Pedang Berbunga Dendam Jilid 22

Mode Malam
JILID 22

Memang Coh Hen Hong pandai sekali menyesuai diri. Dalam hal itu dia sudah berlatih sempuna selama tinggal di istana Ceng-te-kiong. Menghadapi kata-kata dari suara misterius itu dia terpaksa menahan diri.

Bahkan dia lalu berusaha untuk menggali keterangan lebih lanjut.

"Apakah yang hendak engkau katakan itu sudah selesai semua?" tanyanya.

"Tentu saja belum," sahut suara itu, "kata-kata yang penting belum kukeluarkan."

Tergerak hati Coh Hen Hong, "Bukankah tadi engkau mengatakan bahwa memang ada satu cara untuk mengalahkan Beng Cu?"

"Engkau memang cerdik," seru suara itu, "tadi engkau sudah bertempur dengan dia. Kurasa engkau tentu sudah tahu cara bagaimana dapat mengalahkannya, bukankah begitu?"

Mendengar perkataan itu cepat Coh Hen Hong membayangkan lagi pada waktu dia bertempur dengan Beng Cu. Dan secepat itu pula dia sudah berseru dengan nada sarat, "Engkau hendak mengatakan, Jika aku mempunyai sepasang pedang Leng-Liong kiam, aku tentu dapat mengalahkannya?"

"Kata-katamu itu benar, tetapi hanya separoh," seru suara itu.

"Bagaimana yang engkau maksudkan separoh saja Itu?" Coh Hen Hong terkejut girang.

"Dalam waktu satu bulan, kalau engkau dapat memiliki sepasang pedang Leng-liong-kiam, engkau tentu dapat mengalahkannya. Tetapi setelah lewat satu bulan, tenaga-saktinya tentu makin menghebat. Pada waktu itu, di dunia Ini tak ada yang dapat melawannya. Sekalipun engkau punya Leng-liong- kiam juga percuma."

"Maksudmu dalam satu bulan ini aku dapat memperoleh sepasang Leng-liong-kiam, bukankah begitu?" Coh Hen Hong menegas.

Sejenak diam, ia bertanya pula, "Pedang Kim liong- kiam itu bukankah berada padamu?"

Suara itu tertawa, "Benar. Itulah yang kumaksudkan dengan jual-beli. Akan kujual Kim-liong- kiam itu kepadamu."

"Berapa harganya ?" tepat Coh Hen Hong menanggapi.

"Seluruh istana Ceng-te-kiong."

Coh Hen Hong terbeliak, "Apa katamu ?" Suara itu bicara dengan pelahan dan tandas.

"Seluruh istana Ceng-te-kiong, termasuk pohon dan tiap batang rumput. Pendek kata seluruh isinya. Kalau engkau setuju dengan jual-beli ini, aku lantas menjadi pemilik Ceng te-kiong dan sejak saat itu engkau tak boleh masuk ke Ceng-te-kiong !"

Coh Hen Hong tertawa mengekeh, "Apakah sebatang pedang saja layak ditukar dengan nilai istana Ceng-te-kiong ?"

"Sudah tentu layak," sahut suara itu, "karena dengan mempunyai pedang itu engkau tentu dapat mengalahkan Kwan Beng Cu."

Diam-diam Coh Hen Hong menimang. Suara itu sangat misterius. Dan menurut keterangan Pui Tiok pedang Kim liong-kiam memang benar diserahkan kepada orang itu. Tentulah orang aneh ini. Haruskah dia menerima perbarteran itu atau tidak ?

Seluruh istana Ceng-te-kiong dan semua isinya, uh, sungguh tak ternilai harganya.

Tetapi setelah memperoleh pedang Kim-liong kiam, apakah ia begitu bodoh menuruti perjanjian? Merenungkan hal itu, Coh Hen Hong gembira sekali.

Setelah memiliki sepasang pedang Ceng liong kiam, kalau Kwan Beng Cu saja akan kalah apalagi orang aneh itu. Bukankah dengan mudah dia dapat mengusirnya dari istana Ceng-te-kiong?'

"Baiklah, akan kuserahkan Ceng-te-kiong padamu semua," serunya.

"Hanya berkata dengan tiada buktinya. Engkau harus mengucapkan sumpah berdarah !"

Serentak Coh Hen Hong pun bersumpah "Kalau aku melanggar janji dan dikemudian hari menyesal atas perjanjian itu, biarlah aku mati di bawah pedang Kim- liong-kiam !"

Sumpah itu memang ganas sekali. Sumpah yang haus darah. Tetapi walaupun mulut mengucap begitu, diam-diam dalam hati Coh Hen Hon tertawa.

Satelah pedang Kim-liong-kiam diperolehnya siapakah yang mampu menandinginya ? Dan kalau tak ada manusia yang dapat merebut Kim-liong kiam dari tangannya, mungkinkah dia akan mati di bawah tebasan pedang pusaka tersebut ?

Tampaknya suara aneh itu puas mendengar sumpah yang diucapkan Coh Hen Hong, "Baiklah engkau harus ingat. Sejak saat ini, engkau tak boleh setengah langkahpun masuk ke Ceng-te-kiong"

"Bukankah aku sudah mengangkat sumpah yang begitu berat ? Lalu pedang Kim-liong-kiam, mengapa tak lekas engkau berikan kepadaku ?" seru Coh Hen Hong.

"Tentu, tentu, tetapi ..."

Rupanya Coh Hen Hong tak sabar lagi. Andaikata saat itu dia masih memegang Kim-liong-kiam, tentulah dia sudah mengamuk.

"Masih ada apa lagi ?" tukasnya.

"Meskipun engkau telah mengangkat sumpah berat." kata suara itu, "tetapi seluruh anakbuah dan penghuni Ceng-te-kiong belum tahu hal itu. Kembalilah ke Ceng-te-kiong, kumpulkan segenap penghuninya dan umumkan bahwa sejak sekarang akulah yang menjadi yang dipertuan dari Ceng-te kiong. Mereka harus mendengar perintahku. Dan engkau sudah bukan pemilik istana itu lagi. Setelah itu selesai barulah dagang barter kita ini kuanggap selesai!"

Coh Hen Hong tertegun, "Hm, kalau begitu engkau yang untung. Setelah kuumumkan bahwa engkau yang menjadi pemilik Ceng-te-kiong, kalau sampai engkau tak memberikan pedang itu kepadaku, aku dapat berbuat apa ?"

"Jangan kuatir," seru suara itu.

"Tetapi aku harus kuatir," bantah Coh Hen Hong, "dan lagi apakah pedang Kjm-liong kiam itu berada di tanganmu atau tidak, aku kan belum melihat sendiri dan belum membuktikan palsu atau tidak. Maka bagaimana engkau suruh aku tidak kuatir ?"

"Omonganmu nalar juga. Baik akan kuperlihatkan kepadamu," kata suara itu.

Begitu bicara serentak berkelebatlah sepercik sinar merah emas di atas sebatang pohon yang tak jauh di samping Coh Hen Hong.

Sinar kemilau itu bagi Coh Hen Hong memang tak asing lagi. Begitu melihat, dia terus merasa yakin kalau itu memang berasal dari sinar pedang Kim- liong-kiam.

Serentak dia menghambur teriakan aneh dan tanpa banyak pikir lagi dia enjot tubuhnya keudara untuk merebutnya. Tetapi serentak pada saat itu juga, terdengar suara menderu yang meluncur ke dalam semak sejauh dua tombak.

Diatas udara Coh Hen Hong berbalik tubuh terus melayang kearah semak itu. Begitu tiba ditanah dia mendengar suara berkeresekan seperti berasal dari sesosok tubuh yang secepat kilat menyelinap pergi.

Hal itu dapat dilihatnya ketika dia masih meluncur turun dan pada saat kakinya menginjak tanah, dia sudah tak melihat apa-apa lagi.

Coh Hen Hong kaget dan marah lalu menggembor keras dan menghantam dengan kedua tangannya.

Seluas dua tiga tombak jauhnya, pohon dan rumput tinggi tercabut keluar sampai keakarnya akibat Kedahsyatan tenaga pukulan itu.

Tetapi tetap dia tak melihat apa-apa. Dengan begitu jelas pedang Kim-liong-kiam yang melayang ke dalam semak tadi telah disambar lagi oleh suara aneh itu.

Dan lagi waktu melemparkan Kim-liongp-kiam, orang itu tentu menggunakan ilmu lemparan yang tepat sehingga dapat memperhitungkan pedang itu akan jatuh di mana. Dengan begitu, dapat dibayangkan betapa tinggi kepandaian orang yang tak mau dilihat orang itu.

Sejenak menenangkan diri, waktu Coh Hen Hong hendak bicara, terdengar suara itu tertawa mengekeh, "Heh, heh, baru saja mengangkat sumpah berat, engkau sudah begitu cepat melupakan. Awas dengan sumpahmu, engkau pasti mati dibawah pedang Kim- liong-kiam!"

Dada Coh Hen Hong serasa pecah dilanda kemarahan sehingga dia tak dapat bicara.

"Bagaimana, engkau telah melihat Kim liong kiam, bukan ?"

Coh Hen Hong tak dapat menghindar, sahutnya, "Baik, aku akan menurut permintaanmu akan kukumpulkan semua anakbuah Ceng te-kiong dan mengumumkan tentang pemiliknya yang baru Keluarlah dan mari kita bersama-sama ke sana

"Tak perlu," sahut suara itu, "engkau pulang lebih dulu. Jalanan ke Ceng-te-kiong, aku sudah tahu." "Kalau engkau tak mau unjuk diri bagaimana nanti anak buah Ceng-te-kiong tahu bahwa engkaulah pemilik yang baru ?"

"Soal itu engkau tak perlu hiraukan," sahut suara itu, "aku mempunyai cara sendiri untuk memberi tahu mereka. Cukup engkau umumkan pada mereka bahwa sekarang engkau bukan pemiliknya lagi. Dan setelah menerima Kim-liong-kiam harus terus angkat kaki dan sejak saat itu tak boleh menginjak Ceng-te-kiong lagi

!"

