Pedang Berbunga Dendam Jilid 09

Mode Malam
JILID 9

Sejak tinggal di Istana Ceng-te Kiong, Coh hen Hong seperti masuk ke nirwana. Kehidupan yang dinikmati, benar-benar selama ini belum pernah dibayangkan.

Seperti langit dengan bumi bedanya ketika Ia teringat beberapa hari yang lalu ketika menempuh perjalanan dengan Dewi Tongkat sakti. Selama beberapa hari Itu dia hidup seperti pengemis saja. Tetapi sekarang, dia tak ubah seperti seorang puteri raja.

Entah berapa puluh bujang dan pelayan muda yang senantiasa melayani keperluannya. ibarat dia ingin minta angin atau hujan, pasti akan disediakan juga.

Pada sebulan yang pertama, praktis dia tak berbuat apa-apa, baik bekerja maupun belajar silat. Awal bulan kedua barulah Ceng-te mulai mengajarkan sedikit tentang dasar2 ilmu tenaga dalam.

Dasar Coh Hen Hong memang berotak terang. Dia cepat sekali dapat menerima dan mengerti pelajaran yang diberikan engkongnya. Sudah tentu Cengte gembira sekali. 

Dahulu ketika masih menjadi gelandangan di dunia persilatan, banyak kali Coh Hen Hong harus menelan penasaran karena dihina orang, Dia tak dapat berbuat apa-apa karena kepandaiannya masih rendah sekali. Sekarang telah mendapat kesempatan untuk belajar silat apalagi pengajarnya itu seorang raja silat yang dihormati seluruh dunia persilatan, sudah tentu dia menumpahkan segenap semangat dan perhatiannya. Itulah sebabnya maka cepat sekali dia sudah mencapai kemajuan yang pesat.

Karena sedang menumpahkan seluruh pikiran pada ilmu silat, Coh Hen Hong sampai lupa akan perjanjiannya dengan Dewi Tongkat sakti bahwa setiap bulan sekali harus menemuinya.

Waktu berjalan cepat sekali. Tak terasa setahun telah lewat. Selama setahun itu Coh Hen Hong telah mencapai kemajuan yang mengagumkan dalam dasar2 ilmu tenaga dalam (lwekang). Dan selama itu Ceng-te benar-benar sangat memanjakannya dengan segala kasih sayang yang berlimpah limpah.

Pada sore itu Coh Hen Hong tengah berlatih silat. Kemudian dia pelahan lahan ayunkan langkah keluar istana. Biasanya setiap tiba di pintu gerbang, dia tentu berhenti.

Tetapi pada saat itu, matahari senja sedang hendak menyelam ke sebelah barat. Sinarnya yang kuning kemerah merahan mashb membara bagai bara menyala, pohon2 li dengan bunga-bunganya yang tengah mekar, tambah indah sekali tampaknya. Dia teruskan langkah menuju ke muka hutan pohon li dan memandang bunga-bunga yang tengah mekar dengan indahnya itu.

Sekonyong konyong terdengar suara berdetak detak mendebur tanah. Mendengar suara itu seketika menggigillah hatinya.

Sebelum ia sempat berputar tubuh, sudah terdengar suara yang lantang dari Dewi Tongkat sakti, “Nona Beng Cu, apa kabar, apakah selama ini engkau baik-baik saja?”

Kejut Coh hen Hong bukan kepalang, jantungnya berdetak keras. Cepat dia berputar tubuh dan celinggukan dengan wajah cemas ke sekeliling tempat itu. Dari jauh terdengar suara orang berjalan tetapi di dekat situ tak ada orang lain. Coh hen Hong menghela napas longgar.

“Oo, kiranya Sian-koh? Aku baik-baik saja,” katanya.

Dewi Tongkat sakti tertawa mengekeh, “Engkau sudah tak kenal aku, bukan?”

Pada saat itu tiba-tiba timbullah perasaan benci dan muak Coh Hen Hong terhadap Dewi Tongkat sakti. Dia merasa selama perempuan itu masih hidup di dunia, tak mungkin dia dapat tenang hatinya.

Tetapi perasaan itu hanya terkandung dalam hati dan tak berani Ia menyatakannya apa lagi dia menyadari kalau rahasianya berada di tangan perempuan tua itu. Apabila Dewi Tongkat sakti membuka rahasianya, tentu habislah riwayatnya. 

Maka dia buru-buru berkata, “Sudah tentu masih kenal. beberapa kali aku hendak keluar menemui engkau tetapi engkong menilik aku dengan ketat sekali, suruh aku siang maLam belajar latih ilmu kungfu, ku sungguh tak dapat keluar harap Sian-koh jangan salah faham.”

Memang Coh Hen Hong seorang anak perempuan yang pintar bicara dan licin. Dengan Cemerlang sekali dia telah mengungkap semua jawaban pada pertanyaan yang masih tersimpan dalam hati Dewi Tongkat-sakti sehingga Dewi Tongkat-sakti tak dapat bicara lagi. Dia hanya mendengus.

“Hm, asal engkau ingat dengan baik-baik saja.

Lebih pula jangan engkau lupa pada keadaan dirimu yang bukan tulen itu.”

Kata-kata Dewi Tongkat sakti itu bagai ujung pedang yang menusuk ruang hati Coh Hen Hong. Diam-diam makin membaralah dendam kebenciannya terhadap perempuan tua itu.

Namun dia tak menunjukkan sikap yang dapat dilihat orang dia malah dengan mengunjuk wajah ceria dia berseru, “Ah, tak mungkin aku lupa. Adanya hari ini aku bisa begini semua adalah karena mengandalkan bantuanmu.”

Dewi Tongkat sakti gembira sekali katanya, “Baiklah kalau begitu. Karena susah sekali hendak menemuimu maka sekarang kuminta engkau melakukan sebuah hal untukku.” “Hal apa saja, silahkan bilang,” sahut Coh Hen Hong.

Sejenak Dewi Tongkat-sakti berkeliaran memandang ke empat penjuru setelah itu baru berkata dengan bisik2, “Dalam istana Ceng te-kiong milik engkongmu itu terdapat sebuah kamar rahasia, apa engkau sudah pernah melihat?

Coh Hen Hong gelengkan kepala, “Belum.”

“Kalau begitu engkau boleh menyelidiki,” kata Dewi Tongkat sakti, ”setelah dapat menemukan, engkau boleh menemui aku, jangan sekali-kali engkau masuk kedalam kamar rahasia itu, mengerti?”

Kembali terlintas sesuatu dalam hati Coh Hen Hong tetapi dia tetap mengiakan, “Ya, tahu. Apa sukarnya melakukan hal Itu. Aku bertanya pada engkong kan sudah beres.”

Dewi Tongkat-sakti tertawa, “Tetapi engkau harus hati-hati. itu merupakan pantangan besar dari engkongmu. Kalau terus langsung engkau bertanya, dia tentu akan mencurigai engkau, mengerti?”

Kembali Coh Hen Hong mengangguk dan pada saat itu tiba-tiba tubuh Dewi Tongkat-sakti melambung ke udara. Sekali menekankan ujung tongkatnya ke tanah. tubuhnya terus meluncur jauh ke muka dan beberapa saat kemudian sudah tak tampak bayangannya lagi.

Setelah sesaat terlongong memandang baying bayang Dewi Tongkat-sakti, barulah Coh Hen Hong menggigit bibir dan berputar tubuh terus lari, kembali kedalam Istana. Belum lama dia masuk kedalam istana, tampak Cengte sambil menggendong kedua tangannya berjalan pelahan-lahan kepadanya.

Baik wajah maupun perawakannya, sebenar nya pemilik Ceng-te-kiong Itu seorang yang keren sehingga orang tentu gentar berhadapan. Tetapi saat itu, begitu melihat Coh Hen Hong dia terus mengunjuk wajah riang.

“Gwa-kong,” seru Coh Hen Hong seraya lari menyambut. Gwa-kong artinya engkong luar.

Cengte kerutkan alis, serunya, “Celaka, Cara engkau memanggil aku, kurang enak.”

Coh Hen Hong terkejut. Dia heran mengapa Ceng-te berkata begitu. Apakah terjadi suatu peristiwa yang tak menguntungkan? Hati Coh Hen Hong berdetak keras.

“Gwa-kong, gwa-kong,” kata Ceng-te pula” sungguh membuat aku merasa seperti berada di luar, seorang asing. Jangan pakai sebutan gwa (Luar) lagi. Panggil saja engkong.

Mendengar Itu bukan main gembira Coh Hen hong.

Dia memang tajam sekali perasaannya. Mengambil muka, memang adalah satu kepandaian nya yang istimewa. Serentak dia berseru dengan mesra, “Engkong!”

Sambil mengelus2 janggutnya, Ceng-te tertawa bahagia Tangannya pelahan-lahan meraba ubun-ubun kepala Coh Hen Hong. Coh Hen Hong sudah tambah pengalaman Dia tahu begitu gembira, Ceng-te tentu akan menyalurkan tenaga dalamnya kedalam tubuh Coh hen Hong. Oleh karena itu Coh Hen Hong cepat menghimpun cin-gi dipusatkan pada ubun-ubun. aliran tenaga-dalam dari Ceng-te itu disambut dan di salurkan ke seluruh 72 jalan darah di tubuhnya. Kini dia telah memiliki daya tenaga dalam yang disalurkan oleh Ceng-te.

“Beng-Cu engkau rajin sekali belajar kungfu. Tenaga-sakti yang kusalurkan tadi telah engkau terima dan salurkan pada jalan darah di seluruh tubuhmu. Apa yang engkau peroleh itu, sama dengan engkau belajar silat beberapa tahun.

