Beng Ciang Hong In Lok Jilid 19

Mode Malam
Pik Po pelayan kesayangan Beng Cit Nio, tidak heran kalau saat melihat majikannya sedang dikepung oleh dua Iblis Tua itu jadi khawatir, maka itu dia memohon pada Cap-si  Kouw  agar  Cap-si  Kouw  mau  menolongi  dulu majikannya. Sebenarnya Pik Po tahu kalau Beng Cit Nio, majikannya, kurang cocok dengan Seng Cap-si Kouw.

-o-DewiKZ^~^aaa-o-

Sementara itu di tengah gelanggang pertarungan Beng Cit Nio terus berusaha mencurahkan perhatiannya melawan See-bun Souw-ya dan Chu Kiu Sek. Tidak heran jika dia seolah tidak menyaksikan kehadiran Seng Cap-si Kouw di tempatnya. Tapi saat dia tahu Seng Cap-si Kouw mendatangi, Beng Cit Nio langsung berkata dingin.

"Piauw-ciku (Kakak misanku, red), kau tidak perlu datang ke mari untuk berpura-pura jadi orang baik!" kata Beng Cit Nio

Mendengar teguran itu Seng Cap-si Kouw tertawa.

"Adik misanku yang baik, kalau begitu kau anggap aku sebagai orang luar! He, he, he! Sekalipun kau salah paham terhadapku, namun bagaimana aku tidak mau mempedulikan kau? Biar bagaimana kita tetap saudara misan!" kata Seng Cap-si Kouw.

See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek telah melihat bagaimana Khong-tong Sam-eng telah roboh di tangan Seng Cap-si kouw, mereka segera bersiap-siap untuk menghadapi Seng Cap-si Kouw bila perlu. Tetapi, gerakan Seng Cap-si Kouw begitu cepat, tahu-tahu pedang bambunya menyerang ke arah See-bun Souw Ya.

Sekalipun Cap-si Kouw sedang bicara tak urung pedang bambunya menyerang secepat kilat.

See-bun Souw Ya kaget oleh serangan itu, segera ia menggunakan jurus Pan-liong Jiauw-pou (Naga melangkah) untuk memukul lengan Seng Cap-si Kouw yang memegang pedang bambu hijau. Di luar dugaan See-bun Souw Ya saat diserang Seng Cap-si Kouw sudah mengubah serangannya, kali ini dengan jurus Ihseng-hoan-wi (Menggerakkan tubuh mengubah posisi). Kelihatan tubuh Seng Cap-si Kouw bergerak ke belakang Chu Kiu Sek, bersamaan dengan itu pedang bambunya ditusukkan pada orang she Chu itu. Sasaran Cap-si Kouw adalah punggung Chu Kiu Sek.

Saat Cap-si Kouw menyerang ke arah See-bun Souw Ya, serangan Cap-si Kouw ini sungguh berbahaya mengarah ke arah kedua mata See-bun Souw Ya, hal itu membuat See- bun Souw Ya mandi keringat saking kagetnya. See-bun Souw Ya menangkis dengan ilmu Hua-hiat-tonya. Ini pun membuat Seng Cap-si Kouw kaget, karena serangan See- bun itu membuat perutnya mual hingga mau muntah karena bau amis yang luar biasa itu menyerang ke hidungnya.

Sebaliknya Chu Kiu Sek kaget karena dia merasakan ada angin yang mengarah ke punggungnya, segera dia membalikkan tangannya untuk melancarkan sebuah pukulan ke belakang. Pukulan Chu Kiu Sek ini membuat Seng Cap-si Kouw merinding, namun ujung pedang bambu Cap-si Kouw berhasil merobek pakaian Chu Kiu Sek. Pada saat yang bersamaan, Seng Cap-si Kouw segera melompat mundur beberapa langkah, dia kembali ke pintu ruang tahanan.

Dalam dua gebrakan itu memang Seng Cap-si Kouw berada di atas angin, tetapi dia sadar ilmu Hua-hiat-to maupun Siu-lo Im-sat-kang itu sangat lihay. Jika Seng Cap- si Kouw ingin mengalahkan kedua Iblis Tua itu, mau tak mau dia harus bergabung dengan Beng Cit Nio, tapi mungkin mereka harus bertarung sampai seratus jurus baru bisa mengalahkan mereka. Tiba-tiba Seng Cap-si Kouw jadi tidak sabar dan ingin segera melihat keadaan Han Tay Hiong, maka itu dia berteriak ke arah Beng Cit Nio.

"Adik misan, hati-hati kau bertarung melawan mereka. Aku yakin mereka tidak akan mampu mengalahkanmu dalam waktu singkat, nanti kau akan kubantu!" kata Seng Cap-si Kouw.

Di luar dugaan serangan yang dilancarkan oleh Seng Cap-si Kouw ternyata telah membuat kedua Iblis Tua itu kelabakan, tak heran jika Beng Cit Nio jadi berada di atas angin. Sedangkan Seng Cap-si Kouw sambil tertawa memasuki ruang tahanan untuk melihat keadaan Han Tay Hiong.  

-o-DewiKZ^~^aaa-o- Saat itu tubuh Han Tay Hiong semakin dingin. Sedang Han Pwee Eng mencoba memeluknya erat-erat, kelihatan saat itu seakan-akan Han Pwee Eng takut sepasang tangannya terlepas dari tubuh ayahnya yang semakin dingin saja. Han Pwee Eng sangat takut kalau tiba-tiba ayahnya akan pergi untuk selama-lamanya. Saat dHuar kamar tahanan terjadi pertarungan yang hebat antara Beng Cit Nio dan Dua Iblis Tua, semua tidak diketahuinya. Hanya....

Tiba-tiba saja tangan yang lembut membelai-belai rambut Han Pwee Eng, kemudian terdengar suara bisikan ke telinga nona Han.

"Nona Han jangan takut, coba aku periksa keadaan ayahmu," kata suara itu.

Han Pwee Eng tersentak kaget. Dia langsung menoleh. Dilihatnya   seorang   wanita   berwajah   lembut   berdiri di hadapannya Sekalipun perempuan itu sudah tua, namun wajahnya masih kelihatan cantik.

Han Pwee Eng tertegun sejenak, dia merasa tidak kenal dengan wanita itu, nona Han lalu bertanya.

"Kau siapa?" tanya Han Pwee Eng.

Sebelum wanita tua cantik itu menjawab Pik Khi sudah mendahului wanita itu menjawab.

"Ini Seng Cap-si Kouw, Nona Han! Beliau Kakak-misan majikan kami. Dia datang untuk mengobati ayahmu," kata Pik Khi.

Seng Cap-si Kouw mengawasi Han Tay Hiong, setelah menghela napas dia brkata.

"Aaakh! Keterlaluan.... Majikan kalian sungguh kejam sekali, dia menyiksanya sampai begini!" kata Seng Cap-si Kouw. Memang Beng Cit Nio pernah menyiksa Han Tay Hiong. Ketika mendengar kata-kata Seng Cap-si Kouw, Pik Khi maupun Pik Po tidak bisa berkata apa-apa.

Seng Cap-si Kouw mengeluarkan sebatang jarum emas, lalu dengan jarum emas itu dia menusuk jalan darah Thayyang-hiatnya. Han Pwee Eng terkejut bukan kepalang ketika melihat apa yang dilakukan wanita itu.

"Kau mau apakan Ayahku?" bentak Han Pwee Eng. Seng Cap-si Kouw tersenyum.

"Jangan takut kugunakan jarum emas ini untuk mengeluarkan racun yang ada di tubuh ayahmu agar dia selamat!" kata Cap-si Kouw.

Dalam waktu bersamaan Han Tay Hiong terdengar mengelah napas panjang, sesudah itu perlahan-lahan matanya terbuka. Han Pwee Eng girang bukan kepalang. "Ayah! Ayah!"

Mata Han Tay Hiong kelihatan gugup dan panik."Cap-si Kouw, kau.....kau ..” kata Han Tay Hiong dengan suara bergetar.

"Ayah, Cap-si Kouw yang mengobatimu, Ayah!" kata Han Pwee Eng.

Sesudah berkata begitu Han Pwee Eng tersentak dan jadi berpikir.

"Ternyata mereka sudah saling mengenal, kenapa Ayah tidak bercerita padaku?" pikir nona Han.

Tiba-tiba Han Pwee Eng ingat masa kecilnya, ketika dia ditunangkan dengan Kok Siauw Hong. Tiga hari setelah Kok Siauw Hong meninggalkan rumahnya di Lok-yang, mereka kedatangan seorang tamu wanita yang ingin menemui ayahnya.

Namun, ayahnya tidak mau menemui wanita itu hanya ibu Han Pwee Eng yang menerima kedatangan tamu perempuan itu.

