Menuntut Balas Jilid 24 : Bu Tong Pay menghadapi bahaya

Mode Malam
Jilid 24 : Bu Tong Pay menghadapi bahaya

"LANTAS siauwhiap menggoda pula, kalanya baik dia belajar lagi tiga tahun, nanti ia sendiri akan berkunjung ke gunung Im San guna menerima pengajaran-.. Poan Poan Siu benar jumawa, Dia menerima baik janji itu, lantas dia mengajak lima muridnya mengangkat kaki"

"Poan Poan Siu sudah pergi, baik" kata Siang Bwe. "Habis siapa itu yang merobohkan Honghu Siong dengan panah berapi warna biru itu?"

"Itulah aku", Siang Lok menjawab, bersenyum, "Panah biru itu, namanya Lan lin Mo cian, asalnya kepunyaan murid kepala Poan Poan Siu. Dengan itu dia menghajar aku, terus aku menyimpannya, aku tidak sangka di sini aku dapat menggunakan menolongi Hoan Siauw coan."

"Sungguh totiang berhati mulia" Yauw Hong memuji, "Hoan Siauw coan telah mengejek totiang, masih lotiang membalas dia dengan kebaikan, Dalam dunia Kang ouw tak terdapat banyak orang seperti totiang"

Siang Lok bermuka merah tetapi ia tertawa.

"Hoan siuw Coan memang jumawa tetapi dialah orang lurus, dari itu tak dapat aku tidak menolongnya," sahutnya.

Baru imam ini menutup mulutnya atau orang terlihat berlompat masuk. cepat seperti terbang.

Siang Lok dan kedua nona melengak. Segera mereka melihat Pe Bie Su Hoan Siauw Coan berdiri didepan mereka, romannya jengah, sedang baju panjangnya robek bekas suatu pertempuaran hebat.

"Siang Koancu, harap maafkan kejumawaanku yang telah menjadi seperti sipatku" dia berkata malu-malu. “Jikalau aku tidak mendengar kata-kata koancu ini, tentulah aku terus tidak mengetahui duduknya hal"

Siang Lok berbangkit ia menghampirkan untuk jabat tangan orang.

"Itulah perkara kecil, jangan dibuat pikiran" katanya tertawa, "Kenapa Hoan LoSu ketahui aku berada disini?"

Siauw Coan kelihatan bersyukur sekali, ia menjawab: "Tahun dulu aku bentrok dengan Tok pie Hong In Kay disebabkan kata-kata yang tak cocok. lalu aku terhajar tiga batang jarum Coa Bwe cian yang beracun karena mana selama tiga bulan aku mesti rebah diatas pembaringan- Kemudian karena perantaraannya Tek Thung Siu Ang Hong, tiang lo dari partai Pengemis, Tok-pie Hong In Kay datang sendiri padaku umuk menghaturkan maaf.

Dia sebenarnya malu, dia merasa sangat terhina, Demikian di Ya Ap Thoa itu, dia menyembunyikan diri, dia mencegat aku disaat aku hendak berlalu sesudah urusan beres. Dia memaksa aku menghaturkan maaf sambil bertekuk lutut, untuk mencuci malunya itu. Dalam usiaku ini, mana dapat aku menerima baik perintahnya itu? Maka aku melawannya, tetapi aku tidak sanggup mengalahkan dia, terpaksa aku menyingkirkan diri sampai disini. Aku bersahabat kekal dengan Tio Tayhiap. aku menebaikan muka datang kemari untuk memohon bantuan-.."

Siauw Coan belum bicara habis ketika dari luar rumah terdengar suara tertawa disusul dengan berlompat masuknya satu orang dengan tubuh kurus dan rambut riap riapan-

Dia beroman baik, cuma kulit mukanya muram dan sikapnya dingin, sedang kedua sinar matanya sangat tajam, pakaiannya yang ratusan tambalannya, kotor dan berminyak, sementara tangan kirinya terus bergerak-gerak. Dialah Tok-pie Hong In Kay si pengemis luar biasa, yang berlengan satu.

Sepasang alis putih dari Siauw Coan berbangkit Dia tertawa dingin.

"Pengemis bertangan satu jangan kau keterlaluan- katanya bengis, "Cara bagaimana kau berani lancang memasuki gedungnya Chong ciu Tayhiap? ingatlah kau dapat roboh dengan namamu turut runtuh sekalian”

Pengemis itu tertawa dingin juga.

"Aku si pengemis tua biasa pergi dan datang seorang diri, aku tidak kenal takut atau pantangan- katanya terkebur, "Siapa itu Cong-cu Tayhiap? Kenapa dia tidak keluar menemui aku"

Cong-ciu Tayhiap, jago dari Cong-ciu, yalah Tio Kong Kiu,

Ketika itu Giam Hok muncul bersama beberapa busu, mereka dapat mendengar kata-kata jumawa itu, Seorang busu menjadi tidak senang, dia berlompat maju seraya menyerang dengan goloknya.

Pengemis itu tertawa, tangannya bergerak. jari-jari tangannya menyamber golok untuk ditangkap. Segera terdengar suara barang patah. Aneh, ditangannya itu lantas terlihat serupa senjata, yang terlepas dan jatuh ketanah, Habis itu dia merangsak pula, untuk menotok jalan darah Ceng-ciok dari busu itu. Si busu kaget, dia lompat mundur, Tapi dia disusul terus. Hoan Siauw Coan bersama Siang Lo meluncurkan tangan mereka masing-masing guna merintangi pengemis yang galak itu, dengan begitu terjadilah bentrokan diantara mereka bertiga, yang masing masing terpental mundur dua tindak.

Kok-pie Hong In Kay tertawa nyaring, ke dua matanya mengawasi tajam.

Siang Lok tertawa lebar, Lantas dia menegur: "Pengemis bertangan satu, apakah kau tidak takut melanggar aturan partai kamu?"

Pengemis itu tetap tertawa dingin.

"Dulu hari itu tidak selayaknya aku menggunakan jarum rahasiaku" bilangnya. "sekarang aku menggunakan kepandaianku yang asli, dari itu aku takut apa?"

Siang Lok hendak bicara pula tetapi ia didului kedua nona, sambil berlompat mereka ini melesat maju kedepan, Yauw Hong berkata nyaring "cin-jin baiklah jangan adu lidah dengannya, Biarkan aku mencoba kegagahannya pengemis ini Didalam gedung keluarga Tio.

mana dapat dia diantapkan ber-jumawa tidak keruan?"

Pengemis itu tidak takut, lagi lagi dia ter-tawa.

"Cong-ciu Tayhiap Tio Kong Kiu" dia berkata, "dimataku dia mirip sampah Nona kau mengangkat Tio Kong Kiu terlalu tinggi"

Ia mengeluarkan sebatang seruling bambu, ia menambahkan sama dinginnya: "Nona, asal kau dapat melayani sipengemis tua lebih daripada dua-puluh jurus, segera aku akan mengangkat kaki dari sini dan permusuhanku dengan Hoan Siauw Coan akan aku habisi juga"

Yauw Hong mendongkol hingga mukanya menjadi merah, ia lantas maju lebih jauh sambil memutar pedangnya .

"Ha, kiranya murid Ngo Bie Pay" kata sipengemis mengejek. " Dengan kepandaian begini macam kau berani mencabut kumis harimau?" Pengemis ini dikatakan jumawa tetapi dia benar liehay sekali, selagi dia berkata-kata itu, tubuhnya sudah bergerak, laksana kilat, untuk berkelit kekiri, sedang seruling kayu ditangan kanannya dipakai menangkis, maka bentroklah pedang dengan seruling itu. 

Atas itu Yauw Hong merasakan tenaga menolak yang keras sekali, pedangnya pun mental hingga ia kaget bukan main- Syukur ia masih dapat mencekal keras pedangnya itu, yang ia lantas menarik pulang, untuk dipakai mengulangi serangannya. Kaget tinggal kaget tetapi ia tidak takut.

Tok-pie Hong In Kay membuat perlawanan-

Dalam tempo yang cepat dia sudah balas menyerang tiga kali, hingga Hian ie Liong-lie Kang Yauw Hong terpaksa mesti mengambil sikap membela diri, kalau ilmu pedangnya, Hoei Yan Kiam hoat, si Walet Terbang, tidak liehay, pasti ia sudah terlukakan pengemis jumawa itu.

Siang Lok tajam matanya, ia mendapat tahu, meski si-nona liehay, dia tidak bakal dapat bertahan lama dari Hong In Kay yang menang latihan-

Begitulah habis jurus yang ke-delapan belas, Hong In Kay menyerang pula sambil berseru. kali ini seruling bambunya meluncur dengan tipu silat, "Bianglala panjang menutupi matahari", serulingnya nyusup diantara pedang si nona, untuk meneruskan serangannya dengan tipu "Ular berbisa mencari liangnya", hingga ujung seruling mengarah jalan darah leng- tiong dibuah susu.

Siang Lok berteriak: "Tokpie Kay, tak takutkah kau mampus?" Suara itu menggeledek.

