Pendekar 100 Hari Jilid 06

Mode Malam
06.26. Pengakuan Sang Keponakan

Serentak dengan suara orang yang tertahan, taburan sinar pedangpun lenyap seketika.

Tangan kanan Giok-hou melentuk ke bawah. Sambil masih menjinjing pedang, ia terus berputar tubuh dan lari tinggalkan lawan.

Lengan baju sebelah kiri dari Siau Lo-seng pecah. Ia terlongong-longong memandang bayangan Giok-hou yang melarikan diri itu kemudian menghela napas pelahan.

“Orang itu menyembunyikan ilmu kepandaiannya yang tinggi. Dia lebih unggul dari Tiga jago Go-bi. Benar- benar menimbulkan kecurigaan ” katanya seorang diri,

Makin tenanglah hati Pek Wan Taysu demi melihat Siau Lo-seng tak kurang suatu apa.

“Siau sauhiap,” kata paderi itu, “kini terbukalah mataku bahwa ombak sungai Tiang-kang itu yang di belakang tentu mendorong yang di muka. Yang muda tentu mengganti yang tua.”

Memang paderi tua itu kesima menyaksikan pertempuran yang bermutu tinggi dari kedua anak muda itu. Keduanya telah mencurahkan ilmu kepandaian yang luar biasa hebatnya.

“Taysu, mari kita kejar,” tiba-tiba Siau Lo-seng menarik lengan jubah paderi itu, “jangan sampai dia dapat lolos!”

“Siapa?” Pek Wan Taysu terkesiap.

“Li Giok-hou, dialah pembunuhnya!” seru Siau Lo-seng.

Pek Wan Taysu gelengkan kepala: “Bagaimana mungkin hal itu?”

Tiba-tiba terdengar sebuah suara parau dari seorang tua: “Ya, Jong-ho dan Han Ceng- jiang……”

Serentak Siau Lo-seng dan Pek Wan Taysu berpaling ke belakang. Tampak seorang kakek baju putih melangkah keluar dari hutan. Walaupun rambut dan jenggotnya sudah putih dan menjulai panjang sampai ke dada, tetapi tubuh dan sikap kakek itu masih gagah sekali.

Wajah kakek itu menampilkan kewibawaan besar tetapi saat itu tampak membeku seperti es.

“Rasanya locianpwe tentu mengetahui peristiwa kejam itu, mengapa locianpwe tak berusaha mencegah?” seru Siau Lo-seng.

Kakek baju putih itu mendengus dingin.

“Aku tak suka campur urusan manusia. Sekalipun manusia di seluruh dunia itu mati semua, akupun tak peduli,” sahutnya.

Mendengar itu Pek Wan Taysu kerutkan alis.

“Locianpwe,” seru Siau Lo-seng pula, “ketahuilah bahwa pembunuhan itu mempunyai hubungan besar  dengan keamanan dunia persilatan.”

Kembali kakek baju putih itu mendengus.

“Budak, hak apa engkau hendak memberi nasehat kepadaku?” Siau Lo-seng menyahut: “Ah, masakan aku berani memberi nasehat kepada locianpwe. Aku hanya merasa bahwa locianpwe ini berhati kejam sekali ”

Habis berkata Siau Lo-seng terus berpaling dan mengajak Pek Wan Taysu: “Taysu, mari kita lanjutkan mengejar Li Giok-hou!”

“Tunggu!” tiba-tiba kakek baju putih membentak keras seraya berputar tubuh menghadang di hadapan Siau Lo-seng.

“Sian-cay,” seru Pek Wan Taysu, “harap sicu suka memberi jalan agar kami dapat mengejar pembunuh itu.”

Tetapi Siau Lo-seng hanya memandang lekat pada kakek baju putih itu dan bertanya: “Apakah locianpwe hendak memberi petunjuk?”

Kakek baju putih itu berkilat-kilat menatap wajah Siau Lo-seng, serunya dingin: “Ada sebuah hal yang hendak kutanyakan kepadamu.”

“Soal apa?” kata Siau Lo-seng.

“Aku ingin menanyakan tentang diri seseorang.” “Siapa?” Siau Lo-seng terkesiap.

“Gan-li-tui-cong Ban Li-hong!”

Mendengar nama itu, terkejutlah Pek Wan Taysu. Pikirnya: “Ban Li-hong itu seorang begal tunggal yang pernah menggegerkan dunia persilatan pada limapuluhan tahun yang lalu. Kabarnya, dia memiliki ilmu kepandaian yang tiada tandingnya. Sepak terjangnya serba misterius. Dia pun mahir sekali dalam ilmu mencuri.”

Berhenti sejenak, paderi itu melanjutkan renungannya lagi.

“Dahulu partai-partai persilatan pernah kecurian kitab pusakanya yang mengandung ilmu pelajaran sakti. Kitab-kitab itu Ban Li-hong yang mencurinya. Oleh karena itu segenap partai persilatan lalu berunding untuk mengadakan gerakan serempak mengejar jejak orang itu. Tetapi hampir lebih dari empatpuluh tahun, dia tak muncul lagi sehingga sampai sekarang. Tak terduga-duga orang tua baju putih ini menanyakan soal Ban Li-hong lagi…… ah, apakah dia mempunyai hubungan dengan Ban Li-hong ”

Habis berpikir, Pek Wan berpaling ke arah Siau Lo-seng, Tampak pemuda itu berobah seri wajahnya dan merenung.

Beberapa saat kemudian baru dia berkata: “Apakah keperluan locianpwe menanyakan orang itu?” “Bukankah engkau ini murid dari Ban Li-hong itu?” tiba-tiba kakek baju putih itu berseru dengan suara keras. “Kalau ya, bagaimana?” Siau Lo-seng tertawa dingin.

“Dimana dia sekarang!” bentak kakek baju putih.

Siau Lo-seng kerutkan alis dan menyahut dengan nada dingin: “Atas dasar apa aku diharuskan menjawab pertanyaanmu itu?”

Kakek baju putih mendengus dingin.

“Bagus, budak, kalau tak kuberimu sedikit ajaran, engkau tentu tak takut kepadaku,” serunya. Habis berkata tiba-tiba ia mengangkat tangan dan lepaskan sebuah pukulan.

Gerakan tangan kakek baju putih itu menimbulkan desir angin yang keras, melanda ke arah Siau Lo-seng.

Saat itu barulah Pek Wan Taysu menyadari bahwa Siau Lo-seng adalah anak murid dari seorang tokoh  sakti yang luar biasa anehnya. Diam-diam paderi itu terkejut sekali.

Siau Lo-seng gerakkan tangan kiri untuk menangkis. Tetapi seketika itu juga Siau Lo-seng rasakan lengannya kesemutan, tenaganya lunglai seolah-olah telah dilalap hilang oleh tenaga kakek baju putih itu.

Siau Lo-seng terhuyung-huyung mundur empat-lima langkah ke belakang baru dia dapat berdiri tegak.

Melihat itu, terkejutlah Pek Wan Taysu, pikirnya: “Siapakah orang tua baju putih ini? Mengapa tenaga dalamnya sedemikian hebat?” Siau Lo-seng menggerung marah. Laksana harimau terluka, ia loncat menerjang kakek baju putih itu. “Hm, budak, engkau cari mati!” dengus kakek baju putih seraya menghantam dengan tangan kanan.

Siau Lo-seng pun cepat dorongkan kedua tangannya untuk menangkis. Tetapi ketika kedua tenaga pukulan mereka beradu. Siau Lo-seng berjumpalitan jungkir balik sampai beberapa kali baru ia melayang turun empat-lima tombak jauhnya.

Secepat itu kakek baju putihpun terus melesat ke muka Siau Lo-seng dan menyusuli dengan sebuah hantaman lagi.

Tetapi pemuda itu memang luar biasa beraninya. Begitu menggeliatkan tubuh, ia gunakan ke  dua tangannya untuk menyerang dua buah jalan darah di tubuh si kakek.

Melihat pemuda itu dapat menerima pukulan yang dilambari dengan tujuh bagian tenaganya bahkan dengan nekad masih balas menyerang, kakek itu terkejut. Kali ini dia tak mau adu pukulan melainkan menghindar  ke samping.

Tetapi serempak dengan itu, Pek Wan Taysu pun segera loncat melayang ke hadapan kakek baju putih dan berseru nyaring, “Leng-bin-sin-kun!”

Mendengar seruan paderi Siau-lim itu, wajah si kakek baju putih yang membeku seperti es, tampak mengerenyut.

“Mengapa? Tak kira kalau di dunia persilatan dewasa ini, masih ada orang yang kenal kepadaku,” serunya.

Mendengar nama itu, pucatlah wajah Siau Lo-seng. Diam-diam ia mengeluh: “Celaka, kali ini mungkin aku tak dapat lepas dari libatannya ”

Kakek baju putih yalah Leng-bin-sin-kun atau Kesatria wajah dingin Leng Tiong-siang. Empatpuluhan tahun berselang, dia sama masyhurnya dengan rahib Tay Hui Sin-ni,

Dan Siau Lo-seng rupanya mengetahui tentang dendam pertikaian antara Leng-bin-sin-kun Leng Tiong- siang dengan Cian-li-tui-cong atau Pemburu jejak seribu lie Ban Li-hong.

“Hari ini Lo-ni dapat bertemu dengan Leng sicu, sungguh suatu keberuntungan,” kata Pek Wan Taysu. Wajah dingin Leng Tiong-siang tertawa hambar,

“Sejak dahulu aku tak suka ribut-ribut dengan paderi Siau-lim-si. Baiklah engkau jangan mencampuri urusan itu.”

Baru berkata sampai di situ, tiba-tiba kakek itu berteriak: “Budak, hendak lari kemana engkau?”

Memang menggunakan kesempatan kedua orang itu bicara, diam-diam Siau Lo-seng telah melarikan diri.

Ketika Kesatria wajah dingin Leng Tiong-siang hendak mengejar, tiba-tiba Pek Wan Taysu menyambar baju kakek itu dan berseru: “Leng sicu, harap suka mendengar perkataanku.”

Kakek wajah dingin balikkan tangannya untuk menyiak cengkeraman paderi Siau-lim itu, diserempaki lagi dengan sebuah tendangan ke arah perut.

“Keledai gundul, kalau budak itu sampai lolos, engkaulah yang harus bertanggung jawab!” bentak kakek baju putih dengan marah.

Karena tendangan itu Pek Wan Taysu terpaksa menyurut mundur. Dan seketika itu juga Kakek wajah dingin Leng Tiong-siang pun sudah melesat sepesat angin.

Tetapi bayangan Siau Lo-seng sudah tak kelihatan lagi.

Pek Wan Taysu cepat berputar tubuh menuju ke dalam hutan. Begitu masuk ke dalam hutan dan memandang ke muka ternyata Siau Lo-seng sudah tegak berdiri di depan pondok.

Pek Wan Taysu tertegun, serunya: “Siau sauhiap, larimu sungguh menakjubkan sekali.”

Ternyata sebelum lari, Siau Lo-seng sudah gunakan ilmu Menyusup suara suruh paderi Siau-lim-si itu menunggunya di dalam hutan. Sekalipun begitu tak pernah disangka Pek Wan Taysu, bahwa Siau Lo-seng sudah tiba lebih dahulu di depan pondok itu. Maka kalau dia terkejut, memang dapat dimengerti.

Sambil tertawa Siau Lo-seng berkata: “Taysu, marilah kita kejar jejak Li Giok-hou!” Pek Wan Taysu kerutkan dahi.

“Siau sauhiap, baru saja Lo-ni tiba di kota Lok-yang ini tetapi mengapa banyak sekali terjadi peristiwa yang aneh?”

