Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 16

Mode Malam
 
Orang itu kcrutkan keningnya, baharu ia bcrkata: “Saudara Kiang, kau hendak’belajar silat, kenapa kau lepaskan yang dckat, untuk cari yang jauh? Kau ada orang Hoopak, di Pooteng ada banyak guru silat, umpama Kiang Ek Hian dari Bweehoa-koen dan Koan Ie Tjeng dari Banseng-boen, yang semua kesohor. Untuk Thaykek-kocn, di sanapun ada Teng Kiam Beng, ahli waris yang kenamaan, yang membuka rumah pcrguruan. Kenapa kau datang ke desa yang sepi ini, buat cari pelajaran kampungan?”

Teng Hiauw menyangka orang curigai ia, lekas-lekas iamenjawab.

“Aku yang rendah datang kemari karcna pangeni nama,” katanya. “Aku tahu Tan Soehoe ada punyai kepandaian yang berarti, yang unggul dalam kalangan Rimba Persilatan, bukannya scperti kebanyakan orang Kangouw yang punyakan cuma nama kosong.”

Teng Hiauw mengucap seperti tidak dipikir, tanpa ia merasa, ia membuat orang semakin curigai padanya. Sebab nama-nama yang or•ang itu sebutkan bukanlah nama nama sembarangan, sebab Kiang Ek Hian bertiga adalah ahli-ahli silat sejati.

“Apakah benar-benar Saudara Kiang hargai ilmu silat kita orang pegunungan?” tanya orang itu. “Aku kuatir tidak….” Ia tertawa tawar.

Teng Hiauw hcndak membantah tapi orang itu dului ia, dengan kata: “Tak perduli bagaimana kau bersungguh- sungguh, Saudara Kiang, lebih baik kau kembali saja. Pernah datang orang-orang dengan bingkisan istimewa, tetapi kebanyakan mereka ada orang-orang jumawa atau yang mendendam permusuhan, yang ingfn belajar melulu guna mencari balas, syukur kita tidak terima murid, dengan begitu kita terluput dari kepusingan. Kau sendiri, Saudara Kiang, tentu bukannya orang seperti mereka itu, tetapi kita tidak dapat terima kau. Bukankah kita tidak kenal dan tidak kctahui satu pada lain? Umpama kcadaan kitadibalik, kau juga nistjaya tidak bisa terima kita.”

Mukanya Teng Hiauw mcnjadi mcrah. Selain ia telah ditampik, r u pan y a orang juga anggap ia ada or•ang Kangouw yang kebanyakan, atau orang jahat. Ia sampai tidak bisa kata apa-apa. Maka ia lantas putar tubuhnya, untuk bcrtindak pergi.

Melihat sikapnya orang, orang itu bcrbalik hati. Ia lantas mcnyusul.

“Jangan kecil hati, Saudara Kiang,” kata ia, suaranya sabar. “Looyatjoe kita memang tidak terima murid, bukan terhadap kau saja ia ambil sikap begini. Untuk belajar silat, baik Saudara pergi pada Gouw Soeya, dia buka rumah perguruan, dia terima murid. Dia pun ada dari Golongan Thaykek-koen.

Silakan Saudara pergi padanya.”

Teng Hiauw jalan terus, ia menjawab tetapi tanpa menoleh lagi.

“Terima kasih untuk kebaikan kau,” demikian katanya. “Ilmu silat kau orang Kaum Keluarga Tan adalah mustika, tak berani aku memintanya!”

Kata-kata ini tidak ada jawabannya, Teng Hiauw cuma dengar orang tertawa dua kali, lalu terdengar suara pintu digabruki, mendengar mana, ia jadi semakin mendongkol. Ketika ia kembali di hotel, otaknya bekerja keras. Mulanya ia ingin kubur saja niatnya berguru pada Thaykek Tan; kemudian ia ingat, kecewa ia Iakoni perjalanan jauh tetapi tanpa hasii.

Ia pun malu, umpama ia pulang, untuk menemui Tjoe Hong Teng dan Siangkoan Kin kepada siapa ia telah utarakan niatnya yang keras akan berguru terlebih jauh. Ia terus berpikir, sampai sekonyong-konyong ia tepuk meja.

“Baiklah aku pergi dulu ke Gouw Soeya,” demikian ia dapat pikiran. “Biar aku berdiam di sana setcngah atau satu tahun, selama itu aku boleh berdaya akan menemui sendiri pada tua bangka Thaykek Tan itu. Gouw Soeya belajar pada Thaykek Tan, baik aku lihat, apa bedanya pelajarannya dengan pelajaranku.”

Karena ini, ia lantas teriaki jongos, akan tanya, bagaimana aturannya untuk berguru pada Gouw Soeya, terutama orang harus bayar berapa tail.

Sang jongos puas mendengar tetamunya ingin can Gouw Soeya.

“Ah, Tuan, coba kau dengar aku, tak usah kau pusingi din,” katanya. “Untuk berguru pada Gouw Soeya, cukup kau haturkan karris nama. Iantas kau diterima sebagai murid, uang bclajamya adalah tiga bulaii satu kali bayar, sctiap kali bayar cuma scpuluh tail perak, hanya makanan, kau mengurus scndiri. Sesudah tiga bulan, andaikata kau hendak belajar tcrus, kau bolch bayar lagi, demikian seterusnya.”

Teng Hiauw mengucapkan terma kasih pada jongos itu, kemudian ia berpikir pula. Uang belajar sepuluh tail, sekarang uangnya tak cukup sejumlah itu, bagaimana? Selagi ia bcrpikir, ia dengar kudanya berbenger, sinar matanya tiba-tiba berkilauan.

“Apa di sini ada pasar kuda?” ia tanya,

“Di tempat kecil sebagai ini, tidak ada pasar kuda,” sahut sang jongos, “hanya kalau kita mau jual kuda, pembclinya mesti ada. Apa Tuan hendak jual kuda? Kudamu bagus, asal dituntun ke pasar timur dan kau berdiri di sana, aku tanggung sebentar saja ada pembelinya. Tuan mau belajar silat pada Gouw Soeya, memang kau tak membutuhkan kuda, kudamu itu boleh dijual saja.” Jongos ini mengucapkan demikian separuh disebabkan kuatir tetamunya tak dapat membayar uang sewa kamardan makanan….

Tidak tempo lagi, Teng Hiauw pergi ke pasar timur. Benar saja, Iantas ada orang yang tawar kudanya itu. Tapi ia tidak tahu harganya, ia bingung, akhirnya ia tunjuki dua jari, ia mau artikan dua puluh tail. Ia ingat, dulu ia beli kclcdainya yang kurus cuma dua belas tail, kuda ini bagus, ada harga sebegitu, dan uang dua puluh tail melebihkan ongkos belajar tiga bulan.

Calon pembeli itu awasi kuda itu, ia mengusap-usapnya. “Turut pantas, harga yang kau minta tidak mahal,” kata dia

kemudian, “cuma di sini, tidak ada orang yang kuat bayar itu.

Coba kau pergi ke Kayhong, buat harga lebih tinggi juga tentu ada pembelinya. Buat di sini, kau harus kurangi scdikit….” Teng Hiauw sibuk juga. “Habis, berapa kau berani?” tanya ia. Kalau kurang dari dua puluh tail, itulah hebat. Tapi ia masih tidak sebutkan jumlah dua puluh tail ityia Orang itu agaknya malu had. , “Kudamu memang kuda baik, tidak seharusnya aku minta harga kurangan,” kata ia, “hanya aku, hari ini uangku tidak cukup. Beginilah, kau kurangi sedikit. Kau minta dua ratus tail, aku bayar seratus ljma puluh. Apabila kau akur, sekarang juga kita jadikan.”

Teng Hiauw melengak, bukan main I girangnya. Ia maksudkan dua puluh tail, lain orang artikan dua ratus tail. Tapi ia cerdik, Iantas saja ia berikan putusannya. Ia tidak insyaf, kudanya itu adalah kuda pi lihan, yang harganya mahal. Setelah terimauang, ia pulang dengan kegirangan. Lebih dahulu ia bcrcskan uang hotel, ia pun persen jongos, lalu ia ajak jongos itu sebagai orang pcrantara untuk kunjungi Gouw Soe

Gouw Soeya lihat orang ada bertubuh gesit, matanya bersinar, ia tanya, orang she Teng ini pernah belajar silat atau bclum. Teng Hiauw jawab ia belum pemah belajar. Guru itu sangsi, akan tetapi ia tidak pernah sangka bahwa anak muda itu adalah ahli warisnya jago Thaykek-pay lainnya. Ia pun belum dapat membedakan gerak-gerik orang, karcna ia kurang pengalaman.

Baharu beberapa hari Teng Hiauw ikuti Gouw Soeya belajar silat, segera kesangsiannya muncul. Ia dapati beberapa cacat dalam pelajaran gurunya, itu adalah pelbagai kelemahan atau lowongan. Ia menduga-duga, kalau bukan kepandaiannya Thaykek Tan nama belaka, tentu pemandangannya sendiri yang keliru.

Kalau Teng Hiauw sangsikan gurunya, sang guru curigai ia.

Ia mengaku belum pernah belajar silat, tapi saban gerakan tangan atau kaki, atau tubuh, ia lakukan itu sewajamya, ia lupa peranannya sendiri, apabila Gouw Soeya perbaiki, baharu ia

insyaf, seperti ia baharu sadar dari mimpinya. Kejadian ini terulang beberapa kali. Daiam hat my a Gouw Soeya kata: “Nampaknya Klang Djit Giauw bukan orang tolol, kenapa sering aku kasih mengerti, ia saban-saban bikin salah pula?”

