Menuntut Balas Jilid 28 : Membebaskan Dua ahli racun dari Bin-san

Mode Malam
Jilid 28 : Membebaskan Dua ahli racun dari Bin-san

"AKU percaya, apabila dua tua bangka tak mau mampus itu sadar, mereka sudah terlambat." Sembari berkata, ia mengeluarkan tiga butir pel hitam, lalu ia meneruskan "inilah obat pemunahnya, Sebelum kita sulut hio, kita sesapkan dulu obat ini didalam hidung, agar kita tidak menjadi kurban sendiri, sebentar, diwaktu masuk kedalam, kita mesti jaga supaya kita jangan menerbitkan suara apa apa. Dua tua- bangka itu sangat awas pendengarannya nanti mereka memergoki kita, dengan begitu, kita bisa kena tertawan mereka itu, celakalah kalau kita tertangkap. pasti bakal disiksa "

Kedua saudara seperguruan itu menggigil sendirinya, saking jerinya, akan tetapi waktu Ham Kong mulai bertindak. mereka mengikuti. Bersama-sama mereka jalan memutari pohon liu untuk sampai dibagian belakang dari kuil di- depannya itu.

Ketika itu, selagi matahari turun, angin bersiur halus. Disitu, segala apa nampak sunyi, pemandangan alamnya menarik hati.

Selagi ketiga imam berdamai, suatu bayangan orang sudah mendahului mereka pergi kebelakang kuil. Dialah sipetani muka kuning yang seperti berpenyakitan sebentar saja dia bersangsi atau lantas ia lompat maju, untuk pergi kesebelah depan-

Bahkan dengan berani dia masuk ke- ruang depan itu, Disini segera dia menjadi kaget.

Rebah diatas tempat duduknya, teriibat dua orang imam dengan muka pucat seperti mayat, kedua matanya mendelik, sinarnya guram.

Dengan berani sipetani menghampirkan, untuk memeriksa nadi orang, Nyata nadi mereka itu masih berdenyut peria han, tandanya mereka masih bernyawa. Rupanya kedua imam itu korban korban totokan jalan darah.

Karena mereka liehay, terang mereka sudah terbokong, tetapi meski demikian, mereka masih sempat menutup diri, dengan begitu mereka tak jadi terbinasa, lantas mereka mendapat ketika menanti pertolonganku.

"Pembokong itu mesti liehay sekali," pikir sipetani, "jikalau tidak. tidak nanti dia berhasil membokong kedua imam jago ini. Tinggal keanehannya, yalah habis menotok membikin ini dua imam tidak berdaya, kenapa dia tidak sekalian mengambil jiwa mereka?" Lantas petani ini berpikir. Dia cerdas sekali.

"Ah, aku mengerti sekarang" katanya dalam hati. ia menduga kepada Shatohuoto, gurunya U-bun Lui. Kalau benar dugaannya ini, terang kedua imam itu menjadi korban kelicikannya ketua Partai Bendera Kuning itu. Untuk membersihkan diri, ketua partai itu dapat menggunai pelbagai alasan, antaranya dia menyuruh Gui Hiocu mengundang

imam-imam dari Khong Tong Pay, supaya mereka ini masuk perangkap dan dengan menyebut-nyebut dua imam tua yang lagi mengasingi diri itu, orang-orang Khong Tong Pay itu dapat saling membunuh."

"Tak sukar untuk menolong sadar kedua imam ini," sipetani berpikir lebih jauh,

"hanya untuk itu dibutuhkan sedikit waktu, sekarang ketiga imam hidung kerbau dari Khong Tong Pay tentu sudah berada dibelakang kuil, baiklah aku urus dulu mereka itu..."

Tengah berpikir itu, petani ini mendengar tindakan kaki, Segera ia menyingkir kesamping kiri dimana ada sebuah pintu, ia tidak mau kena kepergok.

Itulah Ham Kong bertiga Ham ceng dan Ham Im yang sudah tiba dibelakang kuil, Mereka lantas memasang omong, membicarakan tindakan teriebih jauh, untuk masuk kedalam. Justeru itu, dipintu terlihat seorang melesat gesit, Mereka kaget.

Belum mereka dapat menyingkir orang itu sudah tiba tepat didepan mereka. Hingga mereka tercengang.

Orang itu, simuka kuning, lantas tertawa lantang.

"Benar-benar, manusia itu ditempat manakah yang mereka dapat bertemu satu dengan lain" katanya nyaring, "Totiang bertiga datang berkunjung kekuil sunyi ini, apakah maksud totiang? pengajaran apakah totiang hendak berikan padaku?" Habis bicara, orang tani itu tertawa pula, Ham Kong mengawasi tajam, matanya bersinar.

"Seorang imam tak dapat mendusta" ia berkata. "Mungkinkah kuil Sam ceng Koan ini menjadi tempat kediaman kau sie cu?"

Alisnya sipetani terbangun

"Kau ngaco, totiang" katanya: "Apakah sebuah kuil cuma dapat didiami kamu bangsa hidung kerbau? Ada pepatah yang membilang pendeta dan imam dapat tinggal disepuIuh penjuru, selang kami bangsa pengemis, kami dapat berdiam di dua belas penjuru Sudah lima tahun aku tinggal disini, pagi aku pergi, sore aku pulang, selama itu belum pernah ada orang yang mengganggu aku, tetapi hari ini ketiga totiang datang berkunjung, karena- itu aku menyambut kamu, Kenapa totiang sebaliknya omong tak memakai aturan terhadapku?"

Ham Kong dan dua saudaranya terkejut, Mereka pun heran untuk sinarmata tajam orang berpenyakitan ini, Karena mereka mesti saling mengawasi tidak ada satu yang lantas membuka mulutnya.

Jikalau tidak ada pengajaranmu untukku, ketiga totiang," sipetani berkata pula, "Silahkan kamu pulang ke Khong Tong San guna melanjuti pertapaanmu, supaya lain kali janganlah kamu bertemu pula dengan aku, sebab itu bisa mencelakai dirimu kamu"

Ham ceng tidak puas.

"Kau terlalu jumawa, siecu" dia menegur, "Rupanya kau menganggap hidup dan mati kami tergenggam dalam tangan kau" Sipetani sebaliknya tertawa lebar.

"Tempat mondokku ini disekitarnya lima lie, dinamakan Kota Hantu," ia kata, "Disini dilarang orang lain lancang masuk dan keluar jikalau totiang bertiga tidak percaya, suka aku menarik pulang kata kataku, sebaliknya, silahkan kamu mencoba apakah kamu dapat lari keluar lewat lima lie." Ham ceng menjadi sangat gusar. "Apakah sie-cu hendak menahan kami bertiga?" dia tanya, menantang, "Rasanya kau tak dapat"

"Sute" berkata Ham Kong, tertawa, "Sute, sekarang belum tiba waktunya untuk turun tangan. Marilah kita pergi kesebelah depan, untuk memeriksa Setelah itu masih ada ketika nya untuk dia ini menerima binasa"

Kata kata itu diakhiri gerakan tubuh, untuk berlalu dari situ.

Sekonyong-konyong saja, bagaikan kilat, sebelah tangan sipetani menyambar tepat dia berhasil mencekal tangannya Ham ceng dibetulan nadi, Sembari memegang keras, ia berteriak:

"Asal kamu berani lancang bergerak satu tindak saja, itulah berarti kematianmu"

Ham Kong dan Ham In, yang sudah berlompat, menjadi kaget mendengar suara orang itu, ketika mereka menoleh, mereka menjadi teriebih kaget lagi sebab saudara mereka sudah kena ditangkap.

Ham ceng sendiri tidak kurang kagetnya.

Begitu tangannya dipegang sipetani, dia merasai napasnya sesak dan seluruh tubuhnya pada sakit ngilu, hingga tak dapat dia mengangkat kaki lagi. Lainnya gangguan yang segera menyusul yalah kerongkongan kering dan berdahaga, peluh keluar deras, paras muka menjadi gelap.

Oleh karena berkuatir untuk adik seperguruannya itu, Ham Kong berlompat maju sambil mengawasi turun kebutan yang digendol dipunggungnya, sedang tangan kirinya turut menyerang juga.

Ham In juga tidak diam saja, Dia berlompat seraya menyerang dengan pedangnya yang berkilauan mengarah kepala orang. Hebat serangannya dua imam itu.

Segala gerakan berlaku dengan cepat sekali, Selagi Ham Kong menyerang dengan kebutannya, tubuh Ham ceng terlempar kearahnya. Sipetani sudah mengangkat tubuh imam itu, untuk dijadikan sasaran kakaknya. Dia kaget sekali, dengan banyak susah barulah bisa dia menghindarkan adik seperguruannya dari kebutannya itu. Dengan begitu, tubuh siimam tidak ada yang rintang i, maka tubuh itu terlempar setombak lebih, jatuh terbanting keras ditanah dimana dia tak berkutik lagi.

Menyusul itu, Ham In menjerit menyayatkan hati.

