Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 21 (Tamat)

Mode Malam
 
Air matanya Teng Hiauw mcngucur dcngan deras. Ia sangat menyesal talc dapat mencmui pula ayahnya itu, untuk mcmohon ampun. Sampai selang sekian lama, baharu ia bcrhcnti sesenggukan, ia angkat kepalanya.

“Di Pooteng ada satu Kiang Lootjianpwee, apakah Soepeh kenal dia?” ia tanya. “Bagaimana keadaannya Kiang Lootjianpwee itu sekarang?”

“Kiang Lootjianpwee itu ada sahabat karibku, bagaimana aku tidak kenal dia?”javvab orang yang ditanya. “Akan tctapi dia sckarang sedang dicari pcmcrintah Boan. dia telah ajak cucu pcrempuannya menyingkir entah kemana. Tjoe Hong Teng pun sudah can dia kelilingan tanpa hasil. Ya, sekarang ini, rakyat telah dipaksa untuk berontak, hingga orang mesti bersikap sebagai Tjoe Hong Teng, mengangkat senjata, atau dia luar biasa, mereka mirip dengan ayahmu serta Kiang Lootjianpwee itu, mereka dianiaya atau dikepung-kepung!

Sekarang ini sulit untuk orang menjaga diri baik-baik.”

Ketika mengatakan itu, Kiam Gim ingat dirinya sendiri, sulit untuk ia menjaga diri suasana menyebabkan ia terombang- ambing.

Sekonyong-konyong, Teng Hiauw lompat bangun, ia hadapi Thio Tek Seng kepada siapa terus ia menjura.

Tek Seng terkejut, ia segera menyingkir kesamping. “Saudara Teng, apakah artinya ini?” tanya ia, keheranan. “Aku ingin masuk Giehoo-toan Toako!” kata Teng Hiauw.

“Sulcakah kau terima aku?”

“Saudara hendak masuk menjadi v anggota, inilah yang kita harap betul” jawab Tek Seng. “Sebenarnya, untuk meminta dari kau, aku tidak beranL Tapi kau ada sahabatnya Tjong- tauwbak, maka itu, kenapa kau tidak hendak menemui dulu Ketua Umum kita itu?”

“Dahulu aku masih terlalu muda, aku belum tahu apa-apa, pengalamanku sangat sedikit,” Teng Hiauw akui. “Karena itu, tempo Tjoe Soesiok ajak aku menjadi anggota, aku sangsi untuk menerimanya. Sekarang ada lain, sekarang aku sudah insyaf, aku ingin turut kau, Toako, maka itu, tak perlu aku menemui dulu Tjoe Soesiok.”

Thio Tek Seng girang bukan main.

“Bagus, bagus!” ia berseru. “Saudara Teng, kau adalah saudara kita!”

Begitulah Teng Hiauw menjadi anggota Gichoo-toan, hingga untuk sekian lama ia tcrus berdiam di Thongtjioe, akan kemudian ia ikuti Lioe Kiam Gim, sang soepeh, pcrgi ke Shoatang di mana ia bcrtemu sama “Tjoe Soesioknya”. Hong Teng girang melihat bocah mi telah jadi satu pemuda yang gagah dan cerdik.

“Apakah kau mengandung pikiran untuk pergi ke Pooteng?” Hong Teng

“Aku sudah tidak punya rumah, pulang buat apa” Teng Hiauw baliki

“Tetapi kau harus pulang!” Hong Teng kata. “Apakah kau tahu perihal Kaum Thaykek-paymu sendiri?”

Teng Hiauw heran. “Kenapa, Soesiok?” ia tanya

“Ayahmu mempunyai banyak murid, setelah ia menutup mata, mu-rid-murid itu jadi seperti rombongan naga tanpa kepalanya/’terangkan Tjoe Hong Teng, “Kim Hoa ada murid kepala, boegeenyamelebihi yang Iain-lain, tetapi dia lemah, dia tak sanggup mengatasi saudara-saudaranya. Mu•rid kepala dari soepehmu ada Law Boe Wie, dia liehay, di bawah desakan ayahmu, dia terima kedudukan sebagai ahli warts, dia telah pcrgi ke Pooteng, untuk pegang pimpinan, akan tetapi umumnya murid-murid ayahmu tak puas terhadapnya, antaranya dikatakan dia pernah berguru kepada lain perguruan, tak cocok buat dia jadi pengganti kctua. Mcrcka pun tidak mau mempercayaj keterangan bahwa ayahmu telah angkat Boe Wie jadi ahli waris, Karena ini,Boe Wie jadijengah sendirinya, ia lantas bejlalu dari Pooteng. Maka itu sekarang, perlu kau pulang, untuk pegang pimpinan, kalau tidak, aku kuatir nanti ada murid-murid tersesat, yang kenai digunai oleh musuh, hingga mereka bisa mendatangkan perpecahan dan bencana besar. Jikalau kau pulang, dengan dapat kendalikan mereka, kau bisa memberikan tenaga bantuan besar untuk kita.”

Teng Hiauw tercengang. “Belum pernah aku bertemu sama Law Soeheng, akan tetapi aku telah dengar dia liehay sekali,” kata ia. “Dengan nama besarnya, Law Soeheng tidak dapat mempengaruhi murid-murid Ayahku, bagaimana nanti dengan aku?”

Pemuda ini bersangsi.

“Meskipun demikian, kau ada lain,” kata Hong Teng sambil bersenyum. “Kau ada ahli waris yang sah, kau pun liehay, jikalau kau pulang, mereka tcntu akan terima kau dengan baik. Umpama tetap ada yang tidak puas terhadapmu, kau boleh ajar adat padanya. Boe Wie tidak berani bcrbuat secara begitu karena kedudukannya yang lemah.”

” Ya, kau harus pulang, kau mcsti pegang pimpinan,” Kiam Gim pun turut bujuk Teng Hiauw.

Sampai di sini, Teng Hiauw tidak bersangsi pula, malah segera ia berangkat ke Pooteng di mana, paling dulu, ialah pcrtama kali, ia cari Kim Hoa, untuk beritahukan maksud kedatangannya, buat minta murid kepala ayahnya itu nanti panggil bcrkumpul semua murid. Kemudian, ketika ia datang untuk kedua kalinya, ia datang bersama Lioe Kiam Gim Kali ini, dengan sang soepeh yang kepalai, ia adakan upacara untuk keangkatannya sebagai Tjiangboendjin, Ahli Waris, menggantikan ayahnya almarhum.

Benar dugaannya Hong Teng, ada beberapa tnurid yang tidak puas, tetapi untuk menguji, mercka minta Teng Hiauw ajarkan mereka beberapa jurus ilmu kepandaian gabungan kedua Golongan Thaykek-koen.

“Baiklah,” jawab Teng Hiauw.

Ahli waris bam ini tidak minta orang maju satu-satu, ia hanya suruh mereka kepung ia beramai-ramai, sampai scpuluh orang, lalu dalam beberapa gcbrak saja, ia bikin mereka semua terpcntal jatuh-bangun, hingga ada yang separuh pingsan. Tapi ini justru mcmbuat orang kagum dan takluk, hingga tidak ada lagi yang menentangnya. Setelah itu, Teng Hiauw balik ke Shoatang. kemudian, ketika ia datang untuk ketiga kalinya ke Pooteng, ia minta murid ayahnya itu memasuki Gichoo-toan.

Masih ada beberapa murid, yang terscsat, yang diam-diam bikin perhubungan dengan pembesarnegeri, yang minta si pembesar ambil tindakan, akan tetapi pengaruh Gichoo-ioan di dalam Kota Pooteng telah jadi sangat besar, tidak ada pembesar yang berani turun tangan, tidak sckalipun dengan diam-diam. Kemudian Teng Hiauw dengar hal ini, tidak ampun lagi, ia pecat dan usir itu beberapa murid. Karena ini, namanya jadi tersohor, hingga selanjutnya, di sampingnya Lioc Kiam Gim, ia jadi pembantu yang dihargai Tjoe Hong Teng.

Untuk tugasnya, Teng Hiauw sering mondar-mandir di antara kedua propinsi Hoopak dan Shoatang.

Kemudian,* tidak lama berselang, datanglah saatnya Wan Sie Kay Soenboe dari Shoatang, di bawah desakan pemerintah Boan, yang kena dipengaruhi negara-negara serikat asing, bertindak keras, kejam, terhadap Giehoo-toan. Gubemur ini bangunkan sendiri dua puluh batalion pasukan berkuda, lalu ia bekerjasama-sama tentara Jerman di Tsingtao serta barisan sukarcla pelbagai gcrcja, untuk ambil pihak Giehoo-toan.

Titahnya adalah: “Asal ketemu orang Giehoo-toan, segera tembak!”

Dalam hal ini, rakyat tak dapat dibedakan dari orang Gichoo-toan, karena Gichoo-toan pun tcrdiri dari rakyat jelata. Jadi perbuatannya Wan Sie Kay adalah sah kalau dia basmi satu koentjiang, rumah perkumpulan Giehoo-toan, atau kapan ia sapu sebuah kampung. Karena ini, banyak rakyat jelata, yang tidak bersalah-dosa, yang rubuh sebagai korban.

Giehoo-toan telah dapat pukulan .hebat ketika dalam satu pertempuran, Tjoe Hong Teng terkena peluru nyasar dan terbinasa karenanya. Tapi ia masih sempat meninggalkan pesan supaya tentara besamya di Shoatang semua dibawa ke Hoopak, sedang sebagai wakil ia angkat tiga orang ialah Toa- tauwbak Lie Lay Tiong, Toa-tauwbak Thio Tek Seng dan Toa- tauwbak Tjo Hok Thian, dengan kedudukan masing-masing di Siamsay, Hoopak dan Shoatang. Baharulah belakangan, Lie Lay Tiong menggantikan Tjoe Hong Teng sebagai Tjong- tauwbak, ketua umum. Lie Lay Tiong ini pada asalnya ada perwira sebawahan Tang Hok Siang, salah satu jenderal Boan, setelah masuk Giehoo-toan, ia pendiriannya limbung, ia terbujuk Ibusuri See Thayhouw, dia bawa angkatan perangnya ke Pakkhia,di mana, dalam satu pertempuran, ia pun binasa.

Selama ceburkan diri dalam Giehoo-toan, Lioe Kiam Gim dan Teng Hiauw tidak pernah bcrdiam tetapi di suatu propinsi atau kota, mereka senantiasa mcngcmbara, karena tugas mereka kcbanyakan sebagai penghubung atau pcnasihat, sebagai penganjur. Adalah jalankan titah dari Lie Lay Tiong, yang paling bclakang, untuk mereka bcrangkat ke Propinsi Siamsay (Shensi).

Pada suatu hari, Kiam Gim dan Teng Hiauw kaburkan kuda mereka laksana terbang, hingga dalam satu hari, mereka bisa lalui empat ratus lie lebih, hingga mereka kena lewatkan tempat mondok, karena mana, terpaksa mereka numpang singgah di rumahnya satu penduduk bangsa Hwee. Dia ini heran orang datang malam-malam dan romannya kesusu

tapi ia toh terima tefamu-tetamu itu, yang dilayani dengan ramah-tamah.

