Beng Ciang Hong In Lok Jilid 01

Mode Malam
 
Gumpalan-gumpalan awan putih berarak bersamaan dengan datangnya musim rontok. Daun-daun pepohonan yang terhembus angin barat berterbangan dan berguguran ke atas tanah.

Pada sebuah jalan datar tampak - penunggang kuda sedang melarikan kuda mereka. Di tengah-tengah rombongan penunggang kuda itu tampak sebuah kereta kuda yang indah. Rombongan ini sedang menuju ke arah Selatan. Setelah lebih jelas, mereka itu adalah rombongan atau iring-iringan rombongan Piauw-kiok (Perusahaan ekpedisi). Beberapa orang piauw-su (pengawal ekpedisi) dan yang berada paling depan sedang berteriak-teriak.

"Houw Siauw Tiong-touw! Houw Siauw Tiong-touw! (Harimau Bersiul dari Tiong-touw). Harap para sahabat Dunia Persilatan memberi jalan!" teriak para piauw-su itu. Di dataran itu yang tampak hanya tegalan rumput dan rombongan para piauw-su itu. Di sana tak kelihatan makhluk apapun. Namun rupanya sudah  menjadi kebiasaan dan aturan di Dunia Persilatan, bahwa di mana pun para piauw-su itu lewat, mereka harus berseru-seru begitu, sekalipun di tempat yang sunyi sekali.

Sebenarnya Piauw-kiok ini berpusat di kota Lok-yang atau disebut juga Tiong-touw. mereka berseru meneriakkan kata "Houw Siauw Tiong-touw" tersebut, karena bila kaum Rimba Persilatan mendengar seruan ini, maka mereka akan segera tahu bahwa yang sedang lewat itu adalah Houw Wie Piauwkiok (Rombongan perusahaan ekpedisi merk Houw Wie).

Pemilik Piauw-kiok itu bernama Beng Teng (Meng Ting).

Kali ini pemimpin atau pemilik piauw-kiok tersebut ikut mengawal rombongan yang sedang mengantar piauw itu. Sudah turun-temurun keluarga Beng ini memang berusaha di bidang ekpedisi atau pengantaran barang. Setelah ayah Beng Teng meninggal dua puluh tahun yang lalu. perusahaan ekpedisi itu pernah bangkrut. Tetapi kemudian Beng Teng mengambil keputusan. ia ingin berkelana di Rimba Persilatan maka ia bangun kembali perusahaan itu.

Setelah Beng Teng berkecimpung di Rimba Persilatan, ternyata ia cukup berhasil dan memperoleh nama cukup terkenal. Kemudian dia kembali ke Lok-yang untuk melanjutkan usaha almarhum ayahnya itu.

Di bawah pimpinan Beng Teng perusahaan Houw Wie Piauw Kiok menjadi semakin terkenal saja. Sekalipun rombongan ekpedisinya ini harus melewati daerah yang sangat rawan, namun Houw Wie Piauw-kiok ini bisa tiba di tujuan dengan aman. Tetapi kali ini mereka harus melewati daerah dataran yang belum pernah dilewati oleh mereka selama ini. sehingga tidak heran jika Beng Teng jadi sangat berhati-hati sekali. Bahkan anak buahnya harus terus-menerus meneriakkan kata "Houw Siauw Tiong-touw!" berulang- ulang.

Kereta kuda yang mereka kawal itu tampak mewah dan indah sekali karena dihias dengan berbagai batu permata, Dengan demikian kereta itu sangat istimewa dan berbeda dengan kereta biasa apalagi dibanding dengan kereta barang.

Di atas kereta mewah itu duduk seorang gadis cantik, ia baru berumur sekitar dua puluh tahun. Dari dalam kereta itu terdengar alunan suara kecapi yang sangat merdu. Ternyata yang memainkan kecapi si nona cantik itu dan dia sedang memainkan lagu "Yung Ih Lok" (Selalu Bertemu Kegembiraan).

Di belakang kereta indah itu berdiri dua orang lelaki tua, rupanya kedua lelaki tua itu adalah pengawal pribadi si nona. Ketika salah seorang dari kedua lelaki tua itu mendengar suara alunan kecapi dengan perhatian penuh, tak terasa mereka jadi terharu, air mata mereka meleleh dan berlinang-linang.

Pencipta syair yang dimainkan oleh si nona cantik itu bernama Sing Yap Cheh. Syair lagu itu pernah menggemparkan Kang-lam dan Kang-pak. Namun, orang yang mengetahui syair lagu itu tidak begitu banyak. Sungguh mengherankan ternyata nona cantik ini tahu lagu dan syairnya.

Konon gadis cantik itu seorang calon pengantin yang akan segera menikah di kota Yang-cou. Di sepanjang perjalanan nona ini hanya main kecapi saja dan jarang sekali ia bicara. Hal itu membuat Beng Teng, si pemimpin piauw-kiok itu jadi keheranan.

Ketika alunan suara kecapi itu tiba-tiba berhenti, salah seorang dari lelaki tua yang berada di bagian belakang kereta indah itu segera memerintahkan pada kusir agar menghentikan kereta kudanya.

Setelah kereta berhenti, lelaki tua itu bergegas turun dan menghampiri si nona.

"Nona, bagaimana keadaanmu, apa kau baik-baik saja?" tanya lelaki tua itu.

Nona cantik itu batuk beberapa kali

"Dibandingkan kemarin hari ini rasanya agak baikan, namun hatiku tetap risau!" jawab si nona.

Lelaki tua itu mengambil mangkuk berisi obat. Lalu ia minta si nona meminumnya. Setelah nona itu minum obat. lelaki tua itu menghela napas panjang.

"Nona. selama ini kau sangat dimanja! Tetapi kali ini dalam suasana negara sedang kacau, justru Nona harus berangkat ke kota Yang-cou untuk menikah. Sungguh hal ini sangat menyusahkanmu. Nona!" kata lelaki tua itu.

Tampak wajah nona cantik itu berubah kemerah- merahan. Sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam dia diam saja.

Pada saat bersamaan, salah seorang piauw-su berkata kepada Beng Teng sang ketua rombongan piauw-kiok itu.

"Hari ini penyakit Nona Han kelihatannya lebih parah dibanding kemarin. Wajahnya tampak agak lain. Sekarang hari sudah hampir gelap, lebih baik kita cari tempat untuk bermalam!" kata si piauw-su itu.

Beng Teng menggelengkan kepalanya. "Aku dengar di depan kita sarang si Serigala Tua. Keadaan tempat ini sangat rawan! Jika kita mau istirahat lebih baik setelah lewat sarang serigala itu. Jalan ini memang agak sulit dilewati, tetapi nona itu berada di atas kereta. Asalkan dia bisa tahan goncangan sedikit saja. pasti tak apa-apa!" kata Beng Teng.

Piauw-su yang bicara dengan Beng Teng yang bernama Ciok Cong Thian tertawa.

"Dengan mengandalkan nama bersarmu. Cong- piauwthauw. aku yakin orang-orang si Serigala Tua akan memberi muka kepada kita! Aku dengar pemimpin kaum hitam ini seorang yang sangat teliti. Aku rasa sebelum mereka akan bertindak, pasti mereka akan menyelidiki dulu rombongan siapa ini? Aku rasa dia tak akan gegabah mengambil risiko dan menempuh bahaya. Bahkan dia juga tidak menyukai wanita. Jadi apakah dia akan merampas gadis cantik yang akan sebera jadi pengantin itu?" kata Ciok Cong Thian.

"Kau jangan berkata begitu!" kata Beng Teng. "Kita mendapat tugas dari seseorang, tentu kita harus bertanggungjawab sepenuhnya. Jika hanya harta-benda yang dirampok olehnya, itu bukan masalah! Tetapi jika nona cantik itu yang diculik, pasti kita tak bisa mengganti rugi. Sekalipun pemimpin she Tan itu tak turun tangan, tetapi kita tetap harus waspada. Lebih baik setelah lewat tempat ini baru kita istirahat."

Dengan tak banyak bicara lagi Ciok Cong Thian langsung menyuruh kusir menjalankan keretanya lebih jauh. Tak lama rombongan ini mulai bergerak meninggalkan tempat yang mencurigakan itu.

Ketika rombongan ini sudah memasuki daerah sarang si Serigala   Tua.   dengan   hati   berdebar-debar   rombongan piauwkiok itu mulai menyaksikan padang alang-alang yang tinggi, dan rumput alang-alang itu bergoyang-goyamg tertiup sang bayu dan tampak bagai nona yang ayu sedang menari-nari. Hati mereka menduga-duga, entah ada penjahat yang bersembunyi di situ atau tidak.

Sungguh di luar dugaan rombongan ini bisa melewati padang alang-alang tersebut dengan selamat tanpa gangguan, padahal itu adalah daerah yang paling rawan menurut perkiraan mereka. Memang karena sudah kelelahan ditambah lagi tempat itu mereka anggap aman, maka di tempat itulah mereka istirahat dan membuat perkemahan. Tepatnya di sebuah hutan kecil tak jauh dari rimba yang baru mereka lewati tadi.

