Pendekar Latah Bagian 02

Mode Malam
 
Bagian 02

Setelah menyeka air mata berkata Cin Long-giok: "Ciau-ko, kalau siluman perempuan itu bisa menyaru aku membunuh para Hwesio dari Thian-ling-si, memangnya dia tidak bisa menyaru aku membunuh ibumu, apakah pernah kau pikirkan hal ini?"

"Benar. Tak usah disangsikan lagi!" seru Khing Ciau tersentak sadar, "Tentulah Giok-bin-yau-hou biang keladinya! Giok-moay, kami punya musuh besar yang sama."

"Soal menuntut balas kelak bisa dicari akal, sekarang mari lekas kita pulang kediaman Khing-ciangkun, mungkin beliau sedang menunggu dengan gelisah."

"Giok-moay," kata Khing Ciau, "Kau belum pernah melihat pamanku, setelah berhadapan dengan beliau tentu kau amat senang."

"Ciau-ko, sejak berpisah banyak pengalamanmu kalau ada tempo ceritakan kepadaku Liu Lihiap aku sudah kenal, siapa nona ini, kau belum perkenalkan kepadaku."

"Beruntung aku berulang kali mendapat pertolongannya, sehingga lolos dari berbagai mara-bahaya." untuk jelasnya Khing Ciau lantas bercerita tentang kesudahan pertempuran Lian Ceng-poh melawan Hong lay-mo-li di Thian-ling-si tempo hari.

"Waktu itu aku masih percaya betul bahwa Lian cici adalah orang baik, maka dihadapan Hong-lay-mo-li aku membelanya mati2an. Akhirnya urusan harus diselesaikan dengan mengadu kepandaian, dengan pedang panjangnya Lian-cici menempur Hong-lay-mo-li sampai puluhan jurus, malah pedangnya hampir saja tergubat dan terpental lepas oleh kebutannya, ternyata ilmu kebutan Liu-cici memang amat hebat, kebutan- nya terkembang, setiap utas benangnya laksana laksaan batang jarum sekaligus berpencar mengarah tiga puluh enam jalan darah mematikan ditubuh Lian-cici."

Kepandaian kebutan menutuk jalan darah, mendengar atau melihatpun Lian Ceng-poh belum pernah, saking kagetnya, tahu2 dua belas jalan darahnya sudah terluka oleh tusukkan benang kebutan Hong-Iay-mo-li. Untung latihan Lwekang Lian Ceng-poh bukan olah2 lihaynya, begitu merasa gelagat-jelek, lekas ia menahan napas kerahkan hawa murni menutup Hial-to sendiri, kaki bergerak dengan To-sai-chit-che, badannya melesat bagai anak panah, untung ia masih sempat lolos dari lingkungan sasaran kebutan musuh.

Waktu mencelat bangun lagi Lian Ceng-poh tahu2 sudah keluarkan selendang sutra-warna merahnya menggantikan pedangnya yang terjatuh, sekali sendal selendangnya itu melingkar2 berlapis2 tak terhitung banyaknya.

Terdengar Lian Ceng-poh menghardik sengit: "Bukan kau yang mati biar aku yang gugur!" gerak geriknya segesit kera selincah kupu dan sepesat anak panah, se-konyong2 lapisan bundaran selendang merahnya menungkrup turun kearah kepala musuh.Khing Ciau cukup kenal akan jurus Pat hong- hong-hi-hwe-tiong-ciu.

Tempo hari dengan jurus ini pula Khing Ciau terluka parah oleh Pak-sin-pian Pakkiong Ou yang menghajarnya habis2an. Demikian juga Lian Ceng-poh gunakan jurus ini untuk mengalahkan Pak-kiong Ou, Kini disaat jiwa terancam bahaya kembali ia lancarkan jurus hebat yang ganas ini.

Tak nyana tiba2 terdengar desiran suara riuh yang sambung me nyambung, kiranya Hong-lay-mo-li kerahkan tenaga saktinya, dia bikin benang kebutannya sekeras jarum baja sehingga selendang merah Lian Ceng-poh tertusuk ber- lobang2 tak terhitung banyaknya, Berbareng lengan bajunya dikebutkan dengan telak mengincar batok kepala Lian Ceng- poh.

Disaat Lian Ceng-poh terancam jiwanya ini, mendadak mulutnya bersuit panjang, Serempak dua orang dayang Lian Ceng-poh melompat maju, yang kanan mengayun tangan menimpukan segulung kabut merah, sementara yang dikiri menimpukan sebuah senjata rahasia yang aneh bentuknya, bentuknya bulat seperti buah kemiri warna hitam kelam, namun panjangnya ada satu kaki, begitu terbang tiba didepan Hong-Iay-mo-li tiba2 "Dar" benda itu meledak dengan keras, sembilan batang sunduk perak sepanjang tiga dim berkilauan berpencar kearah Hong-lay-mo-li.

Kabut berbisa yang disemburkan dan sebuah bumbung itu dinamakan Tho-hoa-ciang, merupakan kabut beracun yang diramu dengan beberapa jenis racun lainnya dari daerah Biau- ciang, sedikit saja menyedot kabut ini, isi perut orang pasti akan keracunan dan semaput sementara senjata rahasia bundar panjang yang aneh itu bernama Kiu-ci-bok-im-so, sekali timpuk sembilan batang, begitu meluncur tiba didepan musuh, barulah Ci-so meledak keluar dari Bok-so (sang anak keluar dari kandungan ibunya), sehingga musuh kena dilukai disaat orang tidak men-duga2.

Betapa jahat dan hebat serangan menggelap ini, apalagi kebutan Hong-lay-mo-li kena terlibat oleh selendang sutra Lian Ceng-poh lagi, disaat jiwa menghadapi elmaut inilah, sekaligus Hong-lay-mo-li demonstrasikan kepandaian Lwekang dan Ginkang yang dahsyat dan hebat sekaligus, cepat sekali ia sudah tutup semua Hiat-to dan menahan napas.

Terdengar "Creng, creng creng!", jari tangan kirinya menjentik tiga kali, tiga sunduk perak yang mengarah bagian atas di-selentik jatuh, cepat sekali jarinya terkembang beruntun ia menyamber pula tiga buah yang menerjang dari tengah sudah diraihnya, berbareng kaki menggeser dengan Ih-sing-hoan-wi, tiga batang yang menyerang bagian bawah melesat lewat dari bawah kakinya.

Seiring dengan lompatan ini Hong-lay-mo-li sekaligus menukik turun seperti elang kelaparan menyamber kelinci, ujung kebutannya menusuk turun mengarah tengah2 alis Lian Ceng-poh. Ujung kebutan masih terpaut beberapa kaki diatas kepalanya, namun Lian Ceng-poh sudah tertindih roboh oleh kekuatan tenaga dalam lawan dipinggir badan Khing Ciau, jelas jiwa Lian Ceng-poh bakal ajal dengan batok kepala berlobang tertusuk kebutan musuh.

Se-konyong2 Khing Ciau menjerit keras terus menubruk maju menindih diatas badan Lian Ceng-poh. Sudah tentu kenekadan Khing Ciau jauh diluar dugaan Hong-lay-mo-li, untunglah kepandaiannya sudah diyakinkan sedemikian sempurna sehingga gerak geriknya dapat dikontrol menurut kemauan hatinya, sedikit merandek berbareng tangan kiri jinjing badan Khing Ciau terus didorong kesamping.

