Beng Ciang Hong In Lok Jilid 30

Mode Malam
 
Sesudah itu pemuda ini menggunakan Cit-siu-kiam-hoat menyerang si kakek.

"Ilmu silatmu hebat sekali," kata si kakek. "Pasti kau putera Kok Ju Sih dari Yang-ciu, namamu Kok Siauw Hong, kan?"

Saat itu dia mengibaskan lengan bajunya dan pedang Siauw Hong miring ke samping.

"Jika kau sudah tahu, pasti kau juga tahu keluarga Kok tidak mudah menyerah pada siapa pun!" kata Kok Siauw Hong.

"Kau keliru!" kata si kakek.

"Keliru bagaimana?" kata Kok Siauw Hong. "Kau kira aku ini siapa?" kata si kakek.

"Bukankah kau pengawal dorna she Han?" kata Siauw Hong.

"Kau benar tempat ini milik Han To Yu, aku ini tamunya bukan pengawalnya seperti kau kira!” Kata si kakelk.

*). Menurut terjemahan Ai Cu she (marga) orang ini she Ciu. Sedang menurut terjemahan Gan KL. orang ini she Kheng Kheng Tay-jin ini adalah Ciu Coh guru Kong-sun Po dalam versi Ai Cu.

"Kalau begitu kenapa kau tinggal di sini"

"Jika kuceritakan panjang sekali," kata si kakek. "Jika aku ingin mencelakakan kau, tidak perlu aku memakai perangkap. Baik, aku jelaskan padamu. Aku menerima khabar dari Ong To-cu, bahwa kau menyeberangi sungai Tiang-kang diantar oleh Han Kong Sui. Mereka meminta padaku agar aku membantumu!"

Mendengar ucapan orang tua itu Kok Siauw Hong mulai yakin bahwa kakek ini bukan orang jahat. Jika dia orang jahat maka tidak mungkin Ong Uh Teng dan Han Kong Sui memberitahukan tentang kedatangannya.

"Kalau begitu maaf, aku salah paham," kata Kok Siauw Hong.

"Yang harus minta maaf adalah aku!" kata dia. "Tadi malam aku gagal mencegah Seng Liong Sen menotokmu. Padahal aku sudah mengenalimu dari jurus ilmu pedangmu!"

"Di mana sekarang Seng Liong Sen?"

"Dia sudah pulang, dia datang untuk bertemu denganku atas perintah gurunya," kata si kakek. "Dia tidak tahu bahaya kau menyeberang diantar oleh Han Kong Sui! Kau jangan menyalahkannya!"

"Mana berani aku menyalahkannya." kata Kok Siauw Hong yang penasaran karena dikalahkan oleh pemuda itu. Si kakek hanya tersenyum saja.

Dengan tak banyak bicara dia ajak Siauw Hong ke kamarnya. Kamar itu kelihatan sederhana sekali. Terdapat sebuah tempat tidur, sebuah meja dan dua buah kursi. Di atas meja terdapat sebuah khim (kecapi Tionghoa). Di sana tidak ada barang lainnya. Jelas orang tua ini sangat sederhana hidupnya.

"Jika tidak keberatan, bolehkah aku tahu nama Lo Cianpwee?" kata Siauw Hong.

"Namaku Pek Tek, dengan ayahmu aku pernah bertemu sekali!" kata si kakek.

"Maafkan aku ceroboh, Ayahku sudah meninggal lama," kata Siauw Hong.

"Pantas kau tidak kenal padaku, barangkali ayahmu pun tidak tahu siapa aku ini!" kata Pek Tek.

"Bagaimana Lo Cian-pwee bisa mengenal Ayahku?" "Bisa  dikatakan  bukan  berkenalan,  tapi  aku  kebetulan

bertemu   ayahmu   di   rumah   makan   di   Yang-ciu.  Apa

ayahmu pernah bilang ada pemuda berbaju putih yang tingkahnya aneh?" kata Pek Tek.

"Benar aku ingat," kata Kok Siauw Hong. "Jadi pemuda gagah yang sedang dicari oleh Ayahku itu ternyata Cianpwee?"

"Usiaku sudah  tahun, jadi gelar jago muda itu sekarang cocok untukmu!" kata Pek Tek.

Semasa muda Kok Ju Sih seperti Kok Siauw Hong sekarang. Ayahnya baru terkenal dan siapa pun mengenal dia. Suatu hari Kok Ju Sih masuk ke rumah makan di Yang-ciu. Dia mendapat perhatian tamu di rumah makan itu. Hal itu menarik perhatian seorang pemuda berbaju putih.

Pemuda itu memanggil pelayan ke mejanya dekat jendela. Dia menanyakan tentang diri ayah Kok Siauw Hong. Pelayan menjelaskannya. Anak muda baju putih itu kelihatan tidak senang. Pemuda berbaju putih itu menyindir, bahwa sangat banyak pendekar gadungan. Karena cemoohannya diucapkan dengan suara keras, hal itu didengar oleh Kok Ju Sih.

Tentu saja Kok Ju Sih jadi tersinggung.

"Memang aku hanya menyandang nama kosong belaka, pujian dari semua kenalan, maka itu aku jadi malu!" kata Kok Ju Sih.

"Oh, maaf, ternyata Anda yang bernama Kok Ju Sih." kata pemuda berbaju putih sambil menuang arak ke sebuah cawan. Sesudah itu dia sentil ke arah Kok Ju Sih.

"Ting!" cawan itu meluncur cepat seperti anak panah.

Kok Ju Sih kaget tapi cawan sudah dekat, dia lalu menyentil cawan yang isinya tinggal separuh di tangannya. "Ah, Anda tamuku! Seharusnya aku yang menyuguhi Anda secawan arak!" kata Kok Ju Sih.

"Trang!"

Kedua cawan arak itu bentrok keras, karena cawan Kok Ju Sih lebih ringan, dia terbalik dan isinya menyiram tamu- tamu di tempat itu hingga mereka kaget semua dan segera menghindar.

Cawan pemuda berhaji! putih itu sekalipun sebagian isinya tumpah karena bentrokan keras itu, tetap melayang ke arah meja Kok Ju Sih. Dengan demil.ian Kok Ju Sih telah kalah sejurus dari pemuda itu. Setelah dikalahkan oleh Kok Ju Sih, pemuda itu jadi canggung, dia berusaha ingin bersahabatdengannya, karena dia pikir mereka tidak bermusuhan. "Hm! Ternyata kepandaian Kok Siauw-hiap cuma itu. Kalau begitu aku mohon diri!" kata pemuda itu sambil tertawa.

Sebelum Kok Ju Sih bisa berbuat apa-apa saat dia bangun dari kursinya, ternyata pemuda itu sudah pergi. Sejak saat itu Kok Ju Sih selalu berusaha mencari pemuda itu. Namun, hingga lewat  tahun lamanya, tapi usahanya sia-sia. Dia tidak bisa menemukannya. Sejak saat itu ketika dia sudah punya anak Kok Siauw Hong, Kok Ju Sih mengajari anaknya, bahwa bagaimanapun pandainya seseorang, pasti masih ada yang lebih pandai.

"Jadi Pek Lo Cian-pwee ini ternyata orang yang dicari- cari oleh Ayahku? Sampai akhirnya Ayahku telah meninggal tidak bisa mengikat persahabatan denganmu!" kata Kok Siauw Hong.

"Peristiwa itu membuat aku menyesal karena aku tidak sempat minta maaf kepada ayahmu," kata Pek Tek. "Masih bersyukur aku bertemu denganmu, maka itu aku bisa menebus kesalahanku itu."

"Tidak perlu Lo Cian-pwee sampai begitu sungkan, malah seharusnya akulah yang harus minta maaf padamu," kata Siauw Hong. "Tapi masih ada yang akan aku tanyakan pada Lo Cian-pwee!"

"Pasti yang kau ingin tahu kenapa aku ada di sini, kan?" "Benar! Bagaimana sampai Seng Liong Sen berjanji

mengadakan pertemuan dengan Lo Cian-wee?" kata Siauw Hong.

"Semua akan kuceritakan sebentar lagi," kata Pek Tek.

Sesudah itu Pek Tek memanggil seorang anak muda yang dia suruh membebaskan totokan kedua penjaga dan Su Hong. "Jika mereka menanyakan tentang Kok Siauw-hiap, katakan saja dia tamuku dan jangan ikut campur!" kata Pek Tek pada anak muda itu.

