Pedang Tanduk Naga Bab 01 Tetamu maut

Mode Malam
Bab 01 Tetamu maut

Hwe-sian-hong atau puncak pertemuan Dewa, merupakan puncak yang tertinggi dari gunung Tiang-pek- san.

Disebut puncak pertemuan Dewa, karena puncaknya menembus awan sehingga tak tampak, Begitu pula selalu diselimuti oleh salju putih, Empat penjuru dikelilingi jurang yang curam dan tebing yang terjal.

Diatas segunduk karang datar seluas beberapa tombak dari puncak Hwe-sian-hong yang dingin itu, sesosok tubuh tengah tegak bagaikan sebuah tonggak.

Dia seorang pemuda yang baru berumur sekitar 18  tahun. Bertubuh kekar dan berwajah  cakap.  Wajahnya putih segar, dimeriahkan oleh sepasang bibir yang merah dan disemarakkan oleh sepasang biji mata yang bersinar terang.

Dia mengenakan pakaian ringkas, pakaian yang biasa digunakan oleh kaum persilatan. Memakai kain kepala Bu- seng kin atau ikat kepala kaum persilatan untuk menahan angin dan hawa dingin, diapun mengenakan sehelai mantel berwarna kuning telur.

Bahu, punggungnya menyanggul sebatang pedang pusaka yang aneh bentuknya. Tangkai pedang berikatkan sutera merah yang halus seperti rambut.

Pemuda itu memandang cakrawala, wajahnya tampak sarat dan membeku. Dia tak menghiraukan tebaran salju yang berhamburan mendera muka dan tubuhnya. Sesaat kemudian terdengar mulutnya menghela napas, sarat dan panjang, Seolah sedang merenungkan sesuatu yang penting.

Memang aneh sekali, Mengapa seorang diri dia berdiri diatas karang yang sedang dilanda angin prahara dan hujan salju.

Tetapi dari kerut wajah dan helaan napasnya itu, jelas dia tentu sedang menghadapi suatu persoalan yang menggelisahkan hatinya.

Memandang cakrawala yang tengah menaburkan hujan salju itu, mulut pemuda itu tampak bergerak-gerak, Seperti seorang yang tengah berdoa atau bicara seorang diri.

Dan tempat seperti itu, dia tegak seorang diri diatas karang ? Apakah yang sedang diucapkan dalam doanya ? Mengapa ia menghela napas sedemikian sarat ?

Sekonyong-konyong matanya memancar sinar berkilat tajam sekali. Tetapi pada lain saat, sinar tajam itupun lenyap. Dan kerut wajahnyapun menampilkan suatu keputusan yang kokoh. Rasanya dia telah menentukan suatu keputusan pada persoalan yang tengah dihadapinya. Dia telah menemukan suatu penyelesaian....

Tiba2 dibawah tebaran salju putih yang lebat, terdengarlah dua buah suara orang berteriak nyaring: "Liong koko.... Liong koko "

Teriakan itu bernada cemas dan gugup, pemuda itu terkejut lalu berputar tubuh dan berseru keras:

"Adik Lan, aku disini !"

Sesosok bayangan putih, bagai seekor kupu2, segera beterbangan melintas hujan salju, meluncur kearah tempat pemuda itu. Pemuda itu terkejut Cepat ia lari menyongsong : "Adik Lan, jangan kemari, disini angin keliwat besar, Berbahaya sekali !"

Tetapi bayangan putih itu tak mengurangi laju larinya dan beberapa saat kemudian dia sudah makin dekat

Ah, kiranya dia seorang dara cantik yang baru berumur 16-an tahun. sepasang alisnya yang melengkung seperti bulan sabit, menaungi sepasang gundu mata yang memancarkan sinar bening. Bibirnya yang berbentuk sepasang kelopak bunga mawar, makin menyemarakkan wajahnya yang berbentuk bundar telur, Kulitnya yang putih mulus makin mulus dimahkotai rambut yang hitam legam.

Dara itu juga mengenakan pakaian ringkas warna putih dan mantel pendek penolak angin.

Melihat dara itu lari sedemikian gopoh dan wajah cemas, sambil pesatkan larinya, pemuda itu berseru:

"Adik Lan, apakah terjadi sesuatu dalam kuil?"

Seiring dengan kata katanya maka berhadapanlah sepasang muda mudi itu dibawah karang.

Wajah dara itu amat pucat dan sikapnya amat gelisah, Dengan napas terengah dan suara gemetar, ia berkata:

"Liong koko, katanya banyak sekali kojiu (jago2 sakti) yang akan datang ke kuil sore ini, Mereka hendak memaksa Ban Hong Liong-li Ho-cianpwe yang bertapa selama lima tahun dalam gua Kiu-kiok-tong keluar untuk menerima hukuman mati."

Menggigillah pemuda itu demi mendengar keterangan si dara.

"Siapa yang bilang ?" serunya bengis. Dara itu melonjak kaget karena mendengar suara si pemuda yang sekeras orang membentak.

"Suhu mengatakan hal itu kepada berdua susiok-cou."

Belum dara itu selesai bicara, tiba2 pemuda itu tertawa nyaring, Nadanya penuh getaran dari isi hatinya. Kumandangnya jauh menyusup keatas awan.

Setelah puas menumpahkan isi hatinya dalam tertawa yang keras dan panjang itu, tiba2 pemuda itu meraba ke bahu punggungnya dan tring...

Sinar merah memancar tajam, menyilaukan mata, Dan tangan pemuda itupun sudah mencekal sebatang pedang berwarna merah, Pedang itu panjangnya hampir satu meter.

Kilatan sinar merah dari pedang itu seolah menembus kabut tebaran salju putih, Menimbulkan suatu cahaya bianglala yang menakjubkan pandang mata.

Dara baju putih menjerit kaget dan loncat mundur sampai setombak jauhnya.

Sambil lintangkan pedang, pemuda itu tertawa nyaring pula serunya:

"Selama aku, Siau Gin Liong masih berada disini, tak mungkin kubiarkan orang akan mengacau Tiang-pek-san !"

Seiring dengan cahaya wajahnya yang  menampilkan hawa pembunuhan maka pedang itupun segera ditabaskan pada segunduk anak bukit salju di sampingnya.

"Bum..."

Tumpukan salju yang merupakan sebuah gunduk anak bukit itu segera terbang berhamburan ke seluruh penjuru. Dara baju putih menjerit dan loncat mundur beberapa langkah lagi. Sambil menuding kearah pedang yang dipegang si pemuda, dara itu berseru gemetar:

"Liong koko itu . . . itu apakah bukan pedang Tanduk Naga yang tergantung pada tirai besi mulut gua Kiu-kiok- tong tempat Ban Hong Liong-li lo-cianpwe bertapa ?"

"Benar," sahut pemuda yang bernama Siau Gin Liong," memang inilah pedang pusaka Tanduk Naga !"

Habis berkata ia terus memasukkan pedang kedalam kerangkanya lagi.

Tepat pada saat itu terdengar beberapa suitan  nyaring dan panjang menggema di udara, Suitan itu berasal dari puncak disebelah muka.

Suitan itu amat kuat dan berasal dari puncak yang jauh. walaupun salju turun lebat dapat mengumandang sedemikian nyaring. Jelas orang itu tentu memiliki tenaga dalam yang sakti

"Ho, biarlah aku yang akan menghadapi kawanan pembunuh itu lebih dulu," teriak Gin Liong dengan marah, Laksana segulung asap, dia terus meluncur kearah suara suitan itu.

"Liong koko, kembalilah...." belum dara baju putih itu menyelesaikan peringatannya kepada Gin Liong, tiba2 dia tergelincir dan jatuh jungkir balik diatas tanah salju.

Gin Liong berpaling, Kejutnya bukan kepalang. Sekali ayunkan tubuh dalam jurus Berputar-tubuh-terbang-balik, ia berputar-putar dan lari menghampiri.

Pemuda itu bahwa tahu sumoaynya, Ki Giok Lan itu seorang yang berbudi halus dan berbadan lemah, sering sakit. Dalam menghadapi peristiwa yang menggoncangkan hati, tentulah Giok Lan tak kuat dan rubuh pingsan.

Diangkatnya tubuh Giok Lan diatas pangkuannya. Setelah diurut-urut jalan darahnya, dara itu pelahan-lahan membuka mata, Dua butir air mata menitik turun dari kelopaknya...

"Liong koko, jangan pergi," katanya sambil menatap wajah pemuda itu dengan pandang meminta, "kata suhu mereka adalah jago2 yang sakti."

Gin liong mendengus geram.

"Sekalipun mereka jago2 sakti dari delapan penjuru dunia, aku Siau Gin Liong tetap akan menghadapi mereka."

Yok Lan gemetar pula, Dengan mata berlinang-linang, ia memandang wajah Gin liong, serunya dengan gemetar:

"Liong koko, jangan pergi, jangan engkau pergi..."

Gin liong tahu bahwa sumoaynya itu amat sayang kepadanya dan memikirkan keselamatan dirinya, Apabila dia berkeras tetap pergi, kemungkinan Yok Lan tentu akan pingsan. Terpaksa ia menekan kemarahan dan berulang kali menganggukkan kepala, namun pandang mata tetap berkeliaran memandang ke arah suitan itu.

Suitan sudah berhenti tetapi kumandangnya masih bergema, jauh dibawa deru angin dingin ke ujung langit.

Setelah sukonya meluluskan tidak pergi, Yok Lan lalu menggeliat bangun dan pelahan-lahan berdiri.

Tepat pada saat itu terdengar suara pakaian bertebaran ditampar angin, Datangnya suara itu dari puncak disebelah muka.

Gin liong dan Yok Lan setempat berpaling ke arah suara itu. Dibawah tebaran hujan salju yang lebat tampak tujuh sosok bayangan meluncur bagai anak panah terlepas dari busurnya.

Sepasang alis Gin Liong cepat menjungkat dan matanya berkilat-kilat. Melihat kokonya hendak bergerak, cepat2 Yok Lan ulurkan tangan mencekal lengan Gin Liong. Tetapi belum sempat ia membuka mulut tiba2 terdengarlah bunyi genta raksasa yang menggema keras sehingga salju yang hinggap diatas daun pohon2, berhamburan jatuh kebawah.