Pada suatu hari Gouw Hong Hoe ada punya urusan dan mangkir membcri pelajaran, ia diwaki Ikan olch Lauw Hek Sam, salah satu muridnya yang sudah belajar tiga atau empat tahun, siapa bertubuh kekar, kaki-tangannya sudah gapah, orang biasa saja, ia sanggup lawan tiga sampai lima. Dia memang sering mewakiIkan gurunya. Karcna ia mirip dengan kodok dalam tempurung, dengan sendirinya ia ada jumawa. terhadap saudara-saudaranya seperguruan yang lebih muda, ia biasa bersikap keras. Demikian hari itu kembali Teng Hiauw lakukan kekeliruan, ia telah kcluarkan gerakan dari ilmu silatnya sendiri. Hek Sam tidak puas, ia anggap orang salah, sambil memberi pengunjukan, untuk membetutkan, ia pun bicara keras, ia membentak-bentak.

Teng Hiauw insyaf pula kckeliruannya ia sabarkan diri, ia tidak meladeni. Ia antap kesalahannya dibetulkan. Gerakan sebenarnya sama, tapi gcrakannya Thaykek Tan memang diubah sedikit, Gouw Soe•ya ikuti perubahan ini, demikianpun Hek Sam, tetapi sekarang Hek Sam lihat lain orang “salah”, ia tidak puas, dengan keras ia kata pula: “Kenapa kau begini tolol? Aku sudah ajarkan, kembali kau bikin salah! Man, aku ajari padamu, supaya kau lihat! Scgebrak saja, kau akan rubuh!”

Laludengan “Lamtjiak-bwee” atau “Mencekal ekor bunuig gereja”, ia menycrang.

Teng Hiauw khawatir dibikin rubuh, ia mendahului, akan sambar lengan orang itu dengan tangan kirinya dan tangan kanannya dipakai mcmbarengi mendorong dengan keras. Hak Sam mcnjcrit kesakitan, tubuhnya terpental mundur dan rubuh terbanting, hingga kepalanya pusing, matanya kekunangan, karena mana. dengan susah-payah baharulah ia bisa merayap bangun, akan duduk bersila, untuk beristirahat.

Kejadian itu membuat lain-lain tertawa riuh. Memangnya mereka sebal tcrhadap ini soeheng she Lauw, yang jumawa Hanya kemudian, salah satu datang menghampirinya, untuk mcmimpin bangun.

“Soeheng, kau terluka atau tidak?” dia ini tanya. “Eh, Kiang Soetee, mengapa kau tidak mengalah terhadap Soeheng?

Lihat, kau bikin Soeheng rubuh hebat sekali!”

Hek Sam tidak menyahuti, hanya ia paksakan berbangkit, mukanya merah-padam seperti tiekhoa, hati babi. lagusar.

“Kiang Djit Giauw, kau kurang ajar!” ia berseru. “Kenapa sedikitpun kau tklak menaruh hormat kepada orang yang terlebih tua? Aku lagi

ajarkan kau, selagi aku tidak bersiap* kau bokong aku!” Teng Hiauw ternganga sadari tadL Iapun tidak sangka,

sccara demikian gampang wakil gurunya itu kena dibikin

rubuh. Ia menduga, soeheng] ini mcmpunyai siasat lain. Ia jadi berpikir, apa demikian macam ilmu kepandaiannyaThaykek Tan? Jikalau benar, sungguh pcrcuma ia datang dari tempat jauhnya ribuan lie…. Ia baharu sadar seteiah ia dibentak. Maka kembali ia insyaf akan kcsalahannya, ia kerutkan alisnya. SambiI menahan sabar, ia menghampirkan, untuk memimpin bangun soeheng itu.

“Soeheng, maafkan aku,” ia mohon. “Aku tidak sengaja bikin kau jatuh. Kau jatuh sendiri karena tanah licin.”

Melihat sikap orangnya itu, Hek Sam tak bergusar terlebih jauh.

Sore itu juga, kejadian terscbut sampai di kupingnya Gouw Hong Hoe. Kapan guru ini sclidiki kcterangan terlebih jauh, ia terkejut. Ia lantas pcrcaya, orang she Kiang itu ada satu ahli silat bukannya seorang yang masih hijau dan lagi mencari pclajaran, bukankah orang datang untuk rubuhkan dia, untuk angkat nama? Ia pikiri ini, sampai ia jerih sendinnya. Akhirnya, ia perintah or•ang panggil Teng Hiauw.

“Kau liehay, Lauwtee, kau ada muridnya siapa?” ia tanya, sikapnya manis budi. “Maukah Lauwtee memberi kcterangan padaku?”

“Aku tidak mengerti ilmu silat, Soehoe,” Kiang Djit Giauw menyangkal. Tapi Lauw Hek Sam, yang pun curiga, terus awasi ia.

Gouw Soeya tertawa besar.

“Dengan jawaban kau ini, Lauwtee, kau bukannya satu laki- laki!” kata ia. “Kita orang harus berlaku terus terang. Umpama kau pandai boegee dan kau sengaja can aku, aku tidak nanti sesalkan kau atau persalahkan padamu. Pada waktu pertama kau datang, melihat gerak-gerikmu, aku sudah menduga, sckarang kau telah buktikan dugaanku itu. Jikalau kau tetap menyangkal, kau sama juga pandang orang lain sebagai satu bocah tolol!” Sebagai seorang jujur, Teng Hiauw kena didesak. “Sebenarnya aku pernah pelajarkan Bweehoa-koen dalam tempo pendek sekali,” akhirnya ia jawab. “Karena aku belajar scmbarangan saja pada guru orang desa, aku jadi tidak berani omong terus terang.”

Wajahnya Gouw Soe-ya berubah, akan tetapi ia tahan sabar. Ia batuk-batuk, lalu ia tertawa.

“Sebenarnya, Lauwtee, aku tak berderajat untuk jadi guru,” kata ia kemudian. “Aku buka rumah perguruan ini karena Thaykek Tan pusing orang senantiasa can ia, untuk belajar silat, sedang ia tidak buka rumah perguruan, ia suruh aku yang wakilkan ia dan aku tak dapat tolak itu, maka dengan tebalkan muka, aku

jadi guru di sini. Selama beberapa tahun, tak pernah aku hadapi halangan, karena orang, umpama kata dia tak memandang aku tetapi melihat pada Thaykek Tan.”

Teng Hiauw awasi guru silat itu, ia tidak mengerti. Ia belum dapat tangkap maksudnya Gouw Hong Hoe, yang peringati dia untuk jangan mengacau. Iapun anggap, muka merah dari guru itu disebabkan dia habis minum arak….

“Aku tidak mengerti kata-kata kau, Soehoe,” kata ia sambi I tertawa. “Ilmu silatnya Thaykek Tan tersohor di kolong langit, aku datang dari tempat jauh justru untuk belajar kenal dengannya.”

Teng Hiauw bicara sewajamya saja, tapi kata-kata itu tajam terdengamya di kupingnya Hong How. “Ingin belajar kenal” diartikan sebagai keinginan untuk mencoba-coba. Kembali ia jadi mendongkol. Tapi ia jerih. Kepandaiannya tidak scberapa. sedang Hek Sam rubuh dalam segebrakan saja. Ia jadi serba salah. Melayani, ia kuatir; tidak mclayani. ia malu, Teng Hiauw pun ada bocah belum umur dua puluh tahun, umpama ia menang, ia tak akan terpuji, kalau ia kalah, ia akan malu besar. Maka akhirnya, ia dapat pikiran. “Lauwtee, kau bersemangat,” demikian katanya. “Baiklah, aku nanti upaya akan supaya kau dapat bertemu dengan Thaykek Tan.”

Pembicaraan berhenli sampai di situ, laludi malam kedua, sehabisnya murid-murid berlatih, Gouw Soe-ya t idak kasih Teng Hiauw undurkan diri. “Lauwtee,” kata ia sambil tertawa. “Thaykek Tan telah dengar kau bcgini muda dan gagah, ia ingin belajar kenal dengan boegeemu, ia girang sekali, maka sore ini ia suruh aku ajak kau pergi kepadan ya. Apa perlu kau bikin persiapan dulu?”

Scbagai scorang masih hijau, Teng Hiauw girang mendengar kctcran cannya Hong Hoe. Ia lantas saiin pakaian dan ikut guru ini. Sama sekali ia tidak taruh curiga apa juga. Ia bcium punyai pengalaman kaum Kangouw.

Thaykek Tan telah dengar keterangannya Hong Hoe, ia lantas curigai pemuda itu. la pun telah dengar cerita puteranya, Tan Poo Eng, halnya satu pemuda she Kiang mendesak si Thio, bujang mereka, untuk menemuinya.

Puteranya itu adalah orang yang berumur kurang lebih tiga puluh tahun. Ia heran kenapa, untuk belajar silat, orang datang dari tempat begitu jauh. sedang di Pooteng ada banyak gum silat kenamaan. Ia kerutkan kening, tanda ia berpikir keras.

“Hong Hoe, kau ajak dia kemari,” akhirnya ia kata pada murid atau sanaknya itu> “Kau boleh ajak ini sore juga. Aku ingin lihat, dia ada orang Kangouw dari golongan mana.”

Thaykek Tan kuatir ada orang

dengki, atau musuh yang hendak nyclusup ke dalam rumahnya, untuk lakukan kecurangan terhadap dirinya. LauwThio, bujang pcngawal pintu, heran melihat si anak muda datang pula bersama-sama Hong Hoe, sedang si anak muda awasi ia dengan roman puas. Belum pemah – tadinya – Hong Hoe ajak muridnya menghadap Thaykek Tan. Sekarang ia tak dapat menahan lagi, malah setelah membuka pintu, ia kata pada anak muda itu: “Tuan Kiang, maafkan aku untuk kelakuanku kemarin ini. Aku menyesal Djie Houw sudah makan manisan dan rotimu….” Hong Hoe heran. “Oh, kau pemah datang kemari?” kata ia pada muridnya itu.

