Pendekar Aneh dari Kang Lam Jilid 07

Mode Malam
Jilid 7

DISEBUAH lorong kecil yang terletak di tengah-tengah perkampungan chiang-wie, tampak berjalan seorang lelaki berusia tiga puluh tahun lebih, berpakaian mewah dan bertubuh gemuk sekali, Dia melangkah satu-satu, seperti juga langkah kakinya itu berat.

Dibelakang orang itu mengikuti dua orang lelaki yang memiliki wajah agak seram dengan jenggot dan berewok yang Iebat, memakai pakaian singsat seperti seorang busu, mereka juga memiliki tubuh yang tegap. Sikap mereka garang sekali, dia berjalan dengan sikap angkuh dibelakang lelaki berpakaian mewah itu. Waktu tiba dimuka sebuah rumah yang buruk dan tidak terawat dengan baik, lelaki gemuk tersebut telah berhenti sejenak. Dia melirik kepada kedua lelaki berpakaian busu itu, yang merupakan dua orang kaki tangannya.

Kedua orang tukang pukul dari lelaki gemuk tersebut nyengir, mereka menggumam dengan suara tidak jelas, tetapi salah seorang diantara mereka telah berkata : "Kita telah sampai... sekarang tentu sinona manis itu harus menuruti keinginan Toaya (Tuan besar) "

Lelaki gemuk itu telah tertawa menyeringai "Jika dia masih bertingkah, biar kita mengambil jalan kekerasan, Kita paksa saja.." katanya dengan suara yang serak.

Kemudian dengan tangan kanannya dia telah memberikan isyarat kepada salah seorang lelaki berpakaian busu itu, agar mengetuk pintu.

Tidak lama kemudian, pintu rumah dibuka, dari dalam keluar per-lahan2 dan ketakutan seorang wanita tua berusia empat puluh tahun, Tubuhnya kurus seperti kurang makan, lemah dan wajahnya pucat.

"ohhh... Sie Loya... silahkan masuk silahkan masuk. "

katanya gugup dan ketakutan waktu melihat lelaki gemuk berpakaian mewah itu.

Tetapi lelaki gemuk mewah itu telah menggelengkan kepalanya, dia berkata: "Biarlah aku disini saja... aku hanya ingin menanyakan keputusanmu mengenai tawaranku.."

"Tetapi Loya..." wanita tua itu tampak menjadi gugup dan ketakutan sekali, malah tiba-tiba dia telah menangis, dan tidak bisa meneruskan perkataaanya.

Lelaki gemuk itu mengerutkan alisnya, dia berkata dengan suara yang tidak sedap: "Engkau cepat katakan, menerima tawaranku atau tidak ?" "Kami... kami orang susah, Loya... Tetapi kami akan berusaha melunasi uang sewa rumah ini kepada Loya... tetapi untuk sementara waktu ini, berikanlah kesempatan kepada kami untuk mengumpulkan uang, karena bukankah baru tiga bulan suamiku meninggal dunia. Kasihanilah kami, Loya... kami ini manusia yang tidak berdaya, jika memang Loya meluluskan permintaan kami, tentu kami tidak akan melupakan budi Loya "

Tetapi muka lelaki gemuk itu telah berobah menjadi tidak senang, dia berkata dengan suara yang tawar: "Bukankah aku telah mengatakan beberapa hari yang lalu, bahwa kalian tidak perlu memikirkan soal uang sewa rumah, bahkan rumah itu akan kuberikan kepadamu, asal engkau setuju dengan usulku, yaitu putrimu, ciu Ling diserahkan kepadaku, untuk menjadi gundikku yang kesembilan belas..."

Muka wanita tua itu jadi pucat pias, dia ketakutan dan kebingungan. sedangkan dari sebelah dalam rumah terdengar suara seorang wanita yang bertanya: "Ada siapa, mama ?"

Dan disusul dengan keluarnya seorang gadis, yang berpakaian sangat sederhana sekali, Tetapi wajahnya yang cantik tidak pudar oleh kesederhanaan pakaiannya itu yang terlihat bertambalan dibeberapa bagian. Dia juga tampaknya terkejut sekali waktu melihat lelaki gemuk itu, sampai dia mengeluarkan suara seruan tertahan yang perlahan.

Mata lelaki gemuk itu, Sie Loya, telah bersinar terang, wajahnya yang tadi bengis telah berobah menjadi manis.

"ciu Ling... engkau ada dirumah...? Bagaimana ciu Ling, engkau tentu senang menerima tawaranku, bukan? Apakah aku kurang Cukup baik hati ingin menghadiahkan rumah itu kepada ibumu? Akupun akan memberikan hadiah lima ratus tail emas kepada ibumu, sehingga untuk selanjutnya kalian tidak sulit lagi... engkau sendiri, jika bersedia menjadi gundikku, tentu akan digelimangi harta kekayaan..." Muka gadis itu jadi berobah pucat, dia gugup dan ketakutan, sampai tubuhnya gemetaran-

"Sie Loya... maafkan kami... maafkaniah kami tidak bisa menerima tawaran Loya." kata gadis itu kemudian dengan suara terbata-bata.

"Apa..?" tiba2 wajah Sie Loya berobah jadi bengis lagi. "Engkau benar2 gadis yang tidak tahu diri, tidak kasihankah engkau melihat orang tuamu yaag hidup dalam kemelaratan seperti itu ? Bukankah jika engkau bersedia menjadi gundikku, maka kesulitan keluargamu, terutama ibumu yang sudah tua itu akan berakhir...?" Tetapi gadis itu telah menggelengkan kepalanya sambil menangis.

"Namun Sie Loya... aku... aku tidak bisa menerima tawaran Sie Loya...terima kasih atas kebaikan hati Sie Loya...terima kasih..."

"Gadis tidak tahu diri..." bentak lelaki gemuk itu, "Baiklah, jika kalian ibu dan anak menolak kebaikan hatiku, sekarang juga kalian harus membayar sewa rumah yang telah empat bulan ditunggak oleh kalian-.. cepat kalian bayar."

Muka gadis itu jadi tambah pucat, tangisnya juga semakin keras, dia tidak bisa mengatakan apa- apa.

