Pendekar 100 Hari Jilid 18 (Tamat)

Mode Malam
18.85. Istana Iblis.

Siau Lo-seng terkejut. Cepat ia mengangkat muka, memandang ke muka.

Tampak di sebelah muka tegak berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Wajah berbentuk pesegi. Dari bagian mata kiri sampai pada pipi, masih membekas sebuah luka goresan pedang.

Ang Piau, jago dari istana Ban-jin-kiong yang dua kali hampir mati di bawah ujung pedang Siau Lo-seng. Ang Piau masih tetap menyanggul golok berbatang seperti gergaji di belakang punggungnya.

Tampak orang she Ang itu hendak membuka mulut tetapi tak jadi dan hanya memandang Siau Lo-seng dengan pandang keragu-raguan. Tiba-tiba ia geleng-geleng kepala dan berkata seorang diri

“Ah, bukan, bukan!”

Siau Lo-seng terkejut, Diam-diam ia telah salurkan tenaga dalam bersiap-siap menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi.

“Adakah dia mengenali diriku?” pikir pemuda itu.

Dengan cepat pula Siau Lo-seng segera menilai keadaan di sekitarnya. Jalan keluar dari hutan bambu itu hanya sebuah jalan yang dapat mencapai ke dalam istana di bawah tanah.

Diperhatikannya juga bahwa mulai pada jarak satu tombak di belakang Ang Piau sehingga sampai ke mulut ruangan yang jaraknya antara tujuh tombak, di kedua tepi jalan itu penuh berjajar-jajar barisan Sip-hun-jin atau Manusia tanpa pikiran dengan memegang golok penjagal.

Sikap kawanan Sip-hun-jin itu hampir seragam. Tangan kanan masing-masing mencekal golok, punggung golok dilekatkan pada badan dan mata golok dihadapkan ke muka.

Tengah Siau Lo-seng menilai-nilai keadaan yang dihadapinya, tiba-tiba Ang Piau membentaknya bengis: “Beritahukan namamu!”

Siau Lo-seng gelagapan. Setelah menenangkan perasaannya ia menyahut dengan tenang, “Siau Kok-su dari Kwan-gwa nomor tujuh.”

°O, kiranya kawan Siau!” seru Ang Piau.

Legalah hati Siau Lo-seng. Cepat-cepat ia menyahut, “Ya, apakah aku boleh melanjutkan perjalanan?” Sejenak melontar pandang, Ang Piau mempersilahkan Siau Lo-seng masuk.

Dengan gembira Siau Lo-seng pun segera melangkah masuk. Tetapi baru kira-kira lima langkah tiba-tiba Ang Piau membentaknya:

“Berhenti!”

Siau Lo-seng terkejut, cepat-cepat ia berpaling, “Apakah masih ada pesan lain?”

Sepasang mata Ang Piau berkilat-kilat memancar sinar pembunuhan. Ditatapnya pemuda itu dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun kepala. Sesaat kemudian pelahan-lahan ia maju menghampiri.

Siau Lo-seng mengeluh. Diam-diam ia merasa gelagatnya tidak baik. Segera ia salurkan tenaga dalam ke arah kedua tangan untuk bergerak mendahului menindas orang. Tetapi mata yang berapi-api dari Ang Piau itupun segera pudar dan kedengaran menghela napas.

“Saudara Siau,” katanya, “sekalipun engkau mengenakan kerudung muka kain hitam, kutahu bahwa engkau datang kepada kami, baiklah, silahkan masuk!”

Siau Lo-seng tertegun. Diam-diam ia kembali bersikap tenang. Dia makin bingung. Sikap dan ucapan Ang Piau yang tak menentu itu seolah-olah memberi kesan bahwa sesungguhnya Ang Piau sudah mengetahui penyamarannya. Tetapi mengapa dia mau melepaskannya?

Sejenak termenung, Siau Lo-seng melangkah ke mulut ruangan, tiba-tiba dua jajar barisan Sip-hun-jin itu serempak mengangkat golok yang berkilat-kilat tajam sekali.

Tetapi Siau Lo-seng tak gentar. Ia tetap berjalan di bawah naungan golok. Dan anehnya, Ang Piau pun tidak memberi perintah untuk menabas, dengan demikian dapatlah Siau Lo-seng mencapai pintu ruangan dan melangkah masuk.

Jalan yang menuju ke ruang besarpun dijaga ketat oleh barisan penjaga bersenjata lengkap. Mereka mengawasi dengan tajam setiap orang yang masuk.

Sesaat memasuki ruangan besar, Siau Lo-seng segera melihat banyak orang-orang yang sudah hadir. Tetapi muka mereka ditutup dengan kain hitam. Mereka tegak berdiam diri dengan serius.

Setiap orang yang masuk, pun tak berkata apa-apa terus berdiri di belakang orang yang sudah berada di situ. Mereka tegak seperti patung semua.

Dalam keadaan itulah, setelah sejam kemudian maka ruangan yang besar sekali telah penuh beratus-ratus orang.

Dan pada saat itu Siau Lo-seng pun sudah mengamat-amati keadaan dalam istana di bawah tanah itu. Demikian pula iapun berhasil mengadakan hubungan dengan Bok-yong Kang dan kawan-kawannya.

Istana di bawah tanah itu kecuali letaknya yang di kelilingi barisan puncak gunung dan lembah, ternyata masih dibagi pula dengan beberapa tingkat. Sepintas pandang dari luar, memang hanya merupakan sebuah ruangan biasa. Tetapi bangunannya amat kokoh, dinding terbuat dari besi dan beton.

Siau Lo-seng pun mendapat kesan bahwa orang-orang yang hadir di situ tentulah sama dengan dirinya yalah harus memasuki berlapis pos penjagaan yang ketat.

Tiba-tiba terompet pertandaan dan genderang berbunyi dari balik layar hitam yang menutupi empat keliling ruang besar itu.

Tetabuhan yang riuh itu menimbulkan gema kumandang yang keras sehingga memekakkan telinga.

“Hm, megah juga peralatan upacara ini. Entah apa yang akan dipertunjukkan nanti,” diam-diam Siau Lo- seng berkata dalam hati.

Tiba-tiba dari balik kain selubung sebelah kiri terdengar suara orang berseru, “Kedua belas Hou-hwat memasuki ruangan!”

Tetabuhanpun berganti nada dengan irama yang lembut. Dari kedua samping sebelah muka berbondong- bondong keluar duabelas orang. Mereka berjalan dalam dua kelompok. Kelompok di sebelah kiri dipimpin oleh Jit-hay-mo-thong Tan Lip-jin. Keduabelas orang itu menuju ke muka kursi yang telah disiapkan di muka kain layar lalu tegak berdiri tak bergerak.

Sesaat kemudian terdengar pula pembawa acara berseru nyaring:

“Kepala dari tiap-tiap keraton segera akan masuk ke tempatnya.”

Kain layar warna putih perak yang berada di belakang keduabelas Hou-hwat tadi terbuka sendiri. Di balik layar perak tampak selapis kain layar warna merah segar. Di muka layar itu telah disediakan lima buah kursi yang berisi alas kulit harimau. Ternyata kelima kursi itu sudah diduduki oleh lima orang lelaki.

Sesaat Siau Lo-seng selesai melihat siapa kelima orang itu, maka darahnya lalu segera bergolak. Ingin sekali ia segera tampil ke muka untuk mencincang mereka.

Kiranya yang disebut kepala Istana Kesatu itu, adalah putera dari Nyo Jong-ho yang pernah menjadi muridnya ketika ia diundang ke rumah keluarga Nyo untuk memberi pelajaran sastera, Nyo Ih, adik dari nona Nyo Cu-ing, bocah lelaki yang pernah diajaknya melihat-lihat makam raja-raja jaman dulu di Lok-yang. Dan saat itu pula segera Siau Lo-seng menyadari bahwa orang yang memalsu, menyamar sebagai dirinya dan ketika di Lembah Kumandang telah ditolong jiwanya oleh Ban Jin-hoan itu tak lain tak bukan juga si bocah lelaki Nyo Ih yang kini sudah menjadi seorang pemuda besar.

Kepala Istana Kedua yalah Li Giok-hou pemuda yang sudah beruIang kali hampir mati di tangannya.

Yang paling mengherankan dan memuakkan hati Siau Lo-seng yalah kepala Istana Ketiga. Dia bukan lain adalah kepala Hian-kim-than-cu dari perkumpulan Naga Hijau, yalah The Kong-it yang digelari orang sebagai Say-cu-kat atau seperti Cukat Liang seorang pandai dari jaman Sam Kok.

Kepala istana Keempat, yalah Pedang Patah hati Ong Han-thian, ketua partai Go-bi-pay yang termasyhur.

Kepala Istana Kelima, seorang lelaki bertubuh tinggi, wajah terang tapi dingin seperti tak berperasaan. Mengenakan jubah panjang warna biru, Siau Lo-seng tak kenal padanya.

Selekas kelima kepala-kepala istana itu muncul maka terdengar suara hiruk sekali. Ada beberapa orang bahkan telah memekik terkejut. Jelas kehadiran kelima kepala istana, mungkin baru pertama kali itu diperkenalkan kepada para hadirin karena jelas masih banyak yang belum pernah tahu.

Siau Lo-seng tak kurang kejutnya. Setitikpun ia tak menyangka bahwa beberapa anak buah yang paling dipercaya oleh mendiang ayahnya ketika memegang pimpinan perkumpulan Naga Hijau dahulu, yalah The Kong-it yang merupakan kun-su (penasehat meliter) dari Naga Hijau, ternyata telah berhianat juga.

