Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 07

Mode Malam
 
Siapa tahu, baharu Boe Wie berpikir demikian, atau dari depan, di mana ada bukit, lantas terdengar suara berisik, dari larinya beberapa ekor kuda, yang mana disusul sama sambarannya beberapa batang anak panah, yang mengaung di tengah udara.

Dengan hati berpikir, karena berkuatir, Boe Wie hunus pedangnya la tahan kudanya. Segera juga datang satu pcnunggang, yang disusul olch tiga kawannya. Mereka ini bersikap demikian rupa, hingga Boe Wie dibikin terpisah dari Bong Trap dan Ham Eng.

Boe Wie mengerti bahaya. La keprak kudanya, buatdikasih lompat, akan hampirkan soemoay dan soeteenya. Kudanya itu bisa lompat tinggi dan jauh. Apa mau, senjata rahasia datang menyerang. Dengan pedangnya, ia menangkis. Satu serangan dapai dihalau. ia bisa beia dirinya sendiri, apa celaka, kudanya tidak! Dengan satu jeritan, kuda itu ngusruk ke depan, kedua kakinya tertekuk, sampai Boe Wie turut ngusruk juga. akan tetapi ia bisa barengi lompat turun, hingga ia tidak sampai turut runtuh.

Baharu Boe Wie injak tanah, atau serangan sudah datang kepadanya. Sambaran golok ada hebat sekali. Cepat ia herbal ik, sambil menangkis. "Trangi" kedua senjata beradu keras, sampai lelatu api muncrat.

Bentrokan itu membikin Boe Sie ketahui, musuh ada bertenaga besar. Dalam remang-remang, ia awasi lawan itu, seorang dengan usia lima puluh lebih, mukanya merah, kumisnya semu merah tua, tangannya menceka! sepasang Poan-koan-pit yang panjangnyatiga kaki lebih. Qr-ang itu berdiri dengan gagah, dengan jumawa, sepasang senjatanya seperti pit itu, dia rangkapkan. Itulah sikap dedek "Beng houw hok kian" atau "Harimau nongkrong di peiatok".

Dengan hati berpikir, Boe Wie juga siapkan pedang Gin-lan- kiamnya, ia gunai sikap "Kie boh liauw thian" atau "Angkat obor menyuluhi langit". Ia bersiaga untuk segera menyerang, karena ia tidak mau mencrjang terlcbi h dahulu. Kemudian ia perdengarkan suara mengejek: "Aku kira orang ternama si apa, tidak tahunya segala budak Boan - pahlawan terbesar Ouw It Gok! Maaf, maafkan aku, yang bcrlaku kurang hormat! Kcpandaian kau orang, aku sudah ketahui! Kau orang, kawanan budak, cuma pandai kepung orang dengan beramai- ramai! Sungguh kau orang membikin malu saja pada kaum Rimba Persilatan!"

Law Boe Wie tidak kenal Ouw It Gok, tetapi ia kenali orang punya sepasang Poan-koan-pitnya itu, scdang dari sakunya Bong Eng Tjin, ia pemah dapatkan sepucuk suratnya It Gok, dari itu, iasengaja mendahului menyebut namanya.

Untuk sesaat, nampaknya musuh ini kaget, tetapi lekas juga, ia tertawa bcrkakakan.

"Benar aku Ouw It Gok, habis kau hendak apa?" kata ia secara menantang. "Dengan sepasang senjataku ini, aku nanti layani pedangmu yang panjang! Jikalau kau mempunyai kepandaian, hayo kau maju!"

It Gok menantang seraya ia terus geraki kaki dan tangannya, bukannya ja siap untuk sambut serangan, tiba-tiba ia mendahului lompat menerjang. Dengan Poan-koan-pitnya, yang terbuat dari baja pilihan, ia coba ketok pedang orang. Ia mau bersikap keras.

Boe Wie tidak pikir untuk adu senjata dengan senjata, ia tarik pedangnya ke bawah, dari situ ia memutar tangannya, sambil maju, ia menusuk ke arah muka musuh.

"Bagus!" berseni Ouw It Gok, yang geser kaki kiri keluar, untuk kelit tubuh, tapi setelah itu, dengan "Koay bong hoan sin", atau "Ular naga siluman jumpalitan", ia maju dari kanan ke kiri, dengan memutar tubuh, sepasang genggaman nya menyerang dengan tipu pukulan "In Hong sam hian", atau "Naga awan muncul tiga kali".

Ouw It Gok ini ada kawannya Bong Eng Tjin, dialah yang turut memancing Teng Kiam Beng dengan pakai topengnya. Kepandaiannya memang ada di atas kepandaiannya kawannya itu. Ketika Bong Eng Tjin tertawan, Ong Tjay Wat yang bisa loloskan diri bersamasisa kawannya, lari pulang untuk bawa kabar celaka Mendapat tahu Bong Eng Tjin, soeteenya telah terbinasa,'0uw It Gok jadi sangat gusar, maka tidak tempo lagi, ia ajak kawan untuk menyusul, akan cari Law Boe Wie, guna menuntut balas.

Sekarang ini, berkat latihan keras, Ouw It Gok ada jauh lebih liehay daripada waktu ia permainkan Teng Kiam Beng, maka itu, dengan hebat ia bisa desak Boe Wie. Ia nyata pandai ilmu menotok jalan darah, karena ujungnya Poan- koan-pit dipakai mencari Sha-tjap-Iak-too To-hiat, ialah tiga puluh enam jalan darah!

Law Boe Wie tertawa terbahak-bahak kapan ia sudah saksikan cara berkelahi musuh. Sama sekali ia tidak menjadi jerih. Ia lantas melayam dengan gunakan tipu-tipu dari Thay Kek Tjap-sha-kiam, yang ia campur dengan Tok-koh It Hang punya, "Hoei Eng Keng-soan-kiam". Ia maju dan mundur dengan gesit, ia tak hendak bentur senjata musuh, tapi ia pun balas menyerang. Dengan caranya ini, ia bikin It Gok kewalahan mencoba melukai padanya.

Pertempuran ini ada seru, sebab mereka ada satu tandingan. Bicara kepandaian Boe Wie ada terlebih liehay, tapi bicara tenaga, ia kalah setingkat. Boe Wie pun pikirkan soetee dan soemoaynya yang orang telah kurung, yang telah dipisahkan darinya.

Setelah tiga kawannya It Gok itu. kemudian datang pula Iain rombongan, kira-kira dua puluh jiwa, bersama yang tiga, mereka ini kepung Bong Tiap dan Ham Eng. Mereka tidak punyakan kepandaian berarti, terhadap itu dua saudara, ia orang sukarberbuat banyak. Hanya, kendari begitu, Boe Wie tetapsibuk. Beberapa kali ia mencoba meninggalkan It Gok.

saban-saban musuh licin ini rintangi ia. Beberapa waktu telah lewat, tiba-tiba Boe Wic menjadi bingung. Ketika ia gunakan kesempatan, akan lihat dua saudaranya, dua saudara itu sudah tidak ada di tempat pertempuran tadi, mcrcka irii pindah bcrsama sekalian musuh-musuhnya. Segera juga terdengar suara berisik dari mereka itu, tidak lagi tcrtampak orangnya.

Bukan main gusarnya Boe Wie, lantas ia desak It Gok.

Sekali ini ia gunakan pwce-pwee lak-tjap-sie-tjbioe dari Keng- soan-kiam, enam puluh empat jurus pcdang dari Tok-koh It Hang, sedans tangan kirinya, mengimbangi pedang, mencari jalan darahnya musuh itu, tangan kirinya ini ada terlebih liehay daripada Poan-koan-pit dari Ouw It Gok.

Oleh karena terburu nafsu, Boe Wie sampai alpa menjaga dirinya rapat-rapat. Ia majukan kaki kiri, tubuhnya ikuf, tangan kanannya, dengan pedangnya, membabat lengan kanan dari musuh.

Ouw It Gok girang sekali melihat ini macam serangan. Ia segera lompat ke samping kiri lawannya, dari situ ia mendak sedikit, akan menyapu.

Boe Wie telah serang tempat kosong, ia iihat datangnya serangan, ia berlompat, sampai tingginya satu tumbak lebih. Lompatan ini bisa singkirkan tubuh dari senjata musuh. Tapi It Gok berlaku sebat, akan menyabet naik ke atasi

Dalam keadaan seperti itu, Boe Wie jadi seperti bcrada di tengah udara. inilah salah satu gerakan "Tjeng kang toe tjiong soet" atau "lompatan entengi tubuh" dari Tok-koh It Hang, yang ambil itu dengan meneladan sikapnya garuda menyambar. Ilmu ini Boe Wie bisa jalankan dengan baik, walaupun bclum sempurna bctul. Ia kelit dari Poan-koan-pit kiri, ia jejak Poan- koan-pit kanan, berbareng dengan itu, tangannya yang kiri dengan "Yoe Hong tarn djiauw", atau "Naga mengulur kuku", menyambar ke lengan kiri. Tubuhnya rada mendatar.

Ouw It Gok kaget bukan main. Syukur dia bukannya satu ahli silat biasa saja. Lekas-lekas ia jengkang tubuhnya, kaki kanannya mendahului ditekuk ke belakang, sembari terlentang, sebelah kakinya dipakai menendang ke atas, kepada tubuhnya musuh. Dengan cara ini, ia sudah selamatkan lengan kirinya.

Tapi Boe Wie tidak sudah saja karena serangan "Yoe Hong tarn djiauw"nya tidak memberikan hasil, ia sudah lantas susu 1 itu dengan "Tcng san kan goat", atau "Mendaki bukit mengejar rembulan". Satu kali ini, tangan kirinya yang liehay telah bentur pundak orang, atas mana, It Gok rasakan anggota tubuhnya itu jadi san gat panas, hingga ia tcrpaksa gulingkan tubuh, dengan "Koan long ta koen", atau "Serigala berguling-guling", sampai jauhnya beberapa tumbak, kemudian dengan gesit ia melompat berdiri, akan terus lompat lebih jauh, untuk lari ke dalam lebatnya pohon gandum di tepian.

