Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 20

Mode Malam
 
Tapi, selagi mulutnya membilang demikian, tubuhnya bergerak turun dari pembaringan untuk menghampirkan jendela, dengan pen uh semangat, ia memasang kuping tcrlcbih jauh, matanya diarahkan keluar.

Cuma sebentar jangkanya, segera tcrlihat satu bayangan hitam bergerak di sebelah luar jendela, benar seperti burung menyambar. Tak ampun lagi, Ek Hian geraki tubuhnya, sambil menolak daun jendela, ia loncat keluar, akan segera kejar bayangan itu.

Tubuhnya enteng dan liehay, akan tetapi ada sulit akan tandingi jago Bweehoa-koen ini, yang sudah lantas dapat mencandak setelah mcrcka saling kcjar sampai di luar kampung.

“Sahabat, berhenti dulu!” Ek Hian menegur. “Kau telah datang dari tempat jauh, mustahii sebelum menemui tuan rumah kau sudah pergi pula? Mari omong-omong!”

Orang asing itu rupanya telah menduga, maka begitu dengar teguran, dengan sekonyong-konyong, ia berhenti berlari dan putar tubuhnya, akan terus tertawa terbahak- bahak.

“Benar-benar aku telah bcrhasil memancing!” bcrkata ia, dengan lagu suara jumawa. “01 eh karena kau telah mengundang kita, baiklah kau undang juga sekali an saudaraku!”

Habis ini ia pcrdengarkan satu suara suitan panjang – suara seperti pekiknya burung malam!

Segera Kiang Ek Hian memasang mata ke sekitarnya.

Dari arah depan, belasan tindak jauhnya, dari belakang tumpukan salju, lantas muncul tiga orang, yang scmuanya mengenakan pakaian malam serta scmua kepaia mereka dibungkus dengan kain hitam. Mereka jalan dengan berbaris menghampirkan orang tidak dikcnal akan menghadapi Ketua Bweehoa-koen ini. Satu diantaranya yang jangkung- kurus, lantas tertawa berkakakan.

“Apakah ada baik, Kiang Looenghiong?” tanya ia dengan sikapnya sembarangan. “Kiranya kau telah menyingkir jauh ke tanah perbatasan ini! Pasti kau merasakan banyak kesukaran di sini! Setelah beberapatahun, malam ini kitaorang bertemu di sini, maka, tak ada omongan lain, mari kau ilcut kita or•ang!”

Ek Hian terus mengawasi. lamasih sangsikan orang ada sahabat atau lawan. • “Siapa kau orang?” akhimya ia tanya. “Tolong beritahukan namamu semua….”

Orang yang datang pcrtama, yang memancing, tiba-tiba gerak-geraki tangannya ke arah pundaknya, atas mana, dengan terbitkan satu suara nyaring, ia hunus sebatang pedang yang tajam.

“Kau benar-benar ada Kiang Ek Hian, si iblis tua!” ia berseru. “Bagaimana dengan jiwanya Samhong dan Djiehouw? Baiklah kau putuskan sendiri saja!1‘

Kata-kata itu membuat Ek Hian gusar sekali.

“Kawanan tikus, jangan banyak tingkah!” ia membentak. “Jikalau aku si orang she Kiang tidak perlihatkan dirinya kepadamu sekalian, sia-sia saja nama Bweehoa-koen!”

Segera jago tua ini hunus golok

Gan-Ieng-toonya, dengan itu ia berlompat maju, untuk menyerang dengan gerakannya “Tokpek Hoa-san” atau “Membacok Gunung Hoa-san”.

“Pundak rata, maju!” demikian seruannya orang yang diserang, yang segera menangkis, atas mana, kawan- kawannya semua hunus senjata mereka masing-masing, untuk terus bergerak, akan kurung orang tua ini Ek Hian segera kena dikurung, akan tetapi ia coba gempur kepungan itu. dengan sebatang goloknya ia layani gaetan Houwtauw-kauw, musuh- musuhnya punya pedang Shongboen-kiam, golok Poathong- too dan tongkat Tengtjoa-pang. Ia sangat mendongkol ketika telah habiskan tiga puluh jurus, ia masih belum peroleh hasil. Dengan ragam dan ulet, empat musuh itu kurung ia sccara rapat.

Maka dalam murkanya, ia menyerang dengan terlebih seru.

Empat musuh itu mengurung dengan mulut mereka tidak diam saja, suara senjata pun sering terdengar beradunya, maka itu, di lain saat, ke sana mendatangi sejumlah dua atau tiga puluh penduduk kampung, di antara siapa Kiang Hong Keng maju dimuka.

Ma Potjoe adalah yang pimpin orang-orangnya, mereka datang sambil membawa obor, hingga sang malam jadi terang-benderang. Di antara mereka ini ada yang

menunggang kuda, dan itu, suara kuda dan manusia tercampur jadi satu.

Menampak ada bala bantuan untuk pihak musuhnya, sedang merekal scndiri sampai sebegitu jauh masih belum mendapatkan hasil, lawan yangj mcnjadi kcpala segera beri tanda pada kambratnya. Ia gunai kata-katfi rahasia, untuk mundur dulu, buat cari kawan yang terlebih liehay, setelah itu, hampir berbareng, mereka lompat mundur, kemudian mereka gunai scnjata rahasia untuk tangkis dan mundurkan pengejaran.

Kiang Ek Hian gunai goloknya, untuk singkirkan sesuatu scnjata rahasia, ia tidak mengejar, ia larang pihaknya mcngubcr, maka itu, lekas sekali, empat musuh lenyap di tempat gelap.

Hong Keng dan Ma Potjoe sudah lantas datang mcnghampirkan. ■

“Kiang Loocngh iong, mengapa kau tidak memberikan tanda suatu apa?” ketua kampung orang Hwee sesalkan. “Kcnapa kau perbahayakan diri sendiri untuk layani mereka itu? Jikalau sampai terjadi sesuatu, bagaimana nanti kita menyesal?”

“Tidak apa-apa!” Ek Hian tertawa. “Segala kurcaci, buat apa aku bikin kau kaget, Potjoe?”

Ma Potjoe kerutkan alis.

“Men unit cucu Loocngh iong, mereka sebenarnya pernah datang mengintip kita,” berkata dia. “Kita ada di kampung miskin, apa mereka hendak cari? Aku kuatir mereka ada kandung maksud Iain! Apa mereka bukannya gundal pemerintah Boan?”

Ma Potjoe menduga jitu sekali. Memang empat orang itu ada orang-orangnya pemerintah Boan, iaJah kaki-tangan yang liehay dari Tjongtok dari Siamkam, Siamsay dan Kamsiok, di antaranya ada pahlawan dari Istana Boan. Sebab sejak lenyapnya Sam-Liong Djie-Houw di Tektjek-san;, pembesar- pembesar Boan ada kinm lain rombongan untuk mencari.

Karen a menduga kctiga Naga dan kedua Harimau menuju ke Kamsiok, orang telah menuju ke tapal batas Barat-utara ini

Maksud tujuan dari pemerintah Boan bukan melainkan bekuk orang-orang Gichoo-toan atau mereka yang mencntangi pemerintahnya, maksud mereka ada sekalian cari orang-orang gagah yang suka kasih dirinya digunai sebagai perkakas.

Untuk ini, tugas diserahkan kepada Tektcng Patouwlouw Kek Touw Im, satu pahlawan kelas satu, serta Too La Lhama dari Seetjhong. Kepada mereka ini, Tjongtok dari Siamsay dan Kamsiok serahkan belasan pahlawannya untuk mem bantu. Mereka bekerja dengan memencarkan diri. Demikian yang menuju ke Kamsiok Utara terdiri dari lima orang dengan pemimpinnya ada Ong Tjay Wat

Ong Tjay Wat ini, seperti diketahui, ada salah satu pahlawan dari Istana Boan. Ialah yang dahulu gagal di Lioetjhung ketika bersama-sama Lokee Ngohouw, Lima Harimau Keluarga Lo, ia kepung LioeToanio, karena ia kena dilabrak oleh Law Boe Wie serta nyonya Lioe itu. Melulu karena liehaynya ilrnu entengi tubuh ia lolos dan bahaya maut’ Sekembalinya ke Kota Raja, ia malu sendirinya, dari itu, ia lantas mmta tugas di luar. Maka di akhirnya, ia dikirim kepada Tjongtok dari Siamsay dan Kamsiok, karena mana, sekarang ia memimpin empat kawannya di antara siapa ada satu yang liehay, yang menjadi tangan kanannya Tjongtok itu. Dia ini ada Kan Tay Him, satu begal tunggal dari Hoopak, setelah menerima tjiauwan, dia dikirim ke dalam tentara di Barat- utara. Sclama di Hoopak, pernah beberapa kali ia bertemu sama Kiang Ek Hian, dari itu, ia diperbantukan pada Ong Tjay Wat untuk selidiki lenyapnya Samliong Djiehouw serta di mana beradanya Ek Hian.

