Pedang Tanduk Naga Bab 04 Empat tokoh aneh

Mode Malam
Bab 04 Empat tokoh aneh

Gin Liong terkejut sekali menyaksikan kecepatan kedua kuda hitam itu. Tetapi ia marah karena melihat tingkah kedua penunggang kuda yang tetap melarikan kudanya sekencang-kencangnya walaupun tahu di tengah jalan terdapat seorang nona.

"Taci, menyingkirlah ke tepi jalan. kedua kuda itu pesat sekali larinya !" cepat ia berseru memberi peringatan kepada Mo Lan Hwa.

Tetapi nona itu tak mau mengacuhkan. Dengan mendengus ia berseru:

"Hm, kecuali engkau loncat sejauh lima tombak, baru engkau terbebas dari hamburan salju di jalan !"

Nona itu tetap berjalan santai di tengah jalan.

Gin Liong kerutkan dahi. Berpaling ke belakang, dilihatnya kedua ekor kuda hitam itu makin dekat.

Bulu surai kuda meregang tegak, mulut meringkik- ringkik, kakinya seperti terbang, menerjang maju dengan dahsyat sehingga saat itu jaraknya hanya tinggal dua puluhan tombak.

Gin Liong marah sekali. Pada saat ia hendak berseru mencegah, sebuah gelombang asap tebal telah melanda mukanya, sudah tentu pemuda ini menyedot juga  dan batuk2. Ketika berpaling ternyata asap itu berasal dari pipa Hok To Beng.

Tampaknya orang tua itu tenang2 saja seperti tak terjadi suatu apa. Seperti tak tahu bahwa dia akan diterjang dari belakang oleh dua ekor kuda tegar.

Hok To Beng memandang Gin Liong dengan tertawa hambar dan serunya santai:

"Kedua orang itu kebanyakan tentu berasal dari padang Taliwang di Mongolia !"

Baru Hok To Beng berkata sampai disitu, derap lari kuda makin jelas. Sebelum kuda melanda datang, anginnya sudah menderu.

Gin Liong makin terkejut. Berpaling ke belakang, dilihatnya kedua ekor kuda hitam yang tinggi perkasa sudah tiba di belakang Mo Lan Hwa.

Nona itu kerutkan alis, Tiba2 dengan diiringi teriakan melengking, ia berputar tubuh seraya dorongkan kedua tangannya, Seketika itu meluncurlah dua gelombang angin dahsyat yang membawa debu dan salju, menerjang kedua ekor kuda tegar itu.

Mo Lan Hwa telah menumpahkan kemarahannya dalam pukulannya itu. Seketika terkejutlah kedua  penunggang kuda, Mereka menggembor keras dan meloncatkan kudanya diatas kepala Mo Lan Hwa dan meluncur sampai tiga tombak jauhnya.

Gin Liong hendak memburu ke tempat Mo Lan Hwa. Tetapi nona itu sudah melambung ke udara, bergeliatan dan meluncur turun kearah kedua penunggang kuda. Dan serempak pada saat itu. Hok To Beng pun ayunkan tubuh melayang ke muka kuda.

"Kembali !" bentaknya seraya taburkan pipanya ke udara, menyongsong kedua kuda, Taburan pipa itu menghamburkan asap tebal sehingga kuda meringkik kaget dan berontak. Sebelum kedua penunggang tahu apa yang terjadi, tiba2 sesosok bayangan melayang, membentak dan menabur asap. Dan tahu2 kedua kuda itu berdiri tegak di udara.

Menjeritlah kedua penunggang kuda karena kaget dan buru2 mereka berusaha untuk menguasai tunggangannya. Tetapi kuda itu sudah kalap. Setelah berputar-putar deras lalu melayang jatuh ke tanah, membanting kedua penunggangnya.

"Bum, bum "

Kedua  penunggangnya kuda rontok giginya, mulut pecah, kepala pusing tujuh keliling.

Saat itu Mo Lan Hwapun meluncur dari udara, maju dua langkah, membentak dan ayunkan tangan kanannya.

Melihat itu, salah seorang penunggang kuda cepat meneriaki kawannya: "Ciliwatu, hati - hati, awaslah !"

Dia sendiri terus melenting bangun dan menghantam.

Orang yang disebut Ciliwatu itu rupanya sudah tahu kalau dirinya diserang si nona. Pada saat kawannya bergerak, dengan jurus Ikan Leihi melenting, diapun melambung ke udara sampai dua tombak, lalu dengan gerak bergeliatan, dia melayang turun.

Bum . . . . Ketika terjadi benturan antara pukulan Mo Lan Hwa dengan penunggang kuda yang seorang, keduanya terhuyung-huyung mundur sampai tiga langkah.

Ciliwatu terkejut. Cepat ia bergeliat dan meluncur ke tanah, Hampir tiada suaranya ketika kakinya menginjak tanah.

Gin Liong cepat dapat mengetahui bahwa kedua penunggang kuda dari Mongol itu, walaupun  bertubuh besar tetapi memiliki gerak yang lincah dan gesit sekali,

"Alihapa," cepat Ciliwatu berkata kepada kawannya, "anak perempuan baju merah itu jauh  lebih cantik dari anak2 perempuan di sarang kita. Hayo kita bawa pulang untuk kita berdua !"

Habis berkata ia terus mengeluarkan sebuah rantai yang ujungnya merupakan semacam gembolan, mirip pukul besi, Besarnya menyamai kepalan tangan, diikat dengan rantai sepanjang hampir satu tombak.

Gembolan besi itu dihias dengan duri2 besi mirip gigi serigala, Ditingkah sinar matahari gembolan itu tampak hitam mengkilap.

Karena terhuyung mundur tiga langkah, merahlah wajah Alihapa. Alisnya mengernyit, mata mendelik dan mulut menyeringai buas, Tangannya yang penuh bulu segera merogoh kedalam pinggang baju dan mengeluarkan sebatang ruyung sembilan ruas, terbuat dan rantai perak.

Segera ia tertawa aneh dan dengan geram berseru:

"Anak perempuan tenagamu hebat juga. Awas jangan sampai tanganmu patah !" ia ayunkan  langkah menghampiri Mo Lan Hwa. Wajah Mo Lan Hwa tampak pucat dan tubuhnya menggigil ketika mendengar dirinya disebut "anak perempuan", hampir dadanya meledak. Dengan cepat ia mencabut pedang terus ditusukkan kearah orang Mongol itu.

"Sring "

Alihapa kebaskan ruyung-sembilan-ruas.  Bagaikan seekor naga bercengkerama di atas laut, ruyung itupun segera bergemerlapan melibat pedang Mo Lan Hwa.

Cepat si nona turunkan pedangnya, berputar tubuh dan melancarkan jurus Cay-hong-canki atau Burung- cenderawasih-merentang-sayap, pedang berobah menjadi segelombang sinar pelangi dan secepat kilat memapas lengan kanan Alihapa.

"Bagus !" seru Alihapa, Ruyung perak segera diganti dalam gerak putaran deras sehingga mengembangkan ratusan sinar ruyung, menyelubungi tubuh Mo Lan Hwa.

Segera tampak suatu pemandangan yang menyilaukan mata, sinar perak bergemerlapan, diiringi sambaran ruyung yang menderu-deru. Sinar pedang selebat hujan mencurah, memancarkan sinar gemilang yang amat kemilau.

Ciliwato dengan siapkan rantai bandulan ditangan, mengikuti pertempuran itu dengan penuh seksama. Setiap saat, ia siap turun tangan membantu kawannya.

Tetapi Gin Liongpun diam2 melewatkan perhatiannya kepada Ciliwato untuk menjaga jangan sampai dia melepaskan senjata gelap kepada Mo Lan Hwa.

Pertempuran makin seru dan dahsyat. Mo Lan Hwa memiliki kelincahan tubuh yang tinggi dan ilmu pedang yang aneh, Alihapa memiliki tenaga yang gagah  perkasa dan ilmu permainan ruyung yang sempurna. Cepat sekali tiga puluh jurus telah berlalu. Keduanya masih tetap berimbang, belum tampak siapa yang lebih unggul.

Tiba2 Gin Liong teringat Kemanakah Hok To Beng ?

Mengapa sejak tadi tak kedengaran suaranya ?

Ketika Gin Liong mengeliarkan pandang, dilihatnya Hok To Beng sedang naik keatas punggung salah seekor kuda hitam, tubuh merebah ke muka. Mulutnya tengah menghembuskan asap dari pipa. Sedang tangan kiri menjamah kepala kuda yang lain, memandang acuh tak acuh kearah gelanggang. Rupanya dia tak begitu memikirkan tentang siaumoay nya yang tengah bertempur seru itu.

Melihat Gin Liong memandangnya Hok To Bengpun mengangguk tertawa lalu menghembuskan lagi segulung asap tebal.

Diam2 Gim Liong mengeluh dalam hati, Pendekar aneh yang sudah tua itu memang aneh tingkah lakunya. Masakan sumoaynya bertempur dia malah enak2 menguasai kedua ekor kuda musuh. Dan memang tak berapa lama kemudian, ia berhasil membuat kedua ekor kuda itu jinak.

Tiba2 terdengar lengking teriakan nyaring disusul dengan bentak kemarahan.

Gin Liong cepat berpaling. Serentak berkobarlah kemarahannya, Dengan menggembor keras, ia segera lepaskan sebuah hantaman

Gelombang angin dahsyat yang menderu-deru segera menghambur kearah Kiliwato yang menyerang gelap pada Mo Lan Hwa dengan rantai gembolannya. Ciliwato berteriak kaget. Cepat ia menarik pulang rantai gembolannya dan terus menggembor keras seraya loncat menghindar sampai dua tombak.

Begitu berdiri tegak, ia segera memutar rantai gembolan, menyerang Gin Liong, Pemuda itu hanya tertawa dingin, Selekas menggeliatkan tangan kanan, ia sudah mencekal pedang Tanduk Naga.

Tepat pada saat itu terdengarlah jeritan yang ngeri melengking di udara, Sebuah benda macam ular perak meluncur ke udara, Ternyata ruyung perak dari Alihapa telah dibabat mencelat ke udara oleh pedang Mo Lan Hwa.

"Tring”

Rantai gembolan yang diluncurkan Ciliwato, pun disabat putus oleh pedang Tanduk Naga, Gembolan melayang ke udara dan meluncur ke-muka Hok Tok Beng.

Tetapi Hok To Beng diam saja. Begitu gembolan hampir mengenai mukanya, barulah ia gerakkan pipanya untuk menyongsong. Tring, gembolan besi itupun meluncur ke belakang kuda. Karena kaget, kedua ekor kuda berpencar melonjak ke samping.

Tiba2 Hok To Beng menggembor keras lalu melambung ke udara dan meluncur turun ke jalan.

Karena tak mengerti apa yang terjadi. Gin Liong berpaling Ah, ternyata kedua orang Mongol tadi telah melarikan diri sekencang kencangnya. Sedang Mo Lan Hwa masih tegak berdiri dengan mengulum tawa, ia memandang kedua orang Mongol itu tetapi tak mau mengejar.

"Hai, budak, apa enak2 saja engkau hendak pergi ?" teriak seseorang. Ternyata yang  berteriak itu Hok To Beng, Sambil meluncur dari udara, pipanya yang masih berapi itu dihujamkan kebelakang tengkuk Ciliwato.

Karena kesakitan terbakar api, Ciliwato  menjerit-jerit dan mempercepat larinya, Demikian Alihapa. Dengan bercucuran keringat dingin ia lari secepat-cepatnya.

Begitu berlari di tanah, Hok To Bengpun tertawa gelak2. Mo Lan Hwa segera menghampiri dan melengking marah:

"Toa-suheng, mengapa engkau gemar membakar tengkuk kepala orang dengan pipamu ? Kalau sampai membakar tengkuk orang apakah tidak berbahaya ?"

Hok To Beng tertawa gelak.

"Ilmu Menyorong-api-kepada-tetamu" ini sudah berpuluh-puluh tahun kugunakan dan belum pernah membakar tengkuk orang!"

Kemudian ia berganti nada serius: "Terhadap manusia yang kasar dan liar semacam mereka, harus digunakan cara untuk mematahkan kesombongannya. Sedikit menyuruh mereka merasa sakit pada kulit rasanya tidak menjadi soal jangan sampai melukai atau membunuh jiwanya. Kau harus memberi kesempatan agar mereka mau sadar."

Sejenak memandang kepada kedua orang Mongol itu, Hok To Beng melanjutkan pula:

"Sudah tentu terhadap manusia yang kejam dan jahat, tak boleh diberi ampun."

Habis berkata pipanya menjulai ke tanah dan serentak terdengarlah rentetan bunyi mendesis. Salju yang menutup tanah pun telah luluh.

Gin Liong dan Mo Lan Hwa tertawa geli, "Setiap kali toa-suheng melancarkan ilmu Menyongsong-api-kepada- tetamu, orang tentu akan lari tunggang langgang," kata Mo Lan Hwa.

Hok To Beng tertawa gelak2. Tiba2 dari jauh terdengar segelombang ringkik kuda yang nyaring dan panjang.

Ah, ternyata kedua ekor kuda hitam itu berada pada jarak seratusan tombak. Kedua binatang itu ternyata tak mau menyusul tuannya yang melarikan diri.

"Ho, kedua manusia kasar itu tak mau lagi dengan kudanya," Hok To Beng tertawa, Memandang kearah kedua orang Mongol yang sudah beberapa li jauhnya itu, dia berkata pula, ah kita terpaksa harus mengembalikan kepada mereka lagi."

Habis berkata dia terus songsongkan pipanya kepada kuda itu seraya bersuit. Entah bagaimana kedua ekor kuda itu meringkik keras dan lari pesat menghampiri. Begitu Hok To Beng mengangkat pipanya keatas, kedua kuda itupun lambatkan larinya, Ketika tiba di tempat Hok To Beng kedua binatang itu berputar dua kali mengitari Hok To Beng lalu berhenti didepannya.

Hok To Beng menyarungkan pipa ke belakang tengkuknya lalu pelahan-lahan mengelus-elus leher  kuda itu. Kedua itu tampak jinak dan menurut sekali.

Gin Liong ingin juga meniru. ia mengajak Mo Lan Hwa untuk mengelus-elus leher kuda yang seekor Tetapi si nona takut.

"Siaumoay, jangan takut, masak jangan memegang pantatnya, kuda itu takkan menyepakmu." seru Hok To Beng. Ia memberikan kuda hitam yang keempat kakinya putih kepada Mo Lan Hwa dan kuda yang hitam mulut kepada Gin Liong, serunya: "Cobalah kalian mengelus-elus, kalau sudah dikembalikan pada yang empunya, kalian tak mempunyai kesempatan lagi."

Kedua anak muda itu memberanikan diri untuk mengelus-elus kuda tegar itu.

"Lo-koko, mereka sudah tak kelihatan bayangannya lagi, Kita harus lekas mengejar supaya jangan kehilangan jejak mereka.

"Jangan kuatir." Hok To Beng tertawa, "tak sampai seperempat jam mereka tentu dapat tersusul."

Kemudian ia menerangkan bahwa kuda hitam berkaki putih itu disebut Oh-hun-kay-swat atau Awan hitam menutup salju, Sedang kuda hitam mulus disebut Oh-yan- ma atau kuda Hangus hitam. Kedua kuda itu merupakan kuda yang jarang terdapat diantara ratusan ribu kuda.

"Larinya cepat dan tenang. Duduk dipunggung mereka dengan membawa cawan berisi air, airnya takkan menumpah." kata Hok To Beng.

"Ah, sayang sebagus ini jatuh ditangan manusia yang tolol," seru Mo Lan Hwa.

"Eh, jangan memandang rendah kepada kedua orang Mongol itu, seru Hok To beng. "menilik mereka tentu tersohor tokoh Lan-cut (kepala penternakan) di daerah padang Taiiwo. Tokoh silat kelas satu dewasa ini, tak mudah untuk mengalahkan mereka berdua."

Saat itu Gin Liong tak mempunyai selera lagi untuk mendengarkan ocehan Hok To Beng. Melihat matahari sudah berada di tengah suatu tanda kalau sudah tengah hari, ia gelisah. "Siau-hengte, apa engkau kuatir tak dapat menyusul kedua orang Mongol itu ?" tegur Hok To Beng.

"Bukan," sahut Gin Liong, "yang kucemaskan kalau Liong-li locianpwe sudah pergi dari kota kecil itu."

"Baik, mari kita berangkat," kata Hok To Beng "kalian boleh masing2 naik kedua ekor kuda itu dan aku akan mengikuti dari belakang."

Gin Liong masih meragu, Tiba2 Mo Lan Hwa sudah loncat ke atas punggung salah seekor kuda dan entah dengan gerak bagaimana, Hok To Beng-pun sudah melambung dan berdiri diatas pantat kuda hitam kaki putih atau kuda Gin-hun-kay-swat.

Terpaksa Gin Liongpun terus menceplak kuda yang seekor. Hok To Beng memutar pipa dan berseru pelahan maka kedua ekor kuda itupun terus lari.

