Pahlawan Gurun Jilid 12

Mode Malam
 
Jilid 12

Ciok-losam berhati lebih polos, katanya pula: “Betapapun harus kukatakan bahwa Oh-ciok Tojin se-kali2 pasti bukan orang yang suka merusak kaum wanita. Kalau terjadi apa2 paling2 ia hanya sebagai pelaku saja, tapi dibelakangnya tentu ada biang keladinya. Terus terang, pribadi Oh-ciok paling tidak akan lebih baik daripada kami bertiga.”

“Tosu jahat itu masakah kau mintakan ampun baginya?” bentak Ciok-lotoa. “Adikku ini rada sembrono, harap Hiapsu (pendekar) maafkan dia.”

“Peduli amat dengan kalian, yang pasti biarpun jiwa imam keparat itu dapat kuampuni, sedikitnya ilmu silatnya juga akan kupunahkan,” kata Kok Ham-hi.

Melihat Kok Ham-hi ber-gegas2 mau pergi, dengan ter-gopoh2 Seng-cengcu berkata: “Tuan yang perkasa, kuda pilihan buat engkau sudah tersedia, sebentar akan dituntun kesini.” ~ Sembari berkata iapun memberi isyarat kepada seorang pembantunya. Segera pembantu itu maju kedepan dengan membawa senampan uang perak, katanya: “Majikan kami persembahkan sedikit tanda mata ini, mohon Tuan yang perkasa sudi menerimanya.”

Seketika mata Kok Ham-hi mendelik, ia bermaksud melemparkan hadiah yang lebih mirip uang sogok itu. Tapi segera timbul suatu pikiran dalam benaknya, katanya kemudian: “baik juga, karen ahartamu ini toh diperoleh secara tidak halal. Janganlah kau mengira dengan uangmu lantas kau dapat berbuat apapun juga sesuka hatimu. Yang pasti, bilamana kau tidak melaksanakan perintahku tadi, kelak aku pasti akan bikin perhitungan padamu.”

Melihat Kok Ham-hi mau menerima sumbangannya, Seng-cengcu merasa lega, cepat ia menyatakan pasti akan melaksanakan kehendak Kok Ham-hi tadi dalam waktu tiga hari. Tapi kemudian dia ternyata tidak pernah melakukannya sehingga kelak iapun mendapat ganjarannya setelah Kok Ham-hi datang kembali dan mengusut perbuatannya itu.

Sementara itu kuda putih yang diminta Kok Ham-hi telah disiapkan, segera Kok Ham-hi mencemplak keatas kuda itu. Tapi sebelum dilarikan, tiba2 ia ingat sesuatu, ia menoleh dan bertanya kepada Ciok-losam: “Siapakah orang she Pek itu dimana tempat tinggalnya?”

“Dia bernama Pek Jiang-seng, ayahnya bernama Pek Ban-hiong, seorang bekas gembong Lok-lim yang kini cuci tangan alias pensiun, tempat tinggalnya di Pek-gui-teng dikota Jongciu. Pek Ban- hiong adalah saudara angkat Tun-ih Ciu, Tun-ih Cecu yang namanya termashur itu, dia ………” “Sudahlah, aku sudah tahu,” sela Kok Ham-hi tak sabar sambil melarikan kudanya secepat terbang kedepan.

Setelah Kok Ham-hi pergi barulah ketiga saudara she Ciok bertengkar sendiri, Ciok-lotoa menyalahkan Ciok-losam terlalu banyak omong, sebaliknya Ciok-losam anggap Ciok-lotoa tidak pantas menjual kawan dan meng-olok2 Oh-ciok tojin.

“Hm, kau tahu apa? Aku sengaja mengatur tipu mengadu domba ini dan hailnya tentu akan menguntungkan kita sendiri, kau goblok, tidak paham maksudku,” kata Ciok-lotoa.

“Ya, aku goblok, memangnya kau yang pintar!” jawab Ciok-losam dengan penasaran.

Segera Ciok-loji menengahi, katanya: “Masakah Samte masih tidak paham tujuan toako? Oh-ciok Tojin telah banyak merebut rejeki kita dikalangan Hek-to, kalau laki2 bermuka buruk itu nanti ketemu dia dan saling genjot, tentu diantara mereka akan jatuh korban slah satu, bila laki2 muka buruk itu mampus, hal ini sama dengan Oh-ciok Tojin telah membalaskan sakit hati kita.

Sebaliknya kalau Oh-ciok Tojin yang mampus, hal inipun bermanfaat bagi kita. Hehehe, sekarang kau paham tidak?”

Otak Ciok-losam yang memang rada beabl itu melongo sejenak, kemudian barulah berseru: “Ha, pahamlah aku! Jadi kalian sengaja mengadu domba mereka agar mampus salah satu diantaranya, ini namanya pinjam golok membunuh musuh.”

Ciok-lotoa dan Ciok-loji manggut2, lalu bergelak tawalah mereka bertiga.

Kiranya ilmu golok Oh-ciok Tojin terkenal hebat juga didunia persilatan, sudah lama Ciok-si-sam- hiong merasa sirik karena pekerjaan begal mereka mendapat saingan berat, tapi tak bisa berbuat apa2 karena mereka tidak sanggup melawan Oh-ciok. Kini Ciok-lotoa sengaja membocorkan apa yang diketahuinya tentang tertawannya Giam Wan oleh Oh-ciok dengan harapan Kok Ham-hi akan terus menyusul kesana, paling baik kalau mereka bertempur mati2an dan akhirnya kedua orang sama2 mampus.

Dan benar juga, Kok Ham-hi telah mengarahkan kudanya tanpa berhenti menuju kearah yang dikatakan Ciok-lotoa. Sepanjang jalan ia jarang berhenti kecuali untuk tangsal perut dan tanya arah kepada orang ditepi jalan. Sehari dua malam ia maburkan kudanya tanpa tidur sekejap.

Pada pagi hari ketiga, ia sudah sampai disuatu tempat yang jaraknya kira2 lima atau enampuluh li dari Hui-liong-san. Dari seorang penjual wedang ditepi jalan diperoleh keterangan bahwa dilihatnya ada sebuah kereta keledai lalu disitu, kusir kereta adalah seorang Tosu, sedangkan didalam kereta ada penumpangnya atau tidak tak diketahui oleh sipenjual wedang.

Mendapat berita jelas itu, semangat Kok Ham-hi terbangkit, segera ia mengejar kearah yang ditunjukkan penjual wedang itu. Kebetulan pagi ini baru saja turun hujan, bekas2 roda kereta dijalanan cukup jelas, hal ini sama dengan petunjuk jalan baginya menuju kearah yang tepat. Dengan mengikuti bekas roda kereta itu, sampailah Kok Ham-hi di tepi sebuah hutan dan disitulah bekas roda kereta itu menghilang. Keruan Kok Ham-hi ter-heran2, masakah Tosu jahat itu menghalau keretanya ke dalam hutan, apa maksudnya hendak berbuat tidak senonoh terhadap tawanannya?

Segera Kok Ham-hi melarikan kudanya menyusuri hutan itu dengan hati ber-debar2. Segera Giam Wan akan dapat diketemukan, sekali ini harus menemuinya atau tidak? Hm, kalau Tosu keparat itu berani mengganggu seujung rambutnya pasti akan kucincang tubuhnya hingga hancur lebur.

Demikian pikirnya.

Memang tidk salah, didalam kereta keledai yang dihalau Oh-ciok itu memang berisi Giam Wan. Tapi urusan telah berubah sama sekali diluar dugaan Kok Ham-hi. Untuk ini baiklah kita tinggalkan dulu Kok Ham-hi, marilah mengikuti pengalaman Giam Wan.

* * *

Setelah minggat dari rumah Giam Wan berusaha mencari berita Kok Ham-hi ke-mana2 tempat, tanpa terasa tiga tahun telah lalu, seluruh kanglam telah dijelajahinya, tapi jejak Kok Ham-hi tetap tak diketemukan.

Tiba2 ia teringat kepada cerita Kok Ham-hi bahwa pemuda ini adalah pengungsi dari daerah utara, bukan mustahil sekarang pemuda itu pulang kampung. Begitulah Giam Wan lantas meneyberangi Tiangkang mencari ke utara.

Tak terduga pada suatu hari ditengah perjalanan ia kepergok oleh Oh-ciok Tojin dan kena ditawan oleh tosu itu dengan menggunakan dupa pembius. Waktu Giam Wan sadar, ia merasa dirinya sudah terbaring didalam sebuah kereta keledai.

Dupa pembius Oh-ciokTojin itu mempunyai khasiat pelemas tulang dan mengendorkan otot, meski sudah sadar, namun Giam Wan merasa sekujur badan lemas lunglai, sedikitpun tak bertenaga, hanya badan terasa baik2 saja, tiada sesuatu tanda yang merugikan, rada legalah hatinya.

Tapi ia lantas mencaci-maki Oh-ciok Tojin, tekadnya sudah bulat, ada lebih baik terbunuh saja daripada nanti tersiksa dan ternoda badannya.

Tak tahunya Oh-ciokTojin ternyat tidak marah, ia membuka tirai kereta dan menyapa: ‘O, kiranya kau sudah mendusin?”

“Tosu keparat, kau hendak mengapakan diriku?” damprat Giam Wan.

“ah, tidak apa2, aku hendak memberi makanan padamu, ini, dua buah bakpau,” sahut Oh-ciok dengan tertawa. “Kau sudah tidur seharian, kini tentu sudah lapar.”

Benar juga, setelah melemparkan dua potong bakpau, lalu Oh-ciok berpaling kedepan lagi, satu jaripun tidak menyentuhnya.

Tercengang juga Giam Wan, makinya pula: “Tosu bangsat, mengapa kau tidak membunuh aku saja? Ketahuilah, ayahku adalah Cwan-say-tayhiap Giam Seng-to, putrinya tidak boleh sembarangan dihina orang. Kalau sekarang kau tidak bunuh aku, pada suatu hari kelak tentu aku yang akan membunuh dirimu.”

“Apa mau dikata, terpaksa harus kulakukan untuk membalas budi orang,” sahut Oh-ciok. “Membalas budi orang? Jadi kau gunakan diriku untuk membalas budi? Siapakah orang yang kau maksudkan?” tanya Giam Wan.

“Tak dapat kuberitahukan,” sahut Oh-ciok. “Yang pasti, keselamatanmu dapat kujamin, tanggung orang itu takkan menodai kau.”

“Huh, kawanan bangsat macam Tosu busuk kau ini masakah punya maksud baik,” caci Giam Wan. “Percaya atau tidak terserah kau. Tapi ingin kuperingatkan, jika kau mencaci maki lagi terpaksa akupun tidak sungkan2 padamu. Setiap kali kau memaki, setiap kali kutempeleng kau!”

Hendak bunuh diri, senjatanya ternyata sudah dirampas, dalam keadaan lemas, sukar juga sekalipun ingin bunuh diri. Kalau Tosu itu benar2 menempelengnya tentu tak bisa melawan. Terpaksa Giam Wan tak bersuara lagi. Ia ingin mencari kesempatan, bila nanti tenaga pulih sedikit barulah bikin perhitungan dengan Tosu itu. Begitulah ia lantas jemput bakpau yang dilemparkan oelh Oh-ciok tadi dan dimakan dengan lahapnya saking laparnya.

Habis makan dua potong bakpau itu ,rasanya tenaga pulih sedikit. Tapi ketika ia mencoa mengerhkan tenaga dalam, tiba2 dada terasa sakit. Maka sadarlah kekuatan obat Tosu itu tidak dapat punah dalam waktu singkat, terpaksa ia harus bersabar.

Tampaknya Oh-ciok memang cukup sopan padanya meski sikapnya dingin2 saja, tapi dengan demikian kedua pihak menjadi tenteram untuk sementara. Setiap hari Oh-ciok memberikan makanan dan air minum kepada Giam Wan dengan sopan. Diwaktu mengaso dan tidur selalu Oh- ciok menyingkir jauh daripada si nona.

Hari ini mereka telah sampai di suatu tempat yang jaraknya kira2 seratus li dari Hui-liong-san, samar2 puncak pegunungan yang tinggi itu sudah kelihatan dari jauh. Hati Oh-ciok merasa lega, ia menggumam sendiri: “syukurlah tinggal satu hari lagi saja sudah dapat mencapai tempat tujuan.” “Apakah kau hendak mengantar aku ke Hui-liong-san?” tanya Giam Wan.

“Benar,” sahut Oh-cik. “Kini boleh kuberitahukan Toh-cecu dari Hui-liong-san itulah yang suruh aku membawa kau kesana.”

“Siapa itu Toh-cecu, selamanya aku tidak kenal dia!” kata Giam Wan.

“Untuk apa dia ‘mengundang’ kau, aku sendiripun tidak tahu. Yang jelas Toh-cecu adalah seorang laki2 gaagh perkasa di kalangan Lok-lim, kukira betapaapun dia takkan bikin susah padamu.” Setelah bekumpul selama beberapa hari, walaupun dapat bersikap sopan padanya, hal ini rada menimbulkan kesan baik baginya, walaupun begitu iapun belum mau mempercayai seluruh omongannya.

Pada dasarnya watak Giam Wan sangat keras dan kepala batu, sekalipun dibawah tekanan ayah- ibunya juga tidak mau tunduk, tak tersangka kini ia harus mudah dipermainkan orang, ia menjadi kheki dan kesal, tanpa terasa teringatlah dia kepada Kok Ham-hi. Terpikir olehnya ketika dia dan ayahnya kepergo Tin-lam-jit-hou dahulu, untung Kok Ham-hi datang menolong mereka. Tapi kini pemuda itu entah berada dimana?

Belum lenyap pikirannya, tiba2 terdengar suara berderapnya kaki kuda, seorang pengunggang kuda sedang datang dari depan sana. Hati Giam Wan berdebar, ia pikir apakah benar2 Thian mengabulkan harapanku dan Kok-toako kinipun datang menolong aku!”

Suara derapan kuda itu mendadak berhenti, orang itu berseru kaget tercampur girang: “Eh, Oh-ciok Totiang, kiranya kau sudah datang! Aku justru hendak pergi mencari kau!”

Ternyata bukan suaranya Kok Ham-hi. Hati Giam Wan kembali cemas, impiannya telah buyar seluruhnya. Ia coba menyingkap ujung tirai kereta, dilihatnya pendatang itu adalah seorang laki2, mukanya kurus dan matanya kecil, wajah buruk yang menjemukan bagi siapa saja yang melihatnya. Setelah meng-ingat2 akan orang yang menegurnya itu, kemudian Oh-ciok Tojin berkata: “O, kau ini Toh Bong bukan?”

Kiranya Toh Bong adalah keponakan Toh-cecu, Toh An-peng dari Hui-liong-san, termasuk orang kepercayaannya.

Melihat Oh-ciok dapat mengenal namanya, Toh Bong sangat senang, katanya: “Syukur Totiang masih ingat padaku, memang aku ini Toh Bong adanya. Paman menyuruh aku memapak kedatanganmu.”

“Rupanya pamanmu pandai juga menujum, cara bagaimana ia mengetahui akan kedatanganku?” ujar Oh-ciok tertawa.

“Beberapa hari ini paman merasa tidak sabar karena belum ada berita pengantaran anak dara keluarga Giam kesini, kukatakan pada paman bahwa yang sanggup melaksanakan urusan ini rasanya Cuma Oh-ciok Totiang saja, yang lain kiranya tidak mampu. Paman dapat menerima ucapanku itu, dia lantas suruh aku memapak kedatanganmu dan benar juga, dugaanku ternyata jitu, sekarang juga Totiang sudah kujumpai disini.”

Kiranya Toh An-peng telah minta jasa2 baik kawan kangouw agar mereka membantu menangkapkan Giam Wan, diantara kawan2 itu termasuk Oh-ciok Tojin. Sebenarnya Toh Bong disuruh mencari berita keberbagai tempat dan secara kebetulan saja ketemu dengan Oh-ciok Tojin, apa yang dia ucapkan tadi tidak lebih hanya untuk mengumpak Oh-ciok belaka.

