Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 17

Mode Malam
 
Siangkoan Kin tidak puas me lihat Ong Tjoe Beng tidak muncul sendiri, ia sebal atas cara agung-agungan or•ang itu, ia pun gusar atas pertanyaan orang itu. Ia mengerti, teranglah Ong Tjoe Beng sudah tidak melihat mata terhadapnya. Ia awasi wakil itu, lalu ia tertawa besar.

“Giehoo-toan kita bukanlah urusannya Tjoe Hong Teng seorang!” berkata ia. “Giehoo-toan adalah Giehoo-toan!

Tolong kauberitahukan kepada Tjong-totjoe, aku telah wakiikan Tjoe Hong Teng, maka urusan bagaimana besar juga, aku berhak untuk mewakilkan sepenuhnya!”

“Hm, kiranya Tjoe Hong Teng tidak mau muncul sendiri!” berkata orang itu. “Jadinya dia kirim kau sebagai wakilnya! Mari kasihkan aku karcis namamu, nantt aku tolong mengabarkannya kepada Tjong-totjoe. Tentang Tjong-totjoe sudi terima kau atau tidak, itulah urusan Tjong-totjoe sendiri!”

Belum pernah Siangkoan Kin terima hinaan semacam ini, coba tidak Tjoe Hong Teng telah pesan ia untuk bersabar. hampir ia tak sanggup kendalikan diri lagi. Untuk bisa ketemu sama Ong Tjoe Beng. ia berlaku sabar luar biasa. Tapi, ketika ia serahkan karcis namanya, ia kata dengan nyaring: “Aku mau ketemu sama Ong Tjong-totjoe, bukan sama kau, Tuan mengenai ucapan kau ini, apabiia ini keluar dari hatimu sendiri, sebentar saja sehabisnya aku bertemu sama Ong Tjong-totjoe, kita nanti perhitungkan. tetapi jikalau itu ada pesan ketuamu, sekarang juga aku akan segera kembali!”

Sambil mengucap demikian, dengan kipasnya. Thiebian Sieseng tuding muka orang pada arah hidungnya.

Orang itu mundur dua tindak, ia tahu siapa adanya si Mahastswa Muka Besi, sembari putar tubub, untuk bertindak ke dalam, ia kata: “Aku nanti kabarkan kedatangan kau ini! Jikalau kau hendak umbar adatmu, scbentar saja di depan ketua kita, jikalau kau berani kau baharulah satu hoohan!*”

Orang ini masuk belum lama, lamas Siangkoan Kin lihat munculnya belasan orang yang berbans mengiring satu orang, siapa bukannya Ong Tjoe Beng, dia ini dandan scbagai satu tauubak.

“Silakan masuk” dia mengundang sambil memberi hormat.

Siangkoan Km menyahuti sambil bertindak. akan ikuti orang itu, barisan siapa lantas mengiringi ia dengan mengapit di kiri dan kanan, di mana pun ada terpajang pelbagai macam alat senjata. bukan ditaruh di atas para-para, hanya dicekal oleh dua barisan serdadu, antaranya ada barisan panah, semuanya sudah bersiap sedia.

Meskipun ia lihat markas yang angker itu, Siangkoan Kin tidak jerih sedikit jua. Ia bertindak dengan tenang, kipasnya digoyang-goyang pergi-datang, ia menoleh ke kiri dan kanan, dengan roman agung-agungan.

Sebentar saja mereka sampai di ruangan markas, yang besar dan luas, tctapi orang yang berduduk di situ menghadapi meja cuma sepuluh or•ang lebih, yang duduk di tengah ada seorang tua kate dan kurus, kumisnya pendek, sebelah tangannya mencekal sebatang liongtauw koay-thung, tongkat bcrukiran kepala naga, sikapnya jumawa sekali.

Siangkoan Kin mengawasi, juga keempat penjuru, di situ ia tidak lihat Ong Tjoe Beng, lantas saja ia tanya dengan suara keras: “Mana dia Ong Tjong-totjoe? Aku sengaja perlukan datang berkunjung kemari, untuk menemui dia, dari itu, perlu aku bertemu dengannya!”

Si orang tua kate dan kurus itu tertawa besar, dengan tongkatnya, ia menunjuk pada scbuah kursi kosong di sampingnya.

“Silakan, silakan duduk!” ia mengundang. “Nanti kita orang bicara!”

Ia mengundang, akan tetapi ia tidak bergerak dari kursinya, sikapnya tetap jumawa.

Siangkoan Kin menahan sabar, ia masih saja mengipas- ngipas, tanpa menoleh lagi pada orang tua itu, ia duduk di kursi yang ditunjuk itu, kemudian baharulah ia putar tubuhnya, akan tanya dengan suara keras: “Sebenarnya ke mana perginya ketuamu?”

Orang tua itu tertawa mengejek.

“Kau hendak menemui Tjong- totjoe?” ia tegaskan. “Dia ada di sini, tetapi dia tidak sempat untuk menemui kau!

Urusan Toatoo-hwee bukannya urusan Ong Tjoe Beng satu orang, karena aku telah bisa duduk di sini mewakilkan dia, biar urusan sebesar langit, aku sanggup untuk mengurusnya! Sahabat, kau ada punya urusan apa, cobalah kau lekasan utarakan itu kepada kita.”

Ini adalah ucapan dengan lagu suaranya Siangkoan Kin tadi, ketika ia ditanya kenapa Tjoe Hong Teng tidak datang bersama. Nyatalah sekarang orang telah pakai itu, untuk ajoki dia. Dan si orang tua bicara dengan tidak sungkan-sungkan lagi.

Siangkoan Kin ada seorang yang berpengalaman, walaupun sikapnya orang itu ada menjemukan, ia tidak hunjuk kemurkaannya. Ia pernah hadapi orang dari segala macam tingkah-polah, ia tidak merasa aneh. Malah tanpa berpikir lagi, ia buka mulutnya.

“Maafkan aku, aku berlaku kurang hormat!” ia menyindir “Aku masih belum tahu kau ada pernah apa dengan Ong Tjong-totjoe? Aku wakilkan Tjoe Tjong-totjoe, tentang persahabatanku, derajatku, dengannya, kaum Rimba Persilatan telah mengetahuinya, tetapi kau, yang mewakilkan Ong Tjong-totjoe, persahabatan kau, derajatmu, tentulah tidak berbeda dengan aku dengan Tjoe Tjong-totjoe, akan tetapi aku malu sekali, pemandanganku, pendengaranku, ada menyedihkan, hingga aku tidak ketahui she dan namamu yang besar!”

Ucapan itu merendah akan tetapi suara diucapkannya ada menyindir, ada berupa penghinaan untuk si or•ang tua serta kedudukannya dalam Toatoo-hwee. Tentu saja orang tua itu insyaf atas ejekan orang, akan tetapi dia pun seperti tak gubris itu, malah sengaja dia tertawa berkakakan, tongkatnya diketruki ke jubin.

“Kau Tuan Thiebian Sieseng, namamu sungguh tepat, tak nama belaka!” demikian katanya. “Bukan cuma kau “bermuka besi”. Aku dengar. tangannya juga keras, sayang aku belum pernah saksikan itu. Bahwa mulut kau tajam, sekarang aku dapatkan buktinya.” Terima kasih! -Sahabat, kau sebenarnya bicara sembarangan saja!” Tiba-tiba ia tambahkan dengan nyaring, air mukanya pun berubah menjadi bengis. “Sahabat, tentang perhubunganku dengan Ong Tjong-totjoe, orang luar tidak punya sangkutannya. kau juga tidak ada perlunya untuk mencari tahu, hanya tentang she dan namaku, aku boleh jelaskan kepada kau. bahwa itu tidak ada terlebih nyaring daripada nama Thiebian Sieseng. Namaku itu tidak ada hubungannya dengan urusan pertemuan ini hari. Aku adalah satu boebeng siauwtjoet di bawahnya Ong Tjong-totjoe, tetapi ini hari, aku ada punya hak kekuasaan untuk mewakilkan Toatoo-hwee, untuk bicara sama kau. Berapa usiamu sekarang? Aku pcrcaya, aku ada terlebih tua beberapa tahun daripadamu. Dengan usiaku ini, aku pernah lihat beberapa beruang yang namanya kosong belaka!”

Kata-katanya orang tua itu makin lama jadi semakin tajam, maka keagungannya Siangkoan Kin kena terbentur. Maka sekarang Thiebian Sieseng ketemu lawannya!

Usianya Siangkoan Kin belum lanjut, akan tetapi derajatnya ada tinggi, dan dengan boegeenya yang liehay. selama merantau belum pemah dia ketemu tandingan, dari itu, ia jadi semakin kepala besar, apabila dia bicara, kadang-kadang dia tidak mikir-mikir lagi, sekarang untuk pertama kalinya, dia bentrok sama mi orang tua yang ridak dikenal; dia jadi tetcengang, dia kalah bicara. Tapi dia tidak diam lama-lama.

Dia buka matanya lebar-lebar. dia tertawa dingin.

“Aku yang rendah termasuk dalam kalangan Rimba Persilatan, sebenarnya aku tidak punyakan kepantasan, tidak ada halangannya untuk aku membawa-bawa golok! Tjoe Tjong-totjoeku scrta Ong Tjong-totjocmu tidak bersahabat kekal, akan tetapi mereka ada dari satu kalangan, sama-sama mencntang bangsa Boan, memusnahkan bangsa asing, jadi maksud tujuannya sama, dari itu tidak ada harganya kudanya bentrok untuk urusan kecil sebagai bulu ayam atau kulit bawang ini. Begitulah ini hari aku wakilkan Tjoe Tjong-totjoe datang kemari untuk mohon pelajaran dari Ong Tjong-totjoe, baiklah, tak usah kita jalan mutar atau adu mulut, kau boleh bicara langsung padaku!….”

Orang tua itu tidak tunggu sampai orang berhenti bicara, ia sudah memotong. “Kalau begitu, kau sebutkanlah!” demikian katanya. “Cara boen, cara boe. aku selamanya siap untuk menemani!” ,

Siangkoan Kin melirik, lantas ia beri kan jawabannya: “Aku minta kau orang serahkan kita punya Totjoe Touw Kanlouw dari Djimpeng untuk aku ajak pulang. Aku datang bukan untuk unjuk kegagahan atau buat pieboe, maka jikalau kau, Lauwhia, ada keinginan akan memberi pengajaran kepadaku, kau bisa lakukan itu sesudah selesai urusan kita ini – kau tunjuki saja tanggal-harinya, aku Siangkoan Kin siap sedia untuk melayani!”

Orang tua kate-kurus itu tertawa cekikikan.

“Enak sekali kau bicara!” katanya. “Kau toh tahu, orang Kangouw ada aturannya sendiri, orang Rimba Hijau ada caranya sendiri juga. Pihak kita Toatoo-hwee sudah lama tancap kaki di Dj impeng, lantas di sana Touw Totjoemu memaksa merampas daerah kita, ia membuka rumah perguruan, dari itu tidaklah heran jikalau ketua kita tangkap dan tahan padanya. Jangan kata baharu kau yang datang, umpama Tjoe HongTeng yang datang sendiri, tak gampang- gampang kita nanti serahkan dia!”