Diatas kuda, Gin Liong masih gelisah, Apakah ia dapat menyusul kedua orang Mongol dan apakah Liong-li locianpwe apakah masih berada dalam kota. Pikirnya, apabila bertemu dengan Ban Hong Liong-li, tentu ia dapat mengetahui siapakah pembunuh suhunya itu, Begitu pula tentang kawanan paderi jahat dan pertempuran dalam gua itu, tentu akan jelas semua."

"A, ti-ti-ti, hu . . ." tiba2 terdengar Hok To Beng berseru keras dan pada lain kejap kuda hitam kaki putih yang  dinaiki Mo Lan Hwa secepat angin telah melampau kuda Gin Liong, Pada hal kuda hitam kaki putih itu pantatnya memuat Hok To Beng yang berdiri jejak.

Gin Liong terkejut Cepat ia menekan kendali kudanya dan kuda hitam mulus itupun segera meluncur pesat melampaui kuda hitam kaki putih. Mo Lan Hwa menjerit-jerit memerintahkan kudanya supaya mengejar kuda hitam mulus, Melihat perlombaan itu, Hok To Bengpun tertawa gembira.

Saat itu disebelah depan terbentang sebuah hutan lebat, Gin Liong seperti terbang rasanya, Ketika berpaling dilihatnya Mo Lan Hwa tertinggal tiga-puluhan tombak dibelakang walaupun mengerti ilmu naik kuda dan sudah beberapa kali naik kuda tetapi belum pernah ia naik kuda yang sepesat angin itu cepatnya.

Setelah melintasi hutan ternyata di jalan sebelah muka, bayangan Alihapa dan Ciliwato tak tampak lagi. Segera ia lambatkan kudanya, tiba2 kuda hitam kaki putih dari Mo Lau Hwa sudah melampauinya. Hok To Beng enjot tubuhnya bergeliatan di udara dan melayang turun diatas pantat kuda Gin liong.

"Siau-hengte, kepraklah kudamu !" seru Hok To Beng. "Mengapa kedua orang itu tak tampak ?" tanya Gin

Liong.

"Nanti kita bicara lagi di kota, Memang gerak-gerik kedua orang itu luar biasa," sahut Hok To Beng.

Begitu tiba di pinggir kota, agar jangan mengejutkan orang, Hok To Bengpun loncat turun, Gin Liong dan Mo Lan Hwapun mengikuti kemudian mereka bertiga berjalan kaki menuju ke tengah kota.

Kota itu tak berapa besar, jalannya cukup lebar dan penuh dengan rumah2 penduduk. Selain kaum pedagang, juga tak sedikit orang2 persilatan yang berjalan.

"Lo-koko, dimanakah engkau melihat Liong-li cianpwe

?" tanya Gin Liong. "Di hotel itu," kata Hok To Beng seraya menunjuk sebuah rumah penginapan.

Rumah penginapan itu satu2 nya hotel di kota itu.

Bangunannya terdiri dua tingkat.

Dari diloteng atau tingkat kedua dari rumah makan itu tampak suara orang tertawa dan bicara dengan gembira. Macam sedang menghadiri suatu perjamuan makan.

"Biasanya yang tiba di kota kecil ini hanya pedagang2. Tetapi sejak munculnya si orang tua membawa kaca wasiat itu, banyaklah kaum peralatan yang datang ke sini," kata Hok To Beng.

Pada saat Gin liong keliarkan pandang mata, ia memang memperhatikan bahwa diantara beberapa orang yang tengah memandang kepadanya itu adalah orang2 yang pernah dilihatnya berada di tanah lapang sekeliling rumah pondok di hutan itu.

"Toa-suheng, kita cari kamar yang tersendiri sajalah," kata Mo Lan Hwa, "diatas loteng terlalu berisik sekali."

Begitu tiba di muka rumah penginapan itu, dua orang pelayan segera menyambut. Yang seorang menuntun kedua ekor kuda hitam mereka terus hendak dibawa ke istal kuda. Dan yang seorang segera memberi hormat kepada Hok To Beng.

"Loya, mau minum arak atau ingin bermalam disini?" tanyanya.

"Ada kamar besar ?" tanya Hok To Beng. Jongos itu mengatakan ada dan lalu membawa ketiga tetamu menuju kesebuah kamar besar. Hok To Beng setuju. Tak lama kemudian seorang jongos mengantar minuman teh. "Bung, apakah ada dua orang tinggi besar, mengenakan pakaian kulit warna hitam, berkopiah warna hitam yang menginap disini ?" tanya Hok To Beng.

Jongos menyatakan tak ada. Hok To Beng heran dan memandang Gin Liong serta Mo Lan Hwa dengan pandang bertanya,

"Tolong tanya," kata Gin Liong kepada jongos itu pula, "apakah ada seorang nona berpakaian warna merah, umur lebih kurang 26-27 tahun yang datang kemari?"

"Ya, ada, ada," kata jongos.

"Dia tinggal di kamar mana ?" Gin Liong cepat mendesak.

"Semalam li-hiap (pendekar wanita) baju merah itu tinggal di kamar sebelah, Setelah makan malam dia terus pergi."

Gin Liong kecewa sekali, Hok To Beng segera minta jongos itu membawakan hidangan. Sesaat kemudian jongos itu pergi maka bertanialah Hok Tu Beng kepada Gin Liong.

"Siau-hengte. apakah engkau tak menuduh bahwa yang membunuh suhumu itu Ban Hong Liong-li sendiri ?"

"Tidak, Ban Hong liong-li locianpwe tentu  takkan berbuat begitu."

"Tetapi mengapa dia begitu terburu-buru sekali sampai menyewa hotel hanya makan terus pergi ?"

Gin Liong menerangkan: "Liong-li cianpwe pernah mengatakan kepadaku bahwa dia harus menempuh perjalanan siang malam..."

"Adik engkau pernah melihatnya ?" Mo Lan Hwa terkejut. "Bukan saja pernah melihat bahwa siau-hengte  ini pernah menerima pelajaran silat dari dia." tukas Hok To Beng.

"Hai, bagaimana toa-suheng tahu ?" Mo Lan Hwa makin heran.

Hok To Beng tertawa gelak2, serunya: "Tadi sewaktu turun tangan, apa engkau tak melihat aku telah gagal menyambar tangan siau hengte, karena siau-hengte menggunakan gerak Liong-li -biau ?"

Pada saat itu jongospun datang membawa hidangan Mereka bertiga segera menyantapnya.

Mo Lan Hwa sibuk melayani, menuangkan arak untuk toa-suheng dan Gin Liong. Dia sendiripun minum juga. Setelah habis dua cawan, tampak pipinya kemerah-merahan seperti bunga mawar, bibir makin segar dan sepasang bola matanya tampak bersinar, Nona itu makin bertambah  cantik sekali.

Gin Liong terlongong-longong.

Melihat dirinya dipandang oleh anak muda itu, Mo Lan Hwa tundukkan kepala. Hatinya amat bersuka cita.

Rupanya Gin-Liong menyadari bahwa perbuatannya itu kurang senonoh, Maka diapun segera beralih memandang Hok To Beng.

Hok To Beng tengah menggerogoti sebuah paha ayam panggang. Dia tak mengacuhkan apa2 lagi.

Tiba2 terdengar derap langkah orang bergegas menuju ke dalam kamar sebelah. Brak, terdengar suara meja ditampar.

"Bagaimana, mengapa kalian begitu cepat sudah kembali?" seru seseorang dari kamar sebelah. Seorang lelaki bernada kasar menyahut marah: "Ketika kami pergi, rumah kecil itu sudah kosong, orangnya sudah pergi."

"Huh, kemarin sore masih kudengar orang mengatakan bahwa ditempat itu penuh dikerumuni orang." kata orang yang pertama tadi.

Orang yang bernada kasar, menyahut: "Memang benar tetapi mereka tinggal mayat yang berserakan disana sini."

"Hai, siapa saja mereka itu ?" Lelaki bernada kasar itu menerangkan: "Pengemis jahat - kaki- telanjang Jenggot- terbang, Nenek-buta- tongkat-burung-hong, paderi Hoa, Lima-ular-berbisa, Kuku-garuda, seorang imam tua dan masih terdapat pula seorang kakek tua."

Berhenti sebentar, ia berkata pula dengan gopoh: "Mari kita pergi, mereka sudah menunggumu diluar hotel."

Terdengar langkah kaki orang bergegas keluar  dari kamar dan tidak lama lenyap di halaman.

Mendengar nama pengemis kaki telanjang dan paderi gemuk yang ikut terkapar sebagai mayat, serentak teringatlah Gin Liong akan imam jenggot indah yang berwibawa itu.

"Lo-koko, apakah kenal dengan seorang to-tiang yang wajahnya mirip seorang dewa?" segera ia bertanya kepada Hok To Beng.

"Coba terangkan imam itu." kata Hok To Beng.

Setelah mendengar keterangan dari Gin Liong, Hok To Beng tertawa gelak2, serunya:

"Ho sungguh tak kira kalau imam hidung kerbau itu juga tergerak nafsunya, Dari ribuan li dan melintasi gunung, menyebrang laut, dia perlu kan juga datang ke Tiang-pek- san !"

"Lo-koko, siapakah lotiang itu ?"

Sambil mengelus-elus jenggot, Hok To Beng menatap Gin Liong, serunya:

"Siau-hengte, pernahkah engkau mendengar tentang keempat tokoh Bu-lim Su-ik ?"

Gin Liong mengangguk.

"Suhu pernah menceritakan kepadaku," katanya, "keempat Bu-lim Su-ik dan lo-koko bertiga Swat-thian Sam- yu itu merupakan tujuh tokoh dunia persilatan yang disebut Ih Iwe-jit-ki."

Hok To Beng terbahak-bahak : "Ah, hal itu sudah usang. sesungguhnya aku tak layak termasuk dalam Jit-ki (tujuh tokoh aneh) itu."

"Toa-suheng, imam itu apakah bukan yang toa-suheng katakan sebagai Hun Ho totiang dari pulau Hong-lay-to itu

?" Lan Hwa menukas.

"Siapa lagi kalau bukan imam hidung kerbau itu." Hok To Beng mengangguk.

"Adakah lo-koko pernah bertemu dengan Thian-lam Ji-gi

?"

Hok To Beng tersenyum: "Mungkin tak berjodoh karena

sudah dua kali aku ke selatan tetapi tak pernah berjumpa dengan kedua tokoh sakti dari Thian-lam itu."

Gin Liong kerutkan dahi: "Lo-koko, apakah engkau tak menganggap bahwa kakek yang membawa kaca wasiat itu bukan salah seorang dari Thian Lam Ji-gi ?" Hok To Beng merenung sejenak, "Sukar untuk mengatakan secara pasti," katanya sesaat kemudian," tetapi peristiwa itu sudah menggemparkan dunia persilatan. Kurasa peristiwa itu tentu akan segera terungkap !"

Kemudian ia menanyakan apakah Gin Liong dan Lan Hwa sudah selesai makan.

"Baik, mari kita segera mencari kedua kutu busuk itu," kata Hok To Beng setelah kedua anak-muda itu mengangguk.

Segera mereka bertiga keluar dari kamar seorang jongos segera menyambut dan menanyakan apakah ketiga tetamu itu hendak keluar jalan2.

"Hari masih sore, kita akan melanjutkan perjalanan lagi," sahut Hok To Beng. Kemudian ia membayar rekening dan ongkos memberi makan kedua kuda.

Pada saat mereka bertiga baik kuda, tiba2 jongos bergegas keluar menghampiri Hok To Beng.

"Tuan, kedua kawan tuan itu sudah berlalu," kata jongos itu.

"Siapa ?" Hok To Beng heran.

"Yang tuan tanyakan kedua tetamu tinggi besar, memakai jubah dan kopiah kulit, mata besar dan mulut lebar tadi..."

Melihat gerak-gerik si jongos, Hok To Beng tertawa, sehingga jongos itu melongo.

"Kemanakah perginya kedua orang itu ?" tegur Lan Hwa.

"Ke barat sana !" si jongos menunjukkan jarinya ke barat "Hayo kita berangkat," seru Hok To Beng setelah menghaturkan terima kasih kepada jongos itu.

Banyak sekali orang persilatan yang datang dan pergi dari kota itu. Setiba diluar kota, Hok To Beng berpaling dan hendak bicara tetapi ketika melihat wajah Gin Liong dan Lan Hwa mengerut kegelisahan, ia tahu apa yang  dipikirkan kedua anak muda itu.

"Siau-hengte." seru Hok To Beng tertawa," jangan kuatir kalau tak dapat mengejar Liong-Ii locianpwe itu, Setiap orang yang hendak menuju ke selatan, tentu harus berhenti di teluk Taylian menunggu perahu, Kalau kita agak cepat berjalan, kemungkinan kita dapat tiba lebih dulu disana."

Kemudian Hok To Beng berkata pula kepada Gin Liong: "Kalau Ban Hong Liong-li tak berada di Taylian, akan kuminta tacimu untuk menemani engkau ke Kanglam."

Mendengar itu Lan Hwa tertawa gembira, Kebalikannya diam2 Gin Liong kerutkan dahi.

"Adik, mari kita melanjutkan perjalanan lagi," kata Lan Hwa seraya loncat kepunggung kudanya. Gin Liongpun juga loncat keatas kudanya, sedangkan Hok To Beng-pun sudah berdiri di pantat kuda.

Kedua kuda tegar itu segera mencongklang pesat, Tetapi tiba2 mereka mendengar suara gemuruh dari  belakang, Ketika berpaling dilihatnya berpuluh-puluh orang persilatan yang menunggang kuda, menerobos keluar dari kota, Mereka berteriak-teriak hendak menangkap pencuri kuda.

Di jalan itu tiada tampak lain orang lagi kecuali Gin Liong bertiga, Sudah tentu dia marah mendengar teriakan kawanan penunggang kuda itu, ia  hentikan kudanya, Melihat itu Lan Hwapun hentikan kuda dan berputar ke belakang. Tiba2 terdengar desing tajam dari sebatang anak panah pertanyaan yang meluncur ke udara.

Melihat itu Hok To Beng tertawa, katanya kepada Gin Liong:

"Siau-hengte, mereka adalah anak buah dari Macan- tertawa Oh Thian Pa dari gunung Thian-po-san. Berhati- hatilah dengan Kau-kin-tiang-pian (cambuk dari urat naga) mereka."

Waktu memandang dengan penuh perhatian, Gin Liong memang melihat berpuluh kawanan penunggang kuda itu masing2 mencekal sebatang cambuk sepanjang satu tombak lebih.

Saat itu kawanan penunggang kuda membentuk diri dalam bentuk seperti busur, dan lari kencang menyerbu ke arah Gin Liong bertiga. Sambil berdiri diatas pantat kuda hitam mulus, Hok To Beng melambaikan pipa ke udara dan berseru nyaring:

"Saudara dari markas Som-lim-say, dengarkanlah ! Aku Hok To Beng, suruhlah pemimpin barisanmu tampil bicara dengan aku."

Saat itu kawanan penunggang kuda hanya terpisah dua- puluhan tombak, Tampaknya mereka tak mempunyai pemimpin.

Melihat itu Gin Liong dan Lan Hwa segera mencabut pedang. Tetapi saat itu berpuluh-puluh penunggang kuda sudah mengepung, Wajah mereka memberingas dan serempak mengayunkan cambuknya kearah Gin Liong bertiga.

"Tring, tring, tring. . . . dengan tangkas Gin Liong dan Lan Hwa segera memutar pedang untuk membabat berpuluh-puluh cambuk itu. Ketika beradu dengan pedang Tanduk Naga, berpuluh-puluh Kau-kin-tiang-pian atau cambuk-urat-naga berhamburan putus..

Sedang Hok To Beng dengan tertawa gelak2 mengayunkan pipanya untuk menyapu serangan cambuk.

Terdengar pekik jeritan kejut. dan kesakitan dari berpuluh-puluh penunggang kuda itu ketika cambuk mereka terlempar jatuh, Dan menyusul terdengar beberapa tubuh mereka terjungkal dari kuda.

Kembali dari arah kota kecil itu menggemuruh suara kuda berlari, Hampir seratus penunggang kuda menerobos keluar dan mencongklang pesat.

Dua ekor kuda berbulu hijau dan merah, dan berada paling depan dinaiki oleh sepasang lelaki perempuan yang mengenakan pakaian ringkas atau pakaian orang persilatan warna kuning emas.

Dibelakang kedua orang itu, empat lelaki berpakaian warna putih perak menunggang empat ekor kuda putih.

Rupanya keenam penunggang kuda itulah yang menjadi pemimpin dari barisan kuda yang jumlahnya hampir seratus ekor.

Melihat itu Hok To Beng bahkan tertawa gelak2 dan berseru: "Hai, berhentilah kalian, lihatlah pemimpin kalian suami isteri telah datang!"

Sambil berkata Hok To Beng ayunkan pipanya dan rubuhlah seorang lawannya lagi, terjungkal jatuh dan kudanya.