Duapuluh tahun lamanya Siau Lo-seng menderita susah payah dalam usahanya untuk membalas dendam berdarah pada peristiwa di Hay-hong-cung, ternyata di antara anak buah perkumpulan Naga Hijau pimpinan ayahnya itu, terdapat seorang penghianat yang telah menjual jiwa kawan-kawannya sendiri.

Saat itu terdengar pula genderang berbunyi dahsyat di tengah suara orang yang sangat hiruk pikuk. Dan tiba-tiba layar sutera emaspun diangkat naik.

Sebuah panggung datar yang diselimuti dengan permadani merah yang amat luas telah terbentang di balik layar itu. Empat penjuru merupakan pintu-pintu yang terbuat daripada kaca bening dan mengkilap sekali. Ruang disanggah oleh beberapa tiang pilar yang penuh ditabur dengan mutiara dan batu-batu mustika yang memancarkan sinar gilang gemilang.

Sebuah kaca cermin berbingkai tembaga yang berbentuk kuno (antik) tampak dipasang di tengah ruangan. Di muka cermin kuno itu disiapkan sebuah meja dari batu kumala. Kecuali perabot-perabot itu, panggung permadani tersebut sunyi senyap tak tampak barang seorang manusiapun juga.

Tak berapa lama, suara genderangpun berhenti. Dari balik layar terdengar suara orang berteriak keras: “Kiong-cu (kepala istana) segera hadir. Perayaan musim Tiong-jiu akan dimulai.”

Sehabis pengumuman itu maka berbagai suara genderang dan tetabuhan lain, mendengung-dengung pula.

Di antara gemerisik bunyi tetabuhan itu sayup-sayup seperti terdengar suara alat- alat mesin berderak- derak.

Dari papan lantai di samping meja batu kumala itu, tiba-tiba terungkap naik sebuah kursi yang beralaskan kulit harimau. Kursi itu diduduki oleh seorang imam yang mukanya bertutup kain selubung. Dia mengenakan jubah warna kuning emas.

Sesaat imam berjubah kuning emas dan berselubung muka itu telah muncul seluruhnya, tiba-tiba di antara deretan rombongan para Su-cia (utusan) bangkit seorang bertubuh besar seraya berseru:

“Ban Jin-hoan, serahkan jiwamu ”

Menyusul dengan teriakan, berpuluh-puluh benda macam bintang, segera berhamburan ke arah imam  jubah kuning emas.

Peristiwa itu terjadi di luar dugaan sama sekali. Penyerangnya memang sudah bertekad untuk membinasakan imam itu. Serangan senjata rahasia itu dilakukan tanpa memberi kesempatan orang dapat menghindar lagi.

“Bum……” Terdengar ledakan dahsyat yang diiring dengan jeritan ngeri. Imam jubah kuning emas yang wajahnya berselubung kain itu, mencelat sampai setombak tingginya lalu berhamburan jatuh ke atas lantai yang juga sudah hancur berkeping-keping. Bau daging terbakar hangus segera bertebaran dari tubuhnya.

Suara tetabuhan, terompet dan genderang berhenti seketika. Sekalian orang terlongong-longong kesima seperti patung.

Hanya Li Giok-hou dan Nyo Ih yang cepat menyadari apa yang telah terjadi. Keduanya berhamburan loncat ke atas panggung lalu memeluk imam berjubah kuning emas itu seraya berteriak-teriak merintih:

“Ayah ayah……”

Tiba-tiba penyerang gelap tadi membuka kain selubung mukanya sendiri, lalu tertawa gelak-gelak.

“Ha, ha, Ban Jin-hoan, akhirnya engkau juga harus mengalami hari seperti ini. Engkau seorang penipu besar dalam dunia persilatan. Masih enak kalau mati secara begitu saja. Hanya menerima taburan  limabelas butir pelor bik-li-tan ”

Siau Lo-seng terkejut melihat wajah penyerang gelap itu. Dan cepat ia dapat mengenalinya sebagai Liat Hwat Thancu, salah seorang Thancu dari Naga Hijau yang karena salah paham tak mau menerima penjelasan, pernah bertempur dengan dia.

Kecuali lelaki berwajah terang dan berjubah biru yang tetap tenang, para kepala istana-istana dan keduabelas Hou-hwat dari istana Ban-jin-kiong serentak berobah tegang sekali wajahnya.

Li Giok-hou dan Nyo Ih pun segera barhamburan menyerbu dan berteriak kalap: “Binatang, serahkan jiwamu!”

Siau Lo-seng tergetar hatinya. Pada saat ia hendak mengambil tindakan, tiba-tiba dari bawah panggung berturut-turut muncul lima-enam orang yang menyongsong Li Giok-hou dan Nyo Ih. Dan pula terdengar suara seorang wanita berseru melengking,

“Nyo Ih, kemarilah engkau!”

Teriakan itu disusul oleh sesosok tubuh langsing yang menaburkan sinar pedang ke arah Nyo Ih.

Melihat pendatang itu, Nyo Ih tak berani menangkis. Dia menyurut mundur sampai tujuh-delapan langkah seraya menjerit kaget:

“Engkau, engkau…… engkau taci ”

Pada saat itu juga, kelima orang yang menyerbu tadipun sudah menempur Li Giok-hou dan orang-orang Ban-jin-kiong.

Suasana berobah kacau balau. Beratus-ratus hadirin segera melolos senjata dan terus terjun dalam pertempuran. Ada sebagian orang yang tak tahu apa yang harus dilakukan sehingga mereka segera menyingkir ke samping.

Dalam keadaan yang acak-acakan itu tiba-tiba meletuslah sebuah suara tertawa nyaring. Nadanya  bagaikan suara lonceng bergema yang memecahkan telinga.

Sedemikian keras dan kuat tenaga yang dihamburkan suara tertawa itu sehingga suara hiruk pikuk kekacauan itupun tertindas. Setiap orang merasa darahnya bergolak, telinganya serasa pecah.

Serempak sekalian orang memandang ke arah suara tertawa luar biasa itu.

Tampaknya orang tua berjubah biru dan berwajah terang itu tertawa terkial-kial sehingga tubuhnya ikut berguncang-guncang keras. Tampaknya orang itu tak mengacuhkan apa yang terjadi di gelanggang.

“Sun Cin-hui, Gi-huku mati dibunuh orang, mengapa engkau masih tertawa!” bentak Li Giok-hou dengan deliki mata.

Orang tua jubah biru yang bernama Sun Cin-hui itu tak mengacuhkan peringatan Li Giok-hou. Ia menyapukan pandang mata ke segenap hadirin. Seolah-olah hendak meneropong hati mereka.

Mata yang berkilat-kilat tajam dari orang tua itu, menyebabkan sekalian hadirin menggigil seram. Pun ketika beradu pandang dengan orang tua itu, tergetarlah hati Siau Lo-seng. Ia merasa seperti pernah bertemu dengan orang itu.

“Sun Cin-hui, dalam keadaan begini, engkau masih hendak bertingkah apa lagi!” pun Nyo Ih membentak marah sekali.

Sun Cin-hui yang bergelar Sip-hun-jiu atau Tangan pencabut nyawa itu, tenang-tenang berpaling dan memandang kedua pemuda itu.

“Ih-ji, Hou-ji, cobalah kalian lihat yang jelas, siapakah aku ini?” serunya.

“Gi-hu, engkau!” serempak Giok-hou dan Nyo Ih berteriak kaget dan gembira sekali, “apakah Gi-hu tak kena suatu apa?”

Sambil kebutkan lengan jubah, Sun Cin-hui tertawa gelak-gelak:

“Sudah tentu tak mati. Aku, Ban Jin-hoan, kalau semudah itu dicelakai orang, bagaimana aku mampu menguasai istana Ban-jin-kiong, ha, ha ha...... yang mati itu hanya seorang penghianat saja. Dan lagi cobalah kalian lihat para  penghianat  itu.  Bukankah  mereka  sudah  menampakkan  wajahnya?  Ha,  ha, ha ”

18.86. Rahasia Para Ketua Partai Persilatan

“Dia benar Ban Jin-hoan ” tiba-tiba terdengar seseorang berseru kaget.

Teriakan orang itu menggetarkan segenap hadirin. Benar-benar suatu perobahan suasana yang tak mungkin dibayangkan.

Sik Hwat-san atau yang biasa disebut Liat Hwat Thancu dari Naga Hijau, melongo seperti orang melihat setan.

“Apakah dia benar Ban Jin-hoan? Apakah dia sungguh belum mati?” serunya sesaat kemudian. Ban Jin-hoan tertawa dingin,

“Hanya dengan kepandaianmu yang tak berarti itu engkau kira mampu mencelakai diriku? He, masih jauh sekali. Lebih baik engkau kembali ke istana Lian-bun-kiong untuk belajar menempa jiwa lagi.”

Tiba-tiba wanita yang melengking tadipun berseru: “Ban Jin-hoan, jangan keburu-buru tertawa dulu. Hari ini akan merupakan hari terakhir dari kejahatanmu yang sudah menumpuk itu. Cobalah engkau lihat siapakah kami ini?”

Habis berkata orang itu melambaikan tangannya. Lebih dari limabelas orang yang mukanya berkerudung kain hitam, serempak mencabut kain kerudung muka mereka. Dan seketika tampaklah wajah dari berbagai tokoh-tokoh persilatan.

Saat itu Siau Lo-seng baru mengetahui bahwa yang memimpin rombongan tokoh-tokoh persilatan itu bukan lain yalah nona yang sudah lama menghilang, yakni Nyo Cu-ing.

