Beng Ciang Hong In Lok Jilid 35

Mode Malam
Berangkatlah Hoa Kok Han ditemani Ci Giok Phang dan Wan Say Eng. Di perjalanan Wan Say Eng baru cerita tentang kisah yang dia dengar dari Kho-si kepada Ci Giok Phang dan Hoa Kok Han. Hoa Kok Han dan Ci Giok Phang menghela napas setelah mendengar cerita nona  Wan.

"Sekalipun Kho-si bersalah, tetapi dia juga patut mendapat simpatik," kata Ci Giok Phang.

"Sesudah Seng Cap-si Kouw kabur karena kugertak, mungkin dia tidak akan mengganggu lagi keluarga Ciauw. Mudah-mudahan aku bisa bertemu kembali dengannya, karena aku ingin tahu di mana Han Lo-cian-pwee dia sembunyikan? Ini kulakukan atas permintaan Han Pwee Eng!" kata Hoa Kok Han.

Mendengar nama Han Pwee Eng disebut-sebut, Ci Giok Phang jadi bimbang.

"Entah di mana Siauw Hong sekarang berada?" kata Ci Giok Phang.

"Aku juga harus mencari Kok Siauw Hong," kata Hoa Kok Han. "Dia ke Kang-lam untuk menghubungi jago-jago Kanglam. Sesudah ke tempat Bun Yat Hoan, mungkin sekarang dia ada di tempat Ong cee-cu di Thay-ouw. Maka itu aku harus singgah dulu di Thay-ouw."

"Sebenarnya aku ingin bertemu dengan Kok Siauw Hong, tapi karena aku juga khawatir keadaan Giok Hian, adikku terpaksa aku tidak ikut," kata Ci Giok Phang. "Jika Hoa Tayhiap bertemu dengannya, dan dia tidak segera pulang ke Utara. Tolong katakan padanya tunggu aku di Thay-ouw!" Maka berpisahlah mereka, Hoa Kok Han langsung ke Thayouw sedang Ci giok Phang dan nona Wan ke tempat Bun Yat Hoan di Hang-ciu.

Ketika itu musim semi, udara sejuk sekali, bunga-bunga bermekaran aneka warna. Musim semi di wilayah Kang- lam memang indah sekali. Terutama bagi dua kekasih yang sedang memadu cinta seperti Ci Giok Phang dan nona Wan.

Wan Say Eng terkenang pada nona Kiat Bwee. Dia menceritakan kisah sedih Kiat Bwee dan Siang Hoa. Tiba- tiba nona Wan berkata pada Giok Phang.

"Di See-ouw ada sebuah kelenteng Dewi Rembulan, di sana ada sepasang lian yang bunyinya begini:

Mudah-mudahan semua kekasih menjadi suami-isteri, Jika sudah takdir, jangan menyia-nyiakannya.

Nasib Siang Hoa dan Kiat Bwee seperti sepasang lian itu. Tapi kisah yang mereka alami benar-benar sulit diduga" kata nona Wan.

"Syair dalam lian yang diceritakan Wan Say Eng, mirip pengalaman hidupku," pikir Ci Giok Phang. "Seperti orang sengaja menanam bunga, tapi sang bunga malah tidak mekar. Tanpa bermaksud menanam pohon liu, pohon menjadi rindang. Dulu Kok Siauw Hong mengikat jodoh dengan adikku. Karena peristiwa di Pek-hoa-kok, akhirnya mereka rujuk kembali. Tapi yang aneh adikku Giok Hian, entah kenapa dia mau dipersunting oleh Seng Liong Sen. Sungguh aneh kejadian di dunia!" pikir Ci Giok Phang.

Melihat Ci Giok Phang seolah sedang melamun, nona Wan menegurnya. "Eeh, melamun ya? Kau sedang memikirkan siapa?" kata si nona.

"Aku pikir bunyi lian di kelenteng Dewi Rembulan itu, apa kau kira tidak tepat untuk kita juga?" kata Ci Giok Phang.

"Iih, ternyata kau genit juga" kata nona Wan. "Aku bicara sebenarnya, kau malah melantur! Tetapi aku malah ingat sesuatu."

"Ingat apa?" Tanya Giok Phang.

"Aku sangsi orang bertopeng itu Kiong Cauw Bun, aku juga tak yakin lukisan itu ada padanya. Sayang aku belum bertemu dengan Enci Kiong Mi Yun, jika bertemu akan kutanyakan padanya," kata nona Wan.

"Kau bilang semasa kecil kau akrab dengan Mi Yun, benarkah?" kata Ci giok Phang.

"Ya. Selain baik aku pun sering bertengkar dengannya," kata nona Wan. "Tapi waktu itu dia belum bisa ilmu totok, maka aku tidak tahu apakah lukisan pusaka itu ada di tangan ayahnya atau tidak?"

"Karena kau bicara soal nona Kiong, aku jadi ingat pada seorang temanku," kata Ci Giok Phang.

"Siapa temanmu itu?" kata nona Wan.

'Kong-sun Po," kata Ci Giok Phang. "Dia berpisah denganku ketika di Ceng-liong-kouw. Dia bersama nona Kiong berhasil lolos dari kepungan musuh. Kau bilang kau pernah bertemu Kong-sun Po, tapi kenapa nona Kiong tidak bersamanya?"

"Kong-sun Po dikejar-kejar calon mertuanya, sedangkan nona  Kiong tidak  berani  menemui ayahnya.  Tapi mereka sama-sama ke Kim-kee-leng. Aku kira sekarang mereka sudah ada di sana!" kata Wan Say Eng.

"Aku sudah ingin bertemu dengan Kong-sun Po. Dia seorang yang baik," kata Ci Giok Phang.

"Kalau begitu mari kita temui dulu adikmu sesudah itu kita bersama-sama ke Kim-kee-leng mencari dia," kata nona Wan.

Mereka terus melakukan perjalanan. Tak lama mereka sudah tiba di kota Lim-an.

Saat mereka tiba keadaan cuaca sangat cerah sekali. Dua muda-mudi ini berjalan bersama, kelihatannya mereka sangat mesra.

Di jalan raya sudah ramai dengan orang yang lalu-lalang.

Mereka akan melakukan kegiatan sehari-hari mereka.

"Di dalam buku, Kang-lam sebuah daerah yang mendapat pujian tentang keindahannya. Ternyata memang musim semi di Kang-lam ini sangat indah," kata Ci Giok Phang memuji.

Saat itu karena mereka berjalan dijalan pegunungan, makin lama orang-orang yang mereka temui semakin sedikit. Saat itulah dahi nona Wan berkerut sambil berkata, "Ci Toa-ko, perhatikan olehmu. Di sana orang sedang memperhatikan kita," kata Wan Say Eng.

"Entah apa yang mereka bicarakan di pos jaga itu, barangkali mereka sedang membicarakan kita!"

Giok Phang menengadah, dia lihat di sana ada semacam pos atau tempat beristirahat. Di tempat itu ada sekitar lima sampai enam orang sedang berkumpul dan berbincang. Salah seorang dari mereka terdapat seorang pemuda berpakaian  bagus.  Barangkali  dia  seorang  anak hartawan atau pejabat. Sedangkan yang lainnya barangkali para pengawal pemuda itu.

Para pengiring itu sedang memuji-muji majikannya. Memang saat itu mata mereka sedang mengawasi ke arah kedua muda-mudi.

Ketika Ci Giok Phang menggunakan ketajaman telinganya, dia dengar salah seorang bicara.

"Wajah nona itu lumayan juga," katanya.

"Sedang yang pria pun tampan," kata yang lain, "walau tampak kikuk ketolol-tololan! Sayang, nona seperti mawar indah tang ditancapkan di atas tahi kerbau saja.”

"Kau bilang mereka suami isteri, dari mana kau ketahui hal itu?" kata yang lain.

Mendengar ocehan itu, nona Wan mendongkol bukan main. Dia ingin menghajar orang-orang itu. Tapi niatnya dicegah oleh Ci Giok Phang.

"Jangan ladeni orang-orang itu. Mengapa harus meladeni mereka?" kata Giok Phang.

Giok Phang dan Wan Say Eng mencoba menjauhi mereka. Tapi tak lama terdengar suara ejekan dari orang- orang itu. Malah kata-kata mereka semakin tidak senonoh.

"Tuan, apa Tuan suka pada nona itu? Perintahkan saja kami!" kata salah seorang dari mereka.

"Huss! Jangan main gila, mereka itu suami-isteri!" kata si kong-cu.

"Hm! Tapi Kong-cu suka padanya, kan?" kata yang lain. "Sabar, akan kusapa mereka. Jika mereka kakak-beradik,

aku bisa jadi comblang Kong-cu!" kata yang lainnya. "Suami-isteri atau bukan apa halangannya?" kata yang lain lagi. "Aku dengar malah Kong-cu lebih suka perempuan yang pernah bersuami!"

"Rampas saja, kenapa harus bertele-tele ditanya segala?" kata yang lain.

"Jangan gegabah, ketahuan Ayahku celaka," kata kong- cu itu.

Dia asyik mengipasi tubuhnya dengan sebuah kipas lipat.

Sekarang nona Wan sudah tak dapat menahan dongkolnya. Dia pungut beberapa kerikil, lalu dia sentil dengan sekuat tenaga ke arah orang-orang itu.

Sebenarnya saat itu Ci Giok Phang sedikit terkejut, karena suara orang itu ada yang dikenalnya. Maka itu dia menghentikan langkahnya. Dia ingin memperingatkan orang yang berbicara sembarangan itu.

Orang-orang itu merasa diberi hati oleh majikannya, dua di antara mereka keluar dari pos, tapi mereka langsung disambuit oleh batu-batu yang dilontarkan oleh nona Wan. Mereka menjerit kesakitan. Setelah kedua orang itu terkena batu, tapi batu yang lain masih meluncur ke dalam tempat peristirahatan itu.

