Pedang Tanduk Naga Bab 07 Dewi Bayangan

Mode Malam
Bab 07 Dewi Bayangan

Rombongan wanita cantik berkuda itupun sudah tiba. Mereka ternyata dara2 cantik yang muda belia. Ditengah, tampak seorang wanita cantik berumur 25-an tahun, rambut disanggul tinggi, mengenakan perhiasan tusuk konde kin- hong atau cendrawasih emas. pakaian dan bulu burung yang indah, dadanya berhias tiga butir kumala dan sabuk pinggangnya warna pelangi. Tubuhnya makin tampak montok dalam pakaiannya yang amat ketat.

Wajahnya putih cemerlang, alisnya merebak hitam dan bibir merah, sepasang biji matanya bening, memancarkan sinar yang mesra sehingga orang yang melihatnya pasti  akan terpikat.

Begitu tiba nyonya cantik itu mengangkat cambuknya keatas memberi isyarat kepada rombongannya berhenti. Kuda meringkik, debupun mengepul tebal ketika berpuluh nona penunggang kuda itu hentikan kuda masing-2.

Sikap dan ulah wanita cantik itu tak beda dengan seorang ratu, Sekalian orang yang berada ditempat itu terpesona melihatnya.

Suma Tiong kerutkan dahi, ia tahu bahwa nyonya cantik itu memiliki senjata sapu tangan yang mengandung minyak wangi berbius. Segera ia menyuruh isterinya memberitahu kepada Yok Lan dan Li Kun supaya berhati-hati.

Nyonya cantik itu keliarkan matanya yang tajam. Begitu tertumbuk papa wajah Gin Liong yang cakap dan gagah, seketika memancarlah mata wanita itu, pipinya merah.

Tiba-2 terdengar bentakan keras: "Perempuan busuk Hi Hoan siancu, apakah engkau masih kenal aku !" sesosok bayangan melesat menerjang wanita cantik itu.

Kiranya orang itu adalah si Tongkat-ular In Po  Tin, tokoh kesatu dari Lo-san Sam-ok, ia menyerang dengan tongkatnya.

Melihat si wanita yang disebut Hi Hoan siancu atau Dewi Bayangan itu tertawa mengikik:

"Tua bangka yang tak berguna, engkau hendak mengantar jiwamu." Seorang dara baju hijau yang  berada di belakangnya segera ayun tubuh loncat turun dari kudanya dan menghantam kepala In Po Tin dengan cepat.

In Po  Tin menggerung marah, Dengan jurus Thian- kiong-shia-jit atau Memanah-matahari, ia putar tongkatnya menyerang dara itu. Tring, dengan meminjam tenaga benturan senjata itu, si dara baju hijau melenting ke udara lagi.

Gin Liong terkejut, hanya salah seorang bujang  dari Dewi Bayangan tetapi sudah sedemikian lihaynya. jika demikian alangkah hebatnya kepandaian Dewi Bayangan itu.

Begitu di udara, dara itu berjumpalitan dan melayang turun di belakang In Po Tin, sampai dua tombak jauhnya.

In Po Tin menggerung keras dan berputar tubuh lalu loncat menerjang lagi dengan jurus Heng-sau-ngo-gak atau Membabat-lima-gunung di babatnya kaki si dara yang belum berdiri tegak itu.

Si dara menjerit kaget, cepat2 ia turunkan golok menangkis, Tring . . dara itu menjerit lagi dan goloknyapun terlepas dari tangan.

In Po  Tin tak mau memberi ampun lagi, ia  segera menutuk dada dara itu dengan jurus Koay-bong-jut-tong atau Ular-naga-keluar-guha.

Melihat itu berobahlah wajah Dewi Bayangan. Berpuluh dara pengiringnyapun menjerit kaget, Tetapi mereka tak sempat berbuat apa2.

Gin Liong tak senang melihat perbuatan In Po Tin yang main bunuh itu. Dengan menggembor keras ia ayun tubuh ke udara seraya lepaskan sebuah pukulan. Angin pukulan itu melanda lambung In  Po  Tin. In Po  Tin terkejut. Terpaksa ia tarik tongkatnya dan loncat ke samping, Tetapi pada saat In Po Tin loncat menghindar itu, berpuluh-puluh benda kecil menyerupai bintang emas telah berhamburan mencurah ke arah kepalanya.

In Po  Tin terkejut Cepat ia putar tongkatnya, Tring, tring, tring . . benda2 berwarna emas itu berhamburan jatuh ke empat penjuru.

Ternyata benda2 berwarna emas itu adalah senjata rahasia Uang-emas yang ditaburkan Dewi Bayangan.

"Perempuan hina, hari ini kuampuni jiwamu. Tetapi pada suatu hari aku pasti akan mengambil batang kepalamu

!" sambil menuding Dewi Bayangan, In Po Tin berteriak marah, Matanya memancarkan sinar dendam kesumat yang bernyala-nyala. Rupanya diantara kedua itu pernah terjadi suatu dendam yang hebat.

Dewi Bayangan masih tetap berada di punggung kuda, Dengan matanya yang bersinar cabul, ia tertawa santai:

"Tua bangka, engkau sendiri yang tak berguna, mengapa engkau salahkan aku mendepakmu."

Merah padam wajah In Po  Tin. Cepat ia  menukas: "Perempuan busuk yang tak tahu malu"

Rupanya tak tahan lagi In Po  Tin menahan luapan kemarahannya, Segera ia loncat menerjang Dewi Bayangan.

Tetapi dari barisan dara pengiring Dewi Bayangan, segera berhamburan hujan bintang-emas menyongsong In Po Tin. In Po Tin tak berdaya mendekati Dewi Bayangan, ia harus loncat dua tombak ke belakang.

"Perempuan busuk, apakah engkau berani bertempur sampai mati dengan aku ?" teriaknya menantang. Dewi Bayangan kerutkan dahi dan mencemoh "Siapa sudi melayani seorang tua bangka seperti engkau? Hanya mengotorkan tanganku sajalah"

Karena selalu dimaki tua bangka, gemetarlah tubuh In Po Tin karena marahnya.

Dewi Bayangan tak menghiraukannya ia loncat turun dari kuda dan menghampiri ke tempat Gin Liong, Gin Liong tahu bahwa wanita yang bertingkah genit itu tentu bukan wanita baik, ia mendengus muak melihatnya.

Tiba2 Dewi Bayangan membentak ketiga Lo-san Sam- ok: "Enyah !"

Entah bagaimana ketiga jago jahat dari Lo-san itu hanya deliki mata kepada Dewi Bayangan tetapi mereka tak berani berbuat apa2 dan terus menghampiri kuda dan mencongklang pergi.

Dewi Bayanganpun melanjutkan langkahnya ke tempat Gin Liong.

"Siauhiap" serunya dengan nada genit, "usia mu masih begitu muda dan tampan sekali, Kalau tak salah engkau tentu siau Gin Liong yang mendapat kaca wasiat  dari Bu- lim Seng-ceng itu".

Melihat wajah Gin Liong mengerut kemarahan wanita itu tertawa mengikik: "Peribahasa mengatakan manusia tentu akan saling berjumpa, Dan kalau berjumpah itu berarti jodoh, Perlu apa engkau memberingaskan wajahmu yang tampan ?"

"Sungguh tak tahu malu..." si jelita Li Kun yang sejak tadi muak melihat tingkah ulah Dewi Bayangan, sambil membentak dia terus loncat menyerang. Dewi Bayangan tertawa. Sekali gerakkan tubuh ia dapat menghindari tusukan Li Kun.

Serangannya luput, Li Kun makin marah, Pada saat ia hendak menyerang lagi, tiba2 ia rasakan dadanya terbaur suatu angin lembut. ia terkejut dan cepat loncat mundur sampai setombak.

"Siapa yang suruh engkau turut campur urusanku, Siau siauhiap toh bukan suamimu." serunya.

Merah wajah Li Kun mendengar kata2 itu,  ia melengking dan menerjang lagi, walaupun tahu bahwa pedang si jelita itu sebuah pusaka yang hebat, tetapi karena mengandalkan ilmu kepandaiannya yang tinggi, Dewi Bayangan tak gentar.

"Engkau sendiri yang cari mampus, jangan sesalkan Dewi Bayangan bertindak kejam," serunya seraya berputar tubuh. seperti angin puyuh, tahu2 ia  sudah berada di belakang Li Kun.

Tetapi Li Kunpun cepat gunakan jurus Jay hong-hwe-lu atau Burung hong-berputar-kepala, membabat ke belakang,

Kali ini Dewi Bayangan terkejut, ia tak menyangka nona yang cantik itu memiliki gerak yang sedemikian hebat, Sekali kebutkan lengan baju, tubuhnyapun menyurut mundur.

Li Kunpun tak mau unjuk kelemahan sekali kaki berayun, tubuhnya meluncur kemuka dan tahu2 ujung pedangnyapun sudah menuju ke dada Dewi Bayangan.

Dewi Bayangan benar2 terkejut sekali, Dengan melengking nyaring. Cepat ia geliatkan tubuh dan kebutkan lengan baju lalu berputar putar cepat sekali. Saat itu Li Kunpun sudah mendekat. Dengan jurus Giok- hong-can-ki atau Burung-hong-merentang-sayap, ia segera memapas bahu kiri Dewi Bayangan.

Beberapa kali menerima serangan yang tak terduga-duga, kejut Dewi Bayangan makin menjadi-jadi. Dengan melengking keras ia segera ayun tubuhnya melambung ke udara.

Sring, pedang memapas dan menjeritkan berpuluh gadis pengiring Dewi Bayangan, Dewi Bayangan sendiri sudah melayang turun ke tanah. Ketika menunduk, ia  melihat ujung pakaiannya telah terpapas kutung oleh pedang Li Kun. Keringat dingin bercucuran membasahi lehernya.

Li Kun masih penasaran. Dengan melengking ia memburu lagi. Kali ini setelah menenangkan semangat, Dewi Bayanganpun marah, serentak ia tertawa keras dan berseru: "Budak kini, kalau aku tak mampu  membunuh, aku akan bunuh diri !"

Ia menutup kata-katanya dengan menggerakkan tubuh, seketika tubuhnya berputar-putar menyerupai segulung asap yang mengelilingi Li Kun.

Li Kun tetap memutar pedangnya dengan deras. Tetapi setiap kali ia menusuk atau menabas, tentu hanya angin kosong yang ditemui. Lama kelamaan, ia gugup juga, Pandang matanya mulai berkunang-kunang, Terpaksa ia mainkan pedang untuk melindungi diri. Tak mau ia melancarkan serangan lagi.

Melihat itu Suma Tiong terkejut ia tahu bahwa wanita cabul itu sedang menggunakan ilmu Hi hoan-sut atau Bayangan kosong, yang termasyhur. Cepat ia mengeluarkan seutas tali besi yang panjangnya satu meter. Gin Liongpun melihat juga keadaan Li Kun yang terdesak, Dengan menggembor keras ia terus loncat menyerbu. Tetapi pada saat itu, Dewi Bayangan tertawa genit dan tiba2 berputar-putar tubuh menyongsong Gin Liong. Dan sebelum anak muda itu sempat bertindak Dewi Bayanganpun sudah menamparkan sehelai sapu sutera merah ke muka Gin Liong.

Karena tak menduga-duga, Gin Liong tak sempat menghindar Sapu tangan sutera merah itu telah menampar muka Gin Liong.

"Perempuan siluman engkau cari mampus...!" Suma Tiong membentak dan terus menaburkan rantai besi. Serempak dengan itu, Li Kunpun menyerang pinggang Dewi Bayangan.

Tetapi wanita itu tak gentar ia tertawa genit lalu melambung ke udara dan taburkan sapu ke muka Suma Tiong.

Setitikpun Suma Tiong tak menyangka bahwa Dewi Bayangan memiliki gerakan yang sedemikian cepatnya, serentak ia  mencium bau yang luar biasa aneh dan wanginya.

"Celaka," ia menjerit, lepaskan rantai besi dan rubuh.

Walaupun tak langsung ditampar sapu tetapi tebaran bau harum itu tercium juga oleh Li Kun. ia terkejut dan cepat loncat mundur sampai tiga tombak.

Tetapi suatu keanehan telah terjadi dan menyebabkan Dewi Bayangan tercengang heran, Gin Liong yang terdampar sapu itu tampak masih tegak berdiri, seolah tak menderita pengaruh apa2. Bahkan Gin Liongpun heran karena melihat Suma Tiong terjungkal rubuh. Tetapi karena jelas yang membidikan itu Dewi Bayangan, maka Gin Liongpun marah terus loncat menerjangnya.

Pucatlah seketika wajah wanita cabul itu. Senjata dupa wangi Bi hun-soh-jun-hiang yang tak pernah gagal merubuhkan lawan, ternyata tak mempan terhadap anak muda itu. Terpaksa ia gunakan gerak Hi-hoan sut untuk berlincahan menghindari serangan Gin Liong.

Gin Liong tertawa dingin, Setelah mengerahkan tenaga- dalam, ia menekuk kedua lengan dan terus mendorong ke muka.

Sebuah gelombang angin tenaga dahsyat serentak melanda Dewi Bayangan yang tengah berlincahan laksana seekor kupu.

Dewi Bayangan menjerit kaget Belum pernah ia melihat pukulan yang sedahsyat itu. Cepat ia melambung beberapa tombak ke udara, Karena tak mengenai sasaran, angin pukulan Gin Liong tetap melanda ke muka kearah barisan pengiring Dewi Bayangan, Rombongan gadis2 itu menjerit kaget dan serentak berhamburan menyingkir ke samping.

Dalam pada itu Gin Liong loncat untuk mengejar Dewi Bayangan Wanita itu makin terkejut, Cepat ia tamparkan lengan baju untuk bergeliatan dua tombak 1agi. Tetapi Gin Liongpun cepat genjot tubuh melayang ke udara, Dewi Bayangan makin gugup, ia hendak meluncur turun.

