Menuntut Balas Jilid 20 : Nona Lan di kediaman Yan San Sin-ni

Mode Malam
Jilid 20: Nona Lan di kediaman Yan San Sin-ni

IN GAK mengajak Yan Bun bersembunyi di belakang sebuah batu besar. In Gak telah pikir: "Asal kedua pendeta itu tidak turun tangan, aku hendak berdiam saja, untuk menyaksikan lihaynya Liu In cit Si dari pendeta 1a-ma ini serta Ban Hoa Toat Kiam dari Kim It Peng..."

Melihat sikapnya imam itu dengan kuda-kudanya Pek Houw Ki co atau "Macan putih nongkrong" ia memuji, "Kelihatan dia pun bukan sembarang orang, rupanya dia telah berhasil memahirkan ilmu silat Tiam chong Pay, Lihat saja caranya ia menyiapkan sepasang pedangnya yang tajam itu..."

Segera terdengar suaranya Kim It Peng: "Huketu, kenapa kau tidak lantas keluarkan Liu In cit Si yang sangat menggemparkan Rimba Persilatan?"

Huketu agak tolol, matanya pun tak bersinar

"Liu In cit Si? Liu In cit Si..." ia ngoceh seorang diri, "Haha Aku ingat sekarang Ya, Liu In cit Si"

Mendadak dia menggeraki pedangnya dari ke kanan, cahayanya berkilauan, tubuhnya pun mencelat, untuk terus menyerang It Peng. ia lantas bersilat dengan Liu In cit Si, ilmu pedang "Mega mengalir" yang terdiri tujuh jurus (cit-si) Kim It Peng tidak menyangka ia diserang secara demikian mendadak. la lompat mundur dua tindak. sepasang pedangnya lantas diputar hingga terlihat senjata itu pun berkilauan- Dengan begitu bertempurlah mereka.

In Gak memasang mata. ia mendapat kenyataan, meski pedang Huketu lihay, dia tak dapat segera mengurung si orang she Kim. Bahkan sebaliknya, ketika senjata mereka itu beradu, keduanya sama-sama lompat mundur. Huketu tetap berwajah seperti si tolol. Teranglah dia belum sadar.

Kim It Peng tertawa dingin, lalu ia maju pula, Untuk menyerang, ia lompat tinggi, supaya ia bisa menghajar turun dari atas,

Yan Bun kaget hingga ia menjerit tanpa disengaja, ia kaget sebab ia melihat si pendeta berdiam saja atas serangan hebat dari si imam. Kim It Peng menyerang dengan satu jurus dari Ban Hoa Toat Kiam.

Huketu nampak tolol, akan tetapi ketika serangan tiba, dia menangkis, hingga senjata mereka bentrok, habis mana dia maju untuk balas menyerang sampai tiga kali beruntun. hingga si imam mesti terdesak mundur tiga tindak

"Engko In, lihat pendeta aneh" kata Yan Bun, perlahan, "Huketu menyerang dengan jurus yang sama, kenapa arahnya dapat berlainan Adakah itu yang dinamakan Liu In cit si?"

In Gak pun mengawasi tajam.

"Entah kenapa asabatnya pendeta lama ini terganggu begini rupa," katanya, menggeleng kepala, .Berulangkali itu dia tetap menggunai jurus Pay In Pun Tian, Dia benar hebat, kalau bukannya dia lagi linglung, Kim It Peng boleh lihay, tetapi ia tentunya sudah dikalahkan siang-siang."

Nona Kouw mengawasi terus, ia menyangsikan perkataan pemuda ini. Kim It Peng menyerang dengan hebat, ilmu silatnya lihay sekali, Tapi aneh, Huketu selalu menangkisnya dengan Pay In Pun Tian, jurus "Membiak mega, mengejar kilat"

Saban-saban senjata mereka bentrok nyaring. Huketu linglung tetapi ia dapat berkelahi baik.

Yan Bun menonton dalam keheranan-

"Engko In, kenapa Huketu menjadi linglung?" tanyanya. In Gak menggeleng kepala, Mendadak ia nampak kaget,

lantas ia menjumput salju, untuk menimpuk ke tiga arah.

Nona Kouw melihat itu, ia tidak tahu apa maksudnya, ia heran,

Ti Ho Tan Pek Seng tengah mengawasi pertempuran ketika ia melihat ada benda putih menyamber ke arahnya, ia terkejut, ia mengangkat tangannya, untuk menangkap. Lantas ia merasai hawa sangat dingin, Sebab ia kena menangkap dan menggenggam segumpal salju.

Tengah heran, ada benda putih menyamber pula. Kali ini ia berkelit, habis mana ia lompat ke arah dari mana datangnya serangan itu. ia lompat ke arah pepohonan, Belum lagi kakinya menginjak tanah, ada bayangan tubuh yang lompat memapaki ia kaget sekali.

Justeru itu, terus kedua tangannya terasa kaku, hingga habislah tenaganya, Maka tanpa merasa, ia kena diseret ke dalam rimba. ia kaget dan berkuatir, ia tidak sempat melihat orang, Tapi ketika ia sudah berdiri diam, ia heran melihat In Gak. yang berdiri di sampingnya seorang nona cantik.

In Gak mengulapkan kedua tangannya, terus ia kata perlahan- "Saudara Tan, sekarang ini bukan saatnya " bicara, Saudara semua tengah terancam bahaya... Lekas beri tanda supaya saudara Kim mengundurkan diri, Coa San-cu sudah membunuh diri..."

Mukanya Pek Seng pucat, dia kaget sekali. Ia mau menanya juga tapi In Gak pegat pada-nya. "Lekas" kata si anak muda, "Lekas"

Menampak demikian, Pek Seng bertambah heran- Akan tetapi ia percaya anak muda ini, maka ia lompat ke luar, seraya terus memanggil kawannya: "Saudara Kim, kita masih mempunyai urusan, mari kita lekas pergi Dimana bisa, harus kita mengasihani orang Mari kita pergi, lekas"

Kim It Peng tengah kewalahan berbareng penasaran Pelbagai jurus sudah digunai, tak dapat ia melukai pendeta lama itu. Anehnya orang cuma berkelahi dengan satu jurus yang sama. Karena itu lantas ia lompat mundur.

Huketu ditinggal pergi, ia berdiri diam seorang diri, bingung nampaknya.

Mendadak.

Dari dalam rimba terdengar suara tertawa yang menyeramkan seperti suaranya burung hantu, sedang itu waktu angin dingin, bulan guram...

"SAUDARA Kim, mari kita lekas pergi" kata Tan Pek seng, mukanya pucal. Suara itu tak keras tetapi masuk ke dalam telinga bagaikan membetot semangat.

Tengah mereka itu menyingkir mendadak mereka dipapaki angin keras, yang membikin mereka pada terhuyung, Dalam kalutnya, mereka melihat munculnya dua orang pendeta. Dan pendeta yang di sebelah kiri berkata bengis: "Malam ini siapa pun tak dapat berlalu seenaknya saja dari sini Kamu mesti dengar keputusan lolap berdua"

Pendeta yang di sebelah kanan menggeraki bibirnya tapi tak terdengar suaranya.

It Peng kaget dan berkuatir, Sampokan angin kedua pendeta barusan membikin darahnya mengalir keras dan hatinya berlonjak. Kata-kata orang itu membuatnya gusar:

"Aku si orang she Kim, aku mau pergi atau tidak. terserah kepada diriku sendiri" dia kata keras. "Hm Aku kuatir kamu tidak mempunyai cukup tenaga untuk mencegahnya" Baru orang she Kim itu menutup mulutnya atau kedua pipinya segera digaplok menggelepok saling susul, hingga ia merasakan matanya berkunang-kunang, ia tidak melihat orang bergerak. ia tidak melihat tangan orang diluncurkan- Setelah dapat melihat pula dengan tegas, ia mendapatkan kedua pendeta itu sambil tertawa dingin, berdiri berendeng di depannya, terpisahnya cuma satu kaki.

Ia heran dan kaget, ia merasa sakit, iapun gusar bukan kepalang, Belum pernah ia dihinakan secara begitu. ia lantas membentak dan menyerang dengan sepasang pedangnya.

Kedua pendeta berdiri diam meskipun sepasang pedang meluncur kepada mereka. Begitu pedang sampai, barulah mereka mengangkat tangannya masing-masing suntuk menyambut dengan tiga jeriji.

Kim It Peng kembali kaget, kedua pedangnya itu kena dijepit hingga ia tidak sanggup menariknya pulang. Tengah ia kaget itu dan bingung, kembali terjadi hal yang membikin ia kaget disusun kaget, Kedua pendeta itu menggerakjeriji tangan mereka, lantas tahu-tahu sepasang pedang patah pinggang, patah di tengah-tengahnya, hingga pedang sepasang menjadi dua pasang.

Kedua pendeta itu mengayun tangan mereka, dua potongan pedang terlempar nancap di sebuah pohon cemara.

Kaget dan bingung dan putus asa, Kim It Peng berdiri diam sambil menutup rapat ke-dua matanya. Tubuhnya pun mengeluarkan peluh. ia mengheLanapas, saking penasaran-..