“Memang dewasa ini, dunia persilatan akan dilanda kekacauan besar. Durjana-durjana yang sudah lama menyembunyikan diri, kini sama berbondong-bondong muncul lagi. Sudah tentu suasana menjadi keruh tak menentu.”

Pek Wan Taysu menghela napas.

“Siau sauhiap,” serunya, “walaupun Lo-ni tak ada hubungan dengan engkau, tetapi entah bagaimana rasanya Lo-ni sudah merasa erat dengan sicu. Maka apapun yang engkau utarakan tadi, aku tak ragu-ragu dan curiga. Tetapi hanya soal pernyataan sicu bahwa Li Giok-hou lah yang membunuh Nyo Jong-ho, benar- benar membuat Lo-ni bingung memikirkan. Pedang Beracun Pembasmi Iblis Li Giok-hou itu sesungguhnya adalah bengcu pemimpin baru dari golongan Hitam……”

Mendengar itu serangkum hawa panas meluap ke dada Siau Lo-seng dan dengan suara tergetar ia berseru: “Paman, aku harus menerima hukuman mati……”

Tiba-tiba Siau Lo-seng maju menghampiri lalu berlutut memberi hormat kepada Pek Wan Taysu.

Sudah tentu paderi tua itu terkejut sekali. Ia segera memeluk pemuda itu. Ketika melihat Siau Lo-seng bercucuran air mata, seketika tergeraklah hati Pek Wan Taysu.

“Engkau…… engkau adalah Siau toako ,” serunya dengan kegirangan yang meluap-luap.

“Paman,” seru Siau Lo-seng dengan terharu, “aku memang anak yang telah lolos dari penjagalan manusia di desa Hay-hong-cung. Aku Siau Lo-seng pun juga si Pendekar Ular Emas Siau Mo itu. Karena……”

Siau Lo-seng lalu menuturkan apa yang telah terjadi dan dilakukannya selama ini kepada Pek Wan Taysu.

Paderi itu tegang sekali. Sambil membelai-belai kepala Siau Lo-seng ia berkata: “Anak Seng engkau tak salah. Walaupun pada waktu yang lalu engkau telah menggunakan nama Siau Mo untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan, tetapi orang tentu dapat memaafkan keadaanmu, ah…… Lo-ni benar-benar gembira sekali karena Siau toako masih mempunyai seorang putera engkau.”

Siau Lo-seng mengusap airmatanya.

“Siok-siok,” katanya, “tempo dahulu aku dilempar oleh paman Siau Mo ke dalam jurang…… ketika membuka mata kulihat seorang tua baju biru sedang merawat aku dengan penuh kesayangan. Dialah guruku yang berbudi, Cian-li-tui-cong Ban Li-hong.”

Pek Wan Taysu menghela napas.

“Mungkin itu sudah menjadi garis hidupmu dapat bertemu dengan seorang sakti yang berwatak aneh seperti dia ah, walaupun dia telah melepas budi besar kepadamu dengan begitupun juga penolongmu. Tetapi

entah dimanakah dia sekarang?”

“Tiga bulan setelah menolong aku, beliau meninggal dunia,” kata Siau Lo-seng.

Pek Wan Taysu terkejut: “Apa? Lalu siapakah yang mengajarkan ilmu kepandaian itu kepadamu?”

“Aku belajar sendiri.......” kata Siau Lo-seng. Pemuda itu segera terkenang akan peristiwa hidupnya pada belasan tahun yang lampau.

“Pada saat menutup mata, Ban Li-hong telah memberi pesan kepadanya: “…… nak, aku ini sebenarnya seorang penyamun besar. Namaku Cian-li-tui-cong Ban Li-hong. Semasa hidupku, aku telah menggarong kitab-kitab pusaka dari partai-partai persilatan termasuk kitab-kitab pelajaran ilmu sakti dari partai-partai persilatan itu…... Sebenarnya dapat kuajarkan engkau menjadi seorang sakti yang tiada lawannya. Tetapi sayang, aku tak dapat hidup lebih lama di dunia lagi ”

Berhenti sejenak tokoh itu berkata pula: “Ah, anak yang bernasib malang, akan kuberitahu kepadamu sebuah hal. Selama tiga bulan ini aku telah memeriksa tulang dan urat-urat nadimu. Kudapati engkau menderita suatu penyakit yang berbahaya…… penyakitmu itu penyakit warisan orang tuamu, pula karena sejak kecil engkau kurang perawatan sehingga tubuhmu lemah dan tak boleh belajar ilmu silat ”

Siau Lo-seng teringat lagi. Setelah gurunya Ban Li-hiong meninggal dunia, dia tak menghiraukan pesannya lagi dan dengan giat ia mulai mempelajari ilmu kesaktian yang terdapat dalam kitab-kitab pusaka itu. Tujuh tahun kemudian baru ia mendapatkan tubuhnya memang terdapat gejala-gejala yang berlainan dengan orang lain. Setiap ia kerahkan tenaga, jantungnya terasa sakit, hawa murni dalam tubuhnyapun terpecah belah tak keruan…….

Teringat akan hal itu, Siau Lo-seng pun menghela napas.

“Dalam sepanjang hidupnya, Ban Li-hong berhasil mencuri pusaka milik berbagai partai persilatan,” kata Pek Wan Taysu, “bahwa engkau dapat mempelajari sendiri kitab-kitab pusaka itu dan dapat menggembleng dirimu menjadi orang sakti, memang itu sudah digariskan engkau berjodoh……”

Mendengar itu Siau Lo-seng menitikkan air mata, serunya haru: “Paman, tetapi aku menyesal karena tak menurut pesan suhu……”

Tiba-tiba ia hentikan kata-katanya. Ia teringat bahwa soal penyakitnya itu tak layak diceritakan kepada seorang paman yang baru saja dijumpainya.

“Apa saja kata Ban Li-hong kepadamu?” tanya Pek Wan Taysu.

Siau Lo-seng berusaha untuk menindas kedukaan hatinya. Ia gelengkan kepala: “Tidak bilang apa-apa.”

06.27. Engkau Pembunuh Ayahku!

Melihat kerut wajah pemuda berobah-robah tak menentu, tahulah Pek Wan Taysu bahwa Siau Lo-seng tentu masih menyembunyikan sesuatu. Tetapi pemuda itu tak mau mengatakannya. Pek Wan Taysu pun  tak mau mendesak dan beralih pada lain pembicaraan.

“Anak seng,” katanya, “pembunuhan terhadap Nyo Jong-ho dan Han Ceng-jiang itu tentu mempunyai latar belakang mengenai suatu rahasia dalam dunia persilatan.”

“Dengan tindakannya membunuh seorang guru yang menjadi juga ayah angkatnya, jelas Li Giok-hou itu menyalahi perikemanusiaan dan keluhuran budi. Kurasa tentu ada suatu liku-liku dendam di dalam peristiwa itu, Maka baiklah kita lekas-lekas mengejar anak itu agar dapat kita ketahui kejadian yang sebenarnya.”

Pek Wan Taysu merenung.

“Nyo Jong-ho dan Han Ceng-jiang adalah orang yang mengetahui tentang rahasia pembunuhan ayahmu. Apabila kedua orang itu dibunuh, mungkin……”

Mendengar itu diam-diam Siau Lo-seng pun berpikir, “Ya, mengapa aku tak memikirkan hal itu…… apakah orang yang selalu membayangi aku dan selalu mendahului membunuh orang yang hendak kuselidiki dan kucurigai sebagai pembunuh ayahku itu Li Giok-hou sendiri ”

Dulu ia menganggap yang melakukan hal itu yalah Mo-seng-li. Tetapi setelah nona itu dengan terus terang memberitahukan tentang asal usul dirinya, sudah tentu kecurigaan Siau Lo-seng pun lenyap.

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba Siau Lo-seng berteriak: “He, bagus budak, ternyata engkau ”

Tetapi ketika ia merenung lagi, timbullah kesangsian dan pertanyaan dalam hatinya. Apa tujuan Li Giok-hou membunuh guru dan ayah angkatnya sendiri itu? Apakah Giok- hou mempunyai hubungan deugan pembunuhan atas keluarga Siau Lo-seng yang lalu.

Ah, tidak, tidak mungkin! Dia tentu masih kecil.

Apabila Li Giok-hou melakukan perbuatan terkutuk membunuh ayah angkatnya sendiri, tentu karena dia hendak merebut pusaka Keng-hun-pit, senjata dari Nyo Jong-ho yang menjadi salah sebuah dari Tiga Pusaka dunia persilatan.

Tengah Siau Lo-seng merenungkan hal itu, tiba-tiba dari jauh terdengar jeritan ngeri dan teriakan keras. Siau Lo-seng dan Pek Wan Taysu terkejut. Suara itu hilang-hilang terdengar, terbawa angin. “Anak Seng,” tiba-tiba Pek Wan Taysu berseru, “dapatkah engkau mcngenali suara jeritan dan teriakan itu?”

Setelah beberapa saat berdiam diri, tampak wajah Siau Lo-seng berobah gelap, serunya: “Rupanya dari orang-orang Lembah Kumandang. Mari kita tinjau!”

Baru dia hendak bergerak tiba-tiba terdengar sebuah suitan nyaring membelah angkasa. Siau Lo-seng dan Pek Wan Taysu cepat loncat melayang ke arah sebatang pohon siong.

Tepat pada saat kedua orang itu bersembunyi di pohon itu, sesosok bayangan melayang turun dari udara dan muncullah seorang lelaki yang aneh. Tubuhnya luar biasa besarnya dan wajahnyapun juga besar. Sepasang matanya yang sebesar kelinting berkeliaran memandang sekeliling tempat itu lalu ayunkan langkah menuju ke rumah pondok.

Siau Lo-seng dan Pek Wan Taysu terkejut melihat orang aneh itu. Jelas dia itu seorang tokoh silat yang berilmu tinggi.

Tiba-tiba di pintu pondok, ia melongok ke dalam. Setelah melihat mayat Nyo Jong-ho dan Han Ceng-jiang, dia berputar tubuh hendak tinggalkan tempat itu.

“Tunggu dulu,” tiba-tiba terdengar suara tertawa “anak buah Naga Hijau sudah mengepung saudara!”

Dari dalam hutan muncullah seorang sasterawan pertengahan umur dengan mengenakan baju warna biru, diiring oleh belasan orang yang juga memakai pakaian warna biru.

Melihat munculnya rombongan orang baju biru itu, segera Siau Lo-seng gunakan ilmu Menyusup suara berkata kepada Pek Wan Taysu: “Sasterawan baju biru itu adalah si Roda emas rembulan matahari Tan Gun-ki, salah seorang than-cu dari Naga Hijau.”

“Kalau begitu teriakan nyaring tadi tentu berasal dari dia yang hendak mengejar langkah orang aneh itu,” kata Pek Wan Taysu juga dengan ilmu Menyusup suara.

Melihat beberapa sosok mayat di halaman pondok itu seketika berobahlah wajah Tan Gun-ki. Dia tahu bahwa dalam pondok itu terdapat Nyo Jong-ho dan Han Ceng-jiang. Tentulah telah terjadi suatu peristiwa.

Memandang sejenak ke arah Tan Gun-ki, tiba-tiba lelaki aneh itu tertawa menggeledek, serunya: “Naga Hijau sungguh tak beruntung. Di mana-mana tempat terdapat mayat anak buah Naga Hijau. Ha, ha, aku sungguh merasa sedih atas nasib yang mengerikan dari anak buah Naga Hijau itu.”

Tan Gun-ki tak menyahut melainkan berpaling ke belakang dan berkata kepada dua orang pengiringnya: “Cobalah periksa di dalam pondok apakah Nyo loenghiong masih berada di dalam atau tidak!”

