Pedang Tanduk Naga Bab 06 Tiga durjana

Mode Malam
Bab 06 Tiga durjana

Hun Ho sian-tiangpun berkata dengan wajah serius: "janganlah Hong toheng bertindak gegabah. Kaca wasiat itu adalah benda peninggalan seorang paderi suci pada jaman dulu. Benar2 sebuah benda pusaka dalam dunia persilatan, kegunaan kaca itu bukan melainkan hanya mencari benda2 pusaka yang tertanam dalam tanah saja..."

"Kemungkinan orang tua itu bersembunyi di sekeliling tempat ini !" tiba2 Hok To Beng menyelutuk.

Hong-tian-soh keluarkan biji matanya dan menggentakkan tongkat bambunya ke tanah lalu berseru keras2:

"Tindakanku tadi, bukankah suatu siasat untuk memancing supaya dia keluar dari tempat persembunyiannya ?"

Tetapi sekeliling penjuru tenang2 saja, Tiada penyahutan, Keadaan itu memberi kesan kepada sekalian orang bahwa orang tua pemilik kaca wasiat itu memang tak berada di sekeliling situ. Kalau tidak, dia pasti akan keluar untuk menemui Hong-tian-soh.

Akhirnya Hun Ho sian-tiang menghela napas "Karena jelas toheng sekalian tak menginginkan kaca itu, lebih baik kita lekas2 tinggalkan tempat ini agar terhindar dari kekeruhan."

Sekalian orang termenung diam, Saat itu matahari sudah condong ke barat. Di telaga itu secara kebetulan, Gin Liong telah menemukan Ma Toa Kong, berjumpa dengan Swat- thian Sam-yu dan bertemu pula dengan sumoaynya Ki Yok- lan serta Hu Ho sian-tiang. Dia gembira sekali.

Kini tinggal satu tujuan lagi ialah mengejar jejak Ban Hong liong-li untuk meminta keterangan siapakah sesungguhnya yang telah membunuh suhunya.

Setitikpun Gin Liong tak mengandung hasrat untuk memiliki kaca wasiat itu, ia masih mempunyai lain tugas penting, Ketika  ia hendak menghaturkan terima  kasih kepada Hun Ho sian-tiang yang telah menolong sumoaynya, tiba2 orang tua itu menengadahkan memandang ke langit.

"To-heng" katanya, hari sudah menjelang petang, mari kita pergi"

Swat-thian Sam-yu mengangguk dan mengikuti langkah Hun Ho sian-tiang. Gin Liong berlima baru mengetahui bahwa Hun Ho sian-tiang mengundang Swat-thian Sam-yu ke pulau Hong-lay-to.

Sambil mengurut jenggotnya yang indah, Hun Ho sian- tiang berkata kepada Ki Yok Lan: "Lan-ji, kebetulan sekali ditempat ini engkau dapat menemukan suhengmu, Lebih baik kalian pergi bersama- sama."

Kemudian dengan wajah serius, tokoh itu memberi pesanan kepada Yok Lan: "Harap engkau ingat baik2 pelajaran itu dan berlatihlah dengan tekun, Kelak tentu berhasil."

Dengan berlinang-linang airmata, Ki Yok Lan segera berlutut menghaturkan terima kasih atas budi kebaikan orang tua sakti itu.

"Bangunlah !" seru Hun Ho siantiang seraya kebutkan dengan jubahnya, Tahu2 tubuh Yok Lan terangkat berdiri.

Melihat itu diam2 Gin Liong girang sekali, ia tahu bahwa sumoaynya telah diterima sebagai murid tak resmi oleh Hun Ho sian-tiang.

Swat-thian Sam-yu juga memberi pesan kepada Gin Liong dan Yok Lan agar berhati-hati dan waspada dalam perjalanan ke selatan itu.

Demikian keempat tokoh sakti itu segera berpisah dengan rombongan anak muda dan menuju ke puncak gunung sebelah kiri.

Setelah mereka lenyap dari pandang mata, Gin Liong pun bertanya kepada Tek Cun:

"Liok-ko, apakah engkau masih kuat untuk menggunakan ginkang ?"

Tek Cun mengatakan hendak mencobanya. Tetapi ketika berjalan, Yok Lan cepat dapat melihat bahwa pemuda itu terlalu maksa diri. "Liok-ko," seru Yok Lan," biarlah aku bersama Liong koko memapahmu berjalan, Lukamu baru sembuh, tak boleh terlalu banyak menggunakan tenaga."

Tetapi Tek Cun menolak: "Lebih baik kucobanya dulu, Apalagi diluar lembah masih ada kuda kita, Asal jangan terlalu cepat, aku masih dapat mengimbangi kalian."

Pada saat itu Tek Cun mendapatkan dalam diri Yok Lan sifat2 kehalusan budi, kesungguhan hati, kejujuran dan kepolosan. Suatu sifat yang tak dimiliki adiknya, Tio Li Kun.

Waktu berjalan, Gin Liong menyempatkan diri untuk berpaling. Di tengah telaga tampak sinar kaca wasiat itu masih memancar terang.

Kemudian waktu tiba ditempat pertempuran antara Hian Leng dan Biau Liang, ternyata ke-enam imam tua yang ditutuk jalan darahnya itu sudah tak kelihatan berada disitu lagi.

"Hm, kawanan imam hidung kerbau itu memang tak tahu diri. Kepandaiannya begitu rendah tetapi berani menghadang kita," Mo Lan Hwa mendengus.

Gin Liong hanya tertawa ketika mendengar jelita itu juga menggunakan sebutan "imam hidung kerbau" seperti yang dilakukan Swat thian Sam-yu terhadap Hun Ho sian tiang.

Huak, tiba2 Tek Cun muntahkan segumpal darah segar dan terhuyung-huyung rubuh ke tanah. Mo Lan Hwa yang berada paling dekat, cepat loncat menyanggupinya. Tek Cun gemetar tubuhnya dan lunglai tak bertenaga.

Sudah tentu Gin Liong beramai-ramai sibuk memberi pertolongan Mereka membantu supaya Tek Cun yang saat itu rebah dipangkuan Mo Lan Hwa dapat duduk tegak, kemudian Gin Liong segera menyalurkan tenaga-dalam ke pinggang Tek Cun, sedang ketiga gadis itu menjaga disamping kanan kirinya.

Setelah wajah Tek Cun tampak merah barulah Tio Li Kun menyuruhnya supaya menyalurkan pernapasan untuk menyambut saluran tenaga-dalam dan Gin Liong.

Tiba2 terdengar suara langkah orang berlari dari arah lembah. Li Kun, Yok Lan terkejut dan serentak berpaling. Tiga sosok tubuh muncul dari bagian dalam lembah dan dengan gerak yang amat cepat mereka telah melintasi hutan menuju kearah rombongan anak2 muda itu.

"Taci Kun, kurasa mereka tentu bermaksud tak baik," kata Lan Hwa.

"Bagaimana tandanya ?" tanya Li Kun seraya berbangkit dan memandang kearah ketiga pendatang itu.

Lan Hwa sejenak memandang dengan seksama lalu berkata lagi : "Taci Kun, lihatlah sinar mata mereka yang begitu berkilat-kilat seperti mencari sesuatu..."

"Ya, lebih baik kita berhati-hati," kata Li Kun, "menilik sinar mata dan ginkang mereka, tentulah bukan jago silat sembarangan Apabila sampai bertempur, supaya hati2."

Kemudian ia minta Lan Hwa dan Yok Lan menjaga Tek Cun. Dia sendiri yang akan menghadapi ketiga pendatang itu.

Ketiga sosok bayangan itu dengan cepat telah tiba, sebenarnya Li Kun sudah mau duduk kembali dan menghiraukan mereka tetapi tiba2 mereka berseru: "Hai, berhenti !"

Karena disekeliling tempat itu tiada lain orang lagi, Li Kun dan Lan Hwa tahu kalau seruan orang itu ditujukan kepada mereka berdua, Kedua nona itu marah dan cepat berputar tubuh.

Ternyata ketiga pendatang yang lari mendatangi itu terdiri dari orang lelaki yang berbeda umurnya satu sama lain.

Yang disebelah tengah, seorang tua berambut dan jenggot putih, beralis panjang menjulai ke bawah. Matanya hanya satu dan mulut perot, Mengenakan pakaian warna biru dan memegang sebatang tongkat berkepala naga. Sambil memerotkan mulut, matanya yang tinggal satu itu berkilat2 memandang rombongan anak2 muda.

Yang sebelah kanan berumur empat puluh lima - empat puluh enam tahun. rambut dan jenggotnya kelabu, mulutnya lancip, hidung besar dan kedua telinganya hilang, wajahnya hitam, mata bundar mengenakan kain hitam dan memegang sebatang kait baja yang dilumuri racun. Seram dan menakutkan orang.

Yang sebelah kiri seorang lelaki berumur tiga-puluhan tahun lebih, Alisnya seperti daun liu, mata seperti  bunga tho dan kulitnya putih seperti salju, Rambutnya berminyak, pipi berbedak dan rambut memanjang sampai ke bahu, Mengenakan baju sutera kembang dan menyanggul sebatang pedang pedang bengkok, sepintas menyerupai seorang banci, menimbulkan kesan yang memuakkan.

Ketiga pendatang itu dengan wajah gusar memandang kedua nona Lan Hwa dan Li Kun.

"Cici, ketiga orang itu mungkin Ce-tang Sam sat" "Bagaimana engkau tahu ?" tanya Li Kun.

"Pernah kudengar dari toa-suheng tentang pakaian, wajah dan umur mereka, Apalagi tokoh yang ketiga, laki2 bukan, perempuanpun bukan. Saat itu Ce-tang Sam-sat sudah tiba tiga tombak di depan mereka,

Toa-sat atau tokoh kesatu dari Ce-tang Sam sat yang bergelar Boan-liong-kun atau Tongkat-naga melingkar, tertawa mengekeh,

"Heh, heh. menilik pakaianmu, kalian ini tentu datang dari Kwan-gwa..."

Mendengar itu Mo Lan Hwa marah dan cepat menukas: "Tutup mulutmu ! Apa pedulimu dengan asal usulku ?"

Ji-sat atau tokoh nomor dua yang bergelar Toh-beng-kau atau Kait-pencabut nyawa, menyeringai lalu membentak keras:

"Budak hina, jangan banyak omong ! Lekas serahkan kaca wasiat itu agar jangan menimbulkan kemarahanku."

Sudah tentu Li Kun dan Mo Lan Hwa marah bukan main, Gin Liong yang tengah duduk bersila  pejamkan mata, pun sejenak membuka mata memandang ketiga pendatang itu lalu pejamkan mata lagi.

Ki Yok Lan serentak bangun dan terus menyahut: "Kalian salah alamat, Kaca wasiat itu berada di atas batu di tengah telaga"

Belum Yok Lan selesai bicara, ketiga durjana itu sudah tertawa gelak2: "Ha, ha, kalau menilik wajahmu, engkau ini seorang budak perempuan yang halus tapi tak kira kalau mulutmu begitu tajam."

Merah wajah Yok Lan. Baru pertama kali itu ia mendengar orang memaki dirinya, Mo Lan Hwa tak kuasa menahan kemarahannya lagi, Sambil menuding pada Ban- liong-kun ia memaki: "Engkau anjing tua, jelas bermulut tajam. tak tahu malu dan berkulit tebal!"

Toa-sat Ban-liong-kun marah dan membentak "Budak hina, engkau berani memaki aku . ." Tetapi sebelum dia bertindak, Sam-sat atau tokoh nomor tiga yang  seperti  orang banci itu segera melesat maju dan melengking:

"Budak hina, kalau tak mau menyerahkan kaca wasiat, kalian tentu akan kucincang."

Habis berkata ia terus melepaskan sebuah hantaman kearah Mo Lan Hwa. Mo Lan Hwa membentak dan menangkis. Tetapi seketika itu wajahnya pucat dan menjerit kaget. Pada lain saat ia terhuyung2 ke belakang sambil mendekap dadanya Huak . . ia muntah darah.

Peristiwa itu berlangsung cepat sekali sehingga Li Kun tak sempat menolong, Yok Lan cepat loncat untuk menyanggupi tubuh Mo Lan Hwa. Tetapi nona itu sudah tak kuat berdiri lagi, ia duduk bersila dan dengan paksakan diri menuding kedadanya, Yok Lan dapat menangkap maksudnya. ia segera mengambil pil dari baju Lan Hwa dan dimasukkan ke mulut nona itu.

Tiba2 terdengar suara gemuruh disusul batu-batu dan pasir bertebaran, asap dan debu bergulung2.

Memandang kemuka, Yok Lan dapatkan Li Kun dan Sam-sat masing2 mundur tiga langkah, Wajah si jelita tampak membeku dingin dan dahinya memancar hawa pembunuhan. Dengan melengking ia segera mencabut pedang dan pelahan2 maju menghampiri kearah ketiga durjana itu.

Sam-sat tertawa mengikik. "Nona kecil, kalau engkau mampu menangkan aku, kepalaku boleh engkau potong, Tetapi kalau engkau kalah, engkau harus menurut kuajak pulang menjadi isteriku"

Sam-sat atau tokoh ketiga yang bergelar Go kau-kiam si Pedang-bengkok segera mencabut pedang go-kau-kiam.

"Kawanan tikus, engkau cari mati...!" bentak Li Kun seraya loncat menyerang dengan jurus Tiang-ho-hong-ping atau sungai Tiang-ho menutup salju... segulung sinar perak segera membabat ke dada Sam-sat.

Sam-sat tahu kalau ilmu pedang nona jelita itu lihay. Dengan tertawa ia mengisar langkah ke samping lalu tusukkan ujung pedang ke pinggang sinona.

Pada saat itu dengan tertawa mengekeh, toa-sat Boan- liong-kiam dan ji- sat Toh-beng-kau masing2 lari menghampiri Gin Liong dan Tek Cun.

Melihat itu berobahlah wajah Yok Lan. Gin Liong dan Tek Cun sedang menyembuhkan lukanya, jangan lagi diserang, cukup di dorong pelahan2 dengan tongkat saja, kedua anak muda itu tentu akan rubuh, mungkin akan terjadi suatu akibat yang berbahaya dalam penyaluran  napas mereka.

"Berhenti, atau akan kupaksa kalian mundur." bentaknya kepada kedua durjana itu, seraya mencabut pedang Ceng- kong-kiam.

Tetapi Boan-liong- kiam dan Toh-beng-kiam tertawa gelak2. Mereka tak mengacuhkan peringatan Yok Lan lagi dan tetap melangkah maju.