Gin Liong mencoba menggunakan salah sebuah jurus dari ilmu yang didapatnya dari kaca wasiat yang yang disebut Leng-siau-kim-hong atau Malam-hari-menangkap- burung hong, Tubuh bergeliatan dan sepasang tangan mengulur menyambar siku lengan Dewi Bayangan. Dewi Bayangan menjerit kaget semangatnya serasa terbang, Seperti seorang anak kecil, ia menyerah saja ketika tubuhnya dibawa melayang turun ke tanah oleh Gin Liong.

Selekas tiba di tanah, Gin Liong membentak: "Lekas berikan obat penawar agar engkau jangan menderita kesakitan !"

Setelah menenangkan semangat Dewi Bayangan menghela napas.

"Ah, Bi-hun soh-jun-hiang itu tak ada penawarnya." "Engkau mau mengeluarkan atau tidak!" bentak Gin

Liong seraya memperkeras cengkeramannya.

Wajah Dewi Bayangan pucat dan dahinya mengerut kesakitan, Keringat dingin  bercucuran, giginya bergemerutukan keras.

Gin Liong kerutkan alis lalu membentaknya lagi: "Lekas berikan obat itu !"

Tetapi wajah wanita itu makin membiru, napas terengah- engah, Mulutnya tak dapat berkata lagi karena menahan kesakitan hebat.

Dara baju hijau yang ditolong Gin Liong tadi segera menghampiri dan memberi hormat kepada Gin Liong.

"Siauhiap, memang Dewi kami tak mempunyai obat penawar," katanya dengan nada bersungguh.

"Lalu bagaimana cara menolong Suma tayhiap?" masih Gin Liong tak percaya.

Merah muka dara itu. Bibirnya bergetar-getar tetapi sampai beberapa saat tetap tak dapat mengeluarkan kata2. "Bagaimana cara menolongnya? Apakah sudah tidak dapat ditolong lagi !" hardik Gin Liong, Karena marah ia telah memperkeras cekalannya.

Dewi Bayangan menjerit dan pingsan, Untung dara baju hijau itu cepat dapat menyanggupi tubuh Dewi Bayangan yang rubuh.

Gin Liongpun mengendorkan cengkeramannya, Li Kun dan Yok Lan loncat kesamping Gin Liong.

"Mengapa nyonyahmu tak mau memberi pertolongan kepada orang yang dicelakainya ?" teriak Yok Lan kepada dara baju hijau itu.

Wajah dara itu tampak tegang dan akhirnya dengan suara yang sarat ia berseru : "Nyonya Suma, mempunyai obat penawarnya",

"Ngaco !" bentak Gin Liong, Tetapi Yok Lan dan Li Kun sudah terus berputar tubuh dan Rombongan dara pengiringpun segera mengangkut pergi Dewi Bayangan, Gin Liong terlongong heran, Ketika berpaling, dilihatnya dara baju hijau itu tengah berbisik-bisik kepada Lok Siu Ing, Entah bagaimana wajah Lok Siu Ing yang tegang, bertebaran merah.

Berpaling ke lain arah. Gin Liong tak melihat lagi ketiga imam jahat dari Losan, Mereka diam2 sudah angkat kaki.

"Huh, sudah menang mengapa masih cemas." ketika berjalan lewat disisi Gin Liong, dara baju hijau memandang dan berseru pelahan.

Gin Liong termangu, ia tak tahu siapakah dara itu. Tetapi setelah merenungkan beberapa saat, ia menyadari. Dilihatnya Lok Siu Ingpun sudah memerintahkan beberapa orangnya untuk membawa pulang Suma Tiong. Diam-2 Gin Liong menyesal dalam hati, Hanya semalam tinggal didesa itu tetapi telah membawa banyak kesulitan Segera ia loncat hendak menghaturkan maaf  kepada  Lok Siu Ing. Tetapi Lok Siu Ing malah berputar tubuh dan terus lari.

Dalam pada itu rombongan gadis pengiring Dewi Bayangan membawa wanita itu pergi.

"Ah, kitapun harus melanjutkan perjalanan," Kata Li Kun. Saat itu matahari sudah condong ke barat, Gin Liong dan kedua gadis segera mencongklangkan kuda menuju ke selatan

Tak berapa lama, matahari sirna dan seluruh penjuru mulai gelap, Samar2 disebelah muka tampak sebuah desa, Beberapa rumah penduduk memancar sinar penerangan.

"Malam ini terpaksa kita menginap di desa itu," kata Li Kun.

Masuk kedalam desa, mereka disambut dengan kawanan anjing menyalak. Kuda hitam mulus meringkik keras dan kawanan anjing itupun terkejut tetapi pada lain saat mereka malah lebih keras menyalak.

Penduduk yang belum tidur berbondong-bondong keluar. Seorang kakek menyambut dan setelah mendengar keterangan Gin Liong, iapun menerima ketiga anak muda itu bermalam didesa itu. Mereka bertiga di bawa kesebuah rumah besar dan dijamu.

Masakannya enak dan ketiga anak muda itu minum juga arak yang disuguhkan. Setelah makan, kedua nona itu tampak lebih cantik. jika Li Kun seperti  bunga tho, Yok Lan seperti bunga mawar.

Melihat kecantikan kedua gadis itu, timbul rangsang dalam hati Gin Liong, Dia memandang kedua gadis itu dengan tak berkedip, Li Kun berdebar keras hatinya dan darahnyapun meluap sukar ditindas.

Baru pertama kali sepanjang hidupnya, Yok Lan minum arak maka cepat sekali ia menjadi mabuk.

"Liong koko, mungkin aku mabuk, Taci Kun aku hendak tidur dulu" ia terus terhuyung-huyung masuk ke dalam kamar.

Gin Liong dan Li Kun hanya tertawa melihat langkah kaki Yok Lan yang terhuyung itu. Li Kun pun segera berbangkit masuk kedalam kamar, Ketika berpaling, hatinya berguncang keras, Karena saat itu dilihatnya Gin Liong masih memandangnya dengan senyum hangat. 

Entah bagaimana pemuda itu merasa membutuhkan dekat dengan Li Kun. ia rasakan darahnya makin panas dan merangsang, Teringat pula akan peristiwa bersama Li Kun didalam perahu tempo hari, Dan tanpa disadari mulutnya segera berseru memanggil: "Taci..."

Panggilan bagi Li Kun dirasakan suatu daya tarik yang kuat sekali sehingga iapun menghampiri ketempat pemuda itu. ia duduk disisi pemuda itu. Melihat sinar mata Gin Liong yang membara, hati Li Kun makin berdebar keras, ternyata sisa bebauan wangi yang ditaburkan Dewi Bayangan mulai bertebar lagi.

Tetapi ia tak ingat lagi hal itu. Setelah minum arak, daya asap wangi itu makin bergolak dan merangsang. Demikian pula Gin Liong Karena minum arak maka khasiat dari katak salju, mulai hilang daya tahannya.

Pada lain kejap Gin Liong segera memeluk Li Kun dan Li Kunpun menyerah dengan serta merta. Keduanya makin terangsang dan mulut merekapun segera saling bertaut rapat. Mereka tenggelam dalam kehangatan bibir yang semanis madu. Tetapi hal itupun masih tak dapat memuaskan rangsangan yang makin meluap-luap dalam hati kedua insan muda itu.

Pengaruh dupa wangi yang ditebarkan Dewi Bayangan mulai bekerja. Gin Liong sudah kehilangan kesadarannya lagi, perasaannya telah dikuasai oleh rangsangan nafsu, ia tak puas dengan ciuman itu, Ada sesuatu yang menghendaki kepuasan Gin Liong segera mengangkat tubuh Li Kun terus dibawa masuk ke dalam kamar. Apa yang terjadi adalah di luar kesadarannya, Keduanya telah tenggelam dalam lautan madu . . .

Tiba2 Yok Lan terjaga. Rasa pening kepalanya sudah hilang, ia segera bangun, Dilihatnya Li Kun tak berada di ranjang sebelahnya, Samar2 ia mendengar erang pelahan dari rasa kepuasan. Suara semacam itu belum pernah didengarnya dan tak tahulah ia siapa yang mengerang2 penuh kenikmatan itu.

Jilid 8 Halaman 63/64 Hilang

Yok Lan terkejut dan cepat menyurut mundur lalu diam2 membaca dalam hati ilmu rahasia ajaran dari Hun Ho siantiang yang disebut Mo-kiap-ban-wi-tmg-sim-hian-kang atau ilmu menenangkan pikiran menghadapi ancaman dan bujukan iblis.

Seketika hatinyapun jernih kembali Dan saat itu ia segera mencari apa yang terjadi Tentulah karena terkena tamparan sapu merah dari Dewi Bayangan maka Gin Liong sampai lupa daratan dan melakukan perbuatan yang tak senonoh.

Saat itu iapun teringat akan dara baju indah yang mengatakan kepada nyonyah Suma Tiong, bahwa obat dari suaminya yang terluka itu hanya terdapat pada  diri nyonyah itu sendiri. Saat itu kamarpun hening sunyi, Didengarnya Gin Liong tidur mendengkur karena lelah dan isak tertahan dari Li Kun, jelaslah apa yang terjadi Gin Liong seperti seekor harimau lapar dan Li Kun terpaksa menyerah seperti seekor kelinci.

Diam2 Yok Lanpun menggigil dalam hati, Jika ia tak lebih dulu tidur, kelinci dalam terkaman Gin Liong itu tentulah bukan Li Kun tetapi ia sendiri.

Merenungkan hal itu, ia segera kembali ke dalam biliknya, ia takut Gin Liong akan mencarinya. Teringat akan peristiwa tadi, diam2 ia menyadari bahwa Li Kun telah menjadi korban dan mewakili dirinya. Memikir sampai disitu, ia tak marah lagi kepada Gin Liong, bahkan terhadap Li Kun-pun ia merasa kasihan.

Beberapa saat kemudian ia mendengar kamar disebelah muka terbuka pintunya dan terdengar derap kaki orang melangkah keluar, Namun ia tak berani keluar. Dari balik selimutnya ia melihat Li Kun masuk, jelita itu mengemasi pakaian dan rambutnya lalu mengusap airmatanya.

Yok Lan gelisah sekali, ingin ia bangun dan memeluk Li Kun. ia memutuskan untuk berkorban dan membahagiakan Li Kun.

Tetapi pada lain saat ia menimang, tindakan itu mungkin akan mengejutkan dan menyinggung perasaan Li Kun.

Ketika Li Kun selesai berdandan dan masuk ke dalam kamar, Yok Lan makin tegang dan buru2 pejamkan mata.

Li Kun lebih dulu duduk ditepi ranjang. Terdengar jelita itu menghela napas kemudian baru naik ke ranjang dan tidur disisinya,

Tak tahu bagaimana perasaan Li Kun saat itu, Mungkin ia sedih dan marah terhadap tingkah laku yang liar dari Gin Liong. Mungkin juga ia dapat memaafkannya karena tahu bahwa Gin Liong telah terkena bubuk perangsang dari Dewi Bayangan.

Karena tak tahan, Yok Liong membuka mata melirik Li Kun yang tidur disisinya, Dilihatnya Li Kun tidur telentang dengan kedua tangan ditempelkan ke dada.

Kedua matanya mengucurkan air mata, Melihat itu ibalah hati Yok Lan. ia dapat memaafkan keadaan nona itu dan bahkan ikut mengalirkan airmata.

Tak berapa lama, Li Kun tertidur. Dalam tekanan hatin yang tak keruan rasanya, akhirnya Yok Lanpun tidur juga.

Entah selang berapa lama, ayampun terdengar berkokok sahut menyahut, cuaca di luar tampak terang, Yok Lan membuka dan melihat Li Kun masih tidur pulas. Dia segera turun dari ranjang melangkah keluar, Di ruang depan lilin sudah padam dan pintu terbuka. ia terkejut lalu lari ke luar.

Ia makin terkejut ketika melihat Gin Liong berdiri dihalaman. memandang ke timur yang mulai merekah mentari pagi, Di jalanpun sudah terdapat orang2 desa yang berjalan menuju ke pasar dan ke sawah.

Dengan hati gundah, Yok Lan segera menghampiri Gin Liong terkejut seraya berputar tubuh Tampak wajahnya merah kemalu-maluan ketika melihat Yok Lan, bibirnya gemetar hendak mengucap perkataan tetapi tak keluar.

Melihat keadaan Gin Liong yang jauh sekali bedanya dengan kemarin, menangislah hati Yok Lan, Tetapi ia tetap tenang, menghampiri kemuka pemuda itu dan bertanya dengan lembut:

"Liong koko, apakah yang tengah engkau pikirkan ?" Betapa derita hatin yang menyiksa Gin Liong sukar dibayangkan, kalau tak mengingat masih harus melakukan pembalasan dendam atas kematian suhunya, maulah rasanya saat itu ia bunuh diri saja.

Apabila teringat akan perbuatannya semalam, ia hampir tak percaya mengapa sampai dapat melakukan perbuatan yang sehina itu. Tetapi saat itu pun ia menyadari bahwa dirinya telah dicelakai oleh Dewi Bayangan sehingga tak kuasa menguasai dirinya lagi, ia benci sekali kepada Dewi Bayangan.

"Liong koko, engkau sedang memikirkan apa Mengapa engkau tak mempedulikan aku ?" ulang Yok Lan karena sampai lama Gin Liong diam saja.

Airmata dara itupun bercucuran.

Dengan suara sarat penuh rasa malu Gin Liong berkata: "Aku tengah berpikir apabila aku telah melakukan suatu hal yang berdosa kepadamu."

"Tidak, Liong koko, engkau takkan berbuat salah kepadaku..." cepat Yok Lan menukas.

Hati Gin Liong seperti disayat sembilu.

