Bujukan Gambar Lukisan Jilid 09

Mode Malam
Jilid 9 : Heboh tiga macam mustika

Si orang tua membuka matanya perlahan-lahan, dengan sinarnya yang tajam, dia mengawasi lalu dengan dingin dia berkata: "Bocah cilik, sungguh besar nyalimu berani menghina aku si orang tua. jikalau aku turuti tabiatku dua puluh tahun yang lampau, pasti aku telah hajar mampus padamu " ia baru mengucap begitu,

atau dia menambahkan,

“Ah, kau mana tahu hatiku si orang tua? sungguh didalam gunung tidak ada tahun dan saban bulan, didalam gua tidak ada penanggalan, jikalau aku hitung dengan jeriji tanganku, Duapuluh tahun sudah lewati Memang, asal aku si tua dapat memecahkan kesulitan didalam dadaku, tidak nanti aku menyekap diriku dalam gua ini."

Suara orang tua ini bernada sedih, kembali dia menghela napas. Dia agaknya menyesal mendongkol dan penasaran untuk pertapaannya selama duapuluh tahun itu.

Tiong Hoa mengawasi, ia merasa terharu, "Entah apakah kesulitannya itu?" pikirnya. Kenapa dia suka bercokol saja disini?" Lalu ia kata: "Loojinkee asal kau suka tunjuki jalan keluar pada aku yang muda, mungkin aku dapat membantu pikiran pada kau untuk menjawab kesulitanmu itu, Nanti aku kembali kemari guna membukai belengguan mu ini.."

"Hem, enak kau bicara" berkata orang tua, "Itu, jalan ke luar itu ada dibelakangku ini. Tapi tanpa kesulitanku itu dapat dipecahkan tak dapat aku berkisar dari tempat dudukku ini Aku sendiri tak dapat aku melanggar sumpahku, maka itu baiklah kau ke luar dari mana tadi kau datang disana kau cari jalan lain" Habis berkata dia merampula seperti tadi.

Tiong Hoa menjadi bingung cula hatinya bergelisah.

Dalam keadaan begini ia memikir secara pendek. ia angkat tangan kirinya kedepan dadanya, untuk menjaga, ia meluncurkan tangan kanannya, sembari berseru, ia menolak ke arah si orang tual berbareng dengan itu, tubuhnya pun maju

Dalam tempo hanya sedetik, lengan kiri orang tua itu sudah lantas kena dicekal, untuk ditarik kesamping, orang tua itu mau di bikin berkisar dari tempatnya bercokol.

Akan tetapi ketika Ttong Hoa sudah mencekal tangan orang, ia terkejut tidak terkira, ia merasa kena pegang lengan yang keras bagaikan besi, lengan yang licin sekali, ketika ia menarik. tangannya meleset dan lepas, telapakannya itu terasa sakit. Diluar kehendaknya, ia berseru dalam hati, ia lantas berpikir:

"Semenjak dalam guanya Yan Loei aku sadar dan dapat memahami Kioe Yauw seng Hoei sip-sam sie, tanganku menjadi kuat sekali, mungkin aku dapat memencet hancur emas dan batu, kenapa sekarang aku mendapatkan lengan orang tua ini mirip besi dan baja? Kalau begitu, dia benar liehay luar biasa."

Si orang tua tetap bercokol saja, tubuhnya tidak bergerak. matanya tidak dibuka, ia seperti tidak tahu bahwa orang mencekal tangannya dan dibetotnya. Tapi tak gampang Tiong Hoa putus harapan ia sekarang menolak dada orang.

Pemuda ini ingin keluar dari tempat buntu itu, bisa dimengerti kalau tenaganya terkerahkan semuanya.

Tiba-tiba si orang tua mementang matanya, yang bersinar seperti kilat, terus dia mengibas dengan tangan bajunya.

Tiong Hoa lagi menolak dengan sekuat tenaganya. atas kibasan itu, ia terpaksa mundur. Kembali ia menjadi heran dan kaget. hingga parasnya berubah. sambil bertahan ia berpikir, ketika ia terus kena tertolak, akhirnya ia menjadi berkuatir, sebenarnya ia sudah menginsafi kenyataan, kelunakan dapat mengalahkan kekerasan, toh ia tak lantas berhasil mempertahankan diri, ia berpikir keras sekali, ia pikirkan pula? Kioe Yauw seng Hoei sip-sam sie.

Tiba-tiba anak muda ini menyimpan tenaga perlawanannya. ia tidak bertahan terlebih jauh. Justeru ia tidak melawan, justeru berhenti tenaga menolak siorang tua. Dengan begitu, ia dapat berdiri diam tanpa mundur lagi, ia menjadi laga hatinya dan girang, Tapi ia tidak berdiam saja.

Perlahan-lahan ia mengerahkan pula tenaganya, Dengan tangan kiri ia menolak dengan jurus "Pouteie hoa-ie dari Kioe Yauw seng Hoei sip-sam sie, dengan tangan kanan ia menolak dengan jurua "It-goan-thay-kek dari sian-thian Tay it ciang, itulah dua tenaga keras dan lunak berbareng, tenaga im dan yang yang saling bantu hingga tenaganya menjadi besar berlipat ganda.

Orang tua ini mengasi lihat roman girang dengan mendadak rambut dan kumis seperti pada bangun berdiri Tolakan si anak muda membikin "tubuhnya" itu bergeming lalu bergoyang-goyang.

Atas itu dia tertawa berkakakan, sekonyong-konyong tubuhnya mencelat naik hingga ke langit guha, bersembunyi diantara cabang cabang dan daun daun yang lebat dari pohon piepa berwarna kuning emas itu.

Lie Tiong Hoa heran. ia pun melihat di- belakang tempat duduk si orang tua ada tembok batu gunung yang berpeta punggungnya orang tua itu. hanya tembok itu tetap rapat tak ada selah-selahnya seperti selah-selah pintu, tapi karena ia tidak lantas menghentikan tolakannya. mendadak ia mendengar suara nyaring sekali, itulah disebabkan tolakkannya mengenai tembok itu, yang terus gempur, hingga sekarang disitu terlihat sebuah lobang guha kira-kira dua tembok panjangnya.

Pula dari lobang itu lantas memancar sinar terangnya dunia yang bebas, yang untuk sejenak membuat mata si anak muda silau, sinar itu membikin guha yang gelap menjadi terang bagaikan diudara terbuka.

Menyusul pecahnya tembok itu, maka siorang tua sudah berlompat turun, tepat di- depan si anak muda, Dia berdiri sebatas dada orang. Dia tertawa bergelak. "Sungguh aku tidak menyangka kau memiliki ini tenaga besar luar biasa" katanya. Tak lagi dia bersikap 

garang atau dingin seperti tadi. "Apakah barusan kau bukan menggunai Poutee hoa ie dan It-goan thay-kek?"

Tiong Hoa mengawasi orang tua itu, ia heran berlipat heran, ia mementang matanya lebar-lebar. ia mendapat kenyataan bahwa si orang tua, kecuali ilmunya tinggi tak terbatas, juga matanya tajam, pengetahuannya sangat luas, Dalam sekejab saja dia mendapat tahu ilmu silat orang, Tapi ia jujur, ia lantas mengangguk.

"Tadi aku masih bersangsi sekali, menyaksikan bahwa dua rupa tenaga itu dapat keluar dari tubuhnya satu orang," berkata pula si orang tua, Aku si orang tua telah mengenai banyak orang, akan tetapi apabila aku bukannya melihat dengan mataku sendiri, haha. --tidak nanti aku mempercayai kepandaian kau ini. syukur ada kau maka sekaraog aku dapat memecahkan kesulitanku yang telah terbenam duapuluh tahun itu, segera juga aku si orang tua akan mengajak ketiga keraku ini berangkat pulang ke gunungku di Tanah Barat,"

Tiong Hoa tetap heran. Duapuluh tahun orang terbenam kesulitannya, duapuluh tahun dia menyiksa diri bertapa, dan sekarang, dengan dua jurus saja kesulitannya itu telah dapat dipecahkan? ia terus menatap orang itu.

"Loocianpwee," ia tanya hormat, "Apakah aku yang muda boleh mendapat tahu nama atau gelaran yang mulia dari loociaopwee? sebenarnya apakah itu kesulitan loocianpwee? sudikah loocianpwee memberitahukan semua itu?"

