Menuntut Balas Jilid 10 : Kay pang dipecah belah penguasa

Mode Malam
Jilid 10 Kay pang dipecah belah penguasa

Banyak orang mentertawai si alis gomplok ini, tidak ada yang menyahuti dia, orang lantas pada turun gunung untuk berlalu. Tetapi mereka yang kenal Tong hong Giok Kun dan Kiang Yauw Cong, yang menghormati Ay Hong sok menghampirkan mereka bertiga serta sI nona untuk bertemu dan berbicara.

Di antara mereka itu ada Giok Siauw Hiap su Kheng Tiang siu, muridnya Kim Teng siang jin, ketua darIngo Bie Pay. Dia baru berumur dua puluh lebih, romannya tampan sekali, hingga dia terkenal sebagai pria cakap ganteng.

Selagi menonton pertempuran di atas panggung barusan, tak hentinya dia mengawasInona Lan yang dia kagumi. Dia lantas memberi hormat sambil menjura pada Ay Hong sok dan kata: "Aku yang muda Kheng Tiang su darIngo Bie san, telah aku mendengar dari guruku, Kim Teng siangjin tentang loocianpwee, maka itu sekarang aku dapat bertemu dengan loocianpwee, aku bersyukur sekali."

Kheng Hong mengangguk dan tertawa, "Sebelum gurumu itu mengetuaIngo Bie Pay. pernah tiga empat kali aku bertemu dengannya, ia bilang. "Sekarang ini tentulah ia telah maju pesat dan tetap sehat walafiat."

"Terima kasih, loocianpwe, guruku itu tidak kurang suatu apa," sahut anak muda itu, yang lantas berpaling kepada Nona Lan. Kheng Hong dapat menduga hati si anak muda.

"Kheng Hiantit telah turun gunung, adakah kau sedang menjalankan tugas dari gurumu?" ia tanya.

Tiang siu menjura pula.

"Tidak. loocianpwee, cuma untuk merantau saja." jawabnya, "Bagus Aku juga tidak ketentuan tujuanku, melainkan sekarang kami lagi mau pergi ke Utara mencari satu orang. jikalau hiantit suka, mari kita pergi bersama."

Tiang siu girang sekali, itulah apa yang ia harap. "Aku suka sekali, loocianpwee," katanya, mengucap terima kasih. "Baiklah, Mari aku ajar kau kenal dengan ke tiga kawanku."

Ketika diajar kenal dengan Nona Lan, sInona cuma bersenyum, tetapi mata si anak muda bercahaya, Nona itu tidak memperhatikan sinar mata orang itu, ia tidak mengerti, sebenarnya pikirannya lagi diamuk peristiwa-peristiwa aneh hari itu, ialah tentang patahnya cabang pohon tidak keruan, kertas yang nempel dipunggung Cin Tiong siang Koay serta jatuhnya pedang Pa san Tiauw barusan.

Ia menduga ada orang yang main gila, siapakah orang itu?

Pada otaknya melainkan berpeta wajahnya seorang yang ia kenal.

A y Hong sok mengeluh perutnya iapar, ia berjalan dengan berlari lari menuju ke kota Kay hong, Kheng Tiang siu lari di belakang orang tua ini. Nona Lan mengikutinya.

Tonghong Giok Kun dan Kiauw Yauw Cong berjalan bersama dengan beberapa kenalan mereka yang pun lekas meninggalkan panggung Ie ong Tay, hingga suasana di panggung itu menjadi sunyi lenyap seperti sediakala kecuali siurannya sang angin.

Ketika sang pagi muncul, dijalan gili Si Liong Teng atau Paseban Naga, terlihat seorang pelajar umur lebih kurang tigapuluh tahun, ia berkulit kuning gelap. Baju luarnya yang panjang terbuat dari sutera putih, ia mempunyai dada lebar dengan pinggang ceking.

Ia berjalan perlahan tetapi sang angin meniup hingga tangan bajunya berkibaran-Nampaknya ia tenang sekali.

Kiri dan kanan gili gili adalah air telaga yang bening dan tenang, airnya berombak-ombak. Di situ ada sejumlah bebek putih berenang pergi datang. Kedua tepi telaga gundul, rumput rumput belum bersemi

Tiba tiba terdengarlah suara genta dari kuil Hauw Giam sie di sebelah barat telaga. Mendengar itu, si pelajar menoleh ke arah kuil itu. Tengah ia memandang itu tiba tiba telinganya mendengar suara penggayu, apabila ia berpaling, ia melihat munculnya sebuah perahu kecil dari antara gumpalan pohon gelaga.

Cepat lajunya perahu ke arahnya, Di atas perahu nampak seorang tua dengan kumis jenggot panjang sampai di dada. Lekas perahu tiba di pinggiran, dekat s pelajar.

"Eh, Cia Laotee, apakah kau tidak mau turun ke perahu ini untuk memasang omong?" tanya orang tua itu.

Pelajar itu yang bukan lain daripada Cia In Gak bersenyum. si orang tua juga bukan lain orang daripada Yan-in Tayhiap. jago dari Yan-in, ialah Tiat Cie sian wan Pek Ie si Kera sakti Jeriji Besi, orang yang menjanjikan pertemuan di Liong Teng itu.

In Gak melihat ke sekitarnya, Tidak ada orang lain di situ, ia menyingkap ujung bajunya, ia menjejak tanah, lalu dengan enteng ia lompat ke perahu.

"Pek Tayhiap. lihay matamu" ia kata tertawa. "Cara bagaimana kau dapat mengenali aku yang muda?"

Pek le tertawa sambil bertepuk tangan.

"Dari mulutnya Kiu Cie sin Kay Chong sie aku mendapat tahu laotee gemar menyamar, oleh karena itu aku senantiasa mengingati saja kepada potongan tubuhmu," ia menjawab, “Begitulah satu kali lihat saja aku mengenali kau. Mari kita pergi ke tengah telaga kedalam rujuk gelaga."

In Gak bersenyum, ia mengangguk.

Maka menggeleserlah kendaraan air itu ke tengah-tengah telaga...

-0O0000OO- Untuk kota Kay-hong, Liong Teng ialah suatu tempat terkenal. Telaga bagian timur ialah yang disebut Phoa ouw, sedang yang bagian barat dinamakan Yo ouw, Phoa ouw didapat darInamanya Phoa Jin Bie, dan Yo ouw darInama Yo Giap, keduanya orang kenamaan dari jaman Pak song, Song Utara.

Dan kuil Hauw Giam sie itu termasuk sebagian bekas gedung keluarga Yo di jaman dahulu itu. Yang sedikit luar biasa ialah Phoa Jin Bie itu penghianat dan Yo Giap adalah jenderal yang setia, sekarang In Gak dan Pek Ie berkumpul di tengah-tengah telaga.

Tiat Cie sin wan mengurut kumisnya. "Aku si orang tua ialah sahabatnya mendiang ayahmu, maka itu suka aku membantu kau hiantit," berkata ia tertawa, "Pasti sekali sakit hati ayahmu mesti dibalas, hanya pada itu harus hiantit ingat pembilangan bahwa buat seorang kuncu pembalasan dilakukan sampai sepuluh tahun masih belum terlambat.

Apapula di dalam halnya sakit hati ayahmu ini, mereka yang mengeroyoknya terdiri dari pelbagai partai, sesat dan lurus. Dengan sebatang kara mengguncangkan Rimba Persilatan, itu bukanlah perbuatan yang cerdik. Menurut aku, meski urusan besar sekali bekerja perlahan adalah paling sempurna." ia berhenti sebentar, ia tertawa pula, baru ia melanjuti.

"Sekarang ini orang orang dari tingkat tua, yang biasa berdiam diri diatas gunung atau di dalam rimba, banyak yang muncul pula dalam dunia Kang ouw, sepak terjang mereka itu tak ada yang tiada sangkutannya dengan dua hal, yang pertama yaitu urusan kitab Pou Tee pwee yap Cin Keng.

Yang kedua ialah urusan bentroknya Hoo Kun si perdana mentri dorna dengan Pangeran Kee chin ong, hingga keduanya berebut mengundang orang-orang lihay, untuk membikin pepak sayap masing-masing, saudara Chong sie dan saudara Lui Siauw Thian mengetahui keguncangan itu, maka juga mereka minta aku si orang tua berangkat ke Utara mencari kau, hiantit. Menurut saudara Chong lebih baik kita bekerja dengan akal muslihat, kita memindahkan bencana untuk menyingkirkan si jahat, inilah lebih baik daripada hiantit terus terusan merantau sendirian"

"Chong Toako benar," pikir In Gak. "Di antara orang-orang gagah yang diundang Hoo Kun dan Kee Cin ong ada orang- orang yang menjadi musuh ayahku, maka baik aku turut pikirannya itu, aku memindahkan bahaya satu pada lain, supaya mereka saling bunuh sendiri.."

Maka ia lantas mengangguk "Baiklah, aku setuju," ia memberikan jawabannya.

"Ada sebab lain lagi kenapa saudara Chong sie menghendaki hiantit lekas pulang kekota raja" Pek le berkata pula, "Itulah karena di dalam Partai Pengemis ada ancaman bahaya perpecahan diantara golongan selatan dan golongan Utara. Tentang jelasnya, aku tidak tahu, saudara Chong tidak mau menerangkan padaku, Rupanya urusan sulit sekali, maka itu membutuhkan bantuan hiantit."

In Gak lantas ingat peristiwa di Kho-kee-kauw halnya si pengemis yang mengganas dengan ular berbisa, Perbuatan pengemis aneh itu bertentangan sama maksud tujuan Kay Pang.

Jikalau didalam Kay Pang benar terjadi ancaman hebat itu, baiklah hari ini juga aku nanti berangkat kekotaraja." ia berkata.

"Memang, lebih cepat hiantit berangkat, lebih baik lagi," kata Pek lepula. "Sekarang soal lain lagi, ialah urusan pribadi kau, hiantit, Aku telah bersepakat dengan saudara Chong sie dan saudara Siauw Thian bahwa kau harus lekas-lekas menyelesaikan perangkapan jodoh mu. Kau harus tahu, didalam kebaktian ada tiga dosa dan yang paling besar ialah siapa tidak mempunyai turunan. Aku percaya, sekalipun mendiang ayahmu ditempat baka pasti memikirkan juga urusan pernikahanmu ini."

Mukanya In Gak menjadi merah, mulutnya kemak kemik. "Tentang itu pernah aku pikir," sahutnya perlahan- "Baiklah

hal ini dibicarakan pula setelah aku tiba dikotaraja. siepee, kau berniat berdiam berapa hari lagi disini?"

"Aku juga mau lantas berangkat kekota raja" sahut si paman tertawa dan menggeleng kepala, "Aku cuma tidak mau berjalan bersama kau, sebab itulah menarik perhatian umum."

In Gak berpikir.

"Aku hendak mohon sesuatu, dapatkah siepee meluluskannya?" ia tanya.

Pek le tertawa tergelak "Bukankah urusanmu urusanku juga?" katanya, "Apakah itu?"

In Gak lantas tuturkan perkenalannya dengan Nona Yan Bun anak dan ibu, bahwa ia ingin titipkan mereka itu di rumah Kiong Thian Tan di Hoan Pek san-Chung di gunung Tiang Pek san. Disana Nyonya Kouw nanti dapat beristirahat.

"Dapatkah siepee tolong mengantarkan mereka ke sana?" tanya ia diakhirnya.

Pek le melirik. ia bersenyum, lalu ia mengangguk. In Gak jengah tetapi ia bersenyum.

"Ssst" mendadak ia berseru perlahan, tangannya di mulutnya. Tiba-tiba mereka mendengar suara air digayu perlahan.

Lantas saja si anak muda menjejak perahu, untuk berlompat ke gelaga, dari mana ia berlompat lebih jauh kearah dari mana suara datang.

sSara menggayu itu terdengar semakin nyata. Rupanya orang diperahu itu menggayu terlebih cepat dan keras, mungkin dia bercuriga, Tapi In Gak telah lantas dapat menyusul dia, dari gelaga si anak muda lompat keperahu orang, untuk mencekuk tukang perahu itu, yang ternyata seorang pendeta yang tubuhnya besar. Tak dapat dia berkelit pundaknya segera terjambak. hingga dia meringis kesakitan.

Ketika itu Pek le telah menyusul dengan perahunya, ia tertawa dan kata: "Aku telah menduga, kau tidak bakal gagal hiantit, dan benarlah dugaanku"

Sambil terus menjambak pendeta itu, In Gak tanyai. "Perlu apa kau datang kemari? siapa menitahkan kau? Lekas bicara"

Pendeta itu mengangkat kepala, dia tertawa mengejek.  "Aku merdeka, empat penjuru lautan ini ialah rumahku" sahutnya jumawa, “Aku gemar pesiar, aku pergi kemana aku

suka. Hari ini aku pesiar disini, apa salahnya? Kenapa kau heran tidak keruan? Bukankah telaga ini bukan milik-mu? Kau dapat pesiar disini, kenapa aku tidak? Mana ada itu aturan?"

In Gak bersenyum melihat lagak orang. ia mengawasi, ia percaya pendeta ini bukan orang beribadat tulen-

"Habis, kenapa kau melarikan diri?" ia tanya lagi bengis.

Pendeta itu mendelik,

"Siapa bilang aku lari? siapa pesiar dengan perahu dia mesti menggunaipenggaju, bukan? Aku mengaju menurut suara hatiku, dasar kau yang curiga tidak keruan?"

Mendengar itu, Pek le tertawa, ia mengurut urut kumisnya, tetapi ia tidak membuka suara.

"Alasanmu bagus" kata in Gak. Tapi kau ketahauilah, sudah kebiasaan tabiatku, jikalau aku meakukan sesuatu, aku lebih suka kesalahan membunuh orang daripada melepaskan secara sembrono. jikalau kau tidak omong benar-benar, baik kau rasai saja ilmuku yaitu Cit Jit souw im Toan Hun. Ilmu itu yaitu ilmu " memutus arwah dalam tujuh hari."

Si pendeta kaget, tetapi ia menyaksikan kepandaian si anak muda, ia berdiam, matanya dirapatkan. In Gak tertawa.

"Kau tidak mau bicara, baiklah" la lantas menotok kesembilan jalan darah sipendeta, habis mana sambil menggendong tangan ia berdiri berendeng dengan Pek le, sembari bersenyum ia mengawasi korbannya itu.

Pendeta itu merasa tubuhnya ditotok berkali-kali, tetapi la tidak merasakan apa apa yang luar biasa, ia membuka matanya, ia melihat lagak orang Jenaka dan tenang, ia heran tetapi ia berpikir.

“Jikalau aku tidak mau lari sekarang, aku mau tunggu kapan lagi?" demikian pikirnya, Begitu ia berpikir, begitu ia menggeraki tubuhnya. ia mau lompat ke air. Tapi begitu lekas ia mengerahkan tenaganya. begitu juga ia kaget-tak terkira kagetnya. ia tidak bisa lompat. Tenaganya habis. bukan ia terjun ke air, ia justeru jadi merungkut la mirip ular melingkar, In Gak tertawa.

"Sekarang lekas kau bicara, masih belum kasip" katanya, memberi ingat, "Berbicara berarti kau menderita sedikit"

Pendeta itu seorang tauwto, ialah pendeta yang memelihara rambut ia membandel. Dia tertawa dingin.

"Selama satu hari aku tidak mati maka kau pun satu hari juga tak nanti hidup tenteram" katanya bengis.

In Gak tertawa pula.

"Belum tentu" Katanya. "Aku nanti lihat" la menatap tajam. Hanya sebentar, lantas pendeta itu menjadi bergelisah,

tubuhnya bergerak-gerak. la merasakan sakit seperti ditusuk jarum pada semua jalan darahnya, ia juga merasa gatal hingga mau menggaruk-garuknya.

Matanya lantas dibuka lebar, keringatnya lantas mengucur lalu ia mulai merintih, rintihnya sangat tak sedap didengar telinga.

"Tayhiap... tolong... bebaskan totokanmu.." katanya kemudian terputus-putus.

In Gak tertawa.

"Aku menyangka kau berotot baja bertulang besi" katanya, kiranya kau tidak sanggup bertahan” ia lantas menotokjalan darah yang dipinggang. Dengan cepat lenyap siksaan si tauwto, ia mengeluarkan ludah Iender.

"Aku menerima perintahnya Kiong bun siang Kiat," ia kata, "aku ditugaskan mencari Koay Ciu sie sieng Jie In. sudah dua hari aku tiba di kota ini, belum ada hasilnya, Tadi selagi duduk dipaseban Liong Teng, aku melihat tuan ini..." ia menunjuk pada Pek le. 

"Aku ketarik melihat dia seorang diri main perahu, lantas aku memasang mata dan menguntitnya. Aku menyewa  sebuah perahu, yang aku pakai bersembunyi dihutan gelaga tadi. Aku melihat dia menyambut kau, tayhiap. lalu aku mendengar, kaulah orang yang dicari Kiong bun siang Kiat, saking girang, aku membikin sedikit berisik, karena tayhiap curiga, aku ingin kabur, sekarang aku kena ditangkap. apa aku mau kata..."

"Apakah Kiong bun siang Kiat cuma menugaskan kau seorang?"

"Semuanya enam belas orang, Mereka dikirim ke shoasay dan lainnya, Yang dikirim kemari cuma aku sendiri.

In Gak tertawa puas.

"Kau dapat bebas dari hukuman hidup, tidak dari hukuman mati" katanya, lalu tangannya di ulur, menotok jalan darah Cong bun, maka sekejap saja matilah tauw too bandel itu, ia mengeluarkan satu peles kecil dari sakunya, isinya itu serupa bubuk kuning, sedikit dari bubuk itu dituang ke dalam hidung si tauwto, habis itu ia tutup pelesnya dan menyimpannya pula disakunya. Akhirnya ia mengangkat kepalanya dan tertawa. "siepee, mari kita pergi" ia mengajak.

Pek Ie mengawasi bengong, ia merasa pemuda ini benar benar luar biasa, gagah gesit dan cerdik, Dan telengas juga... tapi itu terhadap manusia terkutuk. ia anggap. itulah boleh juga..... "Kau hebat, hiantit" katanya kemudian, tertawa, "Pantas saudara Chong sie memuji tinggi sekali padamu" In Gak tertawa, ia tidak bilang suatu apa.

Lantas perahu kecil mereka digayu pergi, untuk kembali ke kota Kayhong, di mana suasana tahun baru masih belum lenyap. Maka itu mereka melenyap di antara orang banyak yang berseliweran tak putusnya . . .

Bulan pertama di kota raja Pakkhia, meski namanya musim semi, atau permulaan tahun, hawa udaranya tetap dingin sekali, Di luar kota, sungai sungai beku hingga kuda kereta dapat berjalan di atasnya. Di permukaan kalipun orang dapat berolah raga, untuk melemaskan otot otot, guna mencari kegembiraan.

Pada suatu hari, selagi angin tak meniup keras dan mega mendung, maka dari sebuah gedung besar di dekat sip sat nay terlihat ke luarnya seorang tua umur kira kira tujuhpuluh tahun, tubuhnya jangkung, dan tegar, baju kulitnya dilapis jubah biru, tangan kirinya di masuki ke dalam baju kulitnya, tangan kanannya membuat main sepasang peluru besi, maka di antara lima jarinya, peluru itu berputaran tak hentinya dan bersuara juga.

Di tengah jalan itu, siapa yang mengenal dia tentu menegurnya sambil tertawa: “Selamat pagi Tan samya. Ke warung teh, bukan? Ditanya bagitu, dia tertawa dan menyahuti: "Udara hari ini bagus, tak gembira berdiam di dalam rumah, ingin aku menjenguk sahabat sahabat"

Dan dia bertindak terus dengan tindakannya yang lebar.

