Pendekar 100 Hari Jilid 12

Mode Malam
12.56. Wanita Cantik, Jin Kian Pah-cu

Karena lengannya ditutuk ujung Keng-hun-pit, menjeritlah Cu-ing kesakitan. Sedemikian kesakitan sampai tubuhnya gemetar.

Melihat itu barulah Siau Lo-seng hentikan langkah. Dia mengertek gigi tetapi tak berani turun tangan. Hanya sepasang biji matanya yang makin menyala merah.

“Berani menyerang lagi, jangan sesalkan kalau aku bertindak kejam……,” Li Giok-hou tertawa mengekeh. Baru ia berkata begitu tiba-tiba dari belakang terdengar orang memakinya dengan nada sedingin es.

“Budak keparat, masih begitu muda umurmu mengapa sudah belajar menjadi manusia buas yang kejam……”

Mendengar nada suara itu, segera Siau Lo-seng berseru: “Apakah Leng Locianpwe ”

Cepat Li Giok-hou berpaling dan setombak dari tempatnya, entah kapan datangnya, tegak seorang tua baju putih, jenggot putih dan bertubuh tinggi besar.

Wajah orang tua baju putih sedemikian dingin sekali. Dan saat itu dia alihkan pandang mata kepada Siau Lo-seng,

Begitu beradu pandang dengan mata orang tua baju putih itu, gemetarlah tubuh Siau Lo-seng. Mengapa? Siau Lo-seng dapat memperhatikan dan mendapat kesan bahwa sinar mata Leng Tiong-siang itu tidaklah memancarkan sinar kasih sayang seperti beberapa waktu yang lalu. Tetapi suatu pancaran mata orang asing tak kenal pada Siau Lo-seng.

Jaga Li Giok-hou tak kalah kejutnya. Serentak ia berteriak: “Kakek wajah dingin Leng Tiong-siang……”

Cepat kakek itu memandang Li Giok-hou. Beberapa saat kemudian baru berkata dengan nada dingin:

“Kalau kenal padaku, mengapa engkau tak lekas berlutut dan memberitahukan perguruanmu serta nama suhumu. Apakah harus menunggu sampai aku turun tangan?”

Nadanya angkuh sekali, sebagai seorang cianpwe yang memberi perintah kepada seorang yang lebih muda.

Li Giok-hou kerutkan alis lalu tertawa jumawa, serunya:

“Mungkin orang lain tentu akan takut setengah mati kepadamu. Tetapi jangan engkau kira aku sudi bertekuk lutut di hadapanmu. Kalau engkau mempunyai kepandaian, ayo kita coba-coba adu kepandaian!”

Leng Tiong-siang terkesiap kemudian tertawa dingin. Nadanya mirip dengan burung hantu yang berbunyi di tengah malam.

“Ah, tak kira selama empatpuluh tahun malang melintang di dunia persilatan, ternyata baru hari ini aku berjumpa dengan seorang budak ingusan yang sombongnya bukan kepalang, ganasnya luar biasa. Ah ternyata di bawah sinar matahari ini, orang masih berhati angkara murka.”

Habis berkata ia terus maju menghampiri Li Giok-hou.

Li Giok-hou mundur tiga langkah lalu membentak keras-keras: “Berhenti, kalau  tak mau  berhenti,  aku  akan ”

“Biar dia engkau bunuh, akupun tak ada sangkut pautnya,” tukas Leng Tiong-siang.

Sinar putih melayang dan tahu-tahu Leng Tiong-siang pun sudah meluncur untuk melontarkan hantaman.

Li Giok-hou terkejut ketika merasa telah dilanda oleh gelombang angin yang amat dahsyat ia menggembor keras lalu balas memukul dan membawa Cu-ing loncat mundur beberapa langkah.

Tetapi sebelum kakinya menginjak tanah, bayangan Leng Tiong-siang sudah memburu dengan taburkan dua buah pukulan.

Kejut Li Giok-hou bukan kepalang. Namun dia seorang pemuda yang cerdik dan licik. Keng-hun-pit ditaburkan untuk menyongsong pukulan lawan, sedang Cu-ing ditarik di mukanya sebagai perisai.

Melihat itu Siau Lo-seng berteriak: “Leng locianpwe, hentikan tanganmu……” “Bum……”

Dua arus tenaga kuat, melanda tubuh nona itu. Cu-ing mengerang tertahan, mulutnya mengumur darah segar. Dan seketika dara itupun pingsan.

Tetapi arus tenaga pukulan Leng Tiong-siang itupun melemparkan Li Giok-hou sampai setombak jauhnya dan jatuhlah pemuda itu terduduk di tanah.

Rupanya Leng Tiong-siang tak mengacuhkan seruan Siau Lo-seng tadi. Ia berteriak, “Ho, kiranya murid jahat dari Ban-jin-kiong. Terimalah sebuah pukulanku lagi.”

Sesosok bayangan putih melayang bagai kilat menyambar dan sebuah pukulan yang mengeluarkan deru angin segera berhamburan.

Saat itu pikiran dan semangat Li Giok-hou masih kabur. Menyadari bahaya maut yang mengancam dirinya, tiba-tiba ia mendapat pikiran. Sambil memeluk tubuh Cu-ing, ia berjumpalitan loncat ke belakang sampai beberapa langkah.

“Siau Lo-seng, lekas cegah dia atau aku tak dapat menanggung keselamatan jiwa Cu-ing ini,” ia berteriak. Seiring dengan seruan itu, Siau Lo-seng pun lintangkan pedang menghadang Leng Tiong-siang. “Leng locianpwe, jika engkau tak mau berhenti menyerang, jangan salahkan kalau aku akan merintangi engkau,” serunya dengan nada sarat.

Lang Tiong-siang membentak: “Celaka! Engkau juga berani merintangi aku!”

Tiba-tiba ia menghantam lagi lalu dengan sebuah gerak yang aneh menyelinap dari samping Siau Lo-seng terus menyerbu Li Giok-hou.

Siau Lo-seng terkejut sekali. Segera ia mainkan jurus Thian-ong-wi-wi, sebuah jurus dalam kitab ilmu pedang Thian-to-kiam-keng yang dipelajarinya dengan sungguh-sungguh.

Melihat gerak ilmu pedang yang sedemikian hebatnya mau tak mau Leng Tiong-siang terkesiap juga. Diam- diam ia memuji Siau Lo-seng seorang pemuda yang berisi. Diam-diam ia kerahkan hawa murni. Tanpa kaki dan tubuh bergerak, tahu-tahu ia sudah berkisar ke samping untuk melepaskan diri dari hamburan sinar pedang Ular Emas.

Melihat cara Leng Tiong-siang menghindar serangan pedangnya, kejut Siau Lo-seng bukan kepalang. Ia kagum sekali.

Siau Lo-seng tetap memburu karena bagaimanapun serangan Leng Tiong-siang itu tentu akan membahayakan jiwa Cu-ing.

Kali ini Leng Tiong-siang tak mau menghindar lagi. Selekas ujung pedang hampir mengenai dirinya, tiba-tiba ia membentak keras seraya menutukkan jari kirinya ke batang pedang.

Terdengar suara erang tertahan. Siau Lo-seng telah terpental sampai beberapa langkah ke belakang. Walaupun pedang tak sampai terlepas jatuh tetapi ia rasakan lengan kanannya kesemutan. Bahkan  separoh tubuhnya terasa kaku juga.

“Hai, hendak lari kemana engkau budak?” Leng Tiong-siang berteriak.

Ternyata pada saat Siau Lo-seng menyerang Leng Tiong-siang diam-diam Li Giok-hou membawa Cu-ing lari. Tetapi Leng Tiong-siang tahu.

Leng Tiong-siang lentikkan ilmu tutukan jari ke arah punggung Li Giok-hou. Ia hendak menutuk dua buah jalan darah thian-in dan Ko-wi di punggung pemuda itu. Kemudian masih disusuli lagi dengan sebuah pukulan.

Saat itu kaki Li Giok-hou masih terangkat ke atas atau tiba-tiba punggungnya terasa disambar angin tajam. Walaupun tahu bahwa pukulan lawan segera akan tiba namun ia tak berani menangkis. Cepat ia kisarkan tubuh lalu menyerempaki dengan gerak lompatan jungkir balik dan melayang turun beberapa langkah. Lalu hendak gerakkan Keng-hun-pit.

“Bum……”

Ternyata pukulan Leng Tiong-siang itu tepat sekali mendarat di punggung Li Giok-hou. Pemuda itu muntah darah dan tubuhnya terhuyung menjorok ke muka sampai dua tombak jauhnya.

Tetapi Cu-ing pun menderita juga. Karena punggung Li Giok-hou termakan pukulan, maka tubuh gadis itupun mencelat ke udara.

Cepat sekali Siau Lo-seng loncat untuk menyanggapi tubuh si dara.

Rupanya Leng Tiong-siang benci setengah mati kepada Giok-hou yang dianggapnya amat kejam. Tanpa memberi kesempatan lagi, orang tua baju putih itu dorongkan kedua tangan ke arah tubuh Giok-hou yang masih belum sempat berdiri tegak.

Pada detik-detik pukulan maut Leng Tiong-siang headak merenggut jiwa Giok-hou, sekonyong-konyong sesosok tubuh kecil meluncur bagai sebuah bintang jatuh.

“Bum……” terdengar letupan keras.

Bahu kakek wajah dingin itu terhuyung sehingga tubuhnya mundur selangkah. Wajahnya menampilkan rasa kejut yang tak terperikan.

Dan saat itu di tengah gelanggang telah muncul seorang wanita pertengahan umur yang amat cantik.

Wanita cantik itu kerutkan dahi dan berseru melengking: “Leng-heng, empatpuluh tahun berpisah rupanya watakmu masih sepanas dahulu.” Sejenak terkejut, Leng Tiong-siang pun tenang kembali serunya: “Ho, kiranya Dewi Mega Ui Siu-bwe. Ah, walaupun sudah berselang empatpuluh tahun namun engkau masih tetap awet muda dan cantik. Sungguh tak kira bahwa setelah muncul kembali setelah bersembunyi selama empatpuluh tahun, Leng Tiong-siang masih mempunyai kesempatan untuk melihat keagungan Dewi Mega.”

Wanita cantik yang disebut dengan nama Dewi Mega Ui Siu-bwe itu, tampak agak berobah cahaya mukanya. Sepasang matanya agak memancar kilat tajam tetapi pada lain saat tenang kembali.

“Ah, Leng-heng pandai berolok-olok. Empatpuluh tahun banyak sekali terjadi perobahan dalam kehidupan manusia. Yang tua makin tua yang muda bertambah besar. Dan kitapun semakin tua.”

Tiba-tiba Li Giok-hou yang terpukau akan kemunculan Dewi Mega Ui Siu-bwe, sesaat setelah pulih ketenangannya, segera menghampiri dan memberi hormat.

“Terima kasih atas pertolongan locianpwe, Li Giok-hou akan mengingat budi itu selama-lamanya,” katanya.

Dewi Mega Ui Siu-bwe menyahut dengan dingin: “Ih, jangan kira kalau aku hendak menolongmu. Nanti apabila engkau mengetahui siapa diriku, mungkin engkau tak sempat lagi melarikan diri.”