Si orang tua katai dan kurus tertawa, Dia agaknya girang luar biasa.

Namaku si orang tua, kaum Rimba persilatan di Tionggoan tak ada yang tahu." dia menyahut, “Sebaliknya di Barat, setiap keluarga akan mengetahuinya. Umumnya orang menyebut aku Ay sian. Ay katai dan sian dewa, Perihal kesulitanku itu, itulah urusan yang ada sangkut pautnya dengan rahasia perguruanku. baiklah kau menduga-duga sendiri saja.”

Dia tertawa pula dia menambahkan: "sekarang aku ingin mengajari kau ilmu silat Ie Hoa Ciap Bok, artinya, Memindahkan bunga menyambung pohon, itulah ilmu yang aku dapatkan tanpa sengaja selama aku berdiam duapuluh tahun disini, kefaedahannya besar sekali, umpama kata dengan itu, kau dapat meminjam tombaknya seorang untuk menusuk tembus tamengnya orang itu sendiri Dengan itu aku hendak membalas budi mu sudah memecahkan kesulitanku ini." 

Inilah Tiong Hoa tidak sangka, ia menjadi girang sekali, sebagai seorang yang mengenal aturan, ia lantas mau menjura guna menghaturkan terima kasih, Atau mendadak ia tercegah, tertolak oleh suatu tenaga yang besar, ia pun mendengar suaranya Ay sian si Dewa Katai: "tak usah pakai banyak segala adat-peradatan sekarang aku ajari kau teorinya untuk kau apakah habis itu kau boleh bercokol di sini selama dua jam kau pasti akan menginsafinya. orang dengan bakat dan kecerdasan sebagai kau itu tidak sulit untuk memahamkan dan menguasainya. Lalu tanpa menanti ketika ia membacai pelajaran itu.

Tiong Hoa menggunai kecerdasannya untuk mengingat-ingat.

Si orang tua menunjuk pohon piepa dan kata, "Itulah pohon yang langka, siapa makan buahnya, tubuhnya tidak bakal mempan racun atau bisa tenaga dalamnya bakal bertambah, jikalau seorang biasa memakan itu didalam tempo tiga tahun dia tidak batal dihinggapi penyakit. Kau ingat baik baik jalan ketempatku ini dibelakang hari buah ini bakal ada paedabnya yang besar untuk-mu."

Habis berkata itu tanpa menanti seperti tadi ia menggoyangi tubuh hingga menjadi lebih ringkas, sekonyong-konyong ia lompat molos diliang yang digempur anak muda itu hingga dalam sekejapan saja dia sudah menghilang pergi.

Melihat berlalunya si orang tua, ketiga kera berbunyi berlsik, lalu merekapun tak ayal lagi lari molos diliang itu. Berbareng dengan lenyapnya ketiga kera serta majikannya itu, Tiong Hoa merasa angin menyerbu masuk kedala ui gua itu, hingga angin itu seperti bernyanyi didalam guha, suaranya merdu terdengarnya

... Tiong Hoa merasa ia bagaikan bermimpi

"Benar benar aneh" ia ngelamun, "Kenapa dari Tanah Barat dia datang ke Kanglam ini? Kenapa dia menyiksa diri didalam gua? Kenapa selama duapuluh tahun tak dapat dia memecahkan kesulitannya itu? Kenapa dia terkurung disini? Tembok dibela kang nya itu mesti buatan lain orang? Kenapa dia bercokol tak bergerak?

Ah" Bingung anak muda ini.

“Jangan-jangan seumurku juga tak dapat aku memecahkan teka-teki ini..." katanya kemudian. Matanya lantas bentrok dengan buah piepa, lantas ia mengulur tangannya, memetik sembilan biji, untuk ia terus makan. Habis itu ia duduk bercokol, untuk memusatkan pikirannya guna menghapa1 pesannya Ay sian, atau warisan ilmu Ie Hoa Ciap Bok itu.

Benar seperti kataaya si Dewa-kate, dalam tempo dua jam, ia lantas ingat ajaran itu, ia lantas paham hingga ia menjadi girang sekati, ketika ia berbangkit, ia menyambar pula belasan buah piepa, untuk dimasuki ka dalam sakunya. Baru setelah itu. ia merayap keluar dari pintu istimewa itu.

segera setelah berada diluar, Tiong Hoa mendapatkan dirinya diantaranya puncak bukit, ia menoleh kesekitarnya, ia melihat pepohonan yang hijau-hijau, yang daunnya lebat. Angin meniup, niup mendatangkan rasa dingin- ia memperhatikan, lantaran ia bersiul nyaring dan panjang, hingga ia mendengar kumandangnya ditengah lembah, inijusteru membikin dadanya menjadi lapang.

Lagi sekali ia memperhatikan sekitarnya, baru ia memutar tubuh, untuk berjalan turun.

Tatkala akhirnya Tiong Hoa tiba dikota Kimleng, itu waktu sudah waktunya lampu dipasang terang-terang, hingga kota itu menjadi bercahaya dan ramai seperti biasanya. orang mundar-mandir kereta- kereta berlalu lintas. ia nelusup diantara orang banyak untuk pulang ke Thian siang Kie di Koe-lauw Barat.

Pelayan menyambut dengan hormat, sembari tertawa ia kata: "Nona Phang. sudah berangkat tadi tengah hari ke Utara, ia memesan kalau kongcu pulang untuk membilangi kongcu bahwa ia menuju ke Tok-Iok, ia memujikan kongcu." Tiong Hoa melengak, Tahulah ia si nona mendongkol karena tak pulangnya itu. "Bagaimana roman si nona ketika ia pergi?" ia tanya.

Sepasang matanya merah dan bengul, rupanya ia habis menangis." sahutnya.

Tiong Hoa berdiam, masgul dan menyesal ia merasa kasihan terhadap Lee Hoen yang mencintai padanya.

"Apakah ada lain orang yang mencari aku?” ia tanya pula. pelayan itu menggeleng kepalanya.

Sampai disitu, dengan tindakan cepat, Tiong Hoa pergi pula, untuk menuju ke cin Hoay Hoo.

Malam ini terang dan Jernih, si puteri Malam indah Aogin bertiup perlahan.

Selagi mendekati Hoe cau Bio, Tiong Hoa mendapatkan jalanan ramai, suara orang berisik ditambah dengan riuhnya suara tambur la tidak menghiraukan itu bahkan ia terus lari hingga ia berada ditepi sungai di mana banyak perahu milir dan mudik. Disini ia bingung juga tidak tahu di mana tempatnya Ban In, ia cuma mendengar disebutnya In Hong Wan-

Terpaksa ia menanya orang, orang yang ditanya itu tertawa, Dia menyangka kepada si pemogoran, Tapi orang itu membilangi juga. jalan lempang kesana sampai digang ke tiga, itulah rumah nomor dua disebelab timur"

Mukanya si anak muda merah. ia membuang terima kasih, lantas ia berjalan pergi kearah yang ditunjuki itu. setibanya ia terus bertindak masuk. Segera ia berpapasan dengan si pelayan cilik, yang ia lihat romannya berduka, pelayan itu mengenali ia, dia terlihat kaget, lantas dia memutar tubuh dan lari menjerit-jerit. "Ada setan. Ada setan." Tiong Hoa heran-

"Apakah artinya ini?" ia tanya dirinya sendiri ia bertindak terus Di pekarangan dalam, di cim hee, ia melihat Wan Nio lagi berdiri dengan pelayannya bersembunyi di-belakaogoya Nona itu kaget,

"Lie Kongcu." tanyanya melengak, "Benarkah kau belum mati?" Tiong Hoa tetap heran.

"Bukankah aku masih hidup?" ia membalik "Apa artinya ini?" Nona itu menjadi bingung.

"Tiauw Eng yang jahat yang mengatakannya." katanya, "Encie Ban-in mendengar kau mati, dia kaget dan menangis hingga lupa" lupa orang, karena itu, diam- diam dia menelan racun-..."

Tiong Hoa kaget sekali.

"Dimana dia sekarang?" ia tanya cepat, Matanya Wan Nio basah, ia lantas menangis. "Setelah aku tahu dia makan racun, aku lantas memanggil tabib." ia kata. Sekarang ia sudah sadar, Tapi tabib bilang, lantaran racunnya hebat, ia cuma akan dapat hidup beberapa hari lagi. Tiong Hoa berdiam.

