Pendekar 100 Hari Jilid 14

Mode Malam
14.66. Bunuh Diri karena Gagal

Puas tertawa, Ceng Hi Tojin, ketua Bu-tong-pay berseru nyaring: “Aha, sungguh menggelikan sekali kata- katamu itu. Siapakah kaum persilatan yang tak tahu bahwa Pedang Ular emas Siau Mo itu seorang momok pembunuh yang ganas?”

Diam-diam Siau Lo-seng terkejut. Belum sampai setahun dia muncul di dunia persilatan mengapa orang- orang Bu-tong-pay yang bermarkas di daerah sejauh Oupak, dapat mengetahui dan mengenali dirinya?

“Hm, aneh sekali. Mungkin ada sesuatu dalam hal itu,” diam-diam ia merangkai dugaan. “Bagaimana engkau memastikan aku ini Siau Mo?” serunya.

“Wajah dan pakaianmu boleh berganti seribu macam tetapi engkau sulit untuk menyembunyikan ciri-ciri khusus dari senjata pembunuh yang ganas yakni pedang Ular Emas!”

“Engkau menuduh pedang Ular Emas ini?” tanya Siau Lo-seng.

“Apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau kebetulan saja menemukan senjata itu atau Siau Mo telah memberikan kepadamu?” desak Ceng Hi Tojin.

Saat itu Siau Lo-seng seperti orang gagu yang ketulangan. Mulut sakit tetapi tak dapat mengatakan. Ia tak menyangka bahwa penyaruannya sebagai Siau Mo, walaupun hanya berjalan beberapa waktu saja ternyata telah termasyhur di seluruh dunia persilatan.

Melihat Siau Lo-seng tak dapat menjawab. Ceng Hi makin mendesak dengan kata-kata bengis:

“Tuhan Maha Pemurah,” serunya, “perbuatan jahat akhirnya tentu akan tumpas seperti yang engkau alami hari ini.”

“Kalau engkau berkeras menuduh aku sebagai Siau Mo akupun tak dapat memberi keterangan suatu apa,” kata Siau Lo-seng. “hanya kuminta engkau suka menerangkan bila dan bagaimana ketua dan anak murid Bu-tong-pay sampai menderita kematian itu?”

“Apakah engkau sungguh-sungguh hendak bertanya?”

“Kalau tidak untuk menyelidiki, perlu apa aku harus banyak mulut?” balas Siau Lo-seng.

Tampak ketiga tokoh tua Bu-tong Sam-siu sedang berunding. Tetapi mereka tak terdengar mengeluarkan suara. Hanya ujung bibirnya yang bergerak-gerak. Berulang kali menganggukkan kepala seperti memberi persetujuan. Ternyata mereka menggunakan ilmu Menyusup suara untuk berunding.

Cahaya wajah Ceng Hi tampak berobah ketika mendengar penyahutan Siau Lo-seng.

“Tujuh hari yang lalu, mereka telah terbunuh di puncak Thou-ban-hong,” kata Ceng Hi. “sejak berdirinya Bu- tong-pay, baru pertama kali itu mengalami peristiwa yang sedemikian mengerikan. Tiada seorangpun dari pembunuh itu yang dapat dibekuk sehingga kalian dapat pergi dengan bebas. Tak terduga, apa yang diduga Hun Hay sutit ternyata benar. Kami terpaksa mengundang para Tiang-lo Bu-tong-pay supaya melindung biara kami. Rencana itu memang benar dapat menjebak kedatanganmu kemari.”

“Ah, ternyata memang benar. ” tiba-tiba Siau Lo-seng menghela napas.

Ceng Hi tertegun.

“Pada waktu itu ada orang yang melihat engkau menggunakan pedang Ular Emas untuk membunuh anak buah kami. Walaupun tak kenal engkau tetapi setiap orang persilatan tentu mengetahui bahwa hanya Siau Mo lah yang menggunakan pedang Ular Emas!”

“Benarkah ketua Bu-tong-pay yang lalu telah mati terbunuh?” tegur Siau Lo-seng.

“Masakan pura-pura mati!” bentak Ceng Hi Tojin yang sekarang menggantikan kedudukan sebagai ketua Bu-tong-pay, “saat ini jenasahnya masih berada di belakang ruang.”

“Bukan, aku bukan bermaksud begitu,” seru Siau Lo-seng, “maksudku hendak bertanya, apa jenasah Giok Hi ciang-bun-jin itu masih utuh sehingga dapat kita kenali orangnya?”

“Masakan aku tak dapat mengenali suheng sendiri,” Ceng Hi Tojin makin marah, “hm, kalau engkau mau lihat, akan kuberi kesempatan kepadamu.”

Habis berkata ketua Bu-tong-pay itupun segera berputar tubuh dan melangkah menuju ruang samping lalu menyingkap kain tirai yang menutup pintu.

Ternyata dalam ruang itu terdapat dua deret peti mati warna merah. Entah berapa jumlahnya. Di tengahnya sebuah peti mati yang besar dan indah, mungkin berisi jenasah Giok Hi Tojin, ketua Bu-tong-pay yang terbunuh itu. Di depan peti terdapat meja sembahyangan. Asap dupa masih berkepul-kepul. Ruang jenasah itu diterangi dengan lilin besar.

Suasana yang menyeramkan itu, amat menyentuh perasaan Siau Lo-seng sehingga ia mundur selangkah terlongong-longong.

Dalam pada itu terdengarlah mulut Ceng Hi Tojin berkemak-kemik mengucapkan doa:

“Ciang-bun suheng, mohon suheng suka memberi bantuan agar aku yang ditunjuk menggantikan kedudukan sebagai ketua perguruan kita dapat menuntut balas atas kematian keempatpuluh jiwa anak murid kita.”

Sehabis berdoa dia lantas berputar tubuh dan melangkah maju menghampiri Siau Lo-seng dengan mata berkilat-kilat penuh dendam pembunuhan.

Entah bagaimana, Siau Lo-seng setapak demi setapak mundur ke belakang.

“Setelah menyaksikan, segeralah engkau berikan nyawamu!” teriak ketua Bu-tong-pay itu seraya menabas dengan pedang.

Siau Lo-seng cepat menghantam dan loncat menghindar ke samping. Tetapi Ceng Hi tak mau memberi kesempatan lagi. Ia loncat seraya menabas.

“Aduh !” tiba-tiba terdengar lolong jeritan ngeri.

Bahu Siau Lo-seng tergurat ujung pedang dan tubuhnya terhuyung mundur sampai tujuh-delapan langkah.

Tetapi serempak dengan itu terdengar suara bentakan dan erang tertahan. Tahu-tahu Ceng Hi Tojin menderita hebat. Dadanya termakan tiga buah pukulan, sebuah tutukan jari dan sebuah tendangan kaki. Mulutnya menyembur darah dan orangnya pun terlempar jauh. “Bluk,” dia jatuh terduduk di tanah.

Ceng Hi Tojin mengekeh. Dengan muka berlumuran darah ia paksakan diri bangun dan maju menghampiri Siau Lo-seng.

Melihat gerak gerik ketua Bu-tong-pay itu, Siau Lo-seng merasa seram juga. Jelas Ceng Hi Tojin seperti orang kalap yang tak menghiraukan jiwanya lagi.

Pemuda itu berpaling memandang ke arah ketiga tokoh tua Bu-tong-pay dengan pandang mengharap bantuan. Tetapi tampak wajah ketiga tokoh tua itu tegang sekali. Pada saat terpisah lima langkah dari tempat Siau Lo-seng. Ceng Hi Tojin taburkan pedangnya dalam sebuah jurus yang luar biasa dahsyatnya. Beratus-ratus sinar pedang berhamburan mencurah ke tubuh Siau Lo-seng.

Siau Lo-seng tegak dengan tenang. Pada lain saat dia agak condongkan tubuh ke samping dan mengendap ke bawah. Sesaat kemudian pedang Ular Emas segera melancar.

Tiba-tiba Ceng Hi Tojin menggigil dan wajahnya berubah seram, mulut menjerit ngeri. Serangkum darah segera mencurah ke muka Siau Lo-seng. Itulah akibat dari guratan ujung Pedang Ular Emas yang melukai dagu sampai ke dada.

“Jang-kiong-coat-beng-in!” seru ketiga Bu-tong Sam-siu dengan terkejut.

Memang karena terpaksa Siau Lo-seng menggunakan jurus ilmu pedang itu. Pada hal itu belum pernah menggunakannya dan belum tahu bagaimana akibatnya.

Tampak sepasang mata Ceng Hi Tojin melotot seperti mau keluar. Tubuhnya menggigil, dagunya bercucuran darah, dadanya berlumuran juga. Sepintas keadaannya amat menyeramkan.

Dia berkeras hendak maju menghampiri Siau Lo-seng, tetapi langkahnya terhuyung-huyung jatuh……

Dia bangun lagi dan berusaha untuk berdiri walaupun wajahnya mengeriput kesakitan. Keringat bercucuran membasahi mukanya.

Sejumlah besar jago-jago Bu-tong-pay segera berhamburan masuk ke dalam ruang. Tetapi mereka segera tertegun menyaksikan pemandangan saat itu.

Sepasang mata Ceng Hi merah membara, memandang ke arah rombongan jago-jago Bu-tong-pay. Tiba- tiba dia menghamburkan tertawa yang bernada rawan penuh kepiluan.

Nada tertawa itu jauh lebih berpengaruh dari segala perintah. Tiada seorang anak murid Bu-tong-pay yang berani mendengus napas. Mereka merasa nada tawa Ceng Hi Tojin itu bagaikan sembilu yang menyayat hati mereka. Mereka tundukkan kepala tak berani memandang ketua mereka!

Habis tertawa. Ceng Hi muntahkan segumpal darah. Tubuhnya menggigil keras. Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah Giok-ji-ih atau lencana kumala, diangkat tinggi-tinggi ke atas kepala dan berseru nyaring,

“Sekalian anak murid Bu-tong pay, dengarkanlah! Apakah benda yang berada di tanganku ini?”

Terdengar suara berderap-derap memberisik ketika berpuluh-puluh anak murid Bu- tong-pay yang berada dalam ruang itu serempak jatuhkan diri berlutut. Bahkan ketiga tokoh tua Bu-tong Sam-siu pun ikut berlutut juga.

Siau Lo-seng merasa bahwa keadaan sudah berkembang sedemikian rupa. Iapun merasa akan menghadapi suatu bencana yang tak dapat dihindari.

Setelah mengeluarkan pandang ke arah murid-murid Bu-tong-pay maka dengan suara tegang-tegang gemetar, Ceng Hi Tojin berseru:

“Aku telah menderita nasib yang tak beruntung…… saat ini berada dalam detik-detik akhir hayatku sejak

beratus-ratus tahun berdirinya perguruan Bu-tong-pay, peristiwa ini merupakan bencana yang paling besar…... suatu hinaan yang paling memalukan…... setiap anak murid Bu-tong-pay harus memiliki rasa tanggung jawab dan melaksanakannya dengan sepenuh tenaga...... peristiwa ini merupakan pelajaran berdarah...... kenyataan berdarah kalian semua telah menyaksikan sendiri!”

Berkata sampai di situ, nada suara Ceng Hi mulai berobah parau. Darah dan keringat bercucuran membasahi tubuhnya.

