Pendekar 100 Hari Jilid 01

Mode Malam
01.01. Maut Berpesta?

Kota Lok-yang yang tengah dicengkam musim salju, tampak sunyi senyap. Kota bekas kota kerajaan itu seolah terbungkus oleh selimut putih.

Di pesanggrahan yang menjadi makam raja-raja Han, tampak dua orang tengah menikmati keadaan tempat itu.

Yang satu seorang anak lelaki kecil, memegang tali kendali dua ekor kuda tegar. Anak itu tak henti-hentinya menggigil kedinginan.

Sedang yang satu, seorang pemuda berwajah pucat. Dandanannya seperti seorang guru sekolah atau sasterawan. Dari makam yang terletak di dataran yang ketinggian, ia lepaskan pandang mata ke arah jalan raya dalam kota Lok-yang. Tampak beberapa penunggang kuda mencongklang di sepanjang jalan raya itu.

“Nyo Ih, mari kita pulang,” tiba-tiba sasterawan muda itu berseru kepada si anak lelaki.

“Ih, Siau sianseng, aku sungguh kagum sekali kepadamu,” seru anak itu, “dalam hawa begini dingin engkau tak kedinginan sama sekali. Apakah engkau juga belajar ilmu silat seperti ayahku?”

Dalam bicara itu Nyo Ih si anak lelaki itupun sudah menyemplak kudanya. Sasterawan muda menepuk- nepuk bahu anak itu dan tersenyum: “Nyo Ih, bagaimana engkau tahu kalau aku tak kedinginan? Itulah karena aku biasa tahan lapar dan tahan dingin. Lihatlah tanganku ini. Betapa lemahnya, sampai tak kuat untuk menyembeli ayam saja. Bagaimana engkau mengatakan aku bisa ilmu silat?”

Demikian kedua penunggang kuda itu, seorang sasterawan muda dan seorang anak lelaki, segera mengendarai kudanya menyusur sepanjang jalan raya di kota Lok-yang.

Lok-yang adalah kota raja timur pada jaman kerajaan Han. Sebuah kota yang ramai, makmur dan indah.

Setelah masuk kota dan melintasi sebuah gang, akhirnya sasterawan muda dan anak lelaki itu berhenti di muka pintu sebuah gedung besar yang terletak di bagian barat kota.

“Nyo Ih, engkau ini bagaimana? Kemana saja engkau pada hari sedingin ini......?” Serentak terdengar lengking suara seorang anak perempuan yang merdu dan halus.

Dan serempak dengan seruan itu seorang nona baju hijau melesat keluar dari dalam pintu.

Melihat si nona, sasterawan muda itu cepat loncat turun dari kudanya dan memberi hormat. “Nona Nyo, maafkan aku. Karena keisengan kuminta Nyo Ih membawa aku melihat-lihat makam raja.”

Sasterawan muda itu menutup kata-katanya dengan menjurah selaku minta maaf. Jelas tubuh sasterawan itu menggigil kedinginan.

Ketika melihat sasterawan muda itu hanya mengenakan baju tipis, heranlah nona itu, serunya: “Siau sianseng, mengapa engkau keluar hanya mengenakan pakaian begitu tipis? Toh, engkau sampai gemetar, kalau sampai terserang dingin tentu bisa sakit mari, lekas ikut aku masuk ke dalam rumah.”

Memang saat itu tampak wajah sasterawan muda pucat, tubuh gemetar keras. Ia pun terus ikut nona itu masuk ke dalam. Si anak lelakipun ikut juga.

Ketika melalui sebuah lorong, nona baju hijau berkata: “Siau sianseng, hari ini akan terjadi suatu peristiwa dalam rumahku. Ayah telah pesan kepada seluruh penghuni supaya jangan keluar rumah. Engkau tadi membawa adik Ih keluar, kalau sampai terjadi apa-apa, wah ”

Nona itu tak melanjutkan kata-katanya. Wajahnya yang ayu menampil kecemasan.

Sasterawan muda terkejut, tanyanya: “Apa katamu, nona Ing? Apakah yang akan terjadi di rumah nona ini?” Nona baju hijau itu berpaling memandangnya lalu menghela napas: “Engkau seorang sasterawan yang tak kenal seluk beluk dunia persilatan. Walaupun kuberitahu, engkau tetap takkan mengerti liku-liku kehidupan dalam dunia Persilatan ”

Kemudian ia berpaling kepada adiknya si anak lelaki: “Lekas engkau masuk ke dalam, mamah sudah bingung mencarimu.”

Mendengar itu Nyo Ih pun segera bergegas lari masuk.

Nyo Cu-ing, demikian nama nona baju hijau itu, menghela napas dan berkata pula: “Siau sianseng, saat ini di ruang besar sudah penuh dengan tetamu-tetamu. Mereka kebanyakan adalah tokoh-tokoh silat kelas satu. Mari engkau ikut aku masuk. Apabila engkau mendengarkan pembicaraan mereka, tentu engkau bakal mengetahui sendiri peristiwa itu.”

Sasterawan muda itu menjadi guru ilmu sastera pada keluarga Nyo Jong-ho, ayah si nona baju hijau. Dia bernama Siau Lo-seng. Nyo Jong-ho khusus mengundang guru itu untuk mengajar ilmu sastera kepada putera tunggalnya Nyo Ih, anak lelaki tadi.

Selekas melangkah masuk ke dalam ruang besar, ternyata di situ sudah penuh dengan tetamu-tetamu yang tak kurang dari duapuluh orang jumlahnya. Mereka duduk di kursi yang telah dijajar-jajar menurut urutan tingkat kedudukan. Sedangkan pada deret atas, terdapat duabelas kursi thay-su-ih atau kursi kehormatan. Tetapi saat itu yang isi baru lima kursi.

Kelima tetamu yang duduk pada kursi kehormatan itu, yang tiga orang lelaki pertengahan umur. Bertubuh kekar, alis lebat, matanya bundar besar. Masing-masing memanggul pedang di bahunya. Sedang yang seorang lagi, seorang tua berambut putih, bertubuh kurus kering. Sepasang matanya meram-meram melek seperti ayam yang tengah tidur.

Di atas kursi pimpinan, duduklah tuan rumah sendiri Nyo Jong-ho bergelar It-pit-ci-thian atau Pena Penunjuk Langit. Seorang tokoh yang berumur limapuluhan tahun, mata tajam, tubuh tinggi besar. Jenggotnya menjulai ke dada, menambah kewibawaan wajahnya. Dia mengenakan pakaian warna biru.

Melihat puterinya masuk ke dalam ruang dengan bapak guru Siau, Nyo Jong-ho memberi anggukan kepala. Kemudian ia berkata kepada tetamu orangtua bertubuh kurus tadi.

“Saudara Han, hanya dalam satu tahun Kim-coa Long-kun itu muncul dalam dunia persilatan, tetapi kaum persilatan sudah merasa gentar dengan sepak terjangnya yang ganas. Kemunculannya seolah-olah akan mengaduk lagi suasana dunia persilatan yang sudah tenang ”

Saat itu sasterawan muda Siau Lo-seng sedang berjalan di samping para tokoh-tokoh silat. Sampai setelah ia duduk di samping si nona yang mengambil tempat duduk di deret kursi thay-su-ih, ternyata tubuh guru itu masih bergemetaran.

Melihat wajah guru Siau pucat sekali, bertanyalah si nona: “Siau sianseng, apakah engkau kedinginan? Kalau badanmu tak enak, aku akan suruh orang memanggilkan sinshe. Sekarang baiklah engkau beristirahat di ruang dalam saja.”

Siau sianseng, berarti guru Siau. Sebutan yang diberikan oleh putera puteri keluarga Nyo kepada Siau Lo- seng.

“Ai, nona Nyo, terima kasih,” kata guru muda itu, “disini lebih hangat dari di luar. Sebentar lagi aku tentu baik.”

Aneh, begitu dia mengatakan tentu baik, tubuhnyapun tidak lagi gemetar. Bahkan wajahnya yang pucat lesi, pun mulai bertebar merah.

Sekalian tetamu melihat keadaan guru muda yang begitu lemah, mereka tak menghiraukan lagi.

Salah seorang dari ketiga tetamu yang duduk di kursi thay-su-ih, tertawa dingin. serunya: “Nyo tayhiap, ucapanmu itu keliwat memuji orang. Hanya seorang Kim-coa Long-kun saja, masak engkau anggap begitu hebat sehingga mampu mengaduk ketenangan dunia persilatan? Hm, bukan aku Gak Kiong hendak menyombongkan diri. Tetapi apabila Kim-coa Long-kun berjumpa dengan kami bertiga saudara Kang-lam Sam-kiam, tentu dia baru tahu rasa!”

Kata-kata besar itu kalau lain orang yang mengucapkan tentu akan ditertawakan orang. Tetapi bicara itu adalah salah seorang dari Kang-lam Sam-kiam atau Tiga pedang dari Kang-lam yang selama duapuluh tahun namanya menggetarkan dunia persilatan. Dia bernama Gak Kiong bergelar Toan-ciok-kiam atau Pedang Pembelah Batu.

Kang-lam Sam-kiam terdiri dari tiga tokoh pedang yakni Than-lui-kiam atau Pedang Siput Rawa Cu Kong-ti, Ceng-kong-kiam atau Pedang Baja Hijau, Bok Seng-bu dan Pedang Pembelah Batu Gak Kiong.

“Ah, memang saudara Gak bertiga, amat cemerlang dalam angkasa persilatan. Jarang orang yang mampu meloloskan diri dari Kang-lam Sam-kiam. Tetapi......” tiba-tiba tuan rumah, Nyo Jong-ho hentikan kata- katanya.

“…… sepak terjang Kim-coa Long-kun itu memang luar biasa, tindakannya ganas. Selama setahun ini berturut-turut dia telah membunuh tokoh-tokoh ternama antara lain Hun-liong Jit-gan (Tujuh Belibis dari Hun-liong), Kwan-gwa Su-hiong (Empat Jago dari Kwan-gwa), Hoa-san Ngo-hou (Lima  Harimau  Hoa- san). Bila kematian mereka itu berturut-turut dibunuh Kim-coa Long-kun, itu masih tak mengherankan.

Tetapi yang mengejutkan, mereka serempak pada waktu yang sama, mati di bawah Pedang Ular Emas, dan lagi kabarnya ”

Nyo Jong-ho mengangkat muka memandang tetamunya, si orang tua yang matanya meram-meram melek itu. Tampak orangtua itu menyalangkan matanya lebar-lebar. Sinar matanya yang berkilat-kilat tajam mencurah kepada ketiga persaudaraan Kang-lam Sam-kiam, lalu berkata dengan nada dingin:

“Ketua perguruan Sin-kun-bun, Pembelah laut Gan Ti-kiat yang bersahabat baik dengan aku, pada setengah bulan yang lalu telah mati dibunuh Kim-coa Long-kun. Tigabelas jiwa keluarganya, satupun tak dibiarkan hidup ”

Mendengar itu berobahlah seketika wajah ketiga Kang-lam Sam-kiam itu. Kiranya orang tua itu adalah ketua dari perguruan Thay-kek-bun yang termasyhur. Namanya Han Ceng-jiang. Dia dan Pembelah laut Gan Ti- kiat, dianggap sebagai dua tokoh tua dalam dunia persilatan. Yang satu ahli pukulan Thay-kek-ciang dan yang satu ahli ilmu pukulan Sin-kun. Setiap orang persilatan tahu siapa kedua jago tua itu.

Mendengar bahwa Gan Ti-kiat beserta ketigabelas keluarganya dibasmi habis-habisan oleh Kim-coa Long- kun, ketiga jago Kang-lam Sam-kiam itu terkejut bukan alang kepalang.

