Pedang Berbunga Dendam Jilid 18

Mode Malam
JILID 18

Melihat Coh Hen Hong menghunus sepasang pedang pusaka Leng-liong-kiam dan wajahnya mengembangkan hawa pembunuhan, Pui Tiok menyadari bahwa melainkan ketiga gin-wan itu yang terancam maut, pun juga dirinya dan Beng Cu pasti akan celaka juga.

“Engkau. . . ,” baru dia hendak berteriak mencegah Coh Hen Hong, ketiga gin-wan itu sudah memekik aneh. Nadanya luar biasa kerasnya dan memanjang tak henti-hentinya. Seperti seorang tokoh sakti yang tengah menghamburkan pekik tenaga-dalam yang hebat.

Tetapi pada saat itu juga Coh Hen Hongpun tertawa liar dan terus menyerang.

Sepasang pedang Leng-liong-kiam, merupakan pusaka kuno yang jarang terdapat tandingannya. Ditambah pula dengan ajaran ilmu pedang ciptaan Ceng-te dan tenaga-dalam Coh Hen Hong yang tinggi maka dia dapat mempermainkan pe­dang itu menurut sekehendak hatinya.

Ketika pedang berhamburan memancarkan perbawanya, ruang Istana koral itupun seolah berubah warnanya menjadi kuning emas dan biru. Menimbulkan pemandangan yang mempesonakan sekali.

Sebenarnya kepandaian Pui Tiok dan Beng Ci cukup tinggi. Tetapi ketika menyaksikan Coh Hen Hong memainkan pedangnya, mereka tak dapat melibat apa-apa lagi termasuk tubuh Coh Hen Hong, kecuali hanya segulung sinar emas dan segulung sinar biru.

Hanya beberapa saat. Coh Hen Hong berulang kali melengking dan gin-wan memekik ngeri, bercampur dengan hancurnya beberapa barang dalam ruang itu. Lalu sepasang sinar itu tiba-tiba leny­ap ….

Coh Hen Hong tegak ditempat semula de­ngan memegang sepasang pedang Leng-liong-kiam Sedang dada ketiga gin-wan itu menghambur darah segar.

Tetapi tubuh mereka masih tetap menelungkupi tubuh Beng Cu. Dari dada mereka mengalir deras darah sehingga lantai istana yang terbuat daripada batu koral itu berobah merah warnanya Sekujur tubuh Beng Cu mandi darah dan nona itu menggeletak di lantai tak berkutik lagi.

Dari keadaan itu memang sukar untuk menduga apakah Beng Cu masih hidup atau sudah mati. Juga tak dapat memeriksa apakah dia terluka dan kalau terluka, terluka dibagian mana.

Dua buah kursi koral hancur menjadi beberapa keping Telah menjadi sasaran dari amukan sepasang pedang Leng-liong kiam yang mengganas tadi.

Pada saat Pui Tiok sudah mendapat ketenangan kembali dan melihat apa yang terjadi dalam ruang itu, sudah tentu dia terkejut sekali sehingga mulut ternganga tetapi tak dapat mengucap sepatah katapun juga.

Demikian halnya dengan beberapa ko-jiu yang berada disitu. Tak seorangpun yang membuka suara. Bahkan Coh Hen Hong sendiri juga diam, kedua lengannya masih gemetar. Suasana dalam ruang istana itu seperti membeku.

Tepat pada saat itu terdengar langkah kaki orang berjalan mendatangi. Ringan sekali laksana daun kering langkah itu tetapi orang-orang yang berada dalam ruang itu dapat menangkapnya.

Cepat sekali orang itu sudah tiba di muka pintu.

Dan Pui Tiok benar-benar bingung dan tegang sekali. Baru tiga langkah didengarnya atau orang itu sudah berada di muka pintu. Luar biasa cepatnya, pikirnya.

Karena tercurah pada langkah orang itu maka Pui Tiok tak sempat memperhatikan bagaimana perobahan muka Coh Hen Hong saat itu.

Suasana makin lelap dan tegang. Orang itu tidak cepat membuka pintu melainkan diam. Beberapa saat kemudian baru terdengar batuk-batuk.

Krek . . . pintu lalu terdorong. Pui Tiok paksakan diri untuk memandang ke arah pintu.

Seorang lelaki bertubuh tinggi kurus, mengenakan pakaian warna biru sepasang matanya memancarkan sinar penuh kewibawaan seperti seo­rang dewa.

Bukan hanya setahun dua tahun Pui Tiok berkelana dalam dunia persilatan. Tidak sedikit tokoh-tokoh yang dijumpainya selama itu. Tetapi selama ini belum pernah dia bertemu dengan seorang tokoh yang memiliki kewibawaan luar bi­asa seperti lelaki tua itu.

Dan seketika berserulah Pui Tiok dengan penuh ketegangan, “Ceng-te . . . !”

Memang orang itu tak lain adalah Ceng-te, pemilik istana Ceng-te-kiong yang dianggap sebagai maha raja dunia persilatan masa itu. Ceng-te mengangkat muka dan memandang Pui Tiok lalu Coh Hen Hong. Waktu melihat be­berapa ko-jiu Ceng-te-kiong berjajar di belakang Coh Hen Hong dan sikap Coh Hen Hong seperti habis bertempur, Ceng-te kerutkan alis. Tetapi ketika melihat ketiga ekor gin wan yang menggeletak dilantai dalam kubangan darah, alis Ceng-te makin menjungkat tinggi.

Dia tetap berdiri di ambang pintu tak lekas masuk.

Beberapa saat kemudian baru kedengaran dia menegur dengan suara sarat, “Apa yang terjadi disini?”

Coh Hen Hong gemetar tetapi tak menjawab “Apa yang telah terjadi?” kembali Ceng-te mengulang pertanyaannya.

Saat itu Coh Hen Hong baru berputar tubuh dengan nada penuh kemanjaan dia berseru, “Engkong, ketiga gin-wan itu berani membawa orang masuk kemari.

Kutegur mereka berbuat begitu tetapi mereka malah mengganas. Terpaksa kubunuh mereka dengan pedang . , . “

Ceng-te kerutkan dahi, “Kalau begitu halnya mengapa harus terjadi di ruang ini?” 

Memang waktu mendengar langkah kaki tadi, Coh Hen Hong sudah menduga siapa yang datang. Tetapi dia memang cerdas sekali, Cepat sekali dia sudah menemukan cara untuk memberi pertanggungan jawab nanti.

Maka pertanyaan Ceng-te itu, diapun sudah jawab. Sambil jebirkan bibir dia berkata, “Kurasa ketiga gin- wan itu memiliki kecerdasan tinggi. Karena dia membawa orang kemari, mungkin dia merasa kalau orang itu mempunyai hubungan de­ngan Ceng-te- kiong Oleh karena itu akupun sebelumnya bertanya kepada mereka. Siapa tahu, waktu aku sedang meminta keterangan kepada ke dua orang itu, ketiga gin-wan sudah menerobos masuk dan mengganas.

Engkong, coba katakan, menjengkelkan atau tidak tingkah ketiga gin-wan itu !”

Tetapi kali ini tampaknya Ceng-te tak begi­tu lantas percaya keterangan Coh Hen Hong. Te­tapi dia belum dapat menemukan kejanggalan dalam kata-kata gadis itu.

Diantara orang-orang yang tegang pada saat itu adalah Pui Tiok yang paling tegang sendiri. Begitu melihat Ceng-te muncul. Girang Pui Tiok bukan alang kepalang. Karena hanya kepada Ceng-te nanti segala isi hati dan segala pengaduannya akan dicurahkan.

Seluruh harapannya akan tertumpah pada peristiwa itu.

Tetapi setelah mendengar percakapan antara Ceng- te dengan Coh Hen Hong, hati Pui Tiok mengkeret seperti bunga puteri malu tersentuh tangan. Jelas keterangan Coh Hen Hong memutar balikkan semua fakta.

Pui Tiok menilai bahwa keberanian Coh Hen Hong untuk membohongi Ceng-te tentu karena tahu kalau Beng Cu tentu sudah mati. Dan kalau benar Beng Cu sudah mati, Pui Tiokpun sia-sia harapannya.

Teringat hal itu runtuhlah nyali Pui Tiok. Dia melesat ke tempat Beng Cu. Tetapi darah ketiga gin- wan sedemikian banyak. Maka waktu tiba pada langkah terakhir, ternyata genangan darah amat tebal sekali.

Ketika tiba di dekat Beng Cu dan hendak membungkuk, tiba-tiba Ceng-te berseru, “Kemarilah engkau”

Pui Tiok terkejut. tertegun dan berputar tu­buh. Dia berhadapan muka dengan Ceng-te. Saat itu dia malah tak dapat melihat jelas wajah Ceng-te karena tersilau oleh pancaran sinar mata raja persilatan yang begitu menerkam.

Walaupun berhadapan dengan Ceng-te tapi Pui Tiok tetap tegak berdiri. Wajahnya pucat sekali tetapi semangatnya masih kokoh. “Siapa engkau?” beberapa saat kemudian Ceng-te menegur.

Pui Tiok menghela napas, sahutnya, “Ceng-te, siapa diriku ini rasanya tidak begitu penting. Tetapi nona yang menggeletak dikubangan darah dalam keadaan mengerikan, entah mati entah hidup itu adalah cucu perempuanmu sendiri!” “Apa?” Ceng-te terkejut. “Dia adalah cucu perempuanmu. Satu2nya puteri dari puterimu tunggal yang karena bertengkar mulut dengan engkau lalu meninggalkan istana Ceng-te- kiong ini!” seru Pui Tiok dengan lantang.

Ceng-te tertawa mengekeh, “Heh, heh, aku tak mengerti engkau sedang mengoceh apa?”

“Engkong,” tiba-tiba Coh Hen Hong terus berteriak, “rasanya orang itu tidak waras pikirannya Kalau tidak mana dia mengoceh begitu ?”

