Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 06

Mode Malam
 
Didesak sccara dcmikian, Kiam Gim bersangsi. la ingat sebabnya kenapa sudah dua puluh tahun lebih ia asingkan diri. “Kalau kita cuma andali tenaga kita kaum Kang-ouw saja, apa kita bisa pcrbuat?” ia tanya. “Sudah dua ratus tahun bersclang, sejak bangsa Ouw masuk kemari, pokok dasamya telah jadi kuat sekali, scdang selama beberapa puluh tahun ini, bangsa asingpun tunjang padanya! Bisakah kita gempur dia?”

*Tapi kita bisa bcrdaya, saudara Lioe,” Hay Peng bilang. “Ada orang yang sedang dayakan itu •

la terus tuturkan hal sepak-terjangnya Tok-koh It Hang, si jago tua, yang hendak persatukan kaum Kang-ouw, ia hanya tidak sebutkan namanya.

Kiam Gim nampaknya ketarik,

“Saudara Tjiong, siapa dia itu?”| tanyanya dengan bemafeu. “Apakah aku bisa bertemu dengan dia?”

“Lioe Loo-enghiong,” berkata ia, “kau sebenamya sudah bcrtemu sama dia, malah sudah bcrtempurjuga! Kau orang sudah bertempur selama setengah ma lam an, apakah kau masih beium ketahui siapa adanya dia itu?”

Kiam Gim Iantas bisa mengerti.

“Dia ada Tok-koh It Hang,” Hay Peng beritahu, seraya beber hal-fliwalnya orang itu.

“Apakah dia masih ada di sini? Apakah aku bisa pasang omong dengan dia?” Kiam Gim tanya kemudian.

Kembali Hay Peng tertawa, ia urut-urut kumisnya.

“Siapa tidak bertempur, dia orang tidak berkenalan!” kata ia, sembari tertawa terus. “Cuma Tok-koh It Hang yang sanggup lawan kau, Saudara Lioe, melainkan kau yang mampu layani kim-na-hoatnya! Inilah yang dibilang, orang hutan menyayangi orang hutan, pantas Saudara bemiat segera menemui dia! Sayang dia tidak ada di sini sekarang, dia bemiat pulang ke Liauw-tong….” Kiam Gim tercengang, ia merasa kecewa.

“Tempatku ini, Sha-tjap-lak Kee-tjoe, benar-benar sunyi,” Tjiong Hay Peng kasih kcterangan lebih jauh, “akan tetapi tempat ini tidak sentosa, saking jaraknya yang terlalu dekat dengan Sin-tek, di mana ada Istana Kaisar Boan. Pasti akan menyolok mata apabila kita kumpul ramai-ramai

di sini. Maka itu Tok-koh It Hang hendak pulang dahulu ke Liauw-tong, di Sam-she Oey-see-wie di Ie-lan, | untuk melakukan persiapan. Di sana orang bisa berkumpul dengan merdeka. Di sini Tok-koh It Hang minta aku yang bantu ia mengundang Orang-orang kaum kita, tapi untuk ini, kita berdua harus bekerja sama-sama….”

Soal ini membikin Kiam Gim berpikir. Ia tidak lantas terima baik, iapun tidak menolak. Ia bukannya jerih, ia hanya kuatir namanya nanti sudah tidak mempunyai pengaruh pula disebabkan pengasingan diri selama dua puluh tahun lebih.

“Aku juga hendak minta Saudara Lioe pergi menemui Ketuadari Bwee Hoa Koen,” kemudian Tjiong Hay Peng tambahkan.

“Untuk apa itu?” Kiam Gim, tanya.

“Saudara Lioe tinggal di Shoatang, mustahil Saudara tak ketahui tentang perkembangannya Bwee Hoa Koen selama tahun-tahun yang bclakangan ini?” Hay Peng balik tanya. “Bwee Hoa Koen, yang juga disebut GieHoo Koen, paling belakang sudah dirikan rombongan Gie Hoo Toan, yang bukan saja di Shoatang berpengaruh besar, juga di lima propinsi Utara.”

“Sudah dua puluh tahun aku berdiam di tengah muara, aku tak tahu jelas lagi keadaan di luaran,” Kiam Gim akui. “Aku melainkan dengar apa-apa dari beberapa sahabat yang satu waktu suka kunjungi aku, pemah antarany a ada yang omong tentang Gie Hoo Toan itu, katanya rombongan ito berpusat di delapan ratus enam puluh lebih desa di Jim-pcng di mana ada lebih daripada delapan ratus boe-koan. Orang pun bilang, setelah ketuanya Bwee Hoa Koen, yaitu Ki-ang Ek Hian, menutup mata, karena puteranya berkepandaian biasa saja, dia ini tak dapat bikin tunduk orang banyak, karena mana belakangan or•ang angkat Tjoe Hong Teng dari angkatan muda sebagai ahli waris kaum itu. Apa benar, dia ini adalah yang bangunkan Gie Hoo Toan?”

Tjiong Hay Peng be nark an itu pcrtanyaan.

“Walaupun dcmikian, bersama-sama Tok-koh It Hang, aku masih belum ambil putusan untuk gabungi diri atau tidak dengan dia itu,” ia manambahkan.

Lantas tuan rumah ini menutur hal Gie Hoo Toan, antaranya ada yang Kiam Gim sudah ketahui, banyak juga yang ia belum tahu.

Gie Hoo Toan ada satu cabang kecil dari Pat Kwa Kauw dari Pek Lian Kauw, agama Teratai Putih. Di akhir zaman Goan Tiauw, pemimpin Pek Lian Kauw ada Lauw Hok Tong, tapi kepala agamanya ada Han Lim Djie, puteradari Han San Tong. Lim Djie disebut juga Siauw Beng Ong. Di dalam pasukan sukarela Pek Lian Kauw ini; Tjoe Goan Tjiang ada salah satu pemimpin, adalah Tjoe Goan Tjiang yang berhasil mengusir bangsa Goan (Mongolia) dan berdirikan Kerajaan Beng.

Setelah jadi kaisar, Tjoe Goan Tjiang mcnindih Pek Lian Kauw. Di akhir Kerajaan Beng ini, Pek Lian Kauw pun disebut Pek Lian Hwee, Kumpulan Teratai Putih, pengaruhnya tersebar di Shoalang, Tit-lee, Shoasay, Hoolam, Siamsay, dan Soe-tjoan, kepala agamanya ialah Ong Som, kepala agamanya men utup mata, dia digantikan oleh putcranya, Ong Ho Hian dan Tjie Hong Djie; dengan pimpin dua juta serdadu, mereka lawan pemcrintah Beng, mereka tidak berhasil tetapi pengaruh mereka sudah meresap antara rakyat jelata. Adalah setelah Kerajaan Tjeng musnakan Kerajaan Beng, dan menggantikan memerintah

Tionggoan, dan bangsa Han ditindas, bangsa ini bergerak pula, dan sclama tahun pert ama dari Kaisar Kee Keng, ketua Pek Lian Kauw, yaitu Lauw Tjie Hiap, serukan rakyat “Rubuhkan Kerajaan Tjeng untuk bangunkan pula Kerajaan Beng” dan “karena pemerintah menindas, rakyat berontak”. Bendera dan pakaiannya kaum ini ada serba putih. Selama tahun ke-17 dari Kaisar Kee Keng, Thian Lie Hwee ialah Pat Kwa Kauw, satu cabang dari Pek Lian Kauw, dengan bekerja sama-sama Lie Boen Seng dari Tjin Kwa Kauw dan Lim Tjeng dari Kim Kwa Kauw, sudah serang Istana Raja Boan di Pakkhia serta niat rampas Tit-lee, Shoatang dan Hoolam.

Bertiga mereka berjanji, kalau mereka berhasil, mereka akan bagi anggota mereka satu bauw tanah untuk sctiap anggota. Mereka ini gagal tapi pembcrontakan mereka telah menggetarkan seluruh negeri. Kemudian, terus sampai zaman Kaisar Kong Sie, Kaum Pek Lian Kauw dan lainnya masih bekerja sccara rah as i a. Tjoe Hong Teng itu ada asal satu pemimpin kecil dari Pat Kwa Kauw, ia be 1 ajar silat pada Ki- ang Ek Hian, setelah Kiang Ek Hian menutup mata, ia menggantikan jadi ahli waris Bwee Hoa Koen, terus ia dirikan Gie Hoo Toan. Ia ada orang dari To-tjioe, Shoatang, ia mengakui ada turunan kaisar-kaisar Beng, seruannya ada “Hoan Tjeng Hok Beng”, yaitu “Rubuhkan Tjeng Tiauw”. Ia ajarkan orang “Sin Koen”, yaitu ilmu silat “Malaikat”, katanya, ada dewa atau malaikat yang bantu ia, hingga tubuhnya jadi tidak mempan senjata tajam, tak dapat ditembak. Ia tidak bisa abui orang cerdik tapi toh ada sebahagian orang yang percaya padanya.

Mendengar sampai di situ, Kiam Gim tanya Hay Peng: “Gie Hoo Toan dari Tjoe Hong Teng bercita-cita ‘Hoan Tjeng Hok Beng’, tapi kenapa pemerintah Tjeng tidak larang padanya, malah sebaliknya, kenapa dia diizinkan kumpulkan barisan serdadu rakyat yang dinamai ‘Koen-bin’? Kenapa di Jim-peng saja sampai ada delapan ratus lebih cabang kaum itu?”

Ditanya begitu, Hay Peng tepuk meja.

“Ini dia bagiannya yang rada sulit,” katanya. “Ini ada suatu siasat. Bukankah Saudara ketahui, bagaimana sewenang- wenangnya bangsa asing sekarang? Untuk itu, dengan pelahan-lahan Gie Hoo Toan ubah seruannya dari ‘Hoan Tjeng Hok Beng’jadi ‘HoeTjeng Biat Yang’.”