Sang ibu yang melihat ini, sambil menangis juga dan berlutut, telah berkata: "Sie Loya, kasihanilah kami, berilah kami waktu dan kesempatan seminggu lagi, diwaktu itu tentu kami bisa melunasi hutang kami atas tunggakan sewa rumah ini "

Tetapi lelaki gemuk yang dipanggil dengan sebutan Sie Loya (Tuan besar Sie), telah mengeluarkan suara tertawa menghina, diapun telah berkata: "Aku telah bosan dengan janji2 yang kalian berikan. Telah beberapa kali kalian meleset menepati janji kalian sekarang sudah habis sabarku, kalian boleh pilih, membayar sewa rumah itu atau juga kalian akan kuusir " "Sie Loya,..." suara perempuan tua itu serak diantara isak tangisnya.

"Tidak perlu kalian mengemis-ngemis rasa kasihan dariku, karena aku tidak akan mengasihani manusia2 seperti kalian cepat kalian bayar tunggakan uang sewa rumah. atau

memang perlu aku perintahkan orang-orangku itu untuk melemparkan kalian?"

Sedangkan kedua tukang pukulnya Sie Loya itu telah menghentakkan kaki mereka ketanah, membawa sikap yang sangat menghina, mereka menyeringai seperti juga bersiap- siap akan melaksanakan perintah majikannya.

"Lebih baik kalian menerima kebaikan hati Sie Toaya kami, bukankah jika gadismu itu menjadi gundik Sie Toaya, kalian ibu dan anak dapat hidup dengan nyaman, dan memperoleh uang yang cukup?" kata salah seorang diantara mereka mencoba membujuk.

ibu dan anak itu menjadi bingung, tetapi justru sigadis telah menggelengkan kepalanya.

"Maafkanlah Sie Loya. . walaupun bagai mana, tidak bisa aku menerima kebaikan Sie Loya yang satu itu. . . " katanya dengan terisak-isak diantara tangisnya. Mata Sie Loya itu jadi mendelik lebar2, tampaknya dia jadi marah bukan main-

Namun belum lagi Sie Loya tersebut membuka suara, salah seorang busu dari kedua pengawalnya itu berkata dengan suara yang bengis mengandung kemarahan- "Kalian ibu dan anak telah menimbulkan banyak kesulitan buat Sie  Loya  kami. kalau memang kalian terlalu berbelit-belit, biarlah kami

yang akan bertindak karena Sie Loya  kami  telah  habis  sabar. "

Sambil berkata begitu, busu tersebut memperlihatkan sikap garang mengandung ancaman. ciu Ling dan ibunya jadi ketakutan, mereka ibu dan anak saling bertangisan tanpa mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Busu tersebut terus melangkah menghampiri  mereka, tetapi Sie Loya telah menahannya sambil katanya: Jangan, biarkan mereka mengambil keputusan dulu " Kemudian Sie Loya mengawasi ciu Ling dengan sorot mata yang tajam.

"Apakah engkau tidak bersedia menolong ibumu dari kesulitan ? Bukankah dengan menjadi gundikku, kalian ibu dan anak akan dapat hidup bahagia dan memiliki harta yang banyak ? Mengapa engkau tampaknya begitu kejam tidak bersedia menolong ibumu yang dalam kesulitan?"

Mendengar perkataan Sie Loya, ciu Ling menghela napas panjang, katanya kemudian diantara isak tangisnya : "Sie Loya, kami orang susah, kami miskin dan melarat, janganlah Sie Loya terlalu memaksa kami. Soal uang tunggakan sewa rumah tentu akan kami selesaikan dan lunaskan, jika kami telah memiliki uang.

Kalau memang sekarang kami diusir dan kami tidak memiliki tempat bernaung lagi, dimana kami harus tinggal ? Apakah Sie Loya tidak merasa kasihan kepada kami ibu dan anak. yang sudah tidak memiliki suami atau ayah lagi ?"

Sie Loya tertawa, ia membawa sikap yang agak manis. tidak bengis seperti tadi, katanya: "Jika memang kalian menyadari tempat ini kalian tidak akan memiliki tempat bernaung, lebih baik kalian menuruti saja keinginanku .. . bukankah engkau bersama ibumu tidak akan sulit, dan kalian bahkan akan hidup senang? Akupun tidak terlalu buruk, bukan? Dan juga telah belasan wanita ternyata sudi menjadi gundikku, mengapa justru engkau menolaknya ciu Ling yang manis?"

Bulu tengkuk ciu Ling jadi berdiri mendengar bujuk rayu Sie Loya, Sebagai seorang gadis yang murni dan tidak pernah menghadapi percobaan sedemikian, ia jadi tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya, Sebagai seorang gadis yang melihat ibunya diancam begitu oleh Sie Loya, ia sesungguhnya bermaksud untuk menolonginya, namun ia tidak memiliki kekuatan untuk menolonginya.

Sebagai seorang wanita, ciu Ling tidak memiliki daya. Tetapi untuk menjadi gundik Sie Loya iapun tidak sudi, karena ia tidak mau dipsrsunting oleh seorang lelaki seperti Sie Loya yang mata keranjang.

Waktu itu ibu ciu Ling berkata dengan suara yang disertai isak tangis: "sie Loya, kalau memang Sle Loya menaruh rasa kasihan kepada kami, berilah kami kesempatan beberapa hari lagi, nanti kami akan pergi meminjam kepada tetangga- tetangga, mungkin mereka bersedia meminjami kami uang, untuk membayar sewa rumah yang telah kami tunggak itu..."

Mendengar perkataan ibu ciu Ling, Sle Loya tertawa tawar. "Tetangga kalian juga merupakan penduduk yang miskin

dan   melarat,   bagaimana   mereka   bisa   membantu  kalian

dengan meminjami uang mereka ?" katanya.

ibu ciu Ling menoleh kepada putrinya, ia seperti kebingungan dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya dan seperti juga meminta pendapat puterinya itu.

ciu Ling telah memutar otak mencari jalan guna dapat memecahkan persoalan mereka. Namun sejauh itu, ia tetap tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya selain menangis.

Sie Loya rupanya habis sabar, ia berkata dengan suara yang dingin : "Apakah kalian tetap dengan pendirian kalian yang ingin hidup melarat dan sengsara ?" ibu ciu Ling menggelengkan kepalanya beberapa kali, katanya : "Bukan begitu maksud kami, bukan begitu maksud kami..."