Ternyata ketua Naga Hijau yakni Ui Hun-ing atau yang dikenal sebagai Mo-seng-li telah mengeluarkan perintah agar segenap jago-jago sakti dari Naga Hijau pada siang itu berkumpul di rumah pondok itu guna merundingkan suatu masalah penting.

Itulah sebabnya mengapa Tan Gun-ki lebih dahulu telah memimpin orang-orangnya untuk mengadakan penjagaan di sekeliling pondok itu.

Tetapi dia tak tahu bahwa semalam di dalam rumah pondok itu telah terjadi suatu perobahan besar.

Setelah menerima perintah dari pemimpinnya, kedua anak buah Naga Hijau itupun segera menuju ke pondok itu. Tetapi ketika kedua anak buah Naga Hijau tiba kira-kira tiga tombak dari tempat si orang aneh, sekonyong-konyong kedua orang itu menjerit ngeri dan rubuh ke tanah.

Sau Lo-seng terkejut dan cepat gunakan ilmu Menyusup suara kepada Pek Wan Taysu: “Paman, orang aneh itu sakti sekali. Gerakan tangannya pun sangat aneh. Rupanya seperti orang Lembah Kumandang!”

Terkejut dan marahlah Roda emas rembulan matahari Tan Gun-ki melihat kedua anak buahnya dibunuh orang aneh itu. Ia cepat melesat maju.

“Sudah tujuh atau delapan anakbuahku yang engkau lukai. Siapakah engkau!” bentaknya. Orang aneh itu tertawa gelak-gelak.

“Jangan tanya aku ini siapa,” sahutnya, “karena jangan harap kalian semua ini dapat pergi dari sini.” “Wut……” ia menutup kata-katanya dengan menghantam Tan Gun-ki. Tiba-tiba terdengar lengking teriakan yang gopoh: “Tan Than-cu. jangan menangkis pukulannya dan lekas menghindarinya!”

Seiring dengan teriakan itu, sesosok tubuh melayang di udara dan segulung sinar pedang bercahaya merah segera menimpah orang aneh itu.

“Tring……”

Sinar pedang lenyap dan sebagai gantinya muncullah seorang gadis baju hijau, memegang sebatang pedang panjang dan tegak berdiri dengan wajah terkejut.

Sedang Tan Gun-ki pucat wajahnya, terhuyung mundur sampai tiga-empat langkah.

“Anak Seng,” tiba-tiba Pek Wan Taysu gunakan ilmu menyusup suara bertanya kepada Siau Lo-seng,” agaknya Tan Gun-ki telah menderita luka karena pukulan aneh dari orang aneh itu. Ilmu pedang yang dimainkan gadis baju hijau itu seperti jurus pembukaan dari ilmu Pedang terbang. Siapakah dia?”

Sahut Siau Lo-seng: “Memang hebat sekali kepandaian orang aneh itu. Pukulannya tentu mengandung tenaga sakti beracun. Gadis itu puteri dari Nyo Jong-ho, namanya Nyo Cu-ing.”

Tampaknya orang aneh itupun tak kurang kejutnya ketika diserang oleh Cu-ing. Ia menyurut mundur selangkah, wajahnya meregang rasa kejut yang besar lalu tertawa keras.

“Menilik umurnya masih muda tetapi engkau mampu menguasai ilmu Pedang terbang. Apakah engkau orang Naga Hijau?” serunya.

Nyo Cu-ing tak menyahut. Ketika melihat mayat-mayat berserakan di halaman pondok itu, seketika berobahlah wajahnya. Ia terus ayunkan langkah ke arah pondok.

Orang aneh itu tertawa dingin. Tiba-tiba ia menghantam.

Cu-ing meleking, orang dan pedang bergulung menjadi satu sehingga merupakan sebuah bianglala yang menumpah ke arah orang aneh itu.

Orang aneh itu membentak keras seraya menghantam dengan kedua tangannya. Dua buah gelombang angin yang bertenaga dahsyat segera melanda si nona.

Cu-ing tak berani menangkis. Cepat ia enjot tubuh melambung ke udara.

Hantamannya luput, orang aneh itupun juga mengejar loncat ke udara dan menghantam.

Tiba-tiba terdengar lengking dingin dan tubuh Cu-ing pun berjumpalitan di udara. Orang aneh itu telah merebut pedang si nona terus dilontarkan ke arah pohon siong tempat persembunyian Siau Lo-seng.

“Hai, siapakah yang bersembunyi di atas pohon itu?” seru orang aneh itu.

Kiranya orang aneh itu cepat dapat mengetahui bahwa pedang yang dilontarkan ke arah daun pohon siong yang lebat, bagai batu yang masuk ke dalam laut, sama sekali tak bersuara. Dia duga di dalam gerumbul daun pohon itu tentu bersembunyi orang yang tak diketahui.

Pun Cu-ing juga segera dapat mengetabui bahwa dalam gerumbul daun pohon siong itu memang terdapat seorang tokoh persilatan.

Kira mereka memang benar. Dari balik gerumbul daun yang lebat, segera menyembul dua buah kepala orang. Dengan gunakan gerak Burung ho mencabik air, dari ketinggian tujuh-delapan tombak, meluncurlah dua sosok tubuh. Seorang paderi tua yang berwajah terang dan seorang pemuda cakap yang mencekal sebatang pedang.

Walaupun dari jarak yang sedemikian tinggi, tetapi kedua orang itu telah tiba di tanah tanpa mengeluarkan suara sedikitpun juga. Benar-benar laksana dua lembar daun kering yang berguguran ke tanah.

Sekalian orang terkejut menyaksikan kesaktian kedua orang itu. Terlebih lagi Cu-ing. Demi melihat Siau Lo- seng, seketika Cu-ing pun segera berteriak: “Siau……”

Tetapi ketika melihat bahwa pemuda yang melayang turun itu bukan Pendekar Ular Emas Siau Mo, nona itupun hentikan teriakannya.

Siau Lo-seng juga tergetar hatinya mendengar teriakan nona itu. Ternyata pedang Cu-ing telah dibawa oleh Siau Lo-seng dan pemuda itupun segera menghampiri ke tempat si nona.

“Nona Nyo, silahkan nona masuk ke dalam pondok untuk menjenguk ayah nona. Di sini serahkan padaku yang mengurusnya.

Habis berkata Siau Lo-seng pun serahkan pedang kepada si nona lagi. “Ayahku bagaimana?” teriak Cu-ing terkejut.

Serentak nona itu terus loncat memburu ke dalam pondok. Anehnya orang aneh itupun tak mau merintangi lagi.

Siau Lo-seng tenang-tenang berkisar tubuh dan menegur orang itu: “Saudara tadi telah memperdengarkan suitan yang aneh. Apakah saudara ini orang Lembah Kumandang?”

Dengan wajahnya yang dingin, orang aneh itu hanya mendengus: “Engkau orang she Siau, tentulah si Pendekar Ular Emas Siau Mo itu?”

Baru dia berkata begitu, Cu-ing pun sudah menerobos keluar dari pondok. Dengan airmata bercucuran deras, ia terus menuding dengan pedangnya kepada Siau Lo-seng dan menghardiknya: “Siapakah engkau? Lekas bilang!”

Tergetarlah hati Siau Lo-seng, karena tahu bahwa Cu-ing telah mencurigainya. Walaupun saat itu dia sudah berganti wajah tetapi karena sudah lama bergaul dengan Cu-ing, nona itu tentu dapat mengenali suaranya sebagai si guru Siau Lo-seng atau Siau Mo si Pendekar Ular Emas.

“Engkau…… engkau seorang pembunuh kejam! Engkau telah membunuh ayahku……!” teriak Cu-ing lalu dengan kalap terus menusuk dada Siau Lo-seng.

Siau Lo-seng hanya terlongong-longong seperti patung, cepat-cepat Pek Wan Taysu meneriakinya: “Anak Seng……”

Sebenarnya tanpa diperingatkan Pek Wan Taysu, Siau Lo-seng sudah menggeliat ke samping untuk menghindari pedang.

Kiranya sewaktu masuk ke dalam pondok dan melihat ayahnya serta Han Ceng-jiang sudah menjadi mayat, Cu-ing hampir pingsan. Dan ketika melihat dada Han Ceng-jiang tertusuk dengan pedang Ular Emas segera ia memastikan bahwa Siau Mo si Pendekar Ular Emas itu yang menjadi pembunuhnya.

Seorang yang hatinya sedang sedih dan gelisah tentu pikirannya pun gelap. Demikian dengan Cu-ing. Nona itu segera memastikan siapa pembunuhnya. Pada hal apabila ia mau memperhatikan dan menyelidiki dengan teliti, tentulah ia akan menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Tetapi Cu-ing sudah kalap. Begitu tusukannya luput segera ia susul lagi dengan tiga buah serangan pedang yang dahsyat. Sedemikian dahsyat dan ganas serangan itu sehingga Siau Lo-seng hampir saja celaka.

“Nona Nyo, jangan salah mengenal orang!” bentak Siau Lo-seng.

Cu-ing kerutkan sepasang alis dan dengan marah ia membentak: “jahanam, sekalipun engkau menjadi tumpukan abu, akupun tetap akan mengenalimu……”

Cu-ing menutup kata-katanya dengan gerakkan pedangnya pula dalam tiga buah serangan yang aneh. Seperti menusuk tetapi pun seperti menabas. Beberapa belas jalan darah di tubuh Siau Lo-seng terancam oleh ujung pedang.

Sekalian tokoh yang menyaksikan ilmu pedang nona itu, terkejut heran. Sedang Siau Lo-seng sendiripun memang sudah mengetahui bahwa nona itu adalah murid dari rahib sakti Tay Hui Sin-ni. Nona itu tentu sudah mendapat ilmu pedang yang diwariskan oleh rahib sakti itu.

Siau Lo-seng tak berani berayal. Tangan kanan menjulur maju untuk menjemput punggung pedang. Gerakan tangan itu menimbulkan tenaga kuat yang menyiak pedang ke samping. Sedang tangan kiri segera menyusup ke muka untuk mencekal siku lengan sebelah kanan dari si nona.

Gerakan yang istimewa anehnya itu memaksa Cu-ing harus cepat-cepat menyurut mundur tiga langkah. “Jahanam, aku akan mengadu jiwa kepadamu!” tariak nona itu seraya maju pula. Kini pedang Cu-ing berhamburan laksana berpuluh kilat menyambar di udara. Dan gerakan pedang itupun menimbulkan deru angin prahara yang dahsyat.

Diam-diam Siau Lo-seng mengeluh dalam hati. Ia tak mengira bakal terlibat dalam kesulitan semacam itu. Apabila tak diberi penjelasan nona itu tentu akan kalap dan akan sungguh-sungguh mati-matian mengadu jiwa.

Tetapi ia bingung juga mencari akal bagaimana cara untuk memberi penjelasan kepada nona itu. Karena pikirannya menuju ke hal itu maka saat itu ia telah terkurung dalam sinar pedang Cu-ing.

Melihat keselamatan jiwa Siau Lo-seng terancam, Pek Wan Taysu mulai cemas. Demikian pula dengan si orang aneh itu. Rupanya iapun tertarik juga akan pertempuran yang dilakukan kedua muda mudi itu.

Setelah duapuluh jurus menerima serangan pedang, Siau Lo-seng pun segera berkata, “Nona Nyo, kalau hendak membalas dendam, harus menyelidiki dulu siapa pembunuh ayahmu. Setelah jelas barulah engkau turun tangan membunuhnya.”

Habis berkata Siau Lo-seng terus maju merapat ke muka.