“Hoe Tjeng Biat Yang” berarti “menunjang Kerajaan Tjeng untuk memusnahkan bangsa asing”. Inilah gcrakan yang menyebabkan delapan bangsa asing kepung Pakkhia,  sehingga Kerajaan Tjeng bikin jatuh pamor Tiongkok. Setelah Perang Candu di tahun 1840, Tiongkok tutup diri, tapi bangsa asing gempur pintunya dengan tembakan meriam dari kapal perang. Segera datanglah paderi-paderi Kristen, untuk mengajarkan agama. agamanya sendiri ada lain, adalah segala penganutnya, yang main gila, mereka jadi pemeras rakyat jelata, pengganggu kehormatan kesucian orang perempuan, kalau terbit perkara mereka dilindungi, hingga umumnya rakyat jadi benci mereka. Maka itu, Tjoe Hong Teng dengan Gie Hoo Toannya, lantas jadi pembela rakyat yang bercelaka itu. pemerintah Boan lihat ancaman bahaya, lantas See Thayhouw, Ibusuri, dengan turuti sarannya Yok Hian, Soenboe dari Shoatang, ubah sikap, ialah dari dimusuhkan, Gie Hoo Toan dibaiki. Tjoe Hong Teng suka bekerja sama-sama, ia harap, setelah usir bangsa asing, ia nanti bisa bikin terjungkal bangsa Boan. Sikapnya Tjoe Hong Teng ini menyebabkan

ragu-ragu di antara rakyat, sampai Tok-koh It Hang sendiri turut bersangsi. Maka Tok-koh It Hang, dengan perantaraannya Tjiong Hay Peng, ingin ketahui sikapnya Lioe Kiam Gim. Jago Thay Kek Pay ini, yang tinggal di Shoatang, ada kenal baik pemimpin tua dari Bwee Hoa Koen, ialah Kiang Ek Hian. Setelah dengar keterangan lebih jauh itu, Kiam Gim jadi berpikir. Ia memang tidak puas terhadap Kerajaan Tjeng, tapi sudah lama ia undurkan diri, hatinya sudah mulai tentaram.

Sekarang, hatinya jadi goncang. Dt akhirnya, ia nyatakan suka ketemui Tjoe Hong Teng, untuk ketahui jelas sikapnya Ketua Gie Hoo Toan ini, untuk – apabila bisa – baliki tujuannya Tjoe Hong Teng menjadi pula “Hoan Tjeng Hok Beng”.

Dua sahabat ini bicara dengan asyik, sampai tahu-tahu, sang fajar telah datang, sinar terang muncul dari arah Timur. Justeru itu, dari antara jalanan gunung, ada berlari-lari satu orang ke Sha-tjap-lak Kee-tjoe, untuk sesampainya, menggedor pintu rumahnya Tjiong Hay Peng. Dia temyata ada Lie KeeTjoen, muridnya Tjiang Han Tek dari Ngo Heng Koen, ialah boesoe atau guru silat dari rombongannya Teng Kiam Beng yang atas titahnya Kiam Beng, hendak cari Lioe Loo- kauwsoe. Karena sesudah jauh malam Kiam Gim belum kembali, Kiam Beng sangka saudara itu pergi pada Hay Peng, dan karena kuatir saudara itu alami hal tak disangka-sangka, Kee Tjoen dikirim untuk menyusul.

Atas gedoran, pintu dibuka oleh beberapa muridnya Tjiong Hay Peng. Kee Tjoen tanya hal Kiam Gim, mu-rid ini menyangkal. Mereka mcmang tidak tahu, Hay Peng dengan beruntun telah kedatangan In Tiong Kie dan Lioe Kiam Gim, malah Kiam Gim asyik pasang omong dengan gurunya, scbaliknya mereka jadi gusar, mereka sangka Kee Tjoen ada gundalnya pembesar negcri dan datang untuk cari rahasia.

Syukur, sebelum mereka bertempur. Hay Peng dan Kiam Gim muncul, hingga murid-murid itu jadi hcran dan melengak.

“Ada urusan apa?” Kiam Gim tanya Kee Tjoen.

Orang she Lie ini mclongo, di depannya Tjiong Hay Peng, ia tidak bisa bcrikan jawaban, sedang tampangnya tuan nunah pun sudah lantas berubah.

Kiam Gim- tertawa, sambil uruti kumisnya, ia kata: “Lauwtee, Tjiong Loo-tj lanpwec ini ada sahabatku dari beberapa puluh tahun, kau jangan kuatir apa-apa! Bukankah kau orang kuatir aku kena ditahan di sini maka kau datang untuk papak aku?” Tjiong Hay Peng pun tertawa dan

bcrkata: “Jangan kuatir, Lauwtee! Lioe Soepehmu ini, dengan bcrdiam di rumahku, tidak nanti terhilang lenyap!”

Lie Kee Tjoen menjadi gugup, romannya kuatir.

“Maaf, Lootj ianpwee, tctapi tidak demikian maksud kita…” berkata ia, dengan tidak lancar. “Hanya, hanya…” ia terus memandang Kiam Gim dan meneruskan:”… hanya Teng Soesiok minta Soepeh lekas kembali, sebab tadi malam kita telah kedatangan satu tetamu tidak diundang….”

Kiam Gim heran.

“Tetamu siapa itu? Dari mana datangnya?” ia tanya. “Teetjoe tidak kenal orang itu,” sahut Lie Kee Tjoen. “Dia

bicara lama sekali dengan Teng Soesiok, kemudian baharulah

Soesiok titahkan aku susul Soepeh di sini untuk disambut pulang….”

Kiam Gim hcran, karena itu, ia lantas pamitan dari Hay Peng, terus ia ikut Kee Tjoen. Di tengah jalan, ia ada bersemangat, meskipun satu malaman ia tidak tidur sama sekali. Ia bicara sama Kee Tjoen, ia tanya, siapa sebenarnya tetamu itu.

“Entahlah, tapi ia datang dari Sin-tek,” Kee Tjoen jawab. “Begitu bertemu sama Teng Soesiok, dia kata dia datang langsung dari Sin-tek dan dengan ter-buru-buru, dia tidak ber- henti-henti di tengah jalan.”

Tetamu dari Sin-tek?” kata Kiam Gim, yang ulangi itu berulang-ulang.

Ia»menduga-duga dengan sia-sia, ia rnasygul. Sin-tek ada daerahnya Istana Boan. Apakah orang itu datang dengan suatu kabar penting, yang berbahaya? Atau dia ada orangnya pembesar negeri yang lagi lakukan penyelidikan?

Dugaannya Kiam Gim ini benar dan tidak benar. Benar karena tetamu itu betul ada dari pihak pembesar negeri. Tidak benar karena dia datang bukan untuk cari tahu perihal ia dan orang yang belum ketahui, dari pihak yang bcrtcntangan, ia sekarang ada sahabatnya Tok-koh It Hang.

Tetamu itu ada orangnya Keluarga Soh. Seberangkatnya Kiam Beng dan Kiam Gim, Soh Sian Ie dan anaknya pun segera berangkat ke Sin-tek dan ayah dan anak ini bisa sampai lebih dulu. Dengan lantas mereka ini berembukan sama wie-soe, atau pah law an dari istana Sin-tek dan pahlawan dari Istana Pakkhia, kemudian mereka lantas bikin penyelidikan. Dengan lekas mereka dapat tahu yang Kiam Beng bcramai sudah pergi ke Sha-tjap-lak Kee-tjoe, pada Keluarga Tjiong, justeru Keluarga Tjiong ini mereka curigai ada mempunyai sangkutan dengan perampasan upeti, sedang mereka juga tahu, Lioe Kiam Gim ada bersahabat rapat dengan Tjiong Hay Peng. Di sebelah itu, mereka juga telah dengar selentingan hal adanya beberapa or•ang yang tidak dikenal yang suka berkumpul di Hee-poan-shia. Bangsa

Boan mcmang paling jenh kalau or-ang-orang kaum Rimba Persilatan mengadakan persatuan. Soh Sian Ie pun tidak ingin Kiam Gim berhasil dengan perjalanannya ini, ia ingin Kiam Beng terus terpisah dan kaummnya, untuk mengatur terus jaring. Dan tetamunya Kiam Beng itu ada salah satu pahlawannya Sian Ie, yang dengan Kiam Beng ada bersahabat kekal.

Kapan Kiam Gim sampai di ru man penginapan, ia dapatkan Kiam Beng sudah dandan rapi, sudah siap untuk suatu perjalanan, di sampingnya soetee ini ada seorang dari usia pcrtcngahan yang matanya m i rip mat a tikus dan hidungnya bengkung bagaikan gactan. “Eh, Soetee, kau hendak bikin apa?” Kiam Gim segera tanya seraya ia tarik tangan orang. “Kau hendak pergi ke mana?”

. Kiam Beng tidak segera menjawab, hanya sambil tarik orang di sampingnya, ia kata untuk memperkenalkan: “Soeheng, ini ada Saudara Yap Teng Tjeng dari Pat Kwa Tjiang atau pahlawan dari Keluarga Soh, ia mengabarkan tentang upeti yang dibegal sudah ada kabamya, ia sekarang ajakkita segera berangkat ke Sin-tek!”

Teng Tjeng maju seraya hunjuk hormatnya.

“Tentang upeti itu, Loo-enghiong tak usah capaikan hati lagi,” berkata ia. “Kita orang  sudah dapat keterangan, barang pun telah didapat pulang, maka sekarang lata tinggal menunggu kembalinya Tcng Loo-enghiong untuk membereskannya.”

Tentu saja ada dusta belaka yang barang upcti telah didapat pulang, itu ada alasan melulu guna pancing mcrcka kembaii, Kiam Bene boleh kena diakali, tidak Kiam Gim. Dia ini awasi pahlawan Keluarga Soh itu, ia tidak bilang suatu apa, hanya kemudian, menarik tangannya sang soetee. ia kata dengan sabar. “Untuk kembaii ke Sin-tek, tak usah kita tergesa-gesa. Biarlah tctamu kita ini menunggu sebentar, aku ingin bicara dahulu sama kau.w la terus menoleh pada Lie Kee Tjoen seraya teruskan berkata: “Tolong kau tcmani dahulu tctamu kita ini.” Kemudian pada tctamunya, ia bilang: “Maaf, Tuan, maafkan kita si orang desa!”