Nyo Jong-ho pun berkata pula dengan nada serius: “Dahulu atas budi kecintaan dari segenap sahabat- sahabat persilatan, aku telah diangkat sebagai pemimpin persilatan baik dari golongan Putih maupun dari golongan Hitam. Tujuh tahun yang lalu, karena sudah merasa tua, aku pun mengundurkan diri hingga sekarang. Tetapi walaupun tak aktif dalam dunia persilatan, aku mendapat laporan dari muridku tentang keadaan dunia persilatan. Tokoh-tokoh baru yang muncul hanya sedikit sekali, boleh dikata dapat dihitung dengan jari. Tetapi kemunculan Kim-coa Long-kun itu sungguh mengejutkan sekali. Sama sekali orang tak dapat mengetahui asal usulnya bahkan namanyapun tiada orang yang tahu ”

Nyo Jong-ho berhenti sejenak untuk menghela napas. Kemudian melanjutkan pula.

“Yang aneh lagi, kabarnya Kim-coa Long-kun itu seorang pembunuh bayaran. Dia datang dan lenyap  seperti bayangan, sepak terjangnya ganas luar biasa. Mengingat peristiwa itu amat gawat, maka akupun terpaksa bergerak lagi. Kukirim surat undangan kepada sahabat-sahabat persilatan untuk datang kemari merundingkan persoalan itu. Mengingat jaraknya amat jauh, kemungkinan wakil perguruan Tong dari Su- jwan, baru besok pagi bisa datang. Oleh karena belum lengkap, baiklah kita tunggu saja sampai besok pagi. Sekarang silahkan saudara Han, saudara Cu bertiga beristirahat dalam ruang yang telah kami sediakan ”

Baru tuan rumah mengucap begitu, tiba-tiba seorang penjaga pintu masuk dan memberi laporan: “Nyo loya, Tong lihiap bersama Hong-hu tayhiap telah datang.”

Mendengar itu Nyo Jong-ho dan sekalian tetamu segera memandang keluar. Aneh, jika tuan rumah dan tokoh-tokoh terkemuka itu terkejut mendengar kedatangan kedua suami isteri dari Su-jwan, tidaklah demikian dengan delapan tetamu yang duduk pada deretan tempat duduk di bagian bawah, tidak ikut terkejut melainkan masih duduk seperti patung.

Nyo Jong-ho dan tokoh-tokoh terkemuka itu tak sempat memperhatikan keadaan mereka.

Sesaat kemudian dari luar terdengar suara seorang wanita melengking tawa: “Hai, Nyo Jong-ho, mengapa engkau tak keluar menyambut kedatangan kami berdua suami isteri ”

Seiring dengan lengking suara si wanita yang masih berkumandang itu, seorang pria dan seorang wanita pun sudah melangkah masuk ke dalam ruang besar. Yang wanita, berpakaian indah gemilang. Yang pria pun mentereng sekali. Usia mereka baru tigapuluhan tahun. Kedua orang itu adalah sepasang suami isteri yang memimpin perguruan Tong-ke-bun di Su-jwan. Namanya amat termasyhur di dunia persilatan. Yang perempuan bernama Tong Ki, digelari oleh kaum persilatan sebagai Cek-jiu-tok-ciam atau Tangan Ganas Jarum Beracun. Sedang suaminya Hong-hu Hoa gelar Hian-giok-siau atau Seruling Kumala.

Nyo Jong-ho serentak berbangkit dan tertawa: “Kalian berdua suami isteri, benar-benar seperti naga sakti. Kepalanya tampak tetapi ekornya tak kelihatan. Bagaimana aku sempat untuk menyambut? Mari, silahkan masuk dan maafkan keterlambatanku menyambut!”

Tangan Ganas Jarum Beracun Tong Ki serta suaminya Seruling Kumala Hong-hu Hoa tersenyum. Dari deretan kursi yang keempat, mereka naik keatas deretan kursi yang muka.

Sekonyong-konyong Tangan Ganas Jarum Beracun Tong Ki melengking kaget......

Dengan tubuh agak gemetar ia berputar tubuh menghampiri ke muka seorang tetamu, mengamatinya sejenak lalu tiba-tiba mundur tiga langkah, dengan tangan kiri ia menampar pelahan.

“Plak ,” angin tamparan itu membuat tetamu yang diam saja itu rubuh seperti batang pisang ditabas.

Sudah tentu peristiwa itu mengejutkan sekalian orang yang hadir. Mereka saling berpandangan dengan heran.

Nyo Jong-ho, ketua Thay-kek-bun Han Ceng-jiang dan ketiga jago pedang Kang-lam serempak berbangkit lalu cepat-cepat menghampiri.

Seruling Kumala yang bermata tajam segera mengetahui bahwa ketujuh tetamu yang duduk pada deretan dengan orang yang rubuh tadi pun sudah tak bernyawa lagi.

Beberapa tokoh ko-jiu (sakti) yang duduk di sebelah ketujuh orang itu, ulurkan tangan mendorong. “Bluk, bluk. ” ketujuh orang itupun berhamburan rubuh ke lantai.

“Hai, mereka sudah mati!” teriak seorang tetamu bertubuh kekar yang merabah hidung dan dada salah seorang korban itu.

Nyo Jong-ho serentak berobah wajahnya. Dengan suara serak ia bertanya kepada Tangan Ganas Jarum Beracun Tong Ki: “Tong lihiap, bagaimanakah sesungguhnya yang telah terjadi?”

Peristiwa menggemparkan itu memang Tong Ki yang lebih dahulu mengetahui. Itulah sebabnya maka tuan rumah mengajukan pertanyaan kepadanya.

Pertanyaan tuan rumah itu segera disusul dengan pandang mata dari segenap tetamu yang mencurah ke arah jago wanita yang berwajah cantik. Bahkan ada sementara tetamu yang menjatuhkan prasangka bahwa peristiwa itu tentu Tong Ki yang melakukan.

Memang Tangan Ganas Jarum Beracun Tong Ki memiliki kepandaian melepas senjata-rahasia yang tiada lawannya dalam dunia persilatan. Tanpa mengeluarkan suara dan tanpa diketahui, dia dapat membunuh orang dengan senjata rahasia. Jarumnya yang beracun termasyhur sebagai jarum maut.

Melihat dirinya dilihat begitu rupa oleh sekalian orang, marahlah Tangan Ganas Jarum Beracun Tong Ki. Ia kerutkan alis dan mendengus geram.

“Nyo tayhiap,” serunya, “kalian sekian banyak orang mengapa tak ada seorangpun yang tahu bahwa ada delapan orang yang telah dicelakai musuh. Malah kalian bertanya kepadaku tentang hal itu. Adakah kalian mendakwa aku yang membunuhnya?”

Kata-kata itu diucapkan dengan nada geram dan menyindir.

Saat itu Nyo Cu-ing pun menghampiri ke samping ayahnya. Mendengar kata-kata itu, iapun marah, serunya: “Diketahuinya kedelapan orang itu mati, adalah setelah kalian berdua masuk. Sudah tentu kalian berdua suami isteri tak lepas dari prasangka orang!”

01.02. Siapa Pembunuh Gelap?

Ucapan puteri dari Nyo Jong-ho itupun membangkitkan kemarahan sekalian orang terhadap Tong Ki dan suaminya. Sudah tentu Tangan Ganas Jarum Beracun Tong Ki makin murka. Ia membentak: “Kedelapan orang itu memang aku yang membunuh, lalu kalian mau apa?”

Mendengar itu Nyo Cu-ing pun marah juga, serunya: “Bunuh jiwa harus ganti jiwa. Tanpa sebab apa-apa engkau membunuh mereka begitu kejam. Kalau tak dapat memberi alasan yang masuk akal, jangan harap kalian berdua suami isteri dapat tinggalkan tempat ini dengan selamat!”

Karena marahnya Tong Ki tertawa mengikik. Nadanya macam hantu mengukuk di tengah malam, serunya: “Engkoh Hoa, mari kita pergi. Coba lihat saja mereka mampu berbuat apa terhadap kita!”

Suasanapun menjadi tegang sekali. Tong Ki mengajak suaminya keluar dari ruang itu. Sudah tentu sekalian tokoh terutama si nona baju hijau Cu-ing takkan tinggal diam.

Apabila sekalian orang begitu tegang, tidaklah seperti guru Siau. Dia masih duduk terlongong-longong, entah sedang memikirkan apa. Oleh karena seri wajahnya begitu kosong, sukarlah orang untuk mengetahui apakah dia saat itu sedang dicengkam ketakutan atau kemarahan......

Begitu Tong Ki ayunkan langkah maka Cu-ing pun cepat melesat menghadangnya, Tong Ki menampar dengan tangan kiri.

Melihat tamparan itu mengandung tenaga dalam yang tersembunyi, terkejutlah Cu-ing. Diapun puteri dari Pena Penunjuk Langit Nyo Jong-ho yang pernah menjadi pemimpin dunia persilatan. Sudah tentu nona itupun memiliki kepandaian yang hebat.

Setelah agak mengendapkan tubuh sedikit ke bawah, Cu-ing terus hendak menyongsong dengan tangan kanannya......

“Ing, berhenti!” bentak Nyo Jong-ho seraya kebutkan lengan jubahnya yang kiri untuk merintangi tangan puterinya. Kemudian jago tua itu berpaling: “Tong lihiap, ini suatu kesalahan paham. Harap maafkan kelancangan puteriku tadi ”

Kemudian ia menyuruh Cu-ing meminta maaf kepada wanita itu. Sesungguhnya Cu-ing masih penasaran tetapi ia tak berani membantah perintah ayahnya.

“Saudara Nyo, sudahlah, tak perlu minta maaf,” melihat itu Seruling Kumala Hong-hu Hoa cepat menyelutuk, “semua ini hanya salah paham. Ya, kejadian ini memang terlalu mendadak sekali sehingga kami berduapun tak tahu apa-apa.”

Mendengar itu, Tangan Ganas Jarum Beracun Tong Ki deliki mata dan hendak membantah suaminya tetapi Seruling Kumala Hong-hu Hoa membisikinya: “Ki-moay, menilik gelagatnya, pembunuh itu memang sengaja hendak memindahkan kedosaannya kepada kita. Dia jelas hendak mengadu domba. Maka yang penting  kita harus memeriksa dulu bagaimana keadaan luka korban-korban itu.”

Tetapi rupanya wanita bengis itu masih belum lenyap kemarahannya. Ia mendengus: “Apakah hubungannya soal itu dengan kita?”

“Tong soso, maafkan kekurang ajaranku tadi,” tiba-tiba Cu-ing meminta maaf, memberi hormat lalu mundur ke samping.

Nyo Jong-ho menghela napas, ujarnya: “Sungguh tak kira kalau si pembunuh berada di depan hidung dan sekali gus telah membunuh delapan ”

Tiba-tiba tuan rumah itu hentikan kata-katanya. Rupanya ia menyadari telah kelepasan omong. Dia bekas pemimpin dunia persilatan golongan Putih dan Hitam dari tujuh wilayah. Namanya sangat termasyhur dan terhormat. Apabila ia melanjutkan kata-katanya, berarti ia menampar mukanya sendiri.

Thay-kek-ciang Han Ceng-jiang menghiburnya: “Ah, tak perlu Nyo bengcu menyesal. Rasanya setiap saudara yang berada disini juga mempunyai perasaan seperti bengcu.”

Setelah Cu-ing meminta maaf, kemarahan Tong Ki pun sudah reda. Saat itu ia mulai memeriksa mayat seorang korban. Ia mendesis kaget.

Kiranya mayat itu kecuali tubuhnya kaku, wajahnya masih tetap seperti biasa. Dan tubuhnya tak terdapat setitik lukapun juga. Demikian dengan lain-lain mayat. Tetapi Tong Ki seorang ahli senjata rahasia. Cepat ia dapat mengetahui bahwa kematian korban-korban itu disebabkan karena terkena senjata rahasia yang menyusup tepat pada jalan darah. Tetapi saat itu ia belum dapat menemukan senjata rahasia yang berada dalam tubuh korban. Suatu hal yang membuatnya heran. Ia kerutkan dahi merenung.

Beberapa saat kemudian baru ia berkata: “Nyo bengcu, tolong suruh orang untuk memeriksa kepala setiap korban itu.”

Serempak lima orang segera menyibak rambut kepala beberapa korban dan memeriksa jalan darah Pek- hui-hiat di ubun-ubun.

“Hai...... benar! Memang ubun-ubunnya terkena sebatang senjata rahasia!” seru mereka terkejut. Ketika rambut di bagian ubun-ubun kepala disibak, tampaklah sebuah titik yang bersinar emas.

