Bujukan Gambar Lukisan Jilid 25

Mode Malam
Jilid 25 : Pouw Liok It munculkan diri

Orang itu Nona Phang Lee Hoen yang cantik, maka menghadapi nona itu, sembari bersenyum ia lantas menyapa: "Nona Phang, sudah sekian lama kita tidak bertemu, apa kah kau baik?" Sembari begitu, ia waspada terhadap tiga orang lainnya.

Lee Hoen memperlihatkan wajah penasaran atau menyesal ketika dia menjawab suaranya tawar.

"Berkat rejeki siauwhiap aku baik" sahutnya. "sekarang ini aku minta siauwhiap mengembalikan pedangku nanti dibelakang hari aku akan berdaya untuk membalas budimu."

Tiong Hoa dihadapi kesulitan- Pedang itu milik Lee Hoen, sudah selayaknya ia menbayar pulang. Tapi sekarang si nona mencampuri diri didalam kaum sesat, dengan memegang pedang itu, pihak dia menjadi bertambah berbahaya. itulah tak ia inginkan-Karenanya tak dapat ia segera memberikan jawabannya.

"Nona Phang" kata seorang kawannya bengis, "tak usah mensia-siakan tempo bicara dengan bocah ini, bunuh saja dia, habis perkara"

Benar-benar dia segera menyerang Tiong Hoa, secara membokong. 

Si anak muda bersenyum tawar, tubuhnya menyamping sambil berputar, hingga ia dapat teruskan menolak.

Pembokong itu menjerit, dia mental tinggi danjauh ketika dia jatuh, tubuhnya jumpalitan- Maka kagetlah kedua kawannya, tak kecuali Lee Hoen, hanya si nona menjadi masgul.

Dua kawan itu kaget tetapi mereka segera menyerang, berbareng.

Tiong Hoa tertawa tawar ia mengapungi diri, untuk berkelit dari serangan itu.

Karena ini, kedua penyerangnya terhuyung kedepan- Justeru itu si anak muda turun sambil membalas menyerang dengun tipu silatnya "In liong hoan sin, atau "Naga di-dalam mega jungkir balik. Berulang kali ia menemui orang-orang jahat dan kejam maka menghadapi dua penyerangnya ini hatinya menjadi panas, tak dapat ia menguasai diri nya lagi.

Dua penyerang itu kaget. Mereka merasa dada mereka tertindih sesak. Dalam kagetnya itu. mereka memaksa diri menolak ke- atas sambil tubuh mereka mencelat masing-masing kepinggir. Hebat kesudahannya perlawanan mereka ini.

Keduanya menjerit kesakitan, kedua tangan mereka masing-masing patah dan mengeluarkan darah, tubuh mereka roboh terkulai.

Tiong Hoa diam mengawasi ketiga kurbannya itu. Yang terpental itu pun roboh dengan jiwanya terus melayang, lukanya tak kurang hebatnya. Sebenarnya menggiriskan akan menyaksikan mereka mandi darah, sebab darah keluar dari mata, hidung, mulut telinga mereka.

Phang Lee Hoen berdiri menjublak diri dibawah pohon, tak tahu dia mesti berduka atau bergusar, rambutnya memain diantara tiupan sang angin. Berdiri diam seperti itu dia mirip seorang dewi....

Tiong Hoa mengawasi nona itu, baru ia bertindak menghampirkan-

"Nona, aku beri selamat padamu yang sakit hatimu telah terbalaskan" ia kata sambil tertawa. "Sekarang ini baiklah nona lekas pulang, supaya ibumu tidak usah terlalu lama lagi mengharap-harapmu."

Masih Lee Hoen berdiam. Tapi sekarang ia mesti bicara. "Siauwhiap bagaimana kau ketahui itu?" ia tanya heran.

“Tak ada saat yang dilewatiku mengikuti jejak Yan Loei dan rombongannya," sahut si anak muda. "Hanya sayang sekali, aku datang terlambat satu tindak. maka juga di dalam rumah besar didusun Sam Seng coen itu aku melainkan dapat menyaksikan mayat mayat mereka berserakan-"

"Syukur kau mengetahui itu, siauwhiap." kata si nona dingin. "Sekarang aku minta siauwhiap memulangkan pedang ceng song Kiam. Habis ini aku hendak berangkat pulang"

Tiong Hoa mengawasi. la melihat sinar mata penasaran bahkan gusar. Ia mengerti nona itu mendongkol.

"Numpang tanya nona, kau hendak pergi kemana?" ia tanya bersenyum. "Itulah kau tak perlu tahu" sahut si nona, tetap dingin.

Wajahnya dingin juga, hingga dia nampak keren.

Tiong Hoa tidak gusar, sebaliknya ia tertawa. Ia menatap terus nona itu.

Hati Lee Hoen goncang. Pemuda itu, dengan tertawanya itu, terlihat makin tampan dan manis. Maka ia lantas ingat pertemuan mereka, dalam hotel dikota Kim-leng.

Tiong Hoa bersenyum. ia berkata: "Aku yang rendah menginsafi nona tak puas aku tak menemui kau di Kim- leng itu. didada nona masih ada yang mengganjel. Tentu saja nona tidak ketahui duduknya hal. Ketika itu aku telah dicelakai Kee Leng Jie Kauw, yang membuatku jatuh kedalam jurang.

Hampir jiwaku melayang secara kecewa. Syukur aku bertemu seorang tua jago Rimba Persilatan, yang lagi menyembunyikan diri. Dia bawa aku ke guanya dan menolongi, hingga aku dapat melihat lagi matahari dan langit. Ketika akhirnya aku kembali kehotel, nona sudah tidak ada. Pasti kau berlalu dengan mendongkol. Karena kecelakaan itu untuk setengah bulan lamanya aku mesti menderita. Sekarang aku telah memberikan keteranganku, aku minta nona maklum dan suka memaafkan-"

Lee Hoen mau percaya keterangan itu. dengan begitu, nyata ia sudah salah paham. Ia memang mencintai si anak muda, sekarang cintanya itu bangkit pula. Ia melirik. terus ia tertawa.

"Apakah benar keteranganmu itu, siauw-hiap?" ia menegasi. Diam-diam Tiong Hoa melegakan hati, tetapi ia kata sungguh-sungguh: "Nona, kalau tetap kau menyangsikan aku, percuma aku bicara. biarnya lidahku lidah bunga teratai, kaulah tetap tak akan percaya aku."

Nona itu mengangkat mukanya, ia menyingkap rambut didahinya.

"Baiklah, aku percaya kau" katanya, lantas tertawa manis. " Kenapa kau bersikap begini keras?"

Tiong Hoa berlaku sabar. Sebenarnya ia ingin tanya hal-ikhwal si nona selama yang belakangan ini, tetapi ia bisa memikir untuk menunda dulu. Maka itu sambil tertawa, ia bilang: "Nona, sekarang ini wilayah Thian- Lam-Too ini sangat terancam, karena itu menurut aku yang rendah, baiklah nona menjauhkan dirimu agar kau tidak sampai kena terlibat kedalamnya..."

Nona itu tertawa.

"Bukankah siauwhiap menghendaki aku pulang kerumahku?" tanya dia. "Kalau siauwmoay akan segera berangkat"

Itulah jawaban yang tidak disangka Tiong Hoa. orang pun menggunai kata-kata siauw moay (adik) untuk dirinya sendiri, menggantikan kata "aku." Ia mementang matanya mengawasi nona itu. Kembali ia di hadapi kesulitan- Mana bisa ia mengantarkannya?.

"Siauwmoay meminta ini untuk kebaikan siauwhiap." kata pula Lee Hoen tertawa manis. "Touw Leng membenci siauwhiap seperti dia membenci musuh yang membinasakan ayahnya, berbagai akal muslihatnya telah diatur dan ditujukan kepada dirimu, oleh karena itu walaupun siauwhiap gagah luar biasa, sulit untuk menghadapi tipu dayanya itu Demikian peristiwa di Tay Hoed Sie itu pun buah-hasil usahanya Touw Leng.

Siauwhiap pasti tidak ketahui bahwa Sin Kong Tay dan siang ceng telah menjadi konco-nya ayah pemuda itu.

Adalah diluar sangkaan, siauwhiap sudah dilindungi Thian dan dapat molos dari kecelakaan-"

"Sin Kong Tay dan Siang ceng koncoh koncoh penjahat?" Tiong Hoa tegaskan- "Kalau begitu nona, mari lekas kita pergi ke cong Seng Sie untuk memberi kisikan supaya mereka itu dapat bersiap menjaga diri"

Tanpa menanti jawaban lagi anak muda ini menyambar tangan si nona, buat diajak lari.

Lee Hoen merasakan hatinya berdebaran keras.

Dicekal si anak muda dan dibawa lari secara begitu, ia kaget sekali, ia malu berbareng...

