Pedang Tanduk Naga Bab 10 Berjumpa Ban Hong Liong-li (Tamat)

Mode Malam
Bab 10 Berjumpa Ban Hong Liong-li (Tamat)

Gin Liong segera memacu kudanya, sepanjang jalan mereka tak bicara, seluruh perhatian tercurah untuk mencongklangkan kudanya.

"Lan-moay. apakah disana itu ?" tiba2 Gin Liong menuju jauh ke muka.

"Ah, mengapa ribut2 saja ?" sahut Yok Lan. "Apa engkau tak melihat apa?"

"Tidak" sahut Yok  Lan. Tiba2 nona itu meloncatkan kudanya sampai tiga tombak tingginya dan memandang kemuka "hai, apakah bukan seutas aliran panjang warna merah meluncur kemuka" Gin Liong juga loncat keatas pohon lalu berteriak girang: "Cepat, itu tentulah Liong Li locianpwe yang menempuh perjalanan pada malam hari."

Kemudian setelah loncat turun ke atas punggung  kuda, ia segera mencongklangkan sekencang angin.

Dalam beberapa waktu kemudian kota Liu-lim sudah tampak, Tetapi kuda hitam itu tak menuju ke kota melainkan ke timur laut kota Liu lim melintas hutan. Tetapi ketika Gin Liong memandang kearah hutan itu, girang bukan kepalang. Cepat ia loncat turun dan terus lari menuju kedalam hutan seraya berteriak tegang: "Cianpwe, cianpwe betapa Liong-ji menderita susah payah mencarimu."

Gin Liong terus menubruk haribaan Ban Hong Liong-li yang tengah duduk di sebuah persada makam yang menggunduk besar.

Ban Hong Liong-li berlinang2 airmata, serunya terharu: "Liong-ji nak . ."

"Cianpwe . . " Gin Liong ter-isak2.

Saat itu Yok Lanpun datang dan terus memeluk Ban Hong Liong-li.

"Ah, kalian tentu menderita . . aku . ." Ban Hong Liong  li tak dapat melanjutkan kata2. ia memeluk kedua anak muda itu dan menangis.

Beberapa saat ketiga orang ini terbenam dalam keharuan, Setelah masing2 puas menumpahkan perasaan hatinya selama ini, berkatalah Ban Hong Liong-li.

"Liong-ji, kaca wasiat yang engkau peroleh itu merupakan suatu pusaka yang tiada duanya dalam dunia persilatan. Sejak kini hidup mati. bangkit runtuhnya dunia persilatan terbeban di bahumu. Engkau harus belajar dengan tekun dan mengamalkan ilmumu itu demi kepentingan dunia persilatan."

Diam2 Gin Liong terkejut dalam hati karena ternyata Ban Hong Liong li tahu peristiwa itu.

"Murid tentu akan mengindahkan nasehat cianpwe hanya saja . ."  sampai disini Gin Liong tak dapat melanjutkan kata2nya. Dalam perasaannya ia tak percaya kalau Ban Hong Liong-li itu yang membunuh gurunya.

Tetapi sudah berpuluh ribu li ia menempuh perjalanan, bukankah tujuannya akan mengejar jejak Ban Hong Liong- li ? Bukankah ia  hendak meminta penjelasan tentang peristiwa pembunuhan suhunya itu ?

Rupanya Yok Lan tahu apa yang hendak di katakan Gin Liong, cepat ia berseru: "Liong-ko. lekas engkau tunjukkan bukti supaya cianpwe dapat memeriksa."

Gin Liong tersadar, serentak ia berkata.

"Cianpwe, adakah cianpwe mengetahui juga tentang peristiwa sedih yang telah menimpa suhu?"

Mendapat pertanyaan itu, seketika wajah Bang Hong Liong li berobah pucat, Airmatanya bercucuran deras dan dengan ter-isak2 ia berkata: "Aku . . ta . . hu . ."

Gin Liong terkejut. Diam2 ia membatin apakah wanita itu yang membunuh suhunya. Segera ia mengeluarkan badik Kim-wan-jak lalu dipersembahkan kehadapan Ban Hong Liong-li.

"Inilah . . senjata . . yang telah . . merenggut . . jiwa suhu

. . " kata Gin Liong dengan ter-sendat2.

Melihat senjata itu pecahlah tangis Ban Hong Liong-li. Segera ia menyambar badik emas dari suku Biau itu, menengadahkan kepala dan berseru dengan pilu. "Wulanasa ! Wulanasa ! Apa artinya engkau hidup, engkau . . "

Melihat Ban Hong Liong-li menangis seperti anak kecil, Yok Lanpun ikut menangis. sedangkan dengan air mata bercucuran Gin Liong masih dapat  mengajukan pertanyaan: "Cianpwe apakah engkau tahu senjata itu ?"

Se-konyong2 Ban Hong Liong-li deliki mata dan terlongong sampai lama, Setelah itu ia menunjuk pada empat huruf kecil pada batang badik itu.

"Wulanasa adalah nama kecilku." serunya.

Gin Liong makin tergetar serunya tak percaya: "Apakah .

."

"Dengan membawa bukti badik itu engkau hendak

menuduh bahwa aku yang membunuh suhumu?" Ban Hong Liong li menukas tiba2.

"Liong-ji . . tidak . . berani . . " sahut Gin Liong terbata2.

Wajah Ban Hong Liong-li makin marah, serunya geram: "Tidak berani . . ? Mengapa engkau tidak menyatakan "bukan" ? Begitu berjerih payah engkau mengejar aku, apakah maksudmu bukan karena hendak menunaikan balas untuk si Hati batu Kiong Cu-hun itu ?"

Nada dan kata2 Ban Hong Liong-li penuh ketegangan yang memuncak. Gin Liong sampai mundur dua langkah dan berseru: "Walaupun memiliki keberanian sebesar langitpun, aku tentu tak berani menuduh begitu. Aku hanya hendak mohon keterangan kepada cianpwe."

Dengan nada masih mendendam kemarahan Ban Hong Liong li berseru : "Baik, akan kuberimu sebuah keterangan

!" Habis berkata ia terus mencabut sebatang badik dari pinggangnya. Sebuah badik emas yang sama bentuknya dengan badik yang dibawa Gin liong tadi, kemudian badik itu dilempar ke muka Gin Liong: "Sambutlah, periksa dulu badik ku ini, baru nanti kita bicara lagi !"

Gin Liong tak tahu apa yang harus dilakukan. Terpaksa ia melakukan perintah. Setelah diperiksa dengan teliti jelas badik itu sama benar dengan badik emas yang dibawanya tadi, Lalu ia menghadap pandang kearah Ban  Hong Liong- li dan berkata dengan bingung : "Cianpwe."

"Masih belum jelas, bukan ? Ah . ." Ban Hong Liong-li menghela napas rawan, kemudian berpaling dan berkata kepada dua buah batu besar yang berada di sampingnya: "ceritanya panjang sekali, Duduklah, aku akan membuat kalian mengerti duduk perkaranya"

Gin Liong dan Yok Lan lalu duduk dikanan kiri Ban Hong Liong-li. Tampak wanita itu memandang jauh ke cakrawala, baru mulai membuka mulut.

"Liong-ji, tahukah engkau apa arti dari huruf "Sian-no- kim-te" yang terukir pada batang badik emas itu ?"

Sahut Gin Liong. "Jika murid tak salah terka, huruf itu merupakan nama dan seorang gadis Biau."

Ban Hong Liongli mengangguk: "Benar, memang nama seorang gadis Biau, Dan gadis itu engkaupun pernah melihatnya"

"Aku pernah melihat..." Gin Liong terkejut. "Hm . ."

"Cianpwe . ."

"Dengarkan aku bicara lebih lanjut !" kata Ban Hong Liongli lalu melanjutkan ceritanya. "Menurut adat istiadat suku kami Biau, pada waktu melahirkan anak baik perempuan atau lelaki, pada waktu selamatan hari yang ketiga, sanak famili dan handai taulan, tentu datang memberi selamat dan membawa barang bingkisan."

"Bingkisan apa ?" seru Yok Lan. "Setiap orang harus membawa logam."

"Logam sebagai bingkisan?" Gin Liong terbelalak heran.

"Setiap orang Biau tentu memiliki sebatang golok. Golok itu sesungguhnya diperuntukkan barang bingkisan pada setiap hari ketiga bilamana ada yang melahirkan anak. Oleh karena itu yang keluarganya banyak, bingkisan logam yang diterimanyapun makin banyak, Golok yang dibuatnyapun makin lebih tajam. Oleh karena itu golok Biau terkenal tajam sekali."

"Kedua batang golok ini apakah dengan cara itu dibuatnya ?" tanya Gin Liong.

Ban Hong Liong-li mengangguk, kemudian melanjutkan pula:

"Kedua badik Kim-wan-jau ini. adalah dibuat dari beribu kati logam bingkisan untukku dan gadis Biau yang bernama Sanukim. Oleh karena keluarga kami merupakan dua keluarga yang terkemuka dalam suku Biau. Hampir sepuluh tahun lamanya logam itu dibuat, sehingga setelah kami berumur sepuluh tahun barulah dapat menerima golok itu. Dengan begitu, golok itu luar biasa tajamnya, jarang terdapat tandingannya didaerah Biau."

Berhenti sejenak menghela napas, Ban Hong Liong-li melanjutkan pula: "Kebetulan aku dan Sanukim lahir pada tahun,  bulan dan hari yang sama. upacara penerimaan golok dilakukan dalam sebuah paseban. Semua hadirin memuji kami berdua seperti sepasang kakak beradik. Dalam upacara itu selain mengangkat saudara pun kami berdua saling bertukar golok sebagai tanda pengukuh !"

Serentak Gin Liong sadar, serunya: "Ah, jika demikian, Sanukim itulah yang membunuh suhu."

"Tetapi mengapa ia harus membunuh suhu?" Yok Lan memberi tanggapan lain.

Ban Hong Liong-li kembali menghela napas panjang. sepasang matanya berlinang2 mengambang airmata, mulutnya berkata pelahan:

"Hmmm !"

"Cianpwe, Sanukim . "

Ban Hong Liong-li cepat mencegahnya bicara  lalu melanjutkan penuturannya:

"Aku dan Sanukim sama berangkat dewasa dan hubungan kami sudah seperti saudara kandung. karena ia dari keluarga orang persilatan maka diapun mempelajari ilmu silat. Sedang karena aku memiliki bakat dan kecerdasan maka akupun memiliki ilmu silat juga, Entah sudah berapa puluh pemuda Biau yang putus asa dan patah hati terhadap kami berdua tetapi kami berdua memang sudah bertekad takkan menikah dengan pemuda Biau yang biasa."