Hong in Kay, yang dipanggil "Tok Pie Kay" atau pengemis tangan satu, menjadi terkejut, lantas dia berlompat keluar kalangan, matanya mengawasi bengis si Imam, untuk meregur: "Apakah maksudnya kata-katamu ini?" Siang Lok tertawa dingin, pula suaranya ketika ia berkata: "Aku tidak percaya kau tidak takuti hukuman, kaulah yang mencabut sendiri tujuh helai ototmu Benar-benarkah kau tidak ketahui apa hubungannya Tio Tayhiap serta kedua nona ini dengan partaimu?"

Pengemis itu heran hingga dengan melongo ia mengawasi Yauw Hong.

Yauw Hong berdiam, ia mesti meluruskan napasnya.

Barusan hebat ia menangkis serangan dahsyat dari pengemis itu. ia mengerti maksudnya perkataan Siang Lok itu, sendirinya mukanya menjadi merah.

Lo Siang Bwee turut jengah sendirinya.

Hong in Kay mengawasi kedua nona itu ia tetap heran Akhirnya, dalam kesangsian, ia berkata: "Aku tahu hukuman membetot otot sendiri itu. itulah aturan Partaiku untuk anggauta yang melakukan kesalahan bisar, yulah yang sebawahan berkurang ajar terhadap seatasannya. Taruh kata benar Tio Kong Kioe dan kedua wanita ini ada hubungannya dengan Partaiku, tetapi kecuali tiang lo dan ketua kami, tidak ada lain orang yang derajatnya lebih atas daripada derajatku Kenapa aku mesti menjalankan hukuman istimewa itu?"

Tiga tahun Hong In Kay dikurung, setelah bebas, ia tidak tahu banyak peristiwa diluaran, ia cuma langsung pergi kemarkas Siong Yang Pay mencari tahu halnya PeBieSiu si Alis Putih, Maka itu ia terus mengawasi si-imam. ia tertawa dingin, lantas ia berkata pula:

"Hidung kerbau, jikalau kau bicara, mesti kau bicara biar jelas jikalau kau berani permainkan aku sipengemis tua, kapan waktunya telah tiba, kau juga sukar lolos dari tanganku"

Siang Lok bersikap tenang, dia bahkan bersenyum. "Tahukah kau bahwa Tio Tayhiap yalah mertua dari tiang-lo

kamu yang nomor empat?" dia tanya, "Tahukah kau bahwa kedua nona ini juga tunangannya tiang-lo kamu yang nomor empat itu." Mendengar itu, merah mukanya Yauw Hong dan Siang Bwe. Lekas-lekas mereka tunduk. Itulah sebab Siang Lok menyebut-nyebut "tiang-lo nomor empat", yalah su-tianglo dari KayPang, partai Pengemis.

Tapi Hong in Kay menjadi gusar.

"Su-tianglo kami toh sudah menutup mata semenjak lama" dia berseru, "Taruh kata dia masih hidup, dia mestinya sudah berusia tinggi sekali Dari mana dia mendapat isteri? Imam hidung kerbau, apakah kau kira aku sipengemis dapat dipermainkan?" Saking mendongkolnya, ia menyerang imam itu. Siang Lok berkelit sambil mundur.

"Tahan- ia membentak "Aku mau tanya kau: Kau telah dihukum selama tiga tahun, apakah kau ketahui segala peristiwa Partaimu selama tiga tahun itu?"

Hong in Kay melongo, dia terpaksa bungkam. Siang Lok tertawa dingin pula.

"Memang su-tianglo dari Kay Pang telah menutup mata" ia kata, bengis, "tetapi ia telah mewariskan Cie-tang Sin Llong Say Houw Leng. Lencana itu telah diberikan ketiga tianglo kepada satu orang lain Bukankah orang itu pantas terhitung sebagai su-tianglo? Kau bilanglah"

Hong In Kay berpikir keras, otaknya bagaikan jungkir- balik- Matanya pun turut berputar hingga ia merasa kabur. Didalam hatinya ia mengeluh: "Hebat sihidung kerbau ini bicara dari hal yang benar, Teranglah sudah aku telah melakukan pelanggaran tidak menghormati tertua-ku.

Bagaimana sekarang? Tapi tak dapat aku segera mengakui kesalahanku ini, nanti dibelakang hari aku tidak mempunyai alasan lagi untuk menyangkal. "

Maka ia tertawa lebar, ia berkata nyaring- "Imam hidung kerbau, tak dapat kau permainkan aku sipengemis Dapatkah kau mengaco-belo? Aturan kami yalah kami mengenali orang Laginya kamu mesti ketahui, aku sipengemis bukannya mencari kamu aku mencari si orang ahe Hoan" Habis berkata begitu, pengemis jumawa itu borlompat untuk menerkam Hoan Siauw Coan, dia telah mengerahkan tenaganya hingga terdengar tulang-tulangnya meretek. Lima jari tangannya terbuka mirip lima buah gaetan. Terjangannya itu juga terjangan tipu silat "Burung elang menyamber kelinci."

Hoan Siauw Coan terkejut, sebenarnya ia jeri, tetapi ia terpaksa, maka ia pun mengerahkan tenaganya, untuk menyambut serangan dengan tipu-siiat Tay Siong Yang Kioe Cioe jurus "Tok Hing hoan coe," yaitu "Menahan penglari untuk menukar tiang", Hanyalah belum lagi tangan mereka kedua, pihak beradu mendadak si pengemis bertangan satu mengeluarkan suara menahan napas, tubuhnya terpental mundur sampai diluar ruang, roboh terkulai diatas saiju.Sampai sekian lama dia tak dapat berkutik.

Siang Lok semua rerperanjat. Apakah telah terjadi? siapakah yang menyerang pengemis itu?

Tapi tak usah lama mereka terbenam dalam keheranannya, Mendadak mereka melihat satu bayangan berkelebat, lalu orangnya muncul Dialah ssorang yang usianya sudah lanjut, didada-nya bermain-main kumis-jenggotnya yang panjang. Dia lantas berdiri didepan sipengemis bertangan satu itu.

Hong In Kay sendiri rebah disaiju dengan bingung. Tiba- tiba ia merasakan serangan, terus tubuhnya terpental ia mendapat kenyataan tenaganya habis dan tenggorokannya terasa amis-itulah disebabkan ia mengeluarkan darah, melainkan darah itu tidak sampai mengalir keluar dari mulutnya. ia menahan sekuatnya bisa, ia merapatkan matanya, untuk bersemedhi, guna memulihkan napasnya serta jalan darahnya juga.

Ketika kemudian ia membuka matanya, ia melihat orang yang berdiri didepannya itu. ia tidak lantas mengenali, ia cuma rasanya ingat ia mengenalinya. Tempo ia melihat kedua kakinya, ia kaget tidak terkira, mukanya menjadipucat dengan tiba-tiba. ia lantas mencoba bergerak. untuk berlutut didepan orang tua itu. ia pun lantas berkata: "Tecu Sek Siu menghadap kepada Cong Tianglo jikalau tecu bersalah tecu bersedia dihukum menurut aturan Kay Pang kami."

Memang orang itu Kiu Cie Sin Kay Cong Sie. ia lantas mengasi lihat roman angker, sambil mengurut- urut kumisnya, ia kata dengan suara dalam: "Tak berani aku sekarang ini kaulah orang Kang ouw Tidak berani aku situa lancang mengatakan kau sudah melanggar suatu aturan Partai kami"

Mukanya Hong In Kay menjadi terlebih pucat, peluhnya lantas membasahkanjidatnya. ia berdiam tetapi hatinya guncang keras saking takutnya.

Pihak keluarga Tio sudah lantas mengenali orang tua itu, bahkan Giam Hok segera menghampirkan, untuk memberi hormat dan menyapa, katanya: "Chong Lotianglo, sudah lama kita tidak bertemu semoga Lotianglo baik-baik saja Majikan ku ingin menemui Lotianglo, sayang ia tidak dapat, hingga ia cuma memikirkan saja tak hentinya..."

Chong Sie bersenyum, ia mengangguk.

"Majikanmu itu hilang ditengah jalan, sia-sia belaka aku situa mencarinya, aku menubruk tempat kosong di sana-sini Apakah sekarang ia sudah pulang ?" tanyanya ramah. Giam Hok berdiri hormat kedua tangannya diluncurkan turun-

"Majikanku masih belum kembali," sahutnya.

Chong sie mengangguk. Baru sekarang ia memandang Hong In Kay, ia sebenarnya hendak menegur sebawahan itu tetapi Siang Lok sudah menghampirkan padanya seraya dia memberi hormat dan berkata: "Chong Tianglo, aku si tua yalah Siang Lok dari kuil Kim Cia Koan dari gunung Im San Sudah lama aku mengagumi Tianglo, baru sekarang berkesempatan menemuinya Kau benar mirip dengan gunung Tay San atau Bintang Utara..."

Pengemis itu bersenyum.

"Siang Koancu, kau terlalu merendah" katanya, sabar, "Mana dapat aku si tua menerima kehormatan kau ini ?" Siang Lok merendah pula, terus ia melirik ke-arah Hong In Kay. ia tertawa ia kata perlahan: "Tuan ini tidak bermusuh denganku, peristiwa ini terjadi lantaran kedua pihak sama- sama bertabiat keras, itu artinya bahwa aku juga bersalah, Maka itu aku minta Tianglo jangan menegur dia."

Mendengar perkataan itu, Hong In Kay tertarik hatinya, ia berterima kasih.

