Pahlawan Gurun Jilid 05

Mode Malam
 
Jilid 05

Dengan berpegang pada titik harapan itu, Nyo Wan menjadi sangat mengharapkan bisa bertemu pula dengan si penjual golok untuk ditanyai se-jelas2nya. Maka cepat ia simpan kembali saputangan itu dan segera melanjutkan perjalanan ke barat.

Tidak jauh, tiba2 terdengar didalam hutan sana ada suara lari kuda yang ramai walaupun rada jauh. Ia heran mengapa malam2 begini masih ada orang lalu lalang dan mengapa pula tidak mengambil jalan besar, tapi menyusur hutan ?

Nyo Wan menduga besar kemungkinan adalah orang kangouw, karena rasa ingin tahu, segera iapun masuk kehutan itu untuk mengintai.

Ternyata rombongan pendatang itu sangat cepat tibanya, baru saja Nyo Wan masuk hutan sudah tampak belasan penunggang kuda mendatangi dengan cepat. Dengan terkejut lekas2 Nyo Wan sembunyi dibalik sepotong batu besar. Akan tetapi tempat itu kebetulan tandus, bayangannya yang tersorot oleh cahaya bulan sudah keburu dilihat oleh kawanan pendatang itu. Seorang diantaranya berpakaian perwira lantas membentak : “Siapa yang sembunyi disitu ? Lekas keluar !”

Ternyata yang diucapkan adalah bahasa Mongol. Rupanya rombongan ini adalah regu pengintai pasukan Mongol yang ditugaskan diwaktu malam sekaligus menjadi perintis bagi pasukan induknya yang sedang menyusup ke dalam wilayah Kim. Beitu perwira itu membentak, serentak belasan penunggang kuda itu menerjang ke tempat sembunyi Nyo Wan.

Merasa tak bisa kabur lagi, apalagi jumlah musuh hanya belasan orang, Nyo Wan lantas menampakkan diri, pikirnya kebetulan dapat merampas seekor kuda mereka.

Dalam pada itu dengan cepat sekali seorang penunggang kuda itu sudah menerjang tiba, kontan Nyo Wan mengaju tangannya, sepotong batu kecil lantas menyamber ke depan dan tepat mengenai Hiat-to di dada sasarannya. Tapi yang terdengar adalah suara “trang” yang nyaring, batu itu malah terpental jatuh ketanah. Kiranya prajurit itu memakai baju perang dari baja, dengan sendirinya timpukan batu Nyo Wan itu tidak membawa hasil. Walaupun begitu prajurit Mongol itu kesakitan juga dan hampir2 jatuh dari kudanya, karena tak bisa menguasai tali kendali, kudanya lantas lari kepinggir.

Menyusul dibelakangnya seorang lain lantas menerjang maju sambil berseru: “Awas, jangan meremehkan nona cilik ini!”

Dalam pada itu Nyo Wan telah mencabut goloknya sambil melompat kesamping, berbareng goloknya lantas membabat kaki kuda musuh. Senjata prajurit itu adalah tombak panjang, dari atas tombaknya menusuk kebawah, terdengar suara nyaring disertai letika api, ujung tombak orang itu kena dikutungi oleh golok pusaka Nyo Wan, tapi Nyo Wan juga tidak berhasil memotong kaki kuda lawan, sedangkan kuda itu tetap mencongklang ke depan.

Nyo Wan merasakan kesemutan juga tangannya dan diam2 mengakui beberapa lawan itu tidaklah lemah. Dalam pada itu kembali ada dua penunggang kuda menerjangnya dari kanan kiri, senjata2 yang mereka gunakan adalah tombak2 pula, sebaliknya Nyo Wan memakai golok pendek, meski tajam juga kurang menguntungkan. Apalagi musuh diatas kuda dan Nyo Wan ditanah, terang posisi demikian juga menguntungkan musuh.

Sementara itu kedua penerjang itu sudah mendekat, melihat gelagat buruk, terpaksa Nyo Wan menggunakan ginkang untuk meloncat se-tinggi2nya keatas dan secara tepat pada saat yang paling gawat dapat menghindar tusukan tombak lawan.

“Hebat sekali kepandaianmu, nona cilik!” perwira Mongol tadi memuji. “Tapi kaupun tidak perlu mengadu jiwa, kami tidak ingin membikin susah padamu, hanya ingin menanya kau saja.”

Mana Nyo Wan mau percaya. Dalam pada itu seorang musuh menerjang tiba pula. Ia pikir sekali ini harus kurobohkan dia. Mendadak ia melompat ke atas lagi, kembali ia menggunakan ginkang yang tinggi, prajurit mongol yang menerjang tiba ini terus ditubruknya, belum kakinya menginjak pelana kuda lawan goloknya sudah menabas lebih dahulu.

Diluar dugaan, selagi Nyo Wan menyerang, dari belakang iapun diserang. Belum lagi golok Nyo Wan mengenai sasarannya, tahu2 sesuatu benda menyamber dari belakang tubuh Nyo Wan sudah terjerat oleh tali laso.

Kiranya perwira Mongol itu adalah bekas pemburu yang mahir, kepandaiannya yang khas adalah menangkap binatang buas dengan laso. Dalam keadaan terapung diatas,keruan Nyo Wan tak bisa berkutik terjerat oleh laso itu.

Setelah jatuh ketanah, Nyo Wan meronta sekuatnya. Tak tahunya tali laso itu bukan tali tambang biasa, tapi adalah buatan kulit badak yang sangat kuat. Karen meronta2 dan tidak dapat melepaskan diri, akhirnya golok ditangan Nyo Wan juga terlepas jatuh.

“Jika kau berani menyentuh diriku, sekaligus akan kugugur bersama kau,” bentak Nyo Wan. Biarpun teringkus laso, namun Nyo Wan masih mahir Tiom-hiat dengan jarinya, maka bentakannya itu bukan hanya gertak sambel belaka.

Perwira Mongol itu berkata: “Jangan kuatir, kami takkan menggangu kau, orang mongol tidaklah sejelek sebagaimana kau pikir. Tapi kau harus mengaku siapakah kau ini, dari mana kau memperoleh kepandaian tinggi ini dan mengapa tengah malam buta berada disini?”

“Kau hanya ada dua pilihan, bunuh aku atau bebaskan aku, aku tidak sudi dipaksa mengaku,” jawab Nyo Wan.

“Bandel benar nona macam kau,” ujar perwira itu dengan tertawa. “Aku takkan membunuh kau, tapi akupun tak dapat membebaskan kau sebelum kau diperiksa.”

Perwira itu merasa sudah kenal muka Nyo Wan, Cuma dimana tidaklah ingat, maka ia sangat heran dan coba mendekati Nyo Wan. Sebaliknya Nyo Wan sudah bertekad akan mati, maka iapun tidak ambil pusing.

Sekilas perwira itu melihat saputangan yang terselip dipinggang Nyo Wan, tiba2 ia bersuara heran dan bertanya: “Darimana kau mendapatkan saputangan ini?”

Nyo Wan melengak, jawabnya: “Buat apa kau tanya hal demikian?”

Perwira itu merasa sangsi, ia tidak menjawab, tapi saputangan Nyo Wan itu dicukilnya dengan golok. Ketika dia memeriksa saputangan itu, dalam hati ia menarik kesimpulan: “Memang benar, saputangan ini adalah sulaman Kalusi sendiri.” ~ Segera ia balas bertanya: “Kau harus memberitahukan padaku, siapakah yang memberi saputangan ini padamu?”

Tergerak juga hati Nyo Wan, jawabnya: “Hendaklah kau beritahu lebih dulu, apakah kau juga memunyaio saputangan yang serupa ini?”

“Darimana kau mengetahui?” kata perwira itu terkejut. Cepat ia pun mengeluarkan sebuah saputangan dari bajunya, ternyata saputangan itu memang serupa dengan saputangan yang dimiliki Nyo Wan, sama2 tersulam sepasang burung merpati.

Melihat itu barulah Nyo Wan memberi keterangan: “Saputangan ini kuterima dari seorang nona Mongol bernama Kalusi. Dia mengatakan seluruhnya membuat tiga saputangan macam begini, sebuah diberikan tunangannya, sebuah disimpannya sendiri dan yang ketiga diberikannya kepadaku ini.”

Perwira itu terkejut dan girang pula, katanya: “akulah Akai, tunangan Kalusi. Bila dan dimanakah engkau ketemu dengan Kalusi? Mengapa dia memberikan saputangan ini padamu?”

Nyo Wan terkejut dan girang pula, sebab dari Kalusi telah diketahuinya pribadi Akai. Tapi ia sengaja hendak menjajalnya , maka sengaja tak menggubris pertanyaan Akai tadi dengan muka cemberut.

Akai seperti tersadar, cepat ia membuka ikatan Nyo Wan dan memberi hormat: ‘Maaf nona, sebelumnya aku tidak tahu bahwa nona adalah sobat baik kalusi.”

Maka berceritalah Nyo Wan tentang perkenalannya dengan Kalusi tempo hari. Akai terkejut, katanya: “O, kiranya adalah penolong jiwa Kalusi malah, sungguh aku terlalu sembrono.” ~ Habis berkata ia terus berlutut dan menyembah kepada Nyo Wan.

Nyo Wan tidak pantas membangunkan orang, terpaksa ia balas hormat dan berkata: ‘Kau bertindak menurut disiplin, akupun tidak menyalahkan kau. Tapi sekarang bolehkan kau membebaskan aku pergi?”

Akai ragu2 sejenak, katanya kemudian: “Aku tidak bermaksud menahan nona. Cuma, demi kebaikan nona, kukira jalanan ini tidak baik dilakukan oleh seorang perempuan. Oya, aku lupa menanyakan nama nona, mengapa datang kesini seorang diri? Bukankah nona tadi mengatakan punya seorang teman ketika menyelamatkan Kalusi tempo hari?”

Melihat Akai adalah seorang yang jujur, pula telah menanam budi padanya, rasanya Akai takkan membikin susah padanya, maka Nyo Wan merasa tiada jeleknya mencari keterangan kepada Akai tentang Li Su-lam. Maka dengan suara oelahan ia berkata: “Dapatkah kau minta pengiring2 mu menyingkir dulu?”

Akai tahu ada sesuatu yang hendak dibicarakan si nona, segera ia memberi tanda agar pengiring2nya menyingkir agak jauh. Lalu bertanya: “Adakah sesuatu yang hendak nona katakan padaku?”

“Sebagai tunangan Kalusi, aku percaya penuh padamu,” kata Nyo Wan. “Aku ingin tanya keadaan seorang padamu. Li Su-lam, pernahkah kau dengar nama ini?”

“Li Su-lam?” Akai menegas dengan terkejut. “Apakah orang yang kini menjadi buronan panglima perang kami?”

“Benar, tidak Cuma panglima perang kalian, bahkan Khan agung kalian juga hendak menangkapnya. Apakah kau tidak takut membicarakan soal orang ini?”

“Jangan kuatir,” jawab Akai sambil menepuk dada sendiri. “kau telah menyelamatkan Kalusi, biarpun jiwaku berkorban juga sukar membalas budi baikmu. Apa yang kau inginkan bantuanku, silahkan bicara saja, aku tidak takut akibatnya.”

“Aku bukan minta bantuan tanagamu, hanya ingin tanya kabar beritanya saja.”

“Aku Cuma mengetahui panglima telah menyebarkan perintah penangkapan dengan melukiskan gambar ini. Lebih dari itu aku tidak tahu.’

“Kabarnya Li Su-lam terpanah mati oleh ahli panah Mongol kalian yang terkenal, yaitu Cepe, apakah berita penting demikian juga tak kau dengar?”

“Hah, masakah ada peristiwa begitu? Tapi aku belum pernah dengar kabar demikian? Ah, kukira kabar ini tidk betul.”

“berdasar apa kau mengatakan tidak betul?” tanya Nyo Wan.

“Sebab kalau peristiwa demikian benar terjadi, tentunya panglima mengirim perintah lanjutan lagi tentang pencabutan perintah penangkapan buronan itu. Namun samapi saat ini aku tidak pernah menerima perintah apa2 dari atasamku.”

Sungguh girang Nyo Wan tak terkatakan, pikirnya didalam hati: “Hah, jika demikian besar kemungkinan engkoh lam masih hidup di dunia ini.”

Dan baru saja ia hendak mohon diri, tiba2 Akai berkata: “Jangan berangkat dulu , nona NYO.” Nyo Wan melengak, tanyanya: “Aku belum lagi memberi tahukan namaku, mengapa kau sudah tahu sekarang?”

“Soalnya perintah penangkapan buronan tidak Cuma LI Su-lam saja, tapi masih ada gambar buronan seorang lagi, yaitu seorang wanita muda she Nyo bernama Wan yang lari bersama Li Su- lam, sebab itulah aku lantas tahu siapakah nona ketika engkau menyebut namanya Li Su-lam.” “O, kiranya begitu,” kata Nyo Wan.

“Terus terang kuberitahukan, pasukan yang kupimpin ini adalah pelopor pasukan induk kami, kira2 besok pasukan induk kami sudah dapat sampai disini, bila kau melanjutkan perjalanan kedepan tentu akan ketemukan peperangan besar.”

“Jika betul begitu, ya, apa boleh buat,” ujar Nyo Wan.

“Tapi kalau nona ketemukan perwira2 pasukan kami yang kenal mukamu dari gambar, tentu mereka takkan melepaskan kau begitu saja. Nona telah menanam budi padaku, betapapun aku tiak bisa membiarkan nona menghadapi bahaya.”

“Lalu apa kehendakmu?” tanya Nyo Wan.

“Aku punya suatu usul, entah nona dapat terima atau tidak?” “Coba jelaskan dulu!”

“Dimanakah kampung halaman nona?” “Di suatu kampung diluar kota Kiciu.”

“Kiciu? Itukan suatu tempat yang terletak tidak terlalu jauh dari Taytoh?” “Ya, kira2 empat ratusan li dari taytoh.”

“Jika begitu soalnya menjadi beres. Nanti bila pasukan kami maju terus menyerbu ke Taytoh tentu pula akan melalui kampung halamanmu itu. Maka aku bermaksud minta nona sudi bergabung dulu didalam pasukanku ini, dapat nona menyamar sebagai laki2 dan menjadi pelayanku. Setiba di kampung halamanmu nanti barulaj kau meninggalkan pasukanku. Sebagai buronan, tentunya perwira2 kami tidak menyanka kau justru sembunyi ditengah pasukan mereka sendiri. Dengan demikian kuyakin nona akan dapat pulang dengan aman.”

Nyo Wan pikir dirinya ada kaum wanita, mana boleh bercampur dengan kawanan prajurit. Setelah ragu2 sejenak, akhirnya ia berkata: “Kukira kurang leluasa, bahkan sukar mengelabui mata telinga orang lain sehingga bocor rahasia diriku, akibatnya pasti akan bikin susah padamu.”

“Aku tidak sependapat dengan nona. Pertama aku hanya seorang Pek-hu-tiang (pemimpin seratus prajurit, kira2 sama dengan komandan kompi), kukira para panglima takkan mengontrol kedalam kemahku. Kedua, semua anak buahku adalah sesama suku dengan aku, terutama belasan orang yang mengelilingi aku ini adalah seperti saudara saja dengan diriku, mereka pasti takkan membocorkan rahasiaku. Ketiga, kau akan kuberi sautu tenda tersendiri bila berkemah. Dengan demikian kujamin kau takkan diganggu oleh anak buahku.”

“Aku percaya penuh padamu,” jawab Nyo Wan. ‘Cuma untuk menyamar kukira agak ” “Apa

sukarnya jika mau menyamar?’ ujar Akai.

Sebagai seorang bekas pemburu, rupanya Akai kenal macam2 rumput2an, segera ia mengajarkan Nyo Wan menggunakan air sejenis rumput untuk dipoleskan pada mukannya, lalu dipupuri dengan debu tanah, ketika Nyo Wan bercermin pada air sungai di tepi jalan, ternyata hampir tidak mengenal dirinya sendiri.

“nah, bagaimana, siapa yang dapat kenal kau lagi? Tentunya nona dapat menerima usulku bukan?” kata Akai.

Tiba2 hati Nyo Wan tergerak, ia teringat sesuatu, tanyanya: ‘Konon wakil panglima perang pasukan kalian ini adalah seorang Han, apakah betul?”

“Benar, orang ini bernama Li Hi-ko, seorang kepercayaan Khan, apakah nona Nyo kenal orang ini?”

“Tidak kenal. Soalnya jarang terjadi seorang Han bisa mendapat kedudukan begitu tinggi di tengah bangsa kalian, makanya aku heran dan bertanya. Apakah dia sekarang sudah ikut datang bersama pasukanmu?”

“Dia berada dalam pasukan induk dan baru akan sampai disini beberapa hari lagi,” jawab Akai tanpa curiga.

Keterangan ini membikin Nyo Wan merasa mantap. Ia pikir mati hidup Su-lam belum jelas, yang pasti sakit hatinya harus kubalaskan baginya. Bila kucampurkan diri ditengah pasukan mongol tentu akan ada kesempatan buat membunuh Li Hi-ko palsu alias Sia It0tiong itu. Setelah ambil keputusan demikian, lalu katnay kepada Akai: “Banyak terima kasih atas saranmu yang baik ini, terpaksa juga aku mesti minta perlindunganmu. Cuma aku masih ada permintaaan2 lain, semoga engkau dapat memaklumi keadaanku.’