Saat itu Pui Tiok mengira kalau Beng Cu tentu sudah mengalami nasib seperti ketiga gin-wan. Karena kalau tidak begitu, Coh Hen Hong tentu tak berani begitu lantang menantang.

Pui Tiok sedih sekali. Tiba-tiba dia tertawa nyaring. Nadanya penuh kesedihan, penasaran dan kemarahan sehingga orang-orang yang berada disitu tergetar hatinya.

“Ceng te,” serunya kemudian, “kalau engkau tak ingin ditipu orang selama-lamanya, ijinkanlah aku bicara !”

Sebelum Ceng-te menjawab, Coh Hen Hong sudah mendahului. “Engkong. jangan dicegah, biarkan dia bicara. Coba saja kita dengar dia hendak merangkai khayalan apa saja !”

Mendengar itu tegang sekali hati Pui Tiok. Dia tahu betapa licin Coh Hen Hong itu dan be­tapa pula ganasnya. Kini setelah dapat menghadap Ceng-te, dia masih belum mempunyai harapan apakah usahanya untuk menyadarkan Ceng-te itu bermanfaat atau tidak.

buktinya bagaimana keyakinan Coh Hen Hong itu yalah begitu Pui Tiok mengajukan permintaan untuk bicara, dengan cepat Coh Hen Hong sudah menanggapi, bukan saja tidak menghalangi bahkan minta kepada Ceng-te supaya membiarkan Pui Tiok melanjutkan ceritanya. Dengan demikian Ceng-te tentu mendapat kesan bahwa Coh Hen Hong memang tak tahu menahu tentang soal yang akan di katakan Pui Tiok. “Baik, bicaralah!” seru Ceng-te.

Sejenak merenung maka Pui Tiokpun mulai bicara, “Setelah meninggalkan istana Ceng-te-kiong ini, puterimu bersembunyi dimana dan bagaimana keadaannya, tak ada seorangpun yang tahu. Tetapi yang Jelas kemudian dia menikah dengan Kwan Pek Hong dan melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Kwan Beng Cu.”

Mendergar sampai disitu, Ceng-te lalu memandang Coh Hen Hong dan dengan sikap manja Coh Hen Hongpun lalu mendekat rapat kepadanya Ceng-te mengelus-elus kepala gadis itu.

Melihat demontrasi itu, bercekatlah hati Pui, Tiok. Dia hambir putus asa, apakah mampu mempengaruhi Ceng-te nanti.

Tetapi dia tetap teguhkan hati dan melanjutkan kata-katanya, “Tetapi Kwan Pek Hong itu juga mempunyai hubungan gelap dengan seorang gadis Biau, orang she Coh. Hubungan gelap ini tak di ketahuj Kwan hujin.” “Juga dengan wanita Biau she Coh itu, Kwan Pek Hong mempunyai seorang puteri. Karena sudah lama keluar maka Kwan Pek Hong lalu meninggalkan wanita itu dan pulang kembali kepada Kwan hujin. Wanita Biau she Coh itu marah karena dihjanati Kwan Pek Hong. Dia memberi she Coh kepada anak perempuannya dan namanya diberi Hen Hong yang berarti membenci kepada (Pek) Hong.

Wajah Ceng-te tetap tenang.

Kemudian Puj Tiok melanjutkan. Dia menceritakan bagaimana wanita Biau she Coh itu telah mencuri kitab Ih-su-keng milik perkumpulan Peh-hoa-kau dan melarikan diri ke daerah Biau,

Tetapi dunia persilatan tersiar desas desus bahwa kitab pusaka itu telah jatuh ke tangan Kwan Pek Hong. Ayah Pui Tiok yakni Peh Hoi lokoay memerintahkan Pui Tiok untuk menculik Kwan Beng Cu agar Pek Hong menebus puteri-nya itu dengan kitab pusaka Ih-su- keng.

Dalam usaha untuk melakukan penculikan itulah Pui Tiok mengetahui bahwa Kwan hujin itu sebenarnya puteri dari Ceng-te. Demikian dengan urut dan terurai Pui Tiok panjang lebar bercerita tentang keluarga Kwan Pek Hong.

Hampir sejam lamanya Pui Tiok bercerita Terakhir dengan mengempos semangat dan menguatkan hati, tiba-tiba Pui Tiok menuding Coh Hen Hong.

“Dialah Coh Hen Hong itu, dia bukan cucu perempuanmu!” serunya dengan lantang tandas. Mendengar itu serempak jago-jago istana Ceng-te- kiong berbangkit dan siap. Tetapi mereka tak berani bicara maupun bertindak sebelum mendapat perintah dari Ceng-te.

Hening beberapa saat. Adalah Coh Hen Hong yang mulai buka suara, “Engkong, bacaralah mengapa engkau diam saja?”

Tetapi Ceng-te tetap diam. wajahnya gelap, sukar diduga apa yang sedang dipikirkan. Dia berdiri tegak seperti patung.

walaupun menang angin, tetapi karena berbuat salah maka mau tak mau Coh Hen Hong gelisah juga, Namun dia menyadari, bahwa situasi itu memang benar-benar gawat sekali. Maka diapun menahan diri untuk tidak mengunjukkan rasa kaget dan cemas.

Memang pintar benar Coh Hen Hong menjalankan perannya. Dia tersenyurn simpul saja mende­ngar semua itu walaupun dirinya tersangkut dan di tuding langsung oleh Pui Tiok. Mendengar teguran Coh Hen Hong, Ceng-te tampak terhenyak kemudian dengan pelahan dia berkata, “Apakah gadis itu sudah engkau bunuh?”

Coh Hen Hong memandang kearah mayat ketiga gin-wan dan Beng Cu yang berada dalam kubangan darah. Diam-diam dia bersyukur dalam hati. Kalau dia tak lekas-lekas turun tangan melenyapkan mereka, tentulah urusan akan menjadi runyam. Menilik Beng Cu tak berkutik dalam genangan darah sampai beberapa waktu, tentulah gadis itu sudah mati. Diam-diam Coh Hen Hong menghela napas longgar. Sambil cibirkan blbir, dia menjawab, “Siapa yang tahu dia sudah mati atau belum. Ketiga binatang itu ganas sekali menyerang aku. Dulu aku pernah menderita dari mereka maka kugunakan sepasang pedang Leng- liong-kiam dan kugunakan tiga jurus ajaran engkong. Begitu habis kesudahannya adalah begitu!”

Ceng-te mendesuh dan tertegun. Beberapa saat kemudian baru dia berkata, “O, kiranya begi­tu. Tetapi dia belum mati.”

Mendengar itu Pui Tiok dan Coh Hen Hong terbeliak kaget. Kalau Pui Tiok diluap kegembira adalah Coh Hen Hong kaget setengah mati.

Dia memandang Beng Cu dan tiba menghela napas dalam2, serunya, “Engkong, apa dia belum mati seperti yang engkau katakan?”

“Apakah dia belum mati?” teriak Pui Tiok serempak.

Saat itu dia berada disamping Beng Cu. Karena ditegur Ceng-te maka dia tak melanjutkan maksudnya hendak memeriksa tubuh Beng Cu. Kini setelah mendengar keterangan Ceng-te, dia terus membungkuk dan mengangkat tubuh Beng Cu dan berteriak memanggilnya, Beng Cu, beng Cu!”

Tetapi tubuh Beng Cu tampak lemas, kepala lunglai seperti orang tak punya napas lagi.

Pui Tiok mengangkat muka memandang Ceng-te. “Dia menderita kejut besar sehingga pingsan” kata

Ceng-te yang tahu arti pandang mata Pui Tiok, “tekanlah ubun-ubun kepalanya lalu jalan darah peh- hwe-hiat. Dia tentu siuman!”

Pui Tiok melakukan perintah, kemudian Ceng-te berputar tubuh menghadap kearah Coh Hen Hong.

Coh Hen Hong menyadari bahwa kalau saat itu dia tidak lekas-lekas mendahului berkata, situasi tentu makin buruk. Maka dia paksakan tertawa, serunya, “Syukur kalau dia tak apa-apa agar dia da­pat memberi keterangan yang jelas , .  . tetapi kurasa kedua orang itu tentu sudah saling sepakat lebih dulu. Engkong, bukankah begitu?”

Tetapi Ceng-te hanya bergumam, tidak mengiakan juga tidak menolak. Dia seperti berkata seorang diri, “Dibawah serangan tiga jurus pedang Leng-liong kiam, kalau dia tidak mati bahkan sedikitpun tidak terluka, tentu karena hanya ada satu kemungkinan.

Diam-diam Coh Hen Hong memang heran mengapa dibawah serangan ilmu pedang yang maha sakti itu, Beng Cu tidak mati melainkan hanya pingsan saja.

“Engkong, kemungkinan bagaimanakah itu?” tanya penuh keinginan tahu.

Ceng-te terdiam sejenak baru menjawab, “Kecuali ketiga gin-wan itu memang mati-matian me- lindunginya. Gerakan gin wan itu luar biasa cepat nya. Mereka tentu gunakan tubuhnya untuk menyongsong ketiga jurus serangan pedang!”

Tepat pada saat itu tampak Beng Cu membuka mata. Begitu melihat Pui Tiok dia terus memeluk erat2. 

“Pui toako, aku. . . masih hidup atau sudah mati?” serunya terengah-engah. Nadanya sendu bagaikan orang yang mati hidup dari kematian kembali.

Hampir Pui Tiok tak dapat menahan tangisnya. Airmatanya bercucuran dan berkata, “Engkau tak kurang suatu apa, Beng Cu. Engkau tak apa-apa. Lihatlah, Ceng-te Juga sudah hadir disini.”

Wajah gadis itu pelahan lahan bertebar warna merah. Dengan bergeliatan dia berbangkit dan memandang kian kemari sampai akhirnya bertatap pandang kepada Ceng-te. Ceng te juga memandangnya tak berkedip.

Beberapa saat kemudian adalah Beng Cu yang buka suara lebih dulu, “Engkau… engkau… ini apakah

engkongku?”