Tapi sekilas itu lekas sekali Lian Ceng-poh sudah gunakan Yan-ceng-cap-pwe-hoan (burung walet jumpalitan delapan belas kali) beruntung ia bergelundungan beberapa tombak jauhnya, disaat badannya melejit bangun berbareng ia ayun tangannya, "Blum!" segulung sinar api mendadak meledak dengan dahsyat, seketika asap tebal berkembang keempat penjuru, ditengah2 keremangan asap tebal itu beterbangan jarum2 lembut sebesar rambut kerbau bewarna kuning emas diselingi suara mendesis ramai seketika Khing Ciau merasa segulung bau busuk dan amis yang memualkan merangsang hidung, seketika mata berkunang dan kepala berat, kesadarannya mulai kabur.

Kiranya senjata rahasia yang digunakan Lian Ceng-poh kali ini adalah senjata rahasia terampuh dan jahat serta keji dari golongan Sia-pay, dinamakan Tok-u-kim-ciam-liat-yan-tan (granat kabut beracun dan jarum emas), jauh lebih lihay dari Tho-hoa-ciang tadi.

Hong-lay-mo-li tidak menyangka orang masih menyimpan senjata rahasia terlihay untuk babak terakhir ini, keruan bukan kepalang kagetnya, sekali raih ia bawa badan Khing Ciau, dengan Sip-hiong-kiau-hon-hun. Ginkang tingkat tinggi ia jumpalitan tiga tombak kebelakang, Kejadian berlangsung teramat cepat, terasa oleh Khing Ciau bawah ketiaknya terasa sakit seperti ditusuk jarum, seketika ia menjerit, kembali ia menghirup asap beracun dua kali, seketika badan lemas lunglai jatuh semaput. Disaat itu pula Lian Ceng-poh sudah kabur tak kelihatan bayangannya pula.

Entah berselang berapa lamanya, waktu Khing Ciau siuman dari pingsannya, terasa hidung mengendus bau harum, ternyata dirinya rebah diatas ranjang. Bergegas Khing Ciau merangkak bangun, dengan kepala masih terasa berat ia celingukan kian kemari, didapati dirinya berada disebuah kamar buku, terbukti sekelilingnya penuh dengan rak2 yang berjajar dengan koleksi buku2, diatas dinding penuh ditempeli gambar2 lukisan dari pelukis2 kuno yang kenamaan.

Serta merta Khing Ciau meraba2 badan sendiri, mendadak jantungnya serasa hampir melonjak keluar, ternyata buku warisan peninggalan ayahnya yang disimpan dibalik bajunya sudah terbang tanpa sayap.

Disaat ia bingung dan gelisah, didengarnya langkah kaki mendatangi, daun pintu terbuka dilihatnya seorang budak perempuan melangkah masuk, sekilas ia pandang dirinya, katanya tertawa: "Kau sudah siuman? Bagus, dari air mukamu, racun yang mengeram dalam badanmu agaknya sudah terkuras habis. Hayolah ikut aku, Siocia kami hendak bicara dengan kau!"

Khing Ciau sudah pasrah nasib, tanpa ragu2 ia ikuti budak itu keluar.

Setelah melewati sebuah serambi panjang mereka memasuki sebuah ruang pendopo, dilihatnya Hong-lay-mo-li sudah duduk bercokol disana, tak jauh dihada-pannya bergerombol kawanan brandal anak buah Lian Ceng-poh yang ditawannya, seolah2 dirinya sedang memasuki ruang sidang pengadilan layaknya. Budak itu lapor: "Bocah she Khing sudah dibawa kemari, silakan Siocia memutuskan!"

"Baik, suruh dia duduk disamping, setelah urusan orang banyak selesai nanti kutanya dia." sahut Hong-lay-mo-li sambil mengulap tangan. Khing Ciau mendengus hidung, dengan angker dia duduk dikursi yang ditunjuk.

"Bagaimana, kalian sudah pikir matang belum?" tanya Hong-lay-mo-li lebih lanjut kepada kawanan brandal dihadapannya. "Kalian suka ikut Giok-bin-yau-hou atau rela ikut aku?"

Kawanan brandal itu menjawab bersama: "Kita dulu dikelabui dan diancam ooleh siluman rase itu, terpaksa harus tunduk dan bekerja untuk kepentingannya. Siocia sudah berhasil menggebahnya lari mencawat ekor, sungguh kami amat berterima kasih, dengan senang hati terima menghamba diri, silakan Li-hiap memberi petunjuk."

"Apa benar kalian tunduk lahir batin? Aku mengiris hidungmu, memotong kupingmu, apa kalianpun tak merasa dendam dan sakit hati?" ia tuding dua orang laki2 bertubuh tegap dibarisan paling depan.

Gemetar kedua brandal ini, sahutnya dengan takut2: "Hamba hanya mohon pengampunan mana berani dendam kepada Lihiap?"

Hong-lay-mo-li tertawa dingin: "Kalian sudah tahu takut ya?

Biasanya kalian berlaku kejam dan telengas, pernahkah terpikir oleh kalian orang lainpun hanya punya selembar jiwa?"

- ternyata kedua orang ini adalah gembong iblis yang doyan main bunuh dikalangan brandal.

Pucat pias muka kedua brandal ini, ter-sipu2 mereka jatuhkan diri berlutut, serunya gemetar: "Harap Lihiap memberi ampun, hamba rela menjadi budak Lihiap." Hong-lay-mo-li mendengus, katanya: "Kemana wibawa kalian biasanya ? Hm, orang seperti kalian menjadi budakkupun tidak setimpal."

"Aku tahu kalian adalah anak buah Giok-bin-yau-hou yang paling di andalkan, suatu ketika kalian berebut daerah operasi dengan Li-ma-cu di Jiangciu, Li-ma-cu adalah anak buah pimpinan laskar rakyat di Jiangciu, kalian kalah kuat dan tidak ungkulan melawannya, lalu diam2 memberi kabar pihak pasukan Kim, meminjam kekuatan tentara Kim menggempur dan menduduki pangkalan mereka, dengan mudah kalian lalu memungut keuntungan ini, benar tidak kejadian itu?"

Kejadian itu amat rahasia, kedua brandal ini sungguh tidak nyana Hong-lay-mo-li mengetahui kejahatan mereka masa lalu demikian jelas, saking ketakutan mulut terkencing tak berani bersuara, cuma kepala manggut2.

Bentak Hong-lay-mo-li: "Apakah Giok-bin-you-hou yang perintahkan kalian melakukan kejahatan ini?"

Khing Ciau berkeringat dingin, jantungnya berdebur keras hampir saja melonjak keluar dari rongga dadanya, Dengan penuh perhatian ia pasang kuping, Lian Ceng-poh adalah teman atau musuh bangsa, tergantung dari jawaban kedua brandal ini.

Hong-lay-mo-li ulangi pertanyaannya, namun tidak mendapat jawaban, semula kedua brandal ini berlutut sambil manggut2, kini keduanya diam saja tanpa bergerak San San dan Tai Mo segera maju memeriksa, teriaknya berbareng: "Kedua bangsat ini sudah mampus!"

Mendengar Hong-lay-mo-li memaki mereka menjadi budakpun tak setimpal, saking takut seketika jantung nya pecah. Bahwasanya pertanyaan Hong-lay-mo-li selanjutnya sudah tidak mereka dengar, karena jiwa sudah melayang. "Hanya pembunuh kejam saja yang berjiwa kerdil dan paling penakut. Seret mereka keluar dan lempar kelembah gunung biar dimakan serigala! jangan bikin kotor daerahku!"

