Menuntut Balas Jilid 14 : Mencari rumput Ho Yan cauw

Mode Malam
Jilid 14 : Mencari rumput Ho Yan cauw

SELAGI diserang, asap itu mundur, habis itu terus menghembus pula, Thian seng lantas batuk-batuk tak henti- nya,

In Gak berkuatir juga, Asap itu lama-lama bisa mencelakai mereka, ia lantas ingat giok-pwe mustika, lekas-lekas ia keluarkan itu

Begitu cahaya mutiara memancar, asap lenyap seperti disapu badai, Ruang pun menjadi terang sekali.

Dengan cepat Thian seng pun berhenti batuk-batuk. kepalanya tidak terasa pusing dan napasnya tidak sesak. sedang tadi, ia sudah merasa sangat tidak enak. ia menjadi girang dan kagum, hingga ia bisa tertawa.

"Sekarang aku yang rendah tahu akan takdir manusia," ia kata, "Bahwa kita tidak boleh bertindak dengan menentangnya. Mari, tayhiap. mari ikut aku" In Gak mengikuti.

“Jangan memanggil aku tayhiap. saudara Heng" ia kata sambil berjalan, "Sudilah kita berbahasa saudara saja."

"Baiklah, aku menurut." kata anak muda serba hitam itu.

Dengan cepat keduanya tiba di terowongan. Di situ bergelimpangan beberapa mayat dengan tubuh mereka tak utuh, ada yang tangannya patah atau kepalanya pecah. Itulah hasil bekerjanya Thian seng barusan, In Gak menghitung semuanya sebelas mayat.

"Dia hebat," pikirnya orang gagah dan sebat, ia heran kenapa anak muda ini mendadak mau berbuat baik untuknya dan kenapa Ca Kun hendak membinasakan mereka berdua.

Asap masih saja mengepul, makin lama makin tebal, akan tetapi mutiara mustika selalu membuyarkannya.

Hingga sebaliknya, menarik akan memandang asap itu bergulung-gulung. segera Thian seng sampai di jalanan yang sempit, hingga cuma satu orang dapat lewat di situ, itulah liang yang wajar, tingginya kira empat tombak. In Gak mengikuti melalui terowongan sempit itu.

"Saudara Heng, kenapa kita tidak langsung pergi ke luar?" ia tanya, "Dengan tenaga tangan kita dapat kita menghalau pokoknya asap itu."

Thian seng tertawa.

"Saudara Cia, kau memandang Ca Kun terlalu enteng. katanya, "sebelum saudara tiba sini, dia sudah mengatur persediaan bahan apinya, Di depan dan di belakang, semua pintu dan keluar telah ditutup rapat, ditutup dengan batu-batu besar, Dia hanya tidak menyangka bahwa aku datang kemari hingga aku turut terkurung bersama."

In Gak heran-

"Benar-benar aku tidak mengerti Kenapa mulanya saudara tidak ketahui Ca Kun mengandung pikiran mencelakakan kau juga?"

Thian seng tertawa pula.

"Mengapa saudara tidak melihat atau menerkanya?" dia balik menanya, "Bukankah tadi waktu aku baru sampai, dia berubah air mukanya? itulah alamat buat mencelakai orang- Hanya ketika itu aku belum tahu, dia maksudkan saudara atau aku, adalah setelah terdengar suara genta dan dia keluar sendiri, baru aku menduga jikalau dia mau mencelakai saudara sendiri, mengapa dia tidak mengajak aku pergi bersama?"

"Sungguh berbahaya," pikir In Gak. la tertawa dan kata: "Aku tidak percaya dengan kita bekerja sama, tidak dapat kita menggempur pintu"

"Nyata saudara Cia masih belum ketahui jelas, Mungkin kita dapat menggempur pintu, hanya setelah itu, kita bakal jadi letih sekali- Dengan tenaga kita habis, mana bisa kita ber- kelahi? Ca Kun berjumlah lebih banyak, dan bersamanya juga ada dua hantu lainnya yang lihay Jika tidak demikian, sudah tentu tadi aku telah turut dia keluar bersama."

Mereka berbicara sambil berjalan, jalanan makin sempit dan makin kate hingga mereka hampir merayap. In Gak menggunai pula mutiaranya untuk menyuluhi jalanan yang gelap dan sukar itu

In Gak heran tetapi ia diam saja. ia tidak mengerti kepada Heng Thian seng ketahui jalanan rahasia ini dan kenapa Ca Kun sendiri tak mengetahuinya.

Mereka jalan terus sampai ditempat yang buntu, In Gak heran tapi Thian seng tertawa dan berkata: "saudara tentu mengerti ilmu silat Pek Houw Kang Biarlah aku yang terlebih dulu memperlihatkan kejelekanku"

In Gak tahu orang mau naik ke tinggi dengan merayap. "Pek Houw Kang", itu ialah "Ilmu Cecak" ia lantas mengangkat kepala, untuk melihat ke atas, ia mendapatkan asap mengulak. hingga untuk melihatjauh ke tinggi, sinarnya mutiara pun masih tidak dapat.

Heng Thian seng berkata dengan terus bekerja. ia menggeraki tangan dan kakinya untuk diangkat dan ditempel ke tembok. untuk manjat, ia dapat bergerak dengan cepat, sebentar saja ia sudah naik lima enam tombak.

"Bagus" In Gak memuji di dalam hati, Pek Houw Kang bukan sembarang ilmu, Tapi ia tidak berdiam saja, ia pun lantas naik, untuk menyusul. "Saudara hati-hati" terdengar suaranya Thian seng "Kita akan menikung"

In Gak mendengar nyata, ia berwaspada, Dengan begitu tak usahlah kepalanya membentur lelangit batu.

"Hati- hati" terdengar pula suaranya Thian seng terus berulang-ulang.

Ketika In Gak mengikuti, ia telah melalui jalan naik sembilan tikungan, habis itu barulah terlihat cahaya terang dari sebelah atasan itu. Biar bagaimana, In Gak merasa letih juga. Thian seng sebaliknya telah bermandikan keringat dan napasnya mulai mengorong, Dia menyusuti keringatnya itu.

"Kita sudah lolos dari kurungan, mari kita beristirahat dulu," katanya tertawa, "Masih ada selintasan lagi, kita perlu terus menggunai Pek Houw Kang." In Gak bersenyum

"Baiklah, akupun merasa sedikit letih."

Thian seng heran, Diam diam ia mencuri lihat muka orang, ia tidak mendapatkan peluh mengalir.

"Benar hebat tenaga dalamnya orang ini," katanya dalam hati"

""Entah ia murid siapa. Aku sudah membanggakan tenaga dalamku tetapi nyatanya aku masih kalah jauh..." Tanpa merasa dia menjadi jelus.

Thian seng tidak tahu bahwa orang memakai kedok. ia cuma mendapatkan sinar mata

orang yang tajam dan berpengaruh ia menjadi jengah sendirinya. In Gak tertawa.

"Saudara Heng, aku tidak mengerti kenapa kau mengetahui jalan rahasia ini ?" tanyanya, "Mungkinkah Ca Kun pun tidak mengetahuinya ?"

"Banyak untuk menutur." sahut Thian seng, "Nanti saja setelah lolos benar-benar baru aku mejelaskannya, aku bahkan mau minta bantuan kau, saudara Cia. sekarang ini cuma dapat aku mengasi tahu, gua inijalan tempat kediaman asalku."

In Gak mengangguk. Baru sekarang ia mendapat tahu, ia lantas menduga-duga orang mau minta bantuan apa.

"Tapi inilah urusannya, sebelum ia bicara, tak dapat aku menanyakannya," pikirnya pula.

"Mari kita segera keluar," kata Thian seng kemudian. ia lantas mengeraki tangan dan kakinya, buat memanjat pula, Dan sebentar saja ia sudah naik sembilan tombak. In Gak mengawasi, ia percaya orang lie-hay, hanya ia melihat orang pun rada terkejut ia melihat itu dari gerak- geraknya, Diam-diam ia bersenyum. ia merasa banyak orang Rimba persilatan yang mau menang sendiri saja. Habis itu ia pun lantas menyusul.

Selagi mereka mendekati mulut lobang lagi belasan tombak. In Gak mendapatkan Thian seng bergerak lambat, ia menduga orang sudah mulai letih. ia terkejut, Tapi ia diam saja, ia tidak mau menanya, ia hanya bersiap untuk menjaga andaikata sahabat baru ini terjatuh karena keletihannya.

Tiba-tiba terlihat Thian seng berhenti manjat. Rupanya benar benar dia telah

kehabisan tenaga, Hampir In Gak menjerit saking kagetnya.

Kalau orang jatuh, ia bisa ketimpa, sulit untuk menjaganya: Hanya sekejab, terlihat Thian seng menjamberet ke atas, tangan kanannya mencekal, disusul dengan kaki kanannya menjejek. menolak tembok. hingga dia berdiam dengan kedua tangan dan kakinya menahan diri

"Syukur lobang ini kecil dan orang dapat mementang tangan dan kaki disini," kata In Gak dalam hati dengan hatinya lega bukan main,

Thian seng beristirahat sebentar, lantas ia memanjat pula, Kali ini ia bagaikan dapat semangat, ia dapat memajat terus sampai diatas.

