Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 10

Mode Malam
 
Pada hari yang ditentukan, kebetulan cuaca ada bersih, angin halus dan hawa udara rnenyenangi. Pada jam pembukaan, To Poet Hoan muncul untuk angkat bicara, mcncrangkan bagaimana oleh Ketua Lie Lay Tiong, bersama Loo-kauwsoe Yo Kong Tat, ia sudah diangkat jadi juru pemisah. Ia jelaskan, tangan dan kaki tidak mcngenal kasihan, dari itu siapa terbinasa atau terluka, mesti tcrima itu dengan ikhlas. Ia pun hunjuk siapa adanya kedua pihak, yang hendak pieboe, ialah satu ada ahli waris Thay Kek Pay merangkap keponakan dari Loo-kauwsoe Lioe Kiam Gim serta muridnya almarhum Uoe Kiam Gim, dan pihak yang Iain ada Gak Koen Hiong. Ia nyatakan, sebenamya di antara orang sendiri, urusan bisadidamaikan, tapi sekarang “dak, dari itu terpaksa diambil cara Kang-ouw itu, untuk habiskan Perselisihan dengan jalan adu kepandaian.

“Duduknya persengketaan ada diketahui baik oleh kedua pihak terapi barangkali tidak oleh semua hadirin,” To Poet Hoan kata lebrh jauh, “dari itu aku menjelaskannya”

Benar-benar ada sejumlatohadirin, yang tidak tahu sebabnya perselisihan itu, mereka ini lantas nyatakan ingin dengarpenjelasan.

“Menurut keterangannya Teng Hiauw dan Law Boe Wie, Lioe Loo-kauwsoe terbinasa di tangannya or•ang perintahan dari Gak Koen Hiong,”‘demikian juru pemisah itu menjelaskan. “Mereka ini yang ada murid ketiga dari Lioe Loo-kauwsoe, ialah Tjoh Ham Eng, pun katanya dibinasakan atas titahnya Gak Koen Hiong. Law Boe Wie pernah tawan salah-satu orang perintahan dari Gak Koen Hiong yang membinasakan Tjoh Ham Eng, dia ini telah berikan pengakuan tentang duduknya hal. Baharu To Poet Hoan berkata sampai di situ, di antara hadirin segera terdengar suara gemuruh yang berupa seruan- seruan, hingga Gak Koen Hiong dan rombongannya menjadi bermuka pucat, malu dan mendongkol.

To Poet Hoan lekas ulap-ulapkan tangannya, untuk meredakan suara berisik itu, sesudahnya, ia bicara puk “Keteranganku barusan adalah keterangan menurut Law Boe Wie dan Teng Hiauw,” kata ia “Pihaknya Gak Koen Hiong ada mempunyai aiasannya sendiri. Pihak ini bilang, Lioe Loo- kauwsoe adu kepandaian, dia teledor, dia kena orang pukul hingga binasa. Dia sebaliknya telah binasakan dua musuhnya. Maka, dengan satu jiwa diganti dua jiwa, pihak Gak Koen Hiong anggap itu pantas. Tcntang penyerbuan tcrhadap Tjoh Ham Eng, mereka mcnyangkal. Mcrcka anggap keterangannya Law Boe Wie perihal scorang yang tcrtawan dan mengaku dosanya, tidak ada buktinya, mereka tolak itu. Mereka katakan Law Boe Wie sudah kurang hati-hati tidak mcninggalkan kesaksian yang hid up. Gak Koen Hiong juga tuduh Teng Hiauw dan Boe Wie ciptakan hal yang tidak-tidak, bahkan mereka menuduh pihaknya sudah dibokong di waktu malam. hingga lima saudaranya dan cm pal pah la wan telah terbinasa dan tcrluka. Mereka minta kcadilan buat lima orangnya yang terbinasa dan empat yang terluka itu. Demikian kedua pihak saling menuduh. Sebab urusan sukar didamaikan, sekarang diadakan pieboe di atas loeitay ini, untuk mencan keputusan. Jadi pieboe ini bukan karena kegalakan, hanya untuk mendapatkan kepuasan, saking terpaksa.”

Keterangannya To Poet Hoan ini juga dapat sambutan teriakan tapi kalah hebat dengan yang pertama.

Poet Hoan tunggu sampai suara sirap, lalu ia terangkan aturan pieboe Pieboe tidak ada batasnya, hanya or•ang mesti bertanding satu iawan satu.

tidak boleh main mengepung. Kcmudian, juru pemisah ini wartakan satu hal yang mengejutkan orang banyak. Ialah Gak Koen Hiong menantang pieboe terhadap Law Boe Wie, karena ia bersakit hati segumpal rambutnya kena terpapas, hingga ia tantang Boe Wie, bukannya Teng Hiauw.

“Sekarang loeitay dibuka!” kata ia akhirnya, dengan suaranya yang keren.

Pembukaan ini disusul dengan suara genta tiga kali.

Sclagai Poet Hoan balik ke mcjanya, scluruh hadirin bungkam, hingga suasana jadi sunyi sekali. Tapi sebentar saja, lantas dari rombongannya Gak Koen Hiong loncat naik seorang bcrtubuh besar dan hitam pakaiannya, yang mclcsat laksana walct terbang, suatu bukti dari tjeng-kang-soct yang sempuma.

“Aku minta Teng Hiauw berikan pengajaran kepadaku!” kata ia setelah ia berdiri tcgak di atas panggung. Dia adalah Sat Kic Khan, itu wie-soe atau pahlawan orang Hwee-hwee, yang tempur Boe Wie dengan sia-sia, maka sekarang ia tantang puteranya almarhum Teng Kiam Beng, karena ia bcrpendapat, pemuda ini ada terlebih lemah.

Di atas loeitay, bila satu pihak menantang sambil menyebutkan nama, pihak yang ditantang boleh mcnolak atau majukan lain orang, akan tetapi Teng Hiauw tidak mau mengizinkan orang bertingkah menantang ia, dari itu tidak tunggu sampai To Poet Hoan tanya ia, ia bersedia atau tidak, ia sudah mendahului loncat naik ke atas panggung. Malah ia segera nyatakan dengan suara nyaring: “Terserah kepada kau, hendak pieboe dengan tangan kosong, dengan pedang atau senjata rahasia, aku si orang she Teng tidak akan bikin kau kecewa!”

Sat Kie Khan ada jumawa, segera ia hunus pedangnya yang panjang, pedang mana terbuat dari besi pilihan keluaran  tanah Tibet, seraya terus ia berkata: “Adu kepalan tidak menarik hati, adu senjata rahasia adalah permainan tak berarti, marilah kita adu pedang saja!”Tapi sebenamya ia jcrih terhadap piauwnya Teng Hiauw yang liehay dan ia hendak andali ilmu Thian Liong Kiam-hoat warisan dari gurunya, satu pendeta lhama yang tua dan berilmu.

Teng Hiauw tertawa ding in, ia lantas hunus pedangnya Tan-hong-kiam.

“Sahabat, silakan maju!” ia rrtengundang seraya ia pasang kuda-kudanya secara sembarangan. Itu memang ada cara permulaannya Thay-kek-kiam, ilmu pedang Thay Kek Pay.

Sat Kie Khan kenali sikap pembukaan orang itu.

Kau hendak gunai kepandaianmu Thay Kek Pay? Hm!” pikir ia. “Aku tahu, kau memang hendak menantikan kelelahan orang, tetapi kaujangan harap itu dari aku!” Lalu, sambil berseru, “Sambutlah!” ia maju, ia terns tikam pundak kiri. la gunai tipu silat “Liong lie tjoan tjim” atau “Puteri naga menusuk jarum”. Ini ada tipu ancaman yang disusul dengan kesungguhan Teng Hiauw berdiri tegar bagaikan gunung, ia tunggu sampai ujung pedang hampir mengenai sasarannya, baharu dengan tiba-tiba lengan kanannya bergerak, sambil tubuhnya turut nyamping, ia babat lengan kanan or•ang itu dari kiri ke kanan. Ia gunai tipu silat “Kim tiauw tian tjie” atau “Garuda emas pentang sayap”.

To Poet Hoan dan Yo Kong Tat diam-diam memuji gerakannya itu, suatu bagian yang liehay dari Thay-kek-kiam. Ini satu gerakan saja sudah menyebabkan anak rnuda ini menang diatasangin.

Sat Kie Khan terperanjat untuk caranya musuh menge lakkan diri itu, karena berbareng iaterancam bahaya akan lengannya terbabat kutung. Syukur ia bermata jeli dan gesit tubuhnya. Ia bcrkelit mundur sambil miringkan tubuh, hinggahampir saja iga kjrinya yang menjadi korbannya ujung pedang musuh itu. Setelah itu, dengan sebat ia putar tubuh, akan balas menikam pula. Kali ini ia gunai “Tjoen in tha tian” atau “Mega musim semi mendadakan terbuka”. Cara memutar tubuhnya pun sebat luar biasa. Teng Hiauw berdiri di tempatnya, ketika ujung pedang menyambar, ia sedot perutnya, tubuhnya dibikin melengkung, dengan begitu, iadapat loloskan din dari bahaya. Tapi di lain pihak, selagi tubuhnya ccnderung, tangannya, pedangnya, membarengi membabat dengan “Giok lie touw so” atau “Bidadari menenun”. Kapan musuh elakkan diri sambil mundur, ia menyusul menyabct pula dengan “Kim kee toat siok” atau “Ayam emas mcrcbui gandum”. Dua-dua kalinya ia membabat pinggang.

Dengan tcrpaksa. Sat Kie Khan mundur berulang-ulang.

Karena ini ia jadi gusar sckali. Maka itu, sambil mcnjcrit. iamerangsek. Sckali ini, ia keluarkan sungguh-sungguh ilmu pedangnya Thian-liong-kiam.

Thian Liong Kiam-hoat, ilmu pedang dari Tibet, yang pendeta lhama biasa gunai untuk melindungi gunungnya, terdiri dari delapan belas “jalan”, dan setiap scmbiIan jaian terpecah-pecah pula hingga semuanya menjadi seratus en am puiuhdua jurus, dari itu tidaklah heran, bila gerakannya ada pelbagai macam, dan sebab serangan lebih banyak daripada pembelaan diri, terjangan ada gencar bagaikan hujan deras.