Dengan menekan kemarahan Coh Hen Hong berseru, "Baik, nanti setelah tiba di Ceng te-kiong terus akan kuhimpun segenap anakbuah. Kalau engkau tak datang, jangan marah kepadaku.

Suara itu tertawa aneh, "Dalam lain2 kepandaian mungkin aku kalah dengan engkau tapi dalam ilmu ginkang, jangan ditanya lagi. Engkau belum datang, mungkin aku sudah di sana !" .

Kembali Coh Hen Hong tersengat kemarahannya.

Dia benar-benar tak pernah menyangka bahwa di sekeliling daerah gunung Tay-hong-san situ kecuali Ceng-te ternyata masih ada pemilik Lembah Maut dan masih ada seorang tokoh aneh yang tidak dapat dilihat. Diam-diam Coh Hen Hong mendapat kesan bahwa ternyata dalam kolong langit itu terdapat banyak sekali tokoh-tokoh sakti yang menyembunyikan diri.

"Baik," akhirnya Coh Hen Hong berseru dan terus melesat. Dalam empat lima loncatan saja dia sudah mencapai jarak 50-an tombak. Sambil berlalu itu dia selalu memperhatikan sekeliling untuk mengangkapkan pandang matanya kepada orang misterius itu. Tetapi tetap tak ada perobahan Suatu apa. Empat penjuru keliling tetap sunyi senyap.

Sejak kecil Coh Hen Hong ikut dengan mamanya yang kurang waras pikirannya. Selama berkelana didunia persilatan entah berapa banyak dia telah menderita hinaan orang. Dalam hal itu sebenarnya ia sudah kronis (biasa). Tetapi sejak ia memalsu jadi Kwan Beng Cu dan hidup di Ceng-te-kiong, berubahlah perangainya. Dan setelah mendapat ilmu kesaktian lalu mengembara di dunia dan tak ada yang dapat melawannya, hatinya semakin tinggi dan congkak.

Kalau saat itu dia menderita hinaan, terang dia tak dapat menerima nya.

Setelah lari sampai 5-6 li melintasi lembah lalu air terjun tibalah dia di lembab tempat Istana Ceng-te- kiong. Setiba disitu dia rasakan ada sesuatu yang tak wajar.

Walaupun Istana Ceng te kiong itu masih tetap berdiri dengan megah tetapi biasanya tentu tak sepi dari para anakbuah yang selalu mengadakan perondaan keamanan. Dan setiap kali ada orang yang masuk ke lembah istana Ceng-te-kiong, tentu segera akan diketahui mereka. Tetapi ternyata saat itu seorangpun tak ada yang muncul menyambut kadatangannya.

Coh Hen Hong tertegun. Apakah hari itu telah terjadi sesuatu lagi di istana Ceng-te-kiong?

Cepat dia lari masuk dan ketika melihat pintu gerbang istana itu, barulah dia terbeliak. Ternyata di batu titian yang berada dibawah pintu gerbang istana itu, penuh berkumpul seluruh anak-buah Ceng-te- kiong.

Pada hal pertemuan besar semacam itu takkan terjadi bilamana tak ada tanda dari bunyi genta yang memanggil mereka. Pada hal Coh Hen Hong baru hendak membunyikan genta untuk mengumpulkan mereka. Mengapa mereka sudah berkumpul lebih dulu?

"Hai, apa-apaan ini? Siapa suruh kalian berkumpul disini?" serunya menegur. Jago-jago dari istana Ceng-te-kiong itu saling bertukar pandang satu sama lain. Salah seorang jago tua berkata, "Genta istana telah bertalu, kami kira Cujin yang memanggil maka kamipun berkumpul disini semua. . . . atau apakah ada orang. . . I "Sudah, jangan bicara!" cepat Coh Hen Hong melarang, "aku memang hendak menyampaikan pesan. Sekali pun orang tak berani berkata apa-apa lagi , Coh Hen Hong tahu kalau bel itu tentu perbuatan orang misterius tadi. Diam-diam dia mengakui bahwa orang itu memang sakti sekali ilmu ginkangnya. Bukan saja telah lebih dulu tiba di Ceng-te-Kiong , pun bahkan telah membunyikan genta mengumpulkan sekalian anak buah Ceng-te-kiong. Dengan begitu paling sedikit orang itu telah mendahuluinya dua peminuman teh lamanya.

Setelah naik keatas titian yang teratas, berkatalah Coh Hen Hong dengan nada sarat, “kalian semua dengarkanlah. Sejak hari ini aku hendak pergi jauh meninggalkan istana Ceng Te Kiong. Sekarang Ceng- te-kiong mempunyai junjungan yang baru lagi !"

Singkat sekali ucapan itu tetapi bagi pendengaran sekalian jago-jago Ceng-te-kiong, hal itu tak ubah seperti halilintar berbunyi ditengah hari bolong.

Suara berisik berdengung-dengung menggemuruh suasana tempat itu. Beberapa jago serempak berseru, "Mengapa kongcu tidak memegang kekuasaan lagi ?

Pemilik yang baru itu siapa saja, kami belum tentu taat."

"Kurasa junjungan yang baru itu tentu mempunyai daya untuk membuat kalian tunduk," seru Coh Hen Hong dengan nada hambar.

"Lalu dia berada dimana sekarang?" terdengar lain suara berseru.

Serentak Coh Hen Hong menanggapi dengan berseru nyaring2 dingin. "Hai, engkau dimana ?" Tiba-tiba dari pintu tong-bun (tembaga) di belakang Coh Hen Hong terdengar suara berderit derit karena daun pintunya terbuka.

Coh Hen Hong terkejut karena tak disangka nya kalau orang misterius itu diam-diam sudah berada dalam istana. Tetapi dilain pihak, Coh Hen Hong pun bergelora semangatnya karena jelas orang itu tentu akan menampakkan diri. Hal itu memang sangat diharapkannya sekali.

Pun seluruh jago-jago anakbuah Ceng-te-kiong serempak menumpahkan perhatian ke arah daun pintu yang terbuka pelahan-lahan itu.

Lewat beberapa saat kemudian tampaklah seorang bertubuh tinggi pelahan-lahan melangkah keluar . . .

Orang itu mengenakan jubah warna hitam yang memanjang sampai ke tanah menutupi kedua kakinya. Sedang wajahnya ditutup dengan sebuah topeng dari tembaga warna biru yang bentuknya seperti binatang. Dengan begitu sepintas pandang muka orang itu seperti binatang bukan binatang, manusia bukan manusia.

Coh Hen Hong terbeliak. Orang itu sudah muncul tetapi dia tetap tak tahu siapakah dia dan bagaimana wajahnya yang aseli.

Selekas muncul ke luar orang itu terus berseru garang, "Akulah pemilik baru dari istana Ceng-te- kiong !"

Nada suara orang itu Coh Hen Hong dapat mengenali memang betul seperti suara misterius itu. Tanpa menunggu reaksi sekalian jago-jago Ceng-te- kiong, Coh Hen Hong. cepat berseru, "Mana pedang Kim Liong Kiam itu”

Coh Hen Hong sudah mengatur rencana licik. Begitu menerima Kim-liong-kiam dia terus akan membunuh orang itu. Tetapi tampaknya orang itu tak mengacuhkan Coh Hen Hong dan pelahan-lahan maju dua langkah lagi kemuka titian.

"Aku inilah junjungan baru dari Ceng-te-kiong yang sekarang!" serunya dengan nada sarat.

Suasana hening seketika. Beberapa saat kemudian baru terdengar seorang jago berseru keras, "Siapa engkau!"

Orang itu mengisar wajah-topengnya pelahan-lahan kearah orang itu dan berseru, "Apa engkau tuli? Aku sudah mengatakan, sekarang ini akulah junjungan baru dari istana Ceng-te-kiong!"

Jago Ceng-te kiong itu juga berbangkit. Ternyata dia seorang tua bermuka merah. Semua jago jago sakti di Ceng-te-kiong kenal siapa dia sebagai jago kelas satu dari istana.

Berseru jago tua muka merah dan berbaju juga merah itu dengan nada garang, "Mau menjadi yang dipertuan dari istana Ceng-te kiong, tidak begitu mudah."

"Lalu bagaimana baru bisa lancar," seru orang bertopeng dengan nada dingin.

"Pertama sudah tentu harus memiliki kepandaian yang sakti yang membuat orang tunduk," seru jago tua berwajah merah.

Topeng misterius itu tertawa memanjang, "Ho, kiranya begitu. Kan itu bukan soal yang sukar.

Rasanya anda tentu tak mau tunduk kepadaku junjungan baru dari Ceng-te-kiong. Kalau begitu, silahkan maju menguji!"

Wajah jago bermuka merah itu berobah tetapi secepat itu diapun tenang kembali dan berseru, "Baik, aku hendak mohon pelajaran!"

Kata-kata yang terakhir diserempaki dengan tubuhnya melambung dan tahu-tahu sesosok bayangan merah sudah tiba di depan pintu gerbang, terpisah hanya satu meter dari pemilik baru itu. Lebih dulu dia memberi hormat kepada Coh Hen Hong, "Maafkan hamba berlaku kurang hormat."

Soal jago tua bermuka merah hendak mengadu kepandaian dengan si topeng misterius, bagi Coh Hen Hong tak ada manfaatnya. Yang penting, dia harus lekas-lekas mendapatkan pedang Kim-liong-kiam.

Maka cepat dia mencegah pertempuran, "Tunggu!"

Kemudian dia berpaling kepada orang misterjus itu dan meminta lagi, 'Mana pedangku Kim-liong kiam”

“Tadi aku bilang apa ? Engkau harus tunggu dulu sampai aku benar-benar diakui sebagai pemilik Ceng- te-kiong. Toh pada waktu itu masih belum terlambat bagimu untuk mendapatkan pedang Kim-liong-kiam itu," sahut si Topeng tembaga.

Coh Hen Hong marah lagi tetapi karena Kim liong- kiam masih berada di tangan orang itu, terpaksa ia harus menahan diri dan tak mau membantah lagi.

Topeng Tembaga berdiri tegak dan berseru kepada jago tua berwajah merah. "Anda boleh memukul tiga kali. Terserah mau memukul bagian mana saja. Tetapi jangan sekali-kali memukul bagian kepalaku, mungkin akan berakibat tak baik bagi anda!" Mendengar itu gemparlah seluruh hadirin.