Awalnya Beng Teng masih ingin meneruskan perjalanan mereka dengan alasan karena letak rimba kecil itu masih belum berjauhan dengan sarang si Serigala Tua. jaraknya baru kurang lebih belasan lie saja. Akan tetapi hari sudah mulai gelap, ditambah lagi para piauw-su pun sudah kelelahan sekali, begitupun kuda-kuda mereka. Terutama si nona cantik yang ada dalam kereta sekarang sedang dalam keadaan tak enak badan dan sangat perlu istirahat. Dengan terpaksa Beng Teng harus menyetujui anak buahnya untuk beristirahat di rimba kecil itu. Melihat majikannya cemas Ciok Cong Thian tertawa.

"Barangkali nama besarmu telah mengejutkan penghuni sarang Serigala Tua itu. sehingga anak serigalanya pun tidak berani muncul." kata Cong Thian.

Beng Teng mengerutkan dahinya.

"Ini sungguh di luar dugaan! Tetapi menurut pendapatku sekalipun mereka tak mengusik kita, tapi mereka seharusnya  sudah  muncul!  Malah  tak  kusangka  kita bisa melewati sarang serigala itu dengan aman! Akan tetapi hatiku tetap berdebardebar tak tenang." kata Beng Teng.

Ciok Cong Thian kembali tertawa.

"Lauw-ho-li she Tan (Serigala Tua she Tan) pasti telah menyelidiki dengan jelas mengenai keadaan kita ini. kali ini kau ikut dengan rombongan kami. Selain itu yang dikawal pun bukan barang berharga, tetapi calon pengantin baru yang berpenyakitan, itu sebabnya mereka tidak mau turun tangan merampok kita." kata Ciok Cong Thian.

Beng Teng menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku dengar tahun lalu ada dua perusahaan piauw-kiok yang lewat di sini mengawal barang antaran, mereka justru mengalami rintangan di daerah sarang serigala ini. Padahal aku dengar kekuatan kedua piauw-kiok itu lebih kuat dari Houw Wie Piauw-kiok milik kita. Tetapi si Serigala Tua Tan berani menelan barang antaran kedua piauw-kiok itu. Tadi kau bilang mereka takut kepada kita. itu belum tentu! Memang kita hanya mengawal seorang gadis cantik dan bukan mengawal barang berharga. Akan tetapi, nilai kawalan kita kali ini jauh lebih mahal daripada barang apapun. Jika si Serigala Tua itu tahu mengenai barang yang kita kawal ini. aku yakin dia akan turun tangan!" kata Beng Teng.

"Kita telah melewati daerah yang rawan sarang si Serigala Tua itu." kata Cong Thian. "sekarang boleh dikatakan sudah boleh beristirahat dengan tenang, aku jamin tak akan terjadi apa-apa."

Beng Teng justru menghela napas panjang. "Mudah-mudahan begitu" kata sang boss.

Sementara kedua piauw-su sedang berbincang-bincang, kedua  orang  lelaki  tua  itu  malah  sedang  sibuk memasak obat untuk nona mereka. Rupanya mereka membawa bahan-bahan obat dari Liok-yang. Malam itu mereka berdua menyalakan api untuk masak obat di dalam rimba kecil itu. Beng Teng sedang menghitung-hitung waktu perjalanan.

"Sekitar tiga hari lagi kita akan sampai ke kota Yang-ou. Kita harus berdoa mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang tak kita inginkan di tengah jalan, dan Thian (Tuhan) melindungi Nona itu agar penyakitnya segera sembuh! Aaah! terus terang, sejak aku menjadi seorang piauw-su baru kali ini aku merasa paling cemas. Yang aku cemaskan ada dua masalah, yang pertama jika terjadi sesuatu di tengah jalan, maka pengantin baru itu tidak akan selamat sampai di rumah calon suaminya. Saudara Ciok, sudah dua puluh tahun lebih kau menjadi piauw-su. pasti kau lebih berpengalaman daripada aku. Tetapi mengawal seorang calon pengantin, mungkin baru pertama kali ini kau alami, bukan? Orang lain tidak berani menerima pekerjaan ini. justru kita berani menerima pekerjaan berat ini. Sedang masalah yang kedua yang sedang aku pikirkan, ialah jika kita berhasil mengantar calon pengantin dengan selamat, aku yakin pasti Houw Wie Piauw-kiok akan bertambah terkenal saja!"

Ciok Ciong Thian manggut-manggut.

Tak lama Beng Teng diam tak banyak bicara lagi. Ternyata dia ingat pada suatu kejadian aneh. yaitu saat ia menerima kawalan calon pengantin baru ini. Kisahnya demikian.

Hari itu turun hujan gerimis tak hentinya. Cuaca yang sangat buruk ini berlanjut sampai beberapa hari lamanya. Air hujan membuat jalan raya di kota Lok-yang jadi sepi dan para pedagang pun segan keluar rumah. Hawa sangat dingin    membuat    orang    makin    segan    keluar rumah. Demikian juga keadaan di Houw Wie Piauw-kiok. Sudah sebulan lebih lamanya tidak terjadi transaksi untuk pengawalan barang.

Kesialan menjadi lengkap, hari itu pun turun hujan gerimis yang melit tak mau berhenti. Sedang dalam cuaca seburuk itu sudah pasti tidak akan ada orang yang datang untuk meminta mereka mengantarkan barang. Saat itu para piauw-su sedang berkumpul di ruang belakang, mereka sedang menghangatkan badan di depan perapian sambil mengobrol.

Pembicaraan para piauw-su itu akhirnya melantur ke masalah keadaan di dalam negeri. Terutama tentang perang yang setiap saat bisa berkecamuk hebat sekali. Ada yang bilang pasukan Mongol telah kembali ke daerahnya, namun mungkin mereka akan menyerang ke daerah Selatan Tionggoan (Tiongkok) Ada lagi yang mengatakan, bahwa Liok Lim Beng Cu (Pemimpin Rimba Hijau Hong Lai Ho Li (Iblis Wanita Mo Lai) telah mengibarkan panji perang mereka untuk meminta pada setiap orang gagah dari Rimba Persilatan (Bulim Eng-hiong) untuk bersatu-padu melawan pasukan Mongol dan pasukan bangsa Kim (Tartar), tujuannya untuk melindungi rakyat Tiongkok dari kesengsaraan. Tetapi yang lain berkata lagi, sekarang di mana-mana telah muncul pasukan suka-rela. dan keadaan kotanya sudah semakin gawat. Mereka yakin akan terjadi kekacauan.

Ciok Cong Thian, piauw-su yang paling senior di Houw Wie Piauw-kiok kelihatan menghela napas panjang.

"Mengenai masalah kekacauan di dalam negeri, kita boleh tidak peduli sama sekali! Akan tetapi, jika hal itu telah mempengaruhi Houw Wie Piauw-kiok, pasti kita pun akan jadi repot. Karena akan bermunculan para perampok di manamana. Hal ini akan mempersulit pekerjaan kita. Malah mungkin barangkali tak akan ada orang yang berani mengirim barang mereka. Jika keadaan sudah jadi begitu, apa bukan tak mungkin kita akan gigit jari?" kata Ciok Cong Thian agak cemas.

Semua piauw-su menggeleng-gelengkan kepala mereka ketika mendengar kata-kata Ciok Cong Thian tersebut. Tetapi pada saat bersamaan mendadak muncul Sam Cu Chiu. Dia langsung melapor, bahwa di luar ada tamu ingin menemui pengurus piauw-kiok. Ketika ditemui tamu itu ternyata seorang ayah dan puterinya. Mereka membawa dua orang lelaki tua sebagai pelayan. Mereka ini datang dengan naik kereta mewah.

Sang ayah memperkenalkan diri mengaku bernama Han Tay Hiong. Maksud kedatangan mereka ialah minta agar Houw Wie Piauw-kiok mau mengantarkan puterinya ke kota Yangcou. karena si nona akan segera menikah di sana.

Beng Teng mempertimbangkan pekerjaan itu masakmasak. Dari kota Lok-yang ke Yang-cou berjarak puluhan ribu lie jauhnya. Jadi mana mungkin di sepanjang jalan tak terjadi sesuatu atau bahaya? Sedang kirimannya bukan barang tapi orang. Manusia tak bisa disamakan dengan barang. Jika barang dirampok penjahat masih bisa diganti barang, tetapi kalau calon pengantin yang diculik, lalu harus diganti dengan apa? Begitu Beng Teng berpikir keras.

Semula pekerjaan itu akan ditolaknya karena Beng Teng berpikir orang lain saja tak ada yang berani menerima pekerjaan itu. mengapa dia harus mau? Tetapi orang tua gadis itu terus memohon setengah memaksanya. Dia bilang jika Houw Wie Piauw kiok tak berani mengantar puterinya. apalagi dia. Dan pasti pernikahan puterinya itu akan batal. Orang tua itu pun berkata bahwa dia bersedia mengeluarkan  ongkos  sebesar  dua  ribu  tail  emas.  Atas desakan orang she Han itu dan ditambah pula sudah sebulan tak ada transaksi, akhirnya pekerjaan berai itu ia terima juga.

Saat rombongan akan berangkat Beng Teng telah menerima uang muka sebanyak separuh dari seluruh biaya pengantaran yang akan dia terima. Yakni seribu tail emas dan sisanya akan dibayar sesudah mereka sampai ke tempat tujuan dan akan dibayar sesudah mereka sampai ke Lok- yang sehabis mengantarkan nona calon pengantin itu.

