Pendekar 100 Hari Jilid 15

Mode Malam
15.71. Suara Setan atau Manusia?? “Bum. ”

Terdengar letupan dahsyat dan kedua sosok tubuh yang bertempur itupun loncat berpencaran.

Tiong-goan-it-tiau terpental sampai lima langkah. Sementara Siau Lo-seng berhasil meraih tubuh anak laki yang menggeletak di tanah lalu membiarkan dirinya didera angin pukulan Tiong-goan-it-tiau dan melayang sampai tiga tombak jauhnya.

Terdengar teriakan geram dari beberapa orang yang segera berhamburan menyerang Siau Lo-seng.

Saat itu Siau Lo-seng tiba-tiba merasakan suatu aliran tutukan jari yang halus tak bersuara melanda dirinya. Dia terkejut, lalu cepat menghindar mundur.

“Bluk, bluk ” orang-orang yang memburu hendak menyerangnya itu tiba-tiba berhamburan rubuh. Sudah

tentu hal itu mengejutkan sekalian orang.

Sesaat kemudian terdengar pula suara mendesis di udara. Tiga percik sinar hitam meluncur ke arah tubuh Siau Lo-seng, mengarah tiga buah jalan darah maut pada tubuhnya. Serangan senjata rahasia itu meluncur teramat cepat sekali.

Saat itu Siau Lo-seng masih melayang di udara. Cepat ia gunakan gerak Ombak dahsyat mengangkat  naga. Sambil berputar tubuh dia berhasil pula menyambar yang sebuah.

Dia rasakan senjata rahasia amat lunak tetapi mengandung tenaga yang luar biasa besarnya, sehingga Siau Lo-seng terdorong sampai beberapa meter jauhnya.

Selekas turun ke bumi, dengan cepat Siau Lo-seng memandang ke arah hutan. Dilihatnya sesosok bayangan putih melesat cepat lalu menghilang.

Ketika memeriksa senjata rahasia yang tergenggam di tangannya itu, amboi, ternyata hanya sehelai daun. Keringat pemuda itu mengucur deras. Ia yang berilmu sakti, sejenak tertegun.

Siau Lo-seng pun lalu memegang pergelangan tangan anak laki itu. Denyut nadi pergelangannya amat lemah. Kalau tak memeriksa dengan teliti tentu orang akan mengira bahwa anak itu sudah mati.

Anak muda baju biru itu tak menderita luka suatu apa, melainkan tubuhnya terasa amat dingin sekali dan kaku. Tak ubah seperti mayat.

Sebagai seorang tokoh silat yang luas pengetahuan, cepat Siau Lo-seng dapat mengetahui bahwa anak itu telah terkena ilmu tutukan dari jarak jauh.

Kembali Siau Lo-seng termangu-mangu. Siapa orang itu? Apa maksudnya membantu dia? Dan dalam dunia persilatan tokoh manakah yang memiliki ilmu kepandaian sedemikian sakti itu?

Sebenarnya Siau Lo-seng memang sengaja hendak menempur orang-orang itu. Dia menerima saja apa yang mereka tuduhkan. Setelah itu ia hendak mengumumkan kepada mereka bahwa ia memang hendak menantang seluruh tokoh-tokoh Ceng-pay. Dengan demikian kaum persilatan golongan Ceng-pay tentu akan marah. Tiga hari kemudian dia akan menantang pihak Ban-jin-kiong.

Demikian rencana yang diatur Siau Lo-seng. Tetapi di luar dugaan rencana itu terkacau oleh munculnya orang sakti yang tak diketahui itu. Dia belum jelas, adakah orang itu kawan atau lawan. Ah, seorang Kakek wajah dingin Leng Tiong-siang saja sudah cukup memusingkan kepala, kini tambah lagi dengan seorang sakti yang tak ketahuan pendiriannya.

Suasana hening lelap. Hanya Tiong-goan-it-tiau yang merasa dirinya seperti duduk di atas beribu jarum. Kemasyhuran namanya selama berpuluh tahun, hanya dalam sekejap telah hancur berantakan!

Dia benar-benar marah sekali karena terpukul mundur sampai tiga langkah oleh Siau Lo-seng tadi.

Sejenak menenangkan semangat, dia segera mencabut pedang pusaka yang tersanggul di punggungnya lalu melangkah maju ke tempat Siau Lo-seng.

Siau Lo-seng menghela napas melihat sikap jago tua itu.

“Siau Lo-seng,” seru Tiong-goan-it-tiau, “hari ini aku Auyang Sat-hong, dengan pedang ini hendak melenyapkan bencana dalam dunia persilatan. Aku hendak membalaskan dendam kematian dari berpuluh- puluh kaum persilatan. Hayo, majulah kemari!” “Kalau aku tak mau bertempur melawanmu?” Siau Lo-seng tertawa hambar. Tiong-goan-it-tiau deliki mata.

“Hm, budak hina, apakah engkau ini benar-benar Pendekar Ular Emas Siau Lo-seng itu?”

“Ya,” sahut Siau Lo-seng, “aku memang Pendekar Ular Emas Siau Lo-seng. Tetapi bukan Siau Lo-seng yang melakukan keganasan itu melainkan Siau Lo-seng yang hendak berjuang membela keadilan.”

Tiong-goan-it-tiau tertawa marah, bentaknya, “Engkau kira dengan beberapa patah kata itu engkau dapat membersihkan diri?”

“Lalu bagaimana pendapatmu?”

“Jangan banyak mulut!” Tiong-goan-it-tiau menggembor marah, “kalau berani sambutilah seranganku beberapa jurus saja!”

Gerakan pedang jago tua itu, memang bukan main hebatnya. Seketika hawa dingin membaur ke sekeliling, ditingkah dengan deru angin yang menghamburkan debu dan pasir ke empat penjuru.

Siau Lo-seng tertawa dingin. Dia berlincahan menghindar kian kemari. Setiap serangan dapat dihindarinya dengan gerakan yang indah.

Setelah belasan jurus tak berhasil, Tiong-goan-it-tiau makin meraung-raung seperti orang kalap. Rambutnya meregang tegak, matanya merah membara. Pedang pun menyambar secepat kilat, sederas hujan mencurah. Setiap serangan tentu mengarah jalan darah yang berbahaya.

Tiba-tiba Siau Lo-seng berputar tubuh. Bukan mundur kebalikannya dia malah maju dan tebaskan tangannya.

“Engkau sudah menyerang sampai tigapuluh jurus. Jika tak mau berhenti, terpaksa aku akan membalas!” bentaknya.

Karena marahnya hampir dada Tiong-goan-it-tiau seperti meledak: “Hari ini, engkau atau aku yang mati. Hayo keluarkanlah seluruh kepandaianmu!”

Dalam pada berkata-kata itu, ia sudah lancarkan serangan sampai berpuluh jurus lagi.

Siau Lo-seng gelisah. Mana banyak hal yang harus dilakukan. Kalau terus menerus terlibat dalam pertempuran di situ, bukan saja akan memakan waktu, memakan jiwa beberapa orang persilatan, pun bahkan dirinya tentu takkan terhindar dari tuduhan sebagai pembunuh.

Akhirnya ia memutuskan untuk lolos dari tempat itu. Maka cepat ia menyurut mundur seraya lepaskan dua hantaman. Setelah dapat mendesak mundur lawan, segera ia gunakan gerak Angin puyuh menghambur daun untuk ia melambung ke udara hendak melayang ke samping.

Tetapi Siau Lo-seng lupa memperhitungkan siapa diri Tiong-goan-it-tiau itu. Digelari Tiong-goan-it-tiau atau Rajawali nomor satu dari Tiong-goan adalah karena Auyang Sat-hong itu mempunyai keistimewaan dalam ilmu ginkang.

Pada saat Siau Lo-seng melambung, tiba-tiba Tiong-goan-it-tiau sudah membentaknya: “He, hendak lari kemana engkau?”

Ternyata jago tua itu sudah melambung empat tombak tingginya dan dengan gerak Elang menerkam ayam dia memotong jalan dengan tabasan pedang kepada Siau Lo-seng.

Karena menjinjing tubuh anak lelaki itu maka gerakan Siau Lo-seng agak lamban. Dia terkejut sekali ketika pedang Tiong-goan-it-tiau mengejarnya. Dalam gugup, cepat ia menghantam.

Tiong-goan-it-tiau tertawa dingin. Ia bergeliat melambung makin tinggi lalu dengan jurus gunung Thay-san menindih puncak, ia menabas kepala Siau Lo-seng.

Seiring dengan ancaman maut itu, tiba-tiba Siau Lo-seng rasakan tubuh anak laki yang dikempitnya itu terasa meronta-ronta. Rupanya anak itu sudah siuman. Cepat Siau Lo-seng menghantam ke atas lalu mengendapkan berat badannya untuk meluncur turun ke bumi.

Sesaat kakinya menginjak tanah, segera ia rasakan punggungnya terlanda arus hawa dingin. “Hai, mengapa dalam rombongan mereka terdapat seorang tokoh yang begitu sakti,” diam-diam ia mengeluh kejut.

Cepat ia meluncur maju dua langkah lalu menyongsong dengan tamparan. Tetapi betapalah kejutnya ketika pukulannya itu serasa terbenam dalam lautan kapas. Tahu gelagat berbahaya ia mundur lagi tetapi sudah tak keburu.

Dadanya serempak terlanda oleh suatu arus tenaga dahsyat sehingga darahnya bergolak keras dan tubuhnya pun terhuyung mundur tiga-empat langkah. Anak laki yang dikempitnya itupun terlepas jatuh ke tanah.

Terjadi pula suatu keanehan. Ketika jatuh ke tanah, anak laki itu segera duduk. Sikapnya seperti orang yang terjaga dari mimpi.

Serangan gelap itu membuat Siau Lo-seng marah sekali. Ketika ia hendak berpaling untuk menyelidiki penyerangnya, Tiong-goan-it-tiau pun meluncur dari udara dan menabasnya.

Siau Lo-seng alihkan kemarahannya kepada jago tua itu. Dia balikkan tubuh dan songsongkan kedua tangannya.

Tiong-goan-it-tiau menjerit ngeri. Pedangnya terlepas dan orangnya pun melayang-layang seperti layang- layang putus tali untuk kemudian terbanting jatuh ke tanah. Dia berusaha untuk bangun, mulutnya bercucuran darah. Baru sejenak berdiri, diapun sudah jatuh lagi.

Siau Lo-seng menarik napas longgar lalu berpaling ke arah kawanan orang yang berada di tempat itu. Astaga……

Ia terbeliak kaget sekali ketika melihat pemandangan di tempat itu. Semua jago-jago yang berada di tempat itu menggeletak di tanah. Si janda baju hitam dan anak lelaki tadi kebalikannya malah sudah terjaga.

Siau Lo-seng merasa benar-benar seperti bermimpi.

“Cici, engkau tidak meninggal?” teriak anak laki itu seraya lari menghampiri.