Cu-ing menjerit kaget dan cepat-cepat katupkan pedang untuk melindungi diri. Tetapi serempak dengan gerakan si nona itu. Siau Lo-seng pun ternyata sudah menggelincir ke samping.

Cu-ing terlongong-longong, ia heran sekali menyaksikan gerakan Siau Lo-seng yang begitu aneh dan istimewa. Belum pernah ia menyaksikan dan mendengar nama dari ilmu sedemikian itu. Cepat-cepat ia menyurut mundur dua langkah dan dua kali tabaskan pedangnya.

Tetapi dengan gerakan berputar-putar yang aneh dan mengagumkan, pemuda itu tetap menyusup maju dan pada lain saat, tangan kanannya pun sudah mencekal siku lengan kanan dari si nona.

“Wut……” dalam gugup, Cu-ing hantamkan tangan kirinya ke dada Siau Lo-seng. Tetapi pemuda itupun sudah miringkan tubuh. Selekas pukulan si nona lewat, secepat kilat tangan kiri Siau Lo-seng pun terus menyambar siku lengan sebelah kiri dari si nona. Dengan demikian maka kedua siku lengan Cu-ing telah dikuasai Siau Lo-seng.

Tetapi ternyata pemuda itu tak mau mencelakai si nona. Setelah menarik pelahan, ia segera lepaskan tangannya pula dan mundur sampai lima-enam langkah.

Adegan itu berlangsung dalam sekejap mata. Bukan hanya Cu-ing yang termangu-mangu heran, pun si  orang aneh tadi serta Pek Wan Taysu juga terkejut.

“Nona Nyo,” seru Siau Lo-seng dengan pelahan dan tenang, “dewasa ini seluruh kaum persilatan sedang mengarahkan perhatiannya kepada Tiga Pusaka dunia persilatan. Mereka saling berebut dan bunuh membunuh untuk mendapatkau pusaka itu. Peristiwa itulah yang menimbulkan pergolakan dunia persilatan waktu ini……”

“Kematian ayahmu dan beberapa tokoh per-

Page 29-30 are missing…………               

Pek Wan Taysu amat tegang. Sepasang matanya berkilat-kilat. Belum pernah rasanya paderi dari Siau-lim- si itu semarah saat itu.

06.28. Kabut hitam.

Tetapi orang itu tetap acuh tak acuh. Wajahnya tenang-tenang saja. Pada hal sesungguhnya dia sedang salurkan tenaga dalam untuk menyembuhkan luka dalam tubuhnya.

Sementara itu, Cu-ing ayunkan langkah menghampiri ke tempat Siau Lo-seng.

Pek Wan Taysu kuatir kalau nona itu hendak menyerang, buru-buru memberi penjelasan.

“Nona Nyo, Lo-ni paderi Pek Wan dari Siau-lim-si. Sejak semalam bersama keponakanku berada di sini. Lo- ni berani bersumpah, Nyo loenghiong dan beberapa tokoh itu, bukan keponakanku yang membunuh.” Empat serangkai paderi sakti dari Siau-lim-si, termayhur sekali. Terkejutlah Cu-ing mendengar Pek Wan Taysu memperkenalkan diri. Diam-diam nona itu menimang: “Ah, ternyata dugaanku memang benar. Paderi ini salah seorang tokoh Siau-lim yang termasyhur.”

“Locianpwe,” kata Cu-ing dengan nada haru, “Mohon locianpwe suka memberi keterangan siapakah pembunuh ayahku itu. Budi locianpwe takkan kulupakan seumur hidup.”

Berkata Pek Wan Taysu dengan serius: “Lo-ni, juga belum dapat memastikan siapa pembunuhnya. Tetapi kita akan berusaha untuk menyelidiki.”

Kemudian paderi itu menunduk dan bertanya pelahan kepada Siau Lo-seng, “Lo-seng, apakah engkau terluka?”

Belum pemuda itu menjawab, si orang aneh sudah menyelutuk dengan suara sinis: “Dia memang terluka karena pukulan Pek-kut-im-hong-ciang yang kulancarkan. Hawa beracun dari pukulan itu telah menyusup  ke dalam urat nadinya. Walaupun dia memiliki tenaga dalam yang tinggi, tetap tak dapat hidup lebih lama dari tujuh hari lagi

Pek-kut-im-hong-ciang artinya pukulan Angin yang mengandung phospor tulang mayat. Ilmu pukulan itu berasal dari daerah Biau di pedalaman Sin-kiang.

Mendengar itu Pek Wan Taysu segera berpaling dan mengamati Siau Lo-seng. Tampak pada dahi pemuda itu terdapat segurat warna merah tua. Dan saat itu tengah pejamkan mata untuk menyalurkan tenaga  dalam.

“Celaka, Lo-seng benar-benar telah terkena pukulan beracun ,” Pek Wan Taysu mangeluh.

Rupanya orang aneh itu tahu akan kecemasan Pek Wan Taysu. Maka diapun berseru pula,

“Apabila menghendaki dia hidup, itu mudah saja. Asal minum obatku, racun dalam tubuhnya tentu hilang seketika.”

“Ciong Pek-to,” seru Pek Wan Taysu dengan sarat, “empatpuluh tahun yang lalu engkau telah murtad dari Siau-lim-si, apakah sampai saat ini engkau belum bertobat?”

Orang aneh itu tengadahkan kepala dan tertawa gelak-gelak.

“Pek Wan suheng, sungguh tak kira kalau engkau masih kenal padaku. Ha, ha, ha bagus, bagus sekali. Dengan begitu suheng lebih jelas akan maksudku untuk memiliki ilmu sakti Hwat-lun-it-coan (roda berputar). Apabila suheng menghendaki pemuda itu hidup, akan kuberinya obat penawar racun tetapi pun suheng harus memberikan kitab pusaka ilmu Hwat-lun-it-coan itu kepadaku.”

Kiranya orang aneh itu adalah murid dari Siau-lim-si, namanya Ciong Pek-to. Empatpuluh tahun yang lalu, karena dia diam-diam telah mencuri belajar ilmu pukulan Hwat-lun-it-coan. Akhirnya ketahuan dan dimasukkan dalam ruang Hui-ko-si atau ruang bertobat. Tetapi ternyata dia malah makin gila. Melukai beberapa paderi Siau-lim dan melarikan diri. Siau-lim-si pernah memerintahkan beberapa tokoh saktinya untuk mencari murid hianat itu tetapi tak berhasil. Dia menghilang tanpa bekas. Maka sungguh tak disangka-sangka bahwa saat itu dia muncul lagi.

“Murid murtad, ternyata engkau masih belum insyaf!” bentak Pek Wan Taysu.

Orang aneh itu atau Ciong Pek-to tertawa hina: “Pek Wan suheng, mengingat hubungan kita dahulu begitu baik maka aku masih berlaku sungkan kepadamu. Sekarang aku sudah mengatakan keinginanku, terserah saja engkau setuju atau tidak.”

Habis berkata ia terus berpaling dan ayunkan langkah. Tetapi beberapa tindak kemudian, ia berpaling lagi.

“Pek Wan suheng,” serunya, “terus terang kuberitahu kepadamu. Tak sampai satu tahun lagi, gereja Siau- lim-si tentu akan terjadi peristiwa besar. Pada saat itu seluruh paderi Siau-lim-si tentu akan tunduk kepadaku ”

Mendengar itu Pek Wan Taysu terkejut. Jelas kata-kata orang aneh itu mengandung suatu ancaman hebat. Seketika berobahlah wajah Pek Wan Taysu.

“Ciong Pek-to, berhenti dulu!” serunya. Ciong Pek-to tertawa dingin. Pek Wan Taysu menyadari bahwa bekas sutenya itu memang seorang yang cerdik sekali. Pada waktu berumur duapuluhan tahun, Ciong Pek-to itu sudah menonjol dan melampaui murid-murid Siau-lim-si yang lain.

Apalagi kini sudah berselang empatputuh tahun lagi, entah sampai berapakah tingginya kepandaian Ciong Pek-to itu. Kalau menilik beberapa jurus yang di dimainkan tadi, jelas dia telah mencapai tingkat yang sukar dinilai tingginya.

Dalam penilaian itu terhentilah Pek Wan Taysu pada suatu kekuatiran bahwa jangan-jangan ia tak mampu mengalahkan bekas sutenya itu.

“Ada beberapa soal yang hendak kutanyakan kepadamu,” kata paderi Siau-lim itu dengan serius. “Katakanlah!”

“Bahwa dunia persilatan telah timbul gelombang tanpa angin, kekacauan yang tak diketahui siapa pengacaunya. Adakah engkau juga terlibat di dalamnya?”

“Ya,” sahut Ciong Pek-to tanpa tedeng aling-aling, “tetapi aku hanya salah satu saja……”

Habis berkata ia berpaling memandang ke arah Siau Lo-seng yang masih duduk bersila di tanah. Pek Wan Taysu pun juga ikut berpaling. Dilihatnya tak ada suatu perobahan pada diri pemuda itu. Sekonyong-konyong mulut Ciong Pek-to mendesis dan terus loncat ke tempat Siau Lo-seng. ”Murtad!” bentak Pek Wan Taysu seraya menampar.

Namun Ciong Pek-to tetap menerjang maju. Tangan kanannya bergerak dan segulung angin yang mengandung tenaga dahsyat segera menyongsong ke arah Pek Wan Taysu.

Ketika kedua tenaga sakti saling beradu maka di udara segera terdengar gelombang angin prahara yang keras.

Jubah Pek Wan Taysu bertebar-tebar dan kakinya surut ke belakang setengah langkah.

Tetapi Ciong Pek-to bahkan secepat kilat menyerbu Siau Lo-seng. Melihat itu Cu-ing melengking kaget dan terus taburkan pedangnya. Sekali gus nona itu menusuk tiga buah jalan darah Ciong Pek-to.

Jurus itu luar biasa anehnya. Walaupun Ciong Pek-to memiliki kepandaian sakti tetapi ia tetap tak mampu memecahkan serangan itu. Buru-buru ia hentikan gerakannya dan berputar ke samping.

Tetapi ia tak berhenti melainkan tetap berputar-putar menghampiri ke tempat Siau Lo-seng.

Melihat Ciong Pek-to begitu ngotot hendak menyerbu Siau Lo-seng, heranlah Pek Wan Taysu. Cepat ia berpaling ke arah pemuda itu. Apa yang disaksikan, benar-benar membuat hatinya tergetar.

Ternyata pemuda itu masih tetap duduk pejamkan mata. Guratan merah tua pada dahinya sudah tak tampak. Tetapi sebagai gantinya, ubun-ubun kepala pemuda itu seperti mengeluarkan asap warna merah.

Serentak teringatlah Pek Wan Taysu akan suatu hal. Suhunya pernah bilang kepadanya bahwa ilmu silat itu seperti laut yang sukar diduga dalamnya. Jurus gerakannya menitik-beratkan pada perobahan yang sukar diduga orang. Demikian pula dengan ilmu lwekang atau tenaga-dalam. Bahkan ilmu lwekang itu lebih banyak perobahannya lagi.

Ilmu lwekang terbagi dalam tiga aliran pelajaran. Kesatu, ilmu lwekang aliran Ceng-pay yang mengutamakan penyaluran tenaga murni menurut peraturan yang layak. Kedua, ilmu lwekang yang terbalik cara penyalurannya. Dan ketiga yalah jenis aliran yang aneh. Yalah dapat menyalurkan tenaga dalam  keluar dari tubuh untuk melindungi diri.

Tengah dia berpikir sampai di situ, Ciong Pek-to dan Cu-ing sudah melangsungkan dua jurus pertempuran. Dan kini Ciong Pek-to mulai mengadakan serbuan yang kedua kalinya. Dia lepaskan sebuah pukulan Membelah gunung Hoa-san ke arah nona itu.