“Jangan dicabut!” Tong Ki cepat mencegah ketika salah seorang hendak mencabut benda bersinar emas  itu. Ia menghampiri dan memeriksa benda itu. Dengan kuku jarinya ia mengungkit benda itu keluar.

“Ha, si Pendekar Ular Emas yang membuat gara-gara!” serunya.

Sekalian orang memandang ke arah benda berwarna emas itu. Panjangnya hanya satu dim lebih sedikit, bulat berkeluk-keluk seperti ular.

Jarum Ular Emas!

Setelah beberapa saat Tangan Ganas Jarum Beracun Tong Ki memperhatikan jarum Ular Emas itu, ia menghela napas: “Perguruan keluarga Tong di Su-jwan sudah berpuluh tahun menjagoi dunia persilatan dalam ilmu menggunakan senjata rahasia. Tetapi jarum Ular Emas ini luar biasa sekali buatannya. Terbuat dari bahan emas murni dan indah sekali bentuknya!”

Saat itu ketiga jago pedang dari Kang-lam pun menjemput sebatang jarum Ular Emas dari kepala seorang mayat.

Menyaksikan peristiwa itu, kejut Nyo Jong-ho tak terlukiskan. Dia segera teringat akan suatu peristiwa ngeri yang telah lampau. Tetapi ia samar-samar ingat peristiwa itu karena tak begitu berkesan dalam hatinya.

Beberapa saat lamanya tuan rumah itu tegak terlongong-longong seperti patung.

“Nyo bengcu,” tiba-tiba Tangan Ganas Jarum Beracun Tong Ki berseru kepadanya, “dapatkah engkau menuturkan bagaimana peristiwa ini sampai terjadi?”

Thay-kek-ciang Han Ceng-jiang menghela napas: “Harap Tong lihiap jangan menanyakan soal itu. Jika engkau tak datang dan mengetahui hal itu, mungkin sampai saat ini kami yang hadir disini tak mengetahui bahwa kedelapan orang itu sudah mati.”

“Dari keadaan para korban itu,” kata Tangan Ganas Jarum Beracun Tong Ki, “kematian mereka, terjadi paling lama setengah jam yang lalu. Dengan begitu terang kalau pembunuhnya itu tentu belum dapat melarikan diri.”

Kemudian jago wanita itu berpaling ke arah tuan rumah: “Nyo bengcu, cobalah engkau periksa, apakah ada salah seorang tetamu yang telah meninggalkan ruangan ini?”

Mendengar itu Nyo Jong-ho segera keluarkan mata memandang sekalian tetamu. “Tidak ada yang pergi. Semua masih lengkap,” serunya sesaat kemudian.

Jago wanita itu anggukkan kepala, ujarnya: “Menurut perhitunganku, pembunuhnya kalau tidak menyelundup di antara yang hadir disini untuk melepaskan senjata rahasia ”

Berkata sampai disini tiba-tiba wajah Tong Ki berobah cerah, serunya pula: “Nyo bengcu, kapankah kalian memasuki ruangan ini?”

“Dua jam yang lalu,” sahut Nyo bengcu atau ketua Nyo. Tiba-tiba ia teringat akan kata-kata jago wanita itu bahwa para korban itu telah mati setengah jam yang lalu. Diam-diam ia terkejut.

“Setelah kalian masuk,” tanya pendekar wanita itu pula, “sebelum kami berdua suami isteri datang, siapakah yang masuk ke dalam ruang ini ”

Dalam berkata-kata itu Tong Ki memandang kepada sekalian tetamu. Tiba-tiba pandang matanya tertumbuk pada sasterawan muda yang menjadi guru di gedung keluarga Nyo. Seketika ia berseru: “Hai, siapakah orang itu?” Mendengar itu Cu-ing cepat berpaling. Ketika dilihatnya guru Siau duduk seperti patung, ia terkejut sekali karena mengira guru itupun tentu terkena jarum Ular Emas.

“Siau sianseng, Siau sianseng ” serunya cemas.

“Ah,” Siau Lo-seng mendesah seperti orang terbangun dari mimpi, “sungguh membuat orang mati kaget. Delapan orang yang sehat tak kurang suatu apa, dalam sekejap saja sudah jadi mayat ”

Habis berkata guru muda itu gemetar tubuhnya dan matanya memancarkan rasa ketakutan.

Melihat itu Nyo Jong-ho kerutkan alis, menghela napas kecil: “Ah, dia guru ilmu sastera dari puteraku. Nyalinya kecil seperti tikus. Seorang sasterawan yang lemah dan tak kuat mengangkat sebatang pedang saja.”

“Lalu siapa yang masuk paling akhir?” tanya jago wanita Tong Ki pula. “Guru sastera itu,” kata Nyo Jong-ho, “bersama anakku Cu-ing.”

Mendengar keterangan itu seketika berobahlah wajah Tong Ki. Cepat ia melesat ketempat sasterawan muda itu.

Melihat itu Cu-ing cepat berseru gopoh: “Tong soso, dia dia guruku sastera.”

Tangan Ganas Tong Ki tertawa dingin: “Jangan kuatir, tak nanti aku melukainya!”

Tetapi walaupun mulut mengatakan begitu, kedua tangan Tong Ki yang putih sudah menjulur untuk mencengkeram pergelangan tangan guru muda Siau. Sedang jari tangan kirinya secepat kilat menusuk tenggorokan guru itu.

“Celaka!” Nyo Jong-ho terkejut dan berseru tertahan. Ia tak menduga kalau Tong Ki akan bertindak begitu, maka tak keburu mencegahnya lagi.

Sepintas pandang, gerakan Tong Ki itu luar biasa ganas, seperti menghadapi lawan yang dibencinya. Ganas dan dahsyat.

Tetapi sebenarnya serangan itu hanya untuk menguji saja, adakah guru itu seorang yang berisi atau kosong. Jika guru muda itu memang mengerti silat, dia tentu akan menghindari serangan maut pada tenggorokannya. Atau paling tidak, perobahan mukanya tentu dapat diketahui.

Pada saat ujung jari Tong Ki hampir menyentuh tenggorokan ternyata guru itu hanya terlogong-logong memandang penyerangnya saja.

Sudah tentu Tong Ki terkejut dan cepat menggelincirkan ujung jarinya ke leher.

“Aduh......,” guru Siau menjerit kaget dan tubuhnyapun rubuh ke belakang. Untunglah Tong Ki cepat menyambar tangan kiri guru itu terus ditariknya supaya jangan jatuh.

Guru Siau itu benar-benar tak bertenaga. Begitu ditarik, tubuhnyapun ikut terangkat ke muka terus hendak menjatuhi dada Tong Ki.

Tong Ki terkejut. Karena muka guru itu hampir rebah pada buah dadanya. Cepat ia lepaskan cekalan tangannya dan meluncur ke belakang.

“Bluk ,” karena menubruk tempat kosong, guru Siau pun rubuh ke tanah.

Melihat itu, Cu-ing buru-buru menghampiri dan menolongnya bangun. Tampak wajah guru itu pucat lesi dan tubuhnya gemetar. Dia terlongong-longong memandang Cu-ing.

Nona itu marah. Dipandangnya Tong Ki dengan geram lalu berseru dingin: “Seorang pendekar wanita yang termasyhur, masakan bertindak begitu keliwatan terhadap seorang sasterawan yang lemah……”

“Ing, bawalah Siau sianseng masuk,” cepat ayahnya membentak.

Sebenarnya Cu-ing hendak menumpahkan kata-kata yang pedas terhadap Tong Ki tetapi karena dibentak ayahnya, terpaksa ia hentikan kata-katanya, lalu berbisik kepada guru Siau.

“Siau sianseng, jika engkau belajar silat, tentu takkan dihina orang sampai begitu. Mari, pembicaraan dari orang-orang persilatan disini, tak selayaknya engkau ikut mendengarkan,” kata Cu-ing. Mendengar itu Siau Lo-seng berpaling memandang Tong Ki lalu memberi hormat kepada Nyo Jong-ho: “Tuan Nyo, maaf karena aku telah mengganggu pembicaraan para orang gagah di sini.”

Habis berkata ia terus melangkah keluar.

Saat itu tampak Tong Ki juga agak malu. Wajahnya merah dan tegak termangu.

Nyo Jong-ho memberi hormat kepada jago wanita itu serunya: “Maafkan kalau kedatangan Tong lihiap berdua ke rumahku telah menderita beberapa peristiwa yang menyinggung perasaan. Besok aku tentu akan menghaturkan maaf sendiri. Dan saat ini sudah malam, harap lihiap berdua suka beristirahat dalam pondokku.”

Tangan Ganas Tong Ki menunduk, merenung lalu berkata seorang diri: “Aku tak percaya dalam dunia persilatan terdapat ilmu melepas senjata rahasia yang sedemikian luar biasa itu. Kurasa tentu dia, tetapi ah, dia sama sekali tak mengerti ilmu silat ”

Thay-kek-ciang Han Ceng-jiang menghela napas: “Kalau menilik gelagatnya, saat ini Pendekar Ular Emas itu sudah berada di antara kita. Dengan membunuh delapan penjaga, mungkin dia memang sengaja datang kemari hendak memusuhi kita.”

Pedang Siput Rawa Cu Kong-ti dari tiga serangkai jago pedang Kang-lam, tertawa dingin: “Kami kuatir dia tak berani unjuk muka. Kalau Pendekar Ular Emas itu berani unjuk diri, kami  bertiga Kang-lam Sam-kiam lah yang pertama-tama akan menghadapinya.”

Hong-hu Hoa, suami dari Tangan Ganas Jarum Beracun Tong Ki, seorang pendiam. Dia tahu dan ikut memikirkan pula peristiwa aneh yang terjadi dalam ruangan itu tetapi karena wataknya diam maka diapun tak mau ikut banyak bicara.

Hanya ketika mendengar pernyataan Pedang Siput Rawa Cu Kong-ti yang garang tadi, ia tersenyum, serunya: “Saudara Cu, sifat gagah perwira dan berbudi itu memang baik. Tetapi ”

Tiba-tiba isterinya menukas dengan bisik-bisik: “Engko Hoa, seharusnya engkau membantu isterimu untuk menghindari kesulitan di sini.”

Nyo Jong-ho pun tahu akan kecerdasan Seruling Kumala itu. Maka iapun segera meminta: “Saudara Hong- hu, bagaimanakah pendapat saudara tentang peristiwa aneh yang terjadi disini ini?”

Tampak wajah Hong-hu hoa berobah serius sahutnya: “Apa yang dikatakan isteriku tadi memang benar. Pendekar Ular Emas itu memang berada di antara kita disini. Tetapi setelah dilakukan pertanyaan dan pemeriksaan, jumlah orang yang patut dicurigai menjadi lebih kecil. Karena betapapun saktinya seorang tokoh, dalam ilmu melepas senjata rahasia pun tak mungkin dapat melepas senjata rahasia jarum Ular Emas itu tanpa diketahui orang sama sekali. Senjata rahasia itu tentu mengeluarkan suara atau cahaya. Dan setiap suara atau cahaya yang aneh, tentu tak mungkin terlepas dari pandang Nyo bengcu. Maka kesimpulannya, pembunuh itu tentu menggunakan ilmu menjentik dengan jari untuk melentikkan senjata jarum rahasia itu ke kepala korbannya ”

Mendengar uraian itu diam-diam Nyo Jong-ho mengagumi. Ia kerutkan dahi dan bertanya pula: “Tetapi saudara Hong-hu ?”

Hong-hu Hoa cepat menukas dengan tertawa pelahan: “Nyo bengcu, sebenarnya aku sudah mempunyai rencana. Tak sampai besok pagi tentu sudah dapat kita ketahui siapa biangkeladinya......” tiba-tiba ia membisiki ke dekat telinga tuan rumah.

Sesaat kemudian Nyo Jong-ho lalu berseru kepada beberapa penjaga: “Kalian boleh mundur dan bawalah ke delapan jarum Ular Emas itu kemari.”

Rombongan pengawal gedung kediaman keluarga Nyo itu segera melakukan perintah. Mereka segera keluar.