Dan yang lebih mengejutkan Siau Lo Seng lagi yalah bahwa rombongan hadirin yang menyelundup ke dalam istana di bawah tanah itu ternyata tokoh-tokoh pimpinan dari partai-partai persilatan yang ternama.

Selain Ong Han-thian ketua dari partai Go-bi-pay, kelimabelas tokoh lainnya adalah In Co-liong ketua partai Tiam-jong-pay, Khu Ti-gwan ketua partai Thian-tay-pay, Ki It-hong ketua partai Heng-san-pay, Mo Se-kin ketua Kun-lun-pay, Ki Jong-ceng ketua Kong-tong-pay, Coa Ngo-ping ketua Tiang-pek-pay, Lim Ciong-lam ketua Ceng-sia-pay, Ceng Gi Totiang ketua Bu-tong-pay, Goan Gong Siansu ketua Siau-lim-pay.

Selain ketua dari partai-partai persilatan, pun terdapat tokoh-tokoh sakti dari berbagai aliran persilatan, antara lain Tang-hay-it-cun Co Sau-ih, Te-sat Tan Beng-hi, Thian-kong Ui Kim-ing serta tianglo dari Siau- lim-si yakni Gwat Kui Taysu, Kang San-poh yang bergelar Nenek hati murni, dan lain-lain.

Setitikpun Siau Lo-seng tak mengira bahwa tokoh-tokoh sakti dari delapan penjuru dunia persilatan yang jarang menampakkan diri, kini serempak muncul di tempat situ.

Nyo Cu-ing saat itupun telah mencabut kain kerudung, lalu serunya, “Ban Jin-hoan, apakah engkau sudah melihat jelas sekarang? Tipu muslihat hanya dapat mengelabuhi seorang tetapi tak mungkin dapat membohongi dunia. Sejak dahulu sampai sekarang Kejahatan itu tentu akan dikalahkan oleh Kebenaran. Hari ini segala tipu muslihat yang engkau lakukan akan terbongkar. Kejahatanmu pun segera berakhir.”

Tiba-tiba Ban Jin-hoan tertawa panjang. Ia memandang ke segenap gelanggang lalu berseru,

“Ban Jin-hoan kebetulan hari ini memang sedang baik sekali perangainya. Kalau kemarin engkau begitu liar tingkahmu di hadapanku, tentu akan kusuruh engkau tak dapat membuka mulut selama-lamanya, hm, memang sudah lama aku Ban Jin-hoan menunggu saat kehadiran kalian di sini. Tentu kalian merasa heran, bukan?”

Ban Jin-hoan berhenti sejenak lalu melanjutkan pula,

“Ha, ha, aku Ban Jin-hoan setiap saat berganti rupa menjadi Sun Ci-hui salah seorang dari kalian semua. Sudah barang tentu tiga hari di muka aku sudah tahu tentang kedatangan kalian kemari. Jelasnya, gerak gerik setiap orang tak ada yang terlepas dari pengamatanku.”

Tang-hay-it-cun atau Kakek dari laut Tang-hay, Co Sau-ih itu tertawa mengejek,

“Bagus, dengan demikian, jiwa kita semua ini tampaknya sudah berada dalam tanganmu. Heh, heh, tetapi janganlah  engkau  selalu memandang  rendah  kepada  orang  tua  dari  Laut  Tang-hay itu. Hm… masa

dengan ilmu kepandaian beberapa ilmu silat cakar kucing, namun jangan harap dapat menjatuhkan aku.” Ban Jin-hoan tertawa gelak-gelak.

“Sudah tentu tak mungkin mampu menandingi barisan Kiu-hwe-thian-tin di pulau kediamanmu Lui-suan-to di laut Tang-hay itu. Tetapi ketahuilah, kalian saat ini berada di istana Ban-jin-kiong. Lebih baik kalian jangan bergerak sembarangan. Karena anak buah dari istana Ban-jin-kiong itu selamanya tak pernah memberi ampun orang.”

Lim Ciong-lam ketua partai persilatan Ceng-sia-pay, tiba-tiba melangkah maju tiga tindak lalu mengangkat kedua tangan seraya menggembor keras,

“Ban Jin-hoan, hutangmu terhadap jiwa engkohku Lim Tay-som itu, hari ini harus engkau bayar!”

“Omitohud……” Goan Gong Siansu ketua Siau-lim-si buru-buru mencegah, “harap Lim sicu jangan bergerak sembarangan. Betapapun keruhnya, akhirnya setelah mengendap tentu akan dapat diketahui mana yang jernih dan mana yang kotor. Walaupun kita mengemban tugas, tetapi hendaknya jangan sampai hari ini kita mengalami kegagalan.”

Kemudian ketua Siau-lim-si itu berpaling dan berseru kepada Ban Jin-hoan.

“Ban Jin-hoan, engkau telah melumuri dirimu dengan lumpur kejahatan. Engkau telah menggenangi dunia persilatan dengan banjir darah tapi engkau masih memfitnah orang lain yang engkau suruh menanggung dosa. Hampir saja di Lembah Kumandang timbul dendam berdarah lagi. Hm, sungguh berdosa. Sekarang dunia persilatan sudah sadar. Ban Jin-hoan telah dianggap sebagai musuh dunia persilatan. Maka kunasehatkan lebih baik engkau menyerah saja untuk menerima peradilan dunia persilatan.”

Ban Jin-hoan tertawa gelak-gelak.

“Benar atau salah itu, hanya tergantung dari penilaian masing-masing. Kalian mengatakan aku Ban Jin- hoan seorang berdosa. Tetapi aku Ban Jin-hoan sebaliknya merasa, kalian ini tak ubah seperti kawanan binatang yang berpakaian manusia baik-baik. Apa yang kalian banggakan sebagai Sembilan Partai persilatan itu, tak lain hanya gerombolan yang menindas orang. Hm, dengan merebut jiwa orang itu, apakah bukan berarti membunuhnya? Kalau menghancurkan harta benda orang, apakah itu bukan dosa?”

Kepala dari istana Ban-jin-kiong itu melontarkan pandang matanya yang berpengaruh. Seolah-olah hendak menembus hati setiap hadirin.Kemudian melanjutkan pula,

“Jika aku, Ban Jin-hoan, berbuat seperti kalian, tentu sudah lama aku bunuh diri. Hm, umum memandang kalian ini tokoh-tokoh terhormat dari sebuah partai persilatan. Tetapi cobalah kalian renungkan apa yang telah kalian lakukan! Sebagian besar dari kalian ini, telah melakukan kesalahan. Tetapi kalian berusaha untuk melemparkan kesalahan itu pada orang lain, orang yang tak punya kekuasaan dan pengaruh. Bukankah hal itu suatu perbuatan yang memalukan?” Kata-kata itu diucapkan dengan lancar dan lantang. Seolah seperti seorang sahabat yang tengah menyadarkan kawannya.

Tampak wajah Nyo Cu-ing membeku lalu tertawa dingin, serunya:

“Ban Jin-hoan, hari kematian sudah tiba. Apakah sebelum mati engkau tetap berkeras menyangkal dosamu?”

“Omitohud!” tiba-tiba Goan Gong Siansu ketua Siau-lim-pay berseru pelahan, “Ban sicu, apakah ke delapanpuluh satu anak buah barisan Tat-mo-coat-ci-tin dari Siau-lim-si dan Pek Wan Tianglo, berada dalam istana Ban-jin-kiong? Jika mereka bisa bebas tak kurang suatu apa, kami dari Siau-lim-si segera  akan tinggalkan tempat ini ”

Mendengar ucapan dari ketua Siau-lim-si itu tergeraklah hati sekalian orang. Ban Jin-hoan tertawa dingin.

“Goan Gong. Mengapa sekarang engkau menyebut aku Ban sicu? Beberapa hari yang lalu, kuingat engkau masih menyebut diriku sebagai Kiong-cu (Pemilik istana). Hm, di bawah sinar matahari yang panas, hati manusia tak pernah layu. Tidakkah engkau pernah merenungkan, dengan cara bagaimanakah engkau mendapatkan kedudukan sebagai ketua itu?”

Mendengar itu seketika berobahlah wajah para ketua Sembilan Partai. Entah bagaimana, mereka tampak tersipu-sipu malu dan menundukkan kepala. Ucapan Ban Jin-hoan itu seperti ujung pisau yang menusuk ulu hati mereka.

Siau Lo-seng yang mengikuti pembicaraan itu dengan cepat dapat mengetahui apa yang terjadi.

Mungkin pengaruh Ban Jin-hoan telah tersebar luas ke segenap lapisan dunia persilatan bahkan menyusup juga ke dalam organisasi partai-partai persilatan. Dengan begitu Sembilan Partai itupun telah dikuasai oleh pengaruh Ban Jin-hoan juga. Kekurangan pimpinan partai-partai itu berada di tangan Ban Jin-hoan. Dengan demikian, diri para ketua partai-partai persilatan itupun jadi persoalan.

Ceng Gi Totiang, ketua Bu-tong-pay yang paling muda usia, serempak tampil bersuara:

“Ban Jin-hoan, suhengku yang menjabat ketua Bu-tong-pay dahulu, apakah semasa masih hidup juga berada dalam kekuasaanmu?”

Ban Jin-hoan tertawa dingin.

“Kecuali engkau sebagai ketua yang terakhir dari partaimu, para ketua lain-lain partai persilatan tiada seorangpun yang lepas dari kekuasaanku!”