"Baik," kata pemuda itu yang langsung pergi.

"Dia muridku," kata Pek Tek pada Siauw Hong. "Sedang orang yang bernama Su Hong itu pengawal perdana menteri. Sejak kedatanganku Han To Yu baik padaku. Su Hong iri mengira aku ingin merebut kedudukannya padahal aku hanya menumpang tinggal untuk sementara."

"Lo Cian-pwee tak perlu menghiraukan dia" kata Siauw Hong.

"Sudah lama aku mengasingkan diri, aku mau mengabdi di tempat Han To Yu, agar aku bisa menyusun perlawanan terhadap bangsa Mongol yang akan menjajah negara kita ini." Kata Pek Tek.

"Jadi begitu, tapi aku khawatir pemerintah tidak punya keinginan melawan musuh!" kata Kok Siauw Hong.

Sambil mengelah napas Pek Tek mengangguk.

"Kau benar, maka itu Ong Beng-cu dan Bun Tay-hiap meminta agar aku mendekati pihak pemerintah. Bukan saja pemerintah takut pada musuh asing tapi pemerintah berusaha menyelamatkan diri sendiri. Aku dengar malah sukarelawan yang siap melawan bangsa Mongol akan ditumpas oleh pemerintah. Perlu diketahui serangan bangsa Mongol lebih hebat dibanding serangan bangsa Kim dulu. Dalam keadaan terdesak pasti pemerintah akan melawan. Dulu bangsa Kim dibantu oleh dorna Cin Kwee yang terkutuk. *) Sekalipun Han To Yu juga seorang dorna, tapi dia berbeda dengan Cin Kwee. Cin Kwe sengaja disusupkan bangsa Kim untuk menghancurkan negara kita. Sedang  Han  To  Yu  belum  sampai  berbuat  demikian.  Sedang  di dalam negeri pun masih banyak orang-orang yang berjiwa patriot. Jadi aku berada di sini untuk mengajak para patrot melakukan perlawanan terhadap bangsa Mongol!" kata Pek Tek.

"Jadi Lo Cian-pwee ingin menjadi penghubung antara pemerintah dan tentara sukarela," kata Siauw Hong. "Lo Cianpwee ingin membujuk Han To Yu agar mau bekerja sama dengan laskar sukarelawan. Kemudian pemerintah akan mengerahkan angkatan perangnya untuk melawan musuh, bukan untuk menumpas pasukan sukarelawan!"

"Itu maksud kami," kata Pek Tek. "Apa Han To Yu setuju?"

"Tentu tidak semudah itu dia akan menuruti kehendak kami. Tapi sekalipun dia tidak setuju semua usul kami, paling tidak dia akan menerima syarat kami. Maka itu sekarang aku sedang merundingkannya dengan dia." kata Pek Tek.

*). Cin Kwee seorang dorna yang menghasut raja Song sehingga Jenderal Gak Hui yang setia harus dihukum mati tanpa dosa. Cerita ini terdapat dalam roman klasik berjudul "Gak Hui".

"Jadi kedatangan Seng Liong Sen semalam atas perintah gurunya untuk ikut berunding?" kata Siauw Hong.

"Benar, aku sendiri menjadi utusan rahasia Han To Yu untuk mengadakan hubungan dengan orang-orang Kang- ouw. Han To Yu hanya tahu aku kenal dengan kaum persilatan, dia tidak tahu kalau aku justru utusan orang- orang Kang-ouw. Karena masih dalam perundingan maka Han To Yu belum berani terang-terangan pada  pemerintah!" kata Pek Tek. "Pantas Han To Yu merahasiakannya," kata Siauw Hong.

"Tak lama sesudah Seng Liong Sen pergi datang utusan Ong Uh Teng yang menceritakan tentang Han Kong Sui menyeberangkan kau. Hanya aku belum tahu siapa orangnya. Ternyata orang itu kau." Kata Pek Tek.

"Maaf Lo Cian-pwee hari telah siang, aku tidak boleh lama-lama di sini. Aku punya tugas untuk menemui Bun Tay-hiap, aku mohon diri!" kata Kok Siauw Hong.

"Kau sudah tahu tempat Bun Tay-hiap?"

"Sudah, Han Lo Cian-pwee memberitahuku," kata Kok Siauw Hong.

"Dia tinggal tidak jauh dari sini," kata Pek Tek. "Hanya berjalan setengah hari saja kau akan sampai di sana. Bagaimana kalau aku menyuruh orangku mengantarmu?"

"Tidak usah," kata Kok Siauw Hong. "Aku bisa mencarinya sendiri!"

Dia berkata begitu sebab dia punya rencana lain. Karena pernah bertarung dengan Seng Liong Sen, dia juga ingin bertemu dengan Ci Giok Hian, maka itu dia tidak ingin ditemani.

"Kalau begitu, baiklah," kata Pek Tek. "Aku dengar Seng Liong Sen dua hari lagi akan bertunangan dengan nona Ci. Mudah-mudahan karena sesama kaum persilatan kau bisa menghadiri pesta mereka!"

"Ya, aku kenal pada nona Ci, kedatanganku ini sangat kebetulan," kata Siauw Hong.

"Jangan cemas salah pahammu dengan Seng Liong Sen akan  segera  lenyap,"  kata  Pek  Tek.  "Para  pengembara seperti kita sulit terhindar dari salah paham dengan orang- orang di sekitar kita."

Pek Tek bicara soal kejadian semalam, sedang Kok Siauw Hong memikirkan masa lalunya dengan nona Ci.

Murid Pek Tek sudah kembali. Dia memperkenalkan diri namanya Giam Cong, murid kedua. Murid pertama Pek Tek bernama Kim Kian.

"Ilmu totokmu lihay, sulit aku membebaskan Su Hong. Sampai sekarang tenaganya belum pulih juga. Hati-hati siapa tahu dia akan membalas-dendam," kata Giam Cong pada Siauw Hong.

"Baik, aku mohon diri," kata Siauw Hong.

Saat berangkat Giam Cong mengantarkan Kok Siauw Hong. Tapi ketika melewati gunung-gunungan Kok Siauw Hong melihat ada orang sedang mengintai mereka. Sedang dua pengawal yang dirobohkan Siauw Hong tidak berani berbuat apa-apa.

Melihat muka orang yang mengintai itu, Kok Siauw Hong seperti mengenali orang itu, tapi dia lupa siapa? Begitu keluar dari gedung perdana menteri, Siauw Hong langsung berangkat.

Gunung Thian-tiok terletak di bagian barat bukit Leng- unsan, di kaki bukit terdapat sebuah kelenteng bernama Lengun-sie. Saat Kok Siauw Hong memandang ke tengah danau, di pagi itu dia hanya melihat beberapa perahu saja. Beda dengan malam hari orang banyak yang pesiar di danau itu.

Saat Kok Siauw Hong sedang menikmati pemandangan yang indah di tepi danau, tiba-tiba sayup-sayup dia mendengar suara kecapi. Suara kecapi itu terdengar memilukan. Saat diperhatikan dia mengetahui suara  kecapi itu datang dari sebuah perahu. Saat diawasi di perahu itu terlihat dua orang perempuan, yang seorang main kecapi sedang yang satunya membakar dupa.

"Aah, mereka sedang pesiar dengan bebasnya," pikir Kok Siauw Hong.

"Kak Tik Bwee, kau sangat pandai main kecapi, makin lama makin bagus!" kata nona yang membakar dupa.

"Aku main kecapi tidak sebaik Kak Tik Khim (maksudnya Ci Giok Hian, Red), apalagi jika dibanding dengan Majikanku," kata nona yang dipanggil Tik Bwee itu.

"Enci Tik Khim yang mana?" kata nona yang membakar dupa.

"Dia nona Ci yang pernah aku ceritakan itu," jawab Tik Bwee.

"Dia pernah menyamar untuk menyelamatkan seseorang. Nama Tik Khim untuknya pemberian Majikanku!"

"Oh, karena semalam ceritamu cuma sebagian-sebagian jadi aku kurang jelas. Bagaimana jika kau sambung ceritamu itu?"

"Kisahnya sampai saat ini belum berakhir, tempat ini pun bukan tempat yang tepat untuk bercerita," kata Tik Bwee.