Di gang-gang ada kedapatan salju tebal kira satu kaki, di atas itu tertampak banyak tapak kaki, sebaliknya dari tembok dipinggir jalan muncul cabang bunga bwee yang memberi bau harum. sesudah melalui beberapa gang, orang tua she Tan itu keluar di jalan besar di mana ia menghadapi sebuah warung teh yang berloteng, yang cat merahnya sudah tua dan gugus, Tak salah lagi, itulah rumah sudah sangat tua.

Di Pakkhia itu biasanya orang ramah tamah, di warung atau toko apa saja, asal orang menolak pintu dan masuk- lantas pegawainya menyambut seraya menunjuki jempol dan berkata

: "Toko kami toko tua, bukan saja harganya pantas, barangnya pun pilihan. Cobalah tuan membeli pasti tuan puas”

Juga di rumah makan dan warung tadi, pelayanannya manis.

Ketika si orang she Tan memasuki warung teh di depannya itu, di sana sudah ada beberapa tetamu, kebanyakan yang dikenal, maka mereka itu pada menyapa atau memberi hormat, ia menyambut sambil mengangguk dan bersenyum. Begitu ia memilih meja, pelayan datang dengan sapanya:

"Selamatpagi, samya" seraya terus menyuguhkan teh dan siomai.

Habis meniup daun teh dicawannya, si Tan ini minum, lalu ia mengunyah siomai, ia memandang ke sekitar ruang, tangan kanannya tetap memutar-mutar sepasang peluru besinya yang licin mengkilap itu.

"Sam ya," tiba tiba menyapa seorang yang yang duduk di dekannya. Dialah seorang usia sekitar tigapuluh tahun, "sudah beberapa hari samya tidak nampak, apa samya mengeram di rumah saja? Tentulah samya tak ketahui segala kejadian yang terbaru di kota raja, kalau tidak, pastilah samya sudah berceritera kepada kita" samya itu melirik.

"Ah, bocah, kau benar tidak pandai bicara" tegurnya, "siapa bilang aku si orang tua ngeram di rumah saja? Kemarin aku ke luar dan dahar daging kambing dan aku melihat sesuatu yang aneh juga"

Ia berhenti bicara untuk memasuki pula siomai ke mulutnya. Orang yang menegur itu nampak girang, demikian juga lain-lain tetamu, Mereka lantas menanti akan mendengar ceritanya Tan samya ini.

Dia sebenarnya bekas ciateng di istana sam pwelek. beileh ketiga, seorang pangeran Boan Ciu. Dia bernama Tan Kwee, ilmu silatnya dari bagian luar. Dialah seorang polos, yang kerjanya setia.Justeru karena dia setia, dia merasa tugasnya berat.

Ketika itu dia sudah berusia lanjut, tak dapat dia bergadang setiap malam, sedang diwaktu siang, dia mesti bertugas juga, Karena tugasnya itu, dia menjadi kurang tidur, Maka pada sepuluh tahun yang lalu, dia minta berhenti sendiri.

Meski begitu dua kali setiap bulan dia biasa pergi ke istana beileh untuk menghunjuk hormat pada bekas majikannya. setiap hari dia pergi ke warung teh, untuk membasahkan tenggorokan atau pergi menonton wayang, Dia ramah tamah, dia pun suka ditanggap. Demikian hari ini.

"Kejadian apa tadi itu, samya?" orang bertanya. "Sabar, Untuk berbicara, perutku mesti di tangsal dulu

sekarang ini di kota raja berkumpul banyak orang gagah, ada yang sangat ringan tubuhnya, ada yang liehay senjata rahasianya, hingga kita sukar mempercayainya. Dulu dulu kecuali Kiong bun siang Koay, jarang yang melebihi aku.

Di antara kepandaian senjata rahasia itu, ada ilmu "Menerbangkan bunga memetik daun-yang aku belum pernah dengar..."

Ia berhenti untuk menghirup tehnya, ia memandang kepada semua orang, Mereka itu pada berdiam sambil memasang telinga. ia tertawa ketika ia mulai bicara pula.

"Diantara orang-orang gagah itu ada Huo-goan Ci Koay Cun keluaran partai Kiong Lay Pay, sekarang dia menjadi Ciangbunjin, dari Kay Pang cabang propinsi In lam. Atas permintaan kami beramai, dia telah mempertunjuki kepandaiannya. Aku sudah begini tua, baru sekarang aku dapat membuka mataku, Koay Cun pergi ke latar dimana ada sebuah pohon cemara tinggi lima atau enam belas tombak. Aku cuma melihat dia membungkuk dan menekan tanah dengan kedua tangannya lantas tubuhnya melesat naik berjumpalitan itulah gerakan Burung Elang berjempalit. sekejap saja dia sudah sampai diatas pohon di puncaknya. Angin kebetulan meniup santar tetapi dia dapat berdiri tegak bagaikan dipaku. Kami memang mengutamakan ilmu ringan tubuh, tetapi dia tak sekali-kali meminjam cabang pohon, langsung dia melesat ke atas..."

"Tan samya," sambil berkata seorang yang menyelak. "Ketika dulu samya masih bertugas." katanya dengan sekali lompat saja samya dapat melintasi tembok Kota terlarang, kenapa sekarang samya memuji tinggi lain orang, hingga samya seperti merendahkan diri sendiri?"

Mukanya Tan samya menjadi merah, dia jengah, tetapi dia tertawa. "Hai kunyuk" serunya, "Bagaimana kau berani mencabut topengku"

Orang yang dipanggil si kunyuk itu merengka tetapi dia bersenyum, maka tertawalah yang lain-lain.

Tan samya melanjuti ceritanya. " Ketika Koay Cun lompat turun dia memetik seraup daun cemara yang tajam mirip jarum, Ketika dia mengayun tangan kirinya maka daun cemara itu pada nancap di tiang. Heran daun demikian lemas dapat menembusi balok, Tapi masih ada yang terlebih aneh. Ketika dia mengayun tangannya yang kanan, maka daun cemara yang nancap itu kena terhajar hingga keluar semuanya.

"Ai, tentulah samya menambahkan lagi garam dan kecap" berkata seorang menggoda. "Dimanakah ada orang dengan kepandaian begitu liehay? sudahlah jangan mengepul, supaya jangan orang nanti tertawa sampai giginya copot"

Lain-lainnya tetamu turut tertawa hingga riuhlah warung teh itu. Justeru itu seorang tetamu yang duduk sendirian dipojokan berbangkit untuk bertindak keluar. Dia mengenakan kopiah pet yang dikenakannya rendah sekali hingga hampir menutup seluruh mukanya hingga sukar dilihat wajahnya, sekeluarnya dari warung itu yang memakai merek Ceng Hoo Lauw dia berjalan diantara salju.

Sama sekali dia tidak menghiraukan angin santar dan hawa dingin, Dia keluar dari pintu kota barat, terus dia menuju kebukit Siauw Ceng Ling san.

Didepan itu bagaikan dunia dari beling atau gelas. Itulah disebabkan diwaktu seperti itu melainkan es atau salju yang terlibat pada beberapa hari yang lalu angin besar menurunkan salju hingga dibukit itu salju tebalnya beberapa kaki lalu karena serangan angin Utara yang keras beberapa malam, salju itu berubah menjadi es.

Sebenarnya, jangan kata manusia, binatang pun sukar berjalan di atas es itu. Akan tetapi orang ini luar biasa, dia dapat jalan dengan leluasa dan cepat. Dia terus mendaki.

Bukit Siauw Ceng Liang san dipanggil juga see san, Gunung Barat, letaknya di barat nya kecamatan Wan-peng, puncaknya tinggi umpama menempel dengan langit. Di Ya khia ada delapan tempat yang pemandangan alamnya tersohor dan see san salah satunya, untuk keindahan esnya ini.

Dilamping bukit ada pula kuilnya dengan patung Budha yang besar serta ribuan pohon bwee. Di ketiga musim lainnya, tak putusnya orang pesiar ke sana terutama selama musim semi, Hanya disaat ini bukit sepi dari manusia, kecuali orang ini, yang akhirnya berhenti di depan kelenteng Cui Goat Am yang terbenam dalam hutan bwee yang bunganya indah dan harum itu.

Berbareng dengan tibanya orang ini, dari dalam hutan bweepun muncul satu orang yang segera mendahului menegur: "Oh, Lui Jie-tee. Begini pagi kau telah sampai?" Orang itu memang Kian-kun Ciu Lui Siauw Thian dan si penegurnya ialah Kiu Cie sin-Kay Chong sie kakak angkatnya. Siauw Thian mengipriti kopiahnya. Dia tertawa.

"Memang aku datang pagi-pagi" sahutnya, "Aku toh harus membawa kabar. Dengan berendeng mereka berjalan masuk ke dalam kelenting.

"Benarlah, tidak salah warta yang didapat Twie-Hong Cie wie Cian Leng" kata Siauw Thian pula, "Koay Cun ketua cabang Partaimu di selatan telah tiba di sini dan kabarnya dia mengambil tempat di istananya sam Pwelek. Turut rasaku, jumlahnya anggauta Kay Pang selatan itu yang datang kemari tak sedikit tentunya.”

Matanya Chong sie terbuka lebar, "HHm" ia memperdengarkan suara, "Dengan datangnya dia pasti bakal ada pertunjukan yang menarik untuk ditonton-"Bagus kalau shatee dapat datang, entahlah warta yang disampaikan Pek Tayhiap."

"Aku percaya dia dapat menyampaikannya" kata Cong sie setelah berpikir sejenak. "Tiat Cie sin Wan itu cerdik sekali, pasti dia dapat bekerja baik. Aku percaya shatee bakal tiba dalam satu dua hari ini. cuma sebelum tibanya shatee, kira harus bersiap sedia terlebih dahulu kita mesti menjaga agar jangan ada korban, orang-orang tak perlunya diantara orang- orang Partaiku." Siauw Thian mengangguk.

Bicara sampai di situ mereka melihat munculnya dua orang yang keluar dari perdalaman. Di belakang mereka itu turut seorang pengemis umur lebih kurang limapuluh tahun yang rambut dan kumisnya sudah putih seluruhnya.

Ternyatalah mereka semua dari kalangan Kay Pang, partai Pengemis, Yang dua yaitu Jie-tiang-loo seng Hoo Tiauw Kek Liauw Yong, si pengait dari seng-Boo dan Sam tiang lo Tek- tiang siu Ang Hong si Tongkat Bambu, pengemis itu ialah Pak Thian It Gan Sun su Wan si belibis Utara, kepala pengemis di kota raja, Seng Hoo Tiauw- Kek Liauw Yong tertawa. "Lui Losu datang pagi-pagi, entah kabar apa yang dibawa" katanya.

"Kabar genting" sahut Siauw Thian yang mengulangi keterangannya tadi.

Liauw Yong tertawa dingin, “Pengemis she Koay itu datang dia mencari mampusnya sendiri" katanya mengeluh, Dia mengandalkan pengaruhnya sam Pweelek dan Hoo Kun, memisahkan diri dari Partai kita, dia mengangkat diri menjadi kepala dari cabang selatan, sungguh dia mimpi"

Tek tiang siu Ang Hong menggeleng kepala " Liauw Loojie jangan memandang enteng kepadanya" bilangnya, "Kepandaiannya Koay Cun berada di atasan kita, dia juga sangat licin. Mungkin dia juga mengandung maksud lain lagi. ini sebabnya kenapa kemarin aku menitahkan sun su Wan membawa lencana Cie Tang Leng hu guna di tunjuki kepada semua anggauta kita di kota raja ini supaya mereka tetap menyembunyikan diri dan jangan sembarang bertindak..."

Belum berhenti suaranya Ang Hong atau ke dalam situ terlihat lari masuknya seorang

pengemis dengan tubuh berlepotan darah dan tubuhnya pun limbung. Dia roboh dan merayap maju seraya berkata dengan susah: "samwie Tiangloo di kuil malaikat bumi di pintu Tay ang mui telah terjadi bencana hebat. Koay Cun ketua cabang seatan telah datang bersama lima kawannya mereka lantas melakukan penyerangan hingga Lie Hiu-Cu kena ditawan begitupun Lian Leng yang lebih dulu sudah dihajar lengan kanannya hingga patah. Cuma aku yang dapat lolos "

Mendengar itu parasnya Tek-tiang siu Ang Hong menjadi merah padam mendadak tubuhnya mencelat untuk lari ke luar ke arah rimba pohon bwee. Menampak demikian, Kiu Cie sin Kaypun lari ke luar ke sebelah kiri.

Chong sie dapat menerka sikapnya tiangloo itu. Aneh si pengemis pembawa berita dapat lolos dari tangan Koay Cun hingga dia dapat menyingkir ke kuil Cui Goat Am ini. Pastilah ini disengaja dikasi lolos supaya dia lari pulang, hingga gampang saja dia dikuntit, Maka si penguntit itu mesti dicari dan dibekuk sebab berbahaya apabila dia dapat lolos dengan selamat.

Benarlah segera Ang Hong melihat seorang di jarak tiga tombak maka sambil membentak.

“Kau mau lari kemana?" dia berlompat untuk menubruk. orang itu berlompatan sambil

berteriak mengancam dia mengayun tangannya. Dengan begitu tujuh titik hitam menyamber ke arah tiang loo yang nomor tiga itu.

Ang Hong menangkis sambil mengibaskan tangan bajunya, karena mana penyerangnya dapat berlari hingga jauhnya belasan tombak. Dia gesit sekali hingga dia membuatnya si tiangloo heran. Tapi tiangloo ini terus mengejar.

Keduanya lantas berlari-lari bagaikan orang berkejar- kejaran main petak, jarak diantara mereka selalu kira-kira delapan tombak. Tapi tak lama di ujung sana nampak munculnya Kiu-Cie siu-Kay. orang itu melihat ada lain musuh, dia berlompat ke samping rupinya dia ingin tidak kena dipegat. Bagaikan terbang Chong sie berlompat menerkam, seculuh jari tangannya dibuka bagaikan cengkeraman burung atau gaetan besi. Dia berlompat dalam gerakan "sin liong tam djiauw" atau Naga sakti mengulur kuku."

Orang itu tajam matanya dan gesit gerakannya. Dia berlompat ke samping, setelah mana tangannya yang kanan menyambar keatas menerkamnya itu saat mana tangkai- tangkai bunga pada rontok akibat anginnya serangannya itu.

"Sahabat, hebat Pek Hong Ciang kau" kata Chong sie, yang tertawa berkakak. "Aku si orang tua ingin bertemu dengan kau, mengapa kau tidak mampir saja? Kalau begitu, cupat pandanganmu" Pek Hong Ciang itu ialah pukulan Angin. Habis menyerang, orang itu lari terus tanpa menoleh lagi, Dia lari ke arah rimba, Atau di sana telinganya mendengar tertawa dingin, yang menyambutnya sebab didepannya itu sudah berdiri menantikan seng Hoo Tiauw- Kek Liauw Yong

Dia kaget hingga dia melengak, Karena ini, segera dia terkurung, Chong sie dan Ang Hong segera dapat menyandak.

Liauw Yong bersenyum dan menanya "sahabat, mengapa kau main sembunyi-sembunyi hingga kau tak sudi menemui orang?"

Memang orang itu selain tak sudi menemui orang juga mukanya ditutupi topeng. Tapi

setelah terdesak itu, dia membuka topengnya, sambil tertawa dingin, dia berkata, "Kamu bertiga pengemis tua, beranikah kau melawan dan membunuh hamba negara?"

Kiu Cie sin Kay menatap orang itu, akhirnya dia tertawa terbahak. matanya pun dipentang lebar.

"Oh, kiranya Lie Looya" dia berkata nyaring. "Maaf, maaf" Lantas dia menoleh kepada Lauw Yong dan Ang Hong, untuk berkata: "Mari aku ajar kenal Inilah "

"Tak usah" Ang Hong memotong, tertawa dingin- "siapakah tidak mengenal Yo eng-cu Lie Cin Tong yang berkenamaan, kepala serse dari kantor Kie-bun Teetok. Kami si pengemis tua tidak membunuh orang, kami tidak membakar rumah, kenapa kami dibilang melawan diri dan bunuh pembesar negeri?

Tuduhan ini mesti di jelaskan jikalau tidak jangan harap kau dapat berlalu dari gunung Siauw Ceng Liang san ini"

Mukanya orang itu, Lie Cin Tong menjadi merah. Tapi ia tertawa dingin.

"Tiga orang memegat aku si orang she Lie sendirian, apa itu namanya kalau bukan melawan dan membunuh hamba negara?" dia tanya.

"Kata-kata menuduh ini cuna kamu bangsa pembesar negeri yang dapat mengucapkan” kata Chong sie bengis, “Jikalau kau tidak datang kemari dan memperlihatkan diri asalmu, siapa ketahui kaulah Paduka Cin Lie?"

Lie Cin Tong menjadi jengah sekali. Memang dia terlepasan omong, untuk mengancam siapa tahu dia dibaliki Chong sie, Mukanya menjadi merah dan ia merasanya panas, dari mulutnya cuma terdengar dumalan.

Ketika itu Lui Siauw Thian menyusul. Dia tertawa dan kata: "Paduka tuan Lie, hebat dingin-dingin kau mendaki gunung menjenguk kami. Pastilah kau datang kemari karena ada maksudmu. Baiklah kita bicara dengan mementang jendela.

Kau menyebut-nyebut pembunuh hamba negara, apakah artinya itu? Hm Marilah"

Cin Tong heran, ia tidak melihat muka orang, hingga ia tidak mengenalinya, Muka itu ketutupan kopiah yang dilurunkan rendah sekali. Tanpa merasa, ia menggigil sendirinya hatinya berdebaran-

"Bagaimana?" tanyanya, membesarkan nyali. ia tidak mengerti untuk kata-kata orang itu. "M arilah?"

Siauw Thian tertawa pula, "Paduka Tuan Lie, kau keluarkan surat perintah penangkapanmu” ia berkata, sekarang ia membuka petnya, hingga tampak wajahnya.

Lie Cin Tong tak usah menatap untuk mengenali orang ini. Kembali ia kaget, ia tahu Kian Kun Ciu, yang kaum Kang ouw kenal sebagai orang yang tak dapat dibuat permainan. Ketiga tiangloo masih dapat ia pengaruhi.

Dengan meminjam pengaruh Kiu bun Teetok, dapat ia membekuk semua pengemis di dalam kota, Tidaklah demikian dengan si orang she Lui ini. Siauw Thian tidak mau membiarkan orang menjublak saja.

" Lie Cin Tong" katanya bengis, "Jangan kau bermuka tebal. Dengan pengaruhnya Kiu bun Tee-tok, siapakah yang kau hendak ancam? Aku tidak takut, Lekas kau orang, kau jelaskan maksud kedatanganmu kemari, atau kau nanti lihat lihaynya Kian Kun Ciu Lui Siauw Thian jikalau hari ini kau dapat berlalu dari gunung Siauw Ceng Liang san ini, aku akan menghilang dari dunia Kang ouw"

Biar bagaimana, Lie Cin Tong toh gusar, Maka ia nekad. "Orang she Lui, jangan mengepul" katanya nyaring. "Aku

tidak percaya kau dapat berbuat sesuatu pedaku Lie Cin Tong" Dia lantas maju tangannya digeraki untuk menyerang.

Siauw Thian menggeser tubuhnya, ia nyamping dua tombak.

Hebat pukulannya kepala serse ini, pohon bwee dibelakang Siauw Thian itu roboh, daun dan kembangnya rontok berhamburan, begitu pula air esnya muncrat.