Manusia pada umumnya memang senang dipuji, hal ini Oh-ciok juga tidak terkecuali. Ia menjadi senang mendengar kata2 Toh Bong tadi, dengan berlagak tertawa dia berkata: “Pandanganmu ternyata jitu benar, Toh Bong. Anak perempuan Giam Seng-to memang betul ada didalam keretaku ini. Cuma kau harus tahu diri sedikit, jangan kau membikin takut dia. Betapapun ayahnya adalah seorang pendekar yang ternama, kau harus pegang adat.

Mestinya Toh Bong sudah menjulurkan tangan hendak meraih tirai kereta, maksudnya ingin tahu bagaimana macamnya Giam Wan, tapi karena kata2 Oh-ciok itu, mukanya menjadi merah dan tangan lekas2 ditarik kembali.

“Dengan segala daya-upaya pamanmu ingin mendapatkan anak dara ini, sebenarnya apa gunanya, apakah kau tahu, coba ceritakan padaku?” tanya Oh-ciok kemudian.

“He, jadi Totiang belum tahu?” kata Toh Bong. “Menurut paman, katanya anak dara ini diperlukan untuk menghadapi Beng Siau-kang.”

“Beng Siau-kang? Apakah orang yang berjuluk Kanglam-tayhiap itu?” Oh-ciok menegas. “Mengapa untuk menghadapi Beng Siau-kang diperlukan anak dara ini?”

“Soalnya Giam Seng-to adalah ipar Beng Siau-kang, bila putri satu2nya ini jatuh ditangan kita, mau tak mau Beng Siau-kang harus berpikir dua kali sebelum meusuhi paman,” tutur Toh Bong.

Oh-ciok mengerut kening, ia kenal Toh An-peng adalah seorang laki2 perkasa dikalangan Hek-to, tapi perbuatannya ini rada rendah dan kotor rasanya.

Kiranya dahulu Oh-ciok Tojin pernah ditolong oleh Toh An-peng, karena itu kedua orang telah mengangkat saudara. Sebab itulah ketika dia menerima permintaan bantuan Toh An-peng agar menawan Giam Wan yang diketahui sedang ter-lunta2 dirantau itu, tanpa pikir iapun melaksanakan permintaan saudara angkat itu sebagai balas budinya. Tapi setelah tahu duduknya perkara, ia merasa perbuatan Toh An-peng ini agak kotor dan kurang ksatria.

“Menurut berita yang telah kami terima, dalam beberapa hari ini Beng Siau-kang pasti akan datang ke Hui-liong-san, maka paman benar2 merasa cemas dan gelisah,” kata Toh Bong pula. “Sebenarnya ada permusuhan apa antara pamanmu dengan Beng Siau-kang, mengapa aku tidak pernah mendengar ceritanya? Tanya Oh-ciok.

“Selamanya paman tiada permusuhan dan sengketa apa2 dengan si tua she Beng. “Ya rahasia urusan inihanya akulah yang mengetahui. Karena Totiang bukan orang luar, tiada halangannya kuceritakan. Terus terang, orang yang paling gelisah menghadapi kedatangan Beng Siau-kang sebenarnya bukanlah pamanku.”

“Habis siapa?” tanya Oh-ciok Tojin. “Yang Thian-lui!”

“Yang Thian-lui ? Bukankah dia sudah menjadi Koksu kerajaan Kim ?” “Benar, sedikitpun tidak salah. Tak terduga oleh Totiang bukan?”

Diam2 Oh-ciok terkejut, seketika pikirannya menjadi kacau dan tidak tahu apa harus dikatakannya. Segera Toh Bong menyambung: “Totiang tentunya sudah paham bahwa To Pek-seng dan Beng Siau-kang adalah dua musuh besar Yang Thian-lui. Tahun lalu To Pek-seng telah terbunuholeh gabungan Yang Thian-lui bersama jago2 kemah emas Jengis Khan dipadang pasir Mongol, kini hanya tinggal Beng Siau-kang belum lenyap, tentu dia tidak akan tidur dengan nyenyak.”

Sedapat mungkin Oh-siok menenangkan diri, tapi ia pura2 mengunjuk rasa bingung, lalu tanyanya pula: “Sungguh aku tidak menduga, mulai kapan pamanmu berhubungan baik dengan Yang Thian- lui.”

“Sebenarnya paman tiada hubungan apa2 dengan Yang Thian-lui, tapi kini sudah orang2 satu garis, dengan sendirinya harus menghadapi musuh bersama.”

“O, jadi secara diam2 pamanmu sudah mengabdi kepada pemerintah (Kim) ?”

“Bukan begitu. Soalnya keruntuhan negeri Kim sudah didepan mata, sampai Yang Thian-lui sendiri juga terpaksa mencar majikan baru, masakah paman tidak tahu gelagat, dan malah mengabdikan diri kepada pemerintah ?”

“Ah, tahulah aku, apakah barangkali pamanmu sudah ada kaitan dengan orang Mongol ?”

“Ya, begitulah, tepat sekali dugaan Totiang. Malahan dapat kuberitahukan suatu rahasia lain, kini biarpun resminya Yang Thian-lui adalah Koksu negeri Kim, tapi sebenarnya dia sudah putar haluan menurut arah angi,diam2 sudah sering berhubungan dengan utusan gelap pihak Mongol.”

“O, kiranya begitu, pantas mereka berdua bergabung untuk menghadapi Beng Siau-kang. Tapi mengapa Beng Siau-kang akan datang ke Hui-liong-san ? Apa mungkin dia sudah mengetahui rahasia itu dan sengaja hendak mencari perkara kepada pamanmu?” “Tidak betapapun lihainya si tua she Beng itu juga takkan mengetahui rahasia ini, kedatangannya kali ini terang dia akan masuk jaring sendiri,” tutur Toh Bong dengan tertawa. Lalu iapun menceritakan cara bagaimana Toh An-peng mengatur perangkap dan memancing kedatangan Lok- lim Bengcu yang baru Li Su-lam.

“Kedatangan Beng Siau-kang resminya mendampingi Li Su-lam.” Tutur Toh Bong lebih lanjut. “Sebab itulah paman terpaksa membikin repot Totiang agar membawakan anak dara she Giam ini ke Hui-liong-san kita.”

Sudah tentu Toh Bong tidak tahu bahwa Beng Siau-kang dan Li Su-lam justru sengaja menurut tipu daya mereka dan membiarkan diri mereka masuk perangkap. Hal ini tanpa sengaja telah kena diterka oleh Oh-ciok malah.

Keruan Oh-ciok sangat terkejut, urusan ini benar2 jauh diluar dugaannya. Tapi dia tak dapat mengutarakan isi hatinya kepada Toh Bong, terpaksa ia tahan perasaannya, dengan pura2 tertawa ia berkata: “Hah, tak kusangka pamanmu ternyata seorang pahlawan yang dapat melihat gelagat.” Toh Bong mengira Oh-ciok adalah orang sendiri, tak tahunya kini dalam hati Oh-ciok telah timbul rasa menyesal akan bantuannya menawankan Giam Wan.

Dengan cengar cengir Toh Bong berkata pula: “Kini paman sedang gelisah menantikan antaran anak dara ini, apakah Totiang boleh serahkan saja anak dara ini padaku, akan kuantar kesana secara kilat.”

Dalam hati Oh-ciok menggerutu ia pikir kalau tidak mengingat Toh An-peng, tentu sejak tadi kumampuskan kau bocah ini. Tapi apapun juga Toh An-peng pernah menanam budi padaku, mau tak mau Hui-liong-san harus kudatangi. Hanya anak dara ini cara bagaimana harus kuatur? Apakah benar2 kuserahkan kepada Toh An-peng? Jika kulakukan hal ini, andaikan Beng Siau-kang tidak menuntut balas padaku, tentu pula aku akan dihina oleh setiap pahlawan di dunia ini.

Begitulah terjadi pertentangan batin Oh-ciok Tojin. Sebenatr kemudian barulah ia ambil keputusan, tiba2 ia berkata: “ Toh Bong, aku belum pernah melihat kepandaianmu, sekarang coba kau membacok aku dengan golokmu.”

Toh Bong menjadi bingung dan terkejut. “Apa artinya ini, Totiang?” tanyanya.

“Sebentar akan kuterangkan,” sahut Oh-ciok tak acuh. “Hayolah, jangan takut, bacoklah sekuatmu.” “Tidak, hamba tidak berani,” kata Toh Bong.

“Kenapa tidak berani, aku sendiri yang suruh kau membacok,” ujar Oh-ciok. “Rasanya kaupun tidak mampu melukai aku. Seumpama kau dapat melukai aku juga takkan kusalahkan kau.” Toh Bong kenal watak Oh-ciok yang enggan perintahnya dibantah orang, meski merasa takut2, akhirnya ia pegang juga goloknya dan berkata: “Jika begitu, harap maaf atas kesembronoanku.” Habis berkata, seperti sungguhan, ia ayunkan goloknya, tapi tidak lantas dibacokkan.

“Hayo lekas! Bacok yang keras, memangnya kau anggap aku tidak mampu menghindari seranganmu?” omel Oh-ciok.

“Baik ……. Baiklah! Hamba akan membacok!” kata Toh Bong sambil pejamkan mata goloknya lantas dibacokkan.

Menunggu mata golok baru saja menyamber tiba, cepat sekali Oh-ciok menggunakan kedua jarinya untuk menjepit berbareng lantas didorong kedepan, kontan Toh bong jatuh terjengkang dan batok kepala belakang terbentur benjut.

Toh bong merangkak bangun, dengan rasa malu dan mendongkol ia berkata: “Hamba memang tidak becus, tapi entah mengapa Totiang bergurau dengan hamba?”

“Hm, baru sekarang kau tahu sendiri kepandaianmu tidak becus?” jengek Oh-ciok. Terus terang kepandaian anak dara ini tidak dibawahku, dibagian utara sini banyak pula kawan2 baik ayahnya, jika kau yang menggiring dia ke Hui-liong-san, apakah ditengah jalan tak bakal terjadi apa2? Hm, untung sekarang kau Cuma jatuh terjungkal saja, tapi kalau terjadi apa2 atas diri anak dara ini, mungkin alat makan nasimu juga sukar diselamatkan.

Wajah Toh Bong menjadi merah, katanya dengan malu2: “Ya, ya, kiranya Totiang bermaksud baik menjajal kepandaianku. Baiklah, sekarang juga hamba kembali lebih dulu untuk menyampaikan berita kedatangan Totiang.”

“Ya, lekas kau berangkat dulu,” sahut Oh-ciok. Dalam hati Toh Bong menggerutu karena merasa dirinya telah dipermainkan, ia menjadi dendam dan akan membalas sakit hatinya kelak bila ada kesempatan.

Mendengar apa yang dipercakapkan Toh Bong tadi, didalam kereta Giam Wan menjadi girang dan terkejut pula. Merasa girang karena mendapat kabar tentang kedatangan pamannya, yaitu Beng Siau-kang, dan terkejut karena mengetahui dirinya hendak digunakan sebagai alat pemerasan terhadap sang paman itu.

Pikiran Giam Wan menjadi kusut, ia pikir adik Bing-sia entah ikut datang bersama paman atau tidak. Mereka sudah berpisah empat tahun, entah Bing-sia pernah bertemu dengan Kok Ham-hi atau tidak?

Ia yakin pula sang paman pasti akan menolongnya bilamana mengetahui keadaannya, Cuma dirinya berada dalam cengkeraman musuh, paman tentu akan serba susah, bahkan mungkin akan membikin celaka padanya malah. Padahal urusan paman menyangkut pergerakan musuh negara yang maha penting, bila lantaran diriku hingga urusan menjadi runyam, maka dosaku sungguh tak terhingga besarnya.

Berpikir sampai disini tanpa terasa Giam Wan mencaci maki Oh-ciok lagi: “Tosu busuk, Tosu bangsat, kau menyombongkan diri sebagai ksatria yang tahu harga diri, tapi nyatanya kau adalah pengkhianat yang menjual negara. Hm, kau jauh lebih rendah dan kotor daripada kaum bandit yang paling jahat sekalipun.”

“Siocia, hatiku sendiri juga merasa kesal, hendaklah kau jangan memaki lagi,” kata Oh-ciok. Tapi Giam Wan ternyata masih memaki, akhirnya Oh-ciok menambahkan: “Siocia yang baik, jangan kau memaki lagi. Eh, apakah kau ingin kutinggalkan disini agar dimakan anjing hutan?”

Giam Wan menjadi melengak oleh ucapan Oh-ciok yang sungguh2 itu, ia pikir apa barangkali Tosu ini memang berlainan dengan Toh-cecu dari Hui-liong-san itu? Tapi mengapa dia menangkap diriku sesuai dengan kehendak Toh-cecu itu pula?

Karena merasa sangsi, pula kuatir benar2 ditinggalkan didalam hutan yang sunyi itu ,sedangkan dirinya dalam keadaan lemas lunglai. Tampaknya Tosu itu tidak terlalu jahat, daripada jatuh ditangan orang Hui-liong-san, maka Giam Wan tidak memaki lagi, sedikitnya kau mesti tahu betapa rendah jiwa seorang yang menjual negara dan bangsa.

Diam2 Oh-ciok merasa malu hati mendengar ucapan Giam Wan itu. Meski dia tiada hubungan baik dengan kalangan pendekar dan pahlawan, tapi pandangan kenegaraan dan kebangsaan toh masih ada didalam jiwanya, ia merasa perbuatan khianat memang harus dikutuk. Tapi dilain pihak iapun pernah hutang budi kepada Toh An-peng dan telah berjanji akan melakukan apapun yang dikehendaki Toh An-peng asalkan disuruh.

Begitulah roda kereta terus menggelinding kedepan, hati Oh-ciok Tojin juga terus berputar engikuti putaran roda. Sementara itu Hui-liong-san sudah makin dekat. Apa tetap menuju kesana? Demikian timbul keraguan Oh-ciok Tojin.

Setelah berpikir beberapa kali, akhirnya Oh-ciok Tojin mengambil keputusan tidak melanjutkan keretanya ke Hui-liong-san. Ia telah ambil ketekadan akan membujuk Toh An-peng agar menyadari kesalahannya, andaikan Toh An-peng takmau menerima nasehatnya, Oh-ciok rela mati sebagai balas budi kepada Toh An-peng, sedangkan nona Giam tidak boleh ikut menjadi korban.

Segera ia menyingkap tirai kereta dan berkata: “Nona Giam, ini obat penawar. Didalam botol situ ada air minum, silahkan minum obat penawar ini,” ~ katanya sambil menyodorkan dua biji pil. “Kau benar2 memberikan obat penawar padaku?” tanya Giam Wan tercengang.

“Jika kau sangsi boleh anggaplah racun saja, aku tidak paksa kau meminumnya,” ujar Oh-ciok. “Memangnya jiwaku tergenggam ditanganmu, kenapa aku harus takut kepada racun segala?” sahut Giam Wan. Tanpa pikir lagi ia terus telan kedua butir pil itu.

“Syukurlah kau dapat mempercayai aku, biarlah pedang ini kukembalikan sekalian,” kata Oh-ciok pula sambil mengangsurkan pedang yang dirampasnya dari sinona.

Setelah minum pil itu, Giam Wan merasa perutnya menjadi hangat, selang sejenak aliran darah teras lancar, tenaga mulai pulih. Se-konyong2 ia melolos pedang terus menusukkannya kearah Oh-ciok Tojin.

“Baik, jika kau ingin membalas dendam boleh terserah sesukamu,” seru Oh-ciok. Memangnya dia sedang merasa kesal karena tidak tahu cara bagaimana harus menghadapi antara budi dan benci kepada Toh An-peng. Sebab itulah ia tidak menghindari tusukan Giam Wan itu juga tidak berusaha menangkisnya.

