Menuntut Balas Jilid 29 : Oey Kie Pay musnah

Mode Malam
Jilid 29 : Oey Kie Pay musnah

TONG TAY bertindak menghampirkan Shatohuoto, dengan sikap sangat menghormat ia berkata: "Locianpwe, cawanku ini cawan kehormatanku, inilah tidak cukup tapi aku minta locianpwe ingat saja kesungguhan hatiku." ia lantas minum cawannya itu, habis mana ia membaliknya, untuk menunjuki bahwa ia telah meminumnya kering, Lantas cawan itu ia lelaki diatas meja.

Shotohuoto bersenyum, dengan perlahan ia mengangkat cawannya untuk diminum.

"terima kasih" kata Tong Tay. ia mengangkat poci arak untuk menuang isinya ke- dalam cawannya, buat memberi hormat kepada hadirin yang duduk dikursi nomor dua, lalu terus kepada yang lainnya sampai kepada orang yang kedelapan-

In Gak memasang mata. ia melihat setiap kali Tong Tay menuang arak jari tangannya bergerak seperti menyentil sedang mukanya yang bersemu dadu mendadak menjadi pias, ia heran tetapi ia belum bisa menerka apa-apa.

Ketika itu tiba tiba seorang hadirin berkata nyaring: "Tong Losu, tidakkah caramu ini sangat memberabehkan? Baiklah semua hadirin minum bareng -saja"

Pek-pou Kie Hun menggeleng kepalanya.

"Itulah tidak sempurna" katanya: "Dengan begitu berarti aku kurang hormat"

Maka ia melanjuti caranya memberi hormat itu, ketika ia sudah menghormati semua hadirin dari ketiga meja, ia sendiri telah menjadi sinting, dengan mata merah dan tindakan limbung, ia kembali kekursinya.

Seorang hadirin tertawa dan berkata nyaring: Tong Losu tidak punya guna. Baru

menenggak kira empat puluh cawan arak kau sudah mabuk"

Pekpou Kie Hun mengawasi dengan mata disipitkan, ia tertawa.

"Sebetulnya Tong Tay tidak kuat minum, ini pun dilakukan dengan terpaksa," ia berkata. Baru ahli racun dari Su coan itu menutup mulutnya, maka dari luar ruang terlihat datang nya lima orang yang muncul mirip angin menghembus. Semua hadirin, atau semua hantu, menjadi kaget.

Lima orang itu ialah Hui He cu dan Hui Lui cu Khong Tong Jie Lo atau dua jago dari Khong Tong Pay, bersama Touw Liong Kiesu, si orang bertubuh besar yang berewokan serta si anak muda yang romannya tampan- Dengan sinar mata yang tajam mereka menyapu semua hadirin-

Shatohuoto mengasi lihat sinar mata kaget, lalu mendadak dia bergelak, luar biasa tertawanya itu, yang diikut dengan bergeraknya tubuhnya maka dilain saat ia sudah sampai di depan Khong Tong Jie Lo.

Hui He cu menyambut dengan berkata dingin: Pastilah taysu mengira pinto berdua sudah mati kaku, tetapi tak tahunya Thian, tak sudi menuruti kehendak manusia, karena mana maksud hati taysu telah tak tercapai

Sebenarnya sudah lama pinto tak memperdulikan pula urusan kaum Rimba persilatan dimana orang main saling bunuh akan tetapi kali ini pinto terpaksa membuka pantangan"

Shatohuoto tidak takut, dia masih tertawa jumawa.

"oleh karena lotiang berdua sudah ketahui perbuatan lolap. lolappun tak sudi

menyangkal" dia berkata, "Hanya sekarang ini, lebih dulu lolap mau minta sedikit keterangan, Lo-lap pandai ilmu menotok Leng-khong Tok-hiat ciu-hoat, dikolong langit ini cuma ada beberapa orang saja yang sanggup memunahkan totokan itu, di Tionggoan mungkin tak ada sama sekali, tetapi buktinya lotiang berdua itu? Lolap..."

Belum lagi pendeta dari Barat itu melanjut perkataannya, dia sudah dipegat Touw Liong Kie-su chiO Thay Hie, bahkan dia ini berkata bengis, "Bangsat tua cara bagaimana kau berani menghina ilmu silat Tionggoan ? ilmu silat kamu dari Barat mana dapat dibandingkan dengan ilmu silat Tionggoan kami? Hm Pastilah kau bercongkol didalam tempurung memandang sang langit, kau berjumawa tidak keruan sungguh tidak tahu malu"

Shatohuoto bersikap sabar luar biasa, Dia tidak kaget atau gusar. Dengan tenang dia mengawasi orang yang mencacinya.

"Kau siapa?" dia tanya. "Pasti kau mempunyai kepandaian dan menjadi jumawa karenanya sebentar aku akan serang kau dengan ilmu Leng-khong Tok-hiat ciu-hoat, hendak aku lihat bagaimana caranya kau melawannya"

Touw Liong Kie-su tidak menjawab, dia cuma tertawa dingin. Dia dongak. dia tidak menghiraukannya sama sekali.

Ketika itu para hadirin lainnya tidak berdiam saja, semuanya sudah berbangkit untuk mengambil sikap mengurung kepada kelima tetamu yang tidak diundang itu.

Belum sampai kedua pihak beradu tangan, U-bun Lui muncul dari belakangnya Shato-huoto, terus dan berkata dengan nyaring: "Siapa lancang masuk dalam markas besar oey Kie Pay, dia pastilah musuh, maka itu, jikalau kamu ingin keluar pula dari sini dengan masih hidup, kamu mesti mengutungkan masing-masing sepasang lengan kamu"

Touw Liong Kisu tertawa dingin, "omong saja tak ada faedahnya" ia kata, ”Bukankah kau U-bun Lui?" ia lantas menunjuk si anak muda yang menjadi kawannya dan berkata pula : "Apakah kau tau siapa pemuda ini?"

U-bun Lui melengak. Dengan tajam ia mengawasi anak muda itu. ia merasa kenal akan tetapi sejenak itu ia tidak dapat mengingat nya. Maka itu ia menjadi berpikir keras.

Chio Tay Hie melihat orang tak dapat ingat, dia lantas tertawa dingin dan kata: "Dialah Kam Siauw ciu anak dari Kim- hoan ciu Kam ciong yang kau bunuh dengan tanganmu yang jahat karena perbuatan mana kau hatimu menjadi sakit hingga kau menjadi seperti si orang edan. Kau tentunya menyangka- nyangka bukan?" Sianak muda dengan mata menyala hingga romannya menjadi bengis sekali berteriak: "Bangsat she U-bun kau bayar pulang jiwa Ayahku” Berbareng dengan itu, dia menyerang dengan kedua tangannya.

U-bun Lui heran hingga ia melengak, ia tidak sangka sekali Kam ciong mempunyai turunan, Tapi ketika ia diserang, alisnya terbangun ia tertawa dingin lantas ia berkata: "Baiklah pangcu kamu nanti membikin kau dapat mencapai cita- citamu" ia lantas menyambuti dengan serangannya yang dahsyat.

Kam Siauw ciu batal menyerang terus: Dia berlompat membikin lewat serangan musuh besar itu, yang dia sungkan lawan keras dengan keras, ketika dia sudah turun baru dia menyerang pula kekedua arah.

U-bun Lui menyerang tempat kosong, segera ia berkelit mundur lima kaki.

"Kau pernah apa dengan chio Tay Hie?" ia menegur bengis, ia rupanya kenal baik ilmu silatnya sianak muda, yalah Touw Liong ciu hoat, ilmu "Membunuh Naga" yang terdiri dari lima puluh delapan jurus.

Siauw ciu menaruh kakinya dilantai, dia tertawa dingin. ”Jahanam matamu tajam" dia berkata be-ngis, "Kau dapat

mengenali Touw Liong ciu-hoat. Guruku sudah berada didepanmu." Apakah kau buta-bolong?"

U-bun Lui mengawasi Touw Liong Kiesu dia berkata: "Tidak heran kau jadi begitu jumawa. Kiranya kaulah chio Thay Hie"

"Benar itulah aku" Thay Hie jawab jumawa.

Mendengar itu, semua hantu mengawasi Touw Liong Kiesu, air muka mereka berobah. jadi inilah orang yang puluhan telah menjadi jago tanpa lawan karena dia mengandel pada ilmu silatnya Touw Liong ciu-hoat.

Selagi suasana sunyi itu diantara kawanan hantu terdengar satu jeritan mengerikan hingga semua orang menoleh mengawasi padanya, untuk mendapat tahu apa yang sudah terjadi.

Orang itu memegangi dadanya, daging dimukanya pada mengerut, warna kulitnya berubah menjadi matang biru, dan kedua matanya dipentang lebar, hingga dia kelihatan bengis sekali, menyusul itu tubuhnya melengkung, terus roboh, kedua tangannya tak hentinya mencakarin mukanya.

Tak usah orang menanti lama akan mendapatkan dia mengeluarkan darah dari mulutnya ketika kemudian dia mengasi dengar suara keras, berhentilah napasnya.

