Pahlawan Gurun Jilid 17 (Tamat)

Mode Malam
 
Jilid 17

Waktu itu Han Ciau yang terguling oleh tendangan To Liong tadi baru saja melompat bangun, tahu2 Abul sudah menubruk pula kearahnya. Cepat Han Ciau berseru: “Lekas lari Bengcu!” ~ Mendadak ia menyemburkan darah segar kearah Abul sehingga muka kepalanya basah kuyup.

Abul terkejut, tapi segera Han Ciau menubruknya dan merangkulnya kencang2 sambil mengerang, Han Ciau kerahkan segenap sisa tenaganya. Tanpa ampun lagi Abul menjerit ngeri, tulang rusuknya telah dipatahkan dua-tiga tempat dan jatuh semaput. Tapi Han Ciau sendiri juga tergetar oleh tenaga Liong-siang-sin-kang, lukanya bertambah parah, darah tersembur lagi dari mulutnya, akhirnya iapun roboh menghembuskan napas penghabisan.

Melihat pertarungan maut itu, para busu Mongol sama melongo kesima, Hulitu terkejut dan kagum pula terhadap keperkasaan Han Ciau. Cepat pula ia periksa keadaan sang suheng dan membubuhkan obat, untuk sementara ia menjai tidak sempat tanya To Liong apa yang terjadi itu.

Pada saat itulah terdengar Lau Khing-koh berseru dengan suara parau: “Engkoh Liong, aku ……. Aku tidak tahan lagi, aku ….. aku ingin bi … bicara padamu!”

To Liong yakin Li Su-lam dan lain2 sukar untuk kabur, ia pikir Khing-koh masih ingat padanya, entah apa yang hendak dibicarakannya, tampaknya lukanya yang terkena Tok-liong-piau tak bisa ditolong lagi, mungkin ada sesuatu pesan terakhir yang akan diucapkannya. Karena itu ia coba mendekati , ia berjongkok tanpa prasangka apa2 sambil berkata: “Ada apa adik Khing, katakanlah apa yang kau inginkan. Kau jangan kuatir, nanti akan kuberikan obat penawar racun paamu.” Diluar dugaan, se-konyong2 Khing-koh melompat bangun, “bles”, tahu2 Tok-liong-piau yang mengenai Khing-koh tadi ditikamkan kedada To Liong. Nyata dengan tekad matipun harus membinasakan musuh yang telah menipunya itu, Khing-koh memancing To Liong kedekatnya dan menikamnya dengan Tok-liong-piau. Tepat ulu hati To Liong tertancap Tok-liong-piau itu. Keruan To Liong binasa seketika, begitu pula Khing-koh juga lantas menggorok tenggorokan sendiri dengan golok yang masih dipegangnya.

Saat itu Li Su-lam baru saja membuka pintu kamar penjara, Nyo Wan dan Han Pwe-eng juga baru saja melangkah keluar dan kebetulan mereka menyaksikan adegan yang tragis itu. Tanpa menghiraukan busu2 Mongol yang mengepung disitu, Nyo Wan lantas menubruk keatas mayat Lau Khing-koh dengan air mata bercucuran dan berseru: “Enci yang baik, kau telah membalaskan sakit hatiku, tapi aku tidak dapat brbuat apa2 lagi atas kebaikanmu!” ~ Habis itu ia menengadah dan berkata pula kepada Li Su-lam: “Engkoh Lam, kita tidak dapat melarikan diri, daripaa teraniaya, biarlah kita mencontoh enci yang agung ini!” ~ Segera ia ambil golok Lau Khing-koh tadi dan hendak membunuh diri.

“Jangan!” cepat Li Su-lam berseru mencegah. “Biarpun kita tidak dapat melawan musuh, tapi kitapun jangan sekali2 membunuh diri. Enci yang baik ini mengorbankan diri setelah dia membunuh To Liong lebih dulu, maka kalau mau meniru harus ikut caranya ini, bunuh diri boleh asalkan sudah membinasakan musuh pula.”

Seruan Li Su-lam ini menyadarkan Nyo Wan, golok yang sudah terangkat tadi diturunkan pula, katanya dengan suara lemas: “Engkoh Lam, kaum lelaki seperti kau tentu dapat mengadu jiwa dengan musuh. Tapi aku tidak ingin tertawan konyol ditangan musuh!”

Melihat itu, Hulitu menjadi tidak sabar, mendadak ia membentak: “Tangkap mereka!” ~ Serentak para busu Mongol mengerubut maju hendak membekuk Li Su-lam bertiga.

Pada saat itulah se-konyong2 terdengar suara bentakan orang yang keras: “Siapa berani menganiaya putriku!” _Berbareng itu dua sosok bayangan orang melayang turun dari atas laksana dua ekor burung raksasa.

Kedua orang yang melompat turun dari wuwungan rumah itu, yang satu berdandan sebagai koki, yang lain seperti kaum hamba istana Koksu, tapi ilmu silat mereka sungguh luar biasa. Begitu orang yang berdandan seperti koki itu sampai disamping Han Pwe-eng, sekali kedua tangannya bekerja, kontan dua busu Mongol yang menubruk kearahnya itu dipegang seperti orang menangkap anak ayam saja, menyusul ia putar kencang kedua tawanannya terus dilemparkan, keruan kedua busu Mongol yang besar itu jatuh terguling dengan kepala dan muka babak belur.

Busu ketiga menjadi kaget, cepat ia hendak mundur teratur, tapi sudah kasip, iapun terpegang dan kena dilempar pergi.

Dalam pada itu Hulitu telah menerjang pendatang yang berdandan sebagai kaum hamba itu, begitu mendekat segera ia menghantam dengan Liong-siang-sin-kang.

“Hm, hanya ukuranmu saja belum perlu tanganku ikut bergerak,” jengek orang itu tanpa menangkis. Maka terdengarlah suara “bluk” yang keras, pukulan Hulitu itu tepat mengenai tubuh sasarannya, suaranya seperti mengenai kulit tambur, yang roboh bukan orang yang berdandan sebagai budak itu, tapi Hulitu sendiri yang terpental dan terguling tak bangun lagi. Keruan kejut busu2 yang lain tak terkatakan, tiada seorangpun yang berani maju pula.

“He, engkaupun datang kesini, Beng-tayhiap! Seru Li Su-lam terkejut tercampur girang. Sementara itu Han Pwe-eng juga sedang melapor kepada orang yang berdandan sebagai koki tadi:”Ayah, kami telah dicekoki entah racun apa, yang jelas tenaga kami menjadi sirna sama sekali!”

Kiranya orang yang berdandan sebagai koki itu adalah ayahnya, Han Tay-wi, sedang orang yang berdandan sebagai budak itu adalah Kanglam-tayhiap Beng Siau-kang. Sudah lama mereka menyusup kedalam istana Yang Thian-lui itu dengan menyamar.

“Apakah kalian dapat berjalan? Tanya Han Tay-wi kemudian. “Dapat,” jawab Han Pwe-eng.

“Baiklah, ikut saja bersama kami, siapa lagi yang berani merintangi kita?” ujar Han tay-wi. “Aku yang akan merintangi kalian!” tiba2 suara orang yang rada kaku berbahasa Han menanggapinya. “Hm, asalkan aku berada disini, betapapun kalian tidak dapat lolos!”

Suara itu tidak terlalu keras ,tapi menggetarkan anak telinga. Han tay-wi terkesiap, waktu ia memandang kesana, tertampaklah seorang Lama berjubah merah sedang mendatangi dengan iringan empat busu Mongol.

Han Tay-wi menduga Lama ini pasti Liong-siang Hoat-ong adanya, segera ia membentak: “Hm, apakah kau inilah Koksu dari tartar Mongol? Baiklah mari kita coba2.”

“Supaya menghemat waktu dan tenaga, boleh kalian berdua maju sekaligus!” sahut Liong-siang Hoat-ong.

Tidak kepalang gusarnya Han Tay-wi, tiba2 ia bergelak tertawa malah, katanya: “Sudah sekian puluh tahun hidupku ini, tapi belum pernah kulihat manusia takabur semacam kau. Baiklah, kau ingin hemat waktu dan tenaga, kami juga ingin lekas2 selesai. Kalian berjumlah berapa boleh maju saja serentak, berapapun jumlah kalian tetap akan kami layani dengan berdua!”

Tapi Liong-siang Hoat-ong lantas menyuruh keempat muridnya mundur kesamping dan memberi pesan agar jangan ikut turun tangan. Dipihak lain Beng Siau-kang juga lantas berkata kepada Han Tay-wi agar memberi kesempatan lebih dulu kepadanya untuk menempur Koksu Mongol itu.

Mendengar permintaan Beng Siau-kang itu, Han tay-wi tersadar, ia pikir ilmu pedang Beng Siau- kang lebih lihai daripadaku, kalau dia yang menempur musuh tangguh itu rasanya akan lebih meyakinkan, sedangkan kau menjadi sempat memberi pertolongan lebih dulu kepada Pwe-eng dan lain2.

Dalam pada itu Beng Siau-kang sudah melangkah maju, katanya dengan acuh tak acuh kepada lawannya: “Sudah lama aku mendengar koksu adalah jago nomor satu didaerah barat, maka sekarang aku orang she Beng sengaja minta belajar kenal. Bila aku kalah selanjutnya aku akan menghilang dari dunia persilatan, sebaliknya kalau aku beruntung menang, lalu bagaimana dengan dirimu, Koksu yang terhormat?”

“Aha, nama kebesaran Beng-tayhiap juga sudah lama kudengar,” jawab Liong-siang Hoat-ong dengan sikap congkak. “Sama halnya dengan kau, jika aku kalah, selanjutnya akupun malu untuk menginjakkan wilayah Tionggoan lagi.”

“Bagus,” kata Beng Siau-kang. “Lalu bagaimana pula sikapmu bila nanti aku membawa pergi anak2 muda itu?”

“Hahaha!” Aku kan sudah berjanji, jika aku kalah, selanjutnya aku takkan menginjak wilayah Tionggoan lagi dan dengan sendirinya aku takkan ikut campur urusan kalian ini. Cuma ucapanmu ini rasanya terlalu ter-buru2 dikemukakan sekarang ini.”

“Bangsa Han kami paling mengutamakan pegang janji, maka ada lebih baik aku bicarakan sebelumnya,” sahut Beng Siau-kang.

Baiklah, apa yang kau kemukakan kuterima semuanya, sekarang silahkan lolos pedang dan menyerang saja!” kata Liong-siang.

Namun Beng Siau-kang tidak lantas mengeluarkan pedangnya, hanya saja siap memegang gagang pedang yang masih bersarang disarung pedangnya, kakinya paang kuda2 dan mata menatap tajam kearah lawan.

Liong-siang Hoat-ong terkesiap, diam2 ia mengakui kehebatan lawan itu. Segera iapun menghimpun tenaga dan mencurahkan pikiran, kedua matanya juga menatap Beng Siau-kang. Seperti ayam jago aduan saja, sebelum bergebrak, kedua orang saling menatap pihak lawan dengan sorot mata yang tajam.

Rupanya kedua orang sama2 menyadari hebatnya pertarungan yang akan terjadi, mereka tahu yang dihadapinya sekarang adalah lawan tangguh yang belum pernah dijumpainya selama hidup ini.

Sebab itulah kedua orang sama2 tidak berani gegabah, sama2 menunggu detik yang paling menguntungkan untuk mendadak melancarkan serangan.

Dalam pada itu Han Tay-wi, sedang memegang nadi putrinya, lalu berkata: “Kau telah dicekoki Soh-kut-san (bubuk pelemas tulang), tapi jangan kuatir, ayah dapat memulihkan tenagamu.” “Ayah jangan mengobati aku dulu, aku ingin menyaksikan pertandingan paman Beng melawan paderi asing itu,” kata Pwe-eng. Kiranya sinona secara tidak langsung ingin ayahnya memulihkan dulu tenaga Li Su-lam.

Segera Han Tay-wi sadar, ia pikir Li Su-lam memikul tanggung jawab yang berat, memang sepantasnya menyembuhkan dia terlebih dahulu, tapi sekarang aku hanya memikirkan anak perempuan sendiri, sungguh memalukan. Karena itu segera ia memegang kedua tangan Su-lam dan berkata: “Tempelkan telapak tanganmu dengan tanganku, tutup mata dan himpun tenaga. Jangan gubris terhadap apapun yang terjadi disekitarmu.”

Mestinya Li Su-lam menolak, tapi sudah lantas terasa suatu arus tenaga panas menyalur masuk kedalam tubuhnya melalui telapak tangan. Terpaksa ia menuruti petunjuk Han Tay-wi, ia duduk bersila, memusatkan pikiran dan menghimpun tenaga.

“Anak Eng,” dengan suara pelahan Han Tay-wi berkata kepada putrinya, “didalam bajuku ada sebuah botol kecil, didalamnya ada tiga biji Pek-ling-tan, keluarkan semua pil itu , kalian bertiga kebetulan seorang minum satu biji.”

Kiranya Han tay-wi tidak Cuma lwekangnya sangat kuat, dalam hal pengetahuan obat2an iapun mahir, Pek-ling-tan adalah buatannya sendiri yang sangat mujarab untuk memunahkan racun.

Walaupun pil ini bukan obat khusus terhadap Soh-kut-san yang meracuni Li Su-lam bertiga, tapi dengan bantuan saluran lwekang yang kuat dari Han Tay-wi, dalam waktu singkat dapatlah tenaga korban dipulihkan.

Setelah Han Pwe-eng menemukan obat yang disebutkan ayahnya, ia berikan dua biji kepada Nyo Wan, katanya dengan tertawa: “Silahkan melayani Li-toakomu.”

Tanpa ragu2 Nyo Wan menjejalkan sebiji pil itu kedalam mulut Li Su-lam, dengan hati ber-debar2 ia pandang pemuda itu. Diam2 ia bersyukur tadi tidak jadi bunuh diri, kalau tidak tentu sekarang Su-lam tak bisa tentram menerima penyembuhan dari Han-locianpwe ini, demikian pikirnya.

Kedua muda mudi itu mempunyai persentuhan jiwa, Li Su-lam juga merasakan kehangatan atas perawatan Nyo Wan itu, seketika semangat terbangkit, dalam sekejap saja tenaga sudah terhimpun dan mulai dapat dikerahkan.

Sementara itu Beng Siau-kang dan Liong-siang Hoat-ong masih berdiri berhadapan dan saling menatap tajam. Se-konyong2 Liong-siang Hoat-ong membentak keras, kedua orang sama2 menubruk maju.

Gerakan Beng Siau-kang cepat luar biasa, tahu2 pedang sudah dilolosnya, sinar pedang menyamber secepat kilat ke Soan-ki-hiat di dada lawan, menyusul terus Kui-cong-hiat bagian perut dan Ih-gi- hiat dibagian iga. Sekali menyerang tiga tempat, inilah jurus serangan istimewa kebanggaan Beng Siau-kang,asalkan salah satu tempat itu tertusuk pedangnya, andaikan tidak mampus tentu juga Liong-siang Hoat-ong akan terluka parah.

Namun Liong-siang juga tidak kalah lihainya, dia bertangan kosong tanpa membawa senjata, tapi ia lantas mengunakan jubah merah yang semampir diatas pundaknya itu sebagai senjata, sekali Kasa atau jubah merah itu mengebas, seketika segumpal awan merah bergulung menyamber kearah Beng Siau-kang.

“Bret”, ujung pedang menembus kasa, tapi kasa merah itu Cuma tertusuk suatu lubang kecil saja, kalau tidak diperiksa dengan teliti sukar diketahui. Ternyata serangan maut Beng Siau-kang itu telah kena dipatahkan oleh Liong-siang hanya dengan suatu gerakan enteng saja.

Keruan Beng Siau-kang terkejut, ia pikir pantas hwesio gede ini bersikap congkak, nyatanya memang memiliki kepandaian sejati, tampaknya kemurnian lwekangnya jarang ada tandingannya di jaman ini.

Kalau Beng Siau-kang terkejut, ternyata Liong-siang Hoat-ong juga tidak kurang kagetnya. Jubahnya itu adalah benda pusaka yangterbuat dari sutera istimewa, yakni dari ulat sutera yang Cuma hidup di Puncak Thay-san (gunung Altai), uletnya sukar dilukiskan. Dengan senjata kasa itu selama ini entah betapa banyak musuh tangguh yangtelah dikalahkan, selama itupun jubah itu belum pernah terusak sedikitpun. Sekarang meski Cuma berlubang kecil saja, tapi sebelumnya se- kali2 tak pernah terduga olehnya.