"Hai, genta bahaya..." serempak berserulah Gin Liong dan Yok Lan. Dan sekali ayun tubuh, kedua engkoh dan sumoay seperguruan itu segera lari ke arah hutan pohon siong.

Sambil berlari, Gin Liong tak lepaskan perhatiannya kepada tujuh sosok bayangan yang menuju ke kuil di puncak gunung.

Setelah melintasi hutan siong, badai salju agak reda, Dan setelah beberapa saat lagi, tembok merah dari kuil Leng- hun-si itupun mulai tampak diantara celah2 pepohonan yang tumbuh di sekitarnya.

Selekas tiba di kuil itu, kedua anak muda itupun segera menerobos masuk ke pintu samping.

Serangkum suara bergelak tawa segera berhamburan menggema dari pintu depan kuil.

"Liong koko, mereka sudah tiba," kata Yok Lan agak cemas.

Wajah Gin Liong tampak membesi. Alisnya mengerut, dahi menampilkan hawa pembunuhan. Tanpa berkata sepatahpun, dia terus lari ke masuk. Kawanan paderi jubah kelabu, bergegas-gegas keluar ke ruang muka. Gin Liong dan Yok Lan dengan gerak yang lincah dan tak bersuara telah mencapai ujung pintu ruang besar, Memandang ke muka ternyata di ruang besar telah penuh dengan kawanan paderi dari berbagai tingkatan. Kedua anak muda itu cepat2 menyelinap masuk ke ruang samping.

Pada titian tingkat sembilan dalam ruang besar itu, sebuah bejana pedupaan tengah menghamburkan kepulan asap, Asap bergulung2 dihembus angin, bertebaran memenuhi ruangan

Suasana dalam ruang besar itu sunyi senyap.

Jalan yang membentang di muka kuil telah disapu bersih oleh paderi yang bertugas menjaga kebersihan Tetapi jalan yang terbuat dari batu hijau mengkilap itu, sudah penuh pula dengan salju.

Sesaat kemudian seorang paderi pertengahan umur, bergegas melangkah masuk ke-dalam ruang besar.

Paderi pertengahan umur itu wajahnya sesuram bulan berkabut awan. Mengenakan jubah merah berjalur kuning emas, Tangannya mencekal sebatang hud-tim yang tangkainya dari batu kumala.

Dengan paksakan bersenyum, ia tengah memandang ke arah dua orang paderi yang tengah melangkah masuk dari luar, dua orang imam dan tiga lelaki tua berpakaian ringkas, Bergegas paderi pertengahan umur itu menyongsong mereka.

Paderi itu bukan lain adalah Liau Ceng taysu, ketua dari kuil Leng-hun-si digunung Tiang-pek-san. Suhu dari pemuda Siau Gin Liong dan Ki Yok-Lan. Gin Liong dan Yok Lan yang berada di ruang samping, dapat melihat dengan jelas keadaan suhu mereka, walaupun mengulum senyum tetapi jidat Liau Ceng taysu itu jelas memantulkan keriput kegelisahan.

Dua orang paderi jubah kuning, mengikuti dibelakang Liau Ceng taysu. Kedua paderi itu berjenggot putih tetapi wajahnya masih tampak segar dan penuh dengan sinar welas asih.

Kedua paderi tua itu yang seorang mencekal tongkat Ji- ih dan yang seorang memegang kelinting. Pada wajahnya yang serius, tersembul suatu hawa pembunuhan.

Kedua paderi tua itu adalah susiok atau paman guru dari Liau Ceng taysu, Mereka berdua merupakan Tiang-lo atau sesepuh dari kuil Leng-hun-si.

Kemudian masuk pula tujuh orang lelaki yang membawa sikap dan wajah angkuh, walaupun wajahnya berbeda dan tinggi pendeknya tidak sama tetapi ketujuh orang itu memiliki mata yang bersinar tajam sekali. Mereka memandang dengan pandang penuh dendam kepada Liau Ceng taysu.

Ketujuh orang itu berjalan dengan gegas seolah hendak saling berlomba dahulu mendahului

Yang dimuka adalah dua orang paderi gemuk dengan jubah yang gombrong, Yang seorang memegang tongkat Ciang-mo-jo atau Alu-penunduk-iblis, Yang seorang menyelip sebatang golok kwat-to pada pinggangnya.

Paderi gemuk bersenjata alu Ciang-mo-joh itu memiliki alis yang tebal mulut lebar, hidung besar. Orang menggelarinya dengan sebutan Ik-wi-tho atau paderi jahat, Namanya Go Ceng. Sedangkan paderi yang membawa golok kawat-to itu, berkepala besar, mulut dan perut besar tetapi alisnya kecil dan mata sipit hidung mekar.

Dia bernama Go In, digelari orang sebagai Hiong-bi-lek atau Bi-lek-hud buas.

Go Ceng dan Go In itu merupakan paderi jahat dari kuil Tay-ceng-si digunung Ngo-tay-san. Mereka adalah sepasang tokoh aliran hitam yang hebat.

Sedang yang bergegas jalan disebelah kiri kedua paderi jahat itu adalah imam Bu Tim cinjin, kepala biara Sam- ceng-kwan dipropinsi Hiaplam, pusat partai perguruan Kiong-lay-pay.

Imam itu mengenakan jubah warna merah. Umurnya lebih kurang 50-an tahun. Matanya kecil bundar, alis jarang. Sedang rambut dan jenggotnya sudah bersemu putih. sepintas memberi kesan bahwa dia tentu bukan bangsa imam yang baik.

Ma Toa-kong bergelar Kim-piau atau Piau-emas dari partai Tiam-jong-pay mengenakan pakaian ringkas kaum persilatan dari sutera hitam, memelihara jenggot pendek. Daun telinganya yang kiri sudah hilang.

Berjalan dibelakang kedua paderi jahat itu, wajah Ma Toa-kong memancar kemarahan. Sebentar memandang ke kanan, sebentar ke kiri seperti orang yang hendak menyelidiki dan kuatir mendapat serangan gelap.

Setelah dua paderi, seorang tokoh biasa dan seorang imam maka masih ada pula It Ceng tojin, paderi dari Kong- tong-pay, Tali terbang Ui Ke Siang dari Ciong-lam-pay dan Golok-seriti Tio Jin Beng dari perguruan Losan.

Liau Ceng taysu yang bergegas menyambut itu, walaupun agak kecewa setelah mengetahui siapa ketujuh pendatang itu, namun sebagai tuan rumah ia tetap bersikap ramah.

"Omitohud," serunya seraya memberi hormat, "maafkan pinceng karena tak cepat menyambut kedatangan toyu sekalian."

Bu Tim cinjin ketua dari biara Sam-ceng-kwan tertawa panjang lalu mendahului berkata:

"Adalah kami yang seharusnya minta maaf kepada taysu karena telah masuk kedalam kuil ini dengan terburu-buru sekali," serunya.

Liau Ceng taysu tertawa lebar.

"Sehabis melakukan perjalanan jauh, toyu sekalian tentu lelah, Diluar turun badai salju, silahkan masuk kedalam kuil kami."

"Badai salju telah mengacaukan cuaca sehingga tak dapat mengetahui jam" kata Piau-emas Ma Tay Kong, "saat ini kemungkinan sudah lewat tengah hari. Tiga perempat jam lagi, tentulah Ban Hong liong-li, harus melaksanakan perjanjiannya."

Ia hentikan kata-katanya untuk menyelidiki wajah Liau Ceng taysu yang mulai berobah pucat.

"Sebaiknya Liau Ceng taysu segera mengundang Ban Hong liongli untuk keluar dari gua pertapaannya agar semua urusan yang lalu dapat selesai hari ini juga." kata Ma Toa Kong pula.

Liau Ceng taysu segera menyahut:

"Maksud pinceng, hendak mohon toyu sekalian duduk didalam ruang dulu untuk merundingkan bagaimana cara memutuskan persoalan Ban Hong liongli " Ok-wi-tho Go Ceng yang bermata bundar, alis tebal dan mulut lebar, cepat deliki mata dan mendengus geram:

"Kiongcu Hun. mengapa engkau begitu banyak rewel? Suruh wanita hina Ban Hong liongli itu keluar agar dapat kuremukkan kepalanya dengan pentungku ini. Tak perlu banyak membuang waktu !"

Bluk.... dia gentakkan alu Hang-mo-ngo yang beratnya seratus kati itu ke lantai. Lantai hancur bertebaran keempat penjuru.

Melihat tingkah laku yang liar dari paderi jahat itu, Gin Liong tak kuat menahan kemarahannya lagi, serentak ia terus hendak menerobos keluar....

Untunglah saat itu Liau Ceng taysu menyebut omitohud dengan pelahan lalu berkata:

"Sejak mensucikan diri dibawah telapak sang Buddha, pinceng sudah tak memakai nama pinceng yang dulu. Harap Go Ceng sianyu suka menyebut pinceng dengan nama Liau Ceng saja, peristiwa yang dulu, janganlah dibangkitkan lagi."

Hiongbi-lek si paderi Bi-lek yang buas, tertawa mengekeh lalu berseru mengejek:

"Siapa yang mengurus soal namamu dahulu ataupun namamu yang sekarang? Rasanya tiada seorangpun yang hendak mengadakan hubungan dengan engkau Kiongcu Hun."

Habis berkata dia menengadahkan kepalanya yang besar dan matanya yang kecil seperti mata tikus memandang ke cakrawala lalu mendengus geram.

"Kiongcu Hun," serunya, "sudahlah, jangan banyak bicara yang tak berguna. Kami pun tak perlu minum hidangan tehmu, Lekas engkau bawa keluar Ban Hong liongli dari gua pertapaannya. Habis kubelah tubuh wanita hina itu, kamipun segera hendak pulang."

Melihat kata2 dan sikap kedua paderi jahat yang amat sombong itu, Liau Ceng taysu tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, ia menengadahkan kepala menghamburkan kemarahannya.