Chong Sie benar tidak mau berlaku keras, tetapi ia kata nyaring: "Lekas bangun Kenapa kau tidak mau menghaturkan terima kasih kepada koancu ?"

Hong In Kay berbangkit agaknya dia likat.

Siang Lok tidak ingin membikin orang mendapat malu, ia menarik tangannya Hoan Siauw Coan, buat bersama sama menghampirkanpengemis itu, guna lebih dulu menghaturkan maaf. Dilain saat, semua orang sudah duduk menghadapi barang hidangan.

Sembari bersantap Chong Sie menanyakan halnya in Gak. tetapi tidak ada seorang juga yang dapat menerangkan jelas ia menggabungi semua keterangan laju ia mengambil kesimpulan, Karena ini, ia menggeleng-geleng kepala.

"Adiks angkatku itu seorang luar biasa," ia berkata, "ia gagah dan pintar, tetapi walaupun demikian, seperti kata pribahasa, air penuh berarti luber, kepandaian tinggi menimbulkan kedengkian, demikian juga dapat terjadi atas dirinya. Dalam hidupnya manusia, dalam sepuluh, delapan atau sembilan bagian adalah kejadian-kejadian yang di-luar kehendak kita, maka itu, pantas kalau ia menjadi tawar hatinya, ia telah melepaskan Ubun Lui, Honghu Siong dan Poan Poan Siu, semua itu pasti disebabkan kegagalannya dalam urusan asmara, hingga mungkin ia headak menyingkir dari dunia Kang ouw." Selagi berkata, diam-diam pengemis itu melirik Yauw Hong Siang Bwee. Dengan sendirinya kedua nona merah muka-nya, mereka malu dan jengah.

Chong Sie menghela napas, ia berkata pula : "Soal asmara itu entah telah menjerumuskan berapa banyak muda-mudi, tetapi mengenai adik angkatku itu, aku berani tanggung dialah bukan seorang yang tak bertanggung jawab. Dia sangat membenci kejahatan, tetapi hatinya sebenarnya mulia.

Mungkin ada sebabnya kenapa sekarang ia membawa sikap yang aneh ini jikalau ada sesuatu kesulitan, haruslah kedua belah pihak saling mengerti dan mengalah."

Kata-kata ini diucapkan Kiu ciu Sin Kay sebab ia membade hatinya kedua nona itu, maka samar-samar ia memberi peringatannya itu kepada mereka.

Kemudian si pengemis tertawa lebar dan berkata lagi: "Pat- pie Kimkong oe-bun Lui pintar dan besar cita citanya, pat-pou Kam sian Honghu Siong licin dan licik, dan Poan poan Siu jahat dan telengas sekali, maka itu mustahillah mereka bertiga mati hati semudah itu, Aku kuatir sekali dibelakang hari, bencana bukannya berkurang hanya akan bertambah "

Suara itu mendapat timpalan yang nadanya dingin dari luar jendela: "Tidak salah Terkaan kau tepat sekali "

Chong Sie bertelinga terang dan bermata awas, ia tidak mengasi kentara apa-apa atas suara itu, hanva tubuhnya tahu-tahu sudah lompat keluar jendela, Setelah itu barulah Hoog in Kay semua berlompat menyusul.

Diluar bayangan manusia pun tidak ada hanya terasa hawa dingin dan terlihat cabang-cabang pohon gundul bergoyang- goyang sedikit chong Sie menjadi kagum sekali untuk kegesitannya orang yang mengasi dengar sambutannya itu.

Mendadak Hong In Kay bersuara "Hm" sambil tangannya terayun ke arah payon ruang besar, Sebagai kesudahan dari itu terdengarlah satu jeritan, dan terlihatlah robohnya sebuah tubuh, jatuh ke tanah berlumpur hingga lumpurnya muncrat. Disana tubuh itu bergulingan kedua tangannya menutupi mata kirinya, Masih dia menjerit kesakitan Dari sela-sela jari tangannya pun terlihat darah mengalir.

"Setan cilik" kata Hong In Kay sengit "Bagaimana kau berani main gila disini? Bagaimana kau rasai jarum Coa-bwe- ciam ?"

Orang itu kesakitan tetapi dia dapat menggunai otaknya, Rupanya dia menjadi nekad. Dengan menahan sakit dia berlompat bangun dengan bengis dia mengawasi si pengemis. Lalu mendadak dia berseru, sebelah tangannya dipakai menghajar ke arah batok kepalanya sendiri

Hong In Kay bermata celi dan sebat, dia mengulur tangannya menyambar tangan orang itu, guna mencegah orang membunuh diri.

"Sahabat, untuk binasa tidaklah susah " ia kata sama bengisnya, "Tapi aku si pengemis tua hendak menanyakan kau sesuatu. Kaujawablah baik-baik, nanti aku menyempurnakan niatmu "

Orang itu merasakan sakit sekali, hampir pikirannya kacau Sudah begitu, dicekal keras tangan kanannya, dia merasakan sakit lainnya Tangannya itu menjadi sakit dan ngilu. Tapi dia beradat keras sekali, dia menjerit, terus dia pingsan-"Cis" Hong ln Kay berludah. "Manusia sampah, kau sangat menjemukan-.."

Belum terhenti suara pengemis ini, tiba-tiba terdengar suara apa apa di mulutnya orang tangkapan itu, atau di lain saat dia benar-benar putus nyawanya.

Kiu Cie Sin Kay mengerutkan alis melihat Hong in Kay lancang menyerang dengan jarum beracunnya itu.

"Sek Siu, bagaimana ?" ia menegur "Kau lupa-kah kata- kataku ?"

Pengemis itu melengak. hatinya berpikir "Di-muka umum ini kita kena di roboh kan, orang yang tersangkut sudah kabur, kenapa aku turun tangan atas manusia tak-berguna ini?" Maka dengan menyesal ia mengawasi mayat didepannya itu.

Tepat di itu waktu dari tempat sejauh sepuluh tombak di mana ada sebuah pengempang, di bawah sebuah pohon cemara, terdengar tertawa yang nyaring, yang di susuli kata kata ini : “pengemis tua, kau membade salah, Aku si orang tua belum pergi jauh Sayang kau, yang kehilangan sebelah lengan salah mencari musuh kau Racun dibayar dengan racun, maka kaum beracun tak nanti melepaskan kau ?"

Kedua matanya chong Sie bersinar, tubuhnya berputar tangannya menyerang ke tempat dari mana suara itu datang. Kelihatan pohon itu terhajar angin keras, tetapi di sana tak terlihat manusia atau bayangannya sekalipun Maka bangunlah rambut dan kumisnya ingin ia menyerang pula.

Dari bawah pohon itu tiba-tiba terdengar pula suara tertawa serta kata-kata ini: "Masih ada waktu hari untuk sampai pada harian aku si orang tua melepaskan pantangan membunuhi chong Sie, kau sudah membikin bercacad anggauta-anggauta tubuhnya empat muridku, maka sekarang ini sekalian saja aku memberi warta kepadamu bahwa aku si orang tua akan menantikan datangmu ke- markas oey Kie  Pay, di gunung in Bong San di-propinsi ouwpak, guna kita membereskan hutang itu Atau kalau tidak- kamu kaum Kay Pang, kamu bakal merupakan tumpukan mayat-mayat. Sampai itu waktu jangan kau menyesatkan aku kejam "

Suara itu tajam dan dapat menciutkan orang yang berhati kecil.

"Siapa kau sebenarnya ?" chong Sie membentak. "Akulah Mo cuncia dari Tiang Pek san" menyahut suara

menggiriskan itu.

"Baiklah" kata Chong Sie tertawa dingin. " Didalam tempo setengah bulan tentulah aku si-pengemis tua nanti berkunjung ke In Bong San untuk menerima pengajaran dari kamu " Mo Cuncia mengasi dengar pula suaranya yang bernada seram itu: "Orang Kay Pang memang paling menghormati kepercayaan maka itu aku si orang tua, sekarang aku hendak pulang ke in Bong San guna menantikan kau Lebih baik kau membawa lebih banyak murid dan cucu murid untuk mereka mengantarkan jiwa mereka "

Baru berhenti suara itu, lantas terlihat mencelatnya satu bayangan putih.

Hong in Kay berseru, tubuhnya mencelat maju seraya sebelah tangannya diulur, sebagai juga lima buah gaetan, lima jerijinya menyamber ketubuh orang dengan pakaian serbah putih itu. Tapi Mo Cuncia tidak membiarkan tubuhnya disamber, ia mengibas kebelakang tubuhnya melesat pula.

Sipengemis tua kaget, Kibasan itu membuat tangannya sakit sekali. Ketika ia menahan tubuh, tubuhnya itu terhuyung, Mukanya yang kuning menjadi merah sekarang, ia mendongkol dan malu.

Chong Sie sebaliknya tidak mengambil sesuatu sikap. dia berdiam saja kepalanya diangkat memandangi mega putih yang lagi melayang-layang. Karena itu, yang lain-lainnya turut berdiam juga, Hingga suasana sunyi itu menjadi tegang agaknya.

Tidak lama terlihat Giam Hok datang bersama dua orang muda dengan dandanan singsat mereka itu muncul dari jalan kecil dikebun. Kedua anak muda itu beroman gagah tetapi waktu itu lagi berduka. Mereka mendahului sikuasa tua untuk lantas menjura kepada Chong sie, katanya:

"Kami yang muda ouw Thian Seng dan Tan Bun Han menghadap chong Looelanpwee”

Chong Sie tidak kenal anak-anak muda itu.