Sejenak berhenti, Ban Hong liong-li melanjutkan lagi: "Daerah Biau yang selama ini aman tenang, pada suatu masa telah dilanda oleh pergolakan. Pada waktu itu muncullah seorang pemuda suku Han, seorang berbakat cemerlang dan memiliki ilmu silat yang sukar diukur tingginya. Selama beberapa bulan, dia telah menggetarkan daerah Biau dan tak ada seorangpun yang mampu menandinginya."

"Cianpwe, apakah engkau dan Sanukim tidak muncul untuk menghadapi pemuda Han itu?" tiba2 Yok Lan menukas.

Ban Hong Liong-li berobah cahaya mukanya dengan berkata dengan geram: "Justeru pertempuran itulah yang merusak . ."

"Cianpwe, apakah engkau kalah ?" seru Gin Liong. "Tidak."

Ban Hong Liong-li gelengkan kepala: "Badik Kim-wan-ja dari Sanukim dapat dipentalkan jatuh olehnya tetapi aku dapat menghadapinya selama tiga hari tiga malam, walaupun sudah melangsungkan seribu jurus namun tetap belum ada yang kalah dan menang !"

Yok Lan sangat tertarik sekali sehingga ia mendesak : "Lalu ?"

"Kemudian kita damai dan bahkan menjadi sahabat baik, Kita bertiga berkelana menikmati alam pemandangan yang indah di daerah Biau, berenang2 ditelaga, bernyanyi2 di bawah sinar rembulan, berlatih ilmu pedang sehingga tanpa terasa telah berjalan sampai berbulan2."

Tiba2 muka Yok Lan tersipu merah, serunya "Pergaulan antara pria dan wanita yang sedemikian akrabnya mungkin akan menimbulkan untaian tali asmara."

"Engkau benar, nak." Ban Hong Liong-li berseru rawan, "sang waktu memang dapat menumbuhkan asmara. Tanpa disadari aku dan Sanukim telah sama2 jatuh hati kepada pemuda suku Han itu" "Ah, itupun mudah," tiba2 Gin Liong menyeletuk, "diakan dapat menentukan pilihannya."

Ban Hong Liong-li menghela napas dalam2, ujarnya: "Dia memang memilih. Setelah tahu bahwa kami berdua mencintainya, ia lalu memutuskan memilih yang terbaik daripada tiga-puluh enam cara ialah dengan diam2 ia telah tinggalkan daerah Biau, kembali ketanah Tionggoan lagi."

"Mengapa cianpwe tak menyusulnya ke Tionggoan dan menjelaskan kepadanya?" tanya Yok Lan.

"Ya," sahut Ban Hong Liong-li dengan tegang "kutinggalkan ibuku dan tanpa memberitahu kepada Sanukim, seorang diri aku menuju ke Tionggoan Aku menjelajah tiga belas propinsi, namun ia tetap menghilang seperti segunduk batu yang silam di tengah laut"

"Karena dia seorang persilatan, asal cianpwe menyelidiki pada orang2 persilatan masakan tak dapat bertemu ?" kata Gin Liong.

"Hm," dengus Bang Hong Liong-li, "setelah berjerih payah mengembara di empat penjuru, perangaikupun bertambah keras, Aku suka marah2 dan suka pula melukai orang, Terutama jago2 silat yang namanya jahat, entah berapa jumlahnya yang mati di tanganku, Tiga tahun aku berkelana dengan berlumuran darah . ."

Yok Lan menghela napas: "Tindakan cianpwe itu tentu didasarkan karena rasa geram dan kedua kali untuk memancing supaya pemuda itu keluar dari tempat persembunyiannya."

"Tetapi adakah pemuda Han itu akhirnya mau keluar?" tanya Gin Liong.

Ban Hong liong Ii gelengkan kepala. "Ia tak mau muncul." kata Ban Hong Liong-li, "dalam pada itu Sanukimpun juga tahu tindakanku dan akhirnya ia juga mencari ke Tionggoan Dia melakukan pembunuhan di dunia persilatan dan liciknya, ia tak mau menggunakan namanya sendiri melainkan memakai nama Ban Hong Liong-li. Tak peduli tokoh aliran Hitam atau Putih, dibunuhnya semua. Dengan begitu jadilah Ban Hong Liong li seorang momok wanita yang dibenci dan ditakuti dunia persilatan."

"Ia tentu marah karena putus asa, ia melakukan pembunuhan itupun tentu hendak memancing pemuda itu supaya keluar dari tempat persembunyiannya" kata Yok Lan.

Tampak wajah Ban Hong Liong-li agak tenang dan berkatalah dia dengan rawan: "Rupanya Allah menaruh kasihan juga atas jerih payahku, Akhirnya aku berhasil menemukan tempat persembunyiannya."

"Omitohud " teriak Yok Lan girang, "apakah cianpwe sudah menemukan dia ?"

"O, dimanakah ia bersembunyi ?" seru Gin Liong ikut gembira juga.

Dengan nada hambar berkatalah Ban Hong Liong-li: "Di kuil Leng-hun-si di puncak Hwe-sian-hong gunung Tiang- pek-san."

Serentak menggigillah Gin Liong. ia melonjak bangun dan menjerit: "Cianpwe, pemuda Han itu . ."

"Giok-bin-su-seng Kiong Cu Hun." tukas Ban Hong Liong-li, Gin Liong dan Yok Lan seperti di sambar petir dan terlongong2. Beberapa saat kemudian baru Ban Hong Liong-li berkata: "Pemuda Giok-bin-su-seng yang dulu sudah berobah menjadi Liau Ceng taysu, Bukankah nasib memang hendak mempermainkan orang."

Airmata Yok Lan bercucuran ia ikut merasakan kesedihan hati Ban Hong Liong-li, tanyanya dengan nada rawan: "Pada waktu itu bagaimana suhu memberi keterangan ?"

"Bukan saja dia berkeras tetap hendak menjadi biarawan pun dia menganggap bahwa peristiwa yang lampau itu sebagai suatu impian saja. Diapun menyesalkan perbuatanku main bunuh dalam dunia persilatan."

Gin Liong kerutkan alis, berkata : "Seharusnya cianpwe memberi keterangan tentang tindakan Sanukim dan juga menerangkan bahwa yang cianpwe bunuh itu hanialah orang2 jahat saja."

"Sudah tentu aku menjelaskan begitu tetapi dia tetap tak percaya." Ban Hong Liong-li gelengkan kepala.

"Aneh, mengapa suhu begitu keras kepala ?" gumam Yok Lan.

"Ah hal itu tak dapat mempersalahkan dia" kata Ban Hong Liong-li, "karena dia ketahui perangai Sanukim itu lebih tenang dan alim dari aku. Begitu pula dia menduga bahwa aku dan Sanukim tentu sudah bersepakat untuk mengadakan pembunuhan di Tionggoan itu."

Tiba2 Gin Liong teringat soal Ban Hong Liong-li telah dikurung dalam guha Kiu-kiok-tong, maka ia bertanya: "Kemudian bukankah suhu telah memenjarakan cianpwe di guha Kiu-kiok-tong selama lima tahun ?"

Ban Hong Liong-li gelengkan kepala. "Tidak, suhumu hanya menasehati aku supaya kembali ke Biau-ciang, mensucikan diri untuk menebus dosa."

"Lalu siapakah yang mengurung cianpwe dalam guha Kiu-kiok-tong itu?" tanya Gin Liong pula.

Ban Hong Liong-li tertawa hambar. "Aku sendiri."

"Cianpwe sendiri ?" Gin Liong terkejut.

"Demi untuk menyatakan kesungguhan hatiku di hadapan suhumu dan hud-cou, aku rela mengurung diri selama lima tahun sebagai penebus dosa. Dan aku bersumpah bahwa selama lima tahun itu aku takkan membunuh. Kupilih gua Kiu-kiok-tong agar suhumu datang kesitu untuk mencegah, kedua kalinya . ." berkata sampai disitu Ban Hong Liong-li tersipu2 malu.

Tiba2 teringatlah Gin Liong bahwa pada ujung keluar guha itu dapat tembus kekuil Leng-hun si, tepat dibelakang kebun dari tempat tinggal suhu nya.

"Agar dapat bertemu dengan suhu, bukan ?" cepat Gin Liong berkata.

Ban Hong Liong-li mengangguk : "Benar ! setiap malam aku menuju ke hutan siong memandang kearah tempat tinggal suhumu. Bermula suhumu tak tahu. Tak peduli hujan angin ataupun turun salju, selama dua tahun, tak pernah aku tak datang ke hutan siong itu. Pada suatu malam karena kurang hati2. begitu keluar dari guha, aku telah menginjak salju sampai pecah sehingga menimbulkan suara dan kepergok."

"Seharusnya suhu dapat menerima cianpwe." kata Gin Liong dengan hati tergerak. "Ah. mana begitu sederhana" Ban Hong Liong-li berkata tawar, "suhumu meluluskan aku setiap malam pada hari2 yang bertanggal 3, 6, 9, boleh datang ke kamar tinggalnya satu kali. Setiap kali datang, dia suruh aku berlutut di kakinya untuk mendengarkan ia membaca kitab Kim-kong- keng sampai tujuh kali sebagai doa mohon pengampunan atas dosaku. Setelah itu dia akan memberi pelajaran tentang penerangan batin dan membimbing aku menuju  kepintu Buddha."

Yok Lan menghela napas "Apakah kesudahannya hanya begitu saja ?"

"Begitu saja, pun aku sudah puas" kata Ban Hong Liong- li dengan rawan, "dan hal itu berjalan sampai tiga tahun tetapi pada saat itu masa aku mengurung diri dalam guha selama lima tahunpun sudah habis"

"Itulah sebabnya mengapa jago2 golongan Hitam berbondong2 datang hendak menuntut balas kepada cianpwe" seru Gin Liong.

"Mengapa selama lima tahun itu mereka tak mau mencari cianpwe ?" Yok Lan menyelutuk.

Ban Hong Liong-li tertawa hambar:

"Selama lima tahun itu entah berapa puluh kali mereka mencari aku tetapi telah dihalau pergi oleh suhumu. Dengan bengis, suhumu menandaskan bahwa selama lima tahun aku mensucikan diri dalam guha itu. tiada seorang persilatanpun yang diperbolehkan datang cari perkara, Mereka gentar akan kesaktian suhumu sehingga tak berani datang."

Gin Liong pejamkan mata seperti merenungkan sesuatu. "Liong-ji apa yang engkau pikirkan ?" tiba2 Ban Hong

Liong-li menegurnya. Gin Liong membuka mata dan memandang Ban Hong Liong-li tapi sampai lama tak bicara.

"Ai, mengapa engkau tak bicara ?" seru Ban Hong Liong-

li.

Sambil tundukkan kepala, Gin Liong menyahut enggan:

"Kesimpulan dari keterangan cianpwe tadi memberi kesan bahwa cianpwelah yang membunuh suhuku."

Ban Hong Liong-li tertawa dingin:

"Ceritaku belum selesai, bagaimana engkau berani mengatakan begitu ?"