Li Kun terkejut mendengar suara tertawa mereka ia menyempatkan diri untuk berpaling. Tetapi walaupun terdesak, sam-sat Go-kau-kiam tak mau melepaskan si jelita. Li Kun marah sekali, Dengan melengking ia lancarkan tiga buah serangan pedang sehingga sam-sat kelabakan.

Tetapi pada saat itu tiba2 toa-sat dan ji-sat hentikan tawanya, Yang satu mengangkat tongkat dan yang satu mengangkat kait untuk mengemplang Gin Liong dan Tek Cun.

Melihat itu Yok Lan pun bertindak. Dengan sebuah loncatan ia segera lancarkan jurus Liong-hok-song-hou atau Naga-mendekam-sepasang-harimau. Pedang berhamburan menjadi beratus2 sinar perak bagai seekor naga marah.

Keatas menghantam tongkat boan-liong-kiam, kebawah menangkis toh-hun-kau. Ujung pedang menusuk tangan kedua lawan.

Toa-sat dan Ji-sat banyak pengalaman dalam menghadapi musuh2 tangguh, Entah sudah berapa banyak jago2 lihay yang jatuh ditangan mereka. Tetapi selama itu belum pernah mereka melihat ilmu pedang seaneh dan sedahsyat yang dimainkan Yok Lan. Mau tak mau kedua durjana itu berteriak keras dan menyurut mundur.

Yok Lan sendiripun terkejut dalam hati, ia melancarkan salah sebuah jurus ilmu pedang ajaran Hun Ho siantiang, Hasilnya ternyata sedemikian hebat.

Begitu kedua durjana itu mundur, Yok Lan pun tak mau mengejar Tampak kedua durjana itu pucat wajahnya, keringat dingin bercucuran membasahi tubuh mereka, Mereka memandang sinona dengan terkejut heran. Mereka benar2 tak menyangka bahwa seorang nona yang masih begitu muda belia ternyata memiliki ilmu pedang yang sedemikian luar biasa. Kecongkakan dari kedua durjana itu lenyap seperti awan dihembus angin, Tampak  wajah mereka seperti kunyuk kepedasan. "Cici, jangan membunuh." tiba2 Yok Lan berteriak, Tetapi terlambat Terdengar jeritan ngeri disertai dengan hamburan darah dari sam-sat yang lepaskan pedang dan rubuh ketanah.

Melihat itu, toa-sat yang nyalinya sudah pecah, timbul pula kemarahannya Dengan menggembor keras ia dan ji-sat terus lari menyerbu Li Kun. Tetapi jelita itu tak gentar Dengan melengking keras, ia segera menyambut kedua durjana itu.

"Berhenti" tiba2 terdengar bentakan sedahsyat halilintar.

Yok Lan tergetar dan berpaling, Tampak dengan wajah gusar Gin Liong sudah berdiri disamping. Toa-sat, ji-sat dan Li Kunpun terkejut mendengar bentakan keras itu. Mereka serempak berpaling,

Melihat Gin Liong sudah selesai menyalurkan tenaga- dalam, Li Kun serta merta loncat ke hadapannya, katanya:

"Mereka bertiga adalah Ce-tang-sam-sat yang bersimaharajalela, mengganas dan melakukan perbuatan2 jahat jangan kita biarkan mereka lolos."

Habis berkata ia terus menyimpan pedang dan bersama Yok Lan menghampiri ke tempat Mo Lan Hwa yang masih duduk bersila di tanah.

Melihat sam-sat mati kedua durjana itu marah. Lebih-2 ketika mendengar kata2 Li Kun mereka seperti orang kebakaran jenggot Kedua durjana itu tertawa keras.

"Tutup mulut kalian!" bentak Gin Liong seraya maju.

Toa-sat dan ji-sat tergetar sehingga menyurut mundur,

Sambil menuding, Gin Liong berseru : "Apakah maksud kalian menyerang rombonganku? Kalau tak mau bilang sejujurnya, jangan harap kalian mampu tinggalkan tempat ini !"

"Budak sombong !" teriak toa-sat seraya maju menghantam bahu pemuda itu, Gin Liong  tertawa dingin, ia gerakkan tangan kiri untuk menangkis. Krak, toa-sat mendengus tertahan dan mundur sampai tiga langkah, Sedang Sin Liong tetap berdiri tegak di tempat

Melihat itu ji-sat terlongong-longong, Tetapi rupanya Toa-sat masih belum jera, Begitu berdiri tegak ia terus mencabut tongkat boan liong-kun terus diayunkan kearah kepala Gin Liong.

Gin Liong mendengus, Dengan gerak yang luar biasa ia sudah menyelimpat ke belakang lawan. Toa-sat ayunkan tongkatnya menghantam kebelakang, tetapi Gin Liong sudah loncat keudara dan turun dibelakangnya lagi.

Melihat itu ji-sat segera memutar kaitnya, menyambar Gin Liong yang baru saja berdiri, Yok lan yang berada di sisi Mo Lan Hwa selalu mengikuti pertempuran itu, ia menjerit kaget ketika melihat Gin Liong terancam bahaya.

Mendengar jeritan itu, Gin Liong terkejut, secepat kilat  ia mendekam ke tanah dan senjata kait itupun meluncur di atas punggungnya.

Gin Liong makin marah. setelah menekuk ke dua lutut ia melambung ke belakang ji-sat, Sekali membentak ia menyerempaki dengan menghantam punggung orang itu, duk . .

Seketika ji-sat muntah darah dan terus melesat kemuka toa-sat. Toa-sat buru2 menarik tongkatnya dan melangkah maju. Tetapi ji-sat sudah terhuyung2 dan muntah darah lagi, lepaskan senjata kaitnya dan terus rubuh ke tanah, Kedua kakinya menelikung dan jiwanyapun melayang. Melihat itu toa-sat menjerit kalap: "Aku akan mengadu jiwa dengan engkau . . " tongkat boan-liong-kun diputar laksana hujan mencurah, maju menyerang Gin Liong,

Melihat kekalapan toa-sat, Yok Lan ngeri dan serentak berbangkit. Tetapi Gin Liong tak gentar ia mainkan tata- langkah Liong-li-biau untuk menghindar lalu mencabut pedang pusaka Tanduk Naga.

Toa-sat, sudah terlanjur diamuk kekalapan. ia tak peduli lagi bagaimana pedang yang berada di tangan anak muda itu. Dengan menggembor keras ia tetap menyerang.

Tring, tring, tring, terdengar beberapa kali dering senjata beradu keras, diiring dengan hamburan bunga api dan kutungan baja berterbangan ke udara. Walaupun tahu kalau tongkatnya telah terpapas kutung namun toa-sat tetap tak hentikan serangannya, ia menyerang dengan jurus Ko jiu- boan-kin atau pohon-tua-melingkar- akar, menyerang lutut.

Tring, kembali pedang Tanduk Naga berkelebat memapas kutung tongkat itu. Namun toa-sat tetap nekad dan menusuk perut Gin Liong. Tetapi kembali pedang Tanduk Naga membelah tongkat lawan menjadi dua kutung, Keadaan toa-sat saat itu benar2 seperti orang gila, wajahnya makin menyeramkan, matanya yang tinggal satu itupun merah berdarah, rambutnya yang putih meregang tegak dan napasnya terengah-engah keras.

Gin Liong tegak ditempatnya sambil lintangkan pedang didada untuk melindungi diri. Rupanya ia tak mau membunuh orang tua mata satu yang sudah tak berdaya itu.

Ditangan toa-sat kini hanya tinggal memegang kutungan tongkat sepanjang setengah meter, Dia berdiri dimuka Gin Liong pada jarak tujuh langkah, Dia memandang  Gin Liong dengan mata kemerah-merahan. Beberapa saat kemudian ia  mendengus marah dan berseru geram: "Budak, karena engkau mengandalkan pedang pusaka, aku masih penasaran dan tak mau menyerah."

Gin Liong kerutkan alis dan menggeram: "Engkau hendak mengajak bertanding dengan cara apa, aku bersedia melayanimu semua !"

Toa-sat rentangkan matanya yang tinggal satu lebar2, serunya menggeledek:

"Aku hendak mengajakmu bertanding ilmu pukulan."

Habis berkata ia terus melontarkan tongkatnya yang tinggal dua jari ke tanah, Setelah mengejang kedua tangannya, iapun pelahan lahan maju menghampiri Gin Liong.

Yok Lan pernah merasakan betapa kuat tangan toa-sat tadi. Ketika melihat durjana bermata satu itu hendak mengadu kepalan dengan Gin Liong, iapun gelisah.

Tiba2 Li Kun dan Lan Hwa loncat ke sisi Yok Lan. Ternyata Lan Hwa sudah sembuh. Sekarang ketiga nona jelita itu berdiri berjajar Demi melihat keadaan di gelanggang pertempuran, Li Kun merasa heran mengapa Gin Liong tak mau cepat2 menyelesaikan toa-sat.

Saat itu toa-sat sudah tiba lima langkah dihadapan Gin Liong, Dia berhenti dan memandang Gin Liong dengan pandang berkilat-kilat Gerahamnya bergemurutukan keras menahan kemarahannya yang meluap-luap.

Tetapi Gin Liong tetap tenang2 saja. Tetapi diam2 iapun kerahkan tenaga-dalam ke lengan kirinya. Melihat sikap si anak muda yang begitu tenang, diam2 toa-sat memaki dalam hati: "Bangsat engkau terlalu memandang rendah diriku !"

Tetapi ia masih memegang gengsi, sebelum  menyerang ia masih menegur: "Hai, mengapa eng kau tak bersiap ?"

"Silahkan engkau turun tangan sajalah !" sahut Gin Liong dengan nada tawar.

Toa-sat segera mengiakan Setelah bersiap, lalu dengan menggembor keras ia dorongkan kedua tangannya.

Gin Liong tahu akan kelihayan orang. ia tak berani memandang rendah, pada saat toa-sat bergerak iapun agak mengendapkan tubuh kebawah dan tangan kirinya yang sudah disiapkan tadipun segera menyongsong kemuka.

Jarak amat dekat maka pukulan kedua orang itupun hampir berbenturan Bum, terdengar bunyi letupan keras diiringi deru angin yang menghamburkan batu, debu dan pasir keempat penjuru, Dalam kepulan debu  yang bergulung debu yang tebal terdengar berulang suara mengerang tertahan.

Tubuh toa-sat bergelundungan ke tanah sampai tiga tombak jauhnya, sedangkan lengan Gin Liong bergetar keras dan tubuh ikut bergoncang sampai beberapa saat baru ia dapat berdiri tegak lagi. Ketika menggerakkan tangan kirinya, ia rasakan agak sakit.

Terkena pukulan sakti dari Gin Liong, toa-sat berguling- guling sampai tiga tombak lebih, baru berhenti,  Secepat kilat ia  terus melenting bangun dan duduk. Pakaian compang camping, berlumuran tanah, Maya berbinar-binar, kepala pusing, segala benda diempat penjuru dirasakan berputar-putar, Lama sekali baru ia dapat melihat jelas Gin Liong masih tegak berdiri ditempat semula. Dengan paksakan diri segera ia berseru: "Hai budak kecil, tinggalkan namamu dan perguruanmu. Asal masih belum mati, kelak aku tentu akan mencarimu untuk menghimpas hutang hinaan yang engkau berikan kepadaku hari ini..."

Gin Liong tertawa dingin, serunya:

"Aku Siau Gin Liong, tak punya perguruan tak punya partai persilatan, Siapa suhuku, engkaupun tak perlu bertanya, Kapan saja engkau hendak mencari balas kepadaku, asal engkau sebarkan berita di dunia persilatan, aku tentu akan menemui mu."

Habis berkata ia terus melangkah menghampiri ketempat Li Kun bertiga.

Dengan paksakan diri pula, mulut toa-sat mengiakan lalu pejamkan mata untuk menyalurkan napas, Tetapi tiba2 ia terjungkal kebelakang dan tak sadarkan diri.

Gin Liong tak menghiraukan. Setelah tiba di tempat Li Kun dan Yok Lan, ia memandang ke arah Tek Cun  dan Lan Hwa yang masih duduk pejamkan mata.

"Rupanya luka yang diderita liok-ko dan cici Lan tak dapat sembuh dalam waktu singkat. Kita harus membawa mereka ke tempat yang aman. Kalau kita melanjutkan perjalanan, lukanya tentu kambuh dan akibatnya sukar dilukiskan." kata Gin Liong. Memandang ke  langit, ternyata matahari sudah berada di belakang puncak barat dan lembahpun sudah meremang gelap.

Li Kun mengusulkan untuk mencari sebuah desa. Dan Yok Lanpun serempak mengatakan dia dan Li Kun yang memapah Lan Hwa. Gin Liong yang memapah Tek Cun Demikian ketika tiba di luar lembah, Gin Liong bersuit keras. Beberapa saat kemudian terdengar suara kuda meringkik.

"Bagus, kuda bulu hitam patuh sekali kepadamu" seru Li Kun.

"Ah, aku hanya coba2 saja, tak kira kalau kuda itu begitu menurut" kata Gin Liong.

Tetapi belum sempat mereka menuju ketempat suara kuda itu tiba2 terdengar suara derap kuda lari yang gemuruh, Empat ekor kuda mencongklang pesat kearah lembah. Gin Liong cepat memeluk tubuh Tek Cun, demikian pula Li Kun dan Yok Lan segera memondong Lan Hwa. Rupanya Tek Cun lebih parah, ia terus menerus pejamkan mata.

Ternyata yang berlari mendatangi itu empat ekor kuda milik mereka, Kuda hitam berkaki putih yang dinaiki Lan Hwa, kuda merah milik Tek Cun, kuda hitam mulus milik Gin Liong dan kuda bulu kuning dari Li Kun.

Kuda bulu merah terus menghampiri  Tek Cun dan menjilat-jilat pakaian tuannya seperti ikut sedih karena tuannya terluka, Melihat itu tergeraklah hati Yok Lan. ia mengelus-elus kepala kuda itu.

Sumoay, kuda merah ini memang lebih halus sifatnya, engkau naik dia sajalah," kata Gin Liong yang terus membawa Tek Cun bersama naik kuda bulu hitam.

Demikian setelah sama naik kuda, mereka pun segera berangkat Dalam waktu singkat mereka telah melintasi dua buah puncak gunung lalu mulai mendaki sebuah gunung yang membujur luas.