Menderita dua kali serangan dari Ciong Pek-to, Cu-ing terdesak dan mundur di muka Siau Lo-seng. Saat itu ia mainkan pedangnya dalam jurus Menyongsong angin-membabat rumput untuk menabas lengan kiri Ciong Pek-to. Tetapi tiba-tiba Ciong Pek-to menarik kembali tangannya seraya menyiak pedang si nona. Kemudian kaki kanannya maju setengah langkah dan secepat kilat tangannya kanan menyambar lengan sekali pijat, terlepaslah pedangnya si nona.

Gerakan Ciong Pek-to itu memang luar biasa anehnya sehingga Cu-ing tak berdaya menjaga diri lagi.

Ciong Pek-to tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah dapat memaksa Cu-ing lepaskan pedangnya, kaki kanan orang itu diulurkan untuk mencongkel pedang yang menggeletak di tanah. Begitu pedang  melambung ke atas, cepat ia sambuti dengan tangan kiri. Dan secepat mencekal pedang, ia terus menusuk dada Siau Lo-seng.

“Jahanam, jangan mengumbar keganasanmu!” Pek Wan Taysu terkejut dan terus maju menendang bekas sutenya itu.

Tetapi serempak pada saat itu, tiba-tiba Siau Lo-seng yang duduk diam seperti patung tiba-tiba berteriak: “Nona Nyo, paman, silahkan mundur!”

Menghadapi tendangan Pek Wan Taysu, Ciong Pek-to hanya mengendapkan tubuh, berputar setengah lingkaran untuk menghindari. Sedang tusukannya tadi tetap tak berobah.

“Ah ” karena tak berdaya menolong, Cu-ing menjerit kaget.

Tetapi tiba-tiba Siau Lo-seng julurkan sebuah jari tangannya. “Tring……,” tepat sekali ujung jarinya menutuk batang pedang dan seiring dengan bunyi mendering itu, batang pedang pun putus menjadi dua……

Dan entah bagaimana, Ciong Pek-to terhuyung-huyung mundur beberapa langkah, berputar tubuh lalu loncat pergi.

Gerakan Ciong Pek-to itu memang cepat sekali sehingga Pek Wan Taysu dan Cu-ing tak keburu lagi untuk menghadangnya.

Sambil memandang bayangan Ciong Pek-to, Siau Lo-seng menghela napas panjang.

“Ah,  jika dia nekad menyerang aku beberapa jurus  lagi,  aku tentu celaka  di tangannya ” habis berkata

pemuda itu terus pejamkan mata seperti orang yang kehabisan tenaga.

Pek Wan Taysu maupun Cu-ing mengetahui bahwa tutukan jari pemuda itu telah menghabiskan tenaga dalamnya. Paling tidak pemuda itu harus beristirahat memulangkan tenaga selama satu jam.

Pek Wan pun juga ikut duduk bersemedhi di samping Siau Lo-seng. Wajahnya tampak sarat. Ternyata paderi itu sedang gelisah menampung bermacam persoalan.

Cu-ing tegak terlongong-longong seperti orang yang kehilangan semangat. Kesedihan dan kehancuran hatinya sukar dilukiskan.

Entah berapa lama kemudian tiba-tiba terdengar seorang anak buah Naga Hijau berteriak kaget: “Hai, Tan Than-cu meninggal……!”

Teriakan itu mengejutkan Cu-ing dan Pek Wan Taysu. Memandang ke muka mereka melihat Tan Gun-ki, Than-cu Naga Hijau duduk bersila di tanah tak bergerak lagi. Setelah menderita pukulan dari Ciong Pek-to, ketua bagian dari Naga Hijau itu duduk di bawah pohon siong untuk menyalurkan tenaga dalam.

Pek Wan Taysu dan Cu-ing bergegas menghampiri. “Tan Than-cu, Tan Than-cu……” teriak Cu-ing pelahan. Tetapi Tan Gun-ki tak menyahut.

Tiba-tiba Pek Wan Taysu melihat punggung ketua bagian dari Naga Hijau itu tertancap sebatang pedang pandak. Buru-buru ia hendak mencabutnya.

“Paman, jangan terburu-buru mengambilnya dulu,” dari arah belakang terdengar suara Siau Lo-seng. Dan serentak pemuda itupun sudah melesat tiba. Lebih dulu ia mengerling pandang ke sekeliling penjuru kemudian baru memeriksa pedang yang tertancap pada punggung Tan Gun-ki.

Ah, pedang itu ternyata pedang Ular Emas. Pedang yang serupa terdapat pada dada Nyo Jong-ho dan Han Ceng-jiang.

Setelah sejenak memeriksa, berkatalah Siau Lo-seng: “Jangan menjamahnya dulu……” Habis berkata pemuda itu terus lari ke dalam pondok dan pada lain kejap ia keluar lagi.

Tiba-tiba Cu-ing mengertak gigi dan berseru dengan geram: “Hm, ternyata pembunuh itu masih tak pergi dari sini. Bangsat, keluarlah engkau! Aku Nyo Cu-ing akan mengadu jiwa dengan engkau!”

Melihat nona itu menumpahkan kemarahannya begitu tegang, Siau Lo-seng menghela napas. “Nona Nyo, pembunuh ayahmu dengan pembunuh Tan Than-cu ini tidak sama orangnya,” katanya. Mendengar itu Cu-ing dan Pek Wan Taysu terbeliak.

“Lo-seng, bagaimana engkau dapat mengatakan begitu?” seru Pek Wan Taysu.

“Cobalah paman renungkan,” kata Siau Lo-seng, “betapapun saktinya orang itu, tetapi kalau dia mampu membunuh Tan Than-cu di depan hidung kita tanpa kita ketahui sama sekali, rasanya hal itu mustahil sekali.”

Mendengar itu diam-diam Cu-ing teringat akan kematian Pedang siput rawa Cu Kong-ti yang juga dibunuh  di depan para tetamu-tetamu yang berada di villa Merah Delima gedung keluarga Nyo.

Teringat peristiwa itu, Cu-ing dapat menyetujui kata-kata Siau Lo-seng.

“Hasil penyelidikan yang kulakukan,” kata Siau Lo-seng pula, “walaupun Pedang Ular Emas yang menancap di tubuh Nyo bengcu dan Han Ceng-jiang sama dengan yang menancap di punggung Tan Than-cu ini. Tetapi caranya membunuh berlainan. Pembunuh Nyo bengcu dan Han Ceng-jiang jelas berkepandaian sakti. Tetapi pembunuh Tan Than-cu ini masih kalah sakti dengan pembunuh Nyo bengcu.”

Memang Tan Gun-ki itu bukan tokoh sembarangan. Walaupun menderita luka tetapi tak mudahlah orang hendak mencelakainya secara menggelap.

Tiba-tiba Siau Lo-seng menyalangkan mata dan memandang ke arah rombongan anak buah Naga Hijau.

“Kuberani memastikan bahwa sebelum punggungnya ditusuk pedang, Tan Than-cu tentu sudah menghembuskan napas karena menderita luka parah. Inilah sebabnya maka ia tak melawan ataupun mengerang kesakitan,” kata Siau Lo-seng dengan tenang.

“Kalau begitu Tan Than-cu mati karena pukulan Ciong Pek-to,” seru Cu-ing. Siau Lo-seng mengangguk.

“Benar, pukulan beracun dari orang itu, cukup dapat menghancurkan jiwa Tan Than-cu,” katanya.

Pek Wan Taysu pun membenarkan: “Menilik darah yang mengalir dari punggung Tan Than-cu, keterangan Lo-seng memang tepat.”

“Kalau begitu pembunuhnya……” belum habis Cu-ing berkata tiba-tiba Siau Lo-seng menyambar tubuh seorang anak buah Naga Hijau yang berada di belakangnya.

“Hm, memang sudah lama kuperhatikan gerak gerikmu……” katanya seraya menguasai pergelangan tangan orang itu.

Tetapi orang itu mengerang tertahan dan tahu-tahu sudah tak bernyawa. Sebatang pedang Ular Emas yang berkilat-kilat telah menancap di dada orang itu.

Peristiwa itu sungguh mengejutkan sekali dan mendenguslah Siau Lo-seng dengan geram. “Hm, sungguh tak kira kalau mereka begitu memandang enteng jiwanya!”

Ternyata anak buah Naga Hijau yang berdiri di belakang Siau Lo-seng itu diam-diam sudah mengeluarkan pedang Ular Emas. Maksudnya selagi Siau Lo-seng asyik bicara, ia hendak menikamnya dari belakang. Tetapi ternyata punggung pemuda itu seperti tumbuh mata. Sebelum orang bertindak dengan kecepatan yang tak terduga-duga ia menyambar ke belakang dan menyiak pedang itu hingga menusuk ke dada orangnya.

“Eh, kalau menilik luka di dadanya itu, kiranya tak mungkin secepat itu dia bisa mati,” kata Pek Wan Taysu.

06.29. Pesona Im-kian-li “Sebelumnya dia memang sudah mengulum obat racun,” kata Siau Lo-seng, “sekali kulit pembungkus obat itu digigit pecah, racun segera mencabut nyawanya. Sambaran yang kulakukan secara tiba-tiba tadi sebenarnya untuk mencegah jangan sampai ia keburu bunuh diri. Ah, tetapi racun itu memang cepat sekali kerjanya.”

Setitik pun Cu-ing tak menyangka bahwa dalam kalangan anak buah Naga Hijau ternyata terdapat mata- mata musuh. Tiba-tiba ia teringat akan kematian Cu Kong-ti dan ,

“Ih, apakah suami isteri itu!” tanpa disadari mulut nona itu mendesuh. Mendengar itu Pek Wan Taysu dan Siau Lo-seng menatapnya. “Nona Nyo, soal apa yang engkau curigai?” tegur Siau Lo-seng.

“Di dalam rumahku pernah terjadi  peristiwa begini ” Cu-ing lalu menuturkan tentang peristiwa kematian

Cu Kong-ti, salah seorang dari Tiga Jago Kang-lam. Tokoh itupun mati dengan punggung tertancap sebatang pedang Ular Emas.

“Ah, apabila tak keluar dari gereja, aku tentu tak tahu tentang peristiwa-peristiwa ini,” Pek Wan Taysu menghela napas.

Siau Lo-seng kerutkan sepasang alis. Rupanya dia tengah berpikir keras. Beberapa saat kemudian ia berkata seorang diri: “Ah, urusan menjadi makin lama makin ruwet.”

“Lo-seng,” kata Pek Wan Taysu, “menilik gejolak kekacauan dalam dunia persilatan dewasa ini, biang keladinya bukanlah hanya pihak Lembah Kumandang saja.”

Siau Lo-seng mengiakan.

“Memang disamping itu masih terdapat perkumpulan yang mempunyai lambang Pedang Ular Emas. Kekuatan, pengaruh dan rapinya perkumpulan itu, jauh lebih hebat dari Lembah Kumandang. Tetapi entah siapakah pemimpinnya. Dan mengapa menggunakan pedang Ular Emas untuk membunuh orang.”

Tiba-tiba Cu-ing memandang Siau Lo-seng, serunya: “Huru hara dalam dunia parsilatan itu, timbulnya sejak Pendekar Ular Emas muncul. Mungkinkah perkumpulan itu dipimpin oleh Pendekar Ular Emas itu?”

Pek Wan Taysu menghela napas.

“Anakku Lo-seng, engkau seharusnya memberi penjelasan kepada nona Nyo.”