Karena lelah sehabis berlarian satu hari, begitu rebahkan diri, Teng Hiaaw lantas jaruh pulas Tidak dernikian dengan Lioe Kiam Gim, yang duduk bcrscmcdi sambil rapatkan kedua mata. Beginilah kebiasaan jago Thaykek itu, yang juga tidak berani sembarang tidur.

Malam ada sunyi ketika Kiam Gim dengar suara samberan angin di wuwungan rumah, mirip dengan suara jatuhnya daun rontok, tidak tempo lagi ia loncat kc jendcla, untuk terus pergi keluar rumah. Dalam malam yang guram, ia tampak berkc Icbatny a satu bayangan, ia jadi mendongkot, scgcra ia bcr I ompat, untuk mengejar.

Di dalam kamar, Teng Hiauw mendusin karena gerakannya sang soepeh, ia lantas sambar pcdangnya, ia loncat keluar, akan susul soepeh itu.

Menguber tidak terlalu lama, Kiam Gim dapat dekati bayangan di dcpanriya itu, ialah scorang dengan pakaian putih. Warna pakaian itu ada menyolok mata, sebab biasanya, pakaian malam, yaitu yahcng-ie, ada berwarna hitam.

Rupanya sengaja bayangan itu pakai ini macam pakaian. Kiam Gim tidak jerih, cuma di waktu mengejar terus, ia berlaku waspada. Ia menduga pada kaki-tangannya pemerintah Boan.

“Siapa itu di sebelah depan?” akhirnya ia tanya dengan seruannya.

“Kau hcndak can si orang she Lioe, aku ada di sini sekarang! Silakan kau terangkan dinmu, jangan kau main scmbunyi-sembunyi, itu bukan perbuatannya satu hoohan!”

Pun, sambil berseru demikian, Kiam Gim menimpuk dengan scbatang piauwnya, scraya ia tambahkan: “Sahabat, kau sambutlah piauwku!” Bayangan di depan itu, sambil berlari, ulur tangan kanannya ke belakang.

“Ah, satu piauw yang bagus!” tcrdcngar suaranya. Ia sambuti piauw itu dan lari terus.

Kiam Gim heran dan terperanjat, karena ia tahu liehaynya timpukannya tapi sekarang orang sambuti itu sccara sederhana sekali. Karena ini, ia lantas loncat sambil menyerang pula. Ini kali ia gunakan timpukan “Hoanpek impiauw” atau “Timpukan lengan berbalik”, suatu ilmu Tengsie Thaykek-koen. Sasarannya adalah jalan darah “Sinteng-hiat”.

Sekonyong-konyong orang di depan itu tertawa, ia ulur tangannya yang kiri, untuk sambuti piauw seperti tadi tangan kanannya, kemudian ia ayun bcrbareng kedua tangannya itu sambil berseru: “Jikalau ada kunjungan tidak dibalas, itu tandanya kurang hormat!”

Nyata dia balas menycrang dengan dua piauwnya Kiam Gim.

Jago Thaykek-pay ini berkelit, ia lompat lebih jauh, hingga ia berada di depan orang tidak dikenal itu, tanpa biiang apa- apa lagi, ia menycrang ke arah dada. Ia gunai “Kimpa tamdjiauw” atau “Macan tutul emas ulur ccngkramannya”.

Orang itu menyamping seraya menangkis, akan luputi diri dari serangan.

Kiam Gim tak berhenti sampai di situ, memutar tangannya, ia menyerang pula, kali ini dengan “Poatin kiandjit” atau “Menyingkap mega untuk melihat matahari”.

Itu adalah pukulan “Siauwthian-tjhec” atau “Bintang kecil”.

Orang itu berkelit dengan mencelatkan diri, ia perdengarkan seruan “Ah!” kemudian ia tanya: “Kau ada Lioe Kiam Gim atau’ Thaykek Tan? Di antara ahli-ahli, kecuali mereka berdua, tidak ada yang melebihkan lagi!”

Kiam Gim heran, ia tidak menyerang lebih jauh. Ia mengawasi dengan tajam.

“Aku adalah Lioe Kiam Gim,” ia perkenalkan diri. “Kau siapa, sahabat? Kau ada dari golongan mana?”

Orang itu tertawa, lalu ia kasih turun kedua tangannya. “Maaf, maafkan aku!” ia memohon. “Sudah lama aku

dengar namamu yang besar, aku tidak sangka di sini kita bisa bertemu! Aku ada To Poet Hoan, soetee dari Kiang Ek Hian. Tentunya Saudara Lioe pemah dengar namaku?”

Kiam Gim perdengarkan seruan tertegun, lantas ia maju, untuk member! hormat. Ia tahu siapa adanya orang she To ini, karena dalam lima saudara seperguruan dari Kiang EkHian, dia inilah yang paling liehay, cuma di masa mudanya; Poet Hoan berkelana di Barat-utara, hingga tidak ada ketika untuk mereka berkenalan satu dengan lain- Dalam hal derajat, Poet Hoan pun ada terlebih tinggi setingkat

“Maaf, Lootjianpwee,” kata ia. “Kenapa malam-malam Lootjianpwee main-main denganku?” Poet Hoan tertawa. “Kenapa sih kau tcrburu nafsti?” tanya dia “Kenapa datang- datang kau limpuk aku dengan senjata rahasiamu yang mencari jalan darah?”

Kiam Gim melengak tapi sebentaran saja.

“Rupanya kita ada sama pendapat!” kata ia sambil tertawa. “Kita rupanya saling curigai masing-masing ada gundalnya pemerintah Boan!”

Poet Hoan tertawa. Dugaan, atau kecurigaan itu, benar adanya.

Jago Bweehoa-koen ini pergi ke Kamsiok Timur untuk bikin penyelidikan, ia lihat suasana kalut, dari itu, ia pergi terus ke Siamsay Utara, akan sambangi Ma Sioe San, seorang gagah suku bangsa Hwee. Itu lohor, di tengah jalan, ia Iihat Kiam Gim dan Teng Hiauw kaburkan kuda mereka. Ia tampak kepandaiannya orang itu menunggang kuda. Segera ia curigai itu soepeh dan soetit, diam-diam, ia menguntit, terus sampai di rumah si orang Hwee di mana Kiam Gim bcrdua bcrmalam. Orang Hwee itu justru ada keponakan Ma Sioe San. Karena ini, segera ia pergi pada Ma Sioe San, untuk memberi keterangan, habis itu, malam-malam ia pergi ke rumahnya si orang Hwee, untuk mengmtai, ia tidak sangka, Kiam Gim pergoki padanya, ia coba singkirkan diri, tapi biar bagaimana dia liehay, Kiam Gim dapat candak padanya, benar ia tidak sampai dirubuhkan, toh ia heran atas liehaynya orang yang dicurigai itu. Akhimya ia jadi girang sebab ia telah bertemu sama jago Thaykek-pay itu.

Sctclah bicara pula, untuk utarakan kckaguman mereka satu sama lain, mereka girang atas itu pertemuan, keduanya lantas kembali ke rumahnya si orang Hwee. Malam tetap suram. Selagi mereka mendekati rumahnya si orang Hwee, keduanya heran. Mereka dengar suara senjata beradu dibarcngi sama seruan keras. Lekas-lekas mereka maju untuk melihat Segera Kiam Gim dapan Teng Hiauw asyik bertempur seru sama satu orang yang bersenjatakan golok, dan seorang lain, sambil gendong tangan, lagi tonton kedua orang yang bertanding itu.

“Lootjianpwee, apakah dua orang itu kawan-kawanmu?” ia tanya To Poet Hoan.

Jago Bweehoa-koen itu melengak, ia awasi kedua orang yang ditanyakan itu.

“Bukan,” akhirnya ia jawab. “Entah siapa mereka itu .* Untuk dapat kcpastian. Poet Hoan hendak maju mendekati,

tapi Kiam Gim cegah dia.

“Tunggu, Lootjianpwce,’* kata ia ini. “Sekarang aku kenali mereka. Biar kita menonton dulu sekian lama.”

Poet Hoan menjadi heran, tetapi ia menurut. Keduanya umpeti diri di belakang satu tanjakan.

“Sebenamya siapa mereka?” or•ang she To ini tanya. “Kenapa mesti antap mereka bertempur?” Kiam Gim lersenyum. “Lootjianpwce tidak kenali, mereka itu adaiah keponakan murid dan keponakan dalamku.” ia kasih keterangan. “Yang berdiri rnenonton itu ada muridku yang kedua. Sudah lama aku tidak lihat mereka, aku ingin saksikan kemajuan mereka.”

Orang dengan siapa Teng Hiauw bertempur ada Lauw Hie Hong. Dia ini bersama YoTjin Kong sudah an tar Lioe Toanio ke Shoasay pada Lauw In Eng. adiknya Toa Nio. Ketika itu, In Eng sudah jadi Ahli Waris dari Banseng-boen. Berdua mereka ini pergi ke Siamsay untuk mclakukan titahnya Lauw in Eng. Ketika itu hari mereka sampai di Anpian-po, tempat di mana Kiam Gim berdua smggah, mereka dengar dari satu orang Banseng-boen tentang lewatnya seorang tua dan seorang muda, yang tidak mampirkc kota hanya bcrrnalarn di desa. Mereka curiga, malam itu mereka datang untuk menyelidiki Mereka sampai justru Kiam Gim dan Poet Hoan saling kejar, sekejab saja mereka ini lenyap, maka kecurigaan mereka jadi bertambah. Justru itu. muncullah Teng Hiauw, yang hendak susul soepehnya, tidak ayal lagi mereka memegat dan menyerang. Akan tetapi mereka ada murid-muridnya guru kenamaan, mereka malu untuk mengepung, dari itu Yo Tjin Kong lantas mengawasi saja, ia antap Hie Hong yang telah mendahului ia.

Lauw Hie Hong bersenjatakan golok Ngo houw Toan boen- too warisannya Lioe Toa Nio, pada gebrak yang pert a ma, ia pakai itu untuk menangkis pedang Tanhong-kiam dari Teng Hiauw, kcdua senjata beradu keras, muncratkan lelatu api, hingga kcduanya terkejut dan mundur sendiri, akan pcriksa senjata mereka masing-masing, apabila tcrnyata, senjata mereka tidak rusak, mereka maju pula akan melanjuti pertempuran.

Teng Hiauw hcran lihat goloknya, dan juga permainan goloknya yang liehay, ia tak kctahui golok Lioe Toa N io yang pemah menjagoi di kalangan Kangouw. Iamelakukan perlawanan dengan waspada tapi sungguh-sungguh.

Hie Hong ada liehay, tetapi menghadapi Teng Hiauw, ia kalah satu tingkat, semua serangannya kena punahkan dengan gampang saban.

Yo Tjin Kong, yang menonton menjadi heran menampak permainan pedang dari sianak muda. Ia lihat beberapa gerakan dari Thaykek-koen, tapi kemudian itu berubah menjadi lain rupa, ia tidak tahu orang telah gabung kedua Thaykek-koen dari Keluarga Teng dan Tan. Ia tahu Hie Hong keteter, ia cuma tersenyum di dalam hati. Ia pikir untuk membantu kalau saamya sudah mendesak. Ia masih mendongkol berhubung sama peristiwa di Lioe-tjhung dan tak puas mengenai LioeToa Niowariskan golok Toanboen-too pada kawan she Lauw itu.