Malam itu rembulan terang dan indah, ketiga menara dari cong seng sie berbayang dipermukaan air Jie Hay, dimanapun nampak berkelak- keliknya perahu-perahu nelayan-Permai dan menarik pemandangan pada malam itu,

Ketika muda-mudi itu mendekati kuil kira lagi sepuluh tombak. dengan lantas mereka dirintangi belasan pendeta yang pada lompat turun dari atas pohon cemara besar. Semua mereka itu bersenjatakan tongkat sianthung.

Satu pendeta, yang tubuhnya gemuk- yang berusia pertengahan, sudah lantas menanya: "Malam begini sie- coe mendatangi kuil kami ada urusan apakah?" Tiong Hoa memberi hormat sambil tertawa.

"Kebetulan soehoe” jawabnya. “Aku harap soehoe mewartakan kepada ketua kamu bahwa aku Lie Tiong Hoa bersama Nona Phang Lee Hoen ini datang memohon bertemu dengannya."

Pendeta itu mengawasi tajam padanona Phang. Kata dia dengan suara dalam: "Selama ini kuil kami mengalami pelbagai gangguan, oleh karena itu hong-thio kami telah memerintahkan menolak kunjungan siapa juga, terutama untuk menjaga keselamatan para pengunjung."

Tiong Hoa mengerti, ia bersenyum. Katanya: "Kalau ada urusan sangat penting yang mesti disampaikan kepada Peng ceng Hong thio apakah soehoe masih juga menolak memberitahukannya? "

Pendeta itu bersikap tawar.

"Kami menerima tugas, kami menyesal," sahutnya. "Sie-coe, maafkan kami."

Phang Lee Hoen nampaknya habis sabar, maka dia kata pada Tiong Hoa: "Kita masuk atau jangan? Buat apa kita melayani mereka ini?"

Pendeta itu kaget, maka dia mengulapkan tangannya, atas mana semua kawannya segera bergerak memernahkan diri, siap untuk bertempur.

Tiong Hoa menekan tangannya Lee Hoen guna mencegah si nona bertindak sembrono kemudian ia menyapu dengan sinar matanya kepada semua pendeta itu. lalu ia mengawasi si pendeta gemuk didepannya, untuk menanya sungguh-sungguh: "Taysoe, apakah gelaran taysoe yang mulia? Aku mohon tanya juga, apakah maksud taysoe sekarang ini?"

"Pinceng dipanggil Tie Sian." Sahut pendeta itu. "Barusan kata-kata nona ini berarti dia hendak masuk secara paksa, karena itu tak dapat kami tidak berjaga- jaga."

Selagi menyahut itu, matanya bersinar. Tiong Hoa menarik napas panjang.

"Taysoe, aku mohon tanya," kata ia sabar. "Sudah berapa lama taysoe berdiam didalam cong Seng Sie?"

Tie sian melengak. Tak mergerti ia dengan pertanyaan orang itu. Tapi ia menjawab dengan cepat: "Sudah tujuh belas tahun-"

"Kalau taysoe sudah tinggal begitu lama, apakah taysoe ketahui ketiga menara itu bulan dan tahun kapan dibangunnya? Apakah itu dibangun setelah selesainya pendirian kuilnya atau sebelumnya? Tolong taysoe jelaskan-“

Tie Sian bingung hingga ia menjublek benar-benar ia tidak mengerti.

"Sie-coe. apakah maksud sie-coe dengan pertanyaanmu ini?" dia tanya bengis, inilah pertanyaan yang tak ada perlunya, pinceng tak sempat menjawabnya.”

Nona Phang juga melengak. la tidak mengerti maksud si pemuda. Maka ia mengawasi pemuda itu.

Tiba-tiba Tiong Hoa tertawa dingin, lantas tubuhnya mencelat maju dan sebelah tangannya diulur, lima jarinya menyambar ke pundak pendeta itu. Yang hebat ialah mulur tangannya.

Tie Sian menjerit tertahan, kontan dia roboh terguling ketanah.

Tiong Hoa tidak berhenti sampai disitusaja, ia bergerak terus, kedepan, kekiri dan kanan, menyerang kawan-kawannya Tie Sian- Ia menghunus pedangnya Dengan saling-susul sekalian pendeta itu menjerit, semua lantas roboh terluka, ada yang tangannya kutung, ada yang lehernya putus hingga darah menyemprot keluar dari luka mereka masing-masing. Hingga suasana menjadi sangat menyeramkan-.

Lee Hoen kaget dan heran, dengan mata mencilak ia mengawasi si anak muda, ia tidak pernah menyangka menyaksikan pemuda itu menjadi demikian bengis.

Habis itu dengan tenang. Tlong Hoa masuki pedang kesarungnya. Ia menghampirkan kurban- kurbannya yang masih hidup, untuk menotoknya hingga mereka itu tak berkutik lagi. Paling akhir ia hampirkan Tie Sian, tubuh siapa ia cekal dan angkat untuk ditotok juga.

Hanya dia ditotok untuk disiksa hingga dia merasakan nyeri dan ngilu pada otot-ototnya, seperti dipaguti ular tak hentinya. Dia merayap dan mengoser ditanah mulutnya merintih terus, kedua matanya mengasi lihai sinar ketakutan-

"Tie sian," kata si anak muda kemudian, suaranya bengis. "Kenapa kau berani main gila didepanku? Apakah kau menyangka aku tidak mengenalimu? itu hari didepan Tay Hoed sie aku melihat kau bersama kawan-kawanmu dibawah payon” Tiba-tiba mata pemuda ini mencilak. dia tanya bengis sekali:

"Lekas bilang, apakah kamu telah perbuat atas dirinya pendeta-pendeta dari cong Seng Sie?”

Mata Tie Sian mendelik, dia tidak menjawab. Tiong Hoa gusar sekali.

"Kau bandel, ya" katanya. Lalu tangan kirinya menekan jalan daran kip-kiek pendeta itu. Tapi ia terperanjat sendirinya. Mendadak ia merasa membentur tubuh yang dingin. Kiranya pendeta itu sudah jadi mayat.

"Celaka" kata ia mendongkol seraya melemparkan tubuh orang. Kemudian ia kata pada Lee Hoan: "Aku tidak sangka ceng Bang Hongthio dari Tay Hoed Sie, yang nampaknya demikian suci, berkonco dengan orang jahat."

Lee Hoen mengawasi, ia bersenyum.

"Siauwhiap. kau pintar disatu saat, gelap dilain saat" katanya.

Tiong Hoa heran-

"Eh, mengapa kah?" tanyanya.

Nona itu membuat main mulutnya, dia tertawa. "Kalau bukannya ceng Beng bersekongkol dengan

Touw Leng, mana dapat Touw Leng bersembunyi didalam kuil Tay Hoed Sie untuk berobat?" katanya. Tiong Hoa menepuk kepalanya sendiri.

"Ah, ya aku tolol sekali" serunya, "Mengapa aku tidak memikir demikian? Kalau begini, pendeta-pendeta dari cong Seng Sie tentunya telah bercelaka semua."

Lee Hoan berdiam, ia tunduk.

"Mungkin belum," katanya sesaat kemudian, "Mungkin sekarang mereka lagi tak berdaya, Mereka semua liehay, mestinya mereka mendengar suara berisik barusan.

Kenapa mereka tidak muncul."

Akhirnya Tiong Hoa bersenyum. "Dasar kau cerdas, nona" pujinya. Malu aku..." Senang Lee Hoen menerima pujian itu. "Siauwhiap cuma memuji" katanya. Ia tertawa.

Lalu: "Mari kita masuk kedalam kuil untuk memeriksa" Tiong Hoa mengajak. Lee Hoen mengangguk terus ia borlompat lincah mengikuti si anak muda.

Berdiri diatas tembok pekarangan. Tlong-Hoa melihat kedalam Kuil gelap dan sunyi, ia heran- Lantas ia ajak Lee Hoen lompat naik kewuwungan dimana mereka mendekam memasang telinga dan mata.

Kira seminuman teh selagi si anak muda mulai hilang sabar mereka melihat dua bayangan berlompat turun dari atas menara besar.

"Heran" kata Tiong Hoa didalam hati "kenapa orang- orang yang datang kemari liehay semuanya? Kalau aku tidak mempunyai pelajarannya Ay Sian dari See Hek sulit aku melayani mereka."

"Aku lihat." kata Lee Hoen, perlahan- "orang orang dari kuil ini rupanya telah menginsafi bahaya dan telah bersembunyi didalam menara. Didalam ketiga menara itu, ada pelbagai macam pesawat rahasianya.

Ketika aku ditahan didalam menara timur- laut itu, tak berdaya aku melarikan diri, kalau Touw Leng bersama orang-orangnya tidak menggunai obat bius serta siasat mengancam di timur menyerang dibarat, tentu sampai saat ini aku belum dapat pulang kemerdekaanku."