"Lan-moay, kalau aku benar2 berbuat salah kepadamu." "Tentulah   bukan    karena   kehendakmu   sendiri,  tentu

karena  terpaksa  atau  terkena  suatu  pengaruh  yang  sukar

engkau atasi. Dalam keadaan begitu, apapun kesalahan Liong koko, aku takkan menyesalimu" kata Yok Lan dengan tegas.

Hampir Gin Liong tak percaya pada pendengarannya, semula ia kira  Yok Lan tentu tak mau memaafkannya, sekalipun begitu hatinnya tetap tersiksa. Melihat Gin Liong mulai tegang, Yok Lan segera mencekal kedua tangan sukonya, Tak tahan lagilah hati Gin Liong, airmatanya bercucuran.

Tiba2 pintu terbuka, Gin Liong dan Yok Lan pun cepat loncat masuk kedalam kamar, Yok Lan terus masuk kedalam kamarnya sendiri. Dilihatnya Li Kun masih tidur, Tetapi ketika menghampiri dan melihat keadaannya, menjeritlah dara itu: "Liong koko, kemarilah lekas !"

Gin Liong terkejut dan cepat lari menghampiri Dilihatnya mata Li Kun menutup rapat muka merah, bibir seperti darah. Kening dan rambutnya basah kuyup dengan keringat, tubuhnya memancarkan bau harum yang aneh. Cepat Yok Lan membaca ilmu Hian-kang dalam hati dan bau wangi itupun lenyap.

Gin Liong juga terkejut sekali, ia tak kira bubuk wangi dari Dewi Bayangan itu mempunyai daya pengaruh yang begitu hebat, Diam2 ia mengambil keputusan untuk membasmi wanita siluman itu

Teriakan Yok Lan telah menyadarkan Li Kun Begitu melihat Yok Lan, airmata jelita itu berhamburan keluar dan berkata dengan nada gemetar: "Adik Lan..!"

"Taci Kun, engkau sakit !" seru Yok Lan dengan lembut.

Li Kun tak dapat berkata apa2 kecuali hanya bercucuran airmata,

"Taci Kun, badanmu panas sekali, jangan banyak bicara, tidurlah saja," kata Yok Lan pula.

Li Kun menghela napas, Ketika melihat Gin Liong berdiri di muka ranjang, iapun terbeliak. Begitu pula Gin Liong. hatinya makin tersiksa, ia  merasa berdosa telah merusak kehormatan seorang gadis yang suci, iapun merasa tak layak menjadi seorang pendekar karena dirinya sudah melakukan perbuatan yang serendah binatang.

Wajah Li Kun makin meraih keringat makin mengucur deras. Tiba- Yok Lan teringat sesuatu.

"Liong koko, manakah mangkuk kumala hijau yang tempo hari Liong-li locianpwe memberikan kepadamu itu ?" tanyanya.

Walaupun tak tahu apa maksudnya, tetapi Gin Liongpun segera mengambil keluar benda itu dan menyerahkan kepada Yok Lan, Yok Lan memeriksa mangkuk itu. Sebuah mangkuk batu kumala hijau yang memancarkan beribu sinar, jelas mangkuk itu sebuah benda pusaka yang jarang terdapat di dunia.

Kemudian dara itu suruh Giu Liong mengambilkan air. Gin Liong menurut, setelah mengambil air lalu dituangkan kedalam mangkuk kumala itu.

"Lan-moay, apakah maksudmu ?" tanya Gin Liong. "Bukankah tempo hari Liong-li locianpwe juga memberi

minum aku katak-salju direndam air ?" balas Yok Lan.

"Ya, karena saat itu masih punya..." belum sempat Gin Liong mengatakan "katak-salju", tiba2 air dalam mangkuk itu mendidih dan mengeluarkan busa kecil2 lalu berobah warnanya seperti susu.

Gin Liong terbeliak lalu bergegas menyuruh Yok Lan segera meminumkan air itu kepada Li Kun. Yok Lanpun segera minta Li Kun minum air dalam mangkuk kumala itu, Tanpa ragu2 jelita itupun terus meminumnya.

Bermula ia kira air itu hanya dari pil atau obat pemunah racun tetapi demi melihat wajah Yok Lan dan Gin Liong begitu tegang, iapun lantas meminumnya sampai habis. Serentak ia rasakan badannya makin dingin, Kepalanya yang peningpun makin jernih, kesadaran pikirannya makin terang.

Bermula Gin Liong masih cemas dan menanyakan bagaimana perasaan Li Kun saat itu. Si jelita terus duduk dan berseru : "Ah. sungguh obat dewa yang mujarab sekali, Bukan saja hawa panas telah hilang, pun tubuhku serasa segar sekali."

Mendengar itu Yok Lan tercengang, serunya:

"Aneh, tempo hari sehabis minum, badanku terasa panas sekali, pikiranku kabur dan mataku ngantuk sekali dan terus tidur sampai hampir dua jam, Tetapi mengapa keadaan taci Kun berlawanan dengan aku..."

"Karena air itu direndam dengan katak-salju," Gin Liong menjelaskan.

"Katak-salju"?" teriak Yok Lan, "mana binatang itu!" "Kumakan !" sahut Gin Liong,

"Bagaimana engkau dapat memakannya ?" Gin Liong segera menceritakan tentang peristiwa dilereng gunung Hwe-sian-hong dulu.

Mendengar itu, Li Kun berkata: "Oh, itulah sebabnya mengapa engkau mampu memukul mundur sam-ko. Memang toako saat itu sudah menduga kalau engkau tentu mendapat suatu penemuan yang luar biasa. Seorang pemuda seumurmu, tak mungkin dapat memiliki tenaga yang sedemikian saktinya."

Demikian ketiganya lalu makan, Setelah itu, pak tuapun menyiapkan kuda mereka. Nenek tua dan gadisnyapun berada di halaman, singkatnya Gin Liong bertiga segera melanjutkan perjalanan lagi. Menjelang tengah hari mereka tiba disebuah kota sebelah timur dan kecermatan Ki-he-koan. Mereka mencari rumah makan besar yang mempunyai tempat untuk kuda. Setelah jongos menyambut kuda, merekapun lalu masuk.

Tak banyak tetamu di rumah makan itu. Kebanyakan mereka hanya pedagang2 biasa, jarang tetamu orang persilatan Gin Liong bertiga duduk di meja yang dekat dengan jendela. Dari situ mereka dapat melihat di jalanan.

Ketika Yok Lan memandang keluar, ternyata dimuka rumah makan itu juga sebuah rumah makan. Dan pada meja dekat jendela ia melihat empat orang imam tua berjubah kelabu, Yang ditengah seorang imam berumur 50 an tahun, rambutnya sudah menjunjung uban, alis gundul, muka bopeng, sikapnya gelisah dan matanya memandang kearah tempat Yok Lan bertiga.

Sedang ketiga imam yang lain masih sibuk membuat perhitungan rekeningnya. Rupanya mereka  bergegas hendak meninggalkan rumah makan itu.

Yok Lan curiga lalu membisiki suko dan Li Kun: "Cobalah kalian lihat, imam tua yang duduk di rumah makan sebelah muka itu !"

Ketika Gin Liong dan Li Kun memandang keluar jendela ternyata keempat imam itu sudah turun dari loteng.

"Lan-moay, apakah engkau anggap mereka mencurigakan ?" tanya Li Kun.

Sambil memandang Gin Liong, Yok Lan bertanya: "Apakah bukan imam tua Hian Leng dari partai Kiong-lay- pay ?"

"Mungkin" kata Gin Liong. "Taci Kun, mengapa kalian kenal mereka ?" tanya Yok Lan.

Li Kun segera menceritakan peristiwa di gunung Hok- san dimana mereka telah berjumpa dengan imam itu.

Demikian setelah selesai makan mereka bertigapun segera melanjutkan perjalanan lagi, Dengan adanya imam yang mencurigakan itu, mereka pun berlaku hati2.

Dengan ketiga ekor kuda yang pesat larinya, dalam beberapa waktu saja mereka sudah mencapai 10-an  li.  Disitu terdapat sebuah gunung yang hanya berpuncak satu dan luasnya tak sampai sepuluh li.

Mereka berkuda disepanjang kaki gunung itu. Tak berapa lama mereka melihat disebelah muka sebuah bangunan yang merah gentengnya.

Gin Liong menghela napas dan berkata seorang diri: "Walaupun tak tinggi tetapi gunung tentu indah pemandangannya. walaupun tak dalam, telaga tentu ada raganya. Membangun biara di gunung ini, setiap hari membaca kitab suci, pikiran akan jernih, hatin pun mendapat penerangan. Tentu tak sukar akan mendapat kesucian dan jalan mencapai kedewaan."

Mendengar itu wajah Yok Lan serentak berobah dan berpaling memandang sukonya dengan pandang rawan.

Juga Li Kun terkejut, matanya berlinang-linang hendak menitikkan airmata, ia mempunyai perasaan bahwa Gin Liong sudah jemu akan dunia yang penuh lumpur kedosaan ini. Diam2 iapun ber janji dalam hati, Apabila Gin Liong benar hendak masuk menjadi murid biara, iapun akan mencari sebuah biara yang sunyi dan menjadi rahib.

Saat itu mereka tiba di muka gunung, Ternyata gunung itu walaupun tak berapa tinggi tetapi puncaknya tak kurang dari seratusan tombak luasnya. Gunung penuh dengan hutan pohon siong, Biara itupun sudah terlihat pintunya.

Memandang kemuka, lebih kurang setengah li jauhnya tampak tiga orang tegak berjajar menghadang jalan.

Ketika memandang dengan seksama Gin Liong tertawa dingin.

Yok Lanpun tahu bahwa yang di tengah itu adalah imam tua bermuka bopeng yang berada di rumah makan tadi, demikian pula yang dua. Tetapi yang seorang lagi ia belum tahu.

Gin Liong bertiga hentikan kudanya pada jarak lima tombak dari rombongan imam itu dan berseru: "Totiang bertiga, mengapa tiada sebab apa2 menghadang jalan kami

?"

Imam tua bermuka bopeng itu memang Hian Leng loto, segera ia menyahut: "Pinto Hian Leng telah menerima perintah dari kepala biara Ki-he-kwan, Tiau Ing totiang untuk menunggu tempat ini. Harap siau-sicu bertiga suka singgah minum teh ke dalam biara."

Karena ingin cepat2 melanjutkan perjalanan, Gin Liong segera memberi hormat: "Aku masih mempunyai urusan penting, tak berani membuang waktu. Harap lotiang bertiga suku menyampaikan terima kasih kami kepada kepala biara Ki-he-kwan atas kebaikannya".

Hian Leng totiang tertawa: "Walaupun bagaimana penting urusan sicu, namun kalau hanya berhenti sebentar untuk minum teh, tentu tak akan menghambat perjalanan sicu. Apalagi sicu bertiga menaiki kuda yang hebat, dalam waktu singkat tentu dapat mencapai kota Ki-he-koan Tua Ing totiang sudah lama mendengar sicu memiliki kepandaian yang tinggi dan ilmu pedang yang tiada tandingannya."

Li Kun tahu bahwa Hian Leng totiang hendak mengulur waktu saja, maka iapun marah dan terus membentak : "Tutup mulutmu"

Cepat ia mencabut pedang dan mendamprat pula: "Jelas hendak menuntut balas pada peristiwa di lembah gunung Hok san, mengapa pakai alasan suruh singgah ke dalam biara. Kalau mempunyai kepandaian lekaslah engkau cabut pedangmu, tak usah banyak bicara. Kalau merasa tak punya kepandaian lebih baik kalian menyingkir jika masih ribut, pedang Pek-soang-kiam ditanganku ini akan mengantar  jiwa kalian ke akhirat."

Mendengar nama pedang Pek-soang-kiam atau pedang Salju-putih, berobahlah wajah Hian Leng seketika, ia tak sangka bahwa nona jelita itu ternyata murid dari rahib tua Liong San loni.

Gin Liong dan Yok Lanpun baru tahu kalau Li Kun mempunyai pedang yang disebut Pek-soang kiam. Menilik wajah Hian Leng berubah pucat, jelas pedang  itu tentu sebuah pedang pusaka yang hebat.

Imam Kong Beng dan Ceng Beng yang berdiri disisi  Hian Leng, sudah pucat, Matanya memandang kearah biara Ka-hian-kwan di lereng gunung.

Hian Leng tertawa mengekeh.

"Heh... heh, kalian budak2 kecil berani membunuh dua orang tianglo kami. Dendam itu tidak mungkin kami maafkan. walaupun kepandaianku rendah, tapi aku tetap hendak mengadu jiwa dengan kalian. Demikian pula kepala dari biara Ki-he-kwan itu adalah sahabatku yang tak akan memberi jalan kepada kalian." Habis berkata ia terus mencabut pedang, Melihat itu Li Kun makin marah, teriaknya:

"Aku tak mempunyai waktu untuk meladeni kalian, Ayoh, majulah saja tiga orang serempak."

Mendengar itu Hian Leng tertawa nyaring. Sebaliknya imam Ceng Beng dan Kong Beng makin pucat. Tetapi karena Hian Leng sudah mengeluarkan pedang, terpaksa kedua imam itupun mencabut pedangnya.

"Kalau kalian tak lekas menyerang, akulah yang akan menyerang" seru Li Kun, seraya loncat turun dari kuda terus dengan jurus Yan-swat-hui-hwa atau Salju-berlebar- bunga-berhamburan, menyerang Hian Leng.

Kong Beng dan Ceng Beng membentak dan menyerang dari kanan kiri, Sedang Hian Lengpun segera bergerak maju.

Yok Laupun sudah loncat turun dari kuda, ia terkejut karena ketiga imam itu benar2 maju bertiga, Berpaling ke belakang dilihatnya Gin Liong masih tetap duduk diatas kudanya.

