Pedang Berbunga Dendam Jilid 12

Mode Malam
JILID 12

Coh Hen Hong mempunyai kesan baik terhadap Si tinggi kurus baju Hitam. Oleh karena itu dia tak merasa muak mendengar tawanya yang sinis itu.

lapun tertawa ringan. Dengan gerak laksana daun kering gugur, dia terus melayang turun dari dahan dan dengan tanpa mengeluarkan suara sama sekali. dia sudah tegak di tanah.

Tring!

Ia benturkan kedua pedangnya sehingga menggetarkan dering yang tak berkeputusan, lalu berseru, “Orang yang nyalinya besar memang hanya kecuali kalian berdua, masih ada Thian-san-sam hau

!”

“Saat itu darah Ho Tik yang menyembur pada muka dan pakaian Thian-san-sam hau sudah kering sehinga pakaiannya yang putih berobah warna menjadi merah.

Tetapi wajah mereka tampak pucat. Setelah saling bertukar pandang baru mereka menyahut “Kiranya nona ini dari istana Ceng te kiong. Entah dengan Ceng-te, nona ini pernah apa?”

Bermula Coh Hen Hong hendak merahasiakan dirinya. Tetapi setelah mengeluarkan sepasang pedang Leng-liong-kiam, dia heran mengapa orang terus mengenali dirinya.

Karena sudah terlanjur dikenal maka tanpa tedeng aling2 lagi iapun berseru, “Engkongku.”

Wajah Thian-san-sam-hau makin pucat, seru mereka, “Beberapa tahun dulu, kami pernah bertemu dengan Ceng-te, apakah sekarang dia sehat-sehat saja?”

“Sehat tak kurang suatu apa.”

Thian-san-sam-hau merupakan tokoh persilatan yang dihormati orang. Tatapi saat itu sikap mereka serba aneh. Menilik sikapnya, mereka tampaknya tak mau melanjutkan bertempur dengan Coh Hen Hong. Tetapi karena sudah terlanjur mengeluarkan senjata, kalau bilang tidak jadi bertempur, sukar rasanya mulut mengatakan. Maka untuk beberapa saat, mereka kehilangan faham.

Pada saat itu Auyang Tiong He menyela. “Siau lihiap, ternyata Thian san-sam hau kenal dengan Cengte, ha… ha, orang sendiri hampir saja salah faham. Tak apa, harap siau-lihiap suka menyimpan pedang lagi.”

Mendengar pernyataan itu cepat-cepat Thian-san- sam hau menggunakan kesempatan, serunya, “Auyang piauthau benar. Tolong sampaikan pada Ceng-te, Thian-san-sam-hau menghaturkan hormat !‘

Sambil berkata ketiga jago dari Thian-san itu terus melesat ke belakang. Karena kepandaiaan mereka tinggi maka dalam sekejab saja mereka sudah lenyap dari pandang mata.

Sebenarnya Coh Hen Hong hendak mengejar untuk memaksa mereka menderita malu. Tetapi pada lain kilas ia menimang. Di pesta ulang tahun Ho Tik, dia sudah banyak menimbulkan kegemparan.

Menggantung Pil Lik jiu Tan Thian Song membikin marah tuan rumah sehingga muntah darah dan menderita luka dalam yang parah. Dan membuat sekalian jago-jago lari ketakutan. Hal itu kiranya sudah cukup untuk mengunjuk kewibawaannya. Jika melakukan pembantaian habis habisan, kemungkinan kelak orang persilatan tentu segan dan takut bertemu dengan dia. Siapa tahu karena takut dibunuh, mereka akan berusaha untuk melawan dengan cara terang maupun gelap. Hal Itu tentu tak menguntungkan baginya.

Setelah dipikir-pikir akhirnya Ia memutuskan kali ini lebih baik melepaskan ketiga jago Thian san itu agar memberi kesan kepada kaum persilatan bahwa kelak mereka supaya menghormat dan takut kepadanya.

Coh Hen Hong tak mengejar melainkan tertawa nyaring. Dia menggunakan tenaga dalam untuk tertawa. Selama di Ceng te kiong entah berapa banyak leng yok sian tan (obat mujarab, pil dewa) yang dimakannya. Masih ditambah pula dia sering mendapat saluran tenaga murni dari Cengte. Dengan demikian tenaga dalamnya memang telah mencapai tataran yang tinggi sekali.

Thian-san sam-hau yang sudah berada 2 li jauhnya, sayup-sayup masih mendengar gelak tawa yang nyaring itu. Mau tidak mau mereka terkejut.

Setelah tertawa beberapa saat barulah Coh Hen Hong berkata, “Auyang piauthau, tak apalah, Kasihan kepada kedua saudara yang sudah menunggu lama ini.”

Mendengar Coh Hen Hong hendak cari2 lagi, Auyang Tiong he segera melesat maju, “Siau lihiap, ijinkan aku menghaturkan sedikit kata.”

“Soal apa ?“

Sasterawan baju biru juga maju ke hadapan Coh Hen Hong dan memberi hormat, “Ilmu kepandaian lihiap benar-benar seperti malaekat dari langit. Aku yang rendah beruntung sekali hari ini dapat bertemu, benar-benar merupakan peristiwa yang paling menggembirakan dalam kehidupan.”

Sikap, wajah dan kata-kata si sasterawan yang sopan menarik telah menimbulkan makin besarnya simpathi Coh Hen Hong, “Betulkah? Siapakah nama besar anda ?“

Sebelum sasterawan membuka mulut, Auyang Tiong He sudah mendahului, “Siau-lihiap, ijinkan aku menghaturkan sedikit kata.” Rupanya Coh Hen Hong tak sabar “Engkau hendak bicara apa, bilang saja, mengapa harus minta ijin segala ?“

Auyang Tiong He juga seorang piauthau ternama.

Mana dia pernah menderita perlakuan begitu dari orang?

Auyang Tiong He sebentar merah sebentar pucat mukanya. Namun dia dapat menahan perasaannya dan berkata pula, “Siau lihiap tahukah engkau siapa kedua orang itu?”

Sasterawan baju biru tertawa ringan, “Ah, rasanya tak perlu Auyang piauthau memperkenalkan biar kami sendiri yang mengatakan.”

Auyang Tiong He mendengus dan tak bicara lagi. “Aku yang rendah orang she Hong nama tungal Jui.

Orang persilatan memanggil Kiau long kun.” Kiau-long

kun artinya Cowok cakep.

Coh Hen Hong hanya tertawa tak bicara apa-apa.

Diam-diam dia berpikir, ah, kiranya benar si Kiau long kun, sunguh tak bernama kosong.

Setelah memperkenalkan diri, Hong Jui menunjuk pada kawannya si tinggi kurus. berpakaian hitam, memperkenalkan, “Dan dia adalah sahabat baikku. Dia jarang datang ke Tiong-goan. Dia sibuk sebagai pemimpin pulau Hek sat to di laut Pai-hay, namanya Hek sat sing Im Thian Su !”

“O, sudah lama aku mengagumi nama anda,” seru Coh Hen Hong. Tadi dia bertingkah sombong memang supaya menarik perhatian tokoh-tokoh sakti. Makin banyak jago-jago yang berkepandaian tinggi berada di situ, makin baik. Ternyata Hek-sat sing Im Thian Su juga ada. Suatu hal yang amat menggembirakan hati Coh Hen Hong.

Im Thian Su juga memberi hormat, “Siapakah nama lihiap yang mulia ?”

Sambil keliarkan mata, Coh Hen Hong mengatakan, “Aku bernarna Kwan Beng Cu.”

Waktu menyebutkan namanya itu sudah tentu Auyang Tiong He, Hong Jui dan Im Thian Su tidak merasa kaget. Tetapi di luar dugaan ternyata masih ada lain orang lagi yang bersembunyi di atas sebatang pohon yang terpisah tiga empat tombak jauhnya.

Orang itu terdiri dari sepasang pria dan wanita. Waktu mendengar nama Kwan Beng Cu, tubuh mereka menggigil.

Kedua orang itu ternyata adalah yang mukanya mengenakan topeng tadi. Setelah bergegas pergi, diam-diam mereka menyelinap balik. Saat itu kebetulan sekalian hadirin yang berebut menyingkir karena melihat Cob Hen Hong dan Thian-san-sam-hau siap2 bertempur dengan senjata.

Dalam kesempatan dimana orang sedang kelabakan hendak menyingkir, kedua orang bertopeng itu segera menyusup dan loncat bersembunyi di atas pohon.

Yang wanita rupanya hendak membuka mulut tetapi cepat didekap mulutnya oleh tangan si pria. Keduanya bersembunyi mendekam diatas dahan Mereka mencurahkan perhatian untuk mengikuti perkembangan di bawah.

“Telah lama kudengar bahwa ilmu kepandaian Im tocu itu luar biasa hebatnya. Sekarang setelah bertemu, aku baru membuktikan kebenarannya. Ah, sungguh beruntung aku dapat bertemu” kata Coh Hen Hong.

Im Thian Su tertawa, Ah, mana aku berani menerima pujian lihiap, Apa sih namaku itu kalau dibanding dengan kebesaran Ceng te-kiong ?

“Kalau tak salah kemungkinan nona baru saja meninggalkan Ceng-te-kiong, bukan ?“ tanya Kiau long kun Hong Jui.

“Benar. maka waktu bertemu dengan para kojiu sekalian, aku tak kenal,” sahut Coh Hen hong

Hong Jui tertawa, nona Kwan, dihadapanmu mana ada apa yang disebut ko-jiu dunia persilatan lagi?

Sekira nona tidak menolak, aku hendak memberanikan diri, akan menyediakan diri dibawah perintah cambuk nona Kwan.”