Dalam ruangan kini tinggal tujuh orang tokoh yakni ketiga jago pedang Kang-lam, Thay-kek-ciang Han Ceng-jiang, tuan rumah sendiri, jago wanita Tong Ki dan Hong-hu Hoa.

Setelah bicara dengan pelahan-lahan mereka bertujuh pun masuk ke dalam, sedang kedelapan batang jarum Ular Emas tadi, diletakkan di atas meja di ruang pertemuan tadi.

Ruang pertemuan yang beberapa saat tadi penuh dengan tetamu dan gempar dengan peristiwa terbunuhnya delapan orang, saat itupun sepi. Nyo Jong-ho menyetujui rencana Hong-hu Hoa. Ia meninggalkan delapan batang jarum Ular Emas itu di atas meja dan mengajak para tetamunya masuk ke dalam.

Rupanya Hong-hu Hoa hendak menjebak si pembunuh. Apabila pembunuh itu berani mengambil kembali jarumnya, mereka segera akan menyergap.

Malampun makin kelam.

01.03. Kim-coa Long-kun

Kentungan tengah malam telah berbunyi Kota Lok-yang sunyi senyap. Kota yang pada siang hari sibuk bermandikan keramaian dan perdagangan, saat itu tidur nyenyak.

Demikian gedung kediaman keluarga Nyo yang termasuk gedung kelas mewah. Sunyi lelap.

Tiba-tiba dari halaman sebuah bangunan yang terletak di belakang gedung besar, dan dari wuwungan gedung besar, melambung dua-tiga sosok bayangan.

Bangunan di belakang gedung besar itu sebuah villa yang diberi nama villa Merah Delima. Menjadi tempat tinggal Nyo Cu-ing, puteri kesayangan dari Nyo Jong-ho. Tetapi sejak kedatangan guru Siau pada tiga bulan yang lalu, Cu-ing pindah dan villa itu dipakai oleh guru Siau.

Lampu di kamar tulis villa Merah Delima saat itu masih menyala. Dan terdengar suara keras dari guru yang masih membaca buku.

Di balik pohon yang tumbuh di luar villa itu terdengar sebuah helaan napas. Lalu terdengar nada suara tuan rumah berkata seorang diri: “Sudah berpuluh-puluh tahun aku berkecimpung dalam dunia persilatan. Apakah kali ini aku salah menduga orang? Ah…… dia ternyata memang seorang pelajar yang miskin.”

Habis berkata Nyo Jong-ho terus melangkah ke lorong serambi. Tiba-tiba dari atas wuwungan gedung melayang turun sesosok tubuh.

Nyo Jong-ho tidak terkejut bahkan berseru kecewa: “Ai, saudara Gak, malam ini hanya merepotkan kalian saja.”

Sosok tubuh yang melayang turun dari wuwungan rumah besar itu ternyata Gak Kiong, salah seorang dari tiga pendekar pedang Kang-lam.

“Nyo bengcu, apakah ada gerak gerik guru Siau yang mencurigakan?” bisik Gak Kiong.

Nyo Jong-ho gelengkan kepala: “Saudara Gak, tak perlu kita menyelidikinya lagi. Dia hanya, seorang pelajar yang giat belajar untuk mengangkat nama. Malam begini larut dan dingin, dia masih saja membaca buku. Aku akan ke ruang depan menemui Hong-hu tayhiap suami isteri.”

Gak Kiong kerutkan alis: “Kalau begitu, kemana kita harus menyelidiki jejak Pendekar Ular Emas itu?”

Kim-coa long-kun itu memang benar-benar seperti hantu yang mengganas di dunia persilatan. Terpaksa kita harus menunggu sampai dia datang mencari kita ”

Jago tua itu menghela napas pula. Suatu helaan napas dari rasa kecewa dan malu. Ya, betapa tidak. Dia adalah seorang jago kelas satu yang namanya termasyhur dalam dunia persilatan. Dia adalah pemimpin atau bengcu dari dunia persilatan pada tujuh tahun yang lalu. Tetapi peristiwa yang dihadapi saat itu benar- benar mencontreng arang di mukanya. Delapan orang telah mati terbunuh di depan matanya tanpa ia mengetahui siapa pembunuhnya. Dan setelah tahu yang membunuh itu Kim-coa Long-kun atau Pendekar Ular Emas, ia pun tak berdaya. Ah, jangankan menangkap, sedang melihat orangnya saja ia tak dapat.

Tidak demikian dengan Gak Kiong yang bergelar Pedang Pembelah Batu itu. Anggauta dari Tiga Pendekar pedang Kang-lam itu tertawa hina.

“Dahulu orang menyohorkan Nyo Jong-ho itu seorang tokoh yang gagah perkasa. Tetapi apa yang kulihat saat ini, ternyata dia hanya bernama kosong. Ha, ha, mungkin dia sudah tua. Sudah merasa bahwa jaman keemasannya sudah lewat. Dan dunia persilatan dewasa ini adalah menjadi milik angkatan kita,” pikir Gak Kiong.

Nyo Jong-ho memandang jago Kang-lam itu. Rupanya ia dapat membaca isi hati orang. Ia tidak marah melainkan tersenyum. “Apabila murid kesayanganku hari ini bersama gurunya tiba, tentulah mereka dapat menyelidiki peristiwa ini,” kata Nyo Jong-ho.

Gak Kiong tertawa dingin, tanyanya: “Nyo bengcu, ucapanmu itu sungguh membuat orang sukar mengerti. Siapakah murid bengcu itu? Dan mengapa dia mempunyai suhu lagi? Siapakah suhunya?”

“Saudara Gak, muridku itu bernama Li Giok-hou……”

Mendengar itu seketika berobahlah wajah Gak Kiong, tukasnya: “Pedang Beracun Pembasmi Iblis Li Giok- hou itu? Bukankah dia itu murid Go-bi Sam-hiap?”

Nyo Jong-ho tertawa: “Benar, memang muridku Giok-hou itu mempunyai rejeki besar sehingga Go-bi Sam- hiap sampai tertarik dan menerimanya sebagai murid. Memang kali ini akupun mengundang Tiga Pendekar Go-bi yang sudah lebih dari duapuluh tahun tak pernah keluar, supaya turun gunung.”

Go-bi Sam-hiap atau Tiga Pendekar gunung Go-bi memang memiliki nama yang cemerlang di dunia persilatan. Dan Li Giok-hou yang bergelar Pedang Beracun Pembasmi Iblis itu, dianggap oleh kaum persilatan sebagai tokoh muda yang akan menjadi tiang utama dari dunia persilatan.

Tahun yang lalu ketiga jago pedang dari Kang-lam itu pernah menerima bantuan Li Giok-hou. Maka mendengar bahwa pemuda itu ternyata murid dari Nyo Jong-ho. Tersipu-sipulah Gak Kiong menjurah memberi hormat.

“Nyo bengcu, aku mempunyai mata tetapi tak dapat melihat gunung Thay-san dihadapanku. Harap suka maafkan,” serunya.

Nyo Jong-ho hanya ganda tertawa, katanya: “Saudara Gak, harap suruh kedua saudaramu itu hentikan penyelidikan. Aku hendak kembali ke rumah besar. Besok kita berunding lagi.”

“Baiklah, Nyo-heng,” kata Gak Kiong, “harap bengcu beristirahat saja. Akulah yang akan ke gedung besar untuk sekalian memberitahu kepada saudara Hong-hu suami isteri.”

Habis berkata Gak Kiong memberi hormat lalu melambung ke atas wuwungan rumah lagi. Memang jago pedang dari Kang-lam itu memiliki ilmu ginkang atau meringan tubuh yang hebat sekali. Cepat sekali dia sudah melalui dua buah bangunan.

Tetapi pada saat dia hendak melintasi bangunan yang ketiga, tiba-tiba ia rasakan tengkuknya dingin seperti dijamah tangan orang.

Sebelum  kakinya menginjak genteng, ia empos semangat  dan meluncur ke samping. “Tring ” tahu-tahu

ia sudah mencabut pedang dan menabas ke belakang dengan jurus Hong-biau-lok-hoa atau angin meniup jatuh bunga.

Jurus itu merupakan ilmu simpanannya. Seiring dengan tabasan pedang, orangnya pun ikut berputar. “Wut, wut ”

Ah, hanya angin kosong yang ditabasnya. Tiada barang seorangpun yang berada di belakangnya. Gak Kiong benar-benar terlongong-longong. Jelas ia merasa tengkuknya telah dipegang orang, mengapa sama sekali tak ada orangnya!

“Ah, mungkin perasaanku terlalu tegang, sehingga mengada-ada. Kalau memang terdapat manusia yang mengganggu aku, tak mungkin dia dapat terhindar dari tabasan pedangku, ha, ha......” akhirnya ia geli sendiri atas perbuatannya tadi. Ia berputar tubuh terus hendak ayunkan langkah. Tetapi segera matanya tertumbuk akan sesuatu yang membuatnya menggigil.

“Siapa engkau!” bentaknya.

Ternyata terpisah tiga tombak di sebelah muka, tegak seseorang yang bertubuh kurus. Mukanya sedingin es, matanya menyeramkan dan mengenakan pakaian serba putih. Bahunya menyanggul sebatang pedang yang aneh bentuknya.

“Heh, heh, heh ,” orang itu tertawa mengekeh. Nadanya lebih seram dari badai di musim dingin.

Mendengar suara tertawa itu, menggigillah Gak Kiong. Ia menyurut mundur selangkah. “Siapa engkau!” bentaknya pula.

“Kim-coa Long-kun!” Mendengar nama itu, dada Gak Kiong seperti tertikam belati. Ia terkejut dan menyurut mundur tiga langkah......

“Hm, hm, hm. ” hidung Pendekar Ular Emas itu berulang kali mendengus. Penuh rasa muak dan hina.

Gak Kiong batuk-batuk untuk mengembalikan nyalinya lalu tertawa dingin. “Hm, tak kira kalau engkau  berani unjuk diri. Bagus Gak Kiong dari Kang-lam Sam-kiam hendak minta pelajaran barang beberapa jurus dari engkau!”

Habis berkata Gak Kiong terus mencekal tangkai pedang terus hendak dicabut. Tetapi sebelum ia sempat menyerang, Pendekar Ular Emas itu sudah berayun kehadapannya dan seketika terdengarlah lengking jeritan yang ngeri dari Gak Kiong.

Jago pedang dari Kang-lam yang berulang kali sumbar-sumbar hendak membunuh Kim-coa Long-kun, hanya dalam sekejap mata saja sudah rubuh......

Terdengar suara tertawa dingin dan sosok tubuh yang melambung ke udara, Kim-coa Long-kun atau Pendekar Ular Emas pun sudah lenyap di balik wuwungan yang gelap.

Lolong jeritan dari Gak Kiong tadi telah memecah kesunyian malam. Beberapa tokoh yang sedang berada dalam ruang besar segera berhamburan lari mendatangi.

Mereka ialah Nyo Jong-ho, Pendekar wanita Tong Ki, Hong-hu Hoa, Thay-kek-ciang Han Ceng-jiang serta kedua jago pedang Kang-lam yakni Cu Kong-ti dan Bok Seng-bu dan lain-lain.

Tepat pada saat keenam tokoh itu keluar untuk menolong Gak Kiong, sesosok bayangan putih melayang turun ke dalam ruang gedung besar yang terletak di muka. Dia bukan lain ialah Kim-coa Long-kun si Pendekar Ular Emas itu.

Dengan langkah seringan kapas, ia masuk ke dalam ruang. Tetapi telinganya tajam segera mendengar lengking suara yang nyaring tetapi dingin.

“Hm, makanya kaum persilatan selalu tak dapat mengejar jejak Pendekar Ular Emas, karena ternyata di dunia persilatan ini terdapat beberapa Pendekar Ular Emas ”

Serempak dengan kata-kata itu dari balik tirai melesat keluar seorang nona baju hijau. Ah, kiranya Nyo Cu- ing, puteri dari Nyo Jong-ho.

Tampak wajah nona itu merah padam karena marah dan terus membentaknya: “Hai, jawablah, engkau ini Kim-coa Long-kun yang mana?”

