Beng Ciang Hong In Lok Jilid 10

Mode Malam
 
Pada hari yang kelima, jarak ke Lok-yang kira-kira hanya tinggal  li lagi saja. Ketika itu Han Pwee Eng sedang menjalankan kudanya di jalan yang berbatu-batu. Dia melihat seorang pengungsi tua sedang menatapnya, seolah orang  itu  ingin  bertanya  kepadanya,  tapi  tidak  berani. Untung Han Pwee Eng menjalankan kudanya dengan perlahan-lahan sehingga dia bisa melihat lelaki tua itu sedang menatapnya. Jika kuda nona Han dilarikan dengan cepat, pasti dia tidak akan melihat orang tua itu.

"Oh!" Han Pwee Eng mengeluh.

Ternyata lelaki tua itu bermarga Ong. dia tetangga Han Pwee Eng di Lok-yang. Han Pwee Eng segera menghentikan kudanya, dan langsung melompat dari atas kudanya. Sesudah menambat kudanya di sebuah pohon, nona Han menghampiri orang tua she Ong itu. Saat itu orang tua itu sedang istirahat bersama keluarganya di tepi jalan. Melihat Han Pwee Eng menghampiri mereka orang tua itu tersenyum

"Apakah kau No... Eh Han Siauw-ko?" kata orang tua itu sambil tersenyum.

Lelaki tua itu memang mengenali Han Pwee Eng.

"Aku rasa kita kurang bebas bicara di sini." kata Han Pwee Eng. "mari ikut aku ke bawah pohon itu!"

Lelaki tua itu mempunya dua orang anak dan seorang menantu ditambah seorang cucu perempuan yang baru berumur tujuh tahun. Gadis kecil itu menatap ke arah nona Han dengan mata terbelalak, kelihatan dia kaget dan heran.

"Kau Nona Han. kan?" kata gadis itu. "Aku dengar kau pergi ke Yang-cou akan menikah. Tetapi kenapa kau jadi berubah dan berpakaian seperti lelaki?"

Seketika wajah Han Pwee Eng berubah merah.

"Ling Ling. ternyata kau masih mengenaliku!" kata nona Han. "Wah kakimu sudah bengkak, ayo aku gendong sebentar." Han Pwee Eng menggendong Ling Ling yang dia bawa ke bawah sebuah pohon yang rindang.

"Nona Han. mengapa kau kembali ke sini sendiri saja?" kata lelaki tua itu. "Aku dengar kau akan menikah di Yangcou. Aku ikut gembira mendengar khabar tti. Sekarang keadaan sedang kacau sekali, mengapa kau ikuti tradisi untuk pulang ke rumah ayahmu? Jika mau pulang pun sebaiknya kau harus membawa pendamping Aah. Nona barangkali Nona heran mengapa kami ada di sini? Sekarang kami sedang dalam perjalanan hendak mengungsi!"

"Aku memikirkan keadaan Ayahku, aku pulang untuk menjenguk beliau. Pasukan Mongol sudah menyerang lalu bagaimana keadaan di kota Lok-yang?" kata nona Han.

"Duapuluh liari yang lalu kami dengar pasukan Mongol sudah menyerang ke kota Hoan-sui. Esok harinya kami langsung meninggalkan rumah kami untuk mengungsi ke tempat yang jauh. Mengenai keadaan kota Lok yang. maaf aku jadi tidak tahu sama sekali. Entah bagaimana keadaannya sekarang?" kata orang she Ong itu.

Kota Han-sui hanya berjarak  li dari kota Lok-yang. saat mendengar khabar dari orang tua she Ong itu. nona Han kaget bukan kepalang.

"Begitu cepat pasukan Mongol melakukan serangan?" pikir nona Han.

"Barangkali pasukan Mongol belum menyerbu sampai ke Lok-yang." kata menantu lelaki orang she Ong itu menyela.

"Paman Ong. sebelum kau mengungsi apa kau melihat Ayahku?" tanya nona Han.

Orang she Ong itu menghela napas panjang. "Aah! Nona Han. kau sudah tahu bagaimana aku berhutang budi pada ayahmu.  Aku  sering  mendapat  pertolongan   dari  beliau. Ketika aku terserang penyakit encok. beliau yang memberiku obat. Masakan ketika kami hendak mengungsi kami tidak pamit dulu kepada ayahmu" kala orang she Ong.

"Bagaimana keadaan Ayahku?" tanya nona Han "Apa penyakitnya sudah sembuh? Apa dia tidak ingin mengungsi seperti kalian?"

"Aku kira keadaan ayahmu sudah semakin membaik, saat aku akan pergi ayahmu memakai tongkat mengantarkan aku sampai di pintu pagar rumahnya." kata paman Ong sambil mengelah napas. "Ayahmu orang paling kaya di kampung kita. Jika tentara Mongol datang ayahmu akan terancam bahaya besar. Nona! Aku yakin tentara Mongol pasti akan melakukan perampokan di rumahmu. Hari itu aku menyarankan kepada ayahmu agar dia juga mengungsi bersama kami. Tetapi ayahmu bilang dia kurang leluasa berjalan, maka dia pasrah dan tetap akan tinggal di rumah saja. Aku sarankan bagaimana jika memakai kereta saja. Tapi ayahmu bilang dia tidak mau ngungsi. Kami diberi beberapa puluh tail perak untuk biaya di perjalanan olehnya."

Rumah Han Pwee Eng berada di sebuah desa di luar kota Lok-yang. Orang-orang desa hanya tahu Han Tay Hiong seorang pendatang kaya-raya, tak ada yang tahu bahwa dia bisa silat. Setelah mendengar ayahnya sehat Han Pwee Eng agak lega hatinya.

"Terima kasih atas perhatian Paman pada Ayahku." kata nona Han.

Paman Ong menghela napas panjang.

"Jangan bilang begitu. Nona. Malah kami yang sangat berterima kasih kepada ayahmu. Oh. jika kau pulang kau nasihati ayahmu agar dia mau mengungsi. Aku y akin dia akan mendengar kata-katamu." kata paman Ong. Nona Han tersenyum.

"Terima kasih atas saranmu. Paman. Pasti akan kunasihati Ayahku." kata nona Han.

"Ah aku lupa. saat kami mau berangkat kami sempat singgah lagi ke rumahmu. Entah karena ayahmu menganggap aku cerewet atau kenapa, dia tak membuka pintu rumahnya." kata paman Ong.

Mendengar keterangan itu nona Han kager.

"Tidak ada orang yang membukakan pintu?" kata nona Han.

"Mungkin hari itu aku terlalu pagi saat mengetuk rumah ayahmu." kata menantu paman Ong. "Biasanya orang kaya bangun agak siang, mungkin Han Lo-ya masih tidur. Nona Han, ayahku kurang bisa bicara mohon kau memaafkannya”

Mendengar keterangan itu nona Han kaget. "Lwee-kang Ayahku sangat tinggi. Jika ada suara pasti dia akan mendengar. Di sana masih ada beberapa pelayan Ayahku. Bagaimana mereka pun tak mendengar ketukan pintu dari Paman Ong?" pikir nona Han.

Nona Han cemas. Tetapi dia yakin pada kepandaian ayahnya, sekalipun dalam keadaan sakit dia akan mampu melawan musuh-musuhnya. Kecuali ayahnya bertemu dengan musuh yang sangat tangguh, mungkin Haa Tay Hiong akan kalah. Sedang yang membuai nona Han heran, karena Paman Ong baru bertemu dengan ayahnya, bagaimana tiba-tiba ayahnya tidak mau meladeni kedatangan Paman Ong. Kemudian Han Pwee Eng berpikir. "Dari sini ke rumah sudah tidak begitu jauh. Mungkin malam ini juga aku akan sampai ke rumah, aku tak boleh buang waktu."

Begitu nona Han Pwee Eng berpikir. Lalu dia berkata pada paman Ong.

"Paman Ong. terimalah kudaku ini untuk kau pakai dalam perjalananmu. Sekarang aku akan pulang, sampai ketemu pula pada saat keadaan sudah aman kembali!" kata nona Han.

"Oh terima kasih Nona Han, kuda ini bagiku sangat bermanfaat sekali. Kau sangat baik pada kami. Semoga Thian melindungimu, dan kalian suami isteri bisa hidup bahagia." kata paman Ong.

Ketika itu Paman Ong mengira nona Han sudah menikah Tapi ketika melihat kenyataan nona Han pulang sendirian saja tanpa suaminya, paman Ong jadi menduga suami isteri itu kurang cocok. Melihat Paman Ong mengawasinya. Wajah nona Han langsung merah.

"Mudah-mudahan saja begitu." sahut nona Han sambil tersenyum.

Han Pwee Eng langsung pergi meninggalkan keluarga Ong itu. Setelah dia sendirian saja di jalan raya, nona Han jadi berduka sekali.