Belum pernah Coh Hen Hong mendengar rangkaian kata-kata yang seindah itu. Kata-kata yang sedap di dengar itu, tentu menyentuh hati orang. Mendengar itu Coh Hen Hongpun menjawab, “Ah mana aku berani merepotkan anda. Aku sudah minta Auyang piauthau untuk menemani aku, menerangkan segala seluk beluk dalam dunia persilatan.”

Dengan wajah berseri-seri berkatalah Hong Jui. ‘Nona Kwan. itu kurang benar. Auyang piauthau seorang tokoh ternama, sudah tentu pengalamannya luas. Tetapi nona bersama dia mungkin nona takkan mendapat apa yang nona inginkan.”

Sambil berkata, Hong Jui melirik Auyang Tiong He. Dan Auyang Tiong He tampak terkejut sekali. Memang waktu mendapatkan Hong Jui dan Im Thian Su masih tetap berada disitu, diam-diam Auyang Tiong He sudah mengeluh.

Dia tahu kedua orang itu manusia-sia yang ganas dan sadis. Kalau Coh Hen Hong tak hati-hati dan sampai menurut omongan mereka, tentu akan menimbulkan peristiwa yang mengerikan.

Auyang Tiong He segera hendak minta bicara Untuk menerangkan siapa sebenarnya kedua orang itu.

Tetapi Coh Hen Hong menolak. Dan sekarang setelah Hong Jui begitu, Lalu dia bisa berbuat apa?

“Siau-lihiap, hal ini….“ dengan gugup Auyang Tiong He segera hendak memberi penjelasan.

Tetapi Coh Hen Hong berwatak membawa kemauannya sendiri. Dan karena telah terbius oleh kata-kata Hong Jui. sudah tentu dia tak mau mendengar perkataan lain orang lalu Cepat dia menukas ,”Auyang piauthau, itu bukan urusanmu. Silahkan engkau pergi !”

“Aku …. aku . . “

“Engkau bagaimana?” seru Coh Hen Hong dengan wajah gelap, “apakah ingin seperti Tan Thian Song, minta digantung? Panji Delapan rajawali itu harap engkau menyimpannya baik-baik.” 

Auyang Tiong He hanya dapat menghela napas tak berani berkata apa-apa. Dia berputar tubuh terus angkat kaki.

Coh Hen Hong hanya tertawa gelak-gelak lalu melambai kearah jit Ci siansu, “Murid, engkau kemarilah!”

Jit Ci segera melangkah menghampiri, “Sucun hendak memberi perintah apa?”

Coh Hen Hong tertawa mengekeh, “Engkau jalan dimuka untuk mencarikan jalan.”

Jit Ci siansu terkesiap. Selama hidup sampai setua ini, bilakah dia pernah menjadi petugas yang mencarikan jalan. Sesaat dia tertegun tak dapat bicara.

“Bagaimana? Apa tidak mau?” desah Coh Hen Hong.

Adalah demi mempelajari ilmu jari sakti yang membuat hatinya tersengsam sekali, dia terpaksa menurut. Kalau tidak begitu bagaimana seorang tokoh tua yang kedudukan dan kepandaiannya begitu tinggi seperti dia, sudi menjadi murid dari Coh Hen Hong.

“Baik, murid akan melakukan perintah” melihat Coh Hen Hong marah, Jit Ci siansu gopoh menjawab.

Dia terus berputar tubuh dan melangkah ke muka sembari mulut tak henti-hentinya berteriak, “Mingir, hayo minggir semua ! Tokoh ilmu jari sakti nomor satu di dunia akan lewat !” Melihat seorang tokoh hebat seperti Jit Ci siansu bukan saja mau menjadi murid, pun juga mau menjadi perintis jalan. Coh Hen Hong gembira sekali dan tertawa gelak-gelak. Setelah itu dia bersiul memangil kudanya.

Begitu dia naik kuda, Im Thian Su dan Hong Jui sejenak saling bertukar pandang lalu sama-sama mengeluarkan ilmu lari cepat. Yang satu di kanan dan satu di kiri, mengawal di samping kuda Coh Hen Hong.

Cepat sekali Coh Hen Hong dengan ketiga pengawalnya itu berlari, dalam beberapa kejab mereka sudah lenyap dari pandang mata.

Setelah mereka pergi, Auyang Tiong he menghampiri ke pohon tempat Tan Thian Siong digantung. Dia segera menurunkan tubuh tokoh itu dan memberi pertolongan seperlunya.

Wajah Tan Thian Song tampak pucat sekali. Auyang Tiong He tahu kalau jago itu sedang menderita batin yang hebat. Dia hendak menghiburnya tetapi tak tahu harus memulai dari mana. Maka dia hanya menghela napas.

Setelah ikatan tangan dan kakinya dibuka, Tan Thian Song pun berdiri. Tanpa bicara apa-apa dia ayunkan langkah.

“Thian Song heng, bagaimana kalau kita masuk beristirahat di dalam dulu?” seru Auyang Tiong He,

Tan Thian Song sejenak berhenti lalu tertawa rawan, “Auyang piauthau, kurasa…. kurasa. Tidak….” Belum habis dia bicara, tubuhnya terguncang dan huak…. mulutnya menyembur darah segar.

Tan Thian Song berwatak berangasan. Adaikata dia mati ditangan musuh, tak nanti dia akan kerutkan dahi karena dicengkam perasaan takut. Tetapi kali ini dia tidak mati melainkan menderita hinaan yang luar

biasa memalukan.

Tuan rumah Ho Tik karena tak berhasil menolong Tan Thian Song, karena marah juga muntah darah. Apalagi dia yang digantung dihadapan sekian banyak orang persilatan. Bagaimana derita perasaannya. sukar dilukiskan.

Sebab muntah darah, tubuhnya gemetar keras.

Melihat itu Auyang Tiong He terkejut dan cepat loncat menghampiri, menyanggapi tubuh orang itu, “Thian Song-heng, Thian Song heng!”

Tepat pada saat Itu dari atas pohon besar yang tak berapa jauh dari tempat situ, dua sosok tubuh susul menyusul melayang turun.

Saat itu Auyang Tiong He sedang gugup, Dia makin kaget melihat dua sosok tubuh melayang keluar dari atas pohon. Dia berpaling dan melihat yang muncul itu seorang pria dan seorang wanita muda.

Kedua orang itu mukanya tertutup topeng. Auyang Tiong He segera mengenali, lelaki bertopeng itu adalah orang yang menasehati agar Coh Hen Hong jangan bertindak sewenang-wenang. Dia lega pikirannya. Sebelah tangannya yang memegang ulu punggung Tan Thian Song, merasa kalau sim, meh (jantung) Tan Thian Song makin lemah. Tak mungkin dia seorang dapat menolong nya.

“Sahabat, lekas kemari. Keadaan Pik lik-jiu gawat sekali,” cepat dia berseru kepada kedua orang itu.

Kedua orang itu dengan cepat lari menghampiri kemuka Tan Thian Song. Yang pria menghela napas lalu cepat mengambil sebuah botol kecil dari bajuya.

Botol yang terbuat dari tembikar itui hanya sebesar kepal tangan bayi, putih bersih dan bergambar macam-macam bunga yang indah.

Pengetahuan Auyang Tong he memang luas sekali.

Begitu melihat botol kecil, dia terkejut, serunya, “Kalian…. kalian dengan Peh-hoa kau mempunyai hubungan apa?”

Kedua pria dan wanita muda itu tak mau menyahut. Si pria hanya membuka sumbat botol dan menuang ke luar sebutir pil warna hijau ke biru-biruan. Hawanya yang harum, menyerbak hidung. Terasa menyegarkan semangat.

Auyang Tioug He girang sekali, “Peh hoa tan !“ serunya gembira.

Peh-hoa tan adalah pil buatan dari ketua Peh-hoa- kau sendiri. Mengambil seratus macam bunga untuk dijadikan ramuannya. Khasiatnya bukan olah2. Untuk mendapatkan sebutir pil itu kaum persilatan harus menderita kesukaran yang hebat.

Walaupun dengan minum pil mujarab itu, luka Tan Thian Song takkan serentak sembuh tetapi sekurang- kurangnya tak sampai bertambah makin parah. Sembuhnya pelahan lahan.

Pria itu lalu memasukkan pil itu ke mulut Tan Thian Song. Tetapi Tan Thian Song deliki mata kepada pria itu dan mengatupkan mulut erat-erat tak mau menelan

“Tan cianpwe,” kata pria bertopeng itu, luka agak parah. Pil ini akan banyak membantumu ! Tan Thian Song sedang marah, ditambah pula dia mendongkol dengan pria itu maka darah mengalir pula dari mulutnya. Dengan tersendat-sendat dia malah memaki maki, “Aku….. lebih baik mati daripada minum obat milik…. lokoay. Saat Itu Auyang Tiong He baru menyadari kalau dia terburu nafsu bergembira. Tan Thian Song mempunyai dendam dengan ketua Peh- hoa kau Keduanya saling bermusuhan. Menilik sifat Tan Thian Song, walaupun jiwanya terancam bahaya tetapi dia tentu tak mau menerima pertolongan dari Peh-hoa kau.

Auyang Tiong He hendak memberi nasehat. Tetapi setelah selesai berkata, Tan Thian Song rupanya sudah kehabisan napas. Wajahnya pelahan lahan berobah warnanya. Sepasang mata terbalik. Lebih kurang sepeminuman teh lamanya, kerongkongannya mengeluarkan bunyi bergemerutuk dan setelah itu putuslah jiwanya,

Auyang Tiong He menghela napas panjang. Dia hati-hati meletakkan tubuh Tan Thian Song lalu berkata, “Dunia persilatan segera akan dilanda mala petaka !” Dalam mengucapkan kata-kata nadanya amat mengharukan sekali. Hal itu dapat dimaklumi. Karena walaupun belum lama bergaul dengan Coh Hen Hong tetapi dia tahu bagaimana peribadi nona Itu. Dengan memiliki kepandaian yang begitu sakti, Coh Hen Hong akan merupakan naga betina yang dapat menjungkir- balikkan langit dengan bumi.

