Menuntut Balas Jilid 07 : Tiga murid durhaka Poo-tan siansu

Mode Malam
Jilid 7 Tiga murid durhaka Poo-tan siansu 

Karena berpikir demikian, pemuda ini bagaikan melamun. ia mendusin ketika kembang saiju menyampok mukanya, hingga ia merasakan dingin sekali. Ketika ia mengawasi Yan Bun, si nona tengah mengulangi latihannya, ia merasa puas melihat kemajuan nona itu, ia tidak mau mengganggu lantas ia bertindak cepat ke dalam gua.

Belum lama, Yan Bun masuk dengan menenteng pedangnya, dahinya penuh peluh.

"Ah, engko In, kau sungguh jahat" katanya manja. "kau enak-enakan bersembunyi disini"

Pemuda itu tertawa.

"Enak-enakan?" tanyanya, "Aku bikin apakah? Aku cuma beristirahat."

YanBun tersenyum ia merasa letih sekali.

Tanpa bilang apa-apa lagi, ia menjatuhkan diri, untuk rebah di dada si anak muda, matanya dipejamkan.

Jie In tertawa, hatinya terbuka, ia merasa kasihan berbareng menyayangi nona ini.

"Kau bangun," katanya, "Mari aku ajari kau ilmu menyalurkan napas yang dinamakan "Kwie Goau Touw-lap Co Kang", Dengan ini bukan saja keletihanmu bakal segera lenyap. bahkan asal kau melatihnya terus setiap pagi dan malam tanpa malas-malasan, selewatnya tiga hari tenagamu bakal bertambah satu kali lipat."

YanBun mementang kedua matanya yang jeli, yang hidup sekali, ia tertawa.

"Apa?" katanya, "Kau mempunyai kepandaian demikian banyak? Dapatkah kau menjadi guru orang?"

Jie In pun tertawa.

"Sudah, jangan bergurau, mari mulai" ia berkata, "Kau dengar, inilah teorinya, ingat baik-baik, Kau mesti duduk tegak begini, selagi berlatih, singkirkan segala pikiran lain-nya, supaya kau tak terganggu segala sesuatu yang sesat. Pusatkan perhatianmu, salurkan napasmu dengan perlahan dan beraturan."

YanBun tertawa tetapi ia menurut, ia lantas duduk diam dan matanya dirapatkan, hingga si anak muda dapat memandang dengan bebas wajahnya yang cantik.

cia In Gak sebatang kara semenjak masih kecil sekali, maka itu ia berdahaga untuk rawatan lemah lembut dan kasih sayang seorang ibu, Benar ia disayangi ayahnya, tetapi suatu ayah itu tak dapat dibandingkan dengan suatu ibu.

Lagi pula ayahnya telah terluka dan mesti merawat dirinya, Baru di dalam kantor sam Eng Piauw Kiok ia bertemu Nie Wan Lan, nona itu menarik perhatian nya, Begitu pula Lian Cu dan Goat Go dan yang lainnya, Syukur ia telah terdidik sempurna oleh B eng Liang Taysu, kalau tidak. mungkin ia tersesat oleh godaan nona-nona itu. " cinta itu benar-benar aneh," pikir nya.

"Menyinta dan dicintai. Belum lama aku merantau, aku sudah lantas menemui lima orang nona. Kalau aku tetap memikirkan mereka, mana dapat aku menuntut balas?

Bukankah ini yang dinamakan iblis penggoda? Tidak. tidak. aku mesti dapat mengendalikan diri. Guruku telah berpesan, tidak boleh aku merasa puas dan bangga akan diri sendiri. Belum lagi aku selesai menuntut balas, aku telah mendapatkan musuh-musuh baru. Bagaimana kesudahannya nanti."

"Eh, engko In, kau tengah memikirkan apa?" suara YanBun menyadarkan si anak mu-da, "Kenapa kau diam saja?"

Nona itu membuka matanya dan mengawasi heran.

Jie In balik memandang, ia melihat paras si nona bersemu dadu, ia girang, itulah hasil latihan nona itu, walaupun belum lama. "Adik Bun, apakah keletihanmu sudah hilang?" tanyanya, tertawa. Nona itu tertawa, ia menyingkap rambut di dahinya, "Benar, engko In, latihan bersemedhi ini berfaedah sekali," sahutnya, "Sekarang aku merasa tidak saja letihku lenyap. juga aku menjadi segar sekali. Rasanya hatiku bersih."

Anak muda itu mengangguk ia puas. "Sekarang kau berlatihlah terus," katanya.

YanBun menurut, ia berlatih sampai sang magrib tiba, diwaktu mana mereka menangsel perut, lalu mengobrol dengan gembira, sampai datang waktunya jagat menjadi gelap. justru itu tiba-tiba terdengarlah satu suara nyaring, yang memecahkan kesunyian. Habis suara itu yang mendatangkan rasa seram dan kecil hati. Maka YanBun menggigil sendirinya, terus ia sesapkan tubuhnya di dada si anak muda.

Jie In berdiam, telinganya dipasang, suara itu, siulan yang luar biasa, mendatangkan kecurigaanny a .

"Ada orang datang ke mari," katanya, berbisik "Dari siulannya tadi, teranglah ia

seorang yang mahir tenaga dalamnya."

Lantas siulan itu terdengar pula, terdengar lagi, mendatangi semakin dekat, sampai dapat diduga orangnya telah berada di sebelah kananpuncak. Di situ barulah suara itu berhenti.

"Adik Bun, kau tunggulah, " Jie In berbisik pula di telinga si nona dalam rangkulannya. "Aku mau lihat siapa dia itu, jangan kau pergi dari sini"

Lantas anak muda ini bangkit berdiri dan bertindak keluar gua, ia lantas melihat dua orang berdiri di atas puncak. tampaknya seperti bayangan hitam, Yang seorang membung- kuk. agaknya dia mencari sesuatu, orang yang kedua mengayun tangannya, melemparkan sesuatu yang bercahaya terang, di tempat sejauh lima kaki, benda itu meletus sendirinya memancarkan sinar terang warna biru, memancar ke empat penjuru. Maka sekarang terlihat tegas orang yang melemparkan kembang api itu ialah seorang tua dengan alis dan kumis ubanan, tubuhnya tinggi dan besar, romannya agak bengis, Yang membungkuk itu bertubuh jangkung dan kurus.

"Di sini, lo-tongke" berkata si jangkung kurus itu. "Lihatlah tapak-tapak kaki kacau balau ini. Pasti di sini telah terjadi pertempuran itu. Benar ada gangguan saiju, tetapi tapak- tapak ini masih terlihat tegas, mungkin tapak ini terjadi sejak tiga jam yang lalu. Anehnya, lao-su mati di sini belum ada setengah jam."

Jie In memuji tajamnya mata si jangkung kurub, ia hanya heran yang ia tidak mengetahui bahwa tadi, setengah jam yang lalu, ada orang terbinasa di puncak itu. juga, entah siapa si "lao-su" itu, si "nomor empat", demikian juga ini orang tua dan si jangkung kurus.

Lantas terdengar suara si orang tua, suara yang keras, menyatakan kegusarannya: "Kalau ada tapak kakinya pasti ada orangnya Mari kita susul Aku mau lihat dia dapat lolos atau tidak dari tangan aku Kouw-louw-pian Lou Kui"

Ketika itu cahaya terang sudah mulai sirna, maka Lou Kui mengayun pula tangannya, hingga terlihatpula cahaya biru seperti tadi, hanya berbareng dengan itu, kedua orang itu lantas lari ke arah lembah.

Sekarang tahulah Jie In, orang tua itu ialah si Cambuk Tengkorak, ia lantas hendak melihat siapa itu lao-su yang telah menjadi mayat, tetapi belum lagi ia mengangkat kaki, pundaknya terasa tertekan oleh jari-jari yang lembut. ia lantas menoleh, maka terlihatlah YanBun berdiri di belakangnya dengan wajah tersungging senyuman.

"Adik Bun, mari kita lihat mayat siapa itu di puncak." la berkata, tersenyum juga sambil balas mencekal tangan si nona.

YanBun setuju, ia mengangguk. Lantas keduanya berlari- lari cepat sekali. Tidak lama kemudian sampailah mereka di puncak tempat Lou Kui berdua tadi. Benarlah, di situ meraka mendapatkan satu tubuh yang telah tak ber jiwa lagi, yang rebah dengan roman bengis, hanya karena tidak ada penerangan, sukar untuk melihat tegas wajahnya. Pada mayat itu juga tidak terlihat tanda-tanda luka.

"Lou Kui muncul di sini, ia pasti ada hubungannya dengan tiat-ciu-Ieng di tanganmu, adik Bun," kata Jie In kemudian. "Hanya mayat ini, entah siapa dia."

-00000000-

Yan B un tidak menyahuti, ia mengeluarkan hwee-ie-cu, begitu ia mengayun tangan- ny a, bahan api itu lantas menyala. Jie In terkejut, ia merampas, terus ia meniup. "Ah, adikBun, kau sembrono" tegurnya.

"Kau tahu, Lou Kui berdua belum pergi jauh, begitu melihat api, mereka bisa kembali. Mari lekas kita kembali ke gua"

YanBun tertawa perlahan.

"Buat apa kuatir tak keruan" katanya aleman, "Dengan kepandaianmu engko In, apakah kau masih jeri dengan Keuw- louw-pian?"

"Bukan begitu," sahut Jie In. Mendadak ia menambahkan: "Lekas"

Bagaikan terbang, keduanya lari turun, Begitu mereka tiba di gua, di puncak itu muncul pulalah Lou Kui bersama si jangkung kurus.

"Aneh" kata jago tua itu. "Nyata sekali aku melihat cahaya api serta bayangan orang. Kenapa mereka lenyap cepat sekali?" ia mengayun pula tangannya, membikin meletus kembang api yang lebih besar, hingga terangnya luar biasa, sedang waktu jatuh ke saiju, kembang api itu tidak lantas padam, bahkan terdengar suara merumbusnya terkena tiupan angin” Jie In berpikir: "Kembang api Lou Kui ini tentulah api ajaib yang orang Kang-Ouw namakan peluru Im-lin Lan-hwee-tan, yang pembuatannya sukar, yang tak sembarang orang dapat memilikinya. Api itu, kalau dipakai menyerang orang, tidak saja apinya dapat membakar, juga ada racunnya yang dapat menyerang jantung dan membuat orang putus jiwa."

"Lo-tongke, inilah aneh," kata si jangkung kurus, "Kalau benar ada dua orang di sini, kenapa tidak ada tapak kakinya?"

Mendengar itu Jie In berkata dalam hatinya: "Mana dapat kalian melihat tapak kaki kami? Kami mempunyai ilmu enteng tubuh mahir yang tak meninggalkan bekas."

"Lo- Jie, kenapa kau jadi tolol?" kata si orang tua keras, "Lao-su begitu lihay, kalau bukan musuh gelap itu lihay luar biasa, mana bisa dia gampang dapat turun tangan? Tidak heran kalau dia tidak meninggalkan tapak kaki."

Ketika itu sinar api baru padam, tinggal sisa asapnya yang terbang terbawa angin. Si jangkung kurus berdiam, sejenak kemudian, baru ia berkata pula.

"Lo-tongke," katanya, "coba bilang, mungkinkah kematian lao-su ada hubungannya dengan si wanita yang mencuri Ngo Kwie Tiat-ciu-Ieng?"

"Sedikitnya mungkin ada. Aku duga kedua orang tadi masih berada di dekat-dekat sini, Mari kita cari"

YanBun tertawa di telinga si anak muda dan berkata: "Gila benar. Mana ada hubungannya aku dengan orang yang membunuh Liang-tauw-toa Lim Cian?"

"Oh, diakah Liang-tauw-coa Lim Cian?" tanya Jie In. "Teranglah kau yang telah membawa gara-gara, Lim Cian itu pasti terhajar hebat, maka dia mati kecewa, Lou Kui hendak mencari kita, pasti dia bakal berhasil, maka itu nanti aku pancing dia supaya mereka pergi jauh" Habis berkata, Jie In melompat menuju ke puncak, Di mata YanBun, dia mirip lagi terbang karena gesit dan cepatnya luar biasa, sebentar saja dia lenyap dari pandangan mata. Dilain saat, ia lantas mendengar suara si anak muda, suara yang seperti mengalun di tengah udara.

Lou Kui mendengar itu, ia menjadi sangat gusar, ia rupanya menduga suara itu pasti suara musuh. ia juga lantas mengasih dengar seruannya, yang menyatakan kegusarannya, terus ia lari untuk menyusul.

Untuk sekian lama, sunyilah sang malam yang gelap itu.

YanBun menantikan dengan tidak sabaran, karena untuk setengah jam lamanya ia mesti berdiam sendirian di dalam gua itu. ia pergi ke mulut gua, tiba-tiba ia merasa angin menyambar dibarengi dengan berkelebatnya satu bayangan hitam, ia mengawasi tajam, lantas ia menjadi girang sekali.

"Itulah Jie In-" Maka ia segera mencekal keras tangan si anak muda. "Bagaimana?" tanyanya. Jie In tertawa.

"Sekarang ini bangsat tua itu telah terpisah dari kita sejauh beberapa puluh li," ia menjawab, "tetapi dialah jago tua, dia banyak pengalamannya, mungkin sebentar kemudian dia insaf bahwa dia telah dipermainkan maka dia pasti datang pula, Mari kita berlalu dari sini"

Lalu tanpa menanti jawaban si nona, ia menarik untuk mengajak berjalan keluar dan berlari pergi.

Di tengah jalan, YanBun heran, ia mendapat kenyataan ia bukan diajak menuju ke puncak Ciu Auw Hong, melainkan ke arah yang bertentangan. "Engko In, mungkinjalanan ini keliru” katanya.

"Tidak. Adik, si anak muda tertawa, "Selagi aku kembali habis memperdayakan Lou Kui, memang aku berniat mengajakmu ke Ciu Auw Hong, hanya kemudian, aku berpikir lain. Di sana pasti berkumpul banyak orang lihay, kalau aku membawa kau ke sana, aku kuatir banyak kesulitannya, Hal itu akan membuat hatiku tidak tenang, Maka aku pikir, adikku, lebih baik kau pulang ke oey-chung, untuk mengambil kudaku dan berdiam di kuil Chin su, guna menantikan kembalinya aku."

"Ah, aku tidak mau" kata si nona, yang timbul kemanjaannya pula.

“Jangan begitu, adikku," kata Jie In, membujuk . "janganlah kau membuat perhatianku terpecah dua. Tidak apa aku kehilangan kitab, tetapi tidak kau, Dan, bagaimana nanti andaikata aku gagal karena kau?"

Tergetar hati si nona mendengar perkataan itu, Tahulah ia bahwa pemuda itu sangat mencintainya, Tanpa merasa, kedua belah pipinya menjadi merah.

"Baiklah, aku turut kehendakmu," katanya kemudian, tersenyum, "Kenapa kau bicara begini rupa? Engko In, aku minta kau bekerja tidak kepalang tanggung. Aku minta kau antar aku dulu sampai di chin su baru kau kembali ke mari."

Jie In berpikir, Hari itu bulan duabelas-tanggal duapuluh tujuh- Untuk pergi dan pulang, ia membutuhkan waktu empat hari. pikirnya tak apalah kalau ia terlambat sedikit, Maka ia mengangguk

Demikianlah ketika sang fajar mulai muncul, keduanya berangkat menuju ke oey-chung, jalananpenuh saiju.

Dibandingkan dengan di atas gunung, di sini turunnya saiju kurangan. Ketika akhirnya mereka tiba di tempat menitipkan kuda Jie In mengetuk pintu.

"Siapa?" tanya suara dari dalam, Suara itu disusul dengan suara tindakan kaki yang berat. Lantas pintu dibuka dengan bersuara juga. Muncullah kepalanya seorang tua. "oh, Jie siang kong pulang" katanya, "Begini pagi"

Sembari berkata, orang tua itu menatap Yan Bun, hingga Nona Kouw likat dan mukanya bersemu dadu.

"Yo Lotiang, inilah adikku" kata Jie In cepat. "Kami berdua hendak berangkat ke Thaygoan, Aku datang untuk memberitahukan mu, supaya kau jangan menyangka kudaku ada yang curi, silah kan lotiang.. tidur pula, nanti aku ambil sendiri kudaku sendiri" ia merogoh sakunya dan memberikan uang sekitar sepuluh tahil, ia menambahkan- " Harap lotiang tidak berkecil hati, sukalah kau terima ini."

Orang tua itu menampik,

Jangan Jie siang kong, terima kasih" katanya, "Uang yang kemarin ini pun masih ada kelebihannya."

Jie In tertawa.

"Inilah untuk cucu lotiang membeli kembang gula," ia mendesak, "Aku hendak mengantar adikku ini, dua hari kemudian aku bakal datang pula ke mari, maka kalau lotiang menampik, aku malu buat menjenguk pula padamu, silahkan masuk. lotiang, kami hendak berangkut sekarang."

Terpaksa orang tua itu menerima uang itu, untuk mana ia kembali menghaturkan terima kasih.

Jie In menanti s ampai pintu sudah dikun-ci, baru ia dan YanBunpergi ke istal,

untuk mengambil kudanya, ia juga mengeluarkan sehelai topeng yang jelek sekali dan

menyuruh si nona memakainya.

"Ah" kata nona itu, matanya mendelik.

Tapi ia toh pakai juga, lantas ia tertawa, ia mengetahui hati laki-laki. Kalau seorang pemuda mencintai seorang gadis, kalau ada orang lain yang mengawasi gadis itu, dia jadi jelus.

Demikianlah dua orang naik di atas seekor kuda berangkat ke Thaygoan, Di tengah jalan itu Jie In melihat banyak tapak kuda, yang semua menuju ke gunung, maka ia menduga orang tentulah pada menuju ke Ciu Auw Hong, mereka itu pasti ada hubungannya dengan kitab sucinya Poo Tan. ia juga melihat sejumlah penunggang kuda yang mengambil arah ke gunung.

Diantara jam empat atau lima lohor Jie In berdua sampai di Chin su. selagi bertindak ke ruang belakang, mereka berpapasan dengan imam kepala, yang berusia kurang lebih limapuluh tahun- imam itu memandang si anak muda, lalu si pemudi. ia tidak mengatakan apa-apa, ia cuma tersenyum, terus ia bertindak keluar.

Tiba di dekat kamar, Jie In bertemu dengan kacung satu- satunya di kuil itu, ia memesan sesuatu kepada kacung yang terus pergi untuk menyediakan santapan malam.