"Pasti Ayah tidak mengetahui aku akan pulang dalam keadaan seperti ini. Aah. aku mau bilang apa? Ketika aku pergi aku memang mau menikah dan hidup bahagia selamanya. Tetapi ternyata bukan kebahagiaan yang kuraih, malah penghinaan yang aku terima di sana. Sesudah kejadian ini aku jadi tidak punya keinginan untuk menikah. Tapi bagaimana aku harus menjelaskan hal ini kepada Ayahku?" begitu nona Han berpikir. Han Pwee Eng mengetahui bekas calon suaminya Kok Siauw Hong sedang menuju ke rumahnya.

"Kok Siauw Hong pria yang berani. Dia berani datang menemui Ayahku padahal aku tahu benar adat Ayahku. Dia sangat sayang kepadaku, mana bisa dia membiarkan aku dihina demikian? Sifat Ayahku keras, dalam keadaan gusar bukan tidak mungkin dia akan turun tangan terhadap Kok Siauw Hong. Sekalipun dia bersalah kepadaku tapi aku juga harus mengakui bahwa nasibku pun buruk. Aku tidak akan membiarkan Ayah membunuh dia. Ah! Aku harus sampai lebih dulu dari Kok Siauw Hong agar aku bisa lebih cepat bertemu dengan Ayah."

Di jalan raya banyak pengungsi yang berjalan secara beriringan, sehingga nona Han kurang leluasa menggunakan gin-kang untuk berlari cepat. Akhirnya dia mengambil keputusan lewat jalan setapak. Rumahnya ada di sebelah selatan kota Lok-yang. Setelah lewat gunung dia akan segera sampai di rumahnya. Di jalan setapak tidak banyak pengungsi dan nona Han bisa mengerahkan gin- kangnya untuk berlari cepat. Saat dia memasuki desa rembulan di langit sudah memancarkan cahayanya.

Di sepanjang jalan setapak itu Han Pwee Eng tidak bertemu dengan siapapun. Semua rumah milik penduduk desa semuanya tertutup rapat, ini tidak mengherankan bagi si nona, dari paman Ong dia sudah tahu penduduk sudah mengungsi semuanya.

Ketika dia sampai di depan rumahnya, nona Han terkejut bukan kepalang. Ternyata dari kejauhan dengan bantuan sinar rembulan, dia lihat rumahnya yang besar dan sudah tua itu telah roboh sebahagian. Tampak seperti hangus terbakar. Sedang pintu rumah yang terbuat darikayu tebal pun sudah hangus terbakar separuh walau pintu itu masih   tertutup.   Sesudah   Han   Pwee   Eng   sampai  dan menyaksikan keadaan rumahnya itu. nona Han jadi berpikir.

"Entah dibakar oleh orang atau benar-benar telah terjadi kebakaran? Tetapi kelihatan rumah itu tidak terbakar semuanya, bagian belakang rumah itu masih ada kamar yang selamat dari jilatan si jago merah. Mudah-mudahan saja Ayah selamat!" pikir nona Han.

Tanpa pikir panjang lagi nona Han berlari menuju ke kamar yang tidak terbakar itu

"Ayah! Ayah! Aku pulang!" teriak Han Pwee Eng. Panggilan Han Pwee Eng tidak mendapat sahutan dari ayahnya maupun salah seorang pelayannya. Hal itu membuat hati nona Han jadi cemas bukan main. Mendadak nona Han mencium bau amis. Dia mengawasi ke arah bau amis itu. Di sana tampak sesosok mayat tergeletak di dekat taman bunga, ternyata itu mayat tukang kebunnya. Nona Han mendekati mayat itu. dia perhatikan keadaan mayat itu dengan teliti. Pada bagian kepala mayat itu terlihat sebuah lubang, nona Han yakin bahwa tukang kebunnya itu terluka oleh serangan ilmu jari yang lihay sekali.

Ayah nona Han berkepandaian tinggi, tapi dia tidak bisa menolongi tukang kebunnya. Ini membuktikan bahwa pembunuh itu sangat lihay. Seketika itu jantung nona Han seolah hendak melompat keluar. Dia ingin berteriak tapi tidak mampu mengeluarkan suara. Dia genggam pedangnya eraterat lalu berjalan ke bagian dalam rumahnya dengan hati-hati sekali.

Tak lama dia melihat ada dua sosok mayat lagi, itu mayat pelayan tua di rumahnya. Saat nona Han berjalan ke belakang dia melihat lagi sesosok mayat yang lain, itu adalah mayat pelayan wanita. Sekalipun kepandaian dua pelayan tua itu tidak setinggi kepandaian Chan lt Hoan dan Liok Hong. tapi mereka berdua cukup pandai. Sedang si pelayan wanita pernah ikut belajar ilmu pedang. Tapi sebelum dia sempat menghunus pedangm a si pembunuh sudah berhasil membunuhnya. Bisa dibayangkan betapa gusarnya nona Han ketika itu.

"Hm! Siapa manusia berhati kejam ini!" pikir nona Han setelah menyaksikan keadaan mayat-mayat pembantu rumah tangganya yang menyedihkan itu. Karena gusarnya nona Han jadi tidak merasa takut lagi.

"Aku akan mengadu jiwa dengan pembunuh itu! Aku harap dia belum jauh dari sini!" pikir nona Han

Setelah mencari kian-kemari dia tidak menemukan mayat ayahnya, hingga timbul harapannya bahwa ayahnya tidak terluka oleh si pembunuh kejam itu.

"Mungkin Ayah selamat dari pembunuhan keji ini? Apakah Ayah sempat kabur atau malah terluka parah dan sedang bersembunyi di ruang rahasia?" pikir nona Han.

Kemudian nona Han kembali berteriak-teriak. "Ayah! Ayah!"

Namun tidak ada sahutan dari ayahnya. Tiba-tiba nona Han mendengar suara orang tertawa, suara tawanya menyeramkan sekali. Han Pwee Eng menoleh ke arah suara orang tertawa itu. Di suatu tempat, tampak seseorang sedang berdiri di tengah ruang tamu. Gerakan orang itu sangat cepat.

Nona Han tidak tahu kapan orang itu muncul, hanya tahutahu orang itu sudah ada di ruang tamu. Sesudah diperhatikan dengan seksama, ternyata orang itu Chu Kiu Sek adanya. Empat tahun yang lalu Chu Kiu Sek telah menggunakan ilmu Siu-lo-im-sat-kang dan melukai ayah nona Han. Tetapi si Iblis Tua ini itu pun terluka oleh serangannya. Nona Han masih ingat pada kata-kata ayahnya.

"Sebelum lukanya sembuh, kepandaian si Iblis Tua itu pun tidak akan pulih. Jika dia mencariku, sekalipun aku dalam keadaan setengah lumpuh, aku masih mampu untuk menghadapinya." Begitu kata ayah nona Han waktu itu.

Tak heran jika Han Tay Hiong berani menyuruh anaknya pergi ke Yang-cou untuk melangsungkan pernikahannya. Tadi dia tidak mengira kalau pembunuh para pegawainya itu Chu Kiu Sek. Sekarang orang itu muncul di hadapan ona Han Pwee Eng. Itu berarti bahwa luka si Iblis Tua ini sudah pulih sama sekali.

-o-DewiKZ^~^aaa-o-

Han Pwee Eng kaget bukan kepalang. Dia tidak menyangka Iblis Tua itu akan muncul begitu cepat di hadapannya. Dengan gusar kemudian nona Han membentak ke arah si Iblis Tua itu.

"Kau. kau si Iblis Tua! Kau...”

Saking gusarnya ini membual kata-kata Han Pwee Eng jadi tersendat-sendat, sehingga ucapannya pun jadi tidak jelas. Padahal nona Han ingin menanyakan diapakan ayahnya oleh si Iblis Tua. Tapi si nona tidak jadi menanyakan tentang ayahnya, karena pertanyaan seperti itu hanya akan menunjukkan kelemahannya. Nona Han malah takut kalau Chu Kiu Sek akan menjawab, bahwa ayahnya telah dibunuhnya, dan Chu Kiu Sek akan bertanya mau apa dia? Melihat nona Han agak gugup Chu Kiu Sek malah tertawa terbahak-bahak. "Sayang! Sayang sekali!" kata Chu Kiu Sek. "Apa yang kau sayangkan?" bentak nona Han.