Ketika itu Han Pwee Eng baru berumur lima tahun. Ketika Han Pwee Eng mendengar kedatangan tamu wanita itu, dia berlari ke ruang tamu akan melihat tamu itu. Kelihatan tamu perempuan itu sangat cantik, Han Pwee Eng lalu mendekati wanita itu dan merangkulnya dengan manja. Melihat kelakuan Han Pwee Eng ibunya kelihatan tidak senang, lalu memarahi nona Han dan dikatakan tidak tahu aturan, nona Han ditariknya agar tidak mendekati tamu atau wanita cantik itu. Tetapi tamu wanita itu kelihatan sangat menyukai Han Pwee Eng, dia memuji ibunya punya anak perempuan yang cantik. Pada saat mau pergi,  tamu  wanita  itu  menghadiahkan  sebuah  mainan untuk Han Pwee Eng, sebuah burung-burungan yang terbuat dari batu giok.

Menerima burung dari batu giok itu Han Pwee Eng girang sekali. Tetapi setelah wanita cantik itu meninggalkan rumahnya, ibu Han Pwee Eng mengambil mainan burung batu giok itu dari tangan Han Pwee Eng.

"Aku larang kau menyimpan mainan dari wanita itu!" kata ibunya

Ketika itu wajah ibu Han Pwee Eng kelihatan dingin dan bengis. Menyaksikan sikap ibunya yang kaku itu Han Pwee Eng tercengang, karena ia tahu ibunya sangat lemah-lembut dan tidak pernah marah. Tapi hari itu dia marah besar. Burung terbuat dari batu giok itu oleh ibu Han Pwee Eng dibanting ke lantai dan hancur berantakan. Ketika itu Han Pwee Eng yang masih kecil hanya bisa menangis, karena jengkel selama beberapa hari dia tidak mau mendekati ibunya apalagi bicara.

Beberapa hari kemudian wajah ibu Han Pwee Eng berubah tidak sedap dipandang, hal itu membuat Han Pwee Eng j adi takut sekali.

"Ibu marah padaku, dia tidak memperdulikan aku lagi, apa yang harus kulakukan?" pikir Han Pwee Eng.

Tiba-tiba malam itu mendadak ibu Han Pwee Eng memeluk puterinya erat-erat, kemudian berkata perlahan.

"Nak, kau masih marah pada Ibu?" kata ibu Han Pwee Eng. "Bu, apa Ibu masih sayang padaku?" kata nona Han. "Tentu, memang kenapa nak?"

"Kalau begitu selanjutnya aku tidak akan menerima barang pemberian orang lain, tetapi dulu Ibu tidak pernah melarang aku menerima pemberian orang lain," kata Han Pwee Eng sambil terisak sedih. Ibu Han Pwee Eng mencium kening puterinya dengan mesra.

"Bagaimana Ibu tidak sayang kepadamu, hari ini Ibu yang salah. Ibu tidak menyalahkan kau, tapi Ibu menyalahkan wanita itu!" kata ibunya.

Dengan keheranan Han Pwee Eng lalu bertanya pada ibunya yang dia kira sudah tidak memarahinya

"Bu, wanita itu baik dan lembut, kenapa Ibu membencinya?" kata Han Pwee Eng.

"Kau masih kecil, nak. Sekalipun Ibu ceritakan padamu, kau tidak akan mengerti. Kelak setelah kau dewasa pasti akan Ibu beritahukan padamu."

Sayang sebelum Han Pwee Eng dewasa dua tahun kemudian ibunya telah meninggal....

Ingat kejadian itu Han Pwee Eng segera memperhatikan wajah Seng Cap-si Kouw. Semakin diperhatikan wanita itu, semakin mirip dengan tamu wanita ketika dia masih kecil.

"Tidak salah, pasti dia! Tetapi kenapa Ayah kelihatan seperti takut kepadanya?" pikir Han Pwee Eng.

Han Pwee Eng sama sekal tidak mengerti apa yang terjadi di antara kedua orang itu.

Sementara itu Han Tay Hiong terus menatap ke arah Seng Cap-si Kouw, dia diam saja. Tak lama bam dia bicara.

"Kau, kaukah yang menyelamatkan jiwaku?" kata Han Tay Hiong.

Seng Cap-si Kouw menghela napas panjang.

"Aakh! Tay Hiong, aku tahu selama ini kau terus mencurigaiku tentang kejadian itu. Semua itu kau anggap perbuatanku,   kan?   Sekarang   kau   telah dicelakakannya, seharusnya kau sudah tahu siapa orang itu?!" kata Seng Capsi Kouw.

"Jadi maksudmu adik-misanmu yang telah meraciuninya?" kata Han Tay Hiong.

Mendengar pertanyaan Han Tay Hiong seketika itu Pik Khi dan Pik Po terkejut bukan kepalang. Han Pwee Eng terlebihlebih lagi kagetnya, karena ayahnya pernah mengatakan kepadanya bahwa ibunya meninggal karena diracun orang.

"Hm! Beng Cit Nio yang menaruh racun! Siapa yang diracunnya? Apakah dia yang mencelakakan Ibuku?" pikir Han Pwee Eng.

"Aku tidak berani menuduh dia! Tetapi aku pikir orang yang meracunimu hari ini pasti orang yang meracuni isterimu!" kata Seng Cap-si Kouw.

Ucapan Cap-si Kouw ini jelas ingin mengatakan, bahwa pelaku peracunan itu adalah Beng Cit Nio.

Mendengar jawaban Cap-si Kouw, Pik Khi yang tidak tahu apa-apa jadi bingung. Kemudian dengan memberanikan diri dia bertanya langsung kepada Han Tay Hiong.

"Han Toa-ya, bukankah yang meracunimu itu See-bun Souw Ya?" kata Pik Khi.

"Bukan! Seorang pelayan mengantarkan makanan berikut seguci arak ke kamar tahananku, tidak kusangka ternyata arak itu beracun. Aku kenal pelayan itu. Dia seusia dengan puteriku, pasti dia bukan orang yang meracuni isteriku!" kata Han Tay Hiong memastikan. 

Tik Khi kaget dan gusar. "Jadi maksud Han Toa-ya yang meracunimu itu pelayan Tik Khim? Tidak! Aku tidak percaya, dia itu orang baik. Ditambah lagi Tik Khim pelayan yang baru tiba dari tempat Seng Cap-si Kouw. Jika benar dia yang meracunimu. Han Toa-ya tidak boleh menuduh majikanku yang meracunimu!" kata Tik Khi dengan berani.

Mendengar kata-kata pelayan itu Seng Cap-si Kouw tertawa.

"Pantas Beng Cit Nio sangat menyayangimu!" kata Seng Cap-si Kouw. "Ternyata kau sangat setia pada majikanmu. Jadi kau tidak senang orang lain memburuk-burukkan nama majikanmu. Tetapi aku kira kau tidak tahu masalahnya, kunasihatkan lebih baik kaujangan ikut bicara! Tay Hiong, coba kau pikir baik-baik, pelayan itu melakukan perintah siapa mengantarkan arak kepadamu? Jangan lupa, orang yang memiliki racun seperti itu hanya kami berdua. Jika bukan aku yang meracunimu pasti dia! Aku sama sekali tidak menyangka dia akan menyuruh pelayan itu mengantarkan arak beracun kepadamu! Tetapi terserah kau saja, apa kau mau percaya padaku atau tidak?"

Pertama-tama memang Han Pwee Eng mencurigai Beng Cit Nio yang meracuni ibunya. Namun, setelah bertatap muka dan bercakap-cakap dengan Beng Cit Nio, kecurigaan itu lambat laun semakin berkurang. Tetapi, setelah mendengar tuduhan Seng Cap-si Kouw tadi, Han Pwee Eng mulai yakin lagi bahwa Beng Cit Nio-lah yang meracuni ibunya. Han Pwee Eng sependapat dengan Pik Khi, tidak mungkin Ci Giok Hian yang berniat mencelakakan ayahnya? Arak Kiu-thian-sun-yang Pekhoa-ciu sudah beberapa hari berada di kamar Beng Cit Nio, jika ditarik kesimpulan yang logis, memang lebih mungkin Beng Cit Nio yang menaruh racun ke dalam guci arak itu. Jika benar demikian, jelas Beng Cit Nio ini wanita yang kejam dan sangat menakutkan. Sekarang dia dituduh meracuni ayahnya, bukan tidak mungkin dia juga yang meracun ibunya?

Jelas baik Pik Khi, maupun Han Tay Hiong dan Han Pwee Eng, mereka tidak mengetahui bahwa Cap-si Kouw- lah yang mengatur siasat ini, karena dia ingin agar baik Han Tay Hiong maupun Han Pwee Eng akan mengambil kesimpulan demikian.

Bahwa pembunuh isteri Han Tay Hiong adalah Beng Cit Nio!

Hanya sayang dalam siasatnya itu Seng Cap-si Kouw tidak memperhitungkan kemungkinan lain. Dia terlalu yakin bahwa Beng Cit Nio akan membunuh Ci Giok Hian si gadis malang yang dia peralat itu, kalaupun tidak paling tidak pasti Beng Cit Nio akan meracun gadis itu.