"Barusan imam kepala itu bermata tajam, dia tentulah orang Rimba Persilatan," kata YanBun tertawa. Pemuda itu mengangguk.

"Matamu tak beda dari mata orang kebanyakan," kata si nona pula, "Mengapa matamu

tajam?"

"Itulah disebabkan pengaruh tenaga dalam, " Jie In menjelaskan "Dibandingkan dengan mereka yang lihay, aku masih belum berarti."

YanBun tahu orang bicara dari hal yang benar, tetapi dia jail, dia tertawa dan berkata: "Sudah la h, jangan kau ngibul.Buat apa menempel emas di muka sendiri?" Jie In cuma tersenyum.

Tidak lama kacung tadi muncul dengan barang hidangan, keduanya lantas bersantap. Kemudian, dengan berpisahan pembaringan, mereka naik tidur. Keesokan pa ginya Jie In berangkat Dengan rasa berat, Yan Bun mengantar pemuda itu sampai di depan kuil.

Saiju telah berhenti turun, cuaca tampak turut berubah sedikit, Awan masih melayang-layang, karena sang angin bertiup keras, Melarikan kudanya dijalan umum Leng-cio-koan, Jie In mesti melawan angin, maka ia mestijalan dengan perlahan, saiju bercampur lumpur, warnanya menjadi abu-abu gelap. Dihari kedua, pagi-pagi, kembali pula Jie In di oey-chung, maka lagi-lagi ia mengirim kudanya di rumah si orang tua she Yo, lantas seorang diri ia mendaki gunung, ia menggunakan tipu enteng tubuh Leng Hie Pouw-hoat, dengan begitu ia dapat manjat cepat, ia melihat banyak tapak kaki, itulah tanda bahwa tak sedikit orang lain yang telah datang ke situ.

Selagi mendekati puncak Ciu Auw Hong, pemuda ini mendapatkan di sana orang sudah bertarung. Beberapa rombongan berdiri berpisahan, Mereka ada yang lagi bertempur, ada juga yang sudah roboh, sebagaimana terlihatnya belasan mayat di sisi gelanggang.

Ia bersembunyi di belakang batu besar, untuk dapat mengintai mereka itu, ia pun melihat sekelilingnya, terutama ke arah lamping gunung di mana ada gua yang mencil sendirian seperti kata sam Ciat Koay Kit Beng Tiong Ke.

Benarlah di sana tidak ada tempat untuk menaruh kaki atau berpegangan, cuma burung yang dapat terbang ke sana,  Maka heran, bagaimana caranya Poo Tan dapat memasuki gua itu.. Diam-diam ia mengasah otak memikirkan jalan untuk dapat pergi ke situ.

Di atas puncak itu, ada tiga rombongan orang yang lagi bertempur, dalam setiap rom-bongan, satu diantaranya ialah seorang pendeta asing dengan jubah kuningnya, yang tubuhnya besar dan romannya bengis, maka bisalah diduga bahwa mereka itu ialah yang disebut Thian Gwa sam Cun-cia.

Kedua pihak menggunakan tenaga dalam masing-masing.

Hobat serangan mereka, Kalau sasaran ialah batu gunung, terdengar nyata bagaimana sasaran itu kena terhajar, suaranya keras dan nyaring.

Di dalam satu rombongan ada seorang imam yang rambutnya tergelung tinggi dan kumisnya hitam terpecah tiga, dibandingkan dengan dua yang lain, rombongannya la h yang bertempur seru sekali, Keras sekali tangan bajunya bergerak- gerak.

Hebat dia mendesak tak kurang dahsyatnya perlawanan si pendeta- yang tampaknya berimbang kekuatannya.

"Kelihaiannya si imam dari kalangan tenaga dalam HianBun Keng Khie" kata in Gak dalam hatinya, "Dan gerak-gerik s i pendeta mungkin yang guruku menyebutnya Thian Liong Patsie, ilmu itu belum pernah akupelajari, maka tak ada halangannya apabila sekarang

aku mencuri lihat, guna memahaminya secara diam-diam." Maka ia memasang mata.

Dua rombongan yang lain sudah lantas memperoleh keputusan Kedua pendeta asing itu,

Hoan-ceng, telah memperoleh kemenangan mereka lantas melompat ke ujung batu karang,

agaknya mereka hendak menjaga jangan ada orang yang menerobos masuk ke gua.

Kedua orang yang dikalahkan itu jadi bermuka pucat pasi dan dari mulutnya keluar darah hitam, suatu tanda mereka telah terluka tak enteng.

Sekarang tinggal rombongan si imam dan si pendeta, Hoan-ceng itu menjadi agak tidak sabaran, sudah sekian lama ia masih belum dapat merobohkan lawannya, ia lantas menyerang dengan lebih hebat. Lawannya pun berlaku gesit tetapi dia tampak tenang-tenang saja melayaninya.

Sementara itu Jie In girang sekali, Dalam waktu yang singkat itu, ia telah berhasil menyangkok jalannya ilmu silat Thian Liong Pat sie it-u, Delapan Naga Langit.

Tiba-tiba terdengar suara mengejek si Hoan-ceng, yang tubuhnya mencelat tinggi, untuk menyerang ke pundak si imam. imam itu terkejut, tetapi ia dapat berkelit, hingga ia cuma terhuyung, Batu besar di belakangnyalah yang kena terhajar pecah "Haha-haha" pendeta itu tertawa lebar, "Buddha kalian menyangka akhli-akhli silat di Tiongkok lihay luar biasa, tidak tahunya kau Hui In Koan-cu, ketua Khong Tong Pay, tidak berani menyambut tanganku"

Mendengar itu Jie In berpikir: "Kiranya imam itu ialah Hui In cinjin dari Khong Tong Pay."

Imam itu menjadi gusar.

"Kim Goat, kau berani memandang enteng padaku?" ia berkata sengit. "Baiklah, mari kau rasakan sia uw Ceng Keng Khie dari aku si imam" Kim Goat, si pendeta asing, atau Hoan- ceng, tertawa pula.

"Koan-cu, meski siauw Ceng Keng Khie- mu lihay, sayang kau belum sempurna mempelajarinya" ia berkata, "Apa yang dapat kau perbuat terhadap Buddhamu? Baiklah kau rasakan saja Cek sat Mo ka dari aku"

Kata-kata itu segera diwujudkan. si imam lantas menolak dengan kedua tangannya. Kedua telapak tangan si pendeta, yang tadinya, tampak putih seperti saiju, sekarang berubah menjadi merah mirip bara.

Muka Hui In lantas menjadi pucat, Dengan sia uw ceng Keng- khie tidak dapat ia menahan Cek sat Moka, sia-sia ia bertahan, ia kena dipaksa mundur, ia pun merasakan hawa panas dari tangan si pendeta asing.

Terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaganya, guna memaksa bertahan diri, ia membuka lebar kedua matanya, ia tampak jadi bengis.

Kim Goat juga tidak mau berhenti, ia mengerahkan tenaganya, akan akhirnya ia berseru keras, kedua tangannya yang seperti membara menolak dengan keras sekali.

Atau mendadak Hui In berlompat mundur, terdengar seruannya, lantas dia lari, hingga sekejap saja ia sudah lenyap dari pandangan mata. Menyusul kaburnya jago Khong Tong Pay itu yang lain- lainnya dengan serentak lari s era buta n hingga dilain saat, merekapun lenyaplah. Hingga disitu tinggal ketiga Hoan

ceng beserta balasan mayat yang malang melintang. Ketiga pendeta itu tidak mengejar sekalian lawannya.

"Loo-kwie-cu benar jahat" kata Kim Goat kemudian, suaranya dalam, ia menyebut "Ioo kwie cu" si iblis tua. "Dia rupanya telah menduga disaat dia bakal selesai peryakinannya, kita bertiga bakal datang pula kemari maka dengan mengguna i kitabnya sebagai umpan, dia memancing datangnya jago-jago Tionggoan supaya mereka bisa melihat kita supaya selama itu dia dapat mempercepat peryakinannya, supaya nantinya dia dapat menghukum kita siapa tahu gagallah perhitungannya, maka sia-sia belaka segala suaranya itu"

" Kakak," kata satu pendeta " bukankah aku telah bilang, untuk turun tangan baiklah kita maju satu bulan, tidak usah menanti sampai sekarang. Kau lihat, tidakkah kita menjadi tergesa- gesa? Bagaimana kalau lain orang mendahului kita mendapatkan kitab itu?"

" Heran, Thian Gwa sam Cuen cia, mereka dapat omong Tiooghoa begini baik" pikir Jie

In di tempatnya sembunyi "Coba mereka bicara dalam bahasanya sendiri tentu lagu suara mereka lak sebagus ini."

Kim Goat tertawa terbahak "Adik, tak tepat perkataan kau tadi," ia kata "Apakah kau tidak ingat bunyinya kitab yang membutuhkan tempo seratus delapan puluh hari dan bahwa sepuluh hari yang paling belakang ialah yang paling penting, maka kalau si setan tua tidak tenang hatinya, dia bisa gagal dan tersesat. Biasanya dapatkah kau melawan pukulannya yang dinamakan POuw-tee sin- cia ng? Adik, sudah kita j angan berayal pula Tolong kamu berdua menjaga di sini, aku kuatir nanti ada lagi yang mengganggu Aku masuk sekarang" Tanpa menanti penyahutan, pendeta ini bertindak maju, ia mau pergi ke ujung jurang.

Jie In menganggap saatnya sudah tiba, ia lantas keluar dari tempatnya sembunyi ia bertindak ke belakang ketiga pendeta itu lanbil ia batuk-batuk tertahan.

Kaget mereka itu dengan sebat mereka berbalik, Apa yang mereka lihat ialah seorang pelajar usia pertengahan yang berdiri tenang sambil menggendong tangan yang wajahnya memperlihatkan senyuman.

Pelajar itu terpisah tak ada tiga kaki dari mereka, Tentu sekali mereka heran, sebab mereka tak mengetahui datangnya orang, "Aku bukannya seperti Hoei ia Keio-coe yang dapat berbicara dengan baik itu." berkata Jie in tertawa, "Kitab suci itu berada di wilayah Tiongkok. atas itu kau tidak dapat mencampuri tahu, lebih-lebih tidak selayaknya kamu menjagoi disini Kamu telah menumpahkan banyak darah, kamu sudah mengambil banyak kurban, tetapi itu bukan urusanku, itulah urusan pelbagai partai, tak mau aku mencaritahu sekarang ini aku cuma mempersilahkan kamu lekas berlalu dari sini"

Kim Goat Coen cia berjingkrak bahna gusarnya. "Pelajar melarat, enak kau bicara" bentaknya "Kitab itu

merupakan mustika rumah perguruan kami, mana dapat kami melepas tangan daripadanya? jikalau kau dapat bertahan dari Cek sat Moka, mungkin kita masih dapat berbicara pula"

Gin Goat danBeng Goat menjadi heran, "Kenapa kakak bicara begini lunak" pikir mereka masing-masing.

Kim Goat ada pikirannya sendiri maka ia bersikap lunak itu. ia percaya orang lelah

menyaksikan pertempurannya barusan melawan Hoei In Koan coe. ia pikir, tanpa mempunyai kepandaian tinggi, tidak nanti pelajar ini berani menghampirkan mereka.

"Bagus kata katamu" kata Jie In dingin, Jadi kamu menyebut mustika rumah perguruan Dangan begitu kamu ialah murid-muridnya Poo Tan Kenapa gurumu tidak mewariskan kepandaian atau pusaka kepada muridnya? Kenapa kamu pun menyebut gurumu sebagai si setan tua? sungguh aku tidak mengerti Tak dapat kamu membuatnya aku percaya kamu"

Belum lagi Kim Goat menjawab, dari dalam gua sudah terdengar suara orang berdoa, itulah suaranya Poo Tan, yang lagi memahamkan ilmu kepandaiannya Maka Gin Goat danBeng Goat menjadi pucat.

" Kakak, lekas" mereka berkata, "Buat apa mengadu lidah? si setan tua bakal lekas lolos dari kekangannya. Mari lekas singkirkan pelajar melarat ini supaya dia sadar dari impiannya"

"Sabar, kedua adikku" berkata Kim Goat tertawa, "sebelum lagi dua jam, si setan tua tak nanti dapat berjalan, sekarang dia lagi mendesak darah di kakinya Barusan dia mendosa, itu cuma akalnya untuk membikin orang bergeIisah. Lain orang dapat diperdayakan, aku tidak."

Kemudian dia tertawa kepada Jie In dan berkata:

"Tak ada halangannya aku omong terus terang kepadamu Apakah kau sangka gampang saja memasuki gua si setan tua? Lorongnya sempit sekali, cuma satu orang dapat berjalan disitu Disana banyak batu batu tajam yang di namakan rebung batu, siapa kebentur tubuhnya terluka juga, asal orang mendekati si setan tua ia bakal disambut dengan pukulannya yang di namakan POuwtee sian ciang. pukulan itu akan mendesak orang mundur ke mulut gua, dari itu asal dia teruskan menyerang, celakalah orang itu."

Ia bakal terjungkal ke dalamjurang dari ribuan tombak siapa juga tak dapat melawan POuw-tee siao-ciaog itu Daa siapa terjatuh kejurang hancur leburlah tubuhnya dan jiwanya melayang pergi Tidak demikian, pada lima tahun dulu pasti kami telah mendapatkan kitabnya itu, tak usah kami menunggu hingga ini hari. Tentang kami murtad, halnya kami melawan guru kami, itulah kesulitan kami yang tak dapat kami jelaskan kepada kau. Kau keliru besar jikalau kau memandang enteng kepada si setan tua."

Jie In mengangkat kepalanya, dia tertawa bergelak.

"Mau aku percaya kau," ia kata, "cuma kalau kamu hendak menyuruh aku jangan mencampur-tahu, itu artinya kamu terlalu memaksa aku"

"Aku tidak memaksa," bilang Kim Goat, "cuma kalau kalau kau dapat melawan cek Sat Moka dapat kau mencoba masuk ke dalam gua. Di dalam hal itu, pengharapan dalam sepuluh cuma satu. jikalau kau dapat melawan kita bertiga, itu berarti kau dapat bertahan dari Pouw-tee Sian ciang dari si setan tua.

Begini saja, kalau suka, coba kamu masuk, kami mau lihat kamu bisa mendapatkan kitab itu atau tidak, hanya baik dijelaskan dulu, umpama kata kau gagal, silahkan kau mundur, jangan kau merintangi kami lagi Bagaimana?"

In Gak bersenyum, ia lantas dapat mererka kenapa Kim Goat suka mengalah itu. Rupanya mereka berpikir kalau mereka kalah, mereka akan membiarkan ia masuk, tetapi selagi ia masuk itu mereka hendak membokong, menyerang ia dengan pukulan Udara Kosong, Tentu sekali tak sudi ia diakali mereka itu

"Baik" ia menerima tantangan "Mari kita mencoba-coba dulu, lalu kamu bertiga maju berbareng. jikalau aku kala aku akan mengundurkan diri."

Tanpa merasa Kim Goat mengasi lihat roman girang Jie In melihat itu, ia menduga terkaannya tidak meleset.

"Tuan, kata-katamu ini masuk hitungan atau tidak?" Kim Goat tegaskan-

Jie ln tertawa lebar.

"Aku mengepalai soat san Pay, mengapa kata-kataku tidak masuk hitungan?" ia balik menanya, sengaja ia menyebut soat san Pay, seperti juga benarlah ia ketua partai itu. Ketiga coen cia melengak, tapi Kim Goat lantas tertawa.

" Kiranya tuanlah soat san sin Mo dari Tiongkok" katanya, "sudah lama memang aku mendengarnya."

Soat san sin Mo ialah Hantu dari soat san. Jie In merangkap kedua tangannya.

"Sekarang sudah siang, silahkan taysoe mulai." ia kata menantang.

Sekarang Kim Goat tidak sungkan lagi. ia mengulur tangannya yang lantas terlihat menjadi merah, hingga Jie In merasai hawanya yang panas. "Cek sat Moka benar hebar," pikirnya Maka tak berani ia alpa.

Kim Goat berseru, terus ia menyerang. Hawa panas dari tangannya menyerang ke muka.

Dengan Hian Thian cit seng Pou Jie In berkelit, sekejap saja ia berada di belakang lawan, lantas ia menyerang ke punggung dengan pukulan Kim-kong Hok Houw, Arhat Menakluki Harimau.

Kim Goat juga sangat gesit. Begitu lawan lenyap ia memutar tubuhnya, untuk menyerang pula dengan kedua tangannya, Rupanya ia sudah menduga kemana musuh menghilang, bahwa musuh bakal meneruskan menyerang padanya.

Hebat serangan ini. bisa celaka Jie In, sebab dia belum menggunaiBie Leksin Kang untuk menutup diri, lantaran dia lagi hendak mencoba musuh ini. Dengan sebat ia berkelit

pula, Tak sudi ia bentrok tangan.

Benar-benar Kim Gon gesit setiapkali orang berkelit dan menghilang, setiap kali ia memutar tubuhnya dan menyerang, tak ingin ia kena di dahului. Jie In menjadi kagum.

"Belum pernah ada lain orang dapat menduga gerak-gerik ilmu silatku ini," pikirnya. "Kim Goat Coen cia benar benar liehay. Kalau begini benarlah ilmu silat India tak dapat dipandang ringan-"

Walaupun Kim Goat sangat gesit belum pernah satu kali juga ia berhasil menghajar lawannya yang lincah ini, yang membuatnya kagum sekali, maka itu selang belasan jurus ia menjadi kagum berbareng berkuatir, Diakhirnya ia lompat mundur satu tombak lebih.

"Tuan, kau hebat" ia kata, tertawa, "Aku kagum padamu Hanya aku kuatir, semasukmu ke dalam gua tak nanti ilmumu ini dapat digunai, Apakah tuan memikir untuk kita beradu tangan?"

Jie In tahu orang licik, bahwa ia hendak di tipu, Iapun tertawa.

"Aku tidak perca ya kau sanggup bertahan dari gempuran tanganku" ia kata mengejek.

"Silat Cek sat Moka dari aku memang tidak berarti tetapi itu bukanlah berarti tak sanggup aku bertahan" menjawab Kim Goat.

Jie In tertawa dingin.

"Bagaimana kalau sekarang kita mencoba?" ia tanya, sekarang ia telah mengerahkan bie Lek sin Kang ia berdiri dengan kedua tangan digendong di belakangnya. sebaliknya wajahnya memperlihatkan roman jumawa.