Dari atas lereng gunung, Gin Liong dapat melihat di bawah kaki gunung sebelah selatan terdapat sebuah kota. "Cici, disebelah depan kemungkinan kota Hok san-shia" katanya kepada Li Kun.

Tio Li Kun mengiakan dan segera mengajak rombongannya menuruni gunung menuju ke kota itu. Tak berapa lama mereka tiba di jalan besar yang tiba dikota Hok-san-shia.

Jalan sepi orang sehingga dengan leluasa mereka dapat mencongklangkan kudanya, Tak berapa lama gedung2 bertingkat dari kota Hok-san-shia mulai tampak,

Tiba2 dari arah muka tampak dua penunggang kuda mencongklang pesat, menimbulkan kepul debu yang tebal sehingga sukar diketahui wajah mereka,

Gin Liong dan rombongannya dengan cepat dapat mengejar kedua penunggang itu. Rupanya kedua penunggang itu tahu kalau dibelakangnya akan dilanggar oleh rombongan penunggang kuda maka mereka berdua segera menyisih ke tepi jalan.

Saat itu Gin Liong sempat memperhatikan wajah mereka, Yang naik kuda bulu kuning, seorang wanita berumur 27 - 28 tahun, Mengenakan pakaian ringkas dari kaum persilatan punggung menyanggul sebatang pedang, sepasang mata yang ditaungi oleh alis yang melengkung indah makin menonjolkan kecantikan wajahnya yang berpotongan bulat telur dan berbedak tipis.

Sedang yang naik kuda kembang, seorang yang dandanannya seperti sastrawan, berumur sekitar 35-an tahun, rambut lebat alis tebal dan wajah cakap, Mencekal cemeti kuda yang bertabur mutiara, sikapnya gagah.

Sasterawan dan wanita muda itu menarik kendali kuda dan berpaling. Gin Liong menduga keduanya tentu sepasang suami isteri. Ketika rombongan Gin Liong lewat disisi mereka, tiba2 kedua penunggang kuda itu berteriak kaget : "Nona Kun, Nona Kun !"

Tio Li Kun terkejut dan cepat hentikan kudanya, Demikian pula Gin Liong dan Yok Lan. Sasterawan dan wanita muda itu segera menghampiri.

Saat itu Li Kun baru mengetahui bahwa ke dua penunggang kuda itu bukan lain adalah Hut-soh-su-Seng atau Sasterawan-tali-terbang Suma Tiong dan isterinya Lok Siu Ing.

"Nona Kun, mengapa liok-saycu dan nona itu ?" melihat Tek Cun dan Lan Hwa. Suma Tiong segera menegur cemas.

"Terluka . . " sahut Li Kun tersenyum. Lok Siu Ing kerutkan dahi serunya:

"Kalian tak boleh melanjutkan perjalanan dan harus lekas2 singgah di desa untuk berobat, Desa kami tak jauh dari sini" ia menunjuk ke sebelah timur.

Lebih kurang lima li jauhnya, tampak gerumbul pohon yang menggunduk hitam.

"Ah, harap nona jangan berkata begitu. Kalau tempo hari tak mendapat bantuan dan engkoh nona, kami berdua suami-isteri-tentu sudah mati di tangan musuh" kata Suma Tiong, Sejenak memandang ke muka dan belakang,  ia segera meminta Li Kun. "Harap nona suka ikut ke desa kami dulu baru nanti bicara lagi"

Hutan pohon liu itu merupakan kampung kediaman Suma Tiong, Rumah2 sudah menyalakan lampu. Suma Tiong langsung menuju ke sebuah gedung yang berpintu hitam dan diterangi oleh empat buah lentera besar. Beberapa orang tampak bermunculan keluar untuk menyambut kedatangan rombongan Gin Liong.

Suma Tiong segera mengajak rombongan tetamunya masuk ke ruang besar dan isterinya segera memerintahkan bujang untuk menyiapkan kamar2. Demikian dengan sibuk dan akrab kedua suami isteri itu menyambut rombongan tetamunya dan menempatkan Tek Cun serta Lan Hwa masing di sebuah kamar terpisah, setelah itu mereka sibuk menjamu rombongan tetamu dengan hidangan yang lezat dan arak wangi.

Dalam kesempatan itu mereka menjelaskan tentang hal ihwal Tek Cun dan Lan Hwa sampai menderita luka. Pun tentang orang tua aneh pemilik kaca wasiat  juga dibicarakan

Malamnya diputuskan Yok Lan tidur menjaga Lan Hwa dan Li Kun menjaga engkohnya,

Waktu telentang di ranjang, pikiran Gin Liongpun mulai gelisah lagi, ia tak tahu sampai kapan luka Tek Cun dan Lan Hwa akan sembuh. Sejak turun gunung untuk menyusul Ban Hong liong-li dan menanyakan tentang pembunuh dari suhunya ia selalu mendapat rintangan dari peristiwa yang dihadapinya.

Bila terus menerus begitu, entah sampai kapan ia dapat menyusul jejak Ban Hong liong-li. Makin merenung makin gelisah dan akhirnya Gin Liong memutuskan, ia tak mau terhambat oleh urusan apa saja dan akan langsung melanjutkan perjalanan untuk menyusul Ban Hong Liongli.

Sekonyong-konyong di tengah suasana malam yang sunyi, terdengar suara orang tertawa gelak2. Gin Liong terkejut dan cepat bangun, Suara tertawa itu makin lama makin dekat, ia duga tentu orang jahat hendak mengganggu desa itu atau dirinya. Cepat ia membuka jendela, loncat keluar dan terus ayunkan tubuh melayang  keatas wuwungan rumah.

Langit bertabur bintang kemintang, rembulan pudar dan salju tipis mulai berhamburan mencurah dari langit. Angin berhembus membawa hawa dingin, Empat penjuru sunyi senyap.

Tiba2 terdengar suara orang tua yang parau berkumandang di telinganya:

"Hai, budak, apakah engkau masih berani datang ke lembah Hok-san lagi ?"

Gin Liong tergetar hatinya dan tanpa tersadar menyurut mundur setengah langkah, Mengeliarkan pandang matanya ia segera melihat diujung hutan sebelah luar desa, tegak sesosok bayangan kurus kecil yang tengah melambaikan tangan kepadanya.

Gin Liong tercengang, ia tak kenal siapa orang itu dan tak tahu apa maksudnya mengapa orang itu memangginya datang, Menilik potongan tubuhnya, orang itu menyerupai seorang wanita. Tetapi kalau mendengar nada suaranya yang parau seperti seorang yang sudah lanjut usianya.

Tiba2 timbul pikiran lain. Di tengah malam sepi orang itu berani masuk ke desa dan memperdengarkan suara tawa yang nyaring, Mengapa ? Apakah bukan karena hendak mencari Suma Tiong suami isteri dan mengira ia itu Suma Tiong ?

Ketika mengobarkan pandang Gin Liong terkesiap, Lentera yang menerangi rumah2 di pedesaan itu padam semua, sepintas pandang memberi kesan bahwa penduduk telah mengetahui akan kedatangan musuh dan sedang bersiap2. Tetapi mengapa mereka tak tahu sama sekali akan masuknya orang itu ke dalam desa ? Bukankah hal itu menunjukkan bahwa mereka tak bersiap dan berjaga2.

Setelah merenung beberapa jenak, baru Gin liong menyadari Teringat ia bahwa panggilan orang tua kepadanya dengan menyebut "budak kecil" dan melambaikan tangan kepadanya jelas bukan ditujukan kepada Suma Tiong suami isteri, melainkan kepada dirinya.

Tiba pada pemikiran, itu, seketika marahlah ia. Ketika ia hendak berseru menegur, tiba2 telinganya terbaur pula oleh suara tertawa dingin yang bernada menantang.

Dilihatnya bayangan tubuh kecil itu, berloncatan dengan santai antara dahan pohon yang satu kelain dahan pohon. sikapnya jumawa sekali.

Gin Liong tak kuat menahan kemarahannya lagi, Seketika ia lupa pada apa yang diputuskan tadi didalam kamar, Dengan mendengus dingin, dia segera ayun tubuhnya ke tempat orang kecil itu.

Melihat Gin Liong lari menghampiri orang bertubuh kecil itu berputar diri terus lari ke arah utara.

Mengejar sampai diluar desa, baru Gin Liong tersadar, pikirnya: "Tadi dia tertawa begitu keras dan panjang, Tetapi mengapa Suma Tiong suami isteri, Yok Lan dan Li Kun tak tampak bergerak muncul ?"

Menyadari kalau dirinya telah terpancing ia segera berhenti, iapun segera menyadari bahwa kata2 orang tua yang ditujukan kepadanya tadi termasuk ilmu Menyusup suara tingkat tinggi maka timbullah keheranannya Dalam dunia persilatan hanya beberapa saja jumlah tokoh persilatan yang menguasai ilmu itu. Lalu siapakah dia ? Begitu menampakkan diri, orang bertubuh kecil itu segera mendengus dingin, suaranya penuh bernada mencemoh. Dan langkahnyapun mulai kendor.

Gin Liong mulai menyadari bahwa orang itu memang sengaja hendak mempermainkan dirinya, serentak naiklah darah mudanya, serentak ia mempercepat larinya untuk mengejar.

Kembali terdengar orang bertubuh kecil itu tertawa gelak2. iapun kencangkan larinya lagi menuju ke arah gunung sebelah utara.

Gunung Hok-san makin tampak jelas, Betapa tingginya, betapa jauhnya, Berulang kali orang bertubuh kecil berpaling ke belakang seperti kuatir Gin Liong tak melanjutkan pengejarannya.

Karena tak mampu mengejar, Gin Liong makin  marah. ia tambahkan tenaganya lagi untuk lari sekencang mungkin, Tetapi beberapa waktu kemudian, tetap orang bertubuh kecil itu masih tetap jauh dimuka sehingga sukar untuk melihat wajahnya.

"Hm, sekalipun engkau lari ke neraka, akan tetap kukejarmu juga !" dengus Gin Liong dalam hati, Habis itu  ia segera merobah ilmu larinya dengan suatu ilmu lari cepat atau ginkang yang luar biasa ialah ilmu lari Angin-puyuh. Seketika tubuhnya berobah seperti segulung asap yang terbang menderu-deru seperti angin.

Kali ini si orang bertubuh kecil agak terkejut Cepat ia kebutkan kedua lengan bajunya, serempak tubuhnya terangkat beberapa jari dari tanah dan sekali berayun kemuka, larinya seperti kilat menyambar.

Saat itu orang bertubuh kecil dan Gin Liong sama2 menggunakan ilmu meringankan tubuh yang jarang terdapat di dunia persilatan, Dibawah sinar rembulan remang, yang tampak hanya dua gulung asap berkejaran, bukan lagi sosok2 tubuh manusia.

Gin Liong terkejut juga ketika melihat kecepatan lari orang tak dikenal itu jelas orang itupun menggunakan imbangan dari ilmu lari yang digunakannya, Kalau ia menggunakan ilmu lari Angin-puyuh adalah orang itu menggunakan ilmu lari Angin-terbang-diatas-tanah, Jelas bahwa ilmu lari cepat orang tak dikenal itu jauh melebihi dari Hok To Beng, tokoh kesatu dari Swat-thian Sam-yu.

Tak berapa lama tibalah mereka di kaki gunung Hok-san sebelah selatan, jarak antara kedua orang itu makin jauh.

Gin Liong makin menggeram dan makin tak tahu apa maksud orang itu hendak memancingnya ke gunung Hok- san. ia tak tahu pula siapakah orang itu, kawan atau lawan.

Setelah melintasi puncak bukit, orang itu terus lari masuk kedalam hutan di pedalaman, Melihat itu Gin Liong gugup, Kuatir akan kehilangan jejak orang itu. serentak ia bersuit nyaring dan terus kerahkan seluruh tenaga-dalam untuk lari lebih cepat.

Suitan itu bergema jauh sampai seperti menyeluruh ke segenap daerah gunung dan hutan. Dan saat itu Gin Liongpun sudah melintasi puncak bukit, terus lari kedalam hutan, Tetapi dilihatnya, saat itu siorang bertubuh kecil sudah tiba dipuncak yang melintang disebelah muka. Gin Liong makin marah, Sejak turun dari gunung Hwe-sian- hong, baru pertama kali itu ia mendapat saingan berat dalam ilmu lari cepat.

Orang bertubuh kecil itu tiba2 berpaling ke-belakang memandang Gin Liong dengan pandang kata berkilat-kilat tajam sekali. Gin Liong terkesiap. Kini ia menyadari ilmu tenaga- dalam orang itu amat tinggi sekali, jauh melebihi kelompok tujuh tokoh jagad atau Ih-lwe-jit-ki yang termasyhur itu.

Kini sadarlah Gin Liong bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang sakti, ia tak berani memandang rendah dan harus mempertinggi kewaspadaan.

Tak berapa lama merekapun tiba di luar mulut lembah. Orang itu terus saja masuk kedalam lembah, Kemudian tiba2 pula orang itu tertawa gelak2. Nadanya luar biasa keras, mengandung keangkuhan, kegembiraan dan kecongkakan, Dan serentak pada saat berhenti tertawa orang bertubuh kecil itupun menghilang dari pandang mata.

Gin Liong terkejut sekali, serentak ia hentikan lari dan memandang kedalam lembah, Dalam kesunyian malam yang ditingkah rembulan suram, tampak lembah itu makin seram, penuh dengan barisan semak belukar, pohon2 dan batu karang yang curam.

Angin malam yang berhembus keluar dari lembah, bersuit-suit tajam macam barisan setan meringkik-ringkik. Air-terjun terdengar makin bergemuruh, macam gunung rubuh.

Melihat itu timbullah rasa gentar dalam hati Gin Liong, ia memperhatikan dengan jelas bahwa orang bertubuh kecil tadi telah lenyap ke!empat tadi siang ia bertempur melawan Ce-tang Sam-sat, Timbul pertanyaan dalam hatinya, Adakah orang itu seorang gerombolan dari ketiga Samsat itu?

Ah, karena sudah terlanjur mengejar sampai disitu, ia harus tetap melanjutkan pengejarannya. Dengan siapkan tinju yang sudah disaluri tenaga-dalam, ia segera melangkah ke dalam lembah Segenap perhatian tertumpah pada pandang matanya yang dicurahkan kesetiap tempat yang gelap.

Asal melihat bayangan siorang bertubuh kecil, segera ia akan menghajarnya, Tetapi sampai sebegitu jauh, belum juga ia melihat sesosok bayanganpun juga.