Sudah tentu Coh Hen Hong amat gembira, serunya, “Gwa….. engkong, kalau begitu ilmu kepandaianku dalam waktu yang singkat akan dapat mencapai tingkat yang tinggi?”

Pemilik Ceng-te kiong mengangguk, “Mungkin dua tahun lagi, engkau sudah mendapatkan separoh kepandaianku.”

Coh hen Hong cibirkan bibir, “Kalau hanya separoh bagian saja. apa gunanya?”

Cengte tertawa meloroh, “Setan kecil, dalam belajar silat, engkongmu ini telah mendapat rejeki luar biasa yang jarang sekali terjadi pada orang lain. Waktu berurnur 7 tahun, aku telah memakan 3 ikat leng-ci tujuh warna sehingga hawa-murniku tak ada yang dapat menandingi.”

Berhenti sejenak Ceng-te melanjutkan lagi, “Selama berpuluh tahun lamanya kepandaianku sukar dilukiskan lagi. Jago-jago sakti dalam dunia persilatan dimataku tidak lebih hanya seperti anak kecil berumur 3 tahun. Maka jika engkau dapat mewarisi separoh dari kepandaianku, siapa berani mengatakan kalau dalam dunia persilatan ko-jiu yang mampu menandingi engkau. Heh, heh, pada waktu itu tidak gampang engkau bisa mencari lawan yang sanggup menghadapimu!”

Saking girangnya Coh Hen Hong menjulur julurkan lidah “Engkong, kiranya kepandaianmu begitu dahsyat.”

“Sudah tentu,” kata Ceng-te, “tetapi menurut aku, tak perlu engkau harus belajar silat begitu sakti seperti aku. Kalau ilmu kepandaiannya tinggi, orang lalu mengatakan kalau aku tak dapat di- dekati. Setiap orang apabila bertemu aku tentu takut. Aku seolah- olah seperti diasingkan. Kalau aku ini kan pria, jadi masih dapat bertahan diri Tetapi beda dengan engkau. Engkau kan anak perempuan, bagaimana kalau engkau sampai terasing dari orang?”

Coh Hen Hong tertawa, “Engkong bicara tak keruan.

Siapa bilang kalau engkong ini menakutkan dan tak bisa didekati. Mengapa sedikitpun aku tak merasakan hal itu?”

Ceng-te tertawa. “Engkau sih cucu luarku sudah tentu beda. Sekarang ini benar-benar memang hanya engkau seorang saja yang intim dengan aku. Beng-cu, engkaulah satu satunya keluargaku di dunia ini.”

Ceng-te menutup kata-katanya dengan menghela napas panjang. Coh Hen Hong pun lalu menyimpangkan pembicaraan pada lain2 soal. Beberapa saat kemudian, dia baru membicarakan lagi, “Engkong, aku hanya dikasih ajar tenaga-dalam tetapi tidak diberi pelajaran ilmu silat, itu kan tidak ada gunanya.”

”Engkau ingin belajar jurus apa?”

Biji mata Coh Hen Hong berkeliaran, “Umpama saja ada seseorang yang kepandaiannya tinggi, hmm, lebih tinggi dari aku. Kalau aku hendak menjatuhkan harus pakai jurus ilmu silat apa?”

Ceng-te gelengkan kepala, “Wah, sukar dibilang. harus, melihat bagaimana keadaannya saat itu. Dia sedang menyerang engkau atau sedang berusaha melarikan diri? Apakah hanya dengan tangan kosong atau membawa senjatakah dia? Lalu posisinya bagaimana disebelah kiri atau kananmu?”

“Andaikata dia berdiri di depanku dan aku jangan sampai diketahuinya kalau mau menyerangnya?”

Waktu mendengar keterangan itu wajah Cengte agak berobah, “Beng Cu mana boleh begitu? kalau lawan tak tahu kalau engkau hendak menyerangnya lalu engkau tiba-tiba turun tangan, itu mencuri serangan namanya. Sifat begitu kita tak mau melakukannya.”

Coh Hen Hong leletkan lidah, “Engkong, mengapa engkau menyalahkan orang semena-mena saja?

Bukankah sudah kukatakan kalau orang jauh lebih sakti dari aku?” “Kalau begitu engkau harus berlatih sampai engkau dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari dia, baru engkau mencarinya lagi “Ceng-te tertawa.

“Tidak!” seru Coh Hen Hong ” aku mau belajar, aku mau terus belajar! “

Dihadapan Ceng-te berani berkata seenaknya, rasanya dalam dunia ini hanya Coh Hen Hong seorang.

Karena didesak, akhirnya Ceng-te mengalah serunya, “Baik baiklah. Akan kuberikan sebuah jurus ilmu silat tetapi jurus itu tidak begitu sportif.

Bagaimanapun juga, jangan engkau gunakan jurus ini” “Ya, kutahu.”

“Jurus yang sebuah itu disebut Gan-te-jou-sin atau Pangkal kapak mencabut pupus. Engkau perhatikan saja, begitu cara orang menabaskan kedua tangannya kepada lawan yang berada di sebelah kanan dan kiri. Lawan tentu tak menduga dan tak mengangkat tangannya untuk menangkis. Pada saat itu tariklah mundur kedua tanganmu dan lanjutkan untuk menggempur dada orang Itu pasti berhasil,”

Sambil berkata, Ceng-te pun memberi contoh dengan gerakan. Sebenarnya jurus yang diajarkan itu bukan suatu jurus yang istimewa tetapi jurus biasa- biasa saja. Tetapi karena Ceng te memiliki tenaga- dalam yang luar biasa maka jurus apapun yang dimainkan tentu perbawanya luar biasa perkasanya

Coh Hen Hong memang berotak terang. Setelah menirukan tiga kali saja dia sudah dapat menggunakan jurus itu. 

Tetapi tiba-tiba dia teringat sesuatu, serunya. “Engkong, wah, cobalah engkong pikir. Kalau lawan menggunakan senjata tongkat besi, waktu kita menggempur dadanya bukanlah lawan akan dapat memutar tongkatnya untuk menghalau?

Ceng-te terkesiap. Dipandangnya Coh Hen Hong dengan tajam, ujarnya. “Beng Cu, sebenarnya engkau ini hendak menghadapi siapa, kasih tahu padaku!”

Mendengar itu sudah tentu jantung Coh Hen Hong berdetak keras. Buru-buru dia berkata, “Tidak engkong, tidak. Aku hanya memikirkan kalau andaikata harus berhadapan dengan orang yang bersenjata tongkat tentulah jurus itu tak akan mendapat hasil”

“Setan kecil,” gumam Ceng-te,”jangan kira apa-apa yang terkandung dalam batinmu dapat mengelabuhi aku Bukankah engkau mempunyai rencana untuk melakukan serangan secara tiba-tiba pada orang yang memakai Tongkat?”

Hampir Coh Hen Hong pingsan mendengar tuduhan Ceng-te itu. Diam-diam dia menimbang. Dia harus dapat bermain sandiwara dengan tegas atau dia nanti akan terbongkar rahasianya dan celaka.

Dia tertawa hambar, “Engkong kalau aku memang hendak membunuh orang, bukankah cukup meminta kepadamu untuk melakukannya Perlu apa aku harus bersusah-susah hendak turun tangan sendiri?”

Ceng-te memandang anak perempuan itu beberapa jenak baru berkata, “Hm, engkau dapat membayangkan kalau berhadapan dengan orang yang bertongkat tentu jurus itu akan gagal, itu menandakan kalau engkau mempunyai pandangan yang tajam.

Kelak dalam dunia persilatan, engkau tentu akan memperoleh kemajuan yang pesat sekali, dengarkan. Jika lawan membawa tongkat, kedua tanganmu yang hendak menggempur dadanya itu harus sebagai gertakan saja. Selekas tongkatnya menyambut, engkau harus ulurkan tangan menerkam tongkat lalu tubuhmu berputar ke belakangnya.

“O, aku mengerti,” seru Coh Hen Hong, “setelah berada dibelakangnya lalu menghantamnya, tentu berhasil,”

“Benar,” Ceng-te mengangguk.

Coh Hen Hong tertawa, “Memang aku percaya engkau pasti memberi jalan lagi, tak sampai jurus itu gagal.”

Ceng-te tartawa dan keduanya dengan saling bergandengan tangan lalu tinggalkan tempat itu.

Sejak itu Coh Hen Hong tak mau lagi membicarakan soal itu. Dia terus berlatih jurus Gan te-ju-sin itu seorang diri. Delapan hari kemudian setelah dapat menguasai, baru dia keluar istana.

Dia menuju ke hutan pohon li yang penuh dengan bunga. Tetapi dalam beberapa hari ini, bunga-bunga Itu sudah layu dan berguguran di tanah. Tanah yang tertutup salju putih tampak berselang seling dengan warna2 merah. Begitu tiba di muka hutan, Coh Hen Hong segera mendengar orang berbatuk. Dan Coh Hen Hong pun segera mengenali dan berseru, “Aku yang datang!”

“Engkau kemari” seru Dewi Tongkat-sakti dengan nada berat.

CohHen Hong segera melangkah masuk ke dalam htan. Tampak ewi Tongkat-sakti sedang duduk pada dahan pohon. Cepat-cepat ia berdiri.

Berhadapan dengan Dewi Tongkat-sakti, Coh Hen Hong serentak membulatkan tekad. Kali ini harus berhasil, tak boleh sampai gagal.

