Menuntut Balas Jilid 15 : Para pembunuh ayah Cia In

Mode Malam
Jilid 15 : Para pembunuh ayah Cia In 
Gak IN GAK kaget.

"Kenapakah?" tanyanya cepat.

"Tadi malam telah datang dua puluh lebih orang-orang Ang Ki Pang," sahut si nona. "Mereka hendak mengguna Hio obat pulas untuk membikin kamu semua tak sadarkan diri, tetapi aku pergoki mereka, satu demi satu aku totok mampus, mayatnya aku lemparkan ke dalam telaga buat dijadikan umpannya sang ikan."

Mendengar itu, In Gak tertawa.

“Jikalau begitu nona, aku menghaturkan diperbanyak terima kasih yang kau sudah menolong jiwa kami." katanya.

Nona itu tertawa pula.

“Jangan dahulu mengucap terima kasih" katanya lagi, "Ayahku telah berhasil mencari tahu tempat di mana ditahannya Lui Tayhiap. akan tetapi di dalam sin Ke chung ada banyak orangnya yang lihay, ayah cuma bisa membinasakan tiga diantaranya, ia tidak bekerja terlebih jauh. Ayah kuatir ia nanti seperti menggeprak rumput membikin diri kaget dan mendatangkan bahaya untuk Lui Tayhiap. maka ia mengundurkan diri, sekarang ayah lagi menantikan kau."

"Mari sekarang kita pergi pada ayahmu" kata In Gak cepat, "Aku kuatir ayahmu bergelisah menantikan kita."

"Baik" sahut si nona, yang terus mendahului pergi, untuk dia menjadi petunjuk jalan. Dia bergerak dengan sangat ringan dan pesat,

In Gak tahu tabiatnya wanita, yang suka menang sendiri, ia menyusul dengan membikin dirinya berlari-lari berendeng, Kalau ia melewati pasti nona manja ini menjadi tidak puas.

Selagi mereka tiba di sebuah tanjakan yang penuh rumput dan di tepinya terdapat banyak pohon kering, mendadak mereka merandek.

Mereka melihat berkelebatnya tiga bayangan orang, yang terus berhenti di depan mereka, In Gak awas, lantas dia mengenali Kiong-bun Ji Koay serta Ok suya Sim Siang Kiu. Tiat Pi Kim kong Ho Sin Hok. lantas tertawa dingin.

"Manusia itu di tempat mana yang mereka tidak dapat bertemu." katanya "Aku tidak sangka bahwa di sini aku bertemu pula dengan- kau, tuan"

In Gak tertawa lama.

"Ho Tayjin, tidak ada perlunya buat kau menghina orang" tegurnya, "Buat apa kau menghina dirimu sendiri? Kau sengaja menguntit aku Buat apa kau menyebutnya kita ketemu secara kebetulan? Aku mohon tanya, kamu ketiga tuan-tuan, apa maksud kamu maka kamu memegat aku yang rendah?"

"Buat apa?" membentak Sin Hok. "Buat membekuk kau, supaya perkaramu bisa diperiksa. Aku si orang she Ho telah ketahui kaulah si penjahat perkara darah di kota Thay-goan, Matanya Kiong-bun Ji Koay tidak kelilipan pasir. sekarang ini walaupun kau hendak menyangkal kau tak dapat."

In Gak tertawa dingin.

Justeru orang tertawa, Sim Siang Kiu berkata secara mengejek. suaranya menyeramkan "Baru-baru ini suya kamu telah kena diakali, Benarkah kau she Gouw?" Daripada menjawab, In Gak justeru menegur:

"Sim Siang Kiu, kau benar-benar tidak tahu malu," demikian katanya, "Kau baru menjadi guru sekolah dari istana sam- pwecu, tetapi di dalam kota terlarang kau berani berbuat sewenang-wenang sebagai juga sudah tidak ada undang- undang negara dan raja. Bagaimana kau berani mengadakan pengadilan sendiri? Bagaimana kau berani memeras rakyat?

Dosamu dosa mesti dihukum picis, kau tahu? Apakah kau kira aku si orang she Cia benar tidak berani bertindak terhadapmu?"

Selagi berkata begitu, pemuda ini telah mengumpul tenaga di lengannya ia telah menjadi gusar.

Ketika itu Nona Ouw maju ke depan, sepasang pedang emas yang matanya luar biasa tercekal dalam tangannya. "Saudara cia," kata dia, tertawa dingin.

"Urusan hari ini bukan urusan yang dapat diselesaikan dengan sepatah dua patah kata saja, Kau biarkan adikmu membereskan ini orang she Sim yang kejahatannya sudah meluap naik ke tinggi langit."

segera setelah mengucap itu, si nona benar-benar berlompat kepada Sim Siang Kiu, sepasang pedangnya diputar hingga kedua pedang itu bergerak mirip belasan ular emas.

Sim suya tidak takut, dia mengasih dengar ejekan dari hidungnya, Dia menggeraki kedua tangannya, untuk menangkis hingga Nona Ouw kena diundurkan. setelah itu, dia lompat maju. Ternyata sekarang, pada tangannya telah terlihat sebuah kipas yang mentereng berkilauan- Lantas dia tertawa terbahak-bahak.

"Bocah perempuan tahukah kau aku Sim Siang Kiu, aku orang macam apa?" dia tanya. "Apakah kau kira kau yang bagaikan sebutir nyala api dapat menentang aku? Kau lihat, suya kamu akan pakai ini sebuah kipasnya saja, didalam sepuluh jurus akan aku bikin pedang emasmu terlepas dari tanganmu"

Selagi si nona menyerang hati In Gak tidak tenang, inilah karena ia tahu Sim Siang Kiu keluaran dari Thian san Utara, yang perguruannya lihay, yang memiliki ilmu kepandaian Bi Lek sin Kang juga.

Tak nanti nona itu dapat melawan suya ini. Di lain pihak ia juga kuatir Kiong-bun Ji Koay nanti meluruk dengan berbareng. Bagaimana kalau di hadapannya nona itu sampai terluka, Bagaimana ia harus berurusan dengan Ouw Kong.

Ketika itu Kiong-bun Ji Koay sudah memencarkan diri di kiri dan kanan, mata mereka mencilak mengawasi si anak muda, rupanya sengaja mereka menjagai. In Gak lihat sikap orang, ia bersenyum, ia tidak menghiraukannya, ia lebih memerlukan memperhatikan Ouw Kok Lan- ia terkejut berbareng lega hati mendapatkan Kok Lan cuma terdesak Siang Kiu.

Nona itu tidak kurang suatu apa, ia melihat Sim Siang Kiu menggunai Bi Lek sin Kang huruf "cin", ia mulanya menyangka si nona bakal terlempar jauh, ia mengerti, itulah disebabkan si nona diwaktu menyerang sudah mengempos tenaga "It-goan cin-khi". Tenaga itu memang dapat menghadapi Bi Lek sin Kang cuma si nona masih kurang latihannya, muka Kok Lan menjadi merah.

"Nona mu tidak peduli kau siapa." bentak-nya, "siapa saja yang nonamu tidak senangi melihatnya, ia menghendaki jiwanya." Ok su-ya tertawa pula, terbahak-bahak, "Bocah wanita, kau terlalu jumawa." katanya, ia lantas menggeraki tangan kanannya membeber kipasnya yang panjang kira dua kaki dan bundar yang tulang-tulangnya terbuat dari besi yang dinamakan besi "hay sim-tiat"

Kipas itu bergemerlapan ujungnya lebih setengah dim, ujung itu lancip tajam, sebab itu biasa dipakai menusuk memecahkan tenaga dalam. Kipas itu kuning, dati itu sinarnya kuning emas. Kipas pun terbuat dari gelagasinya kawa-kawa tua seribu tahun dari gunung Thian san, galagasi mana ada racunnya, siapa terkena itu tubuhnya akan kegatalan dan akan bengkak dan bonyok sendirinya sampai ke tulang-tulang.

Belum habis suaranya suya itu, kipasnya sudah menyerang ke dada si nona. Mulanya dia mengibas ke kiri dan kanan guna mengacaukan mata orang, serangannya itu mendatangkan serbuan angin yang keras, cepatnya bukan main.

Nona Kok Lan merasakan hembusan angin ia mengangkat tangan kanannya, mengancam untuk menangkis, dengan tangan kirinya ia membalas menyerang, goloknya meluncur ke pundak lawan yang lihay itu, pedangnya itu berkilauan ia juga bergerak dengan sangat gesit.

Hanya dalam sejurus ini sudah ternyata kedua pihak sama lihaynya, Kalau Sim Siang Kiu tidak menangkis atau berkelit. pasti pundaknya bakal terlukakan hebat, tentu dia akan jadi korbannya ilmu pedang "It Goan Kiam-hoat".

Kok Lan cerdik sekali, ia mengerti kalau ia mengadu tenaga, ia bukan lawan dari musuh itu, tetapi ia panas hati karena orang hendak merobohkannya di dalam tempo sepuluh jurus, maka ia melawan dengan sungguh-sungguh sambil menggunai kecerdikannya itu. Ia mau bertahan sampai lebih daripada sepuluh jurus.