In Gak menyusul dengan cepat, maka ia melihat mereka berada di tempat tinggi yang berdampingan dengan jurang yang dalamnya seribu tombak di sekitarnya nampak mega bergumpal-gumpal. Hawa dingin. Mengawasi segaia apa, ia menjadi teringat puncak Ciu Auw Hong, segalanya mirip satu dengan lain.

Ketika itu Heng Thian seng sudah duduk bersila, untuk bersemedhi, untuk meluruskan pernapasannya, guna melenyapkan letihnya, Dia terlihat pucat sekali. In Gak tidak mau mengganggu, sambil menggendong tangan, ia memandang pula ke sekitarnya, Menarik hati untuk melihat awan dansaijudi gunung Tay san itu.

Tidak lama, muka pucat dari Thian seng kembali bersemu merah, lantas dia membuka matanya, terus dia berlompat bangun,

"Tadi aku keputusan napas, hampir kita bercelaka bersama, katanya tertawa, "Mengingat itu, aku takut bukan main " Benar-benar untuk sekelebatan, mukanya mendadak pias.

In Gak tertawa.

"Demikian biasanya kita yang gemar ilmu silat," ia bilang, "Ada kalanya kita alpa atau gagal, Aku sering mengalaminya, cuma kau, saudara Heng, baru ini pertama kali, sekarang kita pergi kesana ?"

Thian seng berdiam seperti lagi berpikir, "sebenarnya adalah di waktu masih kecil aku mengetahui ini, katanya, " Ketika itu aku tidak dapat naik ke mari karena aku tidak mempunyai tenaga dan kepandaian merayap naik, Maka itu berada di atas sini pun baru kali ini. Menurut dugaanku, bagian depan dari gua ini mestinya itu di sebelah sana, yalah melalui lagi sebuah puncak,

Di sini kita tidak dapat naik pula maka kita harus mencari jalan turun. Aku percaya setelah berjalan mutar kita akan sampai di depan gua, untuk turun terus."

In Gak mengangguk ia melihat ke bawah di mana ada uap tebal yang telah menjadi awan, yang melayang-layang terbawa angin gumpal demi gumpal, ia megoyang kepala dan tertawa.

"Sungguh kejam Ca Kun," katanya, "Sungguh hebat dia menggunai tipu- muslihatnya ini, jikalau aku bertemu dengannya, dia tidak dapat diberi ampun lagi "

"Memang” kata Thian seng tertawa, “Jikalau dia tidak dibinasakan kita hendak menanti siapa lagi ?" In Gak mengawasi pula kebawah, Bagaimana mereka dapat turun ? jalanan tidak ada, pohon rotan pun tiada, Hanya belasan tombak jauhnya ada beberapa p^hon cemara tua yang tumbuh di tepian, Kalau orang lompat turun ke pohon itu, mungkin dia dapat berpegangan untuk menahan diri.

"Aku lihat kecuali itu pohon cemara, tidak ada jalan lain," katanya pada kawannya, ia berkata begitu tanpa ia mau menanya orang sanggup berlompat turun atau tidak, percobaan itu yalah percobaan mati-hidup,

Thian seng mengawasi kebawah, ke arah pepohonan, ia bersenyum.

"Karena tidak ada lain jalan, terpaksa kita mesti mencoba," katanya. selama berada di Hong san setiap hari aku mesti berlompatan di atas pohon, maka itu mungkin percobaan kita ini tidak bahayanya, Nah, nanti aku coba "

Kata- kata itu disusul dengan lompatan kepala dulu, kakinya belakangan, Dengan begitu terlihat tegas nyali besar dari pemuda serba hitam ini, yang berani terjun itu, Ketika ia hampir tiba di pohon, terlihat tubuhnya terbalik pula, untuk berdiri, tangannya di pentang. Maka dengan tenaga dia menaruh kakinya di cabang pohon.

In Gak kagum, ia tahu itulah tipu silat ringan tubuh dari partai Liong san Pay, namanya "burung patok Indang jatuh di ranting."

Lantas terdengar suaranya Thian seng dari bawah, dari pohon cemara itu :"saudara Cia, kenapa kau tidak lekas lompat turun ? Lekaslah, supaya aku dapat menyaksikan kepandaianmu yang liehay " suara itu bernada kepuasan-

In Gak bersenyum, tanpa menyahuti, ia pun terjun, ia mementang kedua tangannya, ia turunnya dengan perlahan, tak secepat kilat Thian seng barusan- Menyaksikan kepandaian orang itu Tiat-jiauw Hok Eng menjadi kagum sekali, ia menjadi malu, Karena ini, jelusnya bertambah, ia kalah, ia penasaran-

Mulai dari pohon itu keduanya lantas dapat mencari jalan untuk turun terus, selanjutnya ada kedapatan pohon cemara atau lainnya atau rotan, Ketika akhirnya mereka tiba di bawah, selagi mereka berlari-lari hendak keluar dari situ, dari sebuah pengkolan mereka menampak munculnya belasan orang ialah Ca Kun dengan rombongannya. Kedua pihak sama-sama terkejut, Yang satu heran, yang lain kaget. Mereka telah segera berdiri berhadapan, sebab mereka bersamplokan-

Sekonyong-konyong, bagaikan kalap Heng Thian seng lompat menerjang seorang yang bertubuh besar, yang berdiri di sisinya Ca Kun menjadi sasarannya, Dengan menerbitkan suara keras tangannya mampir di dada orang hingga tulang tulangnya dia itu patah dan tubuhnya terlempar jatuh ke bawah di mana ada jurang lainnya yang rendah. orang itu menjerit dan jeritannya berkumandang di lembah maut itu.

-00000000-

BAB 6

SEMUA orang terkejut dan hatinya giris mendengar jeritan itu, tak terkecuali In Gak.

Setelah penyerangannya itu, Heng Thian seng tidak lantas berhenti, segera ia memutar tubuh, sambil mengangkat tangan kanannya ke depan, ia menyerang Ca Kun dengan tangan kirinya, Ia berlaku cepat seperti yang bermula itu.

Ca Kun terkejut untuk serangannya Thian seng tadi, maka itu ia berlaku waspada, atas datangnya serangan terhadap dirinya, ia menolak ke depan, setelah mana ia mencelat mundur sembilan kaki.

Thian seng menyerang tetapi dia tertolak hingga dia mundur dua tindak. mukanya menjadi merah. malu bercampur penasaran- Hampir tanpa meluruskan napasnya, ia menyerang pula, sepuluh jeriji tangannya yang kuat mencarijalan darah "soan-ki" dari si hantu bertangan satu. itulah pukulan menurut ilmu cengkeraman "Nao Kim Jiauw" atau "Kuku Lima Ternak Unggas" ajarannya sin si lojin dari Hong san, dan kelihatannya si anak muda serba hitam itu sudah dapat menguasai kemahiran nya.

Akan tetapi Tok pi sin Mo Ca Kun ialah seorang hantu yang lihay, yang telah banyak pengalamannya, dia tidak takuti ilmu cengkeraman musuhnya ini, dia sebaliknya jeri terhadap In Gak hingga semenjak mula-mula dia senantiasa melirik ke arah pemuda itu yang berdiri terpisah setombak lebih jauhnya.

Dia bahkan telah memikir jalan lolos apabila bahaya mengancam, Dia memang sangat tidak menyangka akan dapat menemui kedua pemuda itu dengan masih hidup, sebab dia telah mengukup mereka dengan asap beracun dan kedua jalan keluar depan dan belakang sudah ditutup mati.

Untuk menjaga diri, dari siang-siang dia juga telah menggenggam jarum rahasianya yang beracun, "Tok bong Hul-cian- guna membokong si orang she Cia, Dia melihat kawannya diserang Thian seng, dia bersiaga, dari itu ketika dia diserang, dia dapat membela diri, sekarang dia diserang pula, sambil memperdengarkan ejekan

"Hm" dia berkelit sambil memutar tubuh, sambil berkelit tangannya terayun- Dia mengguna i tenaga "siauw Yang ciang" sembari juga menimcuk dengan senjata rahasianya itu.

Thian seng kaget sekali mendapatkan serangannya gagal dan ia berbalik diserang dengan jarum beracun. ia tahu benar, asal ia kena diserang jalan darahnya yang

berbahaya. jiwanya akan melayang pergi seketika. Untuk berlompat menyingkir sudah tidak ada ketikanya.

Maka terpaksa ia menggunai kedua tangannya untuk menutup jalan darah yang paling berbahaya. Kalau ia terlukakan di lain bagian, ia percaya, ia akan dapat menolak racun dengan emposan tenaga dalamnya...

Ca Kun lihay sekali, beberapa batang jarumnya itu mengenai tubuh lawan.

Thian seng kaget, ia merasai dadanya kaku, matanya gelap. sudah begitu, ia terhajar serangan siauw Yang ciang, karena mana tubuhnya kena dibikin terpental

selagi terpental itu, pemuda ini sudah mulai pingsan, akan tetapi telinganya masih mendengar seruan In Gak. disusul dengan punggungnya disambut dengan cekalan yang kuat, yang menahan terpentalnya itu, habis itu barulah ia tak tahu apa-apa lagi.

