Pahlawan Gurun Jilid 13

Mode Malam
 
Jilid 13

Hanya dalam beberapa gebrakan saja lau ban sudah terluka oleh pedang Nyo Wan, goloknya terpental dari cekalan.

“Enci Wan, jangan pikirkan diriku, tangkap penjahat harus tangkap benggolannya!” seru Bing-sia. Nyo Wan tersadar oleh teriakan itu, ia pikir memang tidak salah ucapan Bing-sia itu, jumlah musuh jauh lebih banyak, bila bertempur terlalu lama pihak sendiri tentu kecundang kecuali Toh An-peng ditangkap dulu untuk digunakan sebagai sandera.

Sementara itu pertempuran terbagi menjadi tiga kelompok. Suatu kelompok Kok Ham-hi dan Ci In- hong bergabung sedang menempur Pek ban-hiong bertiga. Kedua pihak sama2 jago kelas tinggi,lebih2 Pek Ban-hiong adalah tokoh2 Hek-to terkemuka, untung Ci In-hong dan Kok Ham-hi berdua memiliki pukulan sakti “Lui-tian-kau-hong”, bila kepepet mereka lantas keluarkan pukulan dahsyat itu bersama. Namun demikian merakapun sudah terdesak dibawh angin.

Kelompok lain adalah Oh-ciok Tojin melawan Toh An-peng, pertarungan mereka sungguh mati2an. Oh-ciok Tojin sudah terluka parah dan masih melawan sekuatnya, keadaannya jauh lebih buruk daripada kelompok yang lain.

Jadi kelompok Bing-sia dan Giam Wan boleh dikata lebih mendingan. Mereka mendapat bantuan Nyo Wan dan telah melukai pembantu utama Yang kian-pek, yaitu Lau ban, maka posisi mereka dari terancam kini telah berbalik dipihak unggul.

Melihat Oh-ciok Tojin dalam keadaan payah, walaupun Nyo Wan tidak kenal dia, tapi ia tahu Toh An-peng adalah cecu dari Hui-liong-ce, maka tanpa pikir ia terus menerjang pula kearahnya. Tapi ia lantas dicegat oleh beberapa anak buah Toh An-peng sebelum dia mencapai tempat tujuan.

Pada saat itu mendadak Toh An-peng membentak, sepasang gaetannya bekerja sekaligus, gaetan kiri tetap menggantol dipundak Oc-ciok Tojin, sedangkan gaetan kanan terus menusuk keleher lawan pula.

“Hari ini kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati!” mendadak Oh-ciok Tojin berteriak dengan kalap, berbareng itu sinar golok berkelebat, “krek”, lima jari tangan kiri Toh An-peng terpapas kutung semua.

Tak kepalang rasa sakit Toh An-peng, ia menjerit ngeri, berbareng sebelah kakinya lantas mendepak sehingga Oh-ciok Tojin terjungkal.

Pundak Oh-ciok Tojin tertancap oleh gaetan musuh yang tajam itu, ia menggeletak bermandikan darah, sebelum ia sempat merangkak bangun, tiba2 beberapa anak buah Toh An-peng terus menubruk kearahnya.

Nyo Wan yang dirintangi beberapa orang tadi menjadi kuatir melihat Oh-ciok bermandi darah itu, untuk menolongnya sudah tidak keburu lagi, mendadak ia melompat tinggi melayang lewat diatas kepala beberapa orang itu terus menubruk kearah Toh An-peng yang lebih dekat itu.

Dalam pada itu Oh-ciok Tojin mendadak membentak: “Jiwaku Cuma satu, bunuh satu kembali pokok, bunuh dua untung satu!” ~ Berbareng itu ia terus melompat bangun, sinar goloknya berkelebat, sebelum dia berdiri tegak, terdengar suara “krak-krek” ber-ulang2, dalam sekejap saja tiga buah lengan musuh sudah terkutung oleh golok kilatnya.

Habis itu karena lukanya sangat parah, Oh-ciok menjadi kehabisan tenaga, “bluk” kembali ia jatuh terguling.

Yang menyerang Oh-ciok Tojin itu ada lima orang, tiga orang terkutung sebelah tangannya, dua orang yang lain menjadi ketakutan, lekas2 mereka lari menyingkir.

Pada saat Oh-ciok Tojin mengadu jiwa dengan serangan golok-kilat tadi, waktu itu Nyo Wan juga sedang meloncat keatas, dengan suatu gerakan indah pedangnya terus menusuk kearah kepala Toh An-peng.

Ternyata Toh An-peng juga sangat ganas, biar jari tangan kanan sudah terkutung, dengan sebuah gaetan ia gunakan untuk menghadapi serangan Nyo Wan itu. Sementara itu beberapa anak buahnya sudah memburu tiba, macam2 senjata mereka sekalugus berjatuhan keatas tubuh Nyo Wan.

Pada saat itulah tiba2 ada orang berteriak: “Beng-tayhiap dan Li-bengcu tiba.”

Teriakan itu seketika membikin kawanan bandit yang berkumpul disitu menjadi ketakutan. Menurut perhitungan mereka, kedatangan Beng Siau-kang dan Li Su-lam adalah besok, tak terduga mereka dapat tiba sehari lebih cepat dan pada saat yang genting sekarang ini.

Memang utusan yang dikirim Toh An-peng itu telah dipesan agar pulang pada hari yang telah ditentukan, tak terduga ditengah jalan Beng Siau-kang selalu mendesak agar dipercepat perjalanan sehingga tiba sehari lebih cepat daripada rencana.

Setiba dipintu gerbang benteng Hui-liong-ce, sayup2 Li Su-lam dan Beng Siau-kang mendengar suara ramai2 didalam. Lebih mencurigakan lagi ketika seorang Tahubak yang bertugas menyambut tamu tertampak bersikap gugup dan minta mereka tunggu sebentar digardu pos penjagaan, katanya sang Cecu sedang repot.

Sudah tentu Li Su-lam dan Beng Siau-kang tidak gampang dikelabui, suara ramai1 didalam itu kedengaran seperti suara pertempuran. Segera mereka bertindak lebih dulu. Thaubak serta utusan yang membenawa kedatangan mereka itu terus dibekuk dan dipaksa mengantar mereka kedalam. Dengan ketakutan terpaksa Thaubak itu menurut. Maka dengan leluasa mereka dapat masuk kedalam. Setiba didepan pendopo Cip-gi-tong barulah mereka diketahui, maka cepat seorang yang kenal Beng Siau-kang dan Li Su-lam lantas berteriak tentang kedatangan mereka.

Keruan para pengerubut Nyo Wan tadi menjadi kaget mendengar kedatangan Kanglam-thiap Beng Siau-kang, mereka tidak berani menyerbu lagi. Sedang Nyo Wan yang menghadapi Toh An-peng itu lantas menyampuk gaetan Toh An-peng dengan pedangnya, menyusul iapun melompat mundur. “Berhenti semuanya!” Mendadak Beng Siau-kang mengertak. Suaranya menggelegar memekak telinga, sampai2 Pek ban-hiong juga tergetar hatinya, mau tak mau iapun harus berhenti bertempur. Justru pada saat semua orang mengadakan genjatan senjata itulah, sekonyong2 ada seorang menerjang kearah Nyo Wan, Ialah Yang Kian-pek.

Rupanya Yang Kian-pek tahu gelagat jelek, maka bermaksud menawan Nyo Wan sebagai sandera, sebab ia tahu kepandaian Nyo Wan jauh lebih rendah dari pada dia, pula nona itu diketahui sebagai bakal istri Li Su-lam, ia yakin bilamana Nyo Wan tertawan olehnya, tentu Li Su-lam akan mati kutu dan tidak berani sembarangan bergerak.

Ketika melihat kedatangan Li Su-lam, hati Nyo Wan merasa senang dan kuatir pula, ia menjadi lengah pula terhadap serangan musuh, ketika tiba2 mendengar angin tajam menyamber dari belakang dan lekas2 ia berpaling, namun sudah terlambat, tahu2 Yang Kian-pek sudah menubruk tiba, pedangnya menahan batang pedang Nyo Wan kebawah, berbareng sebelah tangannya terus mencengkeram pergelangan tangan Nyo Wan yang lain dengan Kim-na-jiu-hoat.

Untunglah pada saat Yang Kian-pek menubruk kearah Nyo Wan, Bing-sia lantas berteriak memperingatkan sinona. Hal mana segera menimbulkan perhatian Li Su-lam, cepat iapun memburu kesana, pada saat Yang Kian-pek berhasil memegang tangan Nyo Wan, pada saat itu pula Li Su-lam lantas menotok hiat-to bagian bahu orang.

Betapapun tinggi kepandaian Yang Kian-pek juga sukar mengelakkan totokan Li Su-lam itu, “Koh- cing-hiat” dibahunya kena totokan dengan tepat sehingga tenaga sukar dikerahkan, hal mana memberi kesempatan Nyo Wan untuk meronta sehingga tangannya terlepas dari pegangan Yang Kian-pek, menyusul pedangnya terus menusuk. Yang Kian-pek tidak berani menangkis, cepat ia melompat mundur dan berputar tubuh untuk melarikan diri.

“Hendak lari kemana?” bentak Li Su-lam. Baru saja ia hendak mengejar, pada saat itu juga Nyo Wan menoleh kearahnya, kedua orang saling adu pandang, seketika itu juga keduanya sama terkesima.

Dalam pada itu Bing-sia sedang berseru pula: “Bangsat itu adalah putranya Yang Thian-lui, ayah!” ‘Ya, aku tahu!” sahut Beng Siau-kang. Berbareng itu ia terus melompat kesana, jalan lari Yang Kian-pek tahu2 kena dirintangi olehnya. “Sret”, segera Yang Kian-pek menusuk dengan pedangnya. “Hm, erani juga kau bergerak dengan aku!” jengk Beng Siau-kang. Segera ia menjentik dengan tenaga sakti jarinya, “creng”, tepat sekali batang pedang lawan diselentiknya dan pedang terlepas dari cekalan serta mencelat keatas.

“Masakah kau dapat lolos dari tanganku? Sebaiknya kau menyerah saja!” Beng Siau-kang menjengek pula, berbareng itu sebelah tangannya terus menjulur, dengan “Liong-jiau-jiu” (cengkeraman cakar naga) yanglihai segera Yang Kian-pek hendak dibekuknya. Tak terduga, pada saat yang sama tiba2 dari belakang ada dua orang menyerangnya berbareng.

Betapa tajam pancaindra Beng Siau-kang, mana bisa dia disergap orang? Hanya saja cara menyerang kedua penyergap itu teramat keji, tempat yang mereka serang memaksa sasarannya terpaksa harus membela diri lebih dulu jika tidak mau binasa. Karena itu Beng Siau-kang terpaksa melepaskan Yang Kian-pek dan perlu melayani serangan dari belakang itu.

Gerakan kedua pihak sama2 cepat luar biasa, ketika mendadak Beng Siau-kang membalik tangannya kebelakang, tahu2 penyerang belakang yang sebelah kanan mengkatup kedua telapak tangannya, “plak”, pergelangan tangan Beng Siau-kang terjepit olehnya. Menyusul penyerang sebelah kiri juga lantas menjotos kemuka Beng Siau-kang.

Menurut pengalaman Beng Siau-kang, belum pernah ia mengalami keadaan yang runyam seperti sekarang ini, ia terkesiap sebab tak pernah menduga ditempat ini akan diketemukan dua lawan kelas wahid. Tanpa pikir lagi segera ia keluarkan tenaga sakti, sekuatnya ia lemparkan orang yang menjepit tangannya itu sehingga menumbuk pada orang yang hendak menjotosnya itu, keruan kedua orang sama2 roboh tergeletak, tanpa ayal lagi Beng Siau-kang lantas mengcengkeram pada tulang pundak kedua orang itu sehingga tak bisa berkutik lagi. Akan tetapi kesempatan itu[un digunakan oleh Yang Kian-pek untuk kabur.

“Siapa kalian?” bentak Beng Siau-kang sambil seret bangun kedua tawanannya. “Tampaknya kalian tidak lemah, mengapa sudi menjadi budak bangsa Kim?”

Disebelah sana Li Su-lam dan Nyo Wan yang adu pandang tadi dan sama2 terkesima, untuk sekian lamanya mereka tidak tahu cara bagaimana harus bicara. Selang sejenak barulah Li Su-lam seperti tersadar dan menyapa: “Adik Wan, benar2 engkau adanya?”

“Kau ……. Kau dapat mengenali diriku?” sahut Nyo Wan sambil menunduk. Ia dalam penyamaran sebagai lelaki, pula wajahnya telah diubah sedemikian rupa, tapi Li Su-lam ternyata dapat mengenalinya, dalam hati ia menjadi girang dan terasa bahagia.

“Kita adalah sepasang merpati dari satu sarang, masakah aku bisa pangling padamu?” jawab Li Su- lam. “Adik Wan, ketika bertemu dengan Ciok Bok barulah aku mengetahui bahwa kau masih hidup didunia ini, selama ini dengan susah payah aku telah mencari engkau.”

“Kita adalah sepasang merpati dari satu sarang.” Adalah ucapan Li Su-lam untuk mengucapkan isi hatinya setelah mereka bertunangan secara resmi, tapi waktu itu Nyo Wan menyangsikan kemurnian cinta Li Su-lam padanya. Kini dari mulut Li Su-lam sendiri kembali Nyo Wan mendengar ulangan ucapan itu, seketika rasa dongkol dan menyesalnya terhadap pemuda itu serentak buyar seperti tertiup angin segar.

Dalam pada itu Bing-sia telah menarik In-hong dan mendekati Li Su-lam berdua, katanya dengan tersenyum penuh arti: “Selamatlah Engkoh Lam dan Enci Wan atas pertemuan kembali kalian berdua.”

Wajah Li Su-lam menjadi merah, baru dia sadar bahwa didepan umum tidaklah layak bicara urusan pribadi secara begitu mesra dengan Nyo Wan, terutama mengingat tugasnya sekarang adalah Bengcu dari pasukan pergerakan.

Dengan tertawa Ci In-hong juga lantas berkata: “Aku minta maaf kepada kalian berdua, Li-bengcu! Tempo hari aku meninggalkan Long-sia-san tanpa pamit, tentu menimbulkan curiga kalian bukan? Harap nona Nyo suka memaafkan juga ketika aku terpaksa harus bergebrak dengan kau pada malam itu.”

“Ya, mengapa In-hong harus berbuat begitu, tentunya sekarang tidak perlu penjelasan lagi bukan? Bing-sia menambahkan.

Melihat Bing-sia dan In-hong begitu intim, Nyo Wan menjadi geli dan bergirang pula. Pikirnya: “Mereka adalah sepasang kekasih, aku benar2 bodoh dan salah sangka dia mencintai engkoh Lam.” Maka Nyo Wan lantas mengucapkan terima kasih juga atas bantuan Ci In-hong pada malam itu sehingga terhindar dari ancaman To Liong.

“Ayahmu berhasil menawan dua orang, marilah kita memeriksanya,” kata Li Su-lam.

Saat itu Beng Siau-kang sedang menanyai kedua orang yang dibekuknya itu, Tapi kedua tawanannya tetap berlagak bisu dan tuli saja, sama sekali mereka tidak mau membuka mulut. Ketika Li Su-lam berempat mendekat kesana, sementara itu Giam Wan juga sudah menemui pamannya, yaitu Beng Siau-kang.