Perhitungan Cap-si Kouw hampir sempurna sekali, tetapi sayang sekali cincin pemberian Seng Liong Sen pada gadis she Ci itu, justru telah menyelamatkan nyawa Ci Giok Hian dari maut.

Saat itu hati Han Tay Hiong bimbang bukan main.

Selang sesaat baru dia bicara.

"Aku dibingungkan oleh kejadian dulu dan sekarang. Mudah-mudahan saja semua misteri ini kelak akan jelas juga. Tetapi sekarang aku tidak ingin memikirkannya!" kata Han Tay Hiong.

Mendengar kata-kata Han Tay Hiong, Seng Cap-si  Kouw tertawa dingin.

"Aku tahu di otakmu kau masih ingat pada adik- misanku," kata Cap-si Kouw. "Namun, saat ini musuh yang tangguh berada di depan mata, kau memang tidak perlu banyak  berpikir.  Lebih  baik  kau  istirahat  saja!  Mungkin sebentar lagi aku harus minta bantuanmu. Bagaimanapun Beng Cit Nio itu adik-misanku, aku harus membantu dia!"

Saat Seng Cap-si Kouw bicara dengan Han Tay Hiong di ruang tahanan, di luar Beng Cit Nio sedang bertarung matimatian melawan dua iblis tua yang ganas itu.

Beng Cit Nio tahu benar adak kakak-misannya yang licik dan keji. Sejak Cap-si Kouw masuk ke kamar tahanan, hati Beng Cit Nio jadi tidak tentram. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Seng Cap-si Kouw terhadap Han Tay  Hiong dan puterinya.

Sebenarnya Beng Cit Nio sedang terdesak oleh kedua iblis tua itu, sekarang ditambah lagi hatinya sedang bimbang. Tidak heran jika sekarang Beng Cit Nio berada dalam bahaya.

Sekalipun See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek sudah di atas angin, tetapi mereka belum berani turun tangan karena masih waswas. Semua itu disebabkan karena mereka tahu bahwa Seng Cap-si Kouw dan Beng Cit Nio itu dua kakak beradikmisan. Sekalipun mereka tahu di antara mereka berdua terdapat salah paham, namun tetap mereka masih saudara misan. Jika benar-benar Seng Cap-si Kouw keluar dan mereka harus berhadapan satu lawan satu, mereka tidak yakin akan bisa mengalahkan kedua wanita gagah itu

Ini yang membuat kedua Iblis Tua itu harus segera mengambil putusan, sebelum Seng Cap-si Kouw muncul mereka harus sudah bisa membereskan Beng cit Nio, atau paling tidak melukainya.

Sesudah itu mereka langsung menyerang bersama-sama.

Kelihatan wajah Beng Cit Nio mulai pucat-pasi. "Uaah!"

Dari mulut Beng Cit Nio menyembur darah segar. "Aah nenek busuk itu sudah terluka!" teriak Chu Kiu Sek.

Segera Chu Kiu Sek mengerahkan ilmu Siu-lo Im- satkangnya hingga ke tingkat yang ke delapan. Dia memukul dengan cepat ke arah Beng Cit Nio dengan maksud ingin menghabisi nyawa Beng Cit Nio seketika itu juga.

Di luar dugaan, pukulan Chu Kiu Sek ini bukan hanya tidak membinasakan Beng Cit Nio, mengenai tongkatnya saja tidak! Malah sebaliknya terdengar suara keras....

"Bum!"

Telapak tangan Chu Kiu Sek tiba-tiba berdarah dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.

Rupanya sambaran tongkat Beng Cit Nio luar biasa cepat dan kerasnya. Kekuatan Beng Cit Nio ini tiba-tiba saja muncul. Dia tahu bahwa Seng Cap-si Kouw akan segera muncul membantu dirinya. Tetapi dia sadar, sebelum Cap- si Kouw muncul barangkali dia sudah jadi mayat di tangan Chu Kiu Sek. Penyebab lain yang membuat tenaga Beng Cit Nio tiba-tiba terkumpul, bahwa dia tidak ingin mendapat bantuan dari Seng Cap-si Kouw. Maka itu dalam keadaan ki desak, dia jadi nekat dan lupa menjaga keselamatan sendiri. Dia mengeluarkan hawa dari aliran sesatnya semacam ilmu yang sangat aneh. Ilmu itu diberi nama Thian-mo-koi-thi-tay-hoat (Ilmu Iblis Langit Membebaskan Diri).

Ilmu Thian-mo-koi-thi-tay-hoat ini bisa merusak diri sendiri, tapi ilmu ini tentu saja bisa menambah satu bagian tenaga, hanya tidak bisa tahan lama, sebab setelah sekian lama tenaganya sendiri akan musnah bahkan Beng Cit Nio akan terluka. Beng Cit Nio yakin bahwa dia akan dikalahkan oleh kedua Iblis Tua itu. Dia pikir daripada mati di tangan kedua iblis itu dengan penasaran, lebih baik dia mengerahkan kemampuan terakhirnya. Dia juga berharap jika terluka maka kedua lawannya pun akan terluka. Dengan demikian dia jadi tidak perlu meneima budi Seng Cap-si Kouw lagi.

Serangan yang dilakukan oleh Beng Cit Nio dengan ilmu Thian-mo-koi-thi-tay-hoat itu memang berhasil mendesak kedua Iblis Tua itu hingga keduanya terperanjat bukan kepalang. Namun, keduanya berusaha agar mereka tidak terluka oleh serangan-serangan dari Beng Cit Nio. Ditambah lagHwee-kang See-bun Souw Ya maupun Chu Kiu Sek sangat tinggi. Siasat ini ternyata berhasil.

Dua Iblis Tua itu agak terdesak karena tenaga Beng Cit Nio bertambah hebat. Namun hal ini bukan berarti Beng  Cit Nio akan mampu mengalahkan kedua iblis itu. Ini terbukti karena lambat-laun tenaga Beng Cit Nio semakin berkurang, ini dirasakan sekali oleh Beng Cit Nio.

Tetapi mendadak dia mendengar suara keras.

"Adik-misan, kau sudah tahu aku tidak akan membiarkan kau bertarung sendirian, mengapa kau menyusahkan dirimu sendiri? Untung aku datang belum terlambat!" kata Seng Capsi Kouw.

Sebelum sirna suara itu, Seng Cap-si Kouw sudah muncul.

See-bun Souw Ya tang sudah merasakan kelihayan Seng Cap-si Kouw, sebelum dia muncul See-bun Souw Ya sudah bersiap-siap menghadapinya. Begitu Seng Cap-si Kouw muncul dia langsung melancarkan serangan ke arah Seng Cap-si Kouw. Tetapi gerakan Seng Cap-si Kouw sangat cepat.  Dia  mampu  bergerak  untuk  menghindari serangan See-bun Souw Ya dan langsung melancarkan serangan susulan, kali ini yang jadi sasarannya adalah Chu Kiu Sek.

Chu Kiu Sek pun saat itu sudah siaga, begitu serangan Seng Cap-si Kow datang Chu Kiu Sek berkelit ke samping, lalu menyerang dengan jurus Siu-io-im-sat-kang dengan sepenuh tenaga ke arah Seng Cap-si Kouw. Saat itu juga terasa ada hawa dingin menyerang ke arah Seng Cap-si Kouw. DHuar dugaan ikat pinggang Chu Kiu Sek yang terserang oleh pedang bambu hijau Seng Cap-si Kouw langsung putus. Tetapi Seng Cap-si Kouw yang sadar serangan Chu Kiu Sek itu sangat berbahaya, tidak berani maj u terus. Dia bergerak laksana kilat membalikkan tubuhnya dan menyerang ke arah See-bun Souw Ya. Seng Cap-si Kouw sadar bahwa kedua iblis itu sangat lihay, khususnya pukulan beracun mereka. Itu sebabnya dia tidak berani sembarangan menyerang, karena itu berarti buang tenaga percuma saja Dia bertarung dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya yang ramping.

Bertarung dengan cara demikian membuat tenaga murni Seng Cap-si Kouw tetap terjaga. Karena serangan Chu Kiu Sek maupun See-bun Souw Ya belum berhasil mengenai dirinya.

Lain lagi dengan Beng Cit Nio, karena telah mengerahkan tenaga terakhirnya karena itu dia terluka sehingga dia tidak tahan oleh serangan hawa dingin Iblis Tua. Tidak heran jika sekujur tubuhnya begitu menggigil. Untung tenaganya belum habis seluruhnya hingga dia masih mampu bertahan sedikit.

Seng Cap-si Kouw bertarung dengan cara bergerak terus kian-kemari, gerakannya juga gesit luar biasa. Sedangkan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek tidak segesit Seng Cap- si Kouw, tidak heran jika kedua iblis tua ini agak kewalahan menghadapHawannya itu, Bahkan pedang bambu hijau Seng Cap-si Kouw pun nyaris melukai keduanya.