Ham Kong kaget, ia mendapatkan saudaranya rebah dengan mata guram dan muka pucat, Terang adik seperguruan itu sudah kena ditotok hingga pingsan, ia menjadi kecil hati, ia tahu, jalan untuknya yalah mengangkat kaki dari depan musuh liehay ini. Tidak ajal lagi, ia berlompat mundur, niat menyingkir.

Sipetani berdiri terpisah kira setombak. Habis merobohkan Ham In,ia mengawasi Ham Kong, ketika ia melihat orang mau lari, ia berlompat mendahului untuk menghadang. Maka diatas genting, kemana imam itu berlompat naik, ia berdiri didepan orang, Sembari tertawa ia kata: "Apakah kau mau pergi dengan tidak menghiraukan lagi mati dan hidupnya kedua adik seperguruanmu itu ? Benarkah kau begini tega hati hendak meninggalkannya ?"

Mukanya Ham Kong menjadi merah, dia malu sekali, Sambil membentak dia menyerang dengan kebutannya dibantu tangan kirinya.

Sipetani berkelit kesamping, lalu meneruskan ia menolak dengan begitu, selain siimam gagal dengan dua-dua penyerangnya, dia pun kena terdorong, membarengi mana, jalan darahnya thian-kie, kena ditotok. hingga dia roboh pingsan tanpa berdaya lagi.

Sipetani tertawa dingin, ia menyamber tubuh imam itu, untuk dikempit, buat dibawa berlompat turun dari genting guna diletaki ditanah, setelah mana, ia masuk kedalam rumah suci itu. Tatkala itu, cepat sekali sang magrib telah tiba, disusul sang malam hingga dilangit tampak bintang mulai muncul.

Petani itu masuk terus kekamarpetani bersamedhi dari kedua imam penghuninya kuil Sam ceng Koan itu. Kamar gelap gulita, maka ia lantas menyalakan api pelita yang terdapat diatas meja, Sekarang ia melihat tegas kedua imam yang masih rebah menggeletak. ia menghela napas.

Tanpa bersangsi, ia menggunai dua tangannya berbareng menekan jaland arah beng bun dari mereka masing-masing ia menyalurkan hawanya menurut ilmu Pou-te Siang- ciang.

Kira semakanan nasi, kedua imam itu mendusin- Lantas keduanya membuka mata mereka. Lantas mereka merasa punggungnya tengah ditekan orang, sebab hawa hangat terasa berjalan dipelbagai jalan darahnya. Mereka tahu bahwa mereka lagi ditolongi.

"Sie-cu, terima kasih atas pertolongan kau ini." berkata yang satu, "Kami berdua, Hui He cu dan Hui Lui cu, sangat bersyukur kepada siecu. Sipetani mengangkat tangannya, terus ia bangun berdiri.

Kedua imam itu juga berlompat bangun, Keduanya menjura, untuk memberi hormat. Mereka menjura dalam. Lagi sekali mereka mengucap terima kasih.

"Menolong sesamanya adalah tugas kita manusia," berkata sipetani. "Aku yang rendah Cia In Gak. tidak berani aku menerima hormat lotiang berdua." Sipetani muka kuning bepenyakitan bicara sambil bersenyum manis.

Kedua imam terperanjat, mereka saling mengawasi Kemudian Hui He cu, dengan roman heran atau bersangsi, berkata: "Pinto dua sudah belasan tahun lamanya hidup menyendiri, tentang kami tidak ada orang lain yang mengetahuinya kecuali seorang sahabat akrab yalah Liang Gi Kiam-kek Cie Tong Peng dari Heng San, yang bisa datang setiap tahun satu kali, bahkan dialah yang mengantari segala keperluan pakaian dan makan dari kami. Siecu tahu, ketika paling belakang sahabatku itu datang menjenguk kami, dia telah memuji kegagahan kau hingga kami jadi sangat ketarik dan kagum, Hanya sahabatku itu melukiskan roman sie-cu beda daripada wajah sie-cu sekarang."

In Gak. sipetani, bersenyum.

"Tidak berani aku menerima pujian dari lotiang berdua orang-orang Khong Tong ter-sohor," ia berkata, merendah, Lalu dengan sebat ia meloloskan topengnya, hingga nampak wajahnya yang tampan-

Kedua imam heran- Lantas Hui He cu menoleh kepada Hui Lui cu, "Benar apa katanya Cie Tong Peng," ia bilang, "Benar benar Cia sie-cu tampan dan gagah ialah naga sakti dijaman dunia keruh ini" Ia lantas berpaling pada sianak muda, meneruskan "Sie-cu, cara bagaimana sie cu ketahui kamilah dari pihak Khong Tong Pay?"

In Gak bersenyum, Bukannya ia menjawab, sebaliknya ia menanyai "Totiang berdua dibokong orang, ingin sekali aku mendengar penjelasannya."

Hui He Cu menghela napas, kelihatan dia malu sekali. "Itulah disebabkan kesalahan kami sendiri," dia menjawab,

"Dulu hari ketika U-bun Lui membangun partainya, dia telah datang mengunjungi kami, Su-teku ini hendak membunuh dia, pinto melarang, Kesudahannya kita membuat perjanjian untuk tidak saling mengganggu."

Hui Lui cu mengerutkan alis, ia turut berkata, "Ketika dulu hari kami usir dari Khong Tong Pay, itu pun sudah terjadi karena suheng bermurah hati, jikalau sie-cu tidak menjadi jemu, nanti aku mengganti suheng memberi keterangan kami, U-bun Lui tidak mengijinkan kami hidup damai dan tenteram disini, dilain pihak dia tidak berani sendirinya mengganggu kami, dari itu dia telah mengundang gurunya, Shatohuoto untuk menyingkirkan kami berdua.

Kami tahu Shatohuoto jago nomor satu dari Barat, kami bersiap sedia untuk melayani dia- Karena kami tidak mau minta bantuan orang luar, kami bersiap sendiri, Setiap hari kami meyakinkan lebih jauh ilmu partai kami, yaitu ilmu tenaga dalam Siauw ceng cin-khe. Kami ingin menyempurnakannya sebelum Shatohuoto tiba.

Karena kesusu, kami pikir cukup asal kami dapat memahamkannya tujuh bagian, Sayang, saking giat berlatih, kami menjadi alpa dalam hal penjagaan diri selagi kami bersamedhi, kami dibokong, jalan darah ceng-cok kami kena ditotok hawa dingin lantas tersalur masuk. sampai kami tidak keburu menutup diri. Syukur kami masih dapat menjaga jantung kami, maka itu kami roboh pingsan dengan harapan nanti ada datang penolong.

Tentu sekali itulah pengharapan karena takdir. Asal lewat lagi dua jam, pastilah tubuh kami akan menjadi beku, yang mana berarti tidak ada harapan lagi. Maka kami bersyukur siecu telah datang menolongi. Rupanya dasar peruntungan, kami tidak mesti hilang jiwa."

In Gak bersenyum.

"Pastikah pembokong ia Shatohuoto?" ia tanya. Hui Lui Cu mengangguk,

In Gak memandang Hui He Cu.

"Totiang, jikalau kamu ingin tahu halnya aku yang rendah ketahui kamulah orang-orang Khong Tong Pay, silahkan kamu pergi keruang belakang kuil ini nanti kamu dapat tahu sendiri," ia menyahut. Kedua imam itu meIengak.

"Mari kita lihat," kata satu diantaranya-Lantas keduanya pergi kebelakang.

In Gak tidak mengikuti.

Tatkala kedua imam itu kembali, sianak muda sudah lenyap. Cuma diatas meja ditinggaikan sehelai surat dalam mana diterangkan karena hendak menolongi satu sahabat, dia mau pergi kesarang oey Kie Pay. ia meninggalkan pesan agar kedua imam menjaga diri baik baik danjangan membocorkan rahasianya ini. Kedua imam berdiam, mereka menyesal sekali. XXX

Markas besar dari oey Kie Pay berkedudukan mengandal pada gunung dan air, letaknya bagus dan juga berbahaya. Disana dibangun banyak perumahan untuk anggauta- anggautanya. Di- waktu malam, seluruh markas sunyi, kecuali bunyinya burung air.

Malam itu kebetulan bintang-bintang sedikit ketika disebelah timurnya, didalam

sebuah rumah batu yang kecil, berduduk dua orang tua dengan pakaiannya abu-abu. Mereka nampak berduka, bicara mereka seperti berbisik.

Diatas meja ada sebuah lilin yang apinya kelak-kelik, sebab lilin itu tinggal sisanya, Asap lilin memain didalam ruang itu.

Merekalah Bin San Jie Tok. Entah apa yang mereka bicarakan sambil berbisik itu. selagi mereka berbicara itu. mendadak kedua daun jendela terpentang sendirinya, angin bersiur masuk. hingga api lilin berkesip.

Keduanya kaget, dengan lantas mereka menyerang kejendela, Mereka menyerang sambil berduduk lurus, itulah Pek- khong- ciang, pukulan Udara Kosong. Serangan itu mendapat sambutan, hingga suara anginnya terdengar keras.

