Musuh Dalam Selimut Bab 05 : Huru-Hara Di Pesta Perkawinan

 
5. Huru-Hara Di Pesta Perkawinan

Tapi mendadak Hui-hong sudah melayang keluar tanpa membuka pintu kamar, kiranya dia meloncat keluar melalui jendela.

„Meski kita adalah saudara sendiri, tapi di tengah malam buta begini tidaklah pantas untuk bertemu di dalam kamar." kata Hui-hong dengan kaku. „Nah, ada urusan apa boleh kita bicarakan saja disini."

Keruan Wanyen Ting-kok seperti diguyur air dingin, ia menjadi kikuk, terpaksa ia menjawab dengan tersenyum ewa:

„Ya, besok kau akan menjadi pengantin, maka perlu menghindarkan prasangka bukan?"

„Prasangka memang sebaiknya dihindari," sahut Hui-hong.

„Bagaimana kedatanganmu ditengah malam buta begini apakah perlunya cuma untuk mengucapkan selamat padaku?"

„Aku ingin tanya padamu, apakah kau benar-benar rela menjadi isterinya Loh Si-hiong?"

„Apa artinya kau bertanya tentang hal ini?"

„Aku tahu kau terpaksa menurut atas perintah ayah, bukan?"

„Kalau ya kenapa, kalau bukan lantas bagaimana?"

Ting-kok menghela napas, katanya kemudian: „Aku tahu. Tak peduli kau sendiri sukarela atau tidak, yang jelas urusan ini sudah tak bisa ditarik kembali lagi. Cuma saja, aku masih ingin mengemukakan isi hatiku kepadamu."

„Oh, ada isi hati apakah yang hendak kau kemukakan kepadaku?" tanya Hui-hong.

„Adik Hong, apakah kau benar-benar tidak tahu ataukah pura-pura tidak tahu?" tanya. Ting-kok. „Di dalam hatiku sudah lama telah ter terisi dirimu. Hanya sayang, aku

menyesal tidak dulu-dulu mengemukakan pikiranku kepada ayah sehingga sekarang dengan mata kepalaku sendiri menyaksikan kau direbut orang di depan hidungku. Namun aku hendak minta pengertianmu, bahwa hatiku masih selalu menjadi milikmu. Sekarang kau terpaksa menikah dengan Loh Si-hiong, ya, apa boleh buat, harap kau bersabar dan tekan perasaanmu saja. Pada suatu saat bila aku sudah memegang kekuasaan tentu aku akan berdaya untuk membebaskan kau. Selanjutnya di dalam istana ini kitapun masih akan selalu bertemu ”

Dongkol dan malu rasa Tokko Hui-hong, kuatir kalau Ting- kok mengucapkan kata-kata yang lebih ''seram" lagi, cepat ia, memutus pembicaraan orang: „Toako, aku dan kau hanya adik dan kakak belaka, janganlah kau berpikiran sesat dan bertujuan menyeleweng. Silakan kau kembali ke kamarmu saja, jangan-jangan akan menimbulkan sangkaan jelek bila. dilihat orang.”

Wanyen Ting-kok tertegun sejenak, katanya kemudian:

„Adik Hong, janganlah kau mengusir aku ” tiba-tiba ia

bermaksud menarik Hui-hong, tapi dengan cepat Hui-hong mengebaskan lengan bajunya.

Setiap hari Ting-kok berlatih silat dengan Hui-hong dan sering telan pil pahit dari si nona, maka betapapun ia rada jeri kepadanya dan terpaksa menarik kembali tangannya. Dibawah cahaya bulan yang remang-remang tampak muka Hui-hong bersungut. „Jika kau tidak lekas pergi segera aku akan berteriak memanggil ayah!" ancam si nona.

Ternyata Wanyen Ting-kok masih belum kapok, ia coba memancing pula: „Adik Hong, bicara terus terang saja. Apakah kau benar-benar sukarela menjadi isteri bocah itu?"

„Ya, aku suka,” sahut Hui-hong dengan ketus.

Akhirnya Wanyen Ting-kok menghela napas panjang seperti seekor ayam jago yang sudah keok, dengan gesit ia mengeluyur pergi.

Masuk kembali ke dalam kamarnya, menangislah Tokko Hui-hong. Pikirnya: „Rasanya tidak boleh tidak aku harus kawin dengan Loh Si-hiong."