“Suhu, engkau……“ tiba-tiba Hun-ing berteriak tetapi ia segera terkejut ketika pedangnya dihantam golok Ang Piau hingga terlempar ke udara.

Telapak tangan nona itu serasa pecah, darahpun mengucur dan wajahnya pucat. Tetapi rasa kejut yang tampil pada kerut wajahnya itu bukan dikarenakan luka pada tangannya.

Melihat itu Siau Lo-seng cepat loncat menghampiri, “Adik Hun-ing, engkau kenapa?”

Tetapi pada saat tangan Siau Lo-seng menjamah dara itu, serangkum gelombang tenaga yang tiada bersuara telah melanda punggung Siau Lo-seng.

Pemuda itu terkejut dan cepat loncat beberapa langkah ke samping. Ketika berpaling, tampak baik Leng Tiong-siang maupun Dewi Mega Ui Siu-bwe masih tegak di tempatnya masing-masing, seperti tak terjadi suatu apa.

Siau Lo-seng marah. Ia tahu bahwa Li Giok-hou tak mungkin memiliki tenaga sakti semacam itu. Tentulah Leng Tiong-siang yang melancarkannya.

“Orang tua celaka,” serunya dengan murka, “Siau Lo-seng tak merasa mempunyai permusuhan kepadamu, tetapi mengapa engkau menyerang secara gelap. Engkau menyaru jadi Leng Tiong-siang, hm, aku akan melucuti kedokmu ”

Mendengar itu seketika berobah cahaya muka Leng Tiong-siang, bentaknya,

“Budak gila, jangan memfitnah orang seenakmu sendiri. Siapa yang menyerangmu secara gelap. Aku Leng Tiong-siang, juga seorang tokoh yang dikenal orang. Masakan tak malu melakukan perbuatan serendah itu. Kita tak saling kenal mengenal bagaimana engkau menuduh aku seorang Leng Tiong-siang palsu. Hm, budak liar, kalau tak kuberimu hajaran, engkau tentu belum tahu rasa.”

Siau Lo-seng terkesiap mendengar kata-kata Leng Tiong-siang bahwa orang itu tak pernah kenal kepadanya. Seketika ia teringat akan peringatan orang tua peniup seruling bahwa Leng Tiong-siang yang muncul dewasa ini, walaupun nada gerak-geriknya memang menyerupai, tetapi bukan Leng Tiong-siang yang sesungguhnya.

“Hm, kalau tidak mau membuka kedokmu, terpaksa aku akan……” berkata sampai di situ Siau Lo-seng terus mainkan pedang Ular Emas dalam jurus yang maut. Tiga jurus berturut-turut telah dilancarkan kepada Leng Tiong-siang.

Yang diserang Leng Tiong-siang, tetapi entah bagaimana tiba-tiba Dewi Mega gerakkan tangannya untuk membuat gerakan setengah lingkaran dan dua gulung tenaga sakti yang lunak telah meluncur.

Seketika Siau Lo-seng rasakan taburan pedangnya itu seperti terbenam ke dalam lumpur dan karena terlambat untuk menghindar, diapun terdorong sampai tiga-empat langkah ke belakang.

Bukan saja Siau Lo-seng bahkan Leng Tiong-siang sendiri terkejut sekali. Setitikpun ia tak menyangka bahwa setelah empatpuluh tahun berpisah, kini Dewi Mega Ui Siu-bwe telah memiliki tenaga sakti lunak yang sedemikian sakti.

Tampak Dewi Mega berpaling ke arah Siau Lo-seng, serunya dengan tertawa: “Yang melancarkan tenaga tiada suara untuk menghalangi engkau tadi adalah aku. Bukan Leng Tiong- siang. Harap jangan salah paham kepada Leng Tiong-siang.”

Nadanya lembut dan merdu bagaikan burung kenari berkicau. Siau Lo-seng terkejut dan terlongong-longong.

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah jeritan mengaduh dari mulut Hun-ing. Ketika berpaling, dilihatnya nona itu berjungkir balik beberapa kali di udara dan terus jatuh di tanah. Seorang algojo baju hitam segera ayunkan tangannya uutuk memukul punggung nona itu.

Hun-ing menjerit, mulutnya muntah darah dan lunglailah ia ke tanah. Dari empat penjuru empat orang algojo baju hitam segera berhamburan menyerbu dan ayunkan golok gergajinya untuk membunuh Hun-ing.

Siau Lo-seng terkejut sekali. Tetapi ia terpisah pada jarak yang jauh. Tak mungkin dapat menolong, nona itu.

Pada saat Hun-ing terancam maut, sesosok bayangan kecil segera meluncur ke udara.

Dan serempak terdengarlah jeritan ngeri dari dua orang algojo baju hitam yang terlempar beberapa tombak jauhnya.

Ang Piau dan seorang algojo baju hitam telah terlepas senjatanya dan mundur sampai tujuh-delapan langkah. Keduanya tercengang seperti terbang semangatnya.

Dalam keremangan cuaca malam, tampak seorang wanita baju biru tegak di tengah gelanggang. Ang Piau ternganga melihat kecantikan wanita itu. Ya, wanita itu memang terlalu cantik sekali. Setiap mata yang memandang, pasti akan terlongong-longong kehilangan semangat.

“Im-kian-li!” tiba-tiba Siau Lo-seng dan Li Giok-hou serempak berteriak menyebut wanita yang muncul itu. Ya, memang pendatang itu bukan lain yalah Im-kian-li atau Puteri Neraka, kakak seperguruan dari Hun-ing. Tiba-tiba Dewi Mega tertawa gelak-gelak lalu berseru, “Lekas tangkap murid hianat itu!”

Im-kian-li segera mencengkeram tubuh Hun-ing yang rebah di tanah lalu dengan sebuah loncatan yang mengagumkan, ia sudah berada di samping suhunya, Dewi Mega Ui Siu-bwe.

Li Giok-hou menyurut mundur dua langkah dan barteriak kaget: “Engkau…… engkau ini Jin Kian Pah- cu……”

Hampir Siau Lo-seng tak percaya pada dirinya sendiri bahwa wanita cantik Dewi Mega Ui Siu-bwe itu ternyata suhu dari Hun-ing kepala dari Lembah Kumandang yang bergelar Jin Kian Pah-cu.

12.57. Momok Ban Jin Kiong-cu

Dalam alam pikiran Siau Lo-seng, Jin Kian Pah-cu itu tentu seorang momok yang ganas, seorang durjana yang berwajah seram. Sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya, bahwa ketua Lembah Kumandang yang termasyhur ganas itu ternyata seorang wanita yang secantik bidadari.

Saat itu tampak Jin Kian Pah-cu masih tetap tenang seolah-olah tiada terjadi suatu apa. Pelahan-lahan ia menghampiri Im-kian-li yang masih mengurut Hun-ing.

Cepat sekali Jin Kian Pah-cu telah memeriksa dengan teliti, tulang, urat-urat di tubuh Hun-ing. Dan saat itu juga Jin Kian Pah-cu pun sudah memutuskan sesuatu yang penting. Hal itu memang sudah terkandung dalam hatinya selama duapuluh tahun……

Sesaat kemudian tambah cahaya muka Jin Kian Pah-cu berseri girang. Ia mengeluarkan sebuah kotak kumala dan menuang sebutir pil yang terbungkus lilin. Selekas lilin dipecah maka berhamburan hawa yang luar biasa harumnya. Pil berwarna biru itu lalu dimasukkan ke mulut Hun-ing.

Lo-seng memperhatikan wajah Leng Tiong-siang menampil kerut keheranan. Mulutnya hendak bergerak membuka suara tetapi tak jadi.

Sekonyong-konyong Siau Lo-seng teringat sesuatu yang terjadi pada diri Puteri Neraka. Bukankah Im-kian-li itu telah berobah menjadi seorang manusia yang hilang kesadaran pikirannya dan tak ubah seperti mayat hidup? “Jin Kian Pah-cu,” cepat Siau Lo-seng berteriak keras-keras, “apakah engkau hendak menjadikan dia seorang mumi……”

Siau Lo-seng terus loncat menerjang dengan pedang Ular Emas.

Namun Jin Kian Pah-cu hanya tertawa dingin dan menyurut mundur. Serempak dengan itu empat dayang baju biru pengawal Jin Kian Pah-cu, serentak maju menyongsong Siau Lo-seng.

Walaupun tidak sesakti kepandaian Im-kian-li tetapi karena mereka maju berempat, terpaksa Siau Lo-seng harus waspada. Cepat pemuda itu memutar pedangnya untuk melindungi dirinya yang terpaksa harus mundur beberapa langkah.

Tiba-tiba Leng Tiong-siang meluncur ke dekat Im-kian-li dan mengawasinya dengan cermat.

“Wanita ini bukankah Siang-hoa-liong-li Pui Siu-li yang telah menghilang sejak empatpuluh tahun yang lalu? Mengapa sekarang dia menjadi seperti begini……“ tiba-tiba Leng Tiong-siang berkata.

Jin Kian Pah-cu mendengus,

“Ah, kiranya engkau masih mengenalinya. Sayang dia sudah tak kenal lagi padamu ”

Seketika cahaya muka Leng Tiong-siang berobah, serunya dengan nada gemetar.

“Hm, engkau seorang wanita beracun. Wajahmu secantik bidadari tetapi hatimu seganas ular berbisa. Sungguh tak kukira, bahwa engkau sampai hati untuk menurunkan tangan ganas kepada sumoaymu sendiri……”

Siau Lo-seng terbeliak kaget. Pikirnya. “O, kiranya Im-kian-li ini wanita yang diagungkan oleh dunia persilatan sebagai Jelita nomor satu dalam dunia……”

Tetapi pada lain kilas menggigillah hati Lo-seng demi teringat akan perbuatan ganas dari Jin Kian Pah-cu yang amat kejam sampai hati menjadikan sumoaynya sendiri seorang mumi atau mayat hidup.

Jin Kian Pah-cu mengerut dahi tetapi sesaat kemudian ia tertawa hambar.

“Itu urusan antara aku dan sumoayku sendiri. Lebih baik engkau jangan ikut campur. Dan lekaslah engkau mengejar Keng-hun-pit itu saja. Karena kalau terlambat, mungkin pusaka itu sukar engkau dapatkan lagi!”

Mendengar itu Siau Lo-seng cepat berpaling. Dilihatnya saat itu diam-diam Li Giok-hou sudah menyelinap tiga-empat tombak jauhnya. Rupanya sudah bersiap-siap hendak kabur.

Ketika mendengar kata-kata Jin Kian Pah-cu, kejut Giok-hou bukan kepalang. Dan karena jejaknya sudah diketahui, iapun segera enjot tubuh melarikan diri.

“Berhenti!” bentak sesosok tubuh baju putih yang bagaikan bintang jatuh, sudah meluncur ke muka Giok- hou lalu mendorongkan kedua tangannya.

Giok-hou masih belum jelas siapa yang menghadang jalannya itu. Bahwa tahu-tahu ia  rasakan segelombang tenaga sakti melanda dengan gugup ia terus memutar Keng-hun-pit untuk melindungi diri.

Ternyata langkah yang diambil Giok-hou itu memang tepat. Sesaat penghadang baju putih itu atau yang ternyata Leng Tiong-siang, lupa bahwa Keng-hun-pit itu sebuah pusaka yang khusus diciptakan untuk menghapus tenaga dalam lawan.