Sebenarnya nona Han ingin langsung menyerang si Iblis Tua itu. tapi nona Han sadar musuhnya ini sangat lihay. Dulu dia berhasil melukai si Iblis Tua karena pada saat itu dia bergabung dengan ayahnya. Ketika itu dia menggunakan ilmu pedang Keng-sin-kiam-hoat (lmu Pedang Mengejutkan Dewa), ilmu pedang khusus untuk menghadapi si Iblis Tua. Nona Han pun sadar, jika dia langsung menyerang belum tentu dia akan menang. Maka itu dia mencoba bersabar dan menekan emosinya sebisa mungkin. Oleh karena itu nona Han terus menggenggam pedangnya erat-erat. Dia berusaha mencari kesempatan untuk menyerang dengan pedangnya itu. Chu Kiu Sek pun belum mau menyerang. Mendengar pertanyaan nona Han dia malah tertawa.

"Ayahmu kira dia bisa menggunakan siasat yang tepat, sayang dia tidak bisa mengelabuiku!" kata Chu Kiu Sek.

Ucapan si Iblis Tua ini membuat nona Han tertegun. "Siasat apa?" pikir si nona.

Kembali Chu Kiu Sek tertawa lagi.

"Bagus! Kau sudah tahu malah sengaja bertanya! Akan kuungkap siasat ayahmu yang busuk itu agar kau mengetahui kelihayanku." kata Chu Kiu Sek.

Dia tatap wajah nona Han Pwee Eng dalam-dalam, baru kemudian dia bicara.

"Ayahmu itu banyak akalnya, aku kira dia sudah tahu aku akan muncul lagi di Kalangan Kang-ouw. Dia juga tahu  aku  akan  membalas  dendam  kepadanya.  Apa yang akan terjadi hari ini pun sudah masuk dalam perhitungannya. " kata Chu Kiu Sek.

"Selanjutnya bagaimana?" tanya nona Han.

"Nah itulah! Ayahmu lalu memikirkan siasat ini." kata Chu Kiu Sek. "dia sendiri yang membakar rumah ini agar aku mengira dia telah kedatangan musuh besarnya yang tangguh dan telah membunuh orang-orangnya dengan keji. Dengan demikian dia bisa menghindar dariku."

Han Pwee Eng kaget tapi sedikit pun dia tidak percaya pada kata-kata Chu Kiu Sek itu. "Lalu kau kira siapa yang membunuh orang-orangku itu?" tanya nona Han. Chu Kiu Sek tertawa dingm.

"Hm! Memang rupanya kau pandai bersandiwara! Hm! Apa masih harus aku jelaskan masalah ini padamu? Jelas itu perbuatan ayahmu, nona!" kata Chu Kiu Sek.

"Omong kosong!" bentak nona Han.

Ketika melihat nona Han benar-benar gusar, dan tidak terlihat dia sedang berpura-pura, Chu Kiu Sek jadi

tercengang. "Eh apa aku telah salah menduga?" pikir Chu Kiu Sek Dia mengerutkan alisnya, kemudian dia berkata lagi "Jadi kau baru sampai?" kata Chu Kiu Sek. "Ya! Memang kenapa" Chu Kiu Sek tertawa. "Ini benar! Pantas kau bisa dikelabui oleh ayahmu!" "Hm! Jelas kau pembunuh pelayanku. kau kejam sekali!

Jika kau mau membalas-dendam karena tusukan pedangku dulu. silakan kau bunuh aku! Tapi aku tidak akan membiarkan kau mencelakakan Ayahku!" kata nona Han.

Chu Kiu Sek tertawa lagi.

"Kau bisa lolos dari pukulan telapak tanganku? Aku tak akan buru-buru membunuhmu. Tetapi kau tetap membela ayahmu! Justru aku ingin mengungkap rahasia kebusukan ayahmu itu kepadamu, agar kau tahu wajah asli ayahmu!' kata Chu Kiu Sek.

Sesudah berkata begitu Chu Kiu Sek berpikir.

"Bocah perempuan ini mengira ayahnya itu seorang pria sejati. Setelah kuungkap kebusukannya nanti dia pasti berduka! He. he. he. Menuntut balas dengan cara begini aku akan merasa lebih puas dari pada membunuhnya dengan sekali pukul!" pikir Chu Kiu Sek.

Kemudian Chu Kiu Sek tertawa terbahak-bahak karena puas.

"Apa yang kau tertawakan? Atas dasar apa kau tuduh Ayahku yang membunuh mereka?" bentak nona Han.

Chu Kiu Sek tertawa dingin.

"Lalu atas dasar apa kau juga menuduh aku sebagai pembunuhnya?" kata Chu Kiu Sek. "Memang benar kedatanganku ini hendak membunuh ayah dan orang-orang ayahmu Jika aku bisa datang lebih awal. maka akulah pembunuh mereka. Tetapi jika aku yang membunuh mereka, sudah pasti tidak akan meninggalkan bekas di tubuh para korbanku itu. Aku tidak bisa kung-fu yang bisa menghancurkan Thian-Ieng-kai korbanku, aku tidak mahir kung-fu itu!” Kemudian Chu Kiu Sek tertawa dingin dan melanjutkan ucapannya. "Beberapa pelayanmu itu berilmu silat tinggi. Aku yakin kau sudah memeriksa mayat mereka semuanya, bukan'?. Bukankah kau telah menemukan bekas luka di tubuh mereka? Sekarang kecuali ayahmu, mungkin hanya ketua Siauw-lim-pay dan Bu-tong-pay saja yang mampu kung-fu itu. Apa kau juga mengira kedua partai besar itu yang melakukan pembunuhan di rumahmu ini?" Kata-kata Chu Kiu Sek cukup masuk akal. biasanya Chu Kiu Sek memang membunuh orang dengan Siu-lo-im-sat- kang, dan pukulannya tidak akan meninggalkan bekas luka.

Barangsiapa yang terkena oleh pukulannya, pasti dia akan binasa dengan darah beku.

Han Pwee Eng pernah bertarung dengan Chu Kiu Sek, maka itu dia tahu Chu Kiu Sek tidak memiliki pukulan yang sekali pukul lawannya bisa langsung binasa. Nona Han pun tidak percaya ayahnya menjadi pelaku pembunuhan keji itu.

Dia tahu semua pelayan ayahnya sangat setia kepada ayahnya, namun tetap di hati si nona timbul kecurigaan.

"Hm! Mungkin saja pembunuhnya orang lain? Tapi siapa orang itu?" pikir nona Han. "Sebab ucapan Chu Kiu Sek tidak bisa dipercaya. Mungkin dia berbohong begitu ada maksudnya, jika tidak untuk apa dia membohongiku?"

Chu Kiu Sek tertawa.

"Baik. kau percaya atau tidak semua itu terserah kau saja! Sekarang tiba saatnya aku akan menuntut balas padamu!" kata Chu Kiu Sek.

Han Pwee Eng mengeretakkan giginya, dia hunus pedangnya sambil membentak dengan suara keras. "Mari maju!" kata Han Pwee Eng menantang.

Chu Kiu Sek kembali tertawa.

"Kau dari tingkat yang lebih muda. Menurut aturan aku tidak seharusnya menghinamu orang dari tingkatan yang lebih muda. Tetapi karena kau pernah menusukku dengan pedangmu, maka dendam itu harus kubalas! Begini saja. jika kau bersedia menjadi muridku maka permusuhan itu kita sudahi! Bagaimana?" kata Chu Kiu Sek. "Kentut!" kata nona Han dengan sengit. Mendadak Han Pwee Eng melancarkan sebuah serangan maut ke arah Chu Kiu Sek. Sebenarnya saat itu nona Han telah membuat kesalahan besar. Dia tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik.

Bagaimanapun tingginya ilmu pedang nona Han. tidak mungkin dia bisa membunuh musuhnya dengan sekali serang saja. Jika seseorang ingin memenangkan pertarungan dia harus lebih dulu mengetahui kelemahan lawan, jika tidak justru dia sendiri yang akan celaka. Tadi nona Han sudah berpikir akan bertarung mati-matian, jika perlu dia akan mati bersama-sama dengan lawannya. Tetapi karena dia sangat gusar dia juga lupa hingga menyerang lebih dulu.

Tak lama tampak bayangan pedang dan telapak tangan Chu Kiu Sek berkelebat-kelebat. disusul suara benturan keras sekali. Tak lama keduanya sudah terpisah jauh. lengan baju Han Pwee Eng telah robek terkena pukulan lawan.

Hanya dalam sekejap Han Pwee Eng telah melancarkan tigabelas jurus pukulan. Setiap jurus selalu mengarah ke jalan darah lawan yang mematikan. Tetapi Chu Kiu Sek selalu lolos bahkan jari tangannya terus menguntit ke arah nona Han. Serangan-serangan nona Han mampu dia patahkan. Tiba-tiba Chu Kiu Sek menyentil dengan jarinya, hal ini membuat tangan Han Pwee Eng kesemutan  dan sakit bukan main. Hampir saja pedang di tangan si nona terlepas dari tangannya. Untung pada saat yang bersamaan, nona Han pun telah berhasil berganti jurus, jika tidak dia bisa celaka.

Chu Kiu Sek tertawa terbahak-bahak.