Biarpun pesta kawin itu diadakan secara mendadak, tapi ternyata tidak sembarangan dan tetap dilangsungkan dengan ramai dan megah. Dengan harta kekayaan pangeran serta kaum hambanya yang tak terhitung banyaknya, segala sesuatu telah dapat dibereskan dengan baik dan cepat.

Walaupun perintah mengadakan pesta itu baru diberikan oleh Wanyen Tiang-ci pada malam harinya, tapi besok paginya ketika ia bangun tidur, istananya yang besar itu sudah berubah dalam suasana pesta pora yang luar biasa.

Setiap orang tahu Wanyen Tiang-ci sangat sayang kepada, puteri angkatnya itu, maka begitu berita tentang sang pangeran hendak mengawinkan puterinya tersiar, seketika datanglah berbondong-bondong pembesar-pembesar militer maupun sipil untuk mengucapkan selamat. Bahkan pembesar yang tidak menerima kartu undangan juga sengaja datang dengan membawa hadiah perkawinan yang berharga, sudah tentu dengan maksud mengambil hati Wanyen Tiang-ci yang berkuasa itu.

Pesta perkawinan itu diadakan di tengah taman bunga yang luas. Taman itu telah dihias sedemikian indahnya, diundang pula beberapa rombongan pemain sandiwara dan akrobat, banyak pula seniman dan seniwati dengan aneka atraksinya, sehingga makin menambah semaraknya suasana pesta.

Di suatu tempat Wanyen Tiang-ci duduk bersama satu meja dengan sepasang mempelai. Saking banyaknya tetamu sehingga sepasang pengantin baru itu tidak dapat mendatangi setiap tamu untuk menyuguhkan arak, maka tamu-tamu yang duduk agak jauhnya berturut-turut sama datang ke tempat mempelai untuk mengucapkan selamat kepada Ong-ya dan kedua orang pengantin baru.

Karena Wanyen Tiang-ci adalah panglima pasukan pengawal kerajaan, dengan sendirinya diantara tetamu banyak terdapat perwira-perwira tinggi. Maka tentang Loh Si-hiong mengalahkan delapanbelas jago pengawal pada ujian kemarin dulu lantas menjadi bahan pembicaraan yang menarik di tengah tetamu itu, mereka sama memuji ketangkasan pengantin lelaki yang jarang terdapat itu.

Ditengah hiruk-pikuk suasana pesta ria itu, tiba-tiba ada seorang dengan membawa satu cawan arak mendekati mempelai. Orang ini adalah pangeran muda Wanyen Ting-kok

„Pada hari bahagia adikku ini, aku ingin menyuguh secawan kepada mempelai lelaki bakal adik iparku," kata Wanyen Ting- kok dengan sikap rada kaku.

Waktu Loh Si-hiong merasa serba salah, tiba-tiba Ting-kok mendesaknya pula: „Marilah minum!" berbareng ia pegang tangan Si-hiong yang memegangi cawan arak itu terus dipaksa minum. Diam-diam ia mengerahkan "Kim-kong-ci-lik" (tenaga jari sakti), pikirnya hendak meremas remuk tulang pergelangan Si-hiong agar mendapat malu di depan orang banyak.

Tak tersangka Si-hiong ternyata tidak mengadakan perlawanan apa-apa, secara wajar ia tenggak habis araknya. Keruan Ting-kok terkejut dan diam-diam mengakui Si-hiong memang benar-benar berisi. Tapi karena Si-hiong tidak mengerahkan tenaga untuk melawan, maka Ting-kok belum dapat menjajaki sampai dimana sebenarnya kekuatan saingannya itu.

Melihat kelakuan puteranya itu, Wanyen Tiang-ci mengerut dahi dan berkata: „Anak Kok, kau sudah terlalu banyak minum, janganlah bikin kacau."

„Harap ayah jangan kuatir, anak tidak mabuk, sahut Wanyen Ting-kok. Nyata, ia justru ingin mengacau.

Segera Wanyen Ting-kok menuang pula satu cawan arak dan ditenggaknya sendiri hingga habis, lalu katanya: „Loh- toako, kau telah mengalahkan delapanbelas jago pengawal kerajaan, namamu kini telah menggetarkan seluruh ibukota, para tamu sungguh ingin tahu kepandaianmu. Mengingat hari ini kita sedemikian gembira, maka sudilah kau memperlihatkan beberapa jurus sekadar menambah pengalaman kami."