Ternyata orang yang ada di dalam pos itu tidak sebodoh dua kawannya. Saat batu-batu itu menyambar ke arah mereka, batu itu disampok. Sedang yang seorang lagi menangkap batu itu. Kemudian disambitkan ke arah nona Wan. Tapi yang satu lagi tak sempat berkelit, jidatnya terhajar hingga berteriak kesakitan.

Ketika sebuah batu diarahkan ke kong-cu itu, dengan tenang si kongcu menepis batu itu dengan kipas lipatnya. "Hm! Nona ini lihay. Mungkin mereka kawanan perampok dari Thay-ouw atau Thian-po-san!" kata lelaki bertubuh kekar.

"Baik, kalian tangkap mereka," kata si kong-cu. "Tapi ingat, jangan lukai yang perempuan!"

"Baik," kata orang kekar itu.

"Nona beraninya kau main gila di depan Han Kong-cu, jika kau tahu selatan, mari ikut kami!" kata si kekar.

Dia serang nona Wan dengan jurus Kim-na-ciu-hoat atau jurus cengkraman yang lihay. Serangan itu oleh nona Wan dikibaskan, sedang tangan kiri nona Wan mencoba menotok lawan.

Ketika terdengar suara sobekan kain, nona Wan kaget. Tampak lengan bajunya robek, tapi lawannya mundur beberapa langkah.

Temannya yang lain maju hendak mengeroyok nona Wan.

Sedang si kekar yang tertotok tadi tak apa-apa.

"Kurang ajar, majikanku sayang padamu, kau malah mau mencelakai aku!" kata si kekar.

Tak lama pertarungan terjadi. Wan Say Eng diserang oleh orang bertubuh kekar, sedang Giok Phang diserang si wajah hitam yang bersenjata tombak cagak, kawannya yang membantunya menggunakan sebilah pedang.

Sekarang Ci Giok Phang mengenali lawannya, yang satu bernama Bong Sian, sedang yang lain bernama Teng Kian. Mereka pernah datang ke Pek-hoa-kok pada saat terjadi keributan gara-gara Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng. Si kong-cu ternyata putera kedua Han To Yu, sang perdana menteri. Dia bernama Han Hie Sun. Lawan nona Wan bernama Su Hong, atau pengawal perdana menteri.

Bong Sian dan Teng Kian semula orang Liok-lim (Rimba Hijau atau kaum penjahat). Mereka sahabat Chan It Hoan, pelayan nona Han Pwee Eng. Tak heran ketika keributan di Pek-hoa-kok, Chan It Hoan mengundang mereka. Sesudah keributan di Pek-hoa-kok mereka lalu pergi ke Kang-lam dan diajak bekerja oleh Su Hong.

Di Pek-hoa-kok mereka terluka oleh Kok Siauw Hong dan Ci Giok Phang. Walau sudah damai, tapi kedua orang ini masih mendendam. Sebenarnya mereka sudah tahu, muda-mudi itu Ci Giok Phang bersama nona Wan. Tapi sengaja mereka mengolok-olok dan berniat merampas nona Wan.

"Hm, ternyata kalian! Dulu saat peristiwa itu terjadi, itu karena salah paham. Sekarang aku tidak akan segan-segan terhadap kalian!" kata Ci Giok Phang.

"Tutup bacotmu, bocah! Hari ini kaujatuh ke tanganku. Kenapa kau masih berani lancang bicara!" kata Bong Sian.

Giok Phang gusar, dia putarkan pedangnya menangkis serangan tombak cagak Bong Sian. Tak lama ujung pedang Giok Phang meluncur ke arah perut Bong Sian, sedang gagang pedang Giok Phang digunakan untuk menotok  Teng Kian. Satu serangan ke dua lawan, membuat kedua orang ini mundur karena terdesak.

"Jika aku tidak memandang keluarga Han, dulu kalian sudah mampus di tanganku!” kata Giok Phang.

"Bangsat! Jangan banyak bicara, baru menang satu jurus kau pentang bacotmu! Sekarang, bisakah kau menahan seranganku?" kata Teng Kian. "Sudah jangan banyak bicara, bunuh saja!" kata Bong Sian.

Mereka bertarung seimbang karena dua lawan satu, jika satu lawan satu rasanya mereka tidak akan sanggup melawan Ci Giok Phang yang lihay. Tapi di tempat lain nona Wan tampak kewalahan melawan Su Hong.

Kepandaian Su Hong sebagai pengawal perdana menteri memang memadai. Untung nona Wan mampu mengimbangi lawan, walau kalah tenaga. Kelihatan Su Hong tak sabar. Dia menyerang dengan cengkraman dasyatnya. Sekalipun nona Wan bersenjata pedang, tapi tak urung terdesak juga. Untung Wan Say Eng mampu bergerak cepat, tubuhnya berputarputar menghindari serangan Su Hong.

Ci Giok Phang sempat melirik ke arah nona Wan yang sedang terdesak. Melihat si nona dikepung dua musuh Giok Phang nekat. Dia menyerang dengan cepat, pedangnya menusuk cepat luar biasa.

Bong Sian berusaha menghadang Giok Phang agar tak bisa menolongi nona Wan. Tiba-tiba terdengar suara tajam.

"Sreet!"

Pedang Giok Phang mengarah ke tenggorokan Bong sian; untung Teng Kian maju membantu.

"Trang!"

Pedang Giok Phang dan pedang Teng Kian beradu keras.

Tapi pedang Giok Phang lebih cepat, dan....

"Cress!" dahi Bong Sian tergores pedang Giok Phang. Itu masih untung, jika Teng Kian tidak menangkis pedang Giok Phang entah apa jadinya. Su Hong jadi kesal dan malu karena dia tak mampu segera mengalahkan nona Wan. Dia menyerang dengan sedikit tergesa-gesa. Hal ini justru memberi kesempatan buat nona Wan. Serangan Su Hong yang bertubi-tubi berhasil dihindarkan oleh nona Wan. Saat itu tiba-tiba nona Wan bergeser ke belakang lawan, pedangnya dengan cepat ditusukan.

Secara reflek dan tidak menoleh lagi Su Hong menangkis ke belakang. Tangan baju nona Wan terjambret olehnya. Tapi tangan Su Hong pun tergores oleh pedang nona Wan.

"Kurangajar, kau melukaiku?" teriak Su Hong.

Saat amarah Su Hong memuncak dan hendak menerkam nona Wan, tiba-tiba si kong-cu maju.

"Suhu, biarkan nona ini kuhadapi," kata kong-cu itu. "Kau bantu Bong Sian membekuk yang lainnya!"

Kong-cu itu maju. Nona Wan malah girang.

"Kebetulan, menangkap penjahat harus menangkap gembongnya," pikir nona Wan.

Tiba-tiba nona Wan menyerang kong-cu itu dan yang dia arah Tan-tiong-hiat lawan. Jika tidak waspada Han Hie Sun akan celaka. Su Hong kaget menyaksikan serangan nona Wan, tapi dia tak sempat jika menolongnya pun.

"Hm! Ilmu silat yang istimewa!" puji Han Hie Sun. Serangan nona Wan, dia tangkis dengan kipasnya,

ternyata pedang nona Wan tak mampu menembus kipas lawan. Melihat kehebatan majikannya, Su Hong tercengang. Dia tidak menyangka kong-cunya demikian lihay.

"Aah, siapa yang mengajari Kong-cu ilmu silat?" pikir Su Hong. Melihat Su Hong bengong, Han Hie Sun memberi perintah.

"Suhu, lekas bantu Bong Sian, dia sudah kewalahan!" kata Hie Sun.

Mengetahui kong-cunya lihay sekarang dia meninggalkan sang kong-cu untuk membantu Bong Sian.

Menyaksikan serangannya bisa dimentahkan, nona Wan kaget. Dia sadar Han Kong-cu ini lihay, mungkin dia bukan tandingannya.

Sambil mengipas-ngipas tubuhnya, Han Hie Sun berkata lagi.

"Pelayanku bicara kurang sopan, aku harap nona tidak marah. Aku ingin bersahabat denganmu, maukah nona?" kata Hie Sun.

Walau nona Wan jengkel dan mau marah, dia coba menahan sabar.

"Mana pantas gadis kampung sepertiku bersahabat denganmu, kong-cu?" kata nona Wan.

Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba pedang nona Wan meluncur menyerang Han Hie Sun. Saat kipas Han Hie Sun baru dilepit karena tertarik oleh jawaban nona Wan yang lemah-lembut. Saat akan menjawab, tiba-tiba serangan  nona Wan datang.

Pada saat yang sangat kritis dia mampu menangkis serangan nona Wan. Baju Han Hie Sun tertusuk pedang nona Wan, tapi tidak terluka. Han kaget bukan kepalang, keringat dingin mengucur. Dia pun gusar.

"Hm! Kau licik nona!" kata Han Hie Sun. "Tapi kau tidak akan lolos dari tanganku!" Tiba-tiba Han Hie Sun melancarkan serangan dengan kipasnya. Nona Wan mencoba menghindar. Dia tak ingin terkena kipas lawan yang lihay itu. Nona Wan gesit hingga Han Hie Sun jengkel juga. Kipasnya yang dia lipat langsung dipakai menyerang.

"Roboh!" teriak Han Hie Sun.

Su Hong tiba tepat pada saat baru saja Giok Phang melukai Bong Sian. Giok Phang berusaha meloloskan diri untuk membantu nona Wan.

"Tunggu! Jangan sombong bocah!" kata Su Hong yang langsung menyerang.

Serangan itu membuat Ci Giok Phang terdorong mundur.

Niatnya yang terhalang membuat Giok Phang gelisah, dia lihat nona Wan sedang didesak oleh Han Hie Sun. Giok Phang yang cerdik tak menyerang ke depan, sebaliknya dia mundur.