Dengan ucapan itu jelaslah bahwa selama menunggu bersembunyi di balik tirai, Cu-ing sudah melihat beberapa Kim-coa Long-kun yang muncul di ruang situ.

Tiba-tiba Pendekar Ular Emas itu mengangkat tangan memberi hormat, serunya: “Nona “

“Tak perlu merengek-rengek. Kedelapan batang jarum Ular emas itu sudah diambil orang. Maka engkau harus menyebut siapa dirimu itu!” tukas Cu-ing.

Tiba-tiba Pendekar Ular Emas itu mendengus, serunya, “Tokoh-tokoh dunia persilatan dewasa ini, mempunyai dendam permusuhan dengan Kim-coa Long-kun. Karena dendam itu sudah mendalam, maka akupun takkan melepaskan engkau, kecuali hanya dengan sebuah jalan.” 

Mata si nona memandang lekat-lekat ke wajah Pendekar Ular Emas yang pucat lesi itu lalu tertawa hambar: “Jangan anggap aku takut kepadamu, tetapi untuk sementara ini aku memang tak mau bentrok dulu dengan engkau!”

Sahut Pendekar Ular Emas tawar-tawar: “Hm, engkau angkuh sekali. Rupanya engkau tentu memiliki ilmu kepandaian yang sakti!”

Habis berkata Pendekar Ular Emas maju menghampiri si nona. Tiba-tiba tangan kanannya berayun dan tahu-tahu ia menusuk nona itu.

Cu-ing terkejut sekali. Ia tak pernah menduga bahwa Pendekar Ular Emas dapat mencabut pedang dan menyerang dengan kecepatan yang begitu luar biasa. Untuk menghindar, jelas sudah tak keburu lagi. Tetapi nona itu tak gugup. Dengan nekad ia tusukkan jarinya ke jalan darah di dada orang. Sepercik sinar kemilau melintas di samping tubuh si nona dan dari belakang tirai segera terdengar suara orang mengerang kesakitan......

Tepat pada saat Pendekar Ular Emas menusuk tangan, Cu-ing pun menutuk. Pada saat ujung jari nona itu hampir menyentuh dada, tiba-tiba Pendekar Ular Emas meluncur ke belakang sampai tiga langkah.

Seiring dengan gerakan Pendekar Ular Emas itu, sesosok tubuh melesat keluar dari balik tirai. Sekali loncat ia sudah berada di luar dan dengan loncatan yang kedua orang itupun sudah lenyap dalam kegelapan malam.

Pendekar Ular Emas memandang tubuh orang itu mengucurkan darah, hanya tertawa dingin. Ketika ia tiba di mulut ruang, ternyata orang itupun, sudah lenyap.

Peristiwa itu benar-benar membuat Cu-ing terpaku seperti patung. Setelah menutuk luput, ia tak mau menyusuli dengan pukulan lagi karena menyadari bahwa ternyata Pendekar Ular Emas itu telah menolong dirinya. Tusukan pedang Pendekar Ular Emas itu ternyata bukan ditujukan kepada dirinya melainkan kepada orang yang bersembunyi di belakang tirai.

Pada saat Pendekar Ular Emas hendak melangkah keluar dari ruang, tiba-tiba terdengar derap langkah yang ringan. Dan sesaat kemudian muncullah seorang pemuda berpakaian bagus. Pemuda  itu  menghadang Pendekar Ular Emas.

“Hm, apakah engkau hendak menghadang aku?” tegur Pendekar Ular Emas dengan nada dingin. Nadanya tidak keras tetapi berkumandang sikap yang angkuh dan yakin serta berwibawa.

Pemuda berpakaian bagus itu mengangkat muka lalu tertawa nyaring. Nadanya berdering-dering bagai palu besi menghantam batu.

Habis tertawa pemuda itu segera membentak: “Kim-coa Long-kun, dengan berjumpa padaku, hari kematianmu sudah tiba. Mengapa engkau masih berlagak seperti tuan besar?”

Pendekar Ular Emas tertawa mengejek, “Li Giok-hou, dalam hidupnya seseorang itu hanya mati satu kali. Apakah engkau benar-benar tak sayang kepada jiwamu?”

Mendengar namanya disebut, pemuda berpakaian bagus itu terkejut. Wajahnya berobah seketika, bentaknya: “Besar nian mulutmu, sahabat. Siapakah engkau?”

Pendekar Ular Emas menyahut: “Siau Mo, Pendekar Ular Emas Siau Mo ”

Melihat pemuda yang datang itu suhengnya, gembiralah hati Cu-ing. Segera ia lari menghampiri. Ketika mendengar Pendekar Ular Emas itu memberitahu namanya, tergetarlah hati nona itu.

“Ing sumoay, menyingkirlah sedikit jauh!” teriak Li Giok-hou ketika melihat Cu-ing menghampiri.

Dalam berkata itu Li Giok-hou pun sudah lepaskan sebuah pukulan seraya loncat maju. Dua jari menutuk Pendekar Ular Emas.

Pendekar Ular Emas menangkis tutukan itu. Tahu kalau berhadapan dengan seorang lawan yang luar biasa, Li Giok-hou tak berani adu kekerasan. Ia menyurut mundur selangkah. “Tring,” ia sudah mencabut pedang dari punggungnya.

Pada saat itu muncullah beberapa orang ke dalam ruangan. Mereka ialah Nyo Jong-ho, Tong Ki. Hong-hu Hoa, Han Ceng-jiang dan lain-lain tokoh gagah. Mereka berpencaran berdiri di empat penjuru. Begitu pula ruangan yang semula gelap kini diterangi dengan beberapa lampu.

Dengan tangan kanan memegang pedang, tangan kiri Li Giok-hou pun bergerak-gerak untuk membuat gerakan imbangan. Dia seorang pemuda yang gagah dan cakap. Memiliki kewibawaan dan seorang jago muda yang dapat diharapkan akan menjadi tiang utama dari dunia persilatan dikelak kemudian hari.

Pendekar Ular Emas juga seorang pemuda yang tampan, hanya tubuhnya agak kurus dan wajahnya pucat. Menyerupai wajah seorang pelajar kutu buku.

Kini kedua jago muda itu saling berhadapan. Hanya perhatian sekalian tokoh-tokoh itu lebih tercurah  kepada Pendekar Ular Emas daripada Li Giok-hou.

Li Giok-hou memang termasyhur tetapi mereka sudah mengenalnya. Tidak demikian dengan Kim-coa Long- kun atau Pendekar Ular Emas yang baru setahun muncul di dunia persilatan tetapi telah menggemparkan dunia persilatan. Bukan saja karena tokoh itu sakti dan dapat merubuhkan beberapa tokoh persilatan yang termasyhur, pun karena sepak terjang Pendekar Ular Emas itu luar biasa anehnya. Selama ini orang hanya tahu jejak tindakannya yang ganas tetapi belum pernah melihat bagaimana diri pendekar itu.

Saat itu barulah mereka mendesuh dalam hati. Kiranya Pendekar Ular Emas yang begitu termasyhur tak lain tak bukan ialah guru ilmu sastera yang diundang oleh keluarga Nyo untuk mengajar ilmu sastra kepada puteranya. Seorang mahasiswa miskin yang pucat kurus. Ya, guru Siau atau namanya yang lengkap Siau Mo.

Mereka tak mendapatkan suatu keluarbiasaan pada diri Pendekar Ular Emas itu kecuali sepasang matanya yang tajam dan kerut dahinya yang memancarkan hawa pembunuhan.

Mata berkilat-kilat tajam, memang suatu ciri dari seorang ahli silat yang memiliki tenaga dalam tinggi. Mereka agak terheran akan hal itu. Kalau tadi mata guru Siau itu redup tak bersinar, mengapa Pendekar Ular Emas ini begitu berpengaruh sinar matanya. Hal itu menimbulkan sedikit keraguan dalam hati sekalian tokoh. Mereka masih mengandung sedikit keraguan adakah Pendekar Ular Emas itu benar guru Siau Lo- seng? Ya, walaupun baik tinggi badan, roman dan panca inderanya, semuanya menyerupai  dengan guru itu. 

Dan masih ada sebuah keraguan yang terkandung dalam hati sekalian tokoh itu. Bukankah baru beberapa detik yang lalu mereka habis kembali ke villa Merah Delima. Dan bukankah guru Siau masih asyik membaca buku dengan mengeluarkan suara?

Mengapa saat itu guru Siau muncul sebagai Pendekar Ular Emas? Kalau benar pendekar Ular Emas itu memang guru Siau, tentulah dia memiliki ilmu Hun-sim-sut atau ilmu Memecah Diri. Tetapi benarkah didunia itu terdapat ilmu gaib semacam itu?

01.04. Pendekar Ular Emas Kembar

Tiba-tiba Nyo Jong-ho membisiki seorang anak buahnya yang berada didekatnya: “Lekas pergilah ke villa Merah Delima dan lihatlah apa Siau sianseng masih berada di kamarnya? Kalau ada, lekas engkau undang dia kemari. Mengerti?”

Anak buahnya yang berpakaian hitam dan bertubuh tinggi besar mengiakan dan terus menyurut mundur.

Saat itu tampak Pendekar Ular Emas tenang-tenang saja menghadapi Li Giok-hou yang sudah siap dengan pedang terhunus.

Dan saat itu pula Li Giok-hou pun sudah berkisar langkah dan pelahan-lahan menggerakkan tangan.

Sekonyong-konyong pedang berkiblat, Lam-hay-tiau-han atau gelombang dingin dari Laut Selatan, sebuah jurus ilmu pedang yang hebat segera melancar ke arah Pendekar Ular Emas.

Disebut Gelombang dingin laut selatan karena gerak pedang itu benar-benar menyerupai gelombang yang dahsyat, berhamburan menerjang pantai.

Rupanya Pendekar Ular Emas terkejut juga melihat kehebatan ilmu pedang dari lawannya. Cepat ia menyurut mundur.

“He, Siau Mo, jangan lari, sambutlah pedangku ini,” Li Giok-hou berseru nyaring sambil maju mengejar.

Kali ini pedang seperti terpecah dua. Kedua sinar pedang itu laksana bianglala yang tertimpa sinar  matahari, berkilau-kilauan menyilaukan mata. Dua-duanya mengarah jalan darah Pendekar Ular Emas.

Sekalian tokoh terkejut menyaksikan ilmu pedang Li Giok-hou yang aneh itu. Kebanyakan mereka belum pernah melihat bahwa dalam ilmu pedang terdapat jurus permainan yang sedemikian luar biasanya.

Memang dewasa itu seluruh harapan kaum persilatan tertumpah pada diri Li Giok-hou. Mereka menjunjung pemuda itu sebagai tiang utama di dunia persilatan. Dia didambakan dengan gelar sebagai Pedang  Beracun Pembasmi Iblis. Ilmu kepandaiannya memang luar biasa.

Jurus ilmu pedang yang dilancarkan kepada Pendekar Ular Emas saat itu, memang hebat sekali. Tak ubah seperti sebuah jaring yang tak memungkin orang untuk lolos.

“Wut……” tiba-tiba Pendekar Ular Emas menyurut mundur tiga langkah. Baju lengannya yang sebelah kiri telah tergurat pecah oleh ujung pedang, dan darahpun berketes-ketes ke lantai. Tetapi Pendekar Ular Emas Siau Mo, seorang lelaki yang berhati keras. Sedikitpun ia tak mengeluarkan suara erang kesakitan. Dipandangnya tetesan darah itu dengan tenang sekali, setenang orang menikmati air hujan yang meluncur dari kelopak bunga.

Sikap yang tenang dari Pendekar Ular Emas itu membuat Li Giok-hou kesima sehingga tak melanjutkan pula serangannya itu, cukuplah sudah bagi Li Giok-hou untuk berbangga hati.

Pedang Ular Emas yang begitu ditakuti sebagai momok nomor satu dalam dunia persilatan, hanya dalam dua jurus saja, telah dapat dilukai. Hal itu benar-benar suatu prestasi atau hasil yang gemilang!

Apalagi peristiwa disaksikan oleh sumoaynya, Nyo Cu-ing yang dicintai dan para tokoh-tokoh persilatan terkemuka. Alangkah bangganya!