U-bun Lui kaget tidak terkira, Tak tahu ia orang terbinasa karena apa.

Kehebatan semacam itu masih menyusul, Korban pertama itu lantas disusul oleh lima hantu lainnya, Semua mereka ini sama penderitanya. Terang mereka terbinasa keracunan seperti yang pertama, Lain sebab tidak mungkin. sekarang semua hantu menjadi kaget dan berkuatir. Touw Liong Kiesu bersama Kong Tong Jie Lo turut menjadi heran.

Ketua partai Bendera Kuning lantas menduga kepada Bin San Jie Tok, akan tetapi kedua Hantu dari Bin San itu cacad kakinya, mereka tidak dapat bergerak, tidak nanti mereka dapat menggunai racun mereka... Habis siapa?

Shatohuoto juga kaget, tetapi ia mencoba menenangkan diri.

Kawanan hantu sudah lantas mulai memencarkan diri, mereka bertindak mundur perlahan lahan- Dengan begitu pengurungan mereka menjadi terpecah sendirinya.

Diantara rombongan oey Kie Pay itu, cuma Pek-pou Kie Hun Tong Tay yang berdiri sabar dan tenang dipinggiran tembok. matanya mengawasi semua orang.

U-bun Lui menyapu kesegala penjuru ketika ia melihat sikapnya ahli racun itu, Tiba-tiba saja timbul kecurigaannya pada orang she Tong itu, maka dengan sekonyong-konyong dia berlompat sambil menbentak. Melihat orang berlompat, Touw Liong Kie s u bersama Khong Tong Jie Lo menggeraki tangan mereka untuk menyerang.

U bun Lui sudah mendekati Tong Tay, tatkala ia merasakan serangan itu, ia lupa pada Tong Tay. lantas ia membela diri.

Dengan kedua tangannya ia menangkis tubuhnya berlompat sambil berputar, sehingga ia lantas turun di sisinya Shatohuoto gurunya.

Jago dari Se Hek itu gusar melihat Touw Liong Kie-su bertiga menyerang muridnya yang disayang itu dengan lantas dia maju, kedua tangan bajunya dikibaskan kepada mereka bertiga.

Bentrokan sangat keras sudah lantas terjadi.

Chin Thay Hie dan Khong Tong Jie Lo terhajar mundur setengah tindak, Shatohuoto sebaliknya cuma limbung tubuhnya, dua kali bergoyang: dari sini ternyata gurunya U- bun Lui menang unggul sedikit.

Itu waktu terdengar pula jeritan menyayatkan seperti tadi, terdengar saling susul. Semua itu terjadi diantara kawanan hantu, Mereka pada roboh, mulut mereka mengeluarkan darah nyawa mereka lantas terbang pergi.

Didalam tempo yang cepat sudah rebah lebih daripada duapuluh orang. oleh karena itu, suasana didalam pesta atau sidang itu menjadi sangat menyeramkan dan menakuti, Semua mayat seperti bermandikan darah.

U-bun Lui mengawasi Tong Tay tajam, "Tong Losu, adakah ini hasil perbuatan- mu?" akhirnya dia tanya dingin.

Orang yang ditanya itu mengangguk. dia tertawa dingin. "Tidak salah" sahutnya berani, "Memang ini perbuatanku si

orang she Tong. Siapa suruh kamu memandang hina kepadaku? Kamu harus ketahui, racun tawon sangat berbisa, siapa terkena dia mesti terbinasa juga kau bersama Shatohuoto telah terkena racunku, hanya karena tenaga dalam kamu liehay, kamu tidak lantas turut roboh seperti mereka ini. Toh kamu tinggal menantikan saatmu saja? Terangnya kamu tidak bakal hidup sampai jam lima saja"

Sekonyong-koyong shatohuoto berseru.

"Hm" dan sebelah tangannya meluncur kepada jago dari Su-coan itu, ia telah menyerang dengan menggunai totokan Leng Khong Tok-hiat ciu hoat dengan apa ia perna membokong Bin San Jie Tok.

Kalau Tong Tay terkena serangan itu tak ampun lagi, mestilah dia terbinasa seketika.

Tepat Shatohuoto menyerang itu, tepat iapun ada yang hajar, terkena kedua jari tangannya. Lantas tangannya itu mesti dikasi turun.

Menyusul itu orang mendengar tertawa yang nyaring dan dari luar jendela tertampak sebuah tubuh manusia berlompat masuk bagaikan burung rajawali menyamber, bayangan itu lantas disusul tiga bayangan lainnya.

Itulah Cia In Gak bersama Bin San Jie Tok dan Song bun Kiam-kek.

Semua orang berpaling lebih-lebih U-bun Lui, Dia ini lantas mengenali si orang she Cia, mukanya menjadi pucat sekali, Tetapi dia paksa membesarkan nyali dia paksa tertawa, Dia kata sengit : "Hari ini kalau bukan kau yang mampus tentulah aku"

Tong Tay tertawa dingin, Dia kata: ”U-bun Lui, jangan kau bermimpi disiang hari Segera juga kau bakal menjerit, muntah darah dan roboh mampus. Disaat ini buat apakah kau masih mencoba main gagah-gagahan?"

Ketua oey Kie Pay itu sudah menjadi nekad, ia tak menghiraukan ancaman maut.

"Suhu, inilah itu orang yang muridmu maksudkan- ia kata pada gurunya, tangannya menunjuk In Gak. "Gurumu sudah tahu" menyahut Shato-buato, suaranya dalam, ia lantas mengawasi tajam pada In Gak, ia berkata sabar. "Bukan-kah kau yang barusan memunahkan totokan Leng Khong Tok hiat ciu-hoat dari aku?"

Baru berhenti suaranya jago dari Wilayah Barat itu, atau kembali ada jeritan dari beberapa hantu lainnya yang pun pada muntah darah dan roboh binasa, Lebih dulu mereka itu pada berkoseran dilantai.

Menyaksikan itu, In Gak mengerutkan alis, Tapi ia menghadapi jago dari Barat itu.

"Shatohuoto" ia kata dingin, "sampai waktu ini apakah kau masih tidak mau menyerah kalah dan manda tertawan?"

Sebelum Shotohuato menjawab muka U-bun Lui berubah menjadi pula, tubuhnya terhuyung beberapa kali. Terang ia mencoba mempertahankan diri, ia lantas memegangi perutnya yang terasa sangat sakit, tidak lama ia merasakan tangan dan kakinya sangat lemas.

Tahulah ia bahwa ia lagi menghadapi maut, maka ia tertawa sedih dan kata. "Suhu sakit hati ini cuma dapat  dibalas nanti dilain penitisan, tetapi sebelum napasku berhenti, ingin aku menanya Tong Tay kenapa dia menggunai akalnya yang licik ini, supaya setelah mati tidaklah aku menjadi setan penasaran-.."

Dari dalam sakunya Shatohuoto mengeluarkan sebuah cupu- cupu kecil, dari situ ia menuang belasan obat pel yang berbau harum, separo dari itu ia serahkan pada muridnya, untuk segera ditelan, separonya lagi ia sendiri yang makan, habis itu dia kata: "Tidak, muridku kita tidak bakal mati. Lekas kerahkan tenaga- dalammu, guna menutup diri, buat melawan racun, setelah itu kau menutup juga pelbagai jalan darahmu”

Baru berkata begitu, jago ini juga merasakan perutnya panas, Maka lekas-lekas ia menghentikan perkataannya.

Tong Tay tertawa dingin- "U-bun Lui, aku si orang she Tong hendak membikin kau mati puas" ia berkata, "Kemarin tengah hari aku telah menawarkan jasaku. Aku dari keluarga Tong dari Su coan, akulah ahli pelbagai senjata rahasia yang beracun, aku menawarkan diri untuk melayani semua musuhmu yang terdiri dari pelbagai partai besar. Aku merasa pasti kita bakal dapat kemenangan- Tetapi kau sudah tolak tawaranku itu.

Penolakan saja masih tidak apa, apa mau kau menyebut- nyebut Bin San Jie Tok, kau kata racunnya mereka itu yang tanpa rasa dan tanpa rupa bakal dapat dipakai menyapu bersih semua musuhmu. Kau kata meski senjata rahasiaku liehay, itu tidak dapat dibandingkan dengan racunnya Bin San jie Tok. Teranglah kau sangat memandang enteng dan menghina aku. Akan tetapi kau tidak mengenai aku. Akulah si cerdik yang nampak tolol, si palsu yang nampak lurus. Aku minta pinjam lihat racunnya Jie Tok kau tidad menyangka jelek, kau memberinya. Dasar kau kejam sedang kau tahu racun itu sangat liehay, kalau mengenai tubuh orang, orang bakal roboh sebagai kurban, kau masih menanya aku, apa aku berani pegang itu dengan tanganku. Aku lantas berpura-pura aku gunai tanganku yang kanan kumasuki ke dalam peles obat. Mungkin kau tak tega kau berikan aku sebutir obat pemunah untuk aku telan-

Kau tidak ingat bahwa akulah ahli racun, maka juga kalau tanganku kuat aku tidak dapat keracunan- Begitulah jeriji tanganku telah dapat mengambil banyak bubuk racun yang sangat berbisa itu, Mulanya aku tidak memikir untuk melakukan pembunuhan tetapi kaulah yang keterlaluan, kau paksa aku menghamba pada Oey KiePay.