“Adik Toan, apakah yang telah terjadi?” Lu Kui-hun si janda baju hitam itu bertanya heran “Paman Auyang telah dicelakai orang,” sahut anak laki itu.

Mendengar itu serentak menggigillah tubuh Lu Kui hun. Dan sesaat melihat Siau Lo-seng tampak berada di tempat itu pula, ia terus menyerbu: “Jahanam, engkau telah mencelakai sekian banyak orang.”

Tiba-tiba telinga Siau Lo-seng terngiang suatu suara yang dipancarkan melalui ilmu Menyusup suara:

“Kalau tak mau pergi sekarang, akan tunggu kapan lagi? Orang-orang itu telah kututuk jalan darahnya. Dua jam kemudian, mereka dapat bergerak lagi. Jangan hiraukan siapa diriku, kelak engkau tentu tahu sendiri……”

Setelah menghindari serbuan si janda Lu Kui-hun, kembali suara ngiang nyamuk itu terdengar pula, “Pukul janda itu lalu cepat lari ke arah timur. Dia takkan mati ”

Tanpa disadari Siau Lo-seng telah melakukan perintah orang yang tak kelihatan itu. Sekali ayunkan tangan, Li Kui-hun terlempar sampai beberapa langkah.

Tanpa melihat lagi bagaimana keadaan janda itu, Siau Lo-seng terus loncat dan lari menuju ke timur.

Selama berlari itu, suara seperti ngiang nyamuk itu tetap berkumandang di telinga Siau Lo-seng. Dia penasaran sekali dan pesatkan lari untuk mengejar.

“He, apakah engkau mampu mengejar?” kembali terdengar suara orang tertawa meloroh.

Siau Lo-seng sudah mengejar mati-matian. Tetapi dia seperti mengejar bayangan setan saja.  Betapapun dia lari, suara orang itu tetap mengiang di telinganya.

Akhirnya ia berhenti, menghela napas putus asa lalu berseru nyaring ke udara: “Siapakah engkau ini? Dimanakah sebenarnya engkau berada?”

Terdengar orang itu tertawa gelak-gelak. “Aku berada dekat sekali dengan engkau. Dan pernah bertemu beberapa kali padamu. Saat ini aku berada di sampingmu. Cobalah engkau terka, siapakah aku ini?”

Siau Lo-seng makin bingung. Setelah merenung beberapa jenak, dia tetap belum dapat memikirkan orang itu tetapi rasanya ia sudah kenal dengan nada suaranya.

“Locianpwe, maafkan kebodohanku sehingga tak dapat menerka siapa engkau ini. Tolong tanya, siapakah engkau ini sesungguhnya? Setan atau manusia?”

“Memang agaknya engkau ini tolol,” seru suara orang itu pula, “bicara begitu lama dengan engkau, mengapa engkau masih belum dapat menerka siapa diriku. Bahkan bertanya apakah aku manusia atau setan.”

“Kalau manusia, tentu tampak bayangannya, tetapi engkau tidak,” sahut Siau Lo-seng “maka tentu bangsa setan atau roh.”

“Ya, benar, aku memang bangsa setan. Seorang setan yang sudah mati delapanbelas tahun berselang, ah……, delapanbelas tahun hanya seperti kemarin saja. Waktu memang amat cepat sekali.”

Timbul rasa simpathi Siau Lo-seng mendengar helaan napas orang itu, serunya,

“Locianpwe, apakah engkau mempunyai kenangan lama yang menyedihkan? Maukah engkau bertemu muka dengan aku? Dimanakah engkau saat ini?”

“Jauh di ujung samudera, dekat di depan mata. Bukankah telah kuberitahukan bahwa aku berada di sisimu?”

“Mengapa aku tak dapat melihat?” seru pula Siau Lo-seng.

“Karena tergolong roh, sudah tentu engkau tak dapat melihat diriku.”

“Lalu mengapa engkau membawa aku kemari? Apakah hendak memberi petunjuk kepadaku?” tanya Siau Lo-seng.

“Sungguh cerdik,” seru orang itu, “tak mengecewakan sebagat keturunan seorang pangcu.” “Apa katamu?”

“Bukankah engkau masih ingat akan peristiwa berdarah di desa Hay-hong-cung pada delapanbelas tahun yang lalu?”

“Sudah tentu tak mungkin kulupakan,” sahut Siau Lo-seng. “Sudahkah engkau dapat mengetahui siapa musuhmu?”

“Ah sungguh memalukan sekali,” sahut Siau Lo-seng, “sampai saat ini aku belum dapat mengetahui orang itu. Tetapi kutahu paman Siau Mo itu termasuk salah seorang algojonya.”

Orang itu menghela napas.

“Engkau salah,” serunya, “Siau Mo tak berdosa. Bahkan dia termasuk salah seorang korbannya. Hanya dia telah dicelakai dengan cara lain.”

15.72. Rahasia Perguruan Thian-sian-bun

“Ngaco!” teriak Siau Lo-seng, “dengan mata sendiri kusaksikan dia sebagai algojo, dan diapun melemparkan aku ke jurang. Itu memang nyata kulihat sendiri.”

“Budi dendam, dendam budi. Benar salah dan salah benar. Sukar untuk diputuskan. Gerak menimbulkan lingkaran Sebab yang akan berjalan seperti roda tiada hentinya. Dahulu Siau Mo melakukan tindakan ganas itu, memang dalam keadaan yang sulit baginya. Keadaannya pantas dikasihani. Memang peristiwa pada waktu itu ruwet sekali ”

“Peristiwa di Hay-hong-cung telah menelan korban seratusan lebih jiwa manusia. Adakah mereka memang layak harus mati?” bantah Siau Lo-seng dengan geram.

Orang itupun menghela napas. “Bukan begitu penilaiannya, memang korban-korban itu tak bersalah. Tetapi si algojolah yang kejam dan licin. Maksudku, pembunuh yang sesungguhnya itu bebas berkeliaran di luar. Sedang korban-korban itu akan memberatkan kedosaan Siau Mo sehingga dianggap sebagai musuh besar dari keluarga Siau.

“Engkau mengatakan bukan Siau Mo yang menjadi biang keladi tetapi dia hanya diperalat orang untuk membunuh keluargaku?” seru Siau Lo-seng.

“Bagaimana kejadian yang sebenarnya aku belum tahu. Tetapi dari hasil penyelidikanku selama bertahun- tahun, aku berani memastikan bahwa Siau Mo bukan biang keladi yang utama dalam pembunuban itu. Dan selama delapanbelas tahun lamanya dia pun berusaha keras untuk mencari bukti dari peristiwa itu. Dia  amat menyesal sekali atas kejadian itu. Delapanbelas tahun lamanya dia tersiksa batinnya.”

Siau Lo-seng kerutkan dahi.

“Adakah locianpwe pernah bertemu dengan pamanku Siau Mo itu? Kalau tidak bagaimana locianpwe dapat mengetahui jelas soal itu?”

Orang itu tertawa ringan.

“Bukan melainkan aku tetapi engkau sendiripun pernah bertemu. Bahkan sampai beberapa kali, tetapi engkau tak tahu.”

“Apa? Aku pernah bertemu dengan dia?” Siau Lo-seng berteriak kaget.

“Bukan saja beberapa kali bertemu dengan engkau pun bahkan telah memberi pelajaran kepadamu dan acapkali secara diam-diam telah melindungi engkau, beberapa kali menolong engkau dari bahaya.”

Benak Siau Lo-seng segera berkeliaran mencari bayangan-bayangan dari mereka yang pernah bertemu dengan dia.

“Apakah dia bukan Kakek wajah dingin Leng Tiong-siang itu?” serunya sesaat kemudian.

“Benar,” seru suara aneh itu, “memang dia Leng Tiong-siang yang diam-diam telah berulang kali  menolongmu!”

Siau Lo-seng termenung-menung. Mengapa tak pernah ia membayangkan bahwa Leng Tiong-siang itu pamannya sendiri. Sebenarnya ia harus tahu. Semisal ketika dikeroyok oleh jago-jago Bu-tong-san, diam- diam pamannya telah menolongnya lolos dan dengan cara membikin panas hati supaya bertempur, diam- diam pamannya itupun telah mengajarkan ilmu pedang yang hebat.

“Tetapi bagaimana engkau tahu dia berbuat begitu kepadaku?” masih ia meragu dan melontarkan pertanyaan.

“Dengan menyandang luka-luka, dia pernah menolongmu untuk menahan serangan orang Ban-jin-kiong. Cobalah engkau pikirkan, masakan dia akan melakukan kesemuanya itu kalau dia hanya akan berpura-pura saja? Misalnya seperti peristiwa tadi. Apabila dia diam-diam tidak bertindak lebih dahulu untuk menindas kaki tangan orang Ban-jin-kiong, mampukah engkau lolos dengan selamat? Pepatah mengatakan 'tombak yang ditusukkan, mudah dihindari. Tetapi panah yang dilepas secara menggelap sukar dijaga'. Di bawah serangan gelap dari sekian banyak jago-jago berkepandaian tinggi, mampukah engkau meloloskan diri?”

Siau Lo-seng seperti dipagut ular kejutnya. “Tetapi bukankah engkau yang menutuk rubuh mereka?”

“Bukan. Siau Mo lah yang turun tangan. Walaupun aku mempunyai kemampuan untuk mengatasi mereka tetapi aku tak berhak melakukan hal itu.”

“Ah, benar-benar aku tak mengerti. Mohon locianpwe suka menjelaskan,” kata Siau Lo-seng.

“Memang banyak sekali hal yang tak engkau ketahui. Baiklah, akan kuceritakan urusanku kepadamu. Aku tak dapat turun tangan karena terpancing oleh suatu perjanjian yang belum batas waktunya.”

“O, apakah locianpwe masih terikat perjanjian dengan orang lain?’

“Ya, orang persilatan memang menjunjung tinggi perjanjian. Bahkan melebihi jiwanya sendiri. Misalnya perjanjian pada delapanbelas tahun yang lalu antara Siau Mo, Ban Jin-hoan, Dewi Mega Ui Siu-bwe dan Tay Hui Sin-ni. Walaupun mereka melakukan rencana-rencana yang busuk tetapi tak seorangpun berani melanggar perjanjian itu. Selama masa perjanjian itu belum habis, mereka hanya dapat menggunakan siasat-siasat yang licin saja.” Siau Lo-seng tertegun. Ia tak habis mengerti mengapa manusia itu menggunakan waktu hidupnya untuk melakukan kejahatan.

“Menilik banyak sekali soal-soal dunia persilatan yang locianpwe ketahui, pastilah locianpwe sering berkelana,” beberapa saat kemudian Siau Lo-seng berkata.

“Bukan melainkan berkelana di dunia persilatan saja, pun sudah setahun lebih aku membayangi di sampingmu. Karena itu aku selalu tahu akan setiap gerak gerikmu.”

Bukan kepalang kejut Siau Lo-seng mendengar keterangan itu. Ia tak kira bahwa dirinya dibayangi orang tanpa diketahuinya sama sekali.