"Mari." katanya, menarik tangannya Nona Ue.

Bersama-sama mereka pergi kekamar Ban in- Nona itu rebah tak berdaya, kedua tangannya tersingkap dari selimutnya, rambutnya kusut, mukanya sangat pucat, kedua matanya tertutup rapat, Dipinggir pembaringan ada seorang wanita tua, yang romannya berduka, Dia berbangkit memberi hormat ketika Tiong Hoa masuk bersama Wan Nio.

"Encie Ban in" Wan Nio mendekati dan memanggil "Lie Kongcu tidak mati, ia telah kembali."

Tiong Hoa lantas mencekal tangan orang. "Ban in-" katanya halus. "Kau kenapa?"

Nona itu membuka matanya perlahan-lahan. Melihat si anak muda, matanya yang guram bersinar dengan mendadak.

"Tidak apa aku mati," kata dia perlahan. "Asal kongcoe selamat, mati pun aku meram."

Tiong Hoa terharu, hingga ia mengalirkan airmata.

Dalam kedukaannya itu, ia ingat buah piepa dan pembilangannya Ay sian bahwa buah itu dapat memunahkan racun- segera ia mendapat harapan.

“Jangan takut, Ban-in." katanya hampir berseru, "Kau dapat ditolong." ia lantas merogo sakunya, mengeluarkan buahnya. Makan ini." katanya pula, lalu ia masuki buah itu ke dalam mulut si nona, ia menyuapi terus, sebuah demi sebuah. Ban-in makan buah itu, buah yang benar-benar manjur. Habis makan buah itu, ia berdiam, matanya dirapatkan, Agaknya ia letih sekali, Tidak lama terlihat mukanya yang pucat berubah menjadi dadu, Lantas ia tidur pulas.

Hati Tiong Hoa lega, itulah alamat baik. "Mana saudara Lin?" kemudian ia tanya Wan Nio.

"Dia gusar kepada Tiauw Eng, karena berita celakanya itu," sahut si nona "Tiauw Eng juga jumawa sekali, Dia lantas menyerang. Tiauw Eng kalah, ia kabur, Tapi dia pun terluka lengannya maka sekarang dia lagi tidur di kamarku..."

"Mari." Tiong Hoa mengajak, ia menarik pula tangannya si nona. Wan Nio mengikut. bahkan lantas ia berjalan di muka.

Di dalam kamar Lin tiang-keng kedapatan lagi berduduk di pembaringan. Melihat si anak muda dia tertawa, Dia lantas kata, “Barusan budak memberitahukan aku kau sudah pulang dan lagi menolongi Nona Ban in, aku girang sekali, Dialah nona yang baik sekali yang tak segan mengurbankan dirinya.”

Mukanya Tiong Hoa merah. "Bagaimana dengan lukamu, saudara Lin?" dia tanya.

Tiang Keng tertawa.

"Luka ini tak berarti" sahutnya "Bangsat she Tiauw itu telah aku hajar hingga dia muntah darah. Dia tentu bakal rebah beberapa hari di pembaringan.” ia nampak puas, kemudian ia tanya: "sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kau saudara Lie?"

Tiong Hoa tuturkan bagaimana ia mengejar Tiauw Eng dengan sia-sia, sampai ia terbokong dan masuk ke guanya Ay sian. Habis mendengar itu Tiang Keng tertawa.

"Kalau bukan liciknya si bangsat she Tiauw, mana dapat kau bertemu dengan orang lihay itu?" katanya. "tak beruntung adalah aku yang tidak menemukan sesuatu."

Tiong Hoa bersenyum, tapi mendadak terlihat terkejut mendadak tubuhnya mencelat keluar jendela.

Tiang Keng dan Wan Nio kaget, mereka melengak. Justeru itu dari luar jendela mereka mendengar jeritan yang mengerikan, tak lama, Tiong Hoa sudah lompat masuk pula, sebelah tangannya menenteng satu orang. yang ia gabruki dimuka mereka.

"Apakah kau disuruh si bangsat she Tiauw? dia tanya bengis, "Mau apa kau datang kemari? Dimana bangsat she Tiauw itu? Lekas bicara"

Matanya orang itu mencilak diam-diam. Tiong Hoa tidak gusar, sebaliknya ia tertawa.

"Aku tidak sangka kaulah satu laki-laki" katanya, "Asal kau dapat bertahan terus akan aku merdekakan kau" dengan lima jarinya ia lantas menotok punggung orang.

Bukan main kagetnya orang itu, tubuhnya lantas meng kerat dan menggigil ia merasakan sangat sakit, Lima jeriji si anak muda bagaikan gaetan besi nancap didaging, terus terasa seperti menusuk-nusuk sakitnya tak terkirakan. Mukanya menjadi pucat dan meringis. Mau atau tidak, dia merintih.

"Nanti aku bicara..." katanya suaranya menggetar dan terputus-putus.

Tiong Hoa bersenyum ewah, ia menarik pula tangannya. "Aku kira kau bertubuh besi dan baja." katanya, Kiranya kaulah si kepala harimau ekor ular, Lekas bicara."

Orang itu mengasi lihat sinar mata penasaran, ia paksakan diri tertawa ketika ia berkata. "sekarang ini Tiauw Eng berada di Kwie In Chung di Liok-hap timur lagi merawat lukanya, Aku Coei Cang Hok. aku diperintah dia datang kemari untuk menyampaikan kabar kepada Lin Loosoe yang diundang dua hari lagi harus datang kedusun itu guna membereskan perhitungan, inilah perkataan ku, kau percaya atau tidak. terserah kepada kau, Aku telah dibokong tinggal kau suka, kau hendak bunuh atau bagaimana, Asal aku masih hidup, dimana kita bertemu, d is ana kita membuat perhitungan."

Tiong Hoa mengasi lihat roman bengis, tangan kanannya digeraki, ia panas hati untuk kepala besar orang ini.

Tiba-tiba sinarmata Keng Hok berubah darigusar, dia menjadi ketakutan sekali. Terang dia menyesal sudah omong besar itu.

"Saudara Lie, ampuni dia," Tjang Keng berkata, "segala tikus tak dapat mengotorkan tanganmu"

Tiong Hoa batal menghajar tetapi kakinya menyontek tulang bwee-kiong orang itu seraya ia membentak "Pergilah Kau bebas tapi tidak dari hukuman hidup,"

Tubuhnya Keng Hok terangkat dan terlempar keluar jendela, hingga dia menjerit keras, Dia terbanting, sebagaimana suara robohnya kedengaran Dia merasa sakit sekali, hingga dia merintih Dengan paksakan diri dia merayap bangun, untuk berlalu dengan tindakan berat. "Cukuplah dupakan ini," kata Tiang Keng. "Untuk tiga tahun tak nanti dia dapat menggunai lagi tenaganya."

Tiong Hoa memandang tajam kepada sahabatnya, yang matanya liehay, Memang ia telah membikin Keng Hoa, Tiang Keng bersenyum dan berkata. "Akulah murid Boe Tong Pay, biasanya aku berpandangan tinggi, tetapi melihat kau, saudara Lie, aku tidak berarti..."

“Jangan merendah, saudara Lin-" kata si anak muda "Kau membuat aku malu "

Tiang Keng dongak. lalu la menggeleng kepala dan berkata perlahan "Aku tidak sangka bahwa Coan in-yan Kwie Lam Ciauw juga bergaul dengan orang Rimba Hijau golongan buruk. Pernah aku bertemu dengannya, aku menyangka dia seorang gagah sejati, siapa tahu, diluar dia nampak mulia, hatinya sebenarnya licik.

Dengan keterangannya Coat Keng Hok ini tak aku bersangsi lagi." ia hening sejenak. ia menambahkan "Saudara Lie, kenapa aku mencegah kau membinasakan orang tadi? Kalau sebentar dia pulang, dia pasti menemui ajalnya. Aku tidak percaya dia datang untuk menyampaikan tantangan, sebenarnya dia hendak melakukan penyerangan gelap. lantaran aku pergoki dan membekuknya, dia berikan pengakuannya itu. Kwie Lam Ciauw jahat, dia tentu tak suka orang ketahui kejahatannya itu. Mana bisa Keng Hok diberi ampun?"