Oleh karena penyelidikan dilakukan secara seksama, walaupun Yamtjoan-tjoe ada satu tempat mencii dan tempat kcdiamannya orang Hwee, tempat itu pun tak luput dari perhatian. Begitulah yang datang pertama kali, dia ada Ong Tjay Wat Dia ini tidak sangka di tempat sekecii itu ada orang liehay, dengan berani ia layani Hong Keng dengan tangan kosong, setelah terdesak, baharu ia insyaf ancaman bahaya. Maka lantas ia angkat kaki. Ia percaya, selagi sinona ada dcmik ian iichay, orang yang lanjut usianya mcsti tcrlebih Iichay pula la pan jadi henui dan curiga, maka ia lantas pulang untuk beritahukan itu pada kawan-kawannya, hingga mereka lalu berunding. Kesudahannya mercka undang Too La Lhama, untuk membaniu. maka kejadiannya. Too La Lhama datang berempat. Tiga yang lain adalah Ong Tjay Wat scndiri, Kan Tay Him dan Tat Tck Tjiang. Sengaja mereka memakai topeng untuk kcpung Kiang Ek Hian, yang lebih dahulu dipancmg keluar kampung.

Too La Lhama ada kesohor untuk Seetjhong. dia cuma ada di sebawahannya Lhama Besar Kat Pou Djie. akan tetapi   sekarang, menghadapi Ketua Bweehoa-koen, dia repot, dia tidak mampu perlihatkan kegagahannya. Dia toh mengepung bcrsama-sama kawan-kawannya. yang semua liehay. Begitulah ketika datang bala bantuan untuk Ek Hian, mereka angkat kaki. Sdama itu, Kan Tay Him sudah lantas kenali. musuh mereka yang tua ada Kiang Ek Hian, hal ini ia beritahukan pada Too La Lhama.

‘Dia tentuiah yang singkirkan Samiiong Djiehouw, maka baiklah kita minta bala bantuan,” nyatakan lebih jauh itu bekas begal tunggal. Too La Lhama malu sendirinya akan minta bantuan. Ia pun anggap, Yamtjoan-tjoe hanya satu kampong kecil. Tapi, setelah memikir, ia kirim juga Ong Tjay Wat pulang kr Siamsay, untuk undang Kek Touw Im, guna tangkap Kiang Ek Hian.

Scmcntara itu, di Yamtjoan-tjoc Ma Potjoe dan Kiang Ek Hian ada I bikin penjagaan hati-hati. Mcrcka tidak bisa minta bantuan dari mana-mana, mereka bcrdaya-upaya scndiri.

Daya penjagaan mereka juga tak lain tak bukan, cuma memasang tambahan kawat perintang di pagar bentengan serta am par duri-duri besi dan pecahan batu di sckitar kampung.

Hatinya Kiang Ek Hian tidak tcntcram ketika ia dapat kenyataan, untuk banyak hari To Poet Hoan, yang pcrgi ke Kamsiok Timur, belum juga kcmbal i. scdang biasanya kawan itu sudah mcsti kembali. Dcmikian, lagi tujuh atau delapan hari telah dilewatkan, selagi Poet Hoan tetap belum kembali, Kek Touw Im telah mendahului datang!

Pada suatu malam, lewat jam tiga, selagi Ma Potjoe dan Kiang Ek Hian berjaga-jaga, tiba-tiba datang laporan perihal tertampaknya musuh mendatang, dalam rupa satu pasukan berkuda.

“Ah!” berseru Ma Potjoe, yang terus lemparkan cawannya. “Mari siap”

Masih dua-tiga kali datang warta beruntun perihal mendatanginya musuh, kemudian sedang orang berkumpui di atas panggung benteng, kelihatanlah obor terang-terang, dari satu pasukan serdadu yang datang dengan cepat Segera sesampainya di muka kampung, atau benteng, barisan itu lantas mengatur diri.

Di antara cahaya api, Kiang Ek Hian tampak kepala barisan itu, scorang bcrtubuh tinggi tujuh kaki lebih, alisnyagomplok, matanya gede, hidungnya seperti hidung barongsay, mulutnya bagaikan mulut harimau, tubuhnya ditutup dengan kasee atau jubah merah yang lebar, tangannya mencckal sebatang senjata ist imewa, yang berujung lancip dan banyak durinya. Scbab dia adalah Tekteng Patouwlouw Kek Touw Im, pahlawan istimewanya Istana Boan.

Ma Potjoe segera berseru menanyakan maksud kedatangan or•ang.

Kek Touw Im tertawa berkakakan, ia maju pula kapan ia menjawab: “Kau tentu ada potjoe dari ini kampung kecil!

Kaudengar! Kcnapa kau berani sembunyikan pemburon ncgara? Turut aturan, kampungmu ini mcsti dibikin musnah, tapi pintjeng ada murah hati, pintjeng suka mengasih ampun! Kita suka bcrikanjalan hidup pada kau orang asal kau serahkan pemburon negara itu!”

“Siapa pemburon yang kau maksudkan itu?” tanya Ma Potjoe,

“Itn dia!” berseru Kek Touw Im dengan jawabannya, seraya ia tuding Kiang Ek Hian yang dampingi Ma Potjoe.

“Angin busuk!” Ma Potjoe membentak, dengan kumisnya bergerak-gerak, alisnya bangun berdiri. Kawanan bangsat anjing penindas, bangsa Hwee walaupun kita hanya seorang dan seckor kuda, kita nanti lawan padamu!”

Lhama itu tertawa.

“Kau berani lawan tentara negen? Kau berani layani kita bertempur?” iamenantang. “Balk! Memangnyaaku datang kemari dengan niatan bertempur, untuk bikin kendor dan sehat otot-ototku!” Lalu ia tambahkan berseru: “Eh, Kiang Ek Hian, pemburon tak maumati, kenapa kau scmbunyi saja?”

Ek Hian gusar bukan kepaiang, ia hendak turun akan sambut tan tangan, tapi itu waktu, Ma Potjoe telah dului ia.

Potjoe ini jujur dan laki-laki, ia anggap adalah keharusannya sebagai tuan rumah akan sambut tantangan. Sembari maju, ia berseru: “Urusan kampung ini ada menjadi tanggung jawabku! Mari kau tempur dulu atai!”

“Aha, kau berani lawan aku?” Kek Touw Immenantangsccarajumawa. “Saykee punya Djitgoat-thong ini biasa dipakai kcmplang orang-orang Kangouw kenamaan, kau sendin belum punya derajat untuk menerimanya!” Lalu ia menoleh ke pihaknya, akan segera tambahkan secaramenghina: “Hayo, anak-anak! Siapa saja satu di antaramu boleh keluar akan layani kurcaci ini!”

Satu orang sambut seruan itu, dia adalah stewie atau pahlawan, dari Kantor SiamkamTjongtok, tangannya mencekal golok berkepala naga-nagaan, sebab dia adalah A Mo Liang, seorang Turfan, yang berkhianat kepada bangsa sendiri, yang kesudian mcnjadi gundal pemerintah Boan. Tanpa kata apa- apa ia terus tikam Ma Potjoe, yang tak pandang mata.

Ma Potjoc bcrsenjatakan toya Samtjiat-koen, dengan itu ia menangkis, ia sampok golok musuh dengan keras, sampai golok itu icrpcntal.

Dalam kalangan bangsa Hwee, ilmu toya atau tongkat yang kesohor adalah Sathwehwee Koen-hoat. Sat ini ada seorang dari zaman Kaisar Kee Keng, namanya tidak diketahui, dia hidup berkelana, maka orang panggil dia “Hweehwee” saja.

Sudah sejak empat puluh tahun yang lalu, Sat Hweehwee menutup mata, tapi wansan ilmu toyanya masih kcsohor di Barat-utara. Ilmu silat Samtjiat-kocn dan Ma Potjoc ada warisan Sat Hweehwee, mclainkan sayang Potjoe ini tak dapatkan sampai sempuma. Hanya kebetulan saja, bertemu sama To Poet Hoan, Poet Hoan bantu padanya dengan ajarkan dia gerakan dari golok Bweehoa-too. A Mo Liang tercengang akan hadapi musuh yang tangguh, ia jadi pcnasaran, ia jadi sengit, dari itu, ia ulangi serangannya secara hebat Ia mendesak keras. Kemudian, dengan Tanhong gengtjoen”, atau “Burung hong menyambut musim semi”, dari bawah ia menyontek ke atas, keulu hati. Dengan lompat ke samping, Ma Potjoe kelit dari serangan berbahaya itu, habis itu, ia membalas dengan serbu kedua kaki orang, hingga A Mo Liang jadi kaget, lekas-lekas ia berlompat. Tapi ia penasaran, sambil lompat, ia membacok.