“Nona adalah penolong kalusi dan dengan sendirinya juga penolongku, ada persoalan apa silahkan nona bicara terus terang saja,” jawab Akai.

“Begini,” kata Nyo Wan. ‘Pertama aku minta aku diberi kebebasan dalam hal menentukan pergi atau tetap tinggal dalam pasukanmu pada setiap waku. Jadi bila perlu setiap saat aku bisa pergi biarpun belum sampai di kampung halamanku.’

“Yang kuharapkan hanya engkau terhindar dari bahaya, soal kau ingin berangkat se-waktu2, ya , tentu aku akan memberi bantuan sepenuhnya.”

“Permintaanku yang kedua adalah nanti bila kalian berperang dengan pasukan kim, maka aku akan ikut maju di medan perang. Tapi kalau kalian sembarangan membunuhi rakyat jelata, hal ini kutentang se-keras2nya.’

“kalusi juga pernah berkata demikian padaku,” jawab Akai. “Terus terang kukatakan bahwa aku sendiripun anti perang, maka kau jangan kuatir, aku pasti takkan membunuh rakyat yang tidak berdosa.”

“Bicaramu yang blak2an harus dipuji. Tapi akupun ingin omong dimuka, meski negeri yang kalian serang adalah Kim, namun wilayah Kim yang luas itu adalah tanah air kami yang diduduki, sebagian besar rakyatnya juga bangsa Han kami, maka bukan mustahil pada suatu hari kita akan bertemu dimedan perang dan berhadapan sebagai musuh.

“Menyerbu negeri orang, membunuh rakyatnya, memangnya ini adalah salah kami. Tapi kami hanya taat kepada perintah atasan, taat pada Khan. Maka demi membalas budi kebaikanmu, biarpun kelak aku mati ditanganmu juga aku tidak menyesali kau.”

Dalam hati Nyo Wan merasa Akai ini termasuk orang Mongol yang bisa menerima nasehatnya, Cuma seorang hendak disadarkan dengan segera adalah urusan yang tidak gampang, dipaksakan juga percuma, biarlah kelak kalau ada kesempatan lagi akan diberi nasehat pula, demikian pikir Nyo Wan.

Begitulah setelah pembicaraan ini kedua pihak menjadi dapat saling maklum kesulitan masing2, Nyo Wan lantar terima juga saran Akai tadi dan menyamar. Sementara itu anak buah Akai sudah selesai mendirikan kemah. Ketika mereka melihat Nyo Wan berubah menjadi pemuda mereka ter- heran2. Maka Akai memberi penjelasan bahwa Kalusi pernah hutang budi kepada Nyo Wan, sekarang kebetulan mereka menuju ke arah yang sama, agar leluasa di tengah perjalanan, maka Nyo Wan disuruh menyamar sebagai laki2, hendaklah para anak buah itu menjaga rahasia ini.

Anak buah kepercayaan Akai itu kenal juga Kalusi, merekapun tahu Nyo Wan berilmu silat tinggi dan sangat mengaguminya, maka dengan serentak mereka menyatakan taat atas perintah Akai.

Kacung penjaga kuda Akai itu berusia enambelasan tahun, namun tubuhnya cukup kekar sehingga lebih tinggi sedikit dari Nyo Wan. Akai lantas suruh penjaga kuda itu mengambilkan seperangkat pakaiannya untuk Nyo Wan serta memberi pesan pula: “Selanjutnya kalian harus panggil Nyo- toako padanya dan dilarang panggil nona Nyo. Nah, sekarang silahkan Nyo-toako berdandan dulu ke dalam tenda, coba dulu pakaian itu cocok atau tidak. Tentang urusan2 lain akan kubicarakan pula dengan mereka.”

Melihat orang2 Mongol itu semuanya jujur dan tulus, diam2 Nyo Wan merasa lega dan bergirang. Pikirnya: “Apa yang dikatakan Akai memang tiak salah, di tengah orang Mongol terdpat juga orang baik. Padahal prajurit2 ini sebagian besar berasal dari keluarga rakyat jelata, mereka tidak menginginkan perang, mereka Cuma menuruti perintah pemimpinnya saja. Sungguh tidak nyana aku dapat menemukan suatu tempat berlindung yang aman disini, tapi engkoh Lam saat ini entah ter-lunta2 dimana? Dari keterangan Akai tadi telah terbukti apa yang dikatakan Toh Hiong itu sama sekali bohong, dengan demikian tentunya engkoh Lammasih hidup di dunia ini.”

Nyo Wan tidak tahu bahwa pada saat dia memikirkan Li Su-lam, pada saat yang sama Li Su-lam juga sedang mencarinya di kota kecil itu.

Hari itu dengan susah payah dapatlah Li Su-lam terlepas dari pengejaran musuh dan dapat melintasi perbatasan Sehe dengan selamat, akhirnya iapun tiba dikota kecil yang pernah disinggahi Nyo Wan itu.

Setiba disitu, urusan yang dilakukannya adalah mencari kabarnya Nyo Wan. Kota kecil itu adalah tempat yang mesti dilalui oleh kaum pengungsi yang melarikan diri dari Sehe, maka Su-lam pikir kalau beruntung Nyo Wan dapat menyelamatkan diri bukan mustahil nona itu akan dapat diketemukan atau diperoleh beritanya.

Begitulah setelah membersihkan diri, mulailah Su-lam mengadakan penyelidikan. Ia mendapatkan hotel yang paling besar di situ,pikirnya: “Bila adik Wan pernah melalui tempat ini, besar kemungkinan dia akan mondok di hotel besar ini.”

Dugaan Su-lam memang tepat. Hotel itu adalah tempat menginap Nyo Wan dan To Liong semalam sebelumnya. Waktu Su-lam tiba adalah lohor keesokan harinya dan To Liong belum lagi kembali ke hotelnya semalam, tapi demi melihat potongan Li Su-lam yang gagah, terpaksa ia melayani dengan hormat.

Kamar hotel mestinya sudah penuh semua, tapi ada sebuah kamar besar yang ditinggalkan tamunya semalam tanpa pamit, sekarang sudah mendekat lohor tamu itu masih belum nampak kembali.

Namun pemilik hotel itu masih ragu2 untuk disewakan kepada Li Su-lam, terpaksa ia menyatakan keadaan sebenarnya.

“Jangan kuatir,akan kuberi sewa kamar dua kali lipat, bila tamu lama kembali aku akan mengalah dan mencari hotel lain,” kata Li Su-lam.

Walaupun masih ragu2 dan rada takut terhadap penghuni kamar yang menghilang semalam, namun dasarnya manusia yang mata duitan, di-iming2 dengan sewa kamar dobel, pemilik hotel menjadi tertarik, apalagi Li Su-lam sudah berjanji akan mengembalikan kamarnya kalau penghuni semula pulang.

Sesudah selesai persoalan sewa kamar, lalu Su-lam tanya apakah ada tamu wanita muda di hotel itu. Rupanya pemilik hotel salah wesel, disangkanya Li Su-lam iseng mau cari “tukang pijat”.

“O, ada saja, mau yang bagaimana? Yang kurus, yang gemuk? Yang muda atau setengah tua?” tanya pemilik hotel.

Keruan Su-lam melengak, cepat ia menjawab: “Tidak, tidak, bukan itu maksudku. Tapi aku Cuma mencari keterangan seorang kawan perempuan pengungsi yang mungkin pernah lalu disini.”

“O, siapakah dia? Coba ceritakan, mungkin aku masih ingat tamu2 wanita yang pernah bermalam disini,” ujar pemilik hotel.

“Perempuan muda usia 20-an,” tutur Su-lam, lalu diuraikannya wajah dan dandanan Nyo Wan. Pemilik hotel terkejut mendapat penjelasan itu, ia ter-mangu2 bungkam, pikirnya dalam hati: “Kiranya yang dia tanya adalah bandit perempuan yang kabur semalam itu. Celakanya kamar yang kusanggupi justru kamar bandit perempuan itu. Apakah mesti keberitahu atau tidak?”

Selagi pemilik hotel merasa sangsi, segera Su-lam menyodorkan lagi sepotong perak seberat beberapa tahil, katanya: “Sedikit uang capek ini buat minumteh, harap kau terima dulu.”

Dasar pemilik hotel ini memang tamak, biarpun dimulut masih sungkan2, eh, tangannya sudah tidak kuasa lagi, potongan perak itu lantas sudah diambilnya. Katanya: “Ah, untuk minum the juga tidak perlu biaya sebanyak ini.”

“Asalkan kau mau berteman dengan aku, maka secangkir teh ini akan kuhargai lebih daripada pemberianku ini,” kata Su-lam tertawa. Berbareng I aputar sebuah cangkir the yang berada diatas meja di depannya, ketika cangkir itu diangkat, tertampak diatas meja telah mendekuk suatu lingkaran bekas pantat cangkir.

Sungguh kaget pemilik hotel itu tak terkatakan, jelek2 dia juga berpengalaman kangouw, dengan sendirinya ia dapat menerima ucapan Li Su-lam yang terakhir itu sebagai tanda mengatakan: “Kalau kau mau berkawan, tentu kau akan mendapat persen lebih banyak. Tapi kalau kurang simpatik sehingga merugikan aku, maka kau akan tahu rasa nanti.”

Dibawah serangan “persen dan kekerasan” Li Su-lam, terpaksa pemilik hotel itu bicara terus terang: “Ya, memang ada seorang perempuan muda seperti apa yang kau tanyakan dan bermalam disini.

Cuma dia tidak sendirian. Makanya tadi aku rada ragu2 sebab yang kau tanyakan adalah nona muda yang sendirian.”

“O, dia tidak sendirian?” Su-lam menegas dengan heran. “Lalu siapkah teman perjalanannya?” “Dia datang bersama seorang pemuda, katanya mereka kakak beradik,” pemilik hotel itu menerangkan.

Su-lam tambah heran, tanyanya pula: “bagaimana muka pemuda itu? Apa betul si nona mengakuinya kakak?”

“Entah betul tidak kakaknya, yang jelas dia sendiri mengaku demikian, tentu tuan kenal asal usul mereka bukan?”

“Ya, tapi kakaknya sudah lama meninggal,” kata Su-lam.

“O, pantas wajah mereka toh tidak mirip biarpun mengaku sebagai kakak adik.” “Apakah sekarang mereka masih berada disini?” cepat Su-lam bertanya pula.

Baru sekarang pemilik hotel mengatakan: “Kamar yang kuberikan kepada tuan inilah kamar yang disewa mereka semalam. Terus terang, semalam mereka pergi tanpa pamit dan sampai sekarang belum nampak kembali.”

Pada umumnya kamar yang disewa akan kehilangan haknya kalau sudah lewat tengah hari, maka Su-lam lantas berkata: “Kini sudah lewat lohor, tentunya kamar yang kau janjikan dapat kumasuki bukan?”

Kamar itu sejak ditinggalkan To Liong dan Nyo Wan semalam masih terkunci dengan rapat, pemilik hotel sendiri tidak berani memasukinya. Maka begitu dibuka, Su-lam lantas menyaksikan arak dan daharan memenuhi meja. “Alangkah senangnya mereka?” jengek Su-lam dalam hati.

Setelah memeriksa keadaan kamar, tiba2 pemilik hotel melihat kucing belangnya tergeletak tak berkutik disudut kamar, disangkanya kucing itu tidur disitu. Tak tahunya kucing itu telah makan sepotong ikan yang tercampur arak obat sehingga tak sadarkan diri. 

Sebaliknya perhatian Su-lam tertarik oleh sebuah buntalan di tempat tidur, buntalan itu dikenalnya sebagai milik Nyo Wan, di meja rias juga tertampak sisa pupur dan gincu yang dipakai Nyo Wan. Tanpa terasa timbul macam2 dugaan dan kecurigaan dalam hati Li Su-lam, pikirnya: ‘Dia baru saja mengalami bencana dan berpisah dengan aku tanpa mengetahui mati hidup masing2, mengapa dia masih ada pikiran buat bersolek segala? Ai, apakah dia benar2 sudah berubah?”

Sudah tentu Su-lam tidak tahu bahwa didalam daharan dn arak yang berserakan diatas meja itu tercampur obat tidur, sebab itulah dia tidak tahu tipu muslihat keji To Liong, sebaliknya menyangka Nyo Wan telah ber-foya2 mencari senang dengan teman lelakinya. Sementara itu pelayan datang membersihkan kamar. Kucing belang yang masih tidur lelap itupun dibawa pergi. Lantaran Su-lam lagi dirundung kemasqulan, maka terhadap kucing yang tidak wajar itupun tidak diperhatikannya.

“Didalam kamar ini hanya ada buntalan ini dan kukira tiada sesuatu benda berharga lain, maka boleh kau tinggalkan buntalan ini disini, nanti kalau tamu perempuan itu pulang boleh kuserahkan kembali padanya,” kata Su-lam.

Sudah tentu pemilik hotel lebih suka terhindar dari tanggung jawab, maka ia mengiakan saja, lalu mengundurkan diri.

Setelah pemilik hotel pergi, Su-lam menutup pintu kamar dan coba membuka buntalan itu, isinya adalah dua perangkat pakaian Nyo Wan yang sudah tuan dan kotor, rupanya belum sempat dicuci. Pakaian2 itu dipakai Nyo Wan ketika masih bersama Su-lam, meski dia sudah ganti pakaian baru,namun dia tidak lupa pada kekasih yang hilang, pakaian lama tetap disimpannya sebagai kenangan2.

Melihat barangnya menjadi teringat pula kepada orangnya, terasa pilu hati Su-lam, remuk redam rasanya. Terkenang kepada cinta kasih yang sudah terjalin, semakin pedih hatinya. Apakah mungkin cintanya hanya palsu belaka? Saking gemasnya mendadak ia lolos pedang dan menghancurkan sebuah cermin sebagai pelambang cermin yang sudah pecah sukar dibulatkan kembali.

Setelah melampiaskan rasa gusarnya, kemudian Su-lam menjadi malu dan mencela diri sendiri, pikirnya: “Kenapa kau marah padanya?” Dia kan tidak utang sesuatu padamu, sebaliknya terlalu banyak kau berutang padanya. Dia pernah merawat ayahmu tanpa kenal capek, kakaknya mati demi membela kau. Sekarang kau tidak mampu melindungi dia, sedangkan dia sudah sebatangkara di dunia ini, kenapa kau menyalahkan dia mencari pasangan baru? Padahal dia juga belum menjadi istrimu secara resmi, iapun tidak tahu keadaanmu hidup atau mati, mana boleh kau anggap dia tidak setia padamu? Sebenarnya semula kaupun tidak ingin memperistrikan dia, mengapa sekarang kau merasa marah lantaran dia mencari pasangan lain? Sudahlah, anggap saja kau tidak pernah kenal dia.”

Selagi pikirannya bergolak tak teratasi, tiba2 terasa angin berkesiur,waktu Su-lam menoleh, tertampak seorang telah melompat masuk melalui jendela. Kiranya To Liong adanya.

Kembalinya To Liong adalah mencari Nyo Wan. Dia tidak tahu apakah Nyo Wan sudah mengetahui rahasia arak yang ditaruh obat tidue, maka dalam hati kecilnya masih menaruh harapan semoga Nyo Wan belum pergi, tapi sedang menantikan pulangnya.

Walaupun begitu, namun karena pikirannya masih ragu2 dan kuatir To Hong dan Ciok Bok menyusulnya, maka ia tidak mau kembali kekamarnya melalui pintu hotel, soalnya ia tidak mau buang tempo dan akan segera angkat kaki bila Nyo Wan masih menunggu dikamar hotel. Tak terduga, begitu berada didalam kamar Nyo Wan tidak kelihatan, yang ada Cuma seorang pemuda yang ter-mangu2 disitu.

Sebelumnya To Liong tidak kenal Li Su-lam, tapi pernah melihat gambarnya, maka segera ia dapat menduga siapa yang dihadapinya. Tapi ia pura2 membentak: “Siapa kau? Mengapa kau berani memasuki kamarku?”

Sejak dikamar itu memangnya Su-lam sudah siap untuk menghadapi kembalinya Nyo Wan dan kawan barunya, maka datangnya To Liong tidak membuatnay kaget. Hanya saja ia bingung juga dan ber-debar2 ketika pemuda yang sekamar dengan Nyo Wan ini mendadak muncul dihadapannya. To Liong pikir Su-lam adalah buronan dari Mongol, kalau aku dapat membekuknya tentu akan sangat dihargai oleh pangeran Tin-kok. Tapi diketahui pula Li Su-lam adalah murid kesayangan Kok Peng-yang, tentunya tidak gampang ditangkap begitu saja. Sebaliknya ia rada keder juga ketika melihat Su-lam melotot kearahnya dengan sikap menantang.

Dengan mendengus segera To Liong berkata: “Apakah kau tuli, kau tidak dengar pertanyaanku tadi?”