"Kamu murid siapa ?" ia tanya. " Kenapa kamu kenal aku si orang tua ? Nampaknya kamu lagi berduka, kenapakah?" Tan Bun Han berdiri sambil menurunkan kedua tangannya, "Guru kami yalah To ciok Sam dari Liauwtong," sahutnya.

" oh.. "si pengemis mengasi dengar suaranya. "Locianpwee, kami datang kemari mencari cia Siauwhiap.

barusan kami ketemu Giam Koankee ini, kami diberitahukan Siauwhiap tidak ada disini, ada juga Loocianpwee, bahwa kalau ada apa-apa, dapat kami bicara dengan Loocianpwee saja, Kami berduka bukan untuk urusan kami.

Barusan ditengah jalan kami bertemu sahabat dari Ngo Bie Pay, jadi itu Hek Mo-lek Kiang cong Yauw, dengan roman yang sangat berduka dia lagi pergi cepat ke ibukota propinsi ouwpak, Katanya Tonghong Siauwhiap telah dibawa lari Ang Niu cu dari oey Kie Pay dan aku diminta datang kemari buat minta bantuannya Cia Siauwhiap..."

Mendengar begitu, Yauw Hong dan siang Bwee kaget hingga mereka mengeluarkan seruan tertahan.

Chong Sie berlaku tenang, ia mengangguk,

"Nanti aku urus," sahutnya, Terus ia memanggil Hong In Kay, untuk menitahkan.

"Lekas kau pergi kepada Tongcu kita bagian kota chong-ciu ini, kau perintah dia mengirim kabar kilat untuk memohon kedua Tiangloo lekas berangkat ke ouwpak, nanti aku menantikan mereka di Hoo-kauw"

Hong In Kay menurut perintah, dia pergi dengan lantas.

Chong Sie memandang kedua nona ia kata. "Aku si tua ingin bicara sedikit, harap nona-nona tidak menjadi kecil hati. Saudara angkatku, Cia In Gak. muda dan tampan, dia pintar dan gagah luar biasa, tidaklah heran jikalau kamu menaruh hati terhadapnya..."

Mukanya kedua nona menjadi merah mereka likat. Lantas mereka tunduk.

"Didalam halnya kamu, aku kuatir masih ada kesulitannya." kata Chong Sie, menerusi, "Kamu ketahui In Gak itu berselisih dengan Kheng Tiang Siu muridnya Kim Teng Siangjin dari partai kamu, Kim Teng Siangjin paling suka mengeloni murid, mungkin mereka akan merintangi kamu, hanya biar bagaimana, segala daya ada manusia, janganlah kamu bertindak sembrono. Sekarang ini pergi kamu ke Bu Tong San saudara angkatku itu, habis itu kamu terus pergi ke In Bong San untuk membantui aku."

Kiang Yauw Hong berdua setuju, maka itu mereka lantas berangkat. Bersama mereka ikut serta Soh Beng Pat Ciang Siang Lok.

Chong Sie serdiri kemudian berangkat ke He-kauw bersama-sama kedua anak muda itu serta Hoan Siauw Coan,

ooooooo

BAB 19

HARI masih pagi, hawa udara dingin, tetapi itu waktu di bulan kedua, masih dipertengahan musim semi, digunung Bu Tong San, pohon toh dan heng dan juga yang liu sedang indahnya.

Disana pun terdapat banyak pepohonan Iain yang lebat, yang mengalingi sinar matahari. Dibagian yang rendah, -salju bertumpuk menjadi es.

Diatas gunung itu pula terdapat banyak kuil kawanan imam, kuil-kuil yang ditimpali pohon-pohon pek yang tua. Semua itu menandakan gunung ini tepat untuk jadi tempat pertapaan atau beribadat.

Ketika itu terlihat seorang imam lagi berdiri diam dengan kedua tangan digendong, Dia berada dibawa h puncak Tian Kie Hong, ditepi empang didepan kuil cie Siauw Kiong. Dia bermuka bersih, kumisnya pa ajang, akan tetapi parasnya berduka, sepasang alisnya pun dikerutkan matanya mendelong kepermukaan air.

Ia beda dengan matahari yang bersinar merah marong, ia pula diapit dua kacung yang romannya bersih, yang tangannya masing-masing memegang sebatang pedang.

Imam itu disadarkan dari menjublaknya itu oleh bunyi genta yang berkumandang diempat penjuru, hingga ia mengangkat kepalanya mengawasi keatas, sinar matanya tajam. Setelah itu terdengar pula siulan yang lama, disusul dengan melayang turunnya sebuah tubuh dari atas puncak, turun ke jalan turun disamping kuil yang berbatu hijau, dalam dua tiga kali enjotan, tibalah dia ditepi empang disisi kanan imam itu.

Dialah seorang imam dengan muka kuning serta tipis berewoknya, Dia menjura kepada si imam tua dan bertanya, hormat: "Kenapa ciangbunjin meninggalkan kuil Keng Tay Koan di puncak cu Hong dan datang ke-kuil cie Siauw Kiong ini?"

Imam tua itu mengasi dengar suara dihidung.

"Ceng Beng, kau bicara sembarangan saja" sahutnya, "Bukankah urusan ada mengenai

keselamatan dan kecelakaannya Bu Tong Pay ? Aku sudah mengundang ketiga paman gurumu, yang sudah lama tak mencampuri lagi urusan didunia, untuk masing-masing mengambil kedudukan, di Keng Tay Koan, Thay Hoo Kiong dan Hian Bu Tian di Kim Teng."

Memang gunung Bu Tong San mempunyai tiga puncak utama dan Thian Cu Hong yang ditengah, kuilnya Kim Auw Sie. Yang dipuja didalamnya yaitu malaikat Hian Bu Tay-tee serta empat jenderalnya, itulah yang dipanggil Puncak Kim Teng, hanya ini bukan puncak Kim Teng dari gunung Ngo Bie San- Keduanya cuma namanya saja yang sama. Kelihatannya Ceng Beng Cinjin menjadi girang.

"Dengan adanya ketiga paman guru itu, pasti kita tak usah mengUatirkan apa-apa lagi"

Tetapi si imam, sang ketua, atau ciangbunjin mengasi roman keren.

"Enak kau bicara" katanya, "Satu Siauw Yauw Kek saja sudah sukar untuk dilayani, apa pula disana juga ada tiga siluman dari Pak Beng Mo-Kauw, sementara kau sendiri, kau sudah mengundang kemarahannya Kian-Kun Ciu Lui Siauw Thian dan lainnya, Mati atau hidupnya, Partai kita tergantung dengan saat ini. Barusan genta dibunyikan mungkinkah Siauw Yauw Kek semua telah datang demikian cepat "

Mukanya imam itu menjadi merah, dia berdiri tegak dengan kedua tangan dikasih turun-

"Suara genta terdengar mulanya dari kuil Geng In Kiong," ia menyahut, memberi keterangan "Tak mungkin itu ada hubungannya dengan tibanya rombongan dari Siauw Yauw Kek, Selama tahun-tahun yang belakangan ini ketika murid- murid generasi ketiga turun gunung mereka pun sudah menanam tak sedikit permusuhan, maka itu yang datang itu mungkin lain orang."

Imam tua itu ialah Lan Seng Ie-su, ciangbunjin dari Bu Tong Pay. Dia diam berpikir mendengar jawaban itu.

"Ceng Beng, pergi kau ke Geng In Kiong akan melihat siapa musuh itu" perintahnya. "Digunung kita ini telah diadakan penjagaan keras di tiga puluh enam jurang, tujuh puluh dua istana dan dua puluh empat kuil, dari itu tidak nanti orang dapat memasukinya dengan mudah saja. jikalau kau ketemu ceng Seng dan ceng Hoat, perintahkanlah mereka untuk melindungi buah Long-bwe-sian didepan rumah suci Long

sian-sie."

Lan Seng menyebutnya istana "koan" juga. ceng Beng menerima titah itu, ia berlalu dengan cepat. ia menghilang d ia ntara pohon-pohon pek menuju keutara. Atau mendadak ada bayangan yang berkelebat dibelakangnya, lari mengikutinya.

Hanya ditengah jalan, bayangan itu berlompat kesamping, untuk lari mendahului kearah Geng In Kiong...

Didepan kuil Geng In Kiong ada dibangun sebuah tenda peringatan dari batu hijau berukiran tiga hurup besar "Te It San" artinya " Gunung nomor satu." itulah tulisan indah yang hidup dari Siang Yang pada ahala Song.

Tepat suara genta berhenti mengalun, didepan batu peringatan itu, lompat turun satu orang tua berkepala gundul, yang romannya bengis, yang sikapnya garang, Dia mengenakan baju panjang sulam, yang mentereng dilihat diantara sinar matahari.