Membiluk ke tikungan puncak, air-terjun di dasar lembah tampak seperti leburan perak yang mencurah ke bawah tanah. Tetapi di permukaan telaga penampung air- terjun itu, ia tak melihat lagi sinar kaca yang memancar keudara.

Beberapa langkah lagi, butir2 air dari udara  makin gencar dan deras, Terpaksa dia hentikan langkah. Saat itu ia baru melihat jelas bahwa kaca wasiat yang terletak di atas batu runcing di tengah telaga sudah tak ada, ia duga siang tadi selekas ia bersama rombongannya tinggalkan tempat itu, orang tua aneh itupun tentu terus mengambil kaca wasiatnya.

Buktinya, ketiga durjana Ce-tang Sam-sat menuduh dialah tentu yang mengambil kaca wasiat itu, jika benar demikian, tentulah orang tua aneh itu masih berada di sekitar telaga, Tetapi mengapa ketika si sinting Hong-tiang- soh berteriak keras merintangnya. orang tua itu tak mau menampakkan diri ? Apakah dia takut kepada Hong-tian- soh ?

Ah, tetapi peristiwa yang terjadi di tanah lapang dalam hutan tempo hari, dimana tokoh2 seperti Pengemis-kaki- telanjang, dan hweshio terbunuh mati, serta Hun Ho siantiang yang didesak untuk segera datang, menandakan bahwa orang itu jauh lebih sakti dari si sinting Hong-tian- soh.

Tetapi mengapa ia tak keluar menyambut tantangan Hong-tian-soh ? Oh, mungkinkah dia kenal dengan Hun Ho siantiang dan bersahabat dengan salah seorang dari Swat- thian Sam-yu sehingga dia sungkan untuk unjuk diri  ? Kalau begitu apakah dia benar2 tokoh Thian-lam Ji gi atau sepasang pendekar budiman dari Thian-lam ? Tetapi Hun Ho sian-tiang mengatakan bahwa Thian-lam Ji-gi saat ini sedang menutup diri untuk memperdalam ilmunya.

Sejenak keliarkan pandang, kejut Gin Liong bukan kepalang, Sosok2 tubuh jago silat yang terkapar di tepi telaga tampak seperti bergerak2 kerut wajahnya.

Gih Liong pusatkan perhatian dan mengendapkan pikirannya yang merana, Akhirnya ia menyadari bahwa apa yang dilihatnya itu hanya pantulan sinar rembulan yang mencurah kepermukaan telaga, berbalik menimpah muka mayat2 itu. Bukan karena wajah mereka bergerak-gerak masih sebagai orang hidup,

Dalam kesunyian suasana malam yang kelam, samar2 Gin Liong seperti menangkap suara pakaian ditebar hembusan angin. Gin Liong terkejut dan cepat berpaling. Tampak lembah di sebelah belakang masih diselubungi suasana seram seperti tadi. Keadaannya sunyi senyap tak ada orang yang muncul disitu.

Tetapi jelas ia mendengar suara pakaian orang ditebar hembusan angin. siapakah orang itu ?

Cepat ia tengadahkan kepala memandang ke atas dan segera ia mendengus dingin. Diatas puncak sebelah kiri, tampak tiga sosok bayangan tubuh orang sedang meluncur turun. Salah satu diantaranya ialah orang bertubuh kecil tadi, Mereka jelas meluncur ke dalam lembah.

Gin Liong tekan kemarahannya, Selekas ketika orang itu tiba di tempatnya iapun segera membentak keras: "Sudah lama aku menunggu disini, Apakah kalian kira aku takut karena harus menghadapi keroyokan kalian ?" Habis berkata ia terus maju menyerbu mereka.

Mendengar seruan Gin Liong itu, rupanya ketiga pendatang itu terkejut Mereka serempak berhenti.

Dalam lari menghampiri itu, Gin Liong memandang tajam kearah ketiga orang itu.

Yang berdiri ditengah, seorang tua berumur lebih dari 70 tahun. Alisnya yang sudah memutih memanjang masuk kedalam rambut samping, Rambutnya pun sudah putih mengkilap seperti perak, mukanya merah segar, sepasang matanya tajam berwibawa. Tulang kedua keningnya menonjol, menandakan betapa tinggi ilmu tenaga-dalam yang dimilikinya.

Mengenakan pakaian tiang-shan (panjang) dari kain belacu kasar. Ketiaknya mengempit sebatang tongkat besi yang berkilat-kilat hitam legam. Ternyata kakinya tinggal yang sebelah kanan, Dia berdiri dengan satu kaki itu.

Orang tua itu bukan lain adalah tokoh yang  paling termasyhur diwilayah Lulam yaitu Ik Bu It bergelar si Kaki- Satu-bertongkat besi.

Disisi kanan kakek berkaki satu itu, ternyata seorang nenek yang hanya berlengan satu dan mencekal sebatang tongkat Peng thiat- ciu thau-ciang (tongkat  bertangkai kepala burung alap2). wajahnya dingin dan angkuh.

Nenek itu bukan lain adalah Tuk-pi Ban thaypoh atau si Lengan-satu-nenek Ban yang pernah menggegerkan dunia persilatan beberapa puluh tahun yang lalu karena dengan tongkat berkepala burung alap2 itu, ia  dapat  menyapu rubuh banyak tokoh-2 silat yang sakti. Nenek Ban itu adalah isteri kakek Kaki-satu bertongkal besi Ik Bu It. Kalau isterinya berlengan satu, suaminya berkaki satu. Keduanya berjalan dengan tongkat.

Di belakang kedua suami isteri tua itu baru sosok orang yang bertubuh kecil tadi, ialah yang memancing Gin Liong datang ke lembah itu. Ketika Gin Liong melekatkan pandang mata ia agak terkesiap.

Ternyata orang bertubuh kecil yang hebat ilmu larinya itu hanya seorang dara yang berumur enam belas - tujuh belas tahun, wajahnya berpotongan bundar telur, sepasang alisnya melengkung seperti bulan tanggal satu.

Mata bundar terang laksana bintang kejora. Hidungnya yang mancung menaungi sepasang bibirnya yang merekah merah delima, Mengenakan baju warna hijau muda dengan celana kun warna putih, Pada kedua bahunya tampak menyanggul dua batang pedang yang bertangkai warna hijau.

Walaupun hanya berbedak tipis sekali, tetapi kulitnya tampak memancar warna putih halus, Dari pancaran keningnya menunjukkan bahwa dia masih seorang anak dara yang kekanak2an dan manja, menimbulkan kesan bahwa dia itu seorang anak perempuan yang nakal.

Dara baju hijau itu adalah puteri satu-satunya dari kedua suami isteri Ik Bu It.

Namanya Ik Siu Ngo.

Saat itu kedua orang tua dan anak gadisnya tengah memandang Gin Liong dengan perasaan terkejut juga Gin Liong bersangsi setelah melihat mereka bertiga. Ia segera hentikan terjangannya dan tegak sejauh tiga tombak dari tempat mereka Melihat Gin Liong seorang pemuda yang cakap dan gagah, makin terkejutlah hati Ik Bu It si kakek berkaki satu, Hampir ia tak percaya bahwa anak yang masih semuda itu ternyata memiliki ilmu tenaga-dalam yang sedemikian hebatnya, juga tak ketinggalan rasa kejut yang menghinggapi nenek Ban, sebaliknya ketika melihat wajah Gin Liong, merahlah selebar muka si dara Siu Ngo.

Gin Liong berdiri dengan sikap seperti orang menyesal. ia menyadari kesalahannya, ia mendapat kesimpulan bahwa dara itu memang bukan orang yang memikatnya datang ke lembah itu.

Melihat Gin Liong memandang lekat2 pada gadisnya, marahlah si nenek Ban, ia berpaling ke belakang dan membentak puterinya: "Budak perempuan, hayo, kasihlah hajaran pada budak hina itu"

Siu Ngo terkesiap dan bersangsi.

Sebenarnya Gin Liong mempertimbangkan hendak minta maaf kepada kedua suami isteri tua itu. Tetapi ketika melihat sikap dan tingkah si nenek yang begitu angkuh, diam.2 ia menggeram dalam hati.

Rupanya Kakek Kaki-satu-bertongkat-besi Ik Bu It tahu bahwa Gin Liong itu seorang pemuda yang berisi. Maka ia segera mencegah puterinya yang masih ragu2 itu: "Budak perempuan, tunggu..."

Belum selesai kakek Ik bicara, nenek Ban menghunjamkan tongkatnya ke tanah dan menggembor keras: "Budak itu menurut perintahmu atau perintahku ?"

Ia memandang dengan marah kepada suaminya, Kakek Ik merah mukanya tetapi tak mau menyahut sepatahpun juga. Mendengar pembicaraan itu, Gin Liong segera tahu bahwa kedua kakek nenek itu adalah sepasang suami isteri serta puterinya.

"Lekas, kasih sedikit hajaran pula budak liar itu !" nenek Ban memberi perintah lagi, seraya menudingkan tongkat ke arah Gin Liong.

Gin Liong marah karena diperlakukan begitu "Apakah begitu mudah untuk memukul aku?" serunya seraya menatap Ban thaypoh dan si dara cantik Ik Siu Ngo.

Ban thay-poh menggeram sedang si dara Siu Ngo sudah terus loncat melengking dan ayunkan tangan kanan dan kirinya, Yang satu menutuk kepala, yang lain menutuk perut. cepatnya bukan kepalang.

Gin Liong terkejut melihat gerakan si dara cantik yang begitu tangkas, ia tak berani memandang rendah dan cepat menggerakkan tubuh berputar seperti angin puyuh, Tahu2 ia sudah berada di belakang si dara tetapi tak mau turun tangan.

Walaupun sidara Siu Ngo telah mewarisi kepandaian kedua orang tuanya tetapi ia belum sempurna latihannya dan kurang pengalaman.

Saat itu ia merasa matanya berkunang dan pemuda yang hendak diserangnya itu tiba2 lenyap dari hadapannya, Karena serbuannya luput iapun terlongong.

"Burung cendrawasih berpaling kepala !" tiba2 nenek Ban gentakkan tongkat ke tanah seraya berseru keras.

Siau Ngo tersadar. Dengan melengking cepat ia mengeliatkan pinggangnya yang ramping berputar tubuh, Ternyata Gin Liong memang berdiri dibelakangnya. Kembali dara itu terkesiap, Rupanya baru pertama kali itu ia berhadapan dengan seorang manusia yang memiliki gerak secepat setan.

"Budak tolol !" kembali nenek Ban berteriak marah, "pertama kali keluar sudah membikin malu. Setelah Cendrawasih-berputar-kepala, harus dilanjutkan dengan jurus Awan-musim semi muncul, Tangan kanan menyapu bahu orang jari tangan kiri menutuk jalan darah di dadanya

!"

Dengan deliki mata nenek itu kembali memekik marah: "Mengapa masih berdiri seperti patung, Hayo kembali kemari, lihat mamah menghajarnya!"

Sudah tentu Gin Liong makin marah. Masakan dirinya hendak dijadikan bulan2 percobaan latihan. Tetapi ia tak sempat bertindak apa2 karena saat itu si dara sudah loncat menerjang.

Gin Liong mendengus, Sekali bergerak ia sudah menyelimpat ke belakang dara itu lagi, Tetapi kali ini tidaklah ia sesantai tadi, Belum kaki berdiri tegak, terdengar dara itu melengking dan menaburkan kedua tangannya. Tangan kanan menutuk kepala, tangan kiri menutuk dada.

Gin Liong terkejut juga. ia merasa tindakan Siu Ngo itu ganas tetapi tepat sekali, ia ingin hendak mencekal tangan si dara tetapi entah bagaimana tubuhnya telah mencelat kebelakang sampai beberapa langkah.

Melihat itu nenek Ban tertawa gelak2. Karena mendapat hasil, Siu Ngopun menyerang lagi, Tetapi cepat nenek Ban lintangkan tongkat mencegahnya.

"Budak, menyingkirlah, Lihat mamah akan memberinya hajaran yang lebih keras !" Habis berkata ia terus memutar tongkat dalam jurus Heng-soh-cian-kun. Tongkat seketika berhamburan menjadi segulung sinar yang menderu-deru menyambar Gin Liong.

Melihat mamahnya turun tangan, Siu Ngo pun loncat mundur dan berdiri mengawasi. sedangkan ayahnya, kakek Kaki-satu-bertongkat-besi pun berdiri dengan penuh perhatian, ia tahu bahwa sekalipun istrinya turun gelanggang, tetap takkan mampu menghajar anak muda itu.

Melihat tingkah laku si nenek, timbullah sifat  dari kanak2 Gin Liong. ia marah, iapun tahu bahwa jurus Heng- soh-cian-kun atau Membabat-seribu-laskar yang dilancarkan si nenek itu merupakan serangan yang sukar dihadapi jurus itu dapat menjadi serangan yang sungguh tetapipun dapat juga hanya sebagai serangan kosong.

Maka dengan menggembor keras, Gin Liong goyangkan tubuh namun masih tetap berdiri ditempatnya.

Rupanya si nenek sok tahu. Melihat tubuh Gin Liong bergerak cepat ia menyentaknya:

"Bagus budak, lihat bagaimana kupatahkan pahamu !" serunya, Tongkat tiba2 dirobah dalam jurus Liat-biat hoa- san atau menghantam-hancur-Hoasan, menghantam ke belakang.

Gin Liong tersenyum, Cepat ia loncat kesamping dan bersembunyi dibelakang sebuah batu besar.

Siu Ngo tercengang sedang ayahnya hanya berseri tawa. Ketika belakangnya tiada orang, kejut nenek Ban bukan kepalang. Wajahnya serentak berobah, Dengan memekik keras, ia gunakan jurus Heng-soh-ngo gak atau Menyapu lima-gunung, ia hantamkan tongkat ke belakang lagi.

Ketika berputar tubuh dan tak  melihat Gin Liong, mulailah ia bingung. Keringat dingin bercucuran, serentak ia menaburkan tongkatnya dilain jurus Su- hay-tehng-hun atau Empat-lautan timbul-awan.

Tongkat berkepala ukiran burung alap2 itu segera menyambar2 laksana badai menderu dan mencurah bagaikan hujan deras, Menghantam ke kanan, menyapu ke kiri, ia merasa anak muda itu seolah mengelilinginya. Debu dan pasir bertebaran memenuhi empat penjuru.

Melihat lsterinya ngamuk tak keruan itu, kakek Ik Bu It segera berseru kepada puterinya. "Hai, budak perempuan, lekas kasih tahu mamah mu, apakah budak itu  masih berada dibelakangnya?"