Dengan tidak perdulikan, bahvva orang pentang matanya lebar-lebar, Kiam Gim terus tarik Kiam Beng ke dalam.

“Sebenarnya ada apa, Soeheng?” Kiam Beng tanya. “Kenapa kita tak bicara di tengah jalan saja?”

Soetee inipun heran, soehengnya yang paling kenal tata sopan santun, tetapi sekarang bersikap sebaliknya. Kiam Gim pandang soetee itu dengan tajam, lantas ia urut- urut kumisnya.

“Soetee, kau seharusnya bisa membeda-bedakan,” kata ia, “kau bisa bedakan satu orang gagah dari satu

kurcaci. Apakah satu kurcaci mesti dipandang sebagai orang gagah dan kau hendak bertaku hormat kepadanya?”

Mukanya soetee itu menjadi merah.

“Aku lihat dia ada satu laki-laki…” berkata ia. Ia merasa tidak enak hati, karena ini adalah yang pertama kali soehengnya bicara demikian tandas kepadanya.

Kiam Gim sendin merasa tidak enak ia telah bicara sedemikian rupa terhadap soetee itu, tetapi ia tidak mengerti, kenapa sang soetee begitu percaya orangnya Keluarga Soh itu.

“Tentang barang upeti, aku telah dapat keterangan,” kata ia, yang mclanjuti, untuk simpangi pembicaraan, kemudian ia tuturkan hal pertemuannyasamaTok-koh It Hang dan Tjiong Hay Peng. “Barang itu berada di tangannya orang Liauw-tong itu. Itulah bukan maksudnya Tok-koh It Hang akan kangkangi barang itu, tetapi sekarang tidak ada soal untuk mendapatinya kembaii, guna dipulangkan pada Raja Boan. Di scbelah itu, kita justeru diundang untuk satu pertemuan di le-lan.”

Walaupun ia menerangkan demikian, Kiam Gim masih tidak sebut cita-cita “memberantas pemerintah Boan”, tetapi ini justeru menyebabkan Kiam Beng keliru mengerti. Dengan sepasang alisnya berdiri, soetee ini kata: “Soeheng, jikalau kau hendak pergi ke Liauw-

tong, pergilah kau sendiri! Aku hendak pergi ke Sin-tek.

Terus terang aku sangsikan Tok-koh It Hang. Kenapa dia tidak memandang-mandang lagi, kenapa dia rampas juga benderaThay Kek Kie? Kenapa diapun sampai uji pada Soeheng? Lebih celaka ada si tua bangka Tjiong Hay Peng, sama sekali dia tidak pandang pula Kaum Thay Kek Pay, kita datang dengan cara hormat, dia justeru uji aku berulang- ulang! Aku percaya, karena mereka jerih terhadap kita, mereka pakai akal memancing kita datang ke Liauw-tong!….”

Kiam Gim coba redakan soetee ini tetapi Kiam Beng panas hatinya, maka di akhimya, ia pikir, baik ia ikut soetee ini.

Untuk pergi ke Liauw-tong, ia masih punya tempo. Ia pikir, di Sin-tek pun ia’bisa dengar-dengar kabar.

“Kalau begitu, Soetee, baiklah, aku nanti iringi kau,” kata ia akhimya.

Demikian, dengan diantara Yap TengTjeng, mereka berangkat ke Sin-tek.

Selang dua hari sesampainya Kiam Beng di Sin-tek, Soh Sian Ie ayah dan anak undang mereka untuk satu pertemuan. Kiam Gim tidak niat iringi saudaranya, tetapi karena ia kuatir untuk saudara itu, akhimya ia turut bersama. Ia tetap curiga, meskipun Kiam Beng hunjuk Sian Ie sudah berusia tujuh puluh lebih dan sudah lama mengasihngi diri. Ia curiga, kenapa Sian Ie yang tua datang sendiri

ke Sin-tek, toh cukup kalau dia diwakili puteranya saja, Soh Tjie Tiauw.

“Kau mesti waspada, Soetee, baik kau bawa pedangmu dan piauw,” Kiam Gim pesan.

Kiam Beng anggap soeheng itu terlalu curiga, tapi ia menurut, cuma pedangnya tidak dicantel di pinggang hanya disesapkan dalam baju.

Pertemuan dilakukan di gedung musim panas dari Keluarga Soh, ruangan yang indah dibikin terang dengan api-api lilin merah. Dalam tembok pekarangan ada ditanami ban yak pohon pek yang besar dan tinggi. Di dalam ruangan pun ada dibakar dupa yang harum. Di sebelahnya tetabuhan, ada terdengar nyanyian-nyanyian yang merdu. Kiam Beng dilayani sebagai tetamu yang dihormati. Kiam Gim tidak biasa dengan penghidupan mewah begini, bukannya ia bergembira, ia malah rada mendongkol. Ia tetap waspada. Di waktu Sian Ie dan Tjie Tiauw undang mereka minum arak, ia awasi dulu ayah dan anak itu, sesudah mereka hirup arak mereka, baharu ia turut minum, untuk dicicipi saja. Tidak ‘ demikian dengan Kiam Beng, yang tenggak arak dengan rakus. Soetee ini malah tertawakan dengan diam-diam pada soehengnya, yang dicelah terlalu curiga. Di dalam hatinya ia kata: “Kalau arak ada racunnya, mustahil Sian Ie dan Tjie Tiauw minum itu?”

Kiam Beng tidak tahu, walaupun arak itu dicampuri racun, akan tctapi cara bikinnya ada istimewa, campuran obatnya ada bcrbcda, ialah siapa minum itu, dia akan jadi letih, tcnaganya berkurang. Untuk ini, or-ang-orang Boan itu tidak bcrkuatir.

Sclagi bicara, Kiam Bcng tanya akan hal barang upeti dan Tjic Tiauw hunjuk, seorang polisi asal Pakkhia dapat serepi, si begal ada orang Liauw-tong dan barangnya diumpcti di suatu tempat lak jauh dari Sin-tek.

“Karena di tempat itu ada sarangnya kaum Kang-ouw, kita tidak berani sembarang turun tangan, kita scngaja tunggu Djiewie dahulu,”Tjie Tiauw tambahkan.

Jawaban ini tidak dapat dipcrcaya, oieh Kiam Gim dan oleh Kiam Bcng juga. Mustahil barang upeti disembunyikan di dekat Sin-tek? Meski begitu, Kiam Bcng tidak bilang suatu apa.

Pcrjamuan dilanjuti, pelayan-pelayan tak hcnti-hcntinya putari tetamu-tctamu untuk melayani.

Para hadirin. kebanyakan pahlawan, ada tidak dikcnal oleh Kiam Bcng. hal ini membuat Ketua Thay Kek Pay ini tak leluasa sendirinya, dari tak leluasa, ia jadi curiga.

Habis tiga edaran, datang saatnya tambahan barang hidangan. Ketika itu, Soh Sian le berbangkit, katanya, ia hendak buka bajunya yang gerombongan. Justeru itu muncul pelayan yang membawa nenampan

terisi barang santapan. Pelayan ini bcrtubuh besar, tindakannya tetap, kcdua matanya bersinar tajam. Terang ia ada seorang yang mengerti boegee.

Dua pelayan di belakangnya Soh Sian le mcmbantui orang Boan itu buka bajunya, untuk ini, orang Boan itu undurkan diri dari meja.

Berbarengan dengan itu Tjie Tiauw berbangkit, untuk bcritahukan para tetamu bahwa masakan yang baru disuguhi itu ada hidangan yang langkah, k arena itu adalah bah so ikan lee-hie dari sungai Loan Hoo.

Si pelayan sudah lantas sampai di depannya Kiam Beng dan Kiam Gim, bclum nenampan diturunkan ke atas meja, atau itu sudah ditumpahkan ke arah kedua soeheng dan soetee ini, pada kcpala mercka. Isinya mangkok bukannya bahso ikan, hanya welirang yang bundar-bundar bagaikan peluru, yalan lioc-hong-tan, semacam senjata rahasia istimewa, sedang siapa gunai itu, dia mesti paham lwee-kang, kalau tidak, peluru itu tak akan meledak dan mcnyala, untuk membakar pakaian dan kulit dan daging.

Dan berbareng dengan tumpahnya mangkok bahso, lioe- hong-tan lantas menyala, menyambar-nyambar apinya!

Dua-dua Kiam Beng dan Kiam Gim kaget bukan kepalang, akan tetapi Kiam Gim sudah siap sedia, karcna ia terus waspada, maka itu, selagi lioe-hong-tan menyala, sambil berseru keras. ia gunai dua-dua tangannya akan terbaliki meja berbaru marmer. Syukur ia bertenaga besar kalau tidak, meja itu tidak akan terangkat, karena berat, kakinya dari kuningan. Karena itu, api jadi menyambar ke lain arah, hingga soeheng dan soetee ini tidak terluka.

Menyusul itu, angin menyambar ke arah Kiam Gim. Itulah sambarannya senjata rahasia, dari arah belakang. Jago ini segera egoskan tubuhnya ke kanan, untuk berkelit, berbareng dengan itu, tangannya membetot tubuh soeteenya, kemudian dengan enjot kedua kakinya, ia terus lompat jumpalitan ke belakang, lalu, sebelum orang tahu apa-apa, j tangan kanannya menyambar ke tenggorokannya si penyerang gelap dan kaki kanannya mendupak keras, hingga musuh roboh seketika itu juga.

Tidak tunggu sampai Iain-lain musuh menyerang pula atau maju, Kiam Gim dengan sebat hunus pedangnya Tjeng kong Kiam dan tangan kirinya meraup Kim-tjhie-piauwnya, sembari tolak tubuhnya Kiam Beng, ia serukan: “Kenapakau tidak lekas hunus pedangmu!”

Kiam Beng melongok, ia heran dan tidak mengerti sekali atas kejadian itu, tetapi tegurannya sang soeheng membikin ia sadar, maka itu, ia berbalik jadi sangat gusar, sembari cabut pedangnya, ia berseru: “Orang-orang tidak tahu malu! Aku nanti adu jiwa dengan kau orang!”