"Kau mau kabur ke mana?" teriak Su Hong.

Giok Phang dikepung oleh tiga orang lawan. Mereka tak sadar kalau mereka terjebak oleh akal Ci Giok Phang. Saat dia sedang dikejar oleh ketiga lawannya. Ci Giok Phang merogoh mata uang yang dia hamburkan dengan kecepatan seperti kilat ke arah Han Hie Sun. Ternyata uang itu berjumlah tujuh buah yang mengarah ke tujuh jalan darah Hie Sun.

Han Hie Sun yang hampir berhasil menotok nona Wan, sadar serangan senjata rahasia lawannya berbahaya, terpaksa membuka kipasnya, lalu menangkis ke belakang. Tak lama ketujuh uang itu berjatuhan ke tanah. "Bangsat! Aku akan adu jiwa dengan kalian!" teriak Giok Phang.

Melihat Giok Phang nekat Su Hong dan kawannya jadi sangsi.

Teng Kian jadi ingat, kenapa dia tidak menggunakan senjata rahasia juga. Maka itu Teng Kian pun menyerang Giok Phang dengan senjata rahasia. Tadi saja Giok Phang sudah tak bisa keluar dari kepungan musuh, sekarang ditambah dengan serangan senjata rahasia. Tentu saja Giok Phang bertambah repot.

Saat itu nona Wan sedang menghadapi serangan Han Hie Sun. Tapi sambil menyerang Hie Sun menggoda nona Wan dengan kata-kata kurang senonoh. Tentu saja nona Wan bertambah murka. Serangan Han Hie Sun semakin genjar, dia menotok nona Wan dengan jurus-jurusnya yang lihay. Saat Han Hie Sun menyerang muka nona Wan, si nona menunduk tapi tak urung tusuk kundainya terkena kipas lawan. Hie Sun yang penasaran ingin melancarkan serangan yang mematikan.

Saat Ci Giok Phang dan nona Wan sedang dalam keadaan kritis, muncul seorang pemuda berpakaian kain kasar. Pemuda itu menggendong sebuah payung. Sikap pemuda itu lugu sekali.

Pada tengah hari bolong membawa-bawa payung, itu sudah mengherankan orang. Ditambah lagi saat Teng Kian menghujani Ci Giok Phang dengan senjata rahasia, pemuda itu bukan menyingkir malah menyambut sambaran hujan senjata rahasia itu dengan payungnya.

Menyaksikan kedatangan pemuda lugu itu. Su Hong keheranan. Dia coba mengusir pemuda itu dengan bentakan nayaring.  Tapi  heran  pemuda  itu  seperti  tuli.  Dia bukan menyingkir, malah berjalan santai menghampiri Ci Giok Phang.

Su Hong tidak tahu siapa pemuda itu, sebaliknya Ci giok Phang justru mengenalinya. Dia Kong-sun Po, pemuda yang sangat ingin dia temui. Ilmu silat pemuda ini lumayan tinggi. Menyaksikan kedatangan pemuda itu nona Wan girang.

Tiba-tiba pemuda lugu itu bicara seenaknya.

"Aneh, udara secerah kok malah turun hujan? Tapi entah hujan apa, karena kelihatannya mengkilap seperti jarum jahit janda she Ma, tetangga kita!" kata Kong-sun Po sambil tertawa.

Memang senjata yang menyerang bagaikan hujan itu senjata Teng Kian yang disebut Bwee-hoa-ciam atau jarum bunga Bwee. Jarum-jarum itu menempel di payung pemuda lugu itu. Saat dia kibaskan jarum-jarum itu berjatuhan ke tanah.

"Hm! Bocah, kau pura-pura bodoh! Rupanya kau ingin ikut campur di air keruh?" kata Teng Kian.

"Tidak hujan, bagaimana di sini bisa ada air? Yang ada kawanan bajingan!" kata Kong-sun Po.

Bukan main gusarnya Teng Kian. Dia gunakan senjata rahasia Hui-bong-ciok yang lebih berat dari jarum tadi menyerang Kong-sun Po. Teng Kian menganggap payung pemuda itu tidak akan mampu menangkis serangannya. Di luar dugaan payung Kong-sun-po yang terbuat dari sari baja itu sangat ampuh.

"Oh celaka! Tadi hujan jarum, sekarang hujan batu!" sengaja dia berteriak Perbuatan Kong-sun Po memang menggelikan. Dengan payungnya dia sampok setiap batu yang menyambar ke arahnya. Dan sialnya batu itu malah berbalik menyambar ke arah Teng Kian.

Teng Kian kaget, dia berkelit dalam keadaan gugup. Tapi salah satu batu mengenai wajahnya. Serangan batu itu menyebabkan hidung dan bibir Teng Kian terluka. Dia menjerit kaget dan kesakitan, dari lukanya keluar darah. Untung yang diserang bukan matanya, jika matanya pasti buta!

"Toa-ko, kebetulan kau datang. Tolong kau bantu nona Wan!" kata Ci Giok Phang girang bukan main.

"Nona Wan, dulu kau membantu aku. Malah aku belum berterima kasih padamu. Sekarang serahkan bajingan itu padaku!" kata Kong-sun Po.

"Baik, kuserahkan dia padamu," kata nona Wan yang girang telah bebas dari tekanan lawan. "Tapi Toa-ko hati- hati ilmu silatnya luar biasa!"

"Tak apa, aku ingin belajar kenal dengan ilmu totok bajingan ini," kata Kong-sun Po.

Bukan main gusarnya Han Hie Sun yang selama ini menganggap dirinya pandai dan serba bisa, dia juga anak perdana menteri. Tapi sekarang Kong-sun Po mengatakan dia bajingan.

Tiba-tiba tanpa banyak bicara Han Hie Sun menyerang Kong-sun Po dengan sebuah totokan yang sangat ganas. Tapi serangan itu dengan cepat ditangkis oleh Kong-sun Po dengan payungnya. Tak heran ketika Han Hie Sun terkena gagang payung, dia kesakitan. Kipas di tangannya hampir saja terlepas.

"Senjata apa itu?" pikir Han Hie Sun. Kong-sun Po sadar lawannya lihay, dia menotok dengan jurus yang mirip Keng-sin-ci-hoat hanya ada sedikit perubahan. Tapi Kong-sun Po malah mengejeknya.

"Jika kau takut pada senjataku, aku tak akan menggunakannya," kata Kong-sun Po.

Kong-sun Po ingin agar lawan mengeluarkan seluruh kemampuannya. Dia khawatir kipas lawan patah atau rusak, dengan demikian Han Hie Sun tak akan bisa menunjukan kemampuannya.

Merasa dihina Hie Sun marah. Dia serang Kong-sun Po dengan jurus Pak-thauw-cit-seng (Tujuh bintang barat). Serangan itu diegos oleh Kong-sun Po. Melihat serangannya gagal, Han Hie Sun tampak girang.

"Kena!" kata dia.

Kong-sun Po memutar tubuhnya sambil mengejek. "Nah rasakan ilmu totokku!" kaa Kong-sun Po.

Serangan Kong-sun Po agak aneh, rupanya dia bisa bergerak cepat. Dia juga bisa mengubah setiap sasaran yang dia tuju. Ini sungguh membingungkan Han Hie Sun. Ditambah lagi kepandaian ilmu totok Han Hie Sun belum sempurna benar. Dia tak mampu merobohkan Kong-sun Po.

"Ilmu totok Han Hie Sun mirip Keng-sin-ci-hoat milik Tam Siok-siok dan Wan-yen Tiang Cie dari negara Kim. Sedangkan Wan-yen Tiang Cie paman raja Kim. Dia tak punya murid. Dari mana Han Hie Sun memperoleh imu totok itu?" pikir Kong-sun Po bingung. "Sedangkan Tam Yu Cong anak pangeran kerajaan Kim, dia sahabat Hoa Kok Han dan sudah lama jadi buronan. Ilmu totokku kupelajari dari Hong-lay Mo-li." Han Hie Sun pun kaget, serangan balik Kong-sun Po mirip ilmu yang dia miliki. Dia sulit sekali bisa menghindari serangan Kong-sun Po itu.

"Aneh, dia juga memiliki ilmu totok yang sama dengan miliku?" pikir Han Hie Sun.

Nona Wan yang sudah bebas dari tekanan orang she Han itu, dia berlari akan membantu Ci Giok Phang menghadapi lawan-lawannya. Saat itu Teng kian masih menghujani Ci Giok Phang dengan senjata rahasianya, tapi semua dengan mudah bisa dihindarkan oleh Ci Giok Phang. Tak lama nona Wan sudah ada di tengah kalangan pertempuran. Dia menyerang Teng Kian dengan pedangnya.

Sekalipun Teng Kian lihay, tapi nona Wan lebih lihay lagi. Dalam sekejap Teng Kian sudah terdesak oleh serangan pedang nona Wan. Teng Kian bergabung dengan Bong Sian dan Su Hong. Dengan demikian mereka baru mampu menghadapi kedua muda-mudi ini dengan baik.

Kong-sun Po di pihak lain berhasil mendesak Han Hie Sun, hingga pemuda ini tampak mulai kewalahan. Dalam keadaan kritis tiba-tiba muncul seorang kakek.

"Hai, Ji-kong-cu! Kenapa kau bertarung dengan mereka?" kata si kakek.

Ternyata kakek itu adalah Pek Tek.

"Pek Lo-su, bantu aku!" kata Han Hie Sun.

Tiba-tiba Kong-sun Po menyerang Hie Sun. Melihat serangan berbahaya itu, Pek Tek maju menghalangi Kong- sun Po melukai Han Hie Sun. Melihat tangkisan si jago tua, Kong-sun Po terperanjat. Dia mengubah totokan dengan telapak tangan, hingga tangan Pek Tek dan Kong-sun Po bentrok. Kong-sun Po terperanjat karena tangannya seolah mengenai kapas, tapi orang tua itu pun tak berniat mencelakakan Kong-sun Po.