Akhirnya ia menghela napas.

“Tetapi bukankah engkau sebuah roh?”

“Ah, meskipun aku seorang manusia tetapi kini keadaanku tak ubah seperti setan. Sekalipun engkau  melihat aku, mungkin engkau tentu mengatakan aku ini setan.”

“Walaupun belum melihat, tetapi kuyakin locianpwe tentu seorang yang menjujung Ceng-gi (kebenaran). Tetapi siapakah sesungguhnya locianpwe ini? Mengapa aku memiliki perasaan akrab dengan locianpwe?”

“Bukankah telah kuberitahukan kepadamu bahwa aku adalah orang yang paling dekat dengan engkau. Tentang wajahku, kelak pada suatu hari engkau tentu akan tahu. Saat ini aku berada pada jarak satu lie di lereng bukit dan tengah mengawasi gerak gerikmu.”

“Terpisah satu lie?” Siau Lo-seng terkejut sekali, “mengapa dapat melihat keadaanku? Mengapa dapat bicara dengan aku? Dengan begitu bukankah locianpwe setingkat dengan seorang dewa?”

Orang itu kedengaran tertawa.

“Mengapa engkau begitu percaya pada segala macam setan dan roh? Sebentar mengatakan diriku setan, sebentar dewa. Pada hal apa yeng kulakukan itu hanya mengandalkan sebuah benda ajaib dan semacam ilmu kepandaian yang istimewa saja.”

Serentak teringatlah Siau Lo-seng akan ayah angkatnya, orang tua peniup seruling itu. Tetapi ia kenal jelas bahwa nadanya bukan nada ayah-angkatnya.

Lalu siapakah dia? Apakah dia juga memiliki seruling gaib seperti punya ayah angkatnya itu? Adakah di dunia ini terdapat dua buah benda gaib yang sama? Andaikata punya seruling itu, tetapi bagaimana dengan ilmu suara Cian-li-coan-im yang sakti itu?

“Locianpwe,” akhirnya ia berseru lantang, “dari ilmu Cian-li-coan-im dan ilmu Pendengaran yang sakti itu, bukankah locianpwe sudah mencapai tingkat seperti seorang dewa?”

Orang tua aneh itu tertawa nyaring.

“Mana engkau dapat mengetahui kalau aku menggunakan semacam benda pusaka untuk melihat sejauh satu lie? Tetapi ilmu menyusup suara sejauh satu lie itu, memang tak dapat ditempuh dengan  menggunakan benda ajaib ataupun kepandaian istimewa. Sebenarnya hal itu mudah saja, tidak ada hal yang mengherankan. Walaupun sedikit sekali orang yang menguasai ilmu sakti itu. Tetapi bukankah engkau sudah berjumpa dengan tiga orang yang memiliki ilmu itu? Tetapi mungkin ketiga orang itu tergolong pada aliran yang sama.”

Serentak terbukalah pikiran Siau Lo-seng, serunya: “Locianpwe, ketiga orang itu kecuali engkau, yang dua bukankah Buddha emas Ang Siong-pik dan ayat angkatku orang tua peniup seruling itu?”

“Benar, engkau memang cerdik. Pangcu mempunyai putera seperti engkau……” tiba-tiba ia hentikan kata- kata karena merasa telah kelepasan omong.

“Locianpwe, siapakah yang engkau sebut pangcu itu? Apakah mempunyai hubungan dengan diriku? Mengapa engkau tak melanjutkan perkataanmu?”

“Hm,” orang aneh itu mendesah, “memang benar mempunyai hubungan dengan dirimu. Dia menjabat sebagai ketua kami sudah berselang duapuluh tahun yang lalu. Kini dia menjadi ciang-bun-jin kami, orang yang paling akrab dengan aku, merupakan suhengku atau boleh dikata suhu yang memberi pelajaran kepadaku. Apakah engkau merasa heran atas keteranganku ini?” “Tidak,” sahut Siau Lo-seng, “tak begitu pelik. Pangcu kalian itu mungkin sahabat karib kalian pada  duapuluh tahun yang lalu. Pada saat membentuk perkumpulan, dia menjadi pangcu. Duapuluh tahun kemudian, perkumpulan itu bubar. Dia lalu menerima jabatan sebagai ketua partai persilatan. Dan engkau masuk ke dalam partai persilatan itu, menjadi murid dan mengangkat suhu, orang itu sebagai suhumu. Saat itu dia berkedudukan sebagai suheng, mewakili suhunya untuk memberi pelajaran ilmu kepandaian kepadamu……”

Tiba-tiba Siau Lo-seng berhenti lalu bertanya: “Bukankah pangcumu itu Buddha emas Ang Siong-pik?” Orang tua aneh itu tertawa gelak-gelak.

“Engkau memiliki daya nilai yang tajam sekali. Tetapi masih ada beberapa hal yang salah. Pangcu kami bukan Buddha emas Ang Siong-pik tetapi ayah-angkatmu itu. Orang yang engkau katakan sebagai orang tua peniup seruling. Aku telah melakukan perintahnya untuk mengikuti perjalananmu. Nah, sudah jelaskah engkau sekarang?”

Siau Lo-seng ternganga.

“Apa? Bagaimana mungkin ayah-angkatku itu menjabat sebagai pangcu?”

“Mengapa tak mungkin?” balas bertanya orang aneh itu, “dahulu beliau seorang tokoh sakti yang tiada lawannya. Mengapa tak dapat menjadi pangcu kami?”

“Bukan begitu maksudku,” Siau Lo-seng memberi keterangan, “maksudku, sekarang dia seorang cacad. Bahkan berjalan saja sudah sukar, bagaimana dapat menjabat ketua sebuah partai persilatan? Bukankah sekarang dia ditawan ketua Lembah Kumandang?”

Orang aneh itu tertawa datar,

“Apakah kau anggap beliau telah ditangkap oleh pihak Lembah Kumandang? Ha, ha…… walaupun tubuhnya cacat, tetapi pangcu dapat bergerak dengan leluasa sekali. Sebuah gerombolan macam Lembah kumandang masakan mampu merampas kebebasannya ”

“Lalu siapa yang menangkap ayah-angkatku itu? Sekarang dia berada dimana?” Siau Lo-seng cepat bertanya.

“Walaupun yang pertama sejak sekian tahun ia muncul keluar, tetapi kupercaya beliau tentu takkan tertimpah bahaya. Karena tadi akupun menerima perintahnya.”

Siau Lo-seng legah perasaannya.

“Locianpwe, berapa besarkah pengaruh partaimu itu? Dan berapa banyakkah muridnya? Mengapa aku tak pernah mendengar tentang partai persilatan yang kalian bentuk itu?”

Kembali orang aneh itu tertawa.

“Partai kami yalah perguruan Thian-sian-bun dari guha Kiu-thian-sian-hu. Sampai sekarang sudah berdiri seratus tahun lebih. Ketua yang pertama, Thian Lo Cinjin. adalah pendiri dari partai ini. Pada masa itu dia dapat mengalahkan semua jago dunia persilatan. Kemudian dia menerima dua orang murid. Murid pertama yalah Kiam Hay Cinjin. Waktu belum jadi pertapa bernama Can Seng-it.

Murid kedua bernama Li Yong-giat. Pada suatu hari kedua suheng dan sute itu berlatih ilmu pedang. Karena selama itu belum pernah bertempur dengan orang, tanpa disengaja, Kiam Hay Cinjin telah mengeluarkan ilmu pedang yang sakti. Karena terlambat untuk menangkis, Li Yong-giat telah terluka parah sehingga meninggal.

Bukan kepalang sesal dan sedih Kiam Hay Cinjin karena peristiwa itu. Ia patahkan pedangnya dan mengangkat sumpah. Selama-lamanya takkan keluar ke dunia persilatan dan bertempur dengan orang. Dia mengasingkan diri dalam guha Thian-siau-sian-tong dan mengabdikan diri dalam ajaran suci ”

Bercerita sampai di sini, orang itu berhenti sebentar lalu melanjutkan lagi:

“Tahukah engkau berapa lama dia tinggal dalam guha Thian-siau-sian-tong itu? Dan apakah yang berhasil dipelajarinya selama itu?”

“Paling tidak dia tentu tinggal sampai berpuluh-puluh tahun lamanya,” kata Siau Lo-seng. Orang aneh itu tertawa keras. “Engkau tentu takkan membayangkan bahwa suhuku itu telah mengasingkan diri selama enampuluh tahun. Selama itu dia gunakan waktunya untuk membangun Thian-siau-sian-hu dan memutuskan takkan berhubungan dengan dunia luar lagi untuk-selama-lamanya. Di luar dugaan ketika sedang membangun guha itu, dia telah berhasil menemukan guha rahasia tempat penyimpan kitab pusaka dari Thian Lo Cinjin pendiri Thian-sian-bun. Dalam guha itu terdapat bagian pertama dari kitab ilmu Thian-siau-lok-cin, memuat empat buah irama. Kemudian terdapat lagi bab kedua dari kitab ilmu seruling Thian-siau-lok-cin berada di atas empatpuluh tujuh batang jarum Kim-coa soh ”

Kini Siau Lo-seng baru menyadari bahwa jarum Kim-coa-soh yang diperolehnya itu berasal dari kitab pusaka yang paling diincar oleh setiap orang persilatan.

“Lalu sebatang seruling Thian-siau-ceng-ing-sin-tiok dan seruling Bi-hun-sin-siau,” kata orang aneh itu pula.

“Seruling gaib Thian-siau-ceng-in-sin-tiok bukankah yang dibawa ayah angkat ku itu dan seruling Bi-hun-sin- siau yang dibawa Buddha emas Ang Siong-pik itu? Lalu bagaimanakah Kiam Hay Cinjin melewatkan kehidupannya selama enampuluh tahun?”

“Pada saat suhu menutup mata, beliau telah memberikan seruling Thian-siau-ceng-ing-sin-tiok itu kepada ayah-angkatmu. Seruling itu merupakan tanda kekuasaan dari ketua perguruan kami. Selama enampuluh tahun itu, suhu hanya hidup dari tanaman dan buah-buahan serta sumber air Thian-yan-ci-wi-gok-coan.”

“Locianpwe, bukankah apabila minum air dari sumber itu terus akan tumbuh bulu?” tanya Siau Lo-seng.

“Benar, Thian-yan-ci-wi-gok-coan merupakan satu-satunya sumber air dalam guha Thian-siau-sian-hu. Airnya bening tetapi agak pahit. Apabila meminumnya memang dapat menambah tenaga kekuatan tetapi badan kita pun akan tumbuh bulu yang panjang dan tak dapat dihilangkan lagi. Karena apabila bulu itu dihilangkan, darah akan mengucur keluar dari lubang pori dan orang pun tentu binasa.”

“Jika demikian Kiam Hay locianpwe, engkau, ayah angkatku dan Buddha emas Ang Siong-pik tentu penuh dengan bulu panjang.”