Tiong Hoa orang hijau tak kenal ia pada Kwie Lam Ciauw, ia bersenyum, ia kata dalam hatinya: "Kembali pengalamanku tentang orang Kang ouw sungguh hebat" Tiauw Eng dan Keng Hok jahat, siapa tahu ada yang terlebih jahat pula, ini Kwie Lam Ciauw tentulah segolong dengan Yan Loei." Tiang Keng melihat orang berdiam, ia hendak berkata pula ketika ia ingat suatu apa, ia lantas menepuk pahanya dan kata: "Ah, kita berada dalam bahaya, Kwie Lam Cia uw tentu membunuh Coei Keng Hok. habis itu, dia pasti akan mengirim orang ke mari guna membinasakan kita, guna menutup mulut kita semua, tak usah sampai besok malam, algojo-algojonya itu pasti akan sudah sampai di sini."

Wan Nio kaget hingga mukanya menjadi pucat, Nona ini takut.

Tiong Hoa pun melihat sinar mata jeri dari Tiang Keng, ia justeru menjadi gusar.

Tanpa merasa ia menanya: "Apakah Kwie Lim ciauw ada sedemikian lihai hingga dia dapat membandingkan diri dengan KimlengJie Pa, Im San Siang Koa^ danBoe- eng Moei Long Khoe cin Koen?"

Mendengar itu, Lin Tiang Keng kaget, Pantas orang ramai berceritera Kim leng Jie Pa kedapatan mampus di Ie Hoa Tay dengan kepala dan tubuhnya terpisah, kiranya mereka mampus di tangan kau saudara Lie" katanya.

Tiong Hoa melengak, la menyesal sudah keterlepasan kata.

“Jangan salah mengerti saudara Lin," ia kata, “Mana sanggup aku berbuat demikian-itulah perbuatannya ketiga sahabatku, Sekarang ini dua sahabatku lagi mengejar Boe-eng Hoei Long, sudah dua malam mereka belum kembali Aku berkuatir juga buat mereka.." Tiang Keng menyaksikan kata-kata orang.

“Jangan kuatir, saudara Lie," katanya tertawa, "Aku cuma mempercayai keterangan kau lain tidak." Biar bagaimana, hati Tiong Hoa tidak tenang, Disaat ia hendak berkata pula, ia melihat seorang muncul didepan pintu, Itulah Ban in yang cantik, yang sekarang sinar matanya bercahaya penuh rasa syukur, Nona itu bertindak masuk untuk terus menjura kepada

Si anak muda seraya berkata manis: "Kengcoe, aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih atas pertolonganmu kepada jiwaku.." Tiong Hoa bingung.

"Tapi, nona, itulah kejadian yang disebabkan olehku." katanya, "Aku justeru menyesal sudah menyerempet- rempet kau." ia tidak dapat meneruskan, ia cuma melongo mengawasi si nona.

"Sudah sudah" Tiang Keng menyela sambil tertawa, "Asal saudara Lie tidak menyia-nyiakan Ban In. tak usahlah kau mengucap terima kasih.." Mukanya si anak muda merah, ia likat sekali

Habis itu, Ban in tertawa, begitu manis, hingga hati Tiong Hoa tergiur.

Wan Nio lantas menarik tangan Ban In, untuk diajak duduk bersama, buat menanyakan kesehatannya.

"Saudara Lin, bagaimana kau rasa lukamu?" tanya Tiong Hoa habis berdiam sekian lama, sedang kedua nona itu bicara terus dengan asyik.

Lukaku tidak parah, cuma aku masih kurang leluasa menggeraki tanganku," sahut Tiang-keng- “Mungkin lagi setengah atau satu hari, aku akan sudah sembuh betul.” Tiong Hoa mengangguk.

Sementara itu selagi bicara, Ban-in mengawasi si anak muda, ia melihat pinggang orang sedikit munjul, ia lantas tanya kenapa itu. Tiong Hoa tunduk akan melihat, tiba-tiba ia ingat sisa buah piepa yang ia bekal, ia lantas tertawa sendirinya.

"Ah, aku lupa" katanya, ia lantas mengeluarkan buahnya itu. ia kata. "Saudara Lin, Mungkin ini akan menolong lukamu" ia lantas memberikan tiga biji, Yang dua ia berikan Ban-in dan Wan Nio seorang sebiji.

Tiang Keng lantas makan buah ini, yang rasanya manis dan lezat.

Wan Nio tertawa dan kata, "tadi aku berjalan bersama kau, Lie Kengcu, Aku mendapat cium bau harum, tak tahu itulah buah ini. Aku tadinya menyangka "

"Kau menyangka Lie Kengcoe membekal pupur dan yancie untuk Ban in" kata Tiang Keng tertawa.

Tiong Hoa dan Ban In saling melirik. keduanya bersenyum.

"Ah, sekarang sudah malam." kata Tiang- Keng kemudian "Aku sudah ngantuk dan ingin tidur, saudara Lie, silahkan kau kembali ke kamarmu."

Tiong Hoa melengak. Ia berdiam, inilah sulit, tapi ia lantas merasa bajunya ada yang narik, ketika ia berpaling, ia melihat Ban In mengawasi padanya. Maka terpaksa ia mengajak nona itu mengundurkan diri.

Diluar. Berdua mereka berdiri di Cim chee. Rembulan permai sekali. Angin bersilir halus menyiarkan bunga, Lama mereka menggadangi si Puteri Malam, baru kemudian mereka masuk ke kamar.

Begitu sang pagi datang, Lin Tiang Keng sudah keluar dari kamarnya, Lengannya sudah sembuh betul, ia mengasi uang pada nyonya rumah, untuk menebus Ban In dan Wan Nio. Ia memberikan kertas berharga seharga enam puluh ribu tahil perak.

Ketika Tiong Hoa habis berdandan keluar dari kamar, ia melihat Tiang Keng dengan wajah gembira, dan sahabat itu, sembari ter tawa, berkata padanya: "Saudara Lie, mari kita pindah. Aku telah membeli sebuah rumah dipintu cip-poo dan telah diperlengkapi juga, Mari kita tinggal bersama, Rumah itu terdiri dari tiga undakan-"

Tiong Hoa heran, ia ingin menampik seraya menghaturkan terima kasihnya, sebelum ia buka bicara, terlihat nyonya rumah lagi menghampirkan, dia lantas berkata: "Tuan-tuan, diluar ada empat tetamu, katanya mereka menerima titahnya Kwie Chung-coe untuk menemui tuan-tuan berdua, Mereka membawa sebuah keranjang." Tiang Keng mengerutkan alis.

"Suruh mereka masuk." ia berkata, Ketika nyonva itu sudah pergi, ia berpaling pada Tiang Hoa dan sembari tertawa, berkata: "Apa aku bilang, Aku cuma tidak menyangka kejadiannya begini cepat."

Sepasang alisnya Tiang Hoa terbangun ia nampak gusar.

segera juga muncul empat orang dengan tubuh besar dan kekar, yang membekal golok.

Yang jalan dimuka beralis gompiok dan sepasang matanya sangat tajam, melihat pelipisnya, dia mesti mengerti ilmu tenaga- dalam baik sekali. Dia lantas memberi hormat dan berkata sambil tertawa: Aku yang rendah Lor siauw Hong, aku di utus Kwie Chung coe untuk menemui kedua tuan- Aku pun telah membawa dua rupa bingkisan, melihat mana pastilah tuan-luan akan mengerti maksudnya kongcoe kami," Habis berkata, ia menggapai kepada tiga kawannya.

Seorong maju dengan sebuah keranjang bambu, untuk diserahkan pada Lin Tiang Keng. Belum lagi membuka tutup keranjang itu. Tiang Keng sudah mencium bau amisnya darah

hingga ia terkejut setelah ia membuka ia melihat dua kepalanya Tiauw Eng dan Coei Keng Hok, mata mereka itu mencilak mulutnya terbuka, memperlihatkan gigi mereka, Roman mereka itu menakuti.

Lie Tiong Hoa giris hati, Untuknya pemandangan itu tak biasa. Tapi ia mengawasi Lo siauw Hong dan kata: "sungguh Kwie chungcu seorang budiman Tolong Lo Loo- soe menyampaikan hormat dan terima kasih kami"

Lo siauw Hong mengangguk. la kata, "Nanti aku sampaikan. Hanya tadi malam di waktu menghukum Goei Keng Hok. Lle Tay-hiap ada sedikit keterlaluan"

Tidak senang Tiong Hoa mendengar itu, "Apakah Lo losoe mau menuntut balas untuk Keng Hok?" ia tanya. Alisnya siauw Hong bangun.