Law Boe Wie tertawa dingin, ia tidak kejar musuh itu, ia ham/a lompat ke dalam rimba, guna cari kedua saudaranya seperguruan.

Di antara suaranya yang berisik, beberapa penjahat sambut musuh ini dengan serangan berbagai senjata rahasia. Boe Wie gunakan pedangnya, tangannya, akan punahkan sesuatu serangan, atau ia bcrkclit, dengan begitu, tidak ada satu senjata rahasia yang mengeriai tubuhnya. Ketika ia berhasil nerobos ke dalam rimba, di situ cuma ada enam atau tujuh penjahat, Bong Tiap dan Ham Eng entah kemana. Lain-lainnya penjahat pun tidak ketahuan kemana perginya. Selagi Boe Wie melihat keliliingan. tujuh penjahat itu maju mendesak. Mereka ini tidak lihat gelagat. Boe Wie sambut mereka dengan tangan kirinya yang diayun. Tangan kiri ini telah tanggapi beberapa piauw dan panah tangan, sekarang semua senjata itu dibayar pulang!

Sambil menjerit, tiga penjahat kelihatan rubuh.

Boe Wie menyerang sambil maju, akan sekarang gunakan pedangnya. Lekas sekali, ia rubuhkan dua musuh, atas mana, dua musuh yang lainnya lantas lari ke dalam tempat yang lebat dan gelap.

Maka di lain saat, medan pertempuran itu jadi sunyi, kecuali suara desirannya sang angin.

Sia-sia saja Boe Wie mencari ke sana-sini. Ia lintasi sebuah bukit, ia sampai di deparfnya sebuah selat, yang dalamnya kira-kira dua puluh| tumbak, yang penuh dengan batu dan bala dengan oyotrotan. Kelihatannya seperti bekas ada orang jatuh bergulingan di oyot rotan itu. Maka, melihat demikian, ia menjadi kaget. Tidak tempo lagi, ia terjun ke bawah, turun ke selat itu, untuk cari dua saudara seperguruannya.

Selat ada gelap, sukar akan melihat apa-apa, maka Boe Wie ambil dua potong batu, ia benturkan itu satu dengan lain dengan keras sekali, sampai muncratlah Iclatu api. Ia segera nyalakan api itu pada rumput kering di dalam selat itu, ia membuat segumpal rumput, buat dijadikan obor, setelah padamkan api yang melulahan, iagunai obornya itu untuk menyuluhi.

Tanda-tanda darah, yang bercerecetan, ada tertampak, akan tetapi tubuh, atau mayat orang, tidak. Hal ini bikin Boe Wie kaget dan berkuatir. Siapa itu yang terluka? Or•ang jahat? Bong Tiap atau Ham Eng? Kalau.benar dua saudara itu yang terluka, itulah hebat, jangan-jangan mereka sudah terbinasa.... Tercengang Boe Wie memikirkan itu Tapi ia lantas mencari terus, di sekitar situ. Ia tidak pedulikan malam ada gelap, angin ada keras. Boleh dibilang seantero malam ia gelcdah daerah itu, tetap ia tidak mernperoleh hasil. Ia bingung bukan main. Ia pun tahu, ia tidak bisa berdiam terialu lama di situ.

Akhimya, ia ambil putusan. Iaiah di itu malam juga, ia menuju ke Djiat-hoo, akan susul gurunya. Syukur ia ketemu Hay Peng bertiga dan bersama mereka itu, ia akhimya dapat cari guru dan soesioknya, malah bisa tolong mereka loioskan diri dari kepungan.

Demikian ada ceritanya murid ini, yang bikin Kiam Gim bcrdiri diam, mukanya pucat sekali, suatu tanda ia lagi bcrpikir dengan keras. Kabar-kabar hebat toh datang beruntun-runtun. Sudan istcrinya jadi orang bercacat. sekarang puterinya lenyap! Sehabis centa, Boc Wie berdiam, mukanya pun pucat dan lesu sekali. In Tiong Kie dan dua kawannya lantas hiburkan Kiam Gim.

"Aku percaya Bong Tiap dan Ham Eng loios dari bahaya," demikian antaranya In Tiong Kie. "Mereka toh bukannya orang-orang lemah dan bodoh. Tentu mereka loios di antara tegalan pegunungan itu hingga karenanya mereka jadi berpencar dengan soeheng mereka."

Lama Kiam Gim berdiam. Akhir-akhimya iaangkat kepalanya Dengan perlahan-lahan, ia usap-usap pundaknya Boe Wie.

"Inilah bukan kesalahan kau," kata ia, dengan sabar sekali, suaranya pun perlahan. "Kau tak usah terialu

pikirkan mereka. Biarlah anak-anak itu mengandal pada mereka punya peruntungan. Umpama kata mereka bcruntung bisa loios, di belakang had kita akan dapat cari mereka "

Bcnar baharu Kiam Gim habis berkata begitu, Tok-koh It Hang terkejut dengan tiba-tiba, hingga air mukanya berubah, lekas-lckas ia mendekam di tanah, akan pasang kupingnya. Ia terus mcndengari, selagi kawan-kawannya merasa heran, semua awasi ia.

Scbcntar saja, Pek-djiauw Sin Eng sudah lantas lompat bangun.

"Kawanan anjing datang untuk gelcdah bukit!" kata ia, dengan suara dari kemendongkolan.

Pada masa mudanya, Tok-koh It Hang ada satu hiap-too, penjahat budiman, ia pandai mendekam di tanah, akan pasang kuping, hingga, kalau ada barisan serdadu, ia bisa duga-duga jumlahnya. Dan sekarang ia merasa pasti, yang datang itu ada pasukan terdiri dari lima atau cnam ratus jivva. Hal ini ia beritahukan pada kawan-kawannya.

"Mari kitalabrak mereka!" berseru Tjiong Hay Peng, yang ada gusar sekali.

Tok-koh It Hang, In Tiong Kie dan Lioe Kiam Gim tidak setuju. Buat apa layani segala serdadu, menang tidak ada untungnya, kalah ada ruginya. Maka itu mereka ambil putusan buat menyingkir saja

Tjiong Hay Peng lalu nyatakan ia suka ikut Tok-kph It Hang dan In Tiong Kie pergi ke Liauw-tong, tetapi Kiam Gim dan Boe Wie berdiam, mereka bersangsi. Kiam Gim ingin jtengok isterinya, ia ingin cari puterinya, di samping itu, ia sudah janji pada Tok-koh It Hang untuk sambangi Tjoe Hong Teng di Shoatang. Yang pertama ada urusan perseorangan, yang kedua, urusan negara.

Tok-koh It Hang semua bisa mengerti kesangsiannya jago Thay Kek Pay ini, maka itu mereka lantas berunding.

Kesudahannya diputuskan buat Kiam Gim bcrangkat dnlu ke Shoasay, akan tengok isterinya, sebab untuk cari Bong Tiap, temponya tak kctcntuan. Untuk cari Bong Tiap dan Ham Eng, Boe Wie adalah yang diberikan tugas. Setelah ada keputusan Kiam Gim berikan perkataannya kepada Tok-koh It Hang bahwa dia tidak bakal langgar janji mengenai cita-citanya membela negara, bahwa buat itu, tidak ada bergantung urusan Bong Tiap dapat dicari atau tidak.

"Dan kau, muridku," ia tambahkan pada Boe Wie, "tolong kau capaikan diri untuk kau pergi cari soemoay dan soeteemu. Urusan menjadi ahli waris Thay Kek Pay seperti keinginan soesiokmu itu kita boleh tunda dahulu."

Boe Wie terima baik perkataannya iru guru, memang keselamatan soemoaynya adalah yang ia paling pikirkan. Ia sangat sayang soemoay itu, yang di masa kecilnya ia suka ajak memain.

Pertempuran sore itu ada hebat bagi Lioe Bong Tiap.

Musuh telah bikin ia terpisah dari toasoehengnya Law Boe Wie. Ia sebenarnya tidak punya pengalaman, tetapi pertempuran malam di rumahnya membikin hatinya tambah mantap, ia tidak jerih, malah ia masih bisa berpikir, kali ini ia mesti layani musuh secara hati-hati agar tidak sampai terjadi kealpaan pada dirinya.

Penyerang-penyerangnya putcn dari Lioe Loo-kauwsoe terdiri dari sepuluh orang, di antaranya dua ada mund- muridnya Ouw It Gok, maka itu, mereka ini bukannya lawan- lawan yang lemah. Syukur yang lainnya ada tidak berarti.

Salah satu muridnya Ouw It Gok menggunai tumbak Siauw- tjoe-rjhio, yang ujungnya lancip dan bengkok, hingga senjata ini bisa dipakai menikam berbareng menggaet Ini ada suatu senjata langka. Yang kedua menggunai sebatang golok besar dan berat hingga Bong Tiap tidak berani benturkan genggamannya dengan senjatanya kedua musuh itu.

Selagi melayani musuh-musuhnya. Bong Tiap masih dapat ketika akan melirik kepada kedua saudara seperguruannya, dari itu ia dapat tahu sang toasoeheng lagi diserang hebat oleh satu musuh yang bersenjatakan Poan-koan-pit, hingga saudara ini tidak punya kesempatan lain kecuali melayani musuh itu dengan sungguh-sungguh, sedang sam-soehengnya Tjoh Ham Eng mesti berkutat dengan fain-Iain musuh. Ia mcnjadi sibuk sendirinya kapan ia dapat kenyataan, makin lama ia berkisar makin jauh dari kedua saudaranya itu masing- masing.

"Aku mesri tobloskan mereka ini," pikir ia kcmudian.