Su-lam tenangkan diri, lalu menjawab: “Dimanakah Nyo Wan? Suruh dia kemari, tentu kau tahu siapa aku?” “Hm, tidak tahu aturan! Kau pernah apanya Nyo Wan, berdasar apa harus kupertemukan dia denganmu?” jengek To Liong.

“Aku suaminya!” teriak Su-lam dengan gusar.

Baru sekarang To Liong yakin bahwa Li Su-lam belum bertemu dengan Nyo Wan. Segera timbul pikirannya untuk membikin gusar lawannya, jawabnya kemudian dengan menyindir: ‘Hm, ngaco belo kau, ketika aku kenal Nyo Wan dia masih perawan yang suci bersih, darimana dia punya suami macam kau? Apakah kau tahu siapakah aku? Justru aku ini suaminya! Kamar inilah yang kami jadikan kamar pengantin semalam!”

Hampir kelenger Li Su-lam saking gusarnya, tapi iapun tidak dapat sama sekali mempercayai ucapan To Liong itu, sebab kalau bukannya mereka sudah menjadi suami istri, darimana dan cara bagaimana To Liong mengetahui tadinya Nyo Wan masih perawan suci bersih?

Selagi Li Su-lam tertegun saking murkanya, segera To Liong menyambitkan sebuah Tok-liong- piau. Serangan ini mestinya sukar dihindarkan Su-lam. Untung pada saat itu kebetulan pelayan  hotel datang menanyakan tamunya apakah ada sesuatu pesanan, ketika dia mendengar ribut2 didalam kamar, ia coba melongok dan melihat tamu kemarin dengan galaknya sedang berhadapan dengan tamu baru, ia terkejut dan menjerit. Lantaran jeritan yang tepat pada waktunya inilah Su-lam terkejut sadar dan sempat melihat menyambernya Tok-liong-piau yang sudah mendekat. Tanpa ayal lagi ia menegos sambil mendekap meja sehingga piau itu menancap dimuka meja.

Dalam pada itu dengan cepat sekali To Liong lantas menubruk maju.

“Kurang ajar!” damprat Su-lam dengan gusar. “kau telah merampas istriku, sekarang kau hendak membunuh aku pula!” ~ Trang, cepat ia melolos pedang menangkis pedang To Liong yang menabas kearahnya.

“Hm, kau masih berani mengaku dia sebagai istrimu bentak To Liong sambil melancarkan serangan yang lebih gencar. Ilmu pedang keluarga To yang disebut “Tui-hun-toat-beng-kiam-hoat” (ilmu pedang penguber sukma dan perampas jiwa) sangat lihai, serangan gencar itu membuat Su-lam terpaksa hanya sanggup menangkis saja dan tidak sempat balas menyerang.

Tapi Su-lam juga bukan kaum lemah, sebabnya terdesak adalah karena pikirannya yang kacau, setelah bergebrak dia menjadi tenang malah. Semakin gencar serangan To Liong, semakin rapat pula dia bertahan. Tat-mo-kiam-hoat dari Siau-lim-pay memangnya mengutamakan kemantapan, secara sabar Su-lam mematahkan setiap serangan lawan, maka meski To Liong selesaikan 36 jurus serangan “Tui-hun-toat-beng-kiam-hoat” kedua pihak ternyata sama kuat.

Setelah serangan lawan mulai longgar, Su-lam berseru: “Sekalipun kau benar sudah menjadi suami- istri dengan Nyo Wan juga aku akan bertemu dengan dia!”

“Kurang ajar, jangan kau harap aka bertemu dengan dia, biar kuantar kau keneraka saja,” jawab To Liong.

“Hm, kau merintangi pertemuanku dengan dia, terpaksa aku mengadu jiwa dengan kau,” jawab Su- lam dengan gemas.

Karena ber-ulang2 menyerang tidak berhasil, To Liong mulai gugup. Maklum dia lari kembali ke hotel lantaran jeri terhadap Ciok Bok yang menggertaknya dengan nama To Hong, To Liong percaya gertakan Ciok Bok itu dan kuatir adik perempuannya benar2 akan menyusul tiba, sebab itulah ia pikir meski lekas2 angkat kaki dari tempat bahaya ini.

Namun setiap kali To Liong menggeser langkah, setiap kali pula Su-lam membayanginya. “Mau lari kemana!” bentak Su-lam sambil melancarkan serangan balasan.

Tiba2 To Liong mendapat akal, katanya dengan mendengus: “Hm, apakah kau benar2 mencintai Nyo Wan?”

“Persetan! Pertanyaan ini bukan menjadi hakmu, suruh Nyo Wan kemari, aku nanti yang akan bicara sendiri padanya,” damprat Su-lam.

“Aku adalah suaminya, mengapa aku tidak boleh tanya?”

kata To Liong. “Hm, kukira dasarnya kau memang tidak pernah cinta padanya. Jika kau benar cinta dia, seharusnya kau mesti mengutamakan kepentingannya.”

Su-lam melengak. “Apa katamu?” ia menegas.

“Kubilang kau harus mengutamakan kepentingannya bila benar kau cinta dia,” jawab To Liong. “Coba kau pikir, dia sudah rela menjadi istriku, mengapa kau masih merecoki dia? Mau apa jika kau bertemu dengan dia? Paling2 hanya akan membikin susah padanya.”

Kata2 To Liong ini benar2 menusuk kedalam lubuk hati Li Su-lam, tergetar hati Su-lam pikirnya: “ Ya, memang betul, aku mau apa bila bertemu dengan dia? Dia kan sudah menjadi milik orang lain.” Belum lenyap pikirnya. Se-konyong2 To Liong menusuk dengan pedangnya. Karena hatinya sudah hancur, Su-lam tidak ingin banyak urusan lagi, ia berkelit kesamping sambil berkata: “Pergi saja kau!”

Tanpa ayal lagi To Liong melompat keluar jendela.

Dalam sekejap itu timbul macam2 pikiran Su-lam , semula ia bertanya pada diri sendir apa mesti membiarkan To Liong kabur begitu saja? Lalu terpikir lantas mau apa kalau To Liong ditahan disitu, apakah aku mesti membunuhnya? Sedangkan Wan-moay sudah menjadi istrinya, bila To Liong terbunuh berarti Nyo wan akan menjadi janda dan merana selama hidup. Berpikir sampai disini ia menjadi malu sendiri dan mencela diri sendiri: “Wahai Li Su-lam, kenapa jiwamu begini sempit? Jika kau benar2 mencintai Nyo Wan seharusnya kau mengutamakan kebahagiaannya.

Jangankan kau tidak pantas mencelakai suaminya, sekalipun pikiran ingin bertemu denganmu juga seharusnya dihapuskan.”

Terpikir sampai disini, tiba2 diluar ada suara jerit ngeri. Kiranya waktu To Liong keluar, mendadak pelayan hotel tadi juga sedang berlari disebelahnya. Rupanya pelayan itu lagi mengintip apa yang terjadi dikamar, ketika To Liong melompat keluar, ia menjadi ketakutan dan bermaksud lari pergi. Namun sudah tidak keburu To Liong sudah kadung gemas karena jeritannya tadi sehingga Li Su- lam terhindar dari sambitan Tok-liong-piau, kini pelayan itu dipakai sebagai pelampias gemasnya, sekali pedangnya menabas segera jiwa pelayan itu melayang.

Mendengar suara jeritan, Su-lam lantas keluar, menyaksikan adegan mengerikan itu, ia menggusar, bentaknya: “Keparat, aku sengaja melepaskan kau, tapi kau malah membunuh orang yang tidak berdosa!”

Saat itu To Liong lagi membuka kandang kuda untuk mengambil kuda yang dibelinya kemarin, baru saja ia mencemplak keatas kuda dan dilarikan, Su-lam tampak memburu keluar. Segera To Liong menyambitkan sebuah Tok-liong-piau, menyusul sebuah Tok-liong-piau yang lain disabitkan kepantat kuda lain didalam kandang, maksudnya agar kuda itu tidak dapat ditunggangi oleh Li Su- lam.

Dengan mudah dapatlah Li Su-lam menyampuk Tok-liong-piau yang menyamber kearahnya. Terdengar To Liong bergelak tertawa dan berseru dari jauh: “Hai Li Su-lam, menyesalpun sudah kasip kau!” Mampukah kau mengejar aku sekarang? Haha, hari ini kau lepaskan aku tapi lain hari bila bertemu jangan kau harap aku akan melepaskan kau!”

Dengan murka Su-lam lantas menguber, tapi betapa ginkangnya sukar juga melampau lari kuda bagus itu. Setelah keluar kota kecil itu, dalam keadaan remang hanya kelihatan suatu titik hitam dikejauhan, To Liong sudah pergi jauh.

Tertiup oleh angin malam yang dingin barulah pikiran Su-lam rada jernih kembali. Ia menghela napas dan berpikir: “Kiranya orang ini begini busuk, demi kebahagiaan Wan-moay aku telah mengampuni dia, tapi mendapatkan suami begini apakah adaik Wan bisa bahagia? Tahu begini tadi tentu takkan kuampuni dia.” ~ Lantas terpikir lagi olehnya: ‘Aneh, mengapa adik Wan bisa memilih pasangan seperti orang ini? Biasanya dia bisa berpikir panjang, masakah sama sekali dia tidak bisa menilai antara orang baik dan busuk?”

Selagi Su-lam merasa gegetun bagi Nyo Wan, tiba2 terdengar suara derapan barisan kuda yang riuh. Waktu menoleh, dilihatnya sepasukan Mongol telah memasuki kota kecil itu. Panji pasukan Mongol yang bersulamkan gambar elang tertampak juga dari jauh.

Ia terkejut, sungguh tak terduga pasukan tartar itu bisa tiba begitu cepatnya. Karena seorang diri, Su-lam tidak ingin terlibat alam pertempuran yang merugikan, terpaksa ia melarikan diri.

Sudah tentu Li Su-lam tidak tahu bahwa yang memasuki kota kecil itu adalah pasukan yang dipimpin Akai yang bertugas sebagai pelopor dan pengintai. Bahkan Nyo Wan juga berada ditengah pasukan musuh itu. Karena larinya Su-lam, maka hilanglah kesempatannya untuk berjumpa kembali dengan Nyo Wan. Penduduk setempat jug apanik dan lari serabutan melihat kedatangan pasukan berkuda Mongol. Dari jauh Nyo Wan melihat juga bayangan seorang lari dengan cepat sekali diantara penduduk yang ketakutan. Karena hari sudah dekat magrib, keadaan mulai remang2, hanay dari bayangan belakang orang itu Nyo Wan merasa seperti orang yang dikenalnya. Namun dengan cepat orang itupun sudah menghilang. Ia pikir masakah bisa sedemikian kebetulan Li Su-lam berada disitu. Mungkin saking rindunya kepada Su-lam, maka timbul khayalannya. Ia tidak tahu bahwa yang lari paling depan itu memang benar2 Li Su-lam adanya.

Nyo Wan juga telah memeriksa kembali ke hotel yang dipondokinya semalam, tentu mencari jejaknya To Liong saja. Pemilik hotel juga sudah melarikan diri, pelayan yang ketakutan juga sembunyi, tiada seorangpun yang berani menghadapi prajurit Mongol. Karena tidak mendapat keterangan apa2, terpaksa Nyo Wan tidak mencari lebih jauh.

Besoknya pasukan Mongol yang lain ber-turut2 tiba, regu yang dipimpin Akai itu kembali ke pasukan induknya. Nyo Wan mencampurkan diri dengan anak buah Akai dan ternyata mendapat perlindungan Akai dengan baik. Dia menyamar sebagai tukang kuda dan mendiami sebuah tenda kecil sendirian, tugasnya cuma merawat kuda Akai, pekerja lain sama sekali bebas. Yang tahu dia adalah kaum wanita cuma belasan orang saja, tapi belasan orang itupun dapat menjaga rahasia.

Semula Nyo Wan rada kebat-kebit, lama2 menjadi biasa juga.

Pasukan Mongol maju dengan pesat se-akan2 tidak mendapatkan perlawanan, sampai di kaki gunung Liong-pan-san, karena panglima kerajaan Kim bertahan dengan gigih, beberapa kali pasukan Mongol menyerang selalu gagal, terpaksa pasukan Mongol Berkemah di kaki gunung sambil menunggu datangnya bala bantuan.

Beberapa hari kemudian Nyo Wan mendengar panglima besar Mongol an wakilnya sudah tiba semua, yaitu pangeran Tin-kok dan “LI KI-ho”. Maka Nyo Wan mulai mengatur rencana pembunuhan terhadap Li Ki-ho palsu alias Sia It-tiong itu.

Dengan bantuan pimpinan Sia It-tiong yang mahir ilmu kemiliteran, pasukan Mongol mengadakan pengepungan ketat terhadap kedudukan musuh diatas gunung, mereka menduga musuh pasti akan kekurangan makanan dan air dan akhirnya tentu akan menyerah.

Dari penyelidikan Nyo Wan diketahui kemah kediaman Sia It-tiong serta keadaan penjagaannya. Suatui malam, hujan rintik2 dan gelap gulita, sungguh suatu kesempatan bagus buat Nyo Wan menjalankan pekerjaannya. Tengah malam, diam2 Nyo wan mendekati kemah Sia It-tiong, didepan kemah ada empat penjaga yang sudah capek dan mengantuk sehingga tidak mengetahui datangnya Nyo Wan.

Sudah tentu kemah tempat tinggal Sia it-tiong jauh lebih bagus dan luas daripada kemah prajurit biasa. Luas tenda itu kira2 belasan meter persegi, atap tenda tersanggah sehingga bagian tengah rada dekuk, tapi pada umumnya sangat rata tiada ubahnya seperti ataop rumah biasa.

Dengan ginkang yang tinggi, laksana burung saja Nyo Wan melayang keatas atap tenda, dari atas ia mendekat dan mengintip kebawah. Para penjaga hanya memperhatikan depan kemah, sama sekali mereka tidak memperhatikan bagian atas, apalagi keempat sudut tenda rada menjengkit, biarpun mereka menengadah juga takkan melihat keadaan diatas.

Nyo Wan menggunakan belati tajam untuk menyobek kain tenda itu, lalu mengintip kebawah. Dilihatnya suasana terang benderang didalam kemah itu. Pangeran Tin-kok tampak juga berada disitu dan sedang memeriksa sebuah peta bersama Sia It-tiong. Disamping mereka ada dua orang Busu.

Dalam hati Nyo Wan berdoa semoga arwah Li Hi-ko dan kakaknya memberkati agar usahanya membalas sakit hati terlaksana. Habis itu ia terus mengincar dan menyambitkan belatinya. Dasar ajal Sia It-tiong belum tiba, kebetulan dia menggeser dan menunduk untuk memeriksa peta terdengar suara “cret”, kopiahnya yang tersamber oleh belati Nyo Wan itu, hanya secomot rambutnya ikut terkupas.

Keruan kaget Sia it-tiong tidk kepalang hingga jatuh terduduk lemas. “Ada pembunuh gelap!” teriak pangeran Tin-kok.

Dalam pada itu dengan cepat sekali Busu tadi sudah lantas mengejar keluar, seorang diantaranya lantas melompat keatas tenda, menyusu tiga buah piau terus disambitkan sekaligus. Nyo Wan merasa gegetun karena serangannya terhadap Sia It-tiong mengalami kegagalan. Karena jejaknya sudah ketahuan musuh, terpaksa ia melarikan diri.

Kepandaian kedua Busu itu ternyata tidak lemah, serangan tiga piau meleset, segera mereka mengejar dengan kencang. Sementara itu para penjaga didepan kemah juga berteriak ada pembunuh sambil ikut mengejar.

Untung hujan gerimis dan malam gelap. Tiba2 Nyo Wan mendapat akal, iapun ikut ber-teriak2 ada pembunuh gelap, kemudian ia memutar balik sebatang pohon rindang, lalu mencampurkan diri dengan kawanan Busu lain yang waktu itu be-ramai2 mengejar tiba.

Waktu itu pangeran Tin-kok juga mengejar datang dengan menunggang kuda, rupanya ia mendapat petunjuk dari Sia It-tiong, sebab ia lantas memberi perintah agar para Busu memeriksa sekitar sendiri kalau2 ketemukan orang yang tak dikenal yang bertubuh kecil.

Perintah itu menyadarkan Busu yang ber-lari2 berdampingan dengan Nyo Wan, mendadak ia mencengkeram bahu Nyo Wan sambil membentak: ‘Kau dari regu mana?”

Busu ini adalah jagoan gulat Mongol, cepat Nyo Wan mendak kebawah, berbareng pedang menusuk. Namun tusukannya meleset, sedangkan Busu itu menubruk maju lagi. Se-konyong2 Nyo Wan menyusup lewat disebelahnya, berbareng itu iga Busu Mongol itu terasa kesemutan, kontan ia terjungkal dan masih sempat berteriak: ‘Pembunuh gelapnya ada disini!”

Rupanya Nyo Wan dapat menutuk Hiat-to dipinggang lawan, baru saja ia hendak kabur, tahu2 seorang Busu lain sudah menubruk tiba pula. Busu ini meyakinkan “Tay-lik-ing-jiau –kang”, cakaran elang bertenaga raksasa, sekali cengkeram, walupun tidak kena, namun robek juga baju Nyo Wan.