Lalu dari luar jendela terdengar tertawa perlahan disusuli kata-kata ini: "Dua sahabat kekal dari Bin San, kepandaianmu maju pesat sekali. Dapatkah aku yang rendah masuk kedalam kamarmu untuk memasang omong sebentaran?"

Kedua si Racun menjadi kaget, mereka saling mengawasi.

Toa Tok si Hantu tua, Theng Ceng, menanyai "Tuan, kau siapa? Kau, begitu baik hati datang menjenguk kami, mengapa kau tidak mengetuk pintu?"

Tapi, belum lagi berhenti pertanyaannya itu, satu bayangan orang sudah berlompat masuk, hingga dilain saat telah tampak romannya yang bengis menyeramkan. Sebab dia tidak mempunyai alis, dia mirip dengan mayat. Jubahnya yang panjang, yang berwarna hitam, menambah keseramannya itu.

Bin San Jie Tok mengawasi. Mereka merasa belum pernah bertemu dengan orang ini.

Kenapa mereka disebut sahabat akrab? Mereka menjadi heran-orang itu mengawasi, terus dia bersenyum dingin.

"Kedua losu she Theng, mengapa kamu pelupaan sekali?" dia tanya, "Kenapa kamu tidak dapat mengubah diri? Kenapa kamu masih tetap seperti membantu Kaisar Tiu melakukan kejahatan? Apakah kamu tidak takut nanti di tertawai dunia Rimba Persilatan? Sejak perpisahan di Bong San, rasanya itu belum lama, maka sungguh diluar sangkaku, kamu menjadi begini pelupaan?"

Theng ceng dan saudaranya, Theng ciong menjadi kaget. ”Jadinya tuan yalah Cia siauwhiap?" keduanya menegasi,

"Suara siauwhiap kami rasanya kenal, hanya roman kau yang beda sekali hingga karenanya kami menjadi heran dan bingung "

In Gak bersenyum.

"Aku datang kemari dengan mengubah muka-ku, tidak heran kamu tidak mengenali aku," ia memberitahu "Kamu tahu, oey Kie Pay bakal lekas runtuh, mengapa kamu masih terus berdiam disini? Apakah kamu bersedia untuk batu dan kemala musnah bersama?"

Wajahnya dua bersaudara itu menjadi guram. Theng ceng menghela napas, juga saudaranya.

"Cia Siauwhiap." katanya duka, "apakah kau mengira kami rela berdiam disini? Apakah kami ada demikian tak berperi- kemanusiaan gemar menggunai racun kami? Kami bertindak saking terpaksa, karena U-bun Lui telah mempengaruhi kami. "

Lalu si Racun nomor satu ini menuturkan sebab- musababnya mereka terpengaruhkan. Habis dari gunung Bong San pulang ke Bin San, gunungnya, Bin San Jie Tok telah mengambil putusan buat tidak memperdulikan lagi urusan kaum Kang ouw, Mereka ingin tinggal menyendiri dengan aman dan damai sampai dihari terakhir mereka.

Merekalah anak-anak piatu, yang semasa kecilnya bernasib buruk. maka setelah memperoleh kepandaian silat mereka terombang-ambing diantara kelurusan dan kesesatan, lebih miring kepada kesesatan, hingga kesudahannya mereka memperoleh julukannya itu, Bin San Jie Tok. Dua Racun dari gunung Bin San-

Dengan begitu tak heran jikalau mereka mempunyai banyak musuh, Baru setelah insaf akan kejahatannya itu, mereka memikir mengubah kelakuan- Dasar sudah bekas jahat, mereka tak dapat dengan begitu saja membuang nama buruk mereka. Sekarang mereka dibikin masgul oleh musuh- musuh mereka, yang sering datang menyatroni untuk menuntut balas.

Demikian sudah terjadi pada suatu tahun di-tanggal duapuluh-delapan bulan dua belas, selagi gunung dingin tertutup saiju, Ketika itu berdua mereka duduk didalam kamarnya sambil menghadapi jendela, sambil menenggak air kata-kata, guna memuasi mata, buat menyenangi hati.

Mereka demikian asyik sampai mereka tidak tahu munculnya tiga orang, yang mulanya berkelebat bagaikan bayangan. Mereka baru terkejut ketika telinga mereka mendengar tertawa dingin, ketika mereka berpaling, tahu-tahu tenaga yang keras menghajar punggung mereka.

Kontan mereka terluka parah, Masih bagus tenaga dalam mereka kuat sekali, mereka tidak binasa seketika hingga sempat mereka lari keluar dan lompat naik kegenting. Disini Theng ceng hendak menggunai senjata rahasianya yang beracun ketika Theng ciong, adiknya yang mengenali siapa musuh, mencegah dengan menyerukan jangan lo toa jangan kita menjadi menyesal dan tak merasa aman untuk selama- lamanya..." Theng ceng mengawasi. ia lantas kenal penyerangnya itu, yalah anaknya Te Beng Kiat. Beng Kiat itu, jago mulia hati dari Long-se, telah terbinasakan mereka. sebabnya yalah mereka keliru percaya asutan orang.

Hal itu membikin mereka menyesal, ini sebabnya Theng ciong melarang kakaknya membikin perlawanan- Sambil tertawa, Theng ceng berkata: "Lo-in, jie, kita tidak harus melawan, Memang sejak kebinasaan Te Tayhiap. hati kita sudah tidak tenang lagi, terus sampai sekarang ini. Baiklah, mari kita membikin mereka puas"

Jikalau benar kamu menyerah, kamu serahkanlah jiwamu" membentak satu diantara ketiga orang itu. Lantas dia dan dua kawannya menyerang pula, masing-masing dengan dua-dua tangan mereka.

Tubuh Jie Tok terhuyung-huyung, darah menyembur dari mulut mereka, Benar-benar mereka tidak membuat perlawanan.

Disaat ketiga orang itu hendak mengulangi penyerangan mereka, mendadak Jie Tok memperoleh pertolongan di luar dugaannya, Disitu terdengar satu seruan nyaring disusul munculnya seorang yang bertubuh besar dan gesit sekali.

Dengan serangannya penolong itu mengundurkan ketiga penyerang habis mana dia menyamber Jie Tok buat terus dibawa lari.

Jie Tok sudah separuh pingsan, mereka tidak tahu apa-apa, mereka cuma mendengar

suara angin keras, mereka merasa seperti dibawa terbang melayang. Apa yang mereka tahu yalah mereka ada yang tolongi.

Kemudian mereka pingsan, tempo mereka mendusin, mereka mendapat mereka berada didalam sebuah guha, yang luarnya penuh saiju yang sinarnya berkilauan masuk kedalam guna itu, dimulut guha, diatas sebuah batu, mereka melihat seorang lagi duduk bercokol, orang mana bermuka persegi, telinganya besar hidungnya hidung singa, mulutnya, mulut harimau, dan sepasang matanya sangat tajam. Dia itu mengawasi, apabila dia tahu orang sadar, dia tertawa.

"Apakah kamu merasa tubuhmu baikan, saudara-saudara?" dia bertanya, "tadi ditempat kamu, aku mendengar kamu menyesal dan bersedia untuk mengorbankan diri, aku menjadi kagum sekali. Sukar dicari orang berhati lapang sebagai kamu, maka aku, U-bun Lui, aku girang sekali..."

Bin San Jie Tok heran. Dengan mendengar nama orang, tahulah mereka siapa penolong ini. Dialah Pat Pie Kim-hong ketua dari oey Kie Pay, yang kesohor ditiga propinsi Kangsouw, Anhui dan ouwpak, dimana tadinya dia menjadi seorang penjahat besar dalam Rimba Hijau, Mereka heran U- bun Lui justru datang ke Bin San tepat selagi mereka terancam bahaya maut.

"Hanyalah..." U-bun Lui meneruskan kata-katanya, "aku menganggap kamu kurang sadar dan kurang cerdas Dalam hidupnya manusia, tidak ada yang luput dari kekeliruan atau kesalahan, dari itu, sebenarnya cukuplah asal orang insaf dan kemudian mengubah cara hidupnya. Bukankah dapat mengubah perbuatan paling bagus? Karena itu, kenapakah itu mesti ditebus dengan kebinasaan?"

Bin San Jie Tok menganggap kata-kata itu tidak tepat, akan tetapi karena mereka sudah ditolongi, sebagai orang yang berbudi mereka tidak mau membantah, mereka mengganda tertawa sedih saja.

"Mungkin kata-kataku ini tak sedap di-dengarnya" kata U- bun Lui pula tertawa. "Tapi kejadian sudah berlalu, tak dapat itu ditarik pulang, Sekarang mari kita bicarakan urusanku Saudara-saudara, aku datang kepada kamu dengan niat minta pertolonganmu buat menolongi seorang sahabatku. Dia.."