Coh Hen Hong tegang sekali hatinya. Kalau saat itu dia memaki Beng Cu, tentu akan ketahuan belangnya. Tetapi kalau dia diam, apakah bukan berarti dia mengakui apa yang diucapkan Beng Cu itu benar?

Satu-satunya siasat yang digunakan yalah dia tertawa dan berseru, “Engkong, lihatlah, apakah dia tidak seperti mau menangis, engkong, apakah dia tidak begitu kasihan sekali? Apakah tidak lebih baik kita suruh dia tinggal di istana ini saja. Sejenak memandang Beng Cu, Ceng-te lalu beralih memandang Coh Hen Hong. Coh Hen Hong tahu bahwa kalau saat itu dia tak mengunjuk aksi tentu akan menimbulkan kecurigaan Ceng-te. Maka dia terus melengking, “Engkocg, aku bicara padamu, mengapa engkau diam saja? Hm, apa engkau percaya saja pada omongannya dan te­rus hendak mengusir aku? engkau memang menyangsikan aku, sudah lama kutahu!”

Habis berkata dia terus berputar tubuh dan hendak melangkah keluar.

“Beng Cu,”cepat Ceng-te berseru.

Mendengar itu Coh Hen Hong dan Beng Cu serempak menyahut, “Ya!”

Ceng-te tertegun dan terpaksa berkata, “Jangan pergi dulu. Biar kutanya lebih lanjut kepada nona ini.”

Mendengar Ceng-te menyebut Beng-Cu de­ngan kata ‘nona ini’, agak legalah hati Coh Hen Hong. Dia berhenti tetapi wajahnya masih menampakkan sikap tak senang.

Ceng-te lalu bertanya kepada Beng Cu, “Eng­kau bilang kalau anak dari putriku. Kalau begitu, mamamu tentu pernah bercerita banyak tentang keadaan istana Ceng-te kiong, bukan?”

Setelah siuman dan melihat Ceng-te begitu angker, Beng Cu memang jeri. Sebenamya dia be­gitu berambisi sekali untuk merebut kedudukan sebagai cucu dari Ceng-te. Tapi dalam keadaan seperti saat itu, dia terpaksa tak mau menyerah kalah lagi. Karena kalau dia sampai kalah tentu akan dibunuh Coh Hen Hong. Maka dia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Ceng-te itu, “Ya, memang sering bercerita.”

Mendengar itu hati Coh Hen Horg berdetak keras sekali seperti mau copot. Habis. . . keluhnya dalam hati. Pertanyaan itu pernah diajukan juga oleh Ceng-te kepadanya tetapi dia selalu mengelak dengan mengatakan bahwa karena waktu itu dia masih kecil maka dia tak ingat apa yang diceritakan mamanya dulu.

Sekarang Beng Cu menjawab lain. Dengan begitu jelas dia tentu akan ketahuan boroknya. Saat itu juga dia sudah berniat hendak melesat keluar dan melarikan diri dari Istana Ceng-te-Kiong.

Tetapi pada lain kejab dia tersadar. Apabila dia berusaha melarikan diri berarti dia mengakui kalau bersalah memalsu sebagai cucu Ceng-te.

Namun kalau tidak lari dan tetap tinggal di situ, nanti bagaimana jadinya?”

Karena bingung, Coh Hen Hong sampai tak tahu bagaimana akan bertindak. Dia tetap tegak di tempatnya.

Ceng-te menghela napas, ujarnya, “Lalu pernahkah mamamu mengatakan tentang suatu hal kalau waktu masih kecil mamamu paling sayang dengan bararg mainannya yaitu seekor . . “

Ceng-te tak melanjutkan kata. Rupanya ia memang sengaja hendak memberi kesempatan ke­pada Beng Cu untuk mengatakan barang itu. dengan demikian kalau Beng Cu memang dapat menerangkan dengan tepat tak ragu lagi dialah anak dari puteri Ceng-te yang melarikan diri itu.

Rupanya ujian itu dapat di tanggapi Beng Cu yang serentak melanjutkan “seekor mainan kucing terbuat dari batu koral. Sepasang matanya terbuat dari mata kucing aseli sehingga sepintas mainan kucing kucingan itu menyerupai seekor kucing hidup, bukankah begitu?”

Jawaban itu diberikan Beng Cu dengan lancar sekali. Mendengar itu seketika wajah Ceng-te berubah.

Beng Cu juga tegang sekali. ia seperti gemetar. Melihat itu Pui Tiok segera menghampiri dan Beng Cu lalu menerkam tangan pemuda itu sekencang-kencangnya hingga Pui Tiok hampir menjerit kesakitan.

Pui Tiok juga tegang. Dia menyadari bahwa detik2 itu merupakan detik yang menentukan nasibnya.

Sedang Coh Hen Hong merasa telinganya seperti disambar petir. Pertanyaan pernah diajukan Ceng-te kepadanya dan waktu itu dia hanya gelengkan kepala tak tahu. Tetapi sekarang Beng Cu dapat menjawab dengan lancar sekali Dan menilik sikap Ceng-te, jelas memberi kesan bahwa jawaban Beng Cu itu memang tepat.

Saat itu Coh Hen Hong seperti semut diatas kuali panas. Dia bukannya tak ingin melarikan diri tetapi dia takut sekali sehingga dia lupa un­tuk melaksanakan rencananya melarikan diri itu, 

Apabila Ceng-te saat itu percaya penuh akan keterangan Beng Cu dan terus menindak Coh Hen Hong tentu selanjutnya tak ada cerita lagi. Teta­pi rupanya Ceng-te tak begitu mudah terus menelan saja keterangan Beng Cu. Dia masih hendak menguji lagi kedua nona itu untuk menentukan siapa sesungguhnya cucu perempuannya yang aseli

Ceng-te melangkah maju ke muka Beng Cu dan bertanya pula. “Waktu … dia pergi dari istana ini. Dia tidak membawa mainan kucing-koral itu. Dia paling sayang dengan mainan itu. Waktu pergi tanpa membawa benda itu, aku akan merawat mainan itu sebagai kenangan apabila aku rindu kepadanya. Tetapi

. . . tetapi . . . benda itu tak dapat kutemukan

…”Suara Ceng-te menjadi sember.

Beng Cu dengan tenang menjawab, “Kutahu. Mama memang pernah mengatakan hal itu kepadaku. Waktu dia pergi, dia sengaja menyembunyikan mainan itu.”

Ceng-te menghela napas dalam2, Dia . . . dia menyembunyikan mainan itu dimana? Apakah engkau tahu?”

“Tahu.” jawab Beng Cu. “Dimana?”

“Dibawah kolong termpat tidurnya.”

Tiba-tiba Coh Hen Hong tertawa meringkik, “Bohong Mama bilang kalau mainan itu disembunyikan di dalam tiang besar!” Ceng-te terkejut dan berpaling, “Bagaimana engkau tahu?”

“Bagaimana aku tahu?” ulang Coh Hen Hong dengan nada mengejek, “sudah tentu beliau yang bilang. Tak percaya?”

Pui Tiok terkejut. Tetapi cepat dia dapat menduga apa yang telah terjadi. Kemungkinan secara kebetulan Coh Hen Hong telah dapat menemukan mainan itu lalu disembunyikan dalam tiang kalau tidak begitu bagaimana mungkin Coh Hen Hong begitu yakin berani mengatakannya

“Ceng te,” dengan memberanikan diri Pui Tiok berkata, “soal mainan itu. memang sukar dibuktikan tempat persembunyiannya. Misalnya, me­mang puteri anda telah menanamnya dibawah kolong tempat tidurnya. Siapa tahu . . . eh, siapakah yang tidur di kamar itu?” 

“Aku”, seru Coh Hen Hong menantang. “apakah seorang anak tak berhak tidur di Kamar yang bekas dipakai mamanya?”

Pui Tiok tak dapat membantah. Tetapi Beng Cu yang membela, “Jelas mama mengatakan hal itu kepadaku. Kalau sekarang benda itu tak bera­da di sana, tentulah sudah diambil dan dipindah-kan orang ke lain tempat.”

“Engkong, apakah engkau percaya dengan jawabannya yang ngawur itu?” seru Coh Hen Hong Ceng-te diam. Hampir dia menaruh kepercayaan peauh atas keterangan Beng Cu tadi. Tetapi mengapa dalam hal tempat persembunyian mainan kucing koral Coh Hen Hong lebih tahu?

Andaikata Ceng-te mau menganalisa kata-kata Pui Tiok maupun Beng Cu tentang kemungkinan diambilnya mainan itu dan dipindahkan kelain tempat oleh dia seharusnya menaruh kecurigaan terhadap Coh Hen Hong.

Namun entah bagaimana, kembalinya Coh Hen Hong yang mengaku sebagai cucunya, telah banyak mengobati rasa rindu dan kesepian Ceng-te terhadap puterinya yang melarikan diri itu. Dan ia telah berkumpul selama bertahun-tahun maka rasa kasih Ceng-tepun telah tumbuh kepada Coh Hen Hong.

Walaupun Beng Cu telah memberi jawaban yang mengejutlan hatinya, tetapi Ceng-te tak da­pat secepat itu menghapus segala kepercayaannya terhadap Coh Hen Hong.

Setelah merenung beberapa saat barulah dia mendapat piklran dan bahkan untuk menguji lagi kepada kedua gadis itu.

“Engkau,” katanya kepada Coh Han Hong, tentu nya masih ingat kalau dibawah dagu mamamu tumbuh sebuah tahi lalat merah. Coba engkau katakan, bagaimana bentuk tahi lalat merah itu?

“Entah,” sahut Coh Hen Hong dengan ewah, “aku kan yang palsu, sudah tentu tak dapat me­ngatakan. Perlu apa engkau tanya kepadaku?” Ceng-le pelahan-lahan beralih memandang Beng Cu. Melihat itu Beng Cupun serentak menjawab, “Seperti seekor tupai, punya ekor. Waktu kecil, mama sering mengangkat muka dan menakuti aku tupai kecil datang, tupai kecil akan loncat menggigitmu kalau engkau tidak lekas tidur. .