Tiong Hoa mengangguk. Ia maupercaya nona ini. "Kalau begitu, lega juga hatiku," katanya. "Mereka lagi

terkurung didalam menara, tentu mereka bingung dan bergelisah, maka itu ingin aku menolongi lebih dulu pada mereka itu."

Lee Hoen menarik tangan si anak muda nampaknya ia berkuatir.

"Sepasang tangan tak dapat melawan empat tangan-" kata ia. "meski kau gagah sukar kau melawan mereka yang berjumlah besar. juga Touw Leng ada bersama seorang tua liehay luar biasa yang tak ketahuan siapa namanya, yang dibelakang layer. Ia mengepalai semua orang jahat, Katanya dia liehay hingga tak akan terkalahkan cit-chee coe Pouw Llok It.

Aku minta siauwhiap jangan membahayakan dirimu."

Tiong Hoa menatap nona itu. Ia heran kenapa si nona mengetahui demikian banyak tentang Touw Leng dan rombongannya.

Nona ini luar biasa, pikirnya pula. Dia bercampuran dengan orang jahat, dia turut datang menyerbu, cuma dia ditugaskan menjaga diluar. Aku telah tolongi dia.

Kenapa dia tidak mau pulang sendiri kerumahnya? Mengapa dia ingin aku mengawaninya? Kenapa dia sekarang mau mengikuti aku? Apa kah dia mau menunjuki hatinya? Atau karena dia memperoleh kenyataan aku tidak mencintai dia. sekarang dia diam- diam hendak mencelakai aku dengan meminjam tangan lain orang?"

Tiba-tiba anak muda ini bergidik sendirinya.

"Inilah berbahaya Pantas tadi, karena melihat si nona, Tie Sian berlambat turun tangan atas diriku..." pikirnya terlebih jauh. "Teranglah Tie Sian menolak keras karena dia mendapat isyarat nona ini..."

Bingung juga Tiong Hoa. Keadaan ruwet sekali. Akan tetapi tak dapat ia bersangsi. Dasar ia cerdik, dengan lekas ia berpikir. Katanya didalam hati: "Baiklah, untuk sementara aku tidak mau bicara apa-apa padanya. Kalau aku menegur dan dia salah tampa, bisa terbit onar tak perlunya. Baik aku menahan dia. Aku, harus bertindak seksama." Habis berpikir itu, ia kata dengan roman bersyukur: "Kau baik sekali nona. Aku mengerti sekarang. cuma akulah orang Kang ouw, aku bertugas menolongi si lemah dan si baik hati, tak dapat aku membutakan mata dan hati. Aku pun percaya aku tidak bakal menghadapi bahaya. Aku pikir nona. kau baik menantikan disini, supaya aku tak berpikir didua tempat dan menjadi berkuatir karenanya. Aku dibantu pedang mustika ini kau tentu tidak menguatirkan aku. Selesai disini pasti akan aku antar kau pulang."

Lee Hoen terharu mendengar kata-kata itu air matanya mengembeng.

"Kalau begitu siauwhiap kau berlakulah hati-hati. Dia memesan- Andaikata kau tidak. ungkulan lekas kau kembali supaya siaumoay tidak berkuatir "

"Baik nona, akan aku ingat pesanmu ini," kata Tiong Hoa. Lantas ia bergerak. untuk pergi ke menara. Untuk turun ia berlompat dengan kepala dibawah dan kaki diatas. justeru itu telinganya mendengar suara bentakan berulang-ulang hingga ia menjadi heran-

Lee Hoen mendapat dengar juga, ia menjadi berkuatir. ooo

Dibawah menara terlihat banyak orang. Setiap sejarak satu tombak ada satu orang berdiri tegak seperti mayat yang lagi memandang rembulan, matanya tajam, masing masing siap sedia untuk penyerangan-

Ketika itu angin berhawa dingin, baju mereka berkibaran-

Disebelah barat laut terlihat seorang tua yang tubuhnya bungkuk melengkung tapi dia beroman keren dan bajunya sulam. Dia berdiri mengawasi menara. Nampak dia lagi berpikir keras, kedua matanya bersinar tajam.

"Coh loocianpwee” terdengar seorang berkata “Obat bius kita keras kerjanya, baunya bisa nelusup masuk kemana saja, sekarang setelah berselang sekian lama, dapat sudah kita masuk ke-dalam, untuk membinasakan mereka semua, supaya kita dapat segera pergi ke Tiam chong San, guna bertemu dan berkumpul dengan Touw siauw-poocoe Kalau Hoat Hoei si keledai gundul bersama ketua Ngo Bie Pay keburu sampai disini, kita bisa gagal."

Orang tua itu mengasi dengar tertawa-tawar.

"Sin Hiantit," kata ia, " bukankah ada pembilangan mengetahui diri sendiri mengetahui pihak sana, seratus kali berperang kita seratus kali menang? Memang obat bius kita-liehay tetapi dipihak sana orang membuat perlawanan dengan menutup diri, dari itu kita membutuhkan tempo satu sampai dua jam untuk dapat merobohkannya. sekarang aku si orang tua lagi memancing mereka keluar. Kau sabar dulu, kita lihat perkembangannya."

Orang yang dipanggil Sin Lo soe itu yalah Tiat Sie Hoei chee Sin Kong Tay. Dia tak puas terhadap orang tua she cie itu.

Dia tidak kenal baik orang tua itu, yang sebaliknya mengetahui betul perihal gurunya, maka itu dia tidak dapat berlaku sembarangan. Dia melirik seorang lain yang berdiri terpisah tujuh kaki dari dianya. itulah Toan Pay-cice Siang ceng in, kawannya.

Orang tua she Coh itu liehay, la dapat tahu Kong Tay tidak puas, ia berjalan tiga tindak untuk mendekati.

Perlahan tindakannya. Sebelumnya, ia mengasi dengar suara dihidung perlahan- Ketika ia berjalan itu, babunya bergerak-gerak hingga sulaman benang emasnya berkeredepan terang.

Baju itu juga bersisik seperti sisik ikan- Didaiam hatinya, ia sudah berpikir jahat. Didalam hatinya itu, ia kata: "Berani kamu tak melihat mata pada aku si tua. Jikalau aku tidak mengajar adat, hingga kamu menderita mana kamu ketahui keliehayanku"

Lantas orang tua she Coh ini hendak membuka mulutnya, atau ia batal karena segera terdengar jeritan saling-susul, yang tapinya berhenti seketika, hirgga suasana menjadi sunyi kembali, la menjadi kaget.

"Celaka" seru Toan Pay cloe. " orang-orang jaga kita tentu telah menemui musuh-musuh liehay. Mari aku lihat"

Ceng-in mau lantas berlalu tapi si orang tua mencegah.

“Jangan” katanya. “Jangan bertindak. Sembrono.

Kalau pihak kita ada yang serbu mesti datang laporan, nanti baru kita bertindak lebih jauh Kalau kita tidak dapat bersabar, mana bisa kita bekerja besar?"

Muka Ceng-in menjadi merah, Dia mendongkol tanpa dapat melampiaskan itu.

Tatkala itu sang rembulan berada ditengah tengah langit. Bintang bintang guram. Angin yang bertiup mendatangkan hawa sangat dingin-Jagat sunyi, tetapi siapa tahu bahwa suasana sangat mengancam, bahwa dikuil Cong Seng Sie bakal terjadi pertempuran mati- hidup, Tiba-tiba terlihat dua tubuh berlompat bagaikan bintang jatuh. "Apa kabar?" tanya si orang tua She coh. Satu diantara dua orang itu menjura.

"Di gunung Tiam chong San tidak kedapatan rombongan dari Tay in San," dia memberi laporan- "Touw Siauw-poCoe dan kawanan kepala gundul Hoat Hoei telah bertemu secara kebetulan dengan rombongan Cit chee cioe Pouw Liok It di barat gunung, akan tetapi Pouw Llok It mundur tanpa pertempuran, mundur kearah Tay Soat San- Dengan berpencaran, siauw-pocoe dan Hoat-Hoei si gundul tengah mengejarnya"

"Oh, begitu" kata si orang tua she Coh perlahan- “Barusan selagi kamu masuk kemari, apakah kamu tidak melihat apa-apa yang luar biasa diluar?"

"Tidak." menjawab dua orang itu, yang terus berlompat mencar naik ke atas pohon disamping menara untuk melihat kelilingan-

Siang ceng-in tetap tidak puas. Dengan perasaan mendongkol, dan sambil tertawa dingin, dia tanya sahabatnya: "Saudara Sin aku dibikin gelap dengan maksud kita datang kemari. Sebenarnya kita mengarah kitab silat ditangannya Pouw Liok It atau gelang kemala dari rombongan Tay in San itu? Toh dua-duanya itu tidak ada hubungannya dengan kuil cong Seng Sie ini. Buat apa kita membuang-buang tempo dan tenaga di sini?

