Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 18

Mode Malam
 
Sebenamya dua Saudara See tidak pikir untuk gulingkan Ong Tjoe Beng secara lekas. hanya dengan akal-muslihatnya, mereka hendak gunai Ketua Toatoo-hwee ini sebagai alat untuk satrukan Gichoo-toan; di luar dugaan mereka sekarang, selagi sergap Touw Tjin Nio, mereka bersomplokan sama pemimpin-pemimpin Gichoo-toan dan justru bertemu sama Tjian Djie Sianscng, yang bongkar rahasia; mereka sudah terlanjur, mereka terpaksa turun tangan. Tcntu saja mereka tak berani dipadu, maka mereka serbu sckalian pada Ong Tjoe Beng sendiri. Karcna 1 ihat jumlahnya bcsar, mereka percaya akan nanti peroleh hasil. Apa lacur, dua tauwbak dari Ong Tjoe Beng ada lemah, mereka ini sudah mendahului rubuh sebagai korban.

Tapi setelah ini, matanya Ong Tjoe Beng jadi terbuka, sekarang ia insyaf kepalsuannya dua saudara itu dan ketahui baik-baik yang Tjoe Hong Teng adalah satu sahabat sejati, berbareng bersyukur kepada Ketua Giehoo-toan itu, ia benci sangat dua Saudara See. Begitulah ia berseru:

“Ya, anggap saja matanya Ong Tjoe Beng buta, sehingga dia kena kau orang kelabui! Ini hari aku nanti jual Jwaku kepada kau orang! Mari kita orang adu jiwa!” Ia lantas tertawa panjang, lantas ia tambahkan pada Tjoe Hong Teng: “Tjoe Lauwhia, syukur kawanan jahanam ini turun tangan hari ini, maka tidaklah sampai aku terjeblos benar-benar, hingga aku tidak pandang sahabat sebagai musuh besar!” Kemudian ia serukan: “Pundak rata, man kita basmi dulu kawanan pengkhianat ini!”

“Pundak rata” ada kata-kata rahasia kaum Kangouw yang berarti “sahabat baik”..

Sambil bertempur.Tjoe Hong Teng jawab seruan itu: “Sudah, Ong Tjong-totjoe, jangan gusarP’demikianjawabannya. “Tak nanti mereka ini dapat capai maksud jahat mereka! Ya, mari, kita basmi lebih dahulu pada mereka!”

Pertempuran berjalan dengan masing-masing telah dapatkan lawanan, Ong Tjoe Beng bertuj.uh telah bertempur dalam enam rombongan. Thaykek Tan telah layani See Beng Wan, Han Koci Liong lawan See Sioe Gie. Siangkoan Kin, Ong Tjoe Beng dan Tjoe Hong Teng hadapi masing-masing dua pah lawan Boan kelas satu. Touw Tjin Nio sendirian, dengan sebatang goloknya, menghadapi dua pahlawan Boan kelas dua. Adalah Tjian Djie Sianseng sendiri, yang layani tiga pahlawan kelas dua bangsa Boan, dan ia mclayani bagaikan bocah-bocah main petak. Ia tidak tempur mereka secara sungguh-sungguh, ia hanya awasi mereka dan merintangi ‘ jikalau mereka hendak maju untuk bantu kawan-kawan mereka mengepung masing- masing lawannya. Dalam hal ini ia berhasil karena dengan gerak-gerakan ilmu silat Ouwtiap-tjiang, ia ada sangat gesit.

Ia telah bikin tiga pahlawan itu jadi kewalahan! Oleh karena pertempuran tcrjadi dalam beberapa rombongan dan berjalan sera, tidak heran kalau pelbagai alat senjata sering bentrok satu dengan lain, hingga suaranya jadi berisik sekali.

Kebetulan lapangan ada luas, mereka itu jadi bisa bergerak dengan merdeka.

Dua wiesoe yang kepung Tjoe Hong Teng ada memegang senjata bcrat, mereka tahu Ketua Tjoe Hong Teng punyakan pedang mustika, maka itu, merekalah yang maju. Dengan memakai senjata berat, teranglah sudah yang mereka ada bertenaga besar. Senjata mereka ada sepotong toya besi dan sepasang ruyung besi juga. maka itu, mereka berani menyampok dan mengemplang secara sengit. Tjoe Hong Teng gunai kegesitannya akan layani kedua musuh ini, tak mau ia sembarangan bentroki senjatanya.

Dua wiesoe tandingannya Siangkoan Km adalah orang- orang yang pandai ilmu mengentengi tubuh, satu bersenjatakan golok Teetong-too, hingga dia bisa berkelahi sambil bergulingan di lantai dan goloknya menyambar tak henti-hentinya,

Tubuhnya jadi seperti bola yang bergelindingan mondar- mandir, dan yang satunya lagi bergegaman dua macam senjata, talah Djoan-pian di” tangan kanan dan Liantjoc-tjhio di tangan kiri, sebab tadi tombak berantainya kena dibabat Tjoe Hong Teng, sekarang tombak itu tinggal sepotong. Dua- dua mereka ada punya kepandaian sempurna, dari itu, repot juga Siangkoan Kin menghadapi mereka bcrdua. Yang ia awasi benar adalah yang bersenjatakan golok itu. Dalam keadaannya yang sulit itu, Siangkoan Kin masih punyakan kesempatan akan pentang mata kc sekitarnya, akan lihat kawan-kawan ny a. la dapat kenyataan. meskipun Thaykek Tan liehay, ahii Thaykek-koen itu tidak gampang-gampang menang di atas angin. karena liehaynya sang lawan, walaupun demikian, ia tidak bcrkuatir. maka ia perhatikan betul-betul pada Touw Tjin Nio, boegee siapa ia masih belum tahu. Akan tetapi kemudian, di luar sangkaannya, justru adalah Tjin Nio yang mendahului membuka jalan, yang merebut angin.

Dua lawannya Tjin Nio yang ada pahlawan-pahlawan kelas dua, asalnya ada murid-muridnya beramlal besar Touw Toa Hoe-tjoe dari Kwangwa, mereka sebenamya liehay, tapi dalam rombongannya dua Saudara Sec, merekalah yang terhitung terlemah. Pihak See anggap Tjin Nio adalah yang terlemah, maka dua pahlawan itu yang ditugaskan melawan pemimpin wanita itu. Apa lacur, dugaan ini nyata mclesct.

Dua pahlawan itu bersenjata masing-masing sebatang gaetan Houwtauw-kauw dan arit Kecdjiauw-ham. dua-dua ada gegaman buat menaklukkan pedang, mereka percaya, tidak nanti Touw Tjin Nio sanggup bertahan lama terhadap mereka, dengan lantas keduanya mendesak dengan seru, bagaikan taufan dan hujan deras. Mereka tidak pcmah menyangka bahwa si nona adalah muridnya Boctong Tan-pay, Kauwsoe Tan Soe Lam dari Boetong-nay, dan telah berhasil meyakinkan golok Ngobie Liocyap-ioo. Dengan goloknya itu, Tjin Nio bisa halau sesuatu scrangan, sctclah mana, dia bcrbalik mcndcsak, dia bikin dua lawan repot sampai mereka hanya mampu menangkis saja. Dalam keadaan yang mengancam itu, pahlawan dengan sepasang Keedjiauw-liam mengegos ke kiri, dua aritnya diputar, dibarengi dipakai membabat berbareng menggaet kepada golok lawan. Ini ada tipu babatan yang dinamai “Kimpoan bianlie” atau “Mempersembahkan ikan tambra dalam nampan emas”.

Menampak serangan itu, Touw Tjin Nio tertawa tawar.

Goloknya telah berada di sebclah bawah arit,

untuk luputkan serangan, ia turunkan itu kebawah untuk terus ditarik kesamping, dari sini ia teruskan

menyontek nadi lawan. Lawan itu terkejut, lekas-lekas ia tarik pulang, tubuhnya pun ditarik mundur. Ini gerakan membuat dia berayal.

“Kena!” Tjin Nio berseru, selagi ia membarengi, menyusuli satu tikaman ke arah dada.

Pahlawan itu terperanjat, ia mengendap untuk berkelit, tapi ia kalah sebat, ujung golok mengenai pundaknya, sampai sepotong dagingnya kena terpotong, daging itu dengan berlumuran darah jatuh ke lantai.

Selagi Nona Touw lukai satu musuh, musuhnya yang lain bokong ia dari belakang. Ia kctahui serangan ini, sambil memutar tubuh, ia menangkis dengan tipu “Souw Tjin pweckiam” atau “Souw Tjin menggendol pedang”. Maka dengan satu suara nyaring, Houwtauw-kauw kena tertangkis. Sctelah itu, si nona tidak tarik pulang goloknya, ia malah teruskan menikam pundak lawan itu,

Menampak pundak kawannya terluka, pahlawan itu telah gentar hatinya, sekarang ia sendiri terancam, ia kaget, ia tidak berani menangkis, dengan satu loncatan tcrbalik, ia mundur sampai lima tindak, tapi benar scdang ia hendak putar tubuh, ia dengar suara tertawa mengejek di sampi ng k upi ngnya.

Sebab bagaikan bayangan, Tjin Nio pun berlompat pesat menyusul ia, goloknya seperti kilat pesatnya, menikam ke arah tenggorokannya. Sebab ia kebetulan memutar tubuh, ia seperti sambuti tikaman, tanpa ampun lagi, tenggorokannya itu terpenggal, hingga dengan satu jeritan tertahan, ia rubuh binasa!

Selama pertempuran berlangsung, tentara wanita dari Touw Tjin Nio tidak diam saja, mereka mengurung di luar ruangan dengan siap scdia dengan golok dan panah mereka. Pun Tjin NiO, sambil bertempur, telah teriaki tentaranya itu untuk tenang di tempat jagaannya masing-masing. karena sekarang ia sudah merdeka, ia bisa memandang ke sekitarnya, hingga ia tampak, di pihaknya, melainkan Ong Tjoe Beng yang lagi menghadapi ancaman bencana.