Baharu nona ini memikir demikian atau lawannya yang memegang golok membacok ia dengan hebat dengan "lay san ap teng" atau "Gunung Tay San menindih batok kepala", bacokannya turun terus ke arah pundak. Ia menjadi sengit, hingga ia kertak gigi. Ia cepat bcrkelit kc samping, gerakannya sangat sebat, selagi bacokan mengenai tempat kosong, ia barengi membabat lengan orang.

Law an itu kaget. hingga dia keluarkan seruan, berbareng mana, dia 'tank pulang tangannya.

Ketika ini digunakan oleh Bong Tiap, untuk berloncat tinggi, bagaikan cecapung menyambar air, ia berlompat melewati kepala musuh, untuk jauhkan diri, hingga di lain saat, ia telah lolos dari kepungan. Melainkan sang lawan, yang tidak Sudi sudah dengan begitu saja, dia lamas memburu, diikuti oleh kawan-kawannya.

Sembari lari, Bong Tiap geser pedangnya ke tangan kiri, tangan kanannya merogoh sakunya, akan ambil beberapa potong Kim-tjhie-piauw, kemudian seraya putar tubuh dengan tiba-tiba, tangan kanannya itu diayun ke arah musuh- musuhnya. Menyusul ini, beberapa musuh perdengarkan jeritan, tubuh mereka rubuh saling susul.

Bong Tiap girang dengan kesudahannya ini, tetapi justeru ia kegirangan, pihak lawan, yang tidak rubuh, balas menyerang dengan senjata rahasia juga, maka ia menjadi terperanjat, segera ia perlihatkan kegesitannya, akan loncat sana dan sini, untuk hindarkan diri dari bahaya. Ia berhasil mengelakkan beberapa senjata musuh itu, tetapi apa mau, sebatang yan-bwee-piauw

menyambar juga pinggiran teteknya yang kiri, nancap di dagingnya, hingga ia menggigit gigi untuk menahan sakit selagi ia cabut piauw itu, hingga darah hidup segera mengucur keluar. Ia tidak merasakan sakit yang hebat, dari itu, ia lanjuti tindakannya lari ke depan, untuk menyingkirdari musuh- musuh itu.

Semua musuh mengejar terus, malah yang bersenjatakan tumbak gaetan Siauw-tjoe-tjhio sambil teriaki kawan- kawannya, katanya: "Anak ayam ini tak nanti lolos! Jangan bunuh dia! Dia mesti ditangkap hidup!"

Melihat keletakan, Bong Tiap dipaksa lari ke arah dalam rimba. Ia gunai pula senjata rahasianya, atas mana, semua musuh kena dirintangi, walaupun. untuk sesaat. Hanya, dalam keadaan seperti itu, ia tidak lagi bisa gunai piauwnya dengan sempurna. Sudah begitu, apa celaka, sebentar lagi, semua piauw telah digunai, sedang musuh-musuh itu mulai datang dekat pula. Sebentar kemudian, Bong Tiap sampai di satu jalanan kecil yang berlamping gunung, di depannya ada sebuah selat. Ia tak bisa lari lebih jauh lagi, ia tak bisa manjat di kiri dan kanan. Tetapi ia bisa ambil putusan cepat. Dengan tiba-tiba, ia enjot tubuhnya, akan loncat turun ke dalam lembah. Ia baharu injak tanah, atau kakinya lemas, hingga ia terguling rubuh.

"Celaka!" ia menjerit dalam hatinya. Ia hendak bcrbangkit, atau ia dengar musuh tertawa mengejek. Tidak tempo lagi, dengan gerakan "Lee hie ta teng", atau "Ikan lee-hie meletik", ia loncat ke depan, jauhnya satu tumbak. Baharu ia hendak berbangkit, atau di belakang ia, tumbak gaetan musuh telah datang menyambar.

Dalam keadaan seperti itu, Nona Lioe menjadi nekat, ia segera papaki musuh dengan tipu tusukan "Hoan sin hian kiam" atau "Persembahkan pedang seraya memutar tubuh". Dengan geser sedikit tubuhnya, ia berkelit, lalu pedang Tjeng- kong-kiam ditikamkan ke arah lawan itu.

Musuh menjadi kaget. Selagi tikamannya mengenai tempat kosong, ia tidak sempat tarik pulang senjatanya, ia tak keburu egos lengannya, maka itu, bahunya yang kanan itu lantas saja kena tertusuk, terbaret panjang Sementara itu, tubuhnya sudah merangsek dekat sekali si nona, maka dalam gusarnya, ia kirim kepalan kinnya, akan tonjok ulu hati orang.

Ini ada serangan tidak diduga-duga dari musuh yang telah terluka itu, Bong Tiap tidak bisa berkelit atau menangkis, dadanya kena dipukul keras sekali, hingga berbareng muntahkan darah hidup, ia rubuh dengan tak sadar akan dinnya.

Musuh yang bersenjatakan Siauw-tjoe-tjhio itu tertawa mengejek, ia lempar tumbaknya, ia robek bajunya, buat dipakai membungkus luka di tangannya, selagi berbuat demikian, ia menoleh pada kawan-kawannya. "Hei, kenapa kau orang menjublak saja? Lekas bekuk ini anak ayam! Lekas bungkus lukanya! Sayang jikalau ia sampai terbinasa!"

Dengan sebenamya, kawan-kawan itu berdiri bengong karena saksikan kawannya dan si nona sama-sama terluka, sedang si nona sendiri rebah tak berdaya. Menjadi sadar, mereka lantas saja tertawa. Tapi, belum sempat mereka maju, untuk turun tangan, tiba-tiba mereka dengar satu ! suara nyaring dan mengaung luar biasa, disusul bentakan seorang perempuan tua: "Siapakah kau orang yang berani ganggu satu nona? Jangan turun tangan!"

Semua musuhnya Bong Tiap menjadi terkejut, malah musuh yang pegang tumbak gaet sudah loncat ke arah senjatanya, untuk jumput itu, kemudian mereka semua memandang ke arah dan mana suara datang. Di antara remang-remang karena gclapnya lembah, mereka tampak satu pcndcta perempuan, yang usianya sudah lanjut sekali, yang tangannya mcncekal kebutan suci Hoed-rim, sedang menghampirkan mereka, serindak demi setindak.

Musuh itu, yang sudah lama ikuti Ouw It Gok, ada mem pun ya i banyak pengaiaman, ia mempunyai pandangan yang luas. dari itu, ia bisa lihat bahwa si niekouw, pendeta perempuan, bukannya orang sembarangan, hingga ia tidak berani berlaku sembrono.

"Soethay. dia mi adalah seorang perempuan Kang-ouw yang jahat!" demikian ia berkata. "Kau lihat, dia telah Jukai lenganku! Kita adalah or-ang-orang yang ditugaskan pembesar negeri untuk menawan diaini! Sebagai orang suci. harap Soethay tidak campur urusan kita!"

Di iuar dugaan, keterangan itu bukannya membuat si niekouw tua undurkan diri, dia justru mendesak. "Ngaco!" katanya dengan bengis. "Di mana ada seorang nona begini muda dan manis menjadi penjahar? Dia punya luka melebihkan hebatnya lukamu! Sudah kau orang bikin dia pingsan, kau orang masih hendak turun tangan terlebihjauh! Jikalau kau orang bukannya bermaksud buruk, tentu kau orang adalah kawanan penjahat!"

Selagi berkata demikian, niekouw itu be rt in dak mendekati.

"Tidak, Itulah bukan!" kata muridnya Ouw It Gok. Dengan mulutnya, dia menyangkal, diam-diam tangannya yang kin" siapkan tiga batang yan-bwee-piauw, sedang tangannya yang kanan, geraki tumbaknya Siauw-tjoe-tjhio, menikam bagaikan ular menyambar, disusul sama sambarannya tiga batang piauw di tiga jurusan. Mereka terpisah dekat satu dengan lain, dan si niekouw tidak bersiap, maka si penjahat ini duga, pasti dia akan berhasil.

Apa yang terjadi adalah di luar sangkaan. Niekouw tua itu tak dapat dipandang enteng, walaupun dia telah dibokong. Dia ada sangat jeli matanya, gesit gerak tubuhnya. Ketiga piauw melewati sasarannya, dan kebutan suci menyamppk tumbak gaetan, atas mana, tumbak itu terlepas dari cekalan, terlempar entah ke mana!

Hebat adalah sampokan terlebih jauh dan ujung kebutan itu, mengenainya perlahan sekali, akan tetapi muridnya Ouw It Gok rubuh dengan segera, tubuhnya rebah tidak berkutik lagi.

Rombongan muridnya Ouw It Gok ini terdiri dari lima orang, dengan yang satu rubuh, tinggallah empat orang. Mereka ini sementara itu sudah merangsek, tadinya untuk taati titah kawannya, yang sekarang untuk serang si niekouw tua. Hanya, belum sampai mereka datang dekat, sembari tertawa dingin, mereka lihat tangan kirinya si pendeta perempuan telah diayun ke atas, atas mana di dalam lembah segeralah terdengar suara nyaring dan mengaung seperti tadi. Menyusul itu, Iantas terdengar suara keren dari si niekouw, katanya: “Kau orang cobakan rasanya piauw Bouw-nie-tjoe!”

Perkataannya orang suci ini ditutup berbareng dengan menyambarnya piauw terhadap sesuatu dari empat penjahat itu tanpa mereka ini sanggup bcrdaya, malah mereka seperti tak ketahui datangnya serangan, karena tak disangka, mereka pun lagi sangsikan suara mengaung. Lantas saja mereka rubuh.

“Kawanan tikus, kau orang rupanya tak ketahui aku! Tetapi apapun tentang piauw Bouw-nie-tjoe, kau orang tidak pernah dengar?” kata si niekouw tua sambil tertawa, sesudah ia bikin orang tak berdaya. “Kau orang sudah dengar suaranya piauwku tetapi kau orang masih berani hendak melawan aku, maka taklah cukup apabila kau orang tidak diajar adat! Tetapi Budha kita ada maha suci dan kasih, dari itu pinnie juga tidak inginkan jiwa kau orang! Sekarang pergilah!”