Berpuluh-puluh penunggang kuda yang menyerang Gin Liong bertiga itu, sesungguhnya sudah kewalahan. Melihat saycu atau pemimpin mereka datang, timbullah semangatnya lagi. Yang sudah kehilangan cambuk,  berteriak-teriak memberi bantuan semangat kepada kawan-kawannya yang masih mencekal cambuk, serangan merekapun makin gencar.

"Tring, tring, tring "

Terdengar dering benda keras beradu. Gin-Liong terkejut dan berpaling. Dilihatnya seorang lelaki tua bermata bundar bibir tipis, pakaian compang camping, tengah mengobat- abitkan sebatang tongkat bambu wulung, menghantam kawanan penunggang kuda yang tengah menyerang Gin Liong bertiga.

Seketika gemparlah kawanan penunggang kuda. Mereka menjerit dan memekik, berhamburan menyingkir pergi.

"Hong koko, orang2 itu memang menjengkelkan sekali.

Hajarlah mereka !" tiba2 terdengar Lan Hwa berseru.,

Gin Liong terkejut. Segera ia mengetahui bahwa lelaki tua yang berpakaian seperti pengemis itu adalah Hong-tian- siu atau si Gila yang bergelar Keng-joh-hui-heng atau Terbang-diatas-rumput.

Hok To Beng tertawa gelak2, serunya: "Gila, jangan keliwat keras yang memukul, tuh Oh Thian-Pa sudah datang !"

Tepat pada saat itu terdengarlah suara seseorang berseru gopoh: "Harap lo-cianpwe berdua suka berhenti. Wanpwe Oh Thian Pa akan menghaturkan maaf."

Suara itu diserempaki dengan tibanya dua penunggang kuda, Oh Thian Pa  yang bergelar Siau-bin-hou atau si Macan-tertawa, bertubuh tinggi besar dan mengenakan pakaian kuning emas. Alisnya tebal, mata besar, wajah empat persegi, kulitnya putih bersih tiada tumbuh kumis. Seorang yang memberi kesan baik. Isteri dari Oh Thian  Pa bernama Toknio-nio atau Wanita-beracun, Mengenakan pakaian kuning emas dan membawa pedang emas. wajahnya cantik.

Sedang keempat ekor kuda putih yang mengiring dibelakang, masih berada tiga-puluhan tombak jauhnya, Seratus ekor barisan kuda itu, berhenti dan berjajar-jajar.

Begitu tiba dihadapan Hok To Beng dan Hong-tian-soh, suami isteri Oh Thian Pa segera loncat turun dari kudanya.

Gin Liong dan Lan Hwapun menyimpan pedang lalu turun dari kuda dan berdiri di belakang kedua jago tua.

"Wanpwe suami isteri Oh Thian Pa  dan Pik Li-hoa menghaturkan hormat kepada locianpwe berdua, Entah anak buah kami melakukan kesalahan apa terhadap lo cianpwe berdua, wanpwe mohonkan maaf."

Mendengar pemimpinnya minta maaf, kawanan penunggang kuda itu serentak berjongkok ditanah dan minta ampun kepada kedua pemimpin mereka,

"Ah, Oh saycu terlalu merendah diri." kata Hok To Beng, "peristiwa ini hanya suatu kesalahan faham saja..."

"Oh Thian Pa, jangan pura2 tak tahu," cepat Hong-tian- soh menukas, "anak buahmu hendak merebut kedua ekor kuda dari Setan Asap dan adik perempuannya !"

Melihat gelagat kurang baik, cepat2 Hok To Beng memukulkan pipanya ke tongkat bambu wulung Hong-tian- soh.

"Mengapa ?" si Gila terkejut.

"Hong koko, kedua ekor kuda ini kemungkinan memang milik mereka." cepat Lan Hwa mendahului. "Sekalipun kuda mereka tetapi mengapa mereka begitu ngotot turun gunung mengejar sampai kemari ?" tukas Hong tian-soh.

Gin Liong kerutkan dahi, ia merasa Hong- tian-soh itu lebih gila lagi wataknya dari Hok To Beng.

Tetapi ternyata bukan saja tak marah, kebalikannya Oh Thian Pa dan Pik Li-hoa tertawa.

Kemudian Oh Thian Pa membentak anak buahnya yang masih bersimpuh di tanah itu suruh mereka lekas menggabung dalam barisannya berpuluh-puluh penunggang kuda tadi, pun segera berbangkit dan menuntun kudanya menuju kedalam barisan.

"Sungguh berwibawa! Sungguh menyeramkan!" seru Hong-tiah- soh.

Macan-tertawa hanya ganda tertawa dan mengucapkan beberapa kata merendah. Kemudian ia memandang kearah kedua kuda dari Gin Liong dan Lan Hwa.

Gin Liong tahu bahwa kedua ekor kuda hitam mulus dan hitam berkaki putih itu sebenarnya milik Oh Thian Pa yang dicuri oleh kedua orang Mongol tadi. Maka segera ia mengatakan kepada Hok To Beng supaya kuda itu dikembalikan saja kepada Oh Thian Pa.

Hok to Beng setuju tetapi Lan Hwa menentang: "Salah mereka mengapa sampai dicuri orang, Dan kita mengambilnya dari pencuri itu."

Tiba2 Hong-tian-soh deliki mata:

"Apa? Kalau memang kita merampas dari pencuri itu, kuda itu milik kitalah !" Tok-mo-cu atau Wanita-berbisa Pik Li-hoa agaknya mempunyai kesan baik terhadap Mo Lan Hwa, Maka berkatalah ia kepada suaminya:

"Karena nona itu merebut dari si pencuri kuda, biarlah kuda itu diambinya."

Oh Thian Pa setuju dan menyerahkan kuda itu kepada Gin Liong serta Lan Hwa, Lan Hwa memandang Pik Li- hoa dengan tertawa.

"Dihadiahkan atau diberi sama saja, Kelak siaumoay sudah bosan, akulah yang akan mengembalikan kuda itu kepada pemiliknya," kembali Hong-tian-soh menyeletuk.

Pun Hok To Beng juga menambahkan bahwa apabila urusan sudah selesai, kedua kuda itu tentu akan dikembalikan lagi kepada Oh Thian Pa.

Setelah peristiwa itu selesai, Oh Thian Pa minta agar Hok To Beng bertempat singgah di markas gunung Thian- po-san. Tetapi Hok To Beng mengatakan lain kali saja. Oh Thian Pa pun membawa anak buahnya pulang ke gunung.

Hok To Beng memperkenalkan Gin Liong kepada Hong- tian-soh. Gin Liong memberi hormat kepada kakek gila itu. Melihat Gin Liong seorang pemuda cakap dan gagah, kemudian memandang ke arah Lan Hwa, Hong-tian- sohpun tertawa gembira.

"Aha, siau-hengte ibarat mustika dari dalam telaga dan siaumoay sebagai mutiara dari dalam laut, Sungguh merupakan pasangan yang serasi sekali...." Hong-tian-soh menyeletuk lagi.

Melihat si Gila itu hendak mengoceh tak keruan, cepat2 Hok To Beng menukas: "Gila, tahukah engkau bahwa guru dari siau-hengte ini tokoh angkatan muda yang kepandaiannya lebih tinggi dari kita berdua ?"

"Siapa ?"

"Pelajar-berwajah-kumala Kiong Cu Hun!"

Hong-tian-soh agak terbeliak kaget dan memandang Gin Liong lekat-, Tiba2 ia teringat sesuatu, serunya:

"Setan-asap, semalam aku bertemu dengan Ban Hong Liong-li yang tergila-gila pada Kiong Cu Hun itu !"

"Dimana?" serentak Gin Liong berseru.

Hong-tian-soh kerut dahi, ia heran mengapa Gin Liong begitu tegang, Hok To Beng segera menerangkan:

"Siau-hengte hendak mencari Ban Hong Liong-li."

"Huh, kalau mau kejar, cepat-cepat sajalah, Budak itu luar biasa ilmu ginkangnya..."

"Hong koko, dimanakah engkau berjumpa dengan Liong-li locianpwe itu ?" Gin Liong makin tegang.

"Dia tengah berlari sekencang-kencangnya. Heran, mengapa dia menempuh perjalanan pada waktu tengah malam," berhenti sejenak, Hong-tian-soh melanjutkan pula:

"Asal sebelum matahari terbenam engkau dapat mencapai Hong-shia, mungkin engkau dapat mengejar Ban Hong Liong-li"

Saat itu matahari sudah condong ke barat Gin Liong makin gelisah.

"Toa-suheng, mari kita berangkat !" seru Lan Hwa. "Kalau mau berangkat, silahkan berangkat dulu. Aku dan Setan Arak berjanji pada toa-su-hengmu untuk bertemu disini," sahut Hongtian-soh.

Hok To Bengpun mengatakan bahwa setelah urusan selesai, ia bersama Hong-tian-soh tentu segera menyusul.

"Disepanjang jalan, tinggalkan tanda rahasia Pipa-emas."

"Atau tanda tongkat pemukul anjing itu juga boleh," Hong-tian soh menyelutuk, "bukankah seratus orang yang melihat diriku tentu akan mengatakan kalau aku seorang tukang peminta nasi."

Diam2 Mo Lan Hwa girang karena kedua tokoh itu tak ikut pergi, Demikian keduanya segera naik kedua ekor kuda hitam, Dalam waktu yang singkat mereka sudah melintasi sebuah daerah pegunungan salju.

Sejam kemudian mereka sudah melalui beberapa desa dan saat itu disebelah depan tampak jalan besar yang menuju ke kota Hong-shia.

Penuh orang berjalan di jalan besar itu. Kebanyakan mereka adalah pedagang2. Saat itu matahari  sudah condong kearah barisan puncak gunung disebelah barat.

"Adik, tahukah engkau gunung apa itu ?" tanya Lan Hwa.

Sambil memandang ke gunung yang menjulang tinggi ke angkasa, Gih Liong gelengkan kepala, mengatakan tak tahu.

Lan Hwa kerutkan dahi. Dia heran mengapa Gin liong tak tahu apa2 sama sekali. Bagaimana akan mencari orang ke Kanglam yang begitu luas. "ltulah puncak Mo-thian-ni. Benggolan kaum Hitam diluar perbatasan yakni ketujuh saudara Tio, bersarang di gunung itu," Lan Hwa menerangkan.

"Adik, pelahan dulu," sesaat kemudian Lan Hwa berseru ketika melihat pada jarak satu li di sebelah muka tampak mendatangi belasan penunggang kuda yang berpakaian seperti orang persilatan. Karena debu amat tebal maka sukar diketahui wajah mereka.

Rupanya kawanan penunggang kuda itu tahu juga akan Gin Liong dan Lan Hwa. Penunggang kuda yang menjadi pemimpin rombongan itu segera hentikan kudanya. Dan saat itu Gin Liongpun sudah tiba didepan mereka.

Tanpa berkata apa2, seorang penunggang kuda menerobos dari rombongannya dan terus lepaskan pukulan jarak jauh kearah Gin Liong. Sudah tentu pemuda itu terkejut dan cepat condongkan kepala kudanya lalu balas menghantam.

"Bum       "

Terdengar dengus orang tertahan, orang itu dibawa mundur oleh kudanya dan terpelanting jatuh ke tanah, berguling-guling dan menjerit-jerit. . .

Rombongan penunggang kuda itupun cepat mencabut senjatanya hendak menyerang. Tetapi kuda hitam kaki putih dari Lan Hwa tiba2 meringkik berloncatan melingkar- lingkar dengan garang sekali.

Belasan ekor kuda dari rombongan itu terkejut dan meringkik ketakutan lalu lari berserabutan keempat penjuru.

Tetapi sebagai gantinya, Gin Liong dan Lan Hwa segera melihat seorang penunggang kuda melintang di tengah jalan.   Penunggangnya   seorang    lelaki   berwajah   hitam, mukanya penuh brewok, hidung dan mulut besar, alis tebal menaungi sepasang mata yang bundar besar.

Orang itu dingin2 memandang kedua anak.

"Adik, dia adalah Bong-kim-kong Tio Tik Lok, jago nomor empat dari ketujuh saudara Tio," bisik Lan Hwa.

Tiba2 dari samping kanan dan kiri terdengar teriakan gempar dan menyusul rombongan penunggang kuda tadi segera mengepung Gin Liong, Lan Hwa dan Bong-kim- kong.

Gin Liong makin gelisah, Dia hendak cepat2 melanjutkan perjalanan. Tak mau dia terlihat dalam pertempuran yang tak berguna itu.

"Minggirlah !" serunya seraya mencongklangkan kuda menerjang Bong-kim-kong dan ayunkan tangan kanannya menghantam.

Bong-kim kong atau Malaekat-buas Tio Tik Lok tertawa gelak2. ia kepitkan kedua kakinya ke perut  kuda dan melambungkan kuda itu loncat sampai satu tombak tingginya lalu ayunkan tongkat Long-ya-pang menghantam pantat kuda Gin Liong.

Pukulannya luput, Gin Liong terkejut. Cepat ia memacu kudanya loncat ke muka.

Melihat Gin Liong terancam bahaya, Lan Hwapun segera membalutkan pedangnya ke pinggang Malaekat- buas, Tetapi jago keempat dari Tujuh saudara Tio itu tertawa keras, lintangkan kuda seraya balikkan tongkatnya ke pinggang nona itu.

"Budak, karena engkau tahu namaku, maka serangan ini takkan mencabut nyawamu !" Lan Hwapun terkejut karena serangannya gagal. Cepat ia menyadari bahwa ketujuh penjahat dan gunung Mo-thian- nia itu memang pandai sekali bertempur dengan menunggang kuda. Kalau mau menundukkan Malaekat- buas, lebih dahulu harus memaksanya turun dari kuda.

Begitu tongkat Long - ya - pang tibu, nona itupun loncat turun ke tanah.

Segulung sinar merah berkelebat membabat kaki depan dari kuda Bong-kim-kong, Bong kim-kong menjerit kaget, menarik kendali sehingga kuda berdiri tegak menjulangkan kaki depannya ke atas, Lalu dengan jurus Menjolok-bulan- didasar-laut, Bong-kim-kong menyodokkan tongkat ke pedang Lan Hwa.

Melihat babatannya tak berhasil Lan Hwa marah sekali, ia memutar pedang untuk memapas siku lengan kanan lawan.

Bong-kim,-kong terkejut dan tegakkan lagi tubuhnya. Kudanya ikut berputar-putar sehingga menghampiri ke tempat Gin Liong.

"Hayo, engkaupun harus turun !" tiba2 Bong-kim-kong membentak dan menyapukan tongkatnya ke tubuh Gin Liong.,

Wut. pemuda itu ayun tubuhnya melambung ke udara sampai beberapa tombak, Sambil bergeliatan di udara ia berseru: "Taci, menyingkirlah agak jauh !"

Serempak dengan teriakan itu. segulung sinar merah yang menyilaukan mata segera berhamburan memancar di udara, Belasan rombongan penunggang kuda begitu melihat sinar itu serentak memekik keras.

Bong-kim-kong pucat seketika, ia  tak sempat berbuat apa2 lagi kecuali buang tubuh berguling jatuh dari kudanya. Gin Liong tak mau melukai kuda orang, ia loncat turun dari kudanya, Melihat itu dengan menggerung keras, Bong- kim-kong loncat menghantamkan tongkat long-ya-pang kearah kepala Gin Liong.

Baru saja kaki Cin Liong menginjak tanah atau tahu2 kepalanya sudah terancam. ia marah sekali, Dengan sebuah gerak berputar, ia sudah menyelinap di samping Bong-kim- kong lalu secepat kilat membabatkan pedang Tanduk Naga ke lengan orang.

Serasa terbanglah semangat Bong-kim-kong melihat gerak yang luar biasa dari anak muda itu. Cepat ia lepaskan long-ya-pang lalu enjot tubuhnya sampai dua tiga meter ke belakang, Dan karena kuatir pemuda itu akan menyerangnya lagi maka lebih dahulu ia songsongkan kedua tangannya kearah Gin Liong.

Gin Liong makin panas, ia balas menghantam dengan tangan kiri, Bum . . . . Debu berhamburan angin menderu- deru dan tubuhpun tertatih-tatih, Bong-kim-kong Tio Tik Lok, jago nomor empat dari persaudaraan Tio yang menguasai gunung Mo-thian-nia, saat itu terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang dan jatuhlah ia terduduk di tanah. ia gagal untuk menguasai keseimbangan tubuhnya,

Serentak terdengarlah pekik kejut dari belasan anak buah Bong-kim-kong yang serempak mengangkat senjata masing2. Tetapi tak seorangpun yang  berani menolong Bong-kim-kong. karena tempat Bong-kim-kong duduk di tanah itu hanya terpisah dua meter dari Mo Lan Hwa yang tegak berdiri sambil lintangkan pedangnya.

Tampak jago keempat dari persaudaraan Tio itu duduk lunglai di tanah dan pejamkan mata menunggu ajal.

Melihat sikap berpuluh anak buah Bong-kim-kong yang memberingas itu, marahlah Lan Hwa. ia merasa terhina karena dipandang oleh belasan anak buah Bong kim-kong. Dia menafsirkan pandang mata anak buah Bong-kim-kong itu menuduh bahwa ia (Lan Hwa) seorang nona yang licik dan curang karena hendak membunuh seorang lawan yang sudah tak berdaya.