Sebatang golok Tan-toonya Ong Tjoe Beng ada warisan dari Keluarga Tang dari Shoasay, ilmu golok itu terdiri dari empat puluh sembilan jalan, sebanding liehaynya dengan ilmu golok dari Tjin Nio,tapi sekarang Ong Tjoe Beng layani dua pahlawan kelas satu, yang liehay, ia tidak begitu beruntung sebagai ini pemimpin wanita, ia repot melayani kedua musuhnya itu.

Pahlawan yang satu bcrnama Shiang Tat, senjatanya sebatang cambuk Ti at tan-pi an, yang bcrgcrak pesat, melilit bagaikan naga hitam. Pahlawan yang kedua, Him Long namanya, bergegaman sebatang tombak, yang sambaran- sambarannya mcngeluaskan suara angin, menunjuki beratnya senjatanya itu. Maka itu, dikepung dua senjata itu, Ong Tjoe Beng sibuk – baharu tombak dikelit, atau cambuk menyambar, mereka saban-saban saling memberi .tanda, hingga mereka dapat membingungkan ketua Toatoo-hwee itu yang sekarang mereka tak pandang-pandang lagi. Mereka mcndcsak sccara hebat sekali. Terang sekali, kedua pahlawan itu kurung lawannya sambil mencoba membikin orang mendongkol dan panas hati. Ini cara ada membahayakan Ong Tjoe Beng.

Karena mendongkol, tenaganya akan cepat berkurang sendirinya. Inilah sebabnya, kenapa ia lantas kena dirangsang. Mau atau tidak, Ong Tjoe Beng jadi bcrkuatir juga. Ia ada kenamaan. apa sccara begini mengecewakan or•ang akan rubuhkan dia? Karena ini, ia hendak mencoba mcnolongi din, untuk mana, ia mesti berani menyerbu bahaya. Bcgitulah, ketika ia menangkis, tubuhnya membarengi maju ke samping. Ini ada gcrakan “Pekho tiantjie” atau “Burung ho putih membuka sayap”. Dari sini ia meneruskan membacok.

Him Long tarik pulang tombaknya sambil ia berkelit mundur, karena ini, ia diserang pula, tapi sekarang, ia bisa menangkis, ketika kembali ia diserang, ia mundur pula. Tiga kali ia elakkan ancaman golok.

Itu waktu, Him Long maju bersama cambuknya. Terpaksa Tjoe Beng tinggalkan lawan yang satu, akan tangkis serangan yang lain. Kedua senjata bentrok, lantas cambuk melilit.

Tjoc Bcng terkejut. Bclum sempat ia tarik goloknya, segcra ia rasai golok itu tcrbctot; keiika ia pertahankan din, tclapakannya dirasakan sakit. Inilah berbahaya sekali, Ada sulit untuk ia melawan rasa sakit itu, dan mempertahankan goloknya. Di scbelah itu, tombaknya Shiang Tat pun mcnyambar.

Dalam saat sangat bcrbahaya itu, satu teriakan nyaring terdcngar, satu bayangan putih bcrkelebat, menyusul bayangan itu, golok menyambar. Segera juga teryata, itulahTouwTjin Nio, yang datang sebagai penolong. Tepat datangnya golok Ngo bie Lioeyap-too, yang menangkis tombak hingga tombak terpental.

Hun Long terperanjat, hatinya jadi panas, tanpa kata apa- apa, ia tikam si nona. Dalam satu gerakan “Ouwliong tjoettong” atau “Naga hitam keluar dari kedungnya”, ujung tombak mencari tenggorokan.

Tjin Nio berlaku sebat, ia menangkis pula, habis menangkis, ia merangsang, goloknya meluncur kepada muka lawan, karena ia gunai Tjiauwhoe boeniouw” atau tusukan Tukang cari kayu menanyakan jalanan”, dengan gesit Him Long mundur, tombaknya dipakai menangkis sehingga golok terpental. Sebab ujung tombak lawan itu mengancam,

Tjin Nio lompat mundur. Tap! si nona bukan mundur untuk perbaiki diri hanya untuk berlompat sekali lagi, ke arah Shiang Tat, siapa ia segera serang, untuk bantu pula pada Ong Tjoe Beng.

Menghadapi lawan satu sama satu, Ong Tjoe Beng tidak lagi berkuatir sebagai tadi. Sebaliknya, ia dapat tenangkan diri, ia bisa kumpul pula semangatnya. Demikianlah, ia bisa balik mendesak.

Sekarang satu sama satu, tak dapat lagi Shiang Tat bisa lihat goloknya orang. Sudah begitu, ia repot kapan Tjin Nio serang ia. Syukur untuk ia, Him Long sudah lantas menghampirkan. Maka segeralah, pertempuran jadi dua rombongan, Ong Tjoe Beng melayani Him Long, Touw Tjin Nio menghadapi Shiang Tat.

Ong Tjoe Beng dan Him Long ada satu tandingan.

Pahlawan ini gunai tipu-tipu tusukan “Kimtjhio Djiesiesie” atau “Dua puluh empat jurus Golok Emas”. Walaupun demikian, Ketua Toatoo-hwce dengan lekas bikin ia berada di atas angin. Maka satu kali, ketua ini bisa menyerang dengan “Kimpeng tiantjie” atau “Garuda emas pentang sayap”. Dari kanan, ia sambar pundak lawan.

Him Long menangkis, sesudah mana, ia balas menikam dari kiri. Ia telah berlompat maju, ia jadi bisa arah bebokongnya Tjoe Beng. Tapi Tjoe Beng mendahului. Selagi orang bcrlompat maju, ia pun mengikuti berlompat juga, goloknya segera menabas. Karena ia sedang tanggung. Him Long tidak berdaya lagi, batang lehernya kena” tertabas, demikian rupa, hingga kepalanya terpental, tubuhnya rubuh sambil muncratkan darah dari batang lehernya. Bahna puas, Ong Tjoe Bcng perdengarkan seruan, sesudah mana, ia memandang ke sekitamya, hingga ia dapat saksikan, perkelahian lagi berjalan seru sekali.

Thaykek Tan dan Han Koei Liong lagi tempur masing- masing satu Persaudaraan See, mcrcka mcrupakan pasangan- pasangan tandingan yang setimpal, senjata mereka saling sam•bar dengan perlihatkan cahaya berkilauan.

Tak bisa Ong Tjoe Beng menonton saja, ia mesti bantui pihaknya, akan tetapi di saat ia hendak turun tangan, ia dengar scruan tajam dari See Sioe Gie, seruan mana disusul dengan seruan nyaring dari See Beng Wan: “Lepas biji hijau! Berhenti!”

Itu ada kata-kata rahasia kaum Kangouw, artinya: berhenti bertempur, kabur!

Menyusul pula seruannya itu, See Beng Wan melesat meninggalkan lawannya, untuk lari keluar ruangan.

Ong Tjoe Beng belum melihat tegas, atau tahu-tahu ia tampak, Thaykek Tan juga mencelat jauh, sebelah lengannya mengempit orang siapa telah keluarkan jeritan.

Di pihak lain, kawanan Persaudaraan See itu pun mulat mencoba mengangkat kaki.

Dalam kekaiutan itu, terdengartah tertawa nyaring dari Tjian Djie Sianscng, yang telah berhasil membabat kepalanya dua pahlawan Boan itu.

Tjoe Beng maju, hingga ia dapat dekati Han Koei Liong.

Jago tua ini agaknya likat akan tctapi dia bersemangat, dengan suara tidak tegas, ia kata pada Ketua Toatoo-hwee: “Thaykek Tan telah cekuk See Sioe Gie….n

Ong Tjong-totjoe heran. Terang-terang Thaykek Tan lagi tempur See Beng Wan, kenapa bolchnya dia menawan See Sioe Gie, tandingannya Han Koei Liong?…. Herannya, walaupun ia mengawasi ke sekitamya, ia tidak lihat gerakannya jago Thaykek itu.

See Beng Wan tahu ia lagi hadapi satu musuh yang kesohor tangguh, ia tidak jcrih. SamlengTouwkah-toeinya ada punya delapan puluh satu jurus yang liehay, ia sangat andali itu. Ia anggap ia telah wariskan kepandaiannya Keluarga Louw dari Shoasay, keluarga satu-satunya yang utamakan senjatanya itu ialah senjata semacam bor. Ia telah mendesak dengan serangannya, kedua tangannya kiri dan kanan bergerak dengan sangat sebat, tubuhnya pun gesit sekali, ia bagaikan terputar di sekitar lawannya.

Sebenarnya orang she See mi adalah pantaran dari Soekong Tjiauw, gurunva Siangkoan Kin, malah ia pun ada tergolong lebih tua daripada Thaykek Tan, maka itu, latihannya dari beberapa puluh tahun ada hebat sekali. Apa mau, kebetulan sekali, ia berhadapan dengan Thaykek Tan, yang tidak gentar untuk nama orang yang besar. Thaykek Tan layani ia dengan tenang, tapi pun gesit dan waspada. Thaykek Tan tidak mau menyimpang dari pokok Thaykek-koen:

tenang-tenteram, dengan ketenangan melayani serangan. Maka, tak peduli serangan ada hebat bagaimana, ia tenang, teguh bagaikan bukit

Jikalau See Beng Wan tidak tergesa-gesa, pasti ia sanggup layani habis pada Thaykek Tan, tetapi karena ia ingin lekas- lekas tamatkan pertempuran, ia jadi lakukan satu kekeliruan. Begitulah, setelah bertempur sckian lama tanpa hasil apa-apa, ia mendahului mandi keringat, napasnya mulai sengal-sengal, sesudah mana, serangannya mulai jadi kendor sendirinya.