Beng Siau-kang tidak menduga akan bertemu dengan keponakan perempuan sendiri ditempat demikian, ia menjadi girang, sebelum sempat menanyai Giam Wan, tiba2 melihat anak perempuan sendiri dan Ci In-hong datang pula, keruan ia tambah senang. Katanya dengan tertawa: “In-hong ketika aku mendengar cerita kejadian di Long-sia-san tempo hari segera aku menduga akan dirimu dan ternyata memang tidak keliru, mengapa kalian berdua bisa berada bersama?”

“Panjang sekali ceritanya, biarlah sebentar akan kujelaskan kepada ayah,” kata Bing-sia. Setelah mengamat-amati kedua tawanan Beng Siau-kang tadi, tiba2 Li Su-lam membentak: “Kurang ajar, besar amat nyali kalian, berani kalian menyusup kedaerah Tionggoan sini untuk bersekongkol dengan sampah dunia persilatan dan mengacau?”

“Kau kenal mereka, Su-lam?” tanya Beng Siau-kang heran.

“Kedua orang ini adalah jago kemah emas kerajaan Mongol, nama mereka aku sudah lupa,” sahut Li Su-lam. “Tapi pada tubuh mereka tentu terdapat medali emas anugerah Jengis Khan almarhum, coba geledah mereka, pasti tidak keliru.”

Ketika Beng Siau-kang menggeledah baju kedua tawanannya, benar juga masing2 diketemukan sebuah medali emas dengan ukiran elang yang pentang sayap. Itu adalah tanda pengenal “Jago Kemah Emas”, medali emas itu merupakan pemberian Jengis Khan, medali emas itu merupakan kebanggaan bagi setiap busu yang memperolehnya. Dahulu Jengis Khan pernah bermaksud mengangkat Li Su-lam sebagai “Jago Kemah Emas”, tapi Li Su-lam menolak pengangkatan itu, sebab itu pula ia cukup tahu jelas seluk beluk jagoan2 Mongol yang terkenal itu. Setelah menggeledah medali2 emas itu, dengan gusar Beng Siau-kang lantas membentak: “Toh An- peng, kau tidak Cuma bersekongkol dengan pihak Kim, bahkan berhubungan rahasia pula dengan pihak Mongol, hukuman apa bagi dosamu ini, coba kau katakan saja sendiri !”

Sementara itu anak buah Hui-liong-san sudah hampir berjubel seluruhnya didepan pendopo Cip-gi- tong itu, tapi keder terhadap wibawa Kanglam-tayhiap Beng Siau-kang, tiada satupun diantara mereka yang berani sembarangan bergerak.

Sedang Kok Ham-hi lantas memajang bangun Oh-ciok Yojin, dilihatnya wajah imam itu pucat pasi sebagai mayat, napasnya kembang kempis, keadaannya sangat payah.

Setelah membubuhi obat pada luka Tojin itu, dengan suara tegas Kok Ham-hi lantas berkata: “Toh An-peng, aku tidak ingin membunuh orang yang terluka, kau boleh bereskan diri sendiri saja!” Seperti diketahui kelima jari tangan Toh An-peng telah tertabas kutung oleh golok kilat Oh-ciok Tojin tadi, sebab itulah Kok Ham-hi berkata demikian, “Bereskan diri sendiri !” sama artinya suruh dia membunuh diri saja.

Melihat kedatangan Beng Siau-kang dan Li Su-lam sudah tentu Toh An-peng menjadi gentar karena tahu perangkap yang dipasangnya sudah gagal. Akan tetapi dalam keadaan kepepet, sudah tentu ia tidak mau menyerah, apalagi anak buahnya masih cukup banyak.

Segera iapun menjengek dengan mata mendelik: “Latah benar bocah kemarin sore macam kau, berani kau menghina Hui-liong-san kami ini? Wahi, saudara2ku, coba dengarkan kalian dengarkan kelatahan bocah ini, masakah Hui-liong-san kita yang telah dikenal dikalangan Lok-lim selama ini rela dihina secara demikian? Biarpun hancur tubuhku juga aku orang she Toh akan mengadu jiwa padamu !”

Seruan Toh An-peng bertujuan membangkitkan tekad anak buahnya agar melawan musuh secara mati2an. Karena itu beberapa pembantu utamanya segera berdiri dibelakangnya dan siap bertempur bersama pemimpinnya.

Tanpa terasa Giam Wan juga mendekati Kok Ham-hi dan siap bertempur bahu membahu dengan pemuda itu.

“Siapakah dia?” tanya Beng Siau-kang.

“Kok-suheng ini adalah murid Kheng-susiok kami,” tutur In-hong.

“O, kiranya dia ini Kok Ham-hi,” kata Siau-kang. Ia memang sudah pernah dengar dari Bing-sia tentang hubungan Kok Ham-hi dengan Giam Wan.

Dengan suara pelahan Ham-hi berkata kepada Giam Wan: “Adik Wan, harap kau membalut luka Oh-ciok Totiang, aku akan membalaskan sakit hatinya,” ~ Sret, segera ia melolos pedangnya dan membentak: “Hayo, siapa yang ingin mampus bersama Toh An-peng silahkan maju, akan kupenuhi keinginannya !”

“Nanti dulu !” tiba2 Beng Siau-kang berseru: “Kawan2 dari Hui-liong-san, nama baik kalian telah dicemarkan oleh Toh An-peng, dia biang keladinya dan tiada sangkut pautnya dengan kalian.

Sebagai bukti boleh kalian lihat sendiri, kedua orang ini adalah Busu Mongol, orang yang lari adi juga putra Yang Thian-lui dari kerajaan Kim, Toh An-peng sengaja bersekongkol dengan kedua pihak musuh, apakah kalian juga rela mengekor dan membudak kepada bangsa lain !”

Anak buah Hui-liong-san dan jago2 yang diundang Toh An-peng memangnya gentar kepada wibawa Beng Siau-kang, pula rahasia Toh An-peng yang berhubungan dengan musuh negara sudah terbongkar, sedikit banyak diantara mereka timbul rasa menyesal dan enggan menjual jiwa lagi bagi kepentingan Toh An-peng, bahkan mereka menyaksikan Toh An-peng tidak segan2 buat mencelakai saudara angkat sendiri tadi, maka mereka merasa tiada harganya membantu Toh An- peng. Karena itu, secara diam2 satu persatu sama mengeluyur pergi tanpa pamit.

Keruan wajah Toh An-peng menjadi merah padam, dengan suara parau ia berkata kepada Pek Ban- hiong: “Pek-loenghiong, urusan sudah begini, rasanya tidak perlu kukatakan lebih banyak. Mati bagiku bukanlah soal, tapi kalau membiarkan mereka berlagak disini, jangan2 kawan kangouw akan mentertawakan Pek-loenghiong jeri kepada Beng Siau-kang.”

Sudah tentu Pek Ban-hiong tahu ucapan Toh An-peng yang mengadu domba itu, tujuannya hendak memperalat dia untuk melawan musuh tangguh, tapi mau tak mau Pek Ban-hiong lantas tampil kemuka juga. Kiranya Pek Ban-hiong memang adalah sekomplotan dengan Toh An-peng, garis yang dia tempuh serupa juga, sama2 mengambil haluan kearah Yang Thian Lui yang menjual negara dan bangsa demi keuntungan pribadi. Maka ucapan Toh An-peng tadi sebenarnya mengandung ancaman agar Pek Ban-hiong jangan tinggal diam bilamana tidak ingin dibeberkan.

Akan tetapi Pek Ban-hiong juga manusia yang licin, segera iapun berseru: “Beng-tayhiap adalah pendekar nomor satu dijaman ini, betapapun aku orang she Pek bukan tandingannya. Cuma Toh- cecu sudah berkata begitu, bila aku tidak mohon petunjuk beberapa jurus kepada Beng-tayhiap, tentu aku akan lebih ditertawai sebagai pengecut. Bagiku kalah dibawah tangan Beng-tayhiap rasanya cukup gemilang, maka silahkan Beng-tayhiap katakan saja caranya.”

“Pek Ban-hiong,” Beng Siau-kang lantas menanggapi, “sudah kujelaskan persoalannya tadi, jika kau tetap hendak ikut masuk kubur bersama Toh An-peng dan benar2 ingin bertanding dengan aku, maka aku pasti akan mengalahkan kau secara jujur supaya kau takluk lahir batin. Tadi kau sudah bertempur, sekiranya au merasa kekurangan tenaga boleh kau pilih suatu hari kelak untuk bertanding dengan aku.”

“Tapi hubunganku dengan Toh-cecu boleh dikata sehidup-semati, aku tidak ingin cari selamat sendiri,” kata Pek Ban-hiong pula. “Jika kau ingin menunda pertandingan ini boleh saja, tapi hari ini kalian tidak boleh membikin susah lagi kepada Toh-cecu.”

Beng Siau-kang menjadi curiga, mengapa Pek Ban-hiong ngotot membela Toh An-peng, padahal biasanya diketahui Pek Ban-hiong bukan orang yang punya jiwa setia kawan. Cuma sebelum ada bukti nyata, sukar untuk memastikan dia juga berkhianat seperti Toh An-peng, maka untuk sejenak ia menjadi ragu2 apakah harus bergebrak dengan Pek Ban-hiong atau tidak.

Tiba2 Li Su-lam berkata: “Sembilih ayam tidak perlu pakai golok, Beng-tayhiap tidak sudi bergebrak dengan kau, biarlah aku saja yang melayani kau.”

“Mestinya aku tidak suka bertanding dengan anak muda, tapi kau adalah Lok-lim Bengcu, bertanding dengan kau rasanya cukup berharga bagiku, tapi entah bagaimana dengan pendapat Beng-tayhiap ?” ujar Pek Ban-hiong.

Beng Siau-kang cukup kenal kepandaian Li Su-lam, ia yakin pemuda itu takkan sampai kalah, apalagi Pek Ban-hiong tadi sudah bertempur, tenaganya tentu sudah berkurang.

Sebelum Beng Siau-kang buka bicara, Li Su-lam lantas menambahkan pula: “Aneh, apa maksud ucapanmu itu?” Memangnya dengan kedudukan Beng-tayhiap masakah beliau akan ikut mengerubut dirimu?”

“Ya, kalau Li-bengcu mau membereskan kau, sudah tentu aku tidak perlu turun tangan lagi,” kata Beng Siau-kang kemudian.

Justru ucapan Beng Siau-kang inilah yang dikehendaki Pek Ban-hiong, ia pikir asal Beng Siau-kang tidak ikut campur, masakah aku tidak sanggup mengalahkan seorang anak muda? “Baik, seorang laki2 sejati harus dapat pegang janji. Jika aku kalah akan kupasrahkan nasibku kepada kalian. Tapi bagaimana kalau Li-bengcu kalah?”

“Hm, boleh terserah apa yang kau inginkan, jika aku kalah, tidak nanti aku mungkir janji,” sahut Su-lam mendengus.

“Bagus, jika kau kalah, maka urusan di Hui-liong-san sini kalian dilarang ikut campurdan harus lekas2 pergi dari sini,” kata Pek Ban-hiong.

“Baik, asal dalam seratus gebrakan kau mampu mengalahkan aku, segera kami akan pergi dari sini dan Toh An-peng akan kami ampuni pula,” jawab Su-lam. “Beng-tayhiap, harap engkau menjadi saksi sekalian.”

Walaupun dalam hati Beng Siau-kang merasa Li Su-lam terlalu pandang enteng musuhnya, tapi tampaknya Li Su-lam cukup yakin akan dapat mengatasi lawannya, maka iapun mengangguk menyatakan setuju.

Dengan girang Pek Ban-hiong lantas berkata pula: “Soal kalah menang juga tidak perlu dibatasi dalam seratus jurus. Nah, silahkan Li-bengcu mulai saja !”

Tiba2 Nyo Wan mendekati Su-lam dan membisikinya: “Engkoh Lam, gunakanlah pedangku ini.” ~ Ia sudah menyaksikan kepandaian Pek Ban-hiong tadi, ia kuatir Li Su-lam sukar mengalahkan lawannya, maka ingin meminjamkan pedang pusaka pemberian Putri Minghui yang tajam itu. Tak terduga Li Su-lam telah menolak tawaran itu, bahkan pedang sendiripun dia tanggalkan dan tidak dipakai. Katanya: “Aku ingin pertandingan secara adil, kalau dia tidak memakai senjata, maka akupun melayani dia dengan tangan kosong.”

Padahal Pek Ban-hiong meyakinkan ilmu pukulan “Bian-ciang” yang hebat, kekuatan pukulannya sanggup menghancurkan batu, sekarang Li Su-lam ingin bertanding ilmu pukulan dengan dia, keruan inilah yang dia harapkan. Maka dengan bergelak tertawa berkatalah Pek Ban-hiong: “Li- bengcu benar2 seorang ksatria muda yang terpuji, pantas kawan2 Lok-lim mendukung sebagai Bengcu. Baiklah silahkan Li-bengcu mulai memberi petunjuk!”

“Yang muda selayaknya mengalah kepada yang tua, silahkan kau mulai lebih dulu,” kata Li Su-lam. Hal ini lebih2 kebetulan bagi Pek Ban-hiong, segera ia menjawab: “Baik, karena Li-bengcu sedemikian rendah hati, terpaksa aku yang tua bangka ini menurut saja.” ~ Baru habis ucapannya, segera ia melangkah maju terus menghantam.

“Bagus!” sambut Li Su-lam sambil mengegos kesamping, berbareng tangannya lantas memutar balik untuk balas menghantam Koh-cing-hiat dibahu kiri Pek Ban-hiong. Serangan ini cukup ganas untuk memaksa lawan harus menyelamatkan diri lebih dulu jika tidak ingin tulang lengan patah.

Diam2 Pek Ban-hiong terkejut dan mengakui ketangkasan Li Su-lam, pantas pemuda itu sudah diangkat sebagai Lok-lim Bengcu, nyatanya memang punya kepandaian sejati. Sudah tentu ia tidak gentar mengingat kepandaian sendiri, segera iapun mengelak dan balas menyerang pula, kedua tangan terpentang, menyusul telapak tangan kiri cepat menabok muka Li Su-lam, sedang telapak tangan kanan menyodok kedada pemuda itu. Serangan ini disebut: “Siang-liong-jut-hay” (Sepasang naga keluar dari lautan).

Tapi semakin ganas serangan lawan, pertahanan Li Su-lam juga tambah hebat, dalam sekejap saja ia sudah menghindarkan diri, kedua tangannya merangkap kedepan untuk segera ditangkiskan dengan gerak tipu “Tui-jong-bong-hoat” (buka jendela tampak rembulan), dengan manis ia patahkan serangan lawan itu.

Begitulah serangan dibalas dengan serangan, pertarungan kedua orang makin lama makin seru. Setiap gerak pukulan Pek Ban-hiong selalu membawa samberan angin yang keras sehingga para penonton terpaksa harus melangkah mundur.

Sebaliknya Li Su-lam juga tidak kalah hebatnya, dia melangah dengan kuda2 yang kuat, menghantam dengan arah yang tepat, tiba2 pakai kepalan, lain saat berubah menjadi telapak tangan, serangannya bagus, gerakannya aneh. Pada detik paling sengit, kedua sosok bayangan tampak ber- putar2 dengan cepat sehingga sukar dibedakan siapa Pek Ban-hiong dan siapa Li Su-lam.

Hati Beng Siau-kang baru merasa lega, diam2 ia mengakui Tat-mo-ciang-hoat ajaran Siau-lim-si asli memang luar biasa.

Kiranya yang dimainkan Li Su-lam adalah Hok-hou-kun (ilmu pukulan penakluk harimau) dan Lo- han-kun ( ilmu pukulan Lo-han), gabungan dari kedua ilmu pukulan itu merupakan Tat-mo-ciang- hoat yang lengkap, yaitu ilmu pukulan ciptaan Tat-mo Cousu, itu cikal-bakal Siau-lim-si.