Ma Potjoe lihat gerakan musuh, ia menangkis, keras sekali, hingga kedua senjata bcradu tak dapat dihalau lagi oleh A Mo Liang, sekejap saja, goloknya trrlrmpar dari cekalan, mental jauh.

“Biarlah kau rasai liehaynya kampung kecil ini!” Ma Potjoe mengejek

A Mo Liang lekas-lekas undurkan diri, tapi di sebelah dia, Kek Touw Im tertawa dingin.

“Jangan bertingkah!” kata pendeta lhama ini. “Kau toh baru menghadapi satu di antara cucu murid!” Kemudian, sambil menoleh, ia berseru: ” Anakku Tat, kau keluar, kau bereskan ini binatang!”

Seruan itu disambut dengan mnnculnya seorang, senjata siapa ada luar biasa, senjata itu perdengarkan suara nyaring. Dia ini adalah Tat Tek Tjiang, salah satu dari empat pahlawan yang beberapa malam yang lalu kepung Kiang Ek Hian.

Senjatanya ada sepasang gelang, yang dikeling dengan gelang lain, yang dipakaikan ujung tajam. Jadi senjata itu bisa dipakai berbareng untuk merampas genggaman lawan.

Dalam umur lima puluh tahun lebth, belum pernah Ma Potjoe berkelana, dari itu, ia asing dengan senjata musuh ini, ketika musuh datang dekat, lantas ia menyerang ke arahdada.

Tat Tek Tjiang tertawa menghina, ia angkat Djitgoat Sianghoan, untuk menangkis, tapi ia menangkis dengan keras sekali, ketika kedua senjata beradu, terdengarlah suara nyaring. Berbarcng, Ma Potjoe pun terkejut, karena kedua tangannya tergetar,’ toyanya terpental , baiknya tak terlepas. Tapi karena ini, ia jadi berlaku hati-hati. Kembali keduanya sating serang.

Tat Tek Tjiang berlaku tenang, tidak dcmikian dengan Ma Potjoe, yang penasaran, yang hendak membalas. Ia menunggu dengan sabar, kapan kembali ia diserang dengan hebat, ia nyamping, dari sana, ia menyampok dengan gelangnya. Ini kali, pahlawan Boan itu berhasil. Samtjiat-koen kena diserang begitu rupa. hingga mcnjadi patah tiga!

Dengan air muka pucat, Ma Potjoe lantas saja mundur. “Kau hendak menyingkir kc mana? Serahkan jiwamu!”

berseru Tat Tek Tjiang sambil putar sepasang gelangnya dan

tubuhnya lompat mencelat, untuk mengejar.

Dalam saat mengancam untuk Ma Potjoe, dari atas benteng melayang turun satu tubuh merah, yang bersenjatakan pedang berkilauan, hingga, menampak mana, matanyaTat Tek Tjiang menjadi siJau, hingga ia berdiri diam mengawasi saja

“Jangan bertingkah, di smilah nonamuJ” demikian bayangan merah itu, satu nona cantik.

Pahlawan Boan itu heran, apapula akan saksikan kegesitan orang. Dia tidak kenal Angie Uehiap Kiang Hong Keng, yang belajar silat sejak umur empat belas tahun, yang dalam umur cnam belas bcrani merantau sendin, dan selama empat tahun ini, berkelana mengikuti engkongnya. Kecuali Iatihan, nona ini telah wariskan semua ilmu silat Bweehoa-koen. Walaupun demikian, Tat Tek Tjiang tidak takut la anggap, sampai di mana saja keuletannya satu nona. Demikian, keluarkan berbareng sepasang gelangnya, ia menyerang dengan tipunya “Goeng tjinie” atau”Garuda lapar geraki sayap”.

“Bagus!” menyambut Hong Keng, yang segera mendahului, akan menikam dada, hingga lawannya jadi repot sekali, lekas- lekas dia batal menyerang, diapakai gelangnya untuk menangkis, untuk sekalian menggalang pedang lawan itu. Hong Keng bukannya Ma Potjoe, ia tak kasihkan pedangnya ditempel, lekas-lekas ia menarik pulang, akan dipakai menyerang pula, sekali ini dengan gerakannya “Kenghong hielioe” atau “Angin berputar permainkan cabang yangtioe”.

Lebih dahulu ia sampok gelang, lalu ia menusuk.

Tek Tjiang mundur sambfl putar diri, sesudah itu, baharu ia maju pula. Baharu sckarang ia tak pandang enteng lagi kepada si nona manis itu….

Nona Kiang perlihatkan kegesitan tubuhnya, scbatnya pedang sambar-mcnyambar, dcngan itu cara, ia mcncoba mendesak musuh,hingga ia bildn pcnglihatan mata lawan menjadi seperti kabur. Sia-sia saja Djitgoat Sianghoan dipakai untuk menyerang, buat bcla diri, dia kena terkurung cahaya pedang.

Dengan satu gerakan “Wie To hongtjie” atau “Malaikat Wie To persembahkan tongkat”, Tat Tek Tjiang hendak rubuhkan si nona, atau sedikitnya pecahkan desakan, akan tetapi sebelumnya Hong Keng men dahu I ukan, dia ini incrangsck dan menikam dcngan “Kimliong hiehay” atau “Naga emas memainkan lautan”, satu tusukan tak dapat dihalau!

“Aduh!” menjerit Tek Tjiang, yang tangan kirinya sapat jarinya kena terbabat pedang.

Kek Touw Im, yang menonton sejak setadian, mclupai derajatsendiri apabila ia saksikan pihaknya kembali kena dipecundangi, dalam murkanya ia lompat maju seraya menyambar dengan Djitgoat-thongnya kepada Nona Kiang. Ia bersikap teiengas sekali, katerta genggaman istimewanya itu beratnya kira-kira enam puluh kati.

Hong Keng tabu bahwa tak dapat ia melawan dengan tenaga, maka itu tatkala senjata sampai, ia berlompat berkelit dalam gerakannya “Yantjoe tjoanin” atau “Burling walet tcmbusi mega”. Ia Ioncat tinggi dua tumbak Iebih, melewati musuh yang beitubuhj besar, kemudian turun di bclakang musuh, ia putar tubuhnya sambil menikam pundak kanan orang.

Lhama itu liehay, gesit juga gerakannya, segera ia mcmutar tubuhjj senjatanya digeraki ke bclakang, untuk dipakai menangkis, maka sckali ini, tak ampun lagi, pedangnya si nona kena tersampok sebelum ia sempat menariknya pulang. Kaget Hong Keng karcna tangannya sampai scsemutan, lckas- lckas ia Ioncat mundur.

Dalam sengitnya, Kek Touw Im] hendak rangsek si nona, akan tetapi di belakang ia, ia segera dengar bentakan: “Keledai botak, tak punya muka, bagaimana kau menghina satu anak perempuan? Jikalau kau ada punyakan kepandaian, mari sambut golokku!”

Lhama ini menoleh dengan segera, hingga ia tampak Kiang Ek Hian lagi mendatangi. Jago tua ini ada sangat gusar karcna cucu pcrempuannya dipcrhina.

“Aku dengar kau ada Ahli Warisnya Bweehoa-koen, Tjoe Hong Tengjuga ada muridmu, saykee ingin sckali belajar kcnal dengan kau!” menantang pendeta lhama mi. “Di kolong langit ini, saykee punya Djitgoat-thong belum ada tandingannya, mari aku belajar kenat dengan golokmu!”

Habis mengucap demikian, Kek Touw Im segera mulai dengan penyerangannya, dengan gerakan “Hengsauw tjiankoen” atau “Mel intang menyapu ribuan tcntara”. Nama saja dari gerakan itu sudah menunjuki rabuhan ke arah bawah!

Bcrbarcng dengan itu, Hong Keng kembali ke bentengnya.

Kiang Ek Hian awasi bergeraknya genggaman musuh, yang ia tunggui, begitu lekas senjata itu hampir sampai, ia angkat tubuh sambil bcrjingkrak, kaki kanannya dipakai menjejak senjata itu, lalu dengan pinjam tenaga kaki, ia jumpalitan, akan Ioncat Icwati kepala lawan, selagi berbuat demikian, tanpa tunggu kedua kakinya injak pula bumi, goloknya dibabatkan kepada kepala orang dengan tipunya “Tok j pek Hoa-san”.

Kek Touw Im menyerang dengan hebat, ia terkejut kapan ia saksikan gerakan luar biasa dan sebat sekali dari lawan itu, tak perduli usianya yang sudah Ianjut, maka lekas-lckas ia mengendap, seraya memutar tubuh, ia menangkis ke atas. Ia tidak hendak buang diri tapi ia ingin lindungi batang lehernya.

Gerakan kedua pihak ada berbareng, satu bentrokan tak dapat dicegah lagi, si pendeta bisa tolong batang lehernya, akan tetapi ujung senjatanya kena terpapas kutung oleh Ganleng-too yang tajam, hingga lenyaplah dua buah gantilannya. Setelah ini baharulah Kek Touw Im tidak berani pula memandang rendah kepada lawan itu, lahi jj melayani berkelahi dengan sungguh-sungguh, dengan gesit tetapi waspada. Benar-benar ia ada gagah sekali nampaknya ia tidak ada di sebawahaimya See Beng Wan.