Mendengar itu sekalian ketua partai persilatan cepat berpaling muka. Mereka malu dan geram. Mereka tak berani beradu pandang dengan Ceng Gi Totiang, ketua dari Bu-tong-pay itu.

“Ban Jin-hoan,” teriak Ceng Gi Totiang dengan marah, “mengapa engkau membunuh Giok Hi Suheng dan ketigapuluh dua anak murid paseban Ik-seng-tong itu? Mengapa?”

Ban Jin-hoan tertawa hambar.

“Soal itu bukan begitu sederhana. Tanyakanlah sendiri kepada para ketua partai persilatan itu. Segera engkau akan mengetahui mengapa mereka harus mati!”

Ceng Gi Totiang terbeliak. Segera ia memandang ke arah para ketua partai persilatan. Tetapi mereka sama tundukkan kepala.

Melihat itu berkatalah Nyo Cu-ing:

“Para cian-bun cianpwe sekalian. Dewapun bisa berbuat salah apalagi manusia biasa. Salah bukan suatu hal yang mengerikan. Tetapi kalau salah tak mau mengaku salah dan mengulangi kesalahan lagi, itulah merupakan suatu dosa besar. Bukankah sang Buddha mengajarkan supaya kita berpaling ke arah tepi kesadaran dan membuang golok penjagal, masuk ke dalam biara untuk bertaubat?”

Berhenti sejenak gadis itu melanjutkan pula:

“Urusan telah berkembang sedemikian rupa, sekalian orangpun telah berani datang ke Ban-jin-kiong. Adakah takut untuk mengakui hal sekecil itu? Jika masih menunda waktu, bukankah berarti mensia-siakan jerih payah Siau locianpwe?” Siau Lo-seng terkejut.

“Siapakah yang disebut Siau locianpwe itu? Apakah ayahku Siau Han-kwan atau paman Siau Mo? Jika benar, kedua orang tua itu telah berusaha keras untuk menghubungi tiap-tiap partai persilatan, tujuannya tak lain tentu hendak menolong mereka dari kabut beracun yang telah ditebarkan oleh Ban-jin-kiong. Ah, betapa susah sekali usaha itu!”

Tiba-tiba ketua Tiam-jong-pay, Thian-tay-pay dan Heng-san-pay serempak berseru:

“Benar, karena urusan sudah sampai begini, mengapa perlu harus malu mengatakan. Aku akan mengatakannya!”

Menyusul para ketua dari partai Kun-lun-pay, Kong-tong-pay, Tiang-pek-pay dan lain-lain berturut-turut menceritakan peristiwa itu.

Seketika suasanapun kacau.

Ban Jin-hoan tertawa gelak-gelak, serunya:

“Bilakah kalian akan mempunyai keberanian seperti itu? Ha, ha, mungkin kalian telah termakan oleh ucapan yang manis dari bangsat Siau Mo itu!”

“Tutup mulutmu!” bentak Cu-ing, “engkau Ban Jin-hoan, sudah tak berhak untuk menilai seseorang lagi.” Ban Jin-hoan tertawa gelak-gelak lagi.

“Cu-ing, suhumu Tay Hui Sin-ni seorang pendiam. Tetapi mengapa dia mengajarkan engkau seorang anak perempuan yang secerewet itu?”

“Rasanya engkau ini hanya bertindak demi kepentingan Siau Lo-seng, si anak sebatang kara itu.” “Tutup mulut!” bentak Cu-ing, “nama engkoh Lo-seng, tidak layak engkau yang menyebut.”

Tiba-tiba dengan ilmu Singa meraung, Ki It-hong ketua partai Heng-san-pay berseru keras:

“Ijinkan kuberitahukan kepada Ceng Gi to-heng. Suheng totiang dan ketigapuluh dua anak buah paseban Ik- seng-tong dari partai Bu-tong-pay itu, adalah kami yang membinasakannya.”

“Mengapa?” tanya Ceng Gi Totiang yang di luar dugaan, malah berobah tenang.

Ketua Heng-san-pay menghela napas rawan: “Memang peristiwa itu merupakan kesalahan kami. Kami para ketua partai persilatan dalam kehidupan yang sekarang ini tak mungkin dapat memperbaiki kesalahan itu lagi. Ah, boleh dikata kami ini memang lebih buas dari binatang. Hanya karena berebut nama dan keuntungan, demi merebut kedudukan ketua, telah menerima bujukan Ban Jin-hoan. Dalam keadaan yang limbung pikiran itu, kami membunuh suhu, suheng, sute dan para angkatan tua dalam partai. Bahkan ayah bunda. Tak lain hanya demi kedudukan ketua itu.

Berkata sampai di situ, tampak para ketua partai bercucuran air mata. Ketua partai Heng-san-pay saat itu sudah tak dapat bicara lagi.

Lim Ciong-lam ketua Ceng-sia-pay lah yang melanjutkan:

“Karena telah melakukan kesalahan yang tak berampun itu maka kami hendak tumpahkan kesalahan itu pada diri Ban Jin-hoan. Dia hendak menggunakan, kesalahan itu untuk menekan kami, pada hal hati nurani kami tetap menentang.”

“Tetapi terus terang, kami tak mempunyai keberanian mengakui kesalahan-kesalahan itu. Pada suatu waktu, Giok Hi Totiang telah mengundang para tokoh-tokoh sakti dan murid-murid paseban Ik-seng-tong  dari Bu-tong-pay sama berkumpul di puncak Thou-ban-hong gunung Bu-tong. Di situ Giok Hi Totiang telah membongkar semua rahasia dan minta agar semua rahasia besar dalam dunia persilatan itu segera diumumkan. Di luar dugaan berita itu telah bocor. Ban Jin-hoan segera menyuruh kami untuk melenyapkan Giok Hi Totiang dan anak murid paseban Ik-seng-tong agar menghapuskan saksi-saksi dari perbuatannya. Karena menyangkut soal kepentingan diri kita, maka……”

“Maka para ketua partai persilatan lalu bersepakat untuk membunuh suhengnya dan anak murid paseban Ik-seng-tong itu, bukan?” tukas Ceng Gi Totiang, ketua Bu-tong-pay yang sekarang.

“Tidak,” bantah Lim Ciong-lam, “pada waktu itu ketua dari Istana Kesatu memimpin para ketua partai persilatan dan beberapa jago sakti untuk mengurung Bu-tong-san. “Mayat dari suhengku dan anak murid paseban Ik-seng-tong diketemukan di puncak Thou-ban-hong, bagaimana mereka telah binasa di situ?” tukas Ceng Gi Totiang.

Lim Ciong-lam menghela napas.

“Mayat itu hanya mayat orang lain. Mayat Giok Hi Totiang yang sesungguhnya telah dibawa ketua istana Kesatu ke Ban-jin-kiong. Mungkin saat ini dia tentu amat menderita sekali. Ah, mereka memang melebihi kawanan binatang.”

Habis berkata ia terus hendak menerjang ke atas panggung. Tetapi Goan Gong Siansu cepat mencegahnya.

“Setelah kita beber semua kedosaan Ban Jin-hoan, barulah kita bertindak,” kata ketua itu.

Saat itu Nyo Cu-ing sudah tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Menuding Nyo Ih, adiknya, ia berteriak:

“Nyo Ih, tampillah maju. Kiranya engkau telah melakukan pekerjaan yang sehina itu. Keluarga kita hancur berantakan tetapi engkau malah masuk menjadi anak buah Ban-jin-kiong dan melakukan kejahatan- kejahatan yang seganas itu, engkau ”

Nyo Cu-ing tak dapat melanjutkan kata-katanya karena terlanda oleh tangisnya. Dengan jurus Bidadari menyusup hutan, ia segara tusukkan ujung pedang ke tubuh adiknya.

Nyo Ih bingung dan tak tahu apa yang harus dilakukan.

“Kembali!” tiba-tiba Ban Jin-hoan kebutkan lengan bajunya ke arah Cu-ing, “kalau mau membuat perhitungan, nanti kita selesaikan setelah semua urusan telah terang.”

Seketika Cu-ing merasa seperti dilanda oleh angin keras sehingga dada Cu-ing terasa sesak. Terpaksa ia menyurut kembali ke tempatnya semula.

Peristiwa itu menimbulkan kemarahan segenap hadirin. Thian-kong Ui Kim-ing dan Tan Beng-hi si Algojo Neraka, serempak meloncat ke atas panggung.

“Ban Jin-hoan, kalau engkau memang sakti hayo tanding dengan kami. Jangan menghina seorang anak perempuan!”

Di tempatnya yang tinggi, Ban Jin-hoan memandang hadirin di bawah panggung, lalu berseru dingin:

“Hm, masih terlalu pagi kalian kalian hendak unjuk tingkah liar di sini. Pada waktu aku ke luar ke dunia persilatan, kalian tentu masih bocah ingusan. Telah kukatakan, setelah rahasia yang menyelubungi peristiwa ini terbuka, sudah tentu aku akan menghadapi kalian untuk menyelesaikan urusan itu!”

“Dimanakah kepala istana keempat?” seru Ban Jin-hoan pula.

Say-cu-kat The Kong-it serentak menyahut, “The Kong-it mengunjuk hormat kepada Kiong-cu.”

“Yang melanggar peraturan istana Ban-jin-kiong, harus menerima hukuman bagaimana?” kata Ban Jin- hoan.