Cuma sayang, Tat-mo-ciang-hoat yang diyakinkan Li Su-lam belum mencapai tingkatan yang paling sempurna, tapi ketika dia datang tadi ia telah menyaksikan Pek Ban-hiong menggunakan ilmu pukulannya melawan Thian-lui-kang dari Ci In-hong dan Kok Ham-hi, tampaknya keadaan sudah payah, tenaga sudah payah, maka Su-lam yakin bila tenaga dalam sendiri dapat bertahan, dalam hal ilmu pukulan tentu juga sanggup mengalahkan lawan itu. Sebab itulah tadi ia berani menyatakan akan mengalahkan Pek Ban-hiong dalam seratus gebrakan.

Benar juga, selewatnya 50 gebrakan, karena serangan2 dahsyat selalu gagal. Lamban laun tenaga Pek Ban-hiong mulai berkurang, kelemahan ini segera digunakan Li Su-lam untuk melancarkan serangan yang lebih gencar.

Sebelum penonton mengetahui posisi kedua orang yang bertanding itu, Pek Ban-hiong sendiri cukup paham bilamana pertarungan berlangsung terus, bukan mustahil dalam seratus gebrakan dirinya akan benar kecundang ditangan anak muda ini. Karena itu Pek Ban-hiong menjadi bimbang. Untuk minta damai sudah tentu malu, apalagi untuk ini dia masih harus menhadapi Toh An-peng yang tidak mungkin membiarkan dia cari selamat sendiri. Maka bila terpaksa Toh An-peng harus diseret agar mati bersama. Waktu dia melirik, ia melihat Toh An-peng sedang bersorak dengan tegang untuk menambah semangat padanya.

Ditengah pertandingan sengit itu, mendadak Pek Ban-hiong melancarkan serangan maut, dengan kepalan kiri ia tonjok dagu lawan, sedang telapak tangan kanan memotong iga pula, serangan maut ini bila perlu dimaksudkan gugur bersama lawan.

Namun Li Su-lam tidak membiarkan tujuan lawan tercapai, cepat ia menggeser kesamping, pada detik terakhir ia sempat menghindar dan berbareng balas menyerang pula. Tertampak bayangan orang berkelebat, “bret”, baju Li Su-lam terobek, sebaliknya Pek Ban-hiong juga kena ditolak mundur beberapa tindak.

“Sayang, sayang !” seru Toh An-peng.

“Ya, sayang, sungguh sayang !” Li Su-lam juga berseru.

Kini Ci In-hong juga sudah dapat melihat kemenangan pasti berada dipihak Li Su-lam, dengan tertawa ia sengaja menanggapi: “Li-bengcu, untuk apa kau merasa sayang baginya ?”

“Aku merasa sayang karena tidak mudah dia melatih diri selama beberapa puluh tahun, tapi karena sedikit salah pikir ia rela menjual jiwa bagi seorang pengkhianat,” kata Su-lam. Nyata ia tidak tahu bahwa Pek Ban-hiong sebenarnya adalah satu komplotan bersama Toh An-peng, maka ucapannya itu bermaksud menyadarkan lawannya.

Mendengar itu, mendadak tergerak pikiran Pek Ban-hiong, segera ia mendapat akal. Maka ketika kedua pihak serang menyerang pula, Pek Ban-hiong berbuat seperti bertarung mati2an dan menerjang dengan kalap.

Melihat begitu, Toh An-peng sangat senang dan anggap Pek Ban-hiong cukup konsekwen sebagai kawan. Tak terduga, belum sempat ia berpikir lagi, se-konyong2 Pek Ban-hiong memutar tubuh terus menubruk kearahnya, tanpa ampun lantas menghantam keatas kepalanya. 

Serangan kilat yang datangnya mendadak ini, jangankan Toh An-peng tidak menduga sama sekali, Li Su-lam juga tercengang, sebab ia sendiri sedang bertahan dan mendadak Pek Ban-hiong mengalihkan sasaran serangannya, dengan sendirinya Su-lam tidak sempat mengejar.

Pukulan Pek Ban-hiong dahsyatnya dapat menghancurkan batu, maka Toh An-peng jangan harap bisa hidup terkena pukulannya itu, kontan kepalanya pecah dan jiwa melayang.

Padahal belum lama berselang Pek Ban-hiong baru menyatakan rasa setia kawannya kepada Toh An-peng dan rela bertempur untuk membelanya, tapi sekarang dia sendiri tak terluka apa2, sebaliknya Toh An-peng malah dibunuh olehnya sendiri.

“Eh, Pek-losiansing, mengapa kau tidak bicara lagi tentang setia kawan orang kangouw?” jengek Ci In-hong.

Tapi Pek Ban-hiong tidak menjawabnya, ia terus menghadap kepada Li Su-lam dan memberi hormat sambil berkata: “Banyak terima kasih atas petua2 Li-Bengcu tadi sungguh aku merasa malu terhadap perbuatanku sendiri.”

“Syukurlah jika engkau mau sadar dalam waktu singkat,” sahut Su-lam dengan hambar, agaknya iapun ragu2 terhadap tindakan Pek Ban-hiong itu.

“Huh, sadar apa?” Kok Ham-hi ikut menjengek. “Yang pasti dia merasa tidak mampu menandingi kau, dia terpaksa berbuat begitu dengan harapan kau dapat mengampuni dia.”

Tapi dengan lagak penasaran Pek Ban-hiong menjawab dengan tegas: “Biarpun sudah tua bangka, rasanya orang she Pek belum lagi pikun. Bahwasanya Toh An-peng rela membudak kepada musuh, masakah aku mesti bicara tentang peraturan kangouw dengan dia? Tadi aku mestinya hendak pergi saja dari sini, tapi tiba2 timbul pikiranku buat belajar kenal dengan kepandaian Bengcu, aku tahu Beng-tayhiap pasti tidak sudi bergebrak sendiri dengan aku. Terus terang, semula aku rada meragukan kepandaian Bengcu mengingat usianya yang masih muda, sebenarnya aku penasaran atas kedudukanmu sebagi Lok-lim Bengcu. Tapi seelah kudesak hingg kepandaian sejati Bengcu dikeluarkan barulah aku tahu bahwa Li-bengcu memang tidak bernama kosong dan sekarang aku benar2 menyerahlahir batin.”

Kata2 Pek Ban-hiong itu sebenarnya kurang beralasan, tapi Li Su-lam selalu menghadapi orang dengan segala kejujuran, ia pikir kalau orang mau kembali kejalan yang benar, apa salahnya kalau aku memberi kesempatan padanya. Karena itu ia lantas berkata: “syukurlah kalau Pek-loenghiong sudah menyadari kesalahn ang telah lampau. Sekarang bolehlah kau pergi saja, hendaknya kau dapat hidup berguna bagi negara dan bangsa.”

Melihat Pek Ban-hiong dibebaskan begitu saja, Oh-ciok Tojin menjadi penasaran katanya kepada Li Su-lam: “Li-bengcu, tua bangka ini Cuma manis dimulut, tapi berhati busuk, dia pasti bukan manusia baik2, mengapa kau melepaskan dia?”

Akan tetapi Li Su-lam lantas menghiburnya, kalau orang tersebut mau kembali kejalan yang benar, apa salahnya kalau kita memberi kesempatan padanya untuk memperbaiki kesalahannya, demikian Su-lam menyatakan pendapatnya.

Sebenarnya Beng Siau-kang juga tidak setuju melepaskan Pek Ban-hiong, tapi ia ingin menghargai kepemimpinan Li Su-lam, iapun mempunyai perhitungan sendiri, ia yakin sebabnya Pek Ban-hiong mendadak membinasakan Toh An-peng tentu ada rahasia yang terpendam dan pasti tidak begitu sederhana sebagai alasan yang dikemukakannya. Maka bila Pek Ban-hiong dilepaskan, kelak masih dapat diselidiki gerak geriknya dan bukan mustahil akan memperoleh hasil di luar dugaan.

Kemudian Li su-lam lantas berseru kepada anak buah Hui-liong-san agar memilih ingin membubarkan diri atau bergabung kepada Long-sia-san dan berjuang ber-sama2 bagi negara. Toh An-peng sudah mati, begitu juga Lo Cun telah binasa oleh bantingan Kok Ham-hi tadi, maka Sam cengcu Kang Sim lantas tampil ke muka dan menyatakan segenap anak buah Hui-lionh-san siap menerima perintah dari bengcu yang baru itu.

Dengan girang Li Su-lam menerima penggabungan Kang Sim dan anak buahnya, sungguh tak diduganya bahwa urusan bisa berjalan dengan begitu lancar.

Sementara Kang Sim lantas perintahkan anak buahnya menyiapkan perjamuan besar, sedang Kok Ham-hi, Ci In-hong, Giam Wan dan lain2 baru sempat bicara dengan Beng Siau-kang dan Li Su- lam.

Waktu itu Nyo Wan juga telah mengembalikan wajah aslinya dari penyamarannya tadi. Melihat Li Su-lam bersua kembali dedngan bakal istrinya, sedang anak perempuan sendiri tampaknya juga begitu mesra dengan Ci In-hong, diam2 Beng Siau-kang merasa puas bila dapat memungut anak menantu ksatria muda sebagai Ci In-hong itu.

Ketika Bing-sia memberitahukan sang ayah tentang hubungan Kok Ham-hi dengan Giam Wan, dengan tertawa Beng Siau-kang berkata: “Haha, kalian benar2 pasangan yang sangat setimpal, aku pasti akan menjadi comblang bagi kalian dan bicara dengan orang tuamu, jangan kuatir.” Kemudian Li Su-lam juga menyruh Kang Sim mengurung kedua Busu bangsa Mongol tadi si suatu kamar yang baik dan diberi obat serta daharan secukupnya.

“Engkoh Lam, kau tidak bunuh mereka, mengapa malah memberi pelayanan begitu baik kepada mereka?” ujar Nyo Wan dengan penasaran. “Apakah kau sudah lupa penderitaan kita ketika berada di daerah Mongol?”

“Karena kita sudah kenyang menerita atas perbuatan mereka, maka aku tidak ingin membalas dendam terhadap diri mereka,” sahut Li Su-lam dengan tertawa.

“Aneh, mengapa begitu?” tanya Nyo Wan.

“Kau banyak membaca, tentunya kau paham ajaran Khong Hu Cu yang menyatakan ‘apa yang engkau tidak ingin perbuat orang atas dirimu, janganlah engkau perlakukan terhadap orang lain’.” “Akan tetapi mereka adalah musuh kita,” ujar Nyo Wan.

“Tawanan yang tidak bersenjata tak dapat dianggap sebagai musuh lagi,” kata Li Su-lam. Tawanan dan musuh yang berhadapan dengan kita dengan senjata terhunus harus dibedakan bukan? Apalagi yang membikin kita susah waktu di Mongol ada biang keladinya sendiri. Piutang kita ini tak dapat kita perhitungkan atas diri mereka ini. Bukan mustahil dengan kelonggaran kita terhadap kaum tawanan jelak kita akan dapat memetik hasilnya.”

Nyo Wan dapat memahami maksud Li Su-lam itu katanya:”Ya, benar, dari mulut mereka mungkin kita akan mendapat berita tentang keadaan musuh.”

“Ya, itulah yang kita harapkan,” kata Li Su-lam. “Tapi kalau mereka tetap tutup mulut, kita akan tetap memperlakukan mereka sebagai tawanan yang layak.”

Mendengar itu, setiap orang sama mengakui budi luhur dan kebijaksanaan Li Su-lam yang tidak malu sebagai Bengcu mereka itu.

Selesai perjamuan, Li Su-lam sendirian lantas mendatangi kamar tahanan kedua Busu Mongol. Kedua Busu itu sudah diberi obat dan diberi daharan, mereka sangat heran mengapa mereka diperlakukan begitu baik. Sebagai jagoan bangsa Mongol, mereka sudah digembleng untuk setia kepada Khan Agung dengan disiplin yang keras. Maka biarpun mereka heran dan merasa berterima kasih terhadap perlakuan Li Su-lam kepada mereka itu, namun mereka tetap tidak mau tunduk ketika melihat kedatangan Li Su-lam.

“Apakah kalian sudah baik2 dan dapat berjalan sendiri?” tanya Li Su-lam.

“Li Su-lam, kau tidak perlu main sandiwara,” sahut salah satu Busu itu dengan angkuh. “Setiap orang Mongol adalah laki2 baja, kami sudah jatuh ditanganmu, mau bunuh boleh bunuh, apa gunannya banyak bicara. Tapi kalau kau sangka kami gampang dibujuk, huh, jangan kau harap.” “Selamanya kita tidak punya permusuhan apa-apa, buat apa aku membunuh kalian?” ujar Li Su- lam. “Kau manusia, akupun manusia. Mungkin cara hidup kita berbeda, tapi kita adalah manusia yang sama tingkat, kenapa aku mesti membikin susah padamu. Apalagi kita kan kawan lama, bukankah kalian pernah berburu bersama aku dahulu?”

“Hm, bagus juga daya ingatanmu, tapi kami tak berani berkawan dengan orang besar seperti kau,” sahut kedua Busu itu.

“Tidak, daya ingatanku justru sangat buruk, sampai2 nama kalianpun aku sudah lupa,” ujar Li Su- lam.

Karena Li Su-lam bicara kisah lampau, tanpa terasa rasa permusuhan kedua Busu Mongol itu menjadi banyak berkurang. Mereka kemudian memberitahukan nama masing2, yang satu bernama Tubukan, dan yang lain bernama Subutai.

Tubukan yang lebih angkuh itu tiba2 merasa aikap Li Su-lam itu tentu ada udang dibalik batu, segera ia berkata pula:”Sudahlah, singkat saja, apa maksud kedatanganmu ini?”

“Bukankah sudah kukatakan barusan ini, aku datang untuk menjenguk kawan2 lama dan ingin tahu apakah kalian sudah sehat kembali belum?” sahut Su-lam dengan tertawa.

“Kalau sudah sehat lantas mau apa?” tanya Tubukan pula.

“Jelas bukan? Kalau kalian sudah sehat, bilamana ingin lekas2 pulang, tentu saja aku akan mengantar keberangkatan kalian, kita kan kawan2 lama bukan?”

“Kau …… kau mau membebaskan kami ?” Subutai menegas, begitu pula mau tak mau Tubukan juga melongo heran, mereka hampir2 tidak percaya kepada telinganya sendiri.

“Benar,” jawab Li Su-lam. “Jika kalian sudah merindukan rumah, sekarang juga kalian boleh berangkat.”

“Terus terang saja, apa yang kau kehendaki dari kami ?” tanya Tubukan.

“Tidak ada apa-apa, cukup kalian sampaikan saja salamku kepada kawan2 lama disana,” sahut Li Su-lam.

“O, jadi kau membebaskan kami tanpa syarat? Betul2 begitu?” Tubukan masih menyangsikan. “Siapakah orang didunia ini tidak punya ayah-ibu dan tidak punya anak istri? Setiap orang tentu berharap senantiasa berkumpul dengan keluarga sendiri, mana boleh aku memisahkan kalian dengan keluarga kalian ditempat jauh itu.”

“Tapi ……. Tapi …….” Tubukan menjadi gelagapan.

“Kukira kalian mengetahui juga urusan diriku dimasa lampau,” kata Li Su-lam. “Terus terang, ayahku adalah orang yang pernah ditawan bangsa kalian dan hidup merana selama lebih 20 tahun dinegeri kalian dan akhirnya meninggal disana. Juga lantaran ingin mencari ayahku barulah aku jauh2 datang kenegeri kalian. Sebagai manusia yang sama2 mempunyai perasaan, masakah sekarang aku sampai hati berbuat cara demikian juga kepada kalian?”