"Lalu mengapa kalian menolak tawaranku?" tanya Sie Loya, "Justru putriku ini keberatan untuk menjadi gundik Sie

Loya" menyahuti ibu ciu Ling.

"Apakah kalian menganggap menjadi gundikku itu merupakan kedudukan rendah?" tanya Sie Loya mulai marah.

"Sama sekali tidak.... kami mana berani memiliki pikiran seperti itu?" kata ibu ciu Ling yang menangis terisak lagi.

Benar2 Sie Loya habis sabar, ia memberikan isyarat kepada kedua busu yang menjadi pengawalnya.

Kedua busu itu maju mendekati ibu ciu Ling dan si gadis dengan sikap mengancam, ibu dan anak itu jadi ketakutan-

"Kalian detik ini juga harus meninggalkan rumah ini, sie Loya mengusir kalian dan tidak menghendaki rumahnya ditinggali oleh kalian..."

Muka ibu ciu Ling dan gadisnya jadi berobah pucat, mereka memandang dengan hati melas meminta kasih an kepada Sie Loya.

Namun orang kaya tersebut telah membuang pandangannya kearah lain-

Samira, salah seorang busu telah berkata lagi: "Jika memang kalian tidak mau angkat kaki sendiri, biarlah kami yang akan melemparkan kalian-"

ibu ciu Ling cepat-cepat menekuk lututnya dihadapan Sle Loya, katanya: "Kasihanilah kami... janganlah kami diusir..."

Sie Loya tersenyum. "Hemm, kalian yang mencari susah sendiri. " katanya. "Mengapa Sie Loya begitu tega untuk mengusir kami, bukankah kami berjanji dalam waktu yang dekat akan melunasi tunggakan kami"

"Aku sudah tidak mau melihat kalian, rumah ini akan kujual, ayo angkat kaki. "

"Lalu dimana kami akan tinggal ?" tanya ibu ciu Ling sambil menangis.

"Itu urusan kalian, aku tidak mau tahu." seru Sie Loya. "Loya. "

Tetapi belum lagi ibu ciu Ling selesai berkata, tampak Sie Loya menggerakkan tangan kanannya, memerintahkan kedua busunya untuk menyeret ibu dan anak itu.

Dengan kasar kedua busu tersebut melakukan perintah yang diberikan majlkan mereka. Keduanya dengan sikap yang keras dan bengis menyeret ibu dan anak tersebut keluar dari pekarangan rumah.

"Sie Loya.... walaupun kami diusir, tetapi kami perlu membereskan dulu barang2 kami " sesambatan ibu ciu Ling.

"Barang2 kalian yang tidak ada harganya itu kusita sebagai ganti pembayaran tunggakan selama empat bulan kalian tidak membayar sewa rumah ini.."

HATI ibu dan anak itu jadi mencelos kaget, mereka juga bersedih bukan main, Disamping itu ibu ciu Ling hampir jatuh pingsan, karena ia berduka sekali.

ciu Ling yang melihat ibunya ter-huyung2 seperti itu, jadi menubruk dan memeluknya. Tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa2 selain menangis.

Sie Loya tidak mau memandang kearah mereka dan perintahkan kedua busu untuk pergi kedalam rumah, guna membersihkan rumah tersebut. "ciu Ling, mulai detik ini kita sudah tidak memiliki rumah dan tidak mempunyai tempat bernaung lagi... kasihan engkau nak, engkau masih demikian muda, tetapi engkau harus mengalami derita hidup yang demikian berat. Kalau saja ayahmu masih hidup, tentu kita tidak akan diperhina demikian rupa..."

Ciu Ling mengangguk mengiyakan saja dalam tangisnya, Mereka ibu dan anak memang tidak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan,

Tetapi waktu itu, didekat rumah tersebut berlalu seorang pemuda, Pemuda ini berusia belum dua puluh tahun, memiliki potongan tubuh yang baik dan tegap. disamping wajahnya juga yang tampan, dengan pakaiannya yang terbuat dari bahan yang kasar, namun tidak mengurangi kegagahannya. Dipunggungnya tampak tergemblok sebatang pedang panjang.

Waktu pemuda itu melihat ibu dan anak gadis yang tengah ber-tangis2an seperti itu, ia merandek berhenti melangkah.

Setelah mengawasi ibu dan anak. kemudian menoleh kepada Sie Loya dan kedua busu itu, pemuda ini menghampiri ibu ciu Ling, tanyanya dengan suara yang sabar: "Pohpoh (nenek), aku heran melihat kalian bertangis-tangisan seperti itu... apakah pohpoh menghadapi kesulitan yang sukar dipecahkan? Atau bolehkah aku mengetahui kesulitan kalian, kalau-2 aku bisa membantu..."

Ibu ciu Ling yang sedang berada dalam keadaan putus asa, waktu melihat pemuda ini, timbul sinar terang pada wajahnya, dengan air mata yang tetap meleleh, ia berkata: "Kami merupakan ibu dan anak yang memiliki keberuntungan buruk sekali... kami tidak memiliki uang untuk membayar sewa rumah, sehingga selama empat bulan lamanya kami menunggak, Tetapi kami bersedia untuk membayarnya begitu kami memiliki uang, karena kami baru saja kematian ayah dari anakku ini... tetapi Sie Loya, pemilik rumah ini sama sekali tidak mau bersabar, ia mengusir kami... karena kami tidak memenuhi permintaannya, untuk mengambil ciu Ling, putriku ini, guna dijadikan gundiknya..." Mata pemuda itu berkilat.

"ohh, orang kaya yang jahat.. . " kata pemuda tersebut "Jika ia mengusir kalian tanpa memiliki maksud tertentu, ia memang masih pantas melakukannya, dengan alasan kalian tidak membayar sewa rumah. Tetapi mengusir dengan mengandung maksud yang tidak terCapai, lalu mengambil tindakan kekerasan seperti ini, ia merupakan seorang hartawan yang jahat sekali"

Setelah berkata begitu, pemuda tersebut memutar tubuhnya, ia menatap kepada Sie Loya dengan sinar mata yang tajam: "Apakah engkau yang telah mengusir nyonya dan anaknya itu ?"

Sie Loya balas menatap kepada pemuda itu dengan sikap yang berang, ia berkata dengan suara yang tawar. "Tidak perlu engkau mencampuri urusan kami..."