Mana dapat aku tunduk dibawa perintahmu? Diam-diam aku telah menyiapkan racunku, racun untuk merusak isi-perut didalam kuku tanganku hingga kedua racun bercampur menjadi satu. Tadi selagi aku memberi selamat kepada kamu sambil menuang arak. aku masuki racun itu kedalam cawan kamu Begitulah kamu kena diracuni. sekarang ini biarnya kamu sadar dan memakan ob at pemuna h ny a, obat pemunah itu tidak bakal ada khasiatnya" Habis menjelaskan panjang lebar itu, jago Su-coan ini tertawa nyaring dan lama.

Selagi orang bicara. U-bun Lui sudah mulai menderita terlebih hebat, mukanya mulai matang biru, matanya mulai bersinar guram, cuma dengan menguatkan hati ia tidak segera roboh, adalah hampir berbareng degan habisnya kata-kata siorang she Tong, ia tidak dapat bertahan terlebih jauh, segera ia menjerit kesakitan, lantas ia muntah darah, terus ia jatuh.

Justeru itu Shatohuoto mengebut keras, tubuhnya melesat seperti jemparing keluar jendela dimana ia lantas menghilang.

Kam Siauw ciu panas hatinya, tak puas ia jikalau ia tidak membinasakan sendiri musuh ayahnya, ia melihat Pat-pie Kim Liong mengoser dilantai, dia itu lagi bergulat dengan kematian, tetapi itu tidak mengurangi kebenciannya, Maka ia menghunus pedangnya, ia lompat kepada musuh besar itu, untuk menikam dada orang, maka hanya dengan satu kali berkelebat, putuslah nyawa ketua oey Kie Pay

chin Thay Hie menghela napas.

"Selamat, muridku" ia berkata, "Kau telah berhasil membalas sakit hatimu, aku sekarang merasa lega"

Ruang sidang atau pesta itu masih terang sekali dengan cahaya banyak lilin, akan tetapi suasananya telah berubah menjadi sangat menyeramkan karena disitu bergelimpangan tubuhnya banyak hantu, semua dengan mandi darah, semua dengan muka matang biru dan menakuti. Darahnya pun berbau bacin membikin orang mau tumpah-tumpah.

In Gak terharu berbareng merasa bahwa hidupnya manusia itu benar aneh, Semua kurban itu gagah dan liehay, semua terkenal, tetapi sekarang mereka menjadi sekumpulan tubuh tanpa nyawa dan tak berguna, penghidupan itu bagaikan impian, maka itu, apa perlunya menjadi jago? Maka hatinya menjadi tawar...

Pekpou Kie Hun menyaksikan pemandangan mengerikan didalam ruang itu, ia memperlihatkin roman puas, habis itu ia tertawa bergelak-gelak. lantas tubuhnya lompat keluar jendela, akan dari luar itu, ia lompat naik keatas genting, hingga lain saat ia pun lenyap.

Selagi orang berlompat keluar jendela, Hui Hu cu menyerang dengan pukulan "Thay ceng Kong-kie," akan tetapi In Gak mengibas dengan tangan kanannya, membikin pukulan itu tidak mengenakan sasarannya, ia heran-

"Kenapa kau mencegah aku, Sie-cu-?" ia tanya sianak muda. "Dia sangat telengas, kalau dia dikasih tinggal hidup, dibelakang hari dia dapat menjadi bahaya besar bagi Rimba persilatan seharusnya dia di singkirkan"

"Memang lotiang benar," sahut In Gak bersenyum "Tapi sukalah lotiang ingat, bagaimana kesudahannya malam ini andai kata tidak ada Tong Tay disini? kita tidak usah mengambil tahu sikapnya orang she Tong itu, yang sudah terang dia telah menyingkirkan suatu peristiwa hebat.

Mengingat itu, biarlah dia mendapatkan keampunannya. Kalau lain kali dia masih berbuat jahat, belum kasip untuk kita menyingkirkan dia dari dunia ini."

Hui He cu berdiam, ia memandang Hui Lui cu, matanya mendelong. "Siecu," kemudian dia tanya, "adakah siecu yang menolongi kami berdua"

In Gak bersenyum.

"Tidak salah," sahutnya manis, "itulah kerjaaan kecil, aku harap totiang tidak buat pikiran-" Habis berkata begitu, ia mengawasi Touw Liong Kiesu, ia kata: "Aku yang muda bersahabat pun dengan It Goan Kiesu dari sahabat itu aku mendengar kegagahan dan kerendahan hati chie Kiesu, aku sangat kagum. sebenarnya aku harus berdiam lama bersama kiesu supaya aku mamperoleh pengajaran maka menyesal sekali, sekarang aku masih mempunyai urusan penting yang mesti diselesaikan aku mesti segera berangkat ke Barat, ke tanah Siok, Aku harap lain kali apabila ada jodohnya, biarlah aku boleh mengunjungi Kiesu"

Setelah berkata begitu, ia memberi isyarat dengan tangannya kepada Bin San Jie Tok, Song bun Kiam kek, lantas ia lompat keluar jendela, disusul ketiga kawan itu.

Touw Liong Kie-su tercengang sejenak. "Siapa dia?" ia tanya Hui He cu: "Dia liehay sekali. Dia masih sangat muda, ilmu silatnya sudah sedemikian mahir, dia tak mau kalah dari kita situa yang belum mau mati. Maukah kau memberitahukan aku tentangaya?"

Sebelum Hui He cu menyahuti, Kam siauw ciu mendahului berkata kepada gurunya: "Dialah orang yang aku ketemukan ditengah jalan, hanya baru-baru ini dia dandan seorang tani yang bermuka kuning yang berpenyakitan. Kalau bukan dianya yang memancing kemarahannya Tong Tay, mana bisa Oey Kie Pay mengalami keruntuhan semacam ini"

Guru itu melengak.

"Oh, jadinya dialah orangnya?" ia tanya, Baru sekarang Hui He cu mengangguk "Betul," ia membenarkan- "Totiang, dapatkah kau memberitahukan she dan namanya?" To Liong Kie-su tanya pula.

Imam yang di tanya itu menggeleng kepala, "Pinto juga tidak tahu," jawabnya, "Yang pinto tahu yalah apa yang muridmu bilang sipetani berpenyakitan muka kuning dan orang yang menolongi kami yalah satu orang adanya."

Chin Thay Hie menjadi sangat kagum, kembali ia memuji pemuda tak dikenal itu.

Ketika itu diluar terdengar suara orang tertawa nyaring, disusul dengan kata kata ini: "Touw Liong sahabatku, sudah banyak tahun kita tidak bertemu, kau nyata masih gagah seperti dahuluhari Sungguh, adikmu kagum sekali"

Touw Liong Kie-su melengak. ia lantas memandang keluar. Diambang pintu terlibat It Goan Kie su berdiri sambil bersenyum, tangannya mengurut-urut kumisnya. Disamping jago tua she ouw itu berdiri ouw Giok Lan si gadis manis sambil dia bersenyum berseri.

Bukan maln girangnya kedua sahabat ini, mereka berjabatan dengan erat, kemudian It Goan kie-su dan gadisnya berkenalan dengan yang lainnya. Apabila ia menyaksikan pemandangan didalam ruang itu, ia mengerutkan alis.

"Apakah saudara chin telah membuka pula pantangan membunuh?" ia tanya, "Dibagian luar dari ini, orang orang oey Kie Pay telah dibikin pada tidak berdaya dan didalam ruang ini kawanan hantu telah mendapatkan kebinasaannya, jikalau bukannya jiewie lotiang dan kau, saudara mana dapat semua ini dilakukan?"

Thay Hie mengeleng kepala tetapi ia bersenyum. "Semua ini bukan perbuatan kita..." ia menyahut Dan ia

menjelaskan peristiwa barusan-

Selagi orang she chin ini bercerita, Kam Siauw ciu senantiasa melirik Nona ouw yang cantik, hingga ia berkata dalam hati- kecilnya:

"Nona semanis ini sungguh jarang diketemukan Suhu dan It Goan Kiesu yalah yang di sebut Lo Houw Siang It, mereka bagaikan saudara kandung, maka ketika baik ini tak dapat aku kasih lewat, meski aku bersahabat dengan Nona ouw, supaya kemudian kita bisa menjadi pasangan”

Ouw Giok Lan dapat melihat tingkah lakunya orang she Kam itu, mukanya menjadi merah matanya memperlihatkan sinar memdongkol. Lantas ia mengawasi tajam pada anak muda itu.