Dua-dua pihak menggunai siasat untuk memperayal waktu. Sama-sama mereka ingin melihat, bagaimana mereka masing- masing memasuki gua . Jie In ingin menyaksikan orang masuk dan menempur Poo Tan, untuk nanti ialah yang menghajar salah satu pihak yang menang tapi tentunya sudah letih.

Selama itu sering ia mendapat lihat Gin Goat danBeng Goat suka melirik ke arah gua, roman mereka berkuatir dan ragu- ragu- iapun heran kenapa mereka bertiga ingin sangat mendapat kan kitabnya Poo Tan itu. Segera juga pertempuran dimulai Kim Goat, panas hatinya, ia lantas menyerang. Mukanya Jie In yang mau dijadikan sasaran.

Pemuda itu membalik tangannya, menyambuti tangan lawan yang panas, ia menolak, ia mengguna i bagian jurus "Meng gempur" dariBie Leksin Kang, Hebatlah kesudahan bentrokan itu. sama-sama mereka mundur dua tindak, Maka keduanya sama-sama melengak. Kim Goat maju pula.

Jie In tidak mau menyerah, ia kembali menyambut, Tentu sekali mereka telah sama-sama menyiapkan tenaga mereka.

Mereka bentrok berat tetapi sama-sama mereka dapat bertahan, karena itu mereka lantas saling serang terus menerus Disamping tenaga. mereka mempergunakan kegesitan mereka, supaya lebih gesit dialah yang menang.

Jie In penasaran, maka ia mengguna i tenaga sepenuhnya, ia mengguna i keempat huruf: menggempur, meloloskan diri, menempel dan menyedot untuk melayani musuh yang liehay ini. Kim Goat dapat bertahan- Hanya kemudian ia terlibat lebih mengutama kan perlindungan pada iga kirinya. Melihat itu Jie In mengerti, itulah mesti anggauta tubuh yang lemah dari lawannya.

Mendadak Jie In lompat mundur sembari tertawa ia berkata: "Taysu dengan bertempur cara begini sampai tiga hari dan tiga malam juga tidak ada faedahnya, kita jadi mensia-siakan waktu, maka itu baiklah kamu bertiga maju berbareng"

Kim Goat sementara itu berpikir: "orang ini liehay sekali, dia jauh lebih menang daripada Hoey in Koan coe dari Khong Tong Pay Heran ilmu soat san Pay begini liehay. "Aku bertiga telah memperhatikan semua ilmu silat tiongkok. tidak  demikian dengan soat san Pay ini. Tapi dia berimbang dengan aku, maka itu, kalau kita bertiga dapatkah dia bertahan terus?" Karena ini hatinya jadi besar. ia tertawa. "Benar liehay ilmu silat soat san Pay" katanya, "Kau telah membuka mataku Memang kita telah membuang-buang waktu, Baiklah tuan, aku terima tantanganmu Maafkanlah kami"

Berbareng dengan itu Gin Goat danBeng Goat maju berendeng dengan kakaknya, lantas tanpa ayal pula mereka mulai menyerang. Maka enam tangan mereka lantas bergerak- gerak di muka Jie In. Yang hebat ialah hawa panas diri tangan mereka itu sampai saiju di dekat mereka menjadi lumer.

Biar bagaimana hati Jie In bercekat juga. Ketika ia mencoba menangkis, ia kena tertolak mundur dua tindak, ia merasakan napasnya sesak, Maka lekas-lekas ia menyalurkannya, Karena mata nya Kim Goat liehay, dia itu dapat melihat lawannya sukar bernapas itu, Dia menjadi mendapat hati, dia mempergencar serangannya.

Biarnya ia terdesak, Jie In tidak menjadi gugup, Lekas-lekas ia menutup jalan darahnya, sekarang ia tidak mau menyambut keras dengan keras, ia mencelat mundur hingga ia bebas dan ancaman cik sat Moka, Hanya ia tidak dapat lolos terus.

Ketiga lawan itu berlompat menyusul guna mengulangi serangan mereka yang bersatu padu yang dahsyat sekali.

Untuk membela dirinya Jie In mengandal pada tindakan kaki Hian Thian cit seng Pou ia selalu mengelit diri, Untuk sementara ia bersangsi buat mengenai Hian Wan sip-pat Kay atau Tie Liong cioe, Tangan Mengekang Naga.

Untuk itu ia mesti menyiapkan diri dengan Bie Lek sin Kang, Untuk dapat mengenai Hian Thian cit seng Pou. buat sementara ia melepaskan Bie Lek sin Kang itu."

Selagi bersangsi begitu, pemuda ini berlaku sedikit lambat, Diluer dugaannya ia kena disamberBeng Goat. Tangannya Coencia ini sama Iihaynya seperti tangannya Kim Goat, Tidak ampun lagi ujung baju si anak muda terbakar menyala Jie In kaget, ia membuang diri ke tanah, untuk bergulingan sambil berguling ia berlompat bangun, Lantas ia menjadi kaget sekali, Begitu ia berlompat ia mendapatkan ketiga lawan menyerang tepat ke tempat dimana barusan tubuhnya b er- guling, Kalau tidak, celaka la h ia.

sekarang Jie In lantas mengguna i ilmu silat Thian Liong Pat sie, yang ia cangkok dari Hoei In Kian-coe. saban-saban ia lompat mencelat mirip dengan gerakannya naga, ia dapat b erlompat tinggi, hingga serangannya ketiga lawan tak berdaya mengenakan tubuhnya.

Kim Goat menjadi heran dan penasaran, Dia tertawa dingin dan kata: "Apakah dengaa cara ini kau hendak masuk kedalam g uh a untuk mengambil kitab? Hm Kau mimpi"

Jie In berpikir keras, ia mengerti tidak dapat terus terusan ia meng andali Thian Liong Pat sie, sekarang ia merasa tangannya panas. Kedua tangannya itu tadi telah bentrok hebat dengan tangan ketiga lawannya itu.

Lebih dulu coba bertahan diri tangannya Kim Goat seorang.

Perlu ia mendapatkan daya. Mendadak ia menjejak tanah, untuk berlompat mundur, setelah menaruh kaki, ia tertawa lebar

"Taysoe bertiga, kamu menduga keliru" ia kata, "Kamu lihat sendiri ditangan Cek Sat Moka kamu tidak bisa berbuat apa- apa terhadap aku. Paling juga kamu dapat membikin kita bercelaka bersama. Apakah faedahnya itu? Dengan begitu siapapun tidak akan mendapatkan kitab. Bukankah Poo Tan yang bakal beruntung seorang diri? sekarang baiklah, suka aku mengalah. Taysu, pergilah taysu masuk lebih dulu untuk mengambil kitab itu Umpamakata kamu gagal barulah datang giliranku"

Habis berkata Jie In bertindak pergi dengan perlahan.

Kim Goat bertiga menjadi heran, hingga mereka berdiri tercengang. Benarkah ada orang demikian baik hati? Bukankah tadi orang ini berkeras berniat mendapatkan kitabnya Poo Tan itu? Mereka juga heran yang Cit sat Moka mereka tidak berhasil merobohkan lawan ini.

Belum-pernah ada lain orang yang dapat bertahan seperti dia, Biasanya orang terluka d idala m tubuh dan mukanya lantas menjadi pucat pasi dan peluhnya mengucur deras, Tidak demikian dengan soat San sin-Mo.

Kim Goat percaya orang yang dihadapinya ialah soat sin-Mo dari soat san pay, ia tidak pernah menyangka bahwa ia tengah dijebak. ia juga tidaktahu Jie In memakai kedok

karena mana ia tak melihat wa^ah orang yang sejati.

Sebenarnya itu waktu Jie ln telah pucat mukanya dan keringat membikin demak pakaiannya. Hanja saja kuat hatinya dan cerdik, dapat bertahan. Beng Goat lebih cerdik dari pada dua saudaranya, dia licik. Dia lantas bercuriga. "Apakah soat san sin Mo tidak main gila?" ia tanya. Kim Goat mengangguk.

"Aku lihat dia sangat pintar, baiklah kita jangan-jangan sampai kita terjebak." sahutnya. "Dia bersikap ramah begini, siapa tahu hatinya memikir lain? Baiklah kita robohkan dulu padanya, baru kita pikir pula bagaimana baiknya"

“Jangan kita berbuat demikian," Gin Goat berkata, Dia menggeleng kepala, "Dia sangat liehay, agaknya kita bertiga tidak dapat merobohkannya dengan mudah Baiklah kita mencegah dia dapat menduga kita tak dapat merobohkan nya kita harus jaga, andaikata si setan tua sampai dapat lolos, kita terancam bahaya, hingga mungkin terjadi tak ada tempat untuk mengubur mayat kita."

Kim Goat menjadi ragu-rapu. Tidak berani ia lantas memasuki gua, ia menganggapJi ln adalah paku dimatanya, tak dapat tidak, orang mesti di singkirkan lebih dulu, ia mengawasi anak muda yang lagi mengawasi mereka, ia melihat orang tenang-tenang saja tak bergusar, tak tertawa. Sulit untuk menerka hati orang ini, karenanya ia menjadi berkuatir sendirinya..

Jie In berdiri dekat sebuah karang besar. ia memang bersikap sangat tenang. Untuk sejenak ia memutar tubuh, lalu ia memandang Ketiga Cun cia itu. Dengan dingin ia kata:

"Kenapa kamu bertiga masih belum mau turun tangan? ingatlah tempo sangat berharga tempo tidak dapat dilenyapkan Tidakkah kamu akan mensia-siakan maksud baik dari aku"

"Apakah kamu menyangka aku takut kepaia kamu? jikalau kamu tidak kuatir guru kamu nanti keburu lolos, marilah, mari kita bertempur pula"

Mendadak Gin Goat tertawa bergelak "jangan berpura bohong besar, tuan" katanya nyaring, "Baik kau ketahui, sekarang ini tubuh mu bagian dalam sudah pada rusak.Biarnya kau tunggu, tak nanti dapat bertahan lebih lama pula"

Jie In bersenyum. Entah bagaimana bergerak nya, tahu tahu dia sudah lompat maju, menghampirkan ketiga lawan di jarak dua kaki.

Tentu sekali Kim Goat bertiga tidak ketahui orang pandai ilmu "Leng Hie Liap Pou" atau tindakan "Melayang di udara" Dengan ilmu silat itu Jie In dapat mencelatjauhnya lima atau enambelas tombak. Cuma ilmu itu sempurna di gunai di tanah datar. Untuk berlompat tinggi, ia tak dapat mencelat sejauh itu.

Kim Goat bertiga terkejut dengan sendirinya mereka masing-masing mundur satu tindak. mata mereka mengawasi tajam, untuk bersiaga, Gerakan lawan itu menandakan dia tak terluka sama sekali, sedang mereka menyangka orang telah terluka di dalam tubuh,

"Hmm kamu bertiga" kata Jie In mengejek. "Kamu menggunai akal apakah? Kenapa bertempur kamu tidak mau, mundur tidak mau juga ? Kalau begitu, baiklah kamu lekas pulang ke India supaya kamu tak usah mendatangkan tertawaan orang"

"Tuan, kau sangat jumawa" berteriak Kim Goat, gusar sekali " Kalau begitu baiklah,

aku tidak mau sungkan lagi"

Jie In tertawa dingin.

"Memangnya siapa kesudian dikasihani kamu. kamu lihat, apakah kamu dapat melukai aku Tidak demikian, kamulah katak-katak dalam tempurung Mana kamu ketahui liehaynya ilmu silat Tiongkok."

Menutup kata-katanya itu mendadak tangan kanan anak muda ini diluncurkan, cepat luar biasa, Tangan itu mengeluarkan tenaga menolak yang besar sekali. sebab inilah Bie Lek Sin Kang jurus ketiga belas, jurus yang didapatkan secara kebetulan rt i tempatnya IHoe Liok Koan, itulah jurus Im Kek yang Seng," atau "Im lebih Yang lahir"

Ketiga coencia terkejut Belum pernah mereka melihat serangan semacam itu, Dengan berbareng enam tangan mereka diajukan untuk memapaki. Tangan mereka lantas saja beradu dengan tangan penyerangnya. Untuk kagetnya, mereka mundur tiga tindak. Lawannya itu sebalik nya berdiri tegak.

Setelah itu, tanpa menanti lagi, In Gak melanjuti serangannya “Im Kek Yang Seng" disusul dengan Liok Hap Hoa It, ia terus bertindak dengan "Hian Thian Cinleng Pou." sambil maju itu, dua dua tangannya bekerja sekarang ia dapat mendesak.

Ketiga coencia menjadi kena terangsak, sulit mereka menggunai Cek Sat Moka, Dengan sendirinya mereka menjadi repot, sebab berbareng dengan itu mereka sama sama menggunai tangan kiri mereka untuk senantiasa menjagai iga masing masing.

"Inilah heran" berpikir Jie In, "Kenapa mereka sama sama menjagai satu tempat?" Karena berpikir keras, lantas ia insaf. Katanya dalam hati: "teranglah mereka telah tertotok hebat Poo Tan siaosoe, Mereka berkeinginan keras merampas kitab, mungkin didalam situ termuat resep untuk pengobatannya..."

Setelah berpikir demikian, Jie in menggunaipula Liok Hap Hoa It, jurus ke empat belas itu, ia mengerahkan tenaga yang besar sekali, Dengan begini ia paksa ketiga lawannya mundur terus.

Kim Goat bertiga berkuatir berbareng penasaran, dalam gusarnya mereka berseru seru.

Masih Jie In mendesak. sampai mendadak ia mencelat maju sebelah tangannya diluncurkan dengan jurus "Tie Liong cioe Hoat" atau "Mengekang Naga", sebuah jeriji tangannya menotok ke iga kanan Beng Goat.

Pendeta asing itu terkejut. Tanpa berdaya dia kena tertotok. Dengan tiba-tiba dia merasai ngilu pada dadanya, terus menjadi kaku, akan akhirnya buyarlah tenaga di seluruh tubuhnya. Menyusul itu, tubuhnya terpental, roboh terbanting dengan napasnya tersengal-sengal. Syukur untuknya, musuh tidak menyerang terus, bahkan dia dikasi ketika untuk berdiri bangun.

Bukan main malunya Beng Goat, muka namenjadi merah. Jie In tertawa berlenggak.

"Apa aku kata?" katanya "sayang kamu tidak mau percaya aku"

Kim Goat berdiri, diam mereka heran sekali, Mereka tidak sangka Beng Goat kena didesak demikian rupa dan terhajar hebat. "Tuan tuan mengerti tentang kamu bertiga” Jie In berkata pula. “pasti kamu pernah terluka oleh Poo Tan siansoe hingga kamu membutuhkan kitab didalam mana mestinya ada

cara pengobatan untukmu. Baiklah, suka aku memegang kata-kataku, sekarang kamu boleh pergi memasuki gua.

Percayalah, aku bukan itu macam orang yang nanti menggunai ketikanya selagi orang terancam bahaya"

Kim Goat bertiga terkejut, terutama Beng Goat, pertama- tama mereka kagum untuk liehaynya lawan ini, yang tadi nampak sudah ter desak hebat tetapi dalam sejenak berbalik menjadi pihak yang unggul.

Mareka heran kenapa orang tahu mereka bekas dihajar Poo Tan siansoe, Karena ini, tak lagi mereka dapat berjumawa atau bersikap galak. Dengan paksakan tertawa Kim Goat berkata:

"Kau baik sekali suka mengalah tuan baiklah, maafkan kami, kami bertindak terlebih dulu”

Lantas ia mengajak dua saudaranya pergi ke ujung jurang.

In Gak girang sekali, sedang tadi ia sudah tak berkutik, ia terluka didalam karena bertahan atas gempuran ketiga lawan tangguh itu. Untuk menolong diri, tidak ada jalan lain, diam- diam ia makan ho-sio-ouw.

Luar biasa mujarab obat itu, sebentar saja, ia merata kesehatannya pulih, tetapi la belum berlega hati benar-benar, maka ia makan juga lima butir pel Tiang CoenTan-Disebelah itu. ia telah memikir tipu untuk menghajar lebih dulu salah satu musuh. Begitulah ia menggunai dua jurus terakhir dari Bie Lek sin Kang dan ia berhasil.

Sesudah ketiga coencia pergi keujung jurang, ia mengikuti dengan perlahan, ia tidak mau datang terlalu dekat pada mereka itu Karena ia menghampirkan maka ia pun mendengar ketika dari gua terdengar pembacaan doa. Tatkala itu Kim Goat Coencia tidak berayal pula, ia tidak bersangsi lagi. ia menjejak tanah untuk berlompat ke arah gua, ia tidak lompat langsung, hanya sambil berjumpalitan tujuh atau delapan kali, ketika ia sampai dimulut gua, tepat kedua kakinya menginjak tanah. Dengan lantas ia masuk kedalam.

"Hahaha" kata Jie ia dalam hatinya, ia mesti mengagumi cara berlompatnya Kim Goat itu. Sekarang tahulah ia caranya lawan memasuki gua nya Poo Tan.

Gin Goat dan Beng Goat tidak turut berlompat, maka itu bersama-sama Jie In mereka cuma mengawasi tanpa berkesip. Rupanya mereka mau menantikan hasil usahanya kakak seperguruan itu.

Tidak lama maka dari dalam gua terdengar jeritannya Kim Goat, beruntun beberapa kali.

" Celaka?" berteriak Gin Goat dan Beng Goat.

Belum berhenti teriakan dua saudara ini atau dari dalam gua lantas terlihat terlempar keluarnya sebuah tubuh yang bermandikan darah, yang terjatuh ke dalam jurang, dari mana lantas terdengar jeritan yang lebih hebat cuma satu kali, tetapi berkumandang suara itu dapat membikin bangun bulu-roma orang

Gin Goat dan Beng Goat berdiri menjubIak. Tak berdaya mereka untuk menolongi kakak seperguruan itu. Untuk memasuki gua mereka dapat berlompat indah dan tepat, sebab itulah lompatan "Thian Liong sin hoat" atau si "Naga Langit", Untuk berlompat mencegah jatuhnya Kim Goat, mereka putus asa.

Jie In pun kaget dan giris hatinya. ia juga tidak berdaya, siapa terjatuh ke dalam jurang itu dia bagian mati, kecuali dia dapat tersangkut di pohon atau dia sebat dan tabah dan dapat berjumpalitan berulang- ulang kali mungkin dia dapat ketolongan jiwanya. Meski begitu, orang mesti tahu juga tiba di bawah, dia jatuh di air atau di batu wadas.