Sesudah melalui tiga puluh jurus, See Beng Wan jadi lelah betul, dari ihak penyerang yang galak, ia jadi cuma bisa menangkis saja. Thaykek Tan liat perubahan ini, ia tahu bahwa saatnya sudah sampai, Jantas saja ia dengan serangan pembalasannya, yang dahsyat. Maka sekarang adalah See Beng Wan yang berbalik seperti terkurung sinar pedang. biar beberapa kali ia mencoba membalas, saban-saban serangannya dapat dipecahkan. Ia pun kuatir sekali senjatanya kena ditcmpcl dan dibikin terbang.

Setelah hawa dingin rasanya menyeIusup ke sanubarinya, See Beng Wan insyaf bahaya yang mengancam dia, ia segcra memikir untuk angkat kaki. Angkat kaki adalah daya paling utama dari tiga puluh enam jalan untuk keselamatan diri.

Begitulah dengan tangan kiri ia sampok pedang, dengan tangan kanan ia mcnoiok dada lawan.

Thaykek Tan lihat kedua gerakan, bcrbarcng itu, ia tertawa tawar. Dengan putar tubuh, bingga pedangnya ikut terputar, ia Iuputkan diri dari serangan itu, lalu ia terusi gerakan tangannya, akan balas menyabet lengan kiri orang itu..”

Dengan cepat See Beng Wan tarik pulang tangannya, dibawa ke dada. Sebagai gantinya, dengan tangan kanan, ia teruskan menyerang, untuk membalas.

Tapi Thaykek Tan ambil sikap Iain, sambil berkelit dengan mengendap, ia babat kedua kaki or•ang.

Inilah hebat, untuk tolongi diri, See Beng Wan mesti lompat tinggi, adalah karena ia berlompat, selanjutnya ia kena terkurung sinar pedang lawannya.

Selagi See Beng Wan terkurung. See Sioe Gie juga sedang dibikin tidak berdaya oleh Han Koei Liong. Orang she See ini menyerang dengan Liongtauw koay-thung, tongkat berkepala naga-nagaan, tipu pukulannya ada “Ouwliong poansie” atau “Naga hitam melilit pohon”. Itu adalah serangan menyapu yang hebat sekali.’

Atas serangan itu, Han Koei Liong menyambut sambil berseru: “Bagus!” Dengan angkat Bandjie-toat kanan, ia menangkis dengan satu sampokan kcras sekali. Itu ada tipu silat “Hengkang tjaylong” atau “Mcmotong sungai, memegat gelombang”. Dengan icrbitkan satu suara keras, kedua senjata beradu dengan hebat, sebab dua-dua lawan lagi pakai tenaga penuh. Lelatu api berpercikan karenanya.

Senjatanya See Sioe Gie terpental, tangannya sendiri dirasakan sakit bukan kepalang, sehingga karena itu, hatinya jadi ciut.

Han Koei Liong sendiri tidak mcrasakan satu apa, suatu bukti bahwa ia tangguh sekali. Sebaliknya, ia tidak sia-siakan tempo, akan mendesak, buat menyerang pula. Ia bcrlompat maju, ia geraki dua-dua tangannya.

Sioe Gie jerih, ia tidak berani menangkis, untuk mengegos pun sudah tidak keburu, maka ia lantas loncat ke samping, sebagai burung walet melayang, untuk tolong dirinya.

Mengetahui serangannya gagal, Han Koei Liong mengulangi maju, buat mengejar, tapi justru itu, ia dengar See Sioe Gie menjerit, suaranya hebat, kapan ia angkat kepala, untuk memandang, ia dapati Thaykek Tan telah kempit satu orang, sedang sebelah tangannya dipakai melambaikannya.

Apakah yang sebenarnya telah terjadi?

Tatkala See Sioe Gie berlompat turun, ia justru tunrit di antara Thaykek Tan dan See Beng Wan, selagi Thaykek Tan serang lawannya. Kaget Sioe Gie, sebab ia lihat saudaranya terancam bahaya maut. Maka tidak buang ketika lagi, ia angkat tongkatnya, dipakai menangkis pedang musub, dengan begitu, ia jadi halau bahaya untuk saudaranya itu.

Thaykek Tan gusar sekali karcna maksudnya merubuhkan See Beng Wan kena dirintangi See Sioe Gie, dari itu, Thaykek Tan tumpleki hawa amarahnya tcrhadap orang she See ini Lantas saja ia menyerang: tangan kanannya, dengan pedangnya; tangan kinnya, menyusul, dengan totokan.

Sioe Gie menjadi repot. Dengan kesusu, ia angkat tongkatnya, untuk tangkis pedang. Kedua senjata bentrok keras. Tenaganya Thaykek Tan ada besar sekali, ia telah bikin terpental tongkat orang, hingga tubuhnya Sioe Gie jadi terbuka. Or•ang she See ini pun gelagapan. Justru itu, totokan sampai, totokan yang tak dapat dielakkan pula. Ia menjerit. Ia tertotok pada jalan darah “Hoenboen-hiat”, dalam sekejap, darahnya berhenti di jalan. bagaikan mayat saja, tubuhnya itu disambar Thaykek Tan, untuk dikempit!

See Bcng Wan tergelar Tjianlic Twiehong. Pengcjar Angin, bisa dimcngcrti yang ilmu kepandaiannya niengcntcngi tubuh ada istimewa, maka sctclah Sioe Gie talangi ia mcnghaJau pedang, hingga iajadi luput dan kcbinasaan. lantas ia buka langkah lebar, uniuk melarikan din”, ia menerobos di pintu, di mana serdadu-serdadu wanita dari Touw Tjin Nio tak sanggup mencegahnya.

Atas kejadian itu, semua orangnya dua Saudara Sec itu tunit pula, dengan pada meninggalkan musuh dan menerobos lari. Mereka berhasil lolos kecuali dua pahlawan lagi, yang masing-masing terbinasa di tangannya Tjoe Hong Teng dan Siangkoan Kin.

Thaykek Tan tidak mau mengerti, ia sudah pergi mengejar, perbuatan ini diturut oleh Tjoe Hong Teng dan yang Iain-lain.

IX

Rombongan See Beng Wan kabur di antara pepohonan, mereka mendaki bukit, di tempat-tempat yang sukar dan berbahaya, dari tempat yang tinggi, untuk cegah pengejar, mereka menyerang dengan pelbagai senjata rahasia; piauw, panah tangan, “teratai” besi, batu Hoeihong-sek dan Toktjie- lee beracun, hingga turunnya semua senjata itu bagaikan hujan derasnya.

Thaykek Tan mendongkol bukan buatan, ia lemparkan See Sioe Gie ke gombolan, lantas ia gunai pedangnya akan tangkis sesuatu serangan, sambil berbuat mana, ia maju terus. Tjoe Hong Teng, yang memutar pedangnya, Lionggim- kiam, membuat pedang itu bersinar berkeredepan, menghalau sesuatu senjata rahasia; yang menyambar ia.

Yang lain-lain pun menangkis dengan masing-masing senjatanya, ada juga yang baisa pakai senjata rahasia juga.

“Ada budi tak dibalas adalah kurang hormat!” berseru Thaykek Tan dalam mendongkolnya, selagi ia maju dengan cepat la geser pedangnya ke tangan kiri, untuk tetap dipakai mclindungi diri, tangan kanannya menjumput Kimtjhie- piauwnya, yang mana ia pakai balas menyerang, untuk balas “kchormatan” musuh….

“Aduh!” dcmikian terdengar satu suara di atas bukit, disusul sama rubuhnya satu badan, yang nyemplung ke dalam jurang yang dalamnya dua atau tiga puluh tumbak!

Masih jago Thaykek-koen ini belum mau sudah, ia susul lain-lain piauwnya, maka ia saksikan lagi dua musuh rubuh terguling ke dalam jurang.

Baharulah setelah itu, orang-orangnya See Bcng Wan bcrhcnii menyerang dengan senjata rahasianya.

Tjoe Hong Teng semua gunai ketika itu untuk berlompat- lompatan, mendaki bukit, akan susul musuh-musuh mereka.

Di atas bukit, See Beng Wan tinggal bertiga dengan dua pahlawan kelas satu. Mereka berhenti menyerang tetapi mereka tidak segera angkat kaki. Kapan mereka tampak musuh-musuh lagi mulai naik, mereka sambar batu besar, yang mereka pakai menimpuk ke bawah.

Ini adalah sangat hebat. Batu-batu besar itu tidak dapat ditangkis. Or-ang pun tidak bisa lompat bcrkclit, atau lompat mundur, untuk lari turun. Syukur mereka bisa tempel tubuh pada lamping bukit, hingga mereka lolos dari bahaya maut. Walaupun dcmikian, batu-batu kecil dan tanah yang gempur dan meletik, telah mengenai juga mereka, hingga mereka jadi repot.

Adalah di saat semua musuh sedang umpetkan diri, See Beng Wan bcrtiga lantas angkat kaki. Di lain sebelah, untuk turun, mereka tidak bisa berlari, jikalau mereka turun mclapai. ituiah akan ambil terlalu banyak tempo, mereka bisa terkejar dan tercandak. Maka itu, mereka peluki kedua kaki dan tekuk tubuh hingga tubuh mereka jadi bundar, sesudah mana, mereka gulingkan diri, akan turun bergelindmgan.

Satu pahlawan kena bentur sebuah batu besar, benturan yang keras membikin tubuhnya mental, karena mana, ia bergelindingan luar biasa keras, ia tcrbanting, sesampainya di bawah, ia telah hilang jiwanya, tubuhnya remukl

See Beng Wan dan satu kawannya lagi selamat, dengan melawan sakit, mereka kabur terus. Sama sekali mereka tak gubris itu kawan yang naas, yang buang jiwa secara hebat

Kapan rombongan Thaykek Tan sampai di atas bukit, semua musuh telah lenyap. Tadinya Thaykek Tan masih hendak me near i. tetapi Tjoe Hong Teng cegah dia.