"Ya, cianpwe belum selesai bercerita, mengapa engkau terburu nafsu ?" Yok Lan ikut menyesali.

Merah wajah Gin Liong. Memandang ke cakrawala ia berkata tersipu2 : "Rembulan sudah condong ke barat kemungkinan malam sudah makin larut"

Ban Hong Liong-li tak menghiraukan dan melanjutkan ceritanya.

"Dari muka guha muncul Ma Toa Kong dan kawan2, sedang dari belakang datang benggolan yang lebih besar lagi."

"Oh, siapa ?" Gin Liong terkejut.

Dalam kerut wajah yang sukar diterka sedih atau marah, Ban Hong Liong-li memandang badik Kim-wan-ja yang berada dimukanya dan berkata dengan nada gemetar: "Pemilik badik ini Sanukim."

Yok Lan terperanjat.

"Ketika mendengar aku masih hidup dan menjalani derita mengurung diri dalam guha selama lima tahun, sikap Kiong Cu Hun yang berkeras tak mau merobah pendiriannya, maka timbullah kemarahannya. Dia mendesak supaya aku mau diajaknya membunuh suhumu. Cobalah kalian pikir, bagaimana mungkin aku sampai hati untuk membunuh suhumu."

Darah Gin Liong bergolak keras sehingga badik yang dipegangnya itu ikut gemetar.

"Saat itu engkau, Liong-ji, sedang minum pemberianku pil Tok-liong-tan. Aku tak dapat meninggalkan tempat itu dan harus melindungi engkau, Sanukim menerobos keluar dari guha, Sejam kemudian ia kembali lagi keguha, menangis sampai matanya membenjul. Dia memberitahu kepadaku bahwa dia . . telah membunuh . . . Cu Hun . . " sampai disini Ban Hong Liong-li tak dapat menahan tangisnya. Yok Lanpun ikut menangis.

"Apakah suhu membiarkan saja dirinya ditusuk dengan badik itu ?" tiba2 Gin Liong bertanya.

Sambil bercucuran airmata, Ban Hong Liong li berkata: "Kebetulan saat itu tanggal sembilan belas hari dimana aku boleh bertemu dengan Kiong Cu Hun. Melihat yang datang Sanukim, suhumu pun menggunakan cara seperti yang dilakukan terhadap diriku. Tetapi Sanukim tak mengacuhkan bahkan menasehatkan supaya suhumu menanggalkan baju pertapaan dan kembali menjadi orang biasa lagi, bersama2 kembali ke Biau-ciang untuk menikmati sisa hari tua. ."

"Ah, itu suatu perasaan yang wajar dari setiap wanita." kata Yok Lan.

"Suhumu seorang lelaki yang berhati teguh sudah tentu dia tak mau menerima permintaannya ? Karena cinta, Sanukim membenci Karena benci timbullah rasa dendam. Menggunakan kesempatan disaat suhumu sedang pejamkan mata melantangkan doa mantra, Sanukim mencabut badik Kim wan-ja dan menikamnya . ."

Sampai disini Ban Hong Liong-li tak dapat melanjutkan kata2nya karena terbenam dalam tangis tersedu sedan. Yok Lan dan Gin Liong pun ikut menangis.

Sesaat kemudian Ban Hong Liong-li melanjutkan pula: "Pada     saat     kudengar     pengakuan     Sanukim   telah

membunuh   suhumu,   seketika   meluaplah   kemarahanku.

Aku kalap dan tak ingat apalagi, ku-hantam dia dengan pukulan Toa-lat-jiu-hwat sehingga kawan sepermainanku di masa kecil dan Sanukim yang telah kuanggap sebagai adikku sendiri tewas.."

Pada saat itu teringatlah Gin Liong akan mayat seorang wanita yang berada dalam guha, Kiranya dia Sanukim.

Pada saat itu Ban Hong Liong-li berkata pula dengan nada haru:

"Nasibku memang malang. Sejak kecil aku tak mempunyai ayah, Kekasih yang paling kucintai didalam dunia akhirnya binasa dibawah badik Kim-wan ja. Kawan satu2nyapun mati ditanganku. Apakah masih punya gairah untuk hidup dalam masyarakat ramai ? untunglah aku telah mendapat banyak wejangan dan penerangan batin dari Cu Hun, bahwa segala apa itu memang sudah terlingkup dalam hukum Karma. Aku menyadari hal itu, Maka kuharap kalian . ."

Tiba2 Ban Hong Liong-li ayunkan badik Kim wan-jak kearah kepalanya sendiri.

"Hai..." Gin Liong dan Yok Lan menjerit  kaget  dan cepat menyambar tangan Ban Hong Liong-li Tring . . badik tertampar jatuh tetapi tangan kiri telah menggenggam sutera warna hitam, mengusap airmata, wajahnya pucat dan tegang.

"Cianpwe ! cianpwe ! Mengapa engkau berbuat begitu !" Yok Lan menjerit dan memeluk tubuh ibu gurunya.

Dengan airmata bercucuran, Ban Hong Liong li memandang sutera hitam di tangannya dan berkata dengan tersendat2: "Tali pelenyap kesedihan hati, seumur hidup tiada pernah mengenyam ketenangan, peristiwa di dunia ini laksana air mengalir budi dan cinta bagai bunga gugur . ."

Setiap patah kata diucapkan dengan iringan air mata. "Cianpwe, kini segala peristiwa telah terang, mengapa

cianpwe masih begitu berduka ?" kata Gin Liong.

Ban Hong Liong-li tertawa rawan:

"Suku Biau hanya percaya pada dukun. Walaupun aku belum dalam meresapi arti daripada pelajaran yang telah diberikan suhumu selama beberapa tahun itu, tetapi sedikit banyak aku telah mendapat kesadaran. Hidup itu tak lebih hanya impian hampa belaka, Aku sudah  memutuskan untuk mencukur rambut masuk menjadi rahib. Aku akan mengabdikan hidupku dalam dunia yang telah dibukakan oleh Budha, Aku hendak melangkah kejalan yang ditempuh suhumu, mungkin kelak aku dapat . . . bertemu dia."

Gin Liong dan Yok Lan hanya mendengarkan dengan pilu. Tetapi kedua anak muda itu menyadari dan merasakan betapa penderitaan hati yang di alami Ban Hong Liong-li. Keputusan wanita yang berilmu tinggi itu, memang merupakan jalan yang sudah menjadi arah hidupnya.

Sayup2 terdengar ayam berkokok. Hari sudah mulai memancarkan penerangan. Ban Hong  Liong-li membungkus benda hitam yang ternyata rambut kepalanya, lalu diberikan kepada Yok Lan dan Gin Liong. "Liong-ji, Lan-ji ! Suhumu memperlakukan kalian  berdua seperti putera puterinya sendiri, walaupun aku tak pernah melepas budi, tetapi perasaan hatiku kepada kalian berdua juga seperti suhu-mu."

Gin Liong dan Yok Lan serempak berlutut dihadapan Ban Hong Liong li: "Budi cianpwe kepada murid berdua, laksana samudra dalamnya. Walaupun tubuh hancur, namun murid berdua tetap akan berusaha untuk membalas budi cianpwe".

"Sepuluh tahun bersama suhumu, aku tak mempunyai peninggalan apa2, segulung rambutku ini apabila nanti kalian pulang ke Leng-hun-si supaya engkau sembahyangkan di depan jenasah suhumu dan tanamlah disamping Cu Hun. Anggaplah sebagai . . tanda . . perkenalan."

Selekas melemparkan gulungan rambut kepada Gin Liong, Ban Hong Liong-li terus loncat ke udara dan berseru terisak2: "Liong-ji Lan-ji ingatlah baik2 pesanku."

Gin Liong dan Yok Lan terkejut. Keduanya mengejar seraya memangginya: "Cianpwe . ."

Tetapi Ban Hong Liong-li seorang pendekar wanita yang sakti Gerakannya luar biasa cepatnya. Hanya  segulung sinar merah tampak melintas dalam keremangan fajar dan tak lama sudah jauh sekali. Betapapun hendak mengejar namun sia2 saja usaha Gin Liong dan Yok Lan.

Rupanya Ban Hong Liong-li iba juga melihat kesungguhan hati kedua anak muda itu. Di sebuah tanah datar ia berhenti dan menghela napas.

"Di dunia tiada suatu perjamuan yang takkan berakhir. Kalian mempunyai jalan hidup sendiri dan akupun hendak menuju ke tujuanku sendiri. Masing2 sudah mempunyai garis perjalanan hidup sendiri, Hanya kuharap kalian, dapat selalu mengingat peristiwaku dengan suhumu, agar dapat bertindak hati2, jangan sampai.."

Sebenarnya hati Ban Hong Liong-li sedang mengalami ledakan yang dahsyat tetapi dengan sekuat kemampuan ia berusaha menekannya. Kemudian sambil gelengkan kepala, ia dorongkan kedua tangannya.

"Aku tak dapat tinggal di dunia persilatan yang penuh derita batin." serunya seraya melayang sampai 7-8 tombak dan pada lain kejap lenyap dalam kabut gelap.

Kedua anak muda itu tegak ter-Iongong2 sampai lama sekali, Kuatir sukonya berduka, Yok Lan segera membuka mulut: "Liong koko, locianpwe sudah pergi jauh."

Gin Liong seperti terjaga dari mimpi, ia menghela napas. "Ah, tak kira kalau suhu seorang yang berhati keras begitu, Dia memutus asmara hati seperti memutus tali saja. Tetapi dia tentu tak tahu bagaimana penderitaan Ban Hong Liong- li lo cianpwe, yang walaupun hidup tetapi lebih sengsara daripada mati."

Yok Lan tak mau bicara berkepanjangan, ia  segera mengajak sukonya untuk mencari tempat istirahat Mereka menuju ke penginapan Liu-lim tian, Hari masih  pagi, jongos rumah penginapan menyambut keluar tetapi demi melihat kedua anak muda itu menyelip pedang, buru2 ia mengatakan kalau tak ada kamar.

"Jangan takut, bung, pedang ini hanya untuk pelindung diri dalam perjalanan." kata Gin Liong seraya mengeluarkan sekeping uang perak dan diserahkan kepada jongos itu: "Lekas sediakan dua kamar, teh, hidangan pagi dan makanan untuk kuda kami, Kalau kurang kutambah lagi." Jongos itu silau melihat uang sekian banyak, Serta merta ia mempersilahkan kedua tetamunya masuk. Begitu masuk kamar, Yok Lan terus tidur.

Tak berapa lama hari sudah pagi dan ramailah para tamu bangun, Diantaranya terdengar orang berkata kepada kawannya. Dari nada suara orang itu. Gin Liong seperti sudah pernah kenal.

"Saudara2" seru orang itu. "kita harus lekas melanjutkan perjalanan ke Hoksan agar toako-ku jangan kepayahan menunggu."