Begitu pukulan beradu dengan ujung pit. Leng Tiong-siang mengerang tertahan dan terhuyung mundur sampai tiga langkah.

Sedangkan Giok-hou juga menggigil bahunya karena pukulan lawan, tetapi ia cepat mengetahui bahwa Keng-hun-pit nya itu dapat mengatasi lawan. Kesempatan itu sudah tentu tak dia sia-siakannya. Cepat ia menerjang maju sambil taburkan Keng-hun-pit.

Tetapi ternyata Giok-hou telah salah hitung. Leng Tiong-siang bukan tokoh sembarangan. Sesaat menyadari kalau salah langkah, segera ia kerahkan tenaga dalam ke arah lengan kirinya. Ia menduga Giok- hou tentu akan menyerang lagi.

Dan ternyata dugaan itu memang tepat. Pada saat Giok-hou menerjang. Leng Tiong-siang segera menyongsong dengan sebuah pukulan. Terdengar jeritan ngeri ketika Giok-hou terlempar sampai jungkir balik tiga kali di udara. Ketika jatuh pada jarak tiga tombak jauhnya, pemuda itu sampai dua kali muntah darah. Jelas dia menderita luka yang tidak ringan.

Rupanya Leng Tiong-siang benci sekali kepada Giok-hou yang dianggapnya kejam dan ganas. Segera ia loncat ke muka pemuda itu dan lepaskan sebuah tendangan ke arah kepala Giok-hou. Apabila kena tendangan maut itu tentu akan memberantakan benak pemuda itu.

Tetapi lagi-lagi terjadi rintangan. Kali ini datangnya dari empat dayang baju biru yang berhamburan loncat  ke muka Giok-hou lalu serempak menghantam.

Leng Tiong-siang terkejut. Buru-buru ia lepaskan sebuah pukulan Biat-gong-ciang untuk menyongsong.

Walaupun tidak sesakti Im-kian-li, namun ke empat dayang itupun tergolong jago silat yang tinggi kepandaiannya. Tetapi karena mereka menyerang berempat, tenaganya pun bukan kepalang dahsyatnya.

Benturan adu pukulan itu hanya menyebabkan mereka berempat terpental ke udara tetapi dapat melayang turun pula dengan selamat.

Leng Tiong-siang marah. Dengan diantar gemboran keras, ia ayunkan tangan kanannya.

Tiba-tiba Jin Kian Pah-cu loncat menghampiri, mencengkeram tubuh Li Giok-hou seraya membentak keempat dayang itu: “Mundur, jangan berani menyambuti pukulannya.”

Keempat dayang itupun cepat loncat menghindar.

Makin marah Leng Tiong-siang karena pukulannya mengenai angin kosong. Serunya kepada Jin Kian Pah- cu:

“Ui Siu-bwe, apakah engkau hendak cari perkara dengan aku?” Jin Kian Pah-cu tertawa melengking.

“Ah, mana aku berani cari gara-gara dengan kau,” sahutnya. “aku hanya ingin membantu kepada Leng Tiong-siang yang berwajah dingin tetapi berhati panas, supaya jangan mengadakan pembunuhan- pembunuhan yang berdosa.”

“Lepaskan budak itu!” seru Leng Tiong-siang dengan wajah makin membeku. Jin Kian Pah-cu lepaskan tangan dan jatuhlah Giok-hou terkulai di tanah. “Budak ini sudah kulepas,” Jin Kian Pah-cu tertawa.

Tetapi rupanya Leng Tiong-siang masih kurang puas karena Giok-hou masih berada di muka wanita itu.

“Hai, mengapa engkau tak mau lekas menyerahkan Keng-hun-pit? Apakah harus menunggu aku turun tangan?” serunya kepada Giok-hou.

Tiba-tiba Jin Kian Pah-cu tertawa mengikik.

“O, kiranya Leng Tiong-siang hanya menghendaki pit itu. Kukira engkau suka pada budak busuk ini. Kalau begitu, terimalah benda ini!”

Menyambar Keng-hun-pit di tangan Giok-hou, Jin Kian Pah-cu segera melemparkan ke arah Leng Tiong- siang.

Setitikpun Leng Tiong-siang tak mengira bahwa begitu mudah sekali Jin Kian Pah-cu mau menyerahkan pusaka yang menjadi idam-idaman kaum persilatan kepadanya. Dengan tersipu-sipu merah, Leng Tiong- siang menyambuti benda itu.

Siau Lo-seng terkejut. Ia mempunyai kesan tak baik terhadap Leng Tiong-siang karena orang tua itu sudah tak mempedulikan keselamatan jiwa Cu-ing. Dia teringat pula akan keterangan orang tua peniup seruling bahwa Leng Tiong-siang yang muncul sekarang ini bukanlah Leng Tiong-siang yang aseli.

Kini Jin Kian Pah-cu telah memberikan pusaka sakti semacam Keng-hun-pit kepada Leng Tiong-siang. Walaupun Lo-seng tidak mempunyai keinginan untuk memilikinya, tetapi ia tak rela kalau pusaka itu sampai jatuh ke tangan seorang seperti Leng Tiong-siang. Serentak timbul keputusannya untuk menggagalkan peristiwa itu. Siau Lo-seng segera loncat menyambar Keng-hun-pit.

Sudah tentu Leng Tiong-siang marah sekali. Serentak ia lepaskan sebuah pukulan Biat-gong-ciang ke arah anak muda itu, sedang tangan kirinya berusaha untuk menyambar Keng-hun-pit.

Siau Lo-seng memang tak menginginkan pit pusaka itu. Cepat ia menghindar ke samping lalu menghantam Keng-hun-pit.

Terkena hantaman Siau Lo-seng, Keng-hun-pit mencelat ke samping.

Karena tangan kirinya menyambar angin, cepat Leng Tiong-siang berputar sembilanpuluh derajat lalu melayang ke arah Keng-hun-pit.

Seorang albojo baju hitam dari Ban-jin-kiong yang kebetulan berdiri disamping, cepat geliatkan tubuh untuk menyambar pit itu. Tetapi dia terhuyung-huyung sampai setombak jauhnya akibat hebatnya tenaga luncur Keng-hun-pit.

Keempat dayang baju biru, bagaikan kupu-kupu serentak berhamburan menyerang. Baru algojo baju hitam itu berdiri tegak, ia sudah dikurung oleh keempat dayang dan diserang.

Melihat itu Leng Tiong-siang menggembor dan menghantam keempat dayang itu. Kala ini ia gunakan tenaga penuh untuk menghantam sehingga sampai mengeluarkan deru angin yang keras.

Tetapi ketika angin pukulan tiba, keempat dayang itu serempak melambung ke udara sampai dua tombak tingginya. Bagaikan dua pasang kupu-kupu berterbangan meluncur dari udara, mereka meluncur turun dan menyerang algojo baju hitam lagi.

Sudah tentu algojo baju hitam itu amat kaget. Cepat ia mainkan golok gergajinya untuk melindungi diri seraya menyurut mundur sampai setombak jauhnya.

Sekonyong konyong Jin Kian Pah-cu meluncur ke belakang algojo baju hitam itu lalu menghantam punggungnya.

Tindakan Jin Kian Pah-cu itu mengejutkan orang. Mereka tak menyangka bahwa seorang tokoh, setingkat kedudukannya seperti Jin Kian Pah-cu, ternyata mau menyerang dari belakang pada seorang anak buah barisan dari Ban-jin-kiong.

Tetapi peristiwa yang tak terduga-duga telah terjadi. Algojo baju hitam yang mengenakan kerudung muka hitam itu menggembor keras. Tangan kiri memainkan golok ke arah keempat dayang. Tangan kanan tiba- tiba mengarahkan Keng-hun-pit pada Jin Kian Pah-cu yang menyerang dari belakang. Kemudian masih menyusuli dengan tendangan berantai.

Terdengar jerit melengking tajam dan lambung Jin Kian Pah-cu pun termakan sebuah tendangan sehingga tersurut mundur sampai tiga langkah.

Jin Kian Pah-cu tercengang kejut seolah-olah tak percaya apa yang dialaminya saat itu.

Siau Lo-seng pun terkejut. Ia tak menyangka bahwa dalam barisan algojo Ban-jin-kiong yang terdiri dari empatpuluh tujuh orang itu ternyata masih terdapat seorang jago yang berkepandaian sedemikian  hebatnya.

Sejenak memandang orang baju hitam itu, meluaplah hawa pembunuhan pada dahi Jin Kian Pah-cu. Ia tertawa mengikik.

“Sungguh tak kira. Kalau parit hampir dapat menterbalikkan perahu. Hampir saja aku kena engkau kelabuhi. Setengah hari berada di sini, kiranya baru kuketahui kalau cu-jin (ketua) bersembunyi di dalam barisan Algojo. Sungguh pintar sekali……”

Tiba-tiba algojo baju dan berkerudung muka hitam itu menengadahkan kepala tertawa panjang. Tiba-tiba ia mencabut kain kerudung muka dan segera tampaklah sebuah wajah yang berlainan. Rambutnya mirip seperti seorang imam tetapi wajahnya masih tetap tertutup oleh sebuah kain sutera hitam.

Melihat orang itu serentak Siau Lo-seng pun berseru: “Ketua Ban-jin-kiong, Ban Jin-hoan.”

“Ayah……” serentak Li Giok-hou pun berteriak kaget. Dia sendiri juga tak pernah menyangka bahwa ketua Ban-jin-kiong itu akan menyelundup ke dalam barisan Algojo baju hitam. Bagai seorang anak yang menderita dilukai orang, serta merta Li Giok-hou lari menghampiri ketua Ban-jin- kiong itu.

“Plak, plak……!”

Bukan tegur sapa yang mesra tetapi dua buah tamparan ke pipi yang diperoleh Li Giok-hou dari ketua Ban- jin-kiong itu. Karena tak menyangka, pipi Giok-hou pun begap dan mengucurkan darah.

Tamparan itu aneh sekali. Tiada seorangpun yang tahu cara ketua Ban-jin-kiong menampar. Yang diketahui orang hanya dia gerakkan tangan dan tahu-tahu Giok-hou sudah begap pipinya.

“Ayah……,” Giok-hou menjerit.

Ketua Ban-jin-kiong tak menghiraukan. Ia mengangkat tangan dan menampar lagi.

Tamparan itu memang aneh Giok-hou tahu tangan ayahnya melayang tetapi dia tak berani menghindar. Dan andaikata ia berani pun tak mungkin dapat menghindar. Seketika ia rasakan kepalanya pening dan darah menyembur dari mulutnya.

Dua buah tamparan yang belakangan itu, rupanya lebih berat dari yang tadi. Telinga Giok-hou sampai tergiang-ngiang dan tubuhnya menggigil keras.

“Hou-ji, tahukah engkau kesalahanmu?” tegur ketua Ban-jin-kiong.

Wajah Giok-hou berobah. “Bluk,” seketika ia jatuhkan diri dan berseru dengan nada gemetar: “Ya, aku merasa bersalah, mohon dihukum.”