Kawanan brandal yang lain seketika pucat dan gemetar, Lekas Hong-lay-mo-li menambahkan "Kalian tidak perlu takut, salah benar aku bisa bertindak secara wajar dan jelas, dinilai dari sepak terjang kalian biasanya, meski lebih banyak melakukan kejahatan dari kebaikan, namun belum setimpal dihukum mati, aku boleh ampuni jiwa kalian, asal kalian mau mendengar petunjukku."

Serempak kawanan brandal itu menjawab bersama: "Silakan Lihiap memberi petunjuk!"

"Biar kuajukan tiga syarat kepada kalian pertama, dilarang membuat kejahatan di daerah setempat, membunuh tanpa dosa. Kedua: dilarang memperkosa berbuat cabul, merampok dan merugikan kepentingan rakyat, diidzinkan merampas milik yang punya untuk menolong yang miskin, bunuh pejabat lalim dan kuras gudang hartanya, Ketiga kita harus kibarkan bendera menentang kerajaan Kim bersama, siapa saja yang menerima panah perintahku, diharuskan bekerja menurut petunjuk dan tidak boleh lalai, kalian suka terima syarat2ku?"

Sepatah demi sepatah kata2 Hong-lay-mo-li dijawab dengan tegas dan lantang, Hong-lay-mo-li tertawa dingin, jengeknya: "Sekarang kalian tunduk dan setuju akan syaratku, jangan menyesal dikelak kemudian, sekarang kulepas kalian pulang, bukan saja tidak akan mengangkangi pangkalan kalian, kalianpun tidak perlu kirim upeti kepadaku, jikalau kuketahui siapa2 diantara kalian yang melanggar janji, aku tidak kenal am-pun, kedua orang ini menjadi contoh bagi kalian."

Kawanan brandal menyahut bersama: "Tidak berani, tidak berani. Se-kali2 kita takkan berani melanggar sumpah setia hari ini." semula mereka sangka setelah terjatuh ditangan iblis perempuan (Mo-li) ini, tiada harapan pulang dengan selamat, tak nyana Hong-lay-mo-li tidak bunuh mereka, malah meringankan beban tak usah memberi upeti pula, maka mereka pulang dengan hati riang gembira dan syukur.

"Sekarang giliranku tanya kepada kau?" ujar Hong-lay-mo-li kepada Khing Ciau.

"Aku tidak perduli si dia itu apamu, kekasih, musuh, tuan penolong atau sanak kandangmu, pendek kata, kau sudah tahu asal usulnya, kau harus jelaskan ke-padaku!"

"Kau pandang aku sebagai tawanan, hendak kompes keteranganku? Bunuh aku saja!" sahut Khing Ciau lantang. Dengan gagah ia berdiri dihadapan Hong-lay-mo-li sambil tutup mulut rapat2.

Hong-lay-mo-li rada melengak, katanya halus: "Ketahuilah, semua anak buahnya yang tahu seluk beluknya tiada seorangpun yang selamat, meski dayang priba-dinyapun dia bunuh, kau sendiripun merasakan jarum dan asap berbisa itu, untung jiwamu kutolong, namun kau masih membelanya mati2an?"

Khing Ciau tetap membungkam.

Hong-lay-mo-li menghela napas: "Sayang, sayang, sayang jerih payah ayahmu dihari tuanya!"

Baru sekarang Khing Ciau berteriak: "O, jadi buku peninggalan ayahku, kaulah yang mengambilnya? Lekas kembalikan kepadaku!"

"Begitu besar tekadmu membela siluman rase itu, mana aku bisa lega hati mengembalikan buku itu kepadanya ?

Bagaimana mau jelaskan tidak?"

"Nona Lian jelas adalah pendekar besar bangsa Han kita, kau selalu memfitnahnya, Ketahuilah, diapun buronan kerajaan Kim yang pernah bentrok langsung dengan mereka." "O, cara bagaimana dia bentrok dengan jago2 kerajaan Kim?"

"Bulan yang lalu dia bunuh dua Busu negeri Kim di Tiongtoh, tak lama kemudian membunuh dua orang dari pasukan Kim-wi-kun di Bit-hun."

"Gok-bin-yau-hou sendiri yang beritahu kepadamu tentang kejadian itu?"

"Benar, memangnya bukan kenyataan?"

"Tai Mo, coba kau saja yang jelaskan tentang kejadian itu." kata Hong-lay-mo-li kepada anak buahnya, "Bulan yang lalu aku mendapat tugas dari Siocia, untuk menyirapi jejak duta besar Mongol, pihak negeri Kim mengutus dua anggota Kim- wi-kun untuk menyambut ditengah jalan, kebetulan di Bi-hun aku berhasil menguntit mereka." demikian tutur Tai Mo.

"Malam itu secara diam2 aku menyelundup kedalam tempat penginapan Duta besar itu, kucuri dengar pembicaraan mereka, aku sembunyi diatas belandar, belum sepeminuman teh, dipinggir telingaku seperti kudengar orang berbisik: "Nona cilik waspadalah, ada tikus hendak menggigit kau!"

Keruan aku kaget, sekelilingku tiada orang, pada saat itulah, Duta besar Mongol itu mendadak membentak: "Turun!"

"Hebat sekali Bik-khong-ciang duta besar ini, untung aku sudah menyingkir dua kaki, balok blandar tempat sembunyiku tadi seketika terpukul putus seperti terbacok golok, Untung sebelum jejakku konangan, tiba2 terdengar seseorang bergelak tawa:

"Aku berada disini, apa kalian sudah picak semua?" entah kapan mendadak dalam ruang itu tambah seseorang,

"Orang ini berdandan seperti pelajar umumnya, kedua matanya mengawasi langit, berdiri tegak bertolak pinggang ditengah ruangan, mulutnya berkakakan menghadapi Duta besar Mongol itu. "Siapa kau?" tanya Duta besar Mongol dengan keras. pelajar itu menjawab: "Akulah duta penyabut nyawamu!" kontan Duta besar Mongol lontarkan tepukan tapak tangan- nya, kedua orang berjarak tiga kaki, dengan telak secara berhadapan pelajar itu menghadapi kekuatan Bik-khong-ciang orang, namun pakaiannyapun tak kelihatan bergerak, sebaliknya Duta besar Mongol itu mendadak seperti ditonjok dadanya, terhuyung mundur malah, mulut terpentang menyemburkan darah segar.

"Kontan kedua anggota Kim-wi-hun menjadi keripuhan, lekas mereka lolos senjata, berbareng lantas membacok kepada si pelajar, Kedua orang ini ternyata berkepandaian cukup hebat, gerak geriknya lincah lagi, seorang yang bergaman golok sekaligus lancarkan sejurus tujuh tipu ilmu goloknya, dalam sekejap ia sudah menyerang tiga belas jurus, menggunakan sembilan puluh satu tipu2 lihay seorang lagi bergaman Boan-koan-pit, serempak ia merangsak maju, sekaligus mengincar delapan Hiat-to besar ditubuh si pelajar."

Hong-lay-mo-li tertawa, ujarnya: "Agaknya kepandaian mereka termasuk kelas dua dikalangan persilatan."

Tai Mo meneruskan ceritanya: "Serangan mereka cepat, pelajar itu lebih cepat, tipu2 mereka gonas, pelajar itu lebih telengas, Entah bagaimana tahu2 golok musuh kena direbutnya, berbareng kedua potlot musuh itupun kena dipukulnya jatuh. Dengan goloknya pelajar itu bunuh kedua perwira Bayangkari dan memukul mampus Duta besar Mongol, kejadian berlangsung dalam dua tegukan orang minum teh.