Karena itu diam2 Liong-siang juga kagum terhadap Beng Siau-kang, pantas namanya termashur di Tionggoan, nyatanya ilmu pedangnya memang lain dari pada yang lain. Kalau aku tidak melayaninya sepenuh tenaga mungkin sukar memperoleh kemenangan. Demikian pikir Liong-siang hoat-ong.

Begitulah kedua pihak sama2 timbul rasa waswas, kedua orang sma2 mengeluarkan segenap kemahiran masing2. Tertampaklah gumpalan awan merah berlibatan dengan sianr perak yang ber- putar2 dan menyamber kian kemari menyilaukan mata. Tapi jubah merah yang diputar Liong-siang Hoat-ong itupun terpentang kuat sebagai layar perahu yang makan angin, benda yang elmas itu seketika berubah laksana benda yang beribu kati beratnya, menghadapi tekanan berat itu, tokoh kuat sebagai Beng Siau-kang juga merasakan napas sesak.

Cepat Beng Siau-kang ganti permainan pedangnya secara gesit, serangannya tambah kencang, walaupun segera terguncang kesamping bila ujung pedangnya menyentuh kasa lawan, tapi Liong- siang sendiri terpaksa juga harus bertahan mati2an karena kuatir kebobolan.

Disebelah lain Han Tay-wi dan Li Su-lam masih duduk bersila dengan telapak tangan menempel telapak tangan, kedua orang sama2 mengerahkan tenaga dalam tanpa menghiraukan apa yang terjadi disekitar mereka.

Selang tak lama diatas kepala Han Tay-wi mulai mengeluarkan kabut tipis, air muka Li Su-lam juga mulai bersemu merah.

Rupanya keempat murid Liong-siang Hoat-ong juga bukan jago murahan, merekapun tahu Han tay- wi sedang memulihkan tenaga Li Su-lam dan keadaan kedua orang itu sedang berada pada detik yang paling gawat. Diam2 keempat orang itu berunding. Mereka anggap perintah guru agar tidak ikut campur tadi hanya dimaksudkan agar tidak ikut bertempur tadi hanya dimaksudkan yang lain tentu tidak termasuk dalam larangan itu. Terutama mengingat Li Su-al adalah Bu-lim Bengcu, kalau tenaganya nanti sudah pulih pasti sukar dilawan, mumpung sekarang dia masih lemah, sebaiknya diringkus saja dahulu. Begitulah keputusan mereka akhirnya.

Melihat keempat busu Mongol itu kasak kusuk sendiri, Han Pwe-eng menjadi kuatir dan menduga kemungkinan apa yang akan terjadi, cepat ia peringatkan ayahnya: “Awas ayah, mungkin mereka akan ” Benar saja, belum lenyap ucapannya keempat busu itu sudah menerjang tiba.

Sebagai tokoh silat kelas tinggi, pancaindra Han Tay-wi dengan sendirinya sangat tajam, tanpa melihat kebelakang iapun mendengar suara angin yang menyamber, maka ketika busu2 itu sudah mendekat, tanpa menoleh sebelah tangannya terus menghantam kebelakang. 

Maka terdengarlah suara “blang”, yang keras, kedua busu paling depan juga menghantam dengan keempat tangan mereka, akan tetapi mereka toh tergetar mundur oleh pukulan Han Tay-wi. Kedua busu yang lain yang satu memakai pedang dan yang satu lagi memakai golok, serentak mereka menerjang maju dari kanan kiri, tapi senjata mereka juga terguncang menceng kepinggir oleh angin pukulan Han Tay-wi, keruan mereka kaget dan tidak berani sembarangan menyerang pula.

Han Tay-wi sendiri juga terkejut, ia mengira tenaga pukulannya itu dapat merobohkan satu-dua orang lawan, tak terduga keempat orang itu hanya tergetar mundur beberapa langkah saja. Padahal saat itu ia masih membagi tenaganya untuk menahan telapak tangan Li Su-lam, kalau terlalu banyak menggunakan tenaga untuk menghadapi keempat musuh, tentu akan membikin susah pula kepada Li Su-lam.

Kiranya keempat busu itu adalah murid kesayangan Liong-siang Hoat-ong, ilmu silat mereka rata2 masih diatas Hulitu dan Abul, dengan gabungan mereka berempat, apalagi Han Tay-wi harus memikirkan Li Su-lam, maka sukarlah baginya untuk mengalahkan mereka, terpaksa ia harus main bertahan. Untuk sementara keempat busu Mongol juga tak dapat membobol pertahanan Han Tay- wi.

Tiba2 salah seorang busu itu mendapat akal, katanya: “Kedua anak dara itupun buronan yang harus ditangkap, biar kubekuk mereka lebih dulu.” ~ Habis berkata ia terus menubruk kearah Han Pwe- eng.

Cepat Han Pwe-eng menghindar, tapi “bret” bajunya terjambret robek, untung dia cukup gesit, meski ilmu silatnya sukar dikeluarkan, tapi langkahnya masih cepat hingga keburu menghindar pada saat yang tepat.

Nyo Wan tidak tinggal diam, cepat ia ayun golok tinggalan Lau Khing-koh tadi. Busu itupun tahu kedua nona itu sudah kehilangan tenaga dalam, tapi iapun terkejut ketika mendadak sinar golok menyamber lehernya, lekas2 ia mengelak kebelakang.

Karena tidak bertenaga lagi, badan Nyo Wan menjadi lemas, serangannya mengenai tempat kosong, ia sendiri lantas sempoyongan dan hampir jatuh.

Tiba2 busu itu ingat sesuatu, serunya denga tertawa: “Hahaha, nona manis, kau jangan kuatir, pangeran keempat kami sangat suka padamu, aku pasti takkan melukai kau, maka kaupun tidak perlu melawan aku dengan mati2an.”

Baru saja busu itu akan menubruk maju lagi, se-konyong2 ia ditolak oleh suatu arus tenaga kuat, seketika ia tergetar mundur dua-tiga tindak.

Kiranya tenaga itu datang dari tenaga pukulan jarak jauh yang dilontarkan Han Tay-wi. Sekali ini ia menggunakan lebih separoh kekuatannya sehingga dapat memaksa mundur busu itu dari jarak beberapa meter jauhnya.

Saat itu Li Su-lam sedang menghimpun tenaga kepusarnya, ketika mendadak bantuan tenaga dari luar menjadi surut, seketika hatinya tergetar, perhatiannya terpencar, didengarnya suara jerit kuatir Nyo Wan,keruan ia terkejut dan berteriak: “Kenapa kau Adik Wan?”

“Lekas kau sembunyi kesini!” cepat Han Tay-wi berseru kepada Nyo Wan sambil menghantam tiga kali ber-turut2 sehingga keempat busu itu didesak mundur beberapa meter kebelakang. Kesempatan itu tidak di-sia2kan oleh Nyo Wan dan Pwe-eg, segera mereka berlri mendekati Han Tay-wi. “Tenanglah Su-lam,” kata Han tay-wi dengan suara tertahan. “Bila perhatianmu terpencar, tidak saja kau sendiri akan celaka, bahkan juga akan bikin susah nona Nyo.”

Sementara itu keempat busu Mongol telah maju lagi, satu diantaranya yang menjadi Toasuheng membuka suara dengan menyeringai: “Tua bangka, she Han, betapapun lihai kepandaianmu juga sukar melindungi semua kawanmu. Sebaiknya lekas kau menyerah saja, kalau tidak kau pasti akan menyesal nanti.”

Han tay-wi tidak berani gusar, ia menahan perasaannya dan melayani musuh dengan sebelah tangan. Ia harus membantu Li Su-lam menghimpun tenaga dan mesti melindungi pula Nyo Wan berdua, keadaan memang kewalahan dan payah.

Diam2 Nyo Wan mendekati Su-lam dan menempelkan tubuhnya diatas pundak pemuda itu, ia sudah bertekad akan melindungi Li Su-lam, andaikan keduanya harus mati biar aku mangkat lebih dulu. Demikian pikir Nyo Wan.

Meski Nyo Wan hanya menempel pelahan diatas bahu Li Su-lam, tapi pemuda itu sudah merasakan kehangatan badan sinona. Kedua orang mempunyai persentuhan kiwa, Li Su-lam sangat terharu oleh tindakan Nyo Wan itu, timbuk semangatnya untuk pantang menyerah, aku harus lekas mengembalikan tenagaku, se-kali2 aku takkan mati konyol disini. Demikian tekadnya.

Karena dorongan tekad itu, pikirannya lantas tenang kembali, segera ia memusatkan tenaga pula dan tidak menghiraukan lagi keadaan sekitarnya.

Di sebelah sana pertarungan Beng Siau-kang dan Liong-siang Hoat-ong masih sama kuatnya. Ketika melihat Han Tay-wi dan Li Su-lam berada dalam keadaan terancam, mau tak mau Beng siau-kang menjadi kuatir. Padahal jago silat kelas wahid diwaktu bertempur mana boleh pikiran terganggu. Sedikit meleng saja segera ia kena didahului oleh Liong-siang Hoat-ong, jubah merah berkelebat, laksana gumpalan awan terus mengurung dari atas.

Beng Siau-kang putar pedangnya kesana kesini, sinar perak menyamber kian kemari, tapi tetap sukar menembus gumpalan awan itu.

Ketika Han Tay-wi melirik ke arah Beng Siau-kang, sekilas dilihatnya kawan itupun terdesak musuh, diam2 ia menghela napas, pikirnya: “Sungguh tidak nyana hari ini aku dan Beng-tayhiap harus mati konyol disini, bahkan ikut membikin celaka Li Su-lam. Daripada mati konyol,lebih baik mencari hisup sebisa mungkin.” ~ Tapi segera terpikir pula olehnya bila dirinya berbangkit, tentu Li Su-lam akan mati, bahkan anak perempuannya dan Nyo Wan juga sukar lolos dari cengkeraman musuh. Saat itu Han Tay-wi benar2 sudah kewalahan dan payah, dia harus mengadakan pilihan antara mati dan hidup. Selagi ragu2, tiba2 dilihatnya Li Su-lam telah membuka mata sambil mengeluarkan suara siulan panjang, hawa yang menyesakkan dada telah dihembus keluar, habis itu segera ia menarik kedua tangannya yang menempel tangan Han Tay-wi itu, lalu berbangkit dan berseru lantang: “Cukup sudah, Han-locianpwe, silahkan engkau menyembuhkan putrimu saja!”

Dari suara siulan Li SU-lam yang panjang nyaring penyh tenaga itu, tahulah Han Tay-wi bahwa lwekang pemuda itu benar2 telah pulih, saking girangnya ia menjawab: “Baiklah, lebih dulu kubantu kau satu kali pukul!” ~ Berbareng kedua tangannya terus menghantam kearah musuh dengan tenaga dahsyat.

Keruan keempat busu Mongol terkejut, cepat mereka menangkis dengan Liong-siang-sin-kang, dengan gabungan tenaga mereka berempat toh tetap tergetar mundur ber-ulang2.

“Han-locianpwe, hematlah tenagamu untuk menyembuhkan putrimu,”seru Li Su-lam. “Adik Wan, berikan golokmu itu kepadaku.”

Setelah menerima golok yang diminta itu, segera Li Su-lam menerjang maju dan melabrak keempat busu itu.

Sesudah menenangkan diri, lalu Han Tay-wi berkata kepada putrinya: “Kalian berdua duduk saja disini!”

Pwe-eng dan Nyo Wan menurut, mereka duduk berjajar. Segera Han Tay-wi menjulurkan kedua telapak tangannya, sekaligus ia mengerahkan tenaga dalam untuk menyembuhkan Nyo Wan berdua yang terserang racun Soh-kut-san itu.

Keempat busu tadi menginsyafi keadaan tambah gawat bagi mereka, segera mereka menghadapi Li Su-lam dengan sepenuh tenaga.

Memang kurang leluasa bagi Li Su-lam dalam permainan Tat-mo-kiam-hoat dengan golok, namun daya serangnya juga tidak ringan, ketika seorang busu mendadak melompat lewat sisinya,kontan Li Su-lam menggertak sambil menghantam dengan sebelah tangannya. Lekas2 busu yang lain menangkis pukulan itu dengan kedua tangan, akan tetapi lantas terdengar busu itu mendehem tertahan, darah segar lantas menyembur pula dari mulutnya.

Rupanya Liong-siang-sin-kang busu itu sudah mencapai tingkatan yang lumayan, dengan sendirinya pukulannya juga cukup dahsyat, akan tetapi masih kalah kuat daripada tenaga dalam Siau-lim-pay yang diyakinkan Li Su-lam itu sehingga muntah darah. Sebaliknya Li Su-lam yang baru saja pulih tenaganya juga merasakan hebatnya tenaga sakti Liong-siang-sin-kang lawan, ber- ulang2 ia harus menghadapi serangan dahsyat pula dari busu2 yang lain.

Kalau keadaan Beng Siau-kang dan Li Su-lam disini dalam keadaan gawat, adapun dikamar rahasia Yang Thian-lui sana keadaan Ci In-hong, Kok Ham-hi, Liu Tong-thian dan Cui Tin-san berempat lebih2 berbahaya, mereka sudah berada dalam keadaan payah.

Ci In-hong dan Kok Ham-hi berdua bergabung telah mengeluarkan segenap tenaga “Yhian-lui- kang” mereka, akan tetapi kepandaian mereka memang kalah setingkat, sesudah berlangsng lima puluh jurus lebih, sudah belasan kali Ci In-hong berdua menggunakan jurus “Lui-tian-kau-hong”, namun setiap kali menggunakan jurus itu berarti setiap kali pula memeras tenaga, kedua orang sudah mandi keringat, kepala merekapun mengepulkan uap panas.

Sedang keadaan Cui Tin-san yang menempur Pek Ban-hiong lebih2 berbahaya lagi, ke-72 jurus Eng-jiau-kang yang dilatih Pek Ban-hiong sudah berpuluh tahun lamanya dan sudah mencapai tingkatan yang sempurna, setiap gerak serangannya dalam gaya apapun selalu mengincar tempat mematikan di tubuh musuh, meski Tay-lik-kim-kong-ciang yang diyakinkan Cui Tin-san juga ilmu pukulan dahsyat terkenal dari Siau-lim-pay, namun dia tetap kalah kuat, lewat 50 juruss lebih keadaannya sudah tampak payah, tenaganya sudah terkuras separoh lebih, bukan saja tidak sanggup balas menyerang, bahkan untuk bertahan saja susah. Maka keadaannya jauh lebih buruk dari pada posisi Ci In-hong dan Kok Ham-hi.

Hanya partai antara Liu Tong-thian melawan Yang Kian-pek saja tampaknya berada diatas angin, tapi karena keadaan kawan2nya tidak menguntungkan, betapapun mempengaruhi pikiran Liu Tong- thian, karena itu lamban-laun Yang Kian-pek dapat mengubah keadaan menjadi sama kuat.

Ci In-hong dan Kok Ham-hi berdua telah bersuit panjang beberapa kali ber-turut2, tapi mereka tidak mendapat suara jawaban, diam2 mereka heran kemanakah Beng Siau-kang saat itu, mengapa tidak muncul atau tidak mendengar suara suitannya itu?

“Tidak perlu bersuara seperti setan, tidak ada orang yang mampu menolong kalian,” dengan tertawa Yang Thian-lui meng-olok2. “Sekarang kalian tinggal pilih saja, ingin hidup atau mati? Masakah kalian tidak tahu artinya?”

Ci In-hong berdua diam2 saja, dengan mati2an mereka bertahan. Ber-turut2 mereka melontarkan lagi dua kali jurus “Lui-tian-kau-hong”, akan tetapi tak membawa hasil apa2. Sebaliknya Yang Thian-lui terus meng-olok2 dan menyerukan agar kedua lawannya menyerah saja.

Sebenarnya YangThian-lui sendiri, juga kuatir kalau sebegitu lama masih belum dapat mengalahkan lawan2 itu. Thian-lui-kang paling makan tenaga, ia kuatir andaikan nanti kedua murid keponakan itu berhasil dibinasakan, rasanya ia sendiri juga payah, sedikitnya ia akan jatuh sakit keras, hal ini berarti merusak himpunan tenaga latihan selama sepuluh tahun, bahkan kalau kurang benar perawatannya mingkin juga membahayakan jiwanya. Karena itu diam2 ia berharap Liong-siang Hoat-ong bisa lekas2 datang membantunya, kalau tidak kedua pihak pasti akan sama2 konyol jadinya.

Begitulah kedua pihak sama2 mengharapkan datangnya bala bantuan, yang satu berharap munculnya Liong-siang Hoat-ong, yan glain mengharapkan datangnya Beng Siau-kang, akan tetapi kedua pihak sama2 meras kecewa karena yang diharapkan datang tidak nampak muncul.