Tiba-tiba Jin Kian Pah-cu tertawa mengekeh, “Ban Jin-hoan, kalau mau mengurus urusan rumah tangga, silahkan pulang dulu, hi, hi……”

Wanita itu berseru pula, “Ban Jin-hoan, sekarang aku hendak membuat perhitungan dengan engkau. Beberapa hari yang lalu engkau telah menyelundup masuk ke dalam Lembah Kumandang dan membunuh tujuhbelas anak buahku. Sebenarnya hendak kuberi tanda mata kepada anakmu yang manis itu supaya melapor kepadamu. Tetapi tak kira engkau sudah datang sendiri.”

Tampak ketua Ban-jin-kiong berputar diri dan berkata tenang,

“Aku, Ban Jin-hoan, selalu menarik garis antara budi dan dendam. Setiap budi tentu kubalas, setiap dendam kuhimpaskan. Karena aku sudah tiba kemari, tentu akan menyelesaikan urusan ini dengan engkau. Tetapi harap tunggu setelah kubereskan beberapa persoalan.”

Dia kebutkan lengan baju dan berseru kepada Li Giok-hou: “Hou-ji mengapa tak lekas bangun?”

Dengan beringsut-ingsut Giok-hou bangun lalu berkata dengan gemetar: “Terima kasih atas budi ayah yang telah memberi keringanan hukuman atas kesalahanku mencemarkan nama ayah.”

Siau Lo-seng terkejut, pikirnya “Huh, mengapa karena kepandaiannya kalah dengan orang dia dianggap mencemar nama baik Ban Jin-hoan? Lucu benar……”

Saat itu cuaca sudah gelap. Suasana di gelangang pun sunyi senyap. Tiada seorangpun yang berani buka suara. Juga tiada yang berani bergerak.

Sapasang mata Ban Jin-hoan berkilat-kilat memandang ke sekeliling penjuru, ke setiap orang yang berada di tempat itu. Seolah-olah hendak membaca hati setiap orang.

Terakhir ia mencurahkan pandang matanya ke arah Leng Tiong-siang.

“Leng Tiong-siang!” serunya pelahan-lahan. “apakah engkau masih ingat akan janji pada delapanbelas tahun berselang?”

12.58. Pendeta Sakti, Tay Hui Sin-ni Sahut Leng Tiong-siang dengan dingin, “Mengapa tidak?” “Bagus!” seru Ban Jin-hoan dengan nada sarat, “Sekarang aku hendak bertanya kepadamu. Menurut perjanjian itu cara bagaimanakah aku akan mengembalikan Keng hun-pit?

“Setelah delapanbelas tahun, akan minta kepadamu,” sahut Leng Tiong-siang,

“Kalau sudah tahu harus minta kembali kepadaku, mengapa engkau menggunakan kekerasan untuk merebut dari tangan Giok-hou? Apakah engkau hendak menelan janjimu lagi?”

Pertanyaan itu membuat Leng Tiong-siang tak dapat menjawab. Beberapa saat kemudian baru tiba-tiba ia berteriak marah: “Ngaco belo! Sekarang sudah delapanbelas tahun lewat beberapa bulan. Mengapa aku tak boleh mengambil kembali milikku?”

Mendengar pembicaraan itu, seketika timbul kesan dalam hati Siau Lo-seng. Makin jelas bahwa Leng Tiong-siang yang berada di tempat itu seorang Leng Tiong-siang palsu.

Buktinya, mengapa Leng Tiong-siang tersebut tak mau terang-terangan meminta pusakanya kepada ketua Ban-jin-kiong? Bukankah sudah beberapa kali dia bertemu dengan ketua Ban-jin-kiong itu. Mengapa begitu melihat Keng-hun-pit berada di tangan Giok-hou. Leng Tiong-siang itu terus berkeras hendak merebutnya?

Tengah Siau Lo-seng, terbenam dalam penilaian-penilaian mengenai diri Leng Tiong-siang itu sekonyong- konyong dari arah belakang terdengar seseorang berseru dengan nada yang lembut:

“Ban Jin-hoan, apabila Leng Tiong-siang dapat merebut Keng-hun-pit, yang salah adalah orang sendiri mengapa tak mau menjaganya. Mengapa engkau mengatakan Leng Tiong-siang melanggar janji?”

Suara itu datangnya sangat tiba-tiba sehingga mengejutkan sekalian orang dan cepat-cepat mereka berpaling ke arah suara itu.

“Tay Hui Sin-ni……” serempak berteriaklah Leng Tiong-siang dan Ban Jin-hoan demi melihat pendatang itu.

Ketika Siau Lo-seng berpaling, diapun terkejut. Cu-ing yang menderita luka dan ditidurkan di atas rumput tadi, entah kapan, tahu-tahu saat itu sudah duduk bersila menyalurkan pernapasan.

Dan di belakang dara itu tegak berdiri seorang rahib tua yang berwajah ramah. Rahib tua itu bukan lain yalah Tay Hui Sin-ni, suhu dari Cu-ing.

Bahwa Tay Hui Sin-ni muncul tanpa diketahui sama sekali telah mengejutkan sekalian tokoh yang hadir di tempat itu. Jelas rahib tua itu telah mencapai kesempurnaan dalam ilmu gin-kang

Kejut ketua Ban-jin-kiong tak terkira. Namun ia cepat menutupi rasa resah hatinya dengan tertawa meloroh.

“Pertemuan hari ini benar-benar menggembirakan sekali. Karena tak kuduga akan bertemu kembali dengan para sahabat lama dari empatpuluh tahun yang lalu. Karena Tay Hui Sin-ni mengatakan begitu, akupun tak boleh tidak akan menurut saja untuk mengembalikan pusaka itu kepada Leng-heng.”

“Memang sepantasnya begitu,” Jin Kian Pah-cu tertawa.

Ban Jin-hoan mengangkat Keng-hun-pit tinggi-tinggi ke atas kepala dan berseru:

“Saat ini aku Ban Jin-hoan hendak melaksanakan perjanjian pada delapanbelas tahun yang lalu dengan ini hendak mengembalikan benda pusaka kepada pemiliknya……”

Tiba-tiba Siau Lo-seng loncat ke muka dan berseru: “Tidak, jangan mengembalikan pusaka itu kepadanya. Dia tak layak memiliki Keng-hun-pit!”

Saat itu Leng Tiong-siang sudah tampil ke muka hendak menyambut Keng-hun-pit. Sudah tentu dia marah sekali karena Siau Lo-seng merintangi.

“Hai, budak semacam engkau berani mencampuri urusan ini? Keng-hun-pit adalah milikku mengapa engkau berani mengatakan aku tak layak menerimanya?”

Siau Lo-seng mendengus dingin:

“Engkau sendiri tentu dapat mengetahui, apakah engkau layak menerima pusaka itu?” Marah Leng Tiong-siang bukan kepalang. “Hm, budak liar, rupanya engkau telah makan hati macan sehingga berani mengurus aku. Apabila engkau tak dapat memberi keterangan yang benar, terpaksa aku akan melanggar pantangan membunuh untuk menghancurkan tubuhmu.”

Siau Lo-seng menengadahkan kepala tertawa keras. Kemudian berseru dingin:

“Apakah engkau masih mempunyai muka untuk mengatakan bahwa engkau ini Leng Tiong-siang yang sesungguhnya? Sungguh tak punya malu! Apakah engkau kira penyamaranmu tiada orang yang tahu?”

Kata-kata Siau Lo-seng itu telah menimbulkan kegemparan besar di kalangan tokoh-tokoh yang hadir di tempat itu. Sekalian orang sama, mencurah pandang ke arah Leng Tiong-siang. Tetapi anehnya, ketua Ban- jin-kiong tetap tenang-tenang saja.

Tampak Leng Tiong-siang tertegun. Cahaya wajahnya berobah. Sebentar merah sebentar pucat.

Melihat perobahan warna muka makin teballah kecurigaan Siau Lo-seng bahwa dia itu memang Leng Tiong-siang palsu.

“Bagaimana, bukankah engkau sudah tak menyangkal lagi?” serunya gembira.

Berpuluh mata yang mencurah ke arah Leng Tiong-siang itu, penuh dengan keheranan, kaget dan bermacam-macam penilaian kepada orang itu.

Sesungguhnya Leng Tiong-siang sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Tetapi ia menyadari bahwa perhatian sekalian tokoh tengah tertumpah kepada dirinya. Maka cepat-cepat ia membersihkan wajah dan bersikap dingin lagi,

“Jika engkau menuduh aku bukan Leng Tiong-siang, jelas engkau menghamburkan fitnah beracun. Kalau engkau tak dapat mengemukakan bukti-bukti tuduhanmu, aku tentu akan mencabut nyawamu!” serunya dalam nada sedingin es.

Kini mata sekalian orang beralih memandang ke arah Siau Lo-seng.

Tenang-tenang Siau Lo-seng berseru: “Apakah engkau hendak mendesak supaya aku membuka rahasiamu……”

“Budak, katakanlah rahasiaku itu,” teriak Leng Tiong-siang malah.

Siau Lo-seng tertawa dingin. Saat itu ia hendak mengatakan tentang keterangan dari orang tua peniup seruling tetapi pada lain kilas ia teringat bahwa dengan berbuat begitu berarti ia memberitahu kepada sekalian orang tentang rahasia orang tua peniup seruling itu. Ah……

“Baiklah sekatang engkau boleh memberi keterangan. Bagaimana engkau dapat membuktikan kalau engkau ini Leng Tiong-siang yang sesungguhnya,” cepat Siau Lo-Seng beralih dengan pertanyaan.

“Aku tetap aku!” seru Leng Tiong-siang murka, “Dewi Mega Ui Siu-bwe, Ban Jin-hoan dan Tay Hui Sin-ni adalah kawan-kawan lama pada empatpuluh tahun yang lampau. Mereka dapat membuktikan bahwa aku ini Leng Tiong-siang. Pada masa aku mengangkat nama di dunia persilatan empatpuluh tahun yang lalu, engkau masih belum keluar dari rahim ibumu. Mengapa engkau berani mengoceh tak keruan, huh, budak hina, engkau harus dilenyapkan……!”

Leng Tiong-siang menutup kata-katanya dengan dorongkan kedua tangannya menghantam. Karena marah, dia sudah menggunakan tenaga sepenuhnya untuk menyerang. Dapat dibayangkan betapa kedahsyatan dari pukulannya itu.

Siau Lo-seng memang diam-diam sudah berjaga-jaga sudah menduga Leng Tiong-siang tentu akan marah dan menyerangnya.

Maka begitu Leng Tiong-siang bergerak, iapun menyerempaki memutar pedang Ular Emas untuk melindungi diri lalu ayunkan tangan kiri untuk menghantam.

“Bum……”

Terdengar letupan keras. Tubuh Siau Lo-seng bersama pedangnya mencelat sampai dua tombak tingginya. Dia berjumpalitan di udara dan melayang turun ke bumi dengan gerak yang indah sekali.

“Bagus……!” serempak terdengar seruan memuji dari orang-orang yang berada di gelanggang itu. Siau Lo-seng tegak berdiri dengan wajah tenang dan tenang-tenang pula ia berseru: “Bukankah tindakanmu itu membuktikan bahwa karena rahasiamu terbongkar engkau lalu marah?”

Gemetar sekujur tubuh Leng Tiong-siang karena menahan kemarahannya. Namun dengan nada dingin ia berseru pula:

“Tutup mulutmu, budak! Aku sudah menunjuk tiga orang sebagai saksi. Apabila engkau masih tak bisa mengunjukkan bukti, saat ini juga engkau tentu kubunuh!”