Melalui tertawa yang panjang dan nyaring, lapisan salju yang berkelompok diatas genteng, berhamburan jatuh kebawah akibat getaran tertawa dari Liau Ceng taysu itu.

Imam jahat, paderi buas dan Ma Toa Kong bertiga, seketika berobahlah wajahnya. Mereka serempak bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan dari Liau Ceng taysu.

Setelah berhenti tertawa, Liau Ceng taysu segera sapukan pandang matanya ke wajah ketujuh tetamunya itu dan berseru lantang:

"Toyu sekalian tiba di gunung ini dengan mengeluarkan suitan panjang, sudah termasuk kurang hormat. Dan sebelum pinceng menyambut, sicu sekalian sudah terus masuk kedalam kuil ini. Suatu tindakan yang lebih tidak pantas, Dan masih pula dengan sikap dan kata2 yang congkak, toyu hendak menekan orang. Adakah toyu ini memang sengaja hendak menganggap sepi ratusan paderi dari kuil Leng-hun-si ini?" kata Liau Ceng taysu.

Dengan meraung keras. Ok wi-tho Go Ceng  melesat maju sambil lintangkan senjatanya alu Penunduk-iblis, serunya:

"Apa itu segala macam kata2 kasar dan congkak tak tahu aturan? Huh, aku tak perduli sama sekali..." Seiring dengan kata2 yang terakhir dari Ok-wi-tho Go Ceng itu, sekonyong-konyong sesosok tubuh dengan jubah kuning, segera melintas keluar dari ruang samping terus menerjang Ok-wi-tho.

Ok-wi-tho, Hiong-bi-lek dan Ma Toa Kong bertiga terkejut sekali melihat ilmu meringankan tubuh dari pendatang yang muncul itu. Bahkan Liau Ceng taysu sendiri serta kedua paderi tua yang berkedudukan sebagai tianglo pun terkesiap kaget.

Bayangan jubah kuning itu segera berhenti dibelakang Liau Ceng taysu.

Ketika Ok-wi tho dan Hiong-bi-lek serta Ma Toa Kong memandang dengan seksama barulah mereka mengetahui bahwa pendatang itu tak lain hanya seorang pemuda berparas cakap dalam pakaian warna putih perak.

"Hai, budak kecil siapa engkau ?" tegur Ok-wi-tho sesaat setelah kejutnya reda.

Liau Ceng taysu mewakili memberi jawaban:

"lnilah muridku yang bernama Siau Gin Liong," ia berpaling ke belakang dan memberi perintah: "Liong-ji, lekas memberi hormat kepada berdua taysu cianpwe."

Gin Liong segera melakukan perintah suhunya. Dengan menahan kemarahannya ia segera maju menghampiri ke muka kedua paderi tua

Pada saat dia hendak memberi hormat, tiba2 Hiong-bi- lek Go In deliki mata membentak: "Tunggu dulu..."

Ia melangkah maju dan menatap wajah Gin Liong dengan matanya sipit yang berkilat-kilat seraya tertawa mengekeh. "Memiliki wajahmu begitu membesi, dahimu menampil hawa pembunuhan, heh, heh, apakah engkau merasa penasaran ?" tegurnya.

Gin Liong seorang pemuda yang masih berdarah panas, Mendengar kata2 si paderi yang begitu congkak, tak dapat lagi ia menahan kemarahannya, serentak ia tertawa nyaring lalu loncat maju.

"Kalau memang sudah tahu, mengapa masih bertanya lagi!" bentaknya dengan keras.

Mendengar itu buru2 Liau Ceng taysu membentak Gin Liong: "Liong-ji, jangan kurang aturan ! Lekas engkau mundur."

Liau Ceng taysu cemas kalau muridnya sampai celaka maka ia memberi perintah supaya anak itu mundur.

Tetapi serempak dengan itu, Ok-wi-tho Go In sudah mendahului membentak: "Bagus, budak hina, aku hendak menguji sampai dimanakah kepandaianmu itu !"

Habis berkata paderi jahat itu segera memutar alu Hang- mo-goh, Wut, angin menderu keras dan alu besi yang beratnya 100 kati menyapu ke pinggang Gin Liong.

Seketika pucatlah wajah gurunya Liau Ceng taysu, ia berseru keras seraya hendak menyerang dengan hudtim. Tetapi sekonyong-konyong Gin Liong sudah menyelinap ke belakang si paderi jahat Go Ceng.

Go Ceng menghantam dengan sekuat-kuatnya. Karena hantamannya luput, tubuhnya terhuyung ke muka dan hampir rubuh. setelah dapat memperbaiki diri,  ia celingukan kian kemari untuk mencari Gin Liong.

Alangkah kejutnya ketika melihat pemuda itu telah berada di belakangnya, ia tertegun heran. Memang Gin Liong telah menggunakan sebuah ilmu langkah yang disebut Liong-li-biau. Hanya suhunya Liau Ceng taysu yang tahu akan hal itu, ia tahu bahwa ilmu pusaka itu adalah ajaran Banhong liongli.

Saat itu ternyata Gin Liong berada di belakang paderi jahat Go Ceng, tapi berada di muka Go In. Pemuda itu tegak membelakanginya.

Seketika timbullah suatu pikiran jahat pada Liong-si-kek Go In. Dengan menyeringai iblis dan tak terduga-duga, secepat kilat ia segera menampar batok kepala pemuda itu dari belakang.

Semua orang yang melihat itu menjerit kaget.

Tetapi Gin Liong sudah siap, Dengan mendengus dingin kembali ia menggunakan gerak Liong-li-biau, sebuah ilmu meringankan tubuh yang hebat. Laksana sesosok hantu, pemuda itu sudah menyelinap pula dibelakang Hong-bi-lek Go In dan secepat kilat ia menampar kepala paderi gundul yang gemuk itu.

Setitikpun Hiong-bi-lek tak pernah menduga bahwa Gin Liong memiliki kepandaian ilmu ginkang yang sedemikian luar biasa, Ketika melihat tabah pemuda itu lenyap dan punggungnya disambar deru angin, seketika pucatlah wajah Go In.

Namun dia memang lihay, setelah menundukkan kepala untuk menghindari tamparan cepat ia loncat kemuka.

Tetapi Gin Liong tak mau memberi kesempatan lagi kepada paderi itu "Plak..." seiring dengan tangan kanannya menghantam kepala, Hong-bi-lek Go In menggeram tertahan dan paderi yang jubahnya gemuk itu, bagai sebuah bola daging yang menggelinding ke muka ruang besar. Terdengar jeritan kaget dari para paderi yang berada di muka ruang. Buru2 mereka menyingkir asal jangan sampai dilanda oleh tubuh Hiong-bi-lek.

Sesosok bayangan kuning melintas, salah seorang tiang- lo dari kuil leng-hian-si telah ulurkan tangan untuk menahan tubuh Hiongbi-lek yang menggelinding itu.

Dengan menggerung keras, Hiong-bi-lek melenting bangun, Ketika berdiri, ia masih rasakan kepalanya pening dan mata berkunang-kunang. Tring . . . . cepat ia mencabut golok kwat-to lalu celingukan memandang kian kemari mencari Gin Liong.

Bu Tim cinjin, Piau-emas Ma Toa Kong dan Tali terbang Ui Ke Siang biasanya memang tak begitu memandang mata kepada kedua paderi jahat itu. Melihat Go In  mendapat kopi pahit dari seorang anak muda, bukan ikut marah, kebalikannya mereka malah tertawa gelak-gelak.

Kuatir akan menimbulkan kemarahan para tetamu dan terjadi hal2 yang tak diingini, Liau Ceng taysu membentak kepada muridnya:

"Liong-ji, mengapa engkau cari onar? Hayo, lekas masuk

!"

Melihat suhunya marah, Gin Liong mengiakan dengan

hormat lalu hendak berputar tubuh menurut perintah.

Tetapi tiba2 kedua paderi jahat itu menggembor keras, Mereka berhamburan menyerang Gin Liong dengan senjata alu dan golok.

Tetapi Gin Liong tak gentar, ia mendengus dingin dan hentikan langkah.

Tiba2 sesosok tubuh melesat kemuka dan berseru : "Harap taysu berdua berhenti dulu..." Ok-wi-tho Go Ceng dan Hiong-bi-lek Go In tertegun. pendatang itu bukan lain adalah imam tua yang punggungnya menyanggul pedang atau It Ceng tojin ketua Kong-tong-pay.

"Apa-apaan engkau melarang aku ?" teriak kedua paderi jahat itu dengan deliki mata.

"Tidak apa2" sahut It Ceng tojin yang bergelar Bu-song- kiam atau Pedang tiada keduanya, "hanya ingin memperingatkan kalian bahwa tiga perempat jam lagi mungkin kalian belum selesai bertempur."

Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong terbeliak, Cepat mereka mencurah pandang kearah Liau Ceng taysu seraya berseru:

"Kiongcu Hun, apakah engkau berani mengulur waktu lagi ?"

Menderita perlakuan kasar beberapa kali dari pendatang2 itu. Liau Ceng taysu marah, ia tertawa nyaring.

"Baru beberapa detik toyu sekalian datang ke kuil kami dan baru beberapa patah kata toyu bercakap-cakap, mengapa menuduh pinceng mengulur waktu ?" serunya marah.

Kedua paderi jahat Go Ceng dan Go In  tak dapat menjawab.

Tiba2 Liau Ceng taysu berputar tubuh ke arah ruang besar lalu berseru nyaring:

"Cobalah lihat kearah alat pertandaan waktu itu, sekarang jam berapa ?"

Seorang paderi jubah kelabu yang berdiri pada titian ruang segera lari masuk ke dalam ruang besar. Saat itu sekalian orang tegang regang, suasana hening sunyi Hanya deru angin yang meniup tajam diluar kuil.

Dalam menunggu laporan tentang jam saat itu, tampak wajah Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong bertiga gelisah sekali.

Liau Ceng taysu tampak tenang, Sejam yang lalu dia sudah duduk didepan alat waktu itu, Di-pandangnya alat waktu itu dengan cemas. Diam2 ia bersyukur kepada Thian bahwa saat itu turun badai salju yang lebat.