Pek Seng berlima bingung bukan main- Tidak berani mereka turun tangan untuk menolongi Kim It Peng. Kalau mereka sembrono bergerak. pasti It Peng lebih cepat mati dan mereka pun sukar lolos, Terang sudah kedua pendeta itu bukan lawan mereka. Mereka berdiri menjublak. mata mereka diarahkan ke dalam rimba mengharap-harap In Gak yang belum muncul juga. Kedua pendeta sudah lantas bertindak. Mereka mengibas dengan ujung jubah mereka, Keras angin kib asannya itu, hingga Pek Seng berlima tak dapat bertahan, setelah terhuyung, semua roboh tak berdaya di atas salju.

Tanpa memeriksa lagi kurban- kurbannya, kedua pendeta itu lompat ke depan Huketu.

"Huketu, mari turut lolap pergi ke kota raja" kata pendeta yang di kiri, suaranya dingin, "Ho Siansing sangat menyayangi kepandaianmu, kami dipesan untuk melindungi jiwamu, jika tidak. tadi di Ging Hud Peng, tak nanti kau dapat lolos..."

Pendeta lama itu mengawasi, sinar matanya guram, ia diam saja, Nampaknya ia sangat tolol, seperti si dungu.

Menyaksikan itu, kedua pendeta tertawa, terus mereka menotok dengan dua jeriji mereka ke jalan darah sin-tong dari Huketu,

Tepat totokan itu diajukan, tepat dari dalam rimba meluncur dua benda putih, menuju kepada kedua pendeta lihay itu. Tak peduli mereka sangat lihay, muka mereka toh terhajar tanpa mereka sempat menangkis atau berkelit.

Mereka kaget dan merasakan sakit, meski benda putih itu hanyalah gumpalan salju. Mereka lantas lompat ke arah rimba, tangan mereka ditolakkan ke depan, mendatangkan angin yang keras sekali.

Sebagai kesudahan dari itu, robohlah pohon cemara yang menjadi sasaran kebetulan, karena sasaran yang diarahkan tak nampak....

Kedua pendeta itu lompat terus, masuk ke dalam rimba, Mereka tidak melihat siapa juga, Berulangkali mereka bersuara "Hm" itulah tanda mereka sedang penasaran- Dengan sepasang mata masing-masing yang tajam, mereka melihat ke sekitarnya.

Sia-sia belaka mereka mencari, Maka mereka tak mau berdiam lama, lantas mereka lari ke luar, setibanya di luar, mereka melengak, saking heran dan kaget. Kim It Peng berenam tidak ada di situ dan Huketu juga lenyap. Hanya sebentar mereka melengak lantas keduanya bersiul keras dan nyaring, tubuh mereka berlompat, maka di lain saat lenyaplah mereka juga.

Hingga gunung bersalju itu menjadi sepi pula, kecuali deruan angin dan berterbangan-nya sang salju.

Pula di wihara Potala, keadaan tetap sunyi dan gelap. dengan mayat-mayat masih tetap bergelimpangan...

Gunung Bu Leng San berdiri tegak di luar kota Malan-kwan di mana dia merupakan gunung yang indah tetapi pun berbahaya lantaran berjurang tinggi dan berlembah dalam, pepohonannya lebat, terutama pohon cemara yang tua-tua, tinggi dan besar, yang banyak sekali cabangnya dan rapat.

Dan di musim dingin, gunung itu seperti mengganti diri, putih seluruhnya dengan salju. Bisalah dimengerti halnya sukar mendaki gunung diwaktu begitu.

Di sebelah selatan, di mana ada banyak puncak. ada sebuah lembah dimana ada berdiri sebuah kelenting kecil, seluruh dindingnya ialah dari batu gunung, yang digempur dan dicokeli, Merek kelenting itu ialah ci ci Am.

Di depan itu ada lima buah pohon cemara, yang besar dan tua dan di belakangnya pohon bambu dimanapun ada air terjun yang tinggi, hingga suaranya menjadi nyaring dan berisik yang airnya mengalir ke selat.

Tatkala itu tampak pintu kelenting ditutup rapat, Kecuali angin, sunyi di situ, Akan tetapi itulah bukan kuil kosong, Di bagian selatannya, dalam sebuah kamar, rebah nyender di pembaringan, ada seorang wanita muda dengan pakaian serba hitam, kedua matanya merah dan bengkak, mukanya pucat.

Kedua matanya pun hilang sinarnya. Nampak ia sangat bersusah hati. Tak lama ia berdiam, terdengarlah ia mengheLanapas. Dengan tangan bajunya ia menepas air matanya. Ia agaknya mau menangis keras-

Ketika ia berbangkit dengan sebelah tangan di dada, ia menghampirkan meja kecil di depan jendela, ia menyalakan pendupaan hingga asap lantas mengepul naik, baunya harum.

Kamar itu guram, maka ia pun menyalakan api, sebuah pelita yang mengeluarkan sinar rada kuning. Dengan bantuannya api itu, ia mau membaca kitab suci Hoa Giam- ceng. Ketika ia membalik halamannya, secara sembarangan matanya tak dapat melihat tegas, pandangan matanya itu guram, ia berduka sekali, hatinya terasa perih.

Maka ia mengheLanapas dan kemudian mengatakan perlahan: "Langit dan bumi itu kekal akan tetapi ada waktu habisnya, adalah penasaran ini tak putus-putusnya"

Maka meleleh air matanya. Justeru itu pintu kamar tertolak dari luar dan seorang wanita tua, muncul di situ seraya terus berkata: "Nona Lan, am- cu panggil kau..."

"Sukoh, terima kasih," menyahut si nona kepada wanita tua itu. "Apakah lojinke sudah selesai dengan latihannya?" ia menyahuti sambil berbangkit. Melihat orang menangis dan matanya merah dan bengul, si nyonya mengheLanapas, ia menghampirkan.

"Nona Lan, kau kenapa?" tanyanya, "Selama beberapa hari kau pulang, kau selalu nangis. Kau bisa terganggu kesehatanmu. Urusan toh pasti dapat dibereskan, meskipun lambat. Memang diantara pemuda dan pemudi mesti ada perselisihan mulut..."

"Siapa yang berselisih?" kata si nona cepat. "Dia sengaja menghina aku"

Nyonya itu menggeleng kepala. "Tak dapat aku diabui." katanya, "Aku sudah berpengalaman Diwaktu usiaku sebaya usiamu, banyak laki-laki yang tunduk padaku. Hm-aku tak mempedulikan mereka, hingga banyak diantaranya yang hilang ingatannya. Laki laki itu, apakah kegunaannya? Kalau aku, aku cari gantinya Di kolong langit ini banyak sekali pemuda tampan Kenapa nona mesti cari dia seorang?" Habis berkata, dia tertawa.

Lucu nyonya ini hingga mendengar itu, si nona tertawa, Tapi hanya sedetik, ia membanting banting kaki.

"Sukoh, kau tahu apa?" katanya, matanya melotot "Kalau aku hendak cari yang lain

buat apa aku menanti sampai kau ngoceh ini."

Nyonya itu mengawasi, dia nampak heran-"Apa?" tanyanya, "Apakah nona dengan dia."

Muka si nona pucat, tapi sekarang merah mendadak. Ia membanting kaki pula.

"Sukoh, jangan ngoceh" ia kata menyesalkan "Kau tidak tahu duduknya Aku bukan seperti kau..."

Matanya lantas berputar kelihatan ia mendongkol sekali.

"Sudahlah nona," kata si nyonya tua yang melihat orang mulai marah. "Sebentar kita bicara pula...

Dan ia keluar dengan cepat.

Si nona berdiam, ia ingat pula pengalamannya oleh Hui Thian Auw-cu ia terluka dengan pukulan Tiat Siu Sin Kang, lalu sayup-sayup ia merasa ditolongi pemuda yang ia cintai, bagaimana tangan yang hangat dari pemuda itu nempel pada dadanya, pada buah susu-nya, hingga ia merasakan nyaman yang tak dapat diutarakan dengan kata-kata, ia merasakan hawa hangat tersalurkan ke hatinya, hingga ia ingin tangan itu meraba seluruh dadanya. Tapi di sana datanglah Keng Tiang Siu, maka buyarlah impiannya...

Si nyonya tua tak ketahui hal ikhwalnya itu, pantas dia tak mengerti, ialah gadis remaja, setelah tubuhnya diraba-raba, mana dapat ia tak mencintai setulusnya si pemuda? ia mesti serahkan dirinya tidak kepada lain orang kecuali dianya...

Maka ia membenci sekali Tiang Siu. ia pun sangat menyesali dirinya. Sekarang ia berduka sangat, ia tidak berdaya, ia pulang dengan mendendam penasaran pada orang yang dicintai itu, ia mengadu kepada gurunya, tetapi sang guru cuma memperlihatkan wajah dingin-

Guru itu tak mengatakan sesuatu, ia kenal baik sifat gurunya, sikap diam itu berbahaya untuk si pemuda, Maka ia berkuatir untuk pemuda itu...