“Mereka telah musnah tujuh atau delapan bagian, maka marilah kita kembali,” kata Kctua Giehoo-toan. “Kita mesti lekas untuk jaga kalau-kalau kambratnya orang she See itu nanti mcngacau di dalam Biarlah sekali ini mereka lolos.”

Thaykek Tan mengerti, ilmu entengi tubuh dari See Beng Wan berimbang dengan kepandaiannya sendiri, tentu sulit akan candak musuh, karena ini, ia turut pikiran Ketua Giehoo- toan itu.

“Ya, marilah kita pulang,” kata ia.

Maka semua orang lantas mencari jalan turun.

Sembari jalan, Ong Tjoe Beng menghitung-hitung sendiri tentang jumlahnya korban di pihak See Beng Wan, yang semuanya terdiri dari sebelas pahlawan: Tjoe Hong Teng, Siangkoan Kin, Touw Tjin Nio dan ia scndiri masing-masing membinasakan satu orang, Thaykek Tan binasakan tiga musuh, Tjian Djie Sianseng rubuhkan dua musuh, satu musuh lagi binasa tcrbantmg. dari itu, selainnya See Sioe Gie yang tertawan, maka dcngan Sec Bcng Wan hanya tinggal satu musuh lagi. Jadinya, kawanan pengkhianat itu terbasmi sembilan bagian. Hanya, biar bagaimana. mereka sayangi yang Beng Wan toh lolos.

Di ten can jalan, Thaykek Tan can See Sioe Gie, yang ia lemparkan ke dalam gombolan, buat angkat musuh ini untuk dibawa pulang, langsung ke markas Toatoo-hwee.

Semua tauwbak heran melihat kctua mereka jalan bersama-sama pihak Giehoo-toan, tetapi lebih heran lagi

kapan mereka iihat, begitu sudah berkumpul di dalam markas, Tjoe Hong Teng minta Ong Tjoe Beng segera bunyikan tambur, untuk panggii berkumpul semua tauwbak, sesudah mana, setelah dibikin pemilihan, penangkapan dilakukan terhadap tauwbak-tauwbak konconya dua Saudara See.

Mereka ini terkejut Sebenamya mereka hendak bikin perlawanan, tetapi di bawah kepungan Thaykek Tan beramai, mereka tak berdaya.

Sama sekali ada dua puluh lebih tauwbak kambratnya See Beng Wan dan See Sioe Gie, dcngan sebelas orang telah terbinasa atau kabur, tinggal sepuluh lebih. Dari antara mereka itu, beberapa di antaranya kabur dengan diam-diam begitu lekas mereka tampak Ketua Toatoo-hwee ada bersama- sama rombongannya Giehoo-toan. Mereka curiga dan dapat firasat jelek. Maka itu, yang. tcrtawan sekarang cuma beberapa or•ang saja. Mereka ini masih heran kenapa mereka ditawan.

Ong Tjoe Beng kumpulkan mereka, lalu di hadapan semua tauwbak lainnya, ia beber komplotannya dua Saudara See, yang baharu saja dibasmi, malah See Sioe Gie scndiri kena ditawan hidup-hidup. Tadinya mereka itu sangka See Sioe Gie bukan tertawan. hanya terluka.

Buat menambah penjelasan, Tjian: Djie Sianscng turut bicara, akan beber rahasianya dua Saudara See itu, yang hendak gulingkan Toatoo-hwee dengan adu Toatoo-hwee dcngan Giehoo-toan, dengan menyelundupi pahlawan- pahlawan Boan yang menyamar, hingga Ketua Toatoo-hwee kena dikelabui.

See Sioe Gie, yang telah dibikin sadar, terpaksa mesti aku perbuatannya bersama-sama saudaranya, sehingga sekalian tauwbak yang ditangkap itu pun mesti tutup mulut. Nyata mereka telah jadi perkakasnya bangsa Boan, jadi pengkhianat bangsa.

Tauwbak-tauwbak Toatoo-hwee, yang pernah diadudombakan terhadap Giehoo-toan, jadi gusar sekali terhadap rombongan Persaudaraan See ini, yang telah permainkan mereka. Di lain pihak, mereka sesalkan telah kena orang dustakan.

Dalam keadaan tegang sebagai itu, mendadak Ong Tjoe Beng berbangkit. Ia dorong ke samping kursinya, lalu sarnbil bcrdiri di samping kursi itu, ia berkata dengan suara nyaring: “Saudara-saudara, rombongan Kaum See ini tak bakal lolos, belakangan saja kita hukum mereka. Sekarang aku ada satu urusan penting, yang hendak aku utarakan. Saudara-saudara, untuk banyak tahun aku telah ditunjang oleh Saudara- saudara, diangkat menjadi Tjong-totjoe dari Toatoo-hwee, maka itu aku mcnycsal sekali ini kali aku kena dikelabui oleh sahabat-sahabat palsu hingga karenanya, satu sahabat baik aku telah pandang sebagai musuh, hingga aku lakukan satu kesalahan besar. Aku malu atas kekeliruanku ini, tak ada muka buat aku terus pegang pimpinan lagi. Saudara-saudara, jiwaku telah ditolong oleh Toako Tjoe Hong Teng, sekarang aku hendak mohon Tjoe Toako sekalian merangkap menjadi Ketua dari Toatoo-hwee juga.” Habis mengucap demikian, tanpa tunggu persetujuan lagi, Ong Tjoe Beng pimpin Tjoe Hong Teng untuk duduk di kursi kcbesarannya yang ia telah geser itu.

Tjoe Hong Teng bersenyum, ia balas cekal tangan orang akan paksa duduki ketua itu di kursinya sendiri.

“Ong Tjong-totjoe, jangan kau mengalah padaku,” ia kata. “Toatoo-hwee ini kau sendiri yang telah bangunkan dengan susah-payah. maka bagaimana dapat aku mernimpinnya? Ini pun bukan urusan pcrscorangan, yang dapat dipindah- pindahkan menuruti suka hati sendiri. Izinkan aku omong terus terang. Giehoo-toan bukan kepunyaan pribadi, seperti juga Toatoo-hwee bukan kepunyaan Saudara sendiri Kita semua adalah orang-orang penentang bangsa Boan, bangsa asing. Kita adalah orang-orang dalam satu garis, jadi tugas kita adalah bagaimana kita harus keluarkan tenaga. Saudara, sebagai Ketua dari Toatoo-hwee, kau dapat berbuat lebih banyak daripada aku, maka tidak sclayaknya kau serahkan kedudukanmu padaku! Buat kita adalah, mari kita bekerja sama!”

Kata-katanya Tjoe Hong Teng membuat kekaguman bagi sekalian tauwbak Toatoo-hwee. Mereka tahu, ketua mereka telah ditolong Ketua Giehoo-toan ini, adalah tetapi untuk serahkan Toatoo-hwee kepada seorang asing, mereka ragu- ragu, sekarang mereka dengar penampikan orang dengan alasan yang sehat itu, hati mereka tergerak- Sekarang mereka awasi ketua mereka, akan dengari pengutaraannya ketua itu terlebih jauh.

Ong Tjoe Beng jadi ragu-ragu. la telah keluarkan perkataannya, cara bagaimana ia bisa tank ftu kembali? Tiba- tiba Tjian Djie Sianseng muncul.

“Ong Tjong-toijoe, janganlah kau mengalah!” kata orang tua ini. “Toatoo-hwee tak dapat disamakan dengan Giehoo- toan, keduanya juga tak perlu berebut tempat, begitupun kau sendiri dan Saudara Tjoc. Kau orang ada orang-orang luar biasa, tak dapat kau orang bikin sebagai orang Rimba Persilatan yang kebanyakan. Benar seperti katanya Saudara Tjoe, kau mesti tetap pegang pimpinan. Yang benar adalah kedua pihak berserikat, bersama-sama maju, bersama-sama menderita, untuk mencapai cita-cita kita.”

Sebelum Tjoe Beng sempat mengutarakan pendapatnya, semua Tauwbaknya telah bersorak menyatakan setuju atas usul Tjian Djie Sianseng, maka itu, akhirnya, ia terpaksa batalkan niatnya mengalah pada Tjoe Hong Teng. Ia setuju pemikaran, untuk jadi bengtjoe, ketua perserikatan, ia usulkan Hong Teng.

Mulanya  Tjoe Hong Teng menolak. tapi Tjian Djie Sianseng desak ia, maka di akhirnya, ia terpaksa ia terima kedudukan itu. Dengan begitu, dengan Ong Tjoe Beng, ia lalu angkat saudara.

Segera dibikin pesta besar, sampai tiga hari lamanya. Tentu saja karena ini, Touw Kan-louw yang ditawan Toatoo-hwee, lantas dimerdekakan dan ia ini pun turut dalam pesta itu.

Selama tiga hari itu, Tjoc Hong Teng dan Ong Tjoe Teng telah atur rencana kerja sama supaya ada garis-garis untuk mereka bertindak.

Sclang tiga hari, kegembiraan bcrubah jadi kescpian. Thaykek Tan dan rombongannya, jago-jago tua, pamitan untuk pulang.

Siangkoan Kin juga turut pamitan. Ketika ia ambil selamat berpisah dari Ong Tjoe Beng dan Touw Tjin Nio ia kclihatan lesu. Tjoe Hong Teng lihat roman orang itu, ia mengerti, tetapi itu waktu ia diam saja.

