Pahlawan Gurun Jilid 02

Mode Malam
 
Jilid 02

Mufali lantas mendekati Li Su-lam untuk menanyakan peristiwa semalam dan memberi tahu bahwa dia telah mengirimkan belasan anak buahnya dari “pasukan sayap sakti” untuk mencari jejak penyatron itu dan diharap tidak lama lagi akan ada hasilnya.

Tengah bicara, Putri Minghui tampak mendekati mereka, katanya : “Apa yang kalian bicarakan? Ayah suruh dia mengiringi aku pergi berburu!”

“Baiklah, silahkan,” ujar Mufali. Lalu ia sendiri pergi bicara dengan Li Hi-ko.

Lantaran menguatirkan penyatron yang terluka itu, perasaan Su-lam menjadi tidak tenteram sepanjang mengikuti Putri Minghui berburu. Ia pikir pasukan perintis Jengis Khan sudah dikerahkan, serbuannya kepada Kim segera akan dilaksanakan, tentu ayah dan aku akan ikut serta dalam pasukannya, maka aku harus cepat2 mengunjungi lembah yang disebuit orang itu. tapi cara bagaimana supaya aku ada alasan pergi kesana? Demikian Su-lam me-nimang2.

Karena pikirannya kacau sehingga cara memanah Su-lam menjadi ngawur, bebrapa kali panahnya tidak kena sasarannya. Maka hasil buruan Putri Minghui jauh lebih banyak daripada Su-lam.

Kau sengaja mengalah padaku atau sedang memikirkan urusan lain, bila ada urusan bolehlah kau katakan padaku, mungkin aku akan datap membantu kau,” kata Minghui.

Selagi Su-lam ragu2 dan belum menjawab, se-konyong2 terdengar suara auman binatang buas, dari dalam rimba mendadak lari keluar seekor badak. Begitu melihat manusia, segera badak itu menerjang.

Cepat Minghui membidikkan panahnya. Namun badak bercula satu itu jauh lebih ganas dari pada binatang liar lain, kulitnya tebal pula. Mesti panah Minghui kena sasarannya, tapi tidak menjadikannya terluka parah. Sebaliknya badak itu tambah mengamuk, dengan culanya yang tajam itu terus menyeruduk kearah Minghui.

Biarpun Minghui sudah biasa berburu, tapi belum pernah ketemu badak sebuas itu. Maka ia menjadi gugup ketika binatang itu menyeruduk kearahnya, sekejap itu kakinya serasa tidak mau menurut perintahnya, tampaknya cula badak akan segera menancap didadanya, hendak mengelak juga tidak keburu lagi. Pada detik terakhir itu se-konyong2 badannya terasa enteng, seperti terbang saja tubuhnya telah mengapung keatas.

Badak itu mengaum keras sehingga bumi seperti tergetar. Minghui merasa badannya dirangkul erat2 oleh seorang, kedua kakinya telah menginjak tanah kembali. Terdengar suara Su-lam berbisik di telinganya: “Jangan takut, Tuan Putri, badak sudah mati.”

Waktu Minghui memperhatikan, terlihat Su-lam berada di sisinya, sebelah tangan merangkul bahunya. Sedangkan badak tadi nampak menggeletak dibawah sebuah batu karang dengan kepala tertindih sepotong batu besar.

Kiranya pada detik yang sangat berbahaya tadi Su-lam sempat merangkul Minghui, berbareng pedangnya menusuk secepat kilat sehingga mata badak dibutakan. Untung ginkangnya cukup hebat, biarpun merangkul satu orang masih mampu meloncat beberapa meter tingginya, tanduk badak itu se-akan2 menyerempet lewat dibawah tapak kakinya. Karena mata badak itu telah dibutakan, kepalanya lantas menumbuk batu karang, kepala pecah dan badak itupun mati.

Meski orang Mongol tidak terlalu terikat oleh adat istiadat antara laki2 dan perempuan, namun berada dalam pelukan seorang pemuda bagi Minghui barulah dirasakan sekarang untuk pertama kalinya. Setelah tenangkandiri air muka Minghui menjadi merah jengah. Katanya: “Terima kasih atas pertolonganmu. Hebat benar kepandaianmu. Cara bagaimana kau telah membunuh badak itu? Cula badak sangat mahal, sekarang kita dapat memotong culanya.” ~ Dibalik kata2nya itu juga mengingatkan Su-lam agar melepaskan pelukannya.

Seketika Su-lam tersadar juga, wajahnya menjadi merah pula. Cepat ia lepaskan sang Putri, katanya dengankikuk: “ O, beruntung aku dapat menusuk buta matanya, dia sendiri menumbuk batu karang samapai mati.”

“Ternyata kaupun seorang pemburu yang ahli,” ujar Minghui dengn tertawa. “Kulit daging badak sangat tebal, kalau tidak membutakan matanya mungkin pedangmu ini takkan mempan menusuk mati dia.”

Selagi bicara, tiba2 dari dalam hutan tadi berlari keluar beberapa orang, yang paling depan dalah seorang pemuda bermantel bulu, beberapa pengiring dibelakangnya, sedang bicaranya sambil me- nuding2 kearah Minghui berdua. Sayup2 Su-lam mendengar kata2 seorang diantaranya: “Putri Alehai adalah mutiara kesayangan Khan Agung, hendaknya Ongcu (pangeran) jangan marah padanya.”

Su-lam merasa heran pangeran darimana itu? Belum lenyap herannya, tiba2 pemuda tadi telah memburu kearahnya. Mendadak ia melolos sebilah golok melengkung terus membacok Su-lam sambil membentak: “Kurangajar! Kau berani membunuh badak buruanku?”

Kiranya pemuda itu adalah pangeran Tin-kok, putra kepala suku Wangku. Dia adalah tunangan Minghui yang belum saling kenal muka.

Kulit muka Tin-kok ke-hitam2an, bersiung pula hingga menonjol keluar bibir, mukanya sangat jelek, tapi tenaganya ternyata tidak kecil.

Dengan cepat Su-lam menangkis dengan pedang, tapi tidak urung tergetar mundur dua tiga undak. He siluman buruk darimanakah berani main gila disini?” damprat Minghui. Ia tidak tahu bahwa “siluman” yang dimakinya itu adalah tunangannya sendiri. Segera ia siapkan panah pula hendak membidik Tin-lok.

Tuan Putri tidak perlu ikut campur, bihar kuhajae adat padanya,” seru Su-lam sambil putar pedangnya, sret-sret-sret beberapa kali, tahu2 mantel bulu yang dipakai Tin-kok terpapas sebagian. Keruan Tin-kok terkejut, tanpa terasa iapun terdesak mundur beberapa tindak.

“Siapakah kau?” bentak Su-lam. “Badak ini kan bukan piaraanmu dan segala orang boleh membunuhnya asalkan sanggup. Kenapa kau main menang2an.”

Melihat Su-lam lebih unggul, Minghui sangat senang, serunya: “Tak perlu banyak bicara dengan dia, hajar saja dia urusan belakang!”

Alangkah murkanya Tin-kok mendengar ucapan Minghui itu, masakah tunangannya malah mengeloni orang lain. Dengan nekat ia terus menerjang maju lagi. Goloknya membacok dan menabas serabutan.

Su-lam naik pitam juga melihat kegarangan Tin-kok, ia pikir kalau orang ini tidak dihajar adat tentu dia tidak kenal kelihaianku.

Tin-kok hanya kuat dalam hal tenaga pembawaan saja, permainan goloknya tidak dapat dikatakan tinggi, sudah tentu dia tidak mampu melawan Tat-mo-kiam-hoat Siau-lim-pay asli Li Su-lam itu. Hanya beberapa gebrakan saja, sekali kedua senjata saling tempel sambil dipelintir dan disendal terlepaslah golok Tin-kok itu daru cekalan.

Tapi belum lagi Su-lam bertindak lebih lanjut, tampak Cilaun memburu datang sambil berteriak: “Berhenti berhenti! Khan besar datang!”

Muka Tin-kok yang hitam itu tambah gelap karena malu dan gusar, ia jemput kembali goloknya sambil memaki “Bocah bangsat, jangan lari kau. Akan kuadukan kepada Khan besar.”

Dalam pada itu Jengis Khan telah muncul dengan naik kuda. Bentaknya: “Siapa yang mengacau disini? O, kiranya kau. Apakah ayahmu menyuruh kau kesini? Kenapa kalian berkelahi?”

Sebelum Tin-kok sempat bicara, Minghui segera mendahului mengadau kepada ayahnya: “Anak hampir mati diseruduk badak ini, untuk Li Su-lam telah menyelamatkan jiwaku dan membinasakan badak ini. Tapi si hitam mendadak datang mengacau, katanya kami telah merampok badak buruannya, sebab itulah dia hendak membunuh Li Su-lam. Coba, masakah ada aturan begitu? Harap ayah menimbang secara adil.”

“Jangan sembrono, Alehai,” ujar Jengis Khandengan tertawa. “Apakah kau tahu siapa dia? Haha, dia adalah bakal suamimu tahu?”

Minghui terperanjat, ia merasa malu dan mendongkol pula, teriaknya: “Apa, sia bakal suamiku? Huh, siapa mau menjadi istri si hitam begitu?”

Jengis Khan mendelik dan mengomel: “ Anak perempuan sembarangan omong. Perjodohan ini aku sendiri yang menyanggupi, maskah kau berani membangkang? Minggir sana?”

Betapapun Minghui rada gentar terhadap sang ayah, ia pikir sekarang ayah sedang marah, biarlah aku bersabar dulu, mau menikah dengan si hitam atau tidak kan tergantung diriku. Walaupun begitu ia menyingkir juga kesamping, tapi denganrada penasaran ia masih bicara: “Ayah, seringkali engkau menegaskan harus adil memberikan hukuman bagi yang salah dan memberi penghargaan bagi yang berjasa, maka janganlah engkau pilih kasih.

“Darimana kau tahu aku akan bertindak tidak adil?” ujar Jengis Khan. “Majulah kau, Li Su-lam!” Su-lam melangkah maju dan memberi hormat.

“Kau telah membinasakan badak dan menyelamatkan putriku,” kata Jengis Khan. “Sebagai penghargaanku terimalah hadiah busur dan panahku ini dan kuangkat kau sebagai ‘ksatria kemah emas.’

“Anugerah Khan besar tersebut tak berani kuterima,” jwab Su-lam.

“Apa, kau meremehkan anugrah dariku?” tanya Jengis Khan dengan gusar.

“Mana aku berani,” kat Su-lam. “Cuma, pertama aku tidak punya kepandaian, kedua juga aku tidak berjasa apa apa, gelar ‘ksatria kemah emas’ yang agung itu mana berani kuterima.”

Jengis Khan pikir sejenak, lalu berkata pula: “ Kau sangat rendah hati, sungguh jarang ada orang seperti kau. Baiklah, aku takkan memberi tugas tetap padamu, sementara ini kuberi jaminan yang sama tingkat dengan ‘ksatria kemah emas’, nanti kalau kau sudah berjasa barulah kuberikan gelar itu. Busur-panahku ini sangat cocok dengan kepandaianmu, tentunya kau takkan menolak pemberianku ini.”

Kiranya gelar ‘ksatria kemah emas’ adalah gelar yang sangat agung, orang yang dianugerahi gelar demikian semuanya adalah jago2 pilihan Jengis Khan yang telah banyak jasanya dimedan perang. Selamanya juga belum pernah dianugerahkan kepada orang Han. Hal inipun menjadi pertimbangan Jengis Khan, maka anugerah itu telah dibatalkannya. Ia tidak tahu bahwa sesungguhnya Li Su-lam yang tidak sudi mengabdi padanya.

Meski gelar kebesaran dibatalkan, tapi Jengis Khan telah menyanggupi memberi penghargaan setingkat ‘ksatria kemah emas’ kepada Su-lam, itu berarti akan menerima gaji dan penghargaan2 lain yang sama. Apalagi Jengis Khan telah menghadiahkan panah-busur pribadinya, hali ini adalah kehormatan yang belum pernah terjadi atas para Bu-su Mongol. Maka be-ramai2 anak buah Jengis Khan lantas memberikan selamat kepada Su-lam.

Bagi Su-lam, asalkan tidak menghamba dibawah Jengis Khan sudah bolehlah baginya, maka iapun tidak menolak lebih jauh. Ia merasa gembira juga atas panah-busur pemberian Jengis Khan itu walaupun ia tidak tertarik oleh gelar agung ‘ksatria kemah emas.’

Sementara Su-lam menerima ucapan dari orang banyak, disebelah lain pangeran Tin-kok menjadi seperti terpencil, hal ini membuatnya risih. Tapi Jengis Khan lantas menyapanya: “Baiklah, sekarang kemarilah kau!”

Tin-kok menjadi kebat kebit karena tidak tahu akan dipuji atau akan dimaki. Ia mendekat dan berkata dengan ragu2: “Maksudku hanya ingin men-coba2 kepandaiannya karena belum mengenalnya.”

Muka Jengis Khan cemberut, katanya: “Kau cemburu kepada orang yang berkepandaian lebih tinggi darimu, inilah tidak betul. Untung kalian sama2 tidak terluka, anak muda memang suka menang, perkelahian juga kejadian biasa, maka urusan ini anggap saja sudah selesai. Hendaklah kau ikut aku ke medan perang, setelah pulang dengan kemenangan segera kunikahkan petriku padamu.” Maksud kedatangan pangeran Tin-kok ini justru hendak berunding tentang pelaksanaan pernikahannya dengan Minghui, sekarang dengan mulut Jengis Khan sendiri telah berjanji secara pasti, maka hal ini jauh lebih berharga baginya daripada segala anugerah yang lain. Cepat ia mengucapkan terima kasih dan berjanji akan membantu calon mertuanya itu dengan pasukannya.

Maka segera ia mohon diri dan berangkat pulang.

Lantaran peristiwa ini, Putri Minghui menjadi lesu dan tiada minat buat berburu lagi. Diam2 ia mngeluyur pulang untuk merenungkan soal perjodohannya itu, ia ingin memikirkan suatu akal yang baik untuk membatalkan perjodohannya dengan Tin-ko.

Sementara itu anak buah Jengis Khan masih ramai mengucapkan selamat kepada Li Su-lam, tiba2 seorang Bu-su muda menyelinap diantara orang banyak dan mendekati Su-lam, katanya: “Kau telah menyelamatkan adik perempuanku, aku mengucapkan terima kasih padamu.” ~ Berbareng sebelah tangannya terus menepuk bahu Su-lam.

Su-lam mengira pemuda itu hendak menyatakan simpatik persahabatan padanya, tak terduga badannya mendadak terasa enteng, tahu2 dirinya telah kena dicengkeram oleh pemuda itu sehingga takbisa berkutik.

Dengan kepandaian Li Su-lam biarpun secara mendadak juga belum tentu orang dapat mencengkeramnya. Tapi mengapa kini dia begitu gampang kena dibekuk oleh pemuda itu? Kiranya orang Mongol paling mahir bergumul, pertarugan dari jarak dekat seperti gulat sekarang adalah kepandaian mereka rata2. Pemuda ini bahkan adalah jago gumul terkemuka daripada kaum

Bu-su Mongol. Jangankan Li Su-lam memang tidak menduga, sekalipun siap siaga juga belum tentu mampu mengelakkan cengkeraman penuda itu.

Dalam pada itu setelah Bu-su muda itu berhasil mencengkeram Su-lam, menyusul terus membantingnya. Tapi sekali membanting berbalik memberi kesempatan baik bagi Su-lam untuk menyerang balas. Baru saja tubuh Su-lam terangkat dengan gerakan meronta yang bagus ia melepaskan diri dari cengkeraman lawan, sebelum badan jatuh ketanah tangannya sudah berhasil meraih pergelangan lawan. Sekali betot sambil memutar tubuh, bentaknya sekali: “Pergi!” ~ Dengan tegak Su-lam dapat berdiri ditempatnya, sebaliknya Bu-su muda itu malah terbanting jatuh. Li Hi-ko terkejut dan berseru: “He, jangan! Inilah Si-tian-he (pangeran keempat)!” ~ namun seruannya sudah kasip, pangeran keempat itu sudah terlanjur dibanting jatuh.

Pangeran keempat yang dimaksud adalah petra bungsu Jengis Khan, yaitu Dulai. Meski dia terbanting, tapi dia tidak menjadi gusar, setelah melompat bangun ia malah bergelak tertawa. Katanya sambil menjabat tangan Su-lam erat2: “Anda Su-lam, kau memang hebat dan pantas mendapat gelar ‘ksatria kemah emas’. Apakah kau sudi bergaul dengan diriku?”

Rupanya semula Dulai penasaran karena ayahnya memberi gelar agung kepada Su-lam, makasengaja hendak mengujinya. Sekarang setelah diuji barulah dia merasakan sendiri, ia berbalik smat kagum terhadap Li Su-lam. Ia sebut “Anda” kepada Su-lam. “Anda” dalam bahasa Mongol berarti “saudara angkat , sahabat karib.”

Sebenarnya Su-lam tidak suka mendekati Jengis Khan dan orang2nya, tapi Dulai sendiri telah mengajak bersahabat padanya, dengan sendirinya Su-lam tidak enak untuk menolak maksud baiknya.

Sebagai orang muda Su-lam rada senang juga terhadap kepolosan Dulai, maka dengan tertawa ia menjawab: “Aku hanya rakyat kecil biasa, mungkin tidak pantas bergaul dengan kau.”