Masih Siau Lo-seng tertawa dingin.

“Wajahmu engkau tutupi dengan sebuah kedok muka Leng Tiong-siang dan engkaupun dapat menirukan sikap dan tingkah lakunya dengan bagus sekali. Siapakah yang tepat mengatakan engkau ini palsu atau tulen?”

“Mereka dapat mengenali nada suaraku ini tulen atau palsu!” teriak Leng Tiong-siang.

“Sudah berselang empatpuluh tahun dan pula jarang bertemu muka. Sudah tentu sukar untuk mengenali nada suara orang. Bagaimana bisa disuruh membedakan yang palsu dari yang aseli?”

Tiba-tiba Leng Tiong-siang menengadahkan muka dan tertawa panjang, sampai tubuhnya bergetar-getar. Selekas berhenti tertawa, dia terus berseru dengan bengis:

“Dengan Tay Hui Sin-ni, Ban Jin-hoan dan Dewi Mega Ui Siu-bwe, bukan empatpuluh tahun lalu aku tak ketemu. Yang terakhir aku bertemu mereka pada delapanbelas tahun yang lalu. Sudah tentu mereka masih iugat pada diriku. Sekarang aku hendak mempersilahkan mereka untuk mengenali diriku.”

Siau Lo-seng anggap saran itu memang benar. Dia setuju dan mempersilahkan ketiga tokoh itu untuk memeriksa.

Maka pandang mata sekalian orang kini beralih pada ketiga tokoh besar itu. Pertama-tama adalah ketua Ban-jin-kiong yang membuka suara.

“Walaupun hanya berpisah delapanbelas tahun, tetapi perobahan-perobahan memang banyak terjadi. Misalnya, yang kecil akan bertambah dewasa. Terus terang aku memang tak dapat mengenali dengan tepat.”

Sehabis ketua Ban-jin-kiong menyatakan pendapat maka kini mata sekalian orang memandang ke arah Jin Kian Pah-cu.

“Walaupun selama delapanbelas tahun terjadi banyak perobahan, tetapi dia tetap Leng Tiong-siang, salah seorang dari Empat tokoh aneh yang termasyhur pada empatpuluh tahun berselang.”

Mendengar itu berseri gembiralah wajah Leng Tiong-siang. K.emudian dia berpaling ke arah Tay Hui Sin-ni.

Saat itu Cu-ing sudah berdiri dan sandarkan kepala ke bahu Tay Hui Sin-ni. Mata dara itu memandang Siau Lo-seng dengan mesra lalu memandang wajah suhunya.

Keterangan dari rahib itu merupakan keputusan yang penting. Karena dari tiga tokoh, yang satu yakni ketua Ban-jin-kiong meragukan tetapi yang seorang yakni Jin Kian Pah-cu membenarkan keaselian Leng Tiong- siang.

Suasana hening lelap menanti keputusan dari mulut Tay Hui Sin-ni.

Sejenak rahib itu sapukan pandang mata ke arah sekalian orang lalu pelahan-lahan membuka mulut dan berkata dengan serius:

“Kurasa dia memang benar Leng Tiong-siang……”

Mendengar itu longgarlah kesesakan dada sekalian orang. Demikian Leng Tiong-siang. Wajahnya berseri- seri dan berpaling memandang Siau Lo-seng.

Tampak Siau Lo-seng seperti orang yang berdiri di atas bara. Ia menyeringai menghadapi pandang mata sekalian orang.

“Bagaimana, apakah engkau masih membela diri lagi?” tegur Leng Tiong-siang Keadaan Siau Lo-seng benar-benar bagai seorang pesakitan yang menghadapi para hakim. Mendengar tegur Leng Tiong-siang yang bernada mengejek itu, marahlah dia.

“Keterangan orang banyak, belum tentu pasti benar. Mungkin mereka kurang cermat sehingga tak dapat meneliti jelas dirimu,” serunya.

Mendengar itu Leng Tiong-siang hendak marah tetapi tiba-tiba ketua Ban-jin-kiong berseru.

“Leng Tiong-siang, mengapa tak engkau unjukkan barang sebuah dua buah ilmu kepandaianmu yang istimewa untuk membuktikan dirimu itu aseli?”

Ucapan itu telah menyadarkan sekalian tokoh dari kelupaannya. Dan Leng Tiong-siang pun segera tertawa dingin, serunya:

“Ya, ya, mengapa aku lupa hal itu. Sekarang akan kupersilahkan engkau menikmati sebuah ilmu pukulan Peng-thian-jo-kut-ciang (pukulan dingin) untuk membuktikan diriku ini Leng Tiong-siang atau bukan.”

Kata-kata itu penuh mengandung luap kemarahan dan dendam pembunuhan. Dengan langkah sarat, ia maju menghampiri Siau Lo-seng.

Saat itu pikiran Siau Lo-seng kacau balau. Setitikpun ia tak mengira bahwa Tay Hui Sin-ni yang dianggapnya seorang rahib suci yang menjunjung keadilan, ternyata mengakui bahwa orang yang berada di tempat itu memang benar Leng Tiong-siang yang aseli.

“Adakah pengamatan orang tua peniup seruling itu salah?” pikirnya. “Ah, tidak,” ia membantah pikirannya sendiri. Bukan karena ia percaya secara membabi buta kepada orang tua peniup seruling itu. Tetapi memang kecerdasan otaknya juga mempunyai penilaian begitu. Dan ia yakin akan penilaiannya itu.

Adalah karena terbenam dalam renungan, ia sampai lupa akan keadaan dirinya dan suasana tempat itu. Melihat itu Cu-ing gugup dan terus memeluk suhunya seraya berseru: “Siau koko……”

Jeritan dara itu telah menyadarkan lamunan Siau Lo-seng. Begitu pula, saat itu ia telah memperoleh keputusan yang pasti. Dia tetap yakin bahwa Leng Tiong-siang yang berada di hadapannya itu adalah  palsu.

Cepat ia kerahkan tenaga dalam ke seluruh tubuh lalu mengambil sikap. Tegak sekokoh batu karang sambil siapkan pedang Ular Emas.

“Baik, aku akan menyambut pukulan Peng-thian-joh-kut-ciang,” serunya.

Tay Hui Sin-ni yang bermata tajam sudah tentu mengetahui juga ulah tingkah muridnya itu. Ia tahu bahwa muridnya itu telah menaruh hati pada Siau Lo-seng, pemuda yang tampak bersikap angkuh dan yakin itu. Dan sebagai suhu, ia kenal baik akan perangai Cu-ing. Demikian pula, dalam kedudukan sebagai seorang guru pula, iapun wajib memikirkan kepentingan muridnya.

Tay Hui Sin-ni cukup tahu betapa kesaktian pukulan Peng-thian-jo-kut-ciang dari Leng Tiong-siang itu.

Dengan pukulan itu pada empatpuluh tahun yang lalu, Leng Tiong-siang telah mengangkat nama dan disanjung sebagai salah seorang Empat Serangkai tokoh sakti dalam dunia persilatan.

Sekali terkena pukulan sakti itu, jalan darah di seluruh tubuh orang akan membeku dan tubuh menjadi sedingin es. Tetapi tulang terasa panas seperti dibakar. Dalam keadaan tulang terbakar tetapi daging membeku dingin, orang tentu akan mengalami derita siksaan yang paling mengerikan. Itulah sebabnya maka pukulan tersebut dinamakan Peng-thian-joh-kut-ciang atau pukulan Dingin yang membakar tulang.

Leng Tiong-siang jarang menggunakan pukulan maut itu. Selama hidup, ia baru menggunakan dua kali.

Sebagai seekor anak kambing yang tak takut pada harimau, demikianlah keadaan Siau Lo-seng pada saat menghadapi Leng Tiong-siang. Namun betapapun tinggi kepandaian anak muda itu tetap dia sukar untuk menghadapi ilmu pukulan istimewa yang telah diyakinkan selama berpuluh tahun.

12.59. Pembuktian Kakek Berwajah Dingin

Melihat Cu-ing gelisah, Tay Hui Sin-ni tak sampai hati. Pada saat Siau Lo-seng hendak menghadapi bahaya maut, cepat rahib itu loncat ke tengah mereka dan berseru: “Omitohud! Salah dan benar, tulen dan aseli, hanya selintas angan-angan belaka. Keng-hun-pit memang sebuah benda pusaka yang jarang terdapat di dunia, tetapi benda itu dapat dikata merupakan sebuah benda yang tidak membawa kebahagiaan. Duaratus tahun yang lalu benda itu telah menimbulkan pertumpahan darah besar. Dan sejak empatpuluh tahun yang lalu telah dimiliki oleh Leng Tiong-siang. Tetapi seratus tahun kemudian, siapakah yang tahu benda itu akan jatuh di tangan siapa? Demi benda itu Leng Tiong-siang pun telah melakukan pembunuhan-pembunuhan berdarah. Adakah tak menyadari akan kodrat Kebenaran Manusia Hidup?”

Berhenti sejenak, rahib itu melanjutkan pula:

“Sang Buddha bersabda: pohon Bodi itu sesungguhnya bukan pohon. Cermin itu tiada bayangan dan Asal itu sebenarnya Hampa. Mengapa harus melumurkan diri dengan debu kekotoran?

“Siau sauhiap tiada mengandung rasa hendak memiliki dan Leng Tiong-siang pun telah menunggu dengan sabar sampai empatpuluh tahun. Mengapa harus menghilangkan kesabaran itu dan hendak berebut?”

Ucapan rahib yang mengandung falsafah hidup yang baik itu membuat Siau Lo-seng kagum dan mengindahkan. Tetapi dalam pada itu iapun tahu bahwa rahib itu telah salah menilai bahwa ia hendak menginginkan Keng-hun-pit sehingga menimbulkan perebutan dengan Leng Tiong-siang.

Siau Lo-seng hendak memberi penjelasan tetapi Leng Tiong-siang telah mendahului.

“Ucapan Sin-ni penuh mengandung nasehat yang baik sehingga orang tersadar dan mendapat penerangan hidup. Aku bukan seorang manusia yang liar. Hanya karena sikap budak itu keliwat batas dan keliwat mendesak orang maka aku sampai lupa diri. Kalau tidak masakan seorang tua semacam diriku mau meladeni seorang budak yang tak ternama semacam dia?”

Mendengar kata-kata Leng Tiong-siang itu. Siau Lo-seng hendak membantah tetapi Tay Hui Sin-ni mencegahnya dengan kedipan mata.

Berkatalah pula rahib itu,

“Setiap jengkal tanah setiap orang tentu menginginkan. Leng sicu memang pandai dan cerdas sehingga dalam waktu sekejap dapat menilai sesuatu yang menguntungkan. Tetapi seratus tahun hidup manusia itu, dalam sekejap tentu sudah lewat. Hanya sekejap mata, selintas angan-angan. Demikian sabda sang Buddha. Kiranya Leng sicu tentu menyadari hal itu pula.”