Selama menyaksikan pertempuran In Gak telah memasang mata dan telinganya matanya melihat pertempuran berlangsung, telinganya mendengar suara, maka itu ia mendengar suara luar biasa dari bergeraknya saiju yang telah membeku menjadi es. ia tahu apa artinya itu, ia terkejut melihat akhirnya tubuh Thian seng terlempar akan tetapi karena ia selalu siap sedia, ia dapat menggunai ketikanya dengan baik.

Tanpa mempedulikan segala apa, cuma terdorong niatnya menolongi kawan, ia lompat, menyambut tubuh kawannya itu, menyusul mana ia bertempat terus seraya- membawa kawannya.

Itulah percobaan sangat berbahaya, Dengan dia telah pingsan, tubuhnya Thian seng menjadi lebih berat daripada biasanya, maka itu injakan kakinya In Gak menjadi melesak jauh lebih dalam, hingga lompatannya menjadi sedikit terintang dan terlambat

Akan tetapi la mahir ilmu ringan tubuhnya "Leng Khong Hi Touw" "Melayang di udara menyeberang di tempat kosong" ia dapat berlompat seperti tebang melayang, hingga ia tiba di bawah dengan tidak kurang suatu apa. Syukur sekali, habis menyerang itu, Ca Kun pun mengajak rombongannya menghilang, rupanya dia jeri melihat gempanya es.

Thian Seng diletaki di atas saiju, dia meram saja, mukanya pucat, tubuhnya tak berkutik In Gak berduka dan menyesal Barusan ia terlambat menolongi, hingga kawan itu menjadi kurban jarum rahasia, hingga dia tak dapat berdaya lagi, Di lain pihak ia mendengar terus gempanya es yang membisingkan.

Sekian lama In Gak mengawasi keempat penjuru, buat mencari jalan untuk berialu dari situ. ia tidak melihatnya, Terpaksa ia menyabarkan diri, Menanti sampai redanya gempa es itu. ia lantas meraba tubuh Thian Seng la terperanjat Tubuh kawan itu panas seperti api.

"Sungguh lihay tenaga Siauw-yang cin-lek diri Tok Pie sin Mo Ca Kun," pikirnya. ia jadi ingat hal dirinya pernah dihajar musuh itu, hingga ia terpental jatuh sedalam seribu tombak, sedang itu waktu, ia dapat membela diri hanya dengan pertahanan tenaga "Siauw Yang Jit Kong, kalau tidik pastilah ia tidak masih hidup sekarang ini. ia melihat pula keletakan tempat di mana ia berdua berdiam ini. ia merasa untuk sementara, tempatnya ini aman- Lagi sekali ia meraba nadinya Thian Seng, ia mengerutkan alis, Luka kawan itu tak ringan-

Ca Kun menggunai tangan jahat, teranglah dia membenci sangat kepada Tiat Jiauw Hek Eng Heng Thian Seng, itu tentulah suatu permusuhan besar, Entah permusuhan apa itu. Dua macam kepandaian diri Ca Kun, yaitu jarum beracun Tok Bong Hui Ciam atau Cui Tok Hui Ciam cdan tangan lihay siauw Yang sin Ciang tersohor saking hebatnya.

Biasanya dia menggunai salah satu diantaranya tapi terhadap Heng Thian Seng, dia menggunai dua-duanya dengan berbareng. Dari pemeriksaan nadi itu, In Gak tahu racun sudah mulai meresap masuk ke dalam sum-sum, selewatnya dua belas jam, hawa panas akan membakar meluluhan tanpa tujuan, karenanya, ia menjadi bingung, ia mengerti ilmu obat-obatan tetapi ia tidak tahu bagaimana harus menolong orang she Heng ini.

Rumput Ho Yan Cauw dapat melawan racun cui Tok Hui Ciam, hanya pada lukanya Thian seng tambah hawa panasnya, ia jadi sangsi menggunainya. syukur kalau ia berhasil, kalau tidak, ia dapat menambah hebatnya bahaya. Pula di dalam piauwkiok lagi menantikan dua orang yang membutuhkan pertolongan rumput Ho Yan cauw itu, sedangkan yang ia miliki cuma dua pohon- Dapat ia menolak racun yang berhawa panas itu dengan tenagi Poa Te sin Kang, hanya untuk itu, ia memerlukan tempo dua hari dua malam....

Mengawasi mukanya Heng Thian seng, In Gak percaya orang bukanlah seorang lurus, Menurut ilmu meramal, wajah dia bukan wajahnya seorang sahabat yang diakhirnya bakal ada faedahnya untuknya.

"Baiklah, aku tinggalkan dia," pikirnya, Tapi rasa peri kemanusiaannya mencegah ia berlaku begitu, Tak dapat ia tak menolong ancaman kematian itu. orang pun telah membantu ia keluar diri tempat berbahaya, Maka setelah bersangsi sejenak, ia keluarkan rumputnya, ia buka paksa mulutnya Thian Seng dan masuki rumput itu ke mulut orang, ia mencairkannya dengan menggunai tekanan tenaga dalam dari Bi Lek sin Kang.

Pati rumput itu, yang berwarna merah lantas mengalir masuk di dalam kerongkongan segera setelah itu, mulut orang itu lekas dirapatkan pula, untuk seterusnya, tubuhnya dibalik menjadi tengkurap. untuk menekanjalan darah ci-tiong, guna mengalirkan masuk hawa Pou Te Pwe Yap sian Kang Cin-khi. ia berhenti menekan sesudah hawa itu memasuki seluruh tubuh.

Lekas sekali, Heng Thian seng sadar dari pingsannya, ia membuka matanya, ia melihat In Gak. lantas ia mengerti, pemuda itu ialah tuan penolongnya, ia mengawasi seraya bersenyum.

"Terima kasih saudara Cia," katanya bersyukur. "Selama seumurku, pasti aku satu kali akan balas budimu ini" Lalu ia paksakan diri, untuk bergerak baigun, Karena ia masih lemah, ia terhuyung huyung hampir jatuh, sedangkan mukanya tetap pucat

Ketika itu gempa es sudah berhenti, di sekitar puluhan li, pemandangan alam telah bersalin rupa seluruhnya dari asalnya.

In Gak bersenyum.

"Menolong sesamanya itulah tugas kita kaum hiap-gi," katanya ramah "Kau sendiri lain saudara Heng, kau telah berbuat kebaikan terhadapku, jangan kau pikirkan soal kecil itu, Kau terluka hebat pukulan siauw Ying sin ciang, karenanya sekarang baik kau pulang ke gunung Hong san kepada gurumu, untuk diobati terlebih jauh, jalan darah ci-tiong perlu diurut selama dua hari dua malam, baru kau akan sembuh seluruhnja."

Thian Seng mengerutkan alisnya.

"Dengan kepandaian kau, saudara Cia, tak dapatkah kau menolong menyembuhkan aku seluruhnya?" tanya ia.

Hati In Gak bereaksi. Tahulah ia bahwa Thian seng mencurigainya. Dengan lekas, dengan sungguh-sungguh ia menjawab: "saudara Heng, tahu aku bagaimana harus menyembuhkan kau, akan tetapi aku cuma dapat membikin kau merasa lega saja, Tak sanggup aku menolongi kau lebih jauh lantaran aku kurang latihan. Umpama kata aku paksa menolong tetapi aku gagal bukan saja aku kecewa, saudara sendiri bakal menyesal seumur hidup, Kalau kau bercacad, apa daya? Disamping itu mentuaku lagi sakit berat jiwanya terancam bahaya siang atau malam, dari itu perlu aku lekas- lekas pulang, Untuk mencegah supaya aku tidak gagal di dua- dua pihak-aku jadi mau menasehati untuk saudara lekas pulang kepada guru saudara."

Mendengar begitu, Thian seng tunduk. pada matanya nampak sinar tak puas atau penyesalan, sedang di dalam hatinya ia kata: "Nyatalah kau bermaksud buruk, kau tidak sudi memulihkan tenagaku. Hm selama aku masih hidup, akan aku balas sakit hati ini."

In Gak melihat orang tunduk. ia menduga orang berduka, handuk ia menghibur, mendadak Thian Seng mengangkat kepalanya dan kata sambil tertawa: "Kau benar saudara Cia, Baikhh, akan aku segera pergi kepada guruku, setelah aku sembuh, akan aku belajar silat terlebih jauh. Hendak aku membalas jarumnya Tok pi sin Mo Ca Kun ini..."

Belum habis dia mengucap. Thian Seng berhenti dengan tiba-tiba. Mendadak tubuhnya menggigil hingga dengan suara tak nyata ia mengatakan: "Dingin-.. dingin..."

Ketika itu, angin gunung memang lagi bertiup keras, hawa dinginnya meresap masuk ke tulang tulang, pantas kalau Thian Seng, yang baru sadar, merasakan dingin luar biasa,

"Sudah, saudara Heng," kata In Gak. Jangan saudara bicara banyak, Marilah kita lekas-lekas berlalu dari gunung ini."