Tapi Siauw Thian berkelit bukan untuk menyingkir saja, segera ia maju guna melakukan penyerangan membalas. Tangan kanannya menyerang sambil tubuhnya berloncat sedang tangan kirinya menyamber ke bawah, menotok jalan darah hiat hay di paha orang polisi itu. 

Itulah satu diantara tiga puluh enam jurusnya "Kian Kun Ciu" atau "Tangan Im Yang " namanya "Cie thian wa tee," jurus "Menunjuk langit, mengaum bumi."

Cin Tong pernah mendengar lihaynya Siauw Thian, belum pernah ia melihat sendiri, baru sekarang ia membuktikannya. Benar benar, orang gesit luar biasa dia lihay. "Kalau ia kena terserang itu, pasti ia bakal roboh. Maka ia mengertak gigi, ia mementang kedua tangannya, guna menangkis diatas dan dibawah.

Siauw Thian heran. Tidak disangka sekali, orang berani keras lawan keras, Karena penasaran ia mengerahkan tenaganya, ia kata didalam hatinya: Jikalau aku tidak ajar kenal lihayku terhadapmu, aku mesti jual tanganku kepadamu" Maka terjadilah bentrokan hebat, Tubuh Lie Cin Tong terhuyung mundur tiga tindak, kedua tangannya dirasakan sangat panas pahanya mengeluarkan darah. Luka itu cuma terpisah

sedikit dari jalan darah hian-hay yang di arah.

Siauw Thian menyerang dengan jari tangan Kim Kong Cie, dari pinggang kebawah dengan begitu ikat pinggang Cin Tong kena dibikin putus, dia tergurat kepaha. Meski begitu, ia sendiri kena tertolak mundur hingga dua tindak sebab perlawanan si serse pun hebat. 

Bukan main gusarnya Cin Tong, ia jeri berbareng mendongkol. Perutnya yang terlanggar pun terasa sakit, Dalam nekadnya, ia mengayun tangannya, hingga tiga buah senjatanya menyamber dengan berkeredepan, berbareng dengan mana ia lompat kesamping,untuk terus lari kedalam rimba.

Selagi Siauw Thian bertempur ketiga tiangloo dari Kay Pang sudah mengundurkan diri jauh-jauh, cuma tepat mereka mengambil sikap mengurung. Tindakan ini tindakan penjagaan sebab mereka curiga Lie Cin Tong bukan datang sendirian saja.

Mereka ingin membiarkan orang lolos, supaya mereka dapat menguntit untuk mencari tahu dimana ditahannya Lie Hiocu dan Cian Leng.

Siauw Thian terkejut atas serangan senjata rahasia musuh.

Senjata rahasia itu meledak sebelum mengenai sasarannya. Dalam kagetnya, ia membuang diri ke tanah untuk bergulingan, setelah mana ia lompat bangun. Apa yang ia lihat membuatnya giris.

Es yang terkena senjata rahasia itu lumer seketika, rumput dibawahnya menjadi hangus berwarna kuning. Tentu sekali, ia menjadi panas hatinya. Kapan ia melihat sikapnya ketiga tianloo, ia dapat membade maksud mereka. Meski begitu ia mengejar.

Lie Cin Tong kabur tanpa ada yang cegah, sembari lari ia berpikir: "Aku mesti lari pulang kekora raja, Kau, Siauw Thian akan aku tuduh kau Aku mempunyai banyak alasan Mustahil kau tidak bakal meringkuk dalam penjara?"

Dia gali dapat lolos, Cin Tong menjadi berani pula, ia sangat mengandalkan Koay Coan yang menjadi paman gurunya, ia keluaran Kiong Lay Pay.

Siauw Thian masih mengejar terus. Cin Tong kabur sekuatnya. Ketiga pengemis pun mengejar tetapi mereka ketinggalan, sembari lari Cin Tong kata pula dalam hatinya: "Asal aku si orang she Lie dapat turun dari gunung ini, Lui Siauw Thian, kaulah Ikan didalam jala." la tengah berlari itu ketika mendadak dari tikungan jalanan muncul seorang bocah. Dengan tangan bersenjatakan sepasang poan-koan-pit dan terus menyerang kepadanya.

Syukur ia celi dan gesit, ia tidak menangkis hanya berkelit seraya lompat nyamping.

Ketika ia berpaling ia melihat Siauw Thian telah datang semakin dekat, terpisahnya mereka berdua belasan tombak.

"Kelihatannya aku mesti berkelahi mati-matian, kalau tidak. sulit untuk aku turun dari gunung ini," pikirnya. Lantas ia mengeluarkan senjatanya ialah sepasang cambuk Gia- kang pian yang tekukannya tiga belas.

Si bocah gusar sekali. Dia mendamprat "Bangsat sangat jahat. Kakek dan encieku ada bermusuhan apa denganmu maka kau menggunai asap pulas menangkapnya? Tuan kecilmu bersumpah dia tidak sudi menjadi manusia jikalau dia tidak dapat mencingcang tubuhmu menjadi berlaksa potong"

Ketika itu Siauw Thian sudah menyandak. "Anak Ceng lekas turun tangan" ia menyerukan bocah itu. "Jangan kasi dia lolos. Dialah yang mesti mengembalikan kakek dan encie mu"

Bocah itu ialah Hu Ceng. Lui Siauw Thian tidak melainkan berbicara ia lantas menyerang. Hu Ceng pun turut menyerang dengan totokannya.

Lie Cin Tong tidak berani alpa, ia mainkan cambuknya untuk membikin perlawanan, ia benar hebat, ia membuat nya kedua penyerangnya terdesak mundur lima kaki, setelah mana ia mencelat mundur sambil dengan tertawa dingin berkata: "Setan cilik, jangan kau sembarang menuduh. Apakah kau kira Tuan Lie- mu ini tidak tahu siapa kakek dan dan enciemu itu begitu juga kau? jikalau Tuan Lie mu mau membekuk orang dia berlaku terus terang secara laki-laki sejati, tidak nanti dia menggunai akal muslihat." Hu Ceng juga tertawa dingin.

"Lie Cin Tong" ia membentak. "jangan kau kira tuan kecil kau gelap segala apa Tahukah kau bahwa bangsat yang diutusmu telah aku bekuk hingga dia tidak dapat menutup mulut terlebih jauh? Dia telah membeber semua. Masihkah kau menyangkal."

Cin Tong terkejut akan tetapi dia tertawa mengejek. Dia ingin menyembunyikan kagetnya itu. Kedua matanyapun dipentang lebar.

"Bangsat cilik, karena kau memaksa menuduh aku, baiklah, akan aku sempurnakan kau" katanya bengis. Tapi ketika dia hendak menerjang Siauw Thian membentak: "Kematianmu lagi mendatangi kau masih berani banyak lagak? sembari membentak itu, Kian Kean Cine menyerang dengan kedua tangannya, mengarah jalan darah Ciang boen dan khie kay.

Lie Cin Tong menggeraki cambuknya, dia menyambut dengan hajarannya. Tak sudi dia orang duIui padanya, Nyaring suaranya sepasang cambuknya itu. ilmu silat yang dia gunai ialah jurus "Menguak mega melihat rembulan."

Dengan tangan kosongnya Lui Siauw Thian tidak berani membentur cambuk lawan itu yang terbuat daripada besi dan baja pilihan yang bercagak di empat penjuru, tajamnya seperti pisau, dan diantara cagaknyapun. ada gigi giginya yang seperti gergaji.

Dengan terpaksa ia berlompat mundur, sesudah mana tangannya terus mencekal sebatang pedang.

Siauw Thian memang terkenal untuk ilmu silat tangan kosong dan menggunai pedang, sekarang kewalahan dengan tangan kosong, ia mengeluarkan pedangnya itu. inilah sebab ia sangat membenci Lie Cin Tong yang bandel itu. Hu Ceng pun gusar bukan kepalang.

"LuiTayhiap. serahkanlah jahanam ini pada si Ceng" dia berseru: "Untuk menyembelih ayam tak usahlah memakai golok peranti memotong kerbau, nanti pedang tayhiap menjadi kotor !"

Itulah hinaan maka juga Lie Cin Tong gusar tak terkirakan- "Setan cilik benar-benar kau berani?" bentaknya, Lantas

dengan sepasang cambuknya ia menyerang dengan sengit sekali, iapun dapat menotok jalan darah dengan ujung cambuknya itu yang sebenarnya merupakan ruyung lemas.

Lui Siauw Thian tidak maju pula, ia berdiri mengawasi. Memang pernah ia mendengar, meskipun Hu Ceng hanya seorang bocah, ilmu silatnya telah mencapai suatu batas yang sempurna. ia ragu ragu ia toh menonton.

Hu Ceng tertawa mengejek. la maju perlahan setelah mana ia mulai dengan penyerangannya, ia menggunai tipu silat "Si Raja setan Ciong Hiok Tigapuluh enam Jurus." inilah tipu silat yang terlebih liehay dari tipu silatnya sie Pu Hiap Cing Kie si jago Bu Tong Pay. Sekali bergerak saja ia telah mengeluarkan enam jurus saling susul, sepasang poan koan pit-nyapun berkeredepan bersinar terang, sasarannya ialah enam jalan darah Lie Cin Tong: beng bun, cie yang, sim jie, kin ceng, khie nay dan pek hap.

Menyaksikan serangannya bocah itu, Siauw Thian kagum. ia menduga itulah tentu buah ajarannya Cia In Gak adik angkatnya, ln Gak pula yang memberitahukan ia hal si "anak Ceng" ini tidak dapat dipandang enteng.

Lie Cin Tong telah memperoleh nama karena sepasang cambuknya itu yang ia telah latih untuk banyak tahun, akan tetapi kapan ia lihat ilmu silatnya lawan cilik ini dan mengenalinya, ia terkejut. Diam-diam ia mencaci orangnya, yang katanya di bekuk si bocah. Katanya: "Dia celaka, kenapa dia membocorkan rahasia kepada bocah ini?"

Karena kaget ia lantas mengeluarkan peluh sedang sebenarnya itu waktu hawa sangat dingin dan kadang kala angin meniup santer membawa bunga.

Apa yang mengecilkan hatinya "Paduka Tuan Lie" ini ialah ketika mendapat lihat datangnya beberapa orang lain lagi, yang ia kenali adalah ketiga pengemis yang tadi mengurungnya.

syukur untuknya, mereka itu tidak lantas melotot hanya berhenti ditempat belasan tombak, sebagai mana Lui Siauw Thian juga tidak mengepung padanya, Maka terpaksa ia melayani musuhnya.

Hu Ceng berkelahi dengan sengit sekali-disamping ilmu silat senjatanya yang berupa alat tulis itu, ia bertindak dengan tindakan Kie Kiong Patwa Ceng Hoan Imyang Pou. Tepat cara bertindak itu mengimbangi berbagai serangannya.

Walaupun liehaynya cambuknya, hati Cin Tong gentar, ia bergelisah, Umpama kata ia dapat melayani Hu Ceng, disana masih ada empat musuh tangguh bukankah itu berbahaya? Maka ia mencoba menenangkan diri.

Hu Ceng menyerang dari berbagai penjuru, sebat sekali ia bergerak kesegala arah, untuk membikin sepasang poan-koan- pitnya bisa mengenai jalan darah musuhnya itu.

setelah lewat sekian j urus, Cin Tong merasa kepalanya pusing dan matanya mulai kabur. itulah alamat buruk untuknya. Dulu-dulu tidak pernah ia, merasa demikian diwaktu

bertempur belum lama. Maka ia memikir untuk lekas menyelesaikan pertempuran itu ia melihat senjata musuh datang ia menyambutnya, sepasang cambuknya diluncurkan lempang. itulah pukulan "Jit Goat Tong seng," atau "Matahari dan rembulan naik berbareng:"

Pikirnya. "Asal kedua senjata bentrok. pit musuh bakal tersampok, gergaji cambuknya akan menggencet Asal dia kena tertarik muka dengan tangan kananku akan aku cekok setan cilik ini. supaya aku bisa segera menyingkir turun gunung "

Pikiran ini pikiran bagus sekali, akan tetapi Hu Ceng juga ada pikirannya sendiri, bahkan si bocah terlebih gesit, otaknya bekerja terlebih cepat. Ketika cambuknya musuh meluncur hebat anak itu tidak menangkis atau berkelit mundur, dia justru melejit kesamping untuk melesat ke belakang musuhnya

Tiba-ijba saja Ya eng-cu Lie Cin Tong si Burung merak memperdengarkan jeritan yang menyayatkan dan tubuhnya roboh diatas salju.

Hu Ceng sudah menggunai kecerdasan dan kesebatannya.

Disaat ia tiba di belakang musuh, ia tidak maju lebih jauh untuk menyerang dengan poan koan pit. Untuk itu perlu ia mendekati tubuh musuh.

Tidak. la tidak mau melakukan itu. ia justru menggunai senjata rahasianya senjata rahasia yang berada di dalam poan koan pit, ia memencet pesawat rahasianya, maka menyamberlah empat puluh- delapan batang jarum rahasia Bun-sin Ciam.

Mereka terpisah dekat sekali satu dari lainnya- maka itu tak ada ketikanya buat Lie Cin Tong berkelit atau menangkis, bahkan dia terhajar tepat semua jarum rahasia itu.

Celakalah ia terhajar disaat baru saja ia memutar tubuh hingga jarum nancap didadanya, segera ia merasakan napasnya sesak. dadanyapun kaku, Tak dapat ia menahan napas lagi, maka sambil menjerit itu ia roboh.

"Bun sim-Ciam" berarti "jarum yang membuat hati pepat," maka tepatlah nama itu dengan kejadiannya, dengan kenyataannya.

Lui Siauw Thian kuatir orang tak segera mati, dia berlompat maju untuk menyerang guna menikam. Disaat begitu selagi menghadapi manusia jahat, tidak pikir perbuatannya itu bakal tercelah atau tidak.

"Lui Laotee, jangan!” mendadak Chong sie berteriak sambil dia lompat untuk mencegah.

Kian Kun Cin menikam terus, ia mendengar tetapi ia berpura pura tidak mendengarnya. Maka berlobanglah dadanya Lie Cin Tong, tembus dari depan ke belakang Chong sie menyesal sekali hingga ia menghela napas sambil membanting-banting kaki.

Siauw Thian bangun sambil mengangkat tubuh Cin Tong, sembari mengempit itu, ia menghampirkan kakak angkatnya.

"Chong Laotoa, kau membikin hatiku menggigil" katanya, tertawa dingin, " orang mengadu jiwa untuk Kay Pang kamu, justru memisahkan diri jauh jauh. Apakah maksudmu? jikalau begitu baiklah aku Lui Siauw Thian, selanjutnya aku tidak mau campur lagi urusan Kay Pang kamu”

Lantas dengan mendongkol ia menarik tangannya Hu Ceng dan kata dengan keras: "Mari , Berdiam disini kita cuma menghalang-halangi saja" Dengan hanya beberapa kali lompat, keduanya sudah memisahkan diri tujuh tombak. "Lui Laotee" Chong sie berteriak. “Jangan salah mengerti Aku..."

Siauw Thian tidak menjawab, ia lari terus.

Kiu Cie Sin Kay berdiri bengong, ia lantas- didampingi Liauw Yong dan Ang Hong, yang telak menghampirkannya.

Sembari menghela napas, seng Hoo Tiauw kek berkata: "Dengan perbuatannya ini tanpa merasa Siauw Thian membikin semua anggota Kay Pang ditujuh propinsi Utara berada ditempat kematian "

Chong sie kesohor sabar dan cerdik, akan tetapi sekarang dia putus asa. Sekian lama ia membungkam baru ia kata dengan perlahan- " Kelihatannya kaum pengemis harus mengalami nasib celaka seperti seratus tahun yang lampau. Entah berapa banyak jiwa yang mesti dikurbankan Dulu

hari itu, sebelum Cianpwee Cu sam Piao menjadi ketua, pertempuran darah telah terjadi, bahkan banyak macam ilmu silat yang istimewa menjadi terhilang karenanya, hingga ilmu silat kita menjadi terbelakang dibanding dengan ilmu silat partai-partai lainnya, hingga sampai sekarang ini kita belum dapat mengangkat nama lagi. Tu Cianpwee lemah, ia memberikan tongkat Han tiat thung kepada partai kita cabang selatan, hal itu menyulitkan.

Partai selatan mesti tunduk pada empat lencana Cie tang Leng Hu , entahlah kenyataannya, Lencana yang satu ada pada Cia In Gak. maka itu sekarang kita cuma dapat menanti dulu anak muda itu "

Liauw Yong menggeleng kepala.

"Chong Lao toa" katanya, "walaupun ke empat Cie tang Leng Hu dapat dikumpulkan, belum pasti Koay Tjoen suka tunduk mentaati aturan Kay Pang "

"Aku mengerti itu maka akupun menyangsikannya," kata Chong sie, alisnya berkerut "Koay Cunberkepala besar, kita cuma dapat mencoba menunduki dia dengan menyebut-nyebut namanya guru kita, Aku menyesal untuk Siauw Thian, dia cerdik dan pandai berpikir, kenapa hari ini dia menjadi sebaliknya? sungguh di luar dugaan Aku bukannya tidak ketahui perbuatannya Lie Cin Tong, tetapi sebelum ketahuan apa maksudnya datang ke mari, aku tidak mau sembrono turun tangan bahkan aku memikir baiklah kita menguntit dia untuk mencari tahu halnya Lie Hiocu dan Cian Leng, untuk menolongi mereka. Aku memikir menanti Cia In Gak untuk mengajaknya berdamai.

Ssekarang Lie Cin Tong sudah mati, sulit kita bekerja, terpaksa kita mesti mengambil lain jalan”

"Sudah, Chong Laotoa, jangan kau berduka," kata Ang Hong bersenyum. “Busur sudah disiapkan, tak dapat jemparing tak dilepaskan. Kita masih belum boleh putus asa. Mari kita mengandal perlindungannya arwah Couwsu kita. Lui Siauw Thian bukan anggauta kita, sepak terjangnya tidak ada sangkutannya dengan Partai kita.

Taruh kata In Gak datang dia tetap orang luar, tak dapat ia mencampuri urusan kita, tak dapat dia melampaui batas.

Mana bisa dia turut menjalankan aturan kita? Maka itu tetap kita mesti bekerja sendiri mengandal tenaga kita sendiri saja, sudah, Lao-toa, jangan berduka Mari kita turun gunung menyerep nyerepi Lie Hiocu dan Cian Leng"

Chong sie tetap berduka, ia menghela napas pula. Dengan diam saja ia mengikut ketiga kawan nya meninggalkan gunung Siauw Ceng Liang san itu untuk menuju ke kota raja.

Gunung Barat itu tetap dalam kesunyian, tetap dipermainkan sang angin dan salju, Dilain pihak awan mendung menaungi kota Pakkhia, dimana bencana mengancam kaum Rimba persilatan-

-0000000-BAB 24 Ay Hong Sok berlima telah melakukan perjalanan mereka menuju ke kota raja di mana hawa udara tetap buruk karena dinginnya. Perjalanan ini didesakkan Lo sat Giok-lie Nie Wan Lan, si nona berandalan, hanya sekarang nona itu lagi sangat berduka, sepasang alisnya berkerut, bercokol di atas kudanya, tak henti nya menghela napas, ia tergoda sang asmara-sang cinta yang selama beribu-ribu tahun tetap bermain-main diantara muda mudi.

Giok Siauw Hiapsu Kheng Tiang siu mendampingi nona Nie, senantiasa menghibur, percobaannya itu tidak ada hasilnya.