Siangkoan Kin tertawa berkakakan.

“Apakah aturan dan caranya kaum Kangouw dan Rimba Hijau?” ia mengejek. “Pihak kita, belum pemah kita anggap Toatoo-hwee sebagai kaum Kangouw dan Rimba Hijau yang kebanyakan! Mengapa kau sebut-sebut kaum atau golongan? Kita hendak bangunkan bangsa Han, untuk tolong rakyat, kita bukannya tukang rampas, bukan tukang kangkangi tanah daerah, tetapi kau orang, janganlah kau orang terbitkan kerenggangan karena urusan sekecil itu, perbuatan itu bisa membikin puas pihak musuh!” .

Walaupun Siangkoan Kinrbicara dengan caranya sendiri$aiigjurriawa, akan tetapi dia pakai at uran, dari itu, pihak Toatoo-hwee itu berubah air mukanya masing-rnasing. Cuma si orang tua kate-kurus, yang matanya belalakan, ia tertawa cekikikan secara menghina, “Siangkoan Kin, kau bersemangat, kau satu enghiong!” begitu ejekannya “Bagus sekali omongan kau! Karena kau bicara dari arah besar, baiklah, aku pun hendak omong terus terang, jikalau kau bersedia untuk nyatakan setuju, dengan segcra aku nanti merdekakan saudaramu!”

“Aku suka dengar keterangan kau!” jawab Siangkoan Kin dengan cepat.

“Syarat kita sedikit pun tidak sulit,” ia kata kemudian.’ “Kau mewakilkan Tjoe Hong Teng, sekarang aku silakan kau menjura kepadaku untuk menghaturkan maaf, sctclah itu, lantas kau sampaikan kepada Tjoe HongTeng agarGiehoc-toan selanjutnya ditaruh di bawah penilikannya Toatoo-hweef*

Bukan mam gusarnya Siangkoan Kin akan dengar syarat itu. Segala apa mengenai dirinya pribadi, ia rnasih bisa sabar, tetapi ini ada kehormatannya Giehbo-toan. Kedua matanya mendelik.

“Bagaimana jikalau kita menolak?” ia itanya; la tertawa menghina. ‘.’Menolakpun tidak apa-apa” jawab si orangtua.? Kau ada sangat kesohor. Laiiwhia, dengan Tjoe Hong Teng kau punya persahabatan untuk hidup dan mati, tetapi aku yang rendah tak tahu diri, selagi aku merasa sangat beruntung dengan pertemuan kita ini, biar bagai mana aku mesti bisa belajar kenal dengan kepandaianmu!”

Siangkoan Kin segera berbangkit, kipasnya dipakai melambai-lambai. “Mari”, mari!” ia menantang dengan bentakannya. “Walaupun kau berada di kedung naga dan guha harimau, aku. Siangkoan Kin ingtn sekali mendapatkan kcputusan! Bilang kau orang hendak main keroyok-keroyokan atau satu sama satu?” Si orang tua menekan tongkatnya, untuk bangkit berdiri secara pelahan-lahan, sambil miringkan kepala, ia memandang, ia tertawa.

Itu artinya pertandingan satu sama satu.

Tapi Siangkoan Kin masih menegaskan: “Ini artinya kita orang akan putuskan siapa jantan siapa bctina! Jikalau aku kalah, dengan kedua tanganku, aku nanti angsurkan Giehoo- toan kcpadamu. Umpama kau yang kalah, bagaimana?”

“Jikalau aku kalah, dengan kedua tanganku, aku nanti serahkan Touw Kanlouw,” sahut orang tua itu.

Thiebian Sieseng tertawa, ia lantas bertindak ke medan. “Perkataan kita telah menjadi penetapan, secara begini

aku nanti terima peiajaran dari kau,” ia bilang. “Senjataku

adalah ini kipasku. Kau sendiri, kau hendak pilih senjata atau tidak?”

Orang tua kate-kurus itu menghampirkan. “Gegamanku juga ini tongkatku,” ia menyahuti. “Untuk

mengajar anak-cucuku, aku gunai tongkat ini, demikian di

waktu bertempur, aku gunai ini juga, tidak ada harganya untuk memilih lain senjata!”

Siangkoan Kin telah sampai di medan di mana dengan tiba- tiba ia putar tubuhnya.

“Sudah, jangan mainkan lidah!” ia berseru. “Silakan keluarkan kepandaian kau!”

Si orang tua berlompat maju, akan mendekati. “Menghunjuk hormat adalah tak terlebih sopan daripada

menerima perintah,” kata ia sambil tertawa, sambil manggut.

Thiebian Sieseng, kau awaslah untuk menyambut scrangan!”

Dengan “Taypeng tiantjie” atau “Burung garuda pentang sayap”, or•ang tua itu membabat pinggang dengan tongkatnya, senjata itu sambil perdengarkan suara angin yang nyaring.

“Bagus!” berseru si Mahasiswa Muka Bcsi seraya ia berloncat, hingga tongkat lewat di bawahan kakinya. Tubuhnya seperti ada di tengah udara, tetapi tangannya tidak diam saja, dengan kipasnya, dengan tipu “Pekhong koandjit”, atau “Bianglala putih menggelung matahari”, ia totok jalan darah “Hoakay-hiat”.

Si orang tua egos kepalanya, berbareng dengan itu, ia teruskan tongkatnya, untuk menyodok orang punya perut di bagian jalan darah “Tanthian-hiat”. Dengan ini cara, ia pun berbareng menangkis kipas lawan.,

Siangkoan Kin lompat, sebelah kakinya menjejak ujung tongkat, dengan itu jalan ia menekan, hingga tubuhnya terus mencelat tinggi, loncat melewati si orang tua.

Orang tua itu segera putar tubuhnya, tidak tunggu sampai sudah melihat nyata, ia terus menyerang ke arah belakang, tubuhnya dimajukan, untuk merangsang.

Thiebian Sieseng telah perlihatkan keentengan tubuhnya, tapi karena gerakan ini, ia kena didesak. Bcgitulah ujung tongkat mengarah kakinya. Atas ini, ia taruh tubuhnya, tangan kirinya menangkis, kaki kanannya maju, menyusul mana, kipasnya mencari jalan darah “Kintjeng-hiat” di pundak lawan.

Orang tua itu berkelit sambil berseru, tetapi dia bukannya mundur, hanya dari samping, ia balas menyerang sambil berseru pula: “Kena!” Gcrakannyaini ada gesit sekali, tujuannya adalah muka. Dia telah berseru, karena dia mengira, kecepatannya ada istimewa dan musuh tak bakal lolos.

Thiebian Sieseng tidak kalah gesitnya, dalam keadaan sulit seperti itu, ia masih sempat mengegos tubuh, lalu dengan satu gerakan Ngoheng-kiam, ia pakai kipasnya untuk membabat lengan orang. Dan pihak penyerang, si orang tua jadi pihak terserang, tapi ia tidak gentar dengan ancaman babatan kipas itu. Malah ia pun tidak mundur atau berkelit, dengan berani ia menusuk jalan darah orang “Kieboen-hiat”.

Insyaf pada bahaya, Siangkoan Kin loncat mundur, hingga dengan demikian, si orang tua pun jadi lolos dari bahaya

Mereka berdua adalah tandingan setimpal, dua-duanya mengerti ilmu menotok jalan darah. Cuma sebentar saja mereka renggangkan diri, lantas mereka merangsang pula, mendekati satu pada lain, akan lanjuti pertempuran mereka. Sekarang, walaupun mereka saling menyerang, keduanya sama-sama waspada terhadap pembelaan diri. Kipasnya si mahasiswa bergerak tanpa juntrungan, tempo-tempo scbagai alat penotok, di Iain saat bagaikan pedang saja, tapi semua arah adalah jalan darah. Di sebelah ia, demikian juga si orang tua kate-kurus dengan tongkatnya

Semua hadirin di ruangan itu menjadi kagum, apa pula berselang sctengah jam, kedua pihak masih sama unggulnya. Mereka semua menonton dengan ternganga.

Kedua pihak yang lagi berkelahi juga berkelahi sambil mengasah otak.

“Benar-benar dia wariskan kepandaiannya Soekong Tjiauw,” pilar si orang tua “Dia belum berumur empat puluh tahun, dia sudah begini liehay….” .

“Drang tua ini liehay sekali,” Siangkoan Kin pun berpikir. “Di scbclah ilmu silatnya, dia pandai Tiamhiat-hoat. Siapakah dia? Dia sudah berusia lanjut. mengapa aku belum pemah dengar ten tang dia?”

Memang juga, Thiebian Sieseng tetap tidak mengetahui siapa musuh ‘ tua yang liehay ini, hingga ia mesti berkelahi dengan sungguh-sungguh. Lagi tiga puluh jurus telah lewat tatkala Siangkoan Kin, dalam penasarannya, perdengarkan scruan panjang, yang disusul sama serangannya yang seru, hingga ia nampaknya jadi gesit luar biasa, kipasnya mencari dengan bengis jalan darah orang. gerakannya mirip dengan walet menyambar gelombang atau garuda menerkam kelinci.

Si orang tua juga melayani dengan sungguh-sungguh, gerakannya jadi tidak kurang gesitnya, akan tetapi sekali ini, belum terlalu lama, pcrubahan mulai nampak. Yaitu si orang tua, dengan pelahan-lahan, mulai terdesak. agaknya ia repot berkelit atau menangkis, sebab lawannya berkelebatan di kiri dan kanannya.

Orang-orang Toatoo-hwee juga lihat pcrubahan itu, mereka terkejut, diam-diam mereka segera siapkan senjatanya masing-masing, begitupun pelbagai senjata rahasia mereka, hingga sekarang mereka tinggal menanti ketika akan turun tangan, untuk bantu kawan itu. 

Beberapa jurus masih dilewatkanj apabila kemudian, dengan sckonyong-konyong Siangkoan Kin perdengarkan pula seruannya, yang nyaring: “Awas!”

Menyusul seruan itu, si orang tua kate-kurus berkelit, tubuhnya sempoyongan beberapa tindak. Dan justru itu, pelbagai senjata rahasia lantas saja menyambar saling susul ke arah Siangkoan Kin!