Berkata begitu, In Gak lantas memegang lengan orang untuk diangkat, buat ia membawanya berlalu. ia lari dengan cepat, hingga Thian Seng merasa dia seperti dibawa terbang, Disamping kagum, dia menjadi mengiri, hingga kedengkiannya bertambah-tambah.

Dengan petunjuknya Thian Seng, tak sampai satu jam, tiba sudah In Gak di desa Ban Tek Cun. Di situ mereka mencari sebuah pondokan yang buruk. guna melewatkan sang malam. Paling dahulu mereka minta barang makanan, guna mengisi perut, habis itu, In Gak kata: "saudara Heng, ketika tadi kita lewat di depan desa, di situ ada rumah obat, maka itu sekarang ingin aku pergi ke sana, buat membeli obat untukmu, supaya tubuhmu menjadi terlebih kuat, sekarang silakan saudara masuk ke kamar untuk beristirahat - lebih baik lagi apabila kau dapat tidur - aku akan lekas pergi dan lekas kembali."

Thian Seng mengangguk. "Baiklah, saudara Cia" sabutnya, "Kau baik sekali, tidak nanti aku lupakan budimu ini." In Gak merandek. lantas ia keluar, Melihat orang pergi, Thian Seng mengawasi dengan mata bersinar, mukanya bersenyum iblis- nya. Ia perdengarkan tertawa tawar, perlahan ia tidak pergi beristirahat seperti dinasehati, ia hanya memanggil jongos, meminjam kertas dan perabot tulis, terus ia duduk menulis. sesudah selesai, dari sakunya ia keluarkan semacam bubuk putih, yang ia tiup tersebar di atas kertas tulis itu.

Pada mukanya yang pucat tampak senyuman iblisnya, ia pun menelan dua butir obat

pulung warna merah, yang ia telan dengan air untuk diakhirnya ia keluar dari pondokan, untuk berlalu selekas mungkin.

Tak lama In Gak kembali dengan sebungkus obat, ia heran tak menemukan kawan yang lagi sakit itu. sebaliknya, ia cuma bisa melihat sehelai kertas di atas meja, Tanpa sangsi pula ia jemput itu, untuk membaca tulisannya. Thian Seng menulis sebagai berikut:

“Saudara Cia yang baik. Seberlalunya saudara, tiba-tiba aku ingat bahwa aku membekal dua butir obat pulung guruku, lantas aku makan itu, Dengan lekas aku merasa tenagaku mulai pulih.

Saudara tahu, sekarang aku ingat betul bahwa Ca Kun itu benar musuhku, Dialah yang dulu hari membunuh ayahku, semasa hidupnya ayah, Ca Kun menjadi sahabat karibnya, sayang, ketika ayah terbunuh dia aku masih sangat kecil, aku tidak tahu apa-apa, bahkan aku tidak melihatnya. Aku dibawa guruku naik gunung sebulan sebelum pembunuhan kalau tidak. mungkin akupun akan terbinasa bersama.

Didalam sebuah petarungan, tidak akan ada telur yang utuh. setiap tiga tahun sekali, Ca Kun menjenguk aku di atas gunung, ia kata bahwa pembunuh ayahku ialah soat san Jin Mo, satu di antara Goan-uh sam Ciat, Tiga jago Dunia, Karena itu sekarang aku mau menyangka mungkin mereka berdua bekerja sama merampas jiwa ayahku, Aku sangat ingin membalaskan sakit hati itu, maka tak dapat aku menanti kembalinya saudara, aku sudah lantas berangkat terlebih dahulu. inilah sebabnya maka aku hendak minta bantuan kau, saudara jikalau saudara tidak menampik dan sudi membantu aku, nanti di bulan keenam, di saat terangnya bulan, aku bersedia menantikan saudara di kuil Cu-kat Bu Houw di kota seng-tou.

Tak dapat aku menulis banyak maka aku menulis begini saja. Terimalah hormatnya: Heng Thian seng,”

Baru sekarang In Gak mengerti kenapa Thian seng mengenal baik gua dan jalanan, kiranya dia pernah tinggal sedari kecil di atas gunung, ia sedikit mencurigai permintaan bantuan itu, Mereka toh baru kenal satu pada lain, Tapi suka ia meluluskan ia pikir dapat ia pergi ke seng-touw, sekalian pesiar untuk menyambangi kuburan ibunya.

Ada bersama kawanpun akan membikin ia tak kesepian di sepanjang jalan, sementara itu, ia mulai merasa sebal dengan penghidupan di dalam dunia Kang ouw. ia cuma bertempur dan membunuh orang busuk. Maka ia pikir, habis menuntut balas, ia tak akan menghiraukan apa juga.

Memikir sampai disitu, In Gak merobek suratnya Thian seng, terus ia membayar uang sewa kamar dan harganya barang santapan, tidak berayal lagi, ia meninggalkan pondokan itu. sekarang ia memikirkan dua orang yang lagi sakit di dalam piauw-kiok. mereka itu lagi menantikan rumput Ho Yan cauw. ia menyesal yang ia tidak dapat terbang, Karena itu dijalan besar ia lari keras sekali, hingga ia menarik perhatian orang-orang di sepanjang jalan, yang pada mengawasi padanya.

Hanya di dalam perjalanan ini, In Gak mengenakan topengnya yang pertama hingga ia nampak seperti seorang yang lagi sakit...

Diwaktu tengah hari, pemuda ini tiba di sin Ke Chung yang terpisahnya diri kota Ce-lamtak lebih daripada dua puluh li.

Justeru itu, di situ, sering ia berpapasan dengan orang-orang yang berdandan sebagai orang Kang ouw yang mengaburkan kudanya lewat pergi datang, yang romannya - di mata ia - mencurigakan ia menjadi heran. Tak tahu ia, mereka itu mempunyai urusan penting apa. ia sendiri pun tak sempat memperhatikan mereka itu.

Begitu memasuki batas sin Ke Chung, In Gak memperlambat tindakan kakinya. Justeru itu, ia menjadi heran, lantas ia menjadi terkejut. Mendadak jeriji-jeriji tangannya sedikit kaku, terus ia merasakan tak enak. tak leluasa untuk menggerakinya, Gejala apakah itu? Tidak ayal lagi, ia menutup jalan darahnya- inilah sebab rasa kaku itu bekerja semakin cepat. sebentar saja sudah merambat ke sikut, ia tidak menyangka kepada Thian seng, yang telah menggunai racun bubuk putih.

Racun itu dapat membuat tubuh kaku dan kejang, dari tangan sampai ke tubuh dan otak, hingga orang bakal jatuh pingsan dan akan mati karenanya tanpa sadar pula, sebaliknya dari menyangka jelek pada Thian seng, ia justeru mengira bahwa ia telah terkena racun sebab ketularan dari Thian seng disaat di gunung Tay san ia menolongi orang she Heng itu

Karena itu, ia lantas lari ke sebuah tempat yang lebat dengan pepohonan di luar dusun, ia mencari sebuah tempat yang sunyi, lantas ia duduk bersila untuk menjalankan ilmu Pou Te Pwe Yap sin Kang guna mengusir rasa kejang itu, Kalau gangguan -itu benar disebabkan racun, racun itu bakal terusir ke luar.

Benar luar biasa latihannya In Gak. Tak sampai sehirupan teh, Pou Te Pwe Yap sinking sudah memperlihatkan hasilnya, Kedua tangan si anak muda, dari sebatas sikut, lantas menghembuskan asap hitam yang buyar tertiup angin, Dengan begitu juga lenyaplah rasa kejang itu. Tentu saja habis itu, hendak ia berbangkit untuk keluar dari rimba, untuk melanjuti perjalanannya. Atau mendadak ia merandek. inilah sebab ia mendengar suara orang bicara di dalam rimba di dekatnya.

"Engko Liang, jangan jadi tolol," demikian suara seorang wanita, " Kematian itu ada perbedaannya berat dan ringan, jikalau orang mengandalkan saja tenaganya si orang biasa, itulah tidak ada artinya, Dengan begitu juga jiwa gurumu tidak akan ketolongan, Di sana chungcu mempunyai kepandaian silat yang lihay yang tak dapat kau layani.

Di sana pula ada Koay Han cu si pengemis yang telengas itu, siapa bertemu dia siapa tak bakal dapat hidup lebih lama pula, jikalau kau gagal, bukankah kau bakal menyesal seumur hidupmu?"

In Gak heran, hatinya tergerak. Yang disebut pengemis she Koay itu, bukankah dia Hun Goan ci Koay sun?

Lalu ia mendengar suaranya seorang laki-laki: "Adik Hui, aku tahu kau bermaksud ba-ik, akan tetapi guruku dikurung tanpa sebab, aku yang menjadi muridnya, mana dapat aku duduk diam saja tidak mencoba menolongnya?"