Tak tepat, bukan?"

Sin Kong Tay mengedipi matanya kepada sahabatnya itu. maksudnya memberi nasihat untuk si kawan tak membangkitkan kemurkaannya si orang tua she Coh itu, agar kawan itu bersabar.

Ceng In tertawa, tetap dingin suaranya, la berlagak tak melihat isyarat kawannya ini. 

Si orang she coh mengawasi Ceng in, ia memperlihatkan senyuman tawar, sedang matanya bersorot bengis. Kata dia dingin: "Apakah kau tahu dimana adanya rombongan dari Tay in San itu? Kalau benar, segera aku akan menarik pulang penjagaan disini. akan turut padamu”

Ceng In tertawa jumawa.

"Aku yang rendah belum mendapat tahu dimana adanya mereka itu akan tetapi kita dapat mencarinya dengan sungguh-sungguh" -sahutnya dingin. "Mesti ada ketikanya yang kita bakal dapat menemukannya itulah lebih baik daripada kita menantikan sia-sia disini"

Si Coh itu tertawa mengejek.

"Kau tahu apa" katanya. "Aku justeru menduga diantara mereka yang terkurung di dalam menara ini mesti ada yang mengetahui hal rombongan dari Tay in San itu"

"Adakah dikolong langit ini soal demikian sederhana?" kata Ceng In melawan terus. "Dapatkah sesuatu dipastikan hanya dengan dugaan belaka? Jikalau benar demikian, Coh Loocianpwee, mengapa kau tidak mau menggunai tanganmu yang liehay menggempur pintu menara, buat tanya dengan paksa keterangan mereka? Bukankah itu sederhana sekali, menghemat tempo dan tenaga?"

Kedua pundaknya orang tua itu terangkat dan kedua matanya mencilak. Teranglah dia menjadi sangat gusar.

Sin Kong Tay melihat itu, dia kaget sekali. Dia sangat berkuatir si orang tua nanti menurunkan tangan jahat terhadap kawannya. Lekas sekali, lenyap roman gusar orang tua she Coh itu. sebaliknya, dia lantas tertawa lebar-- tertawanya itu mengalun ke udara, berkumandang di empat penjuru, memecahkan kesunyian sang malam.

Mendongkol Ceng In mendengar tertawa itu. Dia merasa terhina.

Setelah berhenti tertawa, orang tua she Coh itu kata tawar. "sekarang ini aku orang tua belum mempunyai kepandaian untuk dengan tenagaku menggempur pintu menara ini Sebaliknya telah lama sekali aku mendengar hal tenagamu yang besar, yang menjagoi Rimba Persilatan, sampai kau memperoleh julukanmu itu Toan Pay cioe berarti tangan yang mematahkan batu tugu.

Kau mempunyai julukan itu, pasti itu bukannya julukan belaka. Nah, maukah kau mencobanya kekuatanmu itu malam ini dihadapan aku si orang tua?"

Siang Ceng In penasaran bukan main, tanpa kata apa- apa, cuma sambil bersuara Hm, dia lari kepintu untuk menerjang.

Sin Kong Tay kaget, la menduga mesti ada maksudnya si orang she Coh kenapa dia memancing kemarahannya Siang ceng In. Ia hendak mencegah kawannya itu tetapi sudah tidak keburu.

Siang ceng In sudah sampai didepan pintu menara, tanpa bersangsi pula tanpa ayal lagi, dia memasang kuda-kudanya dan terus menolak dengan kedua tangannya. Dia berseru dan mengerahkan seluruh tenaganya.

Bagaikan digempur badai, demikian pintu menara itu dihajar. Siang ceng In seorang Kang ouw ulung, dia kosen dan cerdik. biasanya dia teliti dan sabar, tetapi kali ini dia bertindak menurut kemendongkolannya. Dia menduga si Coh memancing kemarahannya karena maksudnya tak baik, toh dia membiarkan dirinya dipengaruhi. itulah sebab terlanjur, seumpama jemparing sudah terpasang pada busurnya.

Boleh dibilang berbareng dengan terhajarnya daun pintu menara maka dari dalam situ segera terlihat melesatnya jarum-jarum yang berupa seperti hujan lebat.

Sebenarnya Ceng In sudah memikir, habis menyerang itu hendak dia lompat mundur, apa lacur dia kalah sebat, belum lagi dia berkelit, jarum-jarum itu sudah menyambar telak kepadanya. Maka dalam sekejap itu juga dia mengasi dengar jeritannya yang hebat sekali, tubuhnya lantas roboh terguling, untuk berkoseran ditanah. Karena banyak sekali jarum sudah menusuk pelbagai anggauta tubuhnya terutama yang mengenakan jalan-darah yang berbahaya.

Sin Kong Tay kaget tidak terkira. hati-nya pun giris. Ia melihat masih saja ada jarum yang menyambar-nyambar keluar hingga tak berdaya ia menolongi kawannya itu, yang masih terus berteriak-teriak.

Ketika kemudian jarum berhenti menyerang terlihat pintu menaia utuh seperti biasa. Ceng in sebaliknya rebah tak berkutik, suaranya pun sudah berhenti. Dia rebah terlentang, mukanya menghadap ke langit, hingga disinarnya rembulan, nampak dia bengis-dan menakuti

Baru sekarang Sin Kong Tay lompat maju, sambil berjongkok, ia memegang tubuh kawan itu. la menjadi putus harapan, melihat kawannya. Tanpa merasa, air matanya keluar bercucuran- Ia sangat bersedih berbareng mendongkol. Ia penasaran, seperti mati- penasarannya sahabat itu.

Si orang she coh tua sebaliknya tertawa nyaring dan kata: "Aku si orang- tua mempunyai air mataku tetapi tak gampang-gampang aku mengeluarkannya buat apa menyiramkan itu pada tubuh-nya seorang yang tidak ada gunanya"

Sin Kong Tay bangun dengan perlahan-lahan-"Inilah kekeliruan kau, locianpwee" katanya dalam.

Orang tua itu berpura pilon.

"Aku si orang tua salah apa?" tanya dia. “Jelaskanlah" "Loocianpwee tahu ada bahaya mengancam mengapa loocianpwee justeru memancing kemurkaannya saudara

Siang ini?" tanya Sin-Kong Tay. " itulah sama saja dengan meminta jiwa dia. Bukankah sekarang kita lagi menghadapi musuh besar? Kenapa kita mesti memasak kacang dengan menggunai kayu kacang sebagai bahan bakarnya. Tidakkah ini berani alamat untuk kemusnahan kiia sendiri?"

Orang tua itu tertawa.

"Aku disini lagi menjalankan titah" kata dia nyaring. "Maka itu paling benar orang jangan menentang titahku itu "Tadi diam2 dia justeru menertawai aku Dia memberi contoh jelek, dia dapat menggoncangkan hati lain orang orang semacam dia tak dapat di biarkan saja, dari itu, justeru dia yang meminta sendiri, biar dia menerima bagiannya orang semacam dia memang mesti dihukum guna dijadikan contoh"

Sin Kong Tay menyedot napas dingin. Ia tak berdaya. la menjadi menyesal atas perjalanannya ini. karena itu, ia memikir baiklah ia mengundurkan diri siang-siang. Terus ia menjura dalam dan kata: "Kalau begitu nyatalah pandangan loocian- pwee tidak keliru. Tepat dengan pepatah "Akur bekerja sama, tak akur pergi, maka dengan ini boanpwee memohon diri."

Mendadak orang tua itu nampak bengis^ "Apakah kau juga mau pergi?" dia tanya. Sambil menanya itu, dengan sebat dia mengulur sebelah tangannya guna menjambak Tiat-Sie Hoi-chee. Tangannya itu meluncur tanpa suara sama sekali.

Akan tetapi sin Kong Tay sudah bercuriga dan berjaga-jaga, maka begitu melihat orang menyerang, begitu ia berkelit. Ia berkelit kekiri. Dengan begitu, dengan tangan kanannya dapat ia menangkis ke-arah tangan si penyerang.

Untuk ini dengan sebat sekali ia menggunai kipas- besinya senjatanya yang istimewa itu. la tidak cuma menangkis, membarengi itu, ia pun menyerang dengan tangan kirinya, mengarah dada si orang tua.

Itulah penyerangan membalas yang hebat.

Itulah serangan yang dinamakan "Bintang terbang membakar," sedang tangkisannya yalah "Burung walet menggaris pasir."

Orang tua she coh itu tertawa. Dia menarik pulang serangannya, dia berkelit. Tapi begitu berkelit, begitu dia menyerang pula. malah dengan jeriji tangannya dia memapaki telapakan tangan si penyerang.

Sin Kong Tay menarik pulang tangannya berbareng berlompat mundur, sembari lompat, ia memutar tubuh. Adalah niatnya untuk lompat keluar pekarangan, guna menyingkirkan diri.