"Mah, dia tak berada dibelakangmu," akhirnya Siu Ngo berseru dengan nada kekanak-kanakan.

Mendengar itu si nenek segera hentikan tongkatnya, menuding Siu Ngo dan berseru tegang: "Dimana  budak itu?"

Nenek ini keliarkan pandang matanya ke empat penjuru, rupanya ia hendak mencari Gin Liong, Demi melihat wajah suaminya tersenyum gembira, ia segera deliki mata dan membentaknya. "Tua bangka, dimana budak itu ?"

Dengan berseri tawa, kakek Ik Bu It segera menunjuk ke sebuah batu besar kira-2 setombak jauhnya dan berseru pelahan:

"Karena ketakutan budak itu bersembunyi dibalik batu itu !"

Tiba2 terdengar suara tertawa gelak2 dan muncullah Gin Liong dari balik batu itu dan melangkah menghampiri. Melihat itu merahlah wajah si nenek, Tetapi pada lain saat iapun ikut tertawa. "Budak kecil, engkau sungguh nakal, Kali ini kuberimu ampun." serunya sesaat kemudian.

Melihat mamahnya sudah tak marah lagi, si dara Siu Ngo gembira sekali, segera ia lari menghampiri.

Kakek Ik Bu It tertawa gembira pula, serunya: "Ha, ha, peribahasa mengatakan kalau tidak berkelahi tentu tidak kenal. Rupanya siauhiap ini datang dari daerah Kwan-gwa (luar perbatasan). Maukah engkau memberitahukan namamu dan mengapa datang kemari ?"

Jika tadi Gin Liong keras kepala dan liar, saat itu tampak ramah dan menghormat. Segera ia memberi hormat dan memperkenalkan dirinya, ia mengatakan kalau datang dari gunung Tiang-pek-san. Ketika tiba di gunung Hok-san, kebetulan ia berjumpa dengan kedua suami isteri tua itu.

"Ah, kiranya kita ini orang sendiri, Siau hiap ini sahabat dari Suma tayhiap."

"Mohon tanya nama locianpwe berdua yang mulia dan maafkanlah tingkahku yang liar tadi." Gin Liong meminta maaf.

Dengan terus terang kakek itu segera memperkenalkan dirinya, kemudian isteri dan puterinya.

Gin Liong serta merta memberi hormat kepada nenek Ban. Nenek itu tertawa gembira.

"Siau siacu, jangan enak2 memukul baru minta maaf, ya. Tadi karena tingkahmu, aku sampai ngos-ngosan napasku."

Mereka tertawa mendengar ucapan nenek itu. Setelah bercakap-cakap beberapa saat barulah Gin Liong tahu bahwa ketiga ayah beranak itu haru saja tiba di tempat itu, Gin Liong segera menuturkan tentang orang bertubuh kecil yang telah memikatnya datang sampai disitu. Mendengar penuturan itu, kakek Ik Bu It menyadari bahwa orang tua pemilik kaca wasiat telah berlalu, maka iapun memutuskan untuk kembali pulang saja.

"Apabila siau siauhiap pulang, tolong sampaikan hormatku kepada Suma tayhiap suami isteri. Dan harap siauhiap hati2 dalam perjalanan" kata kakek itu.

Demikian Gin Liong segera berpisah dengan kedua suami isteri dan puterinya itu, ia lari menuju ke luar lembah. Diam2 ia mengkal karena lelah dipermainkan oleh orang bertubuh kecil itu.

Selepas dari tikungan puncak gunung, kembali ia melihat suatu pemandangan yang membelalakkan matanya, Sepuluh tombak di sebelah muka pada gunduk2 batu yang berserakan tampak tegak siorang bertubuh kecil tadi.

Tetapi karena sudah mendapat pengalaman dari suami isteri Ik Bu It, kali ini Gin Liong tak berani sembarangan bertindak. Sejenak ia memperhatikan dan memang  orang itu ialah siorang bertubuh kecil yang telah memikatnya ke dalam lembah tadi. Seketika meluaplah kemarahannya, dengan memekik keras ia segera lari menghampiri.

Tetapi ketika hampir dekat, seketika tergetarlah hatinya dan iapun hentikan langkahnya.

Orang bertubuh kecil yang saat itu berdiri pada jarak setombak di sebelah muka, ternyata adalah orang tua kurus yang dilihatnya berada dalam rumah pondok di lembah salju gunung Tiang pek san tempo hari.

Saat itu orang tua aneh itu mengenakan jubah hitam, rambutnya kusut masai. Pada wajahnya yang dingin dan angkuh memancar sinar welas asih. Setelah menenangkan semangat, Gin Liong segera maju tiga langkah mengangkat tangan dan membungkukkan tubuh memberi hormat.

"Murid Siau Gin Liong dengan hormat menghadap locianpwe."

Habis berkata ia terus hendak berlutut menjalankan penghormatan. Tetapi tiba-2 segulung hawa kuat menguap dari bawah lutut merintangi gerakannya hendak berlutut. Menyusul terdengar suara orang tua itu berseru dengan nada ramah:

"Gin Liong tak usah banyak peradatan, Kita bicara sambil berdiri saja."

Gin Liong memberi hormat pula lalu bangkit.

"Mohon locianpwe memberi petunjuk, mengapa locianpwe memerintahkan aku datang ke lembah ini."

Wajah orang tua yang berseri ramah tiba2 mengerut dingin dan angkuh lagi, ujarnya dengan nada serius:

"Musibah dalam dunia persilatan segera akan tiba," katanya, "tampaknya tugas untuk mengatasi bencana itu terletak di bahumu. Mulai besok pagi bahkan mungkin nanti, tentu engkau akan di hadang oleh kawanan manusia yang berhati temaha, jika engkau dapat menghadapi dengan selayaknya, bahaya itu tentu akan surut. Tetapi kalau engkau tidak hati2, tentu akan menimbulkan bencana darah yang tak terperikan akibatnya."

Habis berkata orang tua itu sejenak memandang ke arah lembah, Mulutnya mengulum senyum. Kemudian ia mengeluarkan kaca wasiat, seketika memancarlah sinar gilang gemilang menerangi seluruh lembah. Teganglah hati Gin Liong melihat kaca wasiat itu. Dipandangnya orang tua kurus itu dengan penuh keheranan.

Sambil memegang kaca, berkatalah orang tua kurus dengan nada bersungguh:

"lnilah benda dari paderi sakti yang disebut Goa-po-te- kia. Bukan saja dapat digunakan untuk menentukan letak benda berharga dalam tanah, pun kaca wasiat ini mengandung ilmu yang tak ternilai hebatnya."

Berhenti sejenak, orang tua kurus itu memandang Gin Liong dan berkata pula:

"Sekarang hendak kuberikan kaca ini kepadamu, harap engkau baik2 menjaganya jangan sampai jatuh orang jahat."

Habis berkata, sepasang matanya tampak  berkilat2 tajam, Melihat wajah Gin Liong mengerut serius, wajah orang tua kurus yang dingin segera merekah seri tertawa.

"Adakah engkau dapat menyelami ilmu yang terkandung dalam kaca ini, tergantung sampai dimana jodoh dan rejekimu dengan benda itu."

Orang tua kurus itu menyorongkan kedua tangannya ke muka dada dan dengan suara bengis berseru:

"Gin Liong, mengapa tak lekas berlutut menerima kaca wasiat dan Seng-ceng !"

Tahu bahwa menolakpun percuma saja, Gin Liong terpaksa berlutut memberi hormat.

"Murid Siau Gin Liong dengan sungguh hati menerima pemberian kaca dari Seng-ceng (paderi sakti), Sejak saat ini murid akan menjalankan titah Seng-ceng untuk menyebar kebaikan, berkelana dalam dunia persilatan, menjunjung kebenaran membasmi kejahatan melakukan dharma kebajikan. Kecuali terhadap orang yang keliwat jahat murid takkan membunuh orang..."

Tiba2 orang tua kurus itu tertawa menukas: "Soal membunuh orang, terserah pada pertimbanganmu."

"Murid akan melakukan dengan sepenuh hati." Orang tua kurus itu menghela napas: "Hati manusia tak pernah layu, nafsu keinginannya tak pernah puas, Sekali tersesat, sampai mati tak mau sadar, Jika engkau menghendaki manusia budak nafsu itu supaya sadar, mungkin akan menghabiskan waktumu saja."

Habis berkata ia memandang sejenak kearah deretan pohon siong yang tumbuh lima tombak jauhnya, kemudian menyerahkan kaca wasiat  kepada Gin Liong. Dengan kedua tangan Gin Liongpun menyambuti dan menyimpannya dalam baju.

Tiba2 terdengar suara orang tertawa seram. Asalnya dari arah deretan pohon siong itu. Gin Liong tergetar, cepat ia berdiri dan berputar tubuh.

Dari balik deretan pohon siong sejauh lima tombak, muncul dua orang. Seorang tua dan seorang imam tua, Kedua berumur delapan puluhan tahun.

Orang tua itu berwajah persegi, mulut besar alis gompyok, sepasang bola matanya seperti kelinting, jenggot putih menjulai sampai ke perut. Mengenakan jubah panjang yang tepinya disalut sutera kuning emas.

Siimam tua bermuka tirus, mulut lancip, mata sipit dan tubuh tinggi, memegang sebatang hud tim jubahnya dari sutera biru, memakai kain pinggiran sutera kuning emas, punggungnya menyanggul sebatang pedang.

Siimam tua dan siorang tua mulut lebar melangkah maju sambil tertawa seram, Gin Liong kerutkan alis. Orang tua kurus yang berada di belakang Gin Liong tertawa gelak2, serunya:

"Yang di sebelah kiri itu kepala dari pulau Cui-leng-to. Yang sebelah kanan Long Ya cinjin. Keduanya termasyhur sebagai durjana jahat. Coba saja bagaimana cara engkau hendak menasehati mereka supaya kembali ke jalan yang benar."

Suara Orang tua kurus itu makin lama makin jauh. Dan ketika Gin Liong berpaling ternyata orang tua kurus itu sudah berada pada jarak dua puluh tombak jauhnya dan pada lain saat terus menyusup ke dalam hutan bambu.

Sudah tentu Gin Liong bingung.

"Locianpwe, apakah locianpwe tak mau beritahu nama locianpwe kepada murid ?"

Telinga Gin Liong segera terngiang suara orang tua itu: "Tak usah memikirkan hal itu kelak engkau tentu tahu sendiri."

Gin Liong terkesiap, Sambil memandang bayang orang tua kurus yang lenyap ke dalam hutan bambu ia mendesah: "Ah, orang tua itu benar2 aneh sekali."

Tetapi ia segera dikejutkan oleh suara tertawa mengekeh dan kedua orang yang sudah tiba di belakangnya, segera ia berbalik tubuh pula. Kedua pendatang itu sudah berada setombak di hadapannya.

Kepala Cui-leng-to mengekeh:

"Heh, heh, budak, setan tua itu takut mati dan melarikan diri, Sampai pecah sekalipun kerongkonganmu, tak mungkin dia akan mendengar teriakanmu."

Long Ya cinjinpun ikut tertawa seram. "Budak, lekas serahkan kaca wasiat itu kepadaku, mungkin aku dapat berbuat kebaikan untuk tak membunuhmu."

"Heh, heh, budak" kembali kepala Cui-leng-to mengekeh lagi, "serahkan kepadaku, jangan kepada imam hidung kerbau ini."

Ia terus ulurkan tangan kanannya yang kurus kering  mirip cakar baja ke muka.

"Berikan kepadaku" Long Ya cinjin juga ulurkan tangannya meminta.

Melihat tingkah laku kedua orang itu, Gin Liong merasa muak. Dan mendengar kata2 mereka yang begitu temaha, marahlah Gin Liong.

"Atas dasar apa ?" bentaknya, Dipandangnya kedua orang itu dengan mata berkilat-kilat.

Kepala Cui-leng-to tertawa gelak2. Tetapi Long Ya cinjin marah dan terus menerkam dada Gin Liong, Pemuda itu tertawa dingin, serentak ia hendak menyambar pergelangan tangan cinjin itu tetapi tiba2 kepala Cui-leng-to atau Cui- leng-to-cu menyentaknya.

"Anak jadah, engkau berani . ." Cepat laksana kilat dia mendorong lengan Long Ya cinjin ke samping.

Gin Liong terkejut dan menyurut mundur selangkah, tepat pada saat itu, kedua orang itupun menggembor keras, Long Ya cinjin mengangkat lengannya untuk menghindari tangan Cui-leng-to-cu, tangan kiri  maju untuk mencengkeram leher baju Gin Liong.

Cui-leng-to-cu juga menurunkan lengan kanan maju setengah langkah dan ulurkan tangan kiri untuk mencengkeram dada Gin Liong, Kedua orang itu bergerak luar biasa cepatnya dan disertai dengan tenaga penuh. Gin Liong terkejut dan segera gunakan gerak tata langkah Liong-li-biau untuk menghindar dan loncat sampai tiga tombak jauhnya.

Cui-leng tocu tertawa seram. Entah dengan gerak bagaimana, ia sudah membayangi Gin Liong, sedangkan tangan kirinya tetap mengancam lambung Gin Liong.

Long Ya cinjin lebih lihay lagi. Dengan tertawa seram ia menyerang dari samping, kebut hud tim ditaburkan kedada Gin Liong.

Melihat itu Cui leng-to-cu terkejut juga. Kalau Long Ya cinjin berhasil menampar dada Gin Liong, kaca wasiat tentu akan menumpah keluar. Dan apabila disusuli dengan gerakan hudtim sekali lagi, kaca wasiat itu tentu akan jatuh ke tangan cinjin itu, maka dengan menggembor keras, ia segera menghantam bahu kiri Long Ya cinjin.

Melihat kaca yang jelas sudah akan jatuh ke tangannya hendak digagalkan kepala pulau Cui-leng to, marahlah Long Ya cinjin.

"Anjing tua, engkau cari mampus" bentaknya seraya gerakkan tangan kiri untuk menangkis dan tangan kanan untuk membabat kedua lutut kaki orang.

Tetapi Cui-leng-to-cu tertawa gelak2, sekali kebutkan lengan jubah, tubuhnya melambung sampai tiga tombak ke udara.

"Tua bangka buduk, engkau hendak merebut kaca wasiat itu ? Hm, mari kita adu jiwa dulu " serunya sambil julurkan tangan kanan untuk mencengkeram belakang kepala Long Ya cinjin.