Siauw ciu terkejut ketika sinar mata mereka berdua bentrok lekas-lekas ia melengos. mengawasi siorang bertubuh besar yang berewokan. Siberewokan itu bersenyum. Bukan main malunya Siauw ciu, mukanya menjadi merah, lagaknya likat, Sayang disitu tidak ada lubang kedalam mana dia dapat masuk bersembunyi.

It Goan Kiesu melongo apabila ia telah mendengar Touw Liong Kiesu menyebut-nyebut sipemuda dengan jubah hitam.

"Ah, dia telah datang kemari" katanya.

"Chin Pehu" Giok Lan pun bertanya, sinar matanya bergelisah, "kemana dia telah pergi?”

"Katanya dia mau perg kearah siok." sahut Thay Hie heran-

"Ayah" berkata sinona, cepat, "mari kita susul dia."

Belum berhenti perkataan sinona, tubuhnya sudah berlompat keluar.

Melihat sikap puterinya itu, It Goan Kie-su lantas kata pada sahabatnya: "Saudara chin lain kali saja kita bertemu pula" Dan ia pun berlompat keluar, untuk menyusul anaknya.

Siauw ciu menjadi masgul, ia seperti kehilangan sesuatu. Touw Liong Kiesu melihat lagak muridnya, ia dapat membade "Muridku, kita pun pergi ke Su coan?" ia kata bersenyum, "Mari"

Maka berangkatlah mereka meninggalkan markas besar oey Kie Pay, markas yang diterangi sisa rembulan yang doyong kebarat dan bintang-bintang yang jarang dimana angin bersilir dingin dan sang kodok berbunyi berkerak- kerok...

"Tiga selat disungai Tiang Kang yalah yang paling berbahaya dikolong langit," demikian kata-kata umum. itulah benar. Mulai dari propinsi ouwpak Utara, ujung penghabisannya yalah selat Se Leng Kiap. Yang lainnya yalah Bu Kiap dan Kie Tong Kiap.

Ketiga selat itu yalah yang umumnya disebut Sam Kiap. Di sepanjang itu, pemandangan alamnya menarik hati sekali, berbahaya tapi indah, puncaknya tinggi dan curam, jurangnya dalam, airnya deras, banyak tunggul batunya, pula dikedua tepinya banyak pepohonannya, yang besar dan tinggi, yang cabang-cabang dan daunnya meneduhkan tepian-

Pada suatu hari maka terlihatlah diselat itu bagian Bu Kiap kecamatan Busan, belasan perahu besar tengah belayar mudik, itulah perjalanan berbahaya tetapi orang melakoninya, terutama kaum saudagar, itulah karena untuk pergi ke Su coan, tak dapat orang tak mengambiljalan air.

Untuk itu orang tak hiraukan sewaan perahu yang mahal, Didalam perjalanan ini, orang mengandal tiga bagian pada peruntungan dan tujuh bagian pada kepandaiannya siawak perahu...

Diantara belasan kendaraan air itu, ada sebuah dalam mana ada menumpang In Gak bersama Bin San Jie Tok dan Song- bun Kiam-kek Leng Hui. Mereka berempat telah menjadi sahabat-sahabat karib.

Ketika itu kedua si Racun dan Song bun Kim kek bercokol ditengah perahu sambil menghadapi arak sedang In Gak lagi merebahkan diri menghadap ke-dalam, kedua matanya dirapatkan- Dia tengah berpikir keras sambil telinganya mendengar suara air, Kali ini In Gak beda sekali dengan In Gak ketika dia bermula meninggalkan Ho Hoa San dan dari pelabuhan Liong Kauw naik perahu menuju ke Lam ciang.

Dulu hari itu dia gembira sekarang ia tawar hatinya, ia ingin melepaskan diri dari libatan asmara tetapi itu mudah dipikir, sulit diwujudkannya tak peduli ia pandai ilmu silatnya. Setiap kali ia merasa tenang lantas didepan matanya berpeta wajahnya pelbagai nona manis, maka di akhirnya ia mesti menghela napas. Tanpa merasa ia bersenandung...

Theng ceng mendengar suara orang tak bergembira, dia tertawa dan menimpali: "Penghidupan itu memang memusingkan kepala, buat apakah dipikirkannya?.." In Gak menyeringai ia berbangkit untuk turut menenggak arak. Mereka lantas berbicara tentang pelbagai peristiwa dalam dunia Rimba Persilatan-

Pada suatu hari perahu mereka mendekati Kie Tong Kiap. selat paling berbahaya tapi pun yang terindah, Mereka berdiri dikepala perahu untuk memandangi kecantikan alam itu.

Tengah memandang itu, tiba-tiba In Gak melihat Leng Hui lagi mengawasi sebuah perahu tetangga mereka, lama dia mengawasi, alisnya bermain berkerut, ia menjadi heran, maka sendirinya ia mengalihkan pandangannya keperahu disebelah itu.

Didalam perahu itu terlihat tiga penumpang lagi duduk berkumpul, Yang seorang telah lanjut usianya, didadanya berkibar-kibar kumis janggutnya yang seperti perak- kedua matanya tajam seperti mata tikus.

Orang yang kedua dari usia pertengahan tubuhnya kurus, kulitnya hitam, Yang ketiga yalah seorang tauwto, atau pendeta yang memelihara rambut, yang ada kumisnya. "Siapakah mereka?" sianak muda tanya kawannya. Leng Hui yang wajahnya muram, menggoyang kepala dia diam saja.

"Mereka mesti musuhnya Leng Hui?" In Gak pikir. ia tambah heran, "Kalau bukannya tidak nanti dia menjadi begini tidak tenteram." Meski demikian, ia tidak menanyakan terlebih jauh, Sekarang ini ia ketahui baik, Leng Hui bukanlah seorang buruk. dia cuma berani, mungkin karena omongan tak dipikir- pikir, dia banyak musuhnya, dia kesohor jahat..."

Karena ini In Gak selanjutnya lebih memperhatikan kawannya ini.

Perlayaran kehulu ini membuat kendaraan air lambat sekali lajunya, didalam satu hari cuma dapat dilalui belasan lie. Disini selat lebih sempit, air lebih deras, bahaya melanggar wadas atau kandas besar kecil. Selagi air banjir, tunggul wadas kelam tak nampak dimuka air. Perjalanan ayal itu menambah tak tenangnya Leng Hui, bahkan dia menjadi gelisah semenjak dia melihat tiga orang dalam perahu tetangga itu.

In Gak menjadi tambah heran, sedang untuk menanya ia merasa tidak leluasa, ia lalu mengambil keputusan guna mencari tahu.

Setelah belayar tiga hari tibalah perahu di Kui-bun disini mendadak Bin San Jie Tok tinbul keingiannya buat pulang dulu ke Bin San, bahkan mereka lantas meminta diri, terus mereka mendarat.

Tiba-tiba tiga orang diperahu tetangga itu juga meninggalkan perahu mereka untuk naik kedarat.

"Siauwhiap." berkata Leng Hui, "Mari kita kuntit tiga orang itu" Sudilah kau?" Sianak muda heran, "Leng Losu kita masih belum memberitahukan aku siapa mereka itu?" ia kata.

"Aku pikir, dimana kita dapat meletaki tangan, baik kata meletakinya, buat apa kita mencari keruwetan tidak keruan?"

"Mereka bertiga besar sangkut pautnya dengan kematiannya ayahmu almarhum dulu hari."

Leng IHui berkata, Dia agak bernapsu tanpa menantikan jawaban, dia lantas lompat kedarat. In Gak heran dan ketarik hatinya, maka ia lompat menyusul.

Tiga orang didepan ilu masuk kekota Kui bun disana mereka masuk kedalam sebuah penginapan-

Setelah bersangsi sejenak. Leng Hui ajak In Gak mampir juga dirumah penginapan itu. justru mereka masuk. mereka di dului oleh dua orang lain- yalah seorang tua yang kate gemuk serta seorang muda berbaju putih dengan pedang tergendol dipunggungnya.

Leng Hui mengkerutkan alisnya, dia kata perlahan: "Dijalan Su coan ini bakal ada keramaian untuk di tonton-

Untuk kesekian kalinya, In Gak dibuatnya heran. ia mengawasi sahabatnya itu, siapa sudah bertindak masuk seraya memanggil jongos kesebuah kamar. Hebat song-bun Kiam-kek. Kali ini dia bersikap sepeti sikera binal. Baru dia menjatuhkan diri dikursi atau dengan tergesa gesa dia pergi keluar. In Gak mengawasi saja, herannya pukan kepalang, saking heran, ia menjadi masgul.

Kira seminunan teh, Leng Hui kembali di belakangnya mengikuti seorang jongos yang membawa sebuah keranjang makanan serta sebuah poci tembaga yang besar. Jongos itu lantas menjanjikan barang makanan itu, ketika ia tanya Leng Hui ada perlu apa lagi dan memperoleh jawaban "Tidak" ia lantas mengundurkan diri.

"Apakah Leng Losu keluar cuma untuk memesan makanan ini?" In Gak tanya tertawa.