Belum habis orang bicara, Theng ceng sudah memotong katanya: "U-bun pangcu telah menolongi kami, budimu itu sangat besar dan buat itu kami sangat berterima kasih hingga sudah selayaknya kami membalas budi hanya mengenai diri kami, ingin kami memberi penjelasan- Kami berdua sudah mengangkat sumpah bahwa kami tidak dapat mencampuri lagi urusan Kang ouw, dari itu kami lebih dulu mohon dimaafkan apabila kami terpaksa tak dapat meluluskan permintaan pangcu... "

U-bun Lui tertawa.

"Aku U-bun Lui, belum pernah aku memaksa orang" Dia berkata, "Maka itu saudara-saudara, jangan kamu kuatir." ia lantas mengasi keluar dua butir pel merah sembari menunjuki itu, dia berkata, "inilah pel istimewa buatan guruku, khasiatnya dapat menghidup orang yang sudah menutupi mata, silahkan kamu makan, nanti kamu bebas dari cacad seumur hidupmu."

Bin San Jie Tok tengah bersyukur tetapi mereka bersangsi, mereka menjadi bersusah hati, maka mereka saling mengawasi.

Menampak demikian, ketua oey Kie Pay bersenyum.

Jangan kamu kuatir." ia berkata, "U-bun Lui pasti tidak akan memaksa kamu untuk menagih pembalasan budi, Kamu tenangin diri kamu, sekarang juga aku mau pergi."

Dua saudara itu menjadi malu hati, mereka menyambuti obat dan terus makan itu. Lebih dulu mereka menghaturkan pula terima kasih mereka.

U-bun Lui benar benar lantas memutar tubuh untuk bertindak keluar, hanya berjalan diluar baru tiga atau empat tombak dia berpaling pealahan dan berkata, "Aku lupa membilang in tuan-tuan berdua, sahabatku itu yang aku hendak tolongi lagi menderita keracunan, ketika aku bicara dengannya, aku menyebut kamu sebagai sahabat sahabat akrab dari aku, karena mana, aku telah minta aku menyampaikan hormatnya kepada kamu..."

Habis berkata, dia memutar pula tubuhnya untuk berjalan pergi.

Jie Tok heran, Lalu Theng ciong memanggil "U-bun Pangcu, tunggu dulu siapakah itu sahabat Pangcu? Dapatkah pangcu memberitahukan she dan namanya?" Pat Pie Kim-kong menghentikan tindakan-nya, ia berpaling pula.

"Dialah Kok Lok San Sin Eng Kat Ek." sahutnya, itulah Kat Ek si Rajawali Sakti -Sin Eng - dari gunung Kok Lok San- Romannya Jie Tok berubah, agaknya mereka kaget.

"Kami tidak ketahui itulah saudara Kat," kata Theng Ceng. "Baiklah, suka kami turut Pangcu pergi padanya."

U-bun Lui bersenyum.

”Jikalau saudara-saudara sudi membantu sendiri, itulah bagus sekali." ia berkata, "Hanya ingin aku menjelaskan Kat Ek itu terlukakan racunnya Pekpou Kie Hun Tong Tay, dia sekarang tinggalnya napasnya empas-empis, maka kalau saudara-saudara suka pergi, tolong kamu membawa segala apa yang perlu, supaya dia dapat segera ditolongi. Sebegitu jauh pemeriksaanku, aku tidak tahu Kat Ek terluka racun apa, maka aku percaya melainkan kamulah yang dapat menyembuhkannya. Mari kita berjalan bersama"

Bin San Jie Tok tidak menduga orang main gila, Mereka lantas bangun berdiri sambil berlompat, Mareka tidak merasakan sakit apa apa Maka mereka mengajak ketua oey Kie Pay itu kerumah mereka untuk mengangkut semua obatnya, yang dijadikan dua buntalan, habis mana bertiga mereka berangkat ke In Bong Tek.

"Apakah kamu telah bertemu dengan Kat E k?" In Gak bertanya, memotong. "Kami dapat menemui dia telah menutup mata, kami melihat dia telah dikubur.."

Bin San Jie Tok bersenyum getir. Theng ceng adalah yang menjawab itu, Nampak tegas air muka mereka guram.

"Setelah itu seharusnya kamu pulang kegunung kamu.." kata pula In Gak.

Matanya Theng ceng memain, lalu menjadi terlebih guram pula, ia menghela napas lama, Terang ia sangat berduka dan menyesal dan penasaran juga.

"Pantaslah jikalau kau menegur kami, siauwhiap." katanya, "lni yang disebut sekali salah tindak lantas menyesal seumur hidup hingga untuk memperbaikinya perlu tempo lagi seratus tahun.“

In Gak heran-

"Kenapa begitu ?" ia tanya.

"Setelah Kat E k mati, tidak ada perlunya kami berdiam lebih lama pula di In Bong Tek," kata Toa Tok, "Maka itu kami lantas memohon diri dari U-bun Lui, Lantas U-bun Lui menjelaskan kepada kami halnya Kat E k itu, bahwa katanya mereka bermusuh dengan pihak Tong untuk mana telah dijanjikan pertemuan dimarkas oey Kie Pay pada malaman Goan-siauw, Pihak Tong, katanya akan datang bersama rombongannya yang semuanya orang lihay. U-bun Lui berkata, lantaran dia ketahui sumpah kami, dia tidak mau memaksa minta bantuan kami sebaliknya dia minta suka kami membagi resep obat racun yang tak ada warna dan rasanya, untuk menghabiskan musuh she Tong itu. Katanya supaya racun musuh itu tidak mencelakai anggauta-anggauta partai ber-salah-dosa, supaya Kat Ek pun mati meram.

Kami meluluskan permintaan itu, kami memberikan surat obatnya begitupun surat obat pemusnahnya, Tengah kami menulis itu, tiba-tiba U-bun Lui menotok kami hingga kami lantas pingsan-.." Dia tertawa meringis, dia menunjuk saudaranya, terus dia menambahkan: "Setelah kami sadar, kami bercacad pada kedua kaki kami, Bukankah siauwhiap lihat kami tetap duduk saja? Apakah siauwhiap tidak menegur kami untuk kelakuan kami tidak hormat ini?"

In Gak memang telah melihat orang terus duduk bercongkol, ia menyangka karena sudah berusia lanjut, mereka itu sungkan berbangkit tidak disangka mereka sebenarnya orang-orang tapa daksa, ia menjadi tidak senang.

Theng Ceng berkata pula, melanjuti: "Kami sudah berusia lanjut kalau kami mati, kami tidak mati muda-muda. sebenarnya kami sudah memikir untuk membunuh diri saja, tetapi kami penasaran sebab obat racun kami itu terjatuh ditangan orang jahat, sebab itu dapat mendatangkan kecelakaan kepada bukan sedikit manusia, dari itu kami terus mencuri hidup, kami masih mengharap mendapat pulang resep kami itu untuk dimusnahkan terutama untuk dapat membinasakan U-bun Lui.

cuma dia sendiri yang ketahui rahasianya obat itu, jikalau U-bun Lui tidak terbinasakan maka kami berdua, sampai dilain dunia juga kami tentu bakal terbenam didalam neraka, tak nanti kami dapat menitis pula.." Theng ciong menangis, air matanya mengalir turun.

In Gak mendongkol, ketika ia hendak menghiburkan dua orang itu" mendadak ia berkata periahan: "Ada orang datang.." dan ia terus lompat kepojokan untuk menyembunyikan diri. Kesitu cahaya lilin tak sampai.

Bin San Jie Tok heran- Mereka tidak mendengar suara apa- apa kecuali rumput tertiup angin serta kerak-keroknya sang kodok. Tapi karena In Gak mengatakan demikian, keduanya lantas duduk berdiam, seperti lagi bersemadhi.

Hanya sedetik, diluar terdengar suara orang batuk. lantas daun pintu terbuka sedikit, terus terlihat satu orang nyeplos masuk.

Dengan perlahan dia bertindak menghampirkan kedua si Racun dari Bin san itu. Dialah seorang dengan kumis janggut panjang sampai dipusar, romannya gagah, sepasang matanya tajam berpengaruh.

Selagi menghampirkan itu, dia tertawa, Nyata tertawa itu tertawa buatan, tertawa palsu, Tertawa itu pula mendahulukan kata-katanya, Siapa mendegar itu, pasti hatinya mendeluh. Baru kemudian terdengar dia berkata: "Dua saudara Theng, persahabatan kita bukan persahabatan baru, maka itu tak tega aku mengawasi saja kamu terpaksa secara begini. Bukankah manusia itu tak hidup sampai lebih

daripada seratus tahun ? Bukankah sang tempo lewat seperti satu sentilan saja ? oleh karena itu, kenapakah kamu masih berkeras kepala ? pula ada pepatah yang membilang siapa kenal gelagat dialah si orang gagah-perkasa..."

Theng ciong tidak menanti sampai orang bicara habis dengan alisnya berkerut dia berkata: "Saudara Leng Hui, sesuatu orang ada cita-citanya sendiri, maka itu tak usahlah orang main paksa"

Leng Hui itu, yang bergelar song-bun Kiam-kek. jago Pedang Berkabung, terhitung sebagai orang Rimba persilatan nomor satu dari pihak Kiong Lay Pay. Sejak dia muncul, In Gak telah memperhatikannya, memasang mata terhadapnya.