“Seorang ksatria tidak diukur dari asal usulnya,” ujarnya tertawa. “Dahulu ayahku juga pernah menjadi tawanan suku Murkit, tapi sekarang beliau malah diangkat menjadi Khan yang maha agung.”

Pernyataan Dulai yang simpatik ini membikin Su-lam tidak ragu2 lagi untuk bersahabat dengan dia, mereka saling menjabat tangan dan saling menyebut “Anda”. Tidak lama kemudian haripun melai petang, anak buah Jengis Khan be-ramai2 berkumpul untuk mempersembahkan hasil buruan masing2. Jengis Khan bergelak tertawa dan berkata: “Hari ini bolehlah kita main2 sepuasnya. Beberapa hari lagi bila prajurit kita sudah bergerak, maka yang diburu bukan lagi binatang melainkan berburu manusia.”

Ditengah jalan waktu pulang, saking tak tahan akan rasa gembiranya, dengan ver-seri2 Li Hi-ko lantas berkata pada Su-lam: “Sungguh tadi aku merasa kuatir baginya, siapa tahu kau malah mendapat pahala. Tampaknya Putri Minghui juga rada naksir padamu.”

Namun Su-lam kurang senang, sahutnya: “Aku toh tidak ingin cari makan di Mongol sini, peduli apakah dia Putri atau bukan, yang pasti aku tidak sudi disenangi mereka.”

Li Hi-ko melengak oleh sikap anak muda itu, terpaksa ia berkata dengan setengah membujuk: “Janganlah kau menuruti pikiranmu, betapapun kita masih bernaung dibawah perintah orang. Kalau kurang sabar sedikit tentu urusan menjadi runyam.

Su-lam menjadi sangsi apakah ayahnya bisa mengorbankan kedudukannya sekarang untuk melarikan diri dengan menempuh bahaya mengingat sikap dan tutur katanya ini? Sudah tentu ia tidak berani bertanya terus terang, terpaksa ia mengiakan secara acuh tak acuh.

Setiba kembali dikemahnya, selesai makan malam, tiba2 ayahnya muncul lagi. “Mengapa ayah belum tidur? Adakah sesuatu urusan?” tanya Su-lam.

“Aku ingin bicara sesuatu dengankau dan tidak boleh diketahui orang lain.” “Apakah barangkali ayah telah mendapatkan akal bagus untuk melarikan diri?”

“Bukan urusan ini. Telah kukatakan, setelah menginjak daerah Tionggoan barulah kita mencari kesempatan bagus untuk lari. Sementara itu kau harus sabar.”

“Lalu ayah ada urusan apa lagi?” tanya Su-lam.

“Aku menjadi teringat suatu urusan.” Kata Li Hi-ko. “Bukankah siang tadi Khan bicara dengan kau tentang ilmu militer ajaran Gak Hui dan han Si-tiong. Leluhur kita adalah panglima perang dibawah Han Si-tiong dan banyak meninggalkan catatan2 tentang ilmu militer secara tidak teratur, diantaranya juga ada petunjuk2 lisan Han Si-tiong dan cara2 mengatur pertahanan, cara2 mengatur latihan. Waktu masih tinggal dikampung pernah juga aku bertekad untuk menyusun dokumen2 pusaka itu menjadi suatu kitab ilmu militer yang berguna. Tak terduga, sebelum cita2ku terkabul aku sudah ditawan dan jauh meninggalkan kampung halaman. Selama ini cita2ku belum pernah punah dalam benakku. Maka aku ingin tanya, apakah kitab militer yang belum selesai kususun itu juga kau bawa serta kemari?”

Su-lam menjadi sangsi. Walaupun benar ucapan sang ayah, namun ayahnya sekarang sudah bukan lagi ayahnya dimasa yang lalu, sebelum yakin sepenuhnya akan jiwa patriot ayahnya harus dirahasiakan dulu tentang kitab yang dimaksud itu. Maka ia menjawab: “Ya, tentang kitab militer itu memang pernah juga ibu membicarakannya padaku, Cuma sayang kitab itu sudah hilang ditengah kekacauan perang.”

Namun Li Hi-ko benar2 seorang licin, segera ia dapat melihat sikap kurang wajar pada diri anak muda itu, katanya pula: “Hendaklah kau jangan salah paham, kitab yang belum selesai tersusun itu benar2 merupakan benda paling berharga bagiku, sungguh suatu penyesalan bagiku bilamana aku tidak dapat menyusunnya dengan sempurna. Mengapa ibumu bisa membiarkannya hilang begitu saja?”

“Soalnya setelah ayah menjadi tawanan musuh, dalam masa mengungsi untuk menyelamatkan diri itu sudah tentu sukar memikirkan harta benda, maka ibupun tak boleh disalahkan. Tapi bukan mustahil juga ibu telah menyimpannya disuatu tempat yang aman, biarlah kelak kalau kita sudah pulang akan kita tanya kepada beliau.”

Dalam hati Su-lam telah berjanji kepada diri sendiri bilamana ayahnya kelak benar2 rela mengorbankan kedudukannya sekarang dan lari pulang kekampung halaman, maka kitab pusaka itu sudah tentu akan diserahkan kembali kepada ayahnya.

Li Hi-ko menjadi sangsi juga, tapi apa daya kalau Li Su-lam mengatakan kitab itu sudah hilang, sukar dipastikan apakah anak mua ini berdusta? Terpaksa ia tidak mendesak lebih lanjut, ia pikir pe- lahan2 akanpancing lagi dalam pembicaraan2, anak muda itu atau bisa juga mengeledahnya secara diam2. Begitulah ia lantas suruh Su-lam tidur saja dan kembalilah dia ke kemahnya sendiri. Lantaran dibebani macam2 pikiran, semalaman ini Su-lam tak bisa pulas lagi. Yang dia pikirkan tidak Cuma soal kitab pusaka itu, tapi yang lebih penting dan harus diselesaikannya dalam waktu singkat ini adalah peasan yang ditinggalkan perusuh semalam yang minta dia datang kelembah Siong-hong-kok. Ia tidak tahu duduk perkara apa yang harus dibikin terang sebagaimana diminta orang itu? Tapi tentunya sangat besar sangkut pautnya bagi kepentingannya.

Tapi lantas teringat pula bahwa dalam waktu singkat ayahnya akan ikut berangkat bersama pasukan Jengis Khan, jika hal ini tidak dibicarakan terus terang kepada ayahnya, cara bagaimana dirinya dapat pergi kelembah pegunungan itu. Sebaliknya kalau dibicarakan dengan ayahnya, ini berlawanan dengan pesan orang itu. Bahkan dari pergaulan antara ayah dan anak selama beberapa hari ini ia merasa lebih baik hal ini tetap dirahasiakan saja.

Begitulah sampai dinihari barulah Su-lam dapat pulas. Akan tetapi tidak lama i sudah terjaga bangun dipanggil orang. Waktu Su-lam menyingkap kain tendanya, kiranya yang memanggil adalah pengawal ayahnya yang fasih bahasa Han itu.

“Loya memanggil engkau menghadap beliau,” kata pengawal itu.

Cepat Su-lam cuci muka dan menghadap sang ayah. Dengan wajah yang riang gembira saat itu Li Hi-ko tampak sedang mondar-mandir didalam kemahnya. Begitu melihat datangnya Su-lam, segera ia berkata: “Wah, rejekimu benar2 sedang menanjak.”

“Rejeki apa?” tanya Su-lam tidak paham.

“Putri Minghui menyuruh orang buat memanggil kau agar mengiringi dia pergi berburu,” tutur Li Hi-ko dengan tertawa.

“Kemarin kan kita baru saja berburu, mengapa hari ini dia ingin berburu lagi dan minta aku menemani dia?”

“Bukankah sangat kebetulan bagimu? Itu tandanya satu haripun dia tidak bisa melupakan kau?” Su-lam menjadi kurang senang. Katanya: “Seorang laki2 sejati, kedatanganku ke Mongol sini bukanlah untuk menemani dan menghibur sang Putri melulu.”

“Ai, kembali angot lagi sifatmu seperti kerbau itu,” omel Li Hi-ko. Sudah berulang kukatakan, kita ini mondok dinegeri orang, terpaksa mesti bersabar.”

Dengan mendongkol hampir saja Su-lam menjawab tegas tidak sudi pergi. Tapi cepat pikirannya berubah dan akhirnya menjawab dengansikap enggan yang sengaja dibuat: “Baiklah anak menemani dia, Cuma ……”

“Cuma apa?” tanya Hi-ko.

“Hari ini aku harus datang kekemahnya untuk menjumpai dia, menurut adat bangsa Han kita, kunjungan pertama kekemah orang sepantasnya membawa sedikit oleh2,” ujar Su-lam.

“Hi-ko menjadi senang, katanya: “Bagus! Rupanya kaupun mengerti menjaga kehormatan bangsa Han kita. Tentang oleh2 yang kau maksudkan, wah, sebaiknya apa yang harus kau berikan padanya?”

“Aku pikir ada sesuatu hadiah yang pasti akan disenangi olehnya,” ujar Su-lam. Kemarin waktu berburu aku telah ngobrol iseng dengan dia. Katanya akhir2 ini dia sedang belajar sastra Han kita dan sangat berminat.”

“Benar, akupun pernah mengajar padanya, tampaknya dia sangat giat belajar,” kata Hi-ko. “Tapi hal ini kan tidak dapat dianggap sebagai hadiah?”

“Dalam obrolan kemarin itu tampaknya dia sangat tertarik skan seni budaya kita. Terutama dia sangat suka kepada seni lukis dan seni tulis kita, dia menyatakan sangat tertarik kepada syair2 kita yang indah, Cuma sayang dia belum bisa membaca seluruhnya. Maka kukira tulisan ayah akan cukup indah sebagaimana banyak terhias didinding rumah kita itu akan sangat berharga baginya.” “Ai, sudah berpuluh tahun lamanya aku tidak pernah gunakan pinsil,” ujar Li Hi-ko dengan tersenyum kikuk.

Tapi Su-lam latas mendesak lagi: “Kukira sang Putri toh tidak paham seni tulis kita, yang penting hanya sebagai tanda mata saja. Harap ayah lekas tuliskan suatu syair kuno dan akan kubawakan untuk dia. Anak akan membantu membuatkan tinta.”

Meski Li Hi-ko mengatakan puluhan tahun tidak menggunakan pensil, tapi dimejanya sebenarnya lengkap tersedia pensil (pit), tempat mengasah bak dan peralatan tulis lain. Apalagi Su-lam lantas sudah menggosokkan tinta bak. Terpaksa Li Hi-ko tak bisa menolak lagi, segera ia angkat pensil, setelah berpikir sejenak, akhirnya ditulisnya sebait syair kuno dalam bentuk “lian” (sebagai lukisan untuk pajangan dalam bingkai).

“Nah, lekaslah kau ganti pakaian dan berangkat, mungkin sang Putri sudah menunggu terlalu lama,” kata Hi-ko kemudian.

Su-lam mengiakan sambil membawa serta “seni tulis” ayahnya itu. Setiba kembali dikemah sendiri, cepat ia mengeluarkan kitab pusaka yang belum selesai disusun ayahnya itu untuk dicocokkan dengan tulisan syair yang baru ini. Semakin dipandang semakin terasa berbedanya gaya tulisannya. Segera Su-lam simpan kembali kitab pusakanya, rasa curiganya berkecambuk dengan hebat. Ia tidak percaya bahwa gaya tulisan bisa berubah begitu jauh meski selang 20-an tahun lamanya. Ia mulai sangsi akan kebenaran diri ayahnya ini.

Akan tetapi kalau bukan ayahku, darimana dia mengetahui seluk beluk akan diriku? Terutama mengenai kitab pusaka yang sangat dirahasiakan ini, darimana dia mendapat keterangan sedemikian jelas?” demikian pikirnya. Lanataran hal2 yang sukar dipahami inilah, maka dia masih belum berani memastikan Li Hi-ko ini adalah palsu.

Tiba2 teringat pula akan pesan orang berkedok itu tentang “duduk perkara yang ingin diketahui” itu supaya datang kelembah Siong-hong-kok. Duduk perkara apakah yang dimaksudkan. Tapi sekarang bukankah dia justru sedang dihadapi oleh macam2 tanda tanya yang perlu dipecahkan duduk perkara? Apa barangkali orang itu sudah tahu akan macam persoalan yang sedang kuhadapi ini?

Begitulah akhirnya ia putuskan untuk berangkat ke Siong-hong-kok yang dimaksud.

Cepat Su-lam berganti pakaian, lalu keluar. Dilihatnya pengawal tadi sudah menyiapkan kuda dan sedang menunggunya.

Pada saat itu pula Li Hi-ko juga mendekatinya dan berkata: “Putri Minghui hanya minta kau sendiri yang menemani dia, mak tidak perlu kusuruh pengawal ikut serta padamu.” ~ Lalu ia menjelaskan dimana letak kemah kediaman Putri Minghui dan suruh Su-lam menuju kesana.

Memangnya Su-lam kuatir kebebasannya dirintangi pengawal yang menyertainya, maka ia menjadi senang mendengar ayahnya berkata demikian. Cepat ia mencemplak ke atas kuda dan berkata: “Anak mohon diri dahulu. Karena tak tentu waktu pulangnya, harap ayah jangan menunggu waktu makan malam nanti.”

“Biarpun pulang besok juga tidak soal,” ujar Hi-ko tertawa.

Begitulah segera Su-lam melarikan kudanya, tapi bukan menuju ke kemah sang Putri melainkan terus keluar Holin. Untung penjaga kebetulan telah mengenalnya ketika ikut berburu denganJengis Khan kemarin. Maka ketika Su-lam pura2 menanyakan apakah penjaga melihat berangkatnya sang Putri pergi berburu dan menytakan dirinya diundang untuk mengiringi sang Putri, penjaga itu tidak menaruh curiga. Penjaga itu menyatakan kemungkinan sang Putri berangkat dengan mengambil jalan lain karena tidak terlihat lalu disitu.

Su-lam pura2 memberi pesan pula agar nanti disampaikan kepada sang Putri jika kemudian sang Putri melalui jalan ini. Dengan hormat perwira penjaga itu mengiakan.

Setelah meninggalkan pos penjagaan itu, Su-lam terus melarikan kudanya secepat terbang. Yang dipakai Su-lam sekarang adalah baju “ksatria kemah emas”, pada kudanya tergantung pula panah- busur hadiah Jengis Khan yang khas dan cukup dikenal oleh setiap perwira Mongol, sebab itulah di tengah jalan Su-lam tidak mengalami rintangan apa2 meskipun seringkali berpapasan dengan pembesar dan prajurit Mongol.

Hari ketiga ia sudah mencapai padang rumput di utara lembah danau Kulun. Padang rumput yang luas itu hampir tiada pernah dijumpai orang. Legalah hati Su-lam, ia pikir andaikan Jengis Khan mengetahui larinya itu mungkin juga tidak menaruh perhatian mengingat Khan besar itu sedang sibuk menyiapkan invasi ke Tionggoan. Sekalipun ayahnya mengerahkan Mufali dan jago2nya untuk mengejar mungkin juga sukar mencarinya.

Pegunungan Arkeh terletak tiga ratusan li di utara danau Kulun, hal ini terdapat dalam peta yang dimiliki Su-lam, tapi dimana letak lembah Siong-hiong-kok, itulah tidak jelas. Sepanjang jalan Su- lam coba tanya keterangan kepada penggembala dan nama lembah itu ternyata tidak dikenal.

Sampai hari keempat padang rumput sudah dilintasi dan telah masuk lereng pegunungan yang makin terjal jalannya. Hari itu dia hanya mencapai ratusan li saja, keadaan orang maupun kudanya sudah sama lelahnya.

Hari kelima sampailah dia dikaki gunung Arkeh yang tinggi dan curam. Tampaknya sukar mendaki gunung itu dengan naik kuda. Li Su-lam coba menyusuri kaki gunung dengan menjalankan kudanya lambat2. Akhirnya diketemukan sebuah gugusan selat yang bentuknya mirip mulut terompet, lebar diluar dan sempit didalam, hanya tiba cukup dilalui seorang dengan setunggangan saja.

Tapi setiba didalam selat itu, keadaan menjadi lain, jalanan tambah luas dengan tumbuhan alang2 yang lebat, terdengar pula suara gemericiknya air mengalir ditepi selat.

Tiba2 Su-lam melihat pada suatu tempat ketinggian ada bekas gundukan rumput kering terbakar. Ia coba periksa tanah sekitarnya, ada tanda2 tanah itu pernah dicangkul. Sebagai anak yang dibesarkan dilingkungan petani, ,elihat keadaan tanah itu segera Su-lam tahu tanah disitu pernah akan dicangkul orang untuk bercocok tanam, Cuma gagal.

Alangkah girangnya Su-lam, ia pikir kalau ada orang pernah berusaha disitu tentu pula di pegunungan ini ada penduduknya.

Tak terduga sudh belasan li ia menjelajahi lembah gunung itu tiada seorangpun yang dilihatnya. Selagi Su-lam merasa gelisah, tiba2 terdengar suara keleningan kuda. Su-lam menyangka mungkin pemburu yang bertempat tinggal di pegunungan itu, dengan girang segera ia berseru: “Hai, kawan, apakah engkau tahu dimana letak Siong-hong-kok ?” ~ Mendadak ia tidak meneruskan

ucapannya ketika menoleh dan mengetahui pendatang itu ternyata seorang Bu-su Mongol yang bertubuh kekar.