Sembil menggeser kesamping, berbareng Nyo Wan cabut goloknya, “sret-sret-sret”, sekaligus ia melancarkan tiga kali tabasan sehingga Busu itu dibuat kelabakan menangkisnya.

Busu itu terkejut dan baru mengetahui lawan tidaklah lemah, cepat ia berteriak: “Lekas kemari!” Mendadak Nyo Wan membentak: “Kena!” ~ Dimana sinar golok berkelebat, kontan lengan kiri Busu itu tertabas buntung.

Habis itu Nyo Wan lari pula secepat terbang dengan ginkang yang tinggi, karena hujan gerimis, jalanan licin kawanan Busu Mongol sukar mengejarnya. Sementara itu tanda bahaya telah dibunyikan diseluruh perkemahan pasukan Mongol.

Nyo Wan tidak berani mencampurkan diri ditengah pasukan musuh, terpaksa lari kejurusan yang sepi, menuju kejalan pegunungan.

Tapi kemudian Nyo Wan merasa cemas karena dibawah dikelilingi pasukan Mongol, diatas gunung juga pasukan musuh, yaitu tentara Kim. Ia pikir daripada tertangkap, segera ia menyusup ketengah hutan dilereng gunung, tapi mendadak tertampak pula di tengah hutan juga banyak tenda2. Keruan ia terkejut.

Selagi bingung se-konyong2 beberapa orang menubruk tiba dari balik pepohonan sambil membentak: “Siapa kau? Jangan bergerak!” ~ Dari suara mereka yang nyaring jelas orang2 itu kaum wanita semua.

Melengsk heran juga Nyo Wan. Pada saat itulah sinar ketikan api berkelebat, lalu seorang mendamprat: “Kurangajar! Kiranya seorang lelaki busuk! Mau apa kau datang kesini?”

“Dibawah sedang ribut ada pembunuh gelap, aku mengejar dan kesasar kemari,” jawab Nyo Wan. “mengejar musuh masakah masuk kewilayah perkemahan kita yang terlarang bagi kaum lelaki ini? Apakah minta mampus?” bentak prajurit wanita tadi.

Dalam pada itu dari bawah ada orang mengejar keatas dan berseru dari jauh: ‘Pembunuh melarikan diri keatas gunung! Awas adik2 dari pasukan ‘srikandi’, lindungi bangsal Putri!”

“jangan2 bocah ini adalah buronan pembunuh itu,” kata prajurit kepala tadi.

“Ya, paling perlu kita ringkus dia dulu dan urusan belakang,” kata yang lain. Lalu ia mengeluarkan tali dan bermaksud mengikat Nyo wan.

Selagi Nyo Wan mengeluh bisa celaka, tiba2 terdengar suara orang yang sudah dikenalnya berkata: “Apa yang kalian ributkan disitu?” ~ Ketika Nyo Wan menoleh,kiranya yang muncul adalah Putri Minghui.

Segera prajurit wanita tadi melaporkan apa yang terjadi. Nyo Wan juga lantas berseru: “Harap tuan Putri maklum, aku Cuma memasuki daerah terlarang ini dan mengejar pembunuh gelap yang dimaksudkan.”

Dengan lentera yang dibawa Minghui mengamat amati Nyo Wan, ia merasa suara orang sudah dikenalnya. Baju Nyo Wan terobek oleh jambretan Busu tadi sehingga baju dalam warna jambon tertampak sebagian, Minghui menjadi curiga dan yakin kalau prajurit Mongol sendiri tentu tidak memakai baju bangsa han sedemikian itu.

Tiba2 ia ingat: ‘Jangan2 dia adalah nona yang berada bersama Li Su-lam itu? Tapi mengapa dia berubah begini?”

Maklumlah, ketika MInghui bertemu Li Su-lam berada bersama Nyo wan dilembah sunyi dahulu, ia pandang Nyo Wan sebagai saingan asmaranya, maka kesannya terhadap Nyo Wan cukup mendalam, biarpun wajahnya kini dalam samaran, namun suaranya masih teringat olehnya.

Terkejut dan girang juga Minghui, segera ia katakan pada anak buahnya: “Aku akan periksa sendiri bocah ini tapi kalian dilarang menyiarkannya.”

Para prajurit wanita itu menjadi sangsi apakah mungkin Tuan Putri mereka telah pinujui ‘anak muda’ ini? Soalnya mereka cukup mengetahui Minghui tidak menyukai pangeran tin-kok sehingga mustahil ingin memilih calon suami sendir. Maka be-ramai2 mereka lantas mengiakan.

Sementara dua pengawalnya Sia-It-tiong juga menyusul keatas, tapi mereka tidak berani memasuki daerah terlarang, terpaksa berseru dari jauh: ‘Apakah kalian melihat seorang buronan yang lari kesini?”

Tengah malam buta apa yang kalian ributkan?’ damprat Minghui. “Aku tidak tahu buronan apa segala, sebaiknya kalian jangan mengacau disini. Hanyo enyah semuanya!”

Sama sekali kedua Busu itu tidak menduga akan didamprat oleh sang Putri, keruan mereka ketakutan dan lekas2 minta ampun, lalu ngacir cepat2.

Minghui membawa Nyo Wan kedalam tendanya, ia menyingkirkan anak buahnya keluar, lalu tanya Nyo Wan dengan suara pelahan: “dihadapanku tidak perlu berdusta sebenarnya siapakah kau?” “kalau tidak keberatam, aku mohon mncucui muka dahulu,” jawab Nyo Wan.

Air merupakan benda berharga dalam perkemahan tentara, namun didalam kemah sang Putri air jernih selalau tersedia cukup. Sesudah mencuci muka, maka pulihlah Nyo Wan kepada wajahnya yang asli.

Putri Minghui kejut2 girang, tangan Nyo wan digenggamnya erat2, katanya: “ Betul kau ini? Cara bagaimana kau bisa sampai disini?”

Kata Nyo Wan: “Terus terang aku sedang buron, sekarang aku terjatuh di tangan tuan Putri terserah cara bagaimana kau hendak menghukum aku!”

Putri Minghui tersenyum, katanya: ‘Apa kau masih ingat , bukankah dulu aku pernah mengundang kau datang ke Holin untuk menemani aku, tatkala itu kau tidak sudi. Tak terduga malam ini tanpa diundang kau sudah datang sendiri, betapa girang hatiku ini masa aku tega mencelakai kau, legakanlah hatimu!”

Cepat2 Nyo Wan membungkuk memberi hormat menyatakan terima kasih: ‘Sungguh aku terharu akan kemurahan hati tuan putri, aku rela menjadi budak dan menghamba dibawah perintahmu!” “Ah,cici yang baik,” ujar Putri Minghui, “jangan kau bicara begitu sungkan. Kita sudah terhitung sebagai ‘anda’ (saudara angkat, sahabat karib), mana bisa aku membuatmu menderita? Kau tinggal bersama aku anggap saja aku sebagai saudaramu sekandung.”

“Tuan putri laksana gagang emas daun pualam, masa aku bisa sejajar dengan kau!”

Putri Minghui tertawa getir, ujarnya: ‘Setulus hati ingin aku bersahabat dengan kau, kalau kau tidak sudi itu berarti kau pandang rendah diriku!”

Memang keadaan Nyo Wan serba sulit dan terdesak oleh keadaan, dihadapan putri Minghui ia terpaksa harus membuka kedok aslinya sebetulnya hatinya sangat was2 dan kuatir, sekarang setelah melihat sikap Minghui yang tulus dan welas asih ini, hilanglah ganjelan hatinya. Batinnya: “walaupun Akai selalu melindungi dan merawat aku, namun seorang gadis sebatang kara seperti aku keluntang luntung dalam gerombolam laki2 betapa juga rada kikuk.” ~ Maka segera Nyo Wan menyahut: “Terima kasih akan kebaikan tuan putri, di saat aku menemui jalan buntu ini kau sudi menerimaku sibawah lindunganmu. Betapajuga aku tidak berani terima uluran persahabatan sama derajat sebagai saudara sekandung. Apalagi bila didengar orang lain nanti bakal menjadi buah mulut mereka saja.”

Sejenak putri Minghui berpikir lalu berkata: “Kalau begitu terpaksa pura2 kurendahkan derajatmu menjadi pelayan penhiringku saja, di belakang orang lain kita masih sebagai ‘anda’. Untuk ini kuharap kau tidak perlu main sungkan lagi.” ~ lalu ia maju bersanding di pinggir Nyo Wan serta katanya tertawa: “Lihat, potongan badan kita hampir sama, coba kau ganti pakaianku. Masih banyak persoalan yang ingin kutanyakan kepadamu!”

Setelah berganti pakaian Nyo Wan menyingkap kerai dan beranjak keluar, tampak olehnya putri Minghui sedang mondar mandir. Nyo Wan membatin: “Mungkin ia masih tetap rindu kepada engkoh Lam!”

Betul juga lantas terdengar putri Minghui bertanya: “Nyo-cici, bukankah kau bersama Li Su-lam? Kemana pula dia sekarang?”

“Akupun juga sedang mencarinya!” sahut Nyo Wan. Maka secara ringkas jelas ia bercerita cara bagaimana ia sampai berpisah dengan Li Su-lam serta diceritakan pula pengalamannya selama ini kepada putri Minghui.

“Kejadian ini sungguh diluar dugaan,” kata putri Minghui dengan rawan, “Tapi masih ada setitik harapan yang dapat melegakan hatimu, apa yang kau dengar tentang cerita itu berani kupastikan adalah kabar bohong belaka. Belum lama aku pernah bertemu cepe, hakikatnya ia tidak berhasil menangkap Li Su-lam, maka berita tentang Li Su-lam terpanah dan terluka apa segala boleh dipasytikan hanya kabar angin melulu.

Sebetulnya Akai juga pernah berkata kepada Nyo Wan bahwa Li Su-lam tak mungkin tertangkap, namun itu hanya analisa Akai saja menurut situasi yang didengarnya. Sekarang setelah secara langsung mendengar kepastian ucapan putri Minghui yang boleh diandalkan. Betapa girang hati Nyo Wan sukar dilukiskan dengan kata2. Pikirnya: “Asal engkoh Lam masih hidup, meski aku harus menderita lebih parah lagi juga tak menjadi soal bagiku.”

Kata putri Minghui: ‘Kau seorang gadis belia seorang diri lagi berani menerobos kibu2 pasukan besar yang sedemikian banyak serta membunuh musuh, keberanianmu ini betul2 harus dipuji. Tapi juga terlalu menempuh bahaya.”

“Sia It-tiong si bajingan tengik itu betul2 maha jahat dan kejam,” kata Nyo Wan, “bukan saja ia musuh besar yang mencelakai ayah Li Su-lam, juga durjana yang membunuh engkoh kandungku, Kita merupakan musuh bebuyutan yang tak mungkin berdiri sejajar dalam dunia fana ini. Malam ini waktu aku ambil keputusan hendak menyatroninya aku sudah ambil keputusan tidak menghiraukan keselamatan diri sendiri, aku tak perduli lagi apakah caraku ini terlalu menempuh bahaya.” “Sekarang apakah kau masih ingin menuntut balas?”

Nyo Wan menggertak gigi, desisnya: ‘Selama aku masih bernapas, lambat atau cepat aku tetap harus menuntut balas.’

Putri Minghui tertawa geli, katanya: “Tapi aku tidak setuju caramu bekerja dengan mengorbankan jiwa sendiri untung mengutungi kepala musuh. Urusan ini lebih baik kau serahkan kepadaku saja. Paling cepat sepuluh hari, paling lambat setengah bulan, kepala Sia It-tiong pasti akan kuserahkan kepadamu.”

Nyo Wan bimbang dan setengah percaya, katanya: ‘Tapi bukankah dia wakil panglima perang?” ~ dalam hati ia membatin, meski putri minghui terhitung seorang majikan, tapi hendak membunuh jendral tinggi dalam pasukan besar, masa ia punya kekuasaan demikian tinggi?

“Pangkatnya itu pemberian dari ayahku, bila suka ayah bisa mengangkatnya pada jabatan yang tinggi tapi juga bisamembunuhnya sesuka hati. Tak lama lagi ayahku bakal datang, tiba waktunya bila kubongkar kedok Sia It-tiong yang memalsukan ayah Li Su-lam, lihat saja apakah ayah mau mengampuni dosanya itu?”

Nyo Wan berpikir: ‘Minghui adalah putri tunggal yang paling disayang oleh Jengis Khan, kalau dia berkukuh dan merengek minta ayahnya membunuh Sia It-tiong tujuh delapan bagian tentu bakal berhasil, dengan demikian meski tidak secara langsung aku menuntut balas dengan tanganku sendiri, paling tidak juga sudah terbalas sakit hatiku.” ~ Maka lekas2 ia berlutut serta berkata: ‘Untuk kepentinganku tuan putri sampai ikut susah payah, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus membalas kebaikan dan budi ini?”

Cepat2 putri Minghui memapahnya bangun, ujarnya tertawa: ‘Nah kau ada2 lagi, kita kan sudah sebagai ‘anda’ urusanmu bukankah juga menjadi urusanku? Apalagi urusan ini belum terlaksana, nanti kalau aku betul2 sudah membawa pulang kepala Sia It-tiong boleh kau nyatakan terima kasih kepadaku!”

Hari kedua betul juga ada berita kilat yang datang memberi kabar, katanya Jengis Khan sendiri bakal pimpin Sing-hek-eng dari Sehe untuk mengadakan inspeksi, kurang lebih tujuh hari lagi pasti akan tiba.

Sudah tentu bagi pangeran Tin-kok dan Sia It-tiong yang tidak menemukan pembunuh gelap itu menjadi uring2an dan gusar, namun apa boleh buat. Meski mengejar pembunuh itu cukup penting, tapi kedatangan Jengis Khan sendir mengadakan inspeksi kiranya jauh lebih penting, utusan yang dikirim jengis Khan sudah menyampaikan perintahnya secara langsung, beliau mengharap setibanya nanti pasukan Mongol sudah harus dapat memukul pecah gunung Kiok-pan-san. Ini berarti dalam jangka tujuh hari ini mereka harus berhasil menduduki Liok-pan-san.

Terpaksa pangeran Tin-kok dan Sia It-tiong kesampingkan dulu peristiwa pembunuh gelap itu, perhatiannya dicurahkan mengatur rencana untuk menggempur Liok-pan-san. Sudah tentu untuk menjaga segala kemungkinan, penjagaan semakin diperketat dan keras.

Pasukan Kim yang menduduki puncak Liok-pan-san sudah terkepung beberapa hari lamanya, ransum sudah mulai habis, saluran air juga dibendung, ini merupakan pukulan berat bagi mereka. Apalagi dibawah tekanan pasukan Mongol yang menyerang semakin gencar, akhirnya wakil panglima pasukan Kim membunuh Oh Sa-hou yang memegang tampuk pimpinan tertinggi. Dalam jangka lima hari akhirnya mereka menyatakan menyerah tanpa syarat.

Hari kedua setelah pasukan Mongol menduduki Liok-pan-san, putri Minghui dan Nyo Wan tengah ngobrol didalam kemah, tiba2 seorang prajurit wanita masuk memberi laporan bahwa jengis Khan sudah tiba. Kedatangan beliau sehari lebih cepat dari dugaan semula.

“Dimana Kgan besar sekarang berada?” tanya putri Minghui berjingkrak girang.

“Goanswe (panglima besar) tengah mengiring beliau menginspeksi keatas gunung.” Sahut prajurit wanita itu.

Putri Minghui menghela napas, katanya: “Ayah selalu memikirkan urusan perang, tak pernah bercengkerama dengan keluarga.”

Segera ia perintahkan seorang prajurit menyiapkan kudanya, lalu berpaling berkata kepada Nyo Wan: ‘kau tinggal disini saja menunggu kabar baikku. Bila ketemu ayah nanti pasti rahasia kedok licik Sia It-tiong itu kulaporkan kepada ayah.”

Dalam pada itu dengan terburu Jengis Khan telah memburu tiba dari negeri Sehe, mendengar laporan bahwa gunung Liok-pan-san sudah pecah dan diduduki pasukan Mongol sungguh girangnya bukan main. Tanpa hiraukan badan sendiri yang capek, dengan tetap menunggang kuda perang serta membawa sebarisan pasukan bendera perang langsung ia adakan pemeriksaan keatas gunung dibawah iringan pangeran Tin-kok, dengan tangannya sendiri ia hendak menancapkan bendera kebesaran bangsa Mongol dipuncak gunung daerah musuh yang diduduki.

Para perwira dan panglimanya tahu adat keras Jengis Khan yang tengah dimabuk kegirangan akan kemenangan pasukan perangnya, tiada seorangpun yang berani tampil depan mendahului naik ke atas gunung. Para perwira tentara Kim yang tertawan hidup sudah digusur kebawah gunung, keadaan markas diatas gunung sudah kosong melompong, ini sangat kebetulan untuk tempat istirahat bagi Jengis Khan.

Pangeran Tin-kok selalu berada disampingnya, disamping melindungi iapun ingin mengambil hati bakal mertuanya ini, diatas gunung ini tiada seorang musuhpun, maka tak perlu kuatir ada pembunuh gelap.