Ek Hian pun dianwham kagum melihat musuh yang liehay ini, tetapi ia tidak jerih sambil perdengarkan seruan, ia keluarkan ia punya kepandaian, untuk melayani la tidak mau kalah sebat atau gesit, baik di waktu menyerang maupun di saat berkelit.

Sebentar saja, kedua pihak telah lewatkan tujuh sampai delapan puluh jurus, saking scbatnya pertempuran mereka. Terang sekali kelihatan tenaga yang besar dari si pendeta, tubuh yang enteng dari Ketua Bweehoa-koen, hingga mereka jadi merupakan satu tandingan yang setimpal.

Kek Touw Im ada sangat penasaran, karena ia pun ada satu Tekteng Patouwlouw, bukannya ia lekas peroleh kcmenangan, secara seumumnya, ia ada sedikit terdesak, maka itu, diam-diam ia telah ambit putusan. Karena ini, ia terus main mundur.

Kiang Ek Hian heran melihat sikap orang itu. Ia tahu ia menang di atas angin, lawan telah terdesak, tetapi orang masih belum kalah, kenapa or•ang main mundur terus! Selagi ia menduga-duga seraya ia tak pemah lengah, mendadakan ia lihat orang loncat keluar kalangan, tangannya ditudingkan, dari mulutnya terdengar seruan:

“Anak-anak. Masnahkanlah kampung ini!” demikian titahnya, titah yang telengas sckali!

Metihat gerakan tangan dari pemimpinnya, pasukan dari seratus lebih serdadu Boan itu sudah perdengarkan sambutan mereka, disusul dengan gerakan mereka bagaikan arus banjir. Lekas sekali mereka lepaskan panah api, hingga sang malam jadi terang-benderang!

Di dalam bentcng, orang kaget dan menjerit, belum sempat mereka berdaya. beberapa orang telah rubuh scbagai korbannya panah api. Syukur buat Hong Keng, bcrsama-sama Ma Potjoe, ia keburu berkelit, ia dapat menangkis serangan, setelah mana, tcrpaksa mereka mundur.

Semua orang pun dipcrintah lekas mcnyingkir.

Panah api ada iiehay, yang mana tidak mengenai sasaran manusia, lantas membakar kayu kcring dan lainnya, sehingga di Iain saat, api pun berkobar-kobar, sedang malam itu, kebetulan ada angin menyambar-nyambar. api menyambar ke arah rumah-rumah, tanpa ada daya pertolongan, karena di kampung or•ang Hwee itu kekurangan air.

Kampung jadi sangat berisik dan kalut, terutama orang- orang perempuan dan anak-anak. Semua orang kampung repot menolongi mereka itu. Pintu benteng telah dibuka, untuk orang mcnyingkir keluar, buat meloloskan diri.

Too La Lhama berlaku bengis, ia pimpin barisannya untuk mengejar, buat menyerang kalang-kabutan, karena pihak Hwee tidak diam saja, mereka jadi bcrtempur secara kalut.

Orang-orang Hwee itu ada terlatih baik, dulu pun mereka pemah dibasmi pasukannya Tjoh Tjong Tong, yang usir mereka dari Kamsiok Timur ke Kamsiok Uiara, maka itu sekarang, mereka mclawan sccara be rani Di bawah pimpinan To Poet Hoan, dari umur belasan sampai umur enam puluh tahun, mereka belajar silat, maka itu, sekarang mereka sanggupj satu lawan bcbcrapa orang. Melulu lantaran dibokong panah api, mereka tcrpaksa jadi kacau. Setelah di lawan sccara sungguh-sungguh, barisannya Too La Lhama tidak mampu berbuat banyak. Beruntung bagi Too La Lhama, bersama ia ada belasan kawannya yang liehay.

Ma Potjoe dan Kiang Hong Keng lakukan perlawanan, tctapi dalam kekalutan sepcrti itu, pihak Hwee kalah angin.

Too La Lhama tahu Nona Kiang Iiehay, bersama dua pahlawan dari Siam-Kam Tjongtok, ia kepung si nona, yang ia desak. Tombaknya Shong-boen-kek ada iiehay, maka itu, dibantu dua tenaga lain, ia bikin si nona terkurung dan mandi keringat Untuk melawan terus, Hong Keng sampai kertak gigi.

Too La Lhama berlaku bengis, ia tahu orang sudah lelah, ia merangsek dengan hebat.

Selagi Hong Keng menghadapi ancaman malapetakaitu, riba-tiba ke situ datang tiga penunggang kuda, yang datang dengan kaburkan kudanya masing-masing, sebentar saja, mereka sudah sampai di medan pertempuran.

Pada waktu itu, dengan gerakan Hong Keng tikam tenggorokannya satu musuh yang bersenjatakan toya besi. Ia ingin rubuhkan salah satu pembantunya Too La Lhama, supaya ia dapat keringanan. Lawan ini bukannya orang lemah, dengan toyanya, ia tangkis pedang. Si nona meneruskan, selagi pedangnya kesampok, ia menikam dari kiri, kepada iga orang. Tapi, sedangnya ia hendak tusuki pedangnya, di belakang ia, tombaknya Too La mcnyambar, dan goloknya kawannya yang kedua, pun perdengarkan suara angin.

Dalam saat yang mengancam itu, mendadakan Too La menjerit keras, tombaknya menyambar ke lain arah, kawannya pun terkesiap hatinya, gagal bacokannya, cuma karenanya, Hong Keng sendiri pun batal menikam lawannya. Ia segera menoleh dengan tercengang.

Kejadian iuar biasa ini disebabkan Penunggang kuda itu, yang baharu datang, sudah lantas loncat turun dari kuda mereka, untuk campurkan diri dalam pertempuran. Mereka adalah dua orang tua dan seorang muda, dan dan kedna orang tua, yang satu ada To Poet Hoan yang diharap-harap Dua yang lain juga bukan orang-or•ang sembarangan, sebab yang tua ada Lioe Kiam Gim, ahli Thaykek-koen, dan yang muda adalah Teng Hiauw yang gabungkan ilmu kepandaian kedua Thaykek Teng dan Thaykek Tan.

Begitu lekas loncat turundari kuda-kuda mereka, Lioe Kiam Gim awasi pertempuran, lalu ia kata kepada kedua kawannya: “Kasihlah aku iayani itu pendeta jahat! Kauor•ang berdua pergi bebaskan orang-or•ang Hwee itu!”

Teng Hiauw sementara itu segera kenali Kiang Hong Keng dengan pakaiannya serba merah, ia lantas saja maju seraya berkata kepada To Poet Hoan: “To Lootjianpwee, silakan tolongi orang-orang Hwee itu, aku hendak bantui si nona!”

To Poet Hoan bersenyum, ia manggut-manggut

Teng Hiauw maju sekali Hong Keng terancam bahaya, tidak ayal lagi, ia kirim piauw yang Iiehay, yang mengenai nadi kanan Too La Lhama, tidak heran kalau pendeta itu, tak perduli dia gagah, lantas saja menjerit Tapi dia tidak segera rubuh, dari itu Teng Hiauw kirim piauw yang kedua serta yang ketiga.

Kimtjhie-piauw yang kedua. Too La dapat egoskan, akan tetapi yang ketiga mengenai jidatnya, hingga dia lantas saja mandi darah. lajadi sangat gusar, ia tinggalkan si nona, ia hampirkan Teng Hiauw untuk diserang secara kalap, karena dua-dua tangannya masih sanggup cekal sepasang tombak Shongboen-kek. Menampak orang, demikian garang, Teng Hiauw tidak mau adu pedang Thaykek-kiam, selagi ia diserang, ia berkelit dengan pesat, lalu dari samping, ia kirim bacokan, ia kenakan senjatanya, hingga ujung tombak kena dibabat putusl

Too La scperti kalap, ia maju terus dengan serangannya yang hebat akan tikam tenggorokan orang.

Teng Hiauw bcrlaku awas dan gesit, ia tidak tunggu sampainya tikaman itu. ia mendahului, akan membacok dari kiri, tajamnya pedangnya diserodoti di atasan tombak, untuk lengan orang. Ini ada bacokan “Soensoei twietjioe” atau “Mendorong perahu mengikuti aliran air”.

Lhama itu benar liehay, ia masih sempat geser kakinya, untuk berkelit sambil tarik pulang tangannya yang terancam bahaya itu, lalu dari sini, ia baias memukul.

Teng Hiauw lekas-lekas tarik pulang pedangnya, yang ia masih elak adu dengan tombak cagak, habis itu, kembali ia balas menikam, kepada iga kanan dari pendeta itu. Ia gunai tipu “Hoeiyan touwlim” atau “Burung walet terbang masuk ke dalam rimba”.