Waktu Jengis Khan berburu tempo hari, Su-lam pernah melihat Bu-su ini dan tahu namanya, yaitu Cepe, sipemanah sakti, terhitung jago nomor tiga dari “ksatria kemah emas” yang sangat dibanggakan Jengis Khan itu.

Secepat terbang Cepe telah memburu tiba, serunya dengan gelak tertawa: “Li-kongcu, Putri Minghui mengajak kau ikut berburu, mengapa kau tidak hadir sebaliknya mengunjungi pegunungan sunyi ini untuk apa?”

“Aku kan bukan hamba kalian, aku bebas kemana pun aku suka, peduli apa dengan kau,” jawab Su- lam ketus.

“Wajah tertawa Cepe tadi lenyap seketika. Katanya dengan kurang senang: “Tapi kau jangan lupa ayahmu menghamba Khan kami. Aku diperintahkan Khan besar agar ‘mengundang’ kau pulang kesana. Maka aku ada hak mempedulikan kau!”

Karena kudanya sudah terlalu lelah, Su-lam tahu percuma berusaha melarikan diri, terpaksa ia putar balik kaudanya sambil pasang panah dan membentak: “Matipun aku tidak sudi pulang ke Holin lagi. Kalau kau memaksa terpaksa aku mengadu jiwa dengan kau!” ~ Habis berkata ia terus mendahului lepaskan panahnya.

“Hahaha, barangkali kau ingin bertanding memanah dengan aku?” Cepe tertawa. “Baik, kau boleh memanah tiga kali dan takkan kubalas!”

Belum lenyap suaranya, secepat kilat panah Li Su-lam itu sudah menyamber tiba. Cepat Cepe menyampuk dengan budurnya sehingga panah itu terpukul jatuh. Namun panah Li Su-lam itu ternyata susul menyusu datangnya. Baru saja panah pertama terpukul jatuh, tahu2 panah kedua sudah meluncur tiba pula.

Busur yang dipakai Li Su-lam itu adalah busur baja pemberian Jengis Khan, dengan sendirinya anak panahnya juga sangat kuat. Cepe berusaha menyampuk pula dengan busurnya, tapi terdengarlah suara “krek”, anak panah itu tersampuk jatuh lagi, tapi busur Cepe juga patah. “Panah bagus!” seru cepe. Se-konyong2 panah ketiga menyamber tiba lagi. Sekali ini tepat masuk mulut Cepe, sehingga tubuh Cepe terkulai diatas kudanya.

Su-lam menyangka lawan telah terpanah mati, baru saja ia hendak mendekati, mendadak Cepe berduduk tegak lagi diatas kudanya sambil berseru dan tertawa: “Cara mengigit panah ini belum pernah kau pelajari bukan?” ~ Ternyata panah yang kena dimulutnya itu telah dmuntahkan dan terpegang ditangannya sekarang.

Begitu dahsyat anak panah yang menyamber tba itu ternyata dapat digigit oleh gigi tanpa terluka apa2, maka kepandaian Cepe ini benar2 luar biasa dan tiada bandingannya. Keruan Su-lam terkejut. Baru sekarang ia tahu julukan “panah sakti” bagi Cepe memang bukan Cuma nama kosong belaka, jelas kepandaian Cepe jauh diatas dirinya.

Dalam pada itu cepe berkata pula: “Busur dan panahmu memang lebih bagus daripada punyaku, tapi mengenai kepandaian memanah, yan memang boleh juga kau, tapi masih jauh dibawahku. Panah ini adalah hadiah Khan kepadamu, ai terimalah kembali!” ~ Tanpa memakai busur ia terus melemparkan anak panah yang terpegang tadi dan daya luncur panah itu ternyata sama kuatnya dengan dibidik dengan busur. Keruan Su-lam tambah terkejut. Cepat ia berusaha mengelak, tapi tak terduga panah itu mengincar kudanya. “Bles”, kontan panah itu menancap diperut kudanya sehingga Su-lam terlempar jatuh.

Lekas2 Su-lam berbangkit dan lari keatas bukit untuk mencari kedudukan dari atas yang lebih menguntungkan. Segera Cepe juga meloncat turun dari kudanya dan ikut mendaki bukit itu.

Serunya dengan gelak taertawa: “Aku sudah belajar kenal dengan kepandaianmu memanah, sekarang aku ingin coba2 lagi ilmu pedang bangsa Han kalian!”

Dari atas segera Su-lam mendahului menusuk dengan pedangnya. Cepe angkat perisainya untuk menangkis dengan golok ditangan kanan terus menebas. Ketika pedang dan golok kebentur, tenaga kalah kuat, ia bertolak mundur setindak. Lekas2 ganti serangan, pedangnya putar balik buat menusuk, “Pek-hwe-hiat” di-ubun2 musuh.

Tapi kembali Cepe menggunakan cara tadi, perisai diangkat untuk menahan tusukan pedang dari atas, goloknya kembali menabas. Lagi2 Su-lam terdesak mundur.

Hanya beberapa gebrakan saja Su-lam telah terdesak mundur kesuatu tempat yang lapang, posisi menguntungkan Su-lam sekarang sudah lenyap. Sejenak kemudian bahkan Cepe berbalik menjadi pihak penyerang sehingga Su-lam hanya dapat bertahan saja. Tapi sekuatnya Su-lam melawan. “Bocah kepala baru, pantas Khan suka kepadamu,” kata Cepe dengan tertawa. “kau tak perlu kuatir, asalkan kau ikut aku pulang kesana tentu Khan masih akan menerima kau dengan baik. Sebenarnya untuk keperluan apakah kau datang kepegunungan ini?”

Namun Su-lam tidak ambil pusing terhadap ocehan orang pada waktu Cepe berbicara, Su-lam terus melancarkan serangan balasan secara ber-tubi2. Terdengar suara “trang treng” yang nyaring, dua kali tabasannya kena ditangkis oleh perisai Cepe, namun tusukan menyusul berhasil menyelinap disamping tameng lawan sehingga ikat pinggang putus.

Cepe menjadi gusar. Teriaknya: “Kurangajar! Rupanya kau tidak mau dihalusi dan minta dikasari.”

~ Berbareng ia memainkan goloknya dengan cepat dan susul menyusul gerakan tanpa berhenti, apalagi sebelah tangan memegang perisai sehingga dia tidak perlu menjaga diri dan Cuma menyerang melulu, dengan sendirinya daya tempurnya bertambah satu kali lipat.

Dalam pertarungan sengit itu, Li Su-lam terdesak mundur, kakinya kesandung sepotong batu sehingga langkahnya sempoyongan. Tanpa ayal lagi golok Cepe lantas membacok: ”Lepaskan pedangmu, anak muda!”

Namun Su-lam terus menjatuhkan diri ketanah, sekali berguling, ia dapat menggelinding kesana beberapa meter jauhnya, sehingga serangan cepe itu luput mengenai sasarannya. Menyusul ia terus melompat bangun, balasnya membentak: “Suruh aku membuang pedangku dan menyerah hanya akan terjadi kalau kau sudah membunuh aku. Tekadku sudah pasti, pedang ada orangnya hidup, pedang hilang orangnya mati!”

Walupun Su-lam tidak terluka oleh golok lawan, tapi menggelindingnya diatas tanah tadi telah mengakibatkan badannya babak belurkena duri belukar.

“Bagus, kau memang ksatria muda yang hebat,” puji cepe. “Tapi untuk berkelahi terang bukan tandinganku.”

“Bukan tandinganmu juga akan kulawan! Hayolh maju!” jawab Su-lam sambil genggam erat2 pedangnya dengan tangannya yang mengucurkan darah.

“Ai, buat apa diteruskan, toh aku sudah kenal ilmu pedang bangsa Han kalian juga Cuma begini saja,” ejek Cepe.

“Aku tak bisa mengalahkan kau kan tidak berarti ilmu pedang kami tidak mampu mengungguli ilmu golok Mongolkalian. Apalagi akupun belum kalah, kenapa kau sudah bermulut besar?” sahut Su- lam dengan gusar.

Tiba2 terdengar seorang menanggapi: “Benar! Si Mongol ini anggap dirinya hebat, tapi dalam pandanganku dia tidak lebih daripada katak dalam tempurung!”

Waktu Cepe berpalaing, dilihatnya dari hutan sana, melompat keluar seorang laki2 dengan perawakan pendek, wajahnya juga tidak luar biasa, tapi sinar matanya menyorot tajam.

Biasanya Cepe sangat tinggi hati, tentu saja ia mendongkol mendengar kata2 pendatang tak dikenal itu. Bentaknya: “Hm, mengapa kau katakan aku seperti katak dalam tempurung? Coba minta penjelasan dari ‘orang kosen’ macam kau.”

“Betapa tidak?” sahut orang itu. “Ilmu pedang orang Han yang tinggi hakekatnya belum pernah kau lihat. Seumpama ilmu pedang Li-kongcu ini saja juga jauh lebih bagus daripada ilmu golokmu, hanya saja kau menang dalam tenaga. Kau tentu tidak percaya, coba dengarkan, kalau tadi waktu kau menyerang begini dan Li-kongcu menangkis dengan begini terus balas menusuk dengan demikian dan ………” begitulah ber-turut2 ia memberikan contoh dan akhirnya menambahkan: “Coba kalau kau tidak menggunakan perisai pula, bukankah perutmu sudah tertembus oleh pedangnya?”

Alangkah kagumnya Su-lam terhadap uraian orang itu, bahkan ia merasa malu pula terhadap dirinya sendiri. Kiranya apa yang diuraikan orang itu bukan saja menunjukkan kelemahan2 Cepe, bahkan Su-lam lantas sadar akan letak kekurangan2nya sendiri, sebenarnya Tat-mo-kiam-hoat yang dimainkannya tadi sangat hebat, tapi lantaran kurang pengalaman sehingga belum sanggup mengeluarkan intisari daripada kebagusan ilmu pedang Siau-lim-pay yang termashur itu.

Tentu saja Cepe tidak bisa menerima uraian orang itu katanya dengan gusar: “Hanya omong kosong saja tiada gunanya, paling perlumarilah kita coba2. Bila dalam seratus jurus kau mampu melayani aku dengan sama kuat maka aku akan mengaku kalah padamu agar kau tidak mengatakan aku menang oleh tenagaku yang lebih kuat.”

“Hahaha! Sebelum seratus jurus kau pasti akan keok. Kalau tidak percaya bolehlah kau coba2,” jawab orang itu.

Cepe menjadi murka, tanpa bicara lagi perisainya diangkat dan golok terus menabas. Mendadak laki2 itu berjongkok ke bawah, berbareng pedangnya lantas membabat kedua kaki lawan. Tinggi Cepe lebih tujuh kaki, pedang laki2 pendek itu menyerang kakinya, ini adalah cara menghindari keunggulan lawan dan menyerang kelemahan musuh. Bila Cepe mesti melayani lawannya dengan sama berjongkok, itu berarti sukar memainkan goloknya. Terpaksa ia hanya bisa mengacungkan goloknya kebawah untuk menangkis. Sedangkan perisainya juga Cuma baik untuk melindungi tubuhnya bagian atas dan tengah, untuk melindungi bagian kaki juga kurang leluasa. Dengan demikian hal2 yang menguntungkan Cepe menjadi banyak berkurang sehingga dia benar2 kelabakan kena diserang oleh laki2 itu.

Dengan gusar Cepe berteriak: “Hm, macam apa cara kau berkelahi ini? Jika berani hayolah melawan aku dengan berdiri sama tegap!”

“Haha!” laki2 itu tertawa. “Orang bertempur harus bisa melihat gelagat dan mengubah siasat menurut keadaan, pertandingan silat juga berlaku teori ini. Kau peduli cara bagaimana aku akan berkelahi? Asalkan aku mampu membikin kau keok kan sudah cukup. Tapi hendaklah kau sabar dulu, nanti sebentar lagi baru kau akan tahu siapa yang tidak sanggup berdiri tegap.”

Dalam pertarungan sengit itu, suatu kali pedang laki2 pendek itu hampir mengenai dengkul Cepe, tapi kena disampuk oleh punggung golok lawan. Diam2 Su-lam merasa sayang atas serangan yang gagal itu. Ia membatin: “Go-bi-pay terkenal mempunyai suatu jurus So-yap-to-hoat (ilmu golok sapu daun) yang mengutamakan menyerang bagian bawah musuh. Ilmu pedang orang ini tampaknya perubahan dari ilmu golok Go-bi-pay itu, jangan2 dia adalah anak murid Go-bi-pay?

Tadi kalau dia menyerang lebih bawah sedikit tentu betis si Mongol sudah patah. Padahal dia cukup lihai, mengapa kesempatan bagus di-sia2kan?”

Su-lam tidak tahu peribahasa yang mengatakan “penonton selalu lebih terang daripada pemain”. Sebab itulah laki2 pendek itu bisa melihat kelemahan2nya dan dia juga dapat melihat kesempatan yang di-sia2kan laki2 itu.

Cepe memakai jubah kulit yang longgar, ketika bertempur dengan Li Su-lam tadi ikat pinggangnya telah terpotong putus sehingga jubahnya bertambah longgar sekarang, hal ini rada mengganggu akan kegesitannya. Ia tidak terlalu merasakan gangguan jubahnya lantaran kepandaian Su-lam memang lebih asor, tapi sekarang lawannya berkepandaian yang jauh lebih tangguh, maka terasakanlah gangguan kegesitannya yang amat diperlukan itu.

Setelah sekian lamanya, Cepe benar2 kelabakan oleh serangan2 si pendek yang lincah itu. Akhirnya ia menjadi nekad, bentaknya dengan murka: “Jika bukan kau yang mati biarlah aku yang binasa!” ~ Berbareng perisainya diangkat terus mengepruk kebawah.

Cepe lebih tinggi dua kaki daripada sipendek, untuk mengepruk kepalanya dengan perisai perlu juda Cepe membungkuk tubuh.

Mendadak laki2 itu bergelak tertawa, lalu balas membentak: “Lihatlah sekarang siapa yang tidak mampu berdiri tegap!” ~ Tahu2 tubuhnya menggeliat kesamping sehingga perisai Cepe itu mengepruk tempat kosong. Menyusul dengan cepat luar biasa, tahu2 ujung pedang sipendek sudah mengancam didepan perut cepe.

Ketika Cepe pukulkan goloknya kebawah, sebelum kedua senjata berbentur, pedang orang itu sudah digeser kesamping dan dengan gagang pedang ia sodok iga Cepe.

Mestinya perisai Cepe itu adalah alat pembela diri, sekarang di gunakan untuk menyerang, dengan sendirinya pertahanannya menjadi banyak luang, sebab itulah sipendek berhasil. Kini pertarungan mereka kira2 baru berlangsung 70-80 jurus, jadi tepat seperti kata sipendek tadi bahwa Cepe pasti kalah dalam seratus jurus.

Lantaran iganya disodok gagang pedang, sekalipun cepe memiliki kulit tembaga dan tulang besi juga tidak tahan. Ia mengerang dan jatuh terjungkal, berbareng perisainya sempat dilemparkan kedepan.

Segera si pendek itu bermaksud menmbahi tusukan pedangnya, tapi perisai Cepe telah melayang tiba, terpaksa ia mesti mengelak.

Cepe memang sangat cekatan, sebelum merangkak bangun lebih dulu sebelah kakinya mendepak. Karena tidak menduga akan serangan balasan demikian, pedang orang itu sampai terlepas.

“Baik, akan kucoba lagi kepandaian pukulan dan tendanganmu!” seru laki2 itu dengan gusar. Menyusul iapun balas menendang.

Saat itu Cepe belum lagi bangun, tentu saja sukar baginya untuk menghindar, kontan ia tertendang dan menggelinding kebawah bukit.

“Hahaha! Sekarang kau baru tahu rasa!” seru laki2 pendek itu dengan tertawa. “Karena kau sudah bertempur satu babak lebih dulu, maka akupun tidak mau menarik keuntungan lebih banyak.

Biarlah kau enyah saja.”

Diwaktu terguling kebawah bukit, golok ditangan cepe juga terlepas, sedangkan busur dan panahnya tadi sudah dirusak oleh Li Su-lam, maka sekarang ia benar2 tiada bersenjata sepotongpun. Sebab itulah terpaksa ia harus melarikan diri meskipun tadi dia sudah sesumbar akan bertarung mati2an dengan lawan.

Kuda Cepe itu adalah kuda perang yang sudah terlatih, ketika majikanny terguling kebawah bukit, segera kuda itupun lari kesamping sang majikan. Sekujur badan Cepe sudah babak belur dan berdarah terluka oleh duri belukar serta batu kerikil tajam, lukanya jauh lebih parah daripada Li Su- lam, tapi dia masih sanggup mencemplak keatas kudanya dan kabur.

Li Su-lam lantas mengucapkan terima kasih kepada laki2 pendek tadi.

“Akupun mesti berterima kasih padamu, jika kau tidak melelahkan dia lebih dahulu mungkin aku tidak sanggup mengalahkan dia,” ujar laki2 itu dengan tertawa. “Li-kongcu, tentunya kau tahu siapakah aku bukan?”