N iekouw tua itu hampirkan empat orang, ia berikan dupakan enteng pada tubuh sesuatu dari mereka, yang rebah diam saja, atas itu, lenyap perasaan sesemutan dan beku mereka, lantas mereka bisa geraki kaki-tangan, terus mereka bangun berdiri.

Sembari menotok jalan darah or•ang, sambil tertawa, si niekouw tua kata pula: “Pinnie tinggalkan jiwa kau orang, tetapi ilmu silat kau orang tak dapat dipertahankan karena dengan itu kau orang biasa berbuat jahat Baiklah kau orang ketahui, sejak sekarang ini, selanjutnya kau orang tidak bisa bersilat pula, kau orang tidak lagi bisa bekerja berat. maka kau orang haruslah jadi penduduk baik-baik, dengan demikian, luka dalam tubuhmu tidak bakal kumat, tapi satu kali kau orang bersilat atau bekerja dengan memakai tenaga, dalam tempo tiga hari, luka dalammu bakal kambuh, kau orang bakal muntah-muntah darah dan akhimya binasa! Pinnie telah kasih peringatan pada kau or•ang, jangan langgar itu, atau kau orang jangan nanti sesalkan padaku. Nan, pergilah kau orang!”

Kawanan itu mati kutunya, mereka cuma manggur- manggut, lantas saja mereka ngeloyor pergi. Di antara mereka, orang yang bersenjatakan Siauw-tjoe-tjhio, yang pernah ikuti Ouw It Gok terlebih lama, di bikin sadar oleh kata-kata si niekouw tua. Memang, pada sepuluh tahun yang lampau, ia pemah dengar tentang senjata rahasia piauw Bouw-nie-tjoe, dengarnya dari satu soepehnya, siapa – di masa muda -pernah dengar lagi dari satu sahabatnya.

Katanya ada satu nickouw yang tidak ketahuan asal-usulnya. boleh jadi datangnya dari In-lam, bahwa saban kali dia ini muncul, mesti ada orang jahat yang dapat bagian. Ada dibilang lebih jauh, di waktu bertempur, niekouw itu tidak pernah kelihatan ada gunakan genggaman, dia cuma mengebut dengan kebutannya, atau kalau dia gunai, melainkan senjata rahasia, yaitu piauw Bouw-nie-tjoe. Piauw itu ada untuk menyerang jalan darah, saban kali digunakan, lebih dahulu kedengaran suaranya mengaung, baharu senjatanya menyambar sasaran, suara itu seperti juga tanda untuk orang bersiaga terlebih dahulu. Di samping itu. di waktu gunakan piauwnya itu, itu nickouw suka lepaskan dahulu satu piauw, ke arah atas, untuk disambar dengan sebatang yang lain, hingga kedua piauw bcntrok satu dengan lain, hingga bcrsuara nyaring sekali. Adalah biasanya, di waktu orang bertempur, apabila or•ang dengar suara piauw itu beradu, mereka mesti hentikan pertempuran, untuk si niekouw datang sama tengah, guna berikan pertimbangannya, apabila ada orang yang berkepala batu terhadap pertimbangannya itu, dia pasti bakal merasai akibatnya yang hebat. Kebutannya, atau Hoed-tim, juga luar biasa. Kcbutan itu lemas bagaikan segumpal bulu ekor kuda, akan tetapi, selagi digunakan, kekuatannya sanggup melawan pedang, sedang juga, orang tak ketahui, kepandaiannya menggunakan kcbutan itu entah ada kepandaian dari golongan atau cabang silat yang mana. Kcbutan itu pun bisa digunakan sebagai pedang Ngo-heng- kiam atau ruyung Teng-tjoa-pian, terutama sebagai alat untuk menyerang jalan darah.

Ilmu menotok jalannya darah, biasanya, ada dua rupa. “Ta- hiat” atau “memukul jalan darah”, biasa memakai senjata Poan-koan-pit atau batang Hoentjwee Tiat-yan-kan, dan

“tiam-hiat”, ialah menotok jalan darah, biasa digunakan dengan tangan kosong. Umpama Ouw It Gok, dia pandai “ta- hiat”, sedang Lioe Kiam Gim, Tok-koh It Hang dan Law Boe Wie, menggunai “tiam-hiat”. Beda daripada itu dua, kepandaiannya niekouw ini adalah “hoet-hiat” atau “menutup jalan darah”, karena senjata yang digunakan ada Hoed-tim atau kcbutan. Ada tersiar cerita, pernah dengan seorang diri, dengan kebutannya, ia telah layani tiga puluh berandal yang liehay dan scmua berandal itu kena ia rubuhkan dan taklukkan.

Itulah kejadian pada sepuluh tahun yang berselang dan si niekouw, selewatnya itu, tidak pernah orang dapat lihat pula padanya. Laginya, dulu ia sudah berusia lanjut, maka orang percaya, ia sebenarnya sudah menutup mata. Siapa sangka, sekarang ia muncul secara tiba-tiba. Maka orang yang bersenjatakan tumbak gaet Siauw-tjoe-tjhio itu, sebagai kesudahan dari dikalahkannya, jadi sangat ketakutan, hingga mereka ngeloyor dengan mulut bungkam.

Niekouw itu antap orang angkat kaki, ia hanya dekati Bong Tiap, hingga ia lihat si nona rebah dengan kedua mata meram, jalan napasnya sangat perlahan, sedang darah masih mengalir keluar dan lukanya. Ia lantas raba dadanya, akan dapatkan jantungnya masih memukul, atas mana nampaknya ia berhati lega. Segera ia bekerja, ialah periksa luka dan obati itu dengan obat luka yang. ia bekal.

Bong Tiap terus tak sadar akan dirinya. Di samping hajaran pada dadanya, ia pun telah keluarkan tcrlalu banyak darah, maka itu, meskipun sekarang darahnya itu dapat dicegah keluarnya lebih jauh, ia masih sangat lemah.

Niekouw tua itu kerutkan alis, akan tetapi, ia toh bersenyum.

“Dicarinya sukar tapi toh didapatinya begini gampang…” kata ia seorang diri, dengan sangat perlahan. “Untuk belasan tahun aku cari satu nona guna dia wariskan aku, kebetulan sekali, sekarang aku dapati dia ini. Dia tidak saja berbakat, tetapi juga sudah punya dasar dan dasar dari satu ahli, jikalau aku tidak ambil dia, kemana lagi aku hendak mencari?”

Tidak tempo lagi, pendeta ini membungkuk, akan angkat tubuh or•ang, buat dikasih naik atas bebokongnya, sesudah mana, ia bertindak meninggalkan tempat bekas pertempuran itu.

Bong Tiap tidak sadar, dia hanya merasa seperti melayang- layang di tengah udara, ketika akhirnya ia merasakan dirinya lega dan ia buka matanya, itulah ada di hari keenam sejak ia dikeroyok. Ia pun dapatkan dirinya berada dalam sebuah ruangan suci, karena di situ ada patung Budha, api lilin memain memberikan bayangan, dan asap hio bergulung- gulung mendatangkan bau harum. Di samping ia, satu niekouw tua sedang kebuti ia dengan perlahan-lahan. segera ia ingat bagai man a orang serang ia, ia rubuh, ia lupa segala apa….

“Apakah aku sedang mimpi?” tanya ia pada dirinya sendiri.

Dan ia gigit bibirnya, atas mana, ia menjerit

sendirinya. Ia merasakan sakit! Jadi ia bukan lagi bermimpi. “Nona, kau belumsembuhjangan sembarang geraki tubuh,”

kata .si niekouw dengan perlahan, suaranya sabar. “Kau juga tak boleh bicara. Kau rebah lagi beberapa hari, nanti kita orang pasang omong….”

Bong Tiap menurut. la pun rasakan tubuhnya sangat lemah-

Lewat lagi beberapa hari, Nona Lioe sudah bisa turun dari pembaringan, ia bisa jalan dengan perlahan-lahan, maka akhirnya si niekouw tua tuntun ia, untuk diajak keluar dari dalam trail, buat pergi ke pckarangan luar.

Tatkala itu ada di permulaan musim panas, salju telah lumer, serangan angin tidak mendatangkan hawa dingin, scbaliknya, bawa udara ada bcrsih dan menycgarkan, hingga Bong Tiap merasa hatinya terbuka. Ia sangat ketarik sama pemandangan jndah di luar kuil itu.

“Tempat apakah ini?” akhir-akhirnya ia tanya.

“Inilah Soei-wan yang berada jauhnya tiga ribu lie dari Boe- ip,” sahut si pendeta percmpuan sambil bcrsenyum. “fan ada daerah di luar perbatasan, ialah tepinya Sungai Tay Hek Hoo. Kau h’bat itu gundukan tanah dengan rumpu tnya yang bijau? Itu ada kuburannya Ong Tjiauw Koen, si juwita kenamaan. Di sini biasa tumbuh rumput putih, melainkan itu kuburan bcrumput hijau, maka juga dinamai Tjhee-tiong, atau Kuburan Hijau.” Bong Tiap tidak pemah merantau, ia bersekolah sedikir, ia hanya utamakan ilmu silat saja, dari itu, pemandangannya ada cupat, maka sekarang ia menjadi kagum dan ketarik hati.

“Keadaan di sini masih tidak an eh,” kata si niekouw sembari bersenyum melibat kekagumannya itu. “Aku punya soetjouw, di Mongolia dan Tibet sama sekali telah dirikan tiga buah kuil, ialah satu di Ie-soh-tjiauw-beng di Mongolia Luar, satu di Tjip-sip-Ioen di Tibet, dan yang ketiga ialah kuil ini.”