Waktu sampai di tengah perjalanan agaknya rasa girang Jengis Khan meluap tak terkendali lagi, ia ter-bahak2 serunya: ”Oh Sa-hou adalah panglima terbesar nomor satu dari pasukan kerajaan Kim. Tempat strategis Liok-pan-san adalah merupak pintu gerbang kerajaan Kim yang paling berbahaya. Sekarang Oh Sa-hou sudah tewas, pintu gerbangnya juga sudah kita jebol dan kita duduki, tanah itu yang subur dari Tionggoan aganya memang sudah tak harus kucaplok sekalian.”

Untuk menyanjung dan menyemarakan suasan yang riang gembira ini segera pawa perwira dan bawahannya be-ramai2 melagukan nyanyian perah yang gagah perwira. Jengis Khan junjungan agung yang terpuja, Thian memberkahi kekuatan dan kecerdikan luat biasa ........

Pangeran Tin-kok segera keprak kudanya maju mendekat, serunya: ‘Bukan saja tanah luas Tionggoan nan subur, dibawah pimpinan Khan agung yang jaya, seluruh dunia ini pasti bakal menjadi ladang gembala bangsa Mongol.”

Jengis Khan ter-bahak2 saking gembiranya, pecutnya terayun terus membedal kudanya lebih jauh. Sungguh luar dugaan belum lagi lagu perang selesai dinyanyikan, belum pula suara gelak tawanya lenyap, kaki depan kuda tunggangannya mendadak kesandung batu gunung, kontan Jengis Khan terjungkal roboh dari tunggangannya.

Beberapa hari ini sering turun hujna, jalanan pegunungan menjadi becek dan licin. Betapapun kuat badan Jengis Khan kini usianya sudah mendekati 70 tahun, begitu terjungkal seketika tak mampu bangun malah terus menggelundung kebawah.

Apa itu ‘kekuatan yang maha besar’ , apa itu ‘junjungan agung yang seba pintar’ nyanyian perang menyanjung puji masih bergema mengalun tinggi menembus angkasa, ini kebetulan menjadi tanggapan ironis bagi keadaan Jengis Khan yang payah itu.

Tatkala itu putri Minghui baru sampai dilamping gunung, dari jauh ia saksikan Jengis Khan terjungkal jatuh dari atas kudanya, keruan kagetnya bukan kepalang! Cepat ia keprak kudanya memburu datang, tak luoa ia perintahkan para perwira mendirikan kubu2 besar di tanah pegunungan, terus memajang ayahnya memasuki kemah itu unutk istirahat.

Tak lama kemudian tabib negara sudahmemburu datang memeriksa serta menyambung tulang rusuk Jengis Khan yang patah.

Waktu Jengis Khan membuka mata, pertama yang dilihatnya adalah putri kesayangannya yang menunggu disampingnya, maka Jengis Khan berkata riang sembari berseri tawa: “Kau gugup dan ketakutan bukan?”

“Ayah bagaimana keadaanmu?” tanya putri Minghui.

“Aku memperoleh firman Tuhan, aku harus menjadi Khan teragung dari seluruh bangsa di dunia. Sebelum seluruh pelosok dunia dapat kutaklukkan mana boleh aku mati?” ~ Habis berkata ia bergelak tawa se-keras2nya, sehingga lukanya pecah dan berdarah, keruan sakitnya bukan kepalang sampai Jengis Khan mengeluh dan merintih,

Dengan menahan sakit Jengis Khan akhirnya menghela napas panjang dan mengeluh: “Dasar aku memang sudah tua bangka!”

“Yah,” sela putri Minghui, “Kau harus istirahat sebentar?”

Tatkala itu kemah yang tidak begitu besar penuh berjubel banyak orang, yang berdiri di belakang tak dapat melihat jengis Khan, ber-bisik2 mereka tanyakan keadaan junjungan.

Tiba2 Jengis Khan mengerutkan alis: “Aku belum lagi mati, apa yang kalian ributkan. Semua menggelinding keluar!”

Cepat putri Minghui membujuk dengan kata2 manis. Khan besar harus istirahat dengan tenang, biarlah aku sendir yang merawatnya sudah cukup, besok saja kalian boleh datang lagi.

Semua orang beruntun keluar, akhirnya tinggal pangeran Tin-kok dan putri Minghui berdua. Putri Minghui segera mendelikkan mata, semprotnya: “Kau juga harus keluar!”

Sejenak pangeran tin-kok melengak, sahutnya: “Ah, masa aku juga tidak boleh tinggal disini?” “Bukankah ayah sendiri yang memberi perintah, kalian disuruh keluar semua, demikian juga kau!” Jengis Khan mengeleng kepala, katanya: “Ai, kenapa kalian selalu bertengkar begitu bertemu muka, sungguh bisa membuat aku mati jengkel! Ya, begitulah, Tin-kok kau keluarlah!”

Semula Jengis Khan ingin menahan pangeran Tin-kok tapi melihat putrinya menjadi murung dan jengkel terpaksa ia biarkan putri sendiri yang merawatnya.

Wajah hitam pangeran Tin-kok menjadi merah pada pikirnya: “Kau suka atau benci padaku, pada suatu hari akhirnya bakal jadi istriku. Sekarang biar aku mengalah, nanti setelah kau menjadi istriku, akan kulihat apa kau masih berani bertingkah?”

Jengis Khan pejamkan matanya dan istirahat, tak dirasa di lain saat ia sudah pulas. Putri Minghui tak berani mengusiknya lagi, diam2 ia merancang dua persoalan, urusan pertama minta ayahnya untuk membunuh Sia It-tiong, urusan kedua adalah ia tidak sudi menikah dengan pangeran Tin-kok. Untuk ini ia harus meinta persetujuan ayahnya. Dalam anggapan sanubari putri Minghui, persoalan pertama mungkin takkan menemui kesulitan, justru persoalan kedualah yang memerlukan mulut manisnya untuk merengek.

Kira2 dua jam kemudian baru Jengis Khan siuman dari tidurnya, begitu membuka mata lantas ia berkata: “Alehai, kau masih belum pergi?”

“Kalau aku pergi siapa yang merawatmu?” sahut putri Minghui, ‘meski anak buahmu banyak tapi aku tahu kau tak senang diwarat mereka.”

Jengis Khan tertawa, ujarnya: “Sebenarnyalah hanya kau yang paling prihatin akan kesehatanku. Aku paling suka dan sayang padamu, tapi aku tidak suka kau kelelahan, harisudah hampir petang lekas kau pulang istirahat!”

Putri Minghui menggeleng kepala, sahutnya: “Yah, kau usirpun aku tak mau pulang!”

Memandangi putrinya Jengis Khan tersenyum manis, katanya: “Agaknya ada apa2 yang hendak kau sampaikan kepadaku bukan?”

Putri Minghui bersorak, bertepuk tangan, serunya: “Ayah memang pintar,sekali tebak lantas kena!” Jengis Khan tertawa puas dan bangga, ujarnya: “Isi hatimu selamanya takkan dapat mengeelabui aku, coba katakan.”

“Nah, sekarang kau salah terka. Persoalan yang ingin kukatakan justru adalah urusanmu.” Jengis Khan tertegun sebentar, lalu tanyanya: “Urusanku? Aku ada urusan apa perlu kau turut ribut?”

“Apa kau tahu orang macam apakah wakil panglima besarmu itu?”

“maksudnya Li HI-ko itu?” Jengis Khan menegas, “Asal meulanya dia seorang tawanan, tapi cukup punya kepandaian, maka kuangkat pada kedudukan yang tinggi. Untuk apa kau tanyakan pribadinya?”

Putri Minghui geleng2 kepala katanya: “Yah, kau kena dikelabui olehnya. Dia bukan Li Hi-ko, nama aslinya adalah Sia It-tiong. Setelah mencelakai Li Hi-ko ia memalsukan namanya untuk mengejar pangkat!” ~ Segera ia ceritakan bagaimana Sia It-tiong mencelakai Li Hi-ko kepada Jengis Khan.

Dengan cermat Jengis Khan mendengarkan ceritanya, akhirnya ia berkata: “O, Ada kejadian begitu, Sia It-tiong itu termasuk juga orang yang cerdik dan banyak muslihatnya!”

Putri Minghui tercengang, katanya: “Yah, agaknya kau memuji dan mengaguminya malah!” “Lalu menurut pandanganmu, bagaimana aku harus bertindak padanya?”

“Manusia keji yang menjual sahabat demi mengejar pangkat dan kedudukan, mana bisa ayah tempatkan pada jabatan penting yang begitu tinggi ? Seumpama tidak membunuhny, Pling ringan harus diusir keluar!” ~ menurut hemat putri Minghui asal Sia It-tiong terusir keluar dari pasukan besar, tanpa sesuatu sandera yang diandalkan gampang saja umpama Nyo Wan hendak membunuhnya. Daripada pinjam tangan orang lain ada lebih baik Nyo Wan membunuh musuh besarnya dengan tangan sendiri.

Bertaut alis Jengis Khan, ujarnya: “Ah, itukan pandangan bocah cilik!”

“Yah,” seru putri Minghui kesal, “Aku pikir demi kebaikanmu, apa kau tidak kuatir orang kerdil macam Sia It-tiong yang telengas dan busuk itu selalu berada disampingmu? Selamanya kau paling benci terhadap orang yang tidak jujur dan tidak setia, kenapa kau mandah saja diapusi Sia It-tiong palsu itu?”

Jengis Khan tertawa lebar, katanya: “Ah, pandangan sempit seorang bocah cilik. Kau menganalisa persoalan dari pihak sebelah, masa kau kira aku gampang kena diapusi apakah tidak lucu dan menggelikan?”

“Dia memalsukan nama dan menggantikan orang, terang gamblang telah menipu kau bukan?” desak putri Minghui.

“kau tak perlu gelisah,” bujuk Jengis Khan, “Duduklah, pelan2 akan kuterangkan.” “Per-tama2 aku memerlukan seorang yang cerdik pandai bangsa Han yang bisa kuperalat, orang macam ini besar bantuannya terhadap bangsa dan negara Mongol kita, untuk menundukkan negeri tiongkok. Kau sudah jelas belum? Tentang orang itu she Sia atau she Li aku tidak ambil peduli dan tidak penting bagiku!”

Dingin perasaan putri Minghui seperti kepala diguyur air dingin, debatnya: “Yah, tapi dia seorang kerdil yang hina dina dan kejam!”

“Aku toh bukan handak pilih mantu, peduli amat akan watak dan sepak terjangnya?” demikian ujar Jengis Khan tertawa, apalagi dia seorang bangsa Han, bukan sanak bukan kadang kita. Semakin buruk dan bejat perangainya, aku semakin lega memperbudak dirinya?”

Mendengar uraian ayahnya in putri Minghui se-akan2 terjungkal masuk kedalam lobang es yang dingin, badannya bergidik dan gemetar, pikirnya: ”Ternyata begitu cara ayah memperalat orang. Ai, bahwasanya Huma (mantu raja) yang dia pilih untuk jodohku melulu demi kepentingannya sendiri, betapa dia pernah pikirkan kebahagiaanku? Tin-kok manusia jelek itu bukan saja gila pangkat dan kemaruk harta malah hidung belang lagi, watak dan perangainya juga bejat.” ~ Kiranya pangeran Tin-kok adalah putra kepala suku Wangku. Suku Wangku merupakan satu bangsa paling besar dan kuat bangsa Mongol. Dengan menjodohkan putri tunggalnya kepada pangeran jelek ini tujuan utama adalah memelet dan meminjam kekuatan militer suku Wangku yang besar itu.

Melihat putrinya tunduk terpekur Jengis Khan menyangka ia belum dapat menangkap arti ucapannya, maka segera ia menyambung lagi: “Ketahuilah, kita hendak merebut tanah bangsa Han, bicara terus terang, orang Han yang mau kita peralat dan menjual jiwa bagi kepentingan kita sudah tentu orang2 hina dina yang rendah dan kepincut harta dan pangkat, lebih jelas lagi mereka aalah pengkhianat2 bangsanya sendiri. Jikalau seorang ksatria dan pahlawan bangsa, mana mungkin mereka mau membantu kita menghantam bangsa dan negaranya sendiri.

“tentang dia menipu aku, hal ini harus kita pandang dari segi untung ruginya, apa pula maksud dan tujuannya, kalau bermaksud membangkang dan mengkhianati aku, sudah tentu tidak akan kuberi ampun. Tapi tidak demikian akan Sia It-tiong itu, dia hanya menipu aku demi jabatan dan pangkat saja, demi kepentingan kita yang luhur kenapa aku harus kikir menganugerahinya sekedar pangkat wakil panglima perang?

“Kau pernah membaca buku karangan orang Han, dan kau tahu ada sebuah pepatah orang Han yang berbunyi: “kalau tidak jahat bukan seorang laki2. Memang cara Sia It-tiong mencelakai jiwa Li Hi- ko cukup kejam dan telengas, tapi ini malah membuktikan akan cerdik pandainya?”

“Sudah tentu dengan adanya seorang keji berada disamping aku harus selalu waspada. Bicara sejujurnya aku hanay menggunakan dia sebagai anjing pemburu yang paling setia melulu. Orang Han mereka masih ada sebuah pepatah yang berbunyi: “Kelinci terpanah mati, anjing tergebak lari. Tanah luas nan subur dari bangsa Han merupakan kelinci buruanku, sekarang kita baru saja menelan sebagian kerajaan Kim, mana bisa aku menggebah lari antek (anjing) macam Sia It-tiong? Kau membujuk aku membunuhnya, kelak aku memang harus membunuhnya. Tapi harus tunggu setelah kita bisa mencaplok kerajaan Kim dan sudah menyebrangi sungai besar menelan kerajaan Song Selatan!

“Cukup, sekarang kau sudah paham bukan? Selanjutnya kularang kau menyinggung persoalan membunuh Sia It-tiong lagi, tentang rahasia Sia It-tiong memalsu nama dan menggantikan orang lain juga jangan sampai bocor. Ini menyangkut urusan besar dan sangat penting, kau harus selalu ingat peringatanku ini, jangan sekali2 kau membangkang dn melanggar perintah! Sudah kini kau boleh pulang.”

Luka2 Jengis Khan masih terasa sakit, setelah berkata panjang lebar tenaganya rada terkuras sebagian, napasnya menjadi memburu, setelah habis berkata ia pejamkan mata mulai istirahat. Putri Minghui tahu tabiat keras ayahnya, apa yang sudah dikatakan tak pernah ditarik kembali, apalagi ucapannya kali ini begitu tandas dan tegas, betapapun aleman dan disayang dirinya takkan mungkin dapat membujuknya untuk membunuh Sia It-tiong.

Apa boleh buat akhirnya putri Minghui menghela napas katanya: “Yah, kalau kau benar2 hendak memperalat antek busuk ini, aku berjanji takkan membocorkannya. Tapi dalam hati aku benar2 benci askali pada antek hina dina ini. Yah, kau harus istirahat, besok pagi aku datang menengokmu lagi.”

Baru saja putri Minghui hendak pergi, tiba2 Jengis Khan seperti teringat akan suatu hal, mendadak ia membuka mata dan berteriak: “Minghui, kau kembali!”

Putri Minghui menjadi putus asa, dengan lesu ia berpaling sahutnya: “Yah, permintaanku kau tak kabulkan, ada persoalan apa lagi yang perlu dibicarakan?”

Setelah menenggak air kolesom pelan2 Jengis Khan berkata: ‘Urusan rumit ini kau dengar darimana?”

“Urusan apa?” putri Minghui menegas dengan tertegun.

“Urusan perihal Sia It-tiong tadi, siapa yang memberi tahu kepadamu?” nadanya tertekan dan serius.

Muka putri Minghui menjadi merah, sahutnya ”tersekat ini, ini ”

Mendelik mata Jengis Khan, gerungnya: ’Ini Itu apa katakan! Apakah bocah Li Su-lam itu yang memberi tahu kepadamu?”

Tahu tak dapat mengelabui lagi, terpaksa putri Minghui menjawab: ”Benar, Li Su-lam yang beritahu kepadaku!”

Jengis Khan menjengek dingin: ’Maka kau hendak menuntut balas baginya bukan?”

Jengkel dan gemes pula hati putri Minghui, katanya : “Suatu persoalan pasti ada baik buruknya, ayah Li Su-lam sudah dicelakai oleh Sia It-tiong, apakah dia tidak boleh menuntut balas? Memang aku sendiri merasa simpatik akan persoalan ini, tapi ayah sebaliknya kau lindungi manusia jahat, apa yang dapat kuperbuat?”

”Bukan itu yang kupersoalkan,” Jengis Khan menegas, ”Ya, ingin kutahu kapan bocah Li Su-lam itu memberitahu kepadamu?”

”Ayah, buat apa kau urus persoalan tetek bengek ini. Lebih penting kau istirahat tak perlu usut urusan sepele ini?”

”Ini bukan urusan sepele. Aku tahu bocah Li Su-lam itu menggembol sejilid buku pelajaran perang karangan Han Si-tiong, betapun aku harus menangkapnya kembali! Terakhir kapan kau bertemu dengan dia?”