Seperti juga orang yang telah dapat menduga terlebih dahulu, tubuhnya Siangkoan Kin sudah mencelat begitu lekas ia bikin lawannya sempoyongan. la telah desak si orang tua, kipasnya mencari jalan darah orang. Si orang tua bisa loloskan diri dari bahaya cuma sambil berkelit dan menangkis, tetapi karena ini, kipas lawan mengenai lengan kanannya yang dipakai menangkis itu, karena mana, tubuhnya jadi tidak dapat imbangan pula. Thiebian Sieseng bukan mencelat ke belakang atau ke samping, hanya ke depan, begitu tinggi dan jauh, ia telah loncati kepalanya beberapa hadirin yang ada menjadi tauwbak atau pemimpin sebawahan dari rombongannya si orang tua kate-kurus itu, dengan begitu, ia jadi luput dari serangan- serangan curang. Ia pun tidak berhcnti dengan sekali loncat melesat saja. Dengan bengis ia robek bajunya yang gerombongan, dengan tangan kirinya, ia mengibas terhadap dua serdadu pengawal pmtu, yang ia terus rubuhkan dengan totokannya. Kemudian, sesampainya di luar, ia loncat naik ke atas rumah. Masih ada senjata-senjata rahasia, yang menyambar kepadanya, karena orang menyusul mengejar keluar tetapi dengan robekan bajunya, ia saban-saban menyampok, membikin pelbagai senjata itu meluruh jatuh ke tanah.

Benar di saat Thiebian Sieseng sampai di luar benteng, si orang tua sudah menyusul padanya.

Muridnya Soekong Tjiauw tidak sudi layani musuh itu, ia lari terus. Ia sengaja ambil jalanan yang bukan jalanan, yang  lebat dengan pepohonan dan sukar; dalam tempo yang pendek. ia telah lewatkan beberapa pos penjagaan dan tanjakan. Oleh karena kegesitannya, ia bikin pengejarnyapun, yang pun liehay sekali, kctinggalan di belakang ia kira-kira tujuh tumbak.

“Bangsat, hentikan tindakanmu!” Thiebian Sieseng membentak apabila ia saksikan orang masih ngotot, mengejar ia. “Kau sudah kalah, kau langgar janji kita! Bagaimana kau berani bokong aku? Jikalau kau tetap masih kejar aku, nanti terpaksa aku tak dapat berlaku sungkan-sungkan lagi!”

Si orang tua tidak jawab teguran itu, hanya ia perdengarkan seruan panjang dan keras sekali: “Shako, pegat dia!”

AKan tetapi, walaupun seruan itu mengagetkan burung- burung” dan menggetarkan rimba”, tidak ada penyahutannya, tidak ada bayangan sekalipun yang muncul, akan pegat Siangkoan Kin.

“Kau gunai akal, untuk bikin or•ang curiga dan bingung,” piker Thiebian Sieseng, yang terus gunai ketika selagi si orang tua hentikan tindakannya, ia loncat pula, melesat sampai jauh, apabila ia telah ulangi itu sampai tiga kali, ia lantas pisahkan diri jauh dari si orang tua, hingga di lam saat, ia bisa menghilangdari matanyasi pengejar. Siangkoan Kin telah memasuki daerah yang berbahaya dari tubir Seng Tjoe Gam, jalanan ada sangat tidak rata; di depan ia ada puncak yang tinggi menjulang langit,di samping ia ada jurang yang dalam. Pepohonan di situ juga sangat lebat Maka itu, kendatipun langit sudah mendekati tengah hari, sinar matahari tak sanggup menembusi cabang-cabang dan dedaunannya yang sarat. Melainkan di sana-sini saja, cahaya Batara Surya bisa juga menembus sedikit

Tanpa perdulikan jalanan yang sukar itu, Siangkoan Kin maju terus, untuk cari jalan keluar. Selagi ia lewati sebuah pohon, mendadak ia dengar suara tertawa aneh. seperti suaranya burung alas, hingga ia terperanjat, dan berpaling, tetapi berbareng dengan itu, satu bayangan orang, yang warnanya abu-abu, sudah berlompat kedepannya, gesitnya bagaikan melesatnya sebuah bintang, tahu-tahu bayangan itu menyerang padanya. Ia masih sempat lihat orang, ada memakai topeng.

Terkejut unluk itu macam serangan menggelap, Siangkoan Kin masih bisa gunai robekan bajunya untuk mcnangkis, di lain pihak, dengan kipasnya, ia barengi menyerang jalan darah “Kiauwim-hiat”.

Dengan mcncrbitkan satu suara yang nyaring, robekan bajunya Thiebian Sieseng kena dibikin pecah besar, menyusul mana, jari tangannya penyerang gelap itu menyambar ke tubuh sasarannya. Dalam kagetnya, Siangkoan Kin lompat berkelit, tapi ia segera disusul dengan berkelebatnya bebcrapa benda berkeredepan bagaikan bintang, dari mana ia tak sempat menyingkir pula, bingga ia mcrasakan kaku dan sakit, tapi karena ia tetap sadar, ia pun ayun tangannya, di mana telah siap scnjata gelap yang tadinya hendak dipakai menyerang si orang tua.

Penyerang gelap itu, yang bertopcng, terdengar tertawa aneh, tubuhnya lompat maju pula, akan tetapi gerakannya tidak lagi segesit tadi, malah begitu lekas kedua kakinya menginjak tanah, ia berkaok, ia menjerit “Aduh!” disusul sama rubuh tubuhnya!

Dalam hal ilmu entengi tubuh, penyerang gelap yang bertopcng itu terang ada iebih atas satu tingkat

daripada kepandaiannya Siangkoan Kin, maka itu justni ia muncul dari tempatnya Sembunyi secant di luar dugaan, tidak heran apabila ia berhasil dengan pembokongannya itu.

Siangkoan Kin scbaliknya sangat tangkas, dalam ancaman bahaya itu, ia masih sempat menangkis dengan kipasnya. Begitulah, kedua pihak sama-sama kena tcrserang, tetapi sama-sama juga mereka terluput dari bahaya maut langsung.

Penyerang gelap itu ada liehayj sckali, sudah tak berhasil dengan serangan dengan tangan, ia menyusul dengan scnjata rahasianya, dalam hal mana, ia peroleh hasil, tetapi di lain pihak, Thiebian Sieseng juga balas ia dengan scnjata rahasia. Maka mcrcka masing-masing mendapati sasaran mereka.

Karena totokan kipas, kegesitannya si pembokong ada jadi berkurang, ini lah sebab utama kenapa ia tak Iolos dari senjata rahasia.

Seumurnya, tidak biasanya Siangkoan Kin gunai scnjata rahasianya, kalau sekarang ia gunai itu, itu lah karena amat terpaksa. Laginya sangat kebetulan bagi ia, senjata rahasianya itu sebenarnya disediakan untuk si orang tua kate-kurus yang tingkah-lakunya menjemukan. Senjata rahasianya ada jarum Bweehoa Touwkoct-tjiam, cuma lebih besar sedikit daripada jarum biasa, tetapi ada jauh Iebih kecil bila dipadu dengan lainnya macam senjata rahasia. Jarum ini diperuntukkan menyerang jalan darah. Beruntun tiga kali, Siangkoan Kin menyerang dengan jarumnya itu, yang satu lolos, yang dua mengenai sasarannya.

Bukan main lega hatinya Siangkoan Kin apabila ia dengar lawannya menjerit dan rubuh, iabelum tahu siapa musuh itu, tapi karena orang curang, ia niat bikin habis jiwa orang- Begitulah ia paksa kuatkan diri, untuk hampirkan musuh itu, tetapi justru itu, ia rasai matanya berkunang-kunang, kepalanya pusing, tenaganya habis dengan tiba-tiba, tubuhnya terguling. Menyusul itu, ia segera dengar pertanyaan keras dari si orang tua tadi: “Shako, apa kau sudah berhasil?” .

Suara itu datangnya dari luar rimba, terang si orang tua lagi mendatangi.

Thiebian Sieseng kaget, hatinya mencelos. Karena ia tetap sadar, dengan tiba-tiba, ia empos semangatnya, ia kumpul sisa tenaganya, tetapi sebab ia tidak mampu berbangkit, terpaksa ia gulingkan tubuhnya, hingga di lain saat, ia telah jatuh bergelindingan ke dalam jurang, apabila ia rasai tubuhnya terbanting, sakitnya bukan kepalang, lantas ia tak sadar akan dirinya.

Berapa lama ia pingsan, Siangkoan Kin tidak ingat, ia tahu ia telah jaga, ketika hidungnya dapat cium bau harum yang halus, yang membikin perasaannya lega, apabila ia geraki tubuhnya, ia pun dapat kenyataan ia sedang rebah atas kasur yang empuk dan hawanya hangat. Ia berada di atas pembaringan, di dalam kelambu kembang serta di atas seprei bersulam…. Ia jadi terperanjat, ia geraki kedua tangannya, akan singkap kelambu, akan memandang ke sekitamya.

Segera ia tampak suatu kamar yang terperabot lengkap dan indah, ialah kamarnya seorang perempuan! Di atas meja di mana ada pedupaan ada juga bunga segar. Di tembok ada tergantung sebuah khim. Di samping tembok ada satu meja rias lengkap dengan kacanya. Jendela, yang mcmakai kaca, menerbitkan smar terang. Di kedua daun jendela ada sepasang Han yang indah tulisannya. bagus artinya.

lnilah sepasang lian itu:

Dengan hati tawar mengantari matahari dan rembulan, Dengan hati sepi memandang orang satu zaman.

Diam-diam si mahasiswa kepalang memuji dalam hatinya, kepalanya dimanggut-mangguti.

“Mesti ini kamarnya satu siotjia…” pikir ia. “Atau dia satu nyonya muda yang terpelajar…”

Melihat semua itu, Siangkoan Kin sangsi apa ia bukannya sedang mimpi. Ia terus rebah, sambil melamun terus.

Tiba-tiba kesunyiannya sang kamar terganggu oleh suara bunyinya gelang, lantas moeilie tersingkap, disitu, berbareng sama bau wangi. muncul satunyonya muda yang elok sekali, umurnya mendekati tiga puluh tahun, dia nampaknya seperti satu gadis remaja saja. 

Siangkoan Kin gigit satu jari langannya. ia merasakan sakit. Nyonya itu bertindak menghampirkan dengan perlahan-

lahan, air mukanya bercahaya dengan senyuman berseri-seri.

“Telah dua hari kau pingsan, maka janganlah kau bergerak,” katanya dengan man is. suaranya merdu. “Beristirahatlah lagi beberapa hari, setelah itu baharu kau boleh bangkiL…” Ia lantas hampirkan meja, akan isikan sebuah cangkir teh, yang mana ia sodorkan padasi mahasiswa. “Kau minum ini teh In-boe dari Koen San. teh ini akan bantu menyegarkan padamu.’”

Siangkoan Kin sambuti cawan itu, ia menghirup sampai dua kali, Ia sampai lupa mengucapkan terima kasih, karena segera ia tanya: “Kau siapa, Nyonya? Apakah lian di jendela itu ada buah kalam kau sendiri”..v

Nyonya muda itu tertawa, hingga tertampaklah sepasang sujennya.

Tak kecewa kau menjadi satu anak sekolah, Sianseng!” berkata ia dengan jawabannya. “Baharu kau tersadar, laotas kau omong perihal lian Ya, benar, itu adaiah tulisanku sendiri. Ada apakah yang aneh?” Ditanya begitu, Siangkoan Kin jadi ternganga.