Semua pcnonton lihat bagaimana Teng Hiauw dan pedangnya seperti terkurung dalam keredepan-pedangnya orang Hwee-hwee itu, hingga rombongan yang memihak kepadanya jadi kebat-kebit hatinya.

Mclainkan adalah juru pemisah To Poet Hoan, yang menyaksikan terus dengan tenang, dengan kekaguman, karena iasudah lihat tegas, bagai man a anteng dan mantapnya Teng Hiauw. Ia anggap puaslah Kiang Ek Hian, soehengnya, yang telah mempunyai babah mantu demikian liehay.

Dengan sebenamya, walaupun ia didesak, seperti dikurung, Teng Hiauw bikin perlawanan dengan tenang tetapi tak kalah gesitnya. Ia taat kepada ajaran Thay Kek Pay untuk lawan kekerasan dengan kelemasan dan keuletan. Maka itu, sampai habis Sat Kie Khan gunai semua pukulannya, ia tetap tidak suka mcmbcrikan ketika. Di akhimya, wie-soe itu sendiri yang kewalahan dan jadi si buk, hingga di luar keinginannya, permainan pedangnya mulai menjadi tak tcratur lagi.

Teng Hiauw bela diri sambil nantikan ketika yang baik, sekarang ia lihat ketikanya itu sudah sampai, ia tidak mau mensia-siakannya. Di saat Sat Kie Khan bertindak di garis “Tiong kiong” (tengah), ia maju sambil injak garis “Hong boen” (tengah musuh), hingga lantas saja mereka saling berhadapan, membarengi mana, pedangnya menikam.

Sat Kie Khan kesima, ia menangkis secara kesusu, tapi pedang lawan telah tekan ujung pedangnya, ia gunai seantero tenaga, untuk meloloskan tekanan itu, apa mau Teng Hiauw telah putar pedangnya secara melilit, gerakannya membetot, maka lidak tempo lagi, cekalannya orang Hwee-hwee itu terlepas, pedangnya terlempar jatuh ke lantai panggung. Ia jadi sangat kaget, semangatnya seperti terbang pergi, tidak tempo lagi, dengan gerakan “Sin liong tiauw sioe” atau “Naga suci menggoyang kepala”, ia memutar tubuh untuk mengaku kalah, guna tolongi dirinya. Apa lacur untuk ia, ia kalah sebat, pedangnya Teng Hiauw sudah menyambar lengannya yang kanan, hingga sebelah tangannya terbabat kutung, hingga rubuhlah ia dengan mandi darah dan tak sadar akan dirinya.

Gak Koen Hiong semua menjadi kaget, tetapi mereka licik, mereka lantas berteriak-teriak memprotes, mengatakan Teng Hiauw curang, or•ang sudah kalah dan sedang undurkan diri. masih saja diserang, hingga terluka.

To Poet Hoan tidak gubris protes itu, ia bunyikan gentanya, satu tanda babak pertama sudah habis dengan kekalahannya pihak Gak Koen Hiong itu. Ia kemukakan alasan, sesudah orang loncat turun ke tanah, baharu dia tidak dapatdikejar, tetapi Sat Kie Khan masih sedang berlompat tinggi, hingga dia masih boleh disusul, sebab orang toh tidak tahu, dia masih hendak melawan terus dengan tangan kosong, kecuali dia berseru menyatakan menyerah.

Pihaknya Gak Koen Hiong, walaupun mereka mendongkol, terpaksa mesti tutup mulat. Mereka lantas berdamai, memilih satu erang lain, untuk maju pula. Pilihan itu jatuh atas dirinya Kheng To Hoan. Toa-totjoe atau Ketua dari rombongan Hay Yang Pang. Dia ini sudah berumur lima puluh lebih, senjatanya ada Gin-hoa Ban-djie-toat, semacam gaetan piranti menggaet golok atau pedang musuh. Itu ada ilmu silat simpanan dari Keluarga Tong dari Shoasay. Ia me nan tang taytjoe pertama.

Teng Hiauw sudah loncat turun dari panggung, ia bersenyum apabila ia lihat ada lagi lawan yang menantang ia. Ia bersedia untuk sambut tantangan itu, tetapi selagi ia hendak berlompat naik, Tok-koh It Hang tekan tubuhnya.

“Jangan naik pula, Hiantit,” kata jago tua dari Liauw-tong itu. “Kesatu, kau tidak boleh kasih dirimu dilawan terus beruntun-runtun, kedua kau mesti insyaf, kau adalah Tjiang- boen-djin, ahli waris.”

Sambil mencegah demikian, Tok-koh It Hang menoleh kepada rombongannya, untuk pilih satu or•ang, tetapi belum sempat ia menyebut nama, tahu-tahu Lauw In Eng, ahli waris dari Ban Seng Boen, yang tidak sabaran, sudah mendahului loncat naik ke atas loeitay. Dia ini, sebagai adik dari Lioe Toanio Lauw In Giok, gusar atas kebinasaan tjiehoenya, iasengaja datang dari tempat jauh, untuk menuntut balas, maka itu, sebagai Tok-koh It Hang sendiri, dengan sendirinya ia berpihak pada Teng Hiauw dan Boe VVie.

“Kau hendak berkelahi sebagai roda mutar?” In Eng tegur Kheng To Hoan sambil ia tertawa nyindir. “Teng Hiauw tak jerih terhadap kau, dia hanya sungkan layani padamu!

Marilah, sebagai tembaga ponyok lawan besi bonyok, kau layani aku si tua bangka main-main!”

Habis itu, jago Ban Seng Boen ini hunus goloknya. Kheng To Hoan ada seorang Kang-ouw kenamaan, ia gusar sekaJi mclihat dirinya diperhina, tapi ia masih bisa kendalikan diri, hingga dcngan d ingin, ia kata: “Siapa yang berguna atau liada, biarlah gegaman kita yang memutuskan, jangan kau mainkan lidahmul”

Dan ia perlihatkan sepasang senjatanya yang beroman tumbak bukannya tumbak, beroman kampak bukannya kampak, di gagang ada cagak pclindung tangan. Itulah dia Gin-hoa Ban-djie-toat, alat pembetot golok dan pedang!

Begitu Iekas ia pertunjuki senjatanya, Kheng To Hoan lantas menyerang. Tangan kirinya dipakai melindungi dadanya, tangan kanannya diulur ke depan, membacok.

In Eng segera mundur apabila ia tampak serangan itu, ia terkejut, karena ia mcngcrti musuh bukan musuh sembarangan. Tetapi ia mundur bukan untuk menyingkir, ia gunai tempo akan putar golok Toan-

boen-too, untuk kaki kiri maju ke kiri, goloknya menyabet ke lengan lawan bahagian nadi. Inilah gerakan “Ang hee koan jit” atau “Sinar layung merah menawungi matahari”.

Kheng To Hoan tarik pulang tangan kanannya, tangan kirinya dipakai menangkis, hingga kedua senjata bentrok hingga menerbitkan suara nyaring, sampai lelatu api terbang muncrat. Ketika In Eng tarik pulang goloknya, bagian goloknya yang bentrok jadi sedikit kentop. Tapi segera ia mendesak, ia mainkan jurus- jurus dari Ngo-houw Toan-boen-too.

Kheng To Hoan telah yakinkan senjatanya untuk beberapa puluh tahun, ia tidak jerih walaupun lawan desak ia secara hebat, malah di sebelahnya menangkis dan berdaya akan tarik golok musuh, ia juga balas menyerang tidak kurang seruhnya.

Maka itu, berdua mereka telah jadi satu tandingan yang setimpal, pertandingan mereka luar biasa seruhnya. Puluhan jurus telah dikasih lewat dcngan cepat, sesudah sampai jurus kelima puluh, dcsakannya Lauw In Eng menjadi kurang sendirinya, hingga sekarang ia jadi lebih banyak membela diri. Ia insyaf bahwa ia tak bakal dapat kalahkan musuh, dari itu ia mcmikir akal untuk memancing musuh, maka dengan sendirinya, ia nampak jadi lcbih lambat. .

Kheng To Hoan mendesak terus, apapula sekarang ia I ihat musuh kalah ulet, nampaknya ia ingin sambar terlepas golok musuh. Sebentarkemudian, Ban-djiet-toat kanan sudah bentur golok lawannya, atas mana In Eng menggeser tubuh ke kiri, goloknya segera digeraki, dari bawah menyabet ke atas.

Apabila sabetan ini memberi hasil, gegaman musuh mesti terlepas.

To Hoan ada seorang yang banyak pengalamannya, walaupun ia lagi hadapi ancaman bencana, ia tidak jadi gugup. Begitulah ketika ia disabet, ia ketinggikan tangannya, ujung gaetannya disengaja berkelebat di mukanya lawan itu, di lain pihak, gesit seperti sambaran angin, tangan kirinya menyambar lengan kanan orang itu yang lagi menyabet.

Keadaan jadi berputar balik dengan cepat sekali. In Eng mesti tolong dirinya, ia tidak dapat membacok terus dan sukar juga untuk tangkis serangan kiri dari lawan itu. Tidak ada jalan lain, iaenjot kedua kakinya, akan berlompat tinggi ke samping. Tapi, selagi ia berlompat menyingkir, gegaman musuh,  dengan anginnya mendahului, sudah susul ia di belakangnya. Ia telah injak pinggiran panggung, desakan To Hoan membuat ia sukar untuk memutar tubuh. Tapi tak percuma dia menjadi ahli waris Ban Seng Boen atau adiknya Lioe Toanio, dalam saat terancam itu, ia masih sempat berpikir, selagi ia tidak  bisa putar tubuh atau menangkis, dengan mendadakan ia terus tekuk kedua lututnya, untuk mendekam, sesudah mana dengan kepala dimajukan ke depan, tubuhnya terus dimiringkan, tangan kanannya dikasih turun rendah sekali, untuk jaga supaya ia tidak sampai ngusruk, tetapi begitu lekas serangan sudah lewat di atas bebokong, gesit sekali ia angkat tubuhnya bangun, goloknya dipakai balas membacok orang punya pundak kiri, sedang tangan kirinya, yang kosong, dibarengi dipakai menggempur pundak kanan orang. Itu ada Ngo-houw Toan-boen-too punya salah satu tipu pukulan yang dinamai “Sam yang kay thay” atau “Keberkahan pembukaan tahun”.