Dia tertawa lebar melihat tiga huruf Te It San itu, katanya nyaring: "Biarlah aku si orang tua menambahkannya"

Dia terus mengulur jeriji tangannya hendak mengukur diatasan ketiga huruf itu, Hanya belum sempat dia melakukannya dari Geng In Kiong sudah terdengar bentakan:

"Sie-cu, jangan kau merusak keindahan gunung kami" Suara itu disusul lompat turun orangnya, bahkan dia terus menyerang kepada si orang tua.

orang tua itu berlompat sambil memutar tubuh, Dia seperti mempunyai mata dipunggungnya, Dengan lompat secara begitu, dia membebaskan dirinya, tapi penyerangnya sudah lantas menyerang pula

Hebat orang tua ini, Ketika itu tubuhnya lagi turun kebawah, belum lagi serangan sampai, ia sudah mendahului membalas. Dengan begitu kedua tubuh beradu satu dengan lain-Lantas terdengar jeritan yang nyaring.

Lantas penyerang yang lompat dari Geng in Kiong itu terpental tiga tombak ledih, roboh ke tanah dengan terus terbinasa, dari mata, hidung, mulut dan telinganya keluar darah segar

Orang tua itu tertawa pula, berkakak. ia berkata nyaring: "Semua orang Bu Tong Pay bangsa gentong arak dan kantong nasi Semua mereka tak dapat bertahan buat satu gempuran saja Toh mereka berani menyebut diri satu partai besar"

Kembali terdengar suaranya genta, Kali ini dari Geng in Kiong muncul tiga imam lainnya, semua setengah usia, imam yang mengambil kedudukan ditengah, dengan matanya yang dingin, mengawasi si orang jumawa, Dia menegur: "Disini tempat suci, mengapa Sie-cu sembarangan melakukan pembunuhan? "

Orang tua itu tertawa keras dan dingin. "Tapi bibitnya yalah kamu kaum Bu Tong Pay yang menanamnya?" dia menjawab, "Sama sekali bukannya aku si orang tua yang tanpa sebab datang kemari menantang kamu"

Imam setengah usia itu mengawasi tajam.

"oh kiranya yang datang Te Sat Kie-su Bok Peng Lo-su dari Kiong Lay San- katanya kemudian-

Bok Peng, si orang tua tertawa.

"Mata kamu tajam tak celaan, kamu dapat mengenali aku si orang tua" katanya, Dia terus menuding kepada mayat kurbannya, dia berkata dingin: "Toh tidak kecewa saudaramu itu terbinasa secara begini? Siapa suruh dia membokong aku si orang tua?" Imam yang berada ditengah itu ternyata dengan jumawa.

"Selama yang belakangan ini murid-murid Kiong Lay San ada yang tersesat yang telah mencampuri diri dengan orang- orang jahat," ia berkata "dari itu tidaklah heran bila diantaranya ada yang terbinasakan dalam pertempuran oleh murid kami yang lagi turun gunung untuk menjalankan tugas keagamaannya.

Tetapi aneh sikapmu Bok Sie-Cu Bukannya kau membersihkan partaimu sendiri, kau justeru lancang mendaki Bu Tong San dimana kau melakukan pembalasan secara sewenang-wenang"

"Oh, kau berani menghina aku si orang tua" berseru Bok Peng, gusar "Baiklah, aku si orang tua akan membikin tujuh puluh dua istanamu nanti runtuh menjadi puing"

Imam itu menjawabnya dengan dingin

"Meskipun pihak Bu Tong Pay bangsa segala gentong arak dan kantong nasi akan tetapi tak dapatlah Bok sie-cu menggempur tujuh puluh dua istana kami menjadi rata dengan bumi"

Bok Peng gusar sehingga ia segera meluncurkan tangannya, itulah tenaga yang seumpama kata dapat "menggempur gunung dan membalikkan laut" Dengan gesit ketiga imam memencar diri, lalu pedang mereka masing-masing berkelebat menyerang kepada si orang she Bok, yang dicari tiga jalan darahnya, thian-kle, ceng elok dan beng bun.

Bok Peng bersiul sambil berkelit mundur, ketika tangan kanannya meraba ke pinggang, lantas tangan itu mencekal sebatang pedang lunak yang dikibaskannya memperdengarkan suara mengalun, sedang cahayanya berkilauan. Ketika itu kembali tiga sinar pedang menyamber secepat tadi.

Ketua Kiong Lay Pay itu mengawasi dengan tertawa mengejek, pedangnya menyamber melihat ketiga pedang imam-imam dari Bu Tong Pay itu. Ketika keempat pedang bentrok nyaring suaranya, muncrat lelatu api nya.

Ketiga imam menjadi kaget, pucat muka mereka. Mereka lompat mundur dengan memegang masing-masing pedang mereka yang sudah buntung ujungnya

Bok Pek tertawa berkakak, keras mirip guntur, ketika telah berhenti tertawanya itu, dia katajumawa, "Segala mutiara sebesar beras toh mau memencarkan cahayanya ilmu pedang Sam Goan Kiam-hoat toh cuma sebegini saja"

Menyusul berhentinya suarajumawa itu, dari belakang sebuah pohon pek dibela kang, mereka terdengar bunyi suara yang terang dan lancar, "orang tua She Bok, aku harap kau jangan berjumawa dulu Apakah kau sangka Bu Tong Pay dapat kau hina sesukamu? Kau mempuasi hatimu terhadap segala anak muda dengan begitu dapatkah kau terhitung seorang kenamaan seharusnya kau mencari tertua mereka Sekarang ini Lan Seng Ie-su berada didepan

Cie Siauw Kiong Apakah gunanya untuk omong besar disini,

"

Bok Beng bertambah gusar mendengar teguran yang

bernada ejekan itu. ia memang ketua Kiong Lay-pay yang sangat berkapal besar. Begitu berhenti suara orang, begitu tubuhnya mencelat berputar, menyerang dengan pedangnya ke arah dari mana suara itu datang. ia lompat tinggi untuk mencapai jarak tiga tombak.

Hanya selagi tubuhnya turun, mendadak ia merasakan satu kali gigitan atau antupan tawon pada dengkulnya bagian dalam, sakitnya sampai kehulu hati, hingga tak dapat ia mempertahankan tenaganya, lantas saja tubuhnya turun ketanah. Berbareng dengan itu telinganya mendengar,

"Kau cari mampus" ia kaget bukan main, mukanya menjadi pucat, dengan paksakan diri ia berlompat, untuk terus berlari, hingga sekejap saja ia sudah lenyap. Ketiga imam yang pedangnya terkutungkan itu menghela napas lega.

Mereka merasakan hebatnya Bok Peng, yang demikian telengas. Karenanya, mereka sangat bersyukur kepada penolong mereka yang tidak dikenal itu yang semenjak tadi tidak memperlihatkan dirinya. Lalu imam yang berkedudukan ditengah tadi sambil menoleh kearah pohon, berkata dengan hormat "orang pandai siapakah itu yang telah menolongi kami?"

Tidak ada suara jawaban, cuma suara angin yang berkesiur halus, orang itu tak nampak datangnya tak terlihat perginya. Dia- mirip naga yang bersembunyi didalam mega.

Sementara itu dari arah kiri terlibat munculnya satu orang.

Melihat dia itu, si imam ditengah berseru, " Ceng Beng Suheng. bagus kau datang" Lantas ia menuturkan peristiwa barusan-

"Sekarang lekas kamu membunyikan genta isyarat," ceng Beng berkata, "Aku sendiri mau segera pergi ke Ko cin Kiong"

Kata-kata itu ditutup dengan berlompat-nya ia kearah atas gunung.

Ketiga imam itu lantas mengurus mayat saudara seperguruannya, habis itu mereka lari pulang ke Geng In Kiong, Maka dilain saat dari dalam kuil itu terdengarlah suara genta nyaring, tidak cepat tidak perlahan, hingga suara itu tidak mengentarakan telah terjadi peristiwa berdarah yang hebat.

Ketika itu di sebuah puncak didepan Geng In Kiong itu, disisinya sebuah pohon cemara yang banyak lekukannya, terlihat seorang anak muda lagi berdiri tenang dengan kedua tangan digendongkan kepunggungnya, matanya memandang kemega putih seperti dia lagi berpikir.

Dialah Koay ciu Sie-seng Cia in Gak. yang pikirannya lagi kusut, Dia telah mendapat kenyataan Gak Yang dan Pin Jie bukan diculik orang Bu Tong Pay, jadi benarlah kata katanya ceng Beng cinjin dirumah makan di Kunciu.

Maka dia menduga kepada siauw Yauw Kek. Dia pikir pantas kalau Siauw Yauw Kek menyukai kedua bocah itu yang beroman dan berbakat baik untuk dijadikan murid.

"Biarlah aku menanti sampai aku bertemu siauw Yauw Kek", pikirnya kemudian- "Hanya, kemana perginya Kian Kun ciu dan Hu Wan? seharusnya mereka sudah tiba disini, Kenapa mereka tak nampak?"

Ia jadi berpikir keras pula, hatinya terasa berat sampai ia sukar bernapas, ia tidak mengerti kenapa pikirannya menjadi semakin kacau.

Tanpa merasa, pemuda ini membayangi segala peristiwanya sekian lama. sekarang ia mendapat anggapan, dalam soal asmara ia lemah, dalam soal lainnya ia keras, justeru kekerasan itu yang dapat menimbulkan kesulitanku.

Laut itu luas dan dalam tak terkirakan laut itu harus dibuat ngeri, oleh karena itu orang haruslah berpikir panjang.