Hie Hong repot melayani lawan yang tidak dikenal itu, sudah begitu, ia mendongkol yang Tjin Kong tidak lekas maju membantu ia, terpaksa ia jadi nekat. Begitulah satu kali, dengan hebat ia babat lengan Teng Hiauw.

Puteranya Kiam Beng, berkelit dengan mcmutar tubuh, mcnyusul itu, dengan kaki kanan di depan, ia mcmbabat ke arah leher lawannya. Inilah serangan hebat sekali, sebab goloknya Hie Hong baharu saja berkelebat lewat, jadi sukar untuk ditarik pulang.

Yo Tjin Kong lihat ancaman bahaya bagi kawannya, saking kaget, ia sampai menjerit, tetapi ia segera loncat maju, untuk coba menolong.

Selagi begitu, ia dengar satu jeritan, yang membuat ia kaget sekaii, ia sangka ia sudah terlambat. Sekejab ia pikir untuk mcmbalas sakit hati bagi Hie Hong. Kapan ia sudah datang dekat, ia tercengang. Pertempuran berhenti sendirinya dengan mendadak-sontak, ia dapati Hie Hong lagi lintangi goloknya tanpa kurang suatu apa, dan si anak muda, lawannya, pun lagi berdiri dengan pedangnya siap scdia. Ia sedang bengong ketika anak muda itu tuding ia scraya berseru: “Binatang, kau gunai senjata rahasia?”

Tentu saja Tjin Kong jadi terlebih-lebih heran, hingga ia melengak.

Ketiga orang itu tidak tahu, selagi pertempuran bcrjalan, Lioe Kiam Gim telah memasang mata, dua buah piauwnya tergenggam di tangan, di saat bahaya mengancam Hie Hong, ia segera menimpuk, dua kali, dan dua-dua kalinya mengenai jitu pada pedangnya Teng Hiauw, hingga dia ini batalkan penyerangannya, terus dia berdiri diam sambil memasang mata, sampai majunya Tjin Kong. Ia insyaf senjata rahasia yang liehay dari orang itu, ia tegur orang she Yo itu, malah menyusul itu ia maju, untuk serang orang she Lauw itu.

Dalam saat yang genting itu, mendadak terdengar seruan: “Jangan turun tangan!”

Teng Hiauw kenali suara soepehnya, ia batalkan maju, ia berdiri diam, tapi ketika ia menoleh kepada kedua lawan, ia jadi heran. Ia lihat wajah mereka itu terperanjat dan girang, lalu bergantian ia dengar mereka, yang lalu berseru “Ko-thio!” yang lain: “Soehoe!”

Kiam Gim dan Poet Hoan scndiri. dengan saling susul, berkelebat muncul di depan tiga orang itu. Poet Hoan berseru dengan pujiannya: “Permainan pedang yang bagus!” Tapi Kiam Gim menegur Tjin Kong: “Kenapa kau tinggal menonton saja?”

Selagi Teng Hiauw masih heran, sang soepeh lantas ajar ia kenal muridnya: “Syukur kau bentrok di antara orang sendiri dan aku berada di sini, jikalau tidak. jiwanya Hie Hong tak akan dapat ditolong lagi! Kau toh lihat Hie Hong terancam bahaya, kenapa kau diarn saja? Aku sendiri bisa lihat gelagat, aku selalu siap untuk datang sama tengah, tapi kau, bagaimana dengan kau? Seharusnya kau maju siang-siang!”

Tjin Kong berdiam bahna jengah, Hie Hong merasa malu sendirinya. Teng Hiauw pun berdiam, ia merasa tak enak sendirinya. tapi ia lekas sadar, ia dekati Hie Hong untuk menghaturkan maaf.

Kepada soepehnya, ia kata: “Soepeh sungguh aku tidak taliu or•ang sendiri…. Aku pun berpokok kepada tatatertib kaum Kangouw, untuk tidak mengerubuti,” kata Tjin Kong kemudiarL Kiam Gim awasi tiga orang itu, ia urut-urut kumisnya. “Kau orang tak dapat artikan aku,” ia berkata dengan sabar. “Teng Hiauw keluarkan kepandaiannya, itulah sepantasnya saja. Dia tidak kenal orang sendiri, dia| lagi bertempur dan lawannya punyakan kawan, memang lekas-lekas ia cari keputusan. Kau, Tjin Kong, kau tidak benar, maka ingatlah kau baik-baik pelajaran ini kali! Jikalau kau ketahiri tentang lawanmu, bahwa dia ada satu laki-laki sikapmu benar, sebab tak mestinya, dua kerubuti satu, tetapi bagaimana apabila pihak sana ada kaki-tangan Boan, ialah musuh besar kita? Apa dengan pihak musuh kau tetap hendak bawa sikap jantan dan tidak hendak menolong kawan yang terancam bahaya? Kau berlaku jujur, bagaimana dengan pihak sana? Kctika dulu aku dan ayahnya Teng Hiauw dijebak di rumahnya Soh Sian Ie, orang-orang yang kepung kita sedikitnya lima puluh pahlawan Boan!”

Air mukanya Tjin Kong menjadi merah-padam, ia hendak bikin malu Hie Hong, siapa tahu, kesudahannya ialah yang dapat malu. Ia menyesal dan mendongkol tapi ia tidak bisa berbuat suatu apa, karena ia tahu, memang ia bersalah. Maka ia terus paykoei terhadap gurunya, untuk mohon ampun.

To Poet Hoan mcrasa kurang enak hati, ia angkat bangun anak muda itu.

“Lihat, kau bikin muridmu sangat kctakutan!” kata ia sambil tertawa kepada Lioe Kiam Gim, untuk tolong mukanya murid itu. Kemudian ia tanya Tjin Kong: “Kenapa kau orang berada disini?”

Melihat Poet Hoan datang sama tengah, dan ia pun insyaf ia telah bicara tcrlalu keras, Kiam Gim segera tenangkan diri, wajahnya pun jadi sabar kembali.

“Kau bangun!” ia kata pada muridnya. “Cukup asal kau ingat baik-baik pelajaran ini. Bisa jadi sekarang kau sesalkan aku, tetapi di belakang hari, kau akan insyaf berbahayanya musuh, kau akan ketahui maksud baik dari aku.”

“Aku tidak sesalkan kau, Soehoe,” kata Tjin Kong. “Baik,” Kiam Gim manggut. “Sekarang jawablah pertanyaannya To Lootjianpwee. Aku juga ingin ketahui halnya kenapa kau orang datang kemari. Apa Soebo baik?”

Dua tahun yang lampau, Lioe Kiam Gim berpisah dengan isterinya di Shoasay, sejak itu ia tcrlalu repot dengan urusannya Giehoo-toan, sampai ia tak sempat tengok isterinya, yang ia senantiasa pikirkan.

“Soebo baik,” sahit Tjin Kong. “Luka di dalam dari Soebo sudah sembuh, ia sekarang sudah bisa jalan dengan bantuannya tongkat.”

Setelah ini, murid ini tuturkan kenapa ia berdua Hie Hong datang ke Siamsay Utara.

Pemenntah Boan insyaf semakin bcsarnya pengaruh Giehoo-toan, yang memusuhkan orang asing, dia kuatir nanti terbtt onar besar, yang membahayakan ketegakannya, maka itu, dia cari jalan mundur teratur, untuk bcbaskan diri, di antaranya, sambil perkuatkan diri di Barat-utara. dia umbar pahlawan-pahlawannya, akan secara diam-diam basmi orang- orang gagah pencinta negara dan kaum Rimba Hijau. Pihak Banseng-boen, yang berpengaruh di Shoasay dan Siamsay, tahu hal sepak-terjang pemerintah Boan itu, maka Lauw In Eng kirim dua orang ini untuk serap-serapi gerak-gerik pemerintah musuh itu. In Eng, sebagai Ketua Banseng-boen, tidak ingin orang-orang pihaknya nanti kena diganggu pahlawan-pahlawan Boan itu.

“Kita kuntit beberapa pahlawan Boan sampai di Siamsay Utara,” Tjin Kong lanjuti keterangannya. “Kita| dapat dengar, pahlawan-pahlawan yang utama sudah pergi ke Kamsiok, katanya buat menuju ke bagian utara propinsi itu….”

Mendengar ini, Poet Hoan ketarik bukan main. “Bagaimana caranya kau ketahui gerak-gerik mereka?” ia

tanya. “Turut keterangan orang-orang kita di Siamsay, ada satu pasukan tentara yang bertugas meronda katanya,” sahut Tjin Kong. “Mereka itu nyata ada orang-orangnya Tjongtok dari Siamsay dan Kamsiok. Beruntung kita dapat bekuk salah satu anggota dari barisan itu. Menurutdia ini, pemimpin mereka adalah Kek Touw Im, dan Kek Touw Im ini, dengan ajak bebcrapa kawannya yang liehay, semua sudah pcrgi ke Kamsiok untuk cari seorang kesohor, entah siapa orang yang dicari itu.”

“Inilah hebat!” berseru Poet Hoan seraya ia banting kaki. “Kenapa, Lootjianpwee?” Kiam Gim tanya.

“Sebab Soehengku bersama cucu perempuannya bcrada di Yamtjoan-tjoe di Kamsiok Utara,” jawab orang she To itu. “Rupanya kaki-tangan Boan itu tclah dapat selidiki tentang Soehengku itu dan mereka pergi untuk menyatroninya….”

Teng Hiauw terkejut.

“Socpch. man kita bantu Kiang Lootjianpwee!” ia kata pada paman gurunya, ujung baju siapa ia tarik.

Kiam Gim berpikir dengan cepat

“Baik, mari kita ikut To Lootjianpwee ke Kamsiok,” kata ia. Lahi ia kata padaTjin Kong: “Sekarang baik kau orang tunda tugasmu menyelidiki pahiawan-pahlawan itu, aku nanti yang gantikan, kau orang boleb terima tugas lain ”

Tjin Kong berscdia akan terima tugas bam, tapi ia tanya, apa mereka sanggup kcrjakan itu atau tidak.

“Jikalau tidak, tidak nanti aku bcrikan tugas ini kepada kau orang,”

Kiam Gim jelaskan. “Jangan kuatir, aku cuma ingin kau sampaikan satu warta lisan. Aku dapat pesan dari Lie Lay Tiong, pesan untuk Toa-tauwbak Tee See Kie di Siamsay Utara. Toa-tauwbak itu diminta ajak semua saudaranya lekas kembali ke Hoopak-”

Tjin Kong dan Hie Hong nampaknya heran. Kiam Gim mengerti, mereka ini tentu belum dengar hal kematiannya Tjoe Hong Teng, dari itu, ia lantas berikan keterangannya. Kemudian ia -tambahkan: “Sekarang kita mau pergi ke Yamtjoan-tjoe, maka pergi lah kau orang kepada Tee Sie Kie. Perjalanan cuma dua hari, aku percaya, tidak akan terbit onar, tapi kau orang tetap harus waspada.”