"Benar, Hendak aku menuntut balas untuk adik seperguruanku, sahutnya. Tiang Keng lantas maju setindak.

"Lo Loosoe." katanya, "Aku si orang she Lin tidak mau menghalang-halangi kau menuntut balas untuk adik seperguruanmu itu. Aku cuma mau menanya, adakah Kwie Chungcu mengetahui sepak terjangmu ini?"

Matanya Siauw Hong memain, agaknya dia terkejut, Tapi dia tertawa dingin- "Tentang itu tak usah la h Kwie Chungcu campur tahu." katanya, Kalau aku kalah, lantas aku tak akan rewel lagi." Tiang Keng tertawa.

Telah lama aku mendengar tentang ilmu golok Poen Loei Too-hoat kau, Lo Loosoe," katanya, "Kau telah menggemparkan dunia Kang ouw, cuma aku minta janganlah kau memandang enteng kepada ini adik angkatku."

Lo siauw Hong tidak puas, hendak ia menegor orang she Lin itu, atau mendadak ia merasa angin bersiur diatasan kepalanya, ketika ia berpaling dengan cepat, ia melihat Lie Tiong Hoa sudah berada di cim chee lagi berdiri dengan empat buah golok mengkilap di tangannya, mukanya bersenyum manis, ia lantas merabah ke punggungnya terus ia berdiri menjublak. mukanya pucat, ia mendapat kenyataan, goloknya tinggal sarungnya saja. juga ketiga kawannya pun kaget, Mereka juga kehilangan golok mereka.

Dari kaget, mereka itu bertiga menjadi gusar. maka mereka lari kepada Tiong Hoa, untuk menerjang. Tapi mereka tidak berhasil mengepung, bahkan mereka terhuyung mundur, tangan mereka semua memegangi kedua belah ^ici mereka masing-masmg mata mereka terbuka. 

Ketika tadi mereka menerjang, muka mereka lantai mengisi dengar suara Plak-plok nyaring

Lin Tiang Keng heran bukan main, ia melihat muka mereka itu merah dan bengap. sebagai akibat gaplokannya Lie Tiong Hoa, Anehnya adalah si anak muda bergerak sebagai kilat dan lompatannya tinggi, sedang tiga orang itu pasti bukan sembarang orang. "Tuan, kau mata cara menbokong, apakah ini caranya satu enghiong?" Lo siauw Hong membentak. Dia kaget tetali dia gusar.

Tiong Hoa mengawasi orang she Lo itu, ia tanya bersenyum: "Seorang yang belajar silat, telinganya tak terang, matanya tak tajam, maka dia sama juga tak belajar silat Aku yang rendah berdiri dekat sekali dengan Lo Loosoe, tetapi aku mengambil senjata kamu seperti aku merogo sakuku, apakah artinya itu? Diandaikan aku hendak merampas jiwa-mu, Lo Loosoe, tidakkah itu sama gampangnya seperti aku membalik telapakan tangan-ku? Tapi aku yang rendah tidak mau berlaku keterlaluan Maka itu suka aku memberi nasehat untuk Loosoe beramai pulang saja, jangan kamu bersikap begini garang."

Lo siauw Hong melihat mata orang tajam seperti anak- panah menikam, ia bergidik sendirinya. Didalam hatinya, ia kata: "Orang ini masih sangat muda tetapi dia sudah sangat lienay, terang dia tak dapat dibuat permainan.

Baiklah aku mencari tempo, untuk dibelakang hari aku membalas kepadanya.

Lalu ia bingung apa ia mesti bilang, untuk dapat mengundurkan diri, mundur dengan diam saja berarti malu besar. segera ia juga mendapat jalan, ia membentak: "Jangan kau terlalu menghina. Aku Lo siauw Hong, aku bukan orang sembarang silahkan tunjuki kepandaianmu supaya aku puas."

Tiong Hoa tidak menjawab hanya ia mencelat tinggi, terus ia menggeraki tangannya, atas mana keempat batang golok nancap di papan payon, terus bergoyang- goyang tak hentinya, tubuhnya sendiri cepat turun pula, untuk berdiri didepan orang she Lo itu.

Lo siauw Hong terperanjat. Baru ia melihat orang berkelebat silau orang itu sudah menghadapi padanya, tanpa merasa, ia menjadi jeri sendirinya.

"Bagaimana sekarang. Lo Loosoe?" Tiong Hoa tanya, sikapnya dingin, "Bilanglah, aku yang rendah senantiasa akan mengiringi kau." Hanya bersangsi sejenak. siauw Hong menjawab.

"Dengan Hek Eng ciang-tek ingin aku mencoba kekuatan tangan tuan" ia kata.

Lin Tiang Keng terkejut mendengar tantangan itu. ia tahu Hek Eng ciang-lek, atau tenaga Garuda Hitam, lihai sekali, tangan itu dapat meremukkan batu bata ada racun nya juga, racun mirip pasir yang berada di telapakan tangan.

Siapa terkena racun itu, tangannya bakat menjadi busuk. dan kalau racun sampai di jantung, melayanglah jiwa dari kurban, pelajaran itu meminta tempo tiga tahun, baru terlatih sempurna, sebaliknya kalau gagal, tangan kita sendiri bakal bercacad dan racun akan makan jantung sendiri.

Siauw Hong pandai ilmu silat itu, mestinya dia lihai, tidak bisa lain, ia melirik untuk menasehati kawannya waspada.

Tiong Hoa bersenyum, ia seperti tidak memandangnya sungguh-sungguh.

"Baiklah." katanya bersenyum kepada siauw Hong. "sebelum sampai di sungai Hong Hoo. kau tentu belum puas." "Hm." siauw Hong menjawab, Terus ia mengerahkan tenaganya ditangannya, siap untuk mengadu kekuatan.

Sinar matahari memancar ke muka Tiong Hoa, hingga nampak mukanya yang tampan dan terang.

Suasana lantas menjadi tegang sekali.

Tiga kawannya siauw Hong mundur ke depan jendela, matanya mengawasi ke gelanggang. Masih mereka memegangi pipi mereka, Lin Tiang Keng bersiap dipinggiran.

Ban In dan Wan Nio berdiam didalam kamar, mengawasi darijendela, tangan mereka keringatan, hati mereka berdebaran, lebih-lebih nona Ho dadanya sampai guncang.

Lie Tiong Hoa mengawasi mata orang, tanpa andalan, tidak nanti Siauw Hong berani menantang mengadu tangan. ia melihat tangan orang menjadi hitam gelap. hingga surup dengan nama ilmu silatnya, Hek Eng atau Garuda Hitam.

Diam-diam ia memikir bagaimana harus bertindak.

Diam-diam juga ia melirik kepada Ban In bertiga, kepada ketiga musuh lainnya.

Begitu ke dua pihak sudah siap. mendadak Lo siauw Hong berseru nyaring, membarengi gerakkan kedua tangannya.

Tiong Hoa mendengar dan melihat, Dengan sebat ia menggeser tubuhnya kekanan, sembari menggeser, ia mengeluarkan tangan kirinya, untuk dipakai mengibas ke kiri.

Siauw Hong melihat gerakan orang, dia tertawa dan dia kata d idalam hatinya itu "Kau cari mampus, ya?" Dia menyerang terus, tapi tiba-tiba dia terkejut, serangannya ini tertolak kekanan, lalu dia mendengar jeritan hebat dari tiga kawannya yang berada di samping kanannya itu. Mereka itu roboh bagaikan tembok ambruk. Dalam kagetnya ia berpaling. Lantas, dia kaget di susun kaget.

Tiga kawan itu roboh mandi darah, rusuk mereka pada patah, Bahkan jendela di belakang mereka turut roboh dan pasir kapurnya gempar. Dia kaget dan bingung, hingga dia mau menduga lawannya pandai ilmu sesat.

"Celakalah jikalau aku melayani terus." pikirnya, lantas ia memberi hormat dan berkata, "Aku si orang she Lo tidak dapat melawan kau, tuan, Maka itu selama aku masih hidup aku harap nanti dapat bertemu pula dengan kau," Habis berkata ia memutar tubuhnya terus ia lompat untuk naik keatas genteng.