"Bocah! Kau gesit sekali!" Chu Kiu Sek memuji. Tiba- tiba tubuh Chu Kiu Sek berputar, sedang sepasang telapak tangannya dia ulurkan ke depan untuk mencengkram kedua bahu nona Han. Pada saat bersamaan Han Pwee Eng pun bergerak, sekaligus dia menggerakkan pedangnya dan meggunakan jurus "Kim-cin-tuh-kiap" (Jarum Emas Melewati Maut).

Chu Kiu Sek memang sudah menduga kalau nona Han akan berbuat begitu, sedikitpun dia tidak gentar. Dia melangkah maju. Tiba-tiba sepasang telapak tangannya bergerak ke kiri dan ke kanan. Saat itu Chu Kiu Sek mengeluarkan jurus "Imyang-siang-tong-ciang (Pukulan Berantai lm-yang)

Jurus yang digunakan oleh Chu Kiu Sek sangat ganas dan berbahaya, tapi serangan itu di arahkan ke bagian tangan Han Pwee Eng. Maksud si Iblis Tua hanya ingin merebut pedang di tangan si nona dan si nona tidak terluka parah. Sebaliknya yang ada di benak Han Pwee Eng. justru dia ingin mengadu jiwa dengan si Iblis Tua. Dia buru-buru menabahkan pedangnya dengan jurus "Siok-li-toh-cun" (Gadis Cantik Menunjukkan Jalan). Ujung pedang nona Han menusuk ke jalan darah "Khie-bun-hiat" lawan.

Chu Kiu Sek pernah terluka oleh pedang Han Pwee Eng. Tak heran jika dia agak berhati-hati menghadapi ilmu pedang itu. Dia mengelak, hingga keduanya mundur ke belakang sejauh tiga langkah. Ingat bahaya yang hampir saja dialaminya tidak terasa tubuh Han Pwee Eng sudah mandi keringat.

Melihat hal itu Chu Kiu Sek tertawa terbahak-bahak "Kau tidak akan mampu melawanku lagi. lebih baik kau

ikut saja denganku, jika tidak kau bisa celaka." kata Chu

Kiu Sek mengejek.

"Biar bagaimana aku harus bertarung denganmu!" kata Han Pwee Eng. Han Pwee Eng kembali menyerang, sedangkan Chu Kiu Sek terus mmperhatikan jurus nona Han sambil tertawa dingin.

"Jika kau ingin mengadu jiwa denganku, aku tidak mau! Tetapi aku ingin meringkusmu! Ha. ha. ha! Setelah aku berhasil meringkusmu, aku ingin tahu apakah ayahmu tetap tidak mau keluar dari persembunyiannya'." kata Chu Kiu Sek.

Nona Han baru sadar mengapa Chu Kiu Sek menggunakan pukulan Im-yang-siang-tong-ciang dan tidak mnggunakan pukulan Sui-lo-im-sat-kang. Rupanya bajingan ini ingin menangkap dia hidup-hidup. Chu Kiu Sek berharap setelah Han Pwee Eng tertangkap jidup. ayahnya akan muncul. Sesudah tahu maksud orang itu nona Han jadi girang sekali

"Kalau begitu Ayah masih selamat dan belum dilukai olehnya?" pikir nona Han. "Karena dia ingin menangkapku maka aku harus berusaha agar tidak tertangkap olehnya. Hm! Asalkan Ayahku selamat, jika aku harus mati pun tidak masalah. Jika dia berhasil menangkap aku. mengapa aku tidak bunuh diri dengan memutuskan urat nadiku?"

Setelah berpikir begitu nona Han terus menyerang dengan hebat. Dia mengeluarkan seluruh jurus pedang "Keng-sinkiam-hoat" ciptaan ayahnya yang lihay sekali. Sebuah jurus khusus untuk menghadapi Chu Kiu Sek. Tetapi karena Iweekang nona Han belum sempurna sekali, tidak heran jika dia tidak mampu merebut kemenangan dengan cepat. Sebaliknya lawannya pun sudah berusaha keras menangkap dia. tetapi belum juga berhasil menangkap si nona.

"Tak kusangka belum tiga tahun kepandaian bocah ini sudah  maju  pesat  sekali.  Jika  dia  tidak  kulukai sekarang juga. mungkin aku yang akan terluka olehnya. Hm! Terpaksa aku harus melukainya!" pikir Chu Kiu Sek.

Satu ujung pedang nona Han mengarah ke dada Chu Kiu Sek. Tiba-tiba Chu Kiu Sek menyentil ujung pedang lawan. Dia gunakan dua bagian tenaga Siu-lo-im-sat-kang. Tiba- tiba nona Han merasakan gagang pedangnya dingin sekali, dia jadi menggigil. Untung pedangnya tidak sampai terlepas dari cekalan nona Han. Mengetahui pedangnya tidak terlepas dari tangan nona Han. tentu saja Chu Kiu Sek jadi kaget bukan main. Dia coba menambah kekuatan serangannya. Pada saat yang bersamaan pedang nona Han menusuk ke arah dada Chu kiu Sek dengan jurus Keng-sin- kiam-hoat yang sangat lihay.

Chu Kiu Sek terkejut bukan kepalang. Terpaksa dia harus berkelit untuk menghindar dari serangan itu. Sayang sekalipun serangan itu sangat hebat, tetapi tenaga nona Han masih rendah. Serangan nona Han tidak mampu melukai Chu Kiu Sek. Sekarang malah Chu Kiu Sek mampu membalas menyerang ke arah nona Han. Untung nona Han masih bisa bertahan dan menangkis setiap serangan Chu Kiu Sek yang ganas itu. Tiba-tiba terdengar suara orang memuji.

"Ilmu pedang yang bagus!" kata suara orang itu.

Seruan yang mendadak itu membuat Chu Kiu Sek kaget bukan kepalang. Namun, dia tetap berusaha agar bisa tenang. Dia sentil pedang nona Han sehingga jadi miring ke samping. Kemudian Chu Kiu Sek membalikkan tangannya dan melancarkan serangan ke arah suara tadi.

"Hai bocah turun kau!" bentak Chu Kiu Sek.

Serangan Chu Kiu Sek itu hebat dan tak lama terdengar suara nyaring. "Buum!"

Sesosok tubuh turun dan berdiri di atas tanah. Saat nona Han mengawasi orang itu dia kaget, karena orang itu Kok Siauw Hong adanya, atau bekas calon suaminya. Han Pwee Eng sudah tahu Kok Siauw Hong berangkat lebih dulu darinya, dia juga heran kenapa pemuda itu ada di situ? Sedang nona Han pulang dengan mengambil jalan pintas, tidak heran jika dia bisa sampai lebih dulu dari pemuda itu. Saat Kok Siauw Hong tiba saat nona Han sedang bertarung secara matimatian melawan Chu Kiu Sek. Tadi Kok Siauw Hong sedang menonton perkelahian yang seru itu. Saking kagum tanpa merasa dia memuji. Suara pujian Kok Siauw Hong mengagetkan Chu Kiu Sek. Tentu saja Chu Kiu Sek langsung menyerang ke arah suara itu. Sungguh mengherankan, serangan Chu Kiu Sek yang dasysat itu sedikitpun tidak melukai Kok Siauw Hong. Tetapi sebaliknya, pemuda itu turun dengan melompat ke tanah. Lebih mengejutkan lagi. sekalipun diserang demikian hebat. Kok Siauw Hong tetap tegar dan tidak kedinginan seperti biasanya jika orang diserang oleh ilmu Sui-lo-im-sat-kang Chu Kiu Sek.

Serangan Chu Kiu Sek itu serangan pelajaran tingkat delapan, sekalipun lwee-kang lawan tinggi pasti dia akan menggigil kedinginan. Chu Kiu Sek mengerutkan dahi melihat Kok Siauw Hong tetap bugar karena herannya.

"Dia masih muda. tetapi dia sanggup menahan seranganku. Latihanku selama empat tahun ini ternyata tidak berguna untuk dipakai menyerang dia. Semula aku kira aku sudah tidak punya tandingan lagi di dunia Kang- ouw. Tidak kusangka sekarang telah bermunculan generasi muda yang luar biasa? Saat aku bertemu Kong-sun Po. aku heran. Sekarang ada lagi pemuda lain yang sanggup menahan  seranganku.  Entah  berapa  banyak  lagi pemuda gagah seperti mereka? Apa barangkali ilmu Siu-lo-im-sat- kangku sekarang sudah tidak berguna?" pikir Chu Kiu Sek yang ingin menjagoi dunia persilatan. Tetapi sekarang harapannya mulai agak pupus pada saat dia mengetahui sudah banyak lawan yang tangguh.