"Hm! Sekarang kalian mau lari ke mana?" kata Han Hie Sun yang girang karena munculnya Pek Tek.

"Jangan berkelahi dulu. hentikan!" kata Pek Tek.

Su Hong pengawal istana Perdana Menteri Han, sekalipun Pek Tek ini tamu, tapi dia menghormatinya. Mereka menghentikan pertarungan.

"Eh, ada apa Pek Lo-su? Mereka ini penyusup ke kota Liman!" kata Han Hie Sun.

"Maaf, apa hubungan kalian dengan Pek-hoa-kok?" kata Pek Tek. "Ci Hie Po apamu?"

"Dia Ayahku," jawab Ci Giok Phang dengan sikap hormat.

"Oh, pantas ilmu pedangmu bagus sekali. Dua puluh tahun yang lalu kami berkenalan dengan ayahmu. Aku Pek Tek, mungkin ayahmu pun pernah bilang padamu?" kata Pek Tek.

"Oh, ternyata Anda Pek Siok-siok!" kata Ci Giok Phang. "Benar Ayah pernah bercerita tentang Siok-siok, tapi sekarang Ayah telah tiada."

"Aku sudah tahu," kata Pek Tek, "belum lama ini aku bertemu temanmu, Kok Siauw Hong!"

"Sebenarnya kami sedang mencari dia," kata Ci Giok Phang. "Aku dengar dia pergi..”

Kata-kata Giok Phang terhenti karena Pek Tek mengedipkan mata ke arahnya. "Benar, dia ke rumah sahabatnya. Apa kalian mau ke rumah Bun Tay-hiap, silakan aku tak merintangi kalian!" kata Pek Tek.

Memikirkan kedipan Pek Tek tadi Ci Giok Phang sadar, jika dia mengatakan Siauw Hong ke tempat Ong Cee-cu, maka si Kong-cu akan menuduh mereka berkomplot dengan penjahat. Dia juga heran kenapa jago tua yang sudah lama mengundurkan diri itu tiba-tiba muncul.

Nona Wan maju dia langsung berkata.

"Tapi Han Kong-cu yang menghalangi kami!" kata nona Wan.

Pek Tek tertawa.

"Harap Kong-cu memandang mukaku, orang she Ci ini sahabatku. Ji-kong-cu harap kau tidak menyusahkan aku!"

Tadi dia tak bisa mengalahkan Kong-sun Po, sekarang Pek Tek mengaku punya hubungan dengan pem,uda she Ci. Sekalipun dia dongkol dia lalu berkata.

"Karena keadaan agak gawat, dan Ayahku seorang pejabat, maka mau tak mau aku waspada! Maafkan kami, saudara Ci. Orang kalangan Kang-ouw menjadi sahabat, biasanya harus dengan berkelahi dulu!" kata Han Hie Sun.

"Dia ini putera Perdana Menteri Han," kata Pek Tek pada Ci Giok Phang dan kawan-kawannya.

Dengan merendah Ci Giok Phang berkata lagi.

"Kami senang bisa bertemu. Tapi mana mungkin kami bergaul dengan orang bangsawan. Jika Han Kong-cu mau membebaskan kami, kami sudah sangat bersyukur!" kata Ci Giok Phang.

Semula mereka akan jalan-jalan melihat See-ouw, tapi karna kejadian tadi selera mereka hilang. Maka itu mereka langsung pamit dan berangkat akan menemui Bun Yat Hoan.

Di tengah jalan nona Wan bertanya pada Kong-sun Po. "Kong-sun Toa-ko, kenapa bisa kebetulan kau pun

datang ke mari?" kata nona Wan. "Mana nona Kiong?"

"Aku ke Kang-lam untuk mencari dia," kata Kong-sun Po.

"Apa kau tidak bertemu dengannya?"

"Kami janji akan bertemu di tengah jalan ke Kim-kee- leng," kata Kong-sun Po. "Di Kim-keeleng pun aku tidak bertemu dengannya. Entah ke mana dia. Karena aku tahu dia senang pemandangan yang indah, aku pikir dia ke Kang-lam. Maka itu aku datang ke mari!" kata Kong-sun Po.

"Dia memang senang melancong," kata nona Wan. "Kalian sudah janji, jika ada sesuatu seharusnya dia memberi khabar padamu!"

"Itu sebabnya aku jadi khawatir," kata Kong-sun Po. Kong-sun Po dan nona Wan tidak mengetahui bahwa

HokhongTo-cuKiong Cauw Bun bermusuhan dengan Hong-lai-moli di Kim-kee-leng. Sesudah nona Kiong bertemu dengan Kong-sun Po, nona Kiong mulai tidak percaya pada ayahnya. Tapi karena dia melarikan diri dari ayahnya, ditambah dia bergabung dengan musuh ayahnya, betapa marahnya sang ayah nanti.

Saat nona Kiong mengetahui ayahnya sedang menguntit Kong-sun Po, maka dia menggunakan siasat supaya ayahnya mengejar dia tapi tidak mengejar Kong-sun Po. Dia naik kuda pemberian nona Wan, hingga dia tidak bertemu  dengan  Kong-sun  Po.  Dia  ingin  memberi   tahu Kong-sun Po, tapi khawatir bertemu ayahnya. Itu sebabnya dia tak ke Km-kee-leng. Ditambah dia mendapat halangan lain.

Saat nona Wan melihat Kong-sun Po murung, nona Wan menghiburnya.

"Dia cerdas dan lihay, kau jangan cemas. Barangkali dia ada di Kang-lam sedang bersenang-senang," kata Wan Say Eng.

"Aku juga berharap begitu!" kata Kong-sun Po.

"Untung kau datang, jika tidak kami bisa celaka," kata Ci Giok Phang ikut bicara. "Han Kong-cu itu ternyata lihay!"

"Aku juga heran?" kata Kong-sun Po.

"Apa yang kau herankan?" tanya nona Wan. "Dia murid Pek Tek, jago tua itu. Pantas jika dia lihay!”

"Aku kira dia bukan murid Pek Tek!" kata Kong-sun Po. "Darimana kau ketahui hal itu?" tanya nona Wan.

"Dari ilmu silatnya," jawab Kong-sun Po. "Tenaga Pek Tek keras dan lunak, berbeda dengan tenaga orang she Han itu! Setahuku Pek Tek bukan akhli Tiam-hiat!"

"Kau sangsi tentang gurunya?" kata nona Wan.

"Ya. Tapi aku belum bisa menjelaskannya," kata Kong- sun Po. ”Aku kira Bun Tay-hiap pengalamannya luas, lebih baik kita tanyakan saja pada beliau!"

Nona Wan agak tak sabar tapi mereka sudah dekat ke rumah Bun Yat Hoan. Begitu sampai mereka meminta pada penjaga rumah agar memberi tahu pada Bun Yat Hoan tentang kedatangan mereka. Tak lama mucul seorang pria berumur sekitar limapuluh tahun. Ci Giok Phang mengenalinya. "Eeh, ternyata Chan Toa-siok pun ada di sini?" kata Ci Giok Phang.

Pemuda ini agak kaget bertemu Chan It Hoan. Dia salah seorang pegawai keluarga Han di Yang-ciu.

"Ci Kong-cu, sudah kuduga kau akan datang. Tentang kejadian masa lalu jangan kau pikirkan. Adikmu sekarang menjadi menantu Bun Yat Hoan," kata Chan It Hoan.

"Benar, aku memang sedang mencari adikku," kata Giok Phang. "Benarkah dia telah menkah dengan Seng Siauwhiap?"

"Benar," kata Chan It Hoan. "Pestanya pun meriah sekali, semua jago berdatangan mengucapkan selamat. Sayang kau tak hadir!"

"Chan Toa-siok, tolong kau temukan aku dengannya," kata Ci Giok Phang.

"Sayang, adikmu dan Seng Siauw-hiap sedang tak ada di rumah," kata Chan It Hoan.

"Ke mana mereka?" kata Ci Giok Phang.

"Mereka sedang melaksanakan tugas dari gurunya," kata Chan It Hoan. "Sebentar bila kau betemu dengan Bun tay- hiap bisa kau tanyakan soal mereka padanya."

Mereka lalu dipersilakan masuk. Malah Chan It Hoan sudah mendapat keterangan Bun Yat Hoan sedang menunggu mereka di ruang tamu.

Begitu bertemu Bun Yat Hoan, Kong-sun Po memberi hormat.

"Jangan sungkan," kata Bun Yat Hoan. "aku juga mendapat petunjuk Kakekmu, sekalipun aku tidak jadi murid kakekmu! Tapi bisa dikatakan aku ini muridnya yang tidak resmi!" Bun Yat Hoan mencoba membangunkan Kong-sun Po, maksudnya untuk menjajal tenaga Kong-sun Po.

Bun Yat Hoan girang melihat Kong-sun Po tampak gagah. Dia girang sekali padahal ayah Kong-sun Po yaitu Kong-sun Kie banyak berbuat dosa. Tapi anaknya cukup menggirangkan. Ci Giok Phang pun memberi hormat.

Bun Yat Hoan berkata pada pemuda ini.

"Adikmu telah menjadi isteri muridku. Maka sebagai keluarga kau jangan sungkan! Sayang kau datang terlambat, sekarang mereka sedang ke tempat Ong Cee-cu! Mereka mewakiliku!" kata Bun Yat Hoan.

"Kebetulan, kami juga mau ke Thay-ouw." kata Ci Giok Phang. "Jangan tergesa-gesa, kalian baru datang, istirahat saja dulu," kata Bun Yat Hoan. Nona Wan memberi hormat. "Siapa dia?" tanya Bun Yat Hoan.