Tay Hui Sin-ni berhenti sekejap memandang Siau Lo-seng lalu melanjutkan lagi,

“Tetapi mencari kebenaran memang sudah menjadi kodrat manusia. Maksud Siau sauhiap mendesak Leng sicu untuk membuktikan keaselian diri sicu itu, tak lain maksudnya untuk menjaga agar pusaka itu tak jatuh di tangan orang yang tak baik. Dalam hal itu, Leng sicu tak perlu harus mengunjukkan bukti pukulan yang dapat membahayakan jiwa orang. Cukuplah apabila Leng sicu mengunjukkan pedang yang termasyhur pada empatpuluh tahun yang lalu yakni Leng-hong-kiam.”

Suasana yang tegang regang penuh bertebaran hawa pembunuban, hanya dengan beberapa patah perkataan saja dapatlah ditenangkan oleh Tay Hui Sin-ni.

Diam-diam Siau Lo-seng pun mengagumi dan menaruh perindahan tinggi kepada Tay Hui Sin-ni yang memiliki peribadi dan wibawa kuat. Memang dengan cara penyelesaian itu, dapatlah persoalan dapat diselesaikan tanpa membawa korban jiwa manusia.

Di luar dugaan, penyelesaian sederhana sekali seperti yang diajukan Tay Hui Sin-ni itu telah menimbulkan reaksi besar pada Leng Tiong-siang.

Seketika wajah Leng Tiong-siang menyeringai dan sepasang matanya memancarkan kilat dendam kemarahan dan bara permusuhan yang membuat tubuhnya sampai menggigil…….

Beberapa saat kemudian baru dia tampak tenang kembali dan berseru dengan dingin:

“Pedang Leng-hong-kiam itu telah hilang empatpuluh tahun yang lalu. Maaf, aku tak dapat melakukan permintaan Sin-ni.”

Tiba-tiba Tay Hui Sin-ni menghela napas.

“Peristiwa hilangnya pedang Leng-hong-kiam itu tiada seorang kaum persilatan yang tahu. Demi menyelesaikan persoalan hari ini, harap Leng sicu suka menuturkan tentang peristiwa itu, dimana tempat hilangnya dan jatuh ke tangan siapa.” “Hanya sedikit yang dapat kuterangkan,” kata Leng Tiong-siang, “pada waktu aku mengunjungi pertemuan besar di gunung Thian-san, pedang itu telah direbut orang. Berpuluh-puluh tahun aku menyiksa diri menyakinkan ilmu kepandaian adalah demi hendak mencari balas kepada orang itu.”

Keterangan itu telah menimbulkan kegemparan hati sekalian orang. Jika pedang seorang tokoh sesakti Leng Tiong-siang sampai dapat direbut orang, orang itu tentu seorang tokoh silat yang luar biasa saktinya.

Siapakah gerangan orang itu?

Tiba-tiba Tay Hui Sin-ni membungkukkan tubuh meminta maaf: “Maafkan kalau aku sampai membangkitkan peristiwa lampau yang menyakitkan hati sicu. Kalau sicu tak mau mengatakan nama orang itu, baiklah, akupun takkan memaksa. Dan aku dapat menjamin bahwa Leng sicu ini memang……”

“Keterangan dengan mulut, tidak dapat dipercaya penuh. Kaum durjana dalam dunia persilatan, mengadakan cara apa saja untuk melakukan kejahatan. Keterangan lisan tanpa bukti, bukan suatu jaminan kalau ucapannya itu benar,” tiba-tiba Siau Lo-seng berseru menukas.

Marahlah Leng Tiong siang seketika.

“Kukatakan, aku ini kakek moyangmu tiga angkatan yang terdahulu, bagaimana, apa engkau tidak puas?” serunya.

“Itu hanya suatu penyelimutan untuk menghindarkan diri dari keadaan yang sebenarnya!” teriak Siau Lo- seng.

Cu-ing terkejut dan menjerit: “Siau toako, apakah engkau gila……” Karena marahnya, Leng Tiong-siang sampai berbuih mulutnya. “Budak, hari ini engkau harus mati!” teriaknya.

Tetapi Siau Lo-seng yang kukuh bahwa Leng Tiong-siang itu palsu, segera berseru lan-tang: “Kalau engkau memang mempunyai kepandaian, tak apalah, biar aku mati sampai beberapa kali.”

Melihat keadaan sudah tak dapat diredakan diam-diam Cu-ing mengerahkan tenaga dalam. Apabila Siau Lo-seng terancam, ia tentu akan mengadu jiwa dengan orang tua itu.

“Siau sauhiap, jangan bertindak sekehendakmu sendiri……,” cepat Tay Hui Sin-ni berseru mencegah.

Saat itu Leng Tiong-siang sudah mempersiapkan pukulannya Peng-thian-joh-kut-ciang. Wajahnya yang putih tampak putih mayat. Telapak tangan kirinya yang putih pun berobah merah warnanya. Sedangkan telapak tangan kanannya seperti mengeluarkan asap.

Pada saat Tay Hui Sin-ni berseru tadi, Leng Tiong-siang pun sudah mendorongkan kedua tangannya ke muka. Tiada suara apa-apa pada gerak pukulan itu,

Siau Lo-seng menggembor keras. Kelima jari tangan kiri agak ditekuk lalu melentik kan ilmu jari Ngo-lou- han-sim-ci-keng atau Lima sinar jari pembeku hati. Sedang tangan kanannya memancarkan tenaga dalam melalui pedang Ular Emas.

Tenaga sakti yang dipancarkan kedua orang itu sama-sama berlawanan sifatnya. Ilmu tangan sakti jari Han- sin-ci dan Kam-kong atau pancaran tenaga sakti dari pedang, termasuk tenaga keras.

Sedangkan tenaga pukulan Leng Tiong-siang itu termasuk jenis Im dan Ji, lunak dan halus sehingga sukar untuk diketahui ukuran kesaktiannya.

Demikian kedua tenaga sakti itupun saling berbentur. Sarentak terdengar letupan yang disusul dengan deru angin keras.

Secepat kilat Leng Tiong-siang menghindar ke samping. Bahu kanannya telah pecah dan menghamburkan darah.

Siau Lo-seng mengerang, bersama pedangnya terlempar sampai dua tombak jauhnya. “Bum…..,” dia terkapar di tanah tak berkutik lagi.

Cu-ing menjerit lalu lari menubruk tubuh pemuda itu. Dirasakannya tubuh Lo-seng amat dingin sekali, napas lemah dan menggigil. Peristiwa itu terjadi terlampau cepat sekali sehingga orang tak sempat berbuat apa-apa. Tiba-tiba Cu-ing melengking: “Aku akan mengadu jiwa dengan engkau……”

Dara itu terus menyerang Leng Tiong-siang dengan pedang.

“Cu-ing, engkau gila, lekas berhenti!” Tay Hui Sin-ni terkejut dan cepat-cepat berteriak. Rahib itu memang kuatir kalau Leng Tiong-siang sampai marah dan memukul. Cu-ing tentu melayang jiwanya. Maka iapun terus loncat untuk mencegah.

Tetapi suatu hal yang aneh telah terjadi. Entah karena kehabisan tenaga atau bagaimana, Leng Tiong-siang tak bergerak walaupun ujung pedang Cu-ing sudah hampir menusuk ke tubuhnya.

Tiba-tiba ia terkejut dan cepat menggeliat untuk menghindari. Tetapi Cu-ing sudah kalap. Ia terus memburu.

Rupanya Leng Tiong-siang tak mau melukai Si nona maka dia hanya menghindar mundur tak mau balas menyerang.

Melihat itu Tay Hui Sin-ni serba sukar. Ia heran mengapa Cu-ing sedemikian nekad hendak membela Siau Lo-seng. Kalau ia membantu, berarti ia mengerubuti Leng Tiong-siang. Namun kalau diam saja ia kuatir Cu- ing akan celaka.

Sesaat rahib itu kehilangan paham, tak tahu harus berbuat bagaimana.

“Adik Ing, mundurlah!” sekonyong-konyong terdengar Siau Lo-seng meraung sedahsyat harimau marah.

Mendengar itu Cu-ing gemetar kejut dan hentikan serangannya. Dilihatnya pemuda yang dicintainya itu sudah berdiri dengan semangat yang perkasa. Hanya wajahnya yang menampil kedukaan dan sesal.

“Siau koko, engkau…… engkau ” Cu ing cepat lari menghampiri dan memegang bahu pemuda itu. “Tak

menderita luka?”

Siau Lo-seng gelengkan kepala:

“Jangan kuatir, tak takkan mati. Hanya aku telah kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri. Aku telah menduga salah ”

Sekalian tokoh-tokoh yang berada di tempat itu memang terkejut dan heran bahwa Siau Lo-seng dapat berdiri pula tak kurang suatu apa.

Rembulan susut menerangi cakrawala malam. Sunyi senyap di bumi yang remang. Tiba-tiba ketua Ban-jin-kiong tertawa memecah kesunyian.

“Empatpuluh tahun tak berjumpa, ilmu pukuluan Peng-thian-joh-kut-ciang Leng-heng sudah sedemikian sempurna. Aku orang she Ban baru terbuka mataku dan makin jelas. Aku harus menepati janjiku pada delapanbelas tahun yang lalu untuk mengembalikan pusaka Keng-hun-pit kepada Leng-heng……”

Sepintas dengar memang ucapan ketua Ban-jin-kiong itu amat nalar sekali. Tetapi bagi pendengaran Leng Tiong-siang tak ubah seperti ujung pedang yang menusuk ulu hatinya.

Leng Tiong-siang gemetar menahan kesedihan dan kemarahan.

Saat itu Tay Hui Sin-ni segera mengetahui mengapa Siau Lo-seng dapat bangun lagi tak kurang suatu apa. “Omitohud,” serunya bersama sebuah helaan napas panjang dan dalam.

Leng Tiong-siang cepat kembali pada sikapnya yang dingin pula, serunya:

“Sekarang aku hendak memberi keterangan kepada kalian. Keng-hun-pit dan pedang Leng-hong-kiam itu karena tipu siasat orang, telah jatuh di tangan orang lain. Walaupun bukan aku sendiri yang menyerahkan kepada Ban Jin-hoan tetapi hari ini aku harus meminta kembali benda pusaka itu. Karena memang milikku. Empatpuluh tahun lamanya aku sudah menunggu dan menderita, tiada lain tujuan lagi ”

Berhenti sejenak, sepasang matanya memancar sinar keganasan dan kemarahan.

“Karena itu, peristiwa hari ini bukanlah sebagai tak hendak menagih janji pada delapanbelas tahun yang lalu dengan orang yang menyaru sebagai diriku. Kali ini kemunculanku ke dunia persilatan, yalah bertujuan hendak mencari orang itu dan menyelesaikan hutang piutang pada empatpuluh tahun yang lalu. Tiada sangkut pautnya dengan urusan delapanbelas tahun yang lalu itu.”

Mendengar itu jelaslah kini Siau Lo-seng akan persoalannya. Leng Tiong-siang yang berada di tempat itu sekarang ini, bukanlah Leng Tiong-siang yang muncul delapanbelas tahun yang lalu.

Lalu siapakah yang menyamar jadi Leng Tiong-siang pada delapanbelas tahun yang lalu itu? Tiba pada pemikiran itu, Siau Lo-seng lalu menatap pada Leng Tiong-siang lagi.