Leng Hui tertawa dan berkata pula: "Tuan-tuan, aku minta kamu jangan salah mengerti ? Dengan sebenarnya aku siorang she Leng bermaksud baik hati, Racunmu sudah terjatuh kedalam tangannya U-bun Lui, racun itu sangat membahayakan meski demikian, baiklah kamu bekerja sama dengannya, menanti ketikanya yang baik untuk mendapatkan pulang. Dunia ini luas sekali, ditempat mana yang orang tak dapat memernahkan dirinya."

Bin San Jie Tok heran, keduanya tercengang. "Kebaikan kau ini, saudara Leng, kami terima dengan

segala senang hati," kata Theng ceng kemudian "Hanya dengan kata-katamu ini, apakah kau tidak kuatir mereka nanti mencelakakan kau?"

Theng Ceng menanya demikian karena ia curiga Leng Hui ini diutus U-bun Lui, jadi ia hendak mencoba hati orang.

Leng Hui mengasi lihat roman muram, disinar lilin, dia nampak semakin menyeramkan-Dia tertawa dingin.

"Saudara-saudara, ada pepatah yang mem- bilang, bicara dengan orang cukup dengan tiga bahagian saja, jangan semuanya diutarakan," ia berkata, "maka itu mengenai kamu ini, kiranya sudah cukup aku berbicara, Apakah kamu tidak merasa, semua benda yang ada padamu yalah racun belaka racun yang sangat ber-bahaya? Dan semua racun kamu itu sudah diambil U bun Lui jikalau racun itu dipergunakan terhadap musuh, bukan main ancaman bencananya... Biar bagaimana, racun itu yalah racun kamu... Saudara-saudara, Leng Hui sudah bicara, rupa rupanya kata-kataku sampah belaka, dari itu tak usahlah kita men-sia siakan waktu."

Habis berkata begitu orang she Leng itu memutar tubuh, untuk bertindak keluar.

Theng Ceng tertawa perlahan dan berkata:

”Jikalau kau pun bukan dipaksa U bun Lui, mustahil kau datang pada kami ? Lagi pula kami sudah bercacad, walaupun kami menghendaki tenaga kami sudah tidak ada, dari itu percuma kita bicara."

Leng Hui sudah sampai didekat pintu ketika ia mendengar suara itu, segera ia memutar tubuhnya, ia tertawa menyeringai dan kata: "Baiklah Leng Hui beritahukan kamu maksudnya dia datang ke In Bong Tek ini. Kami telah mendengar halnya satu anak muda yang luar biasa, Katanya pemuda luar biasa itu membanggakan dirinya sebagai ahli pedang nomor satu dan dia pun memusuhkan oey Kie Pay. Aku datang untuk menguji dia. Tidak demikian, sudah sedari lama aku pergi dari sini Mana dapat U-bun Lui pengaruhkan aku ?"

Baru berhenti suaranya song-bun Kiamkhek. maka dari luar pintu terdengar ini suara dingin: "Leng Hui, jangan omong besar Pangcu sudah ketahui hatimu serong, maka itu telah menotok jalan darah sam-im ditubuhmu. Kau tahu, jikalau kau mengangkat kaki dari sini, belum sampai seratus lie, kau bakal terbakar sendirinya oleh apa yang - dinamakan api imhwe, cuma dengan makan obat setiap hari tiga kali, kau dapat buat sementara waktu menghalau penderitaanmu pangcu pun ingin melihat pasti sifatmu, maka kau masih tetap dikasih tinggal hidup sampai sekarang ini.

Nyatanya kau berpikir lain dan sekarang kau membujuki kedua locianpwe she Theng ini untuk bekerja sama, guna memberontak. Hm Leng Hui, saat kematianmu sudah sampai, kau masih belum tahu"

Suara itu seram dan sangat tak enak masuk ditelinga, Leng Hui kaget hingga mukanya menjadi pucat sekali dan peluhnya mengucur deras, tubuhnya pun menggigil. Tapi cuma sejenak, begitu suara itu berhenti, begitu terdengar suara tertahan, disusul dengan suara robohnya tubuh orang.

Sesaat itu, dari ketakutan, Leng Hui menjadi girang, Dia lantas lari keluar.

Bin San Jie Tok diam saja sekian lama, tapi mereka melihat dibelakang Leng Hui itu, In Gak dalam penyamaran turut lari keluar, cepatnya luar biasa, hingga mereka menjadi kagum.

Setibanya Leng Hui diluar, ia melihat seorang rebah ditanah, Tanpa memikir lagi, siapa yang menolongi dia merobohkan orang itu, didorong niatnya menyingkirkan bukti atau saksi, ia angkat dan kempit tubuh orang itu, buat dibawa lari kearah jurang.

Markas besar oey Kie Pay yalah tempat yang terjaga rapat dan kuat, akan tetapi sebagai orang dalam, Leng Hui kenal baik seluruhnya, maka itu, ia berlari-lari tanpa rintangan- Ia selalu mencari jalan tanpa perangkap ataupenjaga, ia tidak tahu, ketika In Gak datang, semua penjagaan telah dilumpuhkan-Karena itu ia seperti berjalan ditempat di mana tidak ada orang lain-

Angin malam bertiup halus, sang rembulan tergantung ditengah-tengah langit, In Bong Tek nampak terang sekali, hingga terlihatjelas juga dua orang berlari-lari, satu didepan, satu lagi dibelakang, terpisah cukup jauh satu dari lainnya hingga yang didepan tak tahu ada orang yang menguntitnya.

Sampai di lereng gunung Leng Hui menggenjot tubuh untuk berlompat naik, untuk berlari lari terus, ia baru berhenti setibanya ia ditepijurang, kapan ia melongok kebawah, ia melihat hanya air telaga beserta hutan gelaganya lagi tertiup angin malam hingga daun dan cabangnya berombak sebagai gelombang.

Cuma bersangsi sebentar, lantas ia lemparkan orang dalam kempitannya itu, hingga terdengar suara air menjubar keras, itulah jalan untuk melenyapkan bukti

Baru sekarang setelah hatinya lega, Song-bun Kiam-kek memikirkan siapa penolongnya dan kenapa sekian lama ia berlari-lari ia tidak kepergok orang oey Kie Pay. itulah aneh.

Sia-sia belaka ia menduga-duga, ia berdiri diam dengan menggendong tangan, matanya mengawasi sang mega lalu nampak ia berduka puLa-

ooooo

BAB 31

SEKARANG Song bun Kiam-kek bersusah hati lantaran memikirkan kesehatannya, atau lebih benar jiwanya, lantaran ia tidak berdaya untuk membebaskan diri dari totokan pada jalan darah sam-im. saking berduka, ia menghela napas panjang.

Mendadak saja dari belakangnya jago ini terdengar suara tertawa dingin, Dia kaget dukanya lantas menjadi pucat, Tidak ayal lagi ia berlompat kesamping, setelah mana dia berbalik sembari terus melakukan penyerangan dengan sebelah tangannya, dengan tenaga sembilan bagian-

Itulah pukulan hebat, Tetapi pukulan itu tidak memberi hasil. orang yang diserang itu, yang tadi terdengar tertawanya jang dingin, berdiri menghadapi dia dengan tubuh tak bergeming. ialah seorang pemuda dengan baju panjang warna hitam, romannya bengis, Dia heran hatinya cemas.

Anak muda itu mengawasi dengan sikap dingin, matanya sangat berpengaruh.

"Kau siapa, tuan?" akhirnya Leng Hui tanya, suaranya dalam, Dia menenangkan diri sebisanya, "Kita tidak kenal satu dengan lain, mengapa tuan mengambil tempat dibela kang ku, seperti tuan hendak mencari gara-gara ? Aku minta kau suka lekas mengundurkan diri, jikalau tidak. jangan kau katakan aku telengas"

Anak muda itu tertawa dingin, "Aku tidak nyana sekali Song-bun Kiam-kek sebenarnya seorang tidak berbudi" kata- nya. "Kalau tadi aku tidak menolongi kau, niscaya kau sudah terbinasa ditangannya U-bun Lui, mana dapat kau mementang mulut lebar begini"

Leng Hui mundur setindak. Dia terkejut, Jadinya tuanlah membinasakan ong Thian Hok?" dia tanya, suaranya menyatakan kesangsiannya.

"Mana aku tahu dia ong Thian Hok atau bukan?" sahut pemuda itu. "Untuk membinasakan seorang bandit tak usahlah kita membuang-buang tempo dengan menanyakan dulu she dan namanya. Binasakan saja, habis perkara"

Leng Hui berdiam, matanya mengawasi Suara orang itu berpengaruh, dapat membuat orang

"Bukankah kau hendak mencari aku ?" tanya pula si anak muda, "Akulah yang punya Kang ouw menyebutnya si pemuda aneh" Kaget Leng Hui sampai ia berteriak ia lantas menatap.