Selagi si anak muda menghela napas saking berduka, ia melihat Gin Goat danBeng Goat berpaling kepadanya, mata mereka itu mengembeng air, lalu air matanya itu mengucur deras.

“ Jiewie Taysoe, janganlah kamu terlalu bersusah hati.” ia menghibur, "Kakak seperguruan kamu telah menerima tangan jahat, tetapi dia gagah, mungkin dia dilindungi Thian, mungkin dia ketolongan sekarang silahkan kamu melanjuti usahanya itu.”

Kedua pendeta itu mengangguk.

"Adik,." kata Gin Goatpada Beng Goat, "mari kita masuk berbareng, dengan tangan kanan mu, kau menjaga punggungku. Dengan kita berdua bekerja sama mustahil kita tidak sanggup bertahan dari serangan si setan tua itu"

"Itu benar," Beng Goat menyahut. "Mari kita masuk"

Keduanya lantas bersiap sedia. Mereka menyedot napas habis itu dengan saling susul mereka menjejak tanah untuk berlompat. Mereka juga berjumpalitan seperti Kim Goat tadi. Karena sama-sama mereka menggunai lompatan "Thian Liong sinhoat" seperti Kim Goat.

Jie ln berdiri mengawasi dengan mata tajam, hatinya sembari bekerja: "Mereka ini lagi menempuh bahaya, semangat mereka baik sekali. Apakah benar, tanpa pertolongan kitab itu, luka mereka tidak dapat disembuhkan? selama lima tahun mereka memikir dan berdaya, kesudahannya ialah begini rupa, impian belaka "

Tidak lama pemuda ini berpikir atau ia dikejutkan dua jeritan yang mengerikan lalu

tertampak dua tubuh terlempar ke luar saling susul, sama dengan tubuhnya Kim Goat tad i, jatuh ke dalam jurang... "Hebat ..." pikir anak muda ini, hatinya gentar.

Ketika itu angin bertiup keras, ujung baju berkibar-kibar, sang angin membawa juga perubahan pada cuaca. sang awan mulai menebal, sang saiju turun beterbangan, melayang layang, Dengan begitu, hawa lantas menjadi dingin sekaii, Tubuh Jie In kuat tetapi ia toh sedikit menggigil.

"Kelihatannya sekarang ini giliranku." ia berpikir, “Untuk mendapatkan kitab, atau sedikit nya menemui Poo Tan, ia mesti lompat masuk ke dalam gua itu seperti Kim Goat bertiga itulah berbahaya, Kim Goat bertiga lihay luar biasa. Dapatkah ia bertahan dari serangannya si pendeta tua? ia juga tidak tahu jelas, di antara guru dan murid muridnya itu, siapa yang benar, siapa yang salah, Heran mereka sanpai bentrok untuk mati dan hidup,...

Mereka itu tidak dapat kasihannya Thian-.. Bagaimana dengan aku?" pikirnya lebih jauh, "Tentang mereka itu baiklah aku jangan ingat pula, Mereka ada urusan mereka sendiri, Aku harus menjaga diriku saja..."

Maka ia mengawasi tajam ke mulut gua, ia juga berpikir, kalau sebentar ia sudah berada di dalam gua, bagaimana ia harus bersikap terhadap Poo Tan siansoe. Bagaimana andaikata ia mendapat nasib seperti Kim Goat bertiga itu.

Masih ia mengawasi hatinya berpikir keras.

"Biarlah aku berserah kepada Thian" pikir nya akhirnya.

Maka ia mengertak gigi,

segera juga ia menjejak tanah, untuk berlompat. ia tidak berjumpalitan seperti Kim Goat bertiga, ia dapat lompat langsung.

Cuma ketika ia tiba di mulut gua, ia lantas menggeraki kaki dan tangannya, kaki memasang kuda-kuda, tangan untuk bersiap jikalau ketika pendeta tadi menggunai lompatan si "Naga langit" ia menggunai jurus "Elang Berputar Tiga Kali" dari ilmu silat "Cit Khim sin hoat" atau Tujuh Telapak. Dengan enteng kakinya menginjak mulut gua.

Benar sekali katanya Kim Goat, gua itu gelap sekali dan tak rata, terowongannya juga sempit, cuma muat satu orang, Benarlah itu tempat yang berbahaya.

Tapi ia sudah sampai disitu, jeri atau tidak, ia mesti maju terus, Maka ia bertindak dengan hati-hati, matanya dipasang, telinganya mendegar, ia bersiap sedia untuk sesuatu serangan-

Belum dua tombak ia berjalan, atau ia lantas mendengar suara yang keras tetapi parau, itulah suaranya Poo Tan sia nsoe, yang berkata," Tan-wat, aku minta kau menghentikan tindakanmu. Lebih dulu loolap ingin mendengar maksud kedatangan tan-wat kemari."

Tan wat ialah panggilan pendeta kepada penderma, suara itu tajam dan bernada seram. Jie In menghentikan tindakannya dengan hatinya berdenyutan, itulah sebab orang segera melihat padanya sedang ia tidak dapat melihat lain orang.

Maka ia lantas mengawasinya dengan tajam, Baru kemudian ia menampak didepannya, sejarak dua puluh tombak kira kira, ada seorang pendeta tua lagi duduk bersila.

" Hebat," pikirnya, "Dia di tempat gelap. sebaliknya aku dari mulut gua, pantas dia

dapat lihat aku melihat. Herannya kenapa dia tidak lantas menyerang aku sebagaimana tadi dia merobohkan satu demi satu Kim Goat bertiga? Apakah di dalam jarak ini tenaganya belum sampai kepadaku?... Ah, mengapa aku tidak mau mendekati ia untuk menyerang dengan tiba tiba?"

Pikiran ini lantas diwujudkan, ia lantas maju. Tapi baru kira setombak, lantas ia merasa kan dorongan, yang menahan tubuhnya, yang mana disusul dengan bentakan Poo Tan: "Tan wat, mengapa kau tidak dengar perkataanku. Lagi satu tindak kau maju, terpaksa looIap mesti menurunkan tangan jahat atas dirimu"

Bukannya ia mundur menjadi jeri Jie In justeru tertawa riang.

"Siansoe, mengapa kau pelupaan sekali" katanya, "Bukankah pada tiga bulan yang baru lewat ada seorang anggauta dari Kay Pang yang kebetulan datang ke sini hingga di antara siansoe dan dia telah dibuat perjanjian? Benarkah siansoe telah lupa?"

Mendadak terdengar tertawa nyaring dari si pendeta. "Benar, itulah benar" katanya, "Hanya sekarang itu sudah tak perlu lagi".

Jie In menjadi tidak senang,

"Siansoe" katanya keras. "siansoe orang suci, mengapa kau tidak menegang kepercayaan?

Aku datang kemari justeru karena memenuhi ajakannya Beng Pay tauw Bukankah siansoe yang membilang, siapa dapat menasuki gua ini berani dia berjodoh?.."

Belum berhenti kata katanya Jie In atau ia mesti mendengar tertawa yang lama dan tajam yang seram, disusul dengan kata kata ini: "Bicara tentang jodoh, itulah benar, cuma sekarang ini orang yang berjodoh itu sudah rebah untuk selama-lamanya di dasar jurang, arwahnya sudah pergi ke nirwana yang kekal abadi...”

Mendengarjawaban itu maka tahulah In Gak bahwa Pok Tan ini benarlah seorang hantu yang lihay, Bagaimana gampang dia menyangkal kata-katanya, ia percaya jikalau pendeta ini dikasih ketika mendapatkan pulang kesehatannya, dia bakal jadi ancaman bahaya untuk orang orang Rimba PersiIatao. Karena ini lantas ia ingin menyingkirkannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menyiapkan diri, lantas tangan kanannya diajukan untuk dengan jurus "ln Kek Yang seng" menggempur tenaga menolak dari si pendeta yaog tak dapat di percaya itu, berbareng dengan mana, ia maju hingga dua tombak. Di sini kembali ia kena tertahan.

"Ah.." ia mendengar suaranya Poo Tan.

"Aku tidak sangka tenagamu jauh lebih besar dari tiga manusia murtad itu jikalau kau tidak disingsirkan, mana dapat kau membuat hati loolap tenang? Haha."

Jie In segera merasai tolakan tenaga yang kuat sekali, hingga ia hampir tak sanggup mempertahankan dirinya, Lekas lekas ia menggerak jurus ke-empatbelas dari Bie Lek sin-Kang. Dengan begitu, tenaga Poo Tan itu kena dihambat, sampai si pendeta mengasi dengar suara heran, ia lantas meneruskan menyerang, sekarang dengan kedua tangannya berbareng, sambil tubuhnya maju pula.

Poo Tan kaget. Inilah ia tidak sangka, Dengan begitu ia seperti membiarkan si anak muda mendekati ia sampai hampir lima tombak. ia heran, ia tadinya percaya, dengan ketiga Coencia dapat disingkirkan, ia bakal mendapatkan kebebasannya, siapa tahu sekarang datang orang yang ke empat yang tidak dikenal, ia lantas mempertahankan diri, ia menyerang dengan tangan kirinya. ia mengguna i tenaganya yang dinamakan "POuw-tee Ciang Lek." atau "TanganBuddha.

Sekali ini ia menyerang sambil bersenyum, karena ia percaya orang tak akan dapat bertahan lagi.

Jie In mempertahankan diri, Ketika si pendeta menambah tenaganya, ia tetap tidak bergeming.

Poo Tan heran berbareng girang, Ketika ia menyerang itu, darahnya terasa mengalir ke mata kakinya, itu artinya darahnya mulai tersalurkan, ia girang sebab segera ia bakal sembuh seluruhnya. Tapi justeru ia bergirang,justeru ia merasa kan pula dorongan yang keras, la terkejut Dengan lekas ia mengulangi serangannya. Jie In merasakan serangan itu, la mengerti bahwa ia lagi menghadapi bahaya, ia berlaku s ebat, ia mengegos, habis itu ia merangsakpula.

Maka sekarang ini, Ketika ia mengulur tangan kanannya, dua jarinya dapat menyamber ke pundak kiri si pendeta, Tapi sipmdeta justeru telah menyerang pula, seperti tanpa rintangan, dia mengena kan j itu Jie In kena terpukul, ia terpental mundur dua tombak, terus ia jatuh numprah di tanah. sesudah tubuhnya membentur dinding batu, ia merasakan kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang. Bumi seperti terbalik...

Poo Tan puas dapat merobohkan musuh. Tapi ia masih ingin merampas jiwa orang, Maka mau mengulangi serangannya yang terakhir.

Ketika ia mengerahkan tenaganya, ia terkejut, Tiba tiba ia merasa tubuhnya menggigil, tenaganya tak dapat dikumpul, dadanya menjadi sesak. Menyusul itu, seluruh tubuhnya menjadi kaku atau mati..

"HabisIah aku..." ia mengeluh ia ingat kecewalah peryakinannya selama lima tahun, Nyata ia tidak dapat bertahan lebih lama pula. ia mengerti, samberan dua jerijinya musuh ke pundaknya tadi berkesudahan hebat.

Akhirnya ia menghela napas dan berkata perlahan: "Anak muda, dari mana kau dapat pelaja ri ilmu totok mu barusan? Loolap ketahui baik segala ilmu silat Tiongkok akan tetapi aku tidak kenal kepandaian kau ini, Maukah kau memberi keterangan pada ku?"

Aneh pendeta ini, Habis berkata itu, ia tertawa perlahan, sedih suaranya, ia tidak menanti jawaban, ia berkata pula: "Seumurku loolap belum pernah tunduk terhadap siapa juga, adalah sekarang ini, sebelum aku menghembuskan napas ku yang terakhir, aku takluk terhadapmu. Tentang aku, mengapa aku menyembunyikan diri di wilayah Tiongkok ini, itulah sebuah teka teki." Anak muda. baik kau ketahui, setelah kau terhajar pukulan ku ini, tiada harapan lagi untukmu memperoleh pertolongan- Apa yang aku sesalkan ialah kitabku ini, yang aku dapatinya secara kebetulan, inilah kitab Poutee Pwee-yap Cin Keng.

Kitab ini akan menemani tulang-tulangku menjadi abu. Hanya di sebelah itu, girang juga aku, karena di sini aku, kau si orang muda, kaupun menjadi tetanggaku yang akrab..."

Kata-kata itu disusuli tertawa yang lama yang nadanya sedih.

Jie In mendengari kata-kata itu, ia merasa kepalanya pusing sekali. ia berkuatir tetapi ia berdaya. Dengan lantas ia menjalankan pernapasannya. ia berhasil bisa menyalurkan napasnya. Cuma ia merasa sakit sekali di dada dan perutnya ia ingat perkataannya Poo Tan lantas ia mendapat akal. Maka ia terus berpura-pura bahwa ia benar terluka parah. Dengan sikutnya, ia menunjang tubuhnya pada dinding. ia baru mencoba untuk merayap bangun- sebaliknya, sembari menyalurkan napasnya, ia mengasi dengar suara bernapas keras, seperti orang yang napasnya sesak. Diam-diam ia mengawasi si pendela. sekarang, setelah berdiam lama di tempat gelap. ia dapat melihat tegas.

Poo Tan siansoe bertubuh kecil dan kurus1 tetapi dia bercokol tegak. mukanya keriputa n. jubahnya ialah jubah kuning yang sudah rombeng. Apa yang liehay ialah matanya yang hitam dan bersinar tajam.

Setelah sama-sama berdiam sekian lama, In Gak mengasi dengar suaranya, ia mulanya berkecii hati sebab sipendeta berniat memusnahkan kitabnya, baru ia merasa lega ketika orang mengatakan akan mati bersama.

"Siansoe, dugaan kau tepat," ia kata, sengaja membikin suaranya tidak lancar. "llmu totok aku ini memang luar biasa, Aku dapatkan ini dari seorang asal luar negeri, aku mempelajarinya dengan jalan mencuri, Bagaimana paadanganmu mengenai ilmu totok ini."

Setelah putus asa itu, terbuka hatinya Poo Tan, Dia tertawa.

"Hebat ilmu totok kau ini" katanya, "Bukti nya totokanmu dapat membikin loolap binasa, Tetapi, anak muda bukanlah pukuIanku pun enak diterimanya."

"Benar" sahut In Gak lekas. "Kalau tidak, mana dapat aku menemani siansoe mati? Eh, loosiaosoe. Aku bakal mati maukah kau melemparkan kitabmu padaku, untuk aku dapat melihatnya, satu kali saja...”.

Habis berkata begitu, anak muda itu roboh.

Poo Tan merasa penderitaannya hebat sekali, ia mau bertahan tetapi tidak dapat. Ia

mesti menyenderkan kepalanya ditembok dinding di belakangnya Mendengar permintaan si anak muda ia menyedot napas.

"Anak muda. ini, kau ambillah.,." sahutrya. ia menggeraki sebelah tangannya, akan merogoh ke sakunya, lalu ia melemparkannya ke depan anak muda itu, ia menambahkan,” Jikalau bukan karena kitab ini, tidak nanti loolap dicelakai ketiga murid ku yang murtad itu dan sekarang terbinasa ditanganmu: Pergi pulang, semua itu disebabkan ke serakahanku: Di mataku, kitab ini ialah benda yang membawa alamat jelek, dari itu haruslah lekas-lekas dimusnahkan. Anak muda, sehabis kau melihat, lekas kau lemparkan pula kepadaku, hendak aku menggunai sisa tenagaku buat merusaknya, supaya tidak sampai terjatuh ke tangan orang jahat dan tak usah meninggalkan bahaya di belakang hari.." suaranya pendeta itu makin lama makin lemah. Kitab itu jatuh di depan Jie In sejarak lima kaki. si anak muda menggeraki tubuhnya, ia merayap. tangan kanannya diulur untuk menjemputnya. selama itu napasnya memburu, agaknya ia menggunai terlalu banyak tenaga, Kitab itu dapat juga diambil, itulah sebuah buku dengan kulitnya kulit kambing dan isinya dalam bahasa sangsekerta huruf hurufnya sangat halus.

"Siansoe, huruf hurufnya kitab ini sangat kecil, tak nyata aku melihatnya," ia kata.

Pendeta itu tertawa perlahan "Memang huruf-hurufnya halus sekali bagaikan kepala laler," katanya. "Matamupun sudah kabur, mana dapat kau melihatnya tegas..."

Jie In lantas merayap ke mulut guha, "Hei" bentak Poo Tan mendadak.

"Kenapa kau tidak mau melemparkan balik kitab itupadaku?" Jie In merayap terus.

"Aku hendak melihatnya ditempat terang" ia berkata. "Aku hendak melihat dengan nyata sekali, Kalau tidak, matipun aku tidak puas .." ia lalu merayap terus.

Wajahnya Poo Tan mendadak berubah. "Kau mau kabur?" dia berseru. Mendadak dia menyerang.

Sambil merayap itu Jie In mencoba menyalurkan pula napasnya. ia tidak merasakan sesuatu halangan kecuali dadanya masih sakit. Maka ia kata dalam hatinya: "Asat aku sampai di depan gua, selamatlah aku, Dia bisa mati, umpama kata dia menyerang aku, tidak nanti tenaganya cukup kuat..."

Ia girang sekali, maka selagi mendekati mulut gua, ia merayap bangun, untuk berlompat.

Justeru itu ia mendengar bentakan si pendeta dan segera terasa satu tenaga besar mendorong tubuhnya.

Tidak ampun lagi, tubuhnya terhuyung kedepan. ia mencoba mempertahankan diri, ia gagal, maka tidak ampun lagi, terus ia terkusruk ke mulut gua, hingga ia menjerit keras, sebab segera tubuhnya terjatuh ke dalam jurang... "Habis aku" demikian pikirnya. "Kecewa aku terbinasa dengan cara begini."

Dalam keadaan tinggal mati itu, anak muda ini tidak melupakan kitab yang dipegang tangan kanannya, bahkan ia masih meraba ketika sang angin yang biasa terdapat di dalam jurang, yang berputar sendirinya lantaran arahnya terkekang dinding bukit. Dengan lantas ia menggeraki kedua tangannya, juga kedua kakInya, untuk memutar tubuhnya, guna mengikuti aliran angin yang ada seperti angin puyuh itu.

Kalau tadinya ia menutup matanya, sekarang ia melek. untuk melihat ke bawah. oleh sang angin, ia menjadi seperti terbawa turun dengan terputar terus.