Tetap di nona terbenam dalam kedukaan, Didepan matanya melainkan berpeta bayangan dari seorang pemuda yang tampan dan gagah, yang menggiurkan hatinya...

Kheng Tiang siu tidak ketahui sebabnya kedukaan sinona, ia cuma mau menerka, tidak berani ia menanyakannya.

Karena keras keinginannya, ia jadi cuma minta keterangan pada Kim Yauw Cong dan Tong-hong Giok Kun.

Akan tetapi ke dua anak muda ini melainkan menjawab ia dengan gelengan kepala...

Didala m partai Ngo Bie pay Tiang Siu bukan sembarang pemuda, Disamping kepandaiannya, ia tampan- Diantara saudara saudara seperguruannya yang wanita, ialah pemuda yang diidam-idamkan, akan tetapi mengenai asmara, matanya melihat keatas, Adalah setelah melihat Nona Nie, pandangan matanya menjadi turun kebawah, ia tidak tahu adakah itu jodoh atau godaan belaka.

Nie Wan Lan mulanya tak mendapat tahu anak muda itu menaruh hati padanya, ia menyangka orang berbaik hati seperti sahabat biasa saja. Baru kemudian ia melihatnya dari sinar mata orang bahwa itulah bukan perhatian yang wajar. Karenanya sendirinya ia pun menjadi berbalik menaruh perhatian juga. Diam-diam ia suka mencuri lihat wajah si anak muda, orang tampan tetapi pada itu tak ada sesuatu yang menarik hati seperti ketampanan In Gak. ia sendiri tidak tahu apa itu "sesuatu." Tiang siu ini cuma cukup menarik seperti Tonghong Giok Kun lain tidak... 

Perjalanan di musim salju itu sulit, hawanya dingin, angin seperti bertiup menahan dan menolak rombongan lima orang ini, akan tetapi mereka maju terus tak perduli kuda mereka meringkik apabila kebetulan angin menyamber keras sekali.

Perjalanan dari An yang ke Ham tam cuma seratus lie lebih akan tetapi sudah lewat tengah hari, yang dilalui baru separuh saja. Ketika itu cuaca guram hingga langit terlihat seperti waktu magrib.

Kheng Hong bersama Kiang Yauw Cong dan Tong hong Giok Kun melakukan perjalanan dengan lebih banyak bungkam, antara mereka seperti tidak ada juga. Lain dengan Kheng Tiang siu, pemuda ini menemani Wan Lan, ada saja yang dia bicarakan, bicara dengan gembira sering sambil tertawa atau bersenyum.

Baru kemudian, melihat cuaca buruk. si orang tua tertawa dan berkata dengan nada tinggi: "Mungkin dalam satu dua hari, angin dan salju tak akan berhenti atau mungkin turunnya salju semakin hebat, Untuk kita si manusia tak apa, tidak demikian dengan kuda kita, yang dapat mati kedinginan-.

Menurut aku si orang tua, baiklah kita singgah didepan, untuk berdiam barang satu atau dua hari, Bukankah kita tak perlu lekas lekas tiba di han tam? Bagaimana pikiran kamu?"

Kata-kata itu benar, anak anak muda mengangguk menyatakan kesetujuan mereka.

Wan Lan ingin lekas tiba dikotaraja untuk dapat bertemu dengan In Gak. akan tetapi melihat sikap kawan kawannya, ia terpaksa menutup mulutnya, ia malu untuk mengutarakan keinginannya berjalan lekas-lekas....

Dalam hidupnya, manusia itu tak akan terhindar dari kedukaan dan bergirang, dari berkumpul dan berpisah, seperti rembulan ada waktunya terang jernih dan gelap guram, demikian pula dengan cuaca, itulah kehendak alam, manusia tak dapat menampiknya.

Wan Lan ditengah jalan ini memikirkan itu, maka bagaikan ngelamun, ia kata dalam hatinya: "Untuk apa aku hidup?

Untuk apakah?" Tanpa merasa, matanya merah, air matanya mengembang Hampir ia menangis- ia menghela napas...

Lagi setengah jam maka di depan mereka terlihat sebuah rumah terpisahnya diri mereka melainkan seratus tombak lebih, Tak tempo lagi, mereka mengeprak kuda mereka, untuk dilarikan ke arah rumah itu.

Kebetulan sekali, itulah rumah penginapan yang pintu dan mereknya diberi berwarna hitam, huruf-huruf mereknya sudah guram, Langsung mereka memasuki pekarangan dalam hingga mereka menampak pekarangan itu lebar, dikiri dan kanannya ada masing-masing sebuah gubuk dimana sudah tercangcang belasan ekor kuda. yang semua kakinya bergedokan, rupanya sebabkan hawa yang dingin sekali.

Mereka lantas menambat binatang tunggangan mereka, untuk lekas masuk ke dalam hotel.

Seorang pelayan menunjuki mereka kamar. Di sini- dalam setiap kamar ada pembaringan tanah dikolong mana ada perapian atas tahunan dengan kotoran binatang sebagai umpannya.

"Hai, panas, panas sekali" kata Wan Lan begitu ia berada didalam kamar, ia lantas mengeluarkan saputangan untuk menyusut peluhnya. Kheng Tiang siu pun merasai hawa panas itu, ia agaknya sangat menaruh perhatian kepada si nona hingga tanpa merasa ia kata: "Nie lie-hiap. kalau hawa panas sekali mengapa kau tidak buka baju?"

si nona menoleh mengawasi dengan mata di buka lebar pada anak muda itu.

Tiang siu tidak mengerti maksud orang, ia heran katanya dalam hati: "Aku bermaksud baik bukan? Aku tidak bermaksud apa-apa, kenapa dia agaknya kurang senang? Ah, orang perempuan dasar.."

Tonghong Giok Kun dan Kiang Yauw Cong tertawa lebar "Bocah, kau tidak pandai bicara" kata mereka menggoda.

Baru sekarang orang Ngo BiePay itu mendusin mukanya lantai menjadi merah, ia membungkam tetapi di dalam hati ia menyesalkan diri sembrono dan tolol.....

Ketika itu pelayan muncul pula, "Eh, mari kau" berkata Ay Hong sok. "Lekas kau menyediakan kami barang makanan. Lekasan" Dan ia menyebutkan barang-barang yang dipesannya. "Baik, tuan," kata pelayan itu yang lantas mengundurkan diri.

Berbareng dengan berlalunya pelayan, di luar pintu berkelebat satu bayangan, Kheng Hong semua tidak memperhatikannya Di tempat penginapan biasa saja tetamu tetamu

mundar- mandir.

Tidak lama mereka sudah mulai minum dan dahar. Hawa dingin membuat mereka minum hingga mereka separuh sinting. Cuma, Nona Nie yang minum sedikit air kata-kata, Ay Hong sok gemar bergurau, ia lantas bicara secara jejaka hingga ramailah mereka tertawa, Wan Lan tertawa sampai ia menekan perut hingga ia menahan napas...

Belum lama pelayan tadi muncul di depanpintu kepalanya ditongolkan, agaknya dia mau bicara tetapi bersangsi. Ay Hong sok melihatnya, ia mengawasi dengan mata disipitkan-

Akhirnya pelayan itu berkata juga: Tuan, bukankah tuan tuan datang kemari dengan menunggang kuda?" segera Kheng Hong menduga jelek. "Benar" sahutnya keras, matanya dipentang. "Kenapa?”

"Celaka" pelayan itu berseru. "Beberapa tetamu yang pergi barusan, mereka pergi dengan menuntun kuda tuan-tuan. Aku heran tetapi aku tidak berani menegur mereka itu..."

Parasnya Kheng Hong menjadi berubah, Kuda saja belum berarti seberapa tetapi nyali besar orang orang itu yang berani mencuri kuda di rumah penginapan dengan caranya itu Bukankah orang sengaja mencari gara-gara? Bukankah orang berbuat begitu guna memancing 

mereka?

"Bagaimana potongan tubuh dan roman mereka?" ia tanya.

Pelayan itu menuturkan sebegitujauh yang dia ingat. "Itulah rombongannya Liong-bu su Kay dan Law Keng Tek”

kata Kiang Yauw Cong,

sebaliknya daripada gusar, Ay Hong sok tertawa. "Bagus bocah" dia berseru, "Bakal ada keramaian."

Baru sekarang dia berlompat ke luar, disusul keempat kawannya, setibanya diluar mereka memperhatikan tapak kaki kuda guna mengetahui ke mana orang telah menuju.

Cuaca mirip magrib memperlihatkan segala apa berwarna abu-abu garam, Angin meniup santer, menerbangkan banyak bunga salju: Di pekarangan luar penginapan tidak nampak orang lainnya salju membuatnya orang sukar membedakan yang mana sawah dan yang mana jalanan, bahkan peng empang penuh salju.

syukur karena masih baru, tapak kuda masih dapat dilihat samar-samar maka Ay Hong sok semua mengikuti itu, setelah jalan tujuh lie kira-kira tampak kaki itu berpencaran ketiga jurusan timur barat dan utara.

"Hmm" orang hendak mencerai- beraikan kita," kata Kheng Hong sambil menghentikan tindakannya. "setelah kita berpencar rupanya mereka pikir gampang untuk menghajar kita. Bagus pikiran mereka itu"

“Kita pulang" kata Wan Lan mulutnya mencibir. “Angin dan saljubeginibesardan kita mengejar bangsat yang tak nampak bayangannya sudah tidak bagus Apakah artinya tidak ada kuda? Bukankah dapat kita membelinya pula? Tak usah kita melayani mereka itu"

Luar biasa sikapnya nona ini hingga Ay Hong sok tertawa riang, jikalau Lo sat Gioklie demikian murah hatinya, ia berkata "aku keterlaluan jikalau aku memaksakan hendak menyusul terus mereka itu. Naah mari kita kembali"

Mereka lantas memutar tubuh untuk pulang mereka perlu berhati-hati. Disaat mereka

hendak berlompat mendadak dari sebuah pohon bwe disamping mereka yang cabangnya banyak dan daunnya gompyok bagaikan payung ada beberapa bayangan abu abu berlompat turun, Kemudian ternyata itulah disebabkan mereka mengenakan baju terbalik.

Bahkan satu diantara nya seorang tua dengan muka berewokan seraya mementang kedua tangannya berlompat kepundak Wan Lan, itulah cara lompat "Elang menyamber kelinci."

Biasanya penyerangan secara demikian diiringi dengan suara angin keras tetapi ketika itu selagi angin utara meniup santer samberan-angin itu tak ada sama sekali Nona Nie tidak merasakan sesuatu sampai orang telah datang dekat tapi sekarang sudah terlambat, pedang yang ditaruh dipundaknya telah kena orang samber.

saking terkejut ia memutar tubuh sambil menyerang mulutnya membentak "Bangsat kau cari mampus" Gagal serangan itu, si orang tua sudah melejit lebih dulu, Dia tertawa terbahak.

"Melihat kau suka mengantar prdang suka aku memberi ampun pada kau, budak" katanya, Ay Hong sok berempat lagi berlompat akan tetapi si orang tua sudah memisahkan diri tujuh atau delapan tombak dimana ia berdiri bersama beberapa kawannya, ia mengawasi sambil bersenyum.

Orang tua itu ialah Hui Thian Auw cu Law Keng Tek bersama empat siluman dari Liong- bun serta beberapa orang Kang ouw lainnya yang tidak dikenal. Mukanya Wan Lan menjadi merah. ia malu dan murka pedangnya itu, Cing song Kiam, pedang pusaka Yan san sie-Nie, yang di wariskan kepadanya yang ia sayang bagaikan jiwanya. Diluar dugaannya, pedang itu dirampas orang secara begini rupa, Maka lupa segala apa ia berlompat kearah si orang tua.

Liong bun ngo Koay berdiri di depan Law Keng Tek. melihat si nona berlompat, mereka bergerak bukan untuk menghalang, justeru buat membuka jalan.

Kheng Tiang siu melihat si nona maju tanpa senjata, ia turut maju seraya menyiapkan serulingnya.

Ay Hong sok bertiga turut maju ketiganya tanpa membuka mulut Kiang Yauw Cong dan Tonghong Giok Kun menghunus pedang mereka, Law Keng Tek tertawa melihat datangnya si nona terus ia lompat kesamping kanan. sembari menyingkir itu kembali ia berkata terbabat

Wan La n tidak mengambilperduliorang menjingkir ia maju pula terus ia menyerang dengan kedua tangannya.

Keng Tek liehay, tidak kena ia diserang, ia tidak membalas menyerang, hanya sembari menuding ia kata bengis "Aku si orang tua telah membilangi kau, memandang pedangmu ini suka aku memberi ampun jiwamu, tetapi karena kau memaksa, tak dapat aku menunjuki kelemahan" sekarang ia menggeraki tangannya untuk menyambut serangan ia mengibas.

Ia tersohor untuk ilmu silatnya yang diberi nama Tiat siu Keng- kong atau tangan Baju Besi.

Benar hebat jago tua ini, begitu terkibas tubuh Wan Lan terhuyung mundur.

Kheng Tiang siu telah tiba, ia terus menyerang dengan serulingnya, dengan begitu dapat ia mencegah si nona kena di desak,

Keng Tek melihat ilmu silat pemuda ini luar biasa, ia menyedot napasnya membikin

dadanya ciut, berbareng dengan itu ia menarik pulang tangannya untuk meogibas kepada pemuda ini.

Tiang siu merasai samberan angin keras dan tajam, ia berlompat ke samping sekira satu tombak habis mana, kakinya menjejak. untuk berlompat pula guna mengulangi serangannya.

Kali ini serulingnya mengasi lihat sinar merah berkelebatan sebab serulingnya itu ditabur dengan sembilan biji kemala merah mirip bintang.

Sembari tertawa, Keng Tek berkelit. Dia tertawa dan kata nyaring: "sekarang ini aku si orang tua mempunyai urusan penting, tak sempat aku melayani kamu sampai kita bertemu lagi saja" Kata kata ini disusul dengan lompatan mundur pesat maka sebentar saja ia sudah menjauhkan diri belasan lombak. dari mana ia terus lari hingga ia lantas seperti menghilang didalam salju.

Wan Lan penasaran sekali, ia lari mengejar, Kheng Tiang sioe berkuatir untuk si nona, ia pun lari akan tetapi ia merandak ketika mendadak dari sampingnya muncul seorang tua dengan tubuh besar dan kekar, umurnya kira-kira enampuluh tahun, kumis-jenggotnya yang putih memain di antara siuran angin, cuma punggungnya agak melengkung. Di dadanya dia memakai sepuluh biji kancing mirip gelang, dia bermata tajam, begitu mengawasi dia menegur: "Kau pernah apa dengan si hweeshio tua KimTeng?"

Panas hatinya pemuda ini, orang sangatjumawa, "Pernah guru" ia menjawab keras, "Apa mau mu menanyakannya?" orang tua itu tertawa bergelak.

"Benar-berar mataku si orang tua tidak keliru" katanya. " Ketika barusan kau menyerang Law Toako aku lantas mengenali jurus jurusnya si kepala keledai gundul Kim Teng itulah jurus jurus dari kepandaian ilmu serulingnya yang kesohor yang bernama Kiu im Hong lo"

Mendengar begitu, Tiang siu terkejut ia tidak nyana orang kenal ilmu serulingnya itu, yang berarti bayangan Merah sembilan suara. "Kau siapa" ia terpaksa menanya.

Mata orang tua itu mendelik, "Aku tidak mau mendustai kau" katanya nyaring, "Aku ialah Kiu cu bo Lia Hoan le Goan Kay yang dulu hari pernah dikalahkan oleh si keledai kepala gundul Kim Teng itu, Aku dapat menimbang, sekarang tidak suka aku melukai kau asal kau dapat meloloskan diri melawan aku sepuluh jurus, kau dapat lari pulang untuk mengasi kabar kepada Kim Teng si gundul itu: Kau bilangi dia nanti setengah tahun lagi aku akan datang sendiri ke gunungnya, guna mencuci maluku dulu hari itu"

Kaget Tiang sioe mengetahui-orang ialah begal tunggal yang kenamaan asal dari gunung

Ong ok san. Memang gurunya pernah memberitahukan liehaynya begal ini.

Dulu hari itu gurunya baru dapat mengalahkan dia sesudah bertempur dua ratus jurus lebih, dikalahkan dengan tipu silat "Tanhong Lay Gie" atau "Burung hong memberi hormat, salah satu jurus dari ilmu seruling kemala itu. Sekarang orang mengancam akan menyateroni lagi setengah tahun, mestinya dia telah memperoleh kemajuan pesat, Meski demikian, untuk nama baik gurunya, tidak dapat ia menunjuk kelemahan ia bersenyum.

"Kiranya kaulah Ie Loosiu" ia kata "Loosiu hendak memberi pengajaran baiklah suka aku menemani."

Ie Goan Kay tertawa menyeringai "Bagus" serunya, ia lantas membawa kedua tangannya kedadanya, lantas ia membuka sepuluh kancing yangtapak jalak itu. maka dilain saat, tangannya sudah mencekal sepasang senjata senjatanya yang putih terang seperti salju.

Tiang siu terkejut melihat senjata itu, yang luar biasa, Kedua ujungnya bundar seperti gelang mirip bulan sebelah, didalamnya ada giginya mirip garu. Gigi gelang yang kiri lempang, gigi gelang yang kanan bengkok seperti gaetan.

Di belakang gelang ada rantainya yang bundar bersambung sembilan mirip duri, dibagian gagangnya ada pelindungnya, seluruhnya senjata aneh itu panjang lima kaki enam dim, jadi dipadu dengan serulingnya, ia kalah separuh.

Jadi itulah gelang Kiu cu bo Lian Hoan, yang berbareng dipakai Ie Goan Kay sebagai julukannya. Meski begitu, sudah terlanjur, ia tidak mau mundur, bahkan ia mendahului menerjang. sinar merahnya lantas berkeredapan, mengikuti ujung seruIingoya mencari pelbagaijalan darah.

I e Goan Kay meski memuji orang dapat bersilat demikian liehay hampir menyamai liehaynya Kim Teng Hweeshio, ia tidak takut, ia lantas melawan. Aneh senjatanya itu, yang nampaknya bergerak secara kacau akan tetapi membuatnya si anak muda bingung, maka segera juga dia terdesak, tak pernah dia dapat merapatkan diri,justeru untuk menotok, dia mesti datang dekat, senjata lawan lebih panjang, dia mesti menjaga dirinya diri senjata aneh itu. Beberapa kali senjata bentrok lantas tangannya terasa bergemetar, bahkan hampir serulingnya tergaet terlepas.

Dengan lekas sudah lewat delapan jurus. Tiang siu bermandikan peluh, hatinya bergelisah. la tahu, lama-lama ia bisa celaka, Maka ia mengharap dapatlah ia melawan sampai sepuluh jurus.

Apa mau ia pun berkuatir untuk keselamatannya Nona Nie. tanpa merasa, semangatnya berkurang.

Tengah bertempur itu mendadak terdengar le Goan Kay tertawa seram, tangan kanannya menyerang.

Melihat demikian, Tiang siu berlompat tinggi untuk menyerang dari atas turun ke bawa bila hendak mendahului.

Kembali le Goan Kay tertawa seram. sambil mendak kedua senjatanya diangkat ke atas

guna menangkis, hanya di tengah jalan gelang nya yang kanan diteruskan ke arah pinggang si anak muda.

Tiang siu terancam bahaya, dengan mengerahkan tenaganya ia mencoba berkelit, buat berjumpalitan, untuk melesat dua tombak jauhnya. itulah gerakan "ikan gabus melompati cintu naga" sementara itu serulingnya bentrok dengan gelang lawan, hingga ia merasakan tangannya sakit sampai di lengan.

le Goan Kay tidak menyerang pula, dia tertawa bergelak gelak.