”Waktu berburu di holin tempo hari aku kan bersama Li Su-lam, bukankah kau sendir yang minta dia menemani aku?”

”Bukan waktu itu yang kumaksud. Watak Li Su-lam sangat keras, menurut rekaanku waktu berburu di Holin dulu pasti dia masih belum tahu bahw asia It-tiong adalah musuh besar pembunuh ayahnya, kalau tidak, tidak mungkin dia mau bersama Sia It-tiong mengahdap aku? Segala urusan ini tentu belakangan ini dia beritahu kepadamu!”

”Yah,” putri Minghui merengek: ’Agaknya kau ingin tahu se-akar2nya, baiklah kuberitahu. Setelah dia merat dari Holin secara diam2 aku mengejarnya dan kita bertemu disuatu tempat, disanalah ia memberitahu persoalan itu. Ini terjadi beberapa bulan yang lalu.’

”Sekarang dia dimana?”

”Sudah lama dia pergi,bagaimana aku bisa tahu dimana dia berada?” “kaukah yang membantu dia melarikan diri?”

“Benar, aku memberinya sebuah medali emas! Yah, cara bagaimana kau hendak menghukum aku, aku mandah saja.”

Jengis Khan menghela napas, nadanya tiba2 berubah lemas, katanya halus: ”kau melepas buruanku ini merupakan kesalahan besar, tapi masa aku tega menghukum padamu. Kau menyukai bocah Li Su-lam itu bukan?”

Perih rasa hati sepertidisayat sembilu, pikirnya: ’Umpama aku memang suka dia apa pula yang dapat kuperbuat, kan dia sudah punya calon istri.”

Jengis Khan tertawa, ujarnya: ”Kau tidak perlu takut, kalau kau memang suka dia boleh kau panggil dia kembali. Asal dia mau menurut dan dengar kataku, aku tidak akan mempersukar dia lagi.”  ”Tadi sudah kukatakan, pertemuan kita yang terakhir terjadi beberapa bulan yang lau, bagaimana aku bisa menemulan dia? Ayah, kau tak perlu tanya apakah aku suka atau tidak kepada Li Su-lam, yang terang aku tidak suka pilihan Huma yang kau penyjui itu!”

”Apakah Li Su-lam betul2 tidak berada disini?” Putri Minghui menjadi uring2an, katanya: “Yah, masa aku bisa menyembunyikan seorang laki2 segede itu?”

“Ya, aku tahu kau takkan berani,” seru Jnegis Khan menarik muka, “Tapi kau harus tahu bahwa kau sudah ditunangkan dengan orang lain. Huma yang kupilihkan itu peduli suka atau benci kau harus menikah dengandia. Perlu kuberitahu padamu, Li Su-lam adalah bangsa Han, meski kau mencintainya, tak mungkin kau menikah dengan dia. Apa kau sudah paham?”

Air mata meleleh keluar membasahi kedua pipi Putri Minghui, saking jengkel ia merengek: “Siapa sudi aku hendak menikah dengan dia, siapapun aku tidak sudi menikah.”

“Ah, omongan bocah kecil!” Hm, nanti setelah luka2ku sembuh segera kupilih hari baik dan kulangsungkan pernikahanmu supaya kau tidak banyak pikiran dan berubah hati. Sudahlah kau boleh pulang. Boleh kau renungkan nanti, jangan kau sia2kan rasa sayangku kepadamu.” “Mana kau sayang padaku?” demikian batin Putri Minghui, “kau menekan aku menikah dengan badut buruk itu terang melemparkan aku ke dalam bara api.”

Karena Jengis Khan sedang merawat luka2nya, Putri Minghui tak enak membuatnya marah, terpaksa ia bungkam saja, dengan mengembeng airmata segera ia tinggal pergi.

Dengan masqul segera Putri Minghui kembali ke kemahnya, begitu melihat sikap orang yang lesu Nyo Wan lantas mengeluh dalam hati, pikirnya: “Seharusnya aku tidak mengandalkan bantuan orang lain untuk menuntur balas!” ~ Oleh karena itu meski rada kecewa seberapa bisa ia berlaku tenang dan membujuk Putri Minghui malah: “Tuan putri demi urusanku kau sampai bercapek lelah, berhasil atau tidak sama saja aku sangat berterima kasih kepadamu.”

Kata Putri Minghui dengan gegetun: ‘Ayah tidak memberi ijin aku membunuh Sia It-tiong. Tapi akan datang suatu hari ia bakal terjungkal, cepat atau lambat tentu dia akan terjatuh ditanganku. Aku sudah pasti harus melawannya sampai babak terakhir.”

Meski Putri Minghui bicara secara tegas, hakikatnya ia sendiri tidak punya pegangan apakah usahanya membunuh Sia It-tiong bisa berhasil. Apalagi dalam situasi sekarang ini bukan saja dia tidak mungkin membantu Nyo Wan, sedangkan urusan sendiri yang gawatpun seebtulnya memerlukan bantuan orang lain yang tidak mungkin dapat terlaksana.

Malam itu Putri Minghui gulak gulek ditempat tidur tak bisa pulas. Jengis Khan pernah berkata begitu luka2nya sembuh segera hendak melangsungkan pernikahannya dengan pangeran Tin-kok. Tahu ia ucapan Jengis Khan selamanya menjadi perintah yang tidak boleh dibangkang, betapapun tak bisa diubah lagi, bagaimanakah baiknya?

Hampir pada kentongan kelima baru lapat2 Putri Minghui bisa pulas dalam mimpinya. Hari kedua waktu itu ia siuman, matahari sudah naik tinggi segenter. Seharusnya ia pergi menengok luka ayahnya tapi takut ayahnya nanti menyinggung persoalan pernikahannya. Tengah ia bimbang, seorang pesuruh masuk melapor, baru sekarang Putri Minghui mengetahui. Karena fasilitas yang sukar dicapai, terpaksa pangeran Tin-kok memindah tempat istirahat Jengis Khan ke sebuah kota kecil bernama Ko-goan dikaki gunung Liok-pan-san sebelah selatan.

Menurut rencana militer pasukan besar Mongol semula setelah dapat menjebol pertahanan dan menduduki Liok-pan-san yang strategis itu, serentak terus menyerbu ke Tiong-tok ibu kota kerajaan Kim. Namun secara diluar dugaan Jengis Khan terjungkal jatuh dan luka2 maka terpaksa rencana penyerbuan harus ditunda beberapa waktu lagi.

Untuk memelet dan mengambil hati bakal mertua, pangeran Tin-kok juga tinggal di Ko-goan untuk merawat penyakitnya. Segala urusan kemiliteran diserahkan kepada kedua pembantunya, sudah tentu Sia It-tiong semakin terpandang dalam kedudukannya.

Besar hasrat Putri Minghui pergi ke Ko-goan untuk tilik ayahnya, namun takut ketemu dengan pangeran Tin-kok, pula Jengis Khan tidak mengutus orang memanggilnya, terpaksa Putri Minghui selalu mengeram dalam kemahnya dengan masqul, sambil menunggu panggilan.

Tak terasa sepuluh hari sudah lewat, selama ini utusan Jengis Khan tidak kunjung datang juga. Tapi kabar berita dari Ko-goan setiap hari tak pernah putus, kabar didapat selalu mengatakan bahwa penyakit Jengis Khan sudah berangsur baik. Diam2 putri Minghui menjadi lega, batinnya: “Mungkin yah masih marah padaku maka tak ingin aku menemui beliau. Tapi asal penyakitnya lekas sembuh tak menjadi soal aku sedikit menderita tekanan batin.” Dalam rasa girangnya ini terselip juga rasa kuatir, karena bila penyakit Jengis Khan sembuh beliau segera hendak melangsungkan pernikahannya.

Tersekam didalam kubu ketentaraan yang sempit kurang leluasa lagi, Nyo Wan selalu termenung dan gelisah. Semula ia punya dua tujuan tertentu, dengan berada dalam pasukan musuh ia lebih dekat dan gampang untuk membunuh musuh besar, dilain pihak seiring dengan ekspansi pasukan Mongol ke selatan ini sekaligus ia bisa pulang ke kampung halaman yang sudah sangat dirindukan. Kenyataan musuh besar berada didepan mata, namun i atak berdaya membunuhnya, sekarang pasukan ini bercokol di Liok-pan-san, entah kapan lagi baru dirinya bisa kembali tiba dikampung halamannya? Orang lain boleh mondar mandir kemana suka, sebaliknya kuatir konangan kedok samarannya, paling banyak ia hanya bisa bergerak di tempat2 terlarang khusus bagi pasukan kaum wanita.

Hari itu karena iseng Nyo Wan pergi kehutan memetik bunga, mendadak terdengar keliningan kuda yang membedal tiba, dari kejauhan san terleihat perwira muda tengah melarikan kudanya mendatangi, berani benar perwita ini memasuki dareha terlarang ini.

“Siapaakh itu?” segera Nyo Wan maju membentak, “Apa kau tahu inilah kubu pasukan perempuan?”

“Ya, aku sedang mencari putri Minghui.” Sahut perwira muda itu.

“Mencari tuan putri juga tidak boleh sembarangan main terobos,” jengek Nyo Wan, “Siapa namamu sekas sebutkan, bihar kulaporkan dulu, kau keluar dari hutan dang tunggu disana.”

Perwira muda itu malah melompat turun dari kudanya, dengan cermat ia mengawasi Nyo Wan sekian lama, katanya tertawa: “Dulu agaknya aku belum pernah lihat kau, kapan kau datang kemari, siapa pula namamu?”

“Kau tahu aturan tidak?” semprot Nyo Wan jangkel. “Kusuruh kau keluar kau dengar tidak?” Perwira itu tertawa lebar, katanya: “Nona seperti kau ternyata begitu galak, aturan apa yang kau maksudkan, coba katakan.”

“Siapapun dilarang menginjak daerah terlarang kubu pasukan wanita, apa kau tidak tahu.”

“Ya, siapapun dilarang masuk kemari, hanya akulah yang dikecualikan, hei, kau belum menjawab pertanyaanku tadi, siapa namau?”

Timbul rasa curiga dan was2 Nyo Wan, batinnya: “Orang ini bernyali begitu besar dan membuat ribut lagi, bukan mustahil sebagai utusan Sia It-tiong yang hendak menyelidiki jejakku? Kalau dugaanku ini salah, terang ia sengaja hendak main gila dengan aku.”

Sudah beberapa hari ini Nyo Wan dirundung kesesapan hati yang belum terlampias, segera ia membentak lebih keras: “Tak perduli siapa kau, berani sembarang terobosan ke daerah terlarang maka kau harus kubekuk.”

Perwira muda itu bergelak tertawa: “Apa betul? Tapi aku tak percaya nona cantik selemah kau mampu membekuk diriku?”

“Tak percaya?” jengek Nyo Wan tawar. Mendadak secepat kilat ia melompat menerjang sembari rangkap kedua jarinya menutuk ke muka si perwira muda.

Jurus Ji-liong-jiang-cu (dua naga berebut mutiara) adalah pelajaran ilmu tunggal dari Go-bi-pay, merupakan tipu yang lihai dari kepandaian merebut senjata musuh dengan tangan kosong. Sejak kecil Nyo Wan sudah diajari ilmu lihai ini dari engkohnya Nyo To, begitu kedua jarinya bergerak laksana dua japitan besi langsung mencolok kedua biji mata lawan, cara serangan ini memang cukup ganas dan keji.

Keruan perwira muda itu sangat terkejut, “kejam benar!” bentaknya, cepat telapak kirinya dimajukan miring melindungi muka sedang kakinya bergeser berputar setengah lingkaran berbareng pecut di tangan kanan juga terayun, perwira muda ini merupakan jago gulat yang paling kenamaan di Mongol, begitu kedua jari Nyo Wan menyerang tiba asal sekali kena cengkeram pasti patah, disusul ayunan pecut di tangan kiri, pikirnya gerakan serentak ini tentu dapat meringkus Nyo Wan dengan mudah.

Tak kira serangan Nyo Wan merupakan gertakan belaka dengan bunyi di timur memukul di barat. Hakikatnya dia tidak bermusuhan dengan perwira muda ini, mana tega mencukil biji mata orang? Tapi justru serangannya ini merupakan gertakan yang lihai, terpaksa pihak musuh harus membela diri dan melindungi mukanya dengan sepenuh perhatian.

Tapat pada waktu telapak kiri si perwira muda tegak dimuka wajahnya, mendadak Nyo Wan merubah gerakannya, tiba2 lengan bajunya dikebutkan mengebut pergelangan tangan si perwira muda, kontan pecutnya itu kena terampas olehnya.

Sebetulnya tenaga dan kekuatan si perwira muda jauh lebih besar dari Nyo Wan, kalau gebrak secara terang2an Nyo Wan pasti tak semudah itu dapat mengambil keuntungan, namun dengan gebrak tipunya yang lihai itu cara berbunyi di timur menggempur di barat kiranya berhasil dengan gemilang.

Perwira muda itu malah bergelak tertawa, serunya: “Kepandaian hebat, tapi untuk apa kau merebut pecutku. Bukankah kau dayang Minghui, apa mau menjadi tukang kudaku?”

Pecut musuh telah terampas oleh Nyo Wan, terasa olehnya pecut ini bobotnya rada berat dan lebih besar dari pecut umumnya, setelah ditegasi baru diketahui bahwa pecut ini teranyam dari rambut bulu mas hitam yang tumbuh diperbatasan barat, mas hitam yang terdapat di daerah pegunungan Altai bobotnya lebih berat dari mas kuning biasa, sudah tentu pecut yang dipegangnya sekarang juga merupakan benda berharga yang tak ternilai harganya. Dari sini dapatlah diduga pemilik dari pecut ini pasti bukan perwira sembarangan.

Tahu bahwa musuhnya ini bukan orang sembarang, namun ia gemes akan kata somobong dan kurangajar, diam2 ia membatin: “Peduli siapa dia, yang terang ia melanggar larangan menerobos tempat penting, betapapun aku harus memberi pelajaran, kukira putri Minghui takkan menyalahkan aku!”

Belum lagi gelak tertawa si perwira muda lenyap, mendadak Nyo Wan menggertak keras: “Rebahlah,” pecut rampasannya itu diayun menyerang dengan jurus Ko-teng-jan-su (rotan kering menggubet pohon), ujung pecut di tangannya bergetar terus menyapu kedua kaki si perwira.

Kali ini agaknya siperwira muda sudah siaga, serunya tertawa: “Belum tentu!” dimana tubuhnya bergerak dengan tipu “Chiu-hui-bi-ba” (tangan memetik harpa), bukan mudur malah menerjang maju telapak tangannya terjulur hendak menangkap pergelangan tangan orang. Namun gerak gerik Nyo Wanternyat cukup gesit pula, di tengah jalan ia merubah gerakan pecutnya melingkar hendak membelit lengan lawan, tapi keburu si perwira memutar tubuh dari emncengkeram telapak, tangannya dirubah menjadi kepalan, dimana jotosannya berkwsiur mengeluarkan deru angin yang deras, kiranya ia telah melancarkan rangsakan kencang yang dahsyat.

Tapi kepandaian Nyo Wan pun tidak lemah, kakinya bergerak lincah tubuhnya bergoyang selicin belut, pecut di tangannyapun ditarikan begitu indah dan tangkas sekali.

Terdengar perwira muda itu bergelak tawa lagi: ‘Permainan pecutmu ternyata cukup hebat pula, tadi kukira kau nona cilik yang lemah lembut, sungguh aku telah salah lihat!” ~ Belum lenyap gelak tawanya mendadak ia menghardik: “ Lepas tangan!” kelima jarinya bagai cakar garuda sekali cengkeram telak sekali kena pegang pecut yang menyamber tiba.

Sudah tentu tenaga Nyo Wan bukan tandingan musuhnya, dalam keadaan gawat ini timbul akalnya yang pintar, pergelangan tangannya memuntir dan digentakkan keras, kontan ujung pecut melejit balik laksana kepala ekor yang mematuk “plok” tepat sekali menutuk jalan darah hoan-tiau-hiat didengkul si perwira.

Saat mana si perwira sudah kerahkan tenaganya membetot dengan sepenuh tenaga, memang ia berhasil merampas balik pecutnya, namun tepat pada saat itu juga ia rasakan dengkulnya mendadak kesemutan, tak kuasa lagi “bluk” ia roboh terjungkal di tanah.

Karena tarikan yang besar, sehingga Nyo Wan kehilangan keseimbangan badan, hampir saja iapun terseret terjerembab, untung ilmu ringan tubuhnya sangat tinggi, sekali menggoyangkan pundak dengan gaya kek-cu-hoan-sin (burung dara jumpalitan) kakinya menjejakkan tanah tubuhnya lantas melejit berjumpalitan dan hinggap di tanah dengan entengnya.