"Dia puteri ketua pulau Beng-shia-to!" kata Ci Giok Phang.

"Hm! Kau jangan malu-malu, bukankah dia tunanganmu?" kata Kong-sun Po.

"Oh, jadi kau menantu beliau?" kata Bun Yat Hoan.

Bun Yat Hoan jadi heran kenapa Ci Giok Phang bertunangan dengan anak seorang jago tua yang berpihak di dua golongan, jahat dan benar. Mereka dipersilakan duduk. Setelah mereka duduk Kong-sun Po bicara.

"Paman Bun, ada yang ingin kutanyakan pada Paman," "Kakatakan saja," kata Bun Yat Hoan.

"Tadi di luar kota kami bertemu dengan Pek Lo-sian- seng, dia tinggal di rumah Perdana Menteri Han, siapa beliau itu?" kata Kong-sun Po. "Yang kau maksud Pek Tek, bukan?" kata Bun Yat Hoan. "Dia utusan Ong Cee-cu dan tamu Han To Yu. Kenapa kau sangsi padanya?"

"Mana berani, beliau jago tua. Mana mungkin aku sangsi!" kata Kong-sun Po. "Yang ingin kuketahui tentang putera perdana menteri, apa dia murid Pek Lo-cian-eee atau bukan?"

"Terus terang aku juga tak tahu soal itu," kata Bun Yat Hoan. "Pek Tek baru dua bulan di sana, apa kau bertarung dengannya?"

"Ya. Aku sangsi gaya bersilat Han Hie Sun berbeda dengan ilmu silat Pek Lo-cian-pwee. Sekarang sesudah mendengar keterangan Bun Tay-hiap, aku yakin dia bukan murid Pek Locian-pwee. Lalu murid siapa?" kata Kong-sun Po.

"Di istana ayahnya tidak sedikit orang-orang gagah," kata Bun Yat Hoan. "Dari ceritamu, Han Hie Sun lebih tinggi kepandaiannya dari para jago di sana. Siapa gurunnya, aku juga tak tahu. Memang kenapa?"

"Karena curiga jadi aku ingin tahu saja," jawab Kong-sun Po.

"Jago Tiam-hiat sekarang ini, mana ada yang lebih lihay dari Bu-lim-thian-kiauw! Malah aku dengar kau belajar darinya. Masakah kepandaianmu aku mampu menandingi dia?" kata Bun Yat Hoan.

"Dia lihay, sekalipun belum sempurna sekali. Selain  lebih hebat ilmu totoknya lebih baik dari Tam Siok-siok!" kata Kong-sun Po.

"Kenapa begitu?" Bun Yat Hoan keheranan. "Entahlah, kuakui dia lebih lihay!" kata Kong-sin Po. "Jadi dia mahir Keng-sin-ci-hoat?"

"Benar! Maka itu aku heran." Kata Kong-sun Po.

"Jika demikian, sungguh aneh sekali!" kata Bun Yat Hoan.

"Apa yang mengherankan, jelaskan, aku tidak mengerti?" kata nona Wan.

"Maksudnya, ilmu tiam-hiat Tam Yu Cong itu berdasarkan hiat-to atau titik yang ada di patung tembaga milik Kerajaan Song yang diduduki bangsa Kim. Patung itu dirampas oleh musuh. Konon raja Kim mengumpulkan jago silat dan tabib untuk mengungkap rahasia patung itu!" kata Bun Yat Hoan. "Tim penyelidikan itu dipimpin oleh Wan-yen Tiang Ci."

"Sekarang aku mengerti!" kata nona Wan. "Mengerti tentang apa?" kata Ci Giok Phang.

"Aku sekarang tahu, siapa "orang bertopeng" yang mencuri lukisan itu!" kata nona Wan. "Dia adalah guru Han Hie Sun!"

"Apa maksudmu. Siapa orang bertopeng itu  maksudmu?" kata Bun Yat Hoan.

Nona Wan menceritakan apa yang dia dengar dai Kho-si atau isteri Ciauw Goan Hoa sebelum dia meninggal.

"Oh, jadi begitu ceritanya," kata Bun Yat Hoan.

"Aku tahu sekarang," kata Bun Yat Hoan. "Jadi salinan gambar itu ada dua buah. Yang satu milik Kerajaan Song yang satunya hasil penelitian orang Kim!" kata Bun Yat Hoan.

"Bun Tay-hiap benar," kata nona Wan. "Mungkin lukisan  asli  milik  Kerajaan  Song  lebih  bagus  dibanding milik kerajaan Kim, itu sebabnya Kong-sun Po mengatakan ilmu tiam-hiat Han Hie Sun lebih bagus! Saat terjadi pencurian di kamar Kho Kiat, orang bertopeng menotok Yo Tay Ceng dan Ciok Leng. Ketika itu Yo Tay Ceng dan Ciok Leng mencurigai Kho Kiat bersekongkol dengan orang bertopeng. Orang itu dikira Hokhong To-cu Kiong Cauw Bun. Ternyata dugaan itu keliru. Sebab orang itu guru Han Hie Sun!"

"Kita sudah mendapat titik terang, tapi siapa guru Han Hie Sun?" kata Ci Giok Phang.

"Tentang Keng-sin-ci-hoat itu, Tam Siok-siok belum mempelajarinya secara sempurna. Dia tahu ada sebuah lukisan milik Kerajaan Song, tapi tak tahu ada di mana?" kata Kong-sun Po. "Jika guru Han Hie Sun sudah ditemukan, maka akan bermanfaat bagi Tam Siok-siok. Mereka berdua bisa bertukar-pikiran berdua!"

"Muridnya begitu, pasti sifat gurunya juga sama," kata nona Wan. "Sifat Han Hie Sun jahat, orang yang jadi gurunya pasti sama dan bukan orang baik!"

"Memang aku juga khawatir, jika lukisan itu berada di tangan oangjahat, kelak pasti akan membahayakan dunia persilatan," kata Bun Yat Hoan. "Sebaiknya aku mencari tahu, siapa guru Han Hie Sun? Jika tidak berhasil aku akan minta bantan Liok Pang-cu Kay-pang untuk mencari siapa orang itu'.

"Terima kasih, Bun Tay-hiap," kata Kong-sun Po.

Mereka akan pamit tapi ditahan agar bermalam, baru besoknya mereka pergi dari rumah Bun Yat Hoan.

Esok harinya...

Saat matahari terbit, mereka sudah meninggalkan tempat Bun Yat Hoan. Di tengah jalan nona Wan bicara. "Eeh, apa kalian setuju malam ini kita selidiki rumah Han To Yu?" kata si nona.

"Jangan terburu-buru, bukankah Bun Tay-hiap berjanji akan membantu menyeldiki masalah ini?'' kata Ci Giok Phang sambil tersenyum.

"Kho-si meninggal gara-gara lukisan itu," kata nona Wan, "aku ingin sekali segera mengungkap misteri itu. Jika Bun Tay Hiap berhasil dan tahu siapa guru Han Hie Sun, kita bisa apa terhadapnya? Kita ke rumah Han To Yu, lalu bekuk Han Hie Sun dan langsung kita tanya dia, beres!"

"Jangan! Cara begitu kurang baik. Kita cari saja Pek Locian-pwee untuk kta tanya!" kata Kong-sim Po.

"Aku tak setuju, sebab begitu sampai di sana, kita sudah akan diganggu oleh Han Hie Sun. Lebih baik kita bertindak secara diam-diam saja," kata nona Wan.

Akhirnya Kong-sun Po setuju. Mereka menuju ke kota Liman. Sampai di sana hari masih sore. Lalu mereka makan dulu di sebuah rumah makan kecil. Mereka pun mencoba bertanya di mana istana perdana menteri Han. Sesudah tahu mereka pun menunggu saat yang tepat. 

Sore itu mereka menuju ke danau ke tempat tinggal Han To Yu. Istana perdana menteri ini berdiri membelakangi bukit. Dari sebuah tebing mereka mengintai ke istana itu.  Di sekitar rumah terdapat banyak oyot atau akar pohon, dengan mudah mereka bisa memasuki taman. Padahal di taman itu banyak Wi-su (pengawal) yang berjaga-jaga. Mereka mengendapendap di balik semak-semak. Tampak beberapa pengawal sedang meronda di sekitar taman. Ci Giok Phang dan kawankawannya mengawasi ke arah gedung. "Gedung ini tamannya luas sekali," kata Ci Giok Phang. "Di mana letak kamar Han Hie Sun keparat itu!"

"Jangan tergesa-gesa, tunggu saat yang baik," bisik nona Wan.

Saat mereka sedang mengintai, tiba-tiba seorang budak keluar.

Dengan cepat dia disergap nona Wan.Mulutnya dibekap lalu dibawa ke balik semak.

"Tenang, jangan takut," kata nona Wan. "Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu. Tapi jika kau tak jujur awas!"

Budak itu ketakutan.

"Katakan saja, apa yang ingin kau tanyakan?" kata si budak.

"Kau mau ke mana?" kata nona Wan.

"Aku sedang membawa kuah kolesom untuk Ji-siauw- ya," kata budak itu.

"Aku ingin tahu, di mana kamar Ji Kong-cumu?" kata nona Wan.

"Kalian mencari majikan mudaku?"

"Benar," kata nona Wan. "Lekas katakan, di mana kamarnya?"

Dia tahu majikan mudanya senang bergaul dengan orang kang-ouw, maka itu tanpa ragu-ragu dia berkata, "Dia tinggal di rumah susun bercat merah! Dari sini ke selatan kalian akan sampai di rumah itu. Tapi kau jangan bilang aku yang memberitahu!"

"Jangan takut, aku kira Kong-cumu tak akan bertanya apaapa padamu. Kau istrahatlah dulu di barang sejam, baru kau ke kamarmu untuk tidur," kata nona Wan sambil menotok jalan darah budak itu.

