Beng Ciang Hong In Lok Jilid 22

Mode Malam
 
Mengetahui Kerajaan Kim semakin lemah, Siang-koan Hok kembali lagi ke Tiong-goan. Maksud Siang-koan Hok akan membangun kembali Kerajaan Liao. Diam-diam dia bergabung dengan Jenghis Khan. Ternyata dia diangkat menjadi Wakil Kok-su Mongol. Tentang niatnya membangun kerajaan Liao, sudah tentu dilakukan diam- diam agar bangsa Mongol tidak tahu maksudnya.

Sesudah Kerajaan Liao jatuh, salah seorang panglima Liao   berhasil   meloloskan   diri   bersama   anak buahnya. Kemudian panglima ini membentuk pasukan untuk melawan tentara Kim. Mereka bermarkas di See-lian-san. Panglima itu bernama Souw Goan Tiak.

Belasan tahun lamanya bangsa Kim tidak bisa menghancurkan kekuatan panglima Souw Goan Tiak di Seelian-san. Tetapi lama kelamaan Souw Goan Tiak pun semakin lemah. Mereka mulai kekurangan bahan makanan dan sebagainya. Malah Souw Goan Liak dan anak buahnya semakin mendapat kesulitan.

Selama Siang-koan Hok tinggal di tempat Jenghis Khan diam-diam dia mengadakan hubungan dengan pejuang bangsa Liao. Dua orang pengawal pribadi Kerajaan Liao berhasil lolos, membawa harta. Semua harta itu diserahkan pada Siang-koan Hok.

Mendengar para pejuang kekurangan dana Siang- koanHok ingin menyerahkan harta itu pada para pejuang, tepatnya kepada Souw Goan Tiak. Tetapi untuk melaksanakan maksud itu selalu terhalang karena Siang- koan Hok selalu dalam pengawasan mata-mata pihak Mongol. Tentu saja niat itu idak mudah dilaksanakan oleh Siang-koan Hok.

Tetapi sesudah Jenghis Khan meninggal dunia, Siang- koan Hok baru mendapat kesempatan. Dia mendapat perintah datang ke kota Lok-yang. Sekalipun Siang-koan Hok agak bebas tetapi dia tetap memiliki keterbatasan soal waktu. Sudah tentu dia tidak bisa pergi sendiri ke See-lian- san.

Kebetulan Siang-koan Hok bersahabat sejak muda dengan Han Tay Hiong. Ketika itu dia dengar Han Tay Hiong sedang mengasingkan diri di kota Lok-yang. Saat itu kelihatannya Han Tay Hiong sudah tidak aktif dan tidak ikut campur di Dunia Persilatan, padahal diam-diam Han Tay Hiong pun terus menyusun kekuatan untuk memerangi Kerajaan Kim. Tidak banyak orang yang tahu apa yang dikerjakan jago tua itu, termasuk mata-mata bangsa Mongol juga tidak mengetahuinya. Tidak heran jika pihak Mongol tidak mengetahui kalau di kota Lok-yang bersembunyi seorang jago tua yang ilmu silatnya tinggi.

Saat Siang-koan Hok tiba di Lok-yang dia berkunjung ke rumah Han Tay Hiong secara diam-diam. Dalam pembicaraan Siang-koan Hok menitipkan hartanya pada Han Tay Hiong agar disampaikan kepada Souw Goan Tiak di See-lian-san. Malah Siang-koan Hok pun sempat bermalam di rumah Han Tay Hong.

Ternyata kedatangan Siang-koan Hok secara diam-diam itu diketahui juga oleh Lauw Kan Lu dan Jen Thian Ngo. Kedua orang ini bercuriga lalu menyelidiki kedatangan Siang-koan Hok itu. Mereka menyelidiki karena tahu Siang- koan Hok seorang wakil Kok-su dari Kerajaan Mongol. Dengan demikian mereka khawatir kalau Han TayHiong bersekongkol dengan pihak Mongol yang mereka dengar berniat menyerbu ke Tiong-goan. Tetapi penyelidikan Jen Thian Ngo dan Lauw Kan Lu ini tidak berhasil mengorek keterangan yang memuaskan.

Malah celakanya Han Tay Hiong justru diserang oleh Chu Kiu Sek dan terluka dalam cukup parah. Dengan demikian Han Tay Hiong tidak bisa buru-buru mengantarkan harta titipan Siang-koan Hok pada Souw Goan Tiak di See-lian-san.

Pada saat Siang-koan Hok akan pulang ke Mongol, dia mengutus dua orang kepercayaannya ke gunung See-lian- san menemui Souw Goan Tiak. Kedua utusan itu memberitahukan  bahwa  harta  Siang-koan  Hok dititipkan kepada Han Tay Hiong di Lok-yang. Di luar dugaan tentara Mongol benar-benar datang menyerbu ke wilayah Tiong- goan.

Kebetulan Souw Goan Tiak dan Liu Ceng Yauw punya hubungan baik. Souw Goan Liak minta bantuan Bu-lim Bengcu

Hong-lay-mo-li Liu Ceng Yauw untuk mengambil harta itu di rumah Han Tay Hiong.Mereka sepakat akan bertemu di rumah Han Tay Hiong. Karena Hong-lay-mo-li ini tahu Siang-koan Po Cu puteri Siang-koan Hok, maka Hong-lai- mo-li lalu mengutus Siang-koan Po Cu bersama suaminya ke rumah Han Tay Hiong untuk bertemu dan membantu Souw Goan Tiak membawa harta itu.

Sesudah mendengar keterangan Siang-koan Po Cu, Kok Siauw Hong tertegun. Sekarang dia tahu tentang asal-usul harta di rumah Han Tay Hiong itu.

"Oh pantas Han Pwee Eng tidak tahu soal harta itu. Rupanya Paman Han tiak memberitahunya karena ini masalah besar?" pikir Kok Siauw Hong.

Kelihatan Siang-koan Po Cu gelisah bukan main. Tiba- tiba dia berkata seperti putus asa.

"Harta sudah dirampok tentara Mongol, sedang utusan Souw Goan Tiak pun tidak muncul, lalu kita harus bagaimana sekarang?" kata Siang-koan Po Cu.

"Aku lihat dua Iblis Tua itu sudah terluka, merekalah yang membawa harta itu menuju ke arah barat. Kereta yang mengangkut harta itu kelihatan berat hingga jalannya lambat. Jika kita kejar, aku yakin mereka bisa kita kejar!" kata Kok Siauw Hong.

Cong Siauw Hu tertegun. Sedang Kok Siauw Hong berpikir. "Kedua Iblis Tua sudah terluka, jika aku bergabung dengan suami-isteri ini rasanya bisa mengalahkan mereka! Jika tidak sanggup pun, aku sudah tahu jejak mereka. Bila aku pergi mencari bala-bantuan, siapa tahu bisa merebut kembali harta itu?" pikir Kok Siauw Hong.

"Sesudah merebut kota Lok-yang, angkatan perang Mongol menuju ke selatan. Yang mengherankan malah kedua Iblis Tua itu? Mengapa sesudah mereka berhasil merampok harta mereka tidak kembali ke Lok-yang? Seharusnya mereka bergabung dengan angkatan perang Mongol di Lok-yang. Tetapi dia malah menuju ke arah barat!" kata Cong Siauw Hu.

"Mengapa harus kita hiraukan dia mau ke selatan atau ke barat. Malah itu akan memudahkan kita merebut harta itu kembali. Mari kita kejar mereka!" kata Siang-koan Po Cu.

Sesudah itu mereka langsung menaiki kuda masing- masing dan memacunya bersama-sama. Kuda mereka dilarikan dengan cepat ke arah barat. Mereka belum tahu kalau di depan mereka juga ada penunggang kuda yang sedang mengejar rombongan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek itu. Pemuda itu adalah Ih Hua Liong.

Rupanya luka Ih Hua Liong tidak parah, sesudah luka itu diobati darahnya langsung berhenti mengalir. Dia berusaha memacu kudanya mengejar para pembawa harta hasil rampokan itu. Setiap saat Ih Hua Liong menoleh ke belakang, dia khawatir Kok Siauw Hong dan sepasang suami isteri itu mengejarnya.

"Sekalipun aku gagal menipu Cong Siauw Hu dan isterinya, tetapi beruntung aku selamat! Sesudah mendapat bagian dari hasil rampokan itu, aku akan bersembunyi di suatu tempat. Dengan demikian aku bisa hidup senang." pikir Ih Hua Liong. Jen Thian Ngo bersekongkol dengan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek untuk merampok harta itu. Sesudah berhasil merampok harta itu, dia dijanjikan akan mendapat serengah bagian dari harta itu. Karena harus menipu orang Kay-pang dan para pejuang, maka dia tidak bisa datang sendiri meminta bagiannya. Maka itu dia mengirim muridnya yang bernama Ih Hua Liong menemui kedua rekan kerjanya itu dengan maksud meminta bagiannya. Berhubung rombongan itu sudah lebih dulu berangkat menuju ke arah barat, maka Ih Hua Liong terpaksa harus memacu kudanya lebih cepat agar bisa menyusul rombongan itu.

Baru sesudah hari keenam Ih Hua Liong bisa menyusul rombongan See-bun Souw Ya cs ini. Sesudah tersusul oleh Ih Hua Liong rombongan See-bun Souw Ya diperintahkan beristirahat di tengah jalan di samping sebuah gunung. Di sebelah kiri terdapat hutan dan sebuah sungai. Kebetulan di tepi jalan itu terdapat sebuah warung teh. Di antara mereka ada yang beristirahat di kedai teh sambil minum teh. Ada juga yang hanya beristirahat melepas lelah.