"Baik, nanti saja setelah pulang kau ceritakan padaku," kata nona itu.

Kok Siauw Hong terkejut. Dia juga pernah mendengar dari Han Pwee Eng tentang penyamaran Ci Giok Hian di tempat Seng Cap-si Kouw. "Apakah mereka ini bukan orang yang ada di tempat Seng Cap-si Kouw pikir Siauw Hong. "Dan orang yang mereka bicarakan, bukankah Ci Giok Hian?"

Nona itu memang Tik Bwee, nona yang diam-diam mencintai Seng Liong Sen. Dialah orang pertama yang menyampaikan khabar tentang hubungan Liong Sen dan nona Ci itu. Ketika nona Han memberitahu Siauw Hong, dia tidak mengatakan bahwa nona Ci pernah memakai nama Tik Khim.

Sebenarnya Kok Siauw Hong ingin menemui mereka, tapi tidak jadi karena takut kedua nona itu akan menganggap dia pemuda iseng. Ketika itu dia mendengar Tik Bwee bicara.

"Nona Liong, maukah kau menyanyi untukku? Aku senang karena suaramu merdu!" kata Tik Bwee.

"Kau jangan bergurau," kata nona Liong. "Tapi baiklah, kau iringi dengan permainan kecapimu!"

Sesudah selesai sebuah lagu, Tik Bwee mengelah napas. "Kenapa kau menghela napas?"

"Tidak apa-apa," kata Tik Bwee.

"Hm! Kau kira aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan? Bukankah kau sedang memikirkan Seng Kong- cu?" kata nona Liong.

"Jangan ngaco! Nanti kurobek mulutmu!" kata Tik Bwee. Saat nona Liong memandang ke tepi danau, dia melihat

Kok Siauw Hong sedang berdiri mengawasi mereka.

"Sudah jangan bercanda, lihat ke sana, ada orang sedang mengawasi kita!" kata nona Liong. "Hm! Aku paling benci pada pemuda hidung belang, lihat saja jika dia berani macam-macam dia akan tahu rasa!" kata Tik Bwee.

"Sudah jangan marah, mari kita dayung ke tempat yang sunyi," kata nona Liong.

Nona Liong meminta agar tukang perahu mendayung perahu itu ke tempat sunyi.

Kok Siauw Hong agak jengkel karena dikira pemuda hidung belang. Dia bisa menyusul kedua nona itu, tapi dia khawatir kedua nona itu akan salah paham lagi. Ditambah lagi dia juga harus segera ke tempat Bun Tay-hiap. Dia membatalkan niatnya menyusul kedua nona itu.

"Tak lama lagi aku akan betemu dengan Giok Hian, dengan demikian semua akan jelas. Kenapa aku harus mengejar mereka?" pikir Kok Siauw Hong. "Tapi perlukah aku menemui Giok Hian?"

Dia melanjutkan perjalanan, tapi tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki. Ternyata dua orang sedang mengejar dia. Kok Siauw Hong kaget, saat diperhatikan dia mengenali pengejarnya itu Su Hong dan yang lainnya berpakaian Wi-su (pengawal istana). Mereka ada yang membawa senjata tombak cagak tiga (Trisula) yang bergelang, hingga suaranya berisik.

"Siauw Hong, apa kau masih kenal padaku?" kata Wi-su itu.

Orang itu orang yang mengintai di gunung-gunungan rumah perdana menteri yang dilihat oleh Kok Siauw Hong.

"Oh, kiranya kau Bong Sian!" kata Siauw Hong.

"Aah, rupanya kau masih mengenaliku, jadi pertemuan kita ini sudah takdir!" kata Bong Sian. Bong Sian ini orang yang pernah menyerang Pek-hoa Kok, bahkan dia juga pernah bertarung dengan Siauw Hong. Bong Sian terluka oleh Siauw Hong. Rupanya dia dendam pada Siauw Hong.

"Bukankah masalah dulu sudah selesai. Apa Chan It Hoan dan Liok Hong tidak menyampaikannya padamu?" kata Kok Siauw Hong.

Chan It Hoan dan Liok Hong itu dua pelayan Han Pwee Eng. Merekalah yang mengundang Bong Sian untuk ikut menyerang ke Pek-hoa-kok.

"Aku tidak peduli sandiwara apa yang sedang kau mainkan dengan budak she Han itu," kata Bong Sian mengejek. "Tapi luka oleh pedangmu masih membekas. Bagaimana pun aku ini orang Kang-ouw, aku tidak rela kau lukai begitu saja! Jika kau mau damai boleh saja, asal kau mau kutusuk satu kali!"

"Aku juga sepakat, asal kau mau berlutut dan memanggil kakek tiga kali padaku, aku juga mau mengampunimu!" kata Bong Sian.

Kok Siauw Hong gusar. Dia langsung menantang. "Silakan kalian berdua maju bersama!" kata Kok Siauw

Hong.

Bong Sian sudah dihitung seperti dulu, tapi dia dinilai orang yang serakah mengharapkan kedudukan.

Bong Sian akan maju menyerang tapi dicegah oleh Su Hong.

"Biar aku yang maju lebih dulu," kata Su Hong. "Aku kira yang kau tuntut itu dendam lama, biar aku yang mengadakan perhitungan dulu!" "Jangan banyak bicara, mau apa kalian. Mau maju bersamapun silakan!" kata Kok Siauw Hong.

"Silakan hunus pedangmu," kata Bong Sian sambil menggosok-gosok kepalannya.

"Jika kau bertarung dengan tangan kosong, mengapa aku harus memakai pedang mengalahkanmu?" kata Siauw Hong. "Ayo maju jangan banyak mulut!"

"Lihat pukulanku!" kata Su Hong.

Su Hong seorang jago pengawal gedung perdana menteri, tentu ilmu silatnya cukup lihay. Langsung dia menyerang, tangannya bergerak memukul dengan keras.

Kok Siauw Hong paham  jurus Kim-na-ciu-hoat atau cengkraman, dia bergeser ke kiri, tangan kiri Siauw Hong menahan siku lawan, tangan kanannya menyerang dengan pukulan ke arah muka Su Hong.

”Bagus!" keduanya mulai bertarung dengan hebat. Pukulan Su Hong berubah-ubah sebentar menggunakan

Kim-na-ciu lalu diubah menjadi Toa-sui-pi-ciu.

Ketika pukulan mereka beradu Kok Siauw Hong terdorong ke belakang. Tapi pemuda ini tetap tenang. Kok Siauw Hong agak kaget oleh kehebatan serangan Su Hong ini. Dia hebat sekalipun mungkin sulit untuk mengalahkan Siauw Hong. Tapi Siauw Hong sadar masih ada satu  musuh lagi, yaitu Bong Sian. Maka itu Kok Siauw Hong segera berusaha menghemat tenaganya.

Su Hong sudah maju lagi memukul dengan keras. Tapi kali ini Kok Siauw Hong tidak ingin mengadu kekuatan tenaga keras dengan keras. Melihat Kok Siauw Hong banyak menghindar dari serangannya, Su Hong mengira Kok Siauw Hong sudah terdesak. Saat Kok Siauw Hong menghindari adu tenaga, dia dianggap akan melarikan diri.

"Kau mau lari ke mana?" kata Su Hong.

Tiba-tiba Kok Siauw Hong membalikkan tubuhnya, dengan tidak mempedulikan serangan lawan, Siauw Hong menyerang pada Tay-yang-hiat Su Hong. Jari tangan kanannya bergerak cepat, dia arah le-gi-hiat Su Hong di bagian iganya.

Bong Sian sudah pernah merasakan lihaynya totokan Siauw Hong, maka itu dia memperingatkan kawannya.

"Su-heng, awas totokannya!" kata Bong Sian.

Tapi sudah terlambat Su Hong menjerit kesakitan, dia melompat dua tiga langkah ke belakang. Lalu bersandar pada sebuah pohon hingga dia tidak sampai tergeletak di tanah.

Melihat lawan terkena totokannya, Siauw Hong senang tapi juga heran. Ternyata Su Hong lihay dia tidak sampai roboh. Melihat Su Hong sudah kalah, Bong Sian mengangkat senjatanya.

"Terima seranganku!" kata Bong Sian.

"Tadi sudah kukatakan, kalian maju saja bersamasamajangan sok jagoan!" kata Kok Siauw Hong sambil tertawa.