"Kalau kuah kolesom ini dibuang sayang sekali, lebih baik kuminum saja!" kata nona Wan sambil tertawa. Lalu dia minum. "Ah, enak juga rasanya. Kalian mau?" kata nona Wan.

"Minum saja," kata Ci Giok Phang.

Sesudah itu mereka menuju ke gedung tingkat bercat merah. Dengan berhati-hati mereka berusaha agar tidak terlihat oleh para penjaga. Dari semak-semak mereka mengintai, mereka lihat di salah satu jendela ada bayangan orang.

"Hai, sedang apa dia?" kata nona Wan yang mengenali bayangan itu bayangan Han Hie Sun.

Ternyata Han Hie Sun sedang berlatih suatu ilmu.

Kakinya ke atas dan kepalanya bertumpu ke lantai.

"Dia sedang berlatih tenaga dalam," kata Kong-sun Po. "Tapi rasanya tidak bagus."

"Tidak bagus bagaimana?" tanya nona Wan. "Jika dia sedang konsentrasi, apapun yang terjadi di sekitarnya, tidak dia hiraukan. Lalu kenapa kau bilang kurang baik?"

"Sikap seperti itu tidak baik, menyerang orang sedang dalam kesulitan. Sebaiknya kita bertarung dengannya dan mengalahkannya, baru kita culik dia!" kata Kong-sun Po.

"Apa perlunya bicara soal aturan dengan si jahat itu!" kata nona Wan.

Ketika mereka masih berdebat, tiba-tiba muncul wanita tua bersenjata tongkat bambu hijau. Ci Giok Phang dan nona Wan langsung mengenali wanita tua itu. Dia Seng Cap-si Kouw adanya. "Mau apa dia ke mari? Apa dia kawan orang she Han atau bukan?" pikir nona Wan.

Saat si nona bingung, tiba-tiba dia lihat Seng Cap-si Kouw memukul kepala Han Hie Sun. Mereka mengira wanita itu ingin membunuh pemuda itu. Ternyata dugaan mereka salah. Dia memukul untuk menghentikan latihan Han Hie Sun yang sudah tingkat kritis. Jika tidak segera ditolong oleh Seng Capsi Kouw bisa jadi Han Hie Sun celaka atau binasa.

Seng Cap-si Kouw seorang akhli aliran hitam. Tindakannya itu justru untuk menyelamatkan Han Hie Sun dari bahaya. Melihat Seng Cap-si Kouw ada di kamarnya, Han Hie Sun memberi hormat.

"Maaf, aku tidak menyambutmu!" kata Han Hie Sun. "Mana suhumu?" tanya Seng Cap-si Kouw.

"Dia sudah menduga kau akan datang, tapi tidak kukira akan secepat ini," kata Han Hie Sun. "Dia akan sampai dua tiga hari lagi. Kau mau menunggu kedatangannya?"

"Semula kukira dia bersembunyi di taman, rupanya itu orang lain," kata Seng Cap-si Kouw.

"Kau melihat siapa?" tanya Han Hie sun.

"Jika aku tak muncul, mungkin kau sudah disergap mereka. Tapi aku tidak tahu siapa orang itu?" kata Seng Cap-si Kouw.

Mendadak Seng Cap-si Kouw mengayunkan tangan ke arah taman.

"Hai bocah yang sembunyi di taman, keluar!" kata Seng Cap-si Kouw.

Saat nona Wan melihat munculnya si iblis perempuan, dia tarik tangan Ci giok Phang dan mengajak Kong-sun Po untuk segera meninggalkan tempat itu. Tapi saat mereka mengundurkan diri, mereka mendengar suara deingan senjata rahasia yang dilontarkan oleh si iblis perempuan. Sambitan si iblis sangat aneh, senjata rahasianya berubah seperti sebuah bumerang. Sekalipun musuh bersembunyi di balik bukitbukitan, senjata itu mampu berbalik dan menyerang dengan hebat. Untung Kong-sun Po melihatnya. Dengan cepat, senjata rahasia cincin itu berhasil disentil oleh Kong-sun Po hingga berjatuhan.

Tak lama berkelbat sebuah bayangan. Itulah bayangan Seng Cap-si Kouw yang melompat lewat jendela ke taman.

"Aah, aku kira siapa. Ternyata kalian, hai bocah-bocah masih bau kencur!" kata Seng Cap-si Kouw.

Kong-sun Po belum pernah bertarung dengan wanita tua ini, maka itu dia belum tahu seberapa lihaynya wanita tua ini.

"Lekas lari, biar aku yang menghadapi dia!" kata Kong- sun Po pada kawan-kawannya.

"Mau pergi ke mana, jangan harap kalian bisa lolos!" kata Seng Cap-si Kouw.

Dia angkat tongkatnya langsung menghajar kepala Kong-sun Po dengan tongkat bambu hijaunya. Kong-sun Po secara reflek menangkis serangan itu dengan payung besinya.

"Traaang!"

Tangan Kong-sun Po langsung kesemutan. Dia kaget  dan heran, untung payungnya dari baja murni. Jika bukan dan beradu, terkadang senjata lawan patah. Aneh tongkat bambu Seng Cap-si Kouw mampu menahan payung itu. Sebaliknya iblis perempuan ini pun kaget. Dia langsung ingat cerita See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek. Mereka bilang mereka pernah bentrok dengan pemuda bersenjata payung. Dia manggutmanggit. Tak lama Han Hie Sun pun melompat dan sudah sampai di tempat itu.

"Aaah, aku kira siapa? Ternyata kalian!" kata Han Hie Sun mengejek. "Kemarin kalian aku undang, tapi kalian menolak. Eeh, malam ini malah kalian datang! Sembunyi- sembunyi lagi!"

Han Hie Sun tertawa menghina.

"Jika kalian sendiri datang, sebaiknya tak boleh pergi lagi!" kata Han Hie Sun.

Orang yang dia takutkan Kong-sun Po, tapi pemuda itu sedang bertarung melawan Seng Cap-si Kouw. Dia girang, maka itu dia hampiri Ci Giok Phang dan nona Wan.

"Karena ada Pek Tek, jiwa kalain kuampuni. Sekarang kau harus kuajar adat!" kata nona Wan.

Han Hie Sun tertawa.

"Kau mau mengajar adat padaku? Aku malah sayang padamu!" kata Han Hie Sun menggoda dengan sikap tengil.

Wajah nona Wan berubah serius. Dia tusukkan pedangnya ke dada lawan.

"Nona, ilmu totokmu itu harus kau latih lagi!" kata Han Hie Sun.

Saat serangan pedang nona Wan sampai, dengan cepat dia buka kipasnya. Ketika pedang sampai, kipas itu dia tutup dengan cepat.

"Sreet!"

Dia tangkis pedang nona Wan, lalu dengan kipasnya dan dia totok bagian dada nona Wan. "Jangan tekabur!" bentak Ci Giok Phang yang langsung menyerang. Dia gunakan jurus Sam-goan-to-goat (Tiga gelang menjerat rembulan). Ini salah satu jurus andalan Pek-hoa-kok.

Han Hie Sun pernah bertarung melawan Ci Giok Phang. Maka itu dia tidak berani memandang ringan lawan. Dia tarik kipasnya untuk menangkis serangan pedang lawan. Lalu balas menyerang dengan menotok beberapa jalan darah Ci Goik Phang.

Serangan nona Wan tak sehebat Ci giok Phang, tapi jurus pedang si nona cukup gesit dan berbahaya. Tak lama terdengar suara nyaring.

"Breet!"

Tangan baju Han Hie Sun terobek pedang si nona.

Pertempuran mereka jadi seimbang, entah jika satu lawan satu, tapi sekarang Han Hie Sun dikeroyok berdua.

Sekalipun Seng Cap-si Kouw lebih lihay dari Kong-sun Po, tapi untuk mengalahkan pemuda itu tidak mudah. Dengan paung di tangannya, Kong-sun Po berusaha menahan setiap serangan si iblis perempuan. Tak heran setiap serangan Seng Cap-si Kouw selalu bisa diatasi oleh pemuda ini.

Ketika itu para penjaga sudah mengetahui ada pertempuran di taman, mereka segera berlomba mendatangi taman. Sejak masih kecil Kong-sun Po dididik oleh tiga jago terkemuka. Lwee-kangnya sangat tinggi, sedang pukulan jarak jauhnya sudah bagus. Ketika Kong-sun Po menyerang Han Hie Sun, orang she Han itu merasa dadanya seperti terhajar sebuah palu besar. Dia mundur beberapa langkah. Melihat lawannya mundur, nona Wan menggunakan kesempatan baik itu. "Rasakan pedangku!" kata si nona yang menusuk bahu Han Hie Sun dengan cepat.

Tapi kecepatan nona Wan masih kalah oleh kecepatan tongkat bambu hijau. Seng Cap-si Kouw menangkis pedang nona Wan. Sekarang dia menghadapi Ci Giok Phang dan nona Wan. Sebuah serangan yang diarahkan ke dua sasaran dan luar biasa cepatnya. Nona Wan buru-buru menarik tusukannya. Bersama Ci Giok Phang nona Wan melompat mundur.

Pada saat yang bersamaan Kong-sun Po sudah melompat maju membantu dua kawannya. Untung gerakan Seng Cap- si Kouw hanya ingin menyelamatkan Han Hie Sun, jika dia berniat menyerang mereka, paling tidak nona Wan akan terluka olehnya.

Serangan Kong-sun Po pada Han Hie Sun sebuah serangan tipuan. Akal Kong-sun Po ini ternyata berhasil. Dengan mundurnya Seng Cap-si Kouw menyelamatkan Han Hie Sun, kesempatan ini digunakan oleh tiga anak muda itu untuk meloloskan diri. Han Hie Sun kelihatan kesakitan. Bahunya terasa panas.