"Sam-tiangke" seru seorang yang nadanya melengking seperti orang banci, jangan kuatir urusan itu kami juga harus ikut campur, Menilik harta karun yang  berada dipunggung kuda nya, tentu kami takkan melepaskannya."

Dari nada suaranya jelas mereka kawanan jago aliran hitam. Gin Liong tak menghiraukan karena menganggap mereka tentu hanya jago2 silat tak berarti.

"Sam tiangke" tiba2 suara orang banci itu melengking pula, "lo toa kalian itu hendak merencanakan secara terang atau secara diam2."

"Jika sukar menggunakan cara terang, terpaksa kita menggunakan jalan gelap." sahut orang yang ditanya.

Dalam berkata itu, orang tersebut telah berjalan melalui jendela kamar Gin Liong, Gin Liong mengintip dari celah jendela dan dua lelaki tinggi dan seorang pendek, menggendong buntalan warna kuning, rupanya buntelan senjata.

Mereka bertubuh kekar, mata berkilat2 tulang pelipisnya menonjol dan berjalan dengan gagah. Gin Liong tak tahu siapa mereka. Kemudian yang paling akhir, tampak seorang lelaki berumur 40-an tahun, muka kurus, menyanggul sebatang go lok Gan-leng-to, Ciri satu2nya, sebelah kiri daun telinganya hilang.

Gin Liong seperti pernah melihat tetapi lupa di mana. "Liong koko" tiba2 ia terkejut dan berpaling, Ternyata

Yok Lan sudah berada dibelakangnya.

"Apa yang engkau lihat di luar itu sehingga engkau tak mendengar kalau aku masuk ke kamar ini."

Agak merah muka Gin Liong. sahutnya: "Sekawanan orang persilatan hendak melanjutkan perjalanan."

"Mengapa sampai begitu asyik sekali engkau melihat mereka ?" Yok Lan menggerutu, "Liong koko, sejak bertemu dengan Liong-li locianpwe, tampaknya engkau berduka. Kalau sampai mengganggu kesehatanmu bukankah sayang ?"

"Ah, tidak . ." Gin Liong hanya dapat menjawab sekenanya.

"Hm, Liong koko, jangan engkau mengelabui aku. Coba lihat, kasur dan selimut tidak kumal, jelas engkau tidak tidur Hm, dalam beberapa bulan ini kulihat engkau tak tenang tidur dan tak enak makan. seharusnya engkau banyak beristirahat."

Tahu bahwa semuanya itu memang amat cintainya, Gin Liong hanya menjawab: "Banyak pesanan Ban Hong Liong- li yang belum kita laksanakan. Sudah tentu aku gelisah, Apabila segalanya sudah selesai, pada waktu itu kemungkinan aku akan mengikuti jejak suhu. ."

"Liong koko, jangan berkata begitu !" Yok Lan menjerit dan tutupkan jarinya ke mulut Gin Liong. Dalam keadaan begitu, tiba2 diluar kesadarannya Gin Liong terus memeluk tubuh Yok Lan, Yok Lan pun menyerah. Dia menengadahkan muka, menanti.

Dalam detik2 seperti saat itu, lupalah sudah Gin Liong akan segala kesadaran, Gin Liong segera mereguk bibir Yok Lan, bagaikan seorang musafir yang kehausan

Lama sekali barulah Yok Lan berusaha untuk meronta dan setelah melepaskan diri lalu melengking: "Huh, tak malu, Baru saja mengatakan hendak masuk menjadi paderi, tahu2 sudah menggigit bibirku !"

Gin Liong tak meladeni katanya: "Ah, lebih baik kita segera melanjutkan perjalanan."

"Tetapi kemanakah kita hendak pergi ?" tanya Yok Lan. "Karena  tugas  kita  untuk mencari jejak pembunuh suhu

sudah selesai, lebih baik kita pulang untuk segera mengurus penguburan  jenasah  suhu  dan  sekali  melaksanakan  pesan

Liong-li locianpwe." kata Gin Liong.

Begitulah mereka pulang ke gunung Tiang-pek-san, Tetapi ditengah jalan tiba Yok Lan mengingatkan Gin Liong akan Tio Li Kun yang tentu mengharap kedatangannya di gunung Mo-thian-san.

"Teringat taci Li Kun dipanggil pulang, tentulah gunung Mo-thian-san sedang menghadapi bahaya. Baiklah kita singgah dulu kesana, koko", kata Yok Lan.

Gin Liong setuju, Tiba di gunung Mo thian-san, mereka disambut oleh barisan obor. Seekor kuda melesat  keluar dari mulut gunung, penunggangnya ternyata Siau-bun-Tio Tek Cun, orang keenam dari ketujuh saudara Tio.

Pertemuan itu sangat menggirangkan sekali Gin Liong dan Yok Lan segera diajak masuk ke-dalam markas. "Ai, Liong-ji, kalian tentu letih, silahkan engkau beristirahat diruang perpustakaan dan nona Ki di kamar tidur," kata nyonyah Tio tua setelah menerima dan menjamu kedatangan kedua anak muda itu.

Didalam ruang peristirahatannya, Gin Liong tidak tidur melainkan duduk bersemedhi menyalurkan tenaga murni, ia mendapat keterangan dari ibu angkatnya, nyonyah Tio tua, bahwa Patkoay atau Delapan manusia aneh, akan menyerang gunung Mo thian-san.

Tetapi ternyata sampai tengah malam, tiada terdengar suara apa2. Pada saat Gin Liong merasa heran, tiba2 daun pintu bergerak dan tahu2 sesosok tubuh hitam telah menubruknya.

Gin Liong terkejut dan cepat hendak tutukkan kedua jarinya ke perut penyerang itu, Tetapi orang itu tak mau menghindar melainkan merentang kedua tangan dan berteriak: "Hm, apakah engkau benar2 hendak membunuh jiwaku !"

Gin Liong terkejut: "Ah, taci Kun, engkau mengejutkan aku !"

"Huh, masih bisa bilang begitu ?" si jelita Li Kun menggumam, "bukankah aku hampir mati ditanganmu ?"

Gin Liong tersipu-sipu: "Tetapi mengapa engkau tak mau bilang sehingga hampir saja aku berdosa ?"

"Mati ditanganmu, aku puas," kata Li Kun.

Betapapun Gin Liong seorang pemuda yang masih berdarah panas, Sudah tentu ia tergerak mendengar ucapan si jelita.

"Liong koko," kata Li Kun, "sejak berpisah dengan engkau, aku selalu terkenang padamu, cobalah pikirkan, aku sudah . ." ia  tak melanjutkan kata2nya melainkan tundukkan kepala kedada Gin Liong,

Gin Liong tahu bahwa yang akan dikatakan si jelita itu tentu buah dari hubungan mereka tempo hari.

"Taci Kun, apakah . . . . engkau sudah memberitahu hal itu kepada mamah ?" tanya Gin Liong.

"Masakan aku berani bilang ? Kalau mau bilang, engkau yang wajib bilang."

"Tetapi bagaimana aku dapat membuka mulut ?" Gin Liong tersipu-sipu merah mukanya.

"Kalau engkau malu, masakan aku tidak ?"

"Tetapi engkau dapat mengatakan kepada ke lima ensoh, karena kalian... Kalian sama2 kaum wanita, apalagi hubungan di antara ipar sendiri..."

"Aku tak peduli," kata Li Kun, "pokok aku sudah menjadi orangmu, terserah saja engkau hendak mengapakan diriku, Kalau tak dapat hidup bersama, lebih baik aku mati !"

Berkata sampai disitu airmata Li Kun berderai2 membasahi pipinya.

Gin Liong tergopoh menghiburnya: "Taci Kun mengapa engkau berkata begitu ? Aku bukan seorang lelaki yang rendah budi, Apalagi kita sudah . . . mempunyai . . hubungan darah, walaupun tak dapat hidup bersama tetapi kita akan mati seliang, inilah janjiku"

"Liong . . " cepat Li Kun menukas, "ucapan mu itu akan menjadi pedoman hidupku !"

Aku . . " belum selesai berkata tiba2 Gin Li ong terbeliak, mendorong Li Kun, meniup padam lampu dan berseru: "Hai, siapa itu- Ia terus melesat keluar, loncat keatas genteng, Tetapi empat penjuru, tak tampak suatu apa.

"Apa yang engkau lihat?" tegur Li Kun yang menyusul. "Orang" kata Gin Liong, "ilmu meringankan tubuhnya

luar biasa hebatnya."

"Benar ? Apa tak salah lihat ?"

"Tidak" sahut Gin Liong. "kulihat orang itu berkelebat di luar jendela."

Tiba2 rombongan anak buah yang dipimpin oleh isteri engkoh Li Kun-yang kelima muncul dan menanyakan Gin Liong, Gin Liong agak sukar menjawab.

"Kita seperti melihat bayangan orang lewat di genteng, maka . . ." baru Li Kun menerangkan begitu, isteri bersaudara Tio yang ke tiga sudah menyeletuk tertawa "Ih, kita ini mengganggu kalian yang sedang berdua.

Mereka berjumlah lima orang, isteri dari kelima saudara Tio. Yang lalu2 tertawa mendengar olok2 itu. Gin Liong dan Li Kun tersipu-sipu malu.

"Ah, mari kita pergi," kata yang seorang.

"Kita berlima bersembunyi ditempat gelap, tetapi sejak tadi kita tak melihat apa2," kata isteri persudaraan Tio yang tertua.

Akhirnya isteri jago Tio yang keempat tertawa: "Liong- te, harap engkau menemani adik Li Kun untuk mencari bayangan itu !" habis berkata kelima nyonya muda itu segera pergi.

"Ai, karena engkau, mereka sampai datang mengolok- olok kita," Li Kun menggerutu. "Taci Kun, apakah dalam markas juga diadakan ronda ?" tanya Gin Liong.

"Dalam markas hanya tinggal mamah seorang, yang lain2 engkoh dan ensoh semua berada di luar untuk menjaga kemungkinan Pat-koay menyerang."

Tiba2 Gin Liong teringat seseorang. "Ki sumoay " serunya.

Li Kun tertawa: "Oh, aku tolol. Kiranya engkau sedang memikirkan adik Lan, Mungkin dia masih tidur nyenyak dikamarnya, cobalah engkau jenguk."

"Aku hanya bertanya saja," kata Gin Liong seraya loncat turun, Li Kun tetap mengikuti dibelakangnya, Ketika Gin Liong lewat di jendela dia masih membau hawa yang harum: "Taci Kun bayangan tadi tentu seorang wanita. Cobalah engkau rasakan baunya masih harum."

Li Kun juga membau keharuman itu, ia terkejut: "Benar, mungkin bau harum dari adik Lan."

Mereka berjalan terus dan tiba2 terdengar bunyi terompet, Li Kun mengatakan kalau terompet itu  itu sebagai pertandaan untuk mengumpulkan anak buah yang melakukan penjagaan disekeliling gunung. Saat itu hari memang menjelang terang

Li Kun kembali ke tempatnya sendiri sedang Gin Liongpun masuk lagi ke kamarnya, Tak berapa lama fajarpun tiba, Surya pagi mulai memancarkan sinar.