“Sudah tentu aku tak terkecuali,” kata orang aneh itu, “tetapi suhuku tidak demikian. Hanya kepala dan kumis serta jenggotnya yang panjang. Sedang tubuhnya tidak. Hal itu karena ada sebab lain……”

“Yang paling menyedihkan,” kata orang aneh itu pula, “setelah mengasingkan diri selama enampuluh tahun itu, beliau masih harus mengalami riwayat yang lebih panjang dan nasib yang mengenaskan.”

“Ah, apakah dia masih mengalami penderitaan lagi?” tanya Siau Lo-seng. Dengan nada rawan-rawan garam berkatalah orang aneh itu:

“Memang nasib suhu itu kurang baik. Selama enampuluh tahun itu beliau dengan tekun telah berhasil mempelajari kita pusaka peninggalan Thian Lo Cinjin cousu dan setelah mengadakan perenungan selama tujuh tahun, suhu telah berhasil menciptakan sebuah kitab untuk menempa arwah, disebut Lian-hun-cin- keng. Dibagi menjadi tiga jilid.

Tetapi ketiga kitab itu bahkan malah menyebabkan dia harus mengalami hari-hari terakhir yang penuh dendam……, ah, pada saat beliau menutup mata, beliau masih meninggalkan harapan yang belum terpenuhi.”

15.73. Siapakah Peniup Seruling Aneh??

Tergetarlah hati Siau Lo-seng mendengar keterangan itu. Pikirnya, “Kitab itu telah dicuri oleh suhuku Ban Li- hong. Apakah Kiam Hay Cinjin telah dicelakai oleh suhuku……?”

“Adakah karena kehilangan kitab Lian-hun-cin-keng itu maka Kiam Hay Cinjin sampai menderita siksaan?” serentak ia bertanya.

“Benar,” seru orang aneh itu, “adalah karena kitab itu maka suhu sampai dicelakai oleh muridnya yang berhati binatang itu. Suhu telan dikutungi kedua kaki dan urat-uratnya. Tulang bahunya diikat dengan seutas rantai Kim-kong-seng-thiat (campuran besi, emas dan baja) dan dipenjarakan dalam Thian-siau-sian-hu. Dia disiksa seperti dalam neraka, siang malam dihancurkan ilmu kepandaian oleh murid binatang itu.”

Mendengar itu hampir pecahlah dada Siau Lo-seng karena diamuk hawa kemarahan. Dia tak kira kalau suhunya ternyata seorang yang berlumuran dosa. Dengan gemetar ia berseru, “Cianpwe, benarkah suhuku Ban Li-hong itu melakukan perbuatan yang sedemikian di luar perikemanusiaan?”

Orang aneh itu menghela napas.

“Lo-seng, engkau salah. Apa engkau kira Ban Li-hong itu menjadi murid dari perguruan Thian-sian-bun?”

“Tetapi walaupun bukan murid yang berhianat, namun kematian dari suhuku adalah akibat Ban Li-hong telah mencuri kitab Lian-hun-cin-kang dan ke empatpuluh tujuh batang jarum Kim-coa-soh itu.”

“Bukankah cianpwe mengatakan bahwa perguruan Thian-sian-bun itu sudah memutuskan hubungan dengan dunia luar? Mengapa suhuku dapat mencuri kitab Lian-hun-cin-keng dan Jarum Kim-coa-soh?”

“Peristiwa itu memang aneh sekali. Gua Thian-siau-sian-tong terletak di sebuah karang buntu, di tengah- tengah gunung yang pelik keadaannya. Yang ada hanya sebuah jalan kecil menuju ke tempat itu. Kabarnya Ban Li-hong sedang mencari tanaman daun obat ke karang buntu itu. Karena kurang hati-hati, dia tergelincir ke bawah. Untung dia masih dapat selamat dan bahkan tanpa sengaja telah menemukan pintu dari guha Thian-siau-tong. Ketika dia masuk, saat itu kebetulan suhu sedang melakukan semedhi yang gawat. Beliau seolah-olah menghampakan diri, mematikan seluruh gerak panca inderanya. Dalam keadaan yang tak berdaya itulah maka Ban Li-hong dapat mencuri salah satu dari ketiga kitab pusaka dan empatpuluh tujuh batang jarum Kim-coa-soh. Sebelum pergi, ia meninggalkan tulisan, mengatakan hanya hendak meminjam untuk sementara waktu saja. Ah, perbuatan Ban Li-hong, itu memang terkutuk.”

Orang aneh itu berhenti. Setelah menghela napas, ia melanjutkan lagi.

“……mungkin Ban Li-hong tak mengira bahwa perbuatannya itu akan mengakibatkan 3uhu sampai menderita sedemikian hebat, ah ”

“Lalu bagaimaua kelanjutannya?” tanya Siau Lo-seng.

“Kepergian Ban Li-hong membawa kitab dan jarum, hanya terpaut setengah jam pada saat suhu menyelesaikan semedhinya. Ketika suhu keluar mengejar, dengan ilmu ginkang yang istimewa Ban-Li-hong sudah terbang jauh. Suhu merasa tak mampu mengejar dan terpaksa kembali ke dalam guha.”

“Masakan dengan kepandaiannya yang begitu sakti, Kiam Hay cianpwe tak mampu mengejar suhuku?” tanya Siau Lo-seng.

“Sukar untuk kukatakan,” seru orang aneh itu, “hanya terpaut sekejap mata, sudah terpisah seribu lie. Apalagi Ban Li-hong itu memang termasyhur memiliki ilmu ginkang yang luar biasa. Setengah jam baginya sudah dapat mencapai seratusan lie, Mungkin karena arah pengejarannya salah atau memang ada lain soal, suhu tak dapat mengejarnya. Sejak itu maka ilmu Lian-hun-cin-keng dan jarum kim-coa-soh itu segera bocor di dunia persilatan. Dan ketika pulang ke guha sehabis mengejar Ban Li-hong, suhu mendapatkan seorang menggeletak di depan pintu guha.”

“Bukankah dia murid penghianat yang menyiksa suhunya itu?” seru Siau Lo-seng.

“Benar, dia adalah Buddha emas Ang Siong pik!” seru orang aneh itu, “karena kuatir kitab Lian-hun-cin-keng dan jarum Kim-coa dapat menimbulkan bencana dalam dunia persilatan maka suhu telah menerima Ang Siong-pik menjadi murid. Tetapi tak kira ”

“Ah, tak kiranya setelah dihantam jatuh ke dalam karang buntu oleh paderi Ko Bok dari Siau-lim ternyata Ang Siong-pik malah ditolong oleh Kiam Hay locianpwe. Tetapi budi pertolongan itu dibalas dengan  tindakan macam binatang, bukan saja menghianati pun malah menyiksa suhunya sampai di luar perikemanusiaan. Hm, apabila kelak berjumpa dengan Ang Siong-pik, aku tentu akan menuntutkan balas untuk Kiam Hay cianpwe,” seru Siau Lo-seng.

Rupanya orang aneh itu tergerak mendengar pernyataan pemuda itu, serunya:

“Dendam itu, aku dan ayah-angkatmu memang takkan tinggal diam. Tetapi saat ini, memang belum waktunya. Dan lagi Ang Siong-pik saat ini sudah berhasil mempelajari ilmu meniup seruling sampai tiga buah irama dan memiliki seruling Bi-hun-sin-siau. Dan lagi pula diapun sudah menguasai enambelas pengawal baju merah dari Thian-siau-sian-hu. Kekuatannya memang bukan main hebatnya. Jangan dipandang enteng!”

Mendengar keterangan itu. Siau Lo-seng seperti disadarkan. Ternyata keenambelas pengawal baju merah dan baju putih dari Ang Siong-pik itu berasal dari perguruan Thian-siau-sian-hu, itulah sebabnya maka kepandaian mereka begitu tangguh. Dan lagi seperti manusia yang tak mempunyai kesadaran pikiran. “Lo-seng, tahukah engkau mengapa ayah angkatmu sampai kehilangan kaki dan tangannya?” “Entahlah, apakah Ang Siong-pik yang mencelakainya?”

“Bukan secara langsung mencelakai. Tetapi secara tak langsung telah dicelakai.” “Bagaimana maksudmu?” tanya Siau Lo-seng.

Orang aneh itu menghela napas.

“Ah, pada waktu ayah angkatmu dicelakai orang, sebelumnya dia telah tersasar masuk ke Thian-siau-sian- hu. Untuk memperbaiki pendirian perguruan maka suhu memutuskan untuk mengambil seorang murid lagi agar dapat menghadapi Ang Siong-pik. Serta mengambil pulang kitab dan jarum Kim-coa-soh. Tapi karena takut kelak ayah angkatmu akan berhianat seperti Ang Siong-pik maka dia diharuskan untuk mengutungi kedua kaki dan tangannya sendiri sehingga dia menjadi manusia cacad. Adalah pengalaman pahit dari Ang Siong-pik yang membuat suhu berobah menjadi manusia berhati dingin. Dia tak percaya pada setiap orang sehingga ayah angkatmu dipaksa untuk mengutungi kaki dan tangannya.”

“Apakah ayah angkatku mau melakukan syarat itu?”

“Memang nasib ayah angkatmu yang dirundung kemalangan. Sebenarnya kedua kakinya memang sudah lumpuh karena dicelakai musuh. Karena tak tahu maka suhuku memerintahkan mengutungi kedua kakinya kemudian juga kedua tangannya. Adalah karena berkeras hendak menuntut balas, ayah-angkatmu melakukan perintah itu juga. Dikemudian hari suhuku tahu peristiwa itu. Dia menyesal karena telah memaksa ayah angkatmu mengutungi kedua tangannya itu.”

“Kiranya sccara tak langsung. Ayah angkatku telah menerima akibat dari perbuatan jahat Ang Siong-pik. Hm, sejak saat ini aku bersumpah tak mau hidup di bawah satu kolong langit dengan manusia itu,”  seru Siau Lo-seng.

“Sebenarnya Ang Siong-pik itu seorang yang cerdas sekali. Tetapi sayang dia berhati kejam dan ganas. Kelak apabila berjumpa dengan dia, engkau harus waspada.”

Siau Lo-seng merasa simpati sekali atas penderitaan nasib ayah angkatnya. Diam-diam dia berjanji dalam hati, apabila urusannya sudah selesai ia akan mendampingi orang tua itu dan merawatnya.

“Locianpwe, dahulu ayah angkatku menjabat ketua partai perguruan apa saja?” Orang itu menyahut agak tersendat-sendat: “Soal itu...... itu aku……”

Dia tak dapat melanjutkan kata-katanya. Baru beberapa saat kemudian ia berkata pula,

“Pada masa ayahmu berkelana di dunia persilatan, yang ada hanyalah perkumpulan Hui-hou-pang, Giok-li- pang dan Ceng-liong-pang, tiga perkumpulan silat yang terbesar. Selain itu masih terdapat pula Peh-jin- pang, Toa-to-beng dan Kay-pang. Walaupun masih banyak lagi perkumpulan dan perhimpunan perguruan- perguruan silat, tetapi mereka kecil sekali pengaruhnya ”

“Apakah ayah angkatku menjabat ketua salah satu dari ketiga perkumpulan itu?”