Tjoe Hong Teng perhatikan Teng Hiauw, ia minta Thaykek Tan didik baik-baik anak itu. Thaykek Tan’ menyanggupi, ketika ia ceritakan bagaimana caranya Teng Hiauw datang, untuk belajar silat, semua or•ang tertawa. Thaykek Tan, Tjian Djie Sianseng dan Han Koei Liong, berangkat lebih dulu, kemudian mereka pun berpencaran.

Tjoe Hong Teng antar Siangkoan Kin. Ia tahu sahabat ini menduga apa-apa. Tiba-tiba ia tanya: “Coba bilang, kalau barisan wanita dari Toatoo-hwcc dipadu dcngan Hongteng- tjiauw kita, mana yang terlebih tangguh?”

Siangkoan Kin berpikir sebentar.

“Kelihatannya Barisan Wanita Toatoo-hwee lebih tangguh,” ia jawab.

“Apakah karena adanya Touw Tjin Nio?” Hong Teng tegaskan.

“Karena adanya satu pimpinan wanita yang iiehay, itulah tak aneh, bukankah?”

“Aku lihat, itulah sebabnya,” menjawab Siangkoan Kin. Sebenamya ia rada likat. “Hongteng-tjiauw kita kekurangan pemimpin yang gagah seperti Touw Tjin Nio, yang pun mempunyai tenaga penarik….”

“Maka itu kita mesti dapati tambahan pemimpin-pemimpin wanital” kata Tjoe Hong Teng sambi I tertawa. “Sekarang aku ingat Kiang Hong Keng, cucu perempuan guruku, aku harap dia memasuki rombongan kita. Aku pun harap Touw Tjin Nio nanti suka bantu memimpin….”

Siangkoan Kin setujui pikiran kctua ini.

Karena ini, Tjoe Hong Teng lantas ajak Siangkoan Kin kembali dulu ke Markas Gichoo-toan, untuk mengatur sesuatu, setelah mana sahabat ini diutus ke Pooteng untuk kunjungi Kiang Ek Hian dan cucunya, diharap, umpama Ek Hian menampik, cucunya itu nanti membantu. Tetapi, waktu Thicbian Siesengkembali, ia kembali dengan tangan kosong. Ia kata Keluarga Kiang telah berpindah dari Pooteng setengah bulan yang lalu, entah ke mana pindahnya, sebabnya pun tidak ada yang tahu, kecuali or•ang duga, mereka itu hendak menyingkir dari musuh.’

“Inilah heran,” kata Tjoe Hong Teng, yang terpaksa kirim kabar ke sana-sini, untuk minta sahabat dan kawan-kawan bantu selidiki alamatnyajago tua itu.

Setelah perserikatan, sesudah Tjoe Hong Teng ubah tujuan “Hoetjeng Hokbeng” menjadi “Hoetjeng Biaiyang” - ialah dari “melawan Tjeng-tiauw buat bangunkan Bengtiauw” menjadi “membantu Tjengtiauw, membasmi orang asing” – Gerakan Giehoo-toan dan Toatoo-hwee meluas dengan cepat, banyak pertambahan anggotanya.

Karenanya, pemerintah Tjeng jadi terpaksa mengaku sah ini perkumpulan rahasia, yang cabang-cabangnya mcnjalar sampai di bebcrapa propinsi di Utara. Shoatang menjadi pusat utama, karena satu distrik Djimpcng saja punyakan koentjiang, rumah perkumpulan, sampai delapan ratus buah. Hong Teng girang sekali, kecuali kapan ia ingat gurunya, Kiang Ek Hian dan Hong Keng. Walaupun tidak ada Nona Kiang, Barisan Hongteng-tjiauw tetap peroleh kemajuan, sebab ia dapatkan pimpinannya Nona Lauw Sam Kouw, adik perempuan dari Lauw Eng Hok, itu pendekar yang mclabrak pasukan Perancis. Perhubungan Hongteng-tjiauw dengan Barisan Wanita dan Toatoo-hwee pun erat, terutama sebab ada Siangkoan Kin, yang suka jadi jembatan antara Giehoo- toan dan Toatoo-hwee;

Tjoe Hong Teng pikirkan gurunya, ia tidak tahu, guru ini tidak merasa aman tinggal di Pooteng, walaupurv scbenarnya Kiang Ek Hian hendak hidup tenang di rumahnya, karena mma, ia sampai tampik ajakannya Hong Teng membantu Giehoo-toan, yang tujuannya ia setuju sangat. Ia pun sangat sayang Hong Kens, sang cucu. dan ingin dapati satu pemuda yang sctimpal uniuk cucu ini, agar mereka bisa tetap tinggal berkumpul bersama. Belum lama dari berlalunya Tjoe Hong Teng dari Pootcng, Kiang Ek Hian dengar kegemparan lenyapnya Teng Hiauw, puteranya Teng Kiam Beng, dari rumahnya, katanya disebabkan anak itu menampik menikah dengan pilihan ayahnya- Ek Hian duga, Teng Hiauw tentu diajak Hong Teng. la tidak pikirkan ini, karena ia tak bersahabat sama Kiam beng, tujuan hidup siapa pun ia tak hareni. Maka ia tidak mau kunjungi Kiam Beng akan utarakan dugaannya itu. Tapi di sebelah itu, lenyapnya Teng Hiauw membuat jago tua ini sangat bingung Nyata Hong Keng ada sangat perhatikan pemuda she Teng itu. Disebut namanya Teng Hiauw, si nona gembira, tapi mengetahui hal si pemuda lenyap, samar-samar tampak kedukaannya. Ek Hian tidak pernah sangka, kepergiannya Teng Hiauw bukan gara-gara Hong Teng saja, hanya juga disebabkan cucu perempuannya ini. Hong Keng girang Teng Hiauw memasuki Giehoo-toan, ia berduka karena ia tak dapat tinggal bersama pemuda itu.

Selagi Ek Hian berduka karena kelesuan cucunya itu, pada suatu hari Kiam Beng datang padanya menanyakan kalau- kalau Ketua Bweehoa-koen ini ketahui suatu apa perihal Teng Hiauw, puteranya yang lenyap itu. Kiam Beng datang pada orang she Kiang mi karena ia dengar cerita yang ditambah- tambahkan mengenai bentrokan antara Teng Hiauw dengan pahlawan-pahlawan Soh Sian Ie disebabkan si Nona Ki•ang hingga kemudian puteranya jadi bcrsahabat sama nona itu, bahwa karena nona ini, putera itu menampik menikah dengan pilihan orang tua.

Kiang Ek Hian tidak puas. Memangnya ia tak setujui jago Thaykek-pay ini.

“Kau kehilangan anak, kenapa kau tanyakan aku?” kata ia dengan ketus. “Aku tidak punya tugas untuk mengurus anakmu itu!”

Kiam Beng jadi jengah. “Aku dengar cucu perempuanmu kenal dengan anakku, aku datarig untuk menanyakan saja, maksud lainnya aku tak punya,” ia tcrangkan.

Tapi jawaban ini membuat mukanya tuan rumah menjadi merah, karena mendongkol.

“Ngaco-belo!” ia berseru. “Kau anggap cucu perempuanku itu orang macam apa? Apa mungkin dia sembunyikan anakmu itu? Teng Kiam Beng, jangan kau pandang rendah padaku karena usiaku lanjut, tapi tak dapat orang sembarang menghina aku! Sudan, jangan kau datang kemari untuk ngoceh tak keruan!” Ia lantas bcrbangkit, tangannya mengibas: “Silakan! Silakan cari sendiri putera mustikamu itu! Aku di sini tak berani menerima tetamu agung mulia!”

Itu adalah usiran untuk tetamu.

Bukan kepalang mendongkolnya Teng Kiam Beng, akan tetapi karena ia datang cuma karena pendengaran, ia berlaku sabar.

“Aku datang untuk menanyakan saja, Lootjianpwee,” kata ia. “Lootjianpwee banyak pengalaman dan pendengaran, barangkali saja kau mendapat tahu hal anakku itu…. Tidak ada maksud lain dari aku. Karena Lootjianpwee tidak mau mengcrti, baiklah, aku mohon perkenan untuk pergi” I

Ia lantas memberi hormat sambii menjura, ia putar tubuhnya dan berjalan keluar. Ia masih dengar tuan rumah tertawa dingin di bclakangnya.

Lewat bebcrapa hari, masih Ek Hian mendongkol i Kiam Beng dengan kunjungannya itu. Tapi selang sepuluh hari, muncul lain urusan yang bikin fa berl ipat kali lebih sebal, yang membuat ia sangat uring-uringan. Ini kali ada kedatangannya pcmbcsar setempat, yang tanyakan dia, Tjoe Hong Teng itu pernah apa dan orang she Tjoe itu pernah bcrmalam di rumahnya atau tidak…. Ek Hian heran atas itu pertanyaan, diam-diam ia terkejut. “Dulu pernah aku terima satu murid she Tjoe,” ia jawab

dengan tenang, “tetapi dia bukan bernama Hong Teng, sudah

sepuluh tahun lebih sejak dia keluar dari perguruan, tidak pernah ada kabar ceritanya dan aku pun belum pernah cari dia”

Guru silat ini tidak berdusta ketika ia sangkal nama Hong Teng. Memang dulu, muridnya itu pakai nama Tjtp Hian, dan nama Hong Teng dipakai sejak murid itu bangunkan Gcrakan Giehoo-toan. Ek Hian pun heran, sekalipun dalam kalangan Kangouw, sedikit orang yang ketahui Hong Teng ada muridnya, kenapa pcmbcsar negeri bisa tahu itu.

“H abis siapa itu orang dengan usia pertengahan yang pada dua bulan yang lain telah datang ke rumahmu ini dan tinggal untuk sekian lama?” ia ditanya pula.

Ek Hian percaya, orang cuma dengar berita saja; dari itu, ia tetap berlaku tenang.