“Sejak suami menutup mata, demikianlah ada perasaan hatiku, sepi sunyi…” si nyonya tambahkan. Itu lian memang ada menyebut hal kesunyian hidup, hal lewatnya sang hari dan bulan….

Siangkoan Kin terkejut

“Oh, kau pernah punyakan suami?” ia tanya. Nyonya itu tertawa geli.

Thiebian Sieseng insyaf ia sudah kesalahan omong, ia jadi jengah hingga mukanya menjadi merah. Ia berlega hati orang tidak gusar.

VIII

Dengan toapan, nyonya itu ambil tempat duduk di depan si mahasiswa.

“Apakah yang kau anggap aneh, Sianseng?” ia tanya sambil bersenyum. “Suamiku telah meninggai dunia sejak beberapa tahun yang lalu. Aku harap Sianseng tidak berpendapat bahwa aku tak tahu malu. Jangan kita sebut- sebut orang alami purbakala, ambil saja yang terdekat Lihatlah Aug Soan Kiauw, Siauw Sam Nio dan lainnya, apa mereka pun bukannya pernah jadi janda, tetapi yang sanggup mclakukan sesuatu apa yang menggemparkan?” Siangkoan Kin tcrtarik hatinya. Ia mulanya sangka si nyonya ada sebangsa Lie Tjeng Tjiauw dan Tjoe Siok Tjin, tidak tahunya dia adaiah sebangsa pendekar-pendekar wanita dari Thaypeng Thiankok. Karena ini, ia mengawasi sambil ternganga.

“Sianseng tentu kenal Lie Tjeng Tjiauw dari Zaman Song,” nyonya itu melanjuti. “Pandangannya Lie Tjeng Tjiauw terlalu tinggi, scdikit sasterawan di zamannya, yang ia hargakan. Akli tak dapat dibanding dengan Lie Tjeng Tjiauw, tetapi aku pun tawar melihat orang-orang Kangouw di zaman ini. Inilah sebabnya aku tulis syairku itu. Begitu sadar, kau tanya hal syairku itu, Sianseng, apakah itu disebabkan kau anggap aku terlalu tinggi?”

Thiebian Sieseng kecewa mendengar anggapannya nyonya ini, yang memandang enteng kaum Kangouw.

“Kalau begitu, kenapa kau tolongi aku?” ia lalu tanya. Ditanya begitu, si nyonya tertawa tanpa merasa.

“Untuk tolong satu orang, apa perlu ditanya dahulu dia ada satu enghiong atau bukan?” ia balik tanya. “Ditanya dengan menolong kau, aku bukannya menolong secara sembrono.

Iniiah sebab aku tahu kau bukannya seorang busuk!”

Jawaban ini ada menarik hati, kegembiraannya si mahasiswa timbul dengan tiba-tiba.

“Kita orang tidak kenal satu sama lain, cara bagaimana kau ketahui hal diriku?” ia tanya. Ia mengira si nyonya ketahui ia ada Thiebian Sieseng dan karenanya ia ditolong.

Nyonya itu kembali tertawa.

“Itulah sebab aku dapat lihat kipasmu dan pada kipasirm itu ada tulisannya Ek-ong,” dia jawab. “Jikalau kau seorang busuk, cara bagaimana kau bisa punyakan kipas semacam itu?” Jawaban mi membuat Siangkoan Kin melengak puia. Nyonya itu minum teh satu teguk, lantas ia bersenyum. “Kau telah terkena senjata rahasia yang beracun,” ia kata

pula. “Kau telah jatuh ke dalam jurang. Syukur untukmu,

cabang pohon telah menampa tubuhmu, hingga kau tidak sampai jatuh ke tanah dan remuk karenanya. Lebih beruntung lagi, aku kebetulan mengerti obat untuk punahkan racun, dari itu jiwamu jadi ketolongan. Hanya satu hal membuat aku heran. Kau bukannya seorang penjahat, mengapa kau berseteru dengan kita pihak Toatoo-hwee?”

Siangkoan Kin terperanjat, sampai hampir ia berjingkrak bangun.

“Kau sebenarnya siapa?” ia tanya Orang toh sebutkan dirinya “orang Toatoo-hwee”.

“Aku?” jawab si nyonya, dengan suara sungguh-sungguh, jawabannya pun dibcrikan dengan segera. “Aku ada Tjong- tauwbak dari tangsi wanita dari Toatoo-hweel”

Siangkoan Kin kaget tak terkira, karena baharu ia lolos dari mulut harimau, sekarang ia berada di kedung naga, scdang ia lagi sakitdan tak punya tenaga sama sekali. Akan tetapi ia dapat kendalikan diri. Ia mau pasrah kepada Thian. Lantas ia jadi tenang sendirinya.

“Jikalau begitu, kenapa kau tidak kirim aku pada Ong Tjoe Beng?” ia tegaskan.

Nyonya muda itu tertawa.

“Sebelum aku ketahui jelas tentang dirimu, cara bagaimanabisa aku lantas kirim kau pada Ong Tjoe Beng?” ia bilang. “Coba kau terangkan padaku, bukankah kau ada utusannya Giehoo-toan?” Siangkoan Kin sudah pasrah kepada nasib, ia tidak mau mendusta, maka ia pun tuturkan tugasnya, yang dibenkan olch Tjoe Hong Teng.

“Hanya aku menyesal, aku kecewa tak dapat jalankan tugas itu,” kata ia akhirnya.

Keterangan Thicbian Sieseng ada bcrharga, karena nyonya itu jadi dapat tahu Tjoe Hong Teng ada orang dari golongan apa. Ia manggut.

“Dengan begitu nyatalah Tjoe Hong Teng ada scorang besar,” ia nyatakan.

“Tentang dinku, aku sudah tuturkan semua,” kemudian Siangkoan Kin balik tanya. “Sekarang apa kau suka beritahukan aku sedikit perihal kau scndiri? Umpama nama kau aku masih belum tahu….”

“Apakah kau pernah dengar namanya Touw Tjin Nio?” itu nyonya tanya.

“Oh, kiranya kau ada Losat-lie Touw Tjin Nio?” kata Siangkoan Kin, dengan sikap menghormat. Ia sampai bangun untuk berdiri. Ia tahu tujuh atau delapan tahun yang lalu, dalam kalangan Kangouw, ada pasangan Bok Thian Bin dan Touw Tjin Nio, kedua kesohor dan bersahabat rapat dengan Ong Tjoe Beng, belakangan Bok Thian Bin dibokong musuhnya, lukanya tak keburu diobati, ia menutup mata.

Touw Tjin Nio sudah menuntut balas untuk suaminya, habis itu, ia menghilang dari dunia Kangouw. Ia tidak sangka, nyonya ini adalah nyonya gagah itu.

Touw Tjin Nio manggut, lalu ia menambah penjelasah tentang dirinya.

Bok Thian Bin tidak melainkan sahabatnya Ong Tjoe Beng, dia adalah saiidara angkatnya Ketua Toatoo-hwee itu. Setelah Bok Thian Bin menutup mata, Touw Tjin Nio lantas bantui Ong Tjoe Beng mendidik pasukan perang wanita Toatoo-hwee. Karena ini, ia tidak lagi hidup merantau. Ong Tjoe Beng ada satu hoohan, tapi ia tctap tak bebas dari sifatnya kebanyakan pemimpin pcrkumpulan rahasia, pandangannya kurang jauh, hatinya kurang lapang. Ia tidak taruh kepercayaan besar kepada orang perempuan. Ketika mulanya ia bangunkan pasukan wanita, maksudnya adalah untuk bikin tetap dan tenang hatinya sckalian anggota, agar tak ada perbedaan antara hak lelaki dan perempuan. Tapi Touw Tjin Nio bisa buktikan dirinya berharga. Sejak ia yang pimpin, barisan wanita Toatoo-hwee jadi maju dan rapi. Markasnya adalah di puncak utara dari Seng Tjoe San. Kemudian Touw Tjin Nio lihat apa-apa yang tidak mencocoki dia dalam dirinya Ong  Tjoe Beng, umpama mengenai siasatnya ketua itu terhadap Giehoo-toan. Itu hari Tjin Nio meronda ketika dengan kebetulan ia dapati Siangkoan Kin pingsan di cabang pohon di dalam lembah, ia pun lihat kipas dengan tulisan Ek-Ong Tjio Tat Kay, ia menduga siapa adanya ini mahasiswa, yang terluka parah, tidak sangsi-sangsi lagi, ia bawa orang ke markasnya, untuk ditolongi.

Kapan Siangkoan Kintelah dengar itu penjelasan, lagi sekali ia haturkan tcrima kasihnya.

Habis itu Touw Tjin Nio tanyakan jalannya pertempuran si mahasiswa dengan si orang tua kate-kurus, bagaimana ia dibokong oleh scorang tidak’ dikenal, yang memakai topeng.

“Kembali dial” kata Tjin Nio sambil kerutkan alis. “Mesti ada apa-apa..,.”

“Apakah Nyonya kenal mereka itu?” Siangkoan Kin tanya. “Kenapa mereka demikian jumawa? Mereka ada punya kepandaian luar biasa.”

Ditanya begitu, nyonya muda itu berpikir keras. . “Orang tua kate-kurus itu baharu tahun yang sudah

datang kepada Toatoo-hwee,” ia jawab kemudian. ‘Tidak ada

orang yang ketahui hal-ihwalnya, yang terang adalah dia pandai bekerja, ilmu silatnya tinggi, pengalamannya luas, terhadap Tjong-totjoe, dia sangat memerlukan, hingga dengan lekas, segala kata-katanya senantiasa diturut. Dia telah perkenalkan beberapa orang lain, yang sekarang semuanya telah jadi toa-tauwbak.” 

Siangkoan Kin berdiam berhubung dengan keterangan itu. “Ong Tjoe Beng ada berkepala besar, dia biasa ambil

putusan scndiri,” kata pula Tjin Nio kemudian, “sekarang telah datang itu beberapa orang, aku kuatir di belakang hari mereka bakal jadi biang bencana….”

Siangkoan Kin dengari saja, ia terus diam.

Berdua mereka duduk berhadapan. sampai sekian lama.

“Apakah kamar ini kamarmu sendiri?” tiba-tiba Thicbian Sieseng tanya, dengan rada likat, hingga kata-katanya pun kurang lancar. “Sebenarnya cukup kau perintah dua orang untuk layani aku. Aku jadi bikin kau banyak susah….”

Nyonya manis itu tersenyum.