Ban Jin-hoan tiba-tiba tertawa nyaring:

“Leng-heng sungguh seorang yang penuh kesabaran sehingga kuat menunggu sampai empatpuluh tahun. Tak peduli bagaimana akibatnya nanti tetapi aku tentu akan mengembalikan Keng-hun-pit itu kepada Leng- heng. Dan maafkan atas kesalahanku. Kelak apabila Leng-heng memerlukan tenagaku, aku tentu siap membantu.”

Mendengar angsuran persahabatan dari ketua Ban-jin-kiong itu, terharulah Leng Tiong-siang.

“Terima kasih, Ban-heng. Apabila saudara tak menolak, akupun ingin bersahabat dengan saudara Ban.” Sekonyong-konyong Jin Kian Pah-cu tertawa mengikik. Nadanya penuh ejek dan sinis.

“Sejak saat ini dunia tentu akan berkabut mendung. Kalau tidak, masakan seorang ketua Ban-jin-kiong yang berkecimpung dalam alam kekejaman, keganasan dan tipu muslihat, begitu mudah mengulurkan tangan persahabatan kepada orang? Mungkin berita-berita dalam dunia persilatan itu benar atau omong kosong. Tetapi apa yang tampak saat ini, Ban Jin-hoan itu ternyata seorang tokoh yang penuh semangat keluhuran dan perwira.”

Ban Jin-hoan tertawa gelak-gelak:

“Memang beraneka ragam cerita-cerita dalam dunia persilatan itu. Orang yang suka, tentu mengatakan baik. Tetapi yang benci tentu mengatakan jelek. Apapun yang orang mengatakan tentang Ban-jin-kiong, akupun menerimanya saja. Karena kuanggap nama itu tidak penting. Pendirianku yalah, apa yang kulakukan tentu takkan mengecewakan hatiku.”

“Saudara Ban seorang yang berhati lapang dan terbuka. Sifat seorang kesatria yang aku orang she Leng merasa kalah,” seru Leng Tiong-siang.

Mendengar Leng Tiong-siang masih belum menyadari ucapan Jin Kian Pah-cu, Tay Hui Sin-ni hanya menghela napas.

“Apabila demikian kelapangan hati Ban sicu, silahkan di hadapan orang banyak. Ban sicu menyerahkan kembali Keng-hun-pit itu kepada Leng Tiong-siang. Kupanjatkan kepada sang Buddha, semoga Leng sicu mendapat penerangan agar dunia persilatan bebas dari pergolakan dan pertumpahan darah.”

Ban Jin-hoan tertawa gelak-gelak:

“Ah, harap Sin-ni jangan terlalu mengandalkan pada doa saja. Siapakah yang dapat menduga bahwa dalam ketenangan dunia persilatan dewasa ini mengandung bara yang akan mengobarkan pergolakan? Sin-ni memang seorang rahib yang hidup di luar alam keduniawian, dan hampir mencapai tingkat kedewaan tentulah dapat mengetahui apa yang akan terjadi. Hukum sebab dan akibat, tentu akan menimbulkan peristiwa-peristiwa yang panjang……”

Ban Jin-hoan hentikan kata-kata dengan tertawa yang mengandung tenaga pancaran hawa pembunuhan.

Seketika berobahlah cahaya wajah sekalian orang. Leng Tiong-siang, Jin Kian Pah-cu dan Siau Lo-seng pun ikut tertawa panjang.

Karena beberapa tokoh sakti itu ikut serempak tertawa maka gemparlah tempat itu dengan kumandang tertawa yang menggemuruh bagai guruh diangkasa.

Tiba-tiba gemuruh tawa itu berhenti. “Bluk, bluk……”

Beberapa orang telah rubuh ke tanah akibat suara sakti Aum Singa yang berhamburan dari tokoh-tokoh yang tertawa itu. “Omitohud!” seru Tay Hui Sin-ni.

Ketua Ban-jin-kiong tertawa menyeringai.

“Berpisah empatpuluh tahun, ternyata kepandaian saudara Leng telah maju pesat dalam mencapai kesempurnaan. Demikian pula dengan ilmu Ing-hun-kang (Melayangkan jiwa) dari Dewi Mega Ui Siu-bwe, sungguh menakjubkan sekali. Aku Ban Jin-hoan, sungguh beruntung hari ini dapat menyaksikan……”

Habis berkata pandang mata ketua Ban-jin-kiong itu beralih ke arah Siau Lo-seng. Sekalian mata tokoh- tokoh yang berada di gelanggang itupun segera tercurah pada pemuda aneh itu. Ingin mereka mengetahui dengan jelas apakah pemuda itu benar-benar tak kurang suatu apa menerima pukulan Peng-thian-joh-kut- ciang dari Leng Tiong-siang tadi.

Saat itu Siau Lo-seng tengah duduk bersila pejamkan mata, menyalurkan napas. Dia tak tahu  kalau sekalian tokoh sedang memperhatikan dirinya.

Tampak pemuda itu tenang sekali. Tak mengunjukkan tanda-tanda orang yang menderita luka. Tiba-tiba ketua Ban-jin-kiong kebutkan lengan baju dan berseru nyaring,

“Saudara Leng, saat ini aku hendak minta Tay Hui Sin-ni menjadi saksi,” serunya. “untuk menyerahkan Keng-hun-pit kepada pemiliknya. Harap saudara Leng suka menerima dan maafkan kesalahanku menyimpan pusaka itu sampai sekian lama.”

Habis berkata ketua Ban-jin-kiong itu dengan kedua tangan dan sikap menghormat, maju menyerahkan Keng-hun-pit ke hadapan Leng Tiong-siang.

Baik ucapan dan sikap ketua Ban-jin-kiong memang aneh dan lain dari sikap biasanya. Cu-ing heran sekali.

Setelah bersangsi sejenak, Leng Tiong-siang berkata, “Terima kasih sekali atas budi kebaikan saudara Ban……”

Ia terus ulurkan tangan hendak menerima Keng-hun-pit. Tetapi sekonyong-konyong sebuah tangan yang halus dengan kecepatan macam kilat, telah mendahului menyambar pusaka itu.

Peristiwa itu mendadak sekali datang dan tak pernah diduga-duga oleh sekalian orang. Karena Ban Jin- hoan dan Leng Tiong-siang tak siaga, Keng-hun-pit pun telah direbut orang.

Kedua tokoh terkejut bukan kepalang.

Tanpa melihat lebih dulu siapa orang itu, ketua Ban-jin-kiong terus gerakkan tangan kiri untuk mencengkeram tangan orang dan serentak tangan kanannya pun segera menampar.

Leng Tiong-siang pun endapkan tubuh lalu gerakkan kedua tangannya. Berturut-turut dia telah lancarkan tujuh pukulan, enam buah tusukan jari ke arah perampasnya itu.

12.60. Tiga Jurus Jin Kian Pah-cu

Dua tokoh serempak melancarkan serangan, sudah tentu bukan kepalang dahsyatnya. Angin menderu menghamburkan tenaga yang mampu merobohkan bukit.

Tetapi orang yang merampas Keng-hun-pit itu bagaikan segumpal kapas yang mengikuti damparan tenaga pukulan dahsyat, melayang sampai lima-enam tombak lalu dengan gerak yang amat indah, bergeliatan meluncur turun ke bumi.

“Im-kian-li……”

“Siang-hoa-liong-li……” “Pui Siu-li……”

Berbagai nama itu meluncur dari mulut beberapa tokoh yang segera mengenali siapa perampas Keng-hun- pit itu.

Tetapi sebelum orang-orang itu sempat melanjutkan kata-katanya lebih lanjut, dengan kecepatan yang luar biasa. Im-kian-li atau Puteri Neraka sudah lari ke arah barat……” Ketua Ban-jin-kiong dan Leng Tiong-siang berturut-turut enjot tubuh untuk mengejar. Dalam sekejap mata, tokoh-tokoh itu sudah lenyap ditelan kegelapan.

Suasana sepi pula.

Melihat anak buah barisan Algojo yang bergelimpangan di tanah, tanpa banyak bicara, Li Giok-hou diam- diam menyelinap pergi.

Tetapi Dewi Mega Ui Siu-bwe atau yang terkenal dengan gelar Jin Kian Pah-cu segera melayang ke hadapan Li Giok-hou.

“Li Giok-hou apakah begitu saja engkau hendak tinggalkan tempat ini?” tegurnya tertawa. Berobahlah seketika cahaya muka Giok-hou, serunya: “Lalu apa maksudmu……”

“Ayah yang berdosa, anak yang mewakili,” kata Jin Kian Pah-cu, “peristiwa ayahmu membawa jago-jago Ban-jin-kiong menyelundup ke dalam Lembah Kumandang dan bunga dari tindakanku menyelamatkan jiwamu tadi, seharusnya engkau memberi imbalan.”

Mendengar itu semangat Li Giok-hou serasa terbang. Karena gametar, ia sampai mundur selangkah. “Huh, engkau……”

Dengan senyum yang menawan Jin Kian Pah-cu maju menghampiri Giok-hou……”

Senyum dari wajah wanita cantik itu mampu menggoyahkan imam seorang paderi. Tetapi dalam pandang mata Giok-hou saat itu, senyum itu bagai senyum iblis yang menyeramkan. Ia terhuyung-huyung ke belakang kakinya terasa lunglai.

Tiba-tiba Jin Kian Pah-cu menampar dan terdengarlah jeritan ngeri. Tubuh Giok-hou terlempar jungkir balik sampai tiga kali. Wajah pemuda itu pucat lesi.

Melihat tangan Jin Kian Pah-cu tak mengenai Giok-hou tetapi anak muda itu sudah jungkir balik sendiri, bertanyalah Cu-ing kepada Tay Hui Sin-ni:

“Suhu, apakah Li Giok-hou itu terkena pukulan Bu-ing-heng-ciang?” “Tidak,” sahut Tay Hui Sin-ni, “Jin Kian Pah-cu tak melukainya!” Terdengar Jin Kian Pah-cu berseru:

“Ih, mengapa engkau takut setengah mati? Bukankah ia tadi menyebut dirimu sebagai seorang durjana? Mengapa sekarang engkau ketakutan begitu rupa? Mengapa engkau tak berani mengadu pukulan dengan aku? Kalau ayahmu datang, dia tentu akan marah dan memberi hadiah tamparan lagi kepadamu.”

Mendengar itu wajah Giok-hou yang pucat tampak berobah merah. Darahnyapun menggelora, nyalinya bangkit kembali.

“Ya, aku hendak mengadu jiwa dengan engkau!” Habis berkata ia terus maju menerjang.

“Hm, begitu baru layak,” Jin Kian Pah-cu tertawa.

Sambil berkata. ia bergeliatan maju menyongsong seraya gerakkan jarinya.

Li Giok-hou rasakan pandang matanya nanar dan tubuhnya seperti dilanda oleh angin dingin, sehingga ia sampai gemetar. Seranganpun hanya mengenai tempat kosong sehingga tubuhnya menjorok jatuh sampai empat-lima langkah ke muka.

“Suhu. apakah kali ini Jin Kian Pah-cu tidak melukainya?” tanya Cu-ing pula,

Wajah Tay Hui Sin-ni agak berobah dan menyebut Omitohud dan berseru kepada Jin Kian Pah-cu.

“Delapan tahun berpisah, pukulan Bu-heng-soh-jiu-ciang Ui sicu benar-benar bertambah sempurna. Walaupun dia memang penuh dosa tetapi bukan dia yang menyalahi Ui sicu Harap Ui sicu suka memberi kemurahan sedikit!”