Mulailah perjalanan dilakukan dengan hati-hati sekali. Di sepanjang perjalanan Beng Teng selalu was-was dan waspada, tetapi untung selama ini belum pernah terjadi apaapa. Dia berharap asalkan si Serigala Tua Tan itu tidak mengusik rombongan mereka, maka ke depan ia yakin tak ada lagi lawan yang patut ia takuti. Benar saja dengan aman mereka bisa melewati daerah sarang Serigala Tua dan tiga hari lagi mereka akan segera sampai ke Yang-cou.

Terus terang sekalipun mereka sudah melewati sarang serigala, namun mereka belum sepenuhnya melintasi daerah kekuasaan si Serigala Tua lan. Sedangkan Beng Teng pernah mendengar bahwa si Serigala Tua Tan ini sangat kejam, terutama keempat anaknya yang bergelar Serigala Hijau, Serigala Hitam, Serigala Kuning dan Serigala Putih. Mereka adalah para iblis golongan hitam (Kaum Liok-lim atau Rimba Hijau). Demikian kejamnya ada yang bilang mereka tak mengedipkan mata saat membunuh orang atau lawannya.

Pada saat Beng Teng sedang duduk dengan hati tak tenang di bawah sebuah pohon, mendadak ia mendengar suara anak panah yang dilepaskan dan memecah kesunyian saat itu. Sam Cu Chiu segera mengibarkan bendera Houw Wie Piauw-kiok dan berseru-seru dengan suara nyaring.

"Houw Siauw Tiong-touw! Harap sahabat Dunia Persilatan memberi jalan!" teriak Sam Cu Chiu.

Setelah suara anak panah itu lenyap, tak lama terdengar suara derap kaki kuda yang gemuruh. Tak lama tampak banyak orang menunggang kuda bermunculan. Mereka umumnya naik kuda dan ada juga yang berlari-lari mendatangi. Tak lama mereka telah mengepung tempat rombongan piauw-su itu sedang berkumpul. Kiranya mereka memang para perampok yang dipimpin oleh dua orang pemimpin mereka. Seorang bertubuh jangkung, ia memakai kopiah bulu Usia mereka sekitar  tahun, namun masih kelihatan gagah dan wajahnya kemerah-merahan.

Beberapa orang piauw-su mengenali salah seorang yang sudah tua itu yang tidak lain adalah si Serigala Tua Tan Piauw. Di belakang dia kelihatan ada empat orang yang termuda baru berumur  tahun, wajahnya putih bersih, sepasang matanya bersinar terang, ia pun tampan. Dia adalah si Serigala Putih Tan Giok. Yang paling tua berusia

 tahun, wajahnya kehijauan, giginya tonggos hingga kelihatan menyeramkan. Dia adalah putera sulung Serigala Tua Tan Piauw. namanya Tan Kauw si Serigala Hijau. Yang berada di tengah berumur  tahunan bernama Tan Teng dan yang bergelar si Serigala Hitam bernama Tan Su.

Serigala Tua Tan Piauw naik kuda tangannya memegang sebuah cangklong yang panjangnya hampir sedepa, berwarna hitam mengkilap entah terbuat dari bahan apa? Ia menghisap cangklongnya dua kali, lalu menghembuskan asap tembakau itu ke atas sambil tertawa terbahak-bahak.

"Harimau Mendekam, sesudah kalian melewati sarang Serigala!  Aku  Tan  Piauw  memberanikan  diri  mengusik harimau yang sedang tidur! Aku yakin kau Beng Teng, bukan?! Aku dengar namamu berkibar sampai ke Kang-lam dan Kang-pak! Tak satupun orang di Dunia Persilatan yang tidak mengenal namamu itu. Tetapi sayang sekali tempat tinggal kami sangat jauh, sehingga kami belum mendengar dan melihat kehebatan Houw Wie Piauw-kiokmu! Tanpa aku duga hari ini kita bisa bertemu di sini. sungguh aku beruntung sekali!"

Buru-buru Beng Teng memberi hormat.

"Kami tidak berani tekabur di depan Anda. Houw Wie Piauw-kiok tak punya nama besar seperti yang Anda duga. Hari ini kami kebetulan lewat di daerah kekuasaanmu, tetapi sayang kami tak sempat singgah menemui Anda. Mohon Saudara Tan memaafkan kecerobohan kami ini. Sekembali dari Yang-cou. pasti kami akan berkunjung ke tempat Anda!" kata Beng Teng merendah dan sangat hormat. Kembali Tan Piauw tertawa.

"Bagus! Bagus! Pasti kau sudah tahu aturan Dunia Persilatan, bukan? Iyakan?" kata Tan Piauw.

"Kami harap Saudara Tan memberi petunjuk!" kata Beng Teng tetap merendah.

Tan Piauw tertawa sinis.

"Semua saudaraku hidup susah. Oleh karena itu mereka ingin hidup layak, tak banyak yang kami inginkan, mohon kau serahkan saja separuh dari penghasilanmu kali ini!" kata Tan Piauw sambil tersenyum sinis

"Maaf. terus terang yang kami kawal ini bukan barang berharga, tetapi kami sedang mengantarkan seorang calon pengantin ke kota Yang-cou! Bagaimana kami bisa membaginya? Harap Saudara Tan maklum." kata Beng Teng. Wajah Tan Piauw langsung berubah dan ia berkata dengan sengit sekali.

"Jangan berdusta! Jika kau tidak dibayar oleh si orang tua she Han itu. mana mungkin kau mau mengantarkan puterinya ke kota Yang-cou yang jauhnya ribuan lie seperti sekarang ini? Kau tidak salah, orang memang tidak bisa dibagi dua! Tetapi uang emas kan bisa dibagi dua! Cepat serahkan seribu tail emas dan tinggalkan pada kami, maka kau boleh bebas meninggalkan tempat ini!" kata Tan Piauw.

Beng Teng terperangah kaget mendengar permintaan itu.

Memang Houw Wie Piauw-kiok menerima  tail emas, dan hal itu sangat dirahasiakan sekali. Sungguh aneh dan entah bagaimana si Serigala Tua Tan justru bisa mengetahuinya? Sekarang Tan Piauw meminta seribu tail emas. itu jelas dia sudah mengetahui berapa ongkos sebenarnya mengantarkan nona cantik itu ke Yang-cou? Ditambah pula uang yang ia terima sebanyak seribu tail emas itu. uang itu sudah ia bagi-bagikan pada anak buahnya, sebelum mereka berangkat dari Lok-yang. Uang itu untuk biaya rumah tangga para piauw-su selama dalam perjalanan meninggalkan sanak keluarganya. Maka sungguh tidak mungkin ia menyerahkan seribu tail emas sekarang kepada Tan Piuaw.

Sambil tertawa getir Beng Teng lalu berkata hormat. "Saudara Tan buka harga terlalu tinggi. Kami dari Houw

Wie Piauw-kiok pun ikut bersusah payah, harap Saudara

Tan maklum..."

Sebelum Beng Teng selesai bicara. Tan Piauw sudah tertawa dingin.

"Apa yang sudah aku katakan tidak pernah berubah lagi! Sekalipun   kita   belum   pernah  bentrok,   tetapi   pasti kau pernah mendengar tentang kami!" kata Tan Piauw dengan bengis.

Beng Teng menahan marah, ia berpikir.

"Aku rasa orang Houw Wie Piauw-kiok cukup kuat. belum tentu kami tak akan mampu melawan mereka semua. Tetapi jika terjadi perkelahian pasti ada yang mati dan terluka. ditambah lagi Nona Han tidak mengerti ilmu silat, malah sekarang dalam keadaan sakit parah. Jika terjadi perkelahian ia pasti akan kaget dan ketakutan, malah bukan tidak mungkin akan terjadi hal yang tidak diinginkan!" pikir Beng Teng.

Oleh karena itu ia mengambil keputusan yang tepat lalu kembali ia memberi hormat kepada Tan Piauw sambil berkata dengan manis dan bersikap hormat.

"Kami semua berkecimpung di Dunia Persilatan, yang terutama kami inginkan adalah persahabatan dengan siapa pun! Saudara Tan menghargai kami. seharusnya kami ikuti kehendak Anda itu! Bagaimana seandainya sekembali kami ke Lok-yang, baru uang itu kami antarkan ke tempatmu?" kata Beng Teng.

Dari ucapan Beng Teng itu jelas berarti ia menyetujui permintaan Tan Piauw. tetapi butuh waktu sampai mereka kembali ke Lok-yang baru uang yang seribu tail emas itu diterimakan pada si Serigala Tua. Sedang ketika itu para piauw-su menganggap bahwa Beng Teng bersikap terlalu lemah, sehingga mereka menggerutu kurang senang dan penasaran.

Di luar dugaan wajah Tan Piauw kelihatan berubah jadi tak sedap dilihat. Kembali ia tertawa dingin.

"Syaratmu itu memang pantas dan boleh aku terima. Tetapi  kami  harus  menahan  antaranmu  sebagai jaminan! Setelah kau menyerahkan seribu tail emas. baru antaranmu itu kami serahkan kepadamu. Yang selain itu panjimu pun akan kutahan!" kata Tan Piauw.