“Ceng Hi memang tiada berguna dan tidak cakap. Sejak menerima pengangkatan sebagai ketua bahkan hanya membawa keributan dalam perguruan Bu-tong-pay. Bukan saja tak mampu membalaskan sakit hati atas kematian Ciang-bun suheng…… pun bahkan menimbulkan kegelisahan di kalangan anak murid. Berulang kali terbit pertengkaran, bahkan menjerumuskan anak murid dan saudara-saudara seperguruan ke dalam lembah kejahatan dan penghianatan terhadap perguruan...... dosa ini tiada ampun bagiku karena perbuatan itu telah melumurkan hinaan besar kepada perguruan aku, Ceng Hi, akan menebus dosa itu

sendiri……”

Kata-kata yang panjang lebar dari ketua Bu-tong-pay itu telah menggemakan rasa sesal dan malu dalam hati setiap anak murid. Bahkan ada beberapa yang mencucurkan airmata. Tiba-tiba Ceng Hi Tojin berteriak nyaring pula:

“Suhu dan para susiok. Dalam keadaan begini, aku rela menerima dosa sebagai seorang penghianat. Semoga angkatan Bu-tong-pay dikelak kemudian  hari  dapat  mengetahui  dan  memberi  ampun  kepadaku        Dengan benda lambang kekuasaan Bu-tong-pay yang tertinggi ini aku hendak mohon kepada

suhu   dan  para  susiok  sekalian  untuk  menghapus  pantangan  dan  membalaskan  sakit  hati   murid.......

membersihkan hinaan yang diderita para leluhur perguruan kita....... menangkap pembunuh itu ”

“Bu-liang-siu-hud, Ceng Hi, engkau.......” baru It Ceng Totiang hendak berseru, Ceng Hi pun sudah menukas:

“Suhu, jangan bicara apa-apa lagi? Betapa pun halnya, aku mohon suhu sekalian turun tangan. Masakan suhu dan susiok sampai hati melihat perguruan kita hancur berantakan ”

Kembali Ceng Hi muntah darah lalu berkata makin sunyi,

“Sekalian murid Bu-tong-pay, dengarkanlah! Kata-kata telah kuucapkan, terserah kepada kalian sendiri.......

aku merasa hina diri terhadap kalian dan para leluhur perguruan kita, aku ”

“Suhu, engkau......” tiba-tiba terdengar suara teriakan yang melengking kejut-kejut sedih. Ternyata itulah imam Hwat Hian yang berbangkit dari duduknya, menjerit dan terus loncat memeluk tubuh Ceng Hi.

Ternyata mulut Ceng Hi telah berlumuran darah. Dia telah bunuh diri......

Serentak terdengarlah tangis yang mengalun tinggi rendah. Sesaat kemudian tiba-tiba terdengar suara orang berteriak nyaring: “Hai, pembunuh, serahkan jiwamu ”

Pertama-tama adalah Hwat Hian yang menerjang dengan jurus Beng-kui-kiu-im. Laksana kilat menyambar, pedangnya telah menyabet ke arah Siau Lo-seng.

Menyusul dengan itu, maka berhamburanlah teriak kemarahan yang diserempaki dengan serangan pedang, golok dan pukulan.

Siau Lo-seng memang sudah menduga akan menghadapi peristiwa semacam itu. Dengan jurus Heng-soh- cian-kun ia menyongsong mereka. Tangan kiri melepaskan dua belas pukulan, kaki mengirim delapan buah tendangan. Tetapi tiap pukulan maupun tendangan itu pada setiap setengah jalan tentu segera ditarik kembali. Dia tak mau melukai orang.

Setelah dapat mendesak mereka mundur, Siau Lo-seng pun cepat lolos dari kepungan. Tiba-tiba terdengar suara bentakan yang bernada lain. Mantap dan penuh wibawa. Lain dari yang lain.

Memang suara itu berasal dari It Tim Totiang, salah seorang dari Bu-tong Sam-siu atau tetua Bu-tong-pay. Bagaikan sesosok bayangan, dia maju, gerakkan kedua tangannya untuk menghantam ke arah Siau Lo- seng yang saat itu sedang melambung ke udara hendak meloloskan diri.

Terasa dirinya dilanda oleh segelombang angin dahsyat, buru-buru Siau Lo-seng melayang turun ke samping untuk menghindari.

Tetapi sebelum kakinya sempat menginjak bumi, It Tim Totiang secepat kilat sudah loncat ke samping dan dengan sebuah gerakan yang indah, menyambar siku lengan kanan pemuda itu.

Siau Lo-seng terkejut. Buru-buru ia ayunkan kaki menendang dalam jurus Gan-yang coat-beng-thui, sedang ujung pedang Ular Emas ditutukkan ke ulu dada It Tim.

Pada saat It Tim terpaksa harus menyurut mundur, Siau Lo-seng pun cepat melambung ke udara, melayang melampaui kepala murid-murid Bu-tong-pay.

Hardik, gembor dan teriakan keras berhamburan serempak dengan beratus ratus benda bergemerlapan ke arah tubuh pemuda itu.

Anak murid Bu-tong-pay telah menaburkan berbagai senjata rahasia ke arah Siau Lo-seng.

Namun Siau Lo-seng masih dapat memutar pedang Ular Emas untuk melingkari tubuhnya dari serangan senjata-senjata maut itu. Dengan meminjam tenaga gerakan pedang itu, tubuhnya melayang ke paseban Ceng-gi-tian. Tetapi selekas kakinya menginjak lantai, kejutnya pun segera merangsang hebat. Entah kapan, tahu-tahu It Ceng Totiang, suhu dari Ceng Hi Tojin, sudah menghadang di hadapan. Jenggotnya yang panjang menjulai di dada tampak bertebaran. Tenang sekali sikap tokoh Bu-tong Sam-siu itu.

“Bu-liang-siu-hud!” serunya, “hendak lari kemanakah Siau sicu? Saat ini seluruh penjuru gunung Bu-tong- san telah dijaga ketat. Sekalipun engkau mempunyai sayap, juga sukar untuk keluar dari sini ”

Setelah tenangkan hati, Siau Lo-seng berseru: “Totiang, apakah engkau hendak mendesak aku turun tangan?”

Dalam berkata-kata itu, Siau Lo-seng pun sudah menyerang bertubi-tubi. Tiga buah tusukan pedang, delapan buah pukulan dan enam buah tendangan.

Apabila jago sakti bertempur, maka setiap gerak tangan mereka tentu merupakan serangan maut.

Selama itu It Ceng Totiang tak mau balas menyerang melainkan berlincahan menghindar kian kemari dan menyurut mundur.

“Penjahat engkau berani……” tiba-tiba terdengar It Tim Totiang melantang teriakan dan secepat kilat loncat menghantam punggung Siau Lo-seng.

Siau Lo-seng tahu siapa It Tim Totiang itu. Cepat berputar tubuh ke belakang dan songsongkan kedua tangannya untuk menangkis pukulan Bu-seng-kong-gi yang dilepaskan It Tim Totiang.

“Bum. ”

Terdengar letupan ketika dua buah pukulan tenaga sakti itu saling beradu.

Kedua bahu It Tim Totiang tergetar dan terhuyung mundur sampai tiga langkah. Sedang tubuh Siau Lo-seng terlempar ke udara, berputar-putar lalu melayang turun di luar paseban.

“Hai, hendak lari kemana engkau!” ketiga Bu-tong Sam-siu yakni It Ceng, It Bing dan It Tim serempak berteriak dan mengejar ke luar paseban.

14.67. Kawan Lama

Begitu menginjak tanah, Siau Lo-seng sudah harus menyambut enam buah pedang. Sedang dari belakang tampak serombongan jago-jago Bu-tong-pay berlarian menyerbunya.

Siau Lo-seng terpaksa mainkan pedang Ular Emas segencar hujan mencurah.

“Tring, tring,” terdengar dering benturan senjata yang tajam, menyusul bunga api memercik berhamburan, maka putuslah keenam batang pedang yang menyerang Siau Lo-seng itu.

Sesaat kemudian terdengar beberapa erang ngeri dan darah menyembur. Empat orang anak murid Bu- tong-pay yang hendak menyerang dari belakang, telah rubuh dalam kubangan darah.

Tetapi serempak dengan itu, Siau Lo-seng pun mengerang tertahan karena tenaga pukulan yang tak tampak dari Bu-tong Sam-siu telah melanda tubuhnya. Dia terhuyung-huyung jatuh sampai tujuh-delapan langkah dan muntah darah.

Seiring dengan rubuhnya pemuda itu maka mencurahlah hujan sinar pedang ke tubuh pemuda itu.

Sekonyong-konyong Siau Lo-seng bersuit nyaring. Nadanya segempar naga meringkik. Pedang Ular Emas pun berhamburan sederas air terjun.

Jerit lolong sambung menyambung mengerikan hati. Daging dan anggauta badan manusia berhamburan ke udara, darah muncrat ke empat penjuru.

Duabelas jago Bu-tong-pay yang tergolong kelas satu, rubuh mandi darah.

Dalam beberapa kejap dapat merobohkan duabelas jago kelas satu dari Bu-tong-pay, benar-benar mengejutkan sekali sehingga anak murid Bu-tong-pay lainnya merasa ngeri dan berbondong-bondong menyurut mundur.

“Kepung dengan barisan Jit-sing-pak-tou-kiam-tin……” tiba-tiba terdengar seseorang berseru. Mendengar itu gelisahlah Siau Lo-seng. Bu-tong-pay memang termasyhur dengan ilmu pedangnya yang sakti, Barisan pedang Jit-seng-pak-tou-kiam itu, merupakan barisan yang sesakti dengan Tat-mo-coat-ci-tin dari perguruan Siau-lim.

Sebelum barisan sempat terbentuk maka Siau Lo-seng pun segera menyerang ke arah dua lapis jago-jago Bu-tong-pay yang hendak mempersiapkan barisan itu.

Serangan yang dahsyat dan cepat itu, membuat keempatbelas jago-jago Bu-tong-pay kelabakan. Bagai daun kering tertiup angin maka berjatuhan keempatbelas jago-jago Bu-tong-pay itu ke tanah.

Tetapi anak murid Bu-tong-pay selain berjumlah banyak, pun nekad sekali. Empatbelas orang jatuh, empatbelas orang lain maju lagi.

Mereka bergerak-gerak dengan rapi dan tangkas. Dalam sekejap saja barisan pun sudah terbentuk. Sekonyong-konyong genta biara Bu-tong-san bertalu keras dan tak henti-hentinya.

Seketika berobahlah cahaya muka ketiga Bu-tong Sam-siu.

“Siau sicu, engkau sudah dikepung barisan pedang. Mengapa engkau tak menyerah saja?” seru It Tim Totiang.

Memang Siau Lo-seng menyadari bahwa menembus barisan pedang dari Bu-tong-pay tidak mudah. Masih muda naik tangga ke langit.

“He, kiranya kamu bertiga Bu-tong Sam-siu juga bangsa yang suka main kerubut dan limbung pikirannya. Kalianlah yang mendesak aku untuk membuka pembunuhan besar,” serunya untuk menutupi kegelisahan hati.