Long Ya cinjin marah, cepat ia  balikkan tubuh dan menampar dengan kebut hudtim, Cui-leng to-cu tertawa gelak2. ia bergeliatan kebutkan kedua lengan baju di udara dan gunakan ujung kaki kanan untuk mendupak kepala orang.

Demikian kedua orang itu saling bertempur kemati- matian sendiri, Long Ya cinjin menghantam dengan tangan kiri dan memutar kebut hudtimnya gencar sekali, sedangkan kepala dari pulau Cui-leng-to mainkan lengan bajunya yang dikebutkan dan ditamparkan laksana gelombang laut yang dahsyat sekali.

Mereka muncul bersama, menghampiri bersama dan meminta kaca wasiat dari Gin Liongpun bersama. Akhirnya mereka bersama pula berbaku hantam, seru dan dahsyat.

Sedangkan Gin Liong malah berada tiga tombak dari tempat pertempuran itu, melihat kedua orang itu bertempur mengadu jiwa, ia kesima. Tetapi pada lain saat ketika teringat bahwa kedua orang itu hendak meminta kaca wasiat, marahlah Gin Liong.

Tepat pada saat itu, kedua orang itupun tampak berputar-putar dan tiba2 pula menyerbu Gin Liong.

Cui-leng-to-cu mendahului untuk mengangkat tangan kanan dan menghantam Gin Liong. Kemudian Long Ya cinjinpun tiba dengan tangan kiri mencengkeram dada anak muda itu.

Gin Liong menggembor keras, Dengan jurus Liat-hun- song-hou atau dengan-kekuatan-menyiak-sepasang- harimau.

"Bum...." sepasang tangan yang menghantam kekanan dan kiri itu tepat mengenai tangan kedua orang itu. Cui- leng-to-cu menjerit kaget lalu menyurut kesamping selangkah terus loncat lagi setombak jauhnya, Long Ya cinjin mendesuh pelahan dan terhuyung-huyung sampai delapan langkah ke belakang. Tetapi Gin Liong sendiri juga bergetar bahunya, kedua lengannya terasa linu kesakitan

Cui- leng-to-cu berobah wajahnya dan terlongong- longong, Long Ya cinjingpun tercengang. Keduanya tak pernah menyangka bahwa pemuda itu ternyata memiliki tenaga-sakti yang mengejutkan orang.

Tetapi Gin Liong juga kaget dalam hati, ia menyadari bahwa kedua durjana itu memang hebat sekali kepandaiannya, ia tak berani memandang rendah lagi. Serentak ia  segera kerahkan tenaga-dalam dan ketika melihat kedua durjana itu masih termangu-mangu, timbullah pikirannya untuk menyadarkan mereka supaya kembali ke jalan yang benar.

"Kalian tentulah tokoh2 sakti yang mengasingkan diri tinggal diseberang laut. Bukankah lebih baik menghapus keinginan2 yang jahat dan lanjutkan tindakan kalian untuk mencari ilmu penerangan hatin yang tinggi..."

Kedua orang itu cepat tertawa keras menukas ucapan Gin Liong, Sudah tentu Gin Liong marah.

"Soal itu mengapa perlu engkau seorang budak kecil yang harus memberi nasehat ? Sudah lima puluh tahun lamanya entah sudah berapa ribu kali kudengar ucapan2 kosong semacam itu," seru kepala pulau Cui-leng-to.

Sepasang gundu mata Long Ya cinjin berkeliaran seperti teringat sesuatu lalu tertawa parau.

"Budak kecil, ketahuilah, kenal pada gelagat dan dapat mengetahui suasana, barulah dapat menjadi seorang gagah, Engkau budak, jika mau mengangkat aku sebagai guru dan menyerahkan kaca wasiat itu, kita guru dan murid dapat bersama2 mempelajari ilmu sakti yang tertera pada kaca wasiat itu. Kelak tentu akan menguasai dunia persilatan..." Belum Long Ya cinjin selesai berkata, Cui-leng-to-cu sudah tertawa gelak2, serunya:

"Tua bangka, pikiranmu sungguh murni sekali, ucapanmupun enak didengar. Apakah engkau tak tahu bahwa aku memang bermaksud hendak mengambil budak itu sebagai murid pewarisku !"

Mendengar kedua orang itu seenaknya sendiri mengoceh tak keruan hendak mengambil dirinya sebagai murid, marahlah Gin Liong. ia kecewa dan putus asa. Untuk menasehatkan kedua orang itu tak ubah seperti meniup seruling di hadapan seekor kerbau belaka.

Seketika meluaplah kemarahan Gin Liong dan serentak iapun maju menghampiri

Tanpa menghiraukan Cui-leng-to-cu lagi, Long Ya cinjin terus berseru lagi kepada Gin Liong:

"Berhenti engkau ! Engkau harus tenang dan jangan gugup, Kita berdua tentu dapat membasmi anjing tua dari Cui-leng-to itu"

Sudah tentu marah Cui-leng-to-cu bukan kepalang sehingga rambutnya meregang tegak, dengan  meraung keras ia segera menampar muka Long Ya cinjin.

Rupanya Long Ya cinjin sudah bersiap. sesaat Cui-leng- to-cu menggerakkan tangan, iapun cepat mendahului untuk menutuk perutnya. Oleh karena jelas kedua tokoh itu hendak saling membasmi maka setiap gerak yang dilancarkan tentu merupakan jurus maut yang mengerikan.

Tiba2 terdengar suara ayam berkokok, Gin Liong menyadari bahwa hari segera akan terang tanah, ia harus lekas2 kembali ketempat Suma Tiong, kalau tidak Yok Lan dan kawannya tentu akan bingung mencari dirinya. "Hari segera terang tanah, aku masih mempunyai lain urusan tak dapat menemani kalian lagi" serunya kepada kedua tokoh yang sedang bertempur itu, kemudian ia terus berputar tubuh dan lari ke luar lembah.

"Hai, budak, jangan lari tinggalkan kaca itu" kedua tokoh itu berhenti bertempur dan berteriak seraya loncat berhamburan mengejar Gin Liong, Begitu tiba di tanah, mereka melambung ke udara lagi dan tiba lima tombak di belakang Gin Liong.

Ketika berpaling, terkejutlah Gin Liong. ia segera kerahkan tenaga untuk mempercepat larinya. Tetapi kedua tokoh durjana itu tak mau melepaskan Gin Liong, Merekapun tancap gas untuk mengejar

Sesaat Gin Liong berpaling, tampak Long Ya cinjin dengan memegang kabut hudtim dan pedang berputar melayang di udara lalu meluncur kearah Gin Liong. Sambil meluncur, cinjin itu membentak "Hai budak, tinggalkan batok kepalamu !"

Gin Liong makin marah, ia hendak mempertunjukan kepada cinjin itu bahwa ia  dapat lari lebih cepat, ia kerahkan tenaga-dalam lagi untuk merubah dirinya menjadi segulung asap yang menderu-deru meluncur keluar lembah.

Long Ya cinjin terkejut dan meluncur turun, Cui-leng- tocupun kesima, laju larinya menurun dan orangnyapun segera berhenti. Hanya segulung asap warna kuning yang meluncur ke mulut lembah dan pada lain saat pemuda itupun sudah lenyap dari pandang mata.

Gin Liong menggunakan ilmu lari Angin-puyuh yang hebat, setelah mendaki puncak dan melintasi hutan, beberapa saat kemudian ia tiba disebuah tanah datar. Ketika berpaling, ia tak melihat kedua pengejarnya lagi. Segera ia percepat larinya menuju ke desa tempat kediaman Suma Tiong,

Tak berapa lama tibalah ia dimulut desa, Desa sunyi senyap, setelah masuk ke halaman dengan hati2 iapun menyerupai masuk kedalam kamar, duduk bersila diatas ranjang dan mulai menyalurkan pernapasan.

Tak berapa lama ia mendengar derap langkah orang berjalan di halaman, Ternyata hari sudah terang tanah dan para bujang2 sudah mulai bekerja, iapun segera turun dan mandi kemudian menghampiri ke kamar Tio Li Kun.

Gin Liong terkejut sekali melihat wajah nona itu makin pucat dan lemah. Melihat si anak muda terkejut, Li Kunpun hampir mengucurkan airmata, ia segera berputar tubuh dan menuju ke kamar Tek Cun. Gin Liong bergegas menyusulnya.

"Taci Kun, lekaslah engkau tutuk jalan darah liok-ko," kata Gin Liong demi melihat keadaan Tek Cun makin payah.

Tio Li Kun melakukan perintah, Gin Liong-pun memeriksa luka Tek Cun. Ternyata wajahnya  sudah tampak segar dan napasnyapun teratur, sudah lebih sehat daripada kemarin.

"Taci Kun, apakah semalam engkau tak tidur?" tegur Gin Liong, Li Kun tak menjawab kecuali bercucuran airmata.

Gin Liong makin gugup, ia menghampiri dan menghibur nona itu: "Sudahlah taci, jangan sedih. Beberapa hari lagi luka liok-ko tentu sembuh."

Tiba-2 Li Kun memeluk tangan Gin Liong dan berkata dengan rawan: "Adik Liong, kurasakan makin lama engkau makin menjauhi aku." Nona itu mulai terisak, jelas  ia  amat bersedih hati, sesungguhnya Gin Liong seorang pemuda yang berhati lembut. Tetapi karena dalam hatinya sudah terisi dengan sumoaynya, apalagi suhunya telah meninggalkan pesan, maka terpaksa ia tak dapat menerima persembahan hati Li Kun.

Tetapi karena itu ia dipeluk si jelita, hatinyapun tergerak dan tanpa disadari iapun membelai-belai rambut si jelita seraya menghiburnya : "Ah, janganlah berpikir  terlalu banyak."

"Adik Liong, harapanku janganlah engkau memandang diriku hanya sebagai pohon liu yang tumbuh di tepi jalan..."

Rupanya Gin Liong tahu bahwa Li Kun hendak memperingatkannya tentang peristiwa yang terjadi dalam ruang dalam perahu yang lalu. Maka cepat ia menukas: "Kutahu taci seorang gadis yang luhur hati, hanya Thian yang tahu bagaimana perasaan hatiku kepada taci. Sudahlah, jangan memikir yang tidak2 dan hanya mengganggu kesehatan taci saja."

Kemudian sambil mengelus-elus bahu si jelita, ia menambahkan pula: "Yok Lan sudah sejak kecil belajar ilmu bersama aku. Hati budinya halus dan lembut, harap taci Li Kun suka melindunginya..."

"Jangan kuatir adik Liong" cepat Li Kun menukas, "aku anak yang paling bungsu, tentu akan kuperlakukan  adik Lan sebagai adik kandungku sendiri."

Tergetar hati Gin Liong dengan rasa bahagia maka iapun segera berbisik mesra: "Jika demikian kelak kita akan bersama-sama menjelang hari bahagia."

"Sungguhkah itu, adik Liong ?" Gin Liong tertawa mengangguk, ia segera mengusap airmata Li Kun yang tak henti-hentinya mengucur itu, Kemudian Gin Liong mengajaknya untuk menjenguk keadaan Mo Lan Hwa.

Ketika masuk ke kamar, tampak Yok Lan menyambut dengan wajah berseri, ia duduk di tepi ranjang menunggu Lan Hwa ia hendak bangun untuk menyambut tetapi Li Kun mencegahnya.

"Adik Hwa, lukamu masih belum sembuh, jangan paksakan diri bangun" kata Li Kun.

Memperhatikan mata Li Kun membenjul bekas menangis, Lan Hwa bertanya: "Taci Kun, engkau habis menangis ?"

Li Kun tersipu-sipu merah, sesaat ia tak dapat menjawab. "Apakah luka Tek Cun koko makin parah?" tanya Lan

Hwa cemas.

"Mungkin liok-ko harus beristirahat beberapa hari lagi baru sembuh" akhirnya Li Kun memberi jawaban sekenanya.

Yok Lan mengatakan ia ingin menjenguk Tek Cun, Gin Liong mencegah mengatakan kalau Tek Cun sedang tidur.

Saat itu bujang muncul dengan membawa dua mangkuk kuah Jin-som-lian-cu: "Nyonya besar mengutus hamba mengirim kuah ini untuk Liok ya dan nona Mo."

"Taci Kun, mari kita antarkan kepada liok ko", kata Yok Lan, Kedua nona itupun segera keluar.

Kini tinggal Gin Liong berdua dengan Lan Hwa, Melihat luka nona itu masih payah, Gin Liong segera menghampiri, mengangkat tubuh nona itu dan memberinya bantal yang tinggi. Kemudian ia mengambil mangkok jin-som dan meminumkan ke mulut Lan Hwa.

Gemetar tubuh Lan Hwa, gemetar pula hatinya karena duduk merapat dengan Gin Liong, pemuda yang mencuri hatinya. Tepat pada saat itu muncullah Yok Lan, Lan Hwa dan Gin Liong tertegun. Tetapi Yok Lan seorang dara yang polos, setitikpun ia tak cemburu atau marah bahkan segera menghampiri dan membujuk: "Taci Hwa, kuah jin-som itu harus dihabiskan agar taci lekas sembuh."

Terharu hati Lan Hwa mendengar kata2 dara itu, ia segera meneguknya habis. Dalam pada itu diam2 ia bersumpah, rela mengorbankan diri daripada menghancurkan hati seorang dara berhati emas seperti Yok Lan, Lan Hwa menangis dalam hati.

Setelah membaringkan Lan Hwa ditempat semula lagi, Yok Lan segera mengikuti Gin Liong keluar untuk makan pagi. Tak lama Li Kunpun pun datang, Tiba2 suami isteri Suma Tiong bergegas masuk, wajahnya mereka tampak tegang.

Begitu duduk, Suma Tiong tak menanyakan  keadaan Tek Cun maupun Lan Hwa, terus langsung berkata kepada Gin Liong dengan wajah serius:

"Dari laporan bujang yang kembali dari kota mengatakan bahwa dalam kota Hok-san-shia telah gempar tersiar berita bahwa Siau siauhiap telah mendapat kaca wasiat dari Bu- lim Seng-ceng. Benarkah itu ?"

Mendengar itu tergetarlah hati Gin Liong, ia menghela napas: "Apakah sungguh tersiar berita begitu ?"

Li Kun kerutkan dahi dan ikut bicara: "Tentulah perbuatan Ce-tang Sam-sat yang tertua, lari ke Hok-san-shia lalu menyiarkan berita bohong itu untuk membalas dendam."

"Atau memang kesalahan Liong koko sendiri. Orang meminta kaca wasiat  kepadanya, dia mengatakan kaca wasiat itu memang ada padanya." Yok Lan menyeletuk.