Sudah puluhan tahun Houw Wie Piauw-kiok berusaha dengan menggunakan bendera itu ke mana-mana. Selama itu belum pernah ada orang yang berani meremehkan mereka. Sekarang Tan Piauw ingin menahan panji mereka, berarti itu suatu penghinaan yang luar biasa. Tidak heran jika para piauw-su kelihatan jadi kurang senang, begitupun Beng Teng. Wajah Beng Teng segera berubah, alisnya berdiri, tetapi ia tetap tertawa dan mencoba bersikap sabar.

"Saudara Tan. kau sengaja ingin menghinaku! Hm! Jika kau ingin menahan panji kami itu tidak sulit......!" kata  Beng Teng.

Saat keduanya sudah siap akan bertarung, pada saat yang bersamaan terdengar derap kaki kuda mendatangi ke arah mereka. Ketika Beng Teng menoleh ke arah suara derap kaki kuda itu. dari kejauhan tampak dua orang peunggang kuda sedang mendatangi dengan cepat. Tak lama kedua penunggang kuda itu sudah berada di tengah mereka.

Dua penunggang kuda yang baru datang itu yang satu uiang tua sudah beruban, umurnya sekitar  tahun, sedang yang satunya lagi seorang gadis muda baru berumur belasan tahun. Menyaksikan munculnya kedua penunggang kuda ini Tan Piauw tampak sedikit terkejut.

"Ciu Lo-ya-cu (Orang tua she Ciu). tidak kusangka tajam juga telingamu itu!" kata Tan Piauw sambil tersenyum.

"Jadi kau khawatir tanganku akan terjulur panjang?" kata si orang tua itu dengan suara hambar. "Ciu Lo-ya-cu. kau jangan bergurau! Usaha begini kecil bagaimana kau mau ikut campur. Aku hanya akan menerima seribu tail emas saja. aku harap kau orang tua... "

Orang she Ciu itu melotot.

"Jadi kalian tidak senang atas kedatangan kami berdua ini?" kata orang tua itu menegaskan.

Mendadak nona di sampingnya tertawa nyaring.

"Kakek sifat serigala memang tamak! Tan tua ini mengira kita akan minta bagian darinya, itu berarti dia telah menghinamu. Kek! Seharusnya kau beri dia pelajaran agar mulutnya tak bicara sembarangan saja!" kata si nona.

Saat berhadapan dengan Beng Teng orang she Tan ini galak luar biasa, namun saat dia berhadapan dengan nona muda ini. ketika disindir, dia tidak marah sama sekali malah tertawa.

"Mana boleh aku tak senang, kalian berdua datang ke mari. aku harus menyambutnya dengan gembira. Nona Hong usiamu sekarang sudah  tahun, apa kau sudah akan menikah?" kata Tan Piauw.

Si nona langsung melotot.

"Hai Serigala Tua. apa kau sudah buta? Kita sedang bicara serius kau malah mengalihkannya padaku. Kau bicara sembarangan saja. apa kau kira aku tak berani menampar telingamu yang lebar itu?" kata nona Hong.

Tan Piauw tertawa terbahak-bahak.

"Nona Hong. justru aku serius bicara tentang dirimu. Uang emas yang tak seberapa itu. mana mungkin dilirik oleh Kakekmu! Tetapi karena kalian sudah ke mari. pasti aku harus menghormati kalian berdua. Aku sudah berpikir pada saat kau menikah aku akan mengantarkan lima ratus tail emas untukmu sebagai kado dariku!" kata Tan Piauw.

Aneh memang sekali buka mulut Tan Piauw langsung bersedia membagi dua uang seribu tail yang bakal ia peroleh dari Beng Teng pada si nona. Itu sangat jelas sebagai tanda bahwa kakek dan cucu itu dia hormati atau lebih benar amat ditakuti. Ketika mendengar ucapan Tan Piauw ini Beng Teng terheran-heran dibuatnya.

"Siapa kakek dan cucu ini? Mengapa Tan Piauw kelihatan begitu takut pada mereka? Malah dia ingin mengambil hati mereka?" pikir Beng Teng.

Sebenarnya pengetahuan Beng Teng cukup luas tapi heran ia tak tahu siapa kakek dan cucu itu. Sebaliknya Nona Hong tertawa dingin.

"Serigala Tua. sungguh menarik kata-katamu itu. Kau bilang kau gembira atas kedatangan kami. Tetapi kenapa kau keluar dari sarangmu dan datang ke tempat sejauh ini dari tempatmu dan membuat masalah? Itu jelas kau ingin menghindar dari kami!" kata Nona Hong.

Tan Piauw pura-pura gugup.

"Aduuuh! Tak kusangka rupanya kalian berdua telah mendatangi sarang kami! Maafkan aku karena tidak tahu hal itu. Sebenarnya aku justru khawatir akan mengganggu Kakekmu, maka aku datang ke tempat ini sekalipun tempat ini jauh dari sarangku. Nona Hong. kau jangan salah paham! Karena kau sudah datang ke mari, maka jangan khawatir  tail emas itu akan kukirimkan sebagai hadiah pernikahanmu!" kata Tan Piauw sambil tersenyum.

"Siapa yang butuh  tail uang emasmu itu?" kata si nona sambil mencibir. Mendengar jawaban ini Tan Piauw terbelalak matanya. "Kalau begitu apa maksud kedatangan Nona dan Kakekmu ini? Sudah pasti aku tak akan membiarkan Nona pulang dengan tangan kosong!" kata Tan Piauw.

"Kau benar, sedikitpun tak salah!" kata nona Hong. "Memang aku tidak akan pulang dengan tangan kosong! Aku tidak mau uang tapi aku ingin orang!"

Mendengar ucapan nona Hong itu Tan Piauw terkejut bukan main.

"Kau mau orang? Siapa orang yang kau inginkan itu?" tanya Tan Piauw.

Tiba-tiba orang tua she Ciu tertawa sambil berkata.

"Tan Piauw. terus terang saja sesungguhnya aku tak mau datang ke mari." kata si kakek. "Tetapi cucuku ini terus merengek memaksa ingin ke mari. terpaksa aku menemaninya. Dia bilang dia ingin melihat calon pengantin itu!"

Tan Piauw tercengang.

"Mana ada pengantin di sini?" kata Tan Piauw pura- pura.

Mendengar jawaban itu nona Hong marah bukan main. "Hai    Tua    Bangka,    kau    jangan    pura-pura  bodoh!

Bukankah di dalam kereta yang indah itu ada seorang nona

cantik calon pengantin? Kedatanganku ke mari ini untuk melihat dia!" kata nona Hong galak bukan main.

Kebetulan angin barat berhembus kencang sekali, sehingga kerai jendela kereta itu tersingkap Semua orang menoleh ke arah kereta itu. Di sana tampak sang calon pengantin baru yang cantik sedang duduk diam. Wajahnya masih kelihatan agak pucat, tetapi sedikit pun tak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia takut. Bahkan seolah dia tak peduli pada apa yang sedang terjadi di luar kereta yang sedang dia duduki itu.

Sebenarnya sejak tadi Beng Teng sudah khawatir sekali kalau nona itu akan ketakutan setengah mati menyaksikan keributan di luar keretanya. Tetapi apa yang dilihatnya ini membuat Beng Teng heran dan di luar dugaannya.

"Kiranya nona calon pengantin ini nyalinya cukup besar!" pikir Beng Teng.

Nona Hong yang sempat melihat sang calon pengantin tak hentinya memuji kecantikan nona itu.

"Ternyata benar, sungguh cantik nona itu! Kakek aku suka pada Kakak itu. aku ingin mengundang dia datang ke rumah kita!" kata nona Hong.

Si orang tua she Ciu tertawa.

"Kalau begitu, kau tanyakan dulu pada Beng Cong- piauwthauw (Kepala Pengawal Beng). karena dialah yang bertanggung-jawab untuk mengantar nona itu ke Yang- cou!" kata si kakek.

Beng Teng sama sekali buta mengenai riwayat orang tua she Ciu dan cucunya itu. Namun ketika ia mendengar  orang tua she Ciu itu bicara begitu sopan dan ramah, juga tahu aturan dia segera menyahut dengan ramah pula.

"Lo-ya-cu tak salah, aku memang yang bertangung-jawab untuk mengantar Nona ini ke kota Yang-cou. dan katanya akan dinikahkan di sana. Maka permintaan Nona kecil. "

Nona Hong tertawa.

"Aku dan dia sama-sama wanita Aku ingin menjadi sahabatnya. Apa itu tidak lebih tepat dan pantas? Aku hanya ingin dia datang ke rumah kami untuk beberapa hari saja   di   sana.   aku   jamin   aku   tidak   akan mengganggu pernikahannya. Lalu dia akan kuantarkan ke rumah keluarga Kok di Yang-cou.

Kau jangan khawatir, malah harus tenang karena calon pengantin ini tak akan jatuh ke tangan para penjahat."

Saat Beng Teng mendengar nona Hong mengatakan akan mengantarkan calon pengantin itu ke rumah calon suaminya marga Kok, bukan main terkejutnya Beng Teng.