Sambil bicara laki2 itupun menanggalkan baju sehingga sebelah bahunya tampak bekas luka sebesar mata uang.

Perusuh yang meninggalkan surat padanya malam itu, memang tidak diketahui wajahnya, tapi dari perawakan dan ilmu pedangnya dapatlah Li Su-lam menduga tentu laki2 pendek inilah orangnya. Apalagi bekas luka terkena pisau jago pengawal yang kini diperlihatkan ini lebih2 meyakinkan lagi akan dugaan Li Su-lam.

“Banyak terima kasih atas petunjukmu,” ujar Su-lam. “Sekarang aku sudah datang menurut ajakanmu, entah ada urusan apa engkau mengundang aku?”

“Bukan aku yang mengundang kau, tapi seorang yang tinggal di Siong-hong-kok sini ingin menjumpai kau, aku Cuma mengundang kau baginya.”

“Siapakah beliau?” tanya Su-lam.

“Setelah ketemu dia tentu kau akan tahu sendiri. Aku Cuma ingin tanya kau, bukankah sekarang dalam benakmu penuh tanda tanya.”

“Benar. Makanya aku sengaja datang buat minta penjelasan.”

“Hanya orang itulah yang dapat memberi keterangan padamu. Baiklah, marilah ikut padaku. Nanti kita bicarakan lebih lanjut.”

Tanpa ragu2 Su-lam lantas mengikuti orang itu. Ditengah jalan ia coba tanya namanya dan baru diketahui namanya, Nyo To.

“Loh-yap-kiam-hoat tang dimainkan Nyo-heng tadi sungguh hebat sekali, apakah barangkali Nyo- heng berasal dari Go-bi-pay?” tanya Su-lam.

“Pandangan Li-kongcu memang tajam sekali, guruku Pi Siok-toh tiada lain adalah murid tertua Go- bi-pay,” sahut Nyo-to.

Su-lam menjadi girang. Ia pernah dengar dari gurunya bahwa Pi Siok-toh dan gurunya itu adalah sahabat karib dimasa muda mereka pernah dijuluki sebagai “Bu-lim siangsiu” (dua ksatria muda dunia persilatan), yaitu karena mereka sama2 adalah murid paling menonjol dari angkatan muda kedua aliran terkemuka, yakni Siau-lim-pay dan Go-bi-pay. Cuma sayang selama berpuluh tahun terakhir ini mereka jarang bertemu lantaran yang satu berada di Siau-lim-si, di propinsi Holam, termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Kim, sebaliknya Go-bi-pay yang terletak di Sucwan itu termasuk daerah kerajaan Song Selatan.

Begitulah maka Li Su-lam juga lantas mengatakan perguruannya sendiri. Tentu saja Nyo To juga girang, katanya dengan tertawa: “Ya, aku pernah dengar dari suhu, katanya Kok-tayhiap mempunyai seorang murid kesayangan, kiranya kau inilah orangnya. Mungkin waktu itu kau belum menonjol, maka teman yang menyampaikan berita itupun belum tahu siapa namamu.”

“Aku masuk perguruan sangat terlambat, maka belum sempat menyampaikan sembah kepada Pi- tayhiap, tak terduga hari ini malahan dapat berjumpa dengan Nyo-heng, kata Su-lam. Jika demikian, jadi kita bukan lagi orang luar. Tapi entah untuk keperluan apa Nyo-heng berada di Mongol?” “Sudah tujuh tahun ada berada disini, ceritanya sangat panjang ….. Ah, kita sudah sampai, lain kali saja akan kuceritakan urusanku.”

Sesuai namanya, Siong-hong-kok itu adalah lembah yang diapit oleh dua puncak gunung dengan pepohonan cemara yang rimbun. Pemandangan cukup indah.

Sementara itu mereka telah sampai diluar sebuah gua. “Pelan sedikit,” bisik Nyo To sambil melangkah hati2.

Su-lam ikut memasuki mulut gua itu dengan setengah membungkuk, timbul perasaannya yang heran2 cemas, suatu perasaan yang aneh.

Mulut gua itu rada sempit, tapi bagian dalam ternyata sangat luas. Waktu Su-lam memandang lebih cermat, tertampak didalam gua diatur mirip sebuah rumah petani biasa dengan kamar tidur yang sederhana, tempat tidur dibuat dari tumpukan jerami. Diatasnya berbaring seorang tua, disamping orang tua berduduk seorang gadis.

Melihat datangnya seorang pemuda yang tak dikenal, gadis itu tampak rada ter-sipu2. “Aku telah mengajak mengajak Li-kongcu kemari,” kata Nyo To.

Gadis itu memandang sekejap kepada Su-lam, agaknya ia sudah paham urusannya, tapi dia menggoyang tangannya dan berdesis: “Ssst, jangan keras2. Beliau baru saja pulas, bicaralah nanti saja.”

Tiba2 orang tua itu membuka matanya dan bertanya: “Siapakah yang datang?” ~ Rupanya orang tua itu sudah lama sakit sehingga badannya lemah, tadi Cuma istirahat saja dan tidak tidur pulas sungguh2.

“Tentu paman akan sangat senang, puteramu telah keajak kemari,” tutur Nyo To.

Kata2 ini laksana obat mujarab yang “ces-pleng” saja, mendadak kedua mata orang tua yang tadinya guram itu bersinar dan cepat bangkit berduduk. Katanya: “Coba mendekat lah kemari, ingin kulihat yang jelas apakah benar2 anak Lam yang datang.”

Lapat2 dalam hati Su-lam sudah dapat menerka orang tua inilah yang sesungguhnya. Tapi lantaran dia pernah tertipu, ia tidak berani sembarangan lagi meng-aku2 orang sebagai ayahnya. Maka iapun mendekati orang tua itu, tapi tidak lantas menyembah dan memanggil ayah.

Cahaya didalam gua rada guram, tapi Su-lam pernah belajar menggunakan senjata rahasia, ketajaman matanya jauh diatas orang biasa. Apalagi sudah sekian saat dia masuk gua itu, lambat- laun ia melihat didinding gua itu tergantung sehelai kertas kulit kambing yang bertulisan. Waktu di- amat2i, kiranya sebait syair kuno, dari tinta yang masih tampak jelas agaknya belum lama berselang.

“Sudah sekian lamanya aku menunggu kau, kukira kau takkan datang kesini,” ujar orang tua itu dengan menghela napas. “Dua hari yang lalu saking rinduku terhadap kampung halaman, aku menuliskan syair kuno “rindu rumah” ini, tak tersangka hari ini kau lantas datang. Apakah ibumu baik2 dirumah?”

Dari gaya tulisan syair itu, kini Su-lam tidak ragu2 lagi. Airmatanya ber-linang2 seketika, cepat ia berlutut dan berkata dengan pilu: “Anak yang tak berbakti terlambat datang sehingga ayah lebih banyak menderita. Keadaan ibu cukup baik. Beliau sedang menanti pulangnya ayah.”

“Rasanya aku tidak dapat pulang,” kata siorang tua dengan senyum getir. “Yang kuharap hanya dapat bertemu dengan kau dan puaslah hatiku.”

“janganlah ayah berkata demikian, ayah pasti akan sembuh.” Kata Su-lam. “Silahkan mengaso saja dan bicara lagi nanti.”

Betapa tersayat perasaan Su-lam melihat keadaan ayahnya itu. Umur ayahnya baru lebih kurang 50- an, tapi tampaknya sudah begitu loyo, rambut sudah ubanan semua. Ia pikir entah betapa hebat penderitaan ayahnya selama ini. Keriput pada dahi sang ayah adalah bukti kejahatan bangsa Mongol yang telah menyiksanya.

Sementara itu gadis tadi telah membawakan semangkuk air obat, katanya kepada siorang tua: “Minumlah obat ini, ayah!”

Su-lam ter-heran2 mendengar sinona memanggil “ayah” juga kepada ayahnya. Tapi kini ia sangat ingin tahu urusan ayahnya sehingga untuk sementara ia tidak sempat tanya seluk-beluk tentang diri sinona.

Setelah minum obat itu, semangat Li Hi-ko (yang tulen) tampak lebih segar. Kemudian ia berkata kepada Su-lam: “apakah kiatab yang kususun itu kau bawa serta kesini? Hanya itulah cita2ku yang belum terselesaikan. Selain kau dan ibumu yang selalu kupikirkan hanyalah kitab ini. Aku masih ingat kitab ini berjumlah 112 halaman, tapi yang pernah kususun dan selesaikan baru 68 halaman. Apakah kau pernah membacanya?”

“Kitab ini sekarang berada dibajuku, aku sudah pernah membacanya. “Bagian depan memang ada catatan ayah secara jelas sehingga mudah dapat kupahami. Cuma sayang bagian belakang ayah belum selesai memberi catatan dan penjelasan2 sehingga akupun tidak paham.”

Li Hi-ko menerima kitab yang disodorkan Su-lam itu, ia mem-balik2 halaman2 kitab dengan sorot mata yang penuh kegirangan. Tapi segera ia menghela napas dan berkata: “Tenagaku tidak mengizinkan aku menyelesaikan kitab berharga ini. Hendaknya kau menyimpannya dengan baik , kelak kau dapat menyelesaikan cita2ku ini. Ya, tadinya aku sangat kuatir kau akan tertipu oleh orang ini. Tapi sekarang lehalah hatiku.” ~ Habis berkata ia menyerahkan kembali kitab itu kepada Su-lam.

Su-lam menyimpan kembali kitab itu kesakunya, lalu bertanya: “Orang itu? Siapakah yang dimaksud ayah?” “Yang jelas sekarang dia memalsukan namaku,” tutur Li Hi-ko. “Aslinya dia bernama Sia It-tiong. Dia adalah temanku yang akrab dalam tawanan. Tak terduga teman yang paling baik ini kemudian membikin aku celakanestapa.” ~ Sampai disini ver-ulang2 ia ter-batuk2.

Sejenak kemudian barulah ia menyambung ceritanya: “Perkenalanku dengan dia dimulai ditempat pertanian diutara danau Kulun, tawanan yang diperkerjakan disitu ada dua-tiga ribu jumlahnya.

Untuk memudahkan pengawasan, orang Mongol telah memberi nomor pengenal bagi setiap tawanan, nomorku adalah 873 dan Sia It-tiong bernomor 874. Sebab itulah siangnya kami bekerja disuatu kelompok, malamnya juga tidue disuatu kemah yang sama. Dia pernah sekolah, juga paham sedikit ilmu silat, maka kami rada cocok satu sama lain, lama2 kami menjadi sahabat karib. Orang Mongol yang menjaga hanya kenal aku bbernomor 873 dan Sia It-tiong bernomor 874, tentang nama Li Hi-ko dan Sia It-tiong tidaklah dipusingkan mereka.

Kehidupan dikamp tawanan dan dikerjakan secara paksa sudah tentu sangat menderita. Maka secara rahasia aku mengadakan persepakatan dengan sebagian kawan tawanan itu untuk berusaha melarikan diri. Didalamnya termasuk juga Sia It-tiong. Karena aku dan Sia It-tiong paham sedikit ilmu silat, maka kami berdua diangkat menjadi pemimpin mereka.

“Secara berencana kami membagi diri dalam dua kelompok, dalam undian Sia It-tiong mendapat tugas memimpin kelompok pertama untuk melarikan diri lebih dahulu, menyusul baru kelompok kedua yang kupimpin. Diluar dugaan ketika kelompok pertama kabur, selain pasukan berkuda Mongol dikerahkan untuk mengejar, berbareng jalan lolos lantas ditutup pula sehingga kelompok kedua tak bisa berkutik. Sudah barang tentu kelompok pertama yang sudah kabur itu tak bisa mencapai jauh, seluruhnya mereka dapat disusul, sebagian terbunuh, sebagian terluka parah, ada juga yang beruntung ditawan kembali hidup2 dan Sia It-tiong termasuk salah seorang yang beruntung selamat itu.

“Musuh menyatakan akan membunuh semua tawanan yang dibekuk kembali itu bilamana terus terang. Dengan macam2 siksaan aku dipaksa mengaku siapa2 lagi anggota sekomplotan. Tapi aku tetap tutup mulut sehingga aku disiksa habis2an.

“Setelah kenyang menyiksa aku tanpa berhasil memperoleh pengakuan apa2 dariku, musuh telah mengurung aku disuatu penjara. Entah karena lukaku yang parah dan aku dianggap sudah pasti akan cacat selama hidup atau sebab lain, yang jelas dan aneh ialah terhadapku tidak dilakukan sesuatu pengawasan yang luar biasa.

“Rupanya penjagaan yang kendur itu telah memberi kesempatan kepada Sia It-tiong untuk menjenguk padaku, diam2 ia suka menyelundupkan sedikit makanan dan obat2an. Obat2an itu meski tidak dapat memulihkan kesehatanku, tapi cukup untuk mengulur waktu ajalku. Waktu itu aku tidak tahu isi hatinya dan malah merasa sangat berterima kasih kepadanya. Seringkali dihadapanku dia suka memperlihatkan sikapnya yang dendam kesumat terhadap bangsa Mongol dan menyatakan siap melaporkan diri sebagai teman sekomplotan dengan aku, katanya dengan demikian akan bisa meringankan deritaku dari siksaan musuh. Tentu saja aku sangat terharu atas sikap setia kawannya itu sehingga makin percaya padanya.”

“Begitu pintar cara bangsat itu menipu ayah, pantas ayah menganggap dia sebagai teman yang paling baik,” kata Su-lam dengan gregetan. “Kemudian cara bagaimana ayah dapat membuka kedoknya?”

“Setelah peristiwa melarikan diri itu, kira2 setengah tahun kemudian, mendadak sikap orang Mongol terhadap tawanan bangsa Han banyak berubah, tidak banyak lagi memaki dan memukuli, malahan seringkali memberi pujian ala kadarnya dan memberi persen segala. Tampaknya orang Mongol sengaja hendak mengambil hati bangsa Han kita.

“Tidak lama kemudian dikamp tawanan itu muncul maklumat pembesar Mongol, katanya setiap orang yang memiliki kepandaian khusus dan mau bekerja bagi mereka boleh mendaftarkan diri. Setelah mendaftarkan diri akan segera dibebaskan dari kamp tawanan serta dikirim ke Holin (Karakorum) untuk diberi tugas2 tertentu. Ada beberapa orang yang tertarik oleh tawaran itu dan lantas mendaftarkan diri, benar juga mereka lantas dibebaskan. “Maksud tujuan perubahan politik Mongol itu akhirnya dapat kami ketahui. Rupanya pihak Mongol lagi berusaha mengadakan persekutuan dengan Song selatan untuk ber-sama2 menggempur kerajaan Kim. Untuk mana mereka hendak menggunakan tenaga bangsa Han kita. Sia It-tiong ternyata tidak ikut mendaftarkan diri. Akupun tetap dalam kurungan, hanya saja penjagaan kian hari semakin kendur sehingga beberapa teman lain terkadang juga berani datang menjenguk aku, hal ini memberi kesempatan padaku untuk mencari tahu berita2 diluaran. Aku menganjurkan para kawan itu jangan mau masuk perangkap dan diperalat musuh, kalau perlu biarlah membongkar tipu muslihat orang Mongol itu. Sudah tentu orang2 yang mau menurut pada anjuranku itupun termasuk Sia It-tiong. Suatu hari datanglah kabar bahwa orang Mongol sedang men-cari2 orang tawanan yang bernama Li Hi-ko.”

“Darimana nama ayah dikenal mereka?” tanya Su-lam.

“Konon Jengis Khan ingin memakai orang2 pandai. Ketika masih di kamp tawanan yang duluan pernah ada yang melaporkan kepada musuh, katanya ada seorang yang bernama Li Hi-ko termasuk seorang pandai karena keturunan panglima perang, sebab itulah jengis Khan ingin menemukan aku untuk bekerja baginya.

“Sudah kuceritakan, tawanan bangsa Han tidak diberi tanda pengenal nama, tapi pakai tanda nomor pengenal, apalagi akupun tidak ingin namaku diketahui, maka diantara sesama teman senasib juga cuma beberapa orang saja yang kenal namaku. Satu diantaranya sudah tentu ialah Sia It-tiong.

Kemudian aku mengetahui pula bahwa sesudah berita tentang diriku sedang dicari itu tersiar, beberapa teman yang kenal namaku itu ber-turut2 telah mati secara misterius dalam waktu beberapa hari saja. Kematian orang di kamp tawanan adalah terlalu jamak, maka waktu itu akupun tidak tahu, aku Cuma heran mengapa teman2 itu tidak datang lagi menjenguk aku. Yang mati itu sudah tentu tidak termasuk Sia It-tiong, bahkan dia lebih memperhatikan keadaan diriku.

“Pada suatu malam dia datang sendirian menemui aku. Dia menganjurkan aku, katanya ada kesempatan bagus untuk mendadap kedudukan baik, mengapa aku tidak mengaku saja asal usulku yang sesungguhnya, dengan pura2 menyerah begitu sedikitnya akan mengurangi siksa derita dan kalau kesehatan sudah pulih dapat pula mencari kesempatan untuk melarikan diri. Tentu saja aku tidak mau menurut, sebaliknya aku mendamprat dia sembarangan omong. Aku sendiri yang menganjurkan kawan2 agar jangan masuk perangkap musuh, masakah sekarang agar sendiri mencari hidup sendiri dan menyerah pada musuh? Biarpun mati juga aku tidak sudi menodai jiwanya sendiri.”