Sungguh, ia tidak menduga, orang yang disohorkan demikian rupa sekarang berdiri didepannya.

Ketika itu angin malam meniup tajam tubuhnya, ia merasakan perih.

Sesudah mengawasi sekian lama, selama mana ia pun dapat menenteramkan hati, akhirnya Song- bun Kiam-kek tertawa, ia berkata: "Aku si orang she Leng adalah seorang jujur maka hendak aku menjelaskan, apa yang telah aku ucapkan melainkan kata-kata karena kekagumanku, jadi sebenarnya bukan aku ingin mencoba coba kau, tuan Sekarang inijusteru tuan telah menolong, aku hendak aku membalas budimu yang besar, Tuan, aku bersumpah bersedia kau memerintahkan aku sebanyak sepuluh tahun.”

Agaknya si anak muda heran, ia berkata: "Akulah seorang Kang ouw tak ternama, Leng it Losu sebaliknya orang kenamaan Rimba Persilatan, mana dapat aku membudakkan losu? Aku minta janganlah losu berkata begini..."

Belum berhenti perkataan si anak muda, Song bun Kiam- kek sudah memotong: "Aku sudah bersumpah, tidak nanti aku menyesal karenanya jikalau Leng Hui berbuat bertentangan antara hati dan rnututnya, biarlah dia nanti terbinasa diujung laksaan anak panah"

Anak muda itu tercengang. ia masgul, ia lagi berpikir bagaimana harus bersikap kepada orang ini, tiba-tiba ia ingat apa apa, Maka ia berkata dalam hatinya: ”Satu tahun sudah aku merantau, aku masih belum memperoleh hasil, sebaliknya aku terlibat asmara, hingga rasanya sulit untuk aku bertindak jalan, sampai sukar untuk aku menguasai diriku. selagi sakit hati ayahku belum terlampiaskan mana dapat aku membangun rumah tangga? Baru-baru ini Lui Siauw Thian membilangi aku, pengeroyokan atas diri ayahku mungkin dipelopori orang Kiong Lay Pay, justeru Leng Hui ini salah satu jago partai itu, barangkali dia tahu sesuatu."

Maka ia lantas bersenyum dan berkata:

”Jikalau demikian losu, baiklah, suka aku menerima kebaikan kau ini, akan tetapi paling baik ialah kita menjadi sahabat satu dengan lain...stt orang Oey Kie Pay mendatangi" mendadak ia bersuara di hidung dan berkata dingin.

Leng Hui lantas mengangkat kepalanya, memandang kearah rimba, ia benar melihat beberapa bayangan orang lagi mendatangi, Lantas ia berkata: "Tuan, coba kau menyingkir dulu ketempat gelap. nanti aku si orang she Leng yang melayani mereka itu" Sianak muda menggeleng kepala.

"Tak usah." sahutnya, "mari coba aku pinjam pedang losu" Leng Hui meloloskan pedangnya dari punggungnya. Sianak muda menyambuti cepat, lantas ia lari menghamburkan beberapa bayangan itu, hingga mereka segera datang dekat satu dengan lain. Beberapa orang itu heran, mau mereka menegur, akan tetapi mereka lantas diserang, belum mereka tahu apa-apa, batang leher mereka sudah tertabas kutung, darah mereka muncrat

Leng Hui tidak menyembunyikan diri, dia malah menyusul anak muda itu, maka dia dapat menyaksikan apa yang terjadi. Dia menjadi heran dan terkejut. Sungguh hebat pemandangan itu, Benar-benar luar biasa ilmu silat sianak muda, yang menggeraki pedangnya bagaikan kilat menyamber-nyamber, sedang tubuhnya sangat lincah. cuma sekejapan, beberapa orang oey Kie Pay itu itu telah roboh semua.

"Syukur aku tidak main gila terhadapnya." pikirnya.

Sianak muda sudah lantas membayar pulang pedang orang ia berkata: "Leng Losu, mari kita bereskan beberapa mayat ini, kita mesti lekas pergi ketempatnya Bin San Jie Tok"

Leng Hui menurut, Maka cepat sekali semua mayat dilemparkan keselokan, setelah mana, mereka pun lantas lari seperti terbang.

Pada kira jam empat hampir fajar, ketika si Puteri Malam sudah doyong kearah barat, selagi angin dingin bertiup halus, maka dari dalam rumah batu terlihat berlompat keluarnya empat bayangan yang hitam, yang terus berlari lari cepat sekali kearah selatan-

Itulah Koay ciu Sie-seng Cia In Gak, yang telah menunjuki kepandaiannya, hingga ia berhasil menotok bebas pada Bin San Jie Tok, begitu pun jalan darah sam-im dari Leng Hui.

Hingga orang itu dapat pulang kesebatannya seperti sediakala, lantaran mana mereka jadi dapat turut si anak muda.

Leng Hui ketahui tempat di kurungnya Tonghong Giok Kun ialah yang mengajak sianak muda dan kedua Racun dari Bin San guna menolongi orang she Tonghong itu. Tonghong Giok Kun menyesal ketika habis pertempuran di Ya Ap Thoa itu menyaksikan Cia In Gak pergi meninggalkannya dengan menghilang dimalam yang gelap. lalu Kang Yauw Hong mengajak Lo siang Bwe pergi menyusul pemuda itu. ia menderita sampai ia hampir pingsan, sampai hampir ia tidak dapat bertahan, ia sebenarnya mengharap ia diajak nona-nona itu.

Selagi ia bersengsara hati itu, Kiang cong Yauw muncul dari tempat gelap terus menanya padanya, "Sute, bagaimana sekarang? Kemana kita mesti pergi?"

"Aku sudah sebal mengenai penghidupan merantau ini," sahut Giok Kun menyeringai "Aku pikir buat pulang ke Ngo Bie San untuk menjadi pendeta saja, untuk melewati hari dengan senantiasa menemani kitab suci..."

Cong Yauw tidak menyangka kawan itu menjadi demikian tawar hatinya, ia heran, ia mengawasi kawan itu. Kemudian ia melihat ke-sekitarnya.

"Mana kedua sumoay Kang dan Lo ?" ia tanya. ia tidak melihat melihat kedua nona itu. "Siapa yang tahu tentang mereka ?" sahut Giok Kun tawar, nadanya campur penasaran-

Cong Yauw melengak, Tapi sekarang ia mengerti ia belum tahu jelas toh ia dapat menduga. Mestinya itu urusan Lo Siang Bwe, ia menjadi masgul, karena tak tahu ia bagaimana harus menghibur.

"Sute," katanya, "aku berjanji dengan satu orang untuk bertemu di Yan khia, baiklah kau menemani aku dalam perjalanan ke kota raja, nanti sepulangnya baru kita kembali ke Ngo Bie San- Bagaimana?"

Tonghong Giok Kun mengangguk secara sembarangan, lantas saja ia membuka tindakan lebar menuju ke utara. cong Yauw masgul. "Entah bagaimana hebat pukulan yang diderita Tonghong Sute," katanya dalam hati. Lantas ia bertindak mengikuti adik seperguruan itu.

Ketika cuaca telah menjadi terang, awan abu-abu warnanya dan angin santer dan dingin. salju yang bertumpuk masih belum lumer, Maka suasana itu tak mirlp- miripnya dengan suasana musim semi.

Dua anak muda itu berlari- lari disepanjang tepi sungai, satu dengan lain mereka tidak berbicara, Tonghong Giok Kun terus diliputi kedukaan, hatinya tetapi tawar, ia polos, ia menyinta sangat Siang Bwe, siapa tahu sikap si nona membuatnya bersusah hati.

Tengah mereka berlari, selagi Cong Yauw memperhatikan kawannya itu, Mendadak ia melihat sesuatu yang bercahaya merah berkelebat disebelah depan mereka, "Sute, lihat" serunya.

Tonghong Giok Kun mengangkat kepala, ia lantas melihat seorang nona dengan pakaian merah tiba didepannya. Nona itu cantik dan manis, kulitnya putih bersih dan halus, matanya celi. Dia lantas memandangi Giok Kun dengan mengimplang

Hanya sejenak. nona itu tertawa dan berkata: "Siangkong, aku numpang menanya, apakah siangkong tahu jalanan untuk ke Ya Ap Thoa?"

"Tidak?" menjawab Giok Kun, acuh tak acuh.

Kiang cong Yauw heran, ia bertindak maju, "Untuk apa kau hendak pergi ke Ya Ap Thoa, nona?" ia menanya, tertawa, "Aku tahu jalanan untuk kesana."

Nona baju merah itu mendelik kepada orang yang bicara dengannya itu. "Nona mu tidak menanya kau" kata nya, ketawa. "Buat apakah kau menjawab aku"

Cong Yauw tidak gusar, hanya didalam hati ia tertawa dan kata: "Suteku ini tampan dan polos, tidak heran jikalau kau ketarik terhadap-nya, maka sayang sute sendiri berpikir lain, dia telah mempunyai cita-citanya sendiri dengan begitu sia-sia belaka perhatianmu"

Nona itu menoleh kepada Tonghong Giok Kun dan menatap.