Dia terus hendak mengangkat pedang untuk menghadapi barisan pedang Bu-tong-pay. Tetapi sekonyong- konyong seorang imam muda memaksa dia mundur dari serangan pedang.

Saat itu suara gentapun makin deras dan nyaring.

“Siau sicu,” teriak It Tim Totiang, “berapa banyak kawan-kawanmu yang engkau ajak kemari?”

Siau Lo-seng terkejut. Ia menyadari bahwa suara genta itu adalah pertandaan bahaya dari Bu-tong-pay. “Siau sicu, berapa banyak rombongan yang engkau bawa kemari?” tegur It Tim Totiang.

Kini Siau Lo-seng menyadari bahwa genta itu bukan dibunyikan anak murid Bu-tong-pay, tetapi orang lain, entah siapa.

Dan pada lain kejap terdengar kumandang suara seruling yang aneh nadanya, mengalun nyaring di udara. Mendengar itu seketika berobahlah cahaya wajah Siau Lo-seng, serunya: “Apakah itu Gi-hu ”

Tetapi secepat itu iapun segera hentikan kata-katanya. Ia merasa telah salah bicara. Bukankah Gi-hu atau ayah angkatnya itu seorang tua yang cacat tak punya kaki? Dan pula jelas kalau nada suara seruling itu bukan seruling dari Gi-hunya. Memang hampir saja ia keliru menyangka suara seruling itu seperti suara seruling Gi-hunya.

Anehnya, dalam alunan kumandang seruling itu, semangat Siau Lo-seng pun memancar lebih giat. Tenaganya meluap-luap makin hebat sehingga setiap gerak pedangnya, menimbulkan deru angin tenaga yang dahsyat.

Barisan pedang Jit-sing-pak-tou-kiam-tin memang bukan olah-olah hebatnya. Tetapi serangan pedang Siau Lo-seng itu juga tak kalah hebatnya sehingga dapat menimbulkan lubang bobolan pada barisan itu.

Genta masih tetap bertalu-talu tak henti-hentinya. Sedang suara serulingpun meraung-raung bagai menembus awan. Melengking tinggi, jauh membubung ke udara sehingga setiap orang yang berada di tempat itu merasa terbuai semangatnya.

Beberapa saat kemudian ada beberapa jago Bu-tong-pay yang kurang tinggi ilmunya, segera menutup kedua telinganya dan melakukan pernapasan untuk melancarkan darah dalam tubuhnya.

Tiba-tiba cahaya muka ketiga Bu-tong Sam-siu berobah dan serempak berseru: “Irama musik iblis dari gedung Sian-hu!” Tanpa mempedulikan Siau Lo-seng lagi, ketiga tokoh tua dari Bu-tong-pay itu segera loncat dan lari mengejar ke arah datangnya suara seruling itu. Dan tak berapa kejap merekapun sudah lenyap dari pandang mata.

Selepas kepergian ketiga tokoh tua Bu-tong-pay itu, dari belakang Siau Lo-seng mendengar seorang berseru dalam nada yang tak asing baginya.

“Jangan takut, kubantu engkau keluar dari barisan mereka.”

Dari puncak wuwungan paseban Ceng-gi-tian melayang turun sesosok tubuh. Ketika masih berada di udara kedua tangannya menampar sehingga barisan pedang yang menghadang di tempat yang ditujunya itu tersiak ke samping, Dan ketika terdengar bentakan menggeledek, dua orang jago pedang Bu-tong-pay pun terpental sampai dua tombak jauhnya. Lima orang jago lainnya terhuyung jatuh sampai tujuh-delapan langkah.

Saat itu Siau Lo-seng dapat melihat jelas bahwa pendatang itu bukan lain yalah Kakek wajah dingin Leng Tiong-siang. Siau Lo-seng tak mau menyia-nyiakan kesempatan lagi. Setelah berhasil melukai tiga jago pedang, dengan menggembor keras ia melambung ke udara dan meluncur ke luar dari kepungan barisan.

Tetapi setelah melayang turun ke tanah, dia tak mau melarikan diri melainkan menegur pendatang itu dengan dingin: “He, Leng Tiong-siang apa maksudmu?”

Leng Tiong-siang tertegun. Setelah merentang kedua tangan untuk mengundurkan jago-jago pedang Bu- tong-pay, ia menjawab keras: “Siau Lo-seng, mengapa engkau hendak cari mati?”

Siau Lo-seng sudah mengandung prasangka bahwa Leng Tiong-siang yang di hadapannya itu bukan Leng Tiong-siang yang aseli. Tetapi Leng Tiong-siang palsu yang sudah berulang kali berternu dengan dia. Itulah sebabnya Siau Lo-seng menduga tentulah Leng Tiong-siang yang muncul pada tempat dan saat seperti itu, mempunyai rencana tertentu kepadanya.

“Jangan kira dengan berbuat begitu aku akan masuk ke dalam perangkapmu,” seru Siau Lo-seng, “ketahuilah kedok mukamu itu sudah tak dapat mengelabuhi aku lagi.”

Leng Tiong-siang lepaskan sebuah pukulan kepada barisan pedang Bu-tong-pay, lalu loncat ke arah Siau Lo-seng.

“Engkau menduga bagaimana terhadap diriku, aku tak peduli. Asal engkau tinggalkan tempat ini. Kalau tidak, apabila ketiga Bu-tong Sam-siu itu kembali ke sini, jangan harap engkau mampu lolos lagi.”

Sebelum menjawab, Siau Lo-seng taburkan pedangnya untuk menghalau serangan jago-jago Bu-tong-pay, lalu berseru kepada Leng Tiong-siang lagi: “Apakah engkau sudah datang lama di sini?”

“Benar, dan lagi memang demi kepentinganmu,” sahut Leng Tiong-siang.

Berpuluh-puluh jago pedang Bu-tong-pay segera menyerbu dari empat penjuru. Siau Lo-seng taburkan Pedang Ular Emas seraya berseru,

“Siapa menghadang tentu mati, siapa menyingkir akan selamat ”

Pedang Ular Emas berhamburan memancarkan sinar yang berhawa dingin.

Leng Tiong-siang pun menghantam dengan kedua tangannya. Seketika terdengar erang jeritan ngeri dan hamburan darah dari anggauta barisan pedang Bu-tong-pay.

Patah tumbuh hilang berganti. Selapis rubuh selapis pula berhamburan datang. Anak murid Bu-tong-pay itu seperti orang kalap. Mereka tak mempedulikan jiwanya lagi.

Melihat itu Siau Lo-seng gentar sendiri. Bukan karena takut tapi ia tak sampai hati membunuh sekian banyak anak murid Bu-tong-pay yang tak berdosa.

Ia menghela napas. Demikian pula Leng Tiong-siang. Keduanya saling bertukar pandang dan saling menanggapi maksud masing-masing. Setelah mendesak dengan serangan dahsyat, tiba-tiba keduanya melambung ke udara, melayang turun beberapa tombak jauhnya terus berloncatan lari menuju ke bawah gunung sebelah barat.

Anak murid Bu-tong-pay berteriak-teriak gempar. Merekapun memburu. Tetapi lari kedua orang itu luar biasa pesatnya. Setelah mengejar sampai tiga-empat lie jauhnya, kedua orang yang dikejarnya itupun sudah lenyap dari pandang mata. 

********************

Berpuluh lie kemudian, barulah Siau Lo-seng dan Leng Tiong-siang lepas dari daerah kekuasaan Bu-tong- pay. Tiba-tiba Siau Lo-seng berhenti.

“Leng-bin-sin-kun, mari kita berunding sampai selesai,” serunya. “Berunding soal apa?” kakek berwajah dingin Leng Tiong-siang heran.

“Mengapa engkau masih pura-pura main sandiwara saja?” seru Siau Lo-seng geram, “aku sudah tahu bahwa engkau bukanlah Leng Tiong-siang yang pada empatpuluh tahun berselang termasuk sebagai salah seorang tokoh Su-ki.”

“O, apakah ada perbedaannya?” masih Leng Tiong-siang merasa heran, “bagaimana engkau dapat memastikan bahwa aku bukan Leng-bin-sin-kun pada empatpuluh tahun yang lalu? Pada waktu aku tinggalkan dunia persilatan dan mengasingkan diri, engkau masih menyusu atau mungkin belum lahir.”

“Hm, mungkin engkau belum mengetahui bahwa Leng-bin-sin-kun yang aseli saat ini sudah muncul lagi ke dunia persilatan. Apabila engkau berjumpa dengan dia, entah hendak engkau sembunyikan kemanakah ekormu nanti!”

“Apa yang harus kutakutkan kalau bertemu dengan dia. Akupun bisa memberi tahu kepadanya bahwa akulah sebenarnya Leng-bin-sin-kun yang aneh itu.”

“Huh, tak tahu malu benar,” damprat Siau Lo-seng. “kalau engkau bukan Leng Tiong-siang mengapa engkau harus menyamar sebagai dirinya.”

“Hati-hati sedikit kalau bicara,” dengus Leng Tiong-siang, “dalam dunia seluas ini, memang banyak terdapat peristiwa-peristiwa yang mengherankan. Orang yang kembar pakaian dan wajahnya. Bukan hanya dua tetapi dapat juga sampai beberapa orang ”

Siau Lo-seng tertawa dingin:

“Suatu jawaban yang tepat benar. Memang hal itu dapat terjadi juga,” serunya.

“Mengapa tidak?” sahut Leng Tiong-siang. “bahkan, kemarin akupun telah bertemu dengan seorang yang wajahnya menyerupai engkau dan bahkan diapun membawa juga pedang serupa seperti yang engkau bawa itu.”

“Hai, apa katamu?” Siau Lo-seng berteriak kaget sekali.

“Sepanjang hidup, aku tak pernah mengulang perkataan yang telah kukatakan satu kali,” dengus Leng Tiong-siang lalu berputar tubuh.

Seketika teringatlah Siau Lo-seng akan sikap seluruh anak murid Bu-tong-pay yang menuduh dia sebagai pembunuh dari ketua Bu-tong-pay (Giok Hi Tojin.) dan anak murid paseban Ik-seng-tong. Dan teringat pula ia akan peristiwa pemalsuan diri Nyo Cu-ing di markas perkumpulan Naga Hijau. Ah, jika demikian jelas ada orang yang memalsu dirinya lalu melakukan pembunuhan di markas besar Bu-tong-pay!

“Dimana engkau berjumpa dengan orang itu?” seketika ia bertanya kepada Leng Tiong-siang.

Tetapi kakek baju putih itu tak mau memberi jawaban melainkan memandang ke sekeliling seperti hendak menyelidiki sesuatu.

“Hm, mengapa engkau tak mau menjawab?” tegur Siau Lo-seng.

Sambil masih keliarkan pandang matanya ke sekeliling penjuru, Leng Tiong-siang menyahut: “Orang bebas untuk bicara. Mengapa engkau hendak mengurus aku mau bicara atau tidak?”

“He, engkau harus bicara!” teriak Siau Lo-seng marah lalu memukul.

Tanpa berpaling muka, Leng Tiong-siang tahu kalau anak muda itu memukulnya dari belakang. Sambil berkisar ke samping, tiba-tiba ia ayunkan tangannya ke belakang untuk menyambar pergelangan tangan Siau Lo-seng. Siau Lo-seng terkejut sekali. Ia turunkan lengannya ke bawah dan menekuknya lalu membenturkan siku lengannya ke pinggang orang.