Tidak kepalang rasa terharu kedua orang itu, Tubukan yang angkuh itupun tak tertahan mengalirkan air mata.

“Akan tetapi, setelah kami pulang, bukan mustahil kami akan berhadapan lagi dengan kau dimedan perang,” kata Subutai.

“Sudah tentu kuharap tak terjadi demikian,” sahut Li Su-lam. “Tapi kalian adalah Jago Kemah Emas, kecuali kalian tidak befrtugas lagi, kalau tidak, tentu hal demikian sukar dihindarkan. Namun bila terjadi begitu, tentu akupun tidak menyalahkan kalian. Dimedan perang tentu tidak kenal ampun. Tapi kalau kau tertawan pula olehku tentu akan kubebaskan kau lagi.” “Sungguh kami sangat berterima kasih atas keluhuran budimu,” sahut Subutai. “Terus terang, bilamana kau yang tertawan, hendak membebaskan saja rasanya kamipun tidak berani. Yang harus disalahkan adalah mengapa kedua negara kita mesti berperang sehingga kita tak dapat menjadi kawan yang kekal.”

“Tidak, takdapat menyalahkan kedua negara yang berperang, tapi Khan kalian dengan para bangsawannya yang berdosa, merekalah yang menghendaki peperangan ini. Bangsa Han kami kan tidak mendatangi negeri kalian untuk berperang ?” Kata Li Su-lam.

Subutai dan Tubukan menjadi bungkam, mereka merasa malu didalam hati dan sama menunduk kepala.

“Kalian menjual jiwa bagi Khan Agung kalian, bai para Pangran dan bangsawan2nya, lalu apa hasil yang kalian peroleh?” kata Li Su-lam pula. “Memang, kalian dianugerahi sebagai Jago Kemah Emas, kedudukan kalian lebih tinggi setingkat dari para Busu biasa, tapi jiwa kalian sebenarnya senantiasa tncam, darah kalian hany untuk mempertahankan kekayaan dan kedudukan bangsawan2 itu, apakah ini ada harganya bagi kalian? Coba kalian pikir lagi, kalian bertempur dengan mati2an, kalian membantu Khan kalian mencaplok banyak negeri2 tetangga, lalu apa hasilnya yang diperoleh rakyat jelata bangsa Mongol kalian? Kalau ada rampasan harta benda dari negeri jajahan rasanya juga takkan dibagikan kepada rakyat, yang ada cuma kewajiban membayar pajak dan keluar tenaga, berapa banyak rakyat jelata yang menjadi korban angkara murka kaum penguasa bangsa kalian i?

Dan betapa banyak pula penderitaan rakyat jelata dari negeri2 jajahan yang menjadi korban keganasan bangsawan kalian?”

Selama hidup Subutai dan Tubukan hanya dididik cara bagaimana menjadi Busu yang baik, belum pernah ada orang bicara hal begitu kepada mereka. Maka setelah mereka berpikir secara mendalam, apa yang dikatakan Li Su-lam itu memang tidak salah.

“Li-kongcu,” kata Tubukan kemudian sambil menghela napas. “Banyak terima kasih atas nasehatmu ini, selanjutnya kami tidak inginkan kedudukan dan pangkat apa segala, setelah pulang, kami akan menyingkir jauh kepegunungan terpencil bersama keluarga kami untuk kehidupan yang aman dan tentram saja.”

Sudah tentu Li Su-lamthu urusan tidak semudah sebagaimana pikiran Tubukan itu, tapi untuk menjelaskan rasanya juga tidak gampang, maka iapun berkata: “Baiklah, semoga selanjutnya kita bukan musuh lagi dimedan perang. Apakah kalian akan berangkat sekarang juga? Aku akan mengantar kalian.”

“Terima kasih atas kemurahan hati Li-kongcu,” kata Subutai.

Begitulah Li Su-lam lantas membebaskan kedua Busu Mongol itu. Setiba dikaki gunung dan ketika hendak berpisah, mendadak Tubukan berkata: “Li-kongcu, ada suatu urusan yang perlu kukatakan padamu. Urusan ini maha penting, sebenarnya kami sudah bersumpah kepada Khan Agung untuk tidak membocorkan rahasia ini.”

“Jika begitu, sebaiknya jangan kau katakan saja,” ujar Li Su-lam.

“Tidak, Li-kongcu,” kata Tubukan. “Biarpun kami sudah bersumpah, tapi engkau terlalu baik kepada kami, jika tidak kami beritahukan padamu berarti kami tidak kenal budi kebaikanmu.” “O, apakah barangkali urusan yang menyangkut diriku?” tanya Li Su-lam.

“Benar,” jawab Tubukan. “Ai, Li-kongcu benar2 seorang yang terlalu baik hati. Tua bangka Pek Ban-hiong itu sebenarnya jangan kau lepaskan.”

“Sebab apa?” kata Li Su-lam.

“Ketahuilah bahwa musuh besarmu justru beradaa dirumahnya,” tutur Tubukan.

“Kau maksudkan bangsat Sia It-tiong itu?” Li Su-lam nenegas dengan girang tercampur kejut. “Li-kongcu,” tutur Tubukan. “Tentang penderitaan ayahmu akibat dianiaya Sia It-tiong itu sedikit

banyak pernah kami dengar. Tuan Putri pernah mohon kepada Pangeran keempat dan Khan Agung agar Sia It-tiong dihukum mati, Cuma sayang permohonannya tidak dikabulkan, sebaliknya Khan malah mempercayai dia dan memberi tugas penting padanya.”

Kiranya sesudah Jengis Khan wafat, Putri Minghui pernah menggugat dosa Sia It-tiong itu dihadapan Dulai yang waktu itu menjabat Mangkubumi, yaitu sebelum Ogotai dipilih menjadi Khan Agung yang baru. Waktu Minghui menggugat, Tubukan dan Subutai adalah jago2 Kemah Emas, dengan sendirinya mereka berada disitu.

Li Su-lam rada heran mendengar erita itu, katanya segera: “Jika demikian, jadi bangsat Sia It-tiong itu datang ke Tionggoan ber-sama2 kalian? Bukankah dia menjabat wakil panglima besar sebagai pembantu pangeran Tin-kok, mengapa Khan memberi tugas lain padanya?”

“Begini,” tutur Subutai, “Khan kami ingin menarik beberapa tokoh2 kangouw atau jago2 Lok-lim bangsa Han untuk menjadi pembantu disini bilamana pasukan Mongol kami mulai menyerbu kesini. Untuk tugas mencari orang2 demikian sudah tentu Sia It-tiong adalah pilihan yang paling cocok.” “Hm, kiranya begitu,” jengek Li Su-lam. “Memangnya Sia It-tiong adalah pengkhianat, pantas Khan kalian sengaja memperalat dia untuk mencari pengkhianat2 yang lain.”

“Semula Sia It-tiong bermaksud sembunyi dikediaman Yang Thian-lui,” tutur Subutai pula. “Tapi kuatir diketahui lawan Yang Thian Lui, pula kurang leluasa tinggal dikotaraja Kim itu, kemudian Pek Ban-hiong yang dia datangi. Pek Ban-hiong memang sudah ada hubungan gelap dengan Yang Thian-lui sehingga Sia It-tiong juga sudah kenal dia, karena iu segala sesuatu berjalan dengan lancar. Kami berdua ditugaskan menjadi pembantu Sia It-tiong dengan tiga macam tugas, pertama kami harus mencari tahu jejak Putri Minghui; kedua, mencari jalan untuk membunuh kau, kalau engkau dapat ditawan kembali ke Mongol lebih2 diharapkan; Ketiga, kami harus mengawasi gerak- gerik Sia It-tiong. Sudah tentu tugas terakhir kami ini diluar tahu Sia It-tiong sendiri. Orang ini banyak tipu akalnya, hendaknya Li-kongcu hati2 menghadapi dia.”

Li Su-lam mengucapkan banyak terimakasih atas keterangan kedua orang itu. Lalu bertanya: “Sekarang kalian akan terus pulang ke Mongol atau kembali kerumah Pek Ban-hiong untuk bergabung dengan Sia It-tiong?”

Dengan gemas Tubukan menjawab: “Kami tidak ingin menjual jiwa lagi bagi Khan, siapa sudi mengekor lagi kepada manusia rendah she Sia itu ?”

Tapi Subutai yang lebih cerdik segera timbul suatu gagasan, katanya dengan tertawa: “Arah kita untuk pulang harus melewati tempat Pek Ban-hiong, kebetulan kita dapat mampir kesana, kalau Sia It-tiong tidak mampus, kita sendiri yang akan celaka.”

Seketika Tubukan sadar, serunya: “Benar, tentang tertawannya kita disini tentu Pek Ban-hiong akan memberitahukannya kepada Sia It-tiong, bila dia kembali ke Mongol dan lapor kepada Khan, maka buntu pula jalan kita untuk pulang kesana. Tapi dia ada dirumah Pek Ban-hiong, untuk membunuhnya tidaklah susah, tapi cara bagaimana kita harus menghadapi Pek Ban-hiong yang lihai itu?”

“Kita bukan tandingan Pek Ban-hiong, tapi dia juga bukan tandingan Li-kongcu,” Kata Subutai dengan tertawa. “Beberapa hari lagi kita tentu akan berjumpa pula dengan Li-kongcu dirumah Pek Ban-hiong, entah betul tidak terkaanku ini ?”

Dengan tersenyum Su-lam menjawab: “Untuk membalas sakit hati aku tidak berani membikin repot kalian. Tapi kalau kalian suka membantu dirumah Pek Ban-hiong, tentu saja akan kuterima dengan baik. Kalian boleh berangkat dulu kesana, tahanlah Sia It-tiong untuk tetap tinggal dirumah Pek Ban-hiong dan inipun sudah banyak membantu padaku.”

“Urusan kecil ini kalau takdapat kulaksanakan, lalu sahabat macam apakah aku ini ?” seru Tubukan, habis itu mendadk ia angkat goloknya terus membacok paha sendiri.

Li Su-lam terkejut dan cepat mencegahnya. Walaupun tangan Tubukan keburu dipegang Li SU-lam, tapi tidak urung mata goloknya sudah melukai pahanya sehingga darah bercucuran.

“Tidak menderita sedikit luka, mana Sia It-tiong mau percaya bahwa kami dapat lolos dari sini dengan membunuh penjaga,” kata Tubukan.

Barulah Li Su-lam tahu maksud tubukan, ia menjadi terharu, katanya: “Kalian benar2 kawan sejati, terimalah hormatku ini.”

Akan tetapi Tubukan dan Subutai lekas2 membalas hormat dan saling mengucapkan kata2 rendah hati, setelah berjanji untuk bertemu dirumah Pek Ban-hiong dalam beberapa hari lagi, lalu berpisahlah mereka. Setiba kembali didalam benteng Hui-liong-ceh, Su-lam melihat Beng Siau-kang, Nyo Wan dan lain2 masih berkumpul disitu menantikan dia. Segera Su-lam menceritakan apa yang terjadi serta memberitahukan pula kabar baik yang diperolehnya dari Subutai berdua tentang Sia It-tiong itu. “Ternyata dugaanku tidak meleset,” kata Beng Siau-kang sambil menggebrak menja, “Tua bangka she Pek itu ternyata betul suatu komplotan dengan Toh An-peng, sekarang Sia It-tiong diketahui bersembunyi di rumahnya, tentu mereka telah merencanakan tipu muslihat apa2.”

“Memang betul,” kata Su-lam. Lalu iapun menceritakan apa yang didengarnya dari Subutai berdua. “Keji amat bangsat she Sia itu, dia sendiri khianat, sekarang hendak menyeret orang lain masuk lumpur seperti dia. Betapapun orang ini tak dapat dibiarkan hidup,” kata Beng Siau-kang dengan gusar.

“ya, betapapun dia tak bisa diampuni, dia adalah pembunuh ayahku, aku ingin menuntut balas dengan tanganku sendiri,” kata Su-lam.

“Iapun musuh yang membunuh kakak, akupun ingin menuntut balas,” seru Nyo Wan.

“Sudah tentu kau harus berangkat kesana bersama aku, tapi tak berani kubikin repot kawan2 yang lain, maka tidak perlu ikut serta,” kata Su-lam.

“Namun kau harus meluruk kerumah Pek Ban-hiong, jumlah mereka tentu sangat banyak, meski Pek Ban-hiong dan Sia It-tiong adalah musuh kalian, tetapi merekapun musuh umum bagi dunia persilaan, kalau kita beramai2 menumpas habis Pek-kek-ceng (perkampungan keluarga Pek) bukankah lebih baik?” ujar Bing-sia.

“Kukira kalau kita pergi kesana berramai2 mungkin malah akan membikin urusan menjadi runyam,” kata Su-lam. “Tubukan dan Subutai sudah berjanji akan membantu kita,kalau kita serang Pek-keh-ceng secara mendadak dimalam hari kuyakin akan dapat membereskan mereka.”

“Benar juga, kalau terlalu banyak orang mungkin akan diketahui oleh mereka dan keburu kabur,” kata Siau-kang setelah berpikir sejenak. “Jika engkau sudah yakin akan berhasil, maka bolehlah kalian berdua saja yang pergi kesana.”

Lalu Li Su-lam menutur pula: “Akupun mendapatkan sedikit berita tentang keadaan pihak Mongol. Setelah Jengis Khan meninggal, putera2nya berebut pengaruh dan ingin menjadi Khan yang baru. Akhirnya Ogotai yang terpilih, tapi dasarnya kurang kuat, Ogotai belum sanggup menenteramkan keamanan didalam negeri sendiri, maka dalam waktu singkat tidak mungkin pihak Mongol mengganggu negeri kita. Namun kitapun tidak boleh lengah dan harus selalu waspada. Jika Beng- tayhiap tidak keberatan, sudikah engkau kembali ke Long-sia-san untuk sementara menggantikan aku memegang pimpinan disana?”

“Aku sudah tua , pula sudah biasa hidup bebas, mungkin tidak sanggup memikul tugas berat sebagai Bengcu,” ujar Beng Siau-kang dengan tertawa.

“Jika Beng-tayhiap tidak suka kesibukan, bolehlah juga minta To Hong menjabat Bengcu untuk sementara, sudah tentu diharapkan pula bantuan2 Beng-tayhiap, Ci-heng dan Kok-heng,” kata Su- lam.

Sudah tentu Beng Siau-kang dan lain2 sama menyanggupi. Habis itu Li Su-lam dan Nyo Wan lantas berangkat pada hari itu juga.

Setelah mereka berangkat, Bing-sia menyatakan rasa kuatirnya kepada sang ayah. Tapi Beng Siau- kang ternyata sudah ambil keputusan akan membantu Su-lam berdua secara diam2, diluar tahu mereka Beng Siau-kang akan menyusul ke Pek-keh-ceng, hal ini tentu sangat melegakan hati Bing- sia.

Dalam pada itu sepanjang jalan Li Su-lam dan Nyo Wan juga sedang asyik menceritakan pengalaman mereka masing2 selama berpisah. Setelah berkumpul kembali, maka segala salah paham diwaktu lampau menjadi lenyap seluruhnya, kini kedua buah hati menjadi melekat lebih erat lagi.