Karena tegang jantung Coh hen Hong berdetak keras. Dia berhenti untuk menenangkan napas, baru melanjutkan langkah lagi. Setiba di hadapan Dewi Tongkat-sakti, dia berkata dengan baik-baik, “Sian- koh, aku sudah dapat menyelidiki tempat kamar rahasia itu”

“Apa engkau sudah masuk juga?” seru Dewi Tongkat-sakti girang.

Coh Hen Hong melangkah maju dua tindak lagi dan berhadapan dengan Dewi Tongkat sakti. ia mengangguk, “ya, aku memang sudah masuk, dan lagi akupun tahu cara bagaimana untuk masuk, aku

….”

Baru berkata sampai dl situ, dia mengangkat kedua tangan dan ditebaskan pada iga sebelah kanan dan kiri dari Dewi Tongkat-sakti. Serangan itu benar-benar tak terduga sama sekali Serentak Dewi Tongkat-sakti merentang kedua lengannya untuk menangkis tetapi cepat Coh Hen Hong menarik pulang kedua pukulannya dan digenjotkan ke dada benar juga apa yang dilakukan Dewi Tongkat sakti sesuai dengan perhitungan Coh Hen Hong. Dewi itu menggerakkan tongkatnya untuk menyambut.

Selama delapan hari itu Coh Hen Hong benar-benar berlatih keras sehingga dia sudah dapat menguasai jurus permainan itu.

Jika Dewi Tongkat-sakti tidak menangkis dengan tongkatnya, mungkin Coh Hen Hong akan kelabakan bingung,

Tetapi justru Dewi Tongkat sakti menggerakkan tongkatnya untuk menangkis. Hal itu tepat Sekali dengan perhitungan Coh Hen Hong.

Coh Hen Hong cepat ulurkan tangan kanan untuk mencengkeram tongkat dan secepat itu tubuhnya berputar ke belakang Dewi Tongkat-sakti. terus mengangkat tangan dan bluk…. dihantamkan ke punggung Dewi Tongkat-sakti

Pukulan itu diarahkan pada jalan darah Leng tay- hiat di punggung. Sekalipun kepandaian Dewi Tongkat sakti lebih tinggi lagi dari sekarang tetapi tetap tak mungkin dapat menghindar.

Pukulan itu mendarat dengan tepat sekali dan cepat sekali Coh Hen Hong segera menyalurkan tenaga- dalam kearah pukulannya itu. “Hmmm….” Dewi Tongkat-sakti mendesuh tertahan dan tubuhnya terjungkal tengkurap di tanah, tak berkutik.

Serangannya berhasil, girang Coh Hen Hong bukan kepalang. Dia cepat memburu maju untuk memeriksa apakah Dewi Torgkat sakti benar-benar mati atau belum.

Tetapi baru dia ayunkan kaki selangkah, dari belakang terdengar suara bentakan, “Beng Cu!”

Mendengar bentakan itu Coh Hen Hong terpaku seperti patung. Dia mengenali suara orang yang membentaknya. Itulah engkongnya atau Cengte.

Jika begitu, tentulah engkongnya itu tahu semua yang dilakukan terhadap Dewi Tongkat sakti.

Bagaimana dia harus menjawab? Ya, bagaimana ia harus menerangkan hal itu kepada engkongnya? Saat itu Coh Hen Hong ingin sekali tanah amblong dan dia terus dapat terjun kedalam bumi.

Pada saat dia sedang dalam kebimbangan, kembali terjadi suatu hal yang tak pernah diduga duganya,.

Tampak Dewi Tongkat-sakti yang menggeletak Itu tiba-tiba melenting bangun dan berseru, “Ah, tak tahu kalau cujin datang, maaf tak menyambut dan harap diampuni segala kesalahan kami”

Waktu mengatakan begitu tampak semangat Dewi Tongkat sakti masih segar seperti orang yang tidak menderita luka. Pada hal tadi Coh Hen Hong mengira kalau pukulannya itu dapat membunuhnya. “Hm, kalian sedang mengapa tadi?” dengus Ceng- te.

“Ah, harap cujin mendapat periksa,” kata Dewi Tongkat-sakti, ”nona Beng Cu mengatakan bahwa paling akhir dia telah mempelajari sebuah jurus yang dapat menundukkan lawan yang bersenjata tongkat. Oleh karena itu dia lalu mencari aku untuk dipraktekkan.”

“Beng Cu, apakah engkau sedang berlatih dengan dia tadi?” tegur Ceng-te kepada Coh Hen Hong.

Sampai saat itu barulah semangat Coh Hen Hong pulang kembali. Gopoh dia berseru, “Ya benar,”

Wajah Cen-te tenang lagi, katanya, “Tetapi pukulanmu tadi pakai seluruh tenagamu!”

“Itu aku sendiri yang meminta kepada nona Beng Cu,” buru-buru Dewi Tongkat-sakti mendahului, “berlatih kalau tidak menggunakan tenaga penuh tak berguna. Untung tulang-tulang ku yang tua ini masih dapat bertahan.”

“Ah, engkau sungguh baik sekali kepadanya akan kuberi kau sebutir pil Kiu thian siau hoa tan nanti.”

Dewi Tongkat-Sakti gembira sekali dan gopoh menghaturkan terima kasih. Dia segera berlutut dan menganggukkan kepala sampai ke tanah.

“Bangunlah!” kata Cengte segera kebutkan lengan bajunya, “pil Kiu thian siau hoa tan obat mujarab buatan kaum pertapa. Khasiatnya bukan alang kepalang. Adalah mengingat kebaikanmu terhadap nona Beng Cu maka baru kuberimu, mengerti?”

“Ya,” Sahut Dewi Tongkat-sakti sambil berdiri dengan tegak dan tangan menjulai rapat.

“Nanti akan kusuruh Beng Cu mengantarkan pil itu kepadamu,” habis berkata Cengte terus berputar tubuh dan tertawa kepada Coh Hen Hong.

“Jurusmu tadi engkau lakukan dengan bagus sekali.

Kalau saja tenaga dalamnya sudah cukup, jiwa Sin- ciang tentu sudah melayang!”

Saat itu entah bagaimana perasaan hati Coh Hen Hong. Tetapi dia diam saja dan hanya berkata, “Baik, engkong.”

Cengte tersenyum dan pelahan-lahan berjalan keluar dari hutan itu. Seketika Ceng te pergi Dewi Tongkat sakti cepat berputar tubuh menghadap Coh Hen Hong. Senyum yang merekah di bibirnya membuat Coh Hen Hong menggigil keras.

“Bagus ya,” Dewi Tongkat sakti tertawa

Coh Hen Hong mengapa tetapi tak dapat berkata apa-apa.

Dewi Tongkat sakti maju selangkah, berkata pula. “Bagus, tak kira kalau engkau sudah memiliki kepandaian yang begitu hebat”

Sambil berkata, Dewi Tongkat sakti tiba-tiba mencengkeram dada Coh Hen Hong. Coh Hen Hong meringis kesakitan sampai keringat dingin bercucuran tetapi dia tak berani berteriak.

“Hayo, engkau mau bilang apa!” bentak Dewi Tongkat-sakti dengan geram.

“Kapok, aku tak berani lagi!” kata Coh Hen Hong walaupun hatinya memaki.

“Kalau engkau berani berbuat begitu lagi. engkau harus menerima hukuman apa? Lekas angkat sumpah!”

“Kalau aku sampai mempunyai pikiran begitu lagi, biarlah kepalaku dan tubuhku terpisah dan mayatnya hancur menjadi abu”

Dewi Tongkat-sakti mendengus dan lepaskan cengkeramannya. Sebelum dia mendorong tubuh Coh Hen Hong kemuka lalu dengan gerakan yang cepat dia sudah memburu dan berdiri dihadapan perempuan itu.

“Kalau hendak membunuh aku, paling tidak engkau harus belajar 10 tahun lagi,” Dewi Tongkat sakti tertawa sinis, ”kuberi tahu kepadamu Kalau engkau sampai mempunyai pikiran jahat lagi, aku segera akan membuka rahasia dirimu. Coba saja engkau bayangkan, bagaimana ngeri kematian yang akan engkau terima.”

Sebagai seorang gadis yang cerdas, Coh Hen Hong menyadari bahwa saat itu nasibnya memang sedang didalam cengkeraman Dewi Tongkat sakti Dia harus berani menekan segala perasaannya untuk bersikap menurut. Dia tak bilang apa-apa kecuali menghaturkan terima kasih, terima kasih atas pertolongan Sian koh yang telah menutupi diriku dihadapan Ceng-te

Mendengar itu kemarahan Dewi Tongkat saktipun mereda. Dia tertawa mengekeh, “Kuberi mu Tempo tiga hari untuk melaporkan kepadaku rahasia dari kamar rahasia itu.”

Pikir Coh Hen Hong, kalau tak menyanggupi, dia tentu akan celaka. Maka diapun serentak mengiakan, “Baik, baik, aku tentu akan berusaha Sampai berhasil”

Dalam saat Itu Dewi Tongkat sakti sudah melesat keluar dari hutan. Setelah nenek itu pergi barulah dengan gemas sekali Coh Hen Hong menghantam sebuah pohon, bum….

Dia marah terhadap dirinya yang masih kurang berhati-hati sehingga hampir saja rahasianya diketahui Cengte.

Dan lagi diapun masih belum mampu menilai kepandaian Dewi Tongkat-sakti. Dia kira pukulannya itu tentu dapat membunuhnya tetapi ternyata nenek itu tak apa-apa. Kalau kelak dia masih berbuat setolol itu, dikuatirkan sebelum Dewi Tongkat-sakti sempat membuka rahasia dirinya, dia sendiri sudah diketahui belangnya oleh Ceng-te.