“Bagus!” seru Leng Tiong-siang yang secepat kilat memutar tubuhnya seraya menyambar siku Siau Lo- seng.

Siau Lo-seng tertawa hina. Tangan kirinya cepat dibalikkan untuk menampar tiga kali ke punggung orang tua itu.

Tetapi memang tak kecewa bila Leng Tiong-siang diagungkan sebagai seorang tokoh persilatan yang sakti. Tiba-tiba jubahnya menggelembung karena diam-diam telah disaluri dengan tenaga dalam. Dan secepat berputar tubuh ia menyongsong tangan Siau Lo-seng.

“Bum… ”

Terdengar letupan keras ketika kedua pasang tangan mereka saling beradu. Siau Lo-seng tersurut mundur tiga-empat langkah. Leng Tiong-siang loncat ke muka sampai tiga tombak jauhnya.

“Hm, ilmu kepandaianmu maju pesat sekali,” seru Leng Tiong.-siang, “tetapi masih jauh kalau hendak engkau gunakan menempur aku.”

Sudah tentu Siau Lo-seng yang masih berdarah muda, panas sekali hatinya. Secepat mencabut pedang Ular Emas ia segera maju menyerang.

“Bagus sekali!” teriak Lang Tiong-siang seraya bergerak untuk menyambut. Diapun tahu-tahu sudah mencekal sebatang pedang pandak.

Demikian keduanya segera terlibat. Yang tampak hanya dua gulung sinar putih yang menyilaukan mata. ‘Tring ” dering melengking tajam dan keduanya pun tercerai. Leng Tiong-siang loncat dua tombak, tegak

mematung. Siau Lo-seng juga terlongong-longong.

Ternyata saat itu keduanya saling menyadari kekuatan lawan. Dalam beberapa kejap itu Siau Lo-seng telah melancarkan tujuh buah serangan. Tetapi kesemuanya dapat dihapus dengan mudah oleh Leng Tiong- siang. Bahkan kalau mau, tokoh tua itu tentu dapat melukainya dengan mudah.

Setitikpun Siau Lo-seng tak pernah menyangka bahwa tokoh yang selamanya tak pernah menggunakan pedang sebagai Leng Tiong-siang itu, ternyata memiliki ilmu pedang yang luar biasa hebatnya. Diam-diam  ia mengakui bahwa ilmu pedang yang dimilikinya masih kalah jauh dengan orang tua itu.

Seketika nafsu ingin menang, berhamburan lenyap dalam hati Siau Lo-seng.

Melihat pemuda itu diam saja, Leng Tiong-siang berseru mengejek: “Hai, mengapa engkau tak menyerang lagi?”

Dengan lesu Siau Lo-seng menyahut: “Aku tak dapat mengalahkan engkau. Tetapi mengapa engkau tak mau melukai aku?”

Leng Tiong-siang kerutkan dahi. “Caramu melakukan serangan tadi, sungguh menghabiskan tenaga dalam, hilang ketenanganmu. Selama tak mampu mengumpulkan hawa murni, tak mungkin engkau dapat mencapai ilmu pedang tingkat tinggi……”

14.68. Ajaran Ilmu Pedang Sakti dari Musuh

“Kalau bertemu dengan ahli pedang, engkau tentu sudah menderita luka,” menambahkan orang tua baju putih itu pula.

Merah padam selebar wajah Siau Lo-seng menerima kritikan itu. Diam-diam diapun malu dalam hati, pikirnya, ”Sekali ngoceh, dia telah membongkar kelemahanku. Hm, tetapi jelas dia bukan hendak membakar hatiku melainkan hendak memberi petunjuk.”

Baru ia hendak membuka mulut, Leng Tiong-siang pun sudah mendahului:

“Kepandaianmu masih begitu lemah masakan engkau layak akan mengajak orang merundingkan soal menegakkan keadilan dalam dunia persilatan. Apalagi hendak menuntut balas kematian berdarah dari orang-orang di Hay-hong-cung. Dan lagi pula, akupun sudah engkau anggap sebagai salah seorang musuhmu. Apakah setelah kalah, engkau tak berani bertempur lagi? Huh, manusia takut mati semacam engkau, tak perlu menepuk dada mengumbar omong besar!”

Mendengar ejekan itu, meluap pulalah kemarahan Siau Lo-seng. Dia merasa bahwa Kakek wajah dingin Leng Tiong-siang yang berada di hadapannya saat itu, penuh dengan selubung rahasia dan keanehan. Kepandaiannya sukar diduga. Demikian sikapnya. Sebentar bermusuhan sebentar bersahabat.

“Ah, tanpa menderita, tentu takkan memperoleh pelajaran,” pikir Siau Lo-seng. Maka segera ia tertawa dingin.

“Apa maksudmu berkata begitu?” serunya.

“Kalau aku sungguh-sungguh menghendaki jiwamu, mungkin engkau takkan hidup sampai saat ini,” kata orang tua itu menghela napas.

“Tetapi tidak semudah itu engkau hendak mengambil jiwaku. Harus mengambil dari tubuhku,” seru Siau Lo- seng.

“Kalau aku hendak mengambil jiwamu, perlu apa aku menolongmu dari Bu-tong-san lalu  baru membunuhmu di sini?”

“He, jangan bersikap seperti tikus yang menangisi kematian kucing. Tak mungkin aku akan berterima kasih kepadamu ” dengus Siau Lo-seng, “pada saat aku tak sadar, engkau mengambil pedangku Ular Emas

dan menyuruh seorang menyaru sebagai diriku untuk melakukan pembunuhan di Bu-tong-san. Kemudian pada saat aku sedang dalam bahaya dikepung barisan pedang Bu-tong-pay, engkau muncul lagi untuk menolongku. Dengan begitu aku tentu tak dapat menuduhmu mencelakai diriku. Tetapi apa engkau kira aku tak tahu akal busukmu itu? Jika engkau kira tindakanmu itu dapat mengelabuhi mata orang di dunia persilatan, engkau mengimpi atau memang pikiranmu itu seperti anak kecil.”

Mendengar itu Leng Tiong-siang terbeliak dan tertegun sampai beberapa saat.

“Taruh kata hal itu memang benar tipu muslihatku,” katanya beberapa jenak kemudian, “lalu apakah dayamu supaya engkau dapat lolos dari kedosaan itu?”

Sebenarnya Siau Lo-seng hanya merangkai dugaan dan menuduhnya begitu. Tak kira kalau Leng Tiong- siang mengaku semuanya. Jika demikian jelas Leng Tiong-siang inilah biang keladi pembunuhan di Bu- tong-san!

Tetapi apakah gerangan tujuannya untuk melakukan pembunuhan itu? Apakah dia memang hendak mencelakai Siau Lo-seng? Tetapi apa sebab dia memfitnah anak muda itu?

Seketika berobahlah wajah Siau Lo-seng. Dia menduga musuh besarnya, pembunuh ganas yang telah menghancurkan seluruh keluarganya pada delapanbelas tahun yang lalu, ternyata orang tua yang berdiri di hadapannya itu.

Dada Siau Lo-seng serasa terbakar api dendam kesumat yang menyala-nyala.

“Kucari ke seluruh penjuru dunia tak berjumpa, kiranya tanpa banyak membuang tenaga sudah muncul sendiri. Engkau tak menghendaki jiwaku tetapi akulah yang menghendaki jiwamu!”

Siau Lo-seng menutup kata-katanya dengan tabaskan Pedang Ular Emas ke kepala Leng Tiong-siang. Tetapi orang tua itn tenang-tenang saja mengawasi luncur pedang Siau Lo-seng. Begitu pedang hampir menyentuh kepalanya, tiba-tiba ia mengangkat pedangnya untuk melidungi kepala.

“Tring……”

Terdengar beberapa kali dering yang tajam dan tiga buah serangan pedang Siau Lo-seng telah dihalau semua.

Kemudian Leng Tiong-siang mengisar kaki setengah langkah ke samping lalu berseru dingin.

“Penyakit lama,” serunya, “cara memainkan pedang seperti engkau ini, walaupun duapuluh tahun lagi tentu tak mungkin dapat melukai aku. Dendam darah yang hendak engkau tuntut itu tak mungkin dapat terlaksana.”

Bukan kepalang kejut Siau Lo-seng. Perasaannya seperti ditusuk beribu jarum. Hatinya lebih tersiksa sehingga tubuhnya gemetar keras. “Sekarang cobalah engkau terima sebuah serangan pedangku ini!” tiba-tiba Leng Tiong-siang berseru. Habis berkata, pedangnya secepat kilat menusuk lurus ke muka.

Melihat gerakan pedang orang tua itu, seketika tergetarlah hati Siau Lo-seng.

“Inilah ilmu pedang yang tiada tandingnya di dunia,” pikirnya. “mengapa baru saat ini dia menggunakannya untuk membunuh aku!”

Siau Lo-seng tak berdaya untuk menangkis serangan itu. Dan iapun segera pejamkan mata menunggu ajal. Tetapi tiba-tiba Leng Tiong-siang menarik pulang pedangnya dan menyurut mundur, lalu menyerang lagi.

Dalam pada itu diam-diam Siau Lo-seng memperhatikan bahwa gerakan pedang Leng Tiong-siang itu  hanya terdiri dari beberapa jurus. Diulang dan diulang lagi sampai beberapa kali. Dan jelas bahwa orang tua itu tak mau melukainya.

Lima-enampuluh jurus kemudian, pelahan-lahan pikiran Siau Lo-seng pun tenang kembali dan mencurahkan seluruh perhatiannya ke arah pedang Leng Tiong-siang. Sambil mengingat-ingat diapun mencari bagian-bagian kelemahannya agar dapat dipecahkan.

Siau Lo-seng memang memiliki otak yang sangat cerdas sekali. Pada saat Leng Tiong-siang mengulangi serangannya sampai yang kesepuluh kali, diapun segera tahu cara untuk memecahkannya.

Dengan menggembor keras ia hendak balas menyerang, tetapi tiba-tiba Leng Tiong-siang luruskan ujung pedang ke muka dan menyurut mundur, serunya,

“Dengan pedang Leng-hong-kiam mengalahkan engkau, engkau tentu masih penasaran. Sekarang aku hendak menyambut tiga buah seranganmu dengan tangan kosong!”

“Hai!” Siau Lo-seng menjerit kaget. “engkau menggunakan pedang Leng-hong-kiam?”

“Benar, memang pedang ini Leng-hong-kiam, Pedang pusaka yang termasuk salah sebuah pusaka dalam dunia persilatan,” sahut Leng Tiong-siang.

Siau Lo-seng tertegun.

“Jika demikian, engkau tentulah merampas pedang itu dari tangan Leng Tiong-siang ketika menghadapi rapat besar di gunung Thian-san pada empatpuluh tahun yang lalu!” teriak Siau Lo-seng.

Leng Tiong-siang kerutkan alis.

“Mengapa engkau tahu peristiwa itu,” katanya, “setelah selesai rapat Thian-san, diam-diam kuajak Leng Tiong-siang bertempur. Dia kalah dan menyerahkan pedang Leng-hong-kiam itu kepadaku dan lagi dia harus mentaati perjanjian bahwa selama empatpuluh tahun tak boleh muncul di dunia persilatan. Mengapa engkau menuduh aku merampas pedangnya?”