“Bukan hanya salah satu tetapi pun yang paling besar pengaruhnya. Memiliki anak buah sampai tujuhribu orang, lima buah cabang. Pengaruh perkumpulan itu sejajar dengan partai Siau-lim-pay yang dianggap sebagai pemimpin dunia persilatan Tiong-goan.

“O, apakah Hui-hou-pang?”

Sebenarnya Siau Lo-seng sudah tahu bahwa perkumpulan Ceng-liong-pang atau Naga Hijau merupakan perkumpulan yang paling besar dan berpengaruh. Tetapi dia tahu kalau yang menjabat ketuanya yang terdahulu adalah ayahnya sendiri. Maka ia menerka ayah-angkatnya itu tentu menjabat ketua Hui-hou-pang atau Macan Terbang.

Orang aneh itu mendecak tetapi tak jadi buka suara.

“Cianpwe, apakah ada suatu rahasia yang sukar dikatakan? Kalau memang demikian, tak apa jangan dikatakan,” seru Siau Lo-seng.

Orang aneh itu tiba-tiba menghela napas: “Lambat atau cepat tentu akan kukatakan juga, lebih baik……” “Lalu perkumpulan apa?” tukas Siau Lo-seng. “Dahulu ayah angkatmu itu menjabat sebagai ketua dari perkumpulan Naga Hijau ”

“Naga Hijau?” Siau Lo-seng berteriak kaget. “ayah-angkatku itu ketua Naga Hijau? Tetapi kudengar, ketua Naga Hijau yang terdahulu adalah tokoh yang bergelar Naga sakti tanpa bayangan……” .

Orang aneh itu menghela napas pula.

“Lo-seng, sebenarnya aku telah menerima pesan dari ayahmu, untuk sementara tak boleh membocorkan rahasia ini. Tetapi……”

“Locianpwe, apa engkau bilang?” Siau Lo-seng berteriak kaget, “engkau telah menerima pesan dari ayahku? Dia……, dia……”

Hampir dia tak percaya pada pendengarannya sehingga ia menegas. Dengan helaan napas rawan, orang aneh itupun berkata lembut:

“Seng-ji, tidakkah engkau tahu bahwa orang tua peniup seruling itu bukan lain adalah ayah kandungmu yang telah berpisah dengan engkau selama delapanbelas tahun dan menjabat ketua terdahulu dari perkumpulan Naga Hijau?”

Jantung Siau Lo-seng serasa meledak, darah berhenti mengalir dan airmatanya pun berderai-derai membanjir ketika mendengar keterangan itu.

Bukan airmata kesedihan melainkan airmata kegembiraan yang tak terlukiskan……

Tak pernah setitikpun ia menyangka bahwa orang tua peniup seruling yang kedua kaki tangannya buntung ternyata Siau Han-kwan, ayah kandungnya sendiri.

“Locianpwe, apakah beliau benar-benar Siau Han-kwan ayahku sendiri……?” “Ya, dia memang Siau Han-kwan dari desa Hay-hong-cung, ayahmu sendiri ”

“Locianpwe, adakah beliau sudah tahu bahwa aku ini puteranya?” masih Siau Lo-seng bertanya pula. “Tolol, sudah tentu dia tahu! Kalau tidak masakan dia begitu memperhatikan dirimu?”

“Tetapi mengapa ayah tak mengakui aku?”

“Hal itu mungkin ada sebabnya,” kata orang aneh itu, “atau mengandung maksud lain. Bukankah telah kukatakan bahwa pertemuan kita itu belum tiba saatnya? Sekarang sudah banyak rahasia yang kuberitahu kepadamu. Hal itu sudah melanggar perintah ciang-bun (ketua). Pokoknya, kelak engkau tentu tahu  semua.”

“Peristiwa darah di Hay-hong-cung, tidakkah ayah mengetahui jelas?” masih Siau Lo-seng lontarkan pertanyaan.

“Jika tahu masakan dia akan mengerahkan anak buah untuk menyelidiki pembunuhnya itu. Ketika terjadi peristiwa itu, ayahmu juga kehilangan itu. Sudah tentu sekarang beliau tahu tetapi……”

“Apa? Adakah pembunuh-pembunuh itu hanya diperalat orang?” teriak Siau Lo-seng.

“Di antara pembunuh-pembunuh itu memang salah seorang mempunyai sedikit dendam kepada ayahmu. Kemudian karena dihasut orang, dia telah melakukan perbuatan yang sekeji itu. Setelah diam-diam kuselidiki, memang ada beberapa di antara pembunuh-pembunuh itu yang menyesal. Bahkan ada yang bunuh diri...... Sedang biang keladinya memang seorang manusia yang licin sekali sehingga masih sukar diketahui jejaknya.”

“Bagaimana mungkin sekali gus dia dapat menyuruh orang untuk melakukan pembunuhan itu?” Siau Lo- seng terkejut.

“Ah, dia memang seorang tokoh yang luar biasa. Seorang manusia yang seperti naga kelihatan ekornya tetapi tak tampak kepalanya. Setelah lebih dari sepuluh tahun merenungkan, akhirnya ayahmu dapat menarik kesimpulan kepada beberapa orang yang cenderung untuk dicurigai. Tetapi sebelum mendapat bukti-bukti yang nyata, masih belum berani menentukannya.”

“Siapa-siapa sajakah yang dicurigai itu?” Siau Lo-seng mendesak. “Sekalipun kusebut namanya, juga takkan membikin terang urusan itu,” kata si orang aneh, “saat ini kami masih berusaha keras untuk mengumpulkan bukti-bukti agar kelak kita dapat mengumumkan kepada dunia.”

“Jika demikian,” kata Siau Lo-seng, “Hun-liong-jit-gan, Kwan-gwa Su-hiong, Hoa-san Ngo-hou dan ketua perkumpulan Sin-kun-bun itu, bukan biang keladi pembunuhnya……”

“Sekalipun bukan biang keladi tetapi mereka ikut turun tangan dalam pembunuhan itu. Kalau engkau membunuh mereka, itupun tidak salah. Tetapi pembunuhan habis-habis terhadap keluarga perguruan Sin- kun-bun yang engkau lakukan itu, memang agak ganas.”

Siau Lo-seng terkejut.

“Locianpwe, tigapuluhan jiwa dari perguruan Sin-kun-bun itu bukan aku yang membunuh. Saat itu aku sedang mengadakan pertempuran dengan Gan Ti-kiat di sebuah hutan lebih kurang setengah lie dari desa tempat perguruan Sin-kun-bun. Dua orang pengawal dari Gan Ti-kiat telah mati kubunuh dengan pedang Ular Emas. Sedang Gan Ti-kiat sendiri setelah bertempur dengan tangan kosong dalam satu jurus, dia mati tertusuk Pedang Ular Emas juga. Tetapi aku heran dan curiga, mengapa sebagai ketua dari perguruan Sin- kun-bun, kepandaian Gan Ti-kiat begitu rendah sekali ?”

“Dan setelah engkau kembali ke markas Sin-kun-bun, bukankah seluruh keluarga mereka telah binasa semua?” tukas orang itu.

“Benar,” jawab Siau Lo-seng, “pikirku hendak memberitahu kepada mereka supaya mengurus jenazah Gan Ti-kiat, tetapi ternyata seisi rumah telah ludas semua.”

“Bangsat itu memang licin sekali,” seru orang itu geram, “menilik keadaan itu, dia selalu membayangi engkau saja. Dan kemungkinan Gan Ti-kiat bukan engkau yang membunuh.”

“Bermula kukira, pada saat dia kuajak berkelahi di luar desa, ada lain musuh yang menyerbu rumahnya dan membasmi seluruh keluarganya. Gan Siok-tin, puteri bungsu dari Gan Ti-kiat tak ikut binasa. Dia terus hendak mencari aku untuk membalas dendam. Tetapi gagal dan sejak itu dia tak muncul lagi. Baru tadi kuketahui kalau keluarga Gan masih mempunyai seorang menantu perempuan yang tak terbunuh, yalah Lu Kui-hun.”

“Itulah kelihayan pembunuh durjana,” seru orang aneh, “dia sengaja meninggalkan seorang menantu perempuan dari keluarga Gan, agar mereka dapat mengatakan engkaulah yang membunuh keluarga Gan. Kemudian menghasut orang-orang yang telah engkau celakai itu supaya memusuhi engkau sehingga engkau sukar untuk muncul di dunia persilatan. Secara tak langsung, dia telah membunuh namamu di dunia persilatan.

“Bangsat itu memang ganas benar,” teriak Siau Lo-seng.

“Tetapi hal itu hanya menurut kesimpulanku sendiri. Benar tidaknya, nanti dapat engkau buktikan setelah engkau berhasil mengumpulkan bukti-bukti yang nyata.”

“Locianpwe, engkau mengatakan bahwa dalam waktu setahun juga, aku tak mungkin dapat menemukan jejak pembunuh licin itu. Paling akhir ini di dunia persilatan muncul seorang pembunuh ganas yang menggunakan nama Kim-coa Long-kun. Pada hal itu gelar yang diberikan orang persilatan kepada diriku. Dengan begitu jelas dia hendak memfitnah dan memburukkan namaku. Adakah dia mempunyai hubungan dengan biang keladi pembunuh itu? Siapakah kiranya orang itu?”

Orang aneh tertawa nyaring.

“Keadaanmu saat ini serupa dengan ayahmu pada sembilanbelas tahun yang lalu. Tetapi tak perlu engkau resah. Orang yang memfitnah nama baikmu dengan melakukan pembunuhan dan memakai nama Kim-coa Long-kun itu, sudah berada dalam genggaman kami. Kita akan gunakan dia untuk umpan memancing  keluar biang keladi pembunuh ganas itu.”

15.74. Paling Pintar adalah Paling Bodoh

“Kalau begitu locianpwe memang sengaja melepaskan dia berkeliaran melakukan pembunuhan?” tanya Siau Lo-seng. “Bukan begitu,” kata orang aneh. “kami hanya menghendaki supaya pembunuh utama dari Hay-hong-cung itu akan kembali mempertunjukkan diri. Walaupun sangat pelik sekali manusia ganas itu menyelubungi jejaknya, tetapi tentu meninggalkan setitik kelengahan yang pasti dapat kita ketemukan, Daripada menyelidiki secara membabi buta tanpa pegangan, lebih baik kita gunakan semacam itu.”

“Locianpwe,” kata Siau Lo-seng pula, “Aku benar-benar bingung memikirkan keterangan locianpwe. Terhadap peristiwa pembunuhan itu, tampaknya kalian sudah mempunyai pegangan tetapi masih tak berani bertindak untuk menunjukkan bukti-buktinya. Adakah locianpwe terikat perjanjian dengan orang atau menderita tekanan dari pihak tertentu?”