"Hmmm, walaupun bagaimana urusan yang tidak adil harus dicampuri olehku..." kata pemuda tersebut.

Mata Sie Loya jadi berkilat, lalu katanya dengan suara yang dingin: "Apakah engkau tahu tengah berhadapan dengan siapa?"

"Aku tidak mau tahu tengah berhadapan dengan siapa, tetapi yang pasti aku tidak senang melihat seorang yang lemah seperti nyonya itu bersama putrinya, diusir dengan Cara tanpa perikemanusiaan "

"Lalu apa yang kau hendaki?" tanya Sie Loya sambil mengawasi tajam.

"Aku hanya ingin meminta agar kau merobah keputusanmu dan memberikan kesempatan pada mereka guna melunasi tunggakan uang sewa rumah mereka..." Muka Sie Loya tidak enak dipandang, ia melirik kepada kedua busunya.

Sedangkan kedua busu yang bertubuh tinggi besar itu memang telah berdiri dengan sikap yang garang. Begitu melihat lirikan majikan mereka, keduanya segera mengetahui apa yang harus mereka lakukan.

Tanpa mengatakan suatu apapun juga , mereka berdua melangkah, mengulurkan tangan untuk mencekal lengan pemuda itu yang hendak dilemparkannya.

Tetapi pemuda itu tetap berdiri tenang ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun juga , Teta pi waktu tangan kedua busu itu hampir mengenai dirinya, ia membentak perlahan, dan kemudian menggerakkan kedua tangannya.

Gerakan yang dilakukannya cepat sekali, tahu2 ia telah mencekal tangan kedua busu tersebut, Sambil menghentak. kedua tubuh busu itu dilontarkan ketengah udara, ambruk ditanah dengan keras, dan mengeluarkan suara jerit kesakitan.

Sie Loya yang melihat hal ini memandangi dengan wajah yang pucat dan berkuatir sekali.

Kedua busu itu bangkit cepat sekali, sambil mencabut golok mereka masing2

"Anak muda tidak tahu diri, kau mencari mampus heh?" dan sambil membentak begitu, serentak golok mereka melayang membacok kepada pemuda tersebut,

Tetapi pemuda yang gagah itu rupanya tidak merasa jeri sedikitpun juga , ia hanya menggerakkan kedua tangannya, dengan mempergunakan jari tangannya ia menjepit golok dari kedua busu itu.

Dan ketika kedua busu itu mau menarik senjata mereka, mereka tidak bisa melakuannya karena golok itu seperti terjepit oleh jepit besi yang kuat keras, tidak bergeming sedikitpun juga .

"Kalian manusia2 jahat.." kata pemuda tersebut, Sedikit saja ia mengerahkan tenaga dalamnya, golok2 dari kedua busu itu terpatahkan. Bahkan tubuh kedua busu itu kembali terlontarkan keatas tinggi sekali, hampir tiga tombak, lalu terbanting diatas tanah keras sekali.

Disaat itu, Sie Loya berdiri tambah pucat, ia melihatnya bahwa pemuda tersebut memang bukan pemuda yang biasa, tampaknya ia memiliki kepandaian yang tinggi, Maka itu, mereka harus berlaku hati2 menghadapinya, terutama sekali kedua busu itu yang harus berusaha sekuat tenaga mereka guna menghadapi pemuda ini.

Jika kedua busu itu gagal menghadapi pemuda tersebut, tentu sie Loya akan menghadapi kesulitan yang tidak keciL

Kedua busu tersebut segera bangkit kembali, tetapi pada muka mereka telah dilumuri darah merah segar yang mengucur dari hidung, di mana waktu tubuh mereka terb anting, hidung mereka menghantam bumi dengan kuat.

Sie Loya memberikan semangat dengan berteriak: "Tangkap pemuda pengacau itu..."

Karena golok mereka telah patah, kedua busu tersebut membuang buntungan goIoknya, kemudian dengan mempergunakan kedua tangan kosong, mereka menerjang lagi.

Seperti tadi, begitu kedua busu tersebut menerjang maju, segera sipemuda menggerakkan tangannya, tubuh mereka kembali terbang keudara dan terbanting kuat sekali diatas tanah, sampai mereka mengeluarkan suara teriak kesakitan, kali ini mereka terbanting jauh lebih keras dibanding dengan tadi. Sie Loya jadi tambah ketakutan, ia berkata dengan suara keras: "Ayo... ayo kalian tangkap pemuda itu.."

Kedua busu tersebut bangkit lagi, tetapi mereka ragu2 karena mereka, telah menyaksikan betapa kepandaian pemuda ini memang tinggi sekali, karena itu mereka tidak berani menerjang sembarangan lagi.

Sebab dua orang busu yang bekerja pada Sie Loya, sesungguhnya mereka memiliki kepandaian silat, namun dihadapan pemuda ini, mereka seperti dua boneka yang tidak memiliki arti apa2, malah telah dibanting berulang kali tanpa  ia berdaya sama sekali.

Setelah mengawasi pemuda itu beberapa saat,salah seorang diantara kedua busu itu ternyata dengan suara yang geram: "siapakah kau, pemuda lancang yang ingin mencampuri urusan kami?"

"Aku she Bu dan bernama Bin An..." menyahuti pemuda tersebut "Aku minta agar kalian berlaku bijaksana dengan memberikan kelonggaran kepada nyonya itu, untuk dapat menyelesaikan tunggakannya dan tidak perlu diusir seperti itu. Tanpa memiliki tempat bernaung, bagaimana nyonya tersebut dapat mencari uang untuk membayar tunggakan itu...?"

"Kami sudah tidak mengharapkan pembayaran uang yang ditunggaknya, karena asal mereka ibu dan anak meninggalkan rumah ini, itu sudah lebih dari cukup,.. karena rumah ini akan dijual olehku.." Sie Loya yang sejak tadi berdiam diri telah menyahuti.

Bu Bin An tersenyum, katanya tawar: "Eng kau merupakan seorang hartawan yang memiliki pikiran cupat, Engkau memiliki harta yang cukup, apa artinya rumah buruk seperti ini

?"

"Tetapi mereka selalu mempermainkan diriku, dengan janji2 mereka akan melunasi hutangnya, tetapi setiap kali ditagih, selalu mereka mengulur2 waktu, Telah cukup lama kami memberikan kesempatan pada mereka untuk melunasi tunggakan uang sewa rumah ini, tetapi mereka selama ini tidak berhasil untuk memenuhi tanggung jawab mereka.."