Karena tidak paham maksud ucapan orang, Si-hiong melengak dan menjawab dengan tersenyum: „Ah, hanya sedikit kepandaianku yang tak berarti mana aku berani pamer disini?"

„Harap Loh-toako jangan sungkan-sungkan, kita adalah kaum persilatan yang mengutamakan ketegasan dan terus terang. Jika sekiranya kau merasa rikuh, bolehlah aku mengiringi kau berlatih."

Adalah menjadi kebiasaan rakyat negeri Kim yang gemar silat untuk ikut berdemonstrasikan kepandaian masing-masing di tengah pesta, apalagi tuan rumahnya sekarang adalah panglima pasukan pengawal kerajaan. Keruan ada sebagian tamu yang mendengar kata-kata Wanyen Ting-kok itu serentak bersorak menyokong.

Karena tak bisa menolak lagi, terpaksa Loh Si-hiong berdiri. Waktu itu wakil panglima pasukan pengawal kerajaan yaitu

Pan Kian-hau, kebetulan duduk di depan Wanyen Tiang-ci. Ketika dilihatnya air muka sang pangeran rada geram, dengan tertawa segera ia berkata kepada Wanyen Ting-kok: „Saudara kecil hari ini adalah hari baik adikmu "

Belum lanjut ucapannya mendadak Wanyen Ting-kok telah memotong: „Pan-sioksiok jangan kuatir. Aku hanya berlatih dengan Loh-toako, masakah kami sampai bertarung sungguh- sungguh dengan senjata segala? Aku tentu akan hati-hati dan cukup asal tangan menyentuh pihak lawan. Hari ini adalah hari bahagia adikku, he..he, masakah aku sampai hati membikin susah mempelai lelaki sehingga mengacaukan malaman pengantin mereka?" - Habis berkata ia tertawa terbahak- bahak.

Diam-diam Loh Si-hiong juga mendongkol, pikirnya masakah aku jeri kepadamu? Maka dengan langkah lebar segera ia tampil kedepan.

Kedengaran Wanyen Tiang-ci mendengus satu kali, tapi tidak membuka suara. Bukanlah dia kuatir puteranya melukai Loh Si-hiong, sebaliknya ia justru takut kalau Loh Si-hiong menciderai puteranya itu. Akan tetapi mengingat dengan kepandaiannya sendiri masih mampu melerai nanti bila perlu, maka iapun tidak mencegah mereka.

Begitulah para tamu lantas sama menyingkir sehingga terluang suatu kalangan yang cukup lebar. Mereka sama mengelilingi kalangan itu untuk menyaksikan pertandingan yang mereka anggap pasti akan hebat.

Ketika Wanyen Ting-kok memberi tanda, seorang kacung telah maju membawakan sebatang tongkat bambu kepadanya. Setelah memegang tongkat bambu itu, dengan penuh lagak ia berseru: „Loh-toako, senjata apa yang kau sukai, silakan pilih." - Dibalik kata-katanya itu seakan-akan sedikitpun ia tidak jeri andaikan Si-hiong hendak menggunakan senjata tajam.

Tongkat bambu yang dipegang Wanyen Ting-kok itu berwarna hijau mengkilat dan berbeda daripada tongkat bambu biasa. Banyak diantara tamu-tamu itu sama memuji kehebatan pangeran muda itu, sampai sebatang bambu saja juga sedemikian bagusnya, apalagi benda lain yang menjadi miliknya.

Mereka hanya memuji akan kebagusan bambu hijau itu, tapi mereka tidak memikirkan dimana letak khasiat tongkat bambu itu. Bagi mereka, bambu tetap bambu dan pasti tidak sekuat tongkat yang terbuat dari logam.

Hanya Tokko Hui-hong saja yang diam-diam merasa kuatir, kalau orang lain tidak kenal asal-usul tongkat bambu itu, maka dia sendiri cukup mengetahui, sebab tongkat bambu hijau itu memang benar-benar sejenis senjata yang amat lihay.

Kiranya tongkat bambu hijau itu adalah benda pusaka keluarga Wanyen Tiang-ci. Diantara perbatasan Tiongkok dan India, di lereng, bukit Taji ada tumbuh sejenis "bambu hijau kemala" hijau pupus mengkilat, kerasnya seperti baja dan mampu menahan tajamnya senjata logam. Cuma jenis bambu itu sangat sedikit tumbuhnya, bahkan umur bambu demikian harus ratusan tahun barulah dapat digunakan. Umumnya jarang orang yang tahu akan kebagusan bambu hijau demikian itu, andaikan tahu, untuk mencari bambu yang berumur ratusan tahun juga tidak gampang.