Too La rupanya nekat, ia tidak mau kelit, dengan tombaknya, ia menangkis seraya terusi menikam pula. Teranglah sudah ia hendak adu jiwa, untuk mereka binasa bcrdua. Ia ingin, selagi ujung pedang nancap di iganya, tombaknya nanti panggang dada musuh!

Kiang Hong Keng nampak itu ancaman bahaya, saking kaget, ia sampai menjerit!

Akan tetapi Teng Hiauw tidak mau turut-urutan nckat, ccpat luar biasa, ia tarik pulang pedangnya, untuk dipakai menyampok tombak musuh, sctclah mana, si nona mclainkan tampak tubuhnya berputar, lalu pedangnya dipakai membacok pula! Tombaknya Too La menusuk tempat kosong, karena ia gunai seluruh tenaganya, tubuh maju ke depanJ justru itu, bacokan pedang sampai, tidak ampun lagi, ia kcluarkan jeritan hebat, ia mandi darah, tubuhnya rubuh tcrbant i ng hingga menerbi tkan suara keras dan berisik!….

Hong Keng lari menghampirkan si anak muda, napasnya sengal-sengal, mukanya pucat.

Teng Hiauw tarik pedangnya, ia memberi honnat.

“Jangan kuatir, Nona, musuh telah terbinasa,” kata ini anak muda.

Nona Kiang mengawasi, wajahnya berubah dengan lantas.

Ia bersenyum, tetapi ia menyesali: “Kenapa mesti adu jiwa dengannya?…. Menampak kau menghadapi* bencana, aku berkuatir sekali.- Dia sudah tcrluka piauw, apa dia bisa bikin? Kau layani dia, coba kau kena dilukai, apa jadinya? Bukankah itu tak ada harganya?….”

Teng Hiauw bersenyum kctika dengar kata-kata itu. Inilah untuk kedua kalinya ia tolongi si nona. Yang pertama adalah dahulu, ketika si nona dikepung pahlawan-pahlawannya | Soh Sian Ie. Tapi kalau dulu ia digusari, sekarang si nona menaruh belas kasihan atas dirinya….

Masih saja si nona berdiam mengawasi ia, hingga ia perlu lekas cari kata-kata.

“Kau baik, Nona,” kata ia. “Lihat di sana, To Lootjianpwee sudah bereskan serdadu musuh!”

Hong Keng berpaling ke arah musuh, ke sekitarnya.

Mcmang benar, tentara Boan telah di bikin kocar-kacir, lari serabutan ke empat penjuru. To Poet Hoan telah mengamuk hebat tanpa ada yang bisa merintangi. Dengan begitu, Ma Porjoe dan orang-orang kampungnya pun jadi bisa berkelahi dengan hati tetap. Di kedua pihak, pertempuran sudah sampai di akhirnyai akan tetapi disana, rombongan yang ketiga, Pertandingan masih berlangsung di antara Lioe Kiam Gim dengan Kek Touw Im, pendeta lhama yang menjadi pahlawan Boan kelas istimewa!

XI

Hong Keng lantas hampiri To Poet Hoan.

“Soesiok-tjouw ada seperfr malaikat saja,” ia puji jago tua itu. “Melihat ilmu pedang Soesiok-tjouw baharu sekarang mataku terbuka!”

Poet Hoan tertawa.

“Budak cilik, kau bisa sekali menyenangi hati orang!” kata ia sambii tertawa. Lalu ia menunjuk, akan meneruskan: “Lihat di sana! Soepeh dari Teng Hiauw itu baharulah orang pandai! Jikalau kau hendak buka matamu, hayo lekas saksikan, nanti kau tak keburu!” 

Hong Keng lantas saja menoleh. Teng Hiauw pun memandang ke arah soepchnya

Dengan pedang Tjcngkong-kiam, Lioe Kiam Gim bikin gerakan seperti garuda berputar-putar di udara atau naga permainkan air laut, ia bergerak sangat cepat dan tetap, ia- seperti kurung Kek Touw Im dengan sinar pedang itu.

Kiang Ek Hian sedang repot betul tatkala tahu-tahu tentara Boan yang kurung ia terpencar sendiri, lalu ia tampak seorang tua dengan pedang di tangan menyerbu menghampirkan ia, sembari berseru: “Kiang Lootjianpwee, serahkan kawanan anjing ini kepada aku si orang she Lioc!” Dan Iain si orang itu mcnerjang tcrlcbih jauh kepada tentara Boan itu. Tapi segera ia dikepung oleh Kek Touw Ini scrta nga pahlawan Boan lainnya yang masing-masing bcrscnjatakan toya, golok dan gactan, hingga cmpat rupa senjata lantas mcmbanjiri padanya.

Ek Hian mengawasi, akhimya ia jadi girang sekali. Ia segera kenali Lioe KiamGim. Pada dua puhib tahun yang lain, di Pooteng. mcrcka berdua h idup scbagai sahabat, hanya sejak Kiam Gim hidup menyendiri di Khokee-po. kedua pihak tak pemah bertemu pula dan tak salmg mendengar satu dari lain, maka adalah di luar dugaan, sekarang mereka bertemu, dalam saat-saai beg ini gentingl la memang sudah lelah, maka datangnya pcnolong itu membikin hatinyajadi sangat lega. la pun terima bantuan tanpa sungkan-sungkan lagi.

“Terima kasih!” ia nyatakan, lalu ia undurkan diri, akan bcrikan ketika sahabat itu gantikan ia, iasendiri lalu herbal ik mclabrak tentara imisuh.

Mclayani Kiang Ek Hian, Kek Touw lm sudah penasaran, karena sampai sekian lama, ia tak mampu rubuhkan jago Bweehoa-koen itu, maka sckarang, menghadapi Lioe Kjara Gim, ia jadi sangat mendongkol. Maka bersama-sama kawannya, dengan sengit ia serang musuh baru.

Loe Kiam Gim tidak mundur terhadap kepungan musuh musuhnya, sebaliknya, ia coba desak mereka. llmu silat Thaykek Sipsani-kiam telah diperlihatkan sungguh-sungguh, hingga cahaya pedangj berkilauan, menyambar-nyambar mengikut i pedangnya sendiri.

Satu lawan yang memegang toya kena didesak, kawannya dia ini, yang mencckal gactan, yang berada di sebeiah kiri, segera menolongi, dengan bacokannya dari bclakang. Tapi Kiaml Gim lagi gunai gertakan, kapan ia lihat ancaman dari bclakang, dengan mendadakan ia memutar tubuh scraya menangkis dengan keras, hingga kedua senjata beradu sambil mencrbitkan suara nyaring. Kesudahannya penyerang dengan gactan itu kaget sekali, lantaran duar dua senjatanya terlepas, terpental jauh. Selagi dia tercengang Tjngkong-kiam menyambar tangan kanannya, pcrcuma ia egosi diri, pedang itu mendahului menabas kutung, hingga ia perdengarkan suara hebat, tubuhnya rubuh.

Kiam Gim segera rangsek pula lawan dengan toya itu. Dia ini kaget, hatinya gentar, kena didesak, dia jadi repot. Maka itu, ketika toyanya disampok dan ujung pedang menyambar terus, tidak ampun lagi, dia menjerit dan rubuh, jiwanya melayang seperti kawannya barusan.

Kek Touw lm lompat menyerang dengan Djitgoat-thongnya, tetapi Lioe Kiam Gim keburu tarik pulang pedangnya, dengan begitu, jago Thaykek-koen ini jadi bisa layani padanya.

Segera juga Kek Touw lm merasakan betul liehaynya lawan, Icarena mi, ia tidak berani berlaku sembrono. Ia lantasjagadiri baik-baik, sembari berbuat demikian, ia cari ketika untuk turun tangan. Ia putar senjatanya dengan gesit untuk menghalau ancaman-ancaman pedang. Tapi ia tidak bisa berkelahi terlalu lama, ia kalah hati, kemudian ia memikir jalan, untuk angkat kaki.

Kiam Gim tak mengurangi rangsekannya, dengan ini, ia tidak kasih ketika buat lawan peroleh ketika akan menyingkirdari hadapannya.

Selama itu, pihak Hwee telah berbalik menang di atas angin.

Di pihak negeri, Ong Tjay Wat berlaku licik. Ia lihat pihaknya ketcter, ia tidak mau tunggui datangnya bahaya untuknya. Rupanya ia memikir, “Kabur ada paling sclamat!” maka diam, dia mundur, lantas ia buka langkah panjang.

Hong Keng, yang berdiri didampingi dengan Tcng Hiauw, lagi asyik menonton pertempurannya Lioe Kiam Gim tatkala ia dapat lihat musuh yang licin itu angkat kaki.

“Lekas kejar!” dia tcriaki Teng Hiauw, tubuh siapa pun diatolak, “Itu adalah si orang jahat yang paling dulu datang menyatroni kita dan kemudian datang pula bersama barisannya ini!”