Ketika Nyo Wan bicara tentang Putri Minghui, ia tanya Su-lam: “Apakah kau terkenang padanya?” “Hatiku hanya terisi oleh dirimu, masakah sampai sekarang kau masih sangsi?” sahut Su-lam. “Terus terang,” kata Nyo Wan sambil menatap Su-lam, ketika di Mongol,aku memang menaruh cemburu, tapi sekarang aku berbalik merasa kasihan padanya. Sayang di dunia ini engkau hanya seorang saja, pula tak dapat dibagi dua, kalau tidak sungguh aku ingin menyerahkan kau kepadanya. Namun biar sekarang aku tak dapat memberikan dirimu kepadanya, sedikitnya aku berharap engkau dapat menghibur hatinya yang lara.”

Karena tidak tahu persoalannya, Li Su-lam menjadi rada heran terhadap Nyo Wan yang mendadak berubah berdada lapang itu.

“Aku bicara dengan sesungguh hati, engkoh Lam,” kata Nyo Wan pula. “Putri Minghui sangat baik padamu, tapi iapun kawan baikku, malahan aku pernah menjadi pelayannya, tentu kau tak pernah menduga bukan?” ~ Lalu iapun menceritakan pengalamannya dahulu.

Su-lam menjadi heran dan girang pula, katanya: “Jika demikian, Putri Minghui adalah penolong kita malah.” ~ Maka iapun menceritakan apa yang didengarnya dari Subutai tentang usaha Minghui menggugat kejahatan Sia It-tiong terhadap ayah Su-lam itu.

“Ya, akupun sudah tahu hal itu,” kata Nyo Wan. “Tapi apakah engkau tahu apa sebabnya Minghui lari dari Mongol? Soalnya dia tidak sudi menjadi istri Pangeran Tin-kok, sebab itulah dia melarikan diri ke Tionggoan sini dengan tujuan mencari engkau.”

“Ah, kau berkelakar lagi kepadaku,” kata Su-lam. Tapi didalam hati sebenarnya ia percaya apa yang dikatakan Nyo Wan itu memang tidak salah.

“Engkoh Lam,” kata Nyo Wan pula, “setelah mengalami macam2 penderitaan, kini aku sudah yakin engkau benar2 cinta padaku, sebaliknya hendaklah engkau juga jangan meragukan lagi hatiku sempit seperti waktu dahulu. Beberapa hari yang lalu kebetulan bertemu dengan putri Minghui, sebab itu aku mengetahui dia sedang mencari kau, bahkan aku berani tanggung sesudah kita kembali dari Pek-keh-ceng nanti tentu kau dapat berjumpa dengan dia.”

“Apakah betul?” tanya Su-lam dengan heran. “Dia berada dimana sekarang?” “Ditempat To Hong, aku yang perkenalkan dia kesana,” sahut Nyo Wan.

Berita ini membikin Su-lam merasa susah malah.

Melihat air muka Su-lam rada berubah, dengan heran Nyo Wan bertanya: “Engkoh Lam, apa yang kau pikirkan?”

“Kukira caramu menyuruh Minghui ke tempat To Hong kurang baik,” ujar Su-lam. “Mengapa ?” tanya Nyo Wan.

“Masakah kau sudah lupa kepada kakak To Hong ?” Tempo hari dia bertanding dengan aku dan terluka, lalu ngambek di rumah tak mau pergi, jika dia mengetahui kedatangan Minghui mungkin akan terjadi hal2 yang tak terduga.”

“Kau kuatir To Liong membikin susah Minghui?”

“Keparat itu berhati keji dan berjiwa culas, segala apa dapat dibuatnya, maka kita harus menjaga segala kemungkinan.”

“Bicara tentang To Liong kukira kau sendiri yang salah, waktu itu mengapa kau tidak binasakan dia saja ?”

“Betapapun aku harus ingat kepada To Hong bukan ?”

“Menurut pandanganmu bagaimana pribadi To Hong itu ? Kalau dibandingkan Bing-sia bagaimana pendapatmu ?”

“Keduanya sama2 mempunyia sifat yang tulus dan suka terus terang, tapi menghadapi sesuatu persoalan rasanya To Hong lebih tegas dan tidak pandang bulu. Maka aku lebih suka membiarkan dia membereskan persoalan kakaknya dari pada kubunuh kakaknya dihadapannya.”

“Benar, jika nyonya To tidak terlalu sayang kepada anak laki2nya itu, tentu To Liong sudag mampus. Umpama To Hong tidak tega membunuhnya tentu juga akan mengusirnya pergi dari rumah.”

Su-lam tersenyum, katanya kemudian: “Adik Wan, dahulu agaknya kau tidak begitu baik terhadap To Hong, tapi pandanganmu sekatang ternyata sama dengan aku bahkan lebih banyak memuji dia daripada aku.”

“Bukanlah aku tidak suka padanya, hanya saja sifat kami rada berbeda. Dahulu aku tidak cukup mengenal pribadinya dan merasa dia berprasangka kepadaku dan selalu membela Bing-sia padahal sebenarnya aku sendiripun berprasangka padanya. Barulah pada waktu pertemuan besar kaum Lok- lim dirumahnya aku mengenal pribadinya yang bijaksana itu, ternyata dia seorang ksatria wanita yang berani berbuat dan berani bertanggung jawab, sungguh memalukan, mengapa sebelumnya aku tidak mengetahui kebaikan2nya itu. Ya, kalau dipikir lagi, sebenarnya tidak Cuma terhadap ToHong saja, terhadap nona Beng dan Minghui juga begitu, pelahan2 aku baru mengenal pribadi mereka yang baik.”

“Pada umumnya orang memang lebih mudah melihat keburukan orang lain dan tidak gampang mengenal segi baik orang, engkauharus dipuji bahwa sekarang kau telah paham memperhatikan segi2 baik orang lain,” kata Su-lam dengan tertawa. “Cuma mengapa dari persoalan Minghui kau bicara pula mengenai pribadi To Hong, apakah ada sesuatu persoalan lagi didalamnya?” “Bukankah kau berkuatir To Liong akan membikin susah Minghui? Biarlah kuberitahukan dua hal padamu. Pertama sekarang To Liong tidak berada di Long-sia-san lagi, menurut dugaanku, mungkin dia telah diusir oleh adik perempuannya. Kedua, sudah lama To Liong mengetahui siapa Minghui itu, yang tidak diketahuinya hanya minggatnya Minghui adalah karena menghindari paksaan kawin dengan orang yang tidak disukainya.”

“Mengapa kau tahu sedemikian jelas?” tanya Su-lam dengan heran.

Maka Nyo Wan menceritakan pula pertemuannya dengan Minghui dan kepergok To Liong dan begundalnya dikelenteng tua itu. Katanya pula: “Melihat sikap hormatnya kepada Minghui, besar kemungkinan dia telah diusir oleh To Hong. Andaikan dia berani pulang ke Liong-sia-san, paling2 dia juga berusaha menghamba kepada Minghui.”

“Cis, sungguh tidak nyana seorang pahlawan sebagai To Pe-seng mempunyai anak yang pengecut dan khianat seperti dia,” ujar Su-lam. “Harap saja segala sesuatu terjadi sebagaimana dugaanmu.” “Jika kau masih sangsi dan kuatir, bagaimana kalau kita kembali ke Long-sia-san dulu baru kemudian mencari Sia It-tiong?” kata Nyo Wan.

“Tidak perlu buang2 waktu percuma, paling penting kita harus menuntut balas lebih dulu, memangnya Sia It-tiong mau menunggu kita ditempat Pek Ban-hiong untuk selamanya?” kata Su- lam.

“Benar, Sia It-tiong bukan saja musuh kita, dia juga musuh umum bangsa Han kita, membasmi dia jauh lebih penting dari urusan lain, marilah kita percepat perjalanan,” sahut Nyo Wan. Sudah tentu ia tidak menyangka kekejian To Liong jauh diatas perkiraannya. Dia mengira Minghui akan aman bila mondok ditempat To Hong. Tak tahunya apa yang terjadi justru sama sekali diluar dugaannya. Minghui bersama Akai dan Kalusi langsung menuju ke Long-sia-san untuk mencari To Hong.

Mereka bertiga menyamar sebagai bangsa Han, tapi wajah Akai tidak memper orang Han, bahasa Han merekapun tidak lancar, maka menimbulkan curiga Thaubak di Long-sia-san yang menerima kedatangan mereka itu. Setelah Minghui menyatakan kedatangan mereka atas petunjuk Nyo Wan serta menyerahkan surat perkenalan yang ditulis Nyo Wan, akhirnya mereka diterima dengan baik oleh To Hong.

Dalam surat Nyo Wan itu tidak dijelaskan siapa Minghui, hanya disebut mereka bertiga adalah sobat baik dirinya dan Li Su-lam, maka mohon To Hong suka menerima mereka. Dalam surat Nyo Wan sekalian minta maaf karena kepergiannya tanpa pamit itu.

To Hong rada heran juga atas kedatangan Minghui bertiga itu, tapi ia yakin mereka pasti ada hubungan istimewa dengan Nyo Wan, yang aneh adalah pada suasana kacau dn genting oleh badai perang kedua negara itu, mengapa mereka melarikan diri dari Mongol. Maka setelah mereka diajak keruangan tamu, kemudian To Hong menanyakan juga asal usul mereka dan cara bagaimana berkenalan dengan Li Su-lam serta Nyo Wan.

Minghui tidak ingin membeberkan asal usul sendiri, terpaksa mengarang serangkaian cerita bohong bahwa dirinya adalah nona gembala biasa di Mongol. Akai dan Kalusi dikatakan sebagai suami istri dari sesama kelompok suku yang tidak suka kepada peperangan, maka sengaja melarikan diri ke Tionggoan. Lantaran tempat tinggal Nyo Wan di Mongol dulu tidak jauh dari rumah mereka, maka saling berkenalan dan menjadi sahabat baik.

Sebagai putri Jengis Khan yang sejak kecil sudah disanjung puji, dengan sendirinya sikap Minghui membawa wibawa dan bersifat agung, meski sekarang telah berdandan sebagai perempuan miskin bangsa Han tetap tidak bisa menutupi sifat aslinya. Karena itu diam2 To hong menyangsikan asal usul Minghui itu dan menduga apa yang dikatakan itu pasti dusta. Tapi mengingat Nyo Wan yang menyuruh mereka datang, tetap ia melayani mereka dengan hormat. Hanya saja diam2 iapun waspada untuk menjaga segala kemungkinan. Kalau bicara juga rada sungkan2 dan rada kaku. Tempat tinggal mereka juga diberikan pada pintu yang terpisah oleh sebuah pintu yang terkunci. Sudah tentu sikap dingin To Hong itu dirasakan oleh Minghui, dia sudah biasa disanjung orang tentu saja tidak suka kepada sikap To Hong itu.

Yang lebih membikin kesal Minghui adalah sikap ibu To Hong, orang tua itu ternyata juga bersikap dingin padanya. Rupanya To-hujin (nyonya besar To) masih dendam karena suaminya terbunuh di daerah Mongol, maka bila bicara tentang orang Mongol hatinya menjadi kurang senang.

Hal2 itu sudah tentu makin menambah kemasgulan hati Minghui, terkadang timbul pikirannya untuk segera meninggalkan Long-sia-san saja.

Pada suatu hari, tiba2 Kalusi datang memberitahu bahwa To Hong menyuruh seorang pelayan mengundang Minghui agar suka datang ke tempat To-lohujin untuk memilih sendiri beberapa macam bahan pakaian yang hendak dibuatkan baju bagi Minghui.

Namun Minghui sudah terlanjur ngambek dan menolak undangan itu, bahkan ia menyatakan pikirannya kepada Kalusi bahwa sebaiknya mereka lekas2 pergi dari situ saja. Kalusi berusaha membujuk dan menghiburnya agar bersabar menantikan pulangnya Nyo Wan, kelak segala sesuatu tentu akan berubah menjadi baik. Kalau sekarang juga kita pergi secara diam2, tentu akan dicurigai dan mungkin akan timbul persoalan yang tidak diahrapkan.

Minghui pikir usul kalusi itu ada betulnya juga, maka tentang undangan To Hong untuk memilih bahan pakaian itu dia suruh Kalusi saja yang mewakilkannya. Atas perintah itu, Kalusi sendirian lantas pergi ke tempat To-lohujin. Ia coba memperhatikan sekitarnya, ia merasa tiada diikuti oleh siapapun. Tapi ketika dia menyusuri serambi sana dan masuk keperkarangan rumah induk, ternyata pelayan2 yang biasa melayani nyonya tua itupun tidak nampak seorangpun, hal ini membuatnya rada heran.

Baru saja dia memasuki pekarangan rumah dan hendak berseru minta permisi, tiba2 terdengar suara seorang laki2 sedang berkata diruangan dalam: “Moaymoay, kau tidak perlu mendustai aku, ketiga orang itu datang dari Mongol, betul tidak?”

“kalau betul lantas mau apa?” terdengar To Hong menjawab dengan kaku.

“Bukankah kau pernah mencela hubunganku dengan orang Mongol, padahal itu cuma fitnahan Li Su-lam belaka, kau lebih suka percaya orang luar dari pada percaya kepada kakaknya sendiri. Dan sekarang kau sendiri mengapa juga berhubungan dengan oranag Mongol?” demikian suara orang lelaki itu menjengek lagi.

“Orang Mongol ini tidak sama dengan orang2 Mongol yang kau gauli itu,” sahut To Hong. “Orang Mongol macam apa? Mengapa kau berani mengatakan tidak sama?” tanya lelaki itu. “Kalau aku bilang tidak sama pasti tidak sama, kau tidak perlu urus,” kata To Hong. 

Lalu terdengar suara seorang perempuan tua menyelah: “Ai, kalian kakak beradik selalu bertengakr saja bila bertemu. Padahal kedua nona Mongol itupun kelihatan cantik dan ramah,akupun merasa mereka adalah orang2 baik.”

Kalusi menjadi terkejut mendengar suara lelaki itu karena merasa sudah dikenalnya entah dimana. Ia menjadi curiga, segera ia memutar ke belakang jendela untuk mengintip. Tapi sekali mengintip ia menjadi lebih2 terkejut. Kiranya lelaki itu tak lain tak bukan adalah To Liong yang pernah dijumpainya di kelenteng tua tempo hari. Apalagi kini diketahui To Liong ternyata kakak To Hong, ia menjadi bingung apa yang harus dilakukannya.

Kiranya datang kembalinya To Liong justru hendak mencari tahu rahasianya Putri Minghui. Tempo hari sesudah ia dilukai Li Su-lam, mestinya lukanya tidak parah, tapi sengaja tetirah lebih lama dirumah dengan maksud tujuan tertentu, ia pikir kalau Beng Siau-kang, Li Su-lam dan lain2 sudah pergi, bila ada kesempatan ia hendak merampas kembali kedudukan Cecu dari tangan adik perempuannya.

Akan tetapi setelah beberapa hari ia tinggal dirumah, ia mengetahui Thaubak2 Long-sia-san dari tingkatan rendah sampai tingkatan atas hampir seluruhnya mendukung adik perempuannya dengan setia serta memandang hina kepada To Liong sendiri. Meski iapun mempunyai beberapa orang kepercayaan, tapi jelas tak dapat bergerak apa2. Maka untuk mencapai tujuannya, terpaksa ia harus minta bala bantuan dari luar. Beberapa hari kemudian iapun meninggalkan rumahnya dengan alasan kesehatannya sudah pulih. Sudah tentu To Hong tidak perlu menahannya, hanya sang ibu yang merasa berat berpisah pula dengan anak laki2nya yang jarang tinggal lama dirumah itu.