Tetapi rasa girang itu segera terhapus lenyap manakala ia melihat sosok2 tubuh yang berlarian mendaki ke puncak, Mereka ialah Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong serta beberapa tokoh yang memusuhi Ban Hong liong-li, jelas harapannya bahwa pada salju itu akan menghalangi perjalanan mereka ternyata gagal.

Beberapa saat kemudian terdengar derap orang berlari dari dalam ruang besar, paderi yang diperintah untuk melihat waktu telah muncul, seketika suasana berobah tegang.

Tiba di mulai titian, paderi itu memberi hormat ke halaman dan berseru nyaring:

"Saat ini, menunjukkan waktu tepat tengah hari..."

Ok-to Go Ceng, Hiong-ceng Go In dan Ma Toa Kong sekalian serempak menyambut dengan gelak tawa yang gembira sekali.

Liau Ceng taysu hanya dingin2 saja memandang kearah ketujuh tetamunya yang jumawa itu.

Gin Liong kerutkan dahi, ia mengertek geraham menahan kegeraman Keringat dingin pun  segera membasahi tubuhnya. Tiba2 terdengar bunyi tajam macam naga meringkik. Datangnya dari punggung Gin-Liong. Dan sesaat kemudian cret. . . pedang Tanduk Naga yang berada di punggung anak muda itu mencelat keluar dari kerangkanya.

Sinar merah yang memancar dari batang pedang pusaka itu, menyilaukan pandang mata sekalian orang.

Go Ceng, Go In, Ma Toa Kong dan kawan2, hentikan tertawa dan menggigil melihat keperbawaan pedang anak muda itu.

Demikian pula dengan kedua tiang-lo dan paderi2 dari setiap paseban kuil Leng-hun-si.

"Omitohud!" seru Lian Ceng taysu, "Pedang pusaka memberi peringatan datangnya bahaya, pembunuhan segera akan terjadi Mayat menganak bukit, darah mengubang sungai . . ."

Tepat pada saat Liau Ceng taysu selesai berkata maka cuaca yang gelap tiba2 memancar sinar terang benderang dan menyusul terdengarlah letusan halilintar yang menggelegar dahsyat

Setelah halilintar meletus, angin berhenti, saljupun reda, Genta dan gendang raksasa yang berada diruang, Tay-

hud-tian berguncang-guncang keras sehingga berbunyi sendiri,

Dua ratusan paderi yang berada dimuka ruang, terbelalak menengadahkan kepala memandang ke langit,

Kedua tianglo dari kuil Leng-hun-si agak pejamkan mata dan mengucap doa dengan bisik2.

Liau Ceng taysu pejamkan mata merangkapkan kedua tangan kedada dan bibirnya berkomat-kamit, Rupanya ia sudah mempunyai firasat bahwa dunia persilatan akan mengalami pembunuhan besar-besaran,

Go Ceng, Go In, Ma Toa Kong dan lain2 kawannya, tertegun menyaksikan pemandangan aneh itu. Wajah mereka pucat, keringat dingin mengucur.

Halilintar dahsyat itu telah menggoncang hati seluruh orang yang berada di muka ruang Tay-hud-tian.

Diantara mereka hanya Gin Liong seorang yang mempunyai pemikiran lain, Tiba2 ia seperti disadarkan dan teringat akan suatu hal yang penting,

Cepat ia sarungkan pedang kedalam kerangkanya lagi lalu secepat kilat menyelinap diantara barisan paderi, lari keruang samping terus menuju kepuncak di belakang kuil.

Diluar hanya badai yang berhenti, sedang salju masih turun lagi.

Ternyata Gin Liong bergegas lari menuju ke gua Kiu- kiok-tong. Tiba di puncak belakang terdengar sebuah suitan nyaring dan tajam. Menyusul terdengar ledakan keras yang berkumandang sampai jauh kesegenap penjuru.

"Celaka," teriak Gin Liong, "Liong-li locianpwe hendak pergi "

Ia cepatkan larinya dan selekas tiba di tepi sebuah karang buntung diatas puncak gunung, dia terus hendak enjot tubuh melompat kemuka.

Tetapi ketika ia  menunduk memandang ke bawah, jurang yang memisahkan karang disitu dengan karang dimuka, tertutup kabut salju yang tebal sehingga tak dapat melihat lebih dari lima tombak ke bawah.

Siau Gin Liong diam2 sering datang ke tempat dua buah karang buntung itu. Kedatangannya itu selalu pada malam hari untuk belajar silat Maka dalam badai dan salju yang hebat, ia masih mencapai tempat itu, sebuah karang nonjol yang ditumbuhi pohon siong yang condong.

Sejenak menenangkan pikiran, Gin Liong  segera ayunkan tubuh melayang ke bawah dan tepat  hinggap diatas celah2 selebar satu meter dari sebuah gunduk karang,

Ternyata setelah berada di jurang pemisah antara kedua karang buntung, angin agak berkurang, saljupun tak begitu deras, Kini dia berhadapan jalan yang merupakan celah2 dari gundukan karang, jalan itu sempit dan licin sekali serta berkeluk-keluk, jika tidak memiliki ilmu ginkang yang lihay, jangan harap dapat melintasi jalan itu.

Berkat faham tempat itu, dapatlah dalam waktu yang singkat Gin Liong mencapai ujung jalan yang merupakan segunduk karang seluas tiga tombak, Diatas karang itulah biasanya Gin Liong berlatih silat.

Di sekeliling karang itu tumbuh beberapa batang pohon Bwe, Dahan dan rantingnya tumbuh meliar, bunganya subur, Warnanya merah dan putih menyedapkan mata.

Diatas gunduk karang itu terdapat sebuah gua selebar dua meter, Dalam gua gelap pekat dan sunyi senyap.

Secepat melayang keatas karang, dengan wajah tegang Gin Liong terus menerobos masuk. Tiba di muka pintu terali besi, ia tertegun,

Terali besi yang besarnya sama dengan lengan bayi telah dihancurkan oleh suatu tenaga sakti, Kutungan  terali besi itu bertebaran dimuka gua,

Dengan terlongong-longong Gin Liong memandang terali besi, Airmatanya berderai-derai membasahi pipinya. "Ah, Liong-li locianpwe telah pergi," katanya  seorang diri dengan penuh keharuan, "pergi tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk mengucapkan terima kasih  dan selamat jalan, Lima tahun aku menerima budinya mendapat pelajaran silat, akhirnya tak dapat bertemu lagi”

Sambil berkata pelahan-lahan ia melangkah maju kedalam gua, Ruang gua gelap dan menyeramkan sekali, Angin dingin berdesis-desis menampar muka. menambah keseraman suasana,

Dalam mengayunkan langkah itu masih Gin Liong mengandung harapan semoga Ban Hong Liong-li masih berada dalam gua,. Maka berserulah dia dengan pelahan: "Lo-cianpwe . .. . locianpwe..."

Dari sebelah dalam gua segera memantulkan gema suara Gin Liong yang berkumandang sampai lama,

Melangkah maju beberapa tindak lagi, ruang itu membiluk ke kiri, Gelapnya makin pekat sehingga tak dapat melihat jari tangannya sendiri.

Gin Liong hentikan langkah dan mengerahkan pandang matanya, Tetapi ia tak dapat menembus kegelapan itu. Paling2 hanya dapat memandang sampai setombak jauhnya,

Ketika berjalan lagi, kakinya berbunyi keresekan. Buru2 ia berjongkok dan meraba dengan tangannya. Ah, ternyata setumpuk rumput kering yang halus, Makin meraba kemuka, tumpukan rumput itu makin tebal.

"Ah, mungkin disinilah tempat peristirahatan locianpwe, "katanya seorang diri.

Sekonyong-konyong tangannya menyentuh benda yang menyerupai rantai besi Cepat ia menariknya, ah, ternyata rantai itu telah dipaku pada dinding gua. Gin Liong marah. Dilemparkannya rantai itu  lalu berseru keras : "Penjahat, mengapa kalian begitu kejam memperlakukan Liong-li lo-cianpwe? Mengapa  ? Mengapa "

Dia menangis sedih dan meraung-raung marah sekali setelah menyaksikan keadaan Ban Hong Liong-li  selama ini. Dia benci kepada musuh2 yang telah menganiaya Ban Hong Liong-li diluar batas kemanusiaan Diikat dengan rantai seperti binatang buas.

Raung Gin Liong kembali menerbitkan gema suara yang berkumandang jauh, Suatu pertanda bahwa ruang gua Kiu- kiok-tong itu masih dalam sekali.

Saat itu Gin Liong baru menyadari mengapa selama lima tahun ini, Ban Hong Liong-li tak pernah melangkah mendekati pintu tera1i.

Diapun teringat bagaimana dalam memberikan pelajaran silat kepadanya itu. Ban Hong Liong-li hanya menyampaikan secara lisan saja. Selama lima tahun, Gin Liong hanya mendengar suara tetapi tak pernah melihat orangnya, Ah. tak kira kalau Ban Hong Liong-li telah dirantai orang . . .

Serentak timbul rasa heran dalam hati Gin Liong, Dengan kesaktiannya Ban Hong Liong-li mampu memutuskan tali rantai tetapi mengapa selama  lima tahun ia mandah dirinya diikat dengan rantai, Mengapa dia tak mau lekas2 meloloskan diri ?

Siapakah yang mengikat lo-cianpwe itu ? Apakah Liau Ceng taysu, gurunya itu ?

Ataukah kawanan Ok-wi-tao Go Ceng, Hiong-li-lek Go In, Piau emas Ma Toa Kong dan kawan-kawannya itu ? Jika mereka mampu merantai Ban Hong Long-Li mengapa tidak segera saja saat itu dibunuh ? Mengapa harus menunggu sampai lima tahun?

Mengapa pula Ban Hong Liong-li harus di penjara di gunung Tiang-pek-san dan tidak di gunung Kiong-lay-san atau di gunung Ngo-tay-san?

Tadi Ma Toa Kong mengatakan bahwa  setelah tiga perempat jam lewat tengah hari, Ban Hong Liong-li harus melaksanakan janjinya sendiri janji apakah itu ?