Betapa hebat dan menggiriskan pertempuran itu, sukar aku melukiskan dengan kata2."

Berkata Hong lay-mo-li tertawa: "Selama aku kelana di Kangouw, belum pernah menghadapi lawan tangguh, Mendengar ceritamu ini, aku jadi pingin bertanding dengan pelajar itu, Akhirnya bagaimana?" "Akhirnya aku ucapkan terima kasih bepadanya, mohon dia suka perkenalkan namanya. Dia malah bergelak tertawa, sekejap saja tahu2 bayangannya sudah lenyap dari pandanganku dari jauh kudengar kumandang senandungnya!"

"Aku sudah tahu!" Hong-lay-mo-li tiba2 tepuk tangannya, "pelajar itu tentulah Siau-go-kan-kun pendekar Latah Hoa Kok-ham!" lalu ia berpaling kepada Khing Ciau dan menjengek:

"Kau sudah dengar bukan, peristiwa itu adalah buah tangan pendekar Latah Hoa Kok-ham, apa sangkut pautnya dengan Giok-bin-yau-hou?"

"Baik, anggap saja memang dia membual dalam hal ini, tapi sesuatu pernah terjadi atas diriku, waktu aku terkepung oleh kawanan Busu di Siok-ciu, dia bunuh banyak kawanan Busu secara diam2 sehingga aku lolos dari bahaya!" lalu ia ceritakan pengalaman dirinya waktu itu.

Entah mengapa kini dalam sanubari Khing Ciau merasakan suatu wibawa dan keangkeran yang tak bisa dilawan dari keagungkan Hong-lay-mo-li, rasa penasaran dan permusuhannyapun semakin nipis.

"Jadi waktu malam itu kau pulang kerumah, ibu dan kacung rumahmu Ong An dan Siau-hong sudah terbunuh, Masakah didalam hal ini tiada seluk beluk yang dapat dicurigai? Kau percaya demikian saja akan obrolan Giok-bin-yau-hou?"

Khing Ciau terkejut, teriaknya: "Apa katamu? Kau, maksudmu pembunuhnya adalah nona Lian malah? Tapi tutukan yang mengarah Siau-yau-hiat dan Toh-kut-ting itu adalah kepandaian yang dimiliki oleh keluarga Cin saja, bagaimana hal itu bisa terjadi?"

"Kedua ilmu itu memang warisan keluarga Cin, tapi bagi tokoh silat yang lihay, tidak sukar meniru dan bisa menggunakan kedua macam itu? Coba lihat. " tiba2 jarinya

menuding kearah Khing Ciau dari kejauhan, Kontan Khing Ciau rasakan pinggangnya kesemutan, tanpa sadar ia tertawa keras, lekas Hong-lay-mo-li tambahi sekali tutukan lagi membuka Hiat-tonya tadi.

Keruan tersirap darah Khing Ciau, dalam jarak beberapa kaki Hong-lay-mo-li dapat lancarkan tutu-kannya dengan telak dan kuat, naga2nya malah jauh lebih lihay dari pamannya.

Berkata Hong-lay-mo-li lebih lanjut: "Kepandaian, Giok-bin- yau-hou tidak jauh dibawahku, siapa tahu kalau diapun bisa menggunakan kedua ilmu ini? Ter-bukti para Hwesio dari Thian-ling-si bukankah sama mati oleh serangan Toh-kut- tingnya?"

"Banjir darah di Thian-ling-si terang bukan per-buatannya, karena dalam tiga hari tiga malam itu, dia selalu berada didampingku, memangnya dia punya ilmu membagi diri?"

Hong-lay-mo-li unjuk rasa heran, sesaat ia menerawang, Katanya kemudian: "Baik, soal ini sementara tunda dulu, buku peninggalan ayahmu ini biar ku-kembalikan dulu kepada kau." Khing Ciau menerima buku itu dan hendak disimpan kedalam kantongnya,

Tiba2 Hong-lay-mo-li bertanya pula: "Kau pandang buku peninggalan ayahmu itu lebih penting dari jiwamu sendiri kenapa kau perlihatkan kepada siluman rase itu?"

Khing Ciau melengak, katanya menentang: "Siapa bilang aku perlihatkan kepadanya?"

"Coba kau periksa, ada apa didalam lembaran bukumu itu?" Selembar demi selembar Khing Ciau membalik buku itu,

tanyanya hambar: "Ada apanya?"

"Periksa lagi lebih teliti!" Mendadak Khing Ciau berseru heran, ternyata pada lembaran terakhir ada terselip seutas rambut panjang.

"Coba kau ambil rambut itu, periksalah, apakah itu mirip rambut laki? Rambut itu kriting, berlainan dengan rambutku!"

Khing Ciau lihat rambut ini memang keriting, hatinya ber- tanya2 dan tak bisa berkeputusan sebagai Iaki2 jujur dan lapang dada tak enak ia mendebat terus, akhirnya ia mandah bungkam saja.

"Sampai sekarang kau masih pandang siluman rase itu sebagai orang baik? Ya, terserah kepadamu, ingin aku tanya, bagaimana rencanamu selanjutnya?"

Khing Ciau angkat kepala, sahutnya lantang: "Kalau kau lepas aku, sudah tentu aku akan ke Kanglam."

"Baik, pergilah istirahat setelah luka2mu sembuh kusuruh orang mengantarmu turun gunung." lalu ia suruh budak tadi mengantar Khing Ciau pulang ke-kamarnya.

Beberapa hari lamanya Khing Ciau harus rebah istirahat diatas ranjang minum obat, dalam beberapa hari ini hanya San San saja yang sering datang menengok dirinya.

Kira2 seminggu kemudian baru Hong-lay-mo-li datang menengok dirinya, tanyanya: "Bagaimana sudah lebih baik tidak hari ini?"

"Jauh lebih baik, terima kasih, kukira dalam beberapa hari lagi aku sudah bisa berangkat!"

"Ya setelah kadar racun dalam badanmu bersih seluruhnya, boleh kau berangkat Aku sendiri ada urusan penting yang perlu segera kuselesaikan, legakan saja kau istirahat disini, San San, setelah aku pergi segala sesuatunya kupasrahkan kepadamu! Boleh kau antar Khing-siangkong sehingga dia selamat meninggalkan wilayah Hopak." Khing Ciau jadi rikuh dan kurang enak, katanya: "Setelah luka2ku sembuh, aku bisa berangkat sendiri tak usah merepotkan nona San San!"

"Kau sekarang sudah jadi buronan kerajaan Kim. seorang diri bagaimana kalau kau kebentur oleh musuh2 setingkat Pakkiong 0u. Bila sudah keluar dari wilayah Hopak barulah keadaanmu rada mending, sebagai sesama kaum persilatan tak usah kau sungkan2."

Setelah memberikan pesan dan petunjuknya Hong-lay-mo-li lantas berangkat seorang diri. sementara Khing Ciau tinggal lagi lima hari baru kesehatannya mulai pulih, Setelah San San memberi obat segera ia menggoda: "Khing-siangkong tadi seorang diri kau melamun, apa sih yang sedang kau pikiri?"

"Tiada yang kupikirkan, cuma besok aku harus berangkat!"

Begitulah sepanjang jalan memang Khing Ciau diiringi dan dilindungi oleh San San sampai disini, sudah tentu banyak pula suka duka yang mereka alami ditengah jalan, namun biarlah pengalaman yang berbekas itu kami kesampingkan dulu.