“Tepat benar dampratan ayah,” ujar Su-lam. “Dan bagaimana sikap bangsat Sia It-tiong waktu itu?”

 “Hm, secara tidak tahu malu dia malah bergelak tertawa,” tutur Li Hi-ko lebih lanjut. “Karena itu aku menjadi makin jauh tertipu olehnya. Dia memuji pula akan jiwa pahlawanku, katanay kata2nya itu hanya sebagai pancingan belaka dan sekarang dia merasa lega karena tekadku bulat dan jiwaku tetap kukuh. Dia menyatakan bahwa akhir2 ini ia telah berusaha mencari jalan baru untuk lari, mumpung pengawasan musuh sekarang jauh lebih kendur, maka kesempatan lari sangat besar meskipun bahaya juga tetap ada.

“Obrolannya itu telah sangat menarik hatiku sehingga aku percaya penuh kepadanya. Yang menjadikan pertimbanganku justru aku kuatir membikin susah dia, hakikatnya aku tidak pernah berpikir ada tipu muslihat dibalik ajakannya melarikan diri itu. Bahkan dia membusungkan dada dan menyatakan siap sehidu-semati dengan aku. Karena pernyataannya yang gagah berani itu, aku menjadi tidak enak untuk menolak maksud baiknya untuk lari bersama. Bahkan terpaksa aku menerima bujukannya untuk menggendong aku, maklum keadaanku boleh dikata sudah cacat. Dan usaha lari sekali ini ternyata dapat lolos dengan selamat.

“Kami lari ke pegunungan, memangnya kesehatanku sangat lelah, dalam pelarian kurang makan dan terlalu lelah pula, maka keadaanku tambah payah. Dia minta maaf padaku, mengatakan lebih suka mati bebas daripada binasa ditangan musuh. Sesungguhnya semangatku memang jauh lebih baik daripada waktu masih berada di penjara musuh, walaupun deritaku tidak berkurang karena siksaan penyakitku itu. Sebab itu pula aku merasa terima kasih malah padanya. Hanya dia satu2nya kawanku, siang dan malam kami selalu berhadapan, maka segala apa yang ingin kukemukakan terpaksa harus dikatakan padanya. Orang sakit senantiasa merindukan rumah, tanpa terasa akupun banyak menceritakan tentang keadaan keluargaku kepadanya.”

“Sakitku makin payah, aku tahu ajalku sudah dekat, meski aku menyatakan matipun rela, tapi sebenarnya masih ada dua urusan yang mengganjel didalam hatiku. Pertama adalah mengenai dirimu. Kedua ialah tentang kitab militer yang belum selesai kususun itu. Aku telah bercerita kepadanya bahwa waktu aku ditawan musuh usiamu baru tiga tahun. Kalau ditengah kecamuknya perang itu kalian ibu dan anak tidak mati, maka sekarang layaknya kau sudah berumur 23 tahun. Sebab itulah aku telah minta pertolongannya bilamana aku sudah mati, hendaknya dia berusaha menyelamatkan diri dan kalau sempat sudi mengunjungi kampung halamanku untuk mencari kau.” “Pantas dia tahu begitu jelas tentang hari lahirku segala,” ujar Su-lam dengan senyum pahit. “Dia memang telah menemukan aku. Tapi aku menjadi ikut tertipu pula.”

“Tentang kitab ilmu militer yang kupikirkan ini, kukatakan kepada Sia It-tiong agar kelak bila ibu dan anak kalian dapat dijumpai, kusuruh dia minta kitab pusaka ini kepada kalian. Setelah dia menemukan kini, apakah dia sudah pernah minta kitab tersebut kepadamu?”

“Pada malam kedua dia lantas minta kitab pusaka ini padaku,” kata Su-lam. “Tatkala itu aku belum tahu kalau dia adalah ayah palsu. Cuma akupun sudah menaruh curiga padanya. Maka aku sengaja membohongi dia, untung aku tidak tertipu lagi.”

“Maksudku memberitahukan tentang kitab pusaka kita ini ialah minta dia membawa kitab pusaka ke daerah Kanglam untuk dipersembahkan kepada salah seorang pahlawan yang berani menghadapi musuh dengan jiwa patriot sejati, dengan demikian barulah terkabul cita2ku selama ini. Sungguh aku menyesal, sampai begitu jauh aku sama sekali tidak tahu tipu muslihatnya yang ingin mengangkangi kitab pusaka kita ini dan hendak dipersembahkan kepada Khan Mongol demi kepentingannya, bahkan kuberitahukan rahasia kitab ini padanya.”

“Waduh, dengan memberitahukan semua rahasiamupadanya, itu berarti sangat membahayakan ayah sendiri,” ujar Su-lam.

“memang benar,” kata Li HI-ko pula. “Setelah berhasil memancing seluruh rahasia yang berada padaku, mendadak sikapnya berubah, dengan tertawa ia berkata padaku bahwa aku toh sudah mendekati ajal, ia tak sabar lagi ikut menderita lebih lama di pegunungan sunyi itu, maka aku hendak disempurnakan agar lebih cepat bebas dari penderitaan. Habis itu ia terus mencekik leherku sehingga aku tidak bisa bernapas. Dalam sekejap saja aku sudah tidak sadarkan diri.

“Entah selang berapa lama, dalam keadaan samar2 kudengar suara kresek2, ternyata daya perasaku telah pulih sedikit. Agaknya bangsat itu mengira napasku sudah putus dan mungkin wajahku yang beringas ketika dicekik telah menakutkan dia sehingga cekikannya telah menjadi kendur. Setelah pulih perasaanku, ternyata aku terbaring didalam sebuah liang galian, jelas dia hendak mengubur aku hidup2.

“Aku tahu maksudnya mengubur aku hanya bertujuan agar tidak diketahui orang lain dan tamatlah orang yang bernama Li Hi-ko di dunia ini, yang ada hanya Li Hi-ko palsu saja. Waktu itu sungguh aku sangat gemas, tapi apa dayaku? Terdengar suara pasir dikeruk dan diuruk keatas tubuhku, lambat-laun tanganku sudah terbenam, lalu kakiku dan kepalaku, seluruh tubuhku sudah teruruk oleh pasir.

“Selagi ajalku semakin mendekati gerbang akhirat, agaknya aku masih mujur, tiba2 ada suara orang bercakap, lalu ada suara tindakan orang mendatangi. Kemudian barulah aku tahu, rupanya bangsat Sia It-tiong itu anggapaku pasti sudah mati, ia kuatir dipergoki orang yang akan tahu perbuatannya yang keji, maka lekas2 melarikan diri. Untunglah pulihnya sedikit daya-rasaku itulah jiwaku dapat tertolong. Anak Lam, sekarang tentu sudah tahu siapakah yang menolong aku bukan? Yakni mereka kakak beradik.”

Baru sekarang Su-lam mengetahui nona tadi adalah adik perempuan Nyo To. Lekas2 ia menjura dan menghaturkan terima kasih atas budi mereka yang telah menyelamatkan jiwa ayahnya.

Nyo To sempat menahan Su-lam sehingga tidak jadi menjura, katanya: “Menolong sesamanya adalah kewajiban suci kaum kita. Apalagi sekarang kita sudah orang sendiri, mana kami dapat menerima penghormatanmu setinggi ini. Ya, sejak tadi belum kukatakan padamu, adik perempuanku ini bernama Wan. Atas penghargaan Li-lopek, beliau telah menerima adik Wan sebagai anak angkat.”

“Tapi kukira kalau adikmu menerima penghormatan anak Lam juga pantas,” ujar Li Hi-ko dengan sungguh2. “Ketahuilah anak Lam bahwa bisanya aku hidup sampai sekarang adalah berkat perawatan anak Wan. Selama setengah tahun ini tanpa mengenal lelah dia telah menjaga dan meladeni aku, jauh lebih rajin daripada putri kandungku sendiri, anak To, tak perlu kau menghalangi anak Lam kalau dia tidak menjura pada anak Wan rasa hatiku juga tidak tenteram.” Tanpa ayal lagi Su-lam lantas menjura kepada Nyo Wan. Karena tidak pantas mengangkat bangun Su-lam, Nyo Wan menjadi merah jengah, terpaksa iapun ikut berlutut dan balas memberi hormat. “Haha, bagus!” Kalian memang harus ‘saling hormat seperti terhadap tamu’,” seru Li Hi-ko dengan tertawa.

“Istilah ‘saling hormat seperti terhadap tamu’ biasanya hanya dipakai dalam kiasan hubungan baik antara suami istri dan tidaklah lazim digunakan antara kakak dan adik. Keruan muka Su-lam menjadi merah.

“Banyak terima kasih atas perawatan Wan-moay terhadap ayah selama ini,” kata Su-lam.

Nyo Wan menjawab: “Tapi kedatanganmuinilah melebihi segala macam obat yang paling mujarab. Tanpa obat juga sakit ayah pasti akan lekas sembuh.”

“Semoga demikian hendaknya,” ujar Su-lam. Melihat sikap Nyo Wan yang bebas dan lugu itu, segera rasa kikuk Su-lam tadi juga lantas lenyap. Dalam hati ia berpikir: “ayah barangkali sudah pikun, masakah boleh menggunakan istilah tadi untuk mengungkap hubunganku dengan Wan- moay. Tapi mungkin ayah tidak sengaja, kalau aku berpikir terlalu banyak mungkin malah akan menimbulkan sangkaan jelek.”

Dengan ver-ser2 kemudian Li Hi-ko bicara pula: “Sekarang tinggal satu cita2ku saja yang belum terkabul. Tentang ini, ai, bihar dua-tiga hari lagi akan kubicarakan padamu.” ~ Ia pandang Su-lam, lalu pandang Nyo Wan pula seperti sedang merenungkan sesuatu, sikapnya kelihatan mulai lelah. “Kau sudah terlalu banyak bicara ayah, hendaklah mengaso dulu,” ujar Nyo Wan.

Entah memang sudah terlalu lelah atau karena kelegaan hatinya, maka setelah minum teh jinsom tidak lama Li Hi-ko pejamkan mata sudah lantas pulas dengan nyenyak.

Dengan suara pelahan Nyo Wan berkata: “ Sudah beberapa malam ayah kurang tidur, syukurlah sekarang dia bisa tidur sekenyangnya. Koko, persediaan jinsom sudah habis, silahkan kau mencarikan lagi.”

Kiranya pegunungan Arkeh itu banyak menghasilkan jindom, sebabnya Li Hi-ko bisa tahan hidup sampai sekarang besar bantuan Nyo To yang telah mencarikan jinsom untuk diminumkan padanya. Pertama karena merasa tidak enak berada berduaan dengan Nyo wan, pula memang ada hal2 lain yang hendak ditanyakan kepada Nyo To, maka Su-lam berkata: “Nyo-toako aku ikut pergi bersama kau.”

“Baiklah, aku mencari jinsom, kau boleh bantu aku mencari kayu bakar,” kata Nyo To.

Setiba ditengah rimba yang lebat, tanpa susah2 Nyo To sudah menemukan sebuah tumbuhan jinsom yang cukup besar. Habis itu lantas bantu Su-lam mengikat kayu2 kering yang telah dikumpulkan.

Pada kesempatan itu Su-lam bertanya kepada Nyo To: “Nyo-toako, gurumu Pi-tayhiap adalah murid ahli waris Go-bi-pay, mengapa engkau jauh tinggal dipengunungan sunyi dirantau orang?” “Panjang sekali kalau diceritakan,” tutur Nyo To. “Sama seperti kau, akupun keturunan dari keluarga panglima perang, leluhur kami yang pertama adalah Nyo-Lengkong yang pernah membantu Song-thay-cong mengamankan negeri Liao.”

“Hah , kiranya Nyo-toako adalah keturunan Nyo-keh-ciang (panglima2 keluarga Nyo) yang termashur itu,” seru Su-lam terkejut dan girang.

Keluarga Nyo memang keluarga panglima perang yang sangat termashur, dimulai dari Nyo Keh- giap (Nyo-lengkong), kemudian Nyo Tan-ciau , Nyo Bun-kong dan lain2, turun temurun selama 200-an tahun telah banyak berjasa bagi negara sehingga meninggalkan banyak legenda2 dikalangan rakyat. Kebesaran keluarga panglima Nyo boleh dikata sukar ditandingi oleh keluarga leluhur Li Su-lam seumpamanya.

Sejak bangsa Song hijrah ke selatan, keluarga Nyo juga ter-pencar2, ada yang ikut mengungsi keselatan, ada pula yang Cuma mengasingkan diri didaerah pendudukan Kim, yang belakangan ini termasuk leluhut Nyo To.

Ketika Nyo To berusia 18 tahun, ada orang mengetahui mereka adalah keturunan Nyo-keh-ciang, ayahnya kuatir dimusuhi penguasa Kim, maka setelah mengatur tempat tinggal anggota keluarganya dikampung, ayahnya lantas membawa Nyo To menyusup ke selatan.

Akan tetapi kedatangan mereka diselatan tidak mendapat penghargaan selayaknya, ayahnya Cuma diberi suatu jabatana rendah sebagai pelatih militer sesuai dengan bakat2nya sebagai keturunan penglima perang. Tatkala itu kerajaan Song berada dibawah genggaman pembesar dorna Gui Liang- sin sebagai perdana menteri, pemerintahan bobrok dan pembesar2nya korup. Ajah Nyo To menjadi patah semangat dan tidak ingin Nyo To mencari kedudukan, sebaliknya Nyo To dikirim berguru kepada sahabatnya yaitu Pi Siokteh dari Go-bi-pay untuk belajar ilmu silat.

Dengan cepat belasan tahun telah lalu. Kebetulan tahun itu Wanyen Liang dari kerajaan Kim mengadakan serangan besar2an,keselatan dan mendapat perlawanan mati2an dari rakyat. Banyak pembesar2 pemerintah pusat Song yang ketakutan dan lebih suka menyerah pada musuh, hanya seorang panglima bernama Gi Un-bun yang berani mengadakan perlawanan terhadap musuh. Gi Un-bun hanya seorang panglima menegah tentaranya, Cuma belasan ribu orang saja tapi harus menghadapi tentara musuh yang berjumlah jutaan banyaknya.

Tertarik oleh jiwa pahlawan Gi Un-bun tanpa pikir ayah Nyo To lantas menggabungkan diri tiga ribu tentara baru yang belum selesai dilatihnya itu. Dalam pertempuran besar di Jay-sik-ki yang terkenal itu. Gi Un-bun hanya seorang panglima menengah, tentaranya Cuma berjumlah lebih sedit ditambah bantuan2 dari laskar rakyat yang menggabungkan diri dari berbagai jurusan, akhirnya tentara Kim sikiat habis2an.

Mestinya dengan kemenangan besar itu Gi Un-bun dapat memimpin tentaranya terus menyerbu musuh lebih jauh ke utara. Namun sejarah Gak hui telah berulang, perdana menteri Gui Liang-sin kembali menjadi Jin Kwe kedua. Walaupun Gi Un-bun tidak dibunuh seperti Gak Hui dengan fitnah yang di cari2 namun Gi Un-bun telah ditarik dari garis depan dan diberi kedudukan yang lebih tinggi, tapi tak berkuasa. Sebaliknya ayah Nyo To dituduh meninggalkan jabatannya tanpa perintah dan dimasukkan penjara untuk menunggu keputusan.

Karena tidak tahan derita didalam penjara, akhirnya ayah Nyo To membunuh diri. Sebelum membunuh diri ayahnya menulis sepucuk surat wasiat dan minta bantuan seorang sipir bui agar disampaikan kepada Nyo To. Sipir bui itu sungguh orang yang baik. Ia telah menceritakan apa yang diketahuinya mengenai ayah Nyo To dan memberi bantuan kepada Nyo To untuk menyusup kembali keutara sesuai dengan pesan ayahnya.

Belasan tahun meninggalkan rumah, ternyata keadaan sudah banyak berubah. Ibu Nyo To dalam keadaan sakit parah,adik perempuaannya belum dewasa,harta benda juga sudah terjual habis untuk ongkos penghidupan, untunglah Nyo To masih sempat bertemu dengan ibunya sebelum orang tua itu menghembuskan napas penghabisan.

Setelah ibunya mati, penghidupan dirasakan semakin berat. Yang lebih celaka lagi rupanya pulangnya Nyo To dari Selatan telah diketahui pula oleh penyelidih pemerintah Kim sehingga pembesar setempat diperintahkan menangkapnya. Untung Nyo To berhasil meloloskan diri dengan membawa adik perempuannya yang masih muda belia itu. Kembali keselatan terang tidak bisa, akhirnya terpaksa mereka kabur ke Mongol.

Tatkala itu Jengis Khan belum mempersatukan bangsa Mongol sehingga orang Han masih bisa bebas bergerak. Bahkan ada sebagian kelompok suku Mongol itu menjambut baik kedatangan orang Han untuk mengajarkan bercocok tanam. Maka Nyo To dan adik perempuannya lantas bermukim di lembah pegunungan Arkeh ini dan bertani di situ bersama pendatang2 dari berbagai tempat.