Ketika Kok Siauw Hong menyaksikan rumah Han Tay Hiong telah musnah dilalap api. dia heran dan kaget. Kedatangan Kok Siauw Hong memang karena dia ingin menemui orang she Han tersebut. Tujuan Kok Siauw Hong untuk membatalkan pertunangannya dengan puteri orang she Han itu. Dia tidak mengira di tempat ini malah dia bertemu dengan Han Pwee Eng. bekas tunangannya.

"Ke mana Paman Han? Apa dia telah mati terbakar? Tetapi aku tahu dia berilmu tinggi, saat ini keadaan Paman Han setengah lumpuh. Jika Paman Han sudah mati. aku harus mencari siapa untuk membatalkan pertunanganku?" begitu pemuda ini berpikir.

Situasi saat itu sungguh berbahaya, tadi dia telah diserang hebat sekali. Dia tidak kenal siapa Chu Kiu Sek? Setelah merasakan pukulannya, dia tahu bahwa orang ini yang telah melukai Han Tay Hiong empat tahun yang lalu.

Kok Siauw Hong merasa bersalah besar terhadap nona Han dan ayahnya. Saat ini dia anggap ini kesempatan bagim a untuk membantu bekas tunangannya. Maka tanpa ragu-ragu lagi dia menghampiri nona Han. dengan suara perlahan dia berkata.

”Jangan takut, kita lawan Iblis Tua ini bersama-sama!" kata Kok Siauw Hong.

Nona Han sedikit canggung terhadap pemuda ini. Sekalipun Kok Siauw Hong lebih mencintai gadis lain. namun mereka masih terhitung tunangan pemuda itu. Hati nona Han jadi kacau, dia tidak tahu apa dia harus girang atau malah harus berduka? Ketika itu dia hanya menganggukkan kepalanya. Mendengar kesepakatan kedua muda-mudi itu Chu Kiu Sek tertawa.

"Bagus!" kata Cu Kiu Sek. "Aku ingin tahu apakah kau anggup menyambut beberapa pukulanku?"

"Tadi dia mampu menahan seranganku. Entah beberapa tahun lagi barangkali aku yang kalah oleh mereka? Oleh karena itu sekarang aku harus membunuh mereka berdua sekarang juga! lerutama bocah lelaki ini harus kusingkirkan lebih dulu. sedangkan bocah perempuannya aku kira bisa diurus kemudian..." begitu Chu Kiu Sek berpikir.

Setelah berpkir langsung dia menyerang Kok Siauw Hong yang hendak dibunuhnya. Saat Kok Siauw Hong melihat bahu Chu Kiu Sek bergerak. Han Pwee Eng langsung merasakan hawa dingin menyerang ke arahnya. Saat itu Kok Siauw Hong tiba-tiba menarik tangan nona Han ke belakang dia. sedang tangan kanannya dipakai untuk menangkis serangan Chu Kiu Sek yang dasyat itu.

"Plak!"

Terdengar suara nyaring. Sekalipun sudah berada di belakang Kok Siauw Hong. nona Han masih merasakan hawa dingin menyerang ke arah dadanya. Tak lama tubuh si nona menggigil bagaikan orang kedinginan. Melihat muda-mudi itu tidak roboh oleh serangannya. Chu Kiu Sek kaget bukan kepalang. Padahal tadi serangan yang dia lancarkan itu serangan ilmu pukulan dari tingkat ke delapan. Kok Siauw Hong kaget.

"Ternyata Iwee-kang nona Han sudah tinggi. Dia tidak pernah belajar Siauw-yang-sin-kang. ternyata dia mampu menahan serangan pukulan Sui-lo-im-sat-kung. Sungguh luar biasa!" pikir Kok Siauw Hong. Kok Siauw Hong sanggup menahan serangan pukulan Suilo-im-sat-kang karena sejak kecil Kok Siauw Hong sudah belajar Siami-yang-sin-kamg dari ibunya. Tidak heran jika dia bisa bertahan sekalipun ilmu itu tidak bisa mengalahkan Siulo-im-sat-kang. Sebaliknya nona Han. dia bisa bertahan karena dia telah minum arak Kui-thian-sun-yang-pek-hoa- cui. Ditambah lagi nona Han pernah terluka oleh pukulan Chu Kiu Sek empat tahun yang lalu. Arak obat itu selain menyembuhkan juga punya khasiat untuk daya tahan tubuh yang luar biasa. Selain itu saat dia ditarik ke belakang oleh Kok Siauw Hong dengan ilmu Siauw-yang-sin-kang. rupanya ini cukup membantu nona Han untuk bisa bertahan. Ketiga karena nona Han tidak terserang langsung, dia hanya terserang oleh angin pukulan itu saja.

Sebenarnya Han Pwee Eng takut pada pukulan Chu Kiu Sek itu. Setelah pengalaman tadi dan dia tidak kedinginan seperti dulu. Han Pwee Eng jadi bertambah berani. Dia sadar jika tidak terpukul langsung, pukulan lawan tidak terlalu berbahaya baginya. Segera dia menggunakan Keng- sin-kiam-hoat untuk menyerang ke arah Chu Kiu Sek dengan hebat. Sebaliknya Kok Siauw Hong sambil membentak dia hunus pedangnya.

"Lihat pedangku!" kata Kok Siauw Hong. Ilmu silat Kok Siauw Hong berhasil dipelajari dari ibunya yang mendapat pelajaran ilmu itu dan ayahmu Keluarga Kok sangat termasyur dengan ilmu pedang Cit-sui-kiam-hoatnya. Ilmu pedang itu masih jauh di atas ilmu pedang Keng-sin-kium- hoat milik Han Pwee Eng. Begitu Kok Siauw Hong menyerang, pedangnya berubah membentuk semacam tujuh kuntum bunga. Bayangan tujuh kuntum bunga itu ialah ujung pedang Kok Siauw Hong yang digerakkan dengan cepat. Serangannya tertuju pada tujuh jalan darah penting di tubuh Chu Kiu Sek. Bukan main kagetnya Chu Kiu Sek mendapat serangan begitu hebat dari dua muda-mudi itu.

"Hm! Ilmu pedang pemuda ini tidak bisa dianggap ringan." pikir Chu Kiu Sek.

Segera dia kibaskan lengan bajunya. Setelah terdengar suara benda beradu, maka tujuh bayangan bunga itupun sirna. Pedang di tangan Kok Siauw Hong miring ke samping, dan telapak tangan pemuda itu terasa sakit. Pemuda ini kaget dan sedikit kecut.

Hanya sekali mengibaskan lengan bajunya akibatnya demikian hebat. Ujung baju Chu Kiu Sek bisa begitu keras hingga mampu dipakai menangkis pedang Kok Siauw Hong. ini membuat pemuda itu sadar bahwa Chu Kiu Sek sangat berbahaya.

Sebenarnya Kok Siauw Hong tidak mengetahuinya, saat menangkis Chu Kiu Sek menggunakan dua ilmu silat secara berbareng, yaitu Siu-lo-im-sat-kang dan Tiat-yu-kang (Lengan baju besi). Tetapi sayang kedua ilmu silat itu tidak bisa dipakai menyerang secara beruntun. Buru-buru Chu Kiu Sek mundur tiga langkah karena khawatir lawan membalas menyerang. Namun, saat dia mundur dia sempat melirik ke arah lengan bajunya. Di sana tampak ada tujuh buah lubang bekas ujung pedang pemuda itu. Untung bagi Chu Kiu Sek. kedua mudamudi itu tidak segera menyerang dia. Jika mereka menyerang secara serempak, barangkali Chu Kiu Sek sudah celaka.

Kok Siauw Hong tambah berhati-hati. sebaliknya Chu Kiu Sek yang takut kehilangan tenaga, tidak berani menggunakan dua macam ilmunya secara bersamaan. Dengan demikian pertarungan mereka jadi seimbang.

Chu Kiu Sek memang cerdik, dia gunakan Siu-lo-ini- satkang  dan  Tiat-yu-kang  secara  bergantian.  Kok  Siauw Hong masih mampu bertahan, tapi sebaliknya nona Han dia mulai terdesak dan mulai kelelahan.

Melihat nona Han sudah mulai tak tahan Chu Kiu Sek melancarkan serangannya semakin hebat. Ini membuat Han Pwee Eng jadi kedinginan. Melihat nona Han kewalahan Kok Siauw Hong maju ke depan nona Han. dia menangkis setiap serangan Chu Kiu Sek dengan ilmu silatnya. Tapi lamakelamaan Kok Siauw Hong pun mulai merasakan tenaganya mulai lemah. Hawa dingin mulai menyerang dirinya.

"Mengalahkan mereka tidak sulit, tapi sayang aku harus menyerang sampai  jurus." pikir Chu Kiu Sek yang hatinya mulai bimbang.