"Kalau memang demikian, berapa besar uang tunggakan sewa rumah ini ?" tanya Bu Bin An kemudian.

"Tiga ratus tail.." menyahuti Sie Loya.

Muka ibu ciu Lingjadi berobah pucat, ia berkata: "Tidak... tidak setinggi itu..." katanya dengan suara tergetar.

Tetapi Bu Bin An tersenyum dengan sikap yang tetap tenang, katanya: "Jika memang engkau ingin menjual rumahmu yang kecil dan buruk ini, paling tidak hanya laku dua ratus tail lebih sedikit, Bagaimana mungkin uang sewa rumah yang hanya ditunggak beberapa bulan saja bisa bernilai begitu tinggi?"

Sie Loya memperdengarkan suara tertawa dingin, katanya tidak senang: "Semua itu berikut dari bunga uang tunggakan sewa rumah ini..... karena itu, uang tersebut jika kupergunakan untuk berdagang, tentu memperoleh hasil yang lebih besar lagi. "

Mendengar perkataan Sie Loya, muka Bu Bin An berobah tidak senang.

Dengan melihat Cara hartawan ini melakukan tindakan yang se-wenang2 seperti itu, ia jadi semakin tidak menyukai sie Loya ini.

"Jika dilihat dari tindakan yang dilakukan olehmu, engkau ternyata bukan seorang yang baik. Bahkan, engkau perlu dihajar. "

Sie Loya mendelikkan matanya.

"Engkau berani menganiaya diriku? Atau memang engkau sudah tidak takut pada hukuman Tiekwan ?" katanya sengit mengancam. "Hemmm, urusan Tiekwan urusan belakangan sekarang yang penting manusia seperti engkau harus dihajar dulu..."

Dan belum lagi kata2 Bu Bin An selesai diucapkan, tiba2 ia melompat dan mengulurkan tangannya, Sie Loya hanya melihat tubuh Bu Bin An yang berkelebat dan tahu2 ia merasa dadanya dicengkeram dan tubuhnya jadi ringan, melayang2 diudara

Sie Loya mengeluarkan suara jeritan kesakitan waktu tubuhnya yang gemuk besar itu terbanting diatas tanah, hampir saja ia jatuh pingsan-

Seperti seekor anjing yang dipotong, Sie Lo ya men-jerit2 mengeluarkan perintahnya kepada kedua busunya untuk menolonginya.

Kedua busu tersebut juga kaget waktu melihat tubuh majikan mereka yang gemuk besar dan berat itu melayang ditengah udara dan terbanting keras seperti itu. Mereka berdiri tertegun sejenak. Tetapi setelah saling pandang, dan mendengar suara teriakan2 Sie Loya, kedua busu tersebut melompat cepat sekali, gerakannya begitu gesit dan ringan sekali, kemudian ia mengeluarkan suara bentakan sambil menerjang maju.

Tetapi seperti tadi, mereka tidak berdaya menghadapi Bu Bin An, dengan mudah mereka dibanting berulang kali. Bahkan sekarang ini Bu Bin An berlaku lebih keras lagi, yaitu membanting dengan lebih kuat, Terakhir ia juga menotok jalan darah Mie TU Hiat ditubuh kedua busu itu, sehingga kedua busu tersebut seketika jadi seperti ditusuki oleh be- ribu2 mata pedang,

Seketika itu juga tubuh kedua busu tersebut meng- gelepar2 ditanah sambil mengeluarkan suara jeritan tidak hentinya. Sie Loya yang melihat keadaan yang dialami oleh kedua pengawalnya, jadi memandang dengan mata terpentang lebar2 memancarkan perasaan takut.

Bu Bin An melangkah mendekati Sie Loya katanya dengan suara mengancam: "Dan engkau manusia jahat juga perlu dihukum seperti kedua pengawalmu itu..."

Sie Loya tambah ketakutan, tadi ia telah membanting keras sekali dan telah merasa kesakitan yang bukan main- sekarang jika tubuhnya dibanting pula oleh Bu Bin An, bukankah ia akan menderita sakit lagi...?

Karena berpikir begitu dan juga ketakutan, Sie Loya akhirnya menekuk kedua lutut-nya, ia memberi hormat kepada Bu Bin An sambil katanya: "Jika memang siauwhiap... mau mengampuniku, rumah itu tidak jadi ku-jual dan akan kuserahkan kembali kepada nyonya itu..."

Tetapi Bu Bin An tertawa dengan suara yang tawar katanya dingin: "Jika memang engkau bukan seorang yang kejam, tentu aku mau mempercayai janjimu itu... tetapi sayangnya sebelumnya engkau telah memperlihatkan bahwa engkau bukanlah seorang yang baik, maka janjimu seperti itu tidak bisa kupercayai... lebih baik engkau kuberi tanda mata untuk kenang-kenangan.."

Mendengar perkataan Bu Bin An, Sie Loya menyadari apa maksud pemuda ini, ia gemetaran dan berkata dengan perasaan takut: "jangan Siauwhiap. ..ja. . .jangan engkau mempersakiti aku lagi... aku akan menepati janji untuk memberikan rumah itu kepada ibu dan anak itu dan tidak akan mengganggunya lagi... mereka juga tak perlu membayar sewa rumah pula, karena rumah itu akan kuberikan kepada mereka "

Mendengar janji Sie Loya, Bu Bin An tersenyum, sambil katanya: "Baiklah, jika memang demikian engkau harus membuat sepucuk surat yang menyatakan bahwa rumah ini lelah diberikan kepada nyonya itu...." dan setelah berkata begitu, Bu Bin An menoleh kepada nyonya tua tersebut, katanya, "Tolong ambilkan secarik kertas dan alat tulisnya..."

lbu ciu Ling cepat-cepat berlari kedalam, dan tidak lama kemudian kembali dengan perabotan alat tulis.

Dengan tangan gemetar Sie Loya menulis surat penyerahan rumah itu kepada ibu ciu Ling,

Selesai menulis, ia menyerahkan surat itu kepada nyonya tersebut.