Dia merasa mulai detik itu, siapa yang tunduk pada Coh Hen Hong tentu selamat, yang berani menentang tentu mati. Bagig adis itu tidak ada nalar dan kompromi lagi. Rawe2 rantas, malang2 putung.

Pria bertopeng itu juga menghela napas, “Auyang piauthau, aku hendak mohon tanya.”

“Soal apa?”

“Ceng-te-kong itu sebenarnya terletak dimana?

Dengan pengetahuan dan pengalaman Auyang piauthau yang luas, tentulah mengetahuinya !

Sama sekali Auyang Tiong he tidak menyangka kalau pria itu akan melontarkan pertanyaan begitu.

Istana Ceng te-kiong berada di mana, benar-benar merupakan hal yang misterius dalam dunia persilatan.

Dulu pernah ada orang yang hendak mencari istana Ceng te-kiong itu. walau orang hendak mencari Cengte secara diam-diam, itu masih tak apa. Tetapi jika dia berani menyatakan hal itu secara terang- terangan tentu tak berapa lama dia akan mati.

Demikiaanpun nasib yang dialami orang itu. Maka lama kelamaan tak ada lagi orang yang berani menyebut nyebut nama Ceng te kiong. Apalagi mengatakan hendak mencari tempat itu.

itulah sebabnya maka Auyang Tiong He terkejut sekali mendengar pertanyaan pria bertopeng itu.

Sejenak terbeliak dia gopoh menjawab, “Soal itu….aku tak tahu. Dan lagi lebih baik anda jangan bertanya kepada orang..”

Pria itu gelengkan kepala, “Tidak, Auyang piauthau. Apa yang telah terjadi tadi, engkau juga menyaksikan. Sejak detik ini, apakah dunia persilatan akan dapat mengenyam hari2 yang tenang lagi”

Auyang Tiong He sendiri meskipun belum pernah kesalahan pada Coh Hen Hong dan lagi masih memperoleh sebuah panji Pat eng-ki. itu berarti, malapetaka apa saja yang akan terjadi dalam dunia persilatan, semuanya tiada sangkut paut dengan dirinya.

Tetapi dia seorang ksatrya yang berbudi. Jika kawan persilatan menderita bencana, diapun merasa sedih. Maka ketika mendengar ucapan orang bertopeng itu, diapun tak dapat bicara apa-apa.

Setelah sesaat termangu, baru dia dapat berkata, “Atau…. atau mungkinkah memang harus terjadi malapetaka itu?”

Orang bertopeng ber bisik, “Auyang piauthau terus terang kukatakan kepadamu. Kalau saja kita tahu Ceng-te-kiong itu berada di mana, bencana dari dunia persilatan tentu dapat dilenyapkan..” “Mengapa begitu?”

Sepasang pria wanita bertopeng saling bertukar pandang. Berkata pria yang bertopeng, “Liku-liku persoalan itu, sukar diterangkan. Dan lagi memang tak boleh dikatakan kepada orang luar. Ringkasnya, kalau musuh sampai tahu asal usul kami, kami pasti mati.”

Sebagai seorang persilatan yang banyak makan asam garam dunia persilatan. Auyang Tiong he mendapatkan bahwa kedua orang itu memang bicara dengan serius dan bahwa memang mereka sukar untuk mengatakan secara terus terang. Maka walaupun hati kepingin, tetapi dia dapat menahan diri untuk tidak mendesak lebih lanjut.

Auyang Tiong He hanya tertawa ringan, “Jika anda berdua ingin tahu di mana letak istana Ceng te-kiong itu, maaf, aku benar-benar tak tahu.”

“Dengan pengalaman Auyang piauthau begitu luas, masa sedikit keterangan saja tak dapat memberi tahu?” desak pria bertopeng.

Auyang Tiong He kerutkan sepasang alis Dia mondar-mandir sambil menggendong kedua tangan. Beberapa saat kemudian tiba-tiba dia berteriak, “Hai benar. Menang ada sedikit jejaknya tetapi aku tak tahu pasti apakah akan dapat menemukan tempat istana itu.”

“Silahkan bilang, Auyang piauthau” cepat si pria bertopeng mendesak. “Beberapa tahun yang lalu,” kata Auyang Tiong he, “ketika aku lewat di Celam, aku menyusur jalan besar untuk berkunjung pada Thay san sin-to Po Seng tayhiap. Di rumahnya aku bertemu dengan seorang kojiu yaitu salah seorang tiang-lo (sesepuh) dari perkumpulan Pay kau dl Kiangse. Dia meninggalkan perkumpulannya dan berkelana beberapa waktu di dunia persilatan, yalah Tok-ih-ki-su (pertapa Baju beracun) Seng Kun yang nyentrik perangainya.”

Ternyata pria bertopeng itu juga banyak sekali pengetahuannya tentang tokoh-tokoh dunia persilatan, Mendengar nama Tok-ih-ki-su Seng Kun, dia terkejut dan berteriak tertahan, ‘Seng Kun?

Apakah bukan tokoh yang tiba-tiba lenyap tetapi beberapa tahun kemudian muncul sekali lagi di dunia persilatan membasmi seluruh warga tiga perguruan di daerah Jwan-se. lalu setelah itu menghilang lagi?”

“Benar memang dia,” sahut Auyang Tiong He.

Kabarnya,” kata pria bertopeng, “karena ketiga partai persilatan itu tak dapat melaksanakan permintaan Ceng-te-kiong Jika begitu, tentulah Song Kun itu sudah jadi anak buah Ceng te kiog, bukan?”

“Benar,” Auyang Tiong He mengangguk, “waktu Song Kun muncul lagi untuk yang terakhir kalinya, dunia persilatan memang menduga begitu. oleh karena itu ketika bertemu dia dirumah Lim tayhiap, aku merasa kikuk sekali. itu waktu karena sudah bersahabat baik dengan Lim tayhiap maka terus masuk ke dalam rumahnya tanpa permisi lagi. Saat itu kudengar Lim tayhiap sedang asyik bicara dengan Song Kun. Waktu melihat kedatanganku, mereka menjadi plengasan. 

“Lalu selanjutnya?”

“Sudah tentu dalam keadaan seperti saat itu, kami bertiga memang tak leluasa untuk bicara. Setelah menutup kejutku dengan tertawa gelak, aku mencari alasan. Mengatakan karena masih ada urusan penting maka aku lantas pamit”

“Hanya saja,” kata Auyang Tiong He pula, “kuatir kalau Seng Kum akan berbuat sesuatu yang tak baik terhadap Limn tayhiap maka setiba di luar aku kembali lagi secara diam-diam, untuk mencuri dengar pembicaraan mereka. Kudengar Lim tayhiap bertanya kepada Seng Kum Waktu meningalkan Ceng-te-kiong apakah terjamin keselamatan jiwa kalian?

“Waktu itu Seng Kun hanya menghela napas, “Apa boleh buat. terpaksa aku harus sembunyi.”

“Mendengar apa maksud kunjungan Seng Kun kepada Lim tayhiap itu bukan bermaksud buruk,maka aku tak mau mendengarkan lebih lanjut dan terus pergi.”

“Apakah selanjutnya Auyang piauthau tak, pernah bertemu dengan Seng Kun lagi ?“ tanya pria bertopeng.

Auyang Tiong He gelengkan kepala,”Tidak tidak pernah bertemu lagi. Tetapi pernah beberapa kali bertemu dengan Lim Po Seng tayhiap. Setiap kali kutanyakan diri Seng Kun, Lim tayhiap selalu mengalihkan kepada lain soal. Sudah tentu aku juga sungkan untuk mendesaknya.” Tiba-tiba terdengar wanita muda yang bertopeng menghela napas, “Ah, apa gunanya hal itu,”

Menilik suaranya jelas wanita itu tentu masih muda sekali.

“Memang tak banyak gunanya,” sahut Auyang Tiong He, “tetapi beberapa tahun yang lain Seng Kun telah meninggalkan Ceng-te-kiong. Dia tentu tahu dimana letak istana itu. Dan Seng Kum itu bersahabat baik dengan Lim Po Seng. Kalau kalian bisa mendapat keterangan dari Lim Po Seng tentang tempat itu, bukankah kalian akan memperoleh petunjuk berharga dimana sebenarnya letak istana yang tak ubah seperti khayalan dalam dongeng?”

sambil mendengarkan, pria bertopeng mengangguk.

Sekalipun tidak gampang untuk bertemu dengan Golok-sakti Lim Po Seng tetapi paling tidak ada setitik cahaya cerah.

Pria bertopeng memberi hormat, “Terima kasih atas petunjuk Auyang piauthau.”

dia lalu mengajak kawannya pergi. Sambil mengantar pandang kepada kedua pria wanita itu diam-diam Auyang Tiong He berkata seorang diri, “Kedua orang itu orang Peh-hoa-kau, entah mereka mempunyai daya apa untuk mencegah banjir darah di dunia persilatan nanti ?

Sebenarnya dia hendak masuk kedalam rumah Ho Tik untuk menghiburnya tetapi pada lain saat dia berpikir walaupun peristiwa itu ada sangkut pautnya dengan dis tetapi karena Coh Hen Hong itu dia yang membawa, lebih baik dia tak usah terlibat. Maka setelah menghela napas, dia terus ayunkan langkah mengejar rombongan kereta barang.