Kejut Siau Lo-seng pada saat itu sukar dilukiskan. Dia tak menyangka sama sekali bahwa musuh besarnya itu ternyata tokoh yang mengalahkan Leng Tiong-siang pada empatpuluh tahun berselang. Kepandaian orang itu memang sakti sekali dan ia merasa putus asa untuk dapat mengalahkannya.

Tetapi apakah ia harus melepaskan tujuannya untuk menuntut balas? Belasan tahun ia menyiksa diri untuk mencari ilmu kesaktian, tak lain tak bukan hanyalah untuk menuntut balas. Sekarang setelah berjumpa dengan musuhnya itu mengapa ia harus mundur?

Tidak, tidak! Biar dia mati tetapi tetap akan menuntut balas kepada orang itu. Darahnya mendidih dan dendamnya menyala kembali.

“Tak peduli engkau ini siapa dan betapapun kesaktianmu……, tetapi engkau harus serahkan jiwamu!” tiba- tiba ia berteriak lalu melangkah maju lima tindak. Tetapi tak mau tergesa-gesa menyerang melainkan berkilat-kilat memandang wajah Leng Tiong-siang.

Leng Tiong-siang tertegun. Walanpun kerut wajahnya yang dingin itu tak memperlihatkan suatu perobahan, tetapi biji matanya tampak bersinar cerah memancar kejut-kejut girang……

Demikian keduanya tegak mematung saling beradu pedang. Masing-masing menunggu suatu kesempatan dan harus menekan kesabaran. Karena barang siapa lebih dahulu menyerang secara gegabah dia pasti akan menderita serangan lawan yang tak mungkin dielakkan lagi. Walaupun sikapnya berbeda tetapi dalam hati mereka sama-sama tegang dan serius. Dan tak lama kemudian kaki mereka pun mulai bergerak pelahan sekali.

Matahari makin naik, sekeliling tempat mereka berada, sunyi senyap. Walaupun matahari musim Jiu (rontok) tidak begitu panas, tetapi kedua orang itu mandi keringat. Mata merentang memandang lawan tanpa berkedip.

Saat itu Siau Lo-seng tenang sekali sehingga tak ingat apa-apa bahkan ilmu permainan pedang sekalipun. Tetapi dalam keadaan demikian, pikirannya mulai mengendap dan mulai menyadari akan kesaktian ilmu pedang, menyingkap intisari ilmu itu.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba dia menggembor keras dan pedang Ular Emas pun segera melancar. Cepatnya bukan kepalang. Dalam sekejap saja dia sudah menyerang sampai tiga jurus.

Setelah merapat, keduanya lalu terpisah lagi, Siau Lo-seng mundur tiga langkah. Ujung pedangnya menitikkan tetesan darah.

Leng Tiong-siang mundur sampai tujuh-delapan langkah. Tangan kirinya mendekap bahunya yang mengucurkan darah sehingga bajunya yang berwarna putih, berlumuran merah.

Tokoh tua itu menengadahkan kepala, menghembuskan napas. Entah napas penyalur kemarahan, kesedihan atau kegembiraan. Sukar diketahui isi hatinya. Hanya dia sendiri yang tahu.

Kemudian dia tertawa. Tetapi dalam tertawa itu, matanya menitikkan airmata. Dan pada saat jubahnya tampak berkibar, diapun sudah loncat tujuh tombak jauhnya......

Siau Lo-seng tak mau mengejar dan memang tak berani mengejar. Karena ia tahu bahwa dalam serangan tiga jurus tadi, sebenarnya Leng Tiong-siang sudah menyentuh punggungnya pada bagian jalan darah Sim- jiau. Apabila jarinya menekan pastilah Siau Lo-seng akan hilang nyawanya. Tetapi ternyata orang tua itu tak mau dan melainkan hanya mendorongnya saja ke samping.

“Mengapa dia tak mau melukai aku? Ha, ha, dia mengajarkan ilmu pedang kepadaku untuk melukainya. Siapakah dia? Ya, siapakah sebenarnya orang itu ?” diam-diam Siau Lo-seng menimang-nimang dalam

hati.

Dia merasa tak mampu menghancurkan musuh besarnya bahkan malah menerima ajaran ilmu pedang. Bukankah hal itu hina sekali? Ia tak tahu mengapa tanpa disadari, ia melakukan perintah orang itu. Mengapa ?

Tiba-tiba ia merasa, seseorang telah menghampiri di belakangnya. Cepat ia berputar tubuh dan bersiap. Hai...... ternyata tanpa diketahui entah kapan datangnya, tahu-tahu telah muncul rombongan tandu yang dipikul oleh delapan lelaki baju merah dan dikawal oleh delapan lelaki baju putih. Dan tandu itu berisi si Buddha Emas Ang Siong-pik.

Siau Lo-seng tak habis mengerti. Mengapa kedatangan rombongan sekian banyak orang tak menimbulkan suara berisik sama sekali. Ah, dia tak berani membayangkan lebih lanjut. Apabila rombongan Ang Siong-pik itu hendak mencelakai dirinya, bukankah amat mudah sekali?

“Bagaimana?” tiba-tiba Ang Siong-pik berseru, “mengapa engkau tampak begitu tegang? Heh, heh apakah engkau sudah mempertimbangkannya?”

“Mempertimbangkan apa?” Siau Lo-seng terkejut.

“He, he,” teriak Buddha Emas Ang Siong-pik, “dengan usaha keras baru dapat menolong engkau lobos dari Bu-tong-san, masakan sia-sia saja jerih payahku itu?”

Seketika Siau Lo-seng teringat akan suara seruling aneh dan talu genta yang gencar sehingga wajah Bu- tong Sam-siu berobah kaget itu. Segera ia menyadari apa yang dikatakan Ang Siong-pik.

“Hm, kiranya engkau bersekongkol dengan dia,” teriaknya sesaat kemudian.

“Sekongkol bagaimana?” Ang Siong-pik deliki mata, “selama hidup belum pernah aku bersekongkol dengan orang.”

Siau Lo-seng tertegun.

“Suara seruling yang terdengar di Bu-tong-san itu, apa bukan engkau yang meniup?” serunya. Ang Siong-pik tiba-tiba tertawa,

“Di seluruh dunia persilatan ini siapakah yang mampu menggunakan lima suara Cian-li-coan-im untuk mengendapkan semangat orang yang sedang bertempur….?” tiba-tiba Ang Siong-pik hentikan kata-kata  dan deliki mata kepada Siau Lo-seng, “bilang, engkau mau melaksanakan perjanjian yang sudah engkau setujui itu atau tidak?”

“Perjanjian apa?” Siau Lo-seng makin heran.

“Apa? Engkau hendak ingkar janji?” teriak Ang Siong-pik makin marah, “engkau telah menyanggupi kepadaku. Setelah kutolong keluar dari Bu-tong-san, engkau segera membawa aku menemui peniup seruling itu. Apakah sekarang engkau hendak menjilat ludahmu?”

Siau Lo-seng kerutkan alis lalu tertawa:

“Aneh benar, kapankah aku minta pertolongan kepadamu?”

“Leng Tiong-siang minta tolong kepadaku supaya menggoda Bu-tong Sam-siu agar dapat menolongmu. Apakah dia tidak meminta persetujuanmu tentang hal itu?”

“Lucu benar,” Siau Lo-seng mendengus, “tak kira engkaupun kena diselomoti orang.” Seketika gemetarlah Ang Siong-pik karena marahnya.

“Tutup mulutmu!” bentaknya, “tak peduli engkau mau mengakui atau tidak, engkau tak dapat gampang- gampang pergi. Sekarang jawablah, dimana orang tua peniup seruling itu?”

Sebenarnya Siau Lo-seng sendiri juga gelisah memikirkan ayah-angkatnya itu. Namun ia menolak untuk mengatakan kepada Ang Siong-pik, serunya: “Tiada suatu keharusan bagiku untuk memberitahu kepadamu.”

“Hm,” Ang Siong-pik mendengus geram. “arak wangi tak mau minum kebalikannya engkau minum arak beracun. Lebih baik engkau bilang saja agar aku tak perlu turun tangan sehingga dapat merusakkan hubungan kita.”

Tiba-tiba Siau Lo-seng mendapat pikiran, katanya: “Perlu apa engkau mencari dia? Apakah engkau mempunyai hubungan dengan dia?”

Buddha Emas Ang Siong-pik menyeringai.

“Sudah lebih dari empatpuluh tahun lamanya aku bersembunyi dalam guha pertapaan. Sekarang baru setengah tahun keluar ke dunia persilatan, sedang bertemu muka saja belum masakan sudah mempunyai hubungan!”

Seketika cahaya wajah Siau Lo-seng pun berobah. Ia berkata seorang diri, “Adakah sesuatu yang tak beres pada suara serulingnya ”

Ang Siong-pik tertawa panjang.

“Sungguh pintar,” serunya, “aku datang karena suara serulingnya itu. Thian-siau-sian-im, Cian-li-sian-im dan Sang-goan-sam-jiok, adalah ilmu suara seruling penting dari guha Thian-siau-sian-tong. Karena ilmu pusaka dari guha Thian-siau-sian-tong telah merembes keluar maka aku perlukan keluar untuk menyelidikinya.”

Kini baru Siau Lo-seng manyadari bahwa ilmu seruling ketiga irama itu, berasal dari satu sumber. Maka tak heran kalau suara seruling dari Buddha Emas Ang Siong-pik hampir menyerupai dengan tiupan seruling dari ayah angkatnya atau orang tua peniup seruling.

“Sekarang sudah kuterangkan semua dan engkau harus memberitahu dimana beradanya,” seru Ang Siong- pik pula.

Siau Lo-seng bingung. Dia sendiri belum tahu dimana dan bagaimana keadaan ayah angkatnya itu.

Sesaat timbul pikirannya untuk menggunakan tenaga Ang Siok-pik mencari jejak ayah angkatnya itu. Pertama, ia ingin tahu bagai¬mana keadaannya apabila Ang Siong-pik berhadapan dengan ayah angkatnya. Dan kedua, walaupun sekarang ia tahu dari mana sumber irama seruling dari ayah angkatnya  itu namun dia sesungguhnya belum tahu benar-benar, siapakah sebenarnya ayah angkatnya itu. 14.69. Siapa Kim Coa Long-kun Palsu!!??

Yang diketahuinya ayah angkatnya seorang tua yang cacat tubuh dan menderita luka hati. Tetapi bagaimana asal usulnya, dia tetap tak tahu.

Ah, perlu apa banyak pikir? Selekas bertemu dengan ayah angkatnya, bukankah ia segera tahu kesemuanya itu? Akhirnya ia memutuskan.

“Dia telah ditawan orang. Tetapi tempat itu sukar diselidiki,” serunya. Ang Siong-pik tertawa gelak-gelak.

“Tempat manakah di dunia ini yang tak dapat kudatangi? Sekalipun sarang harimau kubangan naga, aku tentu dapat mencarinya. Katakan, siapa yang menawannya…… eh, tetapi aku merasa curiga. Dalam dunia persilatan dewasa ini, partai perguruan maupun tokoh persilatan manakah yang mampu mengalahkan dia? Mungkin hanya mengundangnya bukan menangkap dia!”