Di hari kedua. Ay Hong sok Kheng Hong datang menyusul.

Dia bicara dengan gurunya, memberi penjelasan, lantas ia dengar gurunya kata: "Murid Yan San tak dapat dihinakan siapa juga. Perintah Cia In Gak datang ke mari untuk menghaturkan maaf. Aku mau lihat dia, dia mengandalkan apa maka dia berani menghina si Lan. Dia mesti memberi alasan yang kuat, baru aku mau sudah."

Atas itu Kheng Hong berlalu dengan kepalanya digelengkan berulang-ulang.

Ketika itu, ia yang mencuri dengar pembicaraan itu menjadi sedih dan berkuatir, pikirannya kusut. ia menjadi bingung sekali, hingga tak tahu ia, ia menyintai atau membenci.

Kalau umpama ia bertemu si anak muda, mesti bagaimanakah sikapnya? ia kuatir nanti diperhina pula... Ia mengheLanapas.

"Ni Wan Lan, kenapa peruntunganmu begini tipis?" ia kata dalam hati, Lalu ia menguati hati, sembari merapikan rambutnya secara sembarangan, ia keluar dari kamarnya bertindak ke hud-tong, ruang pemujaan, Di luar pintu, ia memasang telinga ia mendengar suara tetabuan, yang lantas berhenti, terganti dengan suara ini: "Anak Lan di sana? Mari" Itulah suara gurunya, ia lantas bertindak masuk.

Di pinggir meja terlihat seorang wanita tua lagi duduk bersila. Telah putih semua rambut dan alis wanita itu. Kedua matanya dipentang. Mata itu bagus dan tajam tapi sinarnya dingin. Tanpa bergusar, nyonya itu tampak keren. Dialah Yan San Sin Ni, si bhiksuni kesohor dari gunung Yan San itu. "Anak Lan, jangan kau berduka tidak keruan," dia berkata, kapan dia melihat muridnya habis menangis, "Kau sabar, kau tunggu nanti gurumu membereskannya, supaya kau dapat mencapai maksud hatimu..."

Murid itu mengawasi gurunya, ia melihat guru itu beda daripada biasanya, Rupanya ada yang guru itu buat duka.

"Ada kesangsian apakah lojinke?" ia tanya guru itu. Yan San Sin Ni mengangguk.

"Kau tidak tahu, anak." sahutnya, sabar, "Sudah lima belas tahun lamanya, gurumu tidak pernah keluar satu tindak juga dari kelentingku ini, aku tengah meyakinkan tenaga asli Tay Seng Poan-jiak. Apakah kau mengira gurumu menyadari ilmu batin? Bukan Aku justeru lagi bersiap melayani empat musuh besar. Sebentar malam kita bakal mengadu kepandaian di jurang cian Siong Gay, entah siapa bakal hidup, siapa bakal terbinasa..."

Wan Lan terkejut.

"Lejinke kesohor dan dimalui, siapa lagi berani main gila?" ia tanya heran. Ditanya begitu, nyonya tua itu tertawa, ia mengangkat pundak.

"Kau, budak..." katanya, "kau benar tidak ketahui bahwa langit itu tinggi dan bumi itu tebal, bahwa disamping orang, ada orang lainnya, diluar langit ada langit lapisannya. Kali ini aku menghadapi jago-jago Rimba persilatan yang lihay, yang sudah sekian lama hidup menyendiri, hingga jarang orang Kang ouw yang mengetahuinya, orang sebangsa kau, pastilah tak ada yang pernah mendengarnya.

Merekalah Koat chong Sam Lo serta Bu Eng Sin ciang Pit Siauw Hong, supe dari ciangbunjin ceng Shia Pay. Apakah kau mengira mereka orang biasa saja?"

Nona Nie Heran.

"Empat orang itu si Lan belum pernah mendengarnya," katanya, "Bukankah mereka dari kalangan lurus? Mengapa mereka menyeterukan lejinke? Sungguh aku tidak mengerti." Mau atau tidak Yan San Sin Ni tertawa juga.

"Inilah sulitnya Rimba Persilatan, banyak soalnya yang sukar dimengerti." katanya "Mengenai urusan itu, yang salah ialah pihakku.Pada lima belas tahun yang sudah lampau itu walaupun aku berada dalam kalangan orang suci tetapi tabiatku keras, sifatku suka menang sendiri, kebetulan itu waktu aku dengan ketiga tetua dari Koat chong itu serta Pit Siauw Hong.

Kita merundingkan ilmu pedang, Disitu aku berbuat keliru sudah memuji ilmu pedang Muni Hang Mo sebagai ilmu nomor satu lihay di kolong langit ini. Pit Siauw Hong lantas minta aku membuktikannya, sedang Ho Siu Sin Liong Seng Goan dari Koat chong Sam Lo turut mengejek.

Dalam pertandingan itu, sampai di jurus Muni Kiam-hoat yang keseratus sembilan belas, aku telah menabas dua jari tangan kanan dari Seng Goan dan mengutungi ujung bajunya Pit Siauw Hong.

Mereka menjadi gusar, lantas mereka menyerang hebat, Aku telah didesak sampai di tepi jurang hingga aku terancam jatuh kecemplung. Mendadak Pit Siauw Hong berhenti mendesak. ia pun menghentikan pertempuran-

Dia kata bukanlah perbuatan gagah empat orang mengepung satu orang. ia terus menjanjikan untuk malam ini kita bertanding pula sampai salah satu mati atau hidup..."

Habis menerangkan itu, nyonya tua ini mengheLanapas, agaknya ia masgul sekali.

Hati Wan Lan bercekat, ia berkuatir dan berduka.

"Lejinke seorang diri bakal melawan empat orang, mana itu dapat?" katanya ia berduka, alisnya ciut. ia lantas pikir: "Harap saja mereka tidak datang, kalau mereka datang, aku mesti belajar kenal dengan mereka itu."

Y n San Sin-Ni mengawasi, mendadak ia tertawa, ia dapat menerka hati si nona.

"Anak Lan, jangan kau berduka dan menguatirkan aku," katanya menghibur. "Koat chong Sam Lo bangsa cupat pandangannya. Seng Goan gusar sekali karena hilang dua jari tangannya itu, maka itu mereka tentu bakal berkelahi mati- matian- Aku tidak takut.

Dalam hal ini, aku mengandal kemurahan hati Sang Buddha kita, yang maha pengasih, sebentar malam tentulah kakak seperguruanmu, Leng Giok Song bakal pulang, maka bersamanya kau berdiam saja di dalam kelenting, jangan kamu keluar, tentu bahayanya tak ada."

Mendengar disebutnYanama Leng Giok Song itu, Ni Wan Lan lantas ingat akan si kakak perguruan yang halus budi pekertinya. Sudah lima atau enam tahun ia tak bertemu dengan suci itu. Tentu sekali ia menjadi sangat girang, ia hendak menanya gurunya itu tapi Yan San Sin Ni dului padanya:

"Pergi kau ke belakang, kau lihat Su Koh sudah selesai masak atau belum."

Habis itu, guru ini merapatkan matanya.

Wan Lan menurut, sehabisnya menyahuti, ia lantas pergi.

Tak lama nona ini sudah merebahkan diri di atas pembaringan dalam kamarnya - di kamar sebelah selatan- Dengan kedua matanya mendelong, ia memikirkan segala perjalanannya yang sudah-sudah. Sendirinya ia merasa hatinya tak tenang.

Di luar jendela angin utara menderu- deru, hingga kertas jendela memperdengarkan suaranya akibat sampokannya. Ketika itu sudah malam. Salju beterbangan turun tanpa suara, cuma menambahkan tebalnya saja.

Tengah si nona berdiam dengan pikiran kacau itu, tiba-tiba ia mendengar satu suara perlahan sekali di atas genting, ia mengenali tindakan kaki orang, ia terkejut, tangannya lantas meraba pedangnya, tubuhnya mencelat bangun, bahkan terus ia menggempur jendela dengan tangan kiri, untuk berlompul ke luar dan segera berlompat naik ke atas genting. Angin keras, ketika menaruh kaki di atas genting Wan Lan merasa tubuhnya sedikit bergoyang, Samar-samar ia melihat sesosok tubuh di belakang pohon bambu lebat. Melihat gesitnya orang, ia menduga kepada seorang jago Rimba Persilatan, ia kata dalam hatinya: "Kau memandang sangat enteng kepada pihak Yan San- BiLananti aku membiarkan kau lolos dari sini, aku bukannya Lo sat Giok li." Lantas ia berlompat, untuk menyusul orang itu.

Mulanya ia berlompat dengan tipu silat "Burung walet merah menyamber gelombang",

lalu disusul dengan lompatan meluncur turun "burung nasar dan rajawali saling menerkam"

Ketika ia tiba di sana, ia melihat orang sudah pergi sembilan tombak jauhnya, ia penasaran, ia kata dalam hatinya: "Bangsat, jikalau aku tidak dapat menghadang kau, kau bakal jadi terlalu berkepala besar" Lalu ia lompat pula untuk menyusul. ia tidak mau memperdulikan orang yang dikejar ketahui dirinya dikejar atau tidak. la menyusul sampai belasan tombak. mendadak orang itu lenyap dari hadapannya, tak nampak bayangan, tak ada tapak kakinya pada salju.