Berlinang air mata Cin Long giok mendengar cerita Khing Ciau yang panjang lebar ini, katanya. "San-cici, kau betul2 seorang perempuan satria yang gagah perkasa! Em, kau sudah angkat saudara dengan Ciau-ko, berarti menjadi ciciku pula, harap sukalah terima hormat Siaumoay!"

San San lekas memapahnya bangun serta balas memberi hormat, katanya: "Cin-cici, kau mengalami banyak derita yang begitu mengenaskan, aku sendiri tidak tahu, tadi malah menyalahkan kau!" tangan mereka saling genggam dengan kencang.

Tatkala itu hari sudah menjelang magrib, sang surya sudah doyong kearah barat, sementara perahu yang mereka naiki sudah hampir tiba disebrang sana, Hong-Iay-mo-li berdiri dihaluan kapal, matanya memandang jauh kesana, tiba2 ia berteriak: "Lekas kalian lihat, disana seperti terbit kebakaran!"

Tampak dibalik Jian-hud-san sebelah sana, asap tebal mengepul tinggi, Cahaya merah mengangah menjulang tinggi keangkasa.

Khing Ciau kaget, serunya: "Tempat kebakaran agaknya tepat ditangsi besar kita!"

Begitu mendarat, mereka berempat segera ber-lari2 kencang kearah nyala api, mereka kembangkan ginkang ditengah jalan raya tanpa hiraukan perhatian dan bikin heran orang2 dijalan raya.

Cepat sekali Khing Ciau berempat sudah tiba ditempat kebakaran, ternyata markas tentara sebesar itu kini sudah terjilat habis oleh api, kobaran api sudah tertekan dan hampir padam oleh kerja berat para tentara.

Seorang perwira kebetulan berlari datang dan berteriak "Kebetulan, Khing-siangkong sudah kembali." Khing Ciau kenal orang ini adalah pengawal pribadi pamannya, lekas ia memapak maju dan menyapa: "Apa yang terjadi, mana pamanku? Kenapa Sin-ciang-kun tidak kelihatan?"

Pengawal itu tiba2 bercucuran air mata, katanya dengan sedih: "Goanswe terbunuh orang!"

Seperti mendengar geledek disiang hari bolong, seketika Khing Ciau tertegun menjublek ditempatnya.

Hong-lay-mo-li lekas menimbrung: "Atur dulu napasmu apakah yang terjadi? Goanswe dibunuh oleh siapa?"

"Thio-tohwi memberontak!"

Menyala biji mata Khing Ciau, teriaknya: "Maksudmu Thio Ting-kok?" "Benar, dia pura2 ada urusan menghadap Goan-swe lalu membunuhnya, markas besar dibakarnya pula, sekarang dia pimpin pasukannya yang ikut berontak keluar kota."

Hong-lay-mo-li membanting kaki, katanya: "Kami kena dipancing harimau meninggalkan sarangnya oleh siluman rase itu."

Tanpa penjelasan lebih lanjut, Khing Ciau sudah paham duduknya perkara, terang sebelumnya Lian Ceng-poh sudah berintrik dengan Thio Ting-kok, disaat Khing Ciau memenuhi undangan pertemuan dengan Lian Ceng-poh, baru dia berani turun tangan.

"Mana Sin-ciang-kim?" tanya Khing Ciau.

"Sin-ciangkun pergi mengejar para pemberontak itu." "Lewat jalan mana?"

"Kearah barat!"

Tanpa banyak membuang waktu Khing Ciau segera minta empat kuda, katanya: "Bekuk dulu pemberontak itu, baru berurusan dengan siluman rase itu!" segera ia mendahului cemplak keatas kuda terus di-bedal kearah pintu berat.

Hari semakin gelap, kuda mereka mencongklang dengan pesat, akhirnya mereka tiba dibawah bukit gu-nung, tampak obor berlarik panjang mengelilingi bu-kit, sepasukan besar tentara bersenjata lengkap seperti merubungi sebuah arena pertempuran kiranya Sin Gi-cik berhasil menyandak Thio Ting- kok, dua pasukan teraling sebuah selat dan berhadapan terang suatu pertempuran besar acak2an bakal berlangsung.

Khing Ciau cukup dikenal oleh anak buah pamannya, segera mereka membuka jalan, sehingga Khing Ciau terus membedal kedepan, dilihatnya Sin Gi-cik sedang mengayun pecut dipunggung kudanya, menuding laskar pemberontak yang dipimpin Thio Tmg-kok: "Thio Tiang-kok pengkhianat keluar kau!" Laskar pemberontak menduduki atas bukit, bergerombol tak terhitung banyaknya, jumlahnya lebih besar dari anak buah Sin Gi-cik. Se-konyong2 terdengar bunyi terompet ditiup, dari tengah laskar pemberontak berkibar sebuah panji besar yang melambai megah bertuliskan satu huruf "Thio" yang besar menyolok, disusul Thio Ting-kok muncul dari barisannya menunggang seekor kuda tinggi kekar.

Diatas kudanya ia balas tuding Sin Gi-cik dan membentak: "sekian tahun kita sama2 berdampingan, kenapa kita saling cakar sendiri? Lebih baik bergabung saja demi urusan besar tercapai!"

Sin Gi-cik memakinya: "Sekian tahun kau membantu Goanswe, betapa kebaikan yang pernah kau dapatkan dari beliau, kenapa kau membunuhnya malah? Kini masih tebal muka kau bicara persaudaraan segala?" semakin bicara emosinya menghayati sanubari-nya, suaranya semakin lantang dan perkasa:

"Saudara disana dengarkan, Thio Ting-kok membunuh atasannya untuk memberontak menyerah kepada musuh, kalian adalah patriot2 bangsa yang setia kepada nusa, kenapa ikut mengekor memberontak, mungkin kalian kena dikelabui oleh dia, kini masih ada kesempatan menyesali diri dan berpaling muka. Lekaslah kembali, kita masih kawan seperjuangan."

Khing Ciau segera menambahkan: "Dosa2 besar Thio Ting- kok dia sendiri yang harus terima ganjarannya, bila siapa berhasil memenggal kepala Thio Ting-kok akan diberi hadiah besar, disamping pangkat kedudukan yang setingkat dengan Thio Ting-kok!"

Thio Ting-kok adalah panglima perang yang gagah berani, anak buahnya mana berani membunuhnya? Tapi kata2 Sin Gi- cik tadi sudah merusak dan mengetuk sanubari mereka, ada sebarisan laskar pemberontak ber-ramai2 membuang senjata mengeprak kuda lari kebawah.

Thio Ting-kok ulapkan sebelah tangannya, bentak-nya: "Bunuh tunggangan mereka!"

Seketika hujan anak panah memberondong kebawah, semua kuda tunggangan orang2 yang lari turun terpanah mati sehingga penunggangnya jungkir balik sungsang sumbel saling tindih.

Thio Ting-kok ter-bahak2. Se-konyong2 didengar-nya sebuah hardikan keras dari sampingnya: "Pengkhianat, mampuslah kau!" tahu2 golok panjang terayun membacok kebatok kepala Thio Ting-kok.

Dari kejauhan Sin Gi-cik melihat jelas penyerang ini adalah Cin Hou, sahabat baiknya, perbuatan Cin Hoa amat mendadak dan tak terduga, disaat batok kepala Thio Ting-kok hampir terpenggal itulah, tiba2 terdengar suara "Trang", seorang perwira dipinggir Thio Ting-kok tahu2 sudah berhasil merebut golok panjang itu terus dibuang kedalam jurang.