Mengapa Chu Kiu Sek begitu cemas? Dia tahu jika harus bertarung lebih dari seratus jurus lebih tenaga murninya akan berkurang, mungkin juga dia bisa sakit parah. Bahkan dia akan terluka parah karena itu Sekalipun dia tahu dua mudamudi itu akan terluka oleh pukulannya.

Tiba-tiba baik Kok Siauw Hong maupun Chu Kiu Sek mendengar suara batuk-batuk sangat perlahan. Tapi nona Han tidak mendengar suara batuk itu. Suara batuk itu aneh. mirip dengan suara orang yang hampir mati. Suara itu seolah suara batuk atau helaan napas.

Chu Kiu Sek sadar orang yang batuk itu berilmu tinggi, namun rupanya orang itu sedang sakit berat. Chu Kiu Sek jadi merinding. Di tempat itu banyak mayat. Kecuali mereka bertiga tidak ada orang lain lagi. Dia jadi curiga.

"Apa di antara mayat-mayat itu ada yang masih bernyawa?" pikir Chu Kiu Sek.

Tapi kemudian pendapat itu dia bantah sendiri. Dia tidak yakin di antara pelayan keluarga Han itu ada yang masih hidup. Dia yakin pukulan Han Tay Hiong luar biasa lihaynya. maka dia yakin mereka sudah mati semuanya. Kecuali di antara mereka ada yang hanya berpura-pura mati. hingga orang itu bisa bersuara. Tapi dia yakin anak buah Han Tay Hiong tidak terlalu lihay sekali. Tiba-tiba Chu Kiu Sek kaget.

"Aaah! Jangan-jangan itu suara Han Tay Hiong. Pasti dia sedang bersembunyi dan menonton pertarungan kami. Saat sudah ada yang terluka parah, baru dia akan muncul untuk mengambil keuntungan?" pikir Chu Kiu Sek. "Atau mungkin ada pesilat tangguh yang lain?" 

Apapun yang akan muncul di tempat itu bagi Chu Kiu Sek dianggap akan membahayakan dirinya. Itu sebabnya dia jadi curiga. Rupanya dia takut pada orang lain yang tiba-tiba menyerangnya. Dia memang licik tetapi sekarang tenaganya sudah banyak terkuras oleh Han Pwee Eng dan Kok Siauw Hong berdua. Jika benar datang pesilat tinggi yang lain. maka dia akan celaka. Apalagi jika yang datang itu Han Tay Hiong Semakin Chu Kiu Sek berpikir, hati Chu Kiu Sek jadi semakin cemas. Dia mengambil keputusan untuk segera meninggalkan tempat itu sebelum bahaya itu benar-benar datang.

Tiba-tiba Chu Kiu Sek melancarkan serangan secara bertubi-tubi sebanyak tiga kali. Kemudian dia melompat dan pergi begitu saja. Kaburnya musuh tangguh ini membuat Kok Siauw Hong heran bukan main.

"Eh Iblis Tua jahat itu sudah kabur!" kata Han Pwee Eng. suaranya perlahan.

Ingat bahaya tadi tubuh Han Pwee Eng mandi keringat dingin. Pada saat yang bersamaan Kok Siauw Hong memegang tangan nona Han dan mengerahkan Siauw- yangsin-kang. Sesudah itu baru dia berkata pada nona Han. "Nona Han. kau tak apa-apa?" kata Kok Siauw Hong

"Tidak!" jawab nona Han. Tapi dalam hati nona ini berpikir. "Hm! Kau jangan berpura-pura baik kepadaku?" pikir Han

Pwee Eng. Wajah nona Han tampak kemerah-merahan. Kok Siauw Hong pun jadi tidak enak hati sendiri, dia merasa canggung tidak tahu dia harus bilang apa.

Keduanya kemudian membisu

beberapa saat lamanya. "Maaf.. " kata Kok Siauw Hong.

Tapi si nona segera memotong. "Maaf kenapa?" kata Han

Pwee Eng. "Aku datang terlambat dan kau nyaris. "

"Ya. aku nyaris mati di tangan si Iblis Tua jahanam itu!"

kata nona Han. "Terima kasih atas pertolongan Tuan Muda Kok telah menyelamatkan nyawaku!"

Pemudashe Kok itu sadar nona Han masih jengkel dan dongkol kepadanya, oleh karena itu dia mengalihkan pembicaraannya.

"Diakah yang membunuh seluruh pegawaimu itu?" kata Kok Siauw Hong.

Han Pwee Eng tertegun baru kemudian menjawab. "Sekalipun aku tidak melihatnya sendiri, jika bukan dia

lalu oleh siapa lagi?"

Kok Siauw Hong tercengang.

"Nona. apakah kata-kataku menyinggung perasaanmu?" kata pemuda itu agak kikuk.

"Si Iblis Tua itu memang seorang jahanam. Dia yang membunuh orang-orangku, malah memfitnah Ayahku kata dia orang yang membunuh anak buahnya!' kata nona Han. 'Hm! Apa kau juga percaya Ayahku yang membunuh mereka?"

"Apa? Oh. tidak! Memang Iblis Tua itu bilang apa. aku kebetulan tidak mendengar ucapannya." kata Kok Siauw Hong. "Keterlaluan dia bicara sembarangan saja!"

Walau Kok Siauw Hong bicara begitu tetapi dia tetap berpikir keras.

"Pamanku Jen Thian Ngo pernah memperingati aku. katanya Paman Han seorang yang pandai berpura-pura baik. seolah dia seorang pendekar sejati. Tetapi sebenarnya dia orang jahat! Tetapi ah...tidak! Aku jangan berpikir begitu! Ayahku dan Paman Han bersahabat baik dan sudah puluhan tahun lamanya. Mustahil Ayahku sampai tidak mengetahui kalau Paman Han itu orang jahat? Jika Ayahku tahu dia orang jahat. masakan dia ingin aku menikah dengan puterinya" begitu Kok Siauw Hong berpikir.

Tiba-tiba Kok Siauw Hong melirik ke arah nona Han. Hatinya sangat menyesal karena dia merasa sangat bersalah kepada nona ini.

"Apa tadi kau mendengar ada suara orang batuk?" tanya Kok Siauw Hong.

Mendengar pertanyaan itu nona Han sedikit kaget "Tidak!" jawab si nona. "Di sini selain kita berdua tidak

ada orang lain. bukan?"

"Ilmu racun Chu Kiu Sek tidak dapat membinasakan semua orang itu sekaligus, mungkin saja masih ada orang yang selamat. Bagaimana jika kita periksa lagi mayat mereka?" kata Kok Siauw Hong. Lwee-kang Kok Siauw Hong memang kalah dari Chu Kiu Sek. dia yakin suara tadi suara orang yang ada di sekitar tempat itu. Maka itu dia ingin mencarinya. Jika orang itu cuma terluka ringan, dia ingin menolonginya.

"Semua mayat di tempat ini telah aku periksa semuanya, mereka sudah lama mati!" kata nona Han.

Mendengar kata-kata nona Han Kok Siauw Hong tercengang.

"Kalau begitu kita harus segera mengubur mayat-mayat mereka itu!" kata Kok Siauw Hong.

Nona Han mengangguk.

"Baik. akan kucari cangkul dulu. bantu aku menggali tanah." kata nona Han.

Dia langsung pergi akan mencari cangkul. Sedangkan Kok Siauw Hong mencoba memeriksa lagi mayat-mayat itu. Batok kepala mayat-mayat itu pecah terhantam oleh pukulan hebat. Sesudah memeriksa pemuda ini menggumam.

"Ini bukan mati oleh pukulan Siu-Io-im-sat-kang. si Iblis Tua tidak punya pukulan semacam ini ?" kata Kok Siauw Hong.

Tiba-tiba Han Pwee Eng yang ada di belakang pemuda itu bergumam juga.

"Ini bukan perbuatan Ayahku!" kata si nona. "Bukan dia yang melakukannya?!"

Kok Siauw Hong menoleh ke arah nona Han. Saat itu nona Han sedang berdiri dan di tangannya terdapat dua buah cangkul. Wajah nona Han pucat-pasi. Sedangkan air matanya meleleh dan membasahi kedua pipinya. Dia  yakin pelayannya bukan mati di tangan Chu Kiu Sek. Tetapi dia tidak berani menuduh kalau itu perbuatan ayahnya.

"Aku yakin ini bukan perbuatan Ayahmu, tetapi juga bukan perbuatan Chu Kiu Sek! Lebih baik mari kita kubur dulu mayat mereka, baru kita selidiki siapa sebenarnya pembunuhnya? Sesudah kita tahu siapa pembunuhnya, kita balaskan sakit hati mereka!" kata Kok Siauw Hong menghibur nona itu.

Sekalipun dia bicara begitu tapi kecurigaan pemuda ini tibatiba timbul lagi.