Sekarang mari kita ikuti perjalanan sepasang pria wanita itu. Setelah keluar dari kota, dan lari sejauh 10-an li, tibalah mereka disebuah gunung yang sunyi. Mereka berhenti.

“Pui toako, itu jelas dianya,” begitu beristirahat, si wanita terus gopoh berkata.

Si pria mengangguk lalu menghela napas. “Pui toako, dulu waktu mencuri pedang pusaka Ceng-leng kiam, dia tentu memalsu jadi aku dan menuju ke Ceng-te kiong. Karena engkong belum pernah melihat aku, tentu saja sukar untuk membedakan mana yang

tulen dan mana yang palsu. Dalam beberapa tahun ini, dia telah berhasil menerima pelajaran ilmu silat sakti dari engkong “ kata si wanita.

Pria itu menghela napas lalu meraba telinganya.

Telinganya berhias beberapa bekas luka. Itulah luka2 yang diberikan Coh Hen Hong dengan tusukan pedang.

Tentulah pembaca sudah dapat menebak sendiri siapakah kedua orang bertopeng itu. Benar memang yang pria tak lain adalah putera dari ketua Peh-hoa- kau yaitu Pui Tiok dan yang wanita adalah Kwan Beng Cu.

Selama di Peh hoa nia, ketua Peh-hoa-kau, Peh Hoa lokoay, telah menggembleng keduanya dengan ilmu silat yang hebat sehingga kini mereka memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. 

Tetapi betapapun sakti kepandaian dari ketua Peh- hoa-kau itu karena sumbernya dari kitab ih-su-keng maka masih kalah Sakti dengan ilmu kepandaian dari Ceng-te kiong.

Hal itu disadari oleh Peh Hoa lokoay. Maka selama bertahun tahun ini dia selalu menyembunyikan gerak geriknya, tak mau unjuk pengaruh.

Sebenarnya menurut peraturan Peh-hoa-kau, setiap tiga tahun tentu diadakan pesta besar dari seluruh pendekar2 ternama, Tetapi sudah dua kali berturut turut (enam tahun) pesta itu tak pernah diselenggarakan lagi.

Selama bertahun-tahun itu Peh Hua lokoay melarang puteranya dan Kwan Beng Cu keluar dari Peh-hoa nia. Tetapi setengah tahun yang lalu, terjadilah musibah dimana secara tak terduga2 Peh Hoa lokoay telah menderita co-hwe-jip-mo atau peredaran-darah yang sesat dalam tubuhnya.

Dalam keadaan gawat seperti itu terpaksa Peh Hoa lokoay suruh orang untuk memanggil Pui Tiok dan Kwan Beng Cu.

Waktu dimasukkan dalam kurungan secara terpisah, Kwan Beng Cu masih seorang gadis cilik Tetapi kini dia telah tumbuh menjadi seorang dara yang cantik jelita. Waktu berjumpa, Pui Tiok merasa tak kenal.

Setelah menderita Co hwe-jip-mo, tubuh Peh Hoa lokoay tak dapat berkutik tetapi masih dapat bicara. Dia menyambut kedatangan Pui Tiok dan Kwan Beng Cu dengan helaan napas dalam.

“Tiok-ji dan nona Beng Cu,” katanya rawan, sungguh naas aku telah menderita Co hwe-jip-mo. Tetapi hal ini jangan sekali kali sampai tersiar keluar. Sekali orang luar tahu, orang-orang yang dulu pernah bermusuhan dengan aku, tentu akan ber bondong- bondong datang untuk menuntut balas kepadaku.

Oleh karena itu urusan kalian, terpaksa secara sederhana saja.”

Pui Tiok dan Beng Cu tahu bahwa yang dimaksud dengan ‘urusan” itu adalah soal pernikahan mereka. Wajah Beng Cu tersipu merah dan menunduk.

Sejenak memandang pada Beng Cu, timbullah suatu perasaan aneh dalam hati Pui Tiok, Diam-diam dia merasa geli juga. Urusan dunia banyak perobahan yang sukar diduga lebih dulu.

Beberapa tahun dulu ketika ayahnya menetapkan bahwa setelah nanti pelajaran mereka selesai dan boleh keluar dari kurungan, dia harus menikah dengan Kwan Beng Cu, Pui Tiok merasa enggan. Bahkan selama dalam pusat latihan Itu dia selalu mencari akal bagaimana kelak dapat menolak keputusan ayahnya, Tetapi kini setelah melihat Kwan Beng Cu, dia cepat- cepat membuang jauh rencananya itu semua. Dia benar-benar mau menerima keputusan ayahnya itu.

Bahkan kalau ayah nya membatalkan, dia akan berkeras meminta supaya pernikahan itu dijadikan.

“Yah, urusan kami, terlambat beberapa waktu juga tak apa,” kata Pui Tiok, “toh sekarang belum sampai perjanjian waktu yang engkau katakan Tetapi yang penting, engkau sendiri telah….”

“Ya,” cepat Peh Hoa lokoay menukas, “aku telah menderita Co hwe jip-mo, apa daya?

“Yah, kata orang ilmu Bu-siang sinkang dari kalangan agama, sakti sekali. Dapat menembus jalan darah yang terkena Co-hwe-jip mo. Bukan saja dapat menyembuhkan pun bahkan dapat menambah tenaganya makin sakti”

“Cukup,” tukas Peh Hoa lokoay, kalau engkau saja sudah tahu, bagaimana aku tidak lebih tahu ?“

“Jika begitu ijinkanlah aku bersama Beng Cu menemui Kiu Hun cujin di vihara Leng-siau kiong gunung Bu-tong-san. Kalau beliau mau datang kemari, engkau tentu ada harapan.”

Peh Hoa lokoay tertawa gelak, “Jangan engkau berhayal. Aku tak punya hubungan dengan Kiu Hun cinjin. Dan mereka adalah golongan Ceng pay. Mereka menganggap kita sebagai golongan dan aliran lain.

Percuma saja engkau pergi kalian toh hanya akan menderita hinaan.”

“Sekalipun menerima hinaan,” jawab Pui Tio “toh tak apa Beberapa tahun yang lalu, fihak Leng-siau kiong juga pernah mengirim orang untuk menghadiri pesta kita. Aku kenal dengan beberapa orang mereka. Tiada jeleknya kalau kukesana mencobanya.”

Peh Hoa lokoay tertawa aneh, “Bilang terus terang saja, apakah tujuanmu itu benar-benar hanya untuk kepentinganku ?“ 

Pui Tiok juga tertawa. “Yah dalam soal apa saja mana aku dapat mengelabuhi engkau? Memang sebagian untuk kepentingan mu, walaupun kemungkinannya tipis tetapi aku tetap akan mengadu untung. Dan sebagian lagi untuk kepentingan kami berdua. Selama mengasingan diri beberapa tahun ini, kami merasa kesepian sekali.”

Peh hoa lokoay tertawa gelak-gelak. Tetapi pada lain saat wajahnya mengerut serius, “Kalian ingin pergi ke Tiong-goan, sebenarnya boleh2 saja. Memang orang setelah memiliki ilmu silat harus berkelana untuk menambah pengalaman. Tetapi kalian harus ingat beberapa hal,”

“Sukalah ayah memberi tahu,” Pui Tiok gembira.

“Pertama, jangan sekali kali mengatakan kepada orang bahwa sekarang aku sedang menderita Co-hwe- jip mo.”

“Tentu saja takkan kukatakan.”

“Kedua, kalian tak boleh mengatakan siapa diri kalian. Lebih baik memakai kerudung atau topeng. Dan jangan timbulkan onar di jalanan. Yang penting saja yang dikerjakan, setelah selesai harus cepat- cepat pulang,”

“Ya, kami mengerti. yah,”

Peh Hoa lokoay menghela napas, “Dan terakhir, kepergian kalian ke Tiong-goan kali ini, sekalian boleh mendengarkan bagaimana keadaan Ceng-te kiong dalam beberapa tahun ini,. Tetapi jangan sampai kentara.

Pui Tiok dan Kwan Beng Cu saling tukar pandangan dan keduanya serempak mengiakan. Begitulah mereka segera pamit dan tinggalkan Peh Hoa nia.

Kini sudah setengah tahun lamanya mereka pergi dari Peh hoa-nia. Sebulan yang lalu mereka tiba di gunung Bu-tong-san tetapi Kiu Hun totiang sedang keluar berkelana, entah kapan pulangnya.

Apa boleh buat, kedua anakmuda itu lalu berkelana tanpa tujuan tertentu. Mana tempat yang ramai, kesanalah mereka pergi. Itulah sebabnya maka mereka juga ikut berkunjung dalam pesta ulang tahun Ho Tik. Sungguh tak dinyana-nyana di tempat Ho Tik, mereka telah bertemu dengan musuh lama (Coh Hen Hong).

Sebenarnya karena tak dapat menahan perasaan, Pui Tiok terus hendak tampil dan menelanjangi Coh Hen Hong. Tetapi pada lain saat dia menimang. Kalau Coh Hen Hong sampai tahu siapa dirinya, tentulah akan membunuhnya. Oleh karena itu dia mengajak Kwan Beng Cu lari.

Sekarang mereka beristirahat di sebuah gua dan membicarakan Coh Hen Hong.

“Bing Cu,” kata Pui Tiok, “kurasa lebih baik kita cari istana Ceng-te-kiong dan menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya kepada Cengte.” “Pui toako,” jawab Beng Cu,” andaikata kita berhasil mencari Ceng-te-kiong dan menemui Cengte, tetapi apa manfaatnya?”

Pui Tiok terkesiap, “Apa maksudmu?”