“Ya,” mengaku Teng Hiauw, yang merasa tak enak sendirinya. Ia kasih tahu, sebab Thaykek Tan tampik menemui ia, ia jadi berguru pada itu guru she Gouw.

Hong Hoe tidak bilang suatu apa, ia tcrus masuk ke dalam, ajak sang murid sampai di ruang belakang di tempat berlatih silat, di samping itu ada scbuah hoathia atau kamar yang kccil- mungil. Selagi ia bertindak di muka pintu, dari dalam terdengar . suara keras dan nyaring. Teng Hiauw terkejut, hingga ia mengawasi. .

Di dalam hoathia itu ada duduk dua orang, yang satu adalah si orang usia lebih-kurang umur tiga puluh, yang bikin ia berlalu dengan mendongkol, dan yang lainnya seorang tua kurus-kering dan mukanya kuning tua dengan bajunya gerombongan.

“Itulah Thaykek Tan, lekas kau kasih hormat,” Hong Hoe lantas bisiki muridnya.

Menampak romannya aki-aki desa itu, agaknya Teng Hiauw keccwa. Begitu saja rupanya ahli silat Thaykek-koen yang disohorkan or•ang? Tapi, sebagai orang yang tingkatnya lebih muda, ia maju untuk memberi hormatnya.

Thaykek Tan tidak merendahkan diri, ia tunggu sampai orang menjura dua kali, bah am ia geser tubuhnya

“Apa dia ini si anak muda gagah?” ia tanya. “Jangan, jangan, aku tidak berani terima hormatmu!”

Sambil berkata demikian, ia ulur tangannya kepada lengannya, terus ia angkat pula, seperti lakunya orang yang hendak memimpin bangun. Gouw Hong Hoe tidak lihat suatu apa yang aneh, tetapi Teng Hiauw rasai lengannya sesemutan, tanpa merasa, tubuhnya sudah lantas terangkat naik, walaupun demikian, ia empos semangatnya, akan mempertahankan dirinya, maka, kendati tubuhnya terangkat, tubuh itu tidak bergeming, tetap kaku. Karena itu, melihat demikian, jago tua itu, yang mengawasi orang, diam-diam terkejutjuga.

“Benar-benar dia liehay,” pikir Teng Hiauw. Toh ia dapati, orang tua itu ada kurus-kering dan wajahnya pucat, melainkan sepasang matanya. yang bcrsinar tajam. Baharu sekarang ia insyaf.

“Dari tempat yang jauh teetjoe datang kemari, baharu ini hari teetjoe dapat perkenan untuk bertemu,” berkata ia.

Kemudian ia memandang Gouw Hong Hoe, ia sangsi, ia tak tahu apa itu adalah saatnya untuk ia mohon Thaykek Tan terima ia sebagai muridnya.

Thaykek Tan lepaskan tangannya, ia tertawa berkakakan.

“Mari!” ia panggil Hong Hoe datang lebih dekat, lantas ia runjuk anak mudadi depannya itu. “Sungguh berani kau untuk terima murid sebagai dia ini! Dia berumur belum dua puluh tahun akan tetapi dia sudah cukup liehay akan layam satu ahli silat Lweekee yang telah belajar dua puluh tahun lamanya.

Jikalau dia bukannya telah belajar sejak masih anak-anak dan di bawah pimpinannya satu guru yang pandai serta dia dibantu oleh bakatnya yang baik, pastilah dia tidak akan berhasil begini rupa!”

Mendengar demikian, bukan melainkan Gouw Hong Hoe yang terperanjat, juga itu orang yang dampingi jago tua ini, ialah Tan Poo Eng, sang putera, hingga dia ini mengawasi Teng Hiauw dengan tercengang.

“Maaf, maaf,” kaja ia pada pemuda itu, seraya ia terus lanjuti pada ayahnya. “Kemarin ini dia telah datang kemari untuk mohon bertemu sama Ayah, buat minta Ayah terima ia jadi murid, karena itu, aku lelah tuojuki dia Gouw Soeya” Kemudian, ia tambahkan pada anak muda itu: “Tetapi, Hengtay, kau sudah begini liehay, kenapa kau tak perdulikan peijalanan ribuan lie dan paksa datang kemari untuk pelajarkan ilmu silat kampungan?” 

“Dan Saudara inj masih scbutkan bahwa dia tidak mengerti tentang ilmu silat,” Hong Hoe pun tambahkan, “dia cuma bilang bahwa dia telah yakinkan Bweehoa-koen secara scmbarangan saja….”

Thaykek Tan awasi anak muda itu dengan sepasang matanya yang tajam dan berpcngaruh, si anak muda sendiril bcrdiam dengan muka mcrah dan mulut mcnganga, iamalu, ia hendak bicara, tetapi tak dapat ia buka mulutnya, benar-benar ia tidak tahu mesti mengucapkan apa.

“Anak kecil, kau benar liehay, kau bernyali besar!” tiba-tiba Thaykek

Tan berseru, air mukanya berubah. Ia tertawa tawar. “Bukankah kau datang cuman untuk belajar kenal dengan aku? Ilmu silat pegunungan dari aku tidak cukup berharga untuk kau, akan tetapi kau sudah datang, sukar untuk aku menolaknya, aku juga tidak bisa

bikin kau pulang dengan perasaan kecele, maka – Poo Eng, ayo kau layani ini anak muda, supaya kau bias melayani ilrhu kepandaiannya!”

Poo Eng  terima baik titah ayahnya, ia sudah lantas buka baju panjangnya, terus ia pergi ke lapangan.

“Man, man!” ia lantas tantangj Teng Hiauw, tangannya diulap-ulapkannya.

Teng Hiauw jadi semakin bingung, keringamya keluar, ia telan ludah. “Teetjoe datang kemari untuk minta diterimamenjadi murid…” kata, ia dengan susah. “Teetjoe tidak kandung lain maksud, man a teetjoe berani berlaku tidak hormat?”

Wajahnya Thaykek Tan tetap bengis, kembali ia tertawa dingin.

“Oh, kau datang untuk berguru?” kata ia “Tidak, tidak, aku tidak berani] mcncrimanya! Kau datang mcncari guru dengan kau sudah punya kepandaian, jikalau kau tidak perlihatkan kepandaianmu itu, cara bagaimana aku ketahui, aku bisa atau tidak terima kau sebagai murid, Pcrgilah kau ke sana, berapa ada kepandaianmu, kau keluarkan itu semua, jangan ada yang kau sembunyikan!”

Memang benar, siapa sudah mengerti silat dan hendak berguru lebih jauh, sebelumnya, ia mesti perlihatkan semua kebisaannya. Teng Kiam Beng sendiri berbuat demikian setiap kali ia terima murid baru. Dari itu, mendengar pcekataan orang itu Teng Hiauw girang, ia percaya Thaykek Tan sudah kandung niatan untuk terima ia. la lantas buka bajunya, ia pun bertindak menghampiri Poo Eng.

Thaykek Tan awasi orang bertindak, ia lihat belakangnya orang, lain sambil tertawa dingin ia kata pada Gouw Hong Hoe: “Tidak keliru dugaan kau, bocah ini datang untuk berpura-pura jadi murid, mesti dia ada kandung suatu maksud. Aku hendak saksikan, berapa tinggi kepandaiannya, aku tidak hendak berikan dia keleluasaan!”

Kctika itu Lauw Thio, si pengawal pintu, pun masuk dengan diam-diam, ia bcrdiri di pinggiran untuk nonton.

“Lekas kau panggil Poo Beng datang kemari! Kenapa kau diam saja? Sebentar masih ada tempo untuk menonton!” tiba- tiba Thaykek Tan kasih pcrintah pada bujangnya itu. Lalu, ia tambahkan pada Hong Hoc: “Baharu saja Poo Beng pulang, tadi dia pesiar scantcro hari, sekarang tent u dia baru habis dahar. Dia bilang, di tcngah jalan dia nampak rintangan, yang hampir bikin dia rubuh. Biar dia pun turut menyaksikan di sini.”

Poo Beng ini adalah keponakan Thaykek Tan.

Nama benar dari Thaykek Tan ada Tan Eng Toan, dia ada anak yang ketiga. Engkonya yang pertama sudah lama meninggal dunia, engkonya yang kedua, Eng Sin namanya. Eng Sin Icbih-lebih tak suka terbitkan gara-gara, karena terus gemar yakinkan ilmu silat, tidak pernah ia keluar dari rumahnya, karena ini, ia mengalah pada adiknya dan antap adik ini jadi Tjiangboendjin, Ahli WarisThaykek-koen. Poo Beng adalah anak sang engko yang kedua itu, dia ada terlebih muda daripada Poo Eng, tetapi dia ada terlebih berbakat, maka itu, ia ada terlebih liehay daripada Poo Eng, sang engko sepupu.

Sementara itu, dalam sesaat saja, di lapangan untuk bersilat, pcrtandingan sudah lantas dimulai.

Teng Hiauw mengaku telah yakinkan Bweehoa-koen, ia masih hendak umpetkan din aslinya, maka itu, ia bersilat dalam ilmu silat yang ia sebutkan itu. Ia masih ingat permainannya Angie Liehiap. ketika si nona dikeroyok orang- orangnya Soh Sian Ie. Karena itu ada cangkokan, baharu beberapa jurus saja, ia sudah kena didesak lawan.

Gouw Hong Hoe tertawa melihat orang terdesak. “Yang palsu dan yang tulen, segera terlihat!” kata ia.

“Bocah ini tak berarti!”

Tetapi Thaykek Tan, sang guru, kerutkan alis.

“Tidak, kau keliru,” kata ia “Ada kepalsuan di dalam halnya dia ini. Jangan kau memandang enteng, kepandaiannya tidak cuma sebegini….”

Boleh dibilang baharu jago tua mengucap demikian, atau pertandingan telah berubah sifat. Poo Eng desak lawannya, setelah dapat ketika, ia menyerang dengan ilmu pukulan “Ya ma hoentjong” atau “Kuda liar menggibriskan suri”, tangan kirinya turun, tangan kanannya naik, akan serang lengan dan dada orang dengan berbareng.