Jago tua muka merah dari istana Ceng-te kiong itu bukan berasal dari daerah Tiong-goan melainkan dari Segak (Tibet). Ilmu kepandaiannya memang luar biasa anehnya. Yang paling lihay adalah pukulan Thian-lui-sam-ciang atau Tiga-pukulan-geledek.

Ilmu pukulan Thian-lui-sam-ciang itu mengandung tenaga-dalam keras dan lunak. Semula bergerak lemah tetapi begitu menyentuh tubuh orang lantas memancarkan dengung seperti halilintar meledak

Waktu Ceng-te masih hidup, juga pernah memuji akan kehebatan dari tenaga pukulan Thian-lui itu.

Peristiwa itu semua anakbuah Ceng-te-kiong tahu. Tetapi Topeng Tembaga tentu tak tahu hal itu. Atau mungkin dia sudah tahu namun dia masih tetap sengaja hendak menantangnya.

Kegemparan hadirin hanya berlangsung singkat. Menyusul sudah tenang kembali. Dan jago tua dari Segak itu tampak terbeliak mendengar ucapan calon pemilik baru dari Ceng-te-kiong.

"Memang aku hanya mempunyai keistimewaan dalam ilmu pukulan. Apakah engkau benar-benar tak menyesal?" serunya, "apakah engkau takkan balas memukul?"

Topeng Tembaga tertawa panjang, "Lebih baik engkau lekas turun tangan, perlu banyak bertanya lagi?"

Jago dari Se-gak itu menggembor keras, "Baik ” Habis berkata dia terus ayunkan

tangan menghantam. Gerak pukulannya memang tampak lemah2 saja seperti tak bertenaga. Tetapi sesaat kemudian telinga sekalian hadirin seperti mendengar gemuruh letusan halilintar berkumandang menusuk telinga. Dan tepat Sekali pukulan Tiga geledek itu mengenai tubuh orang itu, tepatnya pada bahu kanannya.

Peristiwa aneh terjadi. Begitu mengenai tubuh si Topeng Tembaga, gemuruh halilintar tadi sirap Seketika. Sedikitpun tak menimbulkan bunyi apa-apa.

Sejenak melekat pada bahu kanan orang, jago Segak itu terus cepat menarik tangannya. Tubuh Topeng Tembaga agak tergetar tetapi wajah jago segak pucat lesi dan secepat itu terus melayangkan lagi pukulan kedua. Pukulan yang kedua itu diarahkan ke dada Topeng Tembaga. Kali ini pukulan itu lebih dahsyat gemuruh suaranya. Apabila tidak pada siang hari yang terang tentu orang akan mengira tentu ada halilintar meletus di langit.

Tetapi anehnya begitu pukulan itu mendarat di dada orang, terus lenyap bunyinya. Yang terdengar hanya suara plek yang lemah seperti tamparan seorang anak kecil.

Mendengar suara itu kejut Coh Hen Hong bukan kepalang. Dari bunyi itu dia dapat menarik kesimpulan bahwa Topeng Tembaga tak terasa apa-apa. Memang benar. Tubuh Topeng Tembaga hanya bergetar sedikit dan setelah menarik pulang tinjunya, jago segak itu tampak makin pucat. Dia mundur selangkah.

"Dua kali!" seru Topeng Tembaga.

"Ya," sahut jago muka merah dari Segak.

Tepat pada saat beseru tubuhnya sudah melenting dan pukulan ketiga segera dilepaskan dengan cepat. Dan pukulan itu tepat ditujukan pada topeng tembaga yang dikenakan pada kepala orang aneh itu.

Hadirin terkejut dan tak mengira kalau pukulan jago Segak itu akan menghantam kepala orang. Tadi mereka sudah mendengar jelas peringatan dari Topeng Tembaga bahwa si jago tua Segak boleh memukul mana saja yang dikehendaki asal jangan bagian kepalanya. Kalau sampai dilanggar tentu akan membahayakan jago Segak itu.

Tring.. . terdengar dering tajam ketika pukulan mengenakan topeng dan menyusul jago muka merah dari Segak itu serentak mundur tiga langkah.

Wajahnya tampak pucat lesi dan mulut membiru. "Tadi telah kuperingatkan kepada anda, kalau anda

memukul topengku tentu akan berbahaya. Tetapi kalau engkau kira peringatanku itu karena hendak menutupi bagian tubuhku yang lemah. Engkau salah besar!"

"Jago tua muka merah itu berdiri seperti patung. Dan setelah Topeng Tembaga habis bicara tampak tubuh jago Segak itu bergetar dan bluk . . tiba-tiba dia jatuh ke tanah. Begitu jatuh terus bergelundungan ke bawah titian. Memang di atas titian itu penuh dengan jago-jago Ceng-te-kiong tetapi mereka tak berani berbuat apa- apa untuk menolong si muka merah kecuali hanya menyingkir memberi jalan pada tubuhnya yang bergelundungan kebawah itu.

Setelah bergelundungan menuruni hampir empat puluh titian barulah tubuh si muka merah itu tiba di bawah dan tak berkutik. Entah dia mati atau masih hidup.

"Hayo kawan-kawan, angkutlah dia pergi dan kubur di mulut lembah istana Ceng-te-kiong sebagai peringatan bagi mereka yang tak mau menurut perintahku !"

Mendengar itu sekalian jago tahu kalau muka merah tentu sudah mati. Tetapi masih saja beberapa orang yang tak percaya dan mengira kalau si muka merah yang berkepandaian sakti hanya dengan begitu mudah saja terus mati.

Sembilan jago tampil dan mengangkut si muka merah rupanya mereka juga mempunyai pikiran sama. Walaupun menurut perintah tetapi diam-diam mereka hendak memeriksa apakah si muka merah itu benar-benar sudah mati.

Baru setelah mengangkat tubuh si muka merah, mereka tahu kalau dia memang benar-benar sudah mati. Maka merekapun lalu mengangkutnya keluar.

Suasana hening lelap, tiada ada yang buka suara.

Bahkan Coh Hen Hong sendiri diam-diam juga terkejut heran.

Diapun tak tahu mengapa dan bagaimana si muka merah mati secara begitu. Pukulan ketiga dari jago Segak itu menghantam muka yang ditutupi topeng. Kalau orang itu menggunakan tenaga-dalam sakti untuk melontarkan tenaga-tolak pun seharusnya seketika itu si muka merah menjerit dan rubuh. Tetapi mengapa si muka merah hanya mundur ke belakang, berdiri mematung baru kemudian jatuh dan mati.

Mungkin saja topeng itu mengandung sesuatu yang aneh tatapi Coh Hen Hong tak mengetahui dan meragukan.

Mengapa Coh Hen Hong memperhatikan sekali atas kematian si muka merah karena dia sendri diam-diam sudah merencanakan bahwa lambat atau cepat dia tentu akan membuat perhitungan maut dengan orang bertopeng itu.

Coh Hen Hong tak rela menyerahkan Ceng-te-kiong begitu saja karena istana itu memiliki istana dan harta pusaka yang tak ternilai harganya. Boleh dikata merupakan simpanan harta pusaka yang jarang tandingannya dalam dunia. Adalah karena terpaksa untuk mendapatkan pedang Kim-liong kiam maka dia pura-pura mau menyerahkan istana Ceng-te-kiong.

Begitu Kim-liong-kiam sudah di perolehnya, dia tentu akan bertindak lagi.

Topeng Tembaga tertawa mengekeh, "Aku adalah junjungan baru dari Ceng-te-kiong, siapa yang tak mau taat lagi ?"

Sekalian hadirin yang berkumpul memenuhi titian tak ada yang buka suara.

Orang itu tertawa gembira, "Setelah menjadi pemilik baru dari Ceng-te-kiong, yang kusetujui akan kulepas keluar mengembara ke dunia persilatan untuk mengangkat nama dan melakukan pekerjaan mulia.

Kalian harus menjaga nama baik-baik."

Mendengar pernyataan itu sekalian hadirin terkejut.

Sekalian anakbuah Ceng-te kiong itu sebagian besar adalah ketua perguruan silat, ketua perkumpulan silat dan tokoh-tokoh persilatan yang berkepandaian tinggi. Mengapa mereka mau masuk ke dalam Ceng-te kiong adalah karena dengan bernaung dibawah nama Ceng- te-kiong akan dapat mempunyai pengaruh didunia persilatan. Tapi tak terduga, peraturan Ceng-te-kiong amat keras. Kalau tak mendapat ijin tak boleh sembarangan meninggalkan Ceng-te-kiong. Sudah tentu hal itu bertentangan dengan tujuan mereka.

Tetapi sekarang pemilik baru telah mengumumkan peraturan baru. Ceng-te kiong akan mengadakan perobahan dalam tata peraturannya. Sudah tentu mereka menyambut dengan gembira sekali.

Topeng Tembaga memberi isyarat mereka diam lalu berkata lagi, "Cukup. Kalian boleh bubaran dan kembali ke tempat masing-masing. Nanti bila tiba saatnya tentu akan kupanggil."

Sekalian hadirin yang berada di titian segera berbondong-bondong membubarkan diri dan orang itupun pelahan lahan berputar tubuh.

"Nah, sekarang secara resmi engkau sudah menjadi pemilik baru dari Ceng-te-kiong. Lalu mana Kim-liong- kiam itu ? Tak seharusnya engkau mengulur waktu lagi."

Rupanya Coh Hen Hong sudah menekan perasaannya dan mengucap dengan kata-kata yang penuh kesungkanan.

Orang itu tertawa ngakak, "Selama aku tak pernah ingkar. Dimana pedang Kim-liong-kiam itu kusimpan, sekarang akan kuberitahu kepadamu”

“Apakah tidak ada padamu?" teriak Coh Hen Hong marah.

"Tentu saja tidak," sahut orang itu, "Kalau ada padaku, begitu kuberikan kepadamu, engkau tentu segera membunuh aku, bukankah begitu?

Coh Hen Hong makin marah, "Bagaimana maksudmu?"