Kejadian berlangsung teramat cepat, belum lagi Cin Hou angkat tangan menghantam musuh, tahu2 dirinya sudah tercengkram tak berkutik dan terangkat tinggi, setelah diputar kencang seperti kitiran, badannya terus dilempar kearah batu cadas disebrang sana. Terdengarlah lolong panjang yang me- ngerikan, Cin Hou hancur lebur menjadi bergedel

Kaget dan gusar bukan main Sin Gi-cik dibuatnya, ia tahu sampai dimana tingkat kepandaian Cin Hou, Diluar tahunya bahwa Thio Ting-kok menyembunyikan pembantu gelapnya yang lebih lihay lagi.

Thio Ting-kok ter-loroh2, serunya sambil menuding dengan cambuk: "Kau kira mata2mu dengan mudah bisa membokong aku? siapa berani petingkah lagi Cin Hou sebagai contohnya." Melihat sahabatnya gugur begitu mengenaskan sungguh tak terkendali amarah Sin Gi-cik, serunya lantang: "Pengkhianat, turunlah hadapi aku!"

Thio Ting-kok mandah tertawa besar, ujarnya: "Kau bukan tandinganku, menyerah saja bergabung dengan akui"

Gusar Sin Gi-cik bukan kepalang, lekas ia keprak kudanya pimpin pasukannya menyerang maju, beberapa anak buah Thio Ting-kok yang terdepan dengan mudah ia bikin roboh sungsang sumbel, Thio Ting-kok ter-loroh2, lekas ia memberi aba2, barisan panahnya segera menarik busur membidik beramai2, ribuan anak panah serempak meluncur kebawah.

Sin Gi-cik putar kencang tombak panjangnya, sehingga tiada anak panah yang mengenai dirinya, celaka adalah anak buahnya yang ikut menerjang datang,, tidak sedikit yang roboh terluka atau binasa.

Sekonyong2 terdengar Thio Ting-kok menghardik "Yu-an, jangan kau menyesali tangan terayun ia timpukkan sebatang piau, tenaga lengannya besar, bobot piau inipun cukup berat, maka luncurannya mengeluarkan suara mendesis nyaring

Untunglah sebelum Sin Gi-cik tercabut nyawanya oleh piau ini tiba2 sinar kilat berkelebat "Tang", ternyata Khing Ciau menyusul tiba tepat pada waktunya, dengan sekali sampuk dengan pedang ia bikin piau itu jatuh, serunya kepada Sin Gi- cik: "Yu-an, tidak perlu main kekerasan dengan para pengkhianat itu, Liu lihiap tentu punya caranya sendiri menghadapinya!"

Tepat pada saat itulah tiba2 pasukan Thio Ting-kok dilamping gunung sama2 berseru gempar, Waktu Sin dan Khing berdua mendongak,, dilihatnya segumpal bayangan hitam laksana meteor terbang tengah meluncur turun dari puncak gunung disebrang sana yang curam dan tinggi, seperti seekor burung raksasa, mendadak kembangkan sayap menukik turun menubruk mangsanya. Ternyata dengan mengandal Ginkangnya yang tinggi Hong- lay-mo-li berputar kepuncak gunung sebelah sana, tiba diatas puncak dimana kedudukan Thio Ting-kok sekarang berada, langsung ia terjun dari lamping gunung yang curam itu, sudah tentu dari sini bahayanya jauh lebih besar dari pada dia menyebrang selat langsung berhadapan dengan musuh.

Kebetulan Thio Tiang-kok dan beberapa orang anak buahnya sedang berada dibawah lamping gunung yang tingginya tidak kurang dua tiga puluh tombak, dari atas kebawah lempang dan curam seperti dinding yang ditatah tegak rata, tiada tempat berpijak untuk pinjam tenaga, jangan kata dibawah jurang sana batu2 gunung bercuat runcing.

Disebelah sinipun ada musuh yang bakal merintangi dan menyerangnya, seumpama ditempat datar yang berumput tebal, bila terjatuh dari tempat ketinggian seperti itu, badan pasti hancur lebur. Mimpipun Thio Ting-kok tidak menduga, Hong-lay-mo-li punya nyali dan keberanian yang begitu besar.

Satu Brigade barisan pemanah Thio Ting-kok sudah pengalaman dimedan perang, meski kaget tidak jadi gugup dan ribut, ditengah seruan kaget riuh rendah, tiga ratusan pemanah segera bidikan anak panahnya.

Hebat memang kepandaian Hong-lay-mo-li, ditengah udara ia perlihatkan kehebatan Ginkang dan Lwekangnya, lekas tumit kaki kiri menjejak punggung tapak kaki kanan, badannya mendadak meluncur minggir beberapa tombak, sehingga ia terhindar dari bidikan hujan panah.

Betapapun tiga ratus batang panah tidak bisa dia hindarkan seluruhnya, kira2 dua tiga puluh batang diantaranya yang dibidikan belakangan tetap mengarah dirinya, namun semuanya kena disampuk jatuh oleh kebutannya.

Belum lagi para pemanah sempat membidikan panahnya pula, cepat sekali, Hong-lay-mo-li sudah jumpalitan ditengah udara dengan kepala dibawah kaki diatas menukik turun, cepat sekali ia sudah meraih ujung galah bendera Thio Ting- kok, sekaligus ia punahkan tekanan luncuran badannya yang keras sehingga badannya tidak terbanting keras kebawah.

Belum lagi orang banyak sempat berbuat apa2, sigap sekali Hong-lay-mo-li sudah cabut pedang, ""Krak" galah bendera tu sudah terbabat putus ditengah2, berbareng dengan enteng ia hinggap ditanah, segera ia ayun dan mainkan panji besar itu dengan sengit.

Dilandasi oleh Lwe-kangnya yang tinggi, bendera yang besar ini laksana sebuah tameng besar, bidikan panah yang membron-dong tiba dengan gampang dia kebut rontok oleh kobaran panji besar ditangannya, celaka adalah anak panah itu banyak yang terpental balik sehingga tidak sedikit pengawal pribadi Thio Ting-kok yang terluka oleh panah sendiri.

Bagai angin puyuh cepat sekali Hong-lay-mo-li sudah menubruk kearah Thio Ting-kok, dimana ia kebas pula dengan gulungan panji besar itu, beberapa orang pengawalnya dia bikin roboh, se-konyong2 seutas cambuk panjang menyapu datang, Hong-lay-mo-li lempar panji besar itu ketengah udara, berbareng iapun melompat keatas, cambuk panjang menyamber lewat dibawah kakinya, cepat sekali ia sudah berada disamping perwira ini, jengeknya: "Kiranya kau!"

Perwira inilah yang tadi membanting mati Cin Hou, kini diapun sudah mengenali Hong-lay-mo-li, keruan kagetnya bukan kepalang, namun meski tahu diri bukan tandingan, betapapun ia harus berusaha mencari jalan hidup, dalam waktu dekat cambuknya tak mungkin digulung balik, sebat sekali ia gunakan To-sing-thi-to, kedua kakinya menendang bergantian, sementara tapak tangan kiri menabas tegak laksana golok dengan jurus Hian-niau-hoat-sa, serangan serempak dari kedua tendangan dan tapak tangan ini, sekaligus memperlihatkan betapa tinggi Lwekang dan kepandaiannya.