"Huh," ia mendengus lalu masukkan pedangnya kedalam sarung dan sekali menggeliat ia sudah tiba di samping Gin Liong.

Gin Liongpun sarungkan pedang dan mengajak nona itu segera melanjutkan perjalanan lagi. Keduanya segera loncat ke kuda masing2, Tetapi baru hendak melarikan kudanya, tiba2 belasan anak buah Bong-kim-kong itu bersorak sorai dengan gembira.

Ketika Gin Liong dan Lan Hwa memandang kedepan, ternyata lebih kurang dua li jauhnya tampak berpuluh puluh penunggang kuda tengah mencongklang cepat sekali, Orang yang sedang berada di jalanan, buru2 lari ketakutan menyingkir ke tepi jalan.

Yang didepan tiga ekor kuda bulu hitam putih dan merah. Penunggangnya seorang lelaki dan dua orang perempuan. Ketiga ekor kuda lari secepat angin dan beberapa kejab mereka sudah berada setengah li dari tempat Gin Liong.

Penunggang kuda hitam, seorang lelaki mengenakan pakaian dan mantel hitam. Bertubuh perkasa, muka lebar, dada bidang tetapi kulit hitam seperti pantat kuali, pinggangnya menyanding sepasang pukul besi berbentuk segi-delapan. Warnanya kuning emas dan beratnya tak kurang dari berpuluh-puluh kati.

Rupanya dia tengah memberingas marah sehingga tampaknya makin menyeramkan. Penunggang kuda putih seorang nona cantik berumur dua-puluhan tahun. wajahnya bulat telur alis melengkung seperti busur. Bibirnya merah semerah bunga mawar, Rambutnya yang panjang menjulai diatas bahu, Mengenakan baju dari sutera warna biru, demikian juga celana kun, Diatas seekor kuda putih, nona itu tampak makin menonjol kecantikannya.

Sedang yang naik kuda bulu merah, seorang dara berumur lima belasan tahun. Mata bundar,  wajahnya kemerah-merahan segar Rambutnya dibelah dua kuncir. Mengenakan pakaian warna merah, sikapnya masih kekanak-kanakan dan sepintas pandang memberi kesan bahwa dia seorang bujang.

Rombongan anak buah Bong-kim-kong tadi makin menggemuruh soraknya, Melihat itu Lan Hwa segera berkata bisik2 kepada Gin Liong:

"Adik, hati-hatilah, penunggang kuda hitam itu adalah jago nomor lima dari persaudaraan Tio. Namanya Tio Tek Piu bergelar Thia-lo-han (Arhat besi). Seorang limbung yang keras kepala sekali."

Berhenti sejenak, Lan Hwa melanjutkan:

"Dan nona yang naik kuda putih itu adalah saudara ketujuh dari persaudaraan Tio, ilmu pedang dan ilmu ginkangnya, cemerlang sekali, ilmu kepandaiannya lebih unggul dari keenam engkoh2-nya. Orang memberi gelaran kepadanya Mo-thian-giok-li (Bidadari dari gunung Mothian), Namanya Tio Li Kun dan baru berumur dua- puluh empat tahun."

Sengaja Mo Lan Hwa memberi tekanan dengan nada keras waktu mengucap umur 24 tahun itu. "Budak diatas kuda merah itu, centil dan ketus sekali, Orang memberinya nama Cabe Rawit Siau Hoan kepadanya."

Saat itu ketiga kuda itupun sudah hampir tiba. Bidadari- gunung-Mo-thian Tio Li Kun yang naik kuda putih, menatap Gin Liong dengan lekat.

Begitu ketiga ekor kuda itu tiba, maka kuda hitam Gin Liong dan kuda hitam kaki putih dari Mo Lan Hwa segera meringkik keras sehingga ketika kuda pendatang itu terkejut berputar-putar.

Melihat engkohnya nomor empat Bong-kim-kong duduk di tanah, secepat kilat si cantik Tio Li Kun terus apungkan tubuh melayang kearah Bong-kim-kong.

Gin Liong terkejut Gerakan si cantik Li Kun itu menyerupai sekali dengan ilmu lari cepat Angin-meniup- kilat-menyambar yang dimilikinya.

"Siapa yang memukul jatuh engkohku ini ?" teriak sebuah suara kasar.

Ketika berpaling, Gin Liong dapatkan si limbung Thiat- lo-han memandangnya dengan mata berapi-api sambil naik seekor kuda hitam dan tak henti-hentinya berputar, Sret, dia terus mencabut sepasang palu besi dan dibolang-balingkan dengan keras.

Gin Liong tertawa dingin, Sesaat ia hendak membuka mulut tiba2 si Cabe rawit Siau Hoan menuding kearahnya: "Ngo-ya, itulah orangnya "

"Tutup mulutmu, Siau Hoan," tiba2 terdengar sebuah bentakan halus. Gin Liong dan Mo Lan Hwa berpaling. Ternyata si nona cantik yang tengah berjongkok menolong Bong-kim-kong, deliki mata dan membentak bujang Siau Hoan.

Ketika melihat Gin Liong berpaling memandangnya, muka si cantik Li Kun tersipu-sipu merah dan cepat dan cepat2 tundukkan kepala, mengangkat bangun Bong-kim- kong.

"Budak, engkaupun harus turun dari kuda !" Gin Liong terkejut Ketika berpaling, dilihatnya Thiat-Lo-han hendak menyerangnya.

Kuda hitam meringkik dahsyat Mengangkat kaki depan keatas tegak berdiri sambil berputaran dengan indah terhindarlah binatang itu dari hantaman Thiat-lo han Tio Tik Piu.

Jago kelima dari persaudaraan Tio terkejut sekali ketika serangannya luput. Tetapi pada saat ia hendak menyerang lagi, tiba2 Gin Liong sudah melontarkan sebuah hantaman dahsyat sehingga senjata Thiat-lo-han terlempar lepas dari tangannya, melayang sampai tiga tombak jauhnya.

Thiat-lo-han memekik-mekik seperti orang kebakaran jenggot Betapa ingin ia dapat meraih senjatanya itu,

Sesosok bayangan merah berkelebat dan dengan gerak yang indah sekali, Mo-thian-giok-li Tio Li Kun telah menyambar tangkai pukul besi itu lalu dilemparkan kepada engkohnya: "Terimalah !"

Seketika terdengarlah sorak sorai yang menggemuruh dari sekalian anak buah gunung Mo-thian-nia.

Menyambuti senjata pukul besinya, Thiat-lo-han tertawa gelak2. Melihat peristiwa itu marahlah Gin Liong, Segera ia kerahkan seluruh tenaga ke lengan-nya.

"Lo ngo, menyingkirlah!" tiba2 terdengar Bong-kim-kong membentak keras.

Thiat-lo-han Tio Tek Lok memandang  kearah engkohnya nomor empat dan adik perempuannya nomor tujuh lalu kisarkan kudanya ke samping untuk memberi jalan.

Keenam penunggang kuda yang menghadang di tengah jalan pun buru2 menyingkir. Demikian pula dengan kelompok anak buah yang datang bersama Thiat-lo-han dan Mo-thian-giok-li tadi, pun menyingkir ke-tepi jalan.

"Taci, mari kita berangkat !" Gin Liong berseru kepada Lian Hwa. kedua muda mudi itupun segera mencongklangkan kudanya dengan pesat.

Mendengar Gin Liong menyebut Lan Hwa dengan panggilan "taci", seketika merekah setitik harapan dalam hati Mo-thian-giok-li Tio Li Kun. ia tersenyum girang.

Saat itu matahari sudah condong ke barat dan tertutup oleh puncak gunung Mo-thian-san yang menjulang tinggi.

Sekonyong-konyong hidung Gin Liong terbaur serangkum angin wangi, ia tergetar dan berpaling, Tampak ditepi sebelah kiri jalan, tengah berjajar sekelompok barisan kuda dari gadis cantik. Mereka mengenakan pakaian merah semua dan menyanggul pedang di punggung.

Kuda hitam mulus meringkik terus menerjang ke muka, Barisan nona2 cantik itu cepat menyingkir ke samping  jalan. Tak berapa lama disebelah muka tampak tembok dari kota Hong-shia. Seperminum teh lamanya, tibalah Gin Liong berdua di pintu kota itu.

Pintu kota yang besar dan tinggi dijaga oleh beberapa prajurit Mereka terkejut melihat kedatangan Gin Liong dan Lan Hwa. Saat itu lampu2 rumah dan jalan mulai dipasang. Sambil menunggang kuda, Gin Liong memandang kian kemari, ia berharap dapat melihat Ban Hong Liong-li berada diantara orang2 yang berada di jalan itu.

"Adik, marilah kita cari rumah penginapan dulu, Baru nanti kita menyelidiki jejak Ban Hong Liong-Ii locianpwe," kata Lan Hwa.

Gin Liong setuju.

Tiba2 dari kerumunan orang disebelah belakang terdengar sebuah lengking teriakan:

"Liong koko, Liong koko !"

Gin Liong terkejut dan berpaling, Beberapa  puluh tombak jauhnya, tampak seorang dara baju putih dan punggung menyelip pedang, tengah menerobos dari kerumun orang dan bergegas menghampiri Gin Liong.

Melihat dara itu bukan kepalang girang Gin Liong, serentak ia berseru gopoh:

"Adik Lan !" serunya seraya memutar kuda menyongsongnya.

Orang2 yang berada di jalan terkesiap memandang kedua muda mudi itu. Ada yang menduga kalau keduanya engkoh dan adik, ada pula yang menyangka tentu sepasang kekasih.

Begitu tiba, Gin Liong terus loncat turun dari kuda dan mencekal tangan sumoaynya, Ki Yok Lan.

"Lan-moay, bilakah engkau tiba disini ?" tanyanya. Melihat Gin Liong, serentak teringatlah Yok Lan akan suhunya yang telah meninggal dicelakai orang itu. Air matanya bercucuran membasahi kedua pipi. Betapa ingin ia rebahkan kepala ke dada sukonya dan menangis sepuas- puasnya.

"Siang tadi," sahutnya, seraya mengeluarkan sapu dan menghapus airmatanya.

"Pada hari itu setelah siuman aku segera lari ke ruang depan mencarimu. Aku bertemu dengan ji-susiokcou dan seluruh paderi yang sudah pulang dari makam, Saat  itu baru kuketahui bahwa suhu telah meninggal dunia dan engkau turun gunung..."

Bercerita sampai disitu, airmata Yok Lan membanjir deras.

Gin Liongpun berlinang-linang namun ia kuatkan hati untuk mencegah airmatanya.

Pada saat ia hendak berkata menghibur su-moaynya, tiba2 kuda hitam mulus meringkik keras sehingga Yok Lan melonjak kaget, Ketika mengangkat muka, baru ia tahu kalau orang2 yang berada disekitar tempat itu tengah memandang dirinya dan Gin Liong, Yok Lan tersipu-sipu merah wajahnya.

Memandang ke arah Gin Liong, dilihatnya sukonya itu tengah memandang kian kemari seperti mencari orang. Serentak teringatlah Yok Lan akan nona baju merah yang menunggang kuda hitam berkaki putih tadi.

"Liong koko, kemanakah nona yang berjalan bersama engkau tadi ?" serunya bertanya.

Merah wajah Gin Liong mendengar pertanyaan itu. segera ia menerangkan bahwa nona itu bernama Mo Lan Hwa yang digelari orang sebagai Salju-merekah- merah. "Aneh, mengapa tiba2 ia lenyap," kata Gin Liong seraya mengusap airmatanya.

"Liong koko, mungkin dia mengambek," kata Yak Lan.

Seketika Gin Liongpun tersadar. Tentulah Lan Hwa pergi dengan marah. Seketika ia teringat akan janjinya bertemu dengan Hok To Beng dan Hong-tian-soh di penyeberangan Taylian (Dairen). Bagaimana nanti akan mengatakan kepada kedua orang itu apabila Lan Hwa tak ikut serta.

Melihat sukonya gelisah, Yok Lan tak enak hati, serunya: "Liong koko, kutunggu kau di hotel Ko Liong, Susullah nona itu, ia tentu marah kepadamu."

Sesungguhnya tak enak perasaan hati Gin Liong terhadap Yok Lan. Tetapi karena saat itu tak sempat memberi keterangan maka ia menyetujui saran sumoaynya,

"Baiklah sumoay, kau tunggu saja di hotel itu, aku akan menyusulnya," serunya lalu melarikan kudanya ke utara.

Walaupun sangat gopoh tetapi Gin Liong tak berani melarikan kudanya keras2. Setelah keluar dari pintu utara. malampun makin gelap, Rembulan mulai muncul.

Beberapa saat kemudian, ia masih belum melihat bayangan Lan Hwa. Yang tampak disebelah muka hanya gunduk2 perumahan dan pedesaan, Diam2 ia meragu apakah keliru arahnya.

Tiba2 ia mendengar suara ringkik kuda dari sebelah barat kota Hong-shia. serentak berserulah ia: "Kuda hitam kaki putih...!"

Serentak ia larikan kuda hitam mulus kearah tempat itu, Beberapa waktu kemudian, ia tiba dijalan yang merentang kearah barat. Jalan itu sunyi senyap, Kuda hitam mulus jari secepat angin, Kota Hong-shiapun sudah tertinggal jauh beberapa li dibelakang.

Memandang ke muka, tampak gunung Mo-thian-san menjulang tinggi ke langit Diam2 Gin Liong heran mengapa Mo Lan Hwa mendaki ke gunung itu.

Setengah jam kemudian, kaki gunung Mo-thian-san sebelah timur hanya sejauh tiga li jauhnya.

Dikaki gunung itu terbentang sebuah hutan batu yang berbentuk aneh. Pohon siong yang pendek dan pohon2 lain yang gundul daunnya. Tetapi Lan Hwa tak tampak sama sekali.

Menyadari bahwa gunung Mo-thian-san itu menjadi sarang dari ketujuh persaudaraan Tio, diam2 Gin Liong meningkatkan kewaspadaan.

Jalanan menyusur sepanjang kaki gunung, melingkar ke selatan. Kuda bulu hitam masih keras larinya dan tak tampak letih.

Tiba2 di sebelah muka jalan. muncul beberapa benda hitam.

"Apakah kawanan anak buah  Mo thian-nia sedang meronda !" pikir Gin Liong.

Ketika terpisah setengah li, barulah Gin Liong tahu bahwa benda2 hitam ini ternyata beberapa orang yang tengah bergegas menempuh perjalanan. Mereka orang2 desa yang hendak menuju ke kota.

Gin Liong hentikan kuda, bertanya seraya memberi hormat. "Tolong tanya, apakah paman sekalian berpapasan dengan seorang nona baju merah menunggang seekor kuda bulu hitam ?"

Orang2 itu menggelengkan kepala, Salah seorang yang berumur tua, menjawab: "Kami orang desa setiap pagi tentu pergi ke kota. Sejak tadi tak pernah melihat nona itu."

"Aneh, kemanakah gerangan perginya ?" gumam Gin Liong seorang diri.

Tiba2 angin malam sayup2 seperti mengantar lengking bentakan orang marah, Dan sesaat kemudian terdengar gemerincing suara senjata beradu.

Gin Liong cepat berpaling memandang ke-arah suara itu. Tetapi kaki gunung sebelah timur tetap sunyi senyap, Hanya pohon2 siong yang bergoncang tertiup angin.

"Apakah karena hendak bersembunyi nona itu telah kesasar masuk kedaerah terlarang dari kawanan gunung Mo-thian-nia dan kepergok dengan anak buah mereka lalu bertempur ?" kembali Gin Liong menimang-nimang.

Segera ia larikan kudanya menyusur jalan kearah suara itu. Tiba2 ia mendengar ringkik kuda berkumandang makin jelas, Asalnya dari kaki gunung sebelah timur laut.

Gin Liong segera memacu kudanya dan larilah kuda hitam mulus itu secepat angin.

Dari ujung gunung sejauh beberapa li, seekor kuda hitam mencongklang menuju kearah Gin Liong.

Melihat kuda hitam itu, kuda Gin Liong serentak melonjak keatas lalu mencongklang lebih cepat, Gin Liong girang sekali karena tahu bahwa kuda hitam yang mendatangi itu adalah kuda Kay-swat atau kuda hitam kaki putih. Cepat ia hendak berteriak memanggil Lan Hwa tetapi secepat itu pula ia batalkan maksudnya karena melihat bahwa yang berada diatas kuda hitam kaki putih itu jelas bukan Lan Hwa.

Beberapa saat kemudian kedua kuda itu  makin mendekati Tahu bahwa Lan Hwa telah tertimpa bencana, Gin Liongpun bersiap-siap,

Saat itu Gin Liongpun melihat sebuah jalan kecil yang mencapai dimuka gunung, Segera ia menduga bahwa dari jalan kecil itulah Lan Hwa telah menyelinap dan masuk ke daerah terlarang dari kawanan gunung Mo-thian-san.