Lantas si niekouw ini tuturkan ten tang musim atau hawa udara di Mongolia dan Tibet, tentang gunung di Tibet, Gunung Himalaya, hingga si nona jadi semakin ketarik hati.

“Nona, apa kau hendak turuti aku menyaksikan itu?” tanya ia kemudian. “Tentu! Kcnapa tidak?” sahut si nona. “Aku tidak takut udara dingin! Selama di Kho Kce Po, sekalipun di musim dingin, bersama-sama soeheng aku biasa menggayuh perahu di dalam muara!”

Menyebut sang soeheng -’ dimaksudkan Ham Eng – air mukanya si nona menjadi guram dengan tiba-tiba. Ia jadi ingat pada pertempurannya di Boe-ip, pada urusannya sendiri. Ia toh lagi ikuti toa-soehengnya akan pergi cari ayahnya di Utara.

“Hanya aku tidak bisa turut sekarang juga,” ia lekas menambahi, suaranya perlahan. “Sekarang aku hendak cari ayah di Djiat-hoo, dan hendak cari juga kedua soeheng.”

Niekouw itu usap-usap rambut orang.

“Nona, kau kasih tahu aku,” kata ia, dengan sikap tetap lemah-lembu t, “siapa itu ayah kau? Kau harus ketahui, sekarang ini kau belum bisa jalan, apa pula untuk pergi kc Djiat-hoo yang ada ribuan lie jauhnya. Kau belum tahu tentang bagaimana aku telah tolongi padamu. Kau telah terluka parah, kau sudah keluarkan terlalu banyak darah, maka kau perlu beristirahat di sini, sedikitnya lagi satu bulan. Lebih baik kau tuturkan aku tentang hal-ihwalmu, barangkali aku bisa bantu pikirkan dayanya.”

Bong Tiap tidak berkeberatan akan tuturkan urusannya. “Tentang ayahmu, aku pemah dengar,” kata si pendeta

setelah berdiam sekian lama. “Sudah tiga atau empat puluh tahun aku tidak pemah pergi ke Kwan-lwee, keadaan di sana ada asing bagiku. Kalau ayah dan soeheng kau terancam bahaya, baiklah, aku nanti cari tahu tentang mereka, kau beristirahat di sini, aku nanti pergi, Hoei Sioe boleh layani kau. Hoei Sioe ada orang Mongolia, aku terima ia di sini untuk kerjakan ini dan itu, ia pemah pelajarkan juga ilmu silat kasar- kasar.”

Di hari kedua, benar-benar niekouw tua itu telah berangkat menuju ke Djiat-hoo (Yehol).

Hoei Sioe sudah tua dan kurus, dilihat dari romannya, ia ada terlebih tua dari si niekouw, akan tetapi menurut pembilangannya, niekouw itu lebih tua daripada ia sedikitnya tiga puluh tahun.

Bong Tiap masih belum tahu halnya si niekouw tua, ia tanyakan itu pada Hoei Sioe, pada niekouw tua itu. Cuma urusan ayahnya bikin ia sangsi.

“Kau tclah banyak ikuti Soethay begitu banyak tahun, niscaya kau tidak lemah lagi,” kata ia kcmudian pada Hoei Sioe. “Apa kau sudi perlihatkan aku satu atau dua jurus?” “Mana aku beratri?” sahut Hoei Sioe. “Aku belum berarti!”

Bong Tiap tidak puas. Ia hunjuk alemannya.

“Kau bilang kau sayang aku, tapi untuk bersilat saja kau tidak mau …” kata ia.

Memang Hoei Sioe pernah bilang, ia sayangi si nona. Sudah puiuhan tahun ia ikuti Sim Djie, ia scnantiasa bersendirian saja, sckarang ia dapati Bong Tiap scbagai kawan, ia gembira bukan main. Ia tak dapat tolak lebih jauh nona itu, ia sendiri pun lagi bersemangat.

“Man,” kata ia, yang terus ajak si nona ke pekarangan di iuar ruangan pendopo, di mana ia hampirkan satu pohon sebesar pelukan. Itu ada pohon hoa yang kuat-kekar dan ulet terhadap serangan es dan salju.

“Nona,” kata ia, seraya ia tunjuk pohon itu. “aku tidak punya kepandaian lain kecuali sedikit tenaga. Kau lihat… .”

Ia hampirkan pohon itu, untuk dipeluk, baharu ia keluarkan tenagapya, untuk dipakai menggoyang, atau daun-daun lantas rontok, meluruk turun.

“Cukup sebegini,” kata ia kemudian. “Kaiau aku bikin rusak, bila nanti Soethay pulang, dia bakal teguraku…” Ia pun bersenyum.

Bong Tiap jadi kaget dan kagum. Bukan melainkan daun pohon, yang rontok jatuh, juga batangnya, telah memberikan bekas-bekas kedua telapakan tangan dan lengan, dalamnya kira-kira tiga dim. Itu adalah buah-hasilnya kepandaian mclatih tenaga”Kim-kong-tjhioe” atau “Tiat-see-tjiang”.

Kcmudian kcduanya bicara pula, sckali ini, Hoei Sioe kasih tahu kenapa dia tahu Sim Ojie bemiat ambil si nona scbagai muridnya.

“Pemah aku tanya Soethay, bcrapa usianya, dan kenapa ia nampaknya tidak jadi tua. Aku nyatakan, apa Soethay ada mempunyai ilmu panjang umur hingga tidak bisa meninggal dunia,” demikian katanya. “Atas pertanyaanku itu, Soethay tertawa, ia jawab: ‘Mana aku mengerti ilmu tak jadi mati?

Tubuhku sehat disebabkan aku berlatih silat. Toh ada orang tani biasa, yang makan usia sampai seratus tahun lebih! Aku baharu mendekati seratus tahun. Selama beberapa tahun ini, aku juga sudah merasai perbedaan. Orang mesti menutup mata, ilmunya Budha pun tak dapat tolong membebaskannya.’ Soethay menghela napas ketika ia menambahkan: ‘Aku bakal jadi lilin yang akan habis sumbunya, hanya aku belum puas karena kepandaianku belum. ada orang yang bakal mewarisinya, aku belum dapat murid yang aku cari.’ Selagi mengucap demikian, Soethay nampaknya Iesu. Karena kata- katanya Soethay itu, aku percaya dia tidak bakal loloskan kau, Nona. Maka itu, aku anggap kau beruntung sekali!”

Mendengar itu Bong Tiap jadi girang berbareng heran, ia gembira sekali. Bagaimana girang untuk jadi muridnya Sim Djie dan perolehkan kepandaian yang tinggi. Hanya di samping itu, ia bingung juga. Bagaimana bila ia dengar kabar hal ayahnya? Apa bisa ia berdiam di kuil itu tanpa pergi sambangi ayahnya? Bagaimana bila si niekouw tua itu paksa untuk ia berdiam di sini?

Sementara itu, Sim Djie telah kembali setelah beberapa hari kemudian. Bcrsama ia, ia ada bawa kabar yang mengejutkan. Itu adalah peristiwa hebat di gedungnya Keluarga Soh, tentang pertempuran dcngan pahlawan-pahlawan Istana Tjeng, hingga karenanya, pemerintah Boan telah keluarkan titah penangkapan untuk Lioe Loo-kauwsoe dan kawan- kawannya, antaranya si orang Liauw-tong. Karena itu, entah ke mana menyingkirnya Kiam Gim.

“Karena itu, baiklah kau scndiri turut diamkan diri,” kata Sim Djie pada si nona.

Bong Tiap menurut. Karena ini, dengan sendirinya, ia telah jadi muridnya si niekouw tua itu. Selang satu bulan, sesudah iasembuh benar, ia mulai diberikan pelajaran silat. Sekarang ia dapat pelajaran dari Kaum “Sian Tjong”. Itulah ada warisannya Tat Mo Siansoc dari zaman Lam Pak Tiauw, Kerajaan Selatan dan Utara, semasa Kaisar Liang BoeTee.

Menurut centa, ketika dengan mengarungi lautan, Tat Mo Siansoe datang ke Tiongkok di mana ia berunding dengan Kaisar Liang Boc Tee, karena tak cocok pendapat, ia lantas berangkat ke Kuil Siauw Lim Sie di atas Gunung Siong San, di Propinsi Hoolam di mana, untuk sepuiuh tahun, ia duduk bcrscmedi menghadapi tembok, hingga ia berhasil membangun pelajaran agamanya, hingga ia dipandang sebagai ieiuhur pertama di Tiongkok tentang agamanya itu. Tat Mo Siansoe tidak cuma faham agama Budha, ia juga pandai silat dan karang dua buah Kitab “Ie Kin” dan “See Soei”. Sekarang Sim Djie turunkan kepandaiannya kepada Bong Tiap, malah ia wariskan juga piauw Bouw-nie-tjoe. Untuk ini, Nona Lioe bisa belajar dengan cepat, karena ia sudah punya dasar Kim-tjhie-piauw. Pun pelajaran pedang Tjepeh lian-peh Ngo Heng Kiam, Bong Tiap dapati secara lekas, karena ilmu pedang itu hampir bersamaan dengan Thay-kek- kiam.

Tanpa merasa, tiga tahun telah lewat, sejak Bong Tiap berguru pada Sim Djie Sin-nie, selama itu, siang ia belajarsilat, malam ia yakinkan surat, dengan begitu, ia jadi peroleh kepandaian berbareng. Sim Djie juga pemah ajak muridnya ini berlari-lari di tanah datar dan Mongolia dan lihat Yam Ouw, Telaga Garam dari Tibet, hingga pcmandangannyasi nonajadi luas. Tapi walaupun semua itu, di waktu malam, apabila pikirannya scdang melayang, nona ini seperti tcrbayang dengan roman ayahnya, romannya Ham Eng dan Boe Wie, kedua soehengnya itu.