"Hai, bocah yang baik, nyata kau dapat lolos dari sepuluh jurusku" katanya. "Tidak dapat aku tidak menghormati kata- kataku maka itu lekaslah kau menyingkir.Jikalau lain kali kau bertemu pula denganku tidak nanti kau dapat ampun” Kata- kata itu disambung pula dengan tertawanya yang nyaring dan panjang.

Mukanya Tiang siu menjadi merah, tanpa membuang apa apa ia lari ke arah ke mana Nie Wan Lan lari menyusul Law Keng Tek. la masih mendengar suara tertawa musuhnya. syukur ketika ia bertempur itu disitu tidak ada lain orang kalau tidak tak tahu ia di mana ia mesti menaruh muka...

Wan Lan panas hatinya, ia sangat gusar dan penasaran maka itu ia terus mengejar Law Keng Tek, hingga mereka berlari lari di antara jarak lima atau enam tombak satu dari lain-

Keng Tek mau menggoda si nona, beberapa kali ia menoleh ke belakang sambil tertawa hingga Wan Lan mesti mengertak gigi untuk mencegah dadanya meledak. Tanpa merasa mereka sudah melalui tujuh lie, Pula aneh larinya Keng Tek tidak lurus hanya berliku liku.

Akhirnya Wan Lan merasa heran hingga ia berpikir: "Dengan main uber-uberan begini rupa sampai kapan aku dapat menyandak dia? Terang sekali bangsat tua ini hendak membikin aku roboh saking letih sendiri Tapi tak nanti aku membiarkan dia mendapat hati. Maka itu sembari terus lari mendadak ia berlompat maju, mulutnya berseru, dua tangannya diayun-Maka dua raup jarum Bwee hoa Ciam meluncur ke arah Law Keng Tek.

Hian Thian Auw cu seperti mempunyai mata di punggungnya, ia terus lari berlengkok sana dan berlengkok sini, dengan begitu tidak ada jarum mengenai tubuhnya, la tahu ia diserang dengan senjata rabasia, maka kali ini ia kata bengis: "Budak. kau telengas, kau tidak dapat ampuni"

Ketika itu si nona dapat mendekati maka Keng Tek mengibaskan tangannya yang kiri, dua jari dari tangannya itu diluncurkan ke arah dada.

Di dalam keadaan seperti itu, Nie Wan Lan tidak sempat berdaya lagi, selagi ia mau menangkis kebutan "Tiat siu Kiong kang" ia telah kena didului, tengah ia terhuyung, jeriji tangan lawan mengenai sasarannya, seketika juga ia merasai tubuhnya kaku, kepalanya pusing, matanya berkunang, terus ia roboh tak sadarkan diri. Keng Tek girang bukan main, ia tertawa sendirinya, Lantas ia membungkuk guna mengangkat tubuh si nona, atau ia mendengar dampratan: "Bangsat, jangan kurang ajar" suara itu di susul tibanya satu tubuh seperti bayangan, anginnyapun menyambar keras. ia kaget maka ia membuang tubuhnya untuk berguling ke samping sembari membuang diri ia mengibas.

Ketika membuang diri itu, ia merasai pundaknya terbentur sesuatu. Dengan cepat ia berlompat bangun, ia melihat satu orang berdiri di depannya tangannya memegang pedang yang tadi ia rampas dari Wie Lan, ia mengawasi la mendapatkan satu anak muda yang romannya gagah dan tampan yang sepasang matanya sangat tajam.

Sekelebatan ia iagat keterangannya le Goan Kay halnya si anak muda she Giam yang di ketemukan di Kho tea kauw.

Diam diam ia kaget, tetapi dia membentak: "Bocah, apakah kau si bocah she Giam yang di Kho kea kau sudah mencampuri urusan piauw dari Thian Ma piauw Kiok?"

Anak muda itu menyahut, sabar tetapi suara nya bengis: "Tidak salah. Mata anjingmu tidak salah melihat. Kau sudah tahu aku, mengapa kau tidak mau lantas menggelinding pergi?"

Hoan Thian Auw cu, si Elang Menembusi Langit tertawa lebar.

“Ketahui olehmu. aku si orang she Law mencari kau bukan satu hari" katanya keras, "sekarang kita bertemu disini, itulah kehendak Thian Yang Maha Kuasa orang she Giam, jangan kau harap yang kau nanti dapat pulang dengan masih bernyawa" orang muda itu, yang berpakaian serba hitam, nampaknya tidak senang.

“Mendengar suaramu ini, kau mestinya Hoan Thian Auw-cu Law Keng Tek " dia berkata, "Kita tidak bermusuhan satu pada lain, mau apa kau cari aku? sebaliknya tidak menyangka sekali, kau seorang tua yang kesohor, kau sekarang menghina seorang nona remaja yang lemah Adakah itu perbuatan seorang jago? Apakah tak cukup kau mendapat malu di depan kantor Thian Ma Piauw Kiok?"

-00000000-

Paras-mukanya Keng Tek menjadi merah padam danpucat- pasi bergantian- Malu ia atas disebut-sebut robohnya didepan kantor Thian Ma Piauw Kiok itu. iapun menduga kepada seorang tua yang namanya kesohor tidak tahunya orang begini muda.

"Orang she Giam, besar mulutmu " katanya sengit "sejak aku si orang she Law mendapatkan namaku, belum pernah aku bertemu orang besar kepala seperti kauBaiklah, aku siorang tua ingin belajar kenal dengan keliehayanmu"

Anak muda itu memandang si nona yang rebah diatas es, ia merasa kasihan sekali, tetapi mendengar tantangan orang, ia mengerutkan alis. ia kata: "Law Keng Tek. karena kau seorang kenamaan, aku memandang hormat padamu, siapa tahu kaulah sipenghina wanita

lemah, nyata namamu iiu nama kosong belaka sekarang kau banyak pernik, kau rupanya mau cari mampusmu sendiri Apakah kau tidak percaya aku? Baik. mari kau coba-coba"

Biar bagaimana hati Keng Tek jeri juga, ia bergelisah kalau ia ingat warta yang tersiar perihal Koay CiU sie-seng. si pelajar Tangan Aneh, yang telah meruntuhkan beberapa orang kenamaan, sedang menurut katanya Pek lek Cin Yo Pek. pemuda she Giam ini justeru keponakannya Koay Ciu sie-seng.

Yo Pek itu paling keras tabiatnya, tak suka dia mengalah, terhadap si anak muda dia tampaknya sangat kagum dan memujanya, dari itu taklah dapat disangkal lihaynya pemuda ini. Karena ini ia segera memikir, umpama kala ia gagal, harus ia lekas mengundurkan diri Maka tidak tempo lagi, ia mengebas dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya dipakai meninju ke iga si anak muda. itulah pukulan keras dan cepat sekali.

Serangan ini serangan yang diharap si anak muda. ia memang tidak mau mensia-sia kan waktu, Di sana rebah si nona, terluka, ingin ia lekas menolongi, Nona itu terluka, hawa pun sangat dingin dan dia rebah diatas es, apabila pertolongan tak tepat datangnya, dia dapat bercelaka.

sekarang pun dia bermuka pucat dan napasnya memburu.

Bagaimana kalau sebentar dia beku? Biarnya ia muak terhadap nona itu, menyaksikan keadaan orang, ia terharu juga, timbul rasa kasihannya.

Jadi ia ingin lekas menolongi nona itu, ia mengerutkan alis melihat serangan hebat dari Keng Tek itu, segera ia melayani dengan menggunai tipu - tipu huruf "sia"-" Lolos"

Dari Bie Lek sin Kang.

Begitu berkelit dari kibasan, guna meloloskan diri dari bahaya, ia menggunai lima jari tangannya menyamber ke nadi penyerang itu.

Keng Tek heran serangannya dengan Tangan Baju Besi mendapat perlawanan yang lunak sekali ia tahu bahaya mengancam maka ia hendak lekas-lekas menarik pulang tangannya itu. ia berlaku cepat tetapi ia terlambat. Mendadak ia merasai lengan kanan nya kaku sendirinya, hingga mukanya menjadi pucat.

Terpaksa ia berlompat mundur, tangan kirinya dipakai melindungi tangan kanannya, sedang peluhnya ke luar deras seperti hujan.

Si anak muda bukan memencet nadi atau memukulnya, ia cuma menyentil itulah sentilan dari Tie Liong Cin atau Tangan Menaklukan Naga dari ilmu silat Hian Wan sip Pat Kay. Meski itu sentilan belaka, Keng Tek merasai dia seperti terhajar martil yang berat ribuan kati, sakitnya menelusup ke ulu hatinya hingga dia mesti lekas-lekas menahan napas, guna menutup aliran darahnya. seperti pada dirinya sendiri, dia kata: " Habis sudah Karena aku alpa, aku kena dicurangi kau jikalau lain kali kita bertemu, jikalau bukannya aku yang terbiasa tentulah kau"

Lantas dengan memutar tubuh, dia mengangkat kaki, berlarian keras melenyap di antara salju yang luas.

Si anak muda berpakaian hitam tidak menghiraukan orang kabur, ia lantas menghampirkan si nona, guna menotok dia membebaskannya dari totokan Keng Tek kemudian ia menolak tubuh orang.

Heran si nona berdiam saja, tidak dia mendusin ia mengerutkan alisnya. ia lantas memeriksa nadi, ia meraba hidung nona itu "Buat apa orang perempuan memperlihatkan diri di muka umum?" katanya perlahan, pada dirinya sendiri. Buat apa turut-turutan berebut Kegagahan, Apakah itu bukan berarti mencari malu sendiri?

Ia berdiam, agaknya ia bersangsi, "Bangsat tua itu telengas,sekali, dia rupanya menggunai totokan kematian.,." ia berkata pula sendirinya, "Entah dia menotok di bagian anggauta apa . ..Sekarang ini si nona periu ditolong, tidak dapat aku menyingkir dari pantangan lagi.,."

Maka ia menggunai kedua tangannya membuka kancing baju Wan Lan, untuk memeriksa tubuh orang, buat mencari luka totokan itu. Anehnya, ia gagal mendapatkan luka itu sebaliknya sang angin terus bertiup sang saiju terus beterbangan membikin hawa udara bertambah dingin, Mau atau tidak, bingung juga si anak muda.

Untuk memeriksa terlebih jauh ia membalik tubuh si nona, Kali ini ia terkejut, ia melihat satu titik hitam dipunggung, didekat jalan darah leng kin itulah satu diantara sembilan jalan darah kematian. Kalau tidak, mestinya si nona sudah melayang jiwanya.

Napas Wan Lan menjadi lemah, mulutnya rapat, tak dapat ia mengeluarkan kata-kata. Karena itu, susah untuk nona itu memamah obat, Didalam keadaan seperti itu, dia membutuhkan hawa hangat, atau dia bisa menjadi celaka.

Si anak muda menghela napas, Dengan tangan kanannya ia lantas membekas titik hitam bekas totokan itu. ia mau mengobati menurut ajaran pengobatan dalam kitab Poutee Pweeyap Cin Keng, ia menggetar sedikit tangannya ketika ia mengerahkan tenaga dalamnya.

Cara pengobatan ini memang meminta banyak sekali tenaga dalam. Maka baru kira

sepehirupan teh, ia sudah mengeluarkan banyakpeluh dijidatnya, Ketika kemudian ia mengangkat tangannya, lenyaplah titik hitam itu, sebaliknya ada setetes darah hitam yang bau sekali.

Masih si nona bernapas lemah dan mulutnya tak dapat dibuka.

Sembari mengawasi, anak muda ini menghela napas, ia menggeleng kepala, Lekas-lekas ia merapihkan baju nona itu. ia menjemput pedang Cing song Kiam nona itu, untuk diletaki di tangannya, Kemudian ia berbangkit agaknya ia hendak mengangkat kaki meninggalkan nona itu. ia rupanya percaya, si nona tinggal lemahnya saja, tak ada halangannya untuk ia meninggalkan pergi, ia baru memutar tubuh, atau ia membaliknya pula, ia nampak masgul.

Terang ia tak tega hati. ia kata pula seorang diri: " Kalau lagi beberapa detik dia tetap belum sadar, walaupun dia mendusin, dia bakal terganggu hawa dingin ini. Tidaklah ini percuma saja aku menolongi dia?"

Maka ia mengeluarkan botol kemalanya, untuk menuang tiga butir pil Tiang Cun Tan. ia bejak itu dengan tangan kanannya, untuk dibikin remuk. lalu dengan tangan kirinya ia membuka mulut orang, Dengan cepat ia masukkan obatnya kedalam mulut si nona, mulut mana ia lekas rapatkan pula, supaya obat itu lumer dan masuk sendiri di antara kerongkongan...

selekasnya obat masuk ke dalam perut, muka si nona yang tadi mulai bersemu dadu lantas menjadi pucat sekali, Melihat itu kaget si anak muda.

"Dia telah tersembuhkan luka di dalamnya," katanya, "Mungkinkah ada akibat lainnya?" ia meraba pula hidung bangir nona itu, ia merasakan hembusan yang perlahan, lebih

banyak hembusannya daripada sedotannya. Dalam keadaan seperti itu, ia bertindak cepat tanpa ragu-ragu, Dengan cepat ia mengangkat tubuh si nona. untuk didudukan, kemudian dengan sama sebatnya, ia memasuki pula obat kedalam mulut nona itu, obat mana ia desakkan dengan hawa tenaga dalam dari mulutnya sendiri, inilah hebat karenanya, ia mesti mengeluarkan lagi banyak keringat.

Mendadak si nona mengasi dengar seruan atas mana si anak muda bergerak untuk ber-lompat bangun sebab berbareng dengan itu ia merasa ada samberan angin ke arahnya. ia menekan dengan kedua tangannya, tubuhnya lantas melesat terpisah.

Disana muncul seorang muda, ialah Lok siauw Hiapsu siseruling Kemala Kheng Tiang siu. Pemuda itu menyusul si nona, ia melihat nona itu lagi dipeluki siorang serba hitam

Ia menyangka kepada perbuatan kurang ajar dan jahat, maka ia menjadi marah, sambil berlompat, ia menyerang dengan serulingnya. ia menotok jalan darah beng bun dipunggung.

Begitu berkelit, si anak muda serba hitam memutar tubuh, untuk berbicara, buat mengasi keterangan akan tetapi Tiang siu penasaran, dia sudah lantas lompat menyerang pula, bahkan berulang - ulang, semuanya dengan totokan totokan yang lihay.

Mengetahui yang ia tidak bisa dapat bicara terpaksa si anak muda serba hitam melakukan perlawanan bukan buat menyerang hanya untuk membela diri, Meski ia terancam tetapi dengan cepat sekali ia berhasil merampas serulingnya murid Ngo Bie Pay itu, setelah mana ia kata: "Tuan, kau sembrono sekali! Mengapa sebelum memperoleh keterangan kau menotok kalang kabutan, semua dengan totokan-totokan telengas? orang muda sebagai kau, mana kau dapat menjadi seorang gagah perkasa yang berhati mulia? Dengan memandang si nona, kali ini suka aku memberi ampun padamu"

Ia lantas melemparkan seruling kearah pohon besar di samping mereda jaraknya sepuluh tombak lebih, sampai seruling itu nancap hampir separuhnya, kemudian dengan mengasi dengar suara dingin, ia memutar tubuh untuk berjalan pergi. Tengah Tiang siu tercengang.

si nona berlompat bangun, lantas dia lari cepat sekali ke arah si anak muda serba hitam, sembari mengejar itu terdengar teriak. Katanya: "Engko Cia.. Engko Cia Berhenti . dulu Engko Cia"

Karena dia berlari-lari terus, suaranya itu lantas turut sirap....

Biarnya dia bertubuh enteng dan dapat lari keras, karena dia baru saja mendusin sedang juga dia baru mendapat luka, Nona Wan Lan tidak dapat menyandak anak muda she Giam itu, Malah dengan lekas dia telah kehilangan si anak muda, Maka akhirnya dia berhenti berlari-lari airmatanya mengucur dengan deras.

Tidak ada harapan lagi akan mencari pemuda itu, si engko Cia. Dengan perlahan dengan membawa pedangnya, dia berjalan balik, sekarang dia sebal terhadap Kheng Tiang siu yang dipandang sebagai pengganggu..

Tadi selagi sianak muda dan Law Keng Tek bicara satu dengan lain- Wan Lan sudah sadar, benar tubuhnya lemah tetapi ingatannya terang, maka lantas ia mendapat tahu anak muda itu, penolongnya, justeru orang yang ia harap-harap. yang senantiasa ia impikan Maka itu, ia girang bukan main. sayang tenaganya habis, hingga tak dapat ia menggeraki tubuh untuk berbangkit iapun girang mendapatkan Law Keng Tek kena dikalahkan dan kena dibikin mengangkat kaki.

Lantas ia menggunai akal, ia tidak mau si anak muda lekas lekas berpisah dari padanya Begitulah ia membiarkan ia diberi obat, dibukai bajunya untuk menolongi padanya, ia likat tetapi hatinya terhibur, ia senang bukan main, ia tengah seperti bermimpi manis itu ketika muncul Tiang siu si penggoda.

Ketika ia kembali kepada pemuda she Kheng itu, dia masih berdiri diam dengan tangannya memegangi seruling nya, yang tadi dia cabut dari pohon-"Makhluk tolol" ia mencaci, habis mana ia lantas lari pergi.

Selagi si nona menyusul m Gak, Tiang siu sudah dapat menduga duduknya hal. Yalah pasti nona itu terobohkan Keng Tek dan si anak muda yang menolongi. Ia hanya telah terburu napsu menyerang anak muda itu yang disangkanya ceriwis. ia tidak mau dipersalahkan, ia kata seorang diri: "Siapapun didalam keadaan seperti tadi akan berbuat seperti aku... Aku bermaksud baik. Kau tahu sendiri bagaimana aku mengagumi kau” ia sekarang menduga, anak muda itu tentulah pemuda idam- idamannya Wan Lan.

Pantas si nona terus-terusan berduka, Menduga demikian, ia menjadi berduka sendirinya.

"Hebat anak muda itu," Tiang siu berpikir kapan ia ingat liehay nya orang, "Mungkin guruku tidak seliehay dia. Dia dapat meloloskan diri dari seranganku diapun dengan gampang merampas serulingku. Pantaslah Nona Nie memandang mata padaku..."

Habis memikir demikian, pemuda ini lari, untuk menyusul kawan - kawannya, Tiba di tempat dimana mula kali mereka bertemu musuh, ia tidak melihat Ay Hong sok atau lainnya,

cuma tapak kaki kacau sekait, Terpaksa ia lari pulang ke rumah penginapan.

Di sini juga ia tidak menemukan Kheng Hong serta Kiang Yauw Cong dan Tonghong Giok Kun, hingga keheranannya bertambah. ia lantas minta keterangan dari pelayan-

"Tuan tuan semua belum ada yang kembali pelayan itu menerangkan "Ada juga si nona, dia pulang tergesa-gesa, perginya tergesa-gesa juga, habis salin pakaian, dia berangkat pula, ke arah Ham tan-.."

Tiang siu berdiam, ia memberikan sedikit uang kepada pelayan itu, lantas ia berlalu pergi, menyerbu angin dan salju, menuju ke Ham-tan juga, ia kesepian dan pikirannya kacau . .

.