Maka tak lama tibalah ia di bawah di dasar jurang itu. ia menginjak tanah cuma dengan terbanting sedikit, meski begitu, ia menjadi lemas sekali, tenaganya seperti habis, kepalanya pusing matanya berkunang-kunang. Untuk sejenak ia kegelapan. Tidak ada salju turun di dalam jurang itu semuanya gelap. Dengan perlahan lahan ia menetapkan hati.

Kitab di tangan kanannya dipindahkan ke tangan kiri lalu dtngan tangan kanan ia merogoh kesaku nya,

Di sana ia dapatkan sepotong ho-sioe-ouw, sisa yang ia telah makan tadi, ia lantas masuki itu ke dalam mulutnya untuk dimamah dan di telan hingga ia merasakan bau harum dan dadanya dirasai lapang.

Dalam tempo yang sangat pendek. lenyap rasa sakitnya. "Adakah ini takdir?" ia berpikir, "Aku menyimpan ho-sioe-

ouw dengan maksud nanti dipakai menoIongi orang, siapa tahu sekarang akulah yang menggunainya sendiri .Dua kali aku terluka parah, siapakah yang menyangka?"

Lantas ia mengeluarkan Tiang coen Tan, ia telan empat butir, Habis itu ia duduk bersila, matanya dirapatkan, pikirannya dipusatkan ia bersemedhi tanpa menghiraukan lagi segala apa di sekitarnya. Berselang satu jam baru anak muda ini membuka matanya, ia mengeluarkan napas panjang, Terus ia berbangkit berdiri,

Ketika ia mengangkat kepalanya, la melihat mulut

jurang yang menjulang tinggi, sendirinya hatinya bercekat, ia membayangkan bagaimana hebat ia telah terjatuh dari dalam gua.

"Benar-benar hebat tenaga dalam dari Poo Tan" ia pikir, "Dibanding dengan Bie Lek sin Kang, dia masih terlebih unggul...Entahlah sekarang dia masih hidup atau sudah mati.,."

sekarang pemuda ini ingat bagaimana tadi, ketika ia mencampuri pundak pendeta itu, ia sudah menyerang dengan tipu silat Hian wan sip-pat Ciang yang dinamakan "Memutus otot dan nadi," hingga ia dapat membikin putus tiga lembar ototnya musuh, Karena alpa saja, ia kena dihajar si pendeta, ia girang, maka ia lantas tertawa.

Mendadak ia berhenti tertawa, Tiba-tiba ia ingat Thian Gwa sam Coencia. Maka ia lantas melihat kesekitarnya. ia tidak melihat mayat-mayatnya ketiga pendeta itu, ia heran.

"Aku terjatuh dan tertolong angin, mungkin kah merekapun begitu?" ia kata dalam hatinya, "Ah, sudahlah, buat apa aku pikirkan mereka itu.." ia lantas ingat Kouw Yan Boen, sInona yang cantik dan manis itu.

"Dia tentu lagi menunggui aku, dia pastilah tidak sabaran .

. . " pikirnya pula, Maka ia lantas simpan hati-hati kitabnya, lalu mulai mencari jalan untuk keluar dari jurang itu, ia menuju ke selatan.

Syukur jurang itu bukan mati, Ke arah selatan, jurang itu sampai kepada lembah terbuka, Maka keluarlah Jie In dari tempat maut itu, Hawa udara dingin sekali, ia jalan terus, ia tiba disebuah desa di mana rumah pada tertutup pintunya, ia jala n terus kecuali ia mengetuk pintu, guna menanyakan^ala nan kearah kecamatan Leng cio, ia minta keterangan di setiap dusun yang dilewati.

Umumnya orang memandang heran kepada-nya, sebab setelah jatuh di jurang, ia dandan tidak keruan, Bajunya pecah di sana sini, baju dalamnya sampai kelihatan iapun luka disikut dan dengkul, bahkan kaki kanannya terluka dalam bekas terbanting di dinding batu lorong gua, ia menggeleng kepala kapan ia menyaksikan romannya sendiri. Maka ia berjalan secepatnya bisa. Ketika akhirnya ia tiba di rumahnya Yo Loo- tiang, si orangtua sbe Yo di Oey chung, itu waktu sudah jam dua malam, tuan rumah semua sedang tidur nyenyak. maka ia menggedor pintu membuatnya orang mendusin dengan kaget.

"Tuan Jie diluar?" tanya Yo Loo-tiang dari dalam selagi ia menghampirikanpintu sambil mengenakan baju luarnya. ia segera menduga pada tetamunya itu.

"Ya," Jie Io menyahut, ia malu hati sebab ia mesti mengganggu tuan rumah. "Maaf aku mengganggu kau. Tolong buka pintu."

"Tidak apa, tidak apa." sahut tuan rumah berulang-ulang seraya ia membuka i pintu, sebelah tangannya memegangi lilin. Maka kagetlah ketika melihat roman orang, hingga ia menanya: "Ah, tuan Jie Kau kenapakah?"

"Aku terpeleset jatuh kejurang," Jie In mendusta, mukanya merah, "syukur aku tidak mati . . ."

"Oh" orang tua itu berseru kaget, "Syukur syukur silahkan masuk. Nanti aku suruh nona mantuku masak air untuk tuan membersihkan tubuh."

"Terima kasih, Lootiang." kata Jie In, menampik "ltulah tak usah. Aku mau berangkat

sekarang juga."

"Ah, mana dapat, tuan" tuan rumah mencegah, "Hari masih gelap dan hawapun dingin sekali Baikah kau berangkat besok pagi-pagi," Tuan rumah ini memaksa menahan, sedang anak isterinya telah bangun, di antara siapa ada yang repot menyalakan api dan memasak air. Terpa ksa Jie In menurut. ia ambil buntalannya untuk salin pakaian- Habis ia minum arak yang disuguhkan, ia diantar ke kamarnya, disilakan tidur.

Di dalam kamarnya Jie In tidak merebahkan diri, Duduk menghadapi api, ia mengeluarkan kitab Pou-tee Pwee-yap cin- Keng, untuk diperiksa, Namanya kitab, itu sebenarnya terdiri tiga helai, Memang benar, huruf-hurufnya sangat halus.

"Sy ukurlah dari Beng Liang Taysoe aku memperoleh pelajaran bahasa sangsekerta," katanya dalam hati, "jikalau tidak, kitab ini pastilah akan menjadi kertas sampah."

Ia lantas membaca. Tidak perlu banyak waktu untuk membaca habis, itulah ajaran Sang Buddha, untuk orang memelihara d irinya, bagian dalam dan bagian luar, pokoknya ialah huruf "Ceng," atau Tenang"

Ajaran itu dapat membikin hati bersih dan tubuh sehat, itu artinya, penyakit atau lukapun dapat disembuhkan kecuali luka sampai otot putus.

Pantas Kim Goat bertiga ingin mendapat kan itu. rupanya mereka ingin mengobati luka di dada mereka, khasiat lainnya, yaitu setelah hati bersih dan tubuh sehat, orang dapat membikin dirinya seperti muda pula.

Asalkan terus menerus orang membaca kitab itu, guna berlatih, Tentu sekali, tubuh sehat berarti tenaga brtambah. Bedanya ini dari pada Bie Lek Sio Kang yalah tenaga dapat digunai sambil duduk bersila saja.

Jie In memang rajin dan tekun, maka itu terus ia membaca, untuk mengingat dan mengapal diluar kepala, itu artinya, ia terus berlatih.

Untuk ia segala apa berjalan licin karena ia berbakat dan telah mempunyai dasar juga, Dengan cepat ia dapat menangkap artinya setiap pengajaran- Setelah mendapatkan ketenangannya dan pernapasannya sudah pulih seperti sediakala, ia memperoleh kefaedahan lain, ialah ia merasa matanya menjadi terlebih tajam lagi.

Sampai fajar Jie In tidak tidur, maka ketika tertampak sinar terang di Jendela, ia membuka pintu,

Yo Lop-tiang semua sudah bangun tidur, nona mantunya sudah repot bekerja di dapur, ketika dia melihat tetamunya muncuf, lantas dia menyediakan air dan lainnya.

Jie In merasa tidak enak sendirinya, ia tidak dapat mencegah kebaikannya tuan rumah itu. ia sebenarnya mau berangkat pagi-pagi kesudahannya ia pergi sesudah siang, ia meminta diri, ia pergi dengan naik kudanya.

Tidakperduli angin keras dan salju turun, ia melarikan kudanya keras, selewatnya kecamatan Leng cio.. ia berada di jalanan yang sepi, yang dikiri kanannya berbaris lebat pepohonannya, Tiba tiba ia ingat suatu apa.

" Kenapa aku tidak mau berhenti disini dan mencoba Poutee Ciang Lak di dalam rimba ini?" demikian pikirnya, "Perlu aku tahu, kemajuan apa aku telah peroleh..."

Begitu ia berpikir, begitu ia mengambil putusan, ia putar kudanya masuk ke dalam rimba, ia memilih satu tempat yang tidak terlalu lebat, setelah menambat kudanya, ia pergi duduk bersila di tempat di mana tidak ada salju. Mulanya ia berdiam, untuk mengerahkan tenaga di tangannya, lalu mendadak menolak keras. "Brak" begitu ia rnendengar. sebuah pohon di depannya tumbang karenanya.

" Hebat" pikirnya, ia girang bukan main. Apa yang aneh, serangan itu tidak mengeluarkan suara angin, pukulan Bie Lek sin Kang masih ada iringan anginnya.

"Baik aku mencoba," pikirnya, ia lalu menyerang dengan pukulan Liok Hap Hoa it. Di depannya, pohon tumbang pula, Tapi ia dapat kenyataan, pukulan Poutee Ciang Lek lebih dahsyat dan tenang. "Pastilah ini hasilnya Poutee Pwee-yap Cin Keng," kata ia dalam hatinya, ia girang bukan buatan, sebegitu sudah cukup, maka ia naik pula kudanya, untuk melanjuti perjalanannya, ia kabur ke arah Thaygoan.

Kapan akhirnya In Gak sampai di kuil Chin soe, di belakang kuil itu ia mendapatkan Yan Boen tengah berlatih tindakan "Kioe Kioug Ceng Hoan im yang Pou" di atas peka rangan yang beramparkan salju. ia lihat orang berlatih dengan sungguh-sungguh. Di dalam tempo dua hari, pesat sekali kemajuan sinona. Tentu saja ia girang sekali. "Adik" ia memanggil, Yan Boen berhenti bersilat dengan lantas.

"Engko In" ia berseru kapan ia melihat si anak muda kepada siapa ia berlompat menubruk. hingga mereka menjadi saling rangkul. "AdikBoen" kata In Gak tertawa, "Mari masuk." Yan Boen menurut.

Di dalam kamar Jie In duduk di atas pembaringan. "Bagaimana, engko In?" tanya sInona.

" Hebat," sahut si anak muda, yang terus menuturkan pengalamannya.

Maka sInona mengawasi, sinarnya kaget dan girang Benar- benar si engko In mirip sudah mati hidup pula, Diakhirnya, hatinya lega. Habis menutur Jie In menghela napas, lalu ia tertawa. "Adik Boen, mari kita pergi pesiar ke kota Thaygoan" ia mengajak. Nona itu menatap. mendadak dia tertawa.

"Bukankah engko ingin menyelidiki gerak-geriknya Ceng Hong Pay?" ia tanya. Jie In mengangguk. la tertawa pula, Maka sInonapun tertawa. "Marilah" Nona Kouw mengajak.

Maka dengan merendengi kuda mereka menujulah mereka ke dalam kota, yang dari jauh-jauh telah terlihat sayup-sayup. nampaknya kokoh dan teguh, sekitarnya luas duapuluh empat lie Tiga arahnya timur, barat dan utara bergunung cuma bagian selatannya yang berdatar panjang dan sempit. Dan inilah jalanan yang diambil muda mudi itu.

Gunung-gunung bersalju, diatasnya terlihat burung beterbangan sedap untuk memandangi pemandangan alam itu. Maka juga, ketika di belakang mereka terdengar berisiknya kelenengan kuda, mereka tidak menoleh untuk melihat, mereka terus bicara sambil tertawa dan bersenyum, tangan mereka tunjuk sana dan unjuk sini.

Segera juga lewatlah rombongan yang menunggang kuda itu, yang terdiri dari belasan orang. Ketika mereka sudah lewat sekira lima tombak. semua menahan kuda mereka secara mendadak. terus mereka berpaling mengawasi pemuda dan pemudi itu.

-00000000-

"Ha " berseru satu penunggang kuda yang usianya muda. "Di mana di dunia ada wanita begini jelek romannya Ha ha ha ha"

Yan Boen memang memakai topeng pemberiannya In Gak. Tapi la tidak senang, maka ia mau majukan kudanya, Alisnya pun sudah lantas bangun berdiri

"Hus" In Gak berkata seraya tangannya menarik sInona "AdikBoen, kau lihat aku." ia

lantas mengajukan kudanya untuk ditahan di depan si anak muda. "Tuan, di maka umum ini kau berani bicara tentang orang, apakah kau tidak takut pada undang-undang negara?"

Pemuda itu tertawa pula, ia menoleh kepada kawan- kawannya dikiri dan kanannya.

"Kamu lihat" ia berkata temb erang "Peajar rudin ini mungkin telah makan hatInaga dan nyali harimau maka dia berani kurang ajar di depanku" Lantas dia mengawasi In Gak, matanya mendelik: "Eh,pelajar rudin, aku Heng Toaya, aku gemar membicarakan halnya wajah wanita, aku tidak mengambil mumat pada undang-undang negara Habis kau mau apa, ..?

“Aduh"

Belum berhenti suara anak muda itu atau dia lantas menjerit keras bahwa kesakitan, sebab cambuknya In Gak sudah menyamber pipinya yang kiri, hingga pipi itu berbekas digaris merah, Celakanya untuk dia, tubuhnva terhuyung dua kali, tergelincir dari atas kudanya

Jie In sebal melihat keceriwisan orang, maka ia lantas menghadiahkan satu cambukan.

Belasan kawan si anak muda menjadi gusar.

" Hajar" mereka berseru-seru lantas mereka mau maju.

Si anak muda sehabis menubruk tanah, lantas berlompat bangun, Dia tidak takut, dia menjadi sangat gusar.

"Bagus, pelajar rudin" dia berteriak. tangannya yang sebelah menutup pipinya, "kau berani pukul orang?"

Jie In tertawa.

"Memang biasa aku suka menghajar orang di muka umum" sahutnya. "Tabiatku sama dengan tabiatmu"

Bukan main gusarnya si arak muda, dia lompat maju, tangannya dilunjurkan, niatnya menyamber pemuda kita, guna ditarik terjungkal dari atas kudanya.

Jie In bersenyum. cambuknya diayun, Belum lagi tubuhnya kena d isamber, atau tubuh orang itu, yang sebenarnya bernama Heng Coan, sudah kena terlibet, maka ketika cambuk d ig entak. dia lantas terangkat dan terlempar, jatuh belasan tombak jauhnya, terbabat diantara salju

Kejadian cepat sekali, kawan-kawannya Heng Coan tak dapat mencegahnya, Lalu satu diantaranya, yang sudah setengah umur, yang mukanya bundar, berkata r "Tuan, walaupun kau liehay, kami dari pihak Ceng Hong Pay, kami bukannya orang-orang yang dapat dipermainkan perbuatanmu ini, tuan ialah gara-gara diantara kita." Maka kau tunggu dan lihatlah"

Jie In menjadi gusar mengetahui orang adalah orang-orang Ceng Hong Pay, tanpa membuka mulut lagi, ia mengayun cambuknya, terus hingga tiga empat kafi. Maka ramailah suara belasan orang itu, yang berteriak teriak teraduh-aduh bahwa kesakitan, sebab cambuk itu merabu mereka, tubuh mereka terjungkal roboh dari atas kuda masing-masing.. Habis itu, dengan satu lompatan, Jie In tiba di depannya si orang muka bundar usia pertengahan itu.

orang itu, yang barusan mengeluarkan kata-kata mengancam juga turut roboh, ia tengah berlompat bangun kapan ia melihat musuh berada di depannya, saking kaget, mukanya menjadi pucat, untuk membela diri, ia menggeraki kedua tangannya berniat turun mangan terlebih dulu.

"Kau mau mampus" membentak Jie In yang tangan kanannya menyamber.

Dengan menjerit keras, kedua tangannya orang itu patah seketika dan darahnya pun mengalir Dia roboh pingsan

"Ceng Hong Pay itu benda apa?" tanya Jie In bengis, mengawasi semua orang Ceng Hong Pay itu yang telah pada merayap bangun, " Kamulah tukang berbuat sewenang- wenang yang tidak mengindahkan undang-undang negara sekarang aku beri ampunjiwa kamu, supaya kamu dapat membuat laporan kepada ketua kamu. Bilanglah supaya dia tahu diri dan membataskan sepak-terjangnya. Dapatkah kamu dibandingkan dengan tujuh imam darIngo Tay san? jikalau kamu tidak puas, kamu boleh cari aku? Aku si orang she JieBila nanti kamu ketemu ketua kami sampaikanlah hormatku"

Mendengar suara orang itu, mukanya orang-orang Ceng Hong-Pay itu menjadi pucat, dengan memayang simuka bundar, yang mereka kas Inaik atas kudanya, dengan terbirit- birit mereka menyingkirkan diri, itulah sebab berita hal Jie In dengan sebatang cambuknya mengundurkan ke tujuh imam darIngo Tay san telah menggemparkan dunia Kang ouw, bahkan pihak Ceng Hong Pay telah memesan semua anggautanya, apa bila mereka bertemu Jie In, mereka dilarang turun tangan, mereka diharuskan melaporkan kepada markas mereka.

Di luar sangkaan, kali ini mereka justeru main gila di depan si orang she Jie sendiri, Heng Coan sangat ketakutan dia mendahului lari sampai dia lupa pada kudanya. Menyaksikan kejadian itu, Yan Boen tertawa bergelak di atas kudanya Jie In melihat kejenakaan sInona, iapun tertawa, Tapi ia fekas berkata: "sekarang tak dapat kita pergi terus ke kota Thaygoan, -Mari kita kembali dulu ke Chin soe”

Yan Boen menurut tanpa mengatakan sesuatu. Untuknya, asal ia berada disisi si anak

muda sudah puaslah hatinya, Begitu si anak muda lompat naik kepung g ung kuda, ia menarik les-nya, untuk membikin binatang itu membalik arah, untuk kabur kembali ke kuil. " Heran, heran..." kata Jie In seorang diri di atas kudanya. Ia seperti mendumal.