Namun penghidupan di Mongol juga tak aman sebagaima disangka, hasil tani yang diperoleh dengan susah payah seringkali dirampas juga oleh bangsawan2 Mongol. Tanah pertanian yang sudah digarap lalu dikangkangi. Lebih berat lagi, saat itu Jengis Khan telah berhasil mempersatukan Mongol, ada aturan yang menetapkan setiap orang harus dinas militer tak peduli asal mana suku bangsanya.

Karena itu keadaan menjadi lebih payah, sudah digencet dalam pencarian nafkah dibebani macam2 kewajiban lagi. Maka banyak teman2 yang kabur ketempat lain, ada lagi yang bergelandangan dipadang rumput luas untuk menghindari tekanan2 itu. Ada yang umurnya sudah lanjut

Terpaksa ganti haluan menjadi tukang2, pemuda2 yang tak berhasil kabur banyak ditangkap dan dipaksa bekerja.

Nyo To dan adik perempuannya yang sementara itu sudah besar lantas menyingkir kelereng pegunungan yang terpencil dan hidup dari berburu. Walaupun kesepian tapi jauh lebih bebas daripada bertani. Disinilah merek mendengar tentang perjuangan didalam kamp tawanan, dari seorang pelarian dapat pula diketahui pula tentang kepemimpinan Li Hi-ko. Dan secara kebetulan juga mereka dapat menyelamatkan Li Hi-ko dan kekejaman Sia It-tiong. Begitulah secara ringkas Nyo To menceritakan kisah hidupnya.

“Selama ayahmu dirawat di Siong-hong-kok, pernah beberapa kali aku menyusup ke Holin,” tutur Nyo To lebih lanjut. “tentang Sia It-tiong memalsukan diri ayahmu dan mendapat kedudukan tinggi juga telah kuketahui. Malam itu sengaja tidak kuberitahukan padamu, soalnya aku kuatir kau tidak tahan dan segera menuntut balas, jika demikian tentu kau akan celaka malah. Makanya aku sengaja memancing kau kesini.”

“Aku paham maksud baik Nyo-toako, Cuma sakit hati ini kelak pasti akan kubalas,” kata Su-lam. “Sudah tentu, jangankan menuntut sakit hati ayahmu, biarpun tiada sakit hati urusan pribadi juga akan kita bunuh manusia yang bantu pihak yang jahat itu.”

Su-lam menjadi teringat kepada peringatan yang ditinggalkan Beng Siau-kang tempo hari itu, terang pendekar itu hanya salah paham belaka. Tapi syukurlah sekarang segala persoalannya telah menjadi jelas, kelak dapat diceritakan dengan jelas kepada Beng Siau-kang, Cuma entah kapan baru bisa menjumpainya. Bayangan Beng-sia tiba2 muncul pula dalam benaknya. Berkat nona itulah, maka maksud Beng Siau-kang hendak membunuhnya telah dibatalkan dan hanya meninggalkan peringatan keras padanya. Padahal mereka Cuma kenal muka sekali itu, tapi sinona telah percaya penuh kepadanya. Sekarang duduknya perkara sudah jelas, perlu kuberitahukan padanya.

Sampai disini Su-lam melngak sendiri, ia baru sadar bahwa sebenarnya orang yang ingin ditemuinya bukanlah Beng Siau-kang , tapi sesungguhnya ialah Beng Bing-sia. Tanpa terasa wajahnya menjadi merah setelah mengetahui rahasia isi hatinya sendiri.

“Adik Lam, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Nyo To tiba2 ketika melihat Li Su-lam ter- mangu2.

“O, tidak apa2,” sahut Su-lam cepat.

Nyo To tidak tanya lebih jauh. Mereka lantas kembali kegua. Selesai menaruh kayu bakar, dengan gembira Su-lam berkata kepada ayahnya: “Lihatlah ayah,Nyo-toako mendapatkan sepotong jinsom yang besar.”

Ketika ia berpaling, dibawah sinar pelita yang remang2 tampak wajah Nyo Wan yang sedih, pada pipinya kelihatan ada bekas airmata. Airmuka Li Hi-ko yang siang tadi rada pucat sekarang ternyata rada ke-merah2an malah. Perubahan aneh ini membikin Su-lam merasakan alamat yang tidak enak. “Kalian tidak perlu susah2 mencarikan jinsom lagi, aku tidak memerlukannya,” kato Hi-ko dengan lemah. “Kemarilah, anak Lam!”

“Janganlah ayah berpikir macam2,” ujar Su-lam. “Air muka tamaknya lebih segar daripada tadi.” “Aku tahu ini cuma soal waktu saja, mumpung aku masih kuat, aku harus katakan kepadamu hal2 yang perlu agar angan2ku terkabul,” kata Hi-ko.

“jangan ayah bicara demikian, engkau takkan mati, pasti akan sembuh,” seru Su-lam pilu.

Li Hi-ko tersenyum, katanya dengan sangat tenang: “Anak Lam, janganlah kau berduka. Kenapa mesti takut mati? Aku telah dapat bertemu dengan kau, sungguh aku sangat gembira dan puas.

Hanya saja aku masih ada sesuatu keinginan yang belum terselesaikan.” ~ Ia mengusap muka putranya, lalu menyambung: “Waktu meninggalkan rumah kau baru tiga tahun, dalam sekejap saja 20 tahun sudah lalu, tahun ini kau sudah berumur 23 tahun. Ibumu sudah mencarikan jodoh bagimu belum?”

“Belum,” sahut Su-lam dengan muka merah.

“Bagus,” kata Hi-ko dengan tersenyum. “Sebelum aku menutup mata biarlah kuselesaikan persoalan ini. Anak Wan telah merawat aku sekian lamanya, sukarlah bagiku untuk membalas kebaikannya, maka kau harus mewakilkan aku membalas budinya. Pahamkah kau akan maksudku?”

“jangan kuatir ayah, budi kebaikan adik Wan pasti takkan kulupakan selaa hidup ini, aku pasti akan anggap dia sebagai adik kandung sendiri,” sahut Su-lam.

“Ai, anak bodoh, masakah kau masih belum paham maksud ayah? Yang kuhendaki supaya dia menjadi istrimu dan bukan menjadi adikmu saja. Aku ingin hubungan kalian ditingkatkan menjadi suami-istri, dengan demikian barulah cukup membalas budi kebaikan adikmu ini.”

“Tentang ini ….. ini ….. kakak dan adik …..” sahut Su-lam ter-gagap2.

“Ini itu apa?” ujar Hi-ko kurang senang. “Kakak dan adik angkat kenapa tidak boleh menjadi suami-istri? Yang jelas inilah satu2nya cita2ku yang belum terselesaikan, kalian harus menetapkan perjodohan ini dihadapanku, dengan demikian barulah aku bisa menutup mata dengan tenang.” “Tapi anak telah bersumpah akan membalas sakit hati ayah biarpun mesti mengorbankan jiwa, apakah nanti anak masih bisa pulang dengan hidup atau tidak belum bisa kukatakan dengan pasti, maka anak tidak ingin membikin susah adik Wan,” ujar Su-lam.

“Kurang tepatlah ucapanmu ini!” sela Nyo To. “Sekalipun kau bukan iparku juga kami kakak dan adik akan bantu kau menuntut balas.”

“Nyo-hiantit,” balas Li Hi-ko, “Aku harus berterima kasih atas jiwa ksatriamu. Utang budiku sudah terlalu banyak, jika mereka tidak terikat sebagai suami-istri, mana aku berani menerima pengorbanan jiwa adik perempuanmu lagi dalam usahanya menuntut balas bagiku.”

“Kulihat adik Lam rada keberatan, mungkin dia anggap adik perempuanku tidak sesuai menjadi istrinya,” kata Nyo To.

Sudah sedemikian jauh pembicaraannya, Li Su-lam merasa tidak dapat menolak lagi. Segera ia berkata: “Nyo-toako, ucapanmu itu harus diputar balik, akulah yang merasa tidak sesuai menjadi suami adik Wan.”

“Memang benar ucapanmu ini, anak Lam,” ujar Hi-ko. “Bicara sesungguhnya, semula akupun berpikir sama seperti kau. Aku cukup kenal pribadi dan ilmu silat anak Wan. Untuk mencari anak perempuan sebaik dia, biarpun kau putar dunia keliling juga sukar diperoleh. Untungnya tadi aku sudah tanya dia, rupanya dia juga tidak mencela dirimu, maka legalah hatiku.”

Keruan wajah Nyo Wan menjadi merah, serunya: “Ai, ayah, engkau ………”

“Sudahlah, kalian toh tidak perlu malu2,” ujar Li Hi-ko dengan tertawa. “Sekarang kalian sudah suka sama suka, mumpung aku masih bernapas, bolehlah kalian lantas melangsungkan upacara nikah di hadapanku.”

Su-lam terkejut: “ Ayah masih sakit, kenapa mesti buru2, nanti kalau ayah sudah sembuh barulah dilaksanakan.”

“Sakitku ini mana bisa sembuh?” ujar Hi-ko. “Aku ingin menyaksikan sendiri kalian terikat menjadi suami-istri dihadapanku, dengan demikian barulah aku dapat mangkat dengan tenteram. Sudah  tentu soal upacara boleh kalian langsungkan dengan memilih hari yang baik kelak setelah aku meninggal. Cuma tidak perlu ditunda lama2, maksudku tidak perlu pakai adat kuno, mesti berkabung sekian lamanya segala. Paling baik sepulang rumah, setelah lapor ibumu, lalu kalian menikah.”

Baru sekarang Su-lam paham upacara yang ingin diliht ayahnya sekarang hanya sebagai tanda ikatan suami-istri secara resmi saja. Su-lam merasa lega dan bersama Nyo Wan lantas saling memberi hormat sebagai tanda bertunangan.

Li Hi-ko sangat gembira dan bergelak tertawa. Tak terduga suara tertawanya makin lemah dan akhirnya mengembus napas penghabisan. Alangkah sedihnya Li Su-lam. Dengan susah payah ia mencari ayah, setelah bertemu ternyata dalam waktu singkat saja sang ayah sudah meninggalkannya untuk selamanya. Nyo To menghibur Su-lam agar jangan terlalu berduka. Mengingat diri mereka masih berada dalam bahaya ancaman musuh, ia mengusulkan lekas2 membereskan layon orang tua saja. Su-lam sadar, teringat olehnya Cepe telah mengetahui jejaknya, dalam waktu tidak lama tentu akan datang lagi, memang penguburan jenazah ayahnya harus segera dibereskan. Habis itu barulah cari jalan untuk membalas sakit hati sang ayah.

Begitulah Nyo To lantas menebang pohon dan membuatkan peti mati, menurut adat orang Han, dikebumikan jenazah Li Hi-ko.

Waktu Nyo To keluar, Su-lam tinggal sendirian bersama Nyo Wan. Tapi mereka sama2 dalam perasaan berduka sehingga tidak tahu apa yang harus dibicarakan.

Selesai membuat kuburan, Nyo Wan bebenah seperlunya dari barang2 mereka yang perlu dibawa, lalu bersama Su-lam mereka meninggalkan gua yang telah sekian tahun dihuni itu.

Sebelum turun gunung, lebih dulu mereka menjenguk kuburan Li Hi-ko. Melihat rada duka Su-lam telah berkurang, Nyo To sengaja membiarkan pemuda itu berada berduaan dengan adik perempuannya. Maka ia berkata: “Kuburan ini belum ada batu nisannya, akan kucari sepotong batu yang baik, akan kita ukir tulisan diatasnya sebagai bongpay (batu nisan).”

Setelah Nyo To melangkah pergi, Su-lam berlutut dan menyembah di depan kuburan sang ayah dan berdoa: “semoga arwah ayah memberkahi anak, berilah kekuatan kepada anak agar berhasil membinasakan musuh.”

Nyo Wan juga berlutut di belakangnya dan ikut berdoa: “Mohon berkah ayah, lindungilah kami sampai dirumah dengan selamat.”

Dia tidak Cuma bilang melindungi “aku”, tapi pakai “kami”, terang rumah yang dia maksudkan adalah rumah Li Su-lam. Dalam hati Su-lam menjadi malu sendiri, pikirnya: “Aku sudah bertunangan resmi dengan dia, suami-istri adalah dua badan satu jiwa, jika tidak melupakan aku diwaktu berdoa, tapi aku malah melupakan dia.”

Setelah berdiri, kedua orang bertemu pandang, Su-lam merasa rada rikuh, katanya: “Adik Wan, perjalanan pulang ini jauhnya berpuluh ribu li, bahaya2 yang harus kita hadapi masih sangat banyak. Jengis Khan sudah mengerahkan pasukannya menyerang Kim, kampung halamanku tepat berada ditempat peperangan itu. Kau ikut pulang dengan aku, tentu kau akan ikut menderita, bisa jadi akan ikut korban jiwa malah, aku, sungguh aku merasa sangat tidak enak.”

Nyo Wan tertegun, katanya kemudian: “Sebagai suami-istri, sudah seharusnya manis pahit dirasakan bersama, sehidup dan semati menghadapi segala bahaya. Mengapa…….mengapa kau mengucapkan kata2 demikian?”

Wajah Su-lam menjadi merah, seketika tak bisa menjawab.

Nyo Wan menghela napas, katanya pula: “Agaknya kau tidak tega menolak maksud ayahmu, makanya kau menuruti keinginan beliau bukan? Tentang perjodohan kita ini memang jadinya terlalu mendadak, kalau kau menyesal, sekarang masih belum kasip. Cuma kita harus berunding dan menyiapkan kata2 yang cocok untuk dibicarakan dengan kakakku. Anak perempuan keluarga Nyo kami selama turun temurun tiada yang pernah menikah untuk kedua kalinya, watak kakakku sangat keras dan kukuh.”

Dibalik kata2 Nyo Wan itu sesungguhnya dia tidak ingin membatalkan ikatan perjodohan ini. Maklum adat istiadat jaman Song paling mengutamakan tata susila, adalah memalukan jika ada perempuan yang menikah dua kali. Apalagi Nyo To dan Nyo Wan adalah keturunan keluarga panglima Nyo-lengkong yang termashur, betapapun mereka tidak mau menodai nama baik keluarga Nyo yang terhormat itu.

Melihat Su-lam terdiam, Nyo Wan tambah pilu, katanya dengan menahan air mata: “ Lamko, mungkin sekali kau sudah mempunyai pilihan lain, tak perlu lagi kau bicara dengan kakakku, mumpung dia belum kembali, silahkan kau berangkat dulu, nanti akan kukatakan padanya.”

Su-lam menjadi serba susah, dia sendiri tidak begitu mementingkan adat-istiadat, tapi masakah dia tega melukai perasaan harga diri seorang nona, apalagi nona ini adalah penolong ayahnya?

Memang, sesungguhnya dia telah jatuh hati kepada satu gadis lain, yaitu Beng Bing-sia. Tapi dengan Bing-sia juga Cuma pernah bertemu satu kali saja, bicara saja belum pernah, sekali bertemu Su-lam sudah jatuh cinta, tapi apakah Bing-sia juga jatuh cinta padanya?

Terdorong oleh rasa utang budi dan rasa mencela diri sendiri, ditambah perasaan tidak tega melukai rasa harga diri Nyo Wan, akhirnya Su-lam menjawab dengan gugup:”Wanmoay, janganlah kau salah paham. Aku Cuma merasa diriku tidak sesuai untuk memperistri kau, aku kuatir membikin susah pula padamu, maka tanpa sadar aku telah salah omong, hendaklah kau jangan marah.” Perlahan2 Nyo Wan angkat kepalanya, biji matanya yang hitam memancarkan sinar tajam, katanya dengan lirih:”kau dan aku sama2 anak piatu yang kenyangmenderita di tengah peperangan. Seperti dirimu akupun berpisah dengan ayah pada umur tiga, ayah kita sama2 mengalami nasib difitnah pembesar dorna. Kalau dibicarakan kau masih lebih beruntung dariku. Paling tidak kau telah bertemu kembali dengan ayahmu, tapi ayahku, sampah kuburan beliaupun aku tidak tahu dimana beradanya. Yang tak pernah terpikit adalah kita berdua yang mempunyai nasib serupa dan sebelumnya yang satu di utara dan yang lain di selatan kini ternyata bisa berkumpul menjadi satu dan terikat menjadi suami-istri. Asal kau tidak mencela dan meningalkan diriku, biarpun selanjutnya akan menghadapi penderitaan2 yang lebih berat, apa artinya bagiku.”

Setiap kata2 se-akan2 dikorek keluar dari lubuk hari Nyo Wan yang paling dalam sehingga menggetar sukma pihak lawan, sunguh Su-lam sangan terharu, tanpa terasa Nyo wan dirangkulnya dan mengusapkan air matanya, katanya dengan perlahan: “Adik Wan, tepat sekali ucapanmu,kita memang benar adalah sepasang merpati yang senasib.”

Bayangan Beng Beng-sia se-akan2 mencair bersama air mata Nyo Wan, pada waktu Su-lam menyebut, merpati yang senasib”, yang tertampak kini hanya bayangan samar2 dibalik air mata. Ia merasakan getaran jantung Nyo Wan yang ver-debar2, ia merasa dirinya berkewajiban membela gadis yang senasib ini.

Tapi apakah bayangan Beng Bing-sia benar2 sudah lenyap dalam benaknya? Li Su-lam tidak berani memikirkannya. Andainya ditanya mungkin dia sendiripun tidak tahu. Seperti halnya perasaannya terhadap Nyo Wan ini, apakah cinta? Kasihan atau Cuma rasa simpatik saja?