Li Kun mendengus, ia segera mainkan jurus Ce-gwat- kiau hui atau Bulan-bintang-beradu-cahaya, berpencar menyongsong Kong Beng dan Ceng Beng. Karena tahu akan kelihayan pedang si jelita. kedua imam itupun menyurut mundur lima langkah.

Saat itu pedang Hian Leng lotopun sudah tiba di muka  Li Kun, Ternyata serangan pada kedua imam tadi hanya suatu gerak kosong untuk memikat Hian Leng, Selekas  Hian Leng benar2 menyerang, Li Kun berteriak nyaring, menengadahkan tubuh dan secepat kilat pedang segera diganti dengan jurus It-cut-keng-thian atau Sebatang-tiang- menyanggah-langit. Rupanya Hian Leng memang benar2 hendak mengadu jiwa, Dia tak mau meroboh jurusnya, Tring, pedangnyapun segera terpapas kutung, Tetapi sedikitpun imam tua itu tak terkejut. Bahkan dengan meraung keras, tangannya mengendap kebawah dan tusukkan kutungan pedang ke perut sinona.

Dalam pada itu Kong Beng dan Ceng Beng tadipun serempak membacok kedua bahu Li Kun, diserang dari tiga jurusan itu, keadaan Li Kun memang berbahaya.

Gin Liong membentak keras terus loncat dari kuda, sedang Yok Lanpun loncat menerjang.

Tiba2 Li Kun melengking keras. Tubuh condong ke muka, menahan pedang kutung lawan dengan pedangnya lalu dengan meminjam tenaga benturan itu, ia  enjot tubuhnya berjumpalitan kebelakang.

Gin Liong terkejut dan hentikan gerakannya Demikian pula Yok Lan.

Karena penghindaran yang luar biasa dari Li Kun itu maka bacokan Kong Beng dan Ceng Beng mengenai angin kosong ,Tetapi Hian Leng tetap tak berhenti, dengan kalap ia tetap menusuk kemuka. Sudah tentu kedua kawannya menjerit kaget dan menangkis.

"Tring . ." mereka bertiga saling berhantam pedang sendiri, Dan karena sama-2 menggunakan kekuatan, benturan itu menyebabkan mata mereka berkunang-2. Dan karena takut kalau Li Kun menyerang, cepat mereka berputar diri lalu membolang-balingkan pedang kekanan kiri.

Tiba2 pada saat itu dari lereng gunung terdengar sebuah suitan nyaring, Mendengar itu semangat ketiga imam itu bangun kembali. Gin Liongpun memandang kearah gunung, Tampak sesosok bayangan berlari secepat terbang menuruni gunung, Ternyata yang datang itu seorang imam tua  yang rambutnya putih mengenakan jubah kelabu, punggungnya menyanggul sebatang pedang.

Gin Liong cepat menduga bahwa imam itu tentulah imam Tiau Ing, kepala dari biara Ki-he-kwan.

Pada saat imam Tiau Ing tiba di kaki gunung, dari arah biara itupun segera muncul berpuluh imam jubah kelabu.

Saat itu Tiau Ing sudah melayang tiba di tengah Hian Leng, Lebih dulu ia memandang muka muka Hian Leng yang bengap karena saling bentur dengan kawannya sendiri tadi.

"Kwan-cu", segera imam Hian Leng memberi keterangan, "yang membunuh kedua tianglo dari perguruanku tempo hari, ialah budak itu." ia menuding Gin Liong yang berdiri diapit oleh dua nona.

Sejenak memandang Gin Liong bertiga, imam Tiau Ing itu tertawa nyaring lalu berseru lantang:

"Kukira seorang manusia yang berkepala tiga berlengan enam kiranya hanya seorang budak yang belum hilang bau pupuknya."

Nadanya congkak sekali seolah tak memandang mata kepada Gin Liong yang dapat merubuhkan dua orang tianglo partai Kiong-lay-pay. Dengan sikapnya itu, orang menduga ia tentu memiliki kepandaian yang sakti.

Gin Liong kerutkan alis dan tertawa dingin: "Sebagai kepala dari biara Ki-he-kwan, lotiang tentulah seorang imam yang berilmu tinggi dan dapat  membedakan kejahatan dan kebaikan, salah dan benar. Melanggar pantangan bagi kaum imam yakni temaha, congkak, bohong."

Imam Tiau Ing cepat tertawa menukas.

"Budak yang tak kenal tingginya langit dalamnya lautan, berani benar engkau menilai diriku!"

Li Kun tak sabar lagi. Tanpa menunggu imam itu menyelesaikan kata2nya, ia terus tampil ke muka dan menggeram, "Karena engkau memang seorang imam yang tak mengerti nalar dan tak kenal sifat manusia, mengapa banyak mulut. Lekas cabut pedangmu agar jangan banyak pejalan yang keburu datang di tempat ini"

Imam tua Tiau Ing melihat bahwa di sekeliling tempat  itu memang telah banyak pejalan-2. Anak buah biara Ki-he- kwanpun juga banyak yang datang, ia tertawa makin angkuh.

"Sudah berpuluh tahun aku tak pernah menggunakan pedangku Untuk melayani seorang budak perempuan seperti dirimu, mengapa aku perlu memakai senjata"

Li Kun tak mau banyak bicara  lagi. ia terus maju menyerang Cepat dan dahsyat, dengan tertawa gelak2. Tiau Ing kebutkan lengan jubah seraya menghindar ke samping.

Li Kun tertawa dingin. ia robah jurus ilmu pedangnya dengan jurus Pok-coh-hun-coa atau Memukul-rumput- mencari-ular, segulung sinar pedang segera berhamburan menimpah lawan.

Baru kaki tegak, pedang sudah memburunya lagi, benar- 2 membuat imam tua itu terkejut.

Dengan membentak keras, ia menyurut mundur tiga langkah, kemudian maju lagi merebut senjata lawan dengan ilmu Gong jiu-peh-jiu atau dengan tangan kosong merebut senjata.

Li Kun mendengus geram. Setelah menyalurkan tenaga- dalam ke pedang, ia berturut-turut menyerang tiga kali.

Selama ini belum pernah kepala biara Ki-he-kwan itu menyaksikan suatu ilmu pedang yang sedemikian hebatnya. Apabila ia tak menguasai ilmu pedang dan pukulan, mungkin saat itu perutnya sudah pecah berhamburan.

Tetapi Li Kun sendiri juga terkejut ketika tiga kali serangannya itu musuh dapat menghindarnya, tak berani memandang rendah lagi.

Juga Gin Liong yang terus memperhatikan pertempuran itu, diapun juga terkejut melihat kepandaian ketua biara Ki he-kwan itu. hanya dengan tangan  kosong ia mampu melayani serangan pedang Li Kun.

Sedangkan Yok Lan hanya tegak dengan cemas, ia kuatir kalau imam itu menggunakan pedang, kemungkinan Li  Kun tentu kalah.

Bertempuran berjalan makin seru, bayangan pukulan sederas hujan mencurah, sinar pedang bagaikan kilat menyambar, walaupun dengan tangan kosong tetapi tamparan lengan jubah Tiau Ing itu seperti gelombang mendampar, secepat angin melanda.

Li Kunpun tak kurang gesitnya, ia berencana dengan tangkap selincah burung sikalam Makin lama makin gagah sehingga sukar untuk mengenali kedua orang itu.

Diam2 Yok Lan menimang bahwa setelah menghadapi kelima imam, seharusnya beristirahat dulu, Diam2 ia memutuskan untuk menggantikannya. Setelah mengambil keputusan, diam2 ia segera menghafalkan beberapa jurus ilmu pedang ajaran Hun Hu siantiang. Setelah itu baru berseru: "Taci Kun, harap beristirahat dulu, Biarlah aku yang menggantikan."

Sehabis berkata dengan gerak laksana burung hong, ia melayang ke muka.

"Lan-moay, kembalilah " Gin Liong berseru kaget.

Tetapi serempak dengan itu Hian Leng loto sudah merebut pedang imam Kong Beng dan terus menerjang Yok Lan. Nona itupun hentikan gerakannya, balikkan tangan dan tusukkan ujung pedangnya ke batang pedang Hian Leng.

Hian Leng mengerang tertahan karena pedangnya tersiak ke samping. Secepat itu pula Yok Lan meneruskan membacok siku lengan kanan lawan.

Hian Leng menjerit kaget, ia lepaskan pedang dan loncat mundur, keringatnya bercucuran deras.

Setelah mengundurkan Hian Leng, Yok Lan-pun lanjutkan gerakannya menerjang imam Tiau Ing. Melihat kedatangannya, Tiau Ing tertawa gelak2.

"Ha, ha, bagus, aku hendak menguji sampai mana kepandaian ilmu pedangmu !" serunya, ia tinggalkan Li Kun dan lari menyongsong Yok Lan. juga seperti menghadapi Li Kun, imam itu tetap menggunakan kibasan lengan jubahnya.

Li Kun marah, dengan memekik nyaring ia hendak menerjang lagi. tetapi saat itu Yok Lan malah menghentikan permainan pedangnya, imam Tiau Ing tertawa dingin, kedua tangannya menampar dengan cepat kearah lengan dan bahu dara itu. Gin Liong dan Li Kun terkejut. Keduanya serempak menjerit kaget.

Melihat si dara tak menangkis pun tak meng hindar, dengan mendegus geram Tiau Ing lanjutkan kedua tangannya menjadi suatu pukulan yang sungguh2.

Dalam detik2 yang berbahaya itu, tiba2 Yok Lan gerakkan pedang menusuk tenggorokan si imam. Kecepatannya bagaikan kilat menyambar.

Tiau Ing terkejut sekali, Dengan gopoh ia kebutkan lengan jubah seraya menyurut mundur. Tetapi Yok Lan tak mau memberi kelonggaran lagi, ia loncat maju dan menabas, cres . . . . lengan baju kepala biara Ki-he-kwan seketika terpapas kutung.

Yok Lan hentikan serangannya dan berdiri tegak. Saat itu baru Gin Liong dan Li Kun mengakui bahwa apa yang diagungkan orang persilatan bahwa ilmu pedang Hun Hu siantiang itu merajai dunia persilatan memang bukan suatu pujian kosong.

Dua buah gerakan Yok Lan tadi, menunjukkan suatu jurus ilmu pedang yang luar biasa, penuh perobahan yang tak terduga, tenang laksana air telaga, cepat laksana kilat menyambar, lincah bagai ular terkejut, ringan bagai daun kering gugur di tanah. Sungguh suatu ilmu pedang yang jarang terdapat didunia persilatan.

Hian Leng dan berpuluh anak murid biara Ki he-kwan, terlongong-longong heran. Diam-2 mereka menggigil dalam hati. Kepala biara Ki-he-kwan memiliki ilmu permainan pedang dan pukulan yang hebat, jarang orang dapat menandinginya. Tetapi menghadapi seorang dara baju putih yang tak terkenal, kepala biara itu dipaksa harus mengucurkan keringat dingin.

Diantara orang2 yang berkerumun di jalan itu terdapat juga orang2 persilatan. Tanpa disadari mereka berteriak memuji.

Ketika imam Tiau Ing berdiri dan melihat jubahnya terbabat rompal, seketika wajahnya membesi, jenggotnya sampai gemetaran. Sepasang matanya memandang Yok Lan dengan pandangan kejut keheranan.

Sesaat mendengar sorak sorai orang yang menyaksikan pertempuran itu, Tiau Ing makin merah padam mukanya, serentak ia menengadahkan kepala dan tertawa nyaring lalu berseru dengan congkak.

"Selama aku menggunakan pedang, jarang aku bertemu dengan orang yang mampu menandingi. Sejak berpuluh tahun, tiada seorang yang mampu melayani pedangku sampai sepuluh jurus."

Habis berkata ia memandang Gin Liong bertiga dan berseru nyaring: "Diantara kalian bertiga barang siapa mampu melayani aku sampai satu setengah jurus, kalian bebas melanjutkan perjalanan..."

"Hm apakah engkau yakin dapat menghalangi kami" tukas Li Kun yang marah terhadap kesombongan imam tua itu.

Dengan mata memancar dendam, Tiau Ing memandang ketiga anak muda itu lalu tertawa dingin. Kemudian mengangkat tangannya dan tahu2 sudah mencabut pedang dari bahunya. Wajah Gin Liong berobah seketika, ia tahu bahwa pedang imam itu sebuah pedang pusaka, ia meragu, demikian pula Li Kun.

Tetapi Yok Lan yang sudah gemas segera menantang: "Totiang sebagai seorang kepala biara, apa yang lotiang ucapkan tentu dapat kita percaya. Baik, akulah yang akan menerima pelajaran barang beberapa jurus dari lotiang . . ." ia tersenyum-senyum sambil siapkan pedang, menunggu serangan.

Kepala biara Ki-he-kwan sudah berpuluh tahun meyakinkan ilmu pedang, Melihat sikap dara itu, seketika berubah wajahnya. Dilihatnya dara itu mencekal pedang lurus kemuka, semangat dan hawa murni telah dipusatkan satu.

Kesemuanya itu merupakan sikap dari ilmu pedang tingkat tinggi, Benar2 imam itu tak habis mengerti mengapa dalam dunia persilatan telah muncul seorang dara yang memiliki ilmu pedang sedemikian saktinya.

Diam-2 imam Tiau Ing mengeluh dalam hati karena hilang kepercayaan pada dirinya, adakah ia mampu memenangkan dara itu. seketika terlintas suatu pemikiran dalam benaknya, ia tertawa gelak2, serunya:

"Jangan kuatir nona, pintu tak nanti menelan kata2 pinto lagi. Asal engkau mampu melayani sampai sepuluh jurus, pintu tentu akan melepaskan kalian bertiga."