Tiat-Sie Hoei-chee gesit, tetapi si orang tua she Coh terlebih gesit pula. Dia sudah lantas lompat menyusul, tangannya dibarengi diulur. Belum lagi Sin Kong Tay dapat berlompatjauh, punggungnya sudah kena dijambret dan dipegang keras, hingga dia kena dibawa turun bersama.

Bukan main kagetnya Tiat-Sie Hoei chee. dia merasa sangat nyeri hingga dia tidak berdaya. Dia menahan sakit dengan mengerutkan alis dan menggertak gigi. Dia tidak mau mengasi dengar suara kesakitan-si orang she Coh membanting tubuh orang ke tanah.

Jikalau aku tidak memandang kepada mendiang gurumu pasti aku sudah membinasakanmu" katanya sengit.

Sin Kong Tay tidak berdaya, saking jengkelnya, ia mengucurkan airmata. Ia mendekam tanpa bergerak.

Jago tua itu rupanya dapat membade hati orang, mendadak dia tertawa.

"Tidak ku sangka bahwa kau dapat berlagak mati" katanya. "Kau lah seorang yang terlebih muda, seharusnya tidaklah menjadi soal bahwa aku orang yang terlebih tua memberi nasihat kepadamu"

Sin Kong Tay malu bukan main- Kalau ia bangun berdiri, tak tahu ia mesti menaruh muka dimana.

Sungguh ia malu apabila peristiwa ini sampai tersiar secara umum. Karenanya ia terus berdiam saja.

Si orang tua tertawa dan kata tawar: "Aku tidak sangka gurumu dapat mengambil sebagai murid orang tidak punya guna sebagai kau. Aku mau lihat kau hendak berpura-pura mampus sampai kapan”

Sin Kong Tay menjadi sangat bingung, memang tak dapat ia berpura-pura mati terus: Malu dan mendongkol, dia jadi putus asa, hingga timbul niatnya berlaku nekad, untuk mati bersama orang tua itu. Pikirnya: "Sebenarnya tidak niatku berlaku jahat tetapi keadaan disekitarnya membuatku berbuat demikian, entah sudah berapa banyak orang yang terbinasa di tanganku. Di antaranya mungkin ada yang tak selayaknya mati.

Bukankah kematian harus ada pembalasannya? Hanya saat pembalasannya yang tak tentu, ada yang cepat, ada yang lama. Aku telah berusia enampuluh. kalau aku mati, aku tak mati mudah. Maka baiklah aku gunai peluru api serta jarumku menyerang dia, supaya dia mampus.

Mampusnya dia berarti dunia kurang dengan satu manusia jahat, dan begitu, akupun dapat mati puas"

Orang mati-tak dapat menggeraki tubuh dan kaki tangannya, karena itu. Sin Kong Tay mesti berlaku sangat sabar dan hati-hati untuk dapat memakai tangannya memegang kipas besinya. Sembari bersiap sedia, ia juga memasang telinganya, guna mengetahui pasti dimana arahnya si orang tua. Ia tidak dapat membuka matanya untuk melihat, sebab itu berarti membuka rahasia. Ia sudah pikir akan menggunai juga kipansya. "Thian hoan tee hok atau "Langit gempur dan bumi gempa," supaya ia tidak sampai gagal, la mendapat kenyataan si orang tua berdiri terpisah tiga tombak darinya.

Begitulah. setelah tangannya siap. ia mulai menggeraki kedua kakinya, guna bersiap juga. Sekonyong-konyong Tiat-Sie Hoei-chee, si Kipas Besi dan Bintang Terbang, berseru keras, sembari berseru itu, tubuhnya mencelat maju, dan sembari berlompat itu ke- dua tangannya bekerja. Dengan begitu maka bekerjalah juga senjata rahasianya.

Tok yam hwee-tan atau peluru api yang beracun menyerang kearah si orang tua she Coh. Selagi api menyala dan memencar itu. didalam itu juga turut menyambar jarum-jarum rahasia. Tubuh Sin Kong Tay melesat sangat pesat.

Orang she Coh itu bermimpi pun tidak bahwa orang mau berlaku nekad seperti itu. Dalam gugupnya repot dia berkelit kekiri dan kanan. Lantas ada api yang menyambar bajunya dan menyala. Tentu sekali dia

gusar-sekali. Maka habis mencelat tinggi dan bebas diwaktu turun- sekalian ia melakukan penyerangan- Dalam murkanya itu ia berseru nyaring.

Sin Kong Tay begitu menyerang, tak sempat ia berkelit. Dengan lantas ia merasa dadanya tertindih berat.

Orang tua itu berkata bengis: "Sin Kong Tay, aku si orang tua menghendaki kau mati tidak hidup tidak. Kau mesti disiksa dulu sebelum kau mampus Dengan begitu barulah habis penasaranmu"

Sin Kong Tay rebah tanpa berdaya, ia memejamkan matanya. Tepat selagi merasa dadanya tertindih semakin keras, mendadak ia mendapatkan dadanya ini lega, Ia terperanjat, tetapi cuma sejenak. dengan sebat ia meletik bangun.

Ketika sudah menurun kaki dan melihat dengan tegas, ia menjadi bertambah heran-Diantara mereka terdapat satu orang asing, itulah seorang muda dengan romannya tampan dan tenang, bahkan ia segera mengenali si pemuda yang ia ketemukan dikuil Tay Hoed sie. Ketika ia melirik kepada si orang tua she Coh itu mendapatkan jago itu mengawasi dalam pada si anak inuda matanya tak pernah pernah berkesip.

Apinya peluru api. telah membakar ruangan dan menyala seluas tiga tombak. asapnya tajam mengenai mata dan hidung, baunya membuat orang pusing kepala.

Si anak muda yalah Lie Tiong Hoa, terus bersikap tenang. Sekarang ia bersenyum memandang si orang tua, siapa sebaliknya mengertak gigi, kumisnya pada bangun berdiri. Barusan ia telah dihalangi si anak muda selagi ia dalam sengitnya menindih dadanya Sin Kong Tay.

Tahu bahwa siapa yang menolongnya, Sin Kong Tay sangat bersyukur terhadap si anak muda, tetapi ketika ia mengawasi mayat Siang Ceng-In, air matanya lantas meleleh turun, deras seperti air hujan.

ooooo

BAB 1

DALAM murkanya si orang tua menekan hebat kepada Sin Kong Tay atau mendadak ia merasakan angin berhembus atas tubuhnya, lalu tenaga menyerang nya itu seperti kena tertarik. hingga tak dapat ia melanjuti menyiksa orang yang dianggap kurang ajar itu.

Terpaksa ia membatalkan serangannya setengah jalan dan lompat ke samping hingga Sin Kong Tay ketolongan- Ia melihat perintang nya itu seorang muda yang tampan tetapi pendiam. Tentu sekali ia menjadi sangat tidak senang. "Bocah dari mana berani berlaku kurang ajar didepan aku si orang tua?" ia membentak dengan pertanyaannya.

Tiong Hoa masih tetap bersenyum.

"Tua bangka yang bertingkah dengan ketua bangkaannya" kata Tiong Hoa sabar. "Ketahui olehmu, tuan mudamu tak dapat menerima perlakuan kasarmu semacam ini. Cong seng Sie tempat suci, tak dapat dibiarkan kau si tua bangka main gila disini. Mungkinkah kau telah mendapat keterangan rombongan dari Tay in San berada didalam kuil ini?"

Orang tua itu gusar sekali. "Siapa kau?" dia membentak.

"Tak usah kau perdulikan siapa tuan mudamu ini." jawab Tiong Hoa sambil tertawa dingin. “Jikalau kau tahu diri lekas kau menyingkir. Jikalau tidak, akan aku membikin mayatmu rebah melintang disini"

Orang tua itu tertawa mengejek. segera- juga tangan kanannya melayang. Ternyata dia cuma mengancam.

Mendadak tubuhnya mencelat mundur dan mulutnya mengasi dengar suara keras: "Mari." Menyusul itu, dia berlompat lebih jauh, untuk mengangkat kaki kearah barat.

Perbuatan itu diturut kawan-kawannya, maka itu didalam tempo yang pendek sekali, pergilah sudah mereka semua. Maka kuil Cong Seng Sie menjadi sunyi pula.

"Siluman tua itu kabur" kata Sin Kong-Tay membanting kaki. "Sayang" Tiong Hoa tertawa.

"Dia belum berhasil mendapatkan kitab silat, apakah kau sangka dia akan mati hatinya?" ia tanya. Sin Kong Tay menghela napas. la mengawasi mayatnya Siang Ceng-In, kembali air matanya melele turun.

Tiong Hoa pun terharu. Ketika itu satu bayangan tubuh yang kecil langsing terlihat melesat masuk. dengan lekas dia telah tiba didepan si anak muda. Dialah Nona Phang Lee Hoan. Dia melihat belasan orang kabur, dia menyangka Cong-seng Sie sudah bebas dari bahaya maka itu dia muncul.