Pada saat lain, tiba2 terdengar sayup2 pertempuran di luar sana, baik Yang Thian-lui maupun Ci In- hong telah mendengar juga suara itu.

Yang Thian-lui terkejut kuatir, tiba2 terlihat seorang pengawal berlari masuk dan berseru melapor: “Beng Siau-kang dan Han Tay-wi berusaha membobol penjara, kini mereka telah terkepung oleh Liong-siang Hoat-ong, hendaklah Koksu jangan kuatir.”

“Bagaimana dengan Li Su-lam?” tanya Yang Thian-lui.

“Dia tidak akan dapat lolos, ia sedang dikerubut keempat murid Liong-siang Hoat-ong, mungkin saat ini sudah tertangkap kembali.

Diam2 Ci In-hong mengeluh, sungguh runyam Beng-tayhiap yang diharapkan datang membantu itu ternyata terhalang pula oleh musuh tangguh, yang lebih celaka lagi adalah keselamatan Li Su-lam yang tak dapat lolos itu.

“Murid2 keponakanku yang baik, lebih baik kalian mengnyerah saja, mau tunggu kapan lagi?” jengek Yang Thian-lui dengan tertawa.

“Cis, tidak tahu malu, siapa sudi menjadi murid keponakanmu?” damprat Ci In-hong. “Hari ini kalau kami tidak dapat membinasakan kau demi nama baik perguruan kita, maka biarlah kami mati saja disini.”

“Ya, jika bukan kau yang mampus biarlah kami yang mati saja, tidak perlu banyak omong!” bentak Kok Ham-hi. Kedua orang sudah bertekad untuk ber-tempur mati2an, biarpun tenaga sudah lemah, tapi semangat mereka tidak menjadi surut.

Dalam pertempuran itu terdengar oleh Yang Thian-lui suara pertempuran diluar itu seperti datang dari belakang taman yan gmasih jauh. Mendengar suara ramai itu, diam2 ia heran darimana datangnya musuh sebanyk itu, apakah Liong-siang Hoat-ong dapat menguasai keadaan atau tidak? Ditinjau dari suara pertempuran yang riuh itu jaraknya rada jauh dari pada tempat tahanana Li Su- lam, jelas yang bertempur itu pasti bukan rombongan yan gdatang bersama Beng Siau-kang.

Mestinya keadaan Yang Thian-lui berada diatas angin, tapi karena perhatiannya sedikit terpencar, segera Ci in-hong berdua dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik daripada tadi.

Sebaliknya pada saat itu keadaan Li Su-lam sedang menghadapi bahaya. Seorang diri ia harus melayani kerubutan keempat murid Liong-siang Hoat-ong, karena adu pukulan dengan salah seorang lawan tadi, dia merasa napas sesak dan darah bergolak dalam rongga dadanya.

“Bocah ini berani melawan mati2an, tidak perlu pikir lagi, binasakan saja dia,” seru busu pertama tadi.

Tenaga Li Su-lam yang baru pulih, pula senjata yang digunakan kurang cocok, dibawah kerubutan keempat lawan, setindak demi setindak ia terdesak mundur terus sehingga tanpa teras sudah dekat dengan tempat Han Tay-wi. Saat itu Han Tay-wi sedang menggunakan tenaga murninya untuk menghalau racun sertamelancarkan jalan darah Nyo Wan dan Han Pwe-eng. Lwekang kedua nona itu lebih lemah, dengan sendirinya cara penyembuhan untuk mereka memakan waktu lebih lama, saat itu keadaan mereka sedang mencapai titik paling penting, sedikitpun tidak boleh terganggu. Maka Han tay-wi menjadi serba susah, jika ia membantu li Su-lam ada kemungkinan kedua nona itu akan celaka.

Dalam pada itu Li Su-lam yang sudah dekat dengan mereka mendadak menyadari akan keadaan mereka, segera ia berseru: “Jangan kuatir, Han-locianpwe, aku masih sanggup bertahan!” ~ Diam2 ia bertekad mengulur waktu selama mungkin, asalkan tenaga mereka sudah pulih, tentu adik Wan ada harapan buat menyelamatkan diri.

Karena itu keempat busu tadi menjadi terhalang oleh perlawanan Su-lam itu. Busu Kedua memaki dalam bahasa Mongol sambil menerjang dari samping, senjata yang dipakai adalah golok sabit yang melengkung, ujung golok sempit tajam laksana kaitan, mendadak ia menyerang tempat yang tidak ter-duga2 oleh Li Su-lam.

Terdengar “crit” satu kali, golok Li Su-lam menyambar lewat samping jidat busu itu sehingga kopiahnya terpapas jatuh. Akan tetapi lengan kiri Su-lam sendiri juga tersayat ujung golok lawan yan gtajam itu hingga mencucurkan darah walaupun lukanya tidak parah.

Menyusul itu Li Su-lam harus mengadu suatu pukulan pula dengan busu pertama yang telah menyerang dari kiri, musuh dapat dipaksa mundur, tapi Li Su-lam sendiri juga menahan sakit sekuatnya, ber-ulang2 ia tergetar oleh tenaga Liong-siang-sin-kang, dada terasa sesak, isi perut serasa terjungkir balik, terpaksa ia mundur dua tindak.

Dilain pihak busu yang kedua yang jidatnya merasakan samberan angin tajam dan kopiahnya terpapas jatuh,keruan ia ketakutan dan cepat melompat mundur untuk menghindarkan serangan lain. Diam2 Li Su-lam berdyukur bahwa busu itu menjadi takut, kalau saja dia menyerang maju lagi bersama temannya,pasti Li Su-lam tidak sanggup menangkisnya lagi. Karena itu Li Su-lam yang tergetar mundur mendapat kesempatan untuk ganti napas dan kumpul tenaga, dalam sekejap saja semangatnya pulih kembali,langkahnya tegap lagi. Ketika keempat musuhnya menerjang maju segera dihadapinya dengan mati2an.

Ditengah pertarungan sengititu, sayup2 Li Su-lam mendengar dikejauhan ada suara gemerincing beradunya senjata, ia pikir apakah barangkali Ci In-hong dan lain2 telah datang? Entah berhasil tidak usaha mereka?

Disebelah sana Beng Siau-kang sedang putar pedangnya secepat kilat, serangan nya tidak pernah kendur, tapi dibawah kurungan tenaga pukulan Liong-siang Hoat-ong, keadaan mereka hanya sama kuat saja, maksud Beng Siau-kang hendak menembus kurungan tenaga pukulan musuh buat membantu Li Su-lam menjadi gagal.

Tiba2 terdengar suara orang bergelak tertawa: “Hahaha! Su-lam anda, aku tidak bermaksud jahat kepadamu, asalkan kau menerima syaratku, kau mau tinggal disini boleh kita hidup bahagia bersama, jika kau mau pergi, akupun akan mengantar sendiri keberangkatanmu. Buat apa kau mesti bergurau dengan jiwa sendiri?”

Nyata yang muncul ini adalah pangeran keempat dari Mongol, Dulai adanya.

“Hm, seorang laki2 kenapa mesti takut mati?” jengek Li Su-lam. “Boleh kau perintahkan ana buahmu membunuh aku saja, buat apa kau pura2 baik hati?”

“ai, aku menjadi serba susah karena kau tidak mau terima nasehatku,” ujar Dulai dengan menggeleng kepala. “Ya, apa boleh buat, terpaksa aku memenuhi kewajiban sebagai bekas kawanmu dan mengantar kau kedunia Nirwana.”

Habis itu Dulai berpaling kepada Liong-siang Hoat-ong dan para busu, serunya nyaring: “Ada beberapa pengacau berhasil meyusup kedalam Kok-suhu (istana Koksu), kini mereka telah dikurung didalam kamar rahasia oleh Yang Thain-lui, rasanya sukar lolos bagi mereka sekalipunbersayap.

Maka kalian jangan ragu2, berlombalah dengan mereka, coba busu Mongol kita atau nusu bangsa Nuchen mereka yang lebih dulu berhasil membekuk musuh.”

“Lapor Tuanku,” seru seorang busu Mongol “Yang berpedang ini adalah jago pedang terkenal di daerah Kanglam, namanya Beng Siau-kang. Sedang si tua yang duduk disana itu bernama Han tay- wi,juga seorang tokoh terkenal didunia persilatan Tionggoan.” “silahkan Tuanku menonton sebentar, dalam waktu singkat akan kubekuk jago pedang nomor satu didaerah kanglam ini, seru Liong-siang Hoat-ong.

Beng Siau-kang menjadi gusar, dampratnya:”Bedebah, jangan omong besar, boleh coba cara bagaimana kau akan membekuk diriku?” ~ Sret, pedangnya menyambar terlbih kencang sehingga menimbulkan sianr perak yang menyilaukan. Dulai sampai terkejut dan tanpa terasa mundur dua tigatindak.

Namun Liong-siang Hoat-ong juga telah putar jubahnya dengan kencang sehingga mirip layar yang makan angin, sinar pedang Beng Siau-kang itu selalu tergulung dan menghilang oleh gumpalan awan merah itu. Memang Liong-siang Hoat-ong sengaja memancing kegusaran Beng Siau-kang, seorang jago silat kalau sampai naikdarah, maka pemusatan pikirannya menjad terganggu, inilah yang diharap2kan Liong-siang Hoat-ong dari lawannya, makanya ia yakin dalam waktu singkat akan dapat mengalahkan Beng Siau-kang.

“Bagus, bagus!” demikian Dulai menanggapi dengan tertawa. “Semakin kuat musuhmu, semakin kelihatan ketangkasan jago Mongol kita. Orang she Beng ini biar dibereskan oleh Liong-siang Hoat-ong sendiri, yang lain2 boleh bekuk saja kedua anak dara itu.”

“Siapa berani?” bentak Su-lam mendadak. “Ini mati dulu diujung golokku!”

Dengan memutar goloknya Li Su-lam bertahan mati2an di depan Han Tay-wi, setiap kali pihak musuh mendesak maju selalu kena dipaksa mundur lagi oleh cara pertarungan nya yang nekat. “Ai, Li Su-lam, mengapa kau melawan mati2an begitu? Terpaksa aku tidak sungkan2 lagi kepadamu,” kataDulai, dengan gegetun. Lalu ia berseru kepada para busu Mongol: “Baiklah, kalau tak dapat menawannya hidup2 boleh kalian binasakan dia saja!”

Serentak para busu Mongol itu mengiakan, segera murid pertama Liong-siang Hoat-ong tadi mendahului membuka serangan sekali pukul dengan telapak tangannya, kontan mengenai pergelangan tangan Li Su-lam sehingga goloknya terlepas dari cekalan.

Pada saat itulah tiba2 terdengar suara ribut2,ada seorang sedang membentak: “Akai, kau berani membangkang perintah atasan? Kau dilarang masuk kesana!” ~ Lalu seorang lagi berseru: “He, Tuan Putri juga datang! berhenti dulu, berhenti dulu!”

Suara2 bentakan dan seruan tadi bercampur aduk,menyusul terdengar pula suara gedebukan dua kali, agaknya dua orang telah dibanting terguling oleh Akai.

Dulai terkejut, waktu ia memandang ke sana dilihatnya Minghui bersama Akai dan istrinya telah menerjang masuk, Akai berada paling depan sebagai pembuka jalan dengan mengayun tali yang panjang.

Hal ini benar2 tak pernah diduga oelh Dulai sehingga ia berseru heran: “Mengapa kaupun datang kesini, Minghui?”

Diluar sana tiada seorangpun yang berani merintangi Minghui, sedangkan didalam Li Su-lam masih dikerubut oleh keempat busu, pertarungan antara Liong-siang Hoat-ong melawan Beng Siau-kang juga belum berhenti. Saat itu Li Su-lam sedang menghadapi serangan maut, melihat itu Minghui tidak sempat menjawab teguran Dulai, tapi cepat ia melolos sebatang pedang dan dilemparkan ke tengah kalangan pertempuran sambil berseru: “Tangkap pedang ini!”

Ketika itu golok Li Su-lam baru saja jatuh terpukul oleh murid pertama Liong-siang Hoat-ong tadi, tapi pukulannya kebelakang berhasil emnggempur mundur murid Liong-siang Hoat-ong yang kedua, dalam pada itu murid Liong-siang Hoat-ong ketiga telah membacok dengan goloknya.

Waktu mendengar seruan Minghui tadi, dengan cepat Li Su-alm lantas melopat keatas dan menangkap pedang yang dilemparkan kearahnya itu, mendapatkan senjata yang cocok seketika seperti harimau tumbuh sayap saja, segera pedangnya berkelebat, golok sabit busu ketiga yang membacok itu kontan tertangkis pergi, bahkan ujung golok yang melengkung tertabas kutung. Kiranya pedang ini adalah pedang Minghui yang pernah dihadiahkan kepada Nyo Wan itu, sesudah Nyo Wan tertawan, pedang itu dirampas Dulai. Tapi waktu Minghui bertiga datang ke tempatYang Thian-lui, dari pelayan Dulai mereka mendapat tahu bahwa Dulai sedang memeriksa penjara karena disana ada tawanan yang berusaha lari. Minghui terkejut dan kuatir, cepat ia ambilpedang yang terdapat dikamar Dulai itu terus memerintahkan anak buah Dulai membawanya kekamar tahanan Li Su-lam. Pedang yang dilemparkan kepada Li Su-lam itu sangat tajam, dengan senjata yang menjadi kemahirannya itu u-lam mengeluarkan Tat-mo-kiam-hoat dari Siau-lim-apy yang hebat, sinar pedang kemilauan menyamber kian kemari, seketika para busu terdesak mundur.

Dulai menjadi murka, bentaknya: “Minghui,apa apaan kau? Apa kau sudah lupa akan siapa dirimu? Mengapa kau membela orang luar?”

“Aku justru tidak lupa bahwa aku adalah putri Jengis Khan, makanya aku bertindak demikian,” Sahut Minghui. “Apalagi Li Su-lam adalah saudara angkatmu, mengapa kau melupakan hubungan baik saudara angkat sendiri?”

“Hubungan baik pribadi tidak boleh melampaui kepentingan dinas,” kata Dulai. “Kecuali kau dapat mengubah pikiran Li Su-lam agar suka membantu aku mengamankan daerah Tionggoan sini.” “Aku tidak paham urusan kenegaraan, yang jelas bagiku ialah negeri Mongol kita cukup luas,rakyat kita hidup aman dengan ladang peternakan yang tak terbatas, buat apa kita harus menduduki negeri orang lain dan mengadakan perang hingga mengakibatkan jatuh korban yang tidak sedikit dengan meninggalkan anak yatim dan janda2 yang tak berdosa?”

“Minghui, kau berani bicara seperti ini?” bentak Dulai dengan gusar. “Jika kau bukan adik perempuanku, seketika juga aku membinasakan kau.”

“Memangnya akau sudah bosan dengantindak perbuatan kalian, tidak usah kau membinasakan aku, bila perlu aku sendiripun ingin mati saja,” sahut Minghui.

“Minghui, sebenarnya apa kehendakmu? Jika aku membebaskan dia , apakah kau akan ikut pulang dan tidak boleh bikin onar lagi,” kata Dulai dengan menahan gusarnya.

“Baik, aku menurut padamu,” sahut Minghui.

Segera Dulai membentak agar para busu yang mengerubut Li Su-lam itu mundur semua, juga Liong-siang Hoat-ong dan Beng Siau-kang sama2 melompat mundur dari kalangan pertempuran. Waktu Liong-siang Hoat-ong mengenakan kembali jubahnya, tertampak jubah itu banyak ber- lubang2 kecil seperti sarang tawon, diam2 ia terkesiap, pikirnya: “Orang ini berjuluk pedang sakti, ternyata tidak bernama kosong. Jika pertarungan ini diteruskan, bukan mustahil aku sendiri akan celaka bila meleng sedikit saja.”

Sambil menyimpan kembali pedangnya Beng Siau-kang juga darah masih bergolak di rongga dadanya, kepala terasa pusing, diam2 iapun terkesiap dan berpikir:”Jika ber tempur lebih lama lagi, andaikan aku dapat melukai dia, tapi aku sendiri juga pasti akan jatuh sakit berat, karena terlalu banyak memeras tenaga.”

Dalam pada itu Minghui telah melepaskan sarung pedangnya kepada Li Su-lam dan berkata:” LI- kongcu, sayang aku tidak sempat ikut minum arak pesta nikahmu. Pedang inimestinya kuberikan kepada enci Wan, sekarang barang kembali kepada pemiliknya lagi, boleh anggap saja sebagai kado yang kusumbangkan kepada kalian.”

Su-lam memasukkan pedang ke dalam sarungnya, ketika menengadah,dilihatnya kedua mata putri Minghui ber-linang2 dengan air mata yang hampir menetes, ia menjadi terharu dan merasa pilu pula bagi putri Mongol itu, seketika ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya.