Tiba2 terdengar gemuruh derap kaki orang dan sesaat kemudian muncullah Tio Tek Cun dengan wajah tegang : "Liong-te, celaka!"

Gin Liong terkejut dan bergegas lari keluar: "Mengapa ?" "Nona Ki telah pergi tanpa pamit!" seru Tek Cun. "Liok-ko, apa katamu ?" teriak Gin Liong seperti disambar halilintar.

"Entah bagaimana nona Ki telah pergi dari gunung ini.

Dia meninggalkan surat." "Mana suratnya ?"

"Berada di tangan mamah." "Apa bunyi surat itu ?"

"Sampulnya ditulis, diberikan kepadamu, maka tak ada yang tahu apa isinya . . ."

Gin Liong cepat menyeret tangan Tek Gun. walaupun Tek Cun tergolong jago yang menonjol diantara ketujuh saudara Tio, tetapi ketika tangannya dicekal Gin Liong, ia tak berdaya lagi, Gin Liong mengajaknya menuju ke markas besar menemui nyonyah Tio tua.

Tampak nyonya Tio tua marah2: "Tentu kita semua orang2 Mo-thian-san ini tidak melayani dengan baik2 sehingga nona Ki pergi . . ."

Begitu melihat Gin Liong, nyonyah tua itu  segera berkata dengan nada tenang: "Liong-ji, Ki sumoay entah bagaimana . .."

"Mah, manakah surat yang ditinggalkannya ?" cepat Gin Liong menukas.

Nyonyah Tio tuapun segera memberi sebuah sampul dan buru2 Gin Liong membacanya:

Kepada Siau Gin Liong suko,

Mendoakan agar suko dapat hidup bahagia  sampai dihari tua dengan taci Li Kun. setelah mempersembahkan hormat kepada suhu, aku akan mengikuti Liong-li locianpwe. Tak usah menguatirkan diriku. Yok Lan. Gin Liong tampak gugup, Setelah menyimpan surat ia segera berkata kepada nyonyah Tio tua: "Mah, Ki sumoay pulang he Leng-hun-si, dan akupun mohon diri hendak menyusulnya."

Habis berkata ia terus melesat keluar. sekalian orang terkejut melihat gerak gerik Gin Liong yang biasanya selalu tenang, Tetapi tak ada orang yang mengetahui kecuali Li Kun. ia mendekati mamahnya dan berbisik: "Mah, engkau harus mengambil keputusan."

Tiba2 muncullah Mo Lan Hwa kedalam markas, Sudah tentu sekalian orang menyambutnya dengan gembira, Mo Lan Hwa mengatakan telah berjumpa dengan Gin Liong tetapi ia tak tahu mengapa pemuda itu begitu tegang sekali."

"Nona Mo, aku hendak menyusul mereka, maukah engkau menemani aku ?"

"Sudah tentu mau," kata Mo Lan Hwa. "Aku juga ikut, mah," seru Li Kun. "Jangan, engkau jangan ikut, dikuatirkan nanti nona Ki "

Tek Piu, saudara kelima dari gunung Mo-thian-san. serentak berseru: "Mah, jangan pergi. Aku sanggup mengundang mereka kemari. Kita tak ada yang menialahinya, mengapa dia pergi tanpa pamit"

Memang Tek Piu itu kasar dan tolol tetapi jujur. Sekalian orang tertawa mendengar kata2nya.

"Tolol, jangan banyak bicara !" bentak nyonyah Tio tua. "Tetapi akukan tak bicara salah ?" bantah Tek Piau. "Semalam Pat-koay tak  jadi datang, tentu ada sebabnya,

Tetapi penjagaan markas harus tetap  diperketat, Nona Mo,

mari kita berangkat " kata nyonyah Tio tua pula. walaupun sudah tua tetapi kepandaiannya jauh lebih hebat dari kelima menantu perempuannya Mo Lan Hwapun mengikuti.

Pada hari ketiga mereka sudah tiba digunung Tiang-pek- san. Dari jauh sudah tampak puncak Hwe-sian-hong yang menjulang tinggi.

Gin Liong lebih dulu sudah tiba di gunung dan terus bergegas mendaki kepuncak, Telinganya yang tajam segera dapat menangkap suara orang menangis, Tetapi ketika ia mendekat gereja Leng-hun-si, suara tangis itu sirap, ia terkejut, Tak mungkin Yok Lan yang belum lama pergi, dapat mencapai gereja dalam waktu  yang sedemikian cepatnya,

Cepat ia berlari menuju ketempat penyimpan jenasah gurunya. Di depan peti jenasah Lau Ceng taysu, ia melihat sesosok tubuh rebah tak berkutik, Ah, siapa lagi kalau bukan Ki Yok Lan,

Kedua mata dara itu memejam, masih terlihat bekas airmatanya yang belum kering. wajahnya pucat, mulut mengancing rapat, kaki tangan dingin seperti es. Dia tentu pingsan,

"Sumoay ! Sumoay ! Mengapa engkau senekad itu  ?" seru Gin Liong berisak2. Tetapi saat itu Yok Lan tak ingat apa2 1agi.

Karena berulang kali meneriaki tetap tak bangun, Gin Liong memegang pergelangan tangan sumoaynya untuk memeriksa denyut nadinya, Lemah sekali, Gin Liong cepat mendudukkan tubuh sumoaynya, ia sendiri duduk dibelakangnya dan melekatkan telapak tangannya ke punggung Yok Lan, lalu mulai menyalurkan hawa murninya. Tetapi ia tahu bahwa tubuh sumoaynya itu sejak kecil memang lemah maka iapun tak berani terlalu keras menyalurkan hawa-murni. Dengan demikian sampai berselang beberapa saat barulah tampak Yok Lan mulai dapat bernapas,

"Lan moay, Lan-moay . . ," Gin Liong berbisik di dekat telinga si dara. Tetapi Yok Lan tetap tak berkutik

Setengah jam kemudian barulah tampak dada Yok Lan berombak. Gin Liong gembira karena tahu bahwa detik yang krisis dari keadaan sumoaynya sudah lewat

Walaupun tenaga dalam Yok Lan tak sehebat Gin Liong tapi ia juga memiliki dasar tenaga dalam yang cukup baik, Maka setelah sadar, ia tahu kalau ada orang yang menolongnya,

"Lan-moay hati2lah, gunakan hawa murni dalam tubuhmu untuk menyambut tenaga dalam dari telapak tanganku!" seru Gin Liong,

Airmata Yok Lan membanjir deras serunya tersendat" : "Liong . . suheng . . engkau . . mau apa . . kemari . ."

"Sudahlah nanti kita bicara lagi sekarang bersiaplah menyambut saluran tenaga dalamku," Gin Liong cepat menukas,

Tetapi Yok Lan gelengkan kepala dan menghela napas lalu pejamkan mata lagi, Tetapi Gin Liong tetap berusaha untuk menyalurkan tenaga-dalamnya,

"Ah, Liong suko, engkau ini . . "

"Jangan bergerak, lekas gerakkan hawa murni"

Yok Lan terkejut jelas Gin Liong nekad hendak menyalurkan tenaga dalamnya. jika ia tetap tak menghiraukan kemungkinan keduanya tentu akan terjerumus kearah apa yang disebut Co-hwe-jip-mo atau saluran tenaga-dalam yang tersesat sehingga membuat tubuh cacad selamanya,

Yok Lan terpaksa melakukan perintah, Tak berapa lama tubuhnya terasa hangat dan segar 1agi.

"Liong . . ah, suheng, terima kasih atas pertolonganmu, Kini bukan saja tenagaku sudah pulih tetapi bahkan malah bertambah kuat, pulanglah ke Mo-thian-san agar taci Kun tak bersedih hati "

Pucatlah wajah Gin Liong, katanya dengan teriba2 : "Lan-moay, apakah engkau tak tahu isi hatiku. Aku dengan

. . taci Kun . . peristiwa itu diluar . . diluar . . "

"Tidak, kutahu, malam itu aku memang sudah tahu" Merah wajah Gin Liong "Oh, engkau . ."

"Lepas dari benar tidaknya karena pengaruh obat dari Dewi Mega, tapi kalian berdua memang merupakan pasangan yang serasi, Tak usah menyesal"

"Lan-moay, dalam peristiwa terkutuk itu. bagaimana aku harus meminta maaf kepadamu dan kepada mendiang suhu

?"

"Liong suko, apakah taci Kun tak sembabat dengan engkau ?"

"Lan-moay, kalau engkau dapat memaafkan, engkau harus . . " ,

"Setitikpun aku tak mendendam bahkan aku mendoakan kebahagian kalian berdua"

"Lalu mengapa engkau pergi ?" "Karena kuatir taci Kun tak leluasa bertemu dengan engkau " kata Yok Lan lalu berputar tubuh mengucurkan airmatanya dan berkata :

"Liong koko, pernikahanmu dengan taci Li Kun sudah jelas." katanya, "aku tak menyangkal bahwa memang aku pernah mencintaimu tetapi sekarang sudah tak mungkin lagi, Harap engkau jangan memikirkan diriku lagi, Kini aku sudah menyadari sepasang syair yang tergantung dalam ruangan suhu : "Jika hendak meniadakan keresahan hati, haruslah menghilangkan ke-Aku-an masing2 mempunyai garis hidup sendiri jangan iri pada orang, Kedua barisan syair itu tepat sekali, pergilah pergilah !"

Habis berkata Yok Lan terus lari masuk ke dalam biara Leng hun-si.

"Lan-moay !" Gin Liong menjerit kaget melonjak bangun dan terus mengejar

Tiba2 dari arah Leng-hun-si muncul dua sosok hayangan, Salah seorang segera berseru memanggil Gin Liong,

"Mah !" Gin Liong segera mengenali suara itu sebagai suara mamah angkatnya, nyonya Tio tua yang datang bersama Mo Lan Hwa.

"Mana nona Ki," tanya nyonyah Tio tua.

"Dia . . dia lari kedalam biara", habis berkata Gin Liong terus lanjutkan larinya, Terpaksa nyonya Tio tua dan Mo Lan Hwa mengikuti. Tetapi di dalam biara walaupun sudah dicari kemana2 Yok Lan tak tampak.

"Heran, kemanakah dia ?" seru Gin Liong, Nyonyah Tio tua dan Mo Lan Hwa juga terkejut Nyonyah Tio tua bertanya apakah yang telah terjadi pada diri Yok Lan.

Tanpa malu2 Gin Liong lalu menuturkan hubungannya dengan Yok Lan dan pesan dari mendiang suhunya agar kelak ia dan sumoaynya itu dapat terangkap sebagai suami isteri,

"Lalu mengapa dia tampak putus asa dan marah ?" desak nyonyah Tio tua.