Maka terdengarlah suara “crat”, pohon disebelah Oh-ciok Tojin terkutung sebatang rantingnya. Kiranya Giam Wan tidak menyerang sungguh2 kepad Oh-ciok melainkan Cuma memcoba kepandaian sendiri apakah sudah pulih atau belum.

Walaupun Oh-ciok tidak takut mati, tapi ketika pedang Giam Wan se-akan2 menyerempet lewat dilehernya tadi iapun terkesiap hingga berkeringat dingin.

Selamanya aku belum pernah dihina orang, mestinya aku harus binasakan kau untuk melampiaskan dendamku, tapi mengingat kau ada pikiran kembali kejalan yang baik, biarlah kuberi kelonggaran, semoga kau menjadi manusia baik2,” kata Giam Wan kemudian.

“Terima kasih, lekas kau pergi saja,” kata Oh-ciok.

“Dan kau sendiri? Bagaimana nanti setelah kau lepaskan diriku?” tanya Giam Wan. “Itu urusanku sendiri nanti, tak perlu kau pikirkan,” ujar Oh-ciok dengan hambar.

“Hm. Memangnya siapa mau pikirkan dirimu, hendaklah kau berbuat yang baik saja,” jengek Giam Wan sambil melangkah pergi.

Melihat arah yang diambil Giam Wan itu justru menuju Hui-liong-san, Oh-ciok Tojin tercengang da cepat berseru: “Nona Giam kau salah arah, harus menuju kesana!”

“Aku justru ingin kearah sana,” sahut Giam Wan tanpa menoleh. Kiranya dia memang sengaja hendak menuju ke Hui-liong-san untuk bergabung dengan Beng Siau-kang yang menurut cerita Toh Bong tadi besok juga akan tiba di Hui-liong-san.

“Aku suka kemana, kesitulah kupergi, kau tidak perlu ikut campur,” sahut Giam Wan dengan ketus. Mendongkol juga Oh-ciok Tojin, tapi setelah berpikir, ia merasa beralasan juga kalau sinona bersikap kasar padanya karena perbuatannya menawannya tadi. Cepat ia memburu maju dan berseru: “Nanti dulu nona Giam, dengarkan kataku.”

Namun Giam Wan hanya mendengus saja dan tetap meneruskan perjalanan kedepan. Tapi lantaran tenaganya baru pulih, pula ginkangnya juga tidak lebih tinggi daripada Oh-ciok, maka tidak seberapa lama dia sudah disusul oelh Tosu itu.

Dalam pada itu Kok Ham-hi yang mengikuti jejak roda kereta pada saat itu pula tiba dipinggir hutan dan sayup2 mendengar suara caci-maki Giam Wan tadi, ia bergirang dan kuatir. Cepat ia melompat turundari kudanya terus berlari kearah datangnya suara melalui jalanan yang licin.

Waktu Oh-ciok sudah hampir dapat menyusul Giam Wan dan baru hendak membujuknya agar putar arah, se-konyong2 dilihatnya seorang laki2 bermuka jelek sekali muncul didepan sana.

Sebenarnya Kok Ham-hi adalah seorang pemuda yang tampan, ketika mukanya kena disayat oleh thio Goan-kiat dulu, walaupun ketika itu darah bercucuran memenuhi mukanya, tapi karena luka baru wajah aslinya tidak berubah. Sebab itulah dalam ingatan Giam Wan kekasihnya itu masih tetap seorang pemuda yang ganteng dan cakap, sama sekali tidak menduga bahwa Kok Ham-hi kini telah berubah rupa sejelek itu.

Keruan Giam Wan terkejut juga ketika mendadak seorang laik2 yang amat buruk rupa muncul didepannya. “Siapa kau?” bentaknya. Karena jalanan licindan berlumut habis hujan, sedangkan larinya tadi rada kencang, dalam kejutnya melihat Kok Ham-hi, hampir saja ia jatuh terpeleset. Cepat Kok Ham-hi memegangi bahu sinona. Hatinya seperti ter-sayat2, pikirnya adik Wan ternyata tidak kenal padaku lagi, biarlah kubinasakan saja Tosu busuk ini, habis itu lantas kutinggal pergi, tidak perlu kukatakan siapa diriku.

Giam Wan tambah terkejut oleh pegangan Kok Ham-hi itu, dampratnya: “Kau mau apa?” Dalam pada itu Oh-ciok sudah memburu tiba, dengan gusar iapun membentak: “Kurang ajar,

biarpun Toh An-peng juga pakai aturan padaku. Kau ini orang apa, tanpa tanya padaku lantas berani merampas sinona dari tanganku?”

Kiranya Oh-ciok salah sanka bahwa Kok Ham-hi adalah orang suruhan Toh An-peng untuk menerima penyerahan Giam Wan dari tangannya seperti halnya Toh bong tadi.

Saat itu Giam Wan telah melepaskan diri dari pegangan Kok Ham-hi, ia merasa orang tidak bermaksud jahat padanya, bahkan orang seperti sudah dikenal, seketika ia menjadi ragu2 dan bingung, ia berdiri terkesima dipinggir situ.

Maklumlah,betapapaun mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, meski wajah Kok Ham-hi telah berubah, tapi kehalusan pandangannya, rasa mesra pada sorot matanya serta sedikit gerak gerik yang sudah biasa dilakukannya masih tetap dikenal oleh giam Wan.

Pelahan Kok Ham-hi mendorong kepinggir, habis itu mendadak ia mendelik dengan suara yang dibikin kasar ia membentak: “Aku adalah malaikat pencabut nyawa, Tosu busuk, terimalaha kematianmu!”

Berbareng itu kedua pihak lantas saling gebrak, yang satu dengan pukulan dahsyat, yang lain golok menyambar secepat kilat, kedua pihak sama2 gusar dan menyerang berbareng.

Oh-ciok terkenal dengan golok kilat, tapi betapa hebat tenaga pukulan Thian-lui-kang Kok Ham-hi, sebelum golok lawan mengenai tubuhnya, lebih dulu tenaga pukulannya sudah mendampar tiba laksana gelombang ombak samudra yang dahsyat. Terdengarlah suara ‘blang’. Oh-ciok Tojin tergetar mundur beberapa tindak oleh tenaga pukulan itu dan kebetulan bersandar pada sebatang pohon.

Namun Oh-ciok juga bukan jago empuk, begitu kebentur pohon, seketika tubuhnya terpental maju pula, kembali goloknya menyambar ke arah Kok Ham-hi. Untung bagi Oh-ciok Tojin, lantaran Kok Ham-hi terlalu lelah dalam perjalanan selama beberapa hari tanpa mengaso sehingga tenaga Thian- lui-kang jauh berkurang, karena itulah Oh-ciok tidak sampai terluka.

Walaupun begitu Oh-ciok sudah kapok juga merasakan tenaga pukulan lawan, Ia tidak berani menerima langsung lagi pukulan Kok Ham-hi itu, segera ia main lari kesana kemari, memutar kekanan dan kekiri, dengan golok secepat kilat ia menyerang dengan gencar. Tujuannya hendak membikin Kok Ham-hi tidak sempat melancarkan pukulannya yang ampuh.

Diam2 Kok Ham-hi mengakui juga akan ketangkasan Oh-ciok, pantas Giam Wan kena ditawan olehnya.

Ditengah sambaran sinar golok dan deru angin pukulan, tiba2 terdengar suara ‘brebet’ suara robeknya kain, kiranya lengan baju Kok Ham-hi terkupas sebagian oleh golok kilat lawan.

Giam Wan menjerit kaget, baru bermaksud maju, tiba2 terlihat Oh-ciok Tojin terdesak mundur ber- ulang2. Ditangan Kok Ham-hi ternyata sudah bertambah sebatang pedang, kiranya pada kesempatan hendak melolos pedangnya tadi, lebih dulu Kok Ham-hi mengebaskan lengan bajunya untuk memaksa mundur lawannya.

Dengan golok Oh-ciok ternyata mampu menabas sebagian lengan bajunya, dengan sendirinya Kok Ham-hi tidak berani memandang entang lawannya, begitu pedang terhunus segera iapun melancarkan serangan se-gencar2nya sehingga lebih cepat daripada permainan golok kilat lawan. Lantaran tidak dapat bertahan, terpaksa Oh-ciok main mundur ber-ulang2. Ditengah jerit kaget Giam Wan tadi mereka berdua ternyata sudah saling gebrak belasan jurus.

Jeritan Giam Wan itu telah mengunjuk rasa perhatiannya kepada Kok Ham-hi secara terbuka, keruan jantung Kok Ham-hi berdebar keras, pikirnya: “Apa barangkali adik Wan telah mengenali diriku. Kiranya dia masih menaruh perhatian penuh padaku.” ~ seketika itu semangatnya terbangkit. Memangnya Oh-ciok bukan tandingan Kok Ham-hi, kini Kok Ham-hi bertempur terlebih bersemangat, jurus serangannya bertambah lihai, tentu saja Oh-ciok menjadi kewalahan.

Ketika Giam Wan tenangkan diri, dilihatnya Kok Ham-hi telah mendesak Oh-ciok ketepi sebuah karang yang curam. “Sret-sret-sret”, ber-turut2 Kok Ham-hi menusuk tiga kali, tampaknya kalau Oh-ciok Tojin tidak terdesak jatuh kebawah karang tentu tubuhnya akan terkena tusukan pedang. “Ampuni dia, Kok-toako!” Seru Giam wan sambil melompat maju.

Saat itu ujung pedang Kok Ham-hi sudah mengacung didepan leher Oh-ciok Tojin, mendengar seruan Giam Wan itu, Kok Ham-hi tercengang, tapi iapun tidak tanya apa sebabnya sinona mintakan ampun bagi Tosu itu, segera ia putar haluan pedangnya dengan pelahan ujung pedang menotok pergelangan tangan Oh-ciok, ‘trang’, golok imam itu terlepas dari cekalan.

Sementara itu Giam Wan sudah berlari maju, katanya: “Ternyata memang betul kau adanya, Kok- toako! O, coba kulihat kepadaanmu!”

“Aku sudah berubah menjadi siluman yang buruk, kukira kau sudah tidak kenal padaku lagi,” sahut Kok Ham-hi dengan senyum getir. “Toako, tak perduli kau tetap cakap atau buruk, pendek kata aku tetap suka padamu,” kata Giam Wan dengan tegas. “Toako, kau tidak tanya padaku mengapa mintakan ampun bagi Tojin ini?

Soalnya dia boleh dikata tidak terlalu jahat.”

“Adik Wan, aku yakin kau pasti punya alasan sehingga mintaka nampun baginya. Biasanya aku selalu percaya padamu, buat apa mesti tanya lagi,” ujar Kok Ham-hi.

“O, jadi Toako masih tetap percaya padaku seperti dulu dan tetap suka padaku?” Giam Wan menegas. Saking girangnya iapun menangis, terus saja ia menubruk kedalam pangkuan Kok Ham- hi, kedua orang saling peluk dengan erat. Dalam pandangan Kok Ham-hi hanya terdapat Giam Wan seorang dan dalam pandangan GIam Wan juga Cuma ada Kok Ham-hi saja, terhadap segala sesuatu disekitar mereka hakekatnya tak dihiraukan lagi, mereka sama sekali lupa bahwa disamping mereka masih berada Oh-ciok Tojin.

Perubahan ini sungguh diluar dugaan Oh-ciok Tojin. Ia menjemput kembali goloknya dengan rasa serba slah, baru sekarang ia mengetahui bahwa lelaki bermuka jelek ini adalah kekasih giam Wan. Dengan tersenyum lega segera ia berkata: “Nona Giam, banyak terima kasih atas kelonggaranmu dan tidak dendam padaku lagi. Kini kau sudah temukan orang sendiri, aku tidak perlu kuatir lagi bagimu, aku ingin mohon diri saja.”

Baru sekarang Kok Ham-hi sadar bahwa Oh-ciok Tojin masih berada disebelahnya. Ia lantas tertawa dan berkata: “Tidak berkelahi tidak menjadi kenal, kenapa mestii ter-gesa2 pergi? Tadi aku telah salah paham dan bergebrak dengan kau, biarlah aku minta maaf padamu.” ~ Karena Giam Wan mengatakan Oh-ciok bukan orang jahat, makanya Kok Ham-hi bicara demikian.

Wajah Oh-ciok menjadi merah, katanya: “kau tidak bersalah, yang salah adalah aku. Tidak pantas aku membikin susah nona Giam, aku …… aku sebenarnya pantas mampus.”

“Ya, dia menawan diriku dengan dupa pembius dan bermaksud diserahkan kepada Toh-cecu di Hui- liong-san, tapi sekarang dia merasa menyesal, waktu kau datang tadi dia sedang memberikan obat penawar padaku dan membebaskan diriku,’ tutur Giam Wan.

Kok Ham-hi tertegun, ia pikir apa yang dikatakan Ciok-losam itu ternyata tidaklah dusta. Segera iapun tertawa dan berkata pula: “Setiap orang tentu pernah berbuat salah, yan gpenting harus berani mengakui kesalahan dan berani memperbaiki diri. Persoalan ini biarlah kita habiskan sampai disini. Kalau Totiang tidak menolak, kita masih dapat menjadi sahabat.”

Melihat kebesaran jiwa Kok Ham-hi, diam2 Oh-ciok merasa kagum. Katanya dengan menghela napas: “Banyak terima kasih atas penghargaanmu kepadaku tapi aku tak dapat memaafkan diriku sendiri. Yang harus disesalkan adalah dahulu mestinya aku tidak menerima budi kebaikan dari Toh An-peng dan sekarang aku terpaksa menjadi alatnya.”

Lalu ia menceritakan seluk-beluk hubungannya dengan Toh An-peng serta cara bagaimana dia menawan Giam Wan atas permintaan Toh An-peng.

“Apakah sekarang kau masih memikirkan utang budimu kepada Toh An-peng setelah tahu perbuatan khianatnya?” tanya Kok Ham-hi.

“Kiranya engkau sudah tahu juga perbuatannya,” ujar Oh-ciok dengan serba susah. “Memangnya sekarang aku sedang bingung dan tidak tahu bagaimana aku harus bertindak.”

“SAeorang laik2 sejati harus dapat membedakan antara benar dan salah, berani membuang yang jelek dan pilih yang baik, budi dan benci juga harus dibedakan dengan tegas. Orang yang khianat lebih rendah daripada binatang. Janganlah kita memikirkan sedikit utang budi dan melupakan persoalan yang lebih penting. Aku Kok Ham-hi selamanya suka bicara blak2an, apa yang ingin kukatakan kepada Totiang sudah kukatakan. Sekarang aku menjadi ingin pula minta petunjuk kepada Totiang.

“Banyak terima kasih atas kata2 emas Kok-heng, sungguh aku merasa malu,” ujar Oh-ciok. “Kok- heng ingin tanya apa padaku, asal tahu saja pasti akan kujelaskan.”

“Tadi kau bilang kuatir bagi nona Giam, entah kuatir mengenai urusan apa?” tanya Kok Ham-hi. “Hahaha, urusan ini sekarang kau tak perlu lagi merasa kuatir,” sahut Oh-ciok dengan bergelak tertawa. “Bila ada Kok-heng yang mengiringi nona Giam ke Hui-liong-san dengan sendirinya aku tidak perlu lagi kuatir bukan? Hanya saja tiada jeleknya bilamana kalian tetap berlaku hati2.”

“Di Hui-liong-san terdapat orang2 macam apalagi?” tanya Kok Ham-hi. “Konon jago2 bantuan yang diundang Toh An-peng tidaklah sedikit,” tutur Oh-ciok. “Setahuku dua diantaranya mungkin lebih sulit dihadapi.”

“Kedua orang siapa?” tanya Kok Ham-hi.