"Jangan marah," sahut orang itu, "aku tak pernah menipu orang. Karena sudah mengadakan tukar menukar dengan engkau, mengapa aku harus ingkar? Curiga memang tidak baik tetapi berhati hati harus jangan ditinggalkan. Oleh karena itu aku ”,

Marah Coh Hen Hong bukan kepalang, dia serentak memaki, "Apa perlunya engkau ngoceh tak karuan seperti orang berkentut? Mana Kim-liong kiam”

"Pedang itu kutaruh dibawah segunduk batu berbentuk segitiga runcing, dibawah sebatang pohon siong tua dalam sebuah lembab yang terletak 7 li di sebelah timur Ceng-te-kiong. Apabila engkau mendorong batu besar itu tentu akan mendapat kan pedang Kim-liong-kiam."

"Aku harus percaya keteranganmu?"

"Engkau harus percaya, karena pedang itu memang disitu," kata Topeng Tembaga dengan tandas.

Sepasang biji mata Coh Hen Hong tampak berkikat kilat memancar api, menatap orang itu. Tetapi orang itu tetap tenang-tenang, katanya, Engkau tak boleh menyalahkan aku. Engkau telah mengucap sumpah laknat mengatakan setelah aku menjadi pemilik Ceng- te-kiong, kalau engkau masih berani selangkah saja masuk ke Ceng-te-kiong tentu engkau akan mati di bawah pedang Kim-liong-kiam. Sekarang kalau kuberikan pedang itu kepadamu dan engkau terus membunuh aku, itu tidak menyalahi sumpahmu.

Tetapi kalau engkau sudah tinggalkan Ceng-te-kiong dan datang hendak membunuh aku, engkau harus berpikir dua belas kali dulu !"

Amarah Coh Hen Hong pelahan-lahan reda. Dia menimang-nimang dan merasa tindakan orang

itu memang masuk akal.

"O, ternyata engkau takut kepadaku," ia tertawa mengejek.

Topeng Tembaga tertawa sinis, "Setelah engkau memperoleh lagi sepasang pedang Ceng-liong kiam, dalam waktu sebulan engkau tentu tiada yang menandingi. Bagaimana aku tak takut kepadamu?" Mendengar kata-kata 'dalam waktu sebulan’, Coh Hen Hong terkejut. Karena dalam waktu satu bulan, ilmu kepandaian Kwan Beng Cu tentu lebih maju.

Sekalipun ia memiliki sepasang pedang Kim liong-kiam juga tak berguna.

Maka dia serentak berseru, "Baik, kalau pedang itu tak dapat kuketemukan, aku tetap akan mencari engkau !"

"Jangan kuatir", Kata orang itu, "aku tak suka melihatmu lagi."

Tanpa banyak bicara lagi, Coh Hen Hong terus melesat keluar dan dalam beberapa kejab sudah lenyap.

Dia lari ke arah yang ditunjuk orang aneh di Sekira 7 li di sebelah timur Ceng te-kiong benar juga ia tiba disebuah lembah kecil. Memang banyak sekali pohon2 yang tumbuh disitu tetapi pohon siong hanya sebatang. Dan memang betul pula bahwa dibawah pohon siong itu terdapat segunduk batu besar yang berbentuk segitiga runcing.

Coh Hen Hong tegang sekali. Selekas tiba dimuka batu besar itu dia terus mendorong. Begitu batu terbalik, tampak seberkas sinar emas memancar.

Melihat benda yang memancarkan sinar emas yang menyilaukan, girang Coh Hen Hong bukan kepalang. Itulah pedang Kim liong-kiam !

Kuatir kalau dalam saat2 yang menentukan itu akan terjadi sesuatu yang tak terduga2, cepat Coh Hen Kong memijak pedang itu lebih dulu setelah itu baru membungkuk ulurkan tangan memungutnya.

Sebuah suitan panjang yang nyaring segera menghambur dari mulutnya. Suitan yang menghamburkan luapan rasa gembira dalam hatinya.

Sambil bersuit dia mencabut pedang Ceng-leng- kam lalu dengan sepasang pedang pusaka itu dia memainkannya. Sesaat tampak dua buah warna biru dan kuning emas bergermelapan memancarkan cahaya yang berkilau-kilauan menyolok pandang mata.

Memang ilmu kepandaian Coh Hen Hong amat sakti. Apalagi saat itu dia habis menelan kemarahan. Untuk melampiaskan kesesakan dadanya dia menghamburkan suitan yang luar biasa nyaringnya sehingga kumandangnya entah sampai berapa jauh.

Saat itu Pui Tiok yang tengah lari bersama Beng Cupun mendengar dan serentak berhenti.

"Beng Cu, engkau dengar tidak. Rupanya suitan dahsyat itu barasal dari Coh Hen Hong," kata Pui Tiok.

Beng Cu mengangguk, "Benar, memang dia. Tetapi aneh, kalau menilik nada suitan itu rupanya dia gembira sekali. Ada apakah yang membuatnya sedemikian gembira itu ?"

Pui Tiok tak tahu apa yang telah terjadi dengan Coh Hen Hong maka dia menjawab, "Mari kita lihat mengapa dia begitu gembira !"

Beng Cu mengangguk seraya ayunkan tubuh melesat ke muka. Pui Tiok gelagapan dan cepat menyusul. Tetapi saat itu kepandaian Beng Cu jauh lebih tinggi daripada Pui Tiok. Betapapun Pui Tiok berusaha hendak mengejar, namun meskipun bermula hanya ketinggalan dua tiga li tetapi lama kelamaan Beng Cu makin meninggalkannya.

"Beng Cu, tunggu aku dulu, "akhirnya ia terpaksa berteriak.

Beng Cu berhenti. "Mari kutarikmu supaya dapat lari bersama-sama !"

Merah muka Pui Tiok. Tetapi teringat bahwa dia adalah calon suami Beng Cu maka tak apalah kalau Beng Cu hendak menariknya.

Rupanva Beng Cu tahu akan perasaan Pui Tiok. Baru dia hendak memberi penjelasan Pui Tiok sudah ulurkan tangan nya, "Ya, kita lari ber sama-sama Tetapi tentu akan merepotkan kamu saja.'

Beng Cu menghela napas. "Pui toako, sekarang ini tubuhku kan tidak menyerupai manusia wajar lagi.

Akulah yang merepotkan engkau !"

"Sudahlah, jangan bicara lagi" teriak Pui Tiok

Beng Cu tertawa lalu menarik tangan Pui Tiok terus diajak lari. Pui Tiok juga bukan pemuda yang tak punya pengalaman sama sekali. Tetapi ia benar-benar tak pernah mengira kalau Beng Cu dapat memiliki ilmu gin-kang yang sedemikian saktinya.

Tak berapa lama kemudian suitan Coh Hen Hong itu makin dekat dan setelah melintasi sebuah gunung mereka melongok ke bawah dan melihat dua buah cahaya biru dan kuning emas sedang berkelebatan seperti sepasang bianglala.

Pui Tiok dan Beng Cu serempak berhenti. Untuk beberapa saat mereka tegak ter-longong2 Mereka memastikan bahwa sepasang pedang Leng-liong-kiam dan yang memainkannya itu tentulah Coh Hen Hong sendiri.

Semula Pui Tiok dan Beng Cu hendak mencari suara yang misterius untuk meminta kembali pedang Kim liong-kiam. Tetapi kini setelah mengetahui kalau sepasang pedang itu telah jatuh k e m bali ke tangan Coh Hen Hong, keduanya seperti dihantam palu gondam rasanya.

Sepasang pedang Leng-liong-kiam itu makin lama makin gencar. Pohon2 dalam lembah susul-menyusul terbabat tumbang, menimbulkan suara gemuruh dalam lembah.

Setengah jam Kemudian barulah Coh hen Hong hentikan permainannya dan berteriak, "Akulah yang dipertuan dalam dunia ini!"

Rupanya dia mabuk dalam kegirangan melantangkan teriakan itu sampai berulang kali. "Beng Cu, dia mendapat angin," kata Pui Tiok dengan nada getir.

Beng Cu menghela napas, "Ya, tetapi apa setelah mendapatkan kedua pedang itu dia . . tentu dapat mengalahkan aku ?"

"Ya, dia tentu dapat mengalahkan engkau kata Pui Tiok dalam hati tetapi dia tak mau mengatakan hal itu.

Pui Tiok tahu akan kesaktian sepasang pedang Leng-liong-kiam. Bahkan seorang tokoh nomor satu dalam dunia persilatan seperti Ceng-te juga tak urung binasa di bawah tabasan sepasang pedang pusaka itu. Apakah Beng Cu mampu menghadapinya ?

"Beng Cu, dalam hal itu berbahaya sekali kalau hendak mengetahui dengan membuktikan dalam pertempuran," akhirnya Pui Tiok menghindar.

Saat itu Coh Hen Hong keluar dari lembah dan se- konyong2 Beng Cu berkata, "Pui toako sekarang gin- kangku hebat sekali. Kalau kuikuti dari belakang tentu dia tak mungkin tahu . . “

Pui Tiok terkejut, "Beng Cu, Jangan. Kalau dia sampai tahu "

"Kalau engkau hendak mengetahui apakah setelah mempunyai sepasang pedang, dia dapat mengalahkan aku atau tidak, kan harus diuji kebenarannya, cepat Beng Cu menukas, "tunggulah disini, aku dapat berhati-hati "

Sambil berkata Beng Cu terus melesat. Pui Tiok gopoh hendak menyambar tangannya tetapi sudah terlambat.

Karena tahu kalau tak mungkin dapat mengejar, Pui Tiok hanya berteriak, "Beng Cu lekas kembali!"

Tetapi Beng Cu tak mau berhenti dan melainkan berseru, "Tunggulah aku disini, jangan kemana mana Aku tentu kembali lagi. Jangan kuatir!" Dan Beng Cu sudah jauh sekali. Ketika Pui Tiok melongok ke bawah, dilihatnya di belakang Coh Hen Hong bertambah sesosok bayangan.

Coh Hen Hong sedang muncul dari lembab kecil dan Pui Tiok melongok dari tempat yang tinggi di sebelah atas maka dia dapat melihat jelas. Waktu bayangan itu muncul mengikuti di belakang Coh Hen Hong ternyata jaraknya hanya satu meter. Dan ternyata Coh Hen Hong seperti tak merasa.