Di pihak tuan rumah, semua or•ang sudah lantas keluarkan senjatanya masing-masing, malah sekalian pelayan juga turut, oleh karena mereka adalah pelayan-pelayan palsu, mereka ada kawanan kurcaci dari Rimba Pcrsilatan.

Kiam Gim, yang memandang ke semua pintu, dapatkan semua itu telah ditutup rapat, sedang kursi meja pada terbalik, letaknya kalang kabutan. Ia dapat kenyataan, di dalam mangan yang tidak terlalu lebar itu, berdua mereka sudah terkurung.

Segera juga, penyerangan telah dimulai. Kiam Gim dihadapi oleh seseorang yang bergenggaman golok lancip, yang telah putar goloknya sejak ia berada di antara sebuah meja. Ia dibacok dari arah pundak terus ke tenggorokan.

Kiam Gim mundur, di belakang ia ada sebuah kursi, hampir saja ia keserimpat, sedang dari sebelah kiri ada menyambar satu Thic-tjio dan dari kanan sebatang ruyung, kedua-duanya sampai dengan berbareng. Ia ada sangat gusar, tapi ia ingat, selagi terkurung ia tidak boleh turuti nafsu amarah, sebaliknya, ia hams berhati adem dan tenang, maka itu, ia kendalikan diri. Begitulah, dengan geraki pedangnya, ia tangkis semua tiga serangan itu dengan satu sampokan saja, hingga semua senjata musuh jadi terpental, sesudah itu, ia tempel tubuh dengan tubuhnya Kiam Beng, hingga ke depan, ke kiri dan kanan, mereka bisa melihat dan bergcrakdcngan leluasa.

Pihak lawan juga tidak bisa bergerak dengan leluasa, discbabkan jumlah mereka yang terlalu banyak dan kursi-meja menjadi rintangan, hal ini jadi ada baiknya juga bagi sochcng dan soetee itu, yang mencoba mcndesak, untuk membuka jalan.

Ruangan jadi berisik dengan beradunya alat-alat senjata. Selagi musuh tidak berdaya. aniaranya ada yang rubuh,

ada yang senjatanya terpenta! dan terlepas, tiba-tiba Kiam Gim serukan soetecnya: “Man turut aku! Serbu!” Dan ia putar pedangnya, ia lompat ke depan.

Kiam Gim insyaf, ia tidak bolch bertempur lama-lama di ruangan tak lebar dan tertutup itu, lama-lama itu berarti menanti kematian, maka itu, ia pcrlihatkan ia punya ilmu pcdang Thay Kek Tjap-sha-kiam. Dengan lekas, ia telah mendekati jendela sebelah rimur.

Kiam Beng turut teladan* soehengnya itu, ia mengintii di sebelah belakang.

“Kawan-kawan di luar, awasl” demikian orang berseru. “Sang kambing hendak nerobos! iaga!”

Berbareng dengan itu, Kiam Gim telah dobrak jendela dengan kepalan kirinya menyusul mana, dengan loncatan “Peh rjoa tjoet tong” atau “Ular putih keluar dari gua”, dengan letaki pedang di depannya, ia loncat keluar jendela itu. Ia percaya benar, di luar ada musuh, atau musuh-musuh yang menjaga ia, tetapi ia tidak boleh takut. ia putar pedangnya, guna bela diri.

Dugaannya jago Thay Kek Pay ini tidak meleset, begitu tubuhnya muncul, ia disambut dengan bermacam-macam senjata rahasia, maka dengan di put amy a pedangnya, semua senjata itu mengenai pedangnya dan jatuh ke tanah. Selagi menangkis, tangan kirinya jago ini tidak diam saja, dengan itu, iapun menyambit dengan piauwnya, dengan gerakan “Thian lie san hoa” atau “Bidadari menyebar bunga”, atas mana, beruntun ada terdengar jeritan-jeritan dari kesakitan, terang ada musuh-musuh yang menjadi korban!

Bagaikan harimau keluar dari guanya, demikian Kiam Gim keluar dari jendela dengan tubuhnya yang bcsar. Untuk leganya hati, apabila ia ambil ketika akan menoleh ke belakang, ia lihat Kiam Beng tetap ada di belakangnya.

“Sungguh berbahaya!” ia mengeluh sendirinya.

Masih soeheng dan soetee ini belum lolos dari bahaya. Benar sekarang mereka berada di tempat yang lega, akan tetapi, musuh masih tetap mengurung mereka. Kecuali musuh-musuh yang di luar, di dalam juga merubul keluar. Jumlah pahlawannya Soh Sian Ie ini ada tiga sampai lima puluh orang, di antaranya

ada juga yang liehay. Sekarang mereka ini juga bisa bergerak dengan merdeka.

Sembari bertempur, Kiam Gim dari jalan keluar. Di mana di belakang ia ada Kiam Beng yang menjaga, ia bisa pusatkan perhatiannya melulu ke depan, ke kiri dan kanan. Walaupun demikian, ada sulit untuk bisa segera membuka jalan.

Selang sedikit lama, justeru ia bisa rubuhkan satu musuh di depannya, Kiam Gim terus lompat, akan gunai tempat yang lowong itu. Ia lompat tinggi dan jauh, hingga ia menghadapi sebuah pohon bcsar. Di sini, baharu saja kakinya injak tanah, atau tiba-tiba sebatang toya besi menyambar ia dari arah tempat yang gelap. Di situ ada bersembunyi satu pahlawan, yang kepandaiannya tinggi dan tenaganya besar. Dia kirim kemplangan “Soat hoa khay teng” atau “Bunga salju menutup batok kcpala”.

Dalam keadaan seperti itu, Kiam Gim tidak bingung, matanya jeli, kupingnya terang, mengetahui ada serangan, ia tidak mau menangkis, ia hanya berkelit, hingga toya menimpa tempat kosong. Apa celaka bagi si penyerang, karena ia hajar tempat kosong, tubuhnya menjerunuk ke depan, dari itu, sambil sambar toya orang, yang ia tajik dengan keras, jago Thay Kek Pay itu bikin lawannya ngusruk ke arah ia sekali.

Sebat luar biasa, Kiam Gim totok orang punya jalan darah “Moa-djoan-hiat”, lalu selagi orang menjadi mati kutunya, ia sambar batang lehernya, ia cekal tubuhnya, terus ia angkat. Justeru itu, serangan datang dari depan dan belakang. Untuk menolong diri, ia putar tubuh musuh bagaikan senjata saja! Ia berhasil dengan cara menangkisnya ini, semua musuh mundur sendirinya

“Soetee, man ikut aku!” Kiam Gim serukan adik seperguruannya. Ia girang sekali menampak musuh mundur semua. Tapi ia tidak dapat jawaban, hingga ia jadi heran. Ia berseru pula, sampai tiga kali, tetap sang soetee tidak sahuti ia. Dalam herannya, ia segera menoleh ke “belakang,.

Bukan main kagetnya! Ia tampak Kiam Beng lagi dikepung musuh, tubuhnya limbung, seperti hendak rubuh.

“Celaka!” pikir ia. Tidak tempo lagi, melupakan bahaya, ia putar tubuhnya, ia putar pedangnya akan tolongi saudaranya itu, yang sedang terancam bahaya maut

Teng Kiam Beng telah terlalu percaya Soh Sian Ie, ia teguk arak dengan tidak bataskan diri, benar arak itu bukannya arak racun, tetapi tenaga arak itu ada luar biasa. Tidak demikian dengan saudaranya, yang cuma mencicipi saja. Sudah minum banyak arak, iapun mesti keluarkan banyak tenaga, dari itu, dalam tempo yang lekas, ia menjadi lemah, pengaruhnya arak bikin ia letih, tidak heran, ia jadi kewalahan mclayani banyak musuh. Puncaknya kehebatan adalah kctika tubuhnya tctap jadi sempoyongan limbung tidak kcraan!

Dalam saat sangat bcrbahaya dari saudaran ya itu, Kiam Gim menyerbu hebat sekali. Dengan sebclah tangan masih cckal tubuh musuhnya, iagcraki pedangnya sccara luar biasa. Dengan sikap nekat ini, ia bikin musuh-mnsuhnya jcrih. hingga mereka pada mundur. la mcrangsek teras. Bcnar sclagi ia mendekati Kiam Beng, tiba-tiba angin menyambar dari sebclah bclakang!

Di waktu bcrgulat mati-matian sccara demikian, hatinya Kiam Gim tidak pernah gentar, matanya jeli, kupingnya awas. Demikianlah ia putar tubuh seraya majukan tubuh musuhnya ke depan. untuk dipakai menangkis serangan geiap itu.

A rich, tak ada senjata musuh yang datang menyerang!

Seiagi Lioe Loo-kauwsoe heran dan mengawasi dengan mata dipentang lebar, tiba-tiba ia lihat benda berkelebatan bagaikan “ular emas terbang serabutan”, segera lelatu api menyambar, hingga tubuh musuh di tangannya lantas terbakar, malah lelatu pun nyasar menyambar kepadanya sendiri.

Nyatalah itu ada senjata rahasia “Hoe-hong tan-tjoe” atau peluru welirang yang bisa menyala. Selama pertempuran kusut, musuh tidak bcrani gunai senjatanya itu, mereka kuatir nanti api membakar orang sendiri, akan tetapi sekarang, di tempat terbuka, mereka tak ayal akan gunai itu, tidak perduli di tangan law an mereka mempunyai satu kawan. Pelepas senjata itu kuatirkan Kiam Gim nanti mencapai maksudnya, dia tak perdulikan kawan sendiri, malah ia gunai cara penyerangan bcruntun-runtun! Rupanya dia berpendapat, biar kawan binasa, asal bersama musuh, binasa bcrsama-sama, asal kedua musuh tak dapat lolos! Atau dia pikir, kawan itu toh bakal terbinasa, tidak apa dia yang binasakannya! Untuk menangkis senjata rahasia, tak perduli senjata api, berbagai macam senjata boleh digunai, mclainkan beda dengan lioe-hong tan-tjoe, karena peluru welirang tak dapat d i tangkis atau dijaga, makin ditangkis, lelatunya menyala makin hebat. Celakanya bagi Kiam Gim, ini ada scrangan di luar dugaannya. Hanya syukur bagi ia, hatinya tetap tak jadi keder. Untuk tolong diri, segera ia lemparkan tubuh musuh, yang sudah terbakar, ia sendiri segera jatuhkan diri ke tanah, akan terus bergulingan dengan tipunya “Koen tee tong”, atau “Berguling di tanah”. Sekejab saja, ia telah jauhkan diri tiga tumbak lebih. Semua api, yang menyambar pakaiannya, padam karena bergulingannya itu, hingga ia tidak terbakar terus. Habis itu, ia mencelat bangun, akan lanjuti serangan hebat karena tetap ia hendak tolongi soeteenya.