Sim Siang Kiu berlaku awas dan gesit, ia berkelit ke kiri, Karena ia meneruskan serangannya, kipasnya bentrok dengan pedang si nona, Kok Lan terkejut, benturan itu membuat tangannya kesemutan, ia tertolak keras, tanpa merasa, pedangnya terlepas mental ke tanah di tanjakan gunung.

Selagi orang terperanjat Sim Siang Kiu tidak mau mengasih hati, Dia lantas mendesak, sekarang dia mengarah pedang kirinya si nona.

Selain si nona sendiri, In Gak pun terkejut menyaksikan kesudahannya pertempuran

itu, ia tahu Sim Siang Kiu lihay, tetapi ia tidak menyangka orang sudah lantas perlihatkan kepandaiannya itu. Maka ia merasa orang ini harus lekas-lekas disingkirkan kalau tidak dia dapat merusak nama perguruan, perguruan mereka berdua ada hubungannya yang erat. Tidak bersangsi lagi, ia lompat maju.

Siang Kiu tengah bargirang karena hasilnya itu, ia lagi mendesak atau mendadak ia melihat sesuatu yang berkelebat di depannya, terus lengan kanannya terasa terjepit keras, seperti terjepit gaetan, sakitnya bukan main, sebelum ia dapat melihat tegas, siapa orang itu, tahu tahu kipasnya sudah kena dirampas, berbareng dengan mana dengkul kanannya kena didupak keras sekaii, hingga ia menjerit. sedangkan tubuhnya terlempar tinggi dan jauh.

Akibat dupakan itu Jeritannya itu terbawa angin, suaranya menggiriskan siapa yang mendengarnya .

ooo

BAB 7

SEGERA setelah berlompatnya In Gak, Kiong-bun Ji Koay berlompat juga, Mereka memasang mata dan melihat, cuma mereka ketinggalan mereka kalah gesit, ketika mereka sampai di dalam gelanggang, Sim Siang Kiu sudah lebih dulu kena ditendang, sebenarnya mereka pun gesit, tapi mereka kebeIakangan. Maka itu, kesudahannya mereka kaget sekali, In Gak sudah lantas menoleh, akan menghadapi kedua "jago" dari Kiong- bun itu ia tertawa dingin terhadap mereka dan berkata: "Menyesal aku kesalahan tangan hingga aku telah membuat kamu tertendang

terpental, hingga kamu menjadi malu, Harap kamu sudi memberi maaf".

Sementara itu Ouw Kok Lan sangat berterima kasih kepada In Gak yang ia lirik dengan perasaan sangat kagum, ia lantas lompat ke tanjakan ke arah mana pedangnya terpental tadi, untuk memungutnya pulang.

Selama di hotel di Ta-mo-ciang di kota raja, Kiong-bun Ji Koay telah menyaksikan lihaynya In Gak. Kepandaiannya Jie In tempo mereka melihat Jie In merobohkan lima jago Ceng Hong Pang di kuil Cin su di Thaygoan. Mereka menduga, dua orang itu sebenarnya satu orang, bahwa orang ini ialah Jie In yang menyamar itulah sebab mereka melihat gerak-gerik orang yang sama.

Bahwa tadi mereka menerka In Gak sebagai si orang jahat dari Thay-goan itu melulu untuk mencoba hati orang, Mengetahui ini, mereka girang berbareng kaget. Meskipun kaget, mereka toh tidak jeri.

Mereka mau mengandel kepada bantuannya seorang yang bersembunyi di sisi mereka, hanya orang itu tidak akan muncul kecuali bantuannya telah dibutuhkan.

Siapakah bantuan tersembunyi itu? Dia bukan lain daripada salah satu dari Biauw Nia siang Yauw, sepasang "siluman" dari bukit Biauw Nia, ialah Hek Te Hian Li In Hian Bi.

Mukanya sepasang jago menjadi merah, Mereka malu sekali, Tapi mereka pun gusar, Im Hong sat Ciang Hong terlebih berangasan daripada saudaranya, dia berteriak: "Kau telah membunuh pembesar negeri, kau tidak akan dapat ampuni Kau menyerah untuk ditawan, nanti kami berbuat baik kepadamu" In Gak menyambut dengan tertawa lebar.

"Kamu masih mempunyai kebaikan hati?" ia menjengeki, "Murid- murid yang murtad mana masih ada rasa malu dan keadilannya? Hm"

Dua jago itu juga tertawa menghina.

Kok Lan sudah kembali bersama pedangnya, ia melirik si anak muda, terus ia berkata: "saudara Cia, kita masih mempunyai urusan penting, kenapa mesti mencapaikan lidah melayani mereka ngobrol? Baiklah siang-siang kita usir mereka supaya kita bisa melanjuti perjalanan kita"

In Gak tidak dapat menerka apa artinya lirikan si nona akan tetapi ia menduga mesti ada sebabnya, maka tanpa bersangsi pula, ia menjawab: "Baiklah" segera dengan kipasnya Sim Siang Kiu ia menyerang kepada Ciang Hiong, yang ia coba totok jalan darahnya -jalan darah kiu bwe. Berbareng dengan itu, dengan tangan kiri, dengan lima jerijinya, ia juga menyamber kejalan darah keng-ki pada lengan kiri Ho Sin Hok.

Itulah serangan yang sembrono terutama itu dihadapi kepada dua jago dari kaum rimba persilatan dengan begitu In Gak membuat kosong, akan tetapi ia tidak berkuatir sama sekali.

Kiong-bun Ji Koay terkejut sekali, itulah serangan yang mereka tidak sangka, Dengan berbareng mereka berlompat mundur, guna meloloskan diri dari bahaya, Tapi mereka bukannya mau menyingkirkan diri, sebaliknya begitu mundur, begitu mereka maju, guna balas menyerang.

Mereka juga "menggunai Tatmo Cap sha si, tiga belas jurus ilmu silat Tatmo Kun dari siauw Lim si. Mereka insaf, sembarang ilmu silat, tentulah tidak akan mempan terhadap musuh yang tangguh ini. Mereka tahu bahwa mereka mesti mengepung. In Gak telah memperoleh pengalaman di Cian Tiang Yan, ia tidak sudi memberi kesempatan kepada lawan untuk mendahuluinya.

Ia berkelit dengan sebat, membikin mereka itu menyerang tempat kosong, serangan mereka hebat sekali, sebab mereka jauh terlebih kosen daripada keempat pendeta siauw Lim si di bawah menara Liu Li Tah di Giok Coiin san. setelah itu, ia terus berkelebatan di antara dua lawannya itu.

"Mereka harus disingkirkan kalau tidak, mereka bisa mendatangkan banyak urusan dalam dunia Rimba Persilatan," demikian In Gak berpikir. Karena ini, ia lantas melakukan penyerangan membalas, segera ia menggempur tangan kiri Ho Sin Hok.

Sin Hok tidak tahu maksudnya lawan, ia menarik pulang lengannya itu. Justeru itu, mendadak si anak muda tertawa terbahak dan kipasnya menyusul berkelebat di muka orang.

Tiat Pi Kim-kong kaget sekali, hendak ia melindungi diri sambil lompat mundur, akan tetapi sudah kasip. Hanya sedetik itu, dia merasai napasnya sesak. darahnya seperti beku, begitu dia memperdengarkan suara tertahan, begitu dia roboh terkulai.

Berbareng dengan itu, Tian Ban Hiong menyerang punggung In Gak. Dia menggunai dua-dua tangannya, Dia menyerang untuk sekalian membantui saudara angkatnya.

In Gak memang telah menduga, ia tentu bakal dibarengi maka itu, setelah menyerang Sin Hok. ia memutar tubuhnya sambil kipasnya digeraki selaku pembelaan diri berbareng penyerangan, maka sebagai kesudahan dari itu di situ terdengar suara robeknya pakaian disusul dengm muncratnya darah.

Ban Hiong lagi menyerang, dia mendapat sambutan, hendak dia membela diri, tetapi sudah terlambat, tak dapat dia menangkis atau mundur, ujung kipas nancap di perutnya. sambil menjerit dia roboh duduk. kedua tangannya membekap perutnya yang luka itu, mukanya meringis dan pucat.

Habis merobohkan musuh itu, In Gak menoleh kepada Kok Lan. Tiba-tiba ia menjadi terperanjat Muka si nona pucat pasi seperti orang yang kaget. ia pun sudah lantas merasai bersiurnya angin yang keras, yang dari atas turun ke bawah, seperti menindih pada-nya.

Tentu saja ia menjadi kaget, lekas-lekas ia mencelat mundur dengan tindakan Hian Thian cit seng Pou, sedangkan dengan tangan kanannya, ia menolak. Dengan begitu ia dapat menyingkir dua tombak lebih, ia lantas mendengar suara halus di belakangnya, Dengan cepat ia menoleh, untuk melirik. maka ia melihat kepada Hek le Han Li In Hian Bi" yang matanya bersinar mengawasi kepadanya, sinar mata itu menunjuki kemarahan.