Tiba disebuah hutan, kuda hitam meringkik dan berputar-putar tak mau berlari lagi. Gin Liongpun segera hentikan kudanya, Memandang kemuka, ia melihat di tengah jalan kecil ditengah hutan, melintang beberapa tali kendali kuda. Dan diatas puncak pohon dipasang jaring.

Saat itu hutan sunyi senyap, Kuda bulu hitam kaki putih yang tiada penunggangnya itupun meringkik dan berputar- putar ketika tiba di muka hutan.

Gin Liong menduga, tali kendali dan pelana kuda Lan Hwa tentu telah dirampas orang, Gin Liong marah. Mencabut pedang Tanduk Naga, ia memutarnya seraya menerjangkan kuda kemuka.

Begitu menerobos keluar dari hutan, sebatang anak panah mendenging tiba, Gin Liong cepat menabas anak panah itu dengan pedang Tanduk Naga.

Kembali anak panah yang kedua meluncur di udara dan tepat tiba dibelakang kedua kuda. Kuda hitam mulus dan kuda hitam berkaki putih lari makin pesat dan tak berapa lama tiba di jalanan batu, Jalan dan batu itu mendaki keatas dan terus masuk kedalam lembah. Kedua samping jalan batu itu merupakan lereng gunung yang curam. Sedang diatasnya penuh dengan batu2 yang aneh bentuknya, Makin masuk ke dalam makin berbahaya keadaannya.

Gin Liong tetap larikan kudanya masuk kedalam lembah sempit itu. Segera terdengar suitan nyaring berkumandang di udara, Dan menyusul turunlah hujan anak panah yang deras kearah Gin Liong dan kudanya.

Gin Liong makin marah melihat cara2 yang licik dan keji itu. ia memutar pedang Tanduk Naga sederas hujan, sedang kedua ekor kuda lari seperti terbang.

Kira2 berpuluh tombak jauhnya, terdengar pula suitan nyaring dan kembali hujan anak panah gelombang kedua mencurah kearah Gin Liong. Tetapi dengan pedang Tanduk Naga dan kedua  kuda sakti itu, dapatlah Gin Liong terhindar dari bahaya dan saat itu telah memasuki lembah.

Jalanan makin sempit  dan makin berbahaya Kali ini terdengarlah suara tambur dari lamping gunung. Lalu terdengar pula suara menggemuruh.

Gin Liong hentikan kudanya dan menengadah memandang keatas, diatas karang tinggi pada lamping gunung, tampak sosok2 bayangan hitam berhamburan kian kemari dan pada lain saat terdengarlah suara yang sangat gemuruh. Beratus-ratus batang pohon besar berhamburan menggelinding dan lamping gunung.

Kali ini Gin Liong terkejut Demi menjaga keselamatan jiwanya terpaksa ia larikan kuda kembali keluar dari lembah.

Penjaga pos pada kedua lamping gunung ditepi jalan, berteriak gempar ketika melihat Gin Liong muncul keluar, Ternyata di mulut lembah saat itu tampak berpuluh puluh orang sedang meletakkan beberapa tali kendali kuda.

Begitu melihat Gin Liong muncul, mereka serempak menghunus senjata dan menghadang di tengah jalan.

Dengan menggembor keras. Gin Liong putar pedang Tanduk Naga, membabat putus tali kendali yang direntang ditengah jalan itu.

Ketika para penjaga hendak menyerbu, kuda bulu hitam mulus sudah meluncur berpuluh tombak jauhnya, Kuda hitam kaki putihpun mengikuti jejak kawannya.

Melihat kuda kaki putih itu, serentak timbul pula kegelisahan Gin Liong karena mencemaskan nasib Lan Hwa, ia memutuskan untuk menyerbu ke gunung.

Diamatinya keadaan lembah gunung itu memang berbahaya sekali, ia memperhitungkan bahwa pada tempat2 yang berbahaya tentu tak begitu dijaga ketat, Maka ia segera larikan kudanya di sepanjang kaki gunung menuju ke barat laut.

Tiba disebuah tempat yang berbahaya, ia berhenti dan turun dari kudanya. Saat itu baru ia mengetahui bahwa kedua ekor kuda itu seperti mandi keringat, Gin Liong sayang kepada kuda itu, Dielus-elus kepalanya beberapa  kali dan kedua ekor kuda itupun seperti mengerti bahasa manusia, terus lari menuju ke gundukan batu yang tinggi.

Saat itu rembulan sudah ditengah Cakrawala terang benderang Mo-thian-hong atau puncak gunung Pencakar Langit, menjulang tinggi menyusup ke dalam awan. Bermandikan cahaya rembulan, gunung itu  tampak perkasa.

Dengan beberapa loncatan, Gin Liong tiba dimuka sebuah karang yang tegak melandai, sepanjang karang itu penuh dengan pohon rotan dan batu2 yang menonjol. serentak ia enjot tubuh melambung ke udara.

Dengan setiap kali hinggap pada batu karang atau pohon untuk menggunakannya sebagai landasan melambung lagi ke atas, akhirnya berhasillah ia tiba di puncak karang.

Tetapi belum lagi ia berdiri tegak, tiba2 terdengar sebuah bentakan keras:

"Hai, siapa itu !"

Sebatang anak panah segera meluncur. Gin Liong terkejut. Untung ia masih dapat miringkan tubuh menghindari anak panah itu.

Lima tombak disebelah muka, muncul seorang  lelaki baju biru yang memutar golok dan lari menyerbu Gin Liong, Sedang seorang lelaki mencekal anak panah dan busur tengah tegak berdiri dimuka sebuah genderang tembaga.

Gin Liong segera menyongsong penyerbu itu, Setelah menghindari tabasan golok, secepat kilat ia  menyelinap kebelakang dan menutuk punggung orang itu, Bluk, golok terlepas dan orangnyapun rubuh.

Cepat pula Gin Liong loncat menyerang penyerang bergolok itu, menjerit dan rubuh, Gin Liong tertawa dingin, Secepat kilat ia  menyerbu kearah orang yang bersenjata panah.

Orang itu terkejut, cepat ia hendak memukulkan busur pada genderang, Gin Liong cepat menerkam lengan orang itu. Tetapi pada saat ia  mencengkeram lengan orang busurpun sudah membentur genderang dan menimbulkan bunyi yang berkumandang nyaring. Gin Liong marah. Sekali ayunkan kaki, tubuh orang itupun terlempar sampai dua tombak jauhnya.

Tetapi genderang telah terlanjur berkumandang dan pada lain saat sebatang panah api meluncur ke udara, panah api itu berarti dari sebuah puncak di sebelah muka. Di udara anak panah api itu meletup dan menghamburkan bunga api.

Dalam beberapa kejap, terdengarlah suara pekik teriakan yang dahsyat, menyusul tampaklah seratusan buah lentera bergerak-gerak disegenap penjuru gunung.

Gin Liong tahu bahwa jejaknya telah diketahui, namun dia tetap tertawa dingin dan lari menuju ke puncak.

Pos penjagaan segera mengetahui gerak gerik Gin Liong, sebatang anak panah berapi meluncur ke udara dan muncullah tiga orang menghadang jalan.

Gin liong berputar arah menuju ke sebuah puncak lain, Tetapi kembali melayang sebatang panah berapi  dan muncul empat orang menghadang jalan.

Gin Liong menggeram. Dengan sekuat tenaga ia berlari kearah puncak yang tertinggi.

Suara teriakan berhenti, lentera2-pun tak lagi berguncang-guncang. Tujuh orang yang sedianya menghadang Gin Liong, terpaksa hentikan langkah. Rupanya seluruh anak buah gunung Mo-thian-nia tercengang melihat ilmu ginkang Gin Liong yang luar biasa,

Tiba2 terdengar suitan orang. Sesosok tubuh berpakaian gerombyong, muncul dari puncak yang pendek tadi dan berlarian menuju ke arah Gin Liong.

Gin Liong terkejut ia duga orang itu tentu salah seorang anggauta dari persaudaraan Tio. Ketika Gin Liong tiba di sebuah jalan melintang, orang itupun sudah tiba di tanah lapang sebelah muka.

Dibawah sinar rembulan, dapatlah Gin Liong mengetahui bahwa pendatang itu seorang tua berumur antara tujuh puluhan tahun, Gin Liong duga orang itu tentu lotoa atau saudara yang tertua dari persaudaraan Tio.

Saat itu Gin Liong sudah tiba di tanah lapang demikianpun dengan orang tua itu.

Berpuluh-puluh orang baju biru bersorak-sorai membawa lentera dan mengepung tanah lapang.

"Hai, budak liar dari mana itu berani tengah malam buta masuk ke gunung ini !" seru orang tua itu seraya menghantam," terimalah dulu pukulanku ini!"

Begitu tiba, orang tua itu harus gunakan jurus Lat-biat - hoa - san atau Menghantam-gunung Hoa-san, menghantam kepala Gin Liong.

Gin Liong cepat menghindar dan menyelinap ke belakang orang itu. Tetapi orang tua itupun dengan tangkas berputar tubuh dan menghantam bahu kiri Gin Liong.

Gin Liong marah sekali, ia tangkiskan tangan kiri, Bum, orang tua itu terhuyung-huyung sampai tiga langkah kebelakang.

Sekalian anak buah gunung Mo-thian-san tercengang menyaksikan peristiwa itu. Bahkan Gin Liong sendiri juga kesima mengapa persaudaraan Tio yang begitu termasyhur, ternyata hanya begitu saja kepandaiannya.

"Budak, sambutlah sekali lagi !" seru orang tua itu seraya menghantam lebih dahsyat.

Kembali Gin Liong menangkis dengan tangan kiri, Bum, kembali orang tua itu terhuyung. "Bunuh!" terdengar pekik sorak dari sekeliling lapangan dan serempak para anak buah kawanan baju biru  itu serempak mencabut senjata dan siap menyerbu.

Bluk, lelaki tua itu jatuh terduduk di tanah, Tiga sosok bayangan menerobos keluar dari barisan baju biru, lari menghampiri si orang tua.

Tetapi sejenak menyalurkan napas, orang tua itupun segera melonjak bangun. Lalu tertawa gelak2.

Ketiga orang tadi terkejut dan buru2 balik kembali kedalam barisannya.

Tiga ratus anak buah gunung Mothian-nia yang saat itu sudah mengepung Gin Liong, bersorak gembira ketika melihat orang tua itu tak kurang suatu apa.

Orang tua itu hentikan tertawanya, mencabut tongkat besi yang terselip pada pinggangnya dan berseru nyaring:

"Aku situa ini. Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian. sudah berpuluh-puluh tahun mengembara dalam dunia persilatan, belum pernah ada orang yang mampu membuat aku jatuh terjungkir balik "

Ia tertawa gelak2 lagi dan berseru kepada Gin Liong: "Budak, engkaulah orang yang pertama..." ia menutup

kata dengan sebuah loncatan kemuka seraya memutar tongkatnya menghantam pinggang Gin Liong.

Mendengar nama orang tua itu bukan dari persaudaraan Tio, Gin Liong tak mempunyai selera untuk menempurnya lagi. serentak ia loncat menyingkir tiga tombak dan berseru:

"Berhenti, lekas panggil saycu keluar !"

"Apabila engkau mampu menangkan tongkat-ku ini, saycu pasti akan keluar," sahut orang tua Gu itu, ia terus memutar tongkat dan maju menyerang Gin Liong. Gin Liong marah. Ia bergeliatan menyusup kedalam gulungan sinar tongkat.

Di bawah penerangan seratus buah lentera, tiba2 terdengar Gin Liong berseru:

"Lekas panggil saycu-mu !"

Bentakan itu disusul dengan melayangnya tongkat kearah kawanan anak buah gunung Mo-thian-nia. Dengan sebuah pukulan, Gin Liong berhasil menghantam tongkat Cu Ceng Hian sehingga terlepas dari tangannya.

Ketika kawanan anak buah itu hiruk pikuk menyingkir dari ancaman tongkat, beberapa sosok tubuh lari menghampiri ke gelanggang pertempuran. Kembali terdengar sorak sorai menyambut kedatangan orang itu.

Tetapi Cu Ceng Hian sudah tak menghiraukan suatu apa. Seperti orang gila, dia segera menyerang Gin Liong dengan tangan kosong.

"Cu Ceng Hian berhenti. Aku hendak menghadapi budak itu lagi!" seru pendatang itu.

Gin Liong cepat dapat mengenali orang yang loncat kehadapannya itu sebagai si Thiat-lo han.

Saat itu Gin Liong berhasil mencengkeram tangan Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian. Tetapi orang tua itu masih penasaran, Tiba2 ia ayunkan kaki menendang bawah perut Gin Liong.

Melihat orang tua itu begitu keras kepala, Gin Liong marah lalu mendorongnya ke muka. Cu Ceng Hian terhuyung-huyung seperti layang2 putus tali dan tepat menyongsong kedatangan Thiat-lo-han. "Celaka...." teriak Thiat-lo-han yang kasar dan berangasan Tetapi benturan tepat tak dapat dihindarkan, Bluk, kembali Cu Ceng Hian harus terbanting ke tanah lagi.

"Huh, salahmu, salahmu, bukankah aku sudah suruh engkau menyingkir Nah, akhirnya kita benturan sendiri !" seru Thiat-Io-han bersungut-sungut.

Melihat itu Gin Liong hampir tak kuat menahan gelinya.

Kali ini Cu Ceng Hian benar2 menderita. Tubuhnya gemetar, keringat dingin mengucur dan ia terduduk di tanah tak dapat bangun,

"Cu tua," seru Thiat-lo-hian simuka hitam sambil menyeringai" jangan engkau penasaran kepadaku tetapi salahkan budak itu karena telah mendorong tubuhmu begitu deras, Lihatlah, akan kupukulnya untuk membalaskan penasaranmu !"

Habis berkata si muka hitam Thiat-lo-han terus berputar tubuh dan berseru nyaring:

"Budak liar, apa engkau tak mengerti aturan menghormat orang tua ? Mengapa engkau mendorong si tua Cu ?"

Tring ia benturkan sepasang senjatanya yaitu pukul besi segi-delapan, lalu melangkah ke tempat Gin Liong.

Tiba2 dari luar gelanggang terdengar derap lari empat orang menuju ke tempat pertempuran itu, serentak suasana hening karena berpuluh-puluh anak buah Mo-thian-san itu tak berani buka suara lagi.

Si limbung Thiat-lo-han hentikan langkah dan berpaling. Demikianpun Gin Liong, Segera ia melihat empat orang, tiga lelaki dan seorang wanita, tegak berdiri pada jarak lima tombak dari gelanggang. Lelaki yang berdiri ditengah, berumur sekitar 45-46 tahun, Mengenakan jubah warna emas dan topi dari kulit harimau tutul. Alis melengkung seperti pedang, mata menyala, hidung pesek, bibir tipis dan jenggotnya menjulai sampai ke dada, sepintas pandang menyerupai seorang hartawan, bukan orang persilatan

Dia adalah pemimpin dari golongan tokoh2 silat aliran hitam dari Saywa (luar perbatasan), bernama Tio Tok Beng, gelar Siau-yau-ih-su atau pertapa bebas.

Berdiri disebelah kirinya, seorang lelaki beralis lebat, mata tajam, hidung panjang dan jenggotnya tebal menjulai ke dada. Umurnya sekitar 41-42 tahun. Berpakaian ringkas warna hijau, kopiah kulit bajing, punggungnya menyanggul sepasang senjata Hou-jiu-kong-kau atau sepasang kait baja.

Dia adalah jago nomor tiga dan persaudaraan Tio, bernama Tio Tok Giam gelar Say-ni-tun. Sepasang kaitnya sangat dimalui oleh seluruh kaum Lioklim atau Rimba Hijau, istilah untuk menyebut dunia penyamun.

Dibelakang kedua orang itu adalah Mo-thian-giok-li atau Bidadari dari gunung Mo-thian-san Tio Li Kun. Disampingnya, adalah engkohnya si Bong-kim- kong.

Melihat bahwa yang menyelundup keatas gunung itu bukan lain pemuda cakap siang tadi, Tio Li Kun tertegun dan memandang lekat pada Gin Liong.

"Toako," seru si limbung Thiat-lo-han demi melihat Tio Tek beng, "yang memukul suko santai jatuh dari kuda adalah budak ini !"

Su-ko yang dimaksud ialah engkoh nomor empat atau Bong-kim-kong. Sudah tentu Bong-kim-kong merah mukanya dan cepat berseru marah: "Toako sudah tahu!" Melihat engkohnya marah, si limbung Thiat-lo-han menyengir dan tak berani buka suara lagi.

Gin Liong segera mengetahui bahwa yang disebut toako itu tentulah lelaki yang dandanannya mirip orang hartawan itu. Cepat ia memberi hormat, serunya:

"Aku yang rendah ini Siau Gin Liong bersama Hoa cici kebetulan melalui gunung ini. Karena kuda membinal Hoa cici sampai dibawa kedaerah terlarang dan jatuh dalam perangkap anak buah markas Mo-thian-nia. Mengingat kami tak sengaja telah memasuki daerah terlarang dan gunung ini, maka kumohon saycu suka membebaskan taci itu, sebelumnya kuhaturkan banyak terima kasih."