Karena didesak pertanyaan itu, apa boleh buat terpaksa Gin Liong membuka rahasia hubungannya dengan Tio Li Kun, Nyonyah Tio tua dan Mo Lan Hwa tertegun.

"Mah, dalam melakukan hubungan dengan taci Kun,  aku benar2 terpengaruh oleh obat bius dari Dewi Megah, sehingga di luar kesadaran aku telah melakukan perbuatan yang tak senonoh kepada taci Kun, Untuk itu aku sanggup untuk menerima hukuman apa saja yang hendak kalian jatuhkan kepada diriku." kata Gin Liong,

Nyonyah Tio tua tampak merenung, Sedang Mo Lan Hwa mengucurkan air mata, ia menangis dalam, hati, Harapannya untuk mendampingi Gin Liong, bagai awan tertiup angin,

Tiba2 wajah nyonyah Tio tua tampak cerah katanya : "Liong-ji, janganlah engkau berduka untuk hal itu, Li Kun telah memberitahu hal itu kepadaku juga. Bahwa sekarang di antara kalian sudah menjadi suami istri, itu memang sudah menjadi akibat dari perbuatan kalian, Tidak hanya engkau, tetapi anakku si Li Kun itupun bersalah. Dan yang paling bersalah adalah si Dewi Mega yang telah melebarkan obat perangsang kepada kalian, Ku percaya bahwa apabila dalam keadaan sadar, engkau dan Li Kun tentu takkan bertindak begitu . ." Gin Liong terdiam.

"Setiap kesalahan harus kita perbaiki. Oleh karena hal itu sudah menjadi kenyataan maka kita harus menerimanya. Engkau harus menikah dengan Li Kun demi menyelamatkan kepentingan bibit yang telah terkandung dalam perut Li Kun."

"Sudah tentu aku akan bertanggung jawab sepenuhnya, mah," Gin Liong memberi penegasan,

"Tetapi belum cukup begitu, Liong-ji," kata nyonyah Tio Tua pula, "engkaupun harus melaksanakan pesan suhumu. Dalam hal itu aku dan Li Kun telah mengambil keputusan, akan menyambut pernikahanmu dengan Yok Lan secara gembira. Biarlah Li Kun mendapat saudara perempuan yang dapat bersama2 mendampingi engkau . . "

"Mah . . " teriak Gin Liong terkejut.

"Dan masih ada keputusan lain, Liong-ji," kata nyonyah Tio tua lebih lanjut, "bahwa kulihat hubunganmu dengan nona Mo Lan Hwa sudah meningkat sedemikian rupa sehingga kasihan apabila nona Mo sampai kecewa, Oleh karena itu. biarlah sekalian nona Mo menjadi isterimu agar kalian berempat dapat hidup dengan rukun dan bahagia . . "

"Mah !" kembali Gin Liong  menjerit kaget, Tak  pernah ia menyangka bahwa nyonyah Tio tua dan Tio Li Kun akan mempunyai hati yang selapang itu.

"bukankah . . hai !" tiba2 nyonyah Tio tua menjerit kaget, Ternyata Mo Lan Hwa yang sejak tadi berada di belakangnya tahu2 entah kapan sudah lenyap, "mana nona Mo Lan Hwa ?"

Gin Liong sejak tadi dicekam oleh perasaan terkejut yang melandanya. Ucapan nyonyah Tio tua memang benar2 tak pernah disangka2nya. Karena perhatiannya tercurah kearah itu maka iapun tak sempat lagi memperhatikan gerak gerik Mo Lan Hwa yang berada di belakang mereka,

"Nona Mo , , !" tak kalah kejutnya ia menjerit kaget, memandang ke segenap penjuru tetapi tak melihat bayangan nona itu, Dia terus lari mengelilingi biara Leng- hun-si tetapipun sama saja. Bayangan nona itu hilang seperti di telan bumi,

"Bagaimana ?" tegur nyonyah Tio tua seraya menghampiri Gin Liong yang tampak tegak termenung diluar biara,

"Dia menghilang seperti bayangan . . "

"Aneh." gumam nyonyah Tio tua, "mengapa nona Yok Lan dan nona Lan Hwat dapat melarikan diri sedemikian cepat ?"

"Adakah dalam biara ini terdapat suatu jalan rahasia yang menembus keluar?" tiba2 nyonyah Tio bertanya,

Gin Liong seperti disadarkan, Memang di belakang taman tempat kediaman mendiang suhunya terdapat sebuah jalan rahasia yang dapat menembus ke tempat guha persembunyian Ban Hong Liong li dulu. Adakah kedua nona itu menggunakan jalan rahasia itu ?

"Tetapi Yok Lan memang mungkin karena tahu akan jalan rahasia itu. Lalu bagaimana dengan Mo Lan Hwa, bukankah dia tak tahu jalan itu ? Lalu bagaimana dia dapat menghilang secara tak berbekas itu ?" Gin Liong membantah pikirannya sendiri,

Akhirnya ia memutuskan untuk menyusur Yok Lan ke jalan rahasia itu, Tetapi baru ia hendak bergerak tiba2 muncullah Swat-san Sam-yu atau tokoh gunung Es, yakni Kim-yan-tay atau Tabung-pipa mas Hok To Beng, Hong- tiau-siu si Kakek Gila dan Cui-sian-ong si Raja Pemabuk, "Hai engkoh kecil" seru Hok To Beng ketika melihat Gin Liong agak terkejut melihat kemunculan ketiga tokoh itu. "mengapa engkau terkejut ?"

"Tak apa2, Hok-heng, hanya . . " agak tersekat Gin Liong hendak berkata "adakah Hok-toako berjumpa dengan taci Lan Hwa ?"

"Sudah tentu" sahut Hok To Beng, "kedatanganku kemari memang disuruh dia"

"Disuruh taci Lan Hwa ?" Gin Liong menegas kaget, "Ya," sahut Hok To Beng seraya menyerahkan sebuah

sampul surat kepada Gin Liong. Gin Liong cepat membuka dan membacanya :

Adik Liong,

Rupanya adik Yok Lan memang benar, Terus terang aku memang mencintaimu tetapi kini aku sadar bahwa cinta itu tidak boleh bersifat egois, jika engkau dapat melepaskan adik Lan yang telah dipesan mendiang suhumu, mengapa tak dapat melepaskan diriku ? Bunga gugur mempunyai arti tetapi air mengalir tiada tujuan artinya, Akupun harus tahu diri, Kudoakan engkau hidup bahagia dengan nona Li Kun sampai dihari tua.

Aku yang pernah singgah dalam kenangan hatimu: Lan Hwa

Habis membaca pandang mata Gin Liong terasa berkunang2, kepalanva pening, Bumi yang di pijaknya serasa ambroll. dia terhuyung2 hendak rubuh. untunglah Hok To Beng cepat menyambarnya.

"Mengapa engkau, siauheng?" tegar jago tua itu. Gin Liong ngelumpruk duduk di tanah dan menyerahkan surat kepada Hok To Leng, Setelah membaca tampak Hok To Leng kernyitkan alis.

"Mengapa ?" tegur Hong-tiau-soh.

"Celaka, sumoay kita terluka " seru Hok To Beng

"Siapa yang mencelakai ?" Hong-tiau-soh lalu memandang kearah Gin Liong dan menegur, "he apakah engkau yang telah mencelakai sumaoy-ku?

Habis berkata ia terus menghantam. Memang Kakek Gila itu terlalu aneh wataknya dan sayang sekali kepada  Mo Lan Hwa. Mendengar sumoaynya terluka ia menduga tentulah Gin liong yang mencelakai. Maka tanpa banyak urus, ia terus menghantam.

Hok To Leng terkejut ia hendak mencegah tetapi tak keburu lagi. Bluk, dada Gin Liong termakan pukulan. Rupanya pemuda itu tak mau menangkis atau menghindar dan seolah menyerahkan diri. ia terpental beberapa langkah lalu muntah darah.,,

"Gila" bentak Hok To Beng seraya loncat menolong Gin Liong, "engkau memang kakek gila Mengapa engkau memukulnya ?"

"Dia melukai sumoay "

"Siapa bilang ?" bentak Hok To Beng, "aku hanya mengatakan sumoay kita terluka tapi bukan terluka tubuhnya melainkan terluka hatinya.

"Ah . . " seru Hong-tiau-soh seraya bergopoh menghampiri Gin Liong, "maafkan aku, siau-heng."

"Hong jiko tak bersalah" kata Gin Liong, "memang aku sudah tak ingin hidup di dunia lagi, Aku banyak berhutang dosa kepada orang sehingga membikin patah hati mereka." "Liong-ji !" tiba2 nyonyah Tio tua berseru, "jangan engkau berkata begitu, Bagaimana pertanggung jawabmu terhadap Li Kun ?"

Tanpa menunggu penyebutan Gin Liong, nyonya Tio Tua membentak kepada Hong-tia-soh: "He kakek gila, kalau Liong-ji sampai kena apa2 jangan engkau tanya dosa, tentu aku akan mengadu jiwa dengan engkau."

Nyonyah Tio tua tahu bahwa Swat-san Sam-yu itu termasuk tokoh persilatan yang diagungkan kesaktiannya, Tetapi ia tak gentar.

"Aku tak mengerti duduk perkaranya" bantah Hong-tian- soh maka aku telah kesalahan tangan untuk itu aku sudah meminta maaf dan bersedia untuk menolong jiwanya, Tetapi eh. mengapa engkau begitu garang sekali ? Andaikata aku tak merasa bersalah, kata2mu itu cukup menjadi alasan untuk menggerakkan tanganku menghajar mulutmu yang lancang itu."

Karena sudah terlanjur berkata keras nyonya Tio tuapun tak mau mundur. Jawabnya: "Hm kudengar Swat-san Sam- yu diagungkan sebagai dewa persilatan Tetapi aku si nenek tua Tio, takkan mundur menghadapi mereka . ."

"Ha, ha, nyonya tua, engkau hendak menantang aku ?" seru Hong-tian-soh.

"Aku tak menantang tetapi aku tak gentar apabila harus mempertahankan kehormatanku terhadap orang yang menghina aku."

"Hong tiau-soh, maukah engkau menutup mulutmu" tiba2 Hok To Beng menyeletuk, Kemudian ia berkata kepada nyonya Tio tua: "Nyonyah Tio sebenarnya bagaimanakah hubunganmu dengan adik ini sehingga engkau begitu mati2an hendak membela jiwanya ?" Nyonya Tio tua menganggap kata2 Hok To Beng itu beralasan ia menerangkan bahwa Gin Liong itu anak angkatnya: "Di samping itu diapun calon suami anakku perempuan . ."

"Hai..." tiba2 Cui-siang-ong si Dewa Pemabuk menjerit "dia calon menantumu ? Pantas, pantas sumoayku terluka hatinya. Kiranya dia sudah menjadi calon menantumu, hmm . ."