Pui Tiok mengawasi adegan itu dengan tegang.

Setelah kedua orang itu lenyap barulah Pui Tiok terpaksa duduk lagi. Tetapi baru duduk dia berdiri lagi. Tindakan Beng Cu yang begitu berani membuatnya duduk berdiri serba gelisah.

Beberapa saat kemudian dia banting2 kaki dan terus hendak menyusul. Tetapi pada lain saat dia kuatir kalau Beng Cu datang dan tak mendapatkannya. Maka dia lalu gunakan pedang menggurat beberapa tulisan pada batu besar, menerangkan kalau dia juga menyusul. Setelah itu baru dia lari turun gunung.

Memang saat itu Beng Cu tengah membayangi di belakang Coh Hen Hong. Gerakan lubuhnya benar- benar seperti asap yang tak menimbulkan suara sama sekali Betapapun tinggi kepandaian Coh Hen Hong tetapi tak merasa kalau dirinya dibayangi.

Memang saat itu Coh Hen Hong sedang kegirangan setengah mati. Tak henti-hentinya ia bersuit. Beng Cu pun memberanikan diri untuk lebih mendekat. Dia hanya terpisah setengah meter dibelakang tetapi Coh Hen Hong tetap tak merasa.

Waktu berada begitu dekat di belakang Beng Cu juga tegang. Berulang kali dia hendak menghantam tetapi ia kuatir kalau bergerak tentu akan menimbulkan kesiur angin dan suara. Di samping itu walaupun dia bermusuhan dengan Coh Hen Hong tetapi menyerang dari belakang itu suatu perbuatan hina yang tak disukainya

Demikianlah dengan melayang-layang laksana bayangan Beng Cu tetap membayangi dibelakang Coh Hen Hong. Lebih kurang berlari 5-6 li Coh Hen Hong menyarungkan pula sepasang pedangnya.

Sepasang pedang pandak itu diselipkan pada pinggang dan Beng Cu melihat tangkainya berguncang-guncang seperti melonjak-lonjak ke atas. Diam-diam Beng Cu berpikir kalau dia dapat melesat dekat di belakangnya maka nanti pada saat yang tak tarduga-duga dia akan mencabut tangkai pedang itu.

Membayangkan rencana itu teganglah hati Beng Cu.

Dia lalu mengempos semangat dan menghimpun napas agar tubuhnya jangan meninggalkan suara, setelah itu dia mulai pelahan-lahan maju mendekati.

Jarak makin dekat, Beng Cu makin tegang. Dan ketika hanya terpisah sejengkal jari tangan dari tubuh Coh Hen Hong sehingga kalau pakaian Coh Hen Hong berkibar tertiup angin tentu dapat menampar kepadanya maka Beng Cu siap2 akan turun tangan.

Pelahan lahan dia ulurkan tangan hendak menyentuh tangkai. Pada saat tangan humpir membentur tangkai tiba-tiba Coh Hen Hong juga memegang tangkai pedangnya.

Bukan karena Coh Hen Hong tahu kalau Beng Cu hendak 'mencopet' pedangnya melainkan karena dia tak mau kehilangan pedang pusaka itu lagi maka setiap saat dia tentu merabanya, apa kah masih tetap di pinggang atau hilang. Dan saat itu dia memang hendak mencabut pedang itu hendak dimainkan lagi.

Adegan yang lucu terjadi. Ketika meraba tangkai, ternyata tangan Beng Cu lebih dulu masuk, Coh Hen Hong bukan meraba tangkai melainkan merasa telah menyentuh sebuah benda yang dingin seperti tangan orang mati.

Coh Hen Hong serasa terbang semangatnya.

Dengan memekik seperti setan kesiangan dia terus ayunkan tubuh ke samping, bum karena

gopohnya melesat ke samping dia telah membentur sebatang pohon siong yang batangnya sebesar lengan orang.

Kalau orang lain tentu akan remuk atau paling tidak kelenger karena menabrak pohon sekeras2nya. Tetapi tenaga dalam Coh Hen Hong memang sakti sekali.

Bukan dia yang remuk tetapi pohon itu yang tumbang. Dan menabrak itu tidak menyebabkan tubuh Coh Hen Hong berhenti tetapi tetap melaju sampai dua tiga tombak baru berhenti.

Secepat berhenti secepat itu dia segera mencabut sepasang pedang. Tetapi dia tidak serentak mencabut melainkan lebih dulu menyelentik agar apabila tangan dingin tadi masih melekat pada tangkai pedangnya tentu akan termakan.

Tring, tring ternyata selentikannya itu hanya

mengenai batang pedang. Dan karena tenaga selentikan itu hebat sekali maka tangkai pedang itu sampai melonjak keatas dan memperdengarkan

bunyi yang nyaring melengking. Setelah tahu kalau tangan dingin tadi tak ada barulah lega hati Coh Hen Hong. Cring, cring serentak dia mencabut

sepasang pedangnya dan berputar tubuh sambil membentak, "Siapa !" Tetapi yang tampak hanya gunduk2 batu kerucut yang berjajar-jajar di sebelah sana. Tak ada bayangan orang sama sekali.

Dia menghela napas longgar. Dia yakin bahwa tadi dia memang meraba tangan dingin. Kalau tangan dingin itu lenyap tentulah orangnya sudah melesat menyembunyikan diri. Dia terus melesat setombak kemuka dinding karang lalu berputar tubuh dan menempelkan punggung kebatu karang dan memandang ke sekeliling Dia tak henti-hentinya berpikir, siapakah orang yang bertangan seperti es tadi. Orang itu luar biasa ilmu ginkangnya. Membayangi dibelakangnya begitu dekat tetapi dia tak merasa sama sekali.

Apakah dia . . . berpikir sampai disitu Coh Hen Hong terbeliak dan marah. Ternyata dugaan nya tidak jatuh pada Beng Cu melainkan pada orang misterius atau Topeng Tembaga yang sekarang menjadi pemilik istana Ceng-te-kiong.

"Hmt hebat sekali ginkangmu. ya ? Tetap sayang perbuatanmu seperti setan yang main sembunyi" geramnya.

Memang saat itu Beng Cu sudah sembunyi diatas pohon yang rindang, tak jauh dari tempat Coh Hen Hong. Sekalipun Coh Hen Hong memandang ke atas juga tak mudah untuk melihatnya

Adegan tadi bukan saja Coh Hen Hong sendiri yang kaget, melainpun Beng Cupun juga terkejut sekali, ketika tangannya dijamah tangan Coh Hen Hong.

Begitu Coh Hen Hong melesat kemuka, Beng Cupun melambung ke atas pohon, dua tiga tombak diatas tempat Coh Hen Hong.

Dia dapat mendengar desah desuh Coh Hen Hong.

Dia terkesiap. Apakah Coh Hen Hong tahu kalau dirinya dibayangi dari belakang ?

Tengah dia menimang-nimang tiba-tiba terdengar Coh Hen Hong berkata pula, "Jangan engkau berhati hitam, setelah mengambil Kim-liong-kiam dan kutukar istana Ceng-te-kiong terus hendak bertindak licik mau mencuri pedang Kim-liong-kiam lagi !"

Sudah tentu Beng Cu terkejut mendengar ocehan itu, pikirnya, "Jelas itu bukan ditujukan kepadaku. Dia tentu tak tahu siapa yang membayangi dibelakangnya tadi."

Setelah dua kali Coh Hen Hong mengoceh tak ada yang menyahut, dia makin yakin kalau yang berbuat tadi tentulah si orang misterius atau Topeng Tembaga.

"Aku belum mencari, engkau sendiri sudah cari penyakit, heh, heh, engkau telah menghina suatu rumah perguruan !" dia tertawa dingin. Beng Cu diam tak bersuara. "Karena engkau tidak jujur, jangan sesalkan aku kalau tidak mentaati perjanjian. Aku hendak merebut kembali Ceng-te-kiong !"

Beng Cu makin tak mengerti. Tetapi dia tahu kalau Coh Hen Hong salah sangka. Coh Hen Hong menyangka kalau lain orang yang membayangi dibelakangnya.

Karena tak mendapat jawaban, Coh Hen Hong berkata lagi, "Engkaulah yang lebih dulu cari perkara kepadaku. Sumpah yang kuikrarkanpun batal. Kalau sekarang engkau tak mau unjuk diri, juga tak apa.

Tunggu nanti setelah aku datang ke Ceng te-kiong masa engkau tak mau unjuk diri"

Memang setelah mendapat Kim-liong-kiam, pertama kali yang direncanakan Coh Hen Hong yalah hendak merebut kembali Ceng-te-kiong. Tetapi dia masih gentar akan sumpah berdarahnya. Sekarang dia mempunyai alasan kuat untuk merobek-robek sumpah itu dan akan langsung menuju ke Ceng-te-kiong.

Sudah tentu dia gembira sekali. Sambil lari dia melantangkan suitan yang nyaring.

Kali ini dia sangat berhati-hati. Sambil berlari tak henti-hentinya dia berpaling ke belakang. Dalam keadaan seperti itu betapapun sakti ginkang Beng Cu tetapi juga tak berdaya lagi untuk membayangi di belakangnya.

Terpaksa Beng Cu tak melanjutkan tindakannya membayangi Coh Hen Hong. Itu bukan berarti dia melepaskan Coh Hen Hong melainkan karena dia baru tahu bahwa Coh Hen Hong telah menukar pedang Kim-liong-kiam dengan istana Ceng-te-kiong.

Sekarang Coh Hen Hong hendak kembali ke Ceng-te kiong untuk merebutnya kembali.

Dengan begitu Beng Cu tak perlu membayanginya lagi. Asal dia juga menuju ke Ceng-te-kiong tentulah dia dapat bertemu Coh-Hen-Hong. Dan juga dia ingin tahu siapa yang telah menjadi pemilik baru dari Ceng-te-kiong yang sekarang ini.

Setelah Coh Hen Hong lenyap, diapun lalu melayang turun ke bawah dan menuju ke lembah tempat istana Ceng-te-kiong didirikan.