"Hm" terdengar pula si wanita, "Kenapa kau begini gelap pikiran? Gurumu benar kena dikurung tetapi kejadian itu secara rahasia, yang tahu cuma beberapa orang saja, Aku juga mengetahuinya dari ayahku dan ayah yang menganjurkan untuk kau lekas minta bantuan saudara seperguruanmu atau sahabat-sahabat karib, supaya pertolonganmu tidak menjadi kasip." Mendengar itu In Gak bergerak, Tanpa bersuara, ia pergi  ke belakang sebuah pohon pekyang, ia mau melihat tegas orang itu, muda-mudi yang usianya lebih kurang dua puluh tahun- si pemuda tampan tetapi parasnya kucai, si nona cantik wajahnya sangat menarik hati, sedangkan sepasang matanya besar dan jeli.

"Adik Hui, aku sungguh tidak mengerti," kata pula si pemuda, " Guruku dan chungcu bersahabat kekal kenapa sekarang mengurung guruku? Apakah kau tahu sebabnya?" si nona menggeleng kepala.

"Tidak," sahutnya, "Tapi itu mungkin disebabkan gara- garanya Kian Kun ciu Lui Siauw Thian-.."

In Gak terperanjat Nama saudaranya ada disebut-sebut, ia jadi ingin mengetahui jelas perkara orang itu. Maka ia ingin menemui si muda-mudi. Belum lagi ia keluar dari tempatnya sembunyi lalu ia mendengar suara tertawa yang aneh, yang menyebabkan sepasang muda-mudi itu kaget sekali, lantas mereka itu berniat pergi bersembunyi di-lain bagian rimba itu. Tapi mereka sudah terlambat Mendadak ada satu tubuh orang berkelebat untuk berdiri tegak di hadapan mereka.

Orang itu jangkung, mukanya pucat, sepasang matanya yang kecil, menatap tajam kepada si nona, air mukanya dingin, Dia mirip mayat hidup, Hanya sebentar, dia tertawa seram dan berkata: "Nona Ho, toh datang waktunya yang kau terjatuh juga ke dalam tangannya siauw song Bun Kwa Kim seng."

Si nona kaget hingga tubuhnya mengeluarkan keringat dan menggigil perlahan- matanya

Menunjuki sinar takut, si anak muda tabahkan mencoba menenangkan hatinya bahkan sembari tertawa tawar dia kata: "Kwa Kimseng, kau mengandalkan kaulah anak pungut chungcu maka kau berani berbuat sewenang-wenang." Siau-song-bun tidak menoleh kepada anak muda itu dia cuma kata dingin: "Tak sabaran bicara dengan orang yang mau mampus Nona Ho, apakah kau ingin urusanmu ini disimpan rahasia olehku?"

Itulah pertanyaan yang berbau paksaan sebelum si nona menjawab si anak muda menghunus pedangnya dengan apa ia membacok ke pundaknya Kwa Kimseng.

orang yang diserang itu tidak takut atau kaget. Atas datangnya serangan ia menggeser sedikit sambil menjejak tanah, untuk mengarungi tubuhnya baru setelah berada di atas, ia balas menyerang yaitu dengan kedua kakinya ia menjeak pedang orang, ia menggunai tenaga yang dinamakan "Berat tubuh seribu kati"

Pula jejakannya itu tepat, Dengan mengeluarkan suara batang pedang kena terjejak patah.

Selagi pedangnya si anak muda patah, si nona membarengi menyerang dada orang she Kwa yang galak itu.

Siauw-song-bun lihay, Belum lagi pedang meluncur padanya, ia sudah mendahului menggunai tangan kirinja menyerang lengan si nona, sampai serangan si nona itu gagal lantaran lengannya itu kena tertolak mental, Berbareng dengan itu, tangan kanan Kim seng menyamber ke batang leher si anak muda selagi anak muda itu terbengong disebabkan patah pedangnya itu.

In Gak kagum menyaksikan lihaynya orang she Kwa itu, Dia itu berhasil mencekuk si anak muda, hingga karena dicekal keras, anak muda itu seperti habis tenaganya, Dia lantas mengawasi si nona untuk berkata sambil tertawa menyeringai "Nona Ho, kau menghendaki jiwanya bocah ini atau tidak?" Berkata begitu, matanya bermain dengan tajam sinarnya bengis. Tangannyapun digerak-geraki membikin kepalanya si anak muda bergoncang. Mukanya nona itu menjadi sangat pucat, akan tetapi di dalam kaget itu, mendadak dia memperlihatkan sorot wajah girang.

Siauw song Bun awas, dia dapat melihat perubahan air mukanya si nona, dia menjadi heran, Hanya heran belum lama, lantas dia menjadi kaget, segera dia meringis, sedangkan dari mulutnya keluar teriakan tertahan, itulah sebab selagi hatinya puas itu, tiba-tiba punggungnya terasa sangat sakit, seperti bekas dihajar dengan martil selaksa kati beratnya. itulah serangan pada jalan darah sam-yang pada tulang punggungnya yang kelima, Matanya menjadi gelap dan kepalanya pusing karenanya. Tangan kanannya yang mencekuk si anak muda, lepas cekalannya, karena mana anak muda itu jatuh terguling.

Nona Ho girang sekali hingga ia berseru lantas ia lompat kepada si anak muda untuk mengangkatnya bangun.

Segera setelah roboh itu, si anak muda bebas seluruhnya, Begitu ia jatuh, begitu ia dapat merayap bangun, hingga tak sulit si nona membantui ia berbangkit Nona itu lantas berdiri di sisinya.

Tidak lama Kwa Kim seng merasai sakit sekali, kepalanya pusing dan matanya kabur Perlahan-lahan kesegarannya pulih. ia tahu bahwa ia telah dibokong oleh lawan yang lihay, hanya tak tahu ia siapa lawan itu. ia juga heran, setelah itu, lawan yang tidak dikenal itu tidak terus melakukan sesuatu tindakan lain terhadapnya. ia menjadi dapat ketika, hingga ia sempat berpikir.

Nona Ho terus mengawasi ke belakang orang galak itu, wajahnya tetap mengasih lihat roman girang, Kwa Kim seng melihat tingkah si nona, tahu ia bahwa penyerangnya masih belum berlalu, jika tidak. tidak nanti si nona masih bergirang, Diam-diam ia mencoba mengerahkan tenaganya, ia merasa bahwa tenaganya tidak mendapat gangguan. Hal ini membuat kekuatirannya lenyap. hingga hatinya jadi besar dengan cepat, Maka berpikirlah ia: "Asal aku memutar tubuhku, terus aku menghajar dengan dua-dua tanganku, di dalam jarak dua tombak^ tentu musuh bakal roboh dengan otot-otot dan tulang-tulangnya pada patah danjiwanya akan melayang pergi. HmBiarlah dia dikasih rasa, supaya dia tahu lihaynya siauw song Bun" Maka ia lantas mengumpul tenaganya, lalu mendadak ia memutar tubuh, untuk menyerang dengan dahsyat.

Ia benar-benar hebat, serangannya itu membikin beberapa pohon kayu di belakangnya kena terhajar hingga patah dan rebah, daunnya terbang berhamburan ia percaya pembokong tentu terbinasa bersama, Akan tetapi waktu ia memasang matanya, ia menjadi terperanjat dan melongo, ia tidak melihat siapa juga, tidak orang terbinasa atau hidup terluka.

Selagi mendelong itu, tiba-tibaia merasai kuduknya dingin, seperti kena orang raba, ia kaget sekali, dengan sebat ia mendak. sembari memutar kepalanya, ia memutar juga tubuhnya untuk membarengi menyerang pula, ia mendak. maka itu, ia menyerang ke atas, Tipu silatnya yaitu tipu silat "Badak dongak memandang langit".

Lagi sekali, ia menyerang tempat kosong-sebaliknya si nona, yang berdiri jauhnya belasan tindak dari ia tertawa terkekeh- kekeh-Rupanya nona itu melihat s uatu pemandangan yang lucu.

Begitu ia sadar, siauw song Bun menjadi kaget, semangatnya seperti terbang meninggalkannya. Lantas ia menenangkan diri, guna menetapkan hatinya yang goncang, ia menginsafi lihaynya lawan yang belum dikenal itu.

Karena ia berani, ia lantas menegur: "Tikus dari mana yang banyak lagak ini? jikalau kau berani, kauperlihatkanlah dirimu Buat apa main sembunyi sembunyi seperti maling...

Belum berhenti cacian itu, atau Kwa Kim seng mendengar suara tertawa yang seram, Dan sebelum ia tahu apa apa atau bersiaga, ia merasa jalan darah hui-yang di paha kirinya sakit bagai digigit kutu, saking kaget, ia lompat mencelat delapan atau sembilan kaki tinggi, untuk jatuh turun pula dengan terbanting, sebab ia bukan lompat wajar, hingga ia tidak bisa menaruh kaki seperti biasanya, bahkan setelah roboh itu, tubuhnya terus terkulai, tak dapat ia merayap bangun, jangan kata berlompat. sembari rebah itu, ia membuka matanya lebar-lebar untuk melihat ke sekitarnya.