Kheng To Hoan mengharapi kemenangan terakhir, ia tidak sangka musuh masih bisa eiakkan rangsekannya yang berbahaya itu, sebaliknya, sekarang ialah yang terancam bahaya. Tapi ia masih keburu tarik pulang kedua tangannya, dengan senjatanya yang kiri ia coba tangkis golok Ban-seng- too dengan senjata yang kanan ia gaet lengan kiri musuh.

Hingga kembali In Eng yang menghadapi bahaya pula.

In Eng coba tolongi dirinya, tetapi goloknya kena tergaet, untuk loloskan itu, ia segera pasang kuda-kudanya, ia membetot keluar sambil ia berseru: “Turunlah kau!” Ia harap, kalau toh mereka sama-sama rubuh ke bawah panggung, ia masih bisa lindungi nama baiknya.

Juga Kheng To Hoan membelai kehormatannya, selagi ia kena terbetot, hingga ia berada di tepi panggung, ia k’eburu tancap kaki kirinya, dari itu sambil pasang kuda-kuda, ia balas menarik dengan keras, sampai kuda-kudanya In Eng tergempur, tubuhnya terpelanting, melayang jatuh ke bawah panggung.

Ia telah gunai tenaga sangat besar, tubuhnya turut bergoyang-goyang, kakinya limbung, sampai ia tak dapat pertahankan diri, setelah sempoyongan, ia pun jatuh, hanya ia rubuh di atas panggung.

Sekaiian penonton kagum bukan main, umumnya orang keluarkan keringat ding in melihat bahaya-bahaya yang saiing mcngancam kedua pihak. Di saat terakhir itu, kclihatan nyata kepandaiannya tandingan itu. Syukur buat In Eng, selagi jatuh, ia bisa j umpalitan. hingga ia jatuh dengan bcrdiri. tidak dcmikian dengan To Hoan, yang rubuh terguling walaupun di atas panggung.

Segera orang riuh membicarakan, siapa menang siapa kalah. Selagi mereka itu belum bisa kasih pulusan, genta sudah berbunyi dan Yo Kong Tat sebagai juru pemisah, sebagai wasit, telah memutuskan, Kheng To Hoan adalah yang menang. Putusan ini didasarkan, siapa yang jatuh kebawah panggung, dialah yang kalah, meskipun To Hoan rubuh, ia rubuh di atas panggung. In Eng tidak terguling, tapi ia terpelanting dari atas panggung. Siapa rubuh di atas panggung, kendati ia terluka, ia masih dianggap menang.

Dcmikian Kctua dari Hay Yang Pang, yang telah berbangkit berdiri, dengan roman puas atau jumawa, segera menantang, siapa berani naik akan berikan pengajaran padanya.

“Aku tak jerih melakukan perlawanan bergiliran!” demikian ia sombongi diri.

Tadi To Hoan tantang TengHiauw, In Eng hinakan dia, sekarang ia dianggap menang, ia sengaja mengejek.

Sebenarnya, ia pun berhak untuk menolak pertandingan lebih jauh, tapi karena hendak menghina, ia tidak gunai haknya itu. Akan tetapi, baharu ia tutup mulutnya, atau satu orang berkelebat naik di depannya, apabila ia sudah lihat nyata orang itu, mau tidak mau, ia terperanjat. Yang baharu naik ini ada satu nona yang tubuhnya langsing kecil.

Nona ini ada Lioe Bong Tiap, dia lihat engkoenya kalah, dia jadi gusar, tidak bcrdamai lagi, ia loncat naik ke atas locitay. Maka itu, ia tidak saja bikin heran Kheng To Hoan, ia pun mengejutkan semua orang di bawah panggung, tak kecuali pihaknya sendiri. Lebih-lebih orang tahu, dia ada satu nona umur belasan, yang belum terkenal, dan Kheng To Hoan ada Ketua Hay Yang Pang yang kenamaan terutama di lima propinsi di Utara. Juga Teng Hiauw dan Boe Wie, mereka masih kuatirkan puterinya mendiang Lioe Kiam Gim sukar melayani jago tua itu. Kheng To Hoan terperanjat sebentaran, segera ia dapat pulang jcetabahannya karena ia mau percaya, satu bocah amur belasan tidak nanti punyakepandaian berarti, ia percaya si nona curna punyakan Tjeng-kang-soet yang sempurna, lain tidak. Ia percaya, dengan Ban-djie-toatnya, tidak nanti ia rubuh di tangannya nona itu. Ia melainkan tidak mau turun tangan terlebih dahulu, ia mengawasi dengan tawar, lalu ia bersenyum.

“Nona, naik di loeitay bukannya permainan!” kata ia. “Baik kau lekas turun, aku tak tega melukai kau….”

Di luar dugaan jago tua ini, si nona bersikap jumawa. “Aku pun lebih baik tidak binasakan kau!” katanya sambil

tertawa, dengan memandang enteng. “Paling banyak aku

nanti keja kau bercacat tapadakpa! Maka janganlah kau takut….”

Dari pendengaran, Bong Tiap dapat tahu, Kheng To Hoan bukannya seorang terlalu jahat, dari itu ia anggap sudah cukup bila ia bikin orang bercacat….

Kheng To Hoan telah berusia tua dan namanya sudah kesohor, mana ia bisa terima hinaan itu, dari itu, kata-katanya si nona membuat air mukanya merah padam, hingga lenyaplah rasa berkasihan terhadap nona itu.

K

“eh Budak busuk, berapa tinggi kepandaianmu?” ia membentak.

“Jikalau kau tidak tahu diri, maka bukannya kau pergi ke sorga yang ada jalanannya, kau justeru pergi ke neraka yang tidak ada pintunya! Nah, kau jangan katakan aku tidak sungkan-sungkan terhadap kau….’

Bong Tiap tidak kesudian mclayani orang bicara, segera ia cabut pedang Tjeng-kong-kiam, lantas ia maju menusuk, kepada dada orang! Adalah kata-katanya kaum ahli silat, “Golok jalan di putih, pedang jangan di hitam”. Ini berarti, siapa gunai pedang, dia lebih banyak maju ke kiri dan kanan, jarang sckali yang lantas menjurus di tengah-tengah, menikam dada. Di matanya kaum Rimba Persilatan, penyerangan itu menandakan perbuatan tidak melihat mata. Maka itu, diserang secara demikian, hawa amarahnya Kheng To Hoan jadi meluap, dengan sebat ia angkat sepasang senjatanya, dengan sengit ia menangkis, kemudian ia turunkan kedua Ban-djie-toat, untuk gencet kuping kiri dan kanan orang.

Di luar dugaan, Bong Tiap tidak menyerang sungguh- sungguh. ia melainkan menggertak, tatkala kepalanya dijepit, ia melesat ke samping kanan dari lawan, dari situ ia putar pedangnya, untuk babat lengan kanan orang.

Kheng To Hoan terperanjat akan dapati penyerangan tidak mcmberi hasil dan sebaliknya lengannya terancam, terpaksa ia enjot tubuhnya, akan lompat menyingkir, akan tetapi gesit sekali, si nona pun berioncat, akan susul dia.

Salahsatu pepatah da I am kalangan ilmu silat berbunyi demikian: “Satu kali ahli keluarkan tangan, lantas kctahuan tangan itu bcrisi atau tidak”, demikian dcngan Ketua dari Hay Yang Pang itu kapan telah ia saksikan kcpandaiannya si nona, yang usianya masih bcgitu muda, segera ia tak bcrani Iagi memandang enteng, dengan sungguh-sungguh iajaga dirinya, terus gunai kepandaiannya, mendesak.

Bong Tiap layani desakan orang dengan rangsekannya, hingga sekarang pertandingan jadi bcrjalan tcrlcbih seru daripada tadi, di waktu To Hoan layani Lauw In Eng.

Ini ada untuk pertama kali yang Bong Tiap menghadapi musuh tangguh, ia berlaku luar biasa hati-hati, sambil hunjuki kegesitan, ia pun perlihatkan tusukan-tusukan atau babatan- babatan yang berbahaya. Ia masih sangat muda tetapi ia telah gabungkan kepandaiannya dua kaum, ialah Sip-siam-kiam dari Thay Kek Pay dan Tat-mo-kiam dari Sim Djie Sin-nie. Yang belakangan ini mempunyai seratus delapan jurus. Kalau ia lihat musuh gunai kekerasan, ia lawan dengan lembek, tetapi sembari mengancam, ia pun bisa terusi itu dengan kesungguhan, hingga ia bisa membuat orang bingung, sukar untuk menduga-duga.

Sesudah bertempur kira-kira tiga puluh jurus, Kheng To Hoan lantas merasa sendiri bahwa ia seperti “terkumng” musuh muda iru, diam-diam ia rasakan tubuhnya menggigil. Baharu sekarang ia insyaf, si nona ada liehay sekali. Ia pandai rampas senjata orang, tetapi sekarang ia tidak berdaya, malah untuk membela diri ia mulai kewaiahan, hingga ia jadi sibuk dan berkuatir.

“Tidak dapat tidak, aku mesti gunai senjata rahasia,” pikir ia kemudian. Thie-lian-rjienya, atau biji teratai besi, sudah tersohor di lima propinsi Utara, ia hendak gunai ini, sekalipun terhadap satu wanita, karena ia mesti jaga kehormatannya di saat terakhir ini-..

Segera juga, berbareng dengan putusannya itu, Kheng To Hoa gunai tipu silat “Tjay hong soan oh” atau “Burung hong putari sarang”. Ia mcnyerang hebat di tiga penjuru di bawah.