"Eh. bagaimana mereka bisa mengetahui hal yang sebenarnya begitu dirahasiakan? Bukankah keluarga Han dan Kok hanya keluarga orang biasa saja?" pikir Beng Teng.

Sebelum Beng Teng menyahut kelihatan Tan Giok atau si Serigala Putih sudah kelihatan tak sabar lagi.

"Nona Hong kau ingin merampas usaha kami. itu tak masalah! Tetapi berdasarkan aturan Dunia Persilatan, usaha ini jadi hak orang yang datang dan menemukannya pertama kali." kata Tan Giok.

Rupanya Tan Giok telah menyaksikan kecantikan sang calon pengantin itu. Semula ia dan ayahnya sama tujuannya yaitu hanya ingin meminta uangnya. Tetapi setelah melihat nona cantik itu. sekarang berbalik ingin memiliki nona cantik itu untuk dijadikan isterinya. Nona Hong melotot.

"Jadi kau tidak setuju, kan?" kata nona Hong.

Serigala Tua Tan Piauw segera menyelak sebelum terjadi pertengkaran antara pihaknya dengan pihak nona Hong.

"Nona Hong jangan bergurau, kami bicara sebenarnya. Jika kau mengizinkan nona itu pergi, aku akan mengantarkan  tail emas untukmu! Aku harap kau jangan menyulitkan kami!" kata Tan Piauw seolah memohon. Nona Hong tertawa dingin. "Siapa yang butuh uangmu itu? Aku akan mengundang nona itu ke rumah kami, dan kami pula yang akan mengantarkan dia ke Yang-cou! Lalu akan kuantarkan  tail uang emas padamu. Bagaimana? Aku minta kau jangan ikut campur dalam masalah ini!" kata nona Hong. 

Tan Giok langsung menyela.

"Tidak bisa! Orang punya wajah, pohon pun punya kulit! Mana boleh keluarga Tan melepas masalah ini setengah jalan ? Jika demikian mau di kemanakan muka kami? Ayah jangan terima usulnya itu!" kata Tan Giok.

Sebenarnya Tan Giok sadar dan tahu orang tua she Ciu itu gagah, tetapi ia pikir jika mereka berlima bergabung, ia yakin mereka akan mampu menghadapi orang she Ciu dan cucunya itu.

Ketika kedua pihak sudah mulai bersitegang, tiba-tiba mereka mendengar suara derap kaki kuda sedang mendatangi. Kiranya telah muncul lagi seorang tamu lain yang tak diundang. Orang itu usianya baru sekitar tigapuluh tahunan. Dia seorang yang berpakaian mirip seorang sastrawan, wajahnya putih bersih, pada tangan orang itu terdapat sebuah kipas. Begitu sampai ia langsung tertawa dan berkata.

"Mana calon pengantin baru itu. boleh kan aku melihatnya?" kata si sastrawan sikapnya tengil.

Saat itu kebetulan nona calon pengantin sedang menurunkan kerei kereta, tapi si sastrawan sempat juga melihat wajahnya yang cantik. Ketika itu juga si sastrawan tertawa terbahak-bahak.

"Luar biasa! Sungguh luar biasa! Aku sudah sering melihat wanita cantik, tetapi tidak pernah melihat nona secantik ini! Hai Serigala Tua, baik kuberi kau seribu tail emas padamu! Serahkan nona itu untuk dijadikan isteriku!" kata si sastrawan dengan angkuh. Tan Piauw melotot kelihatan ia gusar bukan main.

"Kentut! Jangan kau harap bisa memetik bunga segar di tempat ini! Lebih baik kau menjauh dari tempat ini! Aku larang kau ikut campur dalam radius kekuasaanku!" kata Tan Piauw dengan sengit.

Sambil mengipas-ngipas dirinya sastrawan bertampang sesat itu tertawa.

"Serigala Tua kau jangan berpura-pura jadi pria sejati! Kau pilih antara orang dan uang. tapi aku sarankan padamu lebih baik kau terima uang saja! Sedangkan aku menginginkan nona cantik ini. Bukankah itu saling menguntungkan kita berdua? Betul kan?" kata si sastrawan.

Sesungguhnya Tan Piauw segan cekcok dengan si sastrawan itu. Kalau saja di tempat itu tidak ada orang tua she Ciu dan cucunya, pasti dia akan lebih senang menerima tawaran si sastrawan itu yaitu menerima seribu tail uang emas. Sekarang karena ada orang tua itu dia jadi ragu-ragu. Dia sedot cangklongnya, sesudah itu ia berkata dengan lantang.

"Apa kau tidak tahu ada aturan di golongan Liok-lim (Golongan Dunia Hitam)?" tanya Tan Piauw. "Aku minta kau jangan berharap bahwa kaum hitam bisa makan kaum hitam juga! Jika aku katakan kau jangan ikut campur, jangan!" kata Tan Piauw.

Si sastrawan tertawa terbahak-bahak.

"Justru aku ingin ikut campur, lalu kau mau apa?" kata si sastrawan menantang.

Saat Tan Piauw mau menjawab kata-kata sastrawan itu. nona Hong sudah mendahuluinya. "Orang marga An! Kau mau ikut campur tak apa-apa! Tetapi kau harus meninggalkan suatu barang dulu untukku!" kata nona Hong.

Si sastrawan tertawa.

"Barang? Barang apa yang Nona Hong inginkan dariku? Jika kau menginginkan rembulan yang ada di atas langit pun pasti akan kupetik untukmu!" kata si orang she An itu.

Nona Hong tertawa dingin.

"Yang aku inginkan ialah kedua biji matamu, lekas kau cungkil untukku!" kata nona Hong.

Si sastrawan kembali tertawa.

"Aihh. bukankah jika kedua biji mataku hilang aku jadi tak bisa melihat wanita cantik lagi? Lalu apa gunanya aku hidup? Nona gurauanmu itu sungguh keterlaluan!" kata si sastrawan sambil tertawa.

"Siapa mau bergurau denganmu? Kakek, dia tak mau mencungkil kedua matanya untukku! Mari kita turun tangan melakukannya sendiri. Kakek yang turun tangan atau aku?" kata nona Hong bertanya pada kakeknya.

"Jangan tergesa-gesa. ia belum turun tangan." bisik si kakek Ciu sabar.

Maksud orang tua she Ciu itu bahwa si sastrawan belum turun tangan, jika ia sudah mulai ikut campur baru si kakek akan turun tangan.

Sekalipun si sastrawan masih tertawa sebenarnya hatinya mulai jerih juga. Diam-diam ia mundur dua langkah.

Saat itu Beng Teng sedang berpikir keras, la tak habis pikir memikirkan si sastrawan tengil itu. Setelah agak lama ia baru ingat bahwa si sastrawan itu adalah orang yang bergelar si Maling Pemetik Bunga. Jika dugaannya itu benar maka ia akan menghadapi lawan yang tangguh. Ia tahu si sastrawan berilmu tinggi, terutama gin-kangnya (ilmu meringankan tubuh) dan ilmu menotok jalan darahnya luar biasa mahir.

Beng Teng mengerutkan keningnya, lima serigala ditambah Maling Pemetik Bunga, mereka itu merupakan lawan yang tak mudah untuk ditaklukkan. Sedang si orang she Ciu. ia yakin berilmu tinggi juga.

Sekalipun Beng Teng tak yakin bisa mengalahkan mereka, namun ia sudah mengambil keputusan nama baik Houw Wie Piauw-kiok jangan sampai jatuh di tangan mereka.

Pada saat mereka sedang berdebat tak seorang pun yang memperhatikan para piauw-su itu. tentu saja hal ini membuat Beng Teng gusar. Dia bersiul panjang lalu berkata dengan lantang.

"Siapa yang mau turun tangan, dia harus bertanya dulu pada pedangku ini!" kata Beng Teng.

Begitu selesai Beng Teng bersiul para piauw-su langsung siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Sedang si orang tua she Ciu tertawa.

"Pelaku utama sudah tampil, kita harus bagaimana?" tanya orang tua she Ciu pada semua orang.

"Kau tidak bisa menakut-nakuti aku! Memang sudah lama aku ingin mencoba sampai di mana dahsyatnya Harimau Tiong-touw ini? Tunggu orang tua, jika aku sudah tergigit oleh si harimau itu. baru kau yang turun tangan!" kata Tan Piauw.

Si orang tua she Ciu tertawa terbahak-bahak. "Baiklah! Dengan aturan ini kita jalankan agar kita tak merusak hubungan kita semua. Saudara An, kau harus bergerak sesudah aku. Jika aku sudah tidak tahan melawan mereka, baru kau boleh menggantikan aku!" kata orang tua she Ciu.

Sebenarnya sastrawan An kurang sepakat, tetapi akhirnya ia setuju juga dan tertarik pada anjuran itu. Ia  pikir lebih baik ia menyaksikan mereka saling cakar dulu, pasti akan ada yang terluka, dan juga kelelahan. Saat tiba giliran dia, ia akan menghadapi lawan yang sudah lemah. Pemenangnya pasti dia! Begitu ia berpikir maka itu ia mengangguk setuju.

Nona Hong tertawa.

"Baik. aku ingin menyaksikan apakah Serigala Tua mampu mengalahkan Harimau atau tidak?" kata nona Hong.