Pemuda kita tahu lawan ini lihay. selama di hotel sam Goan di Yan khta, ia telah mendengar ceritanya It Goan Kisu Ouw Kong bahwa "siluman" wanita dari Biauw Nia ini pernah malang melintang di kolong langit, ia tidak takut, bahkan ingin ia mencobanya, ia memang ingin mencoba-coba kepandaiannya sendiri kepada lawan-lawan yang tinggi. ia juga berpikir, kalau ia berhasil menyingkirkan jago wanita ini, ia jadi berbuat banyak kebaikan untuk Rimba Persilatan, maka itu, ia bertindak maju perlahan-lahan, sikapnya tenang.

Hek ie Hian Li mengawasi. Dia melihat orang tidak takut malah dia dihampirkan, dia tertawa.

“Jangan kau terlalu mengandal kepada kepandaianmu." katanya, "Kau harus ketahui bahwa aku Biauw Nia siang sian, tidak dapat dibuat permainan."

Wanita ini menyebut dirinya "Biauw Nia siang sian", artinya sepasang "dewi^ dari Biauw Nia, sedang umum mengenalnya sebagai "siluman". In Gak menghentikan tindakannya di dalam jarak lima kaki. ia berkata nyaring: "Kenapa kau tidak mau ingat kebaikannya Ki Lian kisu baru-baru ini yang membiarkan kau lolos? seharusnya ialah kau menyesal dan bertobat untuk menebus segala dosa, guna memperbaiki diri supaya kau jangan keluar pula dari gunungmu? kenapa sekarang kau justeru muncul pula dengan melanjuti menyebar kejahatanmu?"

Mukanya Hek ie Hian Li menjadi merah padam. Terang dia gusar sekali, Kedua matanya juga bersinar sangat bengis.

Lantas dia menanya bengis: "Kau pernah apa dengan Ki Lian Ek siu? Kenapa kau ketahui hal-ikhwalku dulu hari?"

Sebelumnya menjawab, In Gak tertawa, "Tentang pelbagai peristiwa puluhan tahun yang lalu di dalam dunia Rimba persilatan itulah menjadi buah tutur tak habisnya" kata-nya.

"Semua orang tahu sepak terjangnya Ki Lian Ek siu dan semuanya memuji maka itu,

teranglah bahwa kau sangat jahat, sayang dahulu hari itu aku tidak mempunyai kesempatan akan menyaksikan sendiri lelakonmu itu. Hingga sekarang aku mesti memejamkan mataku untuk mengingat-ingat ceritanya dan membayangkannya bagaimana di saat itu kau menjadi si orang runtuh. Aku tidak mempunyai hubungan langsung dengan Ki Lian Ek siu tetapi dahulunya kita bersumber satu. sekarang baiklah kau insaf, kau menyesal, lalu lekas kau pulang ke Biauw Nia, supaya dapat kau selamatkan hari-hari tuamu, jikalau tidak. maka bencana akan kembali kepadamu nanti, kau menyesal sesudah kasip."

Kata-kata yang terakhir ini dikeluarkan si anak muda dengan bengis.

In Hian Bi menatap si anak muda, ia mau menduga bahwa orang ialah cucu muridnya Ki Lian Ek siu, atau kalau tidak. dia mesti ada hubungannya yang erat dengan jago tua dari Ki Lian san itu, Biasanya dalam dunia Kang ouw, siapa mendengar nama Biauw Nia siang Yauw, hatinya runtuh dan terus kabur, pemuda ini sebaliknya berani dan berani menantang juga.

"Dia tentu lihay," pikirnya lebih jauh, "Buktinya dia dapat merobohkan Sim Siang Kiu dan Kiong-bun Ji Koay."

Sendirinya In HianBi mengerutkan alisnya, ia jadi merasa hatinya tidak tenang, ia lantas teringat akan pertempurannya melawan Ki Lian Ek siu selama mana ia merasa jeri.

Kok Lan berdiri di bawah pohon di tepi jalan, ia melihat dan mendengari kedua orang itu. ia senang mendengar si anak muda menyebut ada suatu hubungan asal usulnya dengan Ki Lian Ek siu, itu berarti pemuda itu menaruh hati terhadapnya, Maka selanjutnya ia terus mengawasi si pemuda. Roman tampan dan gagah pemuda itu menggiurkan hatinya.

Sementara itu hati In Hian li berubah, Pikirnya: "Berapa lihay kepandaian dia maka dia berani menyebut-nyebut Ki Lian Ek siu? Kenapa aku mesti jeri terhadapnya? Bukankah aku telah maju jauh,jika aku dibandingkan dengan kepandaianku puluhan tahun yang lalu? Bukankah sekarang aku muncul pula karena cita citaku untuk jadi ketua ikatan Rimba Persilatan?

Kenapa aku mesti biarkan diriku digertak dia? Dengan hati kecil, sampai kapan aku bisa mengangkat kepala untuk mengangkat pula namaku?"

Maka dengan roman bengis, dan tertawa dingin dia kata: "Kalau kau berasal-usul sama dengan Ki Lian Ek siu, kau tentu telah mendapatkan salah satu pelajarannya, sekarang hendak aku melampiaskan sakit hatiku dulu hari terhadapmu. Dulu hari itu aku alpa, aku kena dicurangi dia, terpaksa aku berjanji untuk mengundurkan diri, guna tidak keluar lagi diri tempat kediamanku, tetapi sekarang Ki Lian Ek siu si setan tua sudah mampus tak ada perlunya aku memegang janjiku itu. Baiklah perhitunganku itu aku bereskan dengan kau sekarang."

In Gak membalas dengan tertawa dinginnya. “Jikalau kau tetap sesat dan tak mau sadar, terserah padamu." katanya. Meski ia berkata demikian pemuda ini waspada.

In Hian Bi tertawa manis, lalu ia mengebut dengan tangan bajunya, Hebat kebutan itu yang berpokok dengan tenaga dalam yang sempurna.

In Gak telah bersiap. ia mempertahankan diri dengan Bi Leksin Kang. ia membiarkan angin keras menolak padanya, Toh ia terkejut, ia bukan melainkan tertolak angin, hidungnya pun terserang semacam bau harum ia terkejut, hatinya lantas goncang.

Lekas-lekas ia mengendalikan diri, napasnya pun ditunda, Masih ia tetap tertolak angin, yang kuat luar biasa, hingga kuda-kudanya mulai goyang. Hampir ia tidak sanggup terus berdiri tegak. inilah yang dinamai pengalaman, pengalaman semacam ini baru kali ini In Gak dapatkan-

Dalam kagetnya, ia menggunai tangan kanan guna menolak, la menggunai Pou Te Pwe-yap sin Kang. Kedua tangan sampai berbunyi keras.

Sebagai kesudahan dari bentrokan itu, In Hian Bi menjadi kaget, parasnya berubah pucat. Karenanya, dia berlompat mundur dua tombak. Dia tertolak kaget dan keras.

In Gak berhasil, ia mendapat hati. ia maju Kali ini ia menyerang dengan tangan kiri dengan Bi Lek sin Kang huruf "menindih" sedangkan tangan kanannya diluncurkan pesat lima jarinya terbuka keras, untuk menangkap dengan tipu silat "Pat tek Kim Liong" atau "Menangkap Naga" dari ilmu silat " Hian Wan sippat Kay" untuk menyamber jalan darah thian-hu dari si wanita kosen-

Walaupun dia seorang hantu, In Hian Bi toh kaget sekali, ia memperhatikan saja tangan kanan si pemuda, ia alpa untuk tangan kiri. Tangan kiri ini- juga merupakan "Nao Ci Hoan san" atau "Lima Jeriji menciptakan gunung". Terpaksa ia menangkis tangan kiri dengan tangan kanan, lawan terus diawasi. Lebih dahulu daripada ku ia telah menutupjalan darahnya. Ia ingin menghajar tangan lawan dengan pukulan "Menabas baja, memapas besi" supaya buntunglah lima jeriji orang. Jago betina dari Biauw Nia ini merencanakan sempurna akan tetapi hasilnya....

Menyambut tangan kiri In Gak, In Hian Bi menggunai pukulan "Sutera terbang tergempur guntur" akan tetapi dia tak dapat bertahan terhadap tindihan Bi Lek sin Kang. Untuk kagetnya, ia tergempur hebat sekali hingga hatinya tergoncang dan darahnya bergolak.

Selagi tubuhnya terhuyung, lima jeriji lawan sudah menyamber iganya, ia lantas merasai tubuhnya kaku, bagaikan ada laksaan kutu yang berkutik, kutik, terus separuh tubuhnya bagian kiri lenyap tenaganya ia menutup jalan darahnya, tetapi tutup itu terhajar pecah. walaupun demikian, tangan kanannya toh menyamber terus ke lengan kanan lawan.

Untuk menolong diri, In Gak melepaskan tangannya guna dipakai menangkis tangan kanan si nyonya, menyusul mana, ia mencelat mundur. kesudahannya ia mesti kagumi lawannya itu. inilah yang pertama kali ia menemui lawan yang bisa lolos dari Bi Lek sin Kang.

In Hian Bi berdiam, guna mengumpul tenaga dalamnya ia berhasil, separuh anggauta tubuhnya yang kaku itu lekas pulih kembali, Dengan sinar mata bengis ia membentak musuhnya: "Anak muda, jangan kau puas dahulu, kau juga telah terkena pukulan dewimu yang disebut "Biauw Nia Pek ouw Jiu Hio" yaitu harum lunak dari kutu beracun dari Biauw Nia, maka sesudah lewat tiga bulan, kau bersiap-siaplah untuk mengurus hari terakhirmu."