Diam2 Yok Lan sudah dapat membaca isi hati lawan, jika tadi imam itu mengatakan hanya satu setengah jurus, sekarang dia menghendaki sepuluh jurus, tetapi sebagai seorang dara yang masih berdarah panas, Yok Lan pun tak menyangkal. "Baiklah, janji telah kita sepakati, silahkan lotiang segera mulai !"

Tiau Ing tertawa gelak, serunya: "Pinto sudah  berumur 80 tahun. rambut sudah putih semua, sudah tentu tak layak untuk menyerang lebih dulu, Engkaulah yang menyerang lebih dulu !"

Walaupun nadanya tenang tapi wajah imam itu memang tegang, kerut kesombongannya sudah tak terlihat lagi.

Mendengar Tiau Ing bermula menyebut diri sebagai kwan-cu atau kepala biara kemudian turun dalam sebutan pinto, tahulah Gin Liong dan Li Kun bahwa imam itu sudah terdesak dalam keadaan sulit, ibarat orang naik di punggung harimau.

Bahwa dalam sekali gebrak saja, dara baju putih  itu sudah dapat mengalahkan Hian Leng, tahulah Gin Liong bahwa imam Tiau Ing itu sudah tak mempunyai harapan untuk menang, ia hanya berharap tidak sampai kalah saja.

Yok Lan yang cerdas, cepat dapat mengetahui isi hati kepala biara Ki he-kwan itu. ia tertawa hambar, sebelah mengiakan ia terus taburkan pedangnya dalam jurus burung hong-keluar-sarang. Dua sinar pedang sekali berhambur mengarah kedua bahu Tiau Ing.

Kepala biara Ki-he-kwan itu menyadari bahwa hal itu ia berhadapan dengan seorang lawan yang tangguh, ia tak berani memandang rendah lagi, Diam2 ia segera kerahkan tenaga-dalam kelengannya lalu mengalir ke batang pedang.

Dengan mengandalkan pedang pusakanya ia hendak coba merebut kemenangan.

Selekas Yok Lan menyerang kedua bahunya, Tiau Ing lalu gunakan jurus Hun-hoa-hud-liu untuk membabat pedang dara itu. Yok Lan menyaksikan selainkan cepat pun gerakan pedang imam itu mengandung tenaga dalam yang kuat sekali, Mau tak mau, iapun harus berhati-hati untuk menghadapinya.

Berputar tubuh dan mengisar langkah, ia endapkan pedang dan menabas pinggang lawan. Melihat dua buah jurus yang dimainkan dara itu merupakan jurus biasa, semangat Tiau Ing bangkit kembali, demikian pula dengan kesombongannya-pun timbul.

Dengan membentak keras, tiba ia robah gerakan pedangnya, Dengan ilmu pedang yang dipelajari selama berpuluh tahun, ia segera melancarkan serangan yang deras dan dahsyat. Setiap gerakan pedangnya tentu merupakan serangan maut dan mematikan

Demikian terjadilah suatu pertempuran pedang yang dahsyat dan mengagumkan Deru angin dan sinar pedang yang menyilaukan mata. segera melihat tubuh Yok Lan dalam lingkaran sinar pedang yang ketat.

Dalam kepungan sinar pedang maut itu, tak hentinya mulut Yok Lan melengking dan menjerit mengiring permainan pedangnya untuk menangkis, Beberapa saat kemudian sinar pedang imam Tiau Ing itupun makin menyurut sekalian orang yang menyaksikan pertempuran itu terkejut sekali.

Di lain pihak pedang Yok Lan masih tetap melancar bagaikan air bengawan yang mengalir tiada hentinya, Setiap kali tentu terdengar suara mendering ketika ujung pedang dara itu menutuk batang pedang lawannya.

Pedang kepala biara Ki-he-kwan itu makin lamban gerakannya, gulungan sinarnyapun makin pudar, sambil berlincahan ke kanan kiri, ia terus menerus terdesak mundur Dari menyerang ia berbalik diserang habis-2 an oleh sidara, sehingga keadaannya pontang panting tak keruan.

Terdengar desuh dan desah disertai seruan tertahan dari orang2 yang menyaksikan di tepi jalan Berpuluh-puluh imam anak buah biara Ki-hian-kwan serempak berobah pucat wajahnya dan berdebar-debar keras.

Tak kecewa kepala biara Kai-he-kwan itu  sebagai seorang jago pedang yang telah mempelajari ilmu pedang selama berpuluh tahun walaupun terdesak dan berlincahan menghindar mundur tetapi dia tetap dapat menutup diri dengan ketat sedikitpun tak terpengaruh suara hiruk dari penonton.

Tujuan Yok Lan hanialah menyelesaikan sepuluh jurus dengan cepat. Tetapi karena lawan telah berganti dengan sikap bertahan, maka iapun memperlambat serangannya.

Sebagai seorang jago pedang kawakan, sudah tentu kepala biara Ki-he-kwan itu dapat mengetahui isi hati si dara, Tetapi ia tak berdaya untuk merobah situasi karena pedang si dara itu masih tetap melancar dengan ketat. tanpa memberi kesempatan lawan untuk mengisi lubang kelemahannya."

Demikian dalam beberapa kejap saja, pertempuran telah berlangsung sepuluh jurus, Tiba-2 imam Tiau Ing tertawa gelak2 dan terus loncat mundur sampai dua tombak.

Yok Lanpun hentikan pedangnya.

"Ilmu pedang totiang, benar2 jarang terdapat dalam dunia, Terima kasih atas pelajaran berharga yang totiang berikan." seru dara itu.

Puas tertawa, kepala biara Ki-he-kwan itu berseru nyaring: "Selama berpuluh tahun, baru kali ini pinto bertemu dengan orang yang mampu melayani pedang pinto sampai sepuluh jurus."

Yok Lan geli dalam hati. Imam tua itu masih besar mulut, tak menyadari bahwa sesungguhnya ia memang tak mau menyerang lebih dahsyat lagi.

Kepala biara Ki-he-kwan berputar tubuh dan berseru kepada anak buahnya: "Beri jalan dan pulang ke biara."

Selekas menyimpan pedang tanpa  menunggu penyahutan Yok Lan lagi, imam itu terus kebutkan lengan jubah dan terbang lari ke lereng gunung.

Karena pemimpinnya sudah pergi, kawanan imam itupun segera berbondong-bondong lari mengikuti.

Karena gelagatnya jelek, Hian Leng, Kong Beng dan Ceng Beng ketiga imampun ikut rombongan mereka.

Yok Lanpun cepat mengajak Gin Liong dan Li Kun: "Mari kita lekas pergi, orang2 berbondong-bondong kemari."

Gin Liong dan Li Kun tertawa.

"Mereka sudah bubar, yang dari utara menuju ke selatan, yang dari selatan menuju ke utara, Apabila lewat disini. merekapun hanya ingin memandangmu sejenak." kata Li Kun tertawa.

Demikian mereka bertiga segera naik kudanya pula, Saat itu matahari sudah mulai condong ke barat, Diam-2 Gin Liong berkata dalam hati: "Ah, mungkin akan terjadi sesuatu lagi."

Berpaling ke belakang dilihat Li Kun berkuda di belakang tetapi ketika memandang ke belakang lagi, ia terkejut. Di belakang ketiga ekor kuda mereka, tak berapa jauh jaraknya, tampak seorang rahib menunggang seekor kuda putih kembang. Rahib itu masih muda dan berparas cantik, Usianya diantara dua-puluh empat - dua-puluh lima tahun, mukanya berbentuk seperti buah tho kulit putih halus, alis melengkung rebah seperti bulan tanggal satu, mata jeli bersinar bening, bibir merekah merah, hidung mancung, mulut mengulum senyum madu, menimbulkan kesan yang memikat hati.

Rambutnya yang dikonde keatas menurut seorang rahib, berhias dengan sebuah tusuk kundai kumala, jubahnya berwarna kuning susu, mengenakan pakaian luar warna jambon. Bahu menyanggul sebatang hud-tim atau kebut pertapaan. Ia memandang Gin Liong lekat2.

Tergetar hati Gin Liong ketika beradu pandang dengan rahib muda itu. Wajahnya bertebar merah, Buru2 ia tenangkan hati dan berkata kepada Li Kun.

"Taci Kun, hari sudah gelap, mari kita percepat perjalanan."

Mereka bertiga segera mencongklangkan kuda lebih pesat. Tetapi rahib itu masih tetap mengikuti

Tiba2 Gin Liong membaui tebaran angin yang membawa bau harum yang aneh. Li Kun yang pertama dapat mencium bau aneh itu,ia mendengus dan deliki mata kepada rahib itu.

Sejak tadi Yok Lan tak memperhatikan soal rahib itu, Ketika mendengar Li Kun mendengus geram, barulah ia melihat rahib yang terus menerus memandang Gin Liong itu. Entah bagaimana hati Gin Liong makin berdebar keras, ia tak berani memandang rahib itu lagi. Li Kun heran melihat kegelisahan Gin Liong, Demikian pula Yok Lan.

Diam-2 Yok Lan menilai rahib itu. Seorang rahib itu seorang biarawan yang sudah mensucikan  diri. Mengenakan pakaian warna yang begitu menyolok sudahlah tidak pantas, Begitu pula naik seekor kuda yang begitu tegar, ia mendapat kesan bahwa rahib itu tentu seorang murid agama yang murtad.

"Taci Kun, mari kita cepatkan kuda !" karena muak, Yok Lan segera mengajak Li Kun. Li Kun kembali mendengus geram lalu melarikan kudanya.

Rahib itu memandang Li Kun lalu tertawa dingin, walaupun mendengar, tetapi Li Kun dan Yok Lan tak ambil peduli. Demi melanjutkan perjalanan keduanya tak mau cari urusan.

Gin Liong tak mau melihat rahib itu, pun tak mau memandang Li Kun, ia segera memacu kudanya.

Tiba2 rahib muda itu tertawa, serunya: "Siau-siangkong, setelah mempunyai kawan perjalanan dua nona cantik, lalu tak kenal lagi padaku?"

Mendengar itu Gin Liong tertegun. juga Yok Lan terkesiap, Hanya Li Kun yang tak dapat menahan kemarahannya lalu mendampratnya. "Sungguh tak tahu malu, siapa yang kenal padamu ?"

Rahib cantik itupun berobah wajahnya dan menjawab dengan nada dingin: "Entah siapa yang tak punya  malu, hm, tak tahu diri."

Sudah tentu Li Kun merah padam mukanya. Dengan menjerit keras ia segera mencabut pedang Pek song-kiam. Rupanya rahib cantik itu juga marah, serunya: "Hm, kalau tak diberi sedikit pelajaran, engkau tentu belum kenal kelihayanku " Habis berkata ia terus terjangkan kudanya kemuka.

Orang-2 dijalan yang sudah terlanjur bubar memang terus pergi. Tetapi yang belum berapa jauh, kembali lagi untuk melihat ramai-ramai.

Melihat rahib itu melarikan kuda kearahnya, Li Kun hentikan kuda, lintangkan pedang untuk menunggu.

Selekas tiba, rahib cantik itu segera mencabut hud-tim lalu ditampar kearah dada Li Kun.

Li Kun benar2 marah terhadap tingkah rahib itu. Kuda putih dikisarkan menghindar kesamping lalu diputar kebelakang kuda si rahib, dengan diantar teriakan melengking, ia balas menusuk rahib itu.

Rahib itu terkejut sehingga ia loncatkan kuda kemuka. Kuda putih yang bernama si Putih milik Li Kun itu memang seekor kuda yang tegar, ditambah pula Li Kun mahir mengendarainya, Cepat ia pun memacu kudanya memburu kemuka. Dengan jurus Pek hun kian jit atau Menyingkap-awan-memandang-matahari, ia membabat pinggang rahib itu.

Ketika berpaling terkejutlah rahib itu, Dengan melengking keras ia ayun tubuhnya loncat dari  kudanya  dan melayang ketempat kerumunan orang2 yang menonton. Karena orang2 itu berjumlah banyak, Li Kun  tak leluasa mengejar, ia hentikan kuda dan mendamprat: "Cis, tak tahu malu, tak pegang kesucian . . ."

Ternyata rahib cantik itu masih berada ditengah orang banyak, Dengan santai ia menukas kata Li Kun: "Perempuan hina, pada suatu hari engkau pasti akan kenal keliehayan Biau Biau sian-kho tunggu saja !"

Saat itu Yok Lan menghampiri dan meminta Li Kun tak usah meladeni rahib semacam itu, sedangkan Gin Liong menganggap rahib itu tentu kurang waras pikirannya. Kalau tidak masakan memanggil-manggil orang lelaki.

Demikian mereka bertiga segera melanjutkan perjalanan lagi.

"Adik Liong, apakah rahib itu benar2 kenal padamu ?" tanya Li Kun.

"Eh, jangan omong sembarangan aku tak pernah melihatnya," kata Gin Liong.

"Mengapa dia tahu engkau orang she Siau ?" Gin Liong kerutkan dahi : "Ya, aneh, mengapa dia tahu she-ku ?"

Melihat sikap Gin Liong yang heran sendiri, Li Kunpun tak mau mendesak lebih lanjut.

Dengan cepat mereka melalui tiga buah kota. Walaupun ketiga ekor kuda mereka sudah basah kuyup dengan keringat tetapi kecepatan larinya masih tak berkurang.

Saat itu matahari sudah tenggelam di sebelah berat. Kabut malam mulai bertebar, jauh disebelah muka samar2 tampak pintu kota Lay- yang-koan.

"Taci Kun, lebih baik. kita ambil jalan besar saja, Kalau mengambil jalan mengitar tentulah akan kehilangan jejak Liong-li locianpwe."

Kedua nona itu setuju. Begitu mereka segera menuju ke kota Lay-yang-koan. Empat buah lentera besar tergantung pada pintu kota. Memang Lay-yang-koan sebuah kota yang besar dan ramai. Tiba dipintu utara, tampak prajurit penjaga pintu siap dengan senjatanya.