Per-lahan2 Nyo Wan Melepaskan diri dari pelukan Su-lam, katanya: “Sebentar kakak tentu akan kembali, tidakkah enak kalau dilihatnya.”

Bicara tentang Nyo To barulah Su-lam teringat, katanya: “Ya, sudah sekian lamanya toako pergi mencari sepotong batu, mengapa sampai sekarang belum kembali?”

Pada saat itulah se-konyong2 terdengar suara mendengung yang nyaring memecah angkasa sunyi. Itulah suara panah berpeluit.

Nyo Wan terkejut, katanya: “Kakak tidak pernah menggunakan panah berpeluit.”

Tiba2 terdengarlah kumandang suara Nyo To dari jauh, terdengar dia sedang tertawa dan berkata: “Hahaha! Memangnya kalian mengira Li-kongcu mau menunggu di pegunungan ini akan kedatangan kalian untuk menangkapnya? Hehe, sudah lama dia pergi, silahkan mengubernya saja ke Kanglam. Disini hanya tinggal aku sendirian, kalau mau cari perkara, silahkan maju saja!” Nyata Nyo To sudah ketemu musuh, dia sengaja berbicara keras2 begitu maksudnya supaya didengar oleh Li Su-lam dan adik perempuan sehingga bisa berusaha melarikan diri lebih dahulu. Tentu saja Su-lam terkejut, cepat ia berkata: “Wah , celaka, toako telah ketemu musuh. Panah bersuara tadi tentu dilepas oleh Cepe. Marilah kita lekas kesana, lekas!”

Ia tahu kemenangan Nyo To atas Cepe tempo hari tidaklah mutlak, kalau sekarang Cepe datang lagi tentulah tidak sendirian. Sekalpun Nyo To sengaja bersuara keras memperingatkannya, tapi mana Su-lam mau melarikan diri sendiri?

Begitu tanpa pikir lagi segera ia lari ke arah datangnya suara tadi disusul kencang oleh Nyo Wan dari belakang. Sampai di pinggang gunung terlihatlah Nyo To sudah bertemput dengan Cepe.

Ternyata Cepe membawa tiga orang teman, dua lama dan seorang Bu-su, Su-lam kenal Bu-su itu adalah Cilaun. Seorang lama berkasa kuning adalah Hulitu yang pernah dihajar lari oleh Beng Siau- kang digurun Gobi tempo hari, seorang lagi adalah lama berkasa hitam yang belum dikenalnya.

Tangan kiri Cepe memegang busur dan tangan kanan menyekal golok sabit, dia lagi bertempur dengan sengitnya melawan Nyo To.

Karena kekalahan tempo hari, maka sekarang Cepe sudah berpengalaman, kedatangannya ini telah pakai perhitungan. Ia menggunakan goloknya untuk menjaga diri bagian bawah, berbareng busurnya dipakai menyerang bagian atas, menyerang berbareng bertahan sehingga Nyo To sama sekali tidak memperoleh keuntungan.

Sambil bertempur Cepe berseru kepada kawan2nya: “Jangan percaya ocehannya, lekas kalian menggeledah seluruh Siong-hong-kok, bocah she Li itu pasti masih berada disitu.

Belum lenyap suaranya Li Su-lam sudah muncul sambil membentak: “Inilah aku adanya! Kalian tidak perlu mencari lagi!”

Nyo To terkejut, serunya: “Adik Lam, kewajibanmu masih sangat berat, lekas kau lari bersama Wan-moay!”

“Tidak, andaikan mati biarlah bersama saja, apalagi yang harus lari mungkin juga mereka,” sahut Su-lam.

“Bagus, jiwa ksatriamu harus dipuji, Cuma kau terlalu tidak tahu diri,” ejek Hulitu. “Nah, apa susahnya jika kau ingin mampus, akan kupenuhi harapanmu.”

Pada pertempuran di Gobi tempo hari, kalau Beng Siau-kang tidak keburu muncul tentu Li Su-lam sudah dilalap oleh Hulitu. Sebab itulah sedikitpun Hulitu tidak pandang sebelah mata terhadap Li Su-lam. Begitu menanggalkan jubahnya, segera ia menubruk kearah Su-lam dengan jubah yang terpentang itu.

“E-eh, masih ada seekor betina,” tiba2 Cilaun berseru aneh. “Ehmm, boleh juga si betina ini, dia adalah bagianku.”

Nyo Wan menjadi gusar. Tanpa bicara lagi ia terjang Cilaun, “sret” kontan ia mendahului menusuk. Sementara itu kasa (jubah) Hulitu telah mengerudung keatas kepala Li Su-lam. Cepat Su-lam angkat pedangnya keatas, dengan gerakan “Ki-hwe-liau-thian” (angkat obor menerangi langit), “bret”, tahu2 kasa lawan telah berlubang.

Hulitu terperanjat dan heran mengapa anak muda itu mendadak bertambah tangkas. Lekas2 ia puntir jubahnya dengan tenaga dalam sehingga berbentuk pentungan, lalu dimainkannya sebagai toya, dengan demikian serangan2 Li Su-lam dapat lah ditahan.

Sudah tentu dugaan Hulitu adalah keliru, bukanlah kepandaian Li Su-lam mendadak bertambah lihai, soalnya kejadian di Gobi tempo hari dan sekarang tidaklah sama. Tempo hari Su-lam dalam keadaan payah, lapar dan dahaga setelah mengarungi gurun pasir seluas itu, bahkan lebih dahulu telah bertarung melawan Cilaun maka ia sudah terlalu payah, ketika kemudian harus bertarung melawan Hulitu. Sebaliknya sekarang Su-lam benar2 penuh dengan kekuatan, semangat segar. Ia bertekad akan membalas kekalahan tempo hari, begitu maju ia terus menyerang dengan tangkas. Sebab itulah beberapa gebrak saja Hulitu hampir kecundang.

Rupanya Cilaun juga punya penyakit yang sama dengan kawannya, yaitu menilai enteng lawannya, maka pil yang dia telan jauh lebih pahit daripada hulitu.

Lantaran Nyo Wan kelihatan Cuma seorang anak dara, tentu saja Cilaun anggap sepele. Ia pikir sekali gebrak tenntu anak dara itu akan dibekuknya dengan mudah dan itu berarti suatu jasa besar bilamana tawanannya nanti dipersembahkan Jengis Khan.

Tak terduga , mestki tenaga Nyo Wan kalah kuat, tapi gerakannya sangat gesit, belum lenyap suara tertawa Cilaun tadi tahu2 pandangannya menjadi silau, ujung pedang Nyo Wan telah menyamber tiba mengancam tenggorokannya.

Keruan kejut Cilaun tak terhingga, untung dia memakai rompi perang dari baja, pada saat berbahaya lekas2 ia kerutkan kepalanya sehingga topi baja yang tertusuk pedang, bebaslah dia dari nasib tenggorokan tertembus pedang lawan, walaupun begitu kepalanya juga kesakitan tergetar oleh tusukan Nyo Wan itu.

Setelah mengalami kerugian ini, Cilaun tidak berani gegabah lagi, dengan demikian sulitlah bagi Nyo Wan untuk melancarkan serangan dengan berhasil. Tenaga Nyo Wan terang kalah kuat, ia tidak berani keras lawan keras, terpaksa ia harus menggunakan kelincahan dan kegesitannya.

Saat itu dipihak Cepe masih ada seorang cadangan belum ketemu tanding, yaitu si Lama berkasa hitam. Tenang2 saja si Lama itu mengikuti pertempuran itu, Cuma perhatiannya lebih tercurah atas diri Li Su-lam, setelah belasan jurus kelihatan Hulitu tidak sanggup mengalahkan Li Su-lam, segera ia angkat tongkatnya dan melangkah maju, serunya dengan tertawa: “Li-kongcu, bukan maksud kami hendak main kerubut. Soalnya Khan telah memberi perintah agar engkau ‘diundang’ pulang, tapi kau membangkang, terpaksa kami mesti pakai kekerasan.”

“Kau tak perlu pura2 seperti tikus menangisi kucing, memangnya aku tidak pikirkan soal mati dan hidup lagi lekas kau maju saja sekalian,” damprat Su-lam.

“Hahaha! Li-kongcu benar2 seorang yang suka blak2an, sahut Lama jubah hitam dengan terbahak. “Baiklah mengingat kegagahanmu, rasanya aku juga tidak tega menghabiskan jiwamu.”

“Tutup mulut ………” belui lanjut Su-lam mendamprat, tahu2 tongkat si Lama sudah menyamber tiba. Cepat Su-lam menangkis dengan pedangnya “Trang”, lelatu api meletik, tangan Su-lam terasa sakit, hampir2 saja pedang terlepas dari cekalan.

Kesempatan itu segera digunakan oleh Hulitu untuk menyerang, jubahnya lantas menyabet. Tapi Li Su-lam terus meloncat keatas, jubah lawan menyerempet lewat dibawah kakinya. Sementara itu dengan cepat luar biasa tongkat si Lama jubah hitam sudah menyerang pula, dengan gerakan “Ki- hwe-liau-thian” pula, tongkatnya menyodok keatas, keperut Li Su-lam.

Dalam keadaan mengapung di udara, sukar bagi Su-lam untuk mengelak. Tiba2 timbul akalnya, ia berjumpalitan di tengah udara, ujung pedang menutul pada ujung tongkat lawan, dengan tenaga tutulan itulah badannya lantas mencelat beberapa meter jauhnya ke belakang.

Jurus yang berbahaya tapi sangat jitu itu, mau tidak mau membuat si Lama jubah hitam merasa kagum. Dalam pada itu Hulitu sudah lantas mengadang di depan Li Su-lam sebab kuatir anak muda itu bergabung dengan Nyo To. Menyusul Lama jubah hitam itupun memburu maju.

Su-lam sudah dapat mengukur kepandaian Lama jubah hitam itu lebih tinggi daripada Hulitu, untuk melawannya hanya bisa menggunakan akal dan tidak bisa dihadapi dengan mengadu tenaga. Segera Su-lam menggunakan ilmu pedang yang lunak untuk menempurnya lagi. Namun melawan si Lama jubah hitam saja kalah kuat, apalagi sekarang ia dikeroyok, apalagi kepandaian Hulitu juga tidak dibawahnya, keruan Su-lam menjadi kewalahan.

Melihat Su-lam terdesak, baik Nyo To maupu Nyo Wan berusaha menggabungkan diri dengan anak muda itu. Nyo To segera melancarkan serangan kuat kepada Cepe.

“A-ah, sebaiknya kau simpan tenaga supaya mampu menandingi aku lebih lama,” demikian Cepe meng-olok2.

Nyo To tidak ambil pusing akan ocehan lawan, ia terus menyerang secara membadai sehingga dalam sekejap likuran jurus sudah berlalu. Namun selangkahpun Cepe tidak mau mengalah, ia menghadapi lawannya denga tidak kalah tangkasnya.

Tidak lama Nyo To sendiri sudah mandi keringat, kesempatan ini segera digunakan Cepe untuk melancarkan serangan balasan sehingga Nyo To terdesak mundur malah. Untung ilmu pedang Nyo To tidaklah mudah dibobol, betapapun dia masih sanggup bertahan, walaupun Cepe sedikit diatas angin, terpaksa tak berani terlalu mendesak lantaran dia sudah pernah merasakan lihainya ilmu pedang lawan itu.

Di sebelah sana Nyo Wan ternyata berhasil melepaskan diri dari rintangan Cilaun. Dalam “ksatria kemah emas” Cilaun hanya termasuk jago nomor delapan, kepandaiannya jauh dibawah Cepe.

Sebaliknya kepandaian Nyo Wan selisih tidak banyak dengan kakaknya, sebab itulah Cilaun tidak mampu menahannya. Ketika suatu tabasanpedang Nyo Wan memaksa Cilaun harus menangkis dengan giliknya, mendadak dengan gerakan “Yan-cu-coan-liam” (burung walet menyelinap dibalik kerai), seperti burung terbang Nyo Wan terus melayang lewat diatas kepala Cilaun.

Keruan Cilaun Kelabakan, ver-ulang2 ia meludah dan berteriak: “Sial!” ~ Maklum, dilangkahi seorang perempuan umumnya menjadi pantangan setiap jago silat. Dengan gusar segera Cilaun memutar tubuh terus mengudak.

Dalam pada itu dengan cepat luar biasa Nyo Wan sudah berada disamping Hulitu, pedangnya berkelebat, kontan menusuk keatas kepala lawan itu.

Hulitu mementangkan jubahnya keatas sehingga mirip segumpal awan merah melindungi kepalanya. Ketika pedang Nyo Wan mengenai jubah lawan, jubah merah itu robek satu lubang, tapi iapun teregtar kesamping oleh tenaga kebutan jubah itu, dengan enteng Nyo Wan tepat tancapkan kakinya di sebelah Li Su-lam. Segera kedua muda-mudi itu bahu mmbahu menepur musuh. Alangkah syukur dan terima kasih Li Su-lam melihat Nyo Wan menerjang maju untuk membantunya tanpa mengenal bahaya. Seketika semangatnya terbangkit, keadaan terdesak tadi segera diperbaikinya. Cuma sayang, pihak lawan segera bertambah juga bantuan seorang, yaitu Culaun. Dalam keadaan dua lawan tiga kembali Su-lam berdua terdesak dibawah angin.

Kepandaian Cilaun tidak terlalu hebat, tapi juga mengandung daya gempuran yang tidak ringan. Sedangkan Lama jubah hitam dan Hulitu adalah jago kelas tinggi, andaikan dua lawan dua akhirnya Su-lam berdua juga akan kecundang, apalagi sekarang ditambah Cilaun, tentu saja kekuatan kedua pihak lantas sangat berbeda.

Terpaksa Su-lam belakang membelakangi dengan Nyo Wan dan bertempur mati2an, dalam sekejap beberapa puluh jurus lalu pula. Meski mandi keringat Li Su-lam masih sanggup bertahan sekuatnya, sebaliknya sebagai anak perempuan tenaga Nyo Wan tentunya terbatas, setelah bertempur sengit dua babak, kini tenaganya benar2 terperas, napasnya sudah megap2, pedangnya juga mulai lamban. Melihat itu, perasaaan Su-lam menjadi pedih, katanya: “Wan-moay, akulah yang membikin susah padamu!”

Tapi Nyo Wan menjawab dengan tertawa: “Bukankah kau pernah mengatakan kita adalah merpati yng sehidup semati, kenapa sekarang kau berkata demikian pula, memangnya kau anggap aku sebagai orang luar?” ~ Pernyataan tekad Nyo Wan ini ternyata sangat membangkitkan semangat Li Su-lam sehingga perlawanannya tambah kuat.

“Bila kalian mau ber-mesra2an disilahkan di Holin saja nanti,” ejek Cilaun. “Sekarang kalian lebih baik menyerah saja daripada menjadi merpati senasib diakhirat.”

Su-lam menjadi murka, mendadak pedangnya memutar ke belakang. Saat itu Cilaun lagi menghadapi Nyo Wan, sudah tentu ia tidak menduga akan serangan Li Su-lam yang mendadak itu, tanpa ampun lagi lengan kirinya melekah beberapa senti panjangnya, keruan ia ber-kaok2 dan berjingkrak kesakitan.

Tapi pada saat Su-lam menghajar Cilaun, hampir berbareng tongkat si Lama jubah hitam juga menyodok kepunggung Li Su-lam. Nyo Wan menjerit kuatir, syukur ia masih sempat menangkiskan serangan itu bagi Su-lam. Namun tenaga Nyo Wan lemah, ketika pedangnya membentur tongkat “Trang”, pedangnya yang malah mencelat keudara, tangannya sampai lecet dan berdarah.

Segera Su-lam putar kembali pedangnya, dengan gerakan “Hing-in-toan-hong” (awan mengapung memotong puncak), tongkat si Lama kena disampuk kesamping menyusul ia serahkan pedangnya kepada Nyo Wan sambil berkata: “Wan-moay, pakailah pedangku ini!”

Dalam pertarungan sengit itu Nyo Wan tidak sempat ragu2 sedetikpun, terpaksa ia terima pedang Li Su-lam itu. Sekarang Su-lam hanya menggunakan “Pan-yak-ciang-hoat” dari Siau-lim-pay untuk menggempur Hulitu dan si Lama jubah hitam. Pan-yak-ciang paling ampuh untuk merusak urat nadi lawan bilamana mengadu pukulan. Sebagai seorang tokoh, si Lama jubah hitam cukup kenal serangan Su-lam yang nekat itu, betapapun ia harus berpikir dua kali sebelum menyambut serangan anak musda itu.

Kiranya waktu berangkat si Lama jubah hitam ini telah diberi perintah oleh Jengis Khan agar dalam terpaksa boleh Su-lam dibunuh, tapi selain itu Puteri Minghui juga telah menyusulnya dan memberi pesan padanya agar bocah she Li ini jangan se-kali2 dicelakai. Dalam keadaan demikian, memangnya Li Su-lam bertempur mati2an pula mengingat akan pesan Puteri Minghui itu, si Lama jubah hitam pikir tiada gunanya mengadu jiwa, lebih baik tunggu kalau nanti tenaga Li Su-lam sudah habis kan dengan gampang akan dapat menawannya? Karena keputusan demikian, si Lama jubah hitam hanya bertahan saja dan tidak menyerang lagi. Keadaan Su-lam menjadi rada enteng, namun dia masih terlibat dalam pertempuran sengit.