“Seorang adalah Yang Kian-pek, putra Yang thian-lui,” tutur Oh-ciok pula. “Orang ini belum pernah kukenal, tapi Yang Thian-lui terkenal sebagai jago nomor satu di negeri Kim, kepandaian putranya tentu tidak rendah juga.

“O, kiranya Yang Kian-pek juga sampai di Hui-liong-san?” kata Kok Ham-hi. “Aku malah pernah bergebrak dengan dia da cukup tahu betapa kepandaiannya. Rasanya aku tidak dapat mengalahkan dia, tapi juga tidak sampai dikalahkan oleh dia.”

“Dan seorang lagi bernama Pek Ban-hiong,” tutur Oh-ciok lebih lanjut. “Pada 20-an tahun yang lalu nama Pek ban-hiong sama terkenalnya dengan Tun-ih Ciu dikalangan Hek-to.

“O, bukankah Pek ban-hiong itu mempunyai anak laki2 bernama Pek Jian-seng?” Kok Ham-hi menegas.

“Benar,” sahut Oh-ciok. “Kiranya Kok-heng juga sudah tahu asal usuk mereka?”

“ketika di Oh-ciok-ceng pernah kubertempur dengan Pek Jian-seng,” sahut Kok Ham-hi. Tentang diri Pek ban-hiong kudengar dari Ciok-losam, hanya saja tidak sejelas apa yang diceritakan Totiang sekarang.”

Baru sekarang Oh-ciok menyadari pertemuan dengan Kok Ham-hi sama sekali bukan hal yang kebetulan.

Lalu Kok Ham-hi berkata pula dengan tertawa: “Diantara Ciok-si-sam-hiong, kiukira Ciok-lotoa paling jahat, sedang Ciok-losam cukup tulus dan jujur. Dia sangat kagum kepadamu dan memuji kau sebagai laki2 perkasa di dunia Hek-to. Terus terang kukatakan, mula2 akupun tidak percaya kata2nya itu. Kini setelah berkenalan dengan Totiang baru tahu jelas bahwa pribadimu memang sesuai dengan pujian Ciok-losam itu.”

Oh-ciok menjadi malu malah, sahutnya: ‘Ah, Ciok-losam suka me-muji2 diriku ber-lebih2an, mana aku sesuai disebut sebagai laki2 perkasa segala. Kalau Kok-heng dan nona Giam tidak memberi petuah2 yang berharga mungkin namaku akan hancur dan badanku lebur lantaran perbuatanku sendiri.”

Tiba2 Kok Ham-hi mendapat sesuatu pikiran, katanya: “Totiang, jika kau sudah sadar akan kekeliruanmu, aku menjadi ingin minta pertolongan padamu.”

“Kok-heng inginkan tenagaku, silahkan bicara saja,” kata Oh-ciok.

“Begini, harap kau tetap menggunakan kereta ini mengantar nona Giam ke Hui-liong-san, aku akan menjadi kusirmu pula,” kata Kok Ham-hi.

Seual Oh-ciok melengak, tapi segera ia tahu apa kehendak Kok Ham-hi itu, katanya kemudian: “O, jadi Kok-heng bermaksud menyusup ke Hui-liong-san dengan membonceng keretaku ini?” “Sungguh akal yang bagus!” seru Giam Wan dengan tertawa. “Toh An-peng pasti tidak menyangka akan hal ini. Oh-ciok Totiang, apakah kau suka membantu kami?”

Pertama Oh-ciok memang sayang kepada nama baik sendiri, apalagi dia telah tertipu oleh Toh An- peng secara tak sadar, kesalahannya ini perlu dibersihkan. Kedua, setelah mendengar nasehat2 Kok Ham-hi tadi, setelah mengalami pertentangan batin, kini ia dapat membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan negara bangsa yang harus diutamakan.

Sesudah memikir sejenak, dengan tulus akhirnya Oh-ciok berkata: “Baiklah, betapapun aku tidak sudi mengekor kepada kaum pengkhianat. Kok-heng,aku akan menurut kepada kehendakmu. Cuma akupun ingin mohon sesuatu, sebelum kau memberi hukum kepada Toh An-peng, hendaknya lebih dulu kau membujuknya agar mau kembali ke jalan yang benar, kalau dia tetap bandel, maka terserah kepada Kok-heng untuk bertindak sebagaimana mestinya.”

Kok Ham-hi tahu perasaan Oh-ciok, tentu karena hubungan persaudaraannya dengan Toh An-peng, betapapun hal ini menunjukkan jiwa ksatriaannya. Maka iapun mengangguk dan menjawab: ‘Baiklah, akan kulakukan seperti permintaanmu.”

“Tapi aku tadi telah bertemu dengan keponakan Toh An-peng dan tahu jelas aku tidak memakai kusir kereta, maka Kok-heng boleh menyamar sebagai kenalanku dari kalangan Hek-to yang kebetulan bertemu disini, lalu ber-sama2 menggabungkan diri ke Hui-liong-san,” kata Oh-ciok kemudian.

“Baiklah, menyamar apapun jadi asalkan dapat menyusup kesana,” sahut Kok Ham-hi.

Giam Wan sendiri sangat bergirang, katanya: ‘Kok-toako, tidak terduga hari ini dapat bertemu dengan kau. Paling lambat besok juga akan dapat berjumpa pula dengan Kuku (paman) Beng Siau- kang, seyang adik Bing-sia tidak diketahui berada dimana sekarang.”

“Aku pernah bertemu dengan dia,” tutur Kok Ham-hi dengan tertawa. “Setibanya di Hui-liong-san kaupun dapat berjumpa dengan dia.”

“Hah, apakah betul?” seru Giam Wan terkejut campur girang. “Dia juga mendatangi Hui-liong-san? Mengapa tiada bersama dengan ayahnya?”

“Ada orang lain yang menemani dia,” kata Kok Ham-hi. “Orang lain? Siapa?” tanya Giam Wan heran.

“Kau jangan lupa bahwa Bing-sia Cuma dua tahun lebih muda darimu, kini iapun seorang nona yang besar,” tutur Kok Ham-hi dengan tertawa. “Dia sudah punya pacar.”

“Aha, kiranya genduk ini sudah punya pacar, siapakah dia itu?” tanya Giam Wan. “Namanya Ci In-hong,” tutur Kok Ham-hi dengan tertawa. “Sungguh sangat kebetulan kalau

kuceritakan. Ci In-hong ini tiada lain adalah saudara seperguruanku,” ~ lalu iapun menceritakan pengalaman pertemuannya dengan Ci In-hong dan Bing-sia tempo hari.

“Adi kBing-sia telah banyak menolong kesukaranku, selama ini akau belum sempat mengucapkan terima kasih padanya,” ujar Giam Wan dengan tertawa. “Waktu kami berpisah dahulu, aku merasa tiada hari depan dan tidk ahu apakah dapat bertemu lagi dengan kau. Tidak terduga kini Bing-sia juga sudah punya pasangan. Semoga dia dan Ci-suhengmu itu dapat terjalin dengan kekal, inilah doaku baginya,” ~ habis berkata iapun melirik ke arah Kok Ham-hi dengan wajah semu merah.

Kok Ham-hi membalasnya dengan senyum manis penuh arti.

Begitulah kereta Oh-ciok Tojin itu melanjutkan perjalanan pula ke hui-liong-san dengan suasana penuh manisnya memadu kasih. Pada jalan lain yang juga menuju Hui-liong-san, dengan perasaan yang penuh bahagia Ci in-hong dan Beng Bing-sia juga sedang melarikan kuda mereka.

Kalau Giam Wan sudah terkenang kepada Bing-sia, maka Bing-sia juga sedang merindukan Giam Wan. Ketika hampir sampai di Hui-liong-san, pikirannya sangat mantap dan bersemangat, tapi juga rada kuatir. Katanya kepada Ci In-hong: ‘entah Kok-suhengmu itu dapat bertemu dengan piauciku tidak. Semoga di Hui-liong-san dapat berjumpa dengan mereka, begini barulah benar2 gembira semuanya.”

“Ya, semoga semua kekasih di dunia ini dapat terjalin menjadi suami istri,” kata In-hong dengan tertawa. “Cita2 ini pasti akan terkabul. Pikir saja penderiatan yang telah mereka alami,apakah Thian masih tega menyiksa mereka pula? Tentunya akan menyempurnakan perjodohan mereka.”

“Ah, macam2 saja kau,” kata Bing-sai. “Eh, aku ingin tanya sesuatu padamu. Coba katakan, cara bagaimana kita masuk ke Hui-liong-san, menerjang cara paksa atau menyusup kesana di malam hari?”

“Tidak perlu menerjang secara paksa juga tidak perlu main sembunyi2, masakah kau lupa bahwa aku adalah Sutit Yang Thian-lui?” sahut In-hong. “Meski aku telah mengkhianati dia, tapi urusan ini tak diketahui orang luar. Sampai saat ini aku masih pegang tanda kebesaran yang kuterima dari Yang Thian-lui, kukira tidak susah untuk menipu Toh An-peng.”

“Bukankah Toh An-peng ada hubungan baik dengan Yang Thian-lui?” tanya Bing-sia

“Benar. Tapi Yang Thian-lui takkan menceritakan urusan yang memalukan ini kepada Toh An- peng. Apalagi hubungan merekapun tidak langsung, kukira tidak sulit untuk mengelabui dia buat sementara saja.”

“Ya, betapapun kita harus masuk ke sana, baik cara halus maupun cara kasar,” kata Bing-sia. “Sebenarnya aku rada kuatirkan diri Nyo Wan. Mungkin kau tidak tahu bahwa kepergian nona Nyo ini adalah disebabkan kesalahan pahamnya kepadaku.”

“Aku tahu,” ujar In-hong dengan tertawa. “Maksudmu hendak mendamaikan kembali mereka suami istri dan juga demi untuk ketentraman hatimu.”

“Asal kau tahu saja,” ujar Bing-sia dengan wajah merah. “Coba kau pikir, ayahbunda nona Nyo sudah meninggal semua, di dunia ini hanya Li Su-lam satu2nya sanak keluarganya. Nasibnya sungguh harus dikasihani.

“Tapi mungkin dia tidak ke Hui-liong-san sini,” ujar In-hong.

“Biarpun dia salah paham terhadap Li Su-lam, tapi aku yakin dia takkan meninggalkan Su-lam dan pasti menyusulnya ke Hui –liong-san. Kini yang kukuatirkan adalah dia tertawan malah oleh Toh An-peng, hal ini tentu akan membikin susah kepada Li Su-lam.”

Terpaksa In-hong menghiburnya: “Orang baik tentu diberkahi bai, kau tidak perlu kuatirkan dia.” Dugaan Bing-sia dan In-hong ternyata tidak salah, Nyo Wan memang betul datang ke Hui-liong- san, bahkan ketemu suatu pengalaman yang kebetulann dan kini sudah menyelundup ketengah markas pegunungan Toh An-peng.

Sesudah Nyo Wan berpisah dengan putri Minghui dan suami-istri Akai, lalu ia melanjutkan perjalanan ke Hui-liong-san. Lantaran di tengah jalan Bing-sia ketemu urusan Yang Kian-pek sehingga memakan sedikit waktu, sebab itulah Nyo Wan berbalik mendahului didepannya.

Suatu hari Nyo Wan telah memasuki lembah pegunungan Hui-liong-san, maju belasan li lagi akan mencapai Sanceh 9benteng gunung buatan dari pagar kayu) Toh An-peng. Di mulut lembah gunung itu ada sebuah kedai arak yang diusahakan oleh anak buah Toh An-peng, hanya saja Nyo Wan tidak tahu akan hal ini.

Dalam keadaan menyamar sebagai lelaki kasar dengan wajah ke-hitam2an, wujud Nyo Wan rada mirip orang kalangan Hek-to. Saat itu Nyo Wan sedang merasa lapar dan haus, ketika melihat kedai ditepi jalan, tanpa pikir ia lantas berhenti untuk mengaso.

Di dalam kedai itu sudah ada tiga orang tamu, semuanya membawa senjata dan berbadan kekar. Seorang diantaranya agaknya sudah terlalu banyak minum arak, ketika Nyo Wan masuk kedai itu kebetulan mendengar orang itu sedang berteriak: “Keparat, sudah berada disini masakah kita masih kuatir? Betapapun panjang tangan Be-lotoa juga takkan mencapai tempat ini. Malahan setelah kita bertemu Toh-cecu, hmm, justru akan kuberi rasa kepada Be-lotoa kelak.”

Diantara ketiga orang itu, laki2 yang bicara itu sudah rada sinting, seorang lagi juga setengah mabuk, hanya orang ketiga yang masih sadar, maka orang ketiga ini coba membujuk kawannya agar jangan minum lebih banyak lagi dan jangan pula mengoceh tak keruan.”

“Hah, takut apa?” teriak orang tadi. “Disini adalah Hui-liong-san dan bukan Hwe-liong-nia, biarpun Be-lotoa disini juga aku berani bicara secara blak2an. Memangnya Be-lotoa itu apa? Bila kita memberikan semua keterangan tentang Hwe-liong-nia, masakah Toh-cecu takkan menerima kita?” “Ya, betapapun juga kita harus bicara dengan hati2, buat apa Goko (engkoh kelima) mesti ber- teriak2 supaya diketahui orang?” ujar orang pertama yang berpikiran sadar tadi.

“O, jadi kau takut didengar orang? Hm, berani bicara berani bertanggung-jawab, kenapa mesti takut? Hayolah minum lagi! Pelayan, tambah araknya!” begitulah orang yang sudah sinting itu ber- teriak2 pula.

Sampai disini jelaslah bagi Nyo Wan. Tempo hari waktu dia menyamar sebagai prajurit biasa di Long-sia-san, dia dinas jaga bersama seorang Thaubak tua dan sering pula mendengar cerita tentang kalangan Lok-lim dari orang tua itu. Katanya di Hwe-liong-san ada sebuah sanceh kecil. Cecu bernama Be Kim-siang, bertubuh pendek kecil, tapi ilmu silatnya tidak lemah, orang memberi julukan “Sam-jun-ting” (paku tiga dim) padanya.

Be Kim-siang mempunyai tujuh orang Thaubak, tiga diantaranya yang menduduki tempat kelima, keenam dan ketujuh itu berasal dari kelompok lain yang menggabungkan diri dengan mereka.

Karena merasa tempat kedudukan mereka dipencilkan, maka ketiga Thaubak ini merasa sirik terhadap empat Thaubak yang lain. Be Kin-siang sendiri juga tidak terlalu mempercayai mereka. Karena itu ketiga Thaubak ini diam2 pernah menghubungi Long-sia-san, tapi To Hong telah menolaknya dengan alasan halus demi kebaikan sesama orang Lok-lim.

Sanceh Hui-liong-san dibawah pimpinan Toh An-peng termasuk sebuah sanceh besar yang kuat dan berpengaruh, akhir2 ini banyak sanceh kecil disekitar Hui-liong-san telah dicaploknya satu persatu, hanya Hwe-liong-nia, sebuah bukit kecil saja, sebegitu jauh masih belum mau menyerah. Setelah mengikuti percakapan mereka, diam2 Nyo Wan menduga ketiga rang itu tentu sudah cekcok dengan Be Kin-siang dan kini hendak menggabungkan diri kepada Hui-liong-san.

Saking asyiknya Nyo Wan mendengarkan sehingga mendadak ia dipelototi sekali oleh orang yang berpikiran masih sadar tadi. Sedangkan laki2 yang mabuk itu mendadak menggebark menja terus bangkit, bentaknya terhadap Nyo Wan: “Kau bocah ini siapa? Kau berani mencuri dengar pembicaraan kami? Ini, kau kalau mau rasakan kepalanku!”

“Jangan sembrono, Goko, kau sendiri yang bicara dengan suara keras, mana boleh menuduh orang mencuri dengar?” ujar kawannya yang sadar itu.