Beng Cit Nio tidak mau ketinggalan sekalipun tenaganya sudah agak berkurang, dia juga melancarkan seranganserangan hebat ke arah kedua iblis tua itu; akibatnya kedua iblis itu terdesak mundur. Jelas tampak Seng Cap-si Kouw dan Beng Cit Nio akan berhasil mengalahkan Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya. Tapi dHuar dugaan Khong-tong Sam-eng yang tadi dikalahkan sekarang telah maju pula ke gelanggang pertarungan.

"Perempuan siluman!" bentak Cie Tian. "Memang benar tadi kami kau kalahkan karena serangan gelapmu, jangan kau kira kami takut kepadamu! Hari ini kami akan bertarung matimatian melawanmu. Dengan demikian kita bisa mengetahui siapa yang paling gagah di antara kita!" kata Cie Tian.

Sekalipun Khong-tong Sam-eng tidak tergolong jago kelas utama dalam Dunia Persilatan, tetapi mereka sangat lihay saat menggunakan gelang besi apalagi jika mereka bergabung bertiga serangan mereka akan mampu untuk menghadapi para pesilat tinggi sekalipun.

Seng Cap-si Kouw belum pernah melihat atau mendengar kalau Khong-tong Sam-eng memiliki jurus Gabungan Gelang Bertiga itu, maka itu dia jadi tertawa dingin.

"Phui! Kalian sedang bicara apa? Apa kalian masih berani bertarung denganku?" kata Seng Cap-si Kouw.

Mendengar ejekan itu Cie Tian gusar bukan kepalang, dia langsung menyerang Cap-si Kouw dengan gelangnya. Seng Cap-si Kouw tidak mau kalah dia juga menggunakan pedang bambu hijaunya menangkis serangan Cie Tian itu. "Hm! Apa hebatnya gelang karatanmu itu?" kata Seng Capsi Kouw.

Pada saat yang bersamaan tampak cahaya putih berkelebat, rupanya Cie Ceng dan Cie Liak pun ikut maju menyerang ke arah Seng Cap-si Kouw untuk mengeroyok jago wanita tua ini.

Tadi Seng Cap-si Kouw sangat meremehkan kemampuan ketiga jago dari Khong-tong itu. Tetapi setelah dia diserang oleh ketiga jago Khong-tong itu, diajadi terperanjat, karena setiap kali Seng Cap-si Kouw menyerang, serangannya itu selalu berhasil ditangkis oleh ketiga jago muda Khong-tong Sam-eng tersebut.

Sekarang Seng Cap-si Kouw sudah tidak berani menganggap remeh mereka lagi. Lalu Seng Cap-si Kouw mengerahkan gin-kangnya untuk menghadapi mereka bertiga. Sekarang tampak bayangan pedang bambu hijau Seng Cap-si Kouw berkelebat kian ke mari, terkadang meliuk-liuk bagaikan seekor ular hijau yang ganas menyerang ke arah ketigajago Khong-tong Sam-eng itu.

Di tengah gelanggang terjadi perubahan besar, karena Khong-tong Sam-eng maju melawan Seng Cap-si Kouw, sekarang Beng Cit Nio harus menghadapi Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya seorang diri. Celakanya ilmu Thian-mo- koi thi-tay-hoat yang mampu menambah tenaganya sekarang sudah semakin melemah. Tidak heran jika Beng Cit Nio kewalahan dan hampir tidak mampu menghadapi kedua iblis tua yang ganas itu.

Baik Chu Kiu Sek maupun See-bun Souw Ya telah melihat bahwa Khong-tong Sam-eng mampu menghadapi Seng Cap-si Kouw, maka itu mereka jadHega. Sekarang mereka berkonsentrasi untuk merobohkan Beng Cit Nio yang bertarung hanya sendirian melawan mereka. Sekalipun Beng Cit Nio sudah terluka dalam dia masih mencoba bertahan, namun dari bibirnya telah mengeluarkan darah segar. Tetapi perubahan itu tidak lepas dari penglihatan Seng Cap-si Kouw yang mengkhawatirkannya. Kelihatan Seng Cap-si Kouw amat kecewa.

"Kalau tahu bakal jadi begini aku akan muncul lebih awal lagi!" pikir Seng Cap-si Kouw.

Andai kata Seng Cap-si Kouw tidak terlambat muncul, pasti dia akan mencegah Beng Cit Nio menggunakan ilmu Thianmo-koi-thi-kay-hoat yang berbahaya itu. Sekarang Beng Cit Nio sudah terluka dalam dan ini berbahaya sekali.

Kelihatan kekuatan Beng Cit Nio semakin berkurang, malah kelihatannya tidak lama lagi Beng Cit Nio akan roboh di tangan kedua Iblis Tua itu, sebaliknya Seng Cap-si Kouw saat itu belum mampu merobohkan jago Khong-tong Sam-eng. Keadaan saat itu sungguh sangat berbahaya sekali bagi Beng Cit Nio.

Sekarang satu-satunya harapan Seng Cap-si Kouw hanya pada Han Tay Hiong.

"Berdasarkan lwee-kang yang dimilikinya, aku yakin sekarang Han Tay Hiong telah pulih sebahagian. Tetapi aku khawatir tidak tahan lama Kecuali jika Han Tay Hiong mampu mengalahkan lawan dalam waktu singkat, jika tidak sulit bagi kita meloloskan diri!" pikir Seng Cap-si Kouw.

-o-DewiKZ^~^aaa-o-

Setelah Seng Cap-si Kouw memunahkan racun yang ada di dalam tubuh Han Tay Hiong, tak lama Han Tay Hiong sudah langsung duduk bersila untuk menghimpun hawa murninya Selang sesaat dia rasakan hawa murninya telah pulih kembali. Ini tandanya tenaga dia telah pulih kembali tujuh sampai delapan bagian.

"Tidak aku kira Seng Cap-si Kouw menyelamatkan aku dengan sungguh-sungguh hati!" pikir Han Tay Hiong.

Han Tay Hiong bangun dan berkata pada Han Pwee Eng.

"Eng, mari kita pergi!" kata Han Tay Hiong. "Baik, Ayah," jawab puterinya.

"Nona Han pedangku untukmu saja!" kata Pik Khi.

Han Pwee Eng menyambut pedang pemberian Pik Khi lalu dia mengikuti Han Tay Hiong berjalan ke luar.

Chu Kiu Sek terkejut ketika melihat Han Tay Hiong berjalan keluar dari ruang tahanan. Segera dia maju untuk mewakili Khong-tong Sam-eng menghadapi Seng Cap-si Kouw, sambil langsung memberi perintah.

"Cepat kalian tangkap tua bangka she Han itu!" kata Chu Kiu Sek dengan lantang. Rupanya Chu Kiu Sek masih jerih menghadapi Han Tay Hiong yang dia ketahui kepandaiannya sangat tinggi. Selain itu dia masih ragu dan belum tahu berapa bagian Han Tay Hiong sudah pulih dari keracunannya. Itu sebabnya dia menyuruh Khong-tong Sam-eng menangkap Han Tay Hiong mencobanya dulu.

Kebetulan saat itu Khong-tong Sam-eng sedang terdesak oleh serangan Seng Cap-si Kouw, mereka sebenarnya seolah sudah sulit untuk bernapas. Betapa senangnya mereka saat mendengar Chu Kiu Sek bersedia menggantikan mereka. Tak lama Chu Kiu Sek sudah bertarung dengan Seng Cap-si Kouw.

Khong-tong Sam-eng mengira melawan Han Tay Hiong akan lebih mudah karena mereka mengira Han Tay Hiong masih terluka dan tenaganya berkurang. Mereka mengira dalam waktu singkat mereka akan mampu mengalahkan jago tua she Han itu, mereka juga mengira Chu Kiu Sek berniat baik bersedia menggantikan mereka melawan Seng Cap-si Kouw yang jelas tidak dapat mereka kalahkan dengan mudah.

Sudah lama Han Tay Hiong terkurung dalam kamar tahanan, baru hari ini dia bisa melihat sinar matahari. Maka itu bukan main girangnya Han Tay Hiong ketika itu. Selama itu dia tidak dapat melampiaskan kekesalannya. Tidak heran ketika Han Tay Hiong melihat Khong-tong Sam-eng maju menghampirinya dan langsung menyerang, Han Tay Hiong pun langsung berteriak nyaring.

"Hm! Tikus-tikus bau, kalian berani menghinaku?

Rasakan pukulanku!" kata Han Tay Hiong.

Tanpa banyak bicara lagi Han Tay Hiong langsung menyerang ke arah lawan.

Menyaksikan gerakan Han Tay Hiong yang gesit serta bentakannya yang nyaring hal itu membuat Cie Tian kaget bukan main. Tanpa sadar Cie Tian mundur beberapa langkah ke belakang. Tetapi saat itu serangan Han Tay Hiong sudah tertuju kepadanya.

Cie Tian kaget dia langsung menangkis serangan itu dengan gelang besinya Bersamaan dengan itu terdengar suara nyaring.

'Tang!"