Leng Hui sudah berusia limapuluh tahun lebih tetapi dia masih mirip bocah, ditanya begitu, mukanya menjadi terang dengan senyumannya.

"Siauwhiap." sahutnya, "ada urusan apa juga, sebentar sehabis bersantap baru kita bicarakannya ia lantas mengiakan cawannya sianak muda, baru cawannya sendiri, In Gak mengawasi mendelong, "Leng Losu," katanya "caramu yang penuh rahasia ini, membuat aku tak dapat mengasiturun barang makanan kedalam perutku..."

Leng Hui mengawasi, ia menghela napas. "oleh karena siauwhiap sangat ingin tahu, baiklah, agak terpaksa, "Bukankah baru itu siauwhiap telah menanyakan aku apa aku tahu apa-apa mengenai pengepungan atas diri mendiang ayahmu? Bukankah aku telah memberikan jawabanku bahwa aku hanya mendengar kabar angin saja dan tak tahu jelas?

Masih ingatlah siauwhiap jawabanku itu?" In Gak mengangguk.

"Aku tak tahu losu ketahui atau tidak. aku tetap sangsi," ia menyahut "Aku percaya pastilah ada apa apa yang bikin losu sulit membuka mulut, karena itu aku bersabar saja." "Ketika itu hari siauwhiap minta keteranganku memang benar aku tidak tahu," Leng Hui berkata, "akan tetapi kali ini lain lagi."

In Gak menjadi terlebih heran, matanya menatap tajam.

"Panjang untuk menutur, siauwbiap." Leng Hui melanjuti.

Jikalau siauwhiap suka dahar dan minum, nanti aku menjelaskan semua-mua nya." ia mengwasi barang hidangan, yang berbau dan sedap. agaknya ia sangat bernapsu untuk memakannya In Gak tertawa melihat kelakuan orang itu, ia mengangkat sumpitnya dan mulai dahar.

Leng Hui lantas makan juga, ia minum dengan napsu, Sebentar saja nampak wajahnya menjadi riang sekali.

"Ini arak Tin-lian dan bakmie hebat sekali" kita dia gembira. In Gak mengawasi, dia tidak membilang apa-apa.

Melihat sikap sianak muda, Song bun Kiam-kek likat sendirinya,

"Didalam kalangan Rimba Persilatan, banyak peristiwa yang tak dapat dipikirkan," katanya kemudian- "dan juga banyak orang yang luar biasa hingga tak terpikirkan pula Demikian tiga orang dari perahu tetangga kita itu sampai sekarang aku masih belum berhasil mengetahui she dan namanya demikian juga tentang ilmu silat mereka yang Iiehay sekali..."

In Gak heran, ia melengak. Jikalau begitu kenapa losu ketahui mereka ada sangkut pautnya dengan ayahku almarhum?" ia tanya, juga kenapa losu ketahui ilmusilat mereka liehay sekali?"

"Siauwhiap. aku siorang she Leng, hendak aku bicara," kata Leng Hui, "tapi kalau kata kataku kurang tepat, aku minta siauwhiap jangan gusar."

"Asal losu omong dengan sebenar-benar-nya kenapa aku mesti b erg usar?" In Gak menjawab "Sebaliknya jika ayahku almarhum di dunia baka dapat memeramkan matanya dengan tenang, akujustru akan sangat bersyukur kepada losu" Leng Hui menghirup araknya, ia mau bicara tapi gagal, agaknya ia susah membuka mulutnya. Masih ia menenggak pula, baru ia akhirnya dapat juga bicara.

"Semasa hidupnya ayahmu duluhari." ia berkata, Julukannya yaitu Twie Hun Poan telah menggemparkan hampir seluruh negara, Itulah sebab ayahmu itu keras sikapnya, itulah apa yang orang menyebutnya muka besi, tidak mengenal kesihan. Demikian sudah terjadi orang-orang yang terbinasa ditangannya, pihak sesat dan pihak lurus juga, tak kurang dari seribu orang, perbuatan ayahmu itu menggetarkan Rimba Persilatan, itu pula sebabnya kenapa pihak musuh tak ada yang tak ingin membinasakannya, guna membalas dendam.

Untuk menuntutbalas itu, mereka menemui banyak kesulitan, lantaran mendiang ayahmu ada bagaikan sinaga sakti yang nampak kepalanya tak ekornya, Ayahmu itu bisa sekali membawa dirinya. Banyak orang yang menyelidiki hal ikhwal mendiang ayahmu, tidak ada yang ketahui asal usulnya. Mungkin sampai sekarang ini siauwhiap sendiri belum tahu jelas bukan?"

Mau atau tidak. In Gak mengangguk wajahnya nampak guram.

"Dimasa banyak orang hendak menyingkirkan ayahmu itu, siauwhiap. usiaku masih muda," Leng Hui mulai pula setelah ia hening sekian lama, "Ketika itu aku belum tahu apa apa, aku polos maka apa juga tak ada orang yang suka memberitahukan padaku.

Meskipun demikian beberapa diantara penggeraknya itu, ada orang-orang partaiku, tak lolos dari mataku, hanya ketika itu aku tidak memperhatikannya..."

Habis berkata begitu, ia menuang lagi arak untuk segera dicegluk pula, lalu menyusul sepotong daging sambil mengunyah, kedua matanya bersinar tajam. Kelihatannya ia memikirkan urusan yang telah lampau itu, Kemudian lagi, ia kembali menghela napas. "Disaat orang lagi berembuk untuk menyingkirkan ayahmu itu, siauwhiap." mulaipula, "maka beruntun- runtun datang warta halnya kurban-kurban ayahmu itu, karena itu, mereka berdaya semakin keras. Kemudian datanglah satu hari yang toa-suheng kami kakak seperguruan yang tertua kembali ke Kiong Lay San- ia ada bersama dua orang.

Salah satu orang itu ialah si orang tua dari perahu tetangga kita itu. Banyak tahun sudah berselang wajahnya orang tua itu masih belum berubah, maka itu aku masih mengingatnya baik sekali."

"Siapakah itu orang yang lainnya ?" In Gak tanya. "Orang yang lainnya itu sangat mudah untuk dikenali,"

Leng Hui menjawab, "Dia kurus kering seperti sebatang bambu dan kepalanya gundul serta matanya biru. Dia tak nampak didalam perahu tetangga itu. Mereka itu menyebut diri sebagai sute adik seperguruan dari mendiang ayahku. Dengan ayahmu mereka telah berselisih semenjak mereka bertiga sama-sama belajar silat diatas gunung, Katanya saking gusar, ayahmu sudah menotok mereka pada otot-cacadnya dan mereka dikurung didalam guha.

Tentang ini aku mendengar dari toa-suheng kami itu penjelasannya aku tidak tahu, bahkan aku tidak tahu juga she dan nama mereka berdua begitupun asal-usul mereka itu, juga sampai sekarang ini, ketua kami tidak tahu-menahu she dan nama serta riwayat mereka.”

Leng Hui berhenti sebentar, baru ia melanjuti: "orang tua dengan alis dan kumis ubanan itu besar bicaranya, ia berkata, untuk membekuk mendiang ayahmu, siauwhiap tenaga mereka dibutuhkan sangat, kalau tidak orang tak akan berhasil, ia mengatakan ilmu silat mereka sangat lihay.

Ketika itu aku sangat tidak puas hingga aku menguji kepandaiannya. Aku menggunai alasan meminta pengajaran. Belum satu jurus, pedang ku telah kena dibikin terlepas dan sembilan jalan darahku telah tertotok olehnya. Adalah sikurus kering yang menolong membebaskan aku dari totokan kawannya itu.

Mengenai kejadian itu si kurus-kering nampak kurang puas terhadap saudara seperguruannya itu. Besoknya mereka itu bersama toasuheng serta beberapa anggota partai kami pergi turun gunung. Kemudian tiga bulan berselangnya tersiarlah berita halnya ayahmu dan kau sendiri siauwhiap. telah tercilakakan orang sedang toasuheng kami serta beberapa saudara seperguruannya itu kedapatan mayat-mayat nya ditepinya telaga Tong Teng, cuma satu yang masih hidup dan dialah yang membakar mayatnya suheng semua. Dia juga tidak berumur panjang, selekasnya dia kembali diatas gunung, baru dia menyebut dua pata kata dia roboh binasa." "Apakah yang dikatakan dia itu?"

"Itulah aku tidak tahu, Ketika itu aku lagi pergi ke Kui-ciu selatan, berselang tiga tahun baru aku pulang. Lama lama urusan itu telah aku lupakan, Urusan bukan urusan aku. aku tidak memperhatikannya.

"Sekarang ini digunungmu itu masih ada lagi yang ketahui atau ingat kata-kata itu?" In Gak menanya pula.

Leng Hui berpikir dulu baru ia menjawab: "Aku duga cuma mengena kebinasaannya toa-suheng semua..."

In Gak berbangkit alisnya pun terbangun.