Kata-kata itu diakhirkan dengan tubuh yang melesat tinggi dan jauh, maka di dalam sekejap dia telah pergi menghilang, tinggal suara kata-katanya yang tajam masin mendengung di dalam telinga, didengarnya tak sedap sekali.

Jago wanita dari Biauw Nia itu kabur dengan meninggalkan Kiong bun Ji Koay yang rebah terluka dan terkapar di tepi jalan dan Sim Siang siu yang tak ketahuan mati hidupnya,

In Gak berdiam mengawasi orang berlalu, sampai ia dihampirkan Nona Ouw, yang berlompat ke sisinya, Nona itu, dengan suara perlahan mengandung rasa cinta kasih, kata padanya: "saudara cia, benarkah apa yang dikatakan In Hian Bi barusan"?"

In Gak mengangguk tanpa membuka mulutnya hanya selang sejenak, ia tertawa nyaring dan kata: "Dengan cara iblisnya itu dia tak dapat menggertak aku" Terus ia memandang tajam kepada kedua musuhnya yang sudah tidak berdaya itu seraya menambahkan "Yang sulit sekarang ini ialah bagaimana kita harus mengurus mereka ini...?"

Ouw Kok Lan tertawa.

"Di sana pun masih ada si suya yang sangatjahat." katanya, "Buat apa membiarkan manusia-manusia semacam mereka hidup lebih lama di dalam dunia? Cuma-cuma mereka bakal mencelakai lebih banyak orang, Baik lekas seberangkan mereka ke lain dunia Untuk mu, ini pula suatu jasa kebaikan."

Habis berkata, tanpa menanti si anak muda menyetujui atau tidak kata-katanya itu, Nona Ouw lompat pergi, untuk berlari lari ke atas tanjakan yang penuh rumput, Di sana tubuh ok su ya Sim Siang Kiu terus rebah terkulai semenjak tadi. ia sambar tubuh orang seperti burung elang menyamber anak ayam, untuk diangkat dan dibawa balik, buat dilepas dikabruki di sisinya Ciang Hiong, setelah mana dia pergi menyambar pula tubuh Ho Sin Hok. yang terpisah lima enam tombak jauhnya dari mereka, untuk dikumpul menjadi satu dengan dua konconya.

In Gak berdiri diam mengawasi sepak terjang nona itu yang lincah dan jenaka. Habis mengumpul ketiga lawan, si nona menepuk nepuk tangan, seperti untuk membersihkannya, lalu ia mengusap- usap rambutnya yang kusut, guna dikasih naik. Ketika ia mengangkat kepalanya, memandang si anak muda, ia tertawa. "Sudah selesai" katanya, "saudara cia, silahkan kau bekerja"

In Gak tidak lantas menjawab, ia menatap. Dengan begitu, sinar mata mereka berdua beradu satu dengan lain- si nona jengah, mukanya menjadi merah. Dengan manja, ia lantas menanyai "Eh, kau aneh Kau bikin apakah? Mengapa kau mengawasi saja? Kau toh bukannya belum pernah melihat aku. Ah. menyebali ... "

Toh diakhir kata-katanya, ia tertawa geli, In Gak pun tertawa, tanpa menjawab si nona ia bertindak kepada Kiong- bun Ji Koay.

Dua jago dari Kiong bun itu bersama-sama Sim Siang Kiu, cuma dapat mengawasi si anak muda. Mereka terluka parah, tenaga mereka habis. Ji Koay jeri sekali, Mereka telah melihat sendiri bagaimana anak muda itu mengalahkan In Hian Bi yang menjadi tulang punggung mereka, maka insaflah mereka bahwa mereka bagian mati...

Ketika itu, dijalan tersebut, tidak ada lainnya orang, Tadi memang ada beberapa yang berlalu lintas, akan tetapi, setelah menyaksikan pertempuran mati-matian itu, mereka lekas lekas menyingkirkan diri, bahkan ada yang pulang lagi.

Angin bertiup keras mendatangkan hawa dingin, cabang- uabang pohon memain diantara sampokan angin itu, Debu dan pasir sampai turut terbawa terbang, Langit pun guram, karena mega tebal menaungi mereka mega itu seperii mau turut menindih...

In Gak berjalan tindak demi tindak, perlahan tindakannya. ia berhenti setelah mendekati ketiga orang sejarak dua kaki kira-kira-Dengan tajam tetapi tenang, ia mengawasi ketiga musuhnya. Akhir-akhimya, Ciang Hiong dapat juga membuka mulutnya, Dia takut bukan main. Dia menegur: "sahabat, apakah kau tidak memikir bahwa perbuatanmu ini sangat kejam" Dia merasa bahwa pasti mereka bukal dibunuh Maka dia bicara dengan suara keras Toh nadanya nada ketakutan dan seperti memohon belas kasihan... Memang manusia itu semua menyayangi jiwanya....

Selama itu, Ban Hiong masih membekap luka di perutnya itu, hanya sekarang, darahnya sudah mulai berhenti mengalir dan darah yang sudah keluar itu mulai beku, Hawa dingin akan tetapi dahinya mengucurkan keringat.

In Gak mengawasi, ia tidak membuka mulutnya, ia hanya bertindak lebih jauh menghampirkan Sim Siang Kiu. Tiba-tiba ia membungkuk seraya tangannya diluncurkan pesat. Tahu- tahu ia telah menotok jalan darah khi hay dari su-ya yang jahat itu. Hanya satu kali saja kedua matanya si su-ya mencilak, napasnya terus putus.

Sim Siang Kiu tangguh, meskipun telah terluka parah, dia masih dapat bertahan, dia tak mati lantas, Selama masih bernapas itu, dia sangat tersiksa. Tapi sekarang dia mendapat pembalasan untuk segala perbuatannya yang jahat dan terkutuk.

Mulanya Ouw Kok Lan menyangka In Hian Bi hendak menolongi Sim Siang Kiu. inilah karena tadi, selagi mengangkat kaki, hantu wanita itu memerlukan berhenti sebentar melihat luka orang, Rupanya dia tidak mempunyai harapan untuk menolongi, maka dia kabur terus. Nona Kok sendiri menyingkir ke sisi In Gak selagi- In Hian Bi tidak memperhatikannya. ia cerdas dan matanya tujam, dengan melihat roman dan pakaian orang, ia sudah menduga nyonya ini mesti salah satu dari kedua siluman dari Biauw Nia.

Habis membunuh Sim Siang Kiu, supaya su-ya jahat itu tidak usah menderita lebih lama, In Gak berpaling kepada Kiong-bun Ji Koay, ia menghampirkan, sebelah tangannya disiapkan-

Justeru itu mendadak Tiat Pi Kim-kong Ho Sin Hok menanya: ""Tuan, apakah kau she Cia..."

In Gak menunda gerakan tangannya, ia mengawasi. "Memang aku she Cia," sahutnya, "Baru-saja Nona Ouw

telah menyebutnya tegas sekali, mau apa kau menanyakan sheku?"

Sin Hok membuka lebar kedua matanya, Dia mengawasi teliti mata orang, Lalu pada mukanya yang pucat, nampak senyuman-

“Jikalau begitu," kata dia sesaat kemudian, "Cia siau-hiap tentulah turunan dari Tayhiap Cia Bun yang bergelar Twi Hun Poan yang nama besarnya menggemparkan wilayah Ho sok membuat nyali orang rontok? Benarkah?"

In Gak heran hingga itu nampak pada parasnya. "Bagaimana kau ketahui itu?" tanyanya bengis, " Lekas bicara"

Sin Hok masih mengawasi, hanya ketika ia menjawab, suaranya sangat lemah. Katanya. "siauwhiap sulit untukku bernapas, jikalau siauwhiap bisa membantu pernapasanku, pasti aku dapat menuturkan kepada kau tentang peristiwa di telaga Tong Teng ouw dahulu, hari itu ketika tayhiap bersama siauhiap dikepung musuh-musuhmu yang bersembunyi itu.

Dapat aku menunjuki siauhiap siapa musuh siauw hiap yang sebenarnya. Dapatkah siauwhiap membantu tenagaku?"

Mendengar itu, hati In Gak terbuka. Ia memperoleh harapan, ia menoleh kepada Nona Ouw, yang berada di belakangnya, ia melihat sinar mata nona itu heran dan gembira saling susul.

Lekas sekali, anak muda ini berpaling pula kepada Sin Hok. "Baiklah." katanya, Dan dengan kehebatannya yang luar

biasa, ia lantas memberikan pertolongannya. Sin Hok ditotok tiga kali punggungnya di bagian dada, sedang darahnya Tian Hong dicegah mengalir ke luarnya terlebih jauh.

"Tempat ini jalan umum, tidak leluasa kita berbicara lama- lama di sini," katanya kemudian tertawa. "Mari kita pergi kesana tanjakan untuk memasang omong " ia lantas mengangkat tubuhnya Sim Siang Kiu sembari menoleh pada Nona Ouw, ia kata: "Nona, aku menghadapi urusan musuh besar ayahku almarhum, karena itu terpaksa aku mohon supaya ayahmu suka menanti dahulu."