"Heran-" pikirnya. ia berdiam, mengawasi ke-salju lalu kelilingan, Mestinya ia melihat tapak kaki.

Tiba-tiba sang angin membawa suara tertawa dingin, datangnya dari tempat sejarak dua tombak lebih di belakang sebuah pohon cemara besar. Ia jadi mendongkol, sambil membentak ia lari untuk lompat ke arah pohon itu, yang ia terus tabas.

Pohon itu kutung dan roboh karenanya. Tetapi di belakang itu tiada orangnya. Maka si nona melengak, tubuhnya dirasai dingin sekai, dinginnya melebihkan angin dan salju, "Heran," pikirnya pula berdiri menjublak.

Tiba-tiba ia merasa angin berkesiur di belakangnya, kepalanya seperti terkebut, ia kaget segera ia memutar diri. Begitu ia melihat begitu ia bertambah kaget, sekarang ia melihat orang yang ia susul itu, yang berdiri terpisah hanya satu kaki dari ianya. baju nya baju panjang warna abu-abu, kepala dan mukanya ditutupi topeng hingga tinggal sepasang matanya saja yang bengis.

Bentrok dengan sinar mata orang itu ia merasa seperti kepalanya pusing. Pula orang itu mencekal segumpal ujung rambutnya serta tangannya yang lain, merah telapakannya.

"Kenapa dia gesit bagaikan hantu?" Wan Lan pikir, "Dia berada di belakangku tanpa aku mengetahui. Dialah orang Kang ouw terlihay yang aku baru pernah ketemukan-.. Ia lantas merasa cuma In Gak yang dapat melayani orang ini...

Selagi orang tercengang, orang itu tertawa dan kata tajam: “Jikalau aku tidak memandang Leng Giok Song, sucimu, pasti aku telah lantas membunuhmu. Sekarang ini cuma rambutmu ini aku pakai gantimu" ia lantas menimpuk dengan segumpal rambut di tangannya itu, ia bersiul nyaring dan lama, selama mana tubuhnya mencelat, untuk terus lenyap di antara salju yang tebal...

Kembali Wan Lan terkejut ia melihat orang menimpuk dengan tipu silat "Hui hoa-tek-yap" yaitu "Menerbangkan bunga memetik daun". Rambutnya itu menyambar pohon cemara dan nancap di batang bongkotnya.

"Kakak seperguruanku itu halus budi pekertinya," ia berpikir. "Sedari masih kecil ia sudah ditunangkan dengan Lu Meng, putera-nya seorang hartawan di kota Hang-cu. Kenapa sekarang ia berkenalan dengan orang ini? Diantara mereka mesti ada hubungannya yang luar biasa,Jangan-jangan dia ini mencintai suci... Hm Kau begini jumawa, pasti suci tak ketarik terhadapmu"

Tapi ketika ia melihat rambutnya di pohon, ia berpikir pula: "Mungkin dia melihat suci pulang, dan di tengah jalan dia menguntit hanya entah kenapa dia ketinggalan dan suci keburu masuk ke dalam kelenting, maka sekarang dia bergelandangan di sini, ia tentu tak pergi jauh, dia pasti terus menamakan suci. malah, kalau sebentar kita bertemu pula, aku mesti buka topengnya."

Dalam keadaan seperti ini, Wan Lan masih tidak dapat membuang sifatnya yang keras kepala dan jail. Sekian lama ia masih berdiam diri, dengan tangannya ia membuang salju di pundaknya, baru kemudian ia lari pulang.

Ketika itu gelap di segala penjuru. Di dalam kelenteng terang dengan cahaya api. Wan Lan lompat masuk di jendelanya yang masih terpentang. Begitu ia menaruh kaki, telinganya mendengar suaranya su koh: "Nona Wan, am- cu panggil kau." Suara itu dalam terdengarnya.

Wan Lan heran, terkejut. Mestinya gurunya mempunyai urusan penting, mungkin gusar. Maka itu, dengan hati tidak tenang, ia menuju se hud-tong, ruang pemujaan-

Dua batang lilin besar menerangi hud-tong, menerangi juga mukanya Yan San Sin Ni, yang dingin bagaikan es. ciut hati si nona menyaksikan roman gurunya itu. "Suhu" ia memanggil penahan.

Bhiksuni itu menyapa dengan sinar matanya yang dingin itu.

"Hm, Makin lama kau makin tak makan ajaran" katanya. "Apa pesanku tadi? Tak peduli ada terjadi apa, aku larang kau keluar dari pintu kelenting ini. Kenapa kata-kataku itu masih mendengung tetapi kau sudah keluar dari kelenting dan mencari gara-gara? Tanyalah dirimu, apakah kau sanggup melawan Koat chong Sam Lo?"

Wan Lan tunduk dengan berdiam, hatinya mendelu, ia mengangkat kedua pundaknya, menangis dengan perlahan- Sang guru mengawasi.

Dalam kesunyian itu, suasana agak tegang. Tiba-tiba Su koh muncul di ambang pintu, matanya mengawasi si nona. "Nona Lan, enci Song kau lagi menantikanmu." katanya.

Wan Lan berhenti menangis. Sinar matanya menandakan ia girang. Lantas memandang gurunya.

"Suhu, si Lan mau melihat enci Song..." katanya. Yan San Sin Ni mengangguk.

Wan Lan girang, lekas ia mengundurkan diri, untuk mengikuti Su Koh pergi ke kamar lain di ruang belakang.

Di dalam kamar wanita pengurus kelenteng itu, di atas pembaringan berduduk seorang nona dengan pakaian serba putih, sederhana dandanannya, halus gerak-geriknya, siapa melihatnya pasti merasa suka dan menyayangnya.

"Enci?" Wan Lan memanggil semasuknya ia ke dalam kamar, ia melihat orang berduka, ia menduga kepada perbuatan si orang bertopeng tadi. Nona berpakaian putih itu turun dari pembaringan, dia tertawa.

"Adik Lan- sambutnya. "Sudah lama kita tidak bertemu, mari aku mengawasi kau" Dan ia mencekal tangan Nona Ni, untuk menatap.

Ia menghela napas dan terkulai "Adik Lan, dibanding dulu hari kau terlebih kurus. Apakah kau habis menangis?"

Kata-kata itu melukai si nona, mendadak air matanya turun meleleh, la lantas melemparkan tubuhnya dalam pelukan suci itu.

Leng Giok Song merangkul, ia mengusap-usap rambut Wan Lan-

"Adik Lan, jangan berduka." ia menghibur. "Sebagai seorang wanita, kita tak dapat lolos dari pengalaman begini macam. Segala apa sudah diatur oleh Yang Maha kuasa.

Segala hal ihwalmu telah aku dengar dari Su koh. Kau masih dapat berbuat banyak. jangan kau berduka.” Wan Lan berdiam, ia ingat kejadian tadi. "Enci," ia tanya, "tadi aku mengejar seorang bertopeng dengan pakaian putih, adakah ia enci punya..."

Giok song mengangguk. "Sungguh celaka. . ." katanya perlahan. Nona Nie Heran.

"Enci, tak dapatkah kau lolos dari dia?"

"Sulit untuk mengatakannya," sahut Nona Leng menghela napas, "cuma sang tempo yang bakal memutuskannya Mudah untuk menyebutkan lolos dari dia, akan tetapi untuk melaksanakannya sulit sekali.

Pula malam ini, dia dapat diharap bantuannya untuk mengundurkan musuh musuh lihay dari suhu..."

"Dia siapa, enci?" Wan Lan tanya. Giok song berdiam.

"Dlalah siauw-tocu Nio Miu Ki dari pulau Giok ciong To dari Lam Hay" sahutnya kemudian-

"Dla sungguh jumawa," kata Wan Lan yang ingat lagak orang tadi.

Giok song bersenyum tawar, ia tidak menyahuti.

Su Koh mundur pula semasuknya si nona Lan ke dalam kamarnya, tapi sekarang ia kembali.

"Apakah kamu belum habis mengobrol?" tanyanya tertawa, "Musuh sudah berada di cian Siong Gay.

Giok song tertawa dingin.

"Su Koh," tanyanya, " bukankah malam ini kau berniat melemaskan otot-ototmu?" Nyonya itu mengangguk.

"Sudah tiga puluh tahun aku tak menggerakinya, entah sekarang masih dapat atau tidak." sahutnya, "Biar bagaimana, gurumu melarang aku turut padanya, setelah aku mendesak dan membangkitkan kemendongkolannya, barulah mengijinkan juga."

Su-koh ini bekas hantu wanita. Dialah Yu Su Hong alias Su Koh. Satu kali dia dikepung serombongan jago lurus, dia jatuh dijurang, selagi napasnya empas-empis mau mati, Yan San Sin Ni lewat di situ, dia ditolongi, dibawa pulang ke gunung dan diobati, setelah setengah tahun dia berobat dan sembuh, dia sadar, lantas dia berdiam terus di ci ci Am, menemani dan melayani bhiksuni penolongnya itu.