"Eh, apa hubungannya dia calon menantuku dengan engkau ?" nyonya Tio tua marah juga.

"Sudah tentu mempunyai hubungan," sahut Cui-sian-ong tak kurang getasnya, "adalah karena dia engkau rebut hendak engkau jodohkan pada anak perempuanmu, maka sumoayku sampai terluka hatinya, Jadi jelas engkaulah yang menjadi gara2 dari hancurnya hati sumoayku !"

"Apa katamu2 Aku merebut putera angkatku?  Andai kata benar, apa pedulimu ?" sebenarnya nyonya Tio tua bermaksud juga hendak menjodohkan Mo Lan Hwa kepada Gin Liong tetapi demi mendengar kata2 yang kasar dari Cui-sian-ong ia marah sekali.

"Jika begitu, engkau harus kuhajar !" seru Cui-sian-ong seraya maju menghampiri. Nyonya Tio tuapun bersiap-siap.

Tiba2 terdengar derap kuda lari mendatangi dan tak berapa lama, muncullah enam penunggang kuda ke biara Leng-hun-si. Dua orang penunggang kuda yang paling depan, terdiri dari seorang pemuda cakap yang gagah, naik kuda hitam dan seorang pemudi cantik naik kuda putih, sementara empat orang dibelakangnya terdiri dari lelaki setengah tua. "Itulah Siau siauhiap, koko !" tiba2 gadis berkuda putih itu berseru seraya menunjuk kearah Gin Liong yang masih duduk pejamkan mata, wajahnya pucat.

Sepasang muda mudi dan keempat pengiringnya serempak melayang turun dalam gerakan yang gesit dan ringan, kedua muda mudi itu langsung menghampiri ke tempat Gin Liong.

Kemunculan rombongan penunggang kuda itu telah menghentikan ketegangan diantara Cui-sian-ong dengan nyonya Tio tua.

"Siau sauhiap, kenapa engkau ?" teriak pemuda cakap itu seraya lari menghampiri Gin Liong.

"Jangan memegangnya !" bentak Hong-tiau-soh dengan deliki mata, pemuda dan pemudi itu terkejut. Mereka berpaling memandang Hong-tiau soh dan menegurnya "Siapakah lo-tiangke ini ?"

"Pantasnya aku yang harus bertanya, mengapa malah ditanya ?" Hong-tiau-soh menyindir.

"Apa yang hendak lo-tiangke tanyakan ?" pemuda itu rupanya berperangai sabar.

"Siapa engkau dan mengapa engkau hendak mengganggu engkoh kecil itu ?" tanya Hong-tiau-soh.

"Dia adalah Siau Gin Liong sauhiap, kenalanku, Dia sudah berjanji hendak singgah digunungku tetapi sampai sekian lama belum muncul kemudian kami mendapat berita bahwa dia sudah kembali ke biara Leng-hun-si disini. Maka kamipun segera menjenguknya."

"Dimana gunungmu dan siapakah namamu ?" tanya Hong-tiau-soh. Si gadis merah mukanya. ia tak puas melihat sikap Hong-tiau-soh yang tak memandang mata kepada si pemuda. Tetapi untunglah pemuda itu mendahului berseru: "Aku tinggal di gunung Ke-kong- san "

"Itulah markas Thian-leng-kau," cepat Hong-liau-soh menukas. "apakah engkau orang Thian-leng-kau ? siapakah namamu ?"

"Ya." pemuda itu mengiakan, "aku Honghu Ing dan adikku Honghu Yan ini memang anggauta Thian-leng-kau .

."

"Honghu Ing ?" tiba2 Hok To Beng yang sejak tadi tak bicara, saat itu membuka mulut.

Pemuda itu mengiakan.

"Oh, tak kira kalau ketua Thian-Ieng-kau yang bernama Honghu Ing itu ternyata masih begini muda" seru Hok To Beng.

"Ah. lo-tiangke terlalu memuji " Honghu Ing merendah.

Memang Thian-leng-kau walaupun baru berdiri tetapi namanya sudah cukup dikenal orang, Honghu Ing dan Honghu Yan termasyhur sebagai sepasang kakak beradik yang lihay.

Ketiga Swat-san Sam-yu dan nyonyah Tio tua terkejut, Mereka tak menyangka bahwa pimpinan Thian-leng-kau yang begitu termasyhur ternyata masih seorang pemuda dan pemudi yang muda belia dan cakap.

Kemudian Honghu Yan balas bertanya, setelah mendengar bahwa ketiga lelaki tua itu ternyata Swat-san Sam Yu, iapun buru2 menghaturkan maaf, demikian juga kepada nyonyah Tio. setelah saling berkenalan, Honghu Ing memberi hormat juga. "Hok cianpwe" kata Honghu Ing, "apakah yang telah terjadi pada Siau sauhiap ?"

Hok To Beng menjelaskan kesemuanya, Mendengar itu kejut Honghu Ing bukan kepalang.

"Jika begitu, aku harus berusaha untuk menemukan nona Yok Lan lagi" kata Honghu Ing cemas.

"Aku ikut koko" seru Honghu Yan.

Berpikir sejenak, Honghu Ing berkata: "Jangan lebih baik engkau disini merawat Siau sauhiap yang terluka itu. Setelah itu ajaklah dia pulang ke Ke-kong-san"

Nyonyah Tio tua mendesah : "Soal diri Liong-ji, puteraku angkat itu, akulah yang wajib merawatnya. Akan kubawa dia pulang ke gunung Mo thian-san."

Honghu Yan terkesiap dan memandang ke arah kokonya, Honghu Ing berkata: "Jika demikian setelah engkau beri pertolongan seperlunya, engkau boleh mengantarkan Siau sauhiap ke gunung Ke-kong-san"

"Ya, jika nona suka, silahkan mengunjungi gunungku, Anak perempuan. Li Kun tentu gembira sekali menerima kedatangan nona," kata nyonyah Tio tua.

Karena sikap nyonya Tio yang ramah, Hong hu Yanpun mau menerima undangan itu, Diam2 ia pun hendak melihat bagaimanakah gadis Li Kun itu dan apakah mempunyai hubungan dengan Gin Liong.

Setelah memasrahkan adiknya, Honghu Ing segera mengajak ke empat thancu pengiringnya tinggalkan tempat itu.

"Jika begitu. hayo kita cari sumoay" seru Hong-tiau-soh seraya melangkah pergi, Terpaksa Hok To Beng dan Cui- sian-ong mengikuti jejak mereka. Setelah orang2 itu pergi. barulah nyonyah Tio tua menghampiri Gin Liong, ujarnya : "Liong-ji, jangan engkau kelewat berduka, Aku akan mengatur urusanmu sehingga beres, Takkan ada pihak yang rugi dan tersiksa hatinya."

Honghu Yan mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia ingin tahu hubungan Gin Liong dengan Tio Li Kun, Dengan tutur kata yang halus, ia minta keterangan kepada nyonyah Tio tua tentang keadaan Gin Liong.

Nyonya Tio tua menuturkan dengan terus terang apa yang telah terjadi pada diri Gin Liong pada akhir penuturannya ia menambahkan bahwa tiada keputusan yang lebih bijaksana daripada menjodohkan ketiga nona itu kepada Gin Liong. Ketiga nona itupun tentu tak keberatan mengingat hubungan mereka sangat akrab seperti saudara sendiri.

Diam2 Honghu Yan hancur hatinya, Dengan keadaan itu, jelas ia tiada mempunyai harapan lagi untuk menjadi teman hidup Gin Liong, Namun ia memutuskan bahwa ia harus berani berkorban juga. Ia harus merawat pemuda itu sampai sembuh baru nanti meninggalkannya dengan membawa hati yang hancur.

"Liong-ji" kata Nyonyah Tio tua. "mari kita pulang ke Mo-thian-san biar mamah dan saudara2 dapat merawat lukamu."

Gin Liong saat itu sudah tampak lebih baik keadaannya, ia menghela napas: "Mah, hatiku masih bingung. Ijinkanlah aku untuk beberapa hari beristirahat disini, Soal lukaku, kiranya tak menjadi soal. Harap mamah bersama nona Honghu pulang dulu dan tolong sampaikan kepada  taci Kun supaya baik2 menjaga diri. ." dalam mengucap kata2 terakhir itu, tampak mata Gin Liong berlinang2 dan suaranya tak lampias. Dalam beberapa saat saja, Gin Liong sudah banyak berobah, jika tadi ia seorang pemuda yang penuh semangat dan gesit, saat itu sudah seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya,

"Liong-ji, engkau harus percaya kepadaku" kata nyonya Tio tua pula. "aku tentu akan mengatur semua urusan itu sampai menyenangkan hatimu"

"Terima kasih mah" kata Gin Liong dengan nada sukar ditebak.

"Baiklah, Liong-ji" akhirnya nyonya Tio tua berkata, "aku akan mengajak nona Honghu pulang dulu. Tiga hari kemudian apabila engkau belum pulang, akan kusuruh engkohmu datang menjemput kemari."

Setelah kedua wanita itu pergi, Gin Liong menghela napas panjang, ia merasa telah kehilangan diri, kehilangan pegangan, ia mencintai Yok Lan tapi ia telah mempunyai kewajiban terhadap Li Kun. iapun tahu bahwa Mo Lan Hwa dan Honghu Yan juga menaruh hati kepadanya, Apabila ia menolak mereka tentu akan patah  hati dan menderita batin. Namun kalau ia menerima, tak mungkin ia dapat menerima semuanya.

Sampai lama ia duduk tepekur menyalurkan pernapasan dan mengheningkan cipta. Entah berselang berapa lama, ketika membuka mata ternyata hari sudah larut malam. Seluruh penjuru gelap dan sunyi senyap.

Pelahan2 ia berbangkit menuju ke tempat ruang penyimpan jenasah suhunya. Sebuah peti mati diletakkan di tengah ruangan, hanya dipasangi penerangan sebatang lilin.

Pelahan2 ia menghampiri ke muka peti dan berlutut, ia pejamkan mata se-olah2 hendak berbicara dengan arwah suhunya. "Suhu, murid bingung menghadapi persoalan hidup murid," katanya dalam menyampaikan doa "mohon suhu suka memberi petunjuk kepada murid, agar murid dapat melaksanakan semua pesan dan harapan suhu . ."

Namun sampai lama, tak pernah Gin Liong merasa menemukan jawaban, Tiba2 ia teringat akan pesan Ban Hong Liong-li untuk meletakkan gumpal rambutnya yang telah dipotong disisi jenasah suhunya, Maka iapun segera melakukannya.

Setelah selesai, pilihannyapun teringat akan Ban Hong Liong li yang bernasib malang itu, ia heran mengapa suhunya begitu getas terhadap wanita.

"Ah . ." tiba2 ia tersentak dari lamunan, Ada sesuatu dalam pertanyaan itu yang memancarkan sesuatu. Dan sesuatu itu dirasakan sebagai jawaban dari suhunya terhadap pertanyaan yang di sampaikan dalam doanya tadi.