“Kenapa kau pun berpandangan sebagai orang biasa saja?” tanya dia. “Jantan dan wanita toh sama saja, bukan? Memang kamar ini ada kamarku sendiri, perabotannya lumayan saja. Kau terluka, kau perlu benstirahat, maka itu, aku mengalah kasih kamar ini padamu, dalam tangsiku, melainkan aku seorang yang mengerti obat dan perawatan orang yang terluka senjata beracun, maka itu, apabiia bukan aku, siapa lagi bisa rawati kau? Juga kau sckarang ada musuhnya Toatoo-hwee, aku telah tolong kau, dan itu, kecuaii beberapa orang kepercayaanku, siapa pun aku tak nanti izinkan dia ketahui tentang halmu ini. Apabiia rahasia sampai di kupingnya Ong Tjoe Beng, sungguh berbahaya untuk kau. Kau tinggal di sini dengan tenang, aku percaya, iagi setengah bulan, kau bakal sembuh. Jangan kau pikiri yang tidak- tidak….” Touw Tjin Nio tertawa pula, kemudian ia bcrbangkit, untuk singkap moeilie, akan bcrlalu dari kamamya itu di mana masih ketinggaian baunya yang harum semerbak….

Kusut pikirannya Siangkoan Kin. Ia sudah merantau tetapi belum pernah ia ketemu satu nyonya muda yang demikian cantik dan ramah-tamah, yang toapan sekali. Sampai umur hampir empat puluh tahun, belum pernah ia memikir tentang orang perempuan, tapi bertemu sama Tjin Nio sckarang, pikirannya melayang-layang, tanpa merasa, ia ketarik pada si nyonya manis. Tapi segera ia damprat dirinya sendiri.

“Orang ada demikian sopan-santun, mengapa kau pikir yang bukan-bukan terhadap dirinya! Apakah dengan timbulnya pikiranmu ini, kau masih bisa namakan dirimu satu orang gagah? Apakah kau tidak bakal terbitkan tertawaan orang?”

Ingat ini, Thiebian Sieseng bisa tenangkan diri, maka dengan tenteram juga ia bisa berdiam terus di dalam kamar yang indah itu.

Kadang-kadang Tjin Nio datang, untuk pasang omong, perihal ilmu sastera, tentang ilmu silat, hingga berdua mereka lantas saja menjadi sahabat-sahabat kekal, karena temyata, pendapat mereka ada cocok satu dengan lain, kegemaran mereka pun sama. Pelahan-lahan, bayangannya si nyonya senantiasa memain di depan matanya si mahasiswa, sukar baginya untuk halau itu….

Tanpa merasa, setengah bulan telah lewat. Benar seperti dugaan Tjin Nio, si Mahasiswa Muka Besi sembuh dari lukanya. Walaupun demikian, si nyonya muda masih larang dia munculkan diri, apapula di waktu siang. Tapi dia telah coba tenaganya, dia rasakan kesehatannya sudah pulih seluruhnya, maka itu pada suatu hari dia nyatakan bahwa besok dia hendak berlalu secara diam-diam.

“Ya, kau boleh lakukan itu,” Tjin Nio berikan perkenan. Malam itu, malam dari besoknya mereka bakal berpisahan, Siangkoan Kin sukar meramkan matanya, ia tak dapat pulas, pikirannya bckerja, ia senantiasa bimbang. Untuk tenangkan diri, ia coba nyanyikan satu syair.

Baharu Thiebian Sieseng berhenti menyanyi atau dari luar jendela ia dengar suara tertawa pelahan disusul sama kata- kata: “Sungguh berbahagia, di saat mcnghadapi ancaman malapetaka masih bisa bersyair….” Suara itu ia kenal baik sekali. Maka ia jadi terperanjat berbareng girang, hingga ia mencelat bangun dari kursinya.

“Ah, kenapa kau bisa datang kemari?” ia tanya seraya berseru.

Pertanyaan itu belum habis diucapkan, atau daun jendela telah tertolak terpentang, dari luar segera loncat masuk beberapa orang. Yang jalan di depan ada scorang yang romannya gagah, ialah Tjoe Hong Teng, Ketua dari Giehoo- toan!

Ketua ini masuk sambil tertawa. Di belakangnya, ada tiga orang, di antara siapa, dua orang yang Siangkoan Kin tidak kenal, akan tetapi ia bisa duga bahwa orang bukannya orang sembarangan.

Orang pertama setelah Ketua Giehoo-toan ada scorang tua dengan kumis ubanan bagaikan perak, usianya sudah lanjut, akan tetapi kesehatannya scmpurna. Thiebian Sieseng kenali orang tua ini ialah Thaykek Tan, kepada siapa ia pernah dititipkan Soekong Tjiauw di saat pertama kali ia mulai merantau, hingga keduanya, walaupun ini adalah pertemuan yang pertama kali, toh seperti sudah bersahabat lama.

Urang yang kedua, mukanya merah, alisnya gomplok, matanya besar, berumur hampir lima puluh dan yang ketiga, bajunya gerombongan, pun ada seorang tua. Dua-dua mereka ini ia tidak kenal, tapi setelah Tjoe Hong Teng memperkenalkannya, mereka temyata ada Boesoe Han Koei Liong dari Liangouw dan Tjian Djie Sianseng, Ketua dari Golongan Ilmu Silat Ouwtiap-tjiang, Tangan Kupu-kupu. Yang belakangan ini lebih ternama lagi daripada guru silat dari Liangouw itu.

Dua-dua jago itu, Siangkoan Kin pernah dengar namanya, tapi baharu hari ini ia dapat bertemu dengan mereka. Kalau Han Koei Liong bersenjatakan gaetan Ginhoa Bandjie-toat, adalah Tjian Djie Sianseng tidak punyakan senjata apa juga, sebab dia senantiasa andali tangan kosongnya! Nyatalah Thaykek Tan, setelah ia sambangi Han Koei Liong, sudah lantas menuju ke Anpeng, di mana mereka mengunjungi Tjoe Hong Teng, kebetulan sekali, Tjian Djie Sianseng pun baharu sampai, maka jumlah mereka jadi berempat Sebenarnya  masih ada beberapa orang yang harus ditunggu, tetapi anggap jumlah mereka sudah cukup, Ketua Giehoo-toan lantas ajak tiga kawan itu berangkat. Laginya mereka pun hendak terlebih dahulu melakukan penyelidikan kenapa Thiebian Sieseng  lenyap dan ke mana lenyapnya, setelah itu, baharulah mereka hendak ambil tindakan terhadap Toatoo- hwee, untuk mcncari penyeiesaian. Telah temyata, sejak hilangnya Siangkoan Kin, Toatoo-hwee bersikap semakin garang.

Semasa htdupnya Bok Thian Bin, suaminya Touw Tjin Nio, Han Koei Liang bcrsahabat kekal dengannya, malah pcrnah satu kali, setelah Thian Bin menutup mata, ia sambangi janda itu. Karena ini, Han Koei Liong kctahui, Tjin Nio ada jadi tjong- tauwbak, pemimpin umum, dari barisan wanita dan Toatoo- hwee. Hal aneh telah ditemui mereka berempat selagi mereka bikin penyelidikan di Sengtjoe-gam, sebab mana Han Koei Liong utarakan pikiran akan lihat dulu Tjin Nio, guna mohon keterangan. Koei Liong percaya, walaupun Tjin Nio ada di pihak Ong Tjoe Beng, tidak nanti nyonya itu jual mereka, apapula mereka pun mau datang dengan secara beraturan. Demikian sudah terjadi, kapan Han Koei Liong telah bertemu sama Touw Tjin Nio, nyonya itu sambut mereka dengan manis, setelah mana, Nyonya Bok juga sampaikan warta mengagetkan-menggirangkan kepada mereka, ialah tentang adanya Siangkoan Kin di dalam markasnya sedang berobat. Inilah warta yang mereka harap-harap.

Setelah itu, Tjoe Hong Teng berempat menuju ke kamarnya Siangkoan Kin, lebih dahulu mereka memasang kuping, lantaran mana, mereka jadi dengar nyanyiannya si Mahasiswa, hingga mereka lantas menggoda.

Selaginya memberikan keterangan, dengan menggoda, sambil tertawa. Ketua Giehoo-toan tambahkan: “Aku-lihat, dengan beristirahat di sini, kau seperti lupa rumah tangga! Kalau tidak, mengapa sedikit warta juga kau tidak kasih molos keluar?”

Siangkoan Kin jengah, ia hendak membantah, tetapi belum sempat ia buka mulut, di luar kamar sudah terdengar suara tertawa geli disusul sama tersingkapnya moeilie, lalu Tjin Nio muncul bersama dua serdadu perempuan pengawalnya yang ia percaya. Nyonya ini pun kata: “Kau orang mirip dengan bocah-bocah cilik saja! Lihat, begitu bertemu, kau orang-orang sudah kegirangan begini rupa!….” Kemudian, setelah perintah pengiringnya menyuguhkan teh, ia tambahkan: “Di waktu malam yang dingin, kalau tetamu datang, dia harus disuguhkan arak, akan tetapi sekarang, silakan kau orang minum teh pahit saja!”

Tjoe Hong Teng tak leluasa mendengar kata-katanya nyonya rumah itu yang toapan dan ramah-tamah.

Tapi Siangkoan Kin ingat keterangan kawannya barusan, perihal pengalamannya yang katanya luar biasa tadi, ia lantas tanyakan itu pada Tjoe Hong Teng.

Ketua Giehoo-toan itu tidak segera jawab sahabatnya ini, ia hanya tanya dahulu pada Touw Tjin Nio, kalau-kalau si nyonya ketahui siapa adanya scorang tua kate-kurus serta beberapa kawannya. Mereka itu, katanya, tadi sudah memancing dia orang.

Siangkoan Kin tidak mengerti, ia pasang kuping saja. Touw Tjin Nio berikan jawaban pada Tjoe Hong Teng,

sebelum ketua ini bilang apa-apa, Tjian Djie Sianseng telah

berlompat bangun sambil keprak meja dan berseru: “Nah, apa aku kata! Benar-benar mataku belum Iamur, betul-betul mereka ada itu dua binatang!”

“Siapakah mereka?” tanya Siangkoan Kin, yang hatinya sangat tergerak.

“Apakah kau kenal See Beng Wan?” Tjian Djie Sianseng balik tanya.

“See Beng Wan?” Lantas saja Thiebian Sieseng mclcngak.

Segera ia ingat kcjadian itu ketika pertama kali ia ikut gurunya, Poei Hok Han, pergi ke Seegak Hoa-san, untuk cari Soekong Tjiauw, di sana ia saksikan Soekong Tjiauw asyik dikepung tiga pahlawan Boantjioe, bagaimana Sim Djie Sinnie muncul dan hajar tiga pahlawan itu, hingga dua antaranya terbinasa dan yang ketiga kabur. Dan orang yang ketiga ini, turut gurunya, adalah Tjianlie Twiehong See Beng Wan. Ketika itu, ia tidak lihat jelas orang itu, ia ingat samar-samar, maka menurut rasanya, si orang tua kate-Kurus tak mirip dengan si orang she See itu.

“Aku tahu See Beng Wan itu,” ia kata pada Tjian Djie Sianseng. “Si orang tua kate-kurus bukannya dia. Aku tahu, See Beng Wan ada terlebih kosen daripada si orang tua kate- kurus itu. Jikalau dia ada di dalam Toatoo-hwee, mengapa dia tidak muncul akan ketemui sendiri padaku?”