Tongkat bambu Wanyen Tiang-ci itu adalah hadiah seorang paderi Hindu. Wanyen Tiang-ci terhitung jago Tiam-hiat terkemuka, sesudah mendapatkan tongkat pusaka itu sungguh sayangnya ke pati-pati dan tidak sembarangan diperlihatkan kepada orang luar. Mestinya tongkat bambu ini akan digunakannya sendiri, cuma terlalu sayang kepada putera tunggalnya, maka pada waktu Wanyen Ting-kok berulang tahun ke delapanbelas ia telah menghadiahkan benda pusaka itu. Tak tersangka anak itu sekarang menggunakan tongkat pusaka ini untuk melayani Loh Si-hiong.

Diam-diam Tokko Hui-hong merasa kuatir, sebab ia tahu dengan mengeluarkan tongkat pusaka itu teranglah Wanyen Ting-kok bermaksud membinasakan Si-hiong. Sebaliknya Loh Si-hiong tidak tahu betapa lihaynya "bambu hijau kemala" itu. Karena menganggap pihak lawan cuma memakai tongkat bambu, dengan sendirinya ia tidak dapat melolos pedang.

Pikirnya: „Dengan senjata apakah aku melawan dia? Jika bertangan kosong, pangeran muda yang tinggi hati ini tentu akan menganggap aku menghina dia."

Sekilas pandang dilihatnya ada seorang anak kecil sedang memain sebatang pedang kayu. Bocah ini adalah anak pengurus rumah tangga istana pangeran, tampaknya asyik main anggar dengan beberapa anak nakal yang lain. Tapi karena ingin melihat pertandingan pangeran muda mereka, maka permainan anggar-anggaran anak-anak kecil itu sekarang sudah berhenti.

Si-hiong mendekati anak kecil itu, katanya dengan tertawa:

„Adik cilik, pinyamkan sebentar pedangmu ya?"

„Baiklah paman, kau boleh pinjam, tapi jangan dibikin patah ya," sahut bocah itu.

„Tidak, tidak patah, jangan kuatir adik cilik yang baik," kata Si-hiong sambil mengambil pedang kayu itu dari tangan anak itu. Lalu ia memberi hormat kepada Wanyen Ting-kok dan berkata: „Silakan Yang Mulia memberi petunjuk."

„Ah, Loh-toako jangan sungkan-sungkan," sahut Ting-kok acuh tak acuh dan mendadak tongkatnya terus mengemplang dari atas.

Cepat Si-hiong menangkis dengan pedang-kayunya. Diam- diam Tokko Hui-hong menduga pedang kayu itu pasti akan patah terbentur oleh bambu hijau kemala yang kerasnya sebagai baja itu. Tak tersangka, ketika kedua senjata itu beradu, keduanya ternyata tiada yang rusak. Pedang kayu itu seakan-akan lengket di atas tongkat dan ikut berguncang menuruti daya benturan tongkat. Beberapa kali Wanyen Ting- kok berganti jurus serangan dan pedang kayu lawan masih tetap seperti lengket di atas batang tongkat bambu. Keruan kejutnya tak terhingga.

Sebaliknya Wanyen Tiang-ci telah menghela napas lega dan diam-diam bergirang. Pikirnya: „Loh Si-hiong ternyata telah menjaga kehormatanku dan tidak mau membikin malu puteraku."

Iapun tahu bahwa Loh Si-hiong belum kenal betapa lihaynya tongkat bambu hijau itu. Jika Si-hiong benar-benar bermaksud bertanding, dengan Ting-kok tentu tongkat itu akan dianggapnya seperti tongkat bambu biasa dan jurus pertama tadi saja pasti sudah mengerahkan tenaga dalam yang kuat dengan maksud menggetar putus tongkat bambu itu. Dan dengan sendiri, jika dia berbuat demikian, maka yang patah tentu bukanlah tongkatnya, tapi adalah pedang kayunya. Namun sekarang pedang kayu itu tidak rusak sedikitpun, ini membuktikan bahwa Si-hiong tidak menggunakan tenaga dalam dan tiada niat bertanding sungguh-sungguh dengan puteranya.