Cu-ing pun ikut menghela napas rawan, ujarnya pula: “Siau Mo memang kukenal padanya. Tetapi tindakan adat dan perangainya tetap belum kuketahui  jelas.  Betapapun  dia  hendak  memberi  penjelasan kepadaku ”

Mendengar itu Pek Wan Taysu cepat menarik kesimpulan bahwa nona itu memang sudah tahu bahwa Siau Lo-seng itu bukan lain adalah Siau Mo si Pendekar Ular Emas.

“Nona Nyo,” cepat paderi itu berkata, “engkau harus dapat memaafkan kesulitan Lo-seng. Apa yang nona alami hari ini, Lo-seng pun pernah menderita begitu ketika dia berumur tujuh tahun. Karena itulah maka wataknya berobah aneh. Padahal sebenarnya dia seorang yang berbudi lemah lembut. Dia seorang yang berhati perwira.”

Mendengar itu terkejutlah Cu-ing.

“Dia…… dia sungguh Siau Mo?” serunya tegang sekali.

Walaupun dia tahu bahwa Siau Lo-seng itu Siau Mo si Pendekar Ular Emas. Tetapi ia masih belum berani yakin akan hal itu, itulah sebabnya maka ia kaget sekali.

Siau Lo-seng menghela napas.

“Nona Nyo,” ujarnya, “namaku yang sesungguhnya yalah Lo-seng. Siau Mo itu adalah nama pamanku yang telah membunuh seluruh keluargaku. Dengan menggunakan nama itu, aku bermaksud hendak memancing dia keluar dari persembunyiannya.”

“Siau sauhiap,” kata Cu-ing dengan rawan, “ada sebuah hal yang hendak kutanyakan kepadamu.” “Silahkan.” “Apakah maksudmu menyelundup ke dalam rumahku. Yang kuketahui, sejak kedatanganmu itu, timbullah bermacam peristiwa yang menyedihkan ini. Ayahkupun meninggal. Tetapi aku tak tahu apa sebab ayah terlibat dalam peristiwa itu?”

“Nona Nyo,” kata Siau Lo-seng dengan penuh sesal, “tujuanku menyelundup ke dalam rumah keluarga Nyo, tak lain karena hendak menyelidiki pembunuh dari ayahku. Dalam hal itu, maaf, memang ayahmu yang tahu paling jelas. Soal kematian ayahmu, walaupun dapat dikata memang ada sedikit hubungannya dengan dendam kematian ayahku. Tetapi tujuan dari si pembunuh itu yang terutama tentu karena hendak merebut Keng-hun-pit (Pena Penggoncang Jiwa) milik ayahmu. Karena senjata itu merupakan salah satu dari Tiga Pusaka dunia persilatan yang diburu oleh kaum persilatan.”

“Nona Nyo,” Pek Wan Taysu menyelutuk, “tentang pembunuh Nyo loenghiong, walaupun belum mendapat bukti-bukti yang jelas, tetapi kita telah mencurigai seseorang. Dan orang itu rasanya engkau dan Lo-ni sudah kenal.”

“Siapa?” tanya Cu-ing, “apakah suami isteri Hong-hu Hoa?” “Bukan,” Pek Wan Taysu gelengkan kepala.

“Nona, dimanakah ibu dan adik nona sekarang ini?” tiba-tiba Siau Lo-seng bertanya.

Mendangar itu bercucuran airmata Cu-ing, sahutnya: “Mereka entah berada dimana, aku tak tahu. Siau sauhiap, siapa sesungguhnya yang membunuh ayahku itu?”

“Nona Nyo,” kata Siau Lo-seng dengan tenang, “pembunuhnya itu mempunyai hubungan yang erat sekali dengan keluargamu. Apabila kukatakan namanya, engkau pasti tak percaya. Tetapi saat ini akupun belum berani memastikan kalau dia pembunuhnya. Harap nona suka memaklumi kesukaranku.”

Ternyata selama tiga bulan menjadi guru pada keluarga Nyo, Siau Lo-seng tahu bahwa Nyo Jong-ho telah memperjodohkan puterinya itu dengan Li Giok-hou. Apabila saat itu ia mengatakan nama Li Giok-hou sebagai pembunuhnya, ia kuatir nona itu akan menderita kegoncangan hebat dalam hatinya. Dan pula, Siau Lo-seng memang belum mempunyai bukti yang kuat.

Mendengar jawaban itu, Cu-ing kerutkan alis dan merenung dalam-dalam. Kedengaran Siau Lo-seng menghela napas pula,

“Nona Nyo,” katanya, “dalam kehidupan di dunia ini tiada seorang manusia yang tak tertimpah peristiwa. Yang penting kita harus dapat menerimanya dengan segala kesabaran dan jiwa yang besar.”

Berhenti sejenak ia melanjutkan: “Nona Nyo, engkau pasti belum tahu bahwa nona Ui Hun-ing (Mo-seng-li) telah diculik orang. Saat ini masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan maka terpaksa aku tak dapat  ikut menyelesaikan urusan ayahmu……”

Mendengar Hun-ing ditangkap orang, terkejutlah Cu-ing. “Apa? Ketua itu ditangkap orang?” serunya.

“Juga saudaraku Bok-yong Kang itupun ditawan musuh,” sahut Siau Lo-seng, “harap nona selekasnya mengurus jenazah ayah nona dan segera mengerahkan jago-jago dari Naga Hijau untuk mencari jejak  ketua Ui itu. Maaf, aku terpaksa pergi dulu.”

“Seng-ji, kemanakah engkau hendak mencari di dunia yang begini luas?” seru Pek Wan Taysu.

Merenung sejenak, Siau Lo-seng berkata: “Pada saat ini segenap tokoh-tokoh silat sama berkumpul di Lok- yang. Rasanya sebelum mendapat apa yang diinginkan, mereka tentu takkan pergi dari Lok-yang.”

“Siau sauhiap, setelah selesai mengurus jenazah ayah, bagaimana aku dapat menghubungi engkau?” tiba- tiba Cu-ing berteriak.

“Di manakah markas Naga Hijau dalam kota Lok-yang itu?” tanya Siau Lo-seng. “Tempo hari Ui Pangcu telah merencanakan bertempat di rumahku.”

“Baiklah,” kata Siau Lo-seng, “karena nona tentu akan membawa jenazah ayah nona pulang, maka paling lambat dalam tiga hari lagi, syukur malam ini, kita dapat berjumpa di rumah nona.”

Demikianlah setelah selesai bersepakat, Siau Lo-seng dan Pek Wan Taysu segera berpisah dengan nona itu. Kedua orang itu gunakan ilmu lari cepat menuju ke arah timur. “Rupanya ada orang yang mengikuti kita dari belakang,” tiba-tiba Pek Wan Taysu berkata. “Memang telah kuduga dia tentu akan mengikuti kita,” sahut Siau Lo-seng.

Pek Wan Taysu terkejut, tanyanya: “Siapakah orang itu?”

“Seorang wanita cantik berpakaian biru. Pada saat Ciong Pek-to bersuit aneh sebelum muncul, wanita itu sudah mendahului kita bersembunyi di atas sebatang pohon siong ”

Pek Wan Taysu terkejut. Pikirnya: “Mengapa sama sekali aku tak tahu hal itu? Adakah kepandaian Seng-ji (anak Seng) itu sudah mencapai tataran yang sempurna……”

Kembali Siau Lo-seng berbisik: “Wanita itu pun menyaksikan pertempuran kita dengan Ciong Pek-to. Karena kuatir dia lebih sakti dari kita maka akupun tak mau mengutik-ngutik persembunyiannya.”

“Dia kawan atau lawan kita?” kata Pek Wan Taysu.

“Menurut dugaanku. Kalau bukan Jin Kian Pah-cu, tentulah wanita itu yalah orang menjadi pemimpin gerombolan Pedang Ular Emas,” kata Siau Lo-seng.

“Lalu bagaimana kita akan menghadapinya?”

“Kepandaian wanita itu memang hebat sekali,” kata Siau Lo-seng, “Mungkin paman dan aku maju berdua, belum tentu dapat menang.”

Mendengar itu, Pek Wan Taysu merenung, Keduanya segera mempercepat larinya tetapi sosok tubuh berpakaian biru itu tetap mengikuti di belakang pada jarak sepuluh tombak.

“Sebaiknya kita cari daya untuk menghindari wanita itu,” kata Pek Wan Taysu beberapa saat kemudian.

“Kalau wanita itu benar Jin Kian Pah-cu atau pemimpin gerombolan Pedang Ular Emas, lambat atau cepat kita tentu akan berhadapan dengan dia. Apalagi hilangnya Hun-ing (Mo-seng-li) dan Bok-yong Kang itu kemungkinan tentu ada hubungannya dengan wanita itu. Dari pada besok lebih baik kita hadapi dia sekarang saja.”

Pek Wan Taysu menghela napas.

“Ilmu ginkangnya, hampir sama dengan kita. Menilik hal itu kemungkinan kepandaiannya pun tak terlalu terpaut jauh dari engkau.”

“Paman,” kata Siau Lo-seng, “paman tak memperhatikan ilmu ginkang wanita itu. Dia dapat berlari seperti tak menginjak tanah. Ilmu ginkang semacam ini di dunia persilatan rasanya tiada terdapat keduanya lagi “

Pek Wan Taysu terkejut dan berpaling ke arah wanita itu. Tetapi alangkah kejutnya ketika melihat wanita itu makin dekat.

“Seng-ji, dia akan menyerang kita,” serunya terkejut.

Memang wanita yang terpisah pada jarak sepuluhan tombak itu, melayang ke udara dan meluncur turun ke arah kedua orang itu. Walaupun kecepatan lari Pek Wan Taysu dan Siau Lo-seng tak berkurang tetapi gerakan melambung ke udara dan meluncur turun dari wanita itu jauh lebih cepat. Saat itu jarak mereka hanya terpisah tujuh tombak.

“Paman, menyingkirlah!” seru Siau Lo-seng seraya enjot tubuhnya melambung ke udara, menyongsong kepada wanita itu.

Gerakan Siau Lo-seng itu dilakukan luar biasa cepatnya. Tetapi pada lain saat terdengar mulutnya mengerang tertahan dan tubuhnya berjumpalitan sampai dua kali di udara lalu melayang turun empat tombak jauhnya.

Pek Wan Taysu cepat loncat ke tempat Siau Lo-seng. Wanita itupun berhenti. “Seng-ji, apakah engkau terluka?” tanya Pek Wan Taysu cemas.

Setelah menenangkan semangat, Siau Lo-seng menyahut: “Hm, sungguh tenaga- membal yang  lihay sekali. Ilmu apakah itu?”

Ternyata Siau Lo-seng dan wanita baju biru tak beradu pukulan. Tetapi Siau Lo-seng telah dilanda oleh suatu tenaga membal yang luar biasa kuatnya sehingga ia jungkir balik di udara. Di bawah sinar matahari yang gemilang tampak wanita baju biru itu tegak berdiri terlongong-longong memandang Siau Lo-seng.

Dan ketika Siau Lo-seng sempat memandang wajah wanita itu, hatinyapun tergetar keras, mulut tak henti- hentinya mendesis kekaguman.

Wanita itu ternyata seorang nona yang masih muda. Usianya di sekitar duapuluhan tahun. Mengenakan pakaian warna biru. Kulitnya putih seperti salju dan wajahnya secantik bidadari.

Karena terpesona, di luar kesadarannya, pandang mata Siau Lo-seng menyusuri segenap indera wajah nona itu.

Sepasang alisnya melengkung bagai bulan tanggal satu. Hidungnya ramping menaungi sepasang bibir yang merah basah. Gundu matanya berkilau laksana bintang kejora, dipagari dengan bulu mata yang lebat. Kulitnya yang putih memancarkan warna merah muda dari kesegaran. Ah, benar-benar seperti seorang bidadari yang turun dari kahyangan.