Kiam Beng punya boegee ada lebih rendah setingkat daripada boegee soehengnya, tetapi dasar murid sejati dari Thay Kek Boen, ia sudah cukup liehay, melulu disebabkan pengaruh arak keras, iajadi lelah luar biasa cepaL Hatinya tetap besar, sayang tenaganya telah berkurang. Di sebelah itu, ia mesti hadapi musuh-musuh yang liehay, pahlawan- pahlawan Istana Boan. Di antara pahlawan-pahlawan itu yang paling liehay adalah satu yang bersenjatakan Tjit-tjiat Lian- hoan Hek-houw-pian, ruyung tujuh garis. Ruyung itu menyambar-nyambar dengan perdengarkan suara angin menderu-deru, senantiasa turun dari atas, hingga Kiam Beng repot melayaninya.

Walaupun sudah lelah, kapan Kiam Beng lihat soehengnya lagi mendesak, semangatnya terbangun pula, permainan pedangnya tak jadi kalut, ia baharu menjadi kaget bukan terkira apabila ia tampak lelatu api muncrat serabutan, sedang musuh-musuh di kiri-kanan pada berseru-seru, hingga ia sangka soeheng itu terkena dibokong. Segeralah, gerakan pedangnya menjadi ayal sendirinya. Dalam keadaan seperti itu, sekonyong-konyong musuh bergenggaman ruyung liehay itu perdengarkan tertawa aneh, tubuhnya maju, ruyungnya menyambar, bagaikan sambarannya ular hidup.

Kiam Beng lihat ancaman bahaya, ia masih bisa empos semangat dan tenaganya, iaenjot tubuh, akan lompat sampai beberapa kaki tingginya, ketika ujung ruyung sampai, iajejak itu dengan sebelah kakinya seraya sebelah kepalannya melayang. Sayang bagi ia, tenaganya telah sangat kurang, gerakannya lambat sekali, ketika musuh tank ujung ruyungnya, akan dipakai menusuk pula, tak tempo lagi, perutnya kena tersodok, hingga ia merasakan sakit bukan kepalang. Syukur baginya, ia masih bisa bikin kempes perutnya, hingga tidaklah ia sampai terbinasa seketika juga, hanya tubuhnya terpental dua-tiga tumbak, rubuh di tanah dengan tak dapat bergerak pula!

Adalah di saat demikian, satu musuh yang mencekal golok lompat memburu, untuk turunkan senjata tajamnya itu pada lawan yang sudah tidak berdaya ini!

Itu adalah saat dari mati atau hidup, tetapi justcru di saat itu, bintang penolong datang, seperti “terbang dari luar langit”.

Di medan pertempuran itu ada pohon-pohon dengan cabang-cabang yang lebat dengan daun-daun, tiba-tiba dari sana tgrdengar beberapa kali suara luar biasa, seperti suaranya burung-burung malam, yang membikin orang terkejut, hingga sekalipun sekalian pahlawan dan or ang-orang Kang-ouw yang hatinya telengas itu, kaget juga, sampai mereka saling mcngawasi di antara konco sendiri.

Sudah itu, lalu terdengar bentakan: “Kelinci, jangan gunai senjata gelap!”

Dan bentakan itu keras laksana guntur! Dan segera, mcnyusul itu, dari cabang-cabang pohon ada berlompat turun, seperti burung-burung menyambar, bcbcrapa orang — atau lebih benan empat orang, ialah Tok-koh It Hang, In Tiong Kie, Tjiong Hay Peng dan Law Boe Wie!

Sekejab saja, orang-orangn ya Soh Sian le tercengang, tapi habis itu, mereka mulai pula dengan mereka pun ya penyerangan, kali ini terutama mereka gunai berbagai senjata rahasia, yang dipakai menyambut empat lawan baru itu.

Tok-koh It Hang berempat tidak gubris datangnya berbagai senjata rahasia itu, lebih-lebih In Tiong Kie dengan ia punya “Teng hong pan kee” atau ilmu mengenali alat senjata dengan mendengar saja sambaran anginnya. Dalam ilmu ini, dalam dunia Kang-ouw, dia ada]ah orang pandai nomor satu. Maka juga, saban senjata menyambar, ia sebutkan itu satu persatu, hingga kawan-kawannya jadi dapat tahu.

Empat orang ini bergerak dengan sangat gesit, teristimewa Tok-koh It Hang si Garuda Malaikat Seratus Cakar, karena dalam ilmu entengi tubuh, ia malah ada di atasan Lioe Kiam Gim. Ia bergerak seumpama garuda berputar, naga melesat, atau ular menyambar. Saban-saban ia loncat tinggi, di atasan musuh, sedang dengan ia punya kim-na-tjioe, tangan yang liehay, ia menyerang atau menangkis. Ia menuju langsung kepada Teng Kiam Beng, untuk hampirkan musuh yang hendak turunkan tangan jahat. Musuh inipun terguguh ketika tadi ia dengar suara aneh, yang disusul sama datangnya empat lawan baru itu, hingga untuk sesaat, ia batal membacok Ketua Thay KekPay itu.

Sekejab saja, Tok-koh It Hang sudah sampai pada musuh, tangan kanannya segera diulur, sebelah kakinya dimajukan. Gerakan tangan itu ada gerakan “Siauw thian tjee” atau Bintang Cilik. Sama sekali ia tak berikan kesempatan pada musuh itu. Tidak ampun lagi, pahlawannya Soh Sian le kena dibikin terpental, sampai ia kena tubruk satu kawannya, hingga keduanya jatuh bergulingan, sampai ia punya mata kekunangan, kepalanya pusing.

Hampir berbareng dengan itu, pahlawan yang bersenjatakan ruyung Tjit-rjiat Lian-hoan Hek-houw-pian datang mendesak, iaini lihat Tok-koh It Hang, yang tidak bergenggaman, ia tidak pandang mata, sambil perdengarkan tertawa aneh, ia menyambar dengan ruyungnya. Gerakan tubuhnya ada “Kouw sie poan kin”, atau “Pohon tua terbongkar akarnya”. Ruyungnya menyambar ke bawah, menyapu dengan hebat, disusul sama seruannya: “Tua bangka, kau antarkan jiwa?”

Tok-koh It Hang belum pernah ketemu tandingan, kecuali Lioe Kiam Gim, dari itu, ia tidak kenal takut, ia malah girang sekali nampak cara majunya musuh ini. Luarbiasa sekali, ia papaki musuh, tubuhnya seperti – terputar, di antara seruan anehnya, sebelah tangannya menyambar! Tidaklah kecewajago Liauw-tongini dijuluki Pek-djiauw Sin Eng, karena tahu-tahu, tangannya sudah mengenai lengan kanan orang atas mana, musuh menjerit kesakitan, tubuhnya jadi lemas, tenaganya habis seketika! Maka, ketika Tok-koh’ It Hang kibaskan tangannya, tubuh orang itu terangkat naik, melesat melayang bagaikan senjata rahasia, ke arah kambratnya dia itu!

“Kelinci, lihat! Aku si tua bangka yang antari jiwa atau kau sendiri!” demikian ia berseru sambil tertawa berkakakan.

Berbareng dengan itu, In Tiong Kie telah menerjang ke dekat kawannya ini. Ia sudah gunai ruyung Kauw-kin Hong- liong-piannya, sampai sambaran anginnya terasa di tempat dua tumbak jaraknya. Di situ ada tujuh penjahat, yang kesima karena keliehayannya Tok-koh It Hang, yang gunai tubuh manusia sebagai senjata rahasia; mereka ini kaget atas ini musuh baru, hingga segera mereka kena didesak mundur. Tok-koh It Hang gunai ketika itu, akan angkat tubuhnya Teng Kiam Beng, akan diletaki di bebokongnya. Ia berlaku hati-hati.

“Saudara Teng, apakah lukamu parah?” ia tanya. “Kau diam saja, Segera kita akan lolos dari kepungan!”

Kiam Beng telah terluka hebat, melulu disebabkan latihan darr ketangguhannya, ia tidak segera putus jiwa, ia pun sadar, dari itu, ruwet benar pikirannya akan’ kenali, penolongnya ini justeru ada orang yang paling ia “benci”, hingga ia tak tahu, ia mesti berterima kasih atau bergusar. Demikian ia melainkan bisa bilang, “Oh, kau?…” lalu ia berdiam saja

Tok-koh It Hang kerutkan sepasang alisnya’. Ia mengerti jago Thay Kek Pay ini telah terluka parah sekali. Maka yang penting untuk ia sekarang adalah berlalu dari medan pertempuran itu. Ia lantas melihat ke sekitarnya.

Semua kawannya,’ berikut Lioe Kiam Gim, sedang bergulat dengan orang-orangnya Soh Sian le. Kiam Gim mengamuk dengan pedangnya, In Tiong Kie dengan ruyungnya, dan Tjiong Hay Peng dengan gaetannya. Law Boe Wie juga mainkan pedangnya secara hebat. Pihak Soh tidak bisa berbuat banyak terhadap empat lawan itu, akan tetapi, karena mereka berjumlah besar sekali. mereka ini pun tidak bisa segera pecahkan kepungan atau noblos keluar.