“Apabila sudah masuk menjadi anak buah Ban-jin-kiong harus setia,” sahut The Kong-it. “Seluruh jiwa raga harus diserahkan untuk kepentingan istana. Apabila berkhianat, berarti mengutamakan kepentingan diri sendiri dan merugikan kepentingan istana. Menurut peraturan Ban-jin-kiong, pengkhianatan semacam itu harus dimasukkan ke dalam penempahan jiwa di istana Lian-hun-kiong.”

18.87. Ban Jin Kiong-cu Asli

“Bagus, dimana kedua belas Hou-hwat?” seru Ban Jin-hoan pula. “Ya, kami siap!” seru beberapa orang.

Ban Jin-hoan mendengus,

“Anak iblis tujuh lautan Tan Lip-jin, Hantu sembilan bisa Ciong Su-ing, Kesatria seratus racun Cia Lu-wi, Naga terbang Lu Kong-tui, Rajawali mata ungu Coa Siok-ki, memang telah kuduga kalian tentu berada di sini. Hm, lekas tampil ke muka!” Lebih dahulu Lu Kong-tui si Naga terbang yang apungkan tubuh naik ke atas panggung. Tiba-tiba ia membentak Ban Jin-hoan:

“Menipu orang hanya dapat sementara waktu. Dan yang ditipupun hanya dapat ditipu pada waktu itu saja. Adalah karena kalah dengan ilmu kepandaianmu Ciang-gah-sut (mata sihir) maka dahulu aku sampai jatuh ke bawah kekuasaanmu. Tetapi saat ini kami sudah mempunyai kekuatan untuk adu jiwa dengan engkau. Aku, Lu Kong-tui, apabila sampai kalah lagi, aku bersedia akan bunuh diri di tempat ini.”

Seiring dengan kata-kata Lu Kong-tui itu, Hantu Sembilan bisa Ciong Su-ing pun melayang ke atas panggung dan berseru:

“Aku orang she Ciong pun ingin hendak menerima pelajaran ilmu sakti dari engkau lagi. Jika tetap kalah, aku Ciong Su-ing pun akan memberi pertanggungan jawab yang tegas.”

Menyusul Iblis tujuh lautan Tan Lip-jin, Kesatria seratus racun Cia Lu-wi dan Rajawali mata Ungu Coa Siok- ki tegak berjajar hendak menantang pada Ban Jin-hoan.

Ban Jin-hoan tetap tertawa,

Sepuluh tahun lamanya, hampir dapat dikata tiap tahun kalian tentu bertempur dengan aku. Tetapi siapakah yang mampu menandingi aku? Dunia persilatan paling menjunjung perkataan. Sekali ucap, tak dapat dijilat kembali. Selama ini apakah aku memperlakukan kalian dengan semena-mena? Tetapi karena kalian tetap tak mengaku kalah, Ban Jin-hoan pun setiap saat bersedia untuk melayani.”

Tan Lip-jin mencabut sebatang kipas kumala lalu berseru, “Aku Tan Lip-jin yang pertama akan menghadapi engkau.” Berobah wajah Ban Jin-hoan dengan marah.

“Apakah kalian sungguh-sungguh hendak mengingkari janji kepadaku? Baik, kalau begitu engkaulah yang akan kujadikan contoh bagi mereka!”

Tan Lip-jin tertawa mengekeh,

“Kalau hari ini Tan Lip-jin mendapat perhatianmu, memang suatu rejeki yang besar bagiku. Selama ini aku hanya hidup sebagai patung di sini. Kalau tidak mati karena sesak dada, pun tentu mati karena terlalu senggang. Dari pada akhirnya juga mati, lebih cepat lebih baik.”

“Tan Lip-jin, jangan ngoceh tak keruan. Kalau takut mati, mundurlah. Lebih baik aku dulu yang akan membikin perhitungan hutang piutang lama!” tiba-tiba Lu Kong-tui yang bergelar Naga terbang berseru.

“Hm, kalian berdua boleh maju bersama!” Ban Jin-hoan tertawa dingin.

Tiba-tiba Nyo Ih dan Li Giok-hou tampil dan serempak berseru, “Gi-hu, kamilah yang seharusnya menghadapi mereka!”

Tanpa menunggu jawaban Ban Jin-hoan, kedua pemuda itu terus ayunkan tangan. menyerang. Setelah berlangsung amat seru, akhirnya Lu Kong-tui di kalahkan Nyo Ih.

Hal itu sangat menusuk perasaan hati Lu Kong-tui sehingga bercucuran airmata dan berseru dengan penuh ketegangan:

“Siau-heng, aku gagal untuk membalaskan sakit hatimu, tunggulah, aku akan ikut padamu!” “Lu-heng, tunggu!”

“Paman Lu, jangan bunuh diri!”

Cia Lu-wi yang berdiri disamping, cepat mencekal pergelangan tangan Lu Kong-tui dan serempak pada saat itu, sesosok tubuh berpakaian hitam loncat menghampiri seraya berseru: “Paman Lu, apakah paman ingat pada Su-ji?”

Lu Kong-tui tertegun lalu memeluk pendatang itu serta berseru dengan nada gemetar “Su-ji, paman tak dapat!”

Tiba-tiba Lu Kong-tui mencekal pergelangan tangan orang itu dan membentaknya: “Siapa engkau? Mengapa hendak menipu aku?”

“Paman Lu, aku ini anak Siau Lam-ki yang bernama Siau Cok-su. Apakah paman lupa?”

Secepat kilat Lu Kong-tui mencabut kedok muka yang menutupi wajah orang itu dan seketika melayangkan mata:

“Apakah engkau benar Su-ji?”

Pada saat itu terdengar getaran keras. Pertempuran antara Li Giok-hou lawan Tan Lip-jin pun sudah berhenti. Keduanya, ternyata berimbang kekuatannya.

Ban Jin-hoan tertawa gelak-gelak,

“Di antara para Hou-hwat, siapa lagi yang masih belum tunduk, supaya tampil ke muka untuk menerima pelajaran, ha, ha, ha!”

Suasana hening lelap seketika. Setiap orang masing-masing memperhitungkan kekuatannya sendiri apakah mampu untuk menghadapi kedua pemuda anak angkat Ban Jin-hoan itu.

Tiba-tiba pula Lu Kong-tui membentak marah:

“Siapa engkau? Mengapa engkau berani menyaru sebagai Su-ji untuk mengelabuhi aku?”

Ternyata pendatang itu adalah Siau Lo-seng. Karena Lu Kong-tui bersitegang leher, diam-diam Siau Lo- seng memberi isyarat anggukan kepala suruh Bok-yong Kang yang berada di sampingnya segera bertindak.

“Locianpwe, jangan salah paham,” teriak Bok-yong Kang, “dia memang Siau Cok-su putera dari Kwan-gwa- jit-ho. Yang engkau jumpai di Kwan-gwa itu adalah salah seorang dari sahabatnya.”

Habis berkata Bok-yong Kang pun segera lambaikan tangannya. Seratus delapan puluh jago-jago silat serempak mencabut kedok muka mereka dan mencabut senjata masing-masing.

Dengan gerak cepat merekapun segera memencar diri, menjaga ke empat sudut ruangan besar istana itu. Berseru Bok-yong Kang kepada mereka,

“Yang kita harapkan dari saudara-saudara yalah supaya bersatu hati untuk membasmi kaum durjana. Kami telah berusaha untuk menyelundup ke dalam istana Ban-jin-kiong tanpa sebelumnya mengadakan hubungan dengan saudara-saudara sekalian sehingga tak dapat menghindari kesalahan paham di antara kita.”

“O, saudara Bok-yong,” cepat-cepat Cu-ing berteriak, “tak kira engkau juga berada di sini. Dimana Siau toako?”

Bok-yong Kang tertawa gelak-gelak.

“Jauh dimata, dekat dihati. Dia sudah beberapa waktu berada dalam istana iblis ini!”

Tergetarlah hati nona itu setelah mendengar keterangan Bok-yong Kang. Segera ia keliarkan pandang ke hadirin. Tetapi di antara sekian banyak hadirin yang tak kurang dari limaribu orang itu kecuali mereka sudah membuka kedok mukanya tentu sukar untuk mengenali yang manakah Siau Lo-seng itu.

Tampak mata Ban Jin-hoan berkilat-kilat tajam dan sapukan pandang mata ke seluruh hadirin. Akhirnya pandang matanya berhenti pada Siau Lo-seng. Dia tertawa dingin.

“Berapa jumlah kalian yang datang, terserah. Ban Jin-hoan takkan melayani dengan tak memuaskan. Siau Lo-seng, majulah ke muka!” serunya.

Siau Lo-seng terkejut. Setitikpun ia tak menyangka bahwa hanya sekali pandang saja, Ban Jin-hoan sudah dapat mengetahui dirinya. Maka iapun tak mau main sembunyi lagi. Pelahan-lahan ia membuka kerudung mukanya dan berseru nyaring:

“Engkau dapat mengenali diriku Siau Lo-seng, tidaklah mengherankan. Tetapi suruh engkau mengenali wajahmu sendiri, itulah yang sukar. Kukira lebih baik segera saja engkau buka kedok mukamu itu!”

Ban Jin-hoan tiba-tiba gemetar, serunya, “Aku bukan Sun Cin-hui, juga bukan It Bing taysu. Sudah tentu nama Ban Jin-hoan itu pun bukan nama yang sesungguhnya. Telah kuberitahu kepadamu, aku memang menggunakan ratusan nama dan gelar. Mengapa engkau merasa bangga dapat mengetahui salah satu dari namaku itu?”

Siau Lo-seng tertawa dingin.