Sementara itu Cilaun yang terluka itu tidak tinggal diam, sudah tentu oa tidak tahu tentang pesan Puteri Minghui kepada si Lama jubah hitam segala, segera ia menerjang maju sambil memaki: “Anak bangsat, aku akan memampuskan kau!”

Ber-ulang2 si Lama jubah hitam memberi isyarat kepada Cilaun, namun Cilaun tidak paham maksudnya. Terpaksa si Lama jubah hitam berseru: “Jasa kita akan lebih besar jika bocah ini dibekuk hidup2. Kalau kau merasa gemas padanya, bolehlah kau bacok dia satu kali.” Baru sekarang Cilaun tahu maksud Lama itu, sahutnya: “Baiklah, akan kibacok dia dua kali, yang satu kali sebagai persen!”

Nyo Wan menjadi murka, dampratnya: “Hm, kau ingin membacok dua kali? Ini, kau rasakan dulu pedangku!” ~ Dengan geregetan NyoWan kerahkan segenap tenaganya terus menusuk kearah Cilaun.

Saat itu si Lama jubah hitam dan Hulitu sedang melayani Su-lam, mereka tidak sempat emberi bantuan kepada Cilaun. Sedangkan Cilaun sendiri sudah terluka, gerak-geriknya kurang gesit, pula tidak menduga sinona berani mengadu jiwa padanya secara mendadak, keruan tusukan Nyo Wan yang ganas dan cepat itu tak bisa dihindarkan. “Crot”, kontan ujung pedang menancap didadanya. Cilau menjerit ngeri sambil mundur dua langkah, waktu melihat dada sendiri, ternyata dada sudah berlubang, darah mengucur sebagai sumber air. “Matilah aku!” jerit Cilaun pula. Kakinya menjadi lemas dan jatuh terkulai.

Lantaran tenaga Nyo Wan kurang kuat, maka sebenarnya tusukan yang mengenai dada Cilaun itu tidaklah mematikan, hanya bagian dadanya yang gemuk saja yang terluka.

Cepe adalah jagoan tempur yang berpengalaman, mendengarkan suara jeritan Cilaun itu, ia mengerut kening dan mengomel: “Janganlah melempem begitu, hanya terluka sedikit saja kenapa mesti ver-kaok2, tahu malu tidak?”

Kini Cilaun juga sudah menyadari lukanya tidka mematikan, tapi melihat derasnya darah yang mengucur itulah hatinya menjadi takut. Lekas2 ia membubuhi obat luka, namun rasa sakitnya masih belum reda. Dengan gemas ia berteriak: Bunuh saja bentina itu!”

Dalam hati si Lama jubah hitam itu menduga si nona tentulah kekasih Li Su-lam dan orang demikian tentu takkan disukai sang Peteri (Minghui), maka iapun menajwab: “Baiklah, aka kubalaskan sakit hatimu itu. Kau boleh pulang saja dulu!”

Tiba2 si Lama jubah hitam ganti cara bertempur dan melancarkan serangan gencar terhadap Nyo Wan. Sebaliknya tenaga Nyo Wan sudah hampir ludes setelah menusuk Cilau tadi. Dengan mati2an Li Su-lam berusaha melindungi Nyo Wan, namun tetap tak bisa menahan serangan si Lama jubah hitam yang dahsyat, tiada seberapa lama ver-ulang2 mereka harus menghadapi serangan2 maut.

Cemas dan kuatir pula Nyo To, mendadak ia menggertak keras: “Bukan kau yang mampus biarlah aku yang binasa!” ~ Tanpa pikir lagi ia putar pedangnya terus menerjang kearah Cepe.

Meski tenaga Cepe lebih besar daripada lawannya, tapi melihat kekalapan Nyo To itu, terkejut juga dia, dan lekas2 menghindar, menyusul secepat itu pula goloknya lantas menabas, namun luput dan Nyo To sudah menerjang lewat kesana.

Saat itu si Lama jubah hitam sedang angkat tongkatnya dengan gerakan “Thay-san-an-teng” (gunung Thay menimpa kepala) sedang menghantam kepala Nyo Wan.

“Jangan mencelakai adik perempuanku, kepala gundul!” gertak Nyo To dengan berang, pedangnya sempat digunakan menangkis. “Trang”, kedua senjata kebentur dan lelatu tepercik, tangan si Lama jubah hitam terasa sakit, jubahnya juga robek tergoresoleh pedang Nyo To. Baru saja Nyo To bermaksud menyorong pedang sekuatnya kedepan untuk menembus perut musuh, tiba2 terdengar suaraangin menyambar dari belakang, untuk memutar pedangnyakebelakang buat menangkis sudah tidak keburu lagi, walaupun Nyo To masih sempat mengelak tak urung punggunya kena golok Cepe hanya saja tidak parah.

Kepandaian si Lama jubah hitam itu tidak dibawah Nyo To, begitu terhindar dari elmaut karena perutnya hampir tertembus pedang Nyo To tadi, segera ia melancarkan serangan balasan, tongkatnya lantas menghantam dan inilah maut bagi Nyo To. Dada Nyo To kena digenjot, tan[pa ampun lagi darah segar tersembur dari mulutnya, berbareng Nyo To melompat mundur beberapa meterjauhnya kebelakang.

“Hahahaha!” Lama jubah hitam bergelak tertawa, ia memburu maju dan tongkatnya menyodok kedepan. Saat itu Nyo To baru saja menancapkan kakinya ditanah dan tahu2 ujung tongkat si Lama sudah menyamber tiba.

Disebalah sana Hulitu juga lantas putar jubahnya untuk merintangi Li Su-lam yang bermaksud memburu kesana untuk membantu Nyo To.

Tampaknya sekali terkena lagi tongkat si Lama dan jiwa Nyo To pasti akan melayang. Pada detik terakhir itulah se-konyong2 Nyo To berteriak: “Kau yang mampus atau aku yang mati!” ~ Berbareng tangannya digunakan menangkis dan memegang, dengan tepat ujung tongkat musuh telah dicengkeramnya.

Terdengar suara “Krak”, tulang tangan Nyo To yang digunakan menangkis itu patah, tapi pedang disebelah tangannya yang lain secepat kilat pula telah meluncur dan menyamber kedepan.

Mimpipun si Lama jubah hitam tidak membayangkan bahwa dalam keadaan terluka parah Nyo To masih mampu menggunakan cara bertempur sehebat itu. Meski tongkatnya telah mematahkan tulang Nyo To, tapi karena tangkisan itu iapun tidak keburu menarik kembali tongkatnya untuk menjaga diri. Bagian dada si Lama menjadi terbuka tanpa penjagaan ketika pedang Nyo To meluncur tiba. “Bles”, tanpa ampun dadanya tertembus oleh pedang itu. Sambil menjerit ngeri Lama ubah hitam itu terguling binasa mandikan darah.

Nyo To sendiri setelah menyambitkan pedangnya juga sudah kehabisan tenaga, keadaannya sudah sempoyongan, pada saat itulah jubah Hulitu juga menyabet kearahnya.

“Sudah mampus satu, kalau mampus satu lagi berarti untung bagiku!” bentak Nyo To. Jubah lawan disambut dengan cengkramannya, sekuat sisa tenaganya ia membetot sambil menjatuhkan diri ketanah, tak tertahankan lagi jubah terlepas dari tangan Hulitu.

Pada saat demikian itulah pedang Nyo Wan telah menusuk punggung Hulitu, pedang Li Su-lam juga sudaah mengancam dadanya. Kedua pedang tiba bersama, satu muka dan satu belakang, sekaligus tubuh Hulitu tertembus dua lubang. Kematian Hulitu jauh lebih ngeri daripada si Lama jubah hitam, menjerit saja dia tidak sempat.

Beberapa gebrakan menentukan itu benar2 berlangsung dengan maha dahsyat dan amat cepat. Setelah berguling ditanah dan baru saja Nyo To bangkit, tahu2 lehernya terasa kencang, kiranya Cepe telah menjirat lehernya dengan busur. Inilah salah satu jurus yang paling lihai dalam ilmu gumul orang Mongol. Tali busur terbuat dari kulit lembu yang sangat kuat, sekali leher terjirat dan ditarik sekuatnya, kontan sang korban akan mati seketika.

Pada detik antara mati dan hidup itu, Nyo To sedikit miringkan kepalanya, dengan mulut ia gigit tali busur musuh, berbareng ia menjatuhkan diri kedepan. Karuan Cepe ikut terseret maju dengan ter- huyung2 , baru saja ia hendak menjerat sekuatnya untuk membinasakan Nyo To, pada saat itulah sepasang pedang Nyo Wan dan Li Su-lam juga sudah menyamber tiba.

Senjata Cepe hanya tertinggal golok sabit saja, dalam keadaan terhuyung pula dia, keadaannya menjadi serba salah, ketika goloknya menangkis, “Trang”, goloknya kena disampuk jatuh oleh pedang LI Su-lam, sedangkan bahu kanan tertusuk oleh pedang Nyo Wan. Meski lemah tenaga Nyo Wan, namun serangannya itu dilancsrkan dengan segenap sisa tenaganya, maka parah juga luka Cepe itu.

Sambil mengerang keras, terpaksa Cepe melerikan diri dengan meninggalkan busurnya yang masih mengalungi leher Nyo To. Dalam keadaan sendirian dan terluka parah, biarpun kepandaiannya setinggi langit juga Cepe tidak berani bertempur lagi.

Lekas2 Su-lam dan Nyo Wan membangunkan Nyo To. Tapi lantas Nyo To berseru: “Lekas kejar dan bunuh Cepe, jangan sampai dia lolos!”

“Bagaimana keadaanmu, Toako, keselamatanmu jauh lebih penting,” ujar Su-lam.

“Ai, jangan pikirkan aku, bunuh dulu Cepe lebih penting,” kata Nyo To dengan napas memburu. Karena lehernya luka oleh jiratan busur Cepe, dadanya terkena hantaman tongkat si Lama jubah hitam, kedua luka itu sama2 sangat parah, lebih2 luka di dada yang mengucurkan darah itu sehingga pakaian Nyo To basah kuyup.

Melihat keadaan luka Nyo To itu, manabisa Su-lam dan Nyo Wan meninggalkan dia dan mengejar musuh? Leaks Nyo Wan membubuhkan obat pada luka kakaknya, sambil membalut lukanyaitu Su- lam berkta: “Empat musuh, dua mati dan dua lagi melarikan diri. Nyo-toako, pertempuran ini telah dimenangkan kita secara mutlak. Cepe juga tertusuk oleh pedang adik Wan, lukanya jauh lebih parah daripada Cilaun. Seumpama dia dapat mencapai Holin dan kembali dengan bala bantuan juga memerlukan waktu beberapa hari lamanya.”

“Biarpun begitu, ada lebih baik kalian lekas meninggalkan tempat berbahaya ini,” ujar Nyo To dengan meringis kesakitan. “Aku sudah terang tak berguna lagi. Adik Wan jangan buang percuma obatmu.” ~ Suaranya makin lama makin lemah, wajahnya juga makin pucat. “Tidak, koko, kau takkan mati,” seru Nyo Wan kuatir dan sedih.

“Ah, bodoh kau, setiap manusia akhirnya pasti akan mati,” kata Nyo To dengan tersenyum. “Hari ini aku telah binasakan dua musuh, matipun cukup berharga. Adik Lam, selanjutnya kuserahkan adik perempuanku dalam lindunganmu. Tugas kalian masih sangat berat, kalian lekas lari dari Mongol. Kewajiban menuntut balas sakit hati keluarga dan negara sedang menantikan kalian, lekaslah kalian berangkat. Maaf adik Lam, beban yang amat berat itu terpaksa kuserahkan padamu semua, aku akan …….akan mangkat lebih dulu.”

Selesai bicara sebanyak itu, napas Nyo To tampak memburu dan suarnay lemah, ketika kedua matanya terkatup dan untuk seterusnya tak pernah terbuka lagi. Ia telah meninggal dalam pangkuan Li Su-lam.

Dalam dua hari ber turut2 Li Su-lam kematian ayah dan Nyo Wan kematian kakaknya, perasaan sedih kedua muda mudi itu dapatlah dibayangkan, hendak menangispun tiada air mata lagi.

Sementara itu sang surya sudah makin condong kebarat, dengan menahan duka Su-lam berkata: “Yang sudah meninggal tak bisa hidup kembali, adik Wan, lebih baik kita menurut pesan Toako saja.”

Nyo Wan tidak menjawab, tapi bersama Su-lam mereka mulai menggali liang dengan pedang mereka. Teringat oleh Su-lam kemarin baru saja Nyo To membuatkan peti mati untuk mengubur ayahnya, tapi sekarang gilirannya yang harus mengubur Nyo To, malahan tanpa peti mati segala, ia menjadi tidak enak hati dan berdoa: “Nyo-toako, hendaklah kau istirahat dengan tenang disini, kelak bila aku sempat datang pula tentu akan kupindahkan tempat abadi ayng layak bagimu.” Sesudah mengubur Nyo To, Su-lam berkata pula: “Adik Wan, hari sudah lama lewat lohor, mumpung masih ada waktu sedikit, marilah kita meninggalkan tempat ini saja, berapa jauh dapat kita tempuh terserahlah keadaannya nanti.”

Nyo Wan tetap tidak buka suara, tapi ia lantas menggendong buntalannya dan ikut pergi bersama Su-lam. Melihat keadaan bakal istrinya itu , Su-lam tahu duka nestapa yang dirasakan Nyo Wan itu jauh lebih hebat daripada dirinya, Cuma sukar baginya mencari kata2 yang pantas untuk menghiburnya.

Jalan Nyo Wan sangat cepat, langkahnya seperti menggeser secara otomatis, ia terus jalan kedepan tanpa memilih jalan, tidak lama kemudian bajunya sudah robek2 terkait oleh duri belukar.

Melihat itu, Su-lam menjadi sedih dan kuatir, dibiarkannya Nyo Wan berjalan didepan, bila berada di tempat yang curam atau banyak tumbuh2an berduri barulah ia memajangnya. Namun Nyo Wan tetap bungkam, juga tidak mengucapkan terima kasih.

Kedua orang terus berjalan kedepan, tanpa terasa sang surya sudah terbenam, awan ke-merah2an indah diufuk barat, itulah suasana senja. Mau tak mau Su-lam merasa lelah juga, tangan Nyo Wan yang dipegangnya itupun berkeringat, terang sinona juga sangat lelah.

Saat itulah mereka berada di suatu dataran didasar lembah, di dekat situ ada sebuah air terjun dengan kolam air yang gemericik, sekitar dataran itu banyak bunga2 hutan yang tidak terkenal jenisnya sedang mekar menyebarkan bau harum semerbak.

“Hari sudah hampir gelap, marilah kita mengaso saja disini,” Kata Su-lam. Nyo Wan tetap tidak bicara, ia hanya ikut berhenti dan duduk ditanah.

“Kau tentu sudah lapar? Makanlah sedikit ransum kering yang kita bawa, akan kucarikan lagi makanan yang lain,” kata Su-lam pula.

Nyo Wan menggeleng, katnya kaku: “Tidak lapar.”

“Tentunya kau sangat lelah, silahkan cuci muka dulu dan tidur saja.” Kembali Nyo Wan menggeleng kepala dan berkata: “Tidak lelah.”

Sungguh pedih sekali hati Su-lam, dengan suara parau ia berkata pula: “Menangislah se-puas2mu saja!”

“Aku tak bisa menangis!” sahut Nyo Wan.

Nyo Wan tidak menangis, sebaliknya air mata Li Su-lam sudag bercucuran, ia tidak tahu cara bagaimana harus menghibur Nyo Wan, dilihatnya Nyo Wan sedang membuang kelopak2 bunga hutan yang dipetiknya ke kolam air terjun. Bila dilihat orang lain, mungkin Nyo Wan akan disangka seorang gadis jelita sedang memainkan bunga dan air, hanya Su-lam saja yang dapat menyelami perasaan duka dilubuk hati sinona.

Terpikir oleh Su-lam: “Nasib orang sungguh sukar diukir. Tiga hari yang lalu aku dan adik Wan tidak saling mengenal, tapi sekarang kami sudah terikat menjadi suami istri yang senyawa.” ~ Terpikir demikian, tiba2 ia merasa ada perasaan cintanya terhadap Nyo Wan, akan tetapi Cuma sekilas itu saja timbulnya, sebab bayangan Beng Bing-sia se-akan2 juga terbayang dalam benaknya. Diam2 Su-lam mencela dirinya sendiri mengapa tak bisa melupakan “si dia”. Karena perasaan kusut itu, tanpa terasa iapun meremas setangkai bunga dan dibuang kedalam kolam. Sambil memandangi buih air yang menggelembung itu, Su-lam berpikir pula: “Pertemuanku dengan Beng Bing-sia mungkin juga seperti gelembung air ini.”

Tiba2 Nyo Wan angkat kepalanya dan bertanya: “Engko Lam, apa yang sedang kau pikirkan?”

Dapatkah Li Su-lam dan Nyo Wan bebas dari rintangan2 dan kembali ke Selatan? Pertarungan2 sengit apa yang akan timbul di dunia persilatan Tionggoan?
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)
*****

0 Response to "Pahlawan Gurun Jilid 02"

Post a Comment

close