“Dia itu ada sanak jauh dari aku,” ia akui. “Dia ada adik misan dari koponakan langsung dari bibi misan dari besannya anakku yang lelaki. Sudah dua puluh tahun aku tinggal di Pooteng. Sekalipun dulu, ketika aku buka rumah perguruan, belum pemah aku terbitkan urusan, apa pula sekarang sesudah aku asingi dirt, mustahil aku izinkan orang jahat berdiam di rumahku?”

Pembesar itu tidak bilang apa-apa, tetapi ia minta Ek Hian cari dua hartawan atau saudagar, yang suka bcrikan tanggungan untuk dirinya. Dengan roman likat, dia kata: “Kau ada satn guru silat tetua, kau juga ada penduduk lama, yang kenamaan baik, tak bisa kita tidak memandang padarnu, tetapi kami lagi menjalankan titah. terpaksa kami berlindak begini. Harap kau suka memberi maaf pada kami.”

Pasti sekali Ek Hian tidak ketahui sebabnya kenapa orang tanyai Tjoe Hong Teng padanya. Inilah karcna tindakannya kedua Tjongtok dari Titlce dan Hoolam bcrhubung dengan perampasan orang-orang tawanan — antaranya Teng Hiauw – di Heksek-kong, di mana sejumlah serdadu dari Anpeng kena ditawan Kaum Giehoo-toan. Sebab di Kota Anpeng ada perbatasan Titlee dan Hoolam, kepala pemenntah kedua propinsi itu jadi sibuk, titah dikeluarkan untuk cari Tjoe Hong Teng. Di Pooteng ada beberapa orang polisi yang usianya lanjut, ingat Kiang Ek Hian ada punya murid she Tjoe, dari itu, Ek Hian jadi dapat kunjungan dan pertanyaan. Syukur ia ada penduduk kenamaan, ia pun bersikap tenang, orang tidak curigai ia. Hanya yang sulit ia dimestikan cari dua penanggungjawab. Sebagai guru silat, sahabatnya adalah guru-guru silat juga, sekarang ia diminta cari hartawan atau saudagar, sukar untuk ia mendapatkannya. Ada beberapa, yang ia kenal, tapi mereka i tidak berani bertanggung jawab,

sebab urusan katanya ada berhubung sama Gerakan Giehoo-toan. Di itu zaman, orang jerih terhadap undang- undang bengis dari pemenntah Boan terhadap pengkhianat atau pemberontak.

Dua hari sudah Kiang Ek Hian berputaran mencari penanggung, ia tidak berhasil, karena temponya tinggal lagi satu hari, sore itu ia sibuk bukan main. Terus sampai malam, ia tidak lantas dapat tidur. Maka ketika ada suara berkeresek di luar jendela, iasegera dapat dengar itu.

“Sahabat, siapa itu di luar?” ia menegur seraya berbangkit, mukanya menghadapt jendeia. “Marilah masuk dan bicara!”

“Baiklah,” sahut satu suara dalam, menyusul mana, jendela terpen tang dan satu orang lompat masuk.

Tuan rumah tercengang apabila ia sudah lihat tctamunya itu, ialah Teng Kiam Beng.

“Tengah malam kau datang kemari, kau ada punya pengajaran apa untuk aku?” ia tanya. ‘Tolong kau jelaskan!” Ia duga orang jengkel terhadapnya dan sekarang hendak cari gara-gara, lantas saja ia bersiap untuk sesuatu penyerangan.

Teng Kiam Beng tertawa, ia hampirkan kursi dan duduk dengan bebas.

“Orang tua, dengan sebenarnya aku tidak puas terhadap caramu melayani aku kemarin ini,” kata tetamu tidak diundang ini, “akan tetapi sekarang aku datang tan pa maksud jahat.

Kau pernah usir aku, supaya aku tak datang pula ke rumahmu ini, maka kalau sekarang aku toh datang tanpa undangan dari kau, inilah sebab aku tidak sudi lihat orang scsama kaum mendapat celaka!….”

Ek Hian berlaku tenang, walaupun ia heran dan hatinya goncang. Dengan sabar ia ambil kursinya.

“Marilah kalau kau ada pembicaraan,” kata ia. “Selama dua hari ini aku memang lagi alami kesulitan, akan tetapi meskipun dcmikian, aku masih tidak niat mmta bantuan kau,  Lauwhia….”

Kiam Beng kerutkan alisnya, tandanya ia masygul.

“Dengan scbenamyaaku memang tidak punya tenaga untuk bantu kau,” kata jago Thaykek-pay mi, “tetapi aku toh datang, dengan satu maksud lain, pemerintah Boan telah dapat tahu, Tjoe Hong Teng ada muridmu, dia bakal kirim orang liehay untuk tawan kau, maka, kau waspadalah. Aku ada seorang dari Rimba Persilatan, maka itu tak senang aku lihat seorang Rimba Persilatan, dibekuk oleh pemerintah Boan! Tentang perselisihan paham di antara kita, tinggu sajalah sampai nanti, sesudah kau lewati bencana mi, umpama kau hendak memberikan pelajaran padaku, aku bersedia untuk menerimanya.”

Matanya Ek Hian bersinar. Mau atau tidak, ia heran. “Bagaimana kau ketahui iiu?” tanya ia.

Kiam Beng berbangkit, ia tertawa dingin. “Kau percaya atau tidak, terserah padamu,” ia kata. “Tak usah kau tanya melit-melit padaku! Aku cuma ingin jangan kau pandang orang terlalu enteng. Aku telah bicara, sekarang tinggal kau pikir. Kau mesti bertindak lekas!”

Kiam Beng tompat keluar dari jendela, akan lenyapkan dirinya di tempat gelap.

Ek Hian antar tetamunya sampai di pekarangan, di situ ia lamas berdiri bengong. Tak dapat ia sangsikan or•ang she Teng itu. Tanpa merasa. matanya mengembeng air. la, satu jago tua…. Ia ingin asingi din. hidup sunyi dan tentaram, tetapi suasana tidak mengizinkan, ia terbawa juga arus. ia pun mcnycsal keliru anggap terhadap Kiam Beng, yang ia tadinya percaya sudah jadi budak pembesar negen, tidak tahunya, dia tetap masih seorang Kangouw yang, terhormat. Ia hanya masih tidak mengerti, kenapa Kiam Beng bersahabat kekal sama Keiuarga Soh, seorang Boan yang telah ternyata terang ada kejam. Ia tidak tahu, Sian le ada sangat licin dan Kiam Beng telah kenadikelabui. Tapi justru Kiam Beng bersahabat sama Sian le, ia jadi tahu jago she Kiang itu ada terancam bahaya.

Duduknya hal ada begini.

Itu hari Sian le jamu Kiam Beng, selagi bersantap, ia tanya ini jago silat tentang hubungan di antara Kiang Ek Hian dan Tjoe Hong, Teng Kiam Beng tahu tapi ia bcrpura-pura tidak tahu. Sebenarnya satu putera dari Sian le bekerja dalam Kantor Tjongtok dari Titlee, dia datang untuk minta bantuannya Kiam Bcng, yang dia tahu tidak akur dengan Kiang Ek Hian. Kiam Bcng menampik untuk mcmbcrikan bantuannya, atas mana, Sian ie dan anaknya tidak mendesak. Karena ini, perjamuan itu ditutup dengan lenyapnya kegembiraan, Kiam Beng pulang dengan pikiran ruwet tapi malam itu ia toh pergi pada Ek Hian, untuk berikan kisikan.

Sian le sendiri tidak puas, tapi ia tidak berani desak Kiam Bcng, ia kuatir jago silat ini nanti gusar, hingga selanjutnya ia tidak bisa gunai lagi tenaganya.

Lama Ek Hian masih berdiri diam di dalam pekarangan, akhirnya ia ambil putusan yang getas. Kctika itu sudah jauh malam, ia tak dapat bcrlambat lagi. Scgcra ia masuk ke dalam, akan kasih bangun pada Hong Keng.

“Lekas benahkan pauwhok, sekarang juga kita berangkati” kata ia pada cucunya itu.

Begini malam, Engkong?” Tanya cucu. “Ke mana kita pergi?”

iago tua itu menghela napas.

“Aku ingin kau hidup tentaram, sekarang aku ton mesti bikin kau jalanan jauh,” jawab ia.

“Mari kita pergi…. Ke mana? Aku masih belum tahu…. Mari kita jalan saja….” Ia tuturkan adanya ancaman bahaya.

“Kenapa tidak pada Tjoe Soesiok?” kata Hong Keng. “Di sana pun ada banyak orang dan ramai!”

Engkong itu manggut. Tapi ia segera goyang kepala “Nanti saja di tengah jalan, kita bicara pula” kata ia.

Wajahnya muram sekali.

Hong Keng tidak tanya melit lagi, ia lantas bcbcnah dan dandan, habis itu, ia ikut engkongnya keluar dari rumah. Mereka ambil jalan dari pintu bclakang, di situ ada sebuah kali, mereka jalan di sepanjang tepi. Itulah tcmpat di mana dulu Tjoe Hong Teng menggoda Teng Hiauw.

“Di bclakang hari masih ada ketika untuk kau kembali ke rumah kita ini….” kata Ek Hian sembari jalan. “Aku sendiri, tidak.”

Orang tua ini berati rumahnya itu. Hong Keng menoleh pada rumahnya, hingga ia teringat pada saat Hong Teng permainkan Teng Hiauw, hingga ia pun jadi bayangi romannya si anak muda yang gagah dan cakap itu. Karena ini, ia jalan sedikit ayal.

“Hong Keng, kau awasi apa?” tanya sang engkong. “Mustahil ada orang sembunyi di situ!”