Saat itu juga Cie Tian merasakan telapak tangannya sakit bukan main, tanpa disadari gelang besi di tangannya terlepas dari genggamannya. Ketika itu dengan cepat Han Tay Hiong memutar tubuhnya dan menyerang ke arah Cie Ceng. Pukulan Han Tay Hiong seperti tadi ditangkis oleh Cie Ceng. Bersamaan dengan itu kembali suara keras terdengar.

"Tang!"

Benturan gelang besi itu mengagetkan Cie Ceng, karena tangkisan Cie Ceng malah berbalik ke arahnya. Cie Ceng terkejut bukan main. Oleh karena serangan gelang bajanya sendiri yang mengarah ke dirinya, ini membuat Cie Ceng harus berusaha menahan serangan balik atau senjatanya yang makan tuan itu. Dia mencoba menahan agar sepasang gelang baja itu tidak menghantam ke dadanya sendiri.

"Kreek!"

Karena terlalu banyak mengerahkan tenaganya Cie Ceng mendapat luka yang cukup parah. Kedua lengannya patah hingga akhirnya dia menjerit-jerit karena kesakitan.  Sesudah kedua lawannya tidak berdaya, Han Tay Hiong membentangkan kedua tangannya dan menyerang ke arah See-bun Souw Ya.

Serangan yang tiba-tiba ini membuat See-bun Souw Ya kaget setengah mati. Rupanya Han Tay Hiong menggunakan jurus Kim-kong-ciang, suatu pukulan tingkat tiggi dan sangat lihay.

"Dia telah aku totok dengan totokan yang sangat istimewa, tetapi dia mampu membebaskan diri dari totokanku. Kelihatannya bukan hanya luka dalamnya yang telah sembuh, malah tenaganya pun sudah pulih kembali. Celaka hari ini aku bisa binasa di tangannya!" pikir See-bun Souw Ya yang mulai cemas bukan kepalang.

Di tempat lain kelihatan Beng Cit Nio sudah kewalahan menghadapi Chu Kiu Sek yang tampak semakin ganas serangannya. Beng Cit Nio sudah terdesak, seumpama untuk bernapas saja sulit baginya. Tetapi begitu Beng Cit Nio melihat Han Tay Hiong muncul ke gelanggang pertarungan, semangatnya langsung bangkit sendiri.

"Tay Hiong, lukamu sudah sembuh. Syukurlah!" teriak Beng Cit Nio.

Seng Cap-si Kouw tertawa dingin mendengar teriakan Beng Cit Nio itu.

"Syukur! Syukur! Adik-misan yang baik, maksudmu sekarang telah tercapai. Jika aku tahu kau mencintai Han Tay Hiong, aku tidak perlu berbuat begini!" kata Seng Cap- si Kouw

"Hai, apa maksud ucapanmu Kakak-misan?" kata Beng Cit Nio.

Kembali Seng Cap-si Kouw tertawa dingin.

"Tidak bermaksud apa-apa! Seandainya kau tidak mencintainya, mana mungkin kau mengucapkan kata syukur padanya!" kata Seng Cap-si Kouw.

Di tempat lain See-bun Souw Ya jadi berpikir.

"Aku harus menangkap Beng Cit Nio untuk kujadikan sandera. Dengan demikian barangkali aku bisa memperoleh kemenangan!" pikir See-bun Souw Ya.

Tiba-tiba See-bun Souw Ya melancarkan serangan dahsyat ke arah Beng Cit Nio. Ketika itu Beng Cit Nio masih ingin adu mulut dengan Seng Cap-si Kouw, tahu- tahu dia diserang oleh See-bun Souw Ya dengan hebat. Terpaksa dia bungkam dan harus berkonsentrasi pada serangan See-bun Souw Ya dan menghadapinya dengan hati-hati.

Ucapan Seng Cap-si Kouw tadi artinya jadHain. Beng Cit Nio tidak mengerti maksud kata-kata kakak-misannya itu,  namun  Han  Tay  Hiong  langsung  mengerti. Menurut pendapat Han Tay Hiong di balik ucapan itu, Seng Cap-si Kouw ingin mengatakan bahwa Beng Cit Nio hanya berpura-pura menjadi orang baik, padahal dialah yang meracuni Han Tay Hiong.

Saat itu Beng Cit Nio dianggap sedang berpura-pura baik dan mengucapkan rasa syukurnya bukan sebaliknya.

Namun, Han Tay Hiong agak sedikit heran karena baik dari nada ucapan Beng Cit Nio, maupun raut wajahnya sedikitpun tidak menunjukkan kepura-puraan seperti yang dituduhkan oleh Seng Cap-si Kouw kepadanya. Sebab Han Tay Hiong melihat langsung, saat muncul, Beng Cit Nio melihatnya, dia kelihatan terkejut dan girang. Air muka demikian tidak bisa dibuat-buat atau untuk berpura-pura.

Memang di benak Han Tay Hiong pun dia tidak yakin Beng Cit Nio yang meracuni dirinya. Namun, Beng Cit Nio yang menyuruh Ci Giok Hian mengantarkan arak beracun itu kepadanya. Sebaliknya yang memunahkan racun yang ada di tubuhnya adalah Seng Cap-si Kouw. Kejadian ini amat sulit dianalisa oleh Han Tay Hiong, sekalipun dia yakin dalam masalah ini ada yang tidak beres. Namun Han Tay Hiong tidak mengetahui apa yang tidak beres itu hingga membuatnya termangu-mangu di tempat.

Saat Han Tay Hiong sedang bertarung dengan Cie Tian dan Cie Ceng, puterinya Han Pwee Eng berlari ke arah Cie Liak yang segera dia serang. Ilmu silat yang diandalkan Khongtong Sam-eng adalah Loan-hoan-koat (Ilmu Gelang Gabungan), konon ilmu silat ini mampu untuk menghadapi pesilat tinggi manapun jika mereka bergabung saat bertarung.

Sebaliknya gelar Han Tay Hiong Kiam-ciang-coat, tidak heran jika Han Pwee Eng memiliki ilmu pedang yang sangat   lihay   warisan   ayahnya.   Saat   Han   Pwee   Eng bertarung dengan Cie Liak gadis ini berada di atas angin Tetapi untuk mengalahkan Cie Liak tidak mudah Han Pwee Eng bisa mengalahkannya jika pertarungan berjalan sampai seratus jurus.

Cie Liak yang melihat kedua saudaranya sudah terluka oleh Han Tay Hiong, Cie Liak jadi tidak tenang, sekarang dia semakin terdesak oleh serangan dahsyat dari Han Pwee Eng.

Begitu gugupya Cie Liak sehingga diluar dugaan bahunya terluka oleh tusukan pedang Han Pwee Eng,  masih untung serangan Han Pwee Eng tidak sepenuh hati hingga lukanya tidak terlalu parah, tetapi hal ini cukup membuat nyali Cie Liak ciut juga Cie Liak buru-buru mundur beberapa langkah ke belakang. Pada saat yang bersamaan Cie Tian berteriak.

"See-bun Sian-seng, kepandaian kami masih rendah, kami tidak dapat membantumu lagi. Kami malu berada terus di sini. Terpaksa kami akan pergi!" kata Cie Tian.

Sesudah itu mereka langsung meninggalkan tempat itu.

Sesudah mengalahkan Cie Liak segera nona Han menghampiri ayahnya.

"Ayah bagaimana keadaanmu? Kita harus segera pergi!" kata nona Han.

Saat itu Han Tay Hiong masih berdiri termangu-mangu dia tidak menyahut. Melihat ayahnya diam saja Han Pwee Eng mengira penyakit ayahnya kambuh lagi, barangkali karena tadi ayahnya bertarung dan mengerahkan tenaga terlalu banyak.

"Kedua Iblis Tua itu sangat lihay, jika Ayah ingin menuntut balas masih ada lain hari!" kata Han Pwee Eng. Sesudah itu nona Han menarik tangan ayahnya dengan maksud akan mengajak ayahnya pergi dari situ. Tapi Han Tay Hiong malah berkata dengan lembut.

"Ayah tidak kenapa-napa, baiknya kau tunggu aku sebentar!" kata Han Tay Hiong.

Han Tay Hiong berjalan ke arah Chu Kiu Sek, lalu berkata pada si Iblis Tua itu.

"Chu Kiu Sek, hutang satu pukulan harus dibayar dengan satu pukulan! Hari ini aku menagih satu pukulan itu, sedangkan bunganya boleh kau bayar kelak!" kata Han Tay Hiong dingin.

Chu Kiu Sek tertawa dingin.

"Baik, tantanganmu aku terima. Apakah kau akan bertarung secara bergilir. Atau kau dan puterimu juga kedua kekasihmu maju bersama-sama tetap aku terima! Aku tidak takut!" kata Chu Kiu Sek mengejek.

Mendengar ejekan Chu Kiu Sek mendadak Seng Cap-si Kouw membentak dengan keras.

"Hai kau bicara apa?" kata Seng Cap-si Kouw. Seeer!