Siau Lo-seng terperanjat.

“Kalau meuurut bicaramu, ilmu pelajaran dari Thian-siau-sian-tong itu tiada lawan di dunia?” serunya.

“Ah, aku tak berani mengatakan begitu,” kata Ang Siong-pik, “hanya saja, sejak aku turun ke dunia persilatan, belum pernah aku bertemu dengan lawan yang setanding.”

“Ban Jin-hoan ketua Ban-jin-kiong, Jin Kian Pah-cu Ui Siu-bwe dan Puteri Neraka serta Te-gak Kui-ong, apakah mereka kalah dengan engkau?” Siau Lo-seng tak puas.

Buddha Emas Ang Siong-pik tertawa nyaring.

“Ban Jin-hoan dan Ui Siu-bwe itu masih tergolong angkatan lebih muda dari aku. Masakan engkau sejajarkan diriku dengan mereka? Ha, ha, tentang Puteri Neraka dan Te-gak Kui-ong (Raja Akhirat), walaupun mereka menggunakan ilmu pelajaran dari kitab pusaka guha Thian-siau-siau-tong untuk melatih mumi, tetapi cukup dengan kutiupkan irama Thian-siau-mo-im saja mereka pasti akan rubuh terkapar. Bahkan mungkin nyawanyapun terkuasai……”

“Engkau katakan ilmu membuat mumi itu juga berasal dari guha Thian-siau-sian- tong?” Siau Lo-seng berteriak kaget.

Dia teringat akan keterangan ayah angkatnya bahwa ilmu menempa nyawa itu berasal dari Kiu-thian-sian- hu. Bermula Siau Lo-seng tak percaya, tetapi sekarang dia tak ragu lagi.

“Kitab Lian-hun-cin-keng (menempa nyawa) telah dicuri oleh Cian-li-tui-cong Ban Li-hong dari Kiu-thian- sian-hu baru tersebar ke dunia persilatan. Tentang hal itu, masakan aku perlu berbohong!”

Siau Lo-seng menghela napas. “Kalau begitu, locianpwe benar-benar tokoh sakti yang tiada lawannya dalam dunia persilatan.”

Jawab Buddha Emas Ang Siong-pik: “Hanya ada seorang manusia yang menjadi sainganku yang  berat……”

Berkata sampai di situ tiba-tiba dia berhenti lalu beralih pada lain persoalan: “Sudahlah, jangan bicara yang tak berguna. Lekas katakan, siapakah yang menangkap orang tua peniup seruling itu?”

Tiba-tiba Siau Lo-seng mendapat lain pikiran pula. Kalau Ang Siong-pik itu tak takut kepada Ban Jin-hoan dan Jin Kian Pah-cu, jelas ayah angkatnya tentu juga tak takut. Tetapi dia hanya seorang diri, mungkin......

“Dia bersama nona Ui Hun-ing telah dibawa Jin Kian Pah-cu Ui Siu-bwe ke Lembah Kumandang!” serunya serentak.

“Benarkah itu?” Ang Siong-pik menegas.

“Aku sudah mengatakan, terserah percaya atau tidak,” sahut Siau Lo-seng.

“Jalan!” teriak Buddha Emas Ang Siong-pik memberi perintah kepada anak buahnya, “menuju ke Lembah Kumandang!”

Tandupun segera diangkat dan dengan kepesatan langkah yang mengagumkan, rombongan pengawal baju merah dan putih itupun segera lenyap di ujung jalan. Kepergian rombongan Ang Siong-pik itu telah meninggalkan berbagai kesan pada Siau Lo-seng. Dia masih tak habis mengerti mengapa Leng Tiong-siang telah menolongnya. Dan bagaimana pendirian Buddha Emas Ang Siong-pik itu, kawan atau lawan? Siapa pula orang tua peniup seruling yang menjadi ayah angkatnya itu? Dia mengatakan ilmu kepandaiannya berasal dari Kiu-thian-sian-hu. Tetapi aliran apakah Kiu-thian- sian-hu itu?

Terakhir Siau Lo-seng masih bingung juga. Kemanakah sekarang ia harus pergi……?

Ia tak tahu kemana perginya barisan paderi dan bagaimana keadaan perkumpulan Naga Hijau.

Saat itu sudah senja. Cuacapun mulai gelap. Tiba-tiba ia merasa lapar. Ah, memang sehari itu belum makan. Segera ia tinggalkan tempat itu dan tiba di sebuah kota. Ia mencari sebuah rumah makan agak besar.

Ternyata rumah makan itu laris sekali penuh dengan tetamu. Siau Lo-seng terpaksa duduk bersama tiga orang yang tak dikenal. Setelah hidangan yang dipesan datang, maka diapun terus makan dengan lahap sekali.

Tengah enak-enak makan, tiba-tiba dia mendengar suara orang ramai membicarakan tentang seseorang.

“…… Kim-coa-long-kun Siau Mo…… sungguh ganas……, jika bukan Hun-liong-jit-gan, Kwan-gwa Su- hiong…… Hoa-san Ngo-hou ”

Sudah tentu Siau Lo-seng terkejut dan pasang telinga. Seorang tetamu yang duduk pada meja lain berkata:

“Memang begitu! Kabarnya Lutung seribu tangan Ban Li-coan telah mengalami bencana hebat. Dalam semalam saja, enampuluh jiwa dari desa tempat tinggalnya telah dibunuh habis. Wanitanya diperkosa baru dibunuh. Kasihan adalah puteri tunggal dari Ban lo-enghiong, setelah diperkosa oleh Siau Mo lalu dibunuh. Mayatnya yang masih telanjang, digantung di atas pintu gedungnya!”

Orang itu berhenti sebentar lalu melanjutkan ceriteranya lagi.

“……diapun menulis sebuah syair yang kotor dan cabul pada tembok pintu.”

Diam-diam Siau Lo-seng mengerling pandang untuk mengamati orang itu dengan cermat.

Tak kurang dari belasan lelaki berpakaian ringkas seperti kaum persilatan, membawa senjata tengah duduk mengelilingi sebuah meja. Rata-rata mereka berperawakan gagah, kecuali orang yang mengoceh tadi yang bertubuh pendek kecil.

Tiba-tiba seorang lelaki tua yang bermuka brewok tertawa nyaring.

“He, tuh lihatlah, Ma lo-ngo sudah ketakutan setengah mati,” serunya, “sepertinya Siau Mo itu sudah berada di sini saja!”

Si pendek kecil menyelutuk: “Tan Siu-lam, jangan terlalu menganggap sepi orang. Sekalipun Siau Mo begitu ganas tetapi aku Ma Tong tak takut kepadanya. Kalau ada kesempatan bertemu, kalian boleh lihat saja bagaimana tindakanku.”

Orang brewok yang dipanggil Tan Siu-lam tertawa nyaring.

“Ma Lo-ngo, lebih baik jangan jual suara besar dulu,” serunya. “kelak apabila bertemu orangnya, mungkin engkau tentu seperti anjing mengepit ekor.”

“Siu-lam!” teriak Ma Tong, “jangan menghina aku. Duapuluh tahun lamanya Ma Tong berkecimpung dalam dunia persilatan dan bekerja sampai begitu lama di kantor antaran barang Ban-seng Piau-kiok. Tiap kali leherku selalu terancam golok dan tombak. Dalam pertempuran apa saja aku pernah menghadiri. Hm, mungkin lain orang takut kepada Siau Mo tetapi aku Ma Tong ini tidak takut, kalau memang berani……”

“Jangan berkentut!” Tan Siu-lam menukas, “kalau engkau ”

“Sudah, sudahlah!” tiba-tiba terdengar seorang lelaki mengerat kata-kata Siu-lam dalam nada yang memancar tenaga dalam kuat, “jangan berbantah terus. Ma Tong coba engkau katakan apa saja syair yang ditulis Kim-coa-long-kun Siau Mo pada tembok taman Jui-hoa-wan itu?”

“Saat itu banyak orang berkerumun dan membicarakan peristiwa itu tetapi tak ada seorangpun yang tahu kecuali aku. Kulihat jelas huruf itu ditulis dengan darah dan berbunyi begini: Salah benar

Mati hidup

Manusia hidup dalam dunia itu

hanya hanya pikiran peristiwa sesaat. sekejap.

Gembira O, tetapi

kesenangan, bukan  kesenangan kesenangan

Kesenangan memuncak. timbul kesedihan

Jiwapun  harus   berkorban Yang memutuskan  Hidup dan  Mati Apakah si Kim-coa-long?

“Entah digurat dengan apa sehingga huruf-huruf itu menyusup ke dalam dinding sampai lebih dari satu dim. Menilik coraknya, huruf-huruf itu ditulis dengan jari dan darah. Di bawah syair diberi tanda lukisan Ular  Emas dan dibubuhi tanda tangan Siau Lo-seng. Congkak dan ganas, setiap kaum persilatan tentu marah melihat syair itu. Bukan aku, Ma Tong, omong besar tetapi apabila bertemu dengan durjana ganas itu, tentu akan kucincang untuk membalaskan dendam kematian mereka yang tak berdosa.”

Ma Tong menutup kata-katanya yang panjang lebar dengan mengertek geraham penuh menahan kemarahan.

“Ma lo-ngo,” tanya Tan Siu-lam, “sungguh aku tak mengerti omonganmu itu, Kim-coa- long-kun itu bernama Siau Mo atau Siau Lo-seng?”

“Keduanya sama,” sahut Ma Tong, “Siau Mo juga Siau Lo-seng, Siau Lo-seng juga Siau Mo. Yang mengadakan pembunuhan besar-besaran di taman Jui-hoa-wan itu memakai nama Siau Lo-seng.”

Hampir meledak dada Siau Lo-seng mendengar cerita orang itu. Ia tak pernah menduga bahwa dirinya akan difitnah orang. Dengan begitu jelas bahwa yang melakukan pembunuhan di markas Bu-tong-pay itu juga orang yang memalsu dirinya.

Tetapi mengapa orang hendak memfitnah sedemikian keji? Ia mengeluh dalam hati. Jika tak secara kebetulan makan di rumah makan itu tentu ia takkan tahu tentang peristiwa dirinya difitnah.

Saat itu ia bergidik dalam hati melihat cara-cara keji yang dilakukan orang terhadap dirinya.

Tiba-tiba seorang lelaki yang duduk di sebelah kiri dari rombongan orang-orang persilatan itu, berkata: “Ma lo-ngo, lebih hati-hati sedikit kalau bicara. Ingat, tembok itu bertelinga. Apalagi Siau Mo itu dapat muncul tanpa diduga-duga. Siapa tahu kalau saat ini dia juga sudah berada di sekeliling tempat ini?”

“Mengapa tidak?” sambut seorang lain, “kabarnya Siau Mo itu akan lewat di sini. Kalau dia singgah di rumah makan ini, tentu akan terjadi pertunjukan yang ramai.”

Setelah orang itu berkata maka suasanapun sepi. Siau Lo-seng heran dan mengangkat muka hendak melihat keadaan mereka. Saat itu pandang matanya terbentur dengan mereka. Wajah mereka pun serentak berobah hebat lalu serempak berdiri. Ada beberapa yang malah sudah menyingkir.

“Kim-coa-long-kun……!” “Siau Lo-seng……!”