Bong Tiap pun liehay, ia lihat serangan orang, ia lompat ke samping dengan pedangnya ditarik pulang dengan “To tjoan kian koen” atau “Memutar bumi”, lalu ia teruskan membabat lengan kanannya. Ini gerakan dari lawan adalah apa yang To Hoan harapkan. Ia berkelit sambil lompat ke saling, sambil berkelit, ia pindahkan senjatanya di kanan kepada tangan kiri, tangan kanannya itu segera dipakai meraba senjata rahasianya yang segera ia timpuki, hingga cahayanya berkeredepan.

Nona Lioe tertawa apabila ia lihat datangnya senjata rahasia itu, dengan ia buang tubuh ke samping, Pedangnya diangkat ke atas, diputar, hingga beberapa Thie-han-tjie kena kesVmpok dan terpental balik. Menyusul itu, di atas panggung ada mengaung dua kali suara aneh, disusul dengan susulan dua suara lamnya, menyusul mana Kheng To Hoan, Ketua dari Hay Yang Pang, jago dan Utara, perdengarkan teriakannya “Aduh!” berulang-ulang, tubuhnya,’ seperti layangan, melayang jatuh ke bawah panggung! Sebab ia telah terkena piauw Bouw-nie-tjoe!

Pihaknya Gak Koen Hiong menjadi kaget dan heran, juga mereka yang masuk angkatan tertua. Yang belakangan ini kenal piauw dari Sim Djie Sin-nie, karena itu, mereka sangka itu “niekouw malaikat” terbang datang dari “luar langit”, sebab mereka tidak nyana Nona Lioe yang muda remaja pandai menggunai senjata rahasia itu, terutama lantaran mereka tidak lihat bergeraknya tangan si nona, yang ketika itu justeru berkelit dari senjata rahasia musuh.

Bong Tiap taat kepada pesan gurunya, ia tidak berani gunai piauwnya apabila tidak sangat terpaksa, walaupun demikian, ia masih turut ajaran, ialah terlebih dahulu ia lempar piauw yang pertama, untuk dihajar piauw yang yang kedua, hingga terbitlah suaft pertandaan atau pemberian ingat. Coba To Hoan tidak mendahului curangi dia, dia tentu akan tetap melayani dengan Tjeng-kong-kiam.

Gak Koen Hiong bcramai lompat kepada Kheng To Hoan, untuk tolong itu kawan, tubuh siapa rebah tak bergerak di tanah, hanya melihat datangnya kawan-kawan, dengan Iemah ia bcrkata: “Aku telah dibikin tapadakpa oleh itu budak busuk!….” Ketika tubuhnya diperiksa, kedua lututnya di bahagian jalan darah “Hoan-tiauw-hiat”, telah berlobang ditcmbusi piauw, hingga urat-uratnya pada putus, hingga ia jadi rubuh scketika dan tak dapat berjalan lagi! Bong Tiap masih bcrdiri di atas loeitay ketika ia dengar seruan orang banyak, yang kemudian disusul dengan cacian dan kutukan, yang dikeluarkan pihak lawan sesudah mereka itu saksikan lukanya ketua Hay Yang Pang, tanpa merasa, ia kaget sendirinya. Ia insyaf bahwa musuh telah terluka parah. Inilah untuk pertama kali ia hadapi pertandingan besar, biar bagaimana, hati kecilnya kena gempuran. Ia tunduk, ia bemiat loncat turun dari atas panggung. Atau tiba-tiba:

“Tunggu, Nona! Aku ingin bclajar kenal dengan kau!”

Itu ada teguran, dari satu orang tua sebagaimana suaranya menyatakan itu.

Nona ini batal lompat turun, ia menoleh pada orang yang baharu datang itu, yang dengan pesat loncat naik ke loeitay. Ia tampak seorang usia lima puluh lebih, yang terus menghadapi ia, sambii tertawa haha-hihi, yang pun terns tambahi kata-katanya: “Wanita gagah, wanita yang masih muda, tetapi aku, sudah tua bangkotan, akan merasa berbahagia karena bertemu sama ahli warisnya Sim Djie, yang pandai mainkan piauw Bouw-nie-tjoe! Maka jikalau aku tak diberikan pengajaran, aku akan menyesal seumur hidupku!….”

Naiknya orang tua itu ke atas panggung telah disusui dengan teriakan dan tepukan tangan riuh dari bawah panggung, sedang In Tiong Kie dengan diam-diam terus kata pada Tok-koh It Hang yang berdiri didekatnya: “Aku tidak mengerti cara bagaimana Gak Koen Hiong bisa tarik orang dari pihak Kcluarga Tong ini?….”

Memang orang tua itu ada “Hoei-thian Sin Wan” Tong Ban Tjoan si “Orang Hutan Sakti”. Parnannya, Tong Tong Tjay, adalah sahabatnya In Tiong Kie di waktu muda. Dan ilmu senjata rahasia dari Keluarga Tong ini terkenal sebagai yang tersohor di “kolong langit”. Baik dalam menyerang maupun dalam menanggapi, keluarga ini sangat termasyhur. In Tiong Kie kesohor dalam hal “mendengar suara” senjata, yang pelajarannya ia dapati dari gurunya. In Beng Koh, tetapi dalam hal senjata rahasia. ia kaiah kesohomya seperti Keluarga Tong itu. Kedua kepandaian mereka yang menyebabkan mereka jadi bersahabat kekal. Hanya Tong Ban Tjoan ini, In Tiong Kie tidak kenal baik, ia curna tahu julukannya yang kesohor. Pada empat puluh tahun yang lalu, Tong Tong Tjay pernah satu kali bertemu dengan Sim Djie, selagi pendeta perempuan ini gunai piauw untuk memberi hajaran kepada serombongan berandal, melihat kepandaian itu, yang senantiasa didului dengan “suara peringatan”, Tong Tjay menghela napas, terutama memang sudah sejak lama ia dengar nama besar dari niekouw itu, malah pemah ia berniat mengadu kepandaian dengannya, tetapi sekarang, dia jadi kuncup sendirinya, sampai ia tidak berani agulkan lebih lama pula senjata rahasianya, sedang kepada keponakannya itu, sering- sering ia puji Sim Djie. Tapi Tong Ban Tjoan belum pernah menyaksikan sendiri, ia tidak percaya, ia malah ingin can” Sim Djie, buat coba uji kepandaiannya. Selama itu, sudah empat puluh tahuh, Tong Ban Tjoan belum pemah dapat ketika bertemu si niekouw. Itu waktu, Ban Tjoan baharu berumur belasan, tapi sekarang ia sudah berusia lima puluh lebih.

Sama sekali Tong Ban Tjoan tidak punya persahabatan dengan Gak Koen Hiong, kalau ia toh datang di medan pertempuran itu, inilah sebab jadinya ia diundang oleh Ketua Muda Gie Hoo Toan itu dengan perantaraan satu sahabatnya, dan Gak Koen Hiong telah kirimkan ia bingkisan yang berarti. Ia tampik undangan itu, ia tolak bingkisan, akan tetapi ia toh datang bersama-sama pamannya, hingga ia jadi tetamu terhormat dari Gak Koen Hiong. Sebabnya ini adalah ia dengar halnya loeitay dan ia ingin menonton. Ia dengar suara pertandaan, ia lihat Kheng To Hoan rubuh, ia menjadi heran, ia tidak nyana si nona demikian liehay, justeru begitu, ia dengar pamannya bilang: “Itulah ilmu piauw dari Sim Djie Sin- nie!” Sang paman pun nampaknya sangat heran.

“Apakah aku bisa naik untuk lawan dia?” Ban Tjoan tanya pamannya, sebelum ia naik. i

Tong Tjay berpikir, akhirnya ia menyahut: “Sukar untuk dibilang. Kalau Sim Djie sendiri, tak dapat kita lawan dia, tetapi nona ini, walaupun ia bisa gunai Bouw-nie-tjoe, latihannya masih belum sempurna, ia agaknya berimbang dengan kau. Apabila aku sendiri yang naik, aku tidak akan berhasil.”

Tong Tong Tjay bukan jerih terhadap Bong Tiap, tetapi ia sudah tua, ia tahu diri, tidak demikian dengan sang keponakan, siapa, atas jawaban itu segera saja loncat naik ke atas Panggung dan hadapi Nona Lioe.

In Tiong Kie dan Tok-koh It Hang ketahui kepandaiannya Keluarga Jong, mereka menjadi sibuk, tetapi sebelah mereka, pihaknya Gak Koen Hiong jadi sangat gembira.

Mereka mengundang, mereka ditolak, siapa tahu, sekarang jago she Tong itu bersuka rela, maju sendiri, bagaimana mereka tidak bergirang?

Bong Tiap hendak layani orang bicara, karena orang tua itu bersikap manis budi, hanya sebelum iasempat buka mulut, ke atas panggung sudah loncat naik seorang yang ketiga, yang bajunya baju biru gerombongan dan kumis jenggotnya panjang, sebab dia adalah salah satu dari tiga pendiri Pie Sioe Hwee ialah In Tiong Kie, siapa kuatirkan si nona dan dari itu mencoba untuk menolong.

“Sudah lama kita orang tidak tahu bertemu, apa Hiantit ada banyak baik?” demikian In Tiong Kie tanya Tong Ban Tjoan seraya ia memberi hormat. “Apakah pamanmu datang bersama? Ini nona sudah lelah, aku-nanti gantikan ia main- main sama kau, Hiantit.”

Tong Ban Tjoen kenali jago ma itu, ia lekas membalas hormat tetapi atas tantangannya, ia menampik.

. “Kepandaian Loopeh mengetahui senjata rahasia dari sambaran anginnya saja, aku telah ketahui sejak lama,” berkata ia, “tidak demikian dengan piauw Bouw-nie-tjoenya si nona yang tidak dapat siauwtit lewatkan. Kita hendak mengadu senjata rahasia, bukannya adu senjata lainnya, dari itu walaupun ia sudah bertempur sekian lama, pertandingan senjata rahasia pasti tidak akan meletihkan dia.”

In Tiong Kie hcndak jawab orang she Tong itu, tetapi Bong Tiap telah dului ia.