Dan teringat pula Gin Liong bahwa setiap kali membicarakan tentang diri Ban Hong Liong-li, wajah gurunya (Liau Ceng taysu) tentu berobah gelap, Dan setiap kali ia bertanya, suhunya tentu akan memberi jawaban menghindar.

Pernah dan bahkan berulang kali Gin Liong memberanikan diri untuk menanyakan riwayat hidup kepada Ban Hong Liong-li, tetapi wanita sakti itu hanya menjawab dengan helaan napas panjang.

Kemarin malam ketika menyerahkan pedang kepadanya, Ban Hong Liong-li  dengan samar2 mengatakan bahwa hanya guru Gin Liong atau Liau Ceng taysu yang tahu tentang asal usul dirinya, wajahnya dan semua riwayat hidupnya yang menyedihkan itu.

Dengan nada penuh duka, Ban Hong Liong-lipun mengatakan bahwa lewat tengah hari nanti dia  akan  pergi ke suatu tempat yang jauh, Tiada seorangpun yang akan bertemu lagi dengannya.

Adakah tempat jauh itu dimaksudkan sebagai alam baka karena Ban Hong Liong-li akan dihukum mati oleh kawanan pendatang itu ? Sambil berlutut diatas tumpukan rumput kering, Gin Liong dilanda oleh berbagai pertanyaan Namun soal2 itu makin direnungkan makin sukar dijawab dan bertambah banyak

Tiba2 sinar mata Gin liong berkilat, Dilihatnya diatas tumpukan rumput kering itu sesosok bayangan hitam, seketika tergetarlah hatinya dicengkam kejut kegirangan serentak ia berseru:

"Lo-cianpwe, engkau.. engkau belum pergi ?" serta merta Gin Liong terus duduk bersila Airmatanya kembali berderai-derai membanjir keluar Airmata keharuan tetapi haru kegirangan

Tetapi sosok tubuh itu tak memberi suatu reaksi apa2. Suatu bayang2 yang ngeri, segera melintas dalam pikiran Gin Liong, Dengan beringsut-ingsut ia  merangkak  maju lalu ulurkan tangannya yang gemetar menjamah benda hitam itu.

Ah ... ternyata benda hitam itu tak lain hanya segulung permadani bulu.

"Lo-cianpwe . . . . lo-cianpwe !" serentak Gin Liong

melenting bangun dan berteriak keras-keras.

Ia duga Ban Hong Liong-li tentu belum berapa lama tinggalkan gua itu. Kemungkinan masih berada diatas puncak gunung, ia segera lari keluar dan ketika tiba di pintu yang berterali besi, tiba2 ia dikejutkan oleh beberapa gelak tawa yang bermacam-macam nadanya, Suara tawa itu terdengar tak jauh di luar gua.

Tergetarlah hati Gin Liong. ia tahu bahwa suara tertawa itu tentu berasal dari rombongan Go Ceng, Go In dan Ma Toa Kong yang sedang berlari menuju ke gua Kiu-kiok- tong. Gin Liong menyurut mundur Setelah memeriksa ke kanan kiri, ia dapatkan pada kedua samping dinding gua itu terdapat banyak sekali cekungan yang  cukup dimasuki tubuh orang.

Secepat ia menyusup bersembunyi kedalam sebuah cekung, diluar gua segera terdengar kibaran pakaian yang dihembus angin.

Gin liong lekatkan tubuh rapat2 ke dinding gua seraya mengeliarkan pandang mata ke mulut gua. Dari tempat persembunyiannya itu ia melihat suatu pemandangan yang indah, Gunduk karang yang berada diluar gua sedang dihias dengan salju putih dan bunga Bwe yang  tengah mekar dalam warna merah dan putih yang indah.

Tetapi ia  tak sempat menikmati pemandangan itu. Hatinya tegang sekali menantikan kedatangan kawanan pendatang yang hendak menghukum Ban Hong Liong-li.

Pada lain saat sesosok tubuh dengan pakaian yang gombrong, meluncur ke udara dan tegak diatas gunduk karang dimuka gua.

Gin Liong tergetar hatinya, Cepat ia dapat mengetahui bahwa yang muncul itu adalah Ok-wi-tho atau si Paderi jahat Go Ceng.

Menyusul berhamburan melayang ke gunduk karang itu imam tua It Ceng, Bu Tim cinjin, Hiong-bi-lek Go In, Golok-sayap-walet Tio Jim-beng dan Tali terbang Ui Ke Siang,

Gin Liong mendengus geram, Darahnya mendidih dan napasnya segera menghamburkan hawa pembunuhan

Ketujuh tokoh itu segera tegak dimuka gua, memandang celingukan kedalam dan sibuk berbicara. Dari pandang mata ketujuh orang itu, jelas mengunjukkan suatu perasaan gelisah, cemas dan gentar.

Tiba2 diluar gua terdengar suara pakaian berkibar tertiup angin, Menyusul muncul pula tiga sosok bayangan

Ketika Gin Liong mencurahkan pandang mata ke luar, kejutnya bukan kepalang sehingga sampai menggigil.

Ketiga pendatang itu bukan lain adalah suhunya sendiri, Liau Ceng taysu dan kedua susiok-cou atau paman - kakek guru. Sudah tentu Gin Liong bingung sekali. Apabila suhunya tahu bahwa dia bersembunyi dalam gua itu, bukankah suhunya akan marah ?

Ah, tetapi dia sudah terlanjur bersembunyi disitu, Tak dapat ia meloloskan diri lagi, Terpaksa ia hanya memandang 1ekat ke mulut gua untuk menunggu apa yang akan terjadi,

Tampak Liau Ceng taysu berjalan dengan gegas sekali. Langsung ia menuju ke mulut gua, Setelah memeriksa pintu terali besi hancur berantakan ia segera keluar lagi dan berkata dengan wajah sarat:

"Pintu terali besi telah hancur, kemungkinan Ban Hong Liong-li sudah tak berada dalam gua lagi."

Ketujuh orang itu terbeliak kaget, Ma Toa Kong deliki mata dan berteriak marah:

"Saat ini masih pagi dan batas waktu perjanjian masih belum tiba. Wanita hina itu mengapa ingkar akan janjinya lima tahun yang lalu ?" ia menanya It Ceng tojin dan Ui Ke Siang, terus melangkah maju ke mulut gua, Dengan mata berkilat-kilat, ia memandang ke arah dalam.

Gin Liong terkejut Cepat2 ia lekatkan tubuh rapat sekali pada dinding gua. Sesaat kemudian, Ma Toa Kong berputar tubuh dan menggeram kepada Liau Ceng taysu:

"Ban Hong Liong-li masih berada dalam guna . . ."

Karena disindir oleh Ma Toa Kong, rupanya It Ceng tojin tak puas, Saat itu ia merasa mendapat kesempatan untuk membalas, Dengan tertawa mengekeh, cepat ia menukas kata2 Ma Toa Kong:

"Apakah Ma sicu melihat sendiri Ban Hong Liong-li berada dalam gua?"

Ma Toa Kong tahu bahwa It Ceng tojin dari Kong-tong- pay itu seorang tokoh yang licin dan licik. walaupun dia tahu kalau dirinya akan dicelakai oleh imam itu, tetapi ia tetap harus menjaga gengsi, Sekali sudah mengatakan kalau Ban Hong Liong-li masih berada dalam gua, ia  harus mempertahankan kata-katanya itu.

Dengan deliki mata memandang It Ceng, ia mendengus marah: "Benar, memang kulihat wanita busuk itu masih berada dalam guna !"

Mendengar itu tokoh2 yang lain tampak tegang dan berobah wajahnya, Mereka berhamburan maju ke mulut gua dan memandang dengan seksama ke arah dalam.

Sudah tentu Gin Liong makin gelisah sekali Dia tak menyangka bahwa mata Ma Toa Kong amat tajam sekali. Tentu Ma Toa Kong melihat gulungan permadani bulu yang terletak diatas tumpukan rumput kering dan menyangkanya sebagai tubuh Ban Hong Liong-li.

Gin Liong cepat menyusup lebih dalam ke dalam cekung dinding gua, Kini dia hanya menggunakan sebelah mata untuk memandang ke mulut gua. It Ceng tojin berdiri agak jauh dibelakang beberapa tokoh itu, Mulut tersenyum menyeringai dan sengaja dengan suara keras ia berseru:

"Karena Ma sicu sudah melihat Ban-Hong Liong-li masih didalam gua, rasanya tak perlu sicu sekalian memeriksa lagi, Saat ini belum tiba waktunya, Kurasa Ban Hong Liong-li tentu tak mau ingkar janji, Maka sebaiknya kupersilahkan Ma sicu masuk kedalam gua menyeret Ban Hong Liong-li keluar, silahkan Ma sicu memotong daun telinga Ban Hong Liong-li yang kiri, untuk membalas dendam Ma sicu yang kehilangan daun telinga itu."

Sudah tentu Ma Toa Kong tahu bahwa dirinya diejek habis-habisan oleh imam dari Kong-tong-pay itu. Dengan mata berapi-api ia deliki mata memandang It Ceng cinjin. Wajah merah padam dan tubuh gemetar keras  karena dilanda kemarahan.

Bu Tim cinjin ketua biara Sam-Ceng kwan, rupanya juga mengagulkan supaya Ma Toa Kong masuk kedalam gua. Maka iapun segera mendukung pernyataan It Ceng cinjin:

"Apa yang dikatakan It  Ceng toyu memang benar," katanya. "sekarang saat perjanjian belum tiba, kiranya Ma sicu boleh masuk saja kedalam guna ini."

Dada Ma Toa Kong serasa meledak dan memekiklah ia sekeras kerasnya: "Huh, engkau kira aku Ma Toa Kong tak berani masuk ?"

Dengan sikap pura2 menghormat, It Ceng cinjin berseru: "Ah, tidak, tidak. Mana aku mempunyai anggapan begitu, Piau-emas dari Ma sicu tiada tandingannya dan Ma sicu seorang jantan yang berani, Masakan tak berani memasuki gua itu." Ma Toa Kong benar2 tak dapat menahan ledakan kemarahannya lagi, secepat berputar tubuh ia terus melangkah kedalam gua.