To Poet Hoan menghela napas mendengar kebinasaannya Hong Teng.

“Sebenamya belum pernah aku ketemu sama keponakan murid itu,” katanya, “aku tadinya sangka benar-benar ia sudah menycrah kepada pemerintah Boan, tidak tahunya dia ada satu laki-laki sejati. Sayang….” Ia menghela napas pula, ia tambahkan: “Tjoe Hong Teng menutup mata, Lie Lay Tong pergi ke Hoopak, itu dapat dimengcrti tetapi jikalau tenaga Gichoo-toan di Siamsay diangkut semua, apa Barat Laut tidak jadi kosong? Inilah aku kuatirkan. Apa perlu warta lisan ini tetap disampaikan?”

“Putusan sudah tetap, aku rasa sulit untuk ubah itu,” kata Kiam Gim setelah ia berpikir sejenak. “Umpama warta kita tidak sampai, Tee See Kie tentu akan terima warta susulan.”

Poet Hoan bersenyum sendirirrya. Nyata ia kalah tenang dari Kiam Gim.

Sampai di situ, Kiam Gim ajak semua orang masuk ke dalam rumah, ia kasih bangun tuan rumah, untuk pamitan, katanya mereka mau lantas berangkat.

Tuan rumah orang Hwee itu mendongkol kapan ia dengar halnya tcntara Boan serang orang-orang suku bangsanya, suku Hwee, di Yamtjoan-tjoe. “Kita terlalu didesak, dibikin celaka!” katanya dengan sengit. “Kau hendak menolongi bangsa kita, aku berterima kasih. Sayang aku tidak punya guna hingga aku tak dapat turut membantu.”

Kiam Gim semua hiburkan orang Hwee itu, lantas mereka pamitan dan berangkat. Rombongan mereka pun terpecah dua, ialah Tjin Kong dan Hie Hong menuju ke Utara kepada Tee Sie Kie, Kiam Gim dan Poet Hoan dan Teng Hiauw menuju ke Yamtjoan-tjoe.

Rombongannya Kiam Gim sambil di lain pihak berhasil membasmi Kek Touw Im semua, hanya sayang, mereka terlambat juga sedikit, hingga Ek Hian keburu terlalu kecapaian, hingga ia jadi mirip dengan “lampu kurang minyak”.

Kiam Gim telah pikir, begifu lekas kesehatannya Ek Hian pulih, ia hendak tuturkan tentang kebinasaannya Tjoe Hong Teng, mu-nd kesayanganrrya yang sangat dihargai, sayang, Ketua Bweehoa-koen ada terlalu lemah, usianya sudah terlalu tinggi. Juga di situ, mereka tidak dapati obat kuat untuk tubuh lemah dari seorang tua, sedang biasanya, siapa jarang sakit, sekah’ ia jatuh sakit, sakitnya hebat, begini sudah terjadi dengan Ek Hian.

Lewat beberapa hari. Poet Hoan tampak Ek Hian jadi semakin lemah.

Ek Hian pun merasai hebatnya sakitnya itu, ia bernapas sesak, ia pun batuk-batuk. Sulit untuk ia dahar bubur. Maka itu hari, ia kumpulkan Hong Keng semua.

“To Soetee, Lioe Toako,” kata ia, “aku tahu keadaan diriku, aku sudah tidak berdaya pula…”

Poet Hoan hendak menghibur, tapi jago Bweehoa-koen itu goyangi tangan dan mendahului ia. “Aku’telah bcrusia tujuh puluh tahun lebih, tak bisa aku merasa tak puas,” kata ia. “Aku melainkan ingat si Keng. Bersusah-payah iaikuti aku merantau, sampai di tanah pegunungan ini, aku telah sia-siakan usia mudanya, aku merasa sangat tidak enak. Di tempat sebagai ini, mana aku bisa carikan pasangan untuk ia?”

Mukanya Hong Keng menjadi merah-padam bahna malu, ia pun berduka sekah.

“Engkong,” ia paksakan kata, “kau lagi sakit, harap kau tidak omong banyak….”

Orang tua itu bcrsenyum meringis.

“Cucuku yang baik, apa kau kira kemudian aku masih dapat omong? Kila ada orang-orang Kangouw, kite harus ucapkan apa yang kite pikir, tidak usah kitamain sungkan. Kaupun tidak usah malu….” Ia bcrdiam sebentar, lamas ia melanjuti: “Teng Hiauw ada satu anak yang baik. Dulu aku tak puas terhadap ayahnya, tctapi aku toh berterima kasih pada ayahnya itu. Ya, dua-dua mereka, anak dan ayah, kepada mereka aku harus bersyukur. Teng Kiam Beng pcrnah tolong aku, Teng Hiauw pemah tolong kau, kite telah bersahabat dcngan Keluarga Teng untuk dua turunan…. Kiam Beng mati sccara mengenaskan. karena itu, aku menycsal untuk Teng Hiauw.- Belum lama aku bergaul sama Teng Hiauw, sekarang ini aku pandang ia sebagai cucuku saja….”

Teng Hiauw bertindak mendekati.

“Kiang Lootjianpwee…” kata ia, yang terus raenangis sesenggukan, air matanya mengucur dengan deras.

Ek Hian pandang anak muda itu, ia tertawa.

“Jangan berduka, Teng Hiauw,” kata ia. “Aku hendak bicara dengan kau. Kau pemah bentrok dengan si Keng, akan tetapi aku tehu, kau berdua cocok satu sama lain. Aku pun tehu, selama beberapa tahun ini, si Keng senantiasa ingat dan pikirkan kau..”

Selagi Ketua Bweehoa-koen itu berhenti bicara, Kiam Gim menyela. “Aku tahu, Teng Hiauw pun sering pikirkan Nona Kiang,” kata ia.

Ek Hian tertawa.

“Aku ingat dia, dia ingat aku. Tidakkah ini bagus sekali?” kata ia pula. “Aku pun saksikan, dalam beberapa hari ini, mereka berdua bcrgaul rapat sekali, tidak perduli mereka sedang sibuk merawati aku. Untuk mereka, tinggal kite saja si or•ang tua berkate-kate…. Teng Hiauw tolak perjodohan oleh ayahnya, dan kemarin ini Lioe Toako bilang, ayahnya pasrah kepada anaknya saja, maka itu, aku pikir, baiklah sekarang kite tetepkan perjodohan mereka. Bukankah keluarga kite berdua ada sederajat? Lioe Toako, kau ada socpeh dari Teng Hiauw, kau tcrima pesan ayahnya, silakan kau jadi wakil ketua pihak Teng, tanpa akuri shedjitgwee lagi, tanpa pilih hari pula, mari kite rekoki jodoh mereka berdua! Tidakkah ini sederhana?” Lioe Kiam Gim tertawa. “Inilah bagus, Lootjianpwee,” kata ia. “Memang, tanpa kau mengusulkannya, aku berniat majukan urusan ini kepadamu. Baik aku jelaskan kepada kau, di waktu muda, isteriku pun aku lihat dan penujui sendiri, demikian pun dia!” Mcndcngar ini, semua orang tertawa. Setelah beberapa hari, barulah saat itu mereka bergembira.

Teng Hiauw dan Hong Keng tunduk saja, mereka malu berbareng girang.

Ek Hian ada demikian girang, hingga ia sepcrti sembuh mendadak dari sakitnya. Ia bisa angkat tubuhnya, akan duduk di atas kursi biasa. Ia seperti duduk di pembaringan, ia bersenyum berseri-seri.

Justru itu, seorang Hwee datang masuk sambiI bcrlari-lari, romannya bingung. Ia melaporkan kedatangannya satu penunggang kuda yang berlepotan debu, yang katanya beroman luar biasa, bahwa orang itu, begitu lompat turun dari kuda, segera menanyakan si orang tua she Kiang.

“Bagaimana luar biasanya orang itu?” Poet Hoan tanya. Ia bersikap tenang.

“Scbab sekarang ada Musim Dingin dengan hawa udaranya dingin sekali,” sahut juru warte itu, “tetapi orang itu memakai thungsha, dia mencekal kipas, dia bertindak dengan lenggang- kangkung, dari mulutnya keluar occhan saja….”

“Dia tentu Thiebian Sieseng Siangkoan Kin!” kata Lioe Kiam Gim.

Jago Thaykek-pay ini baharu tutup mulutnya, atau satu orang muncul di muka pintu, terus saja dia berseru: “Benar- benar kau semua ada di sini! Eh, kau tertawakan apa? Apa mustahil karena ada sahabat datang dari tempat jauh, makanya kau jadi sangat kegirangan?”

“Eh, sioetjay murtad!” menegur Lioe Kiam Gim tetapi sambi! tertawa. “Di sini ada orang-orang tetua, kenapa kau begini tidak tahu adat?” Lantas diatunjuk Ketua Bweehoa- koen-. “Ini ada Tjiangboendjin dari Bweehoa-koen, Kiang Ek Hian Lootjianpwee!” terus ia tunjuk To Poet Hoan: “Dan ini ada Kiang Lootjianpwee punya soetee, Lootjianpwee To Poet Hoan yang pada tiga puluh tahun yang lampau sudah pimpin pasukan perang Thaypeng yang berperang di Selatan dan Utara, yang namanya kesohor di seluruh negeri!”

Mendcngar begitu, Siangkoan Kin lantas tarik kipasnya, untuk ia memberi hormat.

“Oh, kiranya Soehoe dan Soesiok dari Toako Tjoe Hong Teng! Aku mcrasa sangat beruntung dengan pertemuan ini! Cita-citanya Tjoe Toako masih belum berwujud, mayatnya telah dibungkus dengan kulit, tetapi kematiannya itu agung bagaikan Gunung Tay-san, berharga seperti bulunya burung hong, maka. walaupun kite yang menjadi sahabat-sahabatnya merasa berduka, kite toh merasa bangga! Scsuatu orang mesti mati, tetapi dia mati sempuma, mati secara berharga! Semua sahabat-sahabatnya akan ingat dia, kite tak usah mendukakannya, maka aku percaya, Kiang Lootjianpwee juga pasti akan berpendapat sebagai kita!”

Thiebian Sieseng umbar kata-katanya, akan antap meluapnya suara hatinya, sampai ia tidak lihat bagaimana Kiam Gim kedipi ia berulang-ulang. la baharu tutup mulutnya, atau Kiang Ek Hian lompat bangun di atas pembaringannya sambil tertawa terbahak-bahak seraya terus kata: “Ya, dia mati sempurna, dia mati berharsa! Dengan punyakan murid semacam dia, dapatlah aku menghibur Iciuhur dari Bweehoa- koen, aku tidak mendatangkan malu bagi kaum Rimba Persilatan! Oh, Hong Teng, Hong Teng..”

Masih orang tua ini tertawa bergelak-gelak, atau segera datang kesedihan, dengan mendadakan, ia rubuh, tubuhnya tidak bergerak lagi, apabila orang dekati dia, napasnya sudah berhenti, kedua matanya dirapati.

Hong Keng kaget, ia menjerit menangis. lantas ia mengulun.