"Kalau begitu, perlu aku cari mereka itu bertiga untuk ditanya" katanya, "Kalau sampai mereka itu keburu mengangkat kaki pasti aku menyesal seumur hidupku..." Leng Hui menghela napas. "Mereka itu juga sudah pergi..." katanya.

In Gak kaget bagaikan disambar guntur, hingga berdiri menjublak matanya menjadi kosong.

"Apa?" dia tanya, nyaring setelah dia sadar, "Mengapa kau tidak membilangnya dari siang-siang?"

Matanya anak muda ini berapi, Leng Hui mengetahui kemarahan orang "Sabar, siauwhiap. sabar," kata dia tenang, Jangan siauwhiap terburu napsu, Hal ini pun berada diluar dugaan, Ketika tadi aku pergi keluar, aku mendapatkan mereka lagi keluar juga, mereka berlalu dengan melompati tembok kota. Aku lantas kuntit mereka itu, terus sampai dihutan yang lebat. Aku takut nanti kepergok mereka, aku menyembunyikan diri dibelakang sebuah pohon besar.

Disitu aku mendengar mereka berbicara, Kata yang seorang: "Adik, kau pergi mengundang cie Hay, nanti tujuh hari kemudian, kita orang bertemu di Poan Liong Kiap di cui In Liong." Habis berkata, dia lantas pergi. Dan yang lain terus pergi juga, Aku lantas keluar dari tempat sembunyi. Aku masih melihat siorang kate gemuk serta sianak muda berpakaian putih dengan pedang dipunggungnya menuju kebarat....

Leng Hui berhenti bicara untuk menghela napas Tapi ia tidak berhenti lama lantas juga ia kata pula: "Sekarang ini kita mesti pergi ke Poan Lung Kiap. untuk dalam tujuh hari itu dapatkan menemukan mereka, Aku percaya disana kita bakal memperoleh keterangan cuma ingin aku jelaskan bahwa aku tidak berani tanggung dua orang itu, situa dan muda, yalah orang-orang yang bertanggung jawab atau yang telah campur tangan dalam pengeroyokan itu.

Ketua kami sudah meninggal dunia pada tiga tahun yang lalu, sedang orang-orang yang mengetahui peristiwa duluhari itu juga sudah tak ada lagi, Apa yang aku ketahui ini pastilah tak cukup,.."

In Gak bersenyum.

"Leng Losu, meski apa yang kau ketahui cuma sebegini, kau toh telah membuat aku berteriak keras sekali," ia bilang. "Harap kau suka maafkan kelakuan barusan, Apakah losu ketahui di mana letaknya selat Poan Liong kiap itu?"

"Aku duga letaknya didekat Kiam-kok," sahut Leng Hui. "tapi aku tidak berani pastikan-"

In Gak mengawasi keluar jendela, Untuk ia keterangan itu sudah cukup, Maka besoknya tengah hari bersama-sama sahabat itu, ia berangkat. Dihari ketiga mendekati sore, mereka telah tiba dikota kecamatan Kiam-kok. Disitu mereka lantas mencari keterangan prihal Poan Liong Kiap.

Untuk kelesuannya In Gak orang menjawabnya tidak ada selat dengan nama demikian itu, Tapi ia tidak mau sudah dengan begitu saja.

"Mari kita mencari terus dengan berpisahan-" ia kata pada Leng Hui. ia lantas pergi ke Kiam-kok utara dan Leng Hui ke Kiam-kok selatan- Mereka berjanji akan bertemu didalam kota pada hari yang ke-enam.

Dihari kelima, In Gak masih mundar mandir ditanah pegunungan Kiam Bun San dalam wilayah Kiam kok. Sudah satu hari dan satu malam ia mencari dengan sia-sia, itu waktu ia berada dijalan penghubung lima lie diselatan Kiam-kok. ia tidak puas sekali. Ia berpikir: "Menurut Leng Hui, orang bakal bertemu di Poan Liong Kiap. Selat itu mesti berada di cui In Long sekitar tiga ratus lie, cui In Long yalah jalan penghubung antara Liong Liong di Kiam-kok selatan sampai dibaratnya cu- tong, disepanjang jalan dikiri dan di kanannya ada tumbuh pohon pek puluhan ribu buah.

Kenapa sekarang aku belum juga menemui selat itu?

Mestinya selat berada disekitar cui In Long in-." lalu ia bersiul nyaring.

Tepat itu waktu, ia mendengar suara tertawa dibelakangnya serta pertanyaan ini, "Tuan, apakah tuan yang barusan bersiul? Nyatalah mahir sekali tenaga dalam tuan?"

ia terperanjat, hatinya terkesiap. Hebat bahwa ia tidak mengetahui ada orang dibelakangnya. Maka lantas ia mau menduga orang itu mesti orang dengan kepandaian silat yang liehay. Dengan cepat ia memutar tubuhnya.

Disana ada seorang dengan usia lebih kurang tiga puluh tahun, mukanya putih dan terang pakaiannya hitam berkibar- kibarkan angin romannya bengis tetapi tenang. Dibelakang orang itu ada seorang lain-seorang dengan tubuh besar dan berbaju kuning matanya tajam, mukanya penuh berewok, sedang tangannya menyekal sebatang pedang pendek yang berkilauan itulah sebuah pedang mustika. ia mengawasi tajam mereka itu, lantas ia kata dingin:

"Siulan itu benar siulanku Ada apakah sangkutannya itu dengan kau, tuan?"

Belum lagi orang itu menyahuti, sibaju kuning sudah menegur keras: "Kau bicara tanpa pakai aturan. Apakah kau sudah bosan hidup?"

In Gak mengawasi, alisnya terbangun. orang itu tertawa lebar, terus dia mendelik

kepada sibaju kuning, kemudian dia menoleh pula pada pemuda kita, untuk berkata: "Hambaku ini kasar, dia tidak tahu aturan, aku harap tuan tidak menghiraukan dia."

In Gak menjadi tenang pula, "Tidak nanti aku berpandangan sama seperti dia," sahutnya, ia tertawa. Tapi ia lantas menambahkan: "Aku lagi mencari satu orang, karena aku lagi repot, tuan persilakanlah."

Orang itu nampak heran-

"Oh kiranya tuan lagi mercari orang?" katanya, "Bagus Aku datang kemari tengah mencari orang juga, siapakah orang itu? Mungkinkah dia pun orang yang lagi dicari olehku”

Inilah In Gak tidak sangka mendengar orang itu, matanya bersinar.

"Siapakah orang yang tuan cari itu?" ia tanya bersenyum, "ingin aku mendengarnya jikalau tuan suka memberitahukan aku."

Si orang baju kuning turut pula. Dia membentak: "Kongcu kami menanya kau, kenapa kau tidak jawab?"

Orang itu tidak menegur hambanya tetapi dia kata: "Tidak ada hubungannya orang yang aku cari itu, yalah sahabatku, tinggal didalam lembah dekat sini. Dia sama seperti aku mengarti ilmu silat, tetapi dia tidak sudi nama besar, maka juga dalam Rimba Persilatan, namanya tak terdengar. Tuan sendiri, tuan tentulah berkenamaan, sukalah tuan memberitahukan namamu yang benar?"

Hati In Gak bercekat mendengar sahabat orang tinggal didalam lembah itu.

"Aku yalah seorang yang baru keluar dari rumah perguruan, sebagai orang muda, tak berani aku menerima pujian kau ini, tuan," sahutnya, "Aku yang rendah yalah Rhouw Ban.

Tuan masih belum memberitahukan she dan namanya sahabatmu itu. Mungkin dialah orang yang kita cari bersama."

"Itulah pasti" berkata orang itu tertawa, "Ditempat ini, gunung Kiam Bun San, cuma tinggal sahabatku itu satu orang, Kenapa kita tidak mau pergi bersama menemui dia? Kalau umpamanya bukan, masih belum terlambat untuk tuan mencari orang yang tuan hendak cari itu."

In Gak berpura mengasi lihat roman sangsi.

"Sulit sulit. . . untuk aku menuruti perintahmu ini..." katanya.

Belum ia menutup mulutuya, sibaju kuning sudah bertindak maju, pedangnya dikibaskan-Dia membentak: "Eh kenapa kau tidak tahu diri? Bagaimana Kau berani menentang ulahnya kongcuku? Benar-benar kau sudah tidak menghendaki jiwamu lagi?" Dia lantas menghunus pedangnya. Lalu mendadak dia berseru: "oh" lalu dia berdiri tercengang.

Ketika sinar pedangnya berkelebat, In Gak sudah mencelat mundur ke sebuah batu dimana sambil tertawa ia kata pada orang tidak dikenal itu, ”Jikalau aku tidak keburu berkelit, bukankah aku sudah mati ditangan hambamu ini, tuan?

Senjata mustika semacam itu dapatkah dipegang oleh sembarang manusia kasar?"