Sebenarnya To Liong bermaksud minta bantuan kepada Tun-ih Ciu, tapi sejak Tun-ih Ciu dikalahkan oleh Beng Siau-kang, jiwanya hampir saja melayang, maka ia menjadi kapok dan tidak berani pulang kerumahnya sendiri, tapi bersama putranya langsung terus menuju ke taytoh, ibukota kerajaan Kim.

Mencari Tun-ih Ciu tidak ketemu, To Liong lantas ingat kepada seorang tokoh lain, yaitu Pek Ban- hiong. Sebenarnya mereka tidak saling kenal, tapi To Liong tahu jelas Pek Ban-hiong juga mengadakan hubungan rahasia dengn pihak Mongol, maka Pek Ban-hiong tentu juga kenal To Liong sebagai kawan sehalun. Begitulah dia terus menuju ketempat kediaman Pek Ban-hiong, dan ditengah jalan itulah diluar dugaan To Liong telah memergoki Putri Minghui dikelenteng tua tempo hai.

Sesudah To Liong dan kawanan Ho Kiu-kong diusir pergi oleh Minghui, mestinya Ho Kiu-kong mengajak To Liong kerumahnya untuk menunggu Yang Kian-pek, putra Yang Thian-lui.

Tapi mengingat Yang Thian-lui adalah musuh pembunuh ayahnya, betapapun sekarang mereka adalah kawan sehluan, mau tak mau To Liong harus menjaga kehormatan dirinya dantidak ingin bertekuk lutut secara terang2an kepada musuh pembunuh ayahnya itu. Sebab itulah ia menolak ajakan Ho Kiu-kong, tapi iapun tidak segera pergi mencari Pek Ban-hiong, sebab timbul rasa curiganya terhadap Minghui.

Maklumlah, To Liong memang orang yang sangat cerdik, meski waktu dikelenteng tua itu ia kena digertak pergi oleh Minghui, tapi kemudian ia menjadi curiga mengapa sebagai seorang putri raja perjalanan Minghui itu hanya diikuti seorang pelayan dan seorang pengawal saja, bahkan lari ke wilayah negeri Kim yang sedang berperang dengan Mongol?

Untuk mencari tahu rahasia Minghui, To Liong lalu bersembunyi disekitar kelenteng tua itu. Ketika Ho Kiu-kong dan Yang Kian-pek kemudian muncul lagi dan dikalahkan Kok Ham-hi, tidak lama kemudian Kok Ham-hi juga berlalu, selama itu To Liong tetap sembunyi dan karena itu berhasil mendengar pembicaraan Minghui dan Nyo Wan.

Keruan To Liong sangat girang setelah mengetahui rahasia Minghui, dasar ia memang seorang yang banyak tipu akalnya, ia pikir sekarang Minghui melarikan diri dari Mongol unuk menghindarkan pernikahannya dengan pangeran Tin-kok, kabarnya dia juga pernah menyukai Li Su-lam. Tapi kini Li Su-lam sudah punya tunangan, hal inipun diketahui Minghui sendiri, jadi jelas putri Mongol itu tidak mungkin diperistri Li Su-lam.

Dikala seorang perempuan sedang patah hati, saat itulah paling gampang pula ia jatuh kedalam perangkap kaum lelaki. Maka To Liong pikir dengan pengalamannya dan mengingat Minghui tinggal dirumahnya, tentu banyak kesempatan untuk merayu Minghui kedalam pelukannya.

Andaikan gagal iapun dapat menjual rahasia jejak Minghui itu kepada Dulai. Pendek kata banyak keuntungan yang akan diperolehnya.

Begitulah maka ia lantas mengurungkan maksudnya pergi mencari Pek Ban-hiong dan terus pulang kerumah, hanya saja dia sengaja pulang beberapa hari lebih lambat. Setibanya di Long-sia-san, benar juga didengarnya ada dua nona Mongol dan seorang Busu berada dalam benteng, dengan rasa girang To Liong lantas menemui ibunya. Dan disitulah ia berlagak menegur adik perempuannya sebagai didengar oleh Kalisi.

Keruan Kalisi terkejut, lekas2 ia kembali kepondoknya untuk memberitahukan Minghui.

Tentu saja Minghui juga terkejut, lekas2 mereka memanggil Akai untuk diajak kabur seketika itu juga. Mereka tidak tahu bahwa pendirian To Hong sama sekali berbeda dengan To Liong, maka timbul juga ketidak percayaan mereka kepada To Hong.

Mereka bertiga terus kabur kebawah gunung. Para penjaga menjadi curiga dan ingin tanya mereka. Tapi Akai tidak sabar lagi. Mendadak ia gunakan kepandaian membanting dari ilmu gulat Mongol. Thaubak penjaga itu dibanting roboh, beberapa prajurit dipukul jatuh pula, lalu ia merampas tiga ekor kuda terus melarikan diri. Sementara itu To-lohujin sedang me nunggu2 dan sekian lamanya masih belum nampak datangnya Minghui, segera ia suruhan pelayan mengundangnya lagi. Maka ketahuanlah tentang kaburnya Minghui bertiga itu. Keruan To Hong menjadi menjadi kaget dan heran mengapa mereka mesti melarikan diri, kedatangan mereka adalah perantaraan Nyo Wan, tentunya bukan agen rahasia Mongol.

Mendadak To Liong melonjak bangun dan berseru: “Biar aku membekuk mereka kembali !” “Kau jangan ikut campur, aku sendiri dapat mengejarnya,” kata To Hong.

“Kau adalah Cecu, mana boleh sembarangan meninggalkan gunung, biar aku saja yang membereskannya,” sahut To Liong.

Karena tak dapat menghalangi, terpaksa To Hong membiarkan kakaknya berangkat.

“Kalau bukan bangsa sendiri tentu berhati lain, kata2 ini memang tidak salah,” kata To-hujin berkata dengan gegetun.

Tapi makin dipikir makin dirasakan oleh To Hong ada sesuatu yang tidak beres. “Kukira ada yang tidak betul ?” katanya.

“Apanya yang tidak betul ?” tanya To-hujin.

“Kepergian mereka itu pasti ada sebabnya. Aku takdapat membiarkan koko membikin susah mereka,” kata To Hong.

“Ai, kau selalu tak mempercayai kakakmu sendiri, selalu bermusuhan dengan dia,” omel To-hujin. Karena To Hong tidak ingin membikin marah ibunya, pula ia juga mesti menjaga segala kemungkinan alaupun ia percaya Minghui pasti bukan orang jahat, tapi sebagai Cecu memang tidak bebas untuk sembarangan meninggalkan pangkalannya. Segera ia menyuruh Ciok Bok membawa anak buah untuk menyusul To Liong dengan pesan agar mencegah terjadinya sesuatu yang kurang baik terhadap putri Minghui. Ciok Bok diberi sebuah Lengci (Panah tanda kuasa) untuk mengatasi To Liong bila sang kakak berani membangkang.

To Hong cukup kenal watak kakaknya yang bermoral bejat itu, maka ia kuatir kalau2 Minghui diganggu To Liong. Ia kira dengan Lengci yang dibawakan kepada Ciok Bok itu mungkin To Liong akan tunduk kepada perintahnya kecuali kalau kakaknya itu sudah tidak mau pulang kerumah lagi untuk selamanya. Nyata ia tidak tahu bahwa disamping timbul maksud tidak senonoh terhadap Minghui, bahkan To Liong mempunyai maksud yang lebih kotor lagi daripada pikiran busuk itu.

Sayang meski kepandaian menunggang kuda Akai dan Minghui bertiga sangat mahir, tapi kuda rampasan mereka itu hanya kuda prajurit biasa saja, maka tidak antara lama mereka sudah dapat disusul oleh rombongan To Liong.

“To Liong, kau berarti kurang ajar padaku ?” bentak Minghui dengan gusar.

“Jangan salah sangka, justru aku ingin memenuhi kewajiban sebagai tuan rumah, maka ingin mengundang kau kembali kesana, tentang rahasia dirimu pasti takkan kubocorkan,” kata To Liong dengan tertawa.

“Aku tidak sudi, lekas kau enyah !” bentak Minghui pula.

“Eh, mengapa kau menolak maksud baikku ?” ujar To Liong dengan cengar-cengir.

Beberapa Thaubak yang ikut datang bersama To liong belum kenal asal-usul Minghui, untuk mengambil hati tuannya, mereka lantas berseru: “He, tuan muda kami mengundang kau dengan baik2, mengapa kau bersikap kasar ?” “Apakah kau perlu dipaksa ?”

Akai menjadi gusar, dampratnya: “Keparat, mana ada orang mengundang tamu cara begitu? Ini, biar kalian tahu rasa !” ~ Berbareng tali panjang yang dipegangnya terus diayun kedepan, seketika seorang Thaubak yang sedang memburu maju itu terlilit oleh tali itu dan terangkat keatas seperti anak ayam saja.

“Mengingat kebaikan nona Nyo, jangan bikin susah temannya, lepaskan saja dia !” kata Minghui. “Sekali Akai menyendal talinya, kontan Thaubak itu terlempar pergi hingga belasan meter jauhnya. Keruan Thaubak2 yang lain sama terperranjat melihat ketangkasan permainan tali Akai itu. “Sudahlah, kita pergi saja !” kata Minghui. Ia mengira To Liong pasti tidak berani merintanginya lagi.

Tak terduga baru saja Akai memutar kudanya, tiba2 To Liong mengejek: “Hm, begitu gampang kalian mau pergi ? Diberi harus membalas, ini , kaupun rasakan senjataku !” ~ Sekaligus ia terus menghamburkan tiga buah Tok-liong-piau.

Mendengar samberan angin dari belakang itu,segera Akai memutar balik sebelah tangan untuk menangkap senjata rahasia itu. Tak terduga bahwa Tok-liong-piau adalah senjata rahasia yang berbisa jahat, meski tangannya tidak sampai terluka oleh Tok-liong-piau yang ditangkapnya itu, namun begitu telapak tangannya tersentuh racun Tok-liong-piau itu, seketika terasa gatel tak terhingga.

“Keparat, berani kau menggunakan sanjata berbisa kepadaku !” maki Akai dengan murka dan kuatir pula.

Dalam pada itu, dengan kecepatan yang sama Tok-liong-piau kedua dan ketiga telah menyambar kearah Minghui dan Kalisi. Tapi yang diincar ternyata kudanya dan bukan orangnya, keruan kontan saja kedua ekor kuda itu terguling dan mati seketika oleh racun Tok-liong-piau yang jahat itu.

Robohnya kuda mereka mengakibatkan Minghui dan Kalisi ikut terbanting jatuh.

Kalisi tidak mahir ilmu silat, sedangkan Minghui mahir menunggang kuda dan memanah, kepandaian silatnya lumayan juga, maka cepat ia melolos pedang untuk melindungi Kalisi. “Jangan berbuat kasar padanya, cukup kepung dia, asalkan tidak sampai lolos saja,” seru To Liong. Sambil mengiakan beberapa Thaubak itu lantas mengitari Minghui dengan kuda mereka, tapi tidak menyerangnya. Jika diatas kuda mungkin Minghui dapat membereskan beberapa Thaubak itu, tapi sekarang ia diatas tanah dan tidak mampu mengeluarkan kemahirannya. Apalagi dia harus melindungi Kalisi. Maka harapannya sekarang hanya tergantung kepada Akai saja.

Saat itu Akai juga sudah melompat turun dari kudanya dengan maksud hendak menolong Minghui dan Kalisi yang terjatuh tadi, tapi segera ia dipapak oleh To Liong.

“Keparat, biar kuhancurkan kau !” teriak Akai dengan murka.

“Hm, memangnya kau sangka aku bukan tandinganmu? Ini, biar kaupun rasakan kelihaianku !” jengek To Liong, berbareng ia terus menusuk dengan pedangnya.

Tangan kanan Akai dirasakan kaku pegal karena menangkap Tok-liong-piau yang berbisa tadi, maka tangan kiri yang sekarang digunakan untuk mengayun tali untuk menempur To Liong dengan sengit. Sudah tentu permainan tangan kiri tidak selincah tangan kanan, namun ia tetap bertahan dengan membalas menyerang dengan tangkas.

Diam2 To Liong terkejut juga melihat ketangkasan Akai, ia merasa bersyukur tangan musuh sudah terkena racun Tok-liong-pai, kalau tidak mungkin tidak mudah baginya untuk mengalahkan jagi Mongol itu.

Belasan gebrakan lagi, pelahan2 rasa gatel pegal ditangan kanan Akai mulai menjalar kepangkal lengan sehingga tenaganya banyak berkurang pula. Cara permainan tali Akai itu adalah ciptaan sendiri berdasarkan pengalamannya sejak kecil bilamana menangkap binatang buruannya, maka boleh dikata permainan tali itu adalah kepandaiannya yang khas, Cuma sayang dia tidak mendapatkan petunjuk guru yang pandai, maka permainannya menjadi tidak selincah dan sebagus ilmu pedang To Liong. Apalagi tenaganya makin berkurang, lama2 ia menjadi payah dan kewalahan menghadapi To Liong.

Melihat sudah tiba waktunya, segera To Liong menyerang lebih gencar, ditengah berkelebatnya sinar pedang, tahu2 tali Akai yang panjang itu terpapas sepotong demi sepotong sehingga akhirnya tinggal satu meteran saja panjangnya.

Tampaknya Akai sudah tidak dapat melawan To Liong lagi dan segera akan tertawan, pada saat itulah tiba2 terdengar suara keleningan kuda, kiranya Ciok Bok keburu menyusul tiba.

“Tahan dulu, Toasuko !” seru Ciok Bok.

“Ada apa ?” tanya To Liong dengan kurang senang.

“Ada pesan dari cecu agar jangan membikin susah para tamu, aku ditugaskan mengundang mereka kembali kesana,” jawab Ciok Bok.

“Kalian tak perlu main sandiwara, pendek kata baik cara kasar maupun cara halus, yang pasti aku tidak sudi kembali ke sana,” jawab Minghui.

Cepat Ciok Bok melompat turun dari kudanya dan berkata: “Harap nona jangan salah paham, kami se-kali2 tiada punya maksud jahat. Jika kalian tidak ingin tinggal lagi ditempat kami, maka kamipun takkan memaksa. Cukup kalian ikut kembali sementara kesana sekadar mohon diri kepada cecu kami.”

Di sebelah sana ternyata To Liong tidak mau menghentikan serangannya kepada Akai, bahkan ia mencecar lebih kencang.

“Berhenti dulu Toasuko, inilah perintah Cecu sendiri !” seru Ciok Bok.

“Kau minta aku berhenti, baiklah kuserahkan orang ini kepadamu !” jengek To Liong dan mendadak ia memutar tubuh dan ganti sasaran, se-konyong2 ia menubruk ke arah Minghui. Sebenarnya Minghui sudah ambil keputusan nekat akan membunuh diri bila tidak dapat melawan. Tak terduga gerakan To Liong teramat cepat, baru saja Minghui angkat pedangnya yang pendek dengan maksud hendak menikam tenggorokan sendiri, tahu2 To Liong sudah mendekat, terasa pergelangan tangan kesemutan, Hiat-to bersangkutan telah kena ditotok.

To Liong rampas pedang Minghui itu, menyusul nona itu terus dikempitnya.

Akai menjadi kalap. “Keparat, kalian bangsat semua !” teriaknya menjotos ke muka Ciok Bok yang saat itu berada dihadapannya.

Mestinya Ciok Bok hendak mencegah perlakuan kasar To Liong terhadap Minghui tapi dia dirintangai Akai, terpaksa ia menggunakan Kim-na-jiu-hoat untuk menangkap pergelangan tangan Akai yang menjotos itu.