Jelas dilihat oleh Gin Liong bahwa Ma Toa Kong itu sedang masuk. Diam2 Gin Liongpun merapatkan tubuh ke cekung dinding seraya kerahkan tenaga dalam bersiap-siap menghadapi setiap kemungkinan.

Tetapi baru melintasi pintu terali besi, tiba2 Ma Toa Kong berhenti.

Saat itu Gin Liong tak dapat melihat jelas lagi bagaimana kerut wajah Ma Toa Kong saat itu. Tetapi dia masih dapat melihat sinar kedua mata Ma Toa Kong yang berapi-api menyeramkan sekali.

Tampak pula Ma Toa Kong mengambil sebatang kim- piau dari pinggangnya. Digenggamnya senjata rahasia itu erat2. Kaki dan tangannyapun mulai tampak gemetar.

Menyusupkan pandang ke luar gua, Gin Liong melihat kawanan tetamu2 itu tampak tegang sekali, Mata mereka mencurah ruah ke dalam gua dan kearah Ma Toa  Kong yang tegak di pintu terali besi.

Gin Liongpun sempat pula memperhatikan sikap suhu dan kedua paman kakek gurunya. Dengan wajah sarat, ketiga tokoh itu berdiri ditepi batu karang, Mereka tak mencegah tindakan Ma Toa Kong, Mungkin mereka sudah menduga bahwa Ban Hong Liong-li tentu sudah tak berada dalam gua.

Sekonyong-konyong Ma Toa Kong berseru  nyaring: "Ban  Hong  Liong-li, hari ini hukumanmu sudah   habis,

Lewat tengah hari nanti engkau harus keluar untuk menerima  hukuman mati dari  sekalian  enghiong (ksatrya).

Hayo, unjukkan diri-mu,  jangan  main bersembunyi  seperti tikus, Apakah engkau tak sayang pada kemasyhuran namamu yang pernah menggetarkan dunia persilatan dahulu ?"

Dari dalam gua segera menggema kumandang suara Ma Toa Kong itu. Lama dan mengiang2 memekakkan telinga.

Sebenarnya Gin Liong sudah tak kuasa menahan kemarahannya lagi, Tetapi karena suhunya berada diluar, dia tak dapat berbuat apa2 dan tak tahu apa yang harus dilakukan.

Selekas kumandang suara Ma Toa Kong itu sirap maka Ma Toa - Kong kembali berseru dengan nyaring lagi:

"Wanita hina, apakah engkau hendak main mengulur waktu ? Tempatmu sudah kuketahui, kalau tak percaya, inilah buktinya "

Sring . . . .

Sepercik sinar emas yang diiringi oleh deru angin tajam segera melayang kearah tempat Gin Liong bersembunyi.

Sudah tentu Gin Liong terkejut sekali,

Sebenarnya dia sudah cepat2 menyusupkan kepalanya ke cekung dinding karang tetapi dia tak menyangka bahwa Ma Toa Kong sudah mengetahui dirinya.

Tring

Senjata rahasia yang bersinar kuning emas itu meluncur dan hinggap pada dinding gua disisi tempat Gin  Liong, Piau jatuh ke tanah, mengeluarkan bunyi gemerincing yang berkumandang nyaring.

Dinding gua berhamburan menebar tubuh Gin Liong, Pemuda itu marah sekali. ingin rasanya ia loncat keluar untuk membunuh orang jahat itu. Tetapi karena suhunya berada diluar gua, terpaksa ia tak dapat melaksanakan keinginannya itu.

Tiba2 Hiong bi-lek Go In tertawa gelak2. Dan pada lain saat iapun mencabut golok kwat lo dipinggangnya. Sambil tertawa mengejek, ia melangkah masuk kedalam gua.

"Wanita hina itu masih berada didalam guha," teriak Ma Toa Kong.

Tetapi Go In tak mempedulikan, Dia tetap lari ke dalam.

"Kurang ajar," damprat Ma Toa Kong dalam hati, "mungkin karena mendengar gema suara jatuhnya kim- piauku tadi, dia tahu kalau Ban Hong Liong li sudah tak berada dalam gua maka dengan tingkah kegagah-gagahan dia berani menyerbu kedalam."

Gin Liong menahan napas kencang2, Suara tertawa berhenti tetapi derap lari Go In masih tetap melaju.

Ruang gua makin gelap dan makin gelap  karena dipenuhi oleh bayang2 tubuh Go In. suasana di dalam dan diluar gua sunyi senyap.

Beberapa saat kemudian, menilik dari bayang2 yang tampak, Gin Liong dapat memperhitungkan bahwa Hiong- bi-lek Go In saat itu sudah dekat sekali dengan tempatnya, Paling banyak hanya tinggal satu tombak, Bahkan diapun dapat mendengar suara napas si paderi yang terengah- engah, Dan pada lain saat pula, bahkan iapun dapat melihat pancaran sinar golok dari paderi itu.

Gin Liong makin tegang, Seluruh tenaga dalam telah dihimpun ke lengan kanannya dan mulai pelahan-lahan diangkat.

Rupanya paderi itu dapat menangkap suara gerak tangan Gin Liong. Dia berhenti "Wanita hina, mengapa tak lekas keluar ? Aku sudah dapat mendengar debur jantungmu !" teriaknya, Tiba2 ia hantamkan goloknya.

Segera terdengar gema suara yang dahsyat ketika dinding karang hancur berantakan karena tabasan golok itu.

Paderi itu tertawa gelak2 :

"Wanita hina, apakah engkau tetap tak mau keluar ? Aku sudah melihat engkau duduk, apakah harus menunggu aku sampai turun tangan ? Ha, ha, bersikaplah sedikit ksatrya dan lekaslah keluar !"

Sambil berkata ia ayunkan langkah lagi seraya tertawa keras :

"Wanita hina, dengarkanlah Saatnya sudah hampir tiba .

. . engkau harus melaksanakan janjimu sebelum itu, engkau tak, boleh membunuh orang "

Demikian sambil berjalan, paderi itu tertawa dan mengoceh dengan suara keras,

Gin Liong makin tegang, Saat itu dia sudah melihat golok si paderi dan pada lain saat bahkan tangan paderi itu lalu perut yang buncit,

"Wanita hina, ha, ha. tahukah engkau bahwa tengah hari segera tiba, Engkau harus melaksanakan janjimu, Aku sudah melihat engkau duduk ”

Walaupun mulut berkata garang tetapi tangan dan tubuh Ma Toa Kong agak menggigit Dan makin lama dia makin mendekati ke tempat Siau Lo Seng.

"Ha, ha," Go In tertawa dan berseru keras: "tengah hari segera tiba, Wanita busuk, engkau harus menetapi janji, ha, ha . . . . engkau tak boleh membunuh orang " Dalam pada berseru itu, paderi itu lambatkan langkah. sekalian orang tahu bahwa gerak gerik Go In itu menandakan rasa takut dan gelisah.

"Wanita hina itu berada disekitar celah2 dinding gua," seru Ma Toa Kong.

Hiong-bi-lek Go In mendengus dan hentikan langkah.

Gin Liong terkejut sekali, Pada saat mendengar Go In berhenti, secepat kilat ia terus ayun tubuhnya melayang keluar.

Wut . . . . karena kaget Go In memekik keras dan kibaskan goloknya. Tetapi Gin Liong sudah bersedia. Secepat ayunkan tubuh ia sudah berada dibelakang paderi itu. secepat itu pula ia segera menghantam belakang tengkuk kepala Go In.

Terdengar jeritan yang ngeri dan nyaring memancar dan mulut Go In. Batok kepalanya pecah dan jatuhlah tubuh paderi itu terjungkal ke belakang.

Sebuah bentakan keras mengering sesosok bayangan hitam menyerbu Gin Liong, Untung pemuda itu dengan sigap sudah menghindar ke samping. Ketika melihat siapa penyerangnya itu, ternyata Ok-wi-tho Go Ceng yang menyerang dengan Hang-mo-goh, alu yang beratnya seratusan kilo,

Marahlah Gin Liong, Sekali lingkarkan kedua lengannya, melangkah setengah tindak kemuka, ia segera mendorong dengan kedua tangannya.

Terdengar jeritan ngeri di susul oleh tubuh Ok-wit-ho Go Ceng yang terlempar keluar dari mulut gua. sekalian orang terkejut Tetapi bukan menolong, kebalikannya mereka malah buru2 menghindar ke belakang, Karena tiada orang yang menolong, tubuh paderi jahat itupun terlempar ke bawah jurang yang dalamnya ratusan meter.

Sesungguhnya Liau Ceng taysu sudah berusaha untuk menyambar tubuh paderi jahat itu, Tetapi sayang karena rasa kejut dan tegun atas peristiwa itu, ia agak terlambat bergerak sehingga Ok-wit-ho Go Ceng tetap meluncur kebawah jurang.

Gin Liong itu juga kesima melihat hasil pukulannya. setitikpun ia tak menyangka bahwa pukulannya ternyata mengandung suatu tenaga sakti yang begitu dahsyat.

Cepat ia  berputar memandang ke belakang. Dalam kegelapan gua ia hanya melihat bahwa kecuali si Hiong-bi- lek Go In yang terkapar menjadi mayat, tiada lain orang lagi.

Ketika berpaling memandang ke maka lagi, hampir saja ia menjerit kaget dan tubuhnya pun menggigil

Liau Ceng taysu, gurunya, saat itu sedang menjerit dan tubuhnyapun gemetar. Hal itu disebabkan tak lain karena dia melihat suhunya. Liau Ceng taysu, sedang melangkah masuk kedalam gua.

Karena tegang dan gugup, Gin Liong cepat2 menyusup lagi kedalam cekung dinding gua.

Tenang sekali sikap dan langkah Liau Ceng taysu. Dengan memegang kebut Kim-si-hud-tim dia berjalan dengan santai, Sudah tentu Gin Liong heran. Adakah suhunya tak kuatir kalau Ban Hong Liong-li akan menyerangnya ?