Semua orang pun bcrduka, semua tunduk, diam saja.

Thiebian Sieseng berdin tercengang, ia menyesal atas kesembronoannya.

To Poet Hoan susut air matanya.

“Saudara Siangkoan, inilah bukan kesalahanmu,” kata dia. “Soeheng mcmang scdang sakit, keadaannya sudah sulit sekali, sukar untuk kita tolong padanya, karena itu, mendengar kabar membanggakan dan menyedihkan tentang muridnya itu, ia tak dapat mcnahannya. Waiaupun aku tidak membawa kabar ini jg adanya, aku tahu, ia tak akan dapat bertahan melewati hari ini.” Meskipun demikian, si Mahasiswa Muka Besi yang jenaka ini masih lesu, ia hadapi tubuhnya Kiang Ek Hian, akan menjura seraya mulutnya berkelemak-kelemik.

Kabar meninggalnya Kiang Ek Hiantersiardengan lantas, segera ada banyak orang Hwee yang datang menyambangi, karena orang sudah mati tak dapat hidup pula, lantas

bcramai-ramai mereka mcngurus, akan kubur jenazahnya jago tua itu sccara sederhana, tapi meninggalkan kesan dalam.

Karena semua orang hargai dia. Di muka kuburannya itu, selaku tanda peringatan, dituliskan kata-kata: “Giesoe Kiang Ek Hian Tjiebok” -ialah “Kuburan Gie-soe Kiang Ek Hian”. Ia pun telah berjasa terhadap penduduk Yamtjoan-tjoe itu.

Sctclah itu, Siangkoan Kin utarakan maksud kedatangannya, untuk minta semua orang kembali ke Thongijioc, Hoopak. Sebab sctclah Lie Lay Tiong sampai di Hoopak, telah kesampaian cita-citanya, ia gantikan kedudukannya Tjoe Hong Teng. Ketika itu, semua kckuatan Giehoo-toan telah berpusat di Propinsi Hoopak, umpama di Toktjioe saja ada kira-kira dua-tiga puluh ribu jiwa, tak usah discbutkan yang di Thongtjioe scndiri. Di dalam dacrah Hoopak, sampai di kampung-kampung yang kecil, di mana saja kcdapatan orang-orang dengan pelangi kuning dan ikat pinggang merah, yang tangannya siap sedia tombak panjang! Malah di Kota Raja sendiri, Pakkhia, ada koentjiang, rumah- rumah perguruan serta tempat-tempat sembahyang. Barisan Gie Lim Koen, pasukan istimewa dari Kaisar, tidak berani ganggu mcrcka. Djoe Lok, Tjongtok dari Titlee (Hoopak), tadinya masih berikan titah-titah untuk tentaranya tindas kaum pengacau – dimaksudkan orang-orang Giehoo-toan – akan tetapi, sctclah pengaruh Giehoo-toan jadi demikian besar, dia kuncup sendirinya. Kereta Nagadari Ibusuri See Thayhouw, di pos di Hongtay, telah dibakar musnah oleh orang Giehoo-toan, dan satu perwira sebawahan dari Djoe Lok, yang tcrtawan di medan perang Distrik Laysoei dengan tcntara Giehoo-toan, dihajar hidup-hidup sampai tcrbinasa. Tiehoe dari Djimkioe dan beberapa perwira, juga telah dapat luka-luka hebat. Demikian, saking jerih, Ibusuri sampai usulkan anboe kepada pihak Giehoo-toan, supaya Giehoo-toan suka bekerja di bawah pemerintah Boan.

Tjongtok Djoe Lok adalah yang j alankan usul Ibusuri, dia kirim utusan untuk “panggil” Lie Lay Tiong dan Thio Tek Seng datang ke Thiantjin (Tientsin).

Lie Lay Tiong tidak bilang suatu apa mengenai panggilan itu tetapi Thio Tek Seng keprakrkeprak meja dan bcrseru: “Kita bukannya pembesar-pembesar Boan, tjongtokmu bawa lagak apa?”

Mendengar sikap pemimpin Giehoo-toan itu, Djoe Lok mengaku salah, lalu ia kirim Iain utusan, buat mengundang lebih jauh, dengan hunjuk “mereka akan bikin pertemuan secara hormat” (dimaksudkan kedudukan yang berimbang).

Atas ini Lie Lay Tiong berpikir sampai masak-masak akhimya, ia nyatakan suka tenma undangan itu. Ia pun maklumkan cita-cita dari almarhum Tjoe Hong Teng, yaitu “Hoeljeng Biatyang” - “Menunjang pemcrintah Boan, untuk membasmi orang asing”.

Demikian keterangannya Siangkoan Kin, sesudah mana, ia tambahkan: “Melihat keadaan, rupanya pihak asing bemiatmengasih datang bala-tentaranya, pemcrintah Boan aku sah kepada kita, tetapi dia tak dapat dipercaya, maka itu, perlu kau orang lekas-lekas pulang, untuk kita berdaya.”

To Poet Hoan berbangkit sambil tepuk meja.

“Kalau begini, dengan Hong Teng telah terbinasa dan kaum kita dipermamkan, untuk apa lagi kita menunjang pemerintah Boan?” ia kata dengan nyaring.

Siangkoan Kin tertawa meringis.

“Itu ada siasatnya Ketua Umum kita, tak dapat kita campur tahu,” ia bilang. “Masih belum dapat dibilang yang siasat itu ada keliru. Semasa pertempuran di antara Tjoe Toako dan Wan Sie Kay di Shoatang, Toako bilang padaku, pemenntah Boan hendak kita terbaliki, orang asing hendak kitausir, tetapi sekarang, selagi pihak asing hernial menyerang kita, tindakan mengusir mereka jadi terlebih penting daripada urusan menjungkalkan pcmerintah Boan. Umpama pcmerintah Boan sangat terdesak pihak asing, aku rasa, tak dapat dia tidak bikin perlawanan. Apabila itu terjadi, irulah tcrlcbi h baik lagi. Inilah scbabnya kendatipun Tjoe Toako lawan Wan Sie Kay, ia belum hapuskan siasatnya ‘Hoetjeng Biaiyang” itu.”

Kiam Gim berpikir, lalu ia turut bicara.

“Tjoe Hong Teng meropunyai pertimbangannya sendiri,” kata ia, “tetapi sekarang sudah jelas, pemerintah Boan ada sebagai budak-budaknya negara-negara asing, maka sukar untuk kita dipaksa berdiri bcrdampingan sama pihak Boan itu. Umpama kata pcmerintah Boan rnasih ingin kita bcrserikat dengannya, kita hams ambil kedudukan utama, kita tidak bolch kasih diri kita digunakan sebagai alat. Hanya, sementara ini, tak bisa kita mendadakan ubah siasatnya Lie Lay Tiong.

Aku tahu betul, dalam Gichoo-toan ada pecahan rombongan Hoantjeng, Pootjeng dan Hoetjeng-ialah mereka yang hendak menentangi pemerintah Boan, yang hendak membelai, dan yang hendak membantu, di antara tiga itu, rombongan Hoetjeng adalah yang pal•ing besar. Maka aku pikir, kalau kita| kembali ke Hoopak, baik kita menganjurkan untuk perbesar pengaruh rombongan Hoetyang Biatyang, supaya kita bisa paksa Lie Lay Tiong dengan sendirinya berdiri di belakang kita. Umpama kita diam saja, aku kuatir urusan bisa gagal. Aku setuju dengan Saudara Siangkoan, harus kita lekas kembali.”

Pikirannya Kiam Gim ini dapat kesetujuan, scmua orang suka ikut ia, maka itu, telah lantas ditctapkan untuk mereka berangkat bersama. Semua orang, terutama To Poet Hoan, lantas pamitan dari Ma Potjoe.

Kepala Suku Hwee itu merasa sangat berat untuk berpisah, tetapi ia tidak dapat menahan, maka di saatnya berpisahan, ia mengantar sampai sepuluh lie lebih, bersama ia banyak sekali penduduk Hwee, yang pun sangat menghargai orang tua itu, yang mereka pandang sebagai pemimpin sendiri.

Dalam perjalanan ini, Kiam Gim dan Poet Hoan berada dalam perasaan yang saling susun, di satu pihak mereka berduka, di lain pihak, hati mereka tegang, mereka bersemangat. Sebab dari ini adalah kehilangannya Kiang Ek Hian dan kesulitannya Giehoo-toan.

Teng Hiauw dan Kiang Hong Keng pun terbenam dalam kesedihan, akan tetapi, berbareng dengan itu, api asmara mereka menyala-nyala, keduanya sangat bersemangat.

Mereka lagi menanti hari depan mereka yang manis.

Siangkoan Kin si doyan bersenda-gurau, yang alim nampaknya, tetapi yang berandalan, ‘kelihatannya pun tcnang, akan tetapi sebenarnya, hatinya diliputi ketegangan….

Dengan masing-masing perasaannya itu, lima orang itu telah lakukan perjalanan mereka tanpa kenal lelah, selang beberapa hari, sampailah mereka di Anpian-po di Siamsay Utara, di sana segera Poet Hoan ajak rombongannya menemui Ma Sioe San, jago suku bangsa Hwee, untuk sekalian menumpang bcrmalam.

Sioe San dan keponakannya kcbetulan ada di rumah, girang mereka menyambut kawan lama, dari itu, malam itu mereka bicara banyak la pun sejak lama telah kagumi Lioe Kiam Gim dan Siangkoan Kin, dari itu, ia jamu mereka ini sekalian bersama dengan Poet Hoan.

“Beruntunglah pertcmuan kali ini,” kata Sioe San selagi mereka bersantap. Semua orang menjadi heran, semua awasi orang Hwee ini. “Ya, Saudara-saudara pasti tak ketahui, hampir aku

nampak bencana, hingga hampir saja malam ini aku tidak

punya apa-apa untuk disuguhkan kepada Saudara-saudara!” kata Sioe San pula.

Kejadian apakah itu?” Poet Hoan tanya. “Apakah ada angkatan perang negen yang datangi dusun &#

“Walaupun itu bukan tentara negeri, toh mirip-mirip dengan tentara!” jawab Sioe San, yang suaranya jadi sengit dengan mendadakan. “Pagi tadi di sini lewat selerotan dari kira-kira dua puluh kereta besar, yang menuju ke arah barat. Kabarnya mereka ada rombongan dari satu bekas pembesar hartawan, yang lagi mengungsi ke Siamsay Utara, untuk singkirkan diri dari ancaman malapetaka….”

“Apakah diketahui she dan namanya orang itu?” tanya Lioe Kiam Gim setelah ia berpikir sesaat.

“Rupa-rupanya dia ada seorang she Soh,” jawab Sioe San. “Pengiring-pengiringnya pergi ke rumah-rumah orang, untuk minta air teh dan pelbagai barang makanan, asal mereka-tidak dapat kepuasan, lantas mereka sesumbar, katanya, ‘Soh Wangwee kita adalah pembuka jalan bagi Sri Baginda Raja, maka beranikah kau orang tidak memberikan makanan untuk kita?’ Mereka itu minta banyak, tapi mereka membayar sesukanya, sangat sedikit, harga sepuluh, mereka bayar satu. Syukur jumlah mereka cuma seratus lebih, coba mereka merapakan satu pasukan besar, niscaya habis-ludeslah desa kita disapu mereka! Kalau itu sampai terjadi, mana aku ada punya barang makanan lagi untuk dihidangkan seperti ini?”