Gin Liong bertiga turun dari kuda dan masuk kedalam pintu, Melihat ketiga anak muda itu mengenakan pakaian orang persilatan dan menyanggul pedang, segera penjaga itu tahu kalau mereka tentu berasal dari daerah Kwan-gwa atau luar perbatasan.

Demikian Gin Liong dan kedua kawannya terus masuk ke dalam kota, Kota itu memang benar2 ramai, penuh dengan toko2 dan orang2 yang berjalan memenuhi sepanjang jalan. Kehidupan malam, tampak meriah.

"Siau siauhiap !" tiba2 terdengar seruan seseorang.

Li Kun dan Yok Lan terkejut lalu hentikan kuda dan berpaling kearah suara itu. Diantara kerumun orang, tampak seorang nona baju hijau tengah melambaikan tangan ke arah Gin Liong.

Usia nona itu baru diantara enam belas-tujuh belas berwajah cantik dan masih bersikap seperti kanak2.

Melihat Gin Liong terkejut tetapi tak menyahut, dara itu berseru pula dengan kurang senang: "Siau siauhiap, apakah engkau tak kenal padaku?"

Tak pernah Gin Liong menduga bahwa di kota itu ia bakal bertemu dengan dara yang nakal, setelah tenangkan diri ia tertawa:

"O, kiranya nona ik, bagaimana dengan kedua orang tua nona ?"

Dara itu memang Ik Siu Ngo. Melihat Gin Liong sudah mengenalinya, ia tertawa. "Mereka juga disini, berada dirumah penginapan itu" ia  menunjuk sebuah hotel di belakangnya, Kemudian bertanya: "Siau siauhiap, apakah engkau tak mau ber temu dengan ayah-bundaku? Mamah tetap teringat kepadamu, ia mengatakan kau nakal tetapi menyenangkan"

Gin Liongpun teringat akan peristiwa ia bersembunyi dibalik batu untuk mempermainkan nenek Ban atau ibu dari Siu Ngo tempo hari, ia pun tertawa geli.

"Nona Ik, sungguh menyesal sekali, karena kami masih mempunyai urusan penting, terpaksa kami akan melanjutkan perjalanan. Lain hari kami tentu akan menemui locianpwe berdua," tiba2 Li Kun menyelutuk.

Gin Liong terkesiap, Terpaksa ia minta maaf kepada Siu Ngo agar menyampaikan salam dan hormat kepada kedua orang tuanya."

"Eh, mengapa engkau tak memperkenalkan ke dua nona yang naik kuda itu kepadaku ?" Siu Ngo tertawa.

Gin Liong tertawa, Menunjuk pada Li Kun dan Yok Lan, ia memperkenalkan : "lnilah nona Tio Li Kun dari gunung Mo-thian-san. Dan ini adalah sumoayku Ki Yok Lan"

Kepada kedua nona itu dengan tertawa kekanakan Siau Ngo memberi hormat Li Kun dan Yok Lanpun balas menghormat.

"Nona Ik" kata Yok Lan, "kami hendak melanjutkan perjalanan ke selatan Apabila kalian juga ke selatan, kelak kita tentu masih banyak kesempatan untuk berjumpa lagi"

Siu Ngo girang: "Baik, kalau begitu kelak kita pasti berjumpa lagi. sekarang silahkan kalau kalian hendak melanjutkan perjalanan." Setelah minta diri, Gin Liong bertiga menuju kepintu selatan sekeluarnya dari pintu kota itu. mereka tiba disebuah hutan kecil yang gelap. Sekeliling penjuru sunyi senyap, Tetapi pada jarak belasan li disebelah muka tampak cahaya lampu berkelipan. Tentulah sebuah rumah makan. Karena lapar mereka segera menuju ke tempat itu.

"Kita berhenti di rumah makan ini." kata Yok Lan setelah tiba di tempat itu. Jongos cepat menyambut kuda mereka.

Atas pertanyaan Gin Liong jongos menerangkan bahwa kota ini adalah Lay-yang-koan. Dua belas li disebelah selatannya adalah kota Lay-hok-tin.

Bertanya pula Gin Liong, apakah dalam beberapa hari  ini pernah kedatangan seorang li-hiap (pendekar wanita) yang mengenakan mantel merah.

"Tak pernah terdapat lihiap semacam itu yang lalu  disini" menerangkan jongos.

Ternyata rumah makan itu juga sebuah rumah penginapan Gin Liong menempati sebuah kamar dan Li Kun berdua dengan Yok Lan sebuah kamar. Selesai makan malam, merekapun masuk kamar masing2.

Tengah tidur, tiba2 Gin Liong dikejutkan oleh kesiur angin halus dari kibaran pakaian ia terkejut, cepat  turun dari pembaringan terus membuka jendela dan loncat kehalaman belakang lalu melayang keatas atap dan bersembunyi ditempat gelap.

Memandang kesekeliling penjuru, ia  melihat sesosok bayangan kecil sedang berlompatan ke atap deretan kamar di sebelah muka, Gerak orang itu hampir tak menimbulkan suara apa2. Gin Liong terkejut atas kelihayan ilmu ginkang orang itu. ia duga, orang itu tentu mempunyai maksud tertentu.

Sejenak berhenti tiba2 bayangan itu lari kearah tempat Gin Liong bersembunyi Sudah tentu Gin Liong kaget, Buru2 ia menyurut kebalik talang.

Ah, ternyata bayangan itu bukan lain adalah rahib cantik Biau Biau siankho siang tadi, seketika timbullah rasa muak dan geram dalam hati Gin Liong.

Sambil berdiri di atas tembok halaman,

Matanya memandang lekat2 pada pintu kamar. Ketika melihat pintu belum bertutup, wajahnya berseri girang, Cepat ia melayang turun ke halaman dan sekali loncat ia sudah berada di muka pintu.

Rahib itu mengintip kedalam kamar, hendak masuk tapi ragu2. Tetapi akhirnya masuk jugalah ia.

Gin Liongpun cepat melayang turun ke halaman Dari celah jendela ia mengintai dan melihat Biau Biau sian-kho menghampiri tempat tidur. Wajahnya penuh memancar hawa kecabulan

Seketika Gin Liong tahu apa maksud rahib itu. ia hendak menghajar rahib itu tetapi tiba2 ia teringat akan ikrarnya ketika di lembah gunung Hoksan, seketika hawa pembunuhan, pun mengendap.

Tetapi ketika mendapatkan ranjang itu kosong Biau Biau sian-kho kecewa sekali, wajahnya segera menampil kemarahan. Cepat ia keluar dan melayang keatas rumah pada deretan kiri. Gin Liong tetap bersembunyi di balik talang.

Saat itu Biau Biau sian-kho menggunakan ilmu bergelantungan kaki dikaitkan pada tiang penglari dan kepala menjulai kebawah untuk melihat keadaan dalam kamar itu.

Ternyata rahib cantik itu hendak mencari Gin Liong tetapi karena tak dapat menemukannya terpaksa mengangkat tubuh keatas atap lagi Ketika berpaling, kejutnya bukan alang kepalang, pemuda yang dicarinya itu ternyata tegak dibelakangnya.

Memang tadi setelah melihat gerak gerik rahib itu, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, Gin Liong loncat di belakang rahib itu.

Karena kejutnya, Piau Biau sian-kho menjerit dan menyurut mundur, Tetapi alangkah kagetnya  ketika kakinya menginjak angin, ia tahu kalau akan jatuh maka cepat ia kebutkan lengan baju dan selekas menginjak tanah ia melayang lagi keatas atap rumah sebelah barat lalu lari.

Saat itu Li Kun dan Yok Lan berhamburan loncat keatas wuwungan. Melihat Gin Liong memandang kemuka dengan marah, kedua nona itupun memandang ke muka juga. Dilihatnya Biau Biau sian-kho sudah melewati dua deret kamar dan tengah melarikan diri ke arah barat.

Li Kun marah. Cepat ia loncat mengejar, Gin Liong dan Yok Lan terpaksa menyusul. Tetapi melihat dirinya dikejar, Biau Biau sian-kho mempercepat larinya, Dalam sekejab mata sudah tiba di luar kota.

"Liong koko, mengapa engkau tadi tak menghadang rahib itu ?" seru Yok Lan setengah heran melihat sikap Gin Liong.

"Tak leluasa bertempur dalam kota, lebih baik menghajarnya diluar kota." jawab Gin Liong, ia terus pesatkan larinya mengejar rahib itu. Tiba2 rahib itu berhenti, melengking dan taburkan kebutnya ke arah Li Kun yang datang paling dulu, Li Kun mendengus dingin, ia membabatkan pedangnya kearah kebut rahib itu.

Melihat tadi Gin Liong tak turun tangan, Biau Biau Sian- kho mempunyai tafsiran kalau pemuda im takkan mencelakainya. Maka besarlah nyalinya, Berputar tubuh ia menyelinap ke belakang Li Kun dan mengebut lengan nona itu.

Li Kun sudah terlanjur membenci setengah mati kepada rahib cabul itu, Dengan tangkas ia segera gunakan jurus Heng-toan-kiang-ho atau Memotong-sungai-bengawan, menabas pinggang Biau Biau sian-kho.

Rahib itu menggeliat mundur, kebutnya ditutukkan ke muka Li Kun, Kembali Li Kun tertawa dingin, Sambil condongkan kepala kesamping lalu menusuk, cret . . pakaian bagian bawah dari Biau Biau sian-kho rompal, Rahib itu menjerit kaget dan menyurut mundur.

Li Kun mengejar, pedangnya secepat kilat menabas batang leher Biau Biau sian-khi.

"Taci, jangan membunuhnya . . " teriak Gin Liong. Li Kun terkejut, gerakannyapun agak lambat dan rahib itupun tundukkan kepala menyurut mundur, Cret . . sanggul rambut rahib itu terpapas jatuh. Serasa terbang semangat rahib itu, ia menjerit nyaring dan lari kearah utara, Gin Liong, Yok Lan dan Li Kun tak mau mengejar.

"Biau Biau sian-kho, harap engkau dapat merobah kelakuan dan kembali ke jalan yang benar." seru Gin Liong.

Dari jauh kedengaran rahib itu berseru menjawab: "Hm, jangan kalian pura2 menjadi orang baik. Pada suatu hari aku tentu akan mencincang tubuh kalian".

Li Kun menggeram: "Rahib itu memang sudah gelap pikiran, Lain kali kalau bertemu lagi, aku tak mau mengampuninya."

Saat itu sudah lewat tengah malam. Lonceng genta di kota berbunyi tiga kali, Tiba2 dari arah barat laut terdengar derap kuda berlari cepat sekali dan tak berapa lama samar2 tampak empat sosok bayangan hitam lari mendatangi.

"Tengah malam berkuda melintasi hutan, tentulah kawanan orang persilatan, Lebih baik kita bersembunyi." kata Li Kun.

Ternyata keempat kuda itu memang sangat cepat sekali, Dalam beberapa kejab, mereka sudah tiba pada jarak puluhan tombak.

Gin Liong memandang ke sekeliling. Sepuluh tombak disekeliling tempat itu tiada tempat untuk menyembunyikan diri. Selagi ia masih meragu, keempat penunggang kuda itu sudah tampak, Untuk menyembunyikan diri jelas sudah tak keburu lagi.

Keempat ekor kuda itu tegar dan perkasa, berbulu hitam dan putih, Keempat penunggangnya mengenakan pakaian ringkas kaum persilatan. Yang dimuka, seorang tua  berumur 50 tahun, pendek gemuk, muka brewok, mulut dan hidung besar, tulang keningnya menonjol, pertanda seorang tokoh yang tinggi ilmu lwekangnya. punggungnya menyanggul sepasang senjata poan-koan-pit, matanya bersinar tajam sikapnya angkuh sekali. Dia tentulah pemimpin dan rombongannya.

Sedang yang tiga orang, mengenakan pakaian persilatan warna biru, rata-2 berwajah bengis. Yang disebelah kiri, bertubuh kurus, muka kuning dan menyanggul pedang. Yang di sebelah kanan, bermuka hitam, brewok dan menyelip sepasang kapak pada pinggangnya Sedang orang yang dibelakang, telinga kirinya hilang, pinggang menyelip sebatang golok bian-to.

Secepat angin keempat penunggang kuda itu melewati tempat Gin Liong. Mereka dapat pula untuk memandang Gin Liong bertiga.

Untuk menyingkir dari taburan debu, Gin Liong bertiga segera menyurut mundur sampai dua tombak. Melihat itu ketiga penunggang kuda yang dibelakang tertawa gelak. Li Kun marah, ia segera hendak mencabut pedang, Tetapi sesaat itu terdengar lelaki bertelinga satu berseru.

"Yu thancu, menilik pakaiannya, seperti kawanan budak yang diceritakan orang itu," katanya.

Orang tua pendek gemuk yang berada di muka mendengus dan berpaling, hentikan kuda lalu berputar kembali.

Gin Liong jengkel, ia tak ingin terlibat urusan tetapi  selalu dikejar-kejar urusan saja. Sedang Li Kun diam2 gembira karena ia memang muak dengan keempat penunggang kuda nu. Tring, ia mencabut pedang.

Lebih kurang tujuh tombak jauhnya, keempat orang itu loncat turun dari kuda lalu menghampiri ke tempat Gin Liong. Orang tua itu tak mengacuhkan Li Kun yang sudah menghunus pedang, ia berjalan dengan dada membusung.

Yok Lan cepat menduga bahwa keempat orang itu tentu bukan orang baik. Sedang Gin Liong tetap tegak dengan tenang, Hawa pembunuhan meluap, sesaat ia lupa akan ikrarnya.