Orang itu heran- Dia tidak melihat cara berIompatnya In Gak. Tapi dia bersenyum. "Tuan, kau liehay sekali" dia memuji ”Justeru karena ini, semakin aku ingin bersahabat untuk minta pengajaran dari kau. Dengan orang kasar semacam dia, jangan tuan sepaham. Tentang sahabatku itu bukannya aku tidak sudi memberitahukan kau. tuan, itulah disebabkan dia sendiri yang tak ingin orang mengetahuinya.

Aku-pun masih belum tahu dia benar atau tidak orang yang tuan hendak cari itu. Dia tinggal tak jauh dari sini, cuma sekira lima lie, sebentar orang dapat sampai ditempatnya itu, maka kalau tuan pergi kesana, tidaklah kau bakat mensia-siakan waktumu yang berharga."

Habis berkata begitu, orang itu berlompat, maka sedetik kemudian, dia sudah berdiri di depannya In Gak.

Si baju kuning turut berlompat juga. Dia pesat sekali. Dia mengawasi In Gak dengan roman membenci. Karena kata- katanya sianak barusan, dia ditegur majikannya itu, ingin dia mencoba anak muda didepan ini.

Orang itu batuk perlahan, dia berkata seperti menegur dirinya sendiri "Aku alpa sekali. Tuan telah memberitahukan namamu yang besar, aku sendiri belum memberitahukan namaku yang rendah: Aku she Bek dan namaku Ham Eng."

Dia lantas menoleh kepada pengikutnya seraya berkata, "Hambaku ini bernama Yang cong Seng, Sebenarnva dialah seorang yang ternama untuk wilayah pedalaman, karena dialah cucu ketua suku ceng-teng di Inlam selatan, sedang pedang ditangannya itu mustika pusaka turun menurunnya. Da gigih sekali, hingga mungkin untuk Tionggoan cuma ada beberapa orang saja yang dapat dibandingkan dengannya."

Dia tertawa lebar, lantas dia menambahkan. "Hanya kalau dia dibanding dengan kau, tuan, itulah soalnya. Dia telah menerima budi ayahku yang pernah menolongi jiwanya, maka dia rela menjadi hamba, oleh karena ayahku tidak dapat menolak. terpaksa keinginannya itu diterima baik.” In Gak mengawasi Yang cong Seng, ia tertawa. ia kata, "Mengingat budi hendak membalasnya, itulah perbuatan seorang laki-laki sejati, maka itu tuan, hamba ini yalah seorang luar biasa yang sukar didapatkannya."

Itulah pujian dan Bek Ham Eng mengarti itu, ia bersenyum.

Yang cong Seng mengerti maksud orang, tetapi dia tidak senang, dia kata, "Aku dengar orang Tionggoan itu licik, kelihatannya pendengaranmu itu benar. Aku siorang she Yang, aku menerima budi, hendak aku membalasnya, itulah urusan, tetapi kau, buat apa kau memb ica ra ka nnya?

Mendengar itu, In Gak tertawa lebar "Kata-kata yang tak sepaham, setengah patah sajapun kebanyakan" katanya, "Saudara Bek, kita berdua sukar dapat berdampingan bersama, maka itu ijinkanlah aku meminta diri."

Ia lantas memberi hormat, berniat berangkat pergi. "Sabar, tuan- kata Him Eng cepat. "Aku harap kau anggap

saja kata-kata dia seperti angin yang lewat. Mari kita pergi sekarang ketempat-nya sahabatku itu..."

Mendengar itu In Gak lantas mendapat pikiran- Katanya dalam hati, "Aku tidak kenal dia, kita baru pernah ketemu pertama kali ini, kenapa dia mendesak aku pergi ketempat sahabatnya itu? Mungkinkah dia mengandung maksud apa- apa?" ia menjadi tertarik hatinya. Maka ia mengangguk dan sembari tertawa berkata. "Tuan, silakan kau menunjuki jalan"

Bek Ham Eng tidak berkata apa apa lagi, dia lantas berlompat, untuk berjalan disebelah depan- Dia berlompat dan bertindak cepat dan gesit. Sebentar saja dia telah melintasi jalan perhubung, terus dia turun kelembah diantara kedua puncak.

In Gak mengagumi liehaynya ringan tubuh orang itu, akan tetapi ia tidak mau ketinggalan ia lantas menyusul, ia mempernahkan diri dibelakang orang sheBek itu. Sementara itu ia terkejut. Inilah sebab sihamba baju kuning menyusul dengan pesat sekali. Karena ini, ia berjaga supaya tidak sampai kena terbelakangkan.

Dipihak lain, pemuda ini terkejut melihat jalanan didepannya, Lembah rendah kira seratus tombak jalannya makin lama makin sempit dan sukar, salah sedikit orang bisa terpeleset jatuh, sedikitnya orang akan patah kaki tangannya, Maka ia berlaku hati-hati sekali.

Ham Eng nampaknya tidak demikian, Dia lompat turun, baru setelah mendekati dasar lembah tiga tombak tubuhnya jungkir balik, hingga kakinya menginjak tanah dengan perlahan tanpa suara. Baru setelah itu, ia dapat kesempatan. mengangkat kepala dongak keatas, untuk melihat sianak muda.

Lantas ia menjadi kagum dan celengap. Beda daripada ia, In Gak turun dengan perlahan dan tenang, seperti orang turun dengan perantaraan mega.Jadi itulah ilmu ringan tubuh yang lain daripada yang lain-

Hampir In Gak menginjak tanah, mendadak ia merasakan tolakan angin yang keras, ia tahu tentulah ia dibokong Yang cong seng, Sambil bersuara "Hm" dalam hatinya, lantas ia membela diri, ia mengerahkan tenaga, Bie Lek Sin Kang.

Yang cong Seng tetap panas hatinya, ia ingin memberi "rasa" kepada anak muda itu. Ketika ia mendapat kenyataan, ilmu ringan tubuh In Gak liehay seperti ilmu majikannya. ia kagum berbareng merasa tidak puas, maka itu timbullah rasa jelusnya, maka ia lantas menyerang anak muda itu.

Kalau ia berhasil pastilah celaka anak muda itu. celaka untuknya serangannya liwat tidak keruan karena mana, tubuhnya sendiri yang turun semakin cepat, hingga ia menjadi sangat kaget dan takut, Tiba-tiba ia terkejut, ia merasakan dadanya terhajar barang berat ribuan kati, tanpa merasa ia menjerit, tubuhnya mental naik, habis mana tubuh itu turun pula. Ketika itu In Gak sudah tiba ditanah, sikapnya tenang sekali mengenai hamba itu, ia seperti tak tahu-menahu.

Bek Ham Eng heran, tetapi dia berlompat guna memapaki hambanya, hingga mereka turun bersama tanpa hamba itu mendapat kecelakaan-"cong Seng, kau kenapa?" dia tanya heran-"Tidak apa-apa," sahut hamba itu seraya memegangi dadanya.

Syukur untuk cong Seng, In Gak tidak menghajar keras, hingga dia cuma merasai dadanya sesak.

Ham Eng heran, ia menoleh kepada In Gak. Anak muda itu lagi mengawasi lembah, tangannya digendong, wajahnya berseri-seri.

Setelah, memandang sianak muda dan mengawasi hambanya, kemudian Ham Eng dapat menduga duduknya hal, akan tetapi ia tidak membilang apa-apa, hanya sambil tertawa ia kata: "Tuan, kau liehay sekali, aku kagum untuk ilmu ringan tubuh kau yang begini mahir?" Habis itu ia kata pada hambanya "cong Seng, kau jalan didepan"

Cong Seng tunduk. dia menyahuti "Ya"" lantas dia bertindak melewati majikannya dan siorang muda untuk berjalan lebih dulu.

Ham Eng tertawa, ia kata: "Tuan Khouw sahabatku tinggal disana, tak jauh lagi, silahkan"

In Gak bersenyum ia lantas membuka tindakannya. Karena Yang cong Seng berjalan cepat ia mesti menyusul sama cepatnya.

Lembah itu dalam, maka itu, dongak keatas orang hanya melihat sedikit sinar terang, Angin sebaliknya menderu- deru, jala nan pun sempit, sukarnya tak usah disebutkan lagi.

Makinjauh, sinar terang makin berkurang.

Selama dua lie, orang berjalan menikung beberapa kali. Kemudian orang sampai dihutan rotan lebat, dimana cahaya matahari ketutupan karenanya. Ditempat seperti itu, orang menduga pun tidak bahwa lembah itu ada penghuninya. Disini pedang mustika dari Yang cong Seng ada faedahnya, Dengan dibulang baling-kan senjata itu mengeluarkan sinar terang.

In Gak kagum, dia menghela napas dan kata: "Ah Kalau aku mempunyai pedang mustika semacam itu, alangkah besar faedahnya Diwaktu malam mustika itu dapat dipakai sebagai pengganti lampu..."

Ham Eng tertawa mendengar perkataan orang itu, Yang cong Ssng sebaliknya mendongkol. Dia menyangka orang mengejeki padanya. Dia menahan marah hingga tubuhnya bergemetaran.

Tidak lama sampailah mereka di depan sebuah gua. Karena letaknya gua dimuka tikungan, lantas saja dapat terlihat.