Saat itu juga Seng Cap-si Kouw langsung menyerang ke arah Chu Kiu Sek. Dia kelihatan gusar sekali, namun hatinya justru girang bukan main karena Chu Kiu Sek mengatakan bahwa dia dan Beng Cit Nio kekasih Han Tay Hiong. Tidak heran saat dia menyerang Chu Kiu Sek, sudut matanya melirik ke arah Han Tay Hiong karena dia ingin tahu bagaimana reaksi pria itu atas kata-kata Chu Kiu Sek tersebut.

Ternyata Han Tay Hiong hanya berkata hambar. "Anjing memang hanya bisa menggonggong, kau tidak perlu gusar kepadanya... .Cap-si Kouw harap kau mundur, Eng kau juga jangan maju!" kata Han Tay Hiong.

Tiba-tiba tangan Han Tay Hiong bergerak membentuk sebuah lingkaran yang disertai suara keras saat dihentakkan ke arah Chu Kiu Sek.

Dulu mereka berdua pernah bertarung beberapa kali dengan demikian masing-masing telah menderita luka Sekarang tidak heran jika mereka jadi waspada dan sudah tahu berapa tinggi kepandaian masing-masing. Melihat sikap dan gerakannya Han Tay Hiong memang lebih  unggul jika dibandingkan dengan Chu Kiu Sek, sedang andalan Chu Kiu Sek dia memiliki ilmu pukulan yang sangat beracun. Kebetulan sampai detik itu Han Tay Hiong belum mampu memecahkan ilmu pukulan beracun lawannya ini. Tidak heran kalau pertarungan kedua jago itu jadi berimbang.

Chu Kiu Sek yang sudah tahu bagaimana lihaynya pukulan Han Tay Hiong sudah tentu tidak berani beradu pukulan dengan lawannya ini. Tetapi saat Chu Kiu Sek melihat wajah Han Tay Hiong masih pucat dan lesu, Chu Kiu Sek berpikir.

"Aku kira tenaganya belum pulih benar, dia sedang sakit. Aku kira tidak mungkin tenaganya masih seperti dulu!" pikir Chu Kiu Sek.

Ilmu Siu-lo-im-sat-kang akan ampuh dan dahsyat jika tepat mengenai tubuh lawan, jika tidak demikian keampuhannya akan berkurang. Itu sebabnya sejak tadi serangan Chu Kiu Sek ditujukan ke tubuh Han Tay Hiong.

Saat itu Seng Cap-si Kouw berdiri di tepi gelanggang sedang mengawasi pertarungan itu. Chu Kiu Sek sadar Seng Cap-si  Kouw  ini  keji.  Itu  sebabnya  Chu  Kiu  Sek  tetap waspada dia takut kalau tiba-tiba Cap-si Kouw melancarkan serangan gelap terhadapnya. Harapan Chu Kiu Sek hanya satu, dia harus segera bisa merobohkan Han Tay Hiong jika dia tidak ingin dikeroyok hingga binasa

Duajago tua ini menggunakan ilmu mereka yang dahsyat. Serangan demi serangan sangat berbahaya. Tiba- tiba terdengar suara benturan yang sangat keras.

"Buum!"

Rupanya dua jago ini telah mengadu pukulan mereka. Kelihatan tubuh Han Tay Hiong bergoyang-goyang, wajahnya kelihatan kehijau-hijauan. Sebaliknya Chu Kiu Sek, juga terhuyung-huyung ke belakang enam tujuh langkah jauhnya. Kemudian dia membuka mulutnya dan menyemburkan darah segar!

Di luar dugaan kekuatan Han Tay Hiong telah pulih tujuh bagian, hingga tenaga murni Chu Kiu Sek terserang hingga terluka ditambah lagi tadi dia telah bertarung melawan Beng Cit Nio dan Seng Cap-si Kouw yang lihay, dengan demikian pukulan Siu-lo-im-sat-kangnya.]adi sedikit kurang ampuh.

Ketika itu jelas Han Tay Hiong mendapat sedikit keuntunganya karena Han Tay Hiong pernah keracunan, malah sakit beberapa tahun lamanya karena pukulan Siu- loim-sat-kang Chu Kiu Sek. Tidak heran sekarang dia jadi agak kebal terhadap pukulan Chu Kiu Sek yang tenaganya sangat berkurang. Saat terjadi benturan keras Chu Kiu Sek- lah yang mendapat kerugian besar.Melihat ayahnya berhasil mendesak dan memukul Chu Kiu Sek dengan hebat, Han Pwee Eng girang bukan kepalang, tetapi nona ini pun kaget ketika melihat wajah ayahnya berubah kehijau-hijauan. "Ayah, apa kau tidak kenapa-napa? Ayah, Iblis Tua itu sudah mundur jangan maju lagi!" Han Pwee Eng memperingatkan ayahnya

"Aku tidak apa-apa anak Eng, tetapi di tempat ini masih ada satu lagi Iblis Tua!" kata Han Tay Hiong.

Han Tay Hiong langsung melesat ke samping Beng Cit Nio dan langsung mengerahkan pukulan ke arah See-bun Souw Ya. Melihat Han Tay Hiong maju menyerang lawan yang sedang dihadapinya Beng Cit Nio berseru.

"Tadi kau berdua mengeroyok aku, sekarang aku pun tidak akan memakai aturan kalangan Kang-ouw lagi!" kata Beng Cit Nio.

Ucapan Beng Cit Nio ini bukan saja ditujukan pada See- bun Souw Ya tapi juga ditujukan pada Han Tay Hiong, dia khawatir Han Tay Hiong akan menyuruh dia mundur seperti tadi dia menyuruh Seng Cap-si Kouw dan Han Pwee Eng yang dilarang membantunya, maka itu dia berteriak lebih dulu memberi peringatan bahwa dia tidak mau mundur. Tongkat besinya langsung menyerang See-bun Souw Ya dengan jurus Liok-cutcan-san (Enam tongkat Membelah Gunung). Kelihatan tongkat berkepala naga itu berkelebat-kelebat ke arah enam jalan darah See-bun Souw Ya.

See-bun Souw Ya sadar bahwa Han Tay Hiong sangat lihay, itu sebabnya dia hanya berkonsentrasi pada serangan Han Tay Hiong, maka yang dia lakukan ialah menutup semua jalan darahnya sedangkan serangan dari Beng Cit Nio tidak diabaikannya, tapi dia kerahkan seluruh kekuatannya untuk menangkis serangan dari Han Tay Hiong.

Di luar dugaan See-bun Souw Ya serangan Beng Cit Nio yang   seolah   akan   menotok   jalan   darahnya,   tiba-tiba berubah, kali ini tongkat berkepala naga itu justru dipukulkan ke arahnya.

Sekalipun lwee-kang See-bun Souw Ya lebih tinggi jika dibandingkan dengan Chu Kiu Sek, tetapi mana mungkin dia akan mampu menangkis dua pukulan dari Han Tay Hiong maupun Beng Cit Nio sekaligus.

"Bum!"

"Kraak!"

Dua buah tulang rusuk See-bun Souw Ya terhantam oleh tongkat berkepala naga Beng Cit Nio hingga patah, sedangkan tubuh See-bun Souw Ya terpental karena terkena pukulan Kim-kong-ciang yang dilancarkan oleh Han Tay Hiong.

See-bun Souw Ya sungguh luar biasa, sekalipun dia terluka dan tulang rusuknya patah, tetapi dia masih sempat melarikan diri sebelum dia mati konyol di tangan sepasang jago tua itu. Saat itu Beng Cit Nio sedang terhuyung- huyung sejauh tiga langkah, dia terdorong oleh serangan See-bun Souw Ya dan pakaian tahan senjata dari lawan.

Beng Cit Nio bebas dari maut dan secara kebetulan penyelamatnya adalah Han Tay Hiong. Dia juga melihat kekuatan Han Tay Hiong sudah pulih itu membuat hati Beng Cit Nio girang bukan kepalang. Luapan kegembiraannya yang luar biasa itu ternyata menyebabkan dadanya terasa sakit. Maka itu dia berusaha menahan rasa sakit itu.

"Tay Hiong, syukurlah kita masih bisa bertemu lagi! Aku ingin bicara denganmu!" kata Beng Cit Nio lembut. Seng Cap-si Kouw mencibirkan mulutnya dan menyela katakata Beng Cit Nio dengan pedas.

"Benar, memang kau harus menjelaskannya perlahanlahan. Aku tidak ingin mengganggu kalian. Selamat tinggal!" kata Seng Cap-si Kouw.

Ucapan Beng Cit Nio itu tulus, dia ingin menjelaskan masalah yang sebenarnya, maksudnya untuk membersihkan dirinya dari tuduhan yang bukan-bukan dari Han Tay Hiong terhadapnya. Tetapi sebelum dia bicara Seng Cap-si Kouw telah mendahuluinya, dia bilang memang Beng Cit Nio harus mmberi penjelasan. Ucapan Seng Cap-si Kouw ini sangat tajam dan penuh arti tertentu.

Bukan main gusarnya Beng Cit Nio saat itu. Langsung dia maju dan membentak dengan sengit pada Seng cap-si Kouw.