"Ingat," kata Bu Bin An kemudian dengan sikap yang ber- sungguh2. "Jika kelak engkau memungkiri janjimu dan masih mengganggu ibu dan anak itu, juga dengan mempergunakan akal licik mencelakai atau menganiaya ibu dan anak itu, aku akan datang mencarimu... walaupun engkau memiliki kaki sepuluh atau juga lari ke ujung langit, aku akan mencarimu"

Sie Loya yang telah ketakutan segera mengiyakan berulang kali,sedangkan kedua busu yang menjadi pengawalnya, yang tadi telah dibanting jatuh oleh Bu Bin An berdiri mati kutu tidak berkutik.

Diwaktu itu Bu Bin An berkata kepada nyonya tua itu: "Pohpoh... kalian ibu dan anak sekarang telah memiliki rumah ini, maka kalian boleh tinggal terus disini dan tidak perlu membayar uang sewa lagi. . . . setengah tahun lagi aku akan datang berkunjung kemari, jika memang Sie Loya ini melakukan sedikit saja gangguan kepada kalian, hemmm, hemmm, dengan bermacam alasan apapun juga , aku akan menghukumnya tanpa mengenal kasihan lagi..."

Ibu ciu Ling dan puterinya segera menekuk lututnya, mereka berlutut memberi hormat kepada Bu Bin An sambil menyatakan terima kasih mereka yang telah ditolong oleh pemuda ini. Sedangkan Bin An cepat-cepat menyingkir ia tidak mau menerima hormat dari ibu dan anak itu.

Waktu itu Sie Loya telah cepat-cepat memutar tubuhnya untuk berlalu bersama kedua pengawalnya.

Bu Bin An mengawasi saja tanpa mencegahnya, Sama sekali ia tidak bermaksud untuk menahan hartawan kaya itu lagi.

Dalam keadaan demikian, tampaknya ibu dan anak itu jadi girang, mereka telah menyaksikan Sie Loya begitu ketakutan pada Bu Bin An, maka mereka yakin untuk selanjutnya tentu mereka tidak akan memperoleh kesulitan lagi dari Sie Loya.

Setelah bercakap-cakap sejenak dengan ibu ciu Ling dan sigadis, Bu Bin An pamitan meminta diri untuk meneruskan perjalanannya.

Selama dalam perjalanan Bu Bin An menggeleng kepala sambil tersenyum tidak hentinya teringat pengalamannya tadi, Memang menghadapi orang seperti Sie Loya tidak sulit, tetapi yang ia masih kuatirkan jika ia telah pergi Sie Loya melakukan tindakan kurang baik kepaCa ibu dan anak itu.

Tetapi ia percaya, Sie Loya tentu tidak berani melakukan sesuatu yang nekad, karena telah diancamnya bahwa dalam setengah tahun mendatang Bu Bin An akan mengunjungi nyonya itu lagi.

Setelah melakukan perjalanan hampir setengah hari lagi, Bin An tiba dika mpung Kui-cung.

Kampung ini cukup ramai dan padat penduduknya, didalam kampung ini juga terdapat cukup banyak kedai teh.

Bin An singgah disebuah kedai teh dan memesan minuman untuknya serta beberapa macam makanan kering, ia telah menangsel perut, dan lalu melanjutkan perjalanannya lagi. Waktu hari menjelang malam, Bin An tiba dikaki gunung ciu-san, sebuah gunung yang tidak begitu besar atau tinggi, namun keadaan di kaki gunung itu sangat sepi sekali, tidak terlihat orang yang berlalu lalang.

Disamping itu, kesunyian yang ada membuat Bin An malah senang sekali untuk menikmati keindahan gunung tersebut, walaupun gunung ciu-san merupakan gunung yang tidak begitu besar, namun memiliki pemandangan yang menarik.

Pohon-pohon tumbuh lebat dan beraneka ragam, ditumbuhi juga oleh pohon-pohon bunga yang indah permai sekali dengan warna-warninya.

Diwaktu itu,Bu Bin An yang menyaksikan keindahan pemandangan yang ada ditempat tersebut, jadi bernyanyi perlahan-lahan dengan hati yang lapang. Begitu tenang suasana disekitar tempat tersebut.

Tetapi waktu Bu Bin An bernyanyi perlahan sambil melangkah seenaknya, tiba2 matanya melihat sesuatu, ia jadi merandek dan berhenti melangkah, karena ada sesuatu yang menarik dibalik rumpun pohon bunga.

Segera Bu Bin An menghampiri, dilihatnya didekat rumpun bunga itu terdapat genangan darah yang telah membeku, dan tetesan darah yang menuju kedalam rumpun.

Alis Bu Bin An mengkerut, ia meduga-duga, apakah genangan darah ini adalah darah manusia atau binatang yang luka.

Segera Bu Bin An menyingkap pohon bunga itu, tetapi apa yang dilihatnya benar-benar mengejutkannya .

Waktu itu tampak didalam rumpun tersebut menggeletak dua sosok tubuh, seorang pria dan seorang wanita, yang berpakaian sudah koyak disana sini, karena justru tubuh mereka penuh oleh luka2 yang tidak kecil, bahkan pada dada mereka telah terobekkan oleh senjata tajam. Bu Bin An segera melihat bahwa yang pria tampaknya masih bernapas, sedangkan wanita telah diam kaku menjadi mayat.

Cepat-cepat Bu Bin An mendekati lelaki itu, ia berjongkok dan memeriksa keadaanya.

Lelaki itu dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri. tetapi Bin An cepat mengeluarkan kantong airnya, meminumkan air tersebut sedikit dimulut orang ini, kemudian membasahi mukanya, Dan Bin An bekerja terus mengurut lelaki ini sehingga tidak lama kemudian lelaki itu tersadar dari pingsannya.

Begitu ia tersadar, segera ia mengerang dengan suara mengandung kepedihan dan kesakitan suara rintihannya itu juga perlahan sekali.

Bin An segera bertanya dengan suara mengandung kasihan: "Siapa yang telah melukai kalian, lopeh?" tanyanya, ia bertanya begitu dan memanggil orang tersebut dengan sebutan lopeh, yaitu paman, karena usia orang ini telah lebih dari empat puluh tahun.

Lelaki tersebut yang terluka parah dan keadaannya sekarat, tampaknya berusaha menahan sakitpada tubuhnya, ia membuka pelupuk matanya memandang Bin An dengan sorot mata yang lemah tidak bersinar.

"Kami... dicelakai oleh lima orang... mereka dari pintu perguruan . . perguruan. . cia Tiong Pay..."