Dan memang seri wajah pemuda itu menampilkan sinar kegembiraan dan kebanggaan.

Tiba-tiba Pendekar Ular Emas mengangkat muka. Sepasang bola matanya yang berkilat-kilat menyapu sekalian orang gagah yang berdiri. Dan pelahan-lahan tangannya mulai menjamah tangkai pedang yang terselip di belakang punggung lalu dihunusnya keluar.

Kim-coa-kiam atau Pedang Ular Emas! Pedang yang telah menggegerkan dunia persilatan karena telah membunuh banyak sekali tokoh-tokoh persilatan sakti.

Pun cara Pendekar Ular Emas mencabut pedang pusakanya begitu pelahan dan tenang, menimbulkan suasana yang menyeramkan dan tegang. Suatu ketegangan seperti dikala orang menunggu meletusnya sebuah bom.

Bahkan Seruling Kumala Hong-hu Hoa yang memperhatikan wajah Pendekar Ular Emas itu, tergetar juga hatinya dan diam-diam menimang, “Jika tidak memiliki ilmu tenaga dalam yang hebat, tak mungkin dia berlaku sedemikian tenangnya!”

Sejak mengetahui bahwa Pendekar Ular Emas itu bukan lain yalah Siau Mo, guru sastera yang mengajar puteranya, timbullah suatu kesan yang mengerikan dalam hati Nyo Jong-ho. Kesan dari suatu peristiwa yang lampau......

“Mungkinkah dia?” gumam hati jago tua itu. Dan tanpa sadar ia telah mengeluarkan suara tertahan.

Sudah tentu sekalian tetamu terkejut. Dan terutama ketika melihat tuan rumah malah terus loncat ke muka Pendekar Ular Emas. Gerakan Nyo Jong-ho itu teramat cepat sekali sehingga sekalian tetamu tak tahu apa yang terjadi saat itu.

Tetapi ternyata Pendekar Ular Emas yang tampaknya tenang-tenang itu, sudah siap siaga. Begitu Nyo Jong-ho hendak menyerangnya, ia terus memutar kakinya sampai berpuluh kali dan Pedang Ular Emas di tangannya pun menukik ke bawah lalu dengan jurus Hun-tiong-wu-soh atau Awan menghalang embun mengabut, menusuk ke muka.

“Sring ”

Terdengar suara dering keras yang melengking tajam sekali!

Tampak kedua bahu Nyo Jong-ho bergetar, kakinya menyurut mundur tiga langkah. Wajah berobah pucat dan lengan kanannya menjulai.

Sekalian tetamu yang berada dalam ruang besar itu adalah tokoh-tokoh silat yang terkemuka. Mata mereka amat tajam. Namun mereka hampir tak mengetahui apa yang berlangsung antara Nyo Jong-ho dengan Pendekar Ular Emas itu.

Kiranya Nyo Jong-ho waktu loncat tadi, telah melancarkan jurus Pit-ci-jiang-kiong atau Pit menunjuk angkasa. Tetapi karena dia tak membekal alat tulis pit maka dia gunakan jari tangan untuk menutuk Pendekar Ular Emas.

Tetapi dengan sebuah permainan pedang yang luar biasa indahnya, dapatlah pendekar Ular Emas menggagalkan serangan tuan rumah. Karena disambut dengan pedang, terpaksa Nyo Jong-ho gelincirkan jari dan menutuk batang pedang, “tring ”

Terdengar dering nyaring macam naga meringkik tadi. Dan walaupun batang Pedang Ular Emas dapat tersiak ke samping, tetapi tangan Nyo Jong-ho pun terasa sakit sekali sehingga tulangnya serasa pecah. Setelah melingkarkan pedangnya dalam sebuah gerak perputaran, Pendekar Ular Emas pun tegak berdiri dengan mencekal pedangnya pula. Wajahnya tampak serius, sikapnya setenang batu karang di tengah laut.

Karena Nyo Jong-ho mendahului loncat menerjang Pendekar Ular Emas maka Li Giok-hou pun terpaksa hentikan serangannya. Ia menarik pulang pedangnya dan menyurut mundur selangkah.

Kiranya sikap yang diambil Pendekar Ular Emas, berdiri tegak dengan pusatkan seluruh perhatian, merupakan sikap dari ilmu pedang tataran tinggi.

Sekalian tokoh terbeliak kaget......

Cu Kong-ti salah seorang dari Tiga jago pedang Kang-lam, segera berkata bisik-bisik kepada jago tua Han Ceng-jiang yang menjadi ketua perguruan Thay-kek-bun: “Han ciang-bun, kalau saat ini tak dibasmi, kelak dia tentu membahayakan dunia persilatan!”

Dengan kata-kata itu Cu Kong-ti bermaksud hendak mengajak ketua Thay-kek-bun itu untuk bersama-sama menggempur Pendekar Ular Emas.

Wajah jago tua Han Ceng-jiang tampak berobah dingin. Sahutnya, “Benar, walaupun hanya mengeluarkan beberapa jurus permainan saja, tetapi gerakannya luar biasa sekali. Saudara Cu, bagaimana pendapat saudara dengan jurus Pit menunjuk angkasa dari Nyo Jong-ho tadi?”

“Hebat dan kurasa aku sendiri tak mampu lolos dari tutukan jari semacam itu,” sahut Cu Kong-ti.

Kata ketua Thay-kek-bun itu pula: “Memang bukan maksudku hendak memuji saudara Nyo Jong-ho. Tetapi memang tokoh-tokoh silat dalam dunia persilatan dewasa ini, tiada seorangpun yang mampu lolos dari serangan jari maut Nyo Jong-ho. Tetapi ternyata orang itu dengan sebuah gerakan pedang dapat menghalaunya ”

Tiba-tiba kedengaran Hong-hu Hoa bertanya kepada sang isteri, pendekar wanita Tong Ki: “Adik Ki, apakah engkau sudah menemukan sesuatu yang mencurigakan?”

Jarum beracun Tong Ki menjawab: “Tampaknya dia sudah terluka dan tenaga dalamnya berkurang, semangatnya buyar sehingga tak dapat menjalankan ilmu pedang Ih-kiam-sut.”

Ternyata saat itu kedua belah tangan Pendekar Ular Emas yang memegang pedangnya, pelahan-lahan menjulai turun. Wajahnya yang putih makin pucat dan lengannyapun sedikit gemetar.

Rupanya Li Giok-hou dapat mengetahui hal itu. Ia tertawa dingin lalu ayunkan langkah ke tempat Pendekar Ular Emas.

Sekonyong-konyong seorang lelaki dengan tubuh berlumuran darah menerobos masuk ke dalam ruang, terus berteriak keras: “Nyo bengcu, Siau ”

Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba dia sudah rubuh ke lantai. Ternyata dadanya tertancap sebatang Pedang Ular Emas yang panjangnya sejengkal tangan.

Lelaki itu bukan lain anak buah Nyo Jong-ho yang disuruh untuk mengundang guru Siau di villa Merah Delima.

Li Giok-hou cepat loncat ke tempat orang itu. Ketika merabah dadanya ternyata orang itu sudah putus jiwanya.

Kejut sekalian orang bukan alang kepalang. Mereka terbelalak dan melongo. Tak tahu apa yang telah terjadi karena dengan terbunuhnya bujang itu oleh sebatang Pedang Ular Emas, tentulah bukan Pendekar Ular Emas yang berada di situ yang membunuhnya.

“Hai kemanakah dia!” tiba-tiba Cu-ing berteriak.

Teriakan nona itu telah mengguyur semangat sekalian tokoh yang sedang melayang-layang itu. Mereka serentak memandang ke sekeliling. Tetapi ah Pendekar Ular Emas Siau Mo ternyata sudah lenyap!

Sekian banyak tokoh-tokoh berilmu tinggi yang berada dalam ruang itu, tetapi tiada seorang pun yang tahu dan mendengar gerak Pendekar Ular Emas melenyapkan diri.

Wajah sekalian tokoh itupun pucat seketika!

Mereka seperti ditampar mukanya oleh Pendekar Ular Emas. Suatu hinaan bagi tokoh-tokoh persilatan kelas satu apabila mereka dipermainkan begitu rupa seperti anak kecil. Kembali mereka terlongong-longong kehilangan paham.

Nyo Jong-ho tiba-tiba berkata seorang diri: “Apabila orang itu tak dilenyapkan, dunia persilatan pasti takkan mengenyam ketenangan.”

Sekalian orang serempak mencurah pandang ke arah tuan rumah.

Ketua perguruan Thay-kek-bun, Han Ceng-jiang, menghela napas panjang.

“Berpuluh-puluh tahun aku berkecimpung dalam dunia persilatan tetapi tak pernah aku menerima ejekan semacam ini. Peristiwa ini apabila sampai tersiar di luar, dimanakah kita akan menaruhkan muka kita?” katanya menggeram.

Sekalian tokoh-tokoh silat yang berada di ruang itu, tahu kemana arah tujuan ucapan jago dari Thay-kek- ciang itu. Yalah secara halus memperingatkan agar sekalian orang jangan sampai menyiarkan peristiwa itu keluar. Karena hal itu hanya menghilangkan muka mereka sendiri saja.

Seruling Kumala Hong-hu Hoa tiba-tiba tertawa ringan.

“Kelenting dari tanah liat tak urung tentu pecah di mulut sumur. Seorang panglima tentu sukar menghindari barisannya hancur. Kita, kaum persilatan yang berkelana dalam dunia persilatan, tentu takkan terhindar juga bertemu dengan peristiwa semacam itu,” kata jago yang bergelar Seruling Kumala itu. “Tetapi yang paling menjengkelkan sendiri ialah, ke delapan batang jarum Ular Emas itu telah diambil orang, saudara Gak  Kiong terluka dan kita pontang panting sampai semalam lamanya tetap belum juga dapat mengetahui jejak musuh itu ”

Berkata sampai disini, ia sapukan pandang matanya ke arah nona Cu-ing, lalu berhenti.

Rupanya Nyo Jong-ho tahu akan sikap Hong-hu Hoa itu. Maka ia segera bertanya kepada Cu-ing: “Ing, pada waktu engkau bersembunyi di balik tirai kain tadi, apakah yang engkau lihat?”

Ternyata siasat dari Hong-hu Hoa untuk menjebak siapa yang akan mengambil ke delapan jarum Ular Emas tadi, dilaksanakan oleh Hong-hu Hoa dengan isterinya dan nona Cu-ing pun diikut sertakan dan disuruh bersembunyi di balik tirai.

“Yah,” sahut nona itu, “pada waktu aku bersembunyi di balik tirai tadi, kulihat dua orang Pendekar Ular  Emas muncul di ruang ini. Pendekar Ular Emas yang muncul pertama, amat gesit sekali gerakannya dan ilmu kepandaiannya agaknya lebih hebat dari Pendekar Ular Emas yang berasal dari guru Siau itu. Pada saat Pendekar Ular Emas pertama melesat ke meja dan mengambil ke delapan batang jarum Ular emas, Pendekar Ular Emas Siau Mo pun muncul tetapi dia terus disambut dengan serangan oleh Li suheng.”

Dalam keterangannya itu Cu-ing tak mengatakan bagaimana Pendekar Ular Emas Siau Mo telah menolong dirinya dengan menusuk orang yang bersembunyi di balik tirai dan yang hendak membunuh si nona.

Setelah mendengar keterangan puteri dari tuan rumah, sekalian tokoh makin bingung. Mereka berdiam diri merenung. Semula mereka mengira ke delapan batang jarum Ular Emas itu tentu diambil oleh Siau Mo. Tetapi ternyata bukan dan yang mengambil ialah seorang Pendekar Ular Emas lain.

Pendekar Ular Emas kembar!

Pendekar Ular Emas yang seorang, sudah diketahui kalau guru Siau atau Siau Mo. Tetapi siapakah gerangan Pendekar Ular Emas yang kedua itu?

Li Giok-hou tampil ke muka, memberi hormat kehadapan Nyo Jong-ho lalu berseru lantang: “Gihu, maafkan karena aku datang terlambat sehingga iblis itu sempat melarikan diri. Tetapi siapakah gerangan yang gihu sebut dengan nama Siau Lo-seng itu?”