Kedatangannya rombongan dari Tok-koh It Hang t’tu memang sengaja untuk bantu Kiam Gim dan Kiam Beng. Hay Peng telah dengar pembicaraannya Kiam Gim dengan orang yang diutus Kiam Bcng, bahwa mereka hendak pergi ke Sin- tek. Mendengar ini, Hay Peng sibuk, akan tetapi iatidak dapat cegah Kiam Gim pergi pada soeteenya itu, dari itu, seberlalunya orang she Lioe itu, ia segera dari Tok-koh It Hang. Ia beritahukan halnya kemana Kiam Gim hendak pergi, ia hunjuk perlunya or•ang she Lioe itu mendapat bantuan karena di Sin-tek, di Istana Raja Boan, ada mengeram banyak orang-orang lichay. Syukur itu waktu Tok-koh It Hang belum berangkat ke Liauw-tong dan In Tiong Kie masih bersama- sama dengannya. Dan Tok-koh It Hang nyatakan suka pergi begitu lekas ia dengar keterangannya orang she Tjiong itu, walaupun sebenarnya, ia tidak sctuju yang Kiam Gim turut- urutan Kiam Beng pergi ke Sin-tek. Mulanya Tjiong Hay Peng tanya, Tok-koh It Hang suka pergi atau tidak, lantas Tok-koh It Hang urut-urut kumisnya dan kata sambil tertawa besan “Tentu saja aku suka pergi! Kenapa tidak? Kita harus gunai saat baik ini untuk can pengalaman! Aku pun ingin lihat orang- orang gagah yang kesudian jadi kaki-tangannya bangsa Boan mempunyai berapa kepala dan lengan! Bukan melainkan aku. juga Saudara In Tiong Kie harus pergi akan lemaskan urat- uratnya!”

Semua orang tertawa

Demikian, mereka dapat persetujuan, untuk berangkat. Justeru itu, Law Boe Wie sampai di Sha-tjap-lak Kee-tjoe, mengunjungi Tjiong Hay Peng. Boe Wie menduga guru dan paman gurunya pergi pada Keluarga Tjiong ini, ia tidak menyangka gurunya yang kedua Tok-koh It Hang berada di situ, dari itu, datangnya ada kebetulan sekali. Iapun ada punya satu urusan lain dengan gurunya, Lioe Kiam Gim. Tok- koh It Hang girang melihat datangnya ini murid, akan tetapi ia heran menampak romannya yang kucel, seperti murid itu sedang berduka. Ia segera tanya, murid ini ada punya urusan apa, malah ia tanya berulang-ulang sewaktu orang ayal menyahutinya. Selagi ia menanya, ia tidak menyebut “murfb”‘ pada muridnya ini, maka juga Tjiong Hay Peng menyelak seraya berkata:

“Kau niscaya belum ketahui, dia ini ada murid tersayang dari Lioe Kiam Gim?” Atas ini, Tok-koh It Hang melainkan bersenyum.

“Aku telah ketemu sama gurumu, kita sekarang justeru hendak berangkat menyusul ia, untuk membantu,” Tok-koh It Hang beritahukan muridnya ini seraya ia tuturkan kenapa Kiam Gim pergi ke Sin-tek.

Law Boe Wie kerutkan alis. Ia insyaf, gurunya pasti ada menghadapi ancaman bahaya. Inilah sukar bagi ia, karena ia segera ambi! putusannya itu! Biar bagaimana, ia perlu pergi susul gurunya dahulu.

Begitulah mereka sudah berangkat ke Sin-tek, dan mereka datang di saatnya pertempuran hebat berlangsung, hingga mereka turut ceburkan diri, untuk membantu itu kedua soeheng dan soetee yang terancam bahaya.

Kiam Gim semua tidak pikir untuk melabrak musuh. Kiam Beng telah terluka, perlu mereka lekas angkat kaki dari sarangnya Keluarga Soh itu. Bertempur lama-lama tidak ada faedahnya, kalau sampai nanti datang tentara negeri, itulah hebat.

Bersama-sama In Tiong Kie, Kiam Gim membuka jalan, dalam keadaan sulit, mereka maju terus. Sambil menggendol Kiam Beng, Tok-koh It Hang pernahkan diri di tengah-tengah kawan. Di belakang Tjiong Hay Peng dan Law Boe Wie.

Walaupun ia sedang lindungi Kiam Beng, Tok-koh It Hang tidak diam saja dengan pedang dan tangan kosongnya, saban- saban ia minta korban.

Kiam Gim ngamuk hingga ia berhasil membuka satu jalan, akan nerobos ke pepohonan yang lebat, sampai ia mendekati tembok pekarangan. Di belakang ia, In Tiong Kie berlaku tidak kurang gagahnya, hingga mereka bisa diikuti rombongan mereka Sampai di sini, masing-masing mereka lantas perlihatkan keentengan tubuh mereka. Dengan beruntun mereka enjot tubuh akan loncat naik lebih jauh ke tembok, buat dari sini lompat turun keluar pekarangan.

Orang-orangnya Keluarga Soh kena dibikin ketinggalan, cuma lima atau tujuh orang yang dapat mengikuti terus, tetapi mereka bersikap seperti hendak menguntit saja, untuk cari tahu, kemana Kiam Gim semua hendak pergi.

Kiam Gim mendongkol sekali melihat sikap orang itu, segera ia memberi tanda rahasia, atas mana, mereka semua lantas kendorkan tindakan mereka, untuk berikan ketika semua pahlawan musuh dapat mencandak, tetapi, tempo orang sudah datang cukup dekat, dengan mendadak ia putar tubuhnya dan menyerang secara hebat

Pahlawan yang maju paling muka menjadi kaget, ia bersenjatakan tumbak gaetan, ia gunai gaetannya itu, akan menangkis serangan sekonyong-konyong itu. Kiam Gim mendekam, pedangnya dipakai menyampok ke atas, selagi gaetan musuh terpental, ia menyapu ke bawah. Bukan main gesitnya. Lantas pahlawan itu menjerit keras, tubuhnya rubuh, karena kedua kakinya sebatas dengkul kena dibabat kutung!

Pahlawan yang kedua sudah lantas sampai, ia kaget, ia tak sempat tahan diri, sebelum ia sempat berdaya, kakinya Kiam Gim sudah serampang ia dengan “Soan hong sauw touw twie” atau “Tendangan angin puyuh”. sehingga ia kena tersapu, tubuhnya terpental beberapa tumbak, tubuh terbanting.

“Kawanan budak tak tahu malu!” Kaim Gim segera perdengarkan suaranya yang keren. “Melulu karena andali jumlah banyak, kau orang berani banyak tingkah! Hayo, siapa punya kepandaian, mari maju kemari! Aku Lioe Kiam Gim, pedangku, piauwk u, tidak nanti berlaku sungkan lagi terhadap kau orang!”

Dengan pedangnya Thay-kek-kiam di depan dada, Kiam Gim bcrdiri tcgak, mengawasi dengan bcngis pada musuh- musuhnya.

Kawanan pahlawan itu kena dibikin ciut hatinya. tanpa biiang suatu apa, mereka putar tubuh, terus mcrcka menyingkir. Kiam Gim tertawa dingin, ia masuki pedangnya ke dalam sarung. Ia memandang ke sekitarnya, mendongak ke langit, akan lihat jernihnya cahaya rembulan dan bintang-bintang. Sunyi senyap di empat penjuru.

“Mari kita berangkat!” kata ia akhirnya, sambi) bersenyum. Rombongan ini lantas berjalan dengan cepat, keluar Kota Sin- tek, akan memasuki daerah Pegunungan Yan San di antara Sin-tek dan Peng-tjoan, tempo sang fajar sudah datang, mereka sudah berada di sebuah rimba di luar kota, jauhnya seratus lie lebih dari Kota Sin-tek. Di sini di dalam hutan lebat, di dalam gunung, mereka keluarkan napas lega.

Dengan perlahan-lahan, Tok-koh It Hang turunkan tubuhnya Kiam Beng, In Tiong Kie dan Tjiong Hay Peng dengan sebat gelar sepotong baju biru dan sepotong mantel kulit kambing, atas mana tubuhnya Kiam Beng direbahkan, supaya dia ini tidak sampai demak dengan embun.

Kiam Beng rebah dengan kedua mata separuh tertutup, mukanya sangat pucat, mulutnya tersungging senyuman, suaranya tidak tedas, ia seperti hendak mengucapkan kata- kata, tetapi tidak mampu keluarkan itu. Menampak demikian, semua or•ang menjadi terharu sekali. Beginilah nasibnya satu jago, yang polos, yang mau percaya seorang licin  

Selagi orang berdiam, Batara Surya muncul dari belakang gunung, memperlihatkan sinar kuning emas yang lemah, menembusi mega, menembusi juga pepohonan.

Tanpa merasa, Boe Wie angkat kepalanya. “Matahari telah keluar!” kata ia.

Untuk Kiam Beng- ia merasakan – ini adalah sinar matahari yang terakhir ia dapat pandang. la telah buka matanya, dari situ lantas mengalir air matanya. Ia memandang kepada semua orang, lantas ia menangis sesenggukan. “Aku kuatir inilah yang terakhir aku melihat matahari…” kata suaranya lemah. “Soeheng!…”dan iaawasi Lioe Kiam Gim. “Soeheng, menyesal aku tidak dengari kata-katamu!….”

Kiam Gim ada bagaikan baharu sadar dari mimpinya. Ia pandang soetee itu, air matanya mengembang. Ia membungkuk, akan lihat muka soetee itu terlebih dekat.

“Soetee…” berkata ia, dengan niat menghibur, “kau jangan kuatir…. Kita nanti obati kau sampai sembuh. Asal kita sudah keluar dari Gunung Yan San ini, jangan takut sakit hati ini tak akan terbalas! Hanya….”

Ia berhenti ber-kata-kata, ia menangis. Ia lihat lukanya Kiam Beng yang hebat. Baju luar dari soetee ini sudah robek, di perutnya ada tanda biru kecil tetapi itu menandakan bahvva tulang rahang telah patah, menjadi korbannya Tjit-tjiat Lian- hoan Hek-houw-pian, itu ruyung yang liehay.

Celakanya, di situ mereka tidak punyakan obat, kecuali dua butir obat Tiat-tah-wan, piranti jatuh dan terpukul, yang nampaknya tidak bisa berbuat banyak. Tok-koh It Hang ada punya obat piranti punahkan racun senjata rahasia, obat ini pun tidak mengenai.