Wajah Bong Sian berubah merah. Dia gunakan senjata tombak cagaknya menyerang Siauw Hong.

"Jangan banyak mulut!" kata Bong Sian.

"Baik, ayo maju. Aku ingin segera membereskanmu!" kata Kok Siauw Hong. Tangan kiri Kok Siauw Hong bergerak memancing, sedang tangan kanannya segera menghunus pedangnya. Saat dia melompat ke belakang lawan, pedangnya sudah mendahului menyerang dengan jurus Pek-hong-koan-jit (Bianglala menembus matahari), tangan kiri Kok Siauw Hong menyerang dengan jurus Kim-Iiong-hok-houw (Menangkap naga menaklukkan harimau).

Pada saat tombak cagak Bong Sian menusuk, saat tidak mengenai sasaran dia kaget. Dia mundur ke belakang.

"Su Toa-ko, kau tidak kenapa-napa, kan?" kata Bong Sian.

Maksud teriakan ini untuk menanyakan apakah Su Hong tidak terluka, jika tidak sewaktu-waktu bisa diminta bantuannya.

Tiba-tiba terdengar suara keras. "Trang!"

Bong Sian kaget karena ujung tombak cagaknya kutung sebuah terpapas pedang Kok Siauw Hong yang tajam. Saat itu ujung pedang sudah mengancam ke tubuh Bong Sian. Tapi tiba-tiba Su Hong sudah melompat maju.

"Bong Toa-ko, jangan takut. Aku tidak apa-apa." kata Su Hong.

Mereka menyerang secara bersama. Kok Siauw Hong kaget, Su Hong yang sudah tertotok masih bisa maju menyerang. Melihat situasi kurang menguntungkan baginya. Siauw Hong memutarkan pedangnya.

Kok Siauw Hong menggunakan jurus Cit-siu-kiam-hoat yang aneh itu. Tapi melawan dua musuh memang tidak mudah. Lama-kelamaan tenaga Kok Siauw Hong berkurang juga. Untung Bong Sian dan Su Hong agak jerih mendekat, dengan demikian Siauw Hong masih bisa mengimbangi mereka.

Saat dia sedang terdesak muncul seorang berpakaian tentara, dia seorang perwira perang.

Matanya besar dengan alis tebal, wajahnya keren. Melihat kedatangan orang itu Su Hong jadi kikuk. Maka itu dia purapura tidak melihatnya. Dia merasa malu karena harus melawan Kok Siauw Hong dengan mengeroyoknya, padahal dia seorang pengawal andalan perdana menteri.

Kok Siauw Hong kaget. Melawan dua musuh saja dia sudah hampir kewalahan. Sekarang diambah seorang lagi. Tapi karena tidak punya pilihan, Siauw Hong bersikap tenang.

"Aku lihat bocah ini lihay sekali, hentikan sebentar!" kata orang itu pada Bong Sian dan Su Hong.

"Eh, Ciu Tay-jin!" kata Su Hong. "Bocah ini harus kita tangkap, ini perintah dari Siang-ya!"

"Saudara Su, kau salah sangka atas permintaanku," kata orang she Ciu itu. "Aku tidak ingin merebut jasamu, tapi aku ingin menjajal kepandaian bocah ini! Menangkapnya tentu saja harus atas sukanya sendiri. Dengan demikian pemuda ini tidak menganggap perwira negara bodoh semua!"

Wajah Bong Sian dan Su Hong berubah merah karena malu. Mereka langsung mundur. Tapi perwira itu tidak langsung menyerang Kok Siauw Hong.

"Karena kau lelah, istirahat saja dulu!" kata perwira itu pada Siauw Hong. Siauw Hong marah dia langsung menusukkan pedangnya, tapi perwira she Ciu itu menghindarinya dengan mudah, tusukan Kok Siauw Hong pun gagal.

"Kenapa kau tergesa-gesa, padahal aku harus bicara dulu dengan mereka," kata orang she Ciu itu.

Melihat lawan tidak bersenjata dan tidak membalas serangannya, Siauw Hong menghentikan serangannya. Kemudian orang itu menoleh pada Bong Sian dan Su Hong.

"Kalian kembali saja, aku tak mau bocah ini mengira kita akan mengeroyoknya!" kata orang itu.

"Ciu Tay-jin, jika kau sudah berhasil menangkapnya, tolong kami diberi tahu..." kata Su Hong.

"Tentu, jangan khawatir," kata orang itu.

Tanpa banyak bicara lagi Bong Sian dan Su Hong lalu pergi.

Sesudah berdua saja Siauw Hong maju.

"Apa sekarang bisa dimulai?" kata Siauw Hong.

"Kau baru bertarung, kau lari dulu seratus langkah baru kususul," kata orang itu.

"Aha, apa dia akan menyuruhku kabur?" pikir Siauw Hong.

Su Hong pun berpikir begitu.

"Dia disuruh lari seratus langkah baru disusul, bocah itu lihay, jangan-jangan. " kata Bong Sian.

Su Hong memberi isyarat. "Huss! Jangan bicara sembarangan! Aku yakin kepandaian Ciu Tay-jin tinggi, bocah itu tidak bisa melarikan diri!" kata Su Hong.

"Ayo lari, kenapa kau diam saja?" kata orang itu. "Aku akan mampu menangkapmu!"

"Aku tidak mau kau paksa, mari kita ke bukit sana. Di sana kita bertarung!" kata Siauw Hong.

"Baik!" kata orang itu.

Dengan cepat Siauw Hong menggunakan gin-kangnya. Sekejap saja dia sudah lari ratusan langkah, tapi dia tidak mendengar ada orang yang mengejarnya. Dia sedikitt raguragu. Dia yakin pasti perwira itu menyuruhnya kabur.

"Hm, Siauw-yang-sin-kangmu hampir sempurna!" kata seseorang secara tiba-tiba.

Tentu saja Kok Siauw Hong jadi kaget sekali. "Pertandingan gin-kang ini bisa kita anggap seri!" kata

perwira itu yang sudah berdiri di samping Kok Siauw Hong.

"Jangan kau permainkan aku, aku tahu kepandaian ginkangmu lebih baik. Sekarang mari kita bertarung!" kata Siauw Hong dengan angkuh.

"Kau angkuh sekali, tapi kali ini aku tidak mau bertarung denganmu"

"Kenapa?"

"Bukankah kau putera Kok Ju Sih dari Yang-ciu dan namamu Kok Siauw Hong?" kata orang itu.

Kok Siauw Hong heran orang ini tahu tentang dirinya. "Benar, lalu kau mau apa?" kata Kok Siauw Hong. "Keluarga Kok turunan jago silat," kata orang itu. "Aku beruntung bertemu denganmu. Mari kita berkenalan."

Orang itu mengulurkan tangannya, Siauw Hong tahu orang itu ingin menjajal ilmu silatnya. Maka dengan berani Kok Siauw Hong menyambut tangan orang itu. Saat itu Kok Siauw

Hong mengerahkan tenaganya, tapi seolah tidak berpengaruh terhadap orang itu.

Mau tidak mau Kok Siauw Hong jadi kaget bukan kepalang.

"Kepandaianmu jauh lebih tinggi dariku," kata Kok Siauw Hong mengaku.

Orang itu tertawa.

"Aku sedang menguji ketajaman mataku," kata orang itu. "Bukankah kau akan ke tempat Bun Yat Hoan?"

"Kau siapa sebenarnya?" kata Kok Siauw Hong. "Mungkin kau sudah pernah mendengar nama Kang-lam

Ciu Cioh? Itulah aku!" kata orang itu. "Jadi Anda guru Kong-sun Po?"

"Benar, kau sudah kenal dengan muridku?" kata Ciu Cioh.

"Benar, aku sahabatnya dan pernah bekerja sama, ceritanya panjang," kata Siauw Hong.

"Kau dari Kim-kee-leng? Aku sahabat Hong-lay-mo-li!" "Benar, aku mendapat tugas dari beliau, kebetulan

bertemu dengan Ciu Tay-hiap!" kata Kok Siauw Hong.

Sudah selang beberapa belas tahun yang lalu, Ciu Cioh pernah ikut tentara rakyat pimpinan Sin Gie Cit. Pasukan ini mundur ke daerah Kang-lam. Pasukan rakyat itu dibentuk oleh paman Ciu Cioh. Sesudah terjadi perang antara pasukan Song dengan Kerajaan Kim, pegawai Kerajaan Song banyak yang korup dan lemah, Ciu Cioh kurang senang, lalu meninggalkan pasukan dan mengasingkan diri.  