"Eh, bagaimanakah kau?" tanyanya, "Nona- mu tidak mengganggu kau bukan? Kenapa sikapmu kaku sekali?"

Giok Kun likat, ia pun merasa si nona manis sekali. Akhimya ia paksakan tersenyum.

"Ya Ap Thoa terletak empat puluh lie di timur kota chongciu," katanya, "asal tanya orang, orang tentu membilangnya. Maafkan aku, karena ada urusan penting, perlu aku lekas-lekas melanjuti perjalananku Sampai bertemu pula" ia lantas menoleh pada Cong Yauw, untuk mengajak: "suheng, mari kita pergi" ia terus membuka tindakannya.

"Tahan" Mendadak sinona berseru.

Giok Kun heran, hingga ia melengak. Lalu sepasang alisnya bangun berdiri. "Nona, kau mau apakah?" ia tanya dingin.

"Baru saji aku ingat akan kata-katamu," berkata nona itu, tertawa, Kalau barusan suaranya berpengaruh sekarang sikapnya manis pula, "Kamu ketahui jelas tentang Ya Ap Thoa, rupanya kamu baru saja datang dari sana, bukankah?"

"Memang" Giok Kun menjawab terus-terang, "Kami berdua datang dari Ya Ap Thoa sana, Mungkinkah nona mau pergi kesana untuk menemui Pat-pou Kan siam Honghu Siong?"

Sujen sinona memain, ketika ia tertawa, dingin tertawanya, ia kata: "Nonamu orang Kun Lun Pay, buat apa aku cari segala manusia bangsa hantu itu?"

Selagi si nona berkata-kata itu, Kiang cong Yauw mendengar tindakan kaki samar-samar dari arah belakang, ia lantas berpaling maka itu ia melihat lari mendatanginya empat orang bertubuh besar yang pakaiannya hitam dan singsat.

cepat larinya mereka itu, sebentar saja mereka sudah sampai, lantas didepan sinona mereka menjura. Yang satu, yang mukanya merah dan alisnya gompyok. berkata: "Melaporkan-..."

Alisnya sinona terbangun, tangannya terus mengibas. "Kalau ada bicara, mari biar dekat" kata-nya. "Apakah kau

takut orang lain mendengarnya ?"

orang itu mengerti, ia lantas menghampir-kan sampai dekat sekali untuk membisik. Sinar mata si nona nampak aneh lalu dia tertawa menggiurkan-"Aku tahu" bilangnya, "Disini tidak ada apa-apa lagi, Mari kita pulang"

Kata-kata itu diakhirkan si nona dengan tubuhnya mendadak mencelat kedepan Tong-hong Giok Kun seraya dua jari tangannya di-luncurkan, demikian cepat, hingga jalan darah sianak muda lantas kena ditotok. Kembali dia menyerukan "Tangkap"

Tonghong Giok Kun tidak menyangka sama sekali, ia menjadi korban- Lantaran totokan itu tubuhnya terhuyung kebelakang karena segera ia merasakan kepalanya pusing dan matanya kabur, ia lantas disamber sicrang bermuka merah, untuk dikempit, buat terus dibawa lari.

Semua itu beriaku dengan sangat cepat.

Kiang cong Yauw heran dan kaget, tetapi ia masih berlompat, kepada si orang muka merah untuk menolong kawannya.

Sinona melihat gerakan orang tiba-tiba ia menyerang. ia melayangkan sebelah

tangan-nya.

Cong Yauw lagi melompat, kakinya tengah tak menginjak tanah, maka itu kena tertolak, hingga ia terhuyung,

"Nona, apakah maksudmu ini?" ia tegur nona itu.

Selagi orang menegur, sinona mengibas kepada empat orang itu,

Itulah isyarat, maka itu empat orang lantas lari kabur. Kiang cong Yauw menjadi sangat gusar, ia terus menyerang.

Sinona berkelit sambil berlompat kira setombak ia tertawa terkekeh.

"Hai telah kau ketahui bahwa nonamu ini yalah Ang Hong Nio-cu dari oey Kie Pay" ia perkenalkan diri. ”Jikalau kau hendak menolong sutemu itu silahkan kau pergi kemarkas besar kami"

Kata-kata itu diakhiri bareng dengan mencelatnya pula tubuhnya, hingga dilain saat ia sudah memisahkan diri tiga tombak lebih.

Cong Yauw gusar bukan main, ia pun berkuatir untuk adik seperguruannya. Segera ia menyusul, ia mengeluarkan kepandaiannya ilmu ringan tubuh Ngo Bie Pay. walaupun demikian, sulit ia menyandak, berselang dua jam, sinona dan rombongannya itu sudah lenyap dipuncak gunung yang bersalju, sedang kaki mereka itu memberi tapak yang bercerai berai keempat penjuru, ia menjadi bingung, ia tahu tentulah sinona sengaja membikin ia tak tahu mesti mengejar kemana.

"Menyesal aku mengajak sute pergi ke-Yan-khia, kalau tidak nanti dia dirampas

orang..." pikirnya, berduka, Hanya sekarang ini, percuma ia menyesal. oleh karena ia sendiri tidak berdaya, ia lantas pikir tak ada jalan lainnya untuknya kecuali pergi terus ke Yankhia, guna mencari kawan, buat minta pertolongan ia tidak terlalu menguatirkan keselamatannya Giok Kun sebab terang si nona baju merah mencintai pemuda itu.

Demikian berangkatlah ia ke Yan-khia, sementara itu Tonghong Giok Kun sudah berada dalam kurungannya Ang Hong Nio cu, terkurung dalam kamar yang indah dengan pembaringan yang mewah.

Sebagai pelayannya budak wanita yang cantik, yang pun pandai ilmu silat. ia telah ditotok bebas hingga ia sadar, akan tetapi disamping itu ia ditotok di-tujuh otot lunaknya hingga ia menjadi lemas tak berdaya, hingga percuma saja ia mengerti ilmu silat, tak ada tenaganya untuk menggali hal itu.

Setiap hari tentu tentu sibaju merah menemui sianak  muda, untuk mengajak mengobrol ia senantiasa omong  manis, dengan samar-samar ia mengutarakan cintanya kepada pemuda itu. Tonghong Giok Kun tidak menghiraukan-nya, karena dia telah mempunyai nona yang dicintainya, Dia terus bersikap dingin.

Ang Hong Nio-cu terus bersikap manis, ia seperti tidak mengenal bosen, Lama-lama Giok Kun merasa nona itu mirlp dengan nona remaja yang terhormat, lalu berobah sedikit sikapnya, dia menjadi suka juga melayani bicara, kadang- kadang sambil tertawa.

Selama itu tidak pernah mereka bicara di-luar garis.

Hanyalah,biar bagai mana, si pemuda tak pernah omong perihal asmara.

Pernah dengan diam-diam Tonghong Giok Kun menanya kedua pelayannya tentang si-nona baju merah, yang menyebut dirinya Ang Hong Nio-cu, si Tawon Merah, maka tahulah ia, si nona she Ho, bahwa nona itu bernasib buruk.

Dengan U-bun Lui dia berasal satu rumah perguruan Meski dia memperoleh julukannya itu, dia tetap putih bersih, terhadap lain orang, sikapnya dingin bagaikan es maka juga pernah dia mengambil putusan untuk tidak menikah seumur hidupnya, buat hidup, - sebagai pendeta wanita..."

Demikianlah, di itu malam yang Cia In Gak memasuki markas besar oey Kie Pay, Ang Hong Nio-cu telah datang kekamarnya Tonghong Giok Kun kepada siapa dia mengutarakan niatnya untuk meninggalkan kalangan yang sesat itu, bahwa asal ia telah memperoleh ketetapan untuk hidupnya, ia suka lantas mengangkat kaki. Mendengar itu, Tonghong Giok Kun menghela napas.

"Manusia itu bukannya kayu atau batu, tak dapat dia tidak mencinta," ia berkata. "hanya sayang sekali, aku ada mempunyai kesulitan yang sukar untuk aku mengutarakan- nya, hingga aku telah mengambil putusan buat mencukur gundul rambut kepalaku, buat aku masuk menjadi pendeta, supaya selanjutnya aku hidup menemani kitab-kitab suci saja. Nona, aku menyesal mesti menyia-nyiakan kepercayaanmu atas diriku..."

Ang Hong Nio cu mengasi lihat roman berduka campur penasaran, sinar matanya tajam lalu sayup-sayup, ketika ia berkata, ia tertawa, suaranya sedih: "Aku tahu didalam hatimu sudah ada lain orang maka juga kau mengajukan alasanmu ini, supaya kau dapat membikin padam hatiku. Akan tetapi aku tahu di-jaman dulu ada puterinya Kaisar Giauw, ialah Go Hong, yang bersama sama Lie Eng, telah menikah Kaisar Sun Go Hong menjadi permaisuri Lie Eng menjadi selir, Bukankah kau menampik aku begini rupa? Mungkinkah ini disebabkan romanku yang tak sembabat?"