Tetapi dia tak sempat berpikir lebih lanjut karena saat itu ketegangan hatinya makin memuncak. Dilihatnya setiap kali melewati cekung dinding gua yang lebar dan diperkirakan cukup dimasuki tubuh orang, suhunya tentu berhenti dan menghamburkan pandang memeriksa,

Keringat dingin mulai mengucur deras pada tubuh Gin Liong, Akhirnya ia memutuskan Daripada dipergoki oleh suhunya, lebih baik ia bertindak lebih dulu,

Setelah meregangkan napas, secepat kilat ia terus melesat lari kebagian gua yang lebih dalam Tiba di persimpangan sebelah kiri dari ujung gua, ia berhenti Ketika mencari kesempatan untuk berpaling ke belakang, dilihatnya suhunya sedang menghampiri ke tempat mayat Hiong bi lek Go In, Setelah memindahkan mayat paderi itu ke pinggir Liau Ceng taysu lanjutkan perjalanan kedalam gua lagi, Setiap tiba pada cekung dinding gua, ia tentu berhenti dan mengucapkan beberapa patah kata yang tak jelas.

Gin Liong makin heran, Apakah yang diucapkan suhunya itu ? Karena ingin tahu, ia kerahkan alat pendengarannya untuk menangkap suara suhunya.

"Wulanasa, Wulanasa "

Mendengar itu, ketegangan hati Gin Liong bertambah dengan suatu rasa keheranan Wulanasa ? Apakah artinya Wulanasa itu ?

Sesungguhnya banyak sekali soal yang hendak dipecahkannya, Tetapi saat itu dia tak mempunyai kesempatan lagi. Saat itu Suhunya makin mendekat ke tempat persembunyiannya.

Karena bingung, tiba2 Gin Liong loncat ke atas tumpukan rumput kering disebelah kiri, sret . .. .

Walaupun hanya pelahan tetapi suara tertimpanya tumpukan rumput kering dengan tubuh Gin Liong telah menimbulkan gema suara yang berkumandang. Gin Liong makin terkejut jantungnya mendebur keras, ia ingin menyurut mundur tetapi kuatir akan menimbulkan suara. Kalau tidak mundur, ia takut ketangkap basah oleh suhunya.

Karena tegang dan gelisah, napasnya terengah2 keras. ia kepalkan kedua telapak tangannya yang basah dengan keringat.

Mendengar suara berkeresek tadi, Lian Ceng taysu hentikan langkah dan berseru pelahan:

"Wulanasa, mengapa engkau tak pulang ke kampung halamanmu "

Gin Liong tegak berdiri diatas tumpukan rumput kering dan mendengarkan dengan penuh perhatian, Dia tak berani mengisar kepala untuk melihat dimana suhunya berada. Tetapi menilik suaranya, ia duga suhunya tentu berada dekat dari tempatnya, Paling jauh hanya dua tiga tombak.

Timbul pertentangan dalam hati Gin Liong, Dia takut tetapipun ingin tahu, Dia ingin lari tetapipun ingin mengetahui hubungan apakah sesungguhnya yang terjalin antara suhunya dengan Ban Hong Liong-li itu,

Tiba2 Liau Ceng taysu kembali berkata bisik2: "Wulanasa, kuharap janganlah engkau keras perangai

seperti dahulu, jangan membawa kemauan     "

Dengan mengerahkan seluruh perhatian, Gin Liong berusaha untuk menutup pernapasan dan menyatukan semangat untuk mendengarkan sekonyong-konyong sebuah benda tajam macam ungkit, menusuk tulang punggungnya, seketika tubuhnya menggigil dan pingsanlah ia.

Entah berselang berapa lama, Gin Liong tersadar dari suatu penderitaan sakit yang amat nyeri itu, ketika membuka mata, ia dapatkan dirinya berada dalam sebuah tempat yang gelap gulita dan berangin dingin.

Sejenak memperhatikan sekelilingnya ia dapatkan dirinya masih menggeletak di tumpukan rumput. Tempat itu segera mengingatkan ia akan peristiwa yang dialaminya.

Ia pusatkan segenap indera pendengarannya Kecuali hanya angin dingin mendesis-desis, tiada lain suara yang dapat didengarnya lagi.

Serentak diapun teringat akan suhunya dan kawanan Ma Toa Kong, Dimanakah mereka saat itu ?

Dia ingin duduk, Tetapi baru hendak menggerakkan tubuh, sakitnya bukan alang kepalang sehingga ia sampai meringis dan kucurkan keringat dingin.

Untunglah kesadaran pikirannya masih terang. Dia masih ingat, pada saat akan pingsan, didengarnya suhunya berseru : "Wulanasa, pergilah, Kiongcu Hun seumur hidup akan "

Kelanjutan dan bagaimana yang terjadi kemudian, ia tak dapat mengetahui karena keburu pingsan.

Ia hendak gerakkan kepala berpaling kesamping, ah, kepalanya terasa amat berat sekali, ia ingin menggerakkan tangannya untuk meraba-raba sekelilingnya tenaganya terasa lemah lunglai tak bertenaga sama sekali.

Dalam keadaan yang tak dapat berbuat apa2 itu akhirnya iapun jatuh tidur lagi.

Pada saat ia bangun untuk yang kedua kalinya, kejutnya bukan kepalang, Tempatnya yang gelap, saat itu terang benderang. Seluruh gua terang seperti pagi hari. Keadaan gua itu dapat dilihatnya dengan jelas bahkan sampai pada bagian2 lekuk dan cekungnya, Tiba2 timbullah keinginannya untuk bangun. Dan serentak iapun menggeliat, hai . . . . mengapa tubuhnya ringan sekali, Cepat ia kerahkan pernapasan dan dapatkan tenaga murni dalam tubuhnya lancar sekali.

Segera ia lontarkan pandang ke arah mulut gua. Suhunya dan mayat Hong-bi-lek Go In sudah tak tampak lagi,

Lanjutkan pandang matanya keluar gua, tampak batu karang yang menonjol di muka gua tertutup salju putih, Bunga2 Bwe yang tumbuh ditepi karang tengah mekar dengan indahnya.

"Ah, hari sudah terang." serunya gembira Dan secepat kilat ia ayunkan tubuhnya loncat ke mulut gua.

Bum . ,. .

Tiba2 ia berseru keras dan dorongkan kedua tangannya ke batu karang di muka gua. Dan segera ia terlongong- longong heran. Salju yang menutup permukaan batu karang itu berhamburan bercampur dengan keping2 hancuran karang, Tiga batang pohon bwe yang tumbuh di tepi batu karang berhamburan gugur jatuh kedalam jurang,

Gin Liong benar2 tak menyangka bahwa saat itu ia memiliki tenaga yang amat sakti, Dari jarak tujuh delapan tombak jauhnya, ia masih dapat melepaskan hantaman yang sedemikian dahsyatnya,

Menengadah ke langit, tampak mentari pagi sudah mulai mengintip di puncak gunung, Diam2 ia heran. sebelum pingsan, udara amat buruk, Salju turun deras, angin menderu-deru keras. setelah sadar dari pingsan, hari sudah cerah.

Makin melanjutkan keluar pandang matanya, tampak puncak gunung tertutup salju putih, sepintas pandang menyerupai lautan awan putih, Gin Liong terkesiap dalam hati, ia merasa matanya jauh lebih terang dan beberapa saat tadi, sebelum pingsan, Bukan saja dapat menghadapi sinar kemilau dari cahaya salju, pun dapat juga menerobos melihat beberapa tombak ke dalam.

Diam2 ia girang sekali, Cepat ia melayang keatas jalan kecil lalu apungkan tubuh ke puncak  karang, Dari tempat itu ia terus lari menuju ke hutan siong disebelah muka.

Saat itu ingin sekali ia berada di kuil Leng hun-si. ia hendak menceritakan perobahan dirinya itu kepada suhu dan sumoaynya,

Sesaat tiba di kuil ia terus loncat melampaui pagar tembok dan melayang ke ruang belakang.

Tetapi sesaat kakinya menginjak lantai, segera ia merasakan sesuatu yang tak wajar, Biasanya di ruang belakang kuil itu tentu penuh dengan kawanan paderi yang mondar mandir mengurus pekerjaan masing2. Tetapi anehnya, saat itu sama sekali tiada seorang paderi yang kelihatan bayangannya,

Setelah mencurahkan pendengaran barulah ia  dapat mendengar bahwa di ruang muka kuil itu sayup2 terdengar suara kelinting sembahyangan.

Kembali Gin Liong merasa girang. Ia tahu bahwa telinganya makin bertambah tajam.

Ia lepaskan perhatian ke ruang belakang dan pusatkan pendengarannya ke arah ruangan muka, Tetapi diapun kurang memperhatikan bahwa saat itu sebenarnya sembahyang pagi para paderi kuil sudah selesai pada dua jam yang lalu.

Dengan hati gembira ia  segera melangkah ke ruang tengah untuk mendapatkan suhunya, ia terkejut ketika melihat pintu ruang tempat kediaman suhunya terkancing rapat Menandakan bahwa suhunya tak berada di dalam,

Berpaling ke ruang samping tempat tinggal sumpaynya, pintunya tertutup tetapi daun jendela terbuka separoh. Maka Gin Liongpun ayunkan langkah menghampiri

Begitu dekat pada ruang itu, kejut Gin Liong tak terkira, ia mendengar suara erang kesakitan dari dalam ruang itu. ia duga sumoaynya tentu sakit.

Melangkah ke muka pintu segera ia mendorong lalu menerobos masuk.

Ki Yok Lan, sumoaynya yang masih dara  itu, rebah diatas tempat tidur, rambutnya terurai kusut dan tubuhnya dibungkus selimut.

Gin Liong bergegas menghampiri Ketika memeriksa, menggigillah tubuhnya, Yok Lan tampak pucat sekali wajahnya dan tampaknya seperti orang limbung,

Halaman 59-60 Hilang

........... dari guanya."

Mendengar itu Yok Lan terkejut girang sekali. Matanyapun berlinang-linang dan dengan suara tergetar ia berseru: "Ah, akhirnya Liong-li lo-cianpwe telah bebas . . "

Tiba2 Gin Liong teringat akan peristiwa yang dialaminya ketika berada dalam gua Ban Hong Liong li. Peristiwa yang aneh dimana punggungnya seperti ditusuk oleh benda tajam sehingga ia pingsan.