Apabila Nyo Cu-ing itu dikatakan cantik dan Ui Hun-ing itu jelita. Maka nona baju biru ini mempunyai kedua- duanya, cantik dan jelita.

Hanya satu yang agak mengecewakan orang. Wajah nona itu seperti tak pernah tersenyum.

Melihat Siau Lo-seng kesima, Pek Wan Taysu pun tanpa disadar ikut mengangkat muka dan memandang ke arah nona itu. Berdebarlah jantung paderi itu demi menyaksikan kecantikan si nona. Cepat ia mengucap doa dan menundukkan kepalanya lagi, tak berani memandang.

Disamping kecantikannya yang gilang gemilang itu ternyata nona yang baru berumur duapuluhan tahun itu memiliki ilmu ginkang yang sedemikian hebatnya.

Nona cantik itupun termangu-mangu memandang Siau Lo-seng. Sampai beberapa jenak ia tak bicara apa- apa.

Rupanya Siau Lo-seng cepat menyadari keadaan itu. Segera ia memberi hormat. “Entah siapakah gerangan nama nona yang mulia?” tanyanya dengan tenang.

Nona itu kedipkan mata dan berseru dengan pelahan, “Siau Mo.”

Ah, seruan itu bernada lembut dan mesra. Pek Wan Taysu merasakan nada suara nona itu mengandung pesona yang memikat jiwa orang. Ketika memperhatikan Siau Lo-seng seperti terbuai semangatnya, cepat- cepat paderi itu meneriakinya:

“Seng-ji……!”

Tersentaklah semangat Siau Lo-seng mendengar teriakan paderi itu. Seketika pulihlah kesadaran pikirannya.

“Siapa engkau?” bentaknya kepada nona itu. Bahkan ia mengiring bentakannya itu dengan sebuah hantaman.

Tetapi tampaknya nona itu tak jerih menghadapi pukulan yang sedahsyat gelombang raksasa itu.  Ia gerakan tangan kanan, memutar dalam gerak lingkaran dan tahu-tahu tenaga pukulan Siau Lo-seng pun sirna.

“Paman, mundurlah!” seru Siau Lo-seng kepada Pek Wan Taysu lalu enjot tubuhnya melambung ke udara.

Pek Wan Taysu mendengar teriakan Siau Lo-seng itu tetapi ia tak mengerti apa maksudnya. Tiba-tiba ia merasa seperti dilanda oleh segelombang tenaga raksasa. Dalam kejut, iapun cepat loncat ke udara.

“Wut,” sebuah gelombang angin menderu keras di bawah kaki paderi itu dan sesaat kemudian terdengarlah letupan yang keras, “brak……” Sebatang pohon besar yang tumbuh dua tiga tombak dari tempat mereka telah patah dan rubuh. Batang pohon besar itu menimpah tanah, debu muncrat dan daunnya berhamburan keempat penjuru.

Ketika melayang turun di samping Siau Lo-seng, bertanyalah paderi itu: “Seng-ji, kapankah tadi ia melepaskan pukulan itu?” “Paman,” sahut Lo-seng gopoh, “hari ini rasanya kita sukar lolos dari bahaya. Kalau dugaan tak salah, nona itu sudah berhasil mempelajari ilmu Mo-thian-ciang, sebuah ilmu yang sudah lenyap beratus tahun. Kita tak mungkin dapat melukainya.”

Dari kitab pusaka seluruh partai persilatan yang dicuri oleh Ban Li-hong dapatlah Siau Lo-seng mempelajari berbagai ilmu kepandaian, baik ilmu pusaka yang sudah lenyap maupun yang masih terdapat dalam dunia persilatan. Itulah sebabnya maka ia kenal akan ilmu pukulan Mo-thian-ciang yang dilancarkan si nona.

Mo-thian-ciang atau pukulan Iblis langit merupakan sebuah ilmu pukulan sakti yang dapat memiliki daya membal untuk mengembalikan segala macam pukulan tenaga dalam.

Jelita baju biru itu termangu memandang Siau Lo-seng. Tiba-tiba mulutnya berbisik “Siau Mo ”

Siau Lo-seng bersuit keras untuk menghapus pengaruh gaib dari suara merdu nona itu yang mengandung daya pesona.

Sekonyong-konyong berobahlah wajah nona cantik itu. Wajahnya tegang dan berkabut dengan hawa pembunuhan. Dan mulailah ia ayunkan langkah menghampiri Lo-seng.

06.30. Lingkaran Setan

“Paman, awas! Dia hendak menurunkan tangan ganas,” seru Siau Lo-seng seraya loncat mundur.

Tetapi jelita itu bagai sesosok bayangan telah memburu pemuda itu. Tangan kiri mencengkeram bahu orang dengan gerak Yu-leng-co-hun atau Roh gentayangan menangkap jiwa. Pukulan itu sama sekali tak mengeluarkan suara. Sedang tangan kanan menampar kepala dengan pukulan Hun-soh-ngo-gak atau Awan-menutup lima-gunung.

Dengan pengetahuan tentang ilmu silat yang luas, dapatlah Siau Lo-seng menilai kepandaian nona itu. Bukan saja jurus-jurus yang dimainkan itu luar biasa dan sakti serta sukar ditangkis, pun pemuda itu merasa seperti dihambur oleh beberapa macam tenaga. Muka, belakang, atas dan bawah serasa seperti dikurung oleh semacam tenaga dahsyat.

Melihat Lo-seng terancam bahaya, Pek Wan Taysu cepat loncat lalu dorongkan kedua tangan ke muka.

Paderi tua dari Siau-lim-si itu memang jarang keluar dari gereja dan jarang berkelahi. Tetapi sekali ia turun tangan, hebatnya seperti gunung rubuh. Pukulan itu ditujukan pada punggung si nona.

Serempak pada saat paderi itu memukul, Siau Lo-seng pun telah lancarkan sebuah pukulan yang dilambari dengan tenaga dalam sepenuhnya.

Dua buah pukulan yang sedahsyat gunung rubuh telah menjepit nona itu dari muka dan belakang. Andai tubuh nona itu terbuat dari baja pun, tetap tak tahan menerima kedua pukulan dahsyat itu.

Tetapi ketika melihat Pek Wan Taysu juga memukul, berobahlah wajah Siau Lo-seng. “Paman, mengapa engkau turun tangan?” serunya cemas.

Tetapi teriakan itu kalah cepat dengan tindakan si nona baju biru yang saat itu sudah rentangan kedua tangannya ke belakang dan muka.

Seketika Siau Lo-seng rasakan pukulannya itu tersedot oleh segulung tenaga kuat, sedang dari muka sebuah tenaga tekanan kuat sedang melanda kepadanya. Ia terkejut dan hendak menyurut mundur tetapi terlambat.

Tubuh Siau Lo-seng seperti disambar petir. Dia terhuyung-huyung mundur sampai tiga langkah. Pandang matanya berkunang-kunang dan telinganya pun mengiang-ngiang. Tetapi ia masih sempat mendengar suara erang tertahan. Buru-buru ia tenangkan semangat dan memandang ke muka.

Jelita baju biru tegak dengan tenang mengawasi Siau Lo-seng. “Siapakah engkau ini?” bentak Siau Lo-seng dengan marah.

Wanita itu gelengkan kepala dan menyahut seperti orang tak sadar: “Aku hendak mencari Siau Mo, akan kubunuhnya ”

Sambil berkata ia maju menghampiri ke tempat anak muda itu lagi. Siau Lo-seng termangu heran mendengar kata-kata jelita itu.

Beberapa langkah ke muka, berserulah nona itu: “Engkau Pendekar Ular Emas Siau Mo atau bukan? Yang hendak kubunuh yalah Siau Mo ”

Pada saat itu barulah Siau Lo-seng tahu apa yang dihadapi saat itu. Dia pernah membaca dalam buku bahwa dalam dunia persilatan memang terdapat semacam ilmu yang disebut Memerintah mayat. Orang yang akan meninggal diberi minum obat racun untuk membius kesadaran pikirannya. Apabila orang itu hidup kembali, dia akan menjadi manusia tanpa mempunyai kesadaran otak dan dapat diperintah melakukan apa saja.

Teringat akan hal itu, tergetarlah hati Siau Lo-seng. Jika demikian, adakah nona cantik itu seorang mayat hidup?

Jika benar, dia tentu diperalat orang untuk membunuhnya. Lalu siapakah yang memerintah itu? Dan siapa pula nona cantik itu?

Tengah Siau Lo-seng termangu memikir hal itu, si jelita baju birupun sudah tiba dihadapannya dan tanpa bersuara apa-apa ulurkan jari tangannya yang runcing untuk menutuk jalan darah di ubun-ubun kepala Siau Lo-seng.

Siau Lo-seng terbelalak kaget. Secepat kilat iapun menutuk telapak tangan si nona. Nona itu menjerit kaget, mundur tiga-empat langkah dan memandang pemuda itu.

Siau Lo-seng telah gunakan ilmu tutukan Han-sim-ci atau Jari hati dingin. Walaupun ia berhasil dapat mengundurkan si nona tetapi ia telah kehabisan tenaga. Wajahnya mengucur keringat deras dan napas terengah-engah keras. Darah dalam tubuhnya bergolak, kepala pening mata pudar.

Tetapi pemuda itu tetap pertahankan diri untuk tegak berdiri. Tangan kanan diangkat ke muka kelima jarinya menjulur ke langit. Tangan kiri melindungi dada. Suatu sikap dari sebuah jurus yang amat sakti.

Rupanya nona itu kenal akan pembukaan dari jurus yang diambil Siau Lo-seng itu. Dia tampak terkejut, tegak termangu-mangu.

Selagi kedua orang muda itu sama-sama tegak beradu pandang adalah saat itu Pek Wan Taysu tengah pejamkan mata untuk menyalurkan tenaga dalam menenangkan darah dalam tubuhnya yang bergolak keras. Ia merasa aneh mengapa tak mendengar apa-apa. Buru-buru ia membuka mata dan demi melihat sikap pembukaan yang diunjuk Siau Lo-seng, ia terkejut juga.

Jurus yang dipertunjukkan Siau Lo-seng itu mengandung penuh bahaya maut. Tiada suatu jurus manapun yang mampu menyerang anak muda itu.

Diam-diam Pek Wan Taysu menghela napas, pikirnya, “Saudara angkatku sungguh beruntung mempunyai seorang putera yang sedemikian hebat. Dendam darah keluarganya, tentu dapat terhimpas.”

Tetapi demi pandang mata paderi itu tertumbuk pada butir-butir keringat yang mengucur dari kepala Siau Lo-seng, terkejutlah sekali paderi itu. Jelas diketahuinya bahwa Siau Lo-seng sebenarnya sudah tak kuat bertahan lagi.

“Huak. ” karena gelisah dan cemas, darah dalam tubuh Pek Wan Taysu yang sudah mulai mengendap

itu, tiba-tiba bergolak lagi lalu meluap keluar dari mulutnya. Siau Lo-seng pun terkejut dan berpaling.

Pada saat perhatiannya terlengah itu, sesosok bayangan setan, nona baju biru itupun sudah menyelinap maju dan menampar dada Lo-seng, “plak ”

Tubuh pemuda itu terlempar sampai tujuh-delapan tombak jauhnya dan “bum….,” jatuhlah ia terduduk di tanah. Mulutnya mengucur darah. Namun dalam keadaan bagaimanapun buruknya, Lo-seng tetap duduk dalam sikap jurus pembukaan yang aneh tadi.

Nona baju biru memburu dan hendak menyusuli sebuah pukulan lagi tetapi demi melihat sikap yang dipertahankan Lo-seng untuk menjaga diri, nona itupun terpaksa menarik pulang tangannya.