"Aah kejam sekali perempuan itu, untung Seng Cap-si Kouw menyelamatkan aku!" pikir Han Hie Sun yang kaget bukan kepalang.

Dengan marah Han Hie Sun memberi perintah. "Pengawal tangkap mereka! Jangan sampai ada yang

lolos!" kata Han Hie Sun.

Saat mengejar usaha mereka sia-sia. Dengan mudah Kong-sun Po berhasil menotok mereka.

Su Hong gusar. "Panggil Pek Tek supaya dia lihat perbuatan kawankawannya. " kata Su Hong.

Tapi belum selesai ucapannya payung Kong-sun Po sudah mengancam dirinya. Dia gunakan Kim-na-ciu andalannya. Tapi celaka justru urat nadi Su Hong terkilir karena bentrok dengan payung baja murni Kong-sun Po.

Dengan cepat ketiga orang itu sudah melompati tembok dan menghilang. Saat itu mereka dihujani oleh anak panah para pengawal, Kong-sun Po dengan payungnya menangkis semua anak panah itu.

Ketika mereka sudah jauh Seng Cap-si Kouw berpikir. "Jika mereka kukejar, belum tentu aku bisa mengalahkan

mereka? Apalagi dia murid Beng Beng Tay-su, jika aku memaksa aku malah dianggap menghina Beng Beng Tay- su!" begitu Seng Cap-si Kouw berpikir.

Dia tak jadi mengejar, malah bertanya pada Han Hie Sun.

"Bagaimana lukamu? Biar lain kali kita balas mereka!" kata Seng Cap-si Kouw.

Saat itu Han Hie Sun menahan sakit karena pukulan jarak jauh Kong-sun Po tadi. Maka itu dia pun diam saja.

-o-DewiKZ^~^aaa-o-

Bab  Ci Giok Phang Bertemu Siauw Hong; Seng Liong Sen Dipermainkan Pengemis Tua

Tiga orang muda-mudi itu melarikan diri dari taman gedung perdana menteri. Ketika mereka menoleh dan tidak ada yang mengejar lagi, hati mereka lega juga. Sambil tersenyum Wan Say Eng berkata pada dua orang kawannya.

"Tidak kusangka, lihay juga iblis perempuan itu!" kata nona Wan. "Jika Ayah sudah aku temukan, akan kucari lagi dia untuk mengadakan perhitungan yang menentukan!"

"Sesudah kejadian ini aku khawatir Pek Lo-cian-pwee mendapat susah dari mereka!" kata Kong-sun Po.

"Mudah-mudahan saja tidak," kata Ci Giok Phang. "Pek Locian-pwee merupakan penghubung antara Han To Yu dengan para tokoh persilatan di daerah Kang-lam, yakni saat diketahui tentara Mongol akan menyerang ke daerah selatan! Aku kira Han To Yu masih memerlukan tenaganya."

"Sekarang mau ke mana kita?" tanya Kong-sun Po. "Sebaiknya kita ke Thay-ouw saja untuk menemui Kok

Siauw Hong!" kata Ci Giok Phang.

"Baik, karena Ong Cee-cu dengan Bibi Hong-lai-mo-li punya hubungan baik," kata Kong-sun Po. "Kita bisa  minta bantuan Ong Cee-cu untuk mengirim khabar kepada Bibi Hong-lay-moli di Kimkee-leng! Beritahu pada Bibi tentang munculnya Iblis Perempuan di istana Perdana Menteri Han. Aku yakin Bibi akan memberi tahu Tam Siok-siok. Maka dengan tak perlu menunggu bertemu ayahmu, aku rasa sudah memadai jika hanya untuk membereskan si Iblis Perempuan!"

"Dari ucapan Seng Cap-si Kouw tadi, aku yakin dia kenal dengan guru Han Hie Sun. Guru Han Hie Sun pasti si Manusia Bertopeng. Jika Bu-lim-thian-kiauw mengetahui hal ini, pasti dia akan mencari mereka!" kata nona Wan.

Mereka terus melanjutkan perjalanan ke Thay-ouw.

Tanpa terasa akhirnya mereka tiba di Thay-ouw.

Danau itu luas sekali. Pemandangan di tempat itu pun indah. Ketika mereka sedang berada dekat semak gelagah, terdengar suara suitan nyaring. Tak lama muncul sebuah perahu dari balik semak-semak itu.

"Apakah Anda rombongan Ci Kong-cu dari Pek-hoa- kok?" sapa si tukang perahu.

Mendengar pertanyaan itu mereka jadi keheranan.

"Kau mengenaliku, siapa sebenarnya Anda? Padahal kita belum pernah berkenalan," kata Ci Giok Phang.

"Aku sudah tahu tentang kedatangan kalian dari Ong Ceecu, aku diperintah beliau untuk menyambut kedatangan kalian!" kata si tukang perahu.

Ci Giok Phang mengangguk, tanpa ragu-ragu mereka naik ke atas perahu. Perahu pun mulai dikayuh.

"Tuan, tahukah kau di mana Kok Siauw Hong dan Nona Ci bersama Seng Siauw-hiap berada?"kata Ci Giok Phang. "Tentang Kok Siauw-hiap, dia memang ada di Thay- ouw. Mengenai Seng Siauw-hiap dan isterinya, aku tidak tahu," jawab si tukang perahu.

Markas besar Ong Cee-cu berada di danau besar Tongteng-ouw. Ketika mereka sampai ternyata Ong Cee-cu dan Kok Siauw Hong sudah menunggu kedatangan mereka di sana. Sekalipun mereka girang karena bertemu dengan Kok Siauw Hong, hati Ci Giok Phang merasa tidak enak juga. Sedang Ong Cee-cu langsung berkata pada Ci Giok Phang.

"Ci Siauw-hiap, kau dari tempat Bun Tay-hiap, sayang aku tidak bisa menghadiri pernikahan adikmu dengan Seng Siauwhiap!" kata Ong Cee-cu.

"Jadi mereka belum sampai ke tempat ini?" kata Ci Giok Phang bingung dan khawatir. "Kata Bun Tay-hiap adikku bersama suaminya sudah lama mau ke sini!"

"Hah! Wah, kalau begitu mereka mendapat halangan di tengah jalan. Tapi jangan khawatir, sebab Seng Liong Sen dikenal di daerah ini. Biar akan kukirim orang untuk menyelidikinya!" kata Ong Cee-cu memberi kepastian.

Mereka akhirnya bermalam di tempat Ong Cee-cu yang bernama Ong It Teng.

Malam itu Ci Giok Phang tidur dengan Kok Siauw Hong. Mereka ngobrol sampai jauh malam. Terutama mengenai pengalaman mereka saat keduanya berpisahan.

"Tempo hari ketika aku ke rumah Perdana Menteri Han To Yu, aku bertemu dengan seseorang, mungkin kau pun tidak mengira." kata Ci Giok Phang.

"Bertemu dengan siapa?" tanya Kok Siauw Hong. "Dengan Seng Cap-si Kouw," jawab Ci Giok Phang. "Kenapa dia bisa ada di sana?" tanya Kok Siauw Hong heran.

Sesudah itu Ci Giok Phang menceritakan pertemuannya dengan Seng Cap-si Kouw.

"Aku pun sedang mencari dia!" kata Kok Siauw Hong. "Mencari dia, untuk apa?" kata Ci Giok Phang.

"Ayah Pwee Eng luka dan dirawat di rumahnya, tapi ketika dicari dia tidak ada di sana hingga membuat Pwee Eng khawatir. Jadi untuk mencari ayah nona Han kita harus mencari dia dulu!" kata Kok Siauw Hong.

Ci Giok Phang menghela napas.

"Syukur kau tidak bertemu dengan Han Lo-eng-hiong!" kata Ci Giok Phang.

Kok Siauw Hong langsung mengerti apa artinya itu, sebab jika dia bertemu dengan Han Tay Hiong dan menyampaikan soal pemutusan perjodohannya dengan Han Pwee Eng bisa berabe. Ternyata dalam setahun terakhir ini telah terjadi banyak perubahan yang dialaminya.

Saat Seng Liong Sen dan Ci Giok Hian diperintahkan pergi ke tempat Ong Cee-cu di Thay-ouw, mereka langsung mengadakan perjalanan bersama-sama.

Suatu hari mereka telah tiba di daerah Ciat-kang Barat. Untuk menghemat waktu mereka mengambil jalan pintas lewat daerah pegunungan. Saat itu Seng Liong Sen ingat sesuatu.

"Dik Giok Hian nanti di Thay-ouw pasti kau akan bertemu dengan orang yang tak kau duga-duga," kata Seng Liong Sen.

Ci Giok Hian heran melihat sikap aneh suaminya itu. "Maksudmu bertemu dengan siapa?" kata Ci Giok Hian.

"Kau akan bertemu dengan Kok Siauw Hong," kata Liong Sen dingin. "Aku dengar dari Suhu, dia akan ke Thay-ouw!"

"Jika bertemu dengannya, memang kenapa?" kata Giok Hian dengan perasaan kurang enak. "Kita sudah jadi suami isteri, apa kau masih tidak percaya padaku?"

"Kau baik padaku, aku sangat berterima kasih," kata Liong Sen. "Tapi karena aku dicelakakan si budak sial itu, aku hanya namanya saja suamimu, tapi tak bisa menjalankan kewajiban sebagai suami yang baik. Aku jadi tidak enak padamu. Entah Kok Siauw Hong sudah menikah atau belum dengan Nona Han?"

"Tutup mulutmu! Jangan kau teruskan bicaramu!" kata Ci Giok Hian. "Ingat! Bagi suami isteri kerukunan rumah- tangga dan saling mencintai sudah cukup! Yang lain jangan kau pikirkan!"