"Sayang usiaku terlalu muda, aku sembrono..." pikirnya lebih jauh, "Aku telah mengundang sendiri datangnya segala keruwetan, ia menyesal sesudah kasip. Maka terus ia mengawasi sang mega. Akhirnya ia menghela napas, ia masgul sendirinya, ia penasaran-.. Ia baru bagaikan sadar tak kala didepan matanya -jauh dipuncak sebelah depan - ia melihat bergerak-geraknya beberapa orang yang nampak hanya sebagai bayangan- Semua orang itu menghilang dalam lebatnya hutan cemara, ia ingat suatu apa, terus ia menjejak tanah, mencelat kearah puncak itu, ia menggunai ilmu enteng tubuh "Burung song tunggal terbang di-udara", suatu jurus dari "Cit Kim Sinhoan- atau "Tujuh jenis Unggas." ia melesat jauhnya tujuh atau delapan tombak.

Untuk berlari terus, ia memakai lain ilmu yaitu jurus "Thian Liong pat pian- atau "Naga langit berubah delapan kali", Dengan begitu lekas sekali ia sudah tiba dipuncak didepan itu. Tapi baru ia menaruh kaki atau ia sudah lompat pula, untuk lari menyusul beberapa bayang tadi itu.

Luar biasa ringannya tubuh si anak muda, sebentar saja ia sudah dapat menyandak mereka. ia memernahkan diri kira- kira empat tombak dari mereka itu, Sejarak itu dapat ia melihat tegas, ia menjadi tawar hatinya, ia tidak mendapatkan siauw Thian, Liok Koan dan si nona Wan, meski benar satu diantara mereka ini yalah seorang wanita muda. Setelah menghela napas, ia juga mentertawai dirinya sendiri.

"Aku aneh.,." katanya didalam hati, "Di Ya Ap Thoa aku berada dekat dengan Yauw Hong dan Siang Bwe... Betapa ingin mereka selalu berada berdekatan dengan aku, tetapi aku meninggalkannya, aku justeru mau cari Hu Wan, aku ingin sangat melihatnya."

Sembari berpikir itu, In Gak berjalan perlahan dibelakang pepohonan, itulah sebab rombongan didapan itu berjalan terus. Baru belakangan mendadak mereka itu menghentikan tindakan mereka, ia turut berhenti juga, bersembunyi dibelakang sebuah batu besar, matanya di-pasang, ia melihat mereka itu tunduk. berbicara kasak-kusuk.

"Bu Tong Pay memperdengarkan gentanya, rupanya ada musuh besar datang menyerbu." berkata seorang diantara rombongan itu - suaranya keras, "Inilah kebetulan bagi kita, Bagaimana, kita nyebar diantara mereka itu atau kita bekerja sendiri sendiri saja?"

"Suheng", menjawab seorang, "musuh kita yalah sihidung kerbau Ceng Hui, tetapi sekarang ada musuh Bu Tong Pay datang, benar seperti katamu, inilah kebetulan sekali Aku pikir haruslah kita menangkap ikan didalam air keruh, itu lebih gampang, hasilnya lebih besar Si hidung kerbau Ceng Hui berada dikuil Hwe Liong Koan dibawah itu, mari kita cari dia untuk mem-bereskannya, habis itu sekalian saja kita mengicipi rasanya buah Long bwee-sian"

"Suheng", tanya seorang wanita, "apakah benar kau merasa pasti kita bakal berhasil?"

Belum Si suheng menjawab, maka dari arah pohon-pohon cemara yang lebat terdengar ini suara yang terang sekali: "Nona benar. Hari ini, orang-orang yang menyerbu gunung ini, bagiannya yalah mati bukannya hidup Maka itu suka aku memberi nasihat supaya sie-cu semua kembali turun gunung"

In Gak dari tempat sembunyinya dapat melihat orang yang campur bicara itu, yalah seorang imam tua yang sudah ubanan rambutnya, Dia bicara dengan bantuan tenaga dalam, maka juga suaranya terdengar dekat dan terang sekali.

Salah seorang dari rombongan itu, orang mana bertubuh besar, mengawasi tajam kearah dari mana nasihat datang. Dia menegur keras: "Apakah kau Ceng Hui sihidung kerbau? janganlah berlagak seperti iblis, main sembunyi sembunyi Marilah, tuan besarmu she Ho hendak membikin perhitungan denganmu"

Suara temberang itu mendapat jawaban: "Ceng Hui itu kepenakan-muridku Dia sekarang kebetulan tidak ada didalam kuil, dia tengah berpergian, maka sayang kedatangan sekalian sie cu ini Nanti saja, lagi setengah bulan, kalau Ceng Hui sudah pulang, aku akan menitahkannya menantikan didalam kuilnya Para sie-cu, semua senjata kamu, telah aku tolong mengumpulnya didepan air mancur Jie Liong Pauw, jikalau sebentar sie-cu semua kembali, disana sie-cu akan mendapatkannya"

Orang itu membikin rombongan itu menjadi kaget. Mereka semua melihat dirinya sendiri, Mereka menjadi terlebih kaget pula, Tidak ayal lagi, mereka memutar tubuh untuk lari kabur,

In Gak tertawa didalam hati. "Segala makhluk tolol" katanya dalam hatinya. "Senjata ditubuh sendiri diloloskan orang tetapi tidak merasa. Dilain pihak. ia kagum untuk liehaynya si-imam tua.

Justeru ia berpikir itu, ia melihat bayangan berkelebat lalu si-imam tua nampak didepannya. Bahkan ia lantas ditegur halus: "Sie-cu, sie-cu datang ke Bu Tong-San ini, adakah kau sahabat atau musuh?"

Tapi ketika ia melihat pedang di-punggung sianak muda, ia agaknya terperanjat ia menatap tajam. ia rupanya mengenali pedang mustika Thay oh Kiam, In Gak bersenyum.

"Aku yang rendah bukannya sahabat dan juga bukannya musuh", ia menyahut tenang, "Aku datang kemari karena aku mengagumi gunung Bu Tong San- Harap totiang tidak buat kuatir, silahkan lotiang mengurus tugas totiang."

Imam tua itu mengangguk. "Bagus kalau begitu", sahutnya, "Hanya sie-cu datang dengan membawa pedang, dan itu pula pasti pedang mustika, oleh karena aturan disini harus ditaati, yaitu siapa mendaki gunung mesti meninggalkan pedangnya, aku minta sie-cu suka meloloskan pedangmu untuk aku yang menyimpannya, sebentar apabila sie-cu turun gunung, nanti aku membayarnya pulang, Aku adalah Uy Seng ie-su dan kuilku itulah Hwe Liong Koan dibawah itu."

In Gak tahu orang ketarik dengan pedangnya, ia tertawa. "Totiang, sungguh tajam matamu" katanya, "Memang

pedangku ini pedang mustika, karenanya tidak dapat aku sembarang menyerahkannya Aku minta janganlah totiang menggerembengi aku yarg rendah, Siauw Yauw Kek bersama Pak Beng Sam Mo bakal lekas datang menyerbu gunung ini, sedang sekarang ini Te Sat Kie su Bok Peng dari Kiong Lay San sudah menyatroni Cie Siauw Kiong, maka itu lebih baik kau lekas-lelas pergi kekuil itu guna menyambut musuh"

Uy seng ie-su tidak senang atas jawaban itu. "Sebenarnya siapakah kau?" ia tanya bengis. In Gak tidak takut.

"Totiang." sahutnya dingin, "Perlu apa kau bergusar? Telah aku jelaskan aku bukan musuh dan juga bukan sahabat Kenapa kau main bentak-bentak?"

Tak peduli dia murid Sam Ceng, melihat pedang Thay oh Kiam maka terbangunlah

keserakahannya imam tua ini ia sudah lantas pikir, dengan mempunyai pedang itu tak usahlah ia kuatirkan lagi Siauw Yauw Kek atau Pak Beng Sam Mo.

"Digunung Bu Tong San, pedang harus diloloskan itulah aturan kami semenjak jaman dahulu" ia kata bengis, "Sie-cu pun tak menjadi kecuali Maka itu aku harap sie-cu suka memikir baik-baik, jikalau tidak- maafkanlah, aku mesti mengambil tindakan"

In Gak berlaku tenang.

“Jikalau begitu", tanyanya sabar, "apabila aku tidak meloloskan pedangku ini, totiang jadi hendak mengambilnya dengan kekerasan?"

Imam itu mengangguk. "Benar," sahutnya pasti. In Gak tertawa nyaring.

"Untuk kau mengambil dengan kekerasan, aku kuatir tenagamu belum cukup, totiang" katanya.

"Ha, kau berani memandang enteng kepada-ku?" bentak imam itu.

In Gak bersenyum.

“Jangan gusar, totiang," bilangnya, "Bagaimana bila kita bertaruh ?"

"Bagaimana caranya itu?" tanya si imam, parasnya guram. "Sangat mudah Kita bertanding selama sepuluh jurus,

jikalau selama itu totiang tidak berhasil merampas pedangku maka aku ingin minta buah Long-bwe-sian Totiang setujukah

?"

Mukanya imam itu berubah, ia berpikir : "Buah Longbwe- sian ini yalah buah mustika partaiku, khasiatnya dapat menambah kekuatan tubuh, dan membantu tubuh menjadi enteng, juga dapat dipakai mengusir pelbagai racun, Pula cuma ketua kami sendiri yang dapat memetiknya, satu tahun sekali, setiap kalinya dua belas biji, semua itu untuk campuran obat pel untuk semua imam. Karena itu mana dapat aku memberikan buah itu ?"