“Seng-ji......” Pek Wan Taysu herteriak kaget ketika melihat Lo-seng, terdampar ke udara. Tetapi ketika melihat pemuda itu jatuh dengan masih tetap duduk, paderi itupun hentikan teriakannya. Saat itu tenaga murni Siau Lo-seng dapat dikata sudah habis. Kalau nona itu memukulnya lagi, betapapun ringannya pukulan itu, tetap Siau Lo-seng tentu akan rubuh dan habis riwayatnya.

Timbul pikiran Siau Lo-seng untuk mempertahankan jiwanya maka dengan menahan luka dalam yang parah, ia tetap mempertahankan sikap tangannya dalam jurus aneh tadi.

Tampak nona itu heran atas ilmu kepandaian yang dimiliki Siau Lo-seng, tinggi dan luar biasa. Seberapa kali pemuda itu dapat lolos dan menerima pukulan mautnya. Mau tak mau nona itu kagum dan terlongong- longong memandang si pemuda.

Detik-detik berlangsung penuh ketegangan. Bayang-bayang maut bertebaran untuk setiap detik menca¬but jiwa.

Sekonyong konyong terdengar teriakan yang melengking tinggi: “Im-kian-li…… Im-kian-li…… Im-kian- li……!”

Mendengar teriakan itu, nona baju biru seperti tersentak kaget dan balas bersuit lalu seperti sesosok bayangan terus melesat pergi dan lenyap.

Im-kian-li artinya Puteri Neraka.

Seiring dengan lenyap nona itu, tubuh Siau Lo-seng berguncang-guncang seperti tertiup angin. “Seng-ji, Seng-ji!” teriak Pek Wan Taysu gopoh,

Dengan paksakan diri Siau Lo-seng loncat bangun dan menghampiri ke tempat paderi itu.

Dengan nada suara yang lemah lunglai, ia berseru, “Paman lekas, ambilkan botol kumala dalam bajuku ”

Pek Wan Taysu cepat melakukan permintaan pemuda itu, ia mengambil keluar empat botol berwarna ungu, merah, putih dan hitam. Setiap botol berisi yok-wan atau pil.

“Yang ungu dan merah ambilkan masing-masing sebutir, yang putih tiga butir dan yang hitam empat……” berkata sampai di situ tampaknya Siau Lo-seng sudah lunglai kehabisan tenaga.

Pek Wan Taysu cepat melakukan perintah. Setelah menyusupkan butir pil itu ke mulut Lo-seng, ia mengambil bekal botol minum dan suruh Lo-seng meneguk.

Aneh, tak berapa lama setelah minum keempat macam pil itu, tampak wajah Siau Lo-seng yang pucat lesi berobah merah pula. Dan ketika membuka mata, sinar mata pemuda itupun tampak berkilat-kilat penuh semangat.

Pek Wan Taysu terkejut dan heran melihat kehebatan pil itu. Dipandangnya Lo-seng dengan pandang keheranan.

Siau Lo-seng menghela napas, ujarnya: “Setelah pil-pil dalam empat botol itu habis, jiwakupun ikut habis juga.”

Sudah tentu hal itu mengejutkan Pek Wan, serunya: “Seng-ji, engkau memiliki kepandaian sakti. Setelah minum pil mujijat itu, engkau sudah sembuh kembali. Mengapa engkau mengatakan kata-kata yang menyedihkan begitu?”

Siau Lo-seng gelengkan kepala.

“Paman, mana pil itu obat yang mujijat. Pil yang kutelan tadi adalah obat racun yang amat ganas. Apabila orang lain makan sebutir saja, dia tentu mati seketika.”

“Apa?” Pek Wan Taysu berteriak kaget, “yang engkau minum itu pil beracun?”

Mimpipun tidak paderi itu kalau pil yang ditelan Lo-seng itu racun. Sebutir saja orang tentu akan mati. Tetapi menggapa pemuda itu telah menelan sembilan butir dan bahkan malah segar semangatnya?

“Benar, paman,” kata Siau Lo-seng, “keempat botol pil itu, dahulu adalah suhuku Ban Li-hong yang mencuri dari Ui Se-cu si Raja racun. Pil ungu itu yalah ramuan Jiok-ting-kwan, yang merah Peh-poh-wan, yang putih Kim-hiang dan yang hitam Toan-jong-oh.

Pek Wan Taysu terlongong. Keempat macam jenis obat itu, merupakan racun yang hebat. “Seng-ji, mengapa engkau harus menelan racun yang seganas itu?” serunya sesaat kemudian. Raja racun Ui Se-cu memang termasyhur sebagai tokoh yang ahli dalam racun. Dahulu pernah terjadi sebuah peristiwa yang menggemparkan dunia persilatan. Ssorang tokoh silat golongan hitam, diam-diam telah berhasil mencuri sebutir pil Toan-jong-oh (pil penghancur usus). Peristiwa itu terjadi pada empatpuluh tahun yang lalu ketika sedang diselenggarakan sebuah rapat besar seluruh kaum persilatan. Tokoh golongan hitam itu lalu diam-diam mencampurkan Toan-jong-oh ke dalam minuman dan akibatnya sungguh ngeri sekali. Enampuluh tokoh silat yang ternama mati seketika.

“Paman,” ujar Siau Lo-seng, “ada suatu kesulitan yang tak dapat kukatakan. Harap paman jangan menanyakan dahulu soal itu. Pada saatnya paman tentu akan mengetahui sendiri. Saat ini semangat dan tenagaku sudah pulih kembali. Ah, marilah kita kejar nona itu!”

Melihat wajah pemuda itu sudah segar kembali, Pek Wan Taysu pun tak mau mendesak lebih lanjut. Ia setuju tetapi menghela napas.

“Seng-ji, memang kata-kata nona Nyo itu benar, engkau memang seorang yang aneh.”

“Paman……” tiba-tiba Siau Lo-seng menjerit dan bercucuran airmata. Saat itu ia teringat akan nasibnya yang celaka. Ia hendak menceritakan hal itu kepada Pek Wan Taysu tetapi pada lain kilas, ia tak melanjutkan kata-katanya. Ia kuatir paderi itu akan sedih kalau mendengar keadaannya. Dan ia tak ingin pamannya itu ikut berduka.

“Seng-ji, bukan aku hendak mendamprat engkau, hanya……”

“Paman,” tukas Siau Lo-seng, “harap jangan membicarakan dulu. Aku ingin tahu, apakah sewaktu nona baju biru itu pergi, ada orang yang memanggilnya?”

Ternyata pada saat tadi, perhatian Siau Lo-seng hanya tercurah seluruhnya pada gerak gerik si nona baju biru. Ia tetap menjaga setiap kemungkinan nona itu hendak menyerangnya. Oleh karena itu ia tak mendengar suara orang memanggil nona itu.

Pek Wan Taysu mengangguk.

“Benar,” katanya, “memang ada suara orang memanggil Im-kian-li kepadanya dan setelah itu ia terus melesat pergi. Rupanya suara itu mempunyai pengaruh yang gaib terhadap si nona...... aneh, mengapa nona yang begitu sakti dapat dikuasai orang?”

Siau Lo-seng kerutkan dahi merenung dalam-dalam.

“Im-kian-li?” katanya sesaat kemudian, “Ah, nama itu jelas bukan nama manusia di dunia. Siapakah dia? Kasihan, seorang nona yang begitu cantik telah menjadi korban dari keganasan orang.”

“Seng-ji, kulihat gerak gerik nona itu memang agak aneh dan tak wajar. Dia seperti orang yang tolol dan tak mempunyai kesadaran pikiran,” kata Pek Wan Taysu.

Siau Lo-seng menghela napas.

“Paman, pernah paman mendengar tentang ilmu Memerintah mayat?”

Serentak Pek Wan Taysu teringat memang dahulu, gurunya pernah menceritakan tentang ilmu semacam itu. Ia terkejut.

“Apakah wanita itu sebuah mayat hidup?” seru paderi itu.

Siau Lo-seng mengangguk: “Benar, dia seorang wanita yang tiada mempunyai roh lagi.”

Sesaat itu terasalah pada Pek Wan Taysu bahwa dunia persilatan sedang dilanda oleh awan yang menyeramkan. Awan yang berkabut hawa pembunuhan dan akan turun menjadi hujan darah.

Seperti si nona baju biru itu, seorang nona yang memiliki kepandaian sakti tetapi kehilangan kesadaran pikirannya karena telah dikuasai oleh seorang durjana jahat. Nona itu tentu merupakan salah satu dari alat yang akan menimbulkan banjir darah di dunia persilatan nanti.

“Paman, mari cepat kita berangkat,” seru Lo-seng. “Kita harus menyelidiki siapakah yang menguasai nona itu dan dengan cara bagaimana dapat menjalankan kekuasaannya itu. Kalau terlambat, akibatnya tentu hebat bagi dunia persilatan nanti.”

Mengingat betapa gawatnya hal itu tanpa menghiraukan lukanya yang parah, Pek Wan Taysu pun segera paksakan diri bangun. “Mari kita kejar, dia menuju ke arah tenggara,” seru paderi itu. Keduanya segera gunakan ilmu lari cepat.

Dalam beberapa kejap saja keduanya telah menempuh enam-tujuh buah puncak gunung. Tiba-tiba Pek Wan Taysu mengerang dan rubuh.

Siau Lo-seng terkejut. Cepat ia menolong paderi tua itu. Tampak wajah Pek Wan Taysu pucat lesi seperti mayat tak berdarah.

“Paman, bagaimana engkau?” seru Lo-seng cemas.

Dengan terengah-engah paderi itu menjawab: “Ah, aku sudah tua, tak berguna lagi.” Nada ucapannya penuh kerawanan dan kedukaan.

Berpuluh puluh tahun lamanya Pek Wan Taysu tinggal di gereja membenam diri dalam kesucian ajaran agama dan tekun untuk meyakinkan pelajaran ilmu silat. Setitikpun tak pernah ia mengira bahwa sekali turun dari gunung, ia harus menderita kekalahan dari seorang nona cantik yang masih muda. Inilah yang menyebabkan paderi itu terpukul semangatnya.

Rupanya Lo-seng tahu juga isi hati paderi itu. Diam-diam ia heran dan tak menyangka bahwa seorang paderi yang sudah setua itu dan tinggi pula derajat kedudukannya dalam gereja Siau-lim, ternyata masih memiliki hati yang ingin menang. Suatu hal yang menandakan bahwa paderi tua itu masih belum dapat melepaskan diri dari rasa ke-Aku-an.

“Paman, baiklah kita beristirahat di sini dulu,” kata Siau Lo-seng

Pek Wan Taysu gelengkan kepala: “Tidak, setelah memulangkan napas sebentar, nanti kita lanjutkan perjalanan lagi ”

“Huak……,” belum habis berkata, tiba-tiba paderi itu muntah darah, tubuhnya gemetar dan wajahnya makin pucat.

Siau Lo-seng terkejut. Ia tahu bahwa paderi itu telah menderita pukulan dahsyat sehingga menderita luka dalam yang parah. Dan karena paderi itu paksakan diri untuk menggunakan tenaga lari menempuh perjalanan sekian jauh maka habislah tenaganya. Dan karena dia tetap berkeras hendak menyalurkan pernapasan maka darahnya meluap keluar.

Buru-buru Siau Lo-seng menutuk jalan darah paderi itu supaya darahnya tenang kembali. Kemudian sambil memapahnya bangun, ia mengajak paderi itu mencari tempat beristirahat.

“Paman, mari kita cari sebuah tempat yang sesuai untuk mengobati luka paman ”
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar 100 Hari Jilid 06"

Post a Comment

close