Tiga tahun bukannya tempo yang lama, akan tetapi, suasana telah berubah, seperti “bcnda bertukar bintang berpindah”. Dan hikayatnya Tiongkok sudah mcngikuti karcnanya. Kaum Gie Hoo Toan sudah turun tangan. tcntaranya delapan negara asing telah meluruk ke Pakkhia.

Gcrakan Gie Hoo Toan dari Tjoc Hong Teng telah jadi dcmikian berpenganih hingga Soenboe Yok Hian dari Shoatang tak bisa tak akui sebagai gerakan “rakyat jelata”, melainkan di matanya rombongan paderi tukang sebar agama Kristcn, mereka dipandang sebagai pengacau, pembuat huru-hara.

Demikian Duta Amerika sudah paksa pemerintah Boan tukar Yok Hian. Pemerintah Boan jerih terhadap Gie Hoo Toan, tenaganya dia ini melulu hendak dipakai buat menghadapi pihak asing, dari itu, tidak sedikit jua pihak Boan merasakan sayang. Begitu permintaan Duta Amerika diterima baik, Yok Hian ditukar dengan Wan Sie Kay si tukang jagal besar-besaran. Wan Sie Kay ada dari golongan penjilat asing, iapun ada mempunyai pasukan “prive” yang kuat. Setelah sampai di Shoatang, ia lakukan penindasan kejam, hingga Kaum Gie Hoo Toan jadi tercebur dalam lautan darah….

Kekejamannya Wan Sie Kay membangkitkan perlawanan hebat dari pihak Gie Hoo Toan. Dalam peperangan di Shoatang itu, Tjoe Hong Teng, telah dapat kebinasaan, tapi gcrakannya bcrtambah hebat, hingga ada cerita burung yang berbunyi: “Sesudah dapat binasakan si telur kura-kura Wan Sie Kay, baharu kita orang dapat makan nasi”!

Selagi Gie Hoo Toan di Shoatang bergulat, kawannya di Tit- lee pun maju ke Thian-tjin. Tjongtok Joe Lok telah lakukan perlawanan keras tapi ia terdesak, Kota Tok-tjioe kena dirampas, malah Liong-tjia, ialah Kereta Naga dari» Ibusuri See Thayhouw, telah kena dibakar musnah. Karena ini, seperti Yok Hian, Joe Lok terpaksa akui Gie Hoo Toan sebagai gerakan rakyat yang sah.

Setelah Tjoe Hong Teng binasa, ia digantikan oleh Lie Lay Tiong, orang sebawahannya yang tadinya ada bekas sebawahan dari Tang Hok Siang, satu orang peperangan pemerintah Boan. Lie Lay Tiong memasuki Gie Hoo Toan sesudah dalam kalangan Gie Hoo Toan ini ada rombongan- rombongan yang anti pemerintah Boan, yang menunjang pemerintah Boan itu, dan yang membelai juga. Tjoe Hong Teng sendiri masuk golongan yang “bantu Tjeng Tiauw untuk membasmi bangsa asing” (Hoe Tjeng Biat Yang). Tapi Lie Lay Tiong ini, kcmudian kena disiasati juga oleh Ibusuri See Thayhouw. Dasar ia ada bekas punggawa Boan. Lioe Kiam Gim telah memasuki Gie Hoo Toan pada tiga tahun yang lalu, kcsatu karena ia sctujui gerakan itu, kedua dengan begitu ia bisa menyingkir dari tangannya pemerintah Boan, yang hendak bekuk ia. Ia masuk bersama-sama Law Boc Wie, tetapi Boe Wie tidak demikian sungguh-sungguh seperti ia, karena hatinya Boe Wie ada tawar sesudah ia dapat pengalaman yang tak memuaskan dalam kalangan Tjit Seng Hwee. Boe Wie susul gurunya sesudah ia putus asa mencari Lioe Bong Tiap. Dan Kiam Gim datang pada Tjoe Hong Teng setelah ia sambangi isterinyadi Shoasay. Hong Teng binasa belum lama sejak datangnya Boe Wie. Kemudian Boe Wie undurkan diri, sebagai alasan, ia kemukakan niatnya mencari Bong Tiap lebih jauh. Kiam Gim juga tidak lupai gadisnya, tapi karena urusan negara ada lebih besar, ia masih tetap dalam Gie Hoo Toan, malah Boe Wie ia pesan, murid ini berhasil atau tidak cari Bong Tiap, dia mesti lekas kembali.

Dalam perjalanannya ini, Boe Wie tidak terlalu menank perhatian pemerintah Boan, sebab pemerintah itu lagi repot dengan gerakannya Gie Hoo Toan. Maka itu, dengan tunggang seekor kuda, Boe Wie dapat kemerdekaannya. Ia kembali ke dalam duniaperantauan. Sembari cari Bong Tiap, ia mampir di Poo-teng. Di smi ia hendak wujudkan pesannya soesioknya Teng Kiam Beng, untuk ia jadi ahli waris dari Thay Kek Pay.

Dalam hal ini, seperti diketahui, ia terdesak oleh gurunya, oleh Tjiong Hay Peng dan Tok-koh It Hang, kalau tidak, pasti ia tetap mcnolak. Untuk ini, Lioe Kiam Gim dan Tok-koh It Hang tidak bisa turut meresmikannya, cuma Hay Peng seorang yang bantu merekoki, mcngurusnya. Siapa tahu, urusan pengangkatan ahli waris ini sudah terbitkan gelombang.

Murid-muridnyaTeng Kiam Beng ada campur-aduk, di antara mereka itu, yang boleh diandalkan ada Kim Hoa dan Loei Hong berdua, tetapi Kim Hoa lemah dan tak bisa jadi kepala, dan Loei Hong bertabiat keras, ia tak bisa bikin saudara-saudaranya tunduk terhadapnya. Murid-murid itu tidak puas tempo Law Boe Wie muncul dengan tiba-tiba menjadi pemimpin mereka, mereka kasak-kusuk. Boe Wie tidak dikenal, cara bagaimana dia mendadakan jadi kepala? Laginya, tidak ada bukti dan Kiam Beng, siapa mau lantas percaya habis? Laginya Kiam Bcng berseiisih dengan Hay Peng, siapa mau lantas percaya Ketua Heng Ie Pay mi? Dan ketiga, Boe Wie pun belajardari Tok-koh It Hang, maka pelajarannya bukan lagi pelajaran asli dari Thay Kek Pay.

Kim Hoa dan Loei Hong suka terima Boe Wie, tetapi yang Iain-lain tidak, karcna mercka berdua tak dapat lawan desakan saudara-saudara mereka, mercka tidak bcrdaya. Tentu saja, Boe Wie jadi kebogehan dan tak enak hati, sedang Tjiong Hay Peng jadi mendongkol. Hanya, dia pun mati daya. Dia tidak bisa kasih bukti untuk pesan terakhir dari Kiam Beng perihal pengangkatan ahii waris iiu.

Akhirnya, karcna ia tidak sudi paksakan dni, Boe Wie hiburkan.Hay Peng, ia bicara sedikit sama murid-muridnya Kiam Beng, lantas ia undurkan diri, ia angkat kaki. Sejak itu, tanpa kepaia, murid-muridnya Kiam Beng jadi kacau, sampai kemudian Teng Hiauw, putcranya Kiam Beng, pulang dan bereskan mereka.

Sekarang Boe Wie bikin pcrjalanan melulu untuk Bong Tiap.

Ia telah pergi ke empat penjuru, sampaipun ke Sin-tek dan Boe-ip. Sebegitu jauh, ia tidak peroieh hasil, sampai kemudian, secara kebetulan, ia dengar salah satu muridnya Ouw It Gok – murid yang pernah rasai piauw Bouw-nie-tjoe dari Sim Djie Sin-nie – cerita pada kawannya hal si nona, yang mereka kepung, kenaditolongi niekouw luar biasa itu.

Orang ini, dalam takutnya, tidak bcrani sebut namanya Sim Djie. Maka untuk mencari tahu, Boe Wie mesti cari beberapa orang tctua, guna dimintai kctcrangannya. Begitulah ia dengar hal Sim Djie yang kesohor pada empat pu I uh tahun yang larnpau, yang kemudian undurkan diri, entah ke mana, hanya orang duga ia tinggal bcrsunyikan diri di tanah datar di pcrbatasan. Karcna ini, Boe Wie menuju ke tapal batas. Adalah pada suatu hari, ia sampai di tepinya Sungai Tay Hek Hoo. Ketika itu sudah maghrib dan angin sedangnya men i up keras.

Dalam cuaca rcmang-rcmang, Boe Wie berjalan antara pohon rumput yang tcbal dan tinggi. Ia jalan cepat, sampai di depan sebuah tanjakan bukit. Di scbclah depan ia, masihjauh, ia lihat cahaya kelak-kelik. Ia sedang jalan dertgan asyiknya, tiba-tiba ia rasai sampokan angin, lantas pundak kirinya seperti kena ditekan orang, ketika ia segera mcnolch, ia tampak bayangan berkelebat, terus lenyap dalam gombolan rumput, yang bergoyang-goyang. Lantas ia pun menyerang dengan piauw, tetapi bayangan itu sudah lenyap, suaranya pun tidak terdengar….

“Apakah dia itu manusia?” Boe Wie pikir. Itu ada satu gerakan sangat cepat Ia telah belajar silat sejak umur tuj uh tahun, sama sekal i ia belajar buat kira-kira dua puluh enam tahun, malah gurunya sampai dua dan ia sudah dapatkan juga In Tiong Kie punya ilmu “Poan seng teng kee” atau “Mendengar suara mengenal senjata”, jikalau perbuatan barusan ada perbuatan manusia, sungguh aneh. Maka akhirnya, ia mau anggap matanya sedang kabur….