"Engko Hoa" kata dia girang. Dia mengusap rambut didahinya, wajahnya tersungging senyuman-

"Aku justeru hendak memanggil kau nona kau sudah datang" kata Tiong Hoa sedang hatinya tergerak.

Lee Hoan tertawa kecil. Dia hendak berbicara. tetapi dia batal. Itu waktu mendadak mereka mendengar pintu menara bersuara nyaring.

Tiong Hoa menoleh dengan cepat maka itu ia bisa melihat pintu menara sudah terbentang lebar dan dari dalam situ muncul kira2 dua puluh orang lebih. Yang berjalan dimuka dua orang pendeta, yalah Hoat Poe- Siansoe, taysoe pengurus dari ruang Lo-han tong dari Siauw Lim Sie, serta Beng-ceng Hongthio dari Cong Seng Sie.

Yang lain-lainnya antaranya yalah Ho cin coe ketua- Ngo Bie Pay si orang tua she Na, enam coencia dari Siauw Lim Sie dan Khong Tong sam Kiat, tiga jago dari Khong Tong pay. segera juga Beng ceng mendahului menghampirkan Tiong Hoa untuk memberi hormat sambil merangkap kedua tangannya dia-menjura dalam. “Jikalau Lie Siauhiap tidak datang menolong, pasti kita bakal terbinasa asap racun," kata dia dengan suara syukur.

Didalam hati, Tiong Hoa terperanjat. Ia tidak menyangka asap jahat itu demikian liehay."

Tapi ia lantas berkata merendah^ "Aku yang rendah adalah seorang muda yang tidak mengerti apa-apa, tak dapat aku menerima pujian hong-thio. Kebetulan saja aku tiba di sini. Rupanya orang-orang jahat itu sudah kehabisan obatnya itu dan mereka berniat sangat mencari rombongan dari Tay-In San dan Pouw Llok It, maka juga mereka berlalu dengan kesusu. Mana aku yang rendah berani menerima jasa ini?"

Tiba-tiba si orang tua she Na tertawa nyaring, terus ia berkata: "Memang benar kata-kata ini Aku si tua sendiri mesti menyingkir kedalam menara, orang sebagai dia mana sanggup mengusir kawanan penjahat itu."

Tiong Hoa bersenyum, sama sekali ia tidak gusar.

Hoat Poen kembali nya mengerutkan alis.

“Jangan kau merendah, siauwhiap." kata ia. "Meski benar bicara tentang ilmu silat loolap beramal masih sanggup bertahan tetapi mengenai asap beracun itu, itulah sungguh berbahaya. Belum lama ada lima loosoe yang terkena racun itu dan mereka tak keburu dapat ditolong, tubuh mereka lumer menjadi darah. Ketika loolap berangkat dari siauw Sit San-loolap membekal obat pemunah racun akan tetapi obat itu sudah dipakai habis, hingga masih ada risa racun, yang masuk kedalam tubuh kami, syukur siauwhiap keburu datang, dengan begitu dapatlah kami mengusir keluar sisanya itu." Sendirinya Tiong Hoa merasa jeri. syukur tadi si orang tua she Coh tidak menggunai racunnya itu terhadapnya, kalau tidak. entah bagaimana jadinya. Ia tidak menyangka sama sekali racun demikian jahat.

Orang tua she Na itu ketahui Hoat Poen tak puas terhadapnya, dia tertawa dingin dan kata: "Beginilah kamu kawanan pendeta, kamu berpokok kepada kasih sayang dan kemurahan hati, jikalau orang tidak mengganggu kamu, kamu tidak mengganggu orang. Tidak demikian, mana barusan kamu merasai kepahitan- sampai aku si tua bangka turut menderita "

Alis putih Hoat Poen terbangun. "Na Sie-coe " katanya. Ho cin coe ketua Ngo Bie Pay lantas tertawa dan kata:

"Lie Siauwhiap. perkenalkan, inilah Tayhiap Na Loen Gan gelar Thay Pek It Kie"

Tiong Hoa merangkap kedua tangannya.  "Girang aku dengan pertemuan kita ini" katanya,

sedang entah apa sebabnya, ia jemu melihat tingkah- lakunya jago dari Thay Pek itu. Na Loen Gan menjadi gusar.

"Oh, bocah yang baik, kau berani berlaku kurang ajar didepan aku si orang tua?" dia berseru, sedang matanya mengawasi bengis sekali.

Phang Lee Hoen menjadi tidak senang.

"Engko Hoa, jangan kau layani bicara pada orang yang bakal lekas mampus" kata nya mendongkol.

Mendengar itu semua orang melengak. bergantian mereka mengawasi si nona dan Thay Pek It Kie.

Na Loen Gan gusar bukan kepalang.

"Budak hina, apakah dapat kau menjumpai aku si orang tua lekas mampus?" bentaknya. Lalu bentakannya situ disusul dengan sampokan sebelah tangannya. Terlihat serangan itu, anginnya berbunyi nyaring.

Tiong Hoa dengan gesit mencelat kedepan Lee Hoen. dengan mengangkat sebelah tangannya, ia menangkis serangan dahsyat itu.

Maka bentroklah kedua tangan, dan tubuh Sijago tua she Na lantas terhuyung mundur beberapa tindak.

"Omietoohoed" Hoat Poen memuji, terus ia bersenyum dan kata: "Kedua siecoe, buat apakah kamu menuruti suara hatimu? Saat ini bukan saat untuk orang main gagah-gagahan-" Ia terus menoleh kepada Nona Lee Hoan untuk menanya: "Mendengar suara kau nona, mungkinkah kami masih belum bebas dari bahaya keracunan asap berbisa itu?"

"Tidak salah, siansoe." menyahut Nona Phang. "Siluman she Coh itu asal orang suku Yauw dari pegunungan wilayah Biauw Kiang dan racun yang dia kumpulkan yalah racun bunga toh-hoa hiat-ciang yang paling berbisa. Baik manusia maupun binatang, siapa terkena itu, dia tak dapat bertahan lebih dari setengah jam, tubuh berikut tulang-tulangnya bakal menjadi musnah. Dia juga telah mencampuri pelbagai kutu jahat, yang bisa nelusup masuk kedalam darah orang, maka siapa terkena itu, meski nampaknya sehat-sehat saja, sebenarnya paling lama tujuh hari, ia bakal keracunan tanpa dapat ditolong lagi. Apalagi dia..."

Nona itu melirik Na Loen Gan, ia mengasi dengar suara dihidung, lalu ia menambahkan: "Barusan dia sembrono menggunai tenaga dalamnya, untuknya bekerjanya racun semakin cepat, maka dia paling lama akan bertahan tiga hari" Semua orang kaget, sendirinya muka mereka menjadi pucat.

Ho cin coe guram matanya, ia kata perlahan: "Aku percaya keterangan kau. Nona Phang. Kelihatannya kami mesti duduk diam saja menantikan kematian kami."

"Benarkah asap itu demikian beracun?" tanya Tiong Hoa pada nona disisinya.

"Kalau begitu, siluman tua she Coh itu pasti mempunyai obat pemunahnya. Apakah nona tahu dimana sarangnya dia?-Atau apakah ada lain jalan guna melawan racun itu.”

Lee Hoen menggeleng kepala.

"Dia tak tentu tempat kediamannya." sahunya. "sulit untuk mencarinya. Aku pun tak tahu cara lain untuk membasmi racun itu cuma biasanya, racun bagaimana liehay juga mesti ada obatnya. maka itu, mungkin ada lain obat penolongnya. Disini berkumpul para cianpwee yang luas pengetahuannya. cobalah dipikirkan perlahan- lahan, mungkin masih ada jalan untuk menolong..."

Atas kata-kata si nona yang beralasan, semua orang lantas pada berpikir, antaranya ada yang menunduki kepala. Tapi Na Loen Gan lantas tertawa.

"Tuan-tuan,jangan percaya ocehannya budak hina ini " kata dia keras. "Barusan aku si orang tua menggeraki telaga dalamku menurut ilmu oek Goan Souw Keng, semua ototku bekerja dan darahku tersalurkan sempurna, aku tidak merasakan sesuatu yang aneh Hm Hm sekarang mengertilah aku. Kamu sudah bersekongkol dengan siluman she Coh itu untuk membikin kami..." “Jangan kau sembarang mengoceh menuduh orang. " Tiong IHoa membentak. Pemuda ini gusar atas kelakuan kasar jago dari Thay Pek itu.

Na Loen Gan terkejut. Hebat suara si anak muda. Ia pun lantas menggigil dan parasnya berubah menjadi pucat. Ia merasakan sampokan angin, yang membuatnya merasa dingin. Phang Lee Hoen melihat roman orang itu dia bukannya gusar, justeru dia tertawa. "Bukankah kau merasai lenganmu rada kaku dan sedikit ngilu?" ia tanya.