Tapi orang mabuk itu lantas meninggalkan kawannya dan mendekati Nyo Wan, bentaknya pula: “Kenapa kau me-lirik2 aku, apanya yang menarik? Rupanya kau benar2 ingin mencicipi kepalanku!” ~ Berbareng itu ia pegang Nyo Wan terus menjotos.

Sudah tentu Nyo Wan tak bisa terpukul begitu saja, segera ia mengibaskan lengan bajunya sambil berkata: “Eh, Ong-cecu, selamat bertemu disini! Silahkan duduk dan terima suguhan arak dariku!” Ujung jari orang itu saja tidak menyentuh Nyo Wan, tahu2 tangannya sudah terbelit oleh lengan bajunya dan tak bisa berkutik, tanpa kuasa ia terus berduduk di kursi depan Nyo Wan.

Meski mabuk, tapi ditengah mabuk itu timbul juga pikiran jernih ketika mendadak ia terbetot duduk, dalam keadaan sinting, ia bertanya pula: “Kau siapa? Kenapa kenal aku?” ~ Kini telah diketahuinya bahwa kepandaian Nyo Wan jauh diatasnya, ia menjadi jeri dan bercampur senang pula sebab Nyo Wan memanggilnya sebagai cecu, padahal dia Cuma Thaubak nomor lima disuatu sanceh kecil.

Nyo Wan sembarangan memberikan suatu nama palsu, lalu berkata pula dengan tertawa: “Nama Ong-goya yang termashur, siapa yang tidak kenal? Cayhe pernah bertemu dengan Ong-goya, tapi lantaran Cayhe adalah kaum rendahan, dengan sendirinya Ngoya tidak ingat lagi padaku.” “Dimana dan kapan aku pernah bertemu dengan kau?” tanya Ong Ngo heran.

“Bukankah tahun yang lalu Ngoya pernah datang ke Long-sia-san? Terus terang, cayhe bekerja sebagai ‘ahli jugil’ (maling) sehingga tidak memenuhi syarat masuk kelompok Long-sia-san. Berkat lindungan seorang Thaubak she Pang disana, maka cayhe seringkali berkunjung kesana. Tentunya Ong-ngoya ingat kepada Pang Sin bukan?”

Pang Sin memang betul adalah Thaubak di Long-sia-san, dia yang menceritakan seluk-beluk gerombolan Hwe-liong-san yang pernah minta bernaung dibawah Long-sia-san, waktu Ong Ngo datang kesana secara rahasia, Pang Sin yang menerima kedatangannya.

Maka Ong Ngo lantas berkata pula: “Ya, tahu. Kiranya kita adalah teman sendiri. Nyo-heng sendiri berkepandaian begini tinggi dan ternyata juga tidak mendapatkan tempat di Long-sia-san. Cecu perempuan disana memang terlalu angkuh, tapi Pang-loyacu itu cukup simpatik sebagai sahabat.” “Dan tentunya Ong-goya masih ingat kepada diriku waktu kita bertemu di pondok Pang-loyacu tempo hari?” kata Nyo Wan.

“Ya, ingat, tentu ingat, memang kau inilah orangnya,” seru Ong Ngo. “Eh, Lakte, dan Jite, marilah berkenalan dengan Nyo-heng ini.”

“Thio-lakya dan Li-jitya juga sudah lama kukagumi nama kalian,” kata Nyo Wan.

“Terima kasih,” sahut Thio Lak, yaitu orang yang masih sadar tadi. “Tentang apa yang kami katakan tadi harap jangan engkau katakan kepada orang lain.”

“Lakya tidak perlu kuatir,” ujar Nyo Wan. “Terus terang, kedatangan Cayhe inipun hendak menggabungkan diri dibawah Toh-cecu. Sesungguhnya akupu ingin bicara blak2an dengan kalian, entah kalian suka atau tidak?”

“Silahkan Nyo-heng bicara,” ujar Thio Lak.

“Setahuku kalian bertiga adalah tulang punggung Hwe-liong-san, tapi orang she Be itu rupanya tidak menghargai kalian,” demikian kata Nyo Wan. “Setiap orang yang punya pambek tentu tidak sudi perlakukan seperti kalian. Maka cara kalian memisahkan diri sungguh aku sangat setuju.

Menurut pendapatku, kekuatan Hui-liong-san akhir2 ini sudah jauh melampaui Long-sia-san. Maka kalau mau, daripada Long-sia-san, ada lebih baik bila menggabungkan diri kepada Hui-liong-san saja.”

Nyo Wan sengaja mengumpak dan menyatakan simpatik kepada mereka, keruan ketiga orang merasa sangat senang.

Segera Ong Ngo berkata pula dengan tertawa: “ Nyo-heng, dengan kepandaianmu seharusnya kaupun pantas mendapatkan tempat yang layak. Bagaimana kalau kita ber-sama2 pergi ke Hui- liong-san saja,”

“Maksud memang ada,cuma sayang,tidak punya kenalan dan sukar masuk kesana,” ujar Nyo Wan. “Nyo-heng jangan kuatir, soal kecil ini kiranya aku masih dapat membantu kau boleh pergi kesana bersama kami, rasanya Toh-cecu takkan menolak kita,” kata Ong Ngo.

Pada saat itu tiba2 pelayan datang membawakan arak. Tapi ditengah nampan pelayanitu ternyata bukan berisi poci arak, sebaliknya tertaruh empat buah pelat kecil tembaga. Sekilas Ong Ngo melihat pelat tembaga itu berukiran naga terbang, meski dalam keadaan sinting, terkejut juga Ong Ngo, katanya dengan ter-sipu2: “Ini …..ini kau “

“Hahaha!” tiba2 dari dalam muncul sipemilik kedai arak itu dengan tertawa. “Ong-ngoya jangan kaget, maafkan bila aku terlambat menyambut kedatangan kalian.”

“Kau ?” tanya Ong Ngo tergagap.

“Cayhe adalah seorang bawahan Toh-cecu yang tidak berarti, kedai arak ini kubuka menurut perintah Toh-cecu pula,” sahut pemilik kedai.

Ong Ngo melengak, tapi segera iapun bergelak tertawa, katanya sambil memberi hormat: “Ah, kiranya kawan sendiri ketumbuk orang sendiri. Maafkan jika aku tidak mengenali saudara.” Pemilik kedai menjawab dengan tertawa: “Ah, kedatangan kalian justru kami sambut dengan gembira. Cuma untuk bisa mencapai markas Toh-cecu, rasanya kalian perlu diberi tanda pengenal, beberapa pelat tembaga ini kuberikan kepada kalian, bila dipos penjagaan kalian diperiksa tentu akan dapat melanjutkan dengan leluasa kalau kalian perlihatkan pelat tembaga ini.”

Kiranya kedai arak ini se-akan2 menjadi pos penyaringan bagi Hui-liong-san, setiap orang yang diketahui hendak pergi kesana harus diselidiki dulu oleh pemilik kedai ini. Kalau pengunjung tidak tahu peraturan ini dan tidak mendapatkan pelat tembaga berukir naga terbang itu, maka akibatnya banyak celaka daripada selamatnya.

Secara kebetulan Nyo Wan telah bertemu Ong Ngo bertiga dan kebetulan pula pemilik kedai itu melihat kepandaiannya yang tidak rendah itu, maka sipemilik kedai merasa tidak keberatan untuk memberikan pelat tembaga itu.

Benar juga, dengan tanda pengenal itu, Nyo Wan bersama ketiga orang dari Hwe-liong-nia itu dengan lancar dapat mencapai Hui-liong-san. Yang menyambut mereka adalah Hucecu Lo Cun, wakilnya Toh An-peng.

Setelah Ong Ngo menyatakan maksud kedatangannya, Lo Cun sangat senang dan menyatakan menerima maksud baik mereka dengan tangan terbuka, bahkan menjanjikan akan mencaplok Hwe- liong-nia dan bilamana berhasil tentu Ong Ngo yang akan ditugaskan memimpin Hwe-liong-nia untuk menggantikan Be Kim-siang.

Ong Ngo tahu Lo Cun adalah orang kedua di Hui-liong-san, maka urusan seperti mencaplok Hwe- liong-nia rasanya Lo Cun masih berhak untuk memutuskannya.

Ketika Nyo Wan juga diperkenalkan oleh Ong Ngo, Lo Cun menjadi melengak dan bertanya: “O, nYo-heng ini bukan berasal dari Hwe-liong-nia?”

“Nyo-heng ini adalah sobat-baikku,” kata Ong Ngo . “Kepandaiannya tidaklah rendah, maka aku sengaja mengajaknya kemari.”

Pertama karena Lo Cun sudah yakin Ong Ngo bertiga benar2 ingin menyerah kepada Hui-liong-san, pula pihak Hui-liong-san sendiri juga sedang memerlukan tenaga, maka iapun tidak bertanya lebih banyak tentang asal usul Nyo Wan. Katanya kemudian: “Baiklah, kedatangan kalian ini biarlah kulaporkan kepada Toh-toako nanti, beliau sedang mendampingi tamu agung.”

“Tamu agung? Apakah Lo-heng sudi menerangkan lebih lanjut?” pinta Ong Ngo.

“Karena kuanggap kalian adalah orang sendiri, biarlah kukatakan terus terang,” sahut Lo Cun. “Tamu agung itu bukan lain adalah putra Yang-koksu dari negeri Kim, Yang Kian-pek namanya. Yang-koksu Yang Thian-lui adalah sandaran kami yang terkuat. Nanti kalau urusan mereka sudah selesai dan ada tempo longgar, tentu kalian akan kubawa menemui beliau2 itu.”

Diam Nyo Wan terkejut mendengar Yang Kian-pek sudah berada disini, beberapa hari yang lalu Nyo Wan baru bertempur dengan Yang Kian-pek meski sekarang ia dalam penyamaran, tapi harus ber-jaga2 supaya tidak dikenali orang.

Dalam pada itu Ong Ngo menjadi senang karena Lo Cun berjanji akan membawanya menemui Toh An-peng dan Yang Kian-pek. Selagi dia hendak menyatakan terima kasihnya, tiba2 seorang Liaulo (anak buah) berlari masuk dengan membawa sebuah kotak kehormatan dan memberi lapor: “Ada dua tamu mohon bertemu dengan cecu, harap Jicecu memberi keputusan, apakah boleh menyilakan mereka masuk?”

Lo Cun mengerutkan kening, katanya: “Orang macam apakah mereka itu? Apakah mereka menyatakan harus bertemu dengan Cecu?” ~ Ia rasa kurang senang, sebab dia adalah orang kedua di Hui-liong-san, menerima tamu justru aalah tugasnya yang utama.

“Hamba kurang jelas,” sahut liaulo itu. “Ce-thaubak yang membawa mereka keatas sini, menurut keterangan Ce-thaubak, tampaknya kedua oran itu mempunyai asal usul yang tak dapat dipandang enteng. Silahkan Jicecu memeriksa isi kotak kehormatan ini dan tentu akan tahu siapakah mereka itu.”

Segera Lo Cun membuka kotak kecil itu, tertampak isinya selain kartu nama, ada pula sebuah Ci- kim-leng-hu (medali emas tanda kebesaran). Lo Cun terkejut, ia coba periksa Leng-hu itu dengan teliti, habis itu baru mengambil kartu nama dan dibacanya: “Ci In-hong.”

Nyo Wan menjadi terkejut juga, katanya dalam hati: “He, orang she Ci inipun datang kemari. Sebenarnya dia orang baik atau orang jahat?”

“Kedua orang itu sekarang berada dimana?” tanya Lo Cun kemudian. “Kartu nama ini hanya tercatat nama seorang saja, seorang lagi siapa namanya?”

“Ce-thaubak mengiringi mereka diruang tunggu,” sahut Liaulo tadi. :Seorang lagi adalah pemuda she Beng, seperti pengiring orang she Ci itu, makanya tidak memberikan kartu nama.”

Kembali Nyo Wan terkejut dan bergirang pula, ia yakin pemuda she Beng itu pasti samaran Bing- sia. Kalau nona itu mau datang bersama Ci In-hong, maka pribadi orang she Ci itu tidak perlu disangsikan lagi.

Terdengar Lo Cun memerintahkan Liaulo tadi menyuruh Ce-thaubak melayani dulu tamunya dan urusan itu akan dilaporkan kepada Toh-cecu. Dengan cepat Liaulo itu mengiakan dan berlari pergi. “Ci-In-hong? Nama ini seperti sudah terkenal “ gumam Ong Ngo kemudian.

“Memang betul,” ujar Lo Cun. “Ci In-hong ini adalah pembantu terkuat Yang-koksu, konon kepandaiannya tidak dibawah Yang-kongcu. Dari Ci-kim-leng-hu ini jelas dia memang Ci In-hong adanya, Cuma anehnya Yang-kongcu saat ini juga berada disini dan mengapa Ci In-hong juga datang kemari. Karena itu aku perlu lapor kepada Toh-cecu,harap kalian suka menunggu dulu dab silahkan mengaso saja dikamar tamu.”

Ong Ngo dan lain2 terpaksa mengiakan. Lalu denganter-gesa2 Lo Cun mohon diri.

Diam2 Nyo Wan merasa tidak tentram. Ia pikir Ci In-hong pasti tidak tahu Yang Kian-pek juga berada di Hui-liong-san, makanya berani berlagak sebagai pembantu Yang Thian-lui. Tapi bila Yang Kian-pek melihat kartu namanya, dengan segera kepalsuannya itu akan terbongkar.

Dengan gelisah Nyo Wan merasa tiada sesuatu akal yang baik untuk membantu Ci In-hong berdua. Dalam pada itu Lo Cun sudah datang kembali.

“Apakah benar Ci In-hong dari negeri Kim yang datang itu?” tanya Ong Ngo.

“Benar sih benar,” sahut Lo Cun. “Cuma kedudukannya sekarang sudah berubah. Sebelumnya dia adalah Sutit dan orang kepercayaan Yang-koksu, tapi sekarang dia sudah khianat dan memusuhi Koksu. Keluarnya Yang –kongcu dari rumah kali ini justru hendak membekuk orang she Ci ini. “Hahaha, jika begitu, jadi orang she Ci itu telah masuk jaring sendiri?” ujar Ong Ngo dengan tertawa. “Sebagai orang baru, entah tenaga kami dapat digunakan?”

“Yang-kongcu pikir sementara ini tidak mengadu kekuatan dengan dia, tapi lebih baik mengadu akal.” Sahut Lo Cun. “Sebaiknya orang she Ci ini dibekuk tanpa mengeluarkan tenaga. Cuma apakah rencana Yang-kongcu dapat terlaksana atau tidak belum dapat diramalkan. Sebab itulah kita beramai harus siap siaga, jika secara halus tidak kena, segera kita gunakan kekerasan. Untuk itu kita perlu mengatur perangkap dan menyembunyikan beberapa jago pilihan dalam samaran sebagai pelayan, diwaktu perlu, serentak kita mengerubutnya dan menawannya hidup2. Dengan sendirinya jago2 pilihan ini harus orang yan gjarang muncul di kangouw agar tidak dikenal oleh orang she Ci itu.”

Ong Ngo bertiga merasa kepandaian mereka sesungguhnya masih cetek2 dan belum sesuai untuk disebut ‘jago pilihan’, maka mereka tidak berani sembarangan mengajukan diri. Kesempatan ini segera digunakan Nyo Wan untuk berkata: “Aku adalah seorang Be-beng-siau-cut (prajurit tak terkenal), tugas ini cocok bagiku. Cuma entah kepandaianku memenuhi syarat atau tidak.” “Betul,” timbrung Ong Ngo. “Kepandaian Nyo-heng tidaklah rendah, kalau Nyo-heng sudi membantu sungguh suatu kehormatan bagi kami bertiga.”