Tapi ia berpikir lebih jauh: "Kenapa bolehnya memikir begini rupa? Pohon Long-bwe-sian hanya tiga buah, yang lainnya pohon biasa, kenapa jikalau aku berikan dia buah yang palsu? Tidak ada halangannya, bukan? Tentu sekali ketua kami juga pasti akan menyetujuinya . . . "

Oleh karena ini, ia lantas menyahut "Baik, sie-cu, aku terima baik pertaruhan ini"

Kata-kata itu diakhiri dengan sambaran tangannya yang sehat luar biasa kearah pundak orang dimana pedang Thay oh Kiam tergendol. Tapi akhirnya ia melengak sendirinya.

In Gak tak terlihat bergeraknya toh dia mundur tujuh tindak.

"Tunggu dulu” berkata anak muda itu. "Aku belum omong jelas Aku yang rendah menghendaki pohon yang kesembilan yang tumbuh dikiri kuil Long Sian Su itu. itulah pohon yang bongkot dan cabangnya tak ada kulitnya, yang berdiri tegak, bunganya berwarna merah dan putih seperti bunga heng dan toh."

Mendengar kata-kata itu, diam diam Uy Seng ie-su menyedot napas.

"Pemuda ini lihay sekali" pikirnya, Lalu dia berkata: "Sie cu, kau terlalujumawa Benarkah kau percaya dalam sepuluh jurus aku tidak dapat merampas pedangmu?"

In Gak tertawa lebar. "Kau berhasil atau tidak. kita lihat saja sebentar" sahutnya, "Sekarang ini masih terlalu pagi untuk menyebutnya.

Pedangku ini, apabila aku membuatnya hilang tidak berarti banyak untukku, tidak demikian dengan buah Long bwe-sian itulah buah terlarang dari Partaimu, hingga tidak sembarang orangmu yang dapat memetiknya Totiang, aku kuatir cuma dapat bicara tetapi tidak dapat mewujudkannya "

Uy Seng mendongkol hingga dia membentak.

"Aku biasa menghargai kepercayaanku, mana dapat aku menyangkal terhadap kau satu anak muda?" katanya sengit.

Tapi in Gak berkata dingin: "Orang tidak dapat tidak bersiaga diri, Disini toh cuma ada kita berdua, Totiang dan aku Tanpa bukti, tanpa saksi, apabila sebentar totiang gagal dan menyangkal bagaimana? Apa aku bisa bilang ?"

Uy Seng membawa tangannya ke kondenya, untuk mencabut sepotong kemala kuning berbentuk bintang, ia lemparkan itu kepada In Gak seraya ia membentak: "inilah bukti barang kepercayaanku jikalau dalam sepuluh jurus aku gagal mendapatkan pedang mu, kau boleh bawa ini ke Long Sian Su, kau serahkan pada imam yang menjaga disana kau minta buah itu. Sebaliknya, aku akan minta pulang kemalaku ini"

In Gak periksa kemala itu, terus ia memasuki kedalam sakunya, ia tertawa dan berkata: "Baiklah sekarang Totiang ambil pedangku" Didalam hatinya ia menyesal kan imam itu demikian serakah.

Ia lagi berpikir itu atau tahu-tahu tangan orang telah meluncur kepundaknya, Sambil tertawa dingin ia berlompat mundur.

Uy Seng terperanjat melihat orang dapat bergerak demikian gesit dan lincah. Tapi ia penasaran maka ia berlorapat maju guna meny amber pula, Tentu sekali ia berlaku semakin gesit. In Gak tidak melawan, ia tidak menangkis, ia berkelit seperti semula itu. ia seperti melenyapkan diri dari depan si imam hingga imam itu kaget luar biasa. Baru sekarang dia insaf bahwa dia lagi menghadapi orang lihay.

"Totiang, kau sudah mengawasi lewat dua jurus" ia mendengar suara dibelakangnya.

"jikalau kali ini aku gagal, mana dapat aku menjadi salah satu Bu Tong sam Seng" pikirnya. Bu Tong Sam Seng yalah tiga Bintang dari Bu Tong Pay, Dalam penasarannya dengan meadadak ia memutar tubuhnya, sembari berputar ia meneruskan berlompat, untuk menerkam buat ketiga kalinya.

Untuk kesekian kalinya, In Gak berkelit pula, ia tidak menghiraukan orang menubruk cepat seperti kilat.

Untuk sekian kalinya, Uy Seng kaget, tetapi sekarang dia menanya keras: "Sie-cu, kau sembunyi di mana" janganlah kau main sembunyi saja"

In Gak tertawa dibelakang orang, ia menjawab tenang: "Siapa main sembunyi sembunyi, Totiang? Adalah Totiang sendiri yang memiliki mata akan tetapi tak dapat melihat siapakah yang Totiang hendak persalahkan?"

Uy Seng ie-su berbalik dengan sangat cepat, Kali ini ia tidak meneruskan menyerang seperti beberapa kali tadi, ia melihat orang berdiri tenang saja, mulutnya tersinggung senyuman manis, matanya mengawasi ia sabar.

"Rasanya kali ini aku tidak bakal mendapatkan kemenangan." pikirnya. ia menjadi masgul, "Biarlah, aku coba paksakan-.."

Ketika itu genta terdengar pula, seperti biasa, berkumandang di lembah lembah.

"Genta telah dibunyikan pula, mungkin musuh telah datang," In Gak berkata perlahan, "Kuil Hwe Liong Koan sepi saja, apakah disana cuma Totiang seorang yang menjaganya?" Pertanyaan ini membangkitkan herannya Uy Seng ie-su, Didalam kuil itu masih ada empat imam lainnya, Kenapa mereka itu berdiam saja ? Dari heran, ia menjadi berkuatir, maka itu tanpa membuang apa-apa, ia lantas lompat untuk lari kekuilnya itu.

In Gak berniat membayar pulang kemala orang, ia tak sempat berbuat begitu. Hanya sebentar, si imam sudah pergi jauh. ia pun ingin menyaksikan apa yang sudah terjadi, maka ia lompat menyusul.

Ia sampai dengan cepat, ia lantas mendapatkan mayatnya empat imam, baju didadanya robek. pada dahi mereka itu ada tapak tangan, Muka mereka juga menunjuki kaget dan takut.

Memeriksa lebih jauh, In Gak mendapat kenyataan tapak tangan itu tapak yang ditinggalkan penyerang yang lihay.

Tapak-tapak itu tidak serupa, terang penyerangnya bukan cuma satu orang.

"Mungkinkah Siauw Yauw Kek dan sam Mo yang telah tiba?" ia berkata dalam hatinya, ia tidak melihat Uy Seng ie-su, ia tidak tahu orang pergi kemana, Untuk mendapat tahu tahu peristiwa terlebih jauh, ia meninggalkan Hwe Liong Koan, untuk menuju ke Cie Siauw Kiong.

In Gak percepat larinya. Mendekati ruang Pat Siang Lo, ia melihat bergeraknya beberapa bayangan ia lari menyusul Ketika ia sudah datang dekat pada mereka ia menjadi kecele, ia melihat Siang Lok bersama Yauw Hong dan Siang Bwe, ingin ia segera bersembunyi dari mata ketiga orang itu, atau ia mendengar suaranya Nona Kang:

"Suara genta hebat sekali, mungkin engko In mengacau di Bu Tong San, pastilah kawanan hidung kerbau itu bakal merasakan bagiannya. Celaka tangga batu ini. kenapa begini panjang?.,." Selagi berkata begitu, ia berpaling kebelakang, atau mendadak matanya bersinar, terus ia berteriak kegirangan: "Engko In Benar-benar kau disini oh, kau membikin adikmu menderita" In Gak menyesal. Tak ada ketika lagi untuk bersembunyi Maka ia lompat kepada mereka itu.

Siang Lok dan Lo Siang Bwe sudah lantas menoleh In Gak mencekal tangan si imam, untuk menanya ini dan itu mengenai mereka bertiga.

Ketika ia melihat Nona Lo, sinar matanya itu menunjuki dia berduka dan penasaran, ia lantas tertawa dan menanyai "Kau baik Nona Lo?"

Pertanyaan itu justeru mendukakan si nona yang air matanya lantas melele keluar. Melihat itu, Siang Lok masgul.

"Siauw-hiap." ia berkata cepat. "Aku mau jalan lebih dulu”

Tanpa menanti jawaban, ia lantas bertindak berlompatan dan lari,

In Gak berdiam, ia menjadi serba salah, "Engko In, kau terlalu" kata Yauw Hong, matanya menunjuki dia pun penasaran "Encie Bwe berterima kasih yang kau telah menolongi membebaskannya dari totokan, dia ingin membalas budi dengan menyerahkan dirinya, mengapa kau meninggalkan dia tanpa sepatah kata?"

Mukanya si pemuda menjadi merah, "Sebenarnya aku bingung memikirkan Gak Yang dan Pin Jie, aku sampai berlaku tak selayaknya..." katanya, "Tapi... tapi..." ia bersangsi, tapi toh ia meneruskan "Ketika aku menolongi Nona Lo di Ya Ap Thoa, itulah saking terpaksa, oleh karena itu aku harap nona jangan buat pikiran..."