Setelah dekat, orang tua pendek gemuk itu berseru : "Aku adalah thancu ketiga dari perkumpulan Thian-leng kan, namaku Yu Ting Su bergelar Gun-se-poan-koan. Menerima perintah kaucu, aku hendak mencari jejak orang tua pemilik kaca wasiat yang konon berada dilembah gunung Hok-sau. Menurut kabar2 yang tersiar di kota Hoan-san-koan, kaca wasiat itu telah diberikan oleh seorang pemuda baju putih yang membawa pedang, pemuda itu she Siau nama Gin Liong."

Sejenak berhenti untuk memandang wajah Gin Liong, orang tua pendek itu bertanya:

"Menilik pakaianmu tampaknya engkau mirip dengan pemuda itu, Benar atau tidak, lekas engkau kasih tahu kepadaku Aku hendak lekas2 pulang melapor pada kaucu."

Gin Liong tak sabar lagi melihat sikap dan kata2 orang tua yang begitu congkak, cepat ia menyahut : "Benar, memang akulah Siau Gin Liong."

Tiba2 lelaki yang bertelinga satu tertawa gelak2, serunya

: Yu thancu, bukankah pandanganku tepat ? Mohon thancu memberi ijin kepadaku untuk menangkap budak itu."

Tanpa menunggu jawaban, dia terus melangkah maju dan mencabut golok bian-to lalu ditaburkan menjadi segulung sinar perak yang menyilaukan mata. "Tio Hiangcu, tunggu dulu," seru Yi Ting Su. "biarlah dia menyerahkan sendiri pusaka itu agar kita jangan membuang waktu harus turun tangan."

Gin Liong marah sekali, ia tertawa nyaring: "Benar, kaca wasiat itu memang berada padaku, jika kalian mampu, silahkan mengambil."

Berobahlah wajah Yu ling Su seketika.

"Budak yang  tak tahu tingginya gunung Thaysan, Engkau berani bersikap kurang adat dihadapanku !"

Habis berkata ia terus memberi perintah kepada lelaki bertelinga satu untuk menangkap Gin Liong.

"Budak," seru lelaki bertelinga satu, "jika raja Akhirat memanggilmu tengah malam, siapa yang berani menahan engkau sampai esok hari ? Engkau cari mati sendiri, jangan persalahkan aku Tio toaya seorang ganas, Baiklah engkau serahkan saja kaca wasiat itu agar jangan engkau menderita, heh, heh . . ."

"Kalian telah ditipu orang." seru Yok Lan, "cobalah kalian pikir, jika  sekian banyak jago2 silat ternama tak mampu memiliki kaca wasiat itu, bagaimana kita dapat memperolehnya ?"

Lelaki bertelinga satu itu deliki mata.

"Tuanmu tiada waktu untuk adu lidah, lekas engkau menyingkir !" serunya. ia terus membabatkan dengan golok.

Li Kun yang sejak tadi muak melihat tingkah laku keempat orang itu, segera loncat menyongsong dan membentak: "Siapa sudi bicara dengan engkau, enyahlah."

Li Kun menutup katanya dengan taburkan pedang ke siku lengan lelaki  bertelinga satu itu, walaupun tahu permainan pedang nona itu lihay tetapi si lelaki bertelinga satu tak menghiraukan Dengan tertawa dingin ia menghindar lalu secepat kilat membacok bahu Li Kun.

Li Kun cepat merapat maju menusuk muka  lawan, Lelaki bertelinga satu itu menjerit kaget, ia tak menyangka sinona dapat bergerak begitu cepat serentak ia menyurut mundur. Tetapi Li Kun sudah dirangsang kemarahan. Dengan tertawa geram ia tetap memburu maju dan menabas.

"Aduh..." terdengar lelaki itu menjerit kesakitan karena telinganya sebelah kanan terpapas jatuh, Dengan begitu ia tak mempunyai telinga sama sekali, Lelaki itu kucurkan keringat dingin.

Setelah memapas daun telinga, Li Kun tak mau menyerang lagi, ia hanya tertawa dingin.

"Hm, kantong nasi yang tak berguna, masih berani cari perkara" serunya.

Wajah Yu Ting Su berobah seketika, setitik pun ia tak menyangka bahwa hanya satu gebrak saja, Tio hiangcu sudah kehilangan daun telinga lagi.

Tiba2 kedua anak buahnya berteriak keras dan hendak maju menyerang. Tetapi cepat Yi Ting Su mencegah: "Kembalilah, kalian"

Kedua orang itu terpaksa hentikan langkah dan mundur kembali.

"Kita hanya diperintah untuk menyelidiki jejak orang tua itu, bukan untuk berkelahi. Tugas kita hanya melaporkan kepada kaucu, jangan engkau kotorkan tangan berkelahi dengan kawanan budak tak ternama." serunya, ia terus berputar tu huh dan mengajak ketiga kawannya menghampiri kuda. Li Kun tertawa dingin: "Enak saja kalian ngomong, mengatakan pergi terus mau angkat kaki begitu saja"

"Engkau mau apa ?" tiba2 kedua lelaki berputar tubuh dan membentak.

"Sudah tentu meminta pertanggungan jawab kalian" seru Li Kun,

Yu Ting Su menengadahkan kepala dan tertawa nyaring: "Benar2 seorang budak perempuan yang bermulut besar Aku tak mau cari perkara, kalian malah cari mati. Baik, akan kusuruh engkau tahu kelihayanku."

Segera ia menghampiri Li Kun.

"Baik, akulah yang akan mencoba sampai dimana kelihayanmu itu" seru Gin Liong.

Ilmu pedang Li Kun, Yu Ting Su sudah menyaksikan tapi ia belum tahu sampai dimana kepandaian Gin Liong, Dengan deliki mata ia segera hantamkan kedua tangannya kearah pemuda itu. segulung angin dahsyat yang mampu menghancurkan batu, segera melanda Gin Liong.

Pemuda itu tertawa dingin lalu menghindar kesamping, menyelinap ke belakang Yi Ting Su. Tetapi baru ia berdiri tegak, tiba2 lelaki yang bersenjata ruyung segera hantamkan senjatanya ke kepala Gin Liong.

Gin Liong marah. Menghindar kesamping, dengan menggembor keras ia gunakan jurus Liong-hok-song-hou atau Naga-mendekam-sepasang-harimau, ia hantamkan kedua tangannya kedua orang yang menyerang itu.

Bum . . lelaki bersenjata ruyung, mengerang tertahan, terhuyung2 beberapa langkah lalu rubuh Lelaki bersenjata kapak menjerit kaget karena kapaknya terlempar ke udara. Maju selangkah Gin Liong menyusuli dengan sebuah tamparan ke muka lelaki itu, Orang itu menjerit terhuyung2 dan muntahkan segumpal darah segar.

"Hai, budak, mengapa tak berani menyambut pukulanku

?" teriak Yu Ting Su, ia lontarkan sebuah hantaman dahsyat pula.

Gin Liong tertawa nyaring. Setelah menghimpun tenaga- dalam kearah lengan, ia segera menghantam.

Bum terdengar letupan keras disusul dengan hamburan debu dan percikan batu yang bertebaran keempat penjuru.

Gin Liong tersurut dua langkah ke belakang, kedua bahunya tergetar, sedang Yu Ting Su  bergeliatan meregang2 ketika tubuhnya terlempar ke belakang. Bum, tubuhnya yang kate dan gemuk itu terbanting ke tanah, jatuh terduduk.

Ketiga anak buahnya walaupun tahu, tetapi tak berani menolong. Mereka takut kepada pukulan Gin Liong.

Wajah Yu Ting Su pucat, keringat dingin bercucuran, pejamkan mata dan berusaha untuk mengambil pernapasan Ketika mendapatkan tubuhnya tak menderita luka, ia tercengang, Memandang ke muka dilihatnya Gin Liong masih tegak berdiri dengan santai.

Yu Ting Su penasaran, serentak ia loncat bangun dan lari menghantam Gin Liong : "Aku akan mengadu jiwa dengan engkau"

"Hm, kalau sudah bosan hidup, akan kuantarkan ke akhirat ." Gin Liong geram sekali melihat orang tua yang tak tahu diri itu. ia  menghindar terus menyelinap ke belakang Yu Ting Su.

Tetapi rupanya Yu Ting Su sudah bersiap, cepat ia putar tubuh, menggembor keras dan kakinya segera menyapu. Gin Liong juga ingin menggunakan kaki, setelah menghindar dari kaki lawan, ia mengirim tendangan yang tepat mengenai pantat orang. Tubuh pendek gemuk dari Yu Ting Su seperti bola yang ditendang melambung ke udara. ia menjerit-jerit dan meluncur ke tempat ketiga kawannya. Ketiga orang itu terkejut lalu beramai-ramai menanggapi tubuh Yu Ting Su. Kemudian diletakkan di tanah.

Sambil mendekap pantat, Yu Ting Su meringis, pandang matanya serasa kabur, kepala pening.

Melihat tingkah laku si pendek gemuk itu, Yok Lan tertawa geli,

Sambil memandang kepada Gin Liong, Yu Ting Su berseru: "Budak, kali ini aku mengaku kalah, Tetapi janganlah kalian bergirang dulu, Pada suatu hari kalian tentu harus merasakan kelihayan dari partai Thian leng- kau."

Gin Liong tertawa hambar.

"Jangankan hanya gerombolan tak ternama seperti Thian-leng-kau. sekalipun partai persilatan besar yang manapun juga kalau tindakannya jahat, aku tentu akan menggempurnya !"

Yu Ting Su marah tetapi ia terpaksa menahan diri, serunya: "Apakah kalian berani datang ke gunung Ke-kong- san ?"

"Gunung sekecil Ke-kong-san, masakan kami takut. Hanya kalau aku kesana, dikuatirkan kalian tentu tiada mempunyai batang kepala lagi."

Berhenti sejenak ia berseru dengan bengis: "Lekas kalian enyah, Paling lama dalam waktu sebulan lagi, aku tentu akan datang ke Ke-kong-san untuk meminta batang kepala yang kutitipkan diatas tubuhmu itu." Hampir pecah dada Yu Ting Sun mendengar kata2 itu. Tubuhnya menggigil keras. Tetapi ia tak dapat berbuat apa2, kecuali deliki mata lalu ngeluyur menghampiri kuda dan terus kabur.

"Mari kita kembali rumah penginapan lagi." kata Yok Lan.

"Dimanakah letak gunung Ke kong-san itu?" tanya Gin Liong.

Tetapi kedua nona itu mengatakan tak tahu.

"Baik, besok kita tanyakan pada jongos rumah penginapan," kata Gin Liong, Merekapun segera pulang.

Keesokan harinya, Gin Liong bertanya pada jongos tentang gunung Ke-kong-san. Jongos itu  gelagapan, rupanya dia juga tak tahu.

"Hai, siapakah yang bertanya tentang gunung Ke-kong- san itu ?" tiba2 terdengar suara orang berseru nyaring dari sebuah kamar.

Seorang lelaki berwajah merah, kepala besar dan mengenakan pakaian orang persilatan warna hijau muncul dan tegak dengan sikap congkak diambang pintu sebuah kamar. Tubuhnya kekar, tampaknya gagah perkasa.

"O, selamat pagi, toaya," kata jongos, "tuan inilah." ia menunjuk Gin Liong.

Setelah memandang Gin Liong beberapa saat, orang itu berkata: "Ke-kong-san terletak di karesidenan Kong-ciu- koan propinsi Holam, dengan naik kuda yang tegar, setengah hari dapat mencapai gunung itu."

Habis berkata ia terus masuk lagi kedalam kamar. "Terima kasih, toaya," seru si jongos, Kemudian ia minta Gin Liong kembali kedalam kamar, ia hendak mempersiapkan kuda dan makanan pagi.

Sambil makan, Gin Liong menceritakan tentang orang lelaki tegar yang memberitahu tentang letak gunung Ke- kong-san tadi.

Demikian telah selesai membayar rekening, Gin Liong bertiga segera keluar. Ketiga ekor kudapun sudah siap. Ketika hendak pergi, Giu Liong bertanya kepada jongos apakah dalam beberapa hari yang lalu, pernah melihat seorang wanita muda baju merah yang tiba dikota sini.

"Ada !" seru jongos," bajunya merah, umurnya diantara 26-27 tahun . . ."

"Berapa lama?" cepat Gin Liong menukas, "Pagi tadi, Rupanya semalam dia menginap dalam kota," kata jongos.

Mendengar itu girang Gin Liong bukan kepalang. Hampir ia tak percaya apa yang didengarnya, Kalau malam ini tak berhasil, besok pagi tentu dapat juga menyusul Liong-li locianpwe Pikirnya.

Ketika melanjutkan perjalanan, hari masih pagi sekali, Beberapa li jauhnya disebuah muka, terdapat  sebuah rumah. Samar2 mereka mendengar suara orang membentak. Kemudian disusul dengan gelak tawa yang nyaring.

"Liong suko," kata Yok Lan, "rasanya dalam hutan itu terjadi pertempuran dari dua tokoh yang berilmu tinggi, Lebih baik kita berjalan mengitari saja."

Gin Liong dan Li Kun setuju tetapi sekeliling tempat itu hanya daerah persawahan. Kasihan kalau sampai merusakkan sawah2 petani. Memandang ke muka, Gin Liong melihat dua sosok bayangan tengah berhantam dahsyat. Tiba2 terdengar suara teriakan nyaring, Segulung asap tebal berhamburan dari hutan itu dan kedua sosok tubuh itupun tercerai, terhuyung- huyung. Rupanya keduanya habis beradu pukulan.

"Anjing, mengapa engkau terus menerus mengikuti perjalananku seperti seekor lalat ? Apa maksudmu ?" seru sebuah suara.

Gin Liong terkejut ia serasa kenal dengan nada suara itu.

Tetapi ia lupa.

Kembali terdengar suara orang itu tertawa keras.

"Tua bangka, engkau hendak mencari budak itu ? Terus terang saja. tak semudah itu, Kalau aku tak bisa mendapatkannya, jangan harap engkau-pun memperolehnya !"