Karena tongkatnya masih terus dilengket oleh pedang kayunya Loh Si-hiong, wajah Ting-kok menjadi merah, mendadak ia menggertak satu kali dan mengerahkan segenap tenaganya ke ujung tongkat, sekali tongkat ditekan ke bawah, segera ia menutuk ke Koan-tiau-hiat di dengkulnya Loh Si- hiong.

Sebagai pemuda yang dilahirkan di keluarga kerajaan, sejak kecil Wanyen Ting-kok telah tenggelam dalam dunia kesenangan yang tak terbatas sehingga tidak berlatih silat sepenuh hati. Dari itulah meski usianya sepadan dengan Loh Si-hiong namun tenaganya jauh lebih lemah. Walaupun demikian betapapun ia terhitung putera dari tokoh nomor satu di negeri Kim, maka permainan tongkatnya juga tidak boleh dipandang enteng, terutama tutukannya mengarah dengkul ini tidak boleh dibuat main-main.

Jika Loh Si-hiong mesti mengadu Lwekang dengan Pangeran muda ini, maka Wanyen Ting-kok tentu akan terluka parah. Namun Si-hiong tak dapat berbuat demikian, terpaksa ia melompat ke samping untuk menghindar. Dengan begini tongkat Wanyen Ting-kok lantas terlepas juga dari lengketan pedang kayu Loh Si-hiong. Orang sengaja mengalah, namun Wanyen Ting-kok tak mau tahu, sebaliknya tongkatnya terus menyerang lebih gencar, dalam sekejap saja tubuh Loh Si-hiong sudah terselubung di tengah kurungan bayangan tongkat. Serangan bertubi-tubi ini membuat Si-hiong rada kelabakan juga sehingga terpaksa main mundur terus.

Diam-diam Si-hiong terkejut. Bukankah dia kuatir dikalahkan si pangeran muda ini, tapi terkejut atas hebatnya Tiam-hiat-hoat keluarga Wanyen itu. Pikirnya: „Kabarnya kepandaian Tiat-hiat-hoat Wanyen Tiang-ci diperoleh dari gambar patung tembaga, sesudah mengalami penyelidikan sekian lamanya oleh mereka, konon yang berhasil dipecahkan mereka juga tidak lebih dari dua persepuluh bagian.

Kepandaian menutuk Hiat-to Wanyen Tiang-ci diajarkan pula kepada puteranya, rasanya pangeran muda ini belum memperoleh separoh dari seluruh kepandaian sang ayah, tapi ilmu tutuk yang dimainkan pangeran muda ini sekarang sudah begini lihay, apalagi orang yang sudah dapat memahami segenap rahasia patung tembaga itu, lantas siapa lagi didunia ini yang mampu menandingi dia?''

Di sebelah lain Tokko Hui-hong juga terkesiap, dia benar- benar berkuatir bagi keselamatan Loh Si-hiong. Ia dapat melihatnya bahwa setiap jurus serangan Wanyen Ting-kok adalah serangan yang ganas dan mematikan, sekali-kali bukan pertandingan persahabatan yang biasa.

Meski orang yang betul-betul dicintai Tokko Hui-hong bukanlah Loh Si-hiong, tapi bila Wanyen Ting-kok sampai membinasakan Loh Si-hiong, maka dirinya tak terlepas dari tanggung jawab sebagai orang yang menjadi sebab musababnya. Dan dirinya mana boleh menyaksikan kematian Loh Si-hiong gara-gara dirinya. Dalam pada itu Pan Kian-hau telah berseru memuji:

„Sungguh Keng-sin-pit-hoat yang hebat!"

Kiranya kepandaian Tiam-hiat yang disimpulkan Wanyen Tiang-ci dari gambar Hiat-to-tong-jin itu telah diberi nama "Keng-sin-pit-hoat" (ilmu tutukan pengejut malaikat). Ilmu tutukan ini mestinya harus menggunakan senjata Boan-koan- pit, sejenis potlot baja yang tajam. Tapi dia telah sengaja pakai cara lain, yaitu menggunakan tongkat bambu sebagai gantinya potlot baja. Maka ilmu tutukan "Keng-sin-pit-hoat" ini menjadi lebih-lebih aneh dan sukar dijajaki.

Oleh karena gambar-gambar penjelasan Hiat-to-tong-jin dipusatkan semua dalam tangan Wanyen Tiang-ci, meski Pan Kian-hau adalah wakilnya yang diberi tugas memimpin lembaga penyelidikan itu, namun selama ini ia hanya kenal "Keng-sin-pit-hoat'' saja dan baru sekarang ia menyaksikan sendiri untuk pertama kalinya.