Pada saat Kok Siauw Hong meminta sebuah cangkul dari si nona dan dia akan menggali tanah, dia lihat salah satu mayat pelayan tua yang sudah lama bekerja pada keluarga Han. Dia lihat pelayan tua itu mengepal secarik kertas di tangannya. Tadi dia tidak melihatnya.

Kok Siauw Hong membungkuk akan membuka kepalan tangan mayat itu. Rupanya sebelum mati pelayan tua itu berkelahi dulu sambil mempertahankan kertas yang ada di tangannya itu. Hingga dia mati dia tetap mempertahankan kertas itu. Setelah berhasil membuka kepalan tangan pelayan tua itu. Kok Siauw Hong jadi heran. Ternyata itu bukan secarik kertas biasa, tapi terbuat dari kulit kambing yang tipis. Di atas kulit kambing itu tampak tulisan huruf Mongol yang kelihatannya tidak karuan bentuknya. Kok Siauw Hong tahu itu tulisan bahasa Mongol. tapi dia tidak bisa membaca tulisan itu.

"Nona Han, pernahkan kau melihat benda ini?" kala Kok Siauw Hong pada Han Pwee Eng.

"Belum pernah." jawab nona Han sambil menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak bisa membaca tulisan bahasa Mongol.  Heran,  mengapa  dia  berusaha mempertahankan kulit kambing itu? Orang itu telah membunuh dia. tapi kenapa separuh kulit kambing itu tidak dia ambil?"

"Ini bisa jadi barang bukti, bolehkah aku yang menyimpan kulit kambing ini. Nona Han?" kata Kok Siauw Hong.

"Boleh saja. kau punya banyak teman di kalangan Kangouw. lebih baik kau yang menyimpannya dan menyelidiki masalah ini sampai tuntas." sahut nona Han.

Saat itu hati nona Han pikirannya sedang kacau Dia tidak tahu siapa pembunuh semua pegawainya itu. Dia tidak mengira kalau itu perbuatan ayahnya. Sedangkan Kok Siauw Hog justru berpikir bahwa Han Tay Hiong bisa jadi pembunuh tersebut, siapa tahu dia memang benar bersekongkol dengan bangsa Mongol?

"Paman Jen Thian Ngo mengatakan. Paman Han punya hubungan dengan Siang-koan Hok." pikir Kok Siauw Hong. "padahal Siang-koan Hok itu wakil Kok-su bangsa Mongol. Oleh karena itu Paman Jen Thian Ngo berani memastikan, bahwa Paman Han bersekongkol dengan bangsa Mongol. Sebenarnya aku tidak yakin benar pada pendapat Paman Jen. tapi di tangan pelayan tua itu terdapat kulit kambing yang bertulisan huruf Mongol. Barang ini bisa jadi barang bukti."

Kok Siauw Hong merenung sejenak. Tak lama otaknya bekerja lagi.

"Nona Han setuju aku yang menyimpan benda ini. sekalipun Paman Han patut dicurigai, aku kira nona Han tidak bekerja-sama dengan ayahnya?" pikir Kok Siauw Hong.

Kok Siauw Hong menarik napas lega. Keadaan may atmayat  itu  sungguh  mengerikan.  Nona  Han  pun  tidak berani melihat mayat-mayat itu lagi. Tiba-tiba dia buang cangkul yang sedang dipegangnya dan langsung menangis.

"Nona Han kau istirahat saja. biar semua aku yang mengerjakannya." kata Kok Siauw Hong pada nona Han.

Dahi pelayan tua yang memegang kulit kambing itu pecah dan berlubang. Darahnya sudah beku berwarna kehijauan. Tiba-tiba hati Kok Siauw Hong tergerak. Dia keluarkan saputangannya lalu dia korek darah yang membeku itu. Kemudian darah itu dia bungkus dengan saputangannya.

Saat itu Kok Siauw Hong mendengar seruan minta tolong dan suaranya lirih sekali, nona Han pun mendengar suara itu.

”Tolong...Tolongi aku!"

Nona Han kaget dia melompat, tangisnya berhenti seketika itu juga. Dengan suara gemetar nona Han berkata pada Kok Siauw Hong.

"Benar ada suara orang!" bisiknya.

Kedua muda-mudi itu segera menuju ke arah suara minta tolong itu. Di sebuah sudut taman bunga mereka menyaksikan ada kepala orang tersembul di atas tanah. Rupanya orang itu dikubur hidup-hidup oleh si pembunuh. Seluruh tubuh orang itu terkubur sampai leher, di samping orang itu terdapat gundukan tanah yang baru digali. Setelah melihat wajah orang itu kedua muda-mudi itu kaget.

"Kau siapa?" tanya Kok Siauw Hong

Orang itu tidak menjawab, matanya mendelit dan suara lirihnya terdengar kembali.

"Tolong. Tolongi aku!" katanya. Setiap saat napas orang itu akan berhenti. Mereka kaget dan girang, dengan adanya orang yang masih hidup ini. mereka jadi akan mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di tempat itu? Tetapi kondisi orang itu sangat lemah, nyawanya belum tentu bisa diselamatkan. Mungkin masih bisa ditolong hanya untuk beberapa saat saja. tapi itu pun mereka pikir akan sangat berguna bagi mereka berdua.

Kok Siauw Hong segera menggali tanah yang mengubur tubuh orang itu. Selang sesaat orang itu berhasil dikeluarkan dari tanah. Kok Siauw Hong segera mengerahkan lwee-kang untuk menyelamatkan nyawa orang itu.

Tak lama orang itu sudah bisa bicara. Tetapi suaranya ngorok dan muntah darah yang bercampur dengan busa.

"Siapa kau? Mengapa kau berada di sini?" tanya Kok Siauw Hong.

"Di mana Ayahku?" tanya Han Pwee Eng pada orang itu.

Mereka berdua ingin mendapat keterangan dari orang itu. namun masing-masing pertanyaan mereka berbeda. Kok Siauw. Hong ingin tahu apa hubungan orang itu dengan Han Tay Hiong. sedangkan Han Pwee Eng ingin tahu keadaan ayahnya karena dia mencemaskan keadaan ayahnya. Maka itu si nona menanyakan tentang ayahnya.

"Air...Air...Air!" kata orang itu.

Barangkali orang itu belum bisa bicara karena tenaganya sudah habis dan napasnya sengal-sengal.

Han Pwee Eng berlari akan mengambilkan air mnum untuk orang itu. Sedangkan orang itu membuka matanya, lalu menoleh ke kiri dan kanan. Dia kelihatan tercengang. "Tempat apa ini?" katanya.

Kok Siauw Hong balik bertanya.

"Jadi kau tidak tahu kalau ini rumah keluarga siapa?" kata Kok Siauw Hong.

Orang itu mengangguk. Kok Siauw Hong tercengang. "Kalau begitu, bagaimana kau bisa berada di tempat

ini?"kata Kok Siauw Hong.

Orang itu diam. Kok Siauw Hong mengira tenaga orang itu belum pulih sekali, oleh karena itu Kok Siauw Hong memberi keterangan pada orang itu.

"Ini rumah milik keluarga Han. rumah ini bisa dikatakan rumah Pamanku. Nona itu puteri keluarga di sini. Jika kau mau bicara dengan jujur kami tidak akan mencelakaimu!" kata Kok Siauw Hong.

Setelah tahu nona Han puteri pemilik rumah itu. orang itu kelihatan kaget. Seolah dia sedang menghadapi masalah besar yang menakutkan sekali. Kok Siauw Hong jadi  curiga.

"Mengapa dia ketakutan setelah mendengar ceritaku? Apakah dia dikubur hidup-hidup oleh Paman Han?" pikir pemuda ini.

Saat itu nona Han sudah kembali sambil membawa secawan air minum untuk orang itu. Sesudah orang ini minum lalu nona Han bertanya.

"Sekarang kau sudah agak segar, di mana Ayahku'." kata nona Han.

Tapi sambil bertanya nona Han pun berpikir.

"Orang ini sepertinya bukan sahabat ayahku?" pikir nona Han sedikit ragu-ragu. Saat Han Pwee Eng sedang mengawasi orang itu. mendadak orang itu menerjang ke arah nona Han dengan sekuat tenaga. Cawan air di tangannya pun jatuh hingga pecah berantakan. Peristiwa ini di luar dugaan nona Han. Orang itu menggeram, dia kelihatan seperti binatang buas yang terluka. Saat itu dia menganggap nona Han di depan dia sebagai musuhnya. Atau dia anggap nona Han sebagai pemburu yang telah melukainya. Sesudah itu dia roboh tidak bertenaga lagi. Nona Han kaget bukan kepalang.

"Hai. kau kenapa?" tanya nona Han.

Kok Siauw Hong keheranan. Dia papah orang itu supaya bisa bangun dan dia berkata dengan lembut.

"Legakan hatimu, kami tidak berniat mencelakaimu." kata Kok Siauw Hong.