Masih Kiam Gim mencoba, dengan berikan pula soetee itu Tiat-tah-wan.

Kiam Beng goyangi kepalanya dengan lemah. “Toako, aku sudah tak berguna lagi…” kata ia sambil

menangis. “Aku harap, di belakang hari, sukalah kau tilik anakku si Hiauw. Umpama kata kau ketemu dia, tolong beritahukan

bahwa ayahnya tidak lagi memaksa dia dalam urusan pernikahannya. Kau minta dia pulang, untuk satu kali saja sambangi kuburanku, selanjutnya aku akan mati meram…..”

Anak “si Hiauw” itu adalah Teng Hiauw, puteranya Kiam Beng. Anak ini menghilang pada lima tahun yang Ialu, karena bentrok sama ayahnya dalam urusan jodohnya. Kiam Gim manggut

“Itulah urusan kecil, aku bisa bereskan itu,” kata ia. “Aku nanti perlakukan si Hiauw seperti anak sendiri, sebagaimana dahulu mendiang ayahmu perlakukan kepadaku.”

Kiam Beng manggut, agaknya ia sangat bersyukur.

Kemudian ia berpaling pada Tok-koh It Hang, ia awasi jadi Liauw-tong ini. Tiba-tiba berkelebatlah hal-ihwalnya, bagaimana ia sudah dipermainkan oleh Soh Sian Ie, sampai ia bentrok sama jago ini. Karena ia “ditolong” Sian Ie, ia jadi dimusuhkan kaum Rimba Persilatan. Ia malukalau ingat ia dikalahkan oleh Tok-koh It Hang yang ia layani dengan tangan kosong, ia berpikir untuk mencari balas, siapa tahu, sekarang ia ditolong jago Liauw-tong itu, malahan musuhnya, si pahlawan bergenggaman Tjit-tjiat Lian-hoan Hek-houw-pian, telah binasa di tangan jago ini. Ia menyesal.

“Tok-koh Loo-enghiong, aku telah berlaku keliru terhadap kau…” kata ia dengan suaranya lemah. “Sekarang, selagi aku menghadapi kematian aku bisa bersahabat dengan kau, aku puas. Aku berterima kasih kepada kau, yangtelah balaskan sakit hatiku. Loo-enghiortg, aku akan menutup mata dengan mata meram…. Ah!….” ia bcrhcnti sebentar, untuk melanjuti, dengan terputus-putus: “Sayang itu jahanam she Soh tidaklah dengan tangan sendiri aku bisa binasakan dia….r

Tok-koh It Hang jadi sangat terharu, sampai -air matanya mengembang. Sebenarnya ia hargai Kiam Beng, ia hanya tidak sctujui sepak terjangnya yang sudah bcrsahabat sama Soh Sian Ie dan pembesar-pembesar negeri, hingga karcnanya. ia ganggu jago Thay Kek Pay ini dan tcmpur padanya. Tapi sekarang ia lihat, Kiam Beng ada satu laki-laki sejati, dia  hanya ada korban dari kejujurannya, korban dari kelicinannya orang Boan she Soh itu, ia jadi menyesal. Mcmang jarang ada orang gagah sebagai jago she Teng ini, apapula dia adalah ahli waris dari Thay Kek Pay. Ia lantas membungkuk. “Lauwtee, jangan kau pikirkan sakit hatimu kepada Keluarga Soh itu,” ia kata. “Di sini masih ada kita dan saudaramu!*’

Kiam Beng bersenyum meringis, lantas ia menoleh pada Tjiong Hay Peng. Dia ini pun ada “musuhnya” dan permusuhan di antara mcrcka masih belum dapat didamaikan. Dan ini “musuh” sekarang ada salah satu penolongnya. Ia tidak tahu, Tok-koh It Hang pun tclah datang menolong karena permintaannya orang she Tjiong ini. Ia mcnjadi likat scndirinya.

‘Tjiong Toako, aku juga berlaku kcliru tcrhadap kau…” kata ia. “Dua makhluk yang bertopeng itu pasti bukannya murid- murid Heng Ie Pay. Aku menyesal yang aku tidak mampu bekuk mcrcka, Toako, biarlah aku minta kau yang suka tolong aku cari merekaitu….”

Hay Peng terkejut. Sampai itu waktu, Kiam Beng masih sangsikan dia! Coba dalam keadaan biasa, pasti ia sudah jadi sangat gusar, akan tetapi sekarang, selagi orang hendak putus jiwa, selagi ia sendiri hendak turut menghibur, ia mesti kendalikan hatinya.

Justeru itu, Law Boe Wie lompat pada paman gurunya, ia membungkuk, akan cekal tangannya.

“Socsiok, aku tclah ketahui dua manusia bertopeng itu!” kata dia. “Malah satu di antaranya aku tclah bikin mampus! Sakit hati Soesiok telahterbalas!….”

Kiam Beng dcngar itu, ia pentang kedua matanya. “Apa kau bilang?” tanya ia. “Apakah itu benar?”

“Pasti, Soesiok!”jawab Boe Wie, yang terus saja tuturkan bagaimana di rumah gurunya di Kim Kee Tjoen, ia telah bekuk Bong Eng Tjin, yang kemudjan ia binasakan. “Hanya sayang, yang satunya, yang bergenggaman Poan-koan-pit bisa llolos selagi aku lawan padanya.” Mendengar pcnuturan itu, Kiam Beng bersenyum puas. Kiam Gim, sebaliknya, jadi terkejut, ia menjadi heran sekali.

Tentu saja ia beium tahu halnya malapetaka yang menimpa

|keluarganya. Selagi menghadapi kecelakaannya sang soetee, iapun [tidak sempat menanyakan penjelasan pada muridnya itu.

Mukanya Kiam Beng lantas jadi lebih pucat pula, ia meringis-ringis, suatu tanda ia sedang lawan rasa sakitnya. Kcmudian, ia jadi sabar lagi, rupanya ia tcrhibur. Malah ia bisa bersenyum.

"H iantit," berkata ia, "urusan yang dua puluh tahun lamanya membenam aku, kau telah dapat bikin terang! Jadi kau telah bereskan itu binatang yang palsukan Heng Ie Pay. Hiantit, bagus sekali! Sekarang tinggai satu hal untuk tnana aku mohon jawaban kau... selagi sekarang aku belum hcmbuskan | napasku yang penghabisan Hiantit, maukah

kau meluluskannya?"

Kiam Beng awasi itu keponakan murid. Di antara cahaya matahari, keliatan nyata pucatnya mukanya, pucat yang luar biasa. Melihatroman orang itu,' hatinya Boe Wie memukul keras.

"Apakah itu Soesiok?" tanya ia. perintahlah aku, asal yang aku sanggup, aku tentu bersedia akan melakukannya "

Walaupun ia mengucap demikian, hatinya Boe Wie toh goncang, ia ragu-ragu.

Kiam Beng mengawasi, kemudian terdengarlah suaranya, yang tak lancar: .

"Boe Wie, aku dengan kau sebenarnya rada asing," demikian katanya, "akan tetapi, meskipun demikian, kau tetap ada murid keponakan yang sah. Pelajaranmu ada lebih tinggi daripada semua muridku, malah kau pun sudah balaskan sakit hatiku. Aku tidak sanggup balas budimu itu, tapi sekarang, aku hendak berikan kau satu tanggungan yang berat sekali. Boe Wie, maksudku adalah aku ingin kau menjadi ahli waris dari Thay Kek Pay "

Boe Wie tcrpcranjat. Inilah ia tidak pcrnah sangka. Buat jadi ahli waris dari Thay Kek Pay, sedang ia hidup sebatang kara, masing Iuntang-lantung? Malah ia masih akan luntang- lantung terus?

Umumnya, ahli waris atau fjiang-bocn-djin mesti ada anaksendiri, atau murid kepala, atau juga salah satu murid, yang bijaksana, maka itu. permintaannya Kiam Beng ini ada luar biasa. Ia juga tidak Renal satu jua murid-murid atau muridnya soesiok itu, yang katanya ada banyak Mana bisa ia mendadakan jadi toa-soeheng? Maka ia goyang kepala.

"Soesiok, ini rasanya tidak tepat." Kata ia.

"Kenapa tidak?" tanya Kiam Beng, nampaknya ia rnasygul. "Aku sendiri, tidak seharusnya akujadi ahli waris. Itulah kejadian di masa aku muda, selagi semangatku bcrkobar- kobar, aku memaksa memimpin kaumku. Ah, coba dulu aku tidak memikir demikian, sekarang tidak nanti aku kejeblos ke dalam tipu-dayanya Keluarga Soh Selamajtu, aku juga telah

tidak pegang pimpinan sempurna. Coba Soeheng yang jadi tjiang-boen-djin, tidak nanti Thay Kek Pay timbulkan kesulitan dengan kaum Rimba Persilatan seperti sekarang ini: Seharusnya Soeheng adalah yang mesti jadi ahli waris, maka itu, karena kau ada murid kepalanya, siapa berani tantangi kau? Selagi ada eurumu di sini dan Tok-koh Loo-enghiong selaku saksi, sekarang aku serahkan kedudukanku kepada kau. Kcadaan kita mirip dengan aku undang ketua-ketua untuk saksikan penyerahan pimpinan. Jikalau kau tolak, kau akan bikin aku meninggalkan dunia dengan mata tak meram!

Apakah kau inginkan itu?"

Tok-koh it Hang tolak tubuhnya Boe Wie, maksudnya menganjurkan pemuda ini terima tawaran itu. Boe Wie menoleh pada guru itu, ia mengawasi juga pada Kiam Gim. Lioe Kiam Gim menghela napas. "Boe Wie, ini lah tugas berat," kata ia, dengan perlahan. "Tetapi socsiokmu ada bermaksud baik, kau terimalah!"

Boe Wie jadi serba salah, tapi ia segera berlutut di depannya itu paman guru, iacekal tangannya.

"Oleh karena Soesiok menitahkan, baiklah, aku tcrima," katanya. Kiam Beng bersenyum.