"Heran apa, engko In?" sInona nanya. Dia menatap dengan tak mengerti "Apakah itu yang dibuat heran?"

"Aku merasa aneh," menyahut si anak muda "Ketika aku turun tangan dirumah Liesielong, aku menggunaInama Ceng Hong Pay, karenanya pembesar negara barulah mencari dan membekuk orang orang Ceng Hong Pay. sekarang buktinya mereka dapat kemerdekaan mereka, bahkan mereka jadi galak sekali. Kenapa kah?tidakkah itu aneh?"

SInona tertawa.

"Engko In, kau terlalu jujur" katanya, "Seharusnya kau memikir. Ceng Hong Pay itu telah kokoh- kuat dasarnya dan pengaruhnya besar sekali, sudah wajar jikalau mereka bersekongkol dengan pembesar negeri, jikalau tidak. mana dapat mereka dibiarkan saja? Bahkan mungkin Ceng Hong Pay justeru lagi berdaya- upaya untuk membekuk kau, engko"

Jie In bagaikan baru sadar, ia tertawa.

"Kau benar, adikBoen" katanya, "Kenapa aku tidak memikir demikian? Dasar kau cerdas" sInona tertawa pula.

"Sudahlah, jangan kau mengangkat-angkat aku" katanya, "Engko In, kau harus ajarkan aku ilmu cambuk mu tadi kau gunakan"

"Baik, nona manis." kata In Gak tertawa, ia menjiterkan cambuknya hingga kudanya berlompat dan lari keras, hingga lekas juga mereka kembali ke kuil, selagi mereka bertindak masuk ke dalam kuil, dari sana muncul tiga orang yang menyambut mereka sambil tertawa berkakak.

Bukan main girangnya si anak muda kapan ia telah melihat ketiga orang itu, yang bukan lain dari pada Kioe Cie sin- Kay Chong sie dan Kit Koen Coe Loei Siauw Thian beserta imam dari Chin soe. ia lompat untuk menyamber tangannya Siauw Thian seraya berseru: Toako Jieko Kapankah kamu tiba?"

Sia uw Thian tidak lantas menjawab, hanya ia mengawasi tajam kepada Yan Boen.

"Shatee" katanya kemudian, "kau telah mempunyaInona yang manis sekali kau sampai melupai kedua kakakmu"

Yan Boen masih memakai topengnya yang membuat mukanya sangat jelek mendengar kata-katanya Siauw Thian, ia likat sekali akan tetapi tidak dapat ia bergusar karena orang adalah kakak-angkat engko In-nya, ia tunduk dan diam.

Jie in dapat menduga tentulah si imam yang membuka rahasia, ia tertawa dan kata, “Jieko, masih saja kau tak dapat mengubah adatmu. Kau suka sekali menggoda orang Awas, jikalau adik Yan gusar dan dia menghajar kau, aku tidak akan bertanggung jawab" Siauw Thian menggeleng kepala, "Aku tidak takut" katanya, lagaknya tetap jenaka. "Di kolong langit ini mana ada tee-hoe yang menampar Jiepeenya?"

Terus ia berpaling kepada Yan Boen dan berkata dengan ramah: "Benar bukan, teehoe?" Yan Boen berdiam cuma matanya melotot kepada Jiekoe itu, paman yang nomor dua. Kioe cie sio Kay sebaliknya mengerutkan kening.

"Banyak yang harus kita bicarakan." katanya. "Mari masuk" Maka masuklah mereka, untuk duduk berkumpul di ruang dalam.

"LooSam" kemudian si pengemis tanya, Sekarang ia tertawa. "Bagaimana dengan urusan yang dikatakan si pengemis sheBeng?"

"Sudah beres." menjawab Jie in, " Hanya hampir saja jiwaku lenyap. .." ia lantas menuturkan pula peristiwa di puncak CioeAuw Hong itu.

Chong sie dan Siauw Thian mengawasi adik angkat ini.

Benar- benar pengalaman itu hebat. syukur adik ini selamat.

Jie In kemudian tanya: "Bagaimana dengan kedua bocah she Hoe itu?"

"Kau jangan kuatir," menyahut Chong sie, "Mereka sudah sampai di rumah mereka, Beng Tiong Ko telah menerima baik kata-kataku, untuk sementara dia berdiam di ciang peng, setelah kita kembalInanti, baru dia akan balik ke shoasay.

Hanya sekarang ini, Lao sam, kau telah mendatangkan ancaman bahaya yang bukan kecil.."

Jie in heran.

"Bahaya apakah itu?" tetapi Siauw Thian sebaliknya tertawa terbahak, "shatee liehay ilmu silatmu tetapi pengalamannya dalam dunia Kang ouw masih sangat kurang" berkata ini kakak angkat yang nomor dua.

"Selama yang belakangan ini, apapun yang terjadi didalam dunia Kang ouw, semua itu ada perbuatan kau. Coba kau pikir-pikir apa yang kau lakukan terhadap Liong bun Ngo Koay? Bagaimana dengan Imyang siang Kiam? Kau membikin Siauw Yauw Iesoe kabur dengan mengandung penasaran.

Dengan cambukmu kau mengundurkan tujuh imam darIngo Tay siu. Bukankah Goan cin coe ketua Ngo Tay Pay terluka dan terbinasa karena kau? Di kecamatan Heng koan kau telah membinasakan ketua cabang Ceng Hong Pay yang bernama Goei Gio dan

dua kawannya, meski benar mereka terbinasa tanpa luka- luka, Dan Pat Cioe Thiam coe Goh Hoa telah menemui ajalnya diatas menara.

Semua itu mereka duga adalah buah pekerjaan kau. Kau tahu selagi bersama toako aku memasuki wilayah - shoasay ini ditengah jalan aku melihat jago-jago dari lima propiosi Utara, Maka aku percaya di kota Thaygoan tentulah ada bahaya besar yaog mengancammu, shatee julukanmu Koay Cioe sie seng di Pelajar Tangan Aneh telah menjadi sangat terkenal di mana-mana"

Jie In berdiam hatinya bercekat, ia tidak menyangka ia telah menanam demikian banyak permusuhan.

Chong sie mengerutkan kening tetapi ketika ia berkata ia tertawa.

"Loo Jie, masih ada latu hal yang kau belum menyebutnya." katanya. "Nanti aku si pengemis tua yang menambahkannya. Loo sam, pekerjaan mu di rumah Lie sie loog bukanlah pekerjaan yang sempurna. Kau tahu di hari besoknya Pok Loo Jie ketua Ceng Hong Pa y sudah lantas datang menghadap pembesar negeri untuk menyangkal, sebagai kesudahan dari pertemuan itu telah diadakan batas tempo satu bulan untuk menangkap kau.

Kejadian itujuga diketahui oleh kota raja, pemerintah menjadi gusar maka telah dikirim sembilan belas pengawal keamanan dan istana untuk mencari kau, Demikianlah urusan sangat menggemparkan." Jie In berdiam, tetapi akhirnya ia tertawa. "Selama mereka itu bertindak secara terang-terangan, aku tidak takut" katanya, "Bukankah tidak dapat mereka itu main menduga- duga saja dan bertindak membabi buta? Aku akan meminta kesaksian berikut bukti-buktinya, jikalau mereka main paksa, biarlah mayat-mayat pada bergelimpangan pula."

Kioe cie sin Kay tertawa bergelak. dia menunjuki jempolnya.

"Sungguh kau gagah, shatee" ia memuji. "Menyangkal ialah jalan utama tetapi itu bukan berarti tersingkirnya pertempuran. Kau tahu, juga jago-jago dari Oey Kie Pay telah turut datang ke shoasay ini ketika ini hendak aku si pengemis tua menggunainya buat aku membereskan perhitungan lama, cuma aku kuatir karenanya aku nanti merembet- rembet Cee Lootee, Akupun menguatirkan nanti terulang peristiwa dua puluh tahun dulu itu..."

Mendengar perkataannya si pengemis, imam dari Chin soe, yang sedari tadi berdiam diri, lantas tertawa lebar.

"Chong Loosoe- kau nyata terlalu tak melihat mata pada aku. Kiauw cioe Koen loen cee Hong" ia kata nyaring. "Apakah kau kira aku si orang she Cee takut perkara?"

Siauw Thian tertawa, ia mengulapkan tangannya. "Semua yang hadir disini, semua tidak takut perkara" ia

kata nyaring.

"Bukankah benar demikian nona?" ia menambahkan pula Yan Boen kepada siapa ia menoleh, iapun bersenyum.

Nona Kaouw tidak betah memakai topeng, ia menyingkirkan itu, atas pertanyaan Siauw Thian ia bersenyum maka terlihatlah kecuali kecantikannya sInona juga manis dan ayu.

"Au dia begini cantik " kata Siauw Thian di dalam hati.

pantaslah shatee jatuh hati padanya " Habis itu Yan Boen memakai pula topengnya dia tertawa, Rupanya senang menyaksikan Siauw Thian dan chong sie mengagumi keelokannya itu.

Justeru itu diluar terdengar suara seperti barang jatuh. Angin lagi meniup keras tetapi itu tidak dapat mengelabui orang orang kosen di dalam kuil Cee Hong, yang air mukanya berubah, lantas mengayun sebelah tangannya, menerbangkan tiga batang paku Gin-teng.

Diluar jendela lantas terdengar suara tertawa dan kata-kata ini, "Cee Loo te, inilah bukan caranya menyambut sahabat baik. Kenapa sebelum bertemu, kau lantas menggunai tiga batang paku ini? Kalau begitu, nyata kau berpikiran cupat sekali."

Cee Hong merasa bahwa ia kenal suara itu, sayang ia tidak bisa lantas mengingatnya. Maka itu sembari mengayun pula tangannya, ia lompat kejendela, untuk lompat keluar sambil menanyai "siapa di luar?"

Jie In dan yang lainnya sudah lantas menyusul ke luar. Diluar jendela itu terlihat delapan orang, di antaranya ada

Hong Coan yang tadi diajar adat oleh in Gak. seorang lagi diantaranya yang tubuhnya tinggi dan besar yang mukanya merah dan hidungnya seperti hidung singa yang kumisnya putih semua mengawasi In Gak dengan tajam.

Ditangannya dia mencekal tiga batang paku ialah senjata rahasianya Cee liong barusan.

"Cee Lo too" kata dia sambil terus tertawa terbahak " baru dua puluh tahun kita berpisah lantas kau sudah tidak mengenali orang?" Dia tetap memanggil "loo-too" atau Imam tua.

sekarang cee Hong kenali orang itu, maka ia tertawa. "Aku tadinya menyangka siapa." ia kata, "tidak tahunya

yang berkunjung ini ialah sao-coe Coa Hok dari gunung Ya Jin san san-coe, apakah datangmu ini untuk membuat perhitungan perkara dua puluh tahun yang lampau?"

Coa Hok tertawa dingin.

"Ce Lotoo, apakah kau sangka aku si orang she Coa orang yang berpikiran cupat?" ia berkata mengejek. "Dulu hari itu kau telah terkena sebelah tanganku, maka dengan itu perhitungan sudah lunas, Kali ini aku datang kau tahu, ialah untuk si orang she Jie" ia lantas menuding In Gak.

Selagi dua orang itu berbicara, Siauw Thian membisiki adik angkatnya "Lao sam, kau lihat empat diantara mereka itu yang memakai ikat kepala hitam dan putih, Merekalah Biauw Kiang soe Yauw, empat siluman dari wilayah bangsa Biauw.

Kecuali liehay ilmu silatnya, mereka itu liehay juga jarum rahasianya yang dinamakan Boe eng san hoa Ciam atau jarum Menabur Bunga Tanpa bayangan yang hebat ialah jarumnya ada racunnya, racun mana, kalau mengenai tubuh, tak terpikirkan akibatnya, Maka itu hati-hatilah kalau sebentar kau menempur mereka itu. Kalau dapat baiklah mereka disingkirkan siang-siang..."

In Gak mengangguk. matanya mengawasi Biauw Kiang soe Yauw, tubuh siapa rata-rata jangkung kurus, muka mereka merah, kaki mereka bertelanjang, bajunya panjang sampai di lutut, sinar matanya kebiru-biruan, romannya sangat bengis.

Pula di dalam rombongan itu ada dua orang wanita, yang romannya cantikjuga, yang mengasi lihat senyuman tawar. Rupanya mereka itu mentertawakan Yan Boen, yang romannya sangat jelek. Dari bersenyum, mereka terus tertawa,

Nona Kouw sangat mendongkol, hingga ingin ia menghampiri kan mereka, untuk mengajar

adat, guna menggaplok mereka, Dengan menguasai diri sendiri, ia cekal keras tangannya In Gak. Jie In tengah memperhatikan musuh ketika ia merasai tangan lunak mencekal tangannya itu, ia lantas membalas memegang erat erat.

Ketika itu Chong sie berkata pada Loei Siauw Thian- "orang yang berdiri di sampingnya Coa Hok ialah siang Kauw sin san Kwee Hong Coen, ketua dari Kwee Kee Po dari siangpay.

Dialah seorang baik, pernah aku bertemu dengannya, heran, kenapa dia bercampuran dengan rombongannya orang she Coa ini. "

Jie In lantas memandang orang she Kwee itu, yang ia lihat benar beroman jujur, maka itu ia memperhatikannya. segera ia dapat kenyataan orang beroman duka tetapi itu tak mudah terkentara. ia menduga itulah mesti ada sebabnya.

Oleh karena Coa Hok menyebut langsung nama Jie In, sebelum Cee Hong sempat membuka mulut lagi, si anak muda lantas mengajukan dirinya.

"Aku Jie In, aku tidak berselisih dengan kau, orang she Coa, mau apa kau cari aku?" ia menegur, tertawa dingin-

"Ya Jin san coe bersenyum. "Apa yang kau lakukan, tuan kau harus mengerti sendiri" ia bilang "Apakah kau hendak tunggu sampai aku si orang she Coa menggoyang-goyang membikin capai lidahku?"

Jie In tertawa berlenggak, "Kau aneh, tuan- ia kita, "Apa yang aku si orang she Jie lakukan apakah aku mesti membiarkannya kau campur tahu? Kau telah menyebut- nyebut aku, baiklah sekarang kau boleh mengutarakan maksud kedatanganmu ini"

Kata-kata itu membuat Coa Hok heran, orang tak sedikitpun terlihat gentar, orangpun tak nampak luar biasa, Maka berpikirlah dia: "Kaum Kang ouw ramai bicara tentang dia, katanya dia sangat liehay, tetapi heran, sinar matanya biasa saja, iapun belum berusia cukup empat puluh tahun, Benarkah dia liehay? Ah, mungkin orang berbicara berlebihan " "Tuan, mengapa kau agaknya galak sekali?" ia tanya, tertawa, "Kau harus ketahui urusan di dunia itu haruslah diurus oleh orang di dalam dunia Aku si orang she Coa menempatkan diriku dalam Rimba Persilatan, aku lelah dimintai tolong, dari itu tak dapat aku tidak datang ke sini Tentang lainnya aku tidak mau tahu-menahu sekarang yang nomor satu: aku mau bicara perihal terluka dan terbinasanya Goan Cin cioe ketua darIngo Tay Pay, Dia memang bukan langsung terbinasakan kau tetapi toh secara tidak langsung dia terganggu olehmu, hingga karenanya lenyaplah ho-sioe- ouw itu. Kau toh tidak dapat mencuci tangan, bukan?

Lalu halnya Pat Cie Thian-coen Goh Hoa mati tak keruan di dalam menaranya. Hebat pekerjaan kau tuan, kau tidak meninggalkan bekas apa juga sebenarnya aku tidak ketahui hal itu tetapi kau tidak dapat mengelabui Thian, Di sana masih ada dua orang yang belum mati dan mereka dapat melihat wajah kau. sedangkan mengenai pedang Thay oh Kiam... Hm h m Pedang itu telah dapat dicuri pulang."

Oh kini sekarang ini baiklah omongan panjang dipersingkat. soal Goan cin coe dan Goh Hou itu saudara-saudara angkat aku si orang she Coa maka itu apakah aku tidak berhak untuk mencampuri urusan mereka? Tak berlebihan bukan?" Habis berkata, kembali dia tertawa, lama tertawanya itu.

Mendengar halnya masih ada dua orang yang belum mati," tahulah Jie In bahwa pekerjaannya Hoe Ceng kurang sempurna ia tidak menghiraukan ini, hanya ia kaget mendengar pedang Thay oh Kiam kena dicuri kembali oleh Coa Hok. maka ia berpaling kepada Kioe Cie sin Kay dan Kian Koen cioe. Tetapi dua saudara itu berdiam saja, suatu tanda merekapun tidak ketahui hal itu.

"Ah, inilah tentu hasil kelicikannya Coa Hok, maka juga dua saudaraku ini kena dikelabui," pikirnya, " KaLau begini, dia benar tidak dapat dipandang enteng..." Ia lantas mengawasi Ya Jin san-coe, hingga ia melihat dibebokong orang ada tersendoI sebatang pedang panjang yang terbungkus kantung biru, Tahulah ia pedang itu pedang apa. Maka mendadak ia mengasi dengar suara "Hm" dan sebelum tertawanya san Coa itu belum berhenti, tubuhnya sudah berkelebat maju.

Coi Hok heran, sebab mendadak ia melihat bayangan berkelebat ke belakangnya ia bercuriga tanpa bersangsi lagi, ia memutar tubuh sambil menyampok. Tetapi ia tidak mengenai sasarannya tubuh Jie Injuga tidak nampak.

Melainkan ia merasai bebokongnya enteng. Ketika ia meraba, ia kaget bukan kepalang, pedang yang digendolnya itu lenyap tanpa sayap. la lekas berpaling pula, uutuk mendengar tertawa dingin, tertawa ejekan-

Jie in berdiri di depannya, wajahnya tersungging senyuman dan tangannya memegang pedang yang barusan saja masih tergendol olehnya. Hanya sebentar Jie In bersenyum, lantas wajahnya menjadi sungguh-sungguh.

" Harap san coe maafkan Jie In" katanya, "Kita cuma saling tukar tangan saling memindahkan"

Coi Hok gusar luar biasa, sambil berseru ia lompat menyerang. Maka di depan matanya si anak muda lantas bergerak banyak bayangan tangan, itulah ilmu silat "Hoei Koa Ciang," atau "Bunga-bunga Beterbangan." siapa terkena pukulan itu, dibagian mana saja mestinya tulang tulangnya patah dan remuk.