Sampai berapa saat dia termenung dalam hutan baru kemudian dia kembali masuk kedalam istana dan terus masuk kedalam kamarnya sendiri. Malamnya, seperti biasa, dia makan malam berasama Ceng-te. Selesai makan Ceng-te tak berkata apa-apa. Dia memimpin tangan Coh Hen Hong dan berjalan di sebuah lorong (gang) yang buntu. Disitu Ceng-te memutar sebatang tiang, krek, krek, krek…. ter dengar bunyi berdetak-detak dan tiba-tiba pada jalan buntu itu terbuka sebuah pintu.

“Engkong, tempat apakah disitu?” serunya kejut2 gembira.

“Itulah ruang rahasia yang kuciptakan Sendiri selama bertahun-tahun. Terdiri dari 17 ruang kata Cengte.

“Tujuh belas ruang?” Coh Hen Hong terkejut.

“Ya,” jawab Cengte,” selama bertahun tahun ini aku telah memberi perintah kepada setiap ketua perguruan persilatan untuk mencarikan benda2 pusaka yang jarang terdapat. Mereka dengan mati- matian berusaha untuk mendapatkan benda yang kuinginkan.”

“Sebenarnya,” Cengte melanjutkan, ”tujuan ku hanya ingin agar dunia persilatan yang tenang-tenang itu menjadi gempar dan saling bunuh membunuh untuk berebut. Maka setiap kali dalam permintaanku itu tentu kusebutkan benda2 pusaka yang sukar didapat. Dengan begitu dunia persilatan akan Mempunyai obyek untuk dipertengkarkan dan mengurangi per tengkaran yang tidak berguna. Tetapi karena takut, tokoh-tokoh yang menerima suratku itu berusaha mati matian untuk memenuhi sehingga barang2 pusaka terus mengalir datang makin lama makin banyak. Dan selerakupun makin timbul untuk memiliki barang2 yang berharga.” 

Sebenarnya Coh Hen Hong kurang begitu jelas akan arti kata-kata Cengte tetapi dia hanya mengiakan saja.

Dan saat itu keduanya sudah memasuki pintu rahasia. Disebelah dalam pintu itu merupakan sebuah terowongan yang cukup panjang.

Sambil berjalan, Coh Hen Hong berpikir dalam hati. Dewi Tongkat-sakti mengatakan sebuah kamar rahasia tetapi ternyata kamar rahasia itu terdiri dari 17 buah banyaknya. Dengan begitu jelas Dewi Tongkat-sakti sendiri juga tidak mengetahui dengan jelas.

Tak berapa lama mereka tiba di ujung terowongan yang merupakan sebuah pintu bundar.

“Lihatlah ke muka,” kata Ceng-te, “apa yang engkau saksikan?”

Coh Hen Hong nenurut. Dalam pintu bun dar itu ternyata terdapat sebuah terowongan pendek lagi. Dikedua samping terowongan, terdapat beberapa pintu yang seluruhnya berjumlah 20-an lebih. Laritai terowongan itu terbuat dari batu ber warna putih hitam, bentuknya persegi dan besar nya hanya seperti telapak tangan.

Setelah melihat beberapa jenak, Coh Hen Hong gelengkan kepala, “Aku tak dapat melihat sesuatu yang istimewa.”

Cengte tertawa, “Lorong didalam pintu ini penuh dengan alat2 rahasia, dibuat oleh 19 ahli ternama dari Se-gak. Begitu masuk ke terowongan kalau menginjak batu yang putih, tentu akan selamat Tetapi kalau.menginjak batu hitam sekalipun punya nyawa rangkap sepuluh, juga pasti amblas!”

Waktu memandang dengan seksama, Coh Hen Hong melihat bahwa batu putih dan batu hitam itu disusun selang seling, setelah batu putih lalu batu hitam lalu putih dan seterusnya. Tetapi batu bata itu kecil sekali, tidak mungkin dapat memilih untuk menginjak yang hitam atau yang putih kecuali berjalan dengan tumit dan harus berhati hati.

Pun kalau sebelumnya tak tahu akan rahasia itu, begitu masuk tentu akan berjalan saja seperti biasa dan pasti akan celaka.

“Sungguh lihay,” seru Coh Hen Hong seraya leletkan lidah.

“Ikutlah di belakang dan harus berjalan dengan tumit, kalau tidak tentu celaka,” kata Cengte.

Coh Hen Hong takut, serunya, “Engkong, aku…. aku tak masuk saja!“

Cengte tertawa, “Uh, biasanya tidak takut segala apa, mengapa sekarang engkau begitu ketakutan? Kalau tak masuk bagaimana engkau melihat segala harta pusaka dari istana ini?

Apa boleh buat. Terpaksa Coh Hen Hong walaupun berdebar debar. mengikuti di belakang Ceng-te Enam belas buah kamar yang dilihatnya semua penuh dengan intan, emas, permata dan benda2 berharga. Mutiara yang bertumpuk sampai dua meter tingginya batu giok yang besar2, Untaian mutiara Ya beng cu yang memancarkan sinar terang dan lain2 barang pusaka yang jarang terdapat di dunia.

Karena kesima, Coh Hen Hong tidak dapat bicara apa-apa. Baru setelah tiba di kamar yang ke 17, tiba- tiba Ceng-te berkata, “Beng Cu, engkau kira segala rasa heran dan kejut sudah engkau tumpahkan pada apa yang engkau lihat tadi bukan?”

“Ya,” sahut Coh Hen Hong.

Pelahan lahan Ceng te membuka pintu dari kamar terakhir atau kamar yang ke 17.

“Tetapi,” katanya, “apa yang berada dalam karnar ini, setiap jenisnya, tentu lebih berharga sekali dari apa yang engkau lihat dalam keenam belas kamar tadi!”

mendengar itu Coh Hen Hong terkejut. Tepat pada saat pintu terbuka, cepat dia memandang ke dalam dan seketika dia terlongong-longong.

Tadi selama melihat ke 16 kamar, setiap kali masuk, tentu dalam ruang terang benderang menyilaukan mata. Tetapi kamar yana ke 17 itu ternyata gelap gulita.

Pada saat Coh Hen Hong terlongong, Cengte sudah menarik tangannya diajak masuk. Dan Cengte pun lalu menyalakan korek, menyulut se buah lampu. Saat itu baru Coh Hen Hong dapat mengetahui bahwa ruang itu penuh dengan beratus kotak. Ada yang terbuat daripada kayu, ada yang daripada bambu, dan emas, dan batu giok dan beberapa macam jenis lagi yang jumahnya seratus lebih. 

“Apakah itu engkong?” tanya Coh Hen Hong.

Dengan wajah cerah, Ceng-te menjawab, “Dari tujuh macam tay leng tan (obat sakti) buatan perguruan agama Buddha, aku memiliki enam macam. Pil lh kian tan buatan perguruan Siau Lim si yang kabarnya di dunia hanya tinggal sisa satu setengah butir, fihak vihara Siau Lim sendiri, hanya memiliki yang setengah butir dan aku yang satu butir. Tiga puluh enam macam leng-tan dari kaum agama Tao, semua berada padaku. Lihatlah ini….”

“ini adalah Cian-lian-kui liong hwe tan,” kata Ceng- te.

“Apa gunanya, engkong?”

Cengte tertawa meloroh, “Apa gunanya? Beng Cu, kalau makan pil ini. Sama dengan memiliki tenaga orang berlatih silat seribu tahun!”

Coh Hen Hong melongong. Tergerak hatinya. “Engkong, kalau engkong punya pil yang begitu mujijad, mengapa tidak diberikan kepadaku?” katanya memprotes.

Ceng-te tertawa, “Kalau takkan kuberikan kepadamu, perlu apa kuperlihatkan kepadamu? Kalau sudah kuperlihatkan kepadamu, masakan engkau tak mau minta. Dulu tenagamu masih jauh dan kurang, kalau saat itu makan pil ini. tentu, engkau tak tahan. Tetapi kalau sekarang. sudah boleh. Tetapi lebih dulu kuberi tahu kepadamu. Setelah minum pil ini, engkau bakal menderita siksa selama tujuh hari tujuh malam!” “Menderita siksa bagaimana?” tanya Coh Hen Hong,

“Selama tujuh hari tujuh malam, engkau seperti baru dilahirkan kembali, seperti seorang manusia baru.”

“Wah, kalau begitu aku lebih suka menderita tujuh hari siksa itu,” seru Coh Hen Hong.

Cengte menutup kotak Itu, disimpannya kedalam baju lalu mengambill sebuah kotak lain. Kotak bambu. Dia menjemput sebutir pil dari kotak bambu itu.,

“Inilah pil Kiu-thian siou hoan tan yang telah kujanjikan untuk Sin-ciang Sian koh. Setelah minum pil ini tenaga dalamnya akan bertambah lipat ganda” katanya.

Coh Hen Hong terkesiap, “kalau begitu…. kalau begitu….. bukankah kepandaiannya makin dahsyat tak ada yang dapat menandingi lagi?”

“Ingat, dalam dunia ini orang yang kepandaiannya tak ada yang menandingi, hanyalah engkong mu seorang saja!”

Mendengar itu agar Cengte tidak menaruh curiga, Coh Hen Hongpun tak mau bicara lagi. Dan Ceng-te pun lalu menyerahkan pil itu kepadanya, “Waktu berlatih dengan dia, berikanlah kepadanya.”

“Dan aku sendiri kapankah dapat minum Cian-lian- kui-liong-we-tan itu?” tanya Coh Hen Hong.