Ketika itulah Ih Hua Liong mengajukan permohonan gurunya pada See-bun Souw Ya.

"Sudah aku katakan dari semula," kata See-bun Souw Ya. "Bahwa harta itu harus aku bawa ke Ho-lim dan diserahkan kepada Cun Seng Hoat Ong, atau Kok-su Mongol. Sudah itu Kok-su itu akan memberi hadiah sebagian dari harta itu untuk kita. Baru harta itu dibagi dua secara adil!"

"Bukan aku serakah," kata Ih Hua Liong dengan suara perlahan. "Tapi aku pikir harta yang begitu banyak sebaiknya sebagian kita sembunyikan. Aku kira Kok-su itu pun tidak akan mengetahui jumlah sebenarnya dari harta itu. Bukankah itu lebih baik" See-bun Souw Ya tertawa terbahak-bahak.

"Tidak kusangka ternyata kau punya ide derrukian," kata See-bun Souw Ya.

Dengan suara tetap perlahan Ih Hua Liong berkata lagi. "Aku kira ideku itu sangat bermanfaat bagi kita semua.

Kasihanilah aku yang terluka demi harta ini!" kata Ih Hua Liong.

Mendengar percakapan itu Chu Kiu Sek menyela.

"Eh, bagaimana kau bisa terluka demikian" kata Chu Kiu Sek. "Parahkan lukamu itu?"

See-bun Souw Ya pun tersenyum sambil berkata lagi. "Jika dia terluka parah mana mungkin dia bisa menyusul

kita? Dia cuma mencari alasan saja!" kata See-bun Souw

Ya.

Ih Hua Liong sedikit kurang senang mendengar ucapan See-bun Souw Ya, tapi karena mereka masih bicara dengan nada lunak dia memberanikan diri untuk bicara lagi.

"Aku harap Lo Cian-pwee lebih berlapang dada dan bijaksana," kata Ih Hua Liong. Sebenarnya lukaku ini tidak parah. Tetapi jika aku tidak segera melarikan diri, mungkin bukan luka saja tetapi nyawaku pun akan melayang di tangan Kok Siauw Hong!"

Mendengar keterangan Ih Hua Liong itu See-bun Souw Ya terkejut.

"Apa? Kok Siauw Hong belum mampus?" kata See-bun Souw Ya dengan gemas sekali.

"Dia belum mati," kata Ih Hua Liong, "karena tidak puas ada kemungkinan dia mengejarku sampai ke mari" Chu Kiu Sek tertawa.

"Oh, jadi kau kabur ke mari untuk berlindung karena ketakutan, bukan ?" kata Chu Kiu Sek sinis.

Ucapan Chu Kiu Sek itu keras dan tajam hingga Ih Hua Liong akhirnya diam tidak menyahut.

Sebaliknya See-bun Souw Ya kelihatan geram sekali, sambil mengepalkan tangannya dia berkata.

"Dia berani datang ke mari?" katanya. "Benar, dia tidak seorang diri Lo Cian-pwee!" "Bersama siapa dia?" tanya See-bun Souw Ya.

"Dia bersama sepasang suami isteri." jawab Ih Hua Liong.

"Siapa suami isteri itu?" tanya See-bun Souw Ya.

"Suami isteri itu datang dari Kim-kee-leng, mereka bernama Cong Siauw Hu dan Siang-koan Po Cu. Aku bertemu dengan mereka di tengah jalan. Semula aku ingin membohongi mereka dan membawanya kemari agar Lo Cian-pwee bisa menangkap mereka. Jika Lo Cian-pwee berhasil menangkapnya, ini jasa bukan kecil bagi pihak Mongol.

Sungguh di luar dugaan tiba-tiba muncul Kok Siauw Hong. Karena itu rencanaku itu jadi gagal." kata Ih Hua Liong.

Ketika itu See-bun Souw Ya mendengarkan keterangan Ih Hua Liong dengan penuh perhatian, tetapi tiba-tiba dia menyela.

"Coba kau ulangi, siapa nama perempuan itu?" kata See- bun Souw Ya. "Namanya Siang-koan Po Cu," kata Ih Hua Liong mengulangi keterangannya.

"Tahukah kau, ada urusan apa suami isteri itu berada di sana?"

"Sayang aku tidak bertanya pada mereka, tetapi mereka sangat memperhatikan harta yang kita rampok ini. Mungkin kedatangan mereka karena harta itu!" kata Ih Hua Liong.

Mendadak See-bun Souw Ya menepuk pahanya sambil menghela napas.

"Aaah, sayang, sungguh sayang sekali!"

"Apa yang sayang, Lo Cian-pwee?" tanya Ih Hua Liong. "Sayang  kau  tidak  berhasil membohongi mereka hingga

mereka   tidak   bisa   diajak   ke   mari.   Jika   kita   berhasil

menangkap mereka itu bukan jasa yang kecil!" kata See-bun Souw Ya.

Mata Ih Hua Liong terbelalak. Dia tidak mengerti, mengapa See-bun Souw Ya berkata begitu.

"Aku rasa Cong Siauw Hu dan isterinya itu bukan tokoh yang sangat penting. Mengapa See-bun Souw Ya begitu menaruh perhatian pada mereka?" pikir Ih Hua Liong.

Maka itu Ih Hua Liong mengajukan pertanyaan pada See-bun Souw Ya.

"Kenapa begitu?" kata Ih Hua Liong.

"Kau belum tahu, Siang-koan Po Cu itu puteri Sian-koan Hok," kata See-bun Souw Ya.

Ih Hua Liong menganggukkan kepalanya sekalipun yang dia  ketahui  bahwa  Siang-koan  Hok  adalah  wakil Kok-su Mongol, yang lainnya dia tidak tahu. Maka itu dia jadi tercengang.

"Ah, kiranya Siang-koan Po Cu puteri Siang-koan Cianpwee! Tidak kusangka! Tetapi seandainya kita tangkap mereka, bukankah itu akan menyebabkan Siang-koan Cianpwee tersinggung?'

See-bun Souw Ya mendengus dingin.

"Hm! Rupanya banyak masalah yang tidak kau ketahui," kata See-bun Souw Ya. "Sayang aku lupa memberitahumu. Tetapi aku ingin bertanya lagi, apa kau punya ide lain untuk membohongi mereka hingga mau diajak ke mari?"

Mengapa See-bun Souw Ya begitu memperhatikan suamiisteri itu, ternyata ada sebabnya. Rupanya Cun Seng Hoat Ong mulai mencurigai Siang-koan Hok punya  rencana besar. Sekalipun Siang-koan Hok berhasil menitipkan hartanya dengan diam-diam di rumah Han Tay Hiong. Ternyata rahasia itu bocor ke telinga Cun Seng Hoat Ong. Sesudah mengetahui rahasia ini Cun Seng Hoat Ong mengutus See-bun Souw Ya untuk menyelidiki masalah ini. Selain diberi tugas hkusus agar See-bun Souw Ya merebut harta Siang-koan Hok, tugas terpenting adalah untuk menghimpun berbagai bukti kesalahan Siang-koan Hok. Sekarang seluruh harta telah direbut. Tetapi bukti kesalahan Siang-koan Hok belum lengkap. Sekalipun harta itu sudah diketahui milik Siang-koan Hok, tapi karena benda itu benda mati, maka harta itu tidak bisa dimintai keterangan.

Maka itu See-bun Souw Ya berambisi menangkap Siangkoan Po Cu, puteri Siang-koan Hok. Dengan sandera istimewa jelas Siang-koan Hok bisa dipaksa mengaku, demi menyelamatkan puterinya Tentang harta itu Siang-koan Hok pun akan mengakuinya "Bagaimana, kau punya ide?" kata See-bun Souw Ya kepada Ih Hua Liong.

"Tetapi mereka telah membongkar rahasiaku, mana mungkin aku menemuinya lagi!" kata Ih Hua Liong.

See-bun memandang ke arah Chu Kiu Sek, maksudnya akan menyuruh Chu Kiu Sek menangkap suami-isteri itu, tetapi Chu Kiu Sek langsung memberikan tanggapan.

"Tidak bisa!"

"Apa yang tidak bisa?" kata See-bun Souw Ya.

Chu Kiu Sek memandang ke arah See-bun Souw Ya. "Saudara See-bun, benarkah kau dan Ih Lo-tee akan pergi menangkap suami isteri itu?" kata Chu Kiu Sek. See-bun Souw Ya mengangguk.

"Aku pikir begitu," kata See-bun Souw Ya, "tetapi jika saudara Chu tidak yakin akan berhasil menangkap mereka, ya, sudahlah!"

Chu Kiu Sek memikirkan kepentingan sendiri. Dia khawatir See-bun dan Ih Hua Liong bertemu dengan Kok Siauw Hong yang kepandaiannya tidak rendah. Mengenai kedua suami isteri itu pun Chu Kiu Sek pernah mendengarnya. Itu alasannya, mana mungkin See-bun berhasil menangkap mereka. Selain itu Chu Kiu Sek khawatir harta itu akan dicaplok sendiri oleh See-bun.

"Kau licik tetapi aku juga tidak bodoh," pikir Chu Kiu Sek. "Jika kau yang mengangkut harta supaya kau yang mendapat jasa dan kau suruh aku mempertaruhkan nyawa melawan mereka! Dasar sial!"

Kemudian Chu Kiu Sek berkata pada See-bun Souw Ya. "Saudara   See-bun,  kepandaianmu  lebih  tinggi  dariku.