Susul menyusul terdengar teriakan bernada kejut dan gentar dari mulut orang-orang itu.

Rupanya Siau Lo-seng menyadari bahwa dirinya salah diduga orang. Buru-buru ia berbangkit dan dengan tertawa ia menghampiri ke tempat mereka.

“Saudara-saudara kaum persilatan……” ia berusaha mengucapkan kata-kata dengan nada ramah. Tetapi orang-orang itu malah makin menyurut mundur. Wajah mereka pun menampilkan ketakutan hebat.

Tiba-tiba salah seorang terus lari keluar. Kawan-kawannya pun segera mengikuti jejaknya. Suasana pun kacau. Bahkan tetamu-tetamu yang tak tahu duduk perkaranya, ikut-ikutan melarikan diri.

Siau Lo-seng mengejar mereka dan berseru: “Hai, kalian salah sangka, aku bukan……”

Tetapi mereka tak mau mendengar lagi. Bahkan karena pemuda itu lari memburu, merekapun cepatkan larinya. Dalam sekejap saja, rumah makan itu kosong melompong. Yang tertinggal hanya pelayan dan pemiliknya. Mereka terlongong-longong tak mengerti apa yang terjadi.

Tak berapa lama Siau Lo-seng kembali. Melihat keadaan rumah makan yang kacau balau, dia bertanya kepada pelayan siapa yang menjadi pemilik rumah makan itu.

“Lekas hitung berapa banyak kerugian yang kalian derita dan akulah yang akan membayar semua.” Mendengar kata-kata itu, pemilik rumah makan pun baru berani menonjol keluar dan berkata:

“……tuan...... sedikit kerugian itu…… tak jadi  apa. Kami……  tak  berani menerima uang kerugian dari  tuan ”

Tahu bahwa bagaimanapun dipaksa tentu tak ada gunanya maka Siau Lo-seng segera mengambil emas hancur seberat tiga tail lalu dilemparkan: “Untuk mengganti semua kerugian di sini dan sisanya berikan kepada pelayan-pelayan di sini.”

Habis berkata ia terus melangkah keluar. Tetapi begitu keluar ke jalan iapun tertegun, Ternyata jalan gelap gelita. Rumah-rumah telah memadamkan lampunya semua. Tiada seorangpun yang berani keluar dari rumahnya seolah-olah bakal terjadi geger.

“Aneh, mengapa mendadak terjadi perobahan begini?” tak habis ia mengerti. Namun hanya deru angin yang menghembuskan jawaban kesunyian.

Tetapi malam itu beda suasananya dengan hari malam yang gelap. Karena malam itu penuh dengan ketegangan yang tersembunyi.

Tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kuda berlari riuh dan cepat sekali sudah tiba di belakang Siau Lo-seng.

Baru Siau Lo-seng menduga-duga apa yang akan terjadi tiba-tiba ia mendengar hembus angin melandanya dari belakang.

“Hm,” Siau Lo-seng gemas juga. Ia hendak memberi sedikit hajaran kepada mereka.

Secepat berputar tubuh, ia gerakkan kedua tangannya untuk menampar penunggang kuda yang berada di belakangnya.

Terdengar suara kuda meringkik keras dan tiba-tiba kuda pun loncat sampai setombak tingginya dan melayang melampaui atas kepala Siau Lo-seng.

Pemuda itu terkejut. Dia belum sempat melihat jelas orang itu. Cepat ia tamparkan kedua tangannya kepada panggung kuda itu pula.

“Ada ubi ada talas, engkau memukul, aku membalas!” lengking penunggang kuda itu seraya taburkan senjata rahasia ke muka Siau Lo-seng.

Saat itu barulah Siau Lo Seng dapat melihat jelas bahwa panunggang kuda itu seorang dara baju merah. Karena suasana gelap, ia tak dapat melihat jelas bagaimana raut wajah nona itu. Tetapi perawakan dan potongan tubuhnya seperti pernah dikenalnya.

Namun Siau Lo-seng tak sempat merenung karena ia harus menyambuti senjata rahasia yang sudah melayang ke mukanya. Cepat ia menyambar dengan tangannya. Tetapi ketika benda itu terasa  lunak seperti kapas, iapun terkejut sekali.

Pada saat ia tertegun, kudapun laju meluncur ke muka dan pada lain kejap, kuda dan nona baju merah itupun lenyap dalam ujung kegelapan.

Peristiwa itu mendadak sekali datangnya dan mendadak pula lenyapnya.

“Apakah artinya ini? Apakah suatu amanat tantangan?” cepat benak Siau Lo-seng menimang.

Segera ia teringat akan peristiwa ketika berada di loteng tempat orang tua peniup seruling. Saat itu, seorang dari ke empatpuluh barisan Algojo telah melemparkan sebuah gulungan kertas kepadanya. Karena tak sempat maka gulungan kertas itu hanya disimpan dalam bajunya. Buru-buru ia mengambilnya keluar.

Pertama-tama ia membuka gumpalan benda lunak yang dilemparkan nona baju merah tadi. Ah, sebuah saputangan sutera. Dibukanya saputangan itu dan di bawah penerangan rembulan remah ternyata saputangan itu bertuliskan beberapa huruf yang berbunyi, “Saat ini engkau sedang dikepung oleh musuhmu, hati-hatilah.”

hurufnya ditulis indah tetapi tak dibubuhi tanda tangan apa-apa.

Siau Lo-seng tertegun. Ada dua hal yang menghuni dalam benaknya. Bahwa ternyata walaupun sudah lolos dari Bu-tong-san, dia tetap dibayangi musuh. Dan kedua. munculnya seorang nona yang memberi peringatan kepadanya. Jelas nona itu tentu bermaksud baik. Tetapi siapa gerangan dia?

Sesaat kemudian ia membuka gumpalan kertas yang disimpannya dalam baju sampai. beberapa lama. Begitu membaca, keringat dingin segera mengucur deras.

14.70. Berita dari Bok-yong Kang yang Hilang

Ternyata surat itu menyangkut kepentingan dunia persilatan. Dan yang menanda-tangani Bok-yong Kang, saudara-angkatnya yang sudah lama menghilang tak ketahuan rimbanya itu.

Dalam suratnya itu. Bok-yong Kang mengatakan. Dia telah ditawan Jin Kian Pah-cu. Tetapi karena pihak Ban-jin-kiong menyerang Lembah Kumandang maka nona Ui Hun-ing dapat melepaskannya. Dia terpaksa menyelundup masuk ke dalam barisan pihak Ban-jin-kiong. Tujuannya, hendak menyelidiki keadaan Ban- jin-kiong. Tetapi Ban-jin-kiong memang ketat sekali peraturannya. Dengan susah payah ia (Bok-yong Kang) baru berhasil menyelundup masuk ikut dalam barisan Algojo yang berjumlah empatpuluh dua orang itu.

“Aku terpaksa harus bersabar menahan diri,” kata Bok-yong Kang dalam suratnya itu. “sehingga sampai sekian lama baru dapat mengadakan hubungan dengan Siau toako.”

Lebih lanjut Bok-yong Kang memberi laporan, bahwa pada nanti malam Tiong-jiu (pertengahan musim rontok) Ban-jin-kiong akan mengadakan rapat besar tahunan. Seluruh anak buah yang tersebar di dunia persilatan, harus hadir. Peristiwa itu penting sekali artinya. Untuk menumpas gerombolan Ban-jin-kiong hanya tepat dilakukan pada saat itu. Rupanya dalam rapat besar itu akan diberikan petunjuk dan perintah yang lebih lanjut dari gerakan Ban-jin-kiong untuk menguasai dunia persilatan.

“Demi kepentingan dunia persilatan, terpaksa aku harus menahan diri untuk tinggal dengan mereka. Surat ini kukirim dengan pengharapan yang sangat, agar Siau toako segera bersiap-siap untuk menghadapi peristiwa itu. Untuk menyelamatkan dunia persilatan dari bencana kehancuran ”

Demikian Bok-yong Kang mengakhiri suratnya. Dan tak lupa pula dia menguraikan tentang cara-cara ia akan menyambut kedatangan Siau Lo-seng. Peta markas Ban-jin-kiong lengkap dengan tempat-tempat yang dipasangi alat-alat rahasia.

Setelah mengamati dengan teliti peta itu, Siau Lo-seng menimang-nimang. Saat itu sudah bulan delapan dan terpaut dari hari Tiong-jiu hanya tinggal tiga hari lagi. Ya, hanya tiga hari saja. Dapatkah ia akan menyelesaikan segala persiapan yang perlu?

Perkumpulan Naga Hijau boleh dikata sudah berantakan. Tak mungkin dia hendak pinjam tenaga mereka. Sedangkan partai-partai persilatan dewasa ini sudah di bawah ancaman penghianat dalam tubuhnya masing-masing. Bahkan merekapun telah diaduk-aduk saling curiga mencurigai. Lebih celaka lagi, mereka telah dihasut untuk memusuhi diri Siau Lo-seng. Dengan demikian pemuda itu merasa bahwa dirinya sedang dimusuhi oleh seluruh partai persilatan.

Di samping Ban-jin-kiong, masih terdapat Lembah Kumandang yang menunggu kesempatan juga untuk menaklukkan dunia persilatan. Kalau ia hendak mengajak tokoh-tokoh Ceng-pay untuk menghadapi Ban-jin- kiong apakah tidak akan memberi kesempatan pada Lembah Kumandang untuk bergerak?

Menilik gerak gerik Jin Kian Pah-cu yang licik dan ganas, rasanya jauh lebih jahat dari Ban-jin-kiong. Jika tokoh-tokoh persilatan Ceng-pay sampai bertempur sama-sama hancur dengan Ban-jin-kiong, tidakkah Lembah Kumandang yang mendapat keuntungan!

Tetapi kesempatan untuk menghancurkan Ban-jin-kiong sukar didapat lagi kecuali pada hari Tiong-jiu itu nanti.

Demikian lalu lalang pemikiran yang menghuni dalam benak Siau Lo-seng ketika ayunkan langkah pelahan- lahan menyusup dalam kegelapan malam. Tiba-tiba ia merasakan sesosok bayangan tinggi besar melintas di bawah sebuah pohon go-tong (semacam jambu). Dan cepat sekali orang itu sudah lenyap dalam ujung gelap. Tetapi menyusul, beberapa sosok bayangan segera berhamburan keluar.

Saat itu Siau Lo-seng tengah terbenam dalam renungan untuk mencari daya bagaimana mengatasi persoalan yang tengah dihadapi saat itu.

Sekonyong-konyong ia merasa setiup angin telah menyambar ke arah punggungnya.

Dia mendengus dingin. Begitu mengisar ke samping ia terus jentikkan tiga kali sentilan jari.

“Aduh……!” terdengar sebuah jeritan ngeri. Sesosok tubuh besar terlempar ke udara. Pedangnya pun terlempar dan melayang jatuh sampai setombak lebih jauhnya.

Tetapi serempak dengan itu lima orang lelaki bermunculan dari arah hutan yang gelap. Mereka cepat tegak berjajar-jajar menghadang jalan, dengan menghunus senjata.

Siau Lo-seng tenang-tenang sapukan pandang mata ke arah mereka. Ia tetap berjalan maju dan makin lama makin mendekati mereka.