Tampak Tio Tek Beng agak tertegun seperti tak tahu akan peristiwa itu. Kemudian ia berpaling memandang kearah Cu Ceng Hian yang masih duduk ditanah, serunya:

"Dimana taci siauhiap telah terjatuh dalam perangkap ?" "Sebelah timur dari mulut lembah ini," sahut Gin Liong. Tio   Tek  Giam,   jago   ketiga,   segera   berseru: "toako,

menurut  laporan dari pos  timur bukit, seorang dengan naik

kuda hitam telah masuk kedalam lembah, Karena barisan panah tak mampu merintangi, terpaksa dilakukan hujan balok..."

"Yang masuk kedalam lembah itu, adalah aku sendiri !" seru Gin Liong.

Tio Tek Giam kerutkan dahi, serunya. "Tanpa menurut peraturan kaum persilatan terus menerobos masuk ke markas. Tidak menghiraukan segala peringatan yang diberikan . . ." Mendengar itu Tio Li Kun gelisah, Kuatir kalau sampai terbit salah faham, maka cepat2 ia menukas ucapan engkohnya:

"Sam-ko, kuda dari Siau sauhiap itu seekor kuda istimewa yang luar biasa pesatnya, Mungkin Siau sauhiap hendak buru2 menghadap toako..."

"Kuda memang tak kenal aturan, tetapi masakan demikian juga penunggangnya !" dengus Tio Tek Giam.

Tio Li Kun terkejut ia kuatir Gin Liong tentu  marah. Dan memang benar, Gin Liong berteriak keras  seraya loncat ke muka dan menuding Tio Tek Giam:

"Tutup mulutmu ! Siapa yang engkau katakan tak tahu aturan itu ?"

Tio Tek Giam jago ketiga dari gunung Mo-thian-san deliki mata dan membentak:

"Memukul suteku sampai jatuh dari kuda, tengah malam menyelundup ke gunung, melukai saycu dari puncak timur, jelas bukan hendak mencari orang tetapi hendak mencari onar."

Ia berhenti dan tertawa mengekeh: "Kalau saat ini tak mau mengatakan terus terang, jangan harap engkau dapat tinggalkan tempat ini."

Mendengar itu Gin Liong menengadahkan kepala dan menghamburkan kemarahannya dalam sebuah  tertawa yang nyaring dan panjang.

Para anak buah terkesiap bahkan Bong-kim-kong dan Thiat-lo hanpun tergetar hatinya lalu bersiap-siap turun tangan.

Diantara kelima persaudaraan Tio yang berada disitu, hanya Tio Li Kun seorang yang berobah cahaya mukanya, Dia bingung melihat toakonya diam saja. Padahal ia tak tahu bahwa sebenarnya toakonya itu sedang memperhatikan dengan tajam anak muda yang gagah itu.

"Jangankan ratusan anak buah kalian, pun semua alat2 perangkap dari gunung Mo-thian-san ini, tak mungkin mampu menahan kepergianku." seru Gin Liong.

"Budak bermulut besar...!" teriak Tio Tek Giam seraya dorongkan kedua tangannya yang telah disaluri dengan tenaga penuh,

Gin Liong pun menggembor dan ayunkan tangannya menghantam.

Terdengar suara benturan keras dan tubuh jago ketiga dari gunung Mo-thian-nia itu terhuyung-huyung beberapa langkah kebelakang. Tio Li Kun melengking dan loncat menyanggupi tubuh engkohnya. Dipandangnya Gin Liong dengan sorot mata tajam.

Tio Tek Beng saudara tertua dari ketujuh jago gunung Mo-thian-san terkejut, Dilihatnya Gin Liong masih tegak berdiri dengan wajah tenang.

Ia tak mengira sama sekali bahwa hanya dengan pukulan sebelah tangan, pemuda itu dapat melemparkan Tio Tek Giam.

Tio Tek Giam sendiri cepat2 menyalurkan napas, Tetapi ia dapatkan dirinya tak terluka sama sekali, Mau tak mau ia memandang jitmoaynya Tio Li Kun dengan terlongong, "seperti hendak mengatakan: "Eh, mengapa aku tak menderita luka apa2 !"

"Budak, terimalah palu besiku ini lagi !" tiba2 si limbung Thiat-lo-han berseru seraya loncat dan menghantam dengan kedua palu besinya. Yang kiri menghantam lambung Gin Liong, palu besi yang kanan menghantam kepala pemuda itu. sekaligus ia lancarkan dua jurus serangan.

Gin Liong hanya tertawa dingin, Sekali bergeliat ia sudah menyelinap dibelakang orang limbung itu. Tetapi dia tak mau menyerangnya.

Si limbung Thiat-lo-han terlongong-longong karena sasarannya tiba2 hilang. Dia baru terkejut ketika engkohnya nomor empat yakni Bong-kim-kong berteriak: "Lo Ngo, dibelakangmu...!"

Thiat-lo-han gelagapan dan cepat memutar sepasang palu besi dihantamkan ke belakang, seraya berseru angkuh: "Aku memang sudah tahu "

Tetapi alangkah kejutnya ketika Gin Liong tak berada dibelakang.

"Kurang ajar, engkau sembunyi di belakang lagi...." kali ini dia tak mau berputar tubuh melainkan lontarkan palu besi sebelah ke belakang.

Entah bagaimana terhadap orang limbung itu Gin Liong tak sampai untuk turun tangan, Begitu ia loncat ke belakang si limbung dan baru saja berdiri tegak, tiba2 palu besi sudah menyambar ke mukanya. Dalam kejut Gin Liong pijakkan kaki ke tanah dan melambung sampai tiga tombak ke udara.

Mo thian-giok-li Tio Li Kun berteriak kaget.

Seluruh anak buah gunung Mo-thian sanpun memekik gempar.

Masih di tengah udara, Gin Liong sempatkan diri untuk melihat apa yang terjadi, Ternyata palu besi yang dilontar si limbung Thiat-lo-han tadi karena luput mengenai Gin Liong, melayang kearah Tongkat-halilintar Cu Ceng Hian yang masih duduk ditanah.

Tongkat-halilintar mendelik ketika melihat mukanya akan disambar palu besi. Cepat ia gunakan ilmu Kiu-te-sip- pat-kun atau Delapan belas kali berguling guling di tanah. Dia berhasil bergelundungan sejauh tiga tombak, Lalu hantamkan kedua tangannya ke tanah dengan meminjam tenaga pukulan itu tubuhnya melambung dua tombak ke udara. Berhasillah ia menghindar palu besi dengan indah sekali.

Bum . . . . palu besi itu tepat menghantam tempat bekas diduduki Cu Ceng Hian tadi. Tanah muncrat, pasirpun berhamburan ke empat penjuru.

Ketika melayang turun ke tanah, Cu Ceng Hian berdiri dengan wajah pucat, keringat mengucur deras.

Mendengar teriakan gempar tadi, si limbung Thiat-lo-han mengira kalau timpukan palu besinya mengenai Gin Liong. Cepat ia berpaling dan . . .

"Hua, hua, hua . . . ." si limbung memekik-mekik seperti orang kalap ketika melihat apa yang terjadi.

"Lo-naynay datang !" tiba2 kelompok anak buah Mo- thian-san sebelah selatan berseru. serentak merekapun menyingkir kesamping untuk memberi jalan.

Siau-yau-ih-su Tio Tek Beng, Say-ni-tun Tio Tek Giam serentak terkesiap, Thiat-Io-hanpun berhenti memekik- mekik. Tio Li Kun dan Cong-kim-kong lari menyambut!

Gin Liong hanya memandang dengan penuh keheranan, jauh di sebelah selatan, tampak tiga sosok bayangan berlari pesat seperti terbang. Yang dimuka, seorang wanita tua berumur 80-an tahun, wajahnya ramah, memegang sebatang tongkat perak. Dibelakangnya, seorang pemuda berumur 26-27 tahun, berwajah cakap dan mengenakan pakaian sutera putih. Pemuda itu adalah engkoh keenam dari Tio Li kun. Namanya Tio Tek Cun bergelar Siau-bun-hou.

Sedang yang seorang lagi seorang budak  perempuan yang lincah dan masih kekanak-kanakan Berpakaian warna merah tua.

Begitu wanita tua itu tiba maka ratusan anak buah gunung Mo- thian-san segera bersorak riuh: "Lo-naynay, terimalah hormat kami..."

Wanita tua itu tersenyum seraya mengangkat tangannya memandang ratusan anak buah Mo-thian-san, lalu memberi anggukan kepala.

Tio Li Kun dan Bong-kim kong serta merta berseru : "Mah . . ."

Demikian pula dengan Tio Tek Beng dan Tio Tek Giam. Mereka bergegas menghampiri dan memberi hormat kepada mamahnya dan Cu Ceng Hian demikian juga.

Si Limbung Bong-kim kong lalu menghampiri wanita tua itu dan berseru: "Mah mengapa engkau tak membaca kitab saja tetapi datang kemari ?"

Wanita tua itu berpaling memandang puteranya yang tolol, tertawa ramah:

"Kudengar kalian sedang ribut2 dengan orang, Maka kuajak adikmu Tek Cun dan Siau Hoan menjenguk kemari."

Kemudian wanita itu berpaling dan bertanya kepada puteranya yang paling tua: "Beng-ji, apakah yang terjadi disini?" Tio Tek Beng  segera memberi keterangan bahwa malam itu seorang nona telah tersesat masuk ke daerah terlarang gunung Mo-thian- san dan tertangkap, sekarang adiknya datang ke sini.

"Mah, itulah Siau sauhiap," cepat Tio Li Kun menukas seraya memeluk tubuh ibunya dan menunjuk Gin Liong.

Gin Liong mempunyai kesan baik terhadap wanita tua yang berwajah ramah itu. Waktu dirinya ditunjuk Tio Li Kun, ia terus berjalan menghampiri wanita tua itu.

Terkesiap wanita tua itu demi melihat seorang pemuda berwajah cakap dan terang, menghampiri ke tempatnya. ia mempunyai kesan baik lalu memandang Tio Li Kun, puteri tunggalnya, Dilihatnya puterinya tersipu-sipu merah mukanya. Diam2 wanita tua itu girang hatinya, ia tersenyum.

"Budak perempuan, bukan saja engkau, tetapi mamah pun ingin lekas2 melaksanakan harapanmu," katanya dalam hati.

Rupanya Tio Tek Beng tahu akan gerak-gerik adik perempuannya, segera ia berpaling dan mengisiki Tongkat- halilintar Cu Ceng Hian. Orang she Cu itu  mengangguk lalu melangkah masuk ke-dalam barisan anakbuahnya.

"Boanpwe Siau Gin Liong menghaturkan hormat kehadapan locianpwe," seru anak muda itu manakala sudah tiba dihadapan wanita tua.

"Ah, harap Siau sauhiap jangan pakai banyak peradatan," kata wanita tua seraya tertawa gembira.

Kemudian mata nyonya Tio tua itu menelusuri  tubuh Gin Liong dengan penuh perhatian, seolah-olah seperti seorang mertua yang sedang menaksir-naksir seorang menantu. Si limbung Thiat lo-han maju selangkah dan berkata:

"Mah, yang memukul suko jatuh dari kuda adalah pemuda ini."

Melihat dirinya dilaporkan pada mamahnya, sudah tentu Bong-kim-kong marah. ia mendengus geram: "Hai. sute, mana palu besi milikmu!"

"Huh, inilah," seru si limbung seraya menunjukkan kedua palu besinya. Tetapi ketika melihat palu besinya itu berlumuran lumpur, baru2 ia membersihkan dengan ujung bajunya seraya menggerutu: "Huh, si Cu tua itu hanya mengambilkan palu besi ini tetapi tak mau membersihkan."

Melihat tingkah laku dan ucapan si limbung, Gin Liong tak kuasa menahan gelinya.

Tio Li Kun tersipu-sipu malu, ia mengira Gin Liong menertawakan dirinya karena pemuda itu sudah dapat mengetahui isi hatinya.

Rupanya nyonya Tio tua amat sayang kepada puteranya yang limbung itu, ia tak mau mendampratnya melainkan berpaling memandang Gin Liong lagi.

"Siapakah nama yang mulia dari suhu Siau sauhiap ?" tanyanya,

Dengan sikap menghormat Gin Liong memberitahu nama gurunya, Karena nyonya Tio tua itu sudah mengundurkan diri dari keramaian hidup dan tekun membaca kitab suci, ia girang mendengar guru Gin Liong itu juga seorang paderi, Liau Ceng taysu.

Tiba2 Gin Liongpun teringat akan kematian yang mengenaskan dari suhunya. Ingin sekali ia cepat2 menuju ke Hong-shi untuk menemui Ban Hong Liong-li. Serentak ia menyatakan kepada nyonya Tio tua bahwa ia masih mempunyai suatu urusan penting sehingga tak dapat tinggal lebih lama disitu. ia minta agar Mo Lan Hwa dibebaskan.

"Setelah urusan selesai, boanpwe tentu akan mengunjungi gunung ini lagi untuk mengaturkan hormat kepada locianpwee dan minta maaf kepada para saycu disini." katanya. Sebagai penutup, ia membungkukkan tubuh memberi hormat.

Mendengar sikap Gin Liong begitu berduka atas kematian suhunya tahulah nyonya Tio bahwa pemuda itu seorang yang berbudi luhur. Diam2 wanita tua itu makin puas.

Demi mendengar Gin Liong hendak buru2 menyelesaikan urusannya, walaupun tahu Tio Li Kun tentu akan kecewa, tetapi nyonya Tio tak mau mempersulit pemuda itu.

"Beng ji, dimanakah taci Siau sauhiap sekarang ?" tanyanya kepada Tio Tek Beng.

"Mah, soal itu harus ditanyakan kepada Cu hun-saycu. Toako tak tahu nona Siau berada di mana," tiba2 Tio Li Kun menyeletuk.

Mendengar itu Gin Liong tampil ke depan dan menjelaskan: "Taci Hoa itu bukan orang she Siau. Dia she Mo, namanya Lan Hwa."

Mendengar itu Tio Tek Cun yang sejak datang tak pernah buka suara, serentak maju ke muka dan berseru:

"Siau sauhiap, Mo Lan Hwa itu apakah bukan siau - sumoay dari Pipa-emas Hok To Beng?" "Ya, benar memang nona itu," seru Gin Liong berseri girang.

Tetapi ketujuh saudara Tio serentak berobah mukanya, Tio Tek Cun serentak berpaling mencari Cu Ceng Hian, Kebetulan orang she Cu itu tengah bergegas muncul dari barisan anakbuahnya.

"Mo Lan Hwa?" seru Tio Tek Cun. Cu Ceng Hian tertegun.

"Nona yang keliru memasuki daerah terlarang itu adalah siau-sumoay dan Pipa-emas Hok To Beng ialah nona Mo Lan Hwa..." seru nyonya Tio tua pula.

Cu Ceng Hian tenangkan diri dan memberi keterangan: "Tadi ji-saycu Tin Kwun Tong kebetulan datang ke gunung timur, Demi melihat nona itu berada dalam jaring, ia berteriak menyebut "siau-moay" lalu membuka jaring itu sendiri dan mengajak si nona pulang ke markas.

"Mah, aku hendak pulang memeriksanya," bergegas Tio Tek Cun berkata lalu lari menuju ke puncak di sebelah muka.

Melihat ke tujuh saudara Tio itu agak gugup ketika mengetahui Mo Lan Hwa itu adik seperguruan dari Pipa- emas Hok To Beng, Gin Liong segera memberi penjelasan:

"Adalah karena kudanya binal maka taci Hwa sampai masuk daerah terlarang dan terjerumus dalam jaring perangkap, Soal itu tak dapat menialahkan siapa2..."

"Mungkin Siau sauhiap belum jelas akan keadaan yang sebenarnya. Nona Mo itu sangat disayang sekali oleh ketiga tokoh Swat-thian Sam-yu. Mereka menurut saja apa yang nona itu minta. Apabila peristiwa ini sampai terdengar oleh Swat-thian Sam-yu, wah, runyam juga, Pipa-emas dan Kakek Pemabuk, masih dapat dilayani, Tetapi si gila Hong- tian-soh itu paling sukar dihadapi. Dia paling  sayang kepada siau-sumoaynya nona Mo Lan Hwa," Siau-yau  ih- su Tio Tek Beng cepat menjelaskan.

"Maka setiap orang yang tahu akan hubungan mereka, tak ada yang berani mengganggu nona Mo," ia menambahkan pula.

Gin Liong termenung. Tiba2 ia melihat wajah Tio  Li Kun tidak senang tadi, Iapun mendapat kesan bahwa nona jelita itu lebih anggun wajahnya dari Ki Yok Lan.

Rupanya si limbung Thiat-lo-han tak puas mendengar keterangan toakonya, ia membenturkan sepasang palu besinya dan mendengus marah:

"Hm, apa itu Pipa-emas, Pipa-perak dan Swat-thian Sam- yu. Begitu berjumpa dengan aku si Thiat-lo-han ini tentu akan kuhajar dengan sepasang palu besiku ini !"