Mendengar keterangan itu Ceng-te menyurut selangkah dan memegang dinding agar tubuhnya yang terhuyung tak sampai rubuh.

Seorang yang berilmu tinggi seperti Ceng-te tak mudah menderita getaran yang begitu hebat Kalau toh dia begitu, jelas menunjukkan bahwa dia sedang menderita goncangan batin yang hebat sekali.

Dia mengigau seorang diri, “O, begitu. Dia mengatakan begitu. Dia sering bilang, yah, kalau engkau tak mau menurut aku, akan kusuruh tu­pai kecil loncat menggigitmu!”

Pui Tiok menghela napas, “Cianpwe, sekarang segala  apa telah Jelas. Dan aku masih hendak memberi tahu kepadamu. Coh Hen Hong berhati buas. Dia membawa racun yang paling ganas. Maksudnya akan meracuni engkau. Karena hanya setelah engkau meninggal barulah dia dapat bersimaharajalela tak ada yang ditakuti lagi Kalau, sampai sekarang belum melaksanakan adalah ka­rena belum mendapat kesempatan.”

Mendengar itu Ceng-te gelap wajahnya. Se­kali bergerak dia menyambar lengan Coh Hen Hong dan ditarik kedekatnya. Tetapi saat itu Coh Hen Hong sudah siap. Maka ia tenang-tenang saja. Pikirnya, asal dapat melalui saat- saat yang berbahaya kali itu, dia tentu dapat mengatasi segalanya.

Setelah mempunyai keputusan itu maka sikap nya tenang-tenang dan berani menatap muka Ceng-te.

“Engkau, aku tak percaya kalau engkau akan meracuni aku!” kata Ceng-te dengan pelahan.

Mendengar itu diam-diam Coh Hen Hong sudah memperhitungkan bahwa kedudukannya di istana Ceng-te-kiong sekarang sudah cukup kuat. Bukankah Ceng-te mengatakan kalau tak percaya dia (Coh Hen Hong) akan meracuninya? Dengan begitu menandakan kalau Ceng-te tidak seluruhnya percaya pada omongan Pui Tiok.

Coh Hen Hong miringkan kepala, berkata, “Engkau percaya boleh, tidakpun boleh. Toh aku sudah tak ada hubungan apa-apa dengan engkau. Se­karang sekalipun menggunakan tambah beberapa orang lagi untuk menahanku, akupun tak mungkin dapat di tahan. Hm, tak kira kalau seorang yang tak berguna begitu, dapat memiliki ilmu kepandaian yang sakti!”

Wajah Ceng-te berobah, “Engkau mengata­kan siapa?”

“Engkau,” kata Coh Hen Hong dengan berani, “setelah mendengar omongan orang lantas hen­dak membuang cucu perempuannya sendiri. Orang semacam itu apa gunanya?” Kalau Coh Hen Hong mengunjuk rasa takut, mungkin Ceng-te akan bertindak lain. Tetapi se­telah dia mengeluarkan kata-kata yang keras, entah bagaimana Ceng-te malah lulus hatinya.

“Apakah aku mengatakan kalau tidak menghendaki engkau?” katanya.

“Kalau begitu perlu apa engkau membiarban kedua orang itu berada disini?” seru Coh Hen Hong dengan nyaring.

Ceng-te lepaskan cekalannya dan Coh Hen Hong pun mundur selangkah. Ceng-te tegak termangu.

Menilik dahinya mengerut, dia tentu tengah memikirkan sesuatu.

Pui Tiok, Beng Cu dan Coh Hen Hong masing- masing tegang sekali hatinya. Karena mereka menyadari bahwa nasib mereka tergantung hasil pemikiran Ceng-te itu.

Hampir setengah jam lamanya Ceng-te tegak memandang tiang ruangan. Bagi ketiga anakmuda itu, setengah jam dirasakan seperti satu hari lamanya.

Beberapa waktu kemudian baru tampak Ceng-te mengangkat muka dan memandang Pui Tiok dan Beng Cu.

“Kalian berdua,” katanya pelahan-lahan, “tentu mendengar sedikit tentang mamanya dari orang Entah siapa dan di mana. Oleh karena itu kalian datang kemari untuk mencari keuntungan!” Waktu mengucap ‘mamanya’. tangan Ceng-te mengelus kepala Coh Hen Hong.

Pui Tiok dan Beng Cu seperti mendengar halilintar berbunyi di siang bolong. Benar-benar mereka tak pernah mengira bahwa situasi yang sudah begitu menguntungkan mereka, dalam sekejab saja sudah terbalik sembilan puluh derajat.

Pui Tiok dan Beng Cu pucat dan tak tahu apa yang harus mereka katakan.

“Tetapi aku takkan menghukum kalian,” kata Ceng- te lebih lanjut, “kalian boleh lekas-lekas tinggalkan istana ini dan jangan datang kemari lagi. Jangan harap kalau kalian akan memperoleh keuntungan!”

Habis berkata Ceng-te terus bertepuk tangan. Dua orang lelaki setengah tua segera muncul, memberi hormat.

Ceng-te menuding pada Pui Tiok dan Beng Cu, katanya, “Antarkan kedua orang ini keluar dari Ceng- te-kiong!”

Kedua lelaki itu mengiakan. Begitu mengulurkan tangan Pui Tiok dan Beng Cu merasa segu­lung tenaga kuat melanda mereka sehingga kedua-nya terdorong mundur sampai 7-8 langkah.

“Ceng te, engkau…,” belum tempat Pui Ti­ok menyelesaikan kata-katanya, gelombang tenaga-kuat yang kedua melanda lagi sehingga kedua anakmuda itu hampir tak dapat bernapas. Sudah tentu Pui Tiok tak dapat bicara apa-apa lagi. Kedua anakbuah Ceng-te itu hebat sekali ke- pandaiannya. Mereka berturut-turut melancarkan hamburan gelombang tenaga-dahsyat. Walaupun tidak melukai tetapi cukup untuk mendorong Pui Tiok dan Beng Cu sampai terhuyung mau jatuh. Pui Tiok dan Beng Cu seperti dua ekor anjing yang dihalau keluar.

“Hanya, apa engkau masih marah?” cepat Ceng-te berputar tubuh dan tertawa.

Peristiwa itu benar-benar dirasakan Coh Hen Hong sebagai impian saja. Hampir dia tak percaya kalau dia sadar dalam kenyataan. Setelah mendengar pernyataan Ceng-te, baru dia seperti sadar dari impian dan dengan gaya yang kemanja-manjaan dia menggeliat, “Aku kan tak bisa memberi jawaban semua pertanyaanmu. Apakah engkau masih manganggap aku sebagai cucu perempuanmu?”

Ceng-te tertawa, “Sudah jangan macam-macam sa­ja. Sekarang ceritakanlah bagaimana pengalamanmu selama pesiar keluar. Apa engkau senang? Ilmu yang kuajarkan kepadamu dan namaku apakah masih berguna?”

Coh Hen Hong kicupkan mata, “Memang berguna sih berguna. Sayang aku ini hanya seo­rang pemalsu saja.”

“Hm,” dengus Ceng-te, “kalau engkau masih bilang begitu, awas, kutampar mulutmu nanti !”

Girang Coh Hen Hong bukan kepalang. Mau tak mau dia tertawa juga. Ceng-te pelan sekali menampar kepala gadis itu, “Engkau boleh main-main., aku hendak melanjutkan semedhiku. paling tidak makan waktu tiga hari. Selama itu jangan ganggu aku, mengerti?”

Mendengar itu Coh Hen Hong makin girang. “Ya, aku kan bukan anak kecil,” sahutnya.

Ceng-te tersenyum lalu pelahan-lahan melangkah keluar. Setelah dia tak tampak. Coh Hen Hong masih tegak termangu. Beberapa saat kemu­dian baru meninggalkan tempat itu.

Mari kita ikuti Pui Tiok dan Beng Cu yang dihalau oleh kedua jago istana Ceng-te-kiong. Setelah keluar dari pintu gerbang, kedua jago itu ber­seru dingin, “Kalian mau tinggalkan tempat ini sendiri atau perlu kita harus turun tangan?”

Marah Pui Tiok bukan kepalang. Wajahnya pucat, serunya, “Kami bisa pergi sendiri.”

“Istana Ceng-te-kiong mempunyai peraturan,” kata kedua jago itu, “barang siapa datang ke istana ini, sekeluarnya dari sini tak boleh menceritakan pada orang. Harap anda memperhatikan hal ini!”

“Tahu!” seru Pui Tiok keras. Nadarya menyeramkan sekali sehingga dia sendiri terkejut mengapa dia dapat mengeluarkan suara begitu.

Dan setelah berteriak dia rasakan dadanya anyir. Dia terkejut. Karena terlalu marah, darahnya meluap dan dia tentu mau muntah darah. Dan Kalau sampai begitu, Jelas dia tentu menderita luka-dalam yang parah. Maka dia tak mau bicara lagi dan diam-diam mengerahkan tenaga-murni untuk menekan darah dalam dadanya.

Saat itu wajahnya pucat lesi dan tubuhnya gemetar.

Telinganya seperti mendenging-denging mendengar suara teriakan Beng-Cu.

Pada hal saat itu Beng Cu berada disampingnya.

Suara Beng Cu itu seperti bergema di kejauhan. Buru- buru dia hendak berpaling untuk melihat Beng Cu.

Tetapi dia merasa pandang matanya gelap.

Dia menyadari keadaan dirinya. Dia tak bo­leh muntah darah. Dia harus bertahan. Tetapi da­lam beberapa hari ini, telah banyak dan besar guncangan batin yang dideritanya.

Dan yang paling memberi hantaman keras pada batinnya yalah ketika pada saat dia sudah yakin tentu berhasil membuat Ceng-te mengaku Beng Cu sebagai cucunya, tiba-tiba gagal total dan diusir keluar.