Matanya mengawasi dengan berapi-api.

"Seng Jau Ih! Kau harus tetap di tempat! Kau jangan seenaknya pergi begitu saja!" bentak Beng Cit Nio sengit sekali.

Seng Jau Ih merupakan nama kecil Seng Cap-si Kouw.

Saat masih kecil dia selalu dipanggil dengan nama itu.

Mendengar bentakan saudara-misannya Seng Cap-si Kouw tertawa dingin.

"Bukan aku yang ingin bicara dengannya, tapi kau!

Kenapa aku tidak boleh pergi?" kata Seng Cap-si Kouw.

Tiba-tiba Han Pwee Eng menyela. "Ayah, mari kita pergi!"

Entah apa sebabnya Han Pwee Eng jadi merasa ngeri melihat kedua wanita itu, malah sekujur badannya tiba-tiba saja jadi merinding. Itu sebabnya dia ajak ayahnya pergi. Han Tay Hiong tiba-tiba tersentak sadar.

"Benar, semua masalah dulu telah sirna bagaikan uap. Mengapa harus aku pikirkan lagi? Aku tidak ingin melibatkan diriku dengan mereka berdua agar hal ini tidak jadi masalah bagi almarhum isteriku dan anakku Pwee Eng!" pikir Han Tay Hiong.

Saat itu seolah Han Tay Hiong baru sadar dari mimpi buruknya

"Cit Nio, sudah tidak ada yang harus kita bicarakan lagi! Terima kasih atas semua pelayananmu!" kata Han Tay Hiong.

Han Tay Hiong mengibaskan lengan jubahnya lalu mengajak Han Pwee Eng pergi dengan tidak menoleh lagi.

Kelihatan Beng Cit Nio sangat kecewa dan menyesal bukan main. Dia menyesal karena masalah yang  melibatkan Han Tay Hiong itu disebabkan oleh perbuatannya bersekongkol dengan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek untuk menangkap Han Tay Hiong. Tidak heran kalau Han Tay Hiong sangat benci pada Beng Cit Nio. Sedangkan Beng Cit Nio kesal karena Seng Capsi Kouw tertawa dingin di hadapannya dan itu menyebabkan Han Tay Hiong pergi tanpa pamit lagi kepadanya.

Seng Cap-si Kouw tertawa.

"Adik-misan yang baik sekarang aku boleh pergi, kan?" kata Seng Cap-si Kouw.

Beng Cit Nio emosi sekali, hal ini menyebabkan tubuhnya jadi sempoyongan dan nyaris roboh. Melihat majikannya hampir roboh Pik Khi terkejut, dia segera memapah majikannya sambil menatap ke arah Cap-si Kouw "Cap-si Kouw, kali ini kami memang harus berterima kasih karena Cap-si Kouw telah menyelamatkan majikan kami. Akan tetapi tidak selayaknya Cap-si Kouw membuat kesal majikan kami!" kata Tik Khi.

Seng Cap-si Kouw tertawa dingin.

"Baik, terserah keinginan majikanmu, apakah aku harus tetap di sini?" kata Cap-si Kouw.

Wajah Beng Cit Nio tampak kehiijau-hijauan.

"Jau Ih! Kau membuat aku menderita sekali! Pasti aku akan membuat perhitungan denganmu!" kata Beng Cit Nio.

Seng Cap-si Kouw kembali tertawa dingin.

"Adik-misanku yang baik, kau tidak perlu membuat perhitungan denganku, sebab paling sedikit kau harus istirahat selama tiga tahun. Bagaimanapun kau tetap adik- misanku, aku tidak akan menghinamu!" kata Seng Cap-si Kouw.

Ucapan Seng Cap-si Kouw ada benarnya karena terluka parah paling sedikit Beng Cit Nio harus beristirahat selama tiga tahun. Dalam tempo tiga tahun ilmu silat Seng Cap-si Kouw pasti sudah bertambah maju, dan dia bukan tandingan Beng Cit Nio lagi.

"Kau... .Kau...." kata Beng Cit Nio sambil menuding dengan tangan gemetar.

Saking gusar Beng Cit Nio tidak bisa berkata-kata, sedangkan Cap-si Kouw tertawa dingin kemudian melesat pergi.

Beng Cit Nio mengawasi kepergian Seng Cap-si Kouw yang kian lama kian jauh. Hati Beng Cit Nio terasa hampa. Dia tidak tahu apakah ia benci atau cinta, juga dia tidak tahu apakah harus girang atau berduka? Berbagai macam perasaan galau dalam benaknya.

Orang yang sangat dia cintai telah pergi, demikian juga orang yang sangat dibencinya. Dia bisa hidup dan bersemangat kembali karena demi Han Tay Hiong. Tetapi orang yang sangat dia cintai itu telah pergi dalam keadaan tidak memahami dirinya. Lalu bagaimana dia tidak berduka?

-o-DewiKZ^~^aaa-o-

Sementara itu di perjalanan Han Tay Hiong yang sedang berjalan dengan puterinya hatinya jadi galau. Dia tidak mengira semua kejadian akan berakhir demikian, tetapi masih meninggalkan teka-teki dan misteri di hatinya.

Siapa yang meracunnya, dia boleh tidak menyelidikinya. Tetapi sekarang rumahnya telah habis terbakar. Semua pembantu yang ada di rumahnya telah binasa, kini tinggal puteri satu-satunya Han Pwee Eng. Dia bingung di mana dia akan berteduh? Tidak disangka-sangka seorang yang gagah bisa mengalami pukulan batin yang demikian hebat di hari tuanya. Saat itu Han Tay Hiong benar-benar berduka.

Di sepanjang jalan Han Pwee Eng terus memperhatikan sikap ayahnya ini. Selang sesaat Han Pwee Eng bertanya pada ayahnya.

"Ayah, wajahmu kelihatan pucat-pasi. Apa Ayah merasa tak enak badan?" kata Han Pwee Eng.

Han Tay Hiong hanya tersenyum.

"Wajah Ayah pucat mungkin karena Ayah baru saja bertarung dengan musuh tangguh dan kita bisa lolos dari marabahaya. Barangkali wajah Ayah jadi kelihatan begitu karena itu?" "Kau j angan cemas, Ayah baik-baik saja! Nak, Ayah ingin tahu apakah Lok-yang sudah jatuh ke tangan bangsa Mongol atau belum?"

"Aku tidak masuk ke dalam kota, hingga aku tidak tahu jelas keadaan di sana," jawab Han Pwee Eng. "Tetapi di sepanjang jalan aku melihat banyak pengungsi. Mereka bilang tentara Mongol memang hampir tiba di kota Lok- yang!"

Sesudah berpikir sejenak Han Pwee Eng melanjutkan ceritanya.

"Hari itu, ketika aku pulang kebetulan aku bertemu dengan Paman Ong yang akan mengungsi. Kata Paman Ong waktu itu tentara Mongol sudah sampai ke kota Hoan- sui. Hari ini sudah delapan hari berlalu, sedang kota Hoan- sui dan kota Lok-yang hanya berjarak seratus li. Mungkin sekarang tentara Mongol sudah menyerbu kota Lok-yang!" kata Han Pwee Eng.

Han Tay Hiong manggut-manggut, tapi tiba-tiba dia bertanya lagi.

"Di mana Kok Siauw Hong berada?" kata Han Tay Hiong.

Pertanyaan Han Tay Hiong itu membuat Han Pwee Eng jadi gelagapan dan tersentak. Tidak tahu apakah dia masih bisa membohongi ayahnya atau tidak? Tapi Han Pwee Eng segera menyahut sekenanya.

"Aku.. .Aku tidak tahu!" kata nona Han.

Mendengar jawaban puterinya itu Han Tay Hiong tertegun.

"Eh, bagaimana kau bisa tidak tahu?" kata sang ayah. Ketika Han Pwee Eng mengawasi wajah ayahnya, dia lihat wajah sang ayah pucat-pasi.

"Ah, jika aku bisa membohongi Ayah sekalipun untuk sesaat, lebih baik Ayah aku bohongi saja. Aku harap saat ini Ayah jangan sampai tahu hal yang sebenarnya!" pikir Han Pwee Eng.

"Saat itu dia bilang dia akan ke markas cabang Kay-pang di Lok-yang untuk menemui Lau Hiang-cu. Sekarang dia masih di sana atau sudah pergi aku tidak tahu!" jawab Han Pwee Eng.

"Kalau begitu situasi Lok-yang dalam keadaan gawat," kata Han Tay Hiong, "aku yakin pihak Kay-pang akan mati-matian melawan pasukan Mongol. Aku juga tahu sifat Siauw Hong, dia sama dengan ayahnya berjiwa patriot. Jika dia ada di markas cabang Kay-pang, pasti tidak akan tinggal diam, dia pasti akan bertarung membantu pihak Kay-pang secara matimatian!"

Sesudah itu kelihatan Han Tay Hiong terdiam, dia rasakan darah hangat di kerongkongannya seolah bergolak.