Teng Hiauw tak sempat mundur lagi dari desakan hebat itu, sambii berseru, ia luputkan diri dari bahaya dengan gerakannya “Lauwtjie kiepo” atau “Memeluk dcngkul menahan tindakan”, pinggangnya dibuang ke belakang, sedang kedua tangannya bcrgcrak dengan “Tjhioehoei piepee” atau “Menabuh piepee” dan “Kiongpou yangljiang” atau “Tindakan pan ah, tangan kcluar”. Ia menangkis sambii balas menyerang. Poo Eng terkejut. Lekas-lekas ia ubah gerakannya menjadi “Gioklie tjoanso” atau “Bidadari mencnun”, tangan kanannya menekan serangan musuh, tangan kirinya menotok jidat kiri lawannya itu.

Gesn sekali, Teng Hiauw berkelit ke kanan, ia mundur setindak, akan segera maju pula, untuk baias menyerang, dengan “Siakwa t an pian” atau “Menggantung ruyung”. Serangannya ada ke arah nadi. Tapi juga Poo Eng bisa tolong diri dengan “Tweepou kwahouw” atau “Mundur untuk menunggang harimau”, sambii menggertak.

Wajahnya Tan Poo Eng berubah, ia jadi heran sekali. Ia dapat kenyataan cara bersilat orang ada sama dengan cara bersilatnya sendiri. cuma baru-baru saja, serangan lawan ada beda jauh. Ia tidak bisa duga, lawan ini sebenarnya gunai ilmu siiat apa.

Thaykek Tan sebaliknya manggut-manggut, ia sudah bisa lantas terka ilmu siiatnya orang, cuma sebelum dapat kepastian, ia tidak mau segera cegah pcrtempuran lebih jauh. Ia masih mcngawasi terus, untuk meneliti gerak-gerakannya bocah itu.

Pcrtandingan bcrlangsung, terus sampai kira-kira lima puluh gcbrak, keduanya sama gesitnya, adalah sctciah itu, Poo Eng kena didesak, tetapi sebab ia bisa berlaku tenang, saban- saban ia mundur teratur, ia tidak dalam bahaya.

Dalam saat yang seru itu, yang menarik untuk ditonton, sekonyong-konyong terdengar satu teriakan pujian: “Bagus!” Suara itu datangnya dari samping.

Dengan cepat Poo Eng tunda gerakannya, ia berioncat keluar kalangan.

Teng Hiauw juga berhenti bersilat, lantas ia berpaling, akan lihat, siapa yang perdengarkan pujian itu. Justru ia menoleh, ia lihat seorang berlompat datang, sambii menegur: “Sejak kita berpisah, apakah kau ada baik?” Itulah suara, yang ia rada-rada kenal. Maka ia mengawasi terus, hingga akhimya, ia jadi girang sekali. Ia segera kenali si anak muda, yang bcrtempur di tanjakan, yang ia telah tolong dengan sebatang piauwnya.

Anak muda itu berdin di pinggiran, di bclakangnya, kecuali Thaykek Tan, ada bcrdiri seorang tua lain, yang ia belum pcrnah lihat Tapi ia girang, ia lantas dapat harapan.

“Apakah kau ada baik, Hengtay?” ia balas tanya. “Kiranya kau ada disini.

la bersenyum. Ia percaya, cita-citanya bakal kesampaian. Ia duga, dengan ingat “budi”, anak muda itu nanti bantui ia bicara kepada Thaykek Tan.

Akan tetapi, setelah tegurannya itu, anak muda tersebut lantas berdiri diam, sikapnya adem. Sebaliknya, Thaykek Tan kasih dengar suara tawar.

“Bocah, kau benar bernyali besar!n kata jago Thaykek itu, dengan bengis. “Kau berani berlaku palsu, kau datang ke sini untuk main gila, jikaiah aku kasih kau pulang dengan tangan kosong, kau nistjaya akan pandang enteng padaTankee-kauw! Poo Beng Hiantit, ringkus dial” Pemuda itu memang ada Tan Poo Beng, keponakan dari Thaykek Tan, dia datang bersama ayahnya. Tan Eng Sin, untuk menyaksikan pcrtandingan, begitu dia datang, dia segera kenali Teng Hiauw, maka dia beritahukan pamannya tentang siapa adanya tetamu anak muda itu. Mendengar ini, Thaykek Tan berpikir, ia goyang-goyang kepala. Ia lantas duga, anak muda itu mesti ada hubungannya sama Thaykek Teng, karena mana, ia ingin sekalian saksikan kepandaiannya terlebih jauh. Ia sendiri belum pernah ketemu Teng Kiam Beng, nama siapa ia telah dengar lama. Ia mendongkol karena ia menyangka, anak muda itu datang berguru melulu guna curt kepandaiannya. Maka itu, justru Poo Eng sedang terdesak, untuk cegah kekaiahannya anak itu, ia lantas suruh Poo Beng maju. Ia pun bisiki keponakan ini bagaimana caranya untuk Iayani si anak muda.

Poo Beng turut titah pamannya, ia segera maju.

Ini adalah kejadian di luar sangkaannya Teng Hiauw, iajadi kaget berbareng gusar. Anak muda, yang” pemah ditolong itu, sekarang hendak balas budi dengan kejahatan. Ia juga lihat roman bengis dari Thaykek Tan. Tapi ia tak takut.

“Kau orang, orang-orang gagah dari Tankee-kauw, tua dan muda, kiranya begini saja sifat kau orang!” kata ia dalam murkanya. “Dan kau, kau hendak balas budi kebaikan dengan kejahatan! Bagaimana kau or•ang bisa menghina orang asing? Baiklah, aku anggap aku telah keliru mcngcnali orang!

Sekarang baharu aku tahu tingkah-laku kau orang!” ,

“Ah, Bocah,” kata Poo Beng secara menghina. “Kau lagi pertunjuki sandiwara apa? Kemarin ini kau can tahu asal- usulku, sekarang kau datang dengan berpura-pura tidak mengcrti boegee! Kau sebenarnya hendak perdayakan ilmu siiat kita! Bagaimana kau masih berani omong tentang budi? Teranglah rombongan penjahat kemarin ini ada konco- koncomu, kau mengatur tipu supaya kau bisa melepas budi, untuk perdayakan kita!” Bukan kepalang mendelunyaTeng Hiauw atas tuduhan itu, tak dapat ia tahan sabar lagi, maka, meninggalkan Poo Eng, ia segera serang iga orang itu.

Poo Eng berseru ketika ia sambut serangan itu, ia berkelit sambil terus menyerang, ia gunai “Teeljhioe heesie” atau “Membawa tangan, diturunkan ke bawah”. Ini ada tipu pukulan liehay yang kedua puluh sembiian dan ilmu silat Tan Thaykek-koen yang tak pernah diturunkan kepada orang luar.

Dengan “Yama hoen tjong”, Teng Hiauw luputkan diri dari serangan berbahaya itu, tetapi membarengi itu, Poo Beng rangsang pula ia, kaki kirinya ditekuk, tangan kanannya dimajukan, dari kepalan tangan kanan itu diubah jadi telapakan, lalu lebih jauh, selagi tangan kanan ini dipakai membuka, tangan kirinya menggantikan menyambar.

Teng Hiauw lihai bagaimana ia hendak digencet. Mulanya ia dapati gerakan orang itu mirip dengan gerakannya sendiri, tetapi di saat terakhir. gerakan kedua tangan lawan ini lantas berubah. Ia merasakan bagaimana orang hendak gencet padanya. Tapi ia ada cukup cerdik dan gesit untuk loloskan diri, sambl berkelit sambil putar tubuh, dengan tipunya “Tohoan Hanhoan tjitscng-pou” atau “Tindakan tujuh bintang beruntun”, ia sambar lengan kanan orang.

Poo Beng segera tarik pulang lengannya itu, setelah itu, ia berniat mengubah permainannya, akan tetapi dengan ketangkasannya,Teng Hiauw rangsang ia, tangan kirinya diangkat, I tangan kanannya menyambar ke arah jalan darah “Kieboen-hiat”. Ini ada salah satu pukulan liehay dari Thaykek Teng.

Tan Poo Beng terperanjat, ia tidak menyangka akan kegesitan orang itu, sambil membarengi menyedot kempes perutnya, ia mundur beberapa tindak, hingga ia pun bisa terluput dari ancaman malapetaka. Setelah ini, keduanya jadi berkelahi dengan hati-hati. Poo Beng tidak berani memandang enteng, Teng Hiauw tidak berani lancang menyerang.

Pada waktu itu, sang rembulan telah muncul, cahayanya indah. Sang malam telah datang tanpa terasa lagi.

Dalam pcrtempuran lebih jauh, Teng Hiauw menyerang berulang-ulang, gesit laksana naga, dan Poo Beng di lain pihak, lebih banyak menangkis, dengan sikapnya yang tenang bagaikan harimau mendekam.

Gouw Hong Hoe berdiri dengan lidah diulur kcluar, matanya dibuka’ lcbar-lcbar, bahna kagum dan heran, wajahnya pun berubah. Baharu sekarang ia saksikan pertempuran dahsyat scperti itu, pantas ia dengan j gampang kena dirubuhkan pemuda itu.

“Benar-benar anak itu mempunyai suatu maksud,” kemudian ia bisiki Thaykek Tan. “Aku kuatir si Beng bukanlah tandingannya. Baiklah kau| sendiri yang turun tangan, agar si Beng tidak sampai mendapat malu.”

Thaykek Tan urut-urut kumisnya, ia bersenyum.

“Kau melihat keliru, Lauwtee!” kata ia. “Buat sembelih ayam, buat apa pakai golok untuk potong kerbau? Kau Iihat, pasti Poo Beng bisa rubuhkan dia….”