Begitulah, dengan tersenyum Wanyen Tiang-ci telah menjawab: „Ah, hanya begitu saja mana dapat dipuji. Soalnya Loh-ciangkun sengaja mengalah kepada anak Kok."

Namun Pan Kian-hau setengah ragu-ragu. Sesungguhnya ia merasa kuatir kalau-kalau Wanyen Ting-kok benar-benar melukai Loh Si-hiong, suasana pesta pora itu bisa jadi akan berubah kacau, inilah yang dia pikirkan.

Di tengah macam-macam pikiran para penonton itu, sekonyong-konyong bayangan hijau berkelebat lebih gencar, berulang-ulang tongkat bambu Wanyen Ting-kok menghantam tiga kali dan berulang tiga kali pula Loh Si-hiong tampak menghindar dengan berjumpalitan. Jumpalitan yang terakhir hampir-hampir menempel permukaan lantai dan tubuhnya berputar secepat kitiran menggeser ke samping. Serentak para tamu bersorak sorai memuji. Mereka tahu bahwa tongkat Wanyen Ting-kok itu dapat membinasakan lawannya, sebaliknya mereka menyangka pangeran muda itu cuma sengaja memamerkan kepandaiannya saja. Kesempatan yang baik segera, digunakan oleh segolongan hadirin untuk menjilat kepada Wanyen Tiang-ci, mereka sama memuji ilmu silat pangeran cilik yang tinggi itu.

Ada lagi sebagian hadirin lantas ingat juga bahwa Lo Si- hiong kinipun sudah terhitung menantu Wanyen Tiang-ci, maka disamping memuji pangeran muda Wanyen Ting-kok juga disertai umpakan kepada Loh Si-hiong.

Kalau sebagian besar penonton menyangka Wanyen Ting- kok sengaja pamer kepandaian, adalah Tokko Hui-hong yang paling tahu bahwa serangan Ting-kok itu benar-benar serangan maut, tiga kali jumpalitan Loh Si-hiong tadi dikata telah memakan seluruh kemahirannya barulah lolos dari lubang jarum.

Pada detik yang berbahaya tadi malahan tanpa merasa Tokko Hui-hong sampai ikut menjerit kuatir. Untung waktu itu para hadirin juga sedang bersorak memuji sehingga suara jeritannya tak terdengar.

Namun beberapa orang yang berada di sebelahnya toh mendengar juga. Segera ada tukang menjilat yang berkata padanya: „Harap Tuan Puteri jangan kuatir, hanya tongkat bambu dan pedang kayu saja takkan melukai orang."

Ada lagi seorang wanita bangsawan yang bawel malahan ber-bisik-bisik dengan kawannya: „Dasar anak perempuan, kalau sudah kawin tentu bela orang lain. Belum masuk kamar pengantin saja sudah membela sang suami. Coba jeritan Tuan Puteri tadi, bukankah dia kuatir kakaknya melukai suaminya. Padahal tongkat bambu saja masakah bisa membikin cidera orang?"

Sayup-sayup Wanyen Ting-kok juga mendengar suara jeritan Tokko Hui-hong serta mendengar kisikan wanita bangsawan bawel itu. Keruan rasa irinya semakin berkobar. Belum sempat Loh Si-hiong berdiri tegak dari berjumpalitannya tadi segera Ting-kok menubruk maju pula.

Karena merasa risih mendengar sanjung puji kepada puteranya, dengan mengerut kening Wanyen Tiang-ci tiba-tiba berbangkit dan memasuki kalangan. Sekali lengan bajunya mengebas, tongkat bambu ditangan Wanyen Ting-kok lantas dirampasnya. Katanya: „Adik iparmu sudah sengaja memberi muka kepadamu, masakah kau masih tidak mau mengaku kalah?"

Ting-kok melengak penasaran, jawabnya: „Mengapa aku harus mengaku kalah, ayah?" Didalam hati ia berkata: „Syukur semua orang menyaksikan bahwa aku telah maksa dia terguling-guling di atas tanah dan menghindar dengan kelabakan. Biarpun ayah bermaksud membelanya juga para hadirin akan memberi keadilan padaku bahwa akulah yang mengalahkan dia."