Tjian Djie Sianseng, ketua Ouwtiap-tjiang, urut-urut kumis jenggotnya. “Memang si orang tua kate-kurus bukannya See Beng Wan,” kata ketua ini. “Aku percaya, See Beng Wan itu pcrnah bertempur dengan kau. Mcnurut dugaanku, orang yang bertopeng yang bokong kau, sembilan dalam sepuluh, dialah adanya! Kenapa dia pakai kedok? Past ilah dia kuatir kau nanti kenali padanya!”

Siangkoan Kin manggut. Lantas ia tanya Tjoe Hong Teng, apa ini adalah urusan yang ketua itu anggap aneh.

Tjoe Hong Teng manggut la lantas minta Tjian Djie Sianseng yang tuturkan pengalaman mereka.

Menurut keterangan Ketua Ouwtiap-tjiang, mereka datang berempat dan lantas memecah dirt dalam empat jurusan, jikalau perlu, mereka akan saling memben tanda. Tcrutama mereka jaga akan tidak berpisahan terlalu jauh satu dengan lain. Ketika Tjian Djie Sianseng baharu sampai di mulut Sengtjoe-gam, scgcra satu bayangan abu-abu muncul di depannya, bayangan itu gcsit luar| biasa; di dalam kaum Kangouw, langka orang dengan kcgcsitan sebagai itu. Tjian Djie Sianscng tidak mau perlihatkan diri, maka itu, ia tidak kasih dirinya berhadapan muka dengan dia itu, akan saban- saban jauhkan diri. Dalam hal ini, Tjian Djie Sianscng ada liehay sekali. Golongannya pun ada Ouwtiap-tjiang, Ahli Silat Kupu-kupu, tidak heran apabila ia gesit bagaikan binatang itu. Ketika ia yakin ilmu kegesitan mi, ia sengaja berlompatan di antara pohon-pohon bunga. Ia bergerak bagaikan cecapung memain di muka air, hingga sia-sia saja See Beng Wan hendak serang padanya, sampai bajunya saja, sukar untuk dilanggar. Berbareng dengan itu, Tjian Djie Sianseng seperti kenali ini bayangan abu-abu, karena pada tiga puluh tahun yang lalu, pernah ia ketemu sama Tjianlie Twiehong si Pengejar Angin.

Ia melayani sambil terus perdengarkan tanda, untuk kawan- kawannya undurkan diri. Tapi di

lain pihak See Beng Wan juga tahu diri, ia sudah lantas mundur sendirinya. Setelah Tjian Djie Sianseng mundur keluar mulut Tjoe Seng Gam, dimana ia lantas berkumpul sama tiga kawannya, nyata bahwa juga Thaykek Tan dirintangi oleh satu orang tua kate- kurus, siapa ia pukul mundur dengan ancaman tujuh batang Kimtihie-piauw. Orang tua itu dapat loloskan diri, sebab selain tahu diri, dia pun pandai mendengar dan membedakan angin senjata rahasia. Sesudah Thaykek Tan berikan penuturannya, Tjian Djie Sianseng lantas pastikan si orang bertopeng benar See Beng Wan adanya.

Siangkoan Kin heran, ia tegaskan Tjian Djie Sianseng kenapa Ketua Ouwtiap-tjiang baharu pastikan si orang bcrpakaian abu-abu itu See Beng Wan adanya setelah dia mengetahui halnya si orang tua kate-kurus.

Tjian Djie Sianseng tertawa, “Saudara Siangkoan, maafkan aku omong terus terang,” jawab ia. “Meskipun boegee Saudara ada liehay, akan tetapi usiamu masih muda, dari itu mengenai hal-ihwalnya See Beng Wan dan kawan-kawannya itu, kau masih belum ketahui jelas. Di waktu mudanya, mereka itu adalah cabang-cabang atas, disaat pengaruhnya Thaypeng Thiankok mulai merosot, mereka sebaliknya terpengaruh oleh kepangkatan dan nama, bukannya mereka persatukan diri dengan Kaum Thay Peng, mereka justru pergi berhamba kepada pemerintah Boan, mereka musuhkan Thaypeng Thiankok.

Demikianlah, ketika Thaypeng Thiankok runtuh, mereka telah diangkat jadi Tekteng Patouwlouw, boesoe atau pahlawan istimewa, yang tugasnya di dalam istana. Menurut cerita, jumlahnya Tekteng Patouwlouw itu ada delapan orang, tetapi sekarang ketmggalan lima lagi. di antara siapa ada See Beng Wan, pek Tjeng It serta Tang Siauw Tong.. Yang belakangan ini adalah pengkhianat bagi Thaypeng Thiankok. Mereka bertiga adalah yang orang-orang tua kaum Rimba persilatan  namakan Taylwee Samhiong atau tiga penjahat besar dari Istana Boan. Semua mereka sudah lama pisahkan diri dari kaum Kangouw, dari itu usia mcrcka sudah ada di atas lima puluh tahun, hingga kaum muda sekarang hampir tidak ada yang tahu tentang mereka. Si orang tua kate-kurus bukannya satu Tekteng Patouwlouw, akan tetapi dia pun ada wiesoe istimewa Istana Boan, kedudukannya melainkan lebih rendah setingk at dari pada See Beng Wan. Dia adalah adik tjintong dari See Beng Wan, namanya See Sioe Gie, diapun ada murid Keluarga Low yang kesohor dari Shoasay, cuma kalau See Beng Wan telah mewariskan bor SamlengTjouwkah-tjoei, See Sioe Gie utamakan tongkat Liongkoay-thung. Sang adik ada lebih rendah sedikit daripada engkonya itu. Dua-dua Saudara See itu aku pernah ketemukan, adalah karenamalam agak guram, aku cuma sangsikan See Beng Wan. Saudara Tan telah ketemui si orang

tua kate-kurus, aku percaya dia ada See Sioe Gie. Dengan See Sioe Gie ada di sini, tidak salah lagi, orang dengan pakaian abu-abu itu tentu See Beng Wan adanya. Gerakan tubuhnya yang pesat pun menunjukkan warisan dari Keluarga Low dari Shoasay.”

Siangkoan Kin cuma berpikir sebentar, lantas ia tertawa berkakakan.

“Tjian Djie Sianseng, aku kagum untuk penjelasan kau ini,” kata ia. “Akan tetapi, sebenamya, masih ada satu hal yang bagimu pun belum terang. Kau bilang bangsa Boan punya Tekteng Patouwlouw tinggai lima, di antaranya ada Pek Tjeng It dan Tang Siauw Tong, tapi menurut apa yang aku tahu, dua orang ini sudah mati sejak sebelas tahun yang lalu.” Tjian Djie Sianseng heran. “Cara bagaimana kau ketahui itu?” ia tegaskan.

- Siangkoan Kin menjawab dengan terangkan halnya tiga penjahat satroni Soekong Tjiauw di Hoa-san, tetapi mereka semuadihajar oleh Sim Djie Sinnie, hingga keduanya terbinasa dan See Beng Wan lolos. Mendengar ini, semua orang bersyukur. Tapi ketua Ouwtiap-tjiang lantas merasa tak enak sendirinya, karena barusan saja ia sombongkan usianya yang tinggi dan pendengaran banyak…. Touw Tjin Nio ada sangat eerdik, ia mengerti kelikatannya ketua itu, ia lantas campur bicara dengan simpangkan jurusan. Ia kata: “Kalau begitu dengan datangnya kemari dimana ia pun tak sudi perlihatkan mukanya, See Beng Wan itu mesti ada kandung maksud tersembunyi aku kuatir ttu bukanlah suatu alamat balk bagi Toatoo-hwee.”

Tjoe Hong Teng berpikir, kemudian tiba-tiba ia pentang kedua matanya, yang memperlihatkan sinar tajam. Tiba-tiba juga, iakeprak meja! Tidak saiah lagi, kesulitan di antara Toatoo-hwee dan Giehoo-toan juga tentu ada buatannya rombongan mereka itu!” ia berseru.

Tjian Djie Sianscng menduga benar, demikian juga Ketua Giehoo-toan itu.

Si orang tua bcrpakaian abu-abu dan si kate-kurus benar- benar ada See Beng Wan dan See Sioe Gie, dengan menerima tugas dari pemerintah Boan, mereka menyelundup masuk dalam Toatoo-hwee, untuk terbitkan kekusutan dalam perkumpulan rahasia ttu, kemudian mereka jadi cumi-cumi untuk adu dombakan Toatoo-hwee dengan Giehoo-toan..

Memangnya Ong Tjoe Beng tidak puas terhadap Giehoo-toan, dari itu, gampang ia kena dilagui. See Beng Wan liehay, licik, ia suruh si orang tua kate-kurus yang maju di muka, akan tempel Ong Tjoe Beng, lalu dengan pelahan-lahan. mereka menyelusupkan orang-orang mereka. Ia sendiri terus main di beiakang layar.

Ketika hari itu Siangkoan Kin datang, See Beng Wan sudah lantas dapat tahu, ia kenali murid dari Sockong Tjiauw, dari itu ia sungkan menemui secara berterang, ia sembunyi di beiakang kedok, ia majukan See Sioe Gie. Malah ia sengaja sembunyi di dalam rimbsu Dalam hal latihan, ia menangkan Siangkoan Kin, akan tetapi ia’tidak lihat mata akan muridnya Soekong Tjiauw, ia terlalu andalkan kegagahannya sendiri. Maka itu kesudahannya, walaupun ia berhasil mclukai Thicbian Sieseng, ia sendiri pun tidak luput dari senjata rahasia. Syukur untuk ia. ia ada satu ahli,, ketika iainsyaf terkena totokan jalan darah, segcra ia rebah sambil tahan jalan napasnya, sampai See Sioe Gie datang padanya, untuk uruti ia dengan ilmu “Twiehiat kweekiong”. Dengan begitu, ia jadi tertolong lebih ccpat daripada Siangkoan Kin. Dan untung buat Thicbian Sieseng, sebab See Sioe Gie repot tolongi kandanya, ia jadi tidak sampai dicari ubek-ubekan.

Berhubung dengan kedatangannya rombongan dari Tjoe Hong Teng setelah bentrokan tidak berarti, See Beng Wan dan See Sioe Gie undurkan diri. Mereka insyaf bahwa ini rombongan musuh pasti liehay semua. Dasar mereka ada bangsa ccrdik dan licik, lantas saja timbul kecurigaan mereka.

Puncak utara dari Sengtjoe-gam ada markasnya Touw Tjin Nio. Mereka tidak puas terhadap itu nyonya janda, kctua dari bansan wanita, sebab si nyonya tidak pemah kasih hati pada mereka. Sekarang pihak musuh: muncul dengan tiba-tiba, segera mereka curigai tjong-tauwbak perempuan itu. Mereka lantas bertukar pikiran, lantas mereka dapat suara pikiran busuk, karena mana, terus saja – malam-malam juga -mereka cari Ong Tjoe Beng.