-o-DewiKZ^~^aaa-o- Zaman kembali berubah, setelah negara Song dikuasai bangsa Kim. sekarang kerajaan Kim diserang oleh bangsa Mongol. Ditambah lagi bangsa Mongol pun berniat menguasai Kerajaan Song yang sudah berada di daerah Selatan Tiongkok. Maka terpaksa Ciu Cioh yang pencinta negara tergerak hatinya.

Saat pemerintah Song membutuhkan tenaga para patriot bangsa, Ciu Cioh ingin menyumbangkan tenaganya membela negara. Lalu dia membentuk kembali pasukan bekas pimpinan Sin Gie Cit. Kemudian pasukan rakyat ini dia satukan dengan pasukan Kerajaan Song. Pasukan ini diberi nama Hui Houw Kun (Pasukan Harimau Terbang). Karena Sin Gie Cit sudah tua, maka yang maju hanya Ciu Cioh yang masih muda.

Sebagai komandan pasukan utama Kerajaan Song, Ciu Cioh sering datang ke gedung Perdana Menteri Han To Yu. Dia datang bertemu dengan Kok Siauw Hong saat pemuda itu akan meninggalkan gedung perdana menteri.

"Untung saat aku datang Han To Yu sedang tidur siang," kata Ciu Cioh. "Aku menemui Pek Lo-cian-pwee. Dari dia aku tahu tentang dirimu. Saat Pek Lo Cian-pwee tahu Su Hong dan Bong Sian menyusulmu, dia bingung. Lalu meminta aku menyusulmu!" "Aku tahu kesulitan Pek Lo Cian-pwee," kata Siauw Hong. "Aku sangat berterima kasih hingga aku bisa lolos dari bahaya. Tetapi apakah Ciu Lo Cian-pwee tidak khawatir jika Bong Sian dan Su Hong melapor kepada Perdana Menteri?"

"Aku rasa dia tidak akan berani melaporkan aku," kata Ciu Cioh alias Kheng Ciauw. "Dia sendiri berbohong bahwa apa yang dia lakukan atas perintah Han To Yu. Malah jika aku tidak mengungkap kebohongannya itu, mereka yang harus bersyukur padaku. Mana berani di depan Han To Yu dia mengorek kesalahanku? Jika aku kembali dan mengatakan bahwa aku tidak bisa mengejarmu, sekalipun dia curiga tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau tidak salah tadi kau menyinggung tentang muridku Kong-sun Po. Bagaimana keadaan dia sekarang?"

Kok Siauw Hong lalu mengisahkan perkenalannya dengan Kong-sun Po, sampai mereka bersama-sama melawan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek. Mendengar keterangan itu Ciu Cioh girang sekali.

"Kedua Iblis Tua itu termasuk sepuluh jago kalangan Kangouw, tapi kalian berdua mampu mengimbangi  mereka. Itu tandanya bahwa muridku sudah maju pelajaran silatnya," kata Ciu Cioh.

"Kepandaian Kong-sun Toa-ko lebih tinggi dariku," kata Kok Siauw Hong. "Dalam pertempuran itu aku hanya sebagai pembantu Kong-sun Toa-ko saja!"

"Kau jangan terlalu merendah. Kok Siauw-hiap," kata Ciu Cioh. "Muridku memang beruntung mendapat latihan dari tiga jago silat utama. Seperti gelombang sungai Tiang- kang, dari belakang mendorong yang di depan. Sekarang anak-anak muda yang menggantikan kami yang sudah tua- tua!"

Kelihatan Ciu Cioh sangat bangga mendengar muridnya sudah mencapai kemajuan.

"Aku berpisah dengan Kong-sun Toa-ko di medan pertemupran dan sampai saat ini belum bertemu lagi dengannya," kata Kok Siauw Hong. "Tapi kami sudah berjanji akan bertemu kembali di Kim-kee-leng!"

"Kau bilang sudah hampir setengah bulan kau di Kim- keeleng, sekarang kau datang ke mari, sedang Kong-sun Po belum sampai ke sana. Jangan-jangan dia mengalami bahaya. ?" kata Ciu Cioh.

"Aku yakin tidak terjadi apa-apa pada mereka, ilmu silat Kong-sun Toa-ko tinggi, ditambah lagi dia bersama nona Kiong yang kepandaiannya tidak lemah." kata Kok Siauw Hong.

"Nona Kiong katamu? Siapa dia?" kata Ciu Cioh.

"Apa yang kuketahui nona Kiong itu puteri majikan dari pulau Hek-hong-to. aku dengar ayahnya itu seorang jago silat yang berada di dua pihak dari kelompok orang jahat dan baik. " jawab Kok Siauw Hong.

"Oh, celaka!"

"Celaka bagaimana?" kata Kok Siauw Hong. "Aku kira muridku itu sangat ceroboh, mana boleh dia bersedia dinikahkan dengan nona yang telah dijodohkan oleh ayahnya? Soal perjodohan ini sangat dirahasiakan oleh ibu muridku itu. Entah dari mana muridku bisa mengetahuinya? Barangkali anak iblis itu yang mencari calon suaminya dengan tidak tahu malu, dan menjelaskannya pada muridku?" kata Ciu Cioh. "Jadi mereka sudah dijodohkan sejak mereka masih kecil?" kata Kok Siauw Hong yang keheranan dan bingung sekali.

"Benar!"

Kemudian Ciu Cioh Cioh mengisahkan riwayat hidup orang tua Kong-sun Po dan nona Kiong. Sesudah mendengar cerita itu Kon Siauw Hong tersenyum.

"Itu kisah orang tua mereka, setahuku nona Kiong itu baik hati..." kata Kok Siauw Hong.

"Maksudmu?"

"Sekalipun ayah nona Kiong dari golongan hitam, dia sendiri cukup baik," kata Kok Siauw Hong. "Seperti kata pribahasa : "Siapa yang berdekatan dengan benda yang hitam, maka dia akan menjadi hitam, yang dekat dengan yang merah, diajuga akan menjadi merah". Nona Kiong dekat dengan Kong-sun Toa-ko, aku yakin nona Kiong akan jadi orang yang baik. Lo Cian-pwee jangan khawatir!"

"Tapi aku menyangsikan niat ayah nona itu, aku yakin dia punya maksud tertentu...." kata Ciu Cioh. "Ditambah lagi ibu muridku tidak setuju dengan perjodohan ini, aku sebagai gurunya tentu juga menolak!"

Ciu Cioh bukan orang yang berpikiran kolot, hanya dengan ibu Kong-sun Po dulu pernah terjalin hubungan asmara. Sedang Kok Siauw Hong pun tidak sependapat dengan guru Kong-sun Po ini. Dia pikir jika keduanya sama-sama suka, siapa pun tidak bisa menghalangi perjodohan mereka. Melihat Kok Siauw Hong diam saja, Ciu Cioh langsung berkata lagi.

"Maaf, aku harus segera kembali. Tapi aku ingin tanya apakah kau mau kutitipi barang antaran?" kata Ciu Cioh. "Barang apa?"

"Bukankah kau akan ke tempat guru Seng Liong Sen? Aku dengar tidak lama lagi dia sudah akan bertunangan. Aku ingin hadiahku ini kau serahkan kepada Seng Liong Sen sebagian. Sedangkan sebagian lagi untukmu!" kata Ciu Cioh.

"Mana boleh kado untuk Seng Siauw-hiap dibagi dua denganku?" kata Siauw Hong.

"Tapi hadiah ini bisa dibagi dua?" "Maksud Lo Cian-pwee?"

Segera Ciu Cioh mengeluarkan kadonya berupa gambar orang bersilat, lengkap dengan petunjuk cara menjalankannya. Itu adalah ilmu silat rahasia bernama Tayheng-pat-sek (Delapan Jurus Maha Sakti).

"Bagi yang telah berlatih lwee-kang, jurus-juus ini sangat mudah dipelajari," kata Ciu Cioh. "Ilmu ini pun cocok dijalankan dengan Iwee-kang Siauw-yang-sin-kang yang kau pelajari. Aku ingin kau juga membantu Seng Liong Sen!"