Teng Hiauw mengerti, tanpa minta keterangan lagi, ia lompat untuk mengejar. Dengan satu enjotan tubuh saja, ia telah melcsat dua-tiga tumbak. sembari lompat, ia rogoh kantong piauwnya, hingga di lam saat, kedua bclah tangannya masing-masing sudah menggenggam riga batang. Ia mengejar terus, lalu ia ayun kedua tangannya itu, hingga bagaikan bintang-bintang berkeredepan, enam buah Kimtjhie- piauw menyambar ke arah si orang licik.

Ong Tjay Wat kabur dengan disusul oleh satu kawannya, yang memegang sebatang golok, mereka bcrlan-lari saling susul, karena itu, Teng Hiauw menyerang dengan dua tangan dengan berbarcng. Mereka itu sedang kabur, tidak berdaya terhadap enam batang senjata rahasia. apa pula penyerangnya adalah ini pemuda she Teng.

Tjay Wat menjerit, ia rubuh, demikian juga kawannya.

Karena ini, mereka segera kena dicandak Teng Hiauw, siapa tak kasih ampun lagi, dengan tusukan pedangnya bergantian, ia rampas jiwanya dua orang itu.

Demikian, sejak kabur dari Lioe-tjhung, sebab dia tak pemah kapok, Ong Tjay Wat menemui ajalnya di kampung orang Hwee mi, malah dia terbinasa di tangannya murid Thaykek-pay.

Tentara Boan sudah lantas kabur semua. To Poet Hoan tidak mau kejar mereka.

Di situ tinggal Kek Touw Im, yang terpaksa masih layani Lioe Kiam Gim. Jago Thaykek-pay ini libat or-ang sudah lelah permainan silatnya pun mulai rancu, ia lantas tunggu ketika.

“Awas!” ia berscro, kapan akhimya sang ketika riba. Kek Touw Im tangkis satu tusukan, dalam lelahnya, ia gunai setaker tenaganya, tapi lawan segera tank pulang pedangnya, untuk ditcraskan membabat dengan cepat sekaJi.

Ia terkejut, tetapi ia tak sempat tarik pulang senjatanya, dan ia pun tidak keburu berkelit, maka tah u-tahu, pcdang teiah mcnyambar batang lehemya, hingga lehernya itu putus seketika, kepalanya terlempar jatuh, tubuhnya rubuh terbanting, darahnya muncrat berhamburan.

Sampai di situ, legalah semua hati orang.

Penduduk Yamtjoan-tjoc jadi sangat berduka, di antara mereka, lebih banyak orang pcrcmpuan dan anak-anak yang terbinasa dan terluka daripada orang-orang lelakinya. Lantas mereka urus yang luka dan kubur mayat-mayat. Mereka pun singkirkan mayat musuh, pekerjaan mana dilakukan sampai fajar.

“Jangan berduka, jangan putus asa” To Poet Hoan lantas menghibur. “Pihak kita tidak terbasmi semua, kita masih bisa berdayal Satu dusun kita habis, kita boleh berdirikan sekali dual”

Ma Potjoe akur, ia lantas kasih perintah akan periksa orang- orangnya sendiri, buat dihitung jumlahnya, untuk didaftarkan, perbaiki diri.

Kiang Ek Hian telah bercapai-lelah, akan tetapi ia puas dengan kcsudahan itu. Tapi di samping itu, ia pun berduka, karena rusaknya kampung orang Hwee ini ada disebabkan urusannya sendiri. ‘

“Ma Potjoe, masukilah namaku!” ia berseru, ketika ia dengar orang mengasih titah untuk membuat daftar, sembari berseru demikian, ia lari kepada Ma Potjoe, tubuhnya limbung. Belum ia sampai pada Potjoe itu sekonyong-konyong ia rubuh! Ia sudah berusia lanjut, ia lelah sekali, hatinya pun penasaran dan berduka, kejadian ada terlalu hebat untuknya, ia tak kuat pertahankan itu. Semua orang terkejut

Poet Hoan yang berada paling dekat, lompat menghampirkan.

Ek Hian rubuh untuk tcrus gerakij kaki-tangannya, ia hendak bangun pula.

Hong Keng lari menghampirkan, ia terus pegangi engkong itu, untuk dikasih bangun.

‘Tidak apa-apa….” kata Ek HianJ tetapi napasnya masih memburu.

“Soesiok-tjouw, coba lihat Engkong,” Hong Keng minta kepada Poet Hoan.

‘Tidak apa-apa, Soeheng cuma terlalu lelah,” kata Poet Hoan, habisnya ia periksa nadi orang. Akan tetapi, selagi menyahut demikian, ia enyingkir dari pandangan mata si nona. Ia tahu, karena usianya yang tua dan terlalu banyak mengeluarkan tenaga, Ek Hian adaseumpama lampu Icekeringan minyak. Mclulu karena kuat hati, Ketua Bweehoa- koen itu masih dapat bertahan.

poet Hoan mengerti ilmu obat-obatan, di samping menghiburi Hong Keng, ia uruti saudara seperguruannya itu, untuk bikin lemas urat-uratnya, ia bawa sikap seperti tidak ada bahaya mengancam.

Ma Potjoe dan sejumlah orang Hwee, yang ingat bantuannya jago she Kiang itu, datang mcrubung, untuk menanyakan, buat sekalian menghibur,

“Pergi kau orang bekerja mendirikan rumah, kalau tidak, di mana kita bisa meneduh,” Ek Hian kata pada mereka itu.

Poet Hoan pun kata; “Kita layani Kiang Looenghiong, maka Potjoe beramai pergilah urus rumah, untuk kita mondok.”

Ma Potjoe harus dibujuki, baharu ia mau ajak orang- orangnya berlalu. Yamtjoan-tjoe ada tempat belukar, akan tetapi di situ orang tidak kekurangan balok dan papan. Di situ ada hutan pohon lioe, yang pada dua puluh tahun yang lalu ditanami oleh tentaranya Tjoh Tjong Tong.

Semua orang Hwee bekerja keras, untuk tenda, mereka rampas kepunyaan tentara Boan, yang telah ditinggal pergi. Maka itu, tidak terlalu lama, Ek Hian telah dipepayang ke dalam sebuah tenda.

“Kau baik sekali, terima kasih,” kata Ek Hian dengan lemah. Ia kata, rumah, pakaian dan perabotan mereka sudah musnah terbakar, sebaiknya mereka tolong dulu diri sendiri.

“Looenghiong, janganlah tcrlalu memandang asing kepada kita,” kata Ma Potjoe scraya linangkan air mata. “Kau telah bela kita, kita semua pandang kau scbagai orang sendiri, apa artinya gubuk semacam ini? Harap Looenghiong tidak berlaku sungkan.”

Mendengar demikian, Ek Hian tidak berkata-kata lebih jauh. Setelah dapat beristirahat, Ek Hian jadi terlebih segar,

maka itu, ia bisa menghaturkan terima kasih kepada Lioe Kiam Gim dengan siapa ia terus pasang omong.

“Lioe-heng,” kata ia kemudian, sambil tertawa, “selama di Pooteng, aku sebenarnya tidak puas terhadap Thaykek-pay Golongan Teng, maka adalah di luar sangkaanku, setelah aku buron, aku telah dapat pertolongan dari soctccmu. Dan sekarang, di saat menganeam seperti ini, kau sendiri tolongi kita Lioe-hcng, coba kau kasih kctcrangan, kenapa kau bisa datang kemari di saat tepat ini? Dan…” la pandang Teng Hiauw, lalu ia lanjuti “Bagaimana dengan Soeteemu sekarang? Apakah kau telah dapat ketemui Teng Hiauw? Soeteemu itu teiah pesan aku wanti-wanti untuk can putcranya itu….”

Mendengar kata-kata ini, Teng Hiauw mengucurkan air mata. Matanya Kiam Gim pun menjadi merah dcngan tiba- riba. “Eh, apakah artinya ini?” tanya Ek Hian, yang heran sekali. “Kiang Lootjianpwee, panjang untiik aku bcrcerilera,” kata

Kiam Gim. “Sekarang baik kau beristirahat dulu, nanti aku

bcrikan keterangan kcpada kau.”

“Ya, Soeheng, kau terlalu capai, kau tidurlah dulu,” Poet Hoan membujuk. “Saudara Lioe pun lelah, biar ia juga beristirahat sebentar.”

Ek Hian ada seorang dcngan banyak pengalaman, iaduga tentu ada terjadi suatu apa, akan tctapi ia insyaf, ia tidak mau mendesak, dari itu, terus ia meramkan matanya. Tentu saja ia tak dapat tidur pulas, karena pikirannya terus bekerja.