Maka  aku  tidak  yakin  bisa  menangkap  mereka  bertiga. Sebaiknya kau saja yang ke sana menangkap mereka!" kata Chu Kiu Sek.

See-bun Souw Ya mengerutkan dahinya.

"Mana mungkin aku yang ke sana meninggalkan kau mengawal harta itu!" pUcir See-bun Souw Ya.

Tiba-tiba dia berkata lagi.

"Oh ya tadi kau bilang mereka pasti mengejar kita bukankah begitu Ih Lo-tee?" kata See-bun Souw Ya.

Ih Hua Liong mengangguk.

"Lalu apa rencanamu?" tanya Chu Kiu Sek.

"Kita perlambat saja perjalanan kita agar mereka bisa mengejar kita!" kata See-bun Souw Ya.

"Tapi itu cuma dugaanku saja," kata Ih Hua Liong, "benar tidaknya aku tidak berani memastikannya!"

"Kalian boleh beristirahat lebih lama!" teriak See-bun Souw Ya pada tentara Mongol.

See-bun Souw Ya membuat pasukan berkuda Mongol girang bukan main. Mereka kembali berlarian ke arah hutan mencari tempat yang teduh, lalu beristirahat tidur-tiduran di atas rumput.

See-bun Souw Ya mencoba menunggu kedatangan ketiga orang yang jadi sasarannya itu. Tetapi sampai matahari mulai condong ke arah barat, belum juga tampak orang- orang yang ditunggunya itu. Saat See-bun Souw Ya akan memberi abaaba untuk berangkat, mendadak terdengar suara seruling yang sangat merdu.

See-bun Souw Ya memandang ke arah suara seruling itu. Di sana dia lihat seseorang yang berpakaian seperti seorang sastrawan, berumur sekitar limapuluhan. Orang itu sedang meniup seruling sambil berjalan dengan santai ke arah mereka.

Sebenarnya di warung teh banyak tentara Mongol, tetapi sastrawan ini tidak gentar sedikit pun, malah seolah dia tidak melihat mereka. Dia langsung masuk ke dalam warung teh, kemudian menyimpan serulingnya

Sastrawan itu masuk ke dalam warung teh tersebut. "Permisi, numpang duduk!" kata sastrawan itu.

Mata tentara Mongol mendelik ke arah sastrawan itu.

Melihat akan terjadi keributan See-bun Souw Ya sudah langsung memberi perintah.

"Kalian sudah lama minum teh di sini, berikan saja tempat dudukmu pada orang itu!" kaa See-bun Souw Ya.

See-bun Souw Ya sangat berpengalaman. Begitu melihat sastrawan itu dia menduga orang itu bukan orang sembarangan.

"Kelihatannya orang ini luar biasa, matanya bersinar, napasnya tenang. Mungkin dia seorang sastrawan biasa, tetapi dia seorang pesilat tinggi!" pikir See-bun Souw Ya.

Orang itu duduk di kursi yang diberikan tentara Mongol itu kepadanya. Sebelum duduk dia sempat memberi hormat kepada See-bun Souw Ya. Itu sebagai tanda terima kasihnya.

Sesudah itu dia duduk dengan tenang, tak lama pelayan menyuguhkan teh padanya. Sesudah menikmati teh yang disajikan pelayan, tiba-tiba dia memuji minumannya.

"Teh yang harum dan nikmat, sungguh nikmat!" katanya.

Seorang tentara Mongol mentertawakannya. "Teh ini pahit sekali, bagaimana kau bilang teh ini nikmat?" kata prajurit Mongol itu.

"Teh yang harum dan baik tentu saja rasanya pahit," kata sastrawan itu. "Karena sehabis pahit akan datang rasa manis, sungguh baik sekali," kata sastrawan itu.

Mendengar kata-kata sastrawan itu See-bun Souw Ya langsung tergerak hatinya. Dia mendekati sastrawan itu.

"Tuan benar-benar seorang sastrawan sejati. Hari ini aku beruntung bisa berjumpa dengan Anda. Bagaimana jika kita jadi sahabat satu sama lain?" kata See-bun Souw Ya.

Sastrawan itu tertawa terbahak-bahak.

"Kau mau bersahabat denganku, memang itu yang kuharapkan! Terus-terang, hari ini aku sedang kesulitan tidak punya uang sama sekali. Maukah Anda membayari teh yang aku minum ini?" kata sastrawan itu.

"Benarkah dia seorang sastrawan atau bukan? Lalu bagaimana aku mengujinya?" pikir See-bun Souw Ya.

Selesai berpikir dia langsung berkata pada sastrawan itu. "Ah, Anda bergurau mengatakan tidak punya uang!"

kata See-bun Souw Ya.

Sastrawan itu melotot.

"Jadi kau tidak bersedia membayariku?" kata sastrawan itu.

"Oh, jangan salah mengerti! Aku bersedia membayari Anda! Jangankan hanya membayarimu minum teh, aku pun siap mem-bayarimu minum arak! Tetapi sayang warung ini tidak menjual arak! Bagaimana apakah Anda bersedia melakukan perjalanan bersama kami? Malam ini pasti kita akan sampai di sebuah kota. Kita akan minum arak di sana sampai mabuk!" kata See-bun Souw Ya tersipu- sipu.

"Aku senang dan berterima kasih atas ajakan Anda tetapi sayang aku tidak punya waktu!" kata sastrawan itu kelihatan malas-malasan.

"Sayang sekali!" kata See-bun Souw Ya.

"Kita cuma kebetulan bertemu di sini, lalu apa yang harus disayangkan?" kata sastrawan itu. See-bun Souw Ya tersenyum.

"Kau sangat pandai meniup seruling," kata See-bun Souw Ya "Suara serulingmu merdu dan menyedapkan di telinga. Hari ini kita harus berpisah dan entah kapan lagi bisa bertemu kembali. Bagaimana kalau Anda meniup serulingmu untukku?"

Sastrawan itu tertawa mendengar See-bun Souw Ya meminta dia meniupkan sebuah lagu untuknya

"Baiklah, karena Anda membayari teh yang kuminum, sudah pasti aku akan meniup seruling membawakan sebuah lagu untuk Anda!" katanya.

Tak lama dia sudah mulai mengeluarkan seruling dari sakunya dan mulai meniup sebuah lagu. Suara seruling itu sangat merdu. Tapi lama-kelamaan nada suara seruling itu mirip dengan suara tangisan yang memilukan. Banyak tentara Mongol yang menikmatinya terbuai dan terkenang pada kampung halamannya masing-masing.

"Nada seruling itu sangat memilukan," pikir See-bun Souw Ya, "jika dilanjutkan, mungkin aku tidak  akan  tahan. "

Tiba-tiba See-bun Souw Ya tersentak. "Celaka! Apakah dia sedang mengacaukan pikiranku dengan suara serulingnya?"

Saat See-bun Souw Ya akan menyuruh sastrawan itu menghentikan suara serulingnya, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda. Kemudian tampak tiga penunggang kuda di depan warung itu. Ternyata mereka itu Kok Siauw Hong cs.

Rupanya kedatangan mereka sedang mengejar Ih Hua Liong. Ketika Cong Siauw Hu mendengar suara seruling si sastrawan dia kelihatan girang bukan kepalang.

"Ah rupanya di sini telah ada kawan kita, jadi tidak perlu cemas. Mari kita temui dua Iblis Tua itu!"

Siang-koan Po Cu pun girang.

"Tidak dikira orang yang akan kita temui di rumah Han Tay Hiong, ternyata ada di sini!" kata Siang-koan Po Cu.

Sebenarnya Kok Siauw Hong sangat cemas, karena belum tentu mereka sanggup mengalahkan kedua Iblis Tua itu. Ketika mendengar kedua suami isteri itu berbicara begitu, dia tertegun.

"Siapa orang itu?" kata Siauw Hong.

"Dia Bu-lim Thian-kiauw (Orang cerdas Rimba Persilatan)." kata Cong Siauw Hu menjelaskan.

Mendengar keterangan itu Kok Siauw Hong girang. "Kiranya dia! Jadi aku tidak perlu cemas!" pikir Kok

Siauw Hong.

Seruling itu terbuai oleh suara seruling itu. Mereka seolah tidak melihat kehadiran Kok Siauw Hong cs.

"Bagus! Kok Siauw Hong, kau bernyali besar hingga masih berani datang ke mari!" kata Chu Kiu Sek. "Kau datang ke warung ini untuk minum teh, mengapa aku tidak?" kata Kok Siauw Hong.Kok Siauw Hong cs melompat turun dari kuda mereka. Dengan tidak menghiraukan katakata Chu Kiu Sek dengan santai Kok Siauw Hong cs masuk ke dalam warung.

Chu Kiu Sek melirik ke arah See-bun Souw Ya, See-bun mengibaskan tangannya, kemudian mengawasi ke arah si sastrawan yang sedang meniup seruling, saat itu seolah dia ingin bilang bahwa kedatangan musuh yang baru itu tidak perlu dihiraukan.

Melihat hal itu Chu Kiu Sek mengerutkan keningnya Dalam waktu bersamaan terdengar para prajurit Mongol menangis sedih.

See-bun Souw Ya berdiri sambil membentak.

"Hentikan serulingmu! Jangan kau tiup lagi!" kata See- bun Souw Ya.

Bentakan See-bun Souw Ya bagaikan suara guntur yang menggelegar, hingga menghentikan tangisan para prajurit Mongol. Si sastrawan menghentikan serulingnya. "Apa Anda sudah puas mendengar suara serulingku ini?" kata dia.

See-bun Souw Ya tertawa.