Pandangannya jago tua Thaykek-koen ini tidak salah, sesudah bertempur lagi sekian lama, perubahan atau perbedaan, sudah mulai tertampak. Tadinya Teng Hiauw garang, ia merangsang, habis itu nampaknya lemah, ia jatuh di bawah angin.

Kcpandaiannya kedua anak muda ada berimbang, akan tetapi, Poo Beng dapati pesan dari pamannya, yang suruh ia bertempur dengan tcnang-tcnang saja, scdang di lain pihak,Teng Hiauw pun baharu layani Poo Eng, satu lawan bukannya enteng, hingga tadi ia sudah keluarkan banyak tcnaganya. Gangguan lain bagi Teng Hiauw adalah tadi ia sudah dibikin gusar dengan fitnahan Poo Beng, hingga ia umbar nafsu-amarahnya.

Setelah melewati babakan yang kelima puluh, Poo Beng mulai dengan rangsangannya, dari senantiasa membela diri, ia balas menyerang. la menyerang berulang-ulang, saling susul.

Teng Hiauw terdesak, hingga ia terperanjat, berbareng mendongkol, tapi karena ini, ia pun waspada.

Tiga kaH Poo Beng menyerang, lalu dengan tangan dan kaki, ia gunai tipu-silatnya “Hoansin djiekhie-kak” atau “Sambil memutar tubuh, mengangkat kedua kaki”. Dua-dua tangannya dipakai menyerang, kaki kirinya menendang. Sebelah tangannya menyambar ke arah kuping.

Inilah serangan hebat untuk Teng Hiauw, yang sudah terdesak, akan tetapi dia ada muridnya satu ahli sejati, dalam saat hebat itu, dia masih cukup gesit untuk tolong diri sambil loncat tinggi, melewati kepala musuh, hingga dalam sekejab saja, dia telah mendekati tembok pekarangan.

Poo Beng berseru saking penasaran, ia seperti putus asa untuk mengejar.

Teng Hiauw insyaf ia sudah gagal, ia datang untuk berguru, kesudahannya, ia jadi dimusuhkan mereka, berhadapan sama orang-or-ang liehay, ia tidak punya harapan, ia pikir untuk angkat kaki saja. Maka itu, setelah mendekati tembok, ia loncat lebih jauh, guna naik ke atas tembok, akan kabur.

Selagi ia loncat naik, ia dengar bentakan di kuping: “Turun!” menyusul mana, kedua kakinya dirasai sesemutan dan kaku, tidak tempo lagi, ia jatuh rubuh.

Thaykek Tan tahu-tahu sudah ada di sampingnya pemuda ini, dengan satu tepukan tangan, ia bikin si anak muda mati kutunya….

VI Teng Hiauw rebah tanpa berdaya, ia jadi gusar sekali, maka dengan coba kumpul antero tenaganya, ia geraki tubuh, untuk berduduk, kcmudian dengan mata mcnyala, ia awasi pihak KeluargaTan.

“Bagus!” ia berseru. “Malam ini baharulah aku belajar kenal dengan kau orang Kaum Keluarga Tan, tua dan muda, yang semuanya gagah-perkasa! Hayo, majulah kau orang semua! Sungguh bagus perbuatan kau orang ini, hingga kalau ini kejadian nanti tersiar dalam kalangan Kangouw, kau orang bisa mendapat nama! Kau orang serumah-tangga telah bcrhasil merubuhkan satu anak muda asing, apakah itu bukannya menandakan liehaynya Keluarga Tan?”

Thaykek Tan kerutkan alis mendengar ejekan itu. “Bocah, jangan mainlah lidahmu!”

ia membentak, hatinya mendongkol. “Tidak pernah Keluarga Tan menghina orang! Tapi kau harus omong terus terang, karena kita tidak nanti izinkan orang main gila di sini!”

“Apakah aku belum omong terang?” Teng Hiauw menantang.

“Pertama-tama aku tidak mencuri, kedua aku tidak merampas, ketiga aku tidak curangi orang! Di bagian mana yang kurang terang?”

Ia berlaku sangat jumawa.

Thaykek Tan jadi gusar. hingga alis dan kumisnya bangun berdiri.

“Begini kelakuanmu terhadap or-ang yang terlebih tua?” ia membentak. “Apakah gurumu belum pernah ajarkan kau adat- istiadat? Jangan kata bafaaru kau, dalam dunia Rimba Pcrsilatan pada sckarang ini, siapa menemui aku, tidak ada yang tidak berbahasa “tjianpwee” kepadakul Kau bilang kau berterus terang, sekarang aku hendak tanya kau, kcnapa kau datang kemari dengan bcrdusta tidak mengerti boegee? Kcnapa kau pakai akal? Baiklah aku gantikan kau bicara! Kau adalah salah scorang dari pihak Thaykek Teng, kau datang kemari dengan niatan curi rahasianya ilmu silatku, supaya kcmudian, kau bisa menjagoi dalam dunia Kangouw! Tapi apakah kau tahu, cita-cita semacam itu ada pantangannya kaum Rimba Persilatan? Maka baik kau jangan bersandiwara lebih lama! Hayo, omong terus terang! Kau ada pemah apa dari Teng Kiam Beng?”

Teng Hiauw terkejut karena-dibukanya rahasia hati itu, tetapi ia tctap tidak takut, dengan tawar, ia jawab: “Kau tak berhak untuk cari tahu siapa aku ada! Dengan kedudukan si besar, kau menindih si kecil, tidak, aku justru tidak sudi kasih keterangan pada kau!”

Sementara itu, Tan Eng Sin, sang engko, diam-diam kedipi mata pada adiknya. Adik ini lihat itu, tetapi ia tctap hunjuk roman gusar.

“Apa benar kau tidak mau bicara?” ia bentak. “Jikalau kau tetap membandel, aku nanti bikin kau tidak bisa bicara untuk selamanya!”

Lantas ia tunjuk dua jari tangannya, mengancam untuk menotok.

Teng Hiauw meramkan kedua matanya, ia berseru: “Walaupun kau bikin aku bercacat, tetapi aku tidak sudi bicara! Seumur hidupnya, tuan kecilmu paling tidak takuti ancaman!”

Thaykek Tan tarik pulang tangannya, diam-diam ia puji nyali orang yang besar.

“Poo Eng, coba kau geledah dia!” tiba-tiba ia perintah puteranya. “Lihat dia ada bawa senjata atau lainnya barang pada tubuhnya!” Poo Eng turuti perkataan ayahnya itu, selagi dia menggeledah, Teng Hiauw gusar bukan alang-kepalang, hingga ia kertak gigi dengan nyaring.

“Kau orang ada punya hak apa akan geledah aku?” ia berteriak. “Kau orang tuduh orang baik sebagai orang jahat, apakah ini kelakuannya kau orang yang telah kesohor namanya?”

Ia gusar tetapi ia mesti mandah digeledah, ia tak bertenaga untuk menentangi.

“Hak apa aku ada punya? Itulah hak disebabkan kau bangsat cilik!” kata Poo Eng dengan sabar tetapi mam, sambil ia tertawa dingin. Ia pun segera dapati sepucuk surat dalam sakunya. “Ha, sepucuk surat!” katanya. “Apakah ini bukannya bukti?”

“Tunggu dulu,” Thaykek Tan mencegah. “Nanti aku lihat dulu surat ini.”

Jago tua itu baca alamatnya kemudian ia buka surat itu, untuk baca isinya, lalu sembari lirik Teng Hiauw, ia perlihatkan roman heran atau kaget. Akhirnya ia sodorkan surat itu pada kandanya seraya sambil ketawa berkata: “Anak ini benar- benar bukan anak sembarangan!”

Sekonyong-konyong ia loncat pada pemuda tawanannya itu, ia tepukjalan darah “Hoantiauw-hiat”, menyusul mana, darahnya Teng Hiauw jalan pula seperti biasa, lenyap sesemutannya dan perasaan kaku, maka dia lantas bisa bangun berdiri.

“Sekarang apa kau orang hendak bikin?” ia tanya. Tetap ia tak jerih.

“Untuk merantau dalam dunia Kangouw, anak, tak dapat kau turuti perangimu,” kata ia dengan tenang. “Kau tidak mengerti sedikit jua tentang pantangan-pantangan kaum Kangouw, karena kesembronoan kau, hampir kau celaka. Kau ada punyakan surat ini, kenapa kau tidak segera hunjuki padaku? Siangkoan Kin itu kau punya apa? Kenapa dia suruh kau bawa surat ini untukku9“

Memang itu ada surat perantaraan Siangkoan Kin untuk Thaykek Tan, karena surat disimpan di sakunya Teng Hiauw, sekarang itu dapat ditemukan.

Di antara Siangkoan Kin dan Thaykek Tan tidak ada persahabatan rapat, adalah Soekong Tjiauw, gurunya Siangkoan Kin, ada satu tjianpwee, atau orang tua dari Rimba Pcrsilatan. yang Thaykek Tan paling kagumi. Usia di antara Thaykek Tan dan Siangkoan Kin pun beda, Thaykek Tan ada jauh terlebih tua, akan tetapi menurut tingkatan, keduanya ada sama derajatnya. Sementara itu dahulu – beberapa puluh tahun yang lalu – di waktu Thaykek Tan mulai keluar merantau, pemah Soekong Tjiauw membantu banyak padanya, maka itu, ia jadi ingat budi. Belakangan, dalam usianya yang Ian jut. Soekong Tjiauw ambil Siangkoan Kin sebagai murid, untuk muridnya ini. diam-diam pesan kata-kata terhadap beberapa ahli silat kenamaan sahabat-sahabat nya, untuk titipkan muridnya itu, karena ini, Thaykek Tan jadi dapat tahu, Siangkoan Kin ada ahli waris dari or•ang she Soekong itu. Kemudian Thaykek Tan dapat kesempatan bertemu muka sendiri dengan Siangkoan Kin, ia lantas dapat tahu, Thicbian Sieseng pandai ilmu menotok jalan darah, bahwa dia adalah satu jago asli, keduanya jadi bersahabat, mereka saling menghargai. Oieh sebab ini, biar bagaimana, Thaykek Tanjadi menaruh harga pada Siangkoan Kin.