Segera ia menampak seorang berdiri mengawasi padanya, muka orang itu kuning seperti orang lagi sakit, Hanya orang pun berdiri mengawasi sambil wajahnya bersenyum berseri- seri. Pula sinar kedua mata orang itu membuatnya jeri, meski juga ia sendiri sebenarnya memiliki mata yang bengis. Tanpa merasa, ia menggigil sendirinya. . .

Beluim sempat ada ang bicara diantara empat orang itu, atau di dalam rimba itu- - di lain bagian - - terdengar suara berisik bentak membentak. disusul dengan munculnya tiga orang yang gerakannya sangat cepat hingga tubuh mereka berkelebat bagaikan bayangan. Begitu mereka sampai, tiga orang itu berdiri berendeng dengan sikapnmya siap sedia, sedangkan tangannya masing-masing mencekal senjata.

Dengan mata yang tajam, mereka mengawasi Koay ciu Si seng Cia In Gak, ialah orang yang mempermainkan Kwa Kim seng.

In Gak mengenali kepada Liong Se Sam Niauw. Tiga burung dari Liong-se.

Pit Louw yang memelihara kumis seperti kumis janggutnya kambing gunung, sudah lantas membentak. "Sahabat, kau . .

."

In Gak bersenyum, ia mengangkat tangannya mencegah orang bicara. Pit Louw heran- Dia berhenti sendirinya. Hanya dia mengawasi terus. Setelah melarang orang bicara, In Gak bergerak, tubuhnya mencelat, kaki kirinya di belakang kaki kanannya di depan, kaki kanan itu terangkat tinggi, sedari itu orang yang galak itu, yang tidak keburu berkelit atau menangkis, sudah mengeluarkan jeritan tertahan, lantas tubuhnya roboh dengan dia mengeluarkan darah dari mulut, hidung, mata, dan telinganya. Hingga kebinasaannya itu menjadi sangat menyeramkan-

Parasnya Liong Sie Sam Niauw berubah dari pucat menjadi merah saking gusar, Hampir berbareng mereka bergerak, berlompat maju sambil memutar senjatanya masing-masing menyerang In Gak sambil mengurung.

In Gak tidak mundur karena pengepungan itu, Ketika orang sampai, dia mengibaskan tangan kanannya. Atas itu, ketiga penyerang itu merasakan tubuhnya masing masing tertolak keras, tak dapat mereka mempertahankan diri, ketiganya mundur dengan

terhuyung-huyung. Maka kagetnya mereka bukan main, paras mereka pucat. In Gak bersenyum

"Tiga sahabat dari Liong-se" sapanya, "Di Liong bun kita berpisah, rasanya temponya belum terlalu lama, Kenapa kamu tidak mengenali aku vang rendah?"

Tiga Burung itu mengawasi terutama Pit ouw. dia merasa mengenal baik suara orang Hanya sejenak. lantas dia ingat,

Dan kaget, dia menjadi sangat girang

"Hai kiranya Giam siauwhiap dia berseru. Ah, mengapakah paras muka siauhiap berubah menjadi begini rupa? jikalau aku si orang she Pit tidak mengenali suara siauwhiap. hampir aku berbuat dosa kepada tuan penolong kami."

Selama di In Bu san chung, Liong se sam Niauw telah dihajar Cit Kouw yang menggunai tipu silat "Melintang menyapu seribu serdadu" hampir mereka mati, baiknya In Gak menolongi mereka, karena itu mereka merasa berutang budi. karena menolong mereka itu, In Gak dikejar Cit Kouw bersama Liong bun su Koay. Karena itu, mereka bertiga ditinggal pergi, hingga merdekalah mereka memasuki In Bu san-chung, untuk mengambil seteromol emas dan mutiara, yang mereka bawa pulang ke Liong-se.

In Gak tertawa dan kata: Aku si orang she Giam sengaja menyalin wajahku untuk memudahkan sepak terjangku, Kenapa kamu bertiga bukan berdiam di Liong-se hanya berada di sini? Kenapakah?"

Parasnya Pit Louw menjadi merah, Jikalau aku mesti menutur, tak dapat itu hanya dengan sepatah dua patah kata," sahutnya "Chungcu dari sin i-Ce Chung ini ialah Kim Kauw Bu Tek sin Bong yang menjadi sahabat kekal guru kami, Kami datang kemari karena kami menerima undangan, sekarang ini musimnya banyak urusan di dalam dunia Rimba Persilatan, sin Cungcu ingin memperoleh satu kedudukan di wilayah Kang Pak ini. Untuk bergerak, la bekerja sama dengan HHun Goan ci Kouy Sun, ketua dari Kay Pang bagian selatan, sampai sebegitu jauh, bukannya sedikit orang yang telah datang ke mari untuk turut mengambil bagian."

Mendengar itu, In Gak mengerutkan alis, "Pit Losu," tanyanya, " apakah losu pernah mendengar tentang seorang yang dipanggil Kian Kun ciu Lui siauw Thian?" Pit Louw heran menerima pertanyaan itu, ia menggoyang kepala.

Ketika itu si nona mengajak si pemuda menghampirkan, untuk mereka memberi hormat. Kata si nona: "Tayhiap. terima kasih untuk pertolonganmu ini. Tentang Lui Tayhiap itu, kemarin dahulu dia ditangkap Hun Goan ci Koay Sun dan telah dipenjarakan dalam penjara air." ia berhenti sebentar, lalu mukanya menjadi merah, sambil menunjuk si pemuda, ia menambahkan- " Inilah ong si Yauw, murid dari Tayhiap Cui Can gelar oh Ka La m. Ketika Lui Tayhiap ditangkap. Cui Tayhiap telah menasehati agar sin chungcu jangan memusuhkan Lui Tayhiap. akan tetapi sin chungcu tidak suka terima nasihat bahkan mereka berdua jadi berselisih dan bertempur, kesudahannya cui Tayhiap kena dilukai tangan Koay Sun, hingga ia kena dikurung bersama dengan Lui Tayhiap di satu tempat."

In Gak mengangguk. la berdiam sejenak, lantas ia tanya Liong se sam Niauw: "Aku mohon tanya sin Bong itu orang macam apa?"

"Sin Bong pintar dan cerdik," sahut Lo sia, " Kalau dia bekerja, selalu dia memikir dan merencanakannya dahulu, Pula dia biasa bekerja dengan meminjam tangan banyak orang hingga nama buruknya tidak teruwar, Rupanya Giam siauwhiap menjadi musuhnya sin Chung-cu, maka itu baiklah kami akan pulang ke Liong se supaya kami tak usah kena kerembet-rembet."

In Gak tertawa.

"Samwi cerdik sekali, kamu harus dikagumi" pujinya, " Lain hari, apabila aku tiba di Liong-se, sudah tentu aku akan mengunjungi kepada kalian."

"Terima kasih siauwhiap." kata Lo Hong. " Kami pasti akan menantikan kedatangan siauwhiap."

Lantas ketiganya memberi hormat, terus mereka mengundurkan diri, lenyap bagaikan burung-burung terbang masuk ke dalam rimba.

In Gak mengawasi orang berlalu, Habis itu ia hendak menanyakan sesuatu kepada Nona Ho dan ong si Yauw, atau mendadak ada dua orang yang muncul di hadapannya, bahkan ia segera mengenali mereka itu - It Goan Kisu Ouw Kong serta gadisnya, Ouw Kok Lan.

Orang tua bersenyum sambil mengurut- urut kumis janggutnya dan si nona mengawasi dengan matanya yang jeli tetapi bersinar menyesalkan Lekas-lekas In Gak memberi

hormat,

"Cara bagaimana Ouw Louiancwe ketahui aku yang muda berada di sini?" tanyanya. It Goan Kisu tertawa lebar. "Setelah laote meninggalkan Yan-khia kami ayah dan anak lantas menyusul," sahut-nya, "Apa yang terjadi di dalam kuil di kecamatan Bu-Ceng, telah kami melihatnya, hingga kami menyaksikan bagaimana lihay mu, lao-te."

"Oh" In Gak mengasih dengar suara ter-kejutnya, Jadinya orang orang Ang Ki Pang di dalam kuil itu ialah locianpwe serta nona yang bantu menyingkirkan, locianpwe, terima kasih banyak-banyak." Berkata begitu, ia menjura dalam.

Melihat demikian, Nona Ouw tertawa geli, hingga ia nampak sangat menggiurkan-Ouw Kong menggeleng kepala ia bersenyum.

"Aku si orang tua tidak sembarang melakukan pembunuhan," katanya, "semua itu perbuatannya budak ini, Kamu berdua bersikap keras sekali, tangan kamu seperti berlumuran durah, aku kuatir kelak di belakang hari mungkin kamu nanti sukar untuk berpaling muka..." sikapnya orang tua ini sungguh-sungguh, terus ia menambahkan- "Di tengah jalan kami ayah dan anak bertemu dengan Cin Tiong siang Koay, sekian lama kami mempermainkan mereka, tanpa merasa kami jadi memperlambat tempo, maka juga, tempo kami menyusul sampai di Goan seng piauwkiok di sana kami mendengar kabar bahwa laote sudah berangkat ke Tay san mencari rumput Ho Yan cauw. Tidak ayal lagi kami berangkat menyusul. sungguh kebetulan di sini kita bertemu."