Beng Cu menghela napas “Telah kukatakan kalau aku tak pernah bertemu engkong. Dan aku telah kehilangan pedang Ceng-leng-kiam Dalam pada itu beberapa tahun yang lalu telah muncul seorang anak perempuan yang mengaku sebagai diriku. Kalau berhadapan dengan Ceng-te, bukti apakah yang dapat kuberikan bahwa aku ini cucunya?”

Mendengar itu Pui Tiok tertegun. Dia seorang pemuda yang tajam otaknya. Waktu dulu memasuki kediaman Kwan Pek Hong hanya karena ilmu kepandaiannya kalah usahanya gagal. Tetapi dalam soal keberanian dan kecerdikan, dia memang menonjol sekali.

Namun waktu mendengar keterangan Beng Cu dia benar-benar tak berkutik. Menilik kepandaian Coh Hen Hong yang begitu sakti. jelas selama berapa tahun ini Cengte sangat sayang kepadanya, tak ada bukti yang meyakinkan, bagai mana mungkin akan meyakinkan Cengte bahwa dara yang selama bertahun-tahun mengaku sebagai

cucunya itu ternyata palsu?

Karena Pui Tiok diam, Beng Cu pun tak punya daya apa-apa lagi. Dia tertawa rawan, “Pui toako, kurasa….kurasa kita …. lebih baik pulang ke Peh-hoa nia saja.” Pui Tiok gelengkan kepala, “Tidak. Kalau kita tidak berjuang keras, kalau kita tak mau tampil, dunia tentu takkan ada orang tahu kalau dia itu palsu. Dengan begitu dia tetap dapat malang melintang menguasai dunia, persilatan.

“Tetapi….tetapi apa daya kita?”

“Tetap seperti yang kukatakan tadi. Kita menuju Ceng-te-kiong. Tak peduli engkongmu percaya atau tidak, kita tetap ke sana, walaupun tipis tetapi masih ada harapan Kalau tidak kesana, ludaslah seluruh harapan kita.”

Habis berkata Pui Tiok gentakkan kaki ke tanah dan bertanya, “Beng Cu, bagaimana, kata kataku itu benar atau tidak ?”

“Ya, benar,” Beng Cu tertawa pudar.

Pui Tiok memegang tangan gadis itu erat2, katanya, “Engkau adalah cucu perempuan dari Cengte, merupakan keluarga yang paling dekat. Menilik ilmusilat Ceng-te Itu sakti tiada lawan, kurasa dia tentu seorang yang tajam pikirannya. tentu dia dapat menimbang dan tak mungkin hanya percaya pada pengakuan sepihak saja.”

Beng Cu mengangguk “Engkau benar. Mungkin aku yang banyak keraguan.”

Dalam beberapa tahun ini Pui Tiok mendapatkan Kwan Beng Cu itu seorang gadis yang lemah lembut dan penurut. Hal itu mungkin karena selama bertahun-tahun diasingkan di Peh hoa-nia, “Coh Hen Hong bersama Im Thian Su dan Hong Jui, tentu akan menimbulkan huru hara. Kita tidak boleh ayal, mari lekas-lekas menemui Lim tayhiap di Celam.”

Mereka lalu berangkat. Setelah mencapai jarak dua tiga puluh li, mereka membeli dua ekor kuda yang lebih tegar lalu melanjutkan perjalanan,

Pada hari kedua mereka sudah mendengar berita dikalangan orang persilatan tentang peristiwa yang terjadi di kediaman Ho Tik.

Memang sudah umum, setiap berita itu kalau sudah tersiar luas tentu akan mendapat tambahan bumbu yang sering berlebih-lebihan. Maka tak heran kalau Coh Hen Hong digambarkan sebagai pendekar wanita yang tak ada lawannya lagi dalam dunia persilatan.

selama menempuh perjalanan ke Celam-hu, Sepanjang perjalanan mereka mendengar tentang berita mengenai Coh Hen Hong. Tetapi mereka tidak menyebut nama Coh Hen Hong, melainkan seorang lihiap (pendekar wanita) dari istana Ceng-te-kiong, telah menggantung Tan Thian Song, melukai tuan rumah Ho Tik dan membuat tiga jago kembar dari Thay san melarikan diri.

Begitu sok-tahu orang-orang yang bercerita itu seolah-olah mereka menyaksikan sendiri. Padahal para tetamu yang melihat kejadian pada waktu itu, tak berani bercerita. Mereka sibuk pulang dan membenahi diri karena takut kalau2 orang dari Ceng te kiong akan datang mencari mereka. Tetapi Pui Tiok dan Kwan Beng Cu makin banyak mendengar cerita2 tentang Coh hen Hong. Gadis dari Ceng-te-kiong itu telah membakar perkampungan marga Coa, tujuh jago keluarga Coa telah dibantai dan dilempar ke dalam api.

Setelah itu enam orang murid angkatan kedua dari partai Ceng-shia-pay telah dipotong daun telinganya, suruh mereka pulang melapor pada pimpinan Ceng- shia-pay bahwa untuk sementara waktu Coh Hen Hong titip dulu kepala keenam murudnya itu.

Demikian cerita2 tentang sepak terjang Coh Hen Hong dalam waktu akhir2 ini. Tak heran kalau dalam waktu satu bulan saja, gadis dari Ceng te kiong itu telah dapat menggerakkan dunia persilatan sehingga setiap orang persilatan menjadi gemetar.

Tetapi kemunculan Coh Hen Hong itu mendapat sambutan gembira dari kawanan golongan Hitam. Selama dalam perjalanannya, Coh Hen Hong banyak menerima kedatangan pimpinan dan tokoh-tokoh aliran Hitam yang datang untuk menghaturkan hormat. Kalau Coh Hen Hong mau memberi muka kepada mereka maka kedudukan merekapun akan naik beberapa puluh derajat.

Dalam waktu sebulan itu Coh Hen Hong benar mirip dengan angin puyuh yang mengoncangkan dunia persilatan. Maka orang-orang yang cari muka kepadanya telah mempersembahkan sebuah gelaran yang hebat kepadanya sebagai Suanhong sian-cu atau dewi Angin-puyuh. Ada juga yang hanya menjulukinya sebagai Siau-sian-cu atau Dewi kecil. Sudah tentu bagi orang-orang yang mempunyai perikemanusiaan waktu membicarakan Coh Hen Hong, menjulukinya sebagai Siau-koay-li atau Siluman perempuan kecil.

Tetapi baik digelari sebagai Suan-hong sian-cu atau Siau-sian cu atau Siau koay li, yang nyata selama ini Coh Hen Hong memang belum pernah ada yang mampu mengalahkan. Memang, kalau tokoh-tokoh seperti tiga jago Thian san saja begitu melihat sepasang pedang Leng liong kiam terus lari ngiprit, masa ada lain orang yang berani melawannya lagi?

Sebulan kemudian Pui Tiok dan Kwan Beng Cu tiba di suatu tempat yang hanya terpisah 6 – 7 li dari kota Ce-lam-hu.

Keduanya menyadari kalau tak dapat memperlihatkan diri maka selama itu mereka selalu memakai kedok kulit. Selama ini mereka menempuh perjalanan di darat tetapi akhirnya mereka tiba juga di tepi bengawan Hongho.

Makin mendekat bengawan. mereka dapatkan pejalan2 dan orang-orang berkuda makin banyak dan makin ramai.

Pui Tiok sudah pernah beberapa kali datang ke Celam. Tetapi dulu tak pernah dia melihat keadaan yang seramai itu. Dan ketika mereka tiba di tepi bengawan mereka melihat disitu telah dibangun sebuah panggung raksasa dari papan kayu.

Panggung itu, tak kurang dari 10-an tombak tingginya, megah dan perkasa sekali. Pui Tiok mencari keterangan kepada orang. Apa yang di dapatkannya membuatnya terkesiap.

Bahwa di tepi bengawan Hongho, begitu ramai dan dibangun sebuah panggung tinggi, bukan lain adilah untuk menyelenggarakan penyambutan pada Suan Hong siancu (Dewi Angin-puyuh). Yang menyelenggarakan itu adalah 17 perkumpulan persilatan yang bermukim di sepanjang perairan bengawan Hongho.

Pui Tiok benar-benar terkejut sekali. Dia tak menyangka kalau Coh Hen Hong juga tiba di daerah Celam situ.

Di sepanjang perairan bengawan Hongho terdapat 17 perkumpulan silat atau pang-hwe. Mereka membentuk perserikatan dan mengangkat Tiang-pi-sin mo atau Iblis sakti Lengan panjang Ting Tay Ging sebagai ketua.

Ting tay Ging hendak menyelenggarakan penyambutan secara besar besaran kepada Coh Hen Hong. Dapat dibayangkan betapa ramai dan meriah pesta itu.

Pui Tiok mendapat keterangan bahwa pesta besar penyambutan itu akan berlangsung tiga hari lagi.

Tetapi pada saat itu ketua dari 17 pang-hwe itu sudah datang untuk mengatur segala persiapan yang diperlukan.

Setelah mendapat keterangan, Pui Tiok dan Beng Cu menyingkir ke tempat yang agak jauh untuk berunding. “Pui toako, bagaimana tiadakan kita ?“ tanya nona itu.

“Kita tak perlu takut. Urusan itu tiada sangkut pautnya dengan kita,” kata Pui Tiok yang malah tenang-tenang saja dengan adanya berita itu.

“Bagaimana tidak ada sangkut pautnya? Kalau dia sampai mengetahui kita berada disini”

“Tak mungkin,” tukas Pui Tiok,” sekarang ini kita akan masuk kedalam kota, tentu takkan bertemu dia, Coba engkau pikir, 17 pang hwe dari bengawan Hongho itu sudah begitu banyak sekali jago-jago yang sakti. Masih ditambah pula, Setelah mendengar berita itu, dari segenap penjuru orang-orang persilatan sama datang melihat. dengan dikelilingi oleh sekian ratus ribu orang, mana dia sempat melihat kita.”