"Siapakah nama mereka...?" tanya Bin An lagi.

"Aku... aku hanya tahu mereka merupakan murid tingkat ke tujuh... dan mereka juga memiliki kepandaian yang tinggi... tetapi mereka jahat sekali, karena mereka mendesak kami sampai akhirnya kami tidak memiliki daya untuk memberikan perlawanan-.. mereka menghendaki barang kami... yaitu... yaitu golok pusaka kami.." suara lelaki itu semakin lama jadi semakin perlahan dan samar.

"Siapa kah nama lo-peh..?" tanya Bin An lagi sambil mengawasi dengan tajam.

"Aku... aku she Lok dan bernama.... bernama Kie Siong.." dan setelah berkata begitu, suara lelaki tersebut semakin perlahan akhirnya semakin samar dan lenyap. karena napasnya telah terhenti.

Bin An memegang tangan orang itu, memegang nadinya, tidak mengetuk lagi, Perfahan-lahan Bin An bangkit sambil menghela napas panjang.

"Kasihan orang ini... ia binasa denganpe nasaran rupanya... siapakah murid2 dari cie Tiong Pay itu ?" berpikir Bin An-

Setelah berdiri sejenak lamanya mengawasi kedua sosok tubuh yang terluka parah itu, Bin An kemudian mempergunakan pedangnya untuk menggali tanah. ia bekerja Cepat, sebab dengan mempergunakan sinkangnya ia bisa menggali lobang yang cukup besar dalam waktu yang tidak begitu lama. Dan ia telah mengangkat kedua sosok mayat itu yang dikuburnya menjadi satu.

Selesai mengubur kedua mayat tersebut, Bin An melanjutkan perjalanannya.

Hanya ia belum mengetahui pintu perguruan cie Tiong Pay itu merupakan pintu perguruan mana dan terletak dimana, dengan demikian Bin An jadi tidak sempat untuk menanyakannya .

Tetapi Bin An berjanji didalam hatinya, bahwa ia akan berusaha mencari pintu perguruan cie Tiong Pay tersebut, guna mengusut perkara ini.

Diwaktu itu, Bin An berkata didalam hatinya: "Lima orang cie Tiong Pay dari tingkat ketujuh... mereka tampaknya merupakan manusia-manusia kejam yang telah turun tangan tanpa kenal kasihan kepada kedua orang lawan mereka ini. "

Dan Bin An menghela napas lagi, ia yakin akan berhasil menyelidikinya dimana tempat berkumpulnya dari murid2 perguruan cie Tiong Pay, kalau perlu ia akan mendatangi pintu perguruan itu langsung dimarkasnya.

Setelah melakukan perjalanan lagi sekian lama, hari semakin gelap dan malam, Bin An beristirahat dan tidur disebuah Cabang pohon.

Keesokan paginya ketika terbangun dari tidurnya Bin An mencari sungai untuk mencuci muka.

Ia pun mengeluarkan makanan kering untuk menangsel perut. Baru kemudian melanjutkan perjaanannya.

Dalam keadaan demikian udara cukup dingin dan menyebabkan Bin An bertambah segar, apalagi melihat pemandangan disekiar gunung tersebut tampak pohon-pohon bunga yang tengah bermekaran beraneka ragam indah sekali.

Menjelang tengah hari, Bin An tiba dikaki gunung sebelah timur, dikaki gunung tersebut terdapat sebuah perkampungan yang tidak begitu besar

Bin An melihat dimuka sebuah rumah tampak duduk seorang lelaki tua yang tengah mengasah sebatang pisau. Segera dihampirinya. "Maap Lopeh, aku mengganggu," kata Bin An-

Lelaki tua tersebut mengangkat kepalanya mengawasi Bin An, kemudian katanya: "Kongcu dari mana dan apakah ada keperluan denganku siorang tua ?"

Bin An mengangguk sambil tersenyum manis.

"Benar Lopeh, aku hendak meminta sedikit air pelenyap dahaga, sudikah Lopeh membaginya?" tanya Bin An- Lelaki tua tersebut mengangguk. ia segera mengambil air minum kedalam rumahnya, waktu ia keluar, telah dibawanya sebuah kendi yang berukuran cukup besar.

Diberikannya sebuah cawan kepada Bin An yang kemudian telah meminumnya empat cawan ia kemudian menyatakan terima kasihnya.

Orang tua tersebut meletakkan kendi air tersebut disamping tempat duduknya, lalu tanyanya, "Kongcu hendak pergi kemana ?"

Bin An duduk didekat orang tua itu, kemudian menyahuti dengan sikap yang manis: "Sesungguhnya aku tengah mengembara dan belum memiliki tujuan yang tetap. boleh aku beristirahat disini Lopeh ?"

Orang tua itu mengangguk. "Silahkan," katanya.

Begitulah, Bin An bercakap cakap dengan orang tua tersebut ia pun telah menanyakan kepada orang tua itu, apakah ia pernah mendengar nama perguruan Cie Tiong Pay.

Orang tua itu berpikir sejenak. lalu katanya ragu2: "Aku siorang tua she Kang seperti pernah mendengar nama pintu perguruan tersebut... tetapi entah di mana.... aku lupa tidak mengingatnya..."

Bin An girang, ia bertanya dengan segera:

"Apakah pintu perguruan tersebut memiliki murid yang cukup banyak, Lopeh?"

"Setahuku memang cukup banyak murid cie Tiong Pay, justru aku siorang tua she Kang lupa dimana letak markas pintu perguruan tersebut. TunggU sebentar, mungkin aku nanti mengingatnya . . . "

Dan setelah berkata begitu, orang tua she Kang tersebut seperti berpikir keras, Namun akhirnya ia menepuk kaki kanannya, sambil katanya, "Akhhh, mengapa aku jadi pelupa seperti ini? Bukankah pintu perguruan Cie Tong Pay berada dipintu kota sebelah tenggara dari kota Liu-cie ?"

"Dimana letak kota Liu-ci itu, Lopeh?" tanya Bin An gembira.