Dalam pada itu dengan tersenyum Si-hiong telah berkata:

„Ah, memang ilmu permainan tongkat Pwecu (sebutan bagi putera pangeran) sangat hebat, hamba terima mengaku kalah." Habis berkata ia lantas mengembalikan pedang kayu kepada, anak kecil tadi.

Wanyen Ting-kok sangat senang. katanya: „Ayah, Loh- toako sendiri juga telah mengaku kalah."

„Hm," Wanyen Tiang-ci mendengus. „Masakah masih tidak tahu. Coba lihat badanmu sendiri, apakah itu?" Waktu Ting-kok memeriksa, seketika mukanya menjadi merah malu. Kiranya di atas mantel putih berbulu rase itu, di bagian dadanya ada, tiga titik kotoran, waktu dikebas, kotoran itu lantas rontok. Baru sekarang Wanyen Ting-kok tahu bahwa ketika Loh Si-hiong berguling-guling di atas tanah tadi telah sengaja membikin kotor ujung pedang kayunya. Maka tiga titik kotoran di atas mantelnya itu tak usah disangsikan lagi pasti ditinggalkan ujung pedang Loh Si-hiong yang telah berhasil menutuknya tanpa dirasakannya tadi. Melihat gelagatnya, jika Loh Si-hiong bermaksud membunuhnya dan yang digunakan adalah senjata tajam betul-betul, maka dapat dibayangkan dadanya tentu sudah berlubang tiga oleh pedang lawan.

Keruan kejut Ting-kok tak terhingga sehingga berkeringat dingin. Walaupun didalam hati mendongkol dan penasaran, namun mau tak mau ia harus tunduk dan mengaku kalah kepada Loh Si-hiong.

Sedikitpun Si-hiong tidak memperlihatkan rasa congkak, katanya dengan tersenyum rendah hati: „Kita hanya berlatih di antara anggota keluarga sendiri untuk meramaikan pesta ini, mengapa mesti anggap sungguh-sungguh. Jika mau bicara tentang kalah menang, maka sejak tadi aku sudah kalah serangan."

Karena ucapan Si-hiong sangat luwes dan tetap menjaga kehormatan pangeran muda itu, maka rasa dongkol Ting-kok menjadi jauh berkurang.

Selesai pesta itu, menurut tata tertib atau protokol kerajaan, sepasang pengantin baru lantas dihantar ke kamar baru oleh orang-orang tua. Pengantin perempuan masuk kamar dulu, pengantin lelaki harus tinggal sementara di luar, nanti sesudah ada dayang keluar mengundang baru diperbolehkan masuk. Lantaran isterinya Wanyen Tiang-ci sudah lama meninggal dunia, mestinya ia boleh minta seorang anggota keluarga wanita angkatan tua untuk mengantar pengantin perempuan ke kamar, tapi dia sengaja melakukan sendiri tugas ini. Semua orang tahu hal ini disebabkan Wanyen Tiang-ci teramat sayang kepada puteri angkatnya ini, maka tiada seorangpun yang merasa curiga, sebaliknya sama memuji akan kasih sayang antara ayah dan puteri angkat itu.

Setelah berada didalam kamar pengantin, tiba-tiba Tokko Hui-hong berkata: „Ayah, aku ingin bicara padamu."

Segera Wanyen Tiang-ci memberi tanda agar ke empat dayang mengundurkan diri.

Lalu Tokko Hui-hong mulai bicara: „Selama belasan tahun ini anak telah banyak menerima budi kebaikan ayah, kini anak telah menjadi isteri orang, sepantasnya anak mesti punya rumah tangga sendiri dan tidak dapat membikin repot kepada ayah lagi."

Wanyen Tiang-ci melengak. Tanyanya: „Apakah maksudmu kau hendak pindah keluar istana?"

Dengan suara pelahan Hui-hong mengiakan.

Maka Wanyen Tiang-ci berkata pula: „Tingkah-laku Ting- kok memang agak sembrono dan apa yang terjadi tadi sungguh tidak pantas. Cuma aku pasti akan memarahi dia. Harap kau jangan pikirkan peristiwa tadi lagi."

„Anak mana berani menyalahkan kakak." sahut Hui-hong.

„Cuma setelah kupikir ada lebih baik tinggal diluar istana saja. Pertama untuk menjaga kehormatan istana, kedua juga untuk menghindarkan prasangka orang seakan-akan Si-hiong memperoleh kedudukan karena lindungan ayah”.