Teng Hiauw telah lanjuti pelajaran silatnya di rumah Keluarga Tan. Empat tahun lewat dcngan cepat, karcna dua Saudara Tan bcrikan pelajaran sungguh-sungguh, ia telah peroleh kemajuan pesat, dapat juga ilmu silat dari kedua Golongan Thaykek-pay. Untuk ia, yang kurang adalah latihan terlebih jauh.

Pada suatu hari, Thaykek Tan panggil muridnya dan kata: “Kau telah bcrhasil menggabung pelajaran kedua Thaykek- pay, maka sekarang sudah sampai waktunya untuk kau

mengembara, guna meluaskan pengalamanmu.

Perhubungan kita ada bagaikan ayah dan anak saja, tak tega aku berpisah dari kau, akan tetapi aku tak bisa pegangi kau dan rriernbikih kau bcrdiam sampai tua di sini; Bukankah kau ingin teladan Tjianpwee kita Yo Louw Sian, yang telah mengembara untuk perkembangkan pelajaran Thaykek-pay kita?”

Teng Hiauw memang selalu ingat Kiang Hong Keng dan juga pikirkanj ayahnya, benar ayahnya mcnycbabkan ia minggat, tapi dasar ayah dan anak, ia tak bisa melupakan ayahnya itu, ia ingin dapat pulang, akan tengok sang ayah, maka sekarang, mendengar kata-katanya guru itu, ia jadi sangat bersyukur. Ia nyatakan suka tcrima baik anjurannya guru itu, tetapi ketika ia bcrsiap dan] ambil selamat berpisah, ia tclah kucurkan air mata.

“Jangan bcrduka, Teng Hiauw,” kata Thaykek Tan sambil tertawa. “Di dunia kita ini, tidak ada pesta tanpa penutupnya. Kau boleh berterima kasih kepadaku, yang sudi berikan pelajaran padamu, tetapi aku pun ingat kebijaksanaanmu, yang telah bersedia membeber Tengsie Thaykek-koen kepadaku. Namanya kita ada guru dan murid, sebenarnya kita seperti ayah dan anak, inilah kau hams mengerti. Kalau nanti kau telah sampai di rumahmu dan menemui ayahmu, sampaikan hormatku padanya, bilang bahwa aku bersyukur yang ayahmu sudah buka rumah perguruan umum untuk sebar Thaykek-koen. Aku sendiri barangkali akan pikir untuk teladan perbuatannya itu, Melainkan satu hal aku ingin sampaikan juga, ialah supaya ayahmu insyaf yang di kalangan Rimba Persilatan, adaorang-orang yang tidak puas mengenai tingkah-laku atau sepak-terjangnya, aku harap dia tak-lebih lama lagi berdekatan sama segala hartawan dan pembesar negeri, supaya terhadap sesama kaum, dia nanti bergaul bagaikan orang sendiri. Bilang pada ayahmu, aku kagumi dia sejak lama, dari itu, bcrani aku memberi pesan ini terhadapnya. Jikalau nanti ada kctikanya, barangkali aku sendiri akan pergi kunjungi dia di Pooteng.”

Teng Hiauw bersyukur untuk nasihat ini, ia janji akan sampaikan itu pada ayahnya. Ia memberi hdrmat lagi sekali, dengan air mata berlinang-linang, ia pamitan dan berangkat

Selama empat tahun, pengetahuannya Teng Hiauw bertambah luas, terutama Thaykek Tan telah tuturkan ia banyak hal-ihwal kaum Kahgouw, ten tang ilmu silatnya pelbagai kaumlainnya.

Begitu berangkat dari Tankee-kauw, maksudnya Teng Hiauw yang pertama adalah pulang ke Pooteng, akan sambangi ayahnya, untuk sekalian tengok Angie Liehiap Kiang Hong Keng, kemudian baharu pergi ke Shoatang, akan kunjungi Tjoe Hong Teng. la masih belum pikir untuk memasuki Giehoo-toan tapi ia tak bisa lupakan budi kebaikannya,ia hendak haturkan terima kasihnya.

Pada suatu hari sampailah Teng Hiauw di Thongtjioe. Dan kota ini ke Pooteng tinggal seperjalanan beberapa hari lagi. Ketika itu di Thongtjioe, di-mana-mana, orang bertemu dengan orang-orang yang berpelangi kuning, yang memakai ikat pinggang merah, yang bersenjatakan tombak panjang. Itulah tanda dari Kaum Giehoo-toan. Maka ia insyaf, betapa besar pengaruhnya kaum pecinta ncgara itu. Ia pun lihat, orang ada sangat akur-rukun satu dengan lain, karena mana, tanpa kuatir apa-apa, ia memasuki kota sepcrti ia sedang pulang ke rumahnya….

Akan tetapi orang-orang Giehoo-toan heran melihat anak muda ini, sebab dia menyoren pedang,, romannya gagah, sedang dia bukan perwira, bukannya anggota Giehoo-toan, juga bukan orang dari Kalangan Hitam. Waktu itu, pihak Giehoo-toan dan tentara Boan sedang bentrok satu dengan lain, maka pemuda ini merasa curiga. Akhirnya, selaku pcnilikan, tauwbak peronda tegur Teng Hiauw ia sebenarnya ada dari golongan mana

“Aku sendiri tidak tahu aku ada dari golongan apa,” sahut Teng Hiauw sambil tertawa. “Yang terang aku adalah sahabat kekal dari Ketua Umum kau orang Tjoe Hong Teng!”

Mcndcngar jawaban itu, tauwbak terscbut heran. ia tak dapat mempercayainya. Mustahil orang semuda dia ada sahabat ketua umum mcreka? Maka ia majukan pula lain-lain pcrtanyaan, mengenai Giehoo-loan. Dalam hal ini, Teng Hiauw tak dapat menjawab.

“Apakah kau. hendak memasuki Giehoo-toan?” dia ditanya pula.

“Bukan,” dia jawab. Tentu saja ia jadi dicurigai, maka akhimya ia hendak dibawa ke Pusat Gichoo-toan, untuk d ihadapi kepada Toa- tauwbak Thio Tek Seng. Atas pertakuan ini, ia jadi tidak puas. Karena mi, ia diterangkan, Kota Thongtjioc berada dalam waktu perang, jadi perlu pemeriksaan jelas. Sampai di situ, baharu ia suka diajak ke pusat la anggap, di pusat ia bisa omong dengan orang yang berhak.

Kapan Thio Tek Seng diberitahukan datangnya si anak muda, yang sikapnya luar biasa, ia scndiri keluar untuk mcnyambut, karena ini, Teng Hiauw suka bicara banyak dengannya. Pcmuda ini terangkan bahwa ia ada puteranya Teng Kiam Beng, mundnya Thaykek Tan dan sahabatnya Tjoe Hong Teng, dengan siapa ia bertemu pada lima ahun yang lampau di Pooteng, bahwa ia berhasil berguru dengan Thaykek sebab dapat surat perantaraannya Siangkoan Kin, sahabatnya Tjoe Hong Teng.

Thio Tek Seng heran, tetapi ia suka percaya semua keterangan itu, hanya ketika ia hendak undang si tetania bcrduduk. buat hormati dia, tiba-tiba; dari pcdalamankantor keluar seorang tua yang terus kata dengan nyaring: “Thio Toako, orang ini mendusta! Kasihlah aku si orang tua yang periksa padanya!”

Teng Hiauw awasi orang itu, yang usianya kira-kira sudah cnam puliih, tubuhnya lima kaki tinggi, rambut-kumisnya sudah ubanan, mukanya bersemu merah, kedua matanya taj am, hingga ia percaya, orang ada satu ahli silat. Dengan bisa kcluar-masuk dengan mcrdcka di kantor itu, orang ini mestj ada punya pcngaruh, sedang sikapnya Thio Tek Seng terhadapnya pun ada hormat, malah toa-tauwbak itu segera lulusi pcrmintaannya dan pcrsi lakan dia duduk.

Tetapi orang itu bcrsikap aneh, dia tidak mau duduk, dia awasi Teng Hiauw dengan tajam, ketika ia bertindak mcndckati si anak muda, sambil tertawa dingin, dia kata: “‘Kau satu bocah ada muridnya kedua golongan Thaykek-pay? Aku sekarang tak mau omong banyak, hayo kau keluarkan kepandaianmu! Aku akan percaya kau jikalau kau mampu layani aku tiga jurus!”

Teng Hiauw mendongkol. Orang boleh liehay, tapi apa mungkin ia tak bisa melawan sampai tiga jurus? la sering berlatih dengan Thaykek Tan, maka mustahil dia ini ada terlebih liehay daripada gurunya itu? Maka, dengan menahan dongkolnya, ia kata: “Aku ada orang muda dan tolol, walaupun guruku ada termasyhur, mana aku sanggup layani Tjianpwee? Tapi tak boleh aku langgar titah yang terlebih tua, maka silakan Tjianpwee mulai dengan penyeranganmu!

Jikalau Tjianpwee bisa rubuhkan aku, aku bersedia untuk angkat kau sebagai guru.. Tjianpwee boleh menyerang tanpa batas tiga jurus!”