Beng Cu menghela napas kecil dan tak bicara apa- apa lagi. Mereka lalu masuk kedalam kota. Karena Lim Po Seng itu seorang pendekar ternama, maka sekali bertanya pada orang, Pui Tiok segera mendapat keterangan tentang, tempat Tinggalnya.

Tetapi setiba di rumah Lim Po Seng, keduanya terlongong-longong.

Dimuka halaman rumah Lim Po seng, tampak berhenti 20-an kereta besar penuh bermuatan peti. Beberapa puluh bujang sedang memberi petunjuk kepada kusir kereta, kemana kereta harus berjalan. Hal itu menimbulkan kesan bahwa Thay san-sin to Lim Po Seng sedang mau boyongan pindah ke lain tempat. Pui Tiok cepat menghampiri dan bertanya kepada seorang yang menurut dandanannya tentu kepala bujang, “Tolong tanya, apakah Lim tayhiap ada?”

Kepala bujang berpaling. Melihat yang bertanya itu seorang bertopeng, muka kepala bujang serentak berobah, “Sudah sepuluh hari yang lalu majikan kami pergi.”

Pui Tiok terkejut, “Dia sudah pergi? Kemanakah perginya? Apa aku boleh tahu?”

Pui Tiok merasa bahwa Lim Po Seng Itu satu2nya pijakan dimana dia nanti dapat melakukan penyelidikan. Selain itu tiada lain jalan lagi untuk mencari jejak tempat istana Ceng te kiong.

Kepala bujang menyurut mundur selangkah. Dan serentak berpuluh bujang berhamburan mengepung. Kepala bujang berkata, “Kami tak tahu. Perusahaan pengantar barang Jit Kian piaukiok dari majikan sudah tutup dan sejak itu majikan kami tak mau muncul ke dunia persilatan lagi.”

”Mengapa?” Pui Tiok terkejut.

Kepala bujang itu meneliti pandang kepada Pui Tiok lalu bertanya, “Engkau memang sungguh tak tahu atau hanya berpura-pura tak tahu?”

“Mengapa harus berpura pura? Aku memang sungguh-sungguh tak tahu, harap anda memberitahu.”

‘kurasa engkau tentu bukan anak buah dari Cap jit (tujuhbelas) pang hwe. Tak apa, akan kuberitahukan kepadamu,” kata kepala bujang itu, “memang sudah lama majikan kami mempunyai ganjelan dengan orang-orang dari Cap-jit-pang. Waktu itu disebabkan karena majikan kami menjadi kepala dari kantor Jit Kian piaukiok di kota Celam. Sekarang Cap-jit pang, Dia berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Kiranya tak perlu kukatakan. engkau seharusnya sudah tahu !“

Memang Pui Tiok sudah tahu hal itu. Karena mempunyai ganjelan dengan perserikatan Cap jit pang maka setelah Ting Tay Ging mengundang Suan Hong sian su, Lim Po Seng merasa akan terancam maka lebih baik dia lekas-lekas menyingkir saja.

Setelah termenung beberapa jenak, Pui Tiok lalu mengajak Beng Cu pergi. Selama menyusuri beberapa jalan, mereka merasa seperti ada orang yang secara sembunyi2 mengikuti mereka.

Waktu berjalan, Pui Tiok bergandengan tangan dengan Kwan Beng Cu. Tahu kalau ada orang menguntit dari belakang, Pui Tiok lalu memijat agak keras tangan Beng Cu. Rupanya nona itu mengerti isyarat Pui Tiok. Mereka lalu pesatkan langkah berlari cepat.

setelah melintas sebuah jalan, mereka terus lari ke gang ujung lalu ayunkan tubuh loncat keatas rumah dan mendekam bersembunyi di puncak Wuwungan.

Tak berapa lama, muncul dua orang yang mengejar. Tiba di mulut jalan, mereka celingukan kian kemari untuk mencari yang dikejar. Pui Tiok mendongkol sekali. Dia mencopot dua buah genteng lalu berseru, “Sudah tak perlu jelalatan kian kemari, kami berada disini!”

Kedua Orang itu terkejut dan serempak memandang keatas,. Wut, wut…. . Pui Tiok lemparkan kedua genteng ke muka mereka.

Pui Tiok mengira kedua orang itu tentu akan menghindar. Tetapi diluar dugaan, mereka hanya kesima saja, brak, brak.,.. dua buah genteng menimpa muka mereka hingga berlumuran darah.

Ternyata ilmu kepandaian kedua orang itu tidak seberapa. Tetapi mulut mereka memang libur.

Sekalipun mukanya bocor, mereka masih berani memaki maki, “Bangsat jahanam, menyerang secara gelap, tandanya jagoan anjing. Pendekar dari perkumpulan Cui-liong pang masa takut kepadamu !“

Sebenarnya Pui Tiok hendak loncat turun untuk memberi hajaran kepada mereka. Tetapi ketika mendengar mereka menyebut ‘jago-jago Cui liong- pang”, dia tertegun.

Cui-liong-pang atau perkumpulan Naga-air, merupakan salah sebuah anggauta dari perserikatan Cap-jit pang. Dengan begitu jelas kalau kedua orang itu tentu ditugaskan Cap-jit-pang untuk memata- matai gerak gerik Lim Po Seng.

Pui Tiok menimang, kalau dia meladeni mereka dan sampai terlibat pertempuran dengan Cap jit pang, Cap jit pang tentu akan meminta bantuan Coh Hen Hong. Dan kalau Coh Hen Hong datang, tentu akan tahu siapa dirinya. 

Pui Tiok menyadari bahayanya kalau sampai Coh Hen Hong datang dan mengenali dirinya. Maka terpaksa dia urungkan niatnya untuk memberi hajaran kepada anak buah Cui-liong pang itu.

Pui Tiok lalu menarik Beng Cu, loncat turun dari arah belakang sana dan menyusur sebuah gang dan tak lama sudah keluar dari kota sebelah barat. Setelah lari sampai tiga empat puluh Ii, mereka lalu masuk kedalam sebuah hutan yang lebat.

Tetapi begitu masuk kedalam hutan, mereka segera merasa ada sesuatu yang tidak beres. Cepat mereka berhenti.

Yang dirasakan tak wajar oleh Pui Tiok adalah kedaan hutan yang begitu sunyi senyap sekali. Suatu keadaan yang menandakan kalau di dalam hutan tentu terjadi suatu yang tidak wajar.

Ternyata naluri Pui Tiok memang tepat. Baru dia dan Beng Cu berhenti, dari sebelah muka segera terdengar suara orang tertawa dingin, “Lim tayhiap, cong pangcu (ketua) kami sebenarnya bermaksud baik, mengapa Lim tayhiap tak mau menerima?”

Kemudian terdengar suara parau berkata, ‘Heh, heh, pepatah mengatakan pertemuan itu tak ada yang baik, pesta pun tak ada yang baik. Maka baik menghindar saja. Tolong haturkan ke cong-pangcu bahwa orang she Lim minta maaf dengan ucapan terima kasih.” Suara yang seram tadi berseru pula, “Lim tayhiap, engkau ini sungguh tak tahu atau hanya pura-pura tak tahu?”

Suara yang parau berseru marah, “Apa Itu sungguh tak tahu dan pura-pura tak tahu?”

Sampai disitu Pui Tiok dan Beng Cu dengan hati hati maju mendekati sembari mencurahkan pendengaran.

Berkata pula suara seram tadi, “Cong pangcu kami bukan hanya mengundang Lim tayhiap, pun kali ini dalam pesta besar orang gagah akan diundang seorang tamu agung yakni Suan Hong sian cu.

Andaikata Lim tayhiap tak memandang muka cong- pangcu, tetapi masa Lim tayhiap juga tak mau memandang muka Suan hong sian cu?”

Saat itu Pui Tiok dan Beng Cu sudah dekat. Mereka melihat orang yang tengah bicara disebelah muka itu bertubuh kecil pendek seperti kera. Pakaiannya berwarna merah darah. Waktu bicara, walaupun suaranya seram tetapi disertai juga gerakan-gerakan kaki dan tangan.

Dihadapannya tegak seorang lelaki pertengahan umur, berperawakan kurus sekali. Memakai jubah warna kuning emas, pinggangnya menyelip sebatang tan to yang panjang dan lebar.

Selain kedua orang itu masih terdapat lagi tujuh- delapan orang lain yang berkerumun berkeliling di sekitar tempat itu.

Melihat itu Pui Tiok terkejut, “Mereka Sedang mengepung Lim tayhiap,” bisiknya. 

“Lalu bagaimana? Siapakah mereka itu?” Beng Cu gugup.

Pui Tiok menunjuk pada orang yang profilnya seperti kera itu, “Dia belum pernah kulihat. Tetapi menilik orangnya dia tentu Hwe-kau (kera-api) Ciau Yan. Dia adalah pangcu dari Cek cui-pang, anggauta perserekatan Cap-jit pang.

Terdengar Lim tayhiap berseru tegas, “Kalau kubilang tidak pergi, tentu tak pergi. Jangan kalian ribut 2 saja di sini.”

Dalam berkata itu, tangan Lim Po Seng sudah menjamah tangkai goloknya. Dia digelari sebagai Thay-san-sinto atau Golok-sakti gunung Thaysan. Sudah tentu dalam ilmu permainan golok, dia mempunyai kelebihan yang istimewa.

Hwe-kau Ciau Yan tertawa dingin, Lim tayhiap peribahasa mengatakan, seorang pendekar sukar menghadapi musuh yang berjumlah banyak. Aku diutus cong pangcu untuk menyampaikan undangan kepadamu. Kalau engkau tak mau pergi, terpaksa aku akan turun tangan.”