Setelah masuk dan keluar lagi dari istana Ceng-te, resikonya lebih besar dari pada dia belum masuk ke istana itu.

Tetapi betapapun dia berusaha untuk menekan, darah yang meluap ke kerongkongannya itu tetap binal dan tak kuat lagi menahannya lebih lanjut, huakkk . . . dia memuntahkan segumpal darah segar.

Sehabis muntah darah dia rasakan dunia ini berputar-putar dan dia seperti diayun-ayun naik turun. Selanjutnya dia tak tahu lagi apa yang terjadi. Entah berapa lama, dia baru pelahan-lahan mendapat kembali kesadarannya. Pertama, dia mendengar suara isak tangis, tangis seorang wanita. Dan kemudian dia mengetahui suara tangis itu sua­ra Beng Gu.

Dia paksakan untuk membuka mata. Tetapi dia tak dapat melihat suatu apa. Beberapa saat ke mudian baru dia dapat melihat Beng Cu.

Beng Cu makin menangis gencar dan sedih Butjr2 air matanya berderai derai membasahi mu­ka Pui Tiok.

Pui Tiok menghela napas dan berusaha un­tuk membuka suara, “Engkau . . . mengapa me­nangis?”

Beng Cu tertawa, “Mengapa aku tak menangis?’ Aku

. . aku . . begini rupa . . bagaimana tak menangis?”

Pui Tiok hendak mengelus kepala nona itu tetapi tangannya tak bertenaga sama sekali.

Beng Cu menangis pula, “Kalau Ceng-te tak mau mengakui aku, biarlah. Asal kita berdua te­tap bersama, aku tetap gembira.”

Pui Tiok menghela napas panjang, “Beng Cu, mengapa engkau setolol itu? Pikirlah, apakah Coh Hen Hong mau melepaskan kita? Sekarang …. kita berada di mana ini? Apakah sudah jauh da­ri Ceng-te-kiong?”

“Rasanya tak berapa jauh,” sahut Beng Cu, “setelah engkau pingsan kupondongmu terus me­lanjutkan perjalanan. Kemudian . . . kurasakan kedua kakiku lemas lunglai dan jatuh. Hampir aku pingsan juga. Ya, disini ini !”

Pui Tiok terkejut, “Hayo, hayo kita lanjutkan berjalan lagi. Kalau tidak lekas pergi, Coh Hen Hong tentu dapat mengejar kemari !”

Sambil berkata dia terus paksakan diri berbangkit.

Tetapi bukan saja dia tak mampu berdiri, bahkan begitu bergerak dia terus muntah da­rah lagi.

“Beng Cu.” dia berusaha untuk meronta. “papahlah aku. Kita harus menyingkir agak jauh lagi. Kalau tidak.

. . . kita cari saja tempat persembunyian.”

Air mata Beng Cu makin deras. Dia tak da­pat bicara lagi. Dia melakukan perintah Pui Tiok, dipanggulnya tubuh pemuda itu dan terus lari.

Tetapi setengah li kemudian napasnya sudah terengah-engah, “Pui toako. . . aku. . . aku tak dapat berlari lagi.”

Dia paksakan diri lari, beberapa meter untuk mencari sandaran pada sebatang pohon.

“Beng Cu, engkau memiliki kepandaian yang tinggi,” kaa Pui Tiok, ”jangan gugup, jangan takut. Aku hanya menderita luka dalam. Nanti setelah beristirahat beberapa hari tentu sembuh. Kita ba­ru berusaha untuk menyelamatkan diri. Setelah beristirahat beberapa hari, aku tentu sembuh lagi. Beng Cu, jangan cemas.”

Memang dengan kepandaian yang dimilikinya, sekalipun dengan memanggul orang, Beng Cu ma­sih dapat lari sampai tiga hari tiga malam. Me­ngapa kakinya sampai lemas, adalah karena dia gu­gup dan cemas. Maka Pui Tiok perlu mengingatkan.

Beng Cu tak menangis lagi. Setelah mengatur napas beberapa saat dia berkata, “Ya, kutahu.”

Suaranya sudah terang dan dia lalu melan­jutkan lari lagi. Jalanan di gunung berbahaya, ber keluk dan berliku. Tak berapa lama tiba disebuah cekung gunung yang menyerupai gua. Di dalam cekung itu terdapat banyak sekali gua2.

“Beng Cu, rasanya tempat ini sesuai. Karena luka- dalamku terlalu parah, lebih baik sembunyi disini dulu,” kata Pui Tiok.

Sebenarnya Beng Cu seorang gadis yang cengeng karena tak punya pendirian. Tetapi saat itu dia berobah menjadi seorang yang memiliki pendirian.

Setelah memandang keempat penjuru, dia menemukan sebuah gua yang mulutnya sempit.

Tiba di mulut gua, dia mendengar suara menderu- deru, menandakan kalau sebelah dalam gua ltu cukup lebar. Bang Cu lalu membawa pe­muda itu masuk.

Ternyata memang benar sebelah dalam cukup lebar. Setelah menyusur maju, akhirnya makin lama makin gelap.

“Pui toako, kita beristirahat disini,”, akhimya Beng Cu berkata. Kemudian dia menyalakan korek.

Dia terkejut sekali ketika melihat sekeliling dinding gua itu bergemerlapan. Benar-benar sebuah tempat yang indah sekali. “Sungguh indah, Beng Cu berseru memuji

“Ya, bolehlah,” kata pui Tiok, “tetapi waktu yang kubutuhkan untuk beristirahat paling tidak tiga bulan.”

Beng Cu kaget dan gugup. Dia ingin mena­ngis tetapi kuatir akan membuat Pui Tiok sedih, Maka dia tahankan airmata.

“Pui toako,” katanya, “taruh kata dalam tiga bulan Ini lukamu sembuh, tetapi selama itu kita tentu…..”

“Kemarilah Beng Cu, engkau kemari sini,” Kata Pui Tiok.

Beng Cu menghampiri kedekat Pui Tiok. Keduanya saling berjabat tangan erat2.

“Beng Cu,” kata Pui Tiok, “selama tiga bulan ini hanya menggantungkan engkau seorang untuk cari makanan. Tetapi hati-hatilah, Coh Hen Hong tentu masih mencari kita. Ah, aku sungguh tak berguna…..”

Beng Cu cepat mendekap mulut sang kekasih, “Sudahlah jangan berkata lagi. Aku rela menderita susah payah. Kita baru saja tinggakan istana Ceng-te- kiong, tak mungkin Coh Hen Hong begi­tu cepat akan mencari kita. Lebih baik aku kelu­ar untuk cari makanan untuk persediaan dua tiga hari ini.”

“Baik sih baik, tetapi engkau harus hati-hati. Lekas pulang jangan menyiksa pikiranku,” kata Pui Tiok. Beng Cu lalu meninggalkan gua itu. Kini Pui Tiok seorang diri. Dia hendak bangun dan duduk untuk mengambil pernapasan tetapi dadanya masih terasa anyir. mau muntah darah. Dia lalu be­rusaha untuk menjalankan pernapasan.

Memang luka dalam yang di deritanya cukup parah.

Sekujur tubuhnya seperti ditusuki jarum. Tetapi setelah dua tiga kali melakukan peredaran darah, rasa sakit itu mulai berkurang. Dadanya juga mulai longgar.

Entah berjalan berapa lama. Setelah kesadaran pikirannya mulai terang, tiba-tiba Pui Tiok teringat akan Beng Cu. Ya, nona itu sudah lama per­gi mengapa belum kembali lagi.

Karena gelisah, napasnya terengah-engah la­gi dan darah mulai keras. Ah, celaka. Dia menyadari kalau tak boleh terlalu gelisah agar luka dalamnya jangan sampai kambuh lagi.

Tetapi bagaimanapun dia tak dapat melepaskan pikirannya kepada Beng Cu, Dia paksakan di­ri untuk berdiri. Waktu berjalan beberapa langkah, dia terhuyung huyung. Dia memegang dinding tembok dan pelahan-lahan melangkah ke pintu. Teta­pi sampai di pintu tetap dia tak melihat Beng Cu Dan ketika melihat hari sudah hampir petang dia terkejut dan hampir rubuh.

Dengan begitu sudah hampir sehari Beng Cu pergi. Mengapa tak kunjung pulang? Bluk, akhirnya Pui Tiok lemas dan jatuh di mulut gua. Saat itu dia tak dapat berdiri lagi. Dia terpaksa menggeletak tak berdava apa-apa. 

Ketika beberapa saat lagi mengangkat muka, ternyata hari sudah gelap. Ketika dia memandang kemuka, tampak dari kejauhan tiga titik sinar obor tengah berjalan mendatangi. Dalam pikirannya yang setengah sadar itu dia kira kalau yang datang itu adalah ketiga ekor gin-wan. Tetapi pa­da lain saat dia teringat kalau ketiga binatang itu sudah mati.

Pui Tiok mengempos semangat dan terus menggelinding diri ke luar. Tetapi karena tenaga-nya masih lemas, dia tak dapat menggelinding ja­uh, melainkan hanya sampai ke dalam gerumbul rumput saja.

Dia terkejut dan berusaha hendak bangun tetapi tak mampu lagi, Dan ketiga titik sinar itu makin lama makin dekat bahkan dia sudah mendengar suara langkah mereka. Dia buru-buru mendekam tak berani bergerak. Karena kalau dia bergerak tentu akan ketahuan.

Tak berapa lama dia melihat tiga lelaki, masing- masing membawa obor muncul. Pui Tiok segera mendapat kesan kalau ketiga orang itu tentu tokoh persilatan.

“Cekung gunung ini pelik sekali, kemungkinan sepasang muda mudi itu tentu berada didalam nya,” salah seorang berkata.