“In Loo-tjianpwee^ aku tidak ielah,” demikian si nona. “Ini Loo-enghiong hendak memberikan pengajaran padaku, suka sekali aku menerirnanya.”

Memang Bong Tiap ingin sekali bertempur lebih jauh. Dalam keadaan terpaksa itu, In Tiong Kie mesti menurut,

maka itu, ia loncat turun pula. Kctika ia baharu naik, pihaknya

Gak Koen Hiong menjadi tidak senang hati, semua mengutuk ia mengadu biru, hanya mereka tidak bcrani bilang suatu apa, karena ada haknya pihak Boe Wie untuk tukar orang, tetapi sckarang mercka lihat jago tua itu undurkan diri, mercka puas sekali. Mercka harap-harap Tong Ban Tjoan nanti rubuhkan nona itu.

Dengan naiknya In Tiong Kie, Bong Tiap jadi kctahui, Tong Ban Tjoan ada kenalan atau sahabat pihaknya sendiri, dan itu, ia jadi tidak kandung niatan untuk- bikin orang celaka atau menanam bibit permusuhan.

Segera juga pertandingan antara Bong Tiap dan Ban Tjoan sudah dimulai. Mereka tidak beradu tangan kosong atau alat senjata, hanya setelah satu tanda, keduanya pisahkan

diri, dengan berbarcng mereka beraksi. ialah bcrtindak memutari panggung sesudah duaputaran, dengan tiba-tiba Tong Ban Tjoan berseru: “Nona sambut piauw!”

Jago she Tong itu tidak mau berlaku curang, ia sengaja perdengarkan seruannya itu, sesudah itu baharulah ia keluarkan kepandaiannya, dengan “Hoan im piauw” atau “Memutar lengan menyembunyikan piauw”, iatimpuki senjata rahasianya, untuk perlihatkan kepandaiannya Kaum Kcluarga Tong. Biar bagaimana, di atas panggung jaraknya kedua orang ada dekat sekali. Bong Tiap lihat bahaya mengancam, ia berkelit, hingga piauw lewati samping iganya. Senjata itu menyambar dengan cepat sekali. Sudah begitu, dengan geraki tubuhnya, sambil mereka terus berputaran, Tong Ban Tjoan kirim pula serangannya, yang kedua, yang ketiga, saling susul

— yang kedua menuju ke jalan darah “Sin-teng-hiaf* di tubuh atasan, yang ketiga mengarah jalan darah “Djoan-moa-hiat” di bawah.

Dengan pedangnya, Bong Tiap sampok piauw yang menyambar jalan darah di atas, lalu dengan “It hoo tjiong thian” atau “Seekor burung hoo terjang Iangit”,’ ia berlompat tinggi, untuk menyingkirkan diri dari sambaran ke bawah, secara demikian, ia bikin gagal kedua piauw lawan itu.

Serangan Tong Ban Tjoan ini ada permulaan belaka, untuk ia cari tahu gerak-gerik si mona, tetapi ini pun sudah bikin Bong Tiap insyaf bahwa aeo tua itu tidak saja pandai menggunai piauw akan tetapi semua ggsarannya adalafa jalan darah, karena itu, ia jadi ber-hati-hati.

&embali mereka berputaran, saling mendekati dan saling menjauhi, sampai dengan tiba-tiba, tangannya Bong Tiap terayun, tigabatang piauw melesat berbareng, dibarengi dengan suara mengaungnya.

Tong Ban Tjoan dengar suara sambaran, ia tahu tiga batang piauw serang ia di tiga jurusan, atas, tengah dan bawah, dari itu, sambil berseru “Bagus!”, ia hunjuk kepandaiannya. Dengan kelitan ‘Teng lie tjhong sin” atau “Di dalam kaki pelana scmbunyikan tubuh”, ia kasih lewat piauw di atas. Dengan sebat luar biasa, hingga kedua piauw yang kedua, yang mana, ia tcruskan pakai menyambit piauw ketiga, hingga kedua piauw beradu dan dua-duanya jatuh ke bawah panggung. Dia tanggapi piauw dengan tangan kiri, tangan maina dibungkus dengan sarung tangan kuilit manjangan.

Pertandingan itu membuat semua penonton kagum. Tong Ban Tjoan ada ahli senjata rahasia, senjata rahasianya bukan cuma satu macam. Tiga batang piauw yang tadi ia pakai menyerang adalah P’auw biasa saja, karena piauw itu “d« membawa hasil, ia lantas “lenukar dengan yang lainnya, ia ubah juga cara menimpuknya. Begitulah tangan kirinya merogoh kantong piauw, akan keluarkan seputuh batang Kie-lee, yang tidak dipakaikan racun, yang terus bagikan dua ke tangan kanan. Senjata rahasianya ini memang ada dua macam, yang dipakaikan dan tidak dipakaikan bisah, ia sekarang pakai yang bebas racun, karena ini ada pertandingan adu kepandaian saja. Macamnya senjata juga beda dari yang umum, setiap tail, dan empat penjurunya dipakaikan cagak yang tajarn, hingga lain orang, jangan kata bisa gunakan itu, pegang saja pun sukar.

Setelah kedua pihak saling berputaran, saling kejar dengan cepat, tiba-tiba tangan kanannya Tong Ban Tjoan bcrgcrak, lima buah senjata rahasia, sambil mengeluarkan sinar berkeredepan, melesat saling susul, kemudian itu disusul dengan lima buah lainnya dari tangan kiri, yang tak kalah cepatnya.

Bong Tiap lihat datangnya serangan, ia segera ayun tangan kanannya, akan menimpuk dengan lima buah piauwnya, akan sambuti lima batang Kie-lee. Senjatanya ada tcrlcbih kecil lagi, tetapi di waktu Iima-lima senjata saling bentur. kelima Kie-lee jatuh beruntun.. Untuk ini. Bong Tiap gunai Thay Kek Koen, yang lawan tenaga dengan tenaga. Tangkisan ini membuat Ban Tjoan terperanjat.

Segera menyusul lima buah Kie lee lain, cepat laksana bintang melesat.

Bong Tiap tidak lagi bisa timpuki lima buah lainnya, ia tidak pandai gunai dua-dua tangannya kiri dan kanan seperti Sim Djie, gurunya, tciapi ia telah wariskan Tat Mo Kiam, gurunya ilmu pedang yang liehay, maka sekarang, ia perlihatkan ilmu pcdangnya itu. Ia putar Tjeng-kong-kiam, dengan cepat sekali, antara sinar berkilauan dan sambaran angin, lima batang Kie- lee jatuh beruntun, lenyap cahayanya, mclainkan suara bcnturan saja yang terdengar nyaring bemntun-runtun.

Hatinya Tong Ban Tjoan jadi bergetar kapan ia sudah saksikan kepandaian itu, ia kuatir ia nami tidak sanggup I indungi namanya sebagai ahli senjata rahasia, karena mana, ia mcnjadi sibuk, maka ia lantas gunai panah ular api Tjoa-yam- tjian dan pcluru Tjoe-bouw-tan, yang ia timpuki dengan berbareng kepada si nona

Blasur itu tidak boleh terbentur, apabila ditangkis, apinya lantas meletus dan menyambar, sedang dalam peluru Tjoe- bouw-tan, di mana ada sembilan lobang, setiap lobangnya menyembunyikan sembilan batang peluru Thie-lian-tjie, karena dipasangi alat, Thie-lian-tjie itu bisa melesat keluar sendirinya, menyambar sasarannya. Maka itu, kedua senjata itu, yang dipakai berbareng, ada sangat liehay.

Bong Tiap tahu, Tong Ban Tjoan sebagai ahli mesti punyakan rupa-rupa senjata rahasia, dari itu, sesudah pecahkan dua rupa senjata rahasia orang itu, ia berlaku semakin waspada Ia lihat pundak orang bergerak dan lalu menyambar suatu benda biru menyala. Cepat luar biasa ia berkelit. Tempo panah itu lewati ia dan jatuh ke panggnng sambil terus meletus menyambar api, ia terkejut, tetapi ia masih sempat mencelat jauh hingga ia luput dari bahaya terbakar. Tapi menyusul itu ada menyambar beberapa butir benda mirip bola besi yang pun mengeluarkan suara aneh, maka, menduga kepada senjata rahasia gaib, ia mcndahului berlompat dengan tipu “It hoo tjiong thian” atau “Seekor burung hoo melesat ke langit”. Ia sambut senjata rahasia itu, dari atas, ia menekan, maka peluru itu jatuh terlebih cepat ke atas panggung, pecan dan sembilan Thie-lian-tjie segera menyambar ke empat penjuru panggung. Karena semua penonton dilarang mendekati panggung jauhnya belasan tumbak, senjata itu tidak sampai meminta korban. Baharu Tjoe-bouw-tan lewat atau datang Tjoa-yam-tjian yang kedua.

Setelah pengalaman yang pertama, Bong Tiap tidak lagi terperanjat seperti sebermula. Ia berkelit pula akan kasih lewat ular api yang liehay itu, ketika menyusul Tjoe-bouw-tan yang kedua^ kembali ia berlompat dan tekan itu hingga jatuh ke tanah.

Segera menyusul peluru yang keriga, yang jatuh jauhnya dari Bong Tiap tidak ada satu tumbak, yang tidak mengenai sasarannya karena si nona keburu menyingkir, akan tetapi, jatuh di panggung, dia “meledak” sendirinya, sembilan Thie- lian-tjie terus terbang menyambar. Sekarang Bong Tiap sudah siap sedia, dari itu, ia sudah lantas menimpuk dengan piauwnya, dalam gerakan “Thian lie san hoa” atau “Bidadari menyawer kembang”, hingga piauwnya itu melesat berhamburan, menangkis sesuatu Thie-lian-tjie, biji teratai besL

Demikian, dua ular api telah dilewatkan, tiga peluru besi sudah dipunahkan, karenanya, hatinya si nona menjadi lebih tetap, akan tetapi di sebelah itu, ia terus berpikir, senjata apa lagi yang sang lawan bakal pergunakan, hingga dalam waspada, ia pun kebat-kebit…. Oleh karena ini, untuk membalas, ia segera ubah siasat dari membeladiri, iajadi menyerang. Kembali ia gunai piauw Bouw-nie-tjoenya.