Tanpa merasa, hati In Gak tegang, "Locianpwe tentulah telah bertemu dengan mertuaku," kata ia, "entah bagaimana keadaan penyakitnya? Dapatkah locianpwe tolong memberi keterangan?"

"Keadaannya mertuamu itu, Ciu Wi seng dan Kho Losuhu belum berubah menjadi buruk." sahut Ouw Kong, "Tayhiap Tio Kong Kiu sudah kembali dari Tay san, akan tetapi dia bertangan kosong, romannya sangat masgul. Ketika kami berdua tiba di piauwkiok, kebetulan rombongannya chong-si Koay siu tengah mengantarkan pulang piauw yang kena dirampas sambil juga membawa keterangan bahwa kau telah terbinasa di gunung Tay san- Tio Tayhiap gusar bukan main, dia telah menyerang dan dan membinasakan chong-si Koay Siu semua, sesudah mana, dia mau lantas berangkat menyusul ke Tay San.

Aku mencegah dan membujuki dia. Aku kata bahwa seharusnya laote tak berusia pendek. Lalu aku menawarkan diri menggantikannya menyusul ke Tay San, Tadi di sin Kee chung secara kebetulan saja aku melihat kau, laote, meski kau menyalin rupa, aku mengenali kau, dari itu, aku lantas menyusul ke sini, Bagaimana apakah laote telah berhasil mendapatkan Ho Yan cauw?"

Mendengar itu, hati In Gak tetap tegang, “Jikalau demikian perlu aku lekas berangkat pulang ke Celam, " katanya, "Di Sin Ke Chung ini telah terkurung sahabat kekalku Kian Kun Ciu Lui Siauw Thian serta Oh Ka Lam Cui Cian, aku minta sukalah locianpwe menolongi mereka. Paling lambat besok malam aku akan sudah kembali ke mari."

Habis berkata itu, In Gak perkenalkan si Yauw dan Nona Ho "Semua ini aku si tua sudah tahu," berkata Ouw Kong

tertawa, " Hanya buat sementara waktu, belum dapat aku menolongi mereka itu berdua, Apakah laote ketahui bahwa Kim Kauw Bu Tek sin Bong menjadi murid ahli waris dari empat hantu Khole Kong San? sekarang ini bukan melainkan Khole Kong San Su Mo serta Cin Tiong siang Koay yang berada di dalam sin Ke Chung, tetapi juga banyak jago lainnya.

Meski demikian, karena ikhtiar berada di tangan manusia dan takdir di tangan Thian, biarlah kami ayah dan anak akan mencoba sebisa-bisanya, Laote, sekarang lekas kau berangkat ke Celam, supaya besok dapat kami menanti di sini"

Mengetahui si anak muda mau berlalu dengan lekas, Nona Ouw nampak menyesal dan penasaran, Kata ia manja sambil membuat main bibirnya: "Bagaimana sih, belum bicara apa-apa sudah mau berangkat? Tidak bisa"

Hati In Gak tidak enak. ia justeru mau menyingkir dari nona yang selalu mengintilnya ini, siapa tahu, ia senantiasa tak dapat menghindarkannya.

Sebagai seorang cerdas, ia dapat menerka apa maksudnya Ouw Kong ayah dan anak terus menguntili. Diam-diam ia menghela napas, ia mengangkat kepalanya, memandang si nona, si cantik manis itu memperlihatkan air muka, juga sinar mata yang mengesalkan yang berpenasaran terhadapnya, ia pun menyesal, ia berduka dan terharu.

Mata si nona ialah sukmanya, Tanpa merasa, hatinya bercekat, Tapi ia segera berkata sambil bersenyum: "Nona, akulah seorang kasar, akan tetapi aku mengerti sifatnya seorang budiman, maka itu pastilah aku tidak akan berbuat salah, besok malam aku akan kembali ke sini" ia terus memandang si Yauw dan Nona Ho untuk memesan-

"Buat sementara, jangan kamu berdua kembali ke sin Ke Chung lebih baik kamu tinggal bersama Ouw Locianpwe berdua, supaya apabila ada terjadi sesuatu kamu kedua pihak dapat saling membantu, Baik kamu tunggu sampai Lui Losu sudah dapat ditolong baru kamu menetapkan pula arah tujuan kamu."

Begitu ia menutup mulutnya pemuda itu lantas berlompat pergi, untuk menghalangi hingga Ouw Kok Lan mendelong mengawasinya. It Goan Kisu dan si Yauw serta Nona Hopun berdiam saja.

Hati In Gak tidak tenang, ia melakukan perjalanan dengan cepat, Di dalam tempo belum setengah jam, ia sudah melalui perjalanan dua puluh li. Ketika itu matahari sudah doyong di barat. Dengan lantas ia memasuki kota Celam, ia mendengar suara genta dalam kuil Cian Hud si di atas bukit Cian Hud san- sedangkan air telaga yang terang indah dari telaga Tay Beng ouw lantas nampak di depan matanya. Di ujung sana, air telaga seperti menempel dengan pangkal langit, sungguh indah pemandangan alam di situ, Tapi tak sempat ia memperhatikannya. ia langsung lari ke Goan seng piauwkiok hingga orang-orang di tengah jalan heran melihat ia berlari-lari itu.

Selagi memasuki pintu besar daripiauw-kiok. In Gak melihat Tio Kong Kiu tengah bertindak keluar dengan romannya yang kucai, ia segera menghentikan tindakannya, sambil berdiri dengan kedua tangannya dikasih turun, tanda menghormat, ia memanggil: "Gak-hu."

Kong Kiu melengak dengan tiba-tiba tetapi lantas ia mengangkat kepalanya, begitu ia melihat si baba mantu, segera ia tertawa.

"Oh kau hiansay?" tegurnya, "Bagaimana dengan Ho Yan cauw, kau berhasil mendapatkannya atau tidak?"

In Gak tertawa.

"Syukur aku berhasil," sahutnya. Kong Kiu girang luar biasa. "Mari masuk" katanya.

Maka mertua dan menantu lantas lari ke dalam.

Ciu Wi seng dan Kho Cu Liong kurus banyak dan romannya sangat lesu, ketika keduanya melihat In Gak. mereka cuma membuka mata dan mengangguk dengan perlahan seperti mereka sudah kehabisan tenaga dan kegembiraannya pun lenyap.

Tanpa banyak omong lagi In Gak lantas bekerja, ialah ia mengeluarkan Ho Yan cauw untuk dikasih makan kepada kedua orang tua itu. Tidak cukup dengan hanya obat itu, tanpa bersangsi lagi, ia juga membantu dengan emposan tenaga Pou Te Pwe yap Sin Kang, itulah sebab, setelah jatuh sakit sekian lama, meskipun racunnya dapat disingkirkan kedua orang tua itu menjadi sangat lemah. In Gak tidak menyayang diri lagi memberikan pertolongannya. Tepat diwaktu magrib, Ciu Wi seng dan Kho Cu Liong telah mendapat pulang kesehatan mereka, In Gak sebaliknya menjadi pucat mukanya, hingga ia perlu pergi ke kamar sisir, untuk duduk bersemadhi guna mengumpul pula tenaga dalamnya yang dikorbankan itu.

Selagi In Gak menolongi kedua orang tua itu, di luar sejumlah sahabat ingin melihat wajah si anak muda, akan tetapi Tio Kong Kiu mencegah mereka itu dengan mengatakan sebentar malam saja mereka menemuinya.

Mereka itu tidak tahu bahwa In Gak ialah Koay Ciu Si seng Jie In yang namanya telah menggemparkan dunia Bu Lim, mereka melainkan ketahui anak muda itu gagah, Tidak demikian mungkin mereka menjadi gempar sekali.

Kapan sang malam tiba, Goan seng piauwkiok mengadakan pesta besar, Lampu dan lilin dipasang terang terang, orang berkumpul gembira menghadapi enam buah meja besar, ramai bicara dan tertawa mereka.

Semua orang berpaling dan semua mata ditujukan ke satu arah waktu sesaat kemudian dari perdalaman muncul seorang muda yang tampan sekali, yang cahaya mukanya bersinar. sambil bersenyum manis dengan gerak-gerik-nya yang halus, anak muda itu mengangguk memberi hormat pada orang banyak.

sekejap itu, sunyi senyaplah ruang pesta itu.

Tiong-ciu Kiam-kek Tio Kong Kiu, ahli pedang dari Tiongciu, bangun berdiri, untuk memperkenalkan orang banyak pada si anak muda, maka lantas ramailah orang memberi selamat kepada pemuda itu. Hingga repotlah In Gak menyambuti pelbagai cawan arak. semua orang puas sekali, Anak muda itu ramah tamah, Mereka kagum.

Perjamuan berlangsung sampai rembulan berada di tengah tengah langit. setelah para hadirin bubar, In Gak masuk ke dalam bersama Kong Kiu dan lainnya, ia lantas menutur tentang Lui siauw Tnian dan mengatakan besok pagi mau kembali ke sin Ke Chung untuk menolongi saudara angkat itu, ia berniat mengekang Koay sun, supaya kaum Kay Pang partai Pengemis, tidak saling bunuh, Kemudian ia minta Kong Kiu dan Wi Seng pun besok pagi meninggalkan Celam, buat pergi ke tempat peternakannya di tapal batas di utara, ia kata, selesai urusan di sin Ke chung hendak ia menyusul ke tapal batas itu.