Di dalam suratnya itu, Siangkoan Kin tuturkan asal-usulnya Teng Hiauw, sebabnya ini anak muda buron dari rumahnya, bahwa cita-citanya bocah ini beda daripada cita-citanya Teng Kiam Beng, sang ayah, bahwa Teng Hiauw sangat bersemangat dalam hal menuntut ilmu terlebih jauh, maka Siangkoan Kin minta Thaykek Tan sudi berikan pimpinan kepada pemuda itu. Yang tarik perhatian adalah Siangkoan Kin pun hunjuk, Tan-pay dan Teng-pay ada sama-sama kesohor, adalah bagus bila kedua kaum itu dapat dipersatukan.

Begitulah, maka sikapnya jago tua ini jadi sabar pula.

Selagi orang membaea suratnya Siangkoan Kin, Teng Hiauw mcngawasi, dari itu ia tampak perubahan wajahnya. Ia pcrcaya, surat itu pasti ada bawa pengaruh terhadap jago tua ini, maka ia pun pikir, selagi ia berniat mencari kepandaian, tak pantas ia terus berkepala batu. Justru itu, Thaykek Tan tanya ia, bagaimana perhubungannya sama Siangkoan Kin, dengan sabar ia berikan keterangannya.

“Siangkoan Kin?” demikian katanya. “Dia diperkenalkan kepadaku oleh Tjoe Soesiok.”- Sudah jadi kebiasaannya akan bahasakan “Soesiok” pada Tjoe Hong Teng -”Dia ada sangat baik terhadap aku. Karena ia ada menduga kau orang di sini bias jadi akan bikin susah padaku, ia sengaja tulis suratnya itu ketika kita hendak berpisahan. Tapi aku berpendirian tak ingin. memperoleh hasil karena bantuan lain orang, aku anggap, satu murid harus memilih sendiri gurunya, seperti satu gum pun harus pilih muridnya? Ini ada urusannya guru dan murid, kenapa mcsti ada orang kctiga mcnyertai di tcngah-tengah?

Dcmikianlah aku bcrada di sini sekarang. Sekarang kau sudah lihat aku, putusan terserah kepada kau: Jikalau aku ada punyakan harga untuk menjadi mu•rid, kau tcrimalah; jikalau tidak, kau boleh tolak! Jadi dalam hal ini, boleh tak usah ada Siangkoan Kin atau tidak.”

Thaykek Tan tertawa tcrbahak-bahak. Segera ia sukai ini anak muda, yang jujur dan polos, yang ucapkan apa saja yang dia pikir, sedang hatinya. pun besar, perangainya keras. Lalu ia kala: “Sekarang pergilah kau turut Poo Beng beristirahat, tentang soal mcngangkat guru, besok kita nanti bicarakan.”

Memang, Teng Hiauw merasa sangat letih, karena ia telah layani Poo Bng dan Poo Beng dan paling belakang tertotok Thaykek Tan. Ia tidak berlaku sungkan lagi, ia lantas undurkan diri mengikuti kedua saudara tjintong itu. Ketika ia bcrtindak, ia kata pada Gouw Hong Hoe: “Maafkan aku, Gouw Soehoe. Rupanya tak dapat aku menjadi muridmu. Kau telah menjadi orang perantaraanku, terima kasih, terima kasih untuk kebaikanmu!”

Sebenarnya Hong Hoe merasa kurang enak hati, tapi ia bilang tidak apa. Iapun lantas berialu.

Malam itu Thaykek Tan berunding sama engkonya, hal terima atau jangan Teng Hiauw sebagai murid, sebab itu berarti, mesti turunkan Tan-pay Thaykek-koen kepada lain kaum: la rada-rada kuattir dan karenanya, ia jadi bersangsi.

“Turut pemandanganku, anjurannya Siangkoan Kin beralasan,” nyatakan Tan Eng Sin, sang engko. “Selama beberapa tahun ini aku berdiam di rumah, terus aku yakini ilmu silat kita, aku dapat kcnyataan, masih banyak perubahan yang dapat di lakukan, untuk mcmpcrdalam, akan tetapi aku terhalang oleh bakatku, sulit aku dapatkan perubahan yang berfaedah. Tadi aku saksikan gerak-gcriknya Teng Hiauw, lantas aku merasa ada terbuka jalan untuk perubahan- perubahan. Aku lihat, bila dipadu, Teng-pay ada terlebih gesit, Tan-pay terlebih tenang, maka apabila keduanya dirangkap jadi satu, alangkah sempumanya. Teng Hiauw muda dan polos, jikalau kita ajarkan dia sungguh-sungguh, apabila kita tanya jelas padanya rahasia-rahasia| Teng-pay, pasti dia tidak akan menyembunyikannya, kelemahannya sekarang adalah karena ia masih terlalu muda dan kurang latihan dan pengalaman.”

Thaykck Tan dapat setujui pandangan engko itu. Memang, dengan tcrima Teng Hiauw scbagai murid. kedua pihak peroleh satu keuntungan yang sama Bagaimana bagus untuk ia, akan punyakan mu•rid scbagai pemuda she Teng itu.

Laginya, dengan tcrima Teng Hiauw, di belakang hari, tak usah ia likat akan menemui Siangkoan Kin.

Demikian besoknya, Thaykek Tan panggil Teng Hiauw, untuk beritahukan pemuda itu bahwa dia di tcrima jadi murid. tetapi dia sendiri mesti bcrlaku jujur. akan buka semua rah as i a Teng-pay, agar kedua kepandaian dapat tergabung menjadi satu.

Bukan kepaiang girangnya Teng Hiauw, ia lamas berikan janjinya, kemudian ia paykoei kepada guru ini.

Setelah upacara itu, Thaykek Tan tanya rnuridnya ini perihal perkenalannya dengan Tjoe Hong Teng, sang soesiok dan Siangkoan Kin.

Teng Hiauw berikan jawabannya yang jelas, tetapi kemudian, ia tambahkan: “Hanya saja kita orang

berpisah, aku tidak tahu suatu apa lagi tentang mereka itu.

Soehoe tanyakan Siangkoan Kin, ada urusan apakah?”

“Menurut Poo Beng, dia sekarang telah lenyap,” sahut Thaykek Tan, sambil tertawa

“Lenyap?” Teng Hiauw terkejut. ia sangsi, guru ini omong benar-benar atau main-main. “Bagaimana seorang dewasa bisa lenyap?” kemudian ia kata “Ah, tidak salah, ia tentu telah pergi merantau, ia sengaja atau malas berhubungan sama sahabat-sahabatnya…”

“Bukan, bukannya begitu,” Thaykek Tan kata dengan sungguh-sungguh. “Dengan aku, dia memang jarang berhubungan satu dengan lain. Dengan sebatang kipasnya, dia biasa merantau, sampai sebegitu jauh tidak ada orang yang usil dia, tetapi ini kali, dia benar-benar lenyap, sampaipun Tjoe Hong Teng scndiri, sibuk bukan main, Ini scbabnya kcnapa Poo Beng dipcrintah pulang, untuk panggil aku. Nah, Poo Beng, coba kau kasih keterangan pada soeteemu ini.”

Sebenarnya, Tan Poo Beng adalah salah satu anggota Gichoo-toan. Pernah Tjoe Hong Teng ajaki Tan Eng Sin dan Tan Eng Toan turut dalam gerakan kebangsaannya ini, seperti Kiang Ek Hian, sudah mcnampik. Poo Beng masih muda, ia tak sepaham dengan ayah dan pamannya, iff nyatakan ingin ambil bagian, pcrmintaan ini diterima baikoleh dua saudara Thaykek itu sesudah mereka ini berdamai.

Mengetahui socheng ini ada orang Gichoo-toan, Teng Hiauw ingat suatu apa.

“Pantas kemarin ini, selagi dikepung musuh, kau curigai aku,” kata ia. “Aku telah bantu kau, kau tapinya tidak perdulikan aku. Kau ada anggota Giehoo-toan, pantas kau berhati-hati.”

“Itu pun sebabnya,” sahut Poo Beng sambil tertawa. “Pemerintah Boan arah kita, kaki-tangannya banyak, segala jalan digunai untuk celakakan kita, dari itu, harus kita ber•hati- hati.”

Baharu sekarang Teng Hiauw tidak curiga lagi atas sikap aneh orang.

“Kau orang sudah menyimpang!” Thaykek Tan memegat sambil tertawa “Jangan kau orang cerita saja hayo kembali kepada soalnya Siangkoan Kin.”

Poo Beng bersenyum, ia lantas tuturkan Teng Hiauw tentang lenyapnya Thiebian Sieseng, si Mahasiswa Muka Besi.

Duduknya hal ada sebagai berikut:

Giehoo-toan berkedudukan di Propinsi Shoatang. Di sebelah Giehoo-toan, di sana ada satu perkumpulan rahasia lain, ialah Toatoo-hwee, atau Golok Besar. Toatoo-hwcc ini malah bcrdiri terlebih dahulu daripada Giehoo-toan. Tujuannya Toatoo-hwee pun mcmusuhkan pemerintah Boan. Mulanya, pasti sekali, Toatoo-hwee ada terlebih besar dan berpengaruh, melainkan sifatnya, ada terlebih terahasia. Sebagai perkumpulan terlebih muda, Giehoo-toan berdaya akan berseri kat dengan Toatoo- hwee, hanya ketika itu, Toatoo-hwee pandang enteng kepadanya. Kemudian, setelah Giehoo-toan menjadi besar, Toatoo-hwee jadi mengiri. Bisalah dimengerti, siapa kandung rasa iri hati, hatinya gampang retak.