Orang itu tertawa pula.

"Soal ini hanya kita berdua yang tahu. Agar rahasia itu jangan sampai ketahuan lain orang, salah satu dari kita berdua harus mati"

"Anjing tua, mengapa engkau tak mau bunuh diri dulu ?" bentak suara yang melengking tajam penuh kemarahan.

Tiba-2 suasana dalam hutan itu diam. Mungkin karena mendengar derap lari ketiga ekor kuda Gin Liong dan kedua nona.

Saat itu ketiga pemuda itu hanya terpisah setengah li dari hutan. Tiba2 terdengar suara melengking tajam lagi: "Lekas hadang, yang datang tiga ekor kuda bagus !".

Dua sosok tubuh meluncur keluar dan hutan dan menghadang di tengah jalan. "Hai kedua orang itu hendak merampas kuda kita." seru Yok Lan, Li Kunpun cepat mencabut pedangnya.

Kembali kedua orang itu saling berebut "Tua bangka, engkau sudah memiliki pedang pusaka Oh-kim-cek-bak- kiam. Kali ini akulah yang berhak mendapat pedang mereka."

Melihat kedua orang itu, Gin Liong mendengus geram: "Kedua manusia jahat itu memang sukar diperbaiki kali ini tak dapat diberi ampun lagi."

Ternyata kedua orang yang menghadang di tengah jalan itu seorang imam tua dan seorang lelaki tua. Si imam berwajah monyet, mulut lancip, mata kecil, mengenakan jubah biru, mencekal sebatang hudtim bahunya menyanggul sebatang pedang.

Sedang orang tua itu bermuka persegi, alis gombyok, mata bundar, jenggot bercampur uban, mengenakan pakaian biru langit.

Saat itu Li Kun dan Yok Lan sudah tiba pada jarak tujuh tombak dari kedua orang itu, tetapi mereka tetap tak kenal, Tetapi Gin Liong dapat mengenali mereka sebagai kepala dari pulau Cui-leng-to dan pertapa Long Ya cinjin, ia memberi isyarat agar kedua nona berhenti.

Melihat Gin Liong, kedua orang itu terkesiap lalu tertawa gembira.

"Sungguh besar sekali rejeki kita, Menyusur ujung langit tak ketemu, tanpa banyak membuang tenaga ternyata sudah datang sendiri, Rupanya Kaca wasiat itu memang sudah ditakdirkan menjadi milikku." seru Long Ya cinjin. ia terus maju menghampiri Gin Liong. Yok Lan heran mengapa begitu melihat Gin Liong mereka terus tahu kalau Gin Liong memiliki kaca  wasiat itu.

"Tua bangka, berhenti." seru kepala pulau Cui-leng-to, "tahukah engkau betapa hebat ilmu Meringankan-tubuh  dari budak itu ? Hati2, jangan sampai dia lolos lagi, Lebih baik engkau terima usulku tadi. Lebih dulu kita berserekat untuk menangkap budak itu lalu kita adu kesaktian lagi siapa yang berhak hidup dan siapa yang pantas mati, untuk menentukan siapa yang harus memiliki benda pusaka itu."

Long Ya cinjin keluarkan mata dan hentikan langkah. Rupanya ia terpengaruh juga atas ucapan kepala pulau Cui- leng-to.

Dengan masih naik kuda, Gin Liong muak terhadap kedua manusia itu, Percuma saja ia hendak menasehati mereka, Lebih baik ditindak dengan kekerasan ia segera ajukan kuda menuju ke tempat Long Ya cinjin.

Bukan takut kebalikannya Long Ya malah tertawa gembira karena ia mempunyai kesempatan untuk merampas kaca wasiat dari Gin Liong. Kepala pulau Cui- leng-to tahu isi hati Long Ya cinjin, ia segera berdiri dibelakang cinjin itu. Jika dapat biarlah Long Ya bertempur dengan Gin Liong dulu, baru ia nanti turun tangan untuk menyelesaikan mereka.

Yok Lan segera mencabut pedang dan berdiri di samping Li Kun, Karena melihat sikap Gin Liong yang begitu hati2, kedua nona itu menduga musuh tentu tokoh yang berat.

Kepala pulau Cui-leng-to hanya tahu bahwa Gin Liong hebat dalam ilmu ginkang. Tetapi ia tak tahu sampai dimana kepandaian silat pemuda itu. Maka iapun tak memandang mata terhadap Gin Liong. Gin Liong tetap ajukan kudanya ke muka. Tiba-2 Long Ya cinjin menggerakkan kedua tangannya mendorong kearah Gin Liong Segulung dingin pukulan yang dahsyat segera melanda dada pemuda itu.

Gin Liong mendengus dingin, iapun segera songsongkan kedua tangannya kemuka, sebuah gelombang  angin pukulan yang dahsyat segera meluncur. Melihat itu kepala pulau Cui-leng-lo terkejut cepat kebutkan lengan baju dan melayang setombak ke samping.

Bum, terdengar letupan dahsyat, disusul dengan debu dan batu yang beterbangan ke segenap penjuru, Long Ya cinjin dan Gin Liong sama2 terhuyung mundur sampai tiga langkah.

Secepat kilat kepala pulau Cui-leng-to segera melangkah maju sambil mengendapkan tubuh dan membentak: "Budak, sambutlah sebuah pukulanku lagi . . ."

Karena melihat Gin Liong yang baru berdiri tegak sudah dihantam lagi, Yok Lan dan Li Kun melengking kaget.

Melihat itu Gin Liong marah sekali, bentaknya: "Apa susahnya menerima sepuluh kali pukulanmu lagi !"

Ia gerakkan kedua  tangan  untuk melepaskan sebuah tamparan yang dahsyat, Kembali terdengar letupan yang disertai dengan debu dan percikan batu yang tebal.

Kepala pulau Cui-leng-to terhuyung mundur sampai beberapa langkah, wajahnya merah padam

Tetapi Gin Liong juga terhuyung2 ke belakang, ia merasa tenaga pukulan kepala pulau Cui-leng-to itu lebih hebat dari Long Ya cinjin.

"Terima sebuah lagi !", Gin Liong berteriak dan melangkah maju, Pada saat ia hendak menghantam tiba2 ia dikejutkan oleh jerit teriakan keras. Ketika berpaling dilihatnya Long Ya cinjin menerjang Yok Lan.

Rupanya hendak menjadikan nona itu sebagai sandera, Cepat Gin Liong tinggalkan kepala pulau Cui-leng-to untuk menyerang Long Ya cinjin.

Long Ya cinjin tertawa dingin lalu enjot tubuh melayang beberapa tombak, Rupanya ia bermaksud hendak memikat Gin Liong ke lain tempat.

Tepat pada saat itu kepala pulau Cui-leng to menyelinap ke belakang Li Kun, terus menerkam bahu nona itu.

Yok Lan terkejut. Dengan melengking keras ia gunakan jurus Pek-coa-tho sin atau Ular-putih menjulur lidah, menusukkan ujung pedangnya ke siku lengan kanan kepala pulau itu.

Tetapi kepala pulau Cui-leng-to tertawa dingin, tangan yang sedianya diterkamkan ke bahu Li Kun secepat kilat diputar, dengan tiga buah jari tangan ia menjepit batang pedang Yok Lan.

Li Kun melengking seraya melangkah maju dan Yok Lanpun cepat menarik pulang pedangnya, Gin Liong loncat menerjang pertapa itu, Long Ya cinjin tertawa mengekeh dan menghindar.

Walaupun Yok Lan cepat menarik pedang tetapi masih kalah cepat dengan kepala pulau Cui-leng-to yang lebih dulu berhasil menjepit pedang nona itu lalu sekali kerahkan tenaga, pedang Yok Lanpun putus jadi dua. Kemudian dengan tertawa keras, ia taburkan ujung kutungan pedang kemuka Gin Liong.

Gin Liong mendengus geram, ia condongkan bahu ke samping, lontaran kutungan pedang itu luput dan menghantam Long Ya cinjin yang berada di belakang Gin Liong.

Saat itu Long Ya cinjin memang hendak menerkam bahu Gin Liong dari belakang, Terkaman luput ia tak sempat memperhatikan lontaran pedang kepala pulau Cui-leng-to. Untung ia masih dapat miringkan kepala sehingga hanya jenggotnya yang terpapas habis, Ketika tangan merabah, ternyata dagunya juga berdarah ia marah sekali.

Saat itu Gin Liong sudah menyerbu kepala pulau Cui- leng-to sehingga orang itu kelabakan dan  memekik-mekik. ia menghantam kalang kabut sekuat tenaganya, Gin Liong enjot tubuh melambung ke udara melampau kepala lawan. Pada saat kepala pulau Cui-leng-to menengadah memandang ke atas. dengan suatu gerak yang cepat dan tak terduga-duga. Gin Liong dapat menangkap kedua siku lengan lawan. Kepala pulau Cui-leng to berontak sekuat- kuatnya.

"Enyah !" dengan meminjam tenaga dari kepala pulau Cui leng-to itu. Gin Liong yang sudah turun ketanah segera mendorong sekuatnya.

Tubuh kepala pulau Cui-leng-to itupun seperti layang2 putus tali, terlempar ke tempat Long Ya cinjin.

Pertama karena ingin merebut sendiri kaca wasiat yang berada pada Gin Liong, Kedua, karena marah jenggotnya ditabur kutungan pedang tadi, melihat kepala pulau melayang ketempatnya Long Ya cinjin, diam2 mencabut pedang dan selekas kepala pulau Cui leng-to tiba dihadapannya, ia segera menabas pinggangnya.

Terdengar jeritan ngeri, diiring dengan hamburan darah dan rubuhlah tubuh kepala pulau Cui leng-to. Karena terpapas kutung menjadi dua . . . Sehabis menyelesaikan kepala pulau Cui-leng to, Long Ya cinjin tengadahkan kepala tertawa nyaring.

Nadanya penuh dengan kebanggaan dan keganasan yang menyeramkan. Kumandangnya sampai jauh menyusup kelangit....

Yok Lan dan Li Kun tercengang. Karena tak menduga dan dilakukan cepat sekali Gin Liongpun tak sempat lagi menolong kepala pulau Cui-leng-to

Gin Liong marah melihat sikap dan tindakan Long Ya cinjin yang ganas dan sombong. Cepat ia menggerung dan loncat menerjang.

Long Ya cinjin terkejut. Dengan menggembor keras ia membabatkan pedangnya kearah Gin Liong.

Anak muda itu terkejut juga, Cepat ia loncat ke samping sampai dua tombak, sekalipun demikian mukanya terasa perih seperti tertusuk jarum karena dilanda angin pedang lawan.

Long Ya cinjin tertawa bangga, setelah menyelipkan hudtim ke belakang punggung, ia terus menghampiri Gin Liong.

Gin Liong tak mau memberi hati lagi, Serentak iapun mencabut pedang Tanduk Naga, seketika di sekeliling tempat itu terbaur oleh cahaya merah.

Tanduk Naga, Oh-bak dan Pek-soang-kiam, tiga buah pedang pusaka serempak muncul di tempat itu.

Sesaat pedang Tanduk Naga keluar maka pedang Oh- bak-kiam atau pedang Hitam-mulus yang dipegang  Long Ya cinjin segera memancarkan dering yang  melengking- lengking. seketika berobahlah wajah Long Ya cinjin. ia mengenali pedang Tanduk Naga itu sebagai pedang pusaka nomor satu dari suku Biau, Langkahnyapun lambat dan matanya memandang lekat2 pada pedang Gin Liong.

Kini Gin Liongpun maju menyongsong Long Ya cinjin, ia anggap Long Ya itu seorang manusia ganas yang wajib dilenyapkan.

Rupanya Long Ya cinjin hendak mendahului menyerang. Dengan jurus Liong-hi-song-cia-tau Naga- bermain-sepasang-mutiara, pedang Oh-bak-kiam segera ditaburkan menusuk kedua bahu Gin Liong.

Tetapi pemuda itu secepat kilat melancarkan jurus Heng- toan-kiang-ho atau membabat-sungai-bengawan.

Long Ya cinjin terkejut, sambil mengendapkan tangannya yang hendak diserang lawan, ia terus meluncur mundur sampai dua meter.

Tetapi Gin Liong tak mau memberi kelonggaran lagi. Sret, sret, sret, ia maju dan menabas tiga arah, alis, lutut kaki dan menusuk perut. Gerakan yang dahsyat dari pedang Tanduk Naga itu diiring dengan deru angin yang keras.

Long Ya cinjin menjerit2 seraya berlincahan menghindar kian kemari. Tetapi ia tampak sibuk sekali dan terdesak mundur.

Setelah dapat menguasai lawan, Gin Liong memperkembangkan permainan pedangnya makin gencar, Membabat, menusuk dan menabas. Gerak pedangnya tak ubah seperti arus sungai yang mengalir tiada putus2nya.

Long Ya cinjin hanya mengandalkan kelincahan untuk bertahan diri, kecongkakannya lenyap, tubuhnya mandi keringat.

Saat itu kaki Gin Liong kebetulan akan membentur mayat kepala pulau Cui-leng-to. Dia harus berkisar kesamping, pada saat ia  melakukan gerak mengitar itu, pedangnyapun agak lambat.

Kesempatan itu tak disia2kan Long Ya cinjin, cepat ia lancarkan serangan. Sinar pedang hitam bertaburan mengarah dada dan perut Gin Liong.

Keduanya sangat hati2 sekali kepada pedang nya, Maka mereka tak mau membenturkan pedang dengan pedang lawan karena kuatir akan merusakkan pedang pusakanya. Oleh karena itu maka Gin Liongpun terpaksa harus mundur.

-ooo0dw0ooo-
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang Tanduk Naga Bab 07 Dewi Bayangan"

Post a Comment

close