Mendengar keterangan itu, mendadakan Lioe Kiam Gim jadi sangat murka, hingga kumisnya seperti bangkit berdiri, tanpa merasa, ia telah banting cawan araknya.

“Dia pasti ada Soh Sian le, si tua bangka busuk!” kata ia dengan keras. “Ma Looenghiong, terima kasih untuk keterangan kau ini! Dia itu ada musuh besar kita! Soeteeku dialah yang aniaya hingga tcrbinasa, dan Kiang Looenghiong, soeheng dari Saudara To ini pun buron disebabkan desakan dia!”

Pasti sekali, orang tidak sangka, orang tidak tahu, kenapa Soh Sian le mengungsi ke Barat-utara- Sebab dari itu tak lain tak bukan adalah karena pengaruh besar dari Giehoo-toan di dalam Propinsi Kota Raja sendiri sampai gentar, apapula satu Kota Pooteng. Banyak bekas pembesar dan hartawan, yang ciut nyalinya terhadap Giehoo-toan; mereka yang hartawan kecil pada menyingkir ke Lamkhia (Nanking), yang hartawan besar buron ke Seean. Soh Sian le sendiri kabur ke arah Kota Tengpian di Siamsay Utara. Dia ambil arah ini karena pemerintah Boan sudah siapkan, daerah Barat-utara ada jalan mundurnya

Putera Soh Sian le ada orang kepercayaannya Tjongtok dari Titlee dan perwira yang berkuasa di Teng-pian selain ada sanaknya Sian le, pun ada orangnya Tjongtok dari Titlee itu, maka itu, menyingkimya Keluarga Soh jadi mengandung dua maksud, untuk keselamatan sendiri, buat atur pos terdepan untuk mundurnya si Tjongtok sendiri. Oleh karena Djoe Lok, Tjongtok dari Titlee, ada sanak Kaisar Boan-tjioe, pengiring- pengiringnya Soh Sian le jadi bawa lagak seperti mereka ada hamba-hambanya Kaisar.

To Poet Hoan dan Siangkoan Kin ketahui dengan baik, Soh Sian le itu ada musuh besar dari tiga Keluargaj Lioe, Teng dan Kiang, mereka tidak heran atas murkanya Lioe Kiam Gim, yang biasanya sabar luar biasa. Mereka laiu menganjurkan untuk kejar musuh itu. Rombongan Sian le baharu lewat tadi pagi, mereka ada bawa banyak barang. mereka berjumlah besar, tidak nanti mereka bisa jalan cepat, paling jauh mereka baharu mclalui scratus lie, mereka gampang dapat disusul. “Soh Sian le demikian jahat dan  kejam, ada luar biasa yang kau dapat bersabar sampai sekarang, Saudara Lioe,” nyatakan To Poet Hoan. “Memang dia tak dapat dikejar lolos!”

“Sebegitu lama aku sabarkan diri karena banyak sebab- sebabnya,” sahut Kiam Gim. “Selama ia berdiam di Pooteng, sulit untuk turun tangan terhadapnya. Pooteng ada terjaga kuat. Di sebelah itu, biang kejahatan adalah pemerintah Boan sendiri, maka aku pikir, urusan negara ada terlebih penting daripada urusan perseorangan. Dibanding sama pemerintah, bukankah Keluarga Soh mirip cabang saja?….”

Siangkoan Kin nyelak sebelum orang berhenti bicara: “Memang bagus jikalau pohon besar dapat dibongkar

sampai kepada akar-akamya,” kataThiebian Sieseng, “jikalau tidak, cabangnya pun boleh ditebang terlebih dahulu, secara demikian, pangkal nya akan turut jadi lemah!”

“Kau memang benar, Saudara Siangkoan,” Kiam Gim membenarkan. “Di samping itu, aku hanya berniat bekerja secara terang, bukan secara menggelap seperti orang-orang Piesioe-hwee. Aku tidak mau bertindak sembrono sehingga itu bisa merugikan juga sepak-terjangnya Hong Teng. Bcgitupun sckarang aku mclainkan hendak satrukan Sian le dan anaknya scrta orang-orangnya, yang biasa bantu ia mengganas, terhadap anggota-anggota keluarganya yang lainnya, aku tidak pikir untuk turun tangan.”

Sampai di situ, orang lantas tutup perjamuan, untuk mereka lantas berangkat.

“Tunggu sebentar, Saudara!” kata Ma Sioe San seraya berbangkit. “Keluarga Soh itu mempunyai banyak pengiring, Saudara-saudara terdiri cuma berlima, bagaimana andaikata karena terintang oleh mereka, Sian le dan keluarganya itu dapat lolos? Tidakkah itu mengecewakan? Maka tunggliah sebentar, aku nanti siapkan lima puluh pemuda untuk turut kau or•ang, buat membantu. Saudara-saudara boleh cari semua musuh tetapi orang-orangku akan pegat dan kurung mereka.”

Kiam Gim anggap usul itu baik, tanpa sungkan-sungkan, ia terima itu dengan baik.

Dusunnya Ma Sioe San ada terlebih besar dari Dusun Yamtjoan-tjoe, pengikutnya pun lebih banyak, dari itu, gampang untuk ia siapkan lima puluh anak muda, yang sudah tcrlatih silat dan menunggang kuda.

Selama itu, hari sudah tengah malam, tapi walaupun demikian, semua orang bersemangat, maka mereka berangkat dengan tak mengenal kantuk dan telah. Ma Sioe San sendiri turut bersama.

Malam itu mereka kaburkan kuda, besok paginya, mereka bcnstirahat sebentar saja, lantas mereka berangkat pula, setclah lohor, mereka sudah mclalui lebih daripada dua ranis lie. To Poet Hoan lompat turun dari kudanyajapasang kuping pada tanah.

“Di tempat lima lie dari sini, ada suara rombongan kereta dan kuda,” kata ia. “Mereka tentu ada rombongan yang kita Iagi kejar, maka man kita bersiap.”

Orang tua itu lantas atur supaya Kiam Gim bersama Teng Hiauw dan Hong Keng mengejar langsung, ia sendiri bersama Siangkoan Kin dan Ma Sioe San, dengan rombongan anak- anak muda, akan maju dari kedua samping, untuk bisa mengurung, supaya tak satujuga musuh yang bisa loloskan din”.

Kiam Gim akur, maka mereka lantas pencarkan diri.

Jauh di muka beberapa lie ada berjalan serombongan dari seratus lebih penunggang kuda, yang mengiringi dua puluh lebih kereta, yang memuat orang dan banyak barang.

Itulah rombongan Soh Sian Ie dan keluarganya, yang diiringi belasan pahlawan, beginipun tjintengnya, or•ang she Soh ini gum silat dan bujang-bujang. Ketika itii, hari sudah maghrib. Jalan di muka ada Soh Tjie Tiauw, putera ketiga dari Sian Ie atau orang kepercayaannya Djoe Lok, Gubcrnur Jenderal dari Titlee. Dengan cambuknya, dia menuju ke dcpan, ke arah Kota Tengpian, lain sambil tertawa, dia berkata-kata kepada orang di sebelahnya, lalah Toa-boesoe Tjeh Thian Liong, guru silat kenamaan dari Djoe Lok, serta Tiat Tay Teng, Tongnia atau Kepala dari Gie Lim Koen, Barisan Raja, yang sengaja dikirim unhik bantu lindungi Keluarga Soh ini. Dengan gembira dan bersyukur, dia kata: “Dasar diperlindungi Thian, akhir-akhirnya kita sampai juga di Kota Tengpian! Giehoo-toan sangat berpengaruh, syukur selama di perjalanan, kita tidak nampak rintangan apa-apa….”

Tongnia dari Gie Lim Koen dan Toa-boesoe dari Tjongtok Djoe Lok bersenyum.

Mereka jalan terus, Sampai tiba-tiba, dari tikungan bukit, mereka lihat munculnya dua atau tiga puluh penunggang kuda, yang tidak berbaris rapi scbagai pasukan tentara, kepala mereka tcrbungkus pelangi kuning, pinggangnya terlibat angkin merah. Teranglah mereka ada rombongan anggota Giehoo-toan!

Ketika Tjie Tiauw semua mengawasi, mereka jadi tercengang bahkan heran. Barisan itu bukan barisan orang- orang lelaki yang romannya gagah dan bengis, hanyalah serombongan wanita dengan pemimpinnya juga satu wanita yang sangat cantik dan wajahnya menggiurkan hati! Tiat Tay Teng tak terkecuali, dia pun tercengang!

Munculnya rombongan wanita ini adalah di luar dugaan.

Kapan rombongan itu sudah mendatangi dekat kepada rombongan Soh, yang masih terus berjalan maju, maka pemimpinnya, yang bersenjatakan sepasang golok Lioeyap- too, lantas menghalang di tengah jalan. “Kau ada tentara negeri mana? Jikalau kau kenal salatan, lekas membagi jalan kepada kami!” demikian dia membentak.

Tiat Tay Teng, yang telah lenyap keheranannya, menyambut sambil tertawa besar.

“Kami memang paling kenal baik salatan!” kata ia. “Hayolah kau turut kami jalan bersama-samaL..”

Tongnia dari Gie Lim Koen ini tidak kenal wanita itu, yang ada Tjong-tauwbak Touw Tjin Nio, Pemimpin Pusat dari Barisan Wanita dari Toa To Hwee, yang sudah berserikat, sudah bergabung, dengan Giehoo-toan. Dia ini tahu Siangkoan Kin pergi ke Barat-utara, untuk can’ Lioe Kiam Gim, untuk sckalian memberitahukan agar Giehoo-toan dari Barat-utara pergi ke Kota Raja, hatinya tak tetap, ia lantas minta perkenan untuk menyusul ke Barat-utara seraya mcmbawa tiga puluh anggota Hong Teng Tjiauw, pasukan wanita. Di tengah jalan ini, ia berpapasan dengan rombongan pengungsi Keluarga Soh. Tentu sekali, ia gusar untuk sikap ccriwis dari Tiat Tay Teng. Tanpa sepatah kata, ia keprak maju kudanya, untuk segera tikam tongnia itu!

Tay Teng tersenyum tawar, agaknya ia pandang sangat enteng kepada wanita ini, terus ia jebikan bibirnya, atas mana Tjek Thian Pa di sampingnya, sudah lantas ayun cambuknya Hekhouw-pian, untuk menyerang.

Toa-boesoe ini pikir untuk tawan hidup-hidup wanita ini. Tjin Nio lihat orang serang ia dari samping, sambil berseru,

ia berkelit, selagi begitu, kudanya tetap maju, hingga ia jadi

datang dekat pada si penyerang. Iabisa bergerak sebat luar biasa, goloknya yang berkelebat mengikuti kelitannya itu.