Kawannya mengiakan dan mengajak untuk menyelidiki. Diam-diam Pui Tiok beryukur. Kalau tadi ia tidak nekad menggelinding keluar, tentulah akan tertangkap. Menilik pambicaraan mereka, rupanya mere­ka belum menemukan Beng Cu. Diam-diam Pui Tiok longgar perasaannya.

tak berapa lama ketiga orang itu ke luar. Tanpa berkata apa-apa, mereka terus lari. Beberapa tombak jauhnya, baru salah seorang berkata, “Ka­lau disini tak ada, kedua muda mudi itu tentu la­ri ke sana !’

“Ya, tampaknya memang begitu,” sahut ka­wannya, tetapi apakah sudah pasti? Yang pasti, lebih baik kita melapor saja kalau tak dapat menemukan. Cujin (majikan) pernah bilang lentang tempat itu tetapi tak boleh dikatakan kepada kong-cu!”

“Sudahlah, jangan ribut saja”. kata kawannya yang satu lagi. “kita lekas mencari mereka agar nanti kita dapat memberi laporan kalau su­dah berusaha mencari kemana-mana.”

Pada lain saat ketiga anakbuah Ceng-te-ki­ong itu sudah jauh sehingga tak terdengar lagi apa yang mereka bicarakan.

Mendengar percakapan mereka, Pui Tiok heran sekali. Dia pernah mendengar kata orang bah­wa di gunung Tay-hong-san terdapat sebuah puncak yang berhadapan dengan Ceng-te-kiong. Tempat itulah yang disebut ’sebelah sana’ oleh ketiga anakbuah Ceng-te-kiong tadi.

Timbul kesimpulan dalam hati Pui Tiok. Apabila dia dan Beng Cu dapat mencapai ‘disana’. tentulah anakbuah Ceng-te-kiong tak dapat ber-buat apa-apa terhadap dirinya. Tetapi apakah sesungguhnya tempat yang disebut ‘disana’ itu ? Mengapa Ceng-te memberi perintah kepada orang nya agar tempat itu dirahasiakan dan tak boleh dikatakan kepada Coh Hen Hong ?

Pui Tiok makin tertarik. Hal itu benar-benar sukar dimengerti dan selama ini tak pernah dia mendengar tokoh persilatan menceritakan tentang hal itu.

Saat itu Pui Tiok bimbang. Bahkan dia menyangsikan apakah luka-dalam yang dideritanya itu benar-benar parah. Apakah pembicaraan yang didengarnya itu hanya suatu lamunan belaka ? Tetapi kalau lamunan mengapa begitu jelas ?

Juga dia dapat menarik kesimpulan bahwa tidak kembalinya Beng Cu itu bukan karena ditangkap anakbuah Ceng-te-kiong. Bukan mustahil kalau Beng Cu telah menuju ketempat ‘disana’ itu.

Namun Pui Tiok tidak berhenti sampai disitu saja.

Dia bertanya kepada dirinya sendiri. Mengapa Beng Cu tidak kembali ? Apakah Beng Cu hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri ? ah, tidak, tidak mungkin. Beng Cu bukan orang semacam itu. Lalu bagaimana ?

Namun sampai beberapa saat tetap Pui Tiok tak dapat menarik kesimpulan. Namun dari kedatangan ketiga anakbuah Ceng-te-kiong tadi, dia menyadari bahwa gua itu bukan suatu tempat persembunyian yang aman.

Setiap anakbuah Ceng-te-kiong yang datang tentu hanya memperhatikan dan menyelidiki gua dan tidak menaruh kecurigaan pada gerumbul rumput disitu.

Maka diapun tak mau kembali ke gua lagi. Dia beringsut mundur untuk masuk ke bagian tengah dari gerumbul rumput itu.

Diapun sudah menarik kesimpulan, Beng Cu selamat tak kurang suatu. Hanya karena satu dan lain sebab maka Beng Cu tak memberi tahu kepadanya.

Lebih baik dia beristirahat menyembuhkan lukanya. Setelah sembuh dia dapat menyusul ke tempat ‘disana’.

Setelah menetapkan keputusan, hatinyapun tenang.

Dia lalu duduk bersila melakukan pernapasan, menyalurkan tenaga-murni. Selanjutnya be­berapa hari kemudian, Pui Tiok melewatkannya seperti seekor ular. Kalau tidak sembunyi di tengah gerumbul rumput, tentu dia mencari tempat persembunyian yang gelap. Dia tak mau menyulut korek dan hanya makan buah2an yang terdapat disitu Demikianlah hal itu berlangsung selama 10 hari. Sekarang dia sudah dapat berdiri dan berjalan. Dia berkeliaran berpindah- pindah tempat persembunyian.

Memang selama itu dia pernah memergoki anakbuah Ceng-te-kiong yang mencarinya. Dari pembicaraan mereka dia tahu kalau Coh Hen Hong tetap memerintahkan supaya pencarian terus Dengan begitu Beng Cu belum tertangkap mere­ka.

Dalam pembicaraan hampir setiap anakbuah Ceng- te-kiong memastikan bahwa Pui Tiok dan Beng Cu tentu lari ke tempat ‘disana’. Setiap kali mendengar pembicaraan itu, hampir saja Pui Tiok akan menerobos keluar dari tempat persembunyiannya untuk bertanya kepada mereka, apakah yang disebut tempat ‘disana’ itu. Namun dia menyadari tindakan itu hanya seperti anjing cari gebuk saja. Lebih baik dia nanti berusaha mencari sendiri. Tetapi gunung Tay-hong san itu luasnya ratusan li, penuh dengan puncak, hutan lebat dan gua. Lalu bagaimana dia hendak mencari ?

Pada hari itu Pui Tiok berbaring di balik se gunduk batu besar. Dia melihat dua orang bertubuh pendek, sambil bercakap cakap sambil berja­lan mendatangi.

Sudah beberapa kali Pui Tiok memergoki orang tetapi entah bagaimana saat itu tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk bertanya.

“Kurasa,” kata salah seorang, “kalau terus menerus melakukan pencarian begini, tentu takkan berhasil.

Lebih baik kita coba-coba kesana saja. Kalau kedua muda mudi itu memang benar berada ‘disana’ lebih baik kita laporkan pada kongcu. Dengan begitu kita tiap hari tak dimaki-maki sa­ja,”

“Apa engkau berani ke ’sana’ ?” seru kawannya. “Kurasa tak apa,” sahut orang tadi, “Ceng-te

melarang kita pergi ke ‘sana’ karena Ceng-te bermusuhan dengan orang ‘disana’. Kita toh ha­nya anakbuah Ceng-te-kiong, kurasa orang itu juga takan turun tangan terhadap kita.”

Rupanya kawannya terpengaruh, “Ya, engkau benar. Mari kita ke ’sana’.”

Kedua lelaki pendek itu terus menuju kesana Saat itu Pui Tiok tegang sekali. Kini dia su­dah makin mendapat pengetahuan bahwa orang ‘disana’ itu musuh bebuyutan Ceng-te.

Kalau seorang tokoh sakti seperti Ceng-te, masih ada yang dapat menjadi musuhnya. tentulah orang itu luar biasa hebatnya. Dan lagi kalau orang itu tinggal di gunung Tay-hong-san, Ceng-te tak dapat berbuat apa- apa. jelas orang itu tentu seimbang kepandaiannya dengan Ceng te.

Sekarang kedua orang itu hendak menuju kesana. Mengapa dia tak menggunakan kesempatan sebaik itu untuk menguntit mereka ? Bukankah dengan begitu mudah sekali dia dapat mengetahui tempat itu ?

Pui Tiok sudah mendapat kesan bahwa sekalipun kedua orang itu bertubuh pendek tetapi kepandaian mereka tinggi sekali. Sedang dia belum sembuh betul dari lukanya. Untuk mengikuti mereka secara diam- diam dan tidak diketahui. memang tak mungkin.

Tetapi kalau dia tak berani, mana ada kesempatan sebagus itu lagi ?

Dengan hati-hati Pui Tiok segera bergerak. Be­gitu kedua orang pendek itu sudah melangkah dua tombak jauhnya, barulah dia mulai mengikuti. Me­reka berjalan lurus dan tak berapa lama tiba dimulut sebuah lembah yang sempit tetapi panjang.

Panjang jalanan lembah itu mencapai satu li tetapi sempit sekali, hanya lebih kurang setengah meter lebarnya. Kedua dinding lembah. curam dan naik turun sehingga keadaannya gelap sekali. Ha­nya pada ujung lembah, tampak seberkas sinar. Waktu kedua orang pendek itu tiba dimulut lembah, diam-diam Pai Tiok mengeluh. Kalau harus menyusur lembah sempit dan panjang itu baru dapat mencapai tempat disana terang sukar bagi nya untuk mengikuti.

Pui Tiok bersembunyi dibalik sebatang pohon sambil mengepalkan kedua tangannya. Pada saat kedua orang pendek itu hendak memasuki mulut lembah, salah seorang tiba-tiba berseru, “Lihatlah !”

Kawannya juga terbeliak, demikian Pui Tiok.

Menurut arah yang ditunjuk orang pendek tadi, pada batu karang disebelah kiri, tergantung sebu­ah kim- pay (lencana emas) yang berkilau-kilauan cahayanya.

Pui Tiok hanya melihat begitu menyaksikan kim- pay, kedua orang pendek itu lerus mundur ke belakang tiga langkah. Wajahnya kaget sekali.

“Lekas lari,” setelah keluar dari mulut lem­bah kedua orang pendek serempak berseru. Dan mereka berputar tubuh terus lari. Dalam beberapa kejab saja sudah tak tampak bayangannya.

Pui Tiok heran. Mengapa mereka lari? Apa­kah kim- pay itu mempunyai pengaruh besar sehingga kedua jago sakti dari Ceng-te-kiong terbirit-birit melarikan diri ?

Sampai beberapa waktu Pui Tiok tak melihat kedua orang pendek itu muncul kembali. Pui Tiok itu menghampiri kemulut gua dan memandang ke muka.