“Yang kumaksudkan yalah wajahmu sendiri yang aseli itu. Duapuluh tahun yang lalu adalah Ban Jin-hoan yang merencanakan pembunuhan besar-besaran di Hay-hong-cung. Empatpuluh tahun berselang adalah Ko Ing-ti yang pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan.”

Mendengar kata-kata Siau Lo-seng itu, seketika terdengarlah hiruk pikuk yang gempar di seluruh ruangan. Beberepa tokoh angkatan tua bahkan sampai mengeluarkan teriakan tertahan.

Naga terbang Lu Kong-tui hampir tak percaya. Ia mementang mata lebar-lebar dan berseru: “Engkau ini murid kesayangan dari Ou-hay-it-ki Lim Ing-hoa…… ah, bagaimana mungkin.”

Memang peristiwa Kho Ing-ti dahulu telah menimbulkan kegemparan besar di dunia persilatan, sehingga seluruh kaum persilatan tahu akan hal itu.

Bahwa saat itu Siau Lo-seng mengatakan bahwa Ban Jin-hoan itu bukan lain adalah Kho Ing-ti, sudah tentu menimbulkan berbagai reaksi pada hadirin. Ada sebagian yang meragukan karena Siau Lo-seng yang masih begitu muda belia bagaimana dapat mengetahui diri Ban Jin-hoan.

Masih membekas dalam hati kaum persilatan bahwa tindakan Kho Ing-ti membunuh suhunya, Ou-hay-it-ki Lim Ing-hoa itu, suatu perbuatan hianat yang tak dapat diampuni. Dahulu seluruh dunia persilatan hendak membunuh Ban Jin-hoan, tetapi gagal karena Ban Jin-hoan dapat menyembunyikan diri.”

Tetapi mereka masih ragu. Adakah yang dikatakan Siau Lo-seng itu benar? Jangankan Siau Lo-seng itu masih seorang pemuda, bahkan orang yang pernah kenal pada Kho Ing-ti pun, sudah sukar untuk mengenalinya lagi sekarang.

Tiba-tiba Ban Jin-hoan memperdengarkan suara tawa panjang yang menusuk telinga. Entah tawa gembira, entah penasaran. Hanya yang jelas tubuhnya tampak meregang tegang.

“Adakah kalian percaya bahwa aku ini Kho Ing-ti dahulu? Kalau memang percaya, anggaplah aku ini Kho Ing-ti. Kalau tidak, jangan anggap aku ini dia.”

Siau Lo-seng mendengus dingin.

“Ya atau tidak, terserah kepadamu. Kalau engkau mempunyai nyali untuk mengelabuhi mata dan telinga seluruh kaum persilatan, mengapa engkau tak berani membuat pengakuan? Engkau memang benar-benar si Poa-an seribu muka Kho Ing-ti pada duapuluh tahun berselang telah melarikan diri keluar daerah Tiong- goan. Engkau adalah benggolan penjahat yang pernah menggemparkan dunia persilatan, seorang pembunuh yang paling ganas di dunia.”

Seribu muka Kho Ing-ti tertawa.

“Aku seorang pembunuh yang paling ganas di dunia, seorang durjana yang menjadi biang keladi mengacau dunia ha, ha, ha……”

Tiba-tiba terdengar seorang berseru dalam nada sarat,

“Kho Ing-ti, urusan sudah berkembang begini, apakah engkau masih hendak menyembunyikan apa-apa lagi. Kabut dan awan hanya sementara, karena upacara dan matahari tentu akan bersinar. Mengapa  engkau tak mau membuka kartu dengan terus terang?”

“Paman Siau Mo,” tiba-tiba Siau Lo-seng berseru girang. Dan memang di tempat itu telah tambah pula dengan seorang pendatang baru.

Dia adalah Siau Mo si Iblis pedang Ular Emas. Rambutnya sudah menjunjung uban, alis tebal menaungi mata yang besar. Memelihara jenggot tipis yang juga sudah putih.

Dahinya penuh beralas keriput usia tua. Sekalipun begitu masih tampak bekas-bekas kacakapannya masa muda. Memberi kesan yang baik kepada seluruh hadirin.

Siau Lo-seng juga terkesiap. Seumur hidup baru pertama kali itu ia melihat wajah aseli dari pamannya. Diam-diam rawanlah hati anak muda itu. Banyak sekali rasanya kata-kata yang hendak diucapkan tetapi sukar keluar dari mulutnya. Saat itu tampak wajah Kho Ing-ti berobah seram.

“Siau Mo, apakah engkau lupa akan perjanjian kita? Aku tak mengijinkan engkau membuka rahasiaku, tak boleh untuk selama-lamanya.”

Pedang ular emas Siau Mo menghela napas panjang.

“Peristiwa yang telah lampau bagai awan berarak. Dapat dikenang, tak dapat dikembalikan lagi. Benar dan salah merupakan liku-liku kehidupan manusia. Asal engkau hidup dalam dunia, engkau tentu akan terdampar dalam liku-liku itu. Kurasa lebih baik ”

“Tutup mulutmu!” bentak Kho Ing-ti, “masakan hal itu aku harus memerlukan nasihatmu?”

“Ah, berapa lamakah manusia itu akan hidup?” Kho Ing-ti melanjutkan kata-katanya, “aku Kho Ing-ti, apakah kalah pengalaman dengan engkau? Apakah aku kalah dalam soal penderitaan hidup dengan siapa saja? Katakanlah!”

“Aku memang tahu jelas bagaimana perjalanan hidupmu. Engkau memang mempunyai penderitaan sendiri. Tetapi ketahuilah, bahwa di dunia masih terdapat manusia yang lebih menderita dari engkau.”

Kho Ing-ti terkesiap, serunya marah:

“Engkau maksudkan dirimu? Bukankah hanya penderitaan kulit luar saja yang engkau terima selama ini? Hm, engkau mengatakan bahwa Keadilan itu merupakan kodrat alam. Sekarang aku hendak bertanya kepadamu. Apakah adil penderitaan yang telah dialami Kho Ing-ti itu?”

Nadanya penuh dengan ketegangan, penasaran dan kemarahan. Habis berkata ia terus berputar tubuh menghadap ke arah hadirin lagi. Pada saat berhadapan dengan sekalian orang, dia sudah bersikap sebagai Ban Jin-hoan lagi. Mukanya sudah memakai kain kerudung hitam.

Sekalian orang yang hadir terkejut Mereka tak mengira bahwa Kho Ing-ti memiliki ilmu merobah wajah sedemikian lihay. Sekali berputar tubuh dia sudah dapat berganti wajah seperti Ban Jin-hoan.

“Benar, memang aku adalah Phoa-an seribu wajah Kho Ing-ti,” serunya dengan nada dingin, “dan juga Ban Jin-hoan pemilik dari istana Ban-jin-kiong di sini. Sekarang apakah kalian bersedia menurut perintahku atau tidak? Aku tak memaksa. Tetapi kalianpun harus ingat bagaimana biasanya Ban Jin-hoan bertindak.”

Gemparlah sekalian orang mendengar ancaman halus dari Ban Jin-hoan itu. Seketika Siau Mo pun berteriak keras.

“Kho Ing-ti, tindakanmu itu hanya hendak menghindari kenyataan. Suatu tindakan yang lemah dan ketakutan.”

“Tutup mulutmu!” bentak Kho Ing-ti, “aku mempunyai cara bekerja sendiri, tak perlu engkau ikut mengurusi. Sekarang kupersilahkan engkau lekas-lekas pergi jauh dari istana Ban-jin-kiong!”

Habis berkata ia melambaikan tangan, serunya:

“Hou-ji, Ih-ji, Ong-thian dan The Kong-it, sekarang lakukan tugas kalian masing-masing!”

Tiba-tiba terdengar suara alat berderak-derak dan menyusul sebuah seruan Omitohud yang berkumandang di telinga orang.

“Omitohud! Maafkan kelancangan pinni Tay Hui dan kawan-kawan, masuk kemari.”

Dari sebuah pintu batu, pelahan-lahan muncullah beberapa tokoh yang tak terhitung jumlahnya. Mereka adalah Tay Hui Sin-ni, Leng-bin-sin-kun Leng Tiong-siang serta empat dayang dara berpakaian biru yang menggotong sebuah tandu berisi Dewi Mega Ui Siu-bwe, Siang-hoa-liong-li Pui Siu-li, Hiat Sat Mo-li, Ui Hun-ing dan anak buah Lembah Kumandang. Di belakang mereka masih muncul Tui-hun-khek Kwik Ing-tat, iman It Ceng, It Tim dari Bu-tong-pay, Pek Wan Taysu serta ke delapanpuluh satu paderi anak buah barisan Tat-mo-coat-ci-tin dari Siau-lim-si serta para Thancu dari perhimpunan Naga Hijau. Lalu Tiong-goan-it-ho Auyang Sat-hong, Kiam Ho Tojin, Lui Kui-hun dari perguruan Sin-kun-bun dan lain-lainnya.

Cu-ing dan Siau Lo-seng segera lari menyongsong Pek Wan Taysu serta Ui Hun-ing. “Paman Pek Wan, apakah paman tak kurang suatu apa?” tanya Siau Lo-seng. “Itulah karena mengandalkan tenaga dari ayahmu. Kalau tidak, kami tentu sudah jadi mayat. Ah, derita dijebloskan dalam istana Lian-hun-kiong memang sukar dikatakan.”

“Apa? Ayahku masih hidup? Dimanakah dia saat ini?” teriak Siau Lo-seng.