Ong Ngo sudah merasakan kepandaian Nyo Wan yang lihai, maka sedapat mungkin ia mendukungnya, sebab kalau Nyo Wan berjasa, sebagai orang yang membawanya kesini tentu akan ikut gemilang.

“orang yang diusulkan Ong-heng tentunya tidaklah keliru,” kata Lo Cun setelah melirik sekejap kepada Nyo Wan, tiba2 ia mengangsurkan tangannya kepada Nyo Wan.

Nyo Wan tahu maksud Lo Cun hendak berjabatan tangan untuk menjajal kekuatannya. Tapi ia tidak ingin tangannya dipegang orang, segera ia memberi hormat dengan merangkap kedua telapak tangan didepan dada dan berkata: “Banyak terimakasih atas penghargaan Jicecu kepadaku, sesungguhnya cayhe tidak berani terima.”

Ketika mengangkat tangannya tadi, ujung jarinya seperti tidak sengaja menyentuh telapak tangan Lo Cun, seketika tubuh Lo Cun terasa kesemutan, tanpa kuasa ia tergetar mundur dua langkah.

Kiranya “Lau-kiong-hiat” ditelapak tangan Lo Cun telah kena ditusuk oleh ujung jari Nyo Wan. Untung Nyo Wan tidak berniat menotoknya dengan tenaga berat, kalau tidak, tentu Lo Cun sudah roboh terguling.

Sebagai wakil Toh An-peng, dengan sendirinya Lo Cun juga tidak lemah, tapi hanya tersentuh jari saja lantas kecundang,keruan ia terkejut. Tapi segera ia bergerk tertawa, katanya: “Nyo-heng sungguh hebat, beruntung sekali kami mendapatkan orang pandai sebagai Nyo-heng.”

Kemudian Lo Cun membawa Nyo Wan dan Ong Ngo keruangan besar dan mencampurkan mereka dengan pembantu lain dengan pesan bila terjadi apa2 supaya mereka dapat turun tangan bantu membekuk Ci In-hong.

Memang betul waktu itu Ci In-hong telah datang dan diterima oleh Toh An-peng dengan kehormatan besar. Ia merasa senang dan mengira Toh An-peng dapat dikelabui, maka dengan senang ia dan Bing-sia memasuki ruangan pendopo, tiba2 dilihatnya diantara barisan Liaulo yang berjaga disamping ada seorang yang seperti sudah dikenalnya. Keruan ia terkejut, dengan pelahan ia menyenggol Bing-sia sehingga sinona juga melihat Liaulo penyamaran Nyo Wan itu. Bahkan ketika beradu pandang , sekilas namapk Liaulo itu mengedipkan mata.

Sungguh kejut dan girang Bing-sia tak terkatakan yakinlah ia bahwa Liaulo itu pasti Nyo Wan adanya. Ternyata setiba di Hui-liong-san, sebelum Toh An-peng ditemui malahan Nyo Wan yang hendak dicarinya sudah diketemukan lebih dulu.

Segera mereka berlagak seperti tidak terjadi apa2, mereka ikut Lo Cun memasuki “Ci-gi-tong”, ruangan pendopo, disitu sudah menunggu dua orang, seorang adalah laki2 kekar, seorang lagi sudah tua, beralis putih dan berhidung betet.

Laki2 kekar itu lantas berbangkit dan menyambut dengan tertawa: “Banyak terima kasih atas kunjungan Ci-heng, maafkan bilamana kami tidak menyambut sepantasnya.”

Tahulah Ci In-hong orang itu adalah Toh An-peng, dengan tertawa iapun menjawab: “Ah, sama2 orang sendiri, harap Toh-cecu jangan sungkan.”

“Benar,” ujar Toh An-peng, mengingat hubunganku dengan Supekmu, memang kita adalah orang sendiri. Silahkan duduk, marilah berkenalan.”

Kemudian Toh An-peng tanya diri Bing-sia, lalu memperkenalkan siorang tua berhidung betet tadi, kiranya orang tua itu adalah Pek Ban-hiong.

Ci In-hong terkejut, ia pernah mendengar Pek Ban-hiong itu adalah tokoh Hek-to terkemuka, namanya sama termashurnya dengan Tun-ih Ciu. Konon dulu pernah dikalahkan To Pek-seng, lalu mengasingkan diri. Diam2 ia prihatin dan waspada dengan hadirnya Pek ban-hiong disitu.

Segera In-Hong mengucapkan kata2 yang menghormat dan kedua pihak sama2 menyatakan sudah dan saling kagum.

“Sama2 orang sendiri, tidak perlu sungkan2,” ujar Toh An-peng dengan tertawa. “Marilah duduk dan minum2 dulu.”

Seorang Liaulo lantas membawakan beebrapa cangkir the dan ber-turut2 ditaruh didepan Ci In-hong

, Beng Bing-sia, Toh An-peng, Pek Ban-hiong dan Lo Cun. Melihat caranya yang kelewat hati2 itu menimbulkan kesan bahwa Liaulo itu terlalu berlebihan.

Kiranya kedua cangkir the yang disuguhkan Ci In-hong dan Beng Bing-sia itu telah diberikan racun “Soh-kut-san” (bubuk pelepas tulang), Liaulo itu adalah penyamaran orang kepercayaan Toh An- peng, sikapnya yang terlalu hati2 bukan takut air the itu tercecer, tapi takut kalau2 keliru taruh cangkir2 the itu.

Begitulah segera Toh An-peng mendahului mengangkat cangkir dan menyilahkan para tamu minum. Bing-sia menjadi ragu2, ia pandang Ci In-hong, ternyata In-hong anggap biasa saja dan segera angkat cangkirnya.

“Ehmm, harum sekali the ini!” kata In-hong sembari menempelkan cangkir kedepan hidung, tapi tidak lantas diminum.

Bing-sia tergerak hatinya, segera iapun meniru, iapun angkat cangkirnya dan tidak lantas diminum. “O, the ini adalah tumbuhan istimewa di Hui-liong-san sini, paling enak kalau diminum hangat2, maka silahkan kalian minum dulu, sebentar kita minum arak lagi,” kata Toh An-peng.

Pada saat itulah tiba2 terdengar suara orang berbatuk satu kali, suara batuk yang aneh. Kiranya suara batuk itu datang dari Nyo Wan. Ketika dilihatnya Yang Kian-pek tidak berada disitu, segera ia menduga Toh An-peng pasti memasang perangkap lain untuk menjebak Ci In-hong. Maka ketika melihat pula In-hong dan Bing-sia hendak minum the yang disuguhkan, segera ia menduga didalam air the itu pasti ada sesuatu yang tidak beres, cepat ia berbatuk satu kali sebagai peringatan kepada Ci In-hong. Lantaran waktu itu perhatian semua orang sedang dicurahkan atas diri Ci In-hong berdua, maka tidak banyak yang mengetahui siapakah yang mengeluarkan suara deheman keras itu. Padahal In-hong dan Bing-sia memang juga sudah menaruh curiga, maka ketika mendengar suara batuk itu, Bing-sia pura2 terkejut sehingga cangkir the yang dipegangnya terjatuh. Dan pada saat cangkir itu hampir jatuh dilantai, dengan cepat Ci In-hong mengebas lengan bajunya sehingga cangkir itu kena disambar.

Jadi cangkir itu tidak sampai jatuh pecah, tapi is cangkir lantas muncrat ke atas dan berceceran terguncang oleh kebasan baju Ci In-hong itu, ceceran air the yang berhamburan itu laksana air hujan kebetulan jatuh didalam cangkir Toh An-peng dan lain2. Tidak perlu diterangkan lagi, jelas Ci in- hong sengaja mempelihatkan kepandaiannya yang luar biasa itu.

Bing-sia sendiri juga pura2 gugup dan minta maaf kepad tuan rumah, sedang Ci In-hong juga pura2 mengomeli kawannya yang dianggap masih hijau itu.

Toh An-peng tahu tipu muslihatnya telah diketahui lawan, katanya dengan menjengek: “ Hm, mungkin kalian tidak sudi minum the suguhanku bukan?”

“Ai, bagaimana Toh-cecu bicara demikian, kitakan orang sendiri, kenapa tidak sudi minum segala? Hayolah silahkan minum, silahkan!” sahut In-hong.

Kalau tadi Toh An-peng yang menyilahkan mereka minum, sebaliknya sekarang malah Ci in-hong yang menyilahkan tuan rumah minum. Keruan Toh An-peng menjadi serba runyam dan tak dapat menjawab.

Saat itu Yang Kian-pek sedang mengintip di ruangan dalam, dilihatnya Ci In-hong berdua tak dapat dijebak dengan racun dalam the, ia pikir terpaksa harus pakai kekerasan. Segera ia melangkah kelar dan menegur dengan ketus: “Ci In-hong, aku harus puji keberanianmu datang kesini, marilah kita bicara secara blak2an saja.”

“Benar, benar, kalian adalah saudara seperguruan bicara saja secara baik2 dan semua urusan akan menjadi beres,” ujar Toh An-peng.

“Kau ingin bicara apa?” sahut In-hong dengan tidak kalah ketusnya. “Untuk apa kau datang kesini?” tanya Yang Kian-pek.

“Dan kau sendiri untuk apalagi datang kesini?” balas In-hong.

“Ci In-hong, kau tidak perlu berlagak pilon,” kata Kian-pek. “Kini kau sudah jatuh didalam cengkeraman kami, jika kau bersedia menggabungkan diri kembali ke pihak kami, maka kita akan tetap menjadi suheng dan sute.

“Haha, sungguh aku tidak paham maksudmu,” sahut In-hong dengan terbahak. “Coba kau jelaskan dulu apa kerjamu dengan Toh-cecu disini sehingga merasa perlu menarik kami ke pihakmu?” ~ Ia tidak bermaksud lantas bertempur, maka sengaja mengulur waktu sebisanya.

Dalam pada itu Toh An-peng telah mengisiki Lo Cun agar menyelidiki suara batuk tadi dikeluarkan oleh siapa.

Pada waktu kedua pihak sudah mulai tegang dan siap tempur, sedang Lo Cun juga sudah mendekati Nyo Wan dan lain2, baru saja dia akan mulai tanya, tiba2 terdengar suara kereta berlari tiba dan berhenti tepat di depan ruangan pendopo itu.

“Oh-ciok Tojin tiba!” segera beberapa penjaga berteriak.

Rupanya Toh bong yang mestinya kembali dulu ke Hui-liong-san, karena dia jatuh terbanting, tulang pinggulnya keseleo, untuk naik kuda sakitnya tidak tertahan, terpaksa jalan kaki, sebab itulah Oh-ciok Tojin malahan sampai lebih dulu di tempat tujuan. Dan sebagai saudara angkat Toh An- peng, dengan leluasa Oh-ciok menghalau keretanya sampai di depan Cip-gi-tong.

Begitulah dengan girang Toh An-peng dan Lo Cun menyambut kedatangan Oh-ciok, urusan lain sementara menjadi dikesampingkan.

Oh-ciok lantas menyingkap tirai kereta, dengan berlagak garang ia membentak: ‘Siocia yang manis, turunlah kemari. Rasanya sudah cukup Toya meladeni kau selama ini.”

Giam Wan pura2 lemah untuk bergerak dan perlahan2 turun dari kereta dengan lagak takut2 dan gusar pula. Lo Cun bermaksud memajangnya, tapi Giam Wan lantas membentak: ‘jangan menyentuh aku atau aku lantas mengadu jiwa dengan kau!”

Dari Oh-ciok dapatlah Lo Cun mengetahui nona itu masih lemah karena diberi obat pelemas, maka iapun tidak perlu sangsi lagi, sebagai tanda menghormati ia benar2 menjauhi Giam Wan dan membiarkan nona itu berjalan sendiri.

Ketika melihat Kok Ham-hi, Lo Cun terkejut oleh wajahnya yang buruk itu, ia tanya Oh-ciok tentang diri Kok Ham-hi. Tapi kemudian iapun tidak mengusut lebih lanjut setelah Oh-ciok menyatakan Ham-hi adalah kawan dan pembantunya. Lalu bersama Oh-ciok dan Giam Wan mereka masuk ruangan pendopo.

Anak buah Lo Cun yang melayani Kok ham-hi menjadi rada sangsi menhadapi orang yang berwajah buruk, apalagi sikap Kok Ham-hi sengaja dibikin kaku. Ketika seorang Thaubak hendak membantunya membawa keretanya ke kandang, mendadak Kok Ham-hi mendelik dan berkata dengan ketus: “Tidak perlu, akan kujaga sendiri kereta ini.”

Dengan alasan demikian, diam2 Kok Ham-hi mengawasi juga keadaan di dalam Cip-gi-tong. Sudah tentu beberapa orang kepercayaan Toh An-peng menjadi curiga melihat gerak geriknya yang aneh itu, diam2 merekapun mengawasi Kok ham-hi, disamping itu beberapa orang lai njuga sedang mengawasi gerak-gerik Nyo Wan berhubung suara batuknya yang mencurigakan tadi.

Ketika di kelenteng kuno dahulu Nyo Wan pernah melihat wajah asli Kok Ham-hi, kini iapun dapat mengenalnya, ia menjadi terkejut dan bergirang pula.

Dalam pada itu Oh-ciok telah menggiring Giam Wan ke dalam pendopo dan berseru kepada Toh An-peng: ‘Toh-toako, inilah anak dara yang kau inginkan, maaf jika aku datang terlambat.”

Dengan girang Toh An-peng mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan saudara angkat itu dan menyilahkan duduk.

“Nona Giam tak perlu takut, kau sengaja kami undang kesini, asalkan kau suka menurut kata2 kami, tentu kau takkan dibikin susah,” kata Toh An-peng kemudian.

Saat itu pula Pek Ban-hiong sudah berdiri siap disebelah Ci in-hong, asalkan Ci In-hong sedikit bergerak saja segera ia akan turun tangan lebih dulu. Disebelah lain yang Kian-pek juga sudah melolos pedang dan sedang mengawasi dengan tajam.

Melihat pihak sendiri sudah siap siaga semua, Lo Cun merasa yakin Ci In-hong pasti tak dapat berkutik lagi. Segera ia mengundurkan diri untuk mengusut orang yang mengeluarkan suara batuk tadi.

Kemudian Toh An-peng berkata kepada Giam Wan dengan tertawa: ‘Nona Giam, mungkin Oh-ciok Totiang belum menceritakan maksud undanganku kepadamu, tapi soal ini boleh kita bicarakan nanti, sekarang boleh silahkan kau mengaso dulu kekamar dalam.”

“Apa maksudmu sebenarnya, aku lebih suka mati daripada terhina,” sahut Giam Wan dengan mendengus.

“Toh-toako,” Oh-ciok menyela, “Apakah kau ada tempo, aku ingin bicara sebentar dengan kau,” ~ Sembari berkata iapun mengedipkan mata sambil melirik kearah Giam Wan.

Toh An-peng tahu watak Oh-ciok Tojin, dengan tertawa ia menjawab: “Ya, memang urusan ini harus kubicarakan juga dengan Oh-hiante, marilah kita masuk kedalam, begitu pula nona Giam boleh silahkan masuk kedalam saja.”

Tampaknya Giam Wan hendak membangkang, tapi Oh-ciok lantas mendorongnya dari belakang sambil membentak: “Masuklah kesana, memangnya kau ingin diperlakukan dengan kasar?”

Bing-sia menjadi gelisah menyaksikan Giam Wan digusur masuk kedalam. Ia menjadi heran pula mengapa sang Piauci tidak mengenalnya lagi meski dirinya berada dalam penyamaran, bahkan melirikpun tidak kearahnya se-akan2 tidak mengetahui sama sekali berada dirinya disitu. Yang lebih aneh adalah sikap Giam Wan yang penurut itu, padahal biasanya Giam Wan bersifat keras. Ia tidak tahu bahwa apa yang terjadi itu justru adalah rencana yang telah diatur oelh Oh-ciok dan Giam Wan. Bila sudah masuk kekamar didalam, mereka berdua segera bertindak dan membekuk Toh An-peng, lau Oh-ciok akan membujuknya agar Toh An-peng mau insaf dan kembali kejalan

yang benar demi hubungan baik persaudaraan mereka. Kalau Toh An-peng tetap bandel, Giam Wan yang akan membereskannya.