Mendadak Bek Ham Eng tertawa dan kata: "cong Seng kau masuk lebih dulu”

Dengan hanya satu kelebatan, hamba itu sudah melintasi mulut gua.

In Gak bersama Ham Eng mengikut masuk. Dengan pertolongan sinar pedang, In Gak dapat melihat tembokan guha licin mengkilap-jalanan merupakan terowongan yang berliku- liku, lalu terdapat beberapa terowongan lain, yang satu dengan lain ada hubungannya, Disebelah dalam itu, orang mendapat cahaya terang dari mutiara, yang disesapkan ditembok. Disitu juga kedapatan beberapa kamar.

In Gak menjadi heran sekali. Gua itujadi gua bikinan manusia, Hebat melihat adanya kamar kamar itu serta terowongannya yang berliku-liku, mengingat dalamnya gua serta terowongannya yang panjang, itulah bukan hasil tenaganya satu atau dua orang.

Gunung dan gua banyak, kenapa orang justeru membuat guha yang sangat tersembunyi ini ? Kenapa orang suka tinggal ditempat sesunyi ini? Yang cong seng mengambil terowongan yang ketiga di sebelah kiri. Disitu ada penerangan mutiara tetapi dia tak melepaskan pedang-nya.

Mereka masuk dalam sebuah kamar, yang ada pintunya diempat penjuru, Disitu ada kursi dan meja, semua terbikin dari kayu garu yang halus dan bagus urat-uratnya, yang buatannya indah. Diatas meja ada sebuah pot bunga anggrek, yang bunganya putih dan merah serta harum baunya.

Baru mereka masuk dalam kamar itu, atau dari kamar sebelah terdengar teguran- "Siapa lancang memasuki guha?” Kata-kata itu disusul munculnya seorang yang gerakannya lincah.

In Gak segera melihat seorang muda dengan muka putih dan tampan, alisnya tebal. cuma satu cacadnya, yalah satu kerutan di ujung matanya, bajunya panjang dan menjadi luar biasa sebab baju itu mengkilap disinar mutiara, sinarnya yang berwarna lima rupa menyilaukan mata.

Begitu anak muda itu melihat Ham Eng dan cong Seng alisnya terbang, terus dia

"Aku menduga saudara Bek dan Yang congkoan akan tiba besok tengah hari tak tahunya kamu datang sekarang" dia kata, Lalu dia mengawasi In Gak sebentar, untuk menoleh pula pada siorang she Bek dan menatap:

"Siapakah tuan ini? Adakah dia sahabatmu saudara Bek?"

Ham Eng bersenyum.

"Saudara ini saudara Khouw Ban, aku menemui dia dilembah," ia menyahut "Saudara Khouw membilangi aku bahwa ia lagi mencari satu orang, ketika aku tanya siapa orang itu, ia tidak menyebutkan she dan nama nya, maka itu aku menduga mungkin dia lagi mencari kau, adikku, jadinya kau tidak kenal dia?"

Anak muda itu tidak menjawab, hanya mengawasi In Gak, mendadak dia kata bengis, "Siapa itu yang kau lagi cari? jikalau kau berani mendusta, aku pasti akan menbikin kau pergi keneraka dengan beriepotan darah"

In Gak tertawa dingin, dengan tajam ia menatap orang itu. "Perduli apa kau aku mencari orang itu?" sahutnya tawar,

"Apakah kau kira kau berhak mengurusnya? Aku pula tiada niatku kemari adalah ini saudara Bek yang mengajak orang jumawa segagah kau tidak ada pandangan mataku Aku pun tak sempat melayani kau"

Maka ia berpaling pada Bek Ham Eng, untuk melanjut berkata, "Saudara Bek, aku berterima kasih untuk kebaikan kau ini, jikalau lain ketika ada jodohnya, aku akan mengunjungi kau untuk menghaturkan terima kasihku"

Tajam kata-kata itu, yang bernada teguran, In Gak merasa ia seperti dipinjuk memasuki guha itu, setelah mengucap itu ia bertindak pergi.

Sekonyong-konyong sianak muda penghuni rumah tertawa nyaring, disusul kata-katanya ini tajam. "Guhaku ini mudah untuk di-masuki tetapi sukar untuk ditinggalkan pergi. Maka itu aku kuatir sulit untuk kau pergi keluar." Suara tertawa itu, kata-kata itu, mendatangkan rasa seram.

In Gak terkejut, ia lantas berpaling, ia sekarang melihat jalanan beda daripada jalanan yang semula, yang tadi ia masuki, jalanan menjadi banyak sekali, Kata ia dalam hatinya. "Gua ini benar aneh, inilah mirip sebuah tempat rahasia jikalau aku terkurung disini, gagal urusanku, Sayang..."

Lantas ia berpikir pula. "Kenapa aku tidak mau bekuk pemuda ini, untuk memaksa dia menunjuki aku jalan keluar?"

Maka itu, ia bertindak balik, Begitu ia menindak d lambang pintu, cong Seng menyambut dengan tikaman pedang, sedang Ham Eng bersama sianak muda yang tidak dikenal itu, menolak dengan berbareng, sepasang tangan mereka masing- masing besar sekali tenaganya, ia menjadi kaget sekali. Biarnya ia liehay, di sambut secara begitu, tak sanggup ia bertahan, Maka itu, ia berlompat kesamping.

Si anak muda terjerunuk ke depan, ia tidak dapat mempertahankan diri karena sebatnya In Gak bergerak mundur dengan tindakan Hian Thian cit seng Pou.

Tengah In Gak hendak menggunai jurus Hian Wan Sip-pat Kay, guna menyerang tiba-tiba ia mendengar teguran, "Eh, bagaimana kau?" Lalu satu bayangan putih berkelebat di antara mereka.

"Hm" bersuara sianak muda, yang lantas lompat mundur tujuh kaki.

In Gak lantas melihat seorang nona d engan pakaian serba putih, yang romannya cantik bagaikan dewi, kulitnya pun putih sekali.

Nona itu mengerutkan alis, dia kata pada sianak muda "Apakah orang ini bermusuh denganmu? Kenapa kau menggunai pukulan Lui Teng ciang-hoat? Makin lama kau makin menyebalkan. Nanti aku memberitahukan hal ini pada ayah"

"Lui Teng ciang-hoat" yalah pukulan "Geledek. Si anak muda tertawa tawar. "Adik Lui, kau tidak tahu..." katanya.

"Tak usah kau menyebutkannya" memotong nona itu. "Adikmu telah mendengarnya semua"

Bek Ham Eng menghampirkan satu tindak.

"Adik Lui" ia menyapa tertawa. "Baru satu tahun kau tidak terlihat, kau nampak semakin manis"

Si nona bersenyum, ia tidak menyahuti, hanya menanya: "Mana aku punya engko Giok? Kenapa dia tidak datang? Pada tiga bulan yang lalu aku telah memesan kata-kata padamu, apakah kau menyembunyikan dan tak menyampaikannya kepadanya?"

"Tiga bulan yang lalu Louw Siauwhiap telah datang kemari, Apakah nona tidak bertemu dengannya?" Itulah perkataannya Yang cong Seng yang mendahului majikannya.

Sementara itu Ham Eng menyahuti, agaknya dia gelisah "Sebenarnya adik Giok telah

mesti datang kemari pada tiga bulan yang lalu, apa mau mendadak ada urusan penting yang mencegah padanya: Aku pun duga dia bakal segera sampai disini...

In Gak melirik kepada semua orang didalam guha itu. ia melihat sinar matanya sianak muda berbaju putih ketika sinona menyebut "engko Giok" itulah sinar kejelusan, ia belum tahu duduknya hal tetapi merasa bahwa ia sudah dapat menerka tiga bagian- ia mau meneruskan maksudnya menangkap anak muda itu ketika sekonyong-konyong mutiara didalam ruang itu menjadi gelap dan ruang bagaikan berputar.

Dalam sekejab saja ia berada dalam kegelapan hingga ia sukar bernapas, "Ah." ia berkata, menyesal dan masgul, tubuhnya menyender ditembok batu. ia putus asa, ia juga mendongkol dan gusar.

Maka pikiran menjadi sangat ruwet, ia lantas ingat sikapnya Bek Ham Yang dan Yang cong Seng: ia jadi membenci mereka itu, Mengenai cong Seng ia merasa bahwa sikapnya sedikit keterlaluan

Kecuali gelap. ruang dimana ia berada, In Gak rasai hawanya panas menambah ruwetnya pikiran, ia lantas menjadi nekad, maka perlahan lahan ia mengangkat kedua tangannya, berniat dengan jurus ke-empatbelas dari Bie Lek sin-Kang mencoba menggempur tembok guha itu.

Belum lagi ia menyerang mendadak telinganya mendengar suara perlahan, suara menghela napas. coba ruang tak sesunyi itu sukar ia mendengarnya.

---ooo0dw0ooo—
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Menuntut Balas Jilid 29 : Oey Kie Pay musnah"

Post a Comment

close