Wan Lan ingin menyaksikan pertempuran, ia malang dengan larangan gurunya, Lantas minta Giok Song mengajaknya. Nona Leng mengerutkan alis, tetapi ia tersenyum.

"Kau paling bisa rewel" katanya, "Pasti ada maksudnya kenapa suhu melarang kau dan aku keluar, sekarang begini saja. kita keluar tetapi kita menyembunyikan diri. Di dekat cian Siong Gay ada sebuah gua, di sana kita mengintai. Tapi kau mesti berjanji padaku apa juga yang kau lihat tak dapat kau turun tangan-

Wan Lan girang sekali.

"Baik." sahutnya, memberi janjinya.

"Kalau begitu, mari" Gick Song mengajak. Sedang Yu Su Koh lantas jalan mendahului.

Puncak cian Siong Gay terang sekali. Belasan batang obor telah dinyalakan- Angin besar tak dapat meniup padam semua obor itu, cuma apinya yang bergoyang-goyang menyinari pohon-pohon cemara yang batang dan cabangnya beraneka warna.

Di bawah sebuah pohon cemara terlihat tiga orang tua duduk bersila, semua alisnya sudah putih dan kumis jenggotnya panjang sampai ke dada, wajahnya suram.

orang tua yang bercokol di sebelah kiri mengeluarkan tangan kanannya, matanya mengawasi tajam jeriji tangannya yang lenyap. jeriji manis dan kelingkingnya.

"Sampai begini waktu, perempuan tua itu masih belum muncul" katanya. "Mungkinkah dia jeri?"

Baru orang itu menutup mulutnya atau satu bayangan berkelebat di depan mereka, disusul tertawa dingin bayangan itu, yang terus berkata nyaring: "Tiga sahabat dari Koo chong, benar-benar kamu orang-orang yang dapat dipercaya Mana dia Bu-eng Sin ciang Pit Siauw Hong?"

Itulah Yan San Sin-ni yang dibuat sebutan- Maka terperanjatlah ketiga orang tua itu, sebab tahu-tahu orang sudah berada di depannya. Dengan repot mereka berbangkit untuk mengawasi dengan tajam.

Ho Siu sin Liong Sang Goan mengangkat sebelah tangannya, yang tinggal tiga jerijinya itu. "Budi tangan buntung ini, selama lima belas tahun tak pernah aku melupakannya," kata dia. "Maka itu malam ini haruslah kita mendapatkan keputusannya perempuan tua, apa katamu lagi?"

AlisnYanyonya suci itu terbangun.

“Jite, sabar" berkata orang tua yang kedua mendahului Yan San Sin Ni. Dialah orang yang mengenakan jubah kuning, "Buat apa kesusu? Pit Losu bakal segera tiba. Begitu dia datang, kita mulai turun tangan- Tak terlambat toh?"

Mendengar itu, Yan San sin Ni bersenyum. Ia kata: "Dasar oey-san insu Pui Ek orang yang berilmu, yang sikapnya membikin orang tunduk." Seng Goan tertawa dingin, matanya menatap tajam si pendeta wanita. Sin-ni terus bersenyum- senyum, nampaknya ia tidak menghiraukan Koat chong Sam Lo.

Tidak lama habis itu, di lembah jauh di depan terdengar siulan keras dan nyaring dibawa angin menusuk telinga. Suara itu lama dan terus mendatangi ke arah jurang, mendekati dengan lekas. "Siancay" Siancay" Yan San Sin Ni memuji

Menyusuli siulan nyaring itu terdengar pula suara menggelegar, seperti dari sesuatu yang ambruk. Maka itu si bhiksuni mengasih dengar pujiannya.

Dan menyusuli puji itu, dekat pada Koat chong Sam Lo, di tempat bagian jurang yang gempur itu terlihat sesosok tubuh lompat muncul seperti burung terbang melayang, hingga sebentar saja terlihatlah dia Sebagai seorang tua yang bertubuh kurus.

Dia lantas tertawa lebar dan berkata nyaring: "Hm, tiga sahabat dari Koat ciong Sejak kita berpisah apa kamu baik- baik saja Maafkan aku yang datang terlambat, hingga kamu tentunya telah menanti hingga letih dan pegal" ia terus menoleh kepada Yan San Sin Ni untuk tertawa dan kata pula:

"Banyak baik, sin Ni? Tidak kusangka selagi kita bakal masuk ke dalam peti kita masih tak dapat membebaskan diri dari satu pertempuran." Pendeta wanita itu mengangguk dengan perlahan.

"Pit Sicu," katanya "sudah lama kita berpisah, sekarang kita bertemu, aku melihat kau segar, pastilah tenaga dalammu telah maju banyak sekali, sekarang ini aku si pendeta tua menepati janji, bagaimana sicu hendak berbuat?"

Pit siauw Hong belum menyahuti, Seng Goan sudah membentak: "Bagaimana lagi? Tidak dapat tidak tubuhmu mesti dibikin menjadi beberapa potong dengan pedangku ini serta ci ci Am menjadi tumpukan puing Sebelum itu tak puas aku"

Alisnya si pendeta meng kerut.

"Aku kuatir tak demikian mudah" sahutnya tawar "Bukankah kau telah melihat sendiri yang aku si pendeta tua tetap sehat-sehat saja?"

Seng Goan melengak. lalu mukanya pucat. Mendadak ia melihat datangnya suatu barang ke arahnya, hingga sambil berkelit ia mesti menyampok membikin barang itu terpental ke salju di depan mereka bertiga.

Untuk kagetnya, itulah ternyata sekumpulan terdiri dari tujuh kepala orang yang menjadi berdarah tidak keruan karena sampokan itu.

Yan San Sin Ni sudah lantas, membaca doa Pit Siauw Hong mengerutkan alisnya. Ketiga saudara Koat chong sebaliknya kaget dan gusar dan Seng Goan segera berseru: "Siapakah yang main sembunyi-sembunyi? itulah perbuatan buruk."

Dari antara tempat yang gelap terdengar tertawa dingin dan jawaban ini: "Apakah kamu tidak juga berbuat seburuk ini? kamu mengundang Yan San Sin Ni datang kemari untuk membuat perhitungan, tetapi diam-diam kamu mengirim orang-orangmu untuk membakar ludas kuilnya Syukur mereka kepergok aku si wanita tua. Tak dapat aku mengendalikan diriku, aku lantas kutungi kepala mereka itu untuk darahnya dipakai mencuci mukamu"

Seng Goan mengawasi ke arah suara itu bersenyum ewah terus tangannya terayun kesitu. sebuah sinar hitam melesat seperti kilat.

Disana lantas terdengar satu suara nyaring seperti suara tambur, terus muncul seorang wanita tua, ialah Yu Su Koh, dengan tangan kiri memondong sebuah tiat-pi-pe atau Pipe besi tinggi tak tiga kaki, tangan kanannya dia menuding si penyerang dengan senjata gelap itu sambil tertawa dia kata:

"Senjata rahasiamu itu, hek it teng, dapat dipakai melayani orang-orang yang kepandaiannya biasa saja, tetapi tidak di depanku si orang tua Di depanku kau bertingkah tidak keruan Apakah kau tidak ketahui bahwa aku si tua ialah kakek moyang-nya senjata senjata rahasia?"

Bu Eng Sin ciang Pit Siauw Hong sudah lantas mengenali nyonya itu. "Kiranya kau," ia kata.

"Benar" sahut Yu Su Koh, memandang si Tangan Sakti Tak Berbayang, "Kau tentunya

tidak menerka bahwa Tiat ci Pipe Yu Su Hong masih belum mati-jikalau kau mempunyai kegembiraanmu, maka si perempuan tua suka sekali menemani kamu main-main barang beberapa jurus."

Pit Siauw Hong tertawa mengejek.

"Arwah gelandangan sisa tanganku berani omong besar" dia kata. "Tapi kau harus ketahui, aku si orang tua datang ke mari, aku memenuhkan janjiku dengan Yan San Sin Ni untuk membereskan urusan lama kita Urusan di antara kau dan aku, urusan tiga puluh tahun dulu, bukankah sudah beres: Apa perlunya kau menimbulkannya pula?"

Habis berkata, ia mundur tiga tindak.

Yan San Sin Ni Heran, ia mengawasi Yu Su koh, Sungguh ia tidak sangka jika dulu hari orang justeru dirobohkan Pit Siauw Hong. Selama tiga puluh tahun, Yu Su koh tak pernah memberitahukannya.

Seng Goan gusar sekali, sambil bersuara: "Hm" ia menolak dengan keras dengan sebelah tangannya, ia menyerang Tiat ci Pipe tanpa bicara lagi.

Yu Su Koh menangkis dengan pipe besinya itu hingga terjadilah pula satu suara yang nyaring. ia mundur dua tindak, talipipenya tak putus karena serangan mendadak itu, sebaliknya dari situ lantas menyambar segumpal jarum ke arah penyerangnya.