Yang diketahui Bing-sia hanya Giam wan akan diperalat oelh Toh An-peng untuk memeras ayahnya, ia menjadi kuatir kalau Giam Wan sudah digiring masuk, tentu urusan akan menjadi tambah sulit. Dalam kuatirnya ia tidak dapat berpikir panjang lagi, serentak ia melolos pedang terus menusuk kepunggung Oh-ciok Tojin yang sedang berjalan kedalam itu.

Jurus serangan Bing-sia itu adalah ajaran keluarga Beng yang maha lihai, cepat lagi tepat, betapapun tinggi kepandaian Oh-ciok sukar baginya untuk menghindar.

Tampaknya tusukan Bing-sia itu sudah pasti akan kena sasarannya, mendadak Giam Wan yang berada disisi Tojin itu menggeliat kesamping, sebelah tangannya lantas membalik untuk memegang pergelangan tangan Bing-sia.

Kepandaian mereka berdua memangnya sembabat, soalnya Bing-sia tidak pernah menyangka sang piauci dapat menyerangnya, apalagi Giam Wan cukup kenal akan ilmu pedang Bing-sia, maka secara tak terduga duga Bing-sia kena dicengkeram oleh Giam Wan itu.

Keruan Bing-sia terkejut,serunya: “Piauci, akulah adanya!” ~ Belum habis ucapannya, tiba2 angin tajam menyamber dari belakang dengan cepat pedang yang Kian-pek telah menusuk punggung Bing-sia.

Rupanya Giam Wan kuatir Bing-sia melukai Oh-ciok Tojin, untuk berseru mencegahnya saat itu sudah tidak keburu, terpaksa ia turun tangan untuk merintangi serangan Bing-sia itu. Tak terpikir oelhnya bahwa saat itu musuh2 lihai juga sudah siap disamping dan serentak melancarkan serangan kepada Bing-sia.

Padahal saat itu tangan Giam Wan baru saja mencengkeram pergelangan tangan Bing-sia, seketika itu Bing-sia takbisa berkutik, apalagi buat menangkis serangan Yang Kian-pek. Keadaannya itu jauh lebih berbahaya daripada waktu Oh-ciok hendak diserang olehnya tadi.

Untunglah, pada detik terakhir, se-konyong2 terdengar suara ‘trang’ yang nyaring ditengah berkelebatnya sinar pedang dan bayangan golok, Yang Kian-pek tergetar mundur sambil memaki: “Kurangajar! Kiranya kau Tosu busuk ini adalah agen rahasia musuh!”

Rupanya Oh-ciok Tojin yang telah menangkiskan serangan Yang kian-pek itu dengan goloknya yang secepat kilat. Segera ia balas menjengek: “Hm, Yang Kian-pek, disini bukan istanamu, jika kau ingin berlagak tuan besar silahkan pulang kerumahmu sendiri. Disini bukan tempat bagimu untuk main gertak!”

“Hm, orang yang tidak tahu diri, mengapa kau membela orang luar dan mengkhianati Toh-cecu malah?” damprat Yang Kian-pek.

“Kau tuduh aku mengkhianati Toh-cecu? Hm, yang benar kau hendak menyeret Toh-toako kedlam jurang dan membikin dia tercemar demi keuntunganmu, memangnya kau kira kami tidak mengetahui muslihatmu yang busuk dengan bersekongkol dengan pihak Mongol?” jawab Oh-ciok dengan ketus.

”Dengarlah,Toh-cecu, bagus benar ucapan saudara angkatmu yang hebat ini,” seru yang Kian-pek kepada Toh An-peng. Sambil saling caci-maki, berbareng kedua orang telah saling gebrak beberapa jurus pula.

Sementara itu orang Toh An-peng sudah lantas menyerbu maju dan mengepung Bing-sia dan Giam Wan. Disebelah lain Pek Ban-hiong yang selalu mengawasi Ci In-hong juga sudah turun tangan.

Tapi Ci In-hong juga sudah siap, segera ia sambut pukulan lawan dengan Thian-lui-kang yang hebat “blang”, kedua tangan beradu dan mengeluarkan suara dahsyat.

Tenaga pukulan Ci In-hong yang hebat itu ternyata tidak emmpan, rasanya seperti mengenai segumpal kapas yang empuk. Menyusul mana, dengan cepat luar biasa tangan Pek Ban-hiong yang lain lantas mencengkeram pula kepundak Ci In-hong ‘bret’, kain baju Ci In-hong terobek, tapi Ci

In-hong keburu lolos dari cengkeraman musuh dan melompat kesamping, segera pedang dilolosnya. Baru bergebrak saja Ci In-hong sudah kecundang, ia menjadi terkejut dan diam2 mengakui kehebatan Pek Ban-hiong yang punya nama sejajar dengan Tun-ih Ciu. Tampaknya keadaan membahayakan jiwa Beng-tayhiap dan Li Su-lam tidak lekas datang. Walaupun begitu ia tidak menjadi gentar, I masih bertempur sekuat tenaga.

Sebaliknya Pek ban-hiong juga terkesiap, ia telah berlatih selama 20-an tahun dan jarang ketemu tandingan, ternyata anak muda dihadapannya sekarang tidak dapat dirobohkan olehnya, maka ia tidak berani memandang enteng lawan lagi, ia keluarkan segenap kemahirannya untuk melayani Ci In-hong.

Orang yang paling terkejut rasanya adalah Toh An-peng, betapapun ia tidak menyangka Oh-ciok Tojin bisa bergebrak dengan Yang Kian-pek, bahkan mengeluarkan kata2 seperti tadi. Maka segera ia tahu bahwa Oh-ciok Tojin telah mengkhianatinya. Tapi ia pura2 tidak paham dan berseru. “Eh, nanti dulu, Oh-hiante, mengapa kau berkata begitu kepada Yang-kongcu, bukankah nona Giam ini kau bawa kesini sesuai dengan permintaanku?”

“Toh-toako,” sahut Oh-ciok, “dari Toh Bong sudah kudengar perkara yang sebearnya. Jelek2 kita terhitung laki2 terhormat dikalangan Lok-lim, mana boleh menggunakan cara licik demikian dengan menggunakan seorang nona kecil begini sebagai tameng?”

“O, kiranya kau tak setuju kepada tindakanku?” tanya Toh An-peng.

“Benar,” sahut Oh-ciok. “Segala apa boleh kita lakukan, hanya mengekor kepada kaum tartar dan menjadi begundalnya inilah yang tidak boleh. Toh-toako, sesungguhnya engkau adalah tokoh Lok- lim yang paling gilang gemilang, buat apa engkau mesti mengekor kepada orang lain dan terima dijadikan alat? Harap kau suka berpikir lagi lebih matang?”

“Urusan ini terlalu luas untuk dibicarakan, biarlah kita rundingkan nanti,” ujar Toh-An-peng. “Sekarang kalian berdua boleh berhenti bergerak dulu.”

Mestinya Yang Kian-pek sangat gusar, tapi iapun cerdik ketika mendapat isyarat dari Toh An-peng, ia pikir dibalik kata2 Toh An-peng itu tentu ada rencana tertentu, coba saja cara bagaimana Toh An- peng akan membereskan Tosu busuk itu. Maka ia lantas pura2 ngambek dan melompat keluar kalangan pertempuran sambil mengejek: “Bagus, Toh-cecu, jika kau mau percaya kepada saudara angkatmu, aku orang luar, biarlah aku mohon diri saja.”

Pada saat itu juga Toh An-peng lantas mendekati Oh-ciok Tojin dan berkata: “Marilah kita bicara lagi didalam,” ~ Berbareng itu mendadak sebelah tangannya terus merangsang keatas pundak Oh- ciok dan tepat kena cengkeram tulang pundaknya.

“Liong-jiau-jiu” (cengkeraman cakar naga) adalah salah satu kepandaian Toh An-peng yang terkenal didunia persilatan. Bicara tentang kepandaian sejati sebenarnya dia masih bukan tandingan Oh-ciok Tojin. Tapi karena tulang pundak tercengkeram, betapapun tinggi kepandaian Oh-ciok juga sukar melepaskan diri,seketika tubuh terasa lemas lunglai.

Setelah berhasil mencengkeram Oh-ciok, segera Toh An-peng mencaci maki: “Keparat,percuma saja aku mengangkat saudara dengan kau, bahkan pernah menolong jiwamu, tapi sekarang malah membantu orang luar memusuhi aku. Coba katakan apakah kau tidak bersalah kepadaku? Hayolah, kalau kau ingin selamat, lekas kau minta maaf kepada Yang-kongcu dan berjanji didepan orang banyak akan tunduk kepada perintahku dengan demikian jiwamu mungkin dapat diampuni kalau tidak, hm, jangan kau salahkan diriku.”

Tidak kepalang gemas dan menyesalnya Oh-ciok Tojin, baru sekarang ia tahu betapa keji dan rendah perbuatan Toh An-peng. Terdorong oleh rasa gusarnya, tanpa pikir ia lantas menjawab: “Aku lebih suka mati dari pada berdosa kepada leluhur sendiri. Kau membunuh aku, silahkan turun tangan saja!”

“Hm, masakah begitu enak? Kau harus diberi rasa sedikit dulu! Jengek Toh An-peng sembari perkeras cengkeramannya sehingga tulang pundak Oh-ciokTojin berkeriutan. Lalu ejeknya pula: “Hm, kau suka anggap golok-kilatmu tiada tandingnya, sekarang kuremas tulang pundakmu hingga hancur, coba apakah kau masih mampu menggunakan golok?”

Melihat Oh-ciok Tojin telah kena dibekuk oleh Toh An-peng, Yang Kian-pek lantas bergelak tertawa, serunya: “Bagus, tindakan bagus! Tosu busuk ini telah kau tangkap, sekarang aku ingin tawan si nona cantik.” ~ Berbareng itu ia lantas mendekati Bing-sia.

Saat itu Bing-sia sedang bertempur melawan empat orang. Segera Yang Kian-pek membentak; “Mundur semua, biar aku sendiri yang melayani betina ini!”

Lalu iapun menerjang maju, katanya sambil cengar cengir: “Eh, nona Beng, biarpun kau menyamar, memangnya kau dapat mengelabui mataku?”

Gusar sekali Bing-sia. “Keparat yang tidak tahu malu!” dampratnya, ‘sret’, pedang lantas menusuk ke In-bun-hiat didada Yang Kian-pek.

“Keji benar ilmu silatmu!” seru Yang Kian-pek. “Ai, tega benar kau padaku, sungguh membikin hancur hatiku.”

Berbareng itu dengan mudah saja ia dapat mematahkan serangan Bing-sia itu, malahan ia mengejek pula dengan cengar cengir: “Ah, barangkali kau masih kenal kepada Jay-hoa-cat seperti diriku ini. Hehe, cuma sayang sekarang kau tidak punya sipelindung yang ganteng lagi.”

Sebenarnya ilmu pedang Bing-sia tidak dibawah Yang Kian-pek, walaupun tenaga kalah kuat, tapi sedikitnya dapat bertahan hingga beberapa puluh jurus. Namun dia telah terpancing marahnya, begitu bergebrak lantas bertemu jurus2 berbahaya, karena itu Bing-sia sendiri hampir2 kecundang malah. Sekarang iapun dapat merasakan kesalahan sendiri, lekas2 ia tenangkan diri dan menghadapi musuh dengan segenap perhatian. Biarpun begitu ia masih tetap terdesak dibawah angin.

Disebelah sana Giam Wan sendirian dikerubut oleh belasan orang, keadaannya jauh lebih buruk daripada Bing-sia.

Dalam keadaan diri masing2 sedang kerepotan dengan sendirinya Ci In-hong, Beng Bing-sia dan Giam Wan tidak sempat memberi bantuan kepad Oh-ciok Tojin. Tulang pundak Oh-ciok diremas oleh Toh An-peng hingga berkeriutan, sedapat mungkin ia mengertak gigi menahan rasa sakit, sedikitpun ia tidak mau merintih. Dalam hati ia sangat menyesal dan gemas, ia yahu sekali ini jiwanya pasti akan melayang dibawah ‘saudara angkat’ sendiri itu.

Selagi ditengah Cip-gi-tong terjadi pertarungan sengit, diluar sana jejak Nyo Wan juga sudah ketahuan, saat itu iapun sudah mulai bergerak dengan Lo Cun dan begundalnya.

Tadi setelah Lo Cun keluar kembali untuk mengusut siapa yang mengeluarkan suara batuk, dari beberapa anak buahnya diterima laporan bahwa Nyo Wan yang bersuara itu, maka diam2 ia mendekati nona dalam penyamaran itu, dengan pura2 penuh kepercayaan ia membisiki: “Didalam sudah mulai bergebrak, musuh tampaknya cukup lihai, marilah kita masuk kesana untuk membantu.”

Nyo Wan sudah siap sedia, memangnya ia sedang mencari jalan cara bagaimana masuk kedalam Cip-gi-tong, maka ucapan Lo Cun itu sangat kebetulan baginya. Segera ia menyatakan baik dan bersama Lo Cun melangkah ke-ubdak2an. Tapi baru dua tiga langkah, mendadak sebelah tangannya membalik, tujuannya hendak memegang pergelangan tangan Lo Cun.

Sebenarnya disekitar situ sudah banyak anak buah Toh An-peng, maksud mereka hendak menyergap Nyo Wan secara mendadak bila sinona sudah memasuki Cip-gi-tong, kini mendadak Nyo Wan turun tangan lebih dulu, dengan terpaksa orang2 itu pun ikut turun tangan sebelum waktunya. Dan untung juga bagi Nyo Wan, dia mendahului menyerang musuh sehingga terhindar dari serangan.

Begitulah Lo Cun yang juga cukup waspada itu sempat mengelakkan cengkeraman Nyo Wan itu, berbareng itu anak buahnya sudah menerjang tiba, beberapa senjata sekaligus menyerang kearah Nyo Wan.

Lo Cun segera memutar tubuh kembali, sebelah kakinya terus mendepak sambil membentak: “Keparat, kiranya kau adalah mata2 musuh!” ~ Depakan Lo Cun ini merupakan kepandaian yang diandalkannya. Dibawah serangan dari berbagai jurusan itu, rasanya sukar bagi Nyo Wan untuk menghindarkan salah satu serangan itu.

Tampaknya sedikitnya Nyo Wan pasti akan kena depakan Lo Cun jika tidak ingin terluka oleh senjata tajam, pada saat itulah tiba2 terdengar suara ‘trang-trang’ dua kali, sebilah golok dan sebatang pedang yang mengancam tubuh Nyo Wan itu tahu2 mencelat semua keatas. Kiranya Kok Ham-hi telah menyambitkan dua potong batu kecil sehingga senjata kedua musuh itu kena ditimpuk jatuh.

Karena itu, Nyo Wan sempat mendak tubuh dan menghindarkan depakan Lo Cun tadi, berbareng itu lengan bajunya lantas mengebas, tanpa ampun lagi Lo Cun kena disengkelit terjungkal kebawah undak-undakan.

Kebetulan Kok Ham-hi sedang memburu tiba, terus saja ia mencengkeram kuduk Lo Cun yang roboh kearahnya itu, segera ia angkat tubuh Lo Cun dan digunakan sebagai tameng darurat, bentaknya lantang: “Yang merintangi aku mati, yang menghindari aku hidup!”

Keruan Lo Cun ketakutan setengah mati, jangan2 senjata kawan sendiri mampir ketubuhnya dan itu berarti maut baginya. Lekas2 ia berteriak: “Lekas, lekas minggir. Beri jalan kepada ksatria gagah ini!”