“Ayahmu masih segar bugar. Setelah dapat menolong kami, dia mengatakan, dia hendak menyelesaikan persoalan yang harus diselesaikan. Setelah itu dia terus pergi. Mungkin dia masih berada dalam istana Ban- jin-kiong ini.”

Saat itu Siau Lo-seng pun melihat adik angkatnya, Bok-yong Kang tengah berpelukan dan si nona baju merah Cu Li yakni murid ketiga dari Dewi Mega Ui Siu-bwe, saling berpelukan mesra.

“Bokyong-te, bilakah engkau berkenalan dengan sam-siocia itu?” tegur Siau Lo-seng heran.

“Siau toako,” sahut Bok-yong Kang, “mengapa aku dapat menyelundup ke dalam Ban-jin-kiong tak lain karena mengandalkan bantuan nona Cu yang mahir dalam ilmu Merobah wajah. Selama itu kami terus mengadakan hubungan dan meminta nona itu menyampaikan berita-berita bagi toako.”

18.88. Penyelesaian Dunia Persilatan

Seketika teringatlah Siau Lo-seng pada suatu malam seorang dara baju merah dengan berkuda telah menyampaikan peringatan kepadanya dengan ilmu Menyusup suara.

Serentak Siau Lo-seng pun tertawa:

“Ah, kalau begitu aku menghaturkan terima kasih kepada kalian berdua.” Saat itu Hun-ing dan Cu-ing pun berseru:

“Kuhaturkan selamat atas kebahagiaan sam sumoay karena telah mendapatkan kawan hidup yang sesuai dengan cita-citamu.”

“Malu!” teriak si dara baju merah Cu Li, “cici Hun dan cici Ing adalah pasangan yang paling serasi dengan Siau toako, jodoh yang ditentukan oleh Thian.”

Di saat muda mudi itu berseloroh dengan gembira, tiba-tiba terdengar Kho Ing-ti tertawa, “Bagus, kalian datang pada saat yang tepat sekali.”

Pencabut nyawa Kwik Ing-tat balas tertawa:

“Jika tidak datang pada waktunya, tentu tak mampu menangkap Ciong Pek-to salah seorang dari keempat Thian-ong dari Lembah Kumandang. Begitu pula tak mungkin kami dapat menyelundup ke dalam istana di bawah tanah.”

Kakek wajah dingin Leng Tiong-siang tertawa menyeringai,

“Cian-bin-poa-an Kho Ing-ti, kekuatan Ban-jin-kiong sudah berantakan. Betapapun akalmu, tetapi tak mungkin engkau mampu lolos dari jaring. Barisan pendam dan alat-alat rahasia dari istanamu sudah kita hancurkan semua. Lian-hun-kiong, Jun-gui-kiong pun telah kami ratakan dengan tanah.”

“Apakah engkau tak mau menyerah dan masih hendak berkeras kepala?” Mendengar keterangan itu, Kho Ing-ti alias Ban Jin-hoan hanya tertawa dingin.

“Yang kalian hancurkan itu hanya dua buah ruangan kosong. Sekarang akan kuperlihatkan kekuatan sebenarnya dari istana Ban-jin-kiong.”

Ia menutup kata-katanya dengan gerakan tangan. Serentak gendering pun mendengung keras dan berlapis- lapis layar di atas panggung segera terangkat naik.

Pertama-tama yang muncul yalah Long Wi, kepala dari paseban Penempa jiwa atau Lian-hun-tian, menuntun empat ekor anjing menyerupai serigala. Mulut anjing itu terengah-engah sehingga taringnya tampak menyeramkan.

Dari layar sebelah kiri yang terbuka, muncul sepuluh deretan Sip-hun-jin atau manusia-manusia yang sudah hilang kesadaran pikirannya. Mereka menghunus golok pembantai. Layar sebelah kanan, muncul limaratus barisan pemanah. Mereka telah siap dengan anak panah terpasang dibusur. Ujung anak panah itu ditujukan ke arah setiap orang yang berada di bawah panggung.

“Nah, apa sudah melihat?” Cian-bin-poa-an Kho Ing-ti tertawa, “Beratus-ratus Sip-hun-jin ini adalah jago- jago silat yang sakti dalam dunia persilatan. Dan kebanyakan mereka mempunyai hubungan dengan kalian. Apabila kalian berani bertindak sembarangan, mereka tentu akan mengadakan pembantaian secara buas.”

Setelah itu Kho Ing-ti menunjuk pada sebuah layar lain, serunya:

“Dan di balik layar itu merupakan pusat penggerak alat-alat rahasia dari istana Ban-jin-kiong. Penggerak itu menggunakan daya tenaga sebuah air terjun. Dengan memanfaatkan daya tekanan yang keras untuk menutup kawah sebuah gunung berapi. Jika daya itu dihancurkan, maka uap panas dalam perut gunung itu tentu akan meletus. Mungkin seluruh istana Ban-jin-kiong, bahkan sampai beratus lie sekitar tempat ini akan rata dengan tanah.”

“Kalian, kita, mereka beribu-ribu jiwa manusia pasti akan terkubur dalam timbunan tanah. Ha, ha, ha, suatu penyelesaian yang paling adil dan paling tepat.”

Siau Mo berseru gugup:

“Kho Ing-ti engkau gila, jangan lakukan itu!” Kho Ing-ti tertawa gelak-gelak.

“Benar, memang aku sekarang momok yang gila. Karena wanita dan cinta, aku kalap. Karena ilmu kepandaian silat, aku gila. Karena, hendak menuntut balas, aku mengamuk. Bagaimana apakah takut mati? Bukankah tadi terdengar seseorang berkokok mengatakan, bahwa mati itu dianggapnya sebagai pulang ke rumah? Hm, mengapa harus ngeri terhadap kematian? Bukankah kematian itu merupakan perjalanan terakhir yang harus dilalui setiap manusia? Siau-heng, bukankah begitu kenyataan hidup itu?”

Tiba-tiba Ong Pek-goan, ketua dari perhimpunan Hui-hou-pang, tampil ke muka dan membentak, “Orang gila, kembalikanlah Hou-ji!”

Walaupun saat itu Kho Ing-ti sedang dirangsang oleh ketegangan dan kelimpungan pikiran tetapi dia masih waspada. Tiba-tiba ia mengisar tubuh dan lepaskan sebuah hantaman keras. Tubuh Ong Pek-goan terlempar jatuh ke arah rombongan orang-orang Sip-hun-jin.

“Hm, engkau hendak minta kembali si Hou-ji. Ambillah mereka!” Kho Ing-ti tertawa dingin.

Ternyata yang dimaksud dengan Hou-ji itu atau anak harimau itu, adalah tiga ekor harimau piaraan Ong Pek-goan yang saat itu sudah diterkam dan dimakan oleh kedua anjing buas yang tengah dipegang oleh Long Wi itu.

“Penjahat, berhenti!”

Rupanya Siau Lo-seng tak dapat menahan diri lagi. Ia terus meluncur ke atas punggung, tangan kanan menjentikkan ilmu jari Han-sim-ci ke arah jalan darah yang berbahaya pada tubuh Kho Ing-ti. Dan tubuhnya lanjut bergeliatan di udara untuk menyambar tubuh Ong Pek-goan.

Tetapi terlambat. Kawanan Sip-hun-jin sudah mendahului menghantam tubuh Ong Pek-goan.

Ketua dari perkumpulan Hui-hou-pang atau Macan terbang itu terdampar balik. Pada saat Siau Lo-seng berhasil meraih tubuhnya ternyata ketua dari Hui-hou-pang itu sudah menjadi mayat yang berlumuran  darah.

Cara pembunuhan itu sungguh kejam dan mengerikan sekali.

Setelah meletakkan tubuh Ong Pek-goan, Siau Lo-seng terus maju menghampiri Sip-hun-jin yang melakukan pembunuban itu.

“Siau toako, jangan, dia adalah Te-gak-kui-ong,” Hun-ing dan Cu-ing serempak berteriak mencegah Siau Lo-seng.

Kho Ing-ti sendiripun entah bagaimana, cepat-cepat berseru, “Kui-ong. Seng-ji, berhentilah!”

Tetapi terlambat. Terdengar letusan dahsyat dan hamburan angin keras ke seluruh penjuru. Siau Lo-seng mengeram tertahan. Tubuhnya terlempar sampai setombak jauhnya. Tepat ditanggapi oleh Kho Ing-ti.

Kui-ong atau Raja Akhirat, juga terhuyung-huyung sampai belasan langkah baru dapat berdiri tegak. Tiba-tiba Pek Wan Taysu berteriak kaget:

“Te-gak-kui-ong ternyata suhu Ko Bok. Beliau ternyata belum meninggal.”

Ternyata kain hitam yang menyelubungi muka Te-gak-kui-ong atau si Raja Akhirat, telah robek sehingga tampak wajahnya. Dia ternyata memang Ko Bok Taysu, seorang tokoh angkatan tua Siau-lim yang sakti.

Dalam pada itu Hun-ing gelisah bukan main melihat Siau Lo-seng berada di tangan Kho Ing-ti. Cepat ia taburkan pedangnya untuk menusuk jalan darah maut pada tubuh kepala Ban-jin-kiong itu.

Suatu peristiwa aneh telah terjadi. Kho Ing-ti diam saja, tak menangkis maupun menghindari sehingga lengannya tertusuk dan darahnya menyembur keluar.

Tetapi Hun-ing pun terkapar rubuh di bawah kaki Kho Ing-ti. Rupanya nona itu juga terkena sebuah pukulan. Saat itu digunakan oleh Siau Lo-seng untuk meronta dan melepaskan diri dari tangan Kho Ing-ti.