Seng Goan sudah siap sedia. Waktu mendengar orang ialah musuhnya Pit Siauw Hong pada tiga puluh tahun yang lalu, ia mendapat tahu lihaynya senjata rahasia wanita itu-jarum beracun, Maka ia lantas- berlompat tinggi dengan gerakannya "Burung jenjang terbang ke langit", Begitu jarum lewat, ia turun pula, Biar bagaimana, ia toh kaget, air mukanya berubah.

Yu Su Hong berseru: "Nah, kau cobalah menyambut pula." Kali ini pipe dibikin bergerak sambil dipetik talinya, maka di situ lantas terdengar suara tingtong tingtong yang mengaung diantara empat penjuru angin-

Seng Goan berdiri tegak matanya dipasang, ia menduga orang melainkan mengancam.

Dugaan itu benar, Pipe tidak meluncur terus, hanya kembali Adalah suaranya yang masih belum mau berhenti.

Menggunai ketika itu, Seng Goan menolak keras dengan sebelah tangannya, lalu terus dia berlompat, hingga dia berada di belakang Yu Su Hong, yang berkelit ke samping. Dari sini dia menyerang pula, sekarang dengan dua-dua tangannya.

Su Koh terkejut. Pertama karena serangannya gagal, kedua sebab segera ia merasa angin menyambar di belakangnya.

Tanpa ayal ia memutar tubuh sambil mengerahkan tenaga untuk mendorong keras dengan pipe besinya.

Kembali ia terkejut, Ketika keduanya bentrok ia merasai lengannya lemas, tak ada tenaganya.

Ia sadar sesudah kasip. Dari sana terasa menolak, terus pipenya terlepas dari cekalan, terus dadanya terhajar keras, hingga tubuhnya terpental roboh terbanting di atas salju, melanggar cabang-cabang cemara yang menyala, ia masih berkuat untuk bangun dan duduk. tetapi ia lantas muntah darah, terus ia roboh pula. Melihat demikian, seng Goan tertawa gembira.

"Kaulah si cengcorang yang melawan kereta" katanya jumawa, "Kau berani banyak lagak, Apakah kau kira kau sanggup melayani aku?"

Yan San Sin Ni lompat kepada Su Hong, untuk mengasih bangun, Mukanya nyonya tua itu sangat pucat, napasnya jalan tinggal satu kali dengan satu kali. Maka lekas-lekas ia menotok sembilan jalan darah si nyonya, ia lantas mengasih makan tiga butir pel yang ia keluarkan dari peles obatnya. Setelah itu ia merebahkannya dengan hati-hati "Seng Sicu, kau terlalu telengas" ia kata seraya ia menoleh pada Seng Goan. orang yang ditegur itu tertawa terbahak-2.

"Perempuan tua gundul, jangan kau bertingkah" dia kata terkebur, "Kau sendiri masih belum sempat mengurus dirimu, kau hendak mengurus lain orang. Aku bilang terus terang, dengan datang ke cian Siong Gay ini, kami hendak membikin tidak nanti ada orang yang pulang utuh."

Mendengar itu, Pit Siauw Hong mengerutkan keningnya. "Amida Budha" bhiksuni tua memuji dingin- "cian Siong Gay ini tempat aku si orang tua, tak dapat aku membiarkan tempatku ini menjadi tempat orang membuat kedosaan, Sang Budha maha murah, malam ini hambamu si bhiksuni tak terpaksa mesti membuka pantangan pembunuhan-

Kata-kata ini disusul dengan siulnya vang nyaring yang memecah kesunyian, sedang dari kedua matanya menyorot sinar terang bercahaya. Siulan itu diikuti dengan bergeraknya pedang, yang berkilau menyilaukan mata, Tapi ia tidak lantas menyerang, ia masih berkata, sabar: "Si-cu semua, kamulah orang-orang kenamaan, buat apa kamu merusak diri di jurang cian siong Gay ini? Baiklah sicu mengasih turun tanganmu dan berlalu dari sini, supaya perselisihan menjadi habis sendirinya..."

Alisnya Seng Goan bangun, matanya terbuka lebar. "Nenek- nenek. jangan terkebur" dia membentak "Pada

lima belas tahun dulu kau menjagoi dengan dua puluh delapan jurus ilmu pedang Muni Hang Mo. tapi sekarang -sekarang di mataku itu tak ada harganya."

"Hm" si pendeta wanita menyambut suara jumawa itu.

Tatkala itu Yu Su Hong berlompat bangun berdiri, sebelah tangannya ditolakkan ke arah Seng Goan, lantas terlihat serupa benda putih seperti pel perak meluncur bagaikan terbang.

Seng Goan kaget, inilah ia tidak sangka. Lekas-lekas ia menangkis, Tepat tangkisannya itu. Hanya begitu tersampok, benda putih perak itu pecah hancur, merupakan api berkeredepan, menyamber mukanya sipenyampok.

Bukan main kagetnya Seng Goan, ia menjadi gelagapan- Belum sempat ia menyampokpula, mukanya sudah terbakar, kumis dan jenggotnya tersulut nyala, Dengan lantas ia menjatuhkan diri ke salju. Dengan begitu dapat ia membikin api padam, akan tetapi sekarang mukanya menjadi hitam, kumis danjenggotnya habis, juga alisnya, Bahkan rambut dijidatnya turut hangus.

Dua lagi jago dari Koat chong menjadi sangat gusar, dengan berbareng mereka menyerang ke arah si nyonya tua, yang tubuhnya lagi terhuyung huyung, sebab barusan su Koh menyerang musuh pun dengan meminjam selebih tenaganya habis ia makan obatnya Yan Sin Ni, ia tidak berdaya lagi, maka serangannya dua jago itu membuat tubuhnya terpental.

Tepat itu waktu dari tempat yang gelap terdengar seruan tajam. Oey-san Ie-su Pui Ek terkejut ia menoleh. "Siapa?" ia menanya. ia lompat untuk menerkam Di sana terdengar tertawa yang nyaring.

"Kau turut aku pulang" begitulah jawaban orang tak dikenal itu.

Pui Ek lompat maju untuk segera lompat mundur pula, mukanya pucat.

Ketika itu Pit Siauw Hong berdiri diam seorang diri. Kata- katanya Seng Goan bahwa siapa hadir di cian Siong Gay, mesti tak kembali dengan tubuh utuh membuatnya berpikir keras, ia memikir untuk menonton saja...

Melihat Pui Ek kena ditolak mundur, ia terperanjat. Siapakah orang itu demikian lihay hingga dia dapat membikin orang tua she Pui ini mental?" ia tanya dalam

hatinya, Maka dengan ragu-ragu ia mengawasi ke tempat gelap itu.

Sampai disitu orang di tempat gelap itu tidak bersembunyi lebih lama. Ia lantas muncul, ialah seorang muda berpakaian putih dengan bertopeng, ia bertindak dengan perlahan-

Melihat orang itu, Siauw Hong heran-

Si anak muda menghampirkan dengan sinar matanya yang tajam mengatasi Pui Ek. Sama sekali ia tidak memperdengarkan suaranya. Pui Ek terkejut menampak mata orang demikian lihay, jantungnya memukul.

"Kau siapa?" dia tanya bengis, "cara bagaimana kau berani menghadang di depan aku si orang tua?"

Pemuda bertopeng itu masih tidak berkata kata, ia terus bertindak dengan sabar.

Jikalau kau tidak menghentikan tindakanmu" Pui Ek membentak, "terpaksa aku si orang tua akan menghajar hebat kepadamu"

Bagaikan orang tuli disebabkan angin santer, si anak muda bertindak terus.

Angin keras membikin cabang-cabang kayu cemara yang dijadikan api berbunyi meretek, apinya pun memain tak hentinya.

Semua orang heran, semua memasang mata kecuali Yan San sin Ni, yang mengawasi ke tanah dengan tenang.

Sekonyong-konyong Pui Ek berseru dan dengan kedua tangannya ia menyerang si anak muda.

orang yang diserang itu bersenyum, tubuhnya berkisar ke samping, mengasih lewat serangan berbahaya itu, sembari berkelit, ia mengulur tangan kanannya yang mencekal sebatang pedang tajam bersinar perak. panjang tujuh dim, untuk dengan itu balas menyerang.

Pui Ek mendapatkan serangannya gagal dan matanya melihat sinar perak itu. ia lantas menutup diri. Tapi si pemuda lihay sekali, selagi orang menarik pulang tangannya ia menyontek. dimana dadanya oey san ie-su lantas mengeluarkan darah, tubuhnya roboh ke atas salju, jiwanya melayang pergi tanpa ia mengasi dengar suara apa-apa lagi...

Seng Goan heran dan kaget.Justru itu si anak muda lompat ke depannya, dalam kagetnya ia mencelat mundur, ia diturut kawannya, yang berdiri berendeng dengannya. Tengah berlompat itu mereka merasakan gaplokan pergi pulang ke pipi mereka, hingga mereka merasa sakit sekali serta mata mereka kabur, dada mereka sesak. Mereka menjerit, tubuh mereka roboh terkulai lalu arwah mereka melayang pergi menyusul rohnya Pui Ek...