Sebelum memasuki lembah dia sudah mendengar suara lantang dari Coh Hen Hong yang memaki maki, "Kentut! Pemilik baru apa? Akulah pemilik istana dan yang dipertuan disini!"

Dan menyusul tampak sinar pedang memancar.

Dua buah jeritan ngeri terdengar. Jelas tentu ada dua anak buah Ceng-te-kiong yang telah mati diganas sepasang pedang Leng-liong-kiam.

Beng Cu sejenak berhenti. Setelah sinar pedang lenyap baru dia lanjutkan langkah lari melintasi lembah.

Tampak di luar lembah sempit yang panjang itu berlutut enam orang, menghadap Coh Hen Hong. Coh Hen Hong dengan ganas membentak, "Apakah kalian tak kenal lagi dengan aku ?"

Ada salah seorang yang bernyali besar, memberanikan diri barkata, "Harap jangan menyalahkan kami. Adalah engkau sendiri yang mengatakan babwa engkau tak menjadi pemilik Ceng- te-kiong lagi ..."

Sebelum orang itu selesai bicara, Coh Hen Hong cepat ayunkan kaki menendangnya. Rupanya orang itu tahu gelagat jelek terus lari. Tetapi Sambil lari dia berani melepaskan beberapa batang hui-to ke arah Coh Hen Hong.

Kalau dia hanya lari dan tidak menaburkan hui-to mungkin dia masih hidup. Tetapi begitu ia melepaskan hui-to, Coh Hen Hong tertawa ngakak sekali kebutkan lengan baju, segulung tenaga dahsyat mendampar dan kelima batang hui-to itu melayang balik, cret, cret, cret . . orang yang sedang melayang diudara tadi tak dapat berdaya ketika kelima batang hui-tonya sendiri memakan tubuhnya, bum . . . dia meluncur jatuh ke tanah dan tak berkutik untuk selama lamanya.

"Kongcu, kami tak ikut campur", beberapa orang itu pucat dan gemetar.

"Benar, memang kalian tak tersangkut. Dia sekarang dimana ?" seru Coh Hen Hong.

"Kami juga tak tahu. Dia . . dia . . "

Sebelum mereka menyelesaikan kata-katanya.

Tiba-tiba dari pintu besar terdengar suara yang seram, aku disini. Ternyata engkau datang lagi, apa tak takut pada sumpahmu ?"

Coh Hen Hong mengangkat kepala. Tampak pintu besar, pelahan-lahan terbuka dan laksana daun kering melayanglah sebuah tubuh tinggi besar, mengenakan jubah biru. Kepalanya tetap mengenakan topeng tembaga.

Mendengar begitu mengucap orang itu mengingatkan tentang sumpahnya, tergetarlah hati Coh hen Hong. Tetapi ia lantas kencangkan nyali dan berseru, "Hm, jangan salahkan aku. Siapa suruh engkau berbuat licik kepadaku ?"

"Engkau melihat setan barangkali", seru orang itu, "selangkahpun aku tak meninggalkan istana ini.

Bagaimana engkau menuduh aku hendak mencelakai engkau secara diam-diam ?" "Apa engkau masih menyangkal?" seru Coh he Hong dengan sarat, "ditengah jalan kedua tanganmu menjamah pedangku. Yang hendak mencuri pedangku, bukankah engkau?"

"Pergi! Lekas engkau enyah dari sini," teriak orang itu dengan keras, "jangan sampai engkau terkutuk dengan sumpahmu. Kalau aku hendak mencuri sepasang pedangmu, perlu apa harus rnemberitahu tempat dimana Kim-liong-kiam tersimpan. Engkau benar-benar melihat hantu!"

Kata-kata orang itu membuat Coh Hen Hong tergetar. Tetapi dengan mengertek gigi dia kokohkan tekatnya. Kalau toh sudah datang kesitu, mengapa dia takut gertakan orang tentang sumpah itu?

Coh Hen Hong tertawa panjang dan aneh "Engkau berikan pedang Kim-liong kiam kepadaku merupakan kesalahan besar!"

Dan pada saat ia mengucap kata "kesalahan besar," tubuhnya sudah melesat menerjang. Sepasang sinar biru dan emaspun berhamburan laksana gelombang mendampar.

Tetapi orang itu juga tangkas sekali. Pada saat tubuh Coh Hen Hong bergerak, orang itupun sudah loncat ke belakang dan bum. . . pintupun tertutup.

Tetapi Coh Hen Hong sudah seperti orang kerasukan setan. Dia enjot tubuh keatas, melampaui tembok pintu dan melayang turun masuk.

"Hai, hendak lari kemana engkau !" teriak Coh Hen Hong ketika melihat orang itu masih belum dapat keluar dari ruang itu. Sekali enjot tubuh lagi dia segera membabat dengan sepasang pedang nya.

Sret . . . ujung lengan baju orang itu terpapas tetapi orangnya masih dapat menghindar.

Tabasan pertama luput, Coh Hen Hong cepat menahas lagi. Kali ini untuk menghindar, orang itu membuang tubuhnya bergelundungan dilantai lalu melenting bangun.

Brak . . . karena dia gugup sekali membuang tubuh, topengnya sampai jatuh.

Walaupun dua kali tabasannya luput tetapi Coh Hen Hong sudah mendapat angin. Semangatnya menyala dan setelah menghimpun tenaga-murni dia terus hendak menyergap lagi. Tetapi pada saat itu lawan sudah melenting dan sudah loncat keluar.

Pada saat itu Coh Hen Hong yang siap menerjang, sedang memandang lawan. Begitu melihat wajah orang yang sudah tak mengenakan topeng, dia seperti disambar geledek kejutnya sehingga ia tertegun dan tak bergerak menyerang. Mengapa?

Coh Hen Hong hampir tak percaya pada pandang matanya sendiri. Orang itu tak lain adalah Ceng-te sendiri.

Benar-benar suatu hal yang tak mungkin dapat dipercaya. Ceng-te sudah mati dibawah tebasan sepasang pedang Leng-liong-kiam. Tetapi mengapa kini yang loncat dimuka Coh Hen Hong itu Ceng-te sendiri.

Sesaat Coh Hen Hong tegak seperti patung, Pedang yang sudah diangkat tak diayunkan. Tetapi ketika orang itu loncat, tiba-tiba dia balikkan tangan dan menusuk dengan pedangnya ke tenggorokan Coh Hen Hong.

Serangan itu luar biasa cepatnya. Pada saat mata Con Hen Hong silau dengan sinar pedang dan hendak menangkis ternyata sudah tak keburu lagi. Dalam kesempatan yang terdesak, dia mengangkat pedang seraya mengendapkan tubuhnya ke bawah.

Cret.. . ujung pedang yang hendak menusuk tenggorokan terpaksa mendapat lain sasaran. Seketika Coh Hen Hong rasakan pipinya telah tertembus ujung pedang. Dia tak sempat meraba lukanya karena dengan cepat sekali dia sudah tebaskan sepasang pedangnya ke pedang lawan, trinng g. . . pedang o-rang itupun tertebas kuntung jadi tiga.

Tangan orang itu hanya mencekal sisa kuntungan pedang. Cepat dia taburkan kutungan pedang kearah Coh Hen Hong, terus loncat melampaui kepala Coh Hen Hong.

Waktu berhasil membabat kutung pedang lawan dan orang itu hendak menaburkan kutungan pedangnya, Coh Hen Hong mengira orang itu tentu akan mundur. Siapa tahu perhitungannya keliru Lawan bukan mundur kebalikannya malah loncat maju.

Dengan begitu tusukan sepasang pedangnya pun menemui tempat kosong.

Coh Hen Hong cepat menarik kembali pedangnya dan berputar diri. Tetapi orang itu sudah melayang beberapa tombak jauhnya. Coh Hen Hong menggerung dan terus mengejar.

Tetapi tiba di ruang dalam istana, mengejar ke seluruh lorong yang berliku-liku, ternyata orang itu sudah lenyap.

Coh Hen Hong berhenti dan meraba pipinya.

Ternyata pipinya berdarah dan terluka cukup dalam. Dia marah sekali dan memekik sekeras-kerasnya seperti singa betina kehilangan anak. Dia mengharap orang itu muncul tetapi sampai kerongkongannya serasa kering, orang itu tetap tak muncul lagi.

Coh Hen Hong tenangkan diri. Teringat kalau orang itu mirip dengan Ceng-te mau tak mau dia termangu mangu juga. Siapakah dia? Benarkah dia itu Ceng-te yang masih hidup ?

Dia merasa kalau kepandaiannya lebih sakti dari orang itu tetapi mau tak mau dia terpengaruh juga dengan kejadian itu. Untuk beberapa saat dia tegak seperti patung dan tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Kalau Coh Hen Hong termangu, adalah Beng Cu yang bersembunyi diatas tiang penglari gedung telah menyaksikan kejadian itu semua. Diam-diam dia tergetar juga menyaksikan ilmu pedang Leng-hong kiam yang begitu dahsyat.

Dia menimang sendiri. Kalau dia bertempur dengan Coh Hen Hong dan mampu meloloskan diri seperti orang tadi, dia merasa sukar juga.

Tadi dia begitu terpesona menyaksikan permainan sepasang pedang Leng-liong-kiam sehingga dia tak sempat memikirkan siapakah orang yang wajahnya begitu mirip dengan Ceng-te itu.

Beberapa saat kemudian dia mendengar Coh Hen Hong menghela napas panjang, setelah itu lalu bersuit panjang dan terus melesat keluar.

Saat itu perasaan Beng Cu berat sekali karena merasa kalau tak dapat mengalahkan Coh Hen Hong Waktu Coh Hen Hong pergi, dia masih tetap mendekam diatas penglari, mencari akal untuk mengatur rencana,

Tak berapa lama terdengar genta bertalu tanda berkumpul. Dan beberapa saat kemudian terdengar suara Coh Hen Hong melantang nyaring.