Kepandaian Akai mestinya tidak rendah, bila masih memegang talinya yang panjang itu sukar bagi Ciok Bok untuk mengalahkannya. Tapi kini dia sudah kehilangan senjata andalannya, pula dalam hal permainan pukulan dia bukan tandingan Ciok Bok, apalagi tadi ia sudah bertempur dan tenaga sudah banyak berkurang. Maka Cuma beberapa gebrakan saja, pada suatu kesempatan dia kena ditelikung oleh Ciok Bok yang sekalian menotok pula hiat-to pinggangnya.

Habis itu Ciok Bok lantas mendekati To Liong dan berseru: “Toasuko, inilah Lengci dari Cecu, lihatlah dulu !”

Dengan tetap mengempit Minghui, sebelah tangan To Liong lantas menjulur untuk mengambil Lengci itu, tapi mendadak dipatahkannya menjadi dua, jengeknya: “Hm, Long-sia-san mestinya milikku, budak Hong berani merebut kekuasaanku mengingat masih adik perempuan sendiri, maka aku tidak mau bertengkar dengan dia, tapi sekarang dia malah ingin memerintah aku?”

Ciok Bok terkejut dan gusar,katanya pula: “Toasuko, cecu dipilih oleh semua orang, aku hanya tunduk kepada perintahnya. Jika kau ingin bicara apa2 boleh pulang dulu kesana. Yang penting sekarang kau harus lepaskan dia !”

“Kurang ajar,kau ini apa, berani juga kau menantang aku?” bentak To Liong, berbareng pedangnya lantas menusuk.

Terpaksa Ciok Bok melolos pedang untuik menangkis, memangnya kepandaiannya bukan tandingan To Liong, apalagi kuatir salah melukai Minghui dalam kempitan To Liong itu, maka hanya beberapa jurus saja ia sudah terdesak dibawah angin.

Setelah mendesak mundur Ciok Bok, segera To Liong mencemplak ke atas kusda sambil tetap mengempit Minghui dan terus dilarikan menuju ke rumah Pek Ban-hiong.

Rupanya To Liong juga mengetahui tentang datangnya Sia It-tiong dan sembunyi di rumah Pek Ban-hiong itu, dengan sendirinya hal ini sangat kebetulan baginya. Memangnya dia hendak minta

bantuan Pek Ban-hiong, kini berhasil menawan Minghui dan dapat pula bertemu dengan Sia It-tiong yang punya kedudukan tinggi dipasukan Mongol, maka ia pikir sekali ini tentu akan berjasa besar. Sementara itu Ciok Bok tak dapat menyusul To Liong lagi, terpaksa ia membuka hiat-to Akai yang tertotok itu, lalu minta maaf pula, katanya: “ Sesungguhnya orang yang bertempur dengan kau itu adalah kakak Cecu kami, tapi pribadi Cecu kami sama sekali berbeda dengan kakaknya. Kini kalian diharap pulang kembali ke tempat kami. Cecu pasti akan berdaya menemukan kawanmu yang dilarikan itu.”

Akai adalah seorang laki2 berhati tulus, ia menyaksikan sendiri Ciok Bok bergebrak dengan To Liong dalam usahanya menolong Minghui dan hampir2 terluka, maka kini ia percaya penuh apa yang dikatakan Ciok Bok itu dan menyesal atas kecerobohan diri sendiri tadi. Maka mereka suami- istri lantas ikut Ciok Bok kembali ke Long-sia-san. Kini marilah kita mengikuti perjalanan Li Su-lam dan Nyo Wan yang menuju ke Pek-keh-ceng untuk mencari Sia It-tiong.

Menurut perhitungan Li Su-lam, malam hari kedua setelah Tubukan dan Subutai kembali sampai di Pek-keh-ceng, maka ia dan Nyo Wan juga sudah tiba ditempat tujuan.

Sekira tengah malam, Li Su-lam dan Nyo Wan lantas memasuki perkampungan keluarga Pek itu dengan ginkang mereka yang tinggi.

Pek Ban-hiong adalah seorang hartawan yang berpengaruh di tempatnya itu, perkampungannya terdiri dari beberapa puluh buah rumah, dengan sendirinya Li Su-lam tidak tahu Sia It-tiong tinggal dirumah yang mana. Ia bermaksud membekuk seorang pelayan untuk dimintai keterangan, tapi kuatir mengejutkan musuh pula. Nyo Wan mengusulkan agar mereka memisahkan diri untuk mengintip dari rumah kerumah,tapi Li Su-lam pikir hal itu tentu akan memakan waktu dan sampai pagipun mungkin belum berhasil.

Sedang ragu2, tiba2 dilihatnya bayangan tiga orang keluar dari sebuah rumah. Waktu Li Su-lam mengintip dari tempat sembunyinya, dilihatnya orang yang jalan didepan memegang tenglong (lampu berkerudung), agaknya pelayan keluarga Pek, dua orang yang mengikut dibelakang itu ternyata bukan lain daripada Tubukan dan Subutai. Keruan Li Su-lam sangat girang.

Didengarnya saat itu Tubukan sedang berkata: “Tengah malam majikanmu mengundang kami, entah ada urusan apa?”

“Majikan kini lagi bicara dengan Sia-tayjin, kalau tidak salah Sia-tayjin yang minta kalian diundang kesana,” tutur pelayan.

Diam2 Subutai dan Tubukan menjadi heran dan ragu2 apakah barangkali ada sesuatu rahasia mereka yang diketahui oleh Sia It-tiong itu ? Walaupun merasakan alamat tidak baik, terpaksa mereka tetap ikut kesana.

Kalau Subutai berdua ragu2 dan kuatir,sebaliknya Li Su-lam menjadi kegirangan. Dengan gelisah ia sedang mencari tempat tinggal Sia It-tiong,kini ternyata ditemukan dengan gampang saja. Segera Su-lam dan Nyo Wan menguntit di belakang Subutai bertiga dengan sangat hati2 sehingga sedikitpun tidak mengeluarkan suara.

Tidak lama, pelayan itu membawa Subutai berdua masuk kesatu pekarangan rumah. Su-lam lantas membisiki Nyo Wan, sebentar aku menghadapi Pek Ban-hiong dan kau yang membekuk Sia It- tiong.”

Pada suatu kamar rumah itu tampak ada cahaya lampu, dengan suatu loncatan enteng Li Su-lam lantas melayang keatas rumah itu. Sebelum Subutai bertiga memasuki kamar itu lebih dulu Li Su- lam sudah mendekam diatap rumah itu. Nyo Wan juga lantas menyusul, tapi dia mengintip dibawah jendela.

Dengan dua kaki menggantol emperan rumah, tubuh Li Su-lam lantas menggelantung kebawah, lalu mengintip kedalam. Dilihatnya didalam kamar ada tiga orang, selain Pek ban-hiong dan Sia It-tiong terdapat pula seorang pemuda berumur 20 an. Li Su-lampikir pemuda ini tentu putra Pek Ban-hion yang bernama Pek Jian-seng.

Terdengar Sia It-tiong sedang bicara: “Pek-cengcu, untung pandanganmu cukup tajam, aku hampir2 kena dikelabui oleh kedua orang itu.”

“Aku Cuma menaruh curiga saja dan tidak berani memastikan mereka adalah mata2 musuh,” sahut Ban-hiong. Sebentar Sia-tayjin boleh diam saja, biar aku yang mencoba mereka.

“Ya, jelek2 mereka adalah jago Kemah emas. Kita tak boleh bertindak secara gegabah,” ujar Sia It- tiong sambil mengangguk.

“Ssst,” tiba2 Pek ban-hiong mendesis. “Itu dia sudah datang.”

Su-lam menjadi ter-heran2 dan ingin tahu cara bagaimana Pek Ban-hiong akan mencoba Subutai berdua.

Sejenak kemudian masuklah Tubukan dan Subutai, mereka memberi hormat kepada Sia It-tiong, lalu bertanya: “Entah ada urusan apakah malam2 Sia-tayjin memanggil kami?”

“O, tiada apa2, aku Cuma kuatirkan luka Tubukan, apakah sudah baik?” sahut Sia It-tiong. Keruan Tubukan menggerutu didalam hati, hanya soal sepele saja tengah malam buta memanggil mereka. Segera ia menjawab: “Terima kasih atas perhatianmu,kesehatanku sudah hampir pulih kembali.”

“Syukurlah kalau begitu, aku menjadi sedih kalau2 kau takdapat ikut aku pulang,” kata It-tiong. “Apa, Sia-tayjin hendak …… hendak pulang ke Mongol?” tanya Tubukan dengan terkejut. “Benar, bila kau sudah sehat, besok juga kupikir kita lantas berangkat saja,” sahut Sia It-tiong dengan tersenyum.

“Tapi, tapi apakah tidak lebih baik kita tinggal beberapa hari,” kata Tubukan dengan rada bingung karena tidak tahu alasan apa yang harus digunakan. Syukur Subutai lebih cerdik, mendadak ia mendapat suatu pikiran dan lantas menambahkan:” Waktu kita berangkat, Khan Agung sendiri memberi pesan kepada kami agar menemui Yang Thian-lui. Sebab itulah kita harus tunggu beberapa hari untuk menyelesaikan tugas ini.”

Subutai mengira dengan perintah Khan akan dapat dipakai sebagai tameng, tak tahunya alasannya itu berbalik meyakinkan Sia It-tiong akan kebohongan mereka. Diam2 Sia It-tiong merasa geli, tapi lahirnya ia pura2 merasa heran dan menjawab; “O, jadi ada perintah pribadi Khan Agung kepada kalian? Aku malah tidak tahu sama sekali.”

“Memang begitulah,” kata Subutai. “Mungkin Khan merasa tidak perlu mengulangi pesan beliau ini kepada Sia-tayjin.”

DIbalik kata2nya itu nyata ia ingin Sia It-tiong maklum bahwa jago kemah emas jauh lebih dipercaya oleh Khan Agung mereka daripada manusia macam Sia It-tiong.

Diwaktu biasa mungki Sia It-tiong akan bungkam oleh ejekan itu, tapi kini ia sudah tahu apa yang dikatakan Subutai itu adalah bohong belaka, maka dengan tersenyum iapun membalas menggertak: “Akan tetapi hari ini aku juga menerima perintah dari Khan Agung agar kita segera pulang ke Mongol.”

Sudah tentu Subutai berdua menjadi ragu2 karena tidak ahu apa yang dikatakan Sia It-tiong itu benar2 atau dusta. Yang jelas ia telah berjanji kepada Li Su-lam untuk menahan Sia It-tiong tinggal lebih lama di Pek-keh-ceng. Maka dalam bingungnya terpaksa Tubukan memakai alasan lukanya belum sembuh seluruhnya dan minta ditunda sedikit hari lagi.

Tiba2 Pek Ban-hiong menimbrung: “Aku ada obat luka yang sangat mustajab, coba kuperiksa lukamu, kububuhi obatku ini.”

Baru Tubukan hendak menjawab tidak usah saja, tahu2 Pek Ban-hiong sudah lantas memegang tangannya dan bermaksud membuka pembalut luka dipahanya.

Kiranya Pek Ban-hiong sudah menaruh curiga terhadap Subutai berdua yang dapat meloloskan diri itu, maka ia sengaja pakai alasan hendak memberi obat untuk melihat Tubukan benar2 terluka atau Cuma pura2 saja.

Sudah tentu Tubukan kuatir perbuatannya ketahuan, ia tidak mandah ditawan begitu saja, sebagai jago Kemah emas, biarpun kepandaiannya tidak setinggi Pek Ban-hiong tentunya juga tidak lemah. Karena itu tangannya segera memutar terus balas menangkap pergelangan tangan Pek Ban-hiong. Pek Ban-hiong tidak paham gerakan bantingan dari ilmu gulat Mongol itu, akan tetapi ia mahir Kim-na-jiu-hoat, cepat ia balas mencengkeram, tangan lain terus menotok pula Koh-cing-hiat di dada Tubukan.

Cepat Tubukan menarik tubuh dan mundur selangkah, menyusul sebelah kakinya lantas menjegal dan kedua kepalan menyodok. Biarpun cengkeraman Pek Ban-hiong dapat mencakar kepalan lawan itu, tapi kakinya tergantol dan hampir2 terguling, terpaksa ia kendurkan cengkeramannya.

Kepalan Tubukan seketika berdarah oleh cakaran jari Pek Ban-hiong, dengan gusar ia membentak: “Kau berani melukai aku?”

“Semula aku menghormati kau sebagai tamuku, tapi sekarang kau bukan tamuku lagi, melainkan agen rahasia musuh, masakah aku dapat melepaskan kau?” jengek Pek Ban-hiong.

Pada saat Pek Ban-hiong mulai bergebrak dengan Tubukan, segera Subutai menubruk pula kearah Sia It-tiong. Rupanya Pek Jian-seng sudah siap sedia sebelumnya, cepat ia melompat maju kedepan Sia It-tiong sambil melolos pedangnya, menyusul lantas menabas.

“Lepas pedangmu!” bentak Subutai, ia mengelak dan segera hendak merebut senjata Pek Jian-seng dengan tangan kosong.

Cepat juga Pek Jian-seng bergerak, segera tangan kiri ikut memotong kemuka lawan yang menubruk maju itu. Namun Subutai sempat mengegos ke samping, sekali sikut ia paksa Pek Jian- seng melompat kesamping. Habis itu Subutai lantas menubruk pula ke arah Sia It-tiong. Ia tahu Tubukan pasti bukan tandingan Pek Ban-hiong, jalan satu2nya adalah menangkap Sia It-tiong sebagai jaminan keselamatan mereka sendiri.

“Hm, kiranya kalian inilah agen rahasia musuh!” jengek Sia It-tiong tak gentar. “Kematian kalian sudah di depan mata masih berani melawan lagi?”

Dalam pada itu Li Su-lam yang mendekam di atas rumah itu lantas berseru kepada Nyo Wan : “Turun tangan, adik Wan !”

Segera Nyo Wan menghamburkan segenggam Bwe-hoa-ciam melalui jendela, menyusul Li Su-lam lantas menerobos masuk dan membentak: “ Sia It-tiong,masih kenal padaku tidak?”

Pada saat yang sama se-konyong2 tedengar suara gedebukan yang keras, Subutai roboh terguling, sedang Bwe-hoa-ciam yang dihamburkan Nyo Wan tadi sebenarnya ditujukan kepada Pek Jian- seng, tapi entah mengapa, tiada sebuah jarum itu yang mengenai baju sasarannya, sebaliknya jarum2 itu sama2 rontok jatuh kelantai.

Kejadian yang mendadak itu sungguh diluar dugaan Li Su-lam. Padahal ia kenal Subutai sebagai jago Mongol yang tangguh, sedangkan kepandaian Sia It-tiong boleh dikata sangat rendah, tapi sekarang Subutai malah kena dirobohkan oleh Sia It-tiong, hal ini sungguh sukar dimengerti. Begiu pula Bwe-hoa-ciam yang dihamburkan Nyo Wan itu tiada satupun yang menyentuh baju Pek Jian- seng. Inilah membikin Li Su-lam terperanjat. Ia heran apakah mungkin kepandaian Pek Jian-seng jauh lebih hebat daripada ayahnya, yaitu Pek Ban-hiong?”

Belum lenyap pikirannya, tiba2 suara seorang bergelak tertawa dan berkata: “Apakah kau ini Li Su- lam? Hahaha, sekali ini kau benar2 masuk jaring sendiri !” ~ Suara tertawa itu tajam melengking menusuk telinga.