Tidak kecewa Tong Ban Tjoan digelarkan Hoei-thian Sin Wan si Or•ang Hutan Sakti. Dengan keentengan dan kegesitan tubuhnya, ia kelit sesuatu piauw, ia berlompat ke segala penjuru, bagaikan angin cepatnya, sedang tangannya bersilat dengan semacam gegaman istimewa buatan Keluarga Tong sendiri, ialah Leng-tie-kwat, alat piranti menyambut berbagai senjata rahasia, hingga piauwnya sinona tak dapat berbuat apa-apa. Maka juga, Bong Tiap ubah siasat.

Sebelah tangannya Nona Lioe ditimpuki ke atas, dengan begitu sekepal piauw menyambar ke atas juga, kemudian, nona itu lemparkan pula sekepal yang lain. Hingga, menampak demikian, Tong Ban Tjoan menjadi heran. Pertunjukan apa lawan itu sedang berikan? Kenapa piauw bukan dipakai menyerang hanya di lemparkan ke udara?

Di atasan kepala mereka, dua gumpal piauw Bouw-nie-tjoe telah saling serang dengan menerbitkan suara berulang-ulang, piauwnya melesat ke segala penjuru, ada juga yang habis membentur yang satu, lalu kebentur yang lain, demikian seterusnya, hingga udara seperti penuh dengan piauw itu, kemudian, turun semua piauw menjurus ke arah Ban Tjoan. Di sebelah itu, Bong Tiap timpuki lagi lain gumpalan.

Biarpun ia ada satu ahli, jago Kcluarga Tong ini menjadi heran dan kaget. Seumumya, belum peraah ia tampak serangan piauw semacam int. Semua senjata rahasia menyerang langsung, tidak demikian dengan piauw Bouw-nie- tjoe ini. Ia pun pandai mendengar suara, untuk kenali senjata rahasia, ia pandai melihat gerakan tangan, orang akan menduga jurusan ke mana lawan menyerang, akan tetapi, caranya Bong Tiap ini ada sangat asing baginya. Begitulah, kendatipun ia ada gesit, ia kelit sana dan kelit sini, tidak urung pundak kanan, dan pundak kirinya, tclah kena tcrhajar piauw, hingga ia terluka, kulitnya lccct, dagingnya mempan scdikit.

Baharu sekarang ia insyaf lichaynya si nona. Untuk cegah bahaya terlebih jauh, scgcra ia berseru: “Berhenti! Berhenti! Berhenti! Nona, kau benar-benar liehay, aku menyerah!”

Dan ia menyerah tidak tunggu sampai ia kena dihajar jatuh dari atas panggung.

Lioc Bong Tiap lamas berhentikan penyerangannya, ia masuki pedangnya ke dalam sarung.

“Kau merendah saja,” kata ia sambil bersenyum.

Tong Ban Tjoan sudah lantas loncat-turun dari panggung, sesudab mana, Yo Kong Tat bunyikan genta scraya terus nyatakan, Nona Lioe Bong Tiap yang menang. Di bawah panggung orang tcrbiikan suara gemuruh, dari tempik sorak. akan tetapi di pihaknya Gak Koen Hiong, orang berhati jerih, hingga juga beberapa di antaranya, yang merasa dirinya liehay, sungkan loncat naik ke atas panggung untuk layani si nona

Beberapa waktu Bong Tiap berdiri mcnantikan. apabila kemudian ternyata tidak ada orang yang naik, ia loncat turun. Biar bagaimana, seteiah layani dua musuh, ia merasa lelah juga, sedang piauwnya, yang semua berjumlah empat puluh sembilan butir, sekarang tinggal hanyatiga! Ia scbcnarnya sudah mulai berkuatir, apabila ia mesti layani lain musuh, ia bisa menghadapi bahaya. Maka ia bersyukur yang ia bisa lekas-lekas undurkan diri.

Gak Koen Hiong bernapas lega apabila ia tclah saksikan si nona loncat) turun. Jikalau si nona tetap berdiri dan dipihaknya tidak ada yang naik lagi, ia bakal kalah. Sekarang ia bisa pilih lain orangnya, untuk naik dan menantang.

Jagonya ini adalah pahlawan istimewa dari Istana Boan, iaiah Twie-thio atau Kapten Tat Sip Pa-touw-louw, yang kesohor buat delapan belas jurus Tiat-pie-pee Tjiang-hoatnya, atauTangan Pie-pee Besi. Dia ini telah takluki semua pahlawan Boan lainnya dan sangat dihargai oleh Ibusuri Tjoe Hie See-; Thayhouw. Diapun ada orang di belakang layardari Gak Koen Hiong.

Begitu lekas Tat Sip berada di atas panggung, lantas ia tantang In Tiongj Kie. Lalu bicaranya ada sangat tidak sedap didengarnya. Ia kata: “Aku lihat, tadi Loo-tjianpwee ada sangat menantang, dari itu sekarang aku tidak ingin bikin kau kecewa, aku mohon pengajaran dua atau tiga jurus, atau kapan Loo-tjianpwee tidak mau adu tangan, Loo-tjianpwee boleh gunai senjata, aku sendiri tetap akan bertangan kosong….”

RombongannyaGak Koen Hiong murka karenatadi In Tiong Kie malang di tengah, mereka anggap itu ada gangguan, pengacauan, justeru mereka duga, jago tua ini tidak pandai bertempur dengan tangan kosong, mereka sengaja majukan tantangannya itu.

Dengan sesungguhnya, tantangan pihak Gak Koen Hiong itu telah membuat sulit kepada In Tiong Kie. Ia ada kenamaan, ia pasti tak dapat lawan orang dengan bertangan kosong. Ia biasa mcnggunai cambuk, benar sedangnya ia bersangsi, tiba-tiba ia lihat scorang bcrtindak ke arah loeitay. Ia segera kenali Tjian Djie Sianseng dari Ouw Tiap Tjiang.

Diam-diam ia malu sendirinya.

Tok-koh It Hang berdiri di sampingnya jago tua Pie Sioe Hwee ini, ia tampak tampang orang itu berubah, ia mengerti, lantas iatertawa dengan perlahan.

“Lauwhia, segera kau bakal gembira,” kata ia. “Tua bangka itu pasti sekali akan bikin lawannya dapat dipermainkan sebagai binatang saja!” &ji

Pek-djiauw Sin Eng belum tutup mulutnya, atau Tjian Djie Sianseng, yang telah bertindakke arah panggung dengan lenggang lebar, sudah sikap bajunya yang panjang dan berlompat baik dengan tubuh limbung, seperti ia tak dapat pertahankan imbangan dirinya, dan sambil napas memburu, ia ngoceh scndirian: “Dasar sudah tua, aku tak punya guna….”

Banyak hadirin berkuatir buat or•ang tua ini, tetapi ahli-ahli silat pada bersorak dengan pujiannya, karena gerakan orang. itu adalah yangdinamai Tang hong hie lioe” atau “Angin timur permainkan cabang yanglioe” Itu adasuatu gerakan ahh silat, mirip dengan “Tjoei Pat Sian” atau “Delapan Dewa Mabok”.

Tat Sip bukannya seorang tolol, ia terperanjat melihat gerakan ‘Tang hong hie lioe” itu, akan tetapi andali sangat Tjap-pwee-Iouw Pie-pee-tjhioenya, yang bisa tusuk tembus perut kerbau, yang jarang ada tandingannya, dari itu, ia terus maju mendekati. “Eh, apakah kau hendak gantikan In Tiong Kie menjadi bangkai setan?” ia menghina.

“BegitulahF. tertawa Tjian Djie Sianseng, yang sabar luar biasa. “Tulang-tulangku yang sudah tua sudah lama tidak pernah terima kemplangan, maka sekarang adalah ketikanya untuk dibikin pada longgar. apabila kau bisa hajar aku satu kali, aku akan sangat bersyukur kepadamu, melainkan aku khawatir, kau tidak bisa pukul kena padaku…. Nah, sahabat baik, kau mulaiiah dengan tanganmu!”

Belum pernah Tat Sip Pa-touw-louw terima hinaan seperti itu, tidak heran apabila ia jadi sangat gusar, sambil berseru, ia lantas menyerang dengan dua-dua tangannya maju berbareng. Dengan “Pek wan tan louw”, atau “Orang hutan putih mencari jalan”, ia menghajar ke arah batok kepala.

Aneh adalah sikapnya Tjian Djie Sianseng. Diserang secara hebat demikian, ia tidak menangkis, ia tidak membarengi untuk mendahului mcnghajar musuh, dia hanya scgera lompat jumpalitan, bcgitu tinggi, sampai ia levvati musuhnya dan turun di belakang musuh itu, gerakannya gesit seperti terbangnya walet

Tat Sip seperti tidak lihat orang lompati ia, akan tetapi ia merasa pasti, maka itu, cepat ia memutar tubuh, berbareng dengan mana, dua tangannya yang keras dipakai mcnycrang saling susul, untuk cegah musuh bokong ia.

Kcmbai i jago Ouw Tiap Tjiang, si Tangan Kupu-kupu, tidak menangkis, ia tidak berkei it, hanya, ia tari nyamping, untuk terus lari berputaran di atas panggung itu!

“Eh, tua bangka ampas, ke mana kau hendak lari?”membentakTat Sip, yang lompat mengejar.

Tjian Djie lari berputaran, ialoncatl ke kiri, ia melesat ke kanan, seperti orang main petak, ia mencelat ke belakang, kakinya seperti juga tidak injak panggung lagi, gerakannya mi rip dengan kupu-kupu menyambar-nyambar bunga atau kutu terbang memain di air. Ini adalah ilmu silat jOuw Tiap Tjiang, yang dipelajarinya sejak masih kecil, dengan loncat-loncatan nyeplos antara ratusan pohon kayu atau pelatok, sampai tubuh tak membentur suatu pohon juga, maka kapan ia hadapi musuh dengan lari berputaran dan lelompatan, ia bisa bikin jadi kabur penglihatan matanya dan pusing kepalanya.