Belum berhenti suara pemuda ini ia sudah lari ke tanjakan sambil membawa mayatnya ok suya, ia naik tinggi belasan tombak.

Ouw Kok Lan menyahuti, ia pun berlari menyusul maka di lain saat, berdua mereka-si muda mudi tampan dan cantik - sudah berdiri berendeng dengan sang angin bertiup tiup atas diri mereka. Hingga mereka nampak mirip sepasang dewa dewi.

Kiong bun Ji Koay menyusul dengan perlahan-lahan mereka berjalan sambil berpegangan satu dengan lain.

Hari sebenarnya tengah hari tetapi cuaca mendung, sang angin masih bertiup-tiup dengan keras sekali, Di atas pepohonan cabang-cabang gundul tetap bergoyang goyang, Tak lama seberlalunya mereka, lalu lintas mulai hidup pula hingga diantaranya dapat terdengar bunyinya cambuk kereta kuda....

Di atas tanjakan itu In Gak dan Kok Lan bersama-sama Sin Hok dan Ban Hiong, duduk berkumpul di bawah sebuah pohon besar, Tempat itu mirip lembah dan di situ tumbuh banyak pepohonan. Di situ mereka tak terlihat siapa juga kecuali apabila ada orang yang mengintainya . . .

In Gak duduk berendeng dengan Kek Lan dan Sin Hok berdampingan dengan Ban Hiong. Tangan si nona membuat main secabang pohon di antara air sumber di depannya, In Gak duduk diam memasang telinganya. Im Hong sat Ciang Ban Hiong duduk menyender di bong kot pohon, matanya dipejamkan, ia lagi beristirahat.

Sin Hok mulai bicara dengan ia memandang, katanya: "Ketika tadi Hek ie Hian Li In Hian Bi mau mengangkat kaki. dia tahu bahwa siauwhiap telah terkena racunnya yang dia namakan Pek Keuw Jiu Hio, benarkah itu?"

Ditanya begitu, In Gak menduga racun itu lihay sekali. Ia mengangguk.

"Benar" sahutnya, Ketika kita mula, bertemu aku lantas merasa ada bau harum yang tersiarkan dari tangan bajunya, Cuma satu kali aku menyedotnya, lantas aku merasai napasku tertutup. Aku rasa itulah tidak berbahaya."

Sin Hok kaget skelai, mukanya menjadi pucat. Lantas dia menggoyang kepala. "sekalipun satu sedotan, tak dapat racun itu kena tercium" katanya, "Pek Keuw Jiu-Hio lihay luar biasa, siapa terkena itu maka dalam tempo dua belas jam, hawanya akan berubah sendirinya menjadi kutu yang tak terhitung banyaknya yang bekerjanya menghisap darah orang.

Di dalam tempo tiga bulan, darah orang akan terhisap habis menjadi kering, dengan begitu dia bakal mati karena kehabisan tenaga. Tidak ada obat untuk menolong keracunan itu, kecuali jikalau orang mendapatkan obat buatan In Hian Bi sendiri"

Mendengar itu, Kek Lan menjadi kaget. "Benarkah tidak ada lain obat kecuali obatnya itu?" ia tanya.

Ho Sin Hok berpikir.

"Ada juga satu jalan lain yaitu apabila seorang mempunyai tenaga dalam yang sangat mahir. Buat Cia siauwhiap. mungkin bahaya itu tidak menyulitkan sebab sendirinya siauw- hiap dapat menggunai tenaga dalamnya guna mendesak ke luar racun itu dari jalan darah sam cauw, semua kutu itu  dapat dibakar mati dengan api sam-coay Cin-hwe di dalam tubuh. Dengan menggunai cara pengobatan ini, bahaya lenyap dalam tempo tujuh hari, Yang paling baik ialah mendapatkan obatnya In Hian Bi sendiri"

In Gak bersenyum mendengar keterangan itu. si nona melihat orang tidak bergelisah, ia menatap tajam.

"Ah, kau terlalu," katanya menyesali “Jiwa mu terancam, kenapa kau berdiam saja?"

Dari bersenyum, In Gak tertawa.

"Buat apa bergelisah tidak ada juntrungannya?" ia balik menanya, "Baiklah kalau kita sanggup mendapatkan In Hian Bi kalau tidak. biarkan saja. Atau orang turut keterangannya saudara Ho ini, untuk mengobati diri sendiri dengan desakan tenaga dalam souw Kiong Kwe-hiat, untuk membakar mati kutu-kutu itu "

Sin Hok kagum buat ketabahannya jago she Cia ini. "Sekarang ini In Hian Bi berdiam di kota Celam bagian

selatan-" ia memberitahukan-

"Dia berdiam di dalam rumah abu Go Eng su di dekat sumber air Pok Kut Coan. Penjaga dari rumah abu itu menjadi muridnya."

Tidak menanti sampai orang bicara habis, Kok Lan sudah menyambar tangannya In Gak buat ditarik.

"Engko Cia mari kita lantas berangkat" ia mengajak, "Kita cari dia."

“Jangan bingung" kata In Gak tertawa, "Aku masih hendak menanyakan kedua losu ini tentang peristiwa dahulu hari di telaga Tong Teng dimana orang telah mengepung mendiang ayahku."

Tiba-tiba wajahnya Ho Sin Hok menjadi guram. Dia lesu sekali, Dia mendelong mengawasi mega abu-abu, Dia menghela napas panjang, baru dia mulai bicara pula.

"Dahulu hari itu, sebelum aku dan adik Tian ini murtad dari siauw Lim si, kami bersahabat rapat dengan ayahmu itu siauwhiap." demikian katanya, "Ayahmu itu pula telah melepas budi kepada kami berdua, kemudian kami berdua kabur ke tapal batas, oleh karena cara hidup kita berlainan, apabila suatu waktu kita bertemu ayahmu siauwhiap. kita tidak bicara asyik lagi seperti biasanya.

Kita melainkan saling menyapa secara ringkas, Lewat lagi beberapa hari untuk menyingkir dari pengejaran pihak siauw Lim si, kami memasuki istana. Kami diberi tugas mengamat- amati gerak-gerik semua orang Rimba Persilaaan, Tatkala itu kami mendengar tentang ayah siauw-hiap.

Orang mengatakan dia terlalu telengas, Katanya tak peduli orang sesat atau orang lurus asal yang bersalah tentulah dia hukum, yang bersalah besar dibinasakan yang ringan kesalahannya dimusnahkan ilmu silatnya. Karena itu ia membangkitkan hawa amarah dua-dua golongan lurus dan sesat, yang lalu berdaya untuk membalas sakit hati guna membinasakan ayah siauwhiap itu...

Sin Ho berhenti sebentar, ia melihat muka In Gak yang matanya menjadi merah, suatu tanda orang gusar berbareng berduka, Diam-diam ia merasa terharu. Tapi lantas ia meneruskan "Niat membalas mereka itu sudah lama menjadi rahasia umum dalam kalangan rimba persilatan.

Sulit untuk mereka itu mencari ayah siauwhiap yang bukan saja tidak ketentuan di mana beradanya, ia pun biasa menyamar. Beberapa kali mereka itu menubruk tempat kosong, Disebelah itu ayah siauwhiap belum tahu apa-apa, ia berada dalam kegelapan.

Sebagai sahabat, kami berdua ingin memberi ingat kepada ayah siauwhiap itu, untuk ia berlaku waspada, sayang, karena ia tak tentu tempat kediamannya, sampai sebegitu jauh, belum pernah kami menemukannya, kemudian kami menggunai siasat membaiki kawanan itu.

Kami kata kami suka turut dalam usaha mereka, kami minta asal mereka mendengar kisikan, supaya mereka mengabarkan dahulu kepada kami. Kami kata, sebagai hamba negara, kami dapat membantu banyak. Kami mengharap setelah memperoleh kisikan, dapat kami lantas pergi kepada ayah siauwhiap guna membuka rahasia.

Sayang semenjak itu, ayah siauwhiap- tak pernah nampak lagi di muka umum, Kami menduga ayahmu itu sudah mengundurkan diri atau bersembunyi. Kami jadi girang....

Sin Hok berhenti sejenak, ia mengawasi anak muda di depannya, ia melihat wajah yang guram, Tapi ia melanjutkan: "Segera kami mendapat tahu bahwa ayah siauwhiap tinggal di tepi sungai Ke Leng, di kampung kaum nelayan bahkan ia sudah menikah dan memperoleh anak. Justeru kami mendengar berita, justeru tampat kediaman ayah siauwhiap itu dapat diketahui oleh Kiu Sin Soh cian Li, si Burung Sakti, dia bahkan sudah lantas turun tangan- Dia menggunai ketika ayah siauwhiap keluar dari rumah bersama siauwhiap dia datang menyateroni, dia membunuh ibu siauwhiap."

Mendengar sampai disitu, tak dapat In Gak menahan lagi kesedihanuya. Air matanya turun bercucuran.

Kok Lan terharu tetapi berbareng panas hati.

