir saja dia menjerit kaget dan kuatir.

Dalam kejap lain orang itu jumpalitan dengan gaya burung dara jungkir balik ditengah angkasa, kaki kanan menginjak dipunggung kaki kiri, dengan ringan tahu2 badannya sudah hinggap diatas bumi dibawah jurang sana.

Terdengar senandungnya yg lantang ku-mandang dialam pegunungan, sekejap saja orang sudah kembangkan Ginkangnya dan menghilang ditelan semak2 rumput yang belukar dikeremangan malam purnama.

Bayangan orang itu sudah tak kelihatan pula, Tapi siulan panjangnya masih bergema dari kejauhan, laksana naga menari terbang keangkasa.

Lama dan lama sekali dalam kehambaran hati Hong-lay- mo-li tersentak sadar. Disaat ia menerawang pengalaman selama ini dan baru saja hendak meninggalkan tempat itu, tiba2 didengarnya keresekan suara lirih, terang itulah langkah2 Ginkang tinggi yang sedang mendatangi kearah dirinya.

Tanpa banyak membuang waktu lekas Hong-lay-mo-li melambung naik ke-pucuk pohon, dengan cermat ia awasi keadaan sekelilingnya. Dibawah cahaya bulan betul juga dilihatnya dua orang mendatangi, tapi kedua orang ini sama mengenakan seragam militer, Ternyata kedua orang ini adalah komandan Gi-lim-kun negeri Kim Tam To-ceng dan seorang Busu anak buahnya, kedua orang ini tiba ditempat pertempuran Hong-lay-mo-li tadi, dengan seksama mereka memeriksa jejak2 pertempuran yang masih membekas diatas tanah, terdengar Tam To-ceng berkata lantang: "Banswe (raja) ada mengundang, diharap Kongcu sudi keluar supaya kami menghadapi keadaan hutan sunyi senyap, yang terdengar hanya gema suara Tam To-ceng sendiri.

Tiba2 Busu itu menjerit kaget "Ada apa gembar gembor?" tanya Tam To-ceng.

"Tam-ciangkun, lihatlah kemari, dipinggir jurang ini ada setengah tapak kaki, tanah disinipun gugur sebagian, terang baru saja rontok kebawah, wah, mungkinkah orang itu sudah terbunuh oleh Hong-lay-mo-li?"

Dugaannya sebenarnya tidak meleset, namun Tam To-ceng mendengus hidung, melirikpun ia tidak kearah yang ditunjuk, jengeknya dingin: "Omong kosong belaka, Bu-lim-thian-kiau memangnya gampang dikalahkan orang Iain?"

Baru sekarang Hong-lay-mo-li tahu nama orang yang dilabraknya tadi kiranya bergelar Bu lim-thian-kiau, gelar julukannya ini memang cukup segar, cuma rada takabur, demikian batinnya.

Busu itu kurang terima, tapi Tam To-ceng sebagai atasannya, tak berani ia mendebatnya, sesaat baru dia bertanya: "Tam-ciangkun, apa kau pernah melihat Bu-lim- thian-kiau ?"

"Pernah melihatnya sekali."

"Aku hanya pernah dengar petualangannya, Tam-ciangkun apa benar ilmu silatnya selihay apa yang tersiar dikalangan Kangouw? Menurut pendapatmu bagaimana kalau dibanding Kiu-lo Siangjin?"

"ltu seumpama aliran sungai dibanding lautan teduh, sinar kunang2 dibanding cahaya bulan purnama, bahwasanya tak bisa disejajarkan, jangan kau sangka Mo-li itu bisa kalahkan Kiu-lo Siangjin lantas tiada tandingan dikolong langit, aku yakin Bu-lim-thian-kiau kita itu pasti bisa membekuknya."

"Kalau demikian, sekarang dia sudah menagih jasanya kepada Hong-siang, untuk apa pula kami lama2 berada disini?"

"Kalau Bu-lim-thian-kiau seorang yang sudi terima jasa dari Hongsiang, dia takkan menggunakan julukan Thian-kiau! Kau tidak tahu..." mendadak ia berhenti

"Tidak tahu apa?" desak si Busu, "Tak perlu kukatakan, kalau kau tahu urusan2 itu malah bikin celaka dirimu."

"Aku memang ada mendengar sedikit kabar, katanya Hongsiang ingin minta bantuannya, namun juga rada takut terhadapnya, dia..."

"Urusan kerajaan tak boleh kami sembarang memperbincangkan." sentak Tam To-ceng, lalu ia menghela napas, katanya: "Bu-lim-thian-kiau tidak mau unjukan diri, terpaksa kita pulang saja."

Kebetulan Hong-lay-mo-li dapat mencari tahu asal usul Bu- lim-thian-kiau dari kedua orang ini, mana dia mandah membiarkan mereka berlalu? Segera a lompat turun dari atas pohon, serunya: "Coba kalian lihat siapa aku? Aku belum mati Iho! Siapa itu Bu-lim-thian-kiau, lekas katakan ?"

Pucat seketika rona muka Busu itu, batinnya: "Kiranya benar Bu-lim-thian-kiau sudah terbunuh olehnya!"

Sebagai komandan Gi-lim-kun, kepandaian dan nyali Tam To-ceng sudah tentu lebih besar dan berani, meski kedatangan Hong-lay-mo-li amat mendadak dan diluar dugaan, namun ia tidak menjadi gugup.

"Sret" beruntun dua kali ia menusuk kepada Hong-lay-mo-li lebih dulu, Hong-lay-mo-li menyontek dengan kebutannya, pedang panjang Tam To-ceng ternyata cukup lincah dan bisa berubah menurut gelagat, dengan tenang ia hindari kebutan lawan yang hendak merebut pedangnya, segera ia kembangkan ilmu pedangnya saling serang menyerang dengan sengit.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 03"

Post a Comment

close