Gihu artinya ayah angkat. Memang bukan saja hanya sebagai murid, pun Li Gok-hou itu telah diambil putera angkat oleh Nyo Jong-ho.

Sambil kebutkan lengan baju suruh Li Giok-hou bangun, berkatalah Nyo Jong-ho: “Giok-hou, apabila tak salah dugaanku, sejak saat ini dunia persilatan bakal mengalami pergolakan besar. Tetapi hal itu aku tak dapat menerangkan sebabnya. Sekarang mari kita menuju ke villa Merah Delima untuk menemui guru Siau. Di situ barulah kita akau jelas duduk perkaranya.”

“Benar,” sambut Jarum maut Tong Ki, “kurasa Siau Lo-seng itu sama dengan Siau Mo. Kalau bukan, jelas Siau Lo-seng itu seperti yang dikatakan adik Ing tadi, ialah Pendekar Ular Emas yang muncul pertama.” Demikian para tokoh-tokoh gagah itu segera bergegas-gegas menuju ke villa Merah Delima. Ruang besar kembali sunyi senyap. Yang tinggal di situ hanya Cu-ing seorang.

Tiba-tiba nona itu mencabut pedangnya lalu menghampiri ke muka meja dan berseru dengan dingin: “Apakah engkau tak mau keluar?”

Tetapi tirai kain yang dipandangnya itu tak terdengar suatu penyahutan apa-apa.

Cu-ing kerutkan dahi dan membatin: “Apakah dia benar-benar pergi? Tetapi di belakang tirai itu tak ada pintu atau jendelanya!”

Kiranya satu-satunya orang yang melihat Siau Mo meloloskan diri tadi, hanya nona itu. Ia melihat Pendekar Ular Emas Siau Mo melesat ke balik tirai.

“Hm, jangan mempermainkan aku,” dengus nona itu seraya lekatkan ujung pedang ke kain tirai. Sesaat kemudian terus ditusukkan ke dalam.

Dari sinar lampu, dapatlah pandang mata Cu-ing menembus ke belakang tirai dan tahu apa yang berada di situ.

Dilihatnya di balik tirai itu guru muda Siau sedang duduk bersila pejamkan mata. Wajahnya pucat lesi, dadanya agak berkembang kempis. Tetapi mulutnya tak mengeluarkan suara erang atau rintihan suatu apa.

Cu-ing terkejut. Ujung pedangnya sudah terlanjur menusuk ke muka dan bahkan sudah hampir mengenai dada orang itu. Tetapi aneh, orang itu masih tetap duduk tenang dan tak membuat suatu gerakan untuk mengisar tubuh ataupun menangkis.

Cu-ing makin bingung sendiri. Cepat ia menarik kembali ujung pedangnya......

Tepat pada saat itu Siau Mo si Pendekar Ular Emas pun membuka mata dan menegurnya dingin: “Mengapa engkau menarik pulang pedangmu?”

Mendengar pertanyaan itu Cu-ing malah terlongong.

“Ya,  mengapa aku tak menusuknya? Apakah dia menghendaki  supaya aku membunuhnya ” pikir gadis

itu.

Tiba-tiba Siau Mo berbangkit.

“Perobahan pikiranmu tadi, tentu akan membuat engkau menyesal seumur hidup. Terus terang kukatakan kepadamu. Tadi tusukanmu itu tentu berhasil karena saat itu aku sudah tak mempunyai tenaga sedikit pun untuk melawan ”

Belum selesai ia berkata, Cu-ing sudah membentak, dengan murka: “Huh ” ia terus menusuk lagi.

01.05. Pengepungan Villa Merah Delima

Tusukan itu dilancarkan dengan kemarahan besar sehingga pedang sampai membaurkan suitan tajam. Pada jarak yang sedemikian dekat, betapapun saktinya Pendekar Ular Emas itu, tak mungkin dia dapat menghindar.

Tetapi Pendekar Ular Emas Siau Mo itu telah membuat gerakan yang luar biasa. Jari tangan kanannya menjentik dan sedesis angin tajam segera menampar ujung pedang. Lalu dengan gerakan yang cepat, tangan kirinya menyambar pergelangan tangan kanan nona itu.

“Tring......” terdengar suara menggemerincing dan jatuhlah pedang si nona ke tanah. Pergelangan tangannya pun telah dicekal oleh Siau Mo.

“Hm, engkau telah mensia-siakan kesempatan baik untuk membunuh aku. Kelak kalau mau membunuh  aku, harus menunggu kesempatan baik lagi,” Siau Mo tertawa dingin.

Kata-katanya itu tajam, penuh sindiran dan merambang sehingga sukar ditangkap maksudnya. Habis berkata ia terus lepaskan cekalannya dan berputar tubuh lalu pergi.

“Berhenti!” seru Cu-ing bengis. Siau Mo tenang-tenang memalingkan muka, serunya: “Nona Nyo, bukankah engkau hendak bertanya? Agar jangan banyak ribut-ribut, kuterangkan kepadamu. Aku ini adalah tokoh Pendekar Ular Emas yang dibenci oleh dunia persilatan itu. Namaku Siau Mo dan guru sekolah yang memakai nama Siau Lo-seng itu hanya nama samaranku.”

Kejut Cu-ing bukan kepalang, serunya: “Jangan terburu-buru pergi dulu, aku masih akan bertanya lagi.”

Tetapi pada saat sehabis memberi keterangan tadi Pendekar Ular Emas Siau Mo memang sudah terus melesat keluar dari ruangan.

Cu-ing memandang bayangan orang itu lenyap dalam kegelapan. Tak disadarinya, nona itu mengucurkan airmata……

Cu-ing merasa seperti telah melakukan suatu langkah yang menyalahi orang. Mengapa ia tak mau memberitahukan kepada ayah dan para tokoh bahwa Siau Mo bersembunyi di balik kain tirai itu?”

“Ah, aku takut kalau-kalau...... yang bersembunyi di belakang tirai itu guru Siau......” ia menjawab pertanyaan dalam hatinya sendiri.

Tetapi ternyata Pendekar Ular Emas itu mengaku kalau dirinya benar Siau Lo-seng atau guru Siau.

“Benarkah itu?” ia masih bertanya setengah tak percaya pada dirinya sendiri, “mungkinkah di dunia ini terdapat orang yang wajahnya mirip satu sama lain?”

Setelah merenung beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk memberitahu hal itu kepada ayahnya…..

********************

Ruang muka pada villa Merah Delima itu hanya kecil. Saat itu tampak sunyi senyap. Hanya bunyi dahan dan ranting pohon yang berdesir-desir tertiup angin malam.

Karena villa itu semula menjadi tempat kediamannya maka Cu-ing paham sekali keadaannya. Setiba di luar halaman, ia mengangkat muka dan memandang ke sekeliling penjuru. Rumput masih menghijau, kolam bunga teratai masih beriak-riak tenang ditingkah sinar rembulan. Semua masih seperti hari-hari yang lalu. Empat penjuru sunyi senyap tiada tampak seorangpun juga.

Cu-ing terbeliak, diam-diam ia bertanya sendiri: “Lalu kemanakah ayah dan para tetamu itu?”

Baru ia memikir sampai di situ tiba-tiba dari belakang melesat keluar sesosok bayangan. Cu-ing cepat berputar tubuh, tahu-tahu tangannya telah dicekal oleh orang itu yang bukan lain ayahnya sendiri, Nyo Jong-ho.

Nyo Jong-ho menarik Cu-ing loncat ke bawah sebatang pohon. Di situ Nyo Jong-ho membisiki puterinya: “Ing, di halaman villa itu sudah penuh bersembunyi musuh-musuh kuat. Jangan engkau bergerak sembarangan.”

Mendengar itu Cu-ing terperanjat, pikirnya: “Baru beberapa kejap Siau Mo pergi dari ruang gedung depan, tak mungkin dia sudah berada di halaman villa ini ”

Sebenarnya saat itu ia hendak memberitahu kepada ayahnya bahwa Pendekar Ular Emas Siau Mo tidak lenyap melainkan bersembunyi di balik tirai. Tetapi entah bagaimana tiba-tiba terlintas suatu pikiran lain: “Ah, tetapi bagaimana aku memberi alasan kepada ayah. Mengapa saat itu aku tak mau memberitahukan hal itu kepadanya......

Kemudian nona itu memandang beberapa sosok tubuh yang bersembunyi di bawah pohon itu. “Yah, dimana engkoh Giok-hou?” tanyanya.

Kiranya selain Nyo Jong-ho, yang bersembunyi di bawah pohon situ terdapat juga keempat pengawal keluarga Nyo dan ketua perguruan Thay-kek-bun Han Ceng-jiang. Tokoh-tokoh yang lain entah berada dimana.

“Saudara Nyo,” tiba-tiba Han Ceng-jiang bertanya bisik-bisik, “kedua pengawal saudara itu, kemungkinan besar tentu mendapat bahaya.” Saat itu wajah Nyo Jong-ho tampak serius sekali, sahutnya: “Saudara Han, baiklah kita tunggu sebentar lagi.”

Baru ia berkata begitu, sesosok tubuh cepat melesat datang. Ternyata dia Pedang Beracun Pembasmi Iblis Li Giok-hou. Kemudian berturut-turut menyusul pula Hong-hu Hoa bersama isterinya, Tong Ki.

“Giok-hou, bagaimana keadaan dalam ruang villa itu?” tanya Nyo Jong-ho.

Giok-hou gelengkan kepala: “Memang aneh sekali. Di dalam ruang tak terdengar suatu suara apapun tetapi kedua orang bawahan kita tadi seperti terbenam dalam lautan. Sama sekali tak ada gerak gerik maupun suaranya. Menurut hematku. kedua orang itu tentu sudah tertimpah bahaya, maka kurasa lebih baik kita serbu saja.”

Kiranya kedatangan sekalian tokoh ke villa Merah Delima itu telah menghadapi suatu suasana yang tegang. Mereka memencar diri mengepung villa itu dari segala penjuru untuk menjaga jangan sampai Pendekar Ular Emas Siau Mo dapat lolos lagi.

Untuk menjajagi keadaan dalam villa, Nyo Jong-ho menyuruh dua orang sebawahannya memasuki ruang villa. Tetapi sampai sekian lama belum juga kedua orang itu muncul lagi.

Setelah mendengar keterangan dari muridnya, Nyo Jong-ho memandang kepada sekalian tetamunya.

“Lebih baik kita jangan bergerak sendiri,” katanya, “sekarang aku hendak berunding dengan saudara- saudara sekalian mengenai sebuah hal. Giok-hou, undanglah saudara Cu Kong-ti dan  Bok  Seng-bu  kemari ”

“Tuh lihatlah, kedua orang itu sudah datang,” seru Han Ceng-jiang ketua Thay-kek-bun.

Memang saat itu dari arah ujung tembok halaman sebelah timur, dua sosok bayangan melesat dan beberapa kejap kemudian sudah tiba di samping pintu. Di bawah sinar rembulan dapatlah diketahui bahwa kedua orang itu memang Cu Kong-ti dan Bok Seng-bu, dua jago dari Tiga pedang Kang-lam.

Melihat itu berobahlah wajah Nyo Jong-ho, cepat ia menyuruh muridnya: “Giok-hou, lekas cegah mereka jangan masuk!”

Tetapi saat itu Pedang baja Bok Seng-bu sudah berteriak: “Hai, orang di dalam gedung, lekas keluar berhadapan dengan aku!”

Dan habis berkata jago itupun sudah menghunus pedang dan melangkah masuk ke dalam halaman lalu menuju ke pintu villa.

“Aduh !” terdengar jeritan ngeri dan sesosok tubuhpun melesat keluar dari dalam pintu itu.

Sekalian tokoh terkejut. Menilik suara jeritan itu, jelas tentu orang itu menderita luka.

Secepat kilat Giok-hou pun berayun loncat ke halaman dan dengan tangkas ia menyanggapi tubuh orang itu supaya jangan jatuh.

Cu Kong-ti pun loncat menghampiri tetapi kalah cepat dengan Giok-hou.

Setelah menyanggapi tubuh orang itu tanpa melihatnya siapa, Giok-hou terus saja loncat lagi kembali ke bawah pohon.