Mendengar ucapan nona Hong itu bukan main gusarnya Tan Piauw. Dia tertawa dingin.

"Nona Hong, jangan cemas! Aku kalah atau menang kau pasti menghemat  tail uang emas!" kata Tan Piauw.

Sekalipun ia berkata begitu tetapi ia berpikir keras.

"Aku tak boleh dipandang remeh oleh nona liar ini!"pikir Tan Piauw.

Sambil menggenggam cangklongnya erat-erat Tan Piauw melangkah maju menghampiri Beng Teng. Sebelum ia sampai ke depan Beng Teng, si Serigala Hijau Tan Kauw telah melompat ke hadapan ayahnya.

"Ayah! Di mataku Cong-piauw-su ini hanya seekor anjing! Untuk membunuh seekor anjing Ayah tak perlu turun  tangan sendiri,  biar aku yang  menghadapinya!" kata Tan Kauw dengan sombong bukan main. Tan Piauw tertawa.

"Hati-hati kau bicara, sekalipun hanya seekor anjing dia bisa menggigit orang!" kata sang ayah sambil tertawa.

Mendengar kata-kata itu bukan main gusarnya Beng Teng saat itu. Saat ia mau maju menyerang lawannya itu, tetapi tiba-tiba Ciok Cong Thian telah melompat ke hadapannya. Rupanya kegusaran piauw-su ini telah memuncak.

"Cong Piauw-thauw. izinkan aku yang membeset kulit serigala ini! Tetapi aku yakin kau tak menyukai kulit serigala itu bukan?!" kata Ciok Cong Thian.

Beng Teng tertawa.

"Kulit serigala yang sudah busuk memang tak berguna." kata Beng Teng. "tapi barangkali masih berharga untuk membungkus mayat! Nah, kulit serigala itu kau boleh berikan saja pada Tuan Tan tua, barangkali berguna baginya!"

Biasanya Beng Teng tidak pernah bicara kasar seperti itu. rupanya kali ini ia benar-benar gusar maka dia bicara begitu barangkali untuk mengimbangi ucapan mereka yang sombong.

"Jangan banyak bicara, lihat tongkatku!" kata Tan Kauw.

Tubuh Tan Kauw tinggi, dia menggunakan tongkat yang dipasangi gigi serigala. Saat ia mulai menyerang terasa serangan angin dari tongkat terdengar menderu-deru. Bisa dibayangkan betapa hebatnya serangannya itu.

-o(DewiKZ~Aditya~Aaa)~o- Saat diserang. Ciok Cong Thian melintangkan goloknya untuk menangkis serangan tongkat lawan, tak heran terjadilah benturan yang sangat keras. Tongkat yang ada di tangan Tan Kauw terpental balik, sebaliknya tangan Ciok Thian pun terasa ngilu, sedang tubuhnya bergoyang- goyang.

Tan Kauw merasakan seolah darahnya mengalir terbalik, pada dadanya terasa panas dan sepasang kakinya ia rasakan ringan. Dia tak tahan terpaksa ia mundur dua langkah ke belakang.

Mereka baru bergebrak satu jurus, kelihatan mereka sama kuat. Masing-masing tidak cedera, sebaliknya semangat Ciok Cong Thian terbangun untuk melanjutkan pertarungan itu. Tan Kauw berteriak keras sambil menyerang lagi. Tongkat bergigi serigalanya berkelebat menyambar ke arah kepala Cong Thian.

Serangan itu bisa dihindarkan oleh Cong Thian dengan mudah dan ia segera berpikir.

"Tan Piauw belum turun tangan, aku harus menyimpan tenagaku." pikir dia.

Ia menggeser tubuhnya ke samping, sekaligus ia menyerang dengan jurus "Hong Huang Toh Uah" (Burung Hong Huang Berebut Sarang). Ternyata jurus ini bisa mendahului serangan lawan. Tiba-tiba Tan Kauw membentak dengan suara keras.

"Aku akan adu jiwa denganmu!" katanya.

Sesudah itu dia mengayunkan tongkat bergigi serigalanya ke kepala Cong Thian. Tubuh Tan Kauw lebih tinggi dari Cong Thian. Maka serangannya itu yakin akan berhasil memukul kepala lawan. "Aku akan menerima bacokanmu. tapi kepalamu pun akan hancur oleh tongkatku!" pikir Tan Kauw.

Jika Cong Thian tak membatalkan serangannya maka dia yakin kepalanya akan hancur dihajar oleh tongkat lawan. Tadi para piauw-su sudah bersorak girang pada saat melihat Cong Thian berada di atas angin. Tetapi saat mereka menyaksikan serangan Tan Kauw dengan nekat dan ganas, sorakan itu berhenti seketika itu juga. Malah keringat dingin membasahi tubuh mereka karena khawatir pada keselamatan Cong Thian.

Pada saat bersamaan terdengar suara benturan keras. "Trang!"

Tan Kauw terpental ke belakang sejauh tiga langkah, sedangkan Ciok Cong Thian tetap berdiri di tempatnya dan tangannya masih menggenggam goloknya.

"Terima kasih atas kemurahan hatimu, kau mau mengalah kepadaku!" kata Cong Thian sambil tersenyum.

Tan Kauw menundukkan kepalanya. Ternyata tongkat gigi serigala miliknya itu telah kutung. Kejadian  itu sungguh mengherankan Tan Kauw

Tadi pada saat Tan Kauw menghantamkan tongkat gigi serigalanya ke arah kepala lawannya, tiba-tiba Cong Thian yang sadar akan bahaya yang dihadapinya, jadi nekat lalu menangkis serangan tongkat itu dengan sekuat tenaga. Golok Cong Thian berhasil memapas tongkat milik Tan Kauw sehingga buntung.

Para piuaw-su menarik napas lega. Mereka girang pihaknya memenangkan pertarungan itu.

Sudah seharusnya Tan Kauw menerima kekalahan itu, dasar  dia  manusia  liar,  wajahnya  tiba-tiba  berubah  jadi merah padam saking gusarnya. Tiba-tiba dia maju menyerang ke arah orang she Ciok itu.

"Orang she Ciok! Hari ini jika bukan kau yang mati aku yang akan mampus! Jika kau pandai ambil kepalaku!" teriak Tan Kauw sambil menyerang dengan nekat.

Menyaksikan kejadian itu bukan main marahnya para piauw-su itu. Mereka gemas sekali.

"Dasar tidak tahu malu! Sudah kalah masih menyerang!" teriak seorang piauw-su dengan lantang.

"Ciok Toa-ko. kau jangan sungkan lagi. Beset saja kulit serigala itu." sambung piauw-su yang lain.

Bisa dibayangkan betapa gusarnya Tan Kauw waktu itu. Dia menggeram sambil meyerang. Sesudah bertarung lewat belasan jurus. Cong Thian berpikir.

"Jika aku bunuh dia, pasti para serigala yang lain akan bertarung dengan pihakku! tetapi jika dia tidak aku bunuh, aku pun sudah tak bisa mundur lagi. Ah, aku jadi serba salah?" pikir Cong Thian.

Sebagai piauw-su yang sudah berpengalaman luas sebelum bertindak Cong Thian sudah berpikir panjang. Sebelum bertindak dia dengar Tan Piauw berseru.

"Jangan bertarung secara membabi-buta!" teriak Tan Piauw.

Sedangkan Tan Kauw bertarung hingga hilang kendali. Sekalipun sudah dinasihati oleh ayahnya, dia tetap nekat. Cong Thian mulai gusar. Jika dia tidak melukai Tan Kauw. maka ia yang akan terluka.

"Kalau begini, baiklah aku harus membeset kulitnya!" pikir Cong Thian. Pada saat itu juga Cong Thian mulai menyerang dengan hebat. Goloknya berkelebat hingga membuat Tan Kauw jadi terdesak. Tan Piauw menghela napas dan mengerutkan keningnya karena cemas bukan main.

"Giok, kau gantikan Kakakmu melawan orang she Ciok itu!" kata Tan Piauw.

Sekalipun Tan Giok di antara saudara-saudaranya paling muda. tetapi kepandaiannya justru yang paling tinggi di antara saudara-saudaranya. Tak heran jika ayahnya mempercayakan membantu Tan Kauw kepadanya.

Paa saat yang bersamaan di gelanggang Cong Thian telah menyerang dengan hebat sekali. Dia menggunakan jurus yang mematikan. Serangan ini jelas akan mencelakakan Tan Kauw. Melihat hal itu Tan Giok berteriak dengan suara nyaring.

"Celaka!" kata Tan Giok.

Pada saat dia baru akan melompat ke tengah gelanggang, kelihatan sesosok bayangan hitam berkelebat ke tengah gelanggang. Yaitu pada saat golok Cong Thian hampir mengenai tubuh Tan Kauw. pada saat yang bersamaan terdengar suara benturan keras.

"Trang!"

Golok yang ada di tangan Cong Thian terpental oleh sebuah tangkisan hebat dari cangklong milik Tan Piauw. Melihat anak sulungnya dalam bahaya Tan Piauw pun segera melompat maju untuk menolongi anak sulungnya itu.