Ketua dari Toatoo-hwee ada Ong Tjoe Beng, senjatanya adalah Tan-too, sebatang golok, dan ilmu kcpandaiannya adalah warisan Keluarga Ho dari Shoasay yang kesohor. Ia ada satu laki-laki. tetapi tabiatnya keras, ia terlalu percaya kepada diri scndiri. Karena ia musuhkan pemerintah Boan, dengan sendirinya ia pun musuhkan kumpulan agama asing, Toatoo-hwee dianggap sama dengan Giehoo-toan, maka itu, negara-negara asing minta pemerintah Boan tumpas kedua perkumpulan pcncinta negara itu. Di Shoatang, kedudukannya Toatoo-hwee ada di Kangpak, di utara sungai, pengaruhnya besar, tapi setelah kesusul sama Giehoo-toan, kcmajuannya tercegat Di dalam segala hal, scpak-terjangnya Ketua Toatoo- hwee ini kalah daripada sepak-terjangnya Tjoe Hong Teng, yang berpemandangan jauh, matanya jel. Karena ini, Ong Tjoe Beng jadi mendendam sendirinya, tidak perdu li Tjoe Hong Teng senantiasa selalu hunjuk sikap bersahabat.

Adalah karena belum dapat ketikanya, Tjoe Hong Teng belum sempat mengadakan perhubungan langsung dengan Ong Tjoe Beng.

Pada waktu Ong Tjoe Beng pergi ke Pooteng, Hoopak, akan sambangi Kiang Ek Hian, Tjongto Touw Kanlouw dari Giehoo- toan cabang Ipkoan, Shoatang, telah kena ditawan pihak Toatoo-hwee. Nama Kanlouw berarti si “Tukang Sewakan Keledai”, ini ada kerjaen asal dari Touw Kanlouw, saking kebiasaan, dia tcrus tetap pakai itu sebagai namanya sendiri. Distrik Ipkoan ada daerah pengaruh Toatoo-hwee, Touw Kanlouw tancap kaki di sana dengan tak terlebih dahulu berhubungan sama Toatoo-hwee, Ong Tjoe Beng jadi tidak scnang, pada suatu malam, dengan ajak beberapa kawan, Ong Tjoe Beng datangi markasnya Touw Kanlouw, akan culik tjongio Giehoo-toan itu. Seharusnya Ong Tjoe Beng pakai : aturan. akan lebih dahulu bicara dan tegur Touw Kanlouw apabila kecocokan tidak didapat baru ia turun tangan, tetapi Ong Tjoe Beng iakukan tindakan sembrono ini, ialah ia telah kena ojokannya satu orang lain siapa inginkan bentrokandi antara Toatoo- hwee dan Giehoo-toan.

Pcnculikan Touw Kanlouw menyebabkan bingungnya Tay-fjongto Lie Lay Tiong, wakil ketua pusat di Shoatang. Oia sangsi apa baik segera serbu Toatoo-hwee atau cari orang pertengahan, untuk bicara dabuJu, guna can penyelesaian sccara damai. Dalam hai ini ia dapat bantuannya Hoeto Thio Tek Seng, yang usulkan meminta bantuannya Siangkoan Kin, supaya Thicbian Sieseng pergi cari Tjoe Hong Teng,

buat panggil pulang ketua ini, agar si ketua yang ambil putusan. Dalam hai ini, Siangkoan Kin lebih setuju satroni duiu pusat Toatoo-hwee, akan tolongj Touw Kan-louw dengan j a Ian rarnpas pulang tjongto itu, kemudian baharu mereka berurusan dengan Toatoo-hwee, tetapi Thio Tek Seng tidak setujui ini, ia bcrhasil membujuki si Mahasiswa. Maka kcjadianlah Siangkoan Kin pergi cari Tjoe Hong Teng. “Thio Tek Seng ken al aku,” kata Tjoe Hong Teng, yang tcrima kabar sambi I kerutkan alis, karena ia mesti berpikir keras untuk ambil putusan. “Memang perkara mesti dicegah. menjadi besar dan onar.” Kemudian, tiba-tiba, ia keprak meja.

“Di sini ada satu keanehan! Ong Tjoe Beng memang besar kepala, tapi aku tidak mengerti, kenapa dia begini sembrono! Ah, mesti ada orang, yang sudah hasut padanya! Baiklah kita gunai ketika ini, untuk berhubungan sama Toatoo-hwee, untuk mengadakan persatuan.” ‘

Walaupun ia berpendapat demikian, Tjoe Hong Teng tidak bisa segera tinggalkan Hoopak dan Hoolam di mana pergerakan Giehoo-toan sedang berkembang-biak, tenaganya ada sangat dibutuhkan, maka dalam hai ini, tak dapat tidak, “Kau yang mesti bckerja. Sekarang kau lekas pulang, untuk kcndalikan orang-orang kita, tentu dia lagi tunggui tindakan kita. Maka kita mesti bcrsikap supaya tidak sampai mereka pandang rendah kepada kita. Lagi setengah bulan, aku pasti akan kembalil”

“Ah, demikian menyusahkan!” berseru Siangkoan Kin sambi I tertawa “Aku tak dapat kerjakan itu!” Dia memang masih tetap tidak sabaran. Tjoe Hong Teng pun tertawa, tertawa besar. “Tapi paling tepat- kalau Sioetjay menemui orang peperangan!” kata dia. “Kepandaian istimewa dari satu Sioetjay adalah bicara tentang keadilan dan kepantasan! Apa mungkin kau takut lawan kekerasan?” LantasTjoe Hong Teng memberi penjelasan terlebih jauh, setelah mana baharulah Siangkoan Kin setuju, lantas ia pulang ke Shoatang.

Ketua Giehoo-toan itu bukannya tidak tahu, Thiebian Sieseng ada bcrandalan, akan tetapi ia tahu juga, sahabat ini ada jauh terlebih cerdik daripada Lie Lay Tiong dan Thio Tek Seng, sedang dalam hai tingkatan atau dcrajat, dia ada jauh terlebih tinggi. Di dalam Giehoo-toan, Siangkoan Kin tidak menjabat kedudukan apa juga, akan tetapi kaum Kangouw ketahui dengan baik, dengan Giehoo-toan, dia mempunyai perhubungan yang rapat istimewa, dia sangat dihargai, jadi kalau dia dijadikan utusan, atau orang pertengahan, derajatnya ada setimpal, dia tepat sekali, melebihkan tempatnya Tjoe Hong Teng dengan siapa dia sama derajat.

Tjoe Hong Teng juga percaya, dengan Siangkoan Kin yang pergi umpama kecocokan tidak terdapat, urusan pasti tidak akan jadi meluas. Akan tetapi segera terbukti, kepercayaan, atau dugaan itu, meleset jauh sekali. Sebab belum sepuluh hart sejak keberangkatannya Siangkoan Kin, segera datang laporan kilat yang berbunyi:

Dengan seorang diri Siangkoan Kin telah kunjungi markasnya Toato-hwee, lantas dia tidak kembali, tidak ada kabar ceritanya, hingga orang tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati. Kabar angin memberi takan, Thiebian Sieseng telah dihajar sampai binasa Lain kabar lagi bilang, dia kena ditahan. Dari pihaknya Toatoo-hwee tidak ada kabar apa juga, kecuali sepucuk surat ringkas untuk Markas Giehoo-toan di Shoatang, bunyinya: tidak menginginkan Siangkoan Kin sebagai wakil pihak sana untuk mclakukan perundingan.

Banyak pengalamannya Tjoe Hong Teng, akan tetapi, ia terkejut. Ia insyaf bahwa urusan ada hebat. Maka sekarang, sempat atau tidak, ia mesti pulang. Tapi ia sangsi untuk ia bcrtindak sendiri, dari itu, sembari perlambat pulangnya, ia sebar pelbagai undangan, kepada sahabatnya kaum Rimba Persilatan dari beberapa propinsi, untuk ajak mereka berembuk, terutama untuk ketahui jelas siapa sebenamya Ong Tjoe Beng itu.

Tan Poo Beng datang menemui Tjoe Hong Teng di Anpeng begitu lekas ia berpisah dari Teng Hiauw di Tanjakan Kouw Siong Kong, tempat di mana ia dikepung serombongan musuh, tapi belum sempat ia bicara banyak, Tjoe Hong Teng segera perintah ia pulang ke Hoolam, buat minta bantuannya dua saudara ini.

Dcmikian penuturannya Poo Beng, yang membuat Teng Hiauw heran dan terkejut. “Soehoe, bagaimana?” ini murid lantas tanya, “Soehoe pergi atau tidak? Siangkoan Kin demikian liehay mustahil ia bisa tampak bencana?” Dengan roman sibuk, dengan mata terbuka lebar, murid ini awasi gurunya.

“Kenapa begini sibuk?” Thaykek Tan jawab sambil tertawa. “Jikalau aku sesibuk kau, nistjaya sckarang ini kau sudah tak dapat lihat aku! Ketika Poo Beng pulang dengan beritanya itu, aku memang niat lantas pcrgi tetapi setelah pikir, dengan kepandaiannya itu, apabila benar Siangkoan Kin dapat bencana, percuma umpama kata aku segera susul dia. Maka itu, sebelumnya berangkat, aku telah undang dulu Boesoe Han Koei Liong, guru silat kenamaan dari Liangouw yang kebetulan datang ke Hoolam ini, untuk dia menjadi penambah bantuan. Han Boesoe sudah terima baik undanganku, dia telah janji lagi dua hari dia akan pergi ke Hoaykeng akan tunggui aku, untuk kita orang berangkat sama-sama.”