Pit Siauw Hong kaget dan heran, hatinya memukul.

Sebentaran saja Koat chong Sam Lo telah terobohkan hingga terbinasa, itulah hebat. Mengherankan pula si anak muda, yang ia tidak kenal. Sia-sia belaka ia menduga-duga siapa pemuda Kang ouw gerak-geriknya seperti pemuda bertopeng ini.

Si anak muda menyusut bersih darah pada pedangnya, habis itu ia bertindak ke arah Bu Eng Sin ciang, Baru sekarang ia bertindak cepat.

Pit-Siau Hong menduga orang bakal menyerang padanya, maka sambil berseru, ia mendahului. Berani atau tidak. ia mesti membela diri. ia menyerang dengan kedua tangannya, keras tetapi tanpa suara apa-apa.

Si anak muda tercengang. inilah sebab ia tahu jago ceng Shia Pay itu lihay luar biasa.

Tapi ia tidak takut, ia maju terus seraya menyerang.

Disamping berkasihan kepada ketiga kawannya yang telah terbinasa itu, Pit Siauw Hong juga berpikir. "Anak muda ini telengas, ia masih muda, kalau ia tidak disingkirkan, di belakang hari ia bisa menjadi bahaya besar kaum Rimba persilatan bakal tak dapat hidup tenang..."

Maka ia menyerang hebat, ia mengerahkan tenaga dalamnya yang diberi nama "Pian-khia Pu-heng Hun-goan cin- khi."

Ketika tenaga mereka bentrok. si anak muda kaget, terus ia berkelit dengan berputar. Di pihak lain Siauw Hong pun mental satu tindak hatinya terasa tidak enak. terangan si anak muda membuat napasnya kurang lancar, ia heran berbareng mendongkol. Ketika itu Yan San Sin Ni masih tetap berdiam saja, Melihat kelakuan si pendeta wanita, Siauw Hong mendongkol di dalam hatinya ia mencaci: "Nenek-nenek, kau jahat sekali Kau sudah menggunai akal meminjam tangan orang untuk membunuh orang lain Tapi aku apakah kau sangka aku dapat dipermainkan kau?"

Karena memikir demikian, jago tua itu segera menyerang pula si anak muda, Mulanya ia menekuk dengkulnya, untuk lompat mencelat.

Si anak muda melihat orang berlompat ia berdiri tegak sambil mengawasi dengan tajam. Begitu orang datang dekat, ia menggeser ke kanan, tubuhnya dimiringkan terus tangan kirinya menyamber tangan penyerangnya untuk ditangkap.

Kiranya Siauw Hong cuma mengancam, ia menarik tangannya, terus ia menyerang pula. sekarang dengan dua- dua tangan.

Si anak muda berkelit pula, Kembali dia mengulur tangan kirinya, yang lima jarinya terbuka, Dia bebas dari serangan, dia dapat membalas.

Siauw Hong kaget, Sungguh lihay si anak muda yang gerakannya sangat cepat, ia menjadi terlebih kaget, ketika tangan mereka bentrok. ia merasai tubuhnya ngilu dan kaku lemas, sedang darahnya seperti naik, kemudian napasnya tertutup, Dengan begitu habislah tenaganya Tangan kiri si anak muda tetap memegangi.

Si anak muda tertawa menyeringai dingin suaranya, ia mengeluarkan pedangnya, yang pendek tetapi tajam, dengan itu ia menikam ke dada lawan-

Pit Siauw Hons habis daya, ia menarik napas, ia menutup matanya, demi menantikan tibanya maut....

xxx BAB 14 DI SAAT kematiannya itu, mendadak Siauw Hong menjadi tenang, hingga tak nampak dia jeri atau takut,

Ujung pedang menghampiri dada tiga dim, lalu ditahan, Si anak muda baju putih bertopeng menjadi heran- ia menatap lawannya itu, seperti mau mencari tahu sebabnya ketenangan orang, Selagi begitu tangannya turun sendirinya.

Siauw Hong menduga ia bagian mati, maka heran ia berdiam sekian lama, ia tidak merasakan tikaman, Mau atau tidak ia terdesak perasaannya ingin tahu. Maka ia membuka matanya, untuk herannya ia mendapatkan sianak muda tengah menatap tajam kepadanya.

Yan San Sin Ni terdengar memuji: "Sian-cay Siancay Sungguh ilmu silat dari luar pulau dapat mengatasi ilmu silat Tionggoan"

Mendengar itu, si anak muda tertawa ringan, lalu cekalannya kepada Siauw Hong menjadi longgar.

Pit Siauw Hong mengawasi si anak muda dan mengangguk. terus menghela napas. Ia kata: "Aku si orang tua terhitung dalam kalangan ceng Shia pay teratas, jago-jago di Tionggoan yang dapat melebihkan aku hanya beberapa gelintir, tetapi kau tuan, tangan kau lihay sekali. Apakah kau murid pandai dari Nio kiu Kisu dari Giok ciong To?"

"Pit losu," berkata Yan San Sin Ni, yang mendahului si anak muda. "Tuan ini ialah Nio Kiu Ki putra kesayangan dari Nio Kie kisu, ilmu silat Hong In Pat Biauw dari Nlo Kiu kisu diwariskan kepada putranya ini, masa kau roboh di tangan siauw tocu, jangan kau menyesal atau tawar hati."

Siau Hong terkejut.

"Pantaslah aku roboh secara menyedihkan ini." katanya. " Kiranyan Nio-kiu telah mewariskan ilmu Hong In Pat Jiauw itu kepada puteranya. Inilah tak heran- Dia

menyayangi anaknya, pantas kalau dia menurunkan semua kepandaiannya. Anak ini memang didapat setelah usianya lanjut..." Lantas ia menatap pula anak muda di depannya itu, ia mendapatkan seorang muda yang tepat segalanya, kecuali wajahnya yang asli tak nampak di balik topengnya itu. Ia tertawa dan kata: " Kiranya kau, siauw tocu Aku kalah, aku tak penasaran, apa pula aku kalah oleh ilmu silat Hong In Pat Jiauw dari ayahmu itu" Hong In Pat Jiauw itu ialah ilmu Delapan cengkeraman angin dan Mega..

Kata-katanya Yan San Sin Ni dan Pit Siau Hong itu menghormat dan memuji, akan tetapi mendengar itu, si anak muda tertawa tawar. Dia mau menyangka bahwa dua dianggap menang sebab mengandaikan Hong In Pat Jiauw. Dia memang beradat tinggi dan jumawa.

"Apakah kamu menyangka kecuali dengan Hong In Pat Jiauw, tak dapat aku mengalahkan kamu dengan lainnya tipu silat?" dia kata. "Kalau benar, kamu menyangka keliru. Ilmu silat Giok ciong To beda daripada ilmu silat daripada Ilmu silat kamu orang Tionggoan dan juga tak dayanya untuk menggempurnya, jikalau kamu tidak percaya mari kita coba, aku tak akan pakai Hong in Pat Jiauw itu."

Baru Nio-kiu Ki berkata demikian, mendadak ada angin menyamber keras, sampai api unggun kayu cemara menjadi berkobar besar, ketika angin itu lewat, tuan muda dari Gick ciong To terperanjat.

Topengnya yang terbuat dari cita putih, tersingkap dan terbang terbawa angin. Dalam kagetnya itu dia lompat untuk menyamber. Dia berlompat sangat pesat, tapi tak dapat dia menyamber topeng itu yang terbawa angin lenyap di tempat gelap.

Pemuda ini kaget dan heran, hatinya mendongkol. Dia pun malu. Maka mukanya menjadi merah padam dan sinar matanya menyala.

Pit Siauw Hong heran, ia melihat samberan angin itu, sampai dua kali aneh sekali, samar-samar ia menampak bayangan orang. Habis itu hatinya lega, Maka ia tertawa dan kata: "Siauwtocu, harap kau jangan terlalu mengandalkan kepandaianmu. Aku si tua memang tidak punya guna akan tetapi tanpa kau menggunai Hong In Pat Jiauw belum tentu kau dapat merobohkan aku, Disamping itu ilmu silat Tay Seng Poan-jiak dari Yan san Sin Ni juga bukan sembarang ilmu."

Pemuda itu tertawa. Meski ia kehilangan topengnya, lekas sekali ia dapat menenangkan diri, ia kata: "Baiklah aku tidak akan menggunai Hong In Pat Jiauw Kamu sendiri silahkan kamu menggunai Bu Eng Sin ciang dan Tay Seng Poan-jiak: Mari kita membedakan ilmu silat Giok ciong To dari ilmu silat Tionggoan"

"Bocah ini terlalu jumawa." kata Yan San Sin Ni di dalam hati, "Hm"

Pit Siauw Hong mengatakan demikian, hatinya sebenarnya tawar, ialah satu jago bahkan jago tua, tapi sekarang ia roboh di tangan seorang bocah ia malu sekali. Maka itu ia berdiam, membiarkan kumisnya disampoki sang angin dingin hingga tubuhnya mirip sebongkot kayu...

Nio-kiu Ki heran. Ia melihat mata orang pun guram.