"Lebih baik peristiwa ini segera diberantas", kata Lok Siu Ing isteri Suma Tiong, "jika tidak tentu akan menimbulkan peristiwa yang lebih berbahaya, Tokoh2 silat yang tamak tentu berbondong-bondong mendesak Siau siauhiap."

Suma Tiong setuju pendapat isterinya.

"Harap Siau siauhiap jangan meremehkan soal ini, Kemungkinan besar hal itu akan mendatang bahaya pada siauhiap."

"Ah, aku tak pernah menduga sampai begitu jauh" kata Gin Liong,

Li Kun dan Yok Lan menanyakan pendapat kedua suami isteri itu bagaimana sebaiknya langkah yang harus diambil.

"Sebaiknya mengirim orang untuk memberantas desas- desus itu dan membuka kedok muslihat Ce-tang Sam-sat" kata Suma Tiong.

Li Kun setuju dan meminta kepada Suma Tiong untuk mengatur orang, Gin Liong gelisah dan hendak mencegah, Rupanya Yok Lan tahu isi hati sukonya maka cepat ia mendahului.

"Jika demikian kita harus menunggu sampai beberapa hari lagi, Lalu kapankah kita mulai mengejar jejak Liong-li locianpwe ?" serunya.

"Ya, kita hanya membikin repot Suma tayhiap berdua saja." kata Gin Liong. Tetapi Suma Tiong mengatakan bahwa hal itu memang sudah menjadi kewajiban dalam persahabatan, iapun mengajak isterinya keluar.

Setelah kedua suami isteri itu pergi, Li Kun setengah menyesali tindakan Gin Liong yang telah memberi ampun kepada Ce-tang Sam-sat.

"Ya, memang Liong suko salah," Yok Lan  ikut menyesal.

"Sekarang bukan soal desas desus itu yang harus kita layani tetapi bagaimana dan bilakah kita  segera melanjutkan perjalanan menyusui Liong-li locianpwe."

Mendengar itu Yuk Lan segera mengajak Li Kun untuk menjenguk keadaan Tek Cun.

"Liong koko," kata Yok Lan, "menilik luka liok-ko dan taci Hwa, Mungkin dalam empat lima hari kemudian baru sembuh. Aku bersama taci Kun akan menjaga mereka disini dan engkau seorang diri boleh segera berangkat..."

"Akau kupertimbangkan," cepat Gin Liong menukas.

Setelah kedua gadis itu pergi, Gin Liong merenungkan langkah untuk mengejar jejak Ban-liong Liong li dengan cara bagaimana ia dapat menghindarkan diri dari libatan tokoh-2 silat yang berhati temaha hendak merebut kaca wasiat itu.

Tiba2 ia teringat akan orang tua pemilik kaca wasiat dan kaca wasiat itu yang pada permukaannya tertera tulisan tentang ilmu silat yang sakti.

Serentak timbullah keinginannya untuk meneliti kaca wasiat itu. Segera ia masuk kedalam kamar dan mengeluarkan kaca itu. seketika terang benderanglah kamar karena cahaya kaca wasiat. Cepat2 Gin Liong menutup dengan baju luarnya, ia memasang telinga, suasana diluar sunyi senyap.

Setelah itu baru ia mulai memeriksa. Didapatinya dibalik kaca itu terdapat beberapa huruf kecil2. Entah  diukir dengan alat apa. Setelah diteliti ternyata huruf2 itu merupakan nama pemiliknya.

Pada baris kesatu berbunyi: Thian It lo-jin pada waktu malam hari pertengahan musim rontok, menyerahkan kaca wasiat ini kepada Gin-si- khek.

Melihat itu, barulah Gin Liong tahu bahwa pemilik kaca wasiat itu bukan Bu-lim Seng-ceng tetapi Thian It lojin.

Baris kedua berbunyi: Gin-si-khek pada senja musim semi, menyerahkan kepada Ik-wan-tay-hiap Lu Gik Tiong.

Gin Liong terus membaca sampai pada baris kelima. Disitu tertulis: Tio Su Le pada suatu hari dingin, menyerahkan kaca wasiat kepada Langlang-buana Gui Hin Kiong.

Kemudian baris keenam berbunyi Gui Hin Kiong pada hari yang cerah, menyerahkan kepada Siau Gin Liong.

Seketika itu sadarlah Gin Liong bahwa yang disebut Bu - lim Seng - ceng atau Paderi - sakti dalam dunia persilatan itu, bukan lain adalah Thian It lojin. Sedang orang tua kurus yang menyerahkan kaca wasiat kepadanya itu bernama Langlang-buana Gui Hin-Kiong. Gui Hin Kiong merupakan orang keenam yang menerima penyerahan kaca wasiat itu.

Tetapi sepanjang ingatannya, dalam dunia persilatan ia tak pernah mendengar tentang nama tokoh Langlang-buana Gui Hin Kiong. ia menarik kesimpulan bahwa Gui Hin Kiong tentu seorang sakti yang tak mau melibatkan diri dalam pergolakan dunia persilatan. Selanjutnya menurut catatan itu, sudah lima belas tahun lamanya kaca itu berada di tangan orang tua kurus Gui Hin Kiong. Selama itu, mungkin dia sudah mempelajari ilmu sakti yang tertera pada kaca wasiat itu.

Dari Thian It lojin hingga temurun pada Gui Hin Kiong, diantaranya empat orang pewaris tak seorangpun yang mempunyai nama dalam dunia persilatan. Apakah mereka tak berhasil mempelajari ilmu sakti pada kaca wasiat itu ? Atau mungkinkah karena mereka sudah menemukan penerangan hatin, mereka tak mau terjun dalam dunia persilatan ?

Akhirnya Gin Liong menarik kesimpulan, ia akan mencontoh jejak keempat cianpwe itu, takkan menonjolkan ilmu kepandaian yang diperoleh dari kaca wasiat itu kepada siapapun juga.

Segera ia meneliti lebih cermat dan akhirnya menemukan, diantara sinar pelangi yang terpancar  dari kaca itu, samar2 menyembul sebuah huruf berbunyi "Kitab", Tetapi pada lain kilat, huruf itupun tak tampak lagi.

Gin Liong mencoba untuk menggoyangkan kaca pelahan-lahan. Dan benar juga, huruf merah  Kitab itu timbul lagi. Pelahan-lahan ia mengisar baju luar yang dibuat menutup dan tampaklah tujuan buah huruf yang berbunyi: Liong Hou liong Kau Kun Ciang Bu. Atau, kitab ilmu pukulan Naga, harimau, burung hong, ular.

Tergerak hati Gin Liong, Girangnya bukan kepalang sehingga tangannya gemetar, Dibawah huruf Kun-hu atau Kitab ilmu pukulan itu, tampak pula huruf2 Hang liong atau Ilmu-menaklukkan-naga, Hok-hou atau Harimau Mendekam, Lin-hong atau Menangkap-cenderawasih, Pok- kau atau menjerat ular, empat macam pelajaran ilmu pukulan.

Setelah membaca dengan teliti, ternyata dalam tempat macam pelajaran ilmu pukulan itu mengandung ilmu pukulan, ilmu tebasan dan ilmu menangkap atau menyambar

Ilmu pukulan, cepat dan dahsyat ilmu tebasan, tangkas dan ganas, ilmu menyambar dan menangkap. luar biasa hebatnya. Apabila digunakan keempat macam ilmu itu merupakan gabungan tipu silat lihai penuh dengan perobahan.

Gin Liong memiliki otak yang cerdas dan daya ingat yang kuat. Cepat sekali ia dapat mengingat semua pelajaran2 itu dan setelah merenungkan ia segera tahu daya- gunanya.

Pada saat ia hendak melanjutkan membaca di halaman terdengar langkah kaki orang. Buru2 ia menyimpan kaca itu ke dalam baju lagi Kemudian ia keluar.

Saat itu hampir tengah hari. Suma Tiong dan isterinya berjalan menghampiri, Gin Liong segera menyambut. Demikian pula Yok Lan dan Li Kunpun keluar dari kamar ikut menyongsong.

Suma Tiong suami isteri melaporkan bahwa dia sudah mengirim dua puluh orang menuju kekota. Gin Liong menghaturkan terima kasih atas bantuan tuan rumah.

Tak lama bujangpun segera menyiapkan hidangan siang. Waktu makan. Li Kun mengatakan kepada tuan rumah bahwa karena mempunyai urusan penting maka Gin Liong akan melanjutkan perjalanan lebih dulu, sebenarnya dalam suasana seperti saat itu, memang tak leluasa kalau Gin Liong menempuh perjalanan seorang diri. Tetapi dikarenakan harus merawat Tek Cun dan Lan  Hwa terpaksa Yok Lan dan Li Kun harus tinggal.

Mendengar itu Suma Tiong menyatakan kesediannya untuk merawat kedua orang yang sakit itu dan minta kedua nona itu menemani Gin Liong.

Karena Li Kun setuju terpaksa Gin Liong pun menyetujui juga.

Waktu Tek Cun dan Lan Hwa diberitahu tentang persetujuan itu, keduanyapun setuju. Demikian setelah berkemas, Gin Liong dan kedua nona segera berangkat siang itu juga, Gin Liong naik kuda hitam kaki putih, Yok Lan naik kuda bulu merah milik Tek Cun dan Li Kun naik kuda putih.

Pada saat Suma Tiong dan isteri mengantar ketiga anak muda itu sampai keluar pintu, tiba2 seorang lelaki bergegas- gegas masuk ke dalam desa.

"Apa yang terjadi di luar desa ?" seru Suma Tiong kepada orang itu.

"Toaya, celaka..." seru orang itu, "dari  Hok-san-shia telah berbondong-bondong sejumlah besar penunggang kuda menuju ke desa ini."

Mendengar itu Gin Liong seperti merasakan suatu ancaman bahaya, serunya : "Mereka tentu akan cari perkara disini."

"Sejak diam disini, baru pertama kali ini aku mengalami peraturan desa ini dilanggar orang" kata Suma Tiong.

"Tak peduli siapapun yang datang, kita harus menyongsongnya," kata Lok Siu Ing.

Kelima orang itu segera bergegas menuju ke mulut desa, sepuluh penunggang kuda tampak sedang mencongklangkan kudanya menuju ke desa itu. Orang2 itu mengenakan pakaian ringkas sebagaimana dikenakan oleh kaum persilatan dikala sedang menjalankan tugas, Saat itu mereka sudah berada pada jarak setengah li dari desa.

"Menilik sikapnya, mereka memang hendak melakukan sesuatu," kata Suma Tiong.

"Jika tanpa alasan, jangan beri ampun kepada mereka," seru Lok Siu Ing.

Pada saat rombongan pendatang itu tiba pada jarak tiga puluhan tombak dari tempat Gin Liong, tiba2 kuda hitam mulus meringkik keras sehingga rombongan kuda yang datang itu terkejut dan panik, Ada yang Mengangkat kaki depan, ada pula yang  merontak kaget, Penunggangnya berusaha keras untuk mengatasi kudanya dan melanjutkan lari ke muka.

Penunggang yang paling depan, seorang tua bertubuh kurus, muka hitam, brewok dan rambut memanjang sampai ke bahu. Mengenakan pakaian warna hitam. Umurnya diantara 60-an tahun. Di belakang punggungnya menyanggul sebatang tongkat berkepala ular, batangnya penuh berhias gelang besar kecil, sepasang matanya yang bundar memancarkan sinar berkilat-kilat dingin.

Disebelah kanan dan kirinya, seorang lelaki berpakaian kuning dan yang satu berpakaian kelabu. Keduanya berumur lebih dari 40 tahun.

Lelaki yang berpakaian kuning itu, mukanya penuh rambut, alis tebal mata bundar dan perawakan gagah perkasa, punggungnya menyelip Kim-kong senjata gada berbentuk orang-orangan. Gagah menyeramkan sekali. Sementara lelaki yang berpakaian kelabu, mukanya kuning pucat, jenggot tipis, mata sipit tak berbulu mata. Tubuhnya kurus, menyanggul sebatang sayap.

Sedang ketujuh orang yang mengikuti dibelakang, terdiri dari lelaki2 yang bertubuh gagah. Masing2 membekal golok.

"Hm. kiranya Tiga-jahat dari Losan." geram Loh Siu Ing.

Suma Tiongpun cepat tertawa dan berserunya ringan: "Kukira siapa, ternyata tiga pendekar dari Losan yang berkunjung. Maaf, karena terlambat menyambut."

Sejenak berhenti ia melanjutkan pula dengan nada nyaring: "Entah apakah maksud kedatangan saudara bertiga ke desaku ini ?"

Rombongan penunggang kuda itu tiba pada jarak lima tombak, Orang tua baju hitam mengangkat tangan keatas dan kesepuluh ekor kuda itupun serentak berhenti. Kemudian orang tua itu tertawa mengekeh.

"Kukira siapa yang tinggal didesa ini, kiranya Suma tayhiap, Aku Tongkat - ular - bergelang In Po Tin bersama kedua saudaraku Gada-pencabut nyawa dan Golok- pelenyap-jiwa, memberanikan diri datang kemari, mohon saudara suka memaafkan kelancangan kami,"

Bahkan orang tua yang merupakan tokoh pertama dari tiga Jahat gunung Losan itu segera memberi hormat. Kedua saudaranya hanya terlongong2 memandang Gin Liong.

Suma Tiong tertawa nyaring.

"Harap saudara suka menjelaskan apa maksud kunjungan saudara bersama rombongan kemari. Apabila dapat kami lakukan tentu dengan senang hati kami akan menghaturkan bantuan." Tongkat-ular In Po Tin tertawa juga.

"Kedatangan kami ini tak lain hanya perlu sekedar hendak minta keterangan kepada Siau siauhiap adakah kaca wasiat itu benar berada padanya ?" kata In Po Tin sambil menunjuk Gin Liong.

Melihat sikap ketiga orang yang begitu congkak, si jelita Li Kun sudah muak. Dan sesaat mendengar maksud kedatangan mereka, serentak marahlah ia, serunya: "Sudah makan nasi sampai berpuluh tahun mengapa dalam soal sekecil itu saja kalian tak dapat menilai dengan tepat. Huh..."

"Budak hina, siapa suruh engkau campur mulut !" bentak si baju kuning Gada-pelenyap nyawa.

Mendengar itu Lok Siu Ing tak dapat menahan kemarahannya lagi. Dengan melengking ia melompat maju ke muka dan menuding Gada-pelenyap nyawa: "Kalau memang berani, hayo, turunlah engkau. Hendak kuuji sampai dimana kepandaianmu sehingga gegabah berani menghina orang!"