"Ah, tentulah suhu seorang yang berbudi luhur. Dia tahu kedua wanita itu sama2 mencintainya, jika ia menerima yang satu, yang lain tentu akan menderita. Maka lebih baik ke-dua2nya tidak sama sekali maka suhu rela melepaskan keduniawian dan mensucikan diri sebagai seorang paderi. ." berkata Gin Liong seorang diri.

"Tetapi ah, mengapa tidak kedua wanita itu diperisteri semua ? Bukankah hal itu akan membahagiakan semua pihak ?" ia membantah pikirannya sendiri.

Gin Liong tak dapat menjawab pertanyaan itu.  Namun ia percaya bahwa suhunya itu seorang lelaki jantan yang berbuat luhur, bijaksana dan berhati welas asih. Tentu ada sebabnya mengapa dia tak mau melakukan hal itu, Kemungkinan besar, dia hanya menginginkan satu  tetapi tak ingin menyakiti yang lain. "Ah, keadaan suhu terbalik dengan diriku, jika memang mereka mau menerima, akupun terpaksa harus menerima mereka demi membahagiakan mereka semua. Tetapi ternyata Lan-moay rela berkorban. Dia ingin mengikuti jejak suhu, Juga Mo Lan Hwa mengikuti langkah Lan- moay, Ah, jika gadis2 itu berani berkorban demi kebahagianku, mengapa aku sebagai seorang lelaki tak berani berkorban demi mereka ?" - jawaban itu makin menonjol dan mengendap sebagai suatu keputusan

"Baik, aku akan mencari Lan-moay dan memberi penjelasan kepadanya, Tetapi jika dia tetap hendak meninggalkan keduniawian akupun akan masuk menjadi paderi juga . . ." tiba2 ia hentikan pikirannya ketika teringat akan Li Kun yang telah mengandung bibit anaknya. jika ia mengambil keputusan begitu, anak itu kelak akan menderita batin seorang anak tanpa ayah.

"Ah . .. ." ia  mengeluh "anak itu tak berdosa apa2, mengapa dia harus memikul kesalahanku?"

Setelah agak lama merenung, akhirnya ia mengambil keputusan, Pertama, ia akan mencari Yok lan? Kalau bertemu ia akan memberi penjelasan. Apabila Yok Lan menerima, segala apa akan berlangsung seperti yang dikatakan nyonya Tio tua. Tetapi kalau Yok Lan menolak, iapun akan masuk gereja menjadi pendeta.

Dan demikian pula apabila ia tak berhasil menemukan sumoaynya itu. Demi menyelamatkan muka Li Kun, demi kepentingan anak itu, ia harus kembali kepada Li Kun. Setelah anak itu lahir, barulah ia akan meninggalkan mereka dan mengasingkan diri jauh dari pergaulan umum.

"Ya, demikianlah keputusan yang harus ku ambil," akhirnya ia segera tinggalkan gunung Tiang-pek-san untuk memulai pencariannya kepada Yok Lan." Tetapi dunia begitu luas, kemanakah ia harus mencarinya ?

Yok Lan sejak kecil sudah sebatang kara, tak mungkin dia menuju ke tempat sanak keluarganya, Yok Lanpun tak mempunyai sahabat kenalan diluaran. Satu-satunya tempat yang kemungkinan besar ditujunya ialah ke daerah Biau mencari Ban Hong Liong-li. Ya, ia akan menuju ke daerah Biau.

Ternyata dugaannya memang benar. Setelah susah payah tiba didaerah Biau dan menyelidiki akhirnya ia dapat menemukan tempat kediaman Ban Hong Liong-li disebuah puncak bukit yang dikelilingi pemandangan alam yang permai. Disitu terdapat sebuah biara disebut Bang-hong kwan. di ketuai oleh rahib Ban Hong sin-ni.

Pertemuan itu memberi kesan yang mengejutkan sekali pada Gin Liong, Tampak wajah Ban Hong Liong-li sayu tapi tenang, Terutama sinar matanya terasa sejuk, Suatu pertanda bahwa wanita itu sudah menemukan ketenangan hatinya dalam melewati sisa hidupnya.

"Oh, engkau Liong-ji" seru Ban Hong sin-ni dengan tenang, "bukankah engkau hendak mencari Lan-ji ?"

"Benar. cianpwe" kata Gin Liong. "apakah Lan-moay berada disini ?"

Ban Hong sin-ni mengangguk.

Setelah menghaturkan terima  kasih bahwa Yok Lan sudah diterima oleh Ban Hong Liong-li,  Gin Liong meminta ijin untuk menemui Yok Lan.

Ban Hong sin-ni menghela napas: "Memang hanya yang mempunyai jodoh baru dapat diterima Hud, Lan-ji telah menemukan dunianya, kehidupan dan kebahagiannya disini . ." "Cianpwe " Gin Liong berteriak kaget "adakah . . adakah Lan-moay sudah . . mengikuti jejak cianpwe ?"

"Anak itu memang keras sekali hatinya" kata Ban Hong sin-ni, "pada hari itu entah mengapa aku ingin ke Tiang- pek-san. Terus terang aku ingin melihat wajah  suhumu yang terakhir kalinya sebelum aku memasuki kehidupan sebagai seorang rahib."

Gin Liong menghela napas.

Tetapi di tengah jalan aku bertemu dengan gerombolan penyamun yang telah menawan seorang gadis, Aku terkejut karena gadis itu bukan lain adalah Yok Lan. Segera kuhajar kawanan penyamun itu dan kutolong Lan-ji. Lan ji mengatakan bahwa ia hendak ke daerah Biau mencari aku. Sudah tentu aku terkejut dan meminta keterangan apa yang telah terjadi pada dirinya.

Dengan terus terang ia menceritakan tentang kisah hidupnya bersama engkau dan memutuskan akan masuk menjadi rahib, Aku terkejut dan berusaha menasehati supaya jangan ia meneruskan keinginannya.

Dari halus sampai kasar, tetap anak itu menolak, jika aku tak mau menerimanya, ia akan mencari biara di lain tempat. Akhirnya kululuskan juga permintaannya itu. Kubawanya pulang kemari dan pada hari itu juga ia telah memotong rambutnya resmi menjadi rahib"

Kembali Gin Liong terkejut.

"Dimanakah Lan-moay saat ini ?" tanya Gin Liong. "Lebih  baik  engkau  jangan  menemuinya, Liong-ji. Apa

guna engkau bertemu jika pertemuan itu hanya akan membawa kenangan yang pahit? Saat ini dia sedang melakukan semedhi menutup diri di ruang semedhi. Dia baru akan keluar setelah mencapai penerangan batin, ia titip pesan kepadaku, janganlah engkau menemuinya lagi demi ketenangan hatinya dan kebahagianmu, Liong-ji."

Gin Liong tak dapat berkata apa2 kecuali mengucurkan airmata: "Cianpwe, berilah petunjuk ke pada Gin Liong, bagaimana aku harus hidup?"

Tenang2 Ban Hong sin-ni menjawab:  "Hiduplah menurut kodrat hidupmu. Jangan paksakan dirimu melakukan hal yang bukan menjadi garis hidupmu. Kembali dan menikahlah dengan nona Li Kun, demi kepentingan anakmu."

Gin Liong termenung2. Beberapa saat kemudian baru ia berkata: "Baiklah, cianpwe aku hendak melakukan petunjuk itu. Tetapi tolong cianpwe sampaikan pada Lan-moay, bahwa setelah kewajibanku sebagai seorang suami dan ayah selesai aku tentu akan menyusul jejak Lan-moay . ."

"Liong-ji" cepat Ban Hong sin-ni berseru, Tetapi Gin Liong setelah memberi hormat terus lari keluar.

Ban Hong sin-ni menghela napas: "Dunia memang suatu derita, Aku dan suhunya harus menderita sepanjang hidup, kini mereka berduapun akan menuju kearah itu juga, Entah berapa ratus ribu muda mudi yang akan tergelincir dalam lembah penderitaan itu . ."

Kembali ke gunung Mo-thian-san, ternyata Honghu Yan sudah pulang. Gin Liong melaksanakan rencananya juga, ia menikah dengan si jelita Li Kun dan tinggal di gunung Mo Thian san.

Pada suatu hari Swat-san Sam-yu berkunjung ke gunung Mo-thian-san. Ketiga tokoh itu menerangkan bahwa sumoay mereka, Mo Lan Hwa, telah mensucikan diri sebagai seorang rahib. "Apakah toako bertiga akan menuntut balas kepadaku ?" tanya Gin Liong,

"Tidak, siau-hengte" kata Hok To Beng, "hal itu memang menjadi kehendak sumoay sendiri, Begitu pula dia minta dengan sangat agar kami bertiga jangan  melakukan tindakan apa2 ketiga jangan melakukan tindakan apa2 kepadamu. Semua kesalahan adalah tanggung jawab sumoay sendiri."

Gin Liong menghaturkan terima kasih, Setelah beristirahat beberapa waktu, Swat-san Sam Yu pun tinggalkan gunung Mo-thian-san.

Beberapa bulan kemudian, Li Kun telah melahirkan seorang bayi laki2 yang diberi nama Hui Seng atau Cahaya Hidup.

Setelah anak itu genap berumur satu tahun, tiba2 seluruh penghuni gunung Mo-thian-san gempar dan bingung. Gin Liong telah lenyap dan hanya meninggalkan sepucuk surat untuk nyonya Tio tua.

Isi surat mengatakan bahwa ia telah menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang suami dan seorang ayah, Sekarang dia hendak menunaikan kewajibannya terhadap diri sendiri. ia akan mencari penerangan batin dan tinggalkan kehidupan ramai. ia minta maaf kepada nyonyah Tio tua, Li Kun dan puteranya.

Walaupun nyonyah Tio tua mengerahkan anak buah Mo-thian-san dan beberapa puteranya, untuk mencari jejak Gin Liong namun sia2 saja.

Gin Liong seperti hilang lenyap ditelan bumi. Beberapa tahun kemudian, dunia persilatan mulai ramai membicarakan tentang diri seorang paderi muda yang memiliki ilmu silat tinggi. Paderi muda itu sering muncul dan setiap kemunculannya tentu menimbulkan kegemparan Jago golongan hitam yang jahat, banyak yang cacad kehilangan ilmu kepandaiannya sedemikian besar perbawa dari paderi aneh itu, hingga orang persilatan gentar.

Tunas2 muda yang  menjadi harapan para cianpwe persilatan, karena soal asmara telah tenggelam dalam laut kesunyian. Namun mereka masih memancarkan pengaruh untuk menjaga kelangsungan dan ketenangan dunia persilatan.

^o^T A M A T^o^
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang Tanduk Naga Bab 10 Berjumpa Ban Hong Liong-li (Tamat)"

Post a Comment

close