Ek Hian curiga pada musuh. Ia belum dapat jawaban dari cucunya, lantas ia lihat dua bayangan berkelebat, keluar dari tempat gelap.

la segera dengar tertawa cekikikan, yang disusul sama kata-kata: “Kiang Loosianseng, sekarang sudah begini malam, ke mana kau hendak pergi bersama Nona Kiang ini?”

Ek Hian lantas lihat dua orang melintang di depannya, mereka mencekal golok dan pedang masing-masing. Ketika ia mengawasi, ia seperti kenali satu di antaranya. Ia hendak mcndckat i, ketika Hong Keng berseru: “Kiranya kau, jahanam!”

Seruan si nona ini disusul sama gerakan menyerang. Kiang Ek Hian pun segera kenali orang itu, ialah Kimtoo

Hek Tjit, pahlawan kesatu dari Keluarga Soh.

“Hong Keng, jangan ladeni dia, mari kita ambil jalan kita,” ia cegah cucunya^

Seruan engkong ini terlambat, swrangannya sang cucu tak dapat dicegah lagi. Hong Keng memang benci sekali pahlawan itu, yang baru-baru mi sudah kcpung dia. Ia lompat I uar biasa pesat, segera ia tabas lengan kiri orang.

Hek Tjit terkejut. Serangan si nona ini tidak ia sangka.

Dalam gugup ia menangkis. Tapi Hong Keng tidak menyerang kepalang tanggung, ia menyusuli dengan lain scrangan, satu tikaman “Pekhong koandjit” atau “Bianglala putih menggalang langit”. Tidak tempo lagi, pahlawan Sian le rubuh dengan mandi darah, jiwanya melayang. Kawannya Hek Tjit kaget, tidak berlambat lagi, ia memutar tubuh untuk lari. Tapi sambil lari ia kasih dengar suara panjang, seperti suatu pertanyaan

Hong Keng sedang sengit, ia tidak berhenti sampai di situ. “Awas!” dia berseru, seraya tangannya diayun, atas mana

tiga buah Thielian-tjie segera menyamber sambil

perdengarkan suara mengaung, hingga dalam tempo sedetik saja, kawannya Hek Tjit itu sempoyongan, terus rubuh di atas pasir di tepi kali itu.

Hek Tjit dan kawannya datang untuk pasang mata terhadap Kiang Ek Hian, guna jaga Tcng Kiam Beng, yang dikuatirkan nanti sekongkol sama Ek Hian. Biarbagaimana, Sian le curiga terhadap Kiam Beng. Hek Tjit datang bersama dua kawan lain, yang baharu datang dari Kota Raja, tapi dua kawan ini sengaja jalan misah, sebab sudah diatur agar Hek Tjit tak usah bcrtcmu muka sama Kiam Beng yang dikenal.

Lacur bagi Hek Tjit, dia pergoki Ek Hian, hingga ia jadi korban pedangnya Nona Kiang yang benci dia.

“Ah, anak sembrono,” Ek Hian sesalkan cucunya “Buat apa layani mereka? Tidak keruan-keruan, kita jadi timbulkan perkara darah….”

“Memang Engkong terlalu murah hati,” kata sang cucu. “Engkong bisa ampuni orang, tapi orang lain belum tentu….”

Suaranya si nona belum berhenti atau ia dengar suara panjang seperti suaranya Hck Tjit tadi, lalu di antara rcmbulan, kclihatan bayangan orang bcrlari-iari mcndatangi, sebcntar saja, bayangan iiu sudah sampai di dcpannya mi cngkong dan cucu. Nyata mcrcka ada dua pahlawan yang dikinm dari Kota Raja, untuk mcnawan jago tua she Kiang itu. Yang satu mencekal golok Hoathong-too dcngan scbuah kantong piauw di pinggang. maianya bersinar, yang satu pula. bermata besar dan beralis gomplok, tangannya mencekal ruyung Tjengtong-gan. “Sahabat, kau dalam perkara!” tiba-tiba dpa orang itu berkata.

“Sahabat. tolong kau buka jalan untuk aku si orang tua lewat,” kata Ek Hian dengan sabar. “Aku bukannya tidak niat urns perkara ini tetapi apa mau, golok di tanganku tidak hendak iringi aku. Umpama kata kau hendak berkeras, lihat di sana kawanmu itu!”

la tunjuk mayatnya Hek Tjit. Dua orang itu jadi gusar.

^JPcmberontak!” mcrcka bentak. “Kau berani lawan pemerintah!”

Orang yang bersenjata goiok lantas tcrjang Ek Hian, dan kawannya serang Hong Keng.

Dengan golok di tangan, Ketua Bweehoa-koen berdiri secara agung, kutnis-jenggotnya yang panjang memain di sampokan angin, begitu lekas serangan sampai, ia egos tubuh ke samping, goloknya dipakai menangkis.

Juara nyaring adalah susulannya tangkisan itu, lelatu api pun bersimbahan. Si penyerang terkejut, goloknya terpental, telapakan tangannya sakit. Dengan terpaksa ia lompat mundur.

Ek Hian tidak mau berlaku telengas, ia tidak menyerang lebih

jauh.

“Keng-djie, mari lekas pergi!” ia teriaki cucunya. Ketika ia berpaling pada Hong Keng, justru terdengar suara senjata beradu dengan nyaring. Nyatalah Hong Keng dapati tandingannya.

Ada maksudnya ini cngkong, akan bantu sang cucu, tapi baharu ia maju, ia dengar seruan: “Lihat piauw!” Lahxj tiga batang piauw dari pecundangnya menyambar di tiga jurusan, kiri, kanan. dan tengah.

Sambil berseru juga, Ek Hian tangkis semua serangan itu, hingga tiga-tiga batang piauw terpental, dua diantaranya jatuh ke kali, hingga menerbitkan suara di air. Ia jadi gusar, maka menerusi gerakannya, ia lompat pada musuh tukang bokong itu, siapa jadi tercengang karena mclihat kegesitan dan liehaynya orang itu.

“Kau sambut golokku!” seru jago Bweehoa-koen, selagi orang hendak jumput pula piauw di kantongnya.

Dalam keadaan tanggung sepcrti itu, pahlawan Boan itu cekal goloknya dengan tangan kiri, untuk menangkis, ia tidak sempat geser golok ke tangan kanan, maka ia terpaksa menangkis dengan tangan kiri itu. Di pihak lain, turunnya golok dengan tipu bacokan “Tay-san apteng”. ada hebat sekali, maka ketika dua senjata beradu, golok pahlawan itu terkutung dua.

Goloknya Ek Hian tidak dapat ditahan, golok itu terus turun ke arah pundak.

“Aduh!” menjerit itu pahlawan, pundak siapa terbacok hebat sekali, dan sebelah tangannya terpisah dari tubuhnya, rubuh di tanah, jiwanya melayang dengan lantas.

Sudah terlanjur, Ek Hian jadi berlaku bengis. Setelah itu, ia segera menoleh pada cucunya. Terus ia mengawasi. Karena Hong Keng lagi bcrtempur dengan seru dengan lawan yang bersenjata ruyung Tjengtong-gan itu. Biar bagaimana, ia malu untuk kepung musuh yang sendirian itu.

Musuh mainkan sepasang genggamannya dengan baik, senjata itu berat, dan itu temyata tenaga orang itu ada besar, Hong Keng kalah tenaga tapi ia menang gesit, ia pun ccrdik untuk singkirkan pedangnya dari senjata musuh karena cara berkclahi ini, pertempuran mereka jadi meminta tempo. “Keng-djie, buat apa layani ia lama-lama?” akhirnya sang engkong berseru. “Lawan dia dengan ilmu tangan kosong melawan golok, terjang bahaya sambil majukan pedangmu, apa itu tidak akan lekas bereskan dia?”

Ek Hian bisa melihat tegas, maka ia tahu kelemahannya orang itu.

Hong Keng sadar kapan ia dengar kisikan engkongnyaitu, ia lantas ubah caranya bersitat. Dengan berani la menyerang, tangan kirrnya, yang kosong, dipakai menyerang berulang- ulang. Dengan gesit, ia kelit atau mendesak. Tangan kanannya, dengan pedang Liongboen-kiam, saban-saban mencan jalan. Dengan caranya ini, ia bikin lawan jadi repot dan terdesak. terutama karena orang bcrsenjatakan gegaman yang berat, maka dengan sengit, musuh itu gunai ketika, akan menyerang dengan berbareng dengan sepasang senjatanya.

Tangan kanan menyabet ke arah pinggang, tangan kiri menyerang dari atas ke bawah, kepada batok kepala.

Nona Kiang tertawa dingin. Dengan mencelat mundur, ia bebaskan din dari dua-dua ancaman, habis itu, dengan sebat ia maju pula, untuk merangsek, ‘buat terus tabas lengan kiri dari musuh.

Pahlawan Boan itu berseru bahna kaget, lekas-lekas ia putar keluar ruyung Tjengtong-gannya, untuk kelit, tapi selagi ia menolongi diri, tangan kiri si nona mengetok tangan kanannya, begitu telak, hingga senjatanya iantas jatuh dengan menerbitkan suara nyaring. la kaget dan kesakitan, segera ia loncat mundur, untuk singkirkan diri. Tapi Hong Keng tidak mau bekerja kepalang tanggung, sambil berlompat, ia menyusul, melewati kepala orang, hingga di lain saat, ia telah beradadi dcpan orang itu.

Si pahlawan dengar angin nienyambar di belakangnya, ia duga si nona kejar ia, saking jerih, ia tidak menoleh, ia lari terus. Ia terkejut, ketika tahu-tahu si nona sudah berada di depannya dan pedangnya nona itu menikam ia. “Lihat pedang!” nona itu berseru.

Tidak ada tempo untuk si pahlawan angkat kcpala, atau pcdang sudah menyamber tenggorokannya, dari itu, dengan satu jcritan tcrtahan, ia rubuh, j iwanya melayang.