Jin Kian Pah-cu tertawa, “Budak itu takkan mati. Kecuali apabila ayahnya tak mau mendengar perintahku. Tetapi sesungguhnya aku memang ingin membunuhnya untuk melenyapkan seorang manusia bebodoran di dunia persilatan, heh, heh……”

Habis berkata wanita itu ayunkan tubuh, menjinjing tubuh Ui Hun-ing lalu loncat sampai tiga tombak jaubnya dan turun di atas tandu.

“Berangkat,” serunya.

Keempat dayang baju biru segera mengangkat tandu dan terus lari ke arah tenggara.

Tiba-tiba Siau Lo-seng loncat bangun dan lintangkan pedang Ular Emas menghadang tandu dari Jin Kian Pah-cu.

“Ih, mau apa engkau menghadang jalanku? Apakah engkau juga ingin merasakan pukulanku Bu-eng soh- jiu-ciang? Kurasa lebih baik engkau beristirahat saja dulu.”

Sahut Siau Lo-seng dengan lantang:

“Apanya yang harus ditakuti dengan pukulan Bu-eng-soh-jiu-ciang itu? Kalau mau pergi, tinggalkan gadis itu.”

Bermula Jin Kian Pah-cu terkesiap lalu tundukkan kepala memandang Hun-ing yang berada di pangkuannya. Kemudian tersenyum,

“Ai, sungguh aneh,” serunya,” sejak kecil Hun-ing ini aku yang membesarkan dan mengajarkan ilmu silat. Duapuluh tahun lamanya aku merawat dan memeliharanya, mengapa sekarang engkau larang kubawanya pulang? Siapakah engkau? Mengapa engkau hendak merampasnya?”

Merah wajah Siau Lo-seng mendengar teguran Jin Kian Pah-cu. Tetapi sesaat kemudian ia berseru keras:

“Setelah tinggalkan gadis itu, kupersilahkan engkau pergi. Tetapi kalau tak mau melepaskannya, jangan harap kalian akan pergi. Nona Hun-ing sudah lepaskan hubungan guru dan murid dengan engkau. Apabila tak percaya, silahkan engkau tanya kepadanya sendiri.”

Jin Kian Pah-cu tertawa keras. Tiba-tiba wajahnya membeku, serunya:

“Hm, kiranya engkaulah yang merayu muridku supaya berhianat. Tidak kuurus soal itu, sudah baik bagimu, tetapi sekarang engkau malah cari perkara sendiri. Ketahuilah, Hun-ing seorang murid yang berhianat. Dia akan kubawa pulang ke Lembah Kumandang untuk menerima hukuman perguruan. Apabila engkau mempunyai kepandaian, boleh saja kalau mau merebutnya ”

Tanpa menunggu orang selesai bicara, Siau Lo-seng pun sudah menggembor keras dan menyerang dengan jurus Burung walet menerobos hutan.

Tiba-tiba keempat dayang itu serempak memukul lalu cepat-cepat mengangkat mundur tandu sampai beberapa langkah.

Serangannya gagal, Siau Lo-seng bersuit panjang dan terus memburu. Sambil lancarkan empat serangan pedang, diapun menyusul juga dengan delapan buah pukulan dan duabelas tendangan.

Sambil meletakkan tandu pada bahu, keempat dayang itu serempak melepaskan pukulan dahsyat ke arah Siau Lo-seng.

Terdengar letupan keras disusul dengan lengking jeritan ngeri. Keempat dayang itu terhuyung-huyung mundur beberapa langkah sehingga tandu pun hampir jatuh ke tanah.

Dua dari keempat dayang itu jelas telah menderita luka yang tak ringan.

Siau Lo-seng tak mau menyusuli pukulan lagi melainkan loncat mundur. Tegak berdiri siapkan pedang dan memandang mereka.

Tampak sinar mata Jin Kian Pah-cu memancar keheranan. Tiba-tiba ia tertawa:

“Ah, ternyata kepandaianmu lebih tinggi setingkat dari yang kuduga. Rupanya engkau memang mempunyai kepandaian yang berisi……”

“Engkau mau melepaskan gadis itu atau tidak?” seru Siau Lo-seng. “Jika engkau mampu bertahan pada tiga buah pukulanku, tentu akan kuberikan anak perempuan ini supaya mengangkat engkau sebagai ibunya. Tetapi kalau engkau tak mampu, engkau harus mengaku kalah dan jangan merintangi perjalananku lagi.”

“Sekalipun sampai tigaratus jurus juga aku sanggup menerima,” seru Siau Lo-seng dengan garang.

“Bagus jangan ingkar janji,” seru Jin Kian Pah-cu, “hati-hatilah karena setiap saat aku segera akan menyerang!”

Jin Kian Pah-cu maju menghampiri dan tiba-tiba mengangkat tangannya dengan gaya yang aneh. Seketika sebuah arus tenaga dahsyat melanda dadanya.

Dalam waktu bertukar bicara, diam-diam Lo-seng memang sudah sedia. Begitu wanita itu gerakkan tangannya secara aneh, ia tertegun. Tetapi di kala ia tertegun itulah dadanya telah terlanda gelombang tenaga keras. Kejutnya bukan kepalang.

Cepat pedang Ular Emas ditaburkan seraya diiringi dengan empat buah pukulan tangan kiri lalu iapun menyurut mundur beberapa langkah.

Tampak tubuh Jin Kian Pah-cu bergetar dan tiba-tiba meluncur maju menyambar pergelangan tangan pemuda itu.

Baru kaki tegak di tanah, Jin Kian Pah-cu sudah tiba. Siau Lo-seng benar-benar kaget setengah mati. Cepat ia mengisar ke samping lalu bergerak maju tetapi tiba-tiba ia menyurut mundur sampai lima-enam langkah.

Gerak tipuan yang aneh itu telah mempedayakan lawan dan loloskan pemuda itu dari ancaman tangan Jin Kian Pah-cu.

Jin Kian Pah-cu tertegun, pikirnya: “Ih, ilmu apakah yang dilakukannya itu? Benar-benar luar biasa sekali karena mampu lolos dari sambaranku. Anak ini memang hebat kepandaiannya.”

“Sudah dua jurus engkau menyerang,” seru Siau Lo-seng sembari lintangkan pedang, apakah engkau melaksanakan janjimu?”

Jin Kian Pah-cu tertawa.

“Aku bukan manusia yang suka menjilat ludah lagi. Kedudukan diriku melarang aku membohongi anak muda semacam engkau.”

“Jika begitu, lepaskanlah gadis itu dan berikan kepada Tay Hui Sin-ni locianpwe,” seru Lo-seng.

Jin Kian Pah-cu perdengarkan tertawa yang merdu sekali. Dalam tawa itu mengandung tenaga pesona yang mengikat jiwa orang.

Dan seketika Siau Lo-seng rasakan darahnya bergolak, semangatnya menggelora. Ia terkejut dan cepat- cepat tenangkan hatinya lalu salurkan hawa murni untuk bersiap-siap.

Jin Kian Pah-cu hentikan tertawanya dan berseru: “Apakah engkau jakin dapat terhindar dari pukulanku yang terakhir?”

Siau Lo-seng denguskan hidung. “Demi membasmi kejahatan dan menegakkan kebenaran, biar tubuhku hancur lebur, aku tetap akan menyambut pukulanmu.”

Kelantangan Siau Lo-seng mengucap kata-kata itu telah mengetuk hati sekalian orang. Terutama Tay Hui Sin-ni, diam-diam ia memuji anak muda itu.

“Penuh daya tarik dan memikat, tak heran kalau beberapa muridku telah terpesona kepadamu,” Jin Kian Pah-cu tertawa dingin.

“Apa katamu?” teriak Siau Lo-seng.

“Sudahlah, jangan banyak bicara, segera engkau bersiap untuk menyambut pukulanku yang ketiga ini!” dengus Jin Kian Pah-cu.

“Silahkan!”

Jin Kian Pah-cu mendengus pula. “Hm, budak, rupanya engkau sudah bosan hidup karena mempersilahkan aku menyerang dulu. Pada hal engkaulah yang harus menyerang dulu. Hanya ingat, kali ini aku takkan memberi ampun lagi. Engkau harus tanggung segala akibatnya sendiri.

Walaupun tahu bahwa jurus yang ketiga dari Jin Kian Pah-cu itu tentu luar biasa ganas dan hebatnya, dan kemungkinan ia tak sanggup bertahan. Namun karena orang terlalu memandang rendah kepadanya, marahlah Siau Lo-seng.

“Silahkan engkau menumpahkan seluruh kepandaianmu,” seru pemuda itu sambil tertawa dingin.

Dalam pada berkata itu, iapun cepat maju ke muka, tangan kirinya menjulur untuk menutuk tiga buah jalan darah di dada wanita itu.

“Bagus,” seru Jin Kian Pah-cu seraya mengisar ke samping.

Tutukannya luput, Siau Lo-seng segera taburkan pedang dan tangan kirinya pun menyerempaki memukul beberapa kali.

Jin Kian Pah-cu tertawa hina, serunya:

“Aku hendak turun menyerangmu, hati-hatilah!”

Entah bagaimana caranya bergerak. Jin Kian Pah-cu sudah menyurut mundur untuk menghindari pedang dan pukulan lawan. Kemudian tubuhnya berputar dalam bentuk setengah lingkaran, menggelincir sepanjang batang pedang dan berada di samping Siau Lo-seng.

Gerakannya aneh, cepatnya bukan alang kepalang. Siau Lo-seng terkejut dan cepat lintangkan pedang ke muka dada seraya mundur tiga langkah.

Tetapi Jin Kian Pah-cu tetap bergerak-gerak menerobos ke dalam sinar pedang dan secepat kilat jarinya menyulur ke dada Siau Lo-seng.

Melihat itu Cu-ing menjerit keras lalu loncat menusuk punggung Jin Kian Pah-cu. Siau Lo-seng terkejut sekali. Serentak ia hantamkan tangan kirinya ke lawan.

“Heh……” terdengar orang tertahan dan tahu-tahu tubuh pemuda ittu mencelat sampai dua tombak jauhnya. Pedang Ular Emasnya jatuh ke tanah.

Dalam pada itu Cu-ing pun menjerit nyaring dan terhuyung-huyung sampai tujuh langkah. Pedangnyapun telah berpindah ke tangan Jin Kian Pah-cu.

Jurus yang dimainkan Jin Kian Pah-cu itu benar-benar luar biasa sekali indahnya. Tiada seorangpun yang tahu bagaimana cara ia bergerak untuk melemparkan Siau Lo-seng dan merampas pedang Cu-ing.

Tiba-tiba Jin Kian Pah-cu berpaling dan memandang ke arah Siau Lo-seng, menghela napas dan berseru,

“Ombak sungai Tiang-kang, yang belakang tentu mendorong yang di muka. Boleh kuanggap,  engkau adalah seorang tunas muda paling cemerlang yang pernah kujumpahi…… jangan berkeras kepala dan jangan bicara. Duduklah menyalurkan tenaga murni, mungkin tenagamu akan pulih kembali. Kalau tidak, ilmu kepandaianmu tentu hilang selama-lamanya……”
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar 100 Hari Jilid 12"

Post a Comment

close