Ciu Cioh pernah mendengar dari Pek Tek, bahwa Kok Siauw Hong dan Seng Liong Sen pernah menjajal kepandaian mereka di atas perahu. Dengan memberi kado itu, Ciu Cioh berharap Kok Siauw Hong dan Liong Sen  bisa berlatih bersama, sehingga salah paham di antara mereka akan hilang sendirinya.

Ciu Cioh tidak mengetahui bahwa sengketa yang ada di antara mereka tidak sederhana, karena soal kekasih dan ini merupakan dendam seumur hidup barangkali?

"Baik, akan aku sampaikan padanya. Tetapi aku tidak ingin membagi manfaat dari kado ini!" kata Siauw Hong. "Kok-lauw-tee, aku orang yang suka berterus-terang," kata Ciu Cioh yang kelihatan kurang senang mendengar ucapan Siauw Hong itu. "Apa kau memandang rendah ilmu Tay-hengpat-sek ini, atau kau sungkan padaku karena kau baru kenal denganku?"

"Harap Lo Cian-pwee jangan salah paham," kata Kok Siauw Hong. "Ilmu silat yang Lo Cian-pwee katakan itu merupakan ilmu siat idaman semua orang persilatan. Jika ilmu itu Tayhiap hadiahkan pada boan-pwee, tentu boan- pwee sangat berterima kasih sekali. Tetapi boan-pwee rasa tidak pantas berharap banyak dari Tay-hiap, bukan karena hendak meremehkan atau tidak menghargai hadiah tersebut." kata Kok Siauw Hong.

"Pendapatmu benar juga, kau bisa mengekang perasaan dan setia kawan, itu sikap yang patut dipuji," kata  Ciu Cioh.

"Harap Ciu Tay-hiap jangan gusar, bingkisan itu untuk Seng Siauw-hiap khusus, maka lebih baik untuk dia saja!" kata Kok Siauw Hong. "Mengenai saling tukar ilmu silat, jika dia mau aku bersedia menerima ajakannya!"

"Kau benar, baiklah aku tidak memaksamu," kata Ciu Cioh alias Kheng Ciauw. "Jika kau bertemu dengan Bun Tay-hiap (Bun Ek Hoan) guru Seng Liong Sen, sampaikan salamku pada mereka. Kalau begitu aku pergi, selamat bertemu!"

Sesudah Ciu Cioh pergi dan Siauw Hong sedang sendirian kelihatan dia murung sekali. Dia terus berjalan dan mendaki ke atas gunung, makin tinggi dia berjalan terasa awan semakin tipis. Kok Siauw Hong saat itu seolah berada di tengah lautan awan yang menyelimuti daerah pegunungan. Tak lama Kok Siauw Hong melihat sebuah puncak gunung, ternyata dia sudah sampai di puncak gunung Kie- liu-hong. Saat itu perasaan Kok Siauw Hong sedang bimbang, dia tidak tahu harus bicara apa jika dia bertemu dengan Ci Giok Hian?

-o-DewiKZ^~^aaa-o-

Di tempat lain Seng Liong Sen pun sedang bingung apa yang dia harus katakan, jika dia bertemu dengan Ci Giok Hian. Sejak dia bertemu dengan Pek Tek di tengah danau, pikiran Seng Liong Sen jadi tidak tentram. Saat itu Seng Liong Sen berhasil menjatuhkan Kok Siauw Hong ke dalam danau, tetapi dia belum tahu pemuda yang jatuh ke danau itu Kok Siauw Hong. Saat dia terserang pukulan Kok Siauw Hong dan dia mendengar peringatan dari Pek Tek agar dia jangan terus bertarung dengan pemuda itu.

Ketika Seng Liong Sen menanyakan siapa pemuda itu, dia diberitahu, bahwa pemuda itu menggunakan pukulan CitSiauwkiam-hoat keluarga Kok dari Yang-ciu. Kata Pek Tek keluarga Kok tergolong orang yang jujur dan lurus. Ketika itu Seng Liong Sen tidak sempat berkenalan karena dia harus segera melapor pada gurunya. Hari itu juga tanpa menunggu Kok Siauw Hong sadar dari pingsannya Seng Liong Sen telah kembali. Namun demikian di sepanjang jalan pun Seng Liong Sen jadi agak cemas.

"Jangan-jangan dia Kok Siauw Hong!" pikir Seng Liong Sen.

Sambil berjalan dia berpikir terus.

"Jika benar Kok Siauw Hong masih hidup, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus memberi tahu nona Ci?" pikir Seng Liong Sen. Sebenarnya antara Ci Giok Hian dan dia sudah ada keputusan, tiga hari lagi mereka akan menikah. Tetapi jika pada saat bahagia itu tiba-tiba muncul Kok Siauw Hong, maka suasana bahagia itu akan berubah menjadi kegemparan. Sekalipun tidak terjadi kekacauan, paling tidak akan menimbulkan perasaan kurang enak. Ketika Seng Liong Sen sampai di rumah gurunya, hari telah tengah malam. Saat dia sampai Ci Giok Hian yang tinggal di kamar belakang rumah gurunya sudah tidur.

Seng Liong Sen segera menemui gurunya lalu melaporkan pertemuannya dengan Pek Tek. Dia mengatakan bahwa perlu waktu untuk membujuk Perdana Menteri Han To Yu, agar dia bersedia melawan musuh. Guru Seng Liong Sen pun berpendapat sama.

"Semula aku kira kau baru pulang besok, ternyata malam ini juga kau sudah sampai," kata Bun Yat (Ek) Hoan. "Kau mau menemui Giok Hian sekarang?"

"Tidak perlu Suhu, besok saja," kata Seng Liong Sen.

Saat itu Seng Liong Sen masih bimbang entah apa yang harus dia katakan pada Ci Giok Hian.

"Kalau kau tidak ingin bertemt i sekarang, itupun baik. Apalagi tiga hari lagi kalian sudah menjadi suami-isteri," kata Bun Yat Hoan. "Saat pernikahanmu, akan kuumumkan bahwa kau kuangkat menjadi ahli warisku."

"Terima kasih, Suhu," kata Seng Liong Sen.. "Silakan Suhu istirahat aku mohon diri!"

Kelihatan Bun Yat Hoan heran melihat muridnya tidak gembira seperti biasanya.

"Ya, baik. Kau juga harus beristirahat!" kata Bun Ek Hoan. Sesampai di kamar, Seng Liong Sen tidak bisa tidur. Dia keluar lalu jalan-jalan di tepi gunung. Tak lama ada orang mendekatinya.

"Seng Siauw-hiap, kapan kau pulang?"

Ketika Seng Liong Sen menoleh dia mengenali orang yang menegurnya itu Chan It Hoan. Salah seorang pelayan nona Han Pwee Eng yang ikut mengantarkan Han Pwee Eng pada saat nona Han diantar akan ke Yang-ciu menemui calon suaminya, Kok Siauw Hong.

"Aah, kenapa aku tidak mencari keterangan darinya?" pikir Seng Liong Sen.

Sesudah keributan di Pek-hoa-kok, Chan It Hoan dan Liok Hong bergabung dengan tentara rakyat. Tetapi saat tentara Mongol menyerang, Chan It Hoan terpisah dari induk pasukannya hingga terlunta-lunta sampai di Kang- lam. Di sini dia tinggal di rumah Bun Yat Hoan.

Bun Yat Hoan dikenal sebagai pemimpin persilatan di Kanglam. Dia banyak pengikutnya. Sekarang dia sedang berusaha membujuk pihak pemerintah Song untuk melawan musuh. Sementara itu dia juga sedang menghimpun kekuatan rakyat untuk berjuang melawan musuh. Sesudah saling memberi hormat, Chan It Hoan mulai bicara.

"Seng Siauw-hiap, kau baru kembali dari daerah Utara, apa kau sempat mendengar tentang keselamatan nona Han Pwee Eng, majikan kami?" kata Chan It Hoan.

"Ya, aku sudah mendengar. Katanya Nona Han sekarang sudah ada di Kim-kee-leng, di tempat Hong-lay- mo-li” kata Seng Liong Sen. "Tapi saat aku di sana, Nona Han belum ada di sana! Toa-siok, aku dengar nonamu sudah dijodohkan dengan Kok Siauw Hong dari Yang-ciu, benarkah begitu?" "Benar, tetapi aku sudah tidak ingin menyebut-nyebut nama pemuda itu lagi!" kata Chan It Hoan.