Besoknya magrib maka ke kota Ciang-peng di dekat kota Pak-khia terlihat datangnya seorang penunggang keledai, kulitnya kuning dan pucat, mukanya rabit disana-sini karena dialah kurban penyakit cacar yang hebat, hingga dia nampak jelek luar biasa.

Ketika itu angin dansaiju sudah kurangan akan tetapi jalan- jalan putih dengan saiju, Tidak ada orang yang lalu-Iintas, cuma ada beberapa ekor anjing jalan bergelandangan penunggang keledai itu berhenti di depan sebuah losmen kecil, setelah menyerahkan keledainya pada pelayan, bergegas-gegas ia bertindak ke dalam.

Tidak lama ia berdiam di dalam sudah terlihat ia ke luar pula berjalan dijalan yang bersaiju, tindakannya acuh tak acuh tapi tujuannya ialah rumahnya say Hoa-To Gui Peng Lok si tabib kenamaan- Tatkala itu didekat-dekat rumahnya si tabib terlihat beberapa orang mundar mandir roman mereka mencurigai Mereka itu terlihat s i penunggang keledai, ia mau percaya mereka

sebenarnya orang orang Rimba persilatan ia heran hingga ia berkata di dalam hatinya: "Mungkin mereka ini mengandung maksud tidak baik terhadap dua keluarga Gui dan Hu . Toh di dalam suratnya Kiu Cie sin Kay ada ditulis kedua anggauta keluarga Hu itu sudah dipindahkan ke tempat yang aman, cuma surat itu tidak menjelaskan apa keluarga Gui turut pindah juga atau tidak? Datangku ini justeru untuk menanyakan ke mana perginya keluarga Hu itu"

Lalu ia berjalan mengikuti dua orang yang berpakaian hitam.

Angin meniup tajam, hawanya dingin sekali, Bunga - bunga salju sering terbang menyampok mukanya si penunggang keledai. Dia tidak menghiraukannya, dia jalan terus, Hari makin guram.

Dua orang dengan pakaian hitam itujaian sambil berbicara ditelinga masing-masing mungkin mereka timbul kecurigaannya, mendadak yang satu membalik tubuh dan menegur si penunggang keledai "He, orang tidak tahu aturan Apakah maksudmu maka kau mengintil di belakang tuan tuan besarmu?"

Si penunggang keledai agaknya heran, dia berhenti dengan tiba-tiba dan mundur setindak. Dia mengawasi membelalak, lalu dia memberi hormat dan menanya: "Tuan, aku lagi jalan- jalan- Aku orang miskin, di rumahku aku tidak mempunyai uang buat membeli beras isteriku menjerit-jerit, anakku menangis tak hentinya saking jengkel, aku ke luar dari rumahku..." Terus ia menarik napas panjang pendek romannya sangat kucal. Orang itu dan kawannya, yang pun berpaling mengawasi tajam, Rupanya mereka percaya keterangan itu, mereka percaya keterangan itu, mereka memutar tubuh pula, guna

meneruskan berjalan-

Si penunggang keledai juga berjalan pula cuma sekarang dia tidak berani mengintil terlalu dekat, Tetapi dia memasang kuping, dia dapat mendengar suara orang.

Kata yang satu: "Terlalu kedua tayjin kita she Ho dan she Tian itu Bangsat she Gui itu sudah kabur bersama semua anggauta keluarganya tetapi kita dimestikan menjagai rumah kosongnya ini, apakah perlunya?" orang yang satunya nampak berduka.

Si penunggang keledai, yang bukan lain daripada Cia In Gak yang sedang menyamar mendengar nyata suara orang maka ia kata dalam hatinya: "Kedua tayjin she Ho dan she Tian itu pastilah Kiong-bun siang Kiat, Tiat pie Kim-kiam Ho sin Hok. dan Im Hong sat Ciang Tian Ban Hiong Memang benar, kalau say-Hoa-To sudah pergi, buat apa orang ditugaskan menjagai rumahnya kosong melompong?..."

Tengah In Gak berpikir itu, ia mendengar suara orang yang satunya lagi: " Kenapa kau begini tolol? Baru kemarin pagi Tian Taydjin memperoleh kabar bahwa tiga anggauta keluarga Hu itu kedapatan disebuah rumah diluar pintu Tay-ang-mui di mana mereka di bikin roboh pulas dengan asap hio. si anjing tua telah kena dibekuk bersama cucunya tapi si cilik lolos, kemudian orang melihatnya si cilik dikecamatan Ciang-peng, maka Tayjin menduga ia tentunya bersembunyi di rumah si orang she Gui.

Dua kali dia telah dicari, dia tidak kedapatan. Maka kita ditugaskan menjaga di sini, supaya bocah itu kelaparan sudah lapar dia pasti akan lari ke luar dari tempatnya sembunyi." Katanya, "kau tahu bocah itupun telah menawan salah seorang kita..." Mendengar sampai disitu, In Gak menjadi gusar, ia lantas lari untuk berlompat ke belakang dua orang, pundak mereka itu masing-masing ia tepuk dengan berbareng. Kedua orang itu kaget dan kesakitan, hingga mereka menjerit.

"Diam." ia membentak bengis.. "Aku cuma hendak tanya kamu: Di mana ditahannya keluarga Hu yang tua dan yang muda itu?"

Dua orang itu menoleh, Mereka lihat orang ialah orang yang tadi mereka tegur. Tadi mereka galak. sekarang mereka tidak berdaya. jalan darah kin Ceng mereka telah ditepuk, mereka kesakitan saking menahan sakit mereka meringis. oleh karena orang berdiam saja, In Gak mendongkol.

"Kenapa kamu membungkam? Apa kamu mau ditotok pula? Nanti aku bikin kamu tersiksa selama tujuh hari tujuh malam. Nanti kamu menyesal yang sekarang kamu tidak sudi bicara" ia menepuk pula membikin mereka itu berjengit, hingga airmata mereka meleleh ke luar,

Mereka kesakitan, mulut mereka rapat terus.

Mereka memang dua orangnya Kiong-bun siang Kiat, Akhirnya yang satu menanya, "Apa kau berani menempur Kiong-bun siang Kiat" Dia mau mengancam. Dia pikir kedua jago itu dimulai dan ditakuti.

"Manusia hina, kamu berani berlagak di depanku?" kata In Gak bengis, "Pergi kau tanya Kiong-bun siang Kiat, mereka itu berani atau tidak melawan aku Koay Ciu sie-seng Jie In?"

Dua orang itu kaget, Baru sekarang mereka ketakutan, Lantas keduanya minta-minta ampun-

" Urusan mereka bukan urusan kami berdua," kata yang satu. "Kami cuma diperintah, kami tidak berdaya, Dua orang itu di kurung di istana sam Pwee lek. ditahannya mereka justru untuk memancing kau, tayhiap. Benar satu bocah dapat lolos dan dia katanya telah menawan seorang kami. Tidak tahu bocah itu berada di mana hanya pernah ada yang lihat dia di Ciang-peng. Kami ditugaskan menjaga di sini, kami tidak tahu kalau ada yang menjaga dilain tempat lagi."

Kata-kata itu berbunyi separuh ancaman agar In Gak jangan membunuh mereka.

In Gak tertawa, ia menekan pundak mereka hingga orang roboh binasa.Justeru itu dari arah belakangnya ja mendengar pertanyaan yang keras : "siapa?" ia terkejut, ia segera memutar tubuh, Tapi ia tidak melihat orang, sunyi disekitarnya. sementara ia berjalan mutar, memeriksa rumahnya say Hoa To. ia tidak melihat siapa juga. Ketika ia memeriksa ke dalam ia mendapatkan rumah kosong- ia memang tidak percaya Hu Ceng mau sembunyi saja di dalam rumah kosong itu.

Untuk itu sibocah terlalu cerdik, Karena ia perlu menolong" Hu Liok Koan berdua, ia meninggalkan rumah say Hoa To, dengan cepat la lari ke kota raja Di losmennya ia tidak mampir lagi.

Selama satu tahun ini, pandangannya in Gak telah berubah, sekarang ia beranggapan asal manusia jahat, dapat ia membunuhnya, "tak usah ia main kasihan-kasihan lagi, ia menganggap. memberi ampun kepada manusia jahat berarti membiarkan bahaya mengeram. ia pikir, biarlah sekeluarga menangis tetapi j angan setiap keluarga di sepanjang jalan menangis semua, ia merasa terlalu banyak manusia busuk.

Karena ini ia tidak memberi

ampun lagi kepada dua orang tadi.

Ia berjalan tanpa menghiraukan saiju, ia melintasi sungai see Hoo yang beku, Ciang peng terpisah dekat dari kota raja, dari itu belum sampai satu jam, tibalah sudah ia ditempat yang dituju.

Pakkhia, kota-raja, ramai luar biasa, In Gak heran, Baru kemudian ia ingat bahwa malam itu malam Capgouwmeh, pesta Goan Siauw, yang dirayakan setiap tanggal lima belas bulan pertama saban tahun, Kecuali orang pada memasang tengloleng, disana-sini tampak rombongan-rombongan lang- liong dan langsay, yaitu mereka yang mempertunjuki permainan naga dan singa, juga chunggee atau panggung terhias yang mengambil lelakon seperti Pat sian Kwee Hay, Delapan Dewa menyeberangi laut.

Telinga dipekakkan suara tambur dan gembreng danpetasan, Di sana sini riuh orang berbicara bersorak dan tertawa, Maka sungguh beda kota raja dengan kota Ciang peng yang sunyi senyap tadi . . .

In Gak pikir, mungkinlah Kiong bun siang Kiat yang melarang penduduk Ciang peng bersukaria...

Senang juga pemuda ini dengan keramaian itu, maka sayang pikirannya ada pada Hu Liok Koan dan cucunya, karena mana ia menjadi memikirkan juga sam Pwee lek. bahwa sebagai orang bangsawan dan mesti mempunyai banyak pahlawan di dalam istananya.

Bukankah ia mau dipancing masuk ke dalam istana pangeran itu? Pasti Kiong bun siang Kiat telah mengatur perangkap umpama thian-Io tee bong -jaring langit dan jala bumi....

Meski ia gagah, In Gak toh masih ingat akan pepatah yang membilang: "nama mashur

mendatangkan kedengkian, pohon besar, memanggil angin." Maka itu, ia tidak berani berlaku sembrono, Karena ini ia ingat Kay Pang, Partai Pengemis. ia ingin mencari salah seorang tukang minta minta, guna dimintai keterangannya supaya dia itu dapat mencari Kiu Cie sin Kay dan Kian Kun Ciu.

Bantuan dua saudara itu dibutuhkan Tapi sudah dua gang ia lewati, ia tidak bertemu dengan seorang pengemis juga. ia heran, ia tidak tahu, bahkan ia tidak menyangka, bahwa ketiga tiangloo Kay Pang sudah mengisiki agar jangan ada pengemis yang muncul di kota raja ini.

"Inilah heran", pikirnya pula, " Untuk kaum pengemis, harian tahun baru dan pesta Cap gouw meh ini, juga setiap tempat pesta atau orang kesusahan adalah lapangan mereka bekerja, Ke mana perginya mereka sekarang? Ah, baiklah aku pergi ke Thian Kio, Tempat itu tak jauh dari sini, di sana tempat ramai, tempat berkumpulnya segala naga dan ular.

Maka berjalanlah ia ke arah Thian Kio, jembatan Langit. Di sana ramailah di segala penjuru, oleh pelbagai pedagang dan tetanggapan, tidak perd uli malam itu angin keras dan hawa dingin. Hanya meski ia berdesak-desak selama satujam, tetap In Gak tidak menemui seorang pengemis jua. ia menjadi mengerutkan alis.

Tentu sekali, saking heran, ia menjadi berpikir keras. ia bercuriga untuk sesuatu, ia pun bergelisah sebab ia ingin sekali lekas dapat menoIongi Liok Koan dan cucunya, Habis daya, ia pergi ke tempat sepi, dari sana ia menuju langsung ke istana sam Pwee Iek. yang letaknya di dalam kota di bagian tenggara, ia berlari keras di sepanjang tepian telaga Kuu Beng ouw.

Itu waktu kira jam tiga, Dari menara tembok kota terdengar tegas suara kentongan si serdadu penjaga,

Tengah In Gak berjalan itu tiba-tiba ia melihat di depan ia seorang lagi dikejar tujuh atau delapan orang lainnya, ia heran. Lantas ia lari ke belakang pohon yang gelap untuk sembunyi sembari mengintai.

Melihat kegesitan orang, teranglah orang yang dikejar itu serta pengejarnya semua bukan sembarang orang Rimba Persilatan, hanya orang yang dikejar nampaknya sudah letih. Pengejarnya yang sekarang terlihat tegas berjumlah delapan, memecah diri dalam dua rombongan, agaknya mereka hendak mengurung. Akhirnya mungkin karena ia merasa tak dapat lari lebih jauh, orang dikejar itu lantas menghentikan tindakannya, sembari berdiri tegak dan tertawa dingin, ia berkata: "Aku Kim Tiong Han, aku tidak menyangka sekali bahwa di dalam istananya sam Pwee lek boleh berkumpul segala penjahat besar"

"Hai, sahabat? berkata seorang, nyaring, "Kematianmu sudah ada di depan matamu tetapi kau masih omong besar Tengah malam buta rata kau memasuki istana beileh, jikalau bukannya penjahat, habis apa? Tak mungkinlah kau orang benar" sutra tertawa tajam terdengar dari mulut orang dikejar itu

"Di mata kami, sam Pwee lek itulah ayah dan ibumu kepada siapa ia mengandal untuk hidupmu, sebaliknya di mataku dialah kera yang berpakaian manusia" katanya tegas.

"Dialah bangsa binatang Kamu tahu, aku si orang she Kim dengan dia bermusuhan besar Mana dapat permusuhan tak dibalaskan? Tapi lantaran ada kamu kawanan anjing piaraan yang

melindungi dia masih beruntung bagus. Pendek kata, asal malam ini aku si orang she Kim tidak mati, j anganlah dia harap dia akan dapat tidur pulas nyenyak"

"Kamijusteru tidak akan membiarkan kau mampus" ada timpalan yang mengejek. Lantas beberapa orang itu maju untuk menyerang.

In Gak lantas mendapat lihat orang-orang itu benar liehay, sebaliknya si orang she Kim tak kurang liehay nya, "ia cuma terserubuti terlalu banyak orang, setelah letih sangat, ia lantas terdesak.

"Mereka orang-orangnya sam Pwee lek merekalah musuh aku," pikir In Gak. Maka lewat lagi beberapa jurus, ia ke luar dari tempatnya sembunyi sembari menghampirkan, ia berseru: "Berhenti" Seruan itu membikin kaget orang-orangnya sam Pwee lek, hampir serentak mereka menghentikan penyerangan mereka, semua pada lompat mundur untuk berpaling dan mengawasi, Mereka semua bermata celi, mereka melihat seorang dengan muka rada luar biasa keluar dari bawah pohon.

" Kenapa kamu tidak memakai aturan Kang ouw?" In Gak menegur, " Kenapa kamu mengeroyok seseorang. Aturan apakah ini?"

Orang orangnya sam Pwee lek itu mengumpulkan diri.

Mereka terkejut menyaksikan kelincahan orang yang menegur mereka ketika orang itu muncul dari tempat gelap. Mereka sebenarnya Taylwee kat Eng, Delapan Garuda dari Istana, yang tertua ialah Tiatpwee Tong Tim.

Asalnya mereka penjahat besar di Bin wat, kedua propinsi Hokkian dan Kwie tang, di

mana mereka biasa mengacau dipesisir, lantaran belakangan terlalu banyak sudah kejahatannya dan mereka bentrok juga dengan pihak lurus, mereka menyingkirkan diri, kebetulan mereka diterima sam Pwee lek. lantas mereka bekerja untuk pangeran itu.

"Tuan, kau tidak ketahui duduknya hal," berkata Tong Tim, sabar. "Ini bukan lagi soal sakit hati kaum Kang ouw. Lagi pula dia telah terkena senjata rahasiaku paku Co-ngo Bun-sim Teng, jikalau dia terlambat diobati, jiwanya bakal melayang, maki itu baiklah dia menyerahkan diri untuk kami ringkus dan bawa pergi, jikalau dia diperiksa pembesar negeri dan kedapatan kesalahannya dapat diperingan, pasti dia akan selamat jiwanya. Dengan dia menyerah maka tugas kami pun selesai"

In Gak tertawa dingin.

"Aku si orang tua biasa tak mendengar sebala alasan sebagai alasan kamu ini" kata nya. "Aku bertindak menurun rasa hatiku, diwaktu aku girang atau gusar. Begitulah perbuatan kamu. Kamu main keroyok. Bukankah kau mengatakan barusan kau sudah menghajar dia dengan paku rahasia Tjoe-ngoBoe-simTeng? sudah kau melukai, kamu main keroyok juga. Perbuatan apakah itu? Maka itu, aku mesti campur tangan jikalau kamu suka memandang muka ku si orang tua, lekas kamu memberikan obat pemunah kamu, untuk menolongi orang ini, supaya kita lantas jangan saling usil lagi Tidakkah itu bagus?"

Tong Tiam menjadi gusar.

"Kau siapa?" dia tanya bengis "Aku si orang she Tong tak percaya kau dapat merebut orang dari tangannya Taylwee kat Eng"

Belum sempat In Gak member jawaban, ia mendengar salah satu Garuda bersiul nyaring

dan lama, walaupun angin keras, suaranya tak tersirnakan. ia lantas lompat kepada orang itu, yang tangannya ia cekal.

orang itu tidak berdiam saja, sambil menarik tangan kanannya, untuk dibebaskan, tangan kirinya membarengi menyerang. Dia menggunai pukulan "Arhat menyembunyikan jari-tangan."

In Gak tidak takut, hanya sekarang ia mendapatkan bukti dikota raja benar banyak orang liehay, Atas serangan itu, ia melepaskan tangan kanannya, sebaliknya, ia menyambut tinju sipenyerang, untuk menangkapnya.

"Aduh" orang itu berteriak hebat, Tak dapat ia menarik pulang tangannya, ia telah disambut si anak muda dengan jurus "Lima gunung menindih naga," suatu jurus dari Hian Wan sippat Kay, Begitu tercekal tangannya itu terasa sakit sekali.

Justeru itu tubuh Kim Tiong Han terhuyung huyung rupanya ia sukar bertahan lagi dari bekerjanya paku beracun Cun ngo Bun sim Teng. Tong Tim licik, sambil melirik pada enam kawannya, yang dia beri isyarat, ia lompat pesat kepada Kim Tiong Han, untuk menotok dua jalan-darahnya, jalan darah gagu dan lupa daratan, setelah mana tubuh orang dipondong, dibawa lari kedaiam rimba, sedang enam kawannya itu sebera menghilang mendahului dia.

Melihat dia di tinggal pergi, orang yang ditangkap In Gak itu mengembeng air matanya. Dia merasa sangat menyesal bahwa orang-orang yang mengaku diri sebagai saudara angkat, yang telah berjanji akan sehidup semati, begitu saja kecintaannya.Jadi merekalah sahabat-sahabat paisu selama tiga puluh tahun, selain menyesal, dia juga berduka dan sakit hatinya.

Hati In Gak sebaliknya lega melihat Kim Tiong Ha n dibawa lari, ia percaya, dengan begitu orang she Kim itu tidak bakal menemui kematiannya, dia pasti bakal diobati. Coba ia menolongnya sekarang, mesti ia repot untuk mengobatinya juga, Maka itu, ketika ia melihat sikap orang tawanannya ini, ia tertawa.