'Thay Kek Pay dari keluargaku, Kaum Teng, ada ahli warisnya!" katanya, dengan puas. Lantas ia pandang Tjiong Hay Peng, akan kata: "Aku telah perlakukan keliru kepada kau, Tjiong Toako, aku harap kau suka maafkan aku, Tolong kau bantu pada Boe Wie " Kiam Beng coba kumpulkan

tenaganya, akan keluarkari kata-katanya itu, habis itu, kakinya berkelejat, lantas suaranya berhenti.

Semua orang menjadi kaget, mereka menubruk, sedang Kiam Gim raba dadanya, tapi napasnya soetee itu sudah tidak ada, tak dapat ditahan lagi, air matanya keluar menetes bagaikan hujan....

Demikian nasibnya satu jago, nasib yangmalang....

Dalam kesunyian, cahaya matahari terus mencorong.

Sampai sekian lama, semua orang berdiam, tubuhnya Kiam Beng rebah di tanah.

Akhir-akhirnya Tok-koh It Hang angkat kepalanya, ia towel Kiam Gim.

"Sudah, Saudara Lioe, jangan bersedih pula," ia kata. "Marilah kita kubur soeteemu "

Kiam Gim angkat kepalanya, ia menghela napas. Ia lantas hunus pedangnya, buat dipakai menggali tanah.

Tok-koh It Hang, Tjiong Hay Peng dan Law Boe Wie juga lantas gunakan senjatanya masing-masing, akan membantu gali lobang, sedang In Tiong Kie babat rumput di sekitar itu, untuk bikin tempat jadi bersih.

Mereka tidak ambil banyak tempo, lalu tubuhnya Kiam Gim digotong, dimasuki, direbahkan, di dalam lobang, buat terus diuruki, scsudah itu Kiam Gim cari sepotong batu untuk dengan pedangnya ukir huruf-huruf yang berbunyi: "Kuburannya Teng Kiam Beng, ahli waris dari Thay Kek Boen".

Setelah pasang bongpay itu, Kiam Gim mengawasi sambil tunduk, air matanya mengembang, mulutnya perdengarkan suara serak dan tidak nyata, kemudian ia menghela napas, ia duduk numprah di depan kuburan. Ia duduk sekian lama, tiba- tiba ia angkat kepalanya, memandang Boe Wie.

"Tadi kau omong tentang pertempuran di waktu malam di dalam rimba pohon lioe," kata ia pada muridnya itu, "coba sekarang kau tuturkan itu lebih jelas. Bagaimana dengan Soebomu? Mustahil dia tidak adadirumah?"

Pikirannya Kiam Gim mulai jadi terang, iajadi ingat kata- katanya sang murid tadi. Ia percaya benar kepandaian isterinya, Lauw In Giok, aa tidak berkuatir. la tidak tahu, musuh datang dalam jumlah yang besar, dengan akalnya yang keji-busuk!

Boe Wie turut permintaan gurunya itu, ia lantas berikan penuturannya yang jelas, akhirnya, dengan roman pucat, karena hatinya memukul, ia tambahkan: "Semua-semua adalah salah teetjoe, yang telah datang terlambat "

Hatinya Kiam Gim tergetar, tubuhnya bergemetar. Itu ada kejadian yang hebatsekali. Tidakkah isterinya telah jadi seorang tapadakpa?

"Sungguh busuk musuh itu!" kata ia dengan sengit seraya ia berbangkit Tapi ia ada seorang dengan pengalaman, ia lantas kata pada muridnya: "Boe Wie, kejadian itu tidak ada sangkutannya dengan kau. Malah beruntung kau datang, kalau tidak, entah bagaimana hebat kejadian! Muridku yang baik, aku sangat berterima kasih pada kau! - Habis, bagaimana dengan soemoaymu Bong Tiap?" ia tambahkan, dengan bernafsu. "Apakah dia turut Soeniomu ke Shoasay?"

Kembali tampang mukanya Boe Wie berubah.

"Bong Tiap dan Ham Eng turut teetjoe mencari Soehoe," sahut ia dengan terpaksa, "tetapi, tetapi. "

Murid ini mandi keringat pada mukanya, tampangnya jadi terlebih pucat. Kalau tadi ia nampak gagah bagaikan naga atau harimau, sekarang ia jadi lesu dengan tiba-tiba. Kedua biji matanya pun lenyap sinamya.

Kiam Gim mengawasi, hatinya memukul. Ia dapat firasat jelek. la baharu hendak tanya murid itu atau Boe Wie sudah jatuhkan diri, beriutut di depannya.

"Soehoe, ampunkan muridmu." bcrkata dia. "Tidak seharusnya aku izinkan soemoay dan soetee ikut aku melakukan satu perjalanan jauh, menempuh bahaya di dunia Kang-ouw Semua-semua adalah kepandaianku yang tidak

ada art inya, aku tidak sanggup lindungi socmoay. Soehoe, aku telah rubuh! Satu kali kita masuk ke dalam Kawasan Hoopak, di sana kita kena terjebak musuh, kita telah berpencaran !._**

Wart a ini ada terlebih hebat dari halnya Lauw In Giok.

Bong Tiap ada putcri satu-satunya. Kiam Gim rasakan hatinya tertusuk, mukanya mcnjadi pucat dcngan tiba-tiba, ia tendang sebuah batu besar di dcpannya, sampai batu pecah-pecah dan tcrpcntal! Kumisnya pun bangkit berdiri.

"Permusuhan apa ada di antara aku dan musub-musuh itu hingga mereka jadi demikian jahat?" ia berseru.

Tok-koh It Hang dan In Tiong Kie maju, akan pegang jago Thay Kek Pay ini.

"Sabar, Lioe Loo-enghiong," berkata mereka. "Biarkan Boe Wie cerita lebih jelas. Tjiong Hay Peng pun maju, akan kasih bangun pada Boe Wie.

"Kau sabar," ia kata, pada jago she Lioe itu, "kau dengarkan muridmu cerita lebih jauh. Kau Iihat, kau bikin muridmu ini kaget. Bukankah biasa saja di kalangan Kang-ouw tcrbit angin dan gelombang? Puterimu bukan gadis biasa, mustahil dia tak dapat lolos dari mulut harimau? Ada baiknya jikalau anak-anak muda mendapat pengalaman. Bukankah kau dan aku juga pern ah ngalami angin hebat dan gelombang dahsyat? Bukankah kita pun masih bisa hidup sampai sekarang? Nan, Boe Wie, hayo kau bercerita, gurumu tidak nanti pcrsalahkankau!"

Kiam Gim berdiam, agaknya ia jadi tenang pula. "Anak, aku tidak salahkan kau, kau ceritalah!" kata ia,

seraya pegang tangan m uridnya.

Boe Wie menangis.

"Memangnya aku tak punya guna, hingga sudah terjadi peristiwa hebat ini," ia berkata. "Sekalipun Soehoe persalahkan aku, aku terima dengan baik. Soehoe niscaya tidak ketahui, berapa ada jumJahnya musuh. Aku telah pukul mundur yang satu, datang lagi rombongan lain."

Beginilah ceritanya Boe Wie:

Ham Eng dan Bong Tiap, bersama Boe Wie, lakukan perjalanannya ke Utara. Ia berlaku sangat hati-hati di sepanjang jalan. Kedua soetee dan soemoay itu adalah orang- orang bam. Apa mau, Bong Tiap ada satu anak yang tak kenal takut, ia tidak jerihkan "angin besar dan gelombang hebat".

Tidak beda banyak adalah Ham Eng.

Mereka juga merupakan satu rombongan yang menarik hati. Bong Tiap ada muda dan cantik, Ham Eng ada muda dan cakap, di sebelah mereka, Boe Wie ada bertubuh besar dan romannya garang. Mereka menunggang kuda, yang sering- sering mereka larikan keras. Mereka belum keluardari daerah Shoatang, lantas ada orang yang telah pasang mata terhadap mereka!

Pada itu hari kcjadian, baharu saja mereka keluardari daerah Shoatang, mereka hendak menuju ke Kota Boc-ip, Hoo-pak. Apa mau, mereka diganggu hujan, hingga mereka mesti menunda perjalanan. Ketika perjalanan dilanjuti, mendekati maghrib, mereka masih belum sampai di kota yang dituju itu. Boe Wie jadi sibuk.

"Man kita larikan keras kuda kita!" kata Boe Wie pada dua kawannya. Ia ingin buru tempo. Ia kaburkan kudanya. Ia memang ada satu penunggang kudajempolan. Lari belum lama, ia sudah bikin soemoay dan soeteenya ketinggalah jauh di belakang, maka kemudian terpaksa ia perlahankan  kudanya, untuk nienunggui dua saudara seperguruan itu  dapat susul padanya. Apa mau, tetap dua saudara itu tidak dapat candak padanya. Ketika kemudian ia nienoleh, ia dapatkan mereka bukan sedang kaburkan kuda mereka, hanya mereka sedang pasang omong dengan asyik. Di atas kudanya,

Ham Eng

tunjuk sana dan tunjuk sini, tangannya digerak-geraki, rupanya ia sedang berdaya membikin Bong Tiap gembira. Rupanya dua saudara itu pikir, itu hari mereka tetap bakal sampai di Boe-ip, terlambat sedikit, tidak apa....

Melihat keadaan itu, Boe Wie tidak tega untuk mendesak. Ia masih anggap sang soemoay sebagi bocah, hanya bocah yang sudah matang Di sepanjang jalan, ada saja yang Bong

Tiap tanyakan soehengnya, perihal pengalamannya, tentang kejadian-kejadian dalam dunia Kang-ouw, atau tentang bedanya berbagai kaum persilatan. Setiap soemoay itu| gerecoki Boe Wie, Ham Eng agaknya kurang puas, karena ini, Boe Wie jadi tidak cnak sendirinya, maka itu, ia antap saja.

Begitulah mereka jalan sampai sang maghrib datang. itu| waktu, dari kejauhan, mereka sudah lihat tembok kota. "Asal sudah sampai di luar kota, di mana ada rumah orang, hari mi bisa dianggap sudah dilewatkan," pikir Boe Wie.
*** ***
Note 25 oktober 2020
Cersil terbaru hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 06"

Post a Comment

close