“Besok menjelang tengah malam,” kata Cengte, “setelah minum aku masih akan menyalurkan tenaga- dalamku untuk menembus jalan darah di seluruh tubuhmu. Paling tidak makan waktu satu jam. Sejak saat itu engkau akan mengalami penderitaan selama tujuh bari tujuh malam. Tetapi sebenarnya…. tak perlu engkau harus tersiksa begitu, pelahan-lahan kepandaianmu toh akan meningkat tinggi juga.”

“Tidak engkong!” bantah Coh Hen Hong, ”aku ingin secara kilat, jangan pelahan-lahan. Engkong, engkau tentu takkan menyesal apa yang telah engkau janjikan kepadaku tadi, bukan?”

Sambil mengelus-elus kepala Coh Hen Hong Ceng- te berkata, “Ah, jangan bicara setolol itu. Apa yang engkong miliki, apakah tidak bakal menjadi milikmu?”

Pikir Coh Hen Hong dalam hati, “Dia kuatir pada suatu hari tindakannya memalsu sebagai Kwan Beng Cu itu tentu akan ketahuan. Pada waktu itu dia tentu tak dapat membawa apa-apa dalam meloloskan diri. Tetapi paling tidak dia tetap terlanjur sudah memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Bagaimanapun juga pil Cian lian kui liong hwe tan itu, harus ia minum, tak boleh tidak.”

”Sudahlah, ke 17 buah kamar rahasia telah engkau lihat Sekarang kita keluar” katanya sembari melangkah keluar.

Coh Hen Hong mengikuti di belakang. Pada Waktu tiba di ambang pintu, tiba-tiba Coh Hen Hong melihat pada sebuah kotak kecil terdapat tulisan berbunyi Hu- kut-tan pil tulang hancur.

Seketika hatinya berdebar keras. Cepat dia menyambar kotak kecil itu. Karena berjalan di muka maka Cengte tak melihat perbuatan Coh Hen Hong. Sekalipun begitu jantung Coh Hen Hong berdetak keras sekali, rasanya seperti mau loncat keluar dari rongga dadanya.

Cepat dia memasukkan kotak kecil itu kedalam baju dan mengikuti Cengte.

Setelah keluar dari pintu rahasia, baru Cengte berkata, “Tadi engkau saksikan semua, seluruh benda2 berharga itu kelak akan nenjadi milikmu.”

Semangat Coh Hen Hong agak tenang namun masih gelisah. Tetapi karena. dia tak bicara apa-apa maka Cengte menganggap tentulah cucunya itu telah mendengar maka diapun tak berpaling ke belakang lagi.

“Engkong, mengapa engkau begitu baik kepadaku?” tanya Coh Hen Hong.

Mendengar itu Ceng-te menghela napas.

“Beng Cu, engkau adalah satu satunya keluargaku.

Coba engkau pikir. Betapapun sakti kepandaianku, tetapi paling-paling hanya dapat menambah sedikit panjang umur, mana takkan mati pada akhirnya?

Kalau aku mati, benda2 berharga yang kukumpulkan selama bertahun-tahun ini kalau tidak kuberikan kepadamu, lantas kukasihkan siapa?”

“Engkong,” cepat Coh Hen Hong menanggapi, “Engkong, kalau sekian banyak barang2 berharga ini diberikan kepadaku, aku tak tahu bagaimana harus kugunakan!” Sebenarnya dia bicara sekenanya saja. Tetapi entah bagaimana pada saat dia mengucapkan pernyataan itu, tiba-tiba terlintas suatu dalam hatinya. Dia membayangkan suatu rencana besar yang akan mengguncangkan dunia tanpa harus menangung resiko apa-apa

Rencana itu yalah mengenai kedudukan dirinya. Sekalipun dia dapat meracuni Dewi Tongkat sakti dengan memberi pil Hu kut tan dan pil kiu thian-siau- hoan-tan yang dipalsu. tetapi kedudukannya tetap belum aman. Kwan Beng Cu yang asli masih hidup dan masih ada lagi Pui Tiok. Jika mau aman betul-betul tak ada lain jalan kecuali harus membunuh Cengte dengan racun.

Apabila Cengte mati, otomatis dia tentu akan menjadi pewarisnya yang sah dan jadilah dia yang dipertuan dari istana Ceng te kiong. Seluruh harta kekayaan Ceng te kiong akan jadi miliknya. Lalu siapa lagi yang dapat menggoyah kedudukannya itu?

Selama beberapa bulan di Ceng te-kiong, ia tahu jelas bagaimana kesaktian Cengte. Maka teringat akan hal itu hatinya berdebar keras dan nyalinyapun kuncup lagi sebelum mekar, Dia terpaksa harus menindas nafsu keinginannya itu.

Tetapi dia hanya menindas dan bukan membasmi keinginan itu. Sesuatu yang ditindas bukan berarti sudah lenyap melainkan hanya mengendap untuk sementara saja. Sewaktu waktu ada kesempatan, keinginan itu pasti akan timbul lagi.

Dia menyadari bahwa dengan kepandaian yang dimiliki saat itu, untuk mencelakai Cengte jelas ibarat capung hendak menumbangkan pohon besar. Suatu hal yang tak mungkin. Ia harus menunggu Setelah kekuatannya cukup kuat, baru dia nanti, mempertimbangkan lagi. Sekarang kalau memikirkan hal itu, hanya buang2 waktu saja. Maka diapun lalu menghapus pemikiran itu dan untuk menutupi agar jangan sampai ketahuan belangnya, dia gopoh mengiakan, “Engkong kapankah engkau hendak memberikan pil Cian lian kui liong we tan kepadaku?”

“Menjelang tengah malam nanti, datanglah ke tempatku,” sejenak berpikir, Ceng-te memberi jawaban.

Coh Hen Hong pura-pura girang, “Kalau begitu biarlah kuberikan pil Kiu thian siau hoan tan ini kepada Sin ciang Sankoh, ya?”

“Baik. pergilah!“

Seperti anjing melihat gebuk, Coh Hen Hong terus loncat sampai tiga tombak jauhnya dan lari. Setelah membiluk tiga buah tikungan baru dia berhenti dan mengeluarkan peti kecil yang memakai tulisan Hu kut tan tadi.

Waktu mengambil peti kecil itu dia hanya memperhatikan tiga buah huruf Hu kut tan. Tetapi sekarang dia baru tahu kalau selain tiga huruf itu, di sampingnya masih, terdapat sederet tulisan kecil2 yang berbunyi; Ketua Peh-tok-kau di daerah Biau yang membuat. Sebutir pil khasiat nya dapat menghancurkan tulang seribu orang. Racun yang paling ganas dalam dunia. Jantung Coh Hen Hong berdetak keras. pelahan- lahan dia membuka peti kecil itu. Ternyata isinya hanya sebutir pil warna merah segar. Anehnya, begitu kotak itu dibuka maka setiup hawa harum segera berhamburan menampar hidung dan menyegarkan dada. Sepintas orang tentu tak mengira kalau pil itu sebuah racun ganas yang dapat meracuni seribu orang.

Sebenarnya Coh Hen Hong memang sudah mengandung rencana untuk menipu Dewi Tongkat- sakti Tetapi dia kuatir permainannya akan diketahui. Sekarang setelah mendapat pil hu-kut tan, Dia lega sekali. Dia segera mengambil kotak kecil tempat pil Siau hoan tan, pil itu dipindah ke dalam kotak pil Hu kut tan dan pil Hu kut tan dipindah ke dalam kotak kecil tempat pil Siau hoan tan semula. Setelah itu baru dia lari keluar.

Setiba di tepi hutan pohon li. sebelum dia membuka suara sudah terdengar dari dalam hutan suara Dewi Tongkat-sakti berseru, “Apa engkau yang datang?

Mengapa kali ini begitu lancar sekali?”

Coh Hen Hong menggigit gigi kencang-kencang. Pikirnya, “Uh, tunggu saja kalau engkau mampus, baru engkau mengerti apa yang engkau maksudkan lancar itu!”

“Siankoh,” serunya lantang, “engkong suruh aku mengantarkan pil Kiu thian siau hoan tan ke padamu!”

Sambil berseru diapun sudah bergerak masuk ke dalam hutan. Tampak Dewi tongkat sakti menyongsongnya. Setelah keduanya tegak berhadapan, dengan wajah berseri-seri Dewi Tongkat sakti berseru, “Mana?

Apakah benar-benar pil Kiu-thian siau hoan tan?”

“Engkong sendiri yang memberikan kepada ku, masa bisa keliru?” kata Coh Hen Hong. Dia merogoh ke dalam baju dan mengeluarkan kotak kecil dan dalam hati berdoa, semoga Thian memberkahi dirinya dan agar nenek tua itu belum pernah melihat pil Kiu- thian siau hoan tan dan pil Hu-kut-tan.

Setelah menyambuti kotak Dewi Tongkat-sakti terus membuka dan menyedot napas dalam2, serunya, “Wahai, pil dewa, sungguh tak kecewa dengan namanya yang termasyhur. “

Mendengar pujian Itu hati Coh Hen Hong longgar seka1i. Dia tertawa, “Sian-koh, engkong mengatakan pil Kiu thian siau hoan tan itu khasiatnya buka main. Sekejab minum, tenaga akan tertambah kuat. lekas minumlah!”

Dewi Tongkat sakti gunakan dua buah jari untuk menjemput pil itu terus hendak ditelannya. Tetapi tiba-tiba dia keluarkan pandang dan berseru, “Barang yang begini luar biasa, kalau kumakan sendiri, sungguh tak enak hati. Bagaimana kalau kuberimu separoh bagian?”