"Ternyata kau Cendekiawan Tam, rupanya aku salah mata. Mohon bertanya, apa maksud kedatangan Anda ke mari?" kata See-bun Souw Ya.

Memang sastrawan itu bernama Tam Yu Cong, seorang cendekiawan yang bekerja di Kerajaan Kim. Namun karena tidak puas oleh tindakan Raja Kim, dia meninggalkan istana dan merantau sebagai pengelana. Kaum Rimba Persilatan memberi gelar kepadanya dengan gelar Bu-lim Thian-kiauw kepadanya. Isteri Tam Yu Cong bernama See Kian Yun kakak- beradik dengan isteri Souw Goan Tiak dan bernama See Lian Ceng-sia. Dugaan Cong Siauw Hu benar, Souw Goan Tiak memang mengutus Tam Yu Cong ke rumah Han Tay Hiong untuk bertemu dengan mereka.

Ketika Tam Yu Cong sampai ke rumah Han Tay Hiong, ternyata rumah Han Tay Hiong telah musnah. Harta itu sudah tidak ada di sana. Dia mendapat khabar bahwa harta yang sedang dikawal oleh anggota Kay-pang berhasil dirampok oleh kedua Iblis Tua dan dibawa ke arah barat. Oleh sebab itu Tam Yu Cong tidak menunggu sampai Cong Siauw Hu dan isterinya tiba, dia langsung berangkat mengejar para perampok harta itu.

"Aku ke sini untuk minum teh! Bukankah kau sudah bilang kau mau membayariku?" kata Tam Yu Cong.

"Saudara Tam, kau jangan main sandiwara, sebenarnya apa maumu?" kata See-bun Souw Ya.

Tam Yu Cong tertawa.

"Bukankah sudah aku bilang tadi, aku tidak punya uang? Kau bilang kau ingin bersahabat denganku, maka aku ingin meminjam uang darimu untuk membayar teh!" kata Tam Yu Cong.

See-bun Souw Ya mengawasinya.

"Oh! Aku tahu sekarang, kau datang ke mari untuk harta itu, bukan?" kata See-bun Souw Ya.

Tam Yu Cong tertawa dingin.

"Benar!" kata Tam Yu Cong. "Ternyata kau cepat tanggap dalam soal ini!"

See-bun Souw Ya kaget. "Dia dengan Siang Auw Kan Kun sangat terkenal. Untung hanya dia yang datang, barangkali dia masih dapat kuatasi," pikir See-bun Souw Ya yang tidak ingin menunjukkan kelemahannya.

"Jika kau menginginkan harta itu, kau harus menunjukkan dulu kepandaianmu padaku!" kata See-bun Souw Ya.

Tam Yu Cong tertawa terbahak-bahak.

"Tentu! Itu sudah tentu! Jika aku tidak menunjukkan kepandaianku, mana enak aku mengambil harta itu. Baiklah, aku akan meniup sebuah lagu untukmu!" kata Tam Yu Cong.  

-o-DewiKZ^~^aaa-o- Tadi See-bun Souw Ya maupun Chu Kiu Sek dan anak buahnya sudah tahu, betapa lihaynya seruling Tam Yu Cong yang telah mempengaruhinya. Ketika See-bun Souw Ya mendengar Tam Yu Cong akan meniup serulingnya See-bun Souw Ya membentak.

"Sastrawan Tam, jangan kau lakukan lagi, kau sangat menghinaku! Aku tahu kau pesilat tinggi dari Kerajaan Kim, tapi aku juga bukan orang yan tidak ternama. Hari ini beruntung kita bertemu di sini, bagaimana jika kita mencoba kepandaian di sini!" kata See-bun Souw Ya.

Tam Yu Cong tertawa.

"Tadi kau yang meminta aku meniup seruling, sekarang kau pula yang menyuruh jangan. Aku tidak peduli, apakah kau mau mendengar atau tidak, tapi aku tetap akan meniup serulingku!" kata Tam Yu Cong. Usai berkata Bu-lim Thian-kiauw Tam Yu Cong mulai meniup serulingnya Dia meniup serulingnya sambil berdiri. Sambil meniup seruling dia berjalan ke luar warung.

Mula-mula suara seruling itu seperti suara ombak yang menderu-deru. Sekalipun lwee-kang See-bun Souw Ya tinggi, tapi otaknya tetap terganggu oleh suara seruling itu. Karena tidak tahan See-bun Souw Ya membentak.

"Bedebah! Kau berani mempermainkan aku!" kata See- bun Souw Ya.

Dia langsung mengerahkan ilmu Hua-hiat-to sampai tingkat delapan dan menyerang Bu-lim Thian-kiauw Tam Yu Cong.

"Ah aku tidak berani main-main pada Anda!" kata Tam Yu Cong.

Tetapi tak lama dia kibaskan serulingnya. Seketika itu juga tampak bayangan serulingnya berkelebat-kelebat. Pukulan See-bun Souw Ya yang bau amis buyar terbawa angin kibasan seruling Tam Yu Cong yang lihay. Malah bayangan seruling itu telah mengurung tubuh See-bun Souw Ya.

Seruling itu mengeluarkan suara dahsyat yang menderuderu sangat tajam. Ini membuat See-bun Souw Ya terperanjat bukan kepalang, dan pikirannya jadi kacau.

Mau tidak mau serangan See-bun Souw Ya jadi kacau dan bisa dikatakan telah buyar. Tidak lama kelihatan See- bun Souw Ya mulai terhuyung-huyung ke belakang sebanyak tiga langkah.

Kakek guru Tam Yu Cong seorang tokoh persilatan yang aneh, dia ahli silat dan ahli sastra juga. Saat dia menciptakan Ciak-hu-sin-siauw (Ilmu Seruling Sakti), sang kakek menggunakan syair dari Dinasti Tang pada setiap jurusnya Demikian juga nada seruling yang diciptakannya.

See-bun Souw Ya memang lihay sekalipun ilmu silatnya mulai kacau, dia tetap tenang dan tidak panik.

"Kung-fu apa yang kau gunakan itu? Beranikah kau bertarung dengan kung-fu yang wajar?" kata See-bun Souw Ya pada Tam Yu Cong.

Karena tidak mendapat jawaban See-bun Souw Ya menyerang lagi dengan cengkraman tangan kanannya, sedang tangan kirinya menyerang dengan jurus Hua-hiat-to.

"Aku yakin kau tidak tahu tentang ilmu Seruling Sakti, kenapa kau menyalahkan aku?" kata Tam Yu Cong.

Tam Yu Cong mulai meniup serulingnya dengan syair Dinasti Tang. Kini dia gunakan gin-kangnya sehingga tampak bayanganya bergerak kian-kemari.

Sekalipun See-bun Souw Ya memperhebat ilmu cengkraman Hua-hiat-to-nya, namun dia tidak mampu menyentuh tubuh Tam Yu Cong, jangankan tubuhnya pakaiannya pun dia tidak mampu menyentuhnya.

Tam Yu Cong terus meniup lagu lain, sesudah itu baru dia melintangkan serulingnya di depan dadanya. Jurus tersebut indah sekali, walau tampak sangat sederhana, tetapi banyak perubahan-perubahan sehingga mampu melakukan serangan baik ke arah se-bun Souw Ya. Sekarang See-bun Souw Ya sudah menyadari lihay-nya serangan Tam Yu Cong ini, buruburu dia tarik serangannya. Melihat lawan menarik serangannya Tam Yu Cong tertawa.

"Bukankah tadi kau menantangku bertarung secara jantan, kali ini akan aku tunjukkan kelihayanku!" kata Tam Yu Cong sambil tersenyum. Seketika itu tampak seruling di tangan Tam Yu Cong menunjuk kian-kemari, dengan demikian bayangan seruling itu berkelebat pula kian kemari. Seruling itu terbuat dari batu giok. Tetapi di tangan Tam Yu Cong seruling itu bisa diubah dijadikan pedang ataupoan-koan-pit (senjata mirip alat tulis Tionghoa yang bernama pit, red). Karena ujung seruling berkali-kali bergerak ke arah See-bun Souw Ya dan mengarah ke jalan darah lawan yang akan ditotoknya, serangan gencar itu membuat See-bun Souw Ya tidak sempat menggunakan jurus Hua-hiat-to, karena terus didesak. Diam-diam dia cemas juga.

"Ternyata Tam Yu Cong yang bergelar Bu-lim Thian- kiauw bukan nama kosong! Dia memang pantas mendapat gelar tersebut!" pikir See-bun Souw Ya.

Tadi tentara berkuda Mongol diam saja dan tidak memperhatikan pertarungan itu. Tetapi saat melihat See- bun Souw Ya mulai terdesak, wajah mereka berubah. Sebagian tentara yang tadi tidur-tiduran di rumput, sekarang sudah bangun dan menyerbu ke arah warung teh dan kini warung itu terkepung oleh mereka.

Chu Kiu Sek mulai cemas.

"Tampaknya aku harus bergabung dengan See-bun Souw Ya mengeroyok orang itu. Aku sudah tidak perlu memakai aturan kalangan Kang-ouw lagi!" pikir Chu Kiu Sek. "Jika aku tidak segera ikut membantu See-bun Souw Ya, setelah dia kalah aku bukan lawan dia lagi!" 

Tiba-tiba Chu Kiu Sek membentak keras.

"Cepat tangkap ketiga orang itu!" kata Chu Kiu Sek.

Dia langsung bergabung dengan See-bun Souw Ya menyerang ke arah Tam Yu Cong. "Phui! Dasar Iblis Tua tidak tahu malu!" bentak Siauw Hong.