"Sekarang kau mengerti" katanya "Beginiah nasibnya orang yang menjadi begundal Aku tidak tahu tentang persahabatan kamu tetapi terang sudah kamulah bangsa mengutamakan keuntungan, yang tak kenal kemanusiaan. Kau telah tertawan, namamu sudah jatuh, andaikata aku merdekakan kau, adakah mukamu untuk kembali ke istana pangeran majikanmu itu?"

Belum habis sianak muda berkata, mendadak ia mengangkat tubuh orang tawanannya untuk dibawa lari ke dalam rimba, untuk bersembunyi. Mendadak saja ia melihat datangnya empat orang yang mulanya nampak sebagai bayangan, tetapi lekas juga ia mengenalinya sebagai Kholee Kong san sulo, empat jago dari Kong san. orang tawanan itu, yang sebenarnya Lam hay Eng Ban Tay si Garuda Lamhay, kagum untuk mata jeli In Gak. untuk kegesitannya. In Gak tertawa.

“Jikalau aku hendak membinasakan kau, gampang seperti aku membalik telapakan tanganku ini," ia kata." Tapi aku lihat kau rupanya menyesal, suka aku mengampuni jiwamu, sekarang bilanglah di mana dikurungannya Hu Liok Koan berdua, lantas kau merdeka, boleh kau pergi kemana aku suka."

Bang Tay heran hingga ia mengawasi dengan mata membelalak. "Kau jadinya Koay Ciu sie-seng Jie In" kata ia "Aku Beng Tay, aku roboh di tangan kau, aku tidak usah malu."

Koay Ciu sie-seng jauh terlebih lihay daripadaku," kata In Gak bersenyum, "Pelajaranku rendah sekali, tak dapat aku dibandingkan dengan dia."

Bang Tay mengawasi pula, ia melihat roman orang tak mirip dengan lukisannya Kiong-bun siang Kiat, ia mau percaya keterangannya itu.

"Hu Liok Koan berdua dikurung di dalam istana pweelek." katanya kemudian, "hanya di bagian mana mereka dikurungnya benar-benar aku tidak tahu, istana pweelek besar dan luas banyak kamarnya. Ketika baru ditangkap. katanya mereka dibawa ke lauwteng Ban Jie Lauw, entahlah sekarang."

"Siapa di dalam istana yang ketahui hal mereka?" ia tanya, Juga siapakah yang mengeluarkan dan mengatur penangkapan atas diri mereka itu?"

"Karena aku tidak bakal kembali ke istana, baiklah aku omong apa yang aku tahu," kata orang tawanan itu, sikapnya sungguh-sungguh, "Di dalam istana pwee-Iek ada satu orang yang paling tahu segala apa, ialah su-ya Sim Siang Kiu si ahli pemikir. Dia keluaran Thian san, ilmu silatnya liehay, Tentang rencana penangkapan Hu Liok Koan, itu keluarnya dari otaknya Thie Kong, pendeta kepala dari kuil Tin Hong sie sedang pelaksanaannya dipimpin oleh Lie Cin Tong, kepala sersi dari kantor Kiu bun Teetok.

Sudah dua hari Lie Cin Tong lenyap. dia menerbitkan kegemparan di seluruh sembilan pintu kota, orang menduga dia telah menjadi kurban tangan jahat..."

In Gak mengangguk

"Baiklah, sekarang kau boleh pergi," kata nya.

Beng Tay merasakan tubuhnya lemas, sudah begitu hatinyapun tawar, tak lagi ia memikirkan kehidupan mewah. ia mengangkat kepala memandang orang di depannya, matanya menyorotkan sinar bersyukur. Tiba-tiba ia membungkuk, sembari dia kata:

"Aku Beng Tay, seumur hidupku aku berterima kasih kepada kau, loojinkee, Kau rupanya berniat pergi membikin penyelidikan ke istana pweelek. Kalau benar, baiklah kau berhati hati. Di sana setiap tindak ada bahayanya." Habis berkata terus dia bertindak kearah rawa di dalam rimba itu.

Ketika itu turunnya salju sudah berkurang akan tetapi angin Barat daya makin santer, sebagai mana terdengar berisiknya daun-daun pohon- Rawa telah beku seluruhnya hingga tak ada ombaknya.

In Gak berdiri di tepi telaga Kun Beng ouw, ia memikirkan entah bagaimana penderitaannya Hu Wan, si nona, sedang dia lagi menghadapi segala serigala, ia menjadi berkuatir dan bingung.

"Aku mesti bekerja cepat," pikirnya. Maka ia lantas mengambil keputusan iapun lantas bertindak disepanjang tepian telaga, menuju ketembok kota.

Istana sam Pweelek itu. dijaman permulaan kerajaan Ceng, dinamakan Ban seng wan atau Taman Berlaksa Binatang.

Keluarga kaisar gemar pesiar, kegemarannyapun beda daripada kebanyakan orang maka dibangunlah taman itu dimana dipiara juga pelbagai macam binatang berkaki- empat dan burung-burung, untuk mana telah dihamburkan uang berlaksa tahil perak.

Taman ternak itu dibagian kanan- Habis itu baru taman bunga dan pepohonan beraneka warna berikut segala peseban dan ranggonnya yang indah-indah, sempurna perlengkapannya yang di sebut lauwteng Ban Jie Lauw berada di sebelah belakang pelbagai ranggon dan paseban itu.

Lagi ke kanannya ialah Cu Cay Chung, atau Dusun Kemerdekaan, disamping mana dibuat Bouwtan Teng, peseban tanaman bunga-bunga maka setiap musim bunga bukan main harum dan indahnya taman itu.

Disitupun ada lainnya ranggon yang indah namanya Ciang Koan Lauw Di situlah Ratu Cu Hie biasa beristirahat sambil menikmati pemandangan seluruh taman, Bisalah dimengerti luasnya istana berikut pekarangannya Sam Pweelek itu.

Pada malam belum jam empat satu bayangan berkelebat di dalam taman bagian belakang, Angin Utara lagi bertiuc tetap suara gentar kuningan terdengar tegas hanya terdengar menyedihkan, Karena suasana sunyi sekali.

Bayangan itu menuju ke lauwteng Ciang Koan Lauw itu Ketika ia mau menggeraki tubuh, untuk berlompat naik keatasnya, tiba-tiba ada satu bayangan besar berlompat menubruk ke arahnya dengan sangat pesat, Akan tetapi bayaagan yang pertama itu mendak. kedua tangannya diangkat, untuk menyambut Maka "Bruk" bayangan yang bertubuh besar itu mental balik, roboh terbanting, mulutnya mengisi dengan suara terkuing, lalu diam, sebab dia mati seketika.

Itulah seekor anjing asal dari Tibet sifatnya galak, kukunya ada racunnya, setelah

mengenali anjing itu si bayangan nampak terkejut. Cuma sebentar, lantas ia lompat naik keatas sebuah pohon disampingnya ia percaya suara anjing itu bakal menyebabkan datangnya orang.

Dia memangnya Koay Ciu sie-seng Cia In Gak. si pelajar Aneh"

Tepat sekali dugaannya, Baru ia tiba di atas pohon, atau tiga bayangan terlihat berlompat terus dari Ciang Koan Lauw, menuju ke tempat robohnya anjing Tibet itu. Mereka tak dapat terlihat tegas tetapi kesebatan mereka menunjuki mereka orang-orang lihay.

Tidak ada cahaya api disitu, dari itu terang sudah, penjagaan di situ teratur sempuma, hingga apapun berkelisik, lantas si penjaga mendapat tahu. Yang datang itu tiga orang, Mereka memeriksa bangkai anjing.

" Hebat tangannya sipenyerang," berkata yang satu, "Lihat, ususnya anjing ini sampai terudai keluar Rupanya belum sampai pergulatan, anjing ini sudah terhajar binasa, Kita harus waspada."

"Tetapi aku tidak percaya dia dapat lolos dari tangan aku Sim suya" kata seorang sambil tertawa.

"Ah, kiranya dia ini Sim suya yang lihay dan jahat seperti katanya Beng Tay" pikir In Gak diatas pohon.

Sim soeya tidak berdiam saja, ia bersiul perlahan tetapi tegas atas mana terlihat datangnya tiga atau empat ekor anjing lainnya.

Melihat datangnya anjing itu, In Gak merasa dirinya tak aman. Biar bagaimana. bau

manusia bakal dapat diendus kawanan binatang yang hidungnya tajam itu. sukar untuknya menyingkir apabila ia berlaku lambat.

Maka itu ia lantas lompat cepat dan lincah, ia berjumpalitan lalu sebelum ia tiba ditanah, inilah jurus "Kim Liong Jip Hay," atau "Naga emas terjun ke laut," dari tipu silat "Thian Liong Pat sie" atau "Delapan Naga Langit," disusul jurus "Ceng-eng- sam soat" atau "Burung garuda berputar tiga kali". Dengan begitu dilain saat ia sudah berlompat naik kelauwteng "Ciang Koan Lauw itu, dipayonnya. sementara itu beberapa ekor anjing itu telah mulai menggonggong ke arah pohon.

" Ha ha sahabat, bukankah kau cari mampusmu?" kata Sim Siang Kioe tertawa dingin, terus tubuhnya berlompat ke pohon, kedua tangannya menyerang.

Akibatnya itu ialah suara nyaring dan berisik. Beberapa cabang pohon patah dan daunnya rontok. semua jatuh ke bawah.

" Hebat," pikir In Gak. yang melihat liehaynya si ahli pemikir sam Pweelek ini. "Bukankah itupun Bie Lek sin Kang?" ia menduga demikian karena Beng Tay membilangi suya itu keluaran Thian san Pay.

Begitu lekas naik kepohon, Sim suya berlompat turun pula. "Ah" serunya, heran, "Dia hebat sekali. Baru anjing

mencium baunya, dia sudah lantas menghilang..." Jangan-jangan dia menyingkir ke Ciang Koan Lauw"

berkata satu suara tua tetapi keras. itulah suara seorang diantara mereka, "Lu Laosoe bergurau" tertawa Sim suya, bukankah pohon ini terpisah jauh dengan lauwteng? Biarpun aku, tidak dapat aku lompat sampai ke sana... Dia tentu belum lari jauh, mau kita susul" Dan ia mengajak anjingnya, buat mencari.

In Gak berdiam saja, ketika orang sudah pergi jauh, menghilang di sebuah tikungan, baru ia lompat turun, Tepat ketika ia mcng injak tanah, didekatnya ada sebuah bayangan kecil berlompat naik, ia terkejut, lekas-lekas ia menyembunyikan diri di tempat gelap. ia menyangka ia kepergok.

Orang itu berlompat kejendela dimana dia mengintai ke dalam. Sekarang In Gak tak berkuatir lagi, ia kenali orang itu ialah Hu Ceng, si anak Ceng, Maka ia menjadi mengagumi keberanian bocah itu. ia terus mengawasi, tak mau ia segera menegurnya.

Syukur untuk Hu Ceng, la berada di tempat dekat In Gak. kalau tidak, ada kemungkinan dia kepergok sim siang Kioe yang membawa anjing anjing yang tajam hidungnya.

Di dalam kamar itu, Hu Ceng tidak melihat apa apa. ia teraling semacam layar hitam setelah mengawasi sekian lama, ia mengambil putusan yang berani sekali, ia telah pikir, "Tanpa memasuki guanya, mana orang bisa mendapatkan anak harimau." Maka ingin ia membongkar jendela itu.

Walaupun dia seorang bocah, si anak Ceng ini bernyali besaran, Begitu dia ber-pikir, begitu dia bekerja dia segera mengeluarkan sepasang senjatanya, guna dipakai menyongkel jendela ...

In Gak terkejut, ia bingung, Inilah berbahaya. Bukankah istana sam Pweelek ini terjaga kuat? Di samping penjagaan yang tetap. rombonganya sim sang Kioe pun senantiasa meronda, karena itu, ingin ia mencegah kesembronoan bocah itu. Belum lagi ia lompat keluar dari tempatnya sembunyi, atau dari dalam kamar itu ia mendengar suara tertawa terbahak yang disusul: kata-kata nyaring ini : "He, bocah, nyalimu sungguh tak kecil Benar-benar kau datang ke mari"

Berbareng dengan itu, tanpa dicongkel lagi daun jendela lantas terpentang dari dalam situ lompat ke luar satu tubuh yang merupakan bayangan hitam...

Hu Ceng mendengar dan melihat, ketika baru mendengar suara tertawa, ia sudah lompat mundur. Bagian belakang Lauwteng itu mempunyai pekarangan yang teralaskan batu hijau, itulah semacam panggung luas belasan tombak sekitarnya. Kesitu ia mengundurkan diri Tapi si bayangan liehay, dia lompat menyusul sambil terus menyerang secara hebat sekali. In Gak menyaksikan semua itu, ia terkejut. ia mengerti, karena si bayangan sangat liehay, Hu Ceng bisa celaka, ia pun sulit lompat untuk menalangi menangkis, temponya sudah tidak ada Karena tidak ada lain jalan, terpaksa ia mengenai ilmu dari Bie Lek sin-Kang bagian hurup " Lolos." ia meluncurkan kedua tangannya, guna menyambut sambil menolak penyerangan bayangan itu

Meski demikian, serangan bayangan itu tak dapat ditolak seluruhnya, maka tubuh Hu Ceng terhuyung jatuh kebawah panggung yang tinggi itu, selagi jatuh terdengar jeritannya....

In Gak kaget. ia tidak menyangka bayangan itu demikian liehay, Tentu sekali ia ingin menoIongi Hu Ceng. Belum lagi ia berlompat atau dari bawah panggung ia melihat lompat

naiknya satu orang yang terus menghampirkan si bayangan, untuk berkata perlahan.

"Saudara Koay, tahan Siauwtee mempunyai urusan penting untuk dibicarakan dengan kau Habis itu aku lantas hendak berlalu dari sini. "

Kembali In Gak kaget, sekarang bahwa heran, ia melihat nyata orang yang baru naik itu. Dialah ia kenali dengan baik, Dialah Beng Tong Ko gelar sam Ciat Koay-kin, si pengemis Aneh yang pertolongannya ia minta guna mengantarkan kedua bocah she Hu itu ke kekota raja, Bayangan itu pun tampak nyata sekarang.

Dia beroman luar biasa. Dialah seorang pengemis tua dengan muka kisut dan rambut kusut.

Terus In Gak berdiam ditempatnya sembunyi, guna memasang mata dan telinga. ia heran B eng Tiong Ko berada di dalam istana sam Pwelek. Mestinya pengemis ini mempunyai urusan yang mengenakan Kay Pang, partai Pengemis. Sekarang diketahui bayangan itu, yang dipanggil "saudara Koay," ialah Hoan goan-cie Koay Coan, kepala cabang selatan dari Kay Pang. Dia benar menyerang Hu Ceng tetapi sesudahnya ia heran. Seakan Bie Lek sin Kang dari In Gak membuat napasnya tertahan. ia lantas melihat tajam, guna mencari perintang nya itu. Justeru itu munculah Beng Tiang Ko dengan cegahannya.

"Heran," pikirnya, "Beng Tiong Ko kalah liehay jauh dari aku cara bagaimana dia dapat menolak aku? Mungkinkah dia telah mendapat kepandaian ajarannya suatu guru baru yang liehay?"

"Beng Hiantee," ia kata jikalau ada urusan, mari bicarakan di sini saja, tak usah kita pergi kelain tempat Apakah urusan itu ada sangkut paut dengan yang lainnya?"

Beng Tiong Ko menggeleng kepala. "saudara Koay," ia berkata, " dengan kepandaianmu ini, sukarlah dicari orang yang dapat menandingi kau, ada juga hanya beberapa gelintir. Aku hanya hendak memberitahukan kau bahwa tombak terang gampang dijaga, panah gelap sulit ditangkis nya..."

"Aku si pengemis tua tidak percaya ada orang yang berani menyabuti kuku harimau" katanya jumawa .

"Saudara Koay, kau terlalu berbesar hati "kata Tiong Ko, matanya bersinar tajam, suaranya dingin, "Aku Beng Tiong Ko, aku memperoleh kabar jelas sekali. Musuhmu itu sekarang berada dalam garis pangeran Kee Cin ong, dan besok Kee Cin ong akan mengusulkan secara rahasia kepada raja untuk memujikan Kiong bun siang Kiat, agar mereka itu berdua ditugaskan membekukmu jikalau titah sampai dikeluarkan, sam Pweelek juga tidak bakal dapat melindungi kau.

Maka itu menurut aku baiklah kau ajak semua muridmu lekas berlalu dari kota raja ini, lalu kau mendayakan guna membereskan urusan dalam kita. saudara Koay, aku telah bicara, kau mau dengar atau tidak, terserah kepada kau" Nampak Koay Cun kaget, Dia sampai mengeluarkan peluh dingin-

"Beng Hiante" katanya, " benarkah keterangan kau ini? Kau harus ketahui, aku si orang she Koay tidak melanggar undang- undang, aku tidak melanggar aturan. Kenapa si pengemis tua she Chong itu menimbulkan pikiran busuk begini?"

Beng Tiong Ke sudah mau bertindak atau ia memutar tubuh kembali ia tertawa dingin

dan kata: "Kau harus ketahui adanya pepatah yang membilang, siapa tidak kejam dialah bukan seorang laki laki.Chong sie menjadi tiang loo partai kami, dia mana dapat berdiam saja mengawasi kau membikin celaka orang orang pihaknya? oleh karena dia sangat terpaksa, dia terpaksa juga mengambil tindakannya itu Ya engcu Lie Cin Tong sudah mati, urusan dia itu dilimpahkan kepada namamu. Maka kaupikirlah, apakah masih ada harganya untuk kau tinggal tetap disini?.."

Kali, ini, belum lagi suara Tiong Ko berhenti, tubuhnya sudah mencelat mundur, akan dilain saat dia lenyap diantara salju yang guram.

Koay Cun berdiri menjublak. sampai lewat sekian lama, baru dia sadar, Lantas dia membanting kaki giginyapun dikertak. Dia kata sengit: "Aku sumpah tidak mau hidup bersama kau. Jikalau aku tidak menghancurkan dirinya kaum Kay pang tidak mau aku berhenti" Terus dia menepuk tangan tiga kali.

Cepat sekali pintu Ciang Kun Lauw terpentang dari situ muncul beberapa orang, bagaikan bayangan mereka pada bertempat kepada ketua Kay Pang cabang selatan ini, semua berdiri tegak dengan tangan dikasi turun, tandanya mereka bersiap sedia menanti titah.

Dengan mata bersinar tajam Koay Cun mengawasi mereka, kemudia ia kata, nada suaranya dalam: “Sekarang ini kita baru melakukan pertempuran babak yang pertama, lantas kita menerima hajaran, maka itu sekarang juga berlalulah kamu dari kota raja ini, kamu pergi ke puncak Tiang Jin Hong di gunung Tay San dimana kamu menantikan aku. Dua orang yang ditawan disana kamu totok membikin mereka bercacad, habis itu kamu merdekakan mereka?”

Beberapa orang itu mengangguk tanpa membilang apa-apa mereka memutar tubuh, untuk mengangkat kaki.

Ketika itu terdengar gonggongan anjing yang yang terbawa angin, itulah tanda bahwa Sim Siang Kiu dan rombongannya lagi mendatangi kearah Ciang Koan Lauw.

Koay Cun tidak kembali keatas lauwteng, dia bahkan berdiam, tak memperdulikan salju yang menimpah tubuhnya. Ia agaknya berpikir keras.

In Gak bersembunyi di pojok, hatinya tak tenang. Tidak dapat ia berkisar. Ia dapat diserang orang she Koay itu asal ia bergerak. Di lain pihak ia kuatir Sim Suya keburu tiba, anjingnya dia itu dapat membaui ia. Ia pun menguatirkan keselamatannya Hu Ceng. Ia heran kenapa pengemis, ketua Cabang Selatan itu tidak kembali ke lauwteng.