"Kalau begitu, nasib dia lebih menyedihkan daripada nasibku " katanya di dalam hati, "Aku kira memang tabiat

asalnya suka berlaku telengas, tidak tahunya dimasa lalu ibunya dibunuh orang jahat."

Ketika itu Sin Hok melanjuti ceritanya. "Waktu itu ayah siauwhiap sudah meninggalkan rumahnya untuk mencari musuhnya guna menuntut balas, Dengan menyesal kami pergi pulang disebabkan kami terlambat datang menemuinya.

setelah itu, kembali ayah siauwhiap tak pasti jejaknya.

Dilain pihak ia menjadi terlebih bengis daripada tadi tadinya, Dua tahun lewat dengan cepat. Kemudian kami mendengar ayah siauwhiap muncul di gunung Hoa san. Paling dulu ayah siauwhiap terlihat oleh Leng siauw Cu dari Hoa san Pay. Dia lantas mengirim berita kilat, yaitu kabar burung dara untuk mengabarkan pada kawan-kawannya-supaya mereka itu segera berkumpul di Hoa san untuk mengepung bersama " Mata In Gak bersinar secara tiba tiba. "Apakah Leng siauw Cu bermusuh dengan ayahku?" ia menyela. Ho Sin Hok tertawa sedih.

"Di dalam dunia Rimba Persilatan, urusan rumit sekali," sahutnya, "Di dalam kalangan itu, urusan bagaimana kecil juga dapat menyebabkan pembunuhan, dan biasanya urusan jadi tak habisnya, Ketika itu ada seorang murid Hoa san Pay yang jalang. Dialah Hun ouw tiap Le Ho Po yang kelakuannya ialah memetik bunga, mencemarkan kesucian wanita.

Dia juga biasa melakukan pelbagai kejahatan lain, Dia kepergok ayah siuawhiap kedua tangannya dikutungi dan nadinya ditotok. Dia masih dapat lari pulang ke Hoa san, hanya setibanya dia roboh dengan muntah darah terus dia mati. Ayah siauwhiap memang keras tapi Le Ho Po busuk dan jahat sekali, tidak keterlaluan ayah siauw hiap menghukum dia, jikalau Leng siauw Cu menanyakan hati nuraninya, ia akan mengerti, akan tetapi tidak, dia sudah lantas mengambil keputusan akan membalas dendam atas diri ayah siauw hiap.”

"Hm" In Gak mengasih dengar suaranya ia sudah lantas mengambil keputusannya.

Sin Hok melihat sinar mata si anak muda, hatinya bercekat, Diam-diam ia menghela napas.

“Setelah kami menerima berita dari Ho sin itu, kami lantas memohon cuti.” Ia meneruskan. "Kami menunggang dua ekor kuda pilihan dengan apa kami kabur ke gunung itu, kami melakukan perjalanan siang dan malam. Ketika kita sampai di sana, telah berkumpul lebih dari sembilan puluh orang kaum sesat dan lurus bercampur baur. Mereka itu lantas menguntit ayah siauwhiap. Karena ayah siauwhiap tetap tidak berketentuan gerak geriknya, ia diikuti terus sampai di tepi Tong Teng-ouw, dimana barulah ia dikurung. Tujuh puluh orang mengambil tempat di pelbagai jalan, semua pada menyembunyikan diri. Mereka kuatir kepergok dan ayah siauhiap nanti menghilang pula. Enam belas orang yang dipimpin Leng siauw Cu serta Kim Teng siangjin, ketua Ngo bie-pay, bersama soat san Jin Mo memegat ayah siauwhiap yang dikurung di empat penjuru.

Mereka itu mengambil sikap su Chio Tin, barisan empat Gajah. Kami berdua turut mengambil bagian, tetapi kami dengan maksud akan secara diam-diam nanti membukai jalan lolos. Kami memancing supaya ayah siauwhiap menerobos penjagaan kami, Hari itu sikap ayah siauwhiap luar biasa dia tak secerdik biasanya, dia bahkan berkelahi sebagai orang kalap. ia justeru menerjang ke tiga penjuru yang lainnya.

Di sana semua pengepung ialah jago-jago yang kenamaan, walaupun ayah siauwhiap gagah luar biasa. tidak dapat ia melawan mereka itu, pertempuran berlangsung sampai fajar menjelang. Ayah siauwhiap telah memperoleh banyak luka akibat serangan tangan kosong.

Melihat suasana buruk itu, bersama saudara Tian ini, aku menyerang mendesaknya, tetapi diam-diam kami tunjuki jalan buat ia kabur, Tempo ayah siauwhiap sudah lari, Leng siauw Cu tetap mengejar tak mau berhenti. Berdua kami lantas menggunai akal yang dinamai bersuara di timur, menyerang di barat.

Dengan begitu akhir akhirnya ayah siauwhiap dapat lolos juga, Karena luka lukanya itu, aku percaya ayah siauwhiap tak dapat kabur jauh lebih dari seratus li. Kim Teng siangjin beramai masih belum puas, mereka harus pergi mencari, selama satu bulan, mereka berkeliaran di propinsi-propinsi Kangsay, ouw-lam dan lain-lainnya.

Mereka baru berhenti dengan usahanya itu sesudah di gunung Bu Kong san mereka mendapatkan mayatnya, atau lebih benar tulang belulangnya dua orang satu tua dan yang lain kecil. Dengan demikian mereka itu pulang ke rumah masing masing." Mendengar itu, In Gak berdiam. Matanya pun tidak bersinar, hanya guram ia berdiam sekian lama, rupanya disebabkan hatinya sangat tegang, gusar dan berduka menjadi satu.

"Dulu hari itu tuan-tuan berdua telah membantu ayahku itu, di dunia baka, pastilah arwah ayahku sangat berterima kasih," kata ia kemudian, "sekarang ingin aku tanya tayjin berdua, kecuali Leng siauw Cu, Kim Teng siangjin, dan soat san Jin Mo, siapa siapa lagi yang telah mengepung ayahku itu?"

Ditanya begitu, hati Sin Hok bercekat.

Di dalam hatinya itu ia kata: "Anak muda ini sangat keras hatinya, kelihatannya tidak dapat aku tidak menyentil satu demi satu nama-nama mereka itu."

Maka mau ia memberi penjelasannya.

Justeru itu Im Hong sat Ciang Ban Hiong yang tadinya terus meram saja, telah membuka kedua matanya, ia bersenyum, lantas ia kata: "Aku si orang she Tian hendak bicara sedikit, hanya seandainya siauwhiap tidak berkecil hati, baru aku berani mengatakan-nya. "

In Gak tertawa.

“Jikalau Tian Tayjin ada bicara," katanya, "aku yang rendah akan mencuci telingaku untuk mendengarkannya, maka itu mana mungkin aku jadi berkecil hati? Tayjin berdua telah menolong ayahku itu, kamu telah melepas budi, tentu sekali suka aku mendengar pengajaran tayjin."

Anak muda ini merobah panggilan menjadi "tayjin" karena sekarang ia ketahui dua orang itu bekas pembesar negeri.

Tian Ban Hiong bersenyum, akan tetapi sepasang matanya tak terbuka seluruhnya, Rupanya rasa sakit pada luka diperutnya belum lenyap semuanya.

"Kami berdua adalah murid-murid siauw Lim si." kata ia setelah ia memperoleh jawaban itu. " maka juga semasa di dalam pendidikan kami selalu peroleh nasihat-nasihat bagaimana harus berlaku murah hati dan dapat saling memaafkan, itulah karena kebesaran sang Buddha.

Di mata agama kami, tidak ada orang di dalam dunia ini yang tak dapat tak diseberangi ke dunia aman sentosa.

Mendengar kata kataku ini, mungkin siauwhiap diam diam mentertawainya. Tentu siauwhiap pikir sebagai murid-murid murtad dari siauw Lim sie tidak pantas aku berbicara begini rupa.

Dapat kami tegaskan, tak dapat kami jelaskan apa yang menjadi sebab maka kami sudah meninggalkan rumah perguruan kami itu. Dalam hal kami itu, melainkan ayah siauwhiap yang tahu terang, Ayah siauwhiap berhati keras, tanpa ia ketahui urusan kami itu, tidak nanti ia suka membantu kamu.

Demikian siauwhiap. urusan di dunia selalu ada tali menalinya, hingga orang terus-terusan saling balas tak henti- hentinya, Dulu begitu, semua itu sudah terjadi karena orang beda pendapat, karena pandangannya dari masing-masing sudutnya sendiri Karena itu juga siauwhiap. jikalau siauwhiap sudi, aku mau mohon sukalah siauwhiap mengerti balas membalas itu melulu penderitaan dan bencananya besar, dapat sampai kepada anak cucu kita, Aku seorang kasar inilah apa yang dapat aku katakan, siauwhiap pintar dan cerdas, pastilah siauwhiap lebih mengerti daripada aku.

Siauwhiap bermurah hati, siauwhiap dapat memikir, tentu siauwhiap tidak akan mengatakan aku melantur, Begitulah di dalam perkara ayah siauwhiap ini cukup kalau siauwhiap mencari si biang keladi dan tidak mencari semua pesertanya, yang melainkan turut-turutan saja."