"Kenapa?"

"Dia tidak berbudi dan ingkar janji. Aku senang sebab aku dengar dia telah mati!" kata Chan It Hoan.

"Apa benar begitu? Aku dengar dari seorang sahabatku dia pernah bertemu dengan orang yang mirip dengan Kok Siauw Hong, entah dia atau bukan?" kata Seng Liong Sen.

"Bagaimana rupa orang itu dan di mana temanmu bertemu dia?" tanya Chan It Hoan.

Seng Liong Sen lalu menceritakan keadaan Kok Siauw Hong pada Chan It Hoan, dan berkata.

"Temanku bertemu di telaga See-ouw beberapa hari yang lalu, maka temanku dulu dia pernah bertemu dengan Kok Siauw Hong. Sedang orang itu katanya mirip dengan Kok Siauw Hong," kata Seng Liong Sen. "Kata temanku, jika benar dia Kok Siauw Hong kita harus mengajaknya bergabung melawan musuh!"

Seng Liong Sen sengaja membohongi Chan It Hoan, tapi tak lama Chan It Hoan menjawab.

"Orang yang mirip di dunia ini sangat banyak, tetapi bergaul dengan orang semacam dia, tidak ada gunanya!" kata Chan It Hoan.

Dari ucapan Chan It Hoan ini Seng Liong Sen langsung menerka bahwa orang yang dia temui dan sempat bertarung dengannya itu benar Kok Siauw Hong. Sesudah yakin pemuda itu saingannya, Seng Liong Sen berkata lagi.

"Aku dengar dulu keributan yang terjadi di Pek-hoa-kok gara-gara pemuda itu mencintai nona Ci Giok Hian. Benarkah begitu?" kata Seng Liong Sen. "Benar, bocah tidak berbudi itu telah menyia-nyiakan nona kami, maka itu terjadi keributan di Pek-hoa-kok. Semua itu gara-gara dia mencintai nona Ci yang entah bagaimana berhasil dia jebak! Kemudian dia berpisah dengan Nona Ci. Sekalipun dia sudah mati aku masih membencinya! Aku pikir sebaiknya masalah itu jangan kau ungkit kembali. Kau akan segera menikah dengan Nona Ci, jadi tidak perlu kau memikirkan masalah itu lagi!" kata Chan It Hoan.

Jawaban Chan It Hoan memuaskan Seng Liong Sen. Dia tidak mengira jika Chan It Hoan begitu membenci Kok Siauw Hong.

"Terima kasih, Toa-siok," kata S ;rtg Liong Sen. Kemudian keduanya berpisah dan Seng Liong Sen masuk ke kamarnya akan tidur. Tetapi sesampai di kamarnya, Seng Liong Sen tetap gelisah. Dia bingung dan berpikir, apakah dia harus memberi tahu nona Ci tentang pertemuannya dengan Kok Siauw Hong atau jangan. Ini yang terus membuat hati Seng Liong Sen bingung bukan main. Sebenarnya bukan Seng Liong Sen saja yang sedang bingung, tapi Ci Giok Hian pun sedang bingung di kamarnya. Pernikahannya dengan Seng Liong Sen hanya tinggal beberapa hari saja. Akhir-akhir ini nona Ci pun sulit tidur. Malam itu pun nona Ci tidak bisa tidur nyenyak. Dia duduk di depan jendela kamarnya meamun sambil bersandar padaj endela. Dia ingat saat dia bersumpah akan sehidupsemati dengan Kok Siauw Hong, tapi sekarang dia akan menikah dengan pemuda lain.

"Tidak kusangka hidup ini akan jadi begini, Kok Siauw Hong kini telah tiada, tetapi bagaimana andaikata dia belum mati?" pikir nona Ci yang agak tersentak sejenak. "Ya, bagaimana jika dia masih hidup, sedang aku menikah dengan pemuda lain?" Khabar tentang kematian Kok Siauw Hong itu dia dengar dari orang lain. Memang dia pernah ke lembah tempat Kok Siauw Hong mengalami kecelakaan. Nona Ci pun pernah bertemu dengan salah seorang anggota Kay- pang. Dari orang itu dia dengar Kok Siauw Hong terpanah oleh musuh. Tetapi dia belum yakin sekali, karena dia tidak menemukan mayat kekasihnya itu. Hal inilah yang membuat dia mau tidak mau jadi sangsi juga.

"Aaah, siapa tahu anggota Kay-pang yang mau mati itu bicara ngaco dan bagaimana jika Siauw Hong masih hidup?" begitu pikir nona Ci.

Sampai fajar menyingsing Ci Giok Hian belum juga bisa tidur. Semalam penuh Ci Giok Hian tidak memejamkan matanya. Hari pun telah pagi. Burung-burung mulai terdengar berkicau dan melompat-lompat dari dahan ke dahan.

Tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk. "Siapa?" tanya Ci Giok Hian.

"Aku!" kata Seng Liong Sen.

Mendengar suara pemuda itu, Ci Giok Hian tersentak kaget dan girang. Dia segera berjalan dan membukakan pintu kamarnya. Tampak Seng Liong Sen berdiri di depan pintu kamar dan kelihatan agak lesu.

Semalam Seng Liong Sen tidak bisa tidur dan, sepagi itu dia langsung menemui nona Ci. Dia tidak mengira kalau nona itu semalam juga tidak bisa tidur seperti dia.

"Hai! Kau sudah pulang? Kapan kau pulang?" kata Ci Giok Hian. "Kau kelihatan pucat, pasti kau kelelahan." "Aku baru pulang tadi malam," kata Liong Sen. "Karena aku pikir kau sudah tidur, aku tidak ingin mengganggumu. Baru sekarang aku menemuimu!"

Nona Ci tersenyum.

"Sepagi ini kau sudah mencariku, apa ada urusan penting?" tanya Ci Giok Hian.

"Sehari saja aku tidak bertemu denganmu, hatiku merasa tidak enak. Apa aku tidak boleh menemuimu jika tidak ada masalah penting?" kata Seng Liong Sen.

"lih, kau sekarang pandai bergurau! Sejak kapan kau jadi pandai merayu?" kata nona Ci.

"Sebenarnya, memang ada yang ingin aku sampaikan padamu," kata Seng Liong Sen. "Ini khabar gembira lho!"

"Khabar gembira? Khabar apa, tuh? Pasti tentang kau berhasil membujuk Han To Yu, bukan?" kata Ci Giok Hian.

"Bukan! Maksudku masalah pribadi," kata Seng Liong Sen.

"Hm! Kalau begitu katakan saja," kata Ci Giok Hian.

Semula Seng Liong Sen akan langsung membicarakan pertemuannya dengan Kok Siauw Hong, tapi dia agak ragu lalu berpikir akan membicarakan masalah itu lain kali saja. Maka itu dia mengubah pembicaraannya ke masalah lain.

"Suhu mengatakan di harian bahagia kita beliau akan mengumumkan pengangkatanku sebagai ahliwarisnya di depan para tamu!" kata Seng Liong Sen.

"Bagus, kuucapkan selamat. Dengan demikian kelak kau juga akan menjadi Beng-cu daerah Kang-lam. Ini khabar yang menggembirakan, tapi khabar itu tidak menyangkut mengenai diriku!" kata Ci Giok Hian. "Kenapa tidak?" kata Seng Liong Sen heran. "Bukankah jika aku jadi Bu-lim Beng-cu daerah Kang-lam, kau juga menjadi nyonya Beng-cu”

"Iih, sembarangan bicara saja! Mana mungkin aku punya rejeki sebesar itu? Bicarakan soal lain saja!" kata Ci Giok Hian dengan wajah merah.

Khabar itu sebenarnya membuat nona Ci girang bahkan dia merasa bangga jika bisa menjadi isteri seorang Beng-cu. Tetapi tak lama tampak nona Ci termenung.

"Hai! Ada apa denganmu? Kenapa kau diam?" kata Seng Liong Sen.

"Tidak apa-apa," kata nona Ci. "Wajahmu kelihatan muram aku rasa ada yang mengganggu pikiranmu!"

"Kau benar," kata Seng Liong Sen. "Aku ingin mengatakannya padamu, tapi aku mohon kau jangan marah."

"Marah? Kenapa aku harus marah, sebentar lagi kita akan menjadi suami-isteri. Masalah apa pun mana ada yang tidak bisa dibicarakan di antara suami-isteri?" kata Ci Giok Hian.