Orang2 itu memang kuatir melukai Lo Cun sendiri, pula jeri melihat wajah Kok Ham-hi yang mengerikan itu, maka seruan Lo Cun itu sangat kebetulan bagi mereka, cepat2 mereka mundur kedalam Cip-gi-tong.

“Hahaha! Memangnya orang macam kau ada harganya kubunuh?” jengek Kok Ham-hi sambil memutar tubuh Lo Cun terus dilemparkan kebawah undak2an.

Habis itu Kok Ham-hi bersama Nyo Wan lantas menerjang kedalam ruangan pendopo. Kok Ham-hi melihat Oh-ciok Tojin berada dalam cengkeraman Toh An-peng, keadaannya kelihatan paling gawat, Giam Wan juga terkepung oleh musuh yang berjumlah banyak, tapi untuk sementara tampaknya masih sanggup bertahan.

Rupanya Toh An-peng juga tahu kedatangan musuh tangguh, baru saja ia hendak meremas lebih keras untuk menghancurkan tulang pundak Oh-ciok Tojin, mendadak Kok Ham-hi membentak: ‘Lepas tangan!” ~ Belum tiba orangnya pukulannya sudah dilontarkan lebih dulu dari jauh.

Karena guncangan tenaga pukulan itu, badan Toh An-peng tergetar miring, tenaga cengkeramannya menjadi kendur, kesempatan itu segera digunakan oleh Oh-ciok Tojin untuk memberosot kebawah sehingga terlepas dari tangan Toh An-peng.

Segera Oh-ciok balas membentak: “Toh An-peng, jiwaku boleh dikata baru lolos dari lubang jarum. Kau pernah menyelamatkan jiwaku satu kali dan sekarang sama pula kau telah embunuh aku satu kali, kedudukan kita menjadi satu sama satu, aku tidak utang lagi padamu. Sejak kini kita putus hubungan.”

Diam2 Toh An-peng menyesal tadi tidak binasakan saja Oh-ciok Tojin, tapi iapun tidak menjadi jeri karena jumlah pihaknya jauh lebih banyak, segera ia pegang senjatanya, sepasang gaetan baja, lalu mendengus: “Hm, tosu busuk, kau makan dalam dan bela luar, memangnya kita sudah tidak punya hubungan apa2 lagi. Apakah kau mengira akan mampu keluar dari sini? Hm, jiwamu masih tetap berada ditanganku biarpun kau mendapat bala bantuan.”

“Tapi jiwaku sekarang tidaklah gampang kau ancam lagi,” sahut Oh-ciok sambil menangkis kedua gaetan Toh An-peng.

“Biar aku ampuni kau sekali lagi, apakah kau masih tidak sadar?” bentak Oh-ciok.

Akan tetapi kesempatan itu digunakan oleh Toh An-peng untuk menyerang malah, gaetan kanan menyampok, gaetan kiri terus menarik sehingga perut Oh-ciok terluka. Sambil menahan rasa sakit, Oh-ciok menghela napas dan berkata: “Nyata matipun kau tidak mau sadar, terpaksa aku mengadu jiwa dengan kau.”

“Kini kau sudah mirip ikan tanpa air, kau masih ingin mengadu jiwa segala?” jengek Toh An-peng berbareng kedua gaetannya bekerja cepat sehingga golok Oh-ciok terkurung rapat.

Dengan permainan golok kilat Oh-ciok Tojin membacok dan menabas cepat luar biasa, terdengar suara ‘trang-tring’ yang nyaring mendering tak ber henti2. Akan tetapi golok Oh-ciok benar2 terkunci sukar terlepas dari rintangan sepasang gaetan lawan, asal ujung golok mencapai lingkaran senjata musuh tentu sudah terbentur balik.

Ditengah pertarungan sengit itu Oh-ciok mulai merasakan lengan kanan rada kemeng dan kaku, golok yang dia tabaskan lamban-laun menjadi kurang tenaga, lengan kanan itu seperti tidak mau tundauk kepada perintahnya lagi.

Kiranya ada sekerat tulang pundak kanan Oh-ciok itu menjadi cedera kena cengkeraman Toh An- peng tadi, setelah bertempur sekian lamanya dengan sengit,akhirnya terasa gangguan tulang pundak yang terluka itu.

Toh An-peng lantas mendesak dengan lebih kencang melihat lawannya mulai kendur permainan goloknya. Oh-ciok mengertak gigi, ia pindahkan golok ketangan kiri dan tetap bertempur mati2an. “Hm, apa gunanya kau bertempur mati2an begini jiwamu sebentar lagi juga akan melayang!” jengek Toh An-peng.

Sudah tentu tangan kiri Oh-ciok tidak leluasa sebagaimana tangan kanan, maka setelah belasan jurus lagi, keadaannya menjadi tambah payah. Diam2 Oh-ciok menyesal, mestinya tadi Toh An- peng dibereskan lebih dulu, tapilantaran hati tidak tega,akibatnya sekarang diri sendiri harus tertimpa bencana.

Disebelah sana, setelah Kok Ham-hi menyelamatkan Oh-ciok dari cengkeraman Toh An-peng tadi, ia lihat keadaan Giam Wan juga sudah gawat. Ia pernah bergebrak dengan Oh-ciok, maka tahu kepandaiannya cukup kuat untuk emlayani Toh An-peng dan tentu tidak gampang kalah dalam waktu singkat. Maka ia lantas memburu kesana untuk membantu Giam Wan.

Semangat Giam Wan menjadi terbangkit ketika melihat kedatangan Kok Ham-hi. Terdengar Kok Ham-hi menggertak keras laksana bunyi geledek. Secepat kilat iapun menerjang ke tengah kalangan, kedua telapak tangannya menghantam,kontan dua orang musuh roboh terguling.

DenganThian-lui-kang yang dahsyat, siapa yang berani menahannya pasti binasa, maka hanya sekejap saja Kok Ham-hi sudah merobohkan lima-enam orang musuh. Giam Wan sendiri juga berhasil melukai dua-tiga orang. Sisanya menjadiketakutan dan sama melompat mundur.

“Aku akan membantu Bing-sia, kau boleh membantu Ci-suheng,” seru Giam Wan setelah bebas dari kerubutan musuh itu.

Waktu memasuki Cip-gi-tong tadi Kok Ham-hi sudah memperhatikan pertarungan antara Ci In- hong melawan Pek Ban-hiong, ia tahu Pek ban-hiong pasti musuh terkuat di Hui-liong-san ini, kalau peertempuran berlangsung lamatentu Ci In-hong akan kecundang. Kini setelah ia menengok kembali kesana, benar juga dilihatnya Ci In-hong sedang terdesak mundur.

“Ci-heng, Lui-tian-kau-hong!” seru Kok Ham-hi kepada In-hong.

“Hm, Lui-tian –kau-hong apa?” jengek Pek Ban-hiong. “Kau siluman bermuka buruk ini apa bermaksud menggertak aku?”

Belum lenyap suaranya, se-konyong2 terasa suatu arus tenaga maha kuat mendorong tiba, ternyata Ci In-hong dan Kok Ham-hi ber-sama2 telah menggunakan Thian-lui-kang, dalam keadaan demikian, biarpun lwekangPek Ban-hiong amat tinggi juga sukar menahan pukulan dahsyat dari gabungan dua orang itu, seketika dada terasa seperti dipalu, darah bergolak dirongga dadanya, isi perutnya se-akan2 berjungkir balik.

Setelah In-hong dan Ham-hi memukul bersama dengan jurus “Lui-tian-kau-hong” (Kilat menyambar dan geledek menggelegar sekaligus), menyusul kedua pedang mereka lantas menusuk pul berbareng. Saat itu Pek ban-hiong belum lagi tenangkan diri, tahu2 terdengar suara “brat-bret” beberapa kali, kedua lengan bajunya ber-lubang2 kena tusukan pedang dan kain kecil beterbangan laksana kupu2.

Melihat lawan masih sanggup meyambut tusukan pedang mereka dengan kebasan lengan baju, mau tak mau Kok Ham-hi dan Ci In-hong harus mengakui kelihaian musuh, mereka tidak berani gegabah lagi.

Pek Ban-hiong tidakmalu sebagai seorang jago tua, ber-turut2 ia mundur delapan langkah,setiap langkah tentu daya serangan lawan dipatahkan sebagian, sampai langkah kedelapan, kuda2nya sudah cukup kuat untuk bertahan, segera ia lepaskan ikat pinggang kulit dan digunakan sebagai ruyung yang lemas, ia putar ikat pinggang itu dengan cepat untuk menahan serangan kedua lawan muda itu.

Thian-lui-kang terlalu banyak membuang tenaga murni, maka Kok Ham-hi dan Ci In-hong tidak berani terlalu sering menggunakannya,terutama mengingat lawannya terlalu tangguh bagi mereka. Hanya terkadang bila Pek ban-hiong tampaknya sudah mulai merangsak lagi, lalu mereka keluarkan pula jurus “Lui-tian-kau-hong” sekali lagi untuk mematahkan kegarangan musuh. Walaupun mereka berdua akhirnya menjadi diatas angin, tapi dalam waktusingkat sukar pula mengalahkan Pek Ban-hiong.

Disebelah sana Giam Wan telah menerjang kepungan musuh dan bergabung dengan Bing-sia. Semangat Bing-sia lantas bertambah, tiba2 dengan jurus “Tay-bok-koh-yan” (burung walet melayang ditengah gurun), secepat kilat pedangnya menusuk Yang Kian-pek, Giam Wan juga tidak tinggal diam, pedangnya berputar cepat sehingga bagian atas Yang kian-pek terkurung rapat. Cara bertempur Giam Wan ini merupakan kerja sama yan grapat sekali edngan serangan Bing-sia itu. “Hahaha, kembali seorang nona cantik lagi, wah, benar2 rejekiku tidak kecil,” seru yang kian-pek dengan tertawa. Belum lenyao suara tertawanya, sekonyong2 iapun menjerit kesakitan, ternyata pundaknya telah terluka oleh pedang Bing-sia. Untung tulang pundak tidak sampai cidera.

Ternyata ilmu pedang Giam Wan dan Bing-sia dapat bekerja sam dengan rapat sekali walaupun mereka bukan berasal dari satu perguruan, soalnya mereka sering mengadakan tukar pikiran dan saling belajar, maka bial dimainkan bersama mereka dapat bekerja sama dengan rapi. Sedang kepandaian Yang Kian-pek hanya setingkat diatas Bing-sia, kini dia harus melawan Giam Wan pula, dengan sendirinya ia menjadi kewalahan.

Sementara itu Thaubak pihak Hui-liong-san ber-bondong2 merubung tiba memenuhi Cip-gi-tong. Saat itu Toh An-peng sendiri sudah berada diatas angin melawan Oh-ciok Tojin, segera ia berseru: “Jangan kacau, tenang saja! Ting-tongcu,Lau-tongcu, kalian pilih beberapa orang lagi dan tinggal disini, yang lain2 mundur keluar ketempat semula.”

Ting-congcu dan Lau-congcu adalah dua Thaubak besar yang punya kepandaian cukup tinggi, ditambah lagi seorang jago silat she Lok dan seorang she Tun, berempat lantas ber-siap2 untuk ikut maju buat membekuk Oh-ciokTojin.

Tapi Toh An-peng merasa yakin akan kemenangannya, sudah tentu ia tidak sudi dibantu, segera ia membentak: “Lekas kalian membantu yang-kongcu. Sedang Lok-cianpwe dan Tun-toako silahkan membantu Pek-locianpwe, bekuk dulu kedua mata2 musuh itu!”

Kepandaian Lok Lam-ciang dan Tun Jit memang tidak lemah, begitu mereka ikut maju, kedudukan Ci In-hong dan Kok Ham-hi menjadi dua lawan tiga, segera mereka terdesak dibawah angin.

Disebelah lain, kedua ThaubakHui-liong-san tadi yaitu Lau Ban dan Ting Tiau juga sudah menerjang maju dan melacarkan serangan kepada Giam Wan dan Bing-sia. Meski kedua Thaubak itu bukan jago silat kelas tinggi, tapi terhitung lumayan juga. Senjata Lau Ban adalah golok besar dan berat, begitu dia membacok dan ditangkis oleh Bing-sia, “trang” lelatu api menciprat, diam2 Bing-sia terkejut dan mengakui besarnya tenaga lawan.

Dalam pada itu dengan cepat senjata Ting Tiau yakni ruyung beruas tujuh, dengan cepat juga menyabet kearah Giam Wan. Dengan gesit GiamWan menggeser kesamping, pedangnya juga lantas berputar terus balas menabas.

Dalam keadaan begitu, ruyung Ting Tiau menjadi mengenai tempat kosong, sebaliknya tabasan pedang Giam Wan tahu2 sudah menyambar tiba, kalau dia tidak lemparkan ruyungnya berarti jarinya akan terpapas oleh pedang sinona.

Untung baginya, pada detik berbahaya itu, terdengar angin tajam menyambar, dari samping Yang Kian-pek telah menusuk, katanya dengan tertawa: “Jangan terlalu garang, nona Giam, jangan lupa masih ada diriku ini!” Kepandaian Yang Kian-pek jauh diatas Ting Tiau, serangan itu sangat tepat dan memaksa lawan harus menyematkan diri lebih dahulu, maka ketika mendengar angin tajam menyamber dari belakang, terpaksa Giam Wan tarik kembali pedangnya buat menangkis.

Sedang bing-sia segera menggunakan kelincahannya untuk melawan Lau Ban yang diketahu bertenaga besar, ber-ulang2 ia memancing serangan lawan untuk kemudian mendadak balas menyerang dengan jurus yang mematikan. Suatu ketika, dengan gesit a menghindarkan bacokan golok Lau Ban yang hebat, menyusul ia terus menubruk maju, ujung pedang mengarah tenggorokan lawan itu.

Tapi kembali Yang Kian-pek dapat menyelamatkan kawannya, dengan cepat ia tinggalkan Giam Wan dan lagi2 dengan suatu jurus mematikan ia paksa Bing-sia harus menyelamatkan diri lebih dulu sehingga Lau Ban terhindar dari renggutan maut.

Merasa sudah diatas angin, Yang Kian-pek bergelak tertawa, katanya: ‘Hahaha, kedua nona cantik telah sudi datang sendiri kesini, masakah aku orang she Yang tega menolak, tentu saja akan kuterima dengan penuh kasih sayang. Kalian jangan takut, betapapun aku tidak tega mencelakai perempuan cantik, hanya saja kalian juga mesti tahu diri, turutlah kepadaku, buanglah senjata kalian, kan sayang jika wajah kalian yang cantik molek ini sampai cedera.”

“Mulut anjing manabisa tumbuh gading! Ini, rasakan pedangku!” seru Bing-sia, segera iapun melancarkan serangan.

“Benar, terhadap anjing galak hanya ada satu cara, binasakan dia!” SERU Bing-sia, Segera iapun melancarkan serangan.

Akan tetapi dengan bantuan Lau Ban dan ting tiau, kini Yang Kian-pek sudah diatas angin dia dapat melayani kedua nona itu dengan leluasa.

Di sebelah sana Nyo Wan juga sedang melabrak usuh, lawan2 yang dihadapinya hanya jago2 kelas rendahan saja, maka dengan tidak susah2 ia dapat erobohkan mereka, terdengar jeritan disana sini beberapa orang kontan terguling.

Melihat keadaan Bing-sia berbahaya, betapapun Nyo Wan tak bisa tinggal diam, segera ia menerjang kesitu.

Dapatkah rombongan Ci In-hong dan kawan2nya menyelamatkan diri dari kepungan musuh? Bagaimana dengan misi Li Su-lam dan Beng Siau-kang, rintangan apa yang akan mereka hadapi di Hui-liong-san ini?
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pahlawan Gurun Jilid 12"

Post a Comment

close