"Lan-moay, kemungkinan Liong-li locianpwe masih berada dalam gua", serunya sesaat kemudian.

"Benarkah itu ?" seru Yok Lan girang," Liong koko, aku hendak mendapatkan beliau !" Habis berkata dara itu terus hendak turun dari tempat tidurnya, Gin Liong terkejut, cepat2 ia memegang bahu sumoaynya:

"Lan-moay, penyakitku belum sembuh betul, tak baik mengeluarkan tenaga untuk berjalan. Aku hanya mengatakan bahwa kemungkinan Liong-li  lo-cianpwe masih berada dalam gua. Adakah hal itu benar, aku juga tak tahu."

Karena ketegangan hati tadi, Yok Lan telah mengurangi tenaga murni yang mulai pulih dalam tubuhnya. ia terengah-engah, keringat dingin bercucuran dan wajahnya pun pucat lagi,

Gin liong terkejut, buru-2 ia membantu sumoaynya tidur lagi dan menutup tubuhnya dengan selimut.

Setelah napasnya agak tenang, sambil memandang ke wuwungan rumah, dara itu terkenang akan peristiwa yang lampau.

"Tahun yang lalu, diam2 aku telah menuju ke gua Kiu- kiok-tong, Baru melayang ke atas batu  karang, segera terdengar Liong-li locianpwe menegur: "Apakah engkau sumoay dari Gin Liong ?"

"Ah," Yok Lan berkata seorang diri, "begitu ramah dan penuh kasih sayang nada suara Liong-li lo-cianpwe, Aku seorang gadis yang  sudah sebatang kara, merasa bahwa kata2 beliau itu penuh rasa kesayangan seorang ibu terhadap putri2-nya. Aku tak dapat. menahan derai air mataku yang bercucuran turun "

"Tetapi, sesaat kemudian dia memperingatkan supaya aku jangan melanjutkan langkah menghampiri ke guanya, Dan beliaupun melarang aku tak boleh datang ke tempat itu lagi, Dan lagi melarang aku jangan mengganggu pedang pusaka beliau yang tergantung pada pintu berterali besi itu .

. ,."

Berkata sampai disitu tiba2 mata Yok Lan berkilat terang seperti teringat sesuatu ia berpaling memandang Gin Liong.

"Liong koko, dimanakah pedang pusakamu dan baju bulu burung itu ?"

Gin Liong terbeliak, Dia segera teringat bahwa pedang pusaka dan baju bulu burung itu masih ketinggalan di gua, walaupun ia masih ragu2 tentang tempat kedua benda itu tetapi ia harus mencarinya sampai ketemu.

"Karena bergegas hendak menengok engkau dan suhu maka kedua benda itu kutinggal di gua, Harap engkau beristirahat, aku hendak mengambil kedua benda itu dulu, Aku pasti segera kembali kemari lagi," katanya kepada sang sumoay.

Selekas keluar dari kamar, ia menuju ke halaman lalu enjot tubuh melayang keatas genteng dan terus lari menuju ke gunung di belakang kuil.

Pada saat melintasi hutan pohon siong, ia  melihat sesosok bayangan orang melesat di puncak gunung dan pada lain kejap sudah lenyap, Bayangan itu luar biasa cepatnya.

Gin Liong terkejut sekali. Puncak gunung di belakang kuil itu, penuh dengan jurang dan tebing karang yang curam sekali, Kecuali harus mengambil jalan dari muka puncak gunung itu, tiada lain jalan lagi yang dapat ditempuh.

Siapakah orang itu? Suhunya ataukah kedua paman kakek gurunya? Tetapi pada lain kilas cepat ia membantah dugaannya sendiri, Karena bukankah mereka masih membaca doa di ruang besar ?

Ia segera pesatkan larinya dan terus melayang keatas batu karang di muka gua, Karena melihat sosok bayangan aneh tadi, ia tak berani gegabah terus masuk kedalam gua. Baru setelah menunggu beberapa saat tak tampak sesuatu yang mencurigakan akhirnya ia melayang turun dan melangkah ke dalam gua,

Gin Liong teringat akan pengalaman yang diderita Hiong-bi lek Go In. ia tak berani terus langsung masuk melainkan melangkah dengan pelahan dan memperhatikan setiap cekung dinding gua.

Makin ke dalam makin gelap.

Tiba di ujung tikungan sebelah kiri, ia hampir berteriak girang. pedang pusaka Tanduk Naga dan baju bulu burung masih menggeletak di tumpukan rumput kering, Cepat ia memungut kedua benda itu. Tetapi serentak iapun segera teringat akan Ban Hong Liong-li.

Karena pedang pusaka dan baju bulu burung masih tetap berada di dalam gua, jelas sosok bayangan tadi tentu tidak masuk kesitu.

Setelah menyelipkan pedang dan mengenakan baju bulu burung, kembali timbul bermacam pikiran dalam benaknya.

Pertama, ia mengira Ban Hong Liong-li masih berada dalam gua. pada saat paderi Go In berteriak masuk kedalam gua, Ban Hong Liong-li mungkin bersembunyi tak jauh dari tempatnya.

Gin Liong percaya bahwa dengan kepandaian yang dimilikinya, tanpa dibantu wanita sakti itu, tentu tak mungkin sekali hantam dapat melemparkan tubuh paderi Go In sampai tujuh delapan tombak keluar dari gua.

Dan ketika suhunya masuk kedalam gua, tak henti- hentinya berseru memanggil "wulanasa " Mungkin kata2 itu merupakan nama dari Ban Hong Liong-li ketika masih gadis.

Gin Liong makin keras menduga bahwa diantara suhunya dengan Ban Hong Liong-li, dahulu tentu mempunyai hubungan yang istimewa.

Ban Hong Liong-li tampaknya kuatir orang  lain  atau para anak muda mengetahui riwayat hidupnya. Pada saat suhunya berbicara dengan Ban Hong Liong-li, Wanita sakti itu tentu segera memeluknya (Gin Liong) sehingga pingsan agar jangan dapat mendengar pembicaraan mereka.

Ia duga benda tajam yang menusuk punggungnya itu tentulah ujung jari dari Ban Hong Liong-li.

Tetapi ada sebuah hal yang ia tak mengerti. Mengapa suhunya waktu itu tak mau menolong dirinya ?. Adakah saat itu suhunya memang tak mendengar suaranya ataukah Ban Hong Liong-li lo cianpwe memindahkannya ke lain tempat ?

Terlintas sesuatu dalam benaknya dan iapun memandang ke muka, Lima tombak disebelah  muka, gua itu membiluk ke kanan.

Segera ia menuju ke tempat itu. Melongok kebawah, ternyata sebuah jurang yang tak kelihatan dasarnya, Namun Gin Liong sudah terlanjur tertarik hatinya, ia melayang turun, Makin kebawah, hawanya makin dingin sekali,

Ketika tiba di dasar lembah, ia berhadapan sebuah gua besar yang kedua dindingnya penuh dengan batu2 runcing. Gin Liong maju menghampiri Tiba2 ia terkejut karena mendengar suara jeritan seram dari bagian dalam gua itu. ia hentikan langkah, Ketika mendengarkan dengan seksama, kecuali suara benda jatuh, tiada kedengaran apa2 lagi.

Teringat sesuatu, Gin Liong segera lari memburu kedalam, Lorong gua berkelak-keluk, naik turun. Setelah melintas enam buah tikungan, tibalah dia disebuah tempat berbentuk empat persegi, panjangnya kira2 sepuluhan tombak,

Gin Liong hentikan langkah, Memandang kemuka, kejutnya bukan kepalang. Lima tombak disebelah muka, terkapar sesosok tubuh yang kecil kurus.

Cepat ia  loncat menghampiri. Ah, ternyata orang itu memang seorang wanita. Rambutnya sudah usai, mengenakan pakaian kembang potongan suku Biau, Kepalanya pecah, wajahnya rusak mengerikan sekali.

Gin Liong menduga mayat itu tentulah Ban Hong Liong- li. serentak meluapkan kemarahannya, ia menghamburkan tertawa keras sekali sehingga menggetarkan suluruh gua.

Puas menumpahkan kemarahannya dalam tawa yang ngeri, serentak ia berlutut disamping mayat itu dan menangis tersedu sedan.

"Liong-li locianpwe. murid memang berdosa besar karena tak lekas datang sehingga lo-cianpwe sampai dicelakai orang. Murid bersumpah, dengan pedang Tanduk Naga pemberian lo-cianpwe itu, akan menuntut balas kepada musuh2 lo-cianpwe itu, walaupun harus memburu mereka sampai di ujung langit."

Sekonyong-konyong terdengar gemericik suara air mengalir Gin Liong serentak berdiri dan berseru : "Siapa itu

!" Ia menghimpun tenaga dalam, siap untuk menghantam, Tetapi ketika memandang kemuka, menggigillah sekujur tubuhnya, Cepat ia loncat mundur sampai tiga tombak,

Pada ujung gua didepan, sayup2 seperti muncul seperti sinar yang menembus ke puncak gua. . Cahaya itu memancarkan sinar tujuh warna. Kilau kemilau menyilaukan mata.

Sebuah kepala binatang yang menyerupai ular naga, bergemercikan timbul dari dalam air lalu perlahan-lahan merayap keatas tanah.

"Makhluk ajaib..." teriak Gin liong dengan tegang sekali. Ia menyalangkan mata  memandang dengan seksama.

Kepala binatang aneh itu berwarna hijau, tanduk merah, sepasang matanya menyerupai bola api, hidungnya menghambur buih dan mulutnya mendesis-desis. Dan ketika badannya ikut terangkat tulang punggungnya seruncing mata golok penuh dengan sisik, Mungkin karena mendengar Gin liong tertawa keras, makhluk aneh itu merangkak keluar dari sarangnya.

Sekonyong-konyong makhluk aneh itu meraung, mengangkat kepala, membuka mulut lebar2, lalu meluncur kearah mayat Ban Hong hong-li.

-ooo0dw0ooo-
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang Tanduk Naga Bab 01 Tetamu maut"

Post a Comment

close