Kok Siauw Hong bergerak cepat menghunus pedangnya dan menyerang Chu Kiu Sek, sedang Chu Kiu Sek buru- buru membalikkan tangannya melancarkan pukulan ke belakang. Pukulan itu membuat Kok Siauw Hong terpaksa harus berkelit dan Chu Kiu Sek terus maju ke depan akan membantu See-bun Souw Ya.

Saat itu tentara Mongol sudah mulai menyerang.

"Siauw Hu!" teriak Tam Yu Cong. "Jika kalian tidak segera merebut harta itu mau tunggu kapan lagi?"

Mendengar teriakan itu Cong Siauw Hu dan isterinya menghunus pedang mereka. Mereka langsung menyerang tentara Mongol. Hanya dalam waktu sekejap beberapa tentara Mongol berhasil mereka lukai. Cong Siauw Hu bergerak mendekati Kok Siauw Hong seraya berkata perlahan.

"Kedua Iblis Tua itu lihay, tetapi mereka bukan tandingan Tam Yu Cong. Mari kita rampas harta itu!" kata Cong Siauw Hu.

"Baik," kata Kok Siauw Hong.

Chu Kiu Sek menyerang Tam Yu Cong dengan jurus Siu-loim-sat-kang tingkat delapan ke arah Tam Yu Cong. Serangan itu mengandung hawa dingin yang luar biasa Saat pukulan itu hampir mengenai bahunya, Tam Yu Cong menggeser tubuhnya, dan langsung meniup serulingnya

Chu Kiu Sek merasakan ada angin panas menyerang ke arahnya, membuat dia sulit benapas. Pukulan Chu Kiu Sek tidak berhasil melukai Tam Yu Cong, tetapi sebaliknya Chu Kiu Sek yang jadi kedinginan. Ketika itu seolah dia berada di tumpukan salju yang sangat dingin. Seruling Tam Yu Cong suling yang ajaib, saat ditiup mengeluarkan udara hangat dan mampu membuyarkan jurus Siu-lo-im-sat-kang milik Chu Kiu Sek. Jika satu lawan satu pasti Chu Kiu Sek sudah terjungkal di tangan Tam Yu Cong, tetapi karena dia bergabung dengan See-bun Souw Ya mereka j adi seimbang. Chu Kiu Sek menyerang dengan pukulan yang mengeluarkan hawa dingin, See-bun Souw Ya serangannya berbau amis. Sedangkan seruling Tam Yu Cong mengeluarkan hawa hangat. Jadi tidak heran jika di tengah gelanggang terjadi beberapa kali perubahan. Sebentar dingin, sebentar bau amis, dan kemudian terasa hangat. Sedang tentara Mongol hanya mengepung gelanggang tanpa berani maju membantu dua Iblis Tua itu.

Tentara Mongol yang mengawal harta rampasan itu terdiri dari prajurit Mongol pilihan, tidak heran jika Cong Siauw Hu dan isterinya tidak mudah bisa segera merebut harta yang mereka jaga.

Ketika Tam Yu Cong meniup serulingnya saat bertarung dengan kedua Iblis Tua itu, suara seruling itu mau tidak mau berpengaruh juga kepada tentara Mongol yang menjaga harta Tiba-tiba mereka yang gagah berani mengawal harta dari serbuan Cong Siauw Hu dan isterinya itu, mulai kelihatan limbung bagaikan orang yang mabuk arak. Semangat tentara Mongol itu mulai buyar.

Taluwa yang memimpin pasukan Mongol itu maju. Dia adalah orang yang memanah Kok Siauw Hong tempo hari. Menyaksikan situasi mulai tidak menguntungkan bagi pihaknya dia buru-buru melompat ke atas kudanya dan mengambil busur siap memanah ke arah Kok Siauw Hong yang mulai maju akan membantu Cong Siauw Hu dan isterinya.

Kok Siauw Hong sudah tahu betapa lihaynya panglima Mongol ini menggunakan panah. Kebetulan saat maju dia berada dekat dengan dua tentara Mongol. Pada saat terdengar suara busur menjepret, Kok Siauw Hong sudah langsung berkelit, lalu menyaambar salah seorang prajurit Mongol yang ada di dekatnya itu

Saat terdengar tali busur kembali menjepret tak lama terdengar jeritan dari prajurit yang ada di tangan Kok Siauw Hong. Rupanya Kok Siauw Hong menggunakan prajurit Mongol sebagai tameng baginya. Anak panah Taluwa itu menancap di dada prajurit itu. Nyawanya seketika itu juga melayang.

Bukan main gusarnya Taluwa. Kembali dia memanah Kok Siauw Hong sebanyak tiga kali.

"Seer! Seer! Seer!" terdengar desingan anak panah ke arah Kok Siauw Hong.

Dengan cepat Kok Siauw Hong menunduk mengelak anak panah yang tertuju ke mukanya, anak panah yang kedua dia tangkis dengan pedang, sesudah itu Kok Siauw Hong berkelit menghindari anak panah ketiga yang melewati sisi kanan tubuhnya

Kok Siauw Hong tidak tinggal diam dia bergerak cepat, sesudah terhindar dari tiga anak panah Taluwa dia merebut salah sebuah tombak dari prajurit Mongol. Kemudian tombak itu disambitkan ke arah Taluwa.

Taluwa tahu dia diserang, dia tangkis tombak yang meluncur ke arahnya itu dengan busur di tangannya Tak lama terdengar suara keras.

"Pletak,braak!"

Ternyata busur di tangan Taluwa patah dua Melihat senjata ampuh lawan telah patah Kok Siauw Hong melompat ke arah kudanya. Dia segera memacu kuda itu.

"Taluwa kau mau lari ke mana?" kata Kok Siauw Hong. Saat itu tentara Mongol sudah dalam keadaan kocar-

kacir diserang oleh Cong Siauw Hu dan isterinya Dengan demikian tidak ada tentara Mongol yang menghalangi Kok Siauw Hong mengejar Taluwa

Kuda Taluwa kalah cepat oleh Siauw-pek-liong, kuda milik Kok Siauw Hong. Tidak berapa lama Taluwa sudah terkejar oleh Kok Siauw Hong. Taluwa akhli panah, tapi sekarang di tangannya sudah tak ada busur panah andalannya. Saat Kok Siauw Hong menyerang dia dengan Cit-siu-kiam-hoat, dalam beberapa jurus Taluwa sudah mulai kewalahan. Bahkan tak lama kemudian Taluwa sudah terjungkal dari atas kudanya. Saat Taluwa mencoba kabur dengan berlari, Kok Siauw Hong merampas tombak prajurit Mongol. Dengan tombak itu dia sambit Taluwa dengan sekuat tenaga,

"Aaakh!" jerit Taluwa.

Punggung Taluwa tertembus tombak yang disambitkan oleh Kok Siauw Hong. Maka tewaslah panglima Mongol yang gagah berani itu. Sesudah Taluwa tewas tentara Mongol sudah tidak bersemangat untuk mngadakan perlawanan. Mereka serabutan melarikan diri.

Ketika itu Kok Siauw Hong dan suami isteri ituhampir berhasil merebut harta itu. Tiba-tiba Kok Siauw Hong terkejut bukan kepalang saat mendengar suara derap kaki kuda. Dia mengira itu pasti bala-bantuan dari tentara Mongol. Dengan munculnya pasukan Mongol baru, tidak mungkin mereka akan berhasil merebut harta itu dari tentara Mongol. Tetapi mendadak dia mendengar seman Cong Siauw Hu.

"Apakah yang datang itu Saudara Bong?" teriak Cong Siauw Hu

Mendengar seruan itu pemimpin orang yang naik kuda itu maju lebih cepat sambil membantai tentara Mongol  yang mencoba melarikan diri.

"Benar aku! Malah aku datang bersama saudara Tu!" sahut orang itu.

Sesudah pasukan berkuda itu dekat Kok Siauw Hong baru mengenali, bahwa itu bukan pasukan Mongol. Orang yang berada paling depan pria bewokan. Di sampingnya lelaki berumur pertengahan, dia berpakaian seperti seorang sastrawan, Kok Siauw Hong mengenali pria itu, dia adalah Tu Hok.

Bukan main girangnya Kok Siauw Hong.

"Cong Tay-hiap, siapa orang yang kau panggil Saudara Bong itu?" kata Kok Siauw Hong.

"Jadi kau belum kenal padanya, dia pemimpin pejuang yang bermarkas di gunung Ciak-lo, namanya Bong Cian!" kata Cong Siauw Hu sambil tersenyum.

Tentara Mongol sudah kabur semuanya. Sedang Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya pun sulit menghadapi Tam Yu Cong. Mereka pun mulai gelisah.

"Keadaan sudah berubah lebih baik kabur!" pikir Chu Kiu Sek.

Begitu juga yang ada di benak See-bun Souw Ya.

Mereka langsung menyerang beruntun bersama-sama, hingga Tam Yu Cong sibuk menangkis serangan itu. Saat itu digunakan kedua Iblis Tua untuk kabur. Cong Siauw Hu dan isterinya akan mengejar kedua Iblis Tua itu, tetapi Tam Yu Cong mencegahnya.

"Biarkan mereka pergi!" kata Tam Yu Cong.

Beng Cian dan Tu Hok menghampiri Tam Yu Cong yang memang merupakan sahabat lama. Mereka tertawa- tawa girang.

"Aku datang bersama Yo Si-ko," kata Tu Hok. "Semalam aku baru tiba di Ciak-lo-san dan bertemu Bong Cian. Sedang Yo Si-ko sedang pergi mengurus suatu urusan. Aku diminta saudara Bong Cian untuk membantunya. Tidak kusangka hari ini kita bertemu di sini!"