"Tapi, engko In," Yauw Hong mendesak. "coba kau pikir, dapatkah tubuh seorang nona dilihat oleh seorang pria? jikalau ia tidak menyerahkan dirinya, apa jalan lainnya?"

Meski ia berkata sengit, muka si nona toh merah, ialah gadis seperti Siang Bwe sendiri.

Muka Nona Lo sendiri menjadi semakin merah jengah sekali. Didalam hatinya, In Gak berkata: Toh kamu yang memaksa aku menotok bebas pada kamu itulah bukan karena keinginanku sendiri" Meski demikian- kata-kata itu tidak dapat ia keluarkan dari mulutnya. sebaliknya ia jadi menghela napas, matanya mendelong. Tak tahu ia bagaimana mesti bicara.

Hanya selang sekian lama, ia menjura seraya berkata: "Semua jalan salahku sekarang nona-nona terimalah, maaf ku"

Siang Bwe membalas hormat itu, tapi Yauw Hong berkata: "Engko In, bagaimana ini ? Apa artinya kau menyebut nona, nona, nona? Aku tidak sangka, baru berpisah satu tahun, kau sudah jadi asing begini"

In Gak menyeringai ia benar benar kewalahan Tengah suasana "tegang" itu, mendadak mereka

mendengar suara bentakan yang datangnya dari ruang Pat Sian Lo di Bu Tong Pay.

"Inilah hebat" ia berseru, "Siang Koancu sudah bertempur entah dengan siapa?" Lantas ia berlompat, untuk lari keruang itu.

Yauw Hong dan Siang Bwe, yang turut mendengar bentakan itu lari menyusul.

Setibanya In Gak didepan ruang Pat Sian Lo dimana ada sebuah pekarangan luas, ia mendapat Siang Lok lagi bertempur seru dengan seorang yang rambutnya riap- riapan sampai dipundak-nya. orang itu bukan bersilat seperti caranya ilmu silat Tionghoa, Siang Lok gagah tetapi ia terpaksa mengambil sikap bela diri.

Menonton terlebih jauh, In Gak melihat musuh memancing terbuka kedua tangan siimam habis mana dia menyerbu kedada, Atas itu Siang Lok mundur setindak seraya menangkis, Tapi orang itu bertindak terlebih jauh. Dia tertawa nyaring sambil tertawa mendadak dia mendak. untuk menyerang keperut

In Gak terkejut itulah hebat untuk si-imam. ia menduga orang tak sempat lagi berkelit atau menangkis Maka ia segera lompat maju, sebelah tangannya diulur, ia berlompat dengan gerakan Hian Wan Sip-pat Kay.

Musuhnya Siang Lok itu sudah hampir menghajar sasarannya ketika dia merasa ada tolakan yang berat, hingga tenaganya menjadi buyar sendirinya, sedang siimam, yang menginsafi bahaya, menjadi heran tempo ia merasa serangan hanya lunak. Dengan begitu ia lantas dapat membebaskan dirinya, sebaliknya musuh itu tahu-tahu sudah dicekuk lengannya oleh In Gak. Dia kaget tetapi tak dapat dia meronta, maka juga dia mengawasi dengan heran dan penasaran.

Yauw Hong dan Siang Bwe sudah lantas mendampingi si anak muda mereka pun tidak melihat gerakannya pemuda itu menangkap tangan orang, karena itu mereka menjadi heran dan kagum.

"Apakah kau Pak Beng Sam Mo?" In Gak tanya orang yang ia cekuk itu ia tertawa dingin.

Orang berambut riap riap itu tidak menjawab, dia cuma mengawasi dengan sinar mata berapi, Diam-diam dia mengerahkan tenaga, "Han-peng Cin-khie," untuk berontak melepaskan diri guna nanti balas menyerang.

Tenaganya itu berhawa dingin seperti es, kalau tenaga itu dapat disalurkan kedalam tubuh musuh, darah musuh bakal menjadi beku. Hanya celaka untuknya selagi hawanya itu tersalurkan dia sendiri yang napasnya sesak. hawanya itu berbalik menyerang ulu- hatinya, Dia menjadi kaget, mukanya menjadi pucat, muka itu mengeluarkan keringat. Herannya, keringatnya itu beku tetes demi tetes. In Gak mengawasi sambil bersenyum.

“Jikalau kau ingin mati lekas, tak usah kau menjawab" ia berkata, Aku tidak mau memaksa membikin orang sulit."

Baru sekarang orang itu tertawa menyeringai dan menyahut. "Akulah murid Pak Beng Sam Mo Mau apa kau menanyakannya?" In Gak menatap. "Sekarang dimana adanya Pak Beng Sam Mo dan Siauw Yauw Kek?" ia bertanya, suaranya keren, tenaganya dikerahkan-

orang itu merasakan bertambah sakit, hawa dinginnya menyerang lebih hebat. "Mereka sudah pergi kepuncak Thian Cu Hong," dia menyahut.

"Di Hwe Liong Koan ada kedapatan empat imam terbinasa, adakah itu perbuatan kau?" ia tak tanya pula, "Siapa lagi kawan-kawanmu yang datang kemari?"

orang itu sudah tidak dapat menjawab, dia cuma mengangguk seraya menunjuki dua buah jari tangannya.

In Gak menduga dua orang itu mesti dua murid lainnya dari Pak Beng Sam Mo, mestinya mereka itu yang bersama ini satu saudaranya memecah diri melakukan penyerangan maka jugagenta terdengar dari pelbagai penjuru itulah berarti ancaman malapetaka untuk Bu Tong Pay. ia tidak menanya lagi, ia hanya segera menotok dada orang itu, yang mengeluarkan suara napas tertahan, terus tubuhnya roboh terguling.

"Siang cinjin," In Gak kata pada Siang Lok," mari kita berpencar, lebih dulu kita harus menolongi Bu Tong Pay"

Siang Lok menggeleng kepala.

"Menurut aku baiklah tak usah kita turun tangan," ia berkata, "Aku dan kedua nona ini tidak mempunyai kesanggupan- Aku pun mendapat pesan untuk kau, siauwhiap supaya kau lekas pergi ke In Bong San guna membuat pertemuan disana, Kau tahu Tonghong siauwhiap telah diculik Ang Nio cu dari oey Kie Pay, juga Mo cuncia telah menantang chong Losu mendatangi oey Kie Pay untuk bertanding di-sana"

In Gak melongo.

"Ah, kenapa saudara Tonghong kena diculik Ang Nio cu?" ia tanya. "Kapankah janji pertempuran Mo cuncia itu?"

Siang Lok menghitung dengan jeriji tangannya. "Masih ada lima hari lagi," sahutnya. Si anak muda bepikir.

"Masih ada tempo," ia berkata. "Aku mau menemui Siauw Yauw Kek dulu, untuk

menanyakan tentang Gak Yang dan Pin Jie. Aku pun perlu membayar pulang barangnya Uy se ie-su."

Siang Lok mengangguk.

"Kalau begitu mari kita pergi lekas ke Thian cu Hong," bilangnya, "Aku tahu Bu Tong Sam Seng itu tak lurus hatinya, sebenarnya siauwhiap mempunyai perhubungan apa-apa dengan mereka?"

In Gak memberikan penjelasan ringkas. Siang Lok menggeleng kepala, “Jikalau bukannya Bu Tong Pay lagi menghadapi ancaman malapetaka ini, sudah tentu Uy Seng akan mengosok-gosok ketuanya untuk si ketua memusuhkan kau, siauwhiap." ia kata.

"Memang boleh tak usah siauwhiap jeri tetapi mulutnya imam itu berbisa sekali, dapat dia menuduh siauwhiap datang untuk menghina dan memaksa dia mendapatkan buah Long- bwe-sian itu. jikalau tuduhan itu sampai tersiar diantara orang banyak, hebat akibatnya sulit untuk menghilangkannya. Dalam dunia Kang ouw ada banyak orang-orang yang tak tahu duduknya hal dan sukar diberi mengerti."

In Gak bersenyum.

"Mari kita pergi" ia mengajak. ia pun bergerak lebih dulu, maka imam itu dan kedua nona lantas mengikuti.

Didalam lembah masih terdengar dengungan kumandang genta, diantara pepohonan tampak tubuh tubuh yang berlari- lari dan terlihat juga sinar pedang berkelebatan- Karena ini mereka berempat mengambil jalan ditempat dimana tidak ada orang.

In Gak terus bungkam, ia berduka dan berpikir keras, ia menguatirkan keselamatannya Hu Wan semua. Yauw Hong berdua Slang Bwe lari didepan, mereka itu sering berpaling kebelakang, Mereka heran menampak sikap pendiam dari pemuda itu.

"Engko In, kau nampaknya berduka, kenapakah" akhirnya Yauw Hong tanya. In Gak tahu tentulah romannya yang membikin si nona menanya itu.

"Tidak apa-apa," ia menyahut, "Adik Hong kau tetap tak mau melepaskan aku..."

Ia menyusul untuk lari berendeng dengan kedua nona itu.Ia pun terpaksa berlaku gembira.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Menuntut Balas Jilid 24 : Bu Tong Pay menghadapi bahaya"

Post a Comment

close