Sedangnya pemuda ini berpikir keras, tiba-tiba ia rasai pundaknya ada yang tekan pula, sekali ini, pundak yang kanan, malah sekarang, dari samping kupingnya ia dengar ajakan: “Mari!” Ia ada seorang yang berpengalaman, dengan garapang ia bisa melesat ke kanan, untuk terus hunus pedangnya, apa mau, ketika ia bikin gerakan demikian, tangannya kena raba hanya sarung pedangnya-pedang Lan- gin-kiam – yang sudah kosong!

Maka sekarang, ia terperanjat bukan main. Akan tetapi, sclagi demikian, di hadapannya segera terlihat satu niekouw tua yang berjubah hitam, di tangan siapa ada tercekal sebatang pedang panjang, yang berkilau-kilauan. “He, bocah, di sini tak dapat or•ang sembarangan menghunus pedang!” berkata niekouw itu, sembari bersenyum dan kakinya bertindak. “Di sini ada tempat kediaman Budha yang tidak boleh mendengar suara alat-senjata saling beradu!”

Bukan main herannya Boe Wie akan kenali pedangnya, dalam kaget dan heran, ia segera insyaf bahwa niekouw ini mestilah Sim Djie Sin-nie yang kesohor, yang ia sedang cari, sebab kalau tidak, di mana ada Jam pendeta perempuan yang begini liehay? Oleh karcna itu, ia segera maju menghampirkan.

“Loo-tjianpwee, maaf,” berkata ia seraya memberi hormat dengan menjura dalam. ‘Teetjoe ada Law Boe Wie. Teetjoe mohon tanya, apakah Nona Lioe Bong Tiap ada di sini?”

Niekouw itu berhenti bertindak, ia mengawasi dengan tajam.

“Pernah apamu Lioe Bong, Tiap itu?” ia balik tanya, tapi sambil tertawa.

“Nona Lioe itu ada socmoaynya teetjoe,” jawab Boe Wie dengan sikap sangat menghormat. “Loo-tjianpwee telah tolongi nona itu, maka juga teetjoe telah datang kemari, pertama-tama untuk menghaturkan terima kasih, kedua untuk mohon bertemu dengannya.”

“Kau benar-benar bersungguh hati,” berkata Sim Djie sambil tertawa. “Kau sampai mendapat ketahui yang aku telah bawa nona itu kemari! Memang aku pernah dengar Bong Tiap bilang, kau adalah toa-soehengnya, yang berkepandaian tinggi luar biasa, dari itu, begitu melihat kau, aku menduga padarauJ aku lantas mencoba-coba, temyataj kau betul-betul liehay.” Habis berkata, Sim Djie angsurkan pedang pada Boe Wie.

“Simpan ini baik-baik” kata ia. yang pun kembalikan bebcrapa barang Kim-tjhie-piauw pada Boe Wie Boe Wic bingung. Baharu sckarang ia ketahui, “di luar Iangit ada langit, di luar orang ada orang”. Ialah, orang liehay tidak ada batasnya. “Sekarang, marilah,” Sim Djie berkata pula, dcngan undangannya. Boe Wie manggut, ia lantas ikuti pendeta perempuan ini. Jalanan ada dari tepi sungai menuju ke tanah da tar rumput, lalu mcndaki bukit yang pcnuh batu bcrancka warna, hingga kclihatan cahay* kelak-kelik makin lama mak i n dekat, hingga kcmudian Boc Wie tampak, di tengah bukit mi ada sebuah kuil dari mana api terlihat, ialah dari tengiolcng yang digantung di depan rumah berhala itu.

“Adakah ini kuil Soethay?” Boe Wie tanya.

“Ya, inilah tempat bernaung pinnie,” sahut Sim Djie, yang bahasakan diri “pinnie”, si pendeta percmpuan yang miskin. Segera ia awasi pemuda itu, dan ia tanya, “Mana kudamu?”

Orang she Lauw ini memakai sepatu piranti menunggang kuda. Boe Wie keiihatannya masygul, tetapi ia bersenyum. “Pada bebcrapa hari yang lalu, teetjoe diserang angin dan hujan pasir, hingga kita tersesat,” sahut ia. “Untuk dua hari kita tak peroleh air, manusia masih dapat bertahan, binatang tidak, kudaku itu mati |kehausan.”

Sim Djie tertawa. “Gurun pasir disini masih tidak terlalu menakuti,” kata ia. “Jikalau berada di Mongolia luar dan kau diserang badai, sebentar saja kau bisa ditumpuki pasir hingga mcnjadi gundukan. Kuda kau pasti ada kuda dari Kwan-lwee, yang tak biasa jalan di padang pasir dan tak tahan berdahaga, maka baharu dua hari tak makan dan minum, dia binasa.

Tunggu sampai kau berangkat, aku nanti carikan kau dua ekor keledai jempolan!”

Diam-diam Boe Wie bergirang. Niekouw ini menyebut dua ekor keledai. Di dalam hatinya, ia kata: “Dia rupanya telah ketahui maksud hatiku, dia tcntu akan antap Bong Tiap ikut aku.” Sementara itu, mcrcka sudah sampai di depan kuil, Sim Djie hampirkan pintu dan ketok-ketok itu. “Tiap-tiap, ada tetamu, kenapa kau tidak lekas menyambut?” demikian katanya.

Baharu ucapkan itu habis atau sebagai gantinya, di dalam terdengar tindakan kaki yang berlari-lari, disusul sama suara yang nyaring halus: “Soehoe, siapa itu? Bagaimana ada tetamu datang kemari? Jangan Soehoe dustakan aku….”

Boe Wie kenali baik suara itu, tapi sekarang, ia agaknya merasa rada asing. Pun berpikir: “Sudah sekian lama kita berpisah, adalah dia masih pikirkan soehengnya?” Hatinya Boc Wie tegang sendirinya.

Segera juga daun pintu dipentang dan di muka pintu muncul tubuhnya Lioe Bong Tiap dengan koennya panjang yang putih, hingga dia mirip dengan bidadari. Boe Wie mengawasi soemoay itu, yang romannya sehat sckali, sampai ia lupa mcncgur. Adalah Bong Tiap, yang sifatnya tetap seperti biasanya. Ia heran tampak Boe Wie, akan tetapi, ia berseru: “Apa kau ada baik? Mana ayahku? Apakah Ayah datang bersama?”

Sim Djie tertawa menampak Ieganya si nona. “Ah, Bong Tiap,” kata ia. “Soehengmu baharu sampai, bukan kau undang masuk untuk beristirahat, kau sudah hujani dia dengan banyak pertanyaan.”

Dengar begitu, Boe Wie sadar, ia tertawa. “Soemoay, kau baik?” ia balas tanya. “Soehoe ada di Hoopak, tidak kurang suatu apa, jangan kau buat kuatir.”

“Mari masuk,” kata Sim Djie, yang ajak tetamunya pergi ke Ruangan Hoed-tong, kemudian ia masuk ke dalam, untuk titahkan Hoei Sioe lekas siap-siapkan air teh dan barang makanan, untuk juga carikan dua ekor keledai. Boe Wie gunai ketika itu akan tuturkan Bong Tiap tentang pertempuran di rumahnya Soh Sian Ie, bagaimana mereka labrak pahlawan- pahlawan Boan, hingga Bong Tiap gembira bukan kepalang, tetapi waktu mendengar tneninggalnya Teng Kiam Beng, nona ini sangat bcrduka. Di lain pihak, ia ketarik akan dengar hal Pergerakan Gie Hoo Toan, di dalam mana ada turut orang- orang perempuan. Bahagian perempuan dari Gie Hoo Toan disebut”AngTeng Tjiauw, atau “Sinarnya Lampu Merah”.

“Jadinya kita orang-orang perempuan tak kalah dengan orang laki-laki,” kata nona ini dengan gembira sekaJi,sambil tertawa*

Boe Wie bersenyum.

“Tetapi, Soeheng,” kata si nona sesaat kemudian, nampaknya ia baharu ingat suatu apa. “Kau telah bicara banyak, kenapa kau tidak scbut-scbutsam-sochcng.

Bagaimana dengan dia?” Bong Tiap maksudkan Ham Eng.

Boe Wie tercengang sebentaran.

“Ya, kenapa aku lupa sebut dia?” kata ia dalam hatinya. Ia insyaf akan kcalpaannya. Ia lantas tertawa dengan terpaksa.

“Cerita panjang, Soemoay, tak bisa aku lantas bicarakan tentang Tjoh-soetee,” sahut ia. “Soemoay jangan kuatir, ia tak kurang suatu apa-apa.”

Boe Wie lantas tuturkan halnya Ham Eng. Seperti sudah diketahui, di waktu dipegat, Boe Wie dirintangi oleh Ouw It Gok, dan dari tiga konconya yang liehay dari It Gok itu, dan kepung Bong Tiap, yang satunya layani Ham Eng. Di samping seorang itu, Ham Eng dikepung kira-kica sepuluh konco lainnya dari musuh, dari itu, ia jadi sangat repot, walaupun demikian^ untuk menyingkir dari musuh-musuhnya, ia masih leluasa.

Demikian, sembari bertempur, ia main mundur, ia menuju ke dalam rimba, sampai beberapa musuh kctinggalan sedikitjauh di sebeiah bclakang. hingga akhimya dengan ngamuk sedikit ia bisa tinggal pergi semua lawannya itu.

Hanya, dalam keadaan seperti itu, dan sudah maghrib juga. Ham Eng tak sempat pikir untuk tengoki soehengnya dan soemoay; dengan terpaksa, ia menyingkir terus sampai di tempat belasan lie jauhnya; ia menumpang mondok pada satu penduduk tani. Bcsoknya baharu ia kembali ke tempat pertempuran, tapi di situ ia tak dapati Boe Wie dan Bong Tiap. Karena tidak berdaya, terpaksa ia menuju ke Shoatang, pulang ke rumahnya. akan ikuti ayahnya, Tjoh “Lian Tjhong, mclanjuti pelajaran silatnya. Adalah kemudian, ketika Tjoh Lian Tjhong dapat tahu Lioe Kiam Gim berada dalam kalangan Gie Hoo Toan, ayah ini antar puteranya pada itu guru silat, hingga Ham Eng ikuti pula sang guru dalam perjuangan.