Bong Cian ketika itu ingin pergi ke lembah Ceng Liong, Tetapi di tengah perjalanan mereka mendengar suara pertempuran. Dengan demikian sekarang mereka berhasil merebut kembali harta yang telah dirampok itu.

"Mari aku perkenalkan, ini Kok Siauw-hiap," kata Cong Siauw Hu.

Tu Hok tertawa.

"Aku pernah bertemu dengannya di Pek-hoa-kok. Saudara Kok aku dengar kau mengalami bencana di lembah Ceng Liong Aku jadi cemas sekali, untung kau selamat! Dan kuucapkan selamat!" kata Tu Hok.

Bong Cian tertegun.

"Ah kiranya dia Kok Siauw-hiap. Dua hari yang lalu ada dua orang sedang mencarimu!" kata Bong Cian.

Kok Siauw Hong kaget.

"Siapa mereka itu?" kata Siauw Hong. "Seorang pria dan seorang wanita, yang pria bernama Seng Liong Sen, sedang yang wanita bernama Ci Giok Hian!" jawab Bong Cian.

Kok Siauw Hong memang sudah sangat kangen ingin segera bertemu dengan kekasihnya itu, begitu dia dengar Ci Giok Hian mencari dia maka Kok Siauw Hong pun girang bukan kepalang.

"Oh!" kata Siauw Hong. "Mereka bilang apa?"

"Nona Ci memberitahu aku bahwa kau tewas di lembah Ceng Liong..." kata Bong Cian.

Kok Siauw Hong tertegun.

"Dia... dia mengira aku telah tewas?"

"Sayang, aku tidak menanyakannya dengan jelas kepadanya," jawab Bong Cian. "Tetapi tampaknya dia sangat yakin. Mungkin dia mendengar kabar itu dari orang yang selamat dari bencana di lembah Ceng Liong."

Kok Siauw Hong tertegun tapi tiba-tiba dia sadar.

"Oh, dia datang ke sana dan bertemu dengan anggota Kay-pang yang selamat, maka itu mereka memberitahu Giok Hian mengenai keadaanku. Ketika itu kudaku terpanah hingga aku terjatuh ke dalam lembah. Tidak heran kalau orang-orang menyangka aku telah tewas. Tapi siapakah Seng Liong Sen itu?" kata Kok Siauw Hong bingung.

"Seng Liong Sen murid Bu-lim Beng-cu daerah Kang-lam bernama Bun Ek Hoan!" kata Tu Hok.

"Aneh, padahal Giok Hian tidak pernah ke Kang-lam, dia juga tidak pernah bilang dia kenal dengan murid Bun Tayhiap. Tapi bagaimana mereka bisa berjalan bersama?" pikir Siauw Hong. Tu Hok sahabat Han Tay Hiong. Dia kurang senang mendengar Kok Siauw Hong membatalkan pertunangannya dengan puteri Han Tay Hiong, saat di lembah Pek-hoa-kok, dia tidak mau berterus terang, takut dianggap ikut campur urusan orang lain. Saat dia melihat wajah Kok Siauw Hong agak murung, dia langsung bicara.

"Kok Siauw-hiap, jangan kau anggap aku usil. Dalam keadaan kacau seperti sekarang, seorang lelaki berpisah dengan wanita itu sudah wajar. Jangan hanya karena seorang wanita, lalu kau melalaikan tugasmu. Oh, ya, kau sudah membatalkan pertunanganmu dengan keluarga Han, bukan? Aku dengar Han Lo Eng-hiong mendapat musibah. Sekarang pun aku belum tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal? Karena hubungan keluarga kalian maka kau tidak boleh tinggal diam! Sekarang Ci Giok Hian sudah punya pilihannya, menurutku kau jangan terlalu memikirkannya!" kata Tu Hok.

Sekalipun Tu Hok tidak terang-terangan namun di balik ucapannya dia ingin mengatakan, bahwa hati Ci Giok Hian "kini telah berubah", rupanya Tu Hok ingin menyadarkan Kok Siauw Hong.

Hati Kok Siauw Hong terasa pedih mendengar kata-kata Tu Hok tersebut.

"Tidak! Tidak mungkin! Itu tidak mungkin! Aku tahu Ci Giok Hian berani menanggung risiko apapun demi aku, mana mungkin hatinya akan berubah begitu cepat terhadapku?" pikir Kok Siauw Hong.

Walau demikian Kok Siauw Hong curiga juga. Dia tahu Tu Hok tidak akan bicara sembarangan, pasti orang tua ini telah melihat mereka mesra berduaan.

Beberapa saat Kok Siauw Hong termenung-menung. Tapi  kemudian  dia  berkata,  "Kebetulan  aku  sudah   tahu jejak Paman Han, maka aku harus segera ke sana. Tapi Giok Hian ke mana, apakah dia memberitahu Cian-pwee?"

"Aku pernah mengundang mereka agar datang ke Kim- keeleng, tetapi dia tidak bersedia!" kata Tu Hok. "Sayang dia tidak memberitahuku mau ke mana dia? Tetapi yang kuketahui Seng Liong Sen harus pulang ke Kang-lam. Maka sebagai sahabat, apakah Nona Ci ikut dengannya ke Kang- lam?"

"Baiklah, kalau begitu aku harus pergi mencari Paman Han," kata Kok Siauw Hong.

"Apa kau perlu kubantu?" tanya Tu Hok.

Saat itu hati Kok Siauw Hong sedang kacau, maka itu dia menjawab sekenanya.

"Maaf, aku tidak berani merepotkan Cian-pwee!" kata Siauw Hong.

Tiba-tiba Tam Yu Cong bertanya pada Siauw Hong. "Sebenarnya Han Lo Eng-hiong jatuh di tangan siapa?" kata Tam Yu Cong.

"Aku tidak mengetahuinya dengan jelas," jawab Kok Siauw Hong. "Tetapi berdasarkan jejak yang kuketahui, sekarang Paman Han ditahan di suatu tempat yang sangat rahasia. Tempat itu letaknya tidak jauh dari rumahnya. Majikan tempat itu seorang wanita berkepandaian tinggi, dia dibantu oleh See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek!"

"Benarkah begitu?" tanya Tam Yu Cong.

Kok Siauw Hong menceritakan apa yang diketahuinya tentang Beng Cit Nio yang bertempat tinggal di balik air terjun itu. Mendengar keterangan itu semua tercengang. Tu Hok manggut-manggut "Memang sebagian cerita tentang Han Lo Eng-hiong sudah kuketahui, namun seperti yang kau ceritakan aku pun tidak tahu dengan jelas!" kata Tu Hok pada Kok Siauw Hong.

"Masa ini wanita berkepandaian tinggi bisa dihitung dengan jari, tapi mengapa aku tidak pernah mendengar tentang wanita gagah itu?" kata Tam Yu Cong.

"Dia memang berilmu tinggi, kelihatannya juga dia bukan orang jahat!" kata Siauw Hong. "Malah ketika aku masih kecil dia pernah menyelamatkan nyawaku!"

Kok Siauw Hong mengisahkan kejadian masa kecilnya di rumah Han Tay Hiong.

"Kalau begitu wanita itu baik," kata Tam Yu Cong. "Tetapi kenapa dia berhubungan dengan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek dan menyusahkan Han Lo Eng-hiong?"

"Mengenai masalah itu aku tidak tahu," kata Siauw Hong. "Sekarang kedua Iblis Tua itu sudah kabur, mungkin mereka tidak berani datang lagi ke tempat itu. Aku akan mencari Paman Han di sana. Mudah-mudahan wanita itu tidak mencelakai aku!"

Tu Hok memang punya urusan lain, ketika mendengar Kok Siauw Hong begitu yakin, dia berkata pada anak muda itu.

"Kau tidak butuh bantuanku, kalau begitu cepatlah kau ke sana! Semoga kau berhasil menemukan Han Lo Eng- hiong. Jika sudah bertemu ajak beliau ke Kim-kee-leng!" kata Tu Hok.

"Baik," kata Siauw Hong.

Tak lama mereka berpisahan. Tam Yu Cong bersama Cong Siauw  Hu  dan isterinya  mengantarkan harta  ke See- lian-san. Tu Hok pun pamit pada Bong Cian. Dia harus segera kembali ke Kim-kee-leng memberi laporan pada Hong-lay-mo-li.

Dengan menunggang kudanya Kok Siauw Hong seorang diri melakukan perjalanan. Di sepanjang jalan dia tidak mendapat halangan, maka itu tak lama Kok Siauw Hong sudah sampai di rumah Han Tay Hiong yang sebagian telah menjadi puing. Begitu sampai kelihatan wajah pemuda ini jadi murung.

"Tidak aku sangka pembahan bisa begitu cepat terjadi, hanya dalam beberapa bulan semua sudah berubah!" pikir Kok Siauw Hong. "Sebenarnya aku sudah berjanji akan bertemu dengan Ci Giok Hian di rumah Paman Han ini. Tidak kusangka rumah ini telah men-jadi puing, sedangkan Giok Hian sekarang entah ke mana? Aaah, apakah benar seperti kata Tu Hok dia telah berubah. Sekarang cintanya telah dialihkan pada pemuda bernama Seng Liong Sen? Sekalipun dia dengar aku sudah binasa, tidak mungkin begitu cepat jatuh hati pada pemuda lain." Ketika itu hari sudah senja...