Di sebelah sana Han Tay-wi telah menghembuskan napas sambil menarik kembali kedua tangannya, katanya: Cukuplah!”

Segera Nyo Wan melompat bangun dan berlari ke arah Minghui sambil berseru: “Enci Minghui, engkau teramat baik kepadaku, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus membalas? Akupun merasa kuatir bila engkau pulang ke Mongol sana.”

Setelah NYo Wan mendekat, tiba2 dua busu Mongol menghalanginya dengan tombak panjang. Minghui lantas berkata dengan hamabr: “Ada waktunya manusia bekumpul dan ada masanya pula harus berpisah. Bangsa Han kalian juga ada pepatah yang mengatakan di dunia ini tiada perjamuan yang tidak bubar. Sebagai orang Mongol sekarang akupun harus pulang kandang, maka engkau tidak perlu sedih bagiku. Mudah2an saja kalian hidup bahagia sampai hari tua.”

“Sudahlah, mari berangkat, Minghui,” kata Dulai.

“Nanti dulu,” sahut minghui. “Leih baik hendaknya kau menarik pasikan panah yang kau sembunyikan itu.”

Kiranya pada waktu terjadi pertempuran sengit tadi, Mufali telah mengumpulkan semua busu pengiring Dulai. Para busu itu pernah mendapat latihan memanah dari Mufali sendiri yang terkenal sebagai “Pemanah Sakti”. Sejak tadi Mufali dan regu pemanah itu sudah bersembunyi di sekeliling situ, asalkan ada perintah dari Dulai,serentak mereka akan menghamburkan anak panah.

Dulai memperhitungkan umpama dia melepaskan Li Su-lam dan kawan2nya, toh di tengah jalan sana mereka akan dicegat oleh Yang Thian-lui dan anak buahnya. Maka dengan bergelak tertawa iapun berkata: “Kau terlalu banyak curiga, Minghui. Aku sudah berjanji melepaskan Su-lam Anda, masakah aku menjilat kembali ludahku sendiri?” ~ Habis itu ia lantas menyerukan agar Mufali membubarkan pasukan panahnya.

Minghui merasa lega, tapi sayup2 didengarnya pula suara pertempuran ditempat lain, kembali ia merasa sangsi, katanya: “Selama masih ditempat ini, aku masih tetap tidak percaya.”

“Tapi aku sendiri adalah tamu, aku tidak dapat ikut campur urusan dinegeri orang,” kata Dulai. “Karena itu aku hanya menjamin jago2 Mongol takkan mengganggu orang2 Han ini, soal mereka mampu menerobos keluar istana Koksu ini atau tidak tentunya adalah urusan mereka sendiri.”

Li Su-lam menjadi gemas, dengan alis menegak segera ia menanggapi: “Ya, istana Koksu juga bukan sarang harimau atau kubangan naga, kalau kami masih sanggup masuk kesini tentu pula mampu keluar lagi. Banyak terima kasih atas kebaikan tuan Putri, semoga engkau menjaga diri baik2 dan tidak perlu kuatir lagi bagi kami.”

“Bagus, itu namanya laki2 sejati,” seru Dulai. “Nah, Minghui, orang sudah menyatakan pendiriannya, sekarang kau boleh berangkat bersamaku.”

“Nanti dulu,” sahut Minghui. Lalu ia berpaling memanggil Akai dan kalusi, katanya kepada mereka: “ Selama kalian ikut padaku, telah banyak suka duka yang kita rasakan bersama. Sekarang aku harus ikut kakak pulang ke Mongol. Maka terpaksa kita harus berpisah disini. Jika kalian ingin pulang atau kemanapun, silahkan kalian berangkat saja lebih dulu.”

Kiranya Minghui cukup kenal watak Dulai, luarnya Dulai memang tampak murah hati dan tulus, tapi sebenarnya jiwanya sempit, suka curiga. Minghui yakin bila Akai dan istrinya ikut pulang ke Mongol, kelak pasti akan mendapat susah. Sebab itulah Minghui sengaja memberangkatkan mereka lebih dulu.

Akai yang berwatak jujur itu tidak paham maksud Minghui, tapi kalusi dapat menyelami pikiran sang Putri, segera ia berkata: “Baiklah, banyak terima kasih atas budi kebaikan Tuan Putri. Marilah kita berangkat lebih dulu, Akai!” ~ Sambil berkata ia remas tangan sang suami satu kali. Maka sadarlah Akai, dengan mencucurkan air mata terharu iapun menghaturkan terimakasih dan mohon diri kepada Minghui.

Sesudah Akai berdua pergi, dengan menahan airmata Nyo Wan juga mohon diri kepada Minghui, hati masing2 sama paham bahwa perpisahan ini adalah perpisahan terakhir. Nyo Wan berkata: “Semoga Tuan Putri selamat sampai dirumah dan hidup bahagia. Aku akan selalu ingat padamu, hanya saja mungkin aku tidak dapat lagi membalas budi kebaikanmu.”

“Persahabatan kita terukir mendalam di hati, rasanya tak perlu kukatakan lagi,” ujar Minghui. “Nona Beng dan nona To tentu akan datang juga kesini, bila ketemu mereka tolong sampaikan salamku dan permintaan maaf kepada mereka berhubung aku tidak sempat mohon diri lagi. Nah, aku berdoa semoga kalian suami istri hidup bahagia sampai hari tua dan tidak perlu lagi memikirkan diriku.”

Sampai disini tiba2 terkenang olehnya pergaulannya yang mesra dengan Li Su-lam ketika di Mongol dahulu, ia tidak berani berpaling kearah Li Su-lam lagi, dengan menahan airmata segera ia berangkat bersama Dulai.

Setelah rombongan busu Mongol itu ikut pergi bersama Dulai, segera suatu rombongan busu kerajaan Kim mengerubung tiba sambil ber-teriak2.

“Hm, biar kalian kenal akan kelihaianku,” jengek Beng Siau-kang. Berbareng itu ia terus menerjang maju sambil putar pedangnya dengan kencang, seketika sinar perak berkelebat, menyusul terdengarlah jerit mengaduh disana sini tak ber-henti2, dalam sekejap saja belasan busu Kim itu telah roboh terjungkal, tapi mereka Cuma roboh tak bisa berkutik saja dan tiada yang mengalirkan darah. Rupanya Cuma hiat-to mereka saja yang tertotok oleh ujung pedang Beng Siau-kang.

“Beng-heng berikan juga kesempatan padaku untuk mengendurkan ototku,” kata Han Tay-wi dengan tertawa.

Tadi ia dikerubut oleh kawanan busu Mongol dan belum sempat mengeluarkan kemahirannya, kini rasa dongkolnya itu segera dilampiaskan atas diri kawanan busu Kim .

Begitulah ber-ulang2 tangannya bekerja, dengan gaya menangkap dan membanting seperti elang menerkam kelinci saja, dalam sekejap saja berpuluh busu itu telah kena dipegang terus dilemparkan. Masih sisa sebagian kecil busu Kim itu menjadi ketakutan dan be-ramai2 ngacir. “Celaka!” tiba2 Su-lam menggumam.

“Ada apa?” tanya Nyo Wan heran.

“Mengapa ditempat Yang Thian-lui ini tiada orang kosen, masakah Cuma jago2 kelas rendahan begini?” ujar Su-lam.

Pada saat itulah Beng Siau-kang seperti mendengar suara2 pertempuran di tempat agak jauh, katanya cepat: “Disebelah timur laut sana seperti ada orang bertempur, bahkan kedengaran dibarat- daya sana juga ada suara pertempuran.”

“Tentunya yang disebelah barat-daya itu adalah Ci In-hong dan lain2, sedangkan pertempuran di timur laut sana mungkin anak murid Kay-pang,” ujar Han tay-wi. “Biarlah aku dan anak Eng pergi membantu Kay-pang, Beng-heng dan Li-hiantit silahkan coba2 mengadu kekuatan dengan Yang Thian-lui.”

Li Su-lam menjadi kuatir akan keselamatan Ci In-hong dan lain2 cepat ia menjawab: “Baiklah, segera kita menuju jurusan masing2, setelah membobol kepungan musuh, nanti kita bergabung kembali disebelah timur laut sana.”

Saat itu Ci In-hong dan Kok Ham-hi sedang bertempur sengit dengan Yang Thian-lui memang sedang menghadapi saat gawat. Ber-ulang2 Yang Thian-lui mengejek dan menyerukan lawan2nya menyerah saja. Akan tetapi Ci In-hong berdua tetap bertahan mati2an.

Suatu ketika, mendadak Yang Thian-lui melancarkan pukulan dahsyat, suatu pukulan maut yang memakan seluruh tenaganya.

Menghadapi serangan maut itu, Ci In-hong menjadi nekat, ia gigit lidah sendiri hingga menyemburkan darah, kedua mata Kok Ham-hi juga merah membara, kedua orang sama menyambut serangan lawan dengan jurus “Lui-tian-kau-hong” yang terakhir dari segenap kekuatan mereka.

Sama sekali Yang Thian-lui tidak menduga bahwa dengan menggigit lidah sendiri Ci In-hong masih sanggup menghimpun dan mengerahkan segenap sisa tenaganya untuk mengadu pukulan terakhir, ditambah lagi seorang Kok Ham-hi yang masih kuat, maka “Lui-tian-kau-hong” yang dilontarkan ini sungguh luar biasa.

Yang Thian-lui terkejut dan terpaksa berpikir bila pukulannya itu diteruskan dan berhasil membinasakan kedua lawan umpamanya, tapi dia sendiri tentu juga akan jatuh sakit parah dan itu berarti himpunan tenaga selama sepuluh tahun akan terbuang percuma.

Yang Thian-lui menjadi bimbang, akan tetapi keadaan waktu itu sudah mirip anak panah yang telah terlepas dari busurnya, siapapun takdapat menghindari pukulan lawan yang dahsyat.

Tampaknya kedua pihak pasti akan sama2 konyol dan Ci In-hong berdua juga pasti akan terluka parah. Justru pada detik yang menentukan itu tiba2 pandangan mereka menjadi silau oleh berkelebatnya sinar perak, sesosok bayangan melayang tiba secepat terbang. Yang datang ini ternyata bukan lain daripada Kanglam-tayhiuap Beng Siau-kang.

Begitulah cepat datangnya Beng Siau-kang, tahu2 ia sudah menyelip di-tengah2 medan pertempuran itu, “sret”, segera pedangnya menusuk Yang Thian-lui, sedangkan tangan lain dengan pelahan, dengan tenaga yang sangat tepat ia dorong Ci In-hong kepinggir, berbareng pula sebelah kakinya mengayun sehingga tenaga tendangan itu membikin Kok Ham-hi tergetar mundur dan terlepas dari ancaman pukulan Yang Thian-lui.

Terdengarlah suara keras, Beng Siau-kang terhuyung mundur beberapa tindak, sedangkan lengan baju Yang Thian-lui terpapas sebagian dan betebaran menjadi potongan kecil2.

Meski Yang Thian-lui tidak kecundang, bahkan tampaknya lebih unggul, tapi iapun terkesiap melihat kehebatan Beng Siau-kang itu. Diam2 iapun bersyukur datangnya Beng Siau-kang itu tepat pada waktunya sehingga adu serangan maut yang terakhir dengan Ci In-hong berdua tadi dapat dipisahkan.

Dalam pada itu ditengah jerit ngeri kawanan busu diluar sana, tertampaklah Nyo Wan dan Li Su- lam juga sudah menerjang tiba. Kedua pedang muda mudi itu bergabung, laksana kilat terus menusuk Yang Thian-lui.

Melihat gelagat tidak menguntungkan, Yang Thian-lui pikir paling selamat harus melarikan saja. Setelah ambil keputusan demikian, segera kedua tangannya memukul sekaligus, dengan membawa deru angin yang keras, pedang Li Su-lam dan Nyo Wan terguncang kesamping, berbareng itu Yang Thian-lui lantas melangkah mundur dan menarik diri, segera terdengar pula suara gemuruh yang sangat keras, ternyata tembok dibelakangnya telah kena dihantam bolong oleh pukulan Thian-lui- kang yang dahsyat, ditengah berhamburnya debu pasir itu tahu2 Yang Thian-lui sudah melompat keluar.

Dengan cepat Beng Siau-kang lantas memburu keluar. Untuk sejenak Ci In-hong Kok Ham-hi rada melengong oleh kehebatan Yang Thian-lui mengetahui Yang Thian-lui hendak melarikan diri.

Waktu itu didalam rumah masih ada dua partai yang sedang bertempur, yang satu partai adalah Liu Tong-thian melawan Yang Kian-pek, keadaan Liu Tong-thian tampak lebih unggul. Sedangkan partai lainnya adalah Cui Tin-san melawan Pek Ban-hiong, agaknya keadaan Cui Tin-san rada payah.

Melihat itu Li Su-lam tidak jadi mengejar Yang Thian-lui, tapi memburu kearah Pek Ban-hiong, kontan pedangnya lantas menusuk sambil membentak: “Bangsat tua, bagaimana janjimu dahulu ketika kau minta jiwamu diampuni? Mengapa sekarang kau datang kesini membantu pihak yan gjahat?”

Pek Ban-hiong menjadi ketakutan, mendadak ia melancarkan serangan maut kepada Cui Tin-san, ia pikir bila orang ini dapat dibekuk, tentu Li Su-lam harus berpikir dua kali sebelum mencelakainya. Tak diduganya bahwa tindakan Li Su-lam jauh lebih cepat, sebelum ia sempat melaksanakan maksud jahatnya, lebih dulu ujung pedang Li Su-lam sudah menembus tulang pundaknya. Kontan Pek Ban-hiong roboh terguling.

“Jiwamu kuampuni lagi, hendaknya selanjutnya kau hidup prihatin,” bentak Su-lam. Ia pikir tulang pundak Pek Ban-hiong sudah putus, ilmu silatnya sudah punah, sudah menjadi orang cacat yang tak berguna lagi.

Disebelah sana Nyo Wan juga sudah bertindak terhadap Yang Kian-pek. Ia pernah menderita akibat perbuatan Yang Kian-pek, kini berhadapan dengan musuh, tentu saja Nyo Wan sangat gemas, tanpa ampun lagi ia melancarkan serangan2 mematikan.

Memangnya Yang Kian-pek sudah kewalahan menghadapi Liu Tong-thian,apalagi sekarang ditambah seorang Nyo Wan, hanya beberapa gebrakan saja, “krek”,kontan kelima jari kiri Yang Kian-pek terpapas kutung oleh pedang sinona.

Sambil menjerit Yang Kian-pek terus sambitkan pedangnya, cepat Liu Tong-thian menyampuk jatuh pedang itu, ketika ia hendak menamatkan jiwa Yang Kian-pek, namun pemuda itu keburu lari keluar. Berbareng itu kawanan busu Kim juga lantas merubung maju untuk merintangi Liu Tong- thian dan Nyo Wan berdua.

Ketika Yang Thian-lui sudah berada diluar rumah dengan membobol tembok, tiba2 datang seorang perwira meberi lapor: “Diluar ada dua kelompok penyerang, suatu kelompok dikenal sebagai kawanan pengemis dari Kay-pang, kelompok lain tidak dikenal kesatuannya, mohon koksu memberi petunjuk lebih lanjut?”

“Jangan kuatir, aku sendiri segera akan menghadapi mereka,” kata Yang Thian-lui dengan terkejut karena laporan itu.

Tapi belum lenyap suaranya, se-konyong2 dari balik semak2 sana melompat keluar seorang pengemis tua sambil membentak: “Kau tidak perlu buang2 tenaga, pengemis tua sudah menunggu kau disini!” Segera Yang Thian-lui mengenali pengemis tua itu adalah Liok Kun-lun, Pangcu Kay-pang yang termashur. Dengan gusar Yang Thian-lui membentak :”Pemerintah memberi kebebasan kepada kaum pengemis kalian untuk bercokol di taytoh sini, sekarang kalian berani memberontak?” “Kentut makmu !” damprat Liok Kun-lun. “Ini, berkenalan dulu dengan Pak-kau-pang (pentung pemukul anjing) ini !”

Ketika Yang Thian-lui memukul dengan telapak tangannya, Liok Kun-lun juga menyambutnya dengan pukulan disertai hantaman pentung, Pukulan menuju dada lawan dan pentung menghantam betis.

Maka terdengarlah suara “blang” dan “plok” satu kali, kedua tangan beradu, Liok Kun-lun tidak sanggup menahan kekuatan Thian-lui-kang yang dahsyat sehingga tergetar mundur dua-tiga meter jauhnya. Sebaliknya “Pak-kau-pang-hoat” (ilmu permainan pentung pemukul anjing) adalah kepandaian yang menjadi kebanggaan setiap ketua Kaypang, tanpa ampun betis Yang Thian-lui terketok satu kali oleh pentung bambu Liok Kun-lun.