Hong Keng susut pedangnya, untuk terus dimasuki ke dalam kerangkanya

“Engkong, manis sekali tipumu ini,” kata ia, yang merasa sangat puas.

Kiang Ek Hian unit kumisnya, ia bersenyum. Ia pun puas.

Tapi iamasih hendak kasih keterangan pada cucunya itu ketika mendadak ia menoleh, agaknya ia heran.

“Eh, siapa lagi itu yang liehay?” kata ia, suaranya dingin. Hong Keng pun berpaling dengan segera

Dari samping mereka, dari gombolan, keluar satu orang.

“Inilah menyenangi, tapi empat jiwa telah melayang!” kata orang itu sambil tertawa.

Ek Hian kenali Teng Kiam Beng, hatinya jadi lega. Tapi ia mengawasi lagi dengan siap sedia.

“Ada apa lagi, Teng Toako?” ia melihat orang nampaknya masih sangsikan dia, Kiam Beng tertawa pula.

“Aku tidak datang untuk menjaili kau, Kiang Looenghiong,” kata ia. “Turunkan golokmu. Aku maiah hendak mohon pertolongan kau.”

Sekeluarnya dari rumah Ek Hianjj Kiam Beng mau pulang, tapi segera ia lihat beberapabayangan mendatangr, iajadi curiga, lantas ia umpetkan diri seraya pasang mata. Hatinya berkuatir melihat orang menuju kc rumah jago Bwee Hoan Koen, maka ia menguntit. Karena ia terus sembunyikan diri, tidak heran Ek Hian dan cucunya, yang asyik layani musuh, tidak lihat padanya, sampai ia munculkan diri. Selama itu, ia telah saksikan kedua pertempuran itu. 1

“Aku telah kuntit mereka ini,” Kiam Beng cerita, sambil tertawa. “Kepandaian mereka tidak berarti, mereka tidak tahu aku membayangi mereka. Terang mereka datang untuk antari jiwa saja. Kau orang pun bertangan besi!”

Melihat sikap orang dan mendengar omongan itu, lantas hi lang kecurigaan Ek Hian, ma I ah pandangannya terhadap Ketua Thaykek-pay itu pun turut berubah. Ia tidak sangka, Kiam Beng sebenarnya tetap masih seorang Kangouw asli, sedang orang umumnya pandang rendah padanya karena pergaulannya dengan Soh Sian Ie. Maka itu, ia lantas haturkan terima kasih. Kemudian ia tanya, dalam hal apa ia bisa  berbuat jasa terhadap jago pooteng ini.

“Itulah urusannya anakku,” sahut Kiam Beng dengan roman jengah. “Usiaku sudah lanjut, anakku itu adalah anak satu- satunya, tetapi dia telah minggat, aku jadi kesepian. Tak malu aku menerangkan kepada kau, Lootjianpwee, selama ini, aku sampai tak bcrnafsu makan. Dengan lancang aku telah kunjungi kau, aku membuat kau gusar, dalam hal itu, harap kau maafkan aku. Apa yang aku ingln minta adalah, dengan perjalanan Lootjianpwee, toiong kau dengar-dengar tentang anakku itu. Tidak nanti aku lupakan kebaikan kau ini umpama aku bisa dengar kabar anakku dari kau.”

Kiang Ek Hian terharu. Ia sangat sayangi cucunya, tidak heran kalau Kiam Beng tidak bisa lupakan putcranya. Tanpa merasa, matanya menjadi merah sendinnya. Ia lantas saja jabat tangannya jago Thaykek-pay itu.

“Saudara Teng, pasti aku akan dengar-dengar perihal puteramu itu!” ia berikan janjinya. “Aku sangat berterima kasih untuk pertolongan kau ini!”

Kiam Beng pun cekal keras tangan orang – suatu tanda dari persahabatan. Tapi kedua-duanya ada kurang gembira, sebab yang satu memikir anaknya, yang lain mesti tinggalkan rumahnya tanpa tujuan, dengan mesti iringi satu cucu perempuan.

Setelah itu, kedua orang itu berpisahan. Hong Keng belum insyafi sikap engkongnya.

“Engkong, apa benar-benar kau hendak cari Teng Hiauw?” ia tanya. “Umpama kau dapat temukan Teng Hiauw, jangan kau kasih dia pulang ke rumahnya. Ayahnya itu bo-tjeng-iie, tak tepat perbuatannya! Kenapa dia hendak paksa putcranya menikah sama gadisnya satu hartawan?”

Tanpa ia sadar, Nona Kiang tak senang Teng Hiauw dipaksa menikah. Di lain pihak, ia ingin pemuda itu bisa terbang merdeka bagaikan burung, untuk memasuki Giehoo- toan.

Sang engkong awasi cucunya dengan tajam.

“Anak yang baik,” katanya dengan perlahan, “tunggulah nanti, sesudah kau punyakan anak lelaki atau perempuan, baharu kau insyaf bagaimana sayangnya satu ayah atau ibu terhadap anaknya.”

Wajahnya si nona menjadi merah. Tapi engkong itu lantas tertawa. “Anak yang baik, kau jangan kuatir!” berkata ia. “Tidak nanti aku bersikap sebagai ayahnya Teng Hiauw itu, yang paksa puteranya menikah dengan seorang perempuan yang tidak dikcnal! Jikalau kau pilih cucu-mantu. aku nanti pilih yang aku penuju dan kau pun setujui….

Kembali mukanya si nona bersemu merah.

“Ah, Engkong!” memprotes dia. Tidak keruan-keruan, kau godai aku….”

Engkong itu tertawa.

“Tapi aku omong dan hal yang benar, Anak,” katanya. Sclama itu. mcrcka sudah bcrjalan, terus. hingga mereka berada di luar kota Pooteng. Hong Keng ulangi usulnya untuk can Tjoe Soesiok.

Orang tua itu berpikir, ia menghela napas.

“Sebenarnya tak ingin aku cari Tjoe Hong Teng,” kata dia, “aku tak ingin yang kau, untuk seumurmu, nanii hidup dalam gelombang penghidupan yang berbahaya. Kau ada satu gadis baik-baik, tak tenang hatiku akan antap kau mencampuri gerakan mereka itu. Tapi kau mendesak, Anak, dan akupun telah janjikan Teng Kiam Beng akan cari si Hiauw, baiklah, man kita pergi. Aku kira anak itu terada dalam kalangan Gichoo-toan. Nah, man kita mcnuju ke Shoatang!”

Hatinya Hong Keng lega, gembira ia ikuh engkongnya itu.

Sclama di perjalanan, hatinya Ki-ang Ek Hian tidak ten I cram, ia kuatir nanti ada orang polisi yang susul mereka, maka itu, kcmudian ia suruh Hong Keng menyamar jadi lelaki, hingga di lain saat, nona itu telah merupakan diri sebagai satu pemuda yang cakap. Meskipun begitu, mereka ton selalu ambil jalanan kecil dan sepi. ika kemudian mereka sampai di

Shoatang, terjadilah sesuatu yang membikin Ek Hian ubah tujuannya. Pada suatu hari, sudah maghrib,. engkong dan cucu ini sampai di sebuah dusun kecil, terpaksa mereka ambil pondokan tanpa pilih-pilih lagi. Rumah penginapan pun kecil, kamarnya cuma beberapa buah. Kebetulan, kamar mereka berhadapan sama kamar yang penumpangnya ada satu anak muda yang cakap dan ganteng.’dan di waktu mereka masuk ke dalam kamar itu, si anak muda mengawasi dengan tajam, hingga sinar matanya dia bentrok sama sinar matanya orang tua ini.

Itu waktu, anak muda itu telah berkata seorang diri: “Hari sudah gelap, sudah mestinya nyalakan api!” Lantas ia tambah minyak pada lampunya, ia pasang itu secara terang sekali, scsudah mana, dia rebahkan diri di atas pembaringan, moeilie dia tidak kasih turun.

Ek Hian ada seorang Kangouw yang berpengalaman. Adalah kebiasaannya satu orang yang lakukan perjalanan seorang diri, selagi singgah di hotel, dahar sore-sore dan terus beristirahat, supaya besok bisa bangun pagi-pagi untuk melanjuti perjalanan. Maka aneh ada sikapnya anak muda ini, yang nyalakan api besar-besar, bukan untuk membaca buku, tapi untuk rebah-rebahan dengan moeilie pun tidak digantung! Ia menduga orang ada kandung suatu maksud.

Tanpa hunjuk gerak-gerik suatu apa, Ek Hian minta jongos adakan teh dan barang santapan. Ia pun tidak turunkan moeilicnya, ia sengaja nyalakan api terang-terang. Kemudian ia duduk dahar sama-sama cucunya.

“Kamar ini kurang hawa udara, biarkan moeilie digantung supaya angin masuk,” begitu dia ngoceh seorang diri. Tapi dengan diam-diam, ia pasang mata terhadap si anak muda, hingga iadapati, orang pun scnantiasa incar pada mereka.

Setelah kata-kata si orang tua, pemuda itu berbangkit dan menguap.

“Sudah wakfunya tidur,” kata dia seorang diri, lantas ia bertindak ke pintu, akan turunkan moeilie. Di waktu berbuat demikian, ia pun incar Hong Keng.

Ek Hian lihat sikap orang, ia jadi semakin curiga. Iamau percayasi anak muda berpura-pura saja, untuk singkirkan kecurigaan. Tapi, melihat tingkah-lakunya, ia percaya pemuda itu bukan orang baik-baik. Diam-diam ia perhatikan Hong Keng. Pada sikapnya cucu ini tidak nampak apa-apa yang luar biasa. Nona ini, mirip satu pemuda, sulit untuk kenalkan dirinyayangasli. gff
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 18"

Post a Comment

close