Kemudian Tan Piauw tertawa terbahak-bahak. "Ciok Piauw-su. ilmu golokmu hebat sekali! Anakku telah berani mengganggu harimau, harap kau bermurah hati!" kata Tan Piauw sambil tersenyum sinis.

Saking gusarnya wajah Ciok Cong Thian jadi merah- padam. Dia malu kaiena dia tidak bisa menarik goloknya yang melekat pada cangklong milik Tan Piauw.

"Jika Tan Pang-cu ingin bertarung, aku sudah siap meladenimu! Aku tidak takut!" kata Cong Thian dengan gagah.

Cong Thian sadar dia bukan tandingan Tan Piauw.  tetapi di muka umum ia harus menjaga pamor Houw Wie Piauw-kiok. maka itu dia berkata begitu pada Tan Piuaw.

Di tengah para piauw-su terdengar suara keras. "Anaknya sudah kalah, sekarang muncul si tua bangka!

Sungguh tidak tahu malu!"

"Mana bisa dinamakan seorang jago, menghadapi kami saja para piauw-su kalian harus bertarung secara bergiliran. Apa tidak malu? Jika kami yang menang itu akan lebih mengangkat nama kami semua!" kata piauw-su yang lain.

Saat Beng Teng mau maju menolongi Ciok Cong Thian, tapi Tan Piauw sudah menarik cangklongnya yang menempel dengan golok Cong Thian. Sambil mengisap cangklongnya dia tertawa terbahak-bahak.

"Pertarungan tadi pihakmulah yang menang!" kata Tan Piauw. "Tetapi aku masih punya anak yang lain. dia memang tidak tahu berapa tingginya langit dan tebalnya bumi. Semula aku ingin minta petunjuk dari Ciok Piauw-su! Tapi jika Ciokpiauw-su mengangap itu pertarungan secara bergiliran, ya sudahlah!" Sekarang semua orang baru sadar, bahwa Tan Piauw bukan ingin turun tangan sendiri, tetapi dia cuma mewakili anak-anaknya untuk menantang Ciok Cong Thian.

"Mengapa aku takut bertarung secara bergilir dengan kalian? Yang tua maupun yang muda. silakan maju! Mari!" kata Cong Thian menantang. Diam-diam seorang piauw-su menasihati kawannya itu.

"Ciok Toa-ko emosimu jangan terpancing! Baik kau serahkan saja dia kepadaku, akulah yang akan menghadapi si Serigala Putih!" kata piauw-su itu.

Ternyata orang yang bicara itu adalah salah seorang dari empat piauw-su andalan Houw Wie Piauw-kiok. Orang itu bernama Chu Cu Kia. Dia masih muda tetapi kepandaiannya sudah tinggi. Dia bergelar Pek-ma Gin-cio (Tombak Perak Kuda Putih). Kepandaian anak muda ini hanya kalah setingkat saja dari Ciok Cong Thian.

Tan Giok tertawa pada lawannya ini. sambil memberi hormat dia langsung maju untuk bersiap-siap.

"Aku yang bodoh bernama Tan Giok. ingin minta petunjuk dari salah seorang piauw-su, atas kesediaannya aku akan sangat berterima kasih sekali!" kata Tan Giok.

Semua piauw-su belum tahu berapa tinggi kepandaian Tan Giok ini, namun Chu Cu Kia sudah tahu. Tan Giok kepandaiannya lebih tinggi dari semua saudaranya. Mengenai kalah dan menang jika diukur dengan kepandaian Chu Cu Kia, sulit dia bisa mengalahkan Tan Giok. Malah barangkali dia yang akan dikalahkan oleh Tan Giok.

Tetapi demi nama baik piauw-kioknya dan ditambah dia juga   sudah   maju   ke   gelanggang,   dia   pun   menerima tantangan Tan Giok tersebut. Dia juga buru-buru memberi hormat pada lawannya sambil berkata sopan.

"Saudara, jangan sungkan silakan keluarkan senjatamu, aku siap meladenimu!" kata Chu Cu Kia.

"Maaf. aku tidak berani kurang hormat. Chu Piauw-su datang dari tempat yang jauh, kau adalah tamu kami. Silakan kau menyerang lebih dulu!" kata Tan Giok.

Chu Cu Kia manggut.

"Baik! Kalau begitu aku tidak akan berlaku sungkan lagi!

Sambut serangan pertamaku!" kata Chu Cu Kia.

Chu Cu Kia memutar tombaknya, tombak itu berkelebatkelebat di tengah gelanggang dan mulai membentuk sebuah lingkaran. Bukan main indahnya.

"Bagus!" seru Tan Giok.

Sesudah memuji Tan Giok segera menghunus pedangnya. Tubuhnya bergerak bersamaan dengan gerakan pedangnya ke arah Chu Cu Kia. Serangan itu bernama jurus "Hoat Cau Sui Coa" (Membabat Rumput Mencari Ular).

Chu Cu Kia kaget.

"Hebat sekali ilmu pedang Tan Giok ini!" pikir Chu Cu Kia sedikit terperanjat.

Segera dia menggeser tubuhnya ke samping, sekaligus dia gerakkan ujung tombaknya ke arah jalan darah Yam- khie-hoat lawan. Jurus ini diperkirakan akan ditangkis oleh lawan. Dugaan Chu Cu Kia memang tepat. Tan Giok memang segera menarik pedangnya untuk menangkis serangan lawannya itu. Bersamaan dengan itu dia memutar tubuhnya,  sekaligus  dia  menyabetkan  pedangnya  ke arah punggung Chu Cu Kia, ke bagian pi-pe! ini adalah serangan ke bagian yang mematikan.

Buru-buru Chu Cu Kia melompat ke belakang. Kali ini dia mulai mempertunjukkan ilmu "Gin-cio Sa-cap-lak-sek" (Tiga puluh enam jurus Ilmu Tombak Perak).

Tombak perak Chu Cu Kia bergerak-gerak berkelebat memancarkan sinar putih yang menyilaukan mata. Sebaliknya Tan Giok pun bergerak dan memutarkan pedangnya yang juga bercahaya putih berkilauan. Bayangan mereka tidak tampak. jelas yang kelihatan hanya cahaya tombak perak Chu Cu Kia dan cahaya pedang milik Tan Giok. Tanpa terasa pertarungan itu sudah berlangsung  jurus lebih, namun belum ketahuan siapa yang lebih unggul. Tetapi semakin lama hati Chu Cu Kia jadi semakin gentar.

"Jika aku tidak mampu mengalahkan anak serigala ini. piauw-su yang lain akan kecewa sekali!" pikir Chu Cu Kia.

Seorang pesilat tangguh pada saat dia sedang bertarung mana boleh hatinya bercabang dua. Dia juga tidak boleh emosi, tetapi Chu Cu Kia justru telah melanggar pantangan itu. Dia mulai emosi sehingga dia menyerang dengan matimatian. Akibatnya dia jadi agak lengah dan penjagaan atas dirinya agak longgar. Dia menyerang dengan jurus "Pek-coa Thou Sing" (Ular Putih Menyemburkan Racun).

Serangan ini membuat Tan Giok tertawa dingin. Mendadak tubuh Tan Giok ini mencelat ke atas. Pada saat itu dia gunakan jurus "Cauw Tee Pah Lui" (Pagi-pagi Mencabut Pucuk Daun). Dengan jurus tersebut dia berhasil menghindari serangan lawan. Akan tetapi pada saat yang bersamaan Chu Cu Kia menggerakkan tombak peraknya ke atas. Jurus ini amat mematikan dan berbahaya sekali.

Tan Giok memang berkepandaian tinggi. Sekalipun tubuhnya sedang berada di udara, dia masih bisa akrobat di udara untuk menghindari serangan yang mematikan itu. Dia telah menduga Chu Cu Kia akan menyerang dengan jurus tersebut, pada saat tubuhnya sedang berakrobat di udara, dia juga menyerang dengan pedangnya ke bawah, ke arah bahu Chu Cu Kia yang terbuka tanpa perlindungan.

Serangan yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan Chu Cu Kia. hingga dia tidak sempat lagi untuk berkelit dari serangan lawannya ini. Dengan demikian dia harus berlaku nekat dan tanpa berpikir lagi dia langsung berteriak.

"Jika bukan kau yang mati. akulah yang akan mati!" teriak Chu Cu Kia.

Chu Cu Kia mengangkat tombaknya ke atas Keduanya sama-sama mengeluarkan jurus yang mematikan. Jika bahu Chu Cu Kia tertusuk dia akan cacat seumur hidup, sebaliknya jika perut Tan Giok yang tertusuk oleh tombak Chu Cu Kia, maka ada kemungkinan besar Tan Giok-lah yang akan mati. Semua orang berteriak kaget. Dari masing- masing pihak segera melompat seseorang. Dari pihak piauw-kiok Beng Teng yang melompat bagaikan bayangan ke tengah gelanggang.

"Trang!"

Terdengar suara senjata beradu dengan keras satu sama lain. Rupanya pedang Tan Giok tertangkis oleh sebuah tameng besi di tangan Beng Teng, tidak ampun lagi pedang itu terpental ke udara. Pada saat yang bersamaan dia kibaskan lengan bajunya ke arah tombak di tangan Chu Cu Kia. dengan demikian tombak piauw-su ini berhasil dia rebut. Tan Giok kaget bukan kepalang, dia melompat ke belakang tiga langkah jauhnya.