Ternyata ia masih belum percaya betul kepada Coh Hen Hong. oleh karena itu dia sengaja berkata begitu untuk menge-test bagaimana reaksi Coh Hen Hong.

Bagaimana kejut Coh hen Hong dapat dibayanghan. Kalau bukan orang yang memang sudah terlatih dalam soal siasat kelicikan, tentulah akan pucat saat itu dan akan ketahuan boroknya.

Tetapi Coh Hen Hong memang berbakat sekali dalam bidang kebohongan. Sejenak tertegun, dia

pura-pura gembira sekali dan berseru, “Sin-koh begitu baik sekali engkau kepadaku, lebih dahulu aku menghaturkan terima kasih.”

dan untuk menyempurnakan jawabannya itu, diapun terus berlutut dan menganggukkan kepala sampai ketanah.

Dewi Tongkat-sakti benar-benar knock out. Lenyap seketika kecurigaannya. Ia mendengus “Huh, apa engkau kira aku benar-benar mau memberimu separo? Aku hanya ingin menguji apakah engkau main gila atau tidak dengan pil itu!”

“Sungguh berbahaya,” diam-diam Coh Hen Hong mengeluh dan bersyukur dalam hati.

Dia pura-pura masygul. Dipandangnya pil Hu-kut tan itu, katanya, “Sankoh kalau memang tidak mau membagi mengapa engkau memancing aku supaya gembira?”

Dewi Tongkat-sakti tertawa, “Lucu, sekarang engkau kan jadi cucu-luar dari pemilik Ceng-te kiong. Segala macam pil dewa obar mujijat, tentu engkau bakal punya semua. Mengapa harus masih minta bagian dari pil Siau-hoan-tan yang diberi kan kepadaku ini?” Coh Hen Hong menghela napas “Tetapi engkong terlalu pelit jangankan memberi, sedang memperlihatkan padaku saja tidak mau!”

Wajah Dewi Tongkat-saki berobah gelap, serunya, “Kalau begitu, engkau belum berhasil mengetahui dimana letak kamar rahasia itu?”

Coh Hen Hong gelengkan kepala, “Belum. Tetapi jangan kuatir. Dalam lima hari nanti aku tentu akan memberi laporan tentang hal itu.

Sin-koh…. apakah pil Siau-hoan tan itu benar-benar hendak engkau kangkangi sendiri?”

“Ngaco!” bentak Dewi Tongkat sakti marah, siapa bilang mengangkangi? Benda ini sebenarnya memang milikku!”

Diam-diam Coh Hen Hong bersorak gembira.

Pikiirnya, kalau engkau mau memberi separoh pil itu kepadaku, aku pasti celaka.

Coh Hen Hong menghela napas dan tak mau bicara lagi terus ayunkan langkah keluar dari hutan. Dia percaya, kali ini Dewi Tongkat sakti pasti takkan lolos dari kehancuran,

Setelah Dewi Tongkat sakti lenyap, kedudukannya pasti jauh lebih kuat, walaupun belum menjamin kalau dia bakal selamat selama lamanya.

Kalau mau selamat untuk selamanya, hanyalah membasmi Ceng-te. Kalau Cengte sudah mati, baru benar-benar dia aman untuk selama lamanya. Sungguh dulu dia tak pernah memimpikan bahwa pada hari Itu dia bakal mengalami rejeki begitu luar biasa. Andaikata ia bermimpipun tak mungkin impiannya Itu akan menjangkau sampai begitu rupa.

Sekarang hal itu bukan impian lagi dan bukan lamunan kosong, khayalan muluk, melainkan suatu kenyataan. Asal dia berhati-hati untuk mengatur segala rencananya tentulah dia bakal mencapai apa yang diidam-idamkan itu.

Pada hari Itu dia sedang mengharap agar tengah malam segera tiba. Disamping itu dia pun mengharap Dewi Tongkat-sakti jangan lekas-lekas menelan pil Hu-kut-tan itu dulu. Karena apabila kematian Dewi Tongkat-sakti itu sampai tersiar di Ceng te kiong, Ceng te tentu akan mencurigainya, Siapa tahu kemungkinan yang tak diinginkan dapat terjadi.

Tetapi kalau kematian Dewi Tongkat-sakti itu terjadi pada waktu setelah ia minum pil Kun liong lwe tan, dia tentu takkan keluar selama tujuh hari tujuh malam.

Setelah tujuh hari, sekalipun kematian Dewi Tongkat- sakti itu akan menimbulkan kecurigaan Ceng-te kepadanya tetapi karena peristiwa itu sudah terjadi tujuh hari yang lalu mudahlah dia nanti menyangkalnya. Dia menunggu sampai hampir tengah malam baru menuju ke tempat kediaman Ceng-te.

Tampak Ceng-te sedang duduk bersila di tanah. ubun- ubun kepalanya mengeluarkan uap putih yang berhamburan membubung keatas.

Asap putih itu mengumpal diatas kepala Cengte dan tak mau buyar. Sepintas pandang dia seperti memakai topi putih yang aneh. Begitu Coh Hen Hong melangkah masuk, Cengte sudah mengapaikan tangannya, memberi isyarat supaya dia duduk. Coh Hen Hong menurut.,

Beberapa jenak kemudian tampak Ceng-te pe- lahan2 membalikkan tangan. Pil Kui-liong lwe tan sudah berada di telapak tangannya. Dan dari telapak tangan itu juga menghambur hawa panas sehingga membuat pil itu tampak memancar sekali warna merah segarnya.

Coh Hen Hong tegang sekali.

“Buka mulutmu,” tiba-tiba Cengte memberi perintah.

Coh Hen Hong segera melakukan perintah. Begitu membuka mulut, Ia melihat tangan Cengte pelahan- tahan disodorkan dan akhirnya memakan pil itu kedalam mulutnya. Dan tepat pada saat pil masuk ke mulut, tangan kiri Cengte pun segera dilekatkan pada punggung anak perempuan itu.

Saat itu Coh Hen Hong rasakan hawa sedingin es meluncur masuk kedalam kerongkongannya tetapi pada pungungnya dia merasa seperti dialiri hawa yang panas. Dua jenis hawa yang berlainan, dengan cepat mengalir kedalam tubuhnya.

Begitu aliran kedua hawa itu saling bentur lalu meletus dan meliar kemana mana. Coh Hen Hong rasakan tubuhnya seperti ditusuki seribu jarum. Sakitnya tak dapat dilukiskan lagi. Tubuhnya meregang dan pandang matanya pun gelap. Mulut mendesuh dan orangnya pun tak ingat diri lagi. Lewat beberapa waktu lamanya, pe-lahan2 dia baru mulai terasa. Dia merasa seperti berada dalam liang es dan ribuan pecahan es bertebaran membentur tubuhnya. Dia ingin berteriak tetapi tak dapat keluar suaranya. Terpaksa dia bertahan dengan sekuat tenaga Namun dia masih mendengar jelas bagaimana tulang belulangnya ber gemerutukan menggigil keras.

Tidak berapa lama rasa dingin itu pelahan lahan mulai hilang. Tetapi sebagai gantinya dia merasa diserang hawa panas, entah seperti dibakar dengan beberapa puluh anglo. Dia bahkan merasa dirinya sudah menjadi abu. Kesadaran pikirannya masih tajam dan karena itulah maka dia dapat merasakan penderitaan yang hebat itu.

Ketika mencapai klimaksnya, hawa panas itu berobah, menjadi rasa gatal yang luar biasa. Begitu gatal dirasakan seluruh tubuhnya sehingga ingin rasanya dia mati saja. Tetapi pandang matanya serasa gelap dan tubuhnyapun tak dapat berkutik.

Siksaan hebat itu entah berlangsung berapa lama dan Coh hen Hong merasa kalau dirinya tentu sudah mati. Dia tak percaya kalau dia mampu bertahan menghadapi siksaan begitu hebat. Dan akhirnya penderitaan itu pun pelahan-lahan mulai berkurang. Kini dia merasa lelah sekali. Lalu dia terlena tidur pulas.

Entah berapa lama dia telahb tidur hanya ketika membuka mata, dia merasa seperti berada di ujung mega, berayun ayun kian kemari dengan nikmat sekali. Dia tenangkan semangat mererenungkan apa yang telah dialami selama ini. Dia tahu kalau dirinya telah melewati saat yang paling sengsara. Dan setelah itu sekarang tenaga- dalamnya bertambah hebat. sudah tentu dia gembira sekali. Lalu membuka mata.

Dilihatnya Cengte sedang duduk dihadapannya dan dia dapatkan dirinya telentang tidur diatas ranjang.

Dia cepat bangun.

“Apa engkau sudah bangun?” tegur Cengte. “Engkong,” sahutnya,” apakah aku sudah melewati

tujuh hari tujuh malam yang mengerikan itu? apakah tenaga dalamku bertambah hebat?”

”Ya,” sahut Cengte dengan nada dingin.

Mendengar itu Coh Hen Hong terkejut. Dia seorang anak perempuan yang cerdas. Cepat dia menyadari apa yang telah terjadi. Selama itu Dewi Tongkat-sakti tentu sudah meminum obat Hu kut tan dan mati.

Kematian nenek itulah tentu yang menyebabkan Cengte bersikap begitu dingin.

Coh Hen Hong pura-pura tak tahu tentang peristiwa itu dan dengan riang gembira dia turun dari ranjang lalu mengerahkan tenaga-murni dan wut…. dia menghantam dinding tembok.