Ditengah suara gelak tertawa itu tiba2 Li SU-lam dipapak oleh serangkum angin pukulan yang dahsyat, keruan tak kepalang kagetnya, sungguh tak terpikir olehnya bahwa di Pek-keh-ceng ini ada seorang kosen yang berkepandaian jauh diatasnya Pek Ban-hiong.

Begitu hebat angin pukulan orang itu sehingga dada Su-lam terasa panas pedas, ia tahu tenaga lawan jauh lebih tinggi daripadanya, terpaksa harus menghindarinya untuk sementara waktu, maka sebelum dia berdiri tegak didalam kamar itu, cepat ia melompat keluar lagi melalui jendela.

Pada saat itulah Subutai baru merangkak bangun dan tepat berhadapan dengan orang itu, ia berteriak terkejut: “Kau, YangThian Lui !”

“Bukankah kau mengatakan hendak menemui aku? Sekarang terkabul bukan keinginanmu?” kata Yang ThianLui dengan tertawa. “Bluk”, kembali ia tendang Subutai hingga terjungkal, lalu mengejar keluar.

Kiranya kedatangan Yang Thian lui ini hendak mengadakan pertemuan gelap dengan Sia It-tiong, ketika mereka menaruh curiga terhadap Subutai berdua, mereka juga sudah siap siaga kalau2 Li Su- lam akan datang menuntut balas kepada Sia It-tiong.

Sudah tentu Li Su-lam tidak menyangka akan ketemu Yang Thian-lui ditempat Pek Ban-hiong ini, walaupun sadar bukan tandingan musuh kuat itu, tapi iapun tidak gentar sedikitpun. Melihat musuh mengejar keluar, kontan ia menusuk pula.

Menghadapi ilmu pedang asli Siau-lim-si yang lihai itu, Yang Thian-lui juga tidak berani pandang enteng lawannya. Tiba2 ia gunakan tenaga jari dan menyelentik batang pedang Li Su-lam.

Thian-lui-kang adalah pukulan yang maha dahsyat, tenaga yang dikeluarkan melalui jarinya tentu saja luar biasa kuatnya, “Creng”, tangan Su-lam terasa pegal dan hampir2 tak mampu memegangi pedangnya, cepat ia melompat mundur beberapa langkah.

Kalau Li Su-lam terkejut oleh kelihaian musuh, sebaliknya Yang Thian-lui juga tidak kurang kagetnya karena selentikannya itu tidak berhasil menjatuhkan pedang lawan. Baru sekarang ia mau percaya kepandaian Li Su-lam memang lihai, pantas Kian-pek bukan tandingannya.

Melihat Su-lam tidak sanggup menghadapi lawannya, cepat Nyo Wan maju membantu,

Kalian masih ada berapa orang begundal, keluar saja semua!” jengek Yang Thian-hui, berbareng tangannya memukul ke kanan dan kekiri sehingga Su-lam dan Nyo Wan dipaksa melompat mundur pula. Sementara itu Pek Ban-hiong juga sudah berhasil membekuk Tubukan dan menyusul keluar. Sedang Pek Jian-seng masih tinggal didalam rumah untuk melindungi Sia It-tiong yang hendak menanyai Subutai berdua.

Sebagai murid Bu-siang Sin-ni dari Gobipay, dengan sendirinya ilmu pedang Nyo Wan juga tidak lemah. Cuma sayang tenaganya kurang kuat, untuk melawan tenaga pukulan Thian-lui-kang yang dahsyat memang tidak memadai. Syukur dengan ginkangnya yang gesit dan lincah ia dapat menghindari damparan tenaga pukulan lawan, sedang Li Su-lam juga menyerang dengan mati2an sehingga terpaksa Yang Thian-lui harus memusatkan sebagian besar perhatiannya untuk melayani Li Su-lam. Namun begitu, setelah dua tiga puluh gebrakan lagi, lamban laun napas Su-lam terasa sesak dan dada terasa sakit, nyata daya tekanan Thian-lui-kang memang luar biasa.

Melihat kemenangan sudah pasti berada dipihak Yang Thian-lui, Pek Ban-hiong merasa kebetulan baginya untuk menonton saja disamping. Malahan ia lantas mengejek: “Mana kalian mampu menandingi Yang-koksu yang tiada tandingannya dikolong langit ini, lebih baik kalian lekas menyerah saja!”

Pada saat itu juga Yang Thian-lui pergencar serangannya, terdengar “Creng” satu kali, tahu2 pedang Nyo Wan kena diselentik mencelat, Yang Thian-lui bergelak tertawa dan baru saja ia hendak menambahkan sekali pukulannya, mendadak terdengar suara mendesing, suara samberan senjata rahasia.

“Siapa itu main sembunyi2 dan menyerang secara gelap, kalau berani keluarlah sini!” bentak Yang Thian-lui.

Tapi senjata rahasia berbentuk batu yang menyamber tiba itu ternyata tidak ditujukan kepadanya, sebaliknya membentur pedang Nyo Wan yang terpental keudara itu, sebelum pedang itu jatuh kebawah sudah keburu dibentur oleh batu itu, kontan pedang itu tergetar kembali dan sekali ini ujung pedang benar2 menyamber kedada Yang Thian-lui.

Keruan tidak kepalang kejut Yang Thian-lui, ia tidak tahu dijaman ini tokoh manakah yang memiliki tenaga sehebat ini. Melihat betapa hebat samberan pedang itu, biar Thian-lui-kangnya sangat lihai juga tidak berani menangkap pedang itu secara gegabah, terpaksa ia mengelak kesamping sehingga pedang itu menyamber lewat diatas kepalanya dan melayang kearah Li Su-lam. Setelah menyamber lewat diatas kepala Yang Thian-lui, kekuatan pedang yang meluncur itu sudah rada berkurang, maka Li Su-lam lantas angkat pedangnya untuk menangkisnya terus berputar sedikit, pedang itu terhenti dan jatuh kebawah, segera Nyo Wan menangkap kembali pedang sendiri itu.

Waktu Yang Thian-lui menenangkan diri dan memandang kesana, dilihatnya seorang laki2 berjubah hijau dan berusia antara 50-an sudah berdiri dihadapannya.

“Batu yang kutimpukkan itu bukan diarahkan padamu, masakah dapat dikatakan serangan menggelap ?” laki2 itu berkata dengan menjengek. Hm, sekarang juga aku sudah berada disini, kau mau apa ?”

Melihat laki2 ini, Pek Ban-hiong terkejut dan Li Su-lam kegirangan. Kiranya orang ini bukan lain adalah Kanglam-tayhiap Beng Siau-kang.

“Beng-tayhiap, keparat inilah pengkhianat Yang Thian Lui !” seru Su-lam.

“Aku tahu,” kata Siau-kang dengan hambar. “Kalau bukan dia tentu akupun takkan datang kesini !”

~ Kemudian ia berpaling dan menjengek terhadap Pek Ban-hiong: “Hm, orang she Pek,apakah kau sudah lupa kepada ucapanmu di Hui-liong-san ? Sekarang kau ternyata menyembunyikan mata2 musuh. Jika kau tahu diri, serahkan saja pengkhianat Sia It-tiong itu untuk meringankan dosamu, kalau tidak janganharap jiwamu dapat diampuni!”

“Hm, kiranya kau inilah Beng Siau-kang yang mengaku sebagai jago pedang nomor satu didunia ini

!” tiba2 Yang Thian-lui menyelah. “Jangan kau berlagak, biarlah aku belajar kenal dulu dengan kepandaianmu!”

“Sungguh kebetulan akupun ingin tahu bagaimana kepandaian Koksu kerajaan Kim yang selalu didengung2kan orang!” jawab Beng Siau-kang dengan ketus.

“Baik, kita satu lawan satu, orang lain dilarang ikut campur,” kata Yang Thian-lui. “Memangnya kau kira aku ini biasa main kerubut?” jengek Beng Siau-kang. “Bagus, keluarkanlah pedangmu !” bentak Yang Thian-lui dan mendadak ia terus menghantam dengan tenaga Thian-lui-kang yang dahsyat tanpa menunggu lawannya melolos pedang lebih dulu. Ternyata Beng Siau-kang sengaja tidak mau melolos pedangnya, sebab ia memang ingin mencoba betapa hebatnya tenaga pukulan Yang Thian-lui. Segera ia sambut pukulan lawan, kedua tangan beradu, terdengar suara ‘Blang” yang keras, Yang Thian-lui tergeliat, sedangkan Beng Siau-kang tergetar mundur dua tindak.

Diam2 Beng Siau-kang mengakui kehebatan Yang Thian-lui yang memang tidak bernama kosong, tanpa senjata mungkin sukar mengalahkannya. Ia tidak tahu bahwa Yang Thian-lui jauh lebih terkejut daripada dia.

Maklumlah, ilmu silat masing2 mempunyai kekhususannya masing2, Beng Siau-kang tersohor karena ilmu pedangnya yang sakti dan bukan terkenal dengan ilmu pukulan. Tapi dia sanggup menyambut tenaga pukulan Yang Thian-lui tadi, tampaknya rada kewalahan, tapi nyatanya tidak sampai roboh, padahal ilmu pukulan bukan menjadi andalannya. Maka dapat pula dibayangkan betapa lihai ilmu pedang yang menjadi kemahirannya itu.

“Beng-tayhiap, terhadap musuh tidak perlu sungkan2.” Teriak Su-lam.

Dalam pada itu Yang Thian-lui masih berlagak dan berseru pula: “Beng Siau-kang, kenapa kau masih tidak melolos pedangmu? Kau berani memandang rendah padaku?”

“Haha, memang tidak salah, aku memang memandang rendah padamu,” sahut Beng Siau-kang. “Memangnya kau kira dengan Thian-lui-kangmu lantas dapat malang melintang didunia ini? Hehe, bolehlah kau coba2 ilmu pedangku ini bila memang kau kehendaki!”

Sekali pedangnya berkelebat seketika berjangkitlah angin keras. “Awas!” seru Beng Siau-kang dambil menusuk.

Yang Thian-lui juga lantas menghantam dari jauh, terdengarlah suara mendengung tak ber-henti2, kiranya ujung pedang Beng Siau-kang yang menerbitkan suara mendengung itu lantaran tergetar oleh angin pukulan lawan. Yang satu ilmu pedang sakti, yang lain tenaga pukulan dahsyat, sesudah bergebrak beberapa jurus, ternyata keduanya sama2 tak dapat menarik keuntungan dari pihak lawan.

“Adik Wan, lekas kau menuntut balas, biar aku menghadapi bangsat tua she Pek ini,” seru Li Su- lam.

“Hm, memangnya kau sangka aku takut padamu Li Su-lam!” jengek Pek Ban-hiong. Karena melihat Yang Thian-lui sanggup menandingi Beng Siau-kang, maka nyali Pek Ban-hiong menjadi besar lagi.

“Takut atau tidak, yang pasti hari ini tak dapat kuampuni kau lagi,” bentak Li Su-lam sambil menusuk dengan pedangnya.

Ditengah bayangan pedang dan berkelebatnya pukulan, terdengar suara ‘bret” sekali, lengan baju Pek Ban-hiong terobek oleh pedang Li Su-lam, tapi pemuda itu ternyata tidak lantas mendesak maju, sebaliknya ia malah melompat mundur.

Kiranya yang dimainkan Pek Ban-hiong adalah Hun-kin-co-kut-hoat (ilmu membikin patah tulang dan keseleo) yang sangat ganas, cara membikin keseleo tulang lawan itu paling baik kalau digunakan dalam pertempuran dari jarak dekat. Karena kuatir dikerjai musuh, maka begitu gebrak Li Su-lam lantas melompat mundur untuk memancing musuh.

Akan tetapi begitu Li Su-lam melompat mundur, seketika Pek Ban-hiong juga lantas berhenti ditempatnya tanpa mengejar selangkahpun.

Kiranya tempo hari sesudah dikalahkan Li Su-lam di hui-liong-san, sepulangnya di rumah Pek Ban- hiong merasa sangat penasaran, ia coba merenungkan kelemahan sendiri sehingga kecundang oleh anak muda itu, padahal bicara keuletan jelas dirinya lebih kuat, kelemahannya hanya karena tidak tahu cara bagaimana menghadapi ilmu pedang lawan yang banyak ragam perubahannya itu.

Berdasar pengalamannya akhirnya ia berhasil menemukan suatu cara pertempuran, yaitu menggunakan Hun-kin-co-kut-hoat yang menjadi kemahirannya untuk menyerang lawan dari dekat, cara demikian pasti akan lebih menguntungkan dan terbukti sekarang siasatnya ternyata tidak keliru.

Melihat lawan diam saja ditempatnya, terpaksa Li Su-lam melancarkan serangan pula, Pek Ban- hiong juga lantas menandanginya dengan pertahanan yang rapat.

Li Su-lam juga bukan anak bodoh, iapun tak dapat dipancing mendekat oleh Pek Ban-hiong. Maka kedua orang ini hanya bergantian saja serang menyerang dan sama2 mengeluarkan kemahiran masing2.

Pada saat Yang Thian-lui dan Pek Ban-hiong ketemukan tandingnya masing2, yang tertinggal hanya Pek Jian-seng saja yang masih dapat melindungi Sia It-tiong. Maka Nyo Wan yakin sakit hatinya pasti akan terbalas, dengan girang ia terus menerjang kedalam rumah sambil membentak: “Bangsat she Sia, sekali ini kau tak kan bisa lari lagi!”

Sia It-tiong menjadi ketakutan, ia berseru: “Tolong aku,Pek-kongcu, budimu pasti akan kubalas dengan kedudukan baik didalam pasukan Mongol.”

“Jangan kuatir, Sia-tayjin, akan kubekuk budak itu bagimu,” sahut Pek JIan-seng.

Potongan Nyo Wan memang mirip perempuan yang lemah, maka Pek Jian-seng yakin pasti dapat mengalahkannya. Tak terduga ilmu pedang Nyo Wan ternyata cukup lihai, hanya bergebrak beberapa jurus saja Pek Jian-seng sendiri sudah kewalahan.”

Tatkala itu partai Yang Thian-lui melawan Beng Siau-kang juga sudah mulai kelihatan siapa yang lebih unggul. Yang Thian-lui telah mengeluarkan segenap tenaga Thian-lui-kang yang dahsyat sehingga menimbulkan angin yang men-deru2, batu pasir beterbangan,pepohonan didalam pekarangan iktu terguncang dan berderak. Tapi Beng Siau-kang tegak berdiri ditengah damparan tenaga pukulan lawan yang dahsyat itu, sedikitpun tidak bergeming.

Ditengah pertarungan sengit itu mendadak Beng Siau-kang membentak: “Kiranya kau punya Thian- lui-kang tidak lebih Cuma sekian saja, sudah cukup sekarang!” ~ Sekali ilmu pedangnya berubah,dari bertahan segera ia balas menyerang,seketika sinar pedang bertaburan menyilaukan pandangan Yang Thian-lui dan terpaksa harus melangkah mundur beberapa tindak.

Unggul dan asor sudah mulai tertampak, tapi untuk menang dalam waktu singkat juga tidak mudah bagi Beng Siau-kang. Betapapun Yang Thian-lui juga seorang jago kelas wahid, bicara tentang keuletan terang tidak dibawah Beng Siau-kang. Maka setelah terdesak mundur, segera iapun balas menghantam beberapa kali dari jauh, dari terdesak ia masih sanggup bertahan dengan rapat.

Dengan cara bagaimana Beng Siau-kang akan membikin keok Yang Thian-lui? Dapatkah Nyo Wan membalas sakit hati dengan membinasakan Sia It-tiong?

Bagaimana nasib Putri Minghui dan pengiring2nya?
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pahlawan Gurun Jilid 13"

Post a Comment

close