Ketika sekalian orang memandang siapa orang yang di bawah Giok-hou itu maka menjeritlah Cu Kong-ti, “Bok sute !”

Memang orang yang terluka itu bukan lain ialah Bok Seng-bu. Mukanya berlumuran darah, keadaannya mengenaskan sekali. Dia rebah tak berkutik di tangan Giok-hou.

Cu Kong-ti bercucuran airmata melihat keadaan sutenya itu.

Nyo Jong-ho cepat menghampiri, memeriksa denyut pergelangan tangannya dan terlongong-longong......

Denyut pergelangan tangan jago dari Kang-lam itu sudah berhenti. Bok Seng-bu sudah putus jiwanya.

Cu Kong-ti pun meraba pernapasan hidung sutenya. Demi mengetahui sutenya sudah meninggal, menjeritlah jago pertama dari Tiga jago pedang Kang-lam itu, lalu berputar tubuh terus melangkah ke muka. Ia hendak mengadu jiwa dengan orang di dalam villa yang telah membunuh Bok Seng-bu. Ketua perguruan Thay-kek-bun, jago tua Han Ceng-jiang cepat mencegahnya.

“Saudara Cu, harap jangan diburu nafsu kemarahan. Untuk membalas dendam, tak perlu harus menuruti hati panas. Lain waktu kita masih mempunyai kesempatan,” kata ketua perguruan Thay-kek-bun itu.

Pedang Siput Rawa Cu Kong-ti adalah tokoh kesatu dari Tiga pedang Kang-lam. Dia memang seorang jujur dan serius. Mendengar nasehat jago tua Han Ceng-jiang. iapun hentikan langkah.

Tiba-tiba ia merasa curiga terhadap kematian sutenya yang ketiga itu. Bok Seng-bu memiliki kepandaian yang sakti. Secara jujur ia mengakui bahwa kepandaian sutenya itu tak di bawah kepandaiannya. Maka ia heran mengapa dalam beberapa kejap saja sutenya telah terbunuh begitu mudah. Apabila benar begitu, jelas orang yang berada dalam villa itu, berkepandaian sakti sekali. Pun ganasnya bukan kepalang.

Sekalian tokoh ternyata juga mempunyai penilaian serupa dengan Cu Kong-ti. Tampak wajah mereka bermuram durja. Bahwa pendekar wanita Tong Ki yang sejak datang sudah mengunjuk sikap dan ucapan yang angkuh sombong, saat itupun tampak terkejut.

Di antara orang itu, Cu-ing lah yang paling berdebar sendiri hatinya. Tak henti-hentinya ia bertanya dalam hati: “Siapakah pembunuh dalam villa itu?” Jelas tentu bukan Siau Mo! Apakah? Mungkinkah Siau Lo-seng? Tetapi bukankah tadi Siau Mo sudah mengaku bahwa Siau Lo-seng itu sama dengan dirinya ?”

Sedangkan saat itu Giok-hou tak sempat memikirkan siapa pembunuh misterius yang berada dalam vilia Merah Delima. Ia mencurahkan perhatian untuk memeriksa luka Bok Seng-bu.

“Kematian saudara Bok ini......” akhirnya setelah memeriksa keadaan mayat Bok Seng-bu. Giok-hou memberi keterangan, “bagian mukanya habis dicakari oleh semacam senjata. Kemungkinan senjata Cakar garuda atau Cakar baja. Memang senjata semacam itu hebat sekali. Tetapipun tak mungkin dalam waktu yang begitu singkat dapat menghilangkan jiwa saudara Bok. Selain serangan senjata cakar itu, musuh tentu menyerempaki lagi dengan pukulan ganas dari tenaga dalam yang beracun. Pukulan itulah yang menghancurkan urat-urat nadi tubuh saudara Bok.”

Mendengar penjelasan itu, sekalian orang mengagumi kepandaian Giok-hou meneliti jejak pukulan musuh.

Kemudian Giok-hou bertanya kepada mereka: “Di antara saudara disini, siapakah yang pernah mengetahui tokoh yang biasa menggunakan senjata Cakar garuda itu?”

Ketua Thay-kek-bun Han Ceng-jiang menyahut, “Memang sungguh memalukan sekali. Pendekar Ular Emas itu benar seperti seekor naga yang tampak kepalanya tetapi tak kelihatan ekornya. Membuat orang benar- benar bingung. Karena siapa yang melihat wajahnya, tentu akan dibunuh.”

“Ya, kalau tidak memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa, tak mungkin dia berani menantang dunia persilatan,” pendekar wanita Tong Ki menanggapi.

Giok-hou kerutkan alis, serunya: '“Menurut pandangan saudara-saudara disini, pembunuh yang berada dalam gedung itu, jelas tentu Pendekar Ular Emas. Tetapi aku tak mengerti. Pendekar Ular Emas itu hanya seorang atau beberapa orang jumlahnya?”

Nyo Jong-ho tiba-tiba menghela napas, serunya: “Giok-hou, apakah suhumu sudah menerima surat undanganku?”

Belum Giok-hou menyahut, tiba-tiba Seruling Kumala Hong-hu Hoa berteriak kaget: “Lihatlah! Siapa itu?” Sekalian orang serentak berpaling memandang ke arah yang ditunjuk Hong-hu Hoa.

Seorang berbaju putih tengah tegak di lorong kecil dari taman bunga dalam lingkungan tembok halaman villa Merah Delima. Sejenak memandang ke arah villa itu, terus ayunkan langkah menuruni titian......

“Hai, siapakah orang itu kalau bukan Pendekar Ular Emas?!”

Gegerlah sekalian tokoh-tokoh itu. Bermula mereka mengira bahwa pembunuh yang berada di dalam villa itu tentulah Pendekar Ular Emas Siau Mo. Tetapi setelah menyaksikan Siau Mo berada di taman bunga bingunglah hati sekalian orang itu. Diam-diam mereka membantah sendiri tuduhannya tadi.

“Kalau begitu, pembunuh dalam rumah villa itu tentulah Pendekar Ular Emas Siau Lo-seng,” pikir tokoh- tokoh silat itu.

Memang hanya Cu-ing seorang yang tahu bahwa Siau Mo itu sama dengan Siau Lo-seng. Tetapi sekalian tokoh tak tahu hal itu. Saat itu sekalian orang melihat Pendekar Ular Emas Siau Mo dengan langkah yang cepat sudah menghampiri ke pintu halaman.

Jarak taman bunga dengan pintu halaman itu hanya tujuh atau delapan tombak. Tetapi anehnya, walaupun tampak berjalan cepat, Siau Mo seperti menempuh perjalanan tujuh-delapanpuluh tombak jauhnya. Cepat tetapi lama.

“Ilmu apakah itu?” tanya sekalian orang. Hong-hu Hoa menghela napas.

“Ilmu kepandaian yang dimiliki orang itu benar-benar seperti laut yang sukar dijajagi dalamnya,” kata Hong- hu Hoa, “cara jalan yang dilakukan itu jelas untuk menjaga kemungkinan diserang oleh orang yang berada dalam rumah. Dengan begitu jelas dia tak ada hubungan dengan pembunuh dalam villa itu, Nyo bengcu,” serunya kepada tuan rumah, “marilah sekarang kita serempak menyerbu ke dalam rumah itu!”

Belum selesai ia mengucap, tiba-tiba tampak Pendekar Ular Emas Siau Mo itu sudah menerjang ke dalam ruang villa.

Serempak dengan itu segera terpantullah sinar pedang yang berkilat-kilat menerangi ruang. Sesaat kemudian terdengar suara erang tertahan dan pantulan sinar pedang itupun segera lenyap lagi.

Ruang dalam rumah itu kembali sunyi senyap.

“Apakah dia juga terbunuh ?” sekalian tokoh-tokoh itu mulai menduga-duga.

Membayangkan hal itu, makin ciutlah nyali sekali jago-jago silat itu. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana tadi di gedung besar, Pendekar Ular Emas Siau Mo itu telah mengunjukkan kepandaiannya yang hebat.

Beberapa orang yang pernah adu pukulan, antara lain Li Giok-hou, dapat mengetahui jelas bagaimana kesaktian Pendekar Ular Emas Siau Mo itu. Bahkan jago-jago angkatan tua seperti Nyo Jong-ho dan ketua perguruan Thay-kek-bun Han Ceng-jiang sendiri pun mengakui bahwa Siau Mo itu seorang jago muda yang luar biasa hebatnya.

Apabila saat itu Siau Mo juga mengalami nasib serupa dengan Bok Seng-bu tadi, maka sukarlah dibayangkan betapa hebat kesaktian orang yang berada dalam ruang villa itu.

Giok-hou dan Hong-hu Hoa yang sudah hendak bergerak menyerbu pun terpaksa hentikan langkahnya dan berpaling memandang Nyo Jong-ho.

Rupanya tuan rumah itu sendiripun seperti kehilangan paham dan sesaat tak tahu bagaimana harus memberi perintah.

Tiba-tiba dari arah villa itu terdengar seseorang berseru dingin: “Manusia hidup dalam dunia ini, paling banyak hanya mati satu mengapa kalian tak berani masuk kemari?”

Astaga! Suara itu jelas suara Pendekar Ular Emas Siau Mo.

Sudah tentu sekalian tokoh-tokoh itu terlongong-longong seperti kehilangan semangat. Kalau Siau Mo belum mati lalu jelas tentu pembunuh dalam villa itu yang kalah.

Tiba-tiba terdengar suara Pendekar Ular Emas Siau Mo berseru, “Pendekar Ular Emas sejak setahun muncul di dalam dunia persilatan ini, memang telah menggegerkan orang. Kalian dari empat penjuru dunia sama datang kemari, bukankah karena hendak menyelidiki jejak Pendekar Ular Emas? Nah, sekarang Pendekar Ular Emas berada disini, mengapa kalian tak berani masuk menghadapi aku?”

Mendengar tantangan yang mengejek itu, marahlah Giok-hou, serunya: “Siau Mo, Pedang Beracun Pembasmi Iblis Li Giok-hou akan masuk menemui engkau!”

Pemuda itu menutup kata-katanya dengan mencabut pedang terus loncat menerjang. “Giok-hou, jangan masuk!” cegah Nyo Jong-ho.

Tetapi pemuda itu sudah terlanjur mengayunkan tubuh. Dan dia memang memiliki ilmu ginkang atau meringankan tubuh yang hebat. Sekali berayun, sudah tiba di muka pintu ruang villa.

Kuatir muridnya mendapat bahaya, Nyo Jong-ho pun terpaksa ikut loncat menyusul.

Tiba-tiba ruang villa yang semula gelap itu, mendadak terang. Tentulah Siau Mo menyalakan lampu. Li Giok-hou dan Nyo Jong-ho terus menyerbu masuk. Tetapi apa yang mereka saksikan dalam ruang benar- benar membuat mereka terkejut ngeri.

Pada tiang penglari dari ruang villa itu, tergantung dua sosok tubuh manusia. Angin malam berhembus dan kedua sosok tubuh itupun bergelantungan kian kemari......

Ketika Giok-hou dan Nyo Jong-ho memandang dengan teliti, kiranya kedua mayat yang digantung itu ialah dua orang anak buah yang disuruh Nyo Jong-ho untuk menyelidiki keadaan dalam rumah villa itu.

Saat itu Hong-hu Hoa, Tong Ki, Cu-ing dan jago tua Han Ceng-jiang pun sudah berhamburan masuk ke dalam ruangan.

Kecuali dua sosok mayat yang bergelantungan pada tiang penglari dan darah yang berketes-ketes turun ke lantai, Pendekar Ular Emas Siau Mo sama sekali tak tampak bayangannya.

Giok-hou penasaran sekali. Sambil membabat tali penggantung kedua mayat itu, ia berseru menantang: “Hai, Siau Mo, engkau bersembunyi dimana?”

“Aku disini, masakan engkau tak mengetahui?” tiba-tiba terdengar suara Siau Mo menyahut. Dan serempak dengan itu dari arah kamar tulis menyala sebatang korek api......
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar 100 Hari Jilid 01"

Post a Comment

close