"Kau benar, dua hari lagi kita resmi menjadi suami-isteri, tetapi sekarang aku justru jadi cemas!" kata Seng Liong Sen.

Ci Giok Hian menatap ke arah wajah calon suaminya itu.

"Apa yang kau cemaskan?" kata Ci Giok Hian.

"Aku khawatir  terjadi  sesuatu,  misalnya  ada  rintangan. " kata Seng Liong Sen.

"Dari mana datangnya rintangan itu?" kata Ci Giok Hian. "Maafkan aku jika baru sekarang hal ini aku katakan padamu," kata Seng Liong Sen. "Andai kata sekarang kau bertemu dengan Kok Siauw Hong, apa kau tidak menyesal menjadi isteriku?"

Jantung Ci Giok Hian sejenak berdebar-debar karena terperanjat mendengar pertanyaan dari Seng Liong Sen itu.

"Kita sudah dengar bahwa dia sudah meninggal, bagaimana aku bisa bertemu lagi dengannya?" kata Ci Giok Hian.

"Ya, aku hanya berandai-andai saja," kata Seng Liong Sen. "Seandainya benar dia belum meninggal dan kau bertemu lagi dengannya! Bagaimana pendapatmu?"

Jantung Ci Giok Hian kembali berdebar-debar.

"Liong Sen. kau masih waras kan? Kau jangan ngaco tidak karuan!" kata Ci Giok Hian.

"Tidak, aku tidak bicara ngawur!" kata Liong Sen. "Jika benar dia masih hidup, kau lebih suka pada dia atau padaku?"

Tiba-tiba air mata Ci giok Hian meleleh.

"Kau jangan desak aku, Liong Sen! Kenapa kau berkata begitu? Apakah kau telah melihat dia?" kata Ci Giok Hian.

"Aku juga belum yakin, apakah orang itu dia atau bukan?" kata Seng Liong Sen.. "Tetapi aku memang pernah bertemu dan dan berkelahi dengannya. Orang itu pandai ilmu Cit-siukiam-hoat keluarga Kok! Entah dia atau bukan aku juga tidak tahu? Aku berharap saja agar orang itu bukan dia! Tetapi jika benar orang itu dia, aku juga gembira. Asal kau bahagia, aku pun sudah senang dan aku bersedia mengalah darinya dan kau boleh kembali kepadanya!" Tanpa disadarinya Ci Giok Hian mengulurkan tangannya hendak menutup mulut pemuda she Liong itu.

"Sudah... Kau jangan bicara lagi!" kata Ci Giok Hian.

"Apa kau yakin orang itu bukan dia?" kata Liong Sen. "Orang yang bisa Cit-siu-kiam-hoat bukan hanya Kok

Siauw Hong seorang," kata Ci Giok Hian. "Murid Jen Thian Ngo pun aku yakin bisa menggunakan ilmu itu!"

Kata-kata Ci Giok Hian ini sebenarnya hanya untuk menenangkan hatinya yang mulai gelisah, dia penasaran tetapi tidak berani menanyakan tentang orang yang ditemui Seng Liong Sen.

Semula Seng Liong Sen gelisah, ttapi ketika menyaksikan nona Ci tenang dia pun mulai tenang. Malah Seng Liong Sen yakin dia sudah bisa menggantikan kedudukan Siauw Hong di hati gadis ini..

"Jika benar orang itu dia, aku memang rela mengalah demi kebahagiaanmu. Tetapi terus-terang, aku akan menyesal seumur hidup. Sekalipun aku diangkat menjadi Beng-cu di daerah Kang-lam, bagiku tidak ada artinya!" kata Seng Liong Sen.

Tiba-tiba Ci Giok Hian menutup mulut Seng Liong Sen dengan jari tangannya yang mungil.

"Sudah jangan kau bicarakan lagi masalah yang sudah lewat!" kata nona Ci.

"Kau benar, lusa hari pernikahan kita.Tapi kenapa kita harus bicara masalah yang tidak baik kita bicarakan!" kata Seng Liong Sen yang hatinya semakin lega saja.

"Kau masih kelihatan lelah, istirahatlah," kata nona Ci. Sesudah  itu  Seng  Liong  Sen  meninggalkan  kamar   Ci

Giok  Hian.  Setelah  Seng  Liong  Sen  pergi,  hati  Ci Giok Hian jadi gelisah. Dia mengambil buku untuk menghilangkan kegelisahannya. Tetapi dia tidak bisa berkonsentrasi membaca buku itu. Dia letakkan buku itu dan berjalan keluar kamar. Pikiran nona Ci kacau sekali.

Bagaimana pun dia hendak melupakan Kok Siauw Hong, tetapi dia pernah bersumpah akan sehidup-semati dengannya.

"Selamat pagi nona Ci!" sapa Chan lt Hoan. "Pagi, Chan Toa-siok," jawab Ci Giok Hian.

Ketika itu sebenarnya Chan It Hoan hendak menghadang kedatangan Kok Siauw Hong. Semalam sesudah mendengar keterangan dari Seng Liong Sen. dia jadi penasaran. Dia kira Kok Siauw Hong akan menyusul dan datang ke tempat itu. Tapi ternyata justru berpapasan dengan Ci Giok Hian.

"Maafkan aku Nona Ci, aku belum mengucapkan selamat kepadamu," kata Chan It Hoan.

Wajah nona Ci berubah merah, dengan tersipu-sipu nona Ci menyahut.

"Terima kasih Chan Toa-siok, bagaimana keadaan majikanmu nona Han, apa kau sudah mendapat khabar tentang dia?" kata Ci giok Hian.

"Sudah, aku dengar nonaku sudah ada di Kim-kee-leng," kata Chan It Hoan sambil tertawa.

"Syukurlah, hubunganku dengan nonamu seperti saudara saja! Sayang dia tidak ada di sini. Chan Toa-siok, apa kau masih marah padaku?" kata Ci Giok Hian.

"Oh tidak! Kejadian di Pek-hoa-kok dulu, terus-terang semua  karena  kecerobohanku,"  kata  Chan  lt  Hoan. "Jika kau tak gusar padaku bagaimana aku marah padamu. Itu semua gara-gara bocah bernama Kok Siauw Hong itu!"

"Terus-terang dia juga tidak bisa disalahkan," kata Ci Giok Hian. "Sudahlah kita tidak perlu membicarakan masalah itu lagi!"

"Aku dengar dia sudah meninggal, jadi benar kenapa aku harus mengungkit-ungkit masalah orang yang telah meninggal?" kata Chan It Hoan.

"Sudahlah," kata nona Ci. "Kita jangan sebut-sebut dia lagi..."

"Memang begitu, tapi sayang..." Chan It Hoan tak meneruskan kata-katanya.

"Sayang bagaimana?"

"Di harian bahagiamu, nona kami tidak bisa hadir untuk mengucapkkan selamat padamu!" kata Chan It Hoan.

"Eeh, ngomong tentang nonamu aku jadi ingat sesuatu dan ingin minta bantuan pada Chan Toa-siok!" kata nona Ci.

"Katakan saja, jangan segan-segan!" kata Chan It Hoan. "Aku tidak tahu apakah aku bisa bertemu lagi dengan

nonamu atau tidak? Jika kau bertemu dengannya, tolong

kau sampaikan titipanku padanya," kata Ci Giok Hian.

Sesudah itu nona Ci mengeluarkan batu giok dari sakunya, lalu benda itu diserahkan pada Chan It Hoan.

Ketika diperhatikan batu giok itu terukir indah sekali, lukisan seekor naga dengan seekor burung Hong. Chan It Hoan kaget melihat benda itu lalu berkata. "Jika nonaku tahu di hari bahagia itu, dialah yang harus memberimu bingkisan, malah sekarang kau yang memberinya bingkisan ini?" kata Chan It Hoan.

"Serahkan saja benda itu, aku yakin nonamu akan tahu apa maksudnya," kata Ci Giok Hian.

"Baik, aku permisi akan kembali!"

Sesudah nona Ci meninggalkannya sendirian, Chan It Hoan mengamati benda di tangannya itu.

"Eeh, apa maksud nona Ci memberi hadiah ini?" pikir Chan It Hoan.
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Beng Ciang Hong In Lok Jilid 30"

Post a Comment

close