“Apakah itu tidak terlalu lambat, Soehoe?” Teng Hiauw tanya pula. “Tidak,” sahut sang guru sambil menggeleng kepala. “Kau pikirlah biar tenang. Ada tiga kemungkinan, yang aku duga mengenai Siangkoan Kin. Pertama-tama ia sudah nampak kecelakaan, ia telah tak ada lagi dalam dunia. Apabila ini benar, walaupun kita mempunyai kesaktian akan hidupkan dia pula, ia akan tertolong lagi. Ini adalah kemungkinan paling hebat. Tapi dia liehay, mustahil dia nampak kecelakaan demikian macam? Yang kedua adalah ia sudah lolos dari ancaman bahaya, karena ada sebab-sebabnya, ia sengaja tidak mau segera muncul pula. Jikalau ini mungkin, tidaklah terlalu lambat bila kita datang ke belakangan untuk menolong dia. Kemungkinan yang ketiga adalah dia telah kena ditahan oleh Ong Tjoe Beng. Umpama betul dugaan ini, tidak nanti Ong Tjoe Beng berani celakai dia sebegitu jauh belum ada penyelesaian di antara Toatoo-hwee dan Giehoo-toan.

Touw Kanlouw sendiri cuma ditahan, pasti demikian juga dengan Siangkoan Sinshe. Ong Tjoe Beng ada scorang Kangouw kenamaan, aku sangsi ia berlaku hina, hingga ia berani tentang kemurkaan umum. Ini lah sebabnya kenapa Tjoe Hong Teng bisa berlaku sabar dan siap sedia akan undang banyak orang pandai.”

Kelihatannya Teng Hiauw dapat dibikin sabar. “Teetjoe berniat turut serta, apa Soehoe sudi mengajaknya?” ia tanya.

Thaykek Tan lirik rnuridnya itu. “Kau tak dapat pergi!” ia jawab. “Kau pergi pun tidak ada faedahnya. Yang pergi sekarang adalah orang-orang kenamaan semua, dari golongan tetua, bukannya kita hendak ambil pengaruh dari jumlah yang banyak, kau harus tenangkan diri, kau berdiam di sini, ikuti soepehmu untuk berlatih.” Teng Hiauw berdiam hatinya tidak enak. Selang beberapa hari benar-benar Thaykek Tan berangkat dengan ajak hanya Poo Beng, untuk sambangi Han Koei Liong, guna penuhkan undangannya Tjoe Hong Teng.

Selama jago Thaykek-pay ini lakukan pcrjalanannya, baiklah kita tengok Siangkoan Kin, yang telah berangkat scorang diri akan kunjungi Ong Tjoe Beng, Ketua dari Toatoo- hwee. Lebih dahulu daripada itu, setelah berpisahan dari Lie Lay Tiong dan Thio Tek Seng, akan laporkan putusannya Ketua Giehoo-toan. Ia bekal karcis nama yang memuat namanya Tjoe Hong Teng berikut namanya sendiri. Ia pergi sendirian ke Shoatang Utara, ke Gunung Sengtjoe-san di mana Ong Tjoe Beng bermarkas.

Seng Tjoe San ada sebuah gunung yang bagus keadaannya, penuh dengan rimba dan tanjakan, tetapi lembahnya bisa dipakai bercocok-tanam, untuk dirikan rumah- rumah tinggal. Di sini Toatoo-hwee pusatkan diri, bentengannya kuat. Ke sarang Toatoo-hwee ini Siangkoan Kin pergi tanpa jerih sedikit juga, malah ketika ia sudah menghadapi muka curam Sengtjoe-gam, ia maju terus tanpa cari lagi orang Toatoo-hwee untuk minta dikabarkan hal kedatangannya itu.

Ia ncrobos di tempat-tempat lebat dan sukar dengan Tengpeng touwsoei ilmunya cntcngi tubuh dan lari cepat sepcrti mclcsat bebcrapa kali ia lewari tempat-tempat penjagaan, ia lewat terus tanpa kasih dirinya terlihat para penjaga. Ia telah lintasi bclasan pos penjagaan itu, lantas ia sampai di muka ben teng, markas besar dari Ong Tjoe Beng. Pernah beberapa penjaga lihat bayangan berkelebat lantas lenyap, karena menyangka mata mereka lagi kabur, mereka tidak berani bunyikan suitan pertandaan.

Dengan thungsanya yang panjang dan gerombongan, yang memain antara siurannya angin, sembari goyang-goyang kipasnya Biauwkim sietjoe, Siangkoan Kin bertindak lebar menghampirkan pintu markas, sama sekali ia tidak perdulikan belasan serdadu yang jalan mondar-mandir menjaga di situ. Adalah dua pengawal di muka pintu markas yang heran hingga mereka berseru: “Eh! – Kau siapa? Adaurusan apa pagi-pagi begini kau datang kemari?” Tapi mereka mengawasi dengan mendelong. Sebenamya mereka merasai hawa pagi ada dingin, akan tetapi orang tak dikenal ini justru lagi kipasi diri..-. Siangkoan Kin berdiri diam, lalu ia tertawa.

“Aku adalah guru sekolah,” ia jawab seraya ia tunjuk dirinya sendiri, suaranya pelahan dan sabar. “Tjong-totjoemu telah undang aku untuk aku ajarkan sekolah pada anaknya—”

Serdadu itu heran, ia sangsi.

“Eh. Loodjie,” kata ia pada kawannya, “kau sudah tinggal lebih lama di sini, apakah kau ketahui, ada anaknya Tjong- totjoe yang hendak disekolahkan?”

Kawan itu berpikir.

“Putera Tjong-totjoe ada dua,” ia jawab kcmudian. “Putera pertama, umurnya sudah dua puluh lebih, tidak ada di sini.

Yang kedua baharu berumur dua atau tiga betas tahun, apa mungkin baharu sekarang dia mau bersekolah?”

“Anak umur dua atau tiga bclas tahun baru disekolahkan, apa anehnya?” kata Siangkoan Kin. “Dia ada terlalu dogoi, kau tahu atau tidak?”

Thiebian Sieseng goyang kepalanya, juga kipasnya, ia bawa lagak benar-benar mirip dcngan satu guru sekolah.

Loo Djie bercuriga, ia awasi or•ang, akan tiba-tiba tanya: “Kalau kau benar diundang Tjong-totjoe, surat keterangan apa kau ada punya? Jikalau orang asing datang kemari, dia mesti diantar oleh tauwbak atau dia membawa lengtjhie, atau kalau dia ada orang undangannya Tjong-totjoe. Mana surat keteranganmu? Mari kasih aku lihat!”

Siangkoan Kin tertawa, ia mengipas pula berulang-ulang. “Kau inginkan bukti?” ia balik tanya, sembari tertawa. “Langit kuning, bumi kuning, bertemu sama orang Ouw.disapu bersih, Kedua serdadu itu melengak. “Oh, kau kctahui pertandaan kita hari ini?” mereka tegasi.

“Kau orang lihat, bukankah aku tidak perdayakan kau orang?” Siangkoan Kin bilang tanpa perdulikan pcrtanyaan orang. “Kemarin aku diundang oleh Tjong-totjoenya, dia beri tahukan aku tanda mulut hari ini. Karena aku ketahui pertandaan, sudah tentu aku tak mcmbutuhkan pengantar tauwbak atau surat keterangan lainnya.”

Kedua serdadu itu percaya keterangan ini, memang markas mereka sering kedatangan tetamu-tetamu orang kenamaan, mclainkan Siangkoan Kin ini, lebih aneh daripada yang kebanyakan, tetapi karena or•ang tahu tanda rahasia itu hari, mereka tidak berani berayal atau berlaku kurang hormat.

“Silakan!” mcrcka mcngundang. Demikian Thiebian Sieseng diantar ke dalam. Sccara kcbetulan saja tadi, di tengah jalan, ia dengar tanda rahasia orang, sekarang ia gunai itu. Tapi ia tidak sangka, karena ia permainkan kedua serdadu itu,  mereka ini apes, mereka masing-masing telah diganjar dua puluh rotan, sedang Ong Tjoe Beng pun mendongkol bukan main, sebab di luar sangkaannya, markasnya orang bisa memasukinya secara demikian leluasa, ia merasa sangat terhina.

Siangkoan Kin tertawa di dalam hatinya selagi ia diantar masuk, karena secara gampang saja ia dapat perdayakan kedua serdadu itu. Buat sementara ia diminta menantikan di muka markas. Ia berdiri helum lama atau segera ia dengar suara riuh di dalam markas itu dari suara orang, dari tambur dan gembreng yang dipalu nyaring. Pintu besar dari markas pun segera dipentang lebar-lebar. Satu or•ang, yang tubuhnya besar, bertindak keluar dengan cepat, di depannya Siangkoan Kin ia memberi hormat secara militer, lalu ia kata dengan nyaring: “Tjong-totjoe kita dengan hormat menanya Siangkoan Sianseng, Tjoe Hong Teng sendiri datang atau tidak?”

Inilah ada perbuatan sengaja dari Ong Tjoe Beng. Ia terkejut ketika tadi ia dikabarkan datangnya “si guru sekolah” secara tiba-tiba itu, ia sampai berpikir sambil kerutkan alis, lalu dengan tiba-tiba ia gaplok serdadunya itu, yang lebih jauh ia perintah ringkus, untuk dihukum rangket dua puluh rotan, hukuman mana sudah lantas dijalankan. Itulah sebab dari suara tambur dan gembreng, dari suara berisik barusan.

“Thiebian Sieseng menghinaaku, dia menghina Toatoo- hwee!” ketua ini berseru dalam gusamya. Tadinya ia mau segera keluar sendiri. akan terjang si guru sekolah itu, baiknya hampir berbareng dengan itu, ia dapat pikiran lain, maka ia jadi sabar pula, sctclah Berpikir, ia perintah pentang pintu markas dan k i rim wakilnya akan minta keterangan, Tjoe Hong Teng sendiri datang atau tidak.
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 16"

Post a Comment

close