Segera setelah mengucap demikian, ia siap dengan kuda- kudanya.

Orang tua itu masih mengawasi, secara tawar sekali. “Tak memikir aku untuk jadi gurumur’ ia kata dengan

dingin. “Aku melainkan hendak lihat sanggup atau tidak kau melayani aku tiga jurus. Jikalau kau sanggup, baharulah aku hendak percaya kau ada muridnya Thaykek Tan, puteranya Teng Kiam Beng dan sahabatnya Siangkoan Kin!”

“Sudahlah, Tjianpwee jangan omong saja, silakan mulai!” Teng Hiauw menantang. Telah habis kesabarannya.

“Tak biasanya aku turun tangan terlebih dahului” ia bilang. “Jikalau kau tidak hendak memulainya, apa kau hendak bikin aku si orang tua jadi menghina si anak muda? Dalam hal ini, aku dapat dipersalahkan umum!”

Teng Hiauw kena didesak, terpaksa menyerang terlebih dahulu, dengan Pokbian Tjitseng-tjiang” atau

‘Tangan bintang tujuh menyambar muka”. Bagaikan kilat cepatnya, ia serang si orang tua. Orang tua itu bersenyum. “Bagus!” ia berseru seraya ia geraki kedua tangannya, untuk menangkis dengan tipunya”Shiakwa tanpian”, atau “Dengan miring menggantung cambuk tunggal”. Setelah itu, dengan sebat ia buka kedua tangannya, untuk balas menyerang, dengan “Pekho liangtjie” atau “Burung ho putih pentang sayap”. Inilah salah satu pukulan pokok dasar dari Thaykek-koen.

Teng Hiauw kenali tipu pukulan ini, ia hendak pecahkan itu dengan “pinjam tenaga untuk memukui tenaga”, setelah itu, mengubah gerakannya menjadi “Soensoei twietjioe” atau “Mendorong perahu dengan ikuti aliran”, ia sambar pinggang orang itu.

Orang tua tidak dikenal itu benar-benar liehay, gesit sekali gerakannya. Ia tidak tunggu lagi sampainya serangan, ia geraki tangannya dengan tipu ‘Tjitseng-tjiang” atau “Tangan Bintang Tujuh”. Secara begini, tidak saja ia telah pecahkan penyerangannya si anak muda, malah dengan sendirinya, ia jadi pihak si penyerang. Ia mendesak sambil berseru: “Apakah kau tidak hendak tarik pulang tanganmu?”

Teng Hiauw terkejut, kedua tangannya sepertt kena ditutup, sampai ia tak dapat bergerak. malah untuk menarik pulang saja, ia tak sanggup. Tentu sekali. ia menjadi bingung.

Orang tua itu tidak menyerang, dia hanya tertawa. “Mundurlah kau!” ia kata, seraya ia buka kedua tangannya.

Secara begtni, baharulah Teng Hiauw bisa tank pulang kedua tangannya, bcrbarcng dcngan mana, ia mcncelat mundur setumbak lebih. Ia malu sekali, percuma ia wariskan ilmu kepandaian asli dari kedua Kaum Thaykek-pay, tapi sekarang terbukti, ia tidak sanggup layani si orang tua dalam tiga gebrak!

Orang tua itu tidak loncat mengejar, hanya dengan icnang, ia kata pada Thio Tek Seng: “Anak ini dapat layani aku tiga gebrak, ia tidak rubuh, dia tidak mendusta, dia benar ada Ahli Waris Thaykek Tan dan Teng Kiam Beng, jangan kau persulit dia….”

Mendengar itu, tanpa bilang suatu Teng Hiauw hampirkan si orang tua, sambil manggut, ia menjura, terus epa kata: “Tjianpwee ada sangat liehay, maka terimalah hormatnya teetjoe sebagai muridmu.”

Orang tua itu telah berduduk dengan sikap agung, ia terima orang paykoei delapan kali. “Ada harganya aku terima bormatmu ini,” kata ia kemudian. “Kau tahu aku siapa? Aku adalah soepehmu, dari itu mana dapat kau angkat aku jadi gurumu?”

Tek Seng di samping tertawa, “Inilah yang dibilang, air banjir menyerbu ke kuilnya si Raja Naga!” kata ia. “Orang sendiri tidak kenali orang sendiri!”

Teng Hiauw terperanjat.

“Apakah Tjianpwee ada Lioe…” kata ia, suaranya tak tedas. “Ya, akulah Lioe Kiam Gim,” memotong si orang tua.

“Ketika dulu aku berpisah dengan ayahmu, kau masih bocah

tak tahu apa-apa.”

Ilmu silat Lioe Kiam Gim adalah lebih atas dari ilmunya Teng Kiam Beng, dengan kepandaiannya Thaykek Tan baharulah berimbang, akan tetapi, kenapa Teng Hiauw tak sanggup layani dia tiga gcbrak saja? Inilah tak lain tak bukan, karena Teng Hiauw layani Thaykek Tan dalam latihan. gurunya layani ia dengan tenang, hatinya tak tegang, tapi melayani Kiam Gim, ia sedang gusar, walaupun ia coba kendalikan diri, maka hilanglah ketenangannya, sifat yang paling dibutuhkan oleh Thaykek-koen, scdang Kiam Gim pun bcrlaku sebat luar biasa.

Kiam Gim sendiri, walaupun dia tidak masuk Giehoo-toan secara rcsmi, akan tetapi pihak Giehdo-toan sangat percaya dan hormati dia, dia dipandang sebagai tetamu agung. Dia toh ada sahabat kekal dari Tjoc Hong Teng. Sedang datangnya dia ke Thongtjioe adalah karena undangannyaTjoe Hong Teng sendiri, untuk dia bantu Thio Tek Seng. Memang, selama berdiam di Pooteng, ia kenal baik semua orang Kangouw Han Rimba Persilatan di seluruh propinsi Hoopak, semua orang harga, dia Tadi dia dengar orang omong Liang kedatangannya satu pemuda dengan sikapnya yang luar biasa, ia curiga, ia lantas mencuri mendengan pembicaraannya si anak muda dengan Thio Tek Seng. Ia terperanjat berbareng girang kapan ia dengar pemuda itu ada puteranya Teng Kiam Beng dan muridnya Thaykek Tan. Jadi inilah pemuda yang ia hendak cari, untuk memenuhi pesannya Kiam Beng, soeteenya. Tapi ia sendiri masih belum kenal Teng Hiauw, ia ingin mendapat bukti, dari itu, sengaja ia membawa tingkah jumawa dan menantang, untuk uji kepandaian or•ang, setelah ujian itu, baharu ia percaya pemuda ini ada keponakannya sendiri, kepandaian siapa sudah liehay, cuma kurang latihan saja. Ia girang karena Thaykek-pay punyakan ahli waris dalam dirinya anak muda ini. Tetapi kemudian ia nampaknya lesu.

“Sekarang kau hendak pergi ke mana?” kemudian orang tua ini tanya

“Kebetulan saja aku lewat di Thongtjioe ini, maksudku adalah pulang ke Pooteng untuk melongok rumah,” Teng Hiauw jawab. “Aku justru hendak tanya Soepeh, apa selama yang paling belakang ini Soepeh pernah ketemukan ayahku dan di mana adanya Ayah sekarang?”

Wajahnya Kiam Gim berubah lebih jauh, menjadi guram. “Tak usah kau cari pula ayahmu,” kata ia, dengan perlahan,

suaranya tidak tegas. “Ayahmu itu, dia, dia…. tak dapat

menemui pula kau… “

Teng Hiauw kaget bukan kepalang. hatinya bercekat. “Soepeh, Soepeh, apakah artinya ini?” tanya ia, dengan

bernafsu. “Orang telah curangi dia, diatelah meninggal dunia,” sahut Kiam Gim dengan sedih.” Ya, dia menutup mata secara sangat mengenaskan ”

Teng Hiauw diam dengan mendelong, sampai sekian lama, baharulah ia bisa menangis, sesenggukan. Dulu ia gusar, karena ayahnya hendak paksa ia menikah, tetapi ia tetap ada satu anak, maka mendcngar kematiannya sang ayah, ia jadi sangat berduka, apapula kematian itu katanya sebab perbuatan curang dan dalam keadaan mengenaskan.

“Sudah, jangan kau berduka,” Kiam Gim menghibur seraya terus ia tuturkan duduknya kejadian.

“Apakah Ayah ada pesan apa?” tanya Teng Hiauw sambil menangis terus.

Kiam Gim pandang pemuda itu, ia menghcla napas. “Hiantit, ketika ia hendak menutup mata, kau adalah orang

yang ia paling buat pikiran,” ia jawab. “Dia bilang padaku,

umpama aku ketemu sama kau, dia tak lagi hendak desak kau dalam urusan pemikahanmu, dan dia minta supaya kau jangan gusar padanya….”
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 20"

Post a Comment

close