Pada saat itulah tampak datang bala bantuan sepasukan pemanah, segera Yang Thian-lui memberi perintah agar melepaskan panah. Seketika terjadilah hujan panah.

Segera Beng Siau-kang, Li Su-lam dan lain2 memutar senjata mereka dengan kencang untuk menghalau hujan panah itu dan menerjang kesana untuk bergabung dengan Liok Kun-lun.

Dimanakah Han-toako dan putrinya?” tanya Beng Siau-kang.

“Entah, tidak ketemu,” sahut Liok Kun-lun, “anak buahku terhalang diluar sana, aku sendiri yang menyerbu kesini.”

Menurut rencana sebenarnya pihak kay-pang ingin menghindari pertempuran langsung dengan pihak musuh, tapi sampai magrib Beng Siau-kang dan lain2 belum pulang, maka Liok Kun-lun menjadi kuatir dan terpaksa mengerahkan anak buahnya. Akan tetapi setiba ditempat Yang Thian- lui itu anggota2 Kay-pang lantas terkepung oleh pasukan pengawal, hanya Liok Kun-lun saja yang menerobos kedalam dengan mati2an, maksudnya hendak menolong Li Su-lam.

Begitulah setelah bergabung, serentak mereka menerjang ke arah barat sana. Tidak jauh tertampaklah sepasukan pengawal kerajaan sedang berhadapan dengan anak buah Kay-pang, pertempuran terjadi sangat sengit,tapi jumlah musuh jauh lebih banyak, maka dipihak Kay-pang sudah jatuh korban tidak sedikit. Munculnya Li Su-lam telah memberi dorongan semangat kepad anggota Kay-pang, serentak mereka bersorak menyambut kedatangan sang Bengcu. Dengan gempuran luar dan dalam, dapatlah Su-lam dan anggota Kay-pang itu menerjang keluar dari kepungan musuh.

Segera Su-lam minta Liok Kun-lun memberi perintah mundur kepada anak buahnya. Karena dipihak pasukan pengawal kerajaan juga banyak jatuh korban, mereka menjadi kapok dan tidak berani mengejar lebih jauh.

Sesudah mundur keluar Kok-suhu, segera Li Su-lam dihampiri seorang laki2 kekar beralis tebal dan bermata besar, orang itu memberi hormat dan menyebut dirinya bernama Lau Tay-wi. Dengan gembira Ci In-hong juga lantas mendekati mereka dan memperkenalkan Lau Tay-wi kepada Li Su- lam, karena itu barulah diketahui bahwa Lau Tay-wi ini adalah kakak kandung Lau Khing-koh.

Dengan menahan rasa sedih Li Su-lam lantas mengucapkan terima kasihnya serta rasa menyesal atas pengorbanan Lau Khing-koh. Kemudian iapun menuturkan apa yang terjadi atas diri nona itu. “Ya, sebelum mangkat nona Lau minta aku menyampaikan pesan padamu bahwa dia tidak sampai merendahkan martabat keluarga Lau dan minta engkau suka memaafkannya, iapun minta aku menyampaikan salam kepada Ci-toako. “Demikian Nyo Wan juga menutur dengan mengucurkan airmata.”

Lau Tay-wi membanting kaki menyatakan rasa penyesalannya karena datangnya terlambat. Kiranya Lau Tay-wi telah menerima surat tulisan Khing-koh yang isinya mencurigakan itu. Maka Lau Tay- wi segera membawa suatu regu anak buahnya memburu ke Taytoh sini. Untung juga datangnya bala bantuan ini sehingga anggota Kay-pang yang terkepung itu tidak sampai habis ditumpas musuh.

Dengan rasa sedih Ci In-hong juga minta maaf dan menyesal karena tidak berhasil menyelamatkan Lau Khing-koh. Lau Tay-wi mencucurkan airmata sedih, tapi iapun menyatakan rasa bangganya atas jiwa ksatria adik perempuannya yang pada saat terakhir masih sempat membunuh musuhnya dengan tangan sendiri.

“Saudara2, paling penting kita harus menerjang keluar kota raja, habis itu baru kita mencari jalan untuk menuntut balas bagi nona Lau serta saudara2 kita yang menjadi korban,” kata Liok Kun-lun. Maklumlah, setelah geger2 ini tentulah Kay-pang tidak dapat bercokol lagi di ibukota Kim ini.

Untunglah pasukan kerajaan sama sekali tidak menduga akan terjadinya serangan mendadak itu, maka waktu pasukan besar dikerahkan untuk mengejar, namun pihak Kay-pang sudah sempat menerjang keluar kota melalui pintu timur.

Kira seratus li diluar kotaraja Kim itu adalah sebuah kampung yang disebut “Wi-tiok-kang” (dusun bambu kuning), disitu ada ranting Kay-pang dan sepi tempatnya, maka rombongan Kay-pang dari taytoh untuk sementara lantas mondok disitu.

Besoknya Lau Tay-wi lantas memimpin anak buahnya pulang ke Pak-bong-san, begitu pula Han Tay-wi dan anak perempuannya juga mohon diri menuju ke Yangciu.

Li Su-lam berunding dengan Beng Siau-kang apakah mereka juga mesti pulang saja ke Long-sia- san, tapi tiba2 Nyo Wan ingat sesuatu, katanya: “Sebelum berangkat Putri Minghui mengatakan bahwa Beng-cici dan To-cici juga akan datang ke Taytoh sini, bolehlah kita tinggal beberapa hari lagi disini agar kedua pihak tidak berselisih jalan.”

“Wah, bisa celaka kalau begitu,” seru Ci In-hong. “Jika mereka datang, tentu mereka akan mencari akan mencari kabar tentang diri kita ke markas Kay-pang di tay-toh, bukankah itu berarti mereka akan masuk ke perangkap yang dipasang musuh?”

“Jangan kuatir,” kata Liok Kun-lun, “biarpun anak buah Kay-pang telah mundur seluruhnya keluar Taytoh, tapi kita masih mempunyai banyak kawan2 seperjuangan disana, aku akan mengadakan kontak dengan mereka dan minta bantuan mereka untuk menjadi mata2 kita. Bila nona Beng dan nona To datang tentu mereka akan dihubungi kawan2 kita.”

Karena tiada jalan lain, terpaksa apa adanya. Akan tetapi beberapa hari telah lalu dengan cepat dan masih tiada kabar berita tentang To Hong dan Beng Bing-sia.

Sampai hari ketujuh, akhirnya masik suatu berita yang dibawa oleh seorang tabib kelilingan yang ada hubungan dengan orang2 Kay-pang. Ada seorang laki2 yang memberi persen sepuluh tail perak kepada tabib kelilingan itu agar menyampaikan kabar kepada orang Kay-pang bahwa ada tiga orang nona jelita minta rombongan Beng Siau-kang dan Li Su-lam supaya bertemu dengan nona2 itu di Jing-liong-kau (mulut naga hijau) yang terletak dilereng Pi-thian-keh (karang pembelah langit).

Menurut keterangan tabib itu, katanya ketiga nona itu masing2 she To, Beng dan Giam.

Dengan tertawa Ci In-hong lantas bersorak: “Kok-sute, kau tentu akan gembira, nona she Giam itu pasti Giam Nio adanya.”

“Dimanakah Jing-liong-kau dan Pi-thian-keh itu? Nama tempat2 itu kedengaran sangat berbahaya, mengapa mereka minta kita menemui mereka disana?” kata Kok Ham-hi.

“Berita ini tidak perlu disangsikan lagi, memang tempat2 itu sangat curam dan berbahaya,” kata Li Su-lam. “Letak tempat2 itu adalah di suatu pegunungan di perbatasan negeri Kim dan Mongol.

Dibalik gunung sana adalah gurun Gobi yang luas, dibalik gunung sini adalah lereng2 gunung Ki- lian-san yang memanjang kedaerah pedalaman. Dari negeri Kim ke Mongol harus melalui Jing- liong-kau diselat Pi-thian-keh itu.”

“Ya, Bing-sia dan To Hong pernah pergi ke Mongol, selain mereka rasanya tiada yang kenal nama tempat itu,” ujar Beng Siau-kang.

Kok Ham-hi merasa sangsi, katanya: “Mengapa mereka tidak datang saja kesini, sebaliknya minta kita menemui meeka di perbatasan Mongol itu?”

“Liok-pangcu,” kata Beng Siau-kang, “bukankah kemarin kalian mendapat kabar bahwa dalam waktu singkat ini utusan Mongol akan pulang ke negerinya dan Yang Thian-lui akan ikut mereka ke Mongol sebagai kunjungan balasan pihak Kim?”

“Benar, kabar ini kuterima dari orang kita yang berkerja di Kok-suhu, rasanya dapat dipercaya,” kata Liok Kun-lun.

“Ah, tahulah aku, tentu mereka bermaksud menggempur musuh di tempat berbahaya itu,” kata Ci In-hong.

“Ayah nona To terbunuh oleh Yang Thian-lui, anak murid Liong-siang Hoat-ong juga tersangkut dalam pembunuhan itu, mungkin merekapun mendapat tahu akan keberangkatan Yang Thian-lui ke Mongol itu, makanya mereka hendak mencegat musuh ditempat berbahaya itu untuk menuntut balas,” kata Su-lam.

“Tapi masih ada sesuatu yang aku merasa tidak paham, darimana mereka mendapat tahu kabar keberangkatan Yang Thian-lui itu, siapa pula orang yang menyampaikan berita mereka kepada kita melalui tabib kelilingan itu?” kata Kok Ham-hi.

“Ya, mungkin orang kosen yang tidak mau unjuk diri didepan umum, bisa jadi dia adalah sahabatku, ketika mengetahui Bing-sia dan kawan2nya mau pergi ke Taytoh, maka di tengah jalan orang kosen itu mencegah Bing-sia agar mengurungkan perjalanannya, lalu memberi saran agar mencegat musuh di tempat yang disebutkan itu,” demikian kesimpulan Beng Siau-kang.

“Jika betul demikian halnya, wah, orang kosen itu sungguh2 misterius,” ujar Su-lam dengan tertawa.

“Aku juga Cuma menerka saja, duduk perkara yang sebenarnya baru diketahui bila kita sudah berada di Pi-thian-keh nanti,” kata Beng Siau-kang.

Sesudah berunding, diputuskan yang akan berangkat ke Pi-thian-keh hanya Beng Siau-kang, Liok Kun-lun, Li Su-lam, Nyo Wan, Ci In-hong dan Kok Ham-hi berenam saja. Besoknya be-ramai2 mereka lantas berangkat.

Tempo hari sesudah melepaskan Li Su-lam, Dulai tidak bersemangat lagi untuk tinggal lebih lama di taytoh, cepat2 ia mengakhiri perundingannya dengan pihak Kim, lalu delegasinya berangkat kembali ke Mongol. Untuk menyatakan kesungguhannya, raja Kim sengaja mengutus “koksu” Yang Thian-lui ikut Dulai ke Mongol sebagai kunjungan balasan.

Sepanjang jalan tidak terjadi apa2, suatu hari sampailah dikaki gunung itu, bila menengadah sudah tertampak Pi-thian-keh (karang pembelah langit) yang curam itu. Dulai memberi perintah berkemah dikaki gunung.

Esok harinya Minghui sudah ber-kemas2 untuk berangkat, tapi setelah di-tunggu2 tanpa terasa matahari sudah menggantung tinggi di tengah langit, keadaan masih sunyi saja. Padahal menurut kebiasaan pagi2 sekali sebelum sang surya menongol diufuk timur pasukan Mongol sudah berangkat, petangnya sesudah matahari terbenam barulah pasukan beremah pula. Sekarang hari sudah hampir siang, mengapa keadaan masih tenang2 saja?

Segera pula ia tertawai diri sendiri, pikirnya: “Buat apa aku gelisah tentang keberangkatannya? Ayah sudah meninggal, kampung halaman sudah tiada artinya lagi bagiku, hidupku selanjutnya hanya mirip sepotong kapas saja yang terombang ambing tak menentu, lebih cepat sampai di kampung halaman tentu akan lebih cepat pula menderita.”

Begitulah selagi Minghui merasa kesal, tiba Dulai masuk kekemahnya dan menegur dengan tertawa: “Adikku yang manis, sesudah melintasi pegunungan ini akan tibalah negeri Mongol kita. Kau senang atau tidak?”

“Aneh, mengapa kau menjadi memperhatikan diriku? Aku tidak lebih hanya seperti boneka saja, masakah aku berhak menentukan senang atau tidak?” jawab Minghui.

“Jangan bicara demikian, adikku,” kata Dulai dengan tertawa. “Diantara saudara2 kita, biasanya akulah yang paling baik kepadamu, masakah aku takkan memperhatikan dirimu lagi sekarang?” “Itukan dulu, sekarang yang kau perhatikan hanyalah kedudukan dan kekuasaanmu saja, kalau tidak tentu kau takkan paksa aku pulang kesini,” jengek Minghui.

Tampaknya Dulai rada kikuk, dengan menyengir segera ia berkata pula: “Aku tahu, kau tentu lagi terkenang kepada Su-lam Anda, bukan?”

“Jangan ngaco belo, aku tidak suka mendengar kata2mu yang tidak keruan,silahkan pergi saja jika tiada urusan lain,” kata Minghui dengan muka cemberut.

“Baik, kita bicara urusan yang oenting,” kata Dulai. “Sesudah di rumah nanti, kukira soal pernikahanmu tak bisa di-tunda2 lagi. Kau suka menikah dengan pangeran Tin-kok?”

“Suka atau tidak suka, memangnya mau apa lagi? Masakah aku berhak menyatakan pendirianku?” ujar Minghui.

Dulai tercengang, semula ia menduga Minghui pasti akan tegas2 menolak kawin dengan Tin-kok, tak tersangka sinona hanya pasrah nasib saja. Maka dengan tertawa Dulai berkata pula: “Sekali ini kau salah sangka, adikku. Maksudku mengajak kau pulang justru hendak memberikan hak pilih bagimu.

Minghui diam saja tidak memberi tanggapan, dalam hati ia pikir urusan sudah begini masakah kau masih hendak mendustai aku.

Namun Dulai lantas menyambung lagi: “Aku tahu kau memang tidak suka kepada Tin-kok. Bicara sejujurnya, jika kau menjadi istrinya memang mirip setangkai bunga indah menancap di atas seonggok tahi kerbau. Sesungguhnya akupun tidak ingin membikin penasaran padamu. Maka aku hendak memenuhi harapanmu, Cuma saja kau harus tunduk kepada kata2ku.”

Minghui tetap diam saja, maka Dulai lantas melanjutkan: “Sebentar Tin-kok akan datang menyambut kau, hendaklah kau bersikap rada ramah padanya, dengan demikian barulah aku dapat membantu kehendakmu.’

“Selamanya aku tidak tahu cara membikin senang hati orang,” sahut Minghui dengan dingin. “Bukan maksudku menyuruh kau munduk2 padanya, cukup kau bersikap lebih lunak daripada biasanya,” ujar dulai. “Hanya saja nanti bila dia datang, harap kau ikut keluar menyambutnya, sedikitnya biar dia melihat wajahmu.”

Dengan tidak sabar Minghui menjawab: “Sudahlah memangnya aku adalah bonekamu, apa kehendakmu akan kulakukan saja, supaya kau puas.”

Dulai geleng kepala, baru mau bicara lagi, tiba2 terdengar suara pengawal melapor di luar: “Pangeran Tin-kok sudah tiba!”

“Berapa banyak pengikut yang dia bawa?” tanya Dulai. “Kira2 beberapa pulauh orang,” sahut pengawal itu.

“Baiklah, suruh panglima Mufali meladeni pengiring2 Tin-kok,” seru Dulai. Lalu katanya kepada Minghui: “Adikku yang manis. Sekarang marilah ikut kekuar!”

Memangnya Minghui sudah bertekad akan membunuh diri bilamana dipaksa kawin dengan Tin- kok, sebab itu tanpa membantah iapun ikut Dulai keluar menyambut tin-kok.

Kelihatan Pangeran tin-kok sedang menuruni bukit di kejauhan sana, agaknya dari jauh iapun dapat melihat putri Minghui berdiri berjajar dengan Dulai dibawah panji Mongol yang berkibar itu. Tin- kok sangat girang, ia pikir Dulai ternyata tidak berdusta dan betul2 telah dapat membujuk Minghui untuk pulang menikah dengan aku.