"Tolol, jangan menggila. Mari kita lekas pulang untuk menjenguk nona Mo itu. Sudahlah, apabila peristiwa ini terdengar Swat-thian San-yu akulah yang akan menghadapinya," kata nyonya Tio tua.

Kemudian dengan wajah yang ramah, nyonya tua itu mengajak Gin Liong ke markas karena Mo Lan Hwa sudah berada disana.

Gin Liong meragu. ia teringat akan sumoaynya, Ki Yok Lan. yang menunggu di hotel dalam kota Hong-shia.

"Apakah Siau sauhiap masih ada urusan lain lagi ?"  tanya Tio Tek Beng.

Dengan terus terang Gin Liong menerangkan tentang sumoaynya yang menunggu di hotel kota Hong-shia, Apabila besok pagi2 ia  tak datang, sumoaynya tentu gelisah.

"Menginap di hotel apakah sumoay Siau sauhiap itu ?" tanya Tio Tek Giam.

"Hotel Ko Liong." sahut Gin Liong.

Mendengar itu Tio Tek- Giam segera minta kepada toakonya supaya melepas burung dara pembawa surat, memberitahu kepada ketua cabang di kota Hong-shia supaya besok pagi2 mengirim orang menemui nona Ki dan memberitahukan bahwa Siau Gin Liong berada di markas persaudaraan Tio di gunung Mo-thian-san.

Tio Tek Beng menyetujui Gin Liong menghaturkan terima kasih kepada persaudaraan Tio atas bantuan mereka.

Demikianlah nyonya Tio dengan diiringi oleh putera puterinya dan seluruh anak buah gunung Mo-thian-san segera membawa Gin Liong menuju ke markas besar.

Markas itu terletak dalam lembah. Terdiri dari beberapa bangunan gedung yang indah, setelah melalui beberapa bangunan dan lorong akhirnya masuklah mereka kedalam sebuah gedung. Disitu telah menunggu para menantu dari nyonya Tio tua.

Ternyata memang Mo Lan Hwa sudah menunggu dalam ruang itu. pertemuan itu amat menggembirakan sekali.

Tengah mereka bercakap-cakap, tiba2 masuklah si limbung Thiat-lo-han terus langsung menunjuk kepada Mo Lan Hwa:

"Mah, nona ini mengendarai kuda menerobos penjagaan anak buah kita, Kelak dia tentu akan menjadi seorang nyonya gila !" "Lo Ngo, mengapa engkau begitu kurang adat terhadap nona Mo !" seru nyonya Tio tua seraya gentakkan tongkatnya ke lantai, "hayo, lekas minta maaf kepada nona Mo !"

Melihat mamahnya marah, si limbung Thiat-lo-han termangu-mangu. ia segera minta maaf kepada Mo Lan Hwa.

Nyonya Tio tuapun segera menyuruh menyediakan hidangan untuk menghormat kedua tetamunya.

Gin Liong tahu bahwa nyonya Tio tua itu dahulu adalah pendekar wanita Lok-yang li-hiap yang termasyhur  ia makin menaruh hormat kepada nyonya tua itu.

Demikian pula dengan nyonya Tio tua. Tahu bahwa Gin Liong itu murid dari Pelajar-muka-tertawa Kiong Cu Hun, ia semakin berkenan dalam hati.

Diam2 putera2 juga tahu bahwa mamahnya itu amat setuju dengan Gin Liong. Bahkan si limbung Thiat-lo-han yang suka bicara secara blak-blakan pun tahu kalau mamahnya suka kepada pemuda itu.

"Mah, kulihat engkau malam ini sangat gembira sekali, mulut terus terbuka tertawa-tawa saja. Kalau memang suka, mengapa tak memungut budak laki itu sebagai putera angkat ?"

Mendengar itu gemparlah suasana perjamuan. Semua mata mencurah kearah si limbung.

Si limbung melongo.

Sekonyong-konyong dengan muka berseri tawa, Gin Liong berbangkit dan melangkah kehadapan nyonya  Tio tua lalu memberi hormat: "Mah, terimalah hormat dari Liong-ji," katanya seraya terus berlutut dan menghaturkan hormat sampai empat kali.

Nyonya Tio tua sangat gembira sekali sehingga  ia tertawa mengucurkan airmata.

Nyonya itu segera minta Gin Liong bangun dan berdiri disampingnya. Putera2nya gembira sekali dan memberi selamat kepada mamahnya.

Demikian upacara pengangkatan putera itu berlangsung dalam suasana yang menggembirakan.

Saat itu hari sudah menjelang terang tanah dan Gin Liongpun segera minta diri hendak kembali ke kota Hong- shia.

"Ah, engkau masih muda belia, belum berpengalaman dalam dunia persilatan. Aku sungguh kuatir engkau seorang diri berkelana dalam dunia persilatan itu." kata nyonya Tio tua.

"Mah, sudah lama aku tak keluar dari gunung. Aku ingin menemani Liong-te turun ke dunia persilatan," tiba2 si cantik Tio Li Kun berkata.

Tio Tek Beng segera mendukung: "Jika demikian mamah baru legah pikirannya."

Mendengar itu nyonya Tio tua mengangguk setuju. "Mah, aku juga kepingin bersama-sama Liong te..." seru

si limbung Thiat-Io han.

Tetapi nyonya Tio menolak.

Mendengar mamahnya setuju, Tio Li Kun girang sekali.

Segera ia suruh pelayan menyediakan kuda. "Adik Liong, turunlah dulu mencari kedua ekor kuda kita, Aku dan taci Li Kun akan menunggumu di mulut lembah," kata Mo Lan Hwa.

Tiba2 Tio Tek Cun masuk dengan membawa sehelai kertas, serunya: "Toako, celaka !"

"Mengapa, Liok-te?" seru Tio Tek Beng.

Tio Tek Cun menyerahkan surat kepada toa-konya lalu berpaling kearah Gin Liong:

"Liong-te, sumoaymu itu apa bukan dara yang berumur 17 tahun."

"Ya, kenapa?" tanya Gin Liong.

Sambil menunjuk kearah surat yang dipegang toakonya, Tio Tek Cun berkata cemas:

"Menurut surat dari ketua cabang kita di Hong-shia, semalam seorang dara baju putih yang bermalam di hotel Ko Liong telah berkelahi dengan Hun-tiap Sam-long, salah seorang tokoh dari kedelapan Thiat-san Patkoay, Pagi tadi jongos hotel mengatakan bahwa dara baju putih sudah menghilang."

Setelah selesai membaca surat, berkatalah Tio Tek Beng: "Rupanya nona Ki tentu ditawan oleh penjahat cabul itu."

Mendengar itu merah padamlah muka  Gin  Liong, Segera ia menghampiri ke harapan nyonya Tio dan mohon diri.

Setelah memberi hormat, ia terus melesat keluar.

"Liong-te, tunggu," seru Tio Tek Beng, Gin Liong hentikan langkah, "Harap Liong-te jangan gegabah, Thiat- san itu sangat berbahaya, Kedelapan Thiat-san Pat-koay itupun teramat ganas sekali..." "Baiklah, harap toako jangan kuatir," kata Gin Liong, "sekalipun Thiat-san itu sebuah neraka, aku tentu dapat mengobrak abriknya."

Habis berkata Gin Liong terus melesat pergi "Liong-ji, hati-hatilah," nyonya Tio seraya menyuruh Tio Li Kun segera menyusul pemuda itu, "lekas kalian berdua menemani Liong ji."

Tio Li Kun dan siau Hoan girang sekali. Sambil menarik tangan Mo Lan Hwa, Tio Li Kun berseru kepada Tio Tek Cun : "Liok-ko, mah kita segera berangkat."

Mereka bertiga segera melesat keluar.

Melihat liong-te dan jit-moaynya pergi, si limbung Thiat- Io hanpun minta ijin kepada mamahnya.

Karena kuatir Gin Liong tak cukup tenaganya. nyonya Tiopun mengijinkan si limbung Thiat-lo-han ikut.

Tek Cun naik kuda merah dan sijelita Tio Li Kun naik kuda putih, Sedang Mo Lan Hwa mengikuti dibelakang kuda putih itu. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Gin Liong pun tiba dengan naik kuda hitam dan kuda  hitam kaki putih.

Mereka segera berangkat turun gunung, Rupanya Gin Liong terburu-buru sekali hendak mengetahui berita sumoaynya, ia mencongklangkan kuda hitamnya dan meninggalkan ketiga kawannya di belakang.

Tiba di kota Hong-shia. Mo Lan Hwa bertiga tak melihat bayangan Gin Liong lagi, Mereka segera mencari rumah penginapan Ko Liong.

Ternyata Gin Liong memang sudah berada disitu, Gin Liong menerangkan bahwa laporan kepala cabang itu memang benar, Ki Yok Lan sudah lenyap. Mereka berempat segera meninggalkan kota Hong-shia. Tetapi mereka dikejutkan oleh munculnya si limbung Thiat lo-han. Si limbung tertawa-tawa girang sekali karena dapat bertemu dengan keempat anak muda itu.

"Hai, siapa yang suruh engkau menyusul ?" tegur Tio Li Kun.

"Mamah," sahut si limbung, "bukankah kalian hendak menuju ke gunung Thiat-san ? Hayo, aku yang menjadi penunjuk jalan."

Tengah hari mereka tiba di Pak-kwan. Si limbung menggerutu panjang pendek karena perutnya lapar, Akhirnya Gin Liong setuju untuk beristirahat mengisi perut disebuah rumah makan.

Si Limbungpun segera pesan beberapa macam hidangan yang lezat. Dalam pada itu Gin Liong memperhatikan bahwa para tetamu rumah makan itu kebanyakan adalah orang2 persilatan dan kaum pedagang.

"Orang tua itu memang aneh sekali. Beberapa hari yang lalu katanya berada di sebuah lembah gunung Tiang-pek- san, kemarin sudah lari lagi ke Tay-sip-kiau . .. ." kata seorang tetamu.

Gin Liong tertarik perhatiannya dan melirik. Disebelah meja di tengah ruangan, penuh diduduki orang2 persilatan. Ada yang tua ada yang muda. Dan yang bicara itu adalah seorang lelaki pertengahan umur, berwajah merah.

"Keadaan orang tua itu memang aneh, Asal jangan mengganggu cermin pusakanya, dia pun diam saja. Tetapi kalau cermin itu di ganggu, baru dia akan membunuh."

Kemudian orang itu berkata kepada siorang tua: "Tio lopeh, kalau pergi ke sana kita hanya melihat-lihat saja, jangan sekali2 ikut turun tangan." Yang dipanggil paman Tio itu tertawa : "Peristiwa itu sebenarnya sudah diketahui oleh dunia persilatan. Hanya saja, sampai saat ini belumlah seorangpun yang tahu siapa sesungguhnya orang tua pembawa cermin itu. Yang mati tempo hari ialah si Pengemis-jahat-kaki-telanjang, paderi Hoa dan nenek buta Tongkat-burung-bangau."

Ia menghela napas, kemudian melanjutkan "Kabarnya saat ini Kim-piau Ma Toa Kong dari partai Tiam-jong-pay, Bu Tim cinjin dari Kiong-lay-pay dan seorang lotiang dari Kong-tong-pay menuju ke Tay-sip-kiau."

Tertarik hati Gin Liong akan percakapan itu. Asal menuju ke Tay-sip-kiau, ia tentu dapat menemukan orang itu, Tetapi saat itu ia harus ke gunung Thiat-san untuk membebaskan sumoay nya.

Pembicaraan orang2 yang berada di meja tengah itu, kebanyakan berkisar tentang diri orang tua pembawa cermin Gin Liong dapatkan Mo Lan Hwa dan  kawan2, juga mendengarkan dengan penuh perhatian. Hanya si limbung Thiat-lo-han yang masih enak2 melahap ayam panggang dan arak.

Tiba- Gin liong terkejut karena melihat Siau-bun-hou Tio Tek Cun tengah memandang kebelakang tubuhnya dengan mata berapi-api. Ketika Gin Liong berpaling dilihatnya tak jauh dari tempat duduknya, dua orang paderi dan imam sedang duduk menghadapi pinggang dan cawan arak yang sudah kosong, Rupanya mereka sudah kenyang makan minum.

Si paderi mengenakan jubah hitam, punggungnya menyanggul sebatang senjata macam sekop yang diikat dengan gelang. Alis tebal mata besar, Matanya berkilat-kilat jahat. Si imam mengenakan jubah bersulam patkwa, menyanggul pedang pada punggungnya, Sepasang matanya yang jelalatan menandakan dia seorang yang licik dan ganas.

Kedua paderi dan imam itu memandang tak berkedip kearah Mo Lan Hwa. Mulutnya berkomat-kamit seperti menelan air liur.

Sudah tentu Gin Liong marah tetapi karena ia tak ingin menimbulkan onar, maka memberi isyarat mata kepada Tek Cun supaya bersabar.

"Hm..." walaupun menurut tak urung Tek Cun mendengus geram untuk menyalurkan kemarahannya.

Mendengar itu Thiat-lo-han berpaling, Tetapi saat itu Gin Liong cepat menuang arak pada keempat kawannya. Melihat arak, Thiat lohan lupa malah. Segera  ia menyambar dan terus meneguknya

Tio Tek Cun serta mertapun segera menghaturkan arak kepada Mo Lan Hwa. Nona itu diam2 memperhatikan sikap Tek Cun yang begitu hangat dan mesra kepadanya.

Diam2 Gin Liongpun memperhatikan bahwa sejak kemarin malam, memang Tek Cun sangat menaruh perhatian istimewa terhadap Lan Hwa, ia membayangkan bahwa kedua muda mudi ini memang merupakan sejoli yang amat cocok sekali. Apabila keduanya dapat terangkap jodoh, wah, iapun ikut gembira.

Memikir sampai disitu, diam2 Gin Liong seperti terlepas dari suatu tindihan asmara.

Bidadari-Mo thian-san Tio Li Kunpun memperhatikan betapa mesra engkohnya Tek Cun itu bersikap terhadap Lan Hwa. Pun ia memperhatikan bahwa dalam soal itu ternyata Gin liong malah mendukung. Dengan demikian timbullah harapan makin besar hati bidadari dari gunung Mo-thian-san itu terhadap Gin Liong.

Tetapi dikala membayangkan betapa girang Gin Liong memikirkan sumoaynya, diam-diam hati Tio Li Kun agak rawan.

Setelah seusai makan dan membayar rekening, mereka dapatkan kedua paderi itu sudah pergi.

"Kedua paderi dan imam itu tentu murid2 perguruan agama yang bejat," kata Gin Liong.

"Kita masih mempunyai urusan penting yang harus dikerjakan lebih baik, jangan cari perkara lain,"

"tiba2 si jelita Tio Li Kun menyeletuk.

"Hai, urusan apa ?" tiba2 si limbung Thiat-lo-han berseru.

"Bukan urusanmu !" tukas Tio Li Kun.

Gin Liong segera mengajak kawan-kawannya berangkat. Kelima kuda mereka lari secepat angin. Baru melintasi dua buah puncak gunung, kuda hitam yang dinaiki Gin Liong meringkik keras. Ternyata tak jauh di sebelah muka, tampak dua ekor kuda sedang berjajar menghadang jalan. Siapa lagi kalau bukan kedua paderi dan imam yang makan di rumah makan tadi.

"Kedua manusia itu rupanya memang sudah bosan hidup," kata Tek Cun.

"Aku saja yang mengantar mereka pulang ke akhirat," tiba2 si limbung Thiat-lo-han berseru, mencabut sepasang palu besi.

Paderi dan imam itu tertawa gelak2, serunya: "Aha, ternyata Budha telah memberi kemurahan kepada kami berdua untuk mendapatkan apa yang kita ingini" Mereka mencabut senjata dan memutar-mutar jual kegarangan.

Kuda hitam, kuda hitam kaki putih dan kuda putih tiba2 meringkik keras dan menerjang kemuka dan wut, wut, wut, ketiga ekor kuda itupun loncat ke udara melayang melampaui kepala kedua paderi dan imam,

Kedua paderi dan imam itu pucat wajahnya menjerit dan tundukkan kepala, Keringat dingin mengucur deras.

"Hai, lihatlah pusakaku !" teriak si limbung Thiat-lo-han seraya melemparkan kedua palu besi kearah kedua orang itu.

Paderi dan imam makin menjerit kaget dan loncat dari kuda, berguling-guling ke tepi jalan.

Bum, sepasang palu besi itu menghantam tanah, menimbulkan debu dan pasir yang menutupi pemandangan.

Tar, tar           kembali terdengar cambuk menggelegar di

udara, Kedua paderi dan imam itu terkejut tetapi mereka tak dapat menghindar dari cambuk lagi. Cambuk si limbung Thiat-lo-han dan Tek Cun masing2 telah menghajar kepala kedua paderi dan imam itu sehingga mereka berkunang- kunang matanya, menjerit-jerit lari menghampiri kuda, lalu melarikan diri.

Tetapi kembali mereka harus berhadapan dengan dua orang penghadang. Hanya saja, kali ini mereka tidak terkejut ketakutan melainkan tertawa gembira sekali.