"Di mana aku harus bermalam?" pikir Kok Siauw Hong. "Ah, di sini masih ada kamar yang tidak terbakar. Itu kamar Pwee Eng! Tapi apa salahnya aku tidur di sini, besok baru aku mencari Paman Han!"

Sampai saat itu dia masih berpikir Ci Giok Hian masih akan datang ke tempat itu.

Rumah Han Tay Hiong telah dibakar oleh See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek, sebagian rumah itu telah musnah dilalap api. Sekarang yang masih tertinggal hanya sebuah kamar milik nona Han.

Kok Siauw Hong bukan orang yang banyak pantangan. Setelah      melakukan      perjalanan      berhari-hari      yang melelahkan, akhirnya dia pun kepayahan juga. Sekarang dia ada di rumah Han Tay Hiong, kemudian dia langsung berjalan menuju ke kamar Han Pwee Eng yang masih dalam keadaan utuh tidak terbakar.

"Aku tidak tahu apakah khabar tentang Ci Giok Hian itu benar atau tidak?" pikir pemuda ini. "Tetapi yang jelas sudah ada orang yang melihat dia berjalan berdua dengan Seng Liong Sen! Dan Han Pwee Eng entah pergi ke mana? Jika dia pulang dan melihat aku tidur di kamarnya, mungkin dia akan memarahiku?"

"Mana mungkin di dunia ini bisa ada kejadian yang kebetulan? Aku sudah di sini, lebih baik aku tidur di kamar ini saja!" pikir Kok Siauw Hong.

Dia singkap kelambu. Seketika itu tercium bau harum, tanpa sadar dia tertawa sendiri.

"Tujuan kedatanganku ke Lok-yang untuk membatalkan pertunanganku dengan Han Pwee Eng. Tetapi tidak aku kira malam ini malah aku tidur di ranjang Han Pwee Eng. Kalau orang sampai mengetahui hal ini, sungguh aku tidak punya muka untuk bertemu orang lagi!" pikir Kok Siauw Hong.

Saat Kok Siauw Hong akan meletakkan kepalanya ke bantal, dia melihat sarung bantal bersulam sepasang burung Wan-yo (Walet). Sarung bantal itu kelihatan masih baru. Di sisi atas bantal itu terdapat syair dua baris. "Mudah- mudahan panjang umur dan hibup bahagia selamanya."

Rupanya bantal itu disulam oleh Han Pwee Eng dengan diam-diam. Mungkin sarung bantal itu untuk kenang- kenangan hari pernikahannya Namun, suatu hari sulaman sarung bantal itu terlihat oleh pelayannya, lalu menggurauinya Hal itu membuat Han Pwee Eng merasa malu dan sarung bantal itu dia biarkan di situ tidak dibawa saat dia mau ke Yang-cou menikah dengan Kok Siauw Hong.

Melihat sarung bantal itu Kok Siauw Hong tertegun, hatinya terasa pedih.

"Han Pwee Eng menyulam sarung bantal ini dengan penuh rasa cinta kepadaku. Mana dia sangka aku malah akan membatalkan pernikahan itu, hingga membuat dia malu! Aaah! Aku bersalah besar kepadanya!" pikir Kok Siauw Hong.

Sebenarnya Kok Siauw Hong bukan tidak mencintai  Han Pwee Eng. Tetapi karena mereka tinggal berjauhan, dan Kok Siauw Hong sudah berkenalan dengan Ci Giok Hian, dia telah memilih Ci Giok Hian yang dia anggap lebih baik dari Han Pwee Eng. Sekarang setelah Ci Giok Hian pergi dengan Seng Liong Sen, hati Ci Giok Hian telah berubah, Kok Siauw Hong mulai berpikir. Saat itu tiba-tiba dia ingat pada Han Pwee Eng.

Kok Siauw Hong pun tidak mengetahui bahwa saat itu pun Han Pwee Eng pun sangat merindukannya. Apalagi saat ayahnya akan diobati oleh Seng Cap-si Kouw dia sudah dipesan oleh ayahnya harus mencari Kok Siauw Hong.

Hari itu setelah meninggalkan rumah Seng Cap-si Kouw dan ayahnya, Han Pwee Eng yang hatinya hampa berpikir.

"Ah, ke mana harus kucari dia? Tetapi, sekalipun aku tahu di mana dia berada, aku tidak akan menemuinya lagi!" pikir Han Pwee Eng.

Benarkah dia tidak ingin bertemu lagi dengan Kok Siauw Hong? Dia sendiri tidak berani menjawab pertanyaan itu. Sejak kecil dia ditunangkan dengan Kok Siauw Hong. Karena dia masih kecil, di matanya Kok Siauw Hong hanya anak lelaki yang lebih besar dari dia dan lebih nakal. Bisa dikatakan dia tidak begitu kenal. Saat mendengar dari ayahnya, bahwa Kok Siauw Hong seorang itu pemuda gagah, itu membuat hatinya jadi girang. Ketika itu muncul khayalan yang indah-indah dalam benaknya. Mendadak terjadi perubahan besar karena tahu pemuda itu mencintai gadis lain. Sejak saat itu kesan baiknya terhadap Kok Siauw Hong berubah. Selain malu dia merasa tersinggung oleh sikap pemuda itu. Sekalipun dia mau mengalah pada Ci Giok Hian, tetapi dia merasa telah dipermalukan oleh Kok Siauw Hong.

Saat dia meninggalkan lembah Pek-hoa-kok dan pulang seorang diri, dalam hatinya Kok Siauw Hong sudah bukan pemuda tampan dan gagah perkasa lagi di matanya. Dia anggap pemuda itu sebagai pemuda tidak berperasaan dan tidak setia.

Ketika sampai di rumahnya, keadaannya sudah terbakar, kebetulan dia juga diserang oleh Chu Kiu Sek. Tiba-tiba Kok Siauw Hong muncul. Mereka berdua menghadapi Iblis Tua itu.

Hati Han Pwee Eng kembali berubah dan tidak lagi menganggap Kok Siauw Hong sebagai pemuda tidak berperasaan dan tidak setia.

Hari itu setelah meninggalkan ayahnya, dia pulang ke rumahnya. Tanpa sadar dia ingat saat menunggu kepulangan Kok Siauw Hong dari markas cabang Kay- pang. Mungkin ketika pemuda itu datang dia tidak menemukannya, karena Kok Siauw Hong tidak mengira, kalau dia tertipu oleh See-bun Souw Ya yang mengajak ke rumah tempat ayahnya ditahan.

"Dia pasti mengira aku masih marah kepadanya, maka itu  aku  tidak  mau  menemuinya  Apalagi  sekarang  telah lewat beberapa hari, dia pasti tidak akan menunggu aku di rumah ini. Walau Ayah menyuruhku mencarinya tetapi ke mana aku harus mencarinya?" pikir Han Pwee Eng.

Tiba-tiba Han Pwee Eng ingat kata-kata Tik Bwee, pelayan Seng Cap-si Kouw. Dia bilang siauw-yanya Seng Liong Sen telah bertunangan dengan Ci Giok Hian. Entah benar entah tidak? Tetapi yang masih diingat Han Pwee Eng, ketika Beng Cit Nio melihat cincin yang ada di saku Ci Giok Hian. Ketika itu Beng Cit Nio tidak jadi membunuh nona Ci. Jelas ucapan Tik Bwee itu bukan cuma mengada- ada. Aah, jika itu benar dan diketahui oleh Kok Siauw Hong, entah bagaimana perasaannya?

Ketika Kok Siauw Hong datang ke rumahnya setelah jatuh dari lembah Ceng Liong, nona Han baru sampai ke rumahnya. Begitu sampai dia menuju ke kamarnya. Tiba- tiba nona Han melihat ada cahaya terang di kamarnya, malah dia juga melihat sesosok bayangan sedang duduk di atas tempat tidurnya.

Han Pwee Eng kaget bukan kepalang, dia seolah-olah sedang bermimpi. Pada saat yang bersamaan Kok Siauw Hong yang tidak bisa tidur setelah melihat sarung bantal sulam itu, merasa ada langkah orang. Mendadak Kok Siauw Hong menoleh dan melompat keluar dari kamar itu. Kebetulan dia bertemu muka dengan Han Pwee Eng, hingga keduanya tertegun agak terkesima.

"Eh, ternyata kau!" kata Kok Siauw Hong. Han Pwee Eng menatap pemuda itu.

"Kau belum pergi, mengapa kau bersembunyi di kamarku?" kata Han Pwee Eng.

Wajah Kok Siauw Hong merah. "Hari itu saat kembali aku tidak melihatmu. Sesudah itu aku menemui berbagai masalah yang di luar dugaan. Dan hari ini aku kembali lagi ke mari karena.... aku...aku tidak tahu harus bermalam di mana? Maka.....maka aku mau tidur di sini! Tidak kusangka kau mendadak pulang, aku...

.aku minta maaf." kata Kok Siauw Hong agak gugup.

"Aku juga mengalami berbagai masalah di luar dugaan," kata Han Pwee Eng. "Sekarang kau sudah ada di sini, kita harus bicara terus-terang. Mari masuk, kita bicara di dalam saja!"

Ketika dia lihat nona Han tidak marah, hatinya jadi tenang, lalu dia mengikuti nona itu berjalan ke dalam kamarnya. Saat dia lihat wajah Siauw Hong merah, nona Han merasa tidak enak hati untuk menggodanya. Maka itu dia ajak Siauw Hong ke kamarnya. Saat masuk dan melihat sarung bantal sulam itu, wajah nona Han berubah merah.

Kok Siauw Hong purapura tidak melihatnya

"Bagaimana pengalamanmu, boleh aku mendengarnya?" kata Kok Siauw Hong.