Nyonya itu menutup kata2nya dengan mencabut pedang.

Dengan tertawa dingin Gada-pelenyap nyawa pun ayunkan tubuh loncat turun dan siapkan senjatanya: "Engkau sendiri yang cari mati, jangan salahkan aku berhati kejam !"

Sambil tertawa mengekeh ia pelahan-lahan maju menghampiri.

Gin Liong kerutkan alis dan tertawa dingin ia berdiri di samping Suma Tiong dengan tenang, Tak habis herannya mengapa Lo-san Sam-ok atau Tiga jahat dari gunung Losan tahu bahwa ia telah mendapat kaca wasiat itu. "Berhenti !" cepat ia  berteriak ketika Gada-pelenyap nyawa hendak bertempur dengan Lok Siu Ing. Walaupun pelahan teriakan itu dihamburkan tetapi telinga sekalian orang yang berada disitu serasa mengiang-ngiang. Toa-ok atau si jahat Kesatu In Po Tin diam2 terkejut juga. Dan Gada-pelenyap nyawapun hentikan langkah.

"Kalian kesepuluh orang ini sudah melanggar peraturan memasuki desa ini. Bukannya kalian bersikap sopan kebalikannya malah mengumbar kecongkakan, jelas dapat diketahui bagaimanapun tingkah laku kalian selama ini. Dan jelas pula bahwa kalian hendak merebut kaca wasiat itu."

Gin Liong berhenti sejenak menatap ketiga tokoh jahat dari gunung Losan itu. serunya pula: "Andaikata kaca wasiat itu berada padaku, apa dasarnya kalian hendak merebut benda itu ?"

Gada-pelenyap nyawa jago kedua dari Losan deliki mata dan membentak: "Budak yang sombong engkau berani cari perkara dengan kami bertiga?"

Pah-ong-kan-san atau raja Pah-ong-mengejar gunung, adalah jurus yang digunakannya untuk menyerang Gin Liong, Tetapi Lok Siu Ing yang sudah sejak tadi siap, segera menangkis dengan jurus Mengepak-rumput-memburu-ular, ia menyabetkan pedang memapas lambung orang.

Gada-pelenyap nyawa marah. ia hentikan gerakannya untuk menangkis pedang Lok Siu-ing, tetapi nyonya itupun merobah gerak pedangnya untuk menusuk alis  lawan. Gerak perobahan itu dilakukan teramat cepat sekali.

Jago kedua dari Losan itu memang hebat juga. Cepat ia songsongkan senjata tegak ke atas untuk menahan pedang lawan. Tetapi di luar dugaan Lok Siu Ing dengan gerak secepat kilat, telah memapaskan pedang ke celana lawan. Cret, celana jago kedua gunung Losan telah terpapas kutung.

Gada-pelenyap nyawa menjerit kaget dan menyurut mundur beberapa langkah. Melihat kebawah mukanya berubah dan keringat dingin mengucur, Kedua kaki celananya telah robek sehingga lututnyapun kelihatan.

Lok Siu Ing tertawa dingin. "Hm, begitu tak berguna, masih berani cari perkara, Sungguh tak tahu diri."

Toa-ok In Po Tin menggeremutukkan geraham, wajah membesi dan tubuh gemetar. Tokoh ketiga Toat-beng to atau golok Pencabut nyawa loncat dari kuda dan terus memutar golok menyerang Lok Siu Ing.

Melihat itu Tio Li Kunpun loncat turun dari kuda, Tring, iapun sudah mencabut pedang yang memancarkan sinar berkilau-kilauan. Dan sekali bergerak, pedang itupun segera meluncur ke muka untuk menusuk gulungan sinar golok lawan.

"Lo-sam . . " melihat Pedang-Pencabut nyawa hendak mengadu kekerasan dengan pedang si jelita, buru2 Toa-ok berseru mencegah.

Mendengar itu Pedang-Pencabut nyawa terkejut, cepat mengendapkan pedang kebawah cepat pula loncat ke samping.

Li Kun mendengus dingin. Sekali ayun tubuh ia loncat memburu dan taburkan pedangnya, Terdengar jeritan kejut dan darah menyembur keluar. Tahu2 daun telinga kiri si Pedang-Pencabut nyawa sudah terpapas hilang.

Melihat itu Gada-pelenyap nyawa menggembor keras dan terus menyerbu Li Kun. "Tadi sudah diberi ampun mengapa sekarang masih cari mati lagi?" bentak Lok Siu Ing seraya tebarkan pedang dan tahu2 ujungnya sudah melekat kedada orang itu.

"Ing-moay, jangan membunuhnya!" buru2 Suma Tiong melarang isterinya.

Lok Siu Ingpun menurut, Tetapi dikala ia menarik pedangnya, sekonyong konyong Gada-pelenyap nyawa menggembor keras dan dengan jurus Tiang-menyanggah- langit, ia menghantamkan gadanya pada pedang Lok Siu Ing.

Nyonya itu menjerit kaget karena tangannya terasa terasa linu lunglai sehingga pedangpun terlempar ke udara. Dan Gada-pelenyap nyawa menyusul pula dengan menghantam ubun2 kepala nyonya itu.

Suma Tiong dan Gin Liong serempak loncat menghampiri, Li Kun dan Yuk Lanpun menjerit kaget.

"Lo-ji, jangan !" teriak Toa-ok In  Po  Tih mencegah saudaranya, ia tahu Suma Tiong itu tak boleh dibuat main2.

Tetapi sebelum jago kedua melakukan perintah toa-ok, ia menjerit kaget karena siku lengan kanannya dicengkeram Gin Liong dan sekali ayun tangan, Gin Liong menampar muka jago kedua dari Losan itu.

Tetapi karena mendengar seruan Toa-ok tadi, Gin Liong cepat merobah arah tamparannya. Tidak pada muka tetapi gada orang.

"Bum . . . ." tangan jago kedua dari Losan itu linu kesemutan dan gadanyapun terlempar keudara, "Enyahlah

!" seru Gin Liong seraya mendorong.

Tubuh jago kedua dari Losan yang tinggi besar seketika terhuyung-huyung beberapa langkah. Melihat kesaktian si anak muda, Toa-ok Tin Po  Tin terlongong pucat sehingga ia lupa untuk menyanggupi tubuh saudaranya yang kedua. Bluk, ji-ok Pedang-Pencabut nyawa terjatuh duduk ditanah.

Toa ok terkejut dan gelagapan, Cepat ia loncat menolongnya. Saat itu jago kedua si Gada-pelenyap nyawa masih berputar-putar untuk mencari daun telinganya yang terpotong, Sedang Yok Lan dan Li Kun  segera menghampiri Lok Siu Ing yang tengah diperiksa tangannya oleh Suma Tiong. Dibelakang mereka telah dijaga oleh anak buah yang bersenjata golok.

Gin Liong sudah loncat kesamping untuk menjemput pedang Lok Siu Ing yang jatuh, Tiba2 kuda bulu hitam meringkik keras lagi. Ketika berpaling, Gin Liong melihat empat penunggang kuda tengah mencongklang pesat datang menghampiri jauh dibelakang keempat penunggang kuda itu diantara kepulan debu yang gelap, samar2 masih tampak lagi beberapa penunggang kuda.

"Aneh," gumam Yok Lan, "mengapa mereka tahu Liong koko berada disini ?"

Setelah menolong saudaranya yang kedua, Toa-ok segera menyahut: "Kalau tidak anak buahmu yang menyiarkan berita itu di rumah makan, mana mereka tahu tentang soal dirimu berada disini."

Seketika Suma Tiong tersadar persoalan telah menjadi salah urus, sehingga malah tak keruan "Hm, mengapa kalian tak mau berpikir, Apakah sedemikian mudah kaca wasiat itu berada di tangan kita ?" Yok Lan melengking.

Dalam pada itu keempat penunggang kuda tadipun sudah kira2 setengah li jauhnya, Tiga penunggang kuda yang berjajar di sebelah kiri terdiri dari tiga imam pertengahan umur, mengenakan jubah putih dan masing2 mencekal hudtim besi bertangkai baja. Yang seorang bermata segitiga, mengenakan ikat pinggang sutera wungu, Yang seorang berhidung bengkok dan yang seorang berwajah persegi, membawa sebuah buli2 kecil. Mereka mengulum senyum sinis, sikapnya congkak sekali.

Penunggang kuda sebelah kanan bukan lain adalah jago kesatu dari Lo-san Sam-ok, si Tongkat ular yang telah diberi ampun oleh Gin Liong. Sudah tentu Gin Liong marah sekali.

Li Kun tertawa dingin, Pedang yang baru saja hendak disarungkan cepat ditarik keluar lagi.

"Kali ini pasti takkan kuampuni jiwanya" seru geram.

Keempat penunggang kuda itu tiba dan dengan tertawa gelak2 mereka loncat turun dari kudanya.

"Ya, budak itu ! Kaca wasiat berada di tangannya !" seru Toa-sat seraya menunjuk Gin Li-ong.

"Anjing yang suka menggonggong kabar palsu, serahkan jiwamu" teriak Li Kun seraya taburkan pedang menusuk dada Toa-sat.

Toa-sat tertawa hina terus loncat ke belakang ketiga imam itu. Melihat si jelita Li Kun yang sedemikian cantiknya, ketiga imam itu tertawa mengekeh dan terus merintangi.

Li Kun makin marah, Pedang dihamburkan dalam seribu sinar dan berhamburan menusuk ketiga imam itu.

Ketiga imam terkejut bukan kepalang, mereka menjerit kaget dan tak berani memandang rendah kepada nona jelita itu. Kebut besi segera ia gerakkan untuk menangkis.

Karena serangannya tak berhasil, Li Kun makin meluap kemarahannya. Dengan melengking ia gentakkan pedang, Seketika tiga kuntum sinar pedang menusuk kearah ketiga imam itu.

Melihat ketiga imam itu kewalahan menghadapi seorang nona saja, gemetarlah hati Toa-sat. Ketika memandang ke arah lain, seketika pucatlah wajahnya, Tampak Gin Liong tengah maju menghampirinya dengan sikap yang menyeramkan.

"Budak she Siau" serunya untuk menutupi kegelisahan hatinya, "lekas serahkan kaca wasiat kepada ketiga toya itu..."

Mendengar kata Toa-sat, seketika bersinarlah  mata ketiga imam itu. Mereka serempak melirik kearah Toa sat. Tepat pada saat itu. Gin Liongpun secepat kilat loncat menerkam bahu Toa-sat.

Suma Tiong dan isterinya serta Yok Lan, terkejut sekali melihat Gin Liong menggunakan cara bertempur yang paling kasar semacam itu.

Tetapi tiba2 pula ketiga imam itupun tinggalkan Li Kun dan terus menyerbu Gin Liong, Anak muda itu membentak keras, kedua tangan yang tengah dijulurkan kemuka untuk mencengkeram Toa-sat sekonyong-konyong dirobah dalam gerakan menampar. Plak, plak, plak . . . terdengar ketiga imam itu mengerang tertahan dan terhuyung-huyung kebelakang.

Apa yang terjadi itu benar2 mengejutkan sekalian orang yang berada disitu, Gin Liong telah memainkan salah sebuah jurus dari ilmu sakti yang tertera pada kaca wasiat, jurus itu disebut Jip-hay-pok-kau atau Menyelam-laut- menjaring-ular.

Cepat sekali tangan Gin Liong mengenai tubuh ketiga imam itu. Menebas, menyikut, menampar dan menutuk. Habis menyebutkan ketiga macam, secepat kilat Gin Liongpun mencengkeram siku lengan Toa sat dan sebelah tangannya menampar muka Toa-sat. Toa-sat menjerit ngeri. Tergetar hati Gin Liong, ia teringat sesuatu dan hentikan tamparannya.

Tiba2 dari belakang Li Kun menusuk, Gin Liong hendak mencegah tetapi tak keburu, Cepat ia membentak dan menyiak sehingga Toa sat terhuyung-huyung ke samping, Dengan begitu ia lolos dari tusukan pedang Li Kun. Tetapi karena menahan kesakitan keringat dingin bercucuran membasahi tubuh.

Li Kun tertegun, ia memandang Gin Liong dengan pandang penuh tanya mengapa Gin Liong masih melindungi jiwa Toa-sat.

"Taci Kun, berilah dia ampun sekali lagi, agar dia mempunyai kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya." seru Gin Liong.

Hampir Li Kun tak percaya apa yang didengarnya, mengapa aneh sekali sikap Gin Liong itu.

Bluk, karena tak dapat mempertahankan keseimbangan tubuh, Toa sat jatuh terduduk di tanah. Sambil mendekap siku lengan kirinya, mulutnya menyeringai kesakitan, napas terengah-engah dan wajahnya tak menyeramkan lagi.

Empat penjuru sunyi senyap, Tetapi berpuluh penunggang kuda yang sudah mencapai satu li jauhnya dari desa itu masih tetap mencongklang pesat menuju ke desa. Ternyata pendatang itu rombongan wanita yang berpakaian indah dan membekal senjata pedang dan golok.

Gin Liong mendengus lalu berpaling kepada Toa-sat, serunya: "Poan liong kun. kali ini kuampuni lagi jiwamu. Kuharap engkau dapat menyadari kesesatanmu, jangan melakukan perbuatan2 jahat dan berbuatlah  amal kebaikan."

Kemudian ia berpaling kepada ketiga imam, Muka mereka bengap biru dan sikap merekapun tak congkak lagi.

"Dan kalian bertiga" serunya, "sebagai seorang agama kalian harus membebaskan diri dari pergolakan urusan dunia dan harus dapat melepaskan nafsu keinginan yang tamak, Lekas kalian kembali ke biara dan jangan turun ke dunia persilatan lagi."

Ketiga imam itu tak mau bicara apa2. Rupanya mereka masih penasaran.

Hanya dalam semalam mengapa perangai Gin Liong tiba2 berobah begitu sabar, Pikir Li Kun. Juga Yok Lan heran mengapa dalam semalam saja, kepandaian Gin Liong bertambah maju sedemikian hebatnya.

Memang kedua suami isteri Suma Tiong tahu bahwa dari sinar matanya yang berkilat-kilat tajam, tentulah Gin Liong itu seorang pemuda yang berilmu tinggi. Tetapi setitikpun mereka tak mengira bahwa Gin Liong akan sedemikian saktinya.

-ooo0dw0ooo-
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang Tanduk Naga Bab 06 Tiga durjana"

Post a Comment

close