"Beng Cong-piauw-thauw. kau. !" kata Tan Giok. "Babak ini pihakmu yang menang!" kata Beng Teng sambil tertawa. "Maka cukup sampai di sini saja! Mengapa harus saling melukai?"

Tadi pada saat Ciok Cong Thian melawan Tan Kauw, dia hampir melukai Tan Kauw. namun keburu datang Tan Piauw yang menyelamatkan anak sulungnya itu. Kali ini Beng Teng yang menyelamatkan Chu Cu Kia dari maut. Gerakan Beng Teng ini sekaligus berhasil merebut tombak Chu Cu Kia sehingga dia tidak melukai Tan Giok. Tindakan Beng Teng ini bukan perbuatan baik, tetapi satu perbuatan yang bijaksana.

Dengan demikian lawannya pun tidak mencela perbuatannya, karena dia berlaku sangat adil.

Dari pihak si Serigala Tua muncul Tan Piauw sang Serigala Tua sendiri. Namun Tan Giok sudah diselamatkan oleh Beng Teng. Ketika dia lihat anaknya Tan Giok tidak terluka, hatinya jadi lega. Ketika dia menengadah keatas dia berseru.

"Hari sudah tidak siang lagi! Ketua Beng. bolehkah aku mengusik harimau?" kata Tan Piauw sambil tertawa.

Nona Hong tertawa.

"Bagus! Pertarungan tadi sangat membosankan, aku jadi ngantuk. Pertarungan antara Harimau dan Serigala pasti akan seru untuk ditonton!" kata nona Hong sambil bertepuk tangan.

Sebenarnya pertarungan tadi sebuah pertarungan antara hidup dan mati, tetapi aneh nona Hong malah mengatakan pertarungan itu sangat membosankan. Ucapan nona Hong itu sungguh sangat keterlaluan dan sangat menghina sekali, tampak para piauw-su sangat kesal, dongkol dan heran mendengar ucapan nona yang jahil itu. "Benar-benar nona itu tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. Jika dia berkepandaian tinggi, paling-paling setingkat dengan si Serigala Putih Tan Giok! Tidak mungkin lebih hebat, tetapi mulutnya sungguh tajam dan lancang, juga sombong sekali!" pikir seorang piauw-su.

Tiba-tiba si Rase Liar yang bernama An Tak itu meluruskan tubuhnya. Sastrawan bertampang sesat ini lalu berkata dengan suara nyaring.

"Aku tidak peduli siapa yang menang atau yang kalah. Yang aku inginkan agar pertarungan ini cepat selesai! Dan pertarungannya harus mengasyikkan dan juga menentukan!" kata si sastrawan sambil tertawa.

Nona Hong mendengus.

"Hm! Memang kau ini tak tahu diri!" kata nona Hong. "Jika kau bermimpi ingin merebut sang calon pengantin, seumur hidupmu kau tidak akan berhasil!" kata nona Hong menyindir dengan tajam.

"Jangan banyak mulut dan berdebat! Mari kita lihat saja!" kata si Rase Liar An Tak dengan suara hambar.

Pada saat nona Hong dan An Tak sedang berdebat, tibatiba terdengar suara bentakan dari Beng Teng.

"Baik! Kita lihat harimau yang jatuh, atau serigala yang masuk ke mulut harimau? Tan Pang-cu terima seranganku yang pertama!" kata Beng Teng.

Beng Teng bersenjata sebuah tameng dan sebilah pedang panjang, saat dia menyerang ke arah lawan, tubuhnya bergerak dengan gesit sekali. Menghadapi serangan itu sedikitpun Tan Piauw tidak gugup. Dengan mudah dia bisa menghindar, lalu dia angkat cangklongnya untuk dipakai memukul tameng yang dipegang oleh Beng Teng. "Tang!"

Terdengar suara yang amat keras dan nyaring sekali. Tameng milik Beng Teng yang terbuat dari tembaga dan sangat berat itu, saat dipakai menyerang Beng Teng menggunakan jurus "Tay-san Ap Teng" (Gunung Tay-san Menimpa Dari Atas). Tetapi dengan mudah serangan Beng Teng ini bisa dihindarkan oleh Tan Piauw. Menyaksikan kejadian itu para piauu-su kaget dan keheranan. Selama puluhan tahun keadaan piau-kiok mereka aman-aman saja. Tetapi kali ini si Harimau pasti akan jatuh di tangan Tan Piauw si Serigala Tua yang lihay . Beng Teng pun berpikir keras.

"Tan Piauw bisa meminjam tenaga lawan, aku harus waspada terhadapnya!" pikir Beng Teng.

Di samping Beng Teng terkejut, dia pun tidak gugup sama sekali. Tiba-tiba dia menyerang lagi dengan pedangnya. Jurus yang digunakan jauh lebih hebat dari jurus yang tadi, hingga membuat Tan Piauw terperanjat.

"Tak heran jika Houw Wie Piauw Kiok begitu terkenal. Ternyata Beng Teng seorang yang gagah dan ini benar- benar bukan omong kosong." pikir Tan Piauw.

Tan Piauw tidak mengelak dari serangan hebat itu, dia hanya menangkis pedang Beng Teng dengan cangklongnya sekuat tenaga.

"Trang!"

Terdengar suara benturan sangat keras. Pedang di tangan Beng Teng itu tertangkis ke samping oleh cangklong lawan.

Pada saat yang bersamaan. Beng Teng pun bergerak dengan cepat menyambar kaki Tan Piauw dengan tamengnya. Tan Piauw tertawa terbahak-bahak. "Bagus!" katanya memuji.

Dia mengelak dari serangan berbahaya itu kemudian balas menyerang. Serangannya itu bukan main cepatnya. Tahu-tahu ujung cangklongnya sudah mengarah ke tenggorokan Beng Teng.

Beng Teng segera mundur selangkah ke belakang, sekaligus dia balas menyerang dengan jurus "Hoat Cau Sui Coa" (Membabat Rumput Mencari Ular). Serangan itu mengarah ke lutut Tan Piauw.

Tan Piauw dengan cepat mengangkat kakinya dari serangan Beng Teng. dia bergerak menggunakan jurus "Koay Cung Hoan Sin" (Binatang Aneh Membalikkan Badan). Jurus ini sangat lihay, ujung cangklong Tan Piauw menotok ke jalan darah Hoan-thian-hoat di kaki Beng Teng.

Gerakan kaki Beng Teng pun sangat gesit. Dia melompat ke atas menghindari serangan lawan itu. kemudian sebelah kakinya langsung menendang ke jalan darah Tan-tian-hiat.

Jika tendangan Beng Teng itu mengenai sasaran, Tan Piauw pasti terluka parah. Pada saat itulah terdengar suara keras.

"Trang!"

Pada saat yang bersamaan. Tan Piauw menyerang dengan jurus yang mematikan juga, dengan demikian Beng Teng harus menangkis cangklong lawan ini dengan pedangnya, sedang tamengnya yang ada di tangan kiri Beng Teng, langsung diayunkan ke bahu lawan.

Buru-buru Tan Piauw membungkukkan tubuhnya, dengan demikian tameng lawan melewati kepalanya. Sekalipun Tan Piauw berhasil mengelak dari serangan tersebut, tetapi serangan lawannya itu sempat membuat dia berkeringat dingin. Nona Hong tertawa geli.

"Kelihatan memang si Serigala bakal masuk ke dalam mulut harimau" kata si nona.

Bukan main gusar dan jengkelnya Tan Piauw mendapat cemoohan dari si nona itu. Setelah menggeram dia langsung menyerang dengan hebat pada Beng Teng. Ujung cangklongnya menotok ke jalan darah Seng-khek-hiat di dada Beng Teng.

Beng Teng segera menangkis serangan berbahaya itu. tetapi Tan Piauw segera memiringkan cangklongnya, sehingga ujung cangklongnya mengarah ke jalan darah Mia- bun-hiat di tubuh Beng Teng.

Beng Teng terkejut sekali. Hal ini membuat dia jadi kalangkabut. Dia berkelit dan mengeluarkan jurus "Pan Liong Siauw Pouw" (Naga Berputar Mundur). Kelihatan tubuh Beng Teng berputar ke samping dua depa. baru dia berhasil terhindar dari serangan sangat berbahaya itu.

Menyaksikan kejadian itu kawanan perampok bersorak girang sekali. Wajah Beng Teng panas dan malu bukan main.

Dia mulai menyerang dengan jurus simpanannya. Sedang Tan Piauw pun menggunakan jurus andalannya. Mereka bertarung dengan mati-matian. Tak lama rembulan pun sudah menampakkan diri di langit yang biru. Tiba-tiba Tan Piauw yang sedang bertarung berteriak keras.

"Serigala Putih, angkat barang yang mereka bawa!" teriak Tan Piauw.

Tan Giok dan anak buahnya langsung bergerak berhamburan kearah kerea yang dinaiki sang calon pengantin. Beng Teng tahu apa artinya perintah itu. Bukan main gusarnya Beng Teng saat itu.

"Serigala Tua...!" bentak Beng Teng sengit sekali.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Beng Ciang Hong In Lok Jilid 01"

Post a Comment

close