Segera Tin-kok melarikan kudanya ke depan Dulai dan Minghui, dengan tertawa ia menyapa: “Selamat datang, selamat pulang ke tanah air, tuan putri!”

Melihat Minghui diam saja, sikapnya dingin, tapi juga tidak unjuk rasa gusar, legalah hati Dulai, segera ia mewakilkan menjawab: “Adikku telah banyak bergaul dengan wanita Han sehingga ketularan rasa malu2. Tapi selanjutnya kita adalah orang sekeluarga, marilah kita masuk kedalam untuk minum barang beberapa cawan.”

Senang sekali Tin-kok mendengar kata2 “Selanjutnya kita adalah orang sekeluarga” itu, ia menyangka Dulai akan bicara tentang pelaksanaan nikahnya dengan Minghui, maka tanpa curiga apa2 ia lantas ikut Dulai ke dalam kemah dan meninggalkan pengiringnya di luar yang segera dilayani pula oleh Mufali dengan anak buahnya.

Setiba didalam kemah, tin-kok berusaha mengajak bicara dengan Minghui, tapi sang putri ternyata acuh tak acuh, bila perlu hanya menjawab ala kadarnya saja.

“Minghui, boleh kau menyuguh satu cawan kepada pangeran, lihatlah betapa ia memperhatikan dan sayang padamu,” demikian kata Dulai.

“Ah, tidak usah, tidak usah!” kata Tin-kok dengan tertawa sehingga mulutnya yang lebar itu menjeplak seperti mulut barongsay.

“Harus, harus!” seru Dulai.

Tapi Minghui tetap diam2 saja, maka Dulai menambahkan: “Ah, mengapa kau masih malu2 terhadap orang sendiri? Baiklah, biar aku mewakilkan kau menyuguh satu cawan kepada pangeran.”

~ Lalu ia menyodorkan cawan arak ke hadapan Tin-kok.

Terpaksa Tin-kok rada kecewa karena Minghui tidak mau menyuguh arak padanya, maka dengan mengerut kening ia menolak suguhan Dulai itu, katanya: “AH, mana aku berani menerima suguhanmu!” Dilaur dugaan, se-konyong2 Dulai membanting cawan arak itu ketanah sambil membentak: “Baik, jadi kau tidak sudi minum arak suguhan , tapi lebih suka kepada arak paksaan!”

Belum lenyap suaranya, mendadak dari kedua samping kemah menerjang masuk dua orang busu yang telah siap sejak tadi, yang satu terus mencekik leher Tin-kok dari belakang, yang lain memegani kedua tangannya.

Tenaga pembawaan Tin-kok sangat hebat, sekali kedua tangannya merontak, “krak” kontan tangan busu yang memegangnya itu keseleo sendiri. Akan tetapi Tin-kok sendiri juga merasa tangannya kesakitan hingga tenaga sukar dikeluarkan lagi. Dalam pada itu busu yang mencekik leher Tin-kok itu makin keras meremaskan jari2nya yang kuat, lamban-laun lidah Tin-kok menjulur keluar, tubuhnya menjadi lemas, napaspun putus, matilah Tin-kok seketika.

Kiranya sesudah Dulai membantu kakak ketiganya yaitu Ogotai, merebut kedudukan Khan agung, lalu Dulai berhasil memegang kekuasaan militer seluruhnya, begitu besar kekuasaannya sehingga hampir melampau Khan sendiri. Maka satu2nya orang yang disirikinya hanya pangeran Tin-kok saja. Sebab Tin-kok adalah salah satu panglima yang mempunyai pasukan terkuat, suku yang dipimpinnya juga terkenal suku yang paling gagah berani di medan perang. Semula Dulai bermaksud memperalat adik perempuannya untuk merangkul Tin-kok kepihaknya, tapi pertama Minghui belum pasti mau menurut padanya, pula Tin-kok juga seorang yang punya ambisi dan ingin kuasa. Dulai kuatir kalau usaha merangkulnya tidak berhasil, sebaliknya akan membikin urusan menjadi runyam, karena itu ia pikir lebih baik binasakan Tin-kok saja untuk melenyapkan lawan kuat selamanya, babat rumput harus sampai akar2nya.

Waktu itu pasukan Tin-kok berkedudukan digurun Gobi yang berbatasan dengan negeri Kim yang dipisahkan oleh sebuah gunung. Untuk membunuh Tin-kok tentunya tidak dapat dilaksanakan di tengah2 pasukannya, maka Dulai sengaja memancing Tin-kok ke dalam kemahnya dengan minghui sebagai umpan.

Kedua busu yang membantu Dulai itu adalah murid2 kesayangan Liong-siang Hoat-ong, yaitu Abul dan Hulitu. Betapapun kuat tenaga pembawaan Tin-kok juga sukar melawan Liong-siang-sin-kang yang dikeluarkan oleh kedua busu itu.

Abul sendiri karena tangannya keseleo, segera Dulai menghiburnya, dan menjanjikan akan diberi hadiah yang pantas, lalu suruh Hulitu membawa kawannya itu ke belakang kemah untuk diberi pengobatan seperlunya. Kemudian Dulai memerintahkan pula untuk memanggil Mufali, Liong0- siang Hoat-ong dan Yang Thian-lui.

Sesudah mengatur segala sesuatu, lalu Dulai berkata kepada Minghui dengan tertawa: “Adikku yang manis, pernah kukatakan akan memenuhi keinginanmu agar kau tidak jadi menikah dengan manusia buruk ini, lihatlah sekarang, bukankah aku tidak berdusta padamu?” 

Sebenarnya Minghui juga sangat benci kepada Tin-kok, tapi menyaksikan betapa kejinya cara Dulai membereskan saingannya itu, mau tak mau Minghui merinding juga.

Selang tak lama datanglah Mufali, Liong-siang Hoat-ong dan Yang Thian-lui. Segera Mufali melaporkan bahwa belasan bahwa belasan orang pengiring Tin-kok juga telah dikubur hidup2 setelah lebih dulu dicekoki arak hingga mabuk.

“Bagus!” puji Dulai. “Sekarang kita harus pikirkan pula pasukan Tin-kok yang berjumlah puluhan ribu dan berkemah dibalik gunung sana. Menurut pendapatmu, cara bagaimana harus kita selesaikan urusan ini.”

“menurut pendapat hamba, belasan pengiring Tin-kok itu mudah dibereskan seluruhnya, tapi pasukan yang berjumlah puluhan ribu prajurit itu harus ditaklukkan dengan akal dan cara damai,” kata Mufali.

“Benar, aku sependapat dengan kau,” kata Dulai. “Tapi kita harus memasuki cara yang taktis dan mengatasi mereka secara kilat. Kau berangkat ketengah pasukan Tin-kok itu bersama Hoat-ong dan Yang-koksu dengan membawa kepala Tin-kok, setiba di-tengah2 perwira2 pasukannya itu barulah kau perlihatkan kepalanya Tin-kok, tentu anak buah Tin-kok itu akan melengong, disitulah kau harus ambil tindakan cepat, gunakan cara halus dengan membujuk mereka dan pakai kekerasan pula dengan menggertak, dengan demikian anak buah Tin-kok itu pasti akan mati kutu, maka kau perlu bertindak pula secara bijaksana dengan menghibur mereka, siapa yang tunduk kepadaku diberi kenaikan pangkat satu tingkat dan tiap2 prajurit diberi hadiah sepuluh tahil perak, yang membangkang boleh dibunuh ditempat. Dengan demikian tentu mereka takkan berani memberontak. Dibawah pengawalan Hoat-ong dan Yang-koksu, kukira keselamatanmu akan terjamin dengan baik. Cuma Yang-koksu adalah tamu kita, rasanya tidak enak bila beliau harus ikut menempuh bahaya.”

Mufali mengiakan ber-ulang2. Sedang Liong-siang Hoat-ong lantas bergelak tertawa dan berkata: “Ah, tuanku terlalu banyak memuji. Sesungguhnya dengan bantuan Yang-koksu, memang tiada sesuatu persoalan yang perlu kita takuti.”

Begitu pula Yang Thian-lui juga lantas berkata: “Atas kepercayaan yang mulia, sudah tentu hamba akan berbuat sekuat tenaga, memang inilah kesempatan baik bagiku untuk berbakti kepada Khan Agung.”

“Baiklah. Boleh kalian berangkat saja,” kata Dulai.

Begitulah Mufali bertiga lantas menuju kepangkapan pasukan Tin-kok itu. Diam2 Mufali berkuatir bahaya apa yang akan dihadapinya nanti. Ia tidak tahu tempat yang berbahaya justru bukan ditengah pasukan Tin-kok, tapi adalah di Pi-thian-keh, disana Beng Siau-kang, Li Su-lam dan lain2 sedang menantikan mereka.

Rombongan Li Su-lam itu sudah sampai di Pi-thian-keh kemarin malam, Cuma mereka belum dapat menemukan sampah diatas gunung, maka sayup2 suara ringkik kuda dapat terdengar. Karena hari sudah gelap, pula pegunungan sesunyi itu tidak leluasa untuk mengeluarkan suara buat memanggil, sebab cara demikian pasti akan diketahui musuh. Maka mereka lantas bermalam disitu. Besoknya menjelang lohor, belum lagi rombongan Bing-sia kelihatan, sebaliknya rombongan Liong-siang Hoat-ong bertiga yang hendak melintasi selat pegunungan itu dipergoki mereka lebih dulu.

Su-lam bergirang, katanya: “Aneh, mengapa Cuma mereka bertiga saja, sedang pasukan Dulai tidak bergerak? Sungguh kesempatan yang bagus bagi kita untuk menuntut balas.’

“Entah mengapa Beng-cici dan To-cici masih belum datang,” kata Nyo Wan.

“Keadaan sudah mendesak, terpaksa tidak lagi menunggu mereka,’ ujar Ci In-hong yang lebih mementingkan soal pembersihan perguruan. “Kepandaian memanah Bengcu sangat hebat, bila mereka sudah berada dalam jarak panah, harap Bengcu suka memanah dulu kuda tunggangan mereka.”

Li SU-lam setuju atas saran itu, segera ia siapkan busur dan tiga batang anak panah. Busur dan panah itu adalah hadiah Jengis Khan dahulu, busur terbuat dari baja, daya bidiknya jauh lebih kuat daripada busur biasa. Dalam jarak ratusan langkah pasti mati sasarannya bila terbidik. Untuk membinasakan tokoh kelas wahid sebagai Liong-siang Hoat-ong dan Yang Thian-lui memang tidak gampang, tapi untuk memanah kuda tunggangan mereka kiranya tidak sulit bagi Li su-lam.

Begitulah selagi suasana tegang mulai memuncak,keadaan sunyi senyap, tampaknya Mufali bertiga sudah memasuki jarak panah, pada saat LI Su-lam mulai angkat busurnya, se-konyong2 terdengarlah suara gemuruh yang menggetarkan lembah gunung, dua potong batu besar sebesar meja tahu2 menggelinding dari atas kebawah gunung. Menyusul dari atas gunung sana muncul tiga sosok tubuh wanita muda.

“Ha, Bing-sia, kalian sudah datang!” seru Ci in-hong.

Ketiga wanita muda itu memang benar adalah Beng Bing-sia, To Hong dan Giam-wan, Agaknya merekapun sejak tadi sembunyi disitu, hanya sebelum jejak musuh kelihatan jelas mereka tidak mau tampilkan diri.

Beng Siau-kang cukup mengenal kepandaian ketiga nona itu, diam2 ia menjadi heran melihat kedua potong batu besar yang menggelinding dari atas gunung itu, padahal berat batu itu masing2 sedikitnya beribu2 kati, dengan gabungan tenaga ketiga nona itupun belum tentu dapat bikin batu besar itu bergeser, apa mungkin ada orang kosen yang diam2 membantu nona itu?

Begitulah kedua potong batu raksasa itu masih menggelundung kebawah dengan membentur tebing karang disana sini hingga menerbitkan suara gemuruh. Liong-siang Hoat-ong dan Yang Thian-lui melarikan kuda mereka berjalan didepan Mufali, maka mereka yang harus menghadapi bahaya lebih dahulu. Meski ilmu silat mereka sangat tinggi juga mesti berusaha menghindari terjangan batu2 besar itu. Tapi jalan pegunungan itu rada sempit untuk menghindarpun sukar. Cepat Liong-siang Hoat-ong melompat dari atas kudanya, ketikabatu besar menyambar tiba, ia mengelak kesamping sambil kedua tangannya menaympuk, kontan arah batu besar itu dibelokkan, maka terdengarlah suara gemuruh pula, batu itu jatuh kedalam jurang disebelah sana. Batu raksasa yang lain juga kena disampuk jatuh oleh tangan sakti Thian-lui-kang yang dikeluarkan Yang Thian- lui,batu itupun meng-gelinding2 kebawah gunung dengan menerbitkan suara gemuruh.

“Budak2 kurangajar, berani main gila terhadap kita!” bentak Liong-siang gusar.

“Biar kuhabisi nyawa mereka,’ kata Mufali. Sebagai ahli pemanah yang sama terkenalnya seperti Cepe, segera Mufali pentang busur dan sekaligus melepaskan tiga buah anak panah.

“Bagus, coba aku adu kepandaian pemanah dengnan kau!” bentak Su-lam. Segera iapun membidikkan tiga batang panah, terdengarlah suara gemerincing tiga kali, enam batang panah telah saling tumpuk ditengah udara dan jatuh semua kebawah.

Tidak Cuma beguitu saja, bahkan Li Su-lam lantas membidikan dua panah pula kearah kuda2 tunggangan Liong-siang Hoat-ong dan Yang Thian-lui. Saat itu kedua ekor kuda itu sudah ditinggalkan oleh tuannya dan sedang lari ketakutan oleh suara gemuruh jatuhnya batu2 raksasa tadi, yang satu lari ketimur dan yang lain kebarat. Tapi ilmu memanah Li Su-lam benar2 luar biasa, kedua kuda itu ber-turut2 kena dipanah roboh. Diam2 Mufali terkejut menyaksikan kepandaian memanah Li Su-lam itu dan merasa dirinya masih kalah setingkat.

Dalam pada itu Beng Siau-kang dan rombongan sudah lantas unjuk diri. Dengan cepat Beng Siau- kang dan Liok Kun-lun menerjang kedepan.

“Liong-siang Hoat-ong, tempo hari urusan kita belum selesai, biarlah sekarang saja kita pastikan kalah atau menang,” teriak Beng Siau-kang.

“Yang thian-lui, marilah ku-coba2 lagi pukulanmu!” demikian Liok Kun-lun juga lantas menantang.

Melihat jumlah lawan jauh lebih banyak, terkesiap juga hati Liong-siang Hoat-ong. Segera ia lantas membentak: “Beng Siau-kang, jika berani hayolah kita satu lawan satu!”

“Hm, memangnya kau kira orang she Beng ini biasa main kerubut?” sahut Beng Siau-kang dengan tertawa. Berbareng pedangnya lantas mendahului menusuk kedada lawan.

“Bagus!” sambut Liong-siang Hoat-ong sembari angkat tongkatnya, “trang”, pedang Beng Siau- kang tertangkis kesamping.

Dalam pada itu Yang Thian-lui juga lantas menjengek: “Hm, pengemis tua bangka macam kau juga berani menempur aku satu lawan satu?” ~ Sekali pukul, kontan Liok Kun-lun tergetar mundur beberapa tindak.

Sementara Ci In-hong dan Kok Ham-hi juga sudah menyusul tiba, seru mereka: “Liok-pangcu, keparat ini adalah murid murtad perguruan kami, harap engkau serahkan dia kepada kami saja!” Tenaga dalam Liok Kun-lun memang kalah kuat daripada Yang Thian-lui, dadanya sesak oleh getaran Thian-lui-kang tadi, terpaksa mundur teratur dan memberi kesempatan kepada Ci In-hong berdua untuk mengadakan pembersihan perguruannya.

Disebelah lain Mufali yang cerdik itupun tidak tinggal diam, ia pikir daripada aku tinggal disini yang toh tidak dapat membantu bertempur, lebih baik aku kabur kembali kesana untuk minta bala bantuan. Karena itu sesudah panahnya terbentur jatuh oleh panah Li Su-lam tadi, segera ia memutar kudanya terus dilarikan.

Li Su-lam sadar akan akibatnya bila Mufali sampai lolos, cepat ia pentang busur pula dan sekaligus membidikan tiga buah anak panah. Namun kepandaian memanah Mufali selisih tidak banyak dengan dia, segera ia sambut serangan itu dengan tiga buah anak panah, dua panah masing2 saling bentur dan jatuh ditengah jalan, panah ketiga Li Su-lam berhasil menyambar kesasarannya, tapi sempat dihindarkan Mufali dengan memberosotkan dirinya kebawah pelana kuda. Waktu Li Su-lam melepaskan anak panah keempat, namun sudah tidak keburu lagi, Mufali sudah melarikan kudanya secepat terbang.