Dilihatnya pada kim-pay itu terdapat empat huruf. Setelah berada di mulut lembah, dia dapat membaca jelas keempat huruf itu berbunyi ‘Barang siapa berani gegabah masuk tentu mati’.

Pui Tiok menghela napas Dia hampir memastikan bahwa lembah itu akan mencapai apa yang di kata ‘tempat disana’ oleh kedua lelaki pendek tadi.

Tokoh sakti yang diam di ’sana’, tentu seo­rang tokoh yang sakti. Oleh karenanya kedua anakbuah Ceng-te-kiong tadi lari pontang panting waktu melihat kim-pay.

Keempat tulisan pada kim-pay itu jelas mem­beri peringatan supaya orang jangan sembarangan masuk. Kalau nekad pasti akan mati.

Setelah beberapa saat menimbang akhirnya Pui Tiok tiba pada suatu keputusan. Kalau mati toh sama saja tentu mati di tangan Coh Hen Hong Dan lagi Beng Cu kemungkinan tentu sudah be­rada di ’sana’. Kalau dia nekad masuk asal dapat bertemu Beng Cu, sekalipun hanya satu kali, teta­pi dia sudah merasa bahagia sekali.

Dia lalu ayunkan langkah. Baru melangkah masuk, dia menggigil Setiup angin dingin yang seram melandanya. Dia makin menggigil.

Setelah menenangkan diri, dia berada di luar lembah tetapi malah merasa tak takut. Dia busungkan dada dan melangkah masuk dengan langkah lebar.

Mulut lembah itu sempit dan memanjang ja­uh ke dalam. Tiba di tengah perjalanan, Pui Tiok makin terasa akan hawa seram yang menyerang tubuhnya. Cuacanya gelap sebingga hampir tak tardapat matahari.

Jika tidak bertekat untuk mencari Beng Cu, tentu Pui Tok akan balik dan meninggalkan tem­pat yang penuh misteri yang seram itu. Tetapi Pui Tiok tidak takut. Dia hanya berjalan pelahan lahan saja.

Lebih kurang satu li menyusup ke dalam, lem­bah makin lebar dan tak berapa jauh dari mulut lembah disebelah dalam, terdapat penerangan. Ma­kin dekat makin dapat melihat keadaan diluar mu­lut lembah itu.

Ternyata setelah selesai menyusur habis lem­bah sempit itu, terdapat sebuah lembah yang lebih besar. Separoh dari lembah itu merupakan sebuah telaga yang airnya jernih kebiru-biruan. Airnya tenang sekali, tiada gelombang sama sekali sehing­ga sepintas menyerupai sebuah danau zamrud yang indah tak terperikan.

Sekeluar dari lembah sempit itu, barulah pui Tiok dapat melihat jelas seluruh lembah besar. Kecuali danau indah itu, lain2nya merupakan karang curam dan batu2 kerucut yang aneh. Rupanya selain dari lembah sempit tadi tak ada lain jalan keluar dan masuk ke lembah besar itu.

Suasana dalam lembah itu sunyi senyap. Tak kelihatan seorang manusiapun juga. Juga tak ada sebuah pondok atau rumah.

Pula setelah menghampiri maju ke tengah lembah, tetap keadaan sunyi sekali sehingga suara kakinya sendiri yang terdengar. 

Memandang ke telaga, dilihatnya seekor ikan melenting ke permukaan air, menimbulkan gemercik kecil.

Pui Tiok tak tahan. Sunyi senyap merupakan siksa juga. Dia memungut sebutir kerikil lalu dilontarkan kepermukaan telaga, plung Suaranya

menimbulkan gema yang berkumandang memenuhi lembah.

“Apakah disini tak ada orang ?” setelah gema lontaran batu itu sirap, baru Pui Tiok berseru. Dia hanya berseru beberapa patah tetapi lem­bah Itu segera tercekam gema suara yang gemuruh kumandangnya, Jika di lembah itu memang dihuni orang, orang itu tentu akan mendengarnya.

Pui Tiok mengulangi lagi seruannya. Tetapi baru dia hendak membuka mulut, tiba-tiba di depan terdengar sebuah suara kering kerontang menegur-nya, “Sudah tentu ada orangnya. Engkau kan ti­dak buta, bukan?”

Pui Tiok terbeliak. Dari mana orang itu? Bukankah lembah itu sunyi dan kosong melompong? Ketika mengangkat muka dan memandang ke mu­ka dia makin kaget lagi. Karena disebelah muka tak ada orang. Yang ada hanya berpuluh ribu batu2 yang aneh bentuknya. Pui Tiok menduga orang itu tentu berada di belakang deretan gunduk batu aneh itu.

Dia tertawa pahit, “Aku kemari untuk men­cari seseorang. Harap anda jangan salah faham,”

serunya. “Siapa yang engkau cari?” kembali suara itu melengking.

Sesaat suara itu menyusup ke telinga Pui Ti­ok, dia menggigil dan sepasang kakinya terasa lunglai hampir tak kuat berdiri.

Yang membuat hati Pui Tiok tergetar keras, bukan karena kata-kata orang itu atau nadanya yang mendenging di telinga. Melainkan dia tahu jelas bahwa suara itu bukan berasal dari belakang batu aneh, tetapi dari segunduk batu aneh yang tak aneh disebelah depan.

Bahwa batu aneh dapat mengeluarkan suara, itulah yang membuatnya terkejut sekali.

Setelah menenangkan perasaannya dan memperhatikan dengan seksama barulah dia tahu bah­wa gunduk batu aneh yang disebelah muka itu bu­kan batu tetapi seorang manusia.

Orang itu duduk bersila di tanah. Bajunya berwarna kelabu mirip dengan warna batu. Seri wajah dan rambutnya juga kelabu seperti warna batu. Dia duduk seperti patung. Oleh karena itu kalau tak bersuara tentu dikira sebuah, sebuah ba­tu diantara gunduk2 batu disitu.

Pui Tiok menghela napas longgar, serunya, “Apakah anda ini… pemilik lembah ini?”

“Aku bertanya kepadamu hendak mencari si­apa?” orang itu balas bertanya. Pui Tiok tertegun. Menilik nadanya yang begitu dingin, tentulah orang itu berhati dingin dan tak suka didekati orang. Tetapi baru dia berpikir begitu, tiba- tiba dia menertawakan dirinya sendiri.

Bukankah dia sudah membekal tekad berani mati waktu hendak mencari lembah itu? Mengapa dia harus kicup nyalinya hanya karena mendengar nada orang yang begitu dingin saja?

“Aku hendak mencari seorang nona she Kwan,” sahutnya.

Wajah orang itu membeku seperti batu dan berkata dengan dingin, “Apa hubunganmu dengan nona Kwan?”

Pui Tiok terkesiap, sahutnya, “Dia adalah isteriku.” Mendengar itu tetap saja orang itu membatu

Suaranya, “Isterimu? Kalau begitu engkau ini ba­ru

saja melarikan diri dari Ceng-te-kiong?”

Girang Pui Tiok bukan Kepalang, “Benar. Aku memang baru saja melarikan diri dari sana,”

Dia menduga mengapa orang itu tahu kalau dia baru sa|a lolos dari Ceng-te-kiong, tentulah Beng Cu yang memberi tahu. Dengan begitu dia makin yakin Beng Cu tentu berada di lembah si­tu.

Tetapi kegirangan Pui Tiok itu telah dilanda dengan suara dingin sekali dari orang itu. “Selama Ceng-te-kiong tak ada hubungan dengan Si-koh (Lembah Maut). Apakah sekarang Ceng-te hendak melanggar perjanjian?” serunya.

Kembali Pui Tiok tertegun. Dia tak tahu ba­gaimana harus menjawab. Dia tak tahu apa yang dimaksud orang itu kecuali keterangannya bahwa lembah iiu disebut lembah maut.

Tetapi sebagai seorang yang cerdik, Pui Tiok dapat menduga bahwa pemilik Lembah maut itu bermusuhan dengan Ceng-te-kiong. Suatu hal yang menambah kegembiraannya.

“Harap anda jangan salah faham,” katanya, “meskipun aku baru lolos dari Ceng-te-kiong teta­pi aku bukan anakbuah Ceng-te-kiong. Aku diusir oleh Ceng-te kiong.”

Biji mata orang itu berkeliaran sejenak lalu tertawa dingin, “Aku paling benci kepada orang yang tak mau bicara terus tetang. Apakah omonganmu itu sungguh- sungguh? Atau hendak menipu?”

“Aku mengatakan secara jujur, bukan omong kosong,” sahut Pui Tiok.

Orang itu tertawa mengekeh, “Kuanggap engkau itu bernyali besar!” tiba-tiba dia mengangkat tangannya. Waktu lengan bajunya terangkat keatas, segulung angin yang dingin sekali melanda Pui Tiok sehingga pemuda itu menggigil dan tubuhnya lantas mengerut.

Orang itu menurunkan lengan bajunya ke bahu Pui Tiok. Seketika Pui Tiok rasakan bahunya seperti dibenam sumber air yang dingin seperti es. Karena dinginnya gigi pui Tiok sampai bergemerutukan.

“Apakah engkau tidak bohong?” kembali orang itu bertanya.

Sambil berkutetan untuk menahan kedinginan, Pui Tiok menyahut, “Setiap…. patah. .. kata-kataku. . . .

memang sesungguhnya ”

Orang itu tertawa aneh, “Nona Kwan yang hendak engkau cari itu adalah cucu perempuan dari Ceng-te. Dan engkau mengaku sebagai suaminya Tetapi engkau berani mati mengatakan kalau tak ada hubungan dengan Ceng-te-kiong.”

Mendengar itu Pui Tiok terkejut gembira. Dia gembira karena jelas Beng Cu masih selamat dan berada di lembah itu. Tetapi dia terkejut ka­rena pertanyaan orang itu memang tajam dan sukar di bantah.

Memang dia dapat saja menceritakan semua pengalaman yang dideritanya di Ceng-te-kiong. Tetapi hal itu tentu memakan waktu lama. Dia sangsi apakah dia masih mampu bercerita sampai selesai dalam keadaan seperti saat itu.