Karena mengenakan pakaian perang yang cukup berat bobotnya dalam waktu dekat siperwira tak mampu bangun berdiri. Baru saja Nyo Wan memburu maju hendak meringkusnya, tiba2 terdengar seruan kaget dan kuatir orang berteriak: “Uhana, apa yang kau lakukan? Lekas berhenti!” ~ ternyata para prajurit wanita memburu keluar waktu mendengar ribut2 disini, “Uhana” adalah nama Nyo Wan dalam bahasa Mongol yang diberikan oleh putri Minghui. Karena pakaian perangnya yang serba tebal itu, meski jalan darah dengkulnya kena totok namun tidak begitu berat akibatnya, belum sempat para prajurit wanita itu memapahnya, perwira itu sudah merangkak bangun sendiri. Katanya tertawa: “Dia begitu setia terhadap Minghui. Akupun tidak terluka apa2, kalian tidak perlu salahkan dia.”

Para prajurit wanita itu barui lega hatinya, kata salah seorang: “Uhana, untung kau tidak menimbulkan keributan basar, kau tahu siapa beliau?”

“Mana aku tahu?” jawab Nyo Wan.

Seorang prajurit yang paling baik hubungannya dengan Nyo Wan segera maju memberi keterangan: “beliau adalah pangeran keempat kita. Diantara empat bersaudara , putri paling baik dengan dia.

Nanti kau harus minta ampun kepad atuan putri.”

Nyo Wan benar2 terkejut, baru sekarang diketahui oelhnya bahwa perwira muda ini tak lain tak bukan adalah putra keempat Jengis Khan yang bernama Dulai. Dari penuturan Li Su-lam Nyo Wan pernah dengar perihal Dulai, diketahui olehnya bahwa Dulai dan Minghui adalah dua putra putri Jengis Khan yang paling disayang. Sifat Dulai lapang terbuka dan polos, bijaksana terhadap sesama orang, jauh beda dengan ketiga engkohnya.

Dulu waktu ikut berburu dengan Jengis Khan , Dulai pernah bersahabat dengan Li Su-lam, sejak itu hubungan mereka semakin akrab, malah Dulai pernah memberi ‘kado’ (berupa sapu tangan), menurut adat istiadat suku Mongol memberi kado dianggap merupakan persahabatan yang kekal, sejak saat itu ia anggap Li Su-lam sebagai ‘Anda’ (saudara angkat).

Mendengar ucapan prajurit perempuan itu, Dulai tertawa geli, ujarnya: “Jangan kalian salahkan dia, perlu apa minta ampun segala? Sudahlah lekas bawa aku menemui Minghui!”

Segera Nyo Wan maju nyatakan maaf, terus membawa Dulai masuk kedalam kemah. Minghui tengah termenung dengan murung, tiba2 dilihatnya Dualai datang bertandang sungguh kejut dan girang hatinya, teriaknya: “Si kecil bukankah kau tinggal di Holin pegang kekuasaan? Kenapa datang kemari?”

“Kudengar ayah terluka, beberapa hari yang lalu aku sudah tilik ke Ko-goan,” sahut Dulai “dayangmu ini dulu agaknya aku tak pernah lihat, kapan kau terima dia? Naga2nya dia bukan nona2 kasar dari padang rumput dinegara kita?”

“Jadi kau datang dari Ko-goan?” kata Minghui, “Bagaimana keadaan ayah? Tentang Uhana nanti kita pelan2 kujelaskan kepadamu.” ~ Putri Minghui sendir masih belum ambil kepastian apakah dia harus menjelaskan asal usul Nyo Wan, apalagi selama ini sudah kangen benar dengan sang ayah, ingin benar mengetahui berita terakhir, maka ia alihkan pokok pembicaraan.

Kata Dulai dengan lesu: ‘Luka panah ayah kumat lagi, penyakitnya semakin parah. Aku justru menerima perintahnya kemari memanggilmu kesana. Agaknya ada sesuatu hal yang tidak disenanginya tentang kau, sudah beberapa hari aku berada di Ko-goan belum pernah ia menyinggung tentang dirimu. Semalam setelah penyakitnya rada baik, ayah sangat kangen kepadamu, semalam suntuk mengigau namamu. Lekas kau siap2 hari ini juga kau ikut aku kesana!” Terperanjat putri Minghui,katanya: “bagaimana penyakitnya bisa menjadi berat? Saban hari berita yang kudengar disini selalu menggembirakan, malah kukira penyakit ayah sudah sembuh sama sekali.”

Dulai tertawa getir: ‘memang ayah merahasiakan keadaannya yang gawat supaya tidak menggangu ketentraman para prajurit dimedan perang. Kau jauh dari Ko-goan, seluk beluk ini sudah tentu tidak kau paham.”

Putri Minghui menjadi bingung dan gelisah,katanya: ‘Apakah begitu krisis sampai mengganggu jiwanya? Apakah bajingan Tin-kok itu masih berada disamping ayah?”

Dulai menghela napas, sahutnya: ‘Sukar dikatakan. Usia ayah sudah menanjak tujuhpuluh. Setua ini hidup dalam petualangan diatas kuda, mendirikan pahala besar bagi bangsa dan negara kita, seumpama betul2 menemui ajalnya juga tak perlu dibuat sedih. Kaupun tak perlu terlalu merawan hati.” ~ sejenak berhenti, lalu sambungnya: ‘Aku tahu kau benci pangeran Tin-kok,apalagi keadaan ayah sudah gawat, betapapun pernikahanmu pasti tertunda, maka kaupun tak perlu kuatir menghadapinya. Ada aku yang mengiringi kau ke Ko-goan, kutanggung pangeran Tin-kok takkan berani mengusik padamu.” Kiranya hubungan putri Minghui paling akrab dengan Dulai diantara sekian banyak saudaranya, isi hati putri Minghui selamanya disampaikan kepada Dulai secara bebas terbuka. Dasar watak Dulai polos dan jujur,iapun tidak cocok dengan pangeran Tin-kok.

“Baik, kau keluar sebentar, aku hendak ganti pakaian,” kata putri Minghui, ‘tolong kau suruh mereka menyiapkan kudaku, suruhlah mereka pilih tiga ekor kuda yang paling jempolan!” Mendadak Dulai bertanya: ‘Apakah kau bermaksud membawa pelayanmu itu?”

Sesaat putri Minghui tertegun, sahutnya: “untuk apa kau tanyakan hal ini?”

Pandangan Dulai beralih kepada Nyo Wan, katanya: “Kepandaian Uhana cukup baik, tadi hampir saja aku kena diringkus olehnya. Menurut hematku kepandaiannya jarang didapat diantara kaum putri umumnya, mungkin para busu kita hanya beberapa orang saja yang kuat menandinginya.

Baru sekarang putri Minghui paham kemana juntrungan pertanyaan saudaranya itu, dengantersenyumpenuh ia berkata: “Jadi maksudmu supaya aku membawanya serta.”

‘Dengan ada seorang pelindung yang berkepandaian tinggi seperti Uhana berada disampingmu aku lebih berlega hati.’

“baiklah,kau keluar dulu, biar kutanya maksudnya.”

Bagitu bayangan Dulai lenyap diluat kemah segera Nyo Wan berkata: “Aku tak mau pergi,” ~ Menurut pertimbangannya Dulai kelihatan rada curiga terhadap dirinya, mungkin dia sudah mengetahui rahasia diriku sebagai bangsa han. Meskipun dia sahabat baik Li Su-lam, batapapun dia keturunan raja, belum tentu karena atau demi sahabatnya lantas mau begitu saja melepaskan buronan penting. Ada lebih baik asal0usulku tidak diketahui olehnya.”

Putri Minghui berpikir sejenak, katanya: “Aku berpikir demi kepentinganmu. Menurut pendapatku lebih baik kau ikut aku pergi.’

‘Kenapa?’ tanya Nyo Wan.

“Aku tidak tega meninggalkan kau disini.” ~ Sebentar ia merandek lalu menyambung lagi, “Malam itu mereka sudah curiga bahwa pembunuh gelap itu melarikan diri kemari, tapi mereka takut dan melihat mukaku maka tidak menggerebek kesini. Setelah aku pergi, kalau takut terang terangan mungkin Sia It-tiong bisa kirim begundalnya kemari secara menggelap.”

Sia It-tiong itu memang banyak akal muslihat dan sukar ditebak sepak terjangnya, demikian pikir Nyo Wan, paling tidak Dulai jauyh lebih baik dari pada dia, dari pada aku kena dobokong Sia It- tiong, biarlah aku dicurigai oleh Dulai saja, maka akhirnya ia mengabulkan.

Letak Ko-goan kira2 seratus li di selatan bukit Liok-pan-san, dengan menunggang kuda cepat malam itu juga mereka sudah tiba di tujuan. Dulai dan putri Minghui langsung masuk kedalam kemah menilik penyakit Jengis Khan, sedang Nyo Wan beristirahat di kemah lain yang sudah disediakan khusus bagi para dayang.

Waktu Dulai an putri Minghui memasuki kemah emas kebetulan mendengar Jengis Khan mengumpat caci: ‘Hm, apa itu bijaksana dan cinta kasih, berbuat luhur sedikit membunuh apa segala emangnya kau ini pelajar rudin yang berpandangan sempit? Sebagai seorang ksatria sebagai pahlawan bangsa kalau aku tidak tumpas seluruh musuh sehingga mereka keder dan gemetar, mana aku bisa menguasai seluruh jagat? Hah, aku mendapat firman Thian sebelum seluruh pelosok dunia kusatukan, aku ingin matipun juga takkan gampang binasa! Tak perlu kau obati, pergi kau pergi!

Aku tidak percaya, tanpa kau masa aku bisa mampus!” ~ di tengah gema makiannya itu tampak seorang tua yang memanggil peti obat beranjak keluar dari dalam.

Dulai ter-heran2, tanyanya kepada Busu yang jaga diluar kemah: ‘Apakah yang telah terjadi?” “Orang itu tabib kenamaan dari bangsa Han yang bernama Liu Goan-cong, dengan susah payah baru mengundangnya kemari untuk memeriksa penyakit Khan besar.”

‘Kenapa pula Khan besar mengusirnya keluar malah?” desak Dulai.

“Katanya dia membujuk Khan besar supaya menyebarkan kebajikan dan berbuat amal, sedikit membunuh, baru batin bisa tentram dan panjang umur. Agaknya Khan besar tidak sepaham dengan pendapatnya ini, maka memaki dang mengusirnya!”

“Dulai terkejut, katanya: ‘Apakah tabib lihai inipun sudah tak mampu memberikan obatnya?” Busu itu manggut2 tanpa menjawab.

Cepat2 putri Minghui dan Dulai memasuki kemah ter tampak Jengis Khan berbaring dengan napas memburu sedang pejamkan mata, mungkin terlalu bernafsu mengumpat caci tadi sehingga kelelahan. Ketiga selir Jengis Khan dan tiga putra lainnya yaitu Cuja, Cahatai dan Ogol sudah mengelilingi di samping pembaringan.

Salah seorang selir tersayang Jengis Khan membisik pinggir telinganya: “Khan besar, Alehai dan Dulai yang paling kau sayang sudah tiba!”

Dulai segera maju serta berkata lirih: ‘Yah, aku datang bersama adik Minghui. Apakah keadaanmu rada baik?”

Pelan2 Jengis Khan membuka mata, mendadak ia berteriak keras: ‘Apa, kau takut aku segera modar? Seluruh dunia ini akan kujadikan ladang gembala bangsa Mongol kita, siapa berani melawan perintahku ini? Aku harus tetap hidup!”

Sungguh kasihan keadaan Jengis Khan yang payah itu justru karena merasa jiwanya bakal tamat sehingga pikirannya menjadi kurang waras. Setelah ber-teriak2 kontan ia jatuh pingsan.

Seorang Ongkong (abdi dalam) berkata lirih: “Agaknya keadaan Khan besar susah ditolong lagi, marilah kita minta beliau memberikan pesannya terakhir.”

“Apakah Khan besar bisa siuman lagi?” tanya Ogotai.

‘Akulah putra terbesar,”sela Cuja, “Sudah seharusnya akulah yang mewarisi kedudukannya ini.’ “Cis, apa kau layak!” jengek Ogotai.

Lapat2 agaknya Jengis Khan ada mendengar orang berdebat, pelan2 ia membuka mata lagi.

Dua orang Ongkong yang paling lajut usia seger maju berlutut, sembahnya: “Badan masmu laksana sekokoh gunung, kalau ambruk siapakah yang bakal pegang tampuk peimpinan negara besar ini?

Kau merupakan tunggak negara kalau roboh spa pula yang kuat menjunjung kewibawaan negara? Siapa pula yang kuasa mengendalikan keempat puteramu? Anak2mu, para saudara dan rakyatmu seta para selir sekalian, harap Khan besar kau berikanlah pesan masmu.”

Jengis Khan menghela napas dengan lesu, mulutnya menggumam: ‘Apa aku betul2 hampir mati? Keadaannya sekarang rada jernih, samar2 ia tahu betapapun ia takkan kuasa melawan malaikat kematian yang hendak merengut jiwanya.

Semua oran yang hadir tiada satupun yang berani bersuara. Satu persatu pandangan mata Jengis Khan menatap keempat putranya, setelah menghela napas ia berkata: “Apakah kalianmasih ingat pelajaran mematahkan panah yang kuberikan dulu? Kalian harus seperti segebung anak panah yang bergabung menjadi satu, sehingga musuh takkan bisa mematahkan kalian satu persatu. Belum lagi aku mati kalian sudah bertengkar sendiri, matipun aku takkan tentram.”

Keempat putranya mengiakan bersama, namun Ogotai dan Cuja masih saling melotot, jelas rasa permusuhan mereka masih saling menghantui sanubari masing2.

Ternyata ibunya Cuja dulu pernah menjadi tawanan suku Murkit yang merupakan musuh bebuyutan Jengis Khan. Kelahiran Cuja berlangsung di tengah perjalanan waktu ibunya dilepas pulang, maka para saudaranya sering curiga akan asal usulnya yang kurang gamblang, mereka tidak menganggapnya sebagai saudara tertua. Terutama Ogotai ini paling benci terhadap engkohnya ini, malah beberapa kali secara langsung ia pernah memakinya sebagai keturunan ‘haram.’

Tadi waktu Jengis Khan jatuh pingsan, Cuja sebagai putra sulung hendak mengambil kedudukan ayahnya, segera Ogotai memakinya. Kebetulan Jengis Khan siuman dari pingsannya, perdebatan itu didengar semua olehnya.

Jengis Khan berkata dalam hati: “Kalau aku angkat Cuja sebagai gantiku tentu ketiga saudaranya tak mau tunduk padanya. Cahatai paling pandai berperang, namun sifatnya kasar dan berangasan, kalau dia diangkat jadi pimpinan mungkin bisa timbul huru hara di dalam negeri sendiri. Ogotai bersifat jujur dan setia serta bijaksana, paling mendapat sanjung puji para bawahannya, namun kurang cerdik dan tumpul otaknya, kalau di yang kuangkat keadaan dalam negeri akan lebih celaka dan mungkin makin berbahaya bagi keselamatannya.”

Harus diketahui meskipun Ogotai mendapat junjungan dari anak buahnya, tapi pasukan besar dalam penyerbuan di Liok-pan-san ini seluruhnya adalah dibawah pimpinan pangeran Tin-kok. Justru pangeran Tin-kok berpihak kepada Cahatai, sudah tentu Cahatai takkan sudi memberikan kedudukan tinggi sebagai Khan teragung bangsanya pada adiknya. Oleh pertimbangan ini walau Jengis Khan ada maksud hendak angkat Ogotai sebagai pewarisnya, betapapun ia harus pertimbangkan lagi lebih masak, karena situasi sekarang tidak menguntungkan bagi segala pihak. Terakhir Jengis Khan teringat akan putranya yang tersayang Dulai, Dulai berotak cerdik dan pandai bekerja, sayang usianya terlalu muda belum punya wibawa, kalau dia membantu Ogotai adalah yang paling cocok.

Belum lagi selesai pertimbangan Jengis Khan ia ter-batuk2 lagi, setelah menenggak wedang jinsom baru berkata: ‘Dunia ini sedemikian besarnya, kalau kalian sudah menundukkan seluruh pelosok jagat, masing2 boleh ambil daerahnya sendir dan bercokol mendirikan negara baru, takperlu kalian saling rebutan dan cakar2an sendiri.”

“Ucapan ayah memang tepat,” kata Cahatai, “namun orang Han ada punya pepatah yang berkata: ‘Matahari takkan timbul selama dua hari, rakyat tak boleh punya dua raja. Bukankah kata2 ini merupakan peringatan bagi kita?”

Bertaut alis jengis Khan, akhirnya tersimpul suatu keputusan oelhnya, katanya: ‘Siapapun yang bakal menjadi junjungan dia harus mendapat suara terbanayk dari seluruh rakyat. Bukankah pada pertemuan besar disungai kastan dulu aku yang dipilih dan dijunjung oleh para kepala suku untuk menjadi Khan agung. Cara baik ini haruis dijadikan tradisi bagi generasi mendatang, angkatlah sebagai per undang2 negara kita.”

Dua abdi dalam tadi sekali lagi menyembah: “Harap Khan besar suke memberi petunjuk lebih jelas.” ~ Sebab ini merupakan suatu prinsip dlam teori saja belum secara langsung menyentuh persoalan luas yang objektif.