Loen Gan terkejut dalam hati. Benar perkataan si nona, lengannya yang kanan terasa kaku atau baal dan ngilu Dengan cepat ia merasai tenaganya berkurang, sebab lengannya itu berat. Diam-diam ia mengerahkan tenaganya, untuk mengusir keluar racun dari tangannya itu.

Nona Phang mengawasi wajah orang, dia tertawa pula.

"Kau lancang mengerahkan tenagamu untuk mengusir racun, itulah impian belaka."

Na Loen Gan memejamkan matanya, ia tidak mau menjawab. Tapi hatinya panas bukan main, hingga timbul niatnya yang busuk.

Sang rembulan terus memancarkan cahayanya, menyoroti setiap wajah orang. Semua nampak berduka.

Untuk sekian lama, orang terbenam dalam kesunyian, sampai Ho cin coe berkata: "Sekarang baru aku ingat, dipuncak gunung Soat San terdapat teratai salju, yang khasiatnya luar biasa, yang dapat membasmi seratus macam racun. Hanyalah teratai itu tumbuhnya terpendam didalam es, dan sangat sukar untuk mencarinya. pula sangat sulit mendaki puncak gunung, apalagi disaat angin keras. Entah sudah berapa banyak orang yang hilang jiwanya karena percobaannya mendapatkan teratai itu, hingga umum menganggap itulah usaha menempuh kematian."

Ia berhenti sebentar, untuk menambahkan dengan keras: "Disamping itu umpama kata kita berhasil mendapatkannya, untuk kita sudah tidak ada faedahnya lagi. Sekalipun orang liehay, untuk pergi kesana dan kembali. paling sedikit dibutuhkan tempo satu bulan..."

Tepat disitu waktu, mendadak ada orang melompat turun dari atas menara. sembari turun itu terdengar suaranya yang dalam tetapi terang: "Aku si orang tua ingat serupa barang yang dapat menyingkirkan keracunan tuan-tuan semua, bahkan itu manjur sekali dan mudah juga untuk mendapatkannya, hingga tak usah melewati batas waktu tujuh hari Hanyalah untuk itu tuan-tuan harus menjanjikan aku si orang tua satu hal baru suka aku memberikan petunjukku Bagaimanakah pendapat tuan-tuan semua?"

Semua orang mendengar suara itu, semua lantas menoleh. orang itu segera tiba di-tanah. berdiri terpisah tujuh tombak dari mereka, hingga orang melihat tegas padanya. -Tapi dia tak tampak muka dan potongan tubuhnya, sebab dia mengenakan pakaian hitam seluruhnya, dari kepala diatas dan kaki dibawah.

Apa yang tampak melainkan sepasang matanya yang tajam, hingga mirip hantu...

Selagi semua orang heran, dan antaranya ada yang ciut hatinya. Tiong Hoa tahu siapa orang itu. Sim Yok dan Lauw chi telah memberitahukan ia halnya orang yang pernah diketemukan didalam rumah tak di kenal itu. Maka itu ia cuma bersenyum untuk sementara, ia mau melihat lagak orang.

Lee Hoan dan Sin Kong Tay melihat roman Tlong Hoa, mereka menduga pemuda itu kenal orang dalam pakaian hitam ini, mereka ingin minta keterangan tetapi si anak muda lekas mengisyaratkan agar mereka berdiam saja.

"Sie-coe, dapatkah sie-coe memberitahukan she dan nama sie-coe yang mulia?" tanya Hoat Poen hormat. "Asal sie-coe tidak memaksakan kami melakukan sesuatu yang merusak dan buruk- pasti sekali loolap suka menerimanya."

Orang itu tertawa.

"Tak kecewa kau menjadi pendeta suci dari Siauw Limsie" kata dia nyaring.

“Dalam saat terancam bahaya kematian ini masih kau tak melupakan tujuan suci kamu memelihara diri. Tidak. kamu tidak akan melakukan permintaan yang diluar peri kemanusiaan, aku si orang tua..."

Belum berhenti suara si hitam itu maka dari luar tembok pekarangan sudah terlihat satu orang berlompat masuk, terus, dia menghampirkan belakangnya orang untuk berkata: "Leng-coe" Sambil menyapa itu, terus dia menotok dengan dua jerijinya ke-arah jalan darah beng- boen.

Si serba hitam menyangka orang atau kawannya mau melaporkan sesuatu yang penting, dia tidak menyangka bakal di-bokong seperti itu, maka itu, segera dia mengasi dengar suara tawar: "Hm"

Habis membokong itu, orang itu sudah lantas memutar tubuhnya untuk berlompat pergi. Akan tetapi tubuhnya Tiong Hoa sudah melesat kearahnya, sambil membentak. si-anak muda meluncurkan lengannya yang kanan yang seperti dapat mulur itu, hingga tepat ia dapat mencekal lengan orang. Bahkan didalam tempo yang sangat pendek itu, ia mengenali Kwie Lam ciauw.

Si orang hitam, yang tidak kurang suatu apa mengawasi Tlong Hoa, terus ia bertindak lebar menghampirkan anak muda itu, guna menyambuti orang tangkapan itu. Sambil tertawa dingin, ia kata pada si orang she Kwie: "Sudah lama aku si orang tua ketahui kau mengandung maksud busuk, kalau toh aku membiarkan kau hidup terus. ini disebabkan saat ini saat ku membutuhkan tenaga bantuan. Sekarang kau sudah terang berdosa kau-tak dapat ampun pula"

Lalu tangan kirinya di ayun untuk menghajar. “Jangan" Tiong Hoa mencegah.

Si hitam heran, meski begitu ia menyampingkan serangannya. maka ia kena menghajar tanah keras sekali.

"Kenapa dia tak dapat dibinasakan?" ia tanya si anak- muda, ia mengawasi heran-

Tiong Hoa bersenyum.

"Kau totok saja, nanti aku memberi penjelasan-" katanya. "Tapi tanpa menanti jawaban, ia menoleh kepada orang banyak untuk-segera berkata: "perkenalkan Tuan ini ialah cit chee Lengeoe Pouw Liok It yang kesohor diwilayah Selatan”

Mendengar itu semua orang terkejut, semuanya heran- Semua mata lantas diarahkan kepada orang berpakaian hitam itu, yang menutup dirinya rapat-rapat. Orang itu sudah lantas menotoktiga kali pada Kwie Lam ciauw, habis mana dia mengangguk dan kata pada si anak muda: "Lie Siauwhiap. tenaga memikirmu kuat sekali. Kau sudah lantas mengenali lagu-suara ku"

Tiong Hoa bersenyum.

"Belum terlalu lama lewatnya tempo sejak pertemuan kita di ciat Hee" ia menjawab. "Aku yang rendah telah datang untuk memenuhkan janji apa mau Leng coe lagi mempunyai urusan penting hingga kau mesti meninggalkan kota Koen-beng. Sekarang kita bertemu di sini, aku girang sekali."

"Mendengar lagu-suaramu ini, kau rupa-nya berniat mengadu kepandaian dengan aku si orang tua?" kata Pouw Llok It. suaranya dalam.

"Diwaktu begini dan ditempat ini, tidak dapat aku yang rendah melayani Leng-coe." Tiong Hoa menjawab.

“Jikalau begitu, apakah maksudmu?” tanya si hitam heran- Tak dapat dia menerka niat orang.

Alisnya si anak muda terbangun, la menjawab lancar. "Aku yang rendah mohon bertanya, apakah Leng-coe datang kemari untuk mencari aku ataukah ada lain maksud lagi?"

Pouw Liok It tertawa.

"Lie Siauwhiap" katanya, "urusan di ciat Hee baiklah dibikin habis saja dan selanjutnya tak usah disebut-sebut lagi. Sekarang-sebelum aku yang tua menjelaskan maksud- ku datang kemari, aku minta kau mengasi keterangan terlebih dulu mengapa kau mencegah aku membunuh Kwie Lam-ciauw?"

"Leng-coe, maksudmu ini- telah aku yang muda menerkanya sebagian," kata Tiong Hoa sabar. "Sekarang aku mohon menanya- Leng-coe, tahukah kau bahwa kau tengah terancam bahaya?"

"Hal itu aku si orang tua sudah tahu," jawab Pouw Liok It. “Semenjak itu hari aku meninggalkan Koen-beng, aku tahu setiap saat aku terancam bahaya, cuma dapat aku terangkan, kalau mereka itu berniat buruk terhadap diriku, mereka lagi bermimpi. Atau andaikata mereka mampu turun tangan atas- diriku, mereka harus membayarnya dengan mahal sekali"

Tiong Hoa tertawa.

"Sekarang aku yang muda ingin bicara dari hal saat yang kita hadapi sekarang ini" katanya.