Sekali ini Liong-siang Hoat-ong menempur Beng Siau-kang dengan menggunakan tongkat besar, dalam hal senjata ia tidak rugi lagi seperti tempo hari dia hanya menggunakan jubahnya saja sebagai senjata.

Tongkat paderi yang digunakan Liong-siang itu terbuat dari baja murni dengan bobot yang berat, apalagi lwekangnya memang lebih tinggi setingkat, dengan sendirinya pedang Beng Siau-kang tidak mampu menabasnya. Akan tetapi ilmu pedang Beng Siau-kang mengutamakan kegesitan dengan macam2 variasi, be-runtun2 ia menyerang belasan kali sehingga Liong-siang Hoat-ong rada kerepotan, namun setiap kali tongkatnya berputar kencang, “trang”, sekali kedua senjata terbentur, kontan Beng Siau-kang merasakan tangannya kesemutan, maka pertarungan sengit berlangsung pula dengan cepat.

Melihat pertempuran yang seru itu, Li SU-lam sampai menahan napas, tapi ketika ia menoleh kesana, dilihatnya Ci In-hong dan Kok Ham-hi yang menempur Yang Thian-lui ternyat lebih2 mendebarkan hati. Tiga sosok bayangan orang berkelebat kian kemari, terkadang saling gebrak, lalu sama melompat mundur, angin pukulan men-deru2 laksana bunyi guruh.

Kiranya sesudah pertarungan di Kok-suhu tempo hari, kedua pihak telah sama2 berlatih lebih giat dan menyelami cara baru untuk emngatasi musuh. Sebagai seorang mahaguru, dapatlah Yang thian- lui menemukan suatu cara mengalahkan musuh dengan cepat, yakni menggempur musuh secara satu2, artinya kedua musuh itu tidak diberi kesempatan untuk bergabung dan melancarkan jurus “Lui-tian-kau-hong” bersama.

Yang Thian-lui tidak tahu bahwa selama belasan hari ini Ci In-hong telah banyak mendapat petunjuk2 dari Beng Siau-kang, lwekangnya telah banyak maju pula. Apalagi ilmu pedang Ci in- hong dan Kok Ham-hi adalah ajaran langsung dari Hoa Thian-hiong, jadi ditengah pukulan mereka terseling pula serangan pedang yang belum pernah dikenal oleh Yang Thian-lui, karena itu kekuatan kedua pihak tetap seimbang.

Cuma dalam hal keuletan dan pengalaman jelas Yang Thian-lui lebih menang, maka dapat diduga bila pertarungan sengit itu berlangsung hingga ratusan jurus, akhirnya Yang Thian-lui akan dapat membinasakan kedua lawannya, tapi dia sendiri juga akan kehilangan banyak tenaga dan pasti akan jatuh sakit berat.

Menghadapi kenyataan itu, Ci In-hong berdua menyadari cita2 mereka hendak mengadakan pembersihan perguruan sendiri sukar terlaksana, terpaksa mereka harus bertempur mati2an. Begitu pula dengan Yang Thian-lui, diam2 iapun mengeluh dan kuatir kalau2 kedua pihak akan sama2 celaka.

Melihat keadaan Ci In-hong berdua yang kewalahan itu, diam2 Li Su-lam juga kuatir, ia sudah merencanakan, bila perlu terpaksa iapun akan terjun kekalangan pertempuran tanpa menghiraukan peraturan kangouw algi.

Pada saat itulah tiba2 terdengar Nyo Wan berseru: “Kebetulan sekali kedatangan kalian, Beng-cici, lekas kalian membantu Ci-toako!”

Kiranya saat itu Beng Bing-sia, To Hong dan Giam Wan baru berlari datang dari atas gunung. Terkesiap juga Yang Thian-lui, ia benar2 kuatir kalau pihak musuh main kerubut, segera ia menejngek: “Hm, bolehlah kalian maju pula. Memangnya aku sudah tidak berpikir untuk pergi dari sini dalam keadaan hidup, kebetulan aku dapat mencari beberapa teman keliang kubur.”

“Yang Thian-lui !” teriak To Hong dengan penuh rasa dendam. “Kau telah membunuh ayahku, betapapun aku harus menuntut balas!”

“Ya, terhadap bangsat tua itu, peduli apa tentang peraturan kangouw segala, hantam saja dia !” kata Bing-sia.

“Tunggu sebentar, nona To,” cepat Ci In-hong berseru, “Nanti kalau kalah menang kami sudah jelas barulah silahkan kau mengadakan perhitungan dengan bangsat tua ini. Bing-sia, urusan perguruan kami inipun hendaklah kau jangan ikut campur.”

Sebabnya In-hong tidak mau dibantu, pertama ia tidak ingin orang luar ikut campur dalam hal pembersihan perguruan sendiri; kedua, iapun kuatir kalau nona itu cedera oeh pukulan Yang Thian- lui yang dahsyat. Sebabitulah ia lebih suka mengadu jiwa dengan Yang Thian-lui, habis itu barulah To Hong turun tangan pada kesempatan yang baik nanti.

Selagi keadaan semakin tegang, tiba2 terdengar suara bentakan dua orang: “In-hong, Hm-hi, mundur kalian!” ~ Yang Thian-lui, pentanglah matamu, lihatlah yang jelas siapa kami ini?” ~ Berbareng dengan lenyapnya suara itu, muncul pula dua orang tua. Tidak kepalang kejut dan girang Ci In-hong dan Kok Ham-hi, sebab kedua orang tua ini tak lain tak bukan adalah guru mereka, Hoa Thian-hong dan Kheng Thian-kong.

Yang Thian-lui juga terperanjat luar biasa, munculnya Hoa Thian-hong tidak mengherankan dia, yang tak terduga olehnya adalah Kheng Thian-kong ternyata masih hidup di dunia ini. Tapi mengingat kepandaian kedua sute itu jauh dibawahnya, apalagi Kheng Thian-kong dahulu pernah dihantamnya hingga terluka parah, walaupun tidak mati, tentu pula tenaga dalam semula sukar dipulihkan kembali. Maka dengan menyeringai ia lantas menanggapi: “Hehe, bagus sekali kedatangan kalian,aku justru hendak minta pertanggungan jawab kalian yang tidak becus mendidik murid ini. Nah, apa katamu, apakah kalian juga akan menentukan mati hidup dengan aku?”

“Yang Thian-lui,” teriak Kheng Thian-kong dengan mata merah menghadapi musuh besar itu, “Kau telah mencelakai istriku, mengakibatkan pula kematian ibuku, akupun kau hantam hingga hampir2 menjadi cacat untuk selamanya, apakah kau masih ingat hutangmu yang sudah lama ini?”

“Kau tidak mampus oleh pukulanku sudah terhitung beruntung, sekaranag kau mau apa?” jawab Yang Thian-lui ketus.

“Aku mau mengunyah dagingmu, membeset kulitmu, untuk membalas dendam istriku dan ibuku,” teriak Kheng Thian-kong. “Hoa-suheng, biar aku yang maju lebih dulu!” ~ Habis berkata demikian ia menubruk maju.

“Bagus!” sambut Yang Thian-lui, kontan kedua tangannya menghantam dengan jurus Lui-tian-kau- hong yang dahsyat, ia mengira sekali pukul saja jiwa Kheng Thian-kong pasti akan melayang. Tak terduga Kheng Thian-kong juga lantas memapaknya dengan pukulan kedua telapak tangan, “blang”, tangan beradu tangan, Kheng Thian-kong tergeliat dan melompat kesamping dengan air muka yang tidak berubah sedikitpun. Nyata setelah berlatih puluhan tahun, kini lwekang Kheng Thian-kong sudah cukup kuat untuk menghadapi pukulan Yang Thian-lui yang dahsyat itu.

“Yang Thian-lui selama 20an tahun aku terpaksa mengasingkan diri karena kekejamanmu, utangmu itu biarlah sekarang juga hendak kutagih padamu!” demikian Hoa Thian-hong juga lantas membentak. “sret”, pedangnya lantas menusuk.

Diantara saudara2 seperguruan, ilmu pedang Hoa Thian-hong terhitung paling hebat, setelah berltih pula 20an tahun, sudah tentu ilmu pedangnya bertambah hebat dan banyak jurus2 baru telah diciptakannya. Ber-ulang2 Yang Thian-lui mematahkan belasan jurus serangan Hoa Thian-hong tanpa terasa ia sudah mandi keringat, apalagi dia masih harus menghadapi Kheng Thian-kong.

Melihat kemenangan sudah pasti dipihak Hoa Thian-hong berdua, legalah hati Li Su-lam, sekarang dia baru sempat mendekati dan menyapa To Hong dan lain2.

“Untung ditengah jalan Beng-cici ketemu Hoa-locianpwe sehingga kami tidak sampai masuk perangkap musuh,” kata To Hong dengan tertawa.

“Kiranya kalian ketemu kedua locianpwe ini, makanya aku heran siapakah tokoh kosen yang berdiri dibelakang kalian,” ujar Su-lam dengan tertawa.

Kiranya Kheng Thian-kong telah berhasil menyakinkan lwekang yang tinggi, lalu ia mencari Suhengnya di Pak-bong-san, kemudian mereka berdua berangkat ke Taytoh untuk mencari Yang Thian-lui. Sayang kedatangan mereka terlambat sehari sesudah Beng Siau-kang dan lain2 membikin geger Kok-suhu. Merekapun lantas mendapat kabar keberangkatan Yang Thian-lui ke Mongol, setelah berunding akhirnya Hoa Thian-hong dan Kheng Thian-kongh merencanakan pencegatan di Pi-Thian-keh sini. Setelah meninggalkan Taytoh, ditengah jalan kebetulan mereka bertemu dengan To Hong bertiga.

Begitulah Nyo Wan juga berkata dengan tertawa: “Kok-toako, Gia-cici sengaja menyusul kemari, mengapa kau tidak mengajaknya bicara?”

Giam Wan menjadi ter-sipu2. Tapi Kok Ham-hi lantas berkata: “Ya, aku tidak menduga akan kedatanganmu, adik Wan. Banyak sekali kejadian yang hensdak kubicarakan padamu, biarlah kita bicarakan nanti saja.”

Kedua kekasih yang telah mengalami suka duka dan macam2 penderitaan, kini bertemu kembali ditempat berbahaya pula, meski menghadapi kemungkian mengalirnya darah, namun semuanya itu telah berubah menjadi rasa bahagia bagi mereka. Ditengah pertarungan sengit itu, sayup2 Yang Thian-lui mendengar dibawah gunung ada suara gerakan pasukan berkuda yang ramai, dalam hatinya bergirang, ia pikir sebentar lagi bila bala bantuan sudah tiba tentu tak perlu takut lagi kepada jumlah lawan yang lebih banyak itu. Mendadak ia gigit ujung lidah sendiri dan menyemburkan darah segar, ia himpun sisa tenaganya untuk bertahan, ber-turut2 ia melancarkan serangan pula beberapa kali, kekuatan Thian-lui-kangnya ternyata bertambah hebat.

Disebelah lain Liong-siang Hoat-ong juga sedang menempur Beng Siau-kang dengan tidak kurang dahsyatnya, kekuatan kedua orang masih seimbang, tapi bila salah seorang meleng sedikit pasti akan binasa.

Saat itu barisan depan dari pasukan berkuda Mongol sudah mulai menerjang keatas gunung. Dengan kuatir Bing-sia lantas menyerukan Li Su-lam dan lain2 agar ambil tindakan cepat untuk membereskan musuh bila mereka sendiri tidak mau terkepung oleh pasukan musuh.

“Kok-sute, mari kita membantu suhu,” kata In-hong kepada Kok Ham-hi.

Namun Kheng Thian-kong lantas membentak mereka agar jangan ikut maju, sedangkan Hoa Thian- hong mendadak juga membentak: “Kena !” ~ Berbareng itu sinar pedang berkelebat, tusukan Hoa Thian-hong telah mengenai Hiat-to didengkul Yang Thian-lui.

Tapi Yang Thian-lui masih sempat meloncat tinggi keatas, mendadak kedua tangannya menghantam kebawah. Sambil mengertak Kheng Thian-kong pasang kuda2 dengan kuat,kedua tangannya memapak hantaman musuh, terdengarlah suara benturan keras, tubuh Yang Thian-lui yang besar itu mencelat beberapa meter jauhnya.

Rupanya keadaan Yang Thian-lui sudah payah, mirip pelita yang kehabisan minyak, waktu ia menggigit ujung lidah dan menyemburkan daraj adalah untuk menghimpun sisa tenaga dengan tujuan mengadakan gempuran terakhir. Tak terduga Hiat-to didengkulnya tertusul pedang lebih dulu, tenaga murninya buyar, karena itu adu pukulannya dengan Kheng Thian-kong menjadi kecundang, tubuhnya mencelat pergi dan jatuhnya kebetulan berada disamping To hong.

Melihat kesempatan bagus untuk membalas dendam, segera To Hong menubruk maju sambil membentak: “Mampus kau sekarang, bansgat tua!”

Yang Thian-lui menjadi murka, dengan menggerung seperti harimau gila, mendadak ia melompat tinggi keatas sambil membentak: “Budak busuk, kaupun berani menghina aku!” ~ Dengan pentang kedua tangannya segera ia menubruk kebawah.

“Celaka !” seru Nyo Wan kuatir, bersama Li Su-lam mereka lantas memburu maju.

Akan tetapi, sebelum mereka mendekat, tiba2 terdengarlah jeritan yang menyayat hati, Yang Thian- lui telah berjumpalitan diatas udara untuk kemudian jatuhnya kebawah kebetulan ditepi jurang, baru kakinya menempel tanah, mendadak tergelincir kesana terus jatuh kebawah jurang. Selang tak lama, terdengarlah suara jeritan ngeri yang berkumandang dari dasar jurang, menyusul terdengarlah suara teriakan kaget yang ramai daari prajurit2 Mongol atas kematian Yang Thian-lui.

Setelah membinasakan Suheng perguruan sendiri yang khianat itu dan menyaksikan adegan yang menyeramkan itu, mau tak mau Kheng Thian-kong dan Hoa Thian-hong juga merasa sedih dan menyesalkan bekas suheng yang berbakat itu, Cuma sayang tersesat kejalan yang jahat dan akhirnya mesti menerima ganjarannya yang setimpal dengan perbuatannya.

Dengan tangan sendiri To Hong juga berhasil membalas dendam kematian ayahnya, namun tidak urung iapun berkeringat dingin atas serangan kalap Yang Thian-lui tadi.

Kiranya sebelumnya To Hong telah menyiapkan sebuah Tok-liong-piau, ketika Yang Thian-lui kecundang dan mencelat kesampingnya, mendadak Yang Thian-lui berniat menangkap To Hong sebagai sandera waktu dilihatnya sinona juga akan menyerangnya. Seketika itu ia lupa bahwa To Hong adalah putri kesayangan To Pek-seng yang terkenal dengan senjata rahasia Tok-liong-piau. Maka begitu ia menubruk kearah To Hong, kontan iapun kena dimakan oleh senjata rahasia berbisa yang tidak kenal ampun itu. Untung juga To Hong cukup cekatan dan menyambitkan Tok-liong- piau tepat pada waktunya, kalau tidak tentu akan terjadi pergulatan lebih jauh.

Barisan prajurit Mongol yang menerjang keatas gunung itu menjadi ketakutan pula melihat Yang Thian-lui sudah mati terjerumus kedalam jurang, seketika merekapun menjadi panik.

Pada saat itulah tiba2 terdengar suara gemuruh yang menggetar bumi, batu2 besar yang tak terhitung banyaknya serentak berhamburan dari atas, seorang perwira Mongol kontan tertimpa batu, menyusul beberapa prajurit berkuda lain juga terguling oleh hujan batu itu, semuanya tergelincir masuk kedalam jurang berikut kudanya, jeritan ngeri berkumandang disana sini. Sisa prajurit lainnya terus saja memutar haluan kuda mereka dan kabur ter-birit2.

Habis itu, dipuncak gunung lantas muncul tiga orang, satu hwesio, satu Tosu dan seorang lagi adalah laki2 baju hitam berumur setengah abad.

Li Su-lam melenggong melihat ketiga orang itu, ia hampir2 tidak percaya kepada matanya sendiri, sejenak kemudian barulah ia dapat berseru: “Suhu, Suhu ! Engkaupun datang kesini.”

Kiranya Hwesio itu adalah gurunya, Kok Peng-yang. Sebenarnya Kok Peng-yang adalah murid Siau-lim-pay dari keluarga preman, entah mengapa sekarang telah menjadi Hwesio.