“Baik, kalian dengarlah!” kata Jengis Khan sambil mengelus dada, “Setelah akau wafat, kalian harus membawa pulang jazatku ke Holin, kuberi peluang selama tiga bulan panggillah seluruh kepala suku,abdi dalam serta para panglima besar dari berbagai angkatan,adakan suatu rapat besar yang dinamakan Kuliatai (artinya dalam bahasa Mongol adalah orang2 yang punya kuasa). Rapat Kuliatai inilah yang akan menerima surat pewarisku, saat itulah kalian angkat dan pilih Khan besar yang baru. Sebelum Khan baru terpilih, kuangkat Dulai sebagai pejabat Khan besar, dialah yang pegang kekuasaan negara.’

Cahatai rada kecewa setelah mendengar pesan jengis Khan ini, hatinya kurang senang karena kedudukan Khan besar belum ada keputusan yang positip, sehingga kekuasaan negarapun tiada bagian untuknya. Tapi justru karena belum ada ketentuan siapa yang bakal terangkat menjadi khan Agung, paling tidak ia masih punya setitik harapan.

Bagi orang yang punya ambisi sudah lumrah kalau menilai diri sendiri terlalu tinggi demikianlah keadaan Cahatai, ia berpikir: “Dalam peperangan akulah yang paling besar mendirikan pahala, abdi dalam, kepala suku serta panglima siapa yang tidak takut dan keder terhadap aku? Dalam rapat besar Kuliatai nanti asal ada beberapa orang kuat terpercaya mau membantu aku, para kepala suku dan abdi dalam yang lemah itu tentu kan tunduk pula padaku. Kedudukan Khan besar yang teragung betapapun bakal menjadi makanan empuk bagiku.”

Keputusan Jengis Khan tak mungkin diubah, pikiran Cahatai terlalu muluk dan memandang enteng persoalan ini, maka tidak terpikir olehnya untuk angkat senjata menumpas Ogotai dan Dulai.

Seleuruh hadirin tengah tumplek perhatian mendengarkan pesan terakhir Jengis Khan, mimik wajah mereka saling berlainan sesuai dengan kepetingan masing2, entah girang atau sedih mungkin pula ada yang bersyukur dalam hati. Hanya putri Minghui seorang yang tidak masuk hitungan dalampesan terakhir itu, dirinya tidak berkepentingan dalam urusan negara, hatinya dirundung kesedihan hanya keselamatan ayahnya yang menjadi buah pikirannya. Di-saat2 menjelang ajal ini pikiran Jengis Khan menjadi jernih dan menyesal sekali, melihat titik air mata dikelopak mata putri Minghui hatinya menjaditidak tega dan terharu pula, pikirnya: “Kiranya hanya Alaehai saja yang paling prihatin akan diriku, tak seperti Cahatai dan lain2 belum lagi aku mati mereka sudah saling cakar dan rebutan warisan.”

Sunggu sesal dan pilu perasaan Jengis Khan, katanya lirih: “Alehai!” “yah, aku ada disini.”

Jengis Khan menggengam dan mengelus tangannya, katanya: ‘Aku menyesal dan mohon maaf tak dapat mengabulkan permintaanmu terakhir, apakah kau masih marah pada ayah?”

Putri Minghui maklum yang dimaksud adalah persoalan dirinya dengan pangeran Tin-kok, dari nada ucapannya ini dapat dirasakan bahw abeliau benar2 sudah menyesal dan sadar. Tak tahu bagaimana ia harus menjawab, hanya air mata saja yang tak kuasa dibendungnya. Katanya dengan sesenggukan: “Yah, aku pasrah saja kepada pendapatmu.”

“Kau tak perlu bersedih,” bujuk Jengis Khan. “Setelah ku wafat, engkohmu Dulai pasti akan merawat kau, serahkan saja persoalanmu kepada dia.”

Kata2 Jengis Khan ini mengandung arti yang dalam, tegasnya ia serahkan persoalan pernikahan putri Minghui kepada Dulai untuk membereskannya kelak.

Jengis Khan tahu situasi sekarang masih memerlukan kekuatan tentara Tin-kok, maka ucapannya hanya samar2 saja, tapi bila kelak situasi dan kondisi sudah berubah, bantuan Tin-kok sudah tiada artinya, persoalan nikah yang tidak disetujui langsung oleh putri Minghui, sudah tentu Jengis Khan sendiri tidak perlu mengukuhi pendapatnya secara sepihak. Namun perubahan situasi kelak betapapun sebagai orang biasa jengis Khan tak bisa meramalkan, maka ia serahkan keputusan terakhir kepada Dulai saja, hakekatnya ucapannya ini juga memberi kisikan kepada Dulai: kalau kelak kau masih memerlukan kekuatan pangeran Tin-kok, betapapaun pernikahan adikmu tidak boleh batal.

Putri Minghui dapat emamklumi arti kata ayahnya, jeritnya menangis: ‘ayah, kau jangan tinggalkan aku!”

Jengis Khan menghela napas, ujarnya: ‘Sekarang aku sudah paham, akhirnya orang pasti mati! Aku percaya kelak seluruh dunia ini pasti bakal menjadi ladang gembala seluruh bangsa Mongol, hanya sayang hari bahagia itu aku tidak bakal mengalami sendiri.” ~ suara kata2nya semakin lirih dan lenyap, seorang junjungan perkasa akhirnya menutup mata untuk selama2nya.

Putri Minghui men-jerit2.

“Jangan karena tangismu sampai menggangu pikiran orang lain, sebentar lagi kita mesti berunding.” Sentak Cahatai.

Di lain saat, para abdi dalam, selir, serta para panglima yang hadir segera mengadakan pertemuan dalam kemah itu juga, mereka mengadakan perundingan kilat, mencari jalan cara bagaimana untuk mengadakan upacara pemakaman bagi Jengis Khan, serta rencana militer untuk menyerbu kerajaan Kim serta lain2 persoalan penting.

Sudah tentu karena masing2 mempunyia kepentingan dan jalan pikiran sendiri, tak heran terjadi beberapa kali perdebatan seru.

Walaupun pangeran Tin-kok tidak paham apa maksud ucapan terakhir Jengis Khan tadi sebelum ajal, namun samar2 ia merasa sesuatu yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Terang dirinya tidak cocok dengan Dulai, sekarang justru Dulai yang pegang kekuasaan negara, sudah tentu ia sangat merugikan kepentingannya pribadi. Di lain pihak dengan kematian Jengis Khan menurut adat istiadat bangsa Mongol meski tidak seperti aturan orang Han harus menunggu tiga tahun lagi, paling tidak pernikahannya dengan putri Minghui harus tunggu setelah pemilihan baru dari Khan besar nanti. Sudah tentu iapun maklum bahwa putri Minghui tidak suka padanya, kalau pernikahan itu tertunda terus semakin lama semakin merugikan dirinya.

Diam2 Cahatai menarik pangeran Tin-kok ke pinggir, katanya: “Cepat atau lambat kerajaan Kim pasti bakal kita caplok, menurut pendapatku, lebih baik sekarang kita tarik tentaramu pulang dulu. Kalau aku dapat mewarisi kerajaan besar ini, tatkala itu segala kepentinganmu tentu menjadi perhatianku juga.

Jelas sekali ucapan Cahatai ini, seumpama seorang bodohpun mesti bisa menangkap arti kata2 itu. Secara tidak langsung Cahatai mengajukan syarat penggantian, kalau Tin-kok mau membantu dirinya merebut kekuasaan besar menjadi Khan agung, Cahatai akan mengabulkan segala permohonannya, pernikahannya dengan putri Minghui seudah tentu takkan menjadi soal lagi.

Kata Tin-kok: “Baik, Inspansi ke Selatan kala ini ada dibawah pimpinanku, tidak perduli kalian setuju atau menentang aku sudah pasti harus menarik bala tentaraku pulang negeri.”

“Benar”, Cahatai memberi persetujuannya, “Kematian Khan besar tentu mempengaruhi hati nurani para prajurit, kalau mereka tiada niat berperang terpaksa harus beri kesempatan pada mereka untuk melayat jenazah Khan besar kembali ke negeri, biarlah mereka berkesempatan berduka cita.” Begitu keputusan ini diumumkan, para abdi dalam, para menteri sampai Dulai sendiripun, meski ada yang tidak setuju, namun mereka tiada yang berani menentang secara terang2an. Saat itu juga Pangeran Tin-kok lantas membawa para busu pengiringnya keluar kemah emas, siap kembali ke front terdepan dikaki gunung Liok-pan-san, untuk menarik mundur seluruh milisinya kembali kenegeri .

Tatkala itu sudah hari kedua pagi2 benar.

Dilain pihak, waktu bangun pagi Nyo Wan menjadi kurang tentram, bergegas ia keluar dari kemahnya dan ber-jalan2 di lereng bukit yang terdekat, diam2 ia awasi situasi kemah mas dari kejauhan.

Sungguh diluar dugaannya yang ditunggu2 putri Minghui justru yang keluar dulu adalah pangeran Tin-kok. Urusan penting dan tugas berat tengah melibat diri pangeran Tin-kok, sebetulnya ia tidak memperhatikan Nyo Wan, tapi kedua Busu pengiringnya justru ketarik akan bayangan bentuk tubuh Nyo Wan. Kedua Busu itu justru adalah Busu yang pernah bertempur dekat dengan Nyo Wan pada waktu ia hendak membunuh Sia It-tiong malam itu.

Karen arasa curiga ini segera merek amaju membentak: “Siapa kau?” Dengan tenang Nyo Wan menyahut: ‘Aku adalah dayang putri Minghui.”

Mnedengar dayang putri Minghui, pangeranTin-kok menjadi tertarik, apalagi melihat dia orang Han timbul rasa sangsinya, katanya: “Dayang putri Minghui mana boleh menggunakan orang Han?

Kulihat kau inipalsu belaka?”

“Putri Minghui berada didalam kemah, kalau tidak percaya silahkan pergi tanya beliau!” Pangeran Tin-ko memicingkan mata, katanya menyengir: “Betina ini cukup menggiurkan.” Lekas2 kedua Busu itu melapor: ‘Lapor Goanswe, betina ini persis sama dengan pembunuh gelap malam itu.”

Hati Nyo Wan gugup dan kebat-kebit, namun lahirnya ia berlaku tenang2 saja, katanya: ‘Aku betul2 dayang putri Minghui, harap Goanswe tanya kepada tuan putri, tentu akan jelas.”

Pangeran Tin-kok menyeringai dingin, jengeknya: ‘kau gunakan nama Minghui untuk menggertak aku? Hm, seumpama kau benar aalah dayangnya lalu mau apa? Kaau sangka aku tidak berani menjatuhkan hukuman kepadamu? Minghui berani menerima dayang orang Han ini terang salah!” ~ Bicara sampai disini tiba2 mukanya membesar beringas, bentaknya: “Jangan kuatir, ringkus dia.” Ternyata karena selalu dihadapi sikap dingin dan cemoohan melulu pangeran Tin-kok menjadi dendam dan gegetun terhadap putri Minghui, apalagi ia sudah kepincut akan kecantikan Nyo Wan, maka terpaksa ia gunakan alasan yang tidak masuk akal untuk membekuknya.

Sambil mengiakan segera kedua Busu itu lompat turun. Busu baju hitam menerjang lebih dahulu langsung ia mencengkeram ketulang pundak Nyo Wan.

Nyo Wan tahu ilmu gulat orang memang cukup hebat, mana ia mau mandah saja dipegang? Lincah sekali bagai naga melingkar ia berputar sembari kebutkan lengan bajunya menyaplok muka si Busu. “Bret”, lengan baju Nyo Wan sobek sebagian kena dicengkeram musuh, sebaliknya ujung mata si Busu juga kena kebutan lenga bajunya, seketika air mata meleelh saking pedas dan sakit. Jurus

Kim-na-chiu yang cukup hebat dan ganas dari serangan si Busu dengan mudah dapat dipunahkan oleh Nyo Wan.

Kalau dikata lambat kenyataan sangat cepat, Busu baju kuning saat manapun sudah merangsak tiba. Terpaksa Nyo Wan harus melolos pedang, gertaknya: ‘Nyalimu cukup besar, berani menghina aku! Lihat pedang.”

“Aku diperintah Goanswe, peduli kau dayang tuan putri!” jengeknya sambil angkat tamengnya menangkis ‘tang” tepat sekali ia tangkis tusukan pedang Nyo Wan, berbareng golok panjang di tangan kanan segera membabat mengarah ke mata kaki Nyo Wan.

Terdengar pangeran Tin-kok membentak: “Jangan melukainya, aku ingin yang hidup.”

Kedua Busunya mengiakan lagi, tajam goloknya menukik naik terus menusuk pergelangan tangan Nyo Wan bermaksud menyampok katuh pedang Nyo Wan. Tak diketahui olehnya bahwa ilmu pedang Nyo Wan justru sangat hebat dan lihai perubahan nya sukar diraba sebelumnya, meski kedua Busu ini mengeroyoknya dengan sekuat tenaga paling banyak kuat bertahan saja takkan mampu merobohkan dirinya.

Apalagi merek akuatir pula melukai, setiap kali menyerang selalu harus merobah sasaran meski terang serangan itu bakal berhasil?

Terdengar Busu itu malah menjerit sendiri terus terhuyung mundur tiga langkah. Kiranya lengan kirinya telah tergores ujung pedang, untungnya badannya terlindung pakaian perangnnya sehingga lukannya tidak terlalu parah. Tapi tak urung baju luarnya dedel dowel, kaca tembaga dalam tubuhnya juga hancur. Keruan kagetnya bukan kepalang.

Sekali gebrak saja Busu baju hitan itu lantas mengenal car permainan Nyo Wan, teriaknya: “Tak salah lagi, betina ini memang pembunuh gelap malam itu!” ~ Setelah meng ucek2 mata diapun mencabut goloknya melengkung terus menerjang maju membantu temannya.

Pangeran Tin-kok sudah tahu bahwa kepandaian Nyo Wan cukup tinggi, segera ia memberikan perintahnya lagi: “Kuijinkan kalian melukainya, asal tidak sampai menjadi cacat.”

Kedua Busu itu adalah jago pilihan kelas satu dlam pasukan Mongol, kepandaian merekapun tidak lemah. Kalau satu lawan satu dengan gampang pasti Nyo Wan dapat merobohkan mereka, namun dengan dua lawan satu, keadaannya menjadi rada terdesak dibawah angin. Untung karena dilarang melukai sampai cacat kedua Busu ini menjadi takut melukai dan tidak sepenuh tenaga menempurnya.

Nyo Wan insaf kalau bertempur lama2 tentu dirinya bakal celaka, dalam gugupnya tk perduli lagi apakah bakal bikin geger para abdi dalam atau pembesar lainnya, segera ia berteriak keras: “Tuan putri, tuan putri! Lekas keluar! Ada orang menganiaya aku.”

Tempat dimana Nyo Wan menempur kedua Busu itukira2 berjarak tiga li dari kemah emas tempat tinggal Jengis Khan, namun karena ia berteriak menggunakan Joan-im-jib-bit, dengan dilandasi Lwekang yang kuat suarnay bisa terdengar sampai jauh. Putri Minghui sedang duduk didalam kemah, lapat2 ia mendengar teriakan Nyo Wan ini.

Saat mana segala persoalan yang dirundingkan boleh dikata sudah selesai dan mendapat persesuaian pendapat. Begitu mendengar teriakan Nyo Wan, bercekat hati putri Minghui , segera ia berdiri dan berkata kepada Dulai: ‘Si ko, agaknya dayangku itutengah memanggil aku, mari kita keluar bersama.”

“Baik, kau keluar dulu, segera aku menyusulmu.” ~ sahut Dulai. Karena Ogotai hendak bicara dengannya terpaksa ia harus tinggal lagi beberapa saat, setelah pembicaraannya dengan Ogotai selesai baru ia memburu keluar.

Dalam kejap lain putri Minghui sudah memburu datang, jauh2 ia menghardik: “Mengandal apa kalian berani menganiaya dayangku?”

Pangeran tin-kok menyeringai dingin, jengeknya: “Dia dicurigai sebagai pembunuh gelap,aku sebagai seorang panglima perang, masa begitu gampang harus melepaskannya?”

Terperanjat Putri Minghui, batinnya: ‘Nyo Wan suah menyamar bagaimana mungkin bisa dikenal oleh mereka?” ~ Tapi putri Minghui tahu mereka tidak punya bukti yang dapat diandalkan apalagi segera Dulai bakal datang membantu maka meskipun hatinya rada keder, namum nadanya tetap garang, bentaknya: “Omong kosong. Malam itu dia selalu berada di sampingku, mana mungkin menjadi pembunuh gelap!”

“Benar atau tidak, betapapun aku harus memeriksanya sendir!” pangeran Tin-kok menegas.

Dapatkah putri Minghui menolong Nyo Wan? Bagaimana nasib Nyo Wan selanjutnya?

Sesudah kematian Jengis Khan siapakah calon penggantinya? Apakah pasukan Mongol akan terus menyerbu ke Tionggoan? Dapatkah Nyo Wan menemukan jejak Li Su-lam?

Bagaimana pengalamannya selama ini?
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pahlawan Gurun Jilid 05"

Post a Comment

close