Tring…. Lim Po Seng getarkan lengan dan golok pusakanyapun sudah siap di tangan. golok itu sebuah senjata yang termasyhur, tajamnya bukan alang kepalang. Dulu ketika belum mengangkat nama, secara tak sengaja Lim Po Seng telah menemukan golok itu. Pada waktu itu golok terpendam di dalam sebuah telaga. Entah golok buatan jaman apa. Pada batang golok itu terdapat ukiran huruf kecil2.

Setelah dipelajari dengan teliti oleh Lim Po Seng, ternyata merupakan ilmu permainan golok itu. Tiga tahun lamanya dia menyekap diri dalam lembah gunung itu untuk mempelajari dan berlatih ilmu golok.

Karena selama tiga tahun tak pernah muncul, orang mengira dia sudah mati, Tetapi tak dinyana-nyana dia muncul lagi dengan membawa senjata golok. Dunia persilatan gempar.

Tak sampai setengah tahun saja dia sudah diagungkan orang sebagai seorang jago sakti. lalu dia mendirikan kantor pengiriman barang Jit Tay piaukiok. Pada waktu Itu dia baru berumur 25 tahun. Sungguh seorang pendekar muda belia yang gagah perkasa.

Sekarang dia sudah berumur 50 tahun. Selama berkecimpung 30 tabun dalam meyakinkan ilmu golok, sudah tentu dia makin sempurna. Dalam pertempuran, tidak sembarang dia mencabut goloknya kalau tidak menghadapi musuh yang tangguh.

Oleh karena itu waktu dia mencabut golok, orang- orang yang mengepungnya itu termasuk Hwe kau Kiau Yan, juga menyurut mundur selangkah.

Tampak golok Lim Po Seng berkilat-kilat memancar cahaya tajam dan hawa dingin. Dengan sebuah gerak menggetar, sinar golok itu pun tampak menggulung- gulung selingkar demi selingkar.

Kemudian dia berseru, “Kalau mau turun tangan, silahkan.” Kera-api Kiu Yan tidak lagi bersikap garang seperti tadi. Dia tertawa hambar, “Lim tayhiap, siapakah yang tak kenal kalau ilmu permainan golokmu itu menguasai dunia..

Baru dia berkata begitu, tiba-tiba dia sudah menerjang maju. Waktu masih berkata kata tadi dia tak membekal senjata tetapi begitu menyerang ternyata terdengar benturan senjata yang berdering tajam sekali. Ternyata dia sudah memegang sepasang senjata yang aneh bentuknya.

Kedua senjatanya itu memang benar-benar luar biasa anehnya. Kemungkinan selain dia tak ada lagi tokoh dalam dunia persilatan yang menggunakan senjata semacam itu.

Apakah senjata yang aneh itu?, Tak lain dan tak bukan adalah dua buah senjata berbentuk dua ekor kera, terbuat daripada baja yang keras.

Panjang kera itu hampir setengah meter. Di atas kepalanya diberi sebatang tusuk yang tajam. Dan sepasang matanya seperti dapat bergerak gerak mengeluarkan bunyi berderuk-deruk. Kera-api Kiau Yan membuka serangan dengan langsung menusukkan ujung tusuk kepada lawan. Sepintas gaya serangan itu seperti gaya menutuk jalan darah.

Lim Po Seng tertawa dingin. Golok pusakanya ditarik mundur dengan tiba-tiba. Dalam gerakan tampaknya dia seperti orang yang jeri. Dibagian dadanya telah terbuka lubang. Dan pada Saat itu sepasang kera-besi dari lawan terus menuju ke dadanya. Hanya kurang dari sekejab mata, waktu sepasang senjata kera besi itu sudah hampir menyentuh dada Lim Po Seng, dalam keadaan yang menurut pandangan orang tak mungkin dapat dilakukan, ternyata telah ditunjukkan oleh Lim Po Seng.

Sret tiba-tiba sinar golok menggembung. Kiau

Yang saat itu yakin kalau serangannya pasti akan mengenai sasaran, diam-diam sudah bersorak dalam hati. Tetapi tiba-tiba memancar sinar golok yang menggelembung seperti bola dengan pancaran cahaya yang menyilaukan matanya, dia sudah mengeluh dalam hati.

Tetapi gerakan golok itu luar biasa cepatnya. Pada saat dia merasa akan celaka dan hendak menghindar mundur, tetapi sudah terlambat. Dia rasakan lengannya dingin dan tak kuasa lagi maka menjeritlah dia sekeras- kerasnya.

Sebelum gema teriakan ngeri itu sirap, Lim Po Seng pun sudah mundur tiga langkah dan tegak berdiri laksana karang.

Kiau Yan juga berdiri terlongong-longong. Sesaat dalam benaknya dia tak tahu apakah yang telah terjadi pada dirinya saat itu.

Sebagai seorang persilatan yang berpengalaman, sudah tentu Kiau Yan tahu apa artinya hal itu. Dia terkejut sekali sampai gemetar keras.

Hal sudah jelas dan gamblang. Golok lawan menoel pada lengannya dan mengupas bajunya. Tetapi karena ketajaman yang luar biasa dari golok Itu maka Walaupun terkupas, tapi tetap melekat pada lengannya. Baru setelah itu bajunya itupun berhamburan jatuh ketanah.

Menurut nalar, menilik gerakan sinar golok yang begitu dahsyat, tentulah tubuhnya Kiau Yan akan terbelah dan tak mungkin lari lolos lagi. Tetapi mengapa saat itu dia masih dapat tegak berdiri dan tak merasa sakit?

Bukan sehari dua hari Kera api Kiau Yan berkelana dalam dunia persilatan. Namun dalam saat itu dia benar-benar seperti kehilangan faham dan tak tahu suatu apa.

Baru ketika dia merasa sepasang lengannya agak dingin baru mereka mengetahui kalau kedua lengannya masih menjulur maju dalam gaya menusuk. Hal itu dikarenakan pada saat dilanda oleh lingkaran sinar golok Lim Po Seng yang begitu mempesonakan, dia sampai terlongong longong seperti patung dan tak menarik kembali tangannya.

Dan setelah ditarik kembali baru dia tahu apa sebabnya lengannya terasa dingin.

Ternyata lengan bajunya sebatas siku lengan sampai ke tangan telah terpapas kutung dan berhamburan jatuh ke tanah. Bahwa sampai bulu tangannya juga tercukur kelimis.

Kini kedua lengannya menjadi kelimis tak berbulu lagi.

beberapa baris tidak terbaca …………………. Saat itu bukan saja Kiau Yan yang kaget pun 7-8 jago yang ikut mengepung Lim Po Seng berobah wajahnya dan tegak terlongong longong.

Lim Po Seng tertawa mengekeh, “Kiau pangcu apakah aku boleh melanjutkan perjalanan !”

Saat itu baru Kiau Yan gelagapan. Dia mendapat perintah dari cong-pangcu untuk mengundang Lim Po Seng. Tetapi ternyata Lim Po Seng telah menunjukkan kewibawaan yang mengejutkan.

sekalipun rombongannya berjumlah lebih banyak Diantara mereka, dialah yang tertinggi kepandaiannya. Kalau dia sendiri sudah gagal, bagaimana mungkin yang lain akan bertindak?

Menyadari hal itu walaupun dia seorang jago ternama yang bernyali besar tetapi tetap dia tak berani keras kepala lagi.

“Terima kasih atas kemurahan hati Lim tayhiap,” serunya seraya mundur. Berputar tubuh dia terus melesat lari.

Pada waktu dia melesat pergi, kebetulan melewati Pui Tiok dan Beng Cu yang bersembunyi disebelah. Tetapi karena ketakutan, Kera api Kiau Yan tak sempat memperhatikan keadaan disekelilingnya lagi. Tetapi Pui Tiok dan Beng Cu. dapat melihat jelas bagaimana dahi, muka, dan pakaian Kera-api itu basah kuyup dengan keringat.

Karena Kera-api sudah pergi yang lain2 juga tak berani tinggal lagi. Dalam beberapa kejab saja mereka sudah berlalu dari tempat itu. 

Saat itu baru Lim Po Seng menghela napas. Dan menggerakkan tangan, golok pusakanya menghambur sinar pelangi yang meluncur ke udara.

Pui Tiok dan Beng Cu tak tahu mengapa tiba-tiba Lim Po Seng melemparkan goloknya ke udara. Tiba- tiba tampak golok itu berjungkir balik ujungnya, ujung golok menukik ke bawah dan tring. terus masuk kedalam kerangkanya.

Saat itu barulah Pui Tiok dan Beng Cu dapat mengetahui bahwa begitulah cara Lim Po Seng menyimpan kembali golok kedalam kerangkanya, Menilik cara gerakannya yang begitu sempurna, jelaslah kalau dia tentu sudah menguasai benar ilmu permainan golok itu.

Melihat Lim Po Seng sudah menyimpan golok dan tampaknya hendak meninggalkan tempat itu, Pui Tiok loncat keluar dan berseru, “Lim tayhiap, harap berhenti sebentar.”

Saat itu Lim Po Seng sudah berputar tubuh tetapi begitu mendengar angin berkesiurnya Pui Tiok muncul, diapun cepat membalik tubuh ke belakang lagi dan tangannya sudah meraba tangkai golok seraya membentak ‘Siapa!”

Ketika melihat yang dihadapinya dua orang laki perempuan yang mengenakan kedok, Lim Po Seng mengulang membentaknya lagi, “Siapa!”

“Lim tayhiap,” kata Pui Tiok,” kami tiada hubungan apa-apa dengan Cap-jit-pang dari Hongho. Kami hanya mendapat keterangan dari Auyang piauthau tentang seseorang. Orang itulah yang hendak kami tanyakan kepada Lim tayhiap.”