Jie In tidak mau menyerahkan tubuhnya menjadi kurban, ia lompat mundur, berbareng dengan mana, Thay oh Kiam telah dihunusnya hingga dibadapan mereka terlibat berkelebatnya cahaya kepera k perakan yang menyilaukan mata, hawa anginnya pun dingin sekali.

Ya Jin san coe lantas lompat mundur. ia tahu baik, tangannya itu tak dapat melawan pedang mustika, Tapi ia tertawa dingin dan kata: "Tuan yang baik, kau jadi hendak menggunai pedang Thay oh Kiam melawan tangan kosong yang berdarah daging?Hm"

Jie In mengasi lihat roman dingin, Dengan sebat ia masuki pula pedangnya kedalam sarung-nya, sebab iapun cuma hendak memeriksa pedang itu tulen atau palsu, ia lantas menanyai "San coe, kau menghendaki bagaimana?"

Hati Coa Hok menjadi besar pula, ia menggerakipula kedua tangannya, untuk menyerang seperti tadi.

Jie In mau maju untuk melayani ketika Cee Hong berlompat maju sambil mengulapkan tangan dan berkata nyaring: "Tuan tuan, tahan dulu. Dua-dua pihak adalah tetamu-tetamuku dari jauh, baiklah kamu jangan bentrok, "Mari kita bicara baik baik" Coa Hok berhenti menggeraki tangannya, Dia mengasi lihat roman gusar.

"Cee Loo too, aku tidak akan mengganggu kau" katanya nyaring, Lantas dia menuding Jie In dan menambahkan- "orang she Jie, dalam tempo sepuluh hari, pasti aku si orang she Co akan mengambil pulang pedang Thay oh Kiam itu Untuk sementara aku si orang she Coa suka melepaskan kau tetapi kau tidak bakal lolos di tangannya sembilan belas siewie dari istana serta orang-orang Ceng Hong Pay Kau catatlah, mengingat pertemuan kita hari ini, nanti aku orang she Coa akan menolongi kau mengurus jenazahmu"

Jie In gusar mendengar kata-kata itu, ia lompat maju. "Orang she Coo, bicaralah dengan jelas" ia membentak "Apa hubungannya sekalian siewi dari istana itu serta orang

orang Ceng Hong Pay. Ah, teranglah, kau juga menggunai daya busuk memfitnah orang"

YaJin san coe tertawa terbahak.

"Aku si orang she Coa, aku bekerja belum pernah meminjam tangan orang" ia bilang. "Baiklah aku menjelaskan, kawanan siewie dan Ceng Hong Pay itu bekerja mengenai urusan Lie sie Iong. Tentunya kau sudah tahu sendiri tetapi kau masih menghendaki kubicara" "Benarlah seperti dugaan toako" kata Jie-In dalam hati, Tapi ia bersenyum dan berkata: "Kau berguyon, perbuatan itu tak nanti di lakukan Jie In, atau kalau ia melakukannya, tidak nanti ia pinjam tangan orang memfitnah Ceng Hong Pay jikalau kau tetap menuduh aku boleh menyampaikannya bahwa aku bersedia menyambut mereka "

Coa Hoa mengangguk.

"Bagus" katanya "Beg inilah pembicaraan kita Tuan, andaikata kau beruntung memperoleh keselamatan dirimu, nanti malam tanggal tujuh kita bertemu pula di gelanggang di Poan-Coan Hip peng"

Jie ln tertawa lebar.

“Jikalau Coa san- coe tetap menjual tenagamu untuk sahabat." katanya menyambut tantangan "baiklah, nanti tanggal tujuh malam di Poan Coan aku si orang she Jie akan memberi keadilan kepada kau"

Coa Hok tidak mau banyak omong lagi, ia merangkapkan kedua tangannya, tanda memberi hormat sampaInanti mereka bertemu pula.

Justeru itu, di dalam rombongannya terdengar orang menjerit keras, lalu tubuhnya Heng Coa n nampak terpental roboh

Yan Boen benci betul pada Heng Coan bukan saja sebab mulutnya usil, juga sekarang dialah yang datang membawa kawan untuk membikin rewel, maka itu selagi Jie in melayani Coa Hok bicara, dengan tiba tiba ia lompat kepada orang yang dibenci itu, tanpa membilang apa apa, ia menyerang dengan pukulan "Lima Kali Mementil Tali Tetabuan," ia menghajar dada.

Tepat serangannya itu, maka pada patahlah tulang tulang dada si orang she Heng, yang tubuhnya terpental dua tombak lebih, mulutnya menyemburkan darah hidup, hingga salju yang putih berubah menjadi merah. Coa Hok mendongkol bukan main tetapi ia dapat menahan sabar, Dengan mengeluarkan tertawa dingin dua kali, ia kata: "Urusan kamu dengan Ceng Hong Pay, aku si orang she Coa tidak mau mencampur tahu Di antara kita berdua. lihat saja lain hari"

Selagi tertawa itu, ia berlompat melewati tembok pekarangan dengan disusul kawan-kawannya, kecuali siang cauw sin Tao Kwee Heng Coen, yang mana berdiri menjublak saja.

Kioe Cie sin Kay lantas memberi hormat, sembari tertawa ia kata: "Kwee Poo coe, sudah lama kita tidak bertemu Poo coe, agaknya ada apa-apa yang membuat kau masgul. sudikah kau memberi keterangan padaku?" Hong Coen lekas lekas membalas hormat.

"Sa udara Chong, dengan sesungguhnya aku mempunyai satu urusan," ia menyahut sabar, "Aku tidak sangka bahwa kau dapat melihatnya. Aku lelah berusia lanjut tetapi aku tidak dapat menenangkan diri, karenanya aku menjadi buah tertawaan-..."

Kiaw Cioe KoeoIoen tertawa "Kwee Poo coe," katanya, "di luar sini angin besar, mari masuk untuk kita dapat memasang omong di dalam." Kwee Hong Coen menerima undangan itu. Maka masuklah mereka semua.

Ketika itu kacung sudah menyajikan barang hidangan serta araknya, mereka lantas duduk ber-cakap2.

Setelah minum arak tiga takaran, Hong coen menghela napas.

"Sebenarnya urusanku ini menyulitkan aku." katanya, "tidak seharusnya aku mencampur tahu tetapi juga tak dapat aku tidak menanyakannya JieTayhiap. aku minta janganlah kau keliru mengerti dan menduga bahwa aku mempunyai sesuatu kepentingan dengan Ceng Hong Pay."

Jie in tertawa riang. "Kwee Poo coe, jikalau kau ada bicara, bicaralah" ia menjawab. "Apa juga urusan itu,

asal yang aku Jie in dapat, pasti suka aku membantu kau."

Masih Kwe Hong coen merasa sulit, beberapa kali ia hendak menbuka mulutnya, selalu ia gagal, baru kemudian ia menanya juga: Jie Tayhiap. pencurian di rumah Lie sie long itu, benarkah perbuatan Tayhiap?"

Jie ln nampak terperanjat "Benar itu perbuatanku." ia mengaku. "Mungkinka h perkara itu ada sangkut pautnya dengan poo coe? jika Lau poo coe terseret-seret tidak keruan, suka aku menyerahkan diri untuk membebaskannya..."

Tetapi Hang Coen tertawa lebar, ia menggoyang- goyangi tangannya.

"Bukannya begitu, tayhiap" ia bilang. "Tentulah tayhiap menyangka aku lagi bekerja untuk pembesar negeri guna memecahkan perkara curi itu, Hal yang sebenarnya tidak demikian Dengan kawanan anjing itu aku tidak bersekongkol. Aku justeru mengagumi kau... Tayhiap. aku mohon tanya, ketika malam itu kau bekerja, apakah di antaranya kau mendapatkan sebuah patung Bie Lek Hoed perunggu?"

Jie In tertawa tawar.

"Benar," ia mengaku pula. "Aku ketarik dengan buatan halus dan indah dari patung itu, aku mengambilnya untuk aku membuat main. Kecuali indah, aku tidak melihat apa apa yang luar biasa, maka itu, mengapa poo coe agaknya memandangnya berharga sekali? Apakah ada rahasia apa apa mengenai patung itu?"

Hal telah menjadi menarik hati, maka semua orang mendengari dengan penuh perhatian. sebaliknya Yan Boen, sinar matanya yang bagus belum pernah berkisar dari mukanya Jie In. Mengetahui patung Bie Lek Hoed itu sudah ketahuan di mana adanya, hati sing Kau sio Tio menjadi lega, maka ia dapat tertawa lebar.

" Karena patung berada di tangan tayhiap. tak usahlah aku berkuatirpula" katanya. "sekarang ijinkan aku menghormati tuan-tuan dengan secawan arak. sebentar aku nanti memberikan keteranganku"

"Bagus" berkata Siauw Thian gembira "Kita sebenarnya berada di tempat yang berbahaya, tetapi kita dapat duduk minum dengan tenang dan gembira, inilah sungguh hal yang menarik hati siapakah menduga kalau umpamanya kuil ini tengah diintai mara bahaya?"

Hong coen berhenti tertawa.

"selagi aku datang ke mari, kuil ini memang telah diawasi sejumlah orang," ia berkata." Tuan tuan semua orang-orang Rimba Persilatan yang lihay, nyata tuan-tuan tidak gentar hati, Memang juga, tuan-tuan mana takuti segala ras e dan kelinci? si orang tua she Coe benar teleng as. tetapi dia tidak dapat bekerja sama dengan mereka itu. satu hal dapat aku sebutkan dialah seorang j umawa, dari itu, mungkin dia dapat mencegah mereka itu bertindak sembrono. Harus diakui pula, selama ini Ceng Hong Pay lagi mengalami kemalangan-"

"Tadi ada disebut sembilan belas siewie yang dikirim oleh kota raja," berkata chong sie " bukankah mereka itu yang disebut Tiat-wiesoe? Di manakah adanya mereka sekarang? Apa benar diantaranya ada Tiat-pie Kim kiam Ho sin Hok dan Ho Hong sat Ciang Tian Can Hiong? mereka itu murid-murid Siauw Lim sie bukan pendeta, tinggi tingkat derajat mereka menjadi paman dari ketua Siauw Lim sie sekarang.

Turut dugaanku, tidakperduli yang mana satu, dia mesti lebih liehay daripada aku si pengemis tua. Maka itu, Lao sam. aku mau tanya kau, sanggupkah kau melayani mereka?" In

Gak tertawa.

"Toako perlu apa kau mengeluarkan kata-kata yang melenyapkan kegembiraan kita?" ia menjawab "Aku bukannya si orang terkebur, tetapi dapat aku bilang, bagaimana mereka datang, bagaimana aku menyambutnya, untuk menyuruh mereka kembali" ia tertawa ia berpaling kepada Kwee Hong Coen, menambahkan "Kwee Poo coe, aku minta sukalah kau omong tentang patung Budha perunggu itu"

Mendapatkan orang demikian berani dan sikapnya sangat tenang Hong ceon bertambah kagum, la tertawa ketika ia menyahuti: "Patung itu asalnya ialah bingkisan dari pembesar berpangkat hoan-tay propiosi HooIam terhadap pangerao Kee Cin ong, itulah patung buatan jaman coe, itu dapatlah dikatakan harganya yang tidak dapat di taksir. Di dalam perut patung itu ada tersimpan sebuah mutiara mustika pie haa coe yang dapat melawan hawa dingin..."

"Pantaslah," kata In Gak. yang seperti baru sadar, "Ketika akupegang itu, aku merasakan hangat luar biasa, itulah sebabnya."

Kwee Hong coen menjelaskan lebih jauh "Anakku si siang telah membuka perusahaan Lok Siauw Pia uwkiok didalam kota Kayhong, syukur karena ia memperoleh tunjangan dari sahabat-sahabatnya, meski usahanya tak maju, tempat- tempat yang dilalui banyak dan jaraknya jauh, jarang sekali dia mendapat kesukaran" Maka itu terjadilah boantay dari HooIam itu mempercayai dia meng angkutan patung Buddha itu, Cara pengangkutannya yaitu yang dibilang pangangkutan secara menggelap.

Oleh karena tanggungjawabnya besar, anakku telah menghentikan untuk sementara waktu

piauwkloknya, ia memusatkan semua orangnya yang terpilih untuk pengangkutan itu. Di tengah jalan tidak terjadi sesuatu, Menurut dugaan ditengah hari kedua dia bakal tiba dikota raja, apa mau malamnya terjadilah pencurian ditempat bermalam.

Semua barang tidak ada yang kurang kecuali patung itu, Penjahat licin sekali, tidak ada tanda-tanda parbuatannya, tidak ada sesuatu yang mencurigai. oleh karena itu, anakku telah ditangkap dan ditahan di kantor Kioeboen tetok kemudian ia diberi waktu setengah tahun untuk mendapatkan patung mustika itu..."

Hong Coen menghela napas, ia tuang hirup araknya.

"Oleh karena kecelakaan itu, buat beberapa bulan lamanya aku mesti membantu." kemudian ia melanjuti, "Akhir- akhirnya aku mendapat keterangan patung berada dalam tangannya Liesie long. Aku lantas membikin penyelidikan tetap tidak ada hasilnya. syukurlah sekarang mustika berada ditangan tayhiap. Umpama kata tayhiap sudi membayar pulang itu padaku, aku sangat berterima kasih."

Mendengar itu Jie In tertawa lebar.

" Untukku itulah barang tidak berharga seberapa." ia kata, "Nanti aku mengambilnya." ia lantas bertindak ke luar. Tidak lama ia telah kembali, tetapi sekarang ia telah menukar pakai baju serba putih, baju dan celananya sampai pun sepatunya.

Juga topengnya ia tukar dengan yang ia pakai di cioe Kieo chung, hingga mukanya terlihat pucat pasi dan menyeramkan. Di tangannya mencekal patung Bie Lek Hoed tinggi satu kaki, patung mana terlihat tertawa gembira, dadanya terbuka, nampaknya bagus dan hidup sekali, sembari bertindak masuk. la tertawa dan kata: “Jikalau poocoe tidak menerangkan, sampai sekarang pastilah aku tetap tidak ketahui di dalam patung ini ada mutiara mustikanya, cuma diwaktu baru mendapatkannya aku heran hawanya hangat."

Lantas dengan kedua tangannya ia menyerahkan patung itu pada jago she Kwe itu.

Hong Coen menyambuti, ia tidak mengucap terima kasih, hanya sejak orang muncul, terus ia menatap wajah orang, ia heran bukan main. Jie In tertawa, ia berdiam saja.

Jie Tayhiap" kata jago itu akhiroya, "adakah ini wajahmu yang asli." Jie In tertawa pula, ia tidak menjawab hanya ia menyingkirkan topengnya, hingga tertampaklah wajahnya yang muda dan tampan.

"Aku hendak keluar sebentar" kemudian In Gak berkata "kalau ada orang datang kemari harap jangan memberitahukan aku telah pergi..." Habis berkata ia lantas melompat "Engko In" YanBun memanggil.

Tapi cuma sedetik, anak muda itu sudah keluar darijendela, lenyap di tempat gelap diantara angin dingin...

*** BAB 18

Kiu Cie sin kay mengangkat cawan arak nya, untuk menenggak isinya, kemudian dia tertawa dan berkata:

"Kwee Poo cu, adikku ini luar biasa sekali. Baik tenaganya maupun kecerdasannya, dia mengatasi kebanyakan orang. Di dalam hal ilmu silat, aku si pengemis tua, aku tidak nempil satu cacadnya adikku ini ialah dia rada besar kepala, dia suka membawa maunya sendiri sekarang dia pergi, aku kuatir kota Thaygoan bakal dilanda badai atau gelombang dahsyat"

Sembari berkata begitu, pengemis ini melirik Yan Boen, maka melihat sInona yang bertingkah kemanja-manjaan itu, mulutnya dimonyongkan tandanya dia lagi mendongkol. Maka ia tertawa dan meneruskan berkata "Nona Kouw yang baik, engko In-mu itu tidak bakal cepat-cepat pulang, meski begitu kau tenangkanlah hatimu, terhadap dirinya tidak bakal terjadi suatu yang diluar dugaan. “

Siauw Thian sembari bersenyum, menambahkan si pengemis yang jail itu "Kalau sampai terjadi sesuatu, aku Loei Siauw Thian, pasti aku akan mencarikan gantinya yang jauh melebihkan tampannya engko In- mu itu. Bicara dari hal yang benar nona, kalau dia bilang, bukan cuma kau, akupun bakal jadi sangat bersusah hati" Kata-kata itu membikin Kiau cioe Koenloen ceo Hong dan Siang Kiauw Sin Tai Kwee Hong coe menjadi tertawa berkakak hingga sInona turut tertawa tetapi mukanya bersemu dadu, karena dia girang berbareng jengah ....

Berlima orang itu minum terus, mereka bicara dengan asyik, Ya n Boen pun cukup kuat minum arak maka dapat ia menemani terus.

Apa yang mereka bicarakan ada prihal dalam kaum Rimba Persilatan atau kalangan Kang ouw sama sekali mereka tidak menimbulkan urusan mereka sendiri, dengan begitu dapatlah mereka melewatkan sang waktu dengan gembira.

Tanpa merasa satu jam telah lewat, Mereka tentu masih berbicara terus dengan asyik kalau tidak telinga mereka mendengar suara yang mencurigai diluar di dekat jendela. ceo Hong yang airmukanya lantas berubah hingga ia mau lantai bertempat bangun, ia dicegah chong Sie, siapa mengangkat tongkatnya dan berkata sambil tertawa," Kwe Poocoe, jikalau kau tidak sudi memaafkan kami, baiklah, lain tahun diharian Toan Ngo, aku si pengemis tua pasti akan berkunjung ke gedungmu untuk menerima pengajaran dan kau"

Kwee Hong Coen melengak, tetapi hanya sejenak segera ia sadar, Maka ia lantas tertawa dingin.

“Jikalau demikian, Chong Losoe baiklah aku si orang she Kwe akan bersedia menyambut kedatanganmu nanti." ia berkata.

Baru jago she Kwee itu berkata demikian tiga orang terlihat bertindak masuk, Yang satu adalah Ya Jin san-coe Coa Hok.

Dua yang lain yang tubuhnya besar dan sikapnya keren ialah: Yang satu berpakaian abu abu gelap. alisnya gompyok.

matanya bengis, hidungnya bengkok. mulutnya lebar. Dia berkumis putih pendek dan kaku. Dia bermuka kasar dan tertawanya tertawa licik. Di punggungnya dia meng g endol sepasang senjata luar biasa, yang biasa disebut tombak long- gee-sok atau gigi serigala.