Orang aneh itu tertawa nyaring.

“Dalam dunia persilatan dewasa ini, kecuali ketua kami siapakah yang mampu menekan aku? Mengapa aku harus takut segala macam ancaman...... Tindakan seseorang, adakalanya memang orang lain sukar merabahnya. Urusan kami, sudah tentu engkaupun tak tahu jelas. Dan terakhir akan kuberitahu kepadamu, bahwa karena akan mengurus suatu pekerjaan yang penting, terpaksa aku tak dapat melindungimu. Kuharap engkau dapat menjaga diri dengan meningkatkan kewaspadaan. Berhati-hatilah dalam segala tindakan!”

“Locianpwe, lebih dari setahun secara diam-diam engkau telah melindungi diriku. Tetapi selama itu belum pernah engkau memberi bantuan yang nyata dalam setiap persoalan yang kuhadapi. Hal itu sungguh membuat aku tak mengerti.”

“Benar,” sahut orang aneh itu. “memang selama setahun melindungi engkau itu, tak pernah aku turun tangan membantumu, Tampaknya memang engkau tak merasakan suatu manfaat apa-apa, tetapi sesungguhnya hal itu mengandung maksud yang penting. Kelak engkau tentu akan tahu.”

Siau Lo-seng makin bingung. Kata-kata orang aneh itu memberi kesan bahwa ayahnya tak begitu ngotot untuk menyelidiki peristiwa pembunuhan di Hay-hong-cung. Seolah-olah ada sesuatu yang tersembunyi.

Dan yang paling menggelisahkan pikirannya yalah mengapa ayahnya tak mau bertemu dengan dia? Adakah perguruan Thian-sian-bun mempunyai peraturan, bahwa ayah dan putera itu tak boleh berkumpul?

Dan siapakah kiranya orang aneh yang tengah bicara dengannya saat itu? Adakah keterangannya dapat dipercaya semua?

Siau Lo-seng menghela napas panjang,

“Locianpwe, siapakah engkau ini sesungguhnya? Bolehkah aku melihat wajah locianpwe?”

Siau Lo-seng mempunyai semacam perasaan bahwa selama bertukar pembicaraan dengan orang aneh itu, dia merasa seperti sudah pernah kenal baik dan ada suatu perasaan yang dekat dalam hati.

“Masakan aku tak ingin sekali bertemu muka dengan engkau,” seru orang aneh itu, “namun terpancang oleh peraturan perguruan dan lain-lain alasan…… tetapi janganlah engkau memikirkan hal itu. Tak lama engkau tentu akan mengetahui semua urusan ini ”

Nada orang itu amat tegang sekali. Seolah-olah dia sedang menekan luapan perasaan hatinya.

Sejenak berhenti, ia melanjutkan pula: “Lo-seng, tahukah engkau mengapa kupikat engkau datang ke sini? Ah, tak perlu katakan lagi. Sekarang aku harus pergi. Apabila terlambat tentu akan menelantarkan urusan besar. Engkau mau tahu aku ini siapa? Asal engkau dengan teliti menarik kesimpulan dari benda pengenal diri yang kuberikan ini, mungkin engkau akan dapat menyingkap sedikit-sedikit. Nah, sampai jumpa lagi dan harap menjaga dirimu baik-baik.”

Tiba-tiba kata-kata itu putus dan lenyap. Sekonyong-konyong Siau Lo-seng melihat semacam tanda aneh meluncur cepat sekali ke arahnya. Cepat ia menyisih ke samping lalu menyambuti benda itu.

“Locianpwe, apakah engkau sudah pergi?” serunya nyaring. Tetapi hutan sunyi senyap tiada suara penyahutan apa-apa.

Siau Lo-seng menyadari bahwa orang aneh itu tentu sudah pergi. Ia memeriksa benda yang digenggamnya itu. Ah, ternyata sebuah lencana tembaga yang kuno bentuknya.

Pada lencana itu, permukaannya terdapat ukiran seekor naga hitam. Belakang lencana hanya terdapat beberapa huruf. Siau Lo-seng seperti pernah melihat lencana itu. Tapi ia lupa dimana. Ia memeriksa dengan teliti dan makin merasa bahwa dia pernah melihat lencana seperti itu.

“Adakah kulihatnya pada waktu aku masih anak-anak yang belum tahu apa-apa?” pikirnya, “ah, mungkin benar. Bukankah orang aneh itu suruh aku merenung dengan teliti?”

Memang dunia ini penuh dengan hal-hal yang aneh. Ada kalanya, ‘ya tetapi bukan’ ada kalanya ‘bukan tetapi ya”.

Pada saat itu timbullah suatu pengalaman dalam hati Siau Lo-seng. Ia merasa bahwa barang siapa yang menganggap dirinya paling pintar, dialah orang yang paling bodoh.

Selama setahun ini, ia menganggap kepandaiannya sudah hebat dan gerak geriknya pun serba aneh. Tetapi ternyata ada lain orang yang lebih hebat lagi karena telah mengikuti dirinya tanpa diketahuinya sama sekali.

Iapun merasa bahwa banyak sekali perkara di dunia ini yang di luar dugaan orang.

Ayah-angkatnya seorang yang cacat, tak dapat berjalan seperti manusia biasa. Di luar dugaan tiba-tiba kini ayah-angkat itu menjadi ayah kandungnya yang sungguh. Seorang ketua dari perguruan Thian-sian-bun yang berilmu tinggi. Sebagai seorang putera, seharusnya Siau Lo-seng girang dengan hal itu. Tetapi entah bagaimana, dia tak begitu cerah hatinya……

Teringat pula, betapa susah payah ia pontang panting kemana-mana untuk mencari balas pada pembunuh yang telah menjagal seluruh keluarganya. Siapa tahu, ayahnya yang tertimpah bencana itu, malah tenang- tenang bersembunyi dalam gedung bertingkat itu dan menikmati kehidupan yang tenteram. Ayahnya telah menitahkan seorang anak buahnya untuk mengikuti perjalanannya, tetapi hanya terbatas mengikuti saja dan tak penah memberi bantuan yang nyata……

Aneh, aneh sekali…..!

********************

Demikian sambil ayunkan langkah, benak penuh dengan berbagai pikiran dan renungan.

Tiba-tiba ia mendengar kumandang suara pekikan dan gemerincing senjata beradu. Serentak terlintas dalam pikirannya, apakah orang aneh itu telah dihadang musuh.

Walaupun jauh tetapi ia masih dapat menentukan arah suara itu. Setengah lie di sebelah timur. Cepat ia lari menuju ke tempat itu.

Memang benar. Tak berapa jauh berlari, suara pertempuran itu makin terdengar jelas yang bertempur itu bukan hanya sedikit melainkan rombongan orang banyak.

Siau Lo-seng mempercepat larinya. Tak berapa jauh berlari, di bawah lereng gunung di muka sebuah padang belantara yang penuh ditumbuhi rumput dan semak, tiga-empatpuluh sosok bayangan orang tengah bertempur seru.

Walaupun tengah malam tetapi Siau Lo-seng dapat melihat jelas orang-orang itu. Kecuali dua jenis pakaian yang berbeda dari puluhan orang yang bertempur acak-acakan itu, ia melihat dua pasang partai pertempuran itu, seperti sudah kenal dengan orangnya. Pertempuran itu berlangsung antara dua orang nona lawan dua orang pemuda.

Partai yang satu, antara Li Giok-hou lawan Hiat Sat Mo-li, murid pertama dari Jin Kian Pah-cu.

Hiat Sat Mo-li mengenakan pakaian warna biru. Sepasang tangannya berkelebatan laksana menari. Rambutnya bertebaran mengiring gerak tubuhnya. Cantik dan sedap dipandang.

Tetapi menghadapi permainan ilmu golok dari Li Giok-hou nona itu memang tak dapat berbuat banyak. Keduanya berimbang kepandaiannya.

Sedang partai yang lain adalah dua orang anak muda yang sudah lama dicarinya karena berani menyamar seperti dirinya. Yang lelaki, seorang pemuda bermuka putih, wajah mirip dengan dirinya, demikian juga pakaiannya. Bertempur melawan seorang nona baju merah yang menggunakau pedang. Dan nona itu mirip sekali dengan Nyo Cu-ing. Paling memuakkan hati Siau Lo-seng yalah pemuda baju putih itu kecuali wajahnya pun juga menggunakan senjata pedang yang menyerupai dengan pedang Ular Emas.

Apabila saat itu Siau Lo-seng tak memergoki, lain orang tentu menganggap bahwa Siau Lo-seng lah yang sedang bertempur itu.

Juga nona yang menyamar sebagai Cu-ing itu. Apabila Siau Lo-seng tak paham bahwa Cu-ing yang aseli tak pernah mengenakan pakaian warna merah, tentulah dia akan keliru menyangka nona itu sebagai Cu- ing.

Cepat Siau Lo-seng menilai keadaan yang dilihatnya di depan mata saat itu. Cepat pula ia dapat mengetahui bahwa pertempuran besar itu dilakukan oleh orang Lembah Kumandang lawan orang Ban-jin- kiong. Baginya, siapapun yang menang, tak ada kepentingannya. Bahkan kalau membiarkan mereka bertempur sampai dua-dua remuk, rasanya lebih menguntungkan.

Tetapi terhadap kedua manusia yang menyamar sebagai dirinya dan Cu-ing itu, dia tak mau melepaskan. Tetapi dia tak mau menindak mereka saat itu. Lebih baik dia bersembunyi melihat mereka bertempur.

Segera Siau Lo-seng enjot tubuhnya melambung ke atas sebatang pohon yang tinggi. Dari pohon itu dia dapat melihat jelas jalannya pertempuran.

Walaupun pedang Ular Emas yang dimainkan pemuda Baju putih itu bukan pedang pusaka tetapi permainan ilmu pedangnya memang hebat sekali.

Nona baju merah yang menyamar sebagai Cu-ing itu, walaupun tidak lemah tetapi kepandaiannya masih kalah setingkat dengan pemuda baju putih itu. Beberapa jurus kemudian nona itu tampak tak kuat bertahan.

Tetapi rupanya pemuda baju putih memang sengaja hendak mempermainkannya. Setelah menghindar dari tabasan si nona, pemuda baju putih itu tusukkan jarinya ke dada si nona seraya tertawa cabul:

“Ai, tak usah malu-malu. Siau Lo-seng dan Nyo Cu-ing itu seharusnya bermesra-mesraan. Ayo, kita saling cium ”

“Anjing, dia bukan seperti engkau. Cis, tak tahu malu!” nona itu mendamprat marah. Mendengar itu Siau Lo-seng heran, pikirnya: “Aneh, dari manakah nona itu?”

Sambil memaki, nona itu bergeliat menghindari jari lawan lalu balas menyerang. “Sret, sret, sret……” tiga buah tabasan segera dilancarkan.