In Gak melongo mengawasi Ban Hiong, ia tidak menyangka orang dapat bicara demikiah macam, ia menjadi ketarik, hati. ia kata: "Tian Tayjin apa yang kau ucapkan semua itu benar, suka aku turut, Baiklah akan aku cari itu tiga orang saja." Habis mengucap begitu, ia bersenyum. Meithat sikap jantan dari si anak muda, Ban Hiong dan Sin Hok menjadi kagum, mereka merasa tunduk.

"siauwhiap adalah naga di antara manusia pantas nama siauwhiap menggemparkan dunia Bu Lim" Ban Hiong memuji. "Pastilah di tempat baka, tayhiap meram sambil bersenyum siauwhiap sekarang aku si orang she Tian hendak kembali ke kota raja, semoga lain kali kita bertemu pula."

Berkata begitu, dengan paksakan diri, ia berbangkit, mukanya meringis, sebab ia menahan sakitnya.

In Gak mengeluarkan dua butir pil Tiang cun Lan, ia berikan seorang satu kepada dua orang itu, sembari menyerahkan itu, ia kata tertawa: “Jiwi, silahkan makan ini, selanjutnya tak usah kamu kuatirkan lagi lukamu ini Hanya aku mohon bertanya setelah jiwi pulang ke kota raja, bagaimana hendaknya kamu mengurus peristiwa berdarah di Thaygoan itu?"

Kedua orang itu menyambuti obat, yang terus mereka telan, Kesudahannya mereka menjadi kagum sekali. Boleh dibilang, begitu obat sampai ke dalam perut, sudah sakitnya hilang tubuh mereka pun terasa segar sekali.

Sin Hok segera menjawab: "Li si-long itu muridnya Perdana menteri Ho, perkara mungkin tak akan dibiarkan –saja. Kami berdua bertugas, tak dapat kami meletakkan tugas kami meski demikian, kami akan dayakan segala sesuatu supaya perkara toh akan dibiarkan begitu saja, supaya lama lama urusan menjadi diam sendirinya."

In Gak tertawa, ia merogo sakunya, untuk mengasih keluar giokpwe hadiah dari Kaisar Kian Liong.

Melihat benda itu yang berkilauan, Ban Hiong dan Sin Hok menjadi kaget sekali, hingga muka mereka pucat, dengan tersipu-sipu keduanya lantas menjatuhkan diri berlutut di depan si anak muda menjalankan kehormatan. "Sudah jiwi, jangan berlaku begini." kata In Gak tertawa, mencegah orang memberi hormat kepadanya, "Hanya nanti setibanya di kota raja, cukup asal jiwi memberitahukan Ho sin- siang bahwa Li si-long itu jahat, hingga dosanya bertumpuk bagaikan gunung, karena mana sri Bagindalah yang menitahkan aku menumpasnya, Aku percaya tentang itu tak nanti Hosin-siang berani bicara terhadap sri Baginda."

Kedua orang itu berbangkit, mereka mengangguk sikap mereka sangat menghormat roman mereka tenang.

"Giok-pwe ini berarti sama dengan firman sri Baginda," katanya, " dengan begini pastilah urusan dapat diselesaikan dengan mudah, sekarang kami mohon mengundurkan diri, semoga siauwhiap baik-baik dalam perjalanan."

Habis berkata, keduanya menjura, lantas mereka memutar tubuh dan berlalu dengan cepat.

In Gak bersenyum, lalu ia memandang langit dan tertawa bergolak. Angin dingin meniup padanya, membuatnya merasa nyaman. Toh ia agak terharu kalau ia ingat segala sesuaiu mengenai dirinya.

Ouw Kok Lan yang semenjak tadi berdiam saja di sisi menepuk pundak si anak muda, kata dia: "Kakak Cia, tentang musuh-musuhmu, telah kau ketahui sekarang, maka itu, untut menuntut balas, tak usahlah kau terlalu tergesa gesa, Mengapa kau tidak mau lantas beristirahat dulu, untuk menghapus racun dalam tubuhmu?"

"Oh" seru si anak muda, baru sadar, Jikalau kau tidak mengingatkan hampir aku lupa nona" Maka lantas ia menjatuhkan diri, untuk duduk bersila. Terus ia mengumpul dan mengerahkan tenaga Pou Te Pwe-yap Sin Kang guna mengusir pergi semua racun di dalam tubuh nya.

Pemuda ini mencium hanya sedikit harum racun, maka itu, dengan mengerahkan tenaga dalamnya, dengan lekas racun itu terbakar musnah oleh api sam-moay cin-hwe di dalam tubuhnya.

Selagi si anak muda bersemedhi itu, Kok Lan mengawasi saja, ia melihat muka orang merah dan pucat bergantian, lalu menjadi tetap merah, hingga tampak ketampanan pemuda itu, diam-diam ia menjadi sangat kagum, hatinya tertarik bukan main, Senang ia melihatnya, hatinya membara sendirinya.

Tidak berselang lama, In Gak membuka kedua matanya, terus ia berlompat bangun, sambil tertawa, ia kata nyariog: "Nona, mari sekarang kita menemui ayahmu, untuk kita lekas- lekas menolongi. Kian Kun ciu Lui Siauw Thian dan oh Ka Lam Cui Cian setelah itu baru kita pergi cari In Hian Bi."

Nona Ouw mengangguk manja. "Baik." sahutnya.

Keduanya lantas berangkat menuju ke Sin Ke chung yang pernahnya tujuh li di barat sin chung-tin- itulah sebuah rumah besar dengan pekarangan yang sangat lebar, sedangkan di seputarnya ada kali buatan yang mengitarkannya, kali mana jernih airnya, Gedung itu indah dan lengkap segalanya, sedangkan tamannya indah. Dapat dikatakan gedung mirip gedungnya seorang bangsawan.

Hari itu Bu-tek Kim kauw sin Bong berada di dalam rumahnya, ia berduduk sebelah kiri toa-thia. ruang besar dari rumahnya, di atas sebuah kursi thay sui. ia tampak tegang, Bersamanya berkumpul Khole Kong san su Mo, Cin-tiong siang Koay, Thian Gwe sam Cuncia serta tiga orang tua lainnya yang tak diketahui namanya.

juga di situ terdapat Hun Goan Ci Koay Cun yang rambutnya kusut, mukanya dekil, dan pakaiannya banyak tambalannya, yang matanya bercilakan tak hentinya.

Semua penghuni gedung besar dan indah itu merasa hatinya tidak tenteram sebab malam tadi It Goan Kisu Ouw Kong dan puterinya datang menyateroni. Mereka semua berjumlah besar, semuanya orang-orang kesohor, tetapi mereka bagikan tidak berdaya. Sudah musuh tak ada yang terlukakan, romannya juga tidak tampak tegas, Musuh-musuh gesit luar biasa, Kesudahannya penyerbuan itu ialah tiga orang binasa dan banyak yang luka. Maka juga sin Bong sangat gusar dan mendongkol sampai dia menumbuk-numbuk meja hingga berisik sekali.

Toa Mo Hoa Ie hantu tertua dari Khole Kong san, bersenyun melihat roman tuan rumahnya itu.

"Muridku, kau tenangkan dirimu" kata guru ini. " orang cuma datang untuk mengacau, Mereka toh tidak berani terang-terangan menantang kita. Aku percaya mereka tidak berani datang pula."

Berkata begitu Toa Mo tertawa bergelak. Terus dia menambahkan: "Kalau toh benar malam ini mereka berani datang pula, akan aku si orang tua beri rasa lihayku kepadanya."

Dia lantas memperlihatkan roman temberang, kedua matanya membelalak.

Walaupun dia mengatakan demikian, hati Hoa Ie sebenarnya bersangsi sekali. Dia ingat kegesitan musuh, dia percaya orang bukan sembarang orang Bu Lim, Dia pun menyesal yang tidak bisa melihat tegas musuh-musuh tidak dikenal itu sedangkan dia percaya matanya tajam luar biasa,

Tak tahu dia bahwa orang tua atau muda

selagi berpikir, ingatlah Toa Mo halnya dahulu hari dia berempat saudara mengacau gunung siong san dan dicuncak Hu Yong di gunung siong san berhasil mengalahkan siauw Lim Ngo Lo, yaitu lima orang jago tua siauw Lim Pay, hingga nama mereka menjadi tersohor sekali.

Hanya sekarang, selang beberapa puluh tahun, dia mesti menghadapi musuh lihay yang tidak dikenal itu, Bagaimana hatinya tidak menjadi gentar? Dia menjadi berkuatir yang namanya akan menjadi runtuh, sedangkan nama itu dia sangat sayangkan, ingin dia melindunginya terus... Kim Kauw Bu Tek berhati tegang berbareng sangat berduka, setelah sekian lama berdiam saja, mendadak matanya mengeluarkan sinar tajam. Dia mengawasi kepada si orang itu di depannya, orang tua mana berkumis hitam. orang tua itu tunduk. hatinya bergelisah.

Mendadak saja maka terdengarlah suara mengguntur dari sin Chungsu. Dia menanya orang tua itu: "I Ho Losu, bagaimana dengan puteri mustikamu itu serta si bocah she Ong? Apakah mereka sudah dapat dicari?"