Yang satunya pula seorang tua berkumis ubanan, sepasang matanya tajam tanda dia bergusar. dia nampak bengis. Dia membekal sebatang pedang, yang juga berada di bebokongnya.

"Kwee Poo-coe." semasuknya mereka, Coa Hok lantas menanya, "ke mana perginya si orang sheJie."

Hong coen terperanjat, syukur ia tabah, parasnya tidak menunjuki sesuatu, bahkan ia lantas bersenyum, Ia mau memberikan jawabannya hanya sebelum ia sempat membuka mulut dari luar lantas terdengar suaranya Jie In: "siapa tuan yang mencari aku si orang she Jie?"

Kata kata itu belum berhenti mendengung atau orangnya sudah berada di dalam. Ketika

ia melihat Coa Hok mendadak menjadi gusar. segera ia menegur bengis: “San-coe benarkah kau tidak dapat menanti sampai janji kita tanggal tujuh lain tahun? jadi kau telah mencari bala bantuan untuk kita segera memutuskan siapa tinggi siapa rendah?"

Melihat Jie In, Coa Hok melengak. la lantas melirik kepada dua kawannya.

Ketika itu Cong sie berbangkit berdiri, dia menghadapi Coa Hok untuk tertawa dan menanya: "Coa san-coe. bukankah kedua sahabatmu dengan siapa kau datang bersama ini ialah Ho Tayjin serta Tian Tayjin dari istana kaisar?"

Suara tertawa itu mengandung ejekan, Coa Hok mengerutkan kening, Dia agak jengah, tapi dia tertawa. "Benar, inilah Ho Tayjin dan Tian Tayjin" sahutnya, "Nah, kamu belajarlah kenal satu sama lain"

Chong sie mengulur tangannya, "silahkan duduk silahkan duduk" ia mengundang. Ho sio Hok dan Tian Ban Hiong tetap berdiri tegak. muka mereka bermuram-durja, mulut mereka mengasi dengar suara yang tak sedap: "Hm"

Kian Koan coe menjadi tidak puas, alisnya terbangun, akan tetapi diwaktu ia hendak membuka mulutnya. ia mendengar Coa Hok berkata pada Jie In: "sahabat she Jie, kita orang benar kita tidak dapat mendusta. Aku numpang tanya kau barusan kau pergi keluar atau tidak?"

Jie In mengasi lihat roman sedikit kaget.

"Benar" katanya cepat, "Tadi aku merasa perutku kurang enak. aku pergi untuk membuang air kecil, Aku pergi tak lama, cuma sebentar, Apakah ada sesuatu yang tidak layak?"

Sekarang ini Jie In telah menukar topengnya hingga ia tampak seperti pelajar usia pertengahan, bajunya hitam, sepatunya hitam juga. Im Hong sit ciang mengurut kumis jenggotnya, Dia tertawa dingin. "Coa san coejangan kau kasi dirimu diperdayakan pelajar rudin ini" katanya nyaring.

"Menurut aku, paling benar kita bawa dulu dia pulang ke kantor, disana baru kita bicara"

Jie In mendengar kata kata jumawa itu dengan ia tertawa dingin.

"Tunggu sebentar." menyahut Coa Hok yang tertawa. "Kita harus omong dulu biar jelas Apakah para hadirin disini dapat memberi kesaksian bahwa sahabat Jie telah tidak pergi keluar?"

“Kita kaum Rimba Persilatan, kita harus omong terus terang" berkata Siauw Thian yang tertawa lama, "sebenarnya ada urusan apakah kamu datang secara tiba-tiba, lantas kamu garang begini? Datang datang kamu menegur orang she Jie, si orang sheJie lagi minum arak disini dan dia keluar untuk membuang air kecil. Aku hendak tanya, apakah itu melanggar undang undang?"

Coa Hok tertawa. "Menyesal aku terburu napsu, hingga aku omong belum jelas" ia kata. "Baiklah kamu ketahui baru saja setengah jam yang lalu, di kantor soenboe telah terjadi peristiwa hebat.

Disana ada sembilan belas siewie tayjin kecuali ini kedua tayjin she Ho dan sho Tian, tujuh belas siewie telan ada yang menotok urat gagunya dan dimusnahkan ilmu silatnya, bahkan yang dua, bebokongnya dihajar dengan tangan yang berat sampai mereka terbinasa seketika. Di tembok telah di tinggalkan tulisan yang menyebut namanya pay-coe dari Ceng Hong Pay serta empat enghiong lainnya yang berkenamaan.

Membunuh pembesar negeri sama saja dengan pemberontakan, maka pikirlah kamu apakah namanya kedosaan semacam itu?"

Jie In tertawa.

"Apa juga yang aku bilang, kamu bertiga tentu tidak mau percaya" ia kata. "Bukankah kamu hendak menangkap aku si orang sheJie? Tapi dapatkah orang dipersilahkan tanpa sebab dan bukti? Coa san coe kaulah orang Kang ouw tersohor, kenapa kau berkonco dengan segala anjing?"

Coa Hok kena dibikin bungkam, mukanya merah lantaran ia panas Ho sia Hok menjadi sangat gusar, ia dikatakan anjing.

" Cukup karena kata katamu ini, kau dapat digusur ke depan pembesar negeri" dia berteriak.

Mata Jie in membelalak. la tertawa mengejek.  "Apakah kau yang dinamakan Tiat pie Kim-koog Ho sio

Hok?- ia tanya, Jangan kau banyak lagak Dimata aku si orang sheJie tidak ada manusia semacam kau"

Dengan kedoknya itu Jie In sekarang dengan tertawanya, dengan aksinya itu, ia menjadi menyeramkan.

Loe Siauw Thian nimbrung. ia kata. “Jie Tayhiap. tepat apa yang kau bilang. Terhadap manusia semacam ini, yang menghina rumah perguruannya, aku si orang sho Loe juga tak berkesan baik." Hebat kata-kata itu untuk Ho Sio Hok dan Tiao Ban Hiong, dibilang menghina murid-murid murtad dari Siauw Limpa y, ilmu silat Siauw Lim sie terdiri dari tujuh puluh dua rupa di antaranya ada sepuluh rupa yang tak boleh di turunkan kepada murid bukan pendeta. Pula ilmu silat itu tidak dapat diwariskan semua kepada satu orang untuk itu perlu ditilik bakatnya si murid.

Sio Hok dan Ban Hiong berbakat baik, tetapi mereka tidak suka menjadi pendeta, mereka tidak puas tidak mendapatkan beberapa ilmu yang terlarang itu, oleh karena pikiran mereka cupat, diam-diam mereka mencuri lihat ketika di ruang Lo han tong orang lagi berlatih.

Perbuatan ini kepergok. mereka dihukum dengan dipenjarakan dipendopo Kouwsian lian. Mereka tidak diam saja. Dengan pukulan Tatmo sian ciang, mereka merusak pintu dan kabur, wakf u mereka dirintangi mereka sudah melukai tiga puluh enam saudara seperguruan mereka, lantas mereka merantau.

Lebih jauh mereka berhasil menciptakan pukulan mereka masing masing yaitu Tiat pie Kim kiam dan Im Hong sat Ciang, Mereka masih dicari oleh pihak Siauw Lim sie, lantaran sangat terdesak. lantas mereka masuk bekerja di istana.

Karena mereka menjagoi, mereka lantas dikenal sebagai Kiong boen siang Kiat, dua jago dari istana. Mereka bercacad, mereka paling takut mendengar pembeberan kemurtadan mereka, sekarang rahasia mereka dibuka Loei Siauw Thian, bahkan mereka dicaci, bukan main gusarnya mereka, muka mereka menjadi merah padam. Ban Hiong lebih aseran, maka ia sudah lantas menyerangJie In. ia menyamber.

Sambaran itu samberan lihay, karena dbarengi dengan totokan, untuk itu orang mesti berlatih duapuluh tahun. Untuk Rimba Persilatan, itulah ilmu yang langka.

Jie In terkejut melihat datangnya samberan, tetapi ia ingin menguji. ia memasang mata. Sebelum lengannya tersamber ia berdiam saja, baru kemudian, ia kas i turun lengannya, sembari tertawa, ia membalas menyerang dengan jeriji tengahnya, menusuk telapakan tangan penyerangnya itu.

Tian Yan Hiong tidak menduga bahwa orang demikian berani, tidak sempat ia menarik pulang tangannya, dengan lantas ia merasa telapakan tangannya kaku. Ketika ia menarik pulang serangannya, mukanya pucat.

Jie In mengawasi sambil tertawa.

"Can Tayjin, di sini bukan tempat untuk kau banyak lagak" ia berkata. "Aku si orang sheJie suka memberInasihat padamu, baiklah kamu lekas pulang ke kota raja, dengan begitu kamu masih dapat memegang kekal nama baikmujikalau kamu tetap hendak meng andali pangkat dan memaksa menuduh orang sebagai penjahat, aku si orang sheJie tidak menerimanya Baiklah kamu ketahui, kuil Chia soe ini ialah kuil di mana nama baikmu akan ambruk"

Ban Hiong berdiam begitu juga Hosin Hok. Keduanya kaget sekali, samberan Ban Hiong barusan ada samberan "Twie hong kim hiat" yang hebat dari Siauw Lim sie dan digunakannyapun secara mendadak tetapi orang tidak takut, bahkan orang memapakinya dengan berani.

Coa Hok pun kaget hingga air mukanya berubah, ia dapat melihat lebih tegas lagi,

Diam-diam ia menghela napas, Di punggungnya si orang sheJie ada tergendol Thay oh Kiam, pedang mustika yang ia arah. Itulah pedang yang di rampas darinya dimuka orang banyak, Bagaimana ia malu.

Sekarang ia ingin merampas pulang pedang itu dan baru pertemuan juga telah dijanjikan. Tetapi di saat ini ia menyaksikan kepandaiannya Jie In, ia menjadi putus asa.

Jie In juga mengagumi Tiao Ban Hiong, Benar ia dapat menotok tetapi iapun tersamber sedikit dan ia merasa sedikit sakit pada lengannyaJadijago itu benar liehay. Meski demikian, mendengar perkataannya Jie In itu. Ban Hiong tertawa tergelak, ia anggap orang terlalu tekebur.

"Kau memang liehay, tuan, cuma kau terlalu mengangkat dirimu" ia kata, "selama belasan tahun, belum pernah aku menemui orang sekurang ajar seperti kau terhadap aku si orang she Tiao.

Di luar, Udara bersalju itu bagus sekali, mari kita pergi kesana jikalau aku tidak dapat membekukmu, tanpa kau mengatakannya lagi, selain kami akan menghapus nama ka kami juga akan pergi menyembunyikan diri"

Habis mengucap. tanpa menanti jawaban, ia lantas memutar tubuhnya untuk pergi ke luar, ia lantas diturut kawannya sesudah kawan ini memandang Jie In sambil bersenyum.

Coa Hok terus berdiam. Dia memandang Chong sie, agaknya dia mau membuka mulutnya tetapi gagal, dia cuma menghela napas panjang.

Kioe Cie sin Kay dapat melihat sikap orang, ia percaya orang buruk tetapi belum terlalu buruk. Maka ia tertawa dia kata: "Saudara Coa jangan kau berkuatir, Aku tanggung saudaraku tidak bakal kalah"

Coa Hok bersenyum.

"Aku tahu kamu bakal menang hanya urusan menjadi bertambah besar," ia kata. "Tidak perduli kamu bakal menang atau kalah tetapi satu hal sudah pasti, yaitu semenjak ini kamu bakal tidak mempunyai kaki untuk ditaruh di dalam kalangan Rimba Persilatan..."

Mendengar perkataan itu, Loei Siauw Thian tertawa. "Coa San coe" ia berkata, "dengan kata-kata mu inInya

ialah kau bukannya seorang buruk jangan san coe berkuatir. Bukankah setiap orang dapat main sulap? Kami mau tetap dengan sepak terjang kami, cuma sayang Kiong boen Siaog Kiat, mereka bakal menemui keruntuhannya.” Coa Hok kenal baik Siauw Thian, ia mau percaya perkataan orang ini. ia mengangguk. "Baiklah" ia bilang, "Mari kita ke luar" ia memutar tubuhnya dan bertindak pergi.

Jie In dan kawan kawannya bertindak keluar, Kiong boen Siang Kiat sudah menantikan dengan tidak sabaran, mata mereka mendelik. Ban Hiong tertawa dingin begitu lekas ia melihat munculnya musuh.

Ketika itu angin menderu deru, kembang salju beterbangan, maka di depan mereka cuma terlihat benda putih melayang layang. Jie In menghampirkan, ia memberi hormat.

"Tian Looya, silahkan kau memberikan pengajaranmu" ia berkata, bersenyum, "Aku si orang she Jie, yang terlebih muda tingkatnya, tidak berani lancang mendahului"

Suara itu mengandung sindiran, panas hati Ban Hiong, maka sambil berseru, "Baik" ia

lantas menyerang. sebelah tangannya dibuka kelima jerijinya, dengan itu ia menyambar iga kiri lawannya.

Jie In menyambut serangan sambil tertawa. Tanpa menggeser kaki, ia mmggeraki tubuhnya ke kanan. Ban Hiong menyangka orang bakal menggeraki tangan kanannya, merangkap lima jerijinya lalu ia menyerang dari kiri ke kanan, ia berlaku cepat dan keras.

Kalau ia berhasil, tangan lawan pasti patah tanpa ampun lagi. NyatanyaJie In cuma menggertak. tangannya segera ditarik pulang.

Ban Hiong kecele, ia gagal dengan serangannya itu, ia mendongkol dan gusar, la malu sebab tubuhnya turut maju, Mukanya menjadi merah.

Jie In tertawa.

"Bagamana, Tian Looya?" ia tanya, Loo ya itu panggilan yang mulia, ia berdiri tenang sambil menggendong tangan. Ban Hiong mengerutkan kening. sekarang tahulah ia musuh benar benar lihay, jadi inilah saat ia bangun atau roboh.

Dengan waspada tetapi pun dengan keras, ia menyerang pula, pukulannya ialah yang dinamakan "Tiga kali melihat rembulan."

Dengan bersuarakan angin kedua tangannya menyerang kedua iganya lawan, itulah serangan berikut gertakanjikalau lawan kena diancam, celakalah dia.

Pula serangan itu, apabila mengenai telak. tidak ada bekas atau tapaknya, cuma tahu-tahu anggauta tubuh di dalam luka dan rusak. Jie In tertawa mengejek tangannyapun diajukan.

Ban Hong kaget. Tadi ia telah kena diselomoti. ia melihat bergeraknya tangan lawan sangat cepat, Dalam kagetnya, ia lompat mundur tiga tindak. Tak sudi ia kena dihajar pula.

Jie In tidak merangsak. la membiarkan orang sempat menaruh kaki.

"Kamu berdua bukanlah tandinganku" katanya sabar, "sekarang aku Jie In, suka aku memberikan kamu ketika yang terakhir, segera kamu pulang ke kota raja, lantas kamu meletaki jabatan, terus kamu tinggal menyembunyikan diri untuk selama-lamanya, jangan lagi kamu membantu orang jahat mengganas .Dengan begitu mungkin aku dapat pergi ke siong san untuk bicara baik dari hal kamu..." siong san ialah gunung di mana terletak kuil Siauw Lim sie. selagi bicara ini, luar biasa In Gak. Mata-bersinar tajam dan bengis.

Chong sie dan kawan-kawannya menjadi sangat kagum.

Mereka merasa hebat sekali adik angkat ini.

Yan Boen kagum berbareng girang dan puas, hingga tak dapat ia berkata apa apa.

Tiao Ban Hiong menyedot hawa dingin, ia melirik pada Sio Hok. yang menyambatinya. Keduanya menginsyafi bahwa musuh tangguh luar biasa. Kemudian ia tertawa dan kata, "Tuan, meskipun kau lihay sekali, kau masih belum berhak untuk memandang terlalu enteng kepada kami. Apakah kau merasa pasti bahwa kau bakal dapat kemenangan?"

Kata-kata itu aneh, Apakah Kiong boen siang Kiat mengaku kalah atau mereka cuma lagi ber-lagak?

Sementara itu, mereka semua berdiam. Tiba tiba mereka mendengar suara berisik di

luar tembok. lantas beberapa bayangan terlihat berlompat masuk. berhenti di depannya Kiong boen siang Kiat. Yang terdepan ialah seorang tua jangkung kurus dengan kumis dan jenggot hitam, Dia memberi hormat seraya lantas meDanya: " Ke dua tayjin, benar- benarkah si orang she Jie berada di sini?"

Tian Ban Hong dan Ho sin Hok belum menjawab Ya Jin san sin-coe Coa Hok mendahului mereka.

"Tok Paycoe mari aku mengajar kenal" kata nya. ia mengajukan dirinya, "lnilah Jie Tayhiap" ia menunjuk Jie In. Kemudian berpaling kepada Jie In, ia berniat memperkenalkan si orang tua. Tapi orang she Pok itu mendahului ia memandang tajam orang sheJie itu, sikapnya memandang hina sembari menyeringai ia kata: "Tuan, bagus sekali perbuatanmu"

Jie In berpura heran.

"Pok Paycoe" ia berkata "aku si orang she Jie, belum pernah aku bertemu dengan kau, kenapa datang-datang kau bersikap begini garang? Apakah yang aku telah lakukan maka Paycoe menjadi tergesa gesa begini? Coba jelaskan"

Orang yang dipanggil Pok Pay coe, atau paycoeshe Pok itu, menjadi bertambah gusar.

"Dua kali bekerja di Thaygoan, dua-dua kalInya kau memakai nama partai kami" ia berseru, "Tak tahukah kau hal itu?”

"Aku tahu" sahut Jie In tertawa " Aku telah mendengar hal itu. Tapi apakah sangkutannya itu dengan aku orang she Jie?" Paycoe itu ialah Pok Hong, melengak.

"Memang juga tuduhan itu tidak ada saksi atau buktinya.." pikirnya. Tapi ia melengak hanya sejenak ia membentak "Bukankah di depannya tujuh imam dari Ngo Tay san telah kau mengaku sendiri bahwa kaulah si begal tunggal?"

Jie In tertawa bergelak. Lalu mendadak ia mengasi lihat roman bengis.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Menuntut Balas Jilid 07 : Tiga murid durhaka Poo-tan siansu "

Post a Comment

close