Siau Lo-seng makin terkejut. Jelas diperhatikannya bahwa tiga jurus serangan pedang nona itu adalah ilmu pedang ajaran Tay Hui Sin-ni. Mengapa nona itu dapat memainkan, bahkan sehebat gerakan Cu-ing?

Tiba-tiba terdengar bentakan keras. Tubuh pemuda itu mengendap ke bawah dan secepat kilat balas menusuk tiga kali lalu membuang tubuh berguling-guling ke tanah.

“Sret……” lengan baju pemuda baju putih terpapas tetapi orangnya masih dapat menyelamatkan jiwanya.

Diam-diam Siau Lo-seng kagum. Pemuda baju putih itu memang lihay dan tenang sekali menghadapi ancaman maut.

Tiga buah jurus ilmu pedang dari Tay Hui Sin-ni yang digunakan untuk menyelamatkan diri dari bahaya maut. Walaupun tampaknya biasa sekali tak ada yang mengejutkan tetapi sekali dilancarkan akan membuat lawan tak sempat menghindar.

Rupanya pemuda baju putih itu marah sekali. Dengan gerak Pek-ho-jong-thian atau Bangau putih menerobos langit, dia melambung ke udara untuk menghindari babatan pedang si nona yang ditujukan ke arah perut.

“Perempuan busuk, kiranya engkau masih mempunyai simpanan. Hendak kulihat berapa banyak jurus ilmu pedang yang engkau curi dari Tay Hui Sin-ni!” teriak pemuda itu.

Sambil memaki, dia bergeliatan, menukikkan kepalanya ke bawah. Lalu dengan jurus Harimau buas menerkam kambing, ia taburkan pedangnya ke kepala si nona.

“Tring……”

Terdengar lengking benturan pedang yang amat keras dan nona baju merah itupun terhuyung-huyung mundur sampai tujuh-delapan langkah. Setelah mendapat angin, pemuda baju putih itu tak mau memberi ampun lagi. Ia cepat memburu maju dan membentak: “Terimalah sebuah seranganku lagi, jurus Hong-soh cian-kun!”

“Tring ”

Kembali kedua pedang saling beradu keras sehingga menimbulkan percikan bunga api. Nona baju merah kembali terhuyung-huyung mundur sampai tujuh langkah.

Yong-kwan-jit-kun dan Ngo-gak-ya-ting adalah dua jurus serangan pedang yang dilancarkan pemuda baju putih lagi. Nona baju merah pucat wajahnya dan terus menerus terhuyung mundur.

Saat itu tiba-tiba terdengar dua buah jeritan ngeri. Dua anak buah baju hitam dari Ban-jin-kiong telah hancur kepalanya karena dihantam oleh Hiat Sat Mo-li.

Rupanya Li Giok-hou juga menderita luka dalam. Dia muntah darah. Dengan deliki mata ia membentak: “Cobalah engkau sambuti ilmu pukulan Keng-bun-jit-ciang ini!”

Kedua tangannya bergerak dan tujuh buah pukulan berhamburan dilancarkan. Angin dahsyat melanda seluruh jalan darah berbahaya dari Hiat Sat Mo-li.

Tetapi murid pertama dari Jin Kian Pah-cu itu memang lihay. Laksana ulat bermain dalam air ataupun kupu- kupu berlincahan di antara bunga-bunga. Bergeliatan menghindar kian kemari sampai tujuh buah serangan Li Giok-hou habis.

Kemudian dengan lengking tawa yang menggemerincing, ia melangkah maju, menyusupkan pukulannya di antara hujan serangan.

“Bum……”

Dada Giok-hou tepat termakan tinju si nona. Seketika pemuda itu muntah darah dan terhuyung mundur sampai empat-lima langkah.

Siau Lo-seng terkejut sekali. Ia tak pernah menyangka bahwa hanya dalam waktu setengah tahun tak bertemu, sekarang kepandaian Hiat Sat Mo-li maju begitu pesat. Kecepatannya bertahan lalu menyerang yang sedemikian pesat, memang jauh berbeda dengan Hiat Sat Mo-li setengah tahun yang lalu.

Hiat Sat Mo-li melangkah maju lagi dan secepat kilat telah lancarkan enam buah pukulan.

Li Giok-hou bukan jago lemah. Walaupun dalam beberapa saat ia terdesak, tetapi ia masih tetap dapat bertahan.

15.75. Siau Lo-seng Palsu ??!!

Di lain partai, pertempuran telah berobah pincang. Rambut nona baju merah kusut bajunya berhias beberapa lubang tusukan pedang, Sikapnya pontang panting. Dia bertempur secara kalap.

Kebalikannya, pemuda baju putih itu dengan seenaknya berputar-putar melingkari si nona mengucapkan kata-kata yang cabul dan secara tiba-tiba mencuri peluang untuk menusuk. Mantel si nona baju merah terpapas jatuh, keadaannya makin mengenaskan.

Melihat itu bergolaklah darah Siau Lo-seng. Manusia semacam pemuda baju putih itu tak boleh dibiarkan berkeliaran di dunia persilatan. Dia berani memalsu nama Siau Lo-seng, bertindak cabul dan seorang pembunuh ganas.

Siau Lo-seng memutuskan untuk membasmi pemuda itu.

“Nona,” seru pemuda baju putih dengan tertawa cengar cengir. “hentikan seranganmu dan marilah kita bersahabat mesra, engkau tentu akan mendapat kebahagiaan……”

Nona baju merah itu membuang ludah lalu memakinya “Engkau memang anjing yang tak tahu malu!”

Pemuda baju putih itu tertawa makin keras: “Engkau menyaru sebagai orang lain, kemana-mana memikat orang apakah itu tidak lebih tak tahu malu?”

“Aku menyaru sebagai nona Nyo tetapi tidak sehina seperti engkau yang melakukan berbagai perbuatan biadab dan nista!” teriak nona itu marah sekali. Menyiak pedang si nona, pemuda baju putih menusukkan Pedang Ular Emas ke perut lawan.

Terdengar jeritan nyaring. Celana nona itu telah robek sepanjang setengah meter sehingga karena malunya nona itu sampai rubuh pingsan.

Tetapi pemuda baju putih itu memang ganas sekali. Tanpa merasa kasihan sedikitpun, dia mengangkat pedang dan menabas kedua buah dada si nona.

Perobahan situasi itu terjadi cepat sekali sehingga orang tak sempat berbuat apa-apa lagi. Waktu mendengar jeritan melengking. Hiat Sat Mo-li berpaling. Dia terkejut sekali melihat keadaan nona baju merah itu, Tetapi karena jaraknya cukup jauh, iapun tak dapat menolong.

Pada saat maut hendak merenggut jiwa nona itu sekonyong-konyong terdengar suara bentakan menggeledek: “Tahan!”

Bagai seekor burung rajawali, Siau Lo-seng melayang dari atas pohon tinggi dan terus menerkam kepala pemuda baju putih itu.

Kembali sekalian orang terkejut menyaksikan peristiwa yang tak terduga-duga itu. Pemuda baju putih cepat loncat ke belakang lalu maju pula membabat.

Betapapun ia bergerak cepat tetapi masih tetap terlambat selangkah.

Siau Lo-seng bergeliat cepat sekali seraya menjentikkan jari. Pemuda baju putih itu menjerit ngeri dan pedangnya pun sudah pindah ke tangan orang. Dia loncat mundur sampai setombak jauhnya dan berseru kaget: “Engkau……”

Saat itu Siau Lo-seng mencekal pedang Ular Emas tiruan dan tengah memandang ke arah pemuda baju putih itu. Dia agak termangu. Bukan saja pemuda baju putih itu berkepandaian tinggi tetapi rasanya ia  sudah pernah kenal seperti ia kenal pada dirinya sendiri.

Kemunculan Siau Lo-seng telah mengejutkan sekalian orang. Mereka serempak berhenti bertempur. Lapangan yang luas itupun hening lelap.

Siau Lo-seng mulai ayunkan langkah pelahan-lahan menghampiri pemuda baju putih.

Tampak pemuda baju putih yang memakai kedok muka seperti wajah Siau Lo-seng, gemetar tubuhnya. Rupanya dia ketakutan dan setapak demi setapak mundur mengikuti derap langkah Siau Lo-seng.

“Siapa engkau?” bentak Siau Lo-seng.

Bentakan Siau Lo-seng itu telah membuat pemuda baju putih terhuyung mundur sampai beberapa langkah. Rupanya ia menyadari kalau berbuat salah.

“Dengarkah engkau, siapa dirimu itu?!” teriak Siau Lo-seng.

Bibir pemuda baju putih itu bergerak-gerak tetapi sampai beberapa jenak baru dapat berkata, “Aku…… aku...... aku ”

“Siau Lo-seng,” tiba-tiba Li Giok-hou menyeletuk. “Jangan harap engkau akan mendapat keterangan dari yu-kiongcu (putera pemimpin yang masih kecil). Percuma saja engkau membuang lidah!”

Siau Lo-seng mendengus dingin lalu mengulang pertanyaan lagi: “Siapa engkau? Engkau dapat mendengar atau tidak?”

Dalam cengkaman ketakutan tiba-tiba terlintas suatu pikiran pada pemuda baju putih itu. Segera ia menjawah dengan nada yang garang: “Siau Lo-seng, jangan kira aku takut kepadamu!”

“Hm, rupanya engkau ingin minum arak beracun daripada arak manis!” Siau Lo-seng mendengus.

Tiba-tiba Li Giok-hou menyeletuk lagi: “Yu-te, jangan percaya kepadanya! Dalam keadaan genting, tentu orang kita akan menyambut.”

Siau Lo-seng tertawa nyaring.

“Li Giok-hou, sekarang ini keadaanmu sudah seperti orang yang terbenam dalam kedosaan.  Adakah engkau masih mengira hari ini dapat pergi dari sini dengan masih bernyawa? Ha, ha, ha!”

Nyaring tertawanya, seram nadanya sehingga mengerikan telinga. Li Giok-hou tertawa mengekeh, serunya, “Akan mati di tangan siapakah rusa itu, masih belum tahu. Jangan engkau terlalu membanggakan dirimu, Siau Lo-seng.”

Siau Lo-seng tertawa dingin.

“Dalam dunia persilatan tiada tempat lagi bagi kawanan bebodoran semacam engkau, Akulah Siau Lo-seng, yang akan membersihkan segala kutu-kutu seperti dirimu itu!”

Nada pernyataan Siau Lo-seng yang begitu mantap telah membuat hati Li Giok-hou gemetar. Tetapi dia seorang pemuda yang licin. Tak mau ia unjuk rasa ketakutan itu. Wajahnya tetap tenang saja. Bahkan ia tertawa menghina.

“Siau Lo-seng, tahukah engkau daerah apa ini? Heh, heh…… jangan cepat-cepat tertawa dulu!”