“Mungkin Hu Ceng sudah kabur, mungkin juga dia sembunyi di dalam taman…” si anak muda menduga-duga.

Sekonyong-konyong:

“Saudara Sim, mari sini !”

Itulah suaranya Koay Cun, menyusul mana tubuhnya Sim Siang Kiu mencelat kearahnya bagaikan burung garuda terbang menyambar.

In Gak melihat ia kagum. Itulah lompatan “Thian San Chong Eng Sin-hoat” atau lompatan “Garuda Thian San” suatu ilmu dari Thian san Pay.

Koay Cun menghampirkan suya itu, yang umumnya dikenal sebagai Ok suya atau Suya jahat. Ia lantas berbisik. Habis itu, ia berkata dengan keras: “Untuk sementara ini aku si pengemis hendak menyingkir dulu, Hu Liok Koan berdua baiklah dimerdekakan supaya mereka tak usah nanti mendatangkan ancaman malapetaka bagi Sam Pwee-lek !”

Sim Suya berpikir, dia menyahuti: “Kau benar, saudara Koay, hanya urusan sulit sekali. Sam Pwee-lek kami ketarik dengan si bocah wanita! Baiklah, urusan ini kau serahkan saja padaku si orang she Sim!”

Koay Cun member hormat, lantas dia berlompat pergi, lenyap ditelan gelap.

Sim Siang Kiu batuk-batuk, lantas ia lari kea rah Ban Jie Lauw.

In Gak segera menyusul. Kalau bukan anak muda ini, sukar untuk menguntit suya yang licik itu.

Baru kira sepuluh tombak, mendadak Sim suya berbalik sambil menyerang. Ia rupanya merasakan sesuatu hingga ia menyangka jelek. Hebat serangannya itu yang membikin cabang-cabang pohon dan daun patah dan beterbangan. Tapi ia tidak melihat orang. Ia heran hingga ia berkata seorang diri: “Aneh! Terang aku mendengar suara orang di belakangku!

Kemana dia? Mungkinkah telingaku salah dengar?” Ia menggeleng-geleng kepala. Ia kata pula: “Tak mungkin! Biasanya jarak tiga tombak, jatuhnya daun pun aku dengar nyata! Kenapa malam ini aku gagal?”

In Gak telah mendapat lihat pundak kanan orang bergerak, ia sudah menduga apa bakal terjadi, maka itu ketika tubuh Sim Suya berbalik, ia sudah bertindak dengan Hian Thian Cit Seng Pou, untuk menyembunyikan diri di belakang pohon. Ia bukannya mundur hanya berlompat melewati.

Oleh karena ia tidak mendapatkan apa-apa, Sim Suya berjalan terus.

Setelah orang lewat, In Gak menguntit pula. Ban Jie Lauw berada didepan mata. Lauwteng itu nampaknya luar biasa, apapula di waktu gelap seperti itu, hingga tak terlihat tegas.

Sim Siang Kiu pergi kesamping, disini mendadak dia mendak, terus dia lompat keatas.

Setelah mengawasi sekian lama, In Gak lauwteng sdikit lebih nyata, tetapi sebab si orang she Sim sudah lompat naik, tidak dapat ia mengawasi lebih lama pula. Ia pun turut lompat, guna mengintil terus di belakang juru pemikir itu.

Sim Suya maju terus, ia bagaikan ngelamun. Ia seperti tak mengetahui ada orang menguntitnya. Dimuka sebuah pintu besi yang hitam, ia mengetuk tiga kali lama dan tiga kali pendek, disusul dengan tujuh kali pendek dan tujuh kali lama.

Dengan tiba-tiba saja, pintu itu terpentang.

Dengan tubuh tegak dan tindakan tetap, Sim Suya berjalan masuk.

In Gak memperlihatkan kegesitannya, ia turut masuk sambil berlompat. Tiba didalam, ia mendapati terowongan atau lorong gelap. Tiada ada penjaga untuk pintu itu. Baru ia masuk, atau pintu sudah tertutup pula sendirinya, suaranya menggabruk keras. Sendirinya ia terkejut. Kalau jalan keluar tertutup, itulah berbahaya. Ia tengah memasuki kedung naga dan gua harimau. Terpaksa ia menenteramkan diri, terus ia menyusul si Suya yang sudah bertindak jauh disebelah depan.

Baru bertindak lima atau enam tindak. In Gak mendengar suara berkeresek. Ia terkejut. hatinya tak enak. Lekas-lekas ia menutup diri dengan persiapan Bie Lek Sin Kang. Ia baru bersiap atau pelbagai senjata rahasia sudah menyerang kearahnya. Ia lantas menggeraki kedua tangannya di depan mukanya. Untuk tubuhnya, ia tidak menguatirkan suatu apa.

Ketika itu Sim Siang Kiu sudah menghentikan tindakannya, terus dia tertawa bergelak, sambil memutar tubuh, ia menyerang dengan kedua tangannya. Itulah pukulan angin yang liehay. Ia membuatnya In Gak mundur satu tindak.

Sim Suya sangat cerdik, dia banyak pengalamannya. Di dalam hal ini In Gak kalah setingkat. Si anak muda tidak menyangka bahwa orang telah menduga dan bercuriga, lalu orang berlagak pilon, sampai ia dipancing masuk kedalam pintu rahasia itu.

In Gak gusar karena ia kena dijebak, maka itu sudah terlanjur, ia hendak menyerang Suya itu. Ia baru bertindak atau kakinya menginjak lantai, yang enteng, sebelum ia sempat berdaya,

Tubuhnya terjerumus jatuh, terus turun ke bawah bagaikan layangan putus.

Sim Suya memencet pesawat rahasia tepat waktunya.

In Gak sampai dibawah dengan selamat, hanya sekarang ia melihat dirinya berada dalam sebuah kamar besi, cuma ada dua buah lubang kecil peranti menginati atau memasuki barang makanan. Ia kaget dan menyesal.

Di dalam liang perangkap itu ada sebatang lilin yang menyalah, dari itu si anak muda dapat meiihat serluruh ruang dengan nyata. Untuk herannya, buat girangnya juga, disitu ia mendapatkan Hu Liok Koan bersama Hu Wan, keduanya lagi tidur nyenyak, napas di hidung mereka berjalan perlahan.

Rambut si nona kusut, mukanya pucat dan kucal, rupanya dia sangat menderita. Melihat keadaan nona itu, ia mengembang air-matanya. Ia berkasihan dan berduka.

Hu Liok Koan tidur madap kedalam, tak terlihat wajahnya.

Tubuh mereka itu terkerebong selimut tipis, lantaran ruang itu tidak masuk angin, hawa tidak terlalu dingin.

In Gak menghampirkan si orang tua, ia meraba pundaknya. “Hu taiyhiap, bangun! Bagun !” Ia memanggil. Hu Liok Koan mendusin dengan kaget, ia berlompat bangun, sambil berdiri tegak ia mengawasi orang yang membanguninya.

Nona Wan pun turut tersadar, ia mengucek-ucek matanya, ketika ia berbangkit dan melihat pedang di punggung si anak muda, ia berseru: “Itu toh Tay Ho kiam?”

Ia lantas lompat guna merampas pedang itu.

In Gak berlaku sebat, ia memutar tubuh, tangannya diulur, guna memapaki tangan si nona. Maka tangannya Hu wan lantas kena tercekal. Dia terkejut, apapula dia melihat muka orang…orang dengan usia pertengahan dan romannya jelek luar biasa. Mukanya menjadi merah, saking malu. Lantas dia berontak.

Hu Liok Koan juga gusar melihat cucunya dipegangi orang itu. Ia hendak menerjang atau orang itu membawa jeriji tangannya kemulut untuk mengasi dengar suaranya: “Ssst! Diam, nona, ada orang datang!” Sembari berkata begitu, ia melepaskan cekalannya.

Segera terdengar tegas tindakan kaki, suaranya berat, rasanya menindih hati, lantas suara itu disusul bergeraknya pintu kamar yang begitu terbuka lantas mengasi lihat sebuah muka yang kurus dengan sepasang kumis tikusnya, dengan sepasang matanya sangat tajam. Sebab dialah Ok-Suya Sim Siang Kiu. Lantas suya itu tertawa nyaring sampai lama baru ia berhenti, untuk terus menegur:

“Sahabat, kau anggap aku Sim Siang Kiu orang macam apa? Biarnya kau cerdik mirip hantu, kau tidak bakal lolos dari telapakan tanganku, bagaimana kau merasa sekarang?”

Hu Liok Koan dan cucunya berdiam. Mereka heran dan bergelisah. Sebaliknya dari berkuatir, In Gak bersenyum. Ia tahu, didalam keadaan .seperti itu, tak dapat ia memikir takut dan kecil hati. Habis bersenyum, ia memperlihatkan roman dingin.

“Sim Siang Kiu, aku kenal kau siapa!" ia kata, menjawab. “Apakah kau merasa girang karena perangkapmu ini berjalan baik? Sebaliknya sahabat! Sam Pwee-Iek biasa menculik dan merampas orang, dia biasa mengganggu anak-anak perempuan rakyat, perbuatannya ia telah diketahui Kee Cin- ong! Sampai sebegitu jauh Pangeran itu masih berdiam saja, masih dia tidak mau melaporkan kepada raja, sebab dia masih ingat dia dan pwee-lek sama-sama orang bangsawan. Baiklah kau ketahui, aku dititahkan Kee Cin-ong menolongi Hu Liok Koan dan cucunya. Jikalau aku datang dan terus menanyakan kau, kau dapat menyangkal, tetapi disini, sekarang ini, buktinya telah ada! Sim Siang Kiu, apa kau mau bilang sekarang?"

Mukanya Suya itu berubah menjadi pucat. Dibawa-bawanya nama Kee Cin-ong membuatnya kaget. Inilah ia tidak sangka. Baru aja ia mendengar kisikan Koay Cun bahwa pangeran itu berniat mengajukan laporan kepada raja, guna mengadui sepak terjangnya Sam Pwee-lek. Saking kaget, ia berdiam saja, melainkan biji matanya memain tak hentinya.

In Gak dapat menduga hati orang, ia tertawa berkakak. “Sim Siang Kiu!” katanya, “Jangan sekali kau memikir akal

membunuh orang untuk melenyapkan bukti atau saksi! Baiklah aku omong terus terang padamu! Sekitar taman ini sudah diawasi oleh orang-orangnya Kee Cin-ong! Asal sebentar jam lima aku belum juga keluar dari sini! Hmm! Sim Siang Kiu, kau pikirlah, apa akan jadi akibatnya! Kau tanyalah dirimu sendiri, apakah kau dapat bertanggungjawab untuk Sam Pwee-lek?”

Selagi bicara itu, In Gak menatap tajam, sinar matanya berpengaruh. Dadanya Sim Siang Kiu berdebaran. Ia mencoba menyadarkan diri.

“Sahabat!” katanya, tak lagi sebengis tadi. “Sahabat, cara bagaimana aku si orang she Sim dapat mengetahui omongan kau ini benar seluruhnya? Umpama kata aku memberanikan diri memerdekakan Hu Liok Koan berdua, itu tidak bakal menjamin Kee Cin-ong tak mengajukan urusan kehadapan Seri Baginda Raja…”

Hati Liok Koan dan cucunya berdebaran. Benarkah mereka mau dimerdekakan?

In Gak tahu, ia tengah menunggang harimau, tak dapat ia menggertak setengah jalan. Maka ia terus berlaku tenang. Ia bersenyum ketika ia berkata pula: “Mudah, Sim Siang Kiu!

Jikalau kau tidak percaya aku, jangan kau merdekakan mereka, jangan kau lepas aku! Kalau sebentar firman keluar, maka Kiong-bun Sam Kiat bakal datang kemari untuk meminta orang! Sampai itu waktu, meskipun Kiong-bun Sam Kiat itu golonganmu, mereka tak nanti dapat jalan untuk menolongi kau!”

Suara itu berat, nadanya mengancam.

Sim Suya boleh licik, tetapi dia terjatuh kedalam tangan orang. Ia takut cukongnya bercelaka, ia kuatir ia tidak dapat menjamin keselamatan dirinya. Tanpa merasa, ia mengeluarkan peluh dingin. Tapi, ia mencoba menenangkan diri, ia paksa tertawa manis.

“Sahabat, aku si orang she Sim bukannya membilang tidak sudi memerdekakan” katanya sabar. “Hanya kalau aku merdekakan Hu Liok Koan berdua, apabila Kee Cin-ong meminta mereka sebagai saksi bagaimana? Aku makan gaji, dari itu aku mesti bersetia terhadap sam Pwee-lek! Untukku sendiri, gampang buat aku mengangkat kaki dari sini, hanya dengan begitu Sim Siang Kiu lantas menjadi seorang tidak setia dan pengecut? Tidakkah itu berarti ludasnya nama baikku? Sahabat! Kau bilang benar atau tidak?” “Hmm, sungguh kau licik!” In Gak mendamprat dalam hati. Tapi ia mesti bersandiwara terus. Ia berlenggak dan tertawa nyaring:

“Kaum Rimba Persilatan paling mengutamakan kata-kata” kata ia, “Maka itu jikalau kau percaya aku, suka aku member janjiku, asal kau merdekakan Hu Liok Koan berdua, aku

tanggung aku tidak akan mengganggu Sam Pwee-lek!

Jikalau kau menunggu sampai datangnya sang pagi, nah, tak dapat aku bilang apa-apa lagi!" Ia berdiam sebentar, ia tertawa pula. Ia melanjuti, tegas-tegas: „Baiklah kau ketahui, kamar besi ini tak dapat mengurung aku!"

Mendadak In Gak menghunus pedang Thay Ho Kiam, sinarnya berkelebat, atau tahu-tahu ujungnya sudah nancap ditembok besi, kapan ia menggeraki tangannya, untuk menggores, besi itu terpotong dan jatuh sepotong bunder. Ia tertawa pula. Lagi-lagi ia kata: „Kau lihat, Sim Suya! Apakah faedahnya kamar besi ini?"

Ok Suya tidak menjawab, hanya ia mencelat mundur, hingga ia tak nampak lagi, tetapi disamping itu, lantas terdengar suara berkelisik, lantas tembok besi dari kamar itu tampak naik terkerek. Disana ia terlihat dengan senyuman paksaan, senyuman dibikin-bikin.

Liok Koan, terutama si Nona Wan, heran bukan main.

Mereka mendengar suara orang usia

pertengahan itu berlagu seperti suara orang kota raja tetapi mereka tetap tidak mengenali. Si

nona hanya heran, kenapa pedang Thay Ho Kiam berada ditangan dia itu

Segera terdengar pula suara Sim Siang Kiu, suara yang didului tertawanya. Ia juga tidak lagi menyebut sahabat hanya tuan. Ia kata: „Tuan, aku Sim Siang Kiu, belum pernah aku tunduk terhadap siapa juga, baru hari ini aku takluk terhadapmu! Sekarang ini taklah menjadi soal omonganmu ini benar atau palsu, aku tetap menyerah kepadamu. Kau benar menang seurat daripada aku sedang di-kota raja ini tak ada orang di-atasanku, aku disebut si nomor satu! Sekarang julukan itu suka aku serahkan padamu!"

In Gak bersenyum. Tapi ia heran. Kenapa disitu tidak ada lain orang? Katanya Ban Jie Lauw terjaga kuat. Ia bersikap wajar, dengan tenang la bertindak keluar.

“Tuan," kata pula Siang Kiu tertawa, “Jikalau kau suka, ingin aku mendapat tahu she dan namamu yang mulia."

In Gak tertawa.

“Akulah si orang muda dari kaum Kang Ouw," katanya,

„kepandaianku juga tidak berarti, mana dapat aku disamakan dengan kau? Tetapi kau baik sekali, kau telah menanyakannya, tidak berani aku tidak memberitahu. Aku she Gouw, namaku Ben g,"

Sengaja In Gak menyebut nama palsu itu. (Didalam Kouyu, nama itu bersuara „wu ming," sama dengan „wu ming" yang berarti „tidak punya nama." Tapi dalam keadaan seperti itu waktu, Siang Kiu tidak memikir dalam-dalam, ia percaya keterangan itu.

„Oh, Gouw Tayhiap!" katanya memuji. „Aku merasa beruntung dengan pertemuan kita ini!"

Hu Liok Koan dan Hu Wan bingung berbareng girang.

Mereka mengikuti si orang tidak dikenal yang bernama Gouw Beng ini keluar dari kamar perangkap itu. Didalam taman segera mereka merasakan dinginnya hawa udara, lantaran sang angin bekerja terus, bunga salju pun terus beterbangan.

Ketika itu sudah mendekati jam lima, hanya cuaca masih gelap.

In Gak berpaling pada Siang Kiu, sembari memberi hormat ia kata: „Aku si orang she Gouw masih harus mengantar mereka ini keluar, habis itu aku mesti lekas-lekas pulang untuk memberi laporan, karena itu tak usahlah Suya mengantar  kami lagi!"

Siang Kiu kata sudah selayaknya dia mengantar, dia memaksa mengantarkan.

Dari lauwteng Ban Jie Lauw itu, orang berlalu tanpa menemui siapa juga. Itulah heran. Inilah tindakannya Siang Kiu. Ia menyuruh semua orang menyingkir. Ia juga kuatir Liok Koan atau cucunya nanti gusar dan menerbitkan gara-gara sebab sejak ditawan, mereka menderita, hati mereka mestinya panas,

Sekeluarnya dari pekarangan istana, lantas In Gak ingat Kim Tiong Han. Tadi ia melupakan orang itu sebab pikirannya dipusatkan Liok Koan dan Hu Wan. Ia lantas dapat akal. Maka ia memandang Siang Kiu sambil bersenyum dan berkata: „Sim Suya, aku masih mau minta satu hal yang mungkin kurang pantas. Maukah kau meluluskannya?”

Siang Kiu heran hingga ia melengak. Ia menduga jelek.

„Apakah titahmu itu, Gouw Tayhiap?" ia tanya, ia paksa tertawa. „Silahkan jelaskan. Asal yang aku sanggup, pasti aku akan menerimanya."

In Gak mengangguk.

„Bagus, Suyal" katanya. Ia bersikap sungguh-sungguh.

„Ketika aku si orang she Gouw datang kemari, aku mendapatkan Kim Tiong Han yang ditawan oleh Taylwee Pat Eng dari istana pwee-lek. Dengan memandang mukaku, sukakah Suya sekalian memerdekakan dia?"

Meski ia minta begitu, In Gak tidak menanti jawaban, seraya memutar tubuh, ia bertindak untuk berlalu.

Sim Siang Kiu mengawasi, ia menghela napas. Didalam hatinya ia puji orang sangat pintar. Memanglah ajaran dari kitab perangnya Sun Bu Cu untuk menyerang musuh pada hatinya — pikirannya — supaya musuh menyerah tanpa berperang lagi.

In Gak berlalu bukannya tanpa berpikir. Ia mau percaya Siang Kiu tidak bakal menguntit atau mengirim orang menguntitnya, meski begitu, ia bersiap sedia. Maka ia mengajak Liok Koan dan si nona berlalu dengan cepat, tujuannya yaitu pintu kota Say-tit-mui. Selama ditengah jalan ini, ia terus membungkam. Beberapa kali Liok Koan hendak mengucapkan terima kasih, ia mencegah. Si nona pun tidak berdaya untuk mengajak bicara.
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Menuntut Balas Jilid 10 : Kay pang dipecah belah penguasa"

Post a Comment

close