Giam Wan juga merasa seperti dalam mimpi saja, setelah tertegun sejenak barulah ia berteriak: “Ayah, ayah ! Apakah aku sedang mimpi? Benar2 engkau yang datang ini?”

Rupanya laki2 berbaju hitam itulah ayah Giam Wan ~ Cwan-say-tayhiap Giam Seng-to. Sedangkan Kok Ham-hi juga terbelalak matanya dengan perasaan ragu2, pikirnya: “Mengapa gurunya Thio Goan-kiat datang bersama ayah Giam Wan, apa barangkali mereka datang untuk merintangi pula perjodohanku dengan adik Wan?”

Ternyata guru Thio Goan-kiat yang dimaksud ialah si tosu, yaitu ketua Bu-tong-pay sekarang, Giok-hi Tojin.

Disebelah sana Liong-siang Hoat-ong dan Beng Siau-kang masih saling labrak dengan sengit, yang satu bertenaga dalam maha kuat, yang lain berilmu pedang maha hebat, masing2 memiliki keunggulan sendiri2 sehingga pertarungan sukar ditentukan kalah atau menang dalam waktu singkat. Namun sekarang Yang Thian-lui sudah binasa, dipihak lawan muncul pula tiga tokoh baru, sedangkan prajurit Mongol telah digempur oleh hujan batu yang jelas dilakukan oleh pihak lawan pula. Dalam keadaan demikian, betapapun lihai kepandaian Liong-siang Hoat-ong juga merasa bingung.

Ditengah berkelebatnya sinar pedang dan menderunya angin tongkat, tiba2 terdengar suara “bret” satu kali, jubah Liong-siang Hoat-ong telah ditembus oleh pedang Beng Siau-kang. Tapi dengan menggerung keras, tongkat Liong-siang Hoat-ong juga telah menyampuk pedang Beng Siau-kang kesamping,lalu Liong-siang Hoat-ong melompat keluar kalangan pertempuran, jengeknya: “Hari ini bukan waktunya kita bertempursecara mati2an. Yang jelas kau berjuluk jago pedang nomor satu didaerah Kanglam,ilmu pedangmu memang hebat, tapi boleh kau tanya kepada dirimu sendiri, apakah kau mampu mengalahkan aku? Hehe, bila kau masih ingin bertanding lagi, marilah kita mencari suatu tempat dan menentukan waktu lain. Tapi kalau kau takut kalah, bolehlah kalian main kerubut saja sekarang, biarpun mati, aku tetap tidak menghargai ilmu silat didaerah Tionggoan sini.”

Meski omongnya besar dan sikapnya tetap angkuh, tapi sebenarnya sudah kentara rasa jerinya. Beng Siau-kang menjadi tidak tega terlalu mendesak lawannya, dengan tertawa ia menajwab: “Ya, aku memang tidak dapat mengalahkan kau, tapi kau pun tidak mampu mengalahkan diriku, bertempur sepuluh kali lagi juga tetap begitu, apa perlu bertempur pula. Aku tahu maksudmu, jangan kuatir, boleh kau pergi saja, tak nanti kuhalangi kau!”

Dengan girang segera Liong-siang Hoat-ong hendak angkat kaki, tiba2 seorang membentak nya: “Nanti dulu!” ~ Kiranya Kok Peng-yang telah mencegat didepannya.

Liong-siang Hoat-ong tidak percaya bahwa di Tionggoan masih ada jago silat yang melebihi Beng Siau-kang, maka dengan mata melotot ia bertanya: “Apakah kaupun ingin coba2 diriku?”

“Ya, asal aku mampu menyambut satu kali genrak dariku, baik kau kalah atau menang tetap aku akan lepaskan kau pergi sesukamu, dengan demikian kau tak dapat menuduh aku tidak ingin membikin susah orang dalam keadaan payah,bukan?” Kata Kok Peng-yang, tujuannya jelas hanya ingin memberi ajar-adat saja kepada lawan yang angkuh itu.”

“Baik, jangankan Cuma sekali gebrak, sepuluh gebrakan juga akan kulayani,” sahut Liong-siang Hoat-ong dengan gusar.

Karena Kok Peng-yang tidak menggunakan senjata, maka Liong-siang Hoat-ong hanya menggunakan sebelah tangan saja, sekali menggerung, segera ia menghantam dengan Liong-siang- sin-kang.

“Bagus!” sambut Kok Peng-yang, dengan pelahan iapun memukulkan sebelah tangan kedepan dengan ilmu sakti Kim-kong-ciang yang terkenal dari Siau-lim-pay. Tenaga sakti Kim-kong-ciang adalah tenaga pukulan paling dahsyat, tampaknya pelahan saja, tapi membawa tiga gelombang tenaga yang hebat.

Nyata kedua pihak sama2 menggunakan tenaga pukulan dahsyat, maka terdengarlah suara gemuruh keras, Liong-siang Hoat-ong mundur tiga langkah ber-turut2 baru dapat berdiri tegak lagi, tapi baru tegak tiba2 dirasakan suatu arus tenaga mendesak datang pula, namun Kok Peng-yang tampak masih berdiri ditempatnya tanpa menyerang. Nyata arus tenaga itu datangnya tanpa suara da tanpa tanda2. Karena itu Liong-siang Hoat-ong tergetar mundur tiga tindak lagi. Tak terduga, belum berdiri tegak, lagi2 suatu arus tenaga yang sama menolak tiba pula dan kembali ia terdesak mundur tiga tindak. Jadi seluruhnya mundur sembilan tindak baru dia dapat berdiri tegak dan tidak merasakan lagi dorongan tenaga pukulan lawan.

Disinilah kelihatan betapa hebatnya tiga gelombang tenaga yang terkandung dibalik pukulan Kim- kong-ciang yang dilontarkan Kok Peng-yang tadi. Keruan muka Liong-siang Hoat-ong menjadi merah, diam2 ia mengakui, andaikan tadi belum bertempur dengan Beng Siau-kang juga Liong- siang Hoat-ong sendiri tidak dapat menandingi tenaga pukulan Kim-kong-ciang.

Diam2 Kok Peng-yang juga memuji kelihaian Liong-siang Hoat-ong yang tidak sampai terguling oleh tenaga pukulannya itu. Maka ia lantas menjengek: “Nah, bagaimana ilmu silat di Tionggoan menurut penilaianmu sekarang? Seperti kataku tadi, jika mau pergi boleh silahkan saja?”

“Benar, memang tenaga pukulanmu lebih kuat dariku, tapi kelak bila ada kesempatan lagi aku masih ingin belajar kenal dengan kepandaianmu dalam hal senjata,” kata Liong-siang Hoat-ong dengan lesu.

Tiba2 ketua Bu-tong-pay, Giok-hi Tojin maju ke depan sambil berkata: “Selamanya Kok-tayhiap tidak pernah bersenjata, tapi tidaklah sulit bila kau ingin belajar kenal dengan ilmu silat Tionggoan dalam permainan senjata.”

Wajah Giok-hi Tojin rada pucat kurus, tampaknya juga tidak bersenjata, hanya seuah kebut saja tersandang dipunggung. Karena tidak tahu Giok-hi adalah ketua Bu-tong-pay, sudah tentu Liong- siang Hoat-ong tidak pandang sebelah mata padanya, dengan menjinjing tongkatnya segera ia menanggapi: “Jika Totiang juga ingin menjajal diriku, baiklah silahkan keluarkan senjatamu!” “Inilah senjataku,” kata Giok-hi sambil menarik kebutnya dari punggung. “Nah,silahkan Toahweso mulai dulu.”

Melihat lawan berani menghadapinya dengan sebuah kebut yang lemas saja, Liong-siang Hoat-ong tidak berani memandang enteng lagi, diam2 ia mengerahkan Liong-siang-kang ke ujung tongkat, sembari menggertak satu kali, segera tongkatnya menyapu kali Giok-ki Tojin, menyusul ujung tongkat memutar balik terus menyodok “Giok-hu-hiat” yang mematikan didada ketua Bu-tong-pay itu.

“Bagus!” bentak Giok-hi, dengan tenang ia ayun kebutnya dan mengebut pelahan, kontan tongkat lawan sudah disampuk kesamping. Inilah apa yang disebut “Empat tahil menyampuk seribu kati atau pinjam tenaga lawan untuk menghantam lawan.”

Keruan Liong-siang terkejut, tak terduga Tosu kurus ini memiliki lwekang sehebat ini. Tapi iapun tidak malu sebagai jago kelas satu, baru saja tongkatnya tersempuk kesamping, mendadak senjata itu membalik pula terus mengemplang dari atas. Serangan ini jauh lebih dahsyat daripada tadi.

Mau tak mau Giok-hi harus kagum terhadap tenaga lawan yang hebat. Segera iapun ayun kebutnya untuk menangkis kemplangan tongkat lawan, menyusul ia terus melancarkan serangan, kebutnya menyabet kemuka lawan. Tapi Liong-siang sempat mendoyongkan tubuh kebelakang, habis itu mendadak tongkatnya menghantam pula dari samping.

“Kena!” tiba2 Giok-hi membentak, kebutnya menyabet kebawah dengan cepat luar biasa, tahu2 ujung tongkat telah terlibat oleh ujung kebut yang lemas itu. Biarpun Liong-siang memiliki tenaga maha kuat ternyata tidak mampu berkutik sedikitpun.

Dengan senyum Giok-hi lalu mengendurkan dan menarik kembali kebutnya sambil berkata: “Apakah Toahwesio ingin coba2 lagi?” Kontan Liong-siang terhuyung ke depan karena kehilangan imbangan badan. Dengan wajah merah dan lesu seperti ayam jago aduan yang sudah keok, ia menjawab: “Ya, baru sekarang aku mengetahui betapa dalamnya ilmu silat Tionggoan memang sukar diukur. Sebelum ini diriku mirip katak dalam sumur saja yang tidak tahu luasnya jagat.’

Habis berkata, dengan menyeret tongkatnya Liong-siang Hoat-ong lantas melangkah pergi dengan lesu.

Kemudian Li Su-lam, Kok Ham-hi, Giam Wan dan lain2 lantas menemui guru dan ayah masing2. Sambil memegang tangan putrinya dan Kok Ham-hi, Giam seng-toh merasa girang dan rada kikuk pula.

“Ayah, engkau dapat memaafkan kami bukan?” kata Giam Wan, saking girangnya sampai mencucurkan air mata.

“Ya, seharusnya aku yang mesti minta maaf kepada kalian, akulah yang berkeras memisahkan kalian,” jawab Giam Seng-toh.

Giok-hi Tojin juga lantas minta maaf kepada Kok Ham-hi atas perbuatan muridnya, yaitu Thiao Goan-kiat.

Rupanyasesudah kehilangan putrinya, Giam Seng-toh sangat menyesal. Untung Kheng Thian-kong yang mengetahui seluk beluk persoalan itu, ia telah mengundang seorang teman yang kenal baik dengan Giam Seng-toh dan Giok-hi Tojin untuk mendamaikan. Sebagai seorang imam yang bijaksana, Giok-hi tahu soal jodoh tidak dapat dipaksakan, maka sebagai guru Thio Goan-kiat ia rela membatalkan ikatan pertunangan Goan-kiat dengan Giam Wan.

Begitulah Kok Ham-hi lantas mengucapkan terima kasih kepada Giok-hi serta memberi hormat kepada bakal mertua.

“Hahaha! Bagus sekali, kekasih akhirnya terlaksana menjadi suami istri, maka persoalan yang sudah lalu tak perlu dibicarakan kembali,’ kata Beng Siau-kang dengan bergelak tertawa. “Awas, pasukan musuh datang lagi, lekas kita pergi dari sini!” kata Liok Kun-lun.

Benar juga, tertampak debu mengepul dibawah gunung, dari selat gunung sana menerjang tiba suatu pasukan berkuda yang berjumlah beberapa ribu orang.

Tapi mendadak Li Su-lam berseru heran: “He, aneh, mengapa mereka saling bunuh sendiri!” Kiranya pasukan yang menyerbu mendadak ini adalah pasukan yang lebih dulu telah diatur oleh pangeran Tin-kok, biarpun Tin-kok seorang yang kasar, tapi iapun mempunyai pembantu yang pintar, apalagi iapun tahu Dulai sirik kepada kekuasaan militer yang dipegangnya. Sebab itu sebelum memenuhi undangan Dulai, lebih dulu ia menyembunyikan suatu pasukan kuat di lembah gunung situ dengan pesan bikla besoknya dia tidak pulang, maka pasukannya harus bergerak menyerbu pasukan Dulai. Cuma saja Tin-kok dan pembantunya telah salah hitung juga, mereka mengira Dulai paling2 Cuma menahannya saja untuk memaksa dia menyerahkan kekuasaannya, tak tahunya secara kejam Dulai telah membunuhnya. 

Pasukan Tin-kok itu terdiri dari suku bangsanya, ketika sampai batas waktunya tidak nampak Tin- kok kembali, serentak pasukan berjumlah tiga-empat ribu orang itu menyerbu pasukan Dulai yang jumlahnya paling2 seribu orang saja. Ditengah pertempuran gaduh itu, Minghui juga terkepung oleh pasukan musuh. Seorang perwira bawahan Tin-kok segera berusaha mendekat untuk menangkapnya. Dulai sendiri juga terkepung oleh pasukan musuh sehingga tidak sempat lagi melindungi Minghui.

Menyaksikan itu dari atas gunung, Li Su-lam dan lain2 menjadi kuatir, tapi apa daya, hendak menolong juga tidak keburu lagi, padahal pasukan musuh sedemikian banyaknya, menyerbu kesana juga akan berarti masuk jaring belaka.

Selagi keadaan menguatirkan itu, tiba2 beberapa prajurit berkuda didepan sana pada jatuh terjungkal, seorang penunggang kuda secepat terbang menerjang tiba sambil memutar kencang seutas tambang, setiap kali tambangnya menyamber kedepan,kontan seorang prajurit musuh lantas terjirat lehernya, seprti anak ayam saja terus dilemparkan hanya dalam sekejap saja belasan orang sudah dibikin terjungkal termasuk perwira yang hendak menangkap Minghui tadi.

“Itulah dia Akai!” seru Su-lam girang.

Akai adalah jago gulat terkenal di Mongol, melihat ketangkasannya, prajurit2 lain menjadi ketakutan dan berlari menyingkir.

“Ikutlah padaku, Tuan Putri!” seru Akai kepada Minghui sesudah dekat. “Kalusi sedang menunggu kita disana, amrilah ikut padaku. Cuma selanjutnya Tuan Putri tidak dapat pulang lagi ke Holin, apakah engkau rela?”

“Kalau dapat menggembala biri di padang rumput bersama kalian dan hidup merdeka, itulah yang ku-harap2kan selama ini,” kata Minghui.

Sasaran pokok pasukan Tin-kok adalah Dulai, maka larinya Minghui tidak mendapat perhatian mereka. Serentak pasukan itu mengalihkan kekuatannya terhadap Dulai.

“Dulai, jika kau tidak bebaskan pangeran kami, jangan harap kau dapat lolos dari sini!” seru komandan pasukan itu. Tapi belum lenyap suaranya, mendadak sebuah anak panah menembus tenggorokannya.

Sesudah komandan pasukan musuh terpanah mati, segera Dulai suruh Mufali mengerek kepala Tin- kok di ujung tombak dan diangkat tinggi2 ke atas sambil membentak: “Dengarkan kalian, Tin-kok bermaksud mengacau, dia telah kubunuh. Asal kalian mau menyerah padaku, semuanya akan kuampuni. Kalau tidak tentu anggota keluarga kalian akan ikut dihukum mati!”

Sebagian besar prajurit2 itu meninggalkan keluarga mereka di rumah, maka ancaman Dulai itu membikin mereka ketakutan. Serentak sebagian besar meletakkan senjata dan menyerah. Sebagian kecil lain lantas bubar melarikan diri.

Ketika Li Su-lam dan rombongannya melintas kebalik gunung sana, terlihatlah Minghui bersama Akai dan istrinya dengan menungang kuda sedang menuju ke utara ditengah gurun yang luas, makin lama makin jauh hingga berubah menjadi tiga titik hitam untuk akhirnya lenyap dari pandangan mata.

“Baik juga, semoga dia hidup sejahtera sampai hari tua,” kata Nyo Wan dengan gegetun. “Cuma sayang dia tidak melihat kita disini.”

Ia tidak tahu bahwa sejak tadi Minghui sudah melihat dia dan Su-lam, malahan saat itu didalam hati Minghui juga sedang berdoa bagi kebahagiaan mereka ……….

TAMAT
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pahlawan Gurun Jilid 17 (Tamat)"

Post a Comment

close