Betapapun tinggi kepandaiannya, kebentur ditangan Hong- lay-mo-li yang jauh lebih unggul kepandaiannya, cukup ia berkelit dan berkelebat, kedua tendangan kaki mengenai tempat kosong, "Mau lari kemana?" sekali cengkram entah bagaimana tahu2 pergelangan tangan kiri sudah tercengkram oleh Hong-lay-mo-li, jadi jurus Hian-niau-hoat-sanya ini baru dilancarkan setengah jalan.

Tepat pada saat itu, golok cepat Thio Ting-kok kebetulan membacok datang, sungguh tak nyana hanya dalam segebrakan saja perwira andalannya ini sudah jatuh tertawan oleh Hong-lay-mo-li, bacokkan-nya ini amat berat dan kencang, untuk ditarik balik tidak mungkin lagi, jelas goloknya bakal memenggal badan kawan sendiri

Dengan susah payah Hong-lay-mo-li baru berhasil membekuk seorang tawanan hidup2, sudah tentu ia tidak membiarkan si perwira ini terbacok mampus, di-saat2 yang genting itulah, mendadak ia sendal siperwira, berbareng kebutannya terkembang, "Tang" golok panjang Thio Ting-kok tergulung lepas dari cekalannya, cepat sekali ia putar kebutannya, dengan gagang kebutannya sekaligus ia tutuk Hiat-to pelemas dibadan Thio Ting-kok.

Beberapa jurus ini berlangsung teramat cepat begitu berhasil meringkus Thio Ting-kok, belum lagi badan si perwira itu melayang turun, lekas Hong-lay-mo-li melangkah maju dua langkah, kebetulan meraih badan si perwira yang melayang jatuh, puluhan Busu anak buah Thio Tiang-kok sama ketakutan dan tak berani berbuat apa2.

Barisan pemanah sudah siap pula membidikan anak panahnya, lekas Hong-lay-mo-ling jinjing tinggi badan Thio Ting-kok serta menggertak: "Suruhlah mereka membidikan panahnya kemari!" Keruan kejut dan takut Thio Ting-kok se-akan2 arwahnya copot, lekas ia berteriak: "Lekas turunkan busur, mundur sepuluh langkah!"

Satu tangan mencengkram satu orang, lekas Hong-lay-mo- li tutulkan ujung kakinya diatas batu runcing yang menonjol keluar terus melambung tinggi keatas sebuah batu panggung setinggi tiga tombak, berat si perwira dengan Thio Ting-kok paling ringan ada dua ratusan kati, namun dengan menjinjing kedua orang ini, Hong-lay-mo-li masih kuasa kembangkan Ginkang-nya yang hebat luar biasa, sudah tentu pertunjukan Teng-hun-jong ini mempesonakan seluruh anak buah Thio Ting-kok.

Terlebih dulu Hong-lay-mo-li turunkan Thio Ting-kok, lekas ia berteriak: "LiuLihiap, aku ada omongan."

Hong-lay-mo-li tertawa dingin, jengeknya: "Nanti sebentar tentu akan kusuruh kau bicara, sekarang belum tiba giliranmu." Thio Ting-kok rebah terlentang diatas panggung, kaki kanan Hong-lay-mo-li menindih diatas dadanya, sehingga orang tidak bisa berkutik, Dengan tangan kanan Hong-lay-mo- li lantas geledah saku si perwira dan mengeluarkan sebentuk medali kuning yang berkilauan, keduanya ia angkat tinggi serta berseru lantang: "Kalian lihat biar tegas, apakah ini, inilah medali emas tanda pengenal yang tertinggi dari negeri Kim, yang membekal medali emas ini orang boleh keluar masuk dengan bebas diistana kerajaan Kim! siapakah dia?

Dialah pengawal pribadi raja negeri Kim yang bernama Pakkong Ou!"

Lwekangnya kuat, suaranya kumandang keseluruh permukaan pe gunungan, seluruh tentara yang hadir di kedua puncak pegunungan dapat mendengar dengan jelas.

Reaksi dari para tentara itu sungguh luar biasa, se-akan2 mereka ber-golak dengan dahsyat, ada yang mengumpat caci, ada yang berdebat, ada pula yang masih terkejut dan ragu2. Tapi sebagian besar perwira2 tinggi, semua tahu bahwa setiap anggota pasukan bayangkari negeri Kim semua memiliki medali emas seperti itu, palagi Pakkiong Ou ini adalah salah satu dari Su-pak-thian yang amat terkenal itu, walaupun sebelum ini mereka belum pernah menyaksikan namanya sih sudah lama mereka dengar.

Karena Pakkiong Ou terangkat tinggi, maka seluruh tentara bisa melihat dengan jelas, maka berseru Hong-lay-mo-li dengan lantang: "Siapa diantara kalian yang sebelum ini sudah mengenalnya? Apakah dia ini pimpinan kalian?"

Memang semua tentara itu tiada yang kenal Pakkiong Ou, keruan mereka menduga2 dan sama curiga bahwa dia orang memang mata2 musuh yang menyelundup kedalam pasukan besar mereka, mau tidak mau mereka mulai goyah dan sedikit percaya.

Hong-lay-mo-li bebaskan Hiat-to Pakkiong Ou lalu gusur orang kedepan panggung, tangan mencengkram punggungnya, bentaknya: "Pakkiong Ou, apa maksud kedatanganmu kemari? Lekas katakan!"

Sebagai salah satu Su-pak-thian, Pakkiong Ou ingat jiwa sendiri takkan bisa selamat, maka ia tidak sudi bikin malu dan merendahkan derajat, maka dengan mendongakkan kepala, ia pura2 jadi orang gagah.

Serunya dengan angkuh: "Aku terjatuh ketangan kau iblis ini, memangnya sudah bertekad gugur disini, mau bunuh mau sembelih, silakan saja meski badan terbacok tiga kali berlobang enam tempat, aku takkan mengerut alis, seorang laki2 matipun tak sudi menyerah, jangan harap kau mengompes keteranganku!" habis berkata ia membusungkan dada dan berdiri dengan gagah se-olah2 menghadapi kematian seperti pulang ketempat asalnya. "Apa benar kau takkan mengerut alis? Baik, ingin aku mencoba apa benar kau ini laki2 keras kepala?" dengan ringan kelima jarinya terkembang, mengebas kepunggung Pakkiong Ou, inilah kepandaian Lo-khi-cit-hiat Hong-lay-mo-li yang amat lihay, seketika Pakkiong Ou rasakan sekujur badannya seperti digigit oleh ribuan ular2 kecil, seluruh Hiat-to dalam tubuh seperti ditusuk jarum, sakitnya luar biasa, kaki tangan dan tulang belulang pun seperti retak dan lepas sendi2nya. Betapa sakit dan tersiksanya sungguh susah dilukiskan.

Betapapun keras tekad dan hati Pakkiong Ou, akhirnya tak kuasa menahan derita yang luar biasa ini, ahkirnya mulut berkaok2 seperti babi disembelih, teriaknya mencaci: "Sungguh kejam kau, kau menyiksaku dengan cara seperti ini? Lekas, lekas kau bacok aku mampus saja!" saking kesakitan kata2nya yang terakhir sudah membuat napasnya ngos2an.

"Mau mengaku tidak," ancam Hong-lay-mo-li ter-tawa, "kalau tidak mau bicara, aku masih punya cara siksaan lain yang lebih kejam, biar satu persatu kau rasakan!"