Orang tua itu menggeleng kepala, Ketika ia mengangkat kepalanya mukanya meringis.

"Anak celaka itu serta si orang she Ong sudah minggat" sahutnya berduka.

Paras sin Bong nampak bengis. Dia menyeringai. Kata dia, dingin dan mengancam:

“Jikalau anakmu itu bersekongkol dengan orang luar, itu dia bertindak menyusahkan aku, baiklah kau mengerti jangan kau nanti sesaikan aku kejam, mesti aku tak ingat tali persahabatan kita. Mulai hari ini, gerak-gerikmu bakal diawasi maka itu tak dapat kau bergerak dengan merdeka, kecuali jikalau anakmu dan orang she ong itu datang sendiri menyerahkan dirinya."

Belum habis suaranya jago ini, atau dia telah menjerit keras. Selagi dia berkata itu, tengah mulutnya dibuka, mendadak ada benda keras yang menyambar masuk kedalam mulutnya menghajar giginya, hingga beberapa buah copot sampai darahnya muncrat, sedangkan saking sakitnya matinya menjadi berkunang-kunang, kepalanya pun pusing. Habis jeritan nya yang dahsyat itu tubuhnya roboh terkulai, dia tak sadarkan diri. Semua orang kaget sekali, semua lantas bergerak bangun.

Justeru itu ada sebuah benda putih kecil bundar mirip bola menyambar dari arah luar menuju kepada Koay Cun, Hun Goan Ci lihay. sambil berkelit ia mengulur tangannya menyambuti benda itu.

Sin Bong sudah lantas ditolong, terutama dikasih bangun berdiri. Didalam waktu yang lekas, ia telah mendusin.

Koay Cun membuka tangannya, untuk memeriksa benda itu, ialah segumpal kertas, ia lantas membeber kertas itu, yang ada coretan-nya. Habis melihat, ia tertawa dingin. "Hm Hm"

Khole Kong san su Mo dan yang lainnya menghampirkan si pengemis untuk turut melihat kertas di telapak tangannya itu, Kertas itu berlukiskan sebuah leng-pay dalam mana ada gambar naga, singa, dan harimau, juga gambar sebuah tongkat yang patah dua. Gambar lainnya ialah seorang pengemis sedang menekuk lutut. Melihat gambar itu, su Mo sekalian mengerti kenapa Koay Cun menjadi gusar. Masih si pengemis tertawa dingin, sedangkan mukanya merah padam.

Sekonyong-konyong Hun Goan ci berseru keras, kedua kakinya menjejak tanah, tubuhnya terus mencelat, lari ke luar ruang.

Di luar, segala apa seperti tadinya tidak ada sesuatu yang luar biasa, yang mencurigai Angin tetap bertiup keras, mega tebal, pohon-pohon bergoyang tak hentinya. Disebelah itu, bunga bwe menyiarkan baunya yang harum. Koay Cun melirik ke sekitarnya diam-diam hatinya bercekat, ia kaget sekali.

Gedung itu terjaga sejumlah orang, sekarang orang-orang jaga itu terlihat pada berdiri diam saja bagaikan patung, sedang diantara mereka itu ada orang-orang pilihan.

Teranglah mereka itu tertotok di tempat jagaannya masing- masing tanpa mereka berdaya. " Heran" pikir Koay Cun.

Memang sulit untuk menotok orang di tempat jagaannya masing-masing, sedang orang-orang itu bukan cuma satu atau dua tapi banyak jumlahnya. "Aku sendiri, aku tidak mempunyai kepandaian ini," pikirnya. "Buatku paling banyak aku berbareng menotok dua orang saja, Mereka ini pun terpencar di sana sini, Mulanya aku menerka Koay-cun sam Lo, tetapi mereka juga, mereka tidak nanti sanggup bertindak begini, Habis, siapakah dia?" Maka berpikir keraslah pengemis itu.

Su Mo beramai menyusul ke luar, maka sebagai Koay Cun, mereka juga lantas pada melongo, mulut mereka bungkam, sampai mereka lupa menolongi orang menotok menyadarkannya.

Tepat selagi orang pada berdiam itu, dari atas genting terlihat lompat turunnya tiga bayangan orang. Gerakan mereka cepat bagaikan burung-burung terbang melayang turun.

Su Mo semua bermata awas, segera mereka melihat tegas tiga orang, yang pakaiannya rubat-rabit, gerombongan dan warnanya biru. Mereka itulah Kay Bun sam Lo, tiga tertua partay pengemis: Kiu Ci sin- liong Chong si, seng Ho Tiauw Kek Liauw Yong dan Tek Tiang siu Ang Hong.

Melihat ketiga tertua pengemis itu, Koay Cun maju satu tindak. dengan mata mencilak, ia menegur bengis: "Kamu datang ke mari, mau apakah kamu?" ia bersikap sangat temberang. Kiu Ci sin Liong mengurut janggutnya, ia bersenyum.

"Kami mau menangkap kau untuk dibawa pulang ke ruang Hio Tong, supaya kau dapat diperiksa dan dihukum menurut aturan kita," sahutnya sabar. Meski demikian, muka Koay Cun toh pucat.

Dia bingung dan berkuatir. Dia juga gusar, Rambutnya yang kusut pada bangun berdiri sin Bong turut pergi ke luar, melihat kepada Kay Bun sam Lo, ia menduga mereka itu atau satu diantaranya yang menghajar giginya, ia menjadi sangat gusar, sambil berseru ia lompat maju, sebelah tangannya diulur untuk menyambar dadanya Chong si, dijalan darah yu- bun.

Kiu ci sin Liong berkelit dengan gesit sekali, pukulannya sin chungcu tidak mengenai sasarannya.

"Muridku, jangan sembrono" berteriak Hoa Ie.

Tubuh Sin Bong terjerunuk sedikit, dia menahannya, lalu dia berdiri di sisi.

"Pengemis bangkotan she Chong" Hoa Ie lantas membentak Chong Si, "aku si orang tua tidak mempedulikan urusan kamu kaum pengemis, tetapi tidak selayaknya kamu lancang datang ke mari untuk menghina orang"

Chong si melengak. ia kata: "Aku si pengemis tua datang ke mari buat urusan kaum kami, buat orang kami yang murtad, Kenapa kamu bilang kami datang menghina orang? Hoa Losu, kata-katamu membuat kami heran."

Hoa Ie tertawa seram, romannya bengis sampai kulitnya yang merah berubah menjadi hitam. Dalam gusarnya dia kata keras pula: "Kau masih berani menyangkal Bukankah kamu yang menimpuk dengan batu merusak gigi muridku? Lihat juga di depan matamu itu..." ia menunjuki korban-korban totokan untuk menambahkan "Apakah itu juga bukan hasil perbuatan kamu? Laginya kamu datang ke mari tanpa mengabarkan dahulu, tanpa meminta perkenan masuk lagi.

Koay Losu juga tetamu kami yang kami hormati, sekarang kamu berbuat begini macam atas dirinya, apakah itu bukan namanya menghina?"

Chong si tertawa. "Haha, kabarnya Khole Kong ketarik pula dengan

penghidupan di dunia hingga sekarang mereka menjadi seperti tuan rumah dari sin Ke Chung." katanya.

"Hoa Losu, ingin kami menegaskan: Tentang muridmu dilukai dengan timpukan batu dan orang-orangmu ini telah tertotok. semua itu aku si pengemis tua tidak tahu menahu. Mesti ada lain orang yang melakukan semua itu." ia memandang kepada semua orang korban totokan yang paras mukanya menunjuki ketakutan dan heran kagetnya mereka itu, lalu ia menambahkan:

"Hoa Losu janganlah kau menempel emas di muka aku si pengemis tua, si pengemis tua mana mempunyai totokan Leng Khong Ta-hiat yang luar biasa ini"

"Leng Khong Ta-hiat" yaitu ilmu menotok darijauh.

Mendengar kata-kata si pengemis, Hoa Ie semua terkejut Mereka tahu ilmu totok "Leng Khong Ta hiat" jauh terlebih lihay diripada Tek Yap Hui Hoa" - "Memetik daun melemparkan bunga" dan "Bi Lian Ta-hiat" - Totokan sebutir beras".

Untuk itu orang terutama harus memiliki tenaga dalam yang sempurna sekali, Memang tertua-tertua Kay Pang itu, juga tidak merasa sendiri, tidak mengerti ilmu totok itu Begitulah mereka menjadi heran, hingga mereka pada berdiam saja.

Dalam kesunyian itu terdengar bentakan Tek Tiang siu, yang matanya mengawasi bengis kepada Koay Cun. Kata dia: "Koay Cun, jikalau kau mengandalkan tenaganya para losu di sini, kau hendak membebaskan diri, buat mendirikan satu partai baru, meskipun cita-citamu akan berwujud, toh mukamu tidak bakal jadi terang bercahaya."

Menyambut teguran itu, Koay Cun tertawa nyaring, setelah berhenti, dia berkata: "Aku si Koay pengemis tua, mana dapat aku minta bantuannya para losu di sini..."
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Menuntut Balas Jilid 15 : Para pembunuh ayah Cia In"

Post a Comment

close