"Turun," Tiong Hoa membentak seraya sebelah tangannya diulur, sedang kakinya menjejak tanah hingga tubuhnya melesat menyusul tangannya itu mulur tiga kaki. Pundak Siauw Hong kena dijambret lantas dia tertarik balik turun ke tanah. orang sbe Lo itu kesakitan hingga ia mengeluarkan keringat dingin. "Orang she Lie, benarkah kau begini kejam?" Dia tanya, membentak.

Tiong Hoa tertawa dingin.

“Jikalau aku hendak mengambil jiwamu mudah sekali," sahutnya, “tak nanti aku menunggu sampai sekarang ini. Aku menghendaki begitu kau datang, begitu kau pergi." ia melepaskan cekalannya, ia menunjuk ketiga kurbannya,

Siauw Hoog tunduk. la bertindak kepada mayat tiga kawannya, ia membukai ikat pinggang mereka itu, untuk mengikat tubuh mereka satu pada lain, setelah itu ia mengangkatnya, untuk dipanggul, buat terus di bawa berjalan keluar.

Pecundang ini baru berjalan dua tindak, maka dari atas genting terdengar suara membentak yang seram ini: "Lo siauw Hong berhenti"

Suara itu tidak keras, tetapi menusuk telinga. siauw Hong berhenti lantas, mukanya menjadi pucat, tubuhnya terus menggigil

Menyusul suara itu muncullah orangnya serta dua kawannya, Yang satu didepan, yang dua dibelakang. Mereka semua beroman aneh, sebab tubuhnya kurus- kering dan mukanya bengis dan dingin, Yang didepan mengenakan baju panjang merah. matanya tajam, usia nya lima puluh lebih, kepalanya mirip kepala mencak. matanya mirip mata tikus, dan kumis jenggotnya yalah kumis jenggot kambing gunung.

Muka tikusnya itu bersinar bagaikan kilat, Dua yang dibelakang yalah Im Kee siang Koay dari Bok boe, ketika mereka ini berdua mengenali Tiong Hoa, mereka terkejut. Air mukanya lantas berubah tanpa membilang apa-apa keduanya lompat pula naik kegenting, Untuk segera menghilang.

Si orang tua baju merah heran melihat dua kawan itu kabur tidak keruan, tetapi dia tidak menghiraukan bahkan dengan satu lompatan, dia sampai dihadapan sipemuda she Lie, untuk menanya dengan dingin, "Apakah Bok-hoe siang Koay kenal kau?" tajam suaranya, tak sedap terdengarnya.

Tiong Hoa tahu kenapa Im Kee siang Koay mengangkat kaki, Mereka itu jeri terhadapnya, ia mendelu melihat orang tua ini bersikap sangat jumawa dan galak, Meski tidak menjawab hanya menanya, perlahan "siapa kau? kenapa kau begini kurang ajar dihadapanku?"

Orang tua itu tertawa aneh, ia pun tidak menjawab, hanya mendadak sebelah tangannya meluncur menyamber dada orang, karena dia kurus-kering, tangannya mirip Ceker ayam. Tiong Hoa terbangun alisnya, tubuhnya mencelat kekiri

Si orang tua tidak berhenti karena kegagalannya itu.

Tubuhnya mencelat maju, tangannya meluncur pula, lima jarinya terbuka.

Si anak muda terperanjat juga menyaksikan kegesitan orang itu. ia berkelit pula, ia memasang mata, ia tidak mau membalas.

Sepasang mata si orang tua berkeredep. Lagi-lagi dia mencelat, Ketika tangannya menyamber kembali, sekarang bukan lagi dengan sebelah tangan hanya dua- duanya. Bisa di mengerti bahwa dia bergerak terlebih hebat pula. samberan itu memperdengarkan suara anginnya.

Tiong Hoa menjadi gusar, ia berkelit seraya memutar tubuh, Dengan begitu ia tak usah pergi jauh. sembari berputar itu, ia angkat kedua tangannya, lalu sambil berbalik ia menghajar, dari atas menekan ke bawah, itulah gempuran Guntur. Tangan mereka bentrok. nyaring suaranya.

si orang tua kaget, kedua tangannya tertindih, kedua tangan itu terasa nyeri sekali, selagi tertindih itu, ia menarik turun, Begitu bebas, ia mengawasi, kaget dan heran romannya. Tubuh Tiong Hoa mumbul sedikit, lalu turun pula ia tertawa dingin dan kata: "Di waktu siang benderang ini segala hantu pun muncul, jikalau aku bukan takut membikin dunia kaget, maka tiga mayat itu yalah contoh mu," ia menunjuk mayat bermandikan darah dipunggung Lo siauw Hong.

"Hm" orang tua itu bersuara, ia masih tidak takut, ia merogo sakunya, mengeluarkan sebuah peles yang terisi obat bubuk, peles mana ia lemparkan pada Lo siauw Hong.

Orang sbe Lo itu menyambuti, tanpa mengatakan apa- apa, ia peluruhi isinya, yalah obat bubuk itu, ditubuh ketiga mayat, ia tidak usah menanti lama akan menyaksikan semua mayat itu menjadi air kuning. Habis itu Siauw Hong menghampirkan orang tua itu, untuk berbisik.

"Ayoo susiok." katanya, "baiklah soesiok cari lain tempat bekerja, Tak nanti mereka ini dapat lolos"

"Hm" orang itu bersuara lagi, Lantas tangannya menjambret Siauw Hong, terus tubuhnya berlompat, ia rupanya mau mengajak pergi keponakan murid itu, yang memanggil ia soesiok, atau paman guru.

Tiang Hoa tertawa, tangannya meluncur menyambar.

Orang tua itu liehay, dia menyingkir tapi bukan buat menyingkir terus, justeru dia disamber. dia terus jumpalitan hingga dia lewat diatas kepala si anak muda, hingga dilain saat dia berada dibelakang orang. Disinilah, dengan sepuluh jarinya yang tajam, dia menyambak punggung orang.

Lie Tiong Hoa mendapatkan samberannya tak memberi hasil. Disamping terperanjat, ia juga heran, tetapi ia mengerti keadaan. Ia dapat menerka. Maka itu, sebelum ia me mutar tubuh, ia berlompat maju dua tindak setelah itu barulah ia berbalik dengan cepat sembari berbalik, ia menyerang. ia menduga orang mestinya menyusuli menyerang padanya.

si orang tua sudah menyusul dan menyerang, akan tetapi melihat orang melesat ke depan, dia tahu penyerangannya bakal gagal, justeru musuh membalas menyerang, dia berlompat mundur. Dia tidak mau melawan terus. selagi mundur, dia mengawasi tajam.

"Kau murid siapa?" dia tanya, "Pantas kau galak sekali, kiranya kau benar-benar mempunyai dua macam kepandaian yang lihai."

"Bukan hanya dua macam." Tiong Hoa menjawab sengaja berlaku jumawa, ia benci sekali kegalakan dan kejumawaannya orang tua ini dan kawan-kawannya yang berani datang menyateroni saling susul itu, Habis berkata ia maju melompat ketinggi.

Ruang di mana mereka berada tinggi tiga tombak. hampir kepala si anak muda membentur wuwungan, atau mendadak ia turun pula, dengan tubuhnya jumpalitan, hingga kepalanya ada dibawah dan kedua kakinya di atas.

sembari turun itu ia mengulur kedua tangannya, untuk membalas menyerang.

si orang tua berbaju merah kaget, ia mengangkat kedua tangannya untuk menangkis. Kembali ia menjadi kaget. Kedua tangannya itu tergempur hebat sampai dadanya pun terasa sesak. tidak ayal lagi ia lompat keluar, untuk kabur diatas genting. "Kemana kau hendak kabur?" Tiong Hoa membentak. tubuhnya melesat seperti anakpanah, mengejar orang tua itu, tangannya pun diluncurkan-

"Bret." begitu satu suara nyaring, lantas di tangan si anak muda terlihat cuilan baju yang tertiup-tiup angin.