Tjek Thian Pa belum tahu apa-apa, ia tak sempat tarik pulang cambuknya, batang lehemya sudah terbabat kutung, kepalanya jatuh bergeluntungan, disusul dengan rubuhnya tubuhnya dari atas kudanya! Bukan kepalang kagetnya Tiat Tay Teng akan saksikan kejadian sangat hebat itu, yang tidak pemah ia sangka, tetapi ia tabah, ia segera majukan kudanya, dengan sebat ia menyerang dengan golok Kauwliam-toonya. Sasaran adalah kepalanya Tjin Nio, batang lehemya berbareng ia hendak gaet dengan golok gaetannya yang kiri. Serangannya ini ada sangat mengancam, karena dua senjata berbareng datang kepada dua arah.

Tjin Nio lihat hebatnya ancaman, berbareng merasa gusar sekali, ia geraki tubuhnya, akan berloncat turun dari kudanya. Ia tidak sempat menangkis, tidak ada jalan lain untuk tolong diri dari bahaya. Sesampainya di tanah, ia tidak tinggal diam. Ia maju, ia geraki kedua-dua goloknya.

Dalam kagetnya, Tay Teng tidak menjadi gugup. Dengan satu gerakan “Yan Tjeng toohwan”, atau “Yan Tjeng terjungkal”, ia buang tubuhnya begitu rupa hingga ia jadi turun dengan selamat dari atas kudanya Tjin Nio sedang gusar, ia lompat maju, akan barengi serang orang ceriwis ini.

Dasar dia ada satu tongnia, kepala dari pasukan Gie Lim Koen, “Tiat Tay Teng benar-benar mempunyai kepandaian silat. Golok Kauwliam-toonya itu pun ada warisan dari Sian Soe Lam, ahii silat dari Propinsi Tjiatkang, yang namanya kesohor sejak Zaman Beng. Kedua goloknya, yang ada gactannya, bisa dipakai juga untuk punahkan pelbagai senjata lawan. Karena ia pun sedang murka, setelah menangkis, ia balik menyerang dengan keras sekali.

Scsudah melewati beberapa jurus, Tjin Nio bermandikan keringat Ia tak dapat jalan akan rubuhkan tongnia ini, yang tidak empuk sebagai Tjek Thian Pa.

Pada waktu itu, sekalian pengiringnya Keluarga Soh sudah maju, untuk kurang ini penyerang wanita.

Tjie Tiauw kaget tak kepalang, semangatnya seperti terbang, tampak ia menang di atas angin, hatinya jadi lega. Berulang-ulang ia memuji kepada Thian, untuk ia diperlindungi.

Bersama-sama Tjek Thian Pa ada saudaranya, Tjek Thian Liong, dia ini jumawa sekali. Diakata; “Dengan ada perlindungan kita dua saudara, orang Giehoo-toan berani banyak tingkah, dia seperti cari kutu di atas kepala harimau! Apa itu bukan artinya dia can mampus sendiri?”

Boesoe ini kematian saudaranya, iagusar, tapi saking jumawa, ia masih sempat untuk bicara terkebur. Dia tertawa berkakakan. Tapi ia tidak sempat berjumawa lama-lama….

Mendadakan terdengar suitan, yang datangnya dari kejauhan, segera itu disusul dcngan mengaungnya beberapa anak panah yang nyaring, yang melayang melesat di tengah udara. Pahlawan ini dengar itu, ia menoleh dengan terkejut.

Di antara ramainya ketoprakan kaki kuda, terlihatlah tiga penunggang kuda sedang mendatangi dengan kuda mereka dikasih lari, apabila mereka itu telah datang semakin dekat, terlihatlah tiga orang: yang satu tua, yang satu muda dan yang ketiga adalah satu nona dengan pakaian serba putih pakaian berkabung!

Tjek Thian Liong segera dapat pulang ketetapan hatinya, ia majukan kudanya untuk memapaki.

“Hei, kau orang dari kalangan mana?” ia mencgur dcngan nyaring. “Jangan sembarang maju! Tahukan kau orang bahwa kita ada pembuka jalan dari Sri Baginda Raja? Apakah kau orang pernah dengar nama besar dari Tjek Thian Liong?”

Tiga orang itu adalah Lioe Kiam Gim serta Teng Hiauw dan Kiang Hong Keng suami-isteri, tentu sekali hati mereka tak gentar. Malah Kiam Gim, setelah lirik pahlawan itu, lantas perlihatkan sikap tidak memandang muka, sambil hunus pedang Tjeng-kong-kiam, ia hanya awasi TouwTjuiij Nio yang asyik layani Tiat Tay Teng. “Pergi kau orang scrbu orang-orangnya Keluarga Soh itu, akan tolongi itu nona!” ia kata pada Teng Hiauw dan Hong Keng. “Aku akan layani ini tikus!”

Habis mengucap demikian, di atas kudanya, yang ia majukan, jago Thaykek-pay ini segera serang Tjek Thian Liong.

Pahlawan Boan itu bersenjatakan toya Hongliong-pang, dengan senjatanya itu, ia menangkis. Ia tetap bersikap jumawa. Ia memang bukan orang sembarangan, tetapi ia berhadapan dengan Lioe Kiam Gim, yang ia belum tahu siapa, ia salah raba.

Kiam Gim lihat orang tangkis ia, ia kclitkan pedangnya, setclah itu, cepat luar biasa, ia balikkan, ia pakai mengctok dengan kcras toya itu. Inilah hebat, ini pun ada di luar dugaannya Thian Liong. Sekejab saja, cekalannya pahlawan itu terlepas, toyanya terjatuh!

Jago Thaykek-koen itu hunjuk kesebatannya terlebih jauh. Ialah sehabis mengetok kcras, tangannya diputar balik, hingga pedangnya pun turut terbalik, terus ia pakai membabat pula, sekali ini ke arah batang leher!.

Tjek Thian Liong gelagapan tanpa berdaya, tidak ampun lagi, batang lehemya kena dibabat kutung, hingga seperti saudaranya, kepalanya pun jatuh bergeluntungan, tubuhnya rubuh terguling dari atas kuda, terbanting di tanah.

Menyusul kematiannya Thian Liong, anak-anak panah berumbulan menyambar ke arah Kiam Gim. Itulah serangannya orang-orangnya pihak Soh. Dengan putar pedangnya dengan gencar, Kiam Gim lindungi diri. sembari berbuat begitu, ia maju, sampai belasan guru silat Keluarga Soh kurung ia.

Teng Hiauw dan Hong Keng sudah nyerbu di antara pahlawan-pahlawannya Keluarga Soh, mcrcka gagah dan tangkas, akan tetapi kurungan ada rapat, orang rintangi mereka, karena itu, tidak gampang-gampang mereka dapat pecahkan kurungan.

Tiat Tay Teng, yang lagi layani Tjin Nio, lihat musuh dapat bantuan. ia insyaf pada bahaya untuk pihaknya, lantaran ini, ia segera desak lawan itu, sepasang goloknya rnenyambar berulang-ulang.

Karena rangsekan musuh, Tjin Nio jadi repot. Orang- orangnya pun tak berdaya akan undurkan musuh.

Sedangkan pertempuran berlangsung seru sekali, mendadakan terlihat debu mengepul di dua jurusan, menyusul itu, pihak Soh yang lagi mengepung hebat, pecah kurungannya, kemudian kedua penunggang kuda menyerbu ke dalam kalangan.

Pada saat itu, Tjin Nio asyik serang musuh dengan tipunya “Kimhong hieloei” atau “Tawon emas sedang pcrmainkan bunga”, ia arah Tay Teng kedua pundaknya, atas mana, tongnia itu menangkis, kcmudian dia balas menyerang, tempo kcdua senjata bcradu, lelatu apinya muncrat. Tay Teng gunakan tenaga besar, hingga karenanya, sebelah goloknya si nona terlepas, terpental! Menampak demikian, Tay Teng kasih dengar tertawa iblis. Golok kirinya lantas saja menyambar pula, dalam gerakannya “Hoeieng djiauwtouw” atau “Garuda terbang menyambar kelinci”.

Sebelah lengannya Tjin Nio kesemutan, tetapi dengan paksakan diri, ia gunai goloknya yang kedua, untuk tangkis serangan berbahaya itu. Hatinya tegang sekali, karena ia insyaf, inilah sisa setaker tenaganya, sedang musuh ada sangat tangguh.

Dalam saat yang sangat membahayakan itu, mendadak Tiat Tay Teng perdengarkan jeritan keras, tubuhnya terus terpelanting mundur, ialu rubuh bergulingan. Tjin Nio terkejut, tapi, belum ia tahu apa-apa. ia rasai ada sebelah tangan yang mencekal ia, sedang di kupingnya, ia dengar pcrtanyaan perlahan dan sabar. “Adik Tjin, kau kaget”

Pertanyaan itu halus, iramanya menghibur.

Kapan Tjin Nio pandang orang di depannya itu, ia merasakan bagai kan ia sedang bemimpi.

Itulah Siangkoan Kin di hadapannya – orang yang ia senantiasa buat pikiran, yang ia buat kuatir. Dan orang sedang pegangi tangannya, seraya terus menatap ia.

“Ah…” kata ia yang hampir tak dapat berkata-kata. Tapi, segera id tambahkan: “Aku telah cari kau dengan susah- payah, kiranya kita bertemu disini….”

Ia berhenti berkata-kata dengan mendadakan, mukanya menjadi mcrah. Nyata ia telah lupa akan dirinya. Maka lekas- lekas ia tarik pulang tangannya, yang masih dicekali si Mahasiswa Muka Besi. Ia pun tolak mundur tubuh orang itu  

“Kau baik?” tanya Siangkoan Kin, yang pun tak tahu mesti mengatakan apa. Hingga sesaat itu, ia melupakan lawannya.

Tiat Tay Teng telah terkena serangannya Thicbian Sieseng. Mulanya ia masih dapat elakkan totokannya, tetapi sedangnya ia berkelit, ia disusul lain serangan, jidatnya tak luput, karena ia pun sambil berkelit, tubuhnya tcrpcntal mundur, sempoyongan, terus ia jatuh bcrgulingan. Memangnya ia telah diserang secara mendadakan, karcna Siangkoan Kin mesti tolongi si manis. |

Begitu lekas sudah dapat pertahankan diri, Tiat Tongnia lompat ] bangun. Ia ada sangat gusar, maka ia maju pula, akan scrang musuh yang baharu itu. Ia berlaku sengit sekali, serangannya hebat.

Siangkoan Kin muncul bcrsama-samaTo Poet Hoan, jago tua ini lihat kawannya rubuhkan musuh, setelah mana, si Mahasiswa memain dengan api asmara, karena mana, sambil unit* urut kumisnya, ia mengawasi sarnbfl bersenyum. Insyaflah ia apa artirrya pertemuan di antara dua orang muda itu. Tapi sementara itu, ia waspada, ia lihat serangannya Tay Teng, maka itu, segera ia berlompat maju, dengan pedangnya, ia talangi kawannya tangkis serangan dahsyat itu, kemudian, ialayani ini tongnia.

Tentu sekali, baharu beberapa gebrak, Tiat Tongnia sudah repot sekali, malah segera ia menjadi kaget. Ia terdesak dengan segera, sudah begitu, sepasang golok gaetannya yang kuat, yang ia buat andalan, sapat karena sabetan pedang yang tajam dari musuh!