Kedua penghadang itu bukan lain adalah Mo Lan Hwa yang naik kuda hitam kaki putih serta Tio Li Hwa yang naik kuda putih. Mo Lan Hwa dan Tio Li Kun memainkan pedangnya dengan gencar dan tengah mengancam kedua paderi dan imam itu. Jika tadi dalam rumah makan mereka begitu bernafsu sekali melihat Mo Lan Hwa yang cantik, Saat itu mereka rontok nyalinya ketika melihat ilmu permainan pedang kedua jelita yang begitu hebat.

"Li-posat, ampunilah jiwa kami . . . ." belum selesai mereka berkata, dua sinar pedang melayang dan menjeritlah mereka karena kepala mereka terbang dari tubuhnya.

"Ho, mereka sudah pulang ke akhirat, tetapi kita belum tahu namanya. Bagaimana kalau kelak kita akan menyambangi mereka?" sambung Thiat-lo-han menggerutu.

"Sudahlah ngo-ko," seru Tek Cun, "lain kali jangan mengeluarkan pusakamu lagi, jangan sekali-kali suka melemparkan senjatamu. Kalau lawan dapat menghindar dan menyerangmu, bukankah engkau akan menghadapi kesulitan ?"

Si limbung turun dari kuda, memungut sepasang palu besinya dan tanpa berkata terus lompat keatas punggung kudanya lagi.

Dikala baru saja matahari terbenam, mereka tiba di desa Ban hok-cung.

Walaupun sebuah desa, tetapi Ban-hok-cung amat ramai.

Demikian pula pada waktu malam, ramai sekali.

Tek Cun memilih sebuah rumah penginapan besar dan memilih tiga buah ruang, Ruang tengah ditempatinya bersama Gin Liong, Kamar samping kanan oleh Tio Li Kun dan Lan Hwa. Sedang kamar kiri  ditempati si limbung Thiat-Io-han sendiri.

Malam itu mereka berlima tidur dengan kenangan masing2. Gin Liong gelisah memikirkan pembunuh suhunya, keselamatan sumoaynya dan tempat beradanya Ban Hong Liong-li.

Siau-bun-hou Tio Tek Cun gelisah dirangsang getar2 asmara. Sudah dua tahun ia memendam asmara kepada Mo Lan Hwa.

Bidadari gunung Mo-thian-san Tio Li Kun gulak-gulik tak enak tidur karena memikirkan Gin Liong, pemuda yang telah mencuri hatinya, kini pemuda itu berada dekat sekali tetapi bagaimanakah ia dapat mengutarakan perasaan hatinya.

Mo Lan Hwapun menyesali nasibnya, Dia marah karena Gin Liong bersikap dingin kepadanya, Karena dendam cemburu, maka ia sampai hati merancang rencana sehingga sidara cantik Ki Yok Lan jatuh ke tangan orang jahat, Kini ia menyesal dan menangis.

Keesokan harinya ketika melihat mata Mo Lan Hwa membendul bekas menangis, Gin Liong heran dan tak enak hati.

Tek Cun ingin menghibur tetapi tak tahu bagaimana cara memulai kata-katanya. Demikian pula dengan Tio Li Kun.

Waktu makan pagi hanya si limbung Thiat-lohan yang kurang tidur nyenyak semangatnya segar, makan paling banyak sendiri.

Singkatnya, mereka telah tiba di gunung Thiat-san. Tiga penjuru gunung itu merupakan laut sehingga sukar untuk mendaki keatas. Secara terang-terangan datang berkunjung melalui pintu muka, tentu sukar diterima. Dan hal itu hanya akan mengejutkan lawan saja.  Maka  diputuskan akan naik pada waktu malam, Setelah menolong Ki Yok Lan, baru nanti membasmi kawanan penjahat gunung itu. Untuk menghilangkan kecurigaan musuh, mereka mereka mengambil jalan kecil di sebuah desa. Petang hari mereka sudah tak jauh dari kaki gunung. Dan pada waktu malam itu mereka memasuki sebuah desa kecil yang terdiri hanya beberapa buah rumah. Saat itu sepi sekali, penduduk disitu sudah tidur. Mereka berhenti di sebuah rumah batuan dan mengetuk pintu. Seorang kakek tua berumur 70-an tahun membuka pintu. Tok Cun menyatakan bahwa dia bersama beberapa saudaranya hendak minta tolong meniupkan kuda.

Melihat kelima tetamunya itu bersikap sopan dan menghormat, orang tua itu mempersilahkan mereka masuk. Lima orang pemuda muncul dengan membawa lentera.

"Bawalah kelima ekor kuda tetamu kita ini ke belakang dan beri makan secukupnya," kata orang tua itu.

Setelah menghaturkan terima  kasih, kelima pemuda itupun segera pergi dalam malam gelap, Setelah berunding sejenak, mereka segera gunakan ilmu lari, dan tak berapa lama tiba di kaki gunung sebelah utara.

Gunung Thiat-san mempunyai bentuk seperti seorang raksasa hitam. Sejenak merenung, diam2 Gin Liong teringat akan peringatan Swan yau-ih-sa Tio Tek Beng bahwa gunung Thiat-san itu amat berbahaya sekali.

Kemudian mereka mulai mendaki. Gin Liong dan Tek Kun di muka, Lan Hwa dan Li Kun di tengah, sedang si limbung Thiat-Io-han di belakang.

Mereka tiba disebelah karang terjal yang menjulang tinggi. Udara berselimut kabut tebal sehingga sukar melihat diatas jarak empat puluh tombak.

Untuk menghindari serangan senjata gelap, mereka satu demi satu melambung ke atas puncak. Pertama tama yang enjot tubuh ke udara adalah Gin Liong. Karena pengalaman di gunung Mo-thian-nia, begitu tiba dipuncak karang itu segera ia bersembunyi dibalik segunduk batu.

Baru tiba dibelakang batu, hidungnya sudah terdampar bau yang harum, Ketika berpaling ternyata si jelita Tio Li Kun sudah berada di sampingnya Keduanya saling mengangguk tertawa.

Setelah itu baru Mo Lan Hwa. Tek Cun dan terakhir si limbung Thiat-lo-han.

Sampai pada jarak dua-puluhan tombak di sebelah muka, hanya gunduk2 batu yang aneh bentuknya, suara ombak mendebur yang terdengar.

Mereka segera berjalan ke muka, Li Kun tetap mengikuti di belakang Gin Liong, Tek Cun mengikuti di belakang Mo Lan Hwa dan si limbung yang mengekor di belakang sendiri.

Tak berapa lama mereka tiba dimuka sebuah puncak kecil. Mendaki puncak itu, suasana amat menyenangkan. Penuh dengan pohon2 hijau, kabut berair yang menyegarkan muka, Makin masuk ke depan, keadaan gunung makin berbahaya dan makin terdengar jelas debur ombak laut.

Karena malam gelap, tanpa sengaja mereka telah tiba disebuah lembah. Lembah itu penuh dengan rumput dan bunga2 tintan. Rupanya telah dibangun oleh kawanan gunung Thiat-san menjadi sebuah tempat yang indah.

"Liong-te." kata Tek Cun, "kalau tak salah kita sudah berada di tengah2 gunung Thiat-san. Rasanya markas mereka sudah tak berapa jauh." "Liong-te." tiba2 pula si jelita Li Kun berkata," mungkinkah terjadi suatu perobahan dalam markas mereka

?"

Belum Gin Liong menjawab, Tek Cun sudah mendahului: "Kurasa tidak, Selama dalam perjalanan kita tak melihat bekas2 pertempuran."

Mo Lan Hwa mendengus tak puas: "Tetapi mengapa selama dalam perjalanan kita tak bertemu barang seorang manusia ?"

Karena tubuhnya tinggi besar dan ilmu ginkangnya agak rendah, maka begitu tiba, napasnya terengah-engah dan keringat bercucuran deras.

"Keparat, Thiat-san Pat-koay mungkin sudah mampus !" ia mengomel panjang pendek.

Tek Cun berempat terkejut ia hendak memberi peringatan agar engkohnya kelima itu jangan bicara Keras2. Tetapi tiba2 terdengar suara tertawa seram, mengalun di udara.

Jika Gin liong terkejut dan marah karena merasa jejaknya telah diketahui musuh, tidaklah begitu dengan si limbung Thiat-lo-han yang malah menantang:

"Ngo-ya telah datang, hayo suruh Pat-Koay keluar menerima kematiannya !"

Malam sunyi, suara teriakan Thiat-lo-han itu berkumandang jauh, sampai ke langit Tiba2 terdengar suara orang tertawa gelak2. Gin liong berlima terkejut. Jelas dari nada tertawanya dapat diketahui bahwa orang itu memiliki ilmu tenaga-dalam yang hebat. Tentu salah seorang anggauta dari kedelapan Pat-koay. "Budak, kalian datang terlambat ?" Rajawali-gundul- lengan-besi sudah lama menunggu disini!" seru orang itu pula lalu tertawa.

Tring, karena marah, si limbung benturkan sepasang palu besinya dan berteriak: "Kalau sudah lama menunggu, mengapa tak lekas keluar !"

"Budak bermulut besar, apa engkau kira kami Pat-koay ini sungguh2 takut kepada kalian bertujuh?" sahut orang itu lalu berseru memberi perintah: "Barisan obor kanan kiri..."

Dari samping kanan dan kiri segera terdengar gelombang teriakan yang menggemparkan. Menyusul hampir seratus buah obor segera menyala.

Lebih kurang tiga-puluh tombak disebelah kanan dan  kiri, tampak beratus-ratus anak buah gunung Thiat-san yang mengenakan pakaian hitam. Yang seratus orang memegang obor dan sisanya mencekal senjata golok.

Dan ketika Gin Liong berlima memandang ke muka, ternyata diantara gunung2 batu sejauh tiga-puluh tombak, tegak delapan lelaki berwajah seram. Ada yang berkepala gundul, yang berambut panjang berwajah pucat, bertubuh gemuk, kurus kering dan tinggi pendek serba menyeramkan.

Dibelakang berpuluh tombak dan kedelapan manusia aneh atau Pat-koay itu, tampak dinding tembok markas mereka yang tinggi.

Dengan mata berapi-api buas, kedelapan orang itu secara pelahan-lahan maju menghampiri ke tempat Gin Liong berlima.

"Liong-te, mereka itulah Pat-koay." Li Kun melesat ke samping Gin liong dan membisiki. Yang didepan dari rombongan Pat-koay itu kepalanya gundul, rambut putih, hidung bengkok, umurnya 70-an tahun, mengenakan jubah yang panjang sampai menyapu tanah. Dia adalah Rajawali-gundul-lengan-besi Gui Se Leng, jago pertama dari Pat-koay.

Dibelakang dua orang, yang satu rambut dan jenggotnya kelabu, matanya tinggal satu, alis panjang mengenakan pakaian warna kelabu, namanya Li Ko Ceng bergelar Tok- gan-liong atau Naga-mata-satu, Dan yang satunya adalah seorang paderi bermata besar, alis tebal, dada penuh rambut lebat Toa To hwesio atau paderi perut Besar  demikian nama gelarannya.

Dua orang di belakangnya lagi, yang satu bermuka pucat, mengenakan baju dari kain kasar, Dia adalah jago keempat dari Pat-koay. julukannya Hwat-kiang-si atau Mayat Hidup, Dan yang seorang, beralis naik, mata cekung mengenakan pakaian hitam. Dia adalah Ngokoay atau jago kelima, bergelar Hek-bu-siang atau setan hitam.

Disamping kiri dari kelima Pat-koay itu, seorang lelaki yang rambutnya terurai ke belakang, pakaian compang camping, Dia adalah Lak-pian-seng atau Manusia Kotor. Sebelah samping kanan, seorang wanita yang dandanannya menyolok selain Hoa-ciau-hong atau Bunga-mengundang- kumbang demikian gelaran wanita cabul itu.

Dan paling belakang sendiri seorang lelaki berumur 30- tahun lebih, mengerjakan pakaian warna meraih mukanya berbedak, rambut kelimis, tubuhnya kurus. Dia adalah Hun-tiap-sam-long atau pemuda Kupu-berbedak, yang baru dua jam berselang kembali ke gunung.

Demi melihat Gin Liong dan Mo Lan Hwa yang pernah dilihatnya didalam kota Hong-shia seketika berobahlah wajah Hun-tiap Sam-long, ia segera tahu maksud kedatangan kelima pemuda itu. Maka dia tak berani unjuk diri di muka melainkan berada di belakang rombongannya.

Saat itu rombongan Pat-koay sudah tiba pada jarak tujuh tombak. Serentak Bidadari gunung Mo-thian-san Tio Li Kun menunjuk ke arah Hun-tiap Sam-long.

"Liong-te, yang dibelakang sendiri itu adalah Hun-tiap Sam-long . . ."

Gin Liong serentak berteriak gusar: "Penjahat cabul, serahkan jiwamu . . . ." - ia terus meluncur maju untuk menyerang.

"Liong-te, jangan . . . ," teriak Tio Li Kun. Tetapi terlambat, Gin Liong sudah menyerbu diantara Hek - bu - siang dan wanita cabul Hoa -ciau-hong.

Yang dipandang sebagai lawan berat oleh Pat-koay, hanialah Tek Cun dan si jelita Li Kun dari ke tujuh persaudaraan Tio. Gin Liong dan Mo Lan Hwa tak dipandang mata.

"Budak, berhenti . . . !" bentak Rajawali-gundul-lengan- besi. Tetapi saat itu Gin Liong sudah berada di depan Hek - bu - siang dan Hoa-ciau-hong.

Hek-bu-siang cepat tutukkan jarinya yang kurus ke pinggang Gin Liong. Tetapi tanpa menghiraukannya, Gin Liong menyelinap dan meneruskan serbuannya kepada Hun tiap Sam long.

Apabila Hek-bu-siang tercengang adalah Hoa-ciau-hong sudah menghantam muka Gin Liong.

"Enyah !" bentak Gin Liong segera balas menghantam bahu kiri wanita itu, Dan serempak iapun terus menyelinap ke arah Hun-tiap Sam-long. Melihat gerakan yang begitu tangkas dari Gin Liong, Hun-tiap Sam-long menjerit dan buru2 loncat ketempat Toa To hweshio, Tetapi Gin Liong lebih cepat Sekali loncat ia ayunkan tangannya ke ubun2 kepala orang.

"Liong-te, jangan dibunuh !" teriak Tio Li Kun.

Rupanya Gin Liong tahu apa yang dimaksud si jelita itu. Cepat ia turunkan tangan untuk mencengkeram dada Hun- tiap Sam-long.

Paderi Perut Besar mengurung dan cepat menghantam punggung Gin Liong. Tetapi pemuda itu hanya tertawa dingin, mendorong tubuh Hun-tiap Sam-long lalu berputar tubuh dan mendorongkan tangan kanannya.

Terdengar letupan keras diiring oleh jeritan aneh ketika tubuh dari paderi itu terlempar berguling sampai tiga tombak jauhnya.

Tek Cun berempatpun sudah loncat ke belakang Gin Liong Sedang si Manusia - kotor segera lari menghampiri Toa To hweshio paderi itu duduk sandarkan tubuh pada kaki Manusia-kotor, Pandang matanya berkunang2, mulut menganga terengah-engah keras.

Suasana serentak sunyi senyap, Thiat-san Pat-koay terkejut memandang Gin Liong, Mereka tak menyangka kalau pemuda tak terkenal itu memiliki tenaga-dalam yang sedemikian saktinya. Hanya sekali hantam, Toa To hweshio, pemimpin ketiga dari kawanan Pat-koay telah terlempar sampai tiga tombak.

"Penjahat cabul yang tak tahu malu. Lekas bilang, dimana sumoayku engkau sembunyikan !" bentak Gin Liong seraya menuding Hun-tiap Sam-long..

Rajawali-gundul bertambah angkuh: "Budak bermulut tajam, jelas engkau hendak jual jiwa bekerja pada persaudaraan Tio untuk merampok  gunung ini, mengapa engkau cari alasan segala macam . . ."

"Bangsat tua, tutup mulutmu !"  bentak Tek Cun, mencabut trisula pendek terus menyerang.

Serangan Tek Cun itu cepat disambut oleh Hua - ciau - liong yang sejak tadi marah melihat tingkah laku Gin Liong dan Tek Cun. Tetapi wanita cabul itupun segera disongsong oleh Mo Lan Hwa yang membabat lambungnya Tiba2 Toa To hweshio loncat berdiri terus menggerung dan menyerang Gin Liong. Melihat Tek Cun sudah melayani Hoa-ciau- hong, Mo Lan Hwa segera beralih menyerang kepala Toa To hweshio.

Tetapi paderi perut Besar itu tak mau menangkis atau menghindar melainkan tetap ulurkan tangannya hendak meraih leher Mo Lan Hwa.

"Tring..."

Mo Lan Hwa terkesiap, Ternyata gundul Toa To hweshio itu sekeras baja, Dan dalam pada itu tangan si paderipun hampir tiba di leher si nona.

-ooo0dw0ooo-
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang Tanduk Naga Bab 04 Empat tokoh aneh"

Post a Comment

close