Sebaliknya. punggung si orang tua menjadi kelihatan, karena bajunya robek. Dia gusar bukan main, hingga mukanya merah-padam, hingga dia berteriak kuat: "Binatang cilik, aku Keng thian eioe see-boenBoe Wie, aku sumpah tidak mau hidup bersama dengan kau" Habis itu dia tentunya menyingkir terus, kearab tembok kota, guna melewatinya

Lie Tiong Hoa masih memegangi juiran baju orang itu yang terus tertiup angin halus, ia berdiam. hatinya berpikir, sedang air telaga Hian Boa ouw memain diantara kepermaian si puteri Malam...

ooooo

BAB 13

MASIH sekian lama Tiong Hoa memandangi air telaga, baru ia menghela napas dan berjalan pulang, sedangjuiran bajunya Keng-thian-cioesoe-boen Boe Wie, si Penunjang Langit, ia lemparkan ke permukaan air.

Ketika ia baru sampai diundakan kedua, disana ia dipapaki Lo siauw Hong yang lari tergesa-gesa kepadanya, lalu menjura dan berkata cepat: "Lo siauw Hong insaf akan kekeliruannya, maka itu ingin ia membuang tempat yang gelap buat pergi ke tempat yang terang, bersedia ia mengikuti Lie tayhiap sebagai menteri yang tidak berhati dua, Aku minta tayhiap suka menerima aku." 

Tiong Hoa bingung.

"Mana dapat, Mana dapat," ia kata, "Lo Loosoe, akulah satu anak sekolah yang baru saja menginjak dunia Kang ouw, yang pelajarannya cetek sekali, Kalau loosoe ingin merubah penghidupan, itulah bagus sekali, mari kita menjadi sahabat supaya sembarang waktu dapat aku memohon petunjuk mu." Siauw Hong bengong, ia hilang pengharapannya.

Ketika itu Lin Tiang Keng pun menyusul dia tertawa dan kata: "saudara Lie, jangan tampik Lo Loosoe. Baru saja Lo Loosoe bilang padaku bahwa dijaman ini, ilmu silat saudara sukar tandingannya, karena itu dia bersedia membantu saudara, Dia menganjuri saudara mengangkat diri, Baiklah saudara jangan bikin Lo Loosoe putus asa.

Aku sendiri suka turut membantu kau." Tiong Hoa melengak, inilah ia tidak sangka.

"Saudara akulah seorang biasa saja, katanya perlahan. Aku ini tak dapat tempat dirumahku,aku pun sudah keliru membunuh orang, dari itu aku jadi hidup merantau.

Sama sekali tak ada cita citaku buat mengangkat diri. Cita- Cita ku yalah hidup aman dan damai.

Aku pun jeri mengingat pelbagai kepalsuan dalam dunia Kang ouw, Aku pikir buat hidup menyendiri Kalau suka, saudara Lin, mari kita memilih tempat sunyi, guna menungkuli hari-hari mendatang kita. Tidakkah itu lebih membahagiakan?"

Tiang Keng mengawasi paham dia tertawa.

"Kau masih muda, saudara, kau pun baru menginjak dunia Kang ouw, tapi kau sudah memikir untuk mengundurkan diri, aku rasa taklah kehendakmu itu mudah diwujudkannya." dia kata. "Kau tidak menginsafi bahwa dengan sendirinya kau sudah menjadi bulan-bulanan kaum sungai Telaga. sekarang ini, taruh kata kau menyembunyikan diri, kau pasti bakal dicari orang, hingga kau nanti duduk dan berdiri tak tenteram, tidur tak tenang."

Tiong Hoa memandang kawan itu, ia heran. "Kenapa begitu, saudara Lin?"

"Didalam kalangan Rimba Persilatan, warta warta sangat cepat beredarnya, Bukankah saudara sudah mengundurkan Mao san siang Kiam? Bukankah saudara sudah menggempur hatinya Mao Eng? Kau juga telah membikin jeri Bok- boe siang Koay. Dan barusan, Keng- thian-cioesee-boen Boo Wie mesti menyingkir dari hadapanmu.

Mereka itu semua orang-orang kenamaan golongan jalan Hitam, segera mereka akan menyiarkan berita.

Akibatnya itu yalah kau pasti dibenci golongan mereka, sedang kalangan lurus pasti akan menghormat dan memuji. Ketahui saudara, meski kau jemu dunia Kang- ouw, tak mudah kau menyingkir daripadanya."

Tiong Hoa berdiam, dia melengak.

"Lo Loosoe ini sudah lama hidup dalam dunia Kang- ouw." Tiang- Keng kata pula, "Ia cerdas dan luas pengetahuannya, ia jauh lebih menang daripada aku, maka itu dengan saudara memperoleh bantuan Lo Lo soe, pasti kau bakal lekas mengangkat namamu."

Tiong Hoa bimbang, ia ketarik tetapi bersangsi. "Tentang ini baiklah dibicarakan pula nanti." akhirnya ia kata.

Tiang- Keng berlega hati, itu berarti si anak muda sudah doyong ke pihaknya, siauw Hong pun girang, hingga tanpa merasa selanjutnya ia menjadi seperti hambanya pemuda she Lie itu"

ooo

Besoknya Tiong Hoa sudah lantas pindah kerumah yang baru dibeli Tiang Keng untuk mereka tinggal bersama, tapi ia tidak terlalu gembira. Ia terus ingat Cee Cit, saudara angkat itu. Kwie Kian cioe dan sin-heng sioe- soe, yang mengejar Boe eng Hoei Long guna menolongi Kam Jiak Hoei, masih tetap tak kembali, dan dari mereka tidak ada kabar apa-apa, Demikian ia berdiri di tepi pengempang dimana ada dipelihara ikan mas, memandang ikan-ikan itu yang asyik memain dengan pikirannya bekerja keras.

Selagi ngelamun itu, ia ingat juga gambar lukisan Yoe san Goat Eng dan menduga-duga siapa itu orang yang telah mendahului ia membelinya. Memikiri lukisan itu, ia menjadi masgul.

Tak dapat ia menerka pembeli itu orang macam apa. Letih ia memikirkannya, maka ia membayangi pula Cek In Nio yang membikin semangatnya melayang-Iayang, Yan Hee si boto yang lincah, juga Phang Lee Hoen yang harus dikasihani. Di depan matanya sekarang ada Ban In yang ayu.

Akhirnya, ia sekarang telah menjadi orang Kang ouw asli.

Tengah anak muda ini menimbang-nimbang pikirannya itu, Tiang Keng dan siauw Hong terlihat mendatangi dengan cepat. orang she Lin itu sudah lantas berkata: "Hari ini telah dua kali aku pergi ke Thian siang Kie, disana tak ada kabar bahwa Cee Locianpwee sudah kembali." Tiong Hoa masgul, alisnya berkerut. "saudara Cee ternama di Kang lam, dialah ketua sebuah Partai, kata- katanya pasti dapat dipercaya," ia kata, maka itu dengan dia belum juga kembali, aku kuatir ia kena dicurangi Boe- eng Hoei Long, Atau mungkin dia telah pulang ke markasnya untuk membereskan dulu partainya, saudara Lo tahu-kah kau sarangnya Boe-eng Hoei Loo? Aku berniat pergi kesana."

Siauw Hoog menggeleng kepala.

"Khioe Cin Koen mendapatkan julukannya Boe-eng Hoei Long itu bukan di sebabkan melulu ilmu ringan tubuhnya yang mahir juga karena tak tentu tempat kediamannya itu." ia berkata, "Bahkan kedua muridnya Kimleng Jie Pa, tak tahu juga dia bersarang dimana.

Demikianlah maka dia juga dinamakan Thian Gwa It shia, si sesat nomor satu dari luar langit."

Jangan berduka, saudara Lie legakan hatimu." Tiang Keng menghibur "Cee Locianpwee dan sin heng sioe soe sama-sama ternama. mereka sama-cama liehay, biarnya Boe-eng Hoei Long liehay akal- muslihatnya. tidak nanti dia dapat berbuat apa-apa terhadap mereka itu. Mungkin sekali mereka sudah berhasil menolongi Kam Jiak Hoei.

Besok hari perjanjian dengan Kwie Lam Ciauw, berhubung dengan itu, bersama saudara Lo aku telah memikir suatu daya, Kami anggap tidak tepat saudara yang baru mendapat nama memperoleh banyak musuh, bahkan sebaliknya, maka itu baiklah saudara menggunai dia. Aku percaya, dengan kecerdikan kau, saudara Lie, kau dapat mempermainkan padanya."