Kerut wajah kelima orang itupun berobah-robah. Sebentar tegang marah, sebentar pucat ketakutan. Tiba-tiba Siau Lo-seng berhenti dan memandang tajam kepada mereka. Mereka tampak menggigil. “Siau Lo-seng, akhirnya engkau datang juga!” tiba-tiba terdengar orang tertawa.

Arahnya dari dalam hutan. Menyusul belasan orangpun muncul. Lelaki, perempuan, tua dan muda. Mereka memandang Siau Lo-seng dengan pandang penuh dendam.

“Perlu apa saudara-saudara mencari aku?” tegur Siau Lo-seng.

Seorang perempuan muda yang masih mengenakan pakaian berkabung, berseru keras: “Iblis ganas, hari ini kami hendak minta engkau mengganti nyawa.”

Habis berkata janda muda itu terus bersikap hendak menyerang. Tetapi dicegah oleh seorang lelaki pertengahan umur yang berada di belakangnya. Seorang perempuan tua pun menasehati dengan bisik- bisik.

Siau Lo-seng mendengus.

“Aku Siau Lo-seng, selalu membedakan mana budi mana dendam. Apa yang kulakukan tentu kupertanggung jawabkan. Apabila saudara-saudara hendak membalas dendam kepadaku, mengapa kalian tak    mau    keluar     semua     dan     masih     ada     yang     bersembunyi     di     atas     pohon?”  Sebagai jawaban, lebih dari duapuluh orang scgera berhamburan muncul dari atas pohon dan balik batu.

Salah seorang, seorang tua yang memanggul sebatang pedang di punggungnya, segera tertawa menyeringai.

“Bagus Siau Lo-seng, nyata engkau amat perwira dan sakti maka engkau begitu congkak dan sombong.”

“Kulihat engkau ini seorang manusia. Cobalah engkau sebutkan namamu agar dapat kupertimbangkan layakkah engkau bertempur dengan aku!” sahut Siau Lo-seng.

Lelaki tua itu tertawa nyaring.

“Aku bernama Auyang Sat-hong. Kalangan penyamun dalam dunia persilatan memberi gelar nama Tiong- goan-it-tiau (Rajawali dari tanah Tiong-goan). Hari ini baru kulihat dengan mata kepala sendiri bahwa Kim- coa-long-kun Siau Lo-seng itu seorang jago muda yang berbakat hebat. Sayang, sayang!”

Siau Lo-seng tertawa.

“Apa yang kausayangkan? Kalau takut, harap menyingkir saja.” Tiong-goan-it-tiau Auyang Sat-hong agak merah mukanya.

“Bahwa seorang pemuda yang cerdas telah terjerumus ke jalan yang sesat, menjadi seorang momok ganas. Kelak mayatmu tentu tak terkubur di tanah. Apakah itu tidak sayang?”

Siau Lo-seng tertawa gelak-gelak. “Jika begitu aku harus berterima kasih atas perhatianmu. Tetapi aku masih tak ingin mati dan mungkin akan mengecewakan keinginanmu.”

Baru Tiong-goat-it-tiau hendak membuka mulut lagi tiba-tiba seorang imam muda berdiri dan mengerat omongan orang:

“Mengapa Auyang locianpwe berkering ludah terhadap momok jahat semacam itu? Tangkap dulu baru kita adili!”

Siau Lo-seng mendengus dingin.

“Hm, enak saja engkau bicara, imam. Mengapa engkau tak mau memberitahukan namamu?”

“Aku Kiam Ho, hendak membalaskan kematian ketujuh Hun-liong-jit-gan yang engkau bunuh itu. Hari ini akan merupakan hari terakhir dari kejahatanmu.”

“Ah, maaf, karena tak menghormat kepada totiang,” seru Siau Lo-seng, “kiranya totiang ini Kiam Ho Cinjin yang ternama. Kematian Hun-long-jit-gan di bawah Pedang Ular Emas itu adalah karena memang mereka harus mati. Apakah di tempat ini masih terdapat lain sahabat yang hendak ‘membalas dendam’ kepadaku lagi? Kalau masih, silahkan maju dan memberitahukan namanya agar aku dapat 'mempertimbangkan apakah dia layak menjadi lawan tempurku.”

Sudah tentu kata-kata Siau Lo-seng itu menimbulkan kemarahan sekalian orang. Janda muda yang berbaju hitam itu segera melengking

“Aku Lu Kui-hun, mewakili ke tujuhpuluh dua arwah anak murid perguruan Sin-kun-hun, akan meminta ganti jiwa kepadamu, pembunuh ”

Dengan rambut yang terlepas ke bahu dan sepasang mata berwarna merah, wanita itu segera memainkan goloknya untuk menyerang dalam jurus Thian-cu-te-hiat atau Langit roboh bumi amblong.

“Tunggu dulu!” seru Siau Lo-seng. Dengan sebuah geliatan tubuh, ia sudah menyingkir tiga tombak  jauhnya.

“Jahanam, masih hendak omong apa lagi?” teriak janda muda itu. Tiga buah jurus dilancarkan lagi secara berturut-turut. Rupanya dia hendak mengadu jiwa.

Dalam beberapa kejap saja dia sudah melancarkan limabelas jurus kepada Siau Lo-seng.

Siau Lo-seng diam saja tak mau membalas, melainkan menghindar. Dia berlincahan di bawah tabasan golok. Berlarian mengeliling lawan.

Lu Kui-hun si janda baju hitam mulai gelisah. Matanya sudah berlinang-linang karena menahan malu dan marah. Permainan goloknya pun makin kacau.

Tiba-tiba Siau Lo-seng meluncur ke samping untuk meloloskan diri dari sinar golok, lalu berseru:

“Dengan kepandaianmu yang sebegitu saja engkau hendak balas sakit hati, ah, masih jauh. Lebih baik pulang dan berlatihlah sampai beberapa tahun baru nanti mencari aku.”

Karena serangannya gagal, Lu Kui-hun marah lalu menangis: “Suamiku, tunggulah aku. Karena tak dapat membalaskan kematianmu, aku hendak menyusul engkau ke alam baka. Kalau benar engkau berada di akhirat, jadilah engkau setan untuk mencabut nyawanya!”

Habis berkata ia terus hendak menabas lehernya sendiri.

Sekalian orang terkejut. Tetapi mereka baru saja habis tertegun menyaksikan pertempuran tadi. Walaupun melihat si janda Lu Kui-hun hendak bunuh diri, tetapi mereka tak dapat menolong kecuali hanya berteriak menyuruhnya jangan nekad.

“Tring ”

Tiba-tiba terdengar dering yang nyaring dan pedangnya jatuh ke tanah. Tetapi orangnya pun rubuh.

“Cici!” teriak seorang pemuda berumur enambelasan tahun seraya loncat menyambuti tubuh si janda muda yang hendak roboh itu.

Ketika memeriksa denyut nadi dan napasnya, pemuda itu dapatkan cicinya sudah tak bernyawa. Serentak ia berpaling dan mendamprat Siau Lo-seng: “Jahanam, engkau telah membunuh seluruh keluarga engkoh iparku. Sekarang engkau bunuh juga taciku. Aku akan mengadu jiwa dengan engkau!”

Siau Lo-seng tertegun. Diam-diam ia menimang dalam hati: “Aneh sekali, aku hanya menggunakan ilmu jari baja Kim-kong-ci untuk menyiak pedangnya, mengapa dia mati!”

Tetapi saat si pemuda itu tiba dan menyerang dengan senjatanya yang berbentuk aneh. Semacam pukul besi tetapi panjang seperti tongkat.

Siau Lo-seng hanya menghindar. Tujuh kali serangan si anak muda, tetapi dihindari saja. “Apa katamu? Tacimu mati?” tegur Siau Lo-seng.

Serangannya luput dan menerima pertanyaan begitu, pemuda itu marah sekali. “Jahanam, sudah membunuh orang masa masih mau berpura-pura. Terimalah seranganku Thian-to-coat-beng-sam-si ini!”

Tongkat palu segera diputar bagaikan sebuah bianglala yang mencurah ke tubuh Siau Lo-seng.

Diam-diam Siau Lo-seng terkejut dan kagum atas ilmu permainan itu. Apabila ilmu itu dimainkan dengan menggunakan pedang, tentu hebat sekali.

“Hian, jangan menggunakan ilmu itu!” tiba-tiba Tiong-goan-it-tiau Auyang Sat-hong berseru, seraya melayang ke tengah gelanggang dan rentangkan kedua tangannya untuk melindungi anak itu.

Tetapi rupanya peringatan orang tua itu tak dihiraukan si anak muda. Bahkan kebalikannya dia malah mainkan senjatanya makin gencar.

Siau Lo-seng mendongkol. Ia gerakkan tangan kanannya untuk menyambar tongkat lalu menutukkan jari kirinya ke tangan si pemuda.

Tetapi ketika tangan Siau Lo-seng berhasil menyambar tongkat, tiba-tiba pemuda itu tertawa dingin lalu berputar tubuh. Seketika tongkatnya itupun putus. Separoh bagian ujungnya dipegang Siau Lo-seng dan separoh bagian belakang segera menjadi sebatang tombak tajam. Setelah menghindar dari tiga tutukan jari Siau Lo-seng, secepat kilat pemuda itu membabat pinggang Siau Lo-seng.

Setitikpun Siau Lo-seng tak menyangka bahwa senjata tongkat panjang itu ternyata terdiri dari dua ruas batang. Bahkan ruas bagian belakang merupakan tombak yang runcing.

Dalam keadaan yang gawat itu tiba-tiba terdengar erang suara tertahan. Siau Lo-seng mundur setombak jauhnya, ia telah tertusuk robek memanjang.

Tetapi anak muda itu rubuh ke tanah dan senjatanya yang aneh telah terlempar sampai tiga tombak jauhnya.

Tiong-goan-it-tiau terkejut. Ia memang hendak melindung anak muda itu. Tetapi ketika tahu bahwa ujung senjata si anak muda berhasil mengenai tubuh Siau Lo-seng, ia diam saja. Pikirnya, tentulah kali ini Siau Lo-seng akan terluka. Tetapi di1uar dugaan dan dengan gerak yang sama sekali tak diketahuinya, ternyata Siau Lo-seng mampu merobohkan anak muda itu dan memukul senjatanya sampai beberapa tombak jauhnya.

Sekalian orang yang menyaksikan hasil pertempuran itu kesima. Bahkan Siau Lo-seng sendiri juga terbeliak kaget.

Tadi janda muda tiba-tiba rubuh binasa dan kali ini anak muda itupun rubuh……

Saat itu Tiong-goan-it-tiau hendak mengangkat tubuh pemuda tadi. Tiba-tiba Siau Lo-seng berseru mencegah, “Harap jangan memegangnya!”

Sambil berkata pemuda itu terus loncat maju dan ayunkan tangan untuk mendorong Tiong-goan-it-tiau.

Tiong-goan-it-tiau tak mengerti maksud Siau Lo-seng. Ia kira pemuda yang telah membunuh muridaya itu hendak menyerang dia sekali. Maka marahlah ia.

“Siau Lo-seng, engkau ganas sekali!” serunya seraya maju hantamkan kedua tangannya ke arah Siau Lo- seng……
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar 100 Hari Jilid 14"

Post a Comment

close