Pemuda ini keheranan menyaksikan kelakuan orang itu. Saat Kok Siauw Hong memapah orang itu. dia memegang pergelangan tangan orang itu. Denyut nadi orang itu tidak lemah seperti yang dia duga. Kok Siauw Hong bukan tabib tapi dia cukup berpengalaman dalam masalah ini. Bagi orang yang sedang sakit tidak mungkin denyut nadinya seperti orang sehat biasa. Maka itu pemuda ini jadi curiga dan berpikir.

"Akan kujajal dia." pikir Kok Siauw Hong.

Lalu Kok Siauw Hong mengulur jari tangannya. Dia totok jalan darah Beng-khi-hiui orang itu. Ini jalan darah yang sangat penting. Jika dia tertotok maka orang itu akan binasa

Melihat serangan Kok Siauw Hong. nona Han kaget bukan alang kepalang.

"Jangan!" kata si nona. Orang itu tenang-tenang saja. dia tidak berkelit dari totokan Kok Siauw Hong dan dia juga tidak melawan. Kok Siauw Hong sadar, dia tahu bahwa orang itu manda saja ketika dia serang. Dengan begitu dia telah salah menduga. Dia tarik kembali serangannya, sehingga orang itu tidak terluka.

"Dia tidak memiliki lwee-kang." kata si nona.

"Ya. tubuhnya memang sangat lemah. Dia bukan berpura

pura." kata Kok Siauw Hong. Nona Han mengerutkan dahinya.

"Tapi kenapa kau jajal dia?" kata si nona. Kok Siauw Hong tersenyum.

"Berhati-hati lebih baik. kan?" kata pemuda itu.

"Orang itu baru kembali dari pintu neraka." kata si nona.

"Dia sudah begitu ketakutan, kau malah menakut- nakutinya. Dia tidak bisa bicara mungkin karena sangat ketakutan?"

Kok Siauw Hong merasa tidak enak hati

"Biar dia istirahat sejenak, sesudah tenaganya pulih kembali, baru dia kita tanyai lagi." kata pemuda itu perlahan.

Tiba-tiba pemuda itu mengerutkan dahinya. "Eh. suara apa itu?" kata Kok Siauw Hong. Nona Han tertegun.

"Apa masih ada orang yang masih hidup di tempat ini?" kata si nona. Lwee-kang nona Han di bawah Kok Siauw Hong hingga dia tidak mendengar apa-apa. Pemuda itu berusaha berkonsentrasi. Dia memperkirakan suara itu bukan suara satu orang tapi suara orang banyak. Mereka saling bentak dan sedang bertarung hebat.

Kok Siauw Hong kaget.

"Itu suara si Iblis Tua. entah dia sedang bertarung dengan siapa?" kata Kok Siauw Hong.

Nona Han mengangguk.

"Ya. aku baru mendengarnya. Entah mereka sedang bertarung dengan siapa?" kata si nona.

Nona Han sekarang sudah mendengar dengan jelas suara orang sedang bertarung dan siulan si Iblis Tua itu.

"Kaujaga dia. aku akan ke sana melihatnya." kata Kok Siauw Hong pada nona Han.

Tapi hati pemuda ini berpikir.

"Orang yang mampu melawan Chu Kiu Sek pasti seorang pesilat tangguh. Ilmu Siii-lo-im-sut-kang sangat beracun. Sekalipun orang itu berilmu tinggi, pasti dia akan terluka juga oleh si Iblis Tua!" pikir Kok Siauw Hong.

Kok Siauw Hong menggunakan gin-kang dan berlari pesat ke arah tempat pertempuran itu. Baru saja dia tiba di luar rimba. Kok Siauw Hong sudah merasakan desiran angin pukulan dan pasir yang berterbangan ke udara.

"Aah! Apakah itu Paman Han yang sedang bertarung dengan si Iblis Tua?" pikir Kok Siauw Hong.

Han Tay Hiong bergelar Kiam-ciang-siang-coai. Dia mahir ilmu pukulan Tay-Iiak-kim-kang-ciang. Saat ini di kalangan kang-ouw yang mampu ilmu itu hanya beberapa orang saja. Buru-buru Kok Siauw Hong masuk ke dalam rimba itu. Dari jarak jauh pemuda itu sudah melihat bahwa itu memang Chu Kiu Sek. Dia sedang bertarung dengan seorang pengemis tua

-o-^DewiKZ^~^aaa^-o

Setelah melihat tegas bahwa lawan Chu Kiu Sek itu seorang pengemis tua. bukan main girangnya Kok Siauw Hong. Dia lalu berpikir.

"Aah. kiranya lawan Chu Kiu Sek itu Liok Pang-cu (Ketua Liok) dari Kay-pang (Perkumpulan Pengemis). Pantas pukulannya begitu hebat dan mampu menghadapi Chu Kiu Sek!" pikir Kok Siauw Hong.

Pengemis tua itu bernama Liok Kun Lun. dia pandai ilmu pukulan Yu-houw-ciang (Pukulan Menaklukkan Harimau) dan pukulan Hang-liong-ciang (Pukulan Penakluk Naga). Kedua pukulan itu tak kalah oleh pukulan Tay-liak-kim-kang-ciang.

Selain mereka masih ada dua orang lagi yang sedang bertarung dengan sengit, suara bentakannya terdengar nyaring sekali. Orang itu juga seorang pengemis tua. Kok Siauw Hong kenal pengemis tua itu. dia bernama Lauw Kan Lu. Hiang-cu dari markas cabang Kay-pang yang ada di Lokyang. Sedang yang seorang lagi lelaki yang memelihara bewok. dan pemuda ini tidak mengenalinya.

"Orang itu menggunakan ilmu Hua-hiat-to. awas jangan sampai telapak tangannya mengenai tubuhmu!" kata Liok Kun Lun memperingatkan temannya.

"Ya!" jawab Lauw Kan Lu.

Terlihat tongkat bambu bergerak kian-kemari. Kemudian berputar-putar,  kelihatan  kacau  tidak  mirip  dengan  ilmu tongkat. Namun, lelaki bewok itu jadi kalang-kabut. Dia menghindar dari serangan yang kalut itu. kemudian melancarkan pukulan dari jarak dua depa. Mendadak lelaki bewok itu berkata.

"Ilmu silatmu lihay sekali! Apakah ini ilmu Tah-kauw- kunhoat (Ilmu tongkat memukul anjing) dari kaum Kay- pang?" kata si bewok.

Kemudian wajah si bewok berubah merah karena menyebut pukulan Tah-kumv-kiin itu.

Lauw Kan Lu tertawa terbahak-bahak. "Benar aku Kan Lu (Pengejar Keledai), tapi juga bisa Tah-kauw (Memukul Anjing) Hari ini kau akan merasakan tongkat pemukul anjingku ini!" katanya.

Lauw Kan Lu memang berasal dari keluarga miskin. Orang tuanya seorang penggembala keledai. Oleh sebab itu anaknya diberi nama Kan Lu. Lelaki bewok itu mendengus.

"Hm! Aku tidak ingin adu bicara denganmu, sekalipun ilmu tongkatmu hebat. Tapi jika kita bertarung terus, kau bukan lawanku!" kata si bewok.

Saat itu Kok Siauw Hong masih berada jauh sekitar puluhan depa dari tempat pertempuran itu. Tapi dia sudah mencium bau amis. Pukulan Siu-lo-im-sat-kang yang sangat beracun mengeluarkan hawa dingin, tapi tidak berbau amis Pasti itu ilmu pukulan yang dilancarkan si Bewok ini.

"Hm! Orang ini mahir ilmu pukulan beracun." pikir Kok Siauw Hong. Tapi dia tidak bisa mendekati tubuh Lauw Kan Lu Sekalipun sepasang telapak tangannya beracun, tetapi tidak bisa digunakan untuk menyerang Lauw Kan Lu. Tadi dia berani bicara sombong?"

Liok Kun Lun dan Chu Kiu Sek dua tokoh aliran lurus dan sesat. Mereka berdua sama-sama berilmu silat tinggi. Jika salah satu ingin menang dalam pertarungan, mereka masingmasing harus mengeluarkan lwee-kang yang tinggi. Tapi jika diperhatikan mereka hanya bertarung biasa-biasa saja. tidak terlalu istimewa.

Kok Siauw Hong lebih tertarik menyaksikan pertarungan Lauw Kan Lu dan si Bewok. Lauw Kan Lu telah menggunakan  ilmu pukulan memukul anjing dengan tongkatnya. Jurusjurusnya sangat aneh dan hebat luar biasa.

"Jika aku tahu yang bertarung kedua jago tua itu. aku tidak perlu terbutu-buru datang ke tempat ini!" pikir Kok Siauw Hong.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Beng Ciang Hong In Lok Jilid 10"

Post a Comment

close