Pakkiong Ou berkukuh mengeraskan kepala, akhirnya dia berkeluh kesah: "Liu Lihiap, sukalah kau berbelas hati, baiklah, kukatakan, akan kukatakan!"

Lekas Hong-lay-mo-li menepuk dipunggungnya pula, namun hanya sedikit mengurangi deritanya saja, katanya: "Katakan! Kalau ada sepatah katamu yang bohong, akan kubuat kau tidak bisa mati tak bisa hidup !"

Keringat membanjir keseluruh badan Pakkiong Ou, katanya menyengir kecut: "Liu Lihiap, dihadapanmu masakah aku berani berbohong?" segera ia menghadap kearah pasukan besar dan berseru lantang: "Bicara terus terang, aku diutus kemari untuk menjadi penasehat militer."

"Diutus oleh siapa?" desak Hong-lay-mo-li, "Diutus oleh maharaja negeri Kim Wanyen Liang!" "Cara bagaimana Thio Ting-kok bersekongkol dengan kalian? siapa yang menjadi kurir? Tugas apa saja yang harus kau lakukan sebagai penasehat militer disini? Bicaralah terus terang sedetailnya!"

"Siapa yang jadi kurir aku tidak tahu, Aku hanya ditugaskan mengawasi gerak gerik Thio Ting-kok, supaya dia tunduk akan perintah Wanyen Liang dan melaksanakan rencananya."

"Rencana apa?"

"Supaya Thio Ting-kok membunuh Khing King dan setelah itu, dia tetap diperbolehkan pengerek panji perlawanan terhadap negeri Kim kita, menyerukan kepada semua kaum brandal atau golongan orang2 gagah persilatan yang menentang penjajahan negeri Kim, supaya datang membantu gerakan besarnya, setelah itu pimpin mereka kesuatu tempat dimana sebelumnya pasukan negeri Kim sudah terpendam untuk menjebak mereka dan menumpas seluruhnya, yang suka menyerah boleh diterima sebagai kaki tangan, yang tidak mau tunduk dibunuh habis perkara. Bila dia berhasil menunaikan tugas dengan baik, raja negeri Kim berjanji hendak mengangkat Thio Ting-kok sebagai raja kecil di Soatang.!"

Mendengar pengakuan yang gamblang ini, seketika para tentara yang berdarah panas mengumpat caci, "Thio Ting-kok yang dipelihara ibu anjing, sedemikian kejam dan demikian tega hendak membabat seluruh teman seperjuangan dan menjual nusa dan bangsa." - "Bangsat anjing itu bukan manusia, gorok saja lehernya!"

"Pertahankan dulu jiwa anjingnya, setelah kita mengebumikan Gwanswe baru kita penggal kepalanya untuk menuntut balas bagi kematian Gwanswe!" seru Hong-lay-mo-li sambil menurunkan Pakkiong Ou, bentaknya: "Thio Ting-kok, apa pula yang hendak kau katakan ?" Thio Ting-kok tertawa sedih, serunya keras: "Se-orang laki2 sejati tak bisa meninggalkan nama harum didalam lembaran sejarah, biarlah nama busuk berbau laksaan tahun, Aku sudah bertekad kalau sukses jadi raja bila gagal jadi brandal, kini terjatuh ketangan kalian, apa pula yang bisa kukatakan!" tiba2 terdengar "Cret" seketika darah segar merembes dari sela2 bibirnya, ternyata ia gigit lidah sendiri sampai putus.

Sudah tentu Hong-lay-mo-li amat gusar, lekas ia remas dagu orang sehingga mulut Thio Ting-kok ter-buka, kutungan lidahnya segera mencotot keluar, mu-lutpun tak bisa bungkam pula.

Kata Hong-lay-mo-li tertawa dingin: "Jangan harap kau terhindar dari hukuman setimpal! Sin-ciang-kun, silakan kau kemari!"

Sambil mengiakan lekas Sin Gi-cik keprak kudanya memburu naik kepuncak gunung tanpa membawa pengawalnya, setiba diatas ia berseru lantang kearah pasukan pemberontak: "Kini duduk perkaranya sudah dibikin terang, pengkhianat inipun sudah teringkus, dosa besar ini hanya Thio Ting-kok seorang yang harus memikulnya. Kalian yang tidak mau ikut berjuang bersama aku boleh bubar dan pulang."

Pasukan pemberontak itu sama menyesal dan bertobat bahwa mereka kena dikelabui, banyak yang berseru beramai2: "Kami suka hati menjunjung Sin-ciang-kun, harap Sin-ciang- kun suka menerima kita, menebus dosa dengan pahala." diluar dugaan suatu tragedi yang tak diinginkan dengan mudah dapat dibereskan tanpa menimbulkan banyak pertumpahan darah.

Hong-lay-mo-li lemparkan badan Thio Ting-kok kebawah panggung seraya berseru: "Sin ciangkun, pengkhianat ini kuserahkan kepadamu untuk membereskannya."

Banyak anak buah Thio Ting kok yang merasa tertipu sama merubung maju main gigit kepada Thio Ting-kok, lekas Sin Gi- cik cegah perbuatan mereka, dengan susah payah baru dia berhasil kendalikan kemarahan mereka, namun badan Thio Ting-kok sudah penuh luka2 gigitan yang berdarah.

Sin Gi-cik tertawa dingin: "Thio Tiang-kok, sekarang kau sudah tahu bukan, dipandangan orang banyak, kau tidak lebih hanya seekor anjing belaka, masakah setimpal nama busukmu berbau sampai laksana tahun!" segera ia suruh anak buahnya menggusur Thio Ting-kok kebawah dengan sebuah kereta kurungan.

Sementara itu, kedua pasukan besar yang terpisah pada dua gugusan gunung sudah bergabung, Khing Ciau, San San dan Cin Long-giokpun sudah datang kemari, begitu melihat Pakkiong Ouw, Cin Long-giok jadi girang, katanya: "Hari itu setelah aku meninggalkan Thian-ling-si, ditengah jalan perwira yang kutemui adalah dia ini."

"Memangnya kutahan dia untuk kau kompes keterangannya." ujar Hong-lay-mo-li, bersama Khing Ciau berempat merekapun gusur Pakkiong Ou naik sebuah kereta yang lain, sementara itu Sin Gi-cik sudah pimpin pasukan besar itu kembali ke kota.

Tanpa membuang waktu diatas kereta ditengah jalan itu pula Hong-lay-mo-li lantas bertanya kepada Pakkiong Ou: "Siapakah sebenarnya Lian Ceng-poh? Lekas katakan!"

Blji mata Pakkiong Ou terbalik seperti biji mata ikan yang sudah mati, sikapnya hambar dan tdk tenang, sesaat baru menyahut: "Siapa itu Lian Ceng-poh, aku tidak tahu siapa orang itu."

"Kau masih pura2 pikun?" damrat Khing Ciau gusar, "Hari itu kau bikin aku terluka parah di Sam-kui-kip, disaat kau hendak meringkus aku, bukankah kedatangan seorang perempuan yang menggebahmu lari, memangnya kau sudah lama kejadian itu?" Dapatkah Hong-lay-mo-li membongkar rahasia Lian Ceng- poh yang sebenarnya? Apa pula latar belakang dari semua perbuatannya itu?

Ada intrik apa pula antara Lian Ceng-poh dengan Kongsun Ki Suheng Hong-Iay-mo-Ii? Kenapa Kongsun Ki hendak meracun istri sendiri?

(Bersambung ke bagian 3)
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 02"

Post a Comment

close