"Hai, kalian lekas pecah diri menjadi dua rombongan. Rombongan kesatu menggeledah istana untuk mencari orang bertopeng itu. Orang itu wajahnya mirip dengan almarhum Ceng-te. Sedang rombongan kedua pergi ke gunung untuk mencari seorang nona yang mirip tengkorak. Dia kebanyakan selalu bersama dengan Pui Tiok. Begitu menemukan mereka, lekas kirim pertandaan. Kalian yang berada di istana kalau ketemu dengan orang bertopeng itu, jangan turun tangan tetapi harus kirim pertandaan" Suara menggelegar bergemuruh menyambut perintah Coh Hen Hong.

Beng Cu hanya dapat menghela napas menyaksikan kesemua itu. Dia merasa tak dapat mengalahkan Coh Hen Hong sehingga dia seperti lunglai tak bersemangat lagi.

Kecuali mencuri pedang Leng-liong-kiam, Beng Cu merasa tak dapat melawan Coh Hen Hong. Tapi kepandaian Coh Hen Hong memang hebat. Siapa yang dapat merebut pedangnya?

Tengah Beng Cu masih termangu-mangu mencari akal tiba-tiba dari arah tak berapa jauh terdengar suara orang berkata, "Apakah yang engkau lamunkan?  Dia memang menginginkan kita kelabakan tak berdaya. Engkau dengar tidak?"

Cepat Beng Cu berpaling kearah suara itu. Tampak sesosok bayangan berkelebat dihadapannya dan tahu- tahu sesosok manusia hinggap diatas tiang penglari memandang lekat pada Beng Cu.

Beng Cu tercengang Sesaat dia melihat Ceng te hidup kembali. Tetapi cepat dia tenangkan diri. Dia teringat orang itu tentulah orang yang dikatakan Coh Hen Hong tadi.

"Engkau. . . engkau siapa?" tegurnya pelahan. "Aku adalah pemilik Ceng-te-kiong," sahut Orang

itu.

Teringat bagaimana tadi dia pontang-panting menghindari dari sergapan pandang mata Coh Hen Hong dia tertawa sendiri.

"Engkau mengaku sebagai pemilik Ceng-te-kiong, lalu apa gunanya?" katanya Sesaat kemudian.

"Aku memang pemilik Ceng-te kiong," sahut orang itu dengan tandas, "hanya aku yang berhak menjadi pemilik istana ini. Aku adalah adik lelaki Ceng-te.

Setelah Ceng-re meninggal, bukankah selayaknya kalau istana ini jatuh kepadaku?" Beng Cu terkesiap. Kalau orang itu adik lelaki Ceng- te, berarti masih cek-kong atau paman kakeknya.

Seharusnya dia memanggil dengan sebutan cek-kong. Tetapi untuk sementara dia tak mau menyebut begitu.

"Kepandaianmu kalah dengan dia, bagaimana engkau mampu menjadi pemilik Ceng-te-kiong?" tanyanya.

Orang itu tertawa pelahan, "Kepandaianmu juga kalah dengan dia. Engkaupun tak mungkin dapat menjadi pemilik Ceng-te-kiong."

Beng Cu menghela napas panjang, "Engkau keliru! Akupun memang tak pernah mengandung Keinginan untuk menjadi pemilik Ceng-te-kiong. Aku hanya hendak menuntut balas atas Kematian engkongku.

Dan supaya dia jangan sampai mampu mencelakai kita."

"Benarkah itu?" mata orang itu berkilat-kilat menatap Beng Cu. "SUngguh!"

Tetapi rupanya orang itu masih belum percaya katanya pula, "Engkau hanya menginginkan hendak melenyapkannya? Setelah dia lenyap lalu engkau hendak ke mana?"

Beng Cu tertawa getir, "Dunia begini luas, manakah yang tak kita tinggali. Tetapi tempat tinggal Pui toako di Peh-hoa-nia, sekalipun tak semewah Ceng-te-kiong, juga merupakan sebuah indraloka dalam dunia!"

Wajah orang yang dingin tiba-tiba memancar seri tawa, "Ah, bagus. Kalau aku dan engkau bersatu untuk membasminya, setelah berhasil istana ini akan menjadi milikku dan engkau jangan mengandung pikiran yang tidak baik, maukah engkau?"

Memang Beng Cu tak punya keinginan memiliki Ceng-te-kiong. Dia sudah tak menginginkan lagi lelakon yang lampau dimana Coh Hen Hong selalu hendak mencelakainya saja. Dia menginginkan kehidupan yang tenang dan bahagia disamping Pui Tiok,

Maka diapun cepat mengangguk, "Tentu, jangan kuatir. Tetapi apakah engkau mempunyai daya untuk melaksanakan rencana itu?"

"Lebih dulu engkau harus mengangkat sumpah berat," kata orang itu, "ah, tetapi apa guna sumpah itu? Toh Coh Hen Hong yang sudah bersumpah begitu berat, akhirnya setelah mendapatkan pedang Kim- liong-kiam juga melanggar sumpah dan hendak membunuh aku "

Kata-kata terakhir orang itu seperti suatu keluhan.

Mendengar itu Beng Cu tertawa mengejek, "itu salahmu sendiri. Siapa suruh engkau menyerahkan pedang Kim-liong-kiam kepadanya? Kalau engkau berikan pedang itu kepadaku, mungkin aku tak takut kepadanya!"

Orang itu deliki mata, "Mana kutahu kalau dia manusia macam begitu? Hai, dan bagaimana kutahu kalau engkau bukan manusia macam begitu?"

Beng Cu terkesiap, "Memang benar. Siapakah yang tahu isi hati orang? Dalam laut dapat diduga, tetapi hati orang siapa tahu. Tetapi engkau harus percaya kepadaku. Kalau tidak lalu apa lagi dayamu sekarang?"

Waktu mendengar Beng Cu berkata, orang itu hanya tertawa meringis. Setelah Beng Cu selesai bicara baru dia berkata, "Apabila dapat melenyapkan dan engkau benar tak menginginkan Ceng-te-kiong aku dapat memberi petunjuk kepadamu.

Beng Cu tertawa hambar, "Tadi aku kan sudah mengatakan. Di dunia ini sebenarnya tak ada orang yang dapat dipercaya. Engkau tak perlu percaya.

Tetapi kalau engkau mau bicara, katakan saja bagaimana!" Kata-kata Beng Cu membuat orang itu tertegun beberapa jenak. Kemudian dia membuka mulut, "Ah terpaksa harus begitu, bukan ?"

"Mengapa engkau tanya kepadaku ?"

Kembali orang itu terkesiap. Tiba-tiba dia berseru, "Mari, ikut aku !"

Sambil berseru dia terus menyambar tangan Beng Cu. Dia bergerak cepat sekali tetapi ternyata Beng Cu lebih cepat lagi. Dia menarik tangan orang itu hanya menyambar angin. Orang itu tertegun tetapi pada lain saat tertawa, "Bagus, kita sama-sama tidak saling mempercayai !"

"Ya," sahut Beng Cu, "tetapi engkau harus kasih tahu tentang cara itu kepadaku. Rasanya di dunia ini hanya aku seorang yang memiliki kemungkinan dapat menundukkan Coh Hen Hong. Betul tidak ?"

Dengan rasa segan orang itu menghela napas gumamnya. "Ya, memang, Sekarang ikutlah aku Habis berkata dia terus melesat dan melayang turun ke samping. Walaupun tubuhnya tinggi besar tetapi ternyata gerak layangnya seringan daun kering gugur ke tanah. Sedikitpun tak bersuara. Dan bukan saja meluncur lurus tetapi dapat membilukkan arah ke samping sampai lima enam tombak iauhnya.

Melihat itu diam-diam Beng Cu memuji. Iapun segera menyusul.

Diam-diam Beng Cu menimang-nimang. Menilik ilmu gin-kang orang itu begitu sakti, tentulah ilmu- silatnya juga hebat. Hal itu dapat dibuktikan Bagaimana tadi dia mampu meloloskan diri dari serangan sepasang pedang Leng-liong-kiam.

Tetapi mengapa orang itu tidak mau menghadapi Coh Hen Hong sendiri dan hanya memberitahu caranya kepadanya (Beng Cu). Sambil merenungkan hal itu Beng Cupun sudah tiba di bawah dan terus melesat mengikuti orang itu. Tampaknya orang itu faham sekali dengan keadaan dalam istana Ceng-te-kiong Tak berapa lama, tibalah keduanya di sebuah ruangan yang ternyata sebuah ruangan tidur. Indahnya bukan buatan. Sebuah ranjang mewah yang keempat kakinya terbuat dari gading yang diukir indah sekali pada langit-langit ranjang penuh ditabur dengan ratna mutu manikam warna warni.

Orang itu berhenti dan berkata, "Inilah kamar tidur kakandaku semasa hidupnya. Setelah membunuh kakandaku, rupanya Coh Hen Hong ketakutan dan tak berani datang kemari."

Sejenak berhenti dia melanjutkan lagi "Pertama melihat wajahku, dia kaget sekali. Ai, sayang sekali ilmu pedangku tak becus sehingga itu tak dapat menusuknya mati. Tetapi tak apa. Bagaimanapun aku telah dapat menusuk pipinya, ha ha, yang mampu menusuknya rasanya dalam dunia ini hanya aku seorang saja, ha, ha, ha Mendengar itu Beng Cu

terkejut. Ih, apa katamu?"

Orang itu terkesiap. Wajahnya agak gugup "Ah, tidak apa apa. Aku hanya mengatakan untuk

menusuknya rasanya di dunia ini sukar dicari orang yang mampu melakukan."

Tetapi Beng Cu tak mau melepaskan dan mendesak, "Tidak, engkau tadi mengatakan kalau di dunia ini hanya engkau Seorang yang mampu menusuknya."

Orang itu goyang2kan tangan dan berkata dengan kurang senang, "Ya, memang aku mengatakan begitu, lalu bagaimana.....

Tiba-tiba dia melesat ke muka dan menekan pintu, Serentak terdengar bunyi bergedebuk. Orang itu cepat membuka pintu, sesosok tubuh melesat pada daun pintu. Dia berkeroncalan meronta-ronta hendak melepaskan punggungnya yang melekat pada pintu tetapi tak dapat.

Tentulah tadi ada orang yang kebetulan lewat di muka kamar itu. Adik Ceng-te terus melekatkan

satu tangannya ke pintu. Setiup tenaga-dalam menghembus ke luar dan menyedot tubuh orang itu.