Bong Tiap tertawa setelah mendengar keterangan soehengnya.

“Anak itu beruntung sekali!” kata ia.

“Dia pun tak sampai terluka! Tidak demikian dengan aku, bilamana tidak ada Soehoe, yang tolongi aku, hamper aku binasa!”

Sekarang ada gilirannya Bong Tiap, akan tuturkan pengalamannya, yang berbahaya. mendengar mana, Boe Wie ulur lidah karena gegetun.

“Sungguh berbahaya!” soeheng ini kata.

“Soeheng,” kata si nona kemudian, “aku juga ingin turut kau pergi melihat-lihat Gie Hoo Toan, untuk sekalian’tengok ayahku. Maukah Soeheng ajak aku?”

Tapi ia berdiam dengan tiba-tiba, agaknya ia ragu-ragu. “Hanya,” ia tambahkan kemudian, “cntah bagaimana

pikirannya Sochoc, ia akan izinkan aku pergi atau tidak…. Kau

tahu, Soehoe menyayangi aku sccara luar biasa.”

“Tiap, Anak, kau hendak cari ayahmu, bagaimana aku bisa tak mengizinkan kau pergi?” demikian suara tiba-tiba dari Sim Djie, yang nampak bertindak keluar. Dan ia berkata-kata sembari tertawa. “Keledai untuk kau pun sudah disiapkan…. Mclainkan aku hendak pesan kau.” Guru ini segera hunjuk sikapsungguh-sungguh, ia bertindak ke depan muridnya sekali, kepala siapa ia usap-usap. “Kita berdua adalah berjodoh. Selama tiga tahun kau juga telah dapat mempelajarkannya bukan sedikit. Sekarang ini kau baharu dapati empat atau lima bagian dari kepandaianku, meski demikian, j ikalau kau merantau, tidak nanti sembarang orang bisa perhina pada kau, maka itu aku larang kau berlaku jumawa, teristimewa jangan lancang gunai piauw Bouw-nie- rjoe. Inilah pesan yang pertama. Apakah kau bisa ingat itu baik-baik?”

Bong Tiap manggut

Sim Djie menghela napas.

“Tiap, Anak, aku hendak serahkan sesuatu kepada kau, karena aku tidak tahu, kita orang bakalbertcmu pula atau tidak…” ia tambahkan.

Bong Tiap terkejut.

“Soehoe mengapa kau mengucap begini?” kata ia. “Soehoe ada begini schat-walafiat, kenapa Soehoe bilang kita orang akan bisa bertemu pula atau tidak?”

Sim Djie Sin-nie menghela napas pula.

“Siapa bisa bilang tentang hal-hal yang bakal terjadi?” ia meneruskan. “Tapi, kita baik jangan bicarakan itu, kita bicara urusan lain, aku mesti bicara dengan kau.”

Ia awaskan pula muridnya itu dengan tajam, lalu ia lanj utkan: “Kau adalah muridku, tetapi kau bukannya murid yang sucikan diri, dari itu, tak dapat aku minta kau, seperti aku, akan itinggal menyendiri di gunung yang sunyi-scpi, berdiam di kuil tua. Siapa dapat memastikan segala apa yang belum terjadi? Aku hanya hendak terangkan, andaikata lain waktu kau datang pula kemari, kuil ini dan semua kitab yang berada di dalamnya, semua adalah kepunyaan kau, apabila kau inginkan itu, kau ialah maj ikan di sini, Soetjouwmu adalah Sian Tjong Pak Pay, Ketua dari Golongan Utara, kau telah ikuti aku beberapa tahun, kau niscaya ketahui itu, tetapi baiklah aku jelaskan sedikit tentang kedua

Golongan Selatan dan Utara itu – Lam Pay dan Pak Pay. Ngo Tjouw dari Sian Tjong, Hong Oen, adalah yang disebut Oey Bwee Taysoe, ketika ia buka pintunya menerima murid, ia telah punyakan seribu lima ratus pengikut. Di waktu memberikan pelajaran, pemah Ngo Tjouw inginkan sesuatu muridnya menuliskan sebuah kata-kata: murid kepala, ialah Sin Stoe, sudah menulis ujar yang berbunyi: “Tubuh adalah pohon bodi, hati umpama kaca terang, setiap saat hams raj in dikebuti dan disusuti, agar tidak ketempelan debu”. Semua murid anggap ini adalah ujar yang paling sempurna, akan tetapi satu murid pendeta, yang kerjanya menumbuk beras, yang bemama Hoei Leng, tidak setujui itu, ia telah minta orang tolong ia tuliskan lain ujar ialah: “Bodi bukannya pohon, kaca terang bukannya kaca, sebenamya tidak ada benda, maka dari mana datangnya debu?” Ngo Tjouw kagum akan ujar-ujar ini, ia lantas angkat Hoei Leng menjadi alili vvaris.

Kedua ujar itu telah menyatakan adanya dua aliran, maka sejak itu, Sian Tjong merupakan dua aliran atau golongan, ialah Selatan (Hoei Leng) dan Utara (Sin Sioe). Aliran Selatan mengutamakan kesadaran lantas, tidak usah terialu berkukuh, toh akaninsyaf, dan Aliran Utara menginginkan kesadaran perlahan-lahan, artinya kemudian| setetes demi setetes,  sehari demi sehari, untuk mencari kemajuan, guna mcndapat kesadaran. Di zaman belakangan, orang anggap Aliran Selatan lebih sempurna dari pada Aliran Utara, tapi hal yang scbcnarnya tidak demikian, karena masing-masing ad a puny a kcscmpurnaannya sendiri-sendiri. Aku scndiri anggap, Aliran Utara ada lebih memberi kenyataan daripada aliran Selatan, karena jarang ada or•ang yang baharu tcrlahir atau yang dengan tiba-tiba mcmpcrolch keinsyafan, kesadaran. Aliran Utara utamakan “setiap hari rajin dikcbuti dan disusuti”. Umpama muka kau kotor, bukankah itu perlu dicuci setiap hari? Kau bukannya murid Budha, tapi aku harap kau bisa ingat baik-baik ujarnya Sin Sioe Tjouwsoe untuk setiap waktu rajin mcngebuti dan mcnyusu t, supaya tak membikin debu bergumpal. Terutama di saat pikiran sesat dan kusut, kau mesti dapat memikir untuk mengcbut dan meny usuti itu hingga bcrsih.”

Bong Tiap insyaf sempurnanya ujar-ujar sang guru, akan tetapi ia heran akan sifatnya pcsan itu. Itulah mirip pesan terakhir, pesan perpisahan. Tapi, ia tidak berani mengatakan apa-apa.

“Sekarang pergilah kau orang beristirahat,” kata Sim Djie akhimya. “Besok Hoei Sioe akan siapkan dua kelcdai, yang biasa melaiui gurun pasir.”

Bong Tiap dan Boe Wie menurut, mereka undurkan diri, akan tetapi dihari kedua, ialah besokannya, si Nona Lioe tak dapat bicara pula dengan Sim Djie, gurunya, karena waktu ia pergi kepada gurunya itu, untuk pamitan, ia dapati sang guru lagi duduk bercokol, diam saja, kedua matanya ditutup rapat, napasnya tidak bcrjalan. Nyata guru itu telah menutup mata. Mclainkan di sampi hgnya, sang guru mcninggalkan seheiai kcrtas dengan tulisan, yang bcrpcsan agar murid ini insyaf, bahwa hati adalah pusat, bahwa segala apa ada kosong bclaka, bahwa karma ada seumpama impian.

Ia teJah lama ikuti guru itu; ia mengerti jugatentang agama Budha, dari itu, ia insyaf pentingnya pesan itu. Hanya, biar bagaimana, ia toh bcrduka. Lantas Bong Tiap urus mayatnya guru itu, untuk mana, Boe Wie dan Hoei Sioe bantui ia.

Habis itu, tiba-tiba ia merasa, apa bukannya Sim Djie mengharap ia jadi murid sejati, untuk ia mcnjadi niekouw. Merasakan ini, hatinyajadi tidak tentaram, karena ia masih muda, ia adalah satu nona. Maka akhirnya, ia hiburkan diri, sambil bersenyum, ia kata dalam hatinya: “Nona tolol, kalau kau tidak sucikan diri, siapa nanti pakaikan kau jubah suci?”

Ia pun lantas ingat tanah datar, Muara Kho Kee Po, ia ingat ayah dan ibunyadan Ham Eng juga. Ingat Ham Eng, air mukanya berubah sendirinya. Sementara itu, dalam perjalanan ini, berdua dengan soehengnya, ia dapat perasaan, sochcng ini beda dari pada dulu-dulu. Boe Wie tidak lagi bcrgcmbira sewajarnya, walaupun ia tetap suka bicara dan tertawa, ia scpcrti dipaksakan. Soeheng ini seperti pcrbataskan diri selagi mcngawani sang socmoay, kadang-kadang bicaranya tidak lancar, seperti mesti dipikirkan dahuiu. Bcbcrapa kali ia dapati soeheng itu menoleh dan mengawasi ia, seperti hcndak bicara, tapi kapan ia dekati, hingga mereka jalan berendeng, waktu ditanya, soeheng itu bungkam, katanya dia “menoleh karena kuatir soemoay itu ketinggalan, kuatir nanti tcrulang kejadian sehebat di Boe-ip”…. Lama Bong Tiap pikirkan sikapnya soeheng itu, yang bagaikan tcka-tcki, tetapi tidak lama, ia dapat mencrkanya.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 07"

Post a Comment

close