Kedua orang tua itu setuju, Mereka pun pikir, sesudah berusia lanjut, tak ada perlunya mereka hidup lebih lama pula dalam dunia Kang ouw, bahkan baik sekali untuk hidup damai dan berbahagia selama hidup selanjutnya.

Kho Cu Liong tertawa, kata: "Kim Kauw Bu Tek sin Bong biasa berdiam di dalam rumah, jarang dia keluar, Dengan penduduk setempat, dia hidup rukun. Beberapa tahun dulu pernah aku bertemu dengannya. Dia ramah tamah, akan tetapi, melihat roman dan gerak-geriknya, aku merasa dialah seorang manusia palsu dan menjemukan. Tak kusangka dialah muridnya Kho le Keng san su Mo.

"Sin Bong bergelar Kim Kauw Bu Tek," kata In Gak. "itu berarti bahwa dengan gaetan emasnya dia tanpa lawan- Mustahilkah sebegitu jauh tidak pernah ada orang yang menyateroni sin Ke Chung untuk menantangnya?"

"Gaetan emas" ialah "kim kauw" dan "tanpa lawan- ialah "bu-tek".

Kho Cu Liong menepuk pahanya.

"Itulah aneh" serunya, "Pada kira sepuluh tahun yang lampau memang pernah ada orang datang ke sin Ke Chung menantang dia, akan tetapi dia menampik dengan keras selalu dia bersikap merendah, hingga dengan begitu, walaupun orang hendak mencoba dia orang toh tidak kesampaian maksudnya, Sejak itu tak pernah terdengar lagi ada penantangnya, Dia ternama, dia juga sangat sabar, sukar buat mencari orang sebagai dia. Karena itu laote, mendengar keterangan ini itulah aneh. itulah mencurigai. In Gak bersenyum. Kata ia, "Kalau manusia palsu, biar bagaimana, satu kali akan terbuka kepalsuannya."

Ciu -Wi Seng yang pendiam mendadak ingat sesuatu. "Hiansay," tanya ia. "bagaimana sikapnya gadis Ouw Kong

terhadapmu?"

Dengan tiba-tiba muka In Gak menjadi merah ia dapat menerka bahwa Ouw Kong telah bicara entah apa tahu dengan mereka ini, ia menjadi tak tahu harus membilang apa tak dapat ia membuka mulutnya. Kong Kiu menatap tajam pemuda itu. ia bersenyum.

"It Goan Kisu menjadi seorang yang sulit untuk dilayani," katanya "Sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap gadisnya itu ? Kau bilanglah terus terang tidak ada halangannya."

Muka In Gak tetap merah.

"Aku tidak mempunyai perasaan apa apa," sahutnya terpaksa.

Wi Seng mengurut jenggotnya.

"Inilah urusan tidak berarti," kata ia tertawa, "Baiklah perlahan lahan saja kita mengurusnya. "

Ia mengguna kata "kita" tentu ia maksudkan ia bersama Kong Kiu.

In Gak ingin tahu apa katanya Ouw Kong terhadap kedua orang tua itu tetapi la malu membuka mulutnya, Beberapa kali ia sudah berkelimek tetapi gagal, dapat ia menguasai diri untuk terus membungkam.

Berbicara lebih jauh dari lain hal, Kong Kiu lantas menimbulkan urusan Ho Yan cauw bagaimana rumput obat itu didapatnya. In Gak menuturkan jelas pekerjaannya mencari rumput itu. semua orang tertarik hati dan kagum, Kong Kiu tertawa.

“Jikalau tidak ada bantuannya Ouw Kong dan gadisnya, mungkin Chong-si belum bisa dapat ditumpas," katanya kemudian, "Kita semua sudah berusia lanjut, semoga kelak dibelakang hari kawanan kaum sesat tidak akan mengganggu kita lagi, hanyalah kau, hiansay, kau harus waspada. Mereka itu menganggap kaulah konconya Koay Ciu si-seng Jie In, tapi lama-lama, mungkin mereka akan ketahui kamu sebenarnya satu orang."

In Gak menerima baik nasihat itu, ia berjanji akan berlaku hati hati.

Kemudian, kira jam empat, orang masuk tidur Tapi In Gak tidak dapat pulas, ia banyak berpikir Sudah satu tahun ia merantau, ia merasa hatinya masih kosong, ia merasa kosong karena ia tidak mempunyai orang tua.

Disamping itu, ia terganggu asmara. ia jadi menyesal, ia merasa dunia Kang ouw itu tidak mempunyai waktunya yang damai, Ada terlalu banyak orang buruk, semua karena keinginannya yang berlebihan, Sulit unluk manusia membikin dirinya "tak berkeinginan", Rupanya melainkan nasib yang mampu berbuat demikian.

Pemuda ini bergulak-gulik hingga ayam-ayamjago berkeruyukan menandakan sang waktu sudah jam lima, ia lantas berbangkit buat mencuci muka dan dandan-

Ketika itu Tio Kong Kiu, Ciu Wi Seng dan lainnya pun sudah bangun dari tidurnya, semua sudah lantas bersiap.

Tuan rumah juga bersiap untuk menjamu sekalian tetamunya.

Habis bersantap maka empat ekor keledai menarik sebuah kereta yang indah, Di belakang kereta berjalan delapan pembantunya Kong Kiu, yang Kong Kiu tugaskan, Kong Kiu sendiri bersama ciu Wi Seng naik kereta juga.

Seberlalunya rombongan mertuanya itu, baru In Gak mengambil selamat berpisah dari Kho cu Liong dan lainnya orang dari Goan Seng piauwkiok ia bersikap tenang waktu ia keluar dari Lam kwan, kota selatan- Hari itu, beda dari kemarinnya, langit mendung dan angin keras sekali hingga pasir beterbangan bagaikan menutupi tangit, Cabang-cabang pohon, tanpa daunnya, goyang-goyang hebat, In Gak tidak menghiraukan itu. ia melakukan perjalanannya sangat.

Di-dalam tempo sebentar, ia sudah melewati tujuh li, Tengah ia berlari-lari itu mendadak telinganya mendengar suara angin halus yang beda daripada angin keras itu, inilah seperti angin dari berkibarnya ujung baju.

Berbareng dengan itu, ia juga dapat mencium bau yang harum. ia lantas mendapat tahu bahwa ada orang yang menguntitnya. ia berlagak pilon, ia lari terus. Hanya kali ini, sesudah beberapa tindak. mendadak ia memutar tubuh sambil ia menolak dengan sebelah tangannya menggunai tenaga Bi Lek sin Kang.

Begitu ia berbalik, begitu ia baget sekali, mukanya menjadi pucat, Lekas-lekas ia menarik pulang serangannya itu, Walaupun demikian, orang di belakangnya itu tertolak mundur dua tombak jauhnya, syukur dia tidak kurang suatu apa, bahkan dia dapat terus lompat maju hingga dia jadi berdiri di depannya.

"Ah nona" serunya, mukanya merah- “Kenapa kau datang ke mari? Mana ayahmu?"

Nona itu ialah Ouw Kok Lan, gadisnya Ouw Kong Hari ini dia mengenakan pakaian kuning muda, pupur dan yancinya tipis. tetapi itu justeru membuat kecantikannya jadi mentereng. Dia mengawasi tajam wajahnya, sinar matanya menunjuki dia tak puas, mungkin mendongkol.

In Gak menjadi likat sekali, Tapi ialah laki-laki sejati, la lantas memberi hormat dengan menjura dalam. Katanya: "Maaf nona. Dengan sesungguhnya aku tidak tahu kaulah yang berada di belakangku, jikalau tidak. walaupun nyaliku besar tidak nanti aku berari turun tangan atas dirimu..." Nona Ouw tertawa dingin, “Jikalau aku kedua enci Tio Lian cu dan Goat Go, tidak nanti kau berlaku begini galak" katanya.

In Gak melengak. Tak tahu ia harus menjawab bagaimana, matanya mendelong ia lantas menduga-duga, entah apa yang dikatakan Ouw Kong di dalam piauwkiok. Dan setahu bagaimana kata-kata kedua mertuanya, Tidak demikian tidak nanti nona ini ketahui nama kedua isterinya.

Mendadak si nona tertawa, terus mulutnya dibuat main. "Sungguh menarik romanmu sekarang ini" katanya

menggoda. ia tertawa pula secara menggiurkan.

In Gak berdiam, hanya sekarang hatinya tak bergelisah lagi.

Ouw Kok Lan tertawa, lalu dia berkata: "Tadi malam jam tiga, aku telah pergi ke Piauwkiok. Hm Kalau bukannya aku, tentu kamu sudah pada pergi ke akhirat."
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Menuntut Balas Jilid 14 : Mencari rumput Ho Yan cauw"

Post a Comment

close