“Siapa?” dengus Lim Po Seng.

“Tok-ih ki su Seng Kun,” sahut Pui Tiok Mendengar itu serentak tergetarlah hati Lim Po

Seng. Peristiwa itu hanya Auyang piauthau sendiri yang tahu. Maka diapun tak meragukan kalau kedua orang bertopeng yang dihadapinya itu tentulah sungguh-sungguh mendapat keterangan dari Auyang Tiong He.

Tetapi karena Seng Kun itu pernah menjadi anak buah Ceng-te-kiong dan saat ini dunia persilatan sedang heboh menyambut kedatangan Seorang Suan Hong sian-cu dari istana Ceng-te ki ong, mau tak mau Lim Po Seng terkejut juga menenima pernyataan dari Pui Tiok.

Setelah berdiam sampai beberapa saat baru dia berkata, ‘Benar, beberapa tahun yang lalu, memang pernah bartemu satu kali dengan dia. Tetapi sejak itu, dia mati atau masih hidup, sukar diketahui jejaknya. Aku tak tahu.”

Jawaban Lim Po Seng itu memang sudah diduga lebih dulu oleh Pui Tiok. Apakah jawaban itu benar atau palsu hanya Lim Po Seng seorang yang tahu.

Pui Tiok menghela napas, “Kalau begitu, apakah Lim tayhiap tahu dimanakah sebenarnya letak istana Ceng-te-kiong itu?” Pertanyaan itu menyebabkan Lim Po Seng terbeliak kaget. Namun dia paksakan tertawa, katanya, “Pertanyaan anda ini, mungkin dikolong jagad tak ada orang yang mampu menjawab.”

Pui Tiok dan Beng Cu saling berpandangan. Dengan susah payah mereka mencari Lim Po Seng,. tetapi setelah secara kebetulan bertemu, ternyata tak mendapat hasil apa-apa. Betapa tidak membuat orang tertawa kecewa.

“Kalau anda tak ada lain soal lagi, aku akan melanjutkan perjalanan,” kata Lim Po Seng. Dia terus berputar diri. Tetapi pada saat itu juga terdengar suara orang berteriak, “Lim tayhiap, harap jangan tergesa-gesa pergi dulu. Tunggulah aku!”

Teriakan itu dari jauh makin dekat dan datangnya cepat bukan main. Begitu ucapan selesai, orangnyapun tiba.

Pendatang itu bertubuh kurus tinggi, memakai jubah dan tangannya mencekal sebatang kipas. Kalau saja kedatangannya itu tidak dengan gerak yang begitu cepat seperti angin meniup, orang tentu mengira dia seorang sasterawan tidak terurus. Melihat orang itu, wajah Lim Po Seng tampak berobah, “Andakah ini? Kiau Yan sudah mau pergi, tentunya anda maklum isi hatiku. Perlu apa mau merintangi?”

Mendengar kata-kata itu hati Pui Tiok dan Beng Cu tergetar. Dan kata-kata itu jelas dapat mereka ketahui bahwa pendatang itu adalah anak buah dari Cap-jit- pang di sungai Hongho. Dan kalau Kiau Yan tadi menderita kekalahan lalu orang ini datang, tentulah kepandaiannya lebih tinggi dari Kiau Yan. 

“Kiau lo-jit memang tidak pandai bicara,” sahut orang itu, “bukan saja tak dapat mengundang Lim tayhiap, pun malah mendapat pelajaran Lim tayhiap. Hal itu memang sudah pantas menjadi bagiannya, aku yang rendah memerlukan datang untuk minta maaf”

Pada saat dia bicara, kembali muncul tiga orang. Wajah dan bentuk mereka aneh, tubuhnya pendek kecil kancing baju warna coklat menghias baju yang potongannya seperti seorang pendekar. Pinggangnya menyelip sederet golok pendek. Begitu datang, mereka berdiri di samping tak bicara apa-apa.

“Ah, tak perlu begitu merendah,” Lim Po Seng tertawa dingin.

“Cong pangcu sungguh sibuk sekali, kalau tidak tentu akan memerlukan untuk menyambut tayhiap” kata orang itu pula, “sekarang beliau pesan aku supaya bersama tiga orang kawan harus dapat mengundang Lim tayhiap.”

Lim Po seng memandang kearah ketiga lelaki pendek berbaju coklat, berkata, “Mereka adalah..

Dengan pertanyaan itu menandakan bahwa walaupun pengalaman dan pengetahuan Lim Po Seng sangat luas, tetapi rupanya dia belum tahu juga siapa ketiga orang kate itu.

Orang tadi tertawa, “Ketiga sahabat itu, datang dari Chatamu di Ceng-hay. Kiranya Lijm tay hiap akan tahu asal usul mereka. Mendengar itu wajah Lim Po Seng serentak berobah dan berseru sember, “Hong ih locu!”

“Ya, benar,” sahut orang itu,” mereka adalah murid dari Hong ih locu,”

Segera Lim Po Seng tahu kalau ketiga orang itu adalah murid dari aliran Shia-pay, yang tergolong tokoh hebat. Mau tak mau ketika mengetahui ketiga jago pendek itu murid dari Hong ih lo cu (guru besar baju kuning) tergetar juga hati Lim Po Seng.

Tetapi pada lain kilas, dia malah tertawa cerah. karena dia berpikir. Kalau toh dengan Suan Hong sian cu (Dewi angin Puyuh) dan istana Ceng te-kiong saja dia sudah berani membangkang, masa terhadap Hong-ih locu, dia harus takut. Selihay lihaynya Hong ih locu, masa lebih lihay dari Ceng-te kiong.

Maka tanpa takut2 lagi dia berkata, “0, kiranya murid dari Hong-ih locu, sudah lama aku mengagumi namanya. Tetapi sekarang aku sudah memutuskan tidak mau pergi, sekalipun Hong ih locu datang kemari sendiri, akupun tetap takkan pergi!”

Orang itu hendak bicara tetapi ketiga lelaki baju coklat itu sudah membentak, ‘jangan berandalan!”

Lim Po Seng adalah seorang tayhiap (pendekar besar) pada jaman itu. Namanya sangat menonjol di dunia persilatan. Kapankah dia pernah di damprat begitu oleh orang?

Dengan wajah membesi, dia menegas, “Silahkan kalian bertiga berkata sekali lagi.” Ketiga orang baju coklat itu pantang mundur Mereka serempak berseru, “Beran…. ” Tetapi mereka tak dapat melanjutkan kata-kata nya karena secepat kilat Lim Po Seng sudah gentakkan golok puakanya. Tiga buah lingkar sinar golok berpencaran menyerang ketiga orang.

Sekali gerak tiga jurus, memang merupakan salah satu jurus terlihay dari ilmu golok Lim Po Seng. Jurus itu disebut Sam-cay-lian hoan.

Sudah tentu kejut ketiga orang itu bukan alang kepalang. mereka tidak sempat melanjutkan kata katanya lagi terus loncat menghindar.

mereka menghindar secara terpencar tetapi lingkaran golok Lim Po Seng tetap membengkak besar dan membayangi mereka.

Mereka mundur satu tombak kebelakang dan Lim Po Seng tegak di tempat semula. Tetapi toh mereka seperti dibayangi oleh sinar golok yang menghamburkan hawa dingin.

Orang yang dandanannya seperti sasterawan itu adalah seorang pangcu dari Cap-jit-pang bengawan Hong-ho. Dia merupakan pembantu utama dari Ting Tay Ging (ketua Cap jit-pang) Namanya Thian Pik siu- su.

Walaupun belum turun tangan tetapi dari gerakan golok yang dipertunjukkan Lim Po Seng tadi, dia merasa walaupun berjumlah empat orang tetapi tak mungkin dapat ‘mengundang” Lim Po Seng. Itulah sebabnya maka dia terus bersuit nyaring. kumandangnya sampai bergema jauh sekali.

Lim Po Seng memang tak bermaksud terlibat lama disitu. Setelah dapat menggebah ketiga orang itu, dia terus hendak melesat pergi. Tetapi setelah mendengar suitan Thian Pik siu su yang bergema jauh, tentulah hendak memanggil bala bantuan Sudah tentu Lim Po Seng sendiri tak mau lama2 berada disitu.

Dia terus ayunkan tubuh melayang kesamping.

Tetapi jurus Sam cay lian-hoan yang dimainkan tadi hanya menggertak ketiga lawannya mundur bukan berarti kalau tak berani datang lagi. Maka pada saat tubuh Lim Po Seng melayang, ketiga orang itu berteriak aneh dan serempak juga enjot kakinya melayang keatas. Di tengah udara mereka sudah mempersiapkan senjatanya ialah masing-masing membawa sepasang golok pandak, Lalu menyerang Lim Po Seng.

Kepandaian dari ketiga orang itu memang hebat juga. Sret, sret, sret…. . Lim Po Seng berhasil menghindari enam batang golok yang ber hamburan menyerang kepadanya. Kemudian dengan gaya meluncur turun ke bawah, Lim Po Seng membuat lingkaran besar sinar golok.

Begitu mengeluarkan gerakan golok yang begitu hebat. ketiga orang yang masih melayang di udara itu berteriak terkejut sehingga Si sasterawan Thian Pik siu su juga terbeliak.

Selekas turun ke tanah, Lim Po Seng terus melesat lari. Sesaat itu terdengar beberapa kali suara kain bertebaran jatuh ke tanah. Enam buah benda hitam telah berguguran jatuh dari atas. Dan ketika ketiga orang itu menginjakkan kaki ke tanah, mereka tegak terlongong longong seperti patung.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang Berbunga Dendam Jilid 12"

Post a Comment

close