"Tidak jauh dari kampung ini, hanya terpisah beberapa puluh lie saja " menyahuti orang tua she Kang itu, "Kongcu harus mengambil jalan kearah barat dari pintu kampung ini, dan setelah berjalan belasan lie, Kongcu akan bertemu dengan sebuah persimpangan jalan yang bercagak tiga, diwaktu itu Kongcu mengambil cagak jalan yang tengah, berjalan lurus, nanti Kongcu akan tiba dikota itu, kukira semua penduduk kota tersebut mengetahui dimana letak markas cie Tiong Pay "

"Terima kasih Lopeh..." kata Bin An Cepat.

"Apa Kongcu sahabat mereka..?" tanya orang tua itu sambil mengawasi dengan sinar menyelidik.

Bin An hanya mengangguk.

"Ya, memang begitu, aku tengah mencari seseorang murid cie Tiong Pay, dan adalah sahabatku yang telah lama tidak bertemu..."

"Jika memang demikian, Kongcu harus membawa bekal air minum, sepanjang jalan tidak ada orang yang menjual air dan juga tidak terdapat rumah penduduk... biar nanti aku persiapkan bekal air untuk Kongcu..."

Bin An berterima kasih sekali kepada orang tua yang baik hati ini, Waktu ia pamitan, Bin An memberikan dua tail perak padanya sebagai pernyataan terima kasihnya. Kemudian Bin An melanjutkan perjalanannya.

Diwaktu itu, Bin An memang melihat sepanjang jalan tidak terdapat rumah penduduk atau tempat pangkalan orang menjual air minum. Dengan menuruti petunjuk orang she Kang itu, akhirnya Bin An tiba dikota Liu-cie. Kota tersebut tidak besar dan juga tidak kecil, cukup padat penduduknya, Namun hal ini merupakan urusan yang cukup penting, untuk mengusut pembunuhan Lok Kie Siong, maka tanpa mencari rumah penginapan lagi, Bin An segera menyelidiki dimanakah letak dari pintu perguruan Cie Tiong Pay tersebut.

Ternyata pintu perguruan itu merupakan pintu perguruan yang cukup berpengaruh dikota tersebut. Dengan mudah Bin An memperoleh petunjuk dari penduduk kota tersebut, yang menunjukkan padanya dimana letak gedung markas cie Tiong Pay.

Sedangkan gedung Cie Tiong Pay merupakan sebuah bangunan yang besar dan mewah, dan diluar gedung itu berkumpul belasan orang pemuda yang berpakaian ringkas, tentunya mereka murid- murid cie Tiong Pay.

Melihat Bin An menghampiri mereka, murd murid cie Tiong Pay tersebut mengawasi Bin An dengan sorot mata mengandung kecurigaan-

Bin An cepat-cepat merangkapkan kedua tangannya memberi hormat, katanya dengan suara yang ramah : "Apakah disini tempat cie Tiong Pay ?"

Belasan pemuda itu tidak segera menyahuti, sampai salah seorang diantara mereka, yang mengenakan bajU kuning yang ringkas telah mengangguk. "Benar... ada keperluan apakah saudara menemui kami ?" tanyanya.

Bin An tersenyum, lalu katanya: "Aku hendak bertemu dengan Ciangbunjin cit Tiong Pay, bisakah saudara memberitahukannya kepada Ciangbun kalian ?"

"Untuk keperluan apa saudara mencari ciangbunjin kami ?" tanya orang itu lagi dengaa mata memandang penuh kecurigaan pada Bin An- "Siauwte berasal dari tempat yang jauh sengaja datang kemari hendak menuntut ilmu dan ingin sekali menjadi murid cie Tiong Pay, karena telah lama Siauwte mendengar nama besar cie Tiong Pay..."

Belasan pemuda itu saling pandang, kemudian yang berpakaian kuning itu menunjukkan sikap yang menaruh kecurigaan lebih besar pada Bin An, ia menunjuk kepada pedang yang tergemblok dipunggung Bin An-

"Engkau membawa-bawa pedang, tentunya engkau telah memiliki kepandaian- Apakah kedatanganmu memang benar2 hendak berguru di pintu perguruan kami, atau hanya ingin menimbulkan kekacauan ?"

Bin An tersenyum, katanya: "Aku sejak kecil memang telah melakukan gerakan-gerakan silat dan bermain2 dengan pedang, maka setelah meningkat dewasa, aku selalu membawa-bawa pedang. Selain untuk memasang aksi agar penjahat biasa tidak berani menggangguku, juga tampaknya lebih gagah... sesungguhnya siauwte tidak memiliki kepandaian apa2 dan belum pernah belajar silat yang berarti, inilah sebabnya mengapa begitu mendengar nama besar cie Tiong Pay, siauwte bermaksud memasuki pintu perguruan tersebut, menjadi murid cie Tiong Pay untuk menuntut ilmu..."

Pemuda berpakaian kuning itu mengawasi Biu An sejenak lamanya, sampai akhirnya ia mengangguk.

"Baiklah, jika memang engkau hendak berguru kepada pintu perguruan kami, engkau tidak bisa bertemu dengan ciangbunjin kami, karena cukup bertemu dengan Toa suko kami, Diterima atau tidaknya engkau menjadi murid cie Tiong Pay, hanya diputuskan oleh Toasuko kami..."

Bin An cepat2 menjura: "Maafkan, justru Siauwte tidak mengetahui aturan yang ada... jika memang harus bertemu dengan Toasuko dari cie Tiong Pay itupun telah cukup, yang terpenting Siauwte bisa diterima menjadi murid cie Tiong Pay dan memiliki kesempatan untuk mempelajari ilmu cie Tiong Pay yang terkenal sangat liehay sekali..."

Bin An berkata begitu, karena ia memang tengah berusaha untuk bertemu dengan ciangbunjin Cie Tiong Pay, guna membicarakan persoalan pembunuhan Lok Kie Siong.

Pemuda berpakaian kuning itu mengangguk. katanya: "Kau tunggulah, aku akan memanggil Toasuko dulu..."

Bin An dengan sabar menantikan, sedangkan belasan pemuda lainnya telah ber-cakap2 sambil sekali2 tertawa. Mereka mentertawai Bin An, yang dianggapnya seorang pemuda dusun yang hendak mempelajari ilmu silat.

Tetapi Bin An tidak mengacuhkan ejekan dan sindiran mereka, ia berdiam diri dengan sabar dan juga tidak mengacuhkan sikap belasan pemuda itu.

-oo0dw0oo-
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Aneh dari Kang Lam Jilid 07"

Post a Comment

close