"Baik, tapi aku ingin bertanya dulu padamu. Tadi kau kira aku siapa?"

Kok Siauw Hong jadi serba salah wajahnya merah. Sambil tertawa Han Pwee Eng berkata perlahan.

"Kau kira aku Ci Giok Hian, kan? Aku tahu kalian sudah berjanji akan bertemu di sini! Iya, kan?" kata nona Han lagi.

Kok Siauw Hong mengangguk perlahan. Han Pwee Eng tersenyum.

"Pasti hal itu sangat mengecewakan hatimu," kata Han Pwee Eng, "tetapi aku sudah bertemu dengan Kakak Ci. Kau ingin tahu tentang dia?" Kok Siauw Hong tertegun.

Han Pwee Eng lalu menceritakan mengenai dia tertipu oleh murid See-bun Souw Ya dan diajak ke rumah Beng Cit Nio. Dia juga menceritakan bahwa dia bertemu dengan ayahnya yang terluka parah. Kemudian bertemu dengan Ci Giok Hian yang menyamar ingin menyelamatkan mereka. Juga tentang Ci Giok Hian mengantarkan arak beracun untuk ayahnya. Dia juga bercerita bagaimana Seng Cap-si Kouw dan Beng Cit Nio berhasil mengalahkan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek, sampai ayahnya dibawa ke rumah Seng Cap-si Kouw untuk diobati. Mata Kok Siauw Hong terbelalak mendengar keterangan itu.

"Tidak kusangka banyak kejadian aneh kau alami. Aku rasa Beng Cit Nio tidak akan mencelakakan ayahmu. Karena wanita itulah yang menolongiku ketika tercebur ke sungai saat aku masih kecil. Tetapi yang mengherankan aku, bagaimana arak itu bisa ada racunnya? Aku jadi tidak mengerti!" kata Kok Siauw Hong.

"Aku tidak menyalahkan Kakak Ci, sudah tentu aku percaya kepadanya," kata Han Pwee Eng. "Tetapi aku jadi heran atas kejadian itu!"

Tiba-tiba Han Pwee Eng mengawasi pemuda itu.

"Dari nada suara kata-katamu, kau mencurigai Seng Cap-si Kouw, benarkah itu?" kata nona Han.

"Aku tidak pernah bertemu dengannya," kata Siauw Hong, "maka itu aku tidak tahu sifatnya terhadap orang. Tetapi dari ceritamu aku pikir dialah orang yang patut dicurigai!"

"Tetapi dia yang menyelamatkan dan membebaskan Ayahku. Dia mengobati Ayahku dengan penuh perhatian. Kalau dia yang mencelakakan Ayahku, tapi mengapa dia menolongi Ayahku?" kata nona Han bingung bukan kepalang.

"Hati manusia sulit diduga," kata Kok Siauw Hong. "Aku cuma menerka. Tapi bukankah besok kita akan menemui ayahmu di tempat Seng Cap-si Kouw? Semuanya akan jadi jelas besok!" Tiba-tiba Kok Siauw Hong teringat sesuatu, dia langsung berkata lagi. "Kau bilang Seng Cap-si Kouw mempunyai seorang keponakan lelaki. Apakah keponakannya itu bernama Seng Liong Sen?"

Ditanya begitu tentu saja Han Pwee Eng terkejut. "Benar, dari mana kau tahu tentang hal itu?"

Saat melihat nona Han kaget mendengar pertanyaannya, seketika itu juga hati Kok Siauw Hong jadi hambar.

"Hm! Apa yang dikatakan Tu Hok memang benar," pikir Kok Siauw Hong.

Selang sesaat Kok Siauw Hong berkata lagi.

"Pwee Eng kau jangan membohongiku. Apa benar dia...

.dia berhubungan baik dengan Seng Liong Sen?" kata Siauw Hong.

Semula memang Han Pwee Eng ingin membohongi Kok Siauw Hong, itu sebabnya dia tidak pernah bercerita tentang apa yang dikatakan Tik Bwee sebelum dia pergi dari rumah Seng Cap-si Kouw. Pelayan itu mengatakan pada Han Pwee Eng, bahwa Ci Giok Hian telah bertunangan dengan Seng Liong Sen, majikan mudanya. Tidak dia sangka justru Kok Siauw Hong sudah tahu masalah itu. Sekarang pemuda itu sedang menatap mukanya dan bertanya tentang itu kepadanya. "Siauw Hong, kau dengar dari mana khabar itu? Kak Ci sangat baik kepadamu, kau jangan banyak curiga!" kata Han Pwee Eng.

Hati Kok Siauw Hong sangat risau.

"Bukan aku curiga, tetapi orang yang mengatakan dia bergaul dengan Seng Liong Sen itu orang gagah ternama!" kata Kok Siauw Hong.

Kemudian dia menceritakan pengalamannya saat terjatuh dari jurang, dan kemudian dia bertemu dengan Cong Siauw Hu dan isterinya. Akhirnya harta itu bisa mereka rebut kembali atas bantuan Tam Yu Cong. Sesudah mendengar kisah itu Han Pwee Eng berpikir.

"Kalau begitu barangkali kata-kata Tik Bwee memang benar?" pikir Han Pwee Eng.

Tetapi dia tetap berusaha merahasiakan hal itu pada Kok Siauw Hong karena sadar, dirinya bekas calon isteri pemuda itu. Maka itu dia tidak enak hati jika menjelaskan apa yang didengarnya dari Tik Bwee. Dia takut akan dituduh egois dan hanya mementingkan kepentingan sendiri. Han Pwee Eng tetap membujuk Kok Siauw Hong agar tidak banyak curiga.

"Kau tidak mengetahui dengan jelas mengenai hubungan mereka," kata Kok Siauw Hong agak kurang puas, "tetapi aku dengar sekarang mereka sedang melakukan perjalanan ke Kang-lam bersama-sama! Pasti kau tahu tentang itu, kan?"

Han Pwee Eng tidak bisa berbohong lagi saat didesak begitu, terpaksa dia menjawab dengan jujur.

"Pada malam Kakak Ci lolos dari tangan Beng Cit Nio, kalau tidak salah memang dia pergi bersama Seng Liong Sen!" kata Han Pwee Eng. "Aaah, tidak aku sangka pembahan bisa terjadi begitu cepat!" kata Kok Siauw Hong. "Tetapi aku tidak bisa menyalahkan Giok Hian! Dia mengiraaku telah tewas!"

Dari nada suara Kok Siauw Hong dia tidak menyalahkan Ci Giok Hian, sekalipun hatinya panas dan kesal sekali.

"Walau dia menganggap aku sudah mati, tidak seharusnya dia begitu cepat melupakan ikrar kami yang akan sehidupsemati, dan begitu cepat mencari pemuda lain!" pikir Kok Siauw Hong.

"Mereka berjalan bersama, tetapi belum tentu Kakak Ci hatinya telah berubah," kata Han Pwee Eng tetap membela Ci Giok Hian. "Menurutku sebaiknya kau jangan banyak curiga. Sesudah kau bertemu dengannya, boleh kau tanyakan kepadanya terus-terang!"

Mendengar kata-kata Han Pwee Eng hati Kok Siauw Hong tergerak, dia kagum pada Han Pwee Eng yang tetap membela kekasihnya, padahal Ci Giok Hian telah merebut kekasih nona ini.

"Dia bukan benci pada Giok Hian yang telah merebut calon suaminya, malah tetap membelanya, ini membuat aku menaruh hormat kepadanya." pikir Kok Siauw Hong.

Tanpa disadarinya Kok Siauw Hong terus mengawasi Han Pwee Eng yang dia perhatikan semakin cantik di matanya. Malah seolah ada yang sedang dia pikirkan. Sudah tentu hal ini membuat Han Pwee Eng jadi serba- salah dan merasa malu, wajahnya jadi kemerah-merahan. Keadaan kamar hening seketika lamanya....

Mendadak mereka mendengar ada suara orang bicara di luar rumah, tak lama terdengar suara langkah kaki menuju ke   rumah   itu.   Kok   Siauw   Hong   kaget,   segera   dia memadamkan lampu di kamar itu dan berbisik pada Han Pwee Eng.

"Orang yang sedang ada di luar itu suara orang Mongol, kiranya mereka ingin menangkap seseorang!" bisik Kok Siauw Hong.

Kok Siauw Hong tahu dari logat bicara orang-orang itu, maka dia yakin bukan bangsa Han tapi orang Mongol.

-o-DewiKZ^~^aaa-o-

Lewat celah jendela Kok Siauw Hong mengintai ke luar. Dia melihat empat orang pesilat Mongol sedang berjalan di halaman rumah Han Tay Hiong. Dia yakin keempat pesilat Mongol itu pasti berilmu tinggi.

Mendadak pesilat Mongol yang berjalan paling depan berseru. "Siang-koan Hok, cepat keluar! Jika kau bersedia kembali bersama kami dan menjelaskan pada Hoat Ong, kami tidak akan menyulitkan kau!" kata orang Mongol itu.

Pesilat Mongol itu menggunakan bahasa Han dan sangat fasih. Sekarang Kok Siauw Hong tahu, kedatangan keempat pesilat Mongol itu bukan untuk mencarinya, tetapi mereka sedang mencari dan menangkap Siang-koan Hok.

"Pasti mengenai masalah harta itu, Siang-koan Hok kabur dari Ho-lim, keempat pesilat itu mengejarnya sampai di sini!" pikir Kok Siauw Hong.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Beng Ciang Hong In Lok Jilid 22"

Post a Comment

close