Sambil bertempur, To Poet Hoan telah perdengarkan seruannya, seruan itu sudah membuat “sadar” kepada Touw Tjin Nio.

“Eh, kau angot barangkali?” ia segera tegur Siangkoan Kin. “Lihat keadaan di sckitar kita, orang lagi bekerja apa? Nanti saja kita bicara pula….”

Nona ini menegur, ia tidak tahu, ia sendiri terpengaruh asmara.

Siangkoan Kin bersenyum terhadap si manis itu. “Mari kita bekerja!” ia mengajak.

Di lain pihak, Ma Tjhung-tjoe dan orang-orangnya, dari dua jurusan, sudah sampai di medan pertempuran, mereka sudah lantas mengurung, untuk turun tangan. Barisan orang Hwee ini sudah lantas bekerja sama-sama dengan serdadu-serdadu wanita Toatoo-hwee. Maka itu, dengan Touw Tjin Nio telah pungut goloknya dan maju pula bersama Siangkoan Kin, pihak musuh menghadapi bahaya hebat. Di sebelahnya kipas istimewa, Thiebian Sieseng tidak ragu-ragu lagi menggunai ilmu Tiamhiat-hoatnya, akan totok jalan darah orang.

Datangnya dengan tiba-tiba rombongannya Lioe Kiam Gim ini membuat Soh Tjie Tiauw kaget dan kctakutan, hingga ia jadi terpucat-pucat, apapula kapan ia mesti saksikan beberapa pahlawannya rubuh binasa dengan gampang sekali, dan kemudian, pihaknya terus terdesak, sementara Tiat Tongnia, yang ia buat andalan, repot mclayani satu musuh yang liehay, hingga tongnia itu pasti tidak akan mampu berbuat banyak untuknya. Karena ini, bangkitlah otaknya yang cerdik….

Dengan diam-diam, Tjie Tiauw ajak ayahnya menyingkir dari tempat berbahaya itu. Mereka tidak pikir pula harta besar, yang termuat dalam belasan kereta.#Tapi mereka masih ingat mengajak belasan pengiringnya. Mereka harap akan terlolos dari pandangan musuh, supaya mereka bisa menyingkir dengan selamat.

Bukankah semua musuh sedang bertempur secara kalut? Akan tetapi sulit untuk lolos keluar. Ternyata orang-orang

Hwee tidak menyerang semua, di antaranya ada yang

mengurung saja, untuk memegat jalan. Terpaksa ayah dan anak itu mundur ke sebuah kereta. di sana mereka buka pakaian sendiri, untuk ditukar dengan pakaian bujang. Dengan menyamar, mereka harap bisa juga menyingkir dari ancaman malapetaka.

Dalam pertempuran kalut itu, Lioe Kiam Gim dengan pedangnya ada sebagai naga merdeka, ia menyerang ke sana- sini, untuk cari Soh Si an Ie dan puteranya dia ini. Ia tidak mencmukan lawan yang tangguh. Ia lihat To Poet Hoan sedang hadapi satu musuh yang agaknya liehay, ia menghampirkan, dengan niat mcmbantui. la anggap dalam keadaan seperti itu dan menghadapi pihak Soh, ia tak usah pakai cara-caranya kaum Kangouw lagi, yang mesti bersikap laki-laki sejati.

Tapi To Poet Hoan lihat jago Thaykek-koen itu, dia mendahului meneriakinya : “Saudara Lioe, pergi lakukan tugasmu sendiri! Binatang ini tak ada dalam hatiku!” Setelah berteriak demikian, jago Bweehoa-koen ini rangsek lawannya, pcdangnya seperti berkilau-kilau di delapan pcnjuru.

Tiat Tongnia ada seorang kosen, ilmu silatnya ada lebih rendah daripada kcpandaiannya See Beng Wan dan Kek Touwlm, maka itu, mana dia sanggup terus-terusan layani jago tua yang iiehay itu. Sebentar kemudian, ia telah repot sekali, walau batinnya menjadi ciut, karena goloknya disapat berulang-ulang oleh pedang musuhnya yang tajam. Dalam saat yang tegang itu, terdengar seruan panjang dari To Poet Hoan, lalu menyusul jeritan hebat dari Tiat Tongnia, karena lengan kanannya kena dibabat kutung, lukanya mendatangkan rasa sangat sakit, darahnya muncrat berhamburan, tidak tempo lagi, ia rubuh dengan pingsan!

Sebagai ganti seruannya, To Poet Hoan tertawa berkakakan, kemudian ia teladan perbuatannya Kiam Gim, yang ia hampirkan, untuk labrak musuh, guna cari Soh Sian Ie.

Di lain pihak, Siangkoan Kin dan Touw Tjin Nio telah berhasil memecahkan kurungan musuh, mereka pun mulai cari Sian Ie, hingga mereka tidak berlaku keras lagi terhadap pihak lawan. Kapan Thiebian Sieseng rubuhkan satu musuh, ia tawan orang itu, akan kompes, menanyakan di mana Sian Ie. Siapayang menyahuti tidak tahu, ia angkat tubuhnya, ia lemparkan, hingga ada orang yang jatuh terbantmg hingga binasa. Tapi sebenarnya saja, orang itu tak ketahui di mana sembunyinya majikan mereka.

Perbuatannya ini, Siangkoan Kin lakukan berulang-ulang. Kekuatannya pihak Soh pecah ketika Teng Hiauw dan Hong

Keng berhasil dengan penyerangannya yang hebat, mereka ini

pun segera mencari Soh Sian Ie dan Soh Tjie Tiauw.

“Kita geledah setiap kereta!” akhirnya Teng Hiauw usulkan, karena di seputar mereka, mereka tidak lihat Sian Ie. Kiam Gim mengawasi ke empat penjuru, tiba-tiba ia tertawa.

‘Tak usah kita berbuat demikian!” kata ia kemudian. “Mari ikut aku! Mereka sembunyi di itu kereta

kecil!….”

Jago Thaykek-koen ini ada seorang dengan pengalaman luas. Ia lihat di kereta yang ia maksudkan itu ada belasan orang. Pernah rombongan itu terpencar tapi kembali mereka berkumpul jadi satu. Dengan tiba-tiba saja ia menyangka, itulah mesti rombongan majikan dan bujang-bujangnya. Maka ia lantas menerka.

Dikepalai oleh Kiam Gim, Siangkoan Kin beramai lantas menyerbu ke arah kereta kecil itu. Tidak sukar untuk mereka membuka jalan, untuk sampai ke sana. Teng Hiauw dan Hong Keng mendatangi dari arah samping.

Bcgitu lekas mereka sudah datang dekat, Kiam Gim berhenti berlari, ia merandek dan diam sebentar, tapi segera ia serukan kepada Teng Hiauw dan’isterinya: “Lekas kau orang bunuh sendiri musuh-musuhmu!”

Sakit hatinya Kiam Beng mesti puteranya sendiri yang balas! Matanya Teng Hiauw merah mendadakan, lantas ia maju.

Pengiring-pengiringnya Soh Sian Ie ketakutan, mereka menyingkir, tapi satu pengiring bemyali besar, ia maju, untuk mencegah, tapi Teng Hiauw sudah seperti kerasukan, ia maju untuk segera menikam, demikian hebat, hingga lawannya gelagapan, tak perduli dia bisa menangkis. Baharu dua tiga jurus, pengiringnya Soh Sian Ie itu kena ditikam dadanya, hingga ia rubuh binasa.

Sampai di situ, tidak ada lagi lain perintang. Teng Hiauw loncat maju, untuk bekuk Soh Tjie Tiauw, scdang Hong Keng maju akan cekuk Soh Sian Ie, yang tubuhnya tak bergerak lagi, sebab sedari tadi, ketakutannya sudah sampai di puncaknya, sedang ia sudah berusia hampir tujuh puluh tahun. Tjie Tiauw berontak dengan sia-sia saja, cekalannya Teng Hiauw ada terlalu keras baginya.

Teng Hiauw segera hadapi orang-orangnya Keluarga Soh itu, yang sudah mati kutunya. “Orang she Soh ini ayah dan anak telah ada di tangan kita, kita akan membereskan hutang dengan mereka ini. Kau orang semua tidak ada sangkutannya, begitupun anggota-anggota Keluarga Soh, maka pergi lah kau orang melanjuti perjalanan ke Tengpian! “Teng Hiauw serukan. “Letaki senjata kau orang, lekas kau orang berangkat!”

Perintah itu ditaati tanpa sampai diulangi lagi, semua orang lepaskan senjata mereka, lantas mereka pergi.

Dengan airmata berlinang-linang, Kiam G im berkata seorang diri: “Teng Soetee, akhir-akhirnya hari ini puteramu dapat membalas sakit hatimu! Soetee, kau tentu bisa meramkan matamu!….”

Hancur hatinya Teng Hiauw, sampai ia tak dapat berkata- kata, melainkan air matanya mengucur dengan deras. To Poet Hoan hampirkan itu anak muda.

“Teng Hiauw, kau dapat balas sakit hatimu,” ia kata, dengan perlahan, “tetapi di samping itu, masih kita membalas terhadap musuh besar kita : pemerintah Boan!”

Hong Keng lemparkan tubuhnya Soh Sian Ie, yang telah mati sendirinya, bahna takut, ia meludah, lalu ia dekati Teng Hiauw, tangan siapa ia cekal, untuk ditarik dengan perlahan:

“Engkoh Hiauw, biarkanlah bangsat she Soh ini dan anaknya mampus seperti anjing!” ia kata dengan perlahan tetapi nyata. “Kita sebagai manusia harus bersihkan dunia dari makhluk sebangsa anjing semacam mereka ini!” Teng Hiauw dibikin sadar oleh isterinya ini. “Ya,” ia kata, yang segera ayun pedangnya, maka lehernya Soh Tjie Tiauw putus, kepalanya jatuh disusul sama tubuhnya, yang Teng Hiauw lepaskanj dari cekalannya. “To Lootjianpwee benar, musuh besar kita masih belum terbalas!” ia berseru. “Mari kita orang pergi kepada Giehoo-toan!”

“Marilah!” berseru Poet Hoan, demikianpun Kiam Gim.

Serentak orang tinggalkan medan pertempuran itu. Tapi lebih dahulu daripada itu, orang ambil selamat berpisah dari Ma Sioe San dan rombongannya, yang mesti kembali ke desanya.

Poet Hoan jalan di muka bersama Kiam Gim, Teng Hiauw berendeng bersama Hong Keng. Pasangan ini ada sangat bersemangat, sehingga mereka dapat lupakan kesedihan mereka. Teng Hiauw malah puas, karena telah berhasil mencari balas.

Thiebian Sieseng Siangkoan Kin sianseng, Mahasiswa Muka Besi, jalan misah, tetapi ia tidak hanya sendirian.

Didampingnya ada si cantik manis, Touw Tjin Nio, keduanya jalan berendeng, saban-saban mereka menoleh satu kepada lain, sambil bersenyum, berseri-seri….

Tamat
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 21 (Tamat)"

Post a Comment

close