Tat Sip kena dipermainkan, dia gusar dan mengejar terus, sia-sia saja dia berdaya akan mencandak, jangan kata dapat menyerang dengan Pie-pee-tjhioenya, buat langgar saja baju gerombongan orang, dia tidak mampu. Apa yang mendongkolkan, bila ia tidak dikejar, orang tua itu justeru menghampirinya, atau bila orang ayal-ayalan, ia lambat- lambatan, ia mengejek, loncat ke kiri ke kanan, ke depan dan belakang.

Dalam mendongkolnya, Tat Sip tidak insyaf bahwa ia lagi diganggu, karena ia terns mengejar. Belum terlalu lama, matanya lantas bcrkunang-kunang, kepalanya pusing, hingga sendirinya gerakan kakinya jadi pelahan. Justeru dalam keadaan demikian, tiba-tiba Tjian Djie Sianseng loncat ke depannya, agaknya hendak menyerang. Ia kaget, ia angkat sebelah tangannya, untuk menangkis. Ia telah gunai ilmunya “Yauw liong tjoet tong” atau “Naga limbung keluar dari kedung”.

Tangkisan itu tidak memberi hasil, karena Tjian Djie Sianseng tidak terus menyerang, hanya orang tua ini mencelat ke samping, terus mencelat pura di belakang orang itu.

Sebeium Tat Sip sempat putar tubuh, beruntun ia terima dua tamparan yang nyaring pada kupingnya kiri dan kanan, sampai ia menjadi ketulian, hingga ia jadi gusar tak terhingga. Tiba-tiba ia majukan kak i kanannya ke depan, kaki kirinya tertekuk, tubuhnya jadi terlentang ke belakang. Ini ada gerakan “Go houw hoei tauw” atau “Harimau tidur memutar kepala”. Sambil bergerak demikian, kedua tangannya turut menyambar ke belakang, ke arah lawan, yang berada di sebelah belakangnya itu. Ini adatipu pukulan yang sangat liehay, yang Tat Sip gunai secara mati-matian, untuk bikin celaka musuh, buat, kalau perl u, sama-sama terluka.

Tjian Djie Sianseng lihat scrangan nekat dan orang itu, scmbari mundur, ia kasih dengar tertawa mengejek, kemudian dengan mengapungkan tubuh, kedua kakinya terangkat untuk tendang kembali lawan, yang lagi angkat badannya untuk berbangkit pula.

Itulah gerakan sangat scbat, kedua kaki sampai pada sasarannya, hingga memperdengarkan suara keras, menyusul mana bagaikan bola saja, tubuh besar bagaikan kerbau dari Tat Sip terpental jauh satu tumbak lebih, terus rubuh ke bawah panggung dengan menyungsang atau “Sie kak tiauw thian” atau “Empat kaki menjulang langit”!

Berbareng dengan suara genta, tanda pertandingan babak itu telah berakhir untuk kemenangannya pihak Teng Hiauw dan Law Boe Wie, Tjian

Dj.e Sianseng turun dari panggung dengan pelahan-lahan, lalu dengan lenggang kangkung, ja kembal. ke dalam rombongannya.

Kembali orang-orang dart rombongan Gak Koen Hiong pada kertak gigi, saking gusar dan mendongkol, akan tetapi, kendatipun demikian, tidak lantas ada yang majukan diri, mereka semua ngeri melihat Tat Sip Pa-touw-louw yang liehay bisa dipecundangi secara demikian gampang.

Pertandingan baham berlanjut lima babak, baru sudah mendekati tengah hari, selama itu, Gak Koen Hiong kalah empat, bukan main ia mendongkol dan bingung. Dengan re•man suram, ia memandang kepada rombongannya, akan pilih jago pula. Akan tetapi, belum sampai ia dapat memilih, dari pihaknya Tcng Hiauw, In Tiong Kie sudah loncat naik ke panggung, di mana, sambil memperdengarkan suara berisik, ia loloskan cambuk Kauw-kin Hong-liong-piannya dari pinggangnya, karena cambuknya itu bisa dilibat sepertiiangkin, apabila ia kibaskan itu, senjata lemasitu lantas sajajadtkaku dan lempang seperti tumbak atau ruyung,

Sembari perlihatkan senjatanya itu jago itu segera kasih dengar suaranya: “Aku si orang tua sudah lama tidak lagi gemar berebutan di kalangan Kang-ouw, aku lebih-lebih tidak mat menghlna orang dengan kepandaianku, akan tetapi, di samping itu, akupun tak suka sekali orang tantang aku sccara langsung.

Barusan Tjian Djie Sianseng sudah talangkan aku, aku pcrcaya dia tak bikin sahabat-sahabatku menjadi kecele, tetapi sekarang aku, aku hendak bikin sahabat-sahabat tidak menjadi terlebih kecele pula, dari itu, dengan mengandali tulang-tulangku yang sudah tua, aku minta sahabat siapa saja naik kemari untuk berikan pengajaran padaku!” Ia bicara sambil matanya terbuka lebar ke arah rombongan dak Koen Hiong, lalu ia tambahkan: “Nah, sahabat mana yang hendak maju paling dahulu? Aku sama sekali tidak sudi menyebut nama langsung!”

Rombongan Gak Koen Hiong saling mengawasi. Mereka anggap lawan ada aneh. Tadi dia ditantang, dia tidak mau maju, sekarang, tanpa ditantang atau diminta, dia maju sendiri. Karena dia scgera keluarkan cambuknya, orang mengerti, dia hendak bertanding tak dengan tangan kosong.

Di antara kaumnya Gak Koen Hiong ada bebcrapa pahlawan Boan yang ulung, mcreka ini tidak saja kcnal baik hal-ihwal jago tua ini, pun ada yang pernah bertempur dengannya, sebab sebagai salah satu pendiri Pie Sioe Hwee, pernah ada ketikanya or-ang-orang Pie Sioe Hwee hendak ditawan oleh pemerintah. Pernah pada satu malam, seorang diri In Tiong Kie lawan empat pahlawan dan dapat membinasakan tiga di antaraya. Maka itu, pahlawan-pahlawan Boan jerihj terhadapnya. Hong-liong-pian itu, selain bisa digunai sebagai toya atau cambuk, j uga bisa dipakai membetot gcgaman orang.

Melihat orang pada saling memandang saja, satu lhama yang dipanggil TjongTat To menjadi gusar sekali.

Gegamannya ada Teng-tjoa-pang, ru’yung atau toya “Ular rotan”,| terbuat dari rotan keluaran istimewa Tibet, sebelum dijadikan senjata, direndam dulu di dalam minyak, sampai seratus kali rendam dan seratus kali dijemur, ujung toya dilibati kavvat, hingga jadi kuat betul, dan tidak bisa terbabat kutung oleh golok tajam. Toya ini seperti Hong-liong-pian, termasuk senjata yang “lemas”.

“Biar aku yang terima tan tangan int!” kata ia pada Gak Koen Hiong. I a bersikap jumawa. “Satu tua bangka, apanya yang mesti dibuat jerih!”

Ia lantas maju, ia loncat naik ke atas panggung, dengan teladan In Tiong Kie, terus ia keluarkan toyanya dari libatan pinggang, lantas ia bentak ke depan sampai jadi lempang betul, seraya ia menantang: “Silakan maju!”

Diam-diam In Tiong Kie tertawa dalam hati melihat toya orang itu.

“Rupanya toya ini ada anaknya cambukku, panjangnya pun hampir sama,” demikian ia pikir. “Baiklah aku coba ketangguhannya.”

Lantas, dengan satu seruan merendah, ia mulai menyerang lebih dulu.

Tjong Tat To percaya, Hong-liong-pian mirip dengan Teng- tjoa-pangnya, melihat serangan musuh, ia bersenyum tawar, ia lantas menangkis dengan “Kim kauw siauw tjoe” atau “Ular naga emas mclilit tiang”. Ia bentur Hong-liong-pian, ia hendak lilit itu, untuk dibetot copot dari cekalan lawannya.

In Tiong Kie belum kenal cara bersilat musuh, walaupun ia menyerang, ia toh bersiaga untuk tidak sampai gagal dan kecele, maka itu, menampak cara menangkisnya, ia lekas tarik pulang cambuknya, dengan gerakan “Koay bong hoan sin”, atau “Ular naga jumpalitan”, ia bergerak ke kiri, terus ia balas menyabet ke arah pundak kanan dari lawannya itu.

Tjong Tat To bukannya seorang lemah, ia tarik pulang toyanya, berbareng dengan itu, ia mencelat tinggi, mclcwati musuh, untuk turun di sebelah bclakangnya, lalu dari ini, sambi memutar tubuh, ia menyerang pinggang. Ia menggunai tipu sabctan “Heng kang tjay long” atau “Memotong sungai, memutus gelombang”. Gerakannyaadasangat gesit.

In Tiong Kie ada seorang yang berpengalaman, ia pun pandai mendengar suara gerakan pelbagai senjata, ia tidak gentar menampak musuh berloncat melewati ia, malah dengan tidak menoleh lagi ke belakang, ia putar lengannya, ia menyabet ke belakang, untuk menangkis, hingga ia minp dengan orang yang mempunyai mata di bebokong.

Lhama itu terperanjat atas cara orang itu menangkis terutama karena pian datangnya dari atas, turun rhenimpa dan menekan toyanya. Lekas-lekas ia gunai tipu “Go tee liong” atau “Naga tidur di tanah”, untuk membebaskan diri ancaman bahaya, ialah sambil mendak, ia berkelit.

Bcnar-benar bahaya mengancam dengan segera. In Tiong Kie sudah putar tubuhnya, serangannya lebih jauh lantas mcnyusul, malah saling susul, dalam rupa-rupa serangan ‘Tjay hong soan soh” (Burung hong memutari sarang), “In liong tiauw sioe” (Naga menggoyang kepala), dan “Lian hoan poan tah” atau “Serangan bertubi-tubi”. Tiga serangan itu mengarah kepala, pinggang dan kaki, saling susulnya sccara sebat sekali.