Rupanya Kho Ing-ti marah karena lengannya terluka dan Siau Lo-seng dapat lepas. Dengan geram ia mengangkat kaki dan hendak menendang Hun-ing yang tak ingat diri itu. “Perempuan hina, engkau cari mampus!”

Siau Lo-seng terkejut. Cepat ia taburkan pedang Ular Emas ke arah Kho Ing-ti.

Tetapi tiba-tiba sesosok bayangan melayang lebih cepat dari taburan pedang Ular Emas itu.

Terdengar jeritan nyaring mengerikan dan Pedang Ular Emas itupun sudah menyusup ke dada orang itu. Dia rubuh terkapar di tanah.

“Ui locianpwe, engkau……” tiba-tiba pula Siau Lo-seng menjerit kaget.

Ternyata sosok tubuh yang melayang ke tengah gelanggang untuk menghalangi pedang Ular emas itu, bukan lain adalah Dewi Mega Ui Siu-bwe sendiri.

Tidak seorangpun yang tahu mengapa Dewi Mega bertindak sedemikian anehnya. Mengapa ia mengurbankan diri untuk melindungi Kho Ing-ti.

Hiat Sat Mo-li, Cu Li, kedua murid Dewi Mega serempak munghampiri dan berlutut di muka Dewi Mega seraya menangis.

“Suhu, mengapa suhu berbuat begitu ?”

Tiba-tiba Siau Lo-seng berteriak keras:

“Ui locianpwe, aku harus mati, aku telah keliru membunuh locianpwe.”

Sekonyong-konyong Dewi Mega menggeliat dan paksakan membuka mata, tersenyum sayu.

“Seng-ji, engkau tak salah, aku sendiri yang sengaja menahan pedangmu. Betapapun apabila sudah tua, orang tentu mati. Ah, Li-ji, Sat-ji, tak usah kalian bersedih. Bagaimana dengan Ing-ji, apakah dia terluka?”

Sambil menangis sedih, Hiat Sat Mo-li menyahut:

“Hun-ing sumoay menderita luka dan pingsan. Tetapi tak berbahaya. Sebentar lagi dia tentu sudah sadar.” Dewi mega Ui Siu-bwe muntahkan segumpal darah lalu dengan napas terengah-engah berkata:

“Seng-ji,” katanya kepada Siau Lo-seng, “setelah aku mati, kuserahkan Hun-ing kepadamu. Hek, hek, hek, apakah ayahmu Siau Han-kwan sudah datang? Beritahukan kepadanya, bahwa sumoayku berterima kasih atas pertolongannya mengobati penyakitnya sehingga kini Siu-li sumoay dapat pulih kembali seperti manusia biasa.” “Dan lagi, beritahu kepadanya, aku Ui Siu-bwe pun berterima kasih sedalam-dalamnya. Uh, benar Ban Jin- hoan, ah bukan, Kho Ing-ti...... beritahu kepadanya bahwa dia telah melukai pada puterinya sendiri dan memakinya sebagai perempuan hina, ah ”

Mendengar ucapan itu, Siau Lo-seng seperti mendengar halilintar meletus di siang hari. “Apa? Adik Hun-ing itu puterinya ”

Dua butir airmata menitik dari sudut mata Dewi Mega dengan suara yang makin lemah ia berkata:

“Ya, benar Ing-ji memang seorang anak yang bernasib malang. Dia adalah puteriku yang berasal dari tetesan darah Kho Ing-ti yang saat itu mengira bahwa aku mamahmu, maka setiap kali dia keliru  menyangka kalau engkau ini anaknya…… Yang benar, Hun-ing itulah puterinya.”

Habis berkata yang terakhir, ia hentikan kata-katanya, kepalanya melentuk dan matanya pun menutup rapat-rapat.

Dewi Mega Ui Siau-bwe yang selama ini dikenal sebagai Jin Kian Pah-cu, ketua dari Lembah Kumandang, akhirnya telah melepaskan nyawanya di hadapan Siau Lo-seng, kedua muridnya dan puterinya Hun-ing serta Kho Ing-ti, kekasih yang memberinya seorang anak itu.

Suasana seketika terasa berkabung. Sekalian orang menundukkan kepala mengantarkan kepergian seorang wanita yang pernah menggemparkan dunia persilatan. Seorang wanita yang dalam perjalanan hidupnya telah menderita kegagalan cinta.

Seorang wanita yang karena cintanya telah rela menyamar sebagai wanita lain agar dapat berhubungan dengan pria yang dicintainya itu.

Siau Lo-seng pejamkan mata dan berkata seorang diri:

“Ah, hidup ini memang penuh aneka liku-liku perjalanan, manusia memang penuh dengan kisah hidup yang luar biasa.”

Pada saat itu dari sudut ruangan terdengar seseorang berkata seorang diri pula:

“Ah, seorang wanita yang telah menjadi korban cinta. Kho Ing-ti, ai, Kho Ing-ti, apakah engkau masih mempunyai permintaan lagi?”

Tiba-tiba terdengar orang berteriak kaget:

“Kho Ing-ti hendak memutar alat penggerak mesin rahasia. Lekas, lekas cegah dia!”

Siau Lo-seng paling cepat bertindak. Dia lebih dulu, sudah menerobos layar dan masuk untuk mencari Kho Ing-ti. Tetapi ternyata Kho Ing-ti tak tampak batang hidungnya.

“Lekas cari pusat penggerak alat rahasia itu!” tiba-tiba terdengar orang berseru.

Kemudian terdengar pula orang berteriak keras, “Saudara-saudara, lekas, lekas tinggalkan tempat ini. Gunung berapi akan meledak.”

Jerit pekikan, berhamburan memenuhi tempat itu.

Baik anak buah istana Ban-jin-kiong maupun para jago-jago silat yang hadir dalam perayaan itu, tampak bingung dan berteriak ketakutan.

Bagaikan kawanan tawon dionggok dari sarang, mereka berhamburan menerobos keluar dari ruang besar dari Te-te-mo-kiong atau istana iblis di bawah tanah.

Apabila Kho Ing-ti menggerakkan pusat penggerak alat rahasia, maka meletuslah gunung berapi itu dan istana di bawah tanah tentu akan ambruk menimbuni mereka.

Mereka takut kalau Kho Ing-ti yang sudah terdesak dalam keadaan tak berdaya itu akan nekad dan melakukan hal itu. Dan mereka tahu siapa Kho Ing-ti itu. Seorang manusia yang akan melakukan apa saja di luar dugaan.

Pedang Ular Emas Siau Mo menghela napas. Katanya kepada Tay Hui Sin-ni,

“Begitukah sifat manusia itu? Mereka begitu ketakutan sekali untuk lari dari kematian. Pada hal apabila gunung berapi sudah meletus, apakah mereka mampu terhindar dari pada kematian?” “Omitohud,” Tay Hui Sin-ni berseru pelahan, “tetapi memang, hal itu merupakan kodrat manusia. Sebelum maut, berpantang ajal. Ah...... pergolakan dalam dunia persilatan selama inipun segera akan selesai. Selanjutnya dunia persilatan tentu akan menikmati hari-hari yang tenang. Mari kita keluar!”

“Tetapi apakah tidak akan sia-sia apabila sebentar lagi gunung ini akan diledakkan Kho Ing-ti?” Siau Mo meragu.

“Apa daya kita?” sahut Tay Hui Sin-ni, “kalau memang begitu, kitapun harus mati juga, tapi kitapun wajib pula untuk meninggalkan tempat ini. Terserah bagaimana nanti yang akan terjadi.”

Demikian rombongan Tay Hui Sin-ni dan para anak muda, Siau Lo-seng dan kawan-kawannya segera berjalan keluar.

Mereka tak mau lari seperti halnya dengan jago-jago persilatan tadi, melainkan berjalan dengan tenang. Karena mereka menginsyafi kalau Kho Ing-ti memang mau meledakkan gunung, lari mati-matian pun tiada gunanya.

Ketika keluar dari istana di bawah tanah, Siau Lo-seng, Cu-ing dan Hun-ing menemukan sesosok mayat yang tubuhnya penuh bulu.

Itulah Buddha Emas Ang Siong-pik. Mereka tahu bahwa tokoh itu tentu dibunuh oleh Naga tanpa bayangan Siau Han-kwan demi pembersihan dalam perguruaunya.

Ternyata gunung tidak meledak dan Kho Ing-ti pun menghilang tak ketahuan jejaknya. Dia tak pernah muncul lagi di dunia persilatan. Demikian pula dengan Naga sakti tanpa bayangan Siau Han-kwan.

Hanya pada suatu malam Tiong-jiu atau pertengahan musim rontok, di tepi telaga Se-ou tampak seorang lelaki tua yang kedua kaki dan tangannya buntung, tengah menikmati rembulan purnama. Tak berapa lama muncul seorang wanita cantik, seorang pemuda dan dua orang nona.

Lelaki cacad itu adalah Siau Han-kwan dan wanita cantik itu Puteri Neraka Pui Siu-li. Pui Siu-li tetap setia cinta pada Siau Han-kwan. Kini keduanya sudah terangkap sebagai suami isteri.

Sedang pemuda cakap itu bukan lain adalah Siau Lo-seng yang juga menjadi suami isteri dengan kedua nona cantik Nyo Cu-ing dan Ui Hun-ing.

Purnama raya memancarkan sinar bahagia.

>>>>> T A M A T <<<<<
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar 100 Hari Jilid 18 (Tamat)"

Post a Comment

close