Ketika itu hari sudah pagi, cuaca pun cerah. Matahari mulai merayap naik. Cahayanya merah dan terasa menyehatkan. Malam yang kelam telah berlalu. Seluruh insan di bumi saat itu menyaksikan alam yang ceria.

Bangkit dan runtuhnya sebuah negara menjadi masalah yang besar bagi rakyatnya. Masalah pribadi yang menyangkut dendam dan budi tidak bisa dibandingkan dengan masalah negara. Darah hangat yang bergelora di rongga dada Han Tay Hiong saat itu, membuat kegagahan dan keberaniannya di masa muda muncul kembali.

"Anakku Eng, mari kita pergi mencari Siauw Hong!" kata ayahnya. Mendengar kata-kata ayahnya Han Pwee Eng terkejut bukan kepalang.

"Ayah, lebih baik rawat dirimu dulu sebelum kita mencari Siauw Hong. Sesudah Ayah lebih sehat baru kita cari dia. Aku kira itu belum terlambat!" kata Han Pwee Eng.

Han Tay Hiong tersenyum mendengar kata-kata puterinya itu.

"Hm! Aku tahu, jadi kau takut Ayahmu akan tidak kuat melawan pasukan Mongol? Sekalipun Lok-yang sudah jatuh ke tangan musuh, Ayah tetap akan pergi ke Lok-yang menerjang pasukan Mongol. Ayah harus mempertaruhkan jiwa ayah yang tua ini!" kata Han Tay Hiong. 

Han Tay Hiong tidak mengetahui kenapa Han Pwee Eng mencegah dia ke Lok-yang, sebenarnya Han Pwee Eng tidak ingin bertemu dengan Kok Siauw Hong. Selain itu dia juga sangat mengkhawatirkan kesehatan ayahnya. Sekalipun wajah ayahnya berseri-seri, tetapi masih terlihat agak pucat, dan tiba-tiba berubah kemerah-merahan seperti orang sedang menderita sakit keras, bahkan seolah hampir menemui ajal. Hal itu yang membuat Han Pwee Eng jadi sangat khawatir.

Tiba-tiba wajah ayahnya berubah.

"Ayah!" seru Han Pwee Eng. "Ayah kenapa?"

Setelah selesai mengatakan bahwa dia akan menerjang pasukan Mongol, tiba-tiba tubuh Han Tay Hiong sempoyongan seolah akan roboh. Han Pwee Eng buru-buru memeluk dan memapah ayahnya. Terdengar  napas ayahnya memburu. Sesaat kemudian terdengar Han Tay Hiong bicara. "Hm! Barangkali jiwaku yang sudah tua ini sudah tidak berguna lagi!" kata Han Tay Hiong. "Tidak seharusnya aku jadi begini?"

'Tenang Ayah! Mungkin saat kau bertarung tadi, Ayah terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Coba Ayah himpun hawa murnimu, aku akan menjaga Ayah!" kata Han Pwee Eng.

Han Tay Hiong mengangguk, lalu dia duduk dan bersila. Mendadak tangan dan kakinya terasa ngilu. Kelihatan Han Tay Hiong terkejut sekali, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata.

"Oh tidak! Tidak benar!" katanya.

Mendengar keluhan ayahnya itu membuat Han Pwee Eng kaget bukan kepalang.

"Ayah kenapa? Apa yang tidak benar Ayah?" kata Han Pwee Eng.

"Aku ternyata tidak terluka dalam, namun sepertinya aku...." Han Tay Hiong tidak meneruskan kata-katanya sedang Han Pwee Eng langsung memotong. "Kenapa Ayah?"

Saat Han Tay Hiong mau bicara, tiba-tiba terdengar suara orang bicara.

"Tidak kusangka ternyata arak beracun pemberian Beng Cit Nio itu demikian lihay! Racun yang bersarang di tubuh ayahmu itu ternyata belum punah seluruhnya Rupanya racun itu sekarang mulai bereaksi lagi!" kata Seng Cap-si Kouw.

Han Pwee Eng menoleh ke arah suara yang sudah sangat dikenalnya itu. Ternyata orang yang bicara itu Seng Cap-si Kouw yang bicara sambil berlari ke arah mereka. Melihat kedatangan Seng Cap-si Kouw tentu saja Han Pwee Eng girang sekali.

"Seng Li-hiap, cepat tolongi Ayahku!" teriak si nona. Saat itu Han Pwee Eng telah menganggap bahwa Seng

Cap-si Kouw adalah penyelamat ayahnya. Ia tidak menyadari justru Seng Cap-si Kouwlah yang mengerjai ayahnya.

Memang Seng Cap-si Kouw ini akhli racun dan dia mampu memunahkan racun dengan jarum emasnya, bahkan dia bisa memindah-mindahkan racun yang ada di dalam tubuh manusia dari bagian yang satu ke bagian lainnya.

Saat Han Tay Hiong berada di kamar tahanan, rupanya dia tidak memusnahkan racun yang ada di dalam tubuh Han Tay Hiong tapi ia hanya memindahkan racun itu ke bagian tubuh Han Tay Hiong yang lain. Memang untuk sementara perbuatan itu bisa memulihkan kekuatan Han Tay Hiong, tetapi hanya sementara. Tidak heran sekarang racun itu mulai bekerja kembali.

"Aku menyusul kalian karena hal ini," kata Seng Cap-si Kouw.

Segera Seng Cap-si Kouw mengeluarkan jarum emas, dengan jarum itu dia menusuk ke beberapa jalan darah di tubuh Han Tay Hiong.

"Bagaimana rasanya sekarang?" tanya Seng Cap-si Kouw.

Han Tay Hiong saat itu merasakan tubuhnya lebih nyaman, tetapi dia masih malas dan tidak bersemangat.

"Ya, aku merasa lebih baik.. .Tapi... ." jawab Han Tay Hiong. "Tapi kenapa?" kata Han Pwee Eng sangat khawatir atas keselamatan ayahnya.

"Karena Ayahmu tidak bisa mengerahkan tenaga. Iya kan?" kata Seng Cap-si Kouw.

Han Tay Hiong menghela napas panjang.

"Aaah! Nak, barangkali Ayah tidak bisa terus menemanimu mencari Siauw Hong...," kata ayahnya.

Han Pwee Eng kaget matanya terbelalak.

"Aku sudah berusaha sebatas kemampuanku," kata Seng Cap-si Kouw. "Tetapi racun yang dipakai oleh Beng Cit Nio sangat lihay. Sedang ayahmu memaksakan diri dan mengerahkan tenaganya bertarung dengan kedua Iblis Tua itu. Sekarang racun itu telah merasuk ke dalam tulang!"

Mendengar keterangan Seng Cap-si Kouw, Han Pwee Eng kaget bukan kepalang. Sebelum Seng Cap-si Kouw selesai bicara Han Pwee Eng memotong.

"Seng Li-hiap, apakah Ayahku masih bisa ditolong, tolong selamatkan Ayahku!" kata Han Pwee Eng.

Sambil manggut-manggut Seng Cap-si Kouw berkata perlahan.

"Memang masih bisa ditolong," kata Seng Cap-si Kouw. "Namun, untuk membersihkan racun yang bersarang dalam tubuh ayahmu, tentu membutuhkan waktu lama. "

"Berapa lama?" desak Han Pwee Eng.

"Paling sedikit butuh waktu tiga bulan. Jika menghendaki tenaganya pulih seperti sediakala mungkin butuh waktu setahun lebih," kata Seng Cap-si Kouw menambahkan. Setelah mengawasi ke arah Han Pwee Eng sejenak, Seng Cap-si Kouw berkata lagi.

"Tay Hiong, rumahmu telah musnah. Saat ini kau membutuhkan tempat yang tenang agar kau bisa berobat dengan tentram. Jika kau tidak merasa keberatan kuundang kau ke rumahku, bagaimana pendapatmu?"

Han Tay Hiong diam. Sedangkan Han Pwee Eng hatinya lega ketika mendengar ayahnya masih bisa ditolong.

"Ayah, urusan sepenting apa pun tidak sepenting kesehatanmu, Ayah. Seng Li-hiap demikian baik mau memperhatikan Ayah....Kalau begitu Ayah boleh berlega hati dan tinggal di rumahnya untuk diobati. Aku tidak perlu mencari Siauw Hong lagi dan bisa tetap menemani Ayah. Boleh kan?" kata Han Pwee Eng.

Sebenarnya Han Tay Hong tidak keberatan tinggal di rumah Seng Cap-si Kouw, tetapi dia sadar sekarang dia tidak bisa berjalan jauh. Saat itu hati Han Tay Hiong benar- benar kacau bukan main. Dia kelihatan sedang berpikir, baru kemudian berkata.

"Anakku Eng, bagaimanapun kau harus mencari Siauw Hong! Tiga bulan kemudian setelah perang ini selesai, kau boleh datang mencariku untuk menemaniku!" kata Han Tay Hiong.
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)
*****

0 Response to "Beng Ciang Hong In Lok Jilid 19"

Post a Comment

close