Kedua matanya Pouw Liok It mengawasi tajam pemuda itu agaknya dia heran-

Semua orang juga tertarik sangat pembicaraan dua orang itu, disamping memasang telinga, mereka mengawasi bergantian- cuma Na Loen Gan, yang hatinya masih penasaran, yang nampak tak sabaran-"Bagaimana maksudmu?" Pouw Liok It tanya.

Tiong Hoa balik mengawasi, sikapnya tenang. "Selama beberapa hari yang belakangan ini rupanya

Lengcoe telah menjadi sangat letih hingga kecerdasan Lengeoe berbeda jauh daripada hari-hari yang telah lalu” kata ia.

"Aku mohon tanya, apakah Lengcoe tahu apa sebabnya Kwie Lam ciauw menggunai saat seperti ini menempuh bahaya membokong kepada Lengeoe untuk dia membinasakannya?"

Pouw Liok It tercengang. Tapi lantas dia tertawa. "Aku dapat menerka maksudnya pertanyaan kamu"

katanya. "Kau tentu maksudkan banyak sekali orangku yang telah berubah pikiran dan berkhianat hingga sekarang aku menjadi berdiri sebatang kara Benar bukan?"

Tiong Hoa mengangguk. "ltulah benar tetapi itu belum semuanya," ia menjawab. "Dibelakang Kwie Lam ciau masih ada seorang lain yang mengatur segala apa dan dia sekarang pasti berada di luar tembok sana lagi menantikan ketika untuk turun tangan”

Benar saja dari luar tembok terdengar ini suara seram: "Tidak salah Pouw Liok It. jangan kau mengharap yang tidak-tidak. Mana bisa kau membujuki kaum lurus bekerja untukmu? Mana bisa kau lindungi kitab silat itu? Itulah miliknya Kwie Lam ciauw. Sekarang ini tenagamu sudah habis, kenapa kau tidak mau mengeluarkan dan menyerahkan kitab itu?"

"Siapa kau." bentak Pouw Llok It. Tak sudi ia memberi jawaban-

Tertawa menyeramkan itu terdengar pula.

"Pouw Llok It, kita sudah bicara jelas," kata dia. " Hidup atau matimu sekarang telah berada didalam genggamanku. Tapi aku masih mengingat kasihan, maka lekaslah kau merubah haluan. Sekarang aku pergi untuk menantikan ditempat asal yang kau ketahui tetapi tak diketahui lain orang "

Habis itu, sunyilah sekitar mereka.

Tiong Hoa Sudah lantas lompat keatas tembok, tetapi ia tidak melihat apa-apa. Terang orang sudah pergi dengan jalan menyembunyikan diri. Maka ia lompat turun pula, la merasa tidak puas.

Pouw Liok It sangat mendongkol akan tetapi ia tutup itu dengan tertawa terpana. Karena itu ia berdiam sekian lama. Ketika ia bicara pula, ia pun memaksakan diri. Katanya: "Siauhiap. aku mengerti kau. Tentang puteraku dia terserah kepada Thian, Mana dapat bangsat-bangsat itu menguasai jiwa umat manusia? Tentang maksudku datang kemari, ingin aku menjelaskannya- Kitab itu kitab yang membawa kesialan, siapa memiliki itu. dia tak akan selamat selama hidupnya, inilah aku insaf. Maka itu, akupun memegangnya untuk melindungi buat sementara waktu, supaya itu tak dikangkangi oleh golongan manusia busuk sebab kalau kitab didapatkam mereka, Rimba Persilatan bakal tak mempunyai lagi hari-harinya yang tenang.

Sekarang ini aku telah menjadi si orang yang menunggang harimau turun salah, naik terus salah juga. Mungkin ada diantara tuan tuan yang mau menerka hendak aku menyerahkan kitab Kang Siauw sancoe. itulah terkaan keliru, jikalau aku benar niat menyerahkannya, urusan masih belum beres.

Penyerahan berarti aku menimpahkan bahaya atas dirinya. Kalau aku serahkan, mungkin sudah lama rombongan dari Tay In san telah pulang keliang kubur.”

"Pouw Sie-coe, dapat aku mengerti maksud kau," Hoat Poen siansoe turut bicara, "tetapi baiklah sie-coe ketahui bahwa sekarang di-Selatan ini telah berkumpul berbagai jago, yang semuanya mengarah kitab ilmu silat itu, maka juga ancaman bencana sukar untuk disingkirkan- Sie-coe, ingin loolap menanya. sekarang ini sie-coe menghendaki apa dari kami semua? Asal yang dapat loolap lakukan, tak nanti loolap tampik."

Pouw Liok It menghela napas.

"Benar, taysoe. bencana sukar dihindarkan lagi." kata ia, "tetapi untuk nama Rimba Persilatan, guna keadilan, tak dapat tidak, kita harus menggunai ketika ini sebagai, untuk turun tangan, guna menyingkirkan segala manusia busuk. supaya selanjutnya, sedikitnya duapuluh tahun, dapat kita mengadakan ketenangan hidup damai dan berbaha Bukankah ini dapat dilakukan?"

"Pouw Tayhiap." Ho cin coe tanya, kata-katamu ini keluar dari hati-sanubarimu yang lurus atau karena kau hendak menggunai tenaga kami untuk keuntunganmu sendiri?"

Matanya Llok It mendadak bersinar. Terang ia merasa tersinggung. Tapi ia berdiam saja. Selang sesaat baru ia menarik napas panjang, baru ia kata: "Jikalau diantara kita tak ada kecocokan, bicara pun percuma..Tanpa saling percaya, tak ada saling bantu. Nyatalah datangku kemari berarti berlebihan, dari itu ijinkanlah aku meminta diri."

Habis berkata, benar-benar Pouw Llok it mau bertindak pergi, tetapi justru itu, dari antara pohon- pohon pek yang lebat terdengar suara ini yang nyaring: "Omietohoed Pouw Siecoe. harap kau tidak gusar dan tidak pergi dulu. Kita sama-sama harus mengerti pepatah bahwa setiap orang harus tidak memiliki niat mencelakai orang tetapi juga tak boleh tak berjaga diri. Demikianlah kata-katanya ketua Ngo Bie Pay bukannya suatu kesalahan”

Habis berkata begitu maka muncullah orangnya, yang bertindak dengan sangat cepat menghampirkan orang banyak itu.

"Hoat Hoei Soeheng" Hoet Poet segera berseru. Memang pendeta itu pendeta suci dari Siauw Lim Sie. Hoat Hoei bersenyum, lantas ia kata: "Loolap ketahui Pouw Siecoe bicara dengan jujur. Sekarang tolong siecoe menjelaskan bagaimana pikiran atau dayamu siecoe?"

"Aku memikir baiklah kita semua pergi ke Tiam chong San”, berkata Pouw Liok It " disana kita umumkan bahwa Lay Kang Koen Pouw tidak ada pemiliknya, oleh karena itu justeru orang-orang gagah pada menghendakinya. baik diantara mereka dilakukan pertandingan, siapa yang paling gagah dialah yang bakal mendapatkan itu."

Hoat Hoei menghela napas. "Kami bangsa suci, kami tidak mengharap itu, bahkan kami tidak mengingini pembunuhan," kata ia, " akan tetapi, kalau sampai terpaksa, tentu saja tidak ada jalan lainnya. Baiklah. loolap menyetujui pikiran sie-coe ini, hanya mengenai sie-coe sendiri, loolap ingin supaya sie-coe menuntut penghidupan sunyi seperti kami, guna menyingkirkan segala bekas-bekas selama hidup sie-coe yang telah lalu..."

Pouw Liok It berdiam sekian lama. Terang hatinya lagi bertentangan sendirinya. Kemudian ia menarik napas panjang lalu berkata: "Aku si orang she Pouw mengetahui kebaikan hati siangjin, maka kalau nanti telah saatnya, akan aku minta siangjin tolong memimpin padaku. Hanya sekarang ini aku masih belum ketahui bagaimana jadinya dengan nasibku."

Hoat Hoei bersenyum.

"Siapa hatinya baik, dia akan mencapai langit, maka tentang itu janganlah sie-coe buat kuatir," kata ia sabar, kemudian ia berpaling pada Lie Tlong Hoa dan berkata sambil tertawa: "Sahabat kecil, bagaimana dengan kau, apakah sejak kita berpisah kau baik-baik saja ?" Tiong Hoa menjura dalam2.

"Dengan berkah Siangjin. aku baik2." sahutnya. "Siangjin juga banyak baik, bukan ?"

Pendeta itu mengangguk.

Justeru itu Na Loen Gan berseru keras: "Menolong jiwa sama- seperti menolong bahaya kebakaran, bagaimana kamu dapat berkesempatan untuk berbicara saja ? Pouw LooSoe, sekarang bolehlah kau memberitahu kan kami kau mempunyai obat manjur apa untuk menolong kami semua ?"
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bujukan Gambar Lukisan Jilid 25"

Post a Comment

close