Pada waktu itu, Tjoe Hong Teng beramai juga sudah lantas berembuk. Di mana sudah ada kepastian halnya dua Saudara she See itu, perlu mereka ambil tindakan.Telahdiambil putusan besok pagi, Tjoe Hong Teng akan bikin kunjungan resmi kepada Ong Tjoe Bcng, untuk bereskan persengketaan sambil berbareng bongkar rahasianya See Beng Wan. Mereka ingin ketahui, bagaimana nanti sikap atau putusannya Ong Tjoe Beng. Nyatalah pihak Giehoo-toan kalah sebat dalam hal tindakannya.

Besoknya pagi, belum Tjoe Hong Teng pergi, untuk bikiri kunjungan, malah baharu saja ia mendusin dari tidumya, atau Ong Tjoe Beng sudah mendahului datang cari dia. Memang malam itu, atas undangannya Touw Tjin Nio, mereka bermalam di markasnya Nyonya Janda Bok itu.

Dengan tiba-tiba terdengar suara berisik di luar markas, segera Touw Tjin Nio datang dengan tcrgesa-gesa, wajahnya nampak berkuatir, akan. tetapi, waktu Tjoe Hong Teng menemui ia dan tanya apa terjadi apa, ia paksakan diri untuk tertawa.

“Ong Tjoe Beng datang bersama belasan orangnya, untuk menemui aku,” sahut nyonya janda itu. “Dia sekarang berada di luar markas. Ini ada hal yang dulunya belum pemah terjadi Aku kuatir hal ini ada hubungannya dengan kau orang, oleh karena itu, aku minta kau orang siap sedia. Sekarang juga aku hendak pergi keluar akan temui mereka itu.”

Tjoe Hong Teng tak kaget atau gentar dengan warta itu. “Aku justru hendak menemui dia,” dia kata dengan tenang.

“Dia telah datang kemari, inilah kebetulan. Biar di sini aku

ketemui dia. Kau akur?”

“Jangan!” Touw Tjin Nio mencegah seraya goyangi tangan. “Masih belum ketahuan, dia datang untuk maksud apa, kau orang dari itu belum perlu lantas menemui dia. Umpama dia bukan cari kau orang, habis kau orang muncul di depannya, apa itu tidak janggal nampaknya? Tidakkah dengan dcmikian mereka bakal curigai aku?”

Tjoe Hong Teng tidak berpikir lama akan nyatakan setuju pada nyonya rumah itu. Memang kedudukannya Tjin Nio sulit. Benar Han Koei Liong ada sahabat kekal dari Almarhum Bok Thian Bin, akan tetapi Ong Tjoe Beng adalah Pemimpin Umum dari Toatoo-hwee, ada punya aturan sendiri. Tak dapat Tjin Nio jual kawan suamlnya, tapi juga tak boleh dia khianati perkumpulannya sendiri. Maka ia antap Tjin Nio keluar sendiri,. ia bersama Thaykek Tan berempat segera siap sedia di belakang pin-hong.

Dengan titahnya Tjin Nio, pintu markas sudah lantas dipentang, ia sendiri muncul akan sambut Ong Tjoe Beng, siapa benar ada berjumlah belasan orang, kecuali See Beng Wan dan See SioeGie, sebagian besar ada konco-konconya dua orang she See itu. Ia merasakan alamat jelek, akan tctapi ia berlaku tenang. Ia mcnyambut dengan aturan, ia undang pemimpin itu duduk.

“Tjong-totjoe datang beramai-ramai, apa ada pengunjukan apa-apa untuk pihak kita Barisan Wanita?” tanya Tjin Nio.

Wajahnya Tjoe Beng berubah dengan tiba-tiba.

“Tee-hoe!” kata ia sambil mengawasi, “aku bersama Thian Bin Hiantee ada hidup bersama-sama, senang dan susah, kita punyakan persahabatan mati dan hidup, sedang icrhadap kau, aku rasa bclum pernah melakukan suatu apa yang tak seharusnya, aku anggap kau sebagai orang scndiri, maka itu, aku ingin tanya, dalam hal apa kau merasa tidak puas terhadap toapehmu ini? Kenapa kau tidak mau jelaskan segala apa padakur

Kcdua matanyaTjin Nio menjadi merah.

Tjong-totjoe, apakah artinya kata-katamu ini?” ia tanya, romannya sungguh-sungguh. “Ada apa yang tak seiayaknya dari aku? Tolong kau tunjuki! Aku masih muda dan cetek pandanganku Jikalau aku tidak harap pengunjukan dari kau yang menjadi toapeh, dari siapa lagi?”

Ong Tjoe Beng perdengarkan suara dihidung.

‘Tjin Nio!” berkata ia. “Umpama kau tidak pandang persahabatan Thian Bin denganku, kau harus hargakan kepentingan Toatoo-hwee. Kau adalah Pemimpin Umum dari Barisan Wanita, tetapi kenapa kau terima datangnya musuh dari Toatoo-hwee, kau menjadi kawan dalam dari mereka?”

Nyonya janda Bok terkejut, tetapi ia tenangkan diri. “Kau dengar dari siapa, Tjong-totjoe?” ia tanya seraya

memberi hormat. “Siapa musuhnya Toatoo-hwee? Cara bagaimana aku berani membantu diam-diam kepada musuh?”

Anggap orang berpura-pura, Tjoe Beng jadi gusarsekali. “Tjin Nio!” ia berseru. “Aku pandang persahabatan kita, aku

tidak ingin gunai aturan perkumpuIan kita, tetapi kenapa kau

tidak kenal salatan? Kenapa kau masih berpura-pura? Apakah kau hendak tunggu sampai aku beber rahasia?” Lalu ia berseru pula: “Bawa dia kemari”

Dengan lantas muncul orangnya ketua ini menggusur satu serdadu perempuan, satu tauwbak kecil yang kemarin ini menyambut Koei Liong beramai, yang menyampaikan warta kedatangan mereka pada pemimpinnya.

See Beng Wan sudah lantas bekerja sebat sekali, pagi-pagi ia sudah can tahu, tauwbak mana yang giliran menjaga tadi malam, maka begitu lekas ia iringi Ong Tjoe Beng ke markas wanita, paling dulu ia titahkan bekuk tauwbak itu, akan dihadapkan pada ketua itu. Di depan ketua umum itu, si tauwbak kecil tidak berani mendusta.

Sambil menangis, dengan terpaksa, tauwbak itu lantas berkata: ‘Tadi malam ada empat orang yang datang menyambangi Totjoe kita. Aku tidak tahu kalau mereka itu ada musuhnya Tjong-torjoe….’1

Tjoe Beng tidak perdulikan tauwbak kecil itu, ia hanya dengan bengis awasi Tjin Nio

“Tjin Nio, apa lagi kau hendak bilang?” ia menegur, suaranya bengis. Tan pa tunggu jawaban nyonya janda itu, ia membentak pula, dengan titahnya: “Mari! Bekuk dial” Suaranya Tjoe Beng bclum berhenti, atau dari luar terdengar soman: “Tahan!” Itulah suara yang keras dan berpengaruh, menyusul mana muncuI lah Tjoe HongTeng, yang datangnya sambil bcrloncat, di scbclah belakangnya, ia diikuti oleh ThaykekTan, Tjian Djie Sianseng dan Han Koei Liong. Dan orang yang kelima, yang Ketua Toatoo-hwee tidak pernah sangka-sangka, ada. Thiebian Sieseng Siangkoan Kin, si Mahasiswa Muka Besi!

Selagi Tjoe Beng terperanjat, orang-orangnya segera siapkan alat senjatanya masing-masing, malah mereka hendak segera turun tangan dengan senjata-senjata rahasia mereka Mereka pun tercengang tetapi tak terkejut!

“Tahan!” Tjoe Hong Teng berseru pula dengan suaranya yang berpengaruh. “Apa yang Tjin Nio bilang benar adanya!

Kita orang buk an I ah musuh-musuh dari Toatoo-hwee, malah kita sedikit jua tidak bemiat untuk musuhkan Ong Tjong-torjoe! Aku Tjoe Hong Teng, sengaja aku datang ini hari untuk mengunjungi Ong Tjong-totjoe. Tjin Nio melainkan menjadi orang perantaraan. – Ong Tjoe Beng, di sini adalah kalangan pengaruhmu. Jikalau kau pakai aturan Kangouw, sebelumnya omong jelas kau hendak turun tangan, aku nanti pasrah, kau boleh bacok aku Tjoe Hong Teng dengan tiga bacokan dan tusuk dengan enam tikaman, pasti aku tak nanti kerutkan alis sekalipun!.—” Hong Teng bicara seraya maju ke depan, ia bicara dengan tetap.

Ong Tjoe Beng  tertegun, meskipiin ia sebenamya ada sangat mendongkol dan gusar. Biar bagaimana, ia ada orang Kangouw sejati, satu ketua perkumpulan besar. maka terhadap satu orang dengan siapa ia ada sama derajat, tidak dapat ia tak pakai aturan Kangouw juga. Dua tjong-totjoe lagi berhadapah, mana bisa ia bertindak sembrono? Maka ia kendalikan dirinya. “Tjoe Tjong-totjoe, kau teiah datang sendtri, inilah bagus!” kata ia, dengan suara nyaring. “Tjong-totjoe, kau hendak omong apa? Aku bersedia untuk mendengarkan….”

Ia scngaja bicara dengan keren, tapi ia pun pakai aruran.

Ia harap dengan bed tu ia bisa mempengaruhkan pihak saingan itu.

Tjoe Hong Teng tidak segera jawab Ketua Toatoo-hwee itu, sebaliknya ia bertindak ke arah See Beng Wan dan See Sioe Gie, dua saudara licik itu. Ia awasi mereka dengan matanya dipentang lebar-lebar dan cahayanya tajam. la pun lantas saja tertawa terbahak-bahak.

“Ong Tjong-totjoe ada satu cnghiong, kenapa kau kasih dirimu dipermainkan segala manusia licik?” kemudian ia kata pada Ong Tjoe Beng: “Apa Ong Tjong-totjoe kctahui dua orang ini ada orang macam apa- hal-ihwal mereka, asal-usul dan derajat?”

Dengan mata terbuka lebar, Ong Tjoe Beng mengawasi dua Saudara See itu. Ia jadi sangat he ran. Kenapa orang ini, bukannya omong tcntang Toatoo-hwee dan Gichoo-toan, hanya mendahului bicara tentang dua kawannya itu? la duga, pada ini tentu ada suatu rahasia. Ia pikir hendak menegaskan tetamunya itu, atau mendadakan See Sioe Gie banting hancur satu cawan teh, kemudian sambil tertawa mengejek, ia kata dengan nyaring: “Benar-benar Tjoe iong-totjoe ada satu enghiong, secara

diam-diam kau bisa menyelusup masuk ke dalam kamamya teehoe or•ang di mana kau telah bermalam! Lalu sekarang kau mencoba akan merenggangkan kita! Akan tetapi Ong Tjong- totjoe bukannya Touw Tjin. Nio, yang bisa dengari obrolanmu, yang bisa kau gunai sebagai . perkakas!”