Lantas nona itu menangis dengan sedih, Giok Kun menjadi serba salah, mulutnya berkelemak-kelemik mengeluarkan suara tak tegas: menerima salah, tak menerima salah juga.

Mukanya yang tampan pun menjadi merah.

Ang Hong Nio-cu menanti sekian lama tanpa memperoleh jawaban, akhirnya ia bangun berdiri untuk tertawa dan berkata dengan dingin: "Seorang anak perempuan, kenapakah dia mesti merendahkan dirinya begini rupa? Karena kau tidak dapat menerima aku buat apa aku hidup didalam dunia ini."

Lantas merogo kedalam sakunya, untuk mengeluarkan sebuah pisau belati, sembari mengawasi sipemuda dan mukanya bersenyum sedih, ia terus menikam dadanya.

Tonghong Giok Kun kaget bukan kepalang. "Nona, jangan..." ia berseru.

Berbareng dengan itu pisau belati si nona terlepas dari tangannya, jatuh kelantai lauw-teng, sedang baju didadanya telah robek dan dari dadanya itu darah mengucur keluar. Menyusul itu satu bayangan orang lompat masuk dari jendela hingga lantas terlihat dialah seorang pemuda dengan baju panjang hitam dan romannya dingin. Melihat orang muda itu, Tonghong Giok Kun menyeringai sedih. "Siauw-hiap. bagus kau datang..." kata-nya. 

"Cukup, saudara Tonghong, tak usah kau menyebutkannya lagi, aku telah ketahui semua," berkata si anak muda. "Benar katanya nona ini, kau janganlah menampik secara keterlaluan. Tidak ada halangannya jikalau kamu menelad Go Hong dan Lie Eng"

Ketika si nona pertama kali melihat pemuda dengan baju hitam itu, ia merasa muak, ia sudah lantas menutup dadanya dan siap akan menyerang akan tetapi setelah mendengar perkataan orang lain lagi kesannya, rasa muaknya lenyap separuhnya, ia terus memandang Tonghong Giok Kun.

Pemuda she Tonghong itu nampak bingung, ia menghela napas dan berkata: "Selama hidupku ini, aku sumpah tidak hendak berumah-tangga maka itu aku harap kau tidak memaksa...

In Gak sianak muda berjubah hitam itu tertawa.

"Saudara Tonghong, aku mengerti kau," ia berkata, "Dalam hal kita baiklah diberi penjelasan- orang ksatrya tak nanti merampas hati lain orang dan aku ini orang macam apa, saudara tentunya telah mengetahuinya dengan baik.

Dibanding dengan kau, saudara aku jauh lebih hebat didalam urusan asmara maka itu aku harap kau mengerti aku. Kau budiman, saudara kau pasti dapat memaafkan aku." Ia lantas menarik Giok Kun, untuk dibisikan.

Ang Hong Nio-cu tidak ketahui apa yang orang bicarakan, hatinya bimbang, ia berduka dan cemas, ia pun heran kepada pemuda itu, yang wajahnya seperti mayat dapat masuk ke- dalam markas besar oey Kie Pay tanpa rintangan, ia terus mengawasi mereka itu, sinar matanya guram. Tapi karena itu ia dapat melihat parasnya Giok Kun bersemu merah tandanya jengah.

Lalu terdengar pemuda she Tonghong itu, perlahan: "Kalau begitu, belum tentu Nona Lo telah mengubah pikirannya, Hanya bagaimana dapat aku membuka mulutku?"

In Gak lantas berkata sungguh-sungguh: "Aku meraba tubuh nona itu saking terpaksa untuk menolong dia. jikalau aku bermaksud buruk. apakah bedanya aku dengan binatang? Kalau orang luar mungkin dia tidak tahu duduknya hal.

Memang, kalau benar duduknya hal sekalipun air sungai Hong Ho tak dapat mencuci bersih maluku..."

Ia terus menoleh kepada Ang Hong Nio-cu, untuk berkata sambil bersenyum: "Nona Ho silahkan kau bersama saudara Tonghong meninggalkan tempat yang buruk dan berbahaya, yang bakal segera berubah menjadi neraka. Semoga kamu bertiga hidup beruntung dan berbahagia"

Hanya dalam sejenak itu, hati si nona menjadi sangat lega, hingga ia dapat bersenyum manis.

"Tuan, apakah tuan si pemuda aneh yang muncul di Ciu Ke chung?" ia tanya.

Ditanya begitu, In Gak tertawa, ia tidak menjawab, hanya menoleh kepada Tonghong Giok Kun, ia berkata: "Silahkan kamu berdua berlalu dengan cepat dari sini Saudara Tonghong, tolong kau sampaikan kepada mereka itu bahwa aku hendak pergi ke Barat untuk masuk kepropinsi Su-coan guna menjenguk kuburan ibuku, setelah mana aku mau pergi ke Utara untuk menyambangi guruku. .Markas besar oey Kie Pay ini, rintangannya di bagian timur dan utara telah terusakkan, disana tidak ada bahaya apa-apa lagi, maka kamu berdua dapat mengambil jalan dari sana tanpa kekuatiran apa juga."

Mendengar itu mendadak si nona berdiri tegak. "Tonghong Siauw hiap mari kita pergi " dia mengajak. Tonghong Giok Kun tahu si nona sudah berkeputusan meninggalkan oey Kie Pay yang mana pun berarti dia menentang partai serta kakaknya, ia menjadi terharu dan jengah sendirinya.

"Nona Ho," ia berkata perlahan, "kau belum membebaskan totokanmu mana dapat aku berjalan?"

Nona itu tertawa geli dengan mendadak ia meluncurkan tangannya dengan sebat ia menotok tujuh buah ototnya si anak muda setelah mana ia terus menyamber lengan orang sambil ia berseru: "mari"

Maka terlihatlah keduanya lompat keluar jendela.

In Gak mengawasi sampai mereka lenyap di tempat gelap. lantas ia diam berpikir, kemudian sendirinya ia berkata-kata tak tegas, akan akhirnya ia pun berlompat pergi, untuk menghilang di suatu pojokan yang gelap. Tak lama, maka empat orang berkumpul pula. "Theng Losu, apakah kamu sudah selesai?" In Gak tanya.

"Sudah." menyahut Theng ceng, "Semua obat yang kita butuhkan sudah kita dapat pulang, yang selebihnya kita biarkam saja sebab kalau itu dipakai mereka secara sembarangan cuma-cuma itu akan membahayakan diri mereka sendiri." ia hening sejenak lantas ia meneruskan:

"Sampai pada waktu ini, mereka itu masih belum kumpul semua, Diantara mereka, kita melihat Tong Tay, kelihatannya dia hormat sekali- Pula kita melihal ditelaga ada banyak mayat orang "

"Sekarang, sam-wie." In Gak mengajak Bin San Jie Tak dan Song-bun Kiam kek, "mari kita pergi keruang himpunan mereka itu."

Kata-kata itu diikuti dengan bergerak tubuhnya, ia tidak mau menjelaskan apa apa.

Ketiga kawan itu heran, sampai mereka melengak dan saling mengawasi, akan tetapi tanpa ayal, mereka mengikuti. Diluar ruang sidang, mereka sembunyi didepan jendela di bagian yang gelap. Semua peronda atau penjaga oey Kie Pay telah dirobohkan Bin San Jie Tok dengan racunnya yang lihay. Dengan leluasa mereka dapat memandang keruang sidang itu.

Sama sekali telah diatur tiga buah meja semua hadirin duduk dikursinya masing-masing, mendengarln U-bun Lui bicara. Di kursi pertama terlihat seorang pendeta yang bertubuh besar yang mengenakan jubah merah.

Dia bermata sangat tajam, Dialah Shatohuoto, pendeta memedi dari Se Hek. Wilayah Barat. In Gak memperhatikan Pek-pou Kie Hun Tong Tay, ahli racun dari Su-coan.

Habis U-bun Lui bicara, menyusul beberapa yang lain, Umumnya mereka merencanakan tindakan atau daya-upaya untuk menghadapi pelbagai partai musuh pihak lurus.

Setelah tiga idaran arak, orang berbicara dan tertawa dengan gembira sekali, itu waktu Tong Tay berbangkit dengan cawan arak di-tangannya, ia tertawa dan berkata: "Malam ini Tong Tay menampak wajah semua hadirin girangku bukan main Aku merasa sangat beruntung Sebagai tanda hormat dari aku, aku minta sukalah sekalian locianpwe mengeringi cawan masing-masing"

"Aku ingin melihat, bagaimana Tong Tay si beracun menggunai akalnya," kata In Gak perlahan-

Bin San Jie Tok mengawasi si anak rnuda, mereka heran- Tak dapat mereka menangkap maksud kata-kata kawan ini.

--ooo0dw0ooo--
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Menuntut Balas Jilid 28 : Membebaskan Dua ahli racun dari Bin-san"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close