Tjong Tat To sudah berjaga-jaga, ia pun liehay, maka itu, walaupun serangan bertubi-tubi, ia dapat elakkan semua itu dengan ketangkasannya. Ia beTkelit, ia menangkis, ia berlompat. Di sebelah itu, ia pun lantas balas menyerang. Sebagai kesudahan, keduanya bertempur dengan sera, kegagahan mereka ada berimbang sekali, sampai beberapa puluh jurus, masih belum ketahuan siapa menang dan siapa kalah, mereka tetap saling menyerang. Satu kali Tjong Tat To kena didesak, dari tengah, ia sampai di pinggir. Ia ketahui i ni. ia mcnjadi gusar sekali. Ia mcmang beradat keras. Dcngan tiba-tiba, ia berseru, dengan pukulan “Ya tjee tan hay” atau “Memedi memeriksa lautan”, ia scrang batok kcpala orang. Ia ada sangat bernafsu, sampai agaknya ia lupa dcngan penjagaan diri. Terang ia ingin, dengan satu gebrakan itu, ia akan peroleh kemenangan yang memutuskan.

In Tiong Kie lihat ancaman itu, diam-diam ia bergirang menampak kekosongan orang itu. Dengan sebat sekali, ia berkelit, membarengi itu, sambi! mengendap, ia membabat ke arah kaki lawan. Ia gunai tipu serangan “Ouw Hong liang tee” atau “Naga hi tarn mcrebut tanah”.

Tjong Tat To tetap hunjuki keliehayannya. Ancaman itu hebat, tetapi ia insyafi itu. Malah sekarang ia sengaja, ia hendak keras lawan keras. Begitu, sambi I lompat berjingkrak, ia menyabet ke bawah, ke arah pian lawan, untuk bentur itu, untuk dililit, hingga kedua scnjata, cambuk dan toya, scpcrti saling meiibat, sesudah itu, ia lantas membetot dengan kaget dan keras, ia gunai seantero tenaganya.

Di pihak lain, In Tiong Kie juga menarik tak kurang kcrasnya.

Dua-dua, Hong-liong-pian dan Tcng-tjoa-pang ada alat-alat senjata kuat dan ulet, tetapi ini kali, menemui j timpalan, kcduanya sampai pada “ajalnya”. Tarikan getas dan keras, j disebabkan libatan sangat keras, mcmbuat dua-duanya patah dengan sekonyong-konyong, di antara suara nyaring dari patahan itu, dua-dua. In Tiong Kie dan Tjong Tat To jadi terpelanting sendirinya, masing-masing jatuh ke bawah panggung! Syukur untuk mereka, mereka bisa jatuh berdiri, tangan mereka mencekali buntungan senjatanya masing- masing, napas mereka sama-sama memburu.

Suara gent a menyusul dengan lantas, dan To Poet Hoan umumkan putusannya: Scbab dua-duanya jatuh dari panggung, pertandingan itu ditctapkan seri, tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang.

Pihaknya Gak Koen Hiong bergembira. Walaupun mereka tidak menang, toh In Tiong Kie, satu lawan tangguh, dapat dibikin tidak bisa * bcrbuat suatu apa. Tapi, sclagi mereka kegirangan, dari pihaknya Teng Hiauw, mereka lihat satu orang loncat naik ke atas panggung, apabila mereka telah kenali orang ini, mereka kaget.

Orang dari pihak Teng Hiauw itu naik ke loeitay sambil berloncat. Dia ada satu hweeshio yang mukanya lebar dan sepasang kupingnya gede. Yang membikin orang terkejut, dia adalah Hong Tjin Hweeshio, pendcta kenamaan dari Siauw Lim Sie dari Gunung Siong San. 

Pada masa itu, di antara kedua golongan kaum persilatan yang utama, Boe Tong Pay dan Siauw Lim Pay, pihak Siauw Lim sendiri terbagi atas empat cabang, ialah cabang Pouw- thian di Hokkian, cabang Teng-hong di Hoolam (Siong San), cabang Lam-hay, dan cabang Ngo-bie. Cabang Hoolam, yang dikenal sebagai Siong San Siauw Lim Sie, disebut sebagai Boe- lim Tjong-hoay, pusatnya. Ilmu silat Siauw Lim Sie terdiri dari tujuh puluh dua rupa, sesuatu cabangnya ada istimewa, umumnya melebihi Iain-Iain kaum. Umpamanya ada Tiat-see- tjiang (Pasir Besi), Hek-see-tjiang (Pasir Hitam), Ang-see- tjiang (Pasir Merah), Kim-see-tjiang (Pasir Emas), Kim-pa- tjiang (Macan Tutul Emas), Tiat-pie-pee (Piepee Besi), Tiat- sauw-tjioe (Sesapu Besi), Poan-dj iak-tj iang (Tangan Kecerdasan), dan Tiang-koen (Tangan Panjang). Dari empat puluh lebih rupa senjata rahasia, lebih dari separuhnya ada kepunyaan pihak Siauw Lim. Sedang Hong Tjin ini ada hweeshio keluaran dari Madrasah Tat Mo Ih dari Siauw Lim Sie di Siong San. Madrasah ini dapat dimasuki cuma oleh hweeshio-hweeshio yang sudah sempurna pelajaran’silatnya. Maka itu, pihaknya Gak Koen Hiong jadi sangat terpengaruh oleh nama Siauw Lim Sie.

Dalam sibuknya, Gak Koen Hiong terpaksa ingin minta tulang punggungnya, Lhama Besar Kat Pouw Djie, untuk layani pendeta dari

Siauw Lim Sie itu, akan tetapi belum sampai ia buka mufutnya, dari antara rombongannya sudah ada satu orang yang mendahului loncat naik ke atas panggung. Orang itu sama sekali tidak bicara lagi sama ia. Dia berumur empat puluh lebih-, tubuhnya kate dan dampak, mukanya penuh berewokan, romannya sangatjelek, tapi tubuhnya sangat gesit Tidak ada orangnya Gak Koen Hiong yang kenal orang ini, mereka semua menjadi heran. Sesampainya ia di atas panggung, segera ia kcluarkan gcgamannya. ialah sepasang ruyung Hoed-tjhioe-koay yang terbuat dari baja.

“Taysoe, sejak kita berpisah, apa kau ada banyak baik?” demikian or•ang ini menanya Hong Tjin Hweeshio, sambil ia bersenyum sindir. Dianampaknyasangatjumawa dan menantang.

Pendeta itu mengawasi, ia rasa kenal orang ini, apabila ia sudah mengingat-ingat, ia menjadi terkejut dengan sekonyong-konyong, hingga ia mengawasi lebih jauh dengan tercengang.

Sekarang ini usianya Hong Tjin Hweeshio sudah mendekati enam puluh tahun. Dia sucikan diri bukan semenjak masih kecil, hanya baharu hampir tiga puluh tahun. Pada riga puluh tahun yang lalu, ia ada murid Siauw Lim Sie, yang biasa saja, dalam usia muda, ia sudah rampungkan pelajarannya, dari itu, ia terus merantau. Kemudian ia bekerja dalam satu piauwkiok. Ketika itu, dalam Rimba Pcrsilatan. orang justcm paling mcnangkan diri. Di dalam piauwkiok itu pun ada bekerja satu piauwsoc lain, keluaran Boc Tong Pay, namanya Hoe Touw Lam. Di situ dia in i ada dimalui. Tapi, dengan datangnya Hong Tjin, dia jadi merasa tidak senang. Sampai pada suatu hari, datanglah ketikanya untuk ia agulkan Kaum Boc long.

“Boc Tong Pay dan Siauw Lim Pay memang bcrdasarkan satu,” kata Hoe Touw Lam. Pendiri dari Boe Tong Pay, ialah Thio Sam Hong Tjouwsoe, ada asal Siauw Lim Pay, yang pisahkan diri dan mendirikan cabang sendiri. Tapi Boe Tong Pay telah ambii bagian-bagian yang bagus dari Siauw Lim Pay dan buang bagian-bagian yang jclck, dia berdiri sendiri, scbagai ahh Iwcc-kcc, bagian dalam, dari itu, dipadu dengan Siauw Lim Pay, dia ada jauh tcrlcbih menang!”

Hong Tjin masih muda, ia pun baharu keluar dari perguruan, bias dimengerti jikalau ia jadi tidak senang.

“Apakah sih Iwee-kee dan gwa-kee?” kata ia. “Lwee-kee Boe Tong Pay ada muncu! dari Siauw Lim Pay.

Pemecahan aliran itu ada untuk memperdayakan orang luar saja.

Semua cabang silat, biarpun berlainan, ada masing-masing ilmunyayang luar biasa, dan semua membutuhkan latihan tenaga. Scsuatu cabang mesti mempunyai orang-orangnya yang liehay, jadi tak dapat dibilang, cabang ini mesti mcnangkan cabang yang lain. Atau Icbih tegas lagi, tak pasti lwee-kee akan kalahkan gwa-kee!”

Perselisihan paham ini lantas bcrubah mcnjadi pcrscngketaan, dari salmg bcrcbut omong, mcreka jadi sal ing sindir, karcna pcrdamaian tidak bisa didapatkan, mcreka putuskan itu dengan satu pertempuran. Hong Tjin tidak dapat kendalikan hawa amarahnya, dengan Kim-pa-tjhioe, ia lukai Hoe Touw Lam, sampai dia ini mendapat luka di dalam dan  tak bisa yakir.kan ilmu silat Iebih jauh. Selang bebcrapa tahun, bahna kesal, dia jatuh sakit dan akhirnya menutup mata. Kejadian ini membuat Hong Tjin amat masygul, ia sangat menyesal, dan bclakangan lagi, iapun insyaf, pekcrjaan piauwsoc adalah berarti menjual jiwa untuk orang-orang yang uangnya banyak, pengubanan itu tidak berarti, maka akhirnya, ia pergi memasuki kuil, ia mcnjadi pendeta.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 10"

Post a Comment

close