Itulah kata-kata jahat. Dengan itu Tjoe Hong Teng dituduh sudah berzinah dengan Touw Tjin Nio! Dengan itu Ong Tjoe Beng sendiri turut terpukul, sebab ia mestinya malu yang sanaknya perempuan berlaku serong. Betul-betul Ketua Toatoo-hwee merasa tersinggung. Memang bisamenjadi Tjin Nio main gila sama musuh dan kasih tempatnya dipakaf- sebagai markas gelap. Tetapi, biair bagaimana, ia masih sangsi.

Selagi Ketua Toatoo-hwee ragu-ragu, ia segera dengar tertawa nyaring dan berpengaruh dari seorang tua yang terus berkata kepadanya:

“Ong Tjong-totjoe, masihkan kau kenali aku si orang tua?” demikian suara itu. “Padatigapuluh tahun yang lampau, aku pemah pergi ke Shoasay, di mana aku telah bcrtcmu sama gurumu yang mulia. Ketika itu Ong Tjong-totjoe sedang belajar silat. Bisa jadi Tjong-totjoe sudah tak ingat pula padaku. Hanya, apabila disebut namanya Tjian Djie yang rendah, aku percaya Tjong-totjoe masih mempunyai kesan. Seumurku, aku si orang tua belum pemah mendusta, dan kau pun seharusnya percaya aku rjdak nanti menuduh orang.

Dengan kedua tetamu yang mulia dari Tjong-totjoe ini, aku ada punya sedikit urusan, yang belum sempat dibereskan. Sungguh adalah suatu kehormatan dari Ong Tjong-totjoe yang kau telah gunakan satu orang sebawahan yang sebetulnya ada satu Tekteng Patouwlouw dari Sri Baginda Raja yang sekarang!” -

Mendengar perkataan itu, Ong Tjoe Beng berjingkrak. Ia memang tahu siapa adanya Tjian Djie Sianseng, satu tjianpwee dari kalangan Kangouw yang tersohor untuk kejujurannya. Ia tak dapat lantas percaya orang tua ini, tetapi mau atau tidak, urusan Tjin Nio mesti ditunda dahulu, ia mesti segera padu dia dengan si orang she See itu.

Segala kejadian menyusul dengan cepat. Baharu Ketua Toatoo-hwee bcrjingkrak dan mengawasi See Sioe Gie, atau suara senjata beradu segera terdengar, sebab See Beng Wan sudah lantas keluarkan sepasang Samleng Touwkah-tjoei, dengan apa ia hajar Tjian Djie Sianseng. Akan tetapi ThaykekTan yang berada di samping ahli Ouwtiap-tjiang sudah gunai pedangnya Tjengkong-kiam untuk tangkis serangan tiba-tiba itu. Demikian kedua senjata beradu dengan keras dan nyaring.

Setelah mcnangkis, Thaykek Tan hendak balas menyerang, tetapi di saat ia baharu hendak bergerak, See Beng Wan sudah hunjuk kegesitannya dengan dului ia, kedua senjatanya menyerang pula berbareng, ke arah muka dan dada. Maka itu, terpaksa ahli Thaykek-koen itu batal maju, dengan tenang ia menangkis kedua serangan bareng itu, sambil geser tubuhnya ke samping.

See Beng Wan hunjuk benar-benar kegesitannya, ia seperti tidak mau berikan kesempatan kepada musuh, lagi-lagi ia mendahului maju, mendesak dengan serangan susulannya, kalau tangan kirinya menyapu ke bawah, tangan kanannya ke arah pinggang.

Thaykek Tan tetap berlaku tenang tetapi tidak kalah gesitnya, dengan sabar tetapi cepat, ia halau kedua serangan itu. Tenang atau tidak bergerak, adalah pokoknya ilmu silat Thaykek-koen – tenang bagaikan satu nona remaja, gesit laksana seekor kelinci. Habis menangkis, ia melejit ke samping, terus ke belakang lawan! “Celaka!” pikir See Beng Wan apabila ia dapati serangannya gagal dan musuhnya menggeser ke belakangnya. Cepat sekali, ia putar tubuh dengan gerakan “Souw Tjin pweekiam” atau “Souw Tjin menggendol pedang”. Ia putar tubuh sambil menangkis dengan sepasang senjatanya yang aneh dan liehay.

Kedua jago jadi bertempur dengan hebat, masing-masing perlihatkan kepandaian mereka; beberapa kali senjata mereka bentrok, sampai menerbitkan lelatu api.

Menyusul pertempuran itu, yang hebat, ruangan itujadi kalut. See Sioe Gie serta konco-konconya sudah lantas turun tangan, akan bantui kawan mereka. Han Koci Liang menjadi gusar, sambil berseni keras, ia ceburkan diri dalam pertempuran itu, ia kerjakan gaetan Ginhoa Bandjie-toatnya, scdang Siangkoan Kin telah mainkan kipasnya, untuk menotok setiap musuh.

Ong Tjoe Beng dan Touw Tjin Nio tcrcengang karena bentrokan itu, sampai mercka tidak bisa scgcra bertindak.

Tjoe Hong Teng sendiri tidak diam saja, seraya hunus pedang Lionggim-kiam dari Ek-Ong Tjio Tat Kay, ia tangkis dan babat kutung sebatang Tjittjial-pian yang menyambar padanya, sambil berbuat demikian, ia berlompat kesamping.

Kaget Ong Tjoe Beng melihat gerakannya Ketua Giehoo- toan itu, ia menyangka orang hendak serang ia, ia pun sudah lantas hunus goloknya, golok Tan-too.

Sekonyong-konyong terdengar seruannya Tjoe Hong Teng: “Tahan! Katanya, Tapi ia beium sempat tutup mulutnya, atau dua orang serang ia nya, hingga terpaksa ia mesti menangkis, untuk membcla din. Dalam kekalutan itu, Tjian Djie sianseng bertempur sambil lari, ke kiri dan kanan, akan jauhkan diri dari beberapa orang yang mencoba rnembokong padanya.

Kemudian, tiba-tiba ia berseru dengan tegurannya: “Ong Tjong-totjoe! Kau ada Ketua Toatoo-hwee, kenapa kau tidak atasi orang-orangmu? Apa mungkin kau jerih untuk dipadu, kau beniiat lindungi segala budak-budak hina-dina ini?”

Ong Tjoe Beng terpengaruh oleh teguran itu, yang ada bagaikan ejekanj juga. Biar bagaimana, ia curiga, ia mengerti, mesti ada sebabnya kejadian ini. Maka tak dapat ia antap kekalutan.

“Orang-orang Toatoo-hwee, berhenti semua!” lalu ia berteriak sambil ia lompat maju. “Jangan bertempur dulu!”t

Sia-sia ini titah, tidak ada orang Toatoo-hwee yang taati itu. Kedua Saudara See, berikut semua kambratnya, bertempur terus. Di waktu begitu, terdengarlah tertawa dingin dari Tjian Djie Sianseng.

“Kau lihat bukan, Ong Tjong-totjoe?” iabilang. “Jikalau kau masih tidak percaya mereka adalah budak-budak hina, aku bisa kasih lihat juga buktinya!”

Ong Tjoe Beng jadi sangat gusar.

“See Sioe Gie!” ia membentak, seraya dengan bengis ia hadapi orang she See itu. “Jikalau kau tetap tidak hendak berhenti, aku nanti serang padamu!”

Ketua Toatoo-hwee ini hendak pengaruhkan Sioe Gie, yang ia pandang sebagai biang keladinya.

Selagi Ong Tjoe Beng belum tutup mulutnya, matanya See Beng Wan berjelilatan, atas itu dua orang, yang berada di dampingnya Ong Tjoe Beng, dengan mendadak, serang Ketua Toatoo-hwee itu.

Bukan kepalang kagetnya Ong Tjoe Beng. la segera berkelit. Tapi serangan ada hebat, ujung tombak telah mengenai ia. Syukur ia ada gesit, selain telah tembusi bajunya, ujung tombak cuma menyebabkan ia terlecet. Tapi senjata itu membuat ia merasai hawa dingin dan sakit, hingga ia menjadi sangat gusar.

“Kurang ajar!” ia berseru, seraya tangkis tombak itu. Menyusul itu, satu toya turun dengan hebat

Tjoe Beng bisa tangkis tombak, yang ada tombak bcrantai, karena itu, goloknya terlibat, sia-sia ia mencoba, akan loloskan senjatanya itu, di waktu mana, toya mengancam ia. Tidak ada daya lain, dia menjerit keras, dia apungi tubuh, loncat tinggi, melewati dua penyerangnya.

Berbareng dengan itu, Tjoe Hong Teng serang orang yang bersenjatakan toya. Dia ini terperanjat, tak sempat dia kejar Ong Tjoe Beng, lekas-lckas dia berkelit, akan selamatkan diri. Karena ini, Tjoe Hong Teng segera terusi menyerang orang yang bergegaman tombak bcrantai, iagunai sabetan “Sinliong tauwbwee” atau “Naga suci menggoyang ekor” dari ilmu silat pedang Bweehoa-kiam.

Musuh itu tak keburu menarik pulang tombaknya, senjatanya itu kena ditabas!

Lionggim-kiam benar-benar Iiehay, tombak musuh kena terbabat kutung, karena mana, musuh lantas lompat menyingkir.

Ong Tjoe Beng dapat tertolong, ia bisa tarik pulang goloknya, lalu sambil berdiri diam, ia hunjuk hormat pada Tjoe Hong Teng. Tapi kekalutan masih bcrl angsung, ia segera melihat ke sekitarnya, hingga ia dapatkan Touw Tjin Nio lagi dikepung dua or•ang.

“Oh, kawanan tikus, sungguh kau orang berani!” Ketua Toatoo-hwee ini berseru dalam gusarnya. Bagaikan kalap, ia menyerbu, ia gunai ilmu goloknya Tangpay Too-hoat, iaiah ilmu golok Kaum She Tang dari Shoasay. Berbareng dengan itu, di samping terdengar jeritan hebat, apabila ia berpaling, ia dapati dua orangnya rubuh di tangan orang jahat!

Ong Tjoe Beng datang menyergap Touw Tjin Nio bersama enam belas orang, kecuali dua Saudara See, dari sisanya cmpat belas orang, cuma tiga yang terhitung orang-orang kepcrcayaannya, yang sebelas adalah konconya dua Saudara See itu, malah enam antaranya ada wiesoc atau pahlawan kelas satu dan lima wiesoe kelas dua dari Istana Boan, yang semuanya liehay. KetuaToatoo-hwee ini terlalu percaya Sioe Gie dan Beng Wan, dia sampai kena dikelabui, dia tak kenali pahlawan-pahlawan Kerajaan Tjeng itu. Begitulah, bencana telah menimpa dia.
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 17"

Post a Comment

close