Tiba-tiba Siauw Hong menghela napas, lalu ia memutar tubuhnya, ia seperti mau meninggalkan tempat itu. ia rupanya berpikir lain, ia malu karena ketajamannya itu yang pasti dapat dilihat oleh orang yang ia percaya lagi menyembunyikan diri...

"Pit Tan-wat, tunggu dulur kata Yan San Sin Ni- "Dapatkah kau pergi setelah loni bicara sebentar denganmu? Loni ingin bicara dari hal rahasia Rimba persilatan-.."

Siauw Hong heran, ia merandek dan memutar tubuhnya, ia pikir: " Entah rahasia apa yang nikouw tua ini hendak bicarakan-.." "Sin-ni," kata Nio-kiu Ki yang mengawasi pendeta wanita itu, "aku datang ke mari bukan untuk rahasia Rimba Persilatan, hanya..." Yan San Sin Ni tertawa.

"Loni tahu itu," katanya, "Hal ini tak dapat kau tidak mendengarnya. Kau tahu, dengan ayahmu besar sangkut pautnya." ia terus menoleh kepada Pit Siauw Hong untuk meneruskan- "Pit Tan-wat, kau menjadi orang tertua dari ceng Shia Pay, pernahkah kau mendengar pesan dari Thian siu Totiang, Ciangbunjin kamu yang kesembilan belas disaat dia hendak menutup mata..."

Pit Siauw Hong terperanjat, ia cepat menjawab "Dulu hari itu, ketika Thian Ko Supe pulang ke gunung, napasnya sudah tinggal satu kali dengan satu kali, karena ia tidak mendapat luka apa-apa, ia disangka dapat sakit tua. Benar ketika ia mau menutup mata, ia meninggalkan empat buah kata-kata tetapi itu tak ada kepala dan tak buntutnya, hinggap sekarang pun tak ada yang mengerti maksudnya..."

"Apakah empat buah kata-kata itu?" si bhiksuni tua tanya.

Pit Siauw Hong ingat baik kata-kata itu, ia membacakan: "Itulah Kang piauw sam ki, Pek in ngo pian, Tot ki tit twi, Kopo ban lian. Semua orang kita memikirkannya, tidak ada yang dapat artikan atau menerkanya, Apakah Sin Ni ketahui artinya itu?"

"Kira- kira," sahut si nikouw, mengangguk- "Tanwat sabar, nanti loni menjelaskannya perlahan-lahan-" ia menoleh kepada Nlo kiu Ki, ia tersenyum dan kata: "Siauwtocu, pada lima puluh satu tahun yang lalu ayahmu sudah mengunjungi Siauw Lim Si menantang mengadu silat dengan ciangbunjin kuil itu, ia mengatakan bahwa ilmu silat Giok ciong To lebih atas dari ilmu silat Tionggoan- Atas itu Tiauw Tim Taysu cuma mengganda tertawa."

Sedikit pun dia tidak gusar atau kurang senang. Dia pun menampik untuk bertanding, Ayahmu tidak mau mengerti, ia meminta berulang-ulang. Saking terpaksa, Tiauw Tim Tay-su akhirnya melayani juga. Dia menggunai ilmu silat Sip-pat Lohan San ciu, dia cuma membela diri. Ia tidak menyerang pertandingan berjalan selama satu hari dan satu malam, sama sekali ayahmu tak dapat menang meskipun satu jurus.

Ketika ayahmu turun gunung, ia kata lagi sepuluh tahun ia bakal datang pula. ia kata ia mau membuktikan bahwa ilmu silat Haygwa, luar laut, lebih atas daripada ilmu silat Tionggoan. Atas itu sembari tertawa Tiauw Tim Taysu bilang: "Ilmu silat itu berasal dari Tionggoan, hanya saking beraneka ragam dan sulit, selama hidupku tak pernah aku mengerti satu diantaranya, maka juga partai kami tidak berarti membilang bahwa kami berada di atasan pelbagai partai lainnya. ilmu silat dari Giok ciong To memang lihay tetapi kisu juga tak dapat lolos dari kalangan asal-usulnya yang tetap berasal dari Tionggoan."

Ayahmu tertawa, Dia berlalu dari Siauw Lim Si. sepuluh tahun kemudian, benar-benar dia datang pula, Dia membilangi bahwa dia sudah menciptakan semacam ilmu silat baru. Tiauw Tim Taysu tertawa dan kata: "Ilmu silat itu, biar apa macamnya, mesti ada salah satu bagiannya yang tak terlatih sempurna. Demikian dengan ilmu silat Kisu, Kepandaian satu orang ada batasnya, jikalau kisu tidak percaya dalam seribu jurus, lolap nanti dapat mencari kelemahan ilmu silat kisu itu"

Ketika itu ayahmu belum berusia empat puluh tahun, Tiauw Tim Taysu melihat ayahmu galak sekali, bila dia tidak dicegah, dibelakang hari dia bisa membahayakan Rimba Persilatan- maka itu dia diberi nasihat."

Nio-kiu Ki mengasih dengar suara "Hm" seraya matanya melirik ke kedua arah yang-gelap.

Yan San Sin Ni merasa hatinya tak tenang, ia menduga orang dapat melihat sembunyinya Giok Song dan Wan Lan, ia mengerutkan alis, Lantas ia melanjuti penuturannya.

"Mereka lantas bertanding pula, Benarlah ayahmu beda banyak daripada sepuluh tahun yang sudah, Baru tiga jurus, ia sudah bikin mundur lawannya lima tombak, hingga Tiauw Tim Taysu terpaksa menggunai kedua ilmu silatnya, Tatmo Sip- sam Si dan Bu Siang Kim-kong ciang, yang menjadi ilmu silat simpanan-

Dengan dua macam ilmu itu ketua Siauw Lim Pay bertahan sambil meneliti ilmu silat ayahmu, Tiauw Tim Taysu guru luar biasa, ia berhasil dalam-jurus ke seribu satu, ia telah menempelkan tangannya di tubuh ayahmu hingga ayahmu heran dan melengak.

Ketika itu Tiauw Tim Taysu kata, "Kisu, benar ilmu silat kau mahir sekali, hanya kalau itu dikata melebihkan ilmu silat Tionggoan masih terlalu pagi, Masih belum terlambat untuk kau datang pula apabila kisu dapat memecahkan jurusku yang terakhir yaitu Ban Hud Hoa Sin-"

Ayahmu beradat keras, dia kata, "Pasti aku dapat" Tiauw Tim Taysu tanya, "Kisu

hendak pakai tempo berapa hari?" Ayahmu menjawab, " Empat puluh tahun jikalau selama itu aku tidak berhasil memecahkannya, maka aku akau musnahkan sendiri Hong In Pat Jiauw, tidak aku lancang menuruni kepada siapa juga"

Tiauw Tim Taysu tertawa lebar, ia kata, "Manusia hidup itu hidup sampiran- Lolap bakal lekas masuk ke dalam peti mana dapat lolap menanti begitu lama? Tapi baiklah lolap nanti wariskan kepandaianku ini kepada penggantiku nanti serta kelima Ciang-ih untuk menantikan kau, Kisu."

Kemudian paling belakang, Tiauw Tim Taysu bilang: "Turut dugaan lolap Hong In Pat Jiauw itu tak lolos dari asal ilmu silat Tionggoan, Bukankah kisu memperolehnya karena kisu mendapatkan suatu kitab silat rahasia, yang kisu lantas pahamkan hingga mengerti lalu kisu mengubahnya, Benar bukan?"

Ditanya begitu, ayahmu berdiam, selang sekian lama baru dia menyahuti: "Tak salah. memang itu asalnya ilmu silat Tionggoan tetapi kamu di Tionggoan tidak ada yang mengerti maka aku hendak memperkembangkannya dari Giok ciong To. Dengan ini tidak dapat dibilang aku mencuri." Tiauw Tim Taysu kata, "Kisu dapat memperbaiki ilmu silat tua menjadi baru dan sempurna, itulah bagus, lolap mengagumi kanakan tetapi Hong In Pat Jiauw itu telengas." ia kata, "Hingga lolap minta kisu menepati janjimu, jangan kau mewariskan itu kepada orang lain-"

Habis berkata, Sin Ni mengawasi Nio-kiu Ki.

Nampak Nio-kiu Ki heran, dia terkejut. Hanya sebentar, matanya bersinar, terus dia tertawa dan berkata nyaring, "Ayahku telah berhasil mencari daya untuk memecahkan ilmu cian Hud Hoa Sin dari Siauw Lim Pay itu, hanya selama yang belakangan ini, hati ayah sudah jadi tawar, minatnya berdiam di tempat sunyi, hingga tak suka ia kembali ke Tionggoan.

Ayah pun tidak mewariskan Hong In Pat Jiauw kepada lain orang kecuali kepadaku. Kita ayah dan anak, kita bukan orang luar. Laginya itulah urusan abahku, urusan itu tak dapat dihubungi dengan urusan aku pribadi."
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Menuntut Balas Jilid 20 : Nona Lan di kediaman Yan San Sin-ni"

Post a Comment

close