Namun dia berusaha untuk mengerahkan tenaga dan menjawab, “Harap. . .jangan menekan

bahuku. . . . dulu. . . biar aku. . . bercerita….

Rupanya orang batu itu dapat mengerti. Dia mengangkat lengan bajunya yang terletak di bahu Pui Tiok. Pemuda itu dapat bernapas longgar dan berdiri tegak. 

“Mana nona Kwan? Apakah dia belum menceriiakan tentang pengalamannya?” tanyanya.

Orang itu kelap-kelipkan biji matanya yang bagian putihnya lebih besar dari bagian bitam.

“Dia banya mengatakan sepatah kata kalau dia itu cucu perempuan Ceng-te. Setelah itu dia tak dapat berkata-kata lagi,” katanya.

Mendengar itu kembali Pui Tiok gemetar keras karena terkejut, “Apa artinya. . .dia tak da­pat melanjutkan kata-katanya itu?”

“Apa artinya,” kata orang batu itu, “tak lain supaya engkaulah yang bercerita semuanyal”

“Apakah dia telah engkau bunuh?” teriak Pui Tiok dengan keras.

Namun orang batu itu hanya picingkan mata dan menyuruh, “Sudah, jangan bicara yang tak berguna.”

Mendengar itu timbullah sepercik harapan dalam hati Pui Tiok. Tetapi pada lain saat dia membantah dugaannya dan seketika bangkitlah kemarahannya. Dengan menjerit histeris dia terus menyerbu dan lepaskan empat buah hantaman.

Sebenarnya lukanya masih belum sembuh betul.

Hantamannya itu menggunakan tenaga yang dipaksakan, duk, duk, duk, duk …. hantaman mengenai tubuh orang itu tetapi Pui Tiok sendiri terhuyung hampir jatuh. Orang aneh itu menunduk memeriksa baju-nya lalu tertawa kering, “Bagus ! Bagus ! Hayo hantam lagi empat kali !”

Jika orang itu seperti orang minum arak yang minta tambah, adalah Pui Tiok malah berkunang-kunang matanya. Bumi yang dipijaknya seolah berputar-putar.

“Engkau . . engkau . . , ” dia tak dapat melanjutkan teriaknya karena terus rubuh dan mau muntah darah lagi”.

Dia sadar kalau sampai muntah darah lagi tentu lukanya akan kambuh oleh karena itu maka dia berusaha untuk menekannya.

Wajahnya berobah coklat kemudian pucat lalu ungu. Tiga kali perobahan warna muka itu menandakan kalau urat-urat nadinya mulai putus dan matilah dia pasti.

“Hm, mahluk tak berguna,” damprat orang aneh itu.

Dia berbangkit lalu ayunkan kakinya, plok . . . ditendangnya punggung Pui Tiok hingga pemuda itu terlempar beberapa meter jauh nya.

Tendangan orang aneh itu tepat mengenai jalan darah Jeng-tay-hiat di punggung Pui Tiok. Seketika dari punggung mengalir hawa dingin yang terus mengembang ke seluruh jalan darah dan urat nadi. Pui Tiok merasa seperti dicemplungkan dalam es, Suatu siksa yang cukup hebat.

Tetapi siksaan itu malah berguna bagi Pui Tiok.

Setelah beberapa saat dicekam hawa sedingin es. dia dapat menguap tiga kali dan terasa sebuah arus hawa segar mengembang dalam tubuhnya Setelah hawa segar itu lenyap, dia dapat bernapas seperti biasa lagi.

Pui Tiok berputar tubuh memandang orang aneh itu. Orang itu masih tetap tegak ditempatnya

“terima kasih atas pertolongan anda. Tetapi …. tetapi mengapa engkau mencelakai nona Kwan ?” katanya.

“Engkau melihat setan barangkali”, orang itu tertegun.

“Bukankah tadi engkau bilang, setelah bicara beberapa patah kata, nona Kwan terus tak dapat bicara lagi?” seru Pui Tiok.

Orang aneh itu mendesuh tawa, “Baru saja dia mengatakan kalau cucu perempuan Ceng-te, segera kutamparnya pingsan lalu kusaluri tenaga-dalam untuk menembus jalandarahnya. Agar dalam tujuh hari, tenaga-dalamnya dapat bertambah berlipat ganda. Siapa bilang kalau aku mencelakainya!”

Pui Tiok terkejut gembira, “Katanya.. . kiranya apakah engkau bukan koh-cu (pemilik lembah) sendiri?”

Wajah beku seperti batu dari orang itu tiba-tiba merekah tawa gembira, “Apakah aku ini layak sebagai koh-cu? Menurut engkau, apakah aku ini seperti koh- cu?”

Pui Tiok terkesiap, Bermula dia tak tahu apa maksud orang aneh itu. Tetapi otaknya yang cerdas segera mengerti perasaan orang. Setiap manusia tentu senang dipuji. Maka apa salahnya dia menyanjung puji saja agar orang aneh itu senang.

“Sudah tentu layak sekali,” serunya, “kesaktian anda tak dibawah Ceng-te.”

Mendengar dirinya dipuji, orang aneh itu tertawa senang.

“Tetapi engkau keliru,” katanya, “aku bukan koh cu. Uh, engkau ini memang boleh juga. Biarlah aku yang menanggung supaya engkau tinggal disini beberapa hari, setelah itu baru nanti berunding lagi.”

“Apakah engkau. . . engkau tidak mau membawaku kepada nona Kwan dan koh-cu?”

“Tentu saja akan kubawamu. Tetapi tidak sekarang., Nanti tiga empat hari lagi.”

“Mengapa harus begitu lama?”

Orang aneh itu deliki mata, “Perlu apa engkau banyak tanya? Toh engkau sudah dapat tinggal di­sini? Kalau lapar, dalam telaga itu terdapat jenis ikan yang disebut ciok thau-hi ikan berkepala ba­tu. Sedapnya bukan buatan, lihatlah!”

Sekali melesat orang itu sudah tiba di tepi telaga.

Sekali dia tusukkan jari, air muncrat keatas. Muncratan air itu berisi dua tiga ekor ikan yang masih bergeleparan. Ikan itu ditangkapi de­ngan lengan baju. Setelah mundur beberapa lang­kah baru orang itu lepaskan lengan bajunya dan tiga ekor ikan sebesar kepal tangan berhamburan ke tanah. Pui Tiok heran melihat bentuk ikan itu. Se­perti katak, jelek sekali.

“O, kiranya dalam telaga ini ada ikannya Mengapa permukaan airnya begitu tenang ?” se­runya.

“Ikan itu bersifat diam tak suka bergerak.

Sepanjang tahun mendekam saja seperti batu ma­ka disebut ciok-than-hi.”

Diam-diam Pui Tiok geli. Bukankah orang aneh itu juga serupa dengan ikan batu yang diam saja seperti batu ?

Tetapi dia tak berani tertawa karena kuatir orang itu marah. Dia terus makan ikan itu. Ternyata memang enak sekali.

Sejak hari itu sampai beberapa hari, Pui Tiok berada di samping orang itu untuk melakukan semedhi menyalurkan pernapasan.

Saat itu dia sudah tahu kalau Beng Cu be­rada dengan Koh-cu. Sekalipun belum pernah bertemu koh- cu, tetapi kalau sekarang tokoh seperti Ceng-te saja jeri kepadanya, tentulah koh-cu bu­kan tokoh sembarangan.

Hati Pui Tiok makin tenang dan latihan pernapasannyapun lancar. Ditambah orang aneh itu juga mau memberi saluran tenaga-mumi ketubuh-nya maka banyak sekali Put Tiok memperoleh manfaat yang besar. Dalam 7-8 hari itu, luka dalamnya sudah hampir sembuh sama sekali. Seiring dengan sembuhnya luka, Pui Tiok ma­kin keras keinginannya untuk segera bertemu dengan Beng Cu. Tetapi dia tak berani menanyakan kepa­da orang aneh itu. Diam-diam dia hanya memperhatikan keadaan dalam lembah Itu dan coba-coba mendu­ga kemana dia harus mencari Beng Cu dan koh-cu.

Namun sampai beberapa hari belum juga dia berhasil menemukan apakah ada lain tempat yang dapat menjadi tempat koh-cu menyembunyikan Beng Cu.

Dua hari kemudian, Pui Tiok benar-benar tak da­pat menaban keinginannya lagi, “Apakah koh-cu-jin dan Beng Cu tidak tinggal dalam lembah ini?”

“Tentu saja tinggal di lembah ini, sahut orang aneh itu dingin.

“Kalau benar tinggal di lembah ini, menga­pa. . . aku tak dapat melihat tempat persembunyian mereka?”

“Perlu apa engkau hendak mencari mereka?” tegur orang aneh dengan wajah menggelap.

“Ah. . . tak apa-apa,” cepat Pui Tiok menyahut, hanya saja dengan dia. . nona Kwan sudah la­ma aku tak bertemu. Aku benar-benar terkenang dan ingin bertemu.”

Hm,” dengus orang aneh itu, “waktu engkau datang, aku kan sudah bilang kalau koh-cu sedang menggodok nona Kwan. Ilmu kepandaian nona Kwan akan dihapus lalu diganti dengan ilmu ke­pandaian baru. Saat itu koh-cu sedang sibuk sekali. Kalau tiba- tiba engkau muncul, bukankah berarti engkau hendak mencelakai mereka ?”

Memang Pui Tiok pernah mendengar tentang ilmu menghapus tenaga lama diganti dengan tenaga baru. Tetapi berkat pengalamannya yang luas maka dia dapat menduga bahwa kelak setelah berhasil, Beng Cu tentu akan menjadi manusia baru. Koh-cu tentu akan menyalurkan seluruh tenaganya kepada Beng Cu.

Pui Tiok tenang kembali.
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang Berbunga Dendam Jilid 18"

Post a Comment

close