Sungguh hebat ! Demikian Beng Cu memuji dalam hati. Dia tak tahu ilmu apakah yang sedemikian anehnya itu. Dia belum pernah mendengar kalau orang menceritakan bahwa dalam dunia persilatan memang terdapat ilmu seaneh dan sehebat itu.

Adik Ceng-te menarik tubuh orang itu kedalam kamar dan plak . . . sekali tampar orang itu terus lunglai dan ngelumpruk ke lantai.

Adik Ceng-te lalu melongok ke luar kamar. Setelah melihat tak ada orang lagi baru dia menutup pintu dan melanjutkan kata-katanya, "Aku memang mengatakan begitu lalu apakah engkau merasa ada sesuatu yang tak menyenangkan hatimu ?"

Berkata Beug Cu dengan dingin2, "Kalau menurut omonganmu itu lalu aku juga tak mampu melukai Coh Hen Hong, bukan ? Kalau begitu bagaimana aku dapat membasminya ?"

Adik Ceng-te tertawa mengekeh, "Omong kosong .

Apakah engkau tak mampu menghabisinya dengan pukulan tangan kosong ? Orang ini." katanya sambil menunjuk pada mayat yang menggeletak di lantai, "apakah aku tadi menggunakan pedang ? Kan hanya memakai pukulan saja."

Sesaat Beng Cu tak dapat menjawab. Tetapi dia tahu bahwa orang itu hanya ingin menang dalam perbantahan saja maka Beng Cu pun tak mau banyak bicara lagi tetapi diam-diam dia mendapat kesan bahwa tak seharusnya dia percaya kepada orang. Beberapa saat kemudian baru dia berkata, "Baik, bilanglah bagaimana aku baru dapat mengalahkannya

?"

Adik Ceng-te berbisik-bisik, "Tahukah engkau bahwa sekarang ini engkau sudah memiliki apa yang disebut Ban-kip-put-hoay ?"

"Aku tak tahu," sahut Beng Cu.

"Dengarkan," kata adik Ceng-te lalu menceritakan tentang hal ilmu Ban kip-put-hoay yang telah diperoleh Beng Cu setelah mengalami penempaan yang penuh derita.

Mendengar itu girang Beng Cu bukan kepalang, serunya, "Tetapi engkau belum mengatakan cara itu kepadaku !"

Tiba-tiba orang itu membalikkan tangan dan memutar sebatang kaki ranjang. Dari situ ia mengambil sebuah buku kecil yang terbungkus dengan sutera.

Dibukanya bungkusan sutra itu dan ternyata buku itu penuh berisi dengan berbagai macam gambar.

Buku itu diberi judul tulisan "Thian-he-te-kin-na- hwat atau Ilmu-merebut-senjata-nomor satu di dunia.

'Nah, sudah melihat atau belum? Apabila engkau dapat menguasai ke 13 jurus ilmu Kim-na-hwat dalam buku ini, engkau tentu mampu merebut sepasang pedang Leng-liong-kiam dari tangan Coh Hen Hong!"

Beng Cu girang sekali dan terus hendak mengambil buku kecil itu tetapi orang itu cepat menarik buku itu, "Tetapi sekarang masih belum waktunya. Tenaga- saktimu masih belum cukup tinggi, jangankan tiga belas, sedang satupun engkau nanti tak mampu menguasainya."

Kalau begitu apakah engkau tidak omong kosong saja?" Beng Cu terkejut.

'Sudah tentu aku tak membual," sahut adik Ceng- te, "setelah engkau memiliki ilmu Ban-kip-put hoay setiap engkau membunuh seorang lawan, kepandaian orang itu akan masuk ke dalam tubuhmu. Anak buah istana Ceng-te kiong semua rata2 adalah jago-jago kelas satu. Menurut rencanaku, kalau dalam dua puluh hari engkau mampu membunuh 16 jago saja, tenaga-saktimu tentu takkan ada yang menandingi lagi. Untuk mempelajari ke 13 jurus ilmu Kin-na-hwat itu tentu mudah dan engkau pasti dapat

mengalahkan Coh Hen Hong !"

Memang Beng Cu benci setengah mati kepada Coh Hen Hong tetapi dia sendiri sebenarnya bukan seorang nona yang berhati ganas.

Mendengar adik Ceng-te mengatakan kalau dalam waktu duapuluh hari dia harus membunuh enambelas orang baru tenaga saktinya bertambah sakti dan takkan ada manusia yang mampu menandinginya lagi, namun naluri kewanitaannya menggigil ngeri juga.

"Mengapa harus begitu ?" serunya tergetar, "Mengapa tidak harus begitu ?" balas adik Ceng-te.

"jago-jago itu adalah anak buah Ceng-te-kiong semua. Kalau mereka mati, yang rugi Ceng te-kiong. Aku sebagai pemilik Ceng-te-kiong mengatakan hal itu tak apa-apa, mengapa engkau mengatakan hal itu tentu ada apa-apa ?"

Beng Cu gelengkan kepala, "Tetapi aku tak bermusuhan dengan mereka mengapa aku harus bertindak begitu ganas ?"

"Fui," desuh adik Ceng-te. "mengapa engkau masih mengatakan tak bemusuhan?. Mereka mendapat perintah Coh Hen Hong untuk mencarimu, begitu ketemu, apakah mereka mau melepaskan engkau?

Apabila kepandaian mereka lebih tinggi dari kamu?, apakah kamu dapat lolos dari tangan mereka"

Memang nalar juga kata-kata adik Ceng-te itu. Tetapi sifat seseorang tak mungkin dapat dirobah hanya dengan beberapa patah kata saja. Beng Cu tertegun beberapa Jenak lalu berkata, "Suruh aku menjadi seorang sakti dengan cara membunuh manusia, tak mungkin aku mau!"

Adik CENG-Te marah. Dia mondar mandir sembari menggendong kedua tangannya.

"Baik, baik, engkau tak mau membunuh orang tetapi mereka akan membunuhmu. Apakah engkau mandah begitu?"

Beng Cu tak jelas akan maksud adik Ceng-te. "Mereka akan membunuh aku? Lalu aku.. . aku bagaimana?" serunya.

Adik Ceng-te tertawa, "Engkau telah memiliki ilmu Ban-kip-put-hoay. Apabila bertemu orang dan orang itu hendak membunuhmu, asal engkau salurkan tenaga murni dalam tubuhmu, begitu pukulan orang mengenai tubuhmu, sebelum tenaga-murni mereka habis kering, tentu tak dapat terlepas dari tubuhmu. Apakah itu tidak sama?"

"Tetapi orang itu tentu mati," bantah Beng Cu. "Ingat orang itu hendak membunuhmu lebih dulu, apakah hal itu bagimu masih belum engkau anggap sebagai suatu dendam permusuhan?" adik Ceng-te dengan marah. Beng Cu terlongong-longong menatap adik Ceng-te tanpa berkata apa-apa.

Rupanya adik Ceng-te makin marah, "Belum pernah aku bertemu dengan manusia yang tak berguna seperti engkau. Orang mau membunuhmu engkau masih merasa kasihan kepadanya. Apa-apaan itu !"

Beng Cu menghela napas.

"Engkau keliru", katanya, "kalau memang ada orang yang hendak membunuh aku, sudah tentu aku tak kasihan kepadanya. Tetapi aku masih heran. Kalau toh memukul aku akan mati sendiri, apakah orang itu masih berani memukul aku ?"

"Ngaco belo !" bentak adik Ceng-te yang habis kesabarannya. Beng Cu terkesiap, katanya, "Selain dengan cara itu apakah tak ada lain cara lagi ?"

"Tidak ada," adik Ceng-te melengking, "kecuali Coh Hen Hong akan kesompokan dengan kamu dan terus akan mencincangmu dengan sepasang pedang Leng- liong-kiam, baru soal ini selesai"

Kembali Beng Cu menghela napas rawan lalu berkata. "Kalau begitu, baiklah !"

"Bagus", seru adik Ceng-te gembira, "cukup kamu tunggu saja disini. Aku akan memikat mereka

satu demi satu datang kemari. Tetapi ingat, pada saat itu jangan sekali-kali hatimu menjadi lemah !"

"Ya, kutahu," Beng Cu mengertek gigi. Tetapi orang itu masih tak yakin maka dia menandaskan pesan lagi, "Kalau hatimu sampai lemah, lebih baik engkau lekas kabur saja jauh2. Atau kalau tidak engkau, akulah yang akan kabur dari sini agar jangan sampai karena mengurus engkau diriku menjadi korban !"

"Pergilah memikat mereka kemari, "Beng Cu memberi isyarat tangan, "kalau mereka memang hendak menyerang aku, aku . . aku perlu apa harus sungkan kepada mereka ?"

Adik Ceng-te girang dan terus melesat pergi Seorang diri Beng Cu mondar mandir didalam kamar tidur Ceng-te. Tak berselang beberapa lama, dari gang diluar kamar terdengar derap langkah orang.

Hati Beng Cu menggigil Dia serentak berbalik tubuh.

Brak . . . pintu terbuka dan dua orang terus menerjang masuk.

Kedua orang itu berhenti, menatap Beng Cu tajam2, kemudian mereka tertawa ngakak.

"Ha, ha, kiranya benar berada di sini. Ini sunguh rejeki besar bagi kita!"

Bang Cu menatap mereka dengan lekat. Kedua anakbuah Ceng-te-kiong itu serempak melangkah maju menghampiri. Begitu tiba dihadapan Beng Cu salah seorang terus ulurkan tangan menerkam bahu Beng Cu. "Tunggu dulu!" seru Beng Cu.

Orang itu hentikan tangannya dan berseru, "Mengapa?"

"Kalau engkau hendak menangkap aku, aku tentu akan mati ditangannya (Coh Hen Hong). Dengan mencelakai aku itu apakah keuntungan yang kalian akan peroleh nanti?"

Orang itu tertawa dingin, "Tengkorak busuk mahluk seperti engkau apa bedanya mati dengan hidup?" Beng Cu terbeliak.
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang Berbunga Dendam Jilid 22"

Post a Comment

close