Dia gunakan segenap tenaga dalamnya untuk menghantam. Dengan hantaman itu Iapun hendak melonggarkan kesesakan dadanya yang terhimpit rasa gelisah.

Bum….! Ternyata pukulannya itu telah menimbulkan rasa kejut yang tak kepalang. Tinjunya dapat menjebolkan dan tembus ke luar tembok.

Dinding ruangan itu tak kurang dari satu batu tebalnya tetapi toh dapat dihantam sampai tembus. Saking kejutnya dia sampai tak sempat menarik kembali pukulannya yang masih menembus dinding itu.

“Tenagamu maju hebat sekali,” ujar Cengte, “kalau sebelumnya engkau tahu bahwa tenaga mu bakal sedemikian saktinya, tentulah engkau takkan mengandung pikiran untuk menggunakan racun mencelakai orang.”

Mendengar itu sudah tentu Coh Hen Hong tergetar hatinya. Namun dia bersikap pura-pura seperti tak mendengar hal itu dan lalu menarik tangannya seraya berseru girang, “Engkong, lihatlah lubang pada dinding ruangan ini!“

“Ya, aku memang sudah melihatnya,” sahut Cengte “Engkong, lubang itu hasil dari pukulanku yang

tadi,” seru Coh Hen Hong masih riang gembira.

“Ya,” sahut Cengte, “akupun sudah bilang tadi.

Kalau sebelumnya engkau tahu bahwa setelah bangun dari tidur, engkau bakal memiliki tenaga yang sedemikian dahsyat, tentu tidak perlu harus mencelakai orang dengan racun tetapi membunuhnya saja secara terang terangan.”

Kata-kata Ceng-te sudah begitu jelas, Coh Hen Hong sukar untuk pura-pura tak tahu lagi. Ia mengangkat kepala pura-pura dengan sikap tidak mengerti berseru, “Engkong, engkau berkata apa?”

Baru dia bertanya begitu, dilihatnya wajah Ceng-te berobah gelap, matanya berkilat-kilat tajam. Tetapi pada lain saat Ceng-te menghela napas “Beng Cu,” katanya, “aku hendak bertanya kepadamu. Sin ciang Sian koh itu adalah orang yang membawamu pulang ke mari tetapi mengapa engkau tentu harus membunuhnya? Pertama gagal lalu sekali lagi.

Mengapa tak boleh tidak harus dibunuh?”

Biji mata Coh Hen Hong berkeliaran kian ke mari.

Saat itu dia memang bingung tetapi sekarang dia sudah tahu bahwa Dewi Tongkat sakti sudah mati. dengan begitu untuk sementara waktu rahasia dirinya takkan bocor. Pokok, asal dia pandai membawakan peran sebagai Kwan Beng Cu dengan baik dan rahasia itu tak bocor, Ceng-te tentu takkan berbuat apa-apa kepadanya.

Sesaat kemudian dia sengaja bersikap sedih dan dengan airmata berlinang-linang dia memandang Cengte tanpa berkata apa-apa.

Dalam menghadapi sikap Coh Hen Hong begitu rupa, kemarahan Cengte pun berangsur angsur reda.

Hm, sekaranglah waktunya, kata Coh Hen Hong dalam hati. Huaaa…., huaaa dia terus menangis sekerasnya.

Cengte berbangkit tetapi duduk lagi. Menilik sikapnya seperti hendak menasehati Coh Hen Hong jangan menangis tapi tak jadi. Kalau dia berbuat begitu, dia kuatir Coh Hen Hong akan mengira kalau dia takkan mendampratnya lagi. oleh karena itu diapun tak jadi bicara apa-apa.

Dalam menangis itu, Coh Hen Hong memang benar- benar cemas sekali, Kalau. saja ia tidak dapat mengatasi ancaman saat itu, bukan saja dia takkan menikmati lagi hidup mewah dalam istana Ceng-te- kiong, pun bahkan kembali hidup seperti gelandangan lagi dalam dunia persilatan seperti dahulu, juga tak mungkin.

Ah, betapa ironis sekali. baru saja dia memperoleh peruntungan luar biasa karena tenaga-dalamnya menjadi sakti, sekarang dia harus menerima ujian yang berat menghadapi pertanyaan Cengte mengenai kematian Dewi Tongkat-sakti.

Karena makin memikirkan makin sedih maka jika semula hanya pura-pura menangis, sekarang dia benar-benar menangis sedih meratapi nasibnya.

Coh Hen Hong hanya mencurahkan seluruh pikirannya untuk menangis dan dia tak memperhatikan apa-apa lagi sehingga tak melihat bagaimana berapa kali Ceng-te berbangkit duduk.

“Sudahlah, sudahlah, perlu apa menangis?” akhirnya Ceng-te kalah tahan dan berseru.

Sambil menangis Coh Hen Hong berkata, “Siankoh….selalu menekan aku. Aku terpaksa membunuhnya!”

Dalam menangis itu, diam-diam Ia sudah menemukan suatu rencana untuk menghadapi Cengte. “Dia menekan engkau” Ceng-te heran.

Dengan terisak, Coh Hen Hong berkata, “Dia mengatatan……. karens dia yang membawa aku ke istana Ceng te-kiong maka aku berhutang budi kepadanya dan seterusnya aku membalas budi…. oleh karena itu dia menekan aku supaya memberi tahu dimana letak kamar rahasia dari Ceng te kiong “

Kalau berbohong, tentulah Coh Hen Hong tak dapat bicara dengan lancar dan sungguh-sungguh. Tetapi karena hal itu memang setengahnya sungguh bahwa Dewi Tongkat sakti memang menekannya untuk menyelidiki kamar rahasia itu maka dalam memberi keterangan kepada Ceng-te, Coh Hen Hong dapat bicara dengan lancar sekali, sedikitpun tak tampak seperti orang berbohong.

“Benarkah begitu?” seru Ceng-te marah.

Coh Hen Hong mengangkat mukanya yang masih penuh airmata, “Engkong, jika tidak begitu perlu apa aku harus membunuhnya?”

Memang terhadap tindakan Coh Hen Hong yang telah meracuni Dewi Tongkat-sakti, Cengte benar- benar tak mengerti. Sampai saat itu diapun masih belum dapat menganalisa apa tujuan Coh Hen Hong membunuh itu. Dia hanya menganggap jawaban Coh Hen Hong memang beralasan.

Sejenak tertegun baru Cengte menghela napas, katanya, “taruh kata betul begitu, seharusnya engkau berunding lebih dulu dengan aku.” Coh Hen Hong yang cerdik tahu bahwa ke marahan Cengte kepadanya sudah lenyap. Maka dengan bersikap manja, dicibirkan bibir, “Uh dalam soal sekecil itu kalau aku harus merepotkan engkong, apakah aku pantas menjadi cucu perempuan engkong?”

Ceng-te tertawa gembira, “Hm, tak malu. siapakah yang menangis sampai basah kuyup tadi?

Hati Coh Hen Hong seperti terlepas dari himpitan batu besar. Dia lega sekali. Ha…..

dia tertawa dan berpaling kepala.

Cengte juga tertawa. Pada lain saat baru dia berkata dengan serius, “Beng Cu, sekarang tenaga- dalammu bertambah hebat. Kurasa dalam setahun lagi, kepandaianmu tentu dapat menyamai tokoh kelas satu!”

“Engkong, kumohon engkong suka mengajarkan ilmu pedang Leng-liong-kiam-hwat kepadaku cepat Coh Hen Hong tak mensia-siakan kesempatan baik pada saat itu.

Ceng-te diam sejenak. Tiba-tiba dia balikkan tangan, sring…. sinar emas berkelebat tajam dan tahu-tahu tangannya sudah menggengam sebatang pedang kecil yang bersinar kuning emas.

Karena kerasnya sinar pedang itu dan ber kilat2 tajam maka sepintas pandang, Cengte seperti mencekal seekor ular emas. Dari mulut Dewi Tongkat-sakti, Coh Hen Hong sudah mengetahui bahwa di istana Ceng te kiong terdapat sepasang pedang pusaka yang jarang terdapat di dunia.

Yang sebatang adalah pedang Ceng-leng-kiam yang dibawa lari mendiang kwan hujin dan sekarang berada di tangan Coh Hen Hong. Sedang yang sebatang lagi masih berada di Ceng-te kiong yaitu pedang Kim liong kiam, Untuk memainkan sepasang pedang pusaka itu, Cengte memiliki ilmu pedang Leng liong kiam hwat.

Coh Hen Hong melihat bahwa pedang Kim liong kiam di tangan Ceng-te itu bentuknya lebih pendek dari pedang Ceng leng-kiam yang berada padanya.

Bentuk pedang Ceng liong kiam itu tidak lempeng melainkan berlekuk lekuk. karena sinar yang dipancarkan sangat kuat maka bentuk pedang itu sukar diketahui jelas.

Berbareng dengan membalikkan tangan tadi, Ceng- te pun mengambil kerangka pedang dari dalam kolong lengan bajunya. Pedang Kim liong kiam lalu disarungkan kedalam kerangka, lalu berseru memberi perintah kepada Coh Hen Hong, “Berikan pedang Ceng- leng kiam itu!”

Coh Hen Hong gopoh melakukan perintah. Setelah menyambuti Ceng leng kiam, pedang itu juga dimasukkan kedalam kerangkanya. Wajah Cengte tampak serius sekali.

Coh Hen Hong juga tegang. Dia berdiri dengan tegak. “Beng Cu!” seru Ceng-te, “Sepasang pedang ini pusaka kuno yang luar biasa hebatnya. ilmu pedang Leng-hong kiam-hwat yang hendak kuajarkan kepadamu, merupakan ilmu pedang luar biasa yang tiada taranya dalam dunia. Sebelum engkau menerima pelajaran ilmu pedang itu, engkau harus mengangkat sumpah dahulu.