Saat itu Hiat Sat Mo-li sudah berkisar ke tempat si nona baju merah untuk melindunginya. Mendengar kata- kata Giok-hou, iapun segera melengking

“Li Giok-hou, kematian sudah di depan mata, engkau masih berani bicara segarang itu! Hm, engkau boleh selicin ruba, tetapi jangan harap hari ini engkau mampu tiaggalkan daerah Lembah Kumandang ini!”

Mendengar itu Siau Lo-seng baru menyadari kalau dia telah keliru masuk ke Lembah Kumandang. Diam- diam ia heran mengapa anak buah Ban-jin-kiong juga berada di lembah itu?

Adakah kedua pihak sudah mengadakan pertempuran secara resmi? Jika benar demikian, sungguh suatu berkah bagi dunia persilatan.

Tetapi dalam pada itu Siau Lo-seng pun segera menyadari kedudukannya. Saat itu dia hanya seorang diri. Kedua belah pihak itu, musuh semua. Lebih baik dia tak turun lebih dulu saja.

“Hiat Sat Mo-li,” seru Li Giok-hou tertawa seram, “apabila engkau tahu berapa kekuatan pihakku yang datang ke lembah ini, mungkin engkau tentu akan pingsan!”

Diam-diam Siau Lo-seng mendengar kata-kata itu. Tetapi dia heran mengapa sampai sejauh itu tak tampak orang-orang Ban-jin-kiong unjuk diri. Dia tak peduli bagaimana akibat yang akan menimpah kedua gerombolan itu tetapi ia sempat memikirkan Ui Hun-ing. Bukankah nona itu masih ditawan dalam Lembah Kumandang? Ah, ia harus menolong nona itu. Apabila pecah pertempuran antara Ban-jin-kiong dengan Lembah Kumandang, diam-diam ia akan menyelinap ke dalam lembah untuk menolong Hun-ing.

Kini ia tumpahkan perhatiannya kepada pemuda baju putih, serunya,

“Jika engkau tak mau membuka kedok mukamu, aku tentu akan turun tangan!”

Pemuda baju putih mendengus dingin: “Siapa diriku, terserah bagaimana engkau hendak mengatakan. Silahkan turun tangan!”

Siau Lo-seng kerutkan alis. Nafsu amarahnya menyala pula. Dengan menggembor keras, ia mengangkat tangan kanannya dan secepat kilat menyambar siku kiri pemuda itu.

Tetapi pemuda baju putih itu tak mau unjuk kelemahan. Lengan kiri diendapkan ke bawah lalu dibalikkan untuk balas mencengkeram siku kanan Siau Lo-seng. Kedua kakinya pun menyerempaki dengan  tendangan ke perut lawan.

Jurus itu dahsyat dan ganas sekali. Siau Lo-seng tak menyangka kalau lawan masih mampu melancarkan serangan kaki yang begitu dahsyat. Cepat ia mengisar ke samping lalu menyurut mundur selangkah.

Tetapi ternyata setelah menendang, pemuda baju putih itu terus melambung ke udara dan berjumpalitan melayang sampai lima tombak jauhnya. Selekas tiba di tanah, ia terus lari ke arah timur.

“Hai, hendak lari kemana engkau binatang!” teriak Siau Lo-seng seraya mengejar.

Tiba-tiba Li Giok-hou bersuit panjang lalu ayunkan tangan menghantam Siau Lo-seng. Tetapi Siau Lo-seng lebih cepat. Dia sudah meluncur turun di muka pemuda baju putih. Dan tepat pada saat itu orang Ban-jin- kiong dan Lembah Kumandang melanjutkan pertempuran lagi.

Siau Lo-seng tegak di hadapan pemuda baju putih dengan sikap yang dingin. Dia ingin tahu siapakah sesungguhnya pemuda baju putih. Ia merasa seperti sudah kenal tetapi tak dapat menduga siapakah dia. Karena Li Giok-hou menyebutnya sebagai yu-kiongcu, tentulah pemuda baju putih itu salah seorang anak lelaki dari Ban Jin-hoan. Tetapi selama ini ia belum pernah mendengar tentang pemuda itu. Lalu siapakah dia?

Tampak pemuda baju putih itu memang takut kepada Siau Lo-seng. Dia tak berani beradu pandang dengan Siau Lo-seng dan tak henti-hentinya beringsut mundur.

Lebih dahulu Siau Lo-seng membenamkan pedang Ular Emas ke tanah lalu berseru dingin, “Jika engkau mampu melayani aku sampai tiga jurus, engkau boleh bebas!”

Mendengar itu timbullah sepercik harapan dalam hati pemuda baju putih itu, tetapi dia pun menyadari bahwa tiga jurus serangan Siau Lo-seng itu tentu maut. Karena dia cukup paham akan kesaktian Siau Lo- seng. Apalagi saat itu jalan darah pada tangan kanannya telah tertutuk, tak dapat digunakan.

“Untuk menghancurkan seorang yang tak dapat bergerak leluasa, kiranya tak perlu menggunakau sampai tiga jurus,” serunya menyindir.

Siao Lo-seng tertawa gelak-gelak.

“Kutahu engkau hendak membikin panas hatiku agar secara gagah-gagahan aku mau membuka jalan darahmu yang tertutuk itu……” tiba-tiba ia hentikan katanya ketika pandang matanya menatap ke wajah pemuda baju putih yang minta dikasihani.

“Tetapi aku takkan membuatmu putus asa. Biarlah engkau kalah dengan puas,” Siau Lo-seng segera menyusuli kata-katanya.

Siau Lo-seng menutup kata-kata itu dengan sebuah gerakan maju yang cepat sekali. Pemuda baju putih itu gelagapan. Cepat ia menghantam dengan jurus Lam-hay-pok-liong atau Laut selatan mengangkat naga.

Sebuah gerakan menghindar yang aneh telah menempatkan Siau Lo-seng di sisi kanan pemuda baju putih itu dan mencengkeram lengan kanannya yang menjulai. Dan dengan jari tengah tangan kanannya, cepat sekali ia menutuk jalan darah siku lengan pemuda itu.

“Jurus pertama!” seru Siau Lo-seng sembari lepaskan lengan lawan. Ternyata dalam jurus pertama itu ia hanya membuka jalan darah lengan pemuda baju putih yang tertutuk.

Tetapi rupanya pemuda itu tak tahu diri. Seharusnya ia menyerah setelah mengetahui kelihayan lawan. Tetapi dia tak berbuat demikian. Begitu lengan kanannya sudah dapat bergerak, secepat kilat ia terus menusukkan jarinya ke punggung dan menendang bawah perut Siau Lo-seng.

“Bagus, sambutlah jurus yang kedua!” Siau Lo-seng tertawa nyaring. Setelah berputar tubuh menghindari tendangan, ia menyambar lengan kiri lawan dan tangan kirinya menangkis pukulan pemuda baju putih itu.

“Brakkk…….”

Ketika kedua pukulan beradu, keduanya sama-sama rasakan lengannya kesemutan. Begitu beradu, lalu ditarik pulang. Tetapi Siau Lo-seng masih tetap mencekal siku lengan kiri orang. Sekali dipijat, pemuda itupun lunglai dan menjuntai ke tanah.

Siau Lo-seng tertawa dingin: “Jurus yang ketiga yalah menyingkap kedok mukamu!”

Saat itu tubuh pemuda baju putih sudah mandi keringat dingin. Ia memekik geram, “Karena sudah jatuh ke dalam tanganmu, silahkan engkau melakukan apa saja terhadap diriku.”

Sau Lo-seng mendengus.

“Hm, tidak begitu mudah engkau minta mati. Aku hendak bertanya beberapa patah kata. Kalau engkau tak mau menjawab sejujurnya, akan kusuruhmu menikmati bagaimana rasanya ilmu Jo-kut-hut-jiu itu.”

“Sampai matipun, jangan harap engkau dapat memperoleh keterangan dari mulutku,” seru pemuda itu marah, “sekalipun engkau bunuh aku tetapi jangan harap engkau sendiri dapat pergi dari lembah ini. Selekas kiongcu memberi aba-aba, lembah ini tentu akan rata dengan tanah. Beratus-ratus orang Lembah Kumandang terkubur dalam lembah ini.”

Terkejut Siau Lo-seng mendengar keterangan itu. Dia tak mencemaskan kehancuran lembah itu, melainkan nasib dari nona Hun-ing dan beberapa tokoh sakti yang ditawan oleh Lembah Kumandang. Siau Lo-seng memperkeras cekalannya lalu bertanya: “Siapa yang mengatur serangan itu? Dimanakah Ban-jin-kiong menyembunyikan alat-alatnya?”

Pemuda baju putih itu mengerang kesakitan: “Aku...... aku tak tahu, engkau ini anjing ”

Siau Lo-seng baru menyadari bahwa karena gelisah ia telah menggunakan tenaga terlalu keras sehingga tulang lengan pemuda itu hampir pecah. Setelah agak mengendorkan cengkeramannya, ia ayunkan tangan kiri menampar muka pemuda itu.

“Jika engkau tak mau mengatakan, segera akan kubeset kulit tubuhmu!” bentaknya.

Tamparan itu membuat pemuda baju putih berkunang-kunang. Mulutnya mengucurkan darah. Namun dengan paksakan diri ia masih berani memaki, “Anjing, bunuhlah aku!”

Siau Lo-seng gemas. Kalau tak diberi sedikit pelajaran tentu dia tak tahu rasa. Cepat ia merobek baju pemuda itu lalu guratkan jarinya beberapa kali pada dadanya. Serentak terdengarlah erang rintihan dari mulut pemuda itu.

Tubuhnya bergeliatan mengejang. Wajahnya yang ditutup dengan kedok itupun ikut berkerut-kerut menyeramkan sekali. Giginya dikatupkan sekencang-kencangnya. Jelas dia sedang menderita kesakitan yang hebat dan berusaha untuk menahannya.

Diam-diam Siau Lo-seng kagum atas kekerasan kepala pemuda itu. Ia perkeras cengkeramannya dan membentak:

“Dimana pusat pembakar dari bahan peledak yang kalian pasang di lembah ini?”

Karena sakitnya pemuda baju putih itu sampai mengucurkan airmata dan menyahutlah ia dengan suara gemetar: “Lepaskan tanganmu...... aku akan bilang ”

Siau Lo-seng kendorkan cengkeramannya tetapi secepat kilat ia menutuk bawah dagu pemuda itu.

“Jangan coba hendak bunuh diri dengan menggigit lidahmu. Sekarang engkau tak mampu melakukan hal itu,” serunya, “lebih baik engkau jawab pertanyaanku ini. Berapa jumlah orang Ban-jin-kiong yang berada di Lembah Kumandang ini? Dan dimana mereka menanam bahan peledak?”

Dengan tersendat-sendat karena menahan kesakitan, pemuda baju putih itu menjawab:

“Seluruh anak buah Ban-jin-kiong telah dikerahkan kemari dan dipimpin oleh Kiong-cu sendiri, ah, aku tak tahu……”
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar 100 Hari Jilid 15"

Post a Comment

close