Sesudah Ci Giok Hian mendengar ucapan suaminya, dia jadi merasa kurang nyaman. Dia teringat kepada Kok Siauw Hong yang dulu sangat dicintainya. Gara-gara itu dia sampai harus bentrok dengan Han Pwee Eng, sahabat baiknya.

"Benarkah aku menyukai Seng Liong Sen? Bukankah karena ketamakanku ingin menjadi isteri seorang Bu-lim- beng-cu hingga aku menikah dengan Liong Sen?" pikir Ci Giok Hian yang mulai bingung dan tidak tenang.

Ketika itu udara agak mendung seperti akan turun hujan, suasana saat itu sangat lembab. Sekarang Seng Liong Sen pun diam. Dia tidak mengajak isterinya bicara lagi. Sambil berjalan mereka sama-sama tutup mulut. Saat tiba dijalan yang sangat curam dan sempit di sebuah lereng gunung, mereka melihat seorang berpakaian mirip pengemis. Dia sedang tidur melintang di tengah jalan.

Mungkin itu seorang pengemis tua yang kelelahan tanpa sadar tertidur di tempat berbahaya itu. Letak jalan itu berada di tepi jurang, sudah tentu tubuh orang itu menghalangi jalan yang akan dilewati suami-isteri tersebut. Jika orang itu membalikkan tubuhnya, sungguh berbahaya. Dia akan terjatuh ke dalam jurang dan binasa. Pengemis itu tidur di tepi jurang beralaskan sebuah bantal batu.

Melihat lagak dan tingkah pengemis yang seolah menghalangi jalan mereka, Seng Liong Sen yang memang sedang dongkol jadi bertambah mendongkol. Tanpa pikir panjang Seng Liong Sen mendamprat ke arah pengemis yang sedang tidur itu.

"Hai pengemis tua yang sudah mau mampus! Aku tak peduli jika kau mau terjun ke dalam jurang hingga mampus di sana! Tapi jangan kau halangi jalan kami!" kata Seng Liong Sen sengit.

"Huus! Sabar sedikit, bangunkan saja," bisik Ci Giok Hian menasihati suaminya. "Malah sebaiknya kau lindungi dia agar tidak terjatuh ke dalam jurang!"

"Kau sangat baik, kenapa kau suruh aku meladeni dia?" kata Liong Sen kurang senang.

"Dia tidur di tempat yang berbahaya, cara dia tidur pun sangat aneh!" kata Ci Giok Hian. "Ingat kata-kata Buddha, menolong satu jiwa sama dengan membangun sebuah pagoda setinggi tujuh tingkat. Apalagi kita pun tidak harus tergesagesa?" "Baik, akan kuturuti permintaanmu," kata Seng Liong Sen.

Sekalipun menurut, tapi hati Seng Liong Sen dongkol karena isterinya terlalu menaruh perhatian pada si pengemis itu.

Seng Liong Sen menghampiri pengemis tua itu, dia mencoba membangunkannya. Tapi si pengemis tua seperti tuli, seolah fia sedang tertidur lelap. Dia tidak menghiraukan panggilan Seng Liong Sen yang berulang- ulang itu.

"Apa kubilang, dia tidur seperti orang mati! Agar tidak buang waktu, mari kita lompati saja dia!" kata Liong Sen.

Saat itu pengemis tua itu bangun dan duduk hingga Ci Giok Hian kaget. Tiba-tiba pengemis tua itu menggerutu.

"Sedang enak-enaknya tidur, kalian datang mengganggu.

Dasar tidak tahu aturan!" kata pengemis tua itu.

"Sial, kami baik ingin menolongimu, kau malah memaki kami!" kata Seng Liong Sen.

"Tadi, kau bilang aku seperti orang mati, bukan?" kata si pengemis tua sengit. "Kaulah yang mau mampus, mana sudi aku kau tolongi!"

Seng Liong Sen gusar. Dia berniat menyerang pengemis itu, tapi Ci Giok Hian mencegahnya.

"Sudah, jangan kau layani dia. Jika dia tidak mau menerima kebaikan kita, mari tinggalkan saja dia!" kata Ci Giok Hian.

Pengemis tua itu mengambil tempat arak dari kulit labu. Dia membuka tutupnya hingga tercium bau harum ke manamana. "Ternyata kau sangat baik, Nona, mari kusuguhi kau arak!" kata si pengemis.

"Siapa yang menginginkan arakmu, lekas minggir!" kata Seng Liong Sen gusar.

"Jika ada orang yang minta arakku ini, belum tentu dia akan kuberi! Tapi kau si bocah busuk, kau berani kurang ajar padaku! Kalau begitu pergi kau dari sini!" kata si pengemis tua.

"Liong Sen, sudah jangan bertengkar dengannya," kata Ci Giok Hian sambil menarik tangan suaminya.

"Memang siapa yang mau ribut dengan pengemis bau ini?" kata Seng Liong Sen.

Ci Giok Hian menarik tangan suaminya, agar segera meninggalkan pengemis tua yang masih menggerutu itu.

Sesudah agak jauh Seng Liong Sen kelihatan masih kurang senang.

"Sudah kubilang kau jangan pedulikan pengemis bau itu," kata Seng Liong Sen pada isterinya. "Ternyata bukan berterima kasih, dia malah mengejek kita!"

"Liong Sen, kau jangan begitu, siapa tahu dia orang gagah kalangan Kang-ouw. Jika bukan, masakan dia berani tidur di tepi jurang yang berbahaya? Kata-katanya pun mencurigakan," kata Ci Giok Hian. Tawaran arak si pengemis tua membuat Ci Giok Hian sedikit curiga, tapi Seng Liong Sen tidak merasakannya. Mungkin karena dia merasa sebagai pewaris Bun Yat Hoan, ditambah lagi dia memang orang daerah Kang-lam. Maka itu di depan isterinya dia tidak mau mengaku salah. "Aku rasa dia bukan orang gagah, jadi jangan sembarangan mengira dia orang gagah!"' kata Seng Liong Sen.

Mereka melanjutkan perjalanan, tapi tak lama Ci Giok Hian mendengar suara orang menggeros sedang tidur. Ketika sampai ke tempat suara itu Ci Giok Hian kaget.

"Lihat Liong Sen!" kata Ci Giok Hian.

Ternyata di depan mereka terlihat si pengemis tua tadi, dia sedang tidur dengan bantal batu seperti saat di jurang tadi.

Yang membuat Ci Giok Hian bingung, karena dia dan suaminya sudah menempuh jarak beberapa li jauhnya. Sekarang dia lihat si pengemis tua itu malah sudah ada di depan mereka. Saat menyusul mereka pasti si pengemis tua itu telah menggunakan gin-kang yang tinggi. Anehnya dalam waktu sesingkat itu dia sudah bisa mendahului mereka. Melihat hal itu Ci Giok Hian kelihatan kaget dan bingung.

"Tenang! Mungkin kau benar dia lihay, bahkan tadi aku memakinya. Tapi aku kira di daerah Kang-lam ini nama Guruku bisa menjadi jaminan. Dia tidak akan marah kepadaku, percayalah!" kata Seng Liong Sen menenangkan hati isterinya.

"Lo Cian-pwee, aku minta maaf tadi aku bersikap kurang sopan padamu," kata Seng Liong Sen sambil memberi hormat.

Tiba-tiba pengemis tua itu bangun, dia mengawasi kedua muda-mudi itu dengan sorot mata gusar.

"Hm! Kiranya kalian lagi! Kenapa sih kalian selalu mengganggu orang yang sedang enak-enak tidur?" kata si pengemis tua. "Maaf, Lo Cian-pwee. Kenapa kau menggoda kami?"

"Siapa punya waktu menggoda kalian, aneh sekali!" kata si pengemis tua. "Katakan padaku, Bu Yat Hoan itu apamu?"

"Beliau Guruku," jawab Seng Liong Sen.

"Aku sudah menduga, pasti kau Seng Liong Sen, pewaris dari gurumu!" kata si pengemis tua.

"Seng Cap-si Kouw itu Bibimu, bukan?"

"Benar, beliau Bibiku. Apa kau juga kenal padanya, Lo Cianpwee!" kata Seng Liong Sen.

"Pantas kau congkak sekali karena gurumu Bu-lim-beng- cu di Kang-lam dan bibimu, orang yang disegani!" kata si pengemis tua.

"Oh maaf, boan-pwee (hamba yang rendah) tidak berani bersikap congkak di depanmu," kata Seng Liong Sen coba merendah sambil memberi hormat.

Pengemis tua itu meminum arak dari tempat araknya. Tapi tiba-tiba arak yang ada di mulutnya yang bercampur dengan ludah, dia semburkan ke muka Seng Liong Sen. Karuan saja Seng Liong Sen terperanjat bukan kepalang. Perbuatan si pengemis tua itu membuat Seng Liong Sen berang sekali.

"Aku tak mau tahu siapa kau, mari kita adu jiwa!" kata Seng Liong Sen pada si pengemis tua.

Seng Liong Sen sudah diajari ilmu silat oleh dua orang guru, Bun Yat Hoan dan Seng Cap-si Kouw, pasti ilmu pedang dan totokkannya lihay. Ketika dia menyerang ke arah tujuh jalan darah lawan, si pengemis tua malah tertawa terbahakbahak. "Hm! Jangankan pedangmu, poan-koan-pit gurumu pun aku tak takut! Kau berani mempertontonkan kepandaian rendahmu di depanku ya? Ibarat sebuah pepatah, kau main kapak di depan tukang kayu kawakan!" kata si pengemis tua mengejek.

Mereka sudah langsung bertarung tapi pedang Seng Liong Sen selalu tertangkis oleh sentilan si pengemis tua itu. Saat Seng Liong Sen hendak mengulangi serangannya, tahu-tahu Seng Liong Sen telah tertotok oleh si pengemis tua itu.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Beng Ciang Hong In Lok Jilid 35"

Post a Comment

close