Mendengar kata-kata Cengte yang begitu serius menandakan bahwa ilmu pedang Leng liong-kiam hwat benar-benar bukan ilmu pedang sembarangan.

Tetapi ia tak tahu sumpah apa yang dikehendaki Cengte. Kalau sumpah itu mengandung banyak pantangan dan larangan, wah, berabe sekali baginya.

Tetapi dalam keadaan seperti saat itu, tiada lain jalan lagi baginya kecuali harus mengiakan.

“Baik. engkong,” dia mengangguk.

“Ilmu pedang Leng liong-kiam hwat ini, hanya terdiri sembilan jurus saja. Tetapi setiap jurus berikutnya tentu lebih hebat dari jurus sebelumnya. Kuperhitungkan, jarang sekali tokoh persilatan dalam dunia persilatan yang mampu menerima enam jurus seranganmu. Tetapi kalau engkau berhadapan dengan orang yang mampu bertahan enam jurus seranganmu, jangan sekali kali engkau lanjutkan dengan jurus yang ke tujuh. oleh karena jelas. orang itu memiliki kepandaian yang luar biasa hebatnya.

“Engkau harus berhenti dan damai saja. Tetapi apabila dia menolak engkau ajak damai, engkau boleh lanjutkan menyerang sampai tiga jurus berikutnya.

Apakah engkau dapat melakukan pesanku itu?” 

Semula Coh Hen Hong mengira dia harus bersumpah keras mengenai larangan dan pantangan Tetapi kini setelah mendengar keterangan Cengte tentang hal yang sepele begitu, bukan kepalang girangnya.

“Engkong, kalau aku tak mematuhi pesan mu itu, biarlah kelak aku mati di bawah pedang Leng-liong- kiam ini sendiri,” serentak berserulah Coh Hen Hong mengangkat sumpah.

Terkejut Ceng-te mendengar sumpah yang begitu ngeri dari Coh Hen Hong, serunya gopoh “Sudah, sudah! Terimalah lebih dulu sepasang pedang pusaka ini!“

Setelah Coh Hen Hong menyambuti sepasang pedang, terdengar Ceng-te berkata pelahan-lahan “Ceng-kiam di tangan kanan dan Kim-kiam d tangan kiri. Sepasang pedang yang satu panjang dan yang satu pandak. Yang satu lurus dan yang satu berlekuk. Saling isi mengisi. Setiap yang Satu bergerak, yang lain harus siap. Sepasang pedang tak boleh berpisah, kalau sampai tercerai, kekuatannya berkurang”

Coh Hen hong mendengarkan dengan penuh perhatian.

berkata Cengte lebih lanjut, Dalam satu bulan engkau menerima satu jurus. Dalam sem bilan bulan engkau tentu dapat menyelesaikan sembilan jurus.

Dan tiga bulan lagi untuk menyempurnakan latihan seluruh jurus. Dalam setahun engkau pasti berhasil,”

Kembali Coh Hen Hong mengangguk. 

Cengte mengurut janggut dan berkata pula, “Setelah setahun kemudian, kepandaianmu sudah matang. Segala urusan istana Ceng te kiong akan kuserahkan kepadamu.”

Girang Coh Hen Hong tak dapat dilukiskan lagi. Dia sendiri lega dan berkata dengan penuh semangat, “Apakah nama dari ke sembilan jurus ilmupedang itu?”

“Jurus pertama disebut Ceng tiap hui lay (Kupu hijau terbang datang). Pedang di tangan kanan bergerak ke arah tengah dan pedang di tangan kiri bergetar getar, Jurus itu seluruhnya terdiri dari sembilan perobahan.

Dengan terperinci, Ceng te lalu menguraikan ke Sembilan gerak dari jurus Ceng tiap hui lay itu. Cohb Hen Hong berusaha keras menumpahkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan.

Sebenarnya waktu mendengar Cengte mengatakan bahwa sebulan hanya belajar satu jurus, dalam hati diam-diam Coh Hen Hong mengejek. Masa satu jurus kok satu bulan? Dia yakin akan kecerdikan otaknya, tak perlu harus makan waktu begitu lama untuk mempelajari sebuah jurus saja.

Tetapi saat itu setelah mendengar uraian Ceng-te tentang sembilan gerak perobahan yang terkandung dalam satu jurus tersebut, diam-diam ia mengeluh dalam hati. Kesombongannyapun berantakan seketika.

Untuk mempelajari sampai faham sembilan gerak perobahan itu, dia kuatir dalam waktu satu bulan belum tentu dapat. 

Tetapi dia seorang anak perempuan yang keras hatinya Menyadari akan sukarnya ilmu pedang itu, diapun segera membenam diri berlatih dengan sungguh-sungguh. Dengan modal ketekunan dan kegiatan itu akhirnya dapatlah kepandaiannya meningkat maju dengan pesat. 

Sejak berlatih ilmu pedang Leng liong kiam hwat, Coh Hen Hong rasakan waktu berjalan cepat sekali. Rasanya hanya sekejab saja tetapi nyata musim semi telah berganti musim gugur.

Begitu cepat. Tahu-tahu setahun sudah berlalu. setahun kemudian, Coh Hen Hong telah mencapai

kemajuan besar dalam ilmu pedang Leng liong kiam hwat Dan berbareng dengan itu, dia pun ikut tumbuh dewasa menjadi seorang gadis remaja yang bertubuh langsing dan berparas cantik.

Pada hari itu sebelum hari terang tanah, dia sudah mulai latihan di tanah lapang dalam istana. Pada saat mentari terbit, tampak segulung sinar biru dan Sinar emas bergulung gulung melilit sesosok tubuh langsing.

Tepat pada saat itu Cengte berjalan ke luar sambil menggendong kedua tangannya. Melihat latihan itu, wajah Cengte Serentak memancar kegirangan.

Setelah Coh Hen Hong selesai melakukan ke 81 gerakan ilmu pedang, berserulah Cengte dengan pujian, “Bagus!”

Coh Hen Hong cepat hentikan permainannya. Dengan wajah tersipu-sipu merah dia terus lari menghampiri, serunya, “Engkong, bagaimana? Apa sudah boleh?”

Ceng-te memegang tangan gadis itu, “Tidak hanya boleh tetapi sungguh-sungguh di luar dugaanku. Beng Cu, mari, akan kubawamu menemui para jago-jago seisi istana Ceng te kiong”

Coh Hen Hong dibawa ke sebuah ruangan besar. Sekilas Cengte. bertepuk tangan masuklah empat orang lelaki yang serentak memberi hormat dihadapannya.

“Suruh semua warga penghuni istana Ceng te kiong kemari, aku hendak bicara!“ perintah Cengte.

Keempat orang itu segera keluar dan tak berapa lama, berbondong bondonglah orang masuk ke dalam ruang besar itu.

Cengte duduk disebuah kursi kebesaran yang terletak di tengah ruangan. Sedang Coh Hen Hong berdiri di belakangnya. Di sepanjang tiang besar terdapat dua deret panjang kursi. Orang-orang yang masuk itu memilih tempat duduknya masing-masing. Mereka semua tidak berani terus duduk melainkan tetap berdiri.

Tak berapa lama kursi yang berjumlah 17- 18 buah itu telah penuh dengan orang. Saat itu mereka sama duduk.

“Cukat sianseng,” beberapa saat kemudian baru terdengar Ceng-te berkata pelahan lahan. Seorang lelaki pertengahan umur yang dandanannya seperti seorang sasterawan dan yang duduk paling dekat dengan Cengte, sambil ber kipas kipas segera memberi hormat, “Hamba telah hadir.”

“Cukat sianseng,” kata Ceng-te pula, “selama satu tahun ini, aku belum pernah bertanya tentang keadaan di luaran. Bagaimana wibawa Ceng-te-kiong dalam dunia persilatan sekarang ini?”

Sasterawan yang disebut Cukat sianseng itu segera menjawab, Wibawa Ceng te kiong masih tetap menonjol Seperti yang sudah2. Hanya di kalangan sementara orang persilatan memang ada kasak kusuk yang mengatakan mengapa sudah sekian lama Ceng- te tidak pernah muncul ke luar, tentulah orangnya sudah tak ada. Gejala itu agaknya condong hendak mengadakan gerakan tetapi tidak Cukup dikuatirkan sebagai ancaman bahaya.”

Ceng-te mendengus, “Hm, kalau begitu, dalam setahun terakhir ini mungkin ada orang yang berani membangkang perintah Ceng te kiong?”

“Tidak ada,” sahut Cukat sianseng, “hanya perguruan Thian sim bun dari gunung Bu ih yang karena masih kurang lengkap beberapa benda yang diminta Ceng-te-kiong maka ketiga saudara yang menjadi pimpinan perguruan itu telah terbunuh sebagai hukumannya.”

Ceng-te mengangguk sebagai tanda rasa puas kemudian dia menunjuk pada Coh hen Hong dan berkata, “Cukat sianseng, inilah cucu perempuanku Kwan Beng Cu.” Cukat sianseng mengangkat muka. Pandang matanya yang memancar sinar tajam seperti kilat memandang Coh Hen Hong dengan tajam.

Coh Hen Hong merasa sinar mata orang itu seperti dapat menembus kedalam hatinya sehingga dia tersipu sipu kikuk dan cepat palingkan kepala ke samping.

”Engkong, siapakah dia?”
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang Berbunga Dendam Jilid 09"

Post a Comment

close