Tiong Hoa mengawasi siauw Hong, ia ber senyum. "Saudara Lo." ia tanya, "tolong kau beri tahukan aku bagaimana perhubungan diantara Kwie Lam Ciauw dengan Tiat-tek coe Jie siong-cin ketua muda dari Thian Hong pang serta Loo Liang-sin Pek liang dari Tong-teng san?"

Siauw Hong bersikap hormat ketika ia menjawab: "Kwie Lam Ciauw itu seorang manusia paisu yang berpura-pura menjadi orang lurus, kelihatannya dia tak sesat bahkan gagah lagi budiman, dia mirip seorang kesatria, sebenarnya dia mengandung cita-cita yang besar, Demikianlah, maka perhubungannya dengan Thian Hong Pang dan Tong-teng san juga bagus diluar saja."

Tiong Hoa mengangguk, ia tidak bilang suatu apa, pembicaraan mereka berhenti dengan munculnya seorang bujang, yang bicara dengan Lo siauw Hong, katanya ada datang seorang tetamu she Cian yang mohon bertemu.

Mendengar she tetamunya itu, siauw Hong terkejut, tetapi ia lekas berkata: "Kau undang dia masuk."

Bujang itu mundur pula, tak lama ia kembali sembari memimpin tetamunya, seorang yang tubuhnya besar, yang mengenakan seragam sulam yang singsat. Siauw Hong bertindak cepat menyambut, dia tertawa nyaring.

"Saudara Cian," katanya gembira, "Apakah kau datang sedang menjalankan titah? Mari siauwtee ajar kau kenal dengan kedua tayhiap." Dia pun menjabat tangan orang untuk dipegang erat-erat.

Orang she Cian itu, Tiauw Hong namanya, menjadi soe-tee atau adik seperguruan dari ciangbunjin atau ketua, dari partai Hoay Yang Pang, tentang dia barusan Siauw Hong memberitahukannya selintasan, dari itu Tiong Hoa diam-diam memperhatikannya. Bersama Lin Kiang Keng, ia diperkenalkan pada orang.

Segera setelah berkenalan itu, Cian Tiauw Hong kata pada Lo siauw Hong. "Saudara Lo ingin kumemberitahu padamu perihal sikapnya Keng-chian-cioesee-boen Boe Wie, ketika dia pulang ke Kwie In Chung, dia lantas membeber halnya kau telah berkhianat sebab kau memisahkan diri, dia kata dia hendak paling dulu membinasakan kau. Karena ini. Kwie Chungcoe jadi berebut omong dengannya, Kwie Chungcu membelai kau yang dikatakan berbudi bahwa tanpa sebab tidak nanti kau menjauhkan diri Kwie Chungcu mengusulkan memberi ketika kepada kau untuk memberi penjelasan supaya dapat diketahui siapa benar dan siapa salah, habis mana barulah keputusan dapat diambil. Tapi see- boen Boe Wie tetap tidak puas. Dia telah menitahkan secara rahasia kepada orang kepercayaannya untuk membunuh kau secara menggelap. oleh karena itu, saudara aku datang kemari untuk memberi kisikan.

Tentang sikap saudara mesti ada sebabnya, karena itu apakah kau suka memberi keterangan padaku?"

Lo Siauw Hong tertawa, dengan terus-terang ia tuturkan peristiwa kemarin yang membuatnya mengambil sikapnya ini, ia kata ia tidak memikir untuk memusuhkan San boen Boe Wie atau Kwie Lam ciauw.

Mendengar itu, cian Tiauw Hong menjadi mendongkol sekali.

"Ooh kalau begitu pastaslah sekarang ini See boen Boe Wie giat mengumpulkan kaki tangan-" katanya keras, "teranglah dia hendak menentang Kwie chungcu. Pantas dia beriaku kejam dalam hal menyingkirkan kawan-kawan yang tidak dia sukai lagi."

Tiong Hoa nampak heran- ia campur bicara, katanya: "Kwie chungcu itu tidak bentrok dengan siapa juga, dia hidup menyendiri di kampungnya, kenapa See-boen Boe Wie hendak menumpasnya? Apakah ganjalan diantara mereka itu berdua?"

Cian Tiauw Hong berdiam, kelihatannya dia bersangsi. akan tetapi toh, selang sesaat, dia kata sungguh- sungguh: "coan-in-Yan Kwie Lam ciauw mengundurkan diri dalam usia masih muda, sebabnya itu yalah satu kesulitan- Diluar nampak dia hidup damai dengan siapa juga, tetapi sebenarnya, dalam dirinya, dia mengandung cita-cita besar. Adalah kemudian, karena merasa ilmu silatnya masih tidak dapat menyampai lain-lain orang kenamaan, pada limabetas tahun dulu dia menyimpan goloknya, dia mengundurkan diri, Keputusannya itu dia telah umumkan-"

"Lalu, Seboen Boe Wie itu mengandung maksud apa?" Tiong Hoa tanya.

Cian Tiauw Hong bersenyum.

"Tentang Seboen Boe Wie ini, sedikit sekali orang yang mengetahuinya," ia menjawab, "Aku sendiri, aku mendapat tahu itu secara kebetulan saudara Lo. sekalipun masih gelap. Kwie Lam Ciauw berdua Seboen Boe Wie berasal satu rumah perguruan, biasanya mereka hidup rukun seperti saudara-saudara kandung, akan tetapi selama yang belakangan ini, mereka menjadi sebagai air dengan api."

"Tentang dendaman diantara mereka, samar-samar aku telah melihatnya," berkata Lo siauw Hong, "cuma tentang sebabnya aku masih belum tahu, Apakah sebab itu?" Cian Tiauw Hong tertawa, ia memandang ketiga tuan rumahnya.

"Saudara-saudara, apakah saudara-saudara ketahui bahwa sekarang ini Rimba Persilatan lagi menghebohkan tiga macam mustika?" ia tanya, "Di antara tiga itu dua sudah muncul. Maka kaumjalan Hitam danjalan putih, semua mengilar ingin mendapatkannya, Kedua mustika itu sudah menggemparkan dunia Kang ouw. Apakah benar saudara-saudara belum pernah mendengar itu?"

Lo siauw Hong memperlihatkan roman heran. ia lantas menanyai "Apakah itu bukannya cangkir Koibeo Liauw- giok Coei In Pwee kepunyaan Pangeran Tokeh di kota raja yang telah di curi Kamliang sam-to?"

Cian Tiauw Hong mengangguk Mendengar di sebut kota raja, hati Tiong Hoa berdebar sendirinya, ia menjadi ingat soalnya dan karenanya ia mesti kabur, hingga sekarang ia menjadi seorang buronan Cian Tiauw Hong berkata, menerangkan.

"Cangkir kemala Coei In Pwee itu milik negara dan sudah banyak tahun tersimpan didalam gudang istana, kemudian pangeran Tokeh berjasa dimedan perang, dia dihadiahkan cangkir mustika itu. Pada suatu hari, tengah pangeran itu buat main mustikanya ia terlihat salah seorang sie-wie, pahlawan yang mendampinginya, kemudian sie-wie itu membocorkan hingga kaum Rimba Persilatan lantas ramai membicarakannya, sebenarnya mulanya cangkir itu menjadi kepunyaan it piauw sian seng, seorang berilmu dari dinasti yang telah lampau.

Anehnya cangkir yalah di dasarnya ada dua butir mutiaranya, sebuah merah, sebuah lagi putih, yang merah itu di namakan Ya-beng coe, artinya mutiara malam bercahaya, harganya itu seumpama harganya sebuah kota. Untuk kita kaum Rimba Persilatan, ya-beng- coe itu masih belum berharga seberapa, Yang putih bernama Teng-sin-coe. mutiara menetapkan semangat, inilah yang penting dan paling dihargakan-Kalau cangkir itu di isikan arak yang di campuri obat-obatan, arak obat itu dapat memunahkan pelbagai macam racun, asal saja racun belum membikin isi perut busuk, sebentar saja orang bebas dari keracunan.

Yang penting kalau cangkir itu diisi macam macam obat, terus obat itu diseduh dengan arak Pekslian tincioe untuk diminum orang yang mengerti silat. siapa belajar sitat, penting kalau kedua nadinya yang dinamakan jin dan tok dapat teraturkan sempurna, dan itu akan tercapai apabila orang minum